P. 1
makalah fenk

makalah fenk

|Views: 1,227|Likes:
Published by fenktris

More info:

Published by: fenktris on Dec 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2010

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Pendidikan Islam yang bermakna usaha untuk mentransfer nilai-nilai budaya Islam kepada generasi muda, masih dihadapkan pada persoalan dikotomis dalam sistem pendidikannya. Pendidikan Islam bahkan diamati dan disimpulkan terkukung dalam kemunduran, kekalahan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, perpecahan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang Islam dibandingkan kemunduran dan dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat embel-embel Islam, juga dianggap berkonotasi dengan mereka yang non Islam. Bahkan, pendidikan yang apabila diberi keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan.1 Pendapat ini sangat berpengaruh terhadap sistem Pendidikan Islam, yang akhirnya dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua dalam konstelasi sistem pendidikan di Indonesia, walaupun dalam undang-undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam merupakan subsistem pendidikan nasional. Tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya, bahkan pendidikan Islam sering diperuntukan hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin. Keberadaan lembaga konfigurasi Pendidikan yang disebutkan di atas cukup variatif, sekalipun mungkin peran dan fungsinya masih dipertanyakan dalam pendidikan nasional. Untuk itu fungsi pendidikan Islam dari lembaga atau tempat pendidikan tersebut, perlu dirumuskan secara lebih spesifik, efektif, dan bermutu tinggi, agar dapat menjawab tantangan yang dihadapi. Kalau kita telaah literatur dalam pendidikan Islam, maka diketahui bahwa fungsi dan tujuan pendidikan Islam diletakan jauh lebih berat tanggungjawabnya bila dibandingkan dengan fungsi pendidikan pada 1Soroyo, Berbagai Persoalan Pendidikan, Pendidikan Nasional dan Pendidikan Islam di Indonesia, Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, Problem dan Prospeknya, (Yogyakarta : Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kaliga, 1991), Volume I, hlm. 77 1

umumnya. Sebab, fungsi dan tujuan pendidikan Islam harus memberdayakan atau berusaha menolong manusia untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Oleh karenanya, maka konsep dasarnya bertujuan untuk melahirkan manusia-manusia yang bermutu yang akan mengelola dan memanfaatkan bumi ini dengan ilmu pengetahuan untuk kebahagiannya, yang dilandasi pada konsep spritual untuk mencapai kebahagian akhiratnya. Sebagaimana dikatakan para ahli, bahwa pendidikan Islam berupaya untuk mengembangkan semua aspek dalam kehidupan manusia yang meliputi spritual, intelektual, imajinasi, keilmiahan baik individu maupun kelompok, dan memberi dorongan bagi dinamika aspek-aspek di atas menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup baik dalam hubungannya dengan alKhaliq, sesama manusia, maupun dengan alam.2 Akan tetapi pada tataran operasional, rumusan-rumusan ideal yang dikemukakan di atas belum terjawab, sedangkan lembaga pendidikan Islam cukup variatif dalam berusaha menerapkan konsep-konsep tersebut, namun belum berdaya dan posisi pendidikan Islam sendiri masih terlihat begitu lemah. Melihat kenyataan ini, maka inovasi atau penataan fungsi pendidikan Islam, terutama pada sistem pendidikan, harus diupayakan secara terus menerus, berkesinambungan, dan berkelanjutan, sehingga nanti usahanya dapat menyentuh pada perluasan dan pengembangan sistem pendidikan Islam luar sekolah termasuk pada pondok pesantren. Di samping inovasi pada sisi kelembagaan, faktor tenaga pendidikan juga harus ditingkatkan aspek etos kerja dan profesionalismenya, perbaikan materi (kurikulum) yang pendekatan metodologi masih berorientasi pada sistem tradisional, dan perbaikan manajemen pendidikan itu sendiri. Untuk itu, maka usaha untuk melakukan inovasi tidak hanya sekedar tanbal sulam, tetapi harus secara mendasar dan menyeluruh, mulai dari fungsi dan tujuan, metode, materi (kurikulum), lembaga pendidikan, dan pengelolaannya. Penataan pada fungsi pendidikan, tentu dengan memperhatikan pula dunia kerja. Sebab, dunia kerja mempunyai andil dan rentang waktu yang cukup besar dalam jangka kehidupan pribadi 2M Arifin, Kapita Selekta Pendidikan, (Jakarta : Bina Aksara, 1991), cet. ke-1, hlm. 15

dan kolektif. Pembenahan pendidikan Islam dapat memilih sasaran model pendidikan bagi kelompok masyarakat. Perbaikan wawasan, sikap, pengetahuan, keterampilan, diharapkan akan memperbaiki kehidupan sosiokultural dan ekonomi masyarakat. Konsumsi pendidikan dan pengembangan keilmuan untuk kelompok masyarakat, belum tampak berkembang, kecuali usaha-usaha yang secara naluriah telah diwariskan dari waktu ke waktu.3 Perbaikan fungsi pendidikan Islam pada tahap lanjut, harus dilakukan menjadi satu kesatuan dengan lembaga pendidikan Islam lainnya yang terkait erat sekali, seperti masjid dengan kesatuan jamaahnya, madrasah/sekolah, keluarga muslim, masyarakat muslim di suatu kesatuan teritorial, dan lain sebagainya. Dalam konteks tersebut, maka sekurang-kurangnya ada empat jenis lembaga pendidikan Islam yang dapat mengambil peran ini, yaitu pendidikan Pondok Pesantren, Masjid, Madrasah, pendidikan umum yang bernafaskan Islam. Peran di sini seperti yang diungkapkan Bruce J Cohen, peran adalah suatu perilaku yang diharapkan oleh orang lain dari seseorang yang menduduki status tertentu. Peranperan yang tepat dipelajari sebagai bagian dari proses sosialisasi dan kemudian diambil oleh para individu.4 Permasalahan yang muncul adalah bagaimana lembagalembaga Islam, termasuk pondok pesantren atau para penyelenggara pendidikan (kyai), mampu mempersiapkan diri dan berperan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang ada. Hal ini mencakup tujuan, manajemen kelembagaan, kurikulum, proses pembelajaran, sarana-prasarana, dan evaluasi. Sehingga output-nya dapat menghadapi perubahan masyarakat yang terus maju hidup dalam tatanan ajaran Islam. Ini merupakan pertanyaan besar yang memerlukan jawaban segera oleh lembaga pendidikan yang bernaung atas nama pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan tempat yang relevan untuk menyiarkan agama, maupun masalah - masalah sosial lainnya, karena dalam pondok 3Suyuta, Penataan Kembali Pendidikan Islam pada Era Kemajuan Ilmu dan Teknologi, (Yogyakarta : Majalah UNISIA No. 12 Th. XIII, UII,1992), hlm. 28 4 Bruce J Cohen, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : Rineka Cipta, 1992), hlm. 76 3

pesantren ini ilmu yang diajarkan nantinya dapat diterapkan oleh para santrinya dalam masyarakat di sekitarnya.5 Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia sudah ada dan berkembang dan tumbuh mengakar di tengah-tengah masyarakat Indonesia, dan bahkan tetap di kembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, pesantren mempunyai peranan yang sangat penting bagi sejarah bangsa Indonesia. Dan tidak diragukan lagi bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia. Lembaga ini telah eksis jauh sebelum kedatangan Islam di Nusantara.6 Sejak masa awal penyebaran Islam, pesantren adalah saksi utama bagi penyebaran Islam di Indonesia. Perkembangan dan kemajuan masyarakat Islam di Indonesia tidak bisa terpisahkan dari peranan pesantren. Bermula dari pesantren, perputaran roda ekonomi dan kebijakan publik Islam dikendalikan. Kedinamisan pesantren tidak hanya di bidang ekonomi dan dekatnya dengan kekuasaan, tetapi juga maju dalam bidang keilmuan dan intelektual.7 Pondok pesantren sebagai tempat memperdalam ilmu agama juga memacu diri dalam mencari sesuatu yang baru sesuai dengan pengetahuan dan teknologi. Serta menghadapi perkembangan zaman dengan tetap mempunyai kandungan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dengan demikian pondok pesantren menjadi pusat pendidikan agama dan pengetahuan masyarakat, sekaligus mewujudkan peran transformasi terhadap ide-ide dan wawasan baru bagi kesejahteraan rakyat dan masyarakat di sekitarnya dan dalam mengisi pembangunan.8 5Abdurrahman Soleh, Penyelenggaraan Madrasah Pesantren, (Jakarta : Dharma Bakti, 1985), hlm. 46 6Menurut sejarahnya, terdapat dua versi pendapat tentang akar berdirinya pondok pesantren di Indonesia. Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam itu sendiri, yaitu tradisi tarekat. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa pondok pesantren pada mulanya merupakan pengambilalihan dari system pondok pesantren yang diadakan orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum Islam datang ke Nusantara, pondok pesantren ini sudah ada di negeri ini yang dijadikan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu. Departemen Agama, Pola Pengembangan Pondok Pesantren, (Jakarta : Ditjen Kelembagaan Agama Islam, 2003), hlm. 10 7 Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2001), cet. ke-2, hlm. 184. 8 Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta : INIS, 1994), hlm. 56-57

Pembangunan, terutama bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, baik secara spiritual maupun secara material9, atau membentuk manusia yang utuh, paripurna, yang berkesinambungan antara nilai-nilai kejasmanian dan kerohanian.10 Dimana pada prinsipnya tujuan utama pembangunan yaitu adanya keinginan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan melalui berbagai bidang kehidupan terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Kondisi ini menuntut pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam untuk bekerja serius dalam mengembangkan pendidikannya, karena itu A. Mukti Ali, menyatakan bahwa kelemahan-kelemahan pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor penguasaan sistem dan metode, bahasa sebagai alat, ketajaman interpretasi (insinght), kelembagaan (organisasi), manajemen, serta penguasaan ilmu dan teknologi. Berkaitan dengan hal ini, M.Arifin, juga menyatakan bahwa pendidikan Islam harus didesak untuk melakukan inovasi yang tidak hanya berkaitan dengan perangkat kurikulum dan manajemen, tetapi juga menyangkut dengan startegi dan taktik operasionalnya. Strategi dan taktik itu, menuntut perombakan modelmodel pendidikan sampai dengan institusi-institusinya, sehingga lebih efektif dan efisien, dalam arti pedagogis, sosiologis dan kultural dalam menunjukkan perannya.11 Sebagai salah satu lembaga pendidikan, pesantren tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengembangan Islam. Memang dalam kenyataannya perkembangan pesantren secara kuantitatif tidak menurun, bahkan memperlihatkan gejala naik dan ditandai oleh timbulnya pesantrenpesantren baru.12 Perkembangan pesantren pada saat ini tetap mengemban tugas sebagai wadah pembinaan umat Islam yang berorientasi kepada peningkatan moral umat, terutama dalam pendidikan Islam. Kenyataan membuktikan, 9 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1989), hlm. 454 10Mukti Ali, Beberapa Persoalan Agama Dewasa ini, (Jakarta : Rajawali, 1987), hlm. 87 11M Arifin, Kapita Selekta Pendidikan , (Jakarta : Bina Aksara, 1991), cet. ke-1, hlm. 3 12M Dawam Raharjo, Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta : LP3ES, 1974), hlm. 6 5

bahwa umat Islam mendambakan agar pemimpin umat, datang dari lembaga ini yang akan membawa mereka manuju satu jalan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Sebenarnya pembinaan yang dikembangkan di pesantren tidak hanya jalur pendidikan saja, tetapi mencakup juga segi kerohanian terutama menempa jiwa santri dalam mencapai satu tatanan kehidupan yang teratur, tertib, kerja sama yang harmonis, mengutamakan kepentingan umum dan lebih banyak beramal saleh. Menurut Mastuhu, yang terpenting adalah bahwa suatu lembaga pendidikan akan berhasil menyelenggarakan kegiatannya jika ia dapat mengintegrasikan dirinya ke dalam kehidupan masyarakat yang melingkarinya. Keberhasilan ini menunjukan adanya kecocokan nilai antara pendidikan yang bersangkutan dan masyarakatnya, setidaktidaknya tidak ada pertentangan. Lebih jauh dari itu, suatu lembaga pendidikan akan diminati oleh peserta didik, orang tua, dan seluruh masyarakat apabila ia mampu menyatu dengan masyarakat sekitarnya dalam bidang moral. Pesantren sering diidealkan sebagai komunitas ideal dan sakral. Pesantren dinilai sebagai lembaga pendidikan yang mendidik santrinya untuk menjadi orang saleh yang idealis, moralis, dan berorientasi ukrawi 13 Sementara, Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa pesantren dapat menyumbang penanaman iman, suatu yang diinginkan oleh tujuan pendidikan Nasional. Budi luhur, kemandirian, kesehatan ronahi, adalah tujuantujuan pendidikan Nasional, yang juga merupakan utama pendidikan pesantren14 Sistem madrasah dan pesantren yang berkembang di nusantara ini dengan segala kelebihannya, juga tidak disiapkan untuk membangun peradaban.15 Untuk membangun peradaban Islam ini, di Sumatera Barat banyak juga bermunculan pondok pesantren, tetapi di Sumatera Barat lembaga pendidikan yang ada pertama kali sebelum diodopsi ke dalam bentuk pesantren di Jawa dikenal dengan Surau.16 Surau sebagai lembaga pendidikan tertua di Minangkabau dimulai 13Mastuhu, op. cit., hlm. 4 14Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), cet. ke-7, hlm. 203 15A Syafii Ma’arif, “Keutuhan dan Kebersamaan dalam Pengelolaan Pendidikan Islam Sebagai Wahana Pendidikan Muhammadiyah”, makalah disampaikan pada Rakernas Pendidikan Muhammadiyah, di Jakarta : Pondok Gede,1996, hlm. 5 16 Ibrahim Bukhari Sidi, Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau, (Jakarta : PT. Pradya Persada, 1974), hlm. 71

dari surau yang didirikan oleh Syekh Burhanuddin, dimana surau pada waktu itu berfungsi sebagai tempat melaksanakan sholat dan juga sebagai tempat pendidikan tarekat, jadi pada saat itu surau mempunyai dua fungsi. Dalam perkembangannya, eksistensi surau merupakan lembaga yang sangat strategis bagi pengajaran agama Islam. Dari surau inilah bermunculan surau-surau di daerah Minangkabau ini seperti surau Jambatan Besi di Padang Panjang, surau Tanjung Sunganyang, surau Gadang Thawalib Tanjung Limau, surau Parabek, surau Candung dan lain-lain.17 Dalam catatan sejarah dikatakan, jauh sebelum tahun 1900-an di bawah asuhan Syekh Abdullah Ahmad perguruan Thawalib telah memulai pendidikannya dengan sistem halaqah bertempat di surau Jemabatan Besi (sekarang bernama Pesantren Thawalib), yang kemudian dilanjutkan oleh DR. H. Abdul Karim Amarullah, seorang ulama besar yang baru pulang belajar dari Mekah yang dikenal dengan sebutan inyiak rasul atau inyiak Deer (ayah almarhum Buya HAMKA). Beliau sekaligus mengubah sistem belajar secara klasikal.18 Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau merupakan bagian dari realitas masyarakat Kabupaten Tanah Datar yang awalnya masih merupakan afiliasi dari Surau Jembatan Besi di Padang Panjang, tetapi berbeda dalam strukturnya, dituntut untuk lebih meningkat dalam membangun peradaban Islam serta berusaha melakukan pengembangan pendidikan Islam. Kenyataan menunjukan bahwa pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau telah berkiprah ditengah-tengah kehidupan masyarakat semenjak zaman penjajahan Belanda. Pondok pesantren ini telah menyatu dengan masyarakat, akan tetapi disatu sisi terutama dalam perjalannya sekarang mengalami perubahan pola majamen dan sistem dari sistem yang ada. Dan permasalahan yang mendasar dalam penelitian ini adalah, terjadinya ketimpangan dalam sistem pendidikan pondok pesantren, dimana sistem yang dipakai sesuai dengan haluan dan 17 Zainuddin Mu'in St. Marajo, Sejarah Ringkas Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Simabur Tanah Datar, Makalah Latihan Instruktur Keterampilan Menjahit Pakaian Wanita, (Jakarta : 4 -5 Oktober 1991), hlm. 1 (tidak diterbitkan) 18Ibrahim Bukhari Sidi, op.cit., hlm. 72 7

pemikiran Buya selaku pimpinan, serta adanya interpensi dari pengurus yayasan sebagai pemegang otoritas lembaga. Oleh karena itu, pondok pesantren ini dituntut untuk senantiasa mengembangkan kelembagaannya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui wajib belajar, mengadakan pelatihan-pelatihan serta kursus keterampilan bagi para santri dan anggota masyarakat sekitarnya. Dengan demikian masalah yang akan dihadapi dan akan menjadi tanggungjawab Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau di masa yang akan datang adalah bagaimana pesantren dapat berperan dalam pengembangan pendidikan Islam bagi masyarakat sekitarnya sesuai dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang pada masalah di atas, maka pembahasan pesantren dan pengembangan pendidikan Islam ini cukup menarik untuk diteliti. Hal ini mengingat peran strategis pondok pesantren di masa depan sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama dalam melakukan peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan pendidikan Islam ditengah-tengah masyarakat. Untuk keperluan tersebut, studi kasus penelitian adalah di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Pertanyaannya adalah bagaimana peran Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau (semenjak berobah statusnya menjadi pondok pesantren tahun 1972) dalam meningkatkan mutu dan mengembangkan pendidikan Islam?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka yang menjadi tema pokok dalam penelitian ini adalah: PERANAN PONDOK PESANTREN THAWALIB TANJUNG LIMAU DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI KABUPATEN TANAH DATAR SUMATERA BARAT. Permasalah tersebut dirumuskan dalam pertanyaan berikut: a. Bagaimana latar belakang, tujuan, visi dan misi Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Barat ? Kabupaten Tanah Datar Sumatera penelitian

b. Bagaimana kurikulum Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat ? c. Bagaimana proses pelaksanaan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat ? d. Apa faktor pendukung dan penghambat pengembangan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat ? e. Bagaimana peranan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat,mencakup posisi, tugas pokok dan fungsi utama. C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Mengetahui latar belakang berdirinya, tujuan, visi dan misi Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Sumatera Barat. b. Mengetahui kurikulum di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. c. Mengetahui proses pelaksanaan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. d. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat pengembangan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. e. Mengetahui peranan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat mencakup posisi, tugas pokok dan fungsi utama. 2. Kegunaan Penelitian Kegunaan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Kegunaan Ilmiah Kabupaten Tanah Datar 9

Hasil penelitian ini memberikan konstribusi dalam ilmu sejrah kebudayaan Islam dan dapat dijadikan teori dan ilmu baru tentang peranan Pondok Pesantren dalam pengembangan pendidikan Islam dan b. Kegunaan praktis 1) Bagi penulis sendiri, hasil ini dijadikan sebagai upaya menambah pengetahuan dan wawasan serta pengalaman, terutama mengenai peran Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam peningkatan dan pengembangan mutu Pendidikan Islam. 2) Bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi tentang pentingnya melakukan peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan Islam melalui peran lembaga pendidikan pondok pesantren yang merupakan kebudayaan dan peradaban Islam. 3) Bagi pengelola pondok pesantren, hasil penelitian ini memberikan landasan berpikir dalam rangka mengembangkan pendidikan Islam. D. Kerangka Pemikiran Pendidikan Pondok pesantren berperan dalam memberikan nilai-nilai Islam yang tinggi serta berkontribusi mencerdaskan serta membentuk karakter masyarakat yang islami.. Disamping itu pondok pesantren berperan dalam menciptakan ulama inteletual dan intelektual ulama, disamping menumbuhkan nilai-nilai Islam ditengah-tengah kehudpan masyarakat. Pondok pesantren berasal dari dua kata, yaitu pondok dan pesantren. Pondok berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti tempat menginap atau asrama. Sedangkan pesantren berasal dari bahasa Tamil, dari kata santri, diimbuhi awalan pe dan akhiran an yang berarti penuntut ilmu.19 Kata pesantren mengandung pengertian asrama atau tempat murid-murid belajar 19Muhammad Daud Ali dan Habibah Daud, Lembaga-lembaga Islam di Indonesia, (Jakarta : Raja Grafondo Persada, 1995), hlm. 145 sekaligus sebagai bahan kajian lebih mendalam mengenai pondok pesantren.

mengaji dan bisa juga disebut pondok.20 Dalam bahasa Indonesia sering nama pondok dan pesantren dipergunakan juga sebagai sinonim untuk menyebut pondok pesantren. 21 Pesantren adalah suatu bentuk lingkungan masyrakat yang unik dan memiliki tata nilai kehidupan yang positif yang mempunyai ciri khas tersendiri, sebagai lembaga pendidikan Islam. Adapun unsur pokok dari pesantren adalah : Kiyai, Santri, Pondok, Masjid dan Kitab-kitab klasik22. Menurut istilah Islam untuk pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.23 Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki kontribusi penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.24 Jauh sebelum masa kemerdekaan, pesantren telah menjadi sistem pendidikan nusantara. Hampir di seluruh pelosok nusantara, khususnya di pusat-pusat kerajaan Islam telah terdapat lembaga pendidikan yang kurang lebih serupa walaupun menggunakan nama yang berbeda-beda, seperti Meunasah di Aceh, Surau di Minangkabau dan Pesantren di Jawa.25 Dalam perkembangannya pondok pesantren mengalami dinamika sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia. Pada awalnya pondok pesantren bersifat tradisional non klasikal dengan metode sorongan26 dan 20Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 1996 ), hlm. 762 21Manfrek Ziemek, Pesantren dalam PerubahanSosial, (Jakarta : P3M, 1986 ), hlm. 116 22Haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, ( Bandung : Citapustaka Media, 2001), hlm. 69 23Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta : INIS, 1994), hlm. 155 24Pondok Pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya setelah abad ke-16. Karya-karya Jawa Klasik seperti Serat Cabolek dan Serat Centini mengungkapkan bahwa sejak permulaan abad ke-16 ini di Indonesia telah banyak dijumpai lembaga-lembaga yang mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fiqih, aqidah, tasawwuf dan menjadi pusatpusat penyiaran Islam. Departemen Agama, Pola Pengembangan Pondok Pesantren, hlm. 11 25Departeman Agama, Pola Pembelajaran di Pesantren, (Jakarta : Ditjen Kelembagaan Agama Islam, 2003), hlm. 3 26Sorogan adalah santri menghadap kiyai seorang-seorang dengan membaca kitab yang akan dipelajarinya. Santri menyimak dan mengesahkan dengan memberi catatan pada kitabnya untuk mensahkan bahwa ilmu itu telah diberikan oleh kiayi. Abdul Rachman Saleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Visi, Misi dan Aksi, (Jakarta : PT. Gemawindu Pancaperkasa, 2000), hlm. 223 11

wetonan27 dan materi khusus mempelajari agama. Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua, pondok pesantren berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam, pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat musilim Indonesia.28 Wirjo Sukarto menunjukan bahwa tujuan utama pendidikan pondok pesantren adalah menyiapkan calon lulusan hanya menguasai masalah agama semata. Rencana pelajaran (kurikulum) ditetapkan oleh Kiyai dengan menunjukan kitab-kitab apa yang harus dipelajari. Pengunaan kitab dimulai dari jenis kitab yang rendah dalam satu disiplin ilmu keislaman sampai pada tingkat yang tinggi. Kenaikan kelas atau tingkat ditandai dengan bergantinya kitab yang telah ditelaah setelah kitab-kitab sebelumnya selesai dipelajarinya. Ukuran kealiman seorang santri bukan dari banyaknya kitab yang dipelajari tetapi diukur dengan praktek mengajar sebagai guru mengaji, dapat memahami kitab-kitab yang sulit dan mengajarkan kepada santrisantri lainnya.29 Menurut Mahmud Yunus, bahwa isi pendidikan Islam pada pondok pesantren, terutama pada masa perubahan (1900-1908) meliput: (1) pengajian alQur’an; (2) pengajian kitab yang terdiri atas beberapa tingkat,yaitu: (a) mengaji nahwu, sharaf dan fiqh dengan memakai kitab Ajrumiyah, Matan Bina, Fathul Qarib dan sebagainya; (b) mengaji tauhid, nahwu, sharaf dan fiqh dengan memakai kitab Sanusi, Syaikh Khalid (Azhari,’Asymawi), Kailani, Fathul Mu’in dan sebagainya; dan (c) mengaji Tauhid, nahwu sharaf, fiqh dan tafsir dan lainnya dengan memakai kitab Kifayatul ’Awam ( Ummul Barahin), Ibnu ’Aqil, Mahalli, Jalalain/Baidlawi dan sebagainya.30 Lembaga pendidikan yang berbasis pada pesantren ini mempunyai 27Wetonan adalah metode kuliah, dimana santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekililing kiayi yang menerangkan pelajaran secara kuliah. Santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. Di Jawa Barat metode ini disebut bandongan sedang di Sumatra disebut halaqah atau balaghan (balagan). Abdul Rachman Saleh, Ibid, hlm. 223 28Abdul Aziz Dahlan (ed), Ensiklopedi Islam, (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hove, 1996) cet. ke-3. Jilid 4, hlm. 99 29Amir Hamzah Wirjo Sukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, (Jember : Muria Offset, 1985), cet. ke-4, hlm. 27-28 30Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Mutiara, 1979), hlm. 54-55

peran dalam segala aspek, tidak hanya dalam aspek ukrawi semata, melainkan dalam aspek kehidupan umat manusia yang lain. Adapun peran yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan pendidikan Islam disini adalah dalam upaya menemukan pembaharuan dalam sistem pendidikan yang meliputi metode pengajaran, baik agama maupun umum yang efektif. inovasi dibidang kurikulum, alat-alat pelajaran, guru yang kreatif dan penuh dedikasi (kualitas sumber daya manusia), mengembangkan kelembagaan, pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana, serta pengembangan bidang keilmuan dan keterampilan.31 Karel Steenbrink, menyatakan bahwa keberadaan pendidikan Islam di Indonesia cukup variatif. Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa pendidikan Islam yang berbasis pada pondok pesentren, diharapkan menjadi “modal” dalam upaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan sebagai suatu paradigma didaktikmetodologis. Sebab, pengembangan keilmuan yang integral (interdisipliner) akan mampu manjawab kesan dikotimis dalam lembaga pendidikan Islam selama ini berkembang. Tetapi sayangnya pendidikan model ini belum ditindak lanjuti dan dievaluasi efiktitas dan efisiensi prosesnya baik dari kurikulum dan materi, metode, pengajar, waktu pelaksanaan dan organisasi. 32 Melihat kenyataan ini, maka pendidikan Islam ini perlu mendapat perhatian yang serius dalam menuntut pemberdayaan yang harus disumbangkannya, dengan usaha menata kembali keadaannya, terutama di Indonesia. Keharusan ini, tentu dengan melihat keterkaitan dan peranannya di dalam usaha pendidikan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, sehingga perlu ada terobosan seperti perubahan model dan strategi pelaksanaannya dalam menghadapi perubahan zaman. Usaha penataan kembali akan memperoleh keuntungan majemuk, karena: Pertama, pendidikan Islam subsistem pendidikan nasional di 31Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam ; Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum hingga Redefenisi Islamisasi Pengetahuan, (Bandung : Nuansa, 2003), cet. ke-1,hlm. 33 32Karel Steenbink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modren, (Jakarta : LP3ES, 1994), hlm. 21 13

Indonesia, akan dapat memperoleh dukungan dan pengalaman positif. Kedua, pendidikan Islam dapat memberikan sumbangan dan alternatif bagi pembenahan sistem pendidikan di Indonesia dengan ragam kekurangan, masalah, dan kelemahannya. Ketiga, sistem Pendidikan Islam yang dapat dirumuskan akan memiliki akar yang lebih kokoh dalam realitas kehidupan kemasyarakatan.33 Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam di Indonesia yang bersifat tradisional untuk tujuan mendalami ilmu agama Islam, dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian, dengan menekankan pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat. Dengan demikian pesentren merupakan sistem pendidikan yang berkembang di masyarakat. Unsur-unsur sistem pendidikan selain terdiri atas pelaku yang merupakan unsur organik, juga terdiri atas unsur-unsur non organik lainnya berupa dana, sarana dan alat-alat pendidikan lainnya, baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. Hubungan antara nilai-nilai dan unsur-unsur dalam suatu sistem pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Para pelaku pesantren adalah kyai (buya) sebagai tokoh utama dan merupakan kunci dari sebuah pesantren, ustadz sebagai pembantu kyai dalam bidang agama, guru sebagai pembantu kyai dalam mengajar ilmu-ilmu umum, santri sebagai pelajar, dan pengurus sebagai pembantu kyai dalam mengurus kepentingan umum pesantren. Nilai-nilai yang dikembangkan dipesantren senantiasa digerakan dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran Islam. Ajaran dasar tersebut berinteraksi dengan struktur kontektual atau realitas sosial yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Hasil perpaduan inilah yang membentuk pandangan hidup, dan pandangan hidup inilah yang menetapkan tujuan pendidikan pesantren yang ingin dicapai dan pemilihan metode yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, pandangan hidupnya selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan realitas sosial yang dihadapi oleh sebuah pondok pesantren. 33Suyata, op .cit., hlm. 23

Tujuan terbentuknya pesantren diantaranya adalah membimbing anak didik (santri) untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam dan mempunyai ilmu agama, sehingga sangup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya. Disamping itu, tujuan khusus dibentuknya sebuah pondok pesantren adalah mempersiapkan anak didik (santri) untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan, serta mengamalkannya dalam masyarakat.34 Sistem yang diutamakan dalam pendidikan di pesantren adalah kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup. Para alumninya tidak ingin menduduki jabatan pemerintah, sehingga mereka hampir tidak dapat dikuasai oleh pemerintah.35 Dengan demikian, maka sistem pendidikan pesantren didasarkan atas dialog yang terus – menerus antara kepercayaan terhadap ajaran agama Islam yang diyakini mempunyai nilai kebenaran mutlak dan realitas sosial yang memiliki kebenaran relatif. Keberadaan pesantren di Indonesia sudah mulai sejak Islam pertama kali datang di negeri ini, Ibrahim Bukhari sebagaimana dikutip oleh Samaun Bakry menyatakan bahwa sejarah dan perkembangan pesantren tidak terlepas dari sejarah masuknya Islam itu sendiri ke Nusantara,36 karena kahadiran pesantren beriringan dengan kehadiran Islam di Nusantara, maka kehadiran pesantren di tanah air erat kaitannya dengan datangnya Islam ke Nusantara, demi memudahkan analisanya dalam konteks kepesantrenan di Indonesia maka penyebutan abad ke tujuh tetap dipakai meskipun keberadaannya masih relatif.37 Ciri-ciri khusus dari sebuah pondok pesantren adalah kurikulumnya terfokus pada ilmu-ilmu agama, misalnya sintaksis Arab, morfologi Arab, hukum Islam, sistem yurisfudensi Islam, hadits, tafsir al-Qur'an, teologi Islam, 34M Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991), cet. ke-1, hlm. 248 35M Amin Rais, Cakrawala Islam , antara Cita dan Fakta, (Bandung : Mizan, 1989), cet. ke1, hlm. 162 36Samaun Bakry, Mengagas Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2005), cet. ke-1, hlm. 158 37Ibid., hlm. 159 15

tasauf, tarikh, dan mantiq(retorika)38 Literatur ilmu-ilmu tersebut memakai kitabkitab klasik dengan istilah " kitab kuning" dengan ciri-ciri kitabnya berbahasa Arab tanpa syakal (baris), bahkan tanpa titik dan koma, berisi keilmuan yang cukup berbobot, dan metode penulisannya dianggap kuno, lazimnya dikaji dan dipelajari di pondok pesantren, dan banyak diantara kertasnya berwarna kuning.39 Pondok pesantren mulai menampakkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang mapan, yaitu di dalamnya didirikan sekolah baik secara formal maupun non formal. Dewasa ini pesantren mempunyai kecenderungan baru dalam rangka merenovasi terhadap sistem pendidikan yang selama ini dipergunakan, yaitu mulai akrab dengan metodologi modern, semakin berorientasi pada pendidikan dan fungsional dalam artian terbuka atas perkembangan di luar dirinya, diversifikasi program dan kegiatan makin terbuka dan ketergantungannya pun absolut dengan kyai, dan sekaligus dapat membekali para santri dengan berbagai pengetahuan di luar mata pelajaran agama maupun keterampilan yang diperlukan, serta berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat di samping sebagai pusat pendidikan Islam.40 Jadi dengan demikian, intinya, pesantren merupakan tempat sosialisasi dan internalisasi nilainilai yang telah membudaya. Oleh karena itu, penetapan kurikulum, proses, sistem evaluasi dan tujuannya didasarkan atas nilai-nilai pengetahuan serta aspirasi dan pandangan hidup yang berlaku dan dihormati oleh masyarakat. Disamping itu, peranan adanya peningkatan mutu pendidikan menuntut sebuah pesantren menjalin hubungan yang akrab dan harmonis dengan lembaga-lembaga lainnya yang berkembang di masyarakat. Semua itu merupakan mata rantai yang saling mendukung dan berkaitan dengan menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga sentral terhadap lembagalembaga lainnya yang ada di tengah-tengah masyarakat. 38Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, (Jakarta : Mulia Offset. 1999), cet. ke-1, hlm. 26 39Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam Perspektif Sosial Budaya, (Jakarta : Galasa Nusantara. 1997), cet. ke-1, hlm. 103-104 40M Rusli Karim, "Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transpormasi Sosial Budaya", dalam Muslih Usa (ed), Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta : Tiara Wacana. 1991), cet. ke-1, hlm. 134

Atas dasar itu, maka kehadiran sebuah pondok pesantren ditengahtengah masyarakat akan berdiri di atas dua kepentingan, yaitu sebagai agen pewaris budaya pada satu sisi untuk menanamkan nilai-nilai ajaran dasar agama Islam, dan disisi lain sebagai peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan pesantren untuk menghadapi tantangan perubahan masyarakat. Dengan kedua fungsi tersebut, diharapkan pondok pesantren akan tetap eksis dan dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk membentuk generasi yang siap menghadapi tuntutan dan tantangan zaman dan mengamalkan ajaran agama Islam hingga sekarang dan masa yang akan datang. Pola pengembangan pendidikan Islam yang disintesiskan dari pertemuan corak lama dan corak baru yang berwujud madrasah/sekolah, yang kemudian diadopsi oleh Thawalib Tanjung Limau dengan mengikuti format Barat terutama dalam sistem pengajarannya secara klasikal, tetapi isi pendidikan tetap menonjolkan ilmu-ilmu agama Islam.41 Awalnya pengembangan pendidikan telah dimulai dengan pembaharuan yang dilakukn oleh tiga orang haji yang kembali belajar dari Mekah, yaitu haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang.42 Perkembangan selanjutnya dilakukan oleh tiga serangkai pembaharu di Minang Kabau, yang dikenal dengan gerakan kaum muda mereka adalah Haji Rasul ( Inyiak Deer), Haji Abdullah Ahmad, dan Haji Djamil Jambek.43 Melalui peran mereka dan murid-murid mereka inilah lembaga pendidikan Islam berubah menjadi lembaga pendidikan yang lebih moderen, dengan format Baratnya yaitu memasukan pelajaran umum ke dalam lembaga tradisional dan memasukan pelajaran Agama ke sekolah-sekolah umum, serta dengan merobah metode halaqah di lembaga tradisional dengan metode belajar secara klasikal. E. Langkah-Langkah Penelitian 1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, karena yang 41Muhaimin, op. cit., hlm. 24 42Hamka, Adat Minag Kabau Menghadapi Revolusi, (Jakarta : Tekad, 1963), hlm.167 43Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru, ( Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2002), hlm. 122 17

akan diteliti adalah persoalan-persoalan yang memerlukan pemecahan pada saat sekarang. Dalam hal ini penelitian dimaksudkan untuk mengambarkan secara aktual mengenai peranan pondok pesantren Thawalib Tanjung dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Adapun aspek-aspek peranan yang akan digambarkan dalam penelitian ini diantaranya adalah: peranan Pondok pesantren dalam mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan, peranan dalam meningkatkan sumber daya manusia terutama dalam ilmu agama dan umum, dan peranan dalam pengembangan sarana dan prasarana pendidikan untuk mutu meningkatkan pendidikan Islam. Dalam mengambarkan peran pondok pesantren Thawalib dalam pengembangan Pendidikan Islam tersebut di atas, pendekatan yang penulis lakukan adalah pendekatan deskriptif -analitis historis. Maksudnya adalah data yang telah terkumpul; yaitu berupa kata, kalimat, dan gambar, yang dibagi dalam perioderisasi perkembangan pesantren sehingga pendekatan ini bukan kuantitatif yang mengunakan alat-alat pengukur data statistik. 2. Jenis Data Sesuai dengan metode penelitian yang dipilih di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara rinci gambaran mengenai peran Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam dalam pengembangan Pendidikan Islam, yang meliputi : (a) data tentang sejarah dan Perkembangan pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar, (b) data tentang visi, misi dan tujuan pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar, (c) data tentang kurikulum yang dipakai di pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar dalam Pengembangan Pendidikan Islam, (d) data tentang proses pelaksanaan dan evaluasi pendidikan Islam di pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar, (e) data tentang faktor pendukung dan penghambat pengembangan pendidikan Islam pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten

Tanah Datar, (f) data tentang peranan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam pengembangan pendidikan Islam. 3. Sumber Data Sumber data penelitian ini terdiri dari dua bagian yaitu: a. Data Primer Yang dimaksud dengan data primer di sini adalah data yang diperoleh dari lapangan. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah: 1) Pimpinan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau 2) Staf pengajar/ kyai 3) Dewan santri 3) Tokoh masyarakat yang ada disekitar pondok pesantren, dan 4) Alumni Pesantren Thawalib Tanjung Limau. b. Data Sekunder Yang dimaksud dengan data sekunder dalam penelitian ini adalah sumber data yang didapat dari literatur dan dokumentasi. 4. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi Teknik observasi maksudnya adalah teknik pengumpulan data dengan jalan pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti. Dalam teknik ini proses observasi dilakukan untuk mengamati atau mengetahui kondisi objektif peran pondok pesantren Thawalib terhadap pengembangan Pendidikan Islam. b. Wawancara Teknik wawancara maksudnya adalah teknik pengumpulan data dengan proses melakukan tanya jawab atau wawancara dengan sumber data primer yang telah ditentukan sebelumnya. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur, maksudnya adalah pewawancara menentukan sendiri masalah dan 19

pertanyaan yang diajukan sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Wawancara diajukan kepada sumber data primer, yaitu pimpinan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau, staf pengajar atau dewan guru/kiyai, dewan santri, dan tokoh masyarakat dan alumni. c. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi maksudnya adalah teknik pengumpulan data dengan jalan mengumpulkan dokumen resmi pondok pesantren berupa arsip, photo-photo kegiatan yang berkaitan dengan peran Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam pengembangan pendidikan Islam. 5. Analisis Data Analisis merupakan bagian yang sangat penting dalam metode ilmiah, sebab dalam bagian inilah data tersebut dapat memberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah. Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja (ide) seperti yang disarankan oleh data.44 Setelah data diperoleh, langkah berikutnya adalah menganalisis data. Karena datanya kualitatif, maka pendekatan yang digunakan dalam menganalisis data ini adalah pendekatan kualitatif. Adapun langkahlangkahnya adalah sebagai berikut : a. Reduksi Data Data atau informasi yang diperoleh dari lapangan sebagai bahan “mentah” direduksi, dirangkum, disusun secara sistematis, dipilih hal-hal yang pokok, atau difokuskan kepada hal-hal yang penting yang relevan dengan subyek penelitian, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas atau tajam tentang hasil yang telah diperoleh. b. Display Data 44Lexy Meliong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 280

Langkah lanjut dari reduksi dengan menyusunnya secara rapi dan sistematis untuk disajikan dengan uraian naratif. Hal ini dilakukan untuk mendapat gambaran yang utuh dari data yang diperoleh, atau gambaran tentang keterkaitan antara aspek yang satu dengan aspek lainnya. c. Verifikasi Data Penarikan kesimpulan-kesimpulan secara sementara, kemudian dilengkapi dengan data pendukung lainnya sehingga sempurnalah hasil dari penelitian. verifikasi dilakukan dengan melihat kembali pada reduksi data maupun display data sehingga kesimpulan tidak menyimpang dari data yang dianalisis. d. Melakukan penulisan terhadap data yang telah dianggap valid dan sesuai dengan masalah penelitian.45 F. Studi Kepustakaan Sampai saat penelitian ini dilakukan, belum ada bahan yang cocok maupun dokumentasi/arsip yang memadai sebagai sumber penulisan peran pondok pesantren Thawalib yang terletak di Tanjung Limau Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar, oleh karena itu sebagai acuan yang kuat bagi penulis, maka penulis mengambil sebuah skripsi yang berjudul : Aktifitas Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Dalam Melaksanakan Dakwah Islamiah di Desa Tanjung Limau Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar, oleh Asrinaldi, BP. 295 015 Jurusannya adalah Bidang Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol (IB) Padang. Dan juga skripsi Widiawati, Bp. 295.107, judul: "Perhatian Pengelola Terhadap Lembaga Pendidikan Islam Di Desa Tanjung Limau Simabur Kecamatan Pariangan", STAIN Batusangkar, Fak Tarbiyah Jurusan PAI Adapun isi dari skripsi Asrinaldi di atas adalah bagaimana keberadaan pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam membina 45Syamsu Yusuf, Penelitian Pendidikan, (Bandung : Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. 2003), hlm. 16-17 21

kader dakwah dan bagaimana peranan dakwah dalam masyarakat sekitarnya. Sedangkan isi skripsi Widiawati adalah bagaimana perhatian pengelola Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Terhadap keberadaan pondok pesantren ini sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam di desa Tanjung Limau. Sedangkan penulis di sini ingin menulis tentang bagaimana Peranan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat, dan menurut hemat penulis, pembahasan yang telah ada meski sama-sama meniliti Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau, akan tetapi berbeda dalam masalah yang akan diteliti. Penulis meneliti pesantren ini dititip beratkan pada masalah, bagaimana pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau melakukan inovasi, memperhatikan posisinya dan menerapkan tugas pokoknya serta berfungsi dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. BAB II TINJAUAN TEORITIK TENTANG PERANAN PESANTREN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM A. Konsep Peranan (Role Consep) Suatu bagian penting dari lembaga ialah peranan. Peranan ialah aspekaspek dinamis dari kedudukan dan jabatan di dalam suatu lembaga, dan ia menetapkan perilaku para pemegang peranan itu.46 Di Pesantren, pemegang peranan itu meliputi pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Peranan memiliki harapan-harapan yaitu kewajiban, tanggung jawab, dan haknya. Peranan adalah tindakan seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya. Peranan dianggap penting karena mengatur perilaku seseorang. Peranan memberi batasan-batasan tertentu kepada orang agar dapat meramalkan perbuatan-perbuatan orang lain. Peranan diatur oleh norma-norma yang berlaku. 46Astrid Susanto, 1979), hlm. 32 Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung : Bumi Cipta,

Menurut Soekanto, Peranan mencakup tiga hal, yaitu : Pertama: Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyarakat. Kedua: Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Ketiga: Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.47 Menurut Amran Peranan adalah “bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan”.48 Sedangkan menurut Wrightman sebagaimana yang dikutip oleh Ozer Usman, Peranan adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang di lakukan dalam suatu situasi tertentu.49 Menurut teori peranan (Role Theory), peranan adalah sekumpulan tingkah laku yang dihubungkan dengan suatu posisi. Menurut teori ini, peranan yang berbeda membuat jenis tingkah laku yang berbeda pula. Tetapi apa yang membuat tingkah laku itu sesuai dalam suatu situasi dan tidak sesuai dalam situasi lain relatif independent (bebas) pada seseorang yang menjalankan tersebut.50 Berdasarkan dari teori-teori peranan yang telah diuraikan di atas, maka yang dimaksud dengan peranan dalam penelitian di sini, yaitu suatu kondisi yang diperankan atau dijalankan oleh pesantren dalam menghadapi dinamika pengembangan pendidikan di luar pesantren, terutama terhadap kehidupan masyarakat di Kabupaten Tanah Datar. Peranan yang dijalankan oleh Pesantren tersebut, yaitu pengembangan kelembagaannya, peningkatan sumber daya manusia, pengembangan sarana-prasarana, ilmu dan keterampilan. B. Pendidikan Pesantren 1. Pengertian dan Sejarah Pendidikan Pesantren Menurut pandangan Muhaimin dan Abdul Mujib, istilah pendidikan 47Soerjono Soekanto, Beberapa Teori Tentang Stuktur Masyarakat, (Jakarta : CV Rajawali, 1984), hlm. 76 48Amran, Kamus Lengkap-Bahasa Indonesia, (Bandung : Bumi Akasara, 1995), hlm. 449 49Wrightman, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Yogya Press, 1995), hlm. 231 50Soerjono Soekanto, Soisiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : Raja Grafindo, 1989), hlm. 114 peranan 23

pesantren berasal dari istilah Kuttab yang merupakan lembaga pendidikan Islam yang berkembang pada masa Bani Umayyah. Di Indonesia, istilah Kuttab lebih dikenal dengan istilah pondok pesantren.51 Sedangkan menurut pengertian Departemen Agama Republik Indonesia, yang dimaksud dengan pondok pesantren adalah pendidikan luar sekolah yang didirikan dan dikelola oleh masyarakat yang khususnya mempelajari /mendalami ajaran agama Islam dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) adanya pengasuh, seperti kyai/ajengan, tuan guru, buya, tengku, atau ustadz, (2) adanya mesjid sebagai pusat kegiatan ibadah dan tempat belajar, (3) adanya santri atau siswa yang belajar, (4) adanya asrama/pondokan sebagai tempat santri tinggal/mondok, (5) adanya pengkajian kitab kuning atau kitab klasik tentang ilmuilmu ke-Islaman berbahasa Arab gundul sebagai sumber belajarnya.52 Pengertian lain dari pesantren seperti yang dikatakan oleh Mastuhu, yaitu sebagai berikut: Pendidikan pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam (tafaqquh fiddin) dengan menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari. Penyelenggaraan lembaga pendidikan pesantren berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri di bawah pimpinan kyai atau ulama dibantu oleh seorang atau beberapa ulama dan atau para ustadz yang hidup bersama di tengah-tengah para santri dengan mesjid atau surau sebagai pusat kegiatan peribadatan keagamaan, gedunggedung, sekolah atau ruang-ruang belajar, serta pondok-pondok sebagai tempat tinggal para santri.53 Melihat dari berbagai macam pengertian pendidikan pasantren, maka Ahmad Tafsir seorang Guru Besar Pendidikan Islam menegaskan, bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia setelah keluarga dengan ciri-ciri: (1) Ada kyai, (2) Ada pondok, (3) Ada mesjid, (4) Ada 51Pondok Pesantren yaitu lembaga pendidikan Islam yang di dalamnya terdapat kyai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (anak didik) dengan sarana Masjid yang dugunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut, serta didukung adanya pondok atau bangunan sebagai tempat tinggal para santri dan mempelajari kitab kuning. Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam: Kjian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung : Trigenda karya, 1993), cet. ke-1, hlm. 298-299 52DepartemenAgama RI, Pedoman Supervisi Pondok Pesantren Salafiyah dalam Rangka Wajib Belajar Pendidikan Dasar, (Jakarta : Dirjen Binbagais Depag RI, 2002), cet. ke-1, hlm. 1112 53Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta : INIS, 1994), cet. ke-1, hlm. 6

santri, (5) Ada pengajaran membaca kitab kuning.54 Dari macam-macam pengertian pesantren sebagaimana tersebut di atas, maka dapat penulis ditegaskan di sini bahwa, pendidikan pesantren merupakan sebuah sistem yang unik. Tidak hanya unik dalam pendekatan pembelajaran tetapi unik dalam pandangan hidup dan tata nilai yang dianut, cara hidup yang ditempuh, struktur pembagian kewenangan dan semua aspek-aspek pendidikan dan kemasyarakatan lainnya. Oleh sebab itu, tidak ada defenisi yang dapat secara tepat mewakili pendidikan pesantren yang ada. Masingmasing pesantren mempunyai keistimewaan sendiri, yang tidak dimiliki oleh pesantren lainnya. Meskipun demikian, dalam hal-hal tertentu pendidikan pesantren memiliki persamaan. Persamaan-persamaan inilah yang lazim disebut sebagai ciriciri pendidikan pesantren, dan selama ini dianggap dapat mengimplikasikan pesantren secara kelembagaan. Atas dasar itu, maka dalam tulisan ini dapat penulis simpulkan bahwa sebuah lembaga pendidikan dapat disebut pesantren apabila di dalamnya minimal terdapat lima unsur pokok, yaitu: kyai (Buya sebutan di Minang Kabau), santri, pengajian, asrama, mesjid dan segala aktivitas pendidikan keagamaan dan kemasyarakatan. Masalahnya kemudian adalah apakah pendidikan pesantren ini merupakan ciri khas atau produk asli sistem pendidikan Indonesia? Bagi masyarakat muslim Indonesia, pesantren dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya pendidikan Islam. Pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional asli Indonesia sebagaimana yang diyakini oleh Karel A Steenbrink, Clifford Geertz dan yang lainnya.55 Hanya saja mereka berbeda ketika mengungkapkan proses lahirnya pesantren.56 Nurcholis Madjid pernah menegaskan, pesantren adalah artefak peradaban Indonesia yang dibangun sebagai institusi pendidikan keagamaan bercorak 54Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Rosda Karya, 1992), cet. ke-2, hlm. 190 55Syaifuddin (Ed.)., Sinergi Madrasah dan Pondok Pesantren, (Jakarta : Departemen Agama RI, 2004), cet. ke-1, hlm. 18 56Pada umumnya, hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para sarjana, baik dalam maupun luar negeri, ini terpublikasikan dalam bentuk buku, di antaranya: Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai (Zamakhasyari Dhoffier), Pesantren , Madrasah, Sekolah (Karel A. Streenbrik), The Religion of Java, The Japanese Kyai, dan Islam Observer (Clifford Geertz), Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat ( Martin van Bruinessen), dan lain sebagainya. 25

tradisional, unik dan indigenous. Dia menegaskan, pesantren mempunyai hubungan historis dengan lembaga pra-Islam yang sudah ada semenjak kekuatan Hindu-Budha, sehingga tinggal meneruskannya melalui proses Islamisasi dengan segala bentuk penyesuaian dan perubahannya.57 Berdasarkan sejarah yang berkembang, mengindikasikan bahwa pesantren tertua, baik di Jawa maupun di luar Jawa tidak dapat dilepaskan dari inspirasi yang diperoleh melalui ajaran yang dibawa para Walisongo.58 Sementara itu Zamakhsyari Dhofier, berpendapat, berdasarkan keterangan-keterangan yang terdapat dalam dan Serat Cebolek dan Serat Centani, dapat disimpulkan bahwa paling tidak sejak permulaan abad ke-16 M telah banyak pesantren-pesantren yang masyhur dan menjadi pusat pendidikan Islam.59 Bahkan Mastuhu berpendapat bahwa keberadaan pesantren mulai dikenal sejak periode abad ke-13 M.60 Kehadiran pesantren di tengah masyarakat tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga penyiaran agama Islam, dan sosial keagamaan. Pesantren berhasil menjadikan dirinya sebagai pusat gerakan pengembangan Islam, seperti yang diakui oleh Dr. Soebardi dan Prof. Johns sebagaimana dikutip oleh Zamakhsyari Dhofier sebagai berikut: Lembaga-lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak keislaman dari kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Dari lembagalembaga pesantren itulah asal-usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara yang tersedia secara terbatas, yang dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama dari perusahaan-perusahaan dagang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke-16.61 Selama zaman kolonial, pesantren tidak termasuk dalam perencanaan pendidikan pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah Belanda berpendapat bahwa sistem pendidikan Islam sangat jelek baik ditinjau dari segi tujuan, maupun metode bahasa (bahasa arab) yang dipergunakan untuk mengajar, sehingga sangat 57Nurcholis Madjid, Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramedina, 1997), cet. ke-1, hlm. 10 58Abdurrrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren, (Yogyakarta : LKIS, 2004), cet. ke-1, hlm. 63-69 59Zamakhsyari Dhofier, op. cit., hlm. 33-35 60Mastuhu, op. cit., hlm. 7 61Zamakhsyari Dhofier, op . cit., hlm. 17-18

sulit untuk dimasukkan dalam perencanaan pendidikan umum pemerintah kolonial. Tujuan pendidikannya dinilai tidak menyentuh kehidupan duniawi, metode yang dipergunakan tidak jelas kedudukannya. Sebaliknya mereka menerima sekolah zending untuk dimasukkan ke dalam sistem pendidikan pemerintah kolonial, karena secara filosofis dan teknik dianggap lebih mudah, yaitu baik tujuan, metode maupun bahasa yang dipergunakan sesuai dengan nilai kebiasaan pemerintah kolonial. Orientasi sekolah umum diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan dalam hidup keduniawian, sedang pesantren mengarahkan orientasinya pada pembinaan moral dalam konteks kehidupan ukhrawi.62 Pada zaman revolusi pesantren merupakan salah satu pusat gerilya dalam peperangan melawan Belanda untuk merebut kemerdekaan. Banyak santri membentuk barisan Hizbullah yang kemudian menjadi salah satu embrio bagi Tentara Nasional Indonesia. Ciri khas pada angkatan darat pada masa awalnya menggambarkan adanya corak kepesantrenan.63 2. Tipologi Pesantren Salah seorang peneliti dan pemerhati lembaga pendidikan Islam, yaitu Zamakhsyari Dhofier mengatakan, bahwa tipologi pesantren dapat dilihat dari aspek jumlah santri dan pengaruhnya, yaitu sebagai berikut: Pertama: Pesantren yang santrinya kurang dari 1000 orang dan pengaruhnya hanya pada tingkat kabupaten, disebut sebagai pesantren kecil. Kedua: Pesantren yang santrinya antara 1000-2000 orang dan pengaruhnya pada beberapa kabupaten, disebutnya sebagai pesantren menengah. Ketiga: Pesantren yang santrinya lebih dari 2000 orang dan pengaruhnya tersebar pada tingkat beberapa kabupaten dan propinsi dapat digolongkan sebagai pesantren besar.64 Sementra itu, Amin Haedari mengelompokkan tipe terbaru dari sebuah pondok pesantren sebagai berikut : Pertama: Tipe I, yaitu pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal 62Karel A Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, (Jakarta : LP3ES, 1986), cet. ke-2, hlm. 1-9 63B.J Boland, Pergumulan Islam di Indonesia, (Jakarta : Grafiti Press, 1985), cet. ke-1, hlm. 14-27 64Zamakhsyari Dhofier, op. cit., hlm. 42 27

dengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA dan PT Agama Islam) maupun yang juga memiliki sekolah umum (SD,SMP,SMA, dan PT Umum). Kedua: Tipe II, yaitu pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional. Ketiga: Tipe III, yaitu pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam dalam bentuk Madrasah Diniyah (MD). Keempat:Tipe IV, yaitu pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian.65 3. Komponen Pembelajaran di Pesantren a. Tujuan Pembelajaran di Pesantren Dalam kaedah ushul fiqh dikatakan bahwa “Al-Umur Bimaqoshidiha” yang mengandung makna bahwa setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Hal ini karena dengan berorientasi pada tujuan itu, dapat diketahui bahwa tujuan dapat berfungsi sebagai standar untuk mangakhiri usaha, serta mengarahkan usaha yang dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuantujuan lain. Di samping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicitacitakan dan yang terpenting lagi dapat memberi penilaian pada usaha-usahanya.66 Pesantren mempunyai tujuan keagamaan, sesuai dengan pribadi dari kyai sendiri. Kebiasaan mendirikan lembaga pendidikan pesantren dipengaruhi oleh pengalaman pribadi kyai semasa belajar di pesantren.67 Tujuan pendidikan di pesantren sarat dengan muatan-muatan keagamaan, bahkan seorang kyai pernah menjelaskan bahwa berdirinya pesantren adalah sebagai amal ibadah untuk kehidupan akhirat68. Tujuan pembelajaran di pesantren lebih mengutamakan niat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat daripada mengejar hal-hal yang bersifat material. Seseorang yang mengaji/mesantren disarankan agar 65Amin Haedari, op. cit., hlm. 16 66Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung : Al-Ma’arif, 1989), cet. ke9, hlm 45-46 67Manfred Ziemek, Pesantren dalam Perubahan Sosial, (Jakarta : P3M, 1986), cet. ke-1, hlm. 134-135 68Sukamto, op. cit., hlm. 140

memantapkan niatnya dan mengikuti pengajian itu semata-mata untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya. Menurut Mashutu, tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan brtaqwa kepada Allah, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat, mampu mandiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat (‘izzul Islam wal Muslimin), dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.69 Jadi dengan demikian, tujuan terpenting dari pembelajaran di pesantren harus berorientasi pada kemanfaatan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran dan pendirian pesantren itu sendiri, seperti kyai, santri dan masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran di pesantren dapat dirasakan manfaatnya bagi diri kyai dan keluarganya, para santri /pelajar, dan bagi masyarakat yang berada di sekitar pesantren. b. Kyai dalam Pembelajaran di pesantren Kyai atau pengasuh pesantren merupakan komponen yang sangat essensial bagi suatu pesantren. Rata-rata pesantren yang berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa dan Madura, sosok kyai begitu sangat berpengaruh, kharismatik dan berwibawa, sehingga amat disegani oleh masyarakat di lingkungan pesantren. Di samping itu, kyai pesantren biasanya juga sekaligus sebagai penggagas dan pendiri dari pesantren yang bersangkutan. Oleh karenanya, sangat wajar jika dalam pertumbuhannya, pesantren sangat bergantung pada peran seorang kyainya. Menurut asal-usulnya, perkataan kyai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda, yaitu: Pertama, sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat, seperti “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang ada di Keraton Yogyakarta. Kedua, gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya. Ketiga, gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya.70 69Mashutu, op. cit., hlm. 55-56 70Zamakhsyari Dhofier, op. cit., hlm. 55 29

Sementara di Jawa Barat digunakan istilah “Ajengan”, di Aceh dengan “Tengku”, di Sumatera Barat dinamakan “Syaikh atau Buya”, dan di Kalimantan dan NTB disebut “Tuan Guru”. Bagi masyarakat Islam tradisional, kyai di pesantren dianggap sebagai figur sentral yang diibaratkan kerajaan kecil yang mempunyai wewenang dan otoritas mutlak (power and authority) di lingkungan pesantren. Tidak seorangpun santri atau orang lain yang berani melawan kekuasaan kyai (dalam lingkungan pesantrennya), kecuali kyai lain yang lebih besar pengaruhnya. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan kyai dalam proses pembelajaran di pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pengajar atau pendidik semata, akan tetapi lebih dari itu kyai berkedudukan pula sebagai penjaga moral masyarakatnya. c. Santri dalam Pembelajaran di Pesantren Komponen yang tak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran di pesantren adalah santri. Santri adalah siswa atau murid yang belajar di pesantren. Seorang ulama bisa disebut sebagai kyai kalau memiliki pesantren dan santri yang tinggal dalam pesantren tersebut untuk mampelajari ilmuilmu agama Islam melalui kitab-kitab kuning. Oleh karena itu, eksistensi kyai biasanya juga berkaitan dengan adanya santri di pesantrennya. Pada umumnya, santri terbagi dalam dua kategori, yaitu sebagai berikut: Pertama, santri mukim, yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap di pesantren. Kedua, santri kalong, yaitu para siswa yang berasal dari desa-desa di sekitar pesantrennya.71 Santri mukim yang paling lama tinggal (santri senior) di pesantren tersebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. Santri senior juga memikul tanggung jawab mengajar santri-santri yunior tentang kitab dasar dan menengah. Adapun santri kalong umumnya adalah para anak-anak penduduk yang berada di sekitar pesantren yang mengikuti pengajian di pesantren tersebut. Oleh karena itu mereka sering bolak-balik dari rumahnya sendiri. Para Santri kolong 71Zamakhsyari Dhofier, op. cit., hlm. 51-52

berangkat ke pesantren ketika ada tugas belajar dan aktivitas pesantren lainnya. Apabila pesantren memiliki lebih banyak santri mukim daripada santri kolong, maka pesantren tersebut adalah pesantren besar. Sebaliknya, pesantren kecil memiliki lebih benyak santri kolong daripada santri mukim. Menurut Amin Haedari dan Abdullah Hanif, alasan utama seorang santri tinggal di pesantren di anataranya adalah karena: Pertama: Berkeinginan mempelajari kitab-kitab lain yang membahas Islam secara lebih mendalam langsung di bawah bimbingan seorang kyai yang memimpin pesantren tersebut. Kedua: Berkeinginan memperoleh pengalamann kehidupan pesantren, baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian maupun hubungan dengan pesantren-pesantren lain. Ketiga: Berkeinginan memusatkan perhatian pada studi di pesantren tanpa harus disibukkan dengan kewajiban sehari-hari di rumah. Selain itu, dengan menetap di pesantren, yang sangat jauh letaknya dari rumah, para santri tidak akan tergoda untuk pulang balik, meskipun sebenarnya sangat menginginkannya.72 Jadi dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan santri adalah para siswa yang belajar di pesantren. Mereka sama kedudukannya dengan siswa-siswa yang sekolah di pendidikan umum. d. Materi Pembelajaran di Pesantren Ciri-ciri khusus dalam pembelajaran di pesantren adalah isi kurikulum atau materi pembelajarannya dibuat terfokus pada ilmu-ilmu agama Islam, misalnya ilmu sintaksi arab, morfologi arab, hukum Islam, hadist, tafsir, al-Quran, teologi Islam, tasawuf, tarikh Islam, dan retorika/ mantiq. 73 Literatur-literatur ilmu tersebut memakai kitab-kitab klasik yang disebut dengan istilah kitab kuning dengan ciri-ciri sebagai berikut: Pertama, kitab-kitabnya berbahasa Arab. Kedua, umumnya tidak memakai syakal, bahkan tanpa titik dan koma. Ketiga, berisi keilmuan yang cukup berbobot. Keempat, metode penulisannya diangggap kuno dan relevansinya dengan ilmu kontemporer kerapkali tampak menipis. Kelima, lazimnya dikaji dan 72Amin Haedari dan Abdullah Hanif, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas Global,( Jakarta : IRD Press, 2004), cet. ke. 1, hlm. 36 73Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, (Jakarta : Mulia Offsert, 1999), cet. ke-1, hlm. 26 31

dipelajari di pesantren. Keenam, banyak diantara kertasnya berwarna kuning.74 Di kalangan pesantren sendiri, di samping istilah Kitab Kuning, beredar juga istilah kitab klasik (al-kutûb al-qâdimah), untuk menyebut jenis kitab yang sama. Bahkan, karena tidak dilengkapi dengan baris (syakl), kitab kuning juga kerap disebut dikalangan pesantren sebagai kitab gundul. Dan karena rentang waktu sejarah yang sangat jauh dari kemunculannya sekarang, tidak sedikit yang menjuluki kitab kuning ini dengan istilah “kitab kuno”.75 Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa materi pembelajaran di pesantren mempunyai ciri khas tersendiri, terutama dilihat dari segi kitab yang diajarkannya hingga materi ajarnya yang keseluruhannya berbahasa Arab dengan menitik beratkan pada pengajaran ilmu-ilmu agama Islam. e. Metode Pembelajaran di Pesantren Ada beberapa metode pengajaran yang diberlakukan di pesantren-pesantren, diantaranya: sorongan , weton/bandongan, halaqah, hafalan, hiwar, bahtsul masa’il, fathul kutub, dan muqaranah. Metodemetode pembelajaran tersebut tentunya belum mewakili keseluruhan dari metodemetode pembelajaran yang ada di pesantren, tetapi setidaknya paling banyak diterapkan di lembaga pendidikan tersebut. Disini penulis hanya menjelaskan tiga buah metode, yaitu sebagai berikut: 1) Sorogan Sorogan berasal dari kata sorong (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau pembantunya.76 Sedangkan menurut Amir Hamzah Wijosukarto, yang dimaksud dengan metode sorongan adalah metode pembelajaran di pesantren yang santrinya cukup pandai mensorongkan (mengajukan) sebuah kitab kepada kyai untuk dibaca di hadapannya.77 74Hasan, Islam dalam Perspektif Sosial dan Budaya, (Jakarta: Bina Ilmu, 1996), hlm. 103104 75Ali Yafie, “Kitab Kuning: Produk Peradaban Islam”, Pesantren, VI, I, (Jakarta : Wacana Ilmu, 1988), hlm. 3 76Habib Chirzin, Ilmu dan Agama dalam Pesantren, (Jakarta : LP3ES, 1995), cet. ke-1, hlm. 88 77Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, (Jember :

2) Wetonan atau Bandongan Istilah wetonan berasal dari kata wektu (bahasa Jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardu. Metode weton ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya.78 3) Halaqah Metode halaqah merupakan kelompok kelas dari metode bandongan. Halaqah yang arti menurut bahasa, yaitu lingkaran murid, atau sekompok siswa yang belajar di bawah bimbingan seorang guru atau belajar bersama dalam satu tempat. Halagah ini juga merupakan diskusi untuk memahami isi kitab, bukan untuk mempertanyakan kemungkinan besar salahnya apa-apa yang diajarkan oleh kitab, tetapi untuk memahami apa maksud yang diajarkan oleh kitab.79 Jadi dengan demikian, metode yang umumnya digunakan dalam pembelajaran di pesantren terdiri dari tiga buah, yaitu: sorongan, wetonan/bandungan, dan halaqah/musyawarah. Namun demikian, ada juga pesantren yang menggunakan metode lainnya seperti muqaranah dan lainnya. Pengunaan metode ini dilaksanakan khusus dalam pembelajaran terhadap kitabkitab klasik dan umumnya berlaku bagi pesantren yang bersifat tradisional (salafiyah). C. PENDIDIKAN ISLAM 1. Pengertian Pendidikan Islam Di dalam Islam ada dua istilah yang dipakai untuk pendidikan, yaitu tarbiyah dan ta’dib. Kedua istilah ini mempunyai perbedaan yang mencolok. Menurut Nuqaib al-Atas, tarbiyah secara semantik tidak khusus ditujukan untuk mendidik manusia, tetapi dapat dipakai kepada spesiaes lain, seperti mineral, tanaman dan hewan. Selain itu tarbiyah berkonotasi material; ia mengadung arti Muria Offset, 1985), hlm. 26 78Habib Chirzin, op. cit., hlm. 88 79Mastuhu, op. cit., hlm. 61 33

mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, memproduksi hasil yang sudah matang dan menjinakkan80 Adapun ta’dib mengacu pada pengertian (ilm), pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Dari itu katanya “ta’dib” merupakan istilah yang paling tepat dan cermat untuk menunjukan pendidikan dalam Islam.81 Dalam pembahasan ini, Istilah pendidikan Islam perlu ditegaskan terlebih dahulu, bahwa kata Islam merupakan kata kunci yang berfungsi sebagai sifat, penegas dan pemberi ciri khusus bagi kata pendidikan. Dengan demikian, pengertian pendidikan Islam menunjukan makna pendidikan secara khas memiliki ciri islami yang berbeda dengan model pendidikan lainnya. Menurut UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1, yang dimaksud dengan pendidikan adalah : Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.82 Pendidikan secara sederhana dan umum dapat diartikan sebagai usaha manusia unuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.83 Sedangkan Menurut Ngalim Purwanto, Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.84 Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu pada term al-tarbiyah, al-ta’dib dan al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut term yang sering digunakan adalah al-tarbiyah. Pengunaan istilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb. Walupun kata ini memiliki banyak arti, tetapi pengertian dasarnya 80Shed Muhammad Al-Nuqaib al-Atas, Konsep Pendidikan dalam Islam, terjemahan Haidar Bagir, (Bandung : Mizan, 1984), hlm. 66 81Ibid., hlm. 74 - 75 82UndangUndang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tantang Sistem Pendidkan Islam Nasional 83Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta : RinekaCipta, 2001), hlm. 1-2 84M Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosda karya, 1991), hlm. 11

menunjukan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.85 Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat dipahami secara singkat bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan Jasmani dan rohani yang berpedoman kepada ajaran Islam untuk mencapai kepribadian Muslim. Disamping itu pendidikan berfungsi untuk menghasilkan manusia yang dapat menempuh kehidupan yang indah di dunia dan kehidupan yang indah di akhirat serta terhindar dari siksaan Allah yang maha pedih. Berbeda dengan pendidikan Barat yang bertitik tolak dari filsafat pragmatisme, yaitu yang mengukur kebenaran menurut kepentingan waktu, tempat dan situasi, dan berakhir pada garis hajat.86 Filsafat ilmunya adalah kegunaan/utilities.87 Fungsi pendidikan tidaklah sampai untuk menciptakan manusia yang dapat menempuh kehidupan yang indah di akhirat, akan tetapi terbatas pada kehidupan duniawi semata. 2. Sistem dan Komponen-komponen Pendidikan a. Sistem Pendidikan Islam Menurut Mastuhu, Sistem pendidikan adalah totalitas interaksi dari seperangkat unsur-unsur pendidikan yang bekerja sama secara terpadu, dan saling melengkapi satu sama lain menuju tercapainya tujuan pendidikan yang telah menjadi cita-cita bersama para pelakunya.88 Kerja sama antar para pelaku ini didasari, digerakkan, digairahkan, dan diarahkan oleh nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh mereka. Dengan demikian, sistem pendidikan Islam, secara makro merupakan usaha pengorganisasian proses kegiatan kependidikan yang didasarkan kepada ajaran Islam, dan berdasarkan atas pendekatan sistemik sehingga pelaksanaan operasionalnya terdiri dari berbagai sub-sub sistem dari jenjang pendidikan pradasar, menengah dan perguruan tinggi yang harus memiliki vertikalisasi dalam 85Samsu Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dann Praktis, (Jakarta : Ciputat Pers, 2002), hlm. 25-26 86Lihat Islam untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Proyek Pembinaan Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, 1984), hlm. 12 87Imam Bernadib, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta : FIP.IKIP, 1983), hlm. 23 88Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos, 1999), hlm. 6 35

kualitas pengetahuan dan tekhnologi yang makin optimal, dan setiap tingkat mencerminkan meningkatnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, dan arahnya tetap menjiwai pribadi peserta didik, yang sejalan dengan tuntutan alQur’an dan al- Hadits. b. Komponen-komponen Pendidikan Islam 1) Tujuan Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan.89 Setiap tindakan atau usaha yang dilakukan harus berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan merupakan masalah sentral dalam proses pendidikan. Menurut Mulyasa tujuan pendidikan nasional apabila dilihat pada jenjang pendidikannya, dapat dikelompokkan sebagai berikut: (a) Tumbuh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (b) Tumbuh sikap beretika ( sopan santun dan beradab), (c) Tumbuh penalaran yang baik (mau belajar, ingin tahu, senang membaca, memiliki inovasi, berinisiatif, dan bertanggung-jawab), (d) Tumbuh kemampuan komunikasi/sosial (tertib, sadar aturan, dapat bekerja sama dengan teman, dan dapat berkompetisi), (e) Tumbuh kesadaran untuk menjaga kesehatan badan.90 Sedangkan apabila dilihat dari kompetensi lulusan untuk tingkat pendidikan dasar dan menegah untuk sekolah atau madrasah, menurut Depdiknas dalam bukunya Mulyasa adalah: (a) Mengenali dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakini, (b) Mengenali dan menjalankan hak dan kewajiban diri, beretos kerja, dan peduli terhadap lingkungan, (c) Berfikir secara logis, kritis dan kreatif serta berkomunikasi melalui berbagai media, (d) Menyenangi keindahan, (e) Membiasakan hidup bersih, bugar dan sehat, (f) Memiliki rasa cinta dan bangga terhadap bangsa dan tanah air.91 Pendidikan sebagai suatu proses yang bertahap dan bertingkat, maka memerlukan tujuan yang bertahap dan bertingkat pula. Secara umum, tujuan Pendidikan itu terbagi kepada empat kategori, yaitu tujuan umum, tujuan akhir, 89Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), hlm. 28 90E Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 26 91 Ibid., hlm. 28

tujuan sementara, dan tujuan operasional.92 Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain.93 Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan seperti sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan. Dalam konteks pendidikan di Indonesia tujuan pendidikan umum adalah tujuan nasional. Dari pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan pendidikan Islam itu ialah mengarahkan dan membimbing manusia melalui proses pendidikan sehingga menjadi orang dewasa yang berkepribadian muslim yang bertaqwa, berilmu pengetahuan dan keterampilan, melaksanakan ibadah kepada Tuhannya sesuai dengan niali-nilai ajaran Islam. Tujuan umum pendidikan Islam ialah muslim yang sempurna, manusia yang bertaqwa, manusia yang beriman, atau manusia yang beribadah kepada Allah SWT. 2) Pendidik Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung-jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial, dan sebagai individu yang dapat berdiri sendiri.94 Sementara Ahmad Tafsir mengatakan pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung-jawab terhadap perkembangan anak didik, dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun potensi psikomotorik.95 Pendidikan Islam menggunakan tanggung-jawab sebagai dasar untuk menentukan pengertian pendidik, sebab pendidikan merupakan kewajiban agama, dan kewajiban ini dibebankan kepada orang yang sudah dewasa. Ini berarti pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung-jawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan. Kewajiban ini bersifat personal, dalam arti setiap orang 92 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta : Bumi Aksara, 1996), hlm. 30-32 93 Ibid., hlm. 30 94Nur Uhbiyati, op. ci.t., hlm. 65 95Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 74 37

bertanggung-jawab atas pendidikan dirinya sendiri, kemudian bersifat sosial, dalam arti setiap orang bertanggung-jawab atas pendidikan orang lain. 3) Peserta didik Dalam bahasa Arab dikenal tiga istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pada anak didik. Tiga istilah tersebut adalah murid yang secara harfiah berarti orang yang menginginkan atau membutuhkan sesuatu; tilmidz (jamaknya) talamidz yang berarti murid, dan thalib al-Ilm yang menuntut ilmu, pelajar atau mahasiswa. Ketiga istilah tersebut seluruhnya mengacu kepada seseorang yang tengah menmpuh pendidikan. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaannya. Pada sekolah dasar yang tingkatannya rendah seperti SD digunakan istilah murid dan tilmidz, sedangkan pada sekolah yang tingkatannya lebih tinggi seperti SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi digunakan istilah thalab alilm.96 Berdasarkan pengertian di atas, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan. Dalam pandangan Islam hakikat ilmu berasal dari Allah, sedangkan proses memperolehnya dilakukan melalui belajar tanpa guru. Dalam pandangan yang lebih modren, anak didik tidak hanya dipandang sebagai objek atau sasaran pendidikan sebagaimana disebutkan di atas, melainkan juga harus diberlakukan sebagai subjek pendidikan.97 Hal ini antara lain dilakukan dengan melibatkan mereka dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Karena peserta didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memiliki keinginan, citacita, dan tujuan, sehingga ia harus aktif dalam proses kegiatan pendidikan. Peserta didik dalam pendidikan Islam adalah anak yang sedang tumbuh berkembang, baik secara fisik maupun psikis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan. Anak atau subjek adalah orang yang belum dewasa dan sedang berada dalam masa perkembangan menuju pada kedewasaannya masing-masing.98 96Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos, 1996), hlm. 79 97Ibid., hlm. 79 98Ahmad Supardi, op. cit., hlm. 86

4) Kurikulum Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni curriculum yang awalnya mempunyai pengertian a running course, dan dalam bahasa Perancis yakni courier berarti to run yang artinya berlari. Istilah ini kemudian digunakan untuk sejumlah mata pelajaran (courses) yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar penghargaan dalam dunia pendidikan,yang dikenal dengan ijazah .99 Kata kurikulum mulai dikenal sebagai istilah dalam dunia pendidikan sejak kurang lebih satu abad yang lalu. Istilah kurikulum muncul untuk pertama kalinya dalam kamus Webster tahun 1856. pada tahun itu, kurikulum digunakan dalam bidang olah raga, yakni sesuatu hal yang membawa orang dari start sampai ke finish. Barulah pada tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan, dengan arti sejumlah mata pelajaran disuatu perguruan. Dalam kamus tersebut, kurikulum diartikan dua macam, yaitu: Pertama: Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah/perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu. Kedua: Sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan.100 Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu. Batasan ini mencerminkan hal-hal sebagai berikut: Pertama, pendidikan itu adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan. Kedua, di dalam kegiatan pendidikan itu terdapat suatu rencana yang disusun atau diatur. Ketiga, rencana tersebut dilaksanakan di sekolah melalui cara-cara yang telah ditetapkan.101 Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat sekolah. Komponen kurikulum dalam pendidikan sangat berarti, karena merupakan operasionalisasi tujuan yang dicita-citakan, bahkan tujuan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan kurikulum. 99Abdullah Ali, Pengembangan, Kurikulum Teori dan Praktek, (Jakarta : Gaya Media Pratama, 1999), hlm. 3 100Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 53 101Zakiyah Daradjat, op. cit., hlm.122 39

Sedangkan yang dimaksud kurikulum pendidikan Islam adalah semua bahan pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik dalam suatu sistem pendidikan.102 Bahan atau materi pelajaran sebagai isi kurikulum pada dasarnya merupakan bahan-bahan pelajaran yang dapat mengantarkan anak didik mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Dalam ilmu pendidikan Islam, kurikulum merupakan komponen yang penting karena merupakan bahan-bahan ilmu pengetahuan yang diproses di dalam sistem kependidikan Islam. Ia juga menjadi salah satu bagian dari bahan masukan yang mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan (input instrumental) pendidikan Islam. Kurikulum pendidikan Islam pada dasarnya merupakan refleksi paradigma pengetahuan menurut Islam. Secara mendasar akan meliputi dua kebutuhan dasar manusia yakni yang berorientasi pada kebutuhan material dan yang berorientasi pada kebutuhan spiritual. Kedua kebutuhan ini bagaimanapun tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam .103 5) Metode Metode secara harfiah berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis .104 Dalam proses belajar mengajar, metode berarti cara yang digunakan untuk menyampaikan mata pelajaran dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode sangat befungsi dalam menyampaikan pelajaran. Metode pendidikan yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses belajar-mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu, metode yang ditetapkan oleh seorang guru dapat berdaya guna dan berhasil guna jika mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang 102Nur Uhbiyati, op. cit., hlm. 161 103Ahmad Supardi, op. cit., hlm. 99 104Muhibin Syah, op. cit., hlm. 201

telah ditetapkan .105 Menurut Armai Arif, terdapat beberapa metode pengajaran yang dikenal secara umum, yaitu: (a) metode ceramah, (b) metode diskusi, (c) metode eksperimen, (d) metode demonstasi, (e) metode pemberian tugas, (f) metode sosidrama, (g) metode drill, (h) metode kerja kelompok, (i) metode tanya jawab, (j) metode proyek.106 Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang dapat memberikan makna terhadap materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.107 Tanpa metode suatu materi pelajaran tidak akan dapat terserap secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar-mengajar menuju tujuan pendidikan 6) Sarana dan Prasarana Istilah sarana dan prasarana pendidikan biasa disebut dengan peralatan pendidikan, yang meliputi hard ware (perangkat keras) dan soft ware (perangkat lunak). Menurut Usman dan Asnawir, alat atau media adalah merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.108 Dalam pengertian yang luas, peralatan pendidikan adalah semua yang digunakan guru dan murid dalam proses pendidikan. Ini mencakup perangkat keras dan perangkat lunak.109 Sedangkan yang dimaksud dengan alat pendidikan Islam yaitu segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.110 105Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2001), hlm. 163 106Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Press, 2001), hlm. 42 107Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Ibid., hlm. 163 108M Basyirudin Usman dan Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta : DeliaCitra Utama, 2002), hlm. 11 109Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 90 110Ahmad Supardi, op. cit., hlm. 53 41

7) Evaluasi Evaluasi adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Padanan kata evaluasi adalah assesment. yang berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sementara Ahmad Tafsir, menyatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan kurikuler berupa penilaian untuk mengetahui berapa persen tujuan tadi dicapai.111 Sementara menurut Armai Arief, bahwa yang dimaksud dengan evaluasi atau penilaian dlam pendidikan adalah keputusan-keputusan yang diambil dalam proses pendidikan secara umum; baik mengenai perencanaan,pengelolaan, proses, dan tindak lanjut pendidikan atau yang menyangkut perorangan, kelompok maupun kelembagaan.112 Jadi, yang dimaksud dengan evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan Islam guna melihat sejauh mana keberhasialn yang elaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendididkan Islam itu sendiri. Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh apek-aspek kehidupan mental psikologi dan spiritualreligius, karena manusia hasil pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya. D. PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM Masalah pengembangan aktivitas kependidikan Islam di Indonesia pada dasarnya sudah berlangsung sejak sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang dan hingga yang akan datang. Hal ini dapat dilihat dari fenomena tumbuhkembangnya program dan praktik pendidikan Islam yang dilaksanakan di nusantara. Buchori memetakan struktur internal pendidikan Islam Indonesia, jika ditilik dari aspek program dan praktik pendidikannya ke dalam 4 (empat) jenis, yaitu (1) pendidikan pondok pesantren; (2) pendidikan madrasah; (3) pendidikan 111Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 55 112Armai Arief, op. cit., hlm. 54

umum yang bernafaskan Islam; dan (4) pelajaran agama Islam yang diselenggarakan di lembaga-lembaga pendidikan umum sebagai suatu mata pelajaran atau mata kuliah saja.113 Pendidikan Islam, suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam114, atau "Pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah.115 Pendidikan Islam bukan sekedar "transfer of knowledge" ataupun "transfer oftraining", ....tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan; suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan.116 Pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia.117 Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan selalu berkembang, dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman. Untuk itu, mau tak mau pendidikan harus didisain mengikuti irama perubahan tersebut, apabila pendidikan tidak didisain mengikuti irama perubahan, maka pendidikan akan ketinggalan dengan lajunya perkembangan zaman itu sendiri. 113Muchtar Buchori, Pendidikan Islam Indonesia: Problema Masa Kini dan Perspektif Masa Depan, dalam Muntaha Azhari & Abd.Mun’in Saleh (Ed.), Islam Indoensia Menatap Masa Depan, (Jakarta : P3M, 1989), hlm. 184 114Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, Crisis Muslim Education". Terj. Rahmani Astuti, Krisis Pendidikan Islam, ( Bandung : Risalah, 1986), hlm.2 115Abdurrahman an-Nahlawi, Ushulul Tarbiyah Islamiyah wa Asalabih fi Baiti wa Madrasati wal Mujtama', Dar al-Fikr al-Mu'asyr, Beirut-Libanon., Terj. Shihabuddin, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, ( Jakarta : Gema Insani Press, 1995), hlm. 26 116Roehan Achwan, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam Versi Mursi, Jurnal Pendidikan Islam, (Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga, 1991),Volome.1, hlm. 50 117Azyumardi Azra, dalam Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta : Amisco, 1996), (Comference Book, London, 1978), hlm. 15-17 43

Muhaimin berpendapat, bahwa pengembangan pendidikan Islam di Indonesia, terutama pada periode sebelum Indonesia merdeka (1900menjelang 1945), agaknya lebih ditujukan pada upaya menghadapi pendidikan kolonial. Pada periode tersebut diduga muncul berbagai problem isu-isu pendidikan Islam yang menonjol, yang merupakan diskursus dalam pengembangan pendidikan Islam, terutama di kalangan para pemikir, pengembang dan pengelola pendidikan Islam di Indoneisa.157 Lebih lanjut Suroyo berpendapat bahwa untuk mengembangkan pendidikan Islam ke arah yang lebih bermutu, maka persoalan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: Pendidikan Islam perlu menghadirkan suatu konstruksi wacana pada dataran filosofis, wacana metodologis, dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya. Dalam menghadapi peradaban modern, yang perlu diselesaikan adalah persoalan-persoalan umum internal pendidikan Islam yaitu (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3) persoalan kurikulum atau materi. Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya. Pertama, Persoalan dikotomi pendidikan Islam, yang merupakan persoalan lama yang belum terselesaikan sampai sekarang. Pendidikan Islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama. Karena, dalam pandangan seorang Muslim, ilmu pengetahuan adalah satu yaitu yang berasal dari Allah SWT.118 Lembaga-lembaga pendidikan Islam harus memilih satu di antara dua fungsi, apakah mendisain model pendidikan umum Islami yang handal dan mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan yang lain, atau mengkhususkan pada disain pendidikan keagamaan yang berkualitas, mampu bersaing, dan mampu mempersiapkan mujtahid-mujtahid yang berkualitas. Sebagaimana yang telah diuraikan dalam pembahasan di atas, bahwa pengembangan pendidikan Islam merupakan suatu bentuk tindakan yang dilakukan dengan memperhatikan paradigma pendidikan agar pendidikan Islam tidak selalu tertinggal dibanding dengan pendidikan Barat, maka sikap dan pikiran masyarakat harus di arahkan kepada pendidikan yang sesuai dengan tuntunan alQur’an dan alHadits. Faktor terjadinya pengembangan ini berasal dari dalam diri masyarakat maupun berasal dari luar diri masyarakat terutama lembaga 118Soroyo, Antisipasi Pendidikan Islam dan Perubahan Sosial Menjangkau Tahun 2000, dalam Buku : Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, Editor : Muslih Usa, (Yogyakarta : Tiara Wacana, 1991), hlm. 45

pendidikan Islam seperti Pondok Pesantren.119 BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis 119Azyumardi Azra, dalam Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Amisco, 1996), hlm. 3 45

Pesantren Thawalib terletak di Nagari Tanjung Limau desa Simabur kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Tanjung Limau termasuk kenagarian Simabur Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar terdiri dari dataran seluas 139 ha yang terletak 11,5 Km dari ibu kota Kabupaten dan 1,5 Km dari ibu kota Kecamatan. Sebelah utara berbatasan dengan Jorong Simabur dan Jorong Koto Tuo, sebelah selatan berbatasan dengan Jorong Batu Basa, sebelah timur dengan Kenagarian Tabek dan sebelah barat dengan Koto Baru.120 Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau adalah salah satu lembaga Pendidikan Agama tertua di Minangkabau Khususnya Kabupaten Tanah Datar .Pesantren ini dibangun di atas tanah wakaf seluas 16.000 m2 yang tempo dulu atau sekita tahun 1920-an merupakan sebuah Surau (tempat mengaji dan belajar agama) dan kemudian berkembang menjadi perguruan Thawalib, dan akhirnya tahun 1972 berobah menjadi Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau. Pesantren ini sangat mudah dijangkau, karena letak pesantren ini tepat di pinggir jalan desa yang dilalui oleh kendaraan umum yang akan menuju pasar kecamatan, disamping itu, untuk menuju pesantren ini juga dapat menaiki angkutan roda dua atau ojek dengan biaya Rp. 2000,-. Mengingat tempatnya yang strategis dilalui oleh kendaraan umum dan dekat dengan ibu Kecamatan, maka banyak pelajar yang sekolah di pesantren ini tidak memondok, kecuali siswa yang berasal dari luar Kabupaten Tanah Datar dan dari daerah kecamatan tetangga. Pada umumnya santri yang memodok tersebut adalah santri Madrasah Aliyah Keagamaan serta mereka yang ingin belajar kitab kuning. B. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau 1. Cikal Bakal Thawalib Tanjung Limau Cikal bakal berdirinya Pesantren Thawalib ini adalah dari “Surau Gadang”121 Tanjung Limau sebagai sarana belajar mengaji bagi generasi muda 120Akta Pendirian Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau ,No. 66 tahun 1976 121Surau Gadang atau surau besar dalam bahasa Indonesia adalah tempat atau sarana belajar mengaji (al-Qur’an dan praktek ibadah), dan tempat untuk melatih generasi muda Tanjung Limau dalam memahami ajaran Islam lebih mendalam, di surau ini mereka dibimbing oleh seorang guru atau Syaikh Sulaiman al-Mufassiry (ulama awal di desa Tanjung Limau), Fahrizal Alwis,

Tanjung Limau dengan menggunakan sistem halaqah. Murid laki-laki dipisahkan dengan murid perempuan. Guru yang mula-mula mengajar di surau ini adalah Syekh Sulaiman Al Mufassir Al mansyur, sehingga Tanjung Limau dikenal orang sebagai tempat mengaji Tafasia (Tafsir). Setelah Syekh Sulaiman Al Mufassir Al mansur wafat pengajian di surau Gadang dilanjutkan oleh cucunya, H. Mukhtar Ya’qub dalam usia ± 18 tahun yang telah menamatkan sekolahnya di Surau Jembatan Besi atau sekarang dikenal dengan Perguruan Thawalib Padang Panjang tahun 1922 M. Semulanya H. Mukhtar Ya’qub bermaksud akan merantau ke Palembang untuk mengembangkan ilmu yang telah beliau pelajari, namun masyarakat Tanjung Limau juga berharap kepadanya untuk mengajar di Surau Gadang. H. Mukhtar akhirnya membatalkan rencana semula dan menerima amanah yang diberikan masyarakat kepadanya.122 Untuk memperlancar pendidikan di Tanjung Limau H. Mukhtar Ya’qub bersama pemuka masyarakat berinisiatif untuk mendirikan sebuah madrasah. Setelah diadakan musyawarah, pada tahun 1923 M dapat didirikan sebuah gedung terdiri dari 4 lokal berlokasi diatas tanah wakaf Labai Sutan dan Datuk Tan Majolelo.123 Semua biaya bangunan berasal dari sumbangan masyarakat Tanjung Limau baik materil maupun tenaga. Setelah gedung tersebut selesai dan dapat dimanfaatkan, maka sistem pendidikanpun berobah dari sistem halaqah menjadi sistem klasikal dengan bidang studi pengetahuan agama dan Bahasa Arab. Penyelenggaraan pendidikan di Pondok Pesantren Thawalib ini dikelola oleh H. Mukhtar Ya’qub dan dibantu oleh Angku Sago dari Sungayang serta oleh murid yang tingkatnya kelasnya lebih tinggi. Murid yang agak dewasa belajar pada pagi hari dengan nama “Thawalib” dari nama inilah diambil nama Thawalib sampai sekarang, dan pada sore harinya Pimpinan Pontren, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau 09 Februari 2009 122Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau, Sejarah Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau, ( Tanjung Limau, t, th), hlm. 1 123Labai Sutan dan Datuk Tan Majolelo adalah masyarakat Tanjung Limau yang kaya raya dan mendapat jabatan sebagai Demang dan Wali Nagari di masa pemerintahan kolonial Belanda yang memiliki tanah yang luas, mereka mempunyai perhatian yang besar kepada pengajaran alqur’an dan pendidikan anak muda Tanjung Limau, Lihat Datuk Tan Majolelo, Wali Nagari Nan Cadiak Pandai, ( Tanjung Limau, 1920), tt, hlm. 45 47

adalah waktu belajar bagi anak-anak yang dalam usia sekolah dasar dengan nama “Diniyah School”.124 Sementara itu belajar mengaji di Surau Gadang tetap dilaksanakan dengan sistem halaqah Dalam catatan sejarah Minang Kabau, disebutkan bahwa H. Mukhtar Ya’kub adalah Almnus dari Surau Jembatan Besi dengan afiliasinya sekarang yaitu Sumatera Thawalib Parabek yang dipimpinan H. Abdul Karim Amarullah ( ayah buya HAMKA) atau yang dikenal dengan Inyiak Deer, dimana di surau ini telah diperkenalkan belajar dengan sistem klasikal. Perubahan sistem ini dipengaruhi oleh pembaharuan pendidikan di Timur Tengah. Sejarah berdirinya Thawalib ini merupakan perkembangan dari Thawalib Padang Panjang. Pesantren ini mengalami perkembangan, meskipun banyak kendala harus dihadapi, seperti tantangan dari pemerintah Hindia Belanda. Di tahun 1923 s/d 1940 murid-murid pesantren Thawalib ini banyak yang berasal dari Aceh, Medan, Jambi, Tembilahan (Riau), dll.125 Pada perkembangan selanjutnya ditahun 1972 perguruan ini berobah menjadi Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau, perobahan ini karena salah seorang pimpinan perguruan ini mengikuti pelatihan di Kelapa 2 Jakarta.126 Proses belajar mengajar dengan sistem Salaf, pembelajaran dengan metode halaqah dan sorongan mengunakan literatur kitab kuning sebagai dasar untuk mentransfer pokok-pokok ajaran Islam Ahlulul Sunnah Waljama’ah tetap dipertahkan. Sebenarnya pembelajaran dengan sistem kelas telah dilaksanakan di pesantren semenjak H.Muchtar Ya’cub mengelola pesantren ini. Perubahan ini terjadi seiring dengan terjadinya pembaharuan pendidikan Islam di Minangkabau Sumatera Barat. Dalam perkembangan selanjutnya mulai dibuka sistem klasikal dengan model madrasah. Perubahan sistem ini bertujuan untuk mengikuti perkembangan pendidikan yang ada di sekolah umum/ madrasah. Perubahan 124Diniyah School adalah sekolah yang didirikan untuk perempuan Minang oleh Zainuddin Labai El-Yunusi pada tanggal 10 Oktober 1915, kemudian adiknya Rahmah El-Yunusiah mendirikan pula Diniyah School Putri tanggal 1 November 1923. Tentang Diniyah School baca, Peingatan 55 Tahun Diniyah Putri Pdang Panjang, ( Jakarta : Ghalia Indonesia, 1978), hlm.74 125Burhanuddin Daya, Gerakan Pembahruan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib, Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1995), hlm. 126Zainuddin Mu'in St. Marajo, Sejarah Ringkas Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Simabur Tanah Datar, Makalah Latihan Instruktur Keterampilan Menjahit Pakaian Wanita, (Jakarta : 4 -5 Oktober 1991), hlm. 1 (tidak diterbitkan)

metode belajar ini diiringi dengan semangat dan prinsip pembaharuan di Minang Kabau Sumatera Barat. Model madrasah yang dimaksud adalah madrasah sebagai kelayakan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal yang legitimate, atau baik berafiliasi dengan Departemen Agama. Pengunaan model ini semata-mata bertujuan untuk mengikuti perkembangan dunia yang menglobal. Dan diharapkan siswa yang tamat dari Pesantren Thawalib ini tidak hanya diterima di Perguruan Tinggi Agama (IAIN/STAIN), dan diharapkan dapat juga bersaing di perguruan tinggi umum disamping dapat mengembangkan keterampilan sebagai wiraswasta di tengah-tengah masyarakat kelak. Asumsi bahwa sesungguhnya pendidikan pondok pesantren merupakan pendidikan yang membekali santri dengan masalah ukhrawi dengan pengetahuan agama, membentuk watak mandiri, percaya pada diri sendiri, dan penguasaan pengetahuan umum menjadi dasar pemikiran dan pertimbangan pendiri pondok pesantren Thawalib, sehingga secara Legitimate. Sebagai pondok pesantren yang milik yayasan, sumber dana untuk pembangunan fisik pondok pesantren disamping berasal dari keluarga, juga memperoleh dukungan dana dari donatur dan masyarakat, serta juga mendapat bantuan dari pemerintah. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembangunannya senantiasa melibatkan unsur keluarga dan unsur masyarakat. Begitu juga dalam kegiatannya senantiasa melibatkan masyarakat sekitar untuk mengikuti keagamaan di lingkungan pesantren, seperti madrasah, majlis ta’lim, maupun pengajian rutin. 2. Perkembangan Pesantren Thawalib Pada tahun 1928, Madrasah Thawalib Tanjung Limau ini mendapat popularitet yang luar biasa dengan banjirnya pelajar yang mendaftarkan diri untuk belajar di Thawalib khususnya daerah Tanah Datar bahkan ada yang berasal dari Aceh, Tapanuli, Kurinci, Palembang, Bengkulu, Jambi, riau dan pekan baru.127 127Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau, Ibid., hlm. 9 Madrasah yang didirikan di dalam Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau ini berafiliasi dengan Departemen Agama 49

Para murid atau santri bukan hanya sekedar menimba ilmu di kelas saja namun mereka juga menambahnya di surau bagi laki-laki atau di asrama bagi perempuan. Dengan makin bertambahnya jumlah murid yang belajar di Thawalib, dapat pula dibangun lokal lainnya sehingga mencapai 11 buah lokal dibiayai dari swadaya masyarakat, hasil sawah sekolah, infak dan sedekah termasuk uang pembangunan dari wali murid. Demikian pula guru yang mengajar di Thawalib bukan hanya berasal dari Tanjung Limau, tetapi ada yang dari daerah sekitarnya, dari Lima Kaum, Sungayang, Padang, Malalo bahkan ada yang dari Kalimantan.128 Untuk menjaga keseimbangan proses belajar mengajar, bagi guru diberikan bidang studi sesuai dengan keahlian mereka masing-masing, disamping itu bagi murid yang tingkatannya lebih tinggi juga diberikan amanah untuk mengajar dan membimbing murid dibawah tingkatannya, bahkan setelah mereka menyelesaikan pendidikannya di Thawalib ada yang langsung menjadi guru atau melanjutkan pendidikan ke perguruan lainnya. Jenjang kelas di Pesantren Thawalib Tanjung Limau pada awalnya sampai kelas tujuh dan pada awal tahun 70-an berganti menjadi Thawalib enam tahun (semenjak perobahan SGAP dan SGAA menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah) Pada tahun 1943 diadakan perayaan milat ke-20 berdirinya Thawalib Tanjung Limau, dengan mengundang ulama besar Minangkabau. Dalam acara perayaan tersebut dibicarakan tentang kelancaran pendidikan dan pembangunan Madrasah Thawalib sehingga dapat dikumpulkan dana sedekah dan zakat berupa wakaf, infak, dan pada waktu juga dapat membeli sawah yang berdampingan dengan sekolah sekarang ini. Dibawah kepemimpinan Buya Haji Mukhtar pendidikan di Thawalib tidak pernah terputus mencetak kader ulama dan muballigh baik pada masa penjajahan Belada maupun pada masa penjajahan Jepang. Pada tanggal 17 Mei 1945 Haji Mukhtar Ya’qub berpulang ke Rahmatullah, selanjutnya kepemimpinan Thawalib Tanjung Limau dilanjutkan oleh Buya Haji Isma’il Rasyad. Dengan segala daya upaya Buya (sebutan sama 128Burhanuddin Daya, op. cit, hlm. 145

dengan Kyai di Jawa) Haji Isma’il Rasyad dan majlis guru serta bantuan masyarakat, Madrasah Thawalib tetap berlangsung dengan baik dalam melintasi masa-masa yang sangat berbahaya bagi kehidupan sebuah lembaga pendidikan agama seperti agresi Belanda dan pergolakan PRRI yang sangat runcing.129 Pada tanggal 30 April 1967 Buya Haji Isma’il Rasyad juga dipanggil kehadirat Allah SWT. selanjutnya Thawalib dikendalikan oleh Angku Imam Ibrahim. Setelah ditambahnya 4 lokal gedung yang berhadapan dengan gedung yang lama pada masa Buya Haji Isma’il Rasyad dan gedung yang lama itupun dirombak dijadikan dua tingkat, pada masa Angku Imam Ibrahim ditambah pula satu lokal baru. Pada tahun 1970 didirikan pula dua lokal gedung yang sejajar dengan gedung yang lama.130 Dengan berkembangnya Pondok Pesamtren Thawalib Tanjung limau ini, menambah perhatian masyarakat serta wali murid, orang tua untuk memperlancar keberadaan lembaga ini. Termasuk membangun asrama sampai tingkat dua. Pada tahun 1976 didirikanlah Yayasan Pembina Thawalib Tanjung limau, sebagai ketua Umum Haji Moeslim Aboud Ma’ani, MA dengan notaries Asmawel Amin, SH. Tujuan pendirian Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau adalah “untuk membina dan meningkatkan Perguruan Thawalib sesuai dengan Ajaran al-Qur-an dan al-Hadits dan berusaha meneruskan dan melanjutkan cita-cita luhur almarhum Haji Mukhtar Ya’qub. Beberapa tahun kemudian, karena kondisi kesehatan Angku Imam Ibrahim menurun, maka pimpinan Thawalib dijalankan oleh Haji Alwi Yunus dan beliau juga merupakan murid tertua dari almarhun Haji Mukhtar Ya’qub. Pada tanggal 29 Juli 1988 Haji Alwi Yunus wafat. Untuk sementara waktu roda pimpinan Pesantren Thawalib dipimpin oleh Zaini St. Marajo. Kemudian atas permintaan Yayasan Pembina Thawalib kepemimpinan Thawalib dilanjutkan oleh Putra Almarhum Haji mukhtar Ya’qub, yakni Al Hafiz Haji Fahmi Mukhtar, BA. Pada tanggal 1 Januari 1989 Departemen Agama mengangkat beliau menjadi kepala Madrasah Aliyah Thawalib Tanjung Limau. Pada tanggal 1 Juli 2000 Al Hafiz Haji Fahmi Mukhtar, BA pensiun dari PNS (sebagai Kepala Madrasah 129Yunus St.Mudo, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau 15 Januari 2009 130Yunus St.Mudo, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau 15 Januari 2009 51

Aliyah Thawalib) dan juga mengajukan permohonan mundur sebagai pimpinan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau kepada pengurus Yayasan Pembina Thawalib.131 Untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau selanjutnya, atas kesepakatan pengurus Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau mengajukan permohonan kepada Kepala Departemen Agama Kabupaten Tanah Datar untuk mengangkat Drs. Fahrizal sebagai Kepala Madrasah Aliyah dan sekaligus menjabat sebagai pimpinan Pondok Pesantren ini. Akhirnya permohonan tersebut dipenuhi oleh pemerintah dan mulai tanggal 1 November 2000 sesuai dengan SK pengangkatannya Drs. Fahrizal ditugaskan oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Tanah Datar sebagai kepala Madrasah Aliyah dan Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau mengamanahkan kepemimpinan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau. Dari paparan kondisi gambaran pondok Pesantren di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pesantren Thawalib Tanjung Limau telah mampu mencetak generasi awal yang handal dan merubah sistem pendidikan seiring dengan terjadinya perubahan pendidikan di Sumatera Barat khususnya di Kabupaten Tanah Datar, dan penulis ingin melihat bagaimana peranan Thawalib Tanjung Limau dalam pengembangan pendidikan Islam sehingga, pesantren ini kembali pada kejayaan seperti tempo dulu. C. Sarana dan Prasarana Istilah sarana dan prasarana pendidikan biasa disebut dengan peralatan pendidikan, yang meliputi hard ware (perangkat keras) dan soft ware (perangkat lunak). Menurut Usman dan Asnawir, alat atau media adalah merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.132 Dalam pengertian yang luas, peralatan pendidikan adalah semua yang digunakan guru dan murid dalam proses pendidikan. Ini mencakup perangkat 131Dokumen Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau tahun 2000 132M. Basyirudin dan Usman Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta : DeliaCitra Utama, 2002), hlm. 11

keras dan perangkat lunak. Sedangkan yang dimaksud dengan alat pendidikan Islam yaitu segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.133 Berdasarkankan hasil dokumentasi, Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau menempati lahan seluas 16.000 m2 yang sebagian besar digunakan untuk kegiatan pengajaran, diantaranya; Pertama: Bangunan Masjid 1 buah, Mesjid dengan arsitektur yang indah dan berkubah, dan memiliki menara. Dihadapan Mesjid, (di dalam pekarangan mesjid) terletak makan pendiri Pesantren, dan di samping kiri merupakan tempat berwudhu dan memiliki Toilet (WC) yang bagi menjadi dua bagian, yaitu untuk pria dan wanita. dan tempat berwudhu lainnya ada di belakang mesjid. Di sebelah kanan mesjid terletak Asrama dan tempat pendidikan taman kanak-kanak (Raudlatul Atfal) milik masyarakat, yang sebentar lagi akan diserahkan sebagai wakaf kepada yayasan. Kedua: Rumah Kyai/Buya 1 buah, Rumah kyai awal terbuat dari bambu dan sekarang telah semi permanen yang terletak di belakang Asrama putri,bangunan ini dilengkapi dengan dapur umum untuk memasak bagi santri yang memondok. Ketiga: Asrama 1 kompleks dihadapan Masjid arah ketimur itulah ditemukan lokasi dari kampus lama yang sudah bertingkat dua. Bagian depannya seberang jalan sekarang sudah dibangun gedung baru dan kantor Koperasi pondok pesantren. Disebelah utaranya kantor majelis guru dan administrasi sekolah. Lalu di jejeran sebelah kantor ruangan kelas dan dibelakang itu asrama putera. Keempat: Ruang belajar 10 lokal. Kelima: Ruang Kepala Pondok 1 lokal, Keenam: Ruang majlis guru 1 lokal. Ketujuh: Ruang perpustakaan 1 lokal. Sebagai penunjang proses pendidikan formal bagi siswa disediakan perpustakaan yang terletak di dekat kampus sehingga sangat memudahkan bagi siswa untuk membaca dan meminjam buku. Sampai saat ini perpustakaan Thawalib memiliki koleksi buku sebanyak 12.000 exemplar yang terdiri dari : Buku Agama = 686 Judul = 5187 exp, buku Umum = 699 Judul = 6515 exp. Bukubuku tersebut berasal dari bantuan Departemen Agama, bantuan Dermawan dan alumni, bantuan Departemen Pendidikan Nasional, dibeli dari anggaran 133Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Perspektif Islami, (Bandung : Rosda Karya, 2007), hlm. 53 53

Pesantren,dan berasal dari kenang-kenangan siswa kelas 3 Aliyah. Disamping itu untuk mengembangkan bakat dan minat para santri, pesantren juga menyediakan sarana dan prasarana lain, seperti; ruang TPUS (Tempat Perbaikan Usaha Santri) 1 lokal, lapangan volly 1 unit, laboratarium bahasa dan Komputer 1 lokal, dan koperasi Pesantren Thawalib 1 lokal134 Pada intinya, seluruh bagunan dan lahan yang ada di lingkungan pesantren ini dimanfaatkan untuk menambah wawasan keterampilan para santri secara alami guna bekal kehidupan mereka setelah terjun ke masyarakat. Disamping itu pihak pimpinan pesantren juga melakukan kerja sama dengan tenaga ahli dalam bidang keterampilan menjahit, bahasa Jepang dan computer. Pondok pesantren Thawalin Tanjung Limau mengunakan media pendidikan untuk menyalurkan pesan, pikiran, perasaan yang secara kreatif dapat meningkatkan keterampilan siswa/santri sesuai dengan visi misinya. Media pendidikan yang digunakan antara lain: Pertama: Media visual, meliputi: gambar/photo, diagram chart, peta/globe, poster dan papan tulis. Kedua: Media audio,meliputi: radio, tv, tape recorder, abotarium bahasa, OHP, dan Komputer. Ketiga: Media cetak, meliputi: Al-Qur’an, kitab-kitab klasik, dan majalah/bulten. Hal penting yang telah dilakukan oleh pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam pemakaian media pendidikan ialah adanya kemauan mengunakan produk budaya asing semacam OHP (Over Head Proyector) dan Komputer untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih berkualitas. D. Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pesantren Thawalib Pembahasan mengenai struktur organisasi Pesantren Thawalib Tanjung Limau di bagi ke dalam empat bagian, yaitu: status kelembagaan, struktur organisasi, gaya kepimpinan,dan susksesi kepimpinan. Status kelembagaan pesantren Thawalib adalah sebagai milik institusi 134Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau, Laporan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Tahun Ajaran 2006/2007, (Tanjung Limau : Tidak diterbitkan, 2006)

Yayasan pembina Thawalib Tanjung Limau. Hal ini karena tanah yang dipergunakan untuk bangunan pesantren adalah milik keluarga Ya’cub (ayah pendiri pesantren Thawalib) dan H. Ismail. Sedangkan pimpinan pesantren itu sendiri diangkat dan ditunjuk oleh keluarga yayasan. Pada perkembangan selanjutnya pimpinan pesantren diangkat oleh Departemen Agama. Pada dasarnya struktur organisasi pesantren dapat digolongkan menjadi dua sayap sesuai dengan pembagian jenis nilai yang mendasarinya, yaitu nilai agama dengan kebenaran absolut dan nilai sosial dengan kebenaran relatif. Sayap pertama penjaga nilai kebenaran absolut, dan sayap kedua penjaga nilai kebenaran relatif yang bertanggung jawab pada pengamalan nilai kebenaran absolut baik di dalam pesantren maupun diluar pesantren, sedangkan sayap pertama bertanggung jawab pada kebenaran atau kemurnian agama. Sesuai dengan hirarkis pembagian jenis nilai, maka sayap-1 mempunyai supremasi terhadap sayap-2, dan oleh karena itu sayap-2 tidak boleh bertentangan dengan sayap-1, apalagi kalau sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar aqidah syari’ah agama dan sunnah. Sayap-1 merupakan sumber informasi dan konfirmasi bagi sayap-2 dalam melakukan tugas sehari-hari. Ajaran buya/kyai, ustaz dan kitab-kitab agama yang diajarkan di pesantren diyakini sebagai memiliki kebenaran absolut oleh santri, dan oleh karena itu tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, hanya perlu dipahami maksudnya. Tabel. 1 STRUKTUR ORGANISASI PONDOK PESANTREN THAWALIB TANJUNG LIMAU No 1 2 Jabatan Pimpinan Pondok/Madrasah Syaikhul Pondok/Madrasah Nama Buya Fahrizal Alwis Buya H. Sofyan Muchtar Buya Rifyal Ka’bah Keterangan 55

3 4 5 6 7 8 9 Kepala Tingkat Aliyah Kepala Tingkat Tsanawiyah Wakabid Kurikulum Wakabid Sarana Wakabid Pendidikan Kepala Tata Usaha Bendahara Drs. Fahrizal Alwis Imran, S.Ag Kasnida, S.Ag Ustadz Turmizi Miftah Novi.T,S.Ag Asra, S.P H. Amiruddin Gaya kerja dalam struktur organisasi di Pesantren Thawalib Tanjung Limau umumnya masih merupakan garis lurus ke depan. Artinya, setiap unit kerja bergantung pada atasan langsung. Keberhasilan kerja dalam struktur organisasi pesantren secara kerja antar unit kerja bersifat co-acting bukan inter-acting, yaitu sama dengan keberhasilan kerja suatu tim, di mana masing-masing unit kerja bekerja sendirisendiri, kemudian hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh tim. Kemudian gaya kepemimpinan yang ditampilkan di Pesantren Thawalib Tanjung Limau bersifat kolektif dengan menempatkan pimpinan pesantren sebagai pimpinan tertinggi yang memiliki kedudukan dan kekuasan yang sangat kuat dan mantap. Ciri-ciri gaya kepemimpinan yang ada di Pesantren Thawalib Tanjung Limau di antaranya adalah paternalistik dan free rein leardership/laisser faire, di mana pimpinan pesantren bersifat pasif, sebagai bapak yang memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk berkreasi, tetapi juga otoriter, yaitu memberikan kata-kata final untuk memutuskan apakah karya anak buah yang bersangkutan dapat diteruskan atau harus dihentikan. Suksesi kepemimpinan di pesantren Thawalib Tanjung Limau awalnya dilakukan dengan sistem musyawarah setelah meninggalnya pimpinan terdahulu. Kemudian dengan berafiliasinya pesantren ini di bawah Departemen Agama, maka susksesi kepemimpinannya langsung ditunjuk dan ditetapkan oleh Departemen Agama Kabupaten Tanah Datar. Pimpinan ini tertuju untuk kepala Madrasah Tsanawiyah dan kepala Madrasah Aliyah. Saat ini kepala Madrasah Tsanawiyah dipimpin oleh Irman, S.Ag, sedangkan kepala Madrasah Aliyah

dipimpin oleh Drs. Fahrizal dan sekaligus bertindak sebagai pimpinan Pesantren. Di Pesantren Thawalib Tanjung Limau, seluruh Buya, Ustadz dan santri senior yang mengasuh pesantren dan mendampingi pimpinan pesantren adalah unsur pengurus yang memberi pertimbangan dalam menetapkan kebijakan pengurus pembina pesantren. Di samping itu juga ada pengurus lain yang bertugas mengurus hal-hal yang sifatnya teknis operasional dan tidak secara langsung berkaitan dengan hal-hal yang bersifat pendidikan dan pengajaran, misalnya pengurus yang mengurus gedung-gedung bangunan, pendanaan, hubungan dengan instansi-instansi lain, baik pemerintah maupun non pemerintah, dan sebagainya. Di samping itu juga ada wakil pondok yang dikelompokkan ke dalam Dewan pendidikan yang bertugas menyelenggarakan proses kegiatan belajar mengajar. Semua pengurus kedudukannya adalah membantu pimpinan pesantren dalam memperlancar kegiatan belajar mengajar di pesantren tersebut. Jadi dengan demikian, semua unsur pelaku yang secara organisatoris mengurus dan bertangung jawab atas kemajuan pesantren, dari sejak kyai utama/pimpinan pesantren yang merupakan pimpinan puncak sampai ke pembantu yang mengurus hal-hal yang sifatnya teknis operasional selama memiliki kewenangan memutuskan dan melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya adalah pengurus pesantren. E. Pengelolaan dan Pendanaan Pesantren Thawalib Sebagaimana telah ditegaskan bahwa kyai/buya pengasuh dan pimpinan pesantren Thawalib Tanjung Limau adalah pimpinan tertinggi dan tokoh kunci pesantren. Oleh karena itu, pada dasarnya mengenai masalah pengelolaan dan pendanaan ada di tangan kyai dan keluarganya, tetapi secara teknis operasional ditangani oleh unit-unit kerja dalam kelompok Sayap-2 yaitu para pengurus pesantren. Pembagian kerja dalam pengelolaan di Pesantren Thawalib Tanjung Limau mengunakan sistem menajemen dan administrasi modren, dalam artian sudah menggunakan sistem manajemen dan administrasi profesional. Sebab, pembagian kerja dari unit-unit kerja pada umumnya sudah jelas dan para administrator juga dianggap sudah mampu. Sistem dokumentasi atau sistem filling 57

sistem sudah teratur dan akurat. Oleh karena itu, dalam pengelolaan dana, sarana, dan dokumen-dokumen berharga lainnya, hampir dipastikan tidak ada kebocorankebocoran dalam arti korupsi. Mengenai sumber dana kegiatan Pesantren Thawalib Tanjung Limau ada dua jenis, yaitu dari sumbangan para santri berupa iuran bulanan, dan sumbangan dari donatur atau masyarakat yang tidak mengikat, baik pribadi maupun kelompok, yang biasanya berupa amal jariyah, wakaf, infak, shdaqah dan sebagainya, atau melalui proyek-proyek kerja sama, dan bantuan pemerintah pusat maupun daerah yang sifatnya insidentil.135 Disamping itu sumber pendanaan yang digunakan oleh pesantren, yaitu hasil pertanian dari sawah abuan 136yang dimiliki oleh pesantren, dari hasil sawah ini bisa beli peralatan kantor, membayar gaji guru,dan jika mencukupi digunakan untuk dana cadangan untuk pembangunan lokal dan gedung lain yang dirasa perlu. Pada perkembangan berikutnya di Pesantren Thawalib Tanjung Limau telah terjadi perubahan bahwa pihak pesantren menyadari pentingnya perencanaan-perencanan yang akurat untuk mengembangkan dirinya di masa mendatang. Seperti, mandata jumlah alumni, lahirnya organisasi atau ikatanikatan santri di pesantren tersebut, memikirkan dan memproses pembelian media dan material untuk perluasan pesantren, pembangunan gedung-gedung baru atau aula yang dapat menampung sejumlah santri atau audience yang diinginkan, dan sebagainya. Salah satu problematika yang dirasakan oleh pesantren Thawalib Tanjung Limau, diantaranya, masih kurangnya dukungan masyarakat terutama pemerintah daerah baik secara materi maupun mentalitas, Sebab sebagai pusat pendidikan dan sebagai lingkungan belajar, pesantren harus didukung oleh masyarakatnya, disamping tuntutan zaman yang berkembang diera serba teknologi. Sehingga hal ini akan menjadi pusat pengembangan pendidikan Islam dan tekhnologi yang 135Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Januari 2009 136Abuan berarti hak milik yang diperoleh dari pemberian atau wakaf atau hibah untuk dikelola dan hasilnya sepenuhnya menjadi hak yang mempunyai abuan itu. Seorang anak yang sudah beranjak dewasa, biasanya sudah diberi abuan oleh orang tuanya.

terpadu di Kabupaten Tanah Datar di masa-masa mendatang, BAB IV ANALISIS EMPIRIK PERANAN PONDOK PESANTREN THAWALIB TANJUNG LIMAU DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI KABUPATEN TANAH DATAR SUMATERA BARAT A. Latar Belakang Berdirinya, Tujuan, Visi dan Misi Pesantren Thawalib Tanjung Limau 59

Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau didirikan oleh H. Mukhtar Ya'cub, ia adalah seorang tokoh agama di kecamatan Pariangan dan merupakan alumnus dari Surau Jembatan Besi, guru yang mengajar beliau adalah Haji Rasul (inyiak Deer)di Padang Panjang. Perguruan itu tahun 1911 berganti nama menjadi Sumatera Thawalib.137 Pondok ini didirikan atas dasar partisipasi dan persatuan masyarakat desa Tanjung Limau. Pondok pesantren ini didirikan tahun 1923, tetapi dengan nama Perguruan Thawalib Tanjung Limau, pada tahun 1972 terjadi pergantian nama madrasah diganti menjadi pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau, setelah salah seorang gurunya mengikuti latihan pembinaan tentang pondok pesantren di Kalapa 2 Jakarta. 138 Selama pondok pesantren ini berdiri dan menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama sudah mengalami perkembangan dan juga kemunduran. Pada tahun pertama berdiri pondok ini cukup berperan besar dalam mencetak kader ulama yang berkualitas. Tetapi setelah terjadi PRRI di Sumatera Barat, pondok pesantren ini mengalami kemerosotan. Hal ini disebabkan banyaknya para ulama yang mengajar di pesantren ini yang ditangkap oleh pemerintah. Muridmurid perguruan ini berasal dari berbagai daerah, baik sekitar lingkungan Minang Kabau, maupun dari luarnya, seperti Tapanuli, Lampung, Bengkulu, Jambi dan Riau. Mereka belajar dan bertempat tingkal sebuah gedung bertingkat dua yang dibangun sendiri oleh Haji Muchtar.139 Secara umum, tujuan didirikannya Pesantren Thawalib adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta terwujudnya ulama intelektual, intelektual ulama, berakhlak mulia, terampil dan bertanggung jawab serta berguna bagi masyarakat.140 137Burhanuddin Daya, Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam Kasus Sumatera Thawalib, ( Yogyakarta : Tia Wacana Yogya, 1995), cet. ke-2, hlm. 144 138Zainuddin Mu'in St. Marajo, Sejarah Ringkas Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Simabur Tanah Datar, Makalah Latihan Instruktur Keterampilan Menjahit Pakaian Wanita, (Jakarta : 4-5 Oktober 1991), (tidak diterbitkan), hlm. 10 139Burhanuddin Daya, Ibid., hlm. 145 140Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009

Adapun Tujuan Pendidikan dari Pondok Pesantren Thawalib adalah : mempersiapkan kader ulama, mubaligh, imam, khatib, cendikiawan, (2) mempersiapkan pemimpin masyarakat, (3) mempersiapkan kader muda yang berjiwa wiraswasta/ mandiri, (4) mempersiapkan kader muda yang siap membela agama, masyarakat, dan Negara, (5) mempersiapkan kemahiran berbahasa asing (Arab, Inggris, dan Jepang). 141 Dari tujuan itulah, maka lahir visi misi pensantren. Visi dan Misi pesantren Thawalib Tanjung Limau ini sudah dirumuskan pada Semiloka Pesantren/ Perguruan Islam Bersejarah se-Sumatera Barat di Bukittinggi pada Tahun 2003 (telah tertera dalam buku Tata Tertib Santri). Sebagai lembaga pendidikan Islam, maka pesantren Thawalib Tanjung Limau memiliki visi : “Istiqomah dalam Aqidah, Makmur dalam Syari'ah, Uswatun Hasanah dalam Akhlaq”.142 Sementara misi yang diemban oleh Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau tersebut adalah sebagai berikut: (1) mempersiapkan Kader Ulama, Muballigh, Imam, Khatib, Cendikiawan Muslim, (2) mempersiapkan Kader Pemimpin masyarakat, (3) mempersiapkan kader muda yang siap membela agama, masyarkat dan negara, (4) mempersiapkan Kader Muda yang berjiwa wiraswasta/mandiri, (5) mempersiapkan kemahiran berbahasa (Indonesia, Arab, Inggris dan Jepang), (6) menghasilkan lulusan yang mampu memahami kitab standar (MKS) dan pengetahuan umum serta mampu bersaing untuk mendapatkan berbagai kesempatan pendidikan selanjutnya, (7) menghasilkan lulusan yang memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari , Islam sebagai aqidah dan syari'ah, serta sebagai orang Minangkabau yang tidak terlepas dari falsafah "Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah".143 Sebagai lembaga pendidikan Islam, Pesantren Thawalib ini juga memiliki Masjid sebagai lembaga penyiaran agama. Masjid Pesantren juga berfungsi 141Supriadi , Guru Pesantren Thawalib, Wawancara Mendalam,Tanjung Limau, 29 Januari 2009 142Fahrizal Alwis, Program Pengembangan Pembelajaran dan Pedoman Penyelenggaraan kaderisasi Ulama Pondok Pesantren, Makalah disampaikan pada Semiloka Pesantren bersejarah se-Sumatera Barat pada tahun 2003 143Dokumen Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Tahun 2003 61

sebagai masjid umum, yaitu sebagai tempat belajar agama dan ibadah bagi masyarakat umum. Masjid Pesantren sering dipakai untuk menyelenggarakan majlis ta’lim (pengajian), diskusi-diskusi keagamaan, seminar dan sebagainya, baik oleh masyarakat umum ataupun para santri. Dan tak kalah penting, bahwa Masid ini juga digunakan sebagai laboratorium pendidikan Dai-Daiyah bagi calon Mubaligh yang akan diturukan pada setiap bulan ramadhan ke berbagai daerah yang ada di Kabupaten Tanah Datar. B. Kurikulum Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kurikulum yang dijadikan sebagai alat dan pedoman dalam proses pendidikan di pesantren harus relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, dalam konteks ini pesantren bukan hanya berfungsi untuk mewariskan kebudayaan Islam dan nilainilai moral pada suatu masyarakat, akan tetapi pesantren juga berfungsi untuk mempersiapkan anak didik dalam kehidupannya di masyarakat nanti. Pengembangan kurikulum pesantren pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari visi pembangunan nasional yang berupaya menyelamatkan dan memperbaiki kehidupan nasional yang tertera dalam Garis-garis Besar Haluan Negara. Oleh karena itu kurikulum yang dipakai adalah perpaduaan kurikulum Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau dengan kurikulum Depag dan Diknas, dalam program pengajaran merujuk kepada program inti MTsN dan MAN yang dimodifikasi dengan program pengajaran Pontren Thawalib sendiri. Mengingat kompleksitas masalah yang dihadapi pesantren, maka pengembangan kurikulum pesantren dapat mengunakan strategi-strategi yang tidak merusak ciri khas pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang pertama kali berdiri di Indonesia khususnya di Kabupaten Tanah Datar. Strategi yang patut dipertimbangkan adalah sebagai lembaga pendidikan non formal dan formal, pengembangan kurikulum pesantren hendaknya tetap berada dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Kurikulum yang dipakai di pesantren Thawalib Tanjung Limau dibagi kepada dua bentuk, yaitu :

11 Intra Kurikuler Pada tahun pertama (Kelas I) ditekankan penguasaan Bahasa Arab dan pembinaan Ibadah, Bahasa Arab diajarkan 12 jam dalam seminggu, dengan arti kata belajar 2 jam pelajaran setiap hari dengan demikian pada kelas II seluruh pelajaran Agama diajarkan dengan bahasa pengatar Bahasa Arab karena Bahasa Arab sudah menjadi bahasa keseharian bagi para siswa. Sedangkan Bahasa Inggris di programkan di kelas II dengan porsi yang sama dengan Bahasa Arab di kelas I sehingga pada kelas III para siswa telah dapat menguasai bahasa Arab dan Inggris sekaligus. 1 Extra Kurikuler 1 Disamping mengikuti kegiatan belajar formal dipagi hari para siswa disibukkan dengan kegiatan extra pada sore hari, paket-paket tambahan belajar dan pembinaan keterampilan disediakan sesuai dengan bakat dan kemauan siswa. Paket tambahan tersebut terdiri dari : a. Paket yang mesti diikuti siswa yaitu : (1) muhadharah untuk tingkat Tsanawiyah, (2) muzakarah untuk tingkat Aliyah, (3) tutorial pendalaman kitab (Ushul Fiqh, Ilmu hadits, Qawaid, dll) untuk tingkat Aliyah, (4) Komputer. b. Paket pilihan siswa berbakat, yaitu : (1) bahasa Inggris Intensif, (2) bahasa Arab Intensif, (3) bahasa Jepang, (4) hafizh al-Quran, (5) menjahit dan border, (6) keputrian ( Masak-memasak, merangkai bunga ), (7) seni bela diri pencak silat, dan (8) pramuka. Atas dasar itu, untuk pengembangan pendidikan dalam proses pembelajaran Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau di dalam kelas menggunakan bahasa pengantar seperti (a) bahasa Indonesia untuk mata pelajaran yang menggunakan bahasa Indonesia, (b) bahasa Arab untuk segala mata pelajaran yang berbahasa Arab, (c) bahasa Inggris untuk mata pelajaran bahasa Inggris, (d) bahasa Jepang untuk mata pelajaran bahasa Jepang.144 Dengan pembiasaan mengunakan bahasa asing ini, sehingga akan tercipta komunikasi 144Dokumen Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau tahun 2000 63

secara menyeluruh dengan istilah “hari-hari berbahasa” dikalangan para santri di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau. Kemudian, buku sumber yang dipakai dalam pelaksanaan kurikulum di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau ini adalah bukubuku teks yang diterbitkan oleh Departemen Agama dan Dinas Pendidikan, serta buku teks asli berbahasa Arab (kitab standar). C. Proses Pelaksanaan Pendidikan Islam Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Adapun unsur-unsur yang terkait dalam proses pelaksanaan pendidikan Islam di pesantren Thawalib Tanjung Limau ini adalah : 1. Kyai ( sebutan di Minang Kabau adalah Buya) Kyai dalam sistem pendidikan dan pembelajaran memiliki teknis dalam ilmu agama Islam dan memiliki perhatian tehadap keulamaan dengan gaya kepeimpinan yang khas. Buya Fahrizal Alwis, misalnya selain sebagai kepala pada Madrasah Aliyah, juga aktif mengajar kitab kuning dan bahasa Asing pada malam hari bagi santri yang memondok, kecuali hari Sabtu dan Minggu, karena beliau harus pulang kampung untuk menjengguk anak dan istri. Pimpinan Pesantren Thawalib bertindak sebagai pengasuh dan sekaligus sebagai guru utama di pesantren tersebut. Dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar di pesantren, pimpinan dibantu oleh buya atau kyai, ustadz dan santri senior yang lain. Saat ini yang menjabat sebagai pimpinan pesantren adalah alumni dari Pesantren Thawalib sendiri, yaitu Buya Drs. Fahrizal Alwis yang berasal luar kabupaten Tanah Datar, yakni dari Kota Madya Padang Panjang. Pimpinan Pesantren Thawalib berkedudukan sebagai seorang pegawai negeri sipil, dan kini jabatannya adalah kepala Madrasah Aliyah pada pesantren ini, sedangkan kepala Madrasah Tsanawiyah dijabat oleh Ustadz Imran, S.Ag. Karirnya di awali sebagai Mubaligh biasa di kabupaten Tanah, dan kemudian diangkat sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Departemen Agama Kabupaten Tanah Datar sebagai tenaga penyuluh di kecamatan pariangan. Kemudian karena perhatiannya terhadap lembaga pendidikan Islam, beliau

diperbantukan sebagai tenaga pengajar di pesantren Thawalib ini sebagai guru bidang studi Tafsir, dan akhirnya Kepala kantor Departemen Agama kabupaten Tanah Datar mengangkat buya sebagai Kepala Madrasah Aliyah di pesantren Thawalib pada tanggal 1 November 2000. Dan atas permintaan masyarakat setempat serta hasil musyawarah para Alumni buya diangkat sebagai pimpinan Pondok pesantren Thawalib tanjung Limau hingga sekarang. 2. Ustadz Ustadz atau guru dalam sistem pembelajaran di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat menjadi motor dalam kerangka melaksanakan misi pondok pesantren. Adapun Jumlah guru yang mengajar di Pondok Pesantren Thawalib untuk tahun ajaran 2007/2008 ini sebanyak 35 orang. Dan jumlah tenaga administrasi atau pegawai Tata Usaha sebanyak 7 orang. Sementara jumlah ustadz/ustadzah yang membantu Buya/Kyai dalam pembelajaran kitab kuning dan penguasaan bahasa Asing bagi santri yang memondok sebanyak 8 orang, yaitu: Ustadz Miftah Novi.T, S.Ag, Ustadz Imran, S.Ag, Ustadzah Yulbetriza, S.Ag, Ustadzah Wilda Isnaini, S.S, Ustadzah Kasnida, S.Ag, Ustadz Muhammad Taufiq, S.Pd.I, Ustadzah Welni Fatma, S.Pd.I dan Yonnedi, S.Ag. Ketika ditanya tentang motivasi mengajar di Pondok Pesantren Thawalib, mereka mengatakan untuk mengamakan ilmu, untuk berkhidmat pada buya/kyai di pesantren, dan untuk mengamalkan ilmu serta untuk mencari nafkah dengan konsep “mengabdi dengan mengutamakan semangat keislaman”, jawaban tersebut menunjukan bahwa motivasi para ustadz yang mengajar di pesantren ini semata-mata untuk mengamalkan ilmu, berkhidmat pada buya/kyai dan pesantren, serta menjunjung tinggi nilai-nilai dakwah menuju Pendidikan Islami.145 11 Santri /siswa Para santri yang belajar di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau (tahun 2006/2007) terbagi ke dalam empat kelompok, yaitu: santri tingkat Raudlatul Adfhal (RA) yang belajar membaca al-Qur’an melalui metode iqra’, dan mereka diperkenalkan tentang agama seperti rukun islam dan rukun iman, 145Dokumen Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau tahun 2007 65

serta diajarkan ayat-ayat pendek dan doa-doa sebanyak 36 orang, santri tingkat Diniyah Awaliyah sebanyak 60 orang, dan santri tingkat Tsanawiyah sebanyak 76 orang, dan santri tingkat Aliyah sebanyak 61 orang. Jadi jumlah seluruhnya sebanyak 233 orang, sedangkan yang santri mukim hanya 46 orang, yaitu para santri tingkat Aliyah yang mengambil jurusan Ilmu Agama, sementara yang lainnya menjadi santri kalong. Mereka rata-rata berusia antara 13 tahun sampai 21 tahun. Santri Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau diwajibkan untuk mematuhi tata tertib, aturan-aturan dan norma yang berlaku, yang secara khusus dibuat oleh pengasuh dan pimpinan pondok pesantren. Tata tertib yang dibuat berisi kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang dituangkan dalam bentuk peraturan-peraturan pondok pesantren Thawalib. Para santri menyadari bahwa setiap institusi memang harus ada tata tertib dan peraturan-peraturan agar program dari sebuah instutisi atau lembaga dapat berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi pesantren ini.146 11 Kurikulum dan Sumber belajar Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau termasuk tipe pesantren terpadu (kombinasi) yang melaksanakan sistem pendidikan Salaf dan Khalaf. Melalui sistem salaf pesantren ini mengajarkan ilmu agama Islam yang bersumber dari kutūb alSalāf (kitab karangan ulama salaf), yang meliputi bidang tauhid, tafsir, hadits, bahasa Arab, fiqih, dan akhlak. Kurikulum ini diberikan kepada santri yang mondok di pesantren yaitu mengunakan sistem halaqah dengan metode sorongan dan bandongan ataupun melalui sistem madrasah yang bersifat klasikal. Kitab-kitab yang di ajarkan seperti: Durus al-Fiqhiyyah, Fath alMu’ĩn.’Aqidah al-‘Awwam, Akhlaq li alBanîn, Gayah al-Wusūl, Fath al-Qarĩb, Bulug al-Marām, al-Ajrumiyyah, Tafsir alJalālain, al-Qāwa’id al-Lugāh, Fath al-Wahhāb, dll.147 Kitab-kitab karangan ulama salaf tersebut diajarkan pada santri 146Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 147Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam,Tanjung Limau, 9 Februari 2009

dari tahun ke tahun tanpa ada perubahan, sekalipun pendidikan Islam di Indonesia pada permulaan abad ke-20 diketahui sudah mengalami perubahan. Oleh Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau, perubahan yang diterima adalah perubahan sistem dengan mengunakan sistem madrasah dengan mengikuti perubahan sistem pendidikan Nasional.148 Sistem khalaf yang dipakai meminjam istilah Karel A. Steenbrink, adalah “menolak sambil mengikuti”149, yakni mengikuti sistem madrasah yang dipandang moderen yang secara historis ditolak pada mulanya. Akan tetapi pada perkembangannya meniru sistem madrasah yang menyajikan ilmu pengetahuan umum atau meniru sistem madrasah konsep Departemen agama RI. Sistem madrasah yang digunakan tidak hanya terbatas pada pengenalan sistem klasikal, tetapi juga menerapkan semua kuikulum dan metode pendidikan dan pengajaran yang digunakan sesaui dengan system pendidikan Nasional, tanpa meninggalkan sistem tradisionalnya.150 Kemudian, aktivitas Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau yang bernuansa pendidikan dan sekaligus menjadi sumber belajar terlihat dalam latihan berpidato atau latihan berkhutbah, membaca yasinan, diskusi kelompok. Aktivitas seperti ini dipandang oleh pengasuh pondok merupakan upaya membekali santri sebagai kader ulama agar terampil memimpin masyarakat dikemudian hari.151 Selain itu sumber belajar yang dirasa penting dalam pembelajaran dan pengembangan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Thawalib ini adalah pesanpesan, nasehat dan petunjuk buya atau utadz, terutama ketika berlangsungnya proses belajar mengajar, baik ketika belajar di Masjid maupun di dalam kelas dan sewaktu belajar dengan sistem halaqāh.152 11 Metode Pendidikan dan Pengajaran 148 Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam,Tanjung Limau, 15 Februari 2009 149Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah:Pendidikan Islam dalam Kurun Modren, (Jakarta : LP3S, 1986), cet. ke-1, hlm. 62 150Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 15 Februari 2009 151Miftah Novi.T, Guru Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 152Amiruddin St. Marajo, Alumni/Dewan Pembina Pesantren, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 15 Februari 2009 67

Secara historis, pelaksanaan dan pengembangan kurikulum telah dilaksanakan sesuai dengan bentuk dan pola pengajaran yang dilaksanakan. Adapun pelaksanaan pendidikan ini berlangsung dengan cara : Pertama Klasikal mulai kelas 1 sampai kelas VI (Thawalib Tanjung Limau 6 tahun), Kedua Halaqah yang dikelompokkan kepada alThabāqah al-UÎa, al-Thabāqoh wusthā, al-Thobaqāh al-Ulya).153 Berdasarkan pada pengelompokan metode di atas, maka pelaksanaaan pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau adalah perpaduan sistem pesantren Salafiyah dengan Ashriyah. Untuk menjawab tantangan zaman yang semakin global tersebut Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Simabur memakai motto: "Pesantren Thawalib Tanjung Limau Yang Komprehensif, Berwawasan Dakwah Menuju Pendidikan Islami".154 Secara institusi kelembagaan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau tetap seperti dulu, yakni Thawalib Tanjung Limau enam tahun, sebagaimana yang telah dirumuskan dan disepakati, oleh Pengurus Yayasan dengan Pimpinan Thawalib beserta Majlis Guru pada tahun 2001. Bahwa secara kelembagaan pelaksanaan pengajaran di Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau mulai kelas 1 sampai kelas VI (Thawalib Tanjung Limau 6 tahun), adapun sistem disesuaikan dengan perkembangan pendidikan di Indonesia, masing-masing tingkatan diberi kesempatan untuk mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) yang diselenggarakan oleh pemerintah. 11 Sistem Evaluasi Berdasarkan hasil dokumentasi, Program Pengajaran / Kurikulum Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau - Simabur Tahun Ajaran 2006/2007 keseluruhan berjumlah 516 jam, kurikulum ini sudah dimodifikasi. Artinya kurikulum yang dipakai adalah gabungan Kurikulum Diknas, Depag Dan 153Fahrizal Alwis, Program Pengembangan Pembelajaran dan Pedoman Penyelenggaraan Kaderisasi Ulama Ponpes Thawalib Tanjung Limau, (Makalah disampaikan dalam Lokakarya Regional Tingkat Pesantren dan Guru-guru Pesantren Penyelenggara Pondok Pesantren Thawalib Thawalib Tanjung Limau Simabur Tanah Datar), tt., hlm. 10 154Tim Perencana, Master Plan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau, (tidak diterbitkan, 2004), tt. hlm. 16

Kurikulum Thawalib (Versi Gontor), Pendalaman Kebahasaan dan Qira'atul Kutub di Asrama, pada sore hari, dan pada malam hari dengan cara halaqah.155 Dari pelaksanaan kurikulum, pihak pesantren melakukan evaluasi dengan tujuan untuk mengukur sejumlah kemampuan santri dalam menyerap pelajaran, menghayati dan menerima materi pelajaaran yang telah mereka pelajari baik dalam bentuk tulisan, praktek ataupun hal yang lainnya, sehingga santri bisa diketahui apakah sudah menguasai materi atau belum.156 Evaluasi hasil belajar di Pondok Pesantren Thawalib yang ditempuh melalui sistem madrasah, dilakukan sebagaimana evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada sistem pendidikan klasikal, seperti dengan melaksanakan ujian midsemester, ujian semester, ujian akhir. Evaluasi ini di awasi oleh ustadz. Dan pelaksanaan evaluasi biasanya dengan bentuk lisan dan tulisan ataupun dalam bentuk ujian praktek.157 Evaluasi yang dianggap masih relevan dengan nilai ibadah dan pengabdian pada buya untuk memperoleh ilmu adalah “tes harian” (al-Muaraja’ah alYaumiyyah) untuk mengetahui kemampuan santri dalam membaca dan menerjemahkan kitab, terutama kitab yang telah diajarkan pada hari sebelumnya. Evaluasi harian ini dimaksudkan supaya santri termotivasi untuk belajar setiap saat.158 Menurut hemat penulis, evaluasi pendidikan dan pengajaran yang dilakukan di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau telah mengarah pada ketiga aspek yang ingin dicapai dalam tujuan pendidikan yaitu: aspek intelegensi (ranah kognitif), aspek kepribadian (ranah afektif) dan aspek hubungan dengan keterampilan berbuat dan berhubungan dengan masyarakat (ranah psikomotor). Yang di dalam sistem evaluasi ini juga tercakup penguasaan terhadap kemampuan hubungan dengan Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Ini terlihat pada amalan 155Kasra, Guru Pontren Thawalib/ Wakil Kepala, Wawanca Mendalam, Tanjung Limau, 29 Januari 2009 156Kasra, Guru Pontren Thawalib/ Wakil Kepala, Wawanca Mendalam, Tanjung Limau, 29 Januari 2009 157Kasra, Guru Pontren Thawalib/ Wakil Kepala, Wawanca Mendalam, Tanjung Limau, 29 Januari 2009 158Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam,Tanjung Limau, 9 Februari 2009 69

(ibadah keseharian ) para santri dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pesantren maupun sewaktu kembali ke tengah-tengah keluarganya atau di masyarakat nantinya.. Dari penjelasan yang diungkapkan di atas, cukup untuk dijadikan bahan pertimbangan bahwa pesantren adalah, suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat beberapa unsur kelembagaan. Unsur-unsur kelembagaan yang ada pada sistem pendidikan pesantren terdiri dari unsur-unsur organik dan unsur anorganik159 D. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengembangan Pendidikan Islam Berdasarkan sejarah berdirinya dan berkembangnya Pesantren Thawalib Tanjung Limau, dapat dikatakan bahwa pesantren ini telah mampu mempetahankan kehadirannya ditengah-tengah kehidupan mayarakat dari zamanke zaman selama 85 tahun lebih. Dalam kurun waktu 85 tahun lebih ini, Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau telah mampu mencetak alumni yang tersebar di berbagai daerah seluruh Indonesia dengan menempati berbagai jenis pekerjaan, seperti sebagai birokrat, Polri, Jaksa dan Hakim, Pengusaha, Ustadz, pemuka masyarakat, pedagang, dan lainnya. Dengan kata lain, para alumni Pesantren Thawalib Tanjung Limau tidak hanya menjadi ustadz ahli agama semata, akan tetapi lebih dari itu juga berkiprah di masyarakat sesuai dengan nasibnya masing-masing. Kesuksesan pendidikan di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau terbukti dengan banyaknya alumi yang telah berhasil, diantara alumni Pondok Pesantren Thawalib Tanjung seperti: Prof. H. Sofyan Mukhtar, SH, Dr. H. Rifyal Ka.bah, MA, Dr. H. Zainun Kamal, MA, Drs. H. Fathi Ismail, Drs. Masnal Zajuli, MA, Drs. Afif Zamzami, M.Psi, H. Bahrizal, Drs. H. Dafrizal, Drs. Arpinus, M.Ag, H. Fahmi Mukhtar, BA, H. Bukhari Manan, BSc, Drs. Zulkifli Nur, Drs. Jujardi Ridwan, Drs. Fahrizal Alwis, Arius Agusta, S.Pd, H. Mursyida Mukhtar, Makmur DS, Harmaini Khatib, Firdaus, BA, Rais Dt.Cu. Indo, BA, H. Caya Khairani, dll160 159Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta : INIS, 1994), hlm. 18 160Dokumen Alumni Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau tahun 1990

Melihat banyak dan ragamnya jenis pekerjaan yang dijalankan oleh alumni Pesantren Thawalib Tanjung Limau, maka pada masa mendatang diharapkan dari alumni ini mampu membantu pesantren almamaternya menjadi pesantren yang lebih maju lagi. Disamping itu, output yang diharapkan pada masa mendatang mampu mencetak para alumninya sebagai ahli agama dan sekaligus ahli dalam bidang ilmu pengetahuan umum, sehingga mereka mampu bersaing dengan alumni dari lembaga pendidikan lainya. Atas dasar itu, harapan outcome dari Pesantren Thawalib Tanjung Limau dimasa depan berubah menjadi bentuk pendidikan formal dengan perbandingan pelajaran sebayak 70 % ilmu pengetehauan umum dan metode berpikir, dan 30% pendidikan agama yang bermoral, hal ini memungkinkan karena selama ini Pesantren Thawalib Tanjung Limau telah membelajarkan para santrinya dalam bentuk pendidikan formal dengan menyerap kurikulum Dinas Pendidikan dan Departemen Agama. Untuk mewujudkan Pesantren Thawalib Tanjung Limau menjadi pesantren yang berkualitas, tentu akan memerlukan faktor pendukung dan mempertimbangkan faktor penghambatnya. Fahrizal Alwis,161 mengatakan bahwa pesantren Thawalib dalam mengembangkan pendidikan Islam dan menuju pesantren yang terpadu harus memperhatikan aspek/faktor pendukungnya dan penghambatnya, diantara faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1. Faktor pendukung, seperti: (a) pondok pesantren ini sudah memiliki ruang permanen untuk pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, (b) tenaga pengajar yang cukup baik, (c) memiliki daftar rencana pelajaran, (d) melakukan pembagian mata pelajaran, (e) memiliki administrasi yang lengkap di antaranya daftar hadir siswa dan guru, (f) memiliki pustaka, (g) memiliki asrama putra dan putrid, (h) memiliki Labor Bahasa dan Komputer, (i) memiliki Tempat Pendidikan Usaha Santri (TPUS), (j) dan banyaknya alumni yang telah berhasil dan memperhatikan Almamaternya. 2. Faktor penghambat, seperti: (a) banyak berdiri sekolah-sekolah umum di sekitar Pesantren, (b) terjadinya perubahan nilai masyarakat, (c) minimnya 161Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 71

Perhatian pemerintah Daerah terhadap Sekolah yang berstatus swasta, (d) dewasa ini mulai kurangnya perhatian masyarakat terhadap pesantren dalam memasukan anaknya ke Pesantren, (e) pondok pesantren selalu kalah saing dengan madrasah/sekolah negeri karena madrasah/sekolah negeri terkelola dengan baik, sementara pondok pesantren itu tergantung dari pengurus kalau kepengurusannya baik dan aktif maka baik dan berkembanglah pulalah pondok pesantren itu, (f) adanya masalah internal antara sesama pengurus yayasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau, tidak terlepas dari interaksi yang terjadi di lingkungan pondok pesantren, baik interaksi interal pesantren, maupun interaksi dengan pihak luar seperti masyarakat sekitarnya. Konsep lingkungan masyarakat akan mempengaruhi interaksi suatu masyarakat yang ada. Yang dimaksud konsep lingkungan masyarakat di sini adalah lingkungan kehidupan masyarakat dalam pesantren dan luar pesantren Thawalib Tanjung Limau, baik berupa lingkungan fisik maupun berupa lingkungan non fisik, yang secara langsung ataupun tidak langsung ikut mempengaruhi pembentukan dan perkembangan kerpibadian para siswa/santri dan masyarakat. Kepribadian individu dan kelompok dibentuk oleh lingkungan kehidupan yang mengasuh dan mendidiknya.162 Dalam lingkungan kehidupan, prilaku individu dan kelompok diseleksi, dispesialisasi, dan distratifikasi apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang wajib dikerjakan dan apa yang mesti ditinggalkan. Suatu kebiasaan yang secara terus-menerus dialami oleh seseorang dari tahun ke tahun selama 24 jam setiap harinya, akhirnya membentuk kepribadian, dan apabila hal itu telah diterima menjadi nilai kehidupan bersama, maka sejak itu terbentuklah kepribadian yang utuh dan sangat sukar untuk dirubah. 162A Pitirim Sorokin, Contempory Sociological Theories, (New York : Harper and Brother, 1982), hlm. 192

E. Peranan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat 1. Peranan dalam Pengembangan Kelembagaan Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau merupakan lembaga pendidikan Islam yang menjalankan fungsi transfer ilmu agama Islam, pengembangan dakwah, dan mereproduksi ulama. Pesantren Thawalib Tanjung Limau termasuk salah satu Madrasah yang dicurigai dan diawasi oleh Pemerintah Belanda, yakni setelah dilaksanakan Kongres Sumatera Thawalib yang pertama di Bukit Tinggi pada tahun 1930, salah satu Keputusan Muktamar itu ; “ Mendirikan satu partai politik yang berlandaskan perguruan-perguruan Thawalib”.163 Pada awalnya diberi nama Persatuan Muslim Indonesia (P.M.I), kemudian dirobah menjadi “PERMI” dengan sendirinya perguruan Thawalib Tanjung Limau termasuk salah satu perguruan yang dicurigai oleh pemerintah Belanda. Karena gerakan PERMI mengkhawatirkan Pemerintah Belanda, pada waktu itu semua perguruan Thawalib berada di bawah lindungan PERMI. Kekhawatiran Pemerintah Belanda semakin hebat, sehingga mengakibatkan guruguru Thawalib Tanjung Limau banyak dikenakan larangan mengajar dan akibatnya beberapa perguruan Thawalib ada yang ditutup. Madrasah Thawalib Tanjung Limau dengan kebijakan Haji Mukhtar dibawah lindungan Allah SWT dapat dipertahankan sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, sekalipun tuan De Vries/ pegawai tinggi Belanda dari Medan turun mencek langsung keberadaan pendidikan perguruan Thawalib. Demikian pula pada masa penjajahan Jepang, Thawalib Tanjung Limau tetap eksis sebagai lembaga pendididkan dan dakwah.164 Lembaga Pendidikan Islam ini bukanlah baku, tetapi ia fleksibel, berkembang dan menurut kehendak waktu dan tempat.165 Untuk mengembangkan pesantren ini, pada tahun 1943 diadakan perayaan HUT Madrasah Thawalib Tanjung Limau ke-20 dengan mengundang 163 Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 164 Dokumen Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau tahun 1980 165Suwito dan Fauzan, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2005), cet. ke1, hlm. 100 73

ulama besar Minangkabau. Dalam perayaan tersebut dibicarakan juga tentang kelancaran pendidikan dan penambahan pembangunan gedung. Dua tahun setelah itu (1945) Buya Haji Mukhtar berpulang kerahmatullah, usaha beliau dilanjutkan oleh Buya Haji Ismail Rasyad untuk memimpin Pesantren Thawalib Tanjung Limau selanjutnya. Pada tanggal 30 April 1967 Buya Haji Ismail Raysad berpulang kerahmatullah, untuk selanjutnya kepemimpinan Thawalib Tanjung Limau diamanahkan kepada Angku Imam Ibrahim, pada masa ini, gedung dekat mesjid ditambah satu lokal gedung lagi (melanjutkan rencana almarhum Buya Haji Ismail). Pada tahun 1970 didirikan pula gedung lainnya, sehingga Pesantren Thawalib Tanjung LImau sudah mempunyai tiga buah gedung yang satu bertingkat, tingkatnya itu dijadikan asrama bagi murid-murid perempuan yang tempat tinggal mereka jauh dari Pesantren Thawalib Tanjung Limau. Kunci mempertahankan keberlangsungan pendidikan di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dari dulu adalah “musyawarah”, apa saja yang berhubungan dengan perguruan Thawalib terlebih dahulu diambil keputusannya dengan musyawarah. termasuk permintaan dari Inspeksi Pendidikan Agama yang datang ke Thawalib pada 1967 dan 1968 agar Thawalib di negerikan. Permintaan ini kembali dimunculkanada pada tahun 1995 agar Madrasah Aliyah di negerikan, namun setelah bermusyawarah dengan pemerintah kebijaksanaan Pengurus dan masyarakat status Thawalib Tanjung Limau sebagai lembaga pendidikan swasta tetap di pertahankan sampai sekarang. Munculnya usulan agar Thawalib statusnya di negerikan (baik dari pemerintah, alumni maupun sebagian masyarakat atau dari beberapa orang pengurus yayasan setelah tahun 1976, karena perkembangan pendidikan itu sendiri di Indonesia, dalam perjalannya semenjak tahun 1966 sampai 1972 tidak beberapa orang murid yang sampai ke kelas 6 (enam), karena diwaktu kelas empat, murid-murid itu mengambil ujian P.G.A.N. IV tahun, setelah lulus mereka masuk ke P.G.A.N. VI Tahun. Mengingat perkembangan dan ketahanan pesantren, maka pada tanggal 17 Desember 1976 diadakan musyawarah terpadu antara pengurus pesantren

dengan Alim Ulama, ninik – mamak, serta cerdik pandai Tanjung Limau termasuk alumni Thawalib. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan dengan membentuk yayasan dengan nama “ Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau”.166 Karena perguruan Thawalib Tanjung Limau memiliki lintas sektoral di bawah pembinaan Departemen Agama, Pada tahun 1985 Madrasah Thawalib Tanjung Limau diklasifikasikan oleh Departemen Agama setara dengan program pondok pesantren maka, madrasah Thawalib dirubah menjadi Pondok Pesantren Thawalib. Sekarang ini lembaga yang berada dalam naungan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau adalah : Raudhatul Adfal (RA), Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA).167 Kemudian disamping lembaga formal, menurut pimpinan, pesantren juga mengembangkan lembaga yang besrifat sosial kemasyarakatan, seperti Badan Kontak Majlis Ta’lim Pondok Pesantren Thawalib (BKMT Ponpes), lembaga ini dimanfaatkan oleh santri dan masyarakat Tanjung Limau, Lembaga Koperasi Simpan Pinjam Pondok Pesantren, dan Lembaga Didikan Subuh Thawalib (LDST).168 2. Peranan dalam Peningkatan Sumber Daya Manusia Permasalah seputar pengembangan pendidikan Islam pondok pesantren dalam hubungannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (human resources) merupakan masalah yang aktual dalam pembicaraan seputar pesantren. Tututan kehidupan global dan keahlian menghendaki kualitas sumber daya manusia terdidik dan keahlian dalam bidangnya. Realitas out put pesantren yang 166Yayasan ini bertujuan untuk membina dan meningkatkan Perguruan Thawalib Tanjung Limau meneruskan niat pertama (nawaitu) berdirinya Thawalib sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, berusaha meneruskan dan melanjutkan cita-cita luhur almarhum Haji Muchtar Ya’cub sebagai pendiri pertama perguruan tersebut, Lihat : Akta Notaris Pendirian Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau No 3/1978 167Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 168Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 75

memiliki sumber daya manusia kurang kompetitif formal baik agama maupun umum. inilah yang kerap menjadikannya termarginalisasi dan kalah bersaing dengan out put pendidikan Sahal Mahfudz mengatakan kalau pesantren ingin berhasil dalam melakukan pengembangan masyarakat yang salah satu dimensinya adalah pengembangan semua sumber daya, maka pesantren harus melengkapi dirinya dengan tenaga yang terampil mengelola sumber daya yang ada di lingkungannya, di samping syarat lain yang diperlukan untuk berhasilnya pengembangan masyarakat sudah barang tentu, pesantren harus tetap menjaga potensinya sebagai lembaga pendidikan”169 Pendidikan sampai saat ini dianggap sebagai unsur utama dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Sumber Daya Manusia lebih bernilai jika memiliki sikap, perilaku, wawasan, kemampuan, keahlian serta keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan berbagai bidang sektor. Pendidikan merupakan salah satu alat untuk menghasilkan perubahan pada diri manusia. Manusia akan dapat mengetahui segala sesuai yang tidak atau belum diketahui sebelumnya. Pendidikan merupakan hal seluruh umat manusia. Hak untuk memperoleh pendidikan harus diikuti oleh kesempatan dan kemampuan serta kemauannya.170 Dengan demikian, dapat dilihat dengan jelas betapa pentingnya peranan pesantren sebagai lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas SDM agar sejajar dengan manusia lain, baik secara regional (otonomi daerah), nasional, maupun internasional (global). Tinggi rendahnya kualitas SDM antara lain ditandai dengan adanya unsur kreativitas dan produktivitas yang direalisasikan dengan hasil kerja atau kinerja yang baik secara perorangan atau kelompok. Permasalahan ini akan dapat diatasi apabila SDM mampu menampilkan hasil kerja produktif secara rasional dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang umumnya dapat diperoleh melalui pendidikan. Dengan demikian, pendidikan merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas SDM. Sehubungan dengan pengembangan SDM untuk peningkatan kualitas, Azra mengemukakan bahwa “Pengembangan SDM berkualitas adalah proses 169Sahal Mahfudz, Nuansa Fiqih Sosial, (Yogyakarta : LKIS, 1994), hlm. 112 170Azyumardi Azra, Pendidikan Islam:Tradisi dan Modernisasi Menunuju Milinium Baru, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2002), hlm. 50

kontekstual, sehingga pengembangan SDM melalui upaya pendidikan bukanlah sebatas menyiapkan manusia yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang cocok dengan dunia kerja pada saat ini, melainkan juga manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat.”171 Program peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan Islam memberi manfaat pada organisasi berupa produtivitas, moral, efisiensi, efektivitas, dan stabilitas pesantren dalam mengantisipasi lingkungan, baik dari dalam maupun ke luar pesantren yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Perencanaan SDM yang berkualitas. Dalam lokakarya pengembangan Pesantren tahun 2001, merumuskan beberapa kecenderungan yang terjadi dalam masyarakat global yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kualitas SDM. Kecenderungan tersebut adalah: (1) Dibandingkan dengan dasawarsa 1970-an dan 1980-an, tiga dasawarsa mendatang diperkirakan akan terjadi eksplosi yang hebat, terutama yang menyangkut teknologi informasi dan bioteknologi. Dalam konteks peningkatan kualitas SDM, implikasi yang dapat diangkat adalah para ilmuwan harus bekerja dalam pendekatan multidisipliner dan adanya program pendidikan berkelanjutan (S2/S3), dan (2) Eksplosi teknologi komunikasi yang semakin canggih dapat mempersingkat jarak dan mempercepat perjalanan. Hal ini akan membuat bangsa yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang relevan dan menguasai teknologi baru secara substantif mampu meningkatkan produktivitasnya. Hasil pemikiran di atas menghadapkan kita pada arah, tantangan, dan tuntutan umum pendidikan dalam kehidupan abad ke-21 sebagai masa depan suatu lembaga. Guna memenuhi tuntutan komunitas pesantren yang semangkin meningkat, sudah sepantasnya penyelenggara pesantren memikirkan upaya peningkatan kualitas para guru dan staf di dalamnya. Upaya ini dimaksudkan agar segala tugas yang diberikan kepada mereka menghasilkan kesuksesan yang maksimal. Upaya ini juga penting, mengingat rekrutmen guru atau ustadz di pesantren biasanya didasarkan kepada program pre-service sebagaimana dalam sistem persekolahan (sekolah-sekolah formal), sehingga dipandang masih 171Azyumardi Azra, Op. Cit., hlm. 59 77

memerlukan wawasan-wawasan dan keterampilan baru yang aktual. Misalnya guru atau ustadz pesantren perlu menambah wawasan tentang kurikulum dan metode belajar mengajar jika mereka bukan sarjana atau ahli pendidikan. Menurut pembina Yayasan,172 Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau dalam menghadapi arus globalisasi sekarang ini, telah melakukan usaha dalam peningkatan kualitas dan sumber daya tenaga pendidik, yaitu berupa memberikan beasiswa bagi guru yang belum S1 untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi terdekat. Kemudian usaha lain yang dilakukan dalam pengembangan SDM ini, pesantren telah sering memberikan pelatihan-pelatihan dan workshop bagi guru dan masyarakat sekitar, terutama dalam bidang pendidikan dan bidang pertanian. 3. Peranan dalam Pengembangan Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang berada di pondok pesantren, pada umumnya sangat bergantung kepada bentuk pesantren atau kemampuan dan kemamuan kyai dalam mengendalikan pondok pesantren yang didirikannya, esensi dan kegunaan perangkat keras pada suatu pondok pesantren adalah untuk kelancaran interasksi dan komunikasi atau penyampaian informasi dan penanaman nilai-nilai keagamaan yang dilakukan kyai terhadap para santrinya pada saat-saat tertentu.173 Sarana dan prasarana merupakan pendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di pesantren. Pesantren hendaknya mengupayakan tersedianya sumber belajar dan media pendidikan dan pengajaran yang berbasis teknologi. Dan berangkat dari pembiayaan yang ditunjang oleh adanya sawah abuan 174 pada awal berdirinya, hasil dari sawah abuan tersebut guru-guru mendapat gaji, peralatan sekolah dapat dibeli, dan gedunggedung tambahan dapat dibangun. Kondisi itu masih dipertahankan sampai sekarang. Adapun sarana dan prasarana yang telah tersedia Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau diantaranya: 6 (enam) ruang belajar, 1 (satu) ruang pimpinan (kepala), 1 (satu) ruang Majlis guru/ ustadz, 1 172Amiruddin St. Marajo, Sekretaris Yayasan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 15 Februari 2009 173Taqiyuddin, Sejarah Pendidikan: Melaacak Geneologis Pendidikan Islam Indonesia, (Bandung : Mulia Press, 2008), hlm. 189 174Abuan berarti hak milik yang diperoleh dari pemberian atau wakaf atau hibah untuk dikelola dan hasilnya sepenuhnya menjadi hak yang mempunyai abuan itu. Seorang anak yang sudah berangkat dewasa, biasanya sudah diberi abuan oleh orang tuannya.

(satu) ruang perpustakaan, 1 (satu) ruang labor, 1 ((satu) unit asrama, 1 (satu) ruang gudang dan 1 (satu) ruang koperasi, lapangan volly ball, 1 (satu ) masjid.175 Jadi pengembangan terhadap sarana dan prasarana Pondok pesantren Thawalib Tanjung Limau sedikit demi sedikit mengalami perubahan, terutama pada fasilitas pendidikan yang dibutuhkan para santri diantaranya sepuluh ruang belajar, satu unit ruang asrama, satu ruang perpustakaan, satu ruang labor komputer dengan 15 unit komputer, tiga ruang kantor, satu ruang untuk koperasi Pesantren, satu ruang untuk labor bahasa Arab dan Inggris, lima belas unit mesin jahit, satu lapangan volly ball, satu unit lapangan tenis meja dan lapangan bola kaki milik bersama dengan masyarakat Tanjung Limau. 4. Peranan dalam Pengembangan Keilmuan dan Keterampilan Peran pesantren Thawalib Tanjung Limau sebagai salah satu lembaga (institusi) dalam pengembangan pendidikan Islam adalah mentransfer ilmu agama Islam, baik kepada santri maupun kepada masyarakat. Tranformasi ilmu agama Islam yang dilakukan oleh Pesantren Thawalib Tanjung Limau kepada santri maupun masyarakat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pendidikan dan pengajaran, baik yang dilakukan secara rutin di lingkungan pesantren itu sendiri, ataupun kegaitan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan melibatkan pesantren di dalamnya.176 Pesantren Thawalib mempunyai peranan penting dalam mewarisi dan mengembangkan warisan intelektual dan spritual itu. Hal ini bisa dipahami, karena dilihat dari latar belakangnya, Pesantren Thawalib Tanjung Limau berperan sebagai lembaga transformasi kultural yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat. Pesantren Thawalib Tanjung Limau berdiri sebagai jawaban terhadap penggilan dakwah keagamaan, untuk menegakkan nilai-nilai kemasyarakatan, dan praktek-praktek keagamaan.177 Ilmu agama Islam yang ditransfer oleh Pesantren Thawalib kepada santri 175Yayasan Pembina Thawalib Tanjung Limau, Permohonan Izin Perasional Kepala Kantor Departemen Agama Wilayah Sumatera Barat untuk Madrasah Tsnawiyah dan Aliyah Thawalib, ( Padang : tidak diterbitkan, 1976) 176Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 177Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 79

dan masyarakat sekitanya adalah berupa tradisi keilmuan fiqih dan sufistik (ilmu Tasauf). Hal ini wajar, karena pada dasarnya Pesantren Thawalib Tanjung Limau adalah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang megajarkan tradisi keilmuan agama. Transformasi keilmuan tasauf melahirkan nilai-nilai moral keagamaan yang ditampilkan oleh pimpinan pesantren dan santrinya di tengahtengah kehidupan masyarakat, sedangkan transformasi keilmuan fikih melahirkan faham-faham keagamaan fikih bagi kepentingan ibadah kepada Allah. SWT.178 Awalnya Ilmu agama Islam yang ditranspormasikan oleh Pesantren Thawalib Tanjung kepada santri dan masyarakat sekitarnya adalah islam tradisional. Yang dimaskud dengan islam tradisional adalah islam yang masih terikat kuat dengan pikiran ulama ahli fiqih, ahli hadits, ahli tafsir, ahli tauhid dan ahli tasauf yang hidup antara abad ke -7 sampai abad ke13. M. Akan tetapi pada perkembangannya, seiring dengan terjadinya pembaharuan pendidikan Islam pesantren Thawalib memberikan pendidikan Islam kepada santri dan masyarakat didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh sistem pendidikan Islam. Pengembangan pendidikan Islam yang dilakukan di pesantren Thawalib adalah dengan membuat jaringan Islam, yakni membentuk kader ulama santri yang akan dipergunakan sebagai pendakawah-pendakwah agama Islam yang akan diterjunkan ke daerah masingmasing. Dengan itu, berarti Pesantren Thawalib Limau telah membuat dan mengembangkan jaringan Islam secara luas, paling tidak sejak awal berdirinya tahun 1923 hingga berobah statusnya menjadi Pondok Pesantren tahun 1972 sampai sekarang telah banyak alumninya yang menyebarkan ilmu agama Islam di tengah-tengah masyarakat.179 Untuk menjamin kelangsungan hidup pendidikan Islam, maka Pesantren Thawalib Tanjung Limau berusaha melakukan pengembangan pendidikan agama melalui peningkatan rasa solidaritas dan kerja sama antara pesantren dengan masyarakat, antara pesantren dengan pesantren lain dalam suatu forum silaturrahmi pondok pesantren Sumatera Barat atau antara pesantren Thawalib 178Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009 179Fahizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam,Tanjung Limau, 9 februari 2009

dengan pemerintah dalam hal ini tentunya Departemen Agama. Cara praktis yang ditempuh adalah mempersiapkan buya/kyai dari pesantren dengan membuka madrasah yang ada jurusan keagamaanya dengan maksud agar kelak dikemudian hari akan ada buya/kyai yang mengetahui ilmu agama dan menjadi tauladan dan tokoh ditengahtengah masyarakat.180 Jadi, pengembangan terhadap pendidikan agama yang dilakukan oleh Pesantren Thawalib Tanjung Limau adalah dengan cara mengkader santri dan keluarganya sebagai calon pemimpin agama (buya) dan mubaligh yang akan mengajak masyarakat kepada Amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta kemudian hari dapat mengembangkan pesantren ke arah yang lebih maju lagi. Sebagaimana diketahui bahwa Pondok Pesantren Thawalib terletak di Jorong Tanjung Limau yang mayoritas penduduknya bertani dan berternak. Sehingga Pondok Pesantren dalam programprogramnya juga menyentuh dan mengarah kepada bidang pertanian, seperti Agorbisnis, beternak sapi, dan lainlain. Program ini ditawarkan kepada masyarakat. Dan jauh sebelum tahun 1990-an Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau juga telah mengadakan program keterampilan kepada santri dan masyarakat sekitarnya, seperti keterampilan menjahit, membordir, dan pertukangan.181 Inilah salah satu aspek yang dapat diangkat di pesantren, sehingga dapat dikatakan bahwa Pondok Pesantren Thawalib adalah Laboratorium sosialkeagamaan masyarakat. Orang tua yang memasukan anaknya ke pesantren ini selain berharap agar mendapat pendidikan agama yang mendalam, juga berharap agar anaknya dapat hidup mandiri dan dapat berkiprah di tengah-tengah masyarakat yang sesungguhnya.182 Atas dasar itulah, maka kehadiran Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau di tengah-tengah masyarakat menjadi bermanfaat hingga sekarang. Pesantren tidak hanya memberikan bidang dakwah keagamaan semata, tetapi juga 180Fahizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam,Tanjung Limau, 9 februari 2009 181Zainin St. Marajo, Dewan Pembina, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 15 Februari 2009 182Zainin St. Marajo, Dewan Pembina/ Tokoh Masyarakat, Wawancara Mendalam,Tanjung Limau, 15 Februari 2009 81

memberikan bekal ilmu dan keterampilan bagi santri dan masyarakat sekitarnya. Berdasarkan pengamatan di lapangan melalui wawancara dengan Fahrizal Alwis selaku pimpinan Pondok Pesantren Thawalib mengatakan diantara pendidikan keterampilan yang telah dikembangkan adalah: (1). Keterampilan menjahit dan bordir, (2). Keterampilan dalam bidang Agrobisnis dan Peternakan Sapi, (3). Keterampilan komputer dan Bahasa Jepang.183 Unsur utama suatu pendidikan selain terdiri atas para pelaku yang merupakan unsur organik, juga terdiri atas unsur anorganik lainnya., berupa : dana, sarana, dan alat-alat pendidikan lainnya, baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Hubungan antara nilai-nilai dalam suatu sistem pendidikan merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Dalam kaitannya dengan sistem pendidikan pesantren, maka para pelaku pesantren adalah: kyai, ustadz mengajar agama, guru mengajar umum, santri, dan pengurus serta adanya tempat untuk belajar (sarana dan prasarana). Seiring dengan perkembangan zaman, Thawalib Tanjung Limau terus melakukan penyesuaian struktur kepengurusan. Para pengurus terus melakukan penyesuaian struktur sesuai dengan kebutuhan dan kultur yang berlaku di Pondok pesantren. Dalam praktiknya, pola manajemen yang digunakan dalam menjalankan sistem tersebut adalah satu sistem dengan dua sub sistem besar. Dalam tradisi kepemimpinan pesantren, pengasuh dan pengurus adalah pemegang otoritas tertinggi dalam pengambilan keputusan. Hanya saja secara manajerial keputusan tersebut dilakukan bersama sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) yang termaktub dalam struktur dua sub sistem pesantren. Pendidikan dan pembinaan yang dilaksanakan di PP. Thawalib Tanjung Limau adalah pembinaan yang intergratif antara pendidikan di asrama dan lembaga pendidikan formal. Artinya terjadi proses saling mendukung dan melengkapi antrara pendidikan yang dilaksanakan di asrama santri dengan pendidikan dan pembinaan di lembaga formal. Pendidikan dan Pembinaan yang dilakukan di sekolah diperdalam di asrama santri yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan di lembaga formal. Sehingga tujuan santri untuk mengaji dan 183Fahrizal Alwis, Pimpinan Pontren Thawalib, Wawancara Mendalam, Tanjung Limau, 9 Februari 2009

membina akhlakul karimah diharapkan bisa tercapai secara sempurna. Berdasarkan penjelasan mengenai sistem pendidikan di dalam teori di atas, maka sistem pendidikan di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria unsur-unsur dari sistem pendidikan. Sebab, dari hasil penelitian di lapangan menunjukan bahwa unsur-unsur sistem pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Thawalib ke dalam dua aspek, yaitu unsur-unsur sistem pendidikan yang bersifat lunak dan unsur-unsur yang bersifat keras. Kedua unsur tersebut saling berkaitan, sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh dalam mencapai tujuan Pondok Pesantren. Jadi dari uraian dan pendapat para ahli tersebut, dapat penulis kemukakan, bahwa sistem pendidikan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau sesuai dengan tujuan, visi dan misinya, awalnya bersifat tradisional, tetapi pada perkembangan selanjutnya seiring dengan terjadinya pembaharuan paradigma pendidikan Islam, maka pesantren Thawalib Tanjung Limau menerapkan sistem pendidikan pesantren yang mengabungkan antara sistem salaf dengan khalaf. Hal ini bisa terlihat dari dibukanya sistem madrasah disamping sistem pondok sendiri yang bersifat pendidikan Islam tradisional. Namun saat ini pesantren dihadapkan pada persoalan lain dalam dinamika masyarakat. Telah terjadi pergeseran paradigma, pergeseran problematika dengan isu baru walau mainstream lama dan percepatan roda jaman dengan arus globalisasi dan westernisasi, serta abad informasi dan komunikasi yang membawa manusia pada satu dunia kecil dengan sistem global yang hanya dijangkau satu tangan saja. Ketika jelajah dunia cukup dengan jentikan jari saja, maksud melalui internet. Era pasar bebas, perdagangan lintas batas, dunia yang modern, megapolitan dan maju di milanium ketiga ini. Inovasi yang tiada henti, produktifitas yang tinggi, dunia cyber yang menghegemoni seakan membuat kita menjadi bodoh dan terkebelakang. Disisi lain kerusakan moral masyarakat, seperti gunung es yang meleleh melaju begitu cepat, memporak porandakan norma dan keluhuran peradaban yang sekian lama dengan susah payah di bangun. Kemaksiatan pun ikut menglobal seperti bola salju yang menggelinding semakin lama semakin 83

membesar dan membesar menjadi raksasa yang menakutkan, menggurita membumi hanguskan keluhuran ajaran diniyah yang selalu di jungjung tinggi. Perilaku menghalalkan segala macam, cara dalam berbagai bidang, baik politik, ekonomi, sosial dan budaya. Semua ini memaksa kembali pesantren untuk keluar dari sarangnya menyelamatkan dunia karena ada tugas yang sangat berat menantinya. Namun zaman telah berganti kondisi saat ini bukan yang terjadi pada abad tradisional, melainkan abad postmodernisme, sehingga mengharuskan pesantren melakukan restrukturisasi dan revitalisasi dengan mensetel dan meng up gread sopt ware namun tetap mempertahankan hard ware nya untuk menghadapi problem komplek dimasyarakat global saat ini. Pesantren Thawalib Tanjung Limau harus tampil menghadapi tiga persoalan tersebut di atas dengan menjadi agen of change, lokomotif kemajuan dengan gerbong keadilan serta senantiasa menjadi oase bagi panasnya wabah demam masyarakat yang hampir tidak mengenal dirinya sendiri. Pesantren Thawalib Tanjung Limau dituntut menguasai teknologi, melihat kenyatan yang terjadi pada pesantren rasanya seperti suatu yang utopia. Pesantren yang tradisional, pesantren yang lugu, pesantren yang sederhana dan lain sebagainya. But the weaknes have ti be strong, disanalah letak dari kekuatannya. Selain peran di atas menurut penulis, pesantren peran perlu menajamkan dalam pemberdayaan masyarakat terutama saat sekarang ini. Ada beberapa upaya yang dapat dikembangkan dalam pola pemberdayaan masyarakat ini diantaranya : (1) meningkatkan kualitas SDM dari para pengasuhnya dengan berbagai pelatihan, lokakarya seminar dan work shop, (2) penempatan sarjana pendamping bersama pesantren untuk membangun pesantren itu sendiri dan bersama dengan sarjana pendamping membangun masyarakat, (3) pengembangan sarana dan prasarana pendidikan agar tujuan yang telah ditetapkan akan mudah tercapai, (4) meningkatkan pengembangan ilmu dan keterampilan agar para lulusan pesantren dapat berhasil dan berdaya guna serta berkarya, (5) mengembangkan kelembagaan yang siap berkompetisi Sekolah umum lainnya. Dari uraian di atas, dapat penulis tegaskan, bahwa Pondok Pesantren

Thawalib Tanjung Limau telah berusaha dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Tanah Datar. Hal ini dilakukan sejalan dengan visi dan misi yang dimiliki oleh pesantren ini. Dan keberadaan masyarakat Pondok Pesantren dalam hal ini, baik pengurus yayasan, pimpinan, ustadz, santri dan masyarakat tertata dan penuh tanggung jawab lahir dan batin, jasmani dan rohani, hati dan pikirannya benar-benar ada di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau. Untuk mewujudkan output yang lebih berkualitas, pihak pengelola, baik yayasan maupun pimpinan pondok telah berusaha melakukan kerjasama dengan berbagai pihak yang ada di Kabupaten Tanah Datar, baik yang bersifat lembagalembaga pendidikan, ataupun dengan organisasi sosial kemasyarakatan lainnya. Dan tak kalah pentingnya, pesantren ini mencoba melakukan kerja sama dengan pemerintah dan swasta. Hal ini dilakukan dalam rangka mengembangkan lembaga dan untuk memperoleh dana sebagai penunjang operasionalnya lembaga ini. Dan terakhir penulis simpulkan, bahwa sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren telah eksis di tengah-tengah masyarakat semenjak zaman kolonial. Pesantren berperan dalam berbagai bidang secara multidimensional, baik yang berkaitan langsung dengan aktivitas pendidikan pesantren maupun di luar wewenangnya. Pesantren menjadi pusat pengembangan keterampilan dan teknologi tepat guna bagi masyarakat desa, pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya, sebagai pusat reproduksi ulama, sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu Islam, sebagai pusat pelatihan, dan sebagai pusat pendidikan lembaga Majlis Ta’lim dan didikan Subuh. Peran seperti inilah peranan yang dijalankan oleh Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau Kabupaten Tanah Datar dalam mengembangkan pendidikan Islam di Kabupaten Tanah Datar. 85

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan temuan dan pembahasan hasil penelitian, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Latar belakang berdirinya pesantren Thawalib Tanjung Limau ini dari Surau Gadang Tanjung Limau sebagai sarana belajar mengaji bagi generasi muda Tanjung Limau dengan mengunakan sistem halaqah. Guru yang mulamula mengajar adalah Syekh Sulaiman Al- Mufassir AlMansyur. Pondok Pesantren ini berdiri dalam rangka menjawab tantangan dan kekurangan Kader Ulama dan Kader Pimpinan Masyarakat di Minang Kabau, yang dikenal dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Adapun Tujuan didirikannya pesantren ini adalah untuk

menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta terwujudnya ulama intelektual, intelektual ulama, berakhlak mulia, terampil dan bertanggung jawab serta berguna bagi masyarakat. Dan Visi yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Thawalib ini yaitu Istiqomah dalam Aqidah, Makmur dalam Syari'ah, Uswatun Hasanah cendikiawan, dalam Akhlaq, dengan misi yang diemban kader pemimpin masyarakat, adalah: mempersiapkan kader ulma, mubaligh, imam, khatib, dan mempersiapkan mempersiapkan kader muda yang berjiwa wiraswasta, mempersiapkan kader muda yang siap membela agama, masyarakat, dan negara, mempersiapkan kemahiran berbahasa asing (Indonesia, Jepang, Arab, dan Inggris), dan menghasilkan lulusan yang memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari , Islam sebagai aqidah dan syari'ah, serta sebagai orang Minangkabau yang tidak terlepas dari falsafah "Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah. Pondok Pesantren Thawalib menerapkan sistem manejemen yang sesuai dengan sistem pondok pesantren yang ada di Indonesia. Karena Pondok Pesantren ini berada di bawah naungan Departemen Agama, maka manajemen dan sistem pendidikan yang diselenggarakan adalah : Raudhatul Adfal (RA), Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA). Pondok Pesantren Thawalib menerapkan manejemen salaf dan khlaf Metode pembelajarannya mengunakan sorongan, bandongan, halaqah, hafalan, dan klasikal. 2. Kurikulum yang dipakai di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung limau, yaitu dengan mengadopsi kurikulum Departemen Agama, Departemen Pendidikan Nasional dan kurikulum kepesantrenan. Penerapan kurikulum ini mendapat respon dari masyarakat, sehingga adanya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pesantren. Di sisi lain pesantren dalam melakukan pengembangan kurikulum juga memperhatikan, mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam UU, Keputusan Pemerintah, peraturan 87

Daerah dan lain sebagainya. Menganalisis budaya masyarakat tempat pesantren berada. Menganalisis kekuatan serta potensi daerah. Menganalisis syarat dan tuntutan tenaga kerja. Menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat sekitar. 3. Proses pelaksanaan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau masih mengunakan kompenen-komponen pendidikan Islam, seperti adanya Buya selaku pimpinan, ada ustadz untuk mengajar ilmu agama (kitab), guru untuk mengajar pelajaran umum, ada santri /siswa, ada Masjid sebagai sarana pegajian, ada sarana dan prasarana lainnya, mempunyai buku /kitab sebagai sumber belajar, dan juga mengunakan evaluasi untuk mengukur kemampuan santri dalam penguasaan materi yang telah diajarkan, baik tertulis maupun lisan dan praktek. 4. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki cita-cita untuk membangun generasi Islam, pondok pesantren ini dihadapkan pada faktor penghambat dan pendukung. Faktor Penghambat, seperti masalah ekonomi, kurangnya perhatian pemerintah darerah terhadap lembaga swasta, kompetisi yang tidak seimbang dengan sekolah umum, serta terjadinya perubahan nilai di masyarakat. Meskipun kendala banyak, namun pesantren tetap eksis dan optimis untuk mencerdaskan anak bangsa dan memberikan pengetahuan agama, karena pesantren ini masih didukung oleh beberapa faktor pendukung, seperti: Sarana dan prasarana yang sudah agak memadai, tenaga pendidik/ustadz yang berkompeten, serta adanya rencana kerja yang jelas (Master Pan Pondok Pesantren Thawalib). 5. Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau yang telah berusia 85 tahun, telah banyak menciptakan Alumni yang sudah bekerja sesuai dengan profesi dan nasib masing-masing, seperti menjadi Polisi, Pengacara, Hakim, Dosen/Guru, pengusaha, pedagang, dan lain-lain. Peranan yang telah berhasil dikembangkan di Pondok Pesantren Thawalib dalam bentuk kelembagaan berupa : terbentuknya Persantuan Mubaligh yang akan

berdakwah ke setiap Masjid dan Mushala yang ada dalam Kabupaten Tanah Datar (Majlis Ta’lim) dan Lembaga Didikan Subuh Kecamatan Pariangan. Pengembangan dalam peningkatan Simber daya manusia, yaitu meberikan pelatihan dan seminar serta workshop bagi guru dan masyarakat. Pengembangan lain adalah di bidang pendidikan umum yaitu diajarkannya ilmu-ilmu umum serta adanya jurusan umum di pesantren ini (jurusan IPS). Pengembangan terhadap sarana dan prasarana, yaitu menambah lokal dan mendirikan labor komputer dan bahasa bagi santri, serta menambah media pembelajaran. Dan pengembangan dalam pendidikan keterampilan yakni dibuka/diadakannya tempat untuk peningkatan ekonomi pesantren dalam bentuk Tempat Pendidikan Usaha Santri (TPUS) berupa Koperasi Pondok Pesantren, pengembangan bidang agrobisnis bidang peternakan sapi potong, TTG, dan pelatihan-pelatihan menjahit dan bordir, perbengkelan dan elektronik serta komputer. Usahausaha di atas berguna bagi santri dan masyarakat sekitarnya. B. Saran-saran Mengingat peranan Pondok Pesantren Thawalib penting dalam proses pengembangan pendidikan Islam di masyarakat, maka dalam kerangka membangun eksistensi pesantren di tengah-tengah perubahan zaman yang sedang menglobalisasi ini, penulis menyarankan sebagai berikut : 1. Pesantren lebih memperhatikan dan mengembangkan wawasan berpikir keilmuan dari sistem pendidikan nasional, yaitu metode berpikir deduktif, induktif, kausalitas, dan kritis. Hal ini sangat penting artinya, jika kita masih mengangap pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang komprehensif dalam mencetak kader ulama sebagai pendakwah umat dalam amar makruf dan nahi mungkar. 2. Pesantren perlu melakukan inovasi-inovasi yang sifat untuk kemajuan santri selama inovasi tersebut masih dalam kerangka sistem pendidikan Islam dan konsep islam yang dianut. Hal ini dimaksudkan agar pesantren 89

tidak selamanya dikatakan sebagai komunitas yang kolot dan terbelakang. 3. Dalam penerapan kurikulum yang diadopsi dari pemerintah dalam hal ini yang bersifat ilmu umum, sebaiknya pondok pesantren mewarnainya dengan pendidikan Islam itu sendiri,artinya pendidikan tersebut masih dalam ajaran al-Qur’an dan al-Hadits. 4. Pondok pesantren, seharusnya memperluas pelayanan pendidikan kepada masyarakat secara wajar dan sistematis, sehingga apa yang disajikan kepada masyarakat akan tetap terasa bermuara pada pandangan dan sikap Islami, dan terasa bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Begitu juga mengenai aktivitas mesjid harus dijadikan basis pembinaan umat. Materimateri kajian pendidikan Islam yang disampaikan lewat khotbah jum’ah dan ceramah-cemah harus dapat di sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi realitas umat yang dihadapi dan mengantisipasi kondisi perubahan masa depan. Pondok pesantren dan mesjid perlu menggalang kerjasama dengan para ulama dan para cendekiawan muslim yang di luar atau yang tergabung dalam perguruan tinggi yang ada di sekitarnya. 5. Pendidikan Pesantren di masa depan harus menjadi pendidikan yang mampu melahirkan anak-anak didik yang tidak hanya cemerlang secara intelektual tetapi juga memiliki kecermelangan dalam sikap moral. Oleh karena itu, dari sudut pengembangan akademik, pendidikan pesantren ditantang untuk memberikan muatan-muatan ilmu eksak dalam kurikulumnya, agar out putnya dapat menguasai IPTEK dengan baik, sehingga pesantren ini mampu mengharumkan dan mengangkat prestasi Kabupaten Tanah Datar diantara kabupaten-kabupaten lain yang ada di propinsi Sumatera Barat bahkan di tingkat nasional.

91

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->