P. 1
Kedudukan Niat Dalam Amal

Kedudukan Niat Dalam Amal

|Views: 1,173|Likes:
Published by yusrijal

More info:

Published by: yusrijal on Dec 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2013

pdf

text

original

Kedudukan Niat Dalam Amal Penjelasan Hadits Arba’in Pertama (1

)
Oleh: Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian oleh Abu Umair Muhammad Al Makasari (Alumni Ma’had Ilmi) Murojaah: Ust. Aris Munandar ‫بسم ال الرحمن الرحيم، الحمد ل رب العالمين، والصلة والسلم على أشرف النبياء والمرسلين، نبينا محمد، وعلى‬ ‫آله وصحبه أجمعين‬ ٍ ِ ْ ّ ُ ِ َ ّ َِ ِ َ ّ ِ ُ َ ْ َْ َ ّ ِ ُ ْ ُ َ ِ َ ُ َ ُ ْ ِ َ َ َ ِ ّ َ ْ ِ ْ َ َ ُ ٍ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ ِ ْ ِ َ ْ ‫ع‬ ‫َن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب قال: سمعت رسول ال يقول: إنما العمال بالنيات، وإنما لكل امرئ‬ ‫ما نوى، فمن كانت هجرته إلى ال ورسوله فهجرته إلى ال ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها‬ َ ُ ِ ْ َ ٍ ََ ْ ِ َ َ ُ ْ ِ ُ َ ّ ِ ُ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ َ ِ ِ ْ َ َ ِ َِ ُ ُ َ ْ ِ َ ِ ِ ُ َ َ ِ َِ ُ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ َ َ َ َ ِ ْ َِ َ َ َ َ َِ ُ ُ َ ُ ٍ َ ‫. فهجرته إلى ما هاجر إليه‬ “Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya menuju keridhaan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang berhijrah karena mencari dunia atau karena ingin menikahi seorang wanita, maka hijrahnya tersebut kepada apa yang dia tuju.” (HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 155, 1907) Kedudukan Hadits Hadits ini begitu agung hingga sebagian ulama salaf mengatakan, “Hendaknya hadits ini dicantumkan di permulaan kitab-kitab yang membahas ilmu syar’i.” Oleh karena itu Imam Al Bukhari memulai kitab Shahih-nya dengan mencantumkan hadits ini. Imam Ahmad berkata, “Poros agama Islam terletak pada 3 hadits, yaitu hadits Umar ‫إنما العمال‬ ‫ ,بالنيات‬hadits ‘Aisyah ‫ ,من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد‬dan hadits An Nu’man bin Basyir ‫ ”.الحلل بين والحرام بين‬Perkataan beliau ini memiliki maksud, yaitu bahwasanya amalan seorang mukallaf berkisar antara melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Dua hal ini termasuk dalam perkara halal atau haram, selain itu terdapat jenis ketiga yaitu perkara syubhat yang belum diketahui secara jelas hukumnya, dan ketiga perkara ini terdapat dalam hadits An Nu’man bin Basyir. Dan telah diketahui bersama, seorang yang hendak mengamalkan sesuatu, baik melaksanakan suatu perintah atau meninggalkan larangan harus dilandasi dengan niat agar amalan tersebut benar. Maka nilai suatu amal bergantung kepada adanya niat yang menentukan amalan tersebut apakah benar dan diterima. Dan segala perkara yang diwajibkan atau dianjurkan Allah ‘Azza wa Jalla harus diukur dengan timbangan yang pasti sehingga amalan itu sah dan hal ini ditentukan oleh hadits ‘Aisyah di atas.

Sehingga hadits ini senantiasa dibutuhkan di setiap perkara, di saat melaksanakan perintah, meninggalkan larangan dan ketika berhadapan dengan perkara syubhat. Berdasarkan hal itu, kedudukan hadits ini begitu agung, karena seorang mukallaf senantiasa membutuhkan niat, baik dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan perkara yang haram atau syubhat. Semua perbuatan tersebut itu tidak akan bernilai kecuali diniatkan untuk mencari wajah Allah Jalla wa ‘Alaa. Tafsiran Ulama Mengenai “Sesungguhnya Seluruh Amalan Itu Bergantung Pada Niatnya” Terdapat beberapa lafadz dalam sabda beliau ‫ إنما العمال بالنيات‬terkadang lafadz ‫ النية‬dan ‫ العمل‬disebutkan dalam bentuk tunggal atau jamak walaupun demikian kedua bentuk tersebut memiliki makna yang sama, karena lafadz ‫ العمل‬dan ‫ النية‬dalam bentuk tunggal mencakup seluruh jenis amalan dan niat. Di dalam sabda beliau [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya] terkandung pembatasan. Karena lafadz “innama” merupakan salah satu lafadz pembatas seperti yang dijelaskan oleh ahli bahasa. Pembatasan tersebut mengharuskan setiap amalan dilandasi dengan niat, Terdapat beberapa pendapat mengenai maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫.إنما العمال بالنيات‬ Pendapat pertama, mengatakan sesungguhnya maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫ إنما العمال بالنيات‬yaitu keabsahan dan diterimanya suatu amalan adalah karena niat yang melandasinya, sehingga sabda beliau ini berkaitan dengan keabsahan suatu amalan dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya ‫وإنما لكل امرئ ما نوى‬ maksudnya adalah seseorang akan mendapatkan ganjaran dari amalan yang dia kerjakan sesuai dengan niat yang melandasi amalnya. Pendapat kedua mengatakan bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫إنما العمال‬ ‫ بالنيات‬menerangkan bahwa sebab terjadi suatu amalan adalah dengan niat, karena segala amalan yang dilakukan seseorang mesti dilandasi dengan keinginan dan maksud untuk beramal, dan itulah niat. Maka faktor pendorong terwujudnya suatu amalan, baik amalan yang baik maupun yang buruk adalah keinginan hati untuk melakukan amalan tersebut. Apabila hati ingin melakukan suatu amalan dan kemampuan untuk melakukannya ada, maka amalan tersebut akan terlaksana. Sehingga maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫ إنما العمال بالنيات‬adalah amalan akan terwujud dan terlaksana dengan sebab adanya niat, yaitu keinginan hati untuk melakukan amalan tersebut. Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫ وإنما لكل امرئ ما نوى‬memiliki kandungan bahwa ganjaran pahala akan diperoleh oleh seseorang apabila niatnya benar, apabila niatnya benar maka amalan tersebut merupakan amalan yang shalih. Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, karena niat berfungsi mengesahkan suatu amalan dan sabda beliau [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya] adalah penjelasan terhadap perkara-perkara yang dituntut oleh syari’at bukan sebagai penjelas

terhadap seluruh perkara-perkara yang terjadi. Kesimpulannya, pendapat terkuat dari dua tafsiran ulama di atas mengenai maksud dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya] adalah keabsahan amalan ditentukan oleh niat dan setiap orang mendapatkan ganjaran dan pahala sesuai dengan apa yang diniatkan. Definisi Amal ‫ العمال‬adalah bentuk jamak dari ‫ ,العمل‬yaitu segala sesuatu yang dilakukan seorang mukallaf dan ucapan termasuk dalam definisi ini. Yang perlu diperhatikan maksud amal dalam hadits tersebut tidak terbatas pada ucapan, perbuatan atau keyakinan semata, namun lafadz ‫ العمال‬dalam hadits di atas adalah segala sesuatu yang dilakukan mukallaf berupa perkataan, perbuatan, ucapan hati, amalan hati, perkataan lisan dan amalan anggota tubuh. Maka seluruh perkara yang berkaitan dengan iman termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya] karena iman terdiri dari ucapan (baik ucapan lisan maupun ucapan hati) dan amalan (baik amalan hati dan amalan anggota tubuh). Maka seluruh perbuatan mukallaf tercakup dalam sabda beliau di atas. Namun keumuman lafadz ‫ العمال‬dalam hadits ini tidaklah mutlak, karena yang dimaksud dalam hadits tersebut hanya sebagian amal saja, tidak mutlak walaupun lafadznya umum. Hal ini dapat diketahui bagi mereka yang telah mempelajari ilmu ushul. Karena segala amalan yang tidak dipersyaratkan niat untuk mengerjakannya tidaklah termasuk dalam sabda beliau [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya], seperti meninggalkan keharaman, mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi, menghilangkan najis dan yang semisalnya. Permasalahan Niat Jika niat adalah keinginan dan kehendak hati, maka niat tidak boleh diucapkan dengan lisan karena tempatnya adalah di hati karena seseorang berkeinginan atau berkehendak di dalam hatinya untuk melakukan sesuatu. Maka amalan yang dimaksud dalam hadits ini adalah amalan yang dilandasi dengan keinginan dan kehendak hati, atau dengan kata lain amalan yang disertai pengharapan untuk mendapatkan wajah Allah. Oleh karena itu makna niat ditunjukkan dengan lafadz yang berbeda-beda. Terkadang dengan lafadz ‫ الرادة‬dan terkadang dengan lafadz ‫ البتغاء‬atau lafadz lain yang semisalnya. Seperti firman Allah, َ ُ ِْ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ َُ ّ َ ْ َ َ ُ ِ ُ َ ِ ِّ ‫للذين يريدون وجه ال وأولئك هم المفلحون‬ ِ “Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari wajah Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung.” (QS. Ar Ruum: 38) ْ ِ ْ ِ ْ ََ ‫َ َ ْ ُ ِ ّ ِ َ َ ْ ُ َ َ ّ ُ ْ ِ ْ َ َ ِ َ ْ َ ِ ّ ُ ِ ُ َ َ ْ َ ُ َ ََ ْ َ ِ ِ َ ِ ِ ْ ِ ْ َ ْ ٍ َ َ ِ ْ ِ َ ِك‬ ‫ول تطرد الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه ما عليك منْ حسابهم من شيء وما من حساب َ عليهم من‬

َ ِ ِ ّ َ ِ َ ُ ََ ْ ُ َ ُ ْ ََ ٍ ْ َ ‫شيء فتطردهم فتكون من الظالمين‬ “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki wajah-Nya.” (QS. Al An’am: 52) ُ َ ْ َ َ ُ ِ ُ ّ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ ِ ْ ُ َّ َ ُ ْ َ َ ِ ّ َ َ َ َ ْ َ ْ ِ ْ َ ‫واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه‬ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al Kahfi: 28) Atau firman Allah yang semisal dengan itu seperti, ٍ ِ َ ْ ِ ‫ِ َة‬ ‫من كان يريد حرث الخرة نزد له في حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له في الخر ِ من نصيب‬ ِ ُ َ َ َ َ ْ ِ ِ ِْ ُ َْ ّ َ ْ َ ُ ِ ُ َ َ ْ َ َ ِ ِْ َ ِ ُ َ ْ ِ َ ِ َ ِ َ ْ َ ُ ِ ُ َ َ ْ َ “Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya.” (QS. Asy Syuura: 20) Atau dengan lafadz ‫ البتغاء‬seperti firman Allah, ِ ّ ِ َ ْ َ َ َ ِ ْ َ َِ ْ َ ْ َ ْ َ َ ِ ّ َ ْ َ ٍ ْ ِ ْ َ ٍ ُ ْ َ ْ َ ٍ َ َ َ ِ َ َ َ ْ َ ِ ْ ُ َ ْ َ ْ ِ ٍ ِ َ ِ َ ْ َ ‫ل خير في كثير من نجواهم إل من أمر بصدقة أو معروف أو إصلح بين الناس ومن يفعل ذلك ابتغاء مرضاة ال‬ ١١٤) ‫)فسوف نؤتيه أجرا عظيما‬ ً ِ َ ً ْ َ ِ ِْ ُ َ ْ َ َ “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An Nisaa’: 114) ‫إل ابتغاء وجه ربه العلى‬ َْ ِ ّ َ ِ ْ َ َ َ ِ ْ ِ “Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.” (QS. Al Lail: 20) Sehingga lafadz niat dalam nash-nash Al Quran dan Sunnah terkadang ditunjukkan dengan lafadz ‫ ,الرادة‬lafadz ‫ البتغاء‬atau lafadz ‫ السلم‬yang bermakna ketundukan hati dan wajah kepada Allah. Makna Niat Lafadz niat yang tercantum dalam firman Allah ‘azza wa jalla atau yang digunakan dalam syariat mengandung dua makna. Pertama, niat yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri dan yang kedua bermakna niat yang berkaitan dengan Zat yang disembah (objek/sasaran peribadatan). Maka niat itu ada dua jenis: Pertama, niat yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri. Niat dengan pengertian semacam ini sering digunakan ahli fikih dalam pembahasan hukum-hukum ibadah yaitu ketika

mereka menyebutkan syarat-syarat suatu ibadah, semisal perkataan mereka “Syarat pertama dari ibadah ini adalah adanya niat” Niat dalam perkataan mereka tersebut adalah niat dengan makna yang pertama, yaitu niat yang berkaitan dengan zat ibadah itu sendiri sehingga dapat dibedakan dengan ibadah yang lain. Jenis yang kedua, adalah niat yang berkaitan dengan Zat yang disembah (objek/sasaran peribadatan) atau sering dinamakan dengan ‫ ,الخلص‬yaitu memurnikan hati, niat dan amal hanya kepada Allah ‘azza wa jalla. Kedua makna niat di atas tercakup dalam hadits ini. Maka maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫ إنما العمال بالنيات‬adalah sesungguhnya keabsahan suatu ibadah ditentukan oleh niat, yaitu niat yang membedakan ibadah tersebut dengan yang lain dan niat yang bermakna mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah. Sehingga tidak tepat pendapat yang mengatakan bahwa niat yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah niat yang bermakna ikhlas saja atau pendapat yang mengatakan ikhlas tidak termasuk dalam perkataan ahli fikih ketika membahas permasalahan niat. Kedudukan Niat dalam Beramal Niat merupakan barometer untuk meluruskan amal perbuatan. Apabila niat baik, maka amalan menjadi baik. Sebaliknya, bila niat rusak, amalan juga akan rusak. Hal ini sesuai dengan hadits Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam: “Dari Amiril Mukminin Abu Hafs Umar ibn Khottob Radhiyallohu‘anhu bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang hijrah-nya karena Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak didapatkannya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR.Bukhari dan Muslim)[1]. An-Niyyaatu adalah bentuk jamak dari niyyatun, artinya tujuan. Dengan ungkapan yang lebih luas: Niat adalah tergeraknya hati menuju apa yang dianggapnya sesuai dengan tujuan baik berupa perolehan manfaat atau pencegahan mudarat. Niat mengandung dua makna: 1. Bermakna pemisahan –-ibadah satu dengan lainnya misalnya, pemisahan antara sholat Dhuhur dan Ashar, atau pembedaan antara ibadah dan adat (‘Urf)—seperti juga pembedaan antara mandi janabat dengan mandi biasa. Niat dengan makna seperti ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab fiqh para fuqoha. Perbedaan yang sering muncul dalam masalah niat (dalam pengertian ini) adalah masalah haruskah niat itu dilafalkan atau kah cukup dalam hati. Para ulama telah banyak menjelaskan mengenai masalah ini, seperti Syaikh Muhammad

bin Shalih Al-‘Utsaimin,beliau berkata:”Dalam semua amalan, niat tempatnya dihati, bukan dilidah. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengucapkan niat dengan lisan ketika hendak sholat, puasa, haji, wudhu, atau amalan yang lain, maka dia telah melakukan kebid’ahan,mengamalkan sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama Alloh. Hal itu karena Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam ketika berwudhu, shalat, bersedekah, berpuasa, dan berhaji tidak pernah mengucapkan niat dengan lisan, karena niat memang tempatnya di hati.”[2] Memang niat merupakan amalan hati[3] yang tidak perlu untuk diucapkan, apabila kita ber-wudhu atau akan sholat maka inilah niat (amalan hati, terwujud dalam per-buatan), tidak mungkin bagi orang yang berakal dan tidak dipaksa melakukan sesuatu (entah itu amal yang baik maupun buruk) kecuali sudah dia niatkan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu mengatakan:” Kalaulah Alloh membebankan kamu suatu pekerjaan tanpa niat, pastilah pembebanan itu sesuatu yang tidak dapat dikuasainya”. 2. Niat bermakna pembedaan maksud seseorang dalam beramal. Apakah semata-mata karena Alloh, atau karena yang lainnya, atau karena bersamaan dengan lainnya. Maksudnya ada manusia yang beramal ikhlas karena Alloh, ada yang ingin dilihat dan dipuji orang lain, ada juga yang beramal supaya dipuji orang sekaligus memperoleh ridho dari Alloh. Bagi orang yang beramal hanya karena mengharapkan ridho Alloh semata dengan diiringi rasa raja’ (berharap) dan khauf (takut –akan siksaannya,pen) itulah orang-orang yang ikhlas [4]. Keikhlasan inilah point penting dalam setiap amalaliah perbuatan kita sekecil apapun itu. Ikhlas merupakan hakikat agama Islam, inti peribadatan seorang hamba, syarat diterimanya amal dan merupakan dakwahnya para Rosulullah. Tanpa keikhlas-an amal kita tidak ada artinya apa-apa. Dan untuk itulah, Alloh memerintahkan kita untuk menjalankan agama yang lurus dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya semata. Sebagaimana dalam firman-Nya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS.Al-Bayyinah : 5) Ayat ini mengisyaratkan kita dalam beramal hendaknya memperhatikan keikh-lasan niat kita dan sesuai dengan petunjuk agama-Nya yang lurus (sesuai dengan syari’at). Bagi orang-orang yang beramal kepada selain Alloh ada beberapa macam: o Amalan riya’ semata-mata. Yaitu tidak dilakukan melainkan hanya supaya dilihat oleh makhluq karena tujuan duniawi. Maka amalan ini jelas tidak akan memberikan arti apa-apa dihadapan Alloh. Bahkan riya’ merupakan syirik ashghar (syirik kecil). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: ”Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil, para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan syirik kecil? Rasulullah menjawab,dia adalah riya”.[5]

o Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai riya’ dari asalnya, maka amalan seperti ini salah (bathil) dan terhapus (tidak mendapatkan pahala apapun disisi Alloh, bahkan berdosa). Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ber- sabda: “Alloh Tabaraka Wata’aala berfirman:”Aku paling tidak butuh kesyirikan. Maka barangsiapa yang melakukan amalan yang mempersekutukan antara Aku dan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”[6] o Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai niat lain selain riya’. Contohnya : jihad fisabilillah hanya karena Alloh dan karena menghendaki harta rampasan perang, maka amalan seperti ini berkurang pahalanya, dan tidak sampai batal dan terhapus. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Tidak ada seorangpun yang berjihad di jalan Alloh kemudian mendapatkan ghanimah melainkan telah menyegerakan dua pertiga pahala mereka diakhirat dan tinggal bagi mereka sepertiganya, dan jika tidak mendapatkan ghanimah maka mereka mendapatkan pahala yang sempurna.”[7] o Amalan yang asalnya ditujukan bagi Alloh kemudian terbesit riya’ ditengah-tengahnya, maka amalan ini terbagi menjadi dua: o Jika riya’ tersebut terbesit sebentar dan segera dihalau maka riya’ tersebut tidak berpengaruh apa-apa. o Jika riya’ tersebut selalu menyertai amalannya maka yang rojih dari pendapat ulama adalah amalannya tidak batal dan dinilai niat awalnya sebagaimana dinukil pendapat ini dari Imam Hasan Al-Bashri. Adapun jika seseorang beramal ikhlas karena Alloh kemudian mendapat pujian sehingga dia merasa senang dengan pujian tersebut, maka hal ini tidak berpengaruh apa-apa terhadap amalannya sebagaimana dalam hadits Abu Dzar Radhiyallohu‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ditanya seseorang yang beramal karena Alloh kemudian dipuji oleh manusia, maka beliau menjawab:”Itu adalah khabar gembira yang disegerakan bagi seorang mu’min.”[8] Imam Hasan Al-Banna berkata, “Ikhlas adalah seorang akh Muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Alloh, untuk mencari ridho Alloh dan balasan yang baik dari Alloh dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara aqidah dan fikrah dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”[9] Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas: 1. Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal 2. Menambah pengetahuan tentang Allah swt dan hari kiamat. Dengan mengetahui ilmu tentang-Nya, maka seseoang mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya tentulah tidak akan berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam niatnya). Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti di

akhirat. 3.Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan al-Qur’an, karena al-Quran adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS.10:57) termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah. 4. Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain. 5. Menghindari / mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong. 6.Berdoa, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik. Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw : “Allahumma innii a’udzubika annusyrikabika syaian a’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan aku memohon ampun ke-pada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.)[10] Akhi fillah, setelah kita memahami esensi dari sebuah kelurusan niat dalam setiap amal kita, mari kita bersama senantiasa menjaga kelurusan niat-niat kita. Amal sekecil apapun itu dan siapapun kita, maka Alloh melihat hati kita dan amal perbuatan kita bukan yang lain. Tanda-tanda keikhlasan bagi seorang da’I nampak dari dirinya yang tidak menginginkan sesuatu dari dakwah ini kecuali karena Alloh semata. Ia tidak ingin mendapatkan status sosial yang tinggi. Ia tidak banyak memikirkan apakah posisinya tinggi atau tidak dikenal di antara manusia. Dia tidak merasa peduli dengan manusia dan sanjungan dari mereka. Ia tidak berusaha untuk mendapatkan rasa takjub dari mereka. Ia tidak mengharap pujian dan penghormatan dari mereka. Hal ini tidak berarti bahwa dia berharap untuk mendapat celaan dari manusia atau prasangka buruk dari mereka. Tidak begitu. Tetapi seyogyanya ia menapaki jalan dakwah pada jalan yang lurus dan tidak mengharapkan kecuali pahala dari Alloh semata. Dia tidak berusaha untuk mendapatkan keuntungan berupa harta yang banyak dari dakwah ini. Sebab alangkah jeleknya orang yang mengira bahwa dirinya hanya menghendaki Alloh dan keridhaan-Nya, padahal sebenarnya mereka hanya mengharapkan kepada dinar dan dirham. Keikhlasan seorang da’I menjelma dalam sikapnya yang merasa gembira apabila tercapai keberhasilan dari tangan orang lain sebagaimana dia merasa gembira kalau keberhasilan itu dicapai dengan tangannya sendiri. Dia tetap akan melakukan amalnya walaupun harus ditinggalkan sendirian oleh saudaranya, karena di yakin Alloh bersamanya. Jika ini terjadi dalam diri kita, maka karakter kader dakwah yang muntij (produktif), insya Alloh akan muncul dalam diri kita. Teruslah beramal dengan ilmu dan kelu-rusan niat.

Kedudukan Niat Dalam Beramal

Niat merupakan amal hati secara murni. Suatu amal tidak akan sempurna amalnya jika tidak disertai niat yang ikhlas. Niat yang ikhlas berarti membersihkan maksud dan tujuan kepada Allah dari maksud lainnya, hanya mengkhususkan Allah sebagai tujuan utama kita. Hal ini dijelaskan dalam hadist diriwayatkan oleh Amir l’Mu’minin Abi Hafsh Umar ibn Al Khaththaab Radhiyallahu ‘Anhu, yang berbunyi : “Sesungguhnay amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.” (HR. Bukhari-Muslim) Hakekat niat dalam beramal: 1. Niat merupakan bagian dari Iman. Niat merupakan amalan hati. Sedangkan iman adalah diyakini di dalam hati, diucapkan dalam amal dan diuktikan dengan anggota badan dan perbuatan. Allah mencatat niat-niat baik kita dengan pahala yang sempurna meskipun amalan tersebut belum kita wujudkan. Seperti sabda Nabi saw. sebagai berikut : “Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikkan tetapi belum mengamalkannya, Allah mencatat bagi orang tersebut di sisi-Nya dengan kebaikkan yang sempurna.” (Muttafqun alaih) 2. Wajib mengetahui hukum dari sebuah amalan sebelum mengerjakannya. Setiap muslim wajib mengetahui ilmu sebelum mengamalkannya, apakah amalan tersenut disyari’atkan atau tidak. 3. Disyaratkannya niat pada amalan-amalan keta’atan. Suatu kebaikkan tidak dikatakan ibadah jika tidak disertai niat untuk beribadah. Niat membedakan amalan ibadah dengan kebiasaan atau yang bukan bersifat ibadah. Niat membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lain, misalnya puasa di bulan syawal. Bisa jadi dia puasa syawal bisa juga dia puasa membayar hutang puasa. Itu semua tergantung dari niat didalam hatinya. Niat juga menentukan tujuan dari sebuah amalan. Apakah perbuatan itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah atau mengaharapkan selain dari itu tentukan oleh niatnya. 4. Pentingnya ikhlas di dalam beramal. Sebuah amal bergantung kepada keikhlasan pelakunya. Mengikhlaskan amalan sematamata hanya karena Allah merupakan wujud mentauhidkan Allah. Ikhlas bukan hanya berarti tidak menuntut apa-apa dari Allah tapi merupakan sebuah tuntutan dan konsekuensi dari diciptakannya kita oleh Allah. Hendaknya kita senantiasa memperhatikan gerak hati kita, karena keikhlasan kita senantiasa diuji. Pertama: sebelum beramal perhatikan niatnya, kepada siapa dank arena apa kita niatkan amal kita. Kedua: ketika sedang beramal, bisa jadiamalan yang semula ikhlas terganggu disebabkan ada kejadian-kejadian khusus dan tak terduga. Ketiga: ketika setelah beramal. Tanpa sadar setelah mungkin bertahun-tahun kita semunyikan, tiba-tiba dalam sebuah obrolan kita ceritakan jasa kita dulu.

5. Baik buruknya amal bergantung kepada niat pelakunya. Sebuah amal kebaikkan akan menjadi ibadah yang diterima manakala diniatkan dengan niat yang baik, berupa keikhlasan, Dan akan menjadi buruk manakala diniatkan dengan niat buruk, berupa ksyirikan -baik kecil apalagi besar-. Akan tetapi seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram semata-mata dengan alasan baiknya niat. Beberapa urgensi niat yang ikhlas : 1. Merupakan ruhnya amal Allah hanya menginginkan hakekat amal bukan rupa dan bentuknya. 2. Salah satu syarat diterimanya amal 3. penentuan nilai/kualitas suatu amal. Suatu amal dapat dibedakan pahalanya berdasakan perbedaan niatnya. 4. Dapat merubah amal-amal yang mubah dan tradisi menjadi ibadah. Pekerjaan mencari rezki bisa menjadi ibadah dan jihad fi sabilillah selagi pekerjaan itu dimaksudkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang haram dan mencari yang halal. 5. Mendatangkan berkah dan pahala dari Allah, bahkan sebelum ia melaksanakan amalnya. Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas : 1. Senantiasa meluruskan niat sebelum mulai beramal. 2. Menyerahkan segala cintanya hanya kepada Allah, Rasul dan akhirat 3. Ilmu ikhlas yang mantap 4. Berteman dengan orang-orang yang ikhlas 5. Membaca sirah orang-orang yang Mushlih 6. Mujahadah terhadap nafsu, maksudnya mengarahkan kehendak untuk memerangi nafsu yang menjurus kepada keburukan. 7. Berdo’a dan memohon kepada Allah Bukti penguat ikhlas : 1. Takut ketenaran, ketenaran tidak tercela tapi yang tercela itu adalah mencari ketenaran. 2. Menuduh diri sendiri, orang yang mukhlis senantiasa menuduh diri sendiri sebagai orang yang berlebih-lebihan di sisi Allah dan kurang dalam melaksanakan berbagai kewajiban. 3. Beramal secara diam-diam jauh dari sorotan 4. Tidak menuntun pujian dan tidak terkecoh oleh pujian. 5. Tidak kikir pujian terhadap orang yang memang harus dipuji. 6. Berbuat selaknya dalam memimpin, dia tidak ambisi dan menuntut kedudukan untuk kepentingan dirinya sendiri. 7. Mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia. 8. Menjadikan keridhaan dan kemarahan karena Allah, bukan karena pertimbangan pribadi. 9. Sabar sepanjang jalan 10. Rakus terhadap amal yang bermanfaat 11. Menghindari ujub, merasa puas terhadap apa yang dilakukan. Referensi: Dr. Yusuf Qardhawi : Niat dan Ikhlas

KEDUDUKAN NIAT DALAM BERAMAL "Diterangkan dari Amirul Mukminin Abu Hafsn Umar bin Khattab ra, ia berkata : "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:"sesungguhnya sahnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang hanyalah apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang tujuan hijrahnya kepada Allah dan utusan-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan utusan-Nya. Dan barangsiapa yang tujuan hijrahnya kepada harta dan wanita, maka yang didapat adalah harta dan wanita itu." Hadist diatas menegaskan bahwa niat adalah faktor yang amat menentukan diterima atau tidaknya amal perbuatan seseorang di sisi Allah. Artinya, kebenaran suatu amal ditentukan oleh niat. Bila niatnya baik maka baik pula nilai amalnya, dan kalau niatnya jelek maka nilai amalnya pun menjadi jelek. Apabila dikaitkan dengan niat maka amal kebaikan itu akan masuk salah satu dari tiga kemungkinan, yakni : Pertama : Motif dalam beramal adalah karena takut terhadap siksa Allah. Maka amalnya itu adalah sebagaimana pengabdian seorang hamba. Dalam melakukan pekerjaan dikarenakan merasa takut kepada tuannya Kedua : Motif dalam beramal adalah karena mengharap balasan surga serta pahala. Maka amalnya itu adalah sebagaimana kerja seorang pedagang, dalam melakukan pekerjaan adalah karena mengharapkan laba dan keuntungan Ketiga : Motif dalam beramal adalah karena merasa malu kepada Allah, melaksanakan pengabdian dan kesyukuran. Ia melihat bahwa amal kebaikan yang dilakukan amat sedikit, ia merasa khawatir karena tidak mengetahui apakah amal yang dikerjakan itu diterima oleh Allah atau ditolak. Inilah amalan orang merdeka. Dia beramal dengan dilandasi oleh niat yang tulus ikhlas. Ibadah kategori terakhir inilah yang menjadi motifasi Rasulullah SAW dalam melaksanakan pengabdian kepada Allah SWT, sebagaimana beliau pernah ditegur oleh sang istri tercinta, A’isyah ra, saat bangun tengah malam lalu beribadah hingga kedua telapak kaki beliau membengkak. A’isyah ra berkata : "wahai utusan Allah, kenapa engkau beribadah sedemikian tekunnya padahal Allah telah mengampuni (segala) dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?" Jawab beliau : "Tak bolehkah aku menjadi hamba yang gemar bersyukur?" Muncullah pertanyaan : Mana yang lebih utama, ibadah karena rasa takut atau ibadah dengan pengharapan?

Dalam hal ini Imam Al-Ghazali berkata : “Ibadah yang disertai pengharapan adalah utama, karena ibadah yang disertai pengharapan akan menumbuhkan perasaan cinta sedangkan ibadah yang disertai perasaan takut akan menumbuhkan perasaan bosan.” Tetapi rasa bosan ini hanya bisa muncul pada orang-orang yang tidak ikhlas dalam beribadah. Oleh karenanya bagi orang-orang yang ikhlas, maka ketiga kategori amal ibadah ini semuanya benar. Sehingga seyogyanya motivasi amal ibadah kita adalah ketiga-tiganya, yakni karena takut, mengharap pahala serta hendak bersyukur dan menunaikan hak Allah. Di hadapan keikhlasan amal itu selalu siaga beragam penyakit yang hendak menghancurkannya, antara lain adalah : 1. Ujub, yakni perasaan kagum terhadap diri sendiri atau amal perbuatan yang bisa dilakukan. Orang yang melakukan amal kebaikan tetapi terserang penyakit yang pertama ini maka amalnya akan gugur, sia-sia, tak mendapat imbalan dari Allah SWT. 2. Takabur, yakni menyombongkan diri atau amal perbuatan yang telah dilakukan. Orang yang beramal tetapi terserang penyakit yang kedua ini nasibnya sama dengan yang pertama, yakni amalnya sia-sia. 3. Orang yang beramal untuk mencari dunia dan akhirat sekaligus. Sementara ulama berpendapat bahwa amal perbuatan yang diniatkan untuk dunia dan akhirat tidak diterima di sisi Allah SWT. Mereka bersandar terhadap sabda Rasulullah SAW dalam hadist qudsi berikut : “Allah berfirman:”aku tidak memerlukan sekutu-sekutu. Barangsiapa yang melakukan amal perbuatan dengan menyekutukan selain Aku da Terhadap masalah ini, dalam kitab ar-Ri’ayah al-Harist al-Muhasibi berkata: “Ikhlas adalah engkau beramal dengan niat semata-mata melakukan ketaatan kepada Allah, dan tidak ada maksud-maksud yang lain selain ketaatan itu”. Sedangkan riya’ itu ada dua macam: Pertama, seseorang beramal tetapi sama sekali tidak bermaksud melakukan ketaatan, dan ia hanya ingin dilihat oleh manusia. Kedua, ia beramal karena mengharap penilaian manusia dan mengharap penilaian Tuhan manusia. Keduanya sama-sama batal, tidak diterima oleh Allah SWT Pandangan tersebut diambil oleh al-Hafizh Abu Nu’aim dari pandangan sebagian salafus saleh. Sebagian diantara mereka ada yang mengambil dalil dari firman Allah:

Maha Perkasa dan Maha Besar, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. Al-Hasyr:23). Misalnya orang yang membanggakan istri, anak, sahabat. Maka di sini Allah membanggakan Dzat-Nya, tak menerima amalan yang dikerjakan sembari menyekutukan dengan amalan selain-Nya. Imam Abu Laits as-Samarqadi melihat permasalahan ini secara lebih substansial. Beliau berkata : “Apa yang dilakukan karena Allah maka diterima dan apa yang dilakukan karena manusia maka itulah yang tertolak.” Misalnya, orang yang mengerjakan shalat zhuhur. Ia mengerjakan itu dengan niat melaksanakan kewajiban yang telah difardhukan oleh Allah. Tetapi dalam memanjangkan rukun-rukun dan bacaannya serta dalam memperbagus gerak-geriknya adalah agar dipuji orang yang shalat bersamanya. Dalam kasus ini maka shalat orang tersebut tetap sah (diterima oleh Allah) sedangkan panjangnya rukun-rukun yang dikerjakan serta bacaanya maupun bagusnya gerak-geriknya ini tidak diterima oleh Allah, sebab niatnya untuk manusia. Syaikh Izzudin Abdus Salam ditanya tentang orang yang memanjangkan shalatnya karena manusia. Beliau menjawab: “Saya berharap hal itu tidak merusak amalannya yang dasar (ashlul ‘amal) yaitu shalat fardhu. Sedangkan yang rusak adalah sifat shalatnya, yakni dalam memanjangkan shalat tersebut, karena itu dilakukan karena manusia.” Sebagaimana dalam mengerjakan amal perbuatan, riya’ pun bisa terjadi pula dalam meninggalkan amal perbuatan yang motivasinya adalah manusia, maka ini pun termasuk riya’. Al-Fadhil bin ‘Iyadh berkata: “Meninggalkan amal perbuatan karena manusia adalah riya’, sedangkan mengerjakan amal perbuatan karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas adalah apabila motifnya semata-mata karena Allah, baik dalam mengerjakan suatu amal maupun dalam meninggalkannya.” Maksud dari ucapan beliau ini adalah, barangsiapa yang bermaksud mengerjakan amal ibadah tetapi tidak jadi mengerjakannya amal ibadah tetapi dia tidak jadi mengerjakannya karena takut dilihat manusia maka ini termasuk riya’. Sebab dia meninggalkan amal perbuatan karena manusia. Tetapi kalau dalam meninggalkan itu karena dia ingin berkhalwat, maka ini justru disunatkan. Lain halnya kalau yang dikerjakan itu adalah ibadah (shalat) fardhu, atau zakat wajib. Demikian pula tokoh agama yang mengerjakan amal-amal kebaikan secara terangterangan agar diteladani oleh pihak lain, maka apa yang dilakukannya itu lebih utama Sebagaimana riya’ yang merusak nilai amal ibadah, maka demikian pula dengan tasmi’

(sum’ah). Yakni mengerjakan amal ibadah di tempat yang sepi dari manusia, tetapi kemudian apa yang dilakukan itu diceritakannya kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang memperdengarkan (amalannya) maka Allah akan memperdengarkan dengannya, dan siapa yang memamerkan/memperlihatkan (amalnya) Allah akan memamerkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Para ulama berpendapat bahwa kalau seseorang alim menceritakan amal perbuatan yang telah dilakukan kepada orang lain dengan tujuan agar mereka mengikutinya, maka tasmi’ semacam ini diperbolehkan dan tidak merusak nilai amalnya di sisi Allah SWT. Imam al-Marzabaniy berkata :”orang yang mengerjakan shalat yang menghendaki agar shalatnya diangkat di sisi Allah, maka dia memerlukan empat hal berikut : - Hudhurul Qalb (hadirnya hati) - Syuhudul Aql (sadarnya akal) - Hudhu’ul Arkan (mendatangi rukun-rukun shalat) Husyu’ul jawarih (khusuknya anggota tubuh) Oleh karenanya maka : - Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa disertai hadirnya hati, maka ia shalat dengan lalai. - Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa disertai kesadaran akal, maka ia shalat dengan lupa. - Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa disertai kepatuhan pada rukun-rukunnya, maka ia shalat dengan mencuri rukun-rukunnya. - Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa disertai kepatuhan anggota tubuh, maka ia shalat dengan keliru. - Barangsiapa yang mengerjakan shalat dengan memenuhi keempat perkara di atas maka ia shalat dengan sempurna. Sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung pada niatnya.” Yang dimaksudnya dengan amal dalam hadist ini adalah amal-amal ketaatan, bukan yang mubah. Al-Haritsi al-Muhasibi berkata: “Keikhlasan itu tidak mencakup pada hal-hal yang mubah. Karena ia tidak bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, misalnya membangun rumah yang besar serta megah. Adapun bila untuk kemaslahatan umum seperti membangun masjid, jembatan dan sebagainya maka yang demikian itu amat dianjurkan, bahkan menjadi amalan sunat yang dicintai oleh Allah SWT.” Beliau menegaskan: “Tidak ada ikhlas dalam perbuatan yang haram atau perbuatan yang makruh.”

Kata Al-Harits: “Maka pemberian sifat yang obyektif kaitannya dengan keikhlasan adalah dengan mempertimbangkan aspek yang samar (sirr) berikut yang jelas (‘alaniyah), yang lahir berikut yang batin.” Sabda Nabi SAW : “Sesungguhnya setiap amal……..” Ini terkandung maksud: sesungguhnya sahnya amal, atau yang menjadikan sah setiap amal, atau diterimanya setiap amal, atau sempurnanya setiap amal. Terhadap hadist ini Imam Abu Hanifah membuat pengecualian mengenai hal-hal tertentu, seperti menghilangkan najis, mengembalikan barang yang dighashab (dipergunakan tanpa seijin pemiliknya, dan tidak dimaksudkan mencuri), menyampaikan hadiah, dan semacamnya. Karena keabsahan perbuatan-perbuatan tersebut tidak terikat pada niat. Hanya saja, dia tetap memperoleh pahala kalau di dalam mengerjakannya itu disertai niat untuk bertaqarrub kepada Allah. Demikian halnya memberi makan pada binatang ternak, misalnya. Apabila dalam memberi makan ini dimaksudkan untuk mngikuti perintah Allah maka ia memperoleh pahala. Akan tetapi apabila dalam mengerjakannya dia hanya bermaksud mengamankan harta maka dia tidak memperoleh pahala. Secara bahasa, arti niat adalah kehendak (qashd). Sedangkan arti niat secara syara’ adalah berkehendak kepada suatu beriringan dengan mengerjakannya. Sebab bila kehendak itu masih jauh dari perbuatan, maka ia dinamakan ‘azm (maksud). Dan niat itu disyariatkan karena dialah yang membedakan antara adat kebiasaan dengan ibadah, serta membedakan antara bagian ibadah satu dengan yang lainnya. Contoh pertama: Duduk di dalam masjid. Duduk itu sendiri menurut kebiasaan, duduk dimaksudkan untuk beristirahat. Tetapi kalau diniati I’tikaf maka ia merupakan ibadah. Di sini yang membedakan antara adat kebiasaan dengan ibadah adalah niat. Demikian pula mandi. Sebagai adat kebiasaan, mandi dimaksudkan untuk membersihkan badan, dan secara khusus ia pun bisa dimaksudkan sebagai ibadah, yang membedakan antara keduanya adalah niat pula. Inilah yang dikehendaki oleh isyarat dalam sabda Rasulullah SAW, saat beliau ditanya tentang lelaki yang berperang karena riya’, mempertahankan status serta keberaniannya: “Yang manakah dari itu yang berperang di jalan Allah?” Maka beliau menjawab: “Barangsiapa yang berperang agar kalimah Allah menjadi tinggi, maka dia di jalan Allah!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh Kedua: Yang membedakan dalam tertib ibadah. Seperti orang yang mengerjakan shalat empat rakaat. Ini bisa dimaksudkan mengerjakan shalat Zhuhur dan bisa pula dimaksudkan mengerjakan shalat sunnah. Yang membedakan antara keduanya adalah niat Juga memerdekakan budak. Ia bisa dimaksudkan sebagai kafarat dan bisa pula yang lain, misalnya dimaksudkan untuk melaksanakan nadzar dan seterusnya. Yang membedakannya adalah niat. “Dan sesungguhnya bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan.”

Kedudukan Niat dalam Amal
Oleh : Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ ‫الحمد ل رب العالمين، والصلة والسلم على أشرف النبياء والمرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين‬ ٍ ِ ْ ّ ُ ِ َ ّ َِ ِ َ ّ ِ ُ َ ْ َْ َ ّ ِ ُ ْ ُ َ ِ َ ُ َ ُ ْ ِ َ َ َ ِ ّ َ ْ ِ ْ َ َ ُ ٍ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ ِ ْ ِ َ ْ ‫ع‬ ‫َن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب قال: سمعت رسول ال يقول: إنما العمال بالنيات، وإنما لكل امرئ‬ ‫ما نوى، فمن كانت هجرته إلى ال ورسوله فهجرته إلى ال ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها‬ َ ُ ِ ْ َ ٍ ََ ْ ِ َ َ ُ ْ ِ ُ َ ّ ِ ُ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ َ ِ ِ ْ َ َ ِ َِ ُ ُ َ ْ ِ َ ِ ِ ُ َ َ ِ َِ ُ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ َ َ َ َ ِ ْ َِ َ َ َ َ َِ ُ ُ َ ُ ٍ َ ‫. فهجرته إلى ما هاجر إليه‬ “Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya menuju keridhaan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang berhijrah karena mencari dunia atau karena ingin menikahi seorang wanita, maka hijrahnya tersebut kepada apa yang dia tuju.” (HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 155, 1907). Kedudukan Hadits Hadits ini begitu agung hingga sebagian ulama salaf mengatakan, “Hendaknya hadits ini dicantumkan di permulaan kitab-kitab yang membahas ilmu syar’i.” Oleh karena itu Imam Al Bukhari memulai kitab Shahih-nya dengan mencantumkan hadits ini. Imam Ahmad berkata, “Poros agama Islam terletak pada 3 hadits, yaitu hadits Umar ‫إنما العمال‬ ‫ ,بالنيات‬hadits ‘Aisyah ‫ ,من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد‬dan hadits An Nu’man bin Basyir ‫ ”.الحلل بين والحرام بين‬Perkataan beliau ini memiliki maksud, yaitu bahwasanya amalan seorang mukallaf berkisar antara melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Dua hal ini termasuk dalam perkara halal atau haram, selain itu terdapat jenis ketiga yaitu perkara syubhat yang belum diketahui secara jelas hukumnya, dan ketiga perkara ini terdapat dalam hadits An Nu’man bin Basyir. Dan telah diketahui bersama, seorang yang hendak mengamalkan sesuatu, baik melaksanakan suatu perintah atau meninggalkan

larangan harus dilandasi dengan niat agar amalan tersebut benar. Maka nilai suatu amal bergantung kepada adanya niat yang menentukan amalan tersebut apakah termasuk amalan shalih dan diterima. Kemudian segala perkara yang diwajibkan atau dianjurkan Allah ‘azza wa jalla, secara lahiriah harus diukur dengan timbangan (standar) sehingga amalan itu sah dan yang menjadi standar dalam hal ini adalah hadits ‘Aisyah. Oleh karena itu, hadits ini senantiasa dibutuhkan di setiap perkara, di saat melaksanakan perintah, meninggalkan larangan dan ketika berhadapan dengan perkara syubhat. Berdasarkan hal itu, kedudukan hadits ini begitu agung, karena seorang mukallaf senantiasa membutuhkan niat, baik dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan perkara yang haram atau syubhat. Semua perbuatan tersebut itu tidak akan bernilai kecuali diniatkan untuk mencari wajah Allah jalla wa ‘alaa. Tafsiran Ulama Mengenai “Sesungguhnya Seluruh Amalan Itu Bergantung Pada Niatnya” Terdapat beberapa lafadz dalam sabda beliau ‫ إنما العمال بالنيات‬terkadang lafadz ‫ النية‬dan ‫ العمل‬disebutkan dalam bentuk tunggal atau jamak walaupun demikian kedua bentuk tersebut memiliki makna yang sama, karena lafadz ‫ العمل‬dan ‫ النية‬dalam bentuk tunggal mencakup seluruh jenis amalan dan niat. Di dalam sabda beliau [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya] terkandung pembatasan. Karena lafadz “innama” merupakan salah satu lafadz pembatas seperti yang dijelaskan oleh ahli bahasa. Pembatasan tersebut mengharuskan setiap amalan dilandasi dengan niat, Terdapat beberapa pendapat mengenai maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫.إنما العمال بالنيات‬ Pendapat pertama, mengatakan sesungguhnya maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫ إنما العمال بالنيات‬yaitu keabsahan dan diterimanya suatu amalan adalah karena niat yang melandasinya, sehingga sabda beliau ini berkaitan dengan keabsahan suatu amalan dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya ‫وإنما لكل امرئ ما نوى‬ maksudnya adalah seseorang akan mendapatkan ganjaran dari amalan yang dia kerjakan sesuai dengan niat yang melandasi amalnya. Pendapat kedua mengatakan bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫إنما العمال‬ ‫ بالنيات‬menerangkan bahwa sebab terjadi suatu amalan adalah dengan niat, karena segala amalan yang dilakukan seseorang mesti dilandasi dengan keinginan dan maksud untuk beramal, dan itulah niat. Maka faktor pendorong terwujudnya suatu amalan, baik amalan yang baik maupun yang buruk adalah keinginan hati untuk melakukan amalan tersebut. Apabila hati ingin melakukan suatu amalan dan kemampuan untuk melakukannya ada, maka amalan tersebut akan terlaksana. Sehingga maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫ إنما العمال بالنيات‬adalah amalan akan terwujud dan terlaksana dengan sebab adanya niat, yaitu keinginan hati untuk melakukan amalan tersebut. Sedangkan sabda

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫ وإنما لكل امرئ ما نوى‬memiliki kandungan bahwa ganjaran pahala akan diperoleh oleh seseorang apabila niatnya benar, apabila niatnya benar maka amalan tersebut merupakan amalan yang shalih. Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, karena niat berfungsi mengesahkan suatu amalan dan sabda beliau [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya] merupakan penjelas terhadap perkara-perkara yang dituntut oleh syari’at bukan sebagai penjelas terhadap seluruh perkara yang terjadi. Kesimpulannya, pendapat terkuat dari dua tafsiran ulama di atas mengenai maksud dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya] adalah keabsahan amalan ditentukan oleh niat dan setiap orang mendapatkan ganjaran dan pahala sesuai dengan apa yang diniatkan. Definisi Amal ‫ العمال‬adalah bentuk jamak dari ‫ ,العمل‬yaitu segala sesuatu yang dilakukan seorang mukallaf dan ucapan termasuk dalam definisi ini. Yang perlu diperhatikan maksud amal dalam hadits tersebut tidak terbatas pada ucapan, perbuatan atau keyakinan semata, namun lafadz ‫ العمال‬dalam hadits di atas adalah segala sesuatu yang dilakukan mukallaf berupa perkataan, perbuatan, ucapan hati, amalan hati, perkataan lisan dan amalan anggota tubuh. Maka seluruh perkara yang berkaitan dengan iman termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya] karena iman terdiri dari ucapan (baik ucapan lisan maupun ucapan hati) dan amalan (baik amalan hati dan amalan anggota tubuh). Maka seluruh perbuatan mukallaf tercakup dalam sabda beliau di atas. Namun keumuman lafadz ‫ العمال‬dalam hadits ini tidaklah mutlak, karena yang dimaksud dalam hadits tersebut hanya sebagian amal saja, tidak mutlak walaupun lafadznya umum. Hal ini dapat diketahui bagi mereka yang telah mempelajari ilmu ushul. Karena segala amalan yang tidak dipersyaratkan niat dalam pelaksanaannya tidaklah termasuk dalam sabda beliau ‫ إنما العمال بالنيات‬contohnya seperti meninggalkan keharaman, mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi, menghilangkan najis dan yang semisalnya. Permasalahan Niat Jika niat adalah keinginan dan kehendak hati, maka niat tidak boleh diucapkan dengan lisan karena tempatnya adalah di hati karena seseorang berkeinginan atau berkehendak di dalam hatinya untuk melakukan sesuatu. Maka amalan yang dimaksud dalam hadits ini adalah amalan yang dilandasi dengan keinginan dan kehendak hati, atau dengan kata lain amalan yang disertai pengharapan untuk mendapatkan wajah Allah. Oleh karena itu makna niat ditunjukkan dengan lafadz yang berbeda-beda. Terkadang dengan lafadz ‫ الرادة‬dan terkadang dengan lafadz ‫ البتغاء‬atau lafadz lain yang semisalnya.

Seperti firman Allah, َ ُ ِْ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ َُ ّ َ ْ َ َ ُ ِ ُ َ ِ ِّ ‫للذين يريدون وجه ال وأولئك هم المفلحون‬ ِ “Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang (berniat) mencari wajah Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS. Ar Ruum: 38) ْ ِ ْ ِ ْ ََ ‫َ َ ْ ُ ِ ّ ِ َ َ ْ ُ َ َ ّ ُ ْ ِ ْ َ َ ِ َ ْ َ ِ ّ ُ ِ ُ َ َ ْ َ ُ َ ََ ْ َ ِ ِ َ ِ ِ ْ ِ ْ َ ْ ٍ َ َ ِ ْ ِ َ ِك‬ ‫ول تطرد الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه ما عليك منْ حسابهم من شيء وما من حساب َ عليهم من‬ َ ِ ِ ّ َ ِ َ ُ ََ ْ ُ َ ُ ْ ََ ٍ ْ َ ‫شيء فتطردهم فتكون من الظالمين‬ “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki (berniat mendapatkan) wajah-Nya.” (QS. Al An’am: 52) ُ َ ْ َ َ ُ ِ ُ ّ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ ِ ْ ُ َّ َ ُ ْ َ َ ِ ّ َ َ َ َ ْ َ ْ ِ ْ َ ‫واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه‬ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap (berniat mendapatkan) wajah-Nya.” (QS. Al Kahfi: 28) Atau firman Allah yang semisal dengan itu seperti, ٍ ِ َ ْ ِ ‫ِ َة‬ ‫من كان يريد حرث الخرة نزد له في حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له في الخر ِ من نصيب‬ ِ ُ َ َ َ َ ْ ِ ِ ِْ ُ َْ ّ َ ْ َ ُ ِ ُ َ َ ْ َ َ ِ ِْ َ ِ ُ َ ْ ِ َ ِ َ ِ َ ْ َ ُ ِ ُ َ َ ْ َ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya.” (QS. Asy Syuura: 20) Atau dengan lafadz ‫ البتغاء‬seperti firman Allah, ‫إل ابتغاء وجه ربه العلى‬ َْ ِ ّ َ ِ ْ َ َ َ ِ ْ ِ “Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.” (QS. Al Lail: 20) ِ ّ ِ َ ْ َ َ َ ِ ْ َ َِ ْ َ ْ َ ْ َ َ ِ ّ َ ْ َ ٍ ْ ِ ْ َ ٍ ُ ْ َ ْ َ ٍ َ َ َ ِ َ َ َ ْ َ ِ ْ ُ َ ْ َ ْ ِ ٍ ِ َ ِ َ ْ َ ‫ل خير في كثير من نجواهم إل من أمر بصدقة أو معروف أو إصلح بين الناس ومن يفعل ذلك ابتغاء مرضاة ال‬ ١١٤) ‫)فسوف نؤتيه أجرا عظيما‬ ً ِ َ ً ْ َ ِ ِْ ُ َ ْ َ َ “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An Nisaa’: 114) Sehingga lafadz niat dalam nash-nash Al Quran dan Sunnah terkadang ditunjukkan dengan lafadz ‫ ,الرادة‬lafadz ‫ البتغاء‬atau lafadz ‫ السلم‬yang bermakna ketundukan hati dan wajah kepada Allah.

Makna Niat Lafadz niat yang tercantum dalam firman Allah ‘azza wa jalla atau yang digunakan dalam syariat mengandung dua makna. Pertama, niat yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri dan yang kedua bermakna niat yang berkaitan dengan Zat yang disembah (objek/sasaran peribadatan). Maka niat itu ada dua jenis: Jenis Pertama, niat yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri. Niat dengan pengertian semacam ini sering digunakan ahli fikih dalam pembahasan hukum-hukum ibadah yaitu ketika mereka menyebutkan syarat-syarat suatu ibadah, semisal perkataan mereka “Syarat pertama dari ibadah ini adalah adanya niat” Niat dalam perkataan mereka tersebut adalah niat dengan makna yang pertama, yaitu niat yang berkaitan dengan zat ibadah itu sendiri sehingga mampu dibedakan dengan ibadah yang lain. Jenis yang kedua, adalah niat yang berkaitan dengan Zat yang disembah (objek/sasaran peribadatan) atau sering dinamakan dengan ‫ الخلص‬yaitu memurnikan hati, niat dan amal hanya kepada Allah ‘azza wa jalla. Jadi kedua makna niat di atas tercakup dalam hadits ini. Sehingga makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫ إنما العمال بالنيات‬adalah sesungguhnya keabsahan suatu ibadah ditentukan oleh niat, yaitu niat yang berfungsi untuk membedakan ibadah yang satu dengan ibadah yang lain dan niat yang bermakna mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah. Sehingga tidak tepat pendapat yang mengatakan bahwa niat yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah niat yang bermakna ikhlas saja atau pendapat yang mengatakan ikhlas tidak termasuk dalam perkataan ahli fikih ketika membahas permasalahan niat. Sabda Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam ((‫))وإنما لكل امرئ ما نوى‬ Di dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‫[ وإنما لكل امرئ ما نوى‬setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya] terkandung pembatasan, yakni setiap orang hanya akan mendapatkan ganjaran dan pahala sesuai dengan niat yang melandasi amalannya. Jika niatnya ditujukan untuk Allah dan meraih kampung akhirat maka amalannya adalah amalan yang shalih, dan sebaliknya apabila niatnya hanyalah untuk meraih dunia maka amalan yang dia lakukan adalah amalan yang jelek lagi rusak. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah, َ َ َ ُ َ ّ ُ َ َ ِ ِْ ُ ّ ‫وما أمروا إل ليعبدوا ال مخلصين له الدين حنفاء‬ َ ُ ُْ َِ ِ ُ ِ ُ َ َ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).

Maksudnya adalah agama yang dilandasi niat ikhlas dan bebas dari syirik sebagaimana firman-Nya, ُ َِ ْ ُ ّ ّ َ ‫أل ل الدين الخالص‬ ِ “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az Zumar: 3) Pembahasan ikhlas pun dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti sabda beliau dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya, ‫أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عمل أشرك فيه معي غيري تركته وشركه‬ ً “Aku tidak butuh kepada sekutu. Barang siapa yang melakukan suatu amalan dan menyekutukan-Ku dalam amalan tersebut, aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim nomor 5300). Dalil ini menunjukkan wajibnya memurnikan amalan ibadah bagi Allah semata, sehingga amalan tersebut dapat diterima dan diberi pahala. Maka konsekuensi logisnya adalah seseorang yang mengerjakan suatu amalan dan tercampur niatan selain Allah dalam amal tersebut maka amalannya batal dan rusak. Namun hal ini masih menyisakan pertanyaan. Bagaimana hukumnya jika niatan untuk selain Allah itu terletak di awal ibadah, pertengahan, di akhir ibadah atau terjadi di suatu rukun namun tidak terjadi di rukun yang lain? Permasalahan ini memiliki 3 kondisi sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama’. Pertama, seseorang yang memulai amalannya dengan niat riya’ atau sum’ah kepada makhluk. Maka amalannya batal dan dia adalah seorang musyrik kafir sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‫من صلى يرائي فقد أشرك، ومن صام يرائي فقد أشرك، ومن تصدق يرائي فقد أشرك‬ “Barang siapa yang shalat, berpuasa dan bersedekah dengan tujuan riya’ maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad nomor 16517) Yang patut diperhatikan adalah riya’ dalam seluruh amalan seorang muslim tidak mungkin terjadi, namun riya’ hanyalah terjadi di sebagian amalan seorang muslim, terkadang di permulaan ibadah atau di pertengahan ibadah, tidak seluruhnya! Riya’ model itu hanyalah dilakukan oleh kaum kafir dan munafik sebagaimana firman Allah ketika menyifati orang-orang munafik, ‫يراءون الناس ول يذكرون ال إل قليل‬ َِ ِ ّ َ ُ ُ ْ َ َ َ ّ َ ُ َ ُ َ “Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An NIsaa’: 142)

Dan firman-Nya ketika menyifati orang-orang kafir, ِ ِ ِ ْ َ ْ َ ّ ِ ُ ِ ْ ُ َ ِ ّ َ َ ِ ُ َ َ ‫َ َ َ ِ ُ ْ ِ ْ َ ّ َ َ َ ّ ِ ُ ْ ِق‬ ‫يا أيها الذين آمنوا ل تبطلوا صدقاتكم بالمن والذى كالذي ينف ُ ماله رئاء الناس ول يؤمن بال واليوم الخر‬ ِ ُِ ْ ُ ُ َ َ ِ ّ َ َّ َ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. Al Baqarah: 264) Oleh karenanya apabila niat awal seseorang ketika melakukan shalat, berpuasa atau bersedekah adalah kepada selain Allah (seperti riya’ atau sum’ah) maka seluruh amalan tersebut rusak dan batal. Kedua, niatan kepada selain Allah itu terjadi ketika sedang melaksanakan ibadah. Terdapat dua kondisi untuk permasalahan ini: Kondisi pertama, orang tersebut membatalkan niatnya yang semula ikhlas dan digantikan dengan niatan kepada selain Allah, maka hukumnya seperti permasalahan pertama di atas, karena dia telah membatalkan niatnya yang semula ikhlas kemudian memperuntukkan ibadah tersebut kepada makhluk selain Allah. Kondisi kedua, seseorang memulai ibadahnya dengan ikhlas kemudian memperindah ibadahnya seperti memperpanjang shalatnya karena orang lain melihatnya, atau memperpanjang rukuknya di luar kebiasaannya karena seseorang melihatnya. Maka hal ini tidak merusak pokok amalannya yang terletak di permulaan ibadah karena dia melakukannya dengan ikhlas, namun yang rusak adalah amalan yang tercampur dengan riya’ dan dia adalah seorang musyrik yang melakukan syirik ashghar (syirik kecil)-wal ‘iyadzu billah. Ketiga, seseorang yang merasa senang dengan pujian orang lain setelah dia melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala dengan ikhlas seperti seseorang yang shalat, menghafal Al Quran, berpuasa ikhlas kepada Allah ta’ala kemudian orang lain memujinya dan dia merasa senang dengan hal tersebut. Dalam kondisi ini, hal tersebut tidaklah membatalkan pokok amalannya karena dia melakukan amalan tersebut dengan niat ikhlas kepada Allah dan niatnya tidak berubah ketika sedang melaksanakannya namun rasa senang tersebut muncul setelah dia selesai mengerjakan amalan tersebut. Hal ini adalah kabar gembira baginya sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‫تلك عاجل بشرى المؤمن‬ “Hal tersebut merupakan kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin, yaitu dia mendengar pujian manusia kepadanya karena ibadah yang dilakukannya padahal dia tidak menginginkannya.” (HR. Muslim nomor 4780; HR. Ahmad nomor 20416, 20432, 20503; HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman nomor 6745, 6746, 6747) Pembagian Amal

Amalan juga terbagi dua, apabila ditinjau dari sisi niat yang mengiringinya. Pertama, amalan yang hanya boleh diniatkan untuk memperoleh wajah Allah dan tidak boleh diiringi dengan niat untuk memperoleh ganjaran di dunia. Jenis ini terdapat di sebagian besar perkara ibadah. Kedua, perkara ibadah yang didorong oleh Allah untuk dilakukan dengan menyebutkan ganjarannya di dunia, seperti menyambung kekerabatan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ُ َ ِ َ ْ ‫َ ْ َ ّ ُ َ ْ ُ ْ َ َ َ ُ ِ ِ ْ ِ ِ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ُ ِ َ َ ِ ِ َ ْ َص‬ ‫من سره أن يبسط له في رزقه وأن ينسأ له في أثره فلي ِل رحمه‬ “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya dia menyambung kekerabatan.” (HR. Bukhari nomor 1925, 5526) Atau seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‫من قتل قتيل فله سلبه‬ “Barang siapa yang membunuh musuh dalam peperangan, maka harta orang tersebut menjadi miliknya.” (HR. Malik 3/339; Tirmidzi 6/66; Ath Thabrani 6/392-394; Ad Darimi 7/436; Ibnu Hibban 14/119, 20/199) Maka di dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berjihad disertai penyebutan ganjaran di dunia. Maka dalam amalan model ini, boleh bagi seseorang mengharapkan ganjaran di dunia (di samping mengharapkan niat mencari wajah Allah -pent), karena tidak mungkin hal tersebut disebutkan kecuali Dia mengizinkan hal tersebut. Oleh karenanya, boleh bagi seseorang menyambung kekerabatan dengan niat ikhlas kepada Allah, namun di samping itu dirinya berharap mendapatkan ganjaran di dunia seperti kelapangan rezeki dan umur yang panjang. Atau seseorang berjihad untuk mendapatkan ghanimah (rampasan perang) dan niatnya ikhlas kepada Allah, maka hal ini diperbolehkan dan niatnya tersebut tidak termasuk sebagai syirik dalam niat karena Allah telah mengizinkan hal tersebut dengan menyebutkan ganjarannya di dunia apabila dilakukan. Sehingga amalan itu terbagi menjadi dua, yakni ibadah yang disebutkan ganjarannya di dunia oleh Allah ‘azza wa jalla dan ibadah yang tidak disebutkan ganjarannya di dunia oleh Allah ‘azza wa jalla. Hal ini disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla, َ ُ َ ْ ُ َ ِ ْ ُ َ َ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ِ ْ َِ ّ َ ُ َ َ َ ِ َ َ ْ ّ َ َ َ ْ ُ ِ ُ َ َ ْ َ ‫من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها وهم فيها ل يبخسون‬ “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Huud: 15) Namun yang perlu diperhatikan bahwa derajat seseorang yang menyambung kekerabatan dengan niat ikhlas kepada Allah lebih tinggi dan lebih besar pahalanya daripada seseorang yang menyambung kekerabatan untuk mendapatkan dunia di samping niat

ikhlas kepada Allah. Oleh karena itu, para ulama salaf di antaranya adalah Imam Ahmad ketika ditanya mengenai hal ini, maka beliau menjawab, “Pahalanya sesuai dengan kadar niatnya.” Niat untuk mendapatkan dunia ini tidaklah membatalkan pokok amalnya akan tetapi pahalanya berkurang sesuai kadar niatnya terhadap dunia. Sehingga semakin ikhlas kepada Allah dalam amalan model ini, maka semakin besar pula pahalanya dan begitu pula sebaliknya. Sekelumit Tentang Hijrah Huruf fa’ (‫)الفاء‬dalam sabda beliau ‫ فمن كانت هجرته‬berfungsi untuk merinci jenis amalan yang terkadang ditujukan kepada Allah atau ditujukan kepada selain Allah dan dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan dengan hijrah. Hijrah (‫ )الهجرة‬bermakna (‫ )الترك‬meninggalkan. Pada dasarnya, tujuan berhijrah adalah berhijrah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan ikhlas dan mengharapkan pahala yang ada di sisi-Nya dan juga berhijrah kepada rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan mengikuti dan tunduk kepada ajaran yang beliau bawa. Terdapat dua golongan dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‫فمن كانت هجرته إلى ال ورسوله فهجرته إلى ال ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته‬ ‫إلى ما هاجر إليه‬ Pertama, golongan yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya dengan niat ikhlas sehingga mendapatkan ganjaran dan pahala dari hijrah yang dilakukakannya. Salah satu contoh dalam masalah ini adalah seseorang yang berhijrah dari negeri syirik dan kufur menuju negeri Islam atau seseorang yang berhijrah dari daerah yang penuh kebid’ahan dan kemungkaran menuju daerah yang menegakkan sunnah dan minim kemungkaran. Adapun hukumnya dibahas dalam kitab-kitab fiqih secara terperinci. Kedua, golongan yang berhijrah dikarenakan motivasi duniawi sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‫ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه‬ Golongan ini seperti seorang pedagang yang berhijrah untuk mendapatkan harta atau seorang yang berhijrah untuk menikahi wanita yang dipujanya, maka hijrah yang dilakukannya tidaklah mendatangkan pahala dan terkadang dirinya memperoleh dosa. ‫و صلى ال على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين‬ Selesai diterjemahkan oleh Muh Nur Ikhwan Muslim di Pogung Baru 8 Shafar 1428 H

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->