P. 1
Skripsi Probleem Posing

Skripsi Probleem Posing

|Views: 3,972|Likes:
Published by iwad

More info:

Published by: iwad on Dec 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING TIPE POST SOLUTION POSING

DALAM KELOMPOK KECIL BERMEDIAKAN ALAT PERAGA DAN LKS MATERI POKOK KELILING DAN LUAS SEGIEMPAT KELAS VIIB SEMESTER 2 SMP NEGERI 5 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2006/2007

SKRIPSI
Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1 Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun Oleh : Nama : Dwi Octorina Wulandari NIM Prodi : 4101403531 : Pendidikan Matematika

Jurusan: Matematika

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

i

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa isi skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis dirujuk dalam skripsi ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka.

Semarang, 27 Agustus 2007

Dwi Octorina Wulandari NIM. 4101403531

ii

ABSTRAK Dwi Octorina Wulandari, 4101403531, 2007. ”Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Post Solution Posing Dalam Kelompok Kecil Bermediakan Alat Peraga dan LKS Materi Pokok Keliling dan Luas Segiempat Kelas VIIB Semester 2 SMPN 5 Semarang”. Pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit dan cenderung ditakuti oleh siswa. Siswa di sekolah akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila didasari pada apa yang diketahui siswa, karena untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut. Minat belajar siswa kelas VIIB SMPN 5 Semarang khususnya materi pokok keliling dan luas segiempat masih dianggap rendah. Hal itu dapat diketahui dari rendahnya nilai ulangan harian, maupun nilai raport yakni rata-rata kurang dari 70. Kondisi tersebut terjadi karena siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal dan pemahaman terhadap materi pokok keliling dan luas segiempat, dalam proses pembelajaran matematika masih sering ditemui adanya kecenderungan guru meminimalkan keterlibatan siswa aktif. Dengan menggunakan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil menjadi salah satu solusi. Sehingga diharapkan aktivitas dan hasil belajar siswa akan meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi masalah yang menyebabkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi pokok keliling dan luas segiempat masih rendah dan merencanakan tindakan yang harus dilakukan oleh guru yakni menerapkan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil untuk mengatasi masalah tersebut. Sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat. Metode penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VIIB semester 2 SMPN 5 Semarang tahun pelajaran 2006/2007 yang berjumlah 44 siswa. Hasil penelitian yang dapat penulis sajikan adalah sebagai berikut. Pada siklus I aktivitas belajar siswa mencapai rata-rata 65%. Hasil tes yang dilaksanakan pada siklus I terdapat 31 anak dari 44 anak yang mendapat nilai 7,0 ke atas (70,5%), dan 13 anak mendapatkan nilai di bawah 7,0 (29,5%), dengan nilai rata-rata 7,21. Pada siklus II Aktivitas belajar siswa mencapai rata-rata 87,5%. Pada siklus II siswa memperoleh nilai lebih dari 7,0 sebanyak 38 anak (86,36%) dan yang tidak tuntas belajar 6 anak (13,63%) dengan nilai rata-rata 7,83, dengan demikian ada peningkatan 12,25% dari siklus I. Simpulan dari penelitian tindakan kelas ini adalah bahwa model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIIB semester 2 SMPN 5 Semarang tahun pelajaran 2006/2007. Oleh karena itu guru disarankan untuk mengimplementasikan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil pada materi pokok keliling dan luas segiempat serta materi pelajaran matematika yang lain yang sesuai dengan model pembelajaran tersebut.

iii

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Post Solution Posing Dalam Kelompok Kecil Bermediakan Alat Peraga Dan Lembar Kerja Siswa (LKS) Materi Pokok Keliling Dan Luas Segiempat Kelas VIIB Semester 2 SMP Negeri 5 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007

Telah Dipertahankan Dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang Pada: Hari Tanggal : Senin : 27 Agustus 2007 Panitia Ujian Ketua, Sekretaris,

Drs. Kasmadi Imam S, M.S NIP.130781011 Pembimbing Utama,

Drs.Supriyono, M.Si NIP.130815345 Ketua Penguji,

Drs.Supriyono, M.Si NIP. 130815345 Pembimbing Pendamping,

Drs. M. Asikin H, M.Pd NIP. 131568879 Anggota penguji,

Endang Sugiharti, S.Si, M.Kom NIP. 132231407

Drs.Supriyono, M.Si NIP. 130815345 Anggota penguji,

.

Endang Sugiharti, S.Si, M.Kom NIP. 132231407

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO:

“ Allah SWT akan selalu memberikan RahmatNYA kepada kita selagi kita selalu berusaha dan berdo’a dan yakinlah bahwa Allah SWT akan menghargai apa yang sudah kita lakukan dengan kerja keras serta usaha yang tulus, ikhlas, dan jujur”. “Percayalah pada diri sendiri walau badai menerjang, jurang yang terjal menghalangi jalan kita badai pasti berlalu dan akan ada jalan keluar lain menuju sukses” “Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru merupakan pelajaran yang terbaik untuk menuju kesuksesan” “Usaha dan do’a dari manusia, nasib dan kehidupan manusia semua yang mengatur Allah SWT semuanya kita serahkan kepadaNYA” PERSEMBAHAN: Karyaku ini akan ku persembahkan kepada: Syukur Alhamdulillah Allah SWT Ibuku yang memiliki semangat dan perjuangan yang begitu keras yang selalu mendoakan ina terima kasih Bapakku yang berjuang keras

mencari nafkah dan yang selalu mendoakan ina terima kasih Kakakku ita yang baik dan cantik terima kasih Adekku sayang nanang terima kasih Mas Avif dukungan, yang selalu memberikan dan yang selalu

memberikan motivasi thank’s all Teman-temanku 8A Prl semua terima kasih

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat serta HidayahNya kepada peneliti, sehingga dengan kekuatan dan kesehatan peneliti dapat menyelesaikan skripsi. Peneliti menyadari keberhasilan dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak: 1. Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Kasmadi Imam S, M.S, Dekan Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Supriyono M.Si, Ketua Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang, serta pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada kami penyusun skripsi. 4. Drs. M. Asikin M.Pd, Penguji utama yang telah memberikan bimbingan arahan kepada kami penyusun skripsi. 5. Endang Sugiharti, S.Si, M.Kom. Pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada kami penyusun skripsi 6. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Matematika yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta bekal kepada peneliti dalam menyusun skripsi. 7. Suharto, S.Pd, selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Semarang yang telah memberikan ijin untuk penelitian di sekolah tersebut. 8. Tukiyem, S.Pd, selaku guru mata pelajaran matematika SMP Negeri 5 Semarang.

vi

9. Rekan-rekan guru di SMP Negeri 5 Semarang yang telah membantu terlaksananya penelitian ini. 10. Siswa-siswi kelas VIIB SMP Negeri5 Semarang yang telah membantu kelancaran penelitian. 11. Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan bantuan secara moral. 12. Semua pihak yang telah membantu baik moral maupun materiil yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang berlipat ganda atas bantuan dan amal baiknya. Kami peneliti menyadari keterbatasan kemampuan yang dimiliki, sehingga skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca demi kebaikan di masa yang akan datang.

Semarang, 27 Agustus 2007 Peneliti,

Dwi Octorina Wulandari NIM. 4101403531

vii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL.............................................................................................i HALAMAN PERNYATAAN...............................................................................ii ABSTRAK.............................................................................................................iii HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................v KATA PENGANTAR...........................................................................................vi DAFTAR ISI.........................................................................................................viii DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................................x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah......................................................................1 B. Permasalahan ......................................................................................4 C. Tujuan .................................................................................................5 D. Manfaat ..............................................................................................5 E. Penegasan Istilah.................................................................................6 F. Sistematika Skripsi...............................................................................7 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Landasan Teori....................................................................................9 B. Kerangka Berfikir ...............................................................................50 C. Hipotesis Tindakan .............................................................................52

viii

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ................................................................................53 B. Subjek Penelitian.................................................................................53 C. Prosedur Kerja Dalam Penelitian.........................................................53 D. Sumber Data Dan Cara Pengambilan Data..........................................59 E. Indikator Keberhasilan.........................................................................59 BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian dan pembahasan siklus I ..........................................61 B. Hasil penelitian dan pembahasan siklus II ..........................................68 BAB V PENUTUP A. Simpulan ............................................................................................77 B. Saran.....................................................................................................77 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................79 LAMPIRAN-LAMPIRAN....................................................................................81

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran:

Halaman:

1. Daftar Nama Siswa Kelas VIIB Sebagai Subjek Penelitian....................... 81 2. Daftar Nama Kelompok.............................................................................. 82 3. Lembar Analisis Hasil Evaluasi Siklus I..................................................... 84 4. Lembar Analisis Hasil Evaluasi Siklus II.................................................... 86 5. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I............................................. 88 6. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus II............................................ 91 7. Lembar Pengamatan Aktivitas Diskusi Kelompok Siklus I......................... 94 8. Lembar Pengamatan Aktivitas Diskusi Kelompok Siklus II........................ 97 9. Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I............................................... 100 10. Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Siklus II............................................. 103 11. Angket Refleksi Siswa Siklus I.................................................................... 106 12. Hasil Angket RefleksiSiswa siklus I............................................................ 107 13. Angket Refleksi Siswa Siklus II.................................................................. 109 14. Hasil Angket Refleksi Siswa Siklus II.......................................................... 110 15. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan I Siklus I............................ 112 16. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan I Siklus I............................ 119 17. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II............................................... 128 18. Lembar Kerja Siswa (LKS) Materi Pokok Keliling dan Luas Persegipanjang.............................................................................................. 135 19. Lembar Kerja Siswa (LKS) Materi Pokok Keliling dan Luas Persegi......... 137

x

20. Lembar Kerja Siswa (LKS) Materi Pokok Keliling dan Luas Jajargenjang.................................................................................................. 139 21. Lembar Kerja Siswa (LKS) Materi Pokok Keliling dan Luas Belah Ketupat......................................................................................................... 140 22. Lembar Kerja Siswa (LKS) Materi Pokok Keliling dan Luas Layanglayang........................................................................................................... 142 23. Lembar Kerja Siswa (LKS) Materi Pokok Keliling dan Luas Trapesium.................................................................................................... 143 24. Kisi-Kisi Soal Evaluasi Siklus I.................................................................. 145 25. Soal-Soal Evaluasi Siklus I......................................................................... 146 26. Kunci Jawaban Soal-Soal Evaluasi Siklus I................................................ 149 27. Kisi-Kisi Soal Evaluasi Siklus II................................................................. 159 28. Soal-Soal Evaluasi Siklus II........................................................................ 160 29. Kunci Jawaban Soal-Soal Evaluasi Siklus II.............................................. 163 30. Contoh Lembar Pengajuan Soal dan Jawaban Soal Siswa Kelas VIIB Siklus I................................................................................................................... 169 31. Contoh Lembar Pengajuan Soal dan Jawaban Soal Siswa Kelas VIIB Siklus II.................................................................................................................. 176 32. Gambar Foto Objek Penelitian.................................................................... 183 33. Surat Usulan Dosen Pembimbing............................................................... 186 34. Kartu Bimbingan DosenI dan Dosen II....................................................... 187 35. Surat Permohonan Ijin Penelitian Dinas Pendidikan.................................. 191 36. Surat Permohonan Ijin Penelitian Sekolah................................................ 192

xi

37. Surat Penetapan Ijin Penelitian Dinas Pendidikan..................................... 193 38. Surat Penetapan Ijin penelitian sekolah..................................................... 194

xii

DAFTAR PUSTAKA

Anni, Catharina Tri. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT UNNES Press. Arsyad, Azhar. 2004. Media Pmbelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Bahri Djamah, Syaiful dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bina Aksara. Dimiyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: PT Grasindo. Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta. Mudjiono dan Hasibuan. 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA. Susilo, M. Joko. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suyitno, Amin. 2004. Dasar-Dasar Dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: UPT UNNES Press. Simangunson, Wilson dan Sukino. 2004. Matematika Untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga. Sardiman, A.M. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sudjana, Nana. 2002. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

xiii

Lembar Pengesahan

Proposal ini telah disetujui pada: Hari Tanggal : :

Semarang, Maret 2007 Yang mengajukan,

Dwi Octorina W. NIM.4101403531

Mengetahui, Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Supriyono, M.Si NIP.130815345

Endang Sugiharti, S.Si, M.Kom NIP.132231407

Ketua Jurusan

Drs. Supriyono, M.Si NIP.130815345

xiv

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, dan menggunakan rumus matematika yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika sebagai salah satu disiplin ilmu, menjadi pendukung bagi keberadaan ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itu siswa diharapkan memiliki penguasaan matematika pada tingkat tertentu, sehingga berguna bagi siswa dalam berkompetensi di masa depan. Matematika berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan dan struktur-struktur) dan hubungannya diatur secara logika, matematika berkaitan dengan konsep abstrak, hal tersebut membuat siswa merasa kesulitan dalam mempelajarinya. Siswa lebih mudah mempelajari hal-hal yang bersifat kongkrit, sehingga muncul anggapan bahwa matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit dan cenderung ditakuti siswa. Siswa di sekolah akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang diketahui siswa tersebut, karena untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut. Siswa belajar bukan menghafal dan bukan pula

2

mengingat. Setelah pembelajaran diharapkan adanya perubahan pada siswa. Perubahan sebagai hasil dari pembelajaran seperti pengetahuan siswa dapat bertambah, perubahan pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan, dan kemampuannya. Dalam pembelajaran matematika diharapkan guru dapat

menciptakan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa dalam mempelajari matematika tersebut. Oleh karena itu sangat dibutuhkan strategi pembelajaran yang dapat membuat guru dan siswa menjadi aktif. Di SMP Negeri 5 Semarang, sarana dan prasarana untuk kegiatan pembelajaran sudah cukup tersedia, akan tetapi pada saat ini, minat belajar siswa kelas VII SMP khususnya pelajaran matematika pada materi pokok keliling dan luas segiempat masih dianggap rendah, hal ini dapat diketahui bahwa masih rendahnya nilai ulangan harian, maupun nilai raport, yaitu nilai rata-rata kurang dari 70. Kondisi tersebut terjadi karena dalam proses pembelajaran matematika masih sering ditemui adanya kecenderungan guru meminimalkan keterlibatan siswa, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal dan pemahaman terhadap materi pokok keliling dan luas segiempat. Peran guru dalam proses pembelajaran sangat dominan sehingga menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat pasif. Hal tersebut meyebabkan siswa lebih banyak menunggu sajian dari guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan,

3

kemampuan, serta sikap aktif siswa tersebut. Siswa yang melakukan proses pembelajaran, sedangkan guru sebagai pemimpin dan sebagai fasilitator belajar yakni mengatur, mengorganisasi siswa, hal ini yang menyebabkan pembelajaran di kelas tidak dapat terlaksana dengan optimal. Saat ini yang dibutuhkan adalah siswa yang lebih aktif melakukan proses pembelajaran sehingga akan tercapai hasil yang optimal. Untuk menghilangkan rasa ketakutan pada pelajaran matematika dan anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit, dapat ditempuh dengan penggunaan strategi mengajar dan pemilihan metode yang tepat. Dengan demikian akan dapat tercipta suatu komunikasi sehingga pembelajaran akan dapat efektif dan akan terwujud suatu proses yang menghubungkan siswa dengan guru dan siswa dengan siswa yang menyebabkan anak dapat berkembang dengan baik secara aktif dan penguasaan bahan ajar akan meningkat. Model pembelajaran problem posing merupakan salah satu pendekatan belajar non konvensional yang dalam proses kegiatannya membangun struktur kognitif siswa, siswa diberi kesempatan secara terbuka dan luas untuk mengembangkan kreativitas. Problem posing tipe post solution posing mengajarkan dan mewajibkan siswa dalam membuat soal yang sejenis, seperti yang dibuat oleh guru. Cara belajar sendiri biasanya sering menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Untuk mengatasinya dapat divariasikan dengan cara belajar bersama dengan teman yang paling dekat. Belajar bersama pada dasarnya

4

memecahkan persoalan sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Pikiran dari banyak orang biasaya lebih sempurna daripada satu orang. Diskusi atau belajar kelompok merupakan cara yang lebih baik dalam belajar bersama. Pembentukan kelompok-kelompok kecil bertujuan agar siswa dapat bekerja secara berkelompok untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama, memupuk kemauan dan kemampuan kerjasama serta meningkatkan keterlibatan emosional dan intelektual siswa dalam pembelajaran. Melalui penerapan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dengan pembentukan kelompok kecil, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dengan peningkatan hasil nilai rata-rata minimal 7,0 khususnya pada materi pokok segiempat dan meningkatnya aktivitas belajar, sehingga dapat mendidik siswa untuk belajar mandiri.

B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah melalui model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil bermediakan alat peraga dan lembar kerja siswa (LKS) pokok bahasan keliling dan luas segiempat dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas VIIB Semester II SMP Negeri 5 Semarang?

5

2. Apakah melalui model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil bermediakan alat peraga dan lembar kerja siswa (LKS) pokok bahasan keliling dan luas segiempat dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIB Semester II SMP Negeri 5 Semarang?

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil bermediakan alat peraga dan lembar kerja siswa (LKS) pokok bahasan keliling dan luas segiempat dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIIB Semester II SMP Negeri 5 Semarang.

D. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Bagi Siswa Dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan siswa dapat lebih aktif memiliki semangat dalam mengikuti pelajaran matematika serta dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah baik dalam pembelajaran matematika maupun memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami suatu konsep dalam pembelajaran.

6

2. Bagi Guru Guru mendapat pengetahuan dan pengalaman dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil. Selain itu juga dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menciptakan strategi

pembelajaran yang bervariatif dan inovatif. 3. Bagi Sekolah Dengan meningkatnya hasil belajar siswa, dapat menjadi acuan bagi sekolah dalam menentukan arah kebijakan untuk kemajuan sekolah dan sekolah yang menjadi objek dalam penelitian tindakan kelas akan memperoleh hasil pengembangan ilmu. 4. Bagi Peneliti Mendapat pengalaman dan dapat mengetahui hasil dari pelaksanaan pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil.

E. Penegasan Istilah 1. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh oleh siswa setelah mengalami aktivitas belajar. Perubahan perilaku yang harus dicapai oleh siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil.

7

2. Meningkatkan Meningkatkan adalah suatu usaha untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih baik. 3. Model pembelajaran problem posing tipe post solution posing Model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal atau berlatih soal secara mandiri. Sedangkan tipe post solution posing di mana siswa membuat soal yang sejenis , seperti yang dibuat oleh guru. 4. Alat Peraga Alat peraga adalah alat bantu yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran sebagai penghubung untuk menjelaskan pengertian yang abstrak antara teori dengan kenyataan dalam kehidupan sehari–hari.

F. Sistematika Skripsi Sistematika yang digunakan dalam penulisan skripsi ini sebagai berikut. 1. Bagian awal skripsi memuat tentang halaman judul,lembar pernyataan, abstrak, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, dan daftar lampiran. 2. Bagian isi skripsi terdiri dari 5 bab yang meliputi: a. Bab I : Pendahuluan

8

Berisi latar belakang masalah, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, dan sistematika skripsi. b. Bab II : Landasan teori dan hipotesis tindakan Berisi landasan teori dan hipotesis tindakan, berisi uraian pendapat para ahli tentang masalah–masalah yang berhubungan dengan judul skripsi. c. Bab III : Metode Penelitian Meliputi lokasi penelitian, subjek penelitian, prosedur kerja dalam penelitian, sumber data dan cara pengambilan data dan indikator keberhasilan. d. Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan Meliputi hasil setiap siklus I, dan siklus II beserta pembahasan hasil penelitian. e. Bab V : Penutup Meliputi simpulan dan saran. 3. Bagian akhir skripsi berisi tentang daftar isi dan lampiran–lampiran yang mendukung tersusunnya skripsi.

9

9

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori 1. Pengertian Belajar dan Mengajar Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Konsep belajar telah banyak didefinisikan oleh pakar psikologi antara lain: a. Gagne dan Berliner menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil belajar dari pengalaman. b. Morgan et.al. menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktik dan pengalaman. c. Slavin menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. d. Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia, yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan (Anni, 2004:2).

10

Belajar menurut Skinner adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya akan lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya akan menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut. 1. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons peserta didik, 2. 3. respons peserta didik, dan konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons peserta didik yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku respons peserta didik yang tidak baik diberi teguran atau hukuman (Dimiyati dan Mudjiono, 2002:9). Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Belajar adalah proses yang aktif, belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu (Sudjana, 2002:28).

11

Belajar yang terjadi pada individu merupakan perilaku kompleks, tindak interaksi antara peserta didik dan guru sangatlah dibutuhkan. Oleh karena itu dengan adanya interaksi, maka belajar dapat didinamiskan. Pendinamisasian belajar terjadi oleh peserta didik dan lingkungan belajar. Dinamika pembelajaran yang bersifat internal terkait dengan peningkatan hierarki ranah-ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sedangkan dinamika dari luar dapat berasal dari guru atau peserta didik di lingkungannya. Usaha guru dalam mendinamisasikan belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan siswa menghadapi bahan belajar, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, mengoptimalkan media dan sumber belajar, dan memaksimalkan peran sebagai guru. Keterpaduan proses belajar siswa dengan proses pembelajaran guru dapat dioptimalkan, sehingga interaksi dalam pembelajaran tidak datang begitu saja dan tidak dapat tumbuh tanpa pengaturan dan perencanaan yang seksama. Pengaturan sangat diperlukan terutama dalam menentukan komponen dan variabel yang harus ada dalam proses pembelajaran tersebut sehingga memungkinkan terselenggaranya pembelajaran yang efektif (Sudjana, 2002: 29). Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang

memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa

12

yang harus memainkan peran serta dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilaksanakan serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia. Guru dalam mengajarkan suatu materi perlu memiliki strategi pembelajaran dan metode yang tepat. Strategi pembelajaran adalah pola umum perbuatan guru dan siswa di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Strategi dalam hal ini menunjuk kepada karakteristik abstrak dari rentetan perbuatan guru dan siswa dalam suatu pembelajaran. Metode mengajar adalah alat yang merupakan bagian dari perangkat, alat dan cara dalam pelaksanaan suatu strategi pembelajaran, karena strategi pembelajaran merupakan sarana dan alat untuk mencapai tujuan belajar, maka metode mengajar merupakan alat untuk mencapai tujuan belajar (Moedjiono dan Hasibuan, 2006:3). Dalam penelitian ini diharapkan proses pembelajaran antara guru dan siswa dapat berjalan lancar. Guru mengajar menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, kreatif, dan memaksimalkan peran guru sehingga proses pembelajaran dapat optimal. Proses belajar siswa dapat maksimal apabila keterpaduan belajar mengajar antara guru dan siswa terlaksana. Usaha guru dalam mendinamisasikan belajar sangat berpengaruh dalam pembelajaran. Apabila ada siswa yang gagal maupun berhasil dalam pembelajaran semuanya bergantung dari bagaimana usaha guru dan kesiapan siswa menerima interaksi dari guru.

13

2. Pembelajaran Matematika Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa dalam mempelajari matematika tersebut. Guru dalam mengajarkan matematika perlu memiliki strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi yang diharapkan tercapai. Strategi pembelajaran,

khususnya dalam pembelajaran matematika, yang dikembangkan adalah bagaimana cara membuat siswa menjadi aktif. Strategi pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa dikenal sebagai pembelajaran aktif. Selain itu, agar pembelajaran matematika dapat diserap secara baik oleh siswa maka perlu memilih satu atau beberapa metode yang dipandang tepat. Metode mengajar adalah cara mengajar yang dapat digunakan untuk mengajarkan tiap bahan pelajaran.

14

Misalnya metode ceramah, metode ekspositori, metode tanya jawab, dan lain-lain. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, maka guru mata pelajaran matematika juga perlu memilih pendekatan

pembelajaran yang tepat. Pendekatan pembelajaran adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajarannya, yakni tercapainya kompetensi dasar yang diharapkan (Suyitno, 2004:2). 3. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek–aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh siswa. Oleh karena itu apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam pembelajaran, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh siswa setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran

merupakan deskripsi tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar telah terjadi. Perumusan tujuan pembelajaran itu, yakni hasil belajar yang diinginkan pada diri siswa. Tujuan pembelajaran merupakan bentuk harapan yang dikomunikasikan melalui pernyataan dengan cara menggambarkan perubahan yang diinginkan pada diri siswa yakni

15

pernyataan tentang apa yang diinginkan pada diri siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar (Anni, 2004:5). Tujuan belajar merupakan komponen yang sangat penting

dalam belajar, karena tujuan menjadi pedoman bagi seluruh aktivitas belajar. Tujuan belajar harus dirumuskan dengan jelas karena tujuan yang efektif dan efisien akan memudahkan baik bagi guru atau siswa untuk mencapainya. Tujuan belajar juga dapat dipakai sebagai kriteria internal bagi siswa untuk menilai keberhasilan dalam belajar. Kegunaan tujuan belajar ialah untuk memandu guru menciptakan kondisi belajar yang menunjang pencapaian tujuan belajar itu sendiri. Tujuan belajar yaitu membentuk guru menyusun alat evaluasi yang digunakan untuk mengetahui apakah proses belajar dan pembelajaran berhasil atau gagal. Tujuan belajar yang lain sebagai berikut. a. Untuk mendapatkan pengetahuan Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir. Pemilihan pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain tidak dapat mengembangkan pengetahuan. kemampuan berpikir tanpa berpikir bahan akan

Sebaliknya

kemampuan

memperkaya pengetahuan.

16

b.

Penanaman konsep dan keterampilan Penanaman konsep atau merumuskan konsep, juga

memerlukan suatu keterampilan. Keterampilan itu memang dapat dididik, yaitu dengan banyak melatih kemampuan. Demikian juga mengungkapkan perasaan melalui bahasa tulis atau lisan, bukan kosakata atau tatabahasa, semua memerlukan banyak latihan. Interaksi yang mengarah pada pencapaian ketrampilan itu akan menuruti kaidah-kaidah tertentu dan bukan semata-mata hanya menghafal atau meniru cara berinteraksi. c. Pembentukan sikap Dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi peserta didik, guru harus lebih bijak dan hati-hati dalam pendekatannya, untuk ini dibutuhkan kecakapan mengarahkan motivasi dan berpikir dengan tidak lupa menggunakan pribadi guru itu sendiri guru sebagai akan contoh atau model. Dalam

pembelajaran

senantiasa diobservasi, dilihat

didengar, dan ditiru semua perilakunya oleh peserta didik. Dari proses observasi mungkin juga menirukan perilaku guru, diharapkan terjadi proses internalisasi. Sehingga menumbuhkan proses penghayatan pada setiap diri siswa untuk kemudian diamalkan (Sardiman, 2001:26-28).

17

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Di samping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang yakni bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang psikomotorik (kemampuan/keterampilan bertindak/berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hubungan hirarki. Sebagai tujuan yang hendak dicapai, ketiganya harus nampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Oleh sebab itu ketiga aspek tersebut harus dipandang sebagai hasil belajar siswa, dari proses pembelajaran (Sudjana, 2002: 49). 4. Ciri-Ciri Pembelajaran Belajar merupakan tindakan dan perilaku peserta didik yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh peserta didik sendiri. Peserta didik adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat peserta didik memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Ciri-ciri belajar

18

adalah perubahan perilaku akibat belajar yang tidak dimiliki oleh perubahan perilaku yang lain. Ciri-ciri interaksi pembelajaran, yaitu: a. Interaksi pembelajaran memiliki tujuan, yakni untuk membantu peserta didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud interaksi pembelajaran itu sadar tujuan, dengan menempatkan peserta didik sebagai pusat perhatian. Peserta didik mempunyai tujuan, unsur lainnya sebagai pengantar dan pendukung. b. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan. Didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar dapat mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur, atau langkah-langkah

sistematik dan relevan. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin akan membutuhkan prosedur dan desain yang berbeda pula. c. Interaksi pembelajaran ditandai dengan satu penggarapan materi khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Sudah barang tentu dalam hal ini perlu memperhatikan komponen-komponen yang lain, apalagi komponen peserta didik yang merupakan sentral. Materi harus sudah di desain dan disiapkan sebelum berlangsungnya interaksi pembelajaran.

19

d.

Ditandai dengan adanya aktivitas peserta didik. Sebagai konsekuensi, bahwa peserta didik merupakan sentral, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak baik berlangsungnya interaksi pembelajaran. Aktivitas peserta didik dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental aktif, inilah yang sesuai dengan konsep pembelajaran aktif. Jadi tidak ada gunanya guru melakukan kegiatan interaksi pembelajaran kalau peserta didik hanya pasif saja. Sebab peserta didiklah yang belajar, maka merekalah yang harus melakukannya.

e.

Dalam

interaksi

pembelajaran,

guru

berperan

sebagai

pembimbing. Peranan guru sebagai pembimbing ini guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses pembelajaran, sehingga guru merupakan tokoh yang akan dilihat dan akan ditiru tingkah lakunya oleh peserta didik. Guru akan memimpin terjadinya interaksi pembelajaran. f. Di dalam interaksi antara guru dan peserta didik dalam pembelajaran membutuhkan disiplin. Disiplin dalam interaksi pembelajaran ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh semua pihak dengan secara sadar, baik pihak guru maupun pihak siswa. Mekanisme konkrit dari ketaatan pada ketentuan

20

atau tata tertib itu akan terlihat dari pelaksanaan prosedur yang sudah digariskan. Penyimpangan dari prosedur, berarti suatu indikator pelanggaran disiplin. g. Ada batas waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok siswa), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan harus sudah tercapai. (Sardiman, 2001:15-16). Strategi Pembelajaran sangat diperlukan dalam proses

pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah rencana dan cara-cara membawakan pembelajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Sistem lingkungan ada pembelajaran terdiri atas beberapa komponen termasuk guru, yang saling berinteraksi dalam menciptakan proses belajar yang terarah pada tujuan tertentu. Komponen tersebut adalah: a. Tujuan pembelajaran b. Guru c. Peserta didik d. Materi pelajaran e. Metode pembelajaran f. Media pembelajaran g. Faktor administrasi dan finansial

21

Keberhasilan

dalam

pencapaian

tujuan

pembelajaran

tergantung pada mutu masing-masing dan cara memprosesnya dalam pembelajaran (Gulo, 2002:7). 5. Guru Dan Peserta Didik Guru dalam sistem dan proses pendidikan mana pun, tetap memegang peranan penting. Siswa tidak mungkin belajar sendiri tanpa bimbingan guru yang mampu mengemban tugasnya dengan baik. Berkaitan dengan peran guru, peranan guru sebagai fasilitator belajar bertitik tolak dari tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Maka guru berkewajiban mengembangkan tujuan-tujuan pendidikan menjadi rencana-rencana yang operasional. Guru bertugas memberikan pengajaran di dalam sekolah. Ia menyampaikan pelajaran agar murid memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan. Selain itu guru juga berusaha agar terjadi perubahan sikap, keterampilan, kebiasaan, hubungan sosial, apresiasi, dan sebagainya melalui pembelajaran (Hamalik, 2001:124). Kaitannya dengan implementasi kurikulum, maka guru perlu memperhatikan hal-hal berikut.

a. Mengurangi metode ceramah, b. Memberikan tugas yang berbeda dari peserta didik, c. Mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, d. Bahan harus dimodifikasi dan diperkaya,

22

e. Jangan ragu untuk berhubungan dengan spesialis bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan, f. Gunakan prosedur yang bervariasi dalam membuat penilaian dan membuat laporan, g. Ingat peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama, h. Usahakan mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuannya masing-masing pada tiap pelajaran, dan i. Usahakan untuk melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan. (Susilo, 2007:180) Peserta didik merupakan pihak yang akan menerima dan memperoleh seperangkat kemampuan yang terumuskan dalam kurikulum berbasis kompetensi. Dalam hal ini, peserta didik perlu diposisikan sebagai subjek dari implementasi kurikulum, sehingga kurikulum bukan diperuntukkan bagi guru, akan tetapi diperuntukkan bagi peserta didik. Untuk itu peserta didik dituntut mampu berpartisipasi secara aktif dalam menjabarkan, mengembangkan dan mengimplementasikan aspek-aspek kurikulum yang mendukung bagi terbentuknya suatu profil lulusan sebagaimana terumus dalam kurikulum. Hal ini berarti bahwa setiap siswa dituntut memiliki kemampuan-kemampuan. a. Kreatif dan inovatif dalam belajar, b. Menciptakan suasana kompetitif dalam belajar,

23

c. Menghargai dan menghormati setiap warga sekolah, d. Mengikuti berbagai perubahan dan perkembangan IPTEKS yang sedang terjadi di masyarakat untuk selanjutnya dibawa ke sekolah sebagai bahan masukan bagi peningkatan kualitas sekolah, dan e. Sense of belongingness terhadap berbagi program sekolah. (Susilo, 2007:190) Pengalaman dari kegiatan belajar menunjukkan aktivitas belajar yang perlu dilakukan oleh peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan kemampuan dasar dan materi pelajaran. Berbagai alternatif pengalaman belajar dapat dipilih sesuai dengan jenis kompetensi serta kegiatan materi yang dipelajari. Ditinjau dari dimensi kompetensi yang ingin dicapai, kegiatan atau pengalaman belajar peserta didik meliputi menghafal, menggunakan/mengaplikasikan, dan menemukan. Ditinjau dari dimensi materi yang perlu dihafal, diaplikasikan serta ditemukan adalah fakta, konsep, prinsip dan skill. Pengalaman belajar dapat dilakukan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pengalaman belajar di dalam kelas dilaksanakan dengan jalan mengadakan interaksi antara peserta didik dengan sumber belajar sesuai dengan uraian materi pembelajaran yang telah dirumuskan (Susilo, 2007:132-133). 6. Model Pembelajaran Problem Posing Problem posing merupakan model pembelajaran yang

mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah

24

suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut. Dalam pembelajaran matematika, problem posing (pengajuan soal) menempati posisi yang strategis. Siswa harus menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara mendetil. Hal tersebut akan dicapai jika siswa memperkaya khazanah pengetahuannya tak hanya dari guru melainkan perlu belajar secara mandiri. Problem posing dikatakan sebagai inti terpenting dalam disiplin matematika. Silver dan Cai menulis bahwa ”Problem posing is central important in the

discipline of mathematics and in the nature of mathematical thinking”. Suryanto menjelaskan tentang problem posing adalah

perumusan soal agar lebih sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dikuasai. Hal ini terutama terjadi pada soal-soal yang rumit. (Pujiastuti, 2001:3) Model pembelajaran problem posing ini mulai dikembangkan di tahun 1997 oleh Lyn D. English, dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Selanjutnya, model ini

dikembangkan pula pada mata pelajaran yang lain. Model pembelajaran problem posing tipe post solution posing yaitu jika seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal yang baru yang sejenis.

25

Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai berikut. a. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk memperjelas konsep sangat disarankan. b. Guru memberikan latihan soal secukupnya. c. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara kelompok. d. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa. e. Guru memberikan tugas rumah secara individual. (Suyitno, 2004:31-32). Silver dan Cai mnjelaskan bahwa pengajuan soal mandiri dapat diaplikasikan dalam 3 bentuk aktivitas kognitif matematika yakni sebagai berikut.

26

a. Pre solution posing Yaitu jika seorang siswa membuat soal dari situasi yang diadakan. Jadi guru diharapkan mampu membuat pertanyaan yang berkaitan dengan pernyataan yang dibuat sebelumnya. b. Within solution posing yaitu jika seorang siswa mampu merumuskan ulang pertanyaan soal tersebut menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan penyelesaiannya seperti yang telah diselesaikan sebelumnya.jadi, diharapkan siswa mampu membuat sub-sub pertanyaaan baru dari sebuah pertanyaan yang ada pada soal yang bersangkutan. c. Post solution posing Yaitu jika seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal sejenis. Dalam model pembelajaran pengajuan soal (problem posing) siswa dilatih untuk memperkuat dan memperkaya konsep-konsep dasar matematika. Dengan demikian, kekuatan-kekuatan model pembelajaran problem posing sebagai berikut. a. Memberi penguatan terhadap konsep yang diterima atau yang baru yang

memperkaya konsep-konsep dasar. b. Diharapkan mampu melatih siswa meningkatkan kemampuan dalam belajar.

27

c. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. (Suyitno, 2003:7-8). Bagi siswa, pembelajaran problem posing merupakan

keterampilan mental, siswa menghadapi suatu kondisi dimana diberikan suatu permasalahan dan siswa memecahkan masalah tersebut. Model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) dapat dikembangkan dengan memberikan suatu masalah yang belum terpecahkan dan meminta siswa untuk menyelesaikannya (Silver, Kilpatrick dan shlesinger), pemikiran English dalam menghasilkan pertanyaan baru dari masalah matematika yang diberikan dapat menjadi aktivias utama dalam mengajukan permasalahan. Guru matematika dalam rangka mengembangkan model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) yang berkualitas dan terstruktur dalam pembelajaran matematika, dapat menerapkan prinsipprinsip dasar berikut. 1. Pengajuan soal harus berhubungan dengan apa yang dimunculkan dari aktivitas siswa di dalam kelas. 2. Pengajuan soal harus berhubungan dengan proses pemecahan masalah siswa

28

3. Pengajuan soal dapat dihasilkan dari permasalahan yang ada dalam buku teks, dengan memodifikasikan karakteristik bahasa dan tugas. Menggunakan model pembelajaran problem posing dalam pembelajaran matematika dibutuhkan keterampilan sebagai berikut. 1. Menggunakan strategi pengajuan soal untuk menginvestigasi dan memecahkan masalah yang diajukan. 2. Memecahkan masalah dari situasi matematika dan kehidupan sehari-hari. 3. Menggunakan sebuah pendekatan yang tepat untuk mengemukakan masalah pada situasi matematika. 4. mengenali hubungan antara materi-materi yang berbeda dalam matematika. 5. Mempersiapkan solusi dan strategi terhadap situasi masalah baru. 6. Mengajukan masalah yang kompleks sebaik mungkin, begitu juga masalah yang sederhana. 7. Menggunakan penerapan subjek yang berbeda dalam mengajukan masalah matematika. 8. Kemampuan untuk menghasilkan pertanyaan untuk dan membentukulang

mengembangkan strategi mengajukan masalah sebagai berikut. a. Bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah ini? b. Dapatkah saya mengajukan pertanyaan yang lain? c. Seberapa banyak solusi yang dapat saya temukan?

29

Memunculkan pertanyaan baru dari masalah matematika yang diberikan dianggap menjadi aktivitas utama dalam mengajukan masalah sebagaimana dijelaskan oleh English sebagai berikut. 1. Apakah gagasan penting dalam masalah ini? 2. Dimana lagi kita dapat menemukan gagasan yang sama dengan hal ini? 3. Dapatkah kita menggunakan informasi ini dalam satu cara yang berbeda untuk memecahkan suatu masalah? 4. Apakah kita cukup memiliki informasi penting untuk memecahkan masalah? 5. Bagaimana jika kita tidak memberikan semua informasi ini untuk membuat sebuah masalah yang berbeda? 6. Bagaimana mungkin kamu dapat merubah beberapa informasi ini? Akan menjadi apakah masalah tersebut kemudian? Rangkaian pertanyaan di atas menunjukkan apabila ada seorang guru yang tidak berpengalaman dalam mengajukan masalah dapat melakukan aktivitas bertanya tersebut. Strategi dalam pengajuan masalah dapat dilihat dari beberapa tinjauan literatur. Strategi ini dapat diterapkan dalam mengajukan masalah tertentu. Strategi tersebut mengemukakan ”bagaimana melihat” atau menemukan masalah (Dillon). Krutetskii memanipulasi kondisi tertentu dan tujuan dari masalah yang diajukan sebelumnya. Hashimoto bertanya ”bagaimana jika”, dan ”bagaimana jika tidak”

30

Brown Walter. Mempertimbangkan hubungan yang baru dari masalah baru (Polya). Strategi lain dalam mengajukan sebuah pertanyaan adalah untuk melihat hubungan antara informasi yang diberikan dan mengajukan sebuah pertanyaan yang mengikuti hubungan tersebut (Krutelskii). Cara melihat atau menemukan masalah sejenis dengan gabungan strategi dalam perumusan masalah (Kilpatrick). Strategi ini berada pada penemuan tingkatan masalah (Dillon). Masalah tersebut ditampilkan pada penguji coba atau orang lain yang mengajukan pertanyaan, yang perlu dilakukan penanya adalah menemukannya. Strategi lain adalah untuk memanipulasi kondisi tertentu dan tujuan dari masalah yang diajukan sebelumnya. Ini serupa dengan penggunaan analogi dalam menghasilkan masalah baru yang terkait (Kilpatrick). dalam studi ini, terdapat dua strategi berbeda yang dikembangkan sebagai berikut. 1. Mengajukan pertanyaan mengenai masalah matematika dari masalah yang ada dalam buku pelajaran. Kilpatrick menjelaskan bahwa ada dua tahap dalam proses penyelesaian masalah selama masalah baru diciptakan. Penyelesaian masalah bisa dengan mengubah beberapa atau semua kondisi masalah untuk melihat masalah baru, apa yang mungkin dihasilkan dan setelah masalah diselesaikan. Penyelesaian masalah bisa dengan meninjau ulang bagaimana solusi dipengaruhi oleh berbagai macam permasalahan. Strategi ini dapat dikembangkan oleh siswa sebagai berikut.

31

a. Memilih satu masalah dari buku pelajaran matematika atau buku LKS matematika. b. Menentuan kondisi dari permasalahan yang diberikan dan hal yang tidak diketahui. c. Mengubah kondisi masalah dalam dua cara yang berbeda Pertama, tambahkan lagi beberapa kondisi atau kondisi baru pada masalah asli kemudian rumuskan satu pertanyaan baru. kedua, pindahkan kondisi dari masalah asli kemudian rumuskan pertanyaan baru. 2. Mengajukan masalah matematika dari situasi yang belum terstruktur. Stoyanove menjelaskan situasi masalah yang belum terstrukstur sebagai situasi terbuka yang diberikan dan

menggunakan format berikut. a. Masalah open-ended (penyelidikan matematis). b. Masalah yang sejenis dengan masalah yang diberikan. c. Masalah dengan solusi serupa. d. Masalah berkaitan dengan dalil khusus. e. Masalah yang berasal dari gambaran yang diberikan f. Masalah kata-kata. Strategi ini dapat dikembangkan oleh siswa sebagai berikut. a. Situasi kehidupan sehari-hari yang ditampilkan pada semua siswa.

32

b. Siswa diminta melengkapi situasi dari pandangan mereka untuk menyatakan masalahyang berasal dari situasi yang dibentuk. c. Masing-masing siswa telah melengkapi masalah dari situasi tertentu untuk kemudian mengajukan beberapa pertanyaan dari situasi tersebut d. Tulis semua masalah yang diajukan yang berkaitan dengan masalah tersebut. (Abu-Elwan, 2007:2-5) Dari uraian di atas, tampak bahwa keterlibatan siswa untuk turut belajar dengan cara menerapkan model pembelajaran problem posing merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Siswa tidak hanya menerima saja materi dariguru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri. Hasil belajar tidak hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan tetapi juga meningkatkan keterampilan berpikir. Kemampuan siswa untuk mengerjakan soal-soal sejenis uraian perlu dilatih, agar penerapan model pembelajaran problem posing dapat optimal. Kemampuan tersebut akan tampak dengan jelas bila siswa mampu mengajukan soal-soal secara mandiri maupun berkelompok. Kemampuan siswa untuk mengerjakan soal tersebut dapat dideteksi lewat kemampuannya untuk menjelaskan penyelesaian soal yang diajukannya di depan kelas. Dengan penerapan model pembelajaran problem posing dapat melatih siswa belajar kreatif, disiplin, dan meningkatkan keterampilan berpikir siswa.

33

7. Metode mengajar pembentukan kelompok-kelompok kecil Metode mengajar adalah suatu cara atau teknik mengajarkan topik-topik tertentu yang disusun secara sistematis dan logis. Bertitik tolak dari arti metode tersebut maka metode mengajar dapat diartikan juga sebagai cara mengajar yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Metode mengajar yang penulis kemukakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah metode kerja kelompok dengan strategi pembentukan kelompok-kelompok kecil, yang didalamnya terdapat diskusi untuk memecahkan masalah. Adapun syarat agar dapat dikatakan sebagai diskusi kelompok kecil menurut Udin S. Winataputra, H, dkk, 1997 adalah: a. Melibatkan kelompok, yang anggotanya berkisar antara 3-9 orang, b. Berlangsung dalam situasi tatap muka yang informal, artinya semua anggota kelompok berkesempatan saling melihat,

mendengar, serta berkomunikasi secara bebas dan langsung, c. Mempunyai tujuan yang mengikat anggota kelompok sehingga terjadi kerjasama untuk mencapainya, dan d. Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kepada tercapainya tujuan kelompok (Gulo, 2002:20). Lingkungan dalam belajar sebagai stimulus selalu memberikan rangsangan kepada manusia untuk menanggapinya dalam cara-cara tertentu. Kegiatan untuk menanggapi ini akan berlangsung secara

34

optimal jika didukung oleh motivasi yang kuat. Disinilah pembelajaran aktif tinggi berperan dalam strategi belajar mengajar. Indikator terhadap rendahnya kadar pembelajaran aktif dalam kegiatan

pembelajaran adalah: a. Prakarsa peserta didik secara spontan dalam mengemukakan pendapat secara berani dalam pembelajaran, b. Keterikatan peserta didik pada tugas on the task sebagai lawan dari off the task (kecenderungan menghindari tugas), c. Belajar dari pengalaman langsung (experiental learning), d. Kefasilitatoran guru dalam pembelajaran, e. Variasi bentuk dan alat pembelajaran, dan f. Kualitas interaksi antar peserta didik, baik secara intelektual maupun secara sosial emosional (Gulo, 2002:125-126). 8. Aktivitas Dalam Belajar Belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam pembelajaran. Sebagai rasionalitasnya hal ini juga mendapatkan pengakuan dari berbagai ahli pendidikan. Frobel mengatakan bahwa ”manusia sebagai pencipta”. Dalam ajaran agama diakui bahwa manusia adalah sebagai pencipta yang kedua setelah Tuhan. Secara alami peserta didik memang ada dorongan untuk mencipta. Peserta didik adalah suatu organisme yang

35

berkembang dari dalam. Prinsip utama yang dikemukakan Frobel bahwa peserta didik harus bekerja sendiri untuk memberikan motivasi. Dalam dinamika kehidupan manusia, maka berpikir dan berbuat sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga dalam belajar sudah barang tentu tidak mungkin meninggalkan dua kegiatan itu, berpikir dan berbuat. Montessori juga menegaskan bahwa peserta didik mempunyai tenaga-tenaga untuk berkembang sendiri, membentuk sendiri.

Pendidikan akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati bagaimana perkembangan peserta didiknya. Pernyataan Montessori ini memberikan petunjuk bahwa yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam pembentukan diri adalah peserta didik itu sendiri. Sedang pendidik memberikan bimbingan dan merencanakan segala kegiatan yang akan diperbuat oleh peserta didik. Dengan mengemukakan beberapa pandangan dari berbagai ahli di atas, jelas bahwa dalam pembelajaran, peserta didik harus aktif berbuat. Dengan kata lain bahwa dalam belajar diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas, belajar itu tidak mungkin berlangsung dengan baik (Sardiman, 2001:93-95). Sekolah adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh peserta didik di

36

sekolah. Aktivitas peserta didik tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah. Paul B. Dierich membuat suatu daftar yang berisi macammacam kegiatan siswa digolongkan sebagai berikut. a. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya membaca, memperhatikan gambar, mengamati algoritma penyelesaian soal, demonstrasi, percobaan pekerjaan orang lain. b. Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, membuat pertanyaan, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi interupsi. c. Listening activities, seperti misalnya mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato. d. Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan angket, menyalin. e. Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor activities, misalnya melakukan percobaan, membuat konstruksi model, mereparasi, bermain, berkebun, beternak. g. Mental activities, sebagai contoh menanggap, mengingat,

memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan. h. Emotional activities, seperti misalnya merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup (Sardiman, 2001).

37

Dari uraian di atas, tampak bahwa dalam pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil tetap dibutuhkan kehadiran guru, aktivitas siswa untuk membaca,

memperhatikan gambar, mengamati algoritma penyelesaian soal, hal ini tampak pada visual activities. Diperlukan pula kemampuan membuat model-model pertanyaan dan memecahkan suatu soal yang didukung oleh pengawasan guru, hal ini tampak pada oral activities dan mental activities. Guru memberikan kesempatan bagi siswa beraktivitas dengan melakukan diskusi kelompok, hal ini tampak pada listening activities. Siswa diberikan kesempatan untuk menggunakan alat peraga agar penguasaan materi lebih optimal dan membuat siswa bersemangat dalam kegiatan pembelajaran. Dengan adanya aktivitasaktivitas yang mendukung siswa, maka diharapkan keterampilan berpikir siswa akan meningkat. Tujuan pembelajaran terarah pada peningkatan kemampuan, baik dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotorik. Kegiatan pembelajaran tidak lagi sekadar menyampaikan dan menerima informasi, tetapi mengolah informasi sebagai masukan pada usaha peningkatan kemampuan. Kalau diperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin pesat pada waktu mendatang, maka rasanya tidak mungkin semua informasi dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah untuk disampaikan kepada peserta didik. Peningkatan

38

kemampuan

peserta

didik

untuk

memproses

informasi

yang

ditemukannya sangat dibutuhkan demi lancarnya pembelajaran. Strategi pembelajaran menitikberatkan pada usaha

pengembangan keterampilan berpikir untuk memproses informasi yang berguna. Guru melihat peserta didiknya sebagai peneliti yang aktif terhadap lingkungan sekitarnya dan bukan penerima yang pasif terhadap stimulus yang diberikan cara mengajar seperti ini disebut dengan cara belajar siswa aktif (Gulo, 2002:71). 9. Motivasi Belajar Motivasi adalah penting. Apabila terdapat dua anak yang memiliki kemampuan sama dan memberikan peluang dan kondisi yang sama untuk mencapai tujuan, kinerja, dan hasil yang dicapai oleh anak yang termotivasi akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak termotivasi. Hal ini dapat diketahui dari pengalaman dan pengamatan sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa apabila anak tidak memiliki motivasi belajar, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar pada diri anak tersebut. Motivasi bukan saja penting karena menjadi faktor penyebab belajar, namun juga memperlancar belajar dan hasil belajar. Secara historik guru selalu mengetahui kapan siswa perlu dimotivasi selama proses belajar, sehingga aktivitas belajar berlangsung lebih menyenangkan, arus komunikasi lebih lancar, menurunkan kecemasan siswa, meningkatkan kreativitas dan aktivitas belajar. Pembelajaran yang diikuti oleh siswa yang termotivasi akan benar-benar

39

menyenangkan, terutama bagi guru. Siswa yang menyelesaikan pengalaman belajar dan menyelesaikan tugas belajar dengan perasaan termotivasi terhadap materi yang telah dipelajari, mereka akan lebih mungkin menggunakan materi yang telah dipelajari. Hal ini juga logis untuk mengasumsikan bahwa semakin anak memiliki pengalaman

belajar yang termotivasi, maka semakin mungkin akan menjadi siswa sepanjang hayat. Walaupun motivasi merupakan prasyarat penting dalam belajar, namun agar aktivitas beajar itu terjadi pada diri anak, ada faktor lain seperti kemampuan dan kualitas pembelajaran yang harus diperhatikan pula. Terdapat enam faktor yang terkait dan memiliki dampak terhadap motivasi belajar siswa yaitu: (1) sikap, (2) kebutuhan, (3) rangsangan, (4) afeksi, (5) penguatan (Anni, 2004:157). Motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari pembelajaran dan yang memberikan arah pada pembelajaran sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan” karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan peserta didik untuk belajar. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk kompetensi, dan (6)

40

melakukan kegiatan pembelajaran. Hasil belajar itu akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau citacita. Kekuatan mental tersebut tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang meyebut kekuatan mental mendorong terjadinya belajar sebagai motivasi belajar. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya kegiatan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar (Dimiyati dan Mudjiono, 2002:80). 10. Media Sebagai Alat Bantu Alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran. Alat bantu ini sering disebut ”alat peraga”, karena berfungsi untuk membantu dan meragakan sesuatu dalam proses pendidikan/ pengajaran. Alat peraga ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia itu diterima atau ditangkap melalui panca indra. Semakin banyak indra yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pengertian/ pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain, alat peraga ini

41

dimaksudkan untuk mengarahkan indra sebanyak mungkin pada suatu objek, sehingga mempermudah persepsi (Notoatmodjo, 2003:71). Media sebagai alat bantu dalam pembelajaran adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, karena memang gurulah yang menghendakinya untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada peserta didik. Guru sadar bahwa tanpa bentuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk diterima dan dipahami oleh setiap peserta didik. Terutama pada pelajaran yang rumit dan kompleks. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan peserta didik adalah berpangkal dari penjelasan yang diberikan guru bersimpang siur, tidak ada fokus masalahnya, hal ini tentu saja harus dicarikan jalan keluarnya. Jika guru tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, sebagai solusinya adalah menggunakan media sebagai alat bantu pelajaran guru mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pembelajaran (Bahri Djamah dan Aswan Zain, 2002:15). Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya. Apabila proses belajar itu

42

diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses pelajaran tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas siswa, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran (buku modul, selebaran, majalah, rekaman vidio atau audio, dan sejenisnya) dan berbagai sumber belajar serta fasilitas (

proyektor, overhead, perekam pita audio dan vidio, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat sumber belajar dan lainlain). Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat peraga yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran. Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dalam pengertian ini guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus,pengertian media dalam pembelajaran

43

diartikan sebagai alat-alat grafis photografis atau elektropis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media berfungsi untuk instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktifitas yang nyata, sehingga pembelajaran dapat terjadi. Materi harus dirancang secara sistematis dan psikologis dilihat dari segi prinsip-prinsip belajar agar dapat menyiapkan instruksi yang efektif. Disamping menyenangkan, media pembelajaran harus dapat memberikan pengalaman yang

menyenangkan dan memenuhi kebutuhan perorangan siswa (Arsyad, 2005:15). Berdasarkan uraian di atas kegiatan pembelajaran khususnya model pembelajaran problem posing sangat dibutuhkan penggunaan alat peraga. Seorang guru bukan hanya dapat menguasai bahan ajar, tetapi mampu menyajikan suatu materi yang menarik dan membuat siswa bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu untuk menjelaskan suatu bahan yang optimal kepada siswa dengan menggunakan alat peraga maka guru akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirancang. Selain itu keterampilan siswa akan meningkat dan sikap mental siswa akan meningkatkan aktivitas dalam pembelajaran. 11. Materi Segiempat a. Jajar genjang

44

Jajar genjang adalah suatu segi empat yang sisi-sisinya sepasangsepasang sejajar. Jika K adalah keliling jajargenjang dengan panjang alas a dan panjang sisi yang lain b maka keliling jajargenjang adalah K = a + b + a + b = 2a + 2b = 2 (a + b) Jika L adalah luas jajargenjang dengan panjang alas a dan tinggi t maka luas jajargenjang:
Luas = alas × tinggi

L = a×t
t a b. Persegi panjang Persegi panjang adalah suatu jajar genjang yang satu sudutnya siku-siku. Keliling: Keliling persegi panjang adalah jumlah panjang sisi-sisi persegi panjang tersebut. Jika K adalah keliling persegi panjang dengan ukuran panjang p dan lebar l maka: b

K = 2p + 2l atau K =2(p + l) Luas:

45

Luas sebuah bangun datar adalah besar ukuran daerah tertutup suatu permukaan bangun datar, ukuran untuk luas adalah cm 2 , m 2 , km 2 , atau satuan luas lainnya. Jika L adalah luas persegi panjang dengan panjang p dan lebar l. Berdasarkan gambar halaman 37, maka luas persegi panjang = panjang × lebar = p × l dan dapat ditulis, sbb:
L = p×l
p

l

(Persegi panjang)

Contoh Soal: Tentukan keliling dan luas persegi panjang dengan panjang 10cm dan lebarnya 7cm. Jawab: Dipunyai: p = 10cm

l = 7cm
Ditanyakan: K dan L persegi panjang? Selesaian: K = 2(p + l) = 2(10 + 7) = 2(17) =34 cm
L = p×l

= 10cm × 7cm
= 70cm 2

46

c. Persegi Persegi adalah suatu segi empat yang semua sisinya sama panjang dan satu sudutnya siku-siku. Diketahui keliling persegi panjang adalah: K = 2(p + l) Jika K adalah keliling persegi dengan panjang sisi s, maka keliling persegi : K = 2(s + s) = 2(2s) = 4s Jadi, keliling persegi adalah K = 4s Jika L adalah luas persegi sama dengan kuadrat panjang sisinya, luas persegi dapat ditulis, sbb: L = s 2

s

s Contoh Soal: Tentukan keliling dan luas persegi apabila panjang sisinya 17cm! Jawab: Dipunyai: s = 17cm Ditanyakan: K dan L persegi? Selesaian:

47

K = 4s = 4(17) = 68
L = s2

= (17cm) 2
L = 289cm 2

d. Belah Ketupat Belah ketupat adalah jajar genjang yang dua sisinya yang berurutan sama panjang. Jika K adalah keliling belah ketupat dengan panjang sisi s karena dari sifat belah ketupat diketahui bahwa panjang sisi belah ketupat adalah sama, maka keliling belah ketupat adalah: K = 2(s + s) = 2(2s) = 4s K = 4s Luas belah ketupat: 1.Belah ketupat sebagai jajar genjang L adalah luas belah ketupat dengan panjang alas a dan tinggi t pada gambar luas belah ketupat adalah:

Luas = alas × tinggi

L = a×t
a

t

2.Belah ketupat sebagai gabungan dua segitiga sama kaki yang kongruen, maka: Luas belah ketupat ═ Luas ∆ABC + Luas ∆ADC

48

AC × OB AC × OD L ═ + 2 2
L ═
L ═

D

AC × (OB + OD ) 2 AC × BD 2

A

O

C

B karena AC dan BD keduanya merupakan diagonal belah ketupat, maka luas belah ketupat dirumuskan sebagai berikut:

Luas =

diagonal1 × diagonal 2 2

e. Layang-layang Layang-layang adalah segiempat dengan dua pasang sisi yang berdekatan sama panjang dan mempunyai sepasang sudut yang berhadapan sama besar. Jika diketahui K adalah keliling layang-layang, L adalah Luas layang-layang dengan sisi pendek layang-layang m dan sisi panjang layang-layang n, maka keliling layang-layang adalah:

K = 2(m + n) Luas daerah layang-layang adalah :
L ═ Luas ∆ABC + Luas ∆ADC

49

L ═ L ═ L ═

AC × OB AC × OD + 2 2 AC × (OB + OD ) 2 AC × BD 2
A

B

C

D

karena AC dan BD keduanya merupakan diagonal layang-layang, maka luas layang-layang dirumuskan sebagai berikut:

Luas =

diagonal1 × diagonal 2 2

f. Trapesium trapesium adalah suatu segi empat yang memiliki tepat sepasang sisi yang sejajar. Jika pada gambar di bawah diketahui K adalah keliling trapesium, L adalah Luas trapesium dengan panjang sisi AB adalah a , panjang panjang sisi DC adalah b, panjang sisi AD adalah k1, panjang sisi BC adalah k2, dan tinggi t, maka keliling trapesium adalah: K = a + b + k1 +k2 Luas trapesium: 1. Trapesium yang disusun oleh 2 segitiga Luas trapesium: Luas belah ketupat ═ Luas ∆ABC + Luas ∆ADC

50

L ═

a×t b×t + 2 2 ( a + b) × t 2

D

b

C

L ═

k1 A a

t

k2 B

2. Jajargenjang yang dibentuk oleh 2 trapesium Luas jajargenjang ═ (a + b) x t Luas trapesium yang diarsir adalah separuh luas jajargenjang, maka dapat ditulis:

L ═

1 luas jajargenjang 2 1 ═ (a + b) × t 2

b

a t

( a + b) × t 2

a

b

berdasarkan uraian di atas, maka luas trapesium dapat dirumuskan sebagai berikut:
L ═

( a + b) × t 2

(Simangunsong dan Sukino, 2004:321-322).

B. Kerangka Berfikir Kegiatan pembelajaran selama ini lebih didominasi oleh guru sedangkan saat ini dibutuhkan siswa yang berkompeten, dan siswa yang aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran memerlukan partisipasi aktif dari

51

peserta didik. Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Agar pembelajaran dapat optimal dan aktivitas siswa dapat meningkat diperlukan media yang membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Alat peraga berfungsi untuk instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa, sehingga membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Materi keliling dan luas segiempat merupakan materi yang masih dianggap relatif sulit. Apalagi kemampuan siswa dalam mengerjakan soalsoal jenis uraian, khususnya soal cerita yang berkaitan dengan keliling dan luas segiempat. Materi ini sangat menarik jika diajarkan dengan model pelajaran yang bervariatif, sehingga akan mengurangi kejenuhan siswa dalam mengikuti pelajaran. Kemampuan siswa tersebut akan tampak dengan jelas bila siswa mampu mengajukan soal-soal secara berkelompok dan berdiskusi antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Kemampuan siswa dapat dideteksi lewat kemampuannya untuk

menjelaskan penyelesaian soal yang diajukan di depan kelas. Oleh karena itu, penelitian untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa diharapkan dapat terwujud melalui model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil bermediakan alat peraga dan LKS dalam materi pokok keliling dan luas segiempat siswa kelas VIIB Semester II SMP Negeri 5 Semarang.

52

C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kerangka teori di atas, maka hipotesis tindakan pada penelitian ini sebagai berikut: Melalui model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil bermediakan alat peraga dan lembar kerja siswa (LKS) dalam materi pokok keliling dan luas segiempat siswa kelas VIIB Semester II SMP Negeri 5 Semarang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

53

BAB III METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian Penelitian tindakan kelas yang berjudul ”Meningkatkan aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Problem Posing Tipe Post Solution Posing Dalam Kelompok Kecil Bermediakan Alat Peraga Dan Lembar Kerja Siswa (LKS) Materi Pokok Keliling Dan Luas Segiempat Kelas VIIB Semester II SMP Negeri 5 Semarang”, dilaksanakan di SMP Negeri 5 Semarang.

B. Subjek Penelitian Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VIIB semester II SMP Negeri 5 Semarang tahun pelajaran 2006/2007 sejumlah 44 siswa terdiri dari 17 laki-laki dan 28 perempuan.

C. Prosedur Kerja Dalam Penelitian Penelitian tindakan kelas ini merupakan siklus yang dirancang dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan tersebut disusun dalam siklus dan setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai.

54

1. Siklus I Dalam siklus 1 ada beberapa materi pokok yang akan diajarkan. Materi pokok yang diajarkan yaitu tentang keliling serta luas persegi panjang, persegi, jajargenjang dan belah ketupat. a. Rencana Tindakan 1. Menyusun rencana pembelajaran. 2. Merancang pembelajaran dengan membentuk kelompok belajar siswa, tiap kelompok beranggotakan 6-7 orang dengan penyebaran tingkat kecerdasan. 3. Menyusun soal-soal sebagai bahan rujukan bagi siswa untuk membuat soal dengan tingkat kesulitan yang sama. 4. Merancang lembar kerja siswa. 5. Membuat alat peraga segiempat, sebagai media untuk memperjelas dalam menerangkan konsep segiempat. 6. Menyusun lembar pengamatan siswa baik secara individu maupun kelompok dan lembar pengamatan guru. b. Pelaksanaan tindakan Siklus I dilaksanakan dalam 2 pertemuan, materi yang dibahas adalah persegi panjang, persegi, belah ketupat dan jajargenjang. Pertemuan I diadakan pada hari jumat tanggal 4 Mei 2007 pertemuan II diadakan hari jumat tanggal 11 Mei 2007, di kelas VII B SMP N 5 Semarang. Pelaksanaan tindakan: 1. Guru mengadakan presensi terhadap siswa.

55

2. Dengan metode ceramah dan tanya jawab serta menggunakan alat peraga guru menjelaskan materi mengingat kembali sifatsifat segiempat (persegi panjang, persegi, belah ketupat dan jajargenjang) sebagai apersepsi. 3. Guru menjelaskan kepada siswa cara membuat soal dengan langkah-langkah model pembelajaran problem posing tipe post solution posing. 4. Guru menjelaskan materi keliling dan luas segiempat (persegi panjang, persegi, belah ketupat dan jajargenjang) dengan menggunakan lembar kerja siswa, dan siswa mengerjakan soalsoal yang dikerjakan secara berkelompok. 5. Tiap kelompok mengerjakan tugas untuk menyusun soal yang mempunyai tingkat kesukaran yang sama, seperti yang dibuat oleh guru dan guru bertindak sebagai fasilitator. 6. Dengan bimbingan guru, masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. 7. Guru dan siswa membuat kesimpulan dari materi pelajaran yang sudah diselesaikan. 8. Guru memberikan tugas individu untuk dikerjakan di rumah. c. Pengamatan Dalam penelitian tindakan kelas, pengamatan yang dilaksanakan yaitu: guru bersama kolaborator mengamati keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar, keaktifan siswa dalam bekerja kelompok.

56

Menilai kemampuan siswa dalam membuat dan menyelesaikan soal baik secara individu maupun kelompok. Menilai kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas indvidu. d. Refleksi Refleksi merupakan langkah untuk menganalisis hasil kerja siswa. Setelah pelajaran selesai dan siswa diberikan evaluasi maka guru mengadakan analisa keberhasilan pencapaian pembelajaran,

menentukan faktor-faktor yang paling dominan yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep dalam materi persegi panjang dan persegi. Kemudian mendiskusikan hasil analisis secara kolaboratif untuk perbaikan pada pelaksanaan siklus II. 2. Siklus II Dalam siklus II ada beberapa materi pokok yang akan diajarkan. Materi Pokok yang diajarkan yaitu tentang keliling serta luas layanglayang dan trapesium. a. Rencana Tindakan 1. Menyusun rencana pembelajaran. 2. Identifikasi masalah dan perumusan masalah berdasarkan refleksi pada siklus I 3. Merancang pembelajaran dengan membentuk kelompok belajar siswa, tiap kelompok beranggotakan 6-7 orang dengan penyebaran tingkat kecerdasan.

57

4. Menyusun soal-soal sebagai bahan rujukan bagi siswa untuk membuat soal dengan tingkat kesulitan yang sama. 5. Merancang lembar kerja siswa. 6. Membuat alat peraga segiempat, sebagai media untuk memperjelas dalam menerangkan konsep segiempat. 7. Merancang tugas individu untuk dikerjakan di luar jam pelajaran 8. Menyusun lembar pengamatan siswa baik secara individu maupun kelompok dan lembar pengamatan guru. b. Pelaksanaan tindakan Siklus II dilaksanakan dalam 2 pertemuan, materi yang dibahas adalah layang-layang dan trapesium, pertemuan I hari kamis tanggal 24 Mei 2007 , pertemuan II hari jumat tanggal 25 mei 2007 di kelas VIIB SMP N 5 Semarang, pelaksanaan tindakan: 1. Guru mengadakan presensi terhadap siswa. 2. Siswa bersama guru membahas tugas individu yang dikerjakan di rumah. 3. Dengan metode ceramah dan tanya jawab serta menggunakan alat peraga guru menjelaskan materi mengingat kembali sifatsifat segiempat (layang-layang dan trapesium) sebagai

apersepsi. 4. Guru menjelaskan materi keliling dan luas segiempat (layanglayang, dan trapesium) dengan menggunakan lembar kerja

58

siswa, dan siswa mengerjakan soal-soal yang dikerjakan secara berkelompok. 5. Tiap kelompok mengerjakan tugas untuk menyusun soal yang mempunyai tingkat kesukaran yang sama, seperti yang dibuat oleh guru dan guru bertindak sebagai fasilitator. 6. Dengan bimbingan guru, masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. 7. Guru dan siswa membuat kesimpulan dari materi pelajaran yang sudah diselesaikan. 8. Guru memberikan tugas individu untuk dikerjakan di rumah. c. Pengamatan Dalam penelitian tindakan kelas, pengamatan yang dilaksanakan yaitu: guru bersama kolaborator mengamati keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar baik secara individu maupun kelompok dan mencatat semua temuan-temuan serta perubahan yang terjadi pada siswa. Menilai kemampuan siswa dalam membuat dan menyelesaikan soal. d. Refleksi Refleksi merupakan langkah untuk menganalisis hasil kerja siswa. Setelah pelajaran selesai dan siswa diberikan evaluasi maka guru mengadakan analisa keberhasilan pencapaian pembelajaran,

menentukan faktor-faktor yang paling dominan yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep dalam materi

59

segiempat. Kemudian seluruh kegiatan penelitian sejak dari siklus I, dan siklus II. Hasil kuis dianalisa dengan cara analisa hasil sesuai dengan target pencapaian penelitian. Catatan guru dan kolaborator dianalisa secara deskripsi.

D. Sumber Data dan Cara Pengambilan data a. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Data hasil pengamatan dengan observer 2. Hasil tes tertulis siswa kelas VIIB SMP Negeri 5 Semarang. b. Cara Pengambilan Data Cara pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Lembar pengamatan siswa pada siklus I, dan II 2. Tes tertulis pada siklus I, dan II 3. Lembar pengamatan guru dan kolaborator.

E. Indikator Keberhasilan 1. Hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika melalui model pembelajaran problem posing tipe post solution posing diharapkan akan mengalami peningkatan nilai rata-rata hasil ulangan/tes minimal 7,0 dengan presentase individu lebih dari 70% dan presentase klasikalnya lebih dari 85%.

60

2. Aktivitas proses belajar siswa diharapkan dapat meningkat lebih dari 85%.

61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus I I. Pelaksanaan Siklus I a. Proses Perencanaan 1. Mempersiapkan perangkat yang digunakan dalam proses

pembelajaran, yaitu rencana pembelajaran, contoh soal, dan penyelesaiannya. (lampiran 15 dan 16) 2. Merancang pembelajaran dengan membentuk kelompok belajar siswa, tiap kelompok beranggotakan 6-7 orang dengan penyebaran tingkat kecerdasan. (lampiran 2) 3. Menyusun soal-soal sebagai bahan rujukan bagi siswa untuk membuat soal dengan tingkat kesulitan yang sama, pengajuan soal yang ditekankan adalah problem posing tipe post solution posing. (lampiran 15 dan 16) 4. Merancang lembar kerja siswa (LKS) pembelajaran sebagai panduan penggunaan alat peraga. (lampiran 18,19,20,21) 5. Membuat alat peraga segiempat, sebagai media untuk memperjelas dalam menerangkan konsep segiempat. 6. Menyusun lembar pengamatan siswa baik secara individu maupun kelompok, angket refleksi siswa, dan lembar pengamatan guru. (lampiran 5,7,9,11,12)

62

b. Proses Pelaksanaan 1. Tindakan pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 2007 sampai 11 Mei 2007. Tindakan tersebut dilaksanakan dalam waktu 2 x 40 menit selama 2 kali pertemuan. 2. Guru mengadakan presensi terhadap siswa. 3. Dengan metode ceramah dan tanya jawab serta menggunakan alat peraga guru menjelaskan materi mengingat kembali sifat-sifat segiempat (persegi panjang, persegi, belah ketupat, dan

jajargenjang) sebagai apersepsi. 4. Guru menjelaskan kepada siswa cara membuat soal dengan langkah-langkah model pembelajaran problem posing tipe post solution posing. 5. Guru menjelaskan materi keliling dan luas segiempat (persegi panjang, persegi, belah ketupat, dan jajargenjang) dengan menggunakan lembar kerja siswa, dan siswa mengerjakan soal-soal yang dikerjakan secara berkelompok. 6. Tiap kelompok mengerjakan tugas untuk menyusun soal yang mempunyai tingkat kesukaran yang sama, seperti yang dibuat oleh guru dan guru bertindak sebagai fasilitator. 7. Dengan bimbingan guru, masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. 8. Guru dan siswa membuat kesimpulan dari materi pelajaran yang sudah diselesaikan.

63

9. Guru memberikan tugas individu untuk dikerjakan di rumah. c. Proses Pengamatan 1. Observer mengamati jalannya proses pembelajaran. 2. Observer mengamati dan menilai hasil kerja kelompok. 3. Guru mata pelajaran matematika sebagai pengamat aktivitas guru. 4. Dari pengamatan terhadap guru diperoleh temuan sebagai berikut: a. Guru telah menyampaikan materi pelajaran dengan baik. b. Guru telah memberikan contoh cara mengembangkan soal. c. Guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. d. Guru telah memberikan bimbingan di sela-sela aktifitas belajar siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi dan mengerjakan tugas. e. Guru telah memberikan motivasi kepada siswa yang tingkat kemampuan berpikirnya kurang untuk mempresentasikan tugas yang diberikan guru di papan tulis. 5. Pengamatan terhadap aktivitas siswa pada siklus I ditemukan halhal sebagai berikut. a. Suasana kelas tertib, terkendali, dan kondusif, proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. b. Siswa cukup berani untuk mengemukakan pendapat dalam kelompok belajarnya.

64

c. Dari beberapa pertanyaan balikan yang diajukan guru secara lisan siswa dapat menjawab, meskipun ada yang kurang tepat. d. Hubungan kerja antar siswa dalam belajar kelompok cukup baik. e. Siswa berani dalam mempresentasikan soal yang telah dibuat di depan kelas walaupun dalam menyelesaikan soal yang dibuat masih mengalami kesulitan. f. Ketika ada siswa yang menuliskan hasil pekerjaan

kelompoknya di papan tulis, siswa yang lain memperhatikan sehingga suasana kelas tenang. g. Siswa menyenangi model pembelajaran dalam membuat soal, dengan pengajuan soal tipe post solution posing. 6. Dari pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam kelompoknya diperoleh temuan sebagai berikut. a. Semua kelompok mengerjakan tugasnya dengan tertib dan kerja sama antar kelompok berjalan dengan baik. b. Jika kelompok mengalami kesulitan langsung minta bimbingan guru. c. Pekerjaan siswa diselesaikan dengan baik, tulisan kelihatan rapi, walaupun tidak semua jawaban setiap kelompok benar. d. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun oleh siswa dalam

kelompok masih ada yang belum terstruktur dengan baik.

65

e. Siswa cukup berani mengerjakan tugasnya di papan tulis. Hal ini terlihat dari 3 kelompok yang wakil kelompoknya maju ke depan kelas untuk menampilkan pekerjaannya di papan tulis. f. Ada 3 kelompok lain yang memberikan tanggapan kepada kelompok yang menyajikan pekerjaannya di papan tulis. g. Ketika ada siswa yang menuliskan hasil pekerjaan

kelompoknya di papan tulis, siswa yang lain memperhatikan sehingga suasana kelas tenang. d. Refleksi Refleksi atas pelaksanaan siklus I dihasilkan hal-hal sebagai berikut. 1. Semua siswa telah berusaha mengerjakan tugas yang diberikan, baik pekerjaan rumah maupun tugas kelompok untuk mengembangankan soal yang harus dikerjakan pada jam pelajaran. 2. Siswa menyenangi model pembelajaran pengajuan soal (problem posing) tipe post solution posing. Hal ini terlihat dari semangat siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok dengan menggunakan alat peraga yang menarik dan lembar kerja siswa. 3. Pekerjaan siswa diselesaikan dengan baik, tulisan kelihatan rapi, walaupun tidak semua jawaban setiap kelompok benar. 4. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun oleh siswa dalam

kelompok masih ada yang belum terstruktur dengan baik.

66

5. Siswa cukup berani mengerjakan tugasnya di papan tulis. Hal ini terlihat ada beberapa kelompok yang wakil kelompoknya maju ke depan kelas untuk menampilkan pekerjaannya papan tulis. 6. Soal-soal yang diberikan sebagai soal evaluasi dianggap menarik oleh beberapa siswa. 7. Dari hasil observasi siklus I menunjukkan persentase rata-rata aktifitas belajar siswa mencapai 65% (lampiran 5). 8. Dari hasil tes yang dilaksanakan pada siklus I terdapat 31 anak dari 44 anak yang mendapat nilai 7,0 ke atas sehingga ketuntasan belajar klasikal mencapai 70,45%, dengan nilai ratarata 7,21 dengan ketuntasan belajar individual mencapai 72,11% (lampiran 3). e. Pembahasan Pembahasan hasil penelitian didasarkan atas hasil pengamatan yang dilanjutkan dengan refleksi pada setiap siklus. Dari refleksi pada siklus I dapat dikemukakan bahwa masih terdapat siswa yang belum aktif. Hal ini disebabkan karena ada beberapa siswa tidak dapat memahami konsep dan kurang aktif dalam mengikuti kegiatan belajar dalam pokok bahasan keliling dan luas segi empat. Masih ada siswa yang tidak memperhatikan pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung, sehingga pada waktu diberi tugas, mereka tidak mengerti dan tidak dapat mengerjakanya. Untuk itu, guru harus memberikan di

67

perhatian khusus kepada siswa yang berperilaku demikian. Masih ada siswa yang tidak disiplin, ada beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas saat guru memberikan tugas dengan alasan tidak membawa penggaris dan alat tulis lainnya. Oleh karena itu, guru harus memberikan motivasi berupa nilai tambah kepada siswa yang dapat menyelesaikan tugasnya dengan benar dan memberikan perhatian khusus kepada siswa yang malas mengerjakan tugas, serta memberikan hukuman kepada siswa yang malas dengan hukuman yang dapat mendidik siswa tersebut. Siswa sudah cukup baik dalam mengerjakan tugas pada LKS yang disertai dengan penggunaan alat peraga. Siswa masih kesulitan menyusun kalimat dalam membuat dan

mengembangkan soal, sehingga kalimatnya belum terstruktur dengan baik. Hal ini disebabkan siswa belum terbiasa menyusun dan mengembangkan soal secara mandiri dengan menggunakan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing. Diakhir pembelajaran siklus I siswa diberi evaluasi, dan beberapa siswa berpendapat bahwa soal-soal pada evaluasi siklus I cukup sulit dan menarik untuk diselesaikan. Melalui hasil lembar pengamatan dapat diketahui bahwa proses aktivitas siswa dari awal pembelajaran yaitu kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, antusias siswa dalam pembelajaran, kemampuan dalam mengevaluasi soal yang diberikan oleh guru, keterampilan berpikir siswa, hubungan kerja kelompok, semangat serta keberanian siswa mengikuti pembelajaran dengan

68

model

pembelajaran

problem

posing

masih

belum

tercapai

sepenuhnya, hal ini dikarenakan banyaknya siswa yang melakukan aktivitas dengan baik presentasenya kurang dari 50%. Aktivitas belajar siswa mencapai rata-rata 65% , dan aktivitas belajar kelompok siswa dapat dikemukakan bahwa setiap kelompok belajar rata-ratanya berbeda ada yang aktif dan ada yang tidak aktif. Hasil tes yang dilaksanakan pada siklus I terdapat 31 anak dari 44 anak yang mendapat nilai 7,0 ke atas (70,5%), dan 13 anak mendapatkan nilai di bawah 7,0 (29,5%), dengan nilai rata-rata 7,21. Oleh karena itu, siklus I sangat perlu dilanjutkan ke siklus II dan diharapkan aktivitas belajar siswa juga meningkat, sehingga ketrampilan siswa dalam mengerjakan soal-soal matematika semakin meningkat.

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus II I. Pelaksanaan Siklus II a. Proses Perencanaan 1. Mempersiapkan perangkat yang digunakan dalam proses

pembelajaran, yaitu rencana pembelajaran, contoh soal dan penyelesaiannya. (lampiran 17) 2. Merancang pembelajaran dengan membentuk kelompok belajar siswa, tiap kelompok beranggotakan 6-7 orang dengan penyebaran tingkat kecerdasan. (lampiran 2)

69

3. Menyusun soal-soal sebagai bahan rujukan bagi siswa untuk membuat soal dengan tingkat kesulitan yang sama, pengajuan soal yang ditekankan adalah problem posing tipe post solution posing. (lampiran 17) 4. Merancang lembar kerja siswa (LKS) pembelajaran sebagai panduan penggunaan alat peraga. (lampiran 22,23) 5. Membuat alat peraga segiempat, sebagai media untuk memperjelas dalam menerangkan konsep segi empat. 6. Menyusun lembar pengamatan siswa baik secara individu maupun kelompok, angket refleksi siswa, dan lembar pengamatan guru. (lampiran 6,8,10,13,14) b. Proses Pelaksanaan 1). Tindakan pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2007 sampai 25 Mei 2007. Tindakan tersebut dilaksanakan dalam waktu 2 x 40 menit selama 2 kali pertemuan. 2). Guru mengadakan presensi terhadap siswa. 3). Dengan metode ceramah dan tanya jawab serta menggunakan alat peraga guru menjelaskan materi mengingat kembali sifat-sifat segiempat (layang-layang dan trapesium) sebagai apersepsi. 4). Guru menjelaskan kepada siswa cara membuat soal dengan langkah-langkah model pembelajaran problem posing tipe post solution posing.

70

5). Guru menjelaskan materi keliling dan luas segiempat (layanglayang dan trapesium) dengan menggunakan lembar kerja siswa, dan siswa mengerjakan soal-soal yang dikerjakan secara

berkelompok. 6). Tiap kelompok mengerjakan tugas untuk menyusun soal yang mempunyai tingkat kesukaran yang sama, seperti yang dibuat oleh guru dan guru bertindak sebagai fasilitator. 7). Dengan bimbingan guru, masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. 8). Guru dan siswa membuat kesimpulan dari materi pelajaran yang sudah diselesaikan. 9). Guru memberikan tugas individu untuk dikerjakan di rumah. c. Proses Pengamatan 1. Observer mengamati jalannya proses pembelajaran. 2. Observer mengamati dan menilai hasil kerja kelompok. 3. Guru mata pelajaran matematika sebagai pengamat aktifitas guru. 4. Dari pengamatan terhadap guru diperoleh temuan sebagai berikut. b. Guru telah lebih jelas menyampaikan materi pelajaran dengan baik. c. Guru telah lebih jelas dalam memberikan contoh cara mengembangkan soal. d. Guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.

71

e. Guru telah memberikan bimbingan di sela-sela aktifitas belajar siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi dan mengerjakan tugas. f. Guru telah memberikan motivasi kepada siswa yang tingkat kemampuan berpikirnya kurang untuk mempresentasikan tugas yang diberikan guru di papan tulis. 5. Pengamatan terhadap aktifitas siswa pada siklus II ditemukan halhal sebagai berikut: a. Suasana kelas tertib, terkendali, dan kondusif, proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. b. Siswa lebih berani untuk mengemukakan pendapat dalam kelompok belajarnya. c. Dari beberapa pertanyaan balikan yang diajukan guru secara lisan siswa dapat menjawab, meskipun ada yang kurang tepat. d. Hubungan kerja antar siswa dalam belajar kelompok sudah lebih baik. e. Siswa lebih berani dalam mempresentasikan soal yang telah dibuat di depan kelas walaupun dalam menyelesaikan soal yang dibuat masih mengalami kesulitan. f. Ketika ada siswa yang menuliskan hasil pekerjaan

kelompoknya di papan tulis, siswa yang lain memperhatikan sehingga suasana kelas tenang.

72

g. Siswa menyenangi model pembelajaran dalam membuat soal, dengan pengajuan soal tipe post solution posing. 6. Dari pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam kelompoknya diperoleh temuan sebagai berikut: a. Semua kelompok mengerjakan tugasnya dengan tertib dan kerja sama antar kelompok berjalan dengan baik. b. Jika kelompok mengalami kesulitan langsung minta bimbingan guru. c. Pekerjaan siswa diselesaikan dengan baik, tulisan kelihatan rapi, walaupun tidak semua jawaban setiap kelompok benar, tetapi kesalahan siswa semakin berkurang. d. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun oleh siswa dalam

kelompok lebih terstruktur dengan baik, dan semua dapat diselesaikan. e. Siswa semakin berani mengerjakan tugasnya di papan tulis. Hal ini terlihat dari banyaknya kelompok yang wakil kelompoknya maju ke depan kelas untuk menampilkan pekerjaannya papan tulis. f. Ada kelompok lain yang memberikan tanggapan kepada kelompok yang menyajikan pekerjaannya di papan tulis. g. Ketika ada siswa yang menuliskan hasil pekerjaan di

kelompoknya di papan tulis, siswa yang lain memperhatikan sehingga suasana kelas tenang.

73

d. Refleksi Refleksi atas pelaksanaan siklus II dihasilkan hal-hal sebagai berikut. 1. Semua siswa telah berusaha mengerjakan tugas yang diberikan, baik pekerjaan rumah maupun tugas kelompok untuk

mengembangkan soal yang harus dikerjakan pada jam pelajaran. 2. Siswa menyenangi model pembelajaran pengajuan soal (problem posing) tipe post solution posing. Hal ini terlihat semangat siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok dengan menggunakan alat peraga yang menarik dan lembar kerja siswa. 3. Pekerjaan siswa diselesaikan dengan baik, tulisan kelihatan rapi, walaupun tidak semua jawaban setiap kelompok benar, jawaban salah semakin berkurang. 4. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun oleh siswa dalam kelompok sudah lebih terstruktur dengan baik. 5. Siswa cukup berani mengerjakan tugasnya di papan tulis. Hal ini terlihat ada beberapa kelompok yang wakil kelompoknya maju ke depan kelas untuk menampilkan pekerjaannya di papan tulis. 6. Soal-soal yang diberikan sebagai soal evaluasi dianggap menarik oleh beberapa siswa dan siswa termotivasi untuk lebih trampil dalam menyelesaikan soal-soal matematika. 7. Dari hasil observasi siklus II menunjukkan persentase rata-rata aktifitas belajar siswa dari awal pembelajaran yaitu kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, antusias siswa dalam

74

pembelajaran,

kemampuan

dalam

mengevaluasi

soal

yang

diberikan oleh guru, keterampilan berpikir siswa, hubungan kerja kelompok, semangat serta keberanian siswa mengikuti

pembelajaran dengan model pembelajaran problem posing mencapai 87,5% (lampiran 6). 8. Dari hasil tes yang dilaksanakan pada siklus II terdapat 38 anak dari 44 anak yang mendapat nilai 7,0 ke atas sehingga ketuntasan belajar klasikal mencapai 86,36%, dengan nilai rata-rata 7,83 dengan ketuntasan belajr individual 78,38% (lampiran 4). e. Pembahasan Dari refleksi pada siklus II melalui pengamatan didapatkan hampir semua siswa memperhatikan penjelasan guru selama kegiatan

pembelajaran berlangsung. Demikian juga siswa lebih berani ketika siswa menjadi wakil kelompoknya menuliskan pekerjaannya di papan tulis, dan pada saat siswa yang menuliskan hasil pekerjaan kelompoknya di papan tulis, siswa yang lain memperhatikan sehingga suasana kelas tenang. Semua siswa telah berusaha mengerjakan tugas yang diberikan, baik pekerjaan rumah maupun tugas kelompok untuk mengembangkan soal yang harus dikerjakan pada jam pelajaran. Siswa kelihatan tertarik dengan model pembelajaran pengajuan soal. Hal ini ditunjukkan dengan semangat siswa dalam mengerjakan tugas kelompok, sehingga begitu menemui kesulitan langsung minta bimbingan guru. Model pembelajaran pengajuan soal (problem posing tipe post solution posing) dapat melatih siswa untuk

75

belajar mandiri. Dalam mengerjakan tugas kelompok, pertanyaanpertanyaan yang disusun oleh siswa dalam kelompok lebih terstruktur dengan baik, dan semua dapat diselesaikan. Siswa semakin berani mengerjakan tugasnya di papan tulis. Hal ini terlihat banyaknya kelompok yang wakil kelompoknya maju ke depan kelas untuk menampilkan pekerjaannya di papan tulis. Dapat diketahui adanya kemajuan dalam pembelajaran baik peningkatan kualitas guru yang semula pada siklus I siswa masih belum aktif karena kurangnya pemberian perhatian khusus guru kepada siswa yang masih kurang dalam pembelajaran baik pemahaman materi maupun antusias dalam mengikuti pembelajaran. Pada siklus II dapat dibuktikan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran sudah meningkat dapat dilihat dari hasil lembar pengamatan. Melalui hasil lembar pengamatan dapat diketahui bahwa proses aktivitas siswa dari awal pembelajaran yaitu kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, antusias siswa dalam pembelajaran, kemampuan dalam mengevaluasi soal yang diberikan oleh guru, keterampilan berpikir siswa, hubungan kerja kelompok, semangat serta keberanian siswa mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran problem posing sudah lebih dari 50% siswa melakukan aktivitas dengan baik. Siklus II dipandang cukup, karena

kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal tes pada siklus II sudah semakin meningkat, yaitu mencapai rata-rata 86,36 % dengan demikian ada peningkatan 12,25% dari siklus I . Aktivitas belajar siswa mencapai rata-rata 87,5%. Dengan demikian ada peningkatan 13,5% untuk aktivitas

76

belajar siswa dari siklus I, oleh karena itu hipotesis tindakan dapat tercapai. Berdasarkan hasil refleksi dalam siklus II ini, ternyata dengan model pembelajaran problem posing tipe post soution posing dalam kelompok kecil bermediakan alat peraga dan lembar kerja siswa (LKS) materi pokok keliling dan luas segiempat dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIIB Semester II SMP Negeri 5 Semarang. Hal ini tampak pada analisis hasil tes yang dilaksanakan pada akhir siklus II. Siswa memperoleh nilai lebih dari 7,0 sebanyak 38 anak (86,36%) dan yang tidak tuntas belajar 6 anak (13,63%) dengan nilai rata-rata 7,83. Hasil tes yang dilakukan pada akhir siklus II dapat dilihat pada lampiran 4.

77

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang disajikan di dalam BAB IV, simpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut : 1. Aktivitas siswa melalui model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dapat lebih meningkat. Aktivitas siswa pada siklus I 65% dan sesudah siklus II meningkat menjadi 87,5%. 2. Hasil belajar siswa pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 7,12 dengan ketuntasan belajar individual mencapai 72,11% dan ketuntasan belajar klasikal mencapai 70,45%. Hasil belajar pada siklus II meningkat, dengan nilai rata-rata 7,83 dimana ketuntasan belajar individual mencapai 78,38% dan ketuntasan belajar klasikal mencapai 86,36%. B. Saran Berdasarkan simpulan yang didapat maka saran dari peneliti adalah sebagai berikut: 1. Hendaknya guru SMP Negeri 5 Semarang mengimplementasikan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil didalam mengajarkan materi pokok keliling dan luas segi empat. 2. Hendaknya guru SMP Negeri 5 Semarang mengimplementasikan model

pembelajaran problem posing tipe post solution posing dalam kelompok kecil

78

di dalam mengajarkan materi pelajaran matematika yang lain yang sesuai dengan model pembelajaran tersebut.

79

DAFTAR PUSTAKA

Anni, Catharina Tri. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT UNNES Press. Arsyad, Azhar. 2004. Media Pmbelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Abu-Elwan, Reda. The development of mathematical problem posing skills for porspective middle school teachers. Mathematics Education, Sultan Qaboos University. Tersedia di: http:www.math.unipa.it/~grim/EAbu-elwan8.PDF [30 Agustus 2007] Bahri Djamah, Syaiful dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bina Aksara. Dimiyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: PT Grasindo. Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.. Mudjiono dan Hasibuan. 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta Pujiastuti, Emi. 2001. Penggabungan Model Pembelajaran RME dan Problem Posing Dalam Pembelajaran Matematika. Karya Tulis Dosen UNNES, 27 Agustus 2001 (tidak diterbitkan)

Susilo, M. Joko. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suyitno, Amin. 2004. Dasar-Dasar Dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: UPT UNNES Press. Simangunson, Wilson dan Sukino. 2004. Matematika Untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga. Sardiman, A.M. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

80

Sudjana, Nana. 2002. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Suyitno, Amin. 2003. Implementasi Model Pembelajaran Problem Posing Dalam Rangka mengoptimalkan Kemampuan Siswa Kelas II SLTP 2 Semarang Program Akselerasi Dalam Mata Pelajaran matematika. Karya Tulis Dosen 2003 UNNES. (tidak diterbitkan)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->