P. 1
Kesiapan Indonesia Dalam AFTA 2010

Kesiapan Indonesia Dalam AFTA 2010

5.0

|Views: 14,304|Likes:
Published by Dodik Ariyanto
Banyak pihak menantikan Januari 2010 dengan harap-harap cemas, karena pada saat itulah genderang perang “laissez faire” akan menggema di seantero Asia Tenggara. Negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, tengah bersiap-siap mengantisipasi seribu macam kemungkinan yang dapat terjadi menyusul implementasi penuh kesepakatan perdagangan bebas antar anggota ASEAN yang ternyata bertambah satu negara non-anggota, yaitu China. Berbagai reaksi, mulai dari yang paranoid terhadap serbuan komoditi asal China hingga yang mencerca pemerintah yang dinilai “terlalu memaksakan diri” bergabung dengan rejim perdagangan bebas tersebut, ramai menghiasi headline media-media massa utama di tanah air. Tak kalah lantang, kelompok-kelompok tertentu bahkan memvonis keputusan bergabung dalam AFTA sebagai sebuah kesalahan yang masih mungkin untuk direvisi kembali. Terkait dengan dinamika tersebut, artikel ini dimaksudkan untuk memberi gambaran bagaimana kira-kira kesiapan Indonesia dalam AFTA+China yang implementasinya akan efektif sejak 1 Januari 2010 yang akan datang.
Banyak pihak menantikan Januari 2010 dengan harap-harap cemas, karena pada saat itulah genderang perang “laissez faire” akan menggema di seantero Asia Tenggara. Negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, tengah bersiap-siap mengantisipasi seribu macam kemungkinan yang dapat terjadi menyusul implementasi penuh kesepakatan perdagangan bebas antar anggota ASEAN yang ternyata bertambah satu negara non-anggota, yaitu China. Berbagai reaksi, mulai dari yang paranoid terhadap serbuan komoditi asal China hingga yang mencerca pemerintah yang dinilai “terlalu memaksakan diri” bergabung dengan rejim perdagangan bebas tersebut, ramai menghiasi headline media-media massa utama di tanah air. Tak kalah lantang, kelompok-kelompok tertentu bahkan memvonis keputusan bergabung dalam AFTA sebagai sebuah kesalahan yang masih mungkin untuk direvisi kembali. Terkait dengan dinamika tersebut, artikel ini dimaksudkan untuk memberi gambaran bagaimana kira-kira kesiapan Indonesia dalam AFTA+China yang implementasinya akan efektif sejak 1 Januari 2010 yang akan datang.

More info:

Published by: Dodik Ariyanto on Dec 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

MENYONGSONG IMPLEMENTASI AFTA 2010: KESEMPATAN DAN TANTANGAN BAGI INDONESIA Oleh: Dodik Ariyanto∗ Banyak pihak menantikan

Januari 2010 dengan harap-harap cemas, karena pada saat itulah genderang perang “laissez faire” akan menggema di seantero Asia Tenggara. Negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, tengah bersiap-siap mengantisipasi seribu macam kemungkinan yang dapat terjadi menyusul implementasi penuh kesepakatan perdagangan bebas antar anggota ASEAN yang ternyata bertambah satu negara non-anggota, yaitu China. Berbagai reaksi, mulai dari yang paranoid terhadap serbuan komoditi asal China hingga yang mencerca pemerintah yang dinilai “terlalu memaksakan diri” bergabung dengan rejim perdagangan bebas tersebut, ramai menghiasi headline media-media massa utama di tanah air. Tak kalah lantang, kelompok-kelompok tertentu bahkan memvonis keputusan bergabung dalam AFTA sebagai sebuah kesalahan yang masih mungkin untuk direvisi kembali. Terkait dengan dinamika tersebut, artikel ini dimaksudkan untuk memberi gambaran bagaimana kira-kira kesiapan Indonesia dalam AFTA+China yang implementasinya akan efektif sejak 1 Januari 2010 yang akan datang. Regionalisasi ekonomi di Asia tenggara dan kemunculan AFTA Sejak tahun 1980an, terjadi serangkaian perubahan fundamental di dunia, antara lain : 1) Munculnya lingkungan ekonomi dunia yang kompetitif

dan

terjadinya

perubahan

cepat

menuju

ekonomi

Penulis adalah PhD candidate bidang Ilmu Politik di University of Canterbury

berorientasi pasar khususnya di Eropa eks-sosialis dan juga di Asia yang ditandai dengan adanya reformasi ekonomi melalui privatisasi, deregulasi dan liberalisasi; 2) Terjadinya revolusi teknologi informasi yang memungkinkan peningkatan secara luar biasa traksaksi perdagangan dan saling ketergantungan antar negara di dunia ; 3) Meningkatnya regionalisasi yang ditandai dengan munculnya pengaturan perdagangan dan investasi dalam lingkup regional di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, negara-negara Asia pada umumnya mulai menerima prinsip-prinsip liberalisasi yang disertai dengan meningkatnya tekanan strategi pembangunan yang berbasis daya tarik bagi investasi asing langsung serta munculnya kesadaran di kalangan para pemimpin ASEAN untuk memperkuat kerja sama ekonomi guna menghadapi tekanan komparatif dari luar kawasan. Berbagai kecenderungan tersebut kemudian mendorong para pemimpin negara Asia, khususnya negara-negara anggota ASEAN, untuk mendirikan suatu organisasi ekonomi regional di Asia tenggara. Setelah melalui serangkaian negosiasi dan perdebatan yang panjang, pada Millenium Summit ke-4 ASEAN di Singapura tahun 1992, ASEAN yang saat itu masih beranggotakan 6 negara (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) sepakat membentuk kawasan perdagangan bebas ASEAN (AFTA) dalam rentang waktu 15 tahun dimulai sejak 1 Januari 1993. Dengan adanya kawasan perdagangan bebas tersebut maka seluruh negara anggota ASEAN akan mengurangi hambatan arus perdagangan dan investasi antar mereka secara bertahap hingga tahun 2008 yang diletakkan dalam skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT). Vietnam

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 2

dodmbyp@yahoo.com

yang bergabung dengan ASEAN pada tahun 1995 disusul oleh Laos dan Myanmar dua tahun kemudian serta Kamboja pada tahun 1999 secara otomatis tergabung dalam keanggotaan AFTA bersamaan dengan masuknya mereka ke organisasi regional tersebut. Melihat latar belakang dibentuknya kawasan perdagangan bebas ASEAN, oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa keberadaan AFTA lebih dilandasi oleh tujuan ekonomi dan bukan tujuan lain seperti keamanan ataupun politik, di mana main goals-nya adalah guna menarik investasi asing langsung dalam rangka menopang pertumbuhan ekonomi di kawasan, mempertahankan keunggulan komparatif, serta untuk menjaga hubungan ekonomi dengan negaranegara partner utama Asia yaitu Amerika Serikat, Jepang dan Eropa. Disamping itu, seperti halnya organisasi serupa di kawasan lain, terdapat tujuan lain yang lebih spesifik yakni guna menggairahkan hubungan ekonomi dan perdagangan antar sesama anggota ASEAN yang sebelumnya menunjukkan level kurang menggembirakan (grafik 2). Sekedar ilustrasi, sebagai sebuah kawasan ekonomi strategis, ASEAN pada tahun 1995 (sebelum bergabungnya Laos, Myanmar dan Kamboja) memiliki pangsa pasar lebih dari 420 juta jiwa, namun perdagangan antar anggotanya tidak pernah melampaui angka 20%. Sebaliknya, hubungan perdagangan negara-negara ASEAN justru lebih dominan dijalin secara unilateral dengan negara-negara partner di luar Asia tenggara, sehingga AFTA pada dasarnya dapat dilihat sebagai « stimulus » yang dimaksudkan guna mengintensifkan perdagangan internal antar anggota ASEAN.

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 3

dodmbyp@yahoo.com

Grafik 2

Volume perdagangan intra ASEAN
persentase dari total perdagangan anggota ASEAN

2 25
0
20 15 10 5 0

Prosentase

17.1% 15.5% 13.2%

17.9%

18.3% 16.6%

Tahun

1970

1975

1980

1985

1990

1992

Sumber: Internasional Monetary Fund, Direction of Trade Statistic Yearbook 1993 (Washington DC., 1993)

Krisis ekonomi regional Sejak awal tahun 1990an, ekonomi Indonesia sangat sustainable dan attractive bagi investasi asing hingga terjadinya krisis moneter di Asia pada 1997. Selama tiga dekade sebelumnya, ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 7% dan GDP riil rata-rata 7-8 % hingga tahun 1996. Pertumbuhan ekspor sangat sehat dan balance of payments dalam tataran aman, sehingga apabila dibandingkan dengan negara lain di lingkup regional, Indonesia adalah salah satu yang memiliki defisit anggaran paling rendah dan rasio cadangan devisa yang paling tinggi. Trend positif tersebut berubah ketika terjadi gelombang moneter di Asia yang bermula pada tanggal 2 Juli 1997 ketika Bank sentral Thailand menyerah terhadap tekanan yang menyerang kurs nasionalnya. Thailand memutuskan untuk memotong tali yang

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 4

dodmbyp@yahoo.com

menghubungkan Baht dengan US dollar sehingga memprovokasi jatuhnya Baht vis-à-vis US$. Beberapa hari kemudian, Filipina mengikuti langkah yang ditempuh Thailand. Dengan maksud memproteksi cadangan devisanya, Filipina melepaskan standard tukar mata uangnya--biasa disebut ‘peg’-- terhadap US$, sehingga Peso Filipina jatuh hingga sepersepuluh dari nilai sebelumnya. Efek domino tersebut kemudian mempengaruhi Malaysia dan Indonesia beberapa waktu setelahnya. Pada Juli 1997, tekanan yang kuat terhadap kurs tukar Rupiah disambut dengan keputusan Bank Sentral Indonesia dengan menaikkan level peg tertinggi dan menurunkan level peg terendah hingga 12%. Namun, pertahanan atas rupiah tersebut hanya bertahan sebulan karena pada tanggal 14 Agustus 1997 Bank Indonesia memutuskan untuk menghentikan upaya mempertahankan diri dari gempuran moneter tersebut sehingga nilai rupiah tiba-tiba jatuh terhadap US$. Dalam beberapa minggu, nilai Rupiah merosot dari 2.449 pada 30 Juni menjadi 3.800 per US$ pada minggu kedua Oktober 1997. Badai ekonomi tersebut berlanjut pada tahun berikutnya. Pada akhir Mei 1998, kurs nilai tukar rupiah jatuh bebas pada level Rp.11.000 per US$ dari Rp 2.300 per US$ atau setara dengan sepertujuh dari nilai sebelum krisis. Sebagai konsekuensi, barang-barang impor menjadi luar biasa mahal dalam takaran rupiah, memicu penyerbuan barangbarang impor dan komoditas utama di pasar-pasar perkotaan. GDP riil menurun hingga 10-20%, inflasi mencapai 70-100%, pengangguran meningkat, dan kemiskinan menyapu hampir seluruh prestasi ekonomi yang dibangun selama tiga dekade sebelumnya. Masih lagi, pemerintah harus menghadapi persoalan lain yaitu jatuhnya harga

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 5

dodmbyp@yahoo.com

minyak hingga hanya mencapai level 10-12$ per barrel. Dapat dibayangkan kondisi keuangan negara pada saat tax revenue menurun drastis sedangkan expenditure meningkat tajam. Kondisi inilah yang dikenal sebagai era runtuhnya infrastruktur ekonomi Indonesia, sebuah tragedi yang sampai saat ini masih terus diupayakan pemulihannya. Krisis moneter tersebut sudah pasti mempengaruhi kesiapan masingmasing anggota ASEAN dalam menghadapi AFTA, namun cukup sulit untuk memprediksi kesiapan aktual peserta AFTA berdasarkan perspektif ini. Terdapat paling tidak tiga alasan yang mendasarinya, yaitu: Pertama, masing-masing anggota ASEAN memiliki tingkat kecepatan recovery ekonomi yang bervariasi. Sebagai misal, Malaysia dan Singapura saat sekarang bisa dikatakan telah pulih hampir 100% namun Indonesia mungkin masih dikisaran 90% atau bahkan kurang; Kedua, menggunakan indikator yang ada sekarang akan menimbulkan bias mengingat beberapa negara masih berada dalam proses recovery sementara negara lain telah berada pada titik balik (berdasarkan teori conjunctur ekonomi), dan; Ketiga, seluruh negara anggota ASEAN mengalami krisis moneter, sehingga Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang terkena dampaknya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan kapasitas AFTA. Prospek AFTA Bagi Indonesia Indonesia tersebut maka analisis komparatif lebih terhadap anggota ASEAN lainnya

difokuskan pada indikator-indikator pada sekitar awal berdirinya

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 6

dodmbyp@yahoo.com

Inti dari CEPT dalam persetujuan AFTA adalah pengurangan berbagai tarif impor dan penghapusan hambatan non-tarif atas perdagangan dalam lingkup ASEAN. Hal ini membawa implikasi bagi Indonesia berupa perubahan harga relatif produk-produk Indonesia yang diekspor ke negara-negara ASEAN disamping akan menjadi insentif bagi masuknya investasi asing yang selama ini menjadi salah satu pilar untuk memutar roda perekonomian nasional. Oleh karena itu, dalam hal ini profil perdagangan dan investasi Indonesia, dengan perbadingan profil negara-negara anggota lainnya, sangat penting diketahui guna melihat sejauh mana AFTA akan membawa dampak positif bagi Indonesia. Pertama dan yang paling penting dalam sistem ekonomi pasar adalah perdagangan. Tabel 1 menunjukkan Index keunggulan komparatif produk ekspor andalan anggota-anggota ASEAN yang dinyatakan dalam skema CEPT. Dalam tabel tampak bahwa Indonesia tidak cukup dominan dalam hal keunggulan comparatif produk-produk ekspornya, bahkan dibandingkan dengan Kamboja yang terhitung sebagai pemain baru dalam transaksi perdagangan regional. Dari seluruh produk unggulan, hanya produk kayu lapis dan plywood yang tidak tersaingi oleh anggota lainnya dengan index 37, disusul kemudian oleh produk karet alam dimana Indonesia hanya menduduki tempat ketiga setelah Kamboja dan Thailand. Prestasi peningkatan volume ekspor Indonesia pada tahun 2000 seperti diuraikan di atas tiada lain lebih merupakan hasil transaksi perdagangan Indonesia dengan pihak di luar ASEAN, khususnya dengan Jepang dan Amerika Serikat. Sementara itu, dalam transaksi perdagangan di kawasan, sepertinya Indonesia tidak bisa berharap terlalu banyak. Terlebih jika

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 7

dodmbyp@yahoo.com

mengingat bahwa produk kayu lapis dan plywood berbahan dasar kayu hutan, dan bukan rahasia lagi bahwa luas hutan di Indonesia mengalami penyusutan yang sangat drastis dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, secara ekonomi produk tersebut tidak akan dapat dijadikan produk andalan dalam jangka menengah apalagi jangka panjang, mengingat semakin langkanya bahan baku kayu.

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 8

dodmbyp@yahoo.com

Tabel 1 Revealed Comparative Advantage of Export Index: Indonesia and ASEAN Countries SITC 036 037 042 054 057 071 222 223 232 233 245 247 248 269 287 332 333 334 341 424 634 653 Description Indonesia 7 27 7 4 2 13 37 5 Philippine 9 20 6 34 Thailand 13 33 30 4 3 Malaysia 22 18 7 2 3 43 3 Sgpore Brunei 6 7 3 5 10 2 41 0 C-bodia 3 12 10 94 63 59 175 12 15 8 Myanmar 12 60 30 12 71 12 13 Vietnam 38 65 4 11 9 7 9 6 0 -

Shellfish: fresh, frozen Fish: prepared, preserved Rice Vegetables: fresh, preserved Fruits, nuts: fresh, dried Coffe and subtitudes Seeds for ‘soft’ fixed oils Seeds for other fixed oils Natural rubber, gum Rubber: Synthetic, reclaimed Fuel wood, charcoal Wood: roughed, squared Wood: shaped, sleepers Waste of textile fabrics Base metal ores Coal, lignite and peat Crude petroleum Petroleum products: refined Gas: natural, manufactured Fixed vegetable oil: non-soft Veneers, plywood Woven man-made fibre fabrics 667 Pearl, precious, semiprecious stones 752 Automatic data processing equipment 759 Offices machines: parts, accessories 761 Relevision receivers Continued….

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 9

dodmbyp@yahoo.com

SITC 762 763

Description

Indonesia 3 5

Philippine 2 5 5 4 -4 8 8

Thailand 2 4 4

Malaysia 12 2 7 -

Sgpore Brunei 8 4 2 1 4 1 0 0 1 1 0 0

C-bodia 16 5 45 4 5 18

Myanmar 3 9 8

Vietnam 8 6 -

Radio broadcast receivers Sound recorders, phonographs 764 Telecom equipment, parts, accessories 772 Switch gears, parts 773 Electrical distributing equipment 776 Transistors, valves 778 Electrical machinery 842 Men’s outerwear, not knitted 843 Womens outerwear, not knitted 844 Undergarments, not knitted 845 Outerwear, knitted non elastic 846 Undergarments, knitted 851 Footwear 896 Works of art 931 Special transactions Sumber: UNCTAD (1996)

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 10

dodmbyp@yahoo.com

Hal lain yang menghambat peningkatan volume perdagangan intra regional dan pada gilirannya kurang menguntungkan Indonesia khususnya, adalah fakta dimana produk-produk ekspor andalan negara anggota AFTA secara umum lebih bersifat ‘subtitutif’ daripada ‘komplementer’, dalam arti produk-produk yang dihasilkan cenderung serupa sehingga sulit diharapkan agar masing-masing anggota dapat menyerap produk mereka satu sama lain. Bahkan di pasar produkproduk mereka akan bersaing dan dapat mematikan produk yang tidak unggul secara komparatif. Seperti terlihat pada tabel, dari seluruh anggota AFTA hanya Singapura yang relatif memiliki produk unggulan berbeda, yaitu di sektor-sektor menyangkut penggunaan teknologi elektronik dan informatika, sisanya lebih menekankan pada pertanian dan hasil alam. Pertanyaanya kemudian adalah, bagaimana agar di dalam pelaksanaan AFTA negara anggota yang kurang memiliki variasi produk unggulan tidak tenggelam dalam persaingan, dimana hal tersebut akan bertentangan dengan tujuan awal dibentuknya organisasi ini. Tantangan inilah diantara yang harus dijawab oleh AFTA dan anggota-anggotanya, khususnya Indonesia. Apabila pemerintah mampu memecahkan persoalan ini dan dapat secara jeli memetakan dan kemudian memanfaatkan pasar regional ASEAN yang saat ini mencapai lebih dari setengah milyar jiwa, terdapat dua peluang besar terbuka bagi Indonesia terkait dengan perdagangan, yaitu kesempatan untuk fully-recovered pasca krisis ekonomi; dan yang kedua adalah kesempatan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang stabil dan signifikan sebagaimana yang

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 11

dodmbyp@yahoo.com

terjadi pada periode tahun 1970an hingga menjelang krisis ekonomi 1997. Di sisi lain, dengan adanya pengurangan hambatan dan tariff perdagangan, sudah barang tentu akan terjadi peningkatan volume transaksi perdagangan antar anggota AFTA, namun muncul pesimisme bahwa peningkatan tersebut akan mencapai jumlah yang signifikan dan mampu bertahan dalam waktu yang lama. Sejauh ini kekhawatiran tersebut memang belum cukup terbukti dan memang untuk sementara ini secara umum AFTA telah menunjukkan efektifitasnya. Sebagai misal, pada tahun 1994, setahun setelah percobaan implementasi AFTA, total perdagangan ASEAN dengan dunia tumbuh sebesar 21% (dari US$ 448 milyar pada tahun 1993 menjadi US$ 543 milyar pada tahun 1994, dan perdagangan Intra ASEAN juga meningkat dari US$ 89 milyar tahun 1993 menjadi US$ 110 milyar tahun 1994 atau naik sebesar 24%. Terlebih mengingat keunggulan komparatif bukanlah satu-satunya indikator penentu keberhasilan perdagangan suatu negara. Namun demikian tidak ada salahnya, khususnya bagi Indonesia, untuk memperkirakan berbagai kemungkinan di masa datang di dalam AFTA, dan yang lebih utama lagi guna meyakinkan manfaat organisasi ini bagi masing-masing anggotanya. Selain perdagangan, yang juga vital adalah investasi. Ketika Sukarno memerintah mulai awal kemerdekaan hingga pertengahan tahun

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 12

dodmbyp@yahoo.com

1960an, perekonomian nasional dirangsang dengan fiscal stimulus yang dibiayai dengan cara mencetak uang dan mendevaluasikan mata uang. Akibatnya terjadi inflasi yang parah hingga mencapai 1,500 persen disertai dengan langkanya barang-barang produksi dan meroketnya pengangguran. Ketika Suharto mulai memerintah pada tahun 1966, strategi ini dirubah 180 derajad. Perekonomian nasional disusun berdasarkan program nasional terencana dengan rentang waktu 5 tahun dengan menekankan pertanian dan hasil alam sebagai mesin penggeraknya. Mulai tahun 1986, seiring dengan kuatnya tekanan ekonomi yang berorientasi pasar dan kebijakan ekonomi nasional Indonesia yang memperlebar peran swasta dalam perekonomian, investasi asing langsung mulai mengambil peran menentukan dalam pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia. Seperti tampak dalam Grafik 3, Investasi asing terus mengalami peningkatan secara drastis dari tahun ke tahun dan mencapai puncaknya pada tahun 1996, setahun sebelum krisis ekonomi. Sebagai gambaran peran penting investasi ini, dalam grafik terlihat bahwa pertumbuhan GDP nasional cenderung meningkat dengan peningkatan nilai investasi yang masuk, dan sebaliknya menurun drastis seiring dengan penurunan angka investasi. Seperti diketahui, pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 1997 terjadi pelarian modal dari tanah air secara besar-besaran dari tanah air yang dikenal dengan capital flight.

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 13

dodmbyp@yahoo.com

Indonesia: Aliran Investasi Asing Langsung
15.0% GDP Growth 10.0% 5000

Grafik 3

(US$ dan persen pertahun)

FDI Inflow

7000

3000 5.0% 1000 0.0%
1971 1976 1981 1986 1991 1996 2001

-1000

-5.0% -3000 -10.0%

-5000

-15.0%

-7000

Sumber: International Monetary Fund, Direction of Statistic (2002)

Secara common sense, ada dua manfaat investasi yang mungkin bagi perekonomian Indonesia, yaitu: pertama, sebagai penggerak perekonomian nasional. Pada tataran yang lebih teknis, untuk menggerakkan perekonomian diperlukan capital yang pembiayaannya dapat diperoleh dari berbagai sumber, misalnya pendapatan pemerintah, investasi, tabungan, atau dengan privatisasi aset-aset negara. Namun diantara sumber-sumber tersebut, yang paling mudah, praktis, efektif, dan memungkinkan bagi Indonesia saat ini adalah investasi karena disamping sifatnya yang langsung, sumber-sumber pembiayaan lain masih sulit diandalkan. Krisis multidimensional terburuk dalam sejarah Indonesia pasca-1998 telah mengurangi secara drastis kemampuan pemerintah
Page 14

untuk

membiayai

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

dodmbyp@yahoo.com

pembangunan. Pada saat yang sama, tuntutan pihak-pihak donor agar pemerintah Indonesia memperkecil defisit anggaran biaya negara sebagai prasyarat pengucuran paket bantuan, telah meniadakan kemungkinan pemerintah memberikan stimulus fiskal dari sumber APBN. Usaha pemerintah yang memprivatisasi perusahaanperusahaan milik negara sejak tahun 1999 memang cukup membantu mengangkat perekonomian, tetapi masih jauh dari target yang diinginkan; dan, kedua, investasi berperan sebagai sarana untuk memfasilitasi terjadinya transfer kemampuan dan tehnologi yang biasanya menyertai investasi. Keuntungan kedua ini memang tidak cukup mendesak dalam jangka pendek bagi Indonesia karena prioritas recovery economy tentunya lebih utama dan pada periode boom investasi sejak tahun 1980-an transfer kemampuan dan tehnologi tersebut telah terjadi, bahkan sempat membawa Indonesia pada status negara semi-industri di kawasan Asia. Namun dalam jangka menengah pasca krisis, penguasaan Indonesia atas teknologi khususnya tehnologi produksi akan sangat vital apabila tidak ingin ditinggalkan oleh negara lain di kawasan. Apalagi dengan pesatnya perkembangan tehnologi informasi yang demikian dahsyat selama satu dekade terakhir. Namun ternyata tidak mudah bagi Indonesia menarik minat para investor asing untuk masuk ke Indonesia. Meskipun gebrakangebrakan pemberantasan korupsi, reformasi hukum, dan good governance semakin gegap gempita digalakkan, hingga saat ini trend

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 15

dodmbyp@yahoo.com

investasi asing langsung masih menunjukkan grafik naik turun. Berbagai upaya menarik kembali para investor telah dilakukan pemerintah, seperti misalnya restrukturisasi sistem perbankan nasional, perbaikan sistem hukum, dan privatisasi asset negara. Namun sejauh ini berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan dan mungkin adanya kekhawatiran akan efektifitas kebijakan desentralisasi yang digulirkan sejak tahun 2001 tampaknya merupakan penyebab Indonesia belum cukup menarik di mata investor. Di sinilah tampaknya Indonesia akan berharap banyak dengan keberadaan AFTA. Tidak dapat dipungkiri bahwa AFTA secara tidak langsung telah menjadi penghubung yang dapat diandalkan antara kawasan Asia Tenggara dengan dunia luar. Potensi pasar kolektif yang demikian besar dan pertumbuhan ekonomi yang relatif signifikan selama beberapa dekade terakhir memungkinkan hal tersebut dapat terealisasi. Jika selama masa sebelum berdirinya AFTA, tiap-tiap anggota cenderung bergerak secara individual, sehingga dalam perekonomian dunia secara keseluruhan mereka kurang memiliki daya tawar signifikan, maka dengan keberadaan AFTA tiap-tiap anggota, atas nama kolektif, dapat “memaksa” dunia luar untuk lebih berpihak pada kepentingan mereka. Singkatnya, keberadaan AFTA diharapkan akan mampu meningkatkan daya tawar masing-masing anggotanya terhadap dunia luar kawasan sekaligus meningkatkan image di mata investor.

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 16

dodmbyp@yahoo.com

Sebagai konsekuensi logis sistem perdagangan bebas, Indonesia sudah barang tentu akan dihadapkan pada negara-negara partner ekonomi di dalam organisasi AFTA yang menjanjikan berbagai peluang keuntungan, namun pada saat yang sama Indonesia juga akan mempunyai pesaing-pesaing baru karena prinsip perdagangan bebas (yang menjadi landasan AFTA) akan mendorong tiap-tiap anggota untuk memperbesar keunggulan komparatif masing-masing, di mana pada akhirnya hanya negara yang punya keunggulan komparatif terbesarlah yang cenderung meraih keuntungan optimal. Dalam kerangka ini, perlu kiranya kita melihat profil makro ekonomi Indonesia dan negara-negara partner, sehingga kita akan dapat melihat sampai dimana sesungguhnya kesiapan Indonesia dibandingkan dengan anggota lainnya dalam free market di Asia Tenggara. Sehubungan dengan hal itu, analisis berdasarkan datadata pada tabel 2 kiranya cukup memberi gambaran obyektif.

Tabel 2 Indikator Ekonomi Indonesia (1997-2000)
KATEGORI Pertumbuhan ekonomi (%) PDB (nominal US$ milliar) PDB per kapita (US$) Inflasi (%) Ekspor (US$ milliar) Impor (US$ milliar) Surplus perdagangan (US$ m) Penjualan mobil (unit) 1997 4.7 208 1,030 11.05 56,29 46,22 10,07 386.709 1998 -13.01 99 487 77.63 50,37 31,94 18,43 58.033 1999 0.31 130 693 2.01 46,37 29,99 17,38 933.814 2000 4.54 183 847 9.35 51,6(**) 26,53(**) 25,07 275.307(*)

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 17

dodmbyp@yahoo.com

Penjualan motor (unit) Penjualan semen (juta ton) Konsumsi semen DN (juta ton) Konsumsi listrik (gWh) * Per Oktober 2000 ** Per November 2000 *** Per Agustus 2000 Sumber: Biro Pusat Statistik

1.801.066 27,9 27,4 64,295

431.485 21,1 19,3 65.357

487.759 27,9 18,8 72,680

790.463(*) 24,4(***) 20,0(***)

Pertama

berdasarkan

indikator

pendapatan

perkapita

dan

pertumbuhan GDP tahun 1970 -1997. dari pendapatan perkapita tahun 1995, di situ tampak bahwa Indonesia bersama-sama dengan Filipina, Thailand, dan Vietnam termasuk negara miskin di kawasan, bahkan dalam daftar masuk urutan ke dua terbawah setelah Vietnam atau setara dengan sepertigapuluh pendapatan perkapita Singapura. Jika mengingat bahwa Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam mulai dari minyak hingga kekayaan tropis yang beraneka ragam, kenyataan ini terkesan kontradiktif dan memprihatinkan. Disamping karena besarnya jumlah penduduk, tentu ada faktor-faktor lain yang tidak perlu diuraikan dalam tema ini. Sementara pertumbuhan GDP relatif stabil dari tahun ke tahun dengan rata-rata 7.3% pertahun. Berdasarkan indikator ini, dibandingkan dengan negara anggota lainnya, Indonesia bisa dibilang cukup siap, setara dengan Malaysia dan Singapura. Begitu pula dengan saving ratio dan investasi, dimana Indonesia termasuk yang cukup berhasil menggalang saving dan investasi dengan ukuran rata-rata anggota AFTA. Yang mengkhawatirkan dan selalu menjadi bahan pemikiran para pakar ekonomi Indonesia adalah persoalan hutang luar negeri, dimana jumlahnya telah mencapai angka diatas 50% dari GDP.

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 18

dodmbyp@yahoo.com

Angka tersebut hingga 1997 sebenarnya telah masuk dalam kategori “kritis” berdasarkan ukuran ekonomi, namun krisis ekonomi yang diikuti dengan penurunan secara drastis nilai tukar rupiah pada kurun waktu 1997-1999 telah membengkakkan hutang negeri Indonesia yang mayoritas dalam bentuk US$ (Sebagai catatan: di antara anggota AFTA, hanya Indonesia, Vietnam dan Filipina yang dicekam persoalan hutang luar negeri). Serangkaian kebijakan telah diterapkan, termasuk rescheduling hutang luar negeri dan konversi capital. Akan tetapi dengan cara ini bukan berarti persoalan hutang luar negeri telah selesai karena recheduling hutang pada dasarnya hanya merupakan upaya penundaan kewajiban dan bahkan justru dapat memperberat perekonomian Indonesia di masa setelahnya. Hal ini-lah yang sebenarnya menjadi tugas terberat tim ekonomi pemerintah yang saat ini masih harus terbebani oleh persoalan-persoalan semi-politis. Persoalan inflasi juga tak kalah pelik. Seperti tampak pada tabel 3, dapat diasumsikan bahwa budaya inflasi telah melekat dengan Indonesia. Sejak tahun 1990, inflasi selalu mencapai angka hampir dua digit. Apabila dianalisa, fenomena inflasi tergolong unik. Berdasar teori ekonomi, inflasi terjadi karena suplay barang dan jasa yang lebih rendah daripada uang beredar. Namun yang dominan terjadi di Indonesia adalah inflasi rutin menjelang hari-hari besar agama tiap

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 19

dodmbyp@yahoo.com

akhir tahun. Jadi inflasi lebih di picu oleh ekspektasi inflasi oleh masyarakat.

Tabel 3 Pergerakan angka inflasi (1997-2000) Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Total 1997 1.03 1.05 -0.12 0.56 0.119 -0.17 0.66 0.88 1.29 1.99 1.65 2.04 11.05 1998 6.88 12.76 5.49 4.770 5.24 44.64 8.56 6.30 3.75 -0.27 0.08 1.42 77.63 1999 2.97 1.26 -0.18 -0.68 -0.28 -0.34 -1.05 -0.93 -0.66 -0.06 0.25 1.73 2.01 2000 1.32 0.07 -0.45 0.56 0.84 0.50 1.28 0.51 -0.06 1.16 1.32 1.94 9.35

Sumber: Biro Pusat Statistik

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 20

dodmbyp@yahoo.com

Tabel 2 Data Ekonomi Makro Indonesia dan ASEAN-6 A. Income Per Kapita dan Pertumbuhan GDP
Per Capita GDP 1995 (US$) Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam 980 3,890 1,050 26,730 2,740 275 GDP Growth (average % per annum) 1970-80 7.2 7.9 5.9 8.3 7.1 0.5 1981-90 6.0 5.2 1.0 6.5 7.9 5.0 1990 9.0 9.7 3.0 9.0 11.2 4.9 1991 8.9 8.6 -0.6 6.7 8.4 6.0 1992 7.2 7.8 0.3 6.3 7.8 8.6 GDP Growth (% per annum) 1993 7.2 8.4 2.1 10.4 8.3 8.1

19

7 9 4 10 8 8

B. Savings-Rasio GDP, 1991-1997 (% dari GDP)
1991 Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam 33.5 32.0 16.6 44.0 35 .2 9.1 1992 35.3 35.0 14.9 47.2 35.2 16.9 1993 35.3 35.4 13.8 48.5 35.0 17.4 1994 35.3 37.6 14.9 51.3 35.2 16.9 1995 35.8 37.2 14.7 52.0 36.5 17.0 1996 37.4 37.5 16.1 55.9 35.0 16.7 1997 30.0 35 16.9 56.4 32.0 17.7

C. Investasi-Rasio GDP, 1991-1997 (% dari GDP)
1991 Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam 32.0 35.8 20.2 35.1 42.2 11.6 1992 32.4 33.6 21.3 36.4 39.9 17.6 1993 33.2 35.3 24.0 38.4 40.9 24.9 1994 34.0 38.4 24.1 32.2 41.6 25.5 1995 37.8 40.6 22.3 33.9 43.1 27.1 1996 39.0 41.5 23.2 34.5 41.7 27.9 1997 42.8 24.7 35.4 35.0 25.4

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 21

dodmbyp@yahoo.com

D. Current Account, 1991-1997 (% dari GDP)
1991 Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam -3.3 -8.9 -2.3 5.1 -7.7 -2.3 1992 -2.0 -3.8 -1.9 9.5 -5.7 -0.7 1993 -1.3 -4.5 -5.5 6.3 -5.1 -12.4 1994 -1.6 -5.9 -4.6 15.0 -5.7 -8.9 1995 -3.5 -9.9 -2.7 18.0 -8.1 -10.0 1996 -3.4 -4.9 -4.7 18.0 -7.9 -11.0 1997 -3.8 -4.8 -4.0 17.2 -2.2 -10.0

E. External Debt Ratios, 1991-1997 (% dari GDP)
1991 Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam 62.1 38.6 71.4 11.1 38.4 86.0 1992 63.3 34.3 62.3 9.5 37.6 130.1 1993 56.4 40.7 66.1 9.5 34.2 138.9 1994 54.6 40.7 62.4 10.8 33.6 149.0 1995 53.6 39.3 53.2 9.8 33.9 181.3 1996 48.7 29.1 52.6 14.9 48.8 1997 50.5 28.3 52.4 15.8 46.5 -

F. Budget-GDP Ratio, 1990-1995 (% dari GDP)
1990 Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam 1.8 -3 -3.5 2.7 4.9 -8.0 1991 -0.7 -2 -1.8 4.7 4.0 -3.7 1992 -0.4 -0.8 -1.2 5.5 2.6 -3.7 1993 -0.4 0.2 -1.4 4.4 1.9 -6.0 1994 0.2 2.4 1.0 3.6 2.7 -2.5 1995 -0.2 0.3 0.5 5.1 2.8 -1.1

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 22

dodmbyp@yahoo.com

G. Consumer Price Inflation, 1991-1997 (% per tahun)
1991 Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam 9.0 4.0 19.0 3.4 6.0 67.6 1992 8.3 4.8 8.4 2.3 3.8 17.5 1993 9.3 3.6 7.8 2.3 3.6 5.2 1994 8.5 3.7 9.4 3.1 5.3 14.5 1995 9.3 3.4 7.9 1.7 5.0 12.7 1996 6.5 3.5 8.4 1.4 5.8 4.5 1997 11.6 2.6 5.1 2.0 5.6 4.4

Sumber : Asian Development Bank (1996)

Bertarung dalam lumpur AFTA AFTA bagi Indonesia adalah pisau bermata ganda. Di satu sisi, perdagangan bebas menyediakan sederet peluang dan harapan, namun di sisi lain berpotensi menggilas yang tidak siap melalui persaingan tanpa ampun. Beberapa hal, oleh karenanya perlu ditekankan kembali agar setiap kebijakan ekonomi ke depan dapat selalu diproyeksikan pada peningkatan daya saing sembari memperhatikan ketahanan ekonomi nasional, yaitu bahwa: 1) ketergantungan antar berbagai kekuatan ekonomi di kawasan akan semakin besar dan berpengaruh langsung terhadap perekonomian domestik Indonesia, khususnya yang paling perlu diwaspadai adalah transaksi perdagangan dan arus investasi asing langsung; 2) melihat berbagai indikator yang ada, Indonesia tidak dapat berharap terlalu banyak dari AFTA kecuali Indonesia dapat menciptakan terobosanterobosan di bidang perdagangan secara cukup spektakuler. Keunggulan komparatif yang relatif rendah, kemiripan produk-produk

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 23

dodmbyp@yahoo.com

ekspor andalan di antara sesama anggota AFTA, adalah antara lain yang mendasari asumsi ini; 3) Indonesia masih cukup dapat berharap banyak dari transaksi perdagangan unilateral maupun perdagangan melalui media lain seperti APEC, dimana partner-partner dagang tradisional Indonesia berada. Namun hal ini bukan berarti Indonesia harus meninggalkan AFTA karena bagaimanapun AFTA adalah fenomena regional yang menyiratkan lebih banyak ketidakpastian apabila dihindari. Belajar dari pengalaman Inggris dalam konteks masyarakat ekonomi eropa, yang kiranya perlu dilakukan adalah menyiasati agar lahan yang sebenarnya “menjanjikan” tersebut dapat bermanfaat seoptimal mungkin bagi perekonomian nasional; 4) dibidang investasi, keberadaan AFTA menjadi penting bagi Indonesia untuk menarik kembali sepenuhnya capital flight yang terjadi selama periode krisis ekonomi. Oleh karenanya, disamping perlu menciptakan suasana kondusif di dalam negeri, Indonesia juga perlu semakin aktif melakukan promosi keluar. Meskipun faktor kekayaan alam yang melimpah serta jumlah pasar yang besar (210 juta orang) secara natural akan memposisikan Indonesia sebagai lahan subur bagi investasi, namun perlu diingat bahwa investasi selalu bergerak berdasarkan motivasi profit dari revenue. Perlu diingat bahwa negaranegara lain seperti China, India, Thailand, Vietnam, dan bahkan Kamboja dapat menjadi lebih menarik di mata investor jika Indonesia tidak jeli menangkap peluang yang ada. Dalam rangka ini AFTA tampaknya akan dapat diandalkan sebagai mediator yang efektif.

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 24

dodmbyp@yahoo.com

Akhir kata, impian untuk menjadi kekuatan ekonomi yang solid di kawasan Asia Tenggara dengan berbasis pada kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk (pasar) yang besar, dan pertumbuhan ekonomi yang stabil tampaknya masih memerlukan kerja keras dan kecerdasan extra. Menurut teori pembangunan terencana Suharto dan berbagai fakta pertumbuhan selama masa pemerintahannya, semestinya Indonesia sudah berada dalam tahap tinggal landas dalam artian telah lepas dari berbagai bentuk keterbelakangan ekonomi sekaligus confident dalam mengantisipasi fenomenafenomena strategis semisal perdagangan bebas. Namun kenyataannya, memasuki tahun kesepuluh millenium kedua ini Indonesia masih berjuang dengan krisis-krisis multidimensi yang tidak hanya cenderung melemahkan performance ekonomi melainkan juga meniadakan kemampuan untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada sekaligus menyisakan perasaan khawatir akan terlindas roda ekonomi global yang semakin hari semakin berputar cepat.

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 25

dodmbyp@yahoo.com

Referensi: Asian Development Bank (ADB), Key Indicators of Developing Asian and Pacific Countries 1996, Manila, 1996 ASEAN Website (2002), http//www.asean.or.id ASEAN Secretariat, AFTA Reader, Question and Answer on the CEPT for AFTA, Jakarta, 1995 ASEAN Secretariat, AFTA Reader, Vol IV: The fifth ASEAN Summit, Jakarta, 1996 AFTA Watch, ‘Regional Cooperation: Vision 2020 Plan Take Shape’, AFTA Monitor 5 N°7, Juli 1997 AFTA in the Changing International Economy, Institute of Southeast Asean Studies, 1996 AFTA in the Changing International Economy, Institute of Southeast Asean Studies, 1996 Baldwin, P., Planning for ASEAN: How to Take Advantage of Southeast Asia’s Free Trade Area, Economic Intellegence Unit, London, 1997 Boisseau du Rocher, Sophie, l’ASEAN et la Construction Régionale en Asie du Sud-Est, l’Harmattan, 1998 Coopération et Intégration Régionales en Asie, Organisation de Coopération et de Développement Economiqiques, Asian Development Bank, 1995 _____, The Economic Transformation of Asia, Times Academic Press, 1997 _____, Asian Development Outlook 1996-1997, Manila, 1997 Defarges, Philippe Moreau, La Mondialisation Vers la Fin de Frontières ?, DUNOD 1993 De Sacy, Alain S., l’Asie du Sud-Est: l’unification à l’épreuve, Gestion Internationale, HEC Eurasia Institute, 1999 Tan, Gerald, ASEAN Economic Development dan Cooperation, Times Academic Press, 1996 Gray, Malcolm, Foreign Direct Investment and Recovery in Indonesia: Recent Events and Their Impacts, Institute of Public Affairs Ltd., Melbourne, 2002 Henriot, Alain & Rol, sandrine, l’Europe Face à la Concurrence Asiatique, l’Harmattan, 2001 Raychaudory, B., Probable Enlargement of the ASEAN Free Trade Area and Implications for Investment Flows in Southeast Asia, paper presented at the conference on “Enhancing of Trade and Investment Cooperation in Southeast Asia: Challenges and Opportunities for ASEAN-10 and Beyond”, organisé par ESCAP, au Jakarta, 19-21 Fevrier 1996 UNCTAD, Handbook of Economic Integration and Cooperation Groupings of Developing Countries, Volume 1, 1996 World Bank, World Development Report, 1992, OxforUniversity Press for World Bank, 1992

Dodik Ariyanto (Rowo Thole)

Page 26

dodmbyp@yahoo.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->