P. 1
BUKU KERJA DDC

BUKU KERJA DDC

|Views: 2,463|Likes:
Published by dwicaem566817

More info:

Published by: dwicaem566817 on Jan 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

Tugas ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Dasar- Dasar Klasifikasi Dosen Pengampu: Anis Masruri

Disusun oleh: NAMA NIM KELAS : ANA PUJIASTUTI : 08140049 :H

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ADAB UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2009

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah yang memberikan rahmat, hidayah dan nikmat, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Buku Kerja DDC. Buku adalah jendela dunia. Begitulah kata papatah, yang berarti bahwa buku akan membawa kita kepada suatu peradaban yang lebih tinggi. Perpustakaan adalah tempat dimana bahan pustaka (sekarang ini bahan pustaka tidak hanya buku saja) terkumpulkan. Maka disitulah gudang ilmu yang sering kita temui. Dalam proses klasifikasi bahan pustaka, diperlukan adanya panduan agar pustakawan tidak salah dalam pengelompokkan jenis subjeknya, untuk itu Buku Kerja DDC ini peyusun buat dari referensi Towa Hamakonda berharap agar buku ini dapat bermanfaat. Demikianlah hal-hal yang perlu penyusun sampaikan dengan harapan kiranya Buku Kerja DDC ini dapat lebih memenuhi kebutuhan para pustakawan di Indonesia. Penyusun sadar bahwa dalam Buku Kerja DDC ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penyusun menerima kritik dan saran dengan senang hati, dan semoga Buku Kerja DDC ini dapat bermanfaat. Amin.

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………. iii DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… iv BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………… 1 1. 2. Analisis Subjek……………………………………………………………. 1 Langkah-langkah Praktis Penggunaan DDC……………………………… 8

BAB II DDC (DEWEY DECIMAL CLASIFICATION)……………………………….... 9 1. 2. 3. 4. Sejarah DDC………………………………………………………………. 9 Bagan DDC………………………………………………………………... 12 Indeks Relatif……………………………………………………………… 14 Cara Penggunaan DDC a) b) Mengambil langsung dari bagan……………………………………. 15 Mengambil nomor bagan dengan tabel: A. Tabel 1…………………………………………………….. 15 B. Tabel 2…………………………………………………….. 17 C. Tabel 3…………………………………………………….. 19 D. Tabel 4…………………………………………………….. 20 E. Tabel 5…………………………………………………….. 21 F. Tabel 6…………………………………………………….. 23 BAB III PENUTUP………………………………………………………………………. 24 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………...25

BAB I PENDAHULUAN 1. Analisis Subjek
Klasifikasi di perpustakaan masa kini adalah klasifikasi fundamental atau berdasarkan

subjek. Artinya kita harus mengetahui isi atau subjek dari setiap bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan kita. Analisis terhadap subjek ini merupakan hal yang sangat penting dan memerlukan kemampuan intelektual, karena disinilah suatu bahan pustaka ditentukan tempatnya dalam golongan subjek apa. Kekeliruan dalam menentukan subjek dapat menyesatkan para pembaca. Setiap dokumen harus kita analisis isinya. Kegiatan ini disebut analisis subjek. Selanjutnya subjek tersebut diterjemahkan ke dalam suatu kode tertentu berdasarkan suatu sistem, sehingga setiap bahan pustaka akan mempunyai identitas subjek tertentu. Kegiatan ini disebut deskripsi indeks. Untuk melakukan analisis subjek kita perlu mengetahu prinsip-prinsip dasar dalam analisis subjek dan berbagai jenis subjek. Dalam suatu dokuman bahan pustaka kita dapat mengenali tiga jenis konsep termasuk disiplin ilmu apa, fenomena atau benda apa yang menjadi kajian, dan bagaimana penyajianya. a) Disiplin Ilmu Disiplin ilmu adalah istilah yang digunakan untuk satu bidang atau satu cabang keilmuan. Hukum, kimia dan sosiologi umpamanya, masing-masing adalah cabang ilmu yang merupakan bidang atau cabang keilmuan. Dalam analisis subjek yang harus kita tentukan pertama adalah disiplin ilmu atau bidang pengetahuan yang cukup oleh bahan pustaka yang kita analisis subyeknya. Sebagai contoh 'Sejarah Koperasi' harus ditentukan terlebih dahulu bahwa pustaka termasuk disiplin 'ekonomi . Maka disini dapat kita lihat adanya tiga konsep yang dapat dirangkum sebagai berikut: EKONOMI(disiplin)/ KOPERASI(fenomena)/ SEJARAH(bentuk), dalam 'Kamus Pertenakan' yang merupakan disiplin ilmu adalah 'pertanian' dan tiga konsep di dalamnya dapat dirangkum secara berurutan : PERTANIAN (disiplin)/ PERTENAKAN (fenomena)/ KAMUS(bentuk). b) Fenomena fenomena adalah benda atau wujud yang menjadi objek kajian dari suatu disiplin ilmu. Dalam pendidikan wanita,'pendidikan' merupakan disiplin ilmu dan 'wanita' merupakan objek kajian atau fenomena dari disiplin tersebut. Fenomena yang sama dapat dikaji oleh disiplin-disiplin: psikologi,

pendidikan,kedokteran dan sosiologi. Fenomena berperan sebagai konsep subjek dalam analisis subjek. Konsep subjek menunjukan bahan pustaka itu mengenai apa. Fenomena yang dikaji oleh berbagai disiplin ilmu dapat dibedakan atas 2 kategori, yakni: ⇒ Objek konkret, misal: gedung, meja dan buku ⇒ Objek abstrak, misal: hukum dan adat. c) Bentuk berbeda dengan konsep subjek yang menunjukan mengenai apa bahan pustaka itu, maka konsep bentuk menujukan bagaimana penyaji suatu kajian dari bahan pustaka itu. ⇒ Bentuk fisik, yaitu sarana yang digunakan dalam menyajikan suatu subjek, misalnya dalam bentuk: buku majalah, pita rekaman, mikrofis, mikrofilm dan lainlain. Bentuk fisik tidak mempengaruhi isi dokumen baahan pustaka. Misalnya subjek 'agama' subjek dapat disajikan dalam berbagai bentuk, tetapi isinya tetap pada 'agama'. 'Majalah agama' subjeknya adalah 'agama' dan bentuknya 'majalah'. Bentuk fisik dalam analisis subjek menunjukan bahwa bahan pustaka itu mempunyai tempat khusus di perpustakaan. ⇒ Bentuk penyajian, yaitu bentuk yang ditekankan pada pengaturan atau organisasi isi dokumen bahan pustaka. Dalam hal ini ada 3 bentuk penyajian, yaitu:

Yang menggunakan lambang-lambang dalam penyajiannya, seperti bahasa (dalam bahasa Indonesia, Inggris, arab dan lain-lain), gambar dan lain-lain.

Yang memperlihatkan tata susunan, bentuk, kumpulan dan peragaan tertentu, misal: abjad, kronologis, sistematik, esei, pidato, kumpulan plihan, bibliografi, katalog dan sebagainya.

Yang penyajianya untuk kelompok tertentu, misalnya Bahasa Inggris untuk pemula, Psikologi untuk ibu rumah tangga. Kedua dokumen bahan pustaka itu adalah mengenai 'bahasa inggris' dan 'psikologi', bukan mengenai 'pemula' atau 'ibu rumah tangga'.

⇒ Bentuk Intelektual bentuk Intelektual adalah aspek yang ditentukan pada suatu subjek. Misalnya ’filsafat hukum’, disini yang menjadi subjek adalh ’hukum’ dan ‘ filsafat’ merupakan bentuk intelektual atau tekanan dalam pembahasan subjek ‘hukum’. Pada ‘sejarah hukum’ subjeknya adalah ‘Hukum’ dan ‘sejarah’ merupakan tekanan bahasan atau bentuk intelektual subjek tersebut. d) Analisis faset Feniomena dapat menjadi kajian dari satu atau beberapa disiplin ilmu. Fenomenafenomena yag dikaji tersebut dikelompokan berdasarkan suatu ciri yang dimiliki bersama. Ciri pembagian ( characteristic of division0 tersebut disebut ‘faset’. Suatu bidang lmu pengetahuan dapat ditinjau menurut sejumlah faset. Misalnya bidang kedokeran dapat ditinjau antara lain menurut (ciri) ‘bagian tubuh’ akan diperoleh: jantung, paru-paru, otak dan lain-lain. Jika ditinjau dari jenis penyakit akan diperoleh; campak, TBC, kanker, jantung, dan lain-lai. Selain pembagian menurut ‘faset bagian tubuh’ dan ‘faset penyakit’tentu dibidang kedokteran masih mempunyai sejumlah faset lainya. Dalam hubungan ini kita lihat ‘jantung’ dapat merupakan bagian dari faset (focus) bagian tubuh, dan juga bagian dari faset(focus) penyakit, dan dengan satu sama lain merupakan subjek yang berbeda. Jenis-jenis Subjek Dalam melakukan analisis subjek penting untuk melihat suatu fenomena sebagai faset disiplin keilmuan apa. Dalam melakukan analisis subjek seseorang sangat dipengaruhi olh subjektivitas dan latar belakangnya. Oleh karena itu hasilnya sering kali berbeda satu orang dengan orang lain meskipun terhadap suatu bahan pustaka yang sama, bahkan kadang-kadang bahan pustaka yang sama dianalisis oleh orang yang sama pada waktu yang berbeda dapat mengahsilakan subjek yang berbeda. Untuk mengurangi subjektivitas dalam melakukan analisis subjek dan agar dapat dilakukan secara taat asas perlu dikenali jenis-jenis subjek yang terdapat dalam bahan pustaka yang kita ingin analisis. Pada pokoknya erdapat 4 jenis subjek yang mempunyai kaidah sebagai berikut: 1. Subjek Dasar

subjek dasr adalah subjek yang merupakan bidang pengetahuan secara umum tanpa ada suatu fenomena tertentu. Contoh: Pengantar ilmu pendidikan. Subjek judul terseburt dapat dirangkum dengan: ‘pendidikan’, tanpa fenomena perguruan tinggi, kurikulum atau lain-lain. 2. Subjek Sederhana Jika subjek dasra disertai salah satu focus dari suatu faset, maka bentuknya menjadi subjek sederhana. Misalnya: ‘sekolah Dasar’ dapat dirangkum menjadi PENDIDIKAN/PENDIDIKAN DASAR Pendidikan: disisplin ilmu Pendidikan Dasar: Fenomena yang merupakan focus dari faset ‘jenis pendidikan’. ‘Penyakit TBC’ dapat dirangkum menjadi: KEDOKTERAN/PENYAKIT Kedokteran: disiplin ilmu Penyakit TBC: Fenomena yang merupakan focus dari faset ‘penyakit’. 3. Subjek Majemuk Jika Subjek Dasar disertai focus-fokus yang berasal dari dua faset atau lebih, maka menjadi ‘Subjek Majemuk’. Contoh: ‘Perguruan Tinggi di Indonesia’ Rangkuman: PENDIDIKAN?PERGURUAN TINGGI/INDONESIA Pendidikan: Disiplin ilmu Perguruan Tinggi: Fenomena yang merupakan focus dari faset jenis pendidikan Indonesia: Fenomena yang merupakan focus dari faset tempat. 4. Subjek Kompleks Jika terdapat dua subjek dasar yang berinteraksi maka menjadi ‘Subjek Komplek’. Contoh: ‘Pendidikan dan Perpustakaan’ Rangkuman : PENDIDIKAN?PERPUSTAKAAN

Pendidikan: Disiplin ilmu Perpustakaan: disiplin Ilmu Dalam melakukan analisis subjek terhadap subjek Komplek ini, harus dapat dilakukan pemilihan secara taat azas subjek-subjek yang diutamakan atau perlu dihimpun di perpustakaan kita. Yang perlu diperhatikan adalah hubungan fase antar subjek-subjek yang ada. Dalam subjek komplek terdapat 4 hubungan fase: fase bias, fase pengaruh, fase alat, dan fase perbandingan. ⇒ Fase Bias, yaitu jika suatu subjek digunakan untuk kelompok tertentu. Dalam hal ini yang diutamakan adalah pada subjek yang digunakan. Contoh: ‘Koperasi untuk Sekolah Dasar’ Rangkuman; EKONOMI/KOPERASI/PENDIDIKAN/SEKOLAH DASAR Ekonomi: Disiplin ilmu Koperasi: Fenomena/focus dari faset dari lembaga perekonomian Pendidikan: Disiplin ilmu Sekolah Dasar: Fenomena/faset jenis pendidikan Rangkuman Plihan: EKONOMI/KOPERASI ⇒ Faset Pengaruh, yaitu jika terdapat subjek dasar yang mempengaruhi subjek dasar yang lain. Dalam hal ini yang diutamakan adalah subjek yang dipengaruhi. Contoh : Pengaruh Pendidikan pada Pertumbuhan Desa Rangkuman: PENDIDIKAN/SOSIOLOGI/DESA Pendidikan: Disiplin ilmu Sosiologi: Disiplin ilmu Desa; fenomena/ focus dari faset Struktur Kemasyarakatan.’ Rangkuman pilihan: SOSIOLOGI/DESA ⇒ Faset Alat, yaitu subjek dasar digunakan sebagai alat untuk menjelaskan atau membahas subjek yang dijelaskan atau yang dibahas. Rangkuman: STATISTIK/SOSIOLOGI/KB/INDONESIA

Statistik: Disiplin Ilmu Sosiologi: Disiplin ilmu KB: Fenomena/Fokus dari faset Kependudukan Indineseia: Fenomena/Fokus dari Faset Tempat Rangkuman Pilihan: SOSIOLOGI/KB/INDONESIA ⇒ Fase Perkembangan, yaitu, jika dalam satu bahan pustaka terdapat dua atau subjek atau lebih yang berasal dari dua disiplin ilmu atau lebih. Hubungan fase dapat bersifat perbandingan baik secara jelas maupun tersamar. Dalam subjek komplek, terkadang hubungan antarsubjek tersebut. Sama sekali tidak teras, sehingga hanya berupa gabungan dua subjek atau lebih dari dua disiplin atau lebih. Contoh: ‘Islam dan Ilmu Pengetahuan’ Rangkuman: ISLAM/ILMU PENGETAHUAN Islam: disiplin ilmu Ilmu Pengetahuan: Disiplin ilmu

2. Langkah- langkah Praktis Penggunaan DDC

1. Memahami pola pembagian subjek. Dalam system ini ilmu pengetahuan dibagi dari subjek besar menjadi subjek yang lebih kecil. Untuk itu perlu dipahami adanya pembagian 10 kelas utama, 100 divisi, dan 1000 subdivisi serta penggunaan table- table pembantu. 2. Menentukan subjek Dalam menentukan subjek usahakan mencari nomor yang paling spesifik. Untuk menentukan subjek ini hendaknya dibaca dan dipahami informasi yng diperoleh dari : halaman judul, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, dibaca tiap- tiap bab dan beberapa

kalimat, dan kesimpulan. a) Bila dalam suatu buku terdapat dua subjek atau lebih, terlebih dahulu diklasifikasikan pada kelas yang utama. b) Apabila tidak ada subjek yang utama, koleksi itu diklasifikasikan pada kelas yang paling bermanfaat bagi pemakai perpustakaan atau diklasifikasi pada kelas yang lebih dahulu disebut pada bagan klasifikasi. c) Apabila tidak ada subjek yang utama, koleksi itu diklasifikasi pada kelas yang paling bermanfaat bagi perpustakaan. d) Mengklasifikasikan menurut subjeknya dahulu kemudian menurut bentuk penyajian. e) Memahami indeks relative yang tercantum pada bagian akhir, setelah bagan klasifikasi.

BAB II DDC (DEWEYDESIMAL CLASIFICATION)

1. SEJARAH
Melvil Dewey lahir pada 1851 di Adams Center, sebuah kota kecil yang masih menjadi bagian New York. Orang-tuanya memberi nama Melville Louis Kossuth Dewey. Nama Louis Kossuth diambil dari nama Lajos Kossuth, seorang pejuang revolusi Hungaria yang pada masa itu sangat terkenal setelah usahanya pada 1848. Sejak masih kanak-kanak, Melvil Dewey telah menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap buku. Ada anekdot yang menceritakan bahwa dia menyelamatkan banyak buku di perpustakaan

pada saat sekolahnya terbakar pada 1868. Ketika itu, dia terlalu banyak menghirup asap sehingga dia menderita batuk kronis yang tidak kunjung sembuh. Oleh dokter yang merawatnya, dia diberitahu bahwa hidupnya mungkin tidak akan lama lagi. Sejak itu, dia menjadi sangat terobsesi untuk melakukan efisiensi, dilatarbelakangi oleh perasaan bahwa dia tidak memiliki cukup banyak waktu. Usia 22 tahun, Dewey bekerja di perpustakaan kampusnya, Amherst College. Setelah lulus pada 1874, ia tetap bekerja di perpustakaan tersebut sebagai pustakawan, hingga 1876. Pada periode tersebutlah Dewey menemukan sistem pengklasifikasian buku yang kemudian diberi nama Dewey Decimal Classification, atau yang kita kenal kemudian sebagai Klasifikasi Desimal Dewey. Selain sistem DDC, Dewey juga menciptakaan sistem ejaan yang disederhanakan, dan sistem stenografi. Temuan-temuannya tersebut mungkin tidak terlepas dari peristiwa kebakaran tersebut. Klasifikasi Dewey muncul pada sisi buku-buku koleksi perpustakaan. Klasifikasi dilakukan berdasarkan subjek, kecuali untuk karya umum dan fiksi. Kodenya ditulis atau dicetakkan ke sebuah stiker yang dilekatkan ke sisi buku atau koleksi perpustakaan tersebut. Bentuk kodenya harus lebih dari tiga digit; setelah digit ketiga akan ada sebuah tanda titik sebelum diteruskan angka berikutnya. Contoh kode: • 330.94 = ekonomi Eropa, di mana 330 adalah kode untuk ekonomi dan 94 untuk Eropa Sebelum Dewey menemukan DDC, tidak ada sistem yang seragam yang dipergunakan oleh perpustakaan-perpustakaan untuk mengklasifikasikan koleksi buku-bukunya. Masingmasing perpustakaan memiliki dan mengembangkan sistemnya sendiri-sendiri. Bahkan ada perpustakaan yang mengelompokkan bukubuku berdasarkan ukurannya, tidak peduli temanya. Penomoran buku pun dilakukan berdasarkan nomor rak di mana buku disimpan. Misalnya, bukubuku yang disimpan di rak nomor 100C akan diberi nomor 100C. Jadi, nomor buku mengacu pada nomor rak. Sistem penomoran semacam ini disebut sistem “fixed location.” Sistem ini menimbulkan kesulitan yang tidak kecil. Masalahnya adalah ketika ada penambahan koleksi buku perpustakaan yang sampai menyebabkan buku-buku yang sudah ada harus digeser ke rak yang lain, maka nomor buku-buku tersebut pun harus diubah, menyesuaikan dengan nomor raknya yang baru. Perubahan nomor buku pun akan berdampak pada harus diubahnya kartu katalog buku-buku tersebut, karena nomor buku yang tercantum dalam katalog pun harus diubah. Keadaan seperti itu mendorong Dewey untuk menemukan suatu sistem pengklasifikasian buku

yang baru. Sesungguhnya Dewey tidak menemukan sistem yang sama sekali baru. Sebelum Dewey menemukan sistemnya, sudah ada beberapa sistem pengklasifikasian buku. Misalnya, Charles A. Cutter membuat sistem klasifikasi berdasarkan topik, dan Nathaniel Shurtleff melakukan penomoran menggunakan sistem desimal. Inovasi yang dilakukan oleh Dewey adalah menggabungkan sistem pengklasifikasian berdasarkan topik dan penomoran dengan sistem desimal. Namun, nomor tidak mengacu pada rak, melainkan pada bidang ilmu. Inovasi penting dari DDC adalah penomoran DDC tidak secara langsung merujuk pada lokasi buku. Nomor DDC hanya memberitahu letak relatif suatu buku di antara buku-buku yang lain. Untuk menemukan sebuah buku, dibutuhkan informasi tambahan, misalnya denah rak yang menginformasikan di mana buku-buku dengan nomor-nomor tertentu ditaruh. Hal ini berbeda dengan sistem “fixed location”, di mana nomor buku sama dengan nomor rak tempat buku tersebut disimpan. Berkat inovasi dari DDC ini, kita tidak perlu lagi mengalami masalah yang dihadapi bila menggunakan sistem “fixed location”. Bila perpustakaan menambah buku yang menyebabkan beberapa buku harus dipindah ke rak yang lain, maka denah lokasi saja yang perlu diubah, tidak perlu keseluruhan katalog. Satu kelebihan lain dari sistem DDC adalah memudahkan untuk ditambahkannya subjek atau tema-tema baru. Pada saat pertama kali diterbitkan pada 1876, manual DDC hanya terdiri dari 44 halaman. Sedangkan dalam Edisi 21 yang diterbitkan pada 1996, manual DDC mencapai tebal lebih dari 4000 halaman. DDC memungkinkan penambahan subjek baru karena DDC menggunakan sistem desimal. Dewey mulai dengan membagi jenis-jenis pengetahuan ke dalam kategori-kategori dasar yang kemudian diberi nomor-nomor utama (main class). Selanjutnya, mudah untuk membagi kategori-kategori dasar tadi menjadi bidang-bidang yang lebih mendetail, yang ditandai oleh nomor-nomor di sisi kanan titik desimal. Dengan sistem seperti ini, DDC dapat mengakomodasi perkembangan pengetahuan sejak masa Dewey hingga saat ini. Setelah mempelajari dengan seksama system klasifikasi yang telah ada Dewy berhasil membuat pengelompokan bidang-bidang pengetahuan. Seluruh bidang pengetahuan dikelompokan menjadi 9 kelompok, teapi untuk digunakan mengkalsifikasi buku-buku yang ada ternyata belum memenuhi kebutuhan, karena masih terdapat buku-buku yang tidak dapat dimasukan ke dalam saladh satu kelompok lagi untuk jenis-jeis buku itu, sehingga seluruhny menjadi 10 kelompok, yaitu: -General works -Philosophy -Science -Useful Art -Geography and Travel

-Religion -Sociologi -Philology

-Litrature -History -Biography.

Jika ditelaah dengan seksama, ternyata pengelompokan tahap pertama yang dibuat oleh dewey sangat dipengaruhi hasil karya Harris tersebut. Dengan penyempurnaan istilah, kemudian kesepuluh kelompok itu masing=masing dijadikan kelas utama dari system kasifikasi yang dikembangkan masing-masing kelas utama dirinci dalam 10 divisi dan masing-masing divisi dirinci ke dalam 10 seksi dan demikian seterusnya setiap tahap pembagian dibagi lagi menjadi 10 kelompok yang merupakan subordinate dari padanya.

2. BAGAN DDC Bagan atau schedule pada DDC terdiri dari serangkaian notasi bilangan (yang disebut nomer kelas)untuk kelas utama dan semua perincian lanjutanya yang disebut tajuk, yang disusun menurut “prinsip-prinsip dasar DDC” yang sudah diuraikan sebelumya. Seringkali tajuk tajuk dalam bagan diikuti dengan satu atau beberapa catatan dan retunjuk pemakaianya. Uraian lebih lanjut tentang tajuk, Kecuali bagan lengkap, DDC juga memiliki ringaksan-ringkasan yang disebut ringkasan pertama (yang terdiri dari sepuluh kelas utama), ringkasan kedua yang terdiri dari 100 divisi, ringkasan ketiga yaitu seribu seksi,yang sebenarnya hanya 920, karena ada nomer kelas yang tidak atau belum dipakai. Unsur-unsur dalam DDC Menurut Hamakonda dan Tairas (1999: 2-3), sistem ini memiliki unsur-unsur pokok antara lain: 1. Sistematika pembagian ilmu pengetahuan yang dituangkan ke dalam suatu bagan yang

lengkap dan dilandaskan pada beberapa prinsip dasar tertentu. 2. Notasi, yang terdiri dari serangkaian simbol berupa angka, yang mewakili serangkaian istilah (yang mencerminkan subjek tertentu) yang terdapat pada bagan. 3. Indeks relatif, yang terdiri dari sejumlah tajuk dengan perincian aspek-aspeknya yang disusun secara alfabetis, dan memberikan petunjuk berupa nomor kelas, yang memungkinkan orang mencari tajuk yang tercantum dalam indeks bagan. 4. Tabel pembantu, yang berbentuk serangkaian notasi khusus, yang dipakai untuk menyatakan aspek-aspek tertentu yang selalu terdapat dalam beberapa subjek yang berbeda. Terdapat 7 tabel pembantu, yaitu:

i. Tabel 1 Subdivisi Standar ii. Tabel 2 Wilayah iii. Tabel 3 Subdivisi Kesusastraan iv. Tabel 4 Subdivisi Bahasa v. Tabel 5 Ras, Bangsa, Kelompok Etnis vi. Tabel 6 Bahasa vii. Tabel 7 tentang Orang/Pribadi 5. Di samping itu, sistem klasifikasi harus menyediakan kelas untuk Karya Umum, untuk menempatkan karya-karya yang begitu luas cakupannya,sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu kelas utama manapun.Sistem ini membagi ilmu ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas utama. Masing-masing kelas utama dibagi lagi menjadi 10 divisi. Masingmasing divisi dibagi lagi menjadi 10 seksi. Sehingga terdapat 10 kelas utama, 100 divisi

Bagan klasifikasi DDC
000 100 200 300 Karya umum Filsafat Agama Ilmu-ilmu sosial

400 500 600 700 800 900

Bahasa Ilmu-ilmu murni Ilmu-ilmu terapan Kesenian Kesusastraan Geografi dan Sejarah

3. INDEKS RELATIF Salah satu kelebihan dari DDC adalah sebagai suatu sistem klasifikasi yang menyediakan indeks. Indeks disini akan membantu dan bermanfaat jika seseorang melakukan proses klaifikasi. Sejak terbitan edisi ke-16 DDC, indeks dipisahkan dan dijilid tersendiri, yang memuat 80.000 istilah. Sebagai indeks yang baik DDC berfungsi: • • Menunjukkan semua aspek topik- topik yang tersusun secara sistematik dalam bagan klasifikasi. Menunjukkan semua aspek yang berhubungan dari 1 subjek yang terbesar dalam bagan klasifikasi. Indeks DDC seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terdiri dari sejumlah tajuk dengan perincian aspek-aspeknya, yang disusun secara alfabetis dan memeberikan petunjuk berupa nomor kelas, yang memungkinkan orang untuk menemukan tajuk yang tercantum dalam indeks pada bagan dan tabel-tabel. Pada bagan, berbagai aspek dari suatu subjek terpisah-pisah letaknya dalam berbagai macam disiplin, sedangkan di dalam indeks, aspek-aspek suatu subjek dikumpulkan bersamasama di bawah tajuk subjeknya, dan disertai dengan indikator letaknya (nomor kelas)di dalam

bagan. Oleh karena itu penempatan aspek-aspek subjek yang tidak tetap inilah maka indeks DDC disebut dengan indeks relatif. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa tajuk dalam bagan disusun secara sistematis dan tajuk dalam indeks secara alfabetis. Perlu diperhatikan bahwa kelas yang dicantumkan dibelakang tajuk atau aspek-aspeknya di dalam indeks benar-benar hanya merupakan indikator saja, sehingga orang harus membandingkannnya dengan nomor kelas pada bagan untuk mendapatkan yang paling tepat. Contoh indeks relatif: Arsitektur abad pertengahan dekorasi gambar konstruksi seni lukis Astronomi deskriptif geodesi teoritis 721.3 758.7 520 523 526.6 521 720 723 729 720.28

4. CARA PENGGUNAAN DDC 1. Mengambil Langsung dari bagan Klasifkasi. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: a) Tentukanlah terlebih dahulu subjek buku dan aspeknya. b) Kemudian tentukan pada kelas utama mana buku itu berdasarkan analisa tadi. c) Kroscekkan dengan yang ada dalam bagan klasifikasi 2. Menggabungkan nomor bagan dengan table: A) TABEL 1 SUBDIVISI STANDAR Notasi-notasi dalam tabel ini tidak pernah digunakan secara tersendiri, melainkan bila perlu dapat digunakan bersama dengan notasi-notasi lain yang terdapat dalam bagan klasifikasi.

Tabel 1 ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk-bentuk suatu karya. Misalnya, (03) adalah notasi untuk menjelaskan bentuk kamus dan ensiklopedi, (05) adalah notasi untuk menjelaskan bentuk majalah, dll. Ringkasan notasi tabel 1 diantaranya :
• • • • • • • • •

01 Filsafat dan Teori 02 Bunga Rampai / kumpulan karya 03 Kamus dan Ensiklopedi 04 Topik-topik Khusus 05 Jurnal / Majalah 06 Organisasi 07 Pendidikan dan Penelitian 08 History of Person 09 Sejarah dan Geografi Karena nomor klasifikasi tidak dapat digunakan dalam waktu bersamaan, maka dalam bagan klasifikasi tersebut terdapat lima cara penggunaan tabel 1, yaitu :

1. Tidak terdapat instruksi. Contoh: Kamus tentang masakan Maka: Kamus -03 (T1) = 641.5 + -03 ( T1) = 641.503 (tidak ada perintah maka tinggal gabung saja antara bagan dengan T1). 2. Terdapat dalam bagan lengkap. Maka tinggal mengambil saja yang ada dalam bagan kalsifikasi. 3. Terdaftar sebagian. Contoh: Kamus Ilmu Perpustakaan Maka: : Kamus -03 (T1) Ilmu Perpustakaan 020 tentang masakan 641.5

= 020 + -03 =020.03 =020.3 (karena sudah terdapat contoh dalam bagan).

4. Terdapat perintah menggunakan satu nol (0) Contoh: 636.001 yakni kelas filsafat dan teori filsafat 636 dan teori -01 (T1) → 636.01

Berhubung terdapat instruksi penggunaaan Ppenambahan 1 nol (0) maka hasilnya: =636.001 5. Perintah menggunakan dua nol (00) Contoh : Penelitian -07 (T1) Maka : 636 + -07 (T1) : 636.07 Nomor kelas ini salah, karena nomor kelas 636.07 telah digunakan oleh Young of Animals. Agar tidak membingungkan, maka ditanbah nol satu lagi untuk kelas Penelitian Peternakan Hewan, yaitu menjadi 636.007 Peternakan Hewan 636

B) TABEL 2 WILAYAH
Notasi – notasi berikut tidak pernah di gunakan tersendiri melainkan bila perlu dapat di gunakan bersama dengan setiap angka dari bagan, ataupun melalui notasi -09 sub divisi standar, umpamanya partai politik ( 324.2) di india ( -54 dalam tabel ini ), menjadi 324.254 ; perbankkan (332.1) Di Perancis ( -44 dalam tabel ini ), menjadi 332.109 44. Notasi wilayah dapat juga di gabungkan dengan angka – angka dari tabel lain bila dinyatakan demikian, umpamanya dengan notasi sub divisi standar -025.

Tata Cara Penggabungan Tabel 2:

1. Jika tidak terdapat perintah

Contoh: masakan 641.5 Maka: 641.5 : 641. 509 598 1

Padang -5981 (T2)

+ -09 (T1) + -5981 (T2)

2. Jika terdapat perintah, adakalanya terdapat instruksi untuk menambahkan langsung table wilayah ke dalam 1 subjek. Contoh: Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia 328 Maka: 328 + -598 (T2) : 328.598 3. Untuk menyatakan geografi syatu wilayah, rumusnya adalah: -598 (T2)

Contoh: Geografi Indonesia 91 -598 : 915. 98 4. Untk menyatakan sejarah suatu wilayah, rumusnya adalah:

Maka : 91 + -598

Contoh: Sejarah 9 Maka : 9 + -598 : 959. 8

Indonesia -598

C) TABEL 3 SUB-DIVISI DARI MASING-MASING KESUSASTERAAN
Notasi-notasi yang berikut ini tidak pernah digunakan secara tersendiri, tetapi dapat digunakan bersama bila perlu dengan angka dasar masing-masing kesusasteraan dibawah 810890. Umpama : Drama (-2 dalam tabel ini ) Sastra Indonesia (angka dasar 81), jadi drama indonesia menjadi 812 ; sajak belanda menjadi 839.311 Yang termasuk dalam subdivisi sastra: drama, puisi, novel, dll. Cara penggabungannya:

Catatan: Apabila dalam notasi sastra yang terdapat dalam bagan tersebut berakhiran dengan angka 0, maka 0-nya dihilangkan. Jika tidak berakhiran engan agka 0 maka tinggal menggabungkan saja.

Contoh: Puisi

Indonesia

810 Maka: 810 + -1 : 811

-1 (T3)

D) TABEL 4 SUB- DIVISI DARI MASING MASING BAHASA
Notasi notasi berikut ini tidak pernah digunakan secara tersendiri,tetapi bila perlu digunakan bersama dengan angka dasar untuk masing masung bahasa,seperti di jelaskan di bawah 410-490, umpama : fonologi (-15 dalam table ini ) bahasa Indonesia( angka dasar 41 ), jadi fonlogi Indonesia menjadi 411.5. Catatan: Yang termasuk dalm katagori bentuk bahasa: kamus, terjemahan, etimologi, dialek, dll. 1. Rumusnya secara umum adalah:

Contoh: Kamus 410 Maka: 410 + -3 : 410. 3

Bahasa Indonesia -3 (T4)

2.

Rumus unuk menyatakan dalam 2 bahasa.

Contoh: Kamus -3 (T4)

Indonesia -1 (T6)

Arab 492.7 (bagan)

Maka: Bahasa Arab 492.7 (bagan) : 492.731

Kamus -3 (T4)

Indonesia -1 (T6)

E) TABEL 5 RAS, BANGSA, KELOMPOK ETNIS
Notasi- notasi berikut ini tidak pernah digunakan secara tersendiri, tetapi dapat digunakan bila perlu, baik secara langsung atau melalui notasi sub devisi standar 089 dari Tabel 1 dengan angka mana saja dari bagan klasifikasi, umpama: Psikologi bangsa (155.84) Australia (-24 dalam tabel ini) menjadi 155.8424; Seni Keramik (738) oarang Arab (-927 dalam tabel ini) mejadi 738.089927 Cara yang digunakan untuk menggabungkan tabel 5 dengan subjek: 1. Jika tidak ada perintah yang diketemukan dala bagan,naka dapat ditambahkan dengan interposisi notasi -089 yang diambil dari table 1, yakni ras, etnik, an kebangsaan. Cotoh: Seni keramik orang kasongan Bantul 738 (bagan) Maka : 738 + -089 + -1 : 738. 089 1 2. Terdapat perintah untuk menggabungkan lngsung. Contoh: Psikologi 155.84 dari Afrika Amerika -73 (T2) -1 (termasuk orang Indonesia)

-96 (T5)

Maka : 155. 84 + -96 (T6) + -73 (T2) : 155.849 6073

Pembatas 3. - Penambahan Table 5 dpat ditambahkan 0 jika ditambahkan Tabel 2 Contoh: sama seperti nomor 2

-

Jika

penambahan

notasi T5 ke dalam notasi dasar kelas tertentu tidak

terdapat perintah langsung dan harus menggunakan inter posisi notasi -089 dari T1 yang berarti ras/ etnik, maka SS tidak dapat ditambahkan dibelakngnya Contoh: Majalah Seni Keramik Orang Irish

738 (dari bagan)

-9162 (T5)

dari bagan tidak ada perintah untuk menambahkan maka: Maka : 738 + -089 + -9162 : 738. 089 916

F) TABEL 6 BAHASA-BAHASA
Notasi-notasi berikut tidak pernah digunakan tersendiri, tetapi dapat digunakan bersama notasi dari bagan klasifikasi dan dari tabel-tabel lain bila ada instruksi “tanbah notasi bahasa”, misalnya penerjemahan Al-Qur’an (2x1.2) kedalam bahasa inggris (-21), menjadi 2x1.221 Notasi-notasi dalam tabel ini tidak perlu sama dengan angka-angka yang digunakan untuk bahasa-bahasa dalam 410-490 dan dalam 810-890. Ikutilah notasi-notasi dalam tabel ini bila diinstruksikan demikian. Ini bisa disingkat dalam rumus: 1. Jika ada printah. Maka gabungkan langsung. 2. Jika tidak ada perintah, maka:

Contoh: Ensiklopedi

Bahasa Jepang

030 Maka : 030. 956

-956 (T6)

: 039. 56 (seperti contoh untuk menghilangkan 0)

BAB III PENUTUP

Banyak bahan pustaka dengan beragam pula subjeknya. Itulah latar belakang mengapa Melvil Dewey menciptakan system klasifikasi yang sampai saat ini terkenal dengan Dewey Decimal Classification atau lebih dikenal dengan DDC. Dengan adanya system klasifikasi ini, para pengguna perpustakaan dimudahkan dalam proses temu kembali informasi. Maksud dari penyusunan Buku Kerja DDC ini adalah sebagai pegangan sederhana dan membantu proses klasifikasi di perpustakaan. Dimana beberapa waktu belakangan ini klasifikasi berdengung dimana-mana.Penyususn menyadari bahwa klasifikasi bukanlah hal yang mudah, untuk itu semoga dengan hadirnya Buku Kerja DDC ini dapat mempermudah dan membantu dalam proses klasifikasi dan semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua.Amin.

DAFTAR PUSTAKA
⇒ Eryono, Muh.Kailani, Pengolahan Bahan Pustaka, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2002). ⇒ Hamakonda, Towa P, Pengantar Klasifikasi Persepuluh Dewey, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia,2007)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->