P. 1
Pendidikan Pesantren Dan Proses Pembentukan Nilai

Pendidikan Pesantren Dan Proses Pembentukan Nilai

|Views: 1,881|Likes:
Published by farhan_lmg883324

More info:

Published by: farhan_lmg883324 on Dec 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2012

pdf

text

original

PENDIDIKAN PESANTREN DAN PROSES PEMBENTUKAN NILAI

Oleh Ali Farhan
DAFTAR ISI

BAB I BAB II

:PENDAHULUAN……………………………………………………….1 :PEMBAHASAN…………………………………………………………3

1.Sejarah Pondok Pesantren dan Perkembangannya……………………………...… 3 2. Elemen-elemen pesantren…………………………………………………….………5 a) Kyai…………………………………………………………………………….....5 b) Pondok…………………………………………………………………………….6 c) Masjid …………………………………………………………………………….7 d) Santri …………………………………………………………………………...…8 e) Pengajaran Kitab Kuning …………………………………………………………9 3. Menyikap Nilai di Dunia Pesantren………………………………………………..10 a) Antara pembaharuan dan tradisi. ………………………………………………..10 b) Proses Pembentukan Nilai ………………………………………………………11 c) Menyikap Moralitas Pesantren ………………………………………………….12 d) Pesantren dan Tantangan Modernitas……………………………………………13 BAB III:PENUTUP……………………………………………………………………15 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………16

1

BAB I PENDAHULUAN Seperti Negara berkenbang lainnya, Indonesia kini sedang berusaha membangun citra bangsa sambil tetap mempertahankan identitas kulturalnya. Proses ganda ini di khtiarkan dengan keseimbagan antara pertumbuhan dan pemerataan, sekaligus melestarikan pola kehidupan social budaya yang mendukung proses tersebut dalam rumusan yang yang lebih tetap. Indonesaia sedang berusaha bagaimana memantapkan kelangsungan psikologis dan dan kerangka proses perubahan yang lebih luas. Proses ini bersifat edukatuif dan distributive dan menyiapkan langkah-langkah yang lebih tepat untuk menciptakan dan menyebarkan pesan pembangunan yang sarat akan nilai luhur dimana dapat merangsang motivasi. Proses yang kemuian melembaga ini di harapkan dapt mekanisme yang sesuai untuk memperlancar terbentuknys tigkah laku yang di kehendaki, serta memberikan sanksi social sewajarnya terhadap tindakan yang menyimpang. Hal ini sangat penting dalam kaitan upaya menemukan berbagai alternative proses pendekatan pendidikan bangsa dalam bentuk transformasi diri dalam rangka mengorganisir masyarakat agar lebih kreatif dan produktif di dalam menghadap tugastugas barunya proses pembangunan seyogyanya mampu menemukan dan memerankan secara tepat lembaga-lembaga dan system nilai moralitas dalam kehidapan yang sudah eksis sebagai pendorong kearah positif.1 Kehidupan manusia tidak lepas dari nilai, dan nilai itu selanjutnya perlu di institusikan. Institusi yang terbaik adalah melalui upaya pendidikan. Keberadaan (eksistensi) pesantren beserta perangkatnya sebagai lembaga islam, sudah barang tentu memiliki nilai-nilai khas yang membedakan dengan lembaga pendidikan lainnya, dalam realitasnya, nilai-nilai pesantren yang di kembangkan oleh pondok pesantren bersumberkan pada nilai-nilai ilahi dan nilai- insani.2

BAB II
1 2

Manfrred Oepen DKK, Dinamika Pesantren, P3M, Jakarta, 1988, hlm 72 Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004, hlm 55

2

PEMBAHASAN 1.Sejarah Pondok Pesantren dan Perkembangannya. Terus terang, tak banyak referensi yang menjelaskan tentang kapan pondok pesantren pertama berdiri dan bagaimana perkembangannya pada zaman permulaan. Bahkan istilah pondok pesntren, kiai dan santri masih di perselisihkan. Menurut Manfred Ziemek, kata pondok bedrasal dari kata funduq (Arab) yang berarti ruang tidur atau wisma sederhana, karena pondok memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya. Sedangkan kat pesantren berasal dari kata santri yang di imbuhi awalan pe-dan akhiran –an yang berarti menunjukkan tempat, maka artinya adalah tempat para santri. Terkadang juga di anggap sebagai gabungan kata sant (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Sedangkan menurut Geertz, pengertian pesantren di turunkan dari bahasa India shastri artinya ilmuan hindu yang pandai menulis, maksudnya, pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Terlepas dari itu, karena yang di maksudkan dengan istilah pesantren dalam pembahasan ini adalah sebuah lembaga pendidikan dan pengembangan agama islam di Tanah Air (khususnya jawa) di mulai dan di bawa oleh wali songo, maka model pesantrn di pulau jawa juga mulai berdiri dan berkembang bersamaan dengan zaman wali songo. Karena itu tidak berlebihan bila di katakan pondok pesantren yang pertama didirikan adalah pondok pesantren yang didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maulana Maghribi.3 Kedudukan dan fungsi pesantren saat itu belum sebesar dan sekomplek sekarang. Pada awal, pesantren hanya berfungsi sebagai alat islamisasi dan sekaligus memadukan tiga unsur pendidikan, yakni ibadah: untuk menanamkan iman, tabligh untuk menyebarkan ilmu, dan amal untuk mewujudkan kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari4

3 4

DR. dr Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Gema Insani Press, Jakarta, 1997, hlm 70 http://www.ginandjar.com/public/11ReaktualisasiNilaiKepesantrenan.pdf

3

Sejak awal masuknya Islam ke Indonesia, pendidikan Islam merupakan kepentingan tinggi bagi kaum muslimin. Tetapi hanya sedikit sekali yang dapat kita ketahui tentang perkembangan pesantren di masa lalu, terutama sebelum Indonesia dijajah Belanda, karena dokumentasi sejarah sangat kurang. Bukti yang dapat kita pastikan menunjukkan bahwa pemerintah penjajahan Belanda memang membawa kemajuan teknologi ke Indonesia dan memperkenalkan sistem dan metode pendidikan baru. Namun, pemerintahan Belanda tidak melaksanakan kebijaksanaan yang mendorong sistem pendidikan yang sudah ada di Indonesia, yaitu sistem pendidikan Islam. Malah pemerintahan penjajahan Belanda membuat kebijaksanaan dan peraturan yang membatasi dan merugikan pendidikan Islam. Ini bisa kita lihat dari kebijaksanaan berikut. Pada tahun 1882 pemerintah Belanda mendirikan Priesterreden (Pengadilan Agama) yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan pesantren. Tidak begitu lama setelah itu, dikeluarkan Ordonansi tahun 1905 yang berisi peraturan bahwa guru-guru agama yang akan mengajar harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Peraturan yang lebih ketat lagi dibuat pada tahun 1925 yang membatasi siapa yang boleh memberikan pelajaran mengaji. Akhirnya, pada tahun 1932 peraturan dikeluarkan yang dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau yang memberikan pelajaran yang tak disukai oleh pemerintah Peraturan-peraturan tersebut membuktikan kekurangadilan kebijaksanaan pemerintah penjajahan Belanda terhadap pendidikan Islam di Indonesia. Namun demikian, pendidikan pondok pesantren juga menghadapi tantangan pada masa kemerdekaan Indonesia. Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, pemerintah Republik Indonesia mendorong pembangunan sekolah umum seluas-luasnya dan membuka secara luas jabatan-jabatan dalam administrasi modern bagi bangsa Indonesia yang terdidik dalam sekolah-sekolah umum tersebut.. Dampak kebijaksanaan tersebut adalah bahwa kekuatan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam di Indonesia menurun. Ini berarti bahwa jumlah anak-anak muda yang dulu tertarik kepada pendidikan pesantren menurun dibandingkan dengan anak-anak muda yang ingin mengikuti pendidikan sekolah umum yang baru saja diperluas. Akibatnya, banyak sekali pesantren-pesantren kecil mati sebab santrinya kurang cukup banyak

4

Jika kita melihat peraturan-peraturan tersebut baik yang dikeluarkan pemerintah Belanda selama bertahun-tahun maupun yang dibuat pemerintah RI, memang masuk akal untuk menarik kesimpulan bahwa perkembangan dan pertumbuhan sistem pendidikan Islam, dan terutama sistem pesantren, cukup pelan karena ternyata sangat terbatas. Akan tetapi, apa yang dapat disaksikan dalam sejarah adalah pertumbuhan pendidikan pesantren yang kuatnya dan pesatnya luar biasa. Seperti yang dikatakan Zuhairini (1997:150), ternyata “jiwa Islam tetap terpelihara dengan baik” di Indonesia5.

2. Elemen-elemen pesantren Hampir dapat di pastikan, lahirnya suatu pesantren berawal dari beberapa elemen dasar yang selalu ada di dalamnya. Ada lima elemen pesantren, antara satu dengan lainnya tidak dapat di pisahkan. Keliam elemen tersebut meliputi kyai,santri, pondok, masjid, dan pengajaran kitab kuning a.Kyai Kyai atau pengasuh pndok pesantren merupakan elemen yang sangat esensial bagi suatu pesantren. Rata-rata pesantren yang berkembang di jawa dan madura sosok kyai begitu sangat berpengaruh, kharismatik dan berwibawa, sehingga amat di segani oleh masayrakat di lingkungan pesantren. Di samping itu kyai pondok pesantren sangat biasanya juga sekaligus sebagai penggagas dan pendiri dari pesantren yang bersankutan. Oleh karenanya, sangat wajar jika pertumbuhannya, pesantren sangat bergantung pada peran seorang kyai6. Para kyai dengan kelebihan pengetahuannya dalam islam, sering kali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam, hingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tak terjangkau, teritama oleh kebanyakan orang awam. Dalam beberapa hal, mereka menunjukkan ke

5

Pondok Modern Gontor website: http://www.angelfire.com/oh/gontor.html

6

HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan modernitas, IRD PRESS, Jakarta, 2005, hlm 28

5

khususan mereka dalam bentuk-bentuk pakaian yang merupakan symbol kealiman yaitu kopiah dan surban7. Masyrakat biasanya mengharapkan seorang kyai dapat menyelesaikan persoalanpersoalan keagamaan praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi kitab yang ia ajarkan, ia akan semakin di kagumi. Ia juga di harapkan dapat menunjukkan kepemimpinannya, kepercayaannya kepada diri sendiri dan kemampuannya, karena banyak orang yang dating meminta nasehat dan bimbingan dalam banyak hal. Ia juga di harapkan untuk rendah hati, menhormati semua orang, tanpa melihat tinggi rendah sosialnya, kekayaan dan pendidikannya, banyak prihatin dan penuh pengabdian kepada Tuhan dan tidak pernah berhenti memberikan kepemimpinan dan keagamaan, seperti memimpin sembahyang lima waktu, memberikan khutbah jum’ah dan menerima undangan perkawinan, kematian dan lain-lain.8 b.Pondok Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan islam tradisional di mana para siswanya tinggal bersama belajardan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih di kenal dengan sebutan “kyai”. Asrama untuk para siwa tersebut berada dalam lingkungan komplek pesantren dimana kyai bertempat tinggal yang juga menyediakan sebuah masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang lain. Komplek pesantren ini biasanya di kelilingi dengan tembok untuk dapat mengwasi keluar dan masuknya para santri sesuai peraturan yang berlaku pondok, asrama bagi para santri, merupakan ciri khas tradisi pesantren, yang membedakannya dengan system pendidikan tradisional di masjid-masjid yang berkembang di kebanyakan wilayah islam di Negara-negara lain. Bahkan system asrama ini pula membedakan pesantren dengan system pendidikan suraudi daerah minangkabau. Ada tiga alasan utama kenapa pesantren harus menyediakan asrama bagi para santri. Pertama, kemashuran seorang kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang islam menari santri-santri dari jauh. Untuk dapat menggali ilmu dari kyai tersebut secara teratur dan dalam waktu yang lama, para santri tersebut harus meninggalkan kampung halamannya dan menetap di dekat kediaman kyai. Kedua, hampir semmua pesantren
7 8

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, Yogyakarta, 1982, hlm 56 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, Yogyakarta, 1982, hlm 60

6

berda di desa-desa dimana tidak tersedia perumahan (akomodasi) yang cukup untuk dapat menampung santri-santri; dengan demikian perlulah adanya suatu asrama khusus bagi para santri. Ketiga, ada sikap timbal balik antara kyai dan santri, dimana para santri menganggap kyainya seolah-olah sebagi bapaknya sendiri, sedangkan menganggap para santri sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa di lindungi. Sikap ini juga menimbulkan perasaan tanggung jawab di pihak untuk dapat menyediakan tempat tinggal bagi para santri. Di samping itu dari pihak para sntri tumbuh perasaan pengabdian kepada kyainya, sehingga para kyainya memperoleh imbalan dari para santri sebagai sumber tenaga bagi kepentingan pesantren dan keluarga kyai.9 System pondok bukan saja merupakan elemen paling penting dari tradisi pesantren, tapi juga penopang utama bagi pesantren untuk dapat terus berkembang . meskipun keadaan pondok sederhana dan penuh sesak, namun anak-anak muda dari pedesaan dan baru pertama meninggalkan desanya untuk melanjutkan pelajaran di suatu wilayah yang baru itu tidak perlu mengalami kesukaran dalam tempat tinggal atau penyesuaian diri dengan lingkungan social yang baru.10 c.Masjid Masjid merupakan elemen yang tidak dapat di pisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam sembahyang lima waktu, khutbah dan sholat jum’ah, dan mengajarkan kitab-kitab klasik. Kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manivestasi universalisme dari sitem pendidikan tradisional. Dengan kata lain kesinambungan system islam yang berpusat pada masjid sejak masjid al Qubba didirikan dekat madinah pada masa Nabi Muhammad saw tetap terpancar dalam system pesantren. Sejak zaman nabi, masjid telah menjadi pusat pendidikan islam. Dimana puun kaum muslimin berada, mereka selalu menggunaka masjid sebagi tempat pertemuan, pusat pendidikan, aktifitas administrasi dan cultural. Lembaga-lembaga peasntren jawa memelihara terus tradisi ini, para kyai selalu mengajar murid-muridnya di masjid dan menganggap masjid sebagai tempat yang paling
9

HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan modernitas, IRD PRESS, Jakarta, 2005, hlm 32
10

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, Yogyakarta, 1982, hlm 44

7

tepat untuk menamkan disiplin para murid dalam mengerjakan kewajiban sembahyang lima waktu, memperoleh pengetahuan agama dan kewajiban agama yang lain. Seorang kyai yang ingin megembangkan sebuah pesantren, biasanya pertamapertama akan mendirikan masjid di dekat rumahnya. Langkah ini biasanya diambil atas perintah gurunya yang telah menilai bahwa ia akan sanggup memimpin sebuah pesantren.11 d. Santri. Menurut pengertian yang dalam lingkungan orang-orang pesantren, seorang alim hanya bisa disebut kyai bilaman memiliki pesantren dan santri yang tinggal dalam pesantren tersebut untuk mempelajari kitab-kitab islam klasik. Oleh karena itu santri adalah elemen penting dalam suatu lembaga pesantren. Walaupun demikian, menurut tradisi psantren, terdapat dua kelompok santri: 1.Santri mukim yaitu murid-murid yangn berasal dari daerah jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. Santri mukim yang menetap paling lama tingGal di pesantren tersebut biasanya mdrupakan suatu kelompgk tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari;mereka juga memikul tanggung jawab mengajar santRi-santri m5da tentang kitab-kitab dasar $an menengah. 2.Santri kalong yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren; yang biasanya tidak menetap dalam pesantren (nglajo) dari rumahnya sendiri. Biasanya perbedaan pesantren kecil dan pesantren besar dapat dilihat d!ri komposisi santri kalong. Sebuah besar sebuah pesantren, akan semakin besar jumlah mukimnya. Dengan kata lain, pesantren kecil akan memiliki lebih banyak santri kalong dari pada santri mukim.12 Oleh karenanya, hanya seorang santri yang memiliki kesungguhan dan kecerdsan saja yang di beri kesempatan untuk belajar di sebuah pesantren besar. Selain dua istilah santri diatas ada juga istilah “santri kelana” dalam dunia pesantren. Santri kelana adalah santri yang bepindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, hanya untuk memperdalam ilmu agama. Santri kelana iNi akan selalu berambisi untuk memiliki ilmu dan keahlian tertentu dari kyai yang di jadikan tempat belajar atau di jadikan gurunya.
11

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, Yogyakarta, 1982, hlm 49 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, Yogyakarta, 1982, hlm 52

12

8

Hampir semua kyai atau ulama’ di jawa9yang memimpin sebuah pesantren besar, memperdalam pengetahuan dan memperluas penguasaan ilmu9agamanya dengan cara me.gembara dari pesantren ke pesantren (berkelana). Nah, setelah pesantren mengadopsi system pendidikan modern seperti sekolah atau madrasah, tradisi kelana ini mulai di tinggal+an.13 e. Pengajaran Kitab Kuning berdasark`n catatan sejarah, pesantren telah mengajarkan kitab-kitab klsik, khususnya karangan-karangan madzab syafi’iyah. Pengajaran kitab kuning besbahasa Arab $an tanpa harakatatau sering disebut kitab gundul merupakan satu-satunya methode yang secara formal `i ajarkaj dalam pesantren di Indonesia. Pada umumnya, para santri dating dari jauh dari kampung halaman dengan tujuan inginmemperdalam kitab-kitab klasik tersebut, baik kita` Ushul Fiqih, Fiqih, Kitab TafSir, Hadits, dan lain sebagainya. Para santri juga biasanya mengembangkan keahlian dalam berbahasa Arab (Nahwu dan Sharaf), guna menggali makna dan tafsir di balik teks-teks klasik tersebut. Ada beberapa tipe pondok pesantren misalnya, pondok pesantren salaf, kholaf, modern, pondok takhassus al-Qur’an. Boleh jadi lembaga, lembaga pondok pesantren mempunyai dasar-dasar ideology keagamaan yang sama dengan pondok pesantren yang lain, namun kedudukan masing-masing pondok pesantren yang bersifat personal dan sangat tergantung pada kualitas keilmuan yang dimiliki seorang kyai. Keseluruhan kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat di golongkan ke dalam delapan kelompok yaitu, 1). Nahwu (sintaksis) dan saraf (morfologi), 2)fiqih; 3)ushul fiqih; 4)hadits; 5) tafsir; 6)tauhid; 7) tasawuf dan etika; 8) cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghah. Kitab-kitab tersebut meliputi teks yang sangat pendek sampai teks yang berdiri dari berjilid-jilid tebal mengenai hadits, tafsir, fiqih, ushul fiqih dan tasawuf.14

13

HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan modernitas, IRD PRESS, Jakarta, 2005, hlm 37
14

HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan modernitas, IRD PRESS, Jakarta, 2005, hlm 39

9

Agar bisa menerjemahkan dan memberikan pandangan tentang isi dan makna dari teks kitab tersebut, seorang kyai ataupun santri harus menguasai tata bahasa Arab (balaghah), literature dan cabang-cabang pengetahuan agama islam yang lain.15 3. Menyikap Nilai di Dunia Pesantren a. Antara pembaharuan dan tradisi. Dalam wacana filsafat pendidikan Islam, eksistensi manusia merupakan salah satu obyek kajian menarik, karena di dalam diri manusia terdapat potensi-potensi yang dia naggap unik dajn terkadang sulit di mengerti oleh dirinya sendiri. Kelebihan yang ada pada manusia sehingga membedakan lainnya adalah akal. Akal bukanlah rasio, dan rasio bukanlah akal. Akal merupakan jaringan antara apa yang di tangkap oleh indera dan sesuatu yang berada di luar pengalaman empiric.16 Namun dalam hal menentukan langkah kehidupan, manusia di berikan kebebasan untuk memilih. Allah SWT telah memberikan kepada manusia untuk menentukan jalan hidupnya, seperti dalam firman Allah swt dalam surat Ar-Ra’ad ayat 11:

 

 

 

 

   

 

 

 

   
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”17 Dalam kaitan ini, pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan islam, memiliki potensi dan peluang yang positif dalam membantu pengembangan potensi dasar manusia berupa pengembangan akalnya. Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam di Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami agama Islam, dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian, dengan menekankan pentingnya moral dalam kehidupan bermasyarakat. Kehadirn pendidikan pesantren mempunyai peranan tersendiri. Jika ditilik dari spectrum pembangunan bangsa, pondok pesantren di samping di samping menjadi
15

HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan modernitas, IRD PRESS, Jakarta, 2005, hlm 41
16

Ali Al-Jumbulati dan Abdul Fatuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1993, hlm 183 17 Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004, hlm 4

10

lembaga pendidikan Islam, juga sebagai bagian dari infrastruktur masyarakat yang secara sosio cultural ikut berkiprah dalam proses pembentukan kesadaran masyarakat untuk memiiliki idealisme demi kemajuan bangsa dan Negara. Peran yang strategis dari pesantren seperti itu menjadikan pendidikan pesantren sebagai objek kajian yang menarik. Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam harus dapat menjadi salah satu pusat study pembaharuan pemikiran dalam Islam.18 Memang mulai decade 1970-an twelah menjadi perubahan yang cukup besar pada keberadaan pesantren sebagai sebuah system pendidikan. Pesantren sebuah bentuk system tradisional, mulai berubah. Jika sebelumnya system pesantren di kenal sebagai bentuk system pendidikan non sekolah (kelas bandongan tradisional), yang muncul kemudian sebaliknya. Memang adanya system persekolahan di lingkungan pesantren tidak dengan serta merta menggusur system kelas bandongan yang selama ini di kena.kitab-kitab klasik (kuning) masih terus diajarkan oleh pimpinan pesantren.19 Jadi dengan demikian dengan adanya perubahan-perubahan seperti itu menyebabkan output keilmuan pesantren berpijak pada dua kaki, yaitu kaki tradisi dan pembaharuan. Pijakan pertama merupakan moralitas khas pesantren, sedangkan pijakan kedua merupakan pesantren dalam mengantisipasi perkembangan tradisi keilmuan pesantren dimasa mendatang20. b. Proses Pembentukan Nilai Pendidikan Islam dalam kaitanya dengan pesantren adalah transformasi ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai-nilai kepada santri (peserta didik) dengan meperhatikan perkembangan dan pertrumbuhan fitrah demi mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan ai akhirat. Inti dari mendidik secara Islami adalah menstranfer ilmu dan memasukkan nilai-nilai. Ilmu pengetahuan yang di maksud adalah ilmu pengetahuan yang memenuhi criteria epistemology Islam yang tujuan akhirnya hanya untuk mengenal dan menyadari diri pribadi dan relasiny terhadap Allah swt, sesama manusia dan alam semesta. Adapun nilai-nilai yang di maksud adalah nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai insaniah. Nilai-nilai ilahiyah bersumber sifat-sifat Allah dan hokum-hukum Allah, baik
18 19

Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004, hlm 8 Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004, hlm 10 20 Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004, hlm 12

11

berupa hokum tertulis (Qur’aniyah) maupun tidak tertulis (kauniah. Sebaliknya, insaniah merupakan merupakan nilai-nilai yang terpancar daya cipta, rasa dan kersa manusia yang tubuh untuk memenuhi kebutuhan peradaban manusia, yang memiliki sifat dinamis temporer. Nilai itu sendiri pada akhirnya membentuk moralitas, sebab menurut Muhammad Noor Syam nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas objek yang menyangkut suatu jenis atau apresiasi atau minat. Walaupun dalam Islam memiliki nilai-nilai samawi yang bersifat absolute dan universal, islam masih mengakui adanya nilai tradisi masyarakat. Berkaitan denag pentingnya nilai tradisi yang perlu di beriakan kepada peserta didik, maka dalam tradisi pesantren ada postulat yang telah menjadi moralitas pendidikan pesantren, yaitu:

“Melestariakn nilai-nilai lama yang positif dan mengambil nilai-nilai baru yang positif.” Itu sebenarnya tidak lepas dari rujukan pandangan hidup ulama’ yang kini meminpin pesantren yang bercorak pada pendidikan fikih sufistik dengan orientasi nilai moral yang sangat menekankan pentingnya kehidupan ukhrawi diatas duniawi, agama diatas ilmu dan moral diatas akal.21 Perbedaan orientasi antara pendidikan pesantren dan sekolah. Jika orientasi sekolah umum di arahkan untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan dalam hidup keduniawian, pesantren mengarahkan orientasinya pada pembinaan moral dalam konteks kehidupan ukhrawi. Jadi dengan demikian nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan pesantren adalah fikih sufistik yang lebih mengedepankan moralitas/akhlaq keagamaan demi kepentingan hidup di akhirat. Nilai-nilia tersebut kemudian menjadi cirri khas moralitas pendidikan pesantren yang haru di serap oleh santrinya. Moralitas tersebut kemudian membentuk pandangan hidup santri, seperti ketaatan kepada kiai. Hali ini bisa dilihat dan dirasakan apabila seorang pernah “yantri” di pesantren, bagaimana model kepemimpinan pada kyai dan santri. Terlihat betapa ketawadhuan seorang santri dalam berkomunikasi
21

Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004, hlm 17

12

dengan kyai. Seorang santri sangat menghargai dan menjunjung tinggi nili-nilai tradisi kepesantrenan. 22 c. Menyikap Moralitas Pesantren. Sebagai agen pewaris budaya (agen of of conservative), pesantren berperan sebagai pewaris budaya melalui pendidikan system nilai dan kepercayaan, pengetahuan, norma-norma, serta dat kebiasaan dan berbagai perilaku tradisional yang telah membudaya diwariskan pada suatu generasi ke genaerasi berikutnya. Tegasnya, lembaga pendidikan pesantren merupakan tempat sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang telah membudaya. Oleh karena itu, penetapan kurikulum lembaga pendidikan pesantren dan tujuannya atas nilai-nilai pengetahuan serta aspirasi dan pandangan hidup yang yang berlaku dan di hormati masyrakat. Sebagaimana layaknya lembaga pendidikan, pendidikan pesantren juga memiliki pendidikan yang jelas, tujuan umum pendidikn pesantren adalah membimbing anak didik (santri) untuk menajdi kepribadian islam yang dengan agamanya ia sanggup menjadi muballigh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya. Sedangkan tujuan khususnya adalah mmpersiapkan santri menjadi orang alim dan mendalami ilmu agamanya yang di ajarkan oleh kyai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat. Dengan demikian tujuan terpenting pendidikan pesantren adalah membangun moralitas agama santri dengan pengamalannya. Dalam hal ini berarti yang menjadi focus tujuan pendidikan pesantren adalah memberdayakan santri.23 4. Pesantren dan Tantangan Modernitas Melihat perkembangan dunia yang begitu cepat ini bagi banyak kalangan telah memunculkan respond an spekulasi yang beragam. Tidak terkecuali bagi umat islam, perubahan-perubahan yang terus muncul belakangan ini di dalamnya menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia, aspek ekonomi hingga aspek nilai-nilai moral. Secara sederhana, era global ini dapat di ilustrasikan dengan persaingan sengit dalam bidang ilmu dan politik, kemajuan sains, dan teknologi, arus informasi yang cepat, dan perubahan social yang tinggi24
22 23

Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004, hlm 19 Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004, hlm 26 24 Dr. Nurcholish Madjid, Bilik-bilik Pesantren, Paramadina, Jakarta, 1997, hlm xii

13

Sebaliknya, berbagai upaya proteksi yang di lakukan oleh suatu pihak atau Negara tertentu, bagi Negara-negara yang telah lama melakukan proyek modernisasi, tentu hanya di pandang sebagai penentangan terhadap ketrbukaannya. Sebagai implikasinya, wacana mengenai plurarismeakan menjadi pergulatan serius dalam mempertemukan antar peradaban yang yang berkeingianan untuk eksis di dunia. Dalam maknanya yang global, pluralisme di satu sisi mempunyai ‘keterbukaan’ dan di sisi lain bisa jadi muncul sebagai bentuk arena persaingan. Dalam kondisi seperti ini , umat manusia dihadapkan pada realitas, dimana tafsir mengenai ‘persaingan’ sangat erat kaitannya dengan siapa yang kuat dialah yang akan memenangkan arena perdebatan dan sebaliknya, pihak yang lemah akan menanggung kekalahan dan menerima system keterbukaan tersebut. Oleh karena pengaruh abad industri ini tidak saja menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga moral dan agama, islam dengan paradigma yang dimilikinya , yaitu rahmatan lil alamin, bertanggung jawab atas terjadi benturan-benturan peradaban atau implikasi negative dari perkembangan dunia, termasuk juga didalamnya adalah masyarakat pesantren yang menjadi bagian integral dari masyarakat secara kesuluruhan tidak bisa menutup mata dan menjauh dari realitas ini. Dengan doktrin-doktrin kepesantrenan yang dimilikinya, fenomena ini tidak laik di posisikan sebagai bentuk hambatan peradaban, akan tetapi menjadi ujian sekaligus tantangan eksistensi masa depan pesantren di era masyarakat global. Pertanyaannya adalah bagimana bentuk akomodasi pesantrendalam merespon modernitas sebagaimana fenomenanya telah di uraikan di atas . kiranya nilainilai apa sajakah yang dianggap akomodatif dan mampu menjawab tantangan zaman.25 .

BAB III PENUTUP

25

HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan modernitas, IRD PRESS, Jakarta, 2005, hlm 70

14

Islam sebagai agama dan pesantren sebagai media dakwah Islam yang tersebar ke seluruh penjuru Nusantara tampil secara kreatif berdialog dengan masyarakat setempat (lokal), berada dalam posisi yang menerima kebudayaan lokal, sekaligus memodifikasinya menjadi budaya baru yang dapat diterima oleh masyarakat setempat dan masih berada di dalam jalur Islam.

Dalam pandangan hidup santri, moralitas tradisi pesantren adalah pijakan yang jelas untuk mempertahankan tradisi kepesantrenan. Jadi dengan demikian moralitas yang terus di kembangkan adalah berdimensi pada agama dengan tetap berada pada tataran tradisi pesantren dan selalu melihat pada perubahan-perubahan yang terjadi terhadap system pendidikan pesantren. Moralitas itulah yang akhirnya membentuk pandangan hidup santri terhadap pesantrennya. Dengan demikian, maka system pesantren di dasarkan atas dialog yang terusmenerus antara kepercayaan terhadap ajaran dasar ajaran agama yang di yakini memiliki nilai kebenaran muthlak dan realitas social yang memiliki nilai kebenaran relative. Moralitas inilah yang kelak membentuk pandangan hidup santri. Eksistensi pondok pesantren dalam menyikapi perkembangan zaman, tentunya memiliki komitmen untuk tetap menyuguhkan pola pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang handal, kekuatan otak (berpikir), hati (keimanan), dan tangan (keterampilan), merupakan modal utama untuk membentuk pribadi santri yang mampu mengikuti perkembangan zaman.
Dalam konteks inilah, pendidikan pesantren sebagai media pembebasan umat dihadapkan pada tantangan bagaimana mengembangkan teologi multikultural sehingga di dalam masyarakat pesantren akan tumbuh pemahaman yang inklusif untuk harmonisasi agama-agama, budaya dan etnik di tengah kehidupan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

15

1.

Ali Al-Jumbulati dan Abdul Fatuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1993. Drs.H. Mansur, MSI, Moralitas Pesantren, Safiria Insani Press, Yogyakarta, 2004 DR. dr Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Gema Insani Press, Jakarta, 1997 http://www.ginandjar.com/public/11ReaktualisasiNilaiKepesantrenan.pdf HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan modernitas, IRD PRESS, Jakarta, 2005 Oepen Manfrred DKK, Dinamika Pesantren, P3M, Jakarta, 1988 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, Yogyakarta, 1982.

2. 3. 4.

5. 6.

7.

8. Pondok Modern Gontor website: http://www.angelfire.com/oh/gontor.html
9.

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->