P. 1
Persamaan Diferensial Adalah Persamaan Matematika Untuk Fungsi Satu Variabel Atau Lebih

Persamaan Diferensial Adalah Persamaan Matematika Untuk Fungsi Satu Variabel Atau Lebih

|Views: 4,058|Likes:

More info:

Published by: kcsm_racing_team1744 on Dec 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/08/2013

pdf

text

original

Persamaan diferensial adalah persamaan matematika untuk fungsi satu variabel atau lebih, yang menghubungkan nilai fungsi

itu sendiri dan turunannya dalam berbagai orde. Persamaan diferensial memegang peranan penting dalam rekayasa, fisika, ilmu ekonomi dan berbagai macam disiplin ilmu alin.

Visualisasi aliran udara ke dalam saluran dimodelkan sesuai persamaan Navier-Stokes Persamaan diferensial muncul dalam berbagai bidang sains dan teknologi, bilamana hubungan deterministik yang melibatkan besaran yang berubah secara kontinu (dimodelkan oleh fungsi matematika) dan laju perubahannya (dinyatakan sebagai turunan) diketahui atau dipostulatkan. Ini terlihat misalnya pada mekanika klasik, di mana gerakan sebuah benda diperikan oleh posisi dan kecepatannya terhadap waktu. Hukum Newton memungkinkan kita mengetahui hubungan posisi, kecepatan, percepatan dan berbagai gaya yang bertindak terhadap benda tersebut, dan menyatakannya sebagai persamaan diferensial posisi sebagai fungsi waktu. Dalam banyak kasus, persamaan diferensial ini dapat dipecahkan secara eksplisit, dan menghasilkan hukum gerak. Contoh pemodelan masalah dunia nyata menggunakan persamaan diferensial adalah penentuan kecepatan bola yang jatuh bebas di udara, hanya dengan memperhitungkan gravitasi dan tahanan udara. Percepatan bola tersebut ke arah tanah adalah percepatan karena gravitasi dikurangi dengan perlambatan karena gesekan udara. Mencari kecepatan sebagai fungsi waktu mensyaratkan pemecahan sebuah persamaan diferensial. Penggolongan Teori persamaan diferensial sudah cukup berkembang, dan metode yang digunakan bervariasi sesuai jenis persamaan.

Persamaan diferensial biasa (PDB) adalah persamaan diferensial di mana fungsi yang tidak diketahui (variabel terikat) adalah fungsi dari variabel bebas tunggal. Dalam bentuk paling sederhana fungsi yang tidak diketahui ini adalah fungsi riil atau fungsi kompleks, namun secara umum bisa juga berupa fungsi vektor maupun matriks. Lebih jauh lagi, persamaan diferensial biasa digolongkan berdasarkan orde tertinggi dari turunan terhadap variabel terikat yang muncul dalam persamaan tersebut.

Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah persamaan diferensial di mana fungsi yang tidak diketahui adalah fungsi dari banyak variabel bebas, dan persamaan tersebut juga melibatkan turunan parsial. Orde persamaan didefinisikan seperti pada persamaan diferensial biasa, namun klasifikasi lebih jauh ke dalam persamaan eliptik, hiperbolik, dan parabolik, terutama untuk persamaan diferensial linear orde dua, sangatlah penting. Beberapa pesamaan diferensial parsial tidak dapat digolongkan dalam kategori-kategori tadi, dan dinamakan sebagai jenis campuran.

Baik persamaan diferensial biasa maupun parsial dapat digolongkan sebagai linier atau nonlinier. Sebuah persamaan diferensial disebut linier apabila fungsi yang tidak diketahui dan turunannya muncul dalam pangkat satu (hasilkali tidak dibolehkan). Bila tidak memenuhi syarat ini, persamaan tersebut adalah nonlinier.

PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL 1. PENDAHULUAN Cara mencari penyelesaian persamaan diferensial homogen dengan koefisien fungsi dari x yang sudah barang tentu lebih rumit. Karena banyaknya terapan yang model matematikanya berbentuk persamaan diferensial semacam itu, maka perlu dibahas metode mencari penyelesaiannya.metode itu adalah metode deret kuasa. Tinjau persamaan diferensial linier tak homogen orde dua dengan koefisien variabel : Banyak masalah fisika-matematika yang menggunakan persamaan diferensial di atas seperti persamaan Bessel: Kita sudah mengetahui bagaimana menentukan solusi persamaan diferensial di atas dengan menggunakan metode deret pangkat ([1,5]). Di sini akan dikaji ulang bagaimana metode tersebut digunakan. Selanjutnya juga akan dibahas konvergensi solusi deret pangkat persamaan diferensial linier orde dua dengan koefisien variabel, baik homogen maupun tak homogen.F Suatu fungsi yang didefinisikan dalam suatu selang tertutup tertentu, dengan metoda kuadrat terkecil dapat didekati dengan suatu polinom dengan derajat tertentu. Disamping itu dapat juga fungsi tersebut didekati dengan suatu fungsi yang merupakan kombinasi linear dari fungsi-fungsi yang saling tegak lurus. Dalam tulisan ini disamping akan dibahas cara pertama akan dibahas juga cara kedua dengan menggunakan fungsi-fungsi yang saling tegak lurus,polinom-polinom Legendre.

oniz 2. DERET PANGKAT Deret pangkat adalah bentuk khusus dari deret fungsi semua sifat-sifat deret fungsi berlaku bagi deret kuasa (pangkat). Definisi: Perhatikan barisan fungsi pada selang I . Barisan fungsi {Sn(x)} dikatakan konvergen ke S(x) pada selang I, jika untuk setiap dari setiap dapat ditentukan sehingga untuk semua berlaku:

, ditulis, atau

. ,

Pada umumnya N tergantung pada dan x. dalam hal N hanhya bergantung pada deret dikatakan konvergen seragam.Deret kuasa (pangkat) adalah deret yang berbentukdengan adalah konstanta.  Dalil I

Jika deret kuasa konvergen mutlak  Dalil 2

konvergen untuk yang memenuhi .

, maka deret kuasa tersebut

Misalkan

jari-jari kekonvergenan deret kuasa , dengan .

. Deret tersebut

konvergen seragam dalam  Dalil 3

Jika deret kuasa konvergen di titik ujung selang kekonvergenannya, maka selang kekonvergenan seragam deret tersebut memenuhi juga titik tersebut. juga mempunyai jari-jari kekonvergenan .

3. KEKONVERGENAN DENGAN DERET PANGKAT Hasil Jumlah Deret pangkat Dua deret kuasa (pangkat) dengan jari-jari kekonvergenan positif, dapat dijumlahkan suku demi suku didalam selang kekonvergenan yang sama.

konvergen untuk dan

konvergen untuk

Maka, Hasil Kali Deret Kuasa

konvergen untuk

Dua deret kuasa (pangkat) dengan jari-jari kekonvergenan positif dapat dikalikan suku demi suku didalam daerah kekonvergenan yang sama. Dari(5.1) diperoleh :

konvergen untuk

.

Deret Kuasa (Pangkat) Identik Nol Jika suatu deret kuasa identik nol didalam selang kekonvergenannya, maka koefisien deret tersebut sama dengan nol. 4. PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL DENGAN DERET PANGKAT

suatu fungsi f dikatakan analitik pada suatu titik deret kuasa dari pangkat.  Dalil 5

, bila f dapat di uraikan atas disebut puisat dari

, dengan jari-jari kekonvergenan positif.

Jika fungsi-fungsi f, g, dan r dari persamaan differensial

analitik pada

dan karena itu dapat dinyatakan oleh suatu deret kuasa atas .

dengan jari-jari kekonvergenan CONTOH 1 Cari penyeleasian deret kuasa atas

dari persamaan differensial

Penyelesaian dan analitik pada oleh suatu deret kuasa atas Andaikan bentuk selesaiannya , jadi penyelesaian dari dapat dinyatakan

Maka

dan Substitusi ke dalam persamaan menghasilkan

At au Bila yang berpangkat sama digabung menjadi satu, akan diperoleh

atau

diperoleh

Dari

di dapat

Dari

di dapat dalam

Dari ( 5 .9 ) di dapat ,Yang di sebut rumus rekursi ,di peroleh rumus umur, dan ,yaitu :

Jadi untuk n=0,di dapat

Untuk n=1,di dapat

dan seterusnya akan di dapat

di nyatakan dalam

dan

di nytakan dalam , di peroleh

.Jika

hasil-hasil di atas di subtitusikan ke dalam persamaan

(5.10) yang merupakan selesaian persamaan di ferensial (5.3). Kedua deret dalam selesaian tersebut merupakan dua selesaian yang bebas linear dari persamaan di ferensial (5.3). dan adalah konstanta-konstanta sebarang .Jadi (5.10)adalah selesaian umum persamaan di ferensial (5.5).untuk x di dalam selang ke konvergennya. Selesaian Di Sekitar Titik Singular Titik singular yang regular Definisi di katakan titik singular dari persamaan di ferensial (5.2)apabila pada . dan tidak analitik

Bila dan keduanya analitik pada maka di sebut titik singular yang regular dari persamaan diferensial (5.2)m Jika keduanya atau salah satu tidak analitik pada diferensial (5.2). Contoh 1 Perhatikan persamaan di ferensial , maka di sebut titik singular tak reguler dari persamaan

Disini

dan

keduanya tidak analitik pada x=0 ,tetapi

dan analitik pada x=0 .Jadi titik x=0 adalah titk singular yang regular dari persamaan diferensial tersebut. Contoh 2 Perhatikan persamaan di ferensial

Di sini

dan

mempunyai titik singular x=0 dan x=2

tak analitik pada x =0 tetapi

analitik pada x =0. Jadi titik x=0 adalah titik singular tak regular dari persamaan diferensial yang bi berikan, Sedang dan

Keduanya analitik pada x =2 Jadi titik x=2 adalah titik singular yang regular dari persamaan di ferensial yang di berikan . Dalil 6 Persamaan di ferensial (5.22) dengan dan analitik pada x=0 mempunyaisekurang –kurangnya satu selesaian (5.23)

yang berbentuk dengan r real atau kompleks

Contoh : Carilah penyelesaian deret dari ………………….. ( 1 ) Jawab ; Persamaan diferensial tersebut dapat dituliskan sebagai

tidak analitik pada x = 0 Jadi x = 0 adalah titik singular yang legular dari persamaan …… ( 1 ), maka (1 ) mempunyai penyelesaian berbentuk

Jadi

Dan Substitusi y(x), y’(x), y”(x) kedalam ( 1) memberikan

dari persamaan ini diperoleh persamaan indeks atau r2 = 0 sehingga r = 0 dan rumus rekursi

jadi rumus rekursi berbentuk

,

jadi c1=c2=c3= …………= c0 , sehingga jika dipilih co = 1 ; bila

dan

memberikan persamaan diferensial terakhir menjadi

atau jadi dua kali pengintegralan diperoleh

sehingga

jadi penyelesaian umum persamaan diferensial ( 1 ) adalah

atau

untuk x didalam selang kekonvergenan , dan c1 dan c2 konstanta sebarang. 5. TEOREMA FROBENIUS a. Persamaan Diferensial Bessel

Salah satu dari persamaan-persamaan diferensial yang terpenting dalam penerapan matematika adalah persamaan diferensial Bessel x2y″ + xy′ + (x2 – v2) y = 0 (*) di mana parameter v merupakan bilangan yang diberikan. Persamaan ini timbul dalam soal-soal tentang getaran (vibrasi), medan elektrostatik, rambatan (konduksi) panas, dan sebagainya, pada sebagian besar kasus persoalan tersebut menunjukkan sifat simetri silinder. Kita asumsikan bahwa parameter v di dalam persamaan diferensial di atas (*) adalah bilangan riil dan taknegatif. Perhatikan bahwa persamaan diferensial ini mempunyai titik singular reguler di x = 0. Jadi Persamaan (*) mempunyai penyelesaian yang berbentuk

y(x) =

=

dengan a0 ≠ 0

turunan-turunannya adalah

y′ (x) =

y″ (x) = substitusikan y, y′ dan y″ ke persamaan diferensial di atas, diperoleh

Bagi persamaan ini dengan xr dan kemudian kumpulkan koefisien dari xm, maka didapat

(r2 – v2)a0 + [(r + 1)2 – v2] a1x + (r2 – v2)a0 = 0 [(r + 1)2 – v2] a1 = 0

=0

=0 karena a0 ≠ 0, dari (r2 – v2)a0 = 0 diperoleh persamaan penunjuk r2 – v2 = 0 ⇔ r = ± v begitu pula dari [(r + 1)2 – v2] a1 = 0 di dapat a1 = 0.

Sedangkan dari persamaan (r + m – v)(r + m + v) am = - am-2, untuk m = 2, 3, … (1) selanjutnya kita tinjau kasus r = v. Penyelesaian Terhadap Akar r1 = v Untuk r = r1 = v maka rumus rekursi menjadi m(2v + m) am = - am-2, untuk m = 2, 3, …

= 0 didapat rumus rekursi

karena a1 = 0, maka diperoleh a3 = 0, a5 = 0, …, a2k-1 = 0, untuk k = 1, 2, … dengan syarat 2v + m ≠ 0 untuk m = 2, 3, …. Gantikan m dengan 2m dalam rumus (1) memberikan

a2m = dengan syarat v ≠ - m.

, untuk m = 1, 2, 3, … (2)

Dari (2) kita peroleh koefisien-koefisien a2, a4, … secara berurutan. ganti m dengan m-1 dalam (2), sehingga diperoleh

a2m-2 = dengan demikian

a2m =

apabila proses ini dilanjutkan, maka didapat

a2m = a0 masih sembarang, biasanya diambil

, untuk m = 1, 2, 3, …. (3)

a0 = dimana Γ adalah fungsi Gamma. Untuk keperluan di sini cukup kita ketahui bahwa Γ (α ) didefinisikan oleh integral

(α > 0) dengan integrasi parsial diperoleh

pernyataan pertama di ruas kanan adalah nol dan integral di ruas kanan adalah Γ (α ). Ini menghasilkan hubungan dasar Γ (α +1) = α Γ (α ) (4) karena

Γ (1) = kita simpulkan dari (4) bahwa Γ (2) = Γ (1) = 1 !, Γ (3) = 2Γ (2) = 2!, …. dan umumnya Γ (k+1) = k! untuk k = 0, 1, 2, …. Ini menunjukkan bahwa fungsi gamma dapat dipandang sebagai generalisasi dari fungsi faktorial yang diketahui dari kalkulus elementer.

Kita kembali pada masalah yang kita tinjau, (v+m)(v+m-1) … (v+1) Γ (v+1) = Γ (v+m+1) jadi rumus untuk a2m pada (3) menjadi

, m = 0, 1, 2, …. (5)

Dengan menentukan r = v dan substitusikan (5) ke y(x) = = 0, untuk m = 1, 2, …, maka didapat

dan mengingat a2m-1

y(x) =

=

fungsi ini dikenal sebagai fungsi Bessel jenis pertama orde v dan ditulis dengan notasi Jv(x). Jadi

Jv(x) = atau

(6)

Jv(x) = dan berlaku untuk v yang bukan bilangan bulat negatif, atau

Jn(x) = Deret di ruas kanan pada (6) konvergen mutlak untuk setiap x (uji dengan tes hasil bagi). Fungsi ini merupakan solusi persamaan diferensial (6) untuk v bukan bilangan bulat negatif.

Khususnya untuk v = 0, dari (6) diperoleh

J0(x) = yaitu fungsi Bessel orde nol. Sekarang kita tinjau kasus r = - v. Penyelesaian J-v dari Persamaan Bessel Dengan mengganti v dengan –v di (6), kita peroleh

J-v(x) =

(7)

Karena persamaan Bessel memuat v2, maka fungsi-fungsi Jv dan J-v merupakan penyelesaian-penyelesaian dari persamaan Bessel untuk v yang sama. Bila v bukan bilangan bulat, maka Jv dan J-v adalah bebas linear karena suku pertama di (6) dan suku pertama di (7) berturut-turut adalah kelipatan hingga yang tak nol dari xv dan x-v. Ini memberikan hasil berikut. Teorema 1. (Penyelesaian umum persamaan Bessel) Jika v bukan bilangan bulat, maka penyelesaian umum persamaan Bessel untuk setiap x ≠ 0 adalah y(x) = c1 Jv(x) + c2 J-v(x). Tetapi jika v suatu bilangan bulat, maka y(x) = c1 Jv(x) + c2 J-v(x) bukan penyelesaian umum. Ini diperoleh dari teorema berikut. Teorema 2. (Kebergantungan linear fungsi-fungsi Bessel Jn dan J-n) Untuk bilangan bulat v = n, fungsi-fungsi Bessel Jn(x) dan J-n(x) adalah bergantung linear karena J-n(x) = (-1) n Jn(x) untuk n = 1, 2, 3, …. b. Persamaan Diferensial Legendre Persamaan diferensial legendre banyak muncul dalam terapan, misalanya dalam masalah persamaan potensial pada bola berjari-jari R dan berpusat di O.

Jika persamaan potensial diubah kedalam kordinat bola yaitu x,y, dan z berturut-turut diubah menjadi x= r cos sin , y= r sin sin , z= r cos akan diperoleh

potensial pada bola ini bebas dari

, jadi

sehingga didapat

dengan metode peubah terpisah V( r,

) = G (r) H(

) akan didapat

…………………………….( 1 )

dan

…………………………….( 2 )

jika disubsitusikan k = n(n+1) dan kedalam persamaan ( 1 ) maka diperoleh persamaan diferensial ini disebut persamaan diferensial legendre. Kita kaji penyelesaian persamaan diferensial legendre

………………………… ( 3 ) penyelasaian persamaan diferensial ( 3 ) analitik pada x = 0 jadi penyelesaiannya akan berbentuk sehingga y’(x) =

dan y(x) , y’(x) , y”(x) ini disubtitusikan kedalam persamaan diferensial ( 3 )

jadi didapat atau

persamaan terakhir ini merupakan identitas dalam x, jadi setiap koefisien dari x0 , x1, x2, …. Sama dengan nol. Di dapat. Koefisien dari x0 : 2C2 + n(n+1) co = 0 Koefisien dari x0 : 6c3 + [-2+n(n+1)]c1 = 0 Koefisien dari x0 : (s+2) (s + 1) CS+2 + [-s(s-1)-2s+n(n+1)]co= 0 untuk s = 2,3,4,… ( 4 ) persamaan terakhir dapat diubah menjadi dan setrerusnya Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial adalah ( 3 ) adalah ………………………………… ( 5 )

dengan

(6)

dan kedua deret ini konvewrgen untuk ½x½ < 1

(7)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->