P. 1
Hukum Sebagai Sistem Peraturan

Hukum Sebagai Sistem Peraturan

|Views: 7,241|Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Erika Angelika on Jan 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

HUKUM SEBAGAI SISTEM PERATURAN

Disusun oleh : Erika 0706291243

Tugas Makalah untuk Mata Kuliah Pengantar Ilmu Hukum Program Studi S1 Reguler Ilmu Hubungan Internasional Semester Pendek 2007/2008

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA 2008
Page | 1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat-Nya lah, makalah ini dapat saya selesaikan. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Andi Asmoro Putro yang telah menugaskan saya membuat makalah ini, karena dengan membuat makalah ini, saya menjadi semakin paham dan mengerti mengenai peran hukum sebagai sistem peraturan, dan hal-hal yang terkait di dalamnya. Makalah yang berjudul “Hukum Sebagai Sistem Peraturan” ini pada dasarnya bersumber pada buku Prof. Dr. Satjipto Rahardjo yang berjudul “Ilmu Hukum”, akan tetapi penulis juga menambahkan beberapa tambahan penting yang kiranya terkait dengan bahasan mengenai hukum sebagai sistem peraturan. Akhir kata, tiada gading yang tak retak. Begitu pula dengan makalah ini, yang tentunya masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi segenap pembaca. Sekian kata pengantar ini, akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, 6 Juli 2008 Hormat saya,

Penulis

Page | 2

BAB I PENDAHULUAN

Hukum dan masyarakat. Kedua hal tersebut bagaikan berada dalam satu keping uang logam, berbeda akan tetapi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Keberadaan hukum tampa adanya masyarakat tidaklah berguna, begitu pula sebaliknya, keberadaan masyarakat tanpa adanya hukum dapat menghancurkan masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang beragam tentu menimbulkan munculnya kepentingan-kepentingan yang beragam pula. Karena itulah, dalam masyarakat diperlukan adanya pengaturan berbagai kepentingan yang ada, agar kepentingan-kepentingan itu tidak saling berbenturan satu dengan yang lain. Di sinilah hukum berperan, hukum dibuat dalam rangka menciptakan ketertiban dan mengatur relasi antar masyarakat. Dalam melaksanakan fungsinya untuk menciptakan ketertiban, hukum berlaku sebagai sistem peraturan, yang kemudian melahirkan peraturan hukum dengan berdasar pada asas hukum yang harus dipatuhi oleh setiap subjek hukum (dalam hal ini, masyarakat). Hukum mengatur hubungan hukum yang terjadi antara subjek hukum, memberikannya kewenangan baru yang kemudian disebut hak. Makalah ini akan membahas peran hukum sebagai sistem peraturan, yang mengatur ketertiban dalam masyarakat; serta hal-hal yang berkaitan dengannya.

Page | 3

BAB II

PEMBAHASAN

A. ANATOMI PERATURAN

1. Norma Kultur Dalam bagan sibernetika dari Parsons dikemukakan bahwa manusia dikontrol oleh arus-arus informasi tertentu yang diterimanya dari sumber yang tertinggi, yang oleh Parsons disebut sebagai ultimate reality atau “kebenaran jati”. Bekerjanya arus informasi tersebut kemudian menimbulkan kesadaran diskriminatif pada manusia, yang menyebabkan mereka dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Nilai-nilai itu memberikan suatu pengertian tentang hal-hal yang patut dijunjung tinggi, yang juga harus dicapai dan dipelihara. Sehubungan dengan nilai-nilai tersebut, timbul suatu penggolongan yang penting mengenai norma, yaitu menjadi “keharusan-keharusan alamiah” dan “keharusan-keharusan susilawi”, yang selanjutnya dikenal sebagai “norma alam” dan “norma susila” (Radbruch, 1961:12). Norma alam dan norma susila memiliki perbedaan-perbedaan, seperti yang tampak dalam bagan di bawah ini : Norma Alam Norma Susila

Norma yang mengatakan tentang apa yang Norma yang mengatakan tentang sesuatu pasti akan terlaksana. Sesuatu yang dijadikan norma yang mungkin tidak akan terlaksana. karena Sesuatu yang dijadikan norma, sekalipun ia nantinya ternyata tidak bersesuaian dengan kenyataan. Norma yang menggambarkan dunia Norma yang menggambarkan suatu rencana,

kesesuaiannya dengan kenyataan.

kenyataan, yaitu mengutarakan sesuatu yang atau suatu keadaan yang ingin dicapai. memang sudah ada. Norma ini mengutarakan sesuatu yang masih ingin dicapai.
Sumber : Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 25.
Page | 4

Selain perbedaan-perbedaan seperti yang telah disebutkan dalam bagan di atas, norma alam dan norma susila juga memiliki satu perbedaan yang mendasar lain, yang terletak dalam hal hubungan yang dibicarakan di dalamnya. Dalam norma alam, hubungan-hubungan yang terjadi di bidang kehidupan alam terbilang dapat diukur secara eksak, oleh karena itu yang dibicarakan di dalam norma alam adalah hubungan sebab-akibat (causal relation). Kausalitas semacam ini tidak ditemukan dalam norma susila. Sebaliknya, yang terjadi dalam norma susila merupakan hal yang sulit diukur secara eksak, sehingga hubungan yang ada adalah hubungan pengaitan (zurechnungsprinzip), yang berarti norma susila cenderung dikaitkan pada suatu kejadian bila timbul suatu kejadian tertentu. Perbedaan kedua terletak pada perantara yang dibutuhkan dalam hubungan pada kedua norma tersebut. Pada norma alam, hubungan sebab-akibat dapat berjalan dengan sendirinya, tanpa membutuhkan perantara. Sedang dalam norma susila, suatu hubungan tidak mungkin terjadi tanpa adanya perantara. Perantara inilah yang kemudian akan memutuskan apakah norma susila tertantu layak untuk dikaitkan dengan suatu kejadian atau tidak. Lantas, apa hubungan antara hukum, yang sedang kita pelajari dengan kedua norma tersebut? Norma hukum ternyata termasuk dalam norma susila, norma susila sendiri terdiri dari norma hukum dan norma kesusilaan. Norma hukum dan norma kesusilaan sendiri memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaan antara kedua norma itu adalah keduanya sama-sama ingin mencapai atau menciptakan sesuatu; oleh karena persamaannya inilah, maka norma hukum dan norma kesusilaan sama-sama digolongkan ke dalam norma susila. Namun demikian, keduanya juga memiliki perbedaan dalam ciri-cirinya, norma kesusilaan dimasukkan ke dalam golongan norma ideal, sedang norma hukum dimasukkan dalam golongan norma kultur (Radbruch, 1961:15). Mengenai perbedaan norma ideal, norma alam, dan norma kultur, akan lebih jelas bila kita melihatnya dalam bagan di bawah ini :

Dunia Ideal Norma Ideal

Norma Kultur

Dunia Kenyataan Norma Alam

Sumber : Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 27.
Page | 5

Dalam bagan di atas, jelas terlihat bahwa norma kultur terletak pada pertengahan antara norma ideal dan norma alam. Hukum, sebagai norma kultur, mengajak masyarakat untuk mencapai cita-cita serta keadaan tertentu, tetapi tanpa mengabaikan dunia kenyataan. Akan tetapi, hukum sebagai norma kultur tetap menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan (norma ideal), bukan apa yang pasti akan dilakukan (norma alam). Dalam bahasa Inggris, ciri norma susila tersebut disebut sebagai ought, sedang ciri norma alam disebut sebagai is. Sedang dalam Bahasa Jerman, mereka disebut Gesetzen des Sollens (dunia keinginan, melambangkan norma ideal), dan Gesetzen des Mussens (dunia kenyataan, melambangkan norma alam).

2. Norma Sebagai Perintah dan Penilaian Telah dijelaskan sebelumnya mengenai pembagian dan penggolongan berbagai norma. Selanjutnya, pada pokok bahasan ini akan dijelaskan mengenai norma hukum sendiri, yang berfungsi sebagai perintah dan penilaian. Dalam buku “Ilmu Hukum”, Prof. Dr. Satjipto Rahardjo mengatakan norma adalah sarana yang dipakai oleh masyarakatnya untuk menertibkan, menuntut, dan mengarahkan tingkah laku anggota masyarakat dalam hubungannya satu sama lain. Selanjutnya, untuk menjalankan fungsi menertibkan masyarakat tersebut, norma sudah tentu harus memiliki kekuatan yang bersifat memaksa. Ciri paksaan ini kemudian menjadi ciri yang paling menonjol dari norma. Senada dengan hal itu, banyak penulis lantas beranggapan norma adalah “perintah yang didukung oleh ancaman paksaan” (Raz, 1973; Hart, 1972; Kelsen, 1957). Unsur paksaan dalam norma tersebut kemudian akan memberi bentuk pada suatu masyarakat, masing-masing tatanan sosial akan mencari cara dan jalannya sendiri yang cocok untuk membuat anggota masyarakatnya berbuat seperti yang dikehendakinya.

Sehubungan dengan ciri paksaan yang melekat pada norma, Harl mengatakan bahwa pada pandangan pertama tampak tidak ada bedanya antara apa yang dilakukan oleh seorang penodong dan hukum (Harl, 1972: 19). Keduanya sama-sama mengeluarkan perintah dengan ancaman kekerasan, yang lantas ditujukan pada siapa saja yang menjadi sasaran perintah tersebut. Dengan kata lain, hukum membuat seseorang dipaksa untuk melakukan suatu
Page | 6

perbuatan. Identifikasi hukum sebagai perintah ini oleh John Austin dikembangkan menjadi suatu ajaran, yang dikenal dengan nama Doktrin Austin. Harl melanjutkan, ciri-ciri pembeda antara penodongan dengan hukum adalah (Harl, 1972: 21-23) : a) Sifat keumumannya. Penodongan ditujukan kepada orang tertentu, sedang hukum kepada kelas, kelompok, atau golongan tertentu, atau bahkan kepada semua orang yang memenuhi persyaratan tertentu (seperti misalnya orang yang menjadi penduduk suatu bangsa). b) Bentuk perbuatannya. Pada hukum, perbuatan yang dituntut oleh dilakukan dirumuskan secara umum, sedang pada penodongan perbuatan yang dilakukan harus bersifat konkrit. c) Sifat kekuatan kekekalan perintahnya. Pada hukum, perintah berlangsung

terus-menerus sementara pada penodongan, apabila perintah telah dilaksanakan, maka habislah kekuatannya.

Norma merupakan pencerminan dari kehendak masyarakat. Kehendak masyarakat untuk mengarahkan tingkah laku anggota masyarakat dilakukan dengan membuat pilihan antara tingkah laku yang disetujui dan yang tidak disetujui. Pilihan itulah yang kemudian akan menjadi norma dalam masyarakat. Karena itulah, norma hukum merupakan persyaratan dari tumbuh dan munculnya penilaian-penilaian yang ada dalam masyarakat. Selain mengandung penilaian, norma hukum juga mengandung nalar tertentu. Nalar tersebut terletak pada penilaian yang dilakukan masyarakat terhadap tingkah laku dan perbuatan orang-orang dalam masyarakat. Sehingga hukum, yang mengandung nalar, dapat membentuk masyarakat menurut suatu pola tertentu yang dikehendakinya.

Dari penjelasan si atas, dapat disimpulkan norma hukum mengandung dua unsur, yaitu : 1) Patokan penilaian. Hukum digunakan untuk menilai kehidupan masyarakat, yaitu dengan menyatakan apa yang dianggap baik dan buruk. Penilaian inilah yang kemudian akan melahirkan petunjuk tentang tingkah laku masyarakat.
Page | 7

2) Patokan tingkah laku. Pandangan tingkah laku ini lahir bila hukum dipandang sebagai perintah, yaitu ketika masyarakat bertingkah laku sesuai dengan yang diperintahkan oleh hukum.

3. Norma Hukum dan Peraturan Hukum Norma hukum sering disebut juga sebagai norma petunjuk tingkah laku. Norma hukum sendiri berisi suruhan dan larangan. Untuk memastikan apakah suatu peraturan merupakan norma hukum atau bukan, dapat dilihat dalam dua ukuran tersebut. Dengan patokan tersebut, ternyata tidak semua peraturan hukum mengandung norma hukum di dalamnya. Beberapa peraturan hukum yang tidak mengandung norma hukum adalah : 1) Peraturan-peraturan yang termasuk ke dalam hukum acara 2) Peraturan-peraturan yang berisi rumusan-rumusan pengertian yang dipakai dalam suatu kitab hukum. 3) Peraturan-peraturan yang memperluas, membatasi, atau mengubah isi dari peraturan lain. 4) Peraturan-peraturan yang hanya menunjuk kepada peraturan lain.

Sebenarnya, peraturan hukum tidak lain hanya merupakan lambang-lambang yang dipakai untuk menyampaikan norma-norma hukum. Lambang itu sendiri dapat berupa peraturan tertulis, dapat pula berupa tanda-tanda lain. Apapun bentuknya, karena semua itu hanya berupa lambang saja, maka hal itu bisa saja dibuang, dirusak, dan dimusnahkan tanpa menghapus norma hukumnya sendiri. Peraturan hukum memuat rumusan-rumusan yang bersifat abstrak, namun demikian peraturan-peraturan itu merupakan bagian dari tatanan hukum yang memberikan suatu klasifikasi hukum terhadap kenyataan kehidupan sehari-hari. Norma hukum, berasal dari rumusan pendapat atau pandangan tentang bagaimana seharusnya atau seyogyanya seseorang bertingkah laku. Asal-usul norma hukum ini berupa kekuasaan yang memaksa. Sanksi bila melanggar norma hukum ini berasal dari masyarakat secara resmi. Daya kerja norma hukum ini adalah dengan membebani individu dengan kewajiban, dan memberi hak. Norma hukum bersifat normatif dan memerintah.
Page | 8

Dalam hukum, dikenal istilah perbuatan nir-hukum (unlawful act), yang dimengerti sebagai perbuatan yang melanggar hukum. Yang dimaksud melanggar hukum di sini adalah sifat dari perbuatan tersebut, bukan perbuatan itu sendiri; dengan kata lain, hukumlah yang memberi kualifikasi terhadap perbuatan itu sebagai perbuatan yang nir-hukum.

B. PERATURAN HUKUM DAN PERISTIWA HUKUM

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, peraturan hukum tidaklah sama dengan dunia kenyataan, peraturan hukum hanya memberikan kualifikasi terhadap dunia tersebut. Untuk dapat berfungsi dalam masyarakat, peraturan hukum membutuhkan adanya suatu peristiwa hukum. Peristiwa hukum ini adalah suatu kejadian dalam masyarakat yang menggerakkan suatu peraturan hukum tertentu, sehingga ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalamnya lalu diwujudkan1. Sementara menurut Van Apeldooren, peristiwa hukum adalah suatu peristiwa yang didasarkan pada hukum, menimbulkan atau menghapuskan hak. Lebih lanjut lagi, Bellefroid mengatakan peristiwa hukum adalah suatu peristiwa sosial yang tidak secara otomatis dapat menimbulkan hukum, karena suatu peristiwa dapat merupakan peristiwa hukum apabila peristiwa tersebut oleh hukum dijadikan sebagai suatu peristiwa hukum. Dari pengertian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa tidak setiap peristiwa merupakan peristiwa hukum, hanya peristiwa yang dapat menimbulkan akibat hukum serta yang menimbulkan hak dan kewajiban sajalah yang kemudian dapat digolongkan sebagai peristiwa hukum. Peraturan hukum membuat suatu kerangka dari peristiwa yang dapat terjadi dalam kenyataan kehidupan sehari-hari.Vinogradoff mengatakan bahwa peraturan hukum hanya berupa garis besar yang bersifat sebagai bagan dari peristiwa sesungguhnya. Keberadaan peristiwa hukum memang dapat menggerakkan hukum, akan tetapi tidak semua hal dalam peristiwa itu dianggap penting oleh hukum. Hukum hanya membutuhkan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan bahwa tingkah laku yang tercantum dalam peraturan hukum itu memang terjadi.
1

Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 35. Page | 9

Bagan peristiwa hukum :

Peristiwa Hukum

Perbuatan Subjek Hukum (PSH)

Perbuatan Hukum Sepihak

Peristiwa

Ganda Perbuatan Subjek Hukum Lainnya Melawan Hukum Sah

Bukan PSH (Kejadian, Keadaan, Lampaunya Waktu) Bukan Peristiwa Hukum

Pada bagan di atas, peristiwa hukum dibagi menjadi perbuatan subjek hukum dan bukan perbuatan subjek hukum. Perbuatan subjek hukum didefinisikan sebagai perbuatan manusia atau badan hukum sebagai pendukung hak dan kewajiban 2. Perbuatan subjek hukum sendiri kemudian dibagi menjadi perbuatan hukum dan perbuatan subjek hukum lainnya. Perbuatan hukum adalah perbuatan yang dilakukan orang dengan maksud guna menimbulkan suatu akibat hukum yang dikehendaki dan diperkenankan oleh hukum 3 . Sehingga dengan kata lain perbuatan hukum adalah perbuatan subjek hukum yang ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum yang sengaja dikehendaki oleh subjek hukum itu sendiri. Perbuatan hukum ini kemudian dibagi menjadi 2, yaitu secara sepihak dan ganda. Perbuatan hukum sepihak adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh seseorang melalui pernyataan kehendaknya, sehingga menimbulkan akibat hukum4. Contoh perbuatan hukum yang dilakukan secara sepihak misalnya adalah pemberian hibah untuk pembangunan sekolah, atau tempat-tempat umum lainnya. Sedang perbuatan hukum yang dilakukan secara ganda adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang menimbulkan akibat

2 3 4

Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004). H. F. A. Vollmar, Pengantar Studi Hukum Perdata, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996). H. Zainuddin Ali, Filsafat Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2006). Page | 10

hukum5, yang kemudian menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kedua belah pihak tersebut secara timbal-balik. Contoh perbuatan hukum yang dilakukan secara ganda adalah perjanjian balik nama, yang memindahkan hak kepemilikan atas suatu barang dari seseorang kepada orang lain. Namun perlu diingat bahwa perjanjian balik nama tidak hanya memindahkan hak kepemilikan atas suatu barang, melainkan juga kewajiban-kewajiban yang terkait dengan kepemilikan barang tersebut. Pembagian kedua dari perbuatan subjek hukum adalah perbuatan subjek hukum lainnya. Perbuatan subjek hukum lainnya ini kemudian dibagi 2, yaitu perbuatan yang sah dan perbuatan yang melawan hukum. Adapun perbuatan yang sah (“zaakwaarneming”) adalah perbuatan yang dilakukan oleh subjek hukum yang mendatangkan hak dan kewajiban dan akibat hukum, akan tetapi tidak melanggar hukum, dan oleh karenanya disebut sah secara hukum. Contoh dari perbuatan sah adalah perkawinan. Perkawinan yang dilakukan antar kedua individu akan sah bila tercatat pada catatan sipil, dan bila perkawinan itu telah sah, maka kedua individu akan memperoleh berbagai hak dan kewajiban baru yang tadinya tidak mereka peroleh akibat hukum. Sedang perbuatan yang melawan hukum adalah perbuatan yang bertentangan dengan berbagai kaidah hukum. Substansi dari perbuatan melawan hukum adalah sebagai berikut: a. bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, atau b. melanggar hak subyektif orang lain, atau melanggar kaidah tata susila (goede zeden), atau c. bertentangan dengan azas “Kepatutan”, ketelitian serta sikap hati-hati dalam pergaulan hidup masyarakat6. Contoh perbuatan melawan hukum adalah tindak pembunuhan berencana, yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Bab XIX Pasal 340. Dalam pasal 340 disebutkan bahwa “barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”7. Dari
5 6

Ibid. Perbuatan Melawan Hukum. http://ppk.or.id/downloads/Perbuatan%20Melawan%20Hukum.pdf, diakses pada 28 Juni 2008, pukul 23.31. Prof. Moeljatno, S.H. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), hal.123. Page | 11

7

pasal tersebut jelas terlihat bahwa tindak pembunuhan berencana merupakan perbuatan yang melanggar hukum, dan pelaku yang melakukannya akan ditindak sesuai hukum yang berlaku. Pembagian kedua dari peristiwa hukum adalah bukan perbuatan subjek hukum. Peristiwa yang termasuk bukan perbuatan subjek hukum adalah peristiwa yang menimbulkan akibat hukum tetapi terjadi di luar kehendak subjek hukum, dan tidak dapat dikendalikan oleh subjek hukum. Peristiwa bukan perbuatan subjek hukum ini kemudian dibagi menjadi tiga, yaitu kejadian, keadaan, dan lampaunya waktu (daluarsa). Yang dimaksud dengan kejadian adalah terjadinya suatu peristiwa yang tidak dikehendaki/diduga sebelumnya, dan berakibat pada munculnya hak dan kewajiban serta menimbulkan akibat hukum. Contohnya ketika terjadi kecelakaan pada A, di mana A sudah mengasuransikan dirinya lewat sebuah perusahaan asuransi, yang mengakibatkan A menjadi cacat total. Di sini perusahaan asuransi kemudian berkewajiban memberikan santunan dan sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan perjanjian dalam asuransi tersebut, sementara A kemudian berhak meminta haknya pada perusahaan asuransi, sesuai dengan kesepakatan perjanjian sebelumnya. Jenis peristiwa bukan perbuatan subjek hukum yang kedua adalah keadaan, yaitu suatu peristiwa yang menimbulkan akibat hukum yang disebabkan oleh keadaan/berlangsungnya suatu proses. Contoh dari keadaan adalah pendewasaan seseorang, yang kemudian menimbulkan munculnya hak dan kewajiban baru bagi orang tersebut, karena orang itu dianggap sudah menjadi subjek hukum yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya (subjek hukum cakap). Jenis ketiga adalah lampaunya waktu (daluarsa), yaitu ketika tercapainya jangka waktu tertentu yang kemudian menimbulkan hak dan kewajiban yang baru bagi seseorang, serta menimbulkan akibat hukum baru yang sebelumnya tidak ada. Contohnya pada kasus warisan, ketika seluruh pihak keluarga meninggal kecuali seorang anak yang masih di bawah umur, dan tidak ada sanak keluarga lain. Pada kasus ini, warisan akan jatuh pada anak yang belum dewasa tersebut, akan tetapi karena sang anak belum dewasa, warisan akan disimpan dahulu oleh pihak lain (misalnya pengacara sang ayah), sampai jangka waktu tertentu, yaitu ketika anak itu sudah dianggap dewasa secara hukum. Ketika tercapainya jangka waktu itu, sang anak kemudian akan memperoleh haknya sebagai ahli waris.

Setelah

timbul

suatu

peristiwa

hukum

akan

diikuti

oleh

timbulnya
Page | 12

kelanjutan-kelanjutan. Kelanjutan-kelanjutan seperti ini biasa disebut akibat hukum, namun yang perlu diingat di sini adalah pemakaian istilah akibat hukum sendiri haruslah hati-hati, agar jangan sampai menimbulkan kesan adanya hubungan sebab-akibat dalam norma hukum. Agar dapat timbul akibat hukum, dibutuhkan berbagai syarat tertentu. Syarat ini kemudian disebut sebagai dasar hukum. Istilah dasar hukum berbeda dengan dasar peraturan, yang dimengerti sebagai peraturan hukum yang dipakai sebagai kerangka acuan. Hukum sendiri diciptakan dengan tujuan untuk mengatur kehidupan sosial , yang merupakan jalinan dari berbagai hubungan yang dilakukan antara para anggota masyarakat satu sama lain. Hubungan-hubungan ini bersifat kepentingan-kepentingan, yang ditujukan kepada semua sasaran, mulai dari sasaran yang paling kasar sampai pada sasaran ayng paling halus. Kepentingan-kepentingan ini kemudian diatur oleh peraturan hukum, yang memuat norma hukum yang mengandung penilaian serta rumusan yang bersifat hipotesis.

C. AKIBAT HUKUM, DASAR HUKUM, HUBUNGAN HUKUM

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukum adalah hal yang bersifat abstrak, yang memberikan kualifikasi terhadap perbuatan masyarakat. Dengan adanya klasifikasi dari hukum tersebut, maka terbentuklah hubungan-hubungan hukum. Agar terjadi hubungan hukum, diperlukan pihak-pihak yang melakukan hal sehubungan dengan hukum tersebut, yang mana disebut subjek hukum. Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum8. Namun tidak berarti semua manusia cakap bertindak dalam hukum. Orang-orang yang tidak memiliki kecakapan dalam hukum ini kemudian disebut sebagai subjek hukum yang tidak cakap. Subjek hukum yang tidak cakap adalah subjek hukum yang dianggap mempunyai kemampuan pertanggungjawaban rendah, sehingga ia dibebaskan dari hak dan kewajiban tertentu, terutama yang berhubungan dengan hukum. Subjek hukum yang digolongkan “tidak cakap” oleh hukum digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu: Orang-orang yang belum dewasa atau anak yang belum mencapai usia 18 tahun,
8

Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Campuran, Berdasarkan Hukum Indonesia. http://leeriem.blogspot.com/2008/01/status-hukum-anak-hasil-perkawinan.html, diakses pada 28 Juni 2008, pukul 23.38. Page | 13

atau belum melangsungkan pernikahan. Sehingga walaupun seseorang belum mencapai usia 18 tahun, tetapi ia sudah melangsungkan pernikahan, maka ia sudah dianggap sebagai subjek hukum yang cakap oleh hukum. Orang-orang yang berada di bawah pengampuan (curatele). Pengampuan sendiri adalah suatu permohonan yang dilakukan oleh sekelompok orang (biasa oleh pihak keluarga) terhadap seseorang yang dianggap tidak bisa menilai apa perbuatannya salah/benar, sehingga ia tidak dapat bertanggung jawab pada perbuatannya sendiri. Golongan orang yang biasa dimintakan pengampuan adalah orang yang mengalami keterbelakangan mental, orang sakit jiwa, pecandu, pemabuk, penjudi, dan lain-lain. Tiga contoh yang terakhir adalah pihak yang biasa dimintakan pengampuan dalam lapangan hukum harta kekayaan. Orang-orang yang dilarang oleh Undang-Undang untuk melakukan perbuatan hukum tertentu, dan oleh karenanya ia dianggap “tidak cakap” secara hukum. Contohnya adalah orang yang telah dinyatakan pailit secara hukum. Oleh Undang-Undang, orang yang telah dinyatakan pailit dibebaskan dari hukum, dan dilarang untuk melakukan perbuatan hukum tertentu.

Selanjutnya, diperlukan juga sasaran dari hubungan hukum tersebut, yang disebut objek hukum. Ketiga unsur tersebut (subjek hukum, objek hukum, dan hubungan hukum) merupakan kategori hukum, karena tanpa ketiganya, suatu hukum tidak akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pemberian kualifikasi dalam masyarakat oleh hukum mengubah hubungan-hubungan yang terjalin dalam masyarakat, sehingga menimbulkan

pertalian-pertalian tertentu antara subjek-subjek hukum. Pertalian-pertalian ini berupa kewenangan yang terdapat dalam diri subjek hukum. Kewenangan ini kemudian disebut hak. Secara umum, hak mengandung pengertian sebagai kewenangan atau kekuasaan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Sementara Prof. Mr. L.J. Van Apeldoorn mengatakan hak adalah hukum yang dihubungkan dengan seseorang manusia atau subjek hukum tertentu yang menjelma menjadi suatu kekuasaan dan suatu hal yang timbul apabila hukum mulai bergerak. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan Van Apeldoorn berpendapat bahwa hak merupakan hukum subjektif yang diaplikasikan oleh
Page | 14

individu-individu.

Berbeda dengan Van Apeldoorn, Prof. Utrech berpendapat bahwa hak adalah jalan untuk memperoleh kekuatan, akan tetapi yang perlu diingat di sini hak bukanlah sebuah kekuatan, melainkan hanya berupa jalan untuk memperolehnya. Sebuah pengertian mengenai hak yang dianggap cukup dimengerti ditawarkan oleh Fitzgerald (1966 : 224-233) dalam buku “Ilmu Hukum” karangan Prof. Dr. Satjipto Rahardjo. Ia menyebutkan adanya empat pengertian dalam hak, yaitu: a. Hak dalam arti sempit, yaitu pengertian hak yang berkorelasi dengan kewajiban. Dalam pengertian hak dalam arti sempit ini, seseorang akan memperoleh hak bila ia telah melaksanakan kewajibannya. Hak berjalan seiring dengan kewajiban yang telah dituntaskan oleh seseorang. Contohnya adalah ketika seseorang makan di restoran; pada kasus ini, orang tersebut menikmati haknya, yaitu menikmati makanan enak di restoran. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah, orang tersebut harus melaksanakan kewajibannya, yaitu membayar sejumlah uang sesuai dengan makanan yang ia santap. Bila orang tersebut tidak melaksanakan kewajibannya (tidak membayar), maka orang tersebut tidak diperkenankan mendapatkan haknya (menikmati makanan di restoran tersebut). Begitu juga dari sisi pemilik restoran, bila orang telah membayar sejumlah uang untuk makanan tersebut (yang berarti si pemilik restoran telah menerima haknya), maka pemilik restoran berkewajiban untuk menyediakan makanan bagi orang tersebut. b. Kemerdekaan. Pengertian hak dalam arti kemerdekaan di sini mengandung pengertian sebagai kebebasan/kewenangan seseorang untuk melakukan berbagai hal yang disenangi atau ingin dilakukan. Perbedaan unsur kemerdekaan di sini jelas berbeda dengan unsur sebelumnya, yaitu hak dalam arti sempit. Pada unsur hak dalam arti sempit, hak berhubungan dengan hal-hal yang harus dilakukan oleh orang lain untuk subjek hukum, sementara dalam unsur kemerdekaan, hak hanya berurusan dengan hal-hal yang boleh dilakukan subjek hukum untuk dirinya sendiri. Pada pengertian kemerdekaan ini sebenarnya juga ditemui adanya korelasi dengan kewajiban, yaitu kemerdekaan pada seorang subjek hukum berkorelasi pada
Page | 15

kewajiban subjek hukum lain untuk tidak mengganggu kemerdekaan tersebut. Contohnya adalah hak untuk mengeluarkan pendapat, yang kini telah dijamin dalam pasal 28 UUD 1945. Sehubungan dengan unsur kemerdekaan dalam pengertian hak, maka setiap subjek hukum memiliki kebebasan untuk mengeluarkan pendapatnya, yang tidak boleh diganggu oleh subjek hukum lainnya. c. Kekuasaan, berupa hak yang diberikan kepada seseorang untuk, melalui jalan hukum, mewujudkan kemauannya guna mengubah hak-hak, kewajiban-kewajiban, pertanggungjawaban atau lain-lain hubungan hukum, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain9. Pengertian kekuasaan di sini bisa bersifat perdata maupun publik. Kekuasaan yang terletak di bidang publik disebut kewenangan, sedang kekuasaan di bidang perdata disebut kecakapan. Perbedaan unsur kekuasaan dan kemerdekaan adalah pada unsur kemerdekaan, subjek hukum berhak melakukan perbuatan sesuai dengan keinginannya, asal tidak bertentangan dengan hukum; sedang pada unsur kekuasaan, hak membuat subjek hukum dapat mensahkan suatu perbuatan sehingga tidak bertentangan dengan hukum, sehingga dapat dikatakan unsur hak sebagai kekuasaan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengubah hubungan-hubungan hukum. d. Imunitas, yaitu hak dalam arti kekebalan terhadap kekuasaan hukum orang lain. di sini, kekebalan mempunyai kedudukan yang sama dalam hubungan dengan kekuasaan, seperti antara kemerdekaan dengan hak dalam arti sempit: kekebalan adalah pembebasan dari kekuasaan orang lain, sedang kemerdekaan merupakan pembebasan dari hak orang lain10. Contoh dari unsur imunitas dalam hak ini adalah hak-hak diplomatik, yang diberikan dengan (salah satu) tujuan agar para diplomat dapat melaksanakan tugas mewakili negaranya dengan sebaik-baiknya tanpa harus terganjal oleh masalah hukum di negara tempatnya diutus.

Telah

disebutkan

di

atas

bahwa

hak

mengandung

pengertian

sebagai

kewenangan/kekuasaan yang dimiliki seseorang untuk melakukan/tidak melakukan sesuatu.
9 10

Satjipto Rahardjo, op.cit., hal. 57. Ibid, hal. 58. Page | 16

Secara sepintas, dapat kita tangkap bahwa hak merupakan milik seseorang secara sepenuhnya. Akan tetapi harus diingat bahwa hak juga harus tetap memiliki fungsi sosial, yaitu bahwa pelaksanaan hak individu itu jangan sampai bertentangan dengan hak dan kepentingan individu lainnya. Sehubungan dengan fungsi sosialnya, Leon Duguit berpendapat hak adalah fungsi sosial dalam arti bahwa kekuasaan yang dimiliki seseorang dibatasi oleh kepentingan masyarakatnya. Lebih lanjut lagi, Duguit mengatakan bahwa perseorangan tidak memiliki hak, tapi tiap-tiap orang mempunyai tugas tertentu dalam masyarakat, sehingga fungsi sosial harus dipenuhinya. Ini menyebabkan pelaksanaan dan pemanfaatan hak tidak dapat dilakukan secara sepenuhnya dan sebebas-bebasnya, karena setiap subjek hukum juga harus memperhatikan dampak dari pelaksanaan haknya terhadap kepentingan subjek lainnya. Bila ternyata pelaksanaan hak tersebut bertentangan dan merugikan hak orang lain, maka perbuatan (hak)-nya tersebut dapat digolongkan bersalah dalam hukum.

Kaitan antara kualifikasi hukum, hubungan hukum, subjek hukum, objek hukum, dan hak ditunjukkan oleh bagan di bawah ini :

Dunia Kenyataan

A sasaran

B

Pemberian kualifikasi hukum

Pertalian

antara

subjek

hukum

berupa hubungan yang dikualifikasi sebagai : hak Dunia Tatanan Hukum

Subjek Hukum Objek Hukum

Subjek Hukum

Sumber : Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 41.

Page | 17

D. ASAS HUKUM, STANDAR, PENGERTIAN HUKUM, PERATURAN

Sebelumnya telah disebutkan bahwa peraturan hukum hanya merupakan lambang dari norma hukum saja, namun walaupun begitu, hingga kini peraturan hukum masih merupakan cara paling sempurna untuk mewujudkan norma-norma hukum dalam masyarakat. Dalam mewujudkan norma hukum agar dapat ditangkap oleh masyarakat, peraturan hukum menggunakan berbagai kategori sarana. Sarana pertama adalah, peraturan hukum disusun dalam rangkaian kata-kata yang membentuk suatu kalimat. Rangkaian kata-kata ini disebut bahasa hukum. Ciri dari bahasa hukum adalah adanya penggunaan kata-kata yang terukur yang berusaha merumuskan suatu pengertian secara eksak. Karena sifatnya itulah, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa hukum menjemukan dan kering. Bahasa hukum sedapat mungkin menghindari pengaturan yang berbunga-bunga yang dapat menimbulkan tafsir ganda. Dalam perkembangannya, dahulu ragam bahasa hukum pernah menggunakan bahasa yang puitis; namun seiring perkembangan jaman, ragam bahasa hukum menjadi semakin prosais dengan kecenderungan ke arah ketepatan arti. Peraturan hukum juga menggunakan pengertian atau konsep-konsep untuk menyampaikan kehendaknya, pengertian ini merupakan abstraksi dari barang-barang yang pada dasarnya bersifat konkrit dan individual. Dengan menggunakan abstraksi, cara penyampaian bahasa hukum menjadi lebih ekonomis. Tingkat abstraksi yang digunakan dalam suatu bahasa hukum dapat digunakan sebagai petunjuk mengenai tingkat kematangan dari sistem hukum yang bersangkutan. Semakin tinggi tinkat abstraksi pengertian hukum, semakin kosong pula keadaannya dan tingkat abstraksi yang tertinggi disebut sebagai kategori hukum11. Dalam pembuatannya, pengertian-pengertian hukum ada yang dingkat dari pengertian sehari-hari, dan ada pula yang diciptakan secara khusus sebagai suatu pengertian secara teknis. Sekalipun suatu pengertian hukum diangkat dari bahasa sehari-hari, namun begitu ia dijadikan pengertian hukum, maka makna yang berlaku padanya hanyalah makna yang diberikan hukum padanya. Pengertian hukum mempunyai isi dan batas-batas yang jelas, serta dirumuskan secara pasti, tidak seperti pengertian lainnya.

11

Ibid, hal. 42. Page | 18

Karena membutuhkan isi dan batas-batas yang jelas, tidak jarang penyusunan pengertian hukum menemui berbagai kendala. Tidak selalu mudah menyusun suatu pengertian hukum yang benar-benar dapat memberi kepastian kepada pemakainya, oleh karena itu pengisian suatu pengertian hukum untuk menjadi pasti diserahkan pada praktek penafsiran, terutama oleh pengadilan. Pengertian hukum pada jaman sekarang lebih bersifat fungsional, yaitu dengan memberi arti dengan dituntun oleh keinginan menciptakan keadilan terhadap kasus-kasus secara individual. Hal ini berbeda dengan pemahaman secara a priori, yang lebih menekankan pada “isi yang pasti” dari suatu pengertian hukum (Paton, 1971: 207). Pengertian hukum yang mempunyai kadar yang kurang seperti dijelaskan di atas disebut standar hukum. Standar hukum ini cenderung memiliki isi yang longgar, jika dibandingkan dengan pengertian atau konsep hukum. Mengenai isi dan sifatnya yang longgar ini, standar hukum memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Kekurangannya terletak pada sifatnya yang kurang pasti, sehingga terkadang tidak bisa dipakai sebagai patokan yang jelas untuk menilai suatu perbuatan. Sedang kelebihannya adalah, karena sifatnya yang luwes tersebut, maka ia dapat senantiasa mengikuti perkembangan jaman serta perkembangan pemikiran dalam masyarakat. Sifatnya yang luwes menyebabkan standar hukum menjadi bersifat dinamis dan tidak statis. Standar ini merupakan sarana bagi hukum untuk berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya (Paton, 1971:205)12. Dalam pembuatannya, peraturan maupun standar hukum berdasar pada asas hukum. Asas hukum sendiri merupakan unsur yang penting dan pokok dari peraturan hukum. Asas hukum seringkali dikatakan merupakan “jantung” dari peraturan hukum. Ia disebut demikian karena ia merupakan landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu peraturan hukum, peraturan hukum pada akhirnya akan dikembalikan pada asas-asas hukum tersebut. Asas hukum juga disebut sebagai alasan lahirnya peraturan hukum, yang merupakan ratio legis dari peraturan hukum. Asas hukum mengandung nilai-nilai dan tuntutan-tuntutan etis. Karena itulah, Paton menyebut asas hukum sebagai sarana yang membuat hukum tetap hidup, dan berkembang; asas hukum jugalah yang menunjukkan bahwa hukum bukan sekedar merupakan kumpulan peraturan-peraturan belaka.

12

Ibid, hal. 45. Page | 19

Karena ia mengandung tuntutan etis, asas hukum digunakan sebagai jembatan penghubung antara peraturan-peraturan hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakatnya. Dalam usaha pencarian makna dari suatu peraturan, masyarakat umumnya memulainya dengan mengangkat suatu peraturan hukum pada tingkat yang lebih tinggi (atau yang disebut dengan kegiatan mencari ratio legisnya). Dari penarikan ke arah tingkatan yang lebih tinggi inilah, masyarakat kemudian dapat menemukan pengertian yang lebih luas, dan lebih umum jangkauannya dari yang semula. Pada pengertian yang lebih tinggi dijumpai perumusan yang lebih padat dan memberi penjelasan mengapa peraturan tersebut dikeluarkan. Sehingga dapat dikatakan tanpa menemukan ratio legis dari suatu peraturan, sulit memahami arah etis dari peraturan tersebut. Pengertian yang telah ditemukan tersebut kemudian dapat terus ditarik pada tingkatan yang lebih tinggi, sampai akhirnya ditemukanlah suatu pengertian yang berbeda dari pengertian-pengertian sebelumnya. Pengertian tersebut tidak dapat lagi dijelaskan oleh pengertian yang lebih tinggi lagi. Inilah yang disebut asas hukum.

E. SISTEM HUKUM

Sistem dimengerti sebagai jenis satuan, yang mempunyai tatanan tertentu. Tatanan yang dimaksud di sini menunjuk kepada suatu struktur yang tersusun dari bagian-bagian. Sistem juga dimengerti sebagai suatu rencana, metda, atau prosedur untuk mengerjakan sesuatu (Shorde&Voich, 1974: 121-133)13. Ada pula yang mengartikan sistem sebagai “suatu kesatuan yang bersifat kompleks, yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain”. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa bagian-bagian tersebut bekerja bersama secara aktif untuk mencapai tujuan pokok dari kesatuan tersebut. Shrode dan Voich dalam buku “Ilmu Hukum” karangan Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. mengatakan sistem memiliki beberapa pengertian dasar, yaitu: 1) Sistem itu berorientasi kepada tujuan. 2) Keseluruhan adalah lebih dari sekadar jumlah dari bagian-bagiannya (Wholism). 3) Suatu sistem berinteraksi dengan sistem yang lebih besar, yaitu lingkungannya (Keterbukaan sistem).
13

Ibid, hal. 48. Page | 20

4) Bekerjanya bagian-bagian dari sistem itu menciptakan sesuatu yang berharga (Transformasi). 5) Masing-masing bagian harus cocok satu sama lain (Keterhubungan). 6) Ada kekuatan pemersatu yang mengikat sistem itu (Mekanisme kontrol). Dikenal pula istilah pendekatan sistem, yang dipahami sebagai pendekatan yang mengisyaratkan seseorang untuk mengindari kompleksitas dari suatu masalah dengan cara menghindari pendapat yang terlalu menyederhanakan persoalan yang dapat menghasilkan pendapat yang keliru. Asas hukum, yang berada di luar peraturan hukum dan bersifat self evident terhadap hukum, mempunyai ikatan antar sesama asasnya. Karenanya, dapat dikatakan hukum pun merupakan suatu sistem. Peraturan-peraturan hukum yang berdiri sendiri terikat dalam satu susunan kesatuan dan bersumber pada satu induk penilaian etis tertentu. Beberapa alasan lain yang mempertanggungjawabkan bahwa hukum merupakan satu sistem dikemukakan oleh Dias (Dias, 1976: 696-700). Alasan pertama terletak pada masalah keabsahannya. Dikatakan, hukum bukan sekedar merupakan kumpulan peraturan-peraturan belaka, melainkan peraturan dalam suatu hukum hanya dikatakan sah apabila dikeluarkan dari sumber-sumber yang sama, seperti peraturan hukum, yurisprudensi, dan kebiasaan. Sumber-sumber tersebuh sudah barang tentu melibatkan kelembagaan seperti pengadilan dan pembuat undang-undang. Kedua, terlihat dari ikatan yang tercipta melalui praktek penerapan peraturan-peraturan hukum tersebut. Di sini, praktek menjamin terciptanya susunan kesatuan dari peraturan-peraturan tersebut dalam suatu dimensi waktu. Sarana-sarana yang digunakan untuk menjalankan praktek kemudian menyebabkan terciptanya ikatan-ikatan dalam sistem tersebut. Berbeda dengan Dias, Fuller mengajukan suatu ukuran untuk mengukur suatu sistem hukum. Ukuran tersebut diletakkan pada delapan asas yang disebut principles of legality, yaitu : 1. Suatu sistem hukum harus mengandung peraturan-peraturan. Yang dimaksud di sini adalah, bahwa ia tidak boleh mengandung sekadar keputusan-keputusan yang bersifat ad hoc. 2. Peraturan-peraturan yang telah dibuat itu harus diumumkan. 3. Tidak boleh ada peraturan yang berlaku surut, oleh karena apabila yang demikian
Page | 21

itu tidak ditolak, maka peraturan itu tidak bisa dipakai untuk menjadi pedoman tingkah laku. Membolehkan pengaturan secara berlaku surut berarti merusak integritas peraturan yang ditujukan untuk berlaku bagi waktu yang akan datang. 4. Peraturan-peratuan harus disusun dalam rumusan yang bisa dimengerti. 5. Suatu sistem tidak boleh mengandung peraturan-peraturan yang bertentangan satu sama lain. 6. Peraturan-peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang melebihi apa yang dapat dilakukan. 7. Tidak boleh ada kebiasaan untuk sering mengubah peraturan sehingga menyebabkan seorang akan kehilangan orientasi. 8. Harus ada kecocokan antara peraturan yang diundangkan dengan pelaksanaannya sehari-hari.
Sumber: Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 51.

Lebih lanjut lagi, Fuller mengatakan bahwa kedelapan asas yang disebutkannya tidak hanya merupakan persyaratan bagi adanya suatu sistem hukum, melainkan juga memberikan pengkualifikasian terhadap suatu sistem hukum sebagai sistem yang mengandung moralitas tertentu. Tidak tercapainya kedelapan asas itu akan mengakibatkan suatu kegagalan, yang pada akhirnya tidak hanya akan melahirkan sistem hukum yang buruk, melainkan sesuatu yang tidak bisa disebut sebagai sistem hukum sama sekali.

Page | 22

BAB III PENUTUP

Kualitas suatu masyarakat dapat dikatakan ditentukan oleh kondisi ketertiban masyarakat tersebut. Ketertiban sendiri tidaklah didukung oleh suatu lembaga yang monolitik. Ketertiban dalam masyarakat diciptakan bersama-sama secara terintegrasi. Berbagai macam norma yang ada dalam masyarakat memberikan sumbangannya masing-masing dalam mewujudkan ketertiban dalam masyarakat. Salah satu sarana untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat adalah dengan menggunakan hukum. Hukum, sebagai norma kultur, mengajak masyarakat untuk mencapai cita-cita serta keadaan tertentu, tetapi tanpa mengabaikan dunia kenyataan. Peraturan-peraturan hukum bersumber dari asas-asas hukum, yang menjadi jembatan penghubung antara peraturan-peraturan tersebut dengan cita-cita serta pandangan etis masyarakat. Sebagai suatu sistem peraturan, hukum bekerja dengan memberikan kualifikasi pada perbuatan masyarakat, mengelompokkannya menjadi perbuatan hukum dan perbuatan bukan hukum. Hukum juga mengatur relasi yang terjadi antar subjek hukum, dan kemudian melahirkan pertalian berupa hubungan yang telah dikualifikasi, yang disebut dengan hak.

Page | 23

DAFTAR PUSTAKA

Sumber utama :

Rahardjo, Satjipto. 2000. Ilmu Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Sumber dari buku : Ali, Zainuddin. 2006. Filsafat Hukum. Jakarta: Sinar Grafika. Arrasjid, Chainur. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Hukum. Jakarta: Sinar Grafika. Moeljatno. 2003. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Rujukan dari internet : Perbuatan Melawan Hukum. http://ppk.or.id/downloads/Perbuatan%20Mela-

wan%20Hukum.pdf, diakses pada 28 Juni 2008, pukul 23.31. Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Campuran, Berdasarkan Hukum Indonesia. http://leeriem.blogspot.com/2008/01/status-hukum-anak-hasil-perkawinan.html, diakses pada 28 Juni 2008, pukul 23.38.

Page | 24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->