P. 1
BAB I Notaris

BAB I Notaris

|Views: 4,847|Likes:
Published by Shaleh Anwar
etika notaris
etika notaris

More info:

Published by: Shaleh Anwar on Dec 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Kode Etik dalam arti materil adalah norma atau peraturan yang praktis baik tertulis maupun tidak tertulis mengenai etika berkaitan dengan sikap serta pengambilan putusan hal-hal fundamental dari nilai dan standar perilaku orang yang dinilai baik atau buruk dalam menjalankan profesinya yang secara mandiri dirumuskan, ditetapkan dan ditegakkan oleh organisasi profesi. Kode etik profesi adalah seperangkat kaidah, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang berlaku bagi anggota organisasi profesi yang bersangkuta. Kode etik profesi disusun sebagai sarana untuk melindungi masyarakat dan para anggota organisasi profesi dari penyalahgunaan keahlian profesi. Dengan berpedoman pada kode etik profesi inilah para profesional melaksanakan tugas profesinya untuk mencipatakan penghormatan terhadap martabat dan kehormatan manusia yang bertjuan menciptakan keadilan di masyarakat. Kode etik profesi tentunya membutuhkan organisasi profesi yang kuat dan berwibawa yang sekaligus mampu menegakkan etika profesi. Penegakkan kode etik profesi sendiri dimaksudkan sebagai alat kontrol dan pengawasan terhadap pelaksanaan nilai-nilai yang tertuang dalam kode etik yang merupakan kesepakatan para pelaku profesi itu sendiri dan sekaligus juga menerapkan sanksi terhadap terhadap setiap perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.1 Kode Etik Notaris merupakan suatu kaidah moral yang ditentukan oleh perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia berdasarkan Keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan dan diatur dalam peraturan perundangundangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas dan jabatan sebagai Notaris. Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris menyatakan bahwa “Organisasi Notaris
1

www.anggara.org

1

menetapkan dan menegakkan Kode Etik Notaris”. Ketentuan tersebut diatas ditindaklanjuti dengan ketentuan Pasal 13 ayat (1) Anggaran Dasar Ikatan Notaris Indonesia yang menyatakan :“Untuk menjaga kehormatan dan keluhuran martabat jabatan notaries, Perkumpulan mempunyai Kode Etik Notaris yang ditetapkan oleh Kongres dan merupakan kaidah moral yang wajib ditaati oleh setiap anggota Perkumpulan”.2 Sehingga dalam memberikan pelayanannya kepada masyarakat senantiasa berpedoman kepada kode etik profesi dan berdasarkan Undang-undang tentang Jabatan Notaris, yaitu Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004. Sejak berlaku Undang-undang Jabatan Notaris yang baru ini, melahirkan perkembangan hukum yang berkaitan langsung dengan dunia kenotariatan saat ini. Pertama, adanya “perluasan kewenangan Notaris”, yaitu kewenangan yang dinyatakan dalam Pasal 15 ayat (2) butir f, yakni: “kewenangan membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan”. Kewenangan selanjutnya adalah kewenangan untuk membuat akta risalah lelang. Akta risalah lelang ini sebelum lahirnya Undangundang tentang Jabatan Notaris menjadi kewenangan juru lelang dalam Badan Urusan Utang Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) berdasarkan Undang-undang Nomor 49 Prp tahun 1960. Kewenangan lainnya adalah memberikan kewenangan lainnya yang diatur dalam peraturan-perundang-undangan. Kewenangan lainnya yang diatur dalam peraturan-perundang-undangan ini merupakan kewenangan yang perlu dicermati, dicari dan diketemukan oleh Notaris, karena kewenangan ini bisa jadi sudah ada dalam dalam peraturan-perundang-undangan, dan juga kewenangan yang baru akan lahir setelah lahirnya peraturan-perundang-undangan yang baru. Kewenangan yang demikian luas ini tentunya harus didukung pula oleh peningkatan kemampuan untuk melaksanakannya, sehingga program kegiatan yang bertujuan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan notaris merupakan sebuah tuntutan yang merupakan sebuah keharusan. Namun karena sedemikian luasnya kewenangan yang didapat oleh notaris,itu menjadi sebuah „lahan basah“ untuk melakukan penyelewengan terhadap kode etik notaris, sebagai contoh yang menjadi indikator ketidak sesuaian antara Das Sollen dengan
2

uu no 30 tahun 2004

2

Das Sein seorang notaris ialah Sepanjang tahun 2005 hingga 2008 para notaris, termasuk notaris ‘nakal’, bisa bernafas lega. Sebab, selama periode tersebut baik Ikatan Notaris Indonesia (INI) maupun Majelis Pengawas Notaris (MPN) tidak pernah menjatuhkan sanksi pemecatan terhadap notaris ‘nakal’. Padahal saat kongres INI XX di Surabaya berlangsung, mencuat banyak dugaan pelanggaran yang dilakukan notaris. Mulai dari pelanggaran UU No. 30/2004 tentang Jabatan Notaris, penggelapaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang dibayarkan klien, hingga membuat akta meski berada di balik jeruji besi.3 Berdasarkan latar belakang tersebut penulis memilih judul : “ETIKA PROFESI NOTARIS (Tinjauan Kritis Terhadap Pelaksanaan Etika Profesi Notaris). B. Identifikasi Masalah Dalam rangka memperjelas masalah dalam penulisan tentang judul yang penulis pilih,maka diperlukan perumusan masalah,sebagai berikut : 1. Bagaimana implementasi seorang notaris terhadap pelaksanaan etika profesi notaris,yang tercantum dalam UUJN? 2. Bagaimana tindakan hukum terhadap “notaris nakal”? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui bagaimana implementasi seorang notaris terhadap pelaksanaan etika profesi notaris. 2. Untuk mengetahui bagaimana tindakan hukum yang akan diberi untuk “notaris nakal”. D. Kegunaan Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik teoritis maupun secara praktis dalam hal kenotariat, yaitu:

3

www.hukumonline.com

3

1.

Kegunaan Praktis Kegunaan bagi penulis dan masyarakat adalah sebagai bahan informasi yang berkaitan dengan tinjauan kritis terhadap pelaksanaan etika profesi notaris dan untuk mengetahui tindakan hukum terhadap notaris yang berindak tidak sesuai UUJN.

2.

Kegunaan Teoritis Hasil dari penelitian berguna bagi tambahan wawasan yang positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam hal kenotariatan dan sebagai referensi bagi penelitian hukum selanjutnya sebagai bahan kajian penelitian tentang permasalahan kesenjangan yang terjadi dalam tatanan das sollen dan das sein. E. Kerangka Pemikiran Sistem ialah istilah dari bahsa latin systema atau Yunani systema, artinya suatu yang terorganisir, keseluruhan kompleks; dari kata itu pula dikenal istilah synistanai, artinya digabungkan,dikombinasikan. Arti sekarang ialah kombinasi hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk bagian kompleks atau kesatuan serta keseluruhan, misalnya sistem pegunungan, sungai-sungai atau trusan-terusan, asas-asas atau doktrin dalam bidang ilmu pengetahuan khusus, seperti filsafat suatu metoda yang berkordinasi,atau suatu kompleks atau rencana prosedur,seperti sistem pemerintahan dan lain-lain.4 Dalam kaitan penulisan ini, sistem dapat dapat disingkat artinya susunan wewenang notaris dan jika menyalahi maka akan diancam dengan pidana. Kode Etik Notaris merupakan suatu kaidah moral yang ditentukan oleh perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia berdasarkan Keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan dan diatur dalam peraturan perundangundangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota perkumpulan dan semua orang yang menjalankan
4

Hmazah, Andi , Sistem Pidana Dan Pemidanaan Indonesia, jakarta : Pradnya Paramita, 1993

4

tugas dan jabatan sebagai Notaris. Adapun sejarahnya, awal mula profesi notaris sudah ada sejak masa penjajahan, untuk kepentingan pembuat akta-akta pada masa itu, semula jabatan notaris merangkap sebagai pegawai VOC, dan hal ini berlangsung sampai tahun 1632. Setelah VOC tidak berkuasa,profesi notaris menjadi lebih terbuka. Perundang-undangan yang membahas tentang notaris masih dipertahankan secara mutatis mutandis dari perundang-undangan jaman penjajahan yaitu Reglement op het Notarisambt (Stbl. 1860 No.3) yang dikenal dengan Perturan Jabatan Notaris (PJN). Menurut PJN 1860 bahwa jabatan notaris adalah jabatan resmi untuk membuat akte otentik, sepanjang tidak ada peratuan yang memberi wewenang serupa kepada pejabat lain.5 tentang jabatan Notaris6 Dalam menjalankan jabatannya, notaris harus menepati beberapa kewajiban, antara lain: a. Bertindak jujur b. Saksama c. Mandiri d. Tidak Berpihak e. Menjaga kepentingan pihaj yang terkait dalam pembuatan hukum (Pasal 16 (1) huruf a). Dan beberapa larangan yang berlaku bagi Notaris adalah: a. Menjalankan Jabatan di luar daerah jabatannya b. Meninggalkan daerah jabatanya lebih dari 7 (tujuh) hari kerja berturutturut tanpa alasan yang sah. c. Merangkap sebagai pegawai negeri. d. Merangkap jabatan sebagai pejabat negara. e. Merangkap jabatan sebagai Advokat. dan Untuk Saat ini undang-undang yang mengatur tentang Notaris adalah UU No. 30 Tahun 2004

5

Usman, Suparman, Etika Dan Tanggung jawab Profesi Hukum di Indonesia, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2008 6 Notaris adaah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagai dimaksud dalam UU No. 30 Tahun 2004.

5

f. Merangkap jabatan sebagai pemimpin atau pegawai badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta. g. Merangkap jabatan sebagai pejabat pembuat akte tanah diluar wilayah jabatan Notaris. h. Menjadi Notaris pengganti. i. Melakukan pekerjaan lain yang berkaitan dengan norma agama, kesusilaan,atau kepatutan yang dapat mempengaruhi kehormatan dan martabat Jabatan Notaris. F. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan paper ini adalah Metode Deskriptif Kualitatif. Bersifat deskriptif karena paper ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran/uaraian secara rinci, sistematis dan menyeluruh mengenai hal-hal atau fakta-fakta dan menghubungkannya dengan data untuk menyimpulkan gejala yang diamati dan berkaitan dengan etika profesi notaris. Kualitatif merupakan suatu cara analisis yang cenderung menggunakan kata-kata atau pernyataan untuk menjelaskan fenomena ataupun data yang didapatkan7.Adapun tekhnik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penyusunan paper ini menggunakan cara Studi kepustakaan/ Studi Dokumen. Studi pustaka (Library research) yaitu dengan mengadakan pemahaman terhadap bahan-bahan yang tertuang dalam buku-buku pustaka yang berkaitan erat dengan masalah yang sedang dibahas, yaitu: a) Bahan hukum Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari norma atau kaedah dasar, peraturan Undang-undang, dan bahan hukum lainnya. b) Bahan hukum Skunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti hasil penelitian, atau pendapat para pakar hukum dll.

7

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI-Press. 1984, h 50

6

G. Sitematika Penulisan Guna mendapat pemahaman terhadap paper ini, maka perlu di jelaskan sistematika penulisan paper ini terdiri atas 4 Bab yang masing-masing bab disusun secara sistematis dan berkesinambungan satu sama lain. BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan penulisan, keguanaan penelitian, Kerangka pemikiran, Metode penelitian, Sistematika Penulisan. BAB IITinjauan Pustaka Bab ini berisikan tinjauan umum mengenai etika profesi Notaris yang terlampir dalam kode etik notaris serta kepribadian notaris, serta sejarah singkat tentang notaris. BAB III Pembahasan mengenai Implementasi notaris terhadap UUJN No 30 Tahun 2004. Dan juga membahas mengenai permaslahan Notaris nakal. BAB IV Penutup permasalah implementasi notaris terhadap UUJN dan Tindakan hukum terhadap notaris nakal.

Bab ini berisikan mengenai pembahasan dari masalah yang diangkat yaitu

Bab ini berisikan simpulan serta saran yang ditulis penulis terhadap

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sejarah Notaris Notaris adalah sebuah profesi yang dapat dilacak balik ke abad ke 2-3 pada masa roma kuno, dimana mereka dikenal sebagai scribae, tabellius atau notarius. Pada masa itu, mereka adalah golongan orang yang mencatat pidato. Istilah notaris diambil dari nama pengabdinya, notarius, yang kemudian menjadi istilah/titel bagi golongan orang penulis cepat atau stenografer. Notaris adalah salah satu cabang dari profesi hukum yang tertua di dunia. Jabatan notaris ini tidak ditempatkan di lembaga yudikatif, eksekutif ataupun yudikatif. Notaris diharapkan memiliki posisi netral, sehingga apabila ditempatkan di salah satu dari ketiga badan negara tersebut maka notaris tidak lagi dapat dianggap netral. Dengan posisi netral tersebut, notaris diharapkan untuk memberikan penyuluhan hukum untuk dan atas tindakan hukum yang dilakukan notaris atas permintaan kliennya. Dalan hal melakukan tindakan hukum untuk kliennya, notaris juga tidak boleh memihak kliennya, karena tugas notaris ialah untuk mencegah terjadinya masalah. 1. Notaris civil law Notaris civil law yaitu lembaga notariat berasal dari italia utara dan juga dianut oleh Indonesia. Ciri-cirinya ialah: •Diangkat oleh penguasa yang berwenang; •tujuan melayani kepentingan masyarakat umum; •mendapatkan honorarium dari masyarakat umum. 2. Notaris common law Notaris common law yaitu notaris yang ada di negara Inggris dan Skandinavia. Ciri-cirinya ialah: •Akta tidak dalam bentuk tertentu; •Tidak diangkat oleh pejabat penguasa.

8

Sekitar abad ke 5, notaris dianggap sebagai pejabat istana.Di Italia utara sebagai daerah perdagangan utama pada abad ke 11 - 12, dikenal Latijnse Notariat, yaitu orang yang diangkat oleh penguasa umum, dengan tujuan melayani kepentingan masyarakat umum, dan boleh mendapatkan honorarium atas jasanya oleh masyarakat umum. Latijnse notariat ini murni berasal dari Italia Utara, bukan sebagai pengaruh hukum romawi kuno. Pada tahun 1888, terbitlah buku Formularium Tabellionum oleh Imerius, pendiri sekolah Bologna, dalam rangka peringatan 8 abad sekolah hukum Bologna. Berturut-turut seratus tahun kemudian ditebitkan Summa Artis Notariae oleh Rantero dari Perugia, kemudian pada abad ke 13 buku dengan judul yang sama diterbitkan oleh Rolandinus Passegeri. Ronaldinus Passegeri kemudian juga menerbitkan Flos Tamentorum. Buku-buku tersebuut menjelaskan definisi notaris, fungsi, kewenangan dan kewajiban-kewajibannya. 4 istilah notaris pada zaman Italia Utara: 1) Notarii: pejabat istana melakukan pekerjaan administratif; 2) Tabeliones: sekelompok orang yang melakukan pekerjaan tulis menulis, mereka diangkat tidak sebagai pemerintah/kekaisaran dan diatur oleh undang-undang tersebut; 3) Tabularii: pegawai negeri, ditugaskan untuk memelihara pembukuan keuangan kota dan diberi kewenangan untuk membuat akta;Ketiganya belum membentuk sebuah bentuk akta otentik, 4) Notaris: pejabat yang membuat akta otentik. Karel de Grote mengadakan perubahan-perubahan dalam hukum peradilan notaris, dia membagi notaris menjadi: 1. Notarii untuk konselor raja dan kanselarij paus; 2. Tabelio dan clericus untuk gereja induk dan pejabat-pejabat agama yang kedudukannya lebih rendah dari paus. Pada abad ke 14, profesi notaris mengalami kemunduran dikarenakan penjualan jabatan notaris oleh penguasa demi uang dimana ketidaksiapan notaris dadakan tersebut mengakibatkan kerugian kepada masyarakat banyak

9

Sementara itu, kebutuhan atas profesi notaris telah sampai di Perancis. Pada abad ke 13, terbitlah buku Les Trois Notaires oleh Papon. Pada 6 oktober 1791, pertama kali diundangkan undang-undang di bidang notariat, yang hanya mengenal 1 macam notaris. Pada tanggal 16 maret 1803 diganti dengan Ventosewet yang memperkenalkan pelembagaan notaris yang bertujuan memberikan jaminan yang lebih baik bagi kepentingan masyarakat umum. Pada abad itu penjajahan pemerintah kolonial Belanda telah dimulai di Indonesia. Secara bersamaan pula, Belanda mengadaptasi Ventosewet dari Perancis dan menamainya Notariswet. Dan sesuai dengan asas konkordasi, undang-undang itu juga berlaku di Hindia Belanda/ Indonesia. Notaris pertama yang diangkat di Indonesia adalah Melchior Kelchem, sekretaris dari College van Schenpenen di jakarta pada tanggal 27 agustus 1620. Selanjutnya berturut turut diangkat beberapa notaris lainnya, yang kebanyakan adalah keturunan Belanda atau timur asing lainnya. Pada tanggal 26 januari 1860 diundangkanlah Notaris Reglement yang sejanjutnya dikenal sebagai Peraturan Jabatan Notaris. Reglement atau ketentuan ini bisa dibilang adalah kopian dari Notariswet yang berlaku di Belanda. Peraturan jabatan notaris terdiri dari 66 pasal. Peraturan jabatan notaris ini masih berlaku sampai dengan diundangkannya undang-undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan notaris.8 Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945, terjadi kekosongan pejabat notaris dikarenakan mereka memilih untuk pulang ke negeri Belanda. Untuk mengisi kekosongan ini, pemerintah menyelenggarakan kursuskursus bagi warga negara Indonesia yang memiliki pengalaman di bidang hukum (biasanya wakil notaris). Jadi, walaupun tidak berpredikat sarjana hukum saat itu, mereka mengisi kekosongan pejabat notaris di Indonesia Selanjutnya pada tahun 1954, diadakan kursus-kursus independen di universitas Indonesia. Dilanjutkan dengan kursus notariat dengan menempel di fakultas hukum, sampai tahun 1970 diadakan program studi spesialis notariat, sebuah program yang mengajarkan keterampilan (membuat perjanjian, kontrak dll) yang memberikan gelar sarjana hukum (bukan CN – candidate notaris/calon notaris) pada lulusannya. Pada tahun
8

www.wapedia.mobi.com

10

2000, dikeluarkan sebuah peraturan pemerintah nomor 60 yang membolehkan penyelenggaraan spesialis notariat. PP ini mengubah program studi spesialis notarist menjadi program magister yang bersifat keilmuan, dengan gelar akhir magister kenotariatan. Yang mengkhendaki profesi notaris di Indonesia adalah pasal 1868 Kitab undang-undang hukum perdata yang berbunyi: “Suatu akta otentik ialah suatu akta didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, yang dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana akta dibuatnya.” Sebagai pelaksanaan pasal tersebut, diundangkanlah undang-undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan notaris (sebagai pengganti statbald 1860 nomor 30). Menurut pengertian undang undang no 30 tahun 2004 dalam pasal 1 disebutkan definisi notaris, yaitu: “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana maksud dalam undang-undang ini.” Pejabat umum adalah orang yang menjalankan sebagian fungsi publik dari negara, khususnya di bidang hukum perdata. Sebagai pejabat umum notaris adalah: 1. pancasila; 2. Taat kepada hukum, sumpah jabatan, kode etik notaris; 3. Berbahasa Indonesia yang baik; Sebagai profesional notaris: 1. Memiliki perilaku notaris; 2. Ikut serta pembangunan nasional di bidang hukum; 3. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat. Notaris menertibkan diri sesuai dengan fungsi, kewenangan dan kewajiban sebagaimana ditentukan di dalam undang-undang jabatan notaris.

11

B.

Kode Etik Profesi Notaris Kode etik profesi adalah seperangkat kaidah, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang berlaku bagi anggota organisasi profesi yang bersangkutan. Kode etik profesi disusun sebagai sarana untuk melindungi masyarakat dan para anggota organisasi profesi dari penyalahgunaan keahlian profesi. Dengan berpedoman pada kode etik profesi inilah para profesional melaksanakan tugas profesinya untuk mencipatakan penghormatan terhadap martabat dan kehormatan manusia yang bertjuan menciptakan keadilan di masyarakat. Kode etik profesi tentunya membutuhkan organisasi profesi yang kuat dan berwibawa yang sekaligus mampu menegakkan etika profesi. Penegakkan kode etik profesi sendiri dimaksudkan sebagai alat kontrol dan pengawasan terhadap pelaksanaan nilainilai yang tertuang dalam kode etik yang merupakan kesepakatan para pelaku profesi itu sendiri dan sekaligus juga menerapkan sanksi terhadap terhadap setiap perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Kode Etik Profesi Notaris merupakan suatu kaidah moral yang ditentukan oleh perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia berdasarkan Keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan dan diatur dalam peraturan perundangundangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas dan jabatan sebagai Notaris. Kode Etik Notaris dilandasi oleh kenyataan bahwa Notaris sebagai pengemban profesi adalah orang yang memiliki keahlian dan keilmuan dalam bidang kenotariatan, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan pelayanan dalam bidang kenotariatan. Secara pribadi Notaris bertanggungjawab atas mutu pelayanan jasa yang diberikannya. Spirit Kode Etik Notaris adalah penghormatan terhadap martabat manusia pada umumnya dan martabat Notaris pada khususnya. Dengan dijiwai pelayanan yang berintikan “penghormatan terhadap martabat manusia pada umumnya dan martabat Notaris pada khususnya”, maka pengemban Profesi Notaris mempunyai ciri-ciri mandiri dan tidak memihak; tidak mengacu pamrih; rasionalitas dalam arti mengacu pada kebenaran obyektif; spesifitas fungsional serta solidaritas antar sesama rekan seprofesi. Lebih jauh, dikarenakan Notaris merupakan profesi yang

12

menjalankan sebagian kekuasaan negara di bidang hukum privat dan mempunyai peran penting dalam membuat akta otentik yang mempunyai kekuatan pembuktian sempurna dan oleh karena jabatan Notaris merupakan jabatan kepercayaan, maka seorang Notaris harus mempunyai perilaku yang baik. Perilaku Notaris yang baik dapat diperoleh dengan berlandaskan pada Kode Etik Notaris. Dengan demikian, maka Kode Etik Notaris mengatur mengenai hal-hal yang harus ditaati oleh seorang Notaris dalam menjalankan jabatannya dan juga di luar menjalankan jabatannya. Pasal 83 ayat (1) UUJN menyatakan : “Organisasi Notaris menetapkan dan menegakkan Kode Etik Notaris”. Atas dasar ketentuan Pasal 83 ayat (1) UUJN tersebut Ikatan Notaris Indonesia pada Kongres Luar Biasa di Bandung pada tanggal 27 Januari 2005, telah menetapkan Kode Etik yang terdapat dalam Pasal 13 Anggaran Dasar: 1. Untuk menjaga kehormatan dan keluhuran martabat jabatan Notaris, Perkumpulan mempunyai Kode Etik yang ditetapkan oleh Kongres dan merupakan kaidah moral yang wajib ditaati oleh setiap anggota perkumpulan. 2. Dewan Kehormatan melakukan upaya-upaya untuk menegakkan Kode Etik . 3. Pengurus perkumpulan dan/atau Dewan Kehormatan bekerjasama dan berkoordinasi dengan Majelis Pengawas untuk melakukan upaya penegakkan Kode Etik. Berdasarkan atas kode etik Notaris Indonesia dan kepribadian Notaris9, disebutkan bahwa dalam hal menjalankan tugas notaris harus menyadari kewajibannya, bekerja senderi,jujur, tidak berpihak, dan penuh rasa tanggung jawab. Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatanny menggunakan suatu kantornya yang telah ditetapkannya sesuai dengan undang-undang dan tidak mengadakan kantor cabang perwakilan dan tidak menggunakan perantaraperantara. Dan juga notaris dalam melakukan tugas jabatannya tidak mempergunakan mass media yang bersifat promosi. Dalam hal Notaris dengan Kliennya yaitu dalam melakukan tugas jabatannya memberikan pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan jasanya
9

Sungguh,As’ad, Dua puluh Lima etika profesi, Jakarta: Sinar Grafika, 2004, h 36

13

dengan sebaik-baiknya. Notaris dalam melakukan tugas jabatanya memberikan penyuluhan hukum untuk mencapai kesadaran hukum yang tinggi dalam masyarakat agar masyarakat menyadari dan menghayati hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan anggota cuma-cuma. Selain berinterkasi dengan kliennya notaris juga berinteraksi dengan sesama rekan notaris, yaitu notaris dengan sesama rekan notaris hendaklah hormat menghormati dalam suasana kekeluargaan, dan juga dalam melakukan tugas jabatannya tidak melakukan perbuatan ataupun persaingan yang merugikan sesama rekan Notaris, baik moral maupun materiil dan menjauhkan diri dari usaha-usaha untuk mencari keuntungan dirinya semata, serta notaris harus saling menjaga dan membela kehormatan dan nama baik korp notaris atas dasar rasa solideritas dan sikap tolong menolong secara kontruktif. Kesemua prilaku notaris ini tentunya memiliki pengawasan dari instasi yang berkompeten. Pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik Notaris ini dilakukan oleh majelis Kehormatan Daerah Ikatan Notarisn Indonesia dan atau majelis kehormatan Ikatan Notaris Indonesia Pusat. Pengawasan notaris menurut UUJN (pasal 67-81) Notaris merupakan jabatan yang mandiri dan tidak memiliki atasan secara struktural, jadi notaris bertanggung jawab langsung kepada masyarakat. Pengawas notaris adalah menteri Hukum dan HAM, yang dalam rangka mengawasi notaris membentuk majleis pengawas dengan unsur:
• •

masyarakat, selain itu notaris juga

memberikan jasanya kepada anggota masyarakat yang kurang mampu, dengan

Pemerintah; Sebagai penguasa yag mengangkat pejabat notaris. Notaris; Notaris dilibatkan karena notaris yang mengetahui seluk-beluk pekerjaan notaris. Akademisi. Kehadirannya dikaitkan dengan perkembangan ilmu hukum, karena lingkup kerja notaris bersifat dinamis dan selalu berkembang

14

Yang diawasi oleh majelis pengawas:
• • •

Tingkah laku notaris; Pelaksanaan jabatan notaris; Pemenuhan kode etik notaris, baik kode etik dalam organisasi notaris ataupun yang ada dalam UUJN;

Organisasi notaris adalah wadah perkumpulan notaris. Di Indonesia, hanya ada satu organisasi yang diakui yaitu Ikatan Notaris Indonesia (INI). INI telah ada dari awal munculnya profesi notaris di Indonesia. Wadah yang diakui hanya satu karena wadah profesi ini memiliki satu kode etik. Dan juga diakui oleh Departemen Hukum dan HAM, sesuai dengan keputusan menteri Hukum dan HAM No.M.01/2003 pasal 1 butir 13.

15

BAB III PEMBAHASAN A. Implementasi Notaris Terhadap UUJN (No 30 Tahun 2004) Di sini hukum tidak dapat hanya dipandang sebagai pasal-pasal yang bersifat imperatif atau keharusan-keharusan yang bersifat das sollen, melainkan harus dipandang sebagai subsistem yang dalam kenyataan (das sein) bukan tidak mungkin sangat ditentukan oleh politik, baik dalam perumusan materi dan pasalpasalnya maupun dalam implementasi dan penegakannya. Dalam hal ini kami menyoroti pasal 18 tentang kedudukan dan wilayah jabatan notaries serta kantornya. Pasal 15 ayat (2) huruf f juga perlu dibahas dalam paper ini karena terkait dengan peraturan perundang-undangan lain yang mengatur ketersinggungan kewenangan institusi lain di bidang kenotariatan. Selain ketentuan di atas, Pasal 20 dan beberapa ketentuan delegasian kepada Menteri Hukum dan HAM perlu juga dimunculkan dalam kesempatan ini, dalam rangka memperoleh masukan bagaimana nantinya substansi peraturan pelaksanaan yang akan dipersiapkan oleh Departemen Hukum dan HAM untuk mengatur persyaratan dalam menjalankan jabatan notaris dalam satu perkumpulan perdata, termasuk format kerahasiaan akta dan protokol notaris.10 1. Kedudukan dan wilayah notaris Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 18 UUJN, notaris mempunyai tempat kedudukan di daerah kabupaten atau kota dan notaris mempunyai wilayah jabatan meliputi seluruh wilayah provinsi dari tempat kedudukannya. Dalam penjelasan pasal tidak dijelaskan oleh pembentuk undang-undang karena ketentuan tersebut memang sudah jelas. Pasal 19 lebih lanjut menentukan bahwa notaris wajib mempunyai hanya satu kantor, yaitu di tempat kedudukannya, dan notaris tidak berwenang secara teratur menjalankan jabatan di luar tempat kedudukannya. Dengan demikian, notaries dilarang mempunyai kantor cabang, perwakilan, dan/atau bentuk lainnya. Ketentuan ini selain membatasi kewenangan notaris, juga akan menambah
10

www.legalitas.org

16

pekerjaan Majelis Pengawas (yang dibentuk oleh Menteri berdasarkan Pasal 67 UUJN) untuk selalu mengawasi notaris dalam menjalankan jabatannya. Pasal 17 menentukan secara tegas bahwa notaris dilarang menjalankan jabatan di luar wilayah jabatannya. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada masyarakat dan sekaligus mencegah terjadinya persaingan tidak sehat antar-notaris dalam menjalankan jabatannya. Jadi, jika notaris berkedudukan di Kabupaten Bogor, maka wilayah jabatannya adalah seluruh wilayah provinsi Jawa Barat. Ketentuan mengenai tempat kedudukan dan wilayah jabatan notaris di atas terkait dengan hubungan “teposeliro” antarnotaris dalam mencari (melayani) klien sehingga di sini diperlukan suatu kerja sama dan saling menghargai satu sama lain. Kebersamaan lebih ditekankan dalam membina korps profesi jabatan notaris. 2. Kewenangan Notaris Pasal 15 UUJN menentukan kewenangan notaris secara rinci, termasuk pengecualiannya. Pengecualian tersebut dapat dilakukan, namun ditentukan terlebih dahulu oleh suatu undang-undang. Pengecualian atas kewenangan semacam ini secara relatif memang sulit dilakukan, namun perlu diwaspadai bahwa pembentuk undang-undang kemungkinan nantinya akan melakukan manuver untuk mengurangi kewenangan notaris. Model yang terakhir ini sering dilakukan demi kepentingan sektor tertentu untuk memperoleh kewenangan baru atau malah mengambil kewenangan sektor lain melalui pembentukan suatu undang-undang. Dalam bagian ini, hanya dibahas mengenai kewenangan notaris yang ditentukan dalam Pasal 15 ayat (2) huruf f yang berbunyi “notaris berwenang membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan”. Ketentuan semacam ini sudah barang tentu membawa konsekuensi yuridis dan politis yang besar di lingkungan pemerintahan, khususnya yang terkait dengan tugas pendaftaran tanah yang telah dilaksanakan oleh pejabat pembuat akta tanah.

17

Permasalahan di atas harus segera dibenahi bersama oleh pemerintah sebagai pelaksana undang-undang. Kelemahan Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN ini terlihat tidak adanya ketentuan peralihan yang menjembatani pelaksanaan pendaftaran tanah yang selama ini dilakukan oleh pejabat pembuat akta tanah yang didasarkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Kedua Peraturan Pemerintah di atas sering dipermasalahkan oleh orang, terutama oleh akademisi, karena materi muatan yang diaturnya adalah materi muatan undang-undang. Di samping itu, kedua Peraturan Pemerintah tersebut dibentuk bukan atas dasar pendelegasian yang jelas dari suatu undang-undang. Makna melaksanakan pendaftaran hanyalah tindakan adminstratif mendata, bukan memberikan hak tertentu dan membebani kewajiban kepada masyarakat. Tampaknya Pasal 15 ayat (2) huruf f ini akan mengembalikan posisi kewenangan semula melalui satu pintu. Jika hal ini yang diinginkan, maka seyogyanya pemerintah mengambil inisiatif untuk membenahi dengan menetapkan suatu peraturan pemerintah yang mengatur mengenai masa transisi beralihnya lembaga pendaftaran tanah ke lembaga kenotariatan. Dengan demikian, pemerintah, dalam hal ini BPN, hanya mendata dan mengatur mengenai rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengelolaan, pembukuan, penyajian, dan pemeliharaan data fisik dan data yuridis bidang-bidang tanah dalam bentuk peta dan daftar. Suatu keinginan yang patut dipuji bahwa notaris dalam menjalankan jabatannya mempunyai kemauan untuk berkumpul bersama dalam satu kantor. Hal ini menunjukkan bahwa solidaritas antarnotaris semakin dapat diwujudkan di masa mendatang karena kesulitan notaris (baik materiel maupun nonmateriel) yang satu dengan lainnya tidaklah sama. Di samping itu, kebersamaan ini dapat dijadikan ajang untuk belajar dan menimba bidang-bidang ilmu dari notaris yang mempunyai pengalaman lebih. Pembidangan ilmu bagi notaris yang berkeinginan untuk bergabung bersama perlu dilakukan, namun tetap memperhatikan

18

proporsional pendapatan pemberian pelayanan kepada klien dengan melakukan perjanjian tertentu. Berdasarkan Pasal 20 ayat (3), persyaratan dalam menjalankan jabatan notaris dalam satu kantor bersama akan diatur dalam Peraturan Menteri. Dalam Peraturan Menteri harus diatur pula makna “kemandirian” and “ketidakberpihakan” dalam menjalankan jabatannya. B. Tindakan Hukum Terhadap “Notaris Nakal” Notaris diminta untuk selalu berpedoman pada kode etik profesi dan UU Nomor 30 Tahun 2004 tentang jabatan notaris. Ini karena jabatan notaris dinilai mudah tergelincir pada hal yang merugikan dan melanggar kode etik profesi Notaris.11 Dari kutipan pidato ini, dapat diambil hikmah bahwa dalam menjalankan jabatan profesi sebagai notaris harus tetap terus pada koridor yang telah ditentukan oleh pemerintah, dan harus ada pengawasan dari instansi atau badan hukum yang khusus mengawasi tindak tanduk notaris dalam hal ini MPN (Majelis Pengawas Notaris). Karena berdasarkan data yang didapat sepanjang tahun 2005 hingga tahun 2008 para notaris (termasuk “notaris nakal”) dapat bernafas lega. sebab selama periode tersebut baik Ikatan Notaris Indonesia (INI) maupun Majelis Pengawas Notaris (MPN) tidak pernah menjatuhkan sanksi pemecatan terhadap notais “nakal”. Padahal saat kongres INI XX di Surabaya berlangsung, mencuat banyak dugaan pelanggaran yang dilakukan notaris. Mulai dari pelanggaran UU No. 30/2004 tentang Jabatan Notaris, penggelapaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang dibayarkan klien, hingga membuat akta meski berada di balik jeruji besi. Tidak adanya notaris yang dikenakan sanksi oleh organisasi memang patut dipertanyakan karena sudah ada Majelis Pengawas Notaris. Selain oleh MPN, kalangan anggota Komisi Hukum DPR pun mengaku tetap mengawasi. “Komisi III akan terus mengawasi perilaku notaris dan pejabat pembuat akta tanah, karena banyak notaris yang seenak-enaknya membuat akta dan mereka harus memperbaharui menimbulkan
11

izin

pertahun.

Pelanggaran dikalangan

oleh

profesi

notaris

dapat untuk

ketidakpercayaan

masyarakat.“Seharusnya

pidato menteri hukum dan ham Andi Mattalatta pada saat seminar tentang UU No 40 Tahun 2007 tentang PT di Yogyakarta. dikutip dari Kompas edisi senin 7 juli 2008.

19

meningkatkan etika profesi notaris, INI menyelenggarakan ujian kode etik tiap tahun, selain itu anggota INI yang duduk MPN baik di tingkat daerah, pusat maupun wilayah melaporkan hasil keraja MPN kepada ini tiap enam bulan”12. Namun dalam hal ini ada pendapat lain, bahwa minimnya penindakan notaris nakal disebabkan MPN tidak bisa proaktif, artinya MPN tidak bisa bertindak tanpa ada laporan dari masyrakat,hal ini di pertegas oleh Pasal 70 UU Jabatan Notaris huruf g hanya memberi wewenang kepada MPN Daerah untuk menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya dugaan pelanggaran kode etik. Oleh sebab itu ada kabar bahwa dengan tidak maksimalnya kinerja MPN dalam menangani permasalahan notaris nakal dan karena dirasa tidak terlalu memahami peran notaris,maka MPN akan dihapuskan. Sebab dalam hal pengawasan dan lain-lain Dewan Kehormatan INI sebenarnya memiliki kewenangan untuk menindak notaaris nakal. Namun karena ada MPN yang tugasnya sama-sama melakukan pembinaan dan pengawasan, dewan kehormatan tidak bisa berperan aktif karena terjadi tumpang tindih dengan MPN. Untuk menindak notaris nakal seharusnya UUJN memuat ketentuan pidana khusus untuk notaris yang melanggar jabatan, baik itu berupa denda sampai dengan kurungan atau penjara. Karena pada dasarnya notaris bekerja utuk membuat akta. Dengan akta itu, notaris dapat menyebabkan seseorang kehilangan haknya. Seandainya hak orang itu sampai hilang, otomatis masyarakat akan dirugikan,karena itu perilaku notaris perlu diawasi dan pembinaan. untuk pembinaan seharusnya dilakukan oleh Mahkamah Agung, sebab produk notaris ialah akta otentik yang bisa menjadi bukti yang sempurna di Pengadilan. Pembinaan itu dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pembukuan dan protokoler notaris. Dalam hal ini masyarakat juga dapat membuat komisi independen yang bertugas sebagai komisi pengawas notaris khusus. komisi ini sifatnya hanya melihat dan melaporkan, tidak bisa melakukan penindakan, Seperti komisi Perlindungan Anak Indonesia.“masyarakat dapat dilibatkan tapi bentuknya tidak dalam bentuk majelis“13
12 13

dikutip dari Tien Norman Lubis (Ketua umum INI) diambil dari www.hukumoline.com dikutip dari widyatmoko

20

Sebagi contoh dari adanya notaris nakal ialah menurut survei integritas yang dilakukan KPK, belum lama ini menunjukan bahwa 80% pengguna layanan di Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Depkumham, umumnya notaris menggunakan uang pelicin agar ditempatkan di lahan basah. Selain urusan pelicin tadi, dinamika dunia notaris layak mendapat perhatian. Di milis notaris misalnya berkembang wacana tentang adanya notaris yang bekerja sambilan sebagai legal officer di perusahaan swasta. Pasal 17 UU No. 30 Tahun 2004 sudah tegas melarang notaris pegawai atau pemimpin badan usaha milik negara atau milik swasta. Memang, sulit membuktikan sinyalemen ini kalau tanpa diungkap ke permukaan disertai bukti. Apalagi ternyata tidak gampang menyeret notaris yang rangkap jabatan semacam itu ke ranah hukum.

BAB IV PENUTUP

21

A. Simpulan Berdasarkan apa yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, maka pada bab ini akan dikemukakan suatu simpulanatau intisaridari permasalahan yang diteliti, adalah sebagai berikut: 1. Dengan disahkannya UUJN No 30 Tahun 2004 ini, telah memunculkan bebagai macam tanggapan, baik yang datang dari kalangan notaris sendiri maupun dari pihak lain yang merasa UU tersebut memangkas kewenangan yang selama ini merupakan kewenangannya. dalam hal implementasi pula harus sejalan antara das sollen dengan das sein nya, artinya dalam hal tindak tanduk/prilaku notaris yang telah diatuar oleh UU No 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris harus di implementasikan ke visual yang nyata,bukan hanya dijadikan sebagai formalitas Undang-undang saja. Misalanya seperti telah penulis sebutkan diawal bawha pasal 18 mengenai kedudukan dan wilayah jabatan notaris dan pasal 15 ayat (2) huruf f mengenai kewenangan notaris perlu di perjelas karena menyangkut dengan peraturan perundang-undangan yang lain yang mengatur ketersinggungan kewenangan institusi lain dibidang kenotariatan dan juga pasal 20, ini harus dipertegas batsannya agar tidak menimbulkan polemik yang lebih lanjut. Namun dalam hal ini ada nilai plus yang membuat angin segar, adalah suatu keinginan yang patut di puji bahwa notaris dalam menjalankan jabatanya mempunyai keinginan berkumpul bersama dalam satu kantor. hal ini menunjukan bahwa solidaritas antar notaris semakin dapat diwujudkan dimasa mendatang. Di samping itu, kebersamaan ini dapat dijadikan ajang untuk belajar dan menimba bidang-bidang ilmu dari notaris yang mempunyai pengalaman lebih. Pembidangan ilmu bagi notaris yang berkeinginan untuk bergabung bersama perlu dilakukan, namun tetap memperhatikan proporsional pendapatan pemberian pelayanan kepada klien dengan melakukan perjanjian tertentu. Berdasarkan Pasal 20 ayat (3), persyaratan dalam menjalankan jabatan notaris dalam satu kantor bersama akan diatur dalam Peraturan Menteri. Dalam Peraturan Menteri harus diatur

22

pula makna “kemandirian” and “ketidakberpihakan” dalam menjalankan jabatannya. 2. Notaris dalam hal ini dituntut agar selalu mematuhi UU No 30 Tahun 2004 dan berpedoman pada kode etik profesi dalam beraktifiitas kenotariatan, karena dinilai jabatan notaris rentan akan pelanggaran kode etik profesi khususnya kode etik profesi notaris. Tentunya notaris dalam melayani masyarakat harus senantiasa berpedoman pada kode etik profesi dan berdasarkan UUJN, untuk mencegah dan menghapus korupsi, kolusi, dan nepotisme serta suap, sekaligus menciptakan tata kelola pemerintah yang bersih. Misalanya saja, dalam salah satu situs menyebutkan bahawa notaris terlibat 153 kasus pidana sejak tahun 2005 samapai tahhun 2007 di Direktorat Reskrim dan satuan wilayah di jajaran Poldasu, dimana 10 orang telah dinyatakan sebagia tersangka dan sebanyak 143 orang jadi saksi. Dan pada umumnya mereka terlibat kasus pidana pasal 231 KUHP, pasal 263 KUHP, pasal 266 KUHP, dan pasal 372 serta pasal 378 KUHP. Dalam contoh kasus ini jelas hanya terdapat dalam satu kawasan saja,dan masih banyak kawasan-kawasan lain yang mungkin mengalami hal yang sama yaitu.

B. Saran

23

1.

Untuk menjalankan dan melaksanakan UUJN, salah satunya, adalah dengan secepatnya menetapkan Peraturan Menteri yang memang diminta oleh UUJN. Ada 6 (enam) Peraturan Menteri yang harus ditetapkan oleh Menteri Hukum dan HAM, yakni: a. Peraturan Menteri tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Notaris; b. Peraturan Menteri tentang Bentuk dan Ukuran Cap/Stempel Lambang Negara RI; c. Peraturan Menteri tentang Persyaratan dalam Menjalankan Jabatan Notaris; d. Peraturan Menteri tentang Formasi Jabatan Notaris; e. Peraturan Menteri tentang Tata Cara Permohonan Pindah Wilayah Jabatan Notaris; f. Peraturan Menteri tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi dan Tata Kerja, serta Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas. Proses pembentukan keenam Peraturan Menteri di atas perlu dipantau oleh organisasi notaris dalam rangka penyeimbangan substansi agar tidak terjadi ketimpangan pengaturan.

2. Untuk menindak notaris nakal seharusnya UUJN memuat ketentuan pidana khusus untuk notaris yang melanggar jabatan, baik itu berupa denda sampai dengan kurungan atau penjara. Karena pada dasarnya notaris bekerja utuk membuat akta. Dengan akta itu, notaris dapat menyebabkan seseorang kehilangan haknya. Seandainya hak orang itu sampai hilang, otomatis masyarakat akan dirugikan,karena itu perilaku notaris perlu diawasi dan pembinaan. untuk pembinaan seharusnya dilakukan oleh Mahkamah Agung, sebab produk notaris ialah akta otentik yang bisa menjadi bukti yang sempurna di Pengadilan. Pembinaan itu dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pembukuan dan protokoler notaris. Dalam hal ini masyarakat juga dapat membuat komisi independen yang bertugas

24

sebagai komisi pengawas notaris khusus. komisi ini sifatnya hanya melihat dan melaporkan, tidak bisa melakukan penindakan, Seperti komisi Perlindungan Anak Indonesia.“masyarakat dapat dilibatkan tapi bentuknya tidak dalam bentuk majelis

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->