P. 1
Pengetahuan Remaja Tentang Bahaya Rokok

Pengetahuan Remaja Tentang Bahaya Rokok

|Views: 2,888|Likes:
Published by Taufik Hidayat
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG BAHAYA ROKOK
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG BAHAYA ROKOK

More info:

Published by: Taufik Hidayat on Dec 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Remaja 1. Pengertian

2. Karakteristik a. Umur Umur yaitu usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur maka tingkat dalam

kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang berpikir dan bekerja (Nursalam, 2001)

Kusmayanti (2005) mengatakan bahwa semakin meningkat umur maka presentase berpengatahuan semakin baik karena disebabkan oleh akses informasi, wawasan dan mobilitas yang masih rendah. Hal ini dikuatkan oleh penda pat Hurlock (2002), bahwa semakin meningkatnya umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang dalam berfikir dan bekerja akan lebih matang. b. Pendidikan Tingkat pendidikan yang rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan dalam menghadapi masalah. Pengetahuan ini diperoleh baik secara formal maupun informal. Remaja yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi, umumnya terbuka menerima perubahan atau hal-hal baru guna pemeliharaan kesehatannya (Depkes RI, 1996).

9

10

Pendidikan juga akan membuat seseorang te rdorong untuk ingin tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang diterima akan menjadi pengetahuan (Azwar, 2000). Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan - tindakan atau praktek untuk memelihara (mengatasi masalah) dan meningkatkan kesehatannya. Perubahan atau tindakan pemeliharaan dan

peningkatan kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan ini didasarkan pengetahuan sehingga dan kesadarannya tersebut melalui diharapkan proses akan

pembelajaran,

perilak u

berlangsung lama ( long lasting ) dan menetap (langgeng) karena didasari oleh kesadaran. Memegang kelemahan dan pendekatan kesehatan ini adalah hasil lamanya, karena perubahan perilaku melalui proses pembelajaran yang pada umumnya memerlukan waktu lama ( Notoatmodjo, 2007 ). B. Bahaya rokok 1. Kandungan zat dalam rokok Asap rokok terdiri dan 4.000 bahan kimia dan 200 di antaranya bersifat racun. Antara lain karbon monoksida (GO) dan polycyclic aromatic hydrocarbon yang mengandung zat -zat pemicu terjadinya kanker (seperti tar, benzopyrenes, vinyl chlorida, dan nitroso -nornicotine). Di samping itu, nikotin dapat menimbulkan ketagihan, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif. Para perokok aktif dan pasif berisiko terkena batuk dengan sesak nafas 6,5 kali dibanding bukan perokok.

11

Industni rokok selalu berusaha menyangka l bukti-bukti epidemiologis tentang dampak merokok mi pada kesehatan manusia. Nikotin merupakan alkaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi beracun. Zat mi hanya ada dalam tembakau, sangat adiktif, dan mempengaruhi otak/susunan saraf. Dalam ja ngka panjang, nikotin akan menekan kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan selalu membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan dan ketagihannya. Sifat nikotin yang adiktif ini dibuktikan dengan adan ya jurang antara jumlah perokok yang ingin berhenti menokok dan jumlah yang berhasil berhenti. Survei pada anak-anak sekolah usia 13² 15 tahun di Jakarta menunjukkan bahwa lebih dan 20% adalah perokok tetap dan 80% di antaranya ingin berhenti merokok tetapi tidak berhasil. Karbon monoxida, sejenis gas yang tidak memiliki bau. Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon. Zat ini sangat beracun. Jika zat ini terbawa dalam hemoglobin, akan mengganggu kondisi oksi gen dalam darah. Ammonia, merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga kalau disuntikkan (baca: masuk) sedikit pun kepad a peredaraan darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma. Formic acid, sejenis cairan tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang seperti merasa digi git semut.

12

Hydrogen cyanide, sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung ra cun yang sangat berbahaya. Sedikit saja cyanide dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian. Nitrous oxide, sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan mengakibatkan rasa sakit. Nitrous oxide ini adalah jenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh para dokter. Formaldehyde, sejenis gas tidak berwarna dengan bau yang tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organisme -organisme hidup. Phenol, merupakan campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan, karena pheno l ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim. Acetol, adalah hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol. Hydrogen sulfide, sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oxidasi enxym (zat besi yang berisi pigmen). Pyridine, sejenis cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. Methyl chloride, adalah campuran dari zat-zat

13

bervalensi satu antara hidrogen dan karbon merupakan unsurnya yang terutama. Zat ini adalah merupakan compound organis yang dapat beracun. Methanol, sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan mudah terbakar. Meminum atau mengisa p methanol dapat

mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian. Dan tar, sejenis cairan kental berwarna cokelat tua atau hitam. Tar terdapat dalam rokok yang terdiri dari ratusan bahan kimia yang menyebabkan kanker pada hewan. Bilamana zat tersebut diisap wak tu merokok akan mengakibatkan kanker paru-paru 2. Tipe perilaku perokok Menurut Silvan Tomkins (dalam Dariyo, 2004) ada empat tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory , ke empat tipe tersebut yaitu : a. Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan merokok seseorang merasakan penambahan rasa yang positif. Terdapat 3 sub tipe dalam tipe perokok ini : 1) Pleasure relaxation , perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan. 2) Stimulation to pick them up . Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan. 3) Pleasure of handling the cigarette . Kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa

14

dengan

tembakau

sedangkan

untuk

menghisapnya

hanya

dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Atau p erokok lebih senang berlama-lama untuk memainkan rokoknya dengan jari -jarinya lama sebelum ia nyalakan dengan api. b. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak orang yang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif, misalnya bila ia marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak. c. Perilaku merokok yang adiktif. Oleh Green disebut sebagai

psychological Addiction. Mereka yang sudah adiksi, akan menambah
dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Mereka umumnya akan pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah malam sekalipun, karena ia khawatir kalau rokok tidak tersedia setiap saat ia menginginkannya. d. Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka

menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar -benar sudah menjadi

kebiasaannya rutin. Dapat dikatakan pad a orang-orang tipe ini merokok sudah merupakan suatu perilaku yang bersifat otomatis, seringkali tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan api rokoknya bila rokok yang terdahulu telah benar -benar habis. 3. Jenis perokok Dariyo (2004), menyebutkan bahwa tipe perokok itu ada dua jenis, yaitu perokok aktif ( active smoker) dan perokok pasif ( pasive smoker ).

15

a. Perokok aktif adalah individu yang benar -benar memiliki kebiasaan merokok. Merokok sudah menjadi bagian hidupnya sehigga rasanya tidak enak kalau sehari tidak merokok. Oleh karena itu, ia akan berupaya untuk mendapatkannya. b. Perokok pasif yaitu individu yang tak memiliki kebiasaan merokok, namun terpaksa harus menghisap asap rokok yang dihembuskan orang lain yang kebetulan berada didekatnya. Dalam keseharian, mereka tidak berniat dan tidak mempunyai kebiasaan merokok. Kalau tidak merokok, mereka tidak meras akan apa-apa dan tidak terganggu aktifitasnya. Menurut Ary & Biglan (dalam Taylor, 1999) adalah seseorang dikatakan perokok jika telah merokok setidaknya satu batang per hari dalam satu tahun terakhir ini. Dalam Trim (2006), menyebutkan kategori perokok yaitu : a. Perokok ringan menghabiskan rokok sekitar 10 batang sehari dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi b. Perokok sedang menghabiskan rokok 11 ± 21 batang sehari dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun pagi. c. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6 - 30 menit 4. Tempat merokok

Tempat merokok juga mencerminkan pola perilaku perokok. Berdasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok, maka dapat digolongkan atas :

16

a.

Merokok di tempat-tempat umum / ruang publik: 1) Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di

smoking area .
2) Kelompok yang heterogen (merokok ditengah orang -orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll). Mereka yang berani merokok ditempat tersebut, tergolong sebagai orang yang tidak berperasaan, kurang etis dan tidak mempunyai tata krama. Bertindak kurang terpuji dan kurang sopan, dan secara tersamar mereka tega menyebar "racun" kepada orang lain yang tidak bersalah. b. Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi: 1) Di kantor atau di kamar tidur pribadi. Mereka yang memilih tempat tempat seperti ini sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh dengan rasa gelisah yang mencekam. 2) Di toilet. Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi 5. Dampak pada kesehatan a. Pada paru-paru Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru -paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mucus bertambah banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan

17

hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru -paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru -paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun (PPOM). Dikatakan merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma. Hubungan antara merokok dan kanker paru -paru telah diteliti dalam 4-5 dekade terakhir ini. Didapatkan hubungan erat antara kebiasaan merokok, terutama sigaret, dengan timbulnya kanker paru -paru. Bahkan ada yang secara tegas menyatakan bahwa rokok sebagai penyebab utama terjadinya kanker paru -paru. Partikel asap rokok, seperti benzopiren, dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan karsinogen. Juga tar berhubungan dengan risiko terjadinya kanker. Dibandin gkan dengan bukan perokok, kemungkinan timbul kanker paru -paru pada perokok mencapai 10-30 kali lebih sering. b. Pada jantung Banyak penelitian telah membuktikan adanya hubungan merokok dengan penyakit jantung koroner (PJK). Dari 11 juta kematian per tahun di negara industri maju, WHO melaporkan lebih dari setengah (6 juta) disebabkan gangguan sirkulasi darah, di mana 2,5 juta adalahpenyakit jantung koroner dan 1,5 juta adalah stroke.

18

Survei Depkes RI tahun 1986 dan 1992, mendapatkan peningkatan kematian akibat penyakit jantung dari 9,7 persen (peringkat ketiga) menjadi 16 persen (peringkat pertama). Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung tersebut. Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah otak dan perifer. Asap yang diembuskan para perokok dapat dibagi atas asap utama (main stream smoke) dan asap samping (side stream smoke). Asap utama merupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupak an asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif. Telah ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat

menyebabkan kanker), di mana bahan racun i ni lebih banyak didapatkan pada asap samping, misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih banyak ditemukan pada asap samping daripada asap utama, benzopiren 3 kali, dan amoniak 50 kali. Bahan -bahan ini dapat bertahan sampai beberapa jam lamanya dalam ruang setelah rokok berhenti. Umumnya fokus penelitian ditujukan pada peranan nikotin dan CO. Kedua bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard) sehingga merugikan kerja miokard.

19

Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menye babkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding pembuluh darah. Karbon monoksida menimbulkan desatu rasi hemoglobin, menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian, CO menurunkan darah, kapasitas sehingga latihan fisik,

meningkatkan

viskositas

mempermudah

penggumpalan darah. Nikotin, CO, dan bahan -bahan lain dalam asap rokok terbukti merusak endotel (dinding dalam pembuluh darah), dan

mempermudah timbulnya penggumpalan darah. Di samping itu, asap rokok mempengaruhi profil lemak. Dibandingkan dengan bukan perokok, kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida darah perokok lebih tinggi, sedangkan kolesterol HDL lebih rendah. c. Pada system persyarafan Penyumbatan pembuluh darah otak yang bersifat mendadak atau stroke banyak dikaitkan dengan merokok. Risiko stroke dan

20

risiko kematian lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok. Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat da n Inggris, didapatkan kebiasaan merokok memperbesar kemungkinan timbulnya AIDS pada pengidap HIV. Pada kelompok perokok, AIDS timbul rata-rata dalam 8,17 bulan, sedangkan pada kelompok bukan perokok timbul setelah 14,5 bulan. Penurunan kekebalan tubuh pada perokok menjadi pencetus lebih mudahnya terkena AIDS sehingga berhenti merokok penting sekali dalam langkah pertahanan melawan AIDS. Kini makin banyak diteliti dan dilaporkan pengaruh buruk merokok pada ibu hamil, impotensi, menurunnya kekebalan individu, termasuk pada pengidap virus hepatitis, kanker saluran cerna, dan lain-lain. Dari sudut ekonomi kesehatan, dampak penyakit yang timbul akibat merokok jelas akan menambah biaya yang dikeluarkan, baik bagi individu, keluarga, perusahaan, bahkan negara. Penyakit-penyakit yang timbul akibat merokok mempengaruhi penyediaan tenaga kerja, terutama tenaga terampil atau tenaga eksekutif, dengan kematian mendadak atau kelumpuhan yang timbul jelas menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Penurunan produktivitas tenaga kerja menimbulkan penurunan pendapatan perusahaan, juga beban ekonomi yang tidak sedikit bagi individu dan keluarga. Pengeluaran untuk biaya kesehatan meningkat, bagi keluarga, perusahaan, maupun pemerintah.

21

d.

Dampak lain

1) Air mata keluar banyak. 2) Rambut, baju, badan berbau. 3) Denyut nadi dan tekanan darah meningkat. 4) Peristaltik usus meningkat, nafsu makan menurun. 5) Sirkulasi darah kurang baik. 6) Suhu ujung-ujung jari (tangan/kaki) menurun. 7) Rasa mengecap dan membau hilang. 8) Gigi dan jari menjadi coklat atau hitam. 9) Kerja otak menurun. 10) Adrenalin meningkat. 11) Tekanan darah dan denyut nadi meningkat. 12) Rongga pembuluh darah menciut. 13) Muncul efek ketagihan dan ketergantungan 14) Kanker 15) osteoporosis C. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan ada lah ³hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, rasa dan raba. Tetapi sebagian besar melalui proses yaitu proses belajar dan membutuhkan suatu bantuan misaInya buku ´.

22

Lawrence Green (1980) mengatakan pengetahuan dan sikap seseorang terhadap kesehatan merupakan salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2007) 2. Tingkatan pengetahuan Notoatmojo (2007) menyatakan bahwa pengetahuan memiliki enam tingkatan, yaitu : a. Tahu Tahu adalah sesuatu kemampuan dalam mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya , yang termasuk dalam tingkatan pengetahuan ini adalah mengingat kembali terhadap suatu hal

spesifik yang dipelajari dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.³ . Tahu merupakan tingkat

pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur pengetahuan ini adalah : mengu raikan, mengidentifikas i, menyatakan dan lain-lain. b. Paham Merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah memahami objek tertentu harus mampu menjelaskan, menyeb utkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi Aplikasi adalah suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi -situasi dan kondisi yang sebenarnya. Mengaplikasikan dapat diartikan dengan menggu nakan hukum-

23

hukum, rumus-rumus, metode, atau prinsip dalarn konteksatau situasi yang lain. d. Analisis Analisis. adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponen -komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu saran lain. Kemampuan menganalisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti: menggambarkan, membedakan, memisahkan,

mengelompokkan dan lain -lain. e. Sintesis Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian -bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain mensintesa adalah kernampuan untuk menyusun, merencanakan, meringkas, menyesuaikan, terhadap suaru rumusan yang telah ada. f. Evaluasi Mengevaluasi berkaitan dengan kema mpuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek. Penilaian -penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang dilakukan sendiri atau kriteria -kriteria yang sudah ada. 3. Konsep Perilaku dalam merokok Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati langsung (Notoatmodjo 200 7).

24

Skinner (1938), dalam Notoatmodjo (2007) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus. Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor

lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok atau masyarakat, oleh sebab itu dalam rangka membina dan meningkatkan kesehatan masyarakat maka intervensi atau yang ditujukan kepad a faktor pelaku ini sangat strategis (Notoatmodjo,2007). Konsep umum yang digunakan untuk mendiagnosis perilaku adalah konsep dari Lawrence Green (1980), dalam Notoatmodjo (2007) menurut Lawrence Green perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yakni : a. Faktor-Faktor Predisposisi ( Predisposing Faktor ) . Faktor-faktor ini mencakup : pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, system nilai yang dianut masyarakat sebagainya. b. Faktor-Faktor Pemungkin (Enabling Faktor) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. c. Faktor-Faktor Penguat ( Reinforcing Faktor ) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga), dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan

25

4. Tahapan adaptasi perilaku Berdasarkan pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Penelitian Rogers (1974), dalam

Notoatmodjo (2007) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu : a. Awareness (kesadaran) yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. b. Interest, yakni orang tertarik kepada stimulus.

c. Evaluation (menimbang -nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya), hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. Penelitian selanjutnya Rogers dalam Notoatmodjo (20 07)

menyimpulkan bahwa perubahan prilaku tidak selalu melewati tahap tahap diatas apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap. Faktor perilaku ini pula dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam merokok.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->