P. 1
Skripsi - Efektifitas Pemanfaatan Media Komputer pada Pembelajaran Tajwid

Skripsi - Efektifitas Pemanfaatan Media Komputer pada Pembelajaran Tajwid

|Views: 8,411|Likes:
Published by Eka L. Koncara
'Read Online Only'... Lebih lanjut ke: ka_koncara@yahoo.co.id
'Read Online Only'... Lebih lanjut ke: ka_koncara@yahoo.co.id

More info:

Published by: Eka L. Koncara on Dec 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2014

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian

khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu

pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama

pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional disebutkan, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada

nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan

perubahan zaman.

2

Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tugas dan tanggung jawab

penuh dalam menjalankan amanat undang-undang tersebut. Sekolah merupakan

suatu institusi yang dirancang untuk membawa siswa pada proses belajar, di

bawah pengawasan guru atau tenaga pendidik profesional. Sekolah terdiri atas

jenjang-jenjang pendidikan, yaitu tahapan pendidikan yang ditetapkan

berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan

kemampuan yang dikembangkan.

Sejalan dengan proses perkembangannya sampai saat ini dapat dijelaskan

bahwa sekolah merupakan suatu lembaga khusus, suatu wahana, suatu tempat

untuk menyelenggarakan pendidikan, yang di dalamnya terdapat suatu proses

mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Sadulloh, 2007:185)

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau

potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berfikir dan merasakan.

Belajar adalah suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai

akibat pengalaman. Terdapat tiga ciri utama belajar, yaitu: proses, perubahan

perilaku, dan pengalaman. (Winataputra, 2005:2.3)

Sedangkan pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan

pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran

merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses

pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta

pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain,

pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar

3

dengan baik. Pembelajaran adalah suatu proses yang akan membuat seseorang

menjadi lebih baik atau lebih meningkat sesuatunya dari sebelumnya. Inti dari

pembelajaran itu adalah segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar

terjadi proses belajar pada diri siswa. (Sutikno, 2008:33)

Sebagai suatu proses, pembelajaran membutuhkan beberapa unsur untuk

terlaksananya proses tersebut, serta demi memperoleh hasil yang optimal. Salah

satunya adalah media pembelajaran.

Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu dari Allah SWT, sebagai

berikut:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. al-Alaq : 1-5)

Jelas sekali bahwa perintah yang pertama kali diturunkan Allah SWT

kepada umat manusia melalui Rasul-Nya adalah perintah untuk belajar. Dan

terlihat jelas bahwa proses belajar yang dicontohkan dan Allah SWT pun

menggunakan media (dengan kalam), sehingga manusia dapat mengetahui apa

yang tidak diketahuinya. Penggunaan media ini mutlak adanya dalam suatu proses

pembelajaran.

Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada

penerima pesan. Secara garis besar, media adalah manusia, materi, atau kejadian

yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan,

4

keterampilan, atau sikap. Dalam aktifitas pembelajaran, media dapat didefinisikan

sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi

yang berlangsung antara pendidik dengan siswa. (Sutikno, 2008:101)

Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang

dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan

peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri

peserta didik.

Akhmad Sudrajat dalam artikel Media Pembelajaran (http://akhmad

sudrajat/wordpress.com/, 12 Januari 2008) menyebutkan berbagai jenis media

belajar, diantaranya:

1. Media Visual: grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik

2. Media Audial: radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan

sejenisnya

3. Projected still media: slide, projector, dan sejenisnya

4. Projected motion media: film, televisi, video (VCD, DVD, VTR),

komputer dan sejenisnya.

Media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat

mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media

pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang

digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad ke–20 usaha

pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah

alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat

5

bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti

adanya komputer dan internet.

Media komputer saat ini menjadi sangat populer dan menjadi salah satu

media belajar yang paling digandrungi oleh para siswa. Hal ini disebabkan karena

komputer sebagai media belajar, selain mampu menampilkan bahan ajar yang

bersifat audio-visual, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara interaktif. Inilah salah

satu kelebihan media komputer yang tidak dimiliki oleh media apapun di dunia

saat ini.

Media komputer yang digunakan dalam proses pembelajaran disebut juga

sebagai komputer pendidikan. Komputer pendidikan adalah penggunaan komputer

dalam dunia pendidikan sebagai alat bantu belajar.

Penggunaan komputer sebagai media belajar saat ini sudah tidak dapat

dipungkiri lagi. Bentuk komunikasi guru dalam budaya „talk and chalk‟ harus

mulai dihilangkan, karena nyaris tidak ada perubahan yang menonjol dalam hasil

belajar yang dicapai.

Hasil belajar merupakan segala perilaku yang dimiliki seseorang sebagai

akibat proses belajar yang telah ditempuhnya. Hasil belajar adalah pola-pola

perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan

kemampuan yang dicapai oleh pembelajar/peserta didik.

Hasil belajar bukan sekedar penguasaan suatu hasil latihan melainkan

adanya perubahan perilaku tahap-demi tahap, baik dalam ranah kognitif, afektif,

ataupun psikomotor, yang lambat laun terintegrasi menjadi suatu kepribadian.

6

Seseorang yang telah melakukan proses belajar akan terlihat perubahan dalam

salah satu atau beberapa ranah tingkah laku tersebut.

Hasil belajar hanya dapat diukur dengan suatu proses yang disebut

evaluasi hasil belajar. Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan

siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. (Munandar,

2003:195)

Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.

Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang

bermakna, damai dan bermartabat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk

peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia

yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.

Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa

agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang

bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk

menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai,

disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Pendidikan Agama

Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan

iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan

kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat.

Guru sebagai pendidik diharapkan dapat mengembangkan proses

pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah

distandarisasi oleh Badan Nasional Standar Pendidikan Republik Indonesia

melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pengembangan proses dan metode

7

pembelajaran harus dilakukan sedemikian rupa dan merupakan tanggung jawab

guru sebagai pendidik untuk mencapai hasil belajar yang optimal secara efektif

dan menyenangkan.

Dalam Kurikulum Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP/MTs

tahun 2006 disebutkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi

aspek-aspek sebagai berikut: Al Qur‟an dan Hadits, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tarikh

dan Kebudayaan Islam. Ilmu Tajwid merupakan salah satu materi pembelajaran

yang termasuk dalam aspek Al Qur‟an dan Hadits yang kemudian harus

disampaikan kepada siswa melalui proses pembelajaran yang menyenangkan.

Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca

Al-Quran dengan sebaik-baiknya. Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara bacaan

Al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari

kesalahan membaca.

Mempelajari ilmu tajwid wajib hukumnya, sebagaimana Allah SWT

berfirman:

“…dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil).”
(Q.S. al-Muzzammil : 4)

Di lingkungan SMP Negeri 6 Darangdan Kabupaten Purwakarta, materi

pembelajaran Tajwid merupakan salah satu materi Pendidikan Agama Islam yang

siswanya memiliki hasil belajar di bawah rata-rata. Syarif Hidayat, S.Pd., seorang

guru Pendidikan Agama Islam sekaligus pembimbing kegiatan ekstrakurikuler

Iqra‟ Al-Qur‟an di SMP Negeri 6 Darangdan menyebutkan bahwa saat ini hanya

8

sekitar 20% dari seluruh siswa yang mampu membaca Al-Qur‟an dengan tartil

serta mengetahui tajwidnya.

Hal ini tentu butuh perhatian dan upaya lebih, termasuk dengan mencoba

memanfaatkan media komputer untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam

materi pembelajaran tajwid. SMP Negeri 6 Darangdan yang telah memiliki kelas

komputer lengkap dengan perangkat kerasnya (komputer dan proyektor), memiliki

cukup sarana, paling tidak untuk memulai upaya tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, penulis bermaksud untuk melakukan penelitian

yang mengambil judul “Efektifitas Pemanfaatan Media Komputer dalam

Peningkatan Hasil Belajar pada Pembelajaran Tajwid” (Study Analisis di Kelas VII

SMP Negeri 6 Darangdan Kabupaten Purwakarta).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->