P. 1
Hikmah Shalat

Hikmah Shalat

|Views: 569|Likes:

More info:

Categories:Types, Brochures
Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Dec 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2012

pdf

text

original

HIKMAH SHALAT BAGI KESEHATAN ُ َ ّ َ ّ ‫ات ْل ما أوحي إ ِل َي ْك من ال ْك ِتاب وأ َقم ِ الصلةَ إ ِن الصلةَ ت َن ْهى عن‬ ِ َ ِ َ ّ َ َ ِ َ َ ُ َ ِ ِ َ ‫ال ْفحشاء وال

ْمن ْك َر ول َذك ْر الل ّه أ َك ْب َر والل ّه ي َعل َم ما ت َصن َعون‬ َ ُ ْ ِ َ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ ْ َ َ ُ ُ ِ َ ِ “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Seungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (Q.S. Al ‘Ankabut : 45) Dalam rangka membina kesehatan manusia. Islam membuat pedoman-pedoman secukupnya. Salah satunya adalah shalat lima waktu. Mungkin selama ini kita belum menyadari apa sesungguhnya hikmah dibalik gerakan shalat itu. Mengapa kita harus berdiri tegak dan lurus (bagi yang mampu), ruku’, i’tidal, sujud dan duduk (tahuyat) di dalam shalat? Tidakkah kita menyadari bahwa setiap gerakan itu mengandung unsur olah raga? Yang ternyata dapat menyehatkan jasmaniyah (tubuh) serta berefek positif terhadap kesehatan rohani (mental/jiwa) bagi yang melaksanakannya. Demikian menurut ahli. Prof. DR. H.A. Saboe dalam bukunya Hikamh Kesehatan dalam Shalat, 1986. Sedangkan ahli lain, Syekh Hakim Abu Abdullah Ghulam Hoiruddin dalam bukunya The Book of Sufi Healding (Kitab Al Timn Al Rauhii As Suufi), juga dalam versi Indonesia mengatakan bahwa shalat dikerjakan dalam delapan posisi yang masing-masing dapat memberikan efek positif terhadap siri seseorang. Dan ahli lain ada yang menyebutkan ada 12 atau lebih posisi dalam shalat. Posisi 1: Berdiri tegak, pandangan ke arah tempat sujud dan menghadap kiblat. Dengan posisi ini, tubuh merasa bebas dari beban, karena pembagian beban yang sama pada kedua kaki. Punggung lurus sehingga akan memperbaiki postur tubuh. Pandangan dipertajam

dengan memfokuskan pada tempat sujud. Otot-otot punggung bagian atas dan bawah dilemaskan, pusat otak bagian atas dan bawah dipadukan membentuk satu kesatuan tujuan. Posisi 2: Berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada. Dengan posisi ini dapat diperpanjang konsentrasi pengendoran kaki dan punggung. Membaca ayat-ayat Al Qur’an atau doa dapat merangsang penyebaran 99 Nama Tuhan (Asmaul Husna) ke seluruh tubuh, pikiran dan jiwa. Suara vokalnya akan merangsang jantung, kelenjer gondok (tyroid), kelenjer pineal, kelenjer bawah otak, kelenjer adrenal dan paruparu serta akan membersihkan dan mengeringkan semua organ tersebut. Juga dapat menciptakan sirkulasi darah, terutama aliran darah kembali ke jantung, serta produksi getah bening dan jaringan yang terkumpul dalam kantong-kantong kedua persendian itu menjadi lebih baik, gerakannya menjadi lancar dan dapat menghindarkan diri dari penyakit di persendian, misalnya reumatik. Posisi 3 :Ruku’Posisi ini dapat melonggarkan otototot punggung bawah, paha dan betis. Darah dipompa ke batang tubuh bagian atas. Juga dapat melonggarkan otototot perut, abdomen dan ginjal. Dengan ruku’ ternyata tulang punggung (vertebrae) dapat tetap berada dalam keadaan baik, karena persendian diantara badan-badan ruas tulang belakang (corpus vertebrae) tetap lembut dan lentur. Dapat memudahkan persalinan bagi wanita yang melahirkan. Selain itu, ruku’ dapat menciptakan konsentrasi secara serentak antara otot-otot pinggang, sehingga penyakit pembungkukan tulang punggung (scloise) yang sering dialami terutama oleh anak-anak karena sikap duduk yang salah saat menulis atau membaca dapat dihindarkan. Posisi 4: Bangkit dari ruku’ (I’tidal) Gerakan ini menyebabkan darah segar yang bergerak naik ke batang tubuh saat ruku’ akan kembali ke keadaan semula

dengan membawa toksin. Tubuh menjadi santai kembali dan melepaskan ketegangan. Posisi 5: Sujud Secara ilmiah sujud dapat menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat terutama otototot dada, sehingga terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh dada tidak kuat. Lutut yang membentuk sudut yang tepat memungkinkan otot perut berkembang dan dapat mencegah pembesaran di bagian tengah perut. Sujud juga menyebabkan 20 % oksigen yang ada pada tubuh akan mengalir ke otak, sehingga aliran darah dalam otak semakin lancar. Sujud dapat pula memperlancar aliran darah ke bagian atas tubuh terutama kepala (mata, hidung, dan telinga) serta paruparu yang memungkinkan toksin-toksin dibersihkan oleh darah. Ternyata sujud dapat mengurangi tekanan darah tinggi dan menambah elastisitas tulang. Pada saat sujud, semua otak akan berkontraksi, bukan saja otot menjadi besar dan kuat, tapi urat-urat darah sebagai pembuluh nadi (arteria), pembuluh darah balik (venae), serta uraturat getah bening akan terpijat atau terurut. Sehingga peredaran darah dan lympa akan lancar. Disamping itu membantu kelancaran kerja jantung dan menghindarkan pengerutan dinding-dinding pembuluh darah (arterioscelerosis). Gerakan sujud juga dapat mengahasilkan energi panas yang dibutuhkan oleh proses pencernaan makanan oleh tubuh. Satu hal lagi, bahwa adalah merupakan esensi dari ibadah shalat. Posisi 6: Duduk diantara dua sujud (tasyahud Awwal/Duduk iftirasy) Sikap ini dapat membantu menghilangkan efek racun pada hati dan merangsang gerakan paristaltik usus besar, serta akan membantu proses pencernaan dengan mendesak turun isi perut. Posisi 7: Sujud ke dua setelah duduk Iftirasy Pengulangan sujud yang lama dalam beberapa detik dapat membersihkan sistem pernafasan, peredaran darah dan saraf, juga penyebaran oksigen ke seluruh tubuh akan lebih lancar dan menciptakan keseimbangan sistem saraf simpatik dan para simpatik.

Posisi 8: Tasyahud Akhir/duduk Tawaruq Posisi ini hampir sama manfaatnya dengan dengan posisi 6 (duduk Iftirasy). Pada kedua sikap duduk ini, sebenarnya kita duduk dengan otot-otot pangkal paha. Dimana di dalamnya terdapat salah satu saraf pangkal paha yang besar yaitu di atas kedua tumit kita, tumit dilapisi oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal, sehingga tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha dan pijatan atau tekanan tersebut ternyata dapat menghindarkan atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang terasa sakit, nyeri dan sengal. Kesimpulannya, jika shalat kita kerjakan dengan sebenar-benarnya (sesuai gerakan dan syari’at), Insya Allah ia dapat melindungi, mencegah bahkan meyembuhkan dari sekumpulan penyakit ringan maupun berat.

Miras “Nabi SAW melaknat tentang khamr (minuman keras atau yang memabukkan) sepuluh golongan: 1) yang memerasnya, 2) yang minta diperaskan, 3) yang meminumnya, 4) yang membawanya, 5) yang minta diantarkan, 6) yang menuangkannya, 7) yang menjualnya, 8) yang makan hasil penjualannya, 9) yang

membelinya, 10) yang minta dibelikan. ” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah). Al Khamr secara bahasa berarti tertutup. Khamarahu berarti satarahu (menutupinya). Dari sinilah diambil kata khimar yang berarti kerudung (penutup kepala) dan kata khamr yang berarti minuman kears (miras). Disebut demikian karena orang yang mengkonsumsi khamr akan menyebabkan akalnya tertutup sehingga tidak bisa mengingat apa-apa alias mabuk. Lebih khusus lagi Rasulullah SAW memandang khamr (miras) bukan dari segi bahan yang dipakai untuk membuat khamr (miras), tetapi memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan. Oleh karenanya miras (minuman keras), apapun merk dan nama yang dipergunakan oleh manusia dapat dihukumi haram. Khamr yang didefenisikan oleh Raslullah SAW adalah sesuatu yang memabukkan yang dapat mengakibatkan hilngnya akal. Padahal akal adalah organ yang berfungsi mengontrol dan mengembalikan gerak gerik seluruh anggota tubuh. Dan hokum Islam juga menegaskan bahwa meminum khamr baik sedikit apalagi banyak maka hukumnya adalah haram. Rasulullah SAW bersabda: “Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan. Maka sedikitnyapun adalah haram.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi) Karena itu tidaklah mengherankan kalau Islam memandang khamr sebagai ummul khabaits (sumber segala perbuatan keji) dan miftahu kulli syarrin (kunci segala kemaksiatan). Sebab, jika akal seseorang sudah tertutup oleh pengaruh khamr, ia akan bertindak di luar kontrol. Tindak kejahatan apa saja bisa ia lakukan, seperti perkelahian yang tidak jarang berakhir dengan pembunuhan dan kejahatan lainnya yang dapat mengganggu ketentraman serta meresahkan masyarakat dan lingkungan.

Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjauhi (mengharamkan) khamr. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 90-91 “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan merupakan perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu memperoleh keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran khamr dan berjudi itu, dan hendak menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu.” Dari di atas tentang khamr : dapat diambil kesimpulan singkat

1. Khamr (miras) adalah rijsun, sesuatu yang keji dan kotor (najis). 2. Khamr (miras) adalah perbuatan syetan. 3. Khamr (miras) senantiasa menyeret kepada tindak kejahatan, permusuhan, dan kebencian di antara manusia. 4. Khamr (miras) penghalang manusia untuk berbuat baik, berzikir kepada Allah dan menghalangi manusia untuk mendirikan shalat. 5. Khamr (miras) dalam segala bentuk dan kadarnya adalah haram, maka Allah memerintahkan manusia untuk menjauhinya. Sebelum ayat Al Qur’an surat Al Maidah: 90-91 itu turun, masyarakat Arab sudah terbiasa meminum khamr, bahkan khamr termasuk bagian hidup mereka, termasuk para shahabat. Namun, setelah Allah mengharamkan khamr melalui firman-Nya di atas (Q.S Al Maidah: 90-91) mereka langsung meninggalkannya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr, maka barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan masih mempunyai khamr walaupun sedikit, maka jangan diminum dan jangan dijual.” (HR. Muslim)

Rawi hadits ini menjelaskan, bahwa para sahabat kemudian secara serentak menumpahkan semua minuman keras yang ada di rumah mereka. Menurut para ahli sejarah, beberapa saat setelah turunnya ayat yang mengharamkan khamr, saat itu kota Madinah ‘banjir’ digenangi air khamr yang ditumpahkan kaum muslimin sambil berseru, “Intahaina ya Allah!” (Kami telah menjauhinya, ya Allah!). Sahabat Ali bin Abi thalib r.a bahkan sempat berkata, “Seandainya ada satu tetes khamr (minuman keras) jatuh ke laut, kemudian laut itu kering, lalu tumbuh sebatang pohon yang buahnya bisa dimakan, maka andai saja lidahku telah kering kehausan dan perutku menjerit kelaparan, niscaya aku tidak akan mendekatinya.” Sikap tegas seperti ini ditunjukkan juga oleh sahabat Umar bin Khatab r.a di hadapan orang banyak ia berseru, “Demi Allah! Seandainya setetes khamr jatuh ke tanganku, niscaya akan kupotong tanganku ini dan kulepaskan dari tubuhku.” Mereka juga mencegat dan melakukan ‘razia’ orangorang yang masih menyimpan atau menjual khamr. Kemudian khamr-khamr itu mereka tumpahkan ke tanah atau mereka buang ke selokan air. Para sahabat melakukan gerakan pembasmian khamr dikarenakan Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengharamkannya, dan juga melihat bahaya yang dapat ditimbulkan oleh khamr tersebut (khususnya bagi peminumnya). Yaitu timbulnya beragam macam kejahatan dan kemaksiatan yang sangat merugikan manusia, baik yang mengkonsumsinya maupun orang lain. Disamping itu para sahabat sangat meyakini bahwa Allah tidak akan melarang sesuatu, kalau tidak ada mudharat di dalamnya. “Sesungguhnya Allah tidak pernah menzalimi manusia, manusia sendiri yang menzalimi dirinya.” Dalam kajian syari’at Islam sangat dikenal bahwa diterapkannya syari’at oleh Allah SWT bagi manusia memiliki tujuan (maqashid syari’ah) yang sangat berarti bagi manusia, diantaranya ialah memelihara akal, yaitu

dengan mengharamkan seluruh apa yang mengganggu atau menghilangkan akal itu. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa MIRAS (minuman keras), apapun bentuk, nama maupun merknya maka hukum mengkonsumsinya adalah haram. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abu Malik Al Asy’ari, Sesungguhnya dia (Abu Malik Al Asy’ari)telah mendengar Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia dari ummatku akan meminum khamr dan mereka akan menyebutnya dengan selain namanya (selain khamr).”

Tiada Maaf Bagimu “ Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling mulia ? Yaitu, menyambung silaturrahmi dengan orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang tidak mau dan tidak pernah memberimu, memaafkan orang yang pernah menzalimi dan menganiayamu. ” (HR. Al Hakim) Pemaaf adalah sikap yang suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan dendam di hati. Sifat pemaaf adalah salah satu manifestasi dari ketaqwaan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

َ ‫وسارعوا إ ِلى مغفرة من رب ّك ُم وجن ّة عرضها الس عموات وال َرض أ ُع عدّت‬ ُ ِ َ َ ِ ُ ْ ْ َ ُ َ َ ّ ْ َ ُ ْ َ ٍ َ َ ْ َ ْ ِ ٍ َ ِ ْ َ َ ‫َ يع‬ َ َ ِ ّ ّ ‫ل ِل ْمت ّقين )331( ال ّذين ي ُن ْفقون في السراء والضراء وال ْكاظِمين ال ْغ ْ عظ‬ ِ َ ُ ِ ِ ُ َ ِ َ ِ َ ِ ّ ّ (134) ‫وال ْعافين عن الناس والل ّه ي ُحب ال ْمحسنين‬ ّ ّ ِ ُ َ ِ ِ ْ ُ َ ِ ِ َ َ ِ َ َ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuata kebajikan.” (Q.S. Ali Imran: 133-134) Islam mengajarkan kepada kita untuk bersikap pemaaf dan suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa menunggu permohonan maaf dari orang yang berbuat salah kepada kita. Karenanya, menurut para ulama tidak ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan untuk meminta maaf, tetapi yang ada ialah perintah untuk memberi maaf. Adakalanya seseorang berbuat salah dan menyadari kesalahannya serta berniat untuk meminta maaf, namun ia terhalang oleh hambatan psikologis untuk menyampaikan permintaan maaf. Apalagi jika orang itu merasa status sosialnya lebih tinggi dari orang yang akan dimintainya maaf. Misalnya, seorang pemimpin kepada orang yang ia pimpin, orang tua kepada anaknya, atau yang lebih tua kepada yang lebih muda. Barangkali, itulah salah satu hikmah kenapa Allah memerintahkan kita untuk memberi maaf sebelum dimintai maaf. Memberi maaf haruslah disertai dengan ketulusan hati dan berlapang dada. Sehingga tak ada tersisa rasa dendam atau keinginan untuk membalasnya. Allah berfirman dalam surat An Nuur ayat 22. Berlapang dada dalam bahasa Arab disebut ash shafhu secara etimologis berarti lapang. Halaman pada buku dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini ash shafhu dapat diartikan

kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahah, karena melakukannya berarti perlambang kelapangan dada. Diibaratkan kita adalah dalam menulis di sebuah lembaran kertas, dan kesalahan itu kita hapus dengan alat penghapus. Serapi apapun kita menghapusnya, tentu akan meninggalkan bekas, bahkan barangkali kertas tersebut menjadi kusut. Karena itu, supaya lebih bersih dan lebih rapi, maka kertas yang terdapat kesalahan tulis padanya diganti saja dengan kertas lembaran yang baru. Memaafkan diibaratkan menghapus kesalahan pada kertas, sedangkan berlapang dada diibaratkan mengganti lembaran kertas yang salah dengan lembaran yang baru. Rasulullah SAW pemilik akhlak yang paling mulia, dengan keagungan akhlaknya telah memberikan suri tauladan kepada umatnya. Diantaranya sikap pemaaf. Diantara sikap pemaafnya dapat kita simak dalam kisah berkut ini. Dalam peperangan Khaibar, Zainab binti Al Haris istri Salam bin Miskan, salah seorang pemuka Yahudi, memberikan hadiah kambing bakar yang telah matang kepada Rasulullah SAW. Zainab bertanya kepada Rasulullah tentang anggota badan kambing yang disukai beliau, lalu ada yang menjelaskan kepadanya bahwa yang disenangi Rasulullah adalah paha kambing. Kemudian Zainab memberi racun sebanyak-banyaknya pada paha kambing dan menghidangkannya kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengambil sedikit daging paha kambing tersebut dan mengunyahnya, tetapi tidak menyukai rasanya. Bisyar Al Barra’ bin Ma’ruf yang saat itu bersama Rasulullah ikut menyantap daging paha kambing tersebut. Rasulullah SAW memuntahkan kembali daging kambing yang beliau kunyah, kemudian berkata: “Sesungguhnya tulang ini memberi tahu kepadaku bahwa dia diberi racun.” Lalu Zainab dipanggil dan ditanya tentang hal tersebut, dan diapun mengakuti perbuatannya. Rasulullah SAW bertanya kepada Zainab tentang perbuatannya itu. Zainab menjawab, “ Karena

engkau telah menaklukkan kaumku, sebagaimana engkau ketahui, lantas terlintas di hatiku untuk mengujimu dengan racun itu. Jikalau Muhammad seorang raja, maka aku akan aman dari tindakannya (mati lantaran memakan daging paha kambing yang telah diberi racun), dan jikalau dia memang seorang nabi, tentu ia akan diberitahu (tentang daging yang beracun itu). ” Lalu Zainab dimaafkan oleh Rasulullah, sedangkan Basyar al Barra’ yang telah memakannya, meninggal seketika. Sebenarnya pengakuan Zainab hanya dusta belaka. Sesungguhnya ia benar-benar berniat untuk berbuat jahat terhadap Rasulullah SAW. Walaupun demikian, niat jahatnya itu telah diampuni oleh Rasulullah berka tsifat pemaafnya dan kelapangan dadanya. Kisah di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah tentang keluhuran budi pekerti dan akhlakul karimah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Betapapun besarnya kezaliman yang dilakukan atas diri beliau, tiada sedikitpun beliau menaruh benci apalagi dendam untuk membalasnya. Bahkan pintu maaf selalu beliau buka dengan lebar bagi siapa saja yang bermaksud atau berlaku jahat dan menganiaya beliau. Tak ada kata “Tak ada maaf bagimu” bagi Rasulullah SAW. Adalah hal yang perlu kita sadari, bahwa di dunia ini rasanya tidak seorang pun yang tidak pernah berbuat kesalahan. Karena itu, hal yang terbaik bagi setiap diri adalah menyadari akan kesalahan yang pernah diperbuat, kemudian bersegera untuk memohon maaf atas kesalahannya. Jika kesalahan itu terhadap Allah SWT, maka bersegeralah minta ampun-Nya. Dan jika kesalahan itu terhadap sesama manusia, maka bersegeralah memintakan maaf kepadanya. Dan yang paling utama adalah jika ada yang pernah berbuat kesalahan terhadap diri kita, maka maafkanlah kesalahannya, walau orang yang berbuat kesalahan itu tidak pernah memohon maaf dari kita. Karena ketahuilah, bahwa dengan begitu rahmat Allah akan senantiasa meliputi kita. Allahu A’lam

Peliharalah Pandangan Mata

ُ َ ْ َ ْ ِ ِ َ َ ْ َ ْ ُ ‫قل ل ِل ْمؤمنين ي َغضوا من أ َب ْصارهم وي َحفظوا فروجهم ذَل ِك أ َزكى ل َهم‬ ّ ُ َ ِ ِ ْ ُ ْ ِ ْ ُ ْ ُ َ ُ ُ ْ ُ َ ‫إ ِن الل ّه خبير ب ِما ي َصن َعون )03( وقل ل ِل ْمؤمنات ي َغضضن من أ َب ْصارهن‬ َ ُ ْ ّ ّ ِ ِ َ ْ ِ َ ْ ُ ْ ِ َ ِ ْ ُ َ ٌ ِ َ َ َ ْ َ (31) ... ‫وي َحفظْن فروجهن‬ ّ ُ َ ُ ُ َ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “ Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya ; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, “ Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluanya. ”(S.Q. An Nuur: 30-31) Pandangan mata seringkali menjadi pangkal timbulnya fitnah dan dosa. Maka dari itu, pandangan mata harus dipelihara dan dikendalikan. Ayat di atas mengandung dua makna sebagai berikut: Pertama: Mengandung Pendidikan Islam mengajarkan kepada umatnya agar menahan pandangannya (Ghadhdhul Basyr) dari perkara yang diharamkan Allah. Jika terpandang dengan tidak sengaja kepada sesuatu yang mengundang hawa nafsu dan hal yang diharamkan, maka pandangan haruslah segera dipalingkan. Hal ini sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahalabat Radhiyallahu ‘Anhum. Dalam hasits yang diriwayatkan Muslim, dari Jabir ‘Abad al Bajili r.a ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi SAW soal memandang (sesuatu yang diharamkan) tanpa disengaja (tiba-tiba), beliau menyuruhku memalingkan pandangan. (HR.Muslim) Diriwayatkan dari Buraidah, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a: “Hai Ali, janganlah pandangan pertama diikuti oleh pandangan yang kedua. Sesungguhnya pandangan yang pertama dibolehkan (untukmu). Sedangkan pandangan yang selanjutnya tidak lagi untukmu. (HR. Abu Daud) Kedua: Mengandung Peringatan

Allah memperingatkan kepada laki-laki mukmin agar memelihara pandangan dari yang diharamkan Allah. Hal ini disamping bimbingan juga peringatan yang harus dihindarinya, agar mereka mereka terselamatkan dari fitnah yang senantiasa mengintai di balik pandangan yang liar. Nabi Isa a.s pernah berkata, “Janganlah engkau melihat sesuatu yang tidak baik. Sebab, penglihatan itu akan membangkitkan syahwat di hatimu, dan mengundang fitnah bagi pelakunya.” Seorang ulama sufi, Dzunun, mengatakan, “Penahanan syahwat yang paling ampuh adalah memelihara pandangan dari segala yang tidak perlu.” Telah jelas bagi kita bahwa memalingkan pandangan, atau tidak menyaksikan sesuatu yang tidak bermanfaat, niscaya akan menjadikan hati selalu bersih, bebas dari keragu-raguan dan terhindar dari penyakti hati. Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tampak nyata dan apa yang tersembunyi bahkan akan terbersit dalam hati seseorang. Begitu pula halnya dengan pandangan, baik yang disengaja atau tidak disengaja, atau pandangan mata yang khianat, niscaya Allah Mengetahuinya. Allah berfirman dalam surat Al Mukmin ayat 19. Yang pasti, mata dan semua anggota tubuh manusia kelak akan dimintakan pertanggung-jawabannya di yaumil mahsyar. Allah SWT berfirman dalam surat Al Israa’: 36. Dalam kitab Tibbun Nabawy Imam Ibnu Qayyin menyebutkan faedah-faedah dalam menjaga mata dan pandangannya. Kesimpulannya sebagai berikut: 1. Dengan menundukkan pandangan, berarti seorang hamba telah menjalankan perintah Allah. Yang mana hal itu merupakan kebahagiaan bagi setiap hamba di dunia dan akhirat. 2. Menundukkan pandangan dapat menghindarkan dan membentengi seseorang dari serangan racun

kehidupan yang kehidupannya.

mematikan

dan

menghancurkan

3. Menundukkan pandangan dapat mengantarkan seseorang merasa selalu dekat atau merasa selalu dalam pengawasan Allah. 4. Menundukkan pandangan akan menguatkan hati dan melapangkannya. 5. Menundukkan pandangan membuat bagaikan pelita di malam yang gulita. hati bercahaya

6. Menundukkan pandangan akan melahirkan firasat yang tajam. Sehingga hak dan batil tampak jelas perbedaannya dalam pandangannya. 7. Menundukkan pandangan mata akan melahirkan keteguhan hati (istiqamah), optimisme dan keberanian (syaja’ah). 8. Menundukkan pandangan mata akan menutup rapat celah-celah hati yang dapat dimasuki oleh syetan untuk menggodanya, melakukan kemaksiatan dan segala bentuk dosa. 9. Menundukkan pandangan akan menjadikan hati mampu berkonsentrasi kepada sesuatu yang dapat membawa kemaslahatan bagi pelakunya. 10. Menundukkan pandangan berarti menundukkan hati agar senantiasa bertafakkur dan berzikir, mencermati ciptaan Allah dengan cerdas. Sehingga mata benarbenar berfungsi sebagaimana yang dimaksudkan Allah dalam penciptaannya. Yaitu alat bagi manusia untuk beriqra’, menbaca tanda-tanda kekuasaan Allah, memikirkan dan kemudian menyikapinya. Semua ini tak pelak lagi berawal dari pandangan dan kesaksian mata. Inilah yang mungkin dikenal dengan istilah ‘ketajaman mata hati’. 11. Sesungguhnya antara mata dan hati memiliki hubungan yang sangat erat dan integral. Yang kesibukkan salah satunya akan mengakibatkan kesibukan lainnya. Baik buruknya pendangan mata

sangat tergantung kepada bersih atau kotornya hati. Demikian pula sebaliknya. Hati akan terpelihara kesuciannya apabila mata terpelihara atau mengarahkan pandangannya hanya kepada hal-hal yang baik. Karena itu peliharalah dua ‘aset’ termahal manusia ini, yakni mata dan hati. Ketahuilah Buta mata tiada mengapa semuanya binasa! Allahu A’lam bissawab. Buta hati

Mengapa Musibah Itu Datang َ َ َ َ َ ِ ْ ُ ‫قل ل َن ي ُصيب َنا إل ّ ما ك َت َب الل ّه ل َنا هو مول َنا وعلى الل ّه فل ْي َت َوك ّل‬ َ ِ َ ْ َ َ ُ َ ُ َ ِ َ ‫ال ْمؤمنون‬ َ ُ ِ ْ ُ “ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (Q.S. At Taubah: 51) Musibah merupakan ujian yang datang dari Allah SWT, yang pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan kedatangannya, baik ujian kehilangan harta benda, kecelakaan, maupun kematian, baik ujian itu besar maupun kecil. Meskipun demikian, ujian itu tetap datang kepda setiap manusia, kapan saja dan dimana saja. Walaupun manusia lari dari musibah itu, iapun tetap datang menghampirinya. Setiap musibah, bila ditinjau dari takdir Allah memang terjadi atas izin dan ketentuan Allah. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah itu dapt terjadi. Bila dilihat dari sisi kemanusiaan serta dari segi hukum kausalitas (sebab akibat), ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan Allah SWT mendatangkan musibah kepada makhluknya. Pertama, karena kurang bersedekah atau tidak mau bersedekah sama sekali. Ia terlalu cinta dan sayang terhadap hartanya, sehingga ia takut hartanya habis jika ia bersedekah. Sehingga ia menjadi manusia kikir. Bila dipandang sepintas lalu, bersedekah kepada orang lain itu memang mengurangi harta kekayaan, tetapi jika dipandang lebih jauh lagi, sedekah itu justru membawa keberkahan, menambah kekayaan lebih banyak dan menyebabkab seseorang terhindar dari musibah.

Ini dikarenakan seseorang yang senang bersedekah itu akan dicintai, dibela dan juga didukung usahanya oleh masyarakat. Sebaliknya seseorang yang kikir, enggan bersedekah baik dengan hartanya maupun dengan jiwanya untuk kepentingan ummat, menyebabkan ia dibenci, dijauhi, serta didoakan jelek oleh masyarakat. Dengan demikian, maka kekikiran (kebakhilan) membuka jalan bagi datangnya musibah. Berkaitan dengan bersedekah, Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani) Allah SWT berfirman: “Apasaja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39) Kedua, yang mendatangkan musibah ialah kurangnya bersilaturrahmi; menyambung tali persaudaraan. Silaturrahmi merupakan amal yang diwajibkan dalam ajaran Islam. Karenanya, hal itu harus masuk ke dalam agenda hidup kita. Ini dikarenakan silaturrahmi itu akan menumbuhkan kasih sayang yang mendalam diantara ummat. Dengan kasih sayang itulah persaudaraan dan persatuan dapat dibina, kedengkian dan kebencian dapat diobati, serta segala macam bencana dapat dihindari dan diatasi. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hubungkanlah tali silaturrahmi (persaudaraan).” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketiga, penyebab terjadinya suatu musibah ialah karena melupakan Allah dan lalai atas segala perintah-perintahNya. Seseorang yang melupakan Allah dan perintah-Nya, cepat maupun lambat suatu saat musibah akan datang kepadanya. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada

mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44) Keempat, yang menyebabkan terjadinya bencana adalah karena berbuat kerusakan, seperti penebangan liar hutan dan lain-lain. Yang pada akhirnya akan berdampak negatif bagi manusia, seperti banjur, tanah lonsor dll. Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 14 Dr. Yusuf Al Qardhawy dalam buku kumpulan khutbahnya membagi manusia dalam beberapa golongan dalam menghadapi musibah: Pertama: Golongan yang mengetahui Allah meletakkan tangannya di atas tangan Allah. Berjalan lurus meniti jalan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, mengetahui bahwa yang terbaik adalah mengikuti jalan Allah dan jejak Rasulullah SAW. Golongan ini yang merasa bahwa dialah yang selalu membutuhkan Allah di setiap saat. Tatkala suka dan duka, tatkala miskin dan kaya, lapang dan sempit, bahkan disetiap keadaan ia senantiasa bersama Allah, karena ia mengetahui tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan izin Allah SWT. Kedua: Golongan yang tatkala sehat, senang dan lapang melupakan Allah, namun jika datang kesulitan dan dikepung cobaan, maka ketika itu dia kembali kepada Allah. Dia sadar bahwa cobaan itu datang untuk mengembalikannya kepada Allah dengan cara yang terbaik, agar dia berdiri di hadapan-Nya memasrahkan diri dan bertaubat dengan taubat yang semurnnimurninya. Ketiga: Golongan yang melupakan Allah SWT tatkala senang dan mengingatnya tatkala susah. Namun bila kesusahan telah berlalu ia kembali dalam kesesatan dan melupakan apa yang pernah dilakukannya sebelum itu. Ini merupakan keadaan orang-orang yang musyrik yang telah dijelaskan Allah dalam kitab-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 22.

Keempat : Ada satu golongan yang paling buruk, yaitu orang-orang yang hatinya mengeras sehingga seperti batu atau bahkan lebih keras lagi. Bencana dan musibah datang kepadanya namun ia tidak mau berkata, “ Wahai Rabb-ku ! ” Mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari musibah yang ditimpakan kepada mereka. Musibah yang datang kepada kita bisa berupa teguran atau azab dari Allah, untuk menyadarkan manusia akan kelalaiannya. Marilah kita senantiasa hindari semua musibah dengan mendekatkan diri dan taat kepada Allah SWT. Allahu a’lam bissawab

Isu atau Fitnah ” Wahai orang-orang yang hanya Islam dengan lidahnya, sementara keimanan belum masuk ke dalam hatinya ; janganlah kalian menyakiti kaum muslimin dan mencelanya, dan jangan pula kalian mencari-cari kesalahannya, karena orang yang mencari-cari kesalahan saudaranya yang muslim niscaya Allah akan membukka auratnya, dan jika seseorang telah dibuka auratnya oleh Allah niscaya Allah akan membuatnya malu dan terbuka auratnya meskipun di rumahnya sendiri. ” (HR. At Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu Umar r.a) Melihat kondisi masyarakat Islam sekarang terkhusus di Tanah Air yang kita cintai ini, kita turut prihatin. Cobaan dari Allah seakan tidak pernah habis, musibah demi musibah datang silih berganti seperti pergantian musim. Penyakit merebak dimana-mana, baik penyakit fisik atau jasmani, penyakit hati ataupun ruhani. Namun demikian dari penyakit yang ada, bila kita lihat secara seksama maka kita akan berkesimpulan bahwa penyakit hati jauh akan lebih berbahaya. Kenapa demikian? Karena bila seorang muslim ditimpa penyakit fisik, hal ini bisa jadi akan mengantarkannya menuju kebahagiaan akhirat, selama ia sabar menghadapinya. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tidak ada seorang muslimpun yang ditimpa gangguan semacam tusukan

duri atau yang lebih berat dari padanya melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagai mana pohon kayu menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Namun sebaliknya, lain hal dengan orang yang ditimpa penyakit hati, seperti hasud, dengki, suka mengumpat, sombong, ria, suka menfitnah dan lain sebagainya, apalagi yang sudah kronis, penyakit ini akan menjerusmuskan penderitanya ke dalam neraka atau menuai siksaan Allah di akhirat kelak. Na’uzubillah min zalik! Pada surat Al Hujarat ayat memperingatkan dalam firman-Nya: 12 Allah SWT

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari berburuksangka, sesungguhnya sebagian dari berburuk sangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan bangkai saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik karenanya.” Salah satu penyakit hati yang sedang menyebar di kalangan masyarakat sekarang ini adalah menfitnah atau suka menuduh seseorang yang bukan-bukan akibat dari berburuk sangka. Hal ini terjadi karena isu-isu (istilah sekarang gosip) yang tidak benar menyebar, yang terlalu cepat kita percayai dan kita telan mentah-mentah tanpa mengunyah atau chek dan re-chek atau tabayun. Padahal itu bisa dihindari kalau kita mau mengaplikasikan ajaran Allah, seperti yang telah Allah ingatkan di dalam firman-Nya dalams surat Al hujarat dan 6. surat An Nuur ayat 13. Kedua ayat di atas menunjukkan dengan jelas kepada kita agar jangan terlalu cepat menerima setiap berita tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu dan tidak terlalu mudah menuduh orang tanpa bukti dan saksi yang

dapat dipercaya. Serta peringatan kepada si pembawa berita agar menyadari bahwa kebiasaannya menyebarkan berita-berita bohong itu bisa mengubahnya menjadi seorang pendusta. Menurut asbaabun nuzulnya ayat 13 dari surat An Nur di atas diturunkan atas peristiwa fisik atau ifki yaitu peristiwa yang khusus yang menyangkut nash yang umum. Peristiwa ini menyangkut Siti Aisyah r.a putri Abu Bakar as Siddiq r.a ddan juga istri Rasulullah SAW, yang dikaitkan sahabat dengan sahabat Safwan bin Mu’athal. Peristiwa semacam itu sangat mungkin terjadi berulang pada setiap generasi, dan mungkin saja menghasilkan efek yang serupa baik yang berkenaan dengan seorang pemimpin atau pemuka masyarakat. Disini terlihat saat dua pihak atau kubu saling bermusuhan, dimana salalh satu menyadari bahwa mereka tidak mungkin menang dalam konfrontasi langsung, disitu akan terbuka peluang untuk menggunakan teror mental untuk menghancurkan pihak lainnya. Cara ini tidak kesatria, pengecut tapi seringkali ampuh hasilnya. Dan sepertinya bila kita melihat dengan mata batin kita, hal ini juga sedang terjadi sekarang pada pemimpin kaum muslimin, di seantero jagat ini. Dalam peristiwa ifki, berita ini dibesar-besarkan oleh kelompok munafiqun yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul (berasal dari seorang Yahudi). Mulanya fitnah itu tidak mempengaruhi para sahabat, tetapi begitu berita bohong itu menyentuh kaum muslimin Madinah yang awam langsung menjalar dengan cepat bagaikan api yang membakar daun ilalang yang kering. Oleh sebab itu ada beberapa hal yang menjadi pegangan kita yang merupakan pendidikan dari Rasulullah SAW yang dapat kita lakukan ketika menghadapi isu atau fitnah: 1. Menjauhkan diri kita dari semua kecurigaan dan prasangka yang tidak beralasan. 2. Sebaiknya kita tidak menghiraukan segala macam isu yang tidak ada dasar.

3. Membiarkan hokum bicara terhadap penyebar luasan fitnah-fitnah itu. 4. Janganlah kita memperturutkan hawa nafsu dengan membesar-besarkan suatu kabar burung apalagi ambil bagian dalam menyebarkannya. 5. Kemudian dalam menghadapai suatu fitnah keji, cara yang terbaik janganlah kita membalasnya dengan fitnah baru. Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah r.a dalam menghadapai cobaan fitnah berucap: “Kesabaran itu adalah indah dan Allah SWT sajalah yang akan menangani apa yang kalian katakan itu…” Inilah sikap mulia beliau. Dan ini adalah adab Islam yang agung dalam menghadapi atau memperlakukan orang-orang yang menyebarluaskan fitnah terhadapnya. Perlu kita camkan dan kita renungkan bahwa fitnah dan berita-berita bohong itu mudah dinyalakan dalam hati manusia manakala iman dan pemersatu kita lemah, karena kita tidak menghadapi musuh yang nyata”. Iblis laknatullah dan bala tentranya dari jin dan manusia terus menyebarluaskan virus-virus penyakit hati untuk menjerumuskan kita, maka hendaklah kita selalu waspada, membentengi diri dengan iman dan taqwa. Sesuai dengna firman Allah SWT dalam surat An Naas ayat 1-6.

Jadikan Syetan Musuh Abadi ُ ُ ‫ياأ َي ّها الناس ك ُلوا مما في ال َرض حلل طَي ّبا ول ت َت ّب ِعوا خطُوات‬ ُ ِ ّ ِ ّ ِ َ ُ َ ِ ْ َ َ َ ً ّ ‫الشي ْطان إ ِن ّه ل َك ُم عدُو مبين)861(إ ِن ّما ي َأ ْمرك ُم بالسوء وال ْفحشاء وأ َن‬ ْ َ ِ َ ْ َ َ ِ ّ ٌ ِ ُ ّ َ ْ َ ُ ِ ْ ُ ُ ِ َ َ َ ُ ُ (169)‫ت َقولوا على الل ّه ما ل ت َعل َمون‬ َ ُ ْ َ ِ “ Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan. Karena, sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya syetan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan

kepada Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (Q.S. Al Baqarah: 168-169) Secara universal, manusia adalah makhluk Allah yang memiliki eksistesi keinsanan dan kemakhlukan yang paling bagus, mulia, pandai dan cerdas, mendapatkan kepercayaan sebagai khalifah di bumi yang mengemban amanat, serta memperoleh kasih saying Allah yang sempurna. Sedangkan secara spesifik, manusia yang telah mencapai tingkat keimanan dan ketaqwaan yang tinggi dan sempurna maka akanmendapt derajat martabat kemuliaan yang tiada tara di sisi Rabb mereka. Mereka itulah pada nabidan rasul Allah, auliyaullah, shiddiqin, ‘abidin, ‘arifin, shalihin, muhsinin, mukminin, muslimin dan sebagainya. Oleh karena itu syetan dan iblis, mereka tidak senang kepada manusia yang ingin mengembangkan, meningkatkan dan memperdayakan esensi, potensi keinsanannya. Sejak awal diciptakannya manusia, iblis dan syetan memendam kebencian kepada manusia. Mereka menganggap manusia sebagai biang keladi terusirnya mereka dari sorga, lantaran para iblis itu enggan (gensi karena kesombongannya) untuk sujud di hadapan Adam sebagai tanda penghormatan atas penciptaannya. Kemudian bapak manusia Adam a.s telah mereka perdayakan dengan jurus rayuan dan jebakannya, sehingga Allah memerintahkan Adam dan istrinya Hawa untuk turun ke bumi untuk memakmurkannya sesuai dengan yang dikisahkan dalam al Qur’an surat Al A’raf ayat 12-17. Karena itu, dengan berbagai cara iblis dan syetan terus mencoba untuk menghancurkan eksistensi Ilahiyah manusia di dunia hingga dunia berakhir. Aktifitas syetan dan iblis dalam batin manusia ibarat aktifitas virus yang ada dalam tubuh. Di saat stamina tubuh mengalami penurunan, saat itulah virus akan menyerang secara jitu sehingga dengan satu gebrakan saja tubuh akan lemah, sakit dan lumpuh bahkan bisa merenggut nyawa manusia.

Begitu pula ibaratnya syetan dan iblis. Mereka akan selalu mengintai dan menanti-nanti waktu dan saat-saat yang tepat untuk melumpuhkan potensi-potensi Ilahiyah yang ada dalam diri manusia, yaitu ketika mental lemah, spritual goyah, iman menurun dan moral rusak. Dedy Suardi dalam bukunya Sang Kreator Agung mengutip penuturan Sayid Abdullah Husen mengatakan bahwa iblis setali tiga uang dengan syetan. Apabila kejahatan makhluk terbatas mengenai diri sendiri, ia disebut iblis. Dan apabila kejahatannya menyangkut orang lain, ia disebut syetan. Iblis artinya sombong dan syetan artinya menggoda. Kata iblis berasal dari kata balasa yang berarti putus asa. Dan kata syetan berasal dari kata syathana yang berarti merenggang atau menjauh. Jadi, makhluk yang sama ini memakai dua sebutan, ia disebut iblis karena putus asa akan rahmat Allah dan ia disebut syetan karena menggoda manusia supaya mengerjakan hal-hal yang menjauhkan mereka dari rahmat Allah. Oleh karena itu, iblis berarti keinginan rendah yang menjauhkan manusia dari sujud kepada Allah dan dari memperoleh rahmat-Nya. Sedangkan syetan berarti penghasut keinginan rendah untuk menyelewengkan manusia dari jalan yang benar. Menurut Muhammad Isa Dawud (pengarang buku Dialog dengan Jin Muslim), diantaranya bahaya yang akan menimpa manusia ialah apabila manusia membuka pintu masuknya syetan, sehingga syetan leluasa menggoda dan menguasai dirinya. Pintu masuknya syetan diantaranya adalah dengan cara: 1. An Nazgh (godaan), yakni was-was yang berbahaya, yang kadangkala mengantarkan orang kepada keraguan dan kerusakan aqidah. Allah berfirman dalam surat Al A’raf ayat 200. 2. Al Hamaz (bisikan syetan), yakni penguasaan syetan atas diri manusia dengan membuat manusia tidak sadarakan dirinya (tak tahu diri). Rasulullah SAW selalu

memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Allah berfirman dalam surat Al Mukminum ayat 97-98. 3. Al ‘Uzz (hasutan), karena itu janganlah kita menganggap bahwa kekafiran itu tidak ada syetannya! Allah SWT berfirman dalam surat Maryam ayat 83-84. 4. Al istihwaa’ (menyesatkan) yakni pengaruh syetan dalam diri manusia yang mendorong manusia memperturutkan nafsu syahwatnya. Allah SWT berfirman dalam surat Al An’am ayat 71. 5. Zienah (memandang baik perbuatan buruk). Syetan berusaha memperlihatkan kebatilan sebagai sesuatu yang indah, kejahatan dan dosa sebagai sesuatu yang menarik untuk dikerjakan. 6. An Nafkh wan Nafts (tiupan dan hembusan), An Nafkh yakni takabbur dan pongah, serta menyombongkan diri terhadap makhluk-makhluk Allah lainnya, sedangkan An Nafts berarti syair yang buruk, perkataan yang keji dan ucapan yang kotor. Ummu Salamah meriwayatkan: “Apabila Rasulullah SAW bangun malam, beliau selalu berdoa, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan terkutuk, dari bisikan, hembusan dan tiupannya.” Syetan sangat suka turun kepada para pendusta dan pendosa untuk membuat suatu tipu daya dengan godaannya yang mematikan. Allah berfirman surat Asy Syu’ara: 21-22. Syetan tidak pernah mampu menggoda orang-orang yang bertaqwa yang senantiasa melanggengkan zikir (dawamiz zikri), ingat akan Allah SWT. Karena itu, hanya dengan ketaqwaan dan terus berzikir serta berlindung kepada Allah kita akan terhindar dari godaan syetan yang terkutuk. Allah SWT berfirman surat Al A’raf ayat 201. Sadarilah! Syetan adalah musuh yang abadi yang nyata bagi manusia. “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya

mengajak golongannya supaya mereka menjadi neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Fathir:6)

Ingin Taubat… ? Jangan Ditunda-Tunda َ ‫ياأ َي ّها ال ّذين ءامنوا توبوا إ ِلى الل ّه ت َوب َة ن َصوحا عسى رب ّك ُم أ َن ي ُك َفر‬ ً ْ ِ ُ َ َ َ ِ ْ ُ ُ َ َ َ ً ُ َ ْ َ ّ َ َ َ ْ ‫عن ْك ُم سي ّئات ِك ُم وي ُدْخل َك ُم جنات ت َجري من ت َحت ِها الن ْهار ي َوم ل ي ُخزي‬ َ ِ ٍ ّ َ ْ َ ْ ُ َ َ ْ ْ ِ َ ْ ِ ْ ِ ْ ‫الل ّه الن ّب ِي وال ّذين ءامنوا معه نورهم ي َسعى ب َي ْن أ َي ْديهم وب ِأ َي ْمان ِهم‬ ُ َ َ َ ِ َ ّ َ ْ َ ْ ِ َ ْ ُ ُ ُ ُ َ َ ُ َ ْ ِ ِ َ َ َ ‫ي َقولون رب ّنا أ َت ْمم ل َنا نورنا واغفر ل َنا إ ِن ّك على ك ُل شيء قدير‬ َ ْ ِ ْ َ َ َ ُ َ ْ ِ َ َ َ ُ ُ ٌ ِ َ ٍ ْ َ ّ “ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudahmudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahankesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (Q.S. At Thahrim : 8) Setiap orang mukmin sangat memerlukan dua perkara, yaitu pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan. Sebab tidak ada seorangpun yang terlepas dari dosa dan kesalahan. Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW yang bersumber dari Anas bin Malik r.a: “Setiap orang diantara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Ahmad) Dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia akan mengotori hatinya, bagaikan noda hitam di atas kain putih, tiada yang dapat membersihkannya kecuali taubat.

Hal ini sebagaimana yang diterangkan Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Ahmad. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang meminta ampun dari dosa seperti orang yang tidak berdosa”.(HR. Bukhari) Dan Allah berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Q.S. Al Baqarah: 222) Sesungguhnya syetan telah menipu dan menjebak kita dan memenuhi seluruh aspek kehidupan kita, sehingga menyesatkan kita dari jalan Allah, menyesatkan manusia dari jalan keselamatan dan membukakan bagi kita pintu-pintu jahannam dengan bujuk rayu agar manusia terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan penuh dosa. Karena itu seyogyanyalah kita untuk segera mengetuk pintu taubat mengharap maghfirah Allah. Tidak ada putus asa dalam bertaubat untuk menuju kepada Allah meski dosa-dosa anda memenuhi kolong langit. Allah adalah tuhan seluruh makhluk yang menciptakan mereka untuk menguji dan menyeleksi amal dan perbuatan mereka. Barangsiapa yang banyak dosanya dan ia ingin bertaubat maka pintu taubat terbuka dengan syarat: Pertama: harus menghentikan maksiat dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dia lakukan Kedua : harus berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Dan apabila dosa yang pernah ia lakukan itu ada berhhubungan dengan hak manusia maka taubatnya ditambah dengan syarat yang ketiga yaitu: Ketiga: harus menyelesaikannya dengan orang yang berhak dengan meminta maaf atau kehalalannya atau mengembalikan apa yang harus ia kembalikan. Diantara keutamaan yang diperleh oleh orang-orang yang bertaubat ialah Allah menyibukkan para malaikatNya agar memintakan ampunan bagi mereka dan berdoa kepada Allah agar Dia melindungi mereka dari siksaan neraka jahannam, lalu memasukkan mereka ke surga

yang penuh dengan kenikmatan, menjaga mereka dari kejahatan dan kesalahan. Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit juga sibuk memintakan ampunan bagi mereka. Allah berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), Ya Rabb kami, Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘And yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orangorang yang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan … Dan, orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar. ” (Q.S. Al Mukmin: 7-9) Cukup banyak ayat-ayat di dalam Kitab Allah yang mengabarkan diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat, kalau memang taubat mereka itu tulus dan benar, yang tentunya dengan cara-cara tertentu. Penerimaan taubat ini dilandaskan kepada karunia, ampunan dan rahmat Allah, yang tidak akan menyempit karena keberadaan seseorang yang durhaka, seperti apapun kedurhakaannya itu. Terlebih lagi orang yang bertaubat dan juga memperbaiki serta beramal shaleh. Tidak kurang dari sebelas tempat di dalam Al Qur’an, Allah mensifati diri-Nya dengan sebutan at Tawwab (Maha Menerima Taubat). Kita akhiri pembahasan ini dengan firman Allah : “ Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang

diterima Allah taubatnya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan yang hingga apabila datang ajal kepada seseorang, barulah ia mengatakan, “ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”. Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. ” (Q.S. An Nisaa’: 17-18) Karena itu janganlah anda menunda taubat hingga hari esok. Karena maut itu datang secara tiba-tiba. Bersegeralah untuk mensucikan jiwa anda. Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Al Fawaid mengatakan : “Bila kau berpulang ke alam baqa, tidak membawa bekal taqwa, kau lihat orang-orang yang membawanya pada hari perhimpunan. Kau akan menyesal, karena kau tidak seperti mereka. Mereka mempunyai persiapan sedangkan kau tidak memilikinya.” Allahu A’lam Bishshawab

Keengganan untuk Bertaubat Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW yang bersumber dari Anas bin Malik r.a: “Setiap orang diantara kamu sekalian melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Ahmad) Taubat yang berakar dari kata taaba yang berarti kembali. Yaitu kembali kepada Allah SWT, kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari yang dibenci Allah menuju yang diridhai Allah SWT. Kembali ke jalan Allah dengan bertaubat taubatan Nashuha (taubat yang sesungguhnya) adalah satu jalan menuju kebahagiaan dunia maupun akhirat. Taubat merupakan rahmat Allah kepada para hambaNya. Allah Maha Mengetahui akan kelemahanhambahamba-Nya. Manusia diciptakan tidak sesuci malaikat, karena manusia penuh kekurangan, diciptakan sebagai

makhluk yang memiliki syahwat, keinginan dan sebagainya sehingga manusia gampang tergoda oleh bujuk rayu syetan yang selalu saja mengajaknya untuk melakukan kejahatan dan kemaksiatan. Allah Maha Mengetahui yang demikian itu ada pada diri hamba-hamba-Nya, maka Allah membukakan pintu taubat (maaf dan ampunan) bagi mereka. Demikianlah Allah, At Tawwab; Maha Penerima Taubat, Al Ghaffaar; Maha Pengampun, Al Ghafururrahim; Maha Pemberi Maaf & Maha Penyayang. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosadosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui. ” (Q.S. Ali Imran: 135) Allah telah menyatakan akan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan membuka lebar pintu taubat bagi mereka. Namun sayang, banyak manusia, para hamba-Nya yang enggan untuk bertaubat; kembali ke jalan-Nya. Mereka masih berada dalam kubang kenistaan, berlumpur dosa dan noda kemaksiatan. Bahkan masih saja ada yang dengan sengaja dan terangterangan melakukan kemungkaran dan kemaksiatan tanpa ada rasa malu kepada orang-orang beriman dan rasa takut kepada Allah SWT. Nampaklah dari perbuatan mereka, bahwa hidayah Allah sangat jauh dari mereka. Dalam penilaian ajaran Islam, orang yang enggan atau belum mau atau tidak ada niat dalam hatinya untuk bertaubat disebabkan banyak hal, diantaranya: Pertama: ia merasa bahwa dirinya tidak pernah berbuat dosa atau kesalahan, baik kesalahan yang berhubungan langsung dengan Allah maupun kepada sesama manusia serta lingkungannya. Orang seperti ini menjalani kehidupan dalam perbudakan hawa nafsunya. Sehingga segala perbuatan yang dipandang buruk oleh Islam dianggap baik olehnya. Di saat itu syetan merasuki

jiwanya dan menguasainya sehingga lupalah ia akan Allah SWT; perintah dan larangannya. “Syetan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan syetan, ketahuilah, sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.” (Q.S. Al Mujadilah: 19) Kedua: ia hanya mengenal dunia, sehingga cintanya kepada dunia melebihi kecintaannya kepada akhirat. Ia terlalu silau oleh keindahan dan kemewahan alam fana ini, dan membuat dirinya terpikat oleh rayuannya. Kehidupannya materialistik, hedonistik. Akibatnya kenikmatan ukhrawi yang dijanjikan Allah ia campakkan begitu saja. “Maka diantara manusia ada yang mendoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia.” Dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat”. (Q.S. Al Baqarah: 200) Ketiga: ia hanya tahu kehidupan dunia sehingga lupalah ia bahwa suatu saat nanti kehidupannya akan diakhiri dengan kematian dan hari pembalasan. Kalaupun ia sadar bahwa ia akan mati, namun kecintaannya kepada dunia membuatnya terlena. Hikmah kematian tidak pernah membuka pintu hatinya dan menyadarkannya, sehingga ia tidak pernah mempersiapkan bekal kebajikan, taqwa dan amal shaleh dalam hidupnya demi kehidupan sesudah mati. Bahkan ia menganggap bahwa ia masih jauh dari ajal kematian dan ia selalu menyangkabahwa umurnya masih panjang hingga tua bangka, karenanya tak perlu baginya untuk segera bertaubat. Bila diajak untuk bertaubat, dengan entengnya ia mengatakan: “nanti saja kalau sudah tua!” Ketika ajal menjemput secara tiba-tiba, sakaratul maut, barulah sadar ingin bertaubat dan menyesali diri dan ingin kembali kepada kehidupan untuk ia isi dengan amal dan ibadah yang di amanatkan atas dirinya. Mungkinkah itu dapat terjadi? Bukankah jika ajal telah tiba kematian mustahil ditunda ? Sungguh malang nasibnya!

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (Q.S. Al mukminum: 99-100) Keempat: karena di dalam hatinya ada penyakit yang menggerogoti kebenaran dan fitrah Ilahiyah yang ada di dalamnya. Allah mengunci mati hati mereka, sehingga hatinya tidak dapat lagi menerima kebenaran-kebenaran yang disampaikan kepadanya. Demikian pula dengan pendengaran dan penglihatan mereka. Semuanya tidak berfungsi sesuai dengan hidayah atau petunjuk dari Allah SWT. Akal, pikiran, hati, pendengaran, dan penglihatannya selalu saja ia pergunakan untuk mengingkari perintah Allah dan dipergunakannya untuk kemaksiatan. Oleh karena perbuatannya itu, ia dijadikan sebagai calon penghuni neraka. Nauzubillahi min dzalik! “ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orangorang yang lalai. ” (Q.S. Al A’raf : 179)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->