P. 1
Doc

Doc

|Views: 545|Likes:
Published by ipen89

More info:

Published by: ipen89 on Dec 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2012

pdf

text

original

IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PADA PEMBELAJARAN IPS SEJARAH DI SMP NEGERI 21 SEMARANG TAHUN AJARAN

2006/2007

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sejarah pada Universitas Negeri Semarang

Oleh: Basuki Dwi Sulistyo NIM. 3101403021

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan di sidang ujian skripsi pada: Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Subagyo, M.Pd. NIP. 130 818 771

Drs. Ba’in , M.Hum NIP. 131 876 207

Mengetahui: Ketua Jurusan Sejarah

Drs. Jayusman, M.Hum. NIP. 131 764 053

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada :

Hari Tanggal

: Senin : 27 Agustus 2007

Penguji Skripsi

Drs. Cahyo Budi Utomo, M.Pd. NIP. 131 570 081

Anggota I

Anggota II

Drs. Subagyo, M.Pd. NIP. 130 818 771

Drs. Ba’in , M.Hum NIP. 131 876 207

Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs. H. Sunardi, M.M. NIP. 130 367 998

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Agustus 2007

Basuki Dwi Sulistyo NIM. 3101403021

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Semua mungkin kalau kita yakin” (Penulis) “Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah” (Ir. Soekarno)

Dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur kepada Allah SWT kupersembahkan Skripsi ini untuk: Permata hatiku Ayah dan Ibu yang telah mencurahkan kasih sayang, pengorbanan dan doa restunya dengan penuh ketegaran serta kesabaran. Kakakku dan Adikku serta keluarga besarku yang selalu mendoakan serta membantuku baik secara moril maupun spiritual Sahabat sejatiku (Mammoeth & Bang Andi) Teman-teman seperjuangan Pendidikan Sejarah ’03 dan Farham Kost terima kasih atas segalanya selama ini aku lalui waktu bersama kalian. Almamaterku

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dalam Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo M.Si., selaku Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. H. Sunardi, M.M. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Jayusman, M.Hum. selaku Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 4. Drs. Subagyo, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing I yang penuh kesabaran dan perhatian dalam memberikan bimbingan dan pengarahan. 5. Drs. Ba’in, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing II yang penuh kesabaran dan perhatian dalam memberikan bimbingan dan pengarahan. 6. Drs. Hasan Budisulistyo selaku Wakil Kepala Sekolah SMP N 21 Semarang yang telah memberikan ijin dan kerjasamanya selama penelitian ini berlangsung

vi

7. Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang yang telah memberikan kesempatan dan bantuan selama penelitian. 8. Supatemi, S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang yang telah memberikan kesempatan dan bantuan selama penelitian. 9. Anies Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang yang telah memberikan kesempatan dan bantuan selama penelitian. 10. Siswa-siswi SMP N 21 Semarang yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. 11. Segenap karyawan dan staf tata usaha SMP N 21 Semarang atas bantuan dan kerjasamanya selama penelitian. 12. Kedua orang tua, kakakku serta adikku yang selalu memberikan dukungan moral maupun materi dalam penyusunan skripsi ini. 13. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca yang membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini.

Semarang, Agustus 2007

Penulis

vii

SARI

Basuki Dwi Sulistyo. 2007. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007. Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 177+ xiv halaman.

Implementasi, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Pembelajaran, IPS Sejarah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masingmasing satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing-masing. KTSP sebagai inovasi terbaru dalam rangka peningkatan kualitas kurikulum tidaklah mudah diterapkan secara universal dan instant, bahkan Departemen Pendidikan Nasional menargetkan paling lambat tahun 2009/2010 semua sekolah telah melaksanakan KTSP secara menyeluruh. Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimanakah pemahaman guru IPS Sejarah mengenai KTSP, (2) bagaimanakah implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah, (3) apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui pemahaman guru IPS Sejarah mengenai KTSP, (2) untuk mengetahui implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah, (3) untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP. Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah pemahaman guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang mengenai KTSP, implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang yang secara garis besarnya mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi, serta faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang. Untuk memperoleh data digunakan metode observasi partisipatif pasif (passive participation), wawancara mendalam (in dept interview), studi dokumentasi. Untuk menguji objektivitas dan keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama, sedangkan triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber data yang sama. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaksi (interactive analysis models) yaitu komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Setelah data terkumpul, maka tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan) saling berinteraksi.

Kata

Kunci:

viii

Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang mengenai KTSP sebagian besar masih terbatas hanya mengetahui secara garis besarnya. Guru hanya mampu memahami konsep dasar KTSP secara singkat seperti pengertian KTSP, SKL, SI, RPP serta perbedaan yang mendasar antara KTSP dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Dalam kegiatan pembelajaran guru IPS Sejarah telah menyusun program-program sesuai dengan acuan dalam KTSP, program tersebut seperti program tahunan, program semester, program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial, serta program pengembangan diri. Pengembangan silabus oleh guru IPS Sejarah masih mengadopsi model silabus dari Depdiknas, selanjutnya model silabus tersebut ditelaah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. Dalam penyusunan silabus guru IPS Sejarah tidak mengalami hambatan yang berarti karena dalam penyusunannya dikerjakan secara bersama-sama dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat sekolah. Dalam hal penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru IPS Sejarah diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan silabus dengan kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. Penyusunan RPP oleh guru IPS Sejarah dilakukan secara sekaligus untuk beberapa pertemuan, hal ini disebabkan adanya kesibukan. Pada awal pembelajaran guru IPS Sejarah melakukan kegiatan apersepsi, namun tidak pernah mengadakan pre-test, guru masih menggunakan metode ceramah, namun hanya untuk membantu siswa dalam memahami materi dan keaktifan siswa sangat diprioritaskan. Dalam pembelajaran guru telah menerapkan berbagai metode, sumber belajar serta media yang variatif. Evaluasi hasil belajar dilakukan guru melalui Penilaian Berbasis Kelas (PBK) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam aspek penguasaan konsep dan penerapan konsep. Selain itu, guru telah menerapkan pendekatan pembelajaran tuntas dengan mengadakan program remidi dan program pengayaan. Faktor pendukung dalam implementsi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang antara lain sarana prasarana pembelajaran secara kuantitas maupun kualitas sudah cukup memadai, adanya program-program dalam rangka implementasi KTSP seperti pembentukan kepanitiaan KTSP, adanya tim pengembang dan penyusun KTSP, adanya evaluasi yang dikemas dalam briefing setiap satu bulan sekali untuk mengevaluasi program-program yang sedang berjalan, Adanya sistem penilaian kinerja terhadap guru dan siswa. Faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang antara lain lemahnya kemampuan guru dalam melakukan penilaian secara mandiri, terbatasnya waktu, biaya serta tenaga dalam penggunaan metode-metode pembelajaran, terjadinya integrasi (penggabungan) pada mata pelajaran ilmu-ilmu sosial menjadi IPS terpadu, kurangnya kesiapan siswa untuk belajar mandiri. Dari hasil penelitian tersebut maka disarankan, (1) guru hendaknya selalu meningkatkan pemahamannya tentang KTSP dan menerapkannya secara profesional, (2) guru hendaknya dapat mengembangkan kreatifitasnya sendiri dalam menyusun silabus dengan menyesuaikan kondisi dan potensi sekolah, (3) guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam penggunaan metode pembelajaran, (4) bagi pihak sekolah hendaknya secara berkala mengadakan kegiatan seminar, workshop serta rapat kerja mengenai KTSP, sehingga pemahaman guru tentang KTSP akan semakin meningkat.

ix

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................ PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................................... PENGESAHAN KELULUSAN ....................................................................... PERNYATAAN ............................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................... KATA PENGANTAR ...................................................................................... SARI .................................................................................................................. DAFTAR ISI ..................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... A. Latar Belakang Masalah ........................................................... B. Rumusan Masalah ..................................................................... C. Tujuan Penelitian ..................................................................... D. Manfaat Penelitian ................................................................... E. Penegasan Istilah....................................................................... F. Sistematika Skripsi ................................................................... BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ..................................... 1. Pengertian Kurikulum ......................................................... 2. Pengertian KTSP ................................................................. 3. Landasan Yuridis KTSP...................................................... i ii iii iv v vi viii x xiii xiv 1 1 6 6 7 9 12 14 14 14 15 15

x

4. Tujuan KTSP....................................................................... 5. Karakteristik KTSP ............................................................. 6. Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP................................. 7. Acuan Operasional Penyusunan KTSP ............................... 8. Komponen-Komponen KTSP ............................................

20 21 23 25 28 30 32 33 35 36 40 43 45 45 47 47 51 51 53 54 55 59 59 60 61

9. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan KTSP ..................................... B. Manajemen Pelaksanaan KTSP di Sekolah .............................. 1. Perencanaan......................................................................... 2. Pengorganisasian................................................................. 3. Pelaksanaan KBM ............................................................... 4. Penilaian Hasil Belajar ........................................................ 5. Pelaporan............................................................................. C. Tinjauan Mengenai Pembelajaran ............................................ 1. Pengertian Pembelajaran ..................................................... 2. Ciri-Ciri Pembelajaran ........................................................ 3. Tujuan Pembelajaran........................................................... D. Tinjauan Mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial .......................... 1. Pengertian IPS ..................................................................... 2. Karakteristik IPS ................................................................. 3. Tujuan Pembelajaran IPS .................................................... 4. Konsep Pembelajaran dalam IPS ........................................ E. Tinjauan Mengenai Mata Pelajaran IPS Sejarah ...................... 1. Pengertian Mata Pelajaran IPS Sejarah ............................... 2. Tujuan dan Fungsi Mata Pelajaran IPS Sejarah .................. 3. Ruang Lingkup Mata Pelajaran IPS Sejarah .......................

xi

BAB III

METODE PENELITIAN ............................................................. A. Pendekatan Penelitian .............................................................. B. Fokus Penelitian ....................................................................... C. Sumber Data Penelitian............................................................. D. Teknik Pengambilan Sampel..................................................... E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................ F. Keabsahan Data......................................................................... G. Teknik Analisis Data................................................................. H. Langkah-Langkah Penelitian.....................................................

62 62 64 65 65 66 70 73 78 80 80 80 84 106 122 122 124 125 128

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... A. Hasil Penelitian ......................................................................... 1. Deskripsi Lokasi Penelitian .................................................. 2. Deskripsi Data....................................................................... B. Pembahasan...............................................................................

BAB V

PENUTUP ..................................................................................... A. Simpulan..................................................................................... B. Saran ...........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN-LAMPIRAN .............................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Penyusunan jadwal kegiatan belajar mengajar ............................................. 2. Tiga kemungkinan hasil penelitian ................................................................ 3. Manajemen kegiatan pembelajaran tuntas ..................................................... 4. Laporan guru .................................................................................................. 5. Laporan wali kelas ........................................................................................ 6. Pola laporan kepala sekolah........................................................................... 7. Keterpaduan cabang IPS ................................................................................ 8. Model integrasi IPS berdasarkan topik/tema ................................................. 9. Model integrasi IPS berdasarkan potensi utama ........................................... 10. Model integrasi IPS berdasarkan permasalahan .......................................... 11. Triangulasi teknik ........................................................................................ 12. Triangulasi sumber....................................................................................... 13. Komponen-komponen analisis data model alir............................................ 14. Komponen-komponen analisis data model interaksi ................................... 15. Lokasi penelitian SMP N 21 Semarang ....................................................... 16. Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah ................................................. 17. Wawancara dengan Dra.Lestari Nurmananik .............................................. 18. Anies Salamah salah satu informan ............................................................. 19. Wawancara dengan Supatemi, S.Pd............................................................. 20. Wawancara dengan salah seorang siswa...................................................... 21. Guru menggunakan peta dalam KBM ......................................................... 22. Proses kegiatan belajar mengajar................................................................. 23. Siswa sedang menggunakan komputer ........................................................ 24. Kegiatan belajar mengajar di kelas ICT....................................................... 25. Ruang laboratorium IPA .............................................................................. 26. Ruang laboratorium bahasa..........................................................................

35 37 39 43 44 45 53 57 58 59 71 72 74 75 172 172 173 173 174 174 175 175 176 176 177 177

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Perhitungan minggu efektif........................................................................ 2. Program tahunan ....................................................................................... 3. Program semester ...................................................................................... 4. Silabus........................................................................................................ 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran .......................................................... 6. Pedoman wawancara semiterstruktur dengan guru.................................... 7. Pedoman wawancara semiterstruktur dengan siswa .................................. 8. Pedoman wawancara semiterstruktur dengan wakil kepala sekolah ......... 9. Pedoman observasi..................................................................................... 10. Data pribadi informan penelitian ............................................................... 11. Surat pernyataan sumber informan penelitian ........................................... 12. Surat ijin penelitian .................................................................................... 13. Surat bukti penelitian dari SMP N 21 Semarang .......................................

128 129 131 132 139 144 148 150 152 158 161 168 171

xiv

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek penting bagi perkembangan sumber daya manusia, sebab pendidikan merupakan wahana atau salah satu instrumen yang digunakan bukan saja untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan, melainkan juga dari kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan diyakini mampu menanamkan kapasitas baru bagi semua orang untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru sehingga dapat diperoleh manusia produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses dan mobilitas sosial dalam masyarakat baik secara horizontal maupun vertikal. Di era globalisasi dewasa ini, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia bergantung pada kualitas pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa. Kemajuan Bangsa Indonesia hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan diharapkan dapat menaikan harkat dan martabat manusia Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, sekarang pemerintah telah mempercepat perencanaan Millenium Development Goals (MDGS), yang semula dicanangkan tahun 2020 dipercepat menjadi 2015. Millenium Development Goals (MDGS) adalah era pasar bebas atau era globalisasi, sebagai era persaingan mutu

2

kualitas, siapa yang berkualitas dialah yang akan maju dan mampu mempertahankan eksistensinya. Oleh karena itu, pembangunan sumber daya manusia (SDM) berkualitas merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi (Mulyasa 2006:2). Percepatan arus informasi dalam era globalisasi dewasa ini menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan dan strateginya agar sesuai dengan kebutuhan, dan tidak ketinggalan zaman. Penyesuaian tersebut secara langsung mengubah tatanan dalam sistem makro, meso, maupun mikro, demikian halnya dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik ditingkat lokal, nasional, maupun global (Mulyasa 2006:4). Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara; khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Oleh karena itu, sejak Indonesia memiliki kebebasan untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak bangsanya, sejak saat itu pula pemerintah menyusun kurikulum (Mulyasa 2006:4). Masa depan Bangsa terletak dalam tangan generasi muda. Mutu bangsa dikemudian hari bergantung pada pendidikan yang dikecap oleh anak-anak sekarang, terutama melalui pendidikan formal yang diterima di sekolah. Apa yang akan dicapai di sekolah, ditentukan oleh kurikulum sekolah tersebut. Maka dapat dipahami bahwa kurikulum sebagai alat yang sangat vital bagi perkembangan suatu bangsa. Dapat pula dipahami betapa pentingnya usaha mengembangkan kurikulum tersebut.

3

Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Dengan kurikulum yang sesuai dan tepat, maka dapat diharapkan sasaran dan tujuan pendidikan akan dapat tercapai secara maksimal. Salah satu inovasi terbaru yang dilakukan pemerintah saat ini adalah dengan menyempurnakan kualitas kurikulum yang lama, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan dikeluarkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 (PP19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengamanatkan kurikulum pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI (Standar Isi) dan SKL (Standar Kompetensi Lulusan). Selain itu, juga berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005. Pada dasarnya kurikulum yang baru ini tidak ada perubahan dengan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) .kurikulum baru ini ialah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mulai akrab disebut Kurikulum 2006 yang diolah berdasarkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan produk Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

4

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sudah diresmikan pada tanggal 7 Juli 2006. Kurikulum tersebut mengakomodir kepentingan daerah. Guru dan sekolah diberikan otonomi untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi sekolah, permasalahan sekolah dan kebutuhan sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menuntut adanya kesanggupan guru untuk membuat kurikulum yang mendasarkan pada kebolehan, kemampuan dan kebutuhan sekolah. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 ini berarti satuan-satuan pendidikan harus mampu mengembangkan komponen-komponen dalam kurikulum KTSP. Komponen yang dimaksud mencakup visi, misi, dan tujuan tingkat satuan pendidikan; struktur dan muatan; kalender pendidikan; silabus sampai pada rencana pelaksanaan pembelajaran. KTSP memiliki beberapa karakteristik yang secara umum Yaitu, adanya partisipasi guru; partisipasi keseluruhan atau sebagian staf sekolah; rentang aktivitasnya mencakup seleksi (pilihan dari sejumlah alternatif kurikulum), adaptasi (modifikasi kurikulum yang ada), dan kreasi (mendesain kurikulum baru); perpindahan tanggung jawab dari pemerintah pusat (bukan pemutusan tanggung jawab); proses berkelanjutan yang melibatkan masyarakat; dan ketersediaan struktur pendukung (untuk membantu guru maupun sekolah). Pada dasarnya, tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah bagaimana membuat siswa dan guru lebih aktif dalam pembelajaran. Selain murid harus aktif dalam kegiatan belajar dan mengajar, guru juga harus aktif dalam memancing kreativitas anak didiknya sehingga dialog dua arah terjadi dengan sangat dinamis. Kelebihan lain KTSP adalah memberi alokasi waktu pada kegiatan pengembangan diri siswa. Siswa tidak melulu mengenal teori, tetapi diajak untuk terlibat dalam sebuah proses pengalaman belajar.

5

Kurikulum yang baru ini nantinya menuntut setiap sekolah membuat kurikulum yang berbeda-beda. Namun, dalam penyusunannya harus

memperhatikan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) yang sudah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas). Dalam kurikulum baru ini guru diberi otonomi dalam menjabarkan kurikulum, dan murid sebagai subyek dalam proses belajar mengajar. Dari situlah diharapkan implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan dapat memenuhi standardisasi evaluasi belajar siswa. Namun sebagai konsep baru dalam peningkatan kualitas kurikulum, KTSP tidaklah mudah diterapkan secara universal dan instan. Bahkan Pemerintah menargetkan empat tahun semua sekolah di Indonesia dapat melaksanakan KTSP dengan menyeluruh. Apalagi selama ini, mayoritas sekolah-sekolah masih berpusat dengan pemerintah pusat. Jadi untuk menerapkan KTSP memerlukan soialisasi-sosialisasi dan proses pengalaman. Kecenderungan selama ini, terutama ketika muncul tanda-tanda pergantian kurikulum, selalu tidak diperhitungkan dengan matang. Buktinya, saat ini berbagai jenjang sekolah di Indonesia menggunakan tiga jenis kurikulum secara bersamaan (kurikulum 1994, kurikulum 2004 dan kurikulum 2006 berlabel KTSP). Di sejumlah sekolah saat ini berlangsung saat ini berlangsung uji coba kurikulum 2004. Dengan adanya dua-tiga kurikulum berbeda untuk generasi yang hampir seangkatan, bisa dibayangkan bagaimana gamangnya arah dan visi pendidikan nasional kita (Susilo 2007:96). Di Indonesia termasuk di Kota Semarang, belum semua sekolah menerapkan KTSP, hanya beberapa sekolah yang sudah menerapkan KTSP tersebut. Salah satunya adalah SMPN 21 Semarang, sebagai usaha untuk

6

meningkatkan kualitas pembelajaran dan lulusan, sekolahan ini telah mencoba memulai menerapkan konsep KTSP dalam pembelajaran di semua mata pelajaran, termasuk IPS Sejarah pada tahun pelajaran 2006/2007. Dengan demikian sudah satu tahun KTSP diterapkan di SMPN 21

Semarang ini. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat masalah mengenai implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah dan peneliti mengambil judul tentang “Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007”

B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : 1. Bagaimana pemahaman guru IPS sejarah di SMP Negeri 21 Semarang mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ? 2. Bagaimana implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang ? 3. Apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang ?

C. Tujuan Penelitian Dalam penelitian ini peneliti memiliki tujuan : 1. Untuk mengetahui pemahaman guru sejarah mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

7

2.

Untuk mengetahui dan mendiskripsikan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang tahun pelajaran 2006/2007.

3.

Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMPN 21 Semarang tahun pelajaran 2006/2007.

D. Manfaat Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta dapat menambah pemahaman dan wawasan mengenai kurikulum baru yang menyempurnakan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada pembelajaran IPS Sejarah di Sekolah Menengah Pertama. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru : Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi untuk dapat : 1) Meningkatkan kualitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dalam mata pelajaran IPS Sejarah. 2) Membantu dalam pencapaian tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

8

3) Mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat di dalam pelaksanaan KTSP. 4) Menganalisis sejauh mana optimalisasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah. 5) Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman dalam ruang lingkup yang lebih luas guna menunjang profesinya sebagai guru. b. Bagi Siswa 1). Menambah wawasan dan pemahaman mengenai KTSP. 2). Meningkatkan minat belajar IPS Sejarah. 3). Meningkatkan kepekaan siswa terhadap perkembangan IPTEK. c. Bagi SMPN 21 Semarang 1). Sebagai studi banding pelaksanaan KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP. 2). Pengembangan jaringan dan kerjasama strategis antara sekolah dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan sekolah. d. Bagi Peneliti Memperoleh wawasan dan pemahaman baru mengenai salah satu aspek yang penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan demikian, diharapkan peneliti sebagai calon guru sejarah siap melaksanakan tugas sesuai kebutuhan dan perkembangan Zaman.

9

E. Penegasan Istilah Agar tidak terjadi salah pengertian terhadap judul skripsi ini dan agar tidak meluas sehingga skripsi ini tetap pada pengertian yang dimaksud dalam judul maka perlu adanya penegasan istilah. Adapun penegasan istilah tersebut sebagai berikut : 1. Implementasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi adalah pelaksanaan, penerapan : pertemuan kedua ini bermaksud mencari bentuk tentang hal yang disepakati dulu (Tim Penyusun 2005:427). Sedangkan menurut Susilo (2007:174) implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something into effect” (penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak). Berdasarkan definisi implementasi tersebut, implementasi kurikulum didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Implementasi kurikulum tertulis (Written Curriculum) dalam bentuk pembelajaran (Susilo 2007:174-175). Berdasarkan uraian tersebut, implementasi pembelajaran berbasis KTSP dapat didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan KTSP dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan

10

lingkungan. Implementasi KTSP juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum operasional dalam bentuk pembelajaran (Mulyasa 2006:246). 2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Istilah kurikulum pada zaman Yunani kuno, berasal dari kata “Curere” yang berarti “tempat pertandingan”. Kurir artinya pelari yang bertugas menyampaikan berita dari suatu tempat ke tempat lain. Kurikulum diartikan “jarak yang harus ditempuh dalam suatu perlombaan lari” atau “rara cource”. Analog dengan makna di atas, kurikulum dalam pendidikan, diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran dan materi yang harus dikuasai peserta didik untuk memperoleh ijazah tertentu (Darsono 2000:126). Selain itu para ahli kurikulum juga memberikan definisinya, dalam bukunya Darsono (2006:127) ada beberapa pengertian kurikulum, diantaranya menurut Mcdonal (1965) menyatakan bahwa kurikulum sebagai rencana kegiatan untuk menuntun pengajaran. Kurikulum juga diartikan sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk pendidikan peserta didik selama belajar di sekolah (Beauchamp, 1981) atau sebagai rencana untuk membelajarkan peserta didik (Hilda Taba, 1962). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kurikulum adalah (1) perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan, (2) perangkat mata kuliah mengenai bidang keahlian khusus (Tim penyusun 2005:617). Ahli kurikulum lainnya Mauritz Johnson dalam bukunya Sukmadinata, kurikulum “Prescribes (or at least anticipates) the result of in struction” kurikulum merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup dan urutan isi serta proses pendidikan

11

(Sukmadinata 2004:4). Jadi kurikulum adalah suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Sedangkan menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (BSNP 2006:5). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus (BSNP 2006:5). 3. Pembelajaran Sejarah Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction” yang berarti self instruction (dari internal) dan external instructionI (dari eksternal) (Sugandi 2004:9). Sedangkan pembelajaran secara umum adalah kegiatan yang dilakukan guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Arti pembelajaran secara khusus yakni secara behavioristik, pembelajaran adalah usaha guru untuk membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus (Darsono 2000: 24). Selain itu, Hamalik (1995:57) berpendapat bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

12

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sejarah dapat diartikan (1) asal usul (keturunan) silsilah, (2) kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat, tambo, cerita, (3) pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau (Tim penyusun 2005:1011). Sedangkan Widja (1989:9) berpendapat bahwa Sejarah adalah adalah suatu studi yang telah dialami manusia di waktu lampau dengan dan yang telah meninggalkan jejak-jejak pada masa lampau dan yang telah meninggalkan jejak-jejak pada masa sekarang, dimana tekanan perhatian diletakkan terutama pada aspek peristiwa sendiri terutama perkembangan yang disusun dalam cerita sejarah. Jadi pembelajaran sejarah adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga masa kini.

F. Sistematika Skripsi Skripsi ini direncanakan terdiri dari 5 (lima) bab. Bab I merupakan bab pendahuluan, di dalamnya terdiri dari antara lain latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, sistematika skripsi. Adapun landasan teori dipaparkan dalam bab II. Didalamnya terdiri dari antara lain, pertama tinjauan mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang meliputi pengertian kurikulum, pengertian KTSP, tujuan KTSP, landasan pengembangan KTSP, prinsip-prinsip pengembangan KTSP, acuan

13

operasional penyusunan KTSP, komponen-komponen KTSP, serta prinsip-prinsip pelaksanaan KTSP. Kedua, tinjauan mengenai manajemen pelaksanaan KTSP di sekolah yang meliputi antara lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar serta pelaporan. Ketiga, tinjauan mengenai pembelajaran yang meliputi pengertian pembelajaran, cirri-ciri pembelajaran, dan tujuan pembelajaran. Keempat, tinjauan mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang meliputi pengertian IPS, karakteristik mata pelajaran IPS, tujuan pembelajaran IPS, serta konsep pembelajaran terpadu dalam IPS. Kelima, tinjauan mengenai mata pelajaran sejarah yang meliputi pengertian sejarah, tujuan dan fungsi mata pelajaran sejarah serta ruang lingkup mata pelajaran sejarah. Sedangkan metode penelitian akan dipaparkan dalam bab III. Didalamnya terdiri dari pendekatan penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel, fokus penelitian, metode pengumpulan data, keabsahan data, analisis data serta prosedur penelitian. Bab selanjutnya bab IV merupakan bab pembahasan dan hasil penelitian. Dalam bab ini menguraikan tentang laporan hasil penelitian, terdiri atas hal-hal yang menyangkut deskripsi obyek penelitian, penyajian dan analisis data, dilanjutkan dengan pembahasan hasil penelitian. Bab terakhir yaitu bab V merupakan bab penutup, dalam bab ini diuraikan mengenai kesimpulan yang didasarkan pada hasil penelitian kemudian dilanjutkan dengan saran-saran.

14

14

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 1. Pengertian Kurikulum Menurut Hilda Taba dalam Nasution (2003:7) mengemukakan bahwa pada hakikatnya kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang berproduktif dalam masyarakatnya. Dalam kurikulum terdapat komponen-komponen tertentu yaitu pernyataan tentang tujuan dan sasaran, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar mengajar dan evaluasi hasil belajar. Sedangkan menurut Oliva dalam Hasan (2007:1) mengemukakan bahwa kurikulum adalah perangkat pendidikan yang merupakan jawaban terhadap kebutuhan dan tantangan masyarakat. Tantangan tersebut dapat dikategorikan dalam berbagai jenjang seperti jenjang nasional, lokal dan lingkungan terdekat (daerah). Tantangan tersebut tidak muncul begitu saja tetapi direkonstruksi oleh sekelompok orang dan umumnya dilegalisasikan oleh pengambil keputusan. Rekonstruksi tersebut menyangkut berbagai dimensi kehidupan dalam jenjang-jenjang tersebut. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 menetapkan pengertian kurikulum sebagai “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

15

Dari penjelasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana pengajaran yang digunakan guru sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.

2. Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Menurut Mulyasa (2006:20-21) menyatakan bahwa KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran yakni sekolah dan satuan pendidikan. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Sedangkan menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus (BSNP 2006:5).

3. Landasan Yuridis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah sebagai berikut :

16

a. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP adalah pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2) (BSNP 2006:4). Dalam Undang-Undang tentang Sisdiknas dikemukakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Selain itu juga dikemukakan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat : pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, IPA, IPS, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 adalah peraturan tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP merupakan kriteria

17

minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terdapat 8 standar nasional pendidikan yang harus diacu oleh sekolah dalam penyelenggaraan kegiatannya. Ke 8 standar tersebut yaitu : 1) Standar isi (SI) 2) Standar proses 3) Standar kompetensi lulusan (SKL) 4) Standar tenaga kependidikan 5) Standar sarana dan prasarana 6) Standar pengelolaan 7) Standar pembiayaan 8) Standar penilaian pendidikan Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP adalah Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20. Dalam peraturan tersebut dikemukakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Selain itu, dalam peraturan tersebut juga dikemukakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Standar Isi (SI). SKL adalah kualifikasi

18

kemampuan

lulusan

yang

mencakup

sikap,

pengetahuan,

dan

keterampilan. Sedangkan standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender

pendidikan/akademik. Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah diorganisasikan ke dalam lima kelompok, yaitu : 1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; 2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; 3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; 4) Kelompok mata pelajaran estetika; 5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan. c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 mengatur tentang standar isi yang mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis

pendidikan tertentu. Secara keseluruhan standar isi mencakup : 1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan KTSP; 2) Beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah;

19

3) KTSP yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi; 4) Kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 mengatur tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan meliputi : 1) Standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah; 2) Standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajarn; dan 3) Standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. e. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 24 tahun 2006 mengatur tentang pelaksanaan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah serta peraturan menteri pendidikan nasional nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, dalam Permendiknas tersebut dikemukakan pula bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan

kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari yang telah ditetapkan,

20

dengan memperhatikan panduan penyusunan KTSP pada satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sementara bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum atau tidak mampu mengembangkan kurikulum sendiri dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP, ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah / madrasah.

4. Tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah : a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama. c. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai (Mulyasa 2006:22).

21

Sedangkan menurut Baedhowi (2007:7-8) menyatakan bahwa tujuan KTSP adalah untuk mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan kekhasan (karakteristik), kondisi, potensi daerah, kebutuhan dan permasalahan daerah, satuan pendidikan dan peserta didik dengan mengacu pada tujuan pendidikan nasional.

5. Karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem penilaian. Berdasarkan uraian diatas, dalam bukunya Mulyasa (2006:29-32) dapat dikemukakan beberapa karakteristik KTSP yaitu sebagai berikut : a. Pemberian Otonomi Luas Kepada Sekolah dan Satuan Pendidikan KTSP memberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat. Sekolah dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan

pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakat. Selain itu, sekolah dan satuan pendidikan juga diberikan kewenangan untuk menggali dan mengelola sumber dana sesuai dengan prioritas kebutuhan. b. Partisipasi Masyarakat dan Orang Tua yang Tinggi Dalam KTSP, pelaksanaan kurikulum didukung oleh partisipasi

masyarakat dan orang tua peserta didik yang tinggi. Orang tua peserta didik dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui bantuan

22

keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. c. Kepemimpinan yang Demokratis dan Profesional Dalam KTSP, pengembangan dan pelaksanaan kurikulum didukung oleh adanya kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional. Kepala sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksana kurikulum merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas profesional. Dalam proses pengambilan keputusan, kepala sekolah mengimplementasikan proses “bottom-up” secara demokratis, sehingga semua pihak memiliki tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil beserta pelaksanaannya. d. Tim Kerja yang Kompak dan Transparan Dalam KTSP, keberhasilan pengembangan kurikulum dan pembelajaran didukung oleh kinerja team yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan. Dalam dewan pendidikan dan komite sekolah misalnya, pihak-pihak yang terlibat bekerja sama secara harmonis sesuai dengan posisinya masing-masing untuk mewujudkan suatu sekolah yang dapat dibanggakan oleh semu pihak. Dalam pelaksanaan pembelajaran misalnya pihak-pihak terkait bekerjasama secara profesional untuk mencapai tujuan atau target yang telah disepakati bersama. Dengan demikian, keberhasilan KTSP merupakan hasil sinergi (sinergistic effect) dari kolaborasi team yang kompak dan transparan.

23

6. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah dengan berpedoman pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut (permendiknas, no 22 tahun 2006) a. Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan peserta didik dan lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. b. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial, ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan

24

pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi. c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan dan memperhatikan pengembangan integritas pribadi, kecerdasan spiritual, keterampilan berpikir (thingking skill), kreatifitas sosial, kemampuan akademik, dan keterampilan vokasional. e. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian kurikulum dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan. f. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, non formal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan

25

tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya. g. Seimbang antar kepentingan nasional dan kepentingan daerah Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan global, nasional, dan lokal untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan global, nasional, dan lokal harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan perkembangan era globalisasi dengan tetap berpegang pada motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

7. Acuan Operasiomal Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia. b. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum

26

disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional dan sosial, spiritual, dan kinestetik peserta didik. c. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan Daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. d. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional Dalam era otonomi dan desentralisasi untuk mewujudkan pendidikan yang otonom dan demokratis perlu memperhatikan keragaman dan mendorong pertisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional. Untuk itu, keduanya harus ditampung secara berimbang dan saling mengisi. e. Tuntutan dunia kerja Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat penting terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta didik yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

27

f. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat berbasis pengetahuan, dimana IPTEK sangat berperan sebagai penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian perkembangan IPTEK sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karma itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan kesinanambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan, teknologi, dan seni. g. Agama Kurikulum harus dikembangkan untuk mendukung peningkatan iman dan taqwa serta ahlak mulia dengan tetap memelihara toleransi dan kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum mata pelajaran harus ikut mendukung meningkatkan iman, taqwa dan ahlak mulia. h. Dinamika perkembangan gobal Pendidikan harus menciptakan kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakan oleh pasar bebas. Pergaulan antarbangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan dengan suku dan bangsa lain. i. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan Pendidikan diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan

kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu, kurikulum harus mendorong berkembangnya wawasan dan

28

sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI. j. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. k. Kesetaraan jender Kuirikulum harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan jender. l. Karakteristik satuan pendidikan Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.

8. Komponen-Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) komponen-komponen KTSP terdiri dari sebagai berikut : a. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. 1) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

29

2) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 3) Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah akhlak meningkatkan mulia, serta

kecerdasan,

pengetahuan,

kepribadian,

keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. b. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut : 1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. 2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. 3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknlogi. 4) Kelompok mata pelajaran estetika. 5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan. Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 pasal 7. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan

30

dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. c. Kalender Pendidikan Kurikulum tingkat satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kelender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu pada dokumen standar isi dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah (Mulyasa 2006:86).

9. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pelaksanaan KTSP di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut : a. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk

mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.

31

b. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakan kelima pilar belajar, yaitu : (a) belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang efektif, aktif, kreatif, dan menyenangkan. c. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/ atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral. d. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (dibelakang memberikan daya dan kekuatan, ditengah membangun semangat dan prakarsa, didepan memberikan contoh dan teladan). e. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multi strategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. f. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

32

g. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri diselenggarakan dalam

keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. Ketujuh prinsip diatas harus diperhatikan oleh para pelaksana kurikulum (guru), dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, baik menyangkut perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.

B. Tinjauan Mengenai Manajemen Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Manajemen pelaksanaan kurikulum di sekolah merupakan bagian dari program peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan pola pengelolaan pelaksanaan kurikulum secara nasional. Menurut Caldwell & Spinks dalam Susilo (2007:154) menyatakan bahwa manajemen pelaksanaan kurikulum di sekolah mengatur kegiatan operasional dan hubungan kerja personil sekolah dalam upaya melayani siswa mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan. Kegiatan sekolah tersebut terkait dengan kurikulum yang meliputi perencanaan kegiatan belajar mengajar berdasar kurikulum yang berlaku secara nasional dan lokal, penyampaian kurikulum, proses belajar mengajar, dan evaluasi. Berdasarkan konsep manajemen tersebut, menurut Susilo (2007:155) menjelaskan bahwa manajemen pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di sekolah meliputi antara lain :

33

1. Perencanaan Perencanaan kurikulum secara nasional menjadi tugas Depdiknas dan secara lokal menjadi tugas Dinas Pendidikan Kabupaten. Namun dalam KTSP guru diberi kewenangan penuh untuk menyusun program-program

perencanaan. Dalam menyusun perencanaan program-program tersebut harus guru harus mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta panduan penyusunan KTSP yang telah disusun oleh BSNP. Adapun perencanaan program-program pengembangan KTSP tersebut antara lain : a. Program Tahunan Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang

bersangkutan. Program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran, karena merupakan pedoman bagi

pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester, program mingguan, dan program harian atau program pembelajaran setiap kompetensi dasar. b. Program semester Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester ini merupakan penjabaran dari program tahunan. Pada umumnya program semester ini berisikan tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, waktu yang direncanakan, dan keterangan-keterangan. c. Program mingguan dan harian

34

Untuk membantu kemajuan belajar peserta didik, disamping modul perlu dikembangkan program mingguan dan harian. Program ini merupakan penjabaran dari program semester dan program modul. Melalui program ini dapat diketahui tujuan-tujuan yang telah dicapai dan yang perlu diulang, bagi setiap peserta didik. Melalui program ini juga diidentifikasi kemajuan belajar setiap peserta didik, sehingga dapat diketahui peserta didik yang mendapat kesulitan dalam setiap modul yang dikerjakan, dan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar diatas rata-rata kelas. Bagi peserta didik yang cepat bisa diberikan pengayaan, sedang bagi yang lambat dilakukan pengulangan modul untuk mencapai tujuan yang belum dicapai. d. Program pengayaan dan remedial Program ini merupakan pelengkap dan penjabaran dari program mingguan dan harian. Berdasarkan hasil analisis terhadap kegiatan belajar, dan terhadap tugas-tugas modul, hasil tes, dan ulangan dapat diperoleh tingkat kemampuan belajar setiap peserta didik. Hasil analisis ini dipadukan dengan catatan-catatan yang ada pada program mingguan dan harian, untuk digunakan sebagai bahan tindak lanjut proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Program ini juga mengidentifikasi modul yang perlu diulang, peserta didik yang wajib mengikuti remedial, dan yang mengikuti program pengayaan. e. Program pengembangan diri. Dalam pelaksanaan KTSP, sekolah berkewajiban memberikan program pengembangan diri melalui bimbingan dan konseling kepada peserta didik yang menyangkut pribadi, sosial, belajar, dan karier. Selain guru

35

pembimbing, guru mata pelajaran yang memenuhi kriteria pelayanan bimbingan dan karier diperkenankan memfungsikan diri sebagai guru pembimbing. Oleh karena itu, guru mata pelajaran harus senantiasa berdiskusi dan berkoordinasi dengan guru bimbingan dan konseling secara rutin dan berkesinambungan.

2. Pengorganisasian Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam KTSP dan berbeda berbeda dari kurikulum sebelumnya adalah penerapan pendekatan

pembelajaran tuntas dan mengakui perbedaan kecepatan belajar setiap siswa. Implikasinya adalah ada layanan pembelajaran secara klasikal dan individual, seperti pengajaran remedial bagi siswa yang belum kompeten, pengayaan bagi siswa yang kompeten 75-85 %. Namun demikian pengorganisasian kurikulum tingkat satuan pendidkan secara individual tersebut perlu memperhatikan beban mengajar regular dan ketersediaan SDM dan fasilitas.

Sumber daya tersedia

Jumlah peserta didik

Rencana kegiatan kurikuler

Jadwal kegiatan belajar mengajar (KBM)

Remidi

Penilaian hasil belajar

Pengayaan

KBM selanjutnya

Gambar 1 : Penyusunan jadwal kegiatan belajar mengajar (Sumber : Susilo 2007:159)

36

3. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Dalam Mulyasa (2006:255-258) pelaksanaan

pembelajaraan berbasis KTSP mencakup tiga hal yaitu : pre tes, pembentukan kompetensi, dan post test. Ketiga hal tersebut dijelaskan sebagai berikut ini : a. Pre Tes (tes awal) Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pre tes. Pre tes ini memiliki banyak kegunaan dalam menajajagi proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, pre tes memegang peranan yang cukup penting dalam proses pembelajaran. Fungsi pre tes antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut : 1) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pre tes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka kerjakan. 2) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pre tes dengan post tes. 3) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran. 4) Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dikuasai peserta didik, serta kompetensi dasar mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.

37

b. Pembentukan Kompetensi Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran yakni bagaimana kompetensi dibentuk pada peserta didik, dan bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan. Proses pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya (Mulyasa 2006:256). Kualitas pembentukan kompetensi dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Pada pembelajaran tuntas, kriteria pencapaian kompetensi yang ditetapkan adalah minimal 75 % oleh karena itu setiap kegiatan belajar mengajar diakhiri dengan penilaian pencapaian kompetensi siswa dan diikuti rencana tindak lanjutnya. Hasil penilaian ada tiga kemungkinan, yaitu kompetensi 75-85% dalam waktu terjadwal, kompetensi lebih dari 85 % dalam waktu kurang dari alokasi atau kompetensi dalam waktu terjadwal, sebagaimana yang tergambar berikut :

KBM

Waktu terjadwal habis Kompetensi < 75 %

Penilaian

Waktu terjadwal sisa

Kompeten 75-85 %

Gambar 2 : Tiga Kemungkinan Hasil Penelitian (Sumber : Susilo 2007:160)

38

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka tindak lanjutnya ada tiga kemungkinan, yaitu pemberian remedi, pemberian pengayaan, dan atau akselerasi. Perbedaan tindak lanjut tersebut berdasarkan variasi pencapaian kompetensi siswa sebagai berikut : 1) Melanjutkan ke KBM berikutnya secara klasikal bila dalam waktu terjadwal sebagian besar siswa mencapai kompetensi minimal 85 %. 2) Pemberian remedi secara individual / kelompok kepada siswa yang dalam waktu terjadwal belum mencapai kompetensi minimal 75 %, sehingga siswa tersebut belum diizinkan melanjutkan ke KBM berikutnya. 3) Pemberian pengayaan kepada siswa yang sudah mencapai kompetensi antara 75-85 % sedangkan waktu terjadwal masih tersisa. 4) Pemberian izin akselerasi (percepatan) ke pembelajaran Kompetensi Dasar (KD) berikutnya secara individual kepada siswa yang sudah kompeten lebih dari 85 % sedangkan waktu terjadwal belum habis.

39

Ilustrasi kegiatan tersebut di atas dapat diperjelas dengan gambar berikut :

Kompetensi < 75 % dan Waktu habis

Kompetensi 75-85% dan waktu habis

Kompetensi > 85 % dan waktu habis

KBM Remedi

Penilaian ulang

Kompetensi 75-85% dan waktu tersisa

Bimbingan Psikologis/ Akademis

Kompetensi minimal 75 %

KBM pengayaan

Akselerasi

Konselor/wali Kelas

KBM regular berikutnya

Layanan KBM individual

Gambar 3 : Manajemen kegiatan pembelajaran tuntas (Sumber : Susilo 2007:161)

c. Post test Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan post tes. Sama halnya dengan pre tes, post tes juga memiliki banyak kegunaan, teutama dalam melihat keberhasilan pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Fungsi post tes antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut : 1) Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan antara hasil pre tes dan post tes.

40

2) Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya. 3) Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remedial, dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar yang dihadapi. 4) Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.

4. Penilaian hasil belajar / evaluasi Evaluasi dibedakan menjadi dua, yaitu evaluasi oleh pihak dalam (guru dan pengelola sekolah) yang selanjutnya disebut evaluasi diri dan evaluasi oleh pihak luar (badan independen atau badan akreditasi sekolah). Sasaran evaluasi secara garis besar mencakup masukan (termasuk program), proses, dan hasil (Susilo 2007:162). Penilaian hasil belajar dalam KTSP dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program. Untuk lebih jelasnya di dalam Mulyasa (2006:258-261) dijelaskan sebagai berikut : a. Penilaian kelas Penilaian kelas dapat dilakuakan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir.

41

1) Ulangan harian Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam kompetensi dasar tertentu. Ulangan harian ini terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab para peserta didik, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan konsep yang sedang dibahas, ulangan harian dilakukan tiga kali dalam setiap semester. 2) Ulangan umum Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir semester dengan bahan yang diujikan sebagai berikut : a) Ulangan umum semester pertama soalnya diambil dari materi semester pertama. b) Ulangan umum semester kedua soalnya merupakan gabungan dari materi semester pertama dan kedua, dengan penekanan pada materi semester kedua. Ulangan umum dilaksanakan secara bersama untuk kelas-kelas paralel, dan pada umumnya dilakukan ulangan umum bersama, baik tingkat rayon, kecamatan, kodya/kabupaten maupun provonsi. 3) Ujian akhir Ujian akhir dilakukan pada akhir program pendidikan. Bahan-bahan yang diujikan meliputi seluruh kompetensi dasar yang telah diberikan, dengan penekanan pada kompetensi dasar yang dibahas pada kelaskelas tinggi. Hasil evaluasi ujian akhir ini terutama digunakan untuk menentukan kelulusan bagi setiap peserta didik, dan layak tidaknya untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat atasnya.

42

b. Tes kemampuan dasar Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial). Tes kemampuan dasar dilakukan pada setiap tahun akhir kelas tiga. c. Penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi Pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan kegiatan penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu. Untuk keperluan sertifikasi, kinerja, dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) tidak semata-mata didasarkan atas hasil penilaian akhir jenjang sekolah. d. Benchmarking Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan. Ukuran keunggulan dapat ditentukan di tingkat sekolah, daerah, atau nasional. Penilaian dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga peserta didik dapat mencapai satuan tahap keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan usaha dan keuletannya. e. Penilaian program Penilaian program dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinu dan berkesinambungan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian KTSP dengan dasar, fungsi, dan mengetahui tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan masyarakat, dan kemajuan zaman.

43

5. Pelaporan Pelaporan mencakup laporan guru, laporan wali kelas, dan laporan kepala sekolah. Untuk lebih jelasnya Susilo (2007:166-168) menjelaskan sebagai berikut : a. Laporan guru Memuat hasil pembelajaran (mencapai kompetensi siswa) dan mata pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya. Laporan guru disampaikan kepada wali kelas. Guru bisa melengkapi laporannya dengan informasi tentang hambatan yang dihadapi, upaya yang telah ditempuh, dan atau kegagalan yang terjadi karena adanya hambatan yang tidak bisa diatasi. Informasi tersebut merupakan bahan laporan wali kelas kepada kepala sekolah dan sebagai bahan menyusun program kerja tahun berikutnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :

Pencapaian Kompetensi mata pelajaran Laporan Hambatan dan upaya mengatasinya Wali kelas

Gambar 4 : Laporan Guru (Sumber : Susilo 2007:166)

44

b. Laporan wali kelas Memuat pretasi (pencapaian kompetensi) dari kelas binaannya untuk disampaikan kepada orang tua siswa dan siswa yang bersangkutan. Wali kelas juga membuat laporan tentang profil kompetensi siswa dan pembinaan yang pernah dilakukan atau kasus yang terjadi dari kelas binaannya untuk disampaikan kepada kepala sekolah. Laporan tersebut sebagai bahan kepala sekolah membuat laporan sekolah.

Profil pencapaian kompetensi per kelas

Kepala sekolah

Laporan Wali kelas

Pencapaian Kompetensi per siswa

Ortu & siswa

Gambar 5 : Laporan wali kelas (Sumber : Susilo 2007:167)

c. Laporan Kepala Sekolah Memuat hasil evaluasi kinerja sekolah secara keseluruhan, profil kompetensi siswa di sekolah yang dipimpinnya, serta pertanggungjawaban

45

keuangan sekolah. Laporan kinerja sekolah secara keseluruhan, yang diharapkan dalam pedoman ini, lebih menekankan pada laporan akuntabilitas, yaitu laporan pertanggungjawaban berdasarkan kebenaran esensial dan faktual disamping berdasarkan dokumen tertulis. Laporan dibuat berdasarkan hasil evaluasi, akreditasi, dan hasil analisis faktual. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut :

Evaluasi diri

Siswa

Pengakuan pengguna lulusan

Laporan

Komite

Orang tua Akreditasi DinasPendidikan

Gambar 6 : Pola laporan Kepala Sekolah (Sumber : Susilo 2007:168)

C. Tinjauan Mengenai Pembelajaran 1. Pengertian Pembelajaran Secara umum pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa menjadi berubah ke arah yang lebih baik (Darsono 2002:24).

46

Selanjutnya ada beberapa ciri-ciri pembelajaran menurut Darsono (2002:24) yaitu sebagai berikut : a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. b. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. d. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menyenangkan bagi siswa. e. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran baik secara fisik maupun psikologis. Sedangkan pengertian pembelajaran secara khusus adalah antara lain : a. Menurut teori behavioristik pembelajaran adalah suatu usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan

lingkungan, agar terjadi hubungan dengan subjek belajar serta perlu diberikan reinforcement (hadiah) untuk meningkatkan motivasi kegiatan belajar. b. Menurut teori kognitif pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada si belajar untuk berpikir agar memahami apa yang dipelajari. c. Menurut teori Gestalt, pembelajaran adalah usaha guru memberikan mata pelajaran sedemikian rupa sehingga siswa lebih mudah mengaturnya menjadi suatu Gestalt (pola bermakna). Bantuan guru diperlukan untuk mengaktualkan potensi yang terdapat pada diri siswa.

47

d. Menurut teori Humanistik, pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada si belajar untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya (Haryanto 2003:8).

2. Ciri-Ciri Pembelajaran Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran, Hamalik (2003:66) menjelaskan ketiga ciri-ciri tersebut yaitu : a. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus. b. Kesalingtergantungan (interdependence), antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran. c. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem yang alami (natural). Tujuan utama sistem pembelajaran adalah agar siswa belajar. Tugas seorang perancang sistem ialah mengorganisasi tenaga, material, dan prosedur agar siswa belajar secara efisien dan efektif.

3. Tujuan Pembelajaran Dalam upaya mencapai tujuan kurikuler program pendidikan di suatu lembaga pendidikan, maka perlu dirumuskan tujuan pembelajaran baik tujuan pembelajaran umum maupun tujuan pembelajaran khusus. Maka bila tujuan pembelajaran suatu program atau bidang pelajaran itu ditinjau dari hasil belajar

48

akan muncul aspek psikologis atau “human ability”, fungsi pendidikan pada hakekatnya adalah mengembangkan potensi manusia atau “human ability” (Sugandi 2006:23). Klausmire dalam Sugandi (2006:23) menyatakan bahwa “human ability” dapat dibedakan atas potensi cognitive domain, affective domain, dan physchomotor domain. a. Tujuan pembelajaran ranah kognitif Taksonomi ini mengelompokan ranah kognitif kedalam enam kategori. Keenam kategori itu mencakup keterampilan intelektual dari tingkat rendah sampai dengan tinggkat tinggi. Keenam kategori itu tersusun secara hirarkis yang berarti tujuan pada tingkat diatasnya dapat dicapai apabila tujuan pada tingkat dibawahnya telah dikuasai. Adapun keenam kategori tersebut adalah sebagai berikut : 1) Kemampuan kognitif tingkat pengetahuan (C1) Kemampuan kognitif tingkat pengetahuan adalah kemampuan untuk mengingat (recall) akan informasi yang telah diterima, misalnya informasi mengenai fakta, konsep, rumus, dan sebagainya. 2) Kemampuan kognitif tingkat pemahaman (C2) Kemampuan kognitif tingkat pemahaman adalah kemampuan mental untuk menjelaskan informasi yang telah diketahui dengan bahasa atau ungkapannya sendiri. 3) Kemampuan kognitif tingkat penerapan (C3) Kemampuan kognitif tingkat penerapan adalah kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah diketahui kedalam situasi atau konteks baru.

49

4) Kemampuan kognitif tingkat analisis (C4) Kemampuan kognitif tingkat analisis adalah kemampuan menguraikan suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi dan semacamnya atas elemenelemennya, sehingga dapat menentukan hubungan masing-masing elemen. 5) Kemampuan kognitif tingkat sintesis (C6) Kemampuan kognitif tingkat sintesis adalah kemampuan

mengkombinasikan elemen-elemen kedalam kesatuan atau struktur. 6) Kemampuan kognitif tingkat evaluasi (C6) Kemampuan kognitif tingkat evaluasi adalah kemampuan menilai suatu pendapat, gagasan, produk, metode, dan semacamnya dengan suatu kriteria tertentu. b. Tujuan pembelajaran ranah Afektif Tujuan pembelajaran ranah afektif berorientasi pada nilai dan sikap. Tujuan pembelajaran tersebut menggambarkan proses seseorang dalam mengenali dan mengadopsi suatu nilai dan sikap tertentu menjadi pedoman dalam bertingkah laku. Krathwol dalam Sugandi (2006:26-27) membagi taksonomi tujuan pembelajaran ranah afektif kedalam lima kategori yaitu : 1) Pengenalan (Receiving) Pengenalan (Receiving) adalah katergori jenis perilaku ranah afektif yang menunjukan kesadaran, kemauan, perhatian individu untuk menerima dan memperhatikan berbagai stimulus dari lingkungannya.

50

2) Pemberian respon (Responding) Pemberian respon atau partisipasi adalah kategori jenis perilaku ranah afektif yang menunjukan adanya rasa kepatuhan individu dalam hal mematuhi dan ikut serta terhadap sesuatu gagasan, benda, atau sistem nilai. 3) Penghargaan terhadap nilai (Valuing) Penghargaan terhadap nilai adalah kategori jenis perilaku ranah afektif yang menunjukan menyukai, menghargai dari seseorang individu terhadap sesuatu gagasan, pendapat atau sistem nilai. 4) Pengorganisasian (Organization) Pengorganisasian adalah kategori jenis perilaku ranah afektif yang menunjukan kemauan membentuk sistem nilai dari berbagai nilai yang dipilih. 5) Pengamalan (Characterization) Pengamalan adalah kategori jenis perilaku ranah afektif yang menunjukan kepercayaan diri untuk mengintegrasikan nilai-nilai kedalam suatu filsafat hidup yang lengkap dan meyakinkan. c. Tujuan pembelajaran ranah Psikomotorik Tujuan pembelajaran ranah psikomotorik dikembangkan oleh Sympson dam Harrow (1969). Taksonomi Sympson dalam Sugandi (2006:27-28) juga menyusun tujuan psikomotorik secara hirarkis dalam lima kategori yaitu :

51

1) Peniruan (Imitation) Kemampuan melakukan perilaku meniru apa yang dilihat atau di dengar. Pada tingkat meniru perilaku yang ditamkan belum bersifat otomatis, bahkan mungkin masih salah tidak sesuai dengan yang ditiru. 2) Manipulasi (Manipulation) Kemampuan melakukan perilaku tanpa contoh atau bantuan visual, tetapi dengan petunjuk tulisan secara verbal. 3) Ketapatan gerakan (Precision) Kemampuan melakukan perilaku tertentu dengan lancar, tepat dan akurat tanpa contoh dan petunjuk tertulis. 4) Artikulasi (Articulation) Keterampilan menunjukan perilaku serangkaian gerakan dengan akurat, urutan benar, cepat dan tepat. 5) Naturalisasi (Naturalization) Keterampilan menunjukan perilaku gerakan tertentu secara

“automatically” artinya cara melakukan gerakan secara wajar dan efisien.

D. Tinjauan Mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah pembelajaran terintegrasi terhadap ilmu-ilmu sosial dan hiumanitas dalam pendidik kompetensi warga negara. Sejalan dengan program sekolah (pendidikan), IPS berkoordinasi serta secara sistematik ditarik dari berbagai disiplin ilmu sosial, seperti antropologi, sosiologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, psikologi, ilmu

52

politik, filsafat, agama, dan sosiologi,, dan juga memperhatikan humaniora, matematika, dan ilmu pengetahuan alam (Kasmadi 2007:1). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial (Puskur 2006:5). Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial (Puskur 2006:5).

53

Sejarah

Ilmu Politik

Geografi Ilmu Pengetahuan Sosial

Ekonomi Psikologi Sosial Filsafat

Sosiologi

Antropologi

Gambar 7 : Keterpaduan Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial (Sumber : Puskur 2006:5)

2. Karakteristik Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Karakteristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial SMP / MTs menurut Puskur (2006:6) antara lain sebagai berikut. a. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama. b. Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu. c. Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.

54

d. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan. e. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan.

3. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di

masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut : a. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau

lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat. b. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.

55

c. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat. d. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat. e. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.

4. Konsep Pembelajaran dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Salah satu di antaranya adalah memadukan kompetensi dasar melalui pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari

56

isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. a. Model integrasi berdasarkan topik. Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya ‘pariwisata’. Pariwisata dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengembangan pariwisata dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi. Secara sosiologis, pariwisata itu juga dapat ditinjau dari partisipasi masyarakat, pengaruhnya terhadap kondisi sosial budaya setempat, dan interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Secara historis dapat dikembangkan melalui sejarah daerah pariwisata tersebut. Keadaan politik juga dapat dikaji pula pada topik pengembangan pariwisata berkaitan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan pariwisata. Selanjutnya, dampak pariwisata terhadap perkembangan ekonomi lokal maupun nasional dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi.

57

Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu.

Sejarah perkembangan daerah pariwisata

Sejarah

Geografi

Persebaran, kondisi fisik daerah objek wisata

PENGEMBANGAN PARIWISATA Partisipasi masyarakat Pengaruh terhadap perkembangan masyarakat di sekitar objek wisata Dampak terhadap kesejahteraan masyarakat

Sosiologi Politik

Ekonomi

Gambar 8 : Model Integrasi IPS Berdasarkan Topik/Tema (Sumber : Puskur 2006:8)

b. Model integrasi berdasarkan potensi utama. Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, sosial/antropologis, historis kronologis dan

58

kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka siswa selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam Ilmu Pengetahuan Sosial.

Keadaan Alam Potensi objek wisata BALI SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA

Sosiologis/ antropologis Memupuk aspirasi terhadap kesenian

Keadaan Politik Keamanan dan stabilitas daerah

Ekonomi Azas manfaat terhadap kesejahteraan penduduk

Gambar 9 : Model Integrasi IPS Berdasarkan Potensi Utama (Sumber : Puskur 2006:9)

c. Model integrasi berdasarkan permasalahan. Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, pemukiman kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor

59

ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma.

Faktor sosial, dan budaya PEMUKIMAN KUMUH Perilaku terhadap aturan

Faktor Ekonomi

Faktor historis

Gambar 10 : Model Integrasi IPS Berdasarkan Permasalahan (Sumber : Puskur 2006:9)

E. Tinjauan Mengenai Mata Pelajaran IPS Sejarah 1. Pengertian Mata Pelajaran IPS Sejarah Sejarah dalam pengertian bahasa memiliki empat pengertian, yakni a. Sesuatu yang telah berlalu, suatu peristiwa, suatu kejadian. b. Riwayat dari kejadian dimasa lalu. c. Semua pengetahuan tentang masa lalu, khususnya tentang masyarakat tertentu. d. Ilmu yang berusaha menentukan dan mewariskan pengetahuan tentang masa lalu (Gasalba, 1981:2).

60

Sejarah sebagai mata pelajaran adalah pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga masa kini. Pada sekolah menengah pertama, sejarah merupakan bagian dari mata pelajaran IPS. Sebagai bagian dari mata pelajaran IPS, maka sejarah terkait dengan struktur kurikulum IPS, meskipun dalam pembelajarannya bisa dilakukan secara terpisah. Kurikulum sejarah sekolah menengah pertama merupakan hal yang penting karena sekolah menengah merupakan tingkat pendidikan yang harus diterima oleh semua anak bangsa.

2. Tujuan dan Fungsi Mata Pelajaran IPS Sejarah Setiap bangsa memiliki sejarahnya masing-masing di mana keberadaan suatu bangsa tidak lepas dari masa lalunya, termasuk bangsa Indonesia. Namun arti penting sejarah suatu bangsa banyak yang kurang menyadari. Kita melupakan bahwa sejarah adalah dasar bagi identitas nasional yang merupakan salah satu modal utama dalam membangun bangsa kita, baik dimasa kini maupun masa yang akan datang (Widya 1988:10). Menurut Wasino, tujuan mata pelajaran sejarah di sekolah adalah untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan sebagai berkut : a. Agar siswa memperoleh kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. b. Membangun kesadaran akan pentingnya waktu (time) yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini dan masa depan.

61

c. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta-fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan (sejarah) d. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban Bangsa Indonesia di masa lampau. e. Menumbuhkan pemahaman terhadap peserta didik bahwa proses terbentuknya Bangsa Indonesia melalui proses yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. f. Menumbuhkan kesadaran dalam peserta didik bahwa mereka menjadi bagian dari Bangsa Indonesia yang harus memiliki rasa kebanggaan dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kegiatan dan lapangan pengabdian. Oleh karena itu, pembelajaran sejarah sangat penting artinya untuk diajarkan di sekolah-sekolah.

3. Ruang lingkup Mata Pelajaran IPS Sejarah Ruang lingkup materi pelajaran IPS sejarah di sekolah menengah pertama disusun berdasarkan urutan kronologis yang dijabarkan dalam aspekaspek tertentu sebagai materi standar. Menurut Mulyasa (2006:126-127) ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut a. Manusia, tempat dan lingkungan b. Waktu, berkelanjutan dan perubahan c. Sistem sosial dan budaya d. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan

62

63

62

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian Metode penelitian yang digunakan untuk mengkaji mengenai

implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang adalah metode kualitatif. Menurut Bogdan & Taylor (1975 : 5) mendefinisikan penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari sesuatu kebutuhan. Sedangkan menurut Sugiyono (2006:15) menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti sebagai instrumen kunci. Pengambilan sampel sumber data dilakukan secara Purposive dan Snowball, teknik pengumpulan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat

induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural)

63

(setting) Disebut sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Filsafat postpositivisme sering juga disebut sebagai paradigma interpretif dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah, obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut (Sugiyono 2006:14-15). Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini, karena pada umumnya permasalahannya belum jelas, holistik, dinamis, dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut diperoleh dengan metode penelitian kuantitatif dengan instrumen seperti test, kuesioner, pedoman wawancara. Selain itu peneliti bermaksud memahami situasi sosial secara mendalam, menemukan pola, hipotesis dan teori (Sugiyono 2006:399). Selain alasan tersebut, peneliti juga mempunyai beberapa pertimbanganpertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Moleong 2004:10). Terkait dengan jenis penelitian tersebut, maka pendekatan penelitian bertumpu pada pendekatan fenomenologis, yakni usaha untuk memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu (Moleong 2002:9). Dalam hal ini, peneliti berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subyek yang diteliti sedemikian rupa sehingga mereka mengerti

64

apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan pendekatan inilah diharapkan bahwa implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang tahun ajaran 2006/2007 dapat dideskripsikan secara lebih teliti dan mendalam.

B. Fokus Penelitian Dalam mempertajam penelitian ini, peneliti menetapkan batasan masalah yang disebut dengan fokus penelitian, yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum. Spradley dalam Sugiyono (2006:286) menyatakan bahwa “a focused refer to a single cultural domain or a few related domains” maksudnya adalah bahwa fokus penelitian merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Dalam penelitian kualitatif, gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti meliputi aspek tempat (places), pelaku (actor) dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah pemahaman guru sejarah mengenai kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah serta faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang tahun ajaran 2006/2007.

65

C. Sumber Data Penelitian Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto 2002:107). Sedangkan menurut Lofland dan Lofland (1984:47) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Moleong 2004:157). Dengan demikian, sumber data penelitian yang bersifat kualitatif dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sumber data primer Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari informan di lapangan yaitu melalui wawancara mendalam (indept interview) dan observasi partisipasi. Berkaitan dengan hal tersebut, wawancara mendalam dilakukan kepada guru-guru sejarah, Wakil Kepala Sekolah serta peserta didik di SMP Negeri 21 Semarang. 2. Sumber data sekunder Sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh secara tidak langsung dari informan di lapangan, seperti dokumen dan sebagainya. Dokumen tersebut dapat berupa buku-buku dan literature lainnya yang berkaitan serta berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti. Data sekunder yang peneliti gunakan dalam penelitian ini berupa dokumen sekolah SMP Negeri 21 Semarang.

D. Teknik Pengambilan Sampel Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah pertama, metode purposive sampling, Menurut Sugiyono (2006:300) menyatakan bahwa purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan

66

pertimbangan tertentu. Fokus dalam penelitian ini adalah pemahaman guru sejarah SMP Negeri 21 Semarang mengenai KTSP, implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah serta faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang. Dengan mengacu pada fokus penelitian tersebut, maka sampel sumber data yang ditentukan adalah : guru-guru IPS sejarah di SMP Negeri 21 Semarang serta para peserta didik. Adapun pertimbangan mengambil sampel sumber data tersebut karena informan dianggap berhubungan langsung dengan masalah yang sedang diteliti sehingga akan memudahkan peneliti untuk memperoleh informasi. Kedua, metode snowball sampling, menurut Sugiyono (2006:300) menyatakan bahwa snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data yang pada awalnya jumlahnya sedikit lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit tersebut belum mampu memberikan data yang lengkap, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dalam penelitian ini apabila informasi yang diperoleh dianggap belum lengkap, maka peneliti akan mencari informan lain yang dianggap lebih menguasai dari permasalahan tersebut. Misalnya dengan kepala sekolah atau pihak-pihak lain yang berkompeten.

E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Dalam penelitian kualitatif, data

67

yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, maka metode yang digunakan untuk proses pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : 1. Observasi Partisipatif Dengan observasi partisipatif, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Susan stainback dalam Sugiyono (2006:331) menyatakan “in participant observation the researcher observes what people do, listent to what they say, and participates in their activities” maksudnya dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka. Berkaitan dengan observasi ini, peneliti menggunakan metode partisipasi pasif (passive participation), jadi dalam hal ini peneliti datang ditempat kegiatan orang yang diamati, akan tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan mereka. Partisipasi pasif yang dilakukan oleh peneliti adalah menekankan fokus dari permasalahan yaitu mendengarkan informasi dari guru-guru IPS sejarah di SMP Negeri 21 Semarang, kemudian melakukan pengamatan terhadap implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di kelas-kelas serta mengamati keadaan sarana dan prasarana pada pembelajaran IPS Sejarah. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Rambu-rambu pengamatan tersebut pengisiannya dalam bentuk memberi tanda cek list ( ) pada salah satu jawaban yang telah peneliti sediakan pada rambu-rambu

68

tersebut, namun demikian tidak menutup kemungkinan bagi peneliti untuk mencatat hal-hal yang belum dirumuskan dalam rambu-rambu pengamatan tersebut. 2. Wawancara Mendalam (In Dept Interview) Wawancara menurut Sugiyono (2006:317) adalah merupakan

pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikostruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Sedangkan menurut Hadi (2004:217) mengemukakan bahwa wawancara adalah suatu proses tanya jawab lisan, dalam mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan suaranya dengan telinga. Wawancara merupakan alat pengumpul informasi langsung untuk berbagai jenis data sosial, baik yang terpendam (latent) maupun yang memanifes. Dalam penelitian ini, peneliti menggabungkan teknik observasi partisipatif dengan wawancara mendalam, selama melakukan observasi peneliti juga melakukan interview kepada orang-orang yang ada didalamnnya. Metode wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara semiterstruktur (semistructure interview), menurut Sugiyono (2006:320) jenis wawancara ini termasuk dalam kategori in depth interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapatnya serta ide-idenya. Informan yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah guru-guru IPS sejarah di SMP Negeri 21 Semarang, serta para peserta didik dan Wakil

69

Kepala Sekolah (apabila informasi yang diperoleh dianggap masih kurang oleh peneliti). Untuk menjaga kredibilitas hasil wawancara tersebut, maka perlu adanya pencatatan data, dalam hal ini peneliti menggunakan tape recorder yang berfungsi untuk merekam hasil wawancara tersebut. Mengingat bahwa tidak setiap informan suka dengan adanya alat tersebut karena merasa tidak bebas ketika diwawancarai, maka peneliti meminta izin terlebih dahulu kepada informan dengan menggunakan tape recorder tersebut. Disamping menggunakan tape recorder, peneliti juga mempersiapkan buku catatan yang berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data. Selain itu juga berguna untuk membantu peneliti dalam merencanakan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Supaya hasil wawancara dapat terekam dengan baik, dan peneliti memiliki bukti bahwa telah melakukan wawancara kepada informan atau sumber data, maka peneliti menggunakan camera digital untuk memotret ketika peneliti sedang melakukan pembicaraan dengan informan atau sumber data. Dengan adanya foto ini, maka dapat meningkatkan keabsahan penelitian, karena peneliti benar-benar melakukan pengumpulan data. 3. Studi Dokumentasi Menurut Arikunto (2002:206) studi dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabe yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kantor, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya. Sedangkan menurut Sugiyono (2006:329) mengemukakan bahwa studi dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.

70

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah. Akan tetapi perlu dicermati bahwa tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi. Dalam penelitian ini, studi dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan mengumpulkan data melalui sumber-sumber tertulis misalnya dokumen-dokumen resmi, makalah-makalah penelitian dan buku-buku yang relevan dengan penelitian ini. Studi dokumen resmi yang dilakukan peneliti adalah mengumpulkan data melalui pencatatan atau data-data tertulis mengenai keadaan SMP yang diteliti yaitu SMP Negeri 21 Semarang.

F. Keabsahan Data Pemeriksaan terhadap keabsahan data merupakan salah satu bagian yang sangat penting di dalam penelitian kualitatif yaitu untuk mengetahui derajat kepercayaan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Apabila peneliti melaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat dan menggunakan teknik yang tepat, maka akan diperoleh hasil penelitian yang benarbenar dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai segi. Untuk memeriksa keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi. Menurut Moleong (2004:330) triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Sedangkan menurut Sugiyono (2006:330) triangulasi diartikan sebagai teknik

71

pengumpulan data yang bersifat menggabungkan data dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Dalam bukunya Sugiyono (2006:330) triangulasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kedua macam triangulasi tersebut yaitu : 1. Triangulasi Teknik Menurut Sugiyono (2006:330) triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk

mendapatkan data dari sumber data yang sama. Adapun trianggulasi teknik ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut : Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, Serta dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Observasi Partisipatif

Wawancara mendalam

Sumber data sama.

Dokumentasi

Gambar 11 : Triangulasi “teknik” pengumpulan data (bermacammacam cara pada sumber yang sama). (Sumber : Sugiyono 2006:331).

72

2. Triangulasi Sumber Menurut Sugiyono (2006:330) triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Wawancara mendalam

Gambar 12 : Triangulasi “sumber” pengumpulan data. (satu teknik pengumpulan data pada bermacam-macam sumber data A, B, C). (Sumber : Sugiyono 2006:331).

Mathinson dalam Sugiyono (2006:332) mengemuakakan bahwa “the value of triangulation lies in providing evidence, whether convergent in consistent, or contracdictory” maksudnya nilai dari teknik pengumpulan data dengan triangulasi adalah untuk mengetahui data yang diperoleh convergent

73

(meluas), tidak konsisten atau kontradiksi. Oleh karena itu, dengan menggunakan teknik triangulasi dalam pengumpulan data, maka data yang diperoleh akan lebih konsisten, tuntas dan pasti. Selain itu, dengan triangulasi akan lebih meningkatkan kekuatan data, apabila dibandingkan dengan satu pendekatan.

G. Teknik Analisis Data Menurut Bogdan & Taylor, analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilihmilihnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong 2004:248). Sedangkan menurut Sugiyono (2006:335) menyatakan bahwa analisis data kualitatif ialah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai penelitian di lapangan. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang grounded. Namun dalam kenyataannya analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data daripada setelah selesai

pengumpulan data (Sugiyono 2006:336).

74

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban informan yang diwawancarai. Apabila jawaban informan, setelah dianalisis dianggap belum lengkap, maka peneliti akan melanjutkan memberikan pertanyaan-pertanyaan berikutnya sampai tahap tertentu diperoleh data yang lebih kredibel (Sugiyono 2006:337). Menurut Miles dan Huberman dalam Rachman (1999:120) menyatakan bahwa ada dua jenis metode analisis data kualitatif yaitu : 1. Model analisis mengalir (Flow Analysis Models) Dimana dalam model analisis mengalir tiga komponen analisis yaitu reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi dilakukan saling mengalir dengan proses pengumpulan data dan mengalir bersamaan. Langkahlangkah dalam analisis mengalir dapat dilihat pada gambar berikut :

Masa pengumpulan data REDUKSI DATA Antisipasi Selama PENYAJIAN DATA Selama Pasca = analisis Pasca

PENARIKAN KESIMPULAN/VERIFIKASI Selama Pasca

Gambar 13 : Komponen-komponen analisis data model alir. (Sumber : Miles dan Huberman 1992:18).

75

2. Model Analisis Interaksi (interactive analysis models ). Dimana komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Setelah data terkumpul, maka tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan) saling berinteraksi. Langkah-langkah dalam analisis interaksi dapat dilihat pada gambar berikut :

Pengumpulan data Penyajian data

Reduksi data Kesimpulan-kesimpulan Penarikan/verifikasi

Gambar 14 : Komponen-komponen analisis data model interaksi. (Sumber : Miles dan Huberman 1992:20).

76

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis yang kedua yaitu model analisis interaksi atau interactive analysis models dengan langkah-langkah yang ditempuh yaitu sebagai berikut : a. Pengumpulan data (Data Collection) Dilaksanakan dengan cara pencarian data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan bentuk data yang ada di lapangan, kemudian melaksanakan pencatatan data di lapangan. b. Reduksi data (Data reduction) Apabila data sudah terkumpul langkah selanjutnya adalah mereduksi data. Menurut Sugiyono (2006:338) mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya apabila diperlukan. Proses reduksi data dalam penelitian ini dapat peneliti uraikan sebagai berikut : pertama, peneliti merangkum hasil catatan lapangan selama proses penelitian berlangsung yang masih bersifat kasar atau acak ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Peneliti juga mendeskripsikan terlebih dahulu hasil dokumentasi berupa foto-foto proses pembelajaran IPS Sejarah dalam bentuk kata-kata sesuai apa adanya di lapangan. Setelah selesai, peneliti melakukan reflektif. Reflektif merupakan kerangka berpikir dan pendapat atau kesimpulan dari peneliti sendiri. Kedua, peneliti menyusun satuan dalam wujud kalimat faktual sederhana berkaitan dengan fokus dan masalah. Langkah ini dilakukan dengan

77

terlebih dahulu peneliti membaca dan mempelajari semua jenis data yang sudah terkumpul. Penyusunan satuan tersebut tidak hanya dalam bentuk kalimat faktual saja tetapi berupa paragrap penuh. Ketiga, setelah satuan diperoleh, peneliti membuat koding. Koding berarti memberikan kode pada setiap satuan. Tujuan koding agar dapat ditelusuri data atau satuan dari sumbernya. c. Penyajian data (Data display) Setelah mendisplaykan data data. direduksi, Melalui maka penyajian langkah data selanjutnya tersebut, maka adalah data

terorganisasikan tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan mudah dipahami. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Selain itu, dengan adanya penyajian data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Penyajian data dalam penelitian ini peneliti paparkan dengan teks yang bersifat naratif. Peneliti juga menyajikan data dalam gambar-gambar proses pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang. Tujuannya untuk memperjelas dan melengkapi sajian data. d. Penarikan kesimpulan atau Verification Setelah dilakukan penyajian data, maka langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan atau Verification ini didasarkan pada reduksi data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap

78

pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

H. Langkah-Langkah Penelitian Untuk memberikan gambaran mengenai prosedur dari penelitian ini, berikut akan diuraikan setiap tahapan-tahapannya : 1. Tahap Orientasi (persiapan penelitian) Tahap ini dilakukan sebelum merumuskan masalah secara umum. Masalah yang dimiliki oleh peneliti masih remang-remang, bahkan gelap, kompleks dan dinamis. Peneliti hanya berbekal dari pemikiran tentang kemungkinan adanya masalah yang layak diungkapkan dalam penelitian ini. Perkiraan muncul dari hasil membaca berbagai sumber tertulis dan juga hasil konsultasi dengan pihak-pihak yang berkompeten dalam hal ini yaitu dosen pembimbing skripsi 1 dan dosen pembimbing skripsi 2. 2. Tahap Eksplorasi Pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data, tahap ini merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (In dept interview), dan dokumentasi (Sugiyono 2006:309).

79

Tahap eksplorasi langsung peneliti dimulai sejak hari Selasa, 20 Maret 2007 sampai dengan hari Rabu, 30 Mei 2007. Atas persetujuan Wakil Kepala Sekolah serta guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII, VIII dan IX, peneliti melakukan pengamatan, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Peneliti juga telah melakukan analisis data selama pelaksanaan tahap eksplorasi. Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2006:337) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Pada saat pengamatan terhadap proses pembelajaran IPS Sejarah dengan menggunakan KTSP, peneliti juga melakukan wawancara dengan guru-guru IPS Sejarah kelas VII, VIII dan IX, selain itu untuk mengecek keabsahan data peneliti juga mengadakan wawancara dengan siswa-siswi serta Wakil Kepala Sekolah. Hasil pengamatan dan wawancara tersebut dikroscek kembali dengan studi dokumentasi. 3. Tahap penyusunan laporan hasil penelitian Tahap penyusunan laporan hasil penelitian ini dilakukan setelah proses analisis data selesai. Pada tahap ini peneliti juga melakukan pengecekan terhadap hasil penelitian agar laporan hasil penelitian tersebut kredibel. Hasil penelitian yang sudah tersusun maupun yang belum tersusun sebagai laporan dan bahkan penafsiran data, perlu dicek kebenarannya sehingga ketika didistribusikan tidak terdapat keragu-raguan. Untuk menguji kredibilitas data tersebut yaitu dengan menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber.

80

80

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Deskripsi Lokasi Penelitian Berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi dan studi dokumentasi resmi dari pihak sekolah, maka diperoleh mengenai profil dari sekolah yang diteliti yaitu SMP Negeri 21 Semarang. SMP Negeri 21 Semarang merupakan sekolah favorit, hal ini dikarenakan SMP Negeri 21 Semarang termasuk salah satu Sekolah Standar Nasional (SSN) yang ada di Kota Semarang. Kedisplinan menjadi kunci keberhasilan SMP Negeri 21 Semarang dalam meraih prestasi terbaik dalam bidang akademik maupun non akademik baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional. Prestasi terakhir yang diraih oleh SMP Negeri 21 Semarang dalam bidang akademik yaitu peringkat ke dua tingkat Kota Semarang untuk nilai rata-rata komulatif seluruh mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional. SMP Negeri 21 Semarang memiliki visi dan misi sekolah, adapun visi dari SMP Negeri 21 Semarang adalah “Handal Dalam Prestasi Santun Dalam Pekerti (Outstanding In Achievement, Excellen In Character)”. Sedangkan misi dari SMP Negeri 21 Semarang adalah melaksanakan pengembangan kurikulum satuan pendidikan, melaksanakan pengembangan proses pembelajaran di sekolah, melaksanakan peningkatan standar kelulusan tiap tahun, melaksanakan

pengembangan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, melaksanakan pengembangan fasilitas pendidikan, melaksanakan manajemen sekolah sesuai

81

standar pelayanan minimal, melaksanakan pengembangan pembiayaan sekolah, melaksanakan pengembangan perolehan prestasi akademik dan prestasi non akademik (Sumber : Dokumen Tata Usaha SMP N 21 Semarang). SMP Negeri 21 Semarang didirikan dan mulai dioperasikan pada tahun 1977. Sekolah ini terletak di jalan Karangrejo Raya No 12, Desa Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Bangunan yang mengelilingi SMP Negeri 21 Semarang yaitu sebelah barat terdapat gedung SMA Negeri 4 Semarang, sebelah timur terdapat perumahan penduduk dan pertokoan, sebelah utara terdapat gedung SMA Negeri 4 Semarang, sebelah selatan terdapat Jalan Karangrejo Raya dan pertokoan (Sumber : Dokumen Tata Usaha SMP N 21 Semarang). Kondisi lingkungan SMP Negeri 21 Semarang yaitu terletak di daerah yang cukup kondusif dan sangat strategis, sehingga sangat baik untuk proses kegiatan belajar mengajar. Adapun potensi lingkungan yang dimiliki sekolah ini antara lain hubungan kerjasama yang baik antara sekolah dengan orang tua atau wali murid, sarana ibadah yang cukup memadai serta memiliki mushola yang digunakan untuk kegiatan keagamaan, keamanan cukup terjamin karena disekeliling sekolah telah dipagar tembok, memiliki gedung serbaguna yang dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan sekolah baik ekstrakurikuler maupun intrakurikuler, pentas seni, olahraga dan sebagainya. Pengurus komite sekolah yang sangat mendukung dan responsive terhadap program-program sekolah. Selain itu, untuk menuju ke SMP Negeri 21 Semarang banyak sekali akses yang bisa dicapai (Sumber : Dokumen Tata Usaha SMP N 21 Semarang). Fasilitas-fasilitas angkutan umum mudah didapat, sehingga memudahkan untuk menuju ke SMP Negeri 21 Semarang. Jarak antara SMP Negeri 21

82

Semarang dengan pusat kota kurang lebih 15 km. Luas sekolah secara keseluruhan sekolah ini adalah 14.922 M2, terdiri atas : luas bangunan 3.335 M2, luas ruang (gedung sekolah) 3.921 M2, luas ruang teori kelas 2.798 M2 dan lain-lain sekitar 2.020 M2 (Sumber : Dokumen Tata Usaha SMP N 21 Semarang). SMP Negeri 21 Semarang memiliki 65 ruangan atau bangunan yang meliputi antara lain dua puluh dua ruang kelas, satu ruang laboratorium IPA, satu ruang perpustakaan, satu ruang keterampilan, satu ruang BP/BK, satu ruang aula kecil, satu ruang guru, satu ruang tata usaha, satu ruang UKS (unit kesehatan sekolah), satu ruang laboratorium komputer, satu ruang kepala sekolah, satu ruang wakil kepala sekolah, satu ruang urusan kurikulum, satu ruang OSIS, satu ruang koperasi, satu ruang mushola, satu ruang pramuka, satu ruang aula, empat ruang kantin, satu ruang laboratorium bahasa, satu ruang multimedia, empat belas ruang kamar mandi / toilet, tiga ruang jaga atau penjaga sekolah, satu ruang tempat parkir guru, dua ruang gudang (Sumber : Dokumen Tata Usaha SMP N 21 Semarang). SMP Negeri 21 Semarang juga memiliki sarana dan prasarana yang dapat membantu dan mempermudah kegiatan proses belajar mengajar siswa. Misalnya memiliki fasilitas internet, website, hot spot, mesin riso, komputer, mesin foto copy, peralatan tata boga, lapangan olah raga (tenes lapangan, tenes meja, bola voli, basket, dan foot shal), OHP, LCD, televisi, radio, tape, peta-peta, globe, gambar-gambar, buku-buku referensi, buku paket, buku bacaan, majalah, klipingkliping maupun surat kabar dan sebagainya (Sumber : Dokumen Tata Usaha SMP N 21 Semarang). SMP Negeri 21 Semarang mulai tahun ajaran 2006/2007 membuka kelas ekslusif yaitu kelas ICT (Information and Communication Technology), kelas ICT

83

dilengkapi dengan sarana dan prasarana belajar yang lengkap dan canggih yaitu setiap siswa diwajibkan menggunakan laptop dalam proses kegiatan belajar mengajar, dilengkapi dengan fasilitas internet, menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dilengkapi dengan LCD dan OHP, serta ruangan yang ber-AC. Jumlah siswa kelas ICT untuk saat ini hanya sebanyak 20 siswa dan terbatas hanya untuk kelas VII. Rencananya mulai tahun ajaran 2007/2008 kelas ICT akan ditambah menjadi dua kelas yaitu kelas VII dan kelas VIII. Tenaga pengajar / guru di SMP Negeri 21 Semarang terdiri dari 52 guru, dengan rincian yaitu 43 orang sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), 2 orang sebagai guru bantu, 3 orang sebagai guru TPHL, 4 orang sebagai guru tidak tetap (GTT). Pendidikan guru-guru tersebut meliputi 1 orang berijazah S2, 29 orang berijazah S1, 8 orang berijazah D3, 5 orang berijazah D2/D3. Untuk guru mata pelajaran IPS Sejarah terdiri dari 4 orang guru yaitu Dra. Lestari Nurmananik mengampu kelas VII, Supatemi, S.Pd mengampu kelas VIII, Anies Salamah, S.Pd mengampu kelas XI serta Triyana, S.Pd mengampu kelas ICT. Sedangkan tenaga non kependidikan (karyawan) sebanyak 15 karyawan, dengan rincian yaitu 6 karyawan sebagai pegawai tetap dan 9 karyawan sebagai pegawai tidak tetap (PTT). Pendidikan para karyawan tersebut meliputi 9 karyawan berijazah D2/D1/SMA sedangkan 6 karyawan berijazah SD/SMA (Sumber : Dokumen Tata Usaha SMP N 21 Semarang). Jumlah siswa yang aktif belajar di SMP Negeri 21 Semarang pada tahun ajaran 2006/2007 sebanyak 947 siswa yang terdiri dari kelas VII sebanyak 331 siswa, kelas VIII sebanyak 296 siswa, dan kelas IX berjumlah 320 siswa. Kondisi orang tua siswa juga sangat beragam yaitu terdiri dari 40 % pegawai negeri, 15 %

84

TNI/POLRI, 15 % karyawan swasta, 5 % petani, 10 % pedagang serta 15 % swasta. Pendidikan para orang tua siswa juga sangat beragam meliputi 3 % berijazah Sekolah Dasar (SD), 20 % berijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP), 40 % berijazah Sekolah Menengah Atas (SMA), serta 37 % berijazah Perguruan Tinggi (Sumber : Dokumen Tata Usaha SMP N 21 Semarang).

2. Deskripsi Data Untuk mendiskripsikan mengenai pemahaman guru sejarah tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah serta faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang, berikut ini disajikan hasil wawancara dengan beberapa informan dalam penelitian, selain itu peneliti juga akan mendiskripsikan data dari hasil observasi dan studi dokumentasi.

a. Pemahaman guru IPS Sejarah mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dari hasil wawancara secara mendalam serta observasi atau pengamatan dapat diketahui pemahaman guru IPS Sejarah SMP Negeri 21 Semarang mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Berikut hasil wawancara dengan guru-guru IPS Sejarah kelas VII, VIII dan IX. Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP Negeri 21 Semarang menyatakan sebagai berikut : “Menurut saya, KTSP itu merupakan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang menggantikan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Adapun landasan pengembangan KTSP meliputi

85

tujuan tentang penyusunan KTSP, pengertian KTSP, prinsip-prinsip pengembangan KTSP, adanya acuan operasional penyusunan KTSP. KTSP itu pada dasarnya hampir sama dengan KBK. Hanya dalam KTSP ini yang ditentukan hanya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sedangkan yang lainnya membuat sendiri seperti indikator, materi, silabus disusun sesuai dengan keadaan sekolahnya masing-masing” (wawancara tanggal 10 Mei 2007). “Sedangkan dalam KBK semuanya sudah ditentukan dari pusat seperti materi, indikator dan sebagainya. Sekarang guru dituntut untuk mengembangkannya, sehingga KTSP ini antara sekolah yang satu dengan yang lainnya tidak sama sesuai dengan keadaan sekolah masing-masing. KTSP sebenarnya hampir sama dengan KBK, akan tetapi dalam KTSP saya harus dituntut untuk benar-benar menyiapkan diri, semua itu harus disiapkan dengan baik. Seorang guru harus menguasai labih dari satu mata pelajaran, karena sekarang mata pelajaran IPS terpadu. Sekarang kurikulumnya hanya ada IPS yang meliputi sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi “(wawancara tanggal 10 Mei 2007). “Saya sekarang mengajar dua mata pelajaran yaitu sejarah dan ekonomi, padahal di sekolah ini guru IPS hanya diampu oleh dua guru sehingga harus ada pembagian tugas. Dengan adanya penggabungan tersebut, saya merasa kesulitan karena saya tidak menguasai satu mata pelajaran yang saya ampu. Akan tetapi, karena itu merupakan sudah peraturan, maka saya harus melaksanakannya dengan baik yaitu saya harus lebih ekstra dalam mempersiapkan pembelajaran. Selanjutnya mengenai SKL dan SI, menurut saya hal tersebut sudah ditentukan, jadi kurikulum yang berdasar SKL dan SI pedoman-pedomannya sudah ditentukan disitu. Jadi nantinya akan menjadi model KTSP tersebut” (wawancara tanggal 10 Mei 2007).

Sementara itu, Supatemi, S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP Negeri 21 Semarang mengemukakan sebagai berikut : “Menurut saya, KTSP adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan. KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing tingkat satuan pendidikan yang meliputi SD,SMP,SMA. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan, tingkat satuan pendidikan, muatan, struktur dan sebagainya. Selanjutnya karakteristik dari KTSP yaitu setiap sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkan meteri tersebut, karena tiap-tiap sekolah mempunyai sarana dan prasarana yang berbeda-beda. Di sekolah ini berbeda dengan sekolah lainnya. Di SMP N 21 Semarang sarana prasarananya sudah lengkap” (wawancara tanggal 10 Mei 2007). “Prinsip yang harus dipenuhi dalam KTSP yaitu materi tersebut harus bisa tersampaikan kepada siswa, selain itu yang paling utama adalah siswa mempunyai kompetensi, mengetahui dan tidak hanya sekedar menghafal tetapi katakanlah kalau sejarah itu, siswa benar-benar mampu memahami dan sampai kapan pun siswa akan teringat terus. Sedangkan mengenai silabus, menurut saya silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran tertentu” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

86

“Selanjutnya mengenai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar ISI (SI), menurut saya SKL merupakan standar sebagai pedoman atau patokan bahwa seorang siswa dikatakan lulus apabila siswa tersebut telah memahami materi tersebut. Setiap sekolah mempunyai grade atau tingkat ketuntasan belajar minimal yang berbeda-beda. Sedangkan mengenai SI, menurut saya SI yaitu isi dari program itu dari materi “(wawancara tanggal 10 Mei 2007). “Sedangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menurut saya yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran yang isinya meliputi rencana saya pada waktu akan mulai pembelajaran seperti jenis-jenis jenjang pendidikan selanjutnya berisi mata pelajaran, alokasi waktu berapa, kemudian kompetensi dasar apa yang mau dicapai serta standar kompetensi apa, selanjutnya dijabarkan langkah-langkah saya pada waktu mengajar, apa saja yang perlu dipersiapkan dan seterusnya” (wawancara tanggal 10 Mei 2007). “Berkaitan dengan uraian diatas, menurut saya ada perbedaan antara RPP berbasis KTSP dengan RPP yang menggunakan KBK. Perbedaannya yaitu operasionalnya di standar kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. Dalam KBK terkesan bersifat verbal yaitu menghafal dan menghafal, sedangkan di KTSP misalnya siswa dituntut untuk dapat melakukan dan seterusnya, lebih pada penekanan atau untuk dapat melaksanakan, bukan hanya sekedar menghafal tetapi siswa harus benar-benar mampu memahami. Dalam KTSP harus dengan konstekstual dengan menggunakan contoh yang ada disekitar kita yang pernah dialami dalam kehidupan sehari-hari” (wawancara tanggal 10 Mei 2007). “Selain itu, perbedaan mendasar antara KBK dengan KTSP dalam pembelajaran IPS Sejarah yaitu kebebasan untuk mengatur waktunya. Dalam kurikulum sebelumnya sudah diatur (misal waktunya berapa jam, uruturutannya) guru tinggal melaksanakannya, sedangkan dalam KTSP guru diberi kebebasan untuk mengatur waktunya dalam pembelajaran tidak harus sesuai aturan, guru diberi kebebasan untuk mengembangkan sendiri sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas IX SMP Negeri 21 Semarang dalam hal ini mengemukakan bahwa : “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu pada dasarnya sama dengan kurikulum 2004, yang membedakan hanya kewenangan masingmasing satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan kemampuan potensi dan karakteristik sekolah tersebut. Sedangkan karakteristik dari KTSP adalah adanya penyesuaian kemampuan yang diimplementasikan dalam indikator yang mengacu pada kemampuan siswa. Jadi dalam penyusunannya mengacu pada kedalaman materi, pemahaman anak, serta kemampuan anak tentang materi tersebut” (wawancara tanggal 30 Mei 2007).

87

“Selanjutnya mengenai komponen-komponen KTSP, menurut saya terdiri dari silabus, indikator yang penjabarannya meliputi kompetensi dasar dan sebagainya. Berkaitan dengan Standar Isi (SI) menurut saya SI adalah korelasi materi dengan kurikulum yang berlaku, hal ini harus sesuai yang meliputi komponen-komponen seperti kompetensi dasar, standar kompetensi dan sebagainya. Sedangkan mengenai Standar Kompetensi Lulusan (SKL), menurut saya SKL adalah penjabaran dari materi-materi yang sudah disusun didalam silabus selanjutnya dijabarkan dalam indikator, hal tersebut akan menjadi pedoman dalam penyusunan soal-soal untuk evaluasi akhir” (wawancara tanggal 30 Mei 2007). “Berkaitan dengan perbedaan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) antara KTSP dengan KBK, menurut saya pada prinsipnya tidak ada perbedaan, yang ada hanya perbedaan istilah. Pada KBK istilahnya Rencana Pembelajaran (RP), sedangkan dalam KTSP istilahnya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)” (wawancara tanggal 30 Mei 2007).

b. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang 1) Persiapan Pembelajaran Berdasarkan hasil wawancara, observasi atau pengamatan serta studi dokumentasi yang dilakukan mulai tanggal 20 Maret – 30 Mei 2007 dapat diketahui persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru IPS Sejarah SMP Negeri 21 Semarang. Secara garis besarnya meliputi sebagai berikut : a) Pengembangan Program Langkah pertama persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang adalah melakukan pengembangan program. Dalam KTSP pengembangan program mencakup program tahunan, program semester, program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial serta program bimbingan dan konseling. Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk jangka waktu satu tahun dalam rangka mengefektifkan program pembelajaran. Program ini dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum

88

tahun ajaran baru, karena merupakan pedoman bagi pengembangan programprogram berikutnya yaitu program semester, program mingguan dan harian, dan program harian atau program pembelajaran setiap kompetensi dasar. Program tahunan yang disusun oleh guru IPS Sejarah SMP Negeri 21 Semarang diantaranya memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa setelah mempelajari pokok bahasan tertentu, alokasi waktu serta keterangan (lihat lampiran 2). Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan. Program semester yang disusun oleh guru IPS Sejarah SMP Negeri 21 Semarang berisikan tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, alokasi waktu serta keteranganketerangan (lihat lampiran 3) Program mingguan dan harian merupakan penjabaran dari program semester dan program modul. Dari program ini dapat teridentifikasi siswasiswa yang mengalami kesulitan belajar akan dilayani melalui kegiatan remedial, sedangkan untuk siswa yang cemerlang akan dilayani melalui kegiatan pengayaan agar siswa tersebut tetap mempertahankan kecepatan belajarnya. Program pengayaan dan remedial merupakan pelengkap dan

penjabaran dari program mingguan dan harian. Program ini dilaksanakan berdasarkan hasil analisis terhadap kegiatan belajar dan terhadap tugas-tugas, hasil tes, dan ulangan. Hal ini berdasarkan pernyataan Supatemi, S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP Negeri 21 Semarang sebagai berikut :

89

“Saya melaksanakan program remidi diberlakukan untuk siswa yang nilainya masih dibawah standar nilai ketuntasan, siswa tersebut diberi kesempatan untuk menuntaskan kompetensi-kompetensi dasar yang belum tuntas. Siswa yang belum tuntas dalam kompetensi dasarnya nilainya tidak dicantumkan dalam raport, siswa tersebut hanya menerima raport bayangan. Setelah siswa mengikuti program remidi, serta dievaluasi ternyata sudah tuntas kompetensi dasarnya maka siswa tersebut baru berhak menerima raport”(wawancara tanggal 10 Mei 2007) “Sedangkan program pengayaan diberlakukan bagi siswa yang nilainya diatas nilai standar ketuntasan, program pengayaan tersebut seperti pemberian tugas-tugas atau dalam bentuk soal-soal yang bisa dikerjakan secara individu maupun kelompok” (wawancara tanggal 10 Mei 2007).

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Drs. Hasan Budisulistyo selaku wakil kepala sekolah SMP Negeri 21 Semarang mengemukakan sebagai berikut : “Setiap ada siswa yang nilainya masih kurang, siswa akan dipanggil oleh pihak sekolah untuk diberi pengarahan agar mengikuti program remedial “ (wawancara tanggal 12 Mei 2007). Program pengembangan diri di SMP Negeri 21 Semarang sebagian besar melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun bimbingan konseling melalui konselor, hal ini berdasarkan pernyataan Drs. Hasan Budisulistyo selaku wakil kepala sekolah SMP Negeri 21 Semarang sebagai berikut : “Program pengembangan diri di SMP Negeri 21 Semarang sebagian besar melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun bimbingan konseling/konselor. Kegiatan ekstrakurikuler yang diwajibkan yaitu pramuka, sedangkan yang tidak wajib seperti Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Palang Merah Remaja (PMR), Paskibraka, kepemimpinan, jurnalistik dan sebagainya. Kegiatankegiatan ekstrakurikuler tersebut mampu berprestasi baik di tingkat lokal maupun nasional” (wawancara tanggal 12 Mei 2007).

b) Penyusunan persiapan mengajar Sebagai persiapan mengajar guru mata pelajaran IPS Sejarah SMP Negeri 21 Semarang menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP).

90

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu. Silabus yang disusun (lihat lampiran 4) mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Dalam KTSP pengembangan silabus diserahkan sepenuhnya kepada setiap satuan pendidikan, khususnya bagi yang sudah mampu

melaksanakannya. Berkaitan dengan hal tersebut guru IPS Sejarah SMP Negeri 21 Semarang belum mampu menyusun silabus sendiri. Guru IPS Sejarah SMP N 21 Semarang masih mengadopsi model silabus dari Depdiknas, selanjutnya model silabus tersebut ditelaah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. Berikut adalah hasil wawancara dengan guru-guru IPS Sejarah SMP N 21 Semarang mengenai penyusunan silabus pada mata pelajaran IPS Sejarah : Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang mengemukakan : “Pada saat ini penyusunan silabus secara terpadu, penyusunan silabus dibahas dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat Kota Semarang, selanjutnya model silabus tersebut dibawa ke sekolah untuk ditelaah dalam MGMP tingkat sekolah, kemudian silabus tersebut disesuaikan dengan kondisi sekolah “ (wawancara tanggal 10 Mei 2007).

Sementara itu, Supatemi S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang mengatakan sebagai berikut : “Berkaitan dengan penyusunan silabus, sekarang dilakukan secara bersama-sama dan sudah ada panduan penyusunan silabus. Model silabus tersebut diperoleh dari MGMP, selanjutnya dikembangkan sendiri. Silabus tersebut dijadikan acuan atau pedoman untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Didalam silabus dijelaskan mengenai standar

91

kompetensi, kompetensi dasar, media pembelajaran, metode pembelajaran yang selanjutnya dijabarkan dalam RPP” (wawancara tanggal 10 Mei 2007).

Uraian serupa dikemukakan oleh Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Secara jujur, saya mendapatkan contoh-contoh model silabus dari Depdiknas, selanjutnya model-model tersebut dievaluasi sesuai dengan karakteristik siswa SMP N 21 Semarang. Apabila model tersebut sesuai dengan karakteristik dan potensi sekolah maka digunakan, namun sebaliknya apabila model tersebut tidak sesuai dengan karakteristik dan potensi sekolah maka model tersebut tidak akan digunakan atau direvisi terlebih dahulu” (wawancara tanggal 30 Mei 2007). Pernyataan guru-guru tersebut diperkuat dengan pernyataan Wakil Kepala Sekolah SMP N 21 Semarang, Drs. Hasan Budisulistyo sebagai berikut: “Penyusunan silabus disusun secara bersama-sama melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), selanjutnya model silabus tersebut disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik siswa-siswi SMP N 21 Semarang” (wawancara tanggal 12 Mei 2007).

Penyusunan silabus oleh guru mata pelajaran IPS Sejarah SMP N 21 Semarang tidak mengalami hambatan yang berarti. Hal ini berdasarkan pernyataan Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Berkaitan dengan penyusunan silabus, saya tidak mengalami hambatan yang berarti karena penyusunannya dilaksanakan secara bersamasama dalam sebuah tim. Selain itu, dalam KTSP mata pelajaran IPS Sejarah telah terintegrasi kedalam IPS terpadu, sehingga akan memudahkan dalam menyusun silabus tersebut” (wawancara tanggal 10 Mei 2007).

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut :

92

“Dalam penyusunan silabus saya tidak mengalami hambatan, karena silabus disusun secara bersama-sama dalam satu tim” (wawancara tanggal 30 Mei 2007)

Selanjutnya mengenai manfaat dari silabus, berikut hasil wawancara dengan Supatemi, S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Manfaat dari silabus adalah sebagai pedoman dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pengelolaan kegiatan pembelajaran dan pengembangan sistem nilai” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

Persiapan pembelajaran berikutnya yang disusun oleh guru mata pelajaran IPS Sejarah SMP N 21 Semarang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berisi tentang : alokasi waktu, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pokok atau pembelajaran, metode, strategi pembelajaran, sumber belajar, serta penilaian (lihat lampiran 5). Dari hasil wawancara secara mendalam serta studi dokumentasi yang dimulai pada tanggal 10 Mei 2007-30 Mei 2007 diketahui bahwa penyusunan RPP yang dilakukan oleh guru mata pelajaran IPS Sejarah SMP N 21 Semarang telah sesuai dengan acuan dalam KTSP. Guru telah diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi dan menyesuaikan silabus sesuai dengan kondisi dan potensi sekolah serta dengan karakteristik peserta didik. Berikut hasil wawancara dengan Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang :

93

“Dalam penyusunan RPP, saya membuatnya menjadi satu untuk beberapa kali pertemuan tatap muka, hal ini dikarenakan adanya kesibukankesibukan yang harus diselesaikan” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh guru mata pelajaran IPS Sejarah SMP N 21 Semarang sebagai persipan pelaksanaan kegiatan pembelajaran tidak mengalami hambatan yang berarti. Hal ini berdasarkan pernyataan Supatemi, S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Secara umum dalam penyusunan RPP berbasis KTSP, saya tidak mengalami hambatan yang berarti, hal ini disebabkan telah adanya panduan dalam penyusunan RPP yang mengacu pada silabus” (wawancara tanggal 10 Mei 2007).

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Berkaitan dengan penyusunan RPP, saya tidak merasa mengalami hambatan, akan tetapi karena sekarang mata pelajaran IPS telah terintegrasi, maka saya harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum mengajar mata pelajaran yang bukan basic saya” (wawancara tanggal 30 Mei 2007)

2) Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran a) Kegiatan awal atau pembukaan Dari hasil observasi atau pengamatan dan wawancara secara mendalam pada tanggal 20 Maret-30 Mei 2007 dapat diketahui bahwa kegiatan awal atau pembukaan pembelajaran selalu dimulai dengan kegiatan apersepsi serta persiapan bahan pembelajaran baik oleh guru atau siswa. Berikut hasil wawancara dengan guru-guru mata pelajaran IPS Sejarah SMP N 21 Semarang berkaitan dengan kegiatan awal pembelajaran sebagai berikut : Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang mengemukakan sebagai berikut :

94

“Sebelum proses pembelajaran dimulai, saya absensi siswa terlebih dahulu, selanjutnya saya selalu berusaha untuk mengkondisikan siswa supaya tenang terlebih dahulu, serta menanyakan materi-materi pada pertemuan sebelumnya, setelah itu saya baru memulai materi pelajaran” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Sementara itu, Supatemi S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang menyatakan sebagai berikut : “Pada kegiatan awal pembelajaran, saya melakukan apersepsi selama kurang lebih lima menit seperti absensi, mempersiapkan kondisi siswa supaya tenang dan menuntun siswa untuk memperhatikan terhadap materi pelajaran, selanjutnya saya baru memulai meteri pelajaran. Selain itu, saya juga harus mempersiapkan strategi pembelajaran dengan sebaik-baiknya misal membuat pedoman dalam menilai kemampuan siswa pada saat diskusi antara lain dinilai bagaimana siswa menyampaikan materi, keluasan materinya, keaktifan, kekompakan serta membuat soal-soal evaluasi dan sebagainya” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

Uraian serupa dikemukakan oleh Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Biasanya saya sebelum mengajar melakukan hal-hal sebagai berikut mempersiapkan kondisi siswa di kelas, absensi, selanjutnya siswa dituntun untuk memperhatikan materi yang akan disampaikan. Selain itu saya juga mencoba mereview (mengulang) kembali materi-materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya” (wawancara tanggal 30 Mei 2007) Selanjutnya mengenai kegiatan pre-test, guru selama ini jarang melakukannya, hal ini karena waktu yang tersedia terbatas. Berikut hasil wawancara dengan Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Dalam kegiatan pembelajaran, saya tidak melakukan pre-test terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai, hal ini disebabkan waktu yang tersedia sangat terbatas sedangkan kompetensi yang harus dicapai banyak” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Rani siswa kelas VII SMP N 21 Semarang mengatakan :

95

“Ibu Nani jarang bahkan hampir tidak pernah melakukan Pre-Test sebelum melakukan pembelajaran” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

b) Kegiatan inti pembelajaran atau pembentukan kompetensi Dari hasil wawancara secara mendalam, observasi atau pengamatan serta studi dokumentasi yang mulai dilakukan pada tanggal 27 Maret-30 Mei 2007 dapat diketahui kegiatan yang dilakukan pada proses pembelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang dapat dijelaskan sebagai berikut : (1) Metode atau strategi pembelajaran Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dimulai pada tanggal 20 Maret-30 Mei 2007 dapat diketahui bahwa dalam proses pembelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang menerapkan metode ceramah bervariasi, diskusi, tanya jawab, observasi serta penugasan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan kompetensi atau materi yang harus dikuasai siswa dan waktu yang tersedia. Berikut adalah hasil wawancara berkaitan dengan penggunaan metode atau strategi pembelajaran dalam proses pembelajaran mata pelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang. Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang mengemukakan sebagai berikut : “Dalam pembelajaran IPS Sejarah berbasis KTSP, keaktifan siswa sangat diprioritaskan. Sekarang metode ceramah sudah jarang digunakan, kalau digunakan pun menggunakan metode ceramah bervariasi. Saya tetap menggunakan ceramah karena untuk mengantarkan siswa, seandainya tidak berceramah siswa akan mengalami kesulitan. Dulu saya selalu menggunakan ceramah, jadi saya sebagai pusatnya sedangkan siswa hanya pasif, sekarang pembelajaran lebih enak karena siswa ikut aktif dalam pembelajaran” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) “Selain ceramah bervariasi, saya juga menggunakan metode diskusi. Dengan diskusi siswa dilatih untuk berani tampil, siswa juga dilatih untuk memecahkan masalah sendiri. Selain itu, dengan adanya diskusi siswa

96

akan lebih senang dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Selama ini proses pembelajaran hanya dilakukan di ruang kelas dan perpustakaan. Sebenarnya ada program untuk melakukan kegiatan belajar di luar ruang kelas, namun karena terbatasnya waktu yang tersedia sehingga program tersebut tidak dapat dilaksanakan secara optimal” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Sementara itu, Supatemi S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang menyatakan sebagai berikut : “Berkaitan dengan metode pembelajaran, saya telah berusaha untuk menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan menyenangkan seperti metode ceramah serta tanya jawab, diskusi, observasi dan penugasan. Saya sering melakukan diskusi dengan siswa, apalagi sekarang dalam KTSP siswa dituntut untuk belajar dalam kelompok-kelompok kecil selain itu antara siswa yang satu dengan yang lainnya diharapkan bisa untuk saling bertukar pendapat” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

Uraian serupa juga dikemukakan oleh Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Saya selama ini masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah, sebenarnya ada keinginan untuk melaksanakan model-model pembelajaran IPS Sejarah yang lainnya seperti CTL, problem solving, dan sebagainya, namun dalam prakteknya mengalami beberapa hambatan misal dana serta waktu dan sebagainya, sehingga saya pun kembali lagi menggunakan metode ceramah tersebut. Seandainya saya tidak kretif dalam berceramah, maka siswa tidak akan berantusias dalam mengikuti pelajaran. Hal ini yang menyebabkan sampai sekarang menjadi permasalahan yang belum dapat terselesaikan”(wawancara tanggal 30 Mei 2007) “Hal-hal yang sudah saya usahakan agar pelajaran IPS Sejarah tersebut menarik bagi siswa antara lain saya memberikan motivasimotivasi, selalu mengaitkan materi dengan peristiwa-peristiwa factual, memberikan guyonan-guyonan yang membuat Susana kelas menjadi menyenangkan” (wawancara tanggal 30 Mei 2007)

Pernyataan-pernyataan

para

guru

tersebut

diperkuat

dengan

pernyataan dari beberapa siswa-siswi SMP N 21 Semarang. Berikut hasil wawancaranya.

97

Rani, siswa kelas VII SMP N 21 Semarang mengatakan sebagai berikut : “Saya dituntut untuk selalu aktif dalam pembelajaran, misal dalam diskusi saya dituntut untuk selalu bertanya. Bu Nani dalam pembelajaran selalu menggunakan metode ceramah dan diskusi. Selaian itu, Bu Nani juga selalu mengaitkan materi dengan peristiwa faktual yang sedang terjadi (wawancara tanggal 12 Mei 2007) Sementara itu, Aditya siswa kelas XI SMP N 21 Semarang mengatakan bahwa : “Dalam kegiatan pembelajaran, saya harus dituntut aktif, misal kalau diberi tugas kelompok, saya disuruh untuk aktif bekerja tidak boleh pasif” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

(2) Sumber belajar Dari hasil observasi atau pengamatan (tanggal 20 Maret-30 Mei 2007) dapat diketahui bahwa selama proses pembelajaran IPS Sejarah guru menggunakan berbagai sumber belajar, antara lain : Buku paket dari Pemkot Semarang, buku-buku penunjang dari beberapa penerbit, Lembar Kerja Siswa (LKS), media-media pemberitaan dan sebagainya. Sedangkan data dari hasil wawancara dengan para guru sebagai berikut : Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang mengemukakan sebagai berikut : “Dalam proses pembelajaran, saya selalu menggunakan buku paket dari Pemkot, buku-buku penunjang lainnya serta LKS dalam hal ini diwajibkan bagi siswa. Sedangkan untuk buku penunjang sifatnya tidak wajib hanya sebagai tambahan saja” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

Sementara itu, Supatemi, S.Pd selaku gutu mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang mengatakan bahwa : “Sumber-sumber belajar yang saya gunakan antara lain buku-buku paket, buku-buku penunjang lainnya yang ada di perpustakaan, lingkungan

98

sekitar (misal museum), serta dari media-media pemberitaan dari televisi, surat kabar dan sebagainya” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

Pernyataan-pernyataan diatas diperkuat dengan pernyataan dari beberapa siswa-siswi SMP N 21 semarang sebagai berikut : Niken, siswa kelas VIII SMP N 21 Semarang mengatakan bahwa : “Bu Supatemi dalam pembelajaran menggunakan buku-buku paket serta buku pendamping misal LKS dan sebagainya” (wawancara tanggal 12 Mei 2007) Aditya, siswa kelas IX SMP N 21 Semarang mengemukakan bahwa: “Sumber belajar yang sering digunakan oleh Bu Anis antara lain buku paket, informasi dari media massa seperti Koran, televisi, majalah dan sebagainya” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

Wakil Kepala Sekolah SMP N 21 Semarang, Drs. Hasan Budisulistyo menjelaskan : “Siswa-siswi dapat menggunakan sumber belajar berupa buku-buku yang tersedia di Perpustakaan, siswa diwajibkan minimal mempunyai satu buku pelajaran, sedangkan guru dianjurkan mempunyai minimal tiga buku” (wawancara tanggal 12 Mei 2007)

(3) Media Pembelajaran Media pada dasarnya merupakan alat bantu pembelajaran yang digunakan dalam rangka untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Berdasarkan wawancara dan observasi (tanggal 20 Maret-30 Mei 2007) dapat diketahui bahwa pelaksanaan belajar mengajar pada mata pelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang telah menggunakan media pembelajaran yang variatif untuk menunjang pemahaman siswa terhadap meteri pelajaran.

99

Berikut hasil wawancara dengan guru mata pelajaran IPS Sejarah, Wakil Kepala Sekolah dan siswa-siswi SMP N 21 Semarang. Guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang, Dra. Lestari Nurmananik mengemukakan bahwa : “Berkaitan dengan penggunaan media, saya sering menggunakan peta dan peta tersebut dibuat oleh saya sendiri. Petanya khusus bukan peta umum seperti peta penyebaran agama Hindu-Budha, peta perkembangan Islam dan sebagainya. Pembuatan peta kadang-kadang dibantu juga oleh siswa” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Sementara itu, Supatemi S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang mengatakan bahwa : “Saya dalam proses pembelajaran IPS Sejarah sering menggunakan Televisi, LCD, OHP, dan sebagainya. Di sekolah ini terdapat pengaturan penggunaan media tersebut yaitu diatur penggunaannya serta dibuat jadwal di ruang media. Selain itu, saya juga menggunakan media di lingkungan sekitar” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang mengemukakan : “Media yang saya gunakan dalam proses pembelajaran antara lain gambar-gambar, televisi serta peta-peta dan sebagainya” (wawancara tanggal 30 Mei 2007) Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Drs. Hasan Budisulistyo selaku wakil kepala sekolah SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Media pembelajaran di sekolah ini secara umum sudah baik, guru telah memanfaatkan media yang telah tersedia seperti OHP, peta, peta konsep dari kertas manila, gambar, laptop dan masih banyak lagi” (wawancara tanggal 12 Mei 2007). Rani, siswa kelas VII SMP N 21 Semarang mengatakan bahwa : “Bu Nani pernah memakai media dalam pembelajaran seperti gambar dan peta” (wawancara tanggal 12 Mei 2007)

100

c) Kegiatan akhir atau penutup Berdasarkan observasi atau pengamatan pada kegiatan akhir atau penutup dapat diketahui bahwa guru selalu memberitahukan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya, karena dalam KTSP siswa dituntut untuk tidak hanya diam, oleh karena itu siswa harus mengetahui terlebih dahulu materi yang akan dipelajari. Selain itu, guru memberikan tugas untuk mengerjakan soal dari buku maupun dari LKS.

3) Evaluasi Hasil Belajar atau Penilaian Berikut hasil wawancara (tanggal 10-30 Mei 2007) dengan guru mata pelajaran IPS Sejarah, wakil kepala sekolah serta dari beberapa siswa SMP N 21 Semarang berkaitan dengan kegiatan evaluasi hasil belajar : Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang mengemukakan sebagai berikut : “Saya dalam melakukan evaluasi menggunakan model penilaian berbasis kelas seperti model test berupa uraian, pilihan ganda, kemudian pada saat diskusi, saya juga melihat dan melakukan penilaian melalui keaktifan siswa. Selain itu juga melalui tugas-tugas, dalam KTSP nilai tugas itu sama dengan nilai test atau ulangan, sehingga apabila ada siswa yang nilai ulangannya jelek, namun nilai tugasnya baik, hal itu akan sangat membantu siswa” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) “Saya juga selalu mengadakan program remidi untuk siswa yang nilainya masih dibawah standar nilai ketuntasan. Selanjutnya untuk siswa yang nilainya sudah diatas rata-rata akan diberi tugas-tugas (program pengayaan). Dalam aturannya, penilaian dilakukan setiap selesai satu kompetensi dasar (KD), akan tetapi dalam pelaksanaannya penilaian dilakukan rata-rata tiga (3) kali dalam satu semester, kemudian penilaian diambil dari tugas-tugas, pengamatan dalam diskusi, laporan-laporan” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Rani, siswa kelas VII SMP N 21 Semarang sebagai berikut :

101

“Bu Nani sering melakukan penilaian kelas seperti model uraian dan test lisan (pertanyaan langsung). Bu Nani pernah mengadakan program remidi yaitu setelah ulangan harian terprogram dan semester, selain itu juga melakukan program pengayaan. penilaian kelas dilakukan sebanyak 2 – 3 kali” (wawancara tanggal 12 Mei 2007) Sementara itu, Supatemi S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang mengatakan : “Saya dalam evaluasi menggunakan model penilaian berbasis kelas yaitu saya melakukan penilaian pada saat siswa melakukan proses pembelajaran, misal dalam diskusi dapat dilihat dari keaktifan siswa, kemampuan siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan, kekompakan, keluasan materi dan sebagainya. Selain itu, saya juga menggunakan model penilaian hasil yaitu melakukan evaluasi setelah menyelesaikan satu materi bentuknya seperti test tertulis (pilihan ganda dan uraian) dan test lisan” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) “Berkaitan dengan pelaksanaan penilaian kelas, saya biasa melakukannya sesuai dengan kompetensi dasar (KD), rata-rata satu semester dilakukan sebanyak 5 (lima) kali yaitu misal KD-nya ada 3 (tiga) kemudian ditambah dengan ulangan med semester dan ulangan akhir semester sehingga menjadi 5 (lima) kali, selain itu ada penilaian dari tugas-tugas” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) “Di SMP N 21 Semarang untuk mata pelajaran IPS terpadu kelas VIII telah ditentukan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebesar 70 untuk penguasaan konsep sedangkan untuk penerapan konsep sebesar 71. KKM tersebut dijadikan acuan untuk menilai kemampuan siswa. Apabila ada siswa yang belum mencapai nilai tersebut, maka saya melakukan program remidi, siswa-siswa yang belum tuntas Kompetensi Dasar (KD) nya akan diberi kesempatan untuk menuntaskannya dalam remedial teaching. Sedangkan bagi siswa yang sudah diatas rata-rata siswa akan diberi program pengayaan yaitu diberi tugas-tugas atau dalam bentuk soal-soal yang bisa dikerjsakan secara individu maupun kelompok” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Drs. Hasan Budisulistyo selaku wakil kepala sekolah SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Di SMP N 21 Semarang program remidi dilaksanakan dan diprogramkan oleh urusan kurikulum sehingga tidak mengganggu kegiatan lainnya dan semua itu dibiayai oleh sekolah” Uraian serupa dikemukakan oleh Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Model penilaian kelas yang saya lakukan misal dari keaktifan, test, kekompakan, penguasaan meteri. Saya lebih mementingkan penilaian proses

102

yaitu melalui pengamatan dan panilaian, karena kalau hanya mengandalkan hasil evaluasi akhir, hal tersebut tidak akurat. Penilaian biasanya dilakukan setiap satu kompetensi dasar selesai. Dalam penilaian mata pelajaran IPS Sejarah sekarang hanya ada 2 (dua) aspek yaitu aspek penguasaan konsep dan aspek penerapan konsep. Penguasaan konsep dapat dilihat misalnya dengan hasil ulangan, dalam diskusi seperti kemampuan menyampaikan materi, mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, menaggapi pendapat orang lain dan sebagainya. Sedangkan aspek penerapan seperti dari tugas-tugas, kegiatan upacara bendera, tanah air, kedisplinan, peringatan hari proklamasi dan lain-lain “ (wawancara tanggal 30 Mei 2007) Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Aditya, siswa kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Bu Anis melakukan penilaian kelas berupa pembuatan makalah, laporan-laporan serta soal-soal dan sebagainya” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

c. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007

1) Faktor Pendukung dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mempunyai

karakteristik yaitu memberi keleluasaan penuh pada setiap sekolah untuk mengembangkan potensi sekolah dan potensi daerah, sehingga akan mendorong sekolah untuk lebih kreatif dan inovatif. Berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi (tanggal 20 Maret-30 Mei 2007) dapat diketahui bahwa sarana prasarana pembelajaran di SMP N 21 Semarang secara kwantitatif (jumlah) maupun kulitatif (kualitas) sudah memadai, bahkan

103

pembangunan gedung-gedung penunjang terus dilakukan. Selain itu, setiap tahun ada program perbaikan serta penambahan terhadap sarana prasarana tersebut. Berikut adalah hasil wawancara berkaitan dengan faktor pendukung dalam implementasi KTSP pada mata pelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang menurut para guru dan wakil kepala sekolah. Dra. Lestari Nurmananik selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang mengatakan sebagai berikut : “Menurut saya, yang mendukung implementasi KTSP di sekolah ini adalah sarana prasarananya sudah memadai dibandingkan sekolah lain, misalnya sudah tersedia komputer, internet, peta-peta, OHP, LCD, Globe. Setiap tahun ada penambahan terhadap sarana prasarana tersebut. Selain itu di sekolah ini ada tim pengembang dan penyusun KTSP” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Sementara itu, Supatemi S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang mengemukakan : “Secara singkat faktor yang mendukung implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang yaitu sarana dan prasaranya lengkap misal tersedianya LCD, CD pembelajaran, Perpustakaan yang lengkap, OHP, gambar-gambar dan sebagainya. Selain itu, adanya daya dukung dari siswa terhadap program-program sekolah, semua itu bisa dilakukan karena tersedianya biaya. Untuk kedepannya rencananya akan dilakukan penambahan-penambahan sarana prasarana seperti replika candi Borobudur, candi Hindu-budha, menara Kudus dan lain-lain” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Uraian serupa dikemukakan oleh Anis Salamah selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang sebagai berikut : “Menurut saya yang mendukung adalah adanya sarana prasarana yang lengkap serta adanya daya dukung dari siswa-siswi” (wawancara tanggal 30 Mei 2007) Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Drs. Hasan Budisulistyo selaku wakil kepala sekolah SMP N 21 Semarang mengenai program-program

104

yang telah dilakukan oleh SMP Negeri 21 Semarang dalam rangka implementasi KTSP pada tahun ajaran 2006/2007 : “Dalam rangka mempersiapkan KTSP, SMP N 21 Semarang telah melakukan program-program antara lain mengadakan sosialisasi mengenai konsep-konsep dasar KTSP dengan melibatkan dari unsur lembaga perguruan tinggi (UNNES), LPMP Dinas Pendidikan dan istruktur Dinas Pendidikan tingkat propinsi. Selain itu pembentukan kepanitiaan KTSP, hal ini disebabkan melibatkan stakeholder antara lain kepala sekolah, guru, konselor, komite sekolah. Semuanya terlibat langsung dalam penyusunan dan pelaksanaannya. Dalam hal ini tidak ada yang ditutup-tutupi karena ini kebutuhan dan tanggungjawab bersama-sama dan dilaksanakan bersama-sama juga” (wawancara tanggal 12 Mei 2007) “Dalam mempersiapkan KTSP di sekolah ini tidak membutuhkan waktu yang lama, karena pada saat sosialisasi rekan-rekan guru telah memahami tugasnya masing-masing. Di sekolah ini juga ada tim pengembang dan penyusun KTSP yang kinerjanya sangat solid, karena tidak semua guru dapat masuk dalam tim ini. Syarat-syaratnya untuk masuk tim ini antara lain loyalitas tinggi, punya dedikasi kerja, mau bekerja keras. Sampai sekarang tim ini terus melakukan pengembangan-pengambangan serta evaluasi demi kemajuan sekolah ini. Selain itu, setiap satu bulan sekali dilakukan evaluasi yang dikemas dalam briefeng atau rapat dinas sekolah” (wawancara tanggal 12 Mei 2007). “Selain program-program tersebut, di sekolah ini juga telah ada sistem penilaian kinerja, yaitu selama ini guru-guru dinilai berdasar dedikasi kerjanya, profesionalisme, disiplin dan sebagainya. Bentuk reward atau penghargaannya seperti promosi jabatan dan berupa materi yaitu uang. Sedangkan untuk siswa bentuk reward-nya yaitu setiap siswa yang mendapat nilai 10 dalam setiap mata pelajaran dalam Ujian Nasional (UN) akan mendapat uang sebesar Rp. 100.000. Menurut saya sistem penilaian seperti ini sudah efektif untuk memotivasi pretasi peserta didik”(wawancara tanggal 12 Mei 2007)

2) Faktor Penghambat Dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dalam pelaksanaannya tidak lepas dari berbagai kendala atau hambatan. Berikut adalah hasil wawancara berkaitan dengan hambatan

105

yang dihadapi dalam imlementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah menurut para siswa, guru dan wakil kepala sekolah. Supatemi, S.Pd selaku guru mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII SMP N 21 Semarang mengatakan sebagai berikut : “Dalam hal penilaian berbasis kelas. Guru merasa kesulitan dalam mengadakan penilaian kelas secara mandiri, hal ini dikarenakan guru harus mengadakan penilaian terhadap setiap siswa, padahal setiap siswa notabennya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga guru merasa kesulitan untuk mengidentifikasi atau menghafal semua siswa. Dan hal ini dianggap oleh guru akan menghambat dalam proses pembelajaran berbasis KTSP. Hambatan selanjutnya yaitu dalam hal pelaksanaan model-model pembelajaran. Misalnya dalam metode diskusi, pada saat ada siswa yang sedang melakukan presentasi di depan kelas yang jumlah siswanya banyak dan siswa yang sedang presentasi mempunyai suara yang lemah, maka hal ini akan menyebabkan diskusi tidak dapat berjalan secara efektif, karena siswa lainnya tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas. Selain itu, dalam hal pengerjaan tugas-tugas kelompok juga mengalami hambatan yaitu ada beberapa siswa yang malas untuk bekerjasama atau egois. Mereka saling melempar tugas antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Sementara itu guru IPS Sejarah kelas VII SMP N 21 Semarang yaitu Dra. Lestari Nurmananik mengemukakan bahwa : “Dalam KTSP mata pelajaran IPS Sejarah telah terintegrasi kedalam mata pelajaran IPS terpadu. Dengan adanya hal ini, guru merasa kesulitan dalam proses pembelajaran IPS Sejarah, karena guru dituntut untuk mengajar lebih dari satu mata pelajaran, yaitu mata pelajaran Sejarah dan satu mata pelajaran yang notabennya bukan basicnya. Di SMP Negeri 21 Semarang mata pelajaran IPS dibagi menjadi dua kelompok yaitu IPS satu meliputi mata pelajaran geografi dan sosiologi sedangkan IPS dua meliputi mata pelajaran ekonomi dan sejarah. Dengan adanya hal ini, maka guru merasa mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran IPS Sejarah berbasis KTSP” (wawancara tanggal 10 Mei 2007) Uraian serupa juga dikemukakan oleh guru IPS Sejarah kelas XI SMP N 21 Semarang Anis Salamah sebagai berikut : “Dalam KTSP guru dituntut untuk menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan menyenangkan seperti : Inquiry, discovery, contextual, problem solving, dan sebagainya. Namun dalam pelaksanannya guru mengalami beberapa hambatan yang serius seperti keterbatasan dana, waktu serta tenaga dan sebagainya. Dengan adanya hal ini, maka penggunaan metode

106

pembelajaran selama ini belum bisa berlangsung secara efektif” (wawancara tanggal 30 Mei 2007) Drs. Hasan Budisulistyo selaku Wakil Kepala Sekolah SMP N 21 Semarang mengemukakan : “Secara umum hambatan yang dialami hampir tidak ada, namun kadang-kadang muncul permasalahan walaupun ini tidak menjadi masalah yang serius yaitu motivasi orang tua siswa kepada anaknya agar rajin belajar, seperti respon orang tua apabila dipanggil ke sekolah dalam rangka konsultasi yang berkaitan dengan pendidikan anaknya, kadang-kadang tidak hadir dengan mewakilkan adiknya, keponakannya atau bahkan pembantunya. Hal inilah yang sedikit menjadi hambatan”(wawancara tanggal 12 Mei 2007) Rani siswa kelas VII SMP N 21 Semarang mengatakan bahwa : “Saya sedikit mengalami hambatan yaitu harus dituntut lebih mandiri dalam belajar, tidak seperti waktu di SD, pada saat itu guru yang menerangkan kemudian siswa bertanya, sedangkan sekarang siswa bertanya telebih dahulu baru nanti dijelaskan oleh gurunya” Aditya siswa kelas XI SMP N 21 Semarang mengatakan bahwa : “Dalam KTSP tersebut proses pembelajarannya lebih detail dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, sehingga sedikit sulit” (wawancara tanggal 10 Mei 2007)

3. Pembahasan a. Pemahaman guru IPS Sejarah mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP dikembangkan sesuai dengan potensi sekolah atau daerah, karakteristik sekolah atau daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan karakteristik para peserta didik. Selain itu, dalam pengembangan KTSP harus memperhatikan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Kelulusan (SKL)

107

yang sudah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas). Dalam KTSP, guru merupakan the key person dalam keberhasilan pembelajaran. Guru adalah orang yang diberi tanggungjawab untuk mengembangkan dan melaksanakan kurikulum hingga mengevaluasi

ketercapaiannya. Guru adalah figur yang sangat berperan dalam proses dan hasil belajar siswa. Karakter guru perlu dibangun sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Dengan tanggung jawab yang sedemikian besar, guru harus memahami dengan benar mengenai KTSP dan selanjutnya memainkan peranannya secara profesional. Adapun pemahaman guru-guru IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagian besar masih terbatas. Mereka hanya mengetahui secara garis besarnya. Guru hanya mampu memahami konsep dasar KTSP secara singkat seperti pengertian KTSP, SKL, SI, RPP serta perbedaan yang mendasar antara KTSP dengan kurikulumkurikulum sebelumnya. Hal tersebut disebabkan kebiasaan selama ini yaitu guru hanya sebagai “mesin pelaksana” dari paket kurikulum yang sudah disusun oleh Pemerintah pusat, sehingga guru belum terbiasa untuk mengembangkan kurikulum sendiri. Untuk keperluan tersebut sekolah perlu meningkatkan kegiatan seminar, workshop, dan rapat kerja mengenai KTSP.

108

b. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS Sejarah 1) Persiapan Pelaksanaan Pembelajaran a) Pengembangan Program Dalam KTSP guru diberi kewenangan penuh untuk menyusun dan mengembangkan program. Pengembangan program tersebut mencakup antara lain : pertama, program tahunan. Program ini dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yaitu program semester, program mingguan, dan program harian atau program pembelajaran setiap kompetensi dasar. Kedua, program semester. Program ini berisikan garis-garis besar

mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan akan dicapai dalam semester tersebut. Program semester ini merupakan penjabaran dari program tahunan. Ketiga, program mingguan dan harian. Program ini merupakan penjabaran dari program semester dan program modul. Melalui program ini dapat diketahui tujuan-tujuan yang telah dicapai dan yang perlu diulang bagi setiap peserta didik. Keempat, program pengayaan dan remidial. Program ini merupakan pelengkap dan penjabaran dari program mingguan dan harian. Dari program ini dapat teridentifikasi siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar akan dilayani dengan kegiatan remidial, sedangkan untuk siswa yang cemerlang akan dilayani dengan kegiatan pengayaan agar tetap mempertahankan kecepatan belajarnya.

109

Kelima, Program pengembangan diri. Program ini sebagian besar diberikan melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun melalui bimbingan dan konseling atau konselor kepada para siswa yang menyangkut pribadi, sosial, belajar, dan karier. Adapun pengembangan program tahunan, program semester, program mingguan dan harian yang disusun oleh guru-guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang telah disusun sesuai dengan acuan dalam KTSP. Para guru menyusunnya secara bersama-sama dalam satu tim. Biasanya program tersebut disusun pada awal tahun pelajaran. Setiap guru mempunyai tugas-tugas masing-masing, sehingga dalam penyusunannya tidak mengalami hambatan yang berarti. Menurut Muslich (2007:44) hal-hal yang seharusnya dilakukan guru dalam penyusunan Program Tahunan (prota) dan Program Semester (promes) adalah sebagai berikut : (1) Mendaftar kompetensi dasar pada setiap unit berdasarkan hasil pemetaan kompetensi dasar per unit yang telah disusun (2) Mengisi jumlah jam pelajaran setiap unit berdasarkan hasil analisis alokasi waktu yang telah disusun (3) Menentukan meteri pembelajaran pokok pada setiap kompetensi dasar yang didapatkan dari pengembangan silabus (4) Membagi habis jumlah jam pelajaran efektif ke semua unit pembelajaran dan semua jenis ulangan berdasar pengalokasian waktu Pelaksanaan program pengayaan dan remedial oleh guru mata pelajaran IPS Sejarah SMP N 21 Semarang sudah sesuai dalam konsep KTSP yaitu berdasarkan teori belajar tuntas. Seorang peserta didik dipandang tuntas belajar

110

jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65 % dari seluruh tujuan pembelajaran. Di SMP N 21 Semarang Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang harus dicapai adalah 70 untuk penguasaan konsep, sedangkan 71 untuk penerapan konsep. Dalam konsep KTSP sekolah berkewajiban memberikan program pengembangan diri melalui bimbingan dan konseling kepada peserta didik yang menyangkut pribadi, sosial, belajar, dan karier. Konsep ini sudah diterapkan di SMP N 21 Semarang, di sekolah ini pengembangan diri sebagian besar melalui kegiatan ekstrakurikuler dan bimbingan konseling melalui konselor. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut bahkan telah mampu berprestasi di tingkat lokal maupun nasional. b) Penyusunan persiapan mengajar Dalam prinsip pengembangan silabus berbasis KTSP, setiap satuan pendidikan diberi kebebasan dan keleluasaan dalam mengembangkan silabus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah. Prinsip ini belum dilaksanakan oleh guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang dalam mengembangkan silabus tersebut. Dalam pengembangan silabus, guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 masih mengadopsi model silabus dari Depdiknas, selanjutnya model silabus tersebut ditelaah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. Apabila silabus dari Depdiknas tidak sesuai dengan kondisi sekolah, maka silabus tersebut akan direvisi atau disesuaikan dengan kondisi sekolah yang ada. Namun sebaliknya apabila silabus dari Depdiknas ternyata sesuai dengan kondisi sekolah, maka silabus tersebut akan digunakan oleh guru tersebut.

111

Untuk menyusun silabus yang sesuai dengan acuan KTSP perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengkaji Standar Kompetensi (KD) dan Kompetensi Dasar (KD). (2) mengidentifikasi materi pokok. (3) mengembangkan pengalaman belajar. (4) merumuskan indicator keberhasilan belajar. (5) penentuan jenis penilaian. (6) menentukan alokasi waktu. (7) menentukan sumber belajar. (Muslich 2007:28-30) Secara umum dalam penyusunan silabus, guru IPS Sejarah tidak mengalami hambatan yang berarti, karena guru-guru tersebut dalam penyusunan silabus dilaksanakan secara bersama-sama dalam sebuah tim yaitu dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat sekolah. Selain itu, dalam KTSP mata pelajaran IPS Sejarah telah terintegrasi menjadi satu kedalam IPS terpadu, dengan adanya hal tersebut akan semakin memudahkan guru dalam menyusun silabus berbasis KTSP. Sedangkan dalam hal penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru-guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang sudah melaksanakan sesuai dengan konsep KTSP. Dalam konsep KTSP guru diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan silabus dengan kondisi sekolah dan daerah, serta dengan karakteristik peserta didik. Untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan acuan KTSP perlu diperhatikan langkah-langkah yang patut dilakukan guru sebagai berikut : (1) ambilah satu unit pembelajaran (dalam silabus) yang akan diterapkan dalam pembelajaran. (2) tulis standar kompetensi dan kompetensi dasar. (3) tentukan indikator (4) tentukan alokasi waktu (5) rumuskan tujuan pembelajaran (6) tentukan materi pembelajaran (7) pilihlah

112

metode pembelajaran (8) susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran (9) sebutkan sumber/media belajar (10) tentukan teknik penilaian, bentuk, dan contoh instrumen penelitian. (Muslich 2007:54) Secara umum guru tidak mengalami kesulitan dalam menyusun RPP tersebut, karena guru sudah mendapat acuan atau pedoman dalam penyusunan RPP tersebut. Dalam penyusunan RPP guru diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi dan menyesuaikan silabus dengan kondisi sekolah serta dengan karakteristik peserta didik.

2) Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan belajar mengajar (KBM) dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif, yaitu kegiatan yang berfokus pada kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Dalam KBM guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar tetap berada pada diri siswa, dan guru hanya bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar secara berkelanjutan atau sapanjang hayat (Muslich 2007:48) a) Penggunaan metode atau strategi pembelajaran Pemilihan dan penggunaan strategi atau metode pembelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang sudah mengarah pada pemilihan strategi atau metode pembelajaran yang dianjurkan dalam KTSP. Dalam konsep KTSP, guru harus mampu menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan, menantang, dan konstekstual. Untuk menciptakan kondisi kelas yang

113

menyenangkan, menantang dan konstekstual, guru telah mengurangi metode ceramah dalam pembelajaran. Meskipun, guru menggunakan metode ceramah itupun hanya sekedar untuk mengantarkan siswa dalam memahami materi. Guru IPS Sejarah SMP N 21 Semarang dalam pembelajaran telah menerapkan metode ceramah bervariasi, diskusi, tanya jawab, observasi serta penugasan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan kompetensi atau materi yang harus dikuasai siswa dan waktu yang tersedia. Dalam proses pembelajaran IPS Sejarah dengan menggunakan KTSP di SMP Negeri 21 Semarang keaktifan siswa sangat diprioritaskan. Dalam proses pembelajaran siswa merupakan sentral kegiatan, pelaku utama dan guru hanya menciptakan suasana yang dapat mendorong timbulnya motivasi belajar pada siswa. Reorientasi pembelajaran tidak hanya sebatas istilah “teaching” menjadi “learning”, namun harus sampai pada operasional pelaksanaan pembelajaran. b) Penggunaan Sumber Belajar Dalam pembelajaran mata pelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang telah menggunakan media pembelajaran yang variatif untuk menunjang pemahaman siswa terhadap meteri pelajaran. Sumber belajar tersebut antara lain buku paket dari Pemkot Semarang, buku-buku penunjang dari beberapa penerbit, Lembar Kerja Siswa (LKS), serta dari lingkungan sekitar misal perpustakaan serta dari media-media pemberitaan dari televisi, surat kabar dan sebagainya Agar penggunaan sumber belajar dapat optimal, maka hendaknya memperhatikan hal-hal berikut : (1) sumber belajar atau media

114

pembelajaran yang dipilih dapat dipakai untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai. (2) sumber belajar atau media pembelajaran yang dipilih dapat memudahkan pemahaman peserta didik. (3) sumber belajar atau media pembelajaran dideskripsikan secara spesifik dan sesuai dengan materi pembelajaran. (4) sumber belajar atau media pembelajarann yang dipilih sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif, karakteristik afektif, dan keterampilan motorik peserta didik. (Muslich 2007:89) c) Penggunaan Media Pembelajaran Dalam konsep KTSP proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Dalam pelaksanaan belajar mengajar pada mata pelajaran IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang guru telah berusaha menggunakan media pembelajaran yang variatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan. Guru-guru telah menggunakan media-media pembelajaran untuk menunjang pemahaman siswa terhadap materi pelajaran seperti peta sejarah, gambar-gambar, peta konsep dari kertas manila, OHP, LCD, Powerpoint, televisi dan sebagainya. Namun kadang-kadang guru tidak selalu menggunakan media dalam pembelajaran, penggunaan media disesuaikan dengan materi dan waktu yang tersedia. d) Evaluasi Hasil Belajar Penilaian dalam KTSP menganut prinsip penilaian berkelanjutan dan komprehensif guna mendukung upaya memandirikan siswa untuk

115

belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri. Penilaian hasil belajar dalam KTSP dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program. Adapun penilaian yang dilakukan oleh guru IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang sudah mengikuti penilaian yang disyaratkan dalam KTSP. Pendekatan penilaian menggunakan Penilaian Berbasis Kelas (PBK). Dalam Puskur (2004) dinyatakan bahwa penilaian berbasis kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan. Prinsip penilaian berbasis kelas yaitu penilaian dilakukan oleh guru dan siswa, tidak terpisahkan dari KBM, menggunakan acuan patokan, menggunakan berbagai cara penilaian (tes dan non tes), mencerminkan kompetensi siswa secara komprehensif, berorientasi pada kompetensi, valid, adil, terbuka, berkesinambungan, bermakna, dan mendidik. (Muslich 2007:89) Menurut Muslich (2007:92) Hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam melaksanakan penilaian berbasis kelas adalah sebagai berikut : (1) Memandang pembelajaran (2) Mengembangkan strategi pembelajaran yang mendorong dan penilaian sebagai bagian integral dari kegiatan

memperkuat proses penilaian sebagai kegiatan refleksi (3) Melakukan berbagai strategi penilaian dalam pembelajaran (4) Mengakomodasi kebutuhan khusus siswa (5) Mengembangkan sistem pencatatan dengan cara-cara yang bervariasi

116

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pelaksanaan penilaian hasil belajar peserta didik didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) Mendidik, yaitu mampu memberikan sumbangan positif terhadap peningkatan pencapaian belajar peserta didik. Hasil belajar harus dapat memberikan umpan balik dan memotivasi peserta didik untuk lebih giat belajar. (2) Terbuka/transparan, yaitu prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan diketahui oleh pihak yang terkait. (3) Menyeluruh, yaitu meliputi berbagai aspek kompetensi yang akan dinilai yaitu meliputi ranah pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap dan nilai (afektif) yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. (4) Terpadu dengan pembelajaran, yaitu menilai apapun yang dikerjakan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar itu dinilai, baik kognitif, psikomotorik dan afektifnya. (5) Objektif, yaitu tidak terpengaruh oleh pertimbangan subjektif penilai. (6) Sistematis, yaitu penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik sebagai hasil kegiatan belajarnya. (7) Berkesinambungan, yaitu dilakukan secara terus menerus sepanjang berlangsungnya kegiatan pembelajaran (8) Adil, yaitu tidak ada peserta didik yang diuntungkan atau dirugikan berdasarkan latar belakang social-ekonomi, budaya, agama, bahasa, suku, bangsa, warna kulit, dan jender.

117

(9) Menggunakan acuan kriteria, yaitu menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Model penilaian kelas yang diterapkan guru IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang meliputi dua model yaitu non tes dan tes. Model non tes meliputi pengamatan terhadap sikap peserta didik dalam proses pembelajaran, sedangkan model tes meliputi tes lisan, tes tertulis (tes tertulis uraian dan objektif). Evaluasi hasil belajar pada mata pelajaran IPS Sejarah dengan menggunakan KTSP di SMP Negeri 21 Semarang menyangkut dua ranah yaitu ranah kognitif (pemahaman konsep) dan ranah afektif (penerapan konsep). Di SMP N 21 Semarang telah ditentukan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebesar 70 untuk penguasaan konsep sedangkan 71 untuk penerapan konsep. Di SMP Negeri 21 Semarang telah diterapkan sistem belajar tuntas yaitu seorang siswa dianggap tuntas belajar jika siswa tersebut mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran yaitu mampu memperoleh nilai 70 dan 71 . Sedangkan untuk siswa yang belum mencapai nilai tersebut maka siswa tersebut dikatakan belum tuntas belajarnya. Untuk keperluan tersebut, sekolah dalam hal ini guru memberikan perlakuan khusus terhadap siswa yang masih mendapat kesulitan belajar melalui program remedial. Sedangkan bagi siswa yang cemerlang dan telah tuntas belajarnya diberikan kesempatan untuk tetap mempertahankan kecepatan belajarnya melalui program pengayaan. Program pengayaan tersebut seperti

118

pemberian tugas-tugas atau soal-soal kepada siswa yang bisa dikerjakan secara individu maupun kelompok.

c. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS Sejarah

1) Faktor Pendukung dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Pembelajaran IPS Sejarah Dari hasil deskripsi dan analisis data dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang antara lain : a. Sarana prasarana pembelajaran di SMP Negeri 21 Semarang secara kwantitatif maupun kualitatif sudah cukup memadai. Sarana prasarana tersebut seperti tersedianya fasilitas internet, laboratorium komputer, OHP, LCD, Laptop, peta sejarah, gambar-gambar, perpustakaan yang lengkap, selain itu pembangunan gedung-gedung penunjang juga terus dilakukan. b. Adanya program-program sekolah dalam rangka implementasi KTSP antara lain : (1) Mengadakan sosialisasi mengenai konsep-konsep dasar KTSP dengan melibatkan dari unsur lembaga perguruan tinggi (UNNES), LPMP Dinas Pendidikan dan istruktur Dinas Pendidikan tingkat propinsi. (2) Pembentukan kepanitiaan KTSP, hal ini melibatkan stakeholder antara lain kepala sekolah, guru, konselor, komite sekolah.

119

(3) Adanya tim pengembang dan penyusun KTSP yang kinerjanya sangat solid. Tim ini bertugas antara lain menjadi koordinator penyusunan dan pengembangan KTSP, membuat struktur program KTSP untuk satu tahun ajaran, menjadi motor penggerak bagi terlaksananya KTSP. (4) Setiap satu bulan sekali dilakukan evaluasi yang dikemas dalam briefeng atau rapat dinas sekolah. c) Adanya sistem penilaian kinerja (performance appraisal) terhadap guru dan siswa dengan mengembangkan sistem penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mendorong guru, pimpinan maupun karyawan untuk senantiasa profesional, maka perlu adanya sistem penilaian kerja untuk dapat mengukur hal tersebut. Sistem penilaian kinerja merupakan alat yang sangat bermanfaat tidak hanya untuk mengevaluasi kinerja guru, pimpinan maupun karyawan, namun juga untuk mengembangkan dan memotivasi kinerja guru, karyawan serta pimpinan. Sistem penilaian kinerja diberlakukan untuk satu tahun ajaran. Hasil penilaian kinerja berujung pada dua hal yaitu penghargaan atau reward bagi yang kinerjanya memuaskan, mempunyai dedikasi dalam bekerja yang tinggi serta profesionalisme. Sedangkan bagi yang berkinerja kurang baik akan mendapatkan hukuman atau punishment. Penghargaaan bagi yang berprestasi dapat berupa penghargaan materiil (uang) maupun non materiil seperti studi lanjut, promosi jabatan dan sebagainya. Penghargaan atau reward juga diberlakukan untuk siswa, yaitu siswa yang mendapat nilai 10 dalam setiap mata pelajaran yang diujikan dalam

120

Ujian Nasional (UN) akan mendapat uang sebesar Rp.100.000. sistem reward semacam ini sangat efektif untuk memotivasi siswa dalam belajar. Sadangkan bagi yang kurang baik kinerjanya akan dilakukan pembinaan yang berkelanjutan dengan batas waktu tertentu.

2) Faktor Penghambat dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Pembelajaran IPS Sejarah Dari hasil deskripsi dan analisis data maka dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang adalah sebagai berikut : a) Dalam KTSP guru dituntut untuk melaksanakan sistem penilaian secara mandiri atau berkelanjutan, namun dalam pelaksanaannya guru IPS Sejarah belum mampu memenuhi tuntutan tersebut. Adapun faktor yang menjadi penghambat dalam proses penilaian tersebut antara lain adanya perbedaan karakteristik setiap peserta didik, sehingga guru merasa kesulitan untuk mengidentifikasi atau menghafal satu per satu peserta didik tersebut. Apalagi rata-rata guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang sudah cukup tua dan banyak kesibukan yang harus dilakukan, sehingga kemampuan untuk mengingatnya sudah agak berkurang. b) Dalam KTSP guru dituntut untuk menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan menyenangkan seperti : metode inquiry, discovery, contextual, problem solving dan sebagainya. Namun dalam

pelaksanaannya guru mengalami beberapa hambatan yang cukup serius seperti terbatasnya dana, waktu, serta tenaga, sehingga penggunaan metode pembelajaran selama ini belum bisa berlangsung secara optimal.

121

c) Terjadinya integrasi (penggabungan) mata pelajaran ilmu-ilmu sosial menjadi IPS terpadu. Dengan adanya hal tersebut, guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses pemebalajaran IPS Sejarah berbasis KTSP. Hal ini disebabkan karena guru dituntut untuk mengajar lebih dari satu mata pelajaran, dimana satu mata pelajaran tersebut notabennya bukan basic dari guru tersebut. d) Banyak siswa yang kurang siap untuk mandiri dalam belajar, hal ini karena siswa masih terbiasa dengan sistem konvensional yaitu siswa selalu pasif dalam pembelajaran. Hal ini jelas sangat berbeda dengan KTSP, saat ini siswa menjadi sentral dalam proses pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dalam menciptakan suasana kelas yang menyenangkan untuk kegiatan belajar mengajar.

122

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Berdasarkan penelitian mengenai implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 maka semarang dapat ditarik beberapa kesimpulan : 1. Pemahaman guru-guru IPS Sejarah di SMP N 21 Semarang mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagian besar masih terbatas hanya mengetahui secara garis besarnya. Guru hanya mampu memahami konsep dasar KTSP secara singkat seperti pengertian KTSP, SKL, SI, RPP serta perbedaan yang mendasar antara KTSP dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. 2. Proses Pembelajaran a. Persiapan pelaksanaan pembelajaran Pengembangan program yang disusun oleh guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang telah sesuai dengan acuan dalam KTSP. Dalam pengembangan silabus, guru IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang masih mengadopsi model silabus dari Depdiknas, selanjutnya model silabus tersebut ditelaah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. b. Pelaksanaan Pembelajaran Pada awal pembelajaran guru melakukan apersepsi, namun tidak pernah melakukan pre-test, guru telah mengurangi metode ceramah dan keaktifan siswa sangat diprioritaskan. Guru IPS Sejarah SMP N 21

123

Semarang dalam pembelajaran telah menerapkan berbagai metode, sumber belajar, serta media yang variatif. c. Evaluasi hasil belajar Guru melakukan Penilaian Berbasis Kelas (PBK) untuk memperoleh penilaian dari aspek penguasaan konsep dan aspek penerapan konsep. Guru menerapkan pendekatan pembelajaran tuntas dengan mengadakan program remidi dan program pengayaan. 3. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP di SMP Negeri 21 Semarang a. Faktor pendukung antara lain : 1) Sarana prasarana pembelajaran di SMP Negeri 21 Semarang secara kuantitas maupun kualitas sudah cukup memadai. 2) Adanya program-program sekolah dalam rangka implementasi KTSP antara lain : sosialisasi mengenai konsep-konsep dasar KTSP, Pembentukan kepanitiaan KTSP, Adanya tim pengembang dan penyusun KTSP, Setiap satu bulan sekali dilakukan evaluasi yang dikemas dalam briefeng atau rapat dinas sekolah. 3) Adanya sistem penilaian kinerja terhadap guru dan siswa dengan menerapkan reward (penghargaan) serta punishment (hukuman). b. Faktor penghambat dalam implementasi KTSP di SMP N 21 Semarang antara lain : Lemahnya kemampuan guru dalam melakukan penilaian secara mandiri atau berkelanjutan, terbatasnya (dana, waktu, serta tenaga) dalam penggunaan metode pembelajaran, terjadinya integrasi

(penggabungan) pada mata pelajaran ilmu-ilmu sosial menjadi IPS terpadu, kurangnya kesiapan siswa untuk belajar mandiri.

124

B. Saran Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan prinsip

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), khususnya pada pembelajaran IPS Sejarah di SMP Negeri 21 Semarang, maka peneliti menyarankan sebagai berikut : 1. Bagi Guru IPS Sejarah a. Selalu meningkatkan pemahaman mengenai KTSP dengan mengikuti seminar, workshop, rapat kerja KTSP atau mempelajari buku-buku KTSP, selian itu guru hendaknya menerapkan KTSP secara profesional sehingga proses pembelajaran akan semakin berkualitas. b. Berkaitan dengan penyusunan silabus, guru hendaknya dapat

mengembangkan kreatifitasnya sendiri dalam menyusun silabus dengan menyesuaikan kondisi dan potensi sekolah. c. Berkaitan dengan penyusunan RPP, guru hendaknya tidak menyusun secara sekaligus, akan tetapi disusun setiap satu kali pertemuan. d. Berkaitan dengan proses pembelajaran guru hendaknya melakukan pre-test selain itu, guru dituntut harus lebih inovatif dan kreatif dalam penggunaan metode pembelajaran. e. Berkaitan dengan evaluasi hasil belajar, guru hendaknya meningkatkan kemampuannya dalam proses penilaian secara mandiri atau berkelanjutan. 2. Bagi SMP Negeri 21 Semarang a. Pihak sekolah secara berkala melakukan kegiatan seminar, workshop serta rapat kerja mengenai KTSP, sehingga pemahaman guru-guru tentang KTSP akan semakin meningkat. b. Pihak sekolah hendaknya membangun laboratorium IPS untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran IPS.

125

125

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan Praktek, Edisis Revisi V. Jakarta : Rineka Cipta.

Badan

Standar Nasional Pendidikan. 2006. Penyusunan KTSP Kabupaten/Kota; Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Baedhowi. 2007. ‘Kebijakan Pengembangan Kurikulum’. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional KTSP, UNNES, Semarang, 15 Maret 2007.

Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press.

Hadi, Sutrisno MA. 2004. Metodologi Research Jilid 2. Yogyakarta : ANDI.

Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Hamid, Hasan. 2007. ‘Pengembangan dan Implementasi KTSP, Konsep dan Substansi’. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional KTSP, UNNES, Semarang, 15 Maret 2007.

Kasmadi, Hartono. 2007. ‘Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai Mata Pelajaran yang Unggul? Sebuah Tantangan bagi Pembelajaran Sejarah?’. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (IKAHIMSI), UNNES, Semarang, 16 April 2007.

126

Miles, Manthew B dan A. Michael Huberman. 1994. Terjemahan Tjejep Rohendi. Analisis Data Kualitatif. Jakarta : UI Press.

Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif; Edisi Revisi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan Pedoman Bagi Pengelola Lembaga Pendidikan, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Dewan Sekolah, dan Guru. Jakarta : PT Bumi Aksara.

-----. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Konstekstual Panduan Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Jakarta : PT Bumi Aksara.

Nasution, S. MA.2003. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta : Bumi Aksara.

Pusat Kurikulum. 2006. Model Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IPS Terpadu Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTS). Jakarta : Balitbang Depdiknas.

Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang : UPT MKK Unnes Press.

Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta.

127

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Susilo, Muhammad Joko, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta : Balai Pustaka.

Widya, I Gede. 1989. Dasar-dasar Pengembangan Strategi serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->