BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Acuan Teori Subtansi Mata Pelajaran 1. Pengertian Belajar Pendidikan merupakan suatu proses kegiatan yang mengaitkan banyak faktor. Dalam menyukseskan pendidikan tidak terlepas dari kegiatan belajar mengajar, ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Hudoyo (1990 : 1) bahwa : “Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kompleks, peristiwa tersebut merupakan rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia, sehingga manusia itu sebagai pribadi yang utuh. Manusia yang tumbuh melalui belajar, karena itu kalau kita berbicara tentang belajar tidak dapat melepaskan diri dari mengajar. Belajar merupakan proses kegiatan yang tidak dapat dipisahkan”. Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan-perubahan itu sebagai hasil belajar yang dapat ditunjukkan dengan berbagai bentuk perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku. Keterampilan, kecakapan, dan kemampuan serta perubahan-perubahan pada aspek lain yang ada pada setiap individu yang belajar. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh (Slamet, 1991 : 12) bahwa : “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman itu sendiri dalam interkasi dengan lingkungannya”. Cronbach (Yusuf, 2003 : 22), menyatakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan Geoch (Yusuf,

16

2003 : 22) juga mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan dalam perpormarsi sebagai hasil dari praktek-praktek. Belajar metematika memerlukan kesiapan mental yang tinggi karena matematika berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya yang bersifat deduktif. Sebagaimana yang dikemukakan Hudoyo (1990 : 4) bahwa: “Matematika berkenaan dengan ide-ide/konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif”. Dari uraian di atas dapat diartikan bahwa belajar matematika adalah suatu proses yang dilakukan individu secara bertahap dan berurutan serta berdasarkan pengalaman belajar sebelumnya, yang memerlukan kesiapan mental yang tinggi untuk memperoleh suatu percobaan tingkah laku. 2. Matematika Sekolah Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Sering juga dikatakan bahwa matematika sekolah adalah unsur-unsur atau bagianbagian dari matematika yang dipilih berdasarkan atau berorientasi pada kepentingan kependidikan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Hal ini berarti, bahwa yang dimaksud dengan kurikulum matematika adalah kurikulum pelajaran matematika yang diberikan di jenjang pendidikan pendidikan menengah ke bawah, bukan diberikan di jenjang pendidikn tinggi. Dijelaskan, bahwa matematika sekolah tersebut terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan

16

dan membentuk pribadi-pribadi serta mengarah pada perkembangan IPTEK. Hal ini menunjukkan bahwa matematika sekolah tetap memiliki cirri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu memiliki objek kejadian yang abstrak serta bepola pikir deduktif konsisten. Menurut Suraharta. (2005:21) menyatakan bahwa matematika sekolah tidaklah sepenuhnya sama dengan matematika sebagai ilmu. Dikatakan tidak sepenuhnya sama karena memiliki perbedaan antara lain dalam hal: a. Penyajian Matematika. Penyajian dan pengungkapan matematika di sekolah disesuaikan dengan perkiraan perkembangan intelektual peserta didik. Mungkin dengan mengaitkan butir yang akan disampaikan dengan realitas di sekitar siswa atau disesuaikan dengan pemakaiannya. Jadi penyajiannya tidak langsung berupa butir-butir matematika. Tentu dapat dipahami bahwa penyajian matematika pada Sekolah Menengah Atas (SMA) berbeda dengan penyajian matematika pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Dasar (SD). Hal ini didasarkan pada tahap perkembangan intelektual siswa SMA yang semestinya berada pada tahap operasional formal. Jadi tidak banyak butir matematika sekolah disajikan secara induktif, kecuali bagi siswa yang lemah. b. Pola Pikir Matematika Pola pikir matematika sebagai ilmu deduktif. Tidaklah demikian halnya dengan matematika sekolah. Meskipun siswa pada umumnya diharapkan mampu berpikir deduktif namun pada proses pembelajarannya dapat digunakan pola pikir

16

deduktif. Pola pikir deduktif yang digunakan dimaksukan untuk menyesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa. c. Keterbatasan Semesta Sebagai akibat dipilihnya unsur atau elemen matematika sekolah dengan memperhatikan aspek kependidikan, dapat terjadi penyederhanaan yang kompleks. Pengertian semesta pembicaraan tetap diperlukan namun mungkin sekali lebih dipersempit. Selanjutnya semakin meningkat usia siswa, yang berarti meningkatnya juga tahap perkembangannya, maka semesta itu berangsur lebih diperluas lagi. d. Tingkat Keabstrakan Sifat abstrak matematika tetap ada pada matematika sekolah. Hal ini merupakan salah satu penyebab sulitnya seorang guru mengajarkan matematika sekolah, karena itu guru matematika harus berusaha mengurangi sifat abstrak dari objek matematika itu sehingga memudahkan siswa menangkap pelajaran matematika sekolah. Fungsi matapelajaran matematika sebagai: alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan sebagai acuan dalam pembelajaran matematika sekolah. Belajar matematika bagi para siswa, juga merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan di antara pengertianpengertian itu. Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan

16

tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Dengan pengalaman terhadap contoh-contoh dan bukan contoh diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep. Selanjutnya dengan abstraksi ini, siswa dilatih untuk membuat perkiraan, terkaan, atau kecenderungan berdasarkan kepada pengalaman pengetahuan yang dikembangkan pola pikir induktif dan pola pikir deduktif. Namun tentu dari semua itu harus diselesaikan dengan perkembangan kemampuan siswa, sehingga pada akhirnya akan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran matematika sekolah. Sedangkan tujuan umum diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah meliputi dua hal, yaitu sebagai berikut: (1) Mempersiapkan siswa agar sanggup untuk menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dunia dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efesien. (2) Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari, dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Menurut Suraharta, (2003 : 27) adapun tujuan khusus pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar ini terbagi menjadi dua bagian besar. Pertama, tujuan pengajaram matematika di SD dan tujuan pengajaran matematika di SMP, sedangkan tujuan khusus pembelajaran matematika di SMA secara tersendiri dimuat dalam kurikulum pendidikan menegah. 1. Belajar dan Prestasi Belajar Matematika a. Pengertian belajar matematika.

16

Gagne (Akib, 2001) yang mengemukan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang yang disebabkan oleh adanya pengalaman. Slameto (Akib, 2001) mengemukakan bahwa belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan Abdullah (Ahmad, 2006) berpendapat bahwa belajar adalah proses untuk mencapai perubahan tingkah laku dalam bentuk sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dapat membawa perubahan tingkah laku seseorang ke tingkat dan arah yang lebih baik, terutama dari segi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Secara khusus Bruner (Hudoyo, 1988) mengemukakan belajar

matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. b. Pengertian Prestasi Belajar Matematika Winkel (Muhkal, 1998) mendefenisikan prestasi sebagai bukti keberhasilan usaha yang dicapai. Jadi prestasi adalah bukti usaha yang digunakan untuk memenjukkan tingkat keberhasilan yang dapat dicapai seseorang setelah melakukan usaha tertentu dalam suatu penggalan waktu tertentu pula. Dengan demikian, jika tujuan pembelajaran dipandang sebagai suatu harapan yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, maka prestasi belajar dapat disajikan sebagai ukuran sebarapa jauh tujuan pembelajaran tersebut

16

tercapai. Dalam kaitannya dengan belajar matematika maka prestasi belajar matematika dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai seseorang setelah melalui proses pembelajaran matematika. Untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran matematika yang dipelajarinya, diperlukan suatu alat ukur berupa tes. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ratumanan (Ahmad, 2006) bahwa tes merupakan bagian dari pengukuran yang dilanjutkan dengan kegiatan penilaian. Tes merupakan pengukuran terencana yang digunakan guru untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperlihatkan prestasi mereka dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan uraian tersebut maka yang dimaksud dengan prestasi belajar dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran matematika setelah mengikuti kegiatan belajar matematika dalam kurun waktu tertentu yang diukur dengan tes prestasi belajar. Tes tersebut hanya mengukur aspek kognitif yang lebih diharapkan pada kemampuan ingatan dan aplikasi atau penerapanya. 1. Hasil Belajar Matematika Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk mencapai tingkat keberhasilan yang dicapai seseorang setelah melakukan usaha tertentu. Menurut Sudjana (Ahmad, 2006:35) bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimilki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Sedangkan Ratumanan (Muhkal, 1998 : 10) menyatakan bahwa belajar akan lebih berhasil

16

jika keseluruhan potensi siswa dilibatkan secara optimal, sehingga menghasilkan kemampuan baru yang bersifat permanen pada siswa. Matematika merupakan ilmu terstruktur yang pokok bahasannya berkesinambungan, memiliki suatu keteraturan dan struktur yang terorganisir. Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh siswa dalam waktu tertentu dalam belajar matematika yang diukur dengan menggunakan tes hasil belajar matematika. 2. Hakekat Pembelajaran Matematika Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk membuat siswa belajar yaitu suatu usaha yang dilakukan guru dalam memilih, menetapkan, dan

mengembangkan metode untuk mencapai hasil yang diinginkan. Miarso (Akib, 2001) mengemukakan bahwa pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa bukan pada apa yang dipelajari oleh siswa. Hal ini berarti, bahwa pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu rancangan membelajarkan siswa. Berkaitan dengan pembelajaran matematika, Soedjadi (Akib, 2001) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah pada dasarnya terdiri dari tujuan fomal dan tujuan material. Tujuan formal menekankan pada penataan nalar dan pembentukan sikap, sedangkan tujuan material menekankan pada kemampuan menerapkan matematika dan keterampilan matematika. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika di sekolah tidak cukup hanya melatih keterampilan berhitung dan menghafal fakta, tetapi juga menekankan

16

pada kemampuan penalaran. Sedangkan Nickson (Akib, 2001) mengatakan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu upaya membantu siswa untuk

mengkontruksikan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan keterampilannya sendiri melalui internalisasi sehingga konsep itu terbangun kembali. Dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, ataupun teknik yang banyak melibatkan siswa secara aktif dalam belajar baik secara mental, fisik, maupun sosial. Prinsip belajar aktif inilah yang diharapkan menumbuhkan sasaran pembelajaran matematika yang kreatif dan kritis untuk membantu siswa dalam membangun sendiri konsep dan prinsip yang dipelajarinya.

6. Materi Diferensial di Sekolah Menengah Atas a. Turunan Fungsi Aljabar 1) Definisi dan Notasi Turunan a) Definisi Turunan (differential) dari sebuah fungsi
f

adalah fungsi yang

diberi lambang
f'

(dibaca
" f aksen "

) dan didefinisikan sebagai:

f ' ( x ) = lim
h →0

f ( x + h) − f ( x ) h

16

dengan menganggap nilai limit ada. Jika
f ' ( x)

dapat diperoleh,
f

dikatakan dapat diturunkan (differentiable).
f ' ( x)

disebut turunan dari

terhadap
f

. Proses mencari turunan

disebut

penurunan

x

(differentiation). b) Notasi Lain dari Turunan Selain notasi
f ' ( x)

, notasi lain yang sering digunakan untuk

menyatakan turunan dari
y = f (x)

di

adalah:

x

1.
dy dx

(dibaca “de
y

, de

”)

x

2.
d [ f (x)] dx

(dibaca “de
f (x )

, de

)

x

3.

(dibaca “
y'
y

aksen”)

16

1) Turunan Fungsi Aljabar a) Turunan Fungsi Konstan Jika suatu fungsi
f

dengan
f ( x) = k

, di mana

merupakan

k

suatu konstan. Maka untuk menentukan turunan fungsi
f

berlaku aturan

sebaga berikut: maka
f ( x) = k f ' ( x) = 0

atau
d (k ) = 0 dx

b) Turunan Fungsi Identitas Jika suatu fungsi
f

dengan
f ( x) = x

. Maka untuk

menentukan turunan fungsi
f

berlaku aturan sebaga berikut:

maka
f ( x) = x f ' ( x) = 1

atau
d ( x) = 1 dx

c) Turunan Fungsi Eksponen

16

Jika suatu fungsi
f

dengan f ( x) = x
n

, di mana

merupakan

n

bilangan real. Maka untuk menentukan turunan fungsi
f

berlaku aturan

sebagai berikut: maka f ( x) = x n f ' ( x ) = nx n −1 atau
d n ( x ) = nx n −1 dx

a. Rumus-rumus Turunan Fungsi Aljabar dan Trigonometri 1) Rumus-rumus Turunan Fungsi Aljabar a) Turunan Hasil Kali Konstanta dengan Suatu Fungsi Jika
f

adalah fungsi yang dapat diturunkan dan

adalah suatu

k

konstanta maka fungsi
g ( x) = k ⋅ f ( x )

dapat diturunkan dengan aturan:

atau
g ' ( x) = k ⋅ f ' ( x) d [ k ( f ( x) ) ] = k ⋅ f ' ( x) dx

b) Turunan Jumlah dan Selisih dari Fungsi-fungsi Aljabar

16

Jika

dan

adalah fungsi-fungsi dari variabel

yang dapat

u

v

x

diturunkan, maka

u+v

dan

u−v

juga dapat diturunkan.

Misalkan,
f ( x) = u ( x ) + v( x )

dan
g ( x) = u ( x) − v ( x)

, maka fungsi

dan
f (x) g (x)

dapat diturunkan dengan aturan:

1. Jika
f ( x) = u ( x) + v ( x )

,

maka

atau
f ' ( x ) = u ' ( x) + v' ( x)

.
d [ u ( x) + v ( x)] = u ' ( x) + v' ( x) dx

2. Jika
g ( x) = u ( x) − v ( x)

, maka
g ' ( x) = u ' ( x) − v' ( x)

atau a) Turunan Hasil Kali Fungsi-fungsi Aljabar . d ) − v( x = u ' ( x) − v' ( dari variabel Jika dan [ u ( xadalah )]fungsi-fungsix) yang dapat dx u v x

diturunkan, maka hasil kali

u⋅v

juga dapat diturunkan.

16

Misalkan,
f ( x ) = u ( x ) ⋅ v ( x)

maka fungsi
f (x)

dapat diturunkan

dengan aturan:

Jika
f ( x) = u ( x) ⋅ v ( x)

maka
f ' ( x) = u ( x) ⋅ v ' ( x) + v ( x ) ⋅ u ' ( x)

Dari aturan di atas tampak bahwa turunan dua fungsi adalah fungsi pertama dikali dengan turunan dari fungsi kedua ditambah fungsi kedua dikali dengan turunan fungsi pertama. b) Turunan Hasil Bagi Fungsi-fungsi Aljabar Jika dan adalah fungsi-fungsi dari variabel yang dapat

u

v

x

diturunkan, maka hasil pembagian
u v

juga dapat diturunkan.

Misalkan, f ( x) = u ( x) v ( x)

, syarat
v( x) ≠ 0

. Dalam hal ini,
u (x)

disebut fungsi pembilang dan
v(x)

disebut fungsi penyebut, maka fungsi

dapat diturunkan dengan aturan:
f (x)

16

Jika f ( x) = u ( x) v( x)

maka

f ' ( x) =

v ( x ) ⋅ u ' ( x ) − u ( x )v ' ( x ) ( v( x) ) 2

Dari aturan di atas bahwa turunan dari pembagian dua fungsi adalah penyebut dikali dengan turunan pembilang dikurangi dengan pembilang dikali dengan turunan penyebut. Kemudian, hasilnya dibagi dengan kuadrat penyebut. 1) Rumus-rumus Turunan Fungsi Trigonometri a) Turunan Sinus

Jika
y = f ( x) = sin x

, maka
y ' = f ' ( x) = cos x

atau

b) Turunan Cosinus Jika

df d = ( sin x ) = cos x dx dx

, maka
y = f ( x) = cos x y ' = f ' ( x) = − sin x

atau

c) Turunan Tangen Jika

df d ( cos x ) = − sin x = dx dx

, maka
y = f ( x) = tan x

y ' = f ' ( x) = sec2 x

atau
df d ( tan x ) = sec2 x = dx dx

d) Turunan Cotangen

17

Jika
y = f ( x) = cot x

, maka y ' = f ' ( x) = − cos ec 2 x

atau

e) Turunan Secan Jika
y = f ( x) = sec x

, maka
y ' = f ' ( x) = sec x ⋅ tan x

atau

f) Turunan Cosecan Jika
y = f ( x ) = cos ecx

, maka
y ' = f ' ( x) = − cos ecx ⋅ cot x

atau

a. Menentukan Turunan Suatu Fungsi dengan Aturan Rantai dan Pemangkatan 1) Aturan Rantai

16

Jika
y = f (u )

adalah fungsi yang dapat diturunkan terhadap

dan

u

adalah fungsi yang dapat diturunkan terhadap
u = g (x)

, ditulis sebagai:

x

y = f { g (x)}

atau
y = f g

, maka berlalu aturan:

atau
dy dy du = ⋅ dx du dx

2) Aturan Pemangkatan Jika adalah fungsi yang dapat diturunkan terhadap dan

u
adalah bilangan sebarang, maka berlalu aturan:

x

n

atau
d n (u ) = n ⋅ u n−1 . du dx dx

Untuk y=u
n

dan
u = f (x)

maka:

a. Persamaan Garis Singgung pada Suatu Kurva 1) Tafsiran Geometri dari Turunan Pertama di Suatu Titik Definisi:

16

Misalkan gradien kurva
y = f (x)

di suatu titik

sama dengan

( x1 , y1 )

gradien dari garis singgung kurva di titik

yang diberikan oleh:

( x1 , y1 )

m = lim
h→0

f ( x1 + h) − f ( x1 ) h

Bentuk limit pada ruas kanan dari bentuk di atas tak lain adalah turunan

fungsi
y = f (x)

di titik

. Dengan demikian, gradien garis

( x1 , y1 )

singgung

dapat dituliskan sebagai:

m
atau

m = y ' ( x1 ) = f ' ( x1 )

m=

dy dx

x = x1

Untuk menentukan persamaan garis singgung pada suatu kurva yang

melalui titik

dengan gradien

adalah:

P( x1 , y1 )

m

y − y1 = m( x − x1 )

15

2) Persamaan Garis Singgung dan Garis Normal Definisi: Misalkan fungsi
f

terdeferensialkan pada selang terbuka
I

yang memuat

dan turunan pertama

kontinu pada
f'
I

. Persamaan garis singgung

c

pada fungsi
f

di

didefinisikan sebagai garis yang melalui titik

c

( c, ( f (c ) )

dengan gradien
m gs = f ' (c )

yang dirumuskan sebagai:

y − f ( x) = m gs ( x − c)

Sedangkan persamaan garis normal pada grafik fungsi
f

di

c

didefinisikan sebagai garis yang melalui

( c, ( f ( c ) )

dan tegak lurus pada

16

garis singgungnya atau mempunyai gradien

, yang

m gn = −

1 1 =− f ' (c ) m gs

dapat dirumuskan sebagai: atau
y − f ( x) = m gn ( x − c )

y − f (c ) = −

1 ( x − c) m gs

3) Persamaan Garis Singgung dan Garis Normal pada Situasi Khusus Definisi: Misalkan fungsi
f

terdeferensialkan pada selang terbuka
I

yang memuat

, kecuali di

sendiri dan fungsi

kontinu pada
f'

c

c

I − { c}

, dengan:

f ' (c) = lim
x →c

f ( x ) − f (c ) =±∞ x−c

Garis singgung pada kurva
f

di

didefinisikan sebagai garis

c

x=c

dan

garis normalnya adalah garis
y = f (c)

.

a. Fungsi Naik, Fungsi Turun 1) Pengertian Fungsi Naik dan Fungsi Turun

16

Secara matematis, pengertian fungsi naik dan fungsi turun adalah sebagai berikut: a. Fungsi
f (x)

dikatakan fungsi naik dalam selang interval
I

apabila

untuk setiap

dan

dalam selang interval maka
I

dan

maka

x1 naik jika x 2

x1 < x 2

berlaku

. Dalam notasi matematika dapat ditulis:

f ( x1 ) < f ( x 2 )

b. Fungsi
f (x )

dikatakan fungsi turun dalam selang interval
I

apabila

untuk setiap

dan

dalam selang interval

dan
I

maka

x1

x2

x1 < x 2

berlaku

. Dalam notasi matematika dapat ditulis:

f ( x1 ) > f ( x 2 )

naik jika

maka

2) Syarat Fungsi Naik dan Fungsi Turun

16

Dari definisi di atas, syarat agar fungsi
f (x)

dikatakan fungsi

naik dan fungsi turun di setiap titik dalam selang interval
I

adalah:

a. Fungsi
f (x)

dikatakan fungsi naik dalam interval

, jika
I

untuk setiap
f ' ( x) > 0

dalam interval

.
I

x

a. Nilai Stasioner Suatu Fungsi dan Jenis-jenisnya 1) Pengertian Nilai Stasioner dan Titik Stasioner Suatu Fungsi a. Titik stasioner atau titik ekstrim suatu fungsi adalah titik pada kurva

di mana gradien garis singgung kurva di titik tersebut bernilai
f (x)

nol. b. Nilai stasioner atau nilai ekstrim suatu fungsi adalah nilai fungsi
f

di

titik stasioner itu. 1) Jenis-jenis Stasioner Jenis titik stasioner (titik ekstrem) bergantung pada gradien dari kedua sisi dari titik stasioner. Secara umum ada tiga jenis stasioner, yaitu titik balik minimum, titik balik maksimum, dan titik belok horizontal.

15

a. Turunan Kedua Suatu Fungsi Turunan kedua suatu fungsi
y

adalah nilai turunan pertama fungsi
y

yang

diturunkan lagi. Notasi dari turunan kedua adalah: ,
2

,
2

, atau

y" d y d f dx 2 dx 2

f "( x)

dibaca
y"
y

dua aksen dan

f "( x)

dibaca
f

dua aksen

.

x

a. d2y dx 2 .

berasal dari
d  dy  dx  dx   

, yaitu turunan
dy dx

terhadap

a. Nilai Minimum dan Maksimum Suatu Fungsi Misalkan,
y = f (x)

terdefinisi pada selang

yang memuat

, dan

a< x<b

c

dan
f ' ( x) f ' ' ( x)

ada untuk setiap titik pada selang

. Misalkan, pula

a<x<b

sehingga:
f ' (c ) = 0

1) Jika
f ' ' (c ) < 0

(negatif),
f (c)

adalah nilai balik maksimum.

15

2) Jika
f ' ' (c ) > 0

(positif),
f (c)

adalah nilai balik minimum.

a. Titik Belok Suatu Fungsi Teorema: Jika diberikan kurva
y = f (x)

yang kontinu, maka:

a)
dy =0 dx

pada
x = c ⇒ (c, f (c))

adalah titik stasioner.

b) Titik stasioner

( c , f (c ) )

disebut titik belok jika d2y =0 dx 2

untuk

x=c

.

c) Secara umum, syarat untuk menentukan titik belok adalah
f " ( x) = 0

.

Dengan menyelesaikan
f " ( x) = 0

ini akan diperoleh absis titik belok.

a. Aplikasi Turunan dalam Masalah-masalah Ekstrem. Pembahasan masalah ekstrem fungsi akan diawali dengan

mengemukakan dua masalah ekstrem yang berkaitan dengan geometri dan aljabar. Melalui contoh-contoh soal yang berkaitan dengan kehidupan seharihari. Dan menyelesaikannya dengan menggunakan konsep dan aturan differensial (turunan).

A. Acuan Teori Tindakan yang Dipilih

15

1. Model Cooperative Learning Menurut Slavin pembelajaran kooperatif sebagai: “cooperative learning method share the idea that students work together to learn ad are responsible for one another’s learning as well as their own” (2007:73 dalam Rahayu) Definisi ini mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Perasaan saling bertanggung jawab ini sering diistilahkan dengan “swim and sink together”. Sedangkan Cohen menggambarkan pembelajaran kooperatif sebagai: “cooperative learning will be defined as students working; together in a group small enough that everyone can participate on a collective task that has been clearly assigned. Moreover, student are expected to carry out their task without direct and immediate supervision of the teacher” (1994:3 dalam Rahayu ) Definisi ini disamping memiliki pengertian luas yang meliputi belajar berkolaborasi, belajar kooperatif dan kerja kelompok, juga menunjukkan ciri sosiologis yaitu penekanannya pada aspek tugas-tugas kolektif yang harus dikerjakan bersama dalam kelompok dan pendelegasian wewenang (authority) dari guru kepada siswa. Guru berperan sebagai fasilitator dalam membimbing siswa menyelesaikan materi tugas. Dalam model pembelajaran belajar kooperatif diharapkan siswa bekerja sama, satu sama lainnya berdiskusi dan berdebat, menilai kemampuan pengetahuan dan mengisi kekurangan anggota lainnya. Bila diorganisasikan dengan tepat, siswa dapat bekerja sama dengan yang lainnya untuk memastikan bahwa setiap siswa dalam kelompok tersebut telah menguasai konsep yang telah diajarkan. Kelompok kooperatif yang terdiri dari anggota siswa yang heterogen baik tingkat kepandaian, jenis kelamin, suku dan etnis, diharapkan

16

dapat meningkatkan hubungan antar sosial diantara siswa. Siswa yang kemampuan tinggi dapat membantu temannya yang berkemampuan rendah memahami materi pelajaran dengan tutor sebaya. Sehingga siswa dapat mudah mempelajari materi yang kompleks dan sulit dalam kelompok kooperatif. Proses belajar dalam kelompok akan membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemui pada metode konvensional. Penekanan model pembelajaran ini adalah meningkatkan keaktifan siswa membangun pengetahuan dibandingkan siswa pasif mendengarkan guru. Situasi pembelajaran secara kooperatif di kelas adalah siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama-sama. Cooperative Learning adalah sturuktur

pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil sehingga siswa dapat bekerja sama untuk memaksimalkan apa yang mereka pelajari. Pandangan konstruktivistik yang merupakan pijakan atau landasan belajar kooperatif baik secara filosofis maupun pedagogi memberikan wawasan tentang bagaimana siswa mengkontruksi konsep, mencari makna yang lebih mendalam, menggali pemahaman baru, dan mengajukan serta menyelesaikan masalah (Felder, R. M. 1996). Menurut pandangan ini pada hakekatnya meyakini bahwa pebelajar merespon pengalaman pancaindera dengan membangun suatu skema atau struktur kognitif dalam otak mereka. Pokok pikiran pandangan konstruktivis adalah bahwa pengetahuan diperoleh sebagai akibat dari proses konstruksi yang terus menerus dimana dicoba mengatur, menyusun dan menata kembali pengalaman-pengalaman yang dikaitkan dengan struktur kognitif yang dimiliki sehingga struktur kognitif

17

tersebut sedikit demi sedikit dimodifikasi dan dikembangkan. Oleh karena pengetahuan diciptakan dalam pikiran siswa sebagai hasil interaksi pancaindera siswa dengan dunianya, maka pengetahuan tidak dapat semata-mata diucapkan atau ditransfer oleh guru kepada siswa (Piaget dalam Felder, R. M. 1996). Piaget dalam pembahasan konstruktivis ini menggunakan istilah asimilasi, akomodasi dan equilibrasi yang digambarkan sebagai mekanisme “self-regulating internal” yang bekerja melalui dua proses biologis yang saling melengkapi yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi dimaksudkan bahwa kita mengasimilasi dunia dengan pengertian bahwa kita dalam memandang dunia adalah dengan cara kita sendiri. Asimilasi dari pola pancaindera ke dalam struktur kognitif merupakan proses yang konstan sepanjang hidup. Disequilibrasi terjadi bila kita tidak mengasimilasi pengalaman kita dalam struktur kognitif awal ketika kita menjumpai permasalahan karena kita tak dapat mencapai tujuan. Equilibrasi disimpan dengan cara memodifikasi struktur kognitif awal sampai ketidakcocokan tersebut dapat diatasi. Proses dimana struktur kognitif awal dimodifikasi untuk disesuaikan dengan data yang baru diasimilasi disebut akomodasi. Teori konstruktivisme yang dikembangkan oleh Vygotsky dinamakan konstruktivisme sosial karena menitikberatkan pada interaksi antara individu dengan lingkungan sosialnya. Melalui interaksi dengan lingkungannya misalnya melalui diskusi dalam belajar kelompok dapat terjadi rekonstruksi pengetahuan seseorang. Perubahan konsepsi anak dari prakonsepsi yaitu konsepsi yang diperoleh dari pengalaman sehari-hari, teman atau orang tua, dapat juga direkonstruksi setelah ia menjalani proses belajar melalui guru pada pendidikan formal. Manusia menggunakan bahasa yang merupakan konstruksi sosial untuk

18

mengungkapkan apa yang telah dilakukan dan apa yang

diketahui. Belajar

matematik hanya mungkin karena adanya perkembangan bahasa dan simbol untuk mnggambarkan konsep-konsep matematika itu sendiri. Pengetahuan bukan merupakan pikiran seseorang yang bertindak terpisah dari orang lain dalam masyarakat, melainkan hasil dari kepemilikan kultur, mencoba mengerti kehidupan dalam kultur tersebut, menggunakan bahasa dan konsep-konsep yang muncul untuk mengkonstruksi model-model teoritis dalam domain matematika. Untuk belajar dan paham apa yang terjadi terletak pada si pebelajar itu sendiri, yang memerlukan waktu untuk mengalami, merefleksikaan pengalaman yang dikaitkan dengan pengetahuan awal mereka untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul. Tentunya hal ini bagi pebelajar memerlukan waktu untuk mengklarifikasi, mengelaborasi, mendeskripsikan, membandingkan,

menegosiasikan dan mencapai konsensus mengenai makna suatu pengalaman bagi mereka yang melibatkan bahasa yang dapat disumbangkan melalui diskusi dengan pebelajar lainnya. Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok- kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai empat orang. Hal ini dimaksudkan agar interaksi siswa menjadi maksimal dan efektif. Harus disadari juga bahwa tidak semua kelompok menjadi kelompok kooperatif. Ada kelompok semu, dan kelompok tradisional. Sebagai contoh kelompok belajar biasa, kelompok kerja di laboratorium, dan kelompok membaca merupakan merupakan suatu kelompok namun tidak selalu merupakan kelompok kooperatif.

Pembelajaran kooperatif tidak semata-mata meminta siswa bekerja secara kelompok dengan cara mereka sendiri. Siswa yang bekerja dalam kelompok

19

mungkin akan menunjukkkan hasil belajar yang rendah, karena hanya beberapa siswa saja yang bekerja keras dalam menyelesaikan materi tugas sedangkan siswa lainnya bersikap pasif. Oleh karena itu, tugas seorang guru adalah mengatur siswa dalam kelompok belajar yang benar-benar kooperatif. 2. Karakteristik dan Prinsip-prinsip Model Cooperative Learning a. Karakteristik Model Cooperative Learning Model cooperative learning berbeda dengan model pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelomppok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang merupakan ciri khas dari pembelajaran kooperatif. Slavin, Abrani, dan Chambers (2006:244 dalam Sanjaya) berpendapat bahwa belajar secara kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, perspektif motivasi, perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif, dan perspektif elaborasi kognitif. Dengan demikian, karakteristik model cooperative learning dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Pembelajaran secara tim Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

16

Setiap kelompok bersifat heterogen. Artinya, kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberi dan menerima (memberi pengalaman), sehingga dapat memberi kontribusi terhadap keberhasilan kelompok. 2) Didasarkan pada manajemen kooperatif Seperti pada umumnya, manajemen memiliki empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, organisasi, pelaksanaan, dan kontrol. Demikian juga dalam model cooperative learning. Fungsi perencanaan menunjukkan bahwa

pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif. Fungsi pelaksanaan

menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaa, melalui langkah-langkah pembelajaran yang telah ditentukan. Fungsi organisasi menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pekerjaan bersama oleh setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan yang akan dicapai. 3) Kemampuan untuk bekerja sama Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh karena itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur oleh tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Misalnya, yang pintar membantu yang kurang pintar.

16

4) Keterampilan bekerja sama Kemampuan untuk bekerja sama itu kemudian diaplikasikan melalui aktivitas dan kegiatan yang nampak dalam keterampilan bekerja sama. Sehingga, siswa harus dimotivasi untuk ingin dan mampu untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. a. Prinsip-prinsip Model Cooperative Learning Menurut Roger and Johnson (1988:6 dalam Lawrence Lyman dan Harvey C .Foyle), terdapat lima prinsip dasar model cooperative learning, seperti yang dijelaskan di bawah ini. 1. Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence) Siswa harus merasa bahwa mereka saling tergantung secara positif dan saling terikat antar sesama anggota kelompok. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lainnya juga tidak sukses. Dengan demikian, materi tugas haruslah mencerminkan aspek saling ketergantungan seperti dalam hal tujuan belajar, sumber belajar, peran kelompok dan penghargaan. Menurut Let Vygotsky (Lawrence Lyman, At All, 1988:7) ada lima aspek dalam mengkondisikan Positive Interdependence, yaitu: a) Ketergantungan tujuan (Goal Interdependence), setiap anggota kelompok harus memberikan sumbangan kepada kelompoknya dengan cara

menyelesaikan bagian yang berbeda dalam tugas kelompoknya.

15

b) Ketergantungan peran (Role Interdependence), setiap anggota kelompok memiliki peran dan setiap peran itu adalah penting c) Ketergantungan sumber belajar (Resource Interdependence), setiap anggota kelompok memiliki sumber belajar yang diperlukan dan diharapkan sumber belajar tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. d) Ketergantungan lingkungan (Environment Interdependence), setiap anggota kelompok menggunakan peralatan/sarana fisik secara bersama-sama. Misalnya siswa menggunakan satu meja untuk setiap kelompok e) Ketergantungan penghargaan (Reward Interdependence), penghargaan yang diperoleh oleh salah satu kelompok akan mempengaruhi penghargaan pada kelompoknya. 1. Interaksi Tatap Muka (Face-to-Face Promotive Interaction) Hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan cara adanya komunikasi verbal antar siswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Belajar kooperatif membutuhkan siswa untuk bertatap muka satu dengan yang lainnya dan berinteraksi secara langsung. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar, dan sumbangan pemikiran dalam pemecahan masalah. Selain itu siswa juga harus mengembangkan ketrampilan ketrampilan berkomunikasi secara efektif. 2. Pertanggungjawaban Responsibility) Individu (Individual Accountability/Personal

Agar siswa dapat menyumbang, membantu satu sama lain, setiap siswa harus menguasai materi ajar. Dengan demikian setiap angota kelompok

16

bertanggung jawab untuk mempelajari materi dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok. Dengan cara ini prestasi setiap siswa dapat dimaksimalkan. Karena belajar kooperatif mirip dengan belajar tuntas, maka guru perlu mengetahui kemampuan setiap siswa secara individu.

3. Ketrampilan Berinteraksi Antar Individu dan Kelompok (Interpersonal and Small-Group Skills) Ketrampilan sosial sangat penting dalam pembelajaran kooperatif dan harus diajarkan kepada siswa. Selain itu siswa harus dimotivasi untuk menggunakan ketrampilan berinteraksi (keterampilan berkomunikasi) yang benar sebagai bagian dari proses belajar, baik secara individu maupun dalam kelompok. Sehingga siswa perlu dibekali dengan kemampuan-kemampuan berkomunikasi. Misalnya, cara menyatakan ketidaksetujuan, cara menyanggah pendapat orang lain secara santun, tidak memojokkan, dan cara menyampaikan ide/gagasan.

4. Keefektifan Proses Kelompok (Group Processing) Siswa memproses kefektifan kelompk belajar mereka dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak, dan membuat keputusan terhadap tindakan yan bisa dianjutkan atau yang perlu diubah. Proses kelompok terjadi baik dalam kelompok kecil maupun diseluruh kelas. Fase- fase dalam proses ini meliputi umpan balik, refleksi dan peningkatan kualitas kerja. Menurut Lawrence Lyman, (1988: 25) model cooperative learning memiliki tujuh unsur dasar yaitu : 1) setiap siswa/anggota kelompok harus merasa

16

bahwa mereka “sink or swim together”, 2) setiap anggota bertanggung jawab terhadap tugas kelompoknya, 3) setiap anggota harus mengetahui bahwa mereka mempunyai tujuan yang sama, 4) setiap anggota mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama/seimbang di antara anggota kelompok, 5) evaluasi dan penghargaan diberikan kepada semua anggota kelompok, 6) adanya

kepemimpinan kolektif, 7) setiap anggota bertanggung jawab terhadap penyelesaian tugasnya dalam kelompok kooperatif. 1. Sintaks dan Jenis-Jenis Model Cooperative Learning Agar pembelajar kooperatif dapat diterapkan dengan baik, seorang guru perlu melakukan 3 langkah yaitu: persiapan, proses belajar dan evaluasi (Yusuf, 2003).

a. Persiapan Sebelum siswa bekerja dalam kelompok guru harus melakukan persiapan sebagai berikut: 1) Menentukan tujuan belajar Dengan cara menentukan materi yang akan dipelajari atau tugas-tugas yang harus diselesaikan dan ketrampilan kolaborasi yang digunakan dalam kelompok. 2) Membagi siswa kedalam kelompok-kelompok Guru harus memperhatikan variasi dalam kelompok berdasarkan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang ras (suku). Guru

16

disarankan untuk memaksimalkan heterogenitas siswa dan kelompok, karena akan timbul cara berpikir elaborasi, mendengar dan memberikan penjelasan lebih sering dalam kelompok yang heterogen 3) Menjelaskan tugas Dalam hal ini ada dua aspek tugas yaitu tugas akademik dan tugas sosial. Tugas akademik mengacu pada hal-hal yang harus dimiliki siswa untuk menyelesaikan materi tugas. Tugas sosial meliputi penentuan peran siswa dan aturan-aturan yang harus diikuti oeh kelompok

b. Proses Belajar Menurut Van der Kley dalam Yusuf (2003:37) peranan guru selama belajar kooperatif adalah sebagai fasilitator yaitu: 1) Membantu siswa untuk menyelesaikan tugas Secara khusus guru mengelilingi kelompok dan melakukan hal-hal berikut: a. Mengusulkan cara lain dalam memecahkan masalah atau mencari jawaban. b. Mengarahkan siswa untuk kembali ke sumber belajar semula dalam proses pemecahan masalah. c. Memberikan umpan balik yang positif terhadap usaha-usaha siswa dalam menyelesaikan tugas. 1) Membantu siswa bekerja secara kooperatif

16

Kadang-kadang siswa cenderung bekerja secara individu daripada kooperatif. Kecenderungan ini terjadi bila belajar kooperatif merupakan gaya belajar yang baru bagi siswa. Untuk meningkatkan usaha kooperatif, guru harus memacu siswa untuk: a. Saling menyebut nama setiap anggota kelompok b. Memusatkan pada tugas-tugas belajar c. Saling menanyakan tugas antar siswa d. Saling memberi semangat satu sama lain e. Merefleksi dan mengecek pernyataan anggota kelompok

a. Evaluasi Ada dua macam evaluasi yang harus dilakukan guru yaitu evaluasi hasil belajar dan evaluasi ketrampilan berkolaborasi. 1) Evaluasi hasil belajar Evaluasi jenis ini digunakan untuk menilai pencapaian tujuan belajar kelompok dan memfokuskan pada penilaian aspek akademik. Hasil belajar yang dinilai dari evaluasi ini mungkin berupa suatu laporan, satu set jawaban kelompok yang disetujui oleh semua anggotanya, rata-rata skor ujian individu atau sejumlah anggota kelompok yang mencapai kriteria tertentu. Cara untuk menilai hasil belajar dalam belajar kooperatif yaitu: a. Setiap anggota kelompok mendapat nilai yang sama dengan nilai kelompok

15

b. Setiap siswa diberikan tugas atau tes perorangan setelah kegiatan belajar kooperatif berakhir c. Seorang siswa atas nama kelompoknya bisa dipilih secara acak untuk menjelaskan pemecahan materi tugas d. Nilai setiap kelompok ditalus dan dibagi untuk mendapatkan nilai rata-rata kelompok e. Beberapa topik atau aktifitas yang menggunakan belajar kooperatif mungkin tidak memerlukan nilai. Dalam hal ini penghargaan kepada siswa dapat diberikan dalam bentuk lain misalnya memilih dan menunjukkan kepada seluruh siswa salah satu tugas yang terbaik

2) Evaluasi ketrampilan berkolaborasi Evaluasi ini bertujuan untuk menemukan seberapa baik siswa bekerja dalam suatu kelompok. Untuk mengevaluasinya guru harus mengelilingi masingmasing kelompok dan mencatat apakah kelompok telah menggunakan ketrampilan kooperatif. Catatan nilai observasi dipersiapkan dalam hal bagaimana anggota kelompok melaksanakan ketrampilan berkolaborasi seperti

mendengarkan dan melihat pada pembicara, memberi semangat pada anggota kelompok yang lain, meninjau jawaban dan pertanyaan yang diberikan dan sebagainya. Adapun jenis-jenis pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD), Jigsaw, Numbered Heads Together (NHT), Teams Games-

16

Tournament

(TGT),

Group

Investigation

(GI),

dan

Team

Assisted

Individuallization atau Team Accelerated Instruction (TAI), (Krismanto, 2003). a. Student Team Achievement Division (STAD) Metode pengajaran STAD (Student Teams Achievement Division) adalah salah satu metode pengajaran yang dikemukakan oleh Slavin, RE (1985). Metode pengajaran ini merupakan teori belajar konstruktivisme yang berdasarkan pada teori belajar kognitif. Dalam hal ini para pendidik berfungsi sebagai fasilitator bukan sebagai pemberi informasi. Pendidik cukup menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya.

Secara umum pembelajaran kooperatif STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu : 1) Presentasi kelas Materi dalam STAD adalah pengenalan awal dalam presentasi kelas. Presentasi kelas ini bisa dilakukan secara pengajaran langsung / pengajaran diskusi dengan guru, tetapi bisa juga dalam acara presentasi dengan menggunakan audiovisual. Presentasi kelas dalam STAD berbeda dengan pengajaran pada umumnya, karena dalam STAD ada penekanan suatu materi. Dengan cara ini, siswa dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam

memperhatikan materi yang diberikan oleh guru dalam presentasi kelas, karena akan membantu dalam mengerjakan kuis dan menentukan skor dari pengerjaan kuis yang nantinya akan mempengaruhi skor dari tim mereka.

15

2) Tim / kelompok Tim terdiri dari 4 – 5 siswa yang mewakili bagiannya dari kelas dalam menjalankan aktivitas, baik akademik, jenis kelamin, dan suku atau ethnik. Fungsi utama dari tim adalah membentuk semua tim agar mengingat materi yang telah diberikan dan lebih memahami materi yang nantinya digunakan dalam persiapan mengerjakan kuis sehingga bisa mengerjakan dengan baik. Sesudah guru mempresentasikan materi, tim segera mempelajari lembar kerja atau materi yang lain. Dalam hal ini siswa biasanya menggunakan cara pembelajaran diskusi tentang masalah-masalah yang ada, membandingkan soal-soal yang ada dan mengoreksi beberapa miskonsepsi jika dalam tim mengalami kesalahan. Tim merupakan hal yang penting yang perlu ditonjolkan dalam STAD. Dalam setiap langkah, titik beratnya terletak pada ingatan tim agar bisa bekerja yang terbaik demi timnya dan cara yang terbaik dalam tim adalah dengan adanya kerja sama yang baik. 3) Kuis Setelah kurang lebih 1 – 2 periode dari presentasi guru dan 1 – 2 periode dari kerja tim, siswa mengerjakan kuis secara sendiri-sendiri / individu. Siswa tidak diijinkan meminta bantuan pada siswa lain dalam mengerjakan kuis. Hal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman materi setiap individu. 4) Skor perbaikan individu Maksud dari perbaikan skor individu ini adalah memberikan nilai pada setiap siswa yang dapat dicapai jika mereka bekerja keras dan mengerjakannya hingga selesai. Beberapa siswa dapat memperoleh nilai maksimal untuk kelompoknya dalam memberikan skor, tetapi tidak semua siswa dapat

16

mengerjakan dengan baik. Masing-masing siswa diberikan skor “cukup” yang berasal dari rata-rata siswa pada kuis yang sama. Setelah siswa mendapatkan nilai, maka siswa berhak mendapatkan urutan tingkatan nilai dari skor kuis dan berusaha untuk melampaui skor cukup. 5) Pengakuan kelompok Tim akan mendapatkan sertifikat/penghargaan atau sejenisnya jika dapat melampaui kriteria yang telah ditentukan. Skor tim siswa akan digunakan untuk menentukan tingkatan kemampuan pemahaman mereka.

a. Jigsaw Menurut Aronson dalam Krismanto (2005:16), teknik Jigsaw terdiri dari beberapa langkah yaitu: a. Membagi topik dalam beberapa bagian (sub topik). b. Membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas 4 sampai 6 orang per kelompok dengan cara secara heterogen mungkin dengan memilih salah satu siswa sebagai ketua kelompoknya (biasanya siswa yang cukup menonjol). c. Menugaskan setiap siswa untuk mempelajari satu sub topik pelajaran. d. Memberi siswa waktu untuk mempelajari apa yang menjadi bagiannya. e. Membentuk kelompok ahli (expert) sementara, yaitu siswa yang memiliki bagian sub topik yang sama membentuk kelompok ahli. Pada tahap ini diberi waktu kepada kelompok ahli ini untuk mendiskusikan konsep-konsep utama

16

yang ada dalam topik bagiannya

dan berlatih menyajikan topik yang

dipelajari tersebut kepada temannya dalam kelompok semula. f. Meminta siswa untuk kembali ke kelompoknya semula dan meminta setiap siswa untuk mempresentasikan topik bagiannya. Siswa lain dibri kesempatan untuk mengajukan pertanyaan sebagai klarifikasi. Guru mengelilingi satu kelompok ke kelompok lain untuk mengamati proses. Jika ada kelompok yang mengalami kesulitan (misalnya ada anggota yang mendominasi atau mengganggu) guru dapat melakukan intervensi, namun yang terbaik adalah ketua kelompok dapat melakukan tugas ini.

g. Pada akhir pelajaran, berikan soal/kuis untuk materi yang telah dipelajari. h. Memberikan penghargaan kelompok seperti pada teknik STAD. a. Numbered Heads Together (NHT) Model ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (dalam Nurhadi Senduk 2004) dengan melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka mengenai isi materi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan langsung kepada seluruh kelas, guru menggunakan langkah sebagai berikut: 1) Langkah 1: Penomoran (Numbering) Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang dan memberi mereka nomor sehingga setiap siswa dalam kelompok tersebut mempunyai nomor yang berbeda 2) Langkah 2: Pengajuan Pertanyaan (Questioning)

16

Guru mengajukan pertanyaan kepada para siswa. Pertanyan dapat bervariasi dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum 3) Langkah 3: Berpikir Bersama (Head Together) Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut 4) Langkah 4: Pemberian Jawaban (Answering) Guru menyebut satu nomor dan para siswa setiap kelompok dari nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

a. Teams Games-Tournament (TGT) Model pembelajaran ini pada dasarnya sama dengan STAD, perbedaannya pada model TGT tidak terdapat kuis tapi ada pertandingan akademik atau perlombaan. Aktifitas belajar dengan perlombaan yang dirancang memungkinkan siswa dapat belajar lebih bersemangat dan bergairah disamping menumbuhkan tanggungjawab, kerjasama, persaingan serta keterlibatan belajar. Pembelajaran model TGT ini mempunyai kelebihan yaitu: keterlibatan siswa dalam belajar tinggi, siswa menjadi bersemangat dalam belajar, pengetahuan siswa bukan hanya semata-mata dari guru tapi melalui konstrukksi sendiri oleh siswa, dapat menumbuhkan sikap-sikap positif dalam diri siswa seperti kerjasama, toleransi, bisa menerima pendapat orang lain dan lain-lain, sedangkan kelemahannya bagi para guru membutuhkan waktu yang relatif lama, butuh sarana prasarana yang memadai, dapat menimbulkan suara gaduh dan siswa terbiasa belajar bila diberikan hadiah.

15

b. Group Investigation (GI) Model ini dirancang oleh Herbert Thelen dan dikembangkan oleh Sharan dan kawan-kawan dari Universitas Tel Aviv. Dibanding dengan model kooperatif lainnya, model GI dianggap paling kompleks dan paling sulit karena melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun ketrampilan proses kelompok. Para guru yang menggunakan metode GI umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5-6 orang dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga berdasarkan kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap topik tertentu. Para siswa memilih topik yang akan dipelajarinya, mengikuti investigasi mendalam terhadap sub topik yang dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan laporan di depan kelas secara keseluruhan. Langkah-langkah model GI dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Seleksi topik Para siswa memilih berbagai sub topik dalam wilayah umum yang digambarkan lebih dulu oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasi menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas yang beranggotakan 2-6 orang 2) Merencanakan kerjasama Para siswa dan guru merencanakan prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan sub topik yang telah dipilih pada langkah (a) di atas.

15

3) Implementasi Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah (b). Pembelajaran melibatkan berbagai aktifitas dan ketrampilan dengan

mendorong siswa untuk menggunakan berbagai sumber. Guru terus- menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan

4) Analisis dan sintesis Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah (c) dan meringkasnya yang akan disajikan di depan kelas 5) Penyajian hasil akhir Semua kelompok menyajikan hasilnya dari berbagai topik tersebut agar siswa dalam kelas saling terlibat dengan guru mengkoordinasi presentasi kelompokkelompok tersebut. 6) Evaluasi Guru dan siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu, kelompok atau keduanya. a. Team Assisted Individuallization atau Team Accelerated Instruction (TAI) Merupakan gabungan pembelajaran individual dan kelompok belajar.

Dengan TAI siswa bekerja dalam tim yang heterogen bersama dengan siswa lain yang bekerja dengan metode pembelajaran yang berbeda, tetapi siswa mempelajari materi secara individual. Anggota tim saling memeriksa pekerjaan dari masing-masing kertas jawaban. Model pembelajaran ini biasa digunakan

16

dalam pengajaran matematika. Skor tim didasarkan pada angka rata-rata dari satuan yang diselesaikan setiap minggu oleh anggota tim dan didasarkan pada akurasi satuan-satuan pelajaran.

4.Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu model cooperative learning yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model cooperative learning tipe Jigsaw merupakan model cooperative learning, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Krismanto, 2003). Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi dalam tim ahli (ekspert) saling membantu satu sama lain tentang topik

16

pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli. Pada model cooperative learning tipe jigsaw, terdapat “kelompok asal” dan “kelompok ahli”. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang

beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli diperlihatkan pada gambar 2.1 di bawah ini (Yusuf, 2003).
Kelompok Asal

♣ ♠

♥ ♦

♣ ♠

♥ ♦

♣ ♠

♥ ♦

♣ ♠

♥ ♦

♣ ♣

♣ ♣

♥ ♥

♥ ♥

♠ ♠

♠ ♠

♦ ♦

♦ ♦

Kelompok Ahli

Gambar 2.1: Ilustrasi Kelompok Jigsaw Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang

15

ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling memberi tahu) terhadap teman sekelompoknya. Selanjutnya di akhir

pembelajaran, siswa diberikan soal baik lisan maupun tulisan secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependensi setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan setiap soal yang diberikan dengan baik. Menurut Arends, R. (Khaeruddin dan Sujiono, 2008:39), sintaks cooperative learning tipe jigsaw diperlihatkan pada tabel 2.1 berikut ini. Tabel 2.1: Sintaks Model Cooperative Tipe Jigsaw
Fase Fase 1: Menyampaikan pembelajaran memotivasi siswa. Fase 2: Menyajikan informasi Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam belajar. kelompok-kelompok • Tingkah Laku Guru Menyampaikan tujuan pembelajaran (atau indikator hasil belajar), pengalaman belajar yang tujuan akan dicapai oleh siswa, memotivasi siswa, dan mengaitkan pelajaran sekarang dengan yang dan terdahulu. Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau melalui bacaan. • • Menyampaikan kepada siswa bahwa akan dibentuk kelompok belajar. Mengorganiasasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar secara heterogen. Menyampaikan kepada siswa bahwa setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab untuk mempelajari bagian

15

Fase 4: Diskusi kelompok

Fase 5: Evaluasi

Fase 6: Memberikan penghargaan

tertentu dalam subpokok bahasan materi yang akan dipelajari. • Menginformasikan kepada siswa bahwa setiap anggota kelompok yang telah mempelajari salah satu bagian dari subpokok bahasan (topik) akan menjadi ahli dalam topik materi yang dipelajarinya. • Mengelompokkan setiap anggota kelompok yang mempelajari topik (materi) yang sama menjadi kelompok expert (tim ahli), untuk membahas topik (materi) melalui diskusi. • Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa sedang mengadakan diskusi dalam kelompok ahli (tim ahli). • Menyampaikan kepada setiap anggota kelompok diskusi untuk kembali ke kelompok asal, setelah diskusi selesai. • Meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya secara bergiliran dalam kelompok masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan diskusi. • Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari. • Meminta siswa untuk membuat rangkuman dari hasil diskusi kelompoknya. Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya dan hasil belajar siswa, baik secara individu maupun secara kelompok.

Sumber: Khaeruddin dan Sujiono, E.H. (2008). Model-Model Pembelajaran Sains (Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Rayon 24). Makassar: UNM. Sehubungan dengan hal tersebut, Slavin (dalam Yusuf, 2003:60) mengatakan bahwa untuk melaksanaan cooperative learning tipe jigsaw, disusun langkah-langkah pokok sebagai berikut; (1) pembagian tugas, (2) pemberian lembar ahli, (3) mengadakan diskusi, (4) mengadakan evaluasi, (5) memberi penghargaan. Adapun rencana pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini diatur secara instruksional sebagai berikut:

15

1.

Membaca dan Mempelajari: siswa memperoleh topik-topik ahli dan membaca materi tersebut untuk mendapatkan informasi.

2.

Diskusi kelompok ahli: siswa dengan topik-topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikan topik tersebut.

3.

Diskusi kelompok: ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan topik pada kelompoknya.

4. 5.

Evaluasi: siswa memperoleh soal individu yang mencakup semua topik. Penghargaan kelompok: penghitungan skor kelompok dan

menentukanpenghargaan kelompok. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Lila, M. (2007), memberikan langkah-langkah (sintaks) pembelajaran cooperatif learning tipe jigsaw sebagai berikut: Tabel 2.2: Langkah-langkah Model Cooperative Tipe Jigsaw
Sintaks 1. Kegiatan Guru

Eksplorasi

M e n y a m p a i k a n t u j u a n p e m b

Kegiatan Siswa Memperhatikan dan mengingat kembali masalah-masalah yang pernah dialami terkait dengan materi yang disampaikan.

Waktu 5’

16

e l a j a r a n d a n m e m b e ri m o ti v a s i k e p a d a s i s w a . M e n g g a li p e n g e t a h u

15

1.

Ekspansi I (Siswa berada pada kelompok asal I)

a n a w a l s i s w a M e m i n t a s i s w a u n t u k m a s u k p a d a k e l o m p o k n y a m a s i

• M 25’ • B • B

16

n g m a s i n g . M e m b a g i m a t e ri b e r u p a L e m b a r K e g i a t a n S i s w a ( L K S )

16

d a n B u k u T e k s t e r k a it m a t e ri p e l a j a r a n . M e n y u r u h s i s w a u n t u k m e

16

m b a c a , d a n m e m p e l a j a ri B u k u T e k s y a n g t e l a h d i b a g i k a n . M e l a k u

15

1.

(Siswa berada dalam kelompok ahli/tim ahli (expert)

k a n o b s e r v a s i d a n m e n g a m a ti a k ti v it a s s i s w a . M e m i n t a k e p a d a s e ti

• B • M

25’

16

a p s i s w a u n t u k d u d u k d a l a m s a t u k e l o m p o k /t i m a h li ( e x p e rt ) y a n g

17

m e n d a p a t p e n g g a l a n m a t e ri y a n g s a m a . M e n y u r u h s i s w a m e n j a w a b

16

m a s a l a h m a s a l a h y a n g b e l u m t e r p e c a h k a n . M e m f a s il it a s i s i w a s

16

e l a m a b e r d i s k u s i d a l a m k e l o m p o k a h li /t i m a h li ( e x p e rt ). M e l a k u

15

k a n o b s e r v a s i d a n m e n g a m a ti a k ti v it a s s i s w a . 1. • M e n g a m a ti d i s k u s i

• M 30’
• M • B • M

(Siswa berada dalam kelompok asal II)

16

m e n g e n a i p e n j e l a s a n s i s w a p a d a t e m a n a n g g o t a s e k e l o m p o k n y a

17

. M e n y u r u h s i s w a u n t u k m e m b u a t r a n g k u m a n d a ri h a s il d i s k u s i k e l

16

o m p o k n y a . M e n y u r u h p e r w a k il a n k e l o m p o k u n t u k m e n y a m p a i k a n k

15

1.

Refleksi

e s i m p u l a n d i s k u s i. B e rt a n y a k e p a d a s i s w a M e m b e ri k a n t e s k o g n it if

• M • M • M

5’

16

, a n g k e t s k a l a s i k a p s i s w a d a n r e s p o n s i s w a t e r h a d a p m e t o d e p e

15

m b e l a j a r a n . Total waktu 90’

Sumber: Budi Utami, dkk. (2007). Model-Model Pembelajaran Kooperatif (Makalah). Malang: Universitas Negeri Malang. A. Hasil-hasil Penelitian yang Relevan Berikut ini akan di paparkan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Hasil penelitian pendukung yang dimaksudkan adalah hasil penelitian dari penerapan model cooperative learning tipe jigsaw pada pembelajaran matematika ataupun pada mata pelajaran lain, di antaranya: 1. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Budiningarti, H., (1998) yang mengembangkan perangkat model cooperative learning tipe jigsaw pada pengajaran fisika di SMU menunjukkan, bahwa peningkatan pengetahuan untuk tes hasil belajar produk dan tes hasil belajar psikomotor. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa guru dapat menerapkan model cooperative learning tipe jigsaw dengan baik dan meningkatkan kooperatif siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. 2. Setyaningsih, S., (1999), melakukan penelitian dalam pembelajaran mata pelajaran biologi pada kelas I SLTP yang berorientasi model cooperative learning tipe jigsaw. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan

16

model cooperative learning tipe jigsaw, dapat: 1) meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM), 2) meningkatkan pengelolaan proses belajar mengajar oleh guru, 3) meningkatkan kualitas interaksi siswa dengan lingkungan belajar, dan 4) meningkatkan prestasi belajar siswa yang meliputi peningkatan nilai rata-rata dengan ketuntasan belajar yang maksimal. 3. Penelitian yang dilakukan Widada W., (1999) mengungkapkan bahwa, dengan pengembangan peragkat pembelajaran yang berorientasi pada model cooperative learning tipe jigsaw ternyata 82,35% dari seluruh tujuan pembelajaran yang diajarkan dipelajari oleh siswa pada mata pelajaran matematika tingkat SMU. 4. Lila, M., (2007) melakukan penelitian pada mata pelajaran biologi kelas X SMA Wahid Hasim Malang, dalam materi Animalia dan Ekosistem untuk mengetahui: 1) apakah penerapan model cooperative learning tipe jigsaw yang dipadukan dengan problem posing dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, 2) sikap siswa kelas X SMA Wahid Hasim Malang terhadap konsep animalia dan ekosistem melalui penerapan model cooperative learning tipe jigsaw yang dipadukan dengan problem posing, 3) respon siswa terhadap penerapan model cooperative learning tipe jigsaw yang dipadukan dengan problem posing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model cooperative learning tipe jigsaw yang dipadukan dengan problem posing dapat: 1) meningkatkan proses pembelajaran, meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan kooperatif siswa, 2) meningkatkan hasil belajar siswa dan

16

meningkatkan kognitif siswa, 3) meningkatkan sikap positif siswa terhadap materi, dan meningkatkan respon siswa terhadap materi pembelajaran. 5. Penelitian yang dilakukan oleh Priyanto, (2007) dalam pembelajaran Kimia pada materi Alkana dan Alkena pada siswa kelas X Madrasah Aliyah Darut Malang dengan tujuan untuk menngetahui: 1) persepsi siswa terhadap model cooperative learning tipe jigsaw, dan 2) apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw dengan siswa yang belajar menggunakan metode ceramah. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh bahwa hasil belajar kelompok kooperatif lebih baik daripada kelompok ceramah dan siswa X Madrasah Aliyah Darut Malang yang memberi persepsi sangat baik terhadap model cooperative learning tipe jigsaw. A. Kerangka Pikir Keberhasilan pendidikan Kristiani pada SMA Advent Mebali sangat ditentukan oleh akademik intelektual dan penampilan moral seorang alumninya. Bagaimanapun nilai raport dan hasil ujiannya, moral keagamaan yang melekat pada sikap dan perilakunya akan menjadi tolok ukur bagi keberhasilan lembaga pendidikan tempat ia belajar. Apabila dikaji lebih lanjut berdasarkan teori yang telah ada maka salah satu alternatif peningkatan kualitas pembelajaran pada SMA Advent Mebali yang menekankan pendidikan kecerdasan akademik dan moral atau akhlak adalah penerapan teori kognitif. Teori belajar konstruktivis adalah salah satu penerapan teori kognitif.

16

Salah satu implikasi teori belajar konstruktivis dalam pembelajaran adalah penerapan pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif siswa atau peserta didik lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskuiskan masalah-masalah tersebut dengan temannya. Melalui diskusi dalam pembelajaran kooperatif akan terjalin komunikasi di mana siswa saling berbagi ide atau pendapat. Melalui diskusi akan terjadi elaborasi kognitif yang baik, sehingga dapat meningkatkan daya nalar, keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki dampak yang positif terhadap kegiatan belajar mengajar, yakni dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran, meningkatkan ketercapaian tujuan pembelajaran dan ketuntasan belajar siswa, dan dapat meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran berikutnya. Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan lingkungan belajar di mana siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang heterogen, untuk menyelesaikan tugas tugas pembelajaran. Siswa melakukan interaksi sosial untuk mempelajari materi yang diberikan kepadanya, dan bertanggung jawab untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya. Jadi, siswa dilatih untuk berani berinteraksi dengan teman-temannya. Keseluruhan aspek kooperatif yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran yang berorientasi kooperatif merupakan bagian dari pendidikan akhlak atau moral kepada peserta didik. Dan apabila keterampilan-keterampilan kooperatif terus dilatihkan kepada siswa selama pembelajaran maka cermin siswa

17

yang berakhlak mulia yang ditunjukkan dengan sikap-sikap positif dapat tercapai. Berdasarkan kerangka berfikir secara teoritis yang dikutip dari pendapat para ahli, dan secara empiris dari hasil penelitian terdahulu, dapat dikatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil belajar matematika pokok bahasan Differensial pada siswa kelas XI IPA SMA Advent Mebali.

B. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kerangka teoritik di atas maka hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah “Jika model Cooperative Learning Tipe Jigsaw diterapkan pada siswa kelas XI IPA SMA Advent Mebali maka prestasi belajar matematika siswa dalam pokok bahasan differensial akan meningkat”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful