P. 1
Union European

Union European

|Views: 1,133|Likes:
Published by farpus_keren
a short description about EU as an International Organization
a short description about EU as an International Organization

More info:

Published by: farpus_keren on Dec 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

UNI EROPA: SEJARAH, KEANGGOTAAN, DAN STUKTUR KELEMBAGAAN (Farida Puspitasari,SH,M.

Hum)

I. PENDAHULUAN Manusia pada umumnya, dilahirkan seorang diri1. Sebagai pribadi yang utuh, manusia terbentuk dan ditempa dari lingkungannya. Dalam hal ini, skup terkecil dari lingkungan yang pertama kali dikenalnya adalah keluarga. Eksistensi keluarga terwujud dari kesatuan beberapa manusia yang mempunyai keinginan yang sama untuk mencapai tujuannya. Keluarga hidup dalam suatu kelompok sosial, yang kemudian dikenal sebagai masyarakat. Masyarakat bisa diartikan sebagai satu kehidupan bersama yang anggota-anggotanya mengadakan pola tingkah laku yang maknanya dimengerti oleh sesama anggota. Masyarakat merupakan suatu kehidupan bersama yang teroganisir untuk mencapai dan merealisisasikan tujuan bersama.2 Di dalam hubungan antar manusia dengan manusia lain dalam

masyarakat tersebut, yang agaknya paling penting adalah reaksi yang timbul sebagai akibat hubungan-hubungan tadi. Reaksi tersebutlah yang menyebabkan tindakan seseorang bertambah luas. Sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok. Pertama, keinginan menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya, yaitu masyarakat. Kedua, kenginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut di mempergunakan pikiran, perasaan, dan kehendaknya. 3 Setiap manusia mempunyai kepentingan. Kepentingan adalah suatu tuntutan perseorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi.4 Dalam memenuhi kepentingan-kepentingannya tersebut tidak mustahil jika timbul konflik atau perselisihan sesama manusia. Konflik kepentingan terjadi ketika dalam atas, manusia

memenuhi kebutuhan atau kepentingannya tersebut seseorang merugikan orang
1 2

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Pers, Jakarta, 1982, hal.109. Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1996, hal.1-2. 3 Soerjono Soekanto, opcit, hal.110-111. 4 Sudikno Mertokusumo, opcit, hal.1.

1

lain. Untuk menghindari dan menyelesaikan konflik antar kepentingan, maka manusia berinisiatif untuk membentuk suatu lembaga kemasyarakatan yang berfungsi melindungi kepentingan-kepentingannnya. Lembaga kemasyarakatan itu memuat pedoman bagaimana seharusnya manusia bersikap dan bertingkah laku agar tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain sehingga terwujud lah tujuan bersama seperti yang dicita-citakan. Pedoman untuk berperilaku atau bersikap dalam kehidupan bersama ini disebut norma atau kaedah sosial5 yang meliputi berbagai aspek, baik manusia dalam aspek kehidupan pribadi maupun manusia dalam aspek kehidupan antar pribadi. Suatu masyarakat cenderung bukan merupakan kelompok yang statis, akan tetapi selalu berkembang serta mengalami perubahan-perubahan baik dalam aktivitas maupun bentuk sesuai dengan waktu dan tempatnya. Begitu pula suatu negara, yang semula berkembang dari sekumpulan beberapa manusia, kemudian menjadi beberapa kelompok sosial yang hidup dalam suatu wilayah tertentu dan kemudian menjadi bagian komunitas masyarakat dunia yang mendapat pengakuan dari negara-negara lain akan eksistensinya sebagai suatu subyek hukum internasional. Negara sebagai anggota masyarakat internasional tidak bisa eksis tanpa mengadakan hubungan dengan masyarakat internasional lainnya. Hubungan simbiosis antara satu negara dan negara lainnya tersebut didasari karena adanya kepentingan atau tuntutan pemenuhan kebutuhan satu sama lain yang tetap dan terus menerus serta mencakup berbagai bidang kehidupan. Sejalan dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan tersebut, maka muncul juga tuntutan untuk memelihara, mengatur, dan menyelesaikan konflik kepentingan yang terjadi akibat hubungan tersebut melalui cara-cara kelembagaan. Pada awalnya cara untuk memelihara, mengatur, dan menyelesaikan konflik tersebut dimulai dari hubungan bilateral diantara dua negara yang saling bekerjasama melalui lembaga konsul yang timbul sejak zaman Yunani dan

Romawi dengan tugas utamanya adalah melindungi kepentingan warga negara

5

Ibid, hal.4.

2

yang bekerjasama di bidang perdagangan.6 Perkembangan selanjutnya, dari lembaga konsul kemudian ditingkatkan menjadi lembaga diplomatik yang menempatkan duta besar sebagai perutusan negara yang mewakili, mengatur dan mengurus hubungan antara negara pengirim dan negara penerima atau di negara dimana perutusan diplomatik tersebut ditempatkan. Timbulnya hubungan internasional secara umum tersebut pada hakikatnya merupakan proses perkembangan hubungan antar negara, karena kepentingan dua negara tidak dapat menampung kehendak banyak negara,7 maka untuk itu harus dicari cara lain yang bisa mewakili kepentingan-kepentingan semua negara yang terkait dalam hubungan internasional itu. Cara yang ditempuh adalah dengan membentuk organisasi internasional untuk memenuhi tujuan yang menjadi kepentingan bersama dan mencakup bidang kehidupan yang luas yaitu dengan menetapkan peraturan-peraturan yang mengikat mereka secara pasti guna melindungi kepentingan masing-masing negara. Perkembangan organisasi internasional dimulai di benua Eropa. Di dalam bidang perhubungan misalnya, negara-negara Eropa pada tahun 1815 telah mengatur hubungan pelayaran melalui Sungai Rhine (Central Commission for the Navigation of the Rhine), dan di dalam Kongres Paris1856 juga telah disepakati suatu persetujuan melalui Sungai Danube bagi negara-negara yang dilalui sungai ini (Danube Commission). Di bidang perdagangan, pada tahun 1933 telah ada International Wheat Agreement yang mengatur produksi dan pemasaran gandum Internasional. Pada tahun 1934 beberapa negara telah menyetujui tentang pengaturan produksi dan ekspor karet melalu Regulation of the Production and Export of Rubber.8 Kemudian pada tahun 1952 di bentuk suatu Komunitas Batu Bara dan Baja Eropa (European Coal and Steel Community/ ECSC) yang merupakan cikal bakal proses integrasi Eropa. Uni Eropa adalah merupakan kumpulan dari negara-negara demokratis di Eropa yang berkomitmen untuk perdamaian dan kesejahteraan bersama,

6

D.W.Bowett, Hukum Organisasi Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 1992, hal.1. Sumaryo Suryokusumo, Hukum Organisasi Internasional, UI Press, Jakarta, 1990, hal.1. 8 Ibid, hal.2.
7

3

sehingga merupakan suatu organisasi internasional yang permanen karena mempunyai tujuan yang berkesinambungan. Uni Eropa bukan merupakan satu negara yang bertujuan untuk menggantikan negara-negara yang sudah eksis keberadaannya, tapi lebih merupakan suatu organisasi internasional diantara negara-negara Eropa. Uni Eropa bisa dikatakan merupakan organisasi

internasional yang unik, karena negara-negara anggotanya menyerahkan sebagian kedaulatannya secara sukerala. Jadi, untuk hal-hal tertentu dan khusus mengenai kepentingan bersama diantara mereka bisa diatur secara demokratis di tingkat Eropa. Penyatuan kedaulatan ini yang kemudian disebut sebagai “Integrasi Eropa”. Sejarah Uni Eropa dimulai sejak usai Perang Dunia II. Ide integrasi Eropa di tujukan untuk mencegah agar tidak terjadi lagi perang di antara negara-negara Eropa seperti yang sudah terjadi di masa lampau. Ide ini pertama kali dituturkan oleh Robert Schuman, seorang Menteri Luar Negeri Perancis dalam pidatonya pada tanggal 9 Mei 1950. Tanggal ini lah yang kemudian ditetapkan menjadi hari ulang tahun Uni Eropa yang dirayakan setiap tahun dan kemudian disebut sebagai “Hari Eropa”. Pada awal-awal tahun berdirinya, kerjasama diantara negara-negara Uni Eropa hanya berkisar pada bidang perdangan dan ekonomi saja, tapi sekarang kerjasama tingkat Uni Eropa sudah mencakup bidang-bidang yang lebih luas yang berhubungan langsung dengan hajat hidup manusia. Misalnya tentang hakhak warga negara, jaminan kepastian dalam kebebasan, keamanan, dan keadilan, penciptaan lapangan kerja, perlindungan lingkungan, serta

pembangunan regional. Uni Eropa telah memberi kontribusi setengah abad lebih pada stabilitas, perdamaian dan kesejahteraan. Selain itu Uni Eropa juga telah membantu meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, membentuk pasar tunggal Eropa, menyatukan mata uang Eropa (Euro), dan memberi kemudahan layanan administrasi lintas batas negara. Eropa adalah suatu benua yang mempunyai banyak perbedaan dalam tradisi, bahasa, dan juga berbagi dalam nilai atau perilaku. Nilai-nilai ini lah yang dipertahankan Uni Eropa. Tujuannya adalah untuk mendukung kerjasama

4

diantara masyarakat Eropa, mengedepankan kesatuan dalam keanekaragaman serta memastikan bahwa segala keputusan yang diambil harus berpihak pada warganya. Dalam pertumbuhan tingkat ketergantungan yang semakin tinggi di abad 21 ini, akan lebih baik jika warga Eropa mau bekerjasama dengan orangorang dari negara-negara lain dalam semangat rasa keingintahuan, toleransi dan solidaritas diantara mereka.

II. SEJARAH PEMBENTUKAN UNI EROPA Organisasi internasional bisa dikatakan merupakan salah satu wujud dari lembaga kemasyarakatan. Suatu lembaga kemasyarakatan yang bertujuan

untuk memenuhi kepentingan atau kebutuhan pokok manusia pada dasarnya mempunyai beberapa fungsi, yaitu:9 1. Memberikan pedoman bagi anggota-anggota masyarakat bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah-masalah yeng berhubungan dengan pemenuhan kepentingan atau kebutuhan hidupnya; 2. Menjaga keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan; 3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control) yang merupakan sistem pengawasan dari masyarakat teradap perilaku anggota-anggotanya. Suasana Eropa sangat baik untuk tumbuh dan berkembangnya lembagalembaga internasional pada masa setelah Perang Dunia II. Eropa merupakan pusat tradisi nasionalisme dan kedaulatan negara. Usaha-usaha kerjasama yang dilakukan mencakup pembatasan-pembatasan atas kedaulatan nasional seperti yang terlihat dimanapun di dunia. Sumber dinamika ini terletak pada studi kompleks dari mereka sendiri, yang bila disederhanakan meliputi 4 sumber yaitu:10 1. Kebutuhan kerjasama yang timbul karena adanya hubungan timbal balik; 2. Adanya anggapan bahwa pemulihan perekonomian yang diperlukan untuk menjalankan kembali roda ekonomi Eropa dan menjadikannya
9

10

Soerjono Soekanto, opcit, hal.193. D.W.Bowett, opcit, hal 214.

5

mampu bersaing dapat dicapai melalui tindakan yang dilakukan secara bersama-sama; 3. Daya tarik ideologis “Komunitas Eropa” yaitu semacam perserikatan negara-negara Eropa yang muncul untuk menggantikan negara-negara merdeka dan berdaulat; 4. Adanya persaan cemas akan datangnya agresi Uni Soviet terhadap Eropa Barat yang telah dengan sendirinya terwujud dalam pakta pertahanan militer Barat. Organisasi internasional yaitu Uni Eropa yang akan penulis uraikan disini adalah merupakan organisasi internasional publik, dan bukan merupakan organisasi internasional privat. Organisasi internasional adalah organisasi yang dibentuk dengan suatu perjanjian oleh tiga negara atau lebih sebagai pihakpihaknya11 untuk saling mengikatkan diri dalam mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Organisasi internasional yang terbentuk biasanya mempunyai banyak kesamaan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu sehingga mempengaruhi klasifikasi atau pengkategorian organisasi internasional tersebut. Organisasi internasional, dalam hal ini organisasi internasional publik dibentuk berdasarkan perjanjian internasional multilateral sekaligus perjanjian itu menjadi instrumen pokok dari organisasi internasional itu yang berisi asas dan tujuan, keanggotaan, struktur dan cara kerja organisasi internasional

tersebut.12Adapula organisasi internasional yang dalam instrumen pokoknya mengatur tentang pembubaran atau pengakhiran berlakunya organisasi

internasional itu, Boer Mauna, seorang pakar hukum internasional mendefinisikan organisasi internasional sebagai himpunan negara-negara yang terikat dalam suatu perjanjian internasional yang dilengkapi dengan suatu anggaran dasar dan

11 12

Sumaryo Suryokusumo, op.cit.hal.105. F.Sugeng Istanto, Hukum Internasional, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 1998, hal.125.

6

organ-organ bersama serta mempunyai personalitas yuridis yang berbeda daripada yang dimiliki oleh negara-negara anggota.13 Sehubungan dengan pembentukan organisasi internasional yang

didasarkan pada perjanjian internasional multilateral, dibenarkan pula oleh Sri Setianingsih Suwardi14 yang menyatakan bahwa: Perjanjian internasional yang dibuat oleh negara-negara untuk membuat suatu organisasi internasional biasanya disebut anggaran dasar organisasi internasional. Misalnya PBB menyebutnya dengan Piagam, Mahkamah Internasional dan Dewan Eropa menyebutnya dengan Statuta, LBB menyebutnya dnegan Covenant dan lain-lain. Sumaryo Suryokusumo15 juga menegaskan bahwa: Organisasi internasional dibentuk oleh negara-negara anggotanya melalui instrumen pokok yang telah disetujui bersama pada hakikatnya merupakan suatu mekanisme untuk mengadakan kerjasama dalam semua kegiatan di berbagai sektor kehidupan internasional yang menjadi kepentingan bersama. Kata “instrumen pokok yang telah disetujui bersama” yang dimaksud oleh Sumaryo Suryokusumo tidak lain adalah perjanjian internasional yang kemudian dijadikan sebagai konstitusi suatu organisasi internasional. Constituent instrument (instrumen pokok) memuat ketentuan-ketentuan tentang organisasi internaional dalam melaksanakan aktivitas-aktivitasnya

sebagai perwujudan hak dan kewajiban yang diperolehnya sebagai subyek hukum internasional. Instrumen pokok tersebut memuat prinsip-prinsip, tujuan, struktur, maupun cara organisasi itu bekerja. Dalam beberapa hal, organisasi internasional juga dapat bertindak sebagai badan pembuat hukum (treaty making powers) yang menciptakan prinsip-prinsip hukum internasional dalam berbagai instrumen hukum. Beberapa literatur menyebutkan kata “Constituent Instrument” sama artinya dengan “Basic Instrument”. Padahal, sebenarnya dua kata ini sungguh

13

Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan Dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2003, hal.419. 14 Sri Setianingsih SuwardiPengantar Hukum Organisasi Internasional, UI Press,Jakarta, , 2004, hal 183-184. 15 Sumaryo Duryokusumo, opcit, hal.128.

7

berbeda arti dan maksudnya.16 Constituent Instrument merupakan perjanjian internasional yang dijadikan sebagai konstitusi suatu organisasi internasional, sedangkan Basic Instrument merupakan perjanjian internasional yang dijadikan dasar pembentukan suatu organisasi internasional Suatu organisasi internasional yang dibentuk berdasarkan perjanjian internasional dan menetapkan bahwa perjanjian internasional tersebut

merupakan constituent instrument menunjukkan bahwa organisasi internasional itu telah memiliki personalitas hukum (Legal Personality). Personalitas hukum

menunjukkan bahwa suatu organisasi internasional memiliki kapasitas hukum (Legal Capacity) yang diperlukannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan seperti yang diatur dalam hukum internasional.17 Sejarah integrasi negara-negara di Eropa yang kemudian dalam

perkembangannya menjadi Uni Eropa didasarkan pada beberapa basic instrument. Basic instrument tesebut meliputi:18

1. The Treaty of Paris (ECSC), 1952 Proses integrasi Eropa bermula dari dibentuknya “Komunitas Batu Bara dan Baja Eropa” (European Coal and Steel Community/ECSC), yang Traktat-nya ditandatangani tanggal 18 April 1951 di Paris dan berlaku sejak 25 Juli 1952 sampai tahun 2002. Tujuan utama ECSC Treaty adalah penghapusan berbagai hambatan perdagangan dan menciptakan suatu pasar bersama dimana produk, pekerja dan modal dari sektor batu bara dan baja dari negara-negara anggotanya dapat bergerak dengan bebas. Traktat ini ditandatangani oleh Belanda, Belgia, Italia, Hasil Utama: • Pembentukan European Coal and Steel Community (ECSC); Jerman, Luksemburg,Perancis.

16 17

Mohd.Burhan Tsani, dalam kuliah Hukum Organisasi Internasional pada tanggal 26 Oktober 2004. DJ.Harris, Cases and Materials on International Law, Sweet & Maxwell, London, 1998, hal.101. 18 www.indonesianmission-eu.org

8

Penghapusan rivalitas lama antara Jerman dan Perancis, dan memberi dasar bagi pembentukan "Federasi Eropa".

2. The Treaty of Rome (Euratom dan EEC), 1957 Pada tanggal 1-2 Juni 1955, para menlu 6 negara penandatanganan ECSC Treaty bersidang di Messina, Italia, dan memutuskan untuk memperluas integrasi Eropa ke semua bidang ekonomi. Pada tanggal 25 Maret 1957 di Roma ditandatangani European Atomic Energy Community (EAEC), namun lebih dikenal dengan Euratom dan European Economic Community (EEC). Keduanya mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1958. Jika ECSC dan Euratom merupakan traktat yang spesifik, detail dan rigid law treaties, maka EEC Treaty lebih merupakan sebuah framework treaty. Tujuan utama EEC Treaty adalah penciptaan suatu pasar bersama diantara negara-negara anggotanya melalui:

Pencapaian

suatu

Custom

Unions

yang

di

satu

sisi

melibatkan

penghapusan customs duties, import quotas dan berbagai hambatan perdagangan lain diantara negara anggota, serta di sisi lain

memberlakukan suatu Common Customs Tariff (CCT) vis-á-vis negara ketiga (non anggota)

Implementasi, inter alia melalui harmonisasi kebijakan-kebijakan nasional anggota, four freedom of movement ( barang, jasa, pekerja dan modal).

Hasil Utama: • Ketiga Communities tersebut masing-masing memiliki organ eksekutif yang berbeda-beda. Namun sejak tanggal 1 Juli 1967 dibentuk satu Dewan dan satu Komisi untuk lebih memudahkan manajemen kebijakan bersama yang semakin luas, dimana Komisi Eropa mewarisi wewenang ECSC High Authority, EEC Commission dan Euratom Commission. Sejak saat itu ketiga communities tersebut dikenal sebagai European Communities (EC);

9

Pembentukan Dewan Menteri Uni Eropa, yang menggantikan Special Council of Ministers di ketiga Communities, dan melembagakan "Rotating Council Presidency" untuk masa jabatan 6 bulan;

Menbentuk Badan Audit Masyarakat Eropa, menggantikan Badan-badan Audit ECSC, Euratom dan EEC.

3. Schengen Agreement, 1985 Diadakan pada tanggal 14 Juni 1985, dimana Belanda, Belgia, Jerman, Luksemburg kesepakatan dan Perancis secara menandatangani bertahap Schengen Agreement. pemeriksaan Isi di

adalah

menghapuskan

perbatasan mereka dan menjamin pergerakan bebas manusia, baik warga mereka maupun warga negara lain. Perjanjian ini kemudian diperluas dengan memasukkan Italia (1990), Portugal dan Spanyol (1991), Yunani (1992), Austria (1995), Denmark, Finlandia, Norwegia dan Swedia (1996). 4. Single Act, Brussels, 1987 Berdasarkan White Paper yang disusun oleh Komisi Eropa dibawah kepemimpinan Jacques Delors pada tahun 1984, Masyarakat Eropa

mencanangkan pembentukan sebuah Pasar Tunggal Eropa. Single European Act, yang ditandatangani pada bulan Pebruari 1986, dan mulai berlaku mulai tanggal 1 Juli 1987, terutama ditujukan sebagai suplemen EEC Treaty. Tujuan utama Single Act adalah pencapaian pasar internal yang ditargetkan untuk dicapai sebelum 31 Desember 1992. Hasil Utama: a. Melembagakan pertemuan reguler antara Kepala Negara dan/atau Pemerintahan negara anggota Masyarakat Eropa, yang bertemu paling tidak setahun dua kali, dengan dihadiri oleh Presiden Komisi Eropa;

10

b.

European Political Cooperation secara resmi diterima sebagai forum koordinasi dan konsultasi antar pemerintah;

c.

Seluruh persetujuan asosiasi dan kerjasama serta perluasan Masyarakat Eropa harus mendapat persetujuan Parlemen Eropa.

5. The Treaty of Maastricht (Treaty on European Union), 1992 Treaty on European Union (TEU) yang ditandatangani di Maastricht pada tanggal 7 Februari 1992 dan mulai berlaku tanggal 1 November 1993, mengubah European Communities (EC) menjadi European Union (EU). TEU mencakup, memasukkan dan memodifikasi traktat-traktat terdahulu (ECSC, Euratom dan EEC). Jika Treaties establishing European Community (TEC) memiliki karakter integrasi dan kerjasama ekonomi yang sangat kuat, maka TEU menambahkan karakter lain yaitu kerjasama dibidang Common Foreign and Security Policy (CFSP) dan Justice and Home Affairs (JHA). Hasil Utama: a. • • • b. Tiga pilar kerjasama UE, yaitu: Pilar 1: European Communities Pilar 2: Common Foreign and Security Policy - CFSP Pilar 3: Justice and Home Affairs - JHA Memberi wewenang yang lebih besar kepada Parlemen Eropa untuk ikut memutuskan ketentuan hukum Uni Eropa melalui mekanisme co-decision procedure, dimana Parlemen dan Dewan Uni Eropa bersama-sama memutuskan suatu produk hukum. Bidang-bidang yang masuk dalam prosedur tersebut adalah: pergerakan bebas pekerja, pasar tunggal, pendidikan, penelitian, lingkungan, Trans-European Network, kesehatan, budaya dan perlindungan konsumen;

11

c.

Memperpanjang masa jabatan Komisioner menjadi 5 tahun (sebelumnya 2 tahun) dan pengangkatannya harus mendapat persetujuan Parlemen;

d.

Menambah area kebijakan yang harus diputuskan dengan mekanisme qualified majority (tidak lagi unanimity), yaitu: riset dan pengembangan teknologi, perlindungan lingkungan, dan kebijakan social;

e.

Memperkenalkan prinsip subsidiarity, yaitu membatasi wewenang institusi Uni Eropa agar hanya menangani masalah-masalah yang memang lebih tepat dibahas di level Uni Eropa.

6. The Treaty of Amsterdam, 1997 Pada pertemuan mereka tanggal 17 Juni 1997 di Amsterdam, European Council (para Kepala Negara dan Pemerintahan ke-15 negara anggota Uni Eropa) merevisi TEU dan menghasilkan sebuah traktat baru. The Treaty of Amsterdam yang mempunyai 4 (empat) tujuan utama,yaitu: 1. Memprioritaskan hak-hak warga negara dan penyediaan lapangan kerja. Meskipun penyediaan lapangan kerja tetap Traktat merupakan Amsterdam

kewajiban

utama

pemerintah

nasional,

menekankan perlunya usaha bersama seluruh negara anggota untuk mengatasi pengangguran, yang dianggap sebagai problem utama Eropa saat ini; 2. Menghapuskan hambatan terakhir menuju freedom of movement dan memperkuat keamanan, dengan meningkatkan kerjasama negara anggota di bidang Justice and Home Affairs; 3. Memberi Uni Eropa suara yang lebih kuat di dunia internasional dengan menunjuk seorang High Representative for the CFSP; 4. Membuat struktur institusi Uni Eropa lebih efisien dikarenakan teks yang rumit dan sangat teknokratis. Hal tersebut membuat traktat dasar Uni Eropa sulit dibaca dan dimengerti, yang pada gilirannya juga dapat memperlemah dukungan publik terhadap proses integrasi Eropa. Traktat

12

Amsterdam merupakan jawaban terhadap kritikan tersebut karena traktat ini memasukkan TEU dan TEC, dengan penomoran baru pasalpasalnya untuk lebih memudahkan pemahaman terhadap traktat mengenai Uni Eropa. Salah satu kritik yang sering dialamatkan pada berbagai traktat mengenai Uni Eropa adalah teks yang rumit dan sangat teknokratis. Hal tersebut membuat traktat dasar Uni Eropa sulit dibaca dan dimengerti, yang pada gilirannya juga dapat memperlemah dukungan publik terhadap proses integrasi Eropa. Traktat Amsterdam merupakan jawaban terhadap kritikan tersebut karena traktat ini memasukkan TEU dan TEC, dengan penomoran baru pasal-pasalnya untuk lebih memudahkan pemahaman terhadap traktat mengenai Uni Eropa. Hasil Utama: a. Memberi wewenang Dewan Menteri untuk menjatuhkan hukuman pada negara anggota (dengan mencabut sementara beberapa hak mereka, termasuk hak voting) jika negara anggota tersebut melakukan

pelanggaran HAM; b. Menyediakan kemungkinan dilakukannya enhanced cooperation, yaitu: beberapa negara anggota (minimal 8) dapat melakukan suatu kerjasama meskipun tidak semua negara anggota menyetujuinya. Negara yang tidak (atau belum) menyetujui kerjasama tersebut dapat bergabung di kemudian hari. Salah satu contohnya adalah bentukbentuk kerjasama dalam kerangka CFSP; c. Memasukkan Schengen Agreement dalam TEU (dengan pilihan opt-out bagi Inggris dan Irlandia). d. Menjadikan asylum, visa dan imigrasi sebagai kebijakan bersama (kecuali bagi Inggris dan Irlandia). Dalam waktu lima tahun, negara-negara anggota dapat memutuskan apakah akan menggunakan qualified majority voting.

13

7. The Treaty of Nice, 2000 Pertemuan Dewan Eropa pada tanggal 7-9 Desember 2000 di Nice mengadopsi sebuah Traktat baru yang membawa perubahan bagi empat masalah institusional: komposisi dan jumlah Komisioner di Komisi Eropa, bobot suara di Dewan Uni Eropa, mengganti unanimity dengan qualified majority dalam proses pengambilan keputusan dan pengeratan kerjasama. Traktat ini belum berlaku, masih menunggu proses ratifikasi di masing-masing negara anggota. Tanggal 1 Februari 2003, Traktat tersebut mulai berlaku. Hasil Utama: a. Dengan memperhatikan perluasan anggota Uni Eropa, membatasi jumlah anggota Parlemen maksimal sebanya 732 orang dan sekaligus memberi alokasi jumlah kursi tiap negara anggota (sudah termasuk negara anggota baru); b. Mengganti mekanisme pengambilan keputusan bagi 30 pasal dalam TEU yang sebelumnya menggunakan unanimity dan diganti dengan

menggunakan mekanisme qualified majority voting; c. Merubah bobot suara negara-negara anggota Uni Eropa mulai 1 Januari 2005 (sudah termasuk negara-negara anggota baru); d. Mulai 2005, membatasi jumlah Komisioner, 1 Komisioner tiap 1 Negara, dan batas maksimum jumlah Komisioner akan ditetapkan setelah Uni Eropa beranggotakan 27 negara, serta memperkuat posisi Presiden Komisi; e. Memberi dorongan bagi terselenggaranya Konvensi Masa Depan Eropa, yang digunakan sebagai persiapan bagi penyelengaraan

Intergovernmental Conference 2003. Pada kesempatan yang sama juga terjadi penggabungan antara The Treaty of Nice, The Treaty of Rome (TEC), dan juga The Treaty of Maastricht yang kemudian menghasilkan suatu Charter atau Piagam yang disebut dengan The Europen Union Charter of Fundamnetal Rights. Untuk pertama kalinya dalam

14

sejarah Uni Eropa, keseluruhan bidang diatur menjadi satu teks, baik yang mencakup hak-hak sipil, politik, ekonomi dan sosial bagi masyarakat Eropa dan semua penduduk yang tinggal di wilayah Uni Eropa. Hak-hak dalam Charter tersebut dibagi menjadi 6 bidang, yaitu tentang Martabat, Kebebasan, Persamaan, Solidaritas, Hak-hak warga negara, dan Keadilan. 8. The Convention on the Future of Europe and of the Treaty on the Accession of 10 new Member States Berbagai traktat Uni Eropa tersebut mungkin akan segera mengalami perubahan, sebagai hasil dari Konvensi mengenai Masa Depan Uni Eropa dan Traktat Aksesi 10 negara anggota baru yang ditandatangani tanggal 16 April 2003 dan akan mulai berlaku mulai tanggal 1 Mei 2004. Sementara ini beberapa pembahasan utama adalah di bidang: a. Penyederhanaan traktat-traktat Uni Eropa kedalam satu Traktat, dengan penyajian yang lebih jelas dan lebih mudah dimengerti; b. Demarkasi kewenangan (who does what in the EU, wewenang Uni Eropa, wewenang negara anggota, dan lain-lain); c. d. Peran Parlemen negara-negara anggota dalam struktur Uni Eropa; Status Charter of Fundamental Rights yang diproklamirkan di Nice. Mengenai status hukum Charter of Fundamental Rights yang diharapkan bisa menjadi Constituent Instrument dari Uni Eropa masih diperdebatkan dan sampai sekarang masih menjadi isu penting yang perlu di cari pemecahannya mengingat akan pentingnya konstitusi bagi keberadaan suatu organisasi internasional. III. KEANGGOTAAN UNI EROPA Berlangsungnya suatu kepentingan merupakan hal yang mendasari interaksi antara manusia satu dengan manusia lainnya dalam kelompok-kelompok

15

sosial.

Kelompok-kelompok sosial yang mempunyai susunan yang teratur dan

mengenal pembagian tugas kemudian lazim disebut sebagai organisasi atau lembaga. Klasifikasi kelompok-kelompok sosial atau organisasi bisa didasarkan atas beberapa parameter. Fungsi klasifikasi adalah untuk lebih mempermudah dalam mengorganisir berbagai kepentingan yang timbul didalamnya. Untuk mengetahui macam-macam organisasi, dalam hal ini tentu saja adalah organisasi

internasional publik, maka bisa dilihat dari kategori atau pengklasifikasiannya melalui sistem keanggotaannya. Sistem keanggotaan ada yang terbuka dan ada juga yang tertutup. Sistem keanggotaan terbuka, dalam penerimaannya tidak mengenal pembatasan-pembatasan tertentu. Sedangkan sistem keanggotaan tertutup diartikan bahwa dalam penerimaan diadakan pembatasan-pembatasan yang merupakan syarat keanggotaan. Batasan-batasan tersebut antara lain meliputi delapan faktor dibawah ini:19 1. Kesamaan wilayah geografis yang saling berdekatan; 2. Kesamaan kegiatan; 3. Kesamaan agama atau budaya; 4. Kesamaan sejarah; 5. Kesamaan sistem kebijakan politik yang dianut anggotanya; 6. Kesamaan tingkat perkembangan ekonomi; 7. Status yang diberikan oleh suatu negara kepada organisasi internasional yang dibentuk, apakah diatas atau sejajar dengan negara anggota (intergovernmental); 8. Pemberian status kaitannya dengan kompetensi, ada kompetensi general dan ada juga kompetensi terbatas.

19

Mohd. Burhan Tsani dalam kuliah Hukum Organisasi Internasional tanggal 28 September 2004

16

Schermers yang dikutip pendapatnya oleh Boer Mauna20 berpendapat bahwa untuk memiliki personalitas hukum, maka suatu organisasi internasional harus memenuhi tiga (3) syarat, yaitu: a. Dibentuk oleh suatu perjanjian internasional; b. Memiliki organ yang terpisah dari negara-negara

anggotanya; c. Diatur oleh hukum internasional publik. Syarat kedua yang dikemukakan oleh Schermers membuktikan bahwa keanggotaan suatu organisasi internasional sangat penting, dan keberadaannya bersifat mutlak. Dikatakan demikian karena organ organisasi internasional dibentuk dari dan oleh anggota organisasi internasional atau dengan kata lain tanpa adanya anggota, maka organisasi internasional tersebut tidak memiliki organ dan selama organisasi internasional tidak memiliki organ maka organisasi internasional tersebut tidak bisa dianggap sebagai suatu organisasi internasional yang memiliki personalitas hukum dan kapasitas hukum. Keanggotaan suatu organisasi internasional lazimnya ditetapkan dalam basic instrument atau constituent instrument suatu organisasi internasional. Tapi, pada kenyataannya, masalah keanggotaan organisasi internasional tidak diatur secara detail didalamnya. Keanggotaan dalam suatu organisasi internasional dipandang perlu dibatasi oleh karakter atau sifat organisasi internasional itu sendiri.21 Uni Eropa merupakan organisasi regional di kawasan dalam benua Eropa dan sistem

keanggotaannya

tertutup,

dimana

penerimaannya syarat

diadakan

pembatasan-pembatasan

tertentu

yang

merupakan

keanggotaan.

Pembatasan-pembatasan itu jika mengacu pada delapan faktor diatas bisa meliputi, pertama, kesamaan wilayah geografis yang berdekatan, yaitu samasama berada di wilayah benua Eropa, yang kedua tentang status yang diberikan

20 21

Boer Mauna, opcit, hal.432. D.W.Bowett, opcit, hal.489.

17

suatu negara kepada organisasi internasional yang dbentuk, dimana Uni Eropa berkedudukan diatas negara-negara anggotanya (supra nasional). Mengenai masalah syarat dan prosedur keanggotan dalam Uni Eropa tidak diatur baik dalam basic instrument maupun constituent instrument. Negaranegara yang berkeinginan untuk menjadi anggota Uni Eropa harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti yang ditetapkan oleh Statuta Dewan Eropa di Kopenhagen, Denmark pada tahun 1993.22 Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua organisasi internasional mengatur prosedur keanggotaan secara lengkap di dalam basic instrument atau constituent instrument-nya. Syarat-syarat keanggotaan Uni Eropa tersebut di tuangkankan dalam pasal 3 Statuta Dewan Eropa, ketiga syarat yang tersebut dibawah ini merupakan syarat substansial: • • Negara yang bersangkutan harus berada di benua Eropa; Negara tersebut harus menerapkan prinsip-prinsip demokrasi,

penegakan hukum, hak asasi manusia, dan penghormatan serta perlindungan terhadap golongan minoritas; • Negara tersebut mampu menjalankan segala peraturan

perundangan Uni Eropa (acquis communautires). Mengenai prosedur keanggotaan,23 Komisi Eropa menggambarkan secara jelas laporan tentang keadaan politik dan ekonomi dari negara yang baru yang berkeinginan untuk bergabung dengan Uni Eropa. Dalam laporan tersebut juga menjelaskan kemampuan suatu negara untuk melaksanakan prinsip-prinsip dan peraturan perundangan Uni Eropa, dan kemudian membuat rekomendasi kepada Dewan Eropa apakah perlu atau tidak memulai perundingan untuk aksesi. Kegiatan evaluasi atau penilaian yang dilakukan oleh Komis Eropa tersebut merupakan kegiatan untuk memenuhi syarat-syarat prosedural. Penerimaan keanggotaan baru Uni Eropa tidak mengenal adanya prinsip kuantitatif maupun prinsip kualitatif. Tidak mengenal prinsip kuantitatif maksudnya, untuk penerimaan keanggotaan baru tidak memerlukan persetujuan dengan
22

www.europa.eu.int www.europa.eu.int

23

18

jumlah suara tertentu dari negara anggota lama. Sedangkan yang dimaksud dengan tidak mengenal prinsip kualitatif adalah bahwa dalam suatu organisasi internasional tidak terdapat perbedaan hak antara negara asli (negara pendiri) dan negara tidak asli (negara biasa), karena semua negara mempunyai hak yang sama, tidak ada hak-hak istimewa untuk negara-negara tertentu.24 Calon negara anggota tersebut kemudian melakukan persiapan untuk aksesinya, dan bersedia menerima kewajiban-kewajiban dalam batas waktu yang telah ditetapkan. Batas waktu untuk negosiasi bisa berbeda dari satu negara dan negara lainnya. Keanggotaan Uni Eropa dari tahun ke tahun mengalami penambahan dan penambahan tersebut dituangkan dalam traktak-traktat yang telah beberapa kali diamandemen.25 Pada tahun 1957, anggota Uni Eropa meliputi 6 anggota awal yaitu Belanda, Belgia, Perancis, Jerman, Italia, Leksemburg. Tahun 1973, bertambah 3 negara yaitu Denmark, Irlandia, dan Inggris. Tahun 1981 hanya negara Yunani saja. Pada tahun 1986 meliputi negara Spanyol dan Portugal. Sedang pada tahun 1995 ada 3 negara, yaitu Austria, Finlandia, dan Swedia. Proses persiapan dalam rangka perluasan keanggotaan Uni Eropa ke-6 dari 15 negara anggota yang telah disebutkan diatas menjadi 25 negara telah dilakukan dengan target bahwa pada tahun 2004 jumlah negara anggota Uni Eropa menjadi 25 negara. Proses negoisasi Uni Eropa dengan ke-10 negara kandidat telah selesai pada tanggal 13 Desember 2002. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa Kopenhagen tanggal 12-13 Desember 2002 memutuskan untuk menerima keanggotaan 10 negara aplikan mulai tanggal 1 Mei 2004. Negaranegara tersebut meliputi:26 1. Republik Ceko 2. Estonia 3.
24 25

Hongaria

Mohd.Burhan Tsani, dalam kuliah Hukum Organisasi Internasional pada tanggal 7 Desember 2004. www.indonesianmission-eu.org www.bexi.co.id/worl/europe/eu

26

19

4. Latvia 5. Lithuania 6. Malta 7. Polandia 8. Siprus 9. Republik Slovakia 10. Slovenia. Dalam KTT tersebut juga memutuskan akan menerima keanggotaan Bulgaria dan Rumania yang sampai saat ini masih dalam proses perundingan aksesi dan akan menandatangani traktat aksesinya pada tanggal 15 April 2005 dan kemudian akan menjadi bagian Uni Eropa pada tahun 2007 mendatang. Kroasia telah mengajukan aplikasi sejak Juni 2004, dan pada tanggal 17 Maret 2005 ditetapkan akan dimulai proses perundingan aksesinya. Sementara itu, Turki yang resmi mengajukan aplikasi sejak 1999, proses perundingan aksesinya baru dijadwalkan untuk dimulai pada tanggal 3 Oktober 2005. Khusus untuk Turki masih di dorong untuk melakukan reformasi politik dan ekonomi dalam negerinya agar memenuh kriteria standar Uni Eropa (Kriteria Kopenhagen). 27

IV. KELEMBAGAAN UNI EROPA Di dalam suatu masyarakat, untuk mencapai tujuan bersama diperlukan adanya kekuasaan yang dianggap merepresentasikan keberadaan dari

kumpulan individu-individu tersebut. Selain kekuasaan, dalam masyarakat juga mengenal wewenang. Kekuasaan itu kemudian melahirkan wewenang.

Wewenang hanya dapat berlaku efektif apabila didukung oleh kekuasaan yang nyata. Begitu pula dalam organisasi yang susunannya lebih kompleks dan mengenal pembagian kerja yang terperinci, wewenang biasanya terbatas pada hal-hal yang diliputinya, waktunya, dan cara-cara menggunakan kekuasaan itu. Organisasi merupakan suatu cara untuk mengumpulkan tenaga serta membagi27

www.europa.eu.int

20

bagikan kekuasaan dan wewenang tersebut. Apabila dilihat pada pembagian kekuasannya, maka di suatu organisasi terdapat:28 1. Penguasa dan mereka yang dikuasai; 2. Hierarki, yaitu urut-urutan kekuasaan secara vertikal atau bertingkat dari atas ke bawah; 3. Ada pembagian tugas horisontal, yaitu pembagian tugas antara

beberapa bagian dimana bagian-bagian itu mempunyai kekuasaan dan wewenang yang setingkat atau sederajat; 4. Adanya suatu kelompok sosial. Suatu pembagian kekuasaan secara vertikal merupakan saluran yang membawa perintah dari atas ke bawah, akan tetapi juga merupakan saluran untuk membawa keinginan-keinginan dari bawah ke atas. Dengan kata lain, saluran tersebut merupakan jalur lintas dua arah (two way traffic). Pembagian kekuasaan secara horizontal idak menimbulkan perbedaan tingkat kedudukan, akan tetapi lebih ditekankan pada pembagian kekuasaan dan wewenang secara mendatar yang didasarkan pada pembagian kerja serta spesialisasi. Setiap bagian dari pembagian kerja dan spesialisasi dalam

melaksanakan tugasnya dikoordinir oleh kedudukan yang lebih tinggi derjatnya dan demikianlah seterusnya. Organisasi juga mempunyai pimpinan dan ada pula yang dipimpin. Pemimpin mungkin ada pada diri seseorang, mungkin juga pada sekelompok manusia. Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi merasa dirinya sebagai bagian dari kesatuan tersebut. Dan bagi mereka telah tersedia

peraturan-peraturan tertentu yang berlaku bagi anggota-anggotanya yang dirumuskan ketika organisasi tersebut dibentuk. Kesemuanya itu kemudian disebut sebagai satu kesatuan atau kelompok sosial. Dalam suatu organisasi internasional, kata organisasi atau lembaga (institusion) disini dalam pengertian yang sangat luas dianggap sebagai nomen generalissimum untuk berbagai ragam bentuk asosiasi negara-negara untuk

28

Soerjono Soekanto, opcit, hal.295.

21

mencapa tujuan bersama. Adalah penting untuk mengetahui dengan cara apa lembaga-lembaga tersebut tercakup dalam lingkup hukum internasional atau memberikan sumbangan terhadap perkembagan hukum internasional. 29 Seperti halnya dalam suatu negara modern dimana hak, kewajiban, serta wewenang dari perangkatnya diatur dalam salah satu cabang hukum nasionalnya, yaitu Hukum Tata Negara, demikian pula dengan organisasi internasional yang diatur oleh sekumpulan kaidah hukum yang dapat

digambarkan sebagai hukum tata negara internasional. Organisasi internasional ini mempunyai tugas-tugas penting untuk dilaksanakan atas nama masyarakat internasional, baik yang sifatnya universal maupun regional, mengatur masyarakat tersebut dalam kerangka konstitusionalnya.30 Struktur konstitusional dalam suatu organisasi internasional bisa dianalogikan seperti struktur konsitusional dalam negara modern yang mengenal pembagian kekuasaan menjadi 3 bidang, yaitu kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ketiga kekuasaan tersebut membentuk suatu sistem kelembagaan yang secara bersama-sama berusaha mewujudkan tujuan organisasi internasional seperti yang telah ditetapkan pada awal berdirinya. Sistem kelembagaan Uni Eropa didasarkan pada tujuan untuk melindungi kepentingan dan tanggung jawab bersama yang tercermin dalam mekanisme pengambilan keputusan di Uni Eropa melalui lima lembaga utama yaitu:31 1. Komisi Eropa (European Commission) 2. Dewan Uni Eropa (Council of the European Union) 3. Parlemen Eropa (European Parliament) 4. Mahkamah Eropa (Court of Justice) 5. Court of Auditors. Ketiga poin pertama diatas disebut Institusional Triangle yaitu merupakan tiga organ penting yang menetapkan kebijakan dan menyetujui semua bentuk perundang-undangan (baik berupa petunjuk, peraturan, maupun keputusan29 30

J.G.Starke, Pengantar Hukum Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2003, hal.797. Ibid, hal.798. 31 www.indonesianmission-eu.org

22

keputusan) yang diterapkan di dalam kesatuan (Uni) tersebut. Pada prinsipnya ketiga lembaga tersebut mencerminkan kekuasaan legislatif, dimana Komisi Eropa bertanggung jawab untuk membuat rancangan undang-undang Eropa yang baru, selain itu Komisi juga memegang kekuasaan eksekutif. Sedangkan Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa bertanggung jawab untuk menyetujui dan mengesahkan rancangan undang-undang tersebut menjadi undang-undang.32 Dua lembaga lainnya yaitu Mahkamah Eropa dan Court of Auditors memerankan fungsi yang berbeda. Mahkamah Eropa membentuk kekuasaan yudikatif, sementara Court of Auditors bertanggung jawab mengenai keuangan dan pendanaan semua kegiatan-kegiatan Uni Eropa. Selain kelima lembaga utama tersebut diatas, Uni Eropa juga mempunyai The European Council atau Dewan Eropa yang anggotanya terdiri dari kepala negara atau kepala pemerintahan negara-negara anggota yang tergabung dalam Uni Eropa. Berikut ini akan penulis uraikan lembaga-lembaga tersebut secara mendetail.33

1. Komisi Eropa The European Commission (biasanya hanya disebut the Commission) atau Komisi Eropa yang berkantor pusat di Brussels, Belgia adalah the driving force dalam membangun Eropa. TEC menyatakan bahwa hanya Komisi yang memiliki hak inisiatif untuk mengajukan proposal (RUU). Tidak ada badan Uni Eropa lain maupun negara anggota yang berhak untuk mengajukan proposal selain Komisi. Bahkan jika proposal yang diajukan ditolak oleh Dewan Uni Eropa (dan Parlemen Eropa melalui co-decision procedure), maka hanya Komisi pula yang berhak merubahnya (kecuali ditolak secara unanimity).

Komisi juga mempunyai peran sebagai the guardian of the Treaties and of the "acquis communautaire" (seluruh hukum dan perundangan Uni Eropa). Dalam kaitan ini, salah satu tugas utama Komisi adalah memastikan negara anggota
32 33

www.europa.eu.int www.indonesianmission-eu.org

23

mematuhi semua hukum Uni Eropa dan karena itu Komisi memiliki kewenangan investigasi. Komisi juga merupakan badan eksekutif dan karena itu memiliki peran administratif untuk memastikan tercapainya semua tujuan yang telah dirumuskan dalam berbagai traktat Uni Eropa. Komisi juga memainkan peran representasi, yang mewakili Uni Eropa di berbagai organisasi internasional maupun dalam berhubungan dengan berbagai negara. Komisi Eropa saat ini terdiri dari 20 orang Komisioner (dua orang untuk lima negara besar yaitu Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, dan Jerman, sedangkan sepuluh negara lainnya hanya diwakili oleh satu orang Komisioner) dan dipimpin oleh seorang Presiden. Sesuai Traktat Maastricht 1992, masa jabatan para Komisioner adalah lima tahun kecuali ada upaya untuk mengubahnya (censure motion) dari Parlemen Eropa. Melalui proses konsultasi dengan Parlemen Eropa, pemerintah masingmasing negara anggota dengan suara bulat mengajukan calon Presiden Komisi Eropa beserta calon-calon Komisioner yang akan ditunjuk. Presiden Komisi diangkat dengan kesepakatan bersama Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa. Berdasarkan Artikel 55 Traktat Roma 1957, Komisi Eropa mempunyai wewenang untuk: 1. Mengawasi pelaksanaan seluruh ketentuan dan keputusan lembagalembaga Uni Eropa secara tepat. Komisi membuat pertimbangan dan keputusan berdasarkan permintaan negara anggota yang hendak memanfaatkan klausula-klausula pengaman dalam Traktat, yang dalam kasus-kasus tertentu diijinkan untuk tidak memberlakukan atau

membebaskan sementara ketentuan Uni Eropa. Menurut Artikel 169 Traktat tersebut, Komisi berwenang mengajukan negara-negara anggota yang dianggap tidak memenuhi kewajibannya ke Mahkamah Eropa; 2. Membuat usulan kebijakan kepada Dewan Menteri mengenai berbagai kebijakan Uni Eropa di bidang pertanian, industri dan pasar internal, riset, energi, lingkungan, masalah sosial dan regional, serta perdagangan eksternal.

24

3. Menerapkan berbagai kebijakan yang didasarkan pada keputusan Dewan atau penerapan langsung traktat. Pada perkembangan selanjutnya, wewenang Komisi Eropa semakin besar yang antara lain diberikan oleh Mahkamah Eropa melalui berbagai

keputusannya. Jika dalam suatu kasus yang diperiksa Mahkamah Eropa menemukan bahwa kewenangan dalam hal tersebut sebaiknya dimiliki oleh Komisi (misalnya untuk menjamin berjalannya pasar internal dengan baik). Kewenangan Komisi tersebut antara lain: • melakukan investigasi dan menjatuhkan sanksi, baik kepada perorangan ataupun perusahaan yang menyalahi ketentuan kompetisi UE; • Komisi juga mengelola dana struktural dan langkah-langkah bagi kemajuan riset, pertukaran pemuda, perbaikan lingkungan, transportasi dan

sebagainya; • Komisi juga terlibat dalam pengelolaan bidang ekonomi dan pengawasan

anggaran serta kebijakan luar negeri. Dana untuk program-program Uni Eropa dikelola oleh Komisi Eropa, dan sumbernya berasal dari setoran iuran para anggota yang besarnya ditentukan oleh pendapatan per kapita masing-masing negara dan dari pajak bea masuk yang dikenakan terhadap barang-barang dari negara ketiga (import duties).

2. Dewan Uni Eropa The Council of the European Union (biasanya disebut dengan the Council of Ministers atau cukup the Council) atau Dewan Uni Eropa yang berkantor pusat di Brussels, Belgia adalah forum pertemuan para Menteri negara-negara anggota dan merupakan badan pengambil keputusan utama di Uni Eropa. Dewan dapat mengambil keputusan melalui prosedur unanimity, dan dalam sektor-sektor dimana keputusan Parlemen dibutuhkan Dewan Uni Eropa untuk mengambil keputusan melalui qualifiedmajority.Meskipun pada umumnya disebut hanya dengan "Dewan/Council", pada prakteknya terdapat 16 formasi Dewan, antara lain: general affairs, pertanian, lingkungan, ekonomi dan keuangan, sosial, dan

25

sebagainya. Perangkat hukum yang ditetapkan, atas usulan Komisi, dapat berbentuk Regulation, Directive, dan Decision. Selain ketiga hal tersebut yang sifatnya mengikat secara hukum, Dewan dan Komisi juga dapat mengeluarkan Recommendation dan Opinions yang tidak bersifat mengikat secara hukum. Disamping itu, Dewan dan Parlemen Eropa juga dapat mengeluarkan Resolutions yang sifatnya juga tidak mengikat.

3. Parlemen Eropa The European Parliament atau Parlemen Eropa yang berkantor pusat di Brussels, Belgia adalah lembaga legislatif yang mewakili warga Eropa dan mempunyai fungsi legislatif, budget, dan pengawasan eksekutif. Setelah

penambahan keanggotaan Uni Eropa yang terakhir. Parlemen beranggotakan 626 orang. Berkaitan dengan rencana penambahan anggota Uni Eropa berikutnya, Traktat Nice menetapkan bahwa jumlah anggota Parlemen Eropa adalah 732 orang. Parlemen Eropa mencerminkan kehidupan demokrasi Eropa. Seluruh 626 anggotanya dipilih secara langsung oleh setiap warga negara di negara anggota UE untuk masa kerja 5 tahun, dan mempunyai tugas yang sama dengan anggota parlemen nasional, yaitu meratifikasi berbagai macam ketentuan, peraturan dan hukum yang mengatur kehidupan eksekutif. Kewenangan Parlemen Eropa semakin ditingkatkan sejak berlakunya berbagai traktat seperti Single Act (1987), Traktat Maastricht (1992) dan Traktat Amsterdam tahun 1997. Secara umum, Parlemen Eropa berfungsi mengawasi kepentingan Eropa, serta melindungi kepentingan dan hak-hak warga Uni Eropa. Secara pribadi atau melalui kelompok/organisasinya, setiap warga Uni Eropa memiliki hak untuk mengajukan petisi apabila terjadi ketidakpuasan atas kebijakan-kebijakan Uni Eropa. Hubungan antara Parlemen Eropa dan parlemen nasional dilakukan melalui pertemuan reguler yang diwakili oleh para juru bicara masing-masing parlemen dan ketua Komite Parlemen Eropa serta anggota Komite Regional.

26

4. Mahkamah Eropa The European Court of Justice atau Mahkamah Eropa adalah lembaga yudikatif yang berkantor pusat di Luksemburg. Mahkamah Eropa berwenang menyelesaikan berbagai konflik kepentingan internal Uni Eropa dan memberikan opini mengenai berbagai persetujuan internasional yang dilakukan oleh Uni Eropa. Secara umum tugas Mahkamah Eropa adalah memastikan adanya pamahaman, interpretasi dan aplikasi yang sama dari negara-negara anggota Uni Eropa terhadap hukum Uni Eropa (Pasal 220 s/d 245 Traktat Masyarakat Eropa). Tugastugas itu antara lain meliputi: a. Proceeding for annulment Proceedings for annulment (tuntutan pembatalan) dapat diajukan

terhadap institusi pengambil keputusan Uni Eropa (Dewan Uni Eropa/Parlemen Eropa, dan Komisi Eropa) baik oleh salah satu negara anggota, individu, atau oleh sesama institusi Uni Eropa. Tujuan dari tuntutan pembatalan ini adalah untuk membatalkan keputusan lembaga-lembaga Uni Eropa yang dinilai bertentangan dengan Traktat Uni Eropa, dan/atau melampaui kewenangan lembaga tersebut. b. Proceeding for failure to act Proceedings for failure to act, di lain pihak, ditujukan untuk menuntut lembaga Uni Eropa yang dinilai gagal memenuhi kewajibannya. Tuntutan semacam ini dapat diajukan baik oleh salah satu negara anggota, individu, atau oleh sesama institusi Uni Eropa. Sebagai contoh Parlemen Eropa pada bulan September 1982 menuntut Dewan Uni Eropa yang dinilai gagal membentuk kerangka kerja bagi Common Transport Policy. c. Proceeding for infringement Mahkamah Eropa juga memiliki jurisdiksi untuk menyidangkan kasus terhadap negara anggota Uni Eropa. Tuntutan ini dapat diajukan oleh lembaga Uni Eropa (dalam prakteknya oleh Komisi Eropa), negara anggota Uni Eropa yang lain, atau oleh individu. Tuntutan yang diajukan ke Mahkamah Eropa merupakan tahap akhir jika peringatan resmi yang diajukan Komisi gagal dipenuhi oleh negara anggota. Pasal 228 Traktat Masyarakat Eropa memberi wewenang Komisi

27

untuk membawa kasusnya ke Mahkamah Eropa dan untuk menentukan jumlah denda yang harus dibayar oleh negara anggota.

5. Court of Auditors Court of Auditors yang berkantor pusat di Luksemburg merupakan salah satu lembaga Uni Eropa yang mempunyai tugas untuk melakukan pemeriksaan apakah semua pemasukan dan pengeluaran Uni Eropa dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku dan tidak melanggar aturan, serta apakah manajemen keuangan anggaran Uni Eropa dilaksanakan secara sehat.

Court of Auditors juga dapat melakukan pemeriksaan atas permintaan salah satu lembaga Uni Eropa. Court of Auditors juga dapat melakukan pemeriksaan di negara anggota Uni Eropa untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh negara tersebut yang mengatasnamakan Uni Eropa, seperti penarikan bea masuk, manajemen Regional Funds dan lain-lain.

6. Dewan Eropa Selain kelima institusi utama tersebut, Uni Eropa juga mempunyai The European Council atau Dewan Eropa (harap dibedakan dengan The Council of the European Union atau Dewan Uni Eropa ) . Dewan Eropa adalah forum pertemuan para Kepala Negara dan Pemerintahan negara-negara anggota Uni Eropa dan Presiden Komisi Eropa. Pasal 4 TEU mensyaratkan Dewan Eropa untuk bersidang paling tidak 2 kali dalam setahun dibawah kepemimpinan Kepala Negara atau Pemerintah negara anggota yang sedang menjabat sebagai Presidensi Uni Eropa (berganti setiap 6 bulan). Pada prakteknya setiap Presidensi biasanya mengadakan 1 sidang formal dan 1 sidang informal Dewan Eropa. Dewan Eropa adalah sebuah forum bagi pertukaran pendapat yang bebas dan informal diantara para pemimpin negara anggota. Informal dalam artian Dewan Eropa tidak mengadopsi keputusan apapun yang secara hukum formal mengikat negara anggota. Setiap deklarasi yang dihasilkan mempunyai validitas politis, namun tidak mempunyai legal validity. Mereka hanya memberi dorongan, arahan dan kadangkala memberi jalan keluar bagi masalah-masalah

28

yang menemui jalan buntu di tingkat Dewan Uni Eropa. Saat ini Presidensi Uni Eropa dipegang oleh Luksemburg yang dipimpin oleh Perdana Menteri Jean Claude Juncker untuk periode 6 bulan kedepan yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2005 dan berakhir pada tanggal 30 Juni 2005 mendatang. 34

V. PENUTUP Sebagai penutup dari makalah ini, penulis dapat mengemukakan beberapa hal penting sehubungan dengan deskripsi tentang Uni Eropa. 1. Uni Eropa adalah merupakan kumpulan dari negara-negara demokratis di Eropa yang berkomitmen untuk perdamaian dan kesejahteraan bersama, sehingga merupakan suatu organisasi internasional yang permanen karena mempunyai tujuan yang berkesinambungan. 2. Sejarah integrasi negara-negara di Eropa yang kemudian dalam

perkembangannya menjadi Uni Eropa didasarkan pada beberapa basic instrument, yaitu merupakan perjanjian internasional yang dijadikan sebagai dasar pembentukan suatu organisasi basic internasional. Uni Eropa sudah of

menggabungkan

beberapa

instrument-nya

menjadi

Charter

Fundamental Rights, yang sedianya akan dijadikan sebagai constituent Instrument, namun sampai sekarang masih terjadi perdebatan mengenai bagaimana status hukum dan kekuatan mengikatnya constituent instrument tersebut. Basic instrument tentang pembentukan Uni Eropa antara lainmeliputi: a. The Treaty of Paris (ECSC), 1952 b. The Treaty of Rome (Euratom dan EEC), 1957 c. Schengen Agreement, 1985 d. Single Act, Brussels, 1987 e. The Treaty of Maastricht (Treaty of European Union), 1992 f. The Treaty of Amsterdam, 1997

g. The Treaty of Nice, 2000

34

www.eu2005.lu

29

h. The Convention on the Future of Europe and the Treaty on the Accession of 10 Member States, 2003. 3. Uni Eropa merupakan organisasi regional di kawasan benua Eropa dan sistem keanggotaannya tertutup, dimana dalam penerimaannya diadakan

pembatasan-pembatasan tertentu yang merupakan syarat keanggotaan. Pembatasan-pembatasan itu meliputi dua hal. Pertama, kesamaan wilayah geografis yang berdekatan, yaitu sama-sama berada di wilayah benua Eropa. Kedua tentang status yang diberikan suatu negara kepada organisasi internasional yang dbentuk, dimana Uni Eropa berkedudukan diatas negaranegara anggotanya (supra nasional), karena negara-negara anggotanya dengan sukerela menyerahkan sebagian kedaulatannya untuk hal-hal tertentu dan khusus mengenai kepentingan bersama diantara mereka secara demokratis di tingkat Eropa. Sampai tahun 2004 keanggotaan Uni Eropa telah mencapai 25 negara anggota. 4. Sistem kelembagaan Uni Eropa didasarkan pada tujuan untuk melindungi kepentingan dan tanggung jawab bersama yang tercermin dalam

mekanisme pengambilan keputusan di Uni Eropa melalui lima lembaga utama yaitu: a. Komisi Eropa (European Commission), berkantor pusat di Brussels, Belgia; b. Dewan Uni Eropa (Council of the European Union), berkantor pusat di Brussels, Belgia; c. Parlemen Eropa (European Parliament), berkantor pusat di Brussels, Belgia; d. Mahkamah Eropa (Court of Justice), berkantor pusat di Luksemburg; e. Court of Auditors, berkantor pusat di Luksemburg. Selain kelima lembaga utama tersebut diatas, Uni Eropa juga mempunyai The European Council atau Dewan Eropa yang anggotanya terdiri dari kepala negara atau kepala pemerintahan negara-negara anggota yang tergabung dalam Uni Eropa.

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->