P. 1
Proposal Kualitatif Pedagang Kaki Lima

Proposal Kualitatif Pedagang Kaki Lima

|Views: 11,701|Likes:
Published by 03102009

More info:

Published by: 03102009 on Dec 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Pada umumnya kota merupakan sebagai tempat pemungkiman yang relatif besar, berpenduduk padat dan permanen dari individu-individu yang secara sosial heterogen.semakin besar, semakin padat dan heterogen penduduknya. Dengan begitu kota merupakan pusat dari kegiatan suatu masyarakat. Dari hal itu dalam perkembangan waktu, kota dianggap sebagian besar penduduk sebagai tempat yang menjanjikan dalam mencari mata pencaharian. Banyak orang yang pindah dari desa ke kota. Dalam beberapa hal, permasalahan itu menyebabkan perubahan kebiasaan mereka. Kebanyakan warga perkotaan menjadi bersifat individualis dan interaksianya bersifat impersonal, dan menciptakan orientasi masyarakat hanya sebatas pada mendapatkan keuntungan ekonomi bagi dirinya sendiri, hal ini membuat semakin lemah ikatan kelompok kekerabatan antar warga. Ini akan menimbulkan serentetan masalah bagi masyarakat bersangkutan, oleh karennya masyarakat kota harus mengembangkan mekanisme-mekanisme baru untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan psikologi. Salah satu bentuk sektor ekonomi masyarakat perkotaan adalah dagang yang berbentuk PKL ( Pedagang Kaki Lima ). Sektor ekonomi ini banyak digeluti masyarakat di kota Surakarta. Meskipun yang berprofesi disektor ini tidak semua merupakan warga Surakarta asli, akan tetapi pedagang kaki lima dalam kehidupannya memunculkan berbagai permasalahan bagi ketertiban kota Surakarta. Dari hal ini maka pemahaman pedagang akan tata kehidupan kota mutlak diperlukan. Sehingga untuk mengatasi permasalahan ketertiban masyarakat kota Surakarta tidak hanya dari pemerintah kota saja, akan tetapi terbentuk dari partisipasi aktif dari elemen masyarakat kota Surakarta, salah satunya pedagang kaki lima. Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “BENTUK PANDANGAN DAN PERAN PEDAGANG KAKI LIMA DALAM MEMBANTU MENCIPTAKAN KETERTIBAN KOTA SURAKARTA”.

1

B. Perumusan Masalah Dalam kaitannya dengan rumusan masalah yang dikemukakan maka penelitian memiliki beberapa tujuan, yaitu : 1. Bagaimanakah deskripsi persepsi pedagang kaki lima tentang ketertiban kota di Surakarta ? 2. Bagaimanakah pandangan pedagang kaki lima mengenai penciptaan ketertiban ? 3. Bagaimanakah pola partisipasi mandungan, jungke ? C. Tujuan Penelitian Penelitian tentang persepsi pedagang kaki lima tentang ketertiban kota di Surakarta ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan pandangan pedagang kaki lima mengenai penciptaan ketertiban dalam bentuk dan pola partisipasi yang dilakukan oleh para pemuda desa mandungan, jungke pada khususnya dan peranan organisasi Karang – tarunan dalam membangun masyarakat desa pada umumnya. Dengan memahami bentuk dan pola partisipasi yang dilakukan karang -taruna tersebut maka dapat ditemui dan dikenali berbagai kendala dan hambatan yang dapat terjadi dalam berupaya mencari nilai tambah dan cenderung berwawasan ke depan yang lebih baik. Sedangkan tujuan praktisnya adalah tersedianya data mengenai bagaimana pandangan para pedagang kaki lima akan hal ketertiban di kota Surakarta Yang mana berhubungan dengan pemahaman warga akan hal menjaga dan menciptakan keteraturan dalam kehidupan bersama dengan elemen masyarakat kota lainnya di Surakarta. Sehingga dengan begitu pedagang kaki lima memiliki potensi dalam mengarahkan akan ketertiban bersama sesama warga D. Manfaat penelitian 1. Manfaat Umum. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap pihak yang melakukan pengambilan kebijakan yang berkaitan tentang Pedagang Kaki Lima. 2. Manfaat Khusus. yang dilakukan oleh para pemuda desa

2

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan referensi bagi para pendamping Pedagang kaki lima yang melakukan kegiatan – kegiatan untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. E. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pemikiran Dalam kehidupan di dunia, setiap manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. dalam setiap kehidupan sosialnya manusia akan selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan dan perkembangan masyarakat yang mewujudkan segi dinamikanya, disebabkan karena para warganya mengadakan hubungan satu dengan yang lainnya, baik dalam bentuk orang – perorang maupun kelompok sosial. Dalam istilah ilmu sosial hal itu biasa disebut dengan interaksi sosial. Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial, tidak akan mungkin terjadi perubahan maupun pembangunan. Dapat juga dikatakan bahwa interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitasaktivitas sosial ( soekanto, 1990: 67 ). Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa proses asosiatif ( Processes of association ) dalam bentuk kerja sama ( cooperation ), dan proses disosiatif ( processes of dissociation ) yang meliputi, persaingan ( competition ), dan bahkan juga berbentuk pertentangan atau pertikaian ( conflict ). Dilema pemikiran kualitatif dan kuantitatif terutama di bidang pendidikan sebenarnya terpusat pada masalah apakah ada hubungan antara paradigma penelitian dengan tipe metodologi kedua jenis penelitian tersebut. Jika peneliti kuantitatif menekankan pada cara berfikir yang lebih positifistik bertolak dari fakta sosial yang ditarik dari realitas obyektif, maka peneliti kualitatif bertolak dari paradigma fenomenologis yang obyektifitasnya dibangun atas rumusan tentang situasi tertentu sebagaimana yang dihayati oleh individu atau kelompok sosial tertentu.

3

BAB II PEMBAHASAN Pedagang kaki lima dalam melakukan usahanya tidak seperti orang yang bekerja disektor formal. Mereka melakukan usahanya sesuai dengan jenis barang atau jasa yang dihasilkan. Pedagang kaki lima rata-rata melakukan aktivitasnya pagi sampai sore hari. Bagi pedagang kaki lima yang melakukan usaha siang sampai malam hari rata-rata mereka mendirikan bangunan yang semi permanen. Sedangkan untuk pedagang kaki lima yang melakukan kegiatan pagi sampai sore, mereka mengunakan tenda-tenda yang bisa dibuka dan ditutup setiap saat, mereka ini biasanya menempati tempat yang bukan miliknya sendiri. Untuk pedagang kaki lima yang melakukan kegiatan siang dan malam, mereka mengunakan peralatan gerobag dorong dan biasanya diengkapi dengan tenda yang setiap saat bisa dibuka dan ditutup. Untuk mengetahuhi seberapa besar pandangan pedang kaki lima surakarta dalam kontribusinya menciptakan ketertiban kota maka sekiranya kita terlebih dahulu mengkaji akan peraturan pemerintah daerah Surakarta yang terkait dengan pedagang kaki lima. Untuk menganalisa dari landasasan yuridis ini maka tahap yang kita amati yakni terkait sosialisasi peraturan daerah ( Perda ) tersebut di mata Pedagang kaki lima. Pemahaman PKL akan Peraturan Daerah No. 8 tahun 1995 Perda ini berisi tentang Pembinaan dan Penataan Pedagang Kaki Lima.Peraturan Daerah agar dapat diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat, maka perlu disosialisasikan secara meluas. Tujuannya tiada lain agar peraturan tersebut bisa berjalan dengan baik tanpa hambatan. Sosialisasi peraturan dilakukan pejabat atau petugas yang sesuai dengan bidang kerjanya, yang dalam hal ini adalah kantor pedagang kaki lima. Dalam pelaksanaannya sosialisasi ini dilakukan oleh Tim Pembina dan Tim Operasi Lapangan yang nampaknya belum bisa berjalan secara maksimal. Meskipun dalam kenyataannya pedagang kaki lima sebagian sudah mengetahui keberadaan Peraturan Daerah tersebut, namun mereka tidak mengetahui isinya secara mendetil. Hal ini sebagaimana dikatakan Mas Di, seorang penjual sate, 4

” Saya mengetahui peraturan daerah tentang pedagang kaki lima itu dari Koran, dan saya memang langganan koran untuk servis para pembeli.” Dengan melihat keterangan tersebut, maka para aparat perlu bersungguhsungguh dalam mensosialisasikan Perda tersebut. Apa yang sudah dilakukan sepertinya masih belum cukup dan kurang merata. Hal ini bisa diawali dengan membentuk kelompok-kelompok atau paguyuban-paguyuban kemudian dikumpulkan dan diberikan penjelasaan tentang perda. Pembinaan dan penataan pedagang kaki lima yang mengarah pada ketertiban kota, kemudian dari hasil pertemuan tersebut masingmasing ketua kelompok memberikan penjelasaan kepada para angotanya. Sehingga peran instansi pemerintah saat ini harus dioptimalkan kembali, yang mana salah satunya dengan mengoptimalan kerja kantor pedagang kaki lima Sedangkan Kantor pedagang kaki lima di kota Surakarta sendiri merupakan lembaga baru yang khusus menangani urusan pedagang kaki lima, karena khusus seharusnya kantor ini lebih intensif dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini ditanggapi oleh kepala kantor pedagang kaki lima ; “ lembaga kami ini masih baru, instrument, personil, alat maupun pebeayaan, kalau hal tersebut belum lengkap maka kami belum bisa bekerja secara maksimal. Sehingga apa yang kami kerjakan saat ini baru yang sifatnya pokok yaitu bagaimana membuat pedagang kaki lima itu tenang dan sejahtera. Agar PKL tidak menganggap pemerintah itu selalu meminta dari kantor satpol PP hadir untuk membicarakan hal yang sifatnya tehnis.” Mencermati keterangan diatas ternyata kantor PKL merupakan lembaga baru, dimana sarana dan prasarananya belum begitu siap untuk melaksanakan pekerjaan. Sebetulnya ini bukan merupakan suatu alasan untuk tidak berbuat, karena upaya awal ini sebetulnya merupakan suatu moment yang strategis untuk langkah yang berikutnya. Dalam hal koordinasi harus secara intensif dilakukan sebelum melaksanakan sosialisasi, tujuannya agar tidak terjadi kesimpang-siuran dalam menata pedagang kaki lima. Dari paparan Pedagang kaki lima didepan, sekiranya pihak pemerintah (kantor pedagang kaki lima) dalam menciptakkan ketertiban kota mempunyai peranan pokok sebab tugas yang dilakukan oleh kantor pedagang kaki lima, pada penegaan peraturan yaitu Perda. Maka sasaran kerja kantor pedagang kaki lima dalam penciptaan ketertiban kota adalah:

5

1. 2. 3.

Sosialisasi dan pembenahan kebijakan pemerintah yang relevan Terbetuknya karakteristik dan wilayah-wilayah pedagang kaki lima di Terbentuknya forum komunikasi atau paguyuban sebagai jembatan

dengan pedagang kaki lima yang saat ini ada banyak di kota Surakarta. Surakarta. perumusan dan pemecahan masalah terhadap kehidupan pedagang kaki lima di kota Surakarta. Sedangkan harapan PKL terhadap kerja yang dilakukan oleh kantor pedagang kaki lima antara lain : 1. kaki lima. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Membentuk dan menetapkan kelompok-kelompok atau paguyubanMenciptakan hubungan yang harmonis antara pemerintah dan Monitoring dan kesepakatan yang diambil dalam menciptakan Menghilangkan kesan bahwa pedagang kaki lima adalah paguyuban sesuai dengan perwilayahannya. pedagang kaki lima dalam rangka proses pembangunan kota. hubungan kemitraan yang baik antara pemerintah dan pedagang kaki lima. permasalahan kota. Menghilangkan kesan bahwa pedagang kaki lima adalah musuh Menilai sampai seberapa jauh tingkat kesejahteraan dan kemajuan Menghilangkan konflik diantara pedagang kaki lima. dari pemerintah kota. para pedagang kaki lima. Pada awal pembicaran kepala kantor pedagang kaki lima mengatakan, bahwa apa yang ingin dicapai selama dalam menjalankan, bahwa apa yang ingin dicapai selama menjalankan tugasnya telah dirumuskan dengan baik yaitu; “ visi dan misi kami adalah menjadikan suatu kemitraan dan hubungan antara pihak pemerintah dengan swasta khususnya pedagang kaki lima yang merupakan penjabaran dari tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yaitu pembinaan, penataan dan penertiban. Sebagai langkah awalnya kami sudah lakukan sosialisasi, dan bahkan semua kegiatan kami awali dengan sosialisasi secara periodic dan terjadwal” 6 Mensosilaisasikan dan penyuluhan tentang kebijaksanaan pemerintah kota tentang penataan dan pembinaan serta penertiban pedagang

Melihat tujuan yang ingin dicapai oleh kantor pedagamng kaki lima tersebut sangatlah mulia. Sekarang tinggal bagaimana menyamakan persepsi antara pedagang kaki lima dengan pejabat sehingga tujuan yang akan dicapai dapat berjalan dengan mudah. Yang perlu diingat bahwa para pejabat dalam menjalankan tugasnya jangan terlalu sakeleg / kaku, karena yang ditangani adalah para korban PHK yang sifat dan perilakunya mudah tersinggung. Dalam sosialisasi yang dilakukan secara periodoik dan terjadwal, sebaiknya diikat dengan kegiatan tertentu seperti arisan, koperasi, simpan pinjam, bahkan dengan bentuk kesenian / budaya (campursari, dll ). Kalau ini bisa terbentuk maka para pejabat akan lebih mudah dalam melakukan sosialisasi. Dalam upaya mengumpulkan para pedagang kaki lima, perlu menyediakan tempat dan saran yang lain, karena lembaga ini baru dan belum mempunyai tempat yang representatif sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Kantor Pedagang Kaki Lima ; “Mengumpulkan orang dan memberikan suatu penjelasan yang kita undang, kita masih memperhatikan prinsip-prinsip orang jawa yaitu Gupuk, lungguh lan suguh. Gupuk artinya kita akan membuat atau membentuk suatu hubungan batin yang baik dan kental. Lungguh yaitu menyediakan tempat duduk artinya kita dalam mengundang orang kita harus menyediakan tempat duduk dimana tempatnya, untuk sementara ini kami harus menumpang ditempat yang kosong. Kami menumpang di paguyuban-paguyuban. Suguh artinya memberikan hidangan kepada yang diundang. Kegiatan semacam ini kami lakukan di beberapa kelurahan yang ada di Kota Surakarta ini. Dan kami datang ke paguyuban-paguyuban bersama dengan tim/staf ,Camat dan Lurah”. Kantor pedagang kaki lima dalam melakukan sosialisasi masih tetap menggunakan dan memanfaatkan budaya Jawa yaitu dengan menggunakan sloganslogan seperti gupuk, lungguh dan suguh. Ternyata cara ini cukup mengena dan diterima di paguyuban- paguyuban. Sedikit demi sedikit sosialisasi dilakukan oleh kantor pedagang kaki lima akhirnya akan menjangkau ke seluruh Kota Surakarta sehingga kasus-kasus ketidaktahuan pedagang terhadap peraturan akan dapat dihilangkan .Mengenai tim pembina yang lama nampaknya tidak melakukan sosialisasi dengan baik. Hal ini terlihat dari ketidaktahuan para pedagang kaki lima di masing-masing wilayah, padahal tim Pembina sudah dibentuk sejak tahun 1997. jika dibandingkan dengan setelah terbentuknya kantor pedagang kaki lima.maka 7

kantor ini nampaknya mempunyai kinerja yang cukup bagus khususnya dalam melaksanakan sosialisasi peraturan daerah.

Pembinaan Pedagang Kaki Lima sebagai sarana awal kearah penertiban kota Pembinaan yang dilakukan oleh kantor pedagang kaki lima dan tim Pembina dilakukan dengan jalan rapat dan penyuluhan. Penyuluhan dilakukan oleh tim tidak terbatas pada pertemuan-pertemuan yang sifatnya formal akan tetapi bisa setiap saat setiap tim melakukan kegiatannya. Sedangkan rapat dilakukan dengan cara mengumpulkan para pedagang kaki lima didalam suatu tempat tertentu kemudian diberikan penjelasan. Hal ini seperti dikemukakan oleh Agus yang berusaha di bidang stiker: “Kami pernah diberikan penjelasan tentang peraturan PKL oleh seorang petugas yang datang secara kebetulan dan sambil berdiri.” Dari pernyataan itu dapat diketahui bahwa aparat didalam melakukan pembinaan tidak pasti secara formal dan bisa terjadi setiap saat dan tempat yang berbeda-beda.cara ini akan menjadi lebih efektif apabila petugas mengetahui sikap maupun sifat dari pedagang kaki lima. Penyuluhan yang dilakukan oleh tim pembina pedagang kaki lima sebetulnya dapat dilakukan secara tidak terbatas, bisa pagi, siang maupun sore dan malam setelah mereka tidak bertugas. Disisi lain tim pembinaan pedagang kaki lima dalam melaksanakan tugasnya bisa mengundang para pedagang kaki lima dikumpulkan disuatu tempat seperti di kemukakan oleh Hendro yang berprofesi sebagai penjual timlo dan wedang ronde di Jayengan. “Kami pernah diundang mengikuti pertemuan di kelurahan yang dihadiri oleh Lurah, Camat dan Tim Pembina PKL dan diberikan penjelasan tentang keberadaan peraturan daerah tentang pedagang kaki lima. Dan dimohon untuk mentaati peratiran-peraturan tersebut serta menjaga kebersihan lingkungan tempat usaha. Dari penjelasan Hendro tersebut dapat diketahui bahwa pada saat-saat tertentu memang ada pembinaan yang dilakukan oleh Tim PKL. Dilihat dari hasil pelaksanaan pembinaan lewat penyuluhan dan rapat ternyata lebih efektif lewat rapat-rapat, hanya sebagai konsekuensi rapat memerlukan biaya yang lebih besar. Hasil bagi para pedagang kaki lima yaitu dipatuhinya Perda, indikasinya kebersihan lingkungan 8

terjaga, tempat usaha tertata rapi, ukuran tempat usaha sesuai dengan ketentuan dan lain-lain. Bagi pedagang kaki lima oprokan, seperti di pasar-pasar tiban masih sangat sulit dilakukan karena mereka berdagang tidak telalu lama walaupun mereka ditarik retribusi oleh Petugas Dinas Pasar. Penataan Pedagang Kaki Lima sebagai bentuk ketertiban kota Penataan pedagang kaki lima yaitu membuat agar para pedagang tertata sedemikian rupa sehingga toidak terkesan kumuh, tidak teratur dan lain-lain. Agar kelihatan rapi dan baik maka dalam rangka penataan ini dilakukan dengan beberapa cara yaitu dibentuk kelompok-kelompok/paguyuban dan dengan tenda yang seragam. Hal ini seperti dikemukakan oleh Kepala Kantor PKL ; “Penataan pedagang kaki lima kami lakukan dengan bermacam-macam cara, tetapi yang paling utama adalah dengan membentuk peguyuban dan tenda seragam untuk satu wilayah tertentu” Dengan melihat pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa penataan yang dilakukan memang mengarah terbentuknya pedagang kaki lima teratur dan rapi juga tidak berkesan kumuh dan menakutkan sehingga terwujud “SOLO BERSERI”. Penataan bisa dilakukan dengan baik apabila awal pembinaannya juga dilakukan dengan baik, dengan demikian pekerjaan yang dilakukan oleh aparat dari kantor pedagang kaki lima harus secara sistematis.

9

BAB III METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik Observasi dan wawancara. Dimana Observasi adalah berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap gejala yang diteliti. yakni mengenai pandangan dan pendapat PKL tentang ketertiban akan kota Surakarta. Dan batasan dari penelitian ini adalah tentang bagaimanakah peran yang dimainkan pedagang kaki lima dalam menciptakan akan tetertiban kota Surakarta. 2. Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi diKecamatan Serengan, Kota surakarta dengan alasan pada daerah ini terdapat beberapa macam model pedagang kaki lima dan bisa dijadikan sebagai parameter pedagang kaki lima kota surakarta. Disamping itu di kecamatan ini ada berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan pedagang kaki lima maupun pihak terkait yang mengarah pada pemberdayaan dan penciptaan kedinamisan kota surakarta. 3. Sumber Data Data yang peneliti peroleh dari pengamatan (observasi) pada saat pedagang kaki lima melakukan kegiatannya dan mewawancarainya b. Data Sekunder Data yang peneliti peroleh secara tidak langsung dengan literatur dari buku yang berkaitan dengan tema yang penelitian. 4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data melalui proses pengamatan langsung pada obyek yang menjadi tema penelitian. b. Studi Pustaka a. Observasi( pengamatan) a. Data Primer

10

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menelusuri buku-buku yang berhubungan dengan tema penelitian ini.

c. Wawancara Peneliti mewawancarai informan dengan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan masalah yang di teliti dan wawancara dilakukan dengan cara wawancara mendalam 5. Tehnik Pengambilan Sampel. Penelitian kualitatif pada dasarnya merupakan suatu proses penyidikan, peneliti dapat membuat pengertian fenomena sosial secara bertahab kemudian melaksanakan sebagian besar dengan cara mempertentangkan ,membandingkan, mereplikasi, menyusun katalog, dan mengklasifikasi objek kajian. Pada dasarnya semua itu adalah kegiatan penarikan sample yaitu usaha untuk menemukan keseragaman dan sifat umum dunia sosial, dan kegiatan tersebut dilakukan secara terus menerus dan berulang – ulang oleh peneliti kalitatif ( A.M. Hubermas, 1992 ; 47 ). Salah satu metode penarikan sample adalah purpositive sample dalam penelitian kualitatif dapat berubah ( ibid : 48 ). Berdasarkan hal tersebut maka sample dapat diidentifikasikan sebagai berikut: a. Pedagang kaki lima Surakarta. b. Petugas kantor Pedagang kaki lima kota Surakarta. 6. Validitas Data. Untuk menguji keabsahan data yang terkumpul peneliti mengunakan teknik triangulasi sumber dengan cara mengecek, membandingkan informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. a. b. Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data. Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama ( Patton dalam Moleong, 2000 : 178 ). Triangulasi teori dilakukan dengan melakukan kajian ulang setelah penelitian. Validitas data diperlukan dalam penelitian dengan maksud sebagai pembuktian dan penguatan, bahwa data yang diperoleh peneliti sesuai dengan yang terjadi dilapangan. 7. Teknik Analisa Data. 11

Lexy

j.

Moleong

berpendapat

bahwa

analisa

data

adalah

proses

pengorganisasian data kedalam pola, kategori dan satuan variasi dasar sehingga dapat diketemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti disarankan oleh data (Moleong, 1990 : 130 ). Teknk analisa yang digunakan adalah analisis interaktif. Dalam model ini ada tiga komponen analisis yaitu : reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan Ada tiga jalur kegiatan untuk melakukan analisis yang terjadi secara bersama untuk memperoleh data, tiga komponen pokok tersebut adalah : a. Reduksi data ( data reduction ) merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data kasar yang ada dalam fieldnote. Hasilnya data dapat disederhanakan, dan di transformasikan melalui seleksi ketat, ringkasan serta pengolongan dalam satu pola. b. Penyajian data ( data display ) adalah rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset yang dilakukan, sehingga peneliti akan mudah memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. c. Penarikan kesimpulan ( conclution drawing ). Proses ini dilakukan dari awal pengumpulan data, peneliti harus mengerti apa arti dari hal – hal yang ditelitinya, dengan cara pencatatan peraturan, pola – pola, pernyataan konfigurasi yang mapan dan arahan sebab – akibat sehingga memudahkan dalam pengambilan kesimpulan ( Miles dan Huberman, 1992 :15-19). Tiga komponen analisa data diatas membentuk interaksi dengan proses pengumpulan yang berbentuk siklus, dimana sifat interaksi ketiganya berjalan terus menerus semenjak turun lapangan sampai selesai penelitian. Dalam setiap turun lapangan akan dibuat catatan yang berisi skema pemikiran, pokok pembicaraan yang kemudian akan di buat cacatan lapangan setelah sampai di rumah. Catatan yang merupakan sarana pengumpulan data tersebut akan direduksi dengan penambahan data dari literature yang mendukung yang kemudian diolah dan digabung dengan pengumpulan data yang lain ke dalam bentuk laporan penelitian yang sesunguhnya.

12

BAB IV PENUTUP Kesimpulan Dari pemaparan bab di depan maka sekiranya seluruh unsur perlu berperan sesuai dengan porsi masing-masing dalam menciptakan ketertiban kota, serta memahami kelompok yang lain yang memang mengambil peran diwilayah yang berbeda pula. Dan yang perlu disatukan dalam fokus penelitian ini yang terkait dengan ketertiban kota adalah bagaimana grand design pembangunan kota Surakarta yang dilakukan Pemkot sesuai dengan peran dan kepentingan para pedagang kaki lima di Surakarta sehingga hal ini menjadi kesatuan utuh demi terciptanya ketertiban kota dan mengarah pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat kota Surakarta. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang persepsi pedagang kaki lima tentang penertiban kota Surakarta dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Bawasanya kebijaksanaan, penataan pedagang kaki lima di Kota Surakarta belum medapatkan perhatian yang serius dari Pemerintah Kota, ini terlihat pada : Kurangnya sosialisasi penetapan Peraturan Daerah Nomor 8 tahun 1995 tentang Pembinaan dan Penataan Pedagang Kaki Lima serta diterbitkannya Surat Keputusan Walikota Nomor 2 tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Daerah Kotamadya Dati II Surakarta Nomor 8 tahun 1995 tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima. Berdasarkan kesimpulan diatas dalam rangka pembinaan dan penataan pedagang kaki lima di kota Surakarta umumnya disarankan: 1. Memperluas sosialisasi peraturan perundang –undangan yang berlaku dalam penataan dan pembinaan pedagang kaki lima melalui pertemuan formal maupun pertemuan informal. Dalam pertemuan informal perlu lebih banyak dilakukan karena akan lebih mengena pada sasaran 2. .Dalam rangka penegakan /penertiban pedagang kaki lima harus dilakukan secara obyektif an secara rutin, maksudnya tidak pada daeah-daerah tertentu

13

saja yang dilakukan operasi penertiban oleh tim PKL dan Satpol Polisi Pamong Praja.

DAFTAR PUSTAKA Surat Keputusan Walikota No.8 Tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksaaan Peraturan Daerah Kota Madya Tingkat II Surakarta No.8 Tahun 1995 Tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima. Prof Dr. J.W. Schoorl,1982, MODERNISASI (Pengantar Sosiologi Pembanguan Negara-Negara Sedang Berkembang), PT Gramedia, Jakarta Sumardi. 2003, Studi Pemetaan Pedagang Kaki Lima Kota Surakarta, P3 E Fakultas Ekonomi UNS. HB.Sutopo, 1988, Pengantar Penelitian Kualitatif Dasar Dasar Teoritis dan Praktis, Pusat Penelitian UNS Surakarta. Peraturan Daerah No.8 tahun 1995 tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima. Hidayah.1983, Situasi Pengangguran,Setengah Pengangguran dan Kesempatan Kerja di Sektor Informal. PPES UNPAD, Jakarta.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->