P. 1
Penggunaan Veto Uni Soviet Dalam PBB, Sebuah Tinjauan Terhadap Kasus Perang Korea

Penggunaan Veto Uni Soviet Dalam PBB, Sebuah Tinjauan Terhadap Kasus Perang Korea

|Views: 2,464|Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on Jan 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2013

pdf

text

original

Penggunaan Veto Uni Soviet dalam PBB : Sebuah Tinjauan terhadap Kasus Perang Korea

Disusun oleh :

Aisyah Ilyas / 0706291180 Dyah Ayunico Ramadhani / 0706291230 Erika / 0706291243 Hani Sulastri / 0706291294 Muti Dewitari / 0706165570 Rindo Saio / 0706165583

Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia 2008

Page | 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Tidak dapat dipungkiri, hingga saat ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih merupakan organisasi internasional yang paling efektif dan paling terasa keberadaannya. Akan tetapi jika mau ditilik lebih lanjut, ternyata keberadaan PBB sebenarnya hanyalah merupakan sebuah perpanjangan tangan dari negara-negara dominan saja, dalam hal ini adalah lima negara pendiri PBB, yaitu Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, dan Cina. Campur tangan lima negara pendiri PBB, yang untuk selanjutnya disebut sebagai P-5 ini, sangat terlihat dari besarnya pengaruh pendapat mereka sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dalam menentukan langkah apa yang akan diambil PBB dalam menghadapi suatu kasus. Pengaruh P-5 dikatakan sangat besar dalam menentukan langkah PBB karena mereka memiliki suatu keistimewaan berupa hak veto yang tidak dimiliki negara anggota Dewan Keamanan lainnya. Hak veto sendiri dimengerti sebagai hak untuk membatalkan keputusan atau resolusi yang diajukan oleh PBB. Dengan kepemilikan hak veto tersebut, negara-negara P-5 seakan memiliki power dan legitimasi sendiri dalam menentukan langkah PBB. Salah satu negara yang paling vokal dalam menggunakan hak veto-nya adalah Rusia. Hingga Agustus 2008, tercatat sudah 124 kali Rusia menggunakan hak vetonya untuk mem-veto resolusi yang dikeluarkan PBB. Jumlah ini adalah jumlah penggunaan veto terbesar dibandingkan dengan veto yang dikeluarkan negara P-5 lainnya, yaitu Amerika Serikat (82 veto), Inggris (30 veto), Perancis (18 veto), dan Cina (7 veto). Fenomena veto merupakan hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, karena fenomena ini mencerminkan adanya perbenturan kepentingan yang terjadi antar negara-negara besar dalam PBB. Bila salah satu negara P-5 merasa kepentingannya terganggu saat dikeluarkan resolusi PBB tertentu, maka tentu saja negara tersebut kemudian akan menggunakan hak vetonya untuk membatalkan resolusi PBB tersebut. Hal inilah yang tampaknya sering dialami Rusia, jumlah veto yang dikeluarkan Rusia ini mencerminkan bahwa Rusia seringkali merasa resolusi PBB tidak sesuai dengan kepentingannya, karena itu Rusia sering sekali mem-veto setiap resolusi PBB. Di sisi lain, keempat negara P-5 lain, jika dibandingkan dengan Rusia, relatif jarang menggunakan hak vetonya; hal ini dikarenakan resolusi PBB seringkali tidak menganggu, bahkan terkadang mendukung, kepentingan nasional negara mereka. Perbenturan kepentingan antara negara P-5 yang paling sering terjadi adalah pertentangan antara Rusia dan Amerika Serikat, dua negara yang menjadi dua poros kekuatan utama dunia pada masa Perang Dingin. Perbedaan paham antara dua poros dunia itu (komunisme yang diusung Uni Soviet, serta liberalisme yang diusung Amerika Serikat) merupakan penyebab utama pertentangan yang terjadi antara mereka. Salah satu perbenturan kepentingan yang paling nyata terjadi saat peristiwa Perang Korea, di mana ketika itu baik Amerika Serikat maupun Rusia sama-sama merasa memiliki kepentingan dalam masalah Perang Korea tersebut, sehingga masalah inipun kemudian dibawa ke hadapan PBB untuk diselesaikan. 1.2. Perumusan Masalah
Page | 2

Makalah ini akan memaparkan mengenai penggunaan hak veto yang dimiliki Rusia sejak 1945 hingga 2008, dengan memusatkan pembicaraan pada masalah Perang Korea yang terjadi pada 1950-1953. Makalah ini kemudian akan menganalisa latar belakang dari veto yang dikeluarkan Uni Soviet pada resolusi PBB sehubungan dengan Perang Korea tersebut, mengenai perbenturan kepentingan yang terjadi dalam PBB semasa Perang Korea. 1.3. Kerangka Teori Ada dua pandangan utama dalam ilmu hubungan internasional yang dapat digunakan untuk mengkaji fenomena organisasi internasional. Pandangan pertama datang dari kaum liberalis yang percaya bahwa keberadaan organisasi internasional sangat penting untuk memajukan kerja sama antar negara dalam dunia internasional. Sementara pandangan kedua datang dari kaum realis yang cenderung skeptis terhadap fenomena organisasi internasional. Kaum realis mengatakan, organisasi internasional hanya merupakan perpanjangan tangan dari negara dominan. Negara dominan akan menggunakan kekayaan dan kekuatan powernya yang dominan untuk mendirikan organisasi internasional; negara hegemon juga akan memberikan insentif berupa perlindungan keamanan dan bantuan ekonomi untuk menarik negara-negara lain agar bergabung1. Dengan cara tersebut, secara tidak langsung negara dominan akan membuat negara-negara baru itu tergantung padanya, baik secara ekonomi, militer, maupun dalam hal-hal lain. Ketergantungan ini kemudian akan membuat kepentingan negara-negara baru mudah dikompromikan, sementara di sisi lain kepentingan negara dominan akan semakin mudah terlaksana. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Machiavelli. Dengan menganalogikan negara sebagai penguasa, Machiavelli mengatakan bahwa ketergantungan akan membuat penguasa menjadi tawanan dari sekutu itu sendiri (sekutu, dalam hal ini adalah organisasi internasional), penguasa akan menjadi lemah karena ketergantungan itu, dan kepentingan nasionalnya akan terhalang oleh kepentingan negara sekutu tersebut. Sehingga sebenarnya organisasi internasional hanya merupakan cerminan kepentingan negara-negara dominan di dalamnya. Kaum realis juga berpendapat, ketika berada dalam organisasi internasional, para anggota sangat jarang memperhatikan moral. Faktanya, negara lebih sering bertindak atas dasar dan dengan pengaruh power 2. Pendapat ini semakin menguatkan pentingnya power dalam organisasi internasional. Organisasi internasional bertindak dengan, dan atas nama power, dalam hal ini power untuk dan milik negara-negara dominan. Selain itu, bagi kaum realis, upaya untuk mewujudkan suatu pemerintahan dunia melalui organisasi internasional tidak mungkin dapat diwujudkan, karena negara—sebagai aktor rasional—tidak mungkin bersedia menyerahkan kedaulatannya ke dalam suatu badan internasional 3 . Signifikansi organisasi internasional kembali dipertanyakan oleh Jill Steans dan Lloyd Pettiford, yang mengatakan bahwa organisasi internasional hanya akan efektif bila ada suatu sanksi yang efektif dan power dari negara yang berkuasa, atau hegemon4. Pernyataan ini kembali menunjukkan betapa besarnya peran negara
1

2 3

4

Kelly-Kate S. Pease, International Organizations : Perspective on Governance in The Twenty-First Century, (New Jersey: Prentice Hall.Inc, 2000), hal. 46. Clive Archer. International Organizations, (London : Routledge, 2000), hal. 79. Jill Steans dan Lloyd Pettiford. International Relations Perspectives and Themes, (England: Pearson Education Limited, 2001), hal. 23. Ibid, hal. 26.

Page | 3

dominan dalam organisasi internasional, betapa organisasi internasional hanya merupakan perpanjangan tangan dari negara berkuasa, seperti yang diutarakan kaum realis.

Page | 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1. PBB, Dewan Keamanan, dan Hak Vetonya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi berdiri pada tanggal 24 Oktober 1945, saat Piagam PBB telah selesai diratifikasi oleh Cina, Inggris, Perancis, Uni Soviet, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya. Kelima negara tersebut pada dasarnya memiliki peran yang sangat besar dalam proses penyusunan Piagam PBB di San Fransisco tahun 1945, saat kelima negara tersebut menghadiri Konferensi PBB yang membahas mengenai Organisasi Internasional. Salah satu struktur organisasi di dalam PBB yang paling kuat dan berpengaruh, merupakan Dewan Keamanan, di mana Dewan Keamanan ini memiliki tanggung jawab dalam mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional. Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, Perancis, dan Cina, sebagai negara-negara yang termasuk ke dalam pendiri PBB, secara langsung termasuk ke dalam keanggotaan Dewan Keamanan, sebagai anggota tetap. Kelima negara ini pun sering kali disebut dengan istilah Permanent 5 (P5). Dewan Keamanan merupakan suatu struktur organisasi yang cenderung lebih eksklusif dibandingkan dengan struktur ataupun dewan-dewan lainnya. Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, negara-negara tersebut pun memiliki ssebuah hak istimewa untuk melakukan “veto”. Dalam Dewan Keamanan terdapat 15 negara anggota yang terdiri dari lima negara anggota tetap dan 10 negara anggota tidak tetap, di mana masing-masing negara tersebut memiliki satu suara. Resolusi mengenai masalah prosedural ditentukan berdasarkan suara yang mendukung dari paling tidak 9 dari 15 negara anggota, sedangkan resolusi mengenai masalah substansif ditentukan berdasarkan suara yang mendukung dari sembilan negara, termasuk negara anggota tetap atau P5. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah hak veto, yang mengandung pengertian ketentuan “kebulatan suara negara kuat”.5 Pada dasarnya hak veto dapat dilihat dari dua segi pandang, positif dan negatif. Veto positif di mana apabila veto yang kemudian dilakukan mendukung rencana resolusi yang ada, sedangkan veto negatif apabila menolak rencana resolusi yang diajukan. Namun, dengan berjalannya waktu, pengertian veto sering kali hanya terpaku kepada veto negatif saja. P5, atau kelima negara anggota tetap Dewan Keamanan, memiliki hak untuk menolak jalannya suatu resolusi yang akan dilaksanakan oleh Dewan Keamanan.6 Sehingga, walaupun jalannya sebuah resolusi telah memenuhi syarat didukung oleh minimal 9 negara, namun apabila salah satu negara anggota Dewan Keamanan melakukan veto terhadap resolusi tersebut, maka resolusi tersebut pun kemudian akan batal. Dapat disimpulkan bahwa, “hak veto” yang kemudian dimiliki hanya oleh negara anggota tetap Dewan Keamanan ini berbeda dengan konsep veto umumnya, bahwa hak veto Dewan Keamanan memiliki kekuatan lebih dan sangat berpengaruh. Namun dalam pemakaian istilah veto sekarang ini, maka sering kali merujuk terhadap hak P5, sebagai negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan.

5 6

Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengetahuan Dasar Tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa, hal. 9. International Security and Institutions Research Group, “Vetoed Draft Resolutions in the United Nations Security Council 1946-2008”, http://www.fco.gov.uk/resources/en/pdf/4175218/vetoes-2008-2, diakses pada 14 Oktober 2008, pukul 20.05.

Page | 5

2.2. Veto Rusia dari Masa ke Masa

Veto anggota Dewan Keamanan Tetap
140 120

100
80 60 Veto anggota Dewan Keamanan Tetap

40
20 0 Uni Soviet Amerika Serikat Inggris Perancis China

Veto Rusia
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1946-1955 1956-1965 1966-1975 1976-1985 1986-1995 1996-2008 Veto Rusia

Sebagai salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Rusia memiliki hak istimewa untuk menolak resolusi yang diajukan kepada Dewan Keamanan PBB (hak veto). Dalam menggunakan hak vetonya, Rusia termasuk negara yang paling banyak mengeluarkan hak veto. Dari 214 resolusi yang diveto oleh DK, 124 veto dikeluarkan oleh Rusia. Ini berarti, 50 persen dari resolusi yang dikeluarkan dalam sidang DK, diveto oleh Rusia. Pada periode awal berdirinya PBB (1946-1955), USSR melemparkan 80 veto dari total 82 veto. Sebagian besar veto ini dilemparkan dengan cara menolak masuknya negara-negara baru ke dalam keanggotaan PBB. USSR cenderung menolak negara-negara baru rekomendasi Barat. Dekade berikutnya (1956-1965), dapat dilihat bahwa isu-isu yang diveto mulai beragam. Namun, USSR tetap menjadi negara yang paling banyak menggunakan hak vetonya (26 veto). Ini tidak termasuk penggunaan veto dalam isu masuknya negara-negara baru, di mana Rusia
Page | 6

melemparkan 6 veto. Veto lainnya dilemparkan Rusia dalam isu Krisis Suez dan Hongaria, Jammu dan Kashmir, pesawat pemantau Amerika Serikat, protes masyarakat Libanon terhadap Siria, masalah Kongo, Kuwait dan Goa, Palestina, dan regulasi Malaysia-Indonesia. Dekade ketiga (1966-1975), diawali dengan peningkatan jumlah negara anggota tidak tetap DK, dari 6 menjadi 10 anggota. Ini dikarenakan ada tekanan dari Gerakan Non-Blok. Penggunaan hak veto tidak lagi didominasi oleh USSR, anggota tidak tetap DK, terutama negara dunia ketiga, mulai aktif menggunakan hak vetonya. Negara dunia ketiga mulai memperlihatkan pengaruhnya dalam menyikapi isu-isu internasional, atas dasar kepentingan nasional masing-masing. USSR hanya memberikan 7 veto, veto terbanyak dilakukan oleh Amerika Serikat. USSR melemparkan vetonya terhadap resolusi yang memuat isu Palestina (1966 dan 1972), Czechoslovakia (1968), Bangladesh (1971), dan Syprus (1974). Pada dekade 1976-1985, Amerika Serikat melemparkan 34 veto, Inggris 11 veto, Perancis 9 veto, dan USSR dengan 6 veto. Veto-veto yang dilemparkan oleh USSR ditujukan terhadap resolusi isu invasi Vietnam ke Kamboja, invasi Uni Soviet ke Afganistan (1980), ajakan mengecaman Iran atas tindakannya menawan orang Amerika (1980), penembakan mati pesawat sipil Korea Selatan (1983), dan peningkatan usaha peacekeeping militer PBB di Libanon (1984). Penurunan penggunaan hak veto oleh USSR pada tahun 1966-1985, sebanding dengan berkurangnya hak veto yang digunakan USSR untuk menghalangi masuknya negara-negara baru ke dalam PBB. Pada masa itu, negara-negara baru yang masuk adalah negara Dunia Ketiga yang bukan merupakan ancaman besar dalam bargaining power USSR di PBB. Terjadi perubahan pola pelemparan veto setelah berakhirnya Perang Dingin, di akhir tahun 1980. Jumlah veto yang dikeluarkan pun menunjukkan penurunan pada periode 1986-1995. Amerika Serikat melemparkan 23 veto, Inggris 8 veto, Perancis 3 veto, dan Rusia (sebagai pengganti USSR) 2 veto. Pada akhir 1980-an, terjadi perubahan pola tingkah laku pada USSR, terjadi peningkatan kerja sama antara negara-negara anggota tetap DK. USSR mulai menunjukkan etika baik. Hal ini terlihat dalam kesatuan suara dan pandangan dalam menyikapi invasi Irak ke Kuwait Agustus 1990. Perpecahan internal dalam tubuh USSR pada akhir 1991 membawa Rusia sebagai penggantinya menjadi anggota tetap DK. Rusia ingin memperjelas sikapnya yang menentang penggunaan dana dalam operasi-operasi peacekeeping tambahan PBB, seperti yang akan terjadi dalam pandanaan UNFICYP, dianggap sebagai penggunaan dana oleh PBB berdasarkan Artikel 17(2). Veto ini dilemparkan dalam konteks peningkatan penggunaan dana yang signifikan dalam operasi peacekeeping PBB sejak awal 1980-an. Rusia selanjutnya memveto sebuah draft resolusi non-aliansi (196) (Cina abstain), resolusi tersebut memuat aplikasi tegas berupa sanksi-sanksi tertentu pada Republik Fedral Yugoslavia. Rusia mempertimbangkan bahwa resolusi ini merupakan pengetatan sanksi yang menentang RFY padahal RFY sedang mengupayakan usaha damai. Jumlah veto yang dikeluarkan menunjukkan penurunan antara tahun 1996-2008. Dalam periode ini, Amerika Serikat melempar 12 veto, Cina 4 veto, dan Rusia 3 veto, sedangkan Perancis dan Inggris sama sekali tidak melakukan veto. Veto yang pertama kali dilancarkan oleh Rusia ditujukan terhadap rancangan resolusi terhadap Siprus. Resolusi tersebut menyatakan persetujuan operasi PBB di Siprus serta pengoperasian embargo militer, namun rancangan ini kemudian diveto oleh Rusia dengan alasan resolusi tersebut tidak seharusnya dijalankan selama hasil referendum Siprus tahun 2004 belum diketahui. Tahun 2007, Rusia beserta Cina
Page | 7

menggunakan hak vetonya terhadap resolusi yang diajukan oleh Perancis dan Inggris terhadap Myanmar. Rancangan resolusi tersebut menyatakan dukungan Dewan Keamanan terhadap misi Sekretaris Jendral untuk memaksa dihentikannya serangan militer pemerintah Myanmar terhadap warga sipilnya, dan membuka adanya dialog politik yang berbuntut terhadap transisi Myanmar menjadi negara demokratis. Argumen Rusia dan Cina adalah bahwa masalah yang terjadi di Myanmar adalah masalah internal dalam negara berdaulat tersebut, dan tidak memiliki pengaruh terhadap dunia internasional. Oleh karena itu, rancangan resolusi tersebut secara tidak langsung merupakan bentuk intervensi terhadap kedaulatan negara-negara di dunia. Hal ini pun kembali terulang saat Rusia dan Cina kembali melakukan veto terhadap masalah Zimbabwe dengan alasan serta argumen yang sama. Dari veto-veto yang dikeluarkan Rusia sejak tahun 1946-2008 terdapat kecenderungan bahwa Rusia mencoba melebarkan kepentingan nasionalnya sehubungan dengan perluasan paham komunisme di dunia. Salah satu upaya yang dilakukan Rusia adalah dengan mempertahankan powernya dalam PBB dengan menghalangi bertambahnya anggota-anggota baru PBB, di mana dalam hal ini negara-negara tersebut memiliki paham yang bertentangan dengan paham dirinya, terutama paham demokrasi. Usaha menghalangi masuknya anggota baru dengan paham demokrasi tersebut bertujuan untuk mempertahankan kondisi “balance of power” dalam PBB; Rusia merasa bila jumlah negara demokrasi anggota PBB bertambah, hal tersebut akan menurunkan bargaining power negara-negara komunis anggota PBB, termasuk dirinya. Perluasan ideologi komunis Uni Soviet terutama terlihat dalam penolakan yang ia berikan terhadap dua resolusi PBB pada tahun 1950. Kedua resolusi yang dimaksud berisi pengaduan atas agresi terhadap Korea Selatan. Bab selanjutnya kemudian akan lebih menjelaskan mengenai Perang Korea dan keterlibatan Soviet di dalamnya. 2.3. Perang Korea Agar dapat memahami lebih jauh mengenai Perang Korea, ada baiknya dilakukan penelurusan sejarah mengenai Korea sejak Perang Dunia II. Sejak awal abad XX, Semenanjung Korea dikuasai oleh Jepang. Bahkan orang Korea dipaksa untuk ikut berperang ketika Jepang memerlukan tentara untuk menyerang Cina dan Asia Tenggara. Kekalahan Jepang dalam PD II sontak memunculkan penguasaan dua buah negara pemenang perang di Korea, Korea Utara yang didukung oleh Uni Soviet dan Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat. Sejak awal terbentuknya, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan sudah tidak begitu harmonis, hal ini disebabkan karena perbedaan paham yang dianut kedua wilayah tersebut : Korea Utara dengan paham komunisme, dan Korea Selatan dengan paham liberalisme. Ketidakharmonisan itu kemudian melahirkan ketegangan pada masing-masing pihak, yang berlanjut pada perang saudara antara dua wilayah tersebut. Puncak ketegangan antara dua wilayah tersebut terjadi karena keinginan Korea Utara untuk menyatukan kedua wilayah Korea tersebut di dalam pemerintahan komunis Korea Utara. Keinginan tersebut kemudian direfleksikan dengan melakukan agresi terhadap Korea Selatan; agresi tersebut menandakan dimulainya Perang Korea (1950-1953). Aktor yang terlibat dalam Perang Korea tidak hanya terbatas pada Korea Utara dan Korea Selatan saja, melainkan juga melibatkan dua kekuatan utama dunia saat itu : Amerika Serikat dan Uni Soviet. Tentunya keterlibatan Uni Soviet dan Amerika Serikat juga disertai sekutu masing-masing. Cina menyertai Uni Soviet sedangkan Amerika Serikat disertai Kanada,
Page | 8

Australia, dan Britania Raya. Itu tidak termasuk berbagai negara yang mengirimkan pasukannya atas nama PBB. Inilah yang menyebabkan Perang Korea disebut juga sebagai „perang yang dimandatkan‟ atau Proxy War. Dalam perang tersebut Uni Soviet mengaku mengirimkan penasehat-penasehat perang sedangkan Cina mengirimkan pasukannya. Namun sebenarnya keterlibatan Uni Soviet tidak hanya dalam bentuk pengiriman penasehat-penasehat perang saja, melainkan juga pengiriman armada perang yang akan dibahas lebih lanjut pada sub-judul selanjutnya. Pada makalah ini penulis akan memfokuskan pada upaya-upaya yang dilakukan Rusia dalam membantu Korea Utara. Sebenarnya, perang tersebut terjadi karena adanya upaya pihak komunis untuk menyebarkan pengaruhnya ke wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Amerika Serikat yang mengetahui hal tersebut buru-buru mengupayakan berbagai usaha untuk mencegah komunisme masuk ke Asia Timur. Namun, komunisme telah berhasil masuk melalui Korea bagian Utara. Amerika Serikat tetap berusaha untuk menangkal pergerakan komunisme Korea Utara ke arah selatan, yaitu dengan cara memasok persenjatan secara tidak langsung. Upaya Amerika tersebut ternyata gagal meredam pergerakan komunisme, sehingga ia kemudian meminta bantuan PBB untuk turun tangan membela Korea bagian selatan. Perang akhirnya berakhir tanpa kemenangan bagi pihak mana pun dan membagi Korea menjadi dua wilayah hingga sekarang ini, Korea Utara yang berhaluan komunis dan Korea Selatan yang berhaluan liberalis kapitalis. Hingga sekarang ini, Korea Demiliterized Zone (KDM), sebagai perbatasan antar kedua negara, menjadi kawasan perbatasan yang paling bersenjata di dunia.

2.4. Kepentingan Rusia dalam Perang Korea In politics, men spend their power to get what they desire (Karl W. Deutsch) Perang Korea yang mulai meletus sejak Juni 1950 ini sejatinya kian mempertebal kegalauan yang menyelimuti nuansa perang dingin. Permusuhan dan kebencian nyatanya tidak hanya mewarnai hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan, namun merembes hingga menyulut perdebatan sengit di Dewan Keamanan PBB (DK PBB). Perdebatan inilah yang menjadi inti analisis kami. Dalam tiga tahun berlangsungnya Perang Korea, Uni Soviet (sekarang menjadi Rusia) telah mengeluarkan tiga veto yang pada dasarnya menentang resolusi PBB terkait larangan terhadap negara-negara untuk membantu pecahan Korea Utara dan Korea Selatan yang tengah berperang. Dalam veto ini, kita sekiranya bisa melihat betapa kuatnya intensi Uni Soviet dalam menyokong kemampuan militer Korea Utara. Tidak hanya terbatas pada intensi dan dukungan Uni Soviet, keunikan kasus veto Perang Korea juga dapat disoroti dari keterlibatan China, dan Amerika Serikat yang menjadi elemen utama dari anggota tetap DK PBB. Uni Soviet yang didukung oleh Cina secara radikal aktif mengambil stand yang bertentangan dengan Amerika Serikat. Dukungan Soviet terhadap Korea Utara serta sebaliknya, dukungan Amerika Serikat terhadap Korea Selatan kemudian menuai kontroversi yang melahirkan interpretasi yang begitu ambigu. Sejumlah kalangan memandang bahwa perang Korea atau yang lebih dikenal dengan proxy war ini telah menjelma menjadi perang ideologi antara Uni Soviet dan AS dalam konteks hegemony maintenance dan pursuit of power.
Page | 9

Pandangan ini kemudian mengepulkan pertanyaan yang menjadi instrumen penting dalam memahami veto Uni Soviet. Alasan apakah yang sejatinya mendasari putusan US dalam menelurkan tiga rentetan veto ini? Perang Korea mulanya diyakini sebagai perang saudara yang timbul karena gagalnya upaya unifikasi di bawah satu payung pemerintahan. Namun entah kenapa, permasalahan yang hanya berakar dari ketidaksepahaman Korea Utara dan Korea Selatan yang memilih untuk menjadi dua negara terpisah ini justru mengundang ketertarikan dari Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk aktif berkecimpung di dalamnya. Sebagai gambaran umum, Korea Utara dan Korea Selatan sejatinya memang memiliki ideologi yang berbeda di tengah hubungan Uni Soviet-Amerika Serikat yang juga sedang diliputi ketegangan dalam konteks dunia yang bipolar. Korea Utara yang memilih untuk menerapkan ideologi komunisme secara historis jelas memiliki kedekatan dengan Cina yang pada waktu itu bersahabat dekat dengan Uni Soviet, sementara Korea Selatan kemudian perlahan justru merenda hubungan baik dengan Amerika Serikat. Namun ketika perpecahan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang masih bersikeras menginginkan terjadinya unifikasi mulai membuncah, sikap Uni Soviet dan Amerika Serikat yang kelabakan dan justru mengobarkan peperangan rasanya tetap terkesan sangat ironis. Keluarnya resolusi PBB yang menghimbau tindakan saling serang serta keterlibatan pihak luar dihentikan justru berakhir dengan respon getir Uni Soviet yang secara tegas menjatuhkan veto. Veto ini jelas mengindikasikan fakta tak terbantahkan bahwa kemenangan Korea Utara terhadap Korea Selatan adalah tujuan utama yang ingin diraih oleh Uni Soviet. Namun alasan utama yang mendorong Uni Soviet untuk mengeluarkan veto ini rasanya masih sangat kabur, kompleks, dan sedikit sulit untuk dipahami. Keputusan veto yang mencengangkan dunia internasional ini tentunya berawal dari faktor-faktor internal yang secara nasional mempengaruhi kebijakan luar negeri Uni Soviet. Karenanya, untuk mendapat kesimpulan akurat tentang alasan keluarnya veto ini, maka sangatlah penting rasanya untuk memahami kebijakan luar negeri yang pada saat itu tengah diusung oleh Uni Soviet. Sebelum menilik lebih jauh kedalam kebijakan luar negeri Uni Soviet, terlebih dahulu akan disajikan sejumlah konsep yang memudahkan kita dalam memahami keberadaan kebijakan luar negeri tersebut. Secara teoretis, meminjam definisi yang digaungkan oleh Christol Rodee Anderson dalam buku International Politics, kebijakan luar negeri adalah formulasi dan implementasi dari sejumlah prinsip yang membentuk pola perilaku negara ketika berunding dengan negara lain untuk melindungi kepentingan vitalnya. Pemenuhan-pemenuhan kepentingan melalui kebijakan luar negeri ini dalam skala lebih besar terkait dengan konsep power seperti yang pernah dijelaskan oleh Schumann. Kebijakan luar negeri adalah suatu ungkapan dari hasrat negara terhadap kekuasaan (power)7. Lebih jauh menyoroti power, pandangan Schumann yang dikutip oleh Evan Luard dalam buku yang bertajuk Basic Text of International Relations, menyebutkan bahwa munculnya konsep power interest sejatinya bermula dari hubungan, kompetisi, dan konflik antar negara. Konsep yang unik kemudian dimunculkan oleh Karl W. Deutsch yang menyoroti bahwa berbagai bentuk implementasi power dalam hubungan internasional sebenarnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan akhir berupa power lebih besar. Power yang makin menguat ini lah yang menjadi landasan syah bagi hegemoni suatu negara untuk menjadi negara maha besar yang ditakuti dan menjadi pemimpin dunia dalam hubungan
7

Evan luard. Basic Text of International Relations. (London : Macmillan Academic and Professional LTD, 1992), hal. 276.

Page | 10

internasional. Rangkaian teori tentang kebijakan luar negeri ini kemudian ditutup oleh pandangan Schwarzenberger yang menyatakan bahwa, the exercise of power itu sendiri kerap dipicu oleh sejumlah alasan yang secara spesifik mempengaruhi suatu negara. Meneruskan analisis ke dalam pembahasan yang lebih riil, penulis kemudian akan menggambarkan kebijakan luar negeri yang dianut oleh Stalin sebagai pemicu utama bagi munculnya veto dalam kasus Perang Korea. Menapaki jejak-jejak historis yang ditorehkan oleh Stalin, maka Perang Korea bukanlah satu-satunya peristiwa penting yang menandai cerita kelam kebijakan luar negeri Uni Soviet. Namun dalam pemerintahan yang berlangsung selama 29 tahun ini, berbagai implementasi kebijakan luar negeri Stalin sejatinya menyiratkan suatu karakter dasar. Karakter dasar dari kebijakan luar negeri ini uniknya juga merupakan cerminan dari watak Stalin yang dengan kediktatorannya menentukan semua derap langkah Uni Soviet. Menariknya, E. H. Carr, seorang pemikir realis yang meminjam pandangan Trotsky, mengatakan bahwa Stalin bukanlah figur yang menelurkan ide, sama sekali hampa dari pemikiran-pemikiran original, dan cenderung menjadi produk politik dari pengalaman hidupnya. 8 Menyoal pengalaman hidup yang membesarkan Stalin, maka kata tunggal yang mampu menggambarkan watak Stalin adalah “keras”. Dibesarkan dalam keluarga petani, Stalin menjadi sangat terkenal dalam ranah politik dan jamak dibenci oleh lawan-lawan politiknya. Hal inilah yang sejatinya membangun sifat keras dalam sifat Stalin. Sebuah situs Inggris, revision-note.co.uk, pernah menyebutkan pola politik Stalin yang senang menyingkirkan lawan-lawan politiknya dengan bersekutu, dan setelah berhasil kemudian juga menyerang pihak-pihak yang pernah menjadi sekutunya.9 Inilah yang kemudian diadopsi dalam menyusun kebijakan luar negerinya. Dalam hubungan internasional, kebijakan luar negeri Stalin, sesuai dengan kebijakan politik domestik, cenderung berusaha untuk menyingkirkan negara-negara yang menghalangi pencapaian kepentingannya. Pertanyaan yang terkait dengan preferensi kebijakan luar negeri ini adalah kepentingan apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan Uni Soviet dibawah rezim Stalin? Jawaban yang menyoroti kepentingan Stalin inilah yang seyogyanya begitu terkait dengan kebijakan Uni Soviet dalam menjatuhkan veto terhadap resolusi perang korea. Gambaran yang paling jelas terhadap kepentingan Uni Soviet ini dapat dipahami dari pernyataan pribadi Stalin yang kembali dikutip oleh revision-note.co.uk. Dalam pernyataan ini, Stalin mengajukan pertanyaan yang berbunyi “Do you want our Socialist fatherland to be beaten and to lose its independence?”. Pertanyaan yang mencoba menarik dukungan komunitas sosialis ini kemudian diakhiri dengan seruan tegas berbunyi “If you do not want this you must put an end to this backwardness as speedily as possible and develop genuine Bolshevik speed in building up the Socialist system of economy. Either we do it or they crush us.”10 Kesimpulan eksplisit dari kilasan pernyatan Stalin ini pada akhirnya melahirkan kesimpulan penting yang menjadi esensi dari kebijakan luar negeri Uni Soviet. Bahwa pencapaian yang diinginkan oleh Stalin sejatinya merupakan hegemoni tunggal dari paham sosialis dan komunis dalam tatanan internasional. Dengan kata lain, Stalin sangat ingin menciptakan suatu sistem dunia dengan pola hidup, pemerintahan, politik, dan ekonomi yang mengusung jiwa sosialis. Cara-cara pencapaian hegemoni sosialis inilah yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Uni Soviet yang aktif
8 9

E.H. Carr. Socialism in One Country 1924- 1926, Vol. 1, (London : Macmillan, 1958), hal. 174-186. Why Was Stalin Able to Obtain Control? Diakses dari http://Revision-note.co.uk/revision/57.html pada tanggal 16 0ktober 2008 pada pukul 21.09. 10 Ibid.

Page | 11

mencoba menyebarkan paham komunis ke berbagai negara di dunia. Terkait dengan penyebaran paham komunis ini, Korea Utara melalui perjanjian-perjanjian yang dia lakukan dengan Uni Soviet berusaha untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Uni Soviet pun meggunakan pengaruhnya pada Korea Utara agar dapat memasang satelit komunisme pada benua Asia dan juga untuk memenuhi kepentingan ekonominya seperti emas, beras, dan mineral. Dapat dilihat bahwa hubungan antara Korea Utara dan Uni Soviet bersifat mutual dimana masing-masing memiliki kepentingannya sendiri yang secara langsung maupun tidak langsung terpenuhi melalui kerjasama.Namun, kerjasama yang telah dijalin antara Korea Utara dan Uni Soviet ini belum cukup memberikan alasan bagi Uni Soviet untuk membantu dan mendukung agresi Korea Utara terhadap Korea Selatan. Faktor pemicu munculnya dukungan Uni Soviet terhadap ide penyatuan Korea oleh Korea Utara justru berasal dari China yang saat tengah menjalin hubungan akrab dengan Soviet melalui aliansi Sino-Soviet. Sejak tahun 1945 hingga tahun 1950, Stalin telah menolak permintaan Kim Il Sung untuk mengiijinkannya menginvasi Korea Selatan karena kekhawatirannya terhadap intervensi Amerika Serikat.11 Dalam suasana perang dingin seperti ini, kedua negara adidaya -Amerika Serikat dan Uni Soviet- cenderung terus menghindari konfrontasi langsung antar keduanya sehingga langkah-langkah yang dapat memicu persengketaan senjata sangatlah dihindari oleh Uni Soviet. Namun, pada awal tahun 1950 Mao Ze Dong melalui saran dan pendapat yang ia berikan dapat menyakinkan Stalin bahwa intervensi Amerika tidak akan terjadi sehingga Stalin pun akhir memutuskan untuk mendukung rencana Kim Il Sung untuk menyerang Korea Selatan.12 Namun, ada hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut mengenai keterlibatan dari Uni Soviet dan armada perangnya dalam agresi Korea Utara tersebut. Tentunya jika kita melihat konteks perang dingin yang sedang terjadi saat itu dan sokongan Amerika Serikat pada pemerintahan Korea Selatan maka kedua hal tersebut jelas memberikan motivasi bagi Uni Soviet untuk membantu rencana penguasaan Korea oleh Korea Utara. Menurut Sergey S. Radchenko dalam The Cold War International History Project terbitan Woodrow Wilson International Center for Scholars, The White House bahkan menggangap bahwa agresi tersebut masih merupakan bagian dari rencana Uni Soviet untuk mengalihkan perhatian Amerika Serikat dari Vietnam dan melemahkan kekuatan Amerika untuk dapat membendung ekspansi komunisme di dunia. Sebagian besar orang tidak lagi meragukan bahwa Uni Soviet telah melatih dan memfasilitasi KPA (Korean People‟s Army) pimpinan Kim Il Sung dan menyediakan senjata kepada Chinese People‟s Volunteer Army (CPVA) di bawah Mao Zedong.13 Hal ini terbukti dari arsip-arsip pemerintahan Russia yang saat ini telah dipublikasikan keluar meskipun sebenarnya masih banyak lagi dokumen negara yang disimpan secara rahasia. Meskipun begitu, keterlibatan armada perang Uni Soviet pada masa itu belum diketahui banyak orang. Pilot-pilot pesawat
11

Mark O‟Neil. Soviet Involvement in the Korean War: A New View from the Soviet-era Archives OAH Magazine of History. http://www.oah.org/pus/megagreen/korea/oneill.html, diakses pada tanggal 14 Oktober 2008, pukul

21.45 WIB. Chen Jian, The Sino-Soviet Alliance and China’s Entry Into The Korean War, http://www.wilsoncenter.org /topics/pubs/acfae7.pdf, diakses pada tanggal 14 Oktober 2008 pukul 21.13 WIB. 13 Mark O‟Neil. Soviet Involvement in the Korean War: A New View from the Soviet-era Archives OAH Magazine of History. http://www.oah.org/pus/megagreen/korea/oneill.html, diakses pada tanggal 14 Oktober 2008, pukul 21.45 WIB.
12

Page | 12

tempur yang ikut berperang tidak hanya berasal dari RRC tapi juga berasal dari kaum kulit putih yand tidak lain adalah Soviet. Terdapat sekitar 42,000 pasukan Soviet yang ikut ambil bagian dalam konflik ditambah lagi dengan kontingen-kontingen yang mencapai 25,000 orang—hal ini berlum termasuk 1,500 pilots yang dibantu oleh staff maintenance. 14 Sedangkan menurut intelegen Amerika diperkirakan terdapat 20-25,000 pasukan yang dikirim Uni Soviet setelah keadaan stabil dan mereka pun tidak terlibat saat perperangan sengit.15 Untuk memastikan bahwa perang yang Uni Soviet bantu akan ia menangi tidaklah cukup hanya dengan mengawasi dari kejauhan. Oleh karena itu merupakan hal yang logis jika Stalin saat itu merasa bahwa armada perangnya perlu turun tangan meskipun hanya dalam jumlah dan aksi yang terbatas. Terlihat secara jelas bahwa pemerintahan Soviet melihat dan memperlakukan semenanajung Korea sebagai hal yang strategis dan penting untuk menjadi tempat yang potensial untuk melaksanakan aksi agresif di daerah Asia. Selanjutnya untuk mengetahui sampai sejauh mana sebenarnya kepentingan Soviet pada agresi Korea Utara maka perlu dibahas pula hubungan antara kedua aktor sejak beberapa tahun ke belakang. Menjelang tahun 1948-1950, Uni Soviet melakukan serangkaian perjanjian dengan DPRK (Democratic People Republic of Korea) mengenai berbagai macam isu. Uni Soviet setuju untuk terus menyediakan senjata dan peralatan pada Korea Utara, di lain pihak Korea Utara juga setuju untuk membayar barang-barang tersebut sebagian dengan emas dan sebagian lagi dengan beras dan mineral.16 Selain itu pada tahun-tahun menjelang serangan Korea Utara, tepatnya pada tanggal 27 Augustus 1949 terdapat sebuah laporan mengenai pertemuan antara Pak Hon-yong, menteri luar negari dari DPRK, dan G.I. Tunkin dari Kedutaan Soviet. Isi dari pertemuan yang dilaksanakan berkat permintaan Hon-Yong tersebut adalah mengenai pemberitahuan kepada Tunkin bahwa China telah meminta DPRK untuk mengirim tambahan 8-10 kilowatts listrik dari pembangkit listrik Supun. Dengan dukungan Soviet baik melalui penyediaan peralatan dan senjata serta pengiriman pasukan perangnya tersebut, serangan Korea Utara pun akhirnya dapat dilancarkan juga pada tanggal 25 Juni 1950. Dapat disimpulkan bahwa Soviet memiliki beberapa kepentingan terhadap serangan Korea Utara yaitu untuk menyebarkan ideologi komunis dan pengaruh Soviet di benua Asia sekaligus juga untuk mempertahankan keuntungan ekonomi yang ia peroleh dari kerjasamanya dengan Korea Utara. Dengan kepentingan Soviet tersebut untuk juga menyukseskan penyatuan Korea secara sepihak ini, tentulah masuk akal jika Soviet sampai melakukan veto terhadap Resolusi PBB yang mengutuk agresi yang dilakukan oleh Korea Utara. Padahal di lain pihak masyarakat internasional khususnya Amerika serikat dan negara-negara Barat merasa bahwa serangan tersebut tidak dapat dibenarkan. Isu ini pun dibawa oleh mereka yang merasa keberatan ke Majelis Umum PBB. Serangan Korea Utara yang sepihak ini dianggap sebagai aksi pelanggaran kedaulatan negara Korea Selatan dan kejahatan terhadap penduduk Korea Selatan. Hal itu dirasakan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar
14

Robert Eksuzyan, Little fanfare for Soviet Korean war veterans, http://www.aeronautics.ru/nws002/ korean_war_soviet_pilots_reuters.htm, diakses pada tanggal 14 Oktober 2008, pukul 21.32 WIB Igor N. Gordelianow. Soviet Air Aces of the Korean War, http://aeroweb.lucia.it/rap/RAFAQ/SovietAces.html, diakses pada 14 Oktober 2008 pukul 21.26 WIB Kathryn Weathersby. Soviet Aims In Korea and The Origins Of The Korean War 1945-1950: New Evidence From Russian Archives. http://wwics.si.edu/topics/pubs/ACFB76.pdf, diakses pada 14 Oktober 2008 pukul 20.58 WIB.

15

16

Page | 13

dari PBB. Setelah berhasil meyakinkan mayoritas anggota PBB bahwa serangan tersebut perlu ditanggapi secara serius, Amerika Serikat mengajukan sebuah resolusi untuk mengutuk serangan tersebut dan juga mendorong pengiriman pasukan PBB ke dalam zona konflik. Terlebih didukung dengan konteks persebaran kekuatan yang saat itu bipolar, Amerika Serikat juga memanfaatkan keterlibatan Soviet dalam aksi ini dan menggunakan resolusi ini untuk menekan kekuataannya. Namun, pada kenyataannya resolusi tersebut tidak pernah disetujui dan terlaksana karena resolusi tersebut bertentangan dengan kepentingan salah satu anggota tetap DK PBB yaitu Uni Soviet.

Page | 14

BAB III KESIMPULAN

Dalam kasus Perang Korea, keluarnya veto terhadap empat resolusi PBB sejatinya dapat dipahami sebagai upaya Uni Soviet dalam mewujudkan kepentingannya. Kepentingan ini pada dasarnya terkait dengan sejumlah konsep betajuk ideologi dan ekonomi. Secara ideologis, intensi Stalin dalam konteks pursuit of power dan hegemony maintenance telah melahirkan alasan Uni Soviet dalam menebar pengaruh dan menanamkan hegemoni di Korea Utara. Dari segi ekonomi, dukungan Uni Soviet terhadap Korea Utara untuk memenangkan perang tentunya menawarkan keuntungan ekonomi yang teramat menguntungkan. Alasan ideologi dan ekonomi inilah yang pada akhirnya mendorong Uni Soviet menceburkan diri dalam Perang Korea dan menjatuhkan veto terhadap resolusi PBB. Jika kita melihat fungsi PBB yang seharusnya untuk menjaga ketertiban dunia dan keamanan internasional maka hal apapun yang bertentangan ataupun menghalangi tercapainya tujuan ini seharusnya dapat ditumpas atau dihancurkan. Namun, terlihat bahwa meskipun hal tersebut sudah diajukan oleh Majelis Umum dan disetujui oleh mayoritas anggota PBB tapi hal itu tetap tidak dapat dilaksanakan. Hak veto yang diberikan pada negara-negara yang berkuasa setelah perang dunia kedua pun akhirnya dijadikan alat untuk menjustifikasi aksi yang dilakukan maupun yang didukung oleh negara-negara yang memiliki kekuatan yang besar. Dengan veto ini dengan kata lain negara besar dapat mengontrol dan menghancurkan pencapaian negara-negara kecil. Resolusi PBB yang merupakan kumpulan pendapat dan suara dari negara-negara anggota PBB yang sudah dipersatukan dan disimpulkan secara susah payah dapat dengan mudah dihancurkan oleh satu kepentingan negara besar. Sehingga dapat dikatakan bahwa fungsi organisasi internasional khususnya dalam kasus ini PBB tidak berjalan dengan seharusnya dan malah hanya sebagai institusi semu yang ditunggangi oleh kepentingan negara yang berkuasa. Dapat disimpulkan bahwa pandangan realisme yang skpetis terhadap fungsi organisasi internasional dapat dibenarkan. Organisasi internasional tidak ada bedanya dengan alat atau perpanjangan tangan kepentingan negara-negara besar yang selalu akan berjalan atau ditentukan oleh kepentingan-kepentingannya. Perang korea yang terjadi ini merupakan implikasi dari pertentangan dan perebutan kekuasaan serta pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat tidak menyetujui langkah frontal yang dilakukan Korea Selatan dan menolak secara keras agresi tersebut dalam PBB. Namun, Uni Soviet yang memiliki kepentingan akan penyebaran komunisme ke Asia dapat mengagalkan upaya penolakan tersebut hanya dengan mengunakan hak vetonya. Apalagi dalam hal ini demi memenuhi kepentingannya tersebut penyebarannya perlu dimulai dari penaklukan Korea sehingga Korea Selatan dibutuhkan untuk menyusupkan komunis dari Korea Utara. PBB di sini pada akhirnya tidak lain hanya menjadi medan pertempuran dan perebutan kekuasaan dari kedua negara adidaya ini.

Page | 15

DAFTAR PUSTAKA

Archer, Clive. International Organizations. London : Routledge, 2000. Carr, E.H. Socialism in One Country 1924- 1926, Vol. 1. London : Macmillan, 1958. Luard, Evan. Basic Text of International Relations. London : Macmillan Academic and Professional LTD, 1992. Pease, Kelly-Kate S. International Organizations : Perspective on Governance in The Twenty-First Century. New Jersey: Prentice Hall.Inc, 2000. Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengetahuan Dasar Tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Steans, Jill dan Lloyd Pettiford. International Relations Perspectives and Themes. England: Pearson Education Limited, 2001.

Rujukan dari internet : Eksuzyan, Robert. Little fanfare for Soviet Korean war veterans. http://www.aeronautics.ru /nws002/ korean_war_soviet_pilots_reuters.htm. 14 Oktober 2008, 21.32. International Security and Institutions Research Group. Vetoed Draft Resolutions in the United Nations Security Council 1946-2008. http://www.fco.gov.uk/resources /en/pdf/4175218/vetoes-2008-2. 14 Oktober 2008, 20.05. Gordelianow, Igor N. Soviet Air Aces of the Korean War. http://aeroweb.lucia.it/rap/RAFAQ /SovietAces.html. 14 Oktober 2008, 21.26 Jian, Chen. The Sino-Soviet Alliance and China’s Entry Into The Korean War. http://www.wilson center.org /topics/pubs/acfae7.pdf. 14 Oktober 2008, 21.13. O‟Neil, Mark. Soviet Involvement in the Korean War: A New View from the Soviet-era Archives OAH Magazine of History. http://www.oah.org/pus/megagreen/korea/oneill.html. 14 Oktober 2008, 21.45. Russian Archives. http://wwics.si.edu/topics/pubs/ACFB76.pdf. 14 Oktober 2008, 20.58. Weathersby, Kathryn. Soviet Aims In Korea and The Origins Of The Korean War 1945-1950: New Evidence From Why Was Stalin Able to Obtain Control? http://Revision-note.co.uk/revision/57.html. 16 0ktober 2008, 21.09.

Page | 16

LAMPIRAN Veto USSR 61 N Tangg o. al 1 16 Februari 1946

Masalah

Keterangan

2

18 Juni 1946 3 18 Juni 1946 4 18 Juni 1946 5 18 Juni 1946 6 26 Juni 1946

7

26 Juni 1946 8 26 Juni 1946

9

0

1

2

29 Agustus 1946 1 29 Agustus 1946 1 29 Agustus 1946 1 20 September 1946

Pasukan Perancis dan Menunjukkan keyakinan bahwa pasukan Inggris di Syria dan asing akan ditarik kembali secepat mungkin dan Lebanon Negosiasi akn dilaksanakan tanpa penundaan. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia Perancis dan Inggris tidak berpartisipasi dalam pengambilan suara (voting). The Spanish Question Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : The Spanish Question Jumlah veto : 1, abstain : 1 ( Belanda) Negara yang juga mem-veto : The Spanish Question Jumlah veto : 1, abstain : 1 ( Belanda) Negara yang juga mem-veto : The Spanish Question Menerima rekomendasi sub-komiti Jumlah veto : 1, abstain : 1 ( Belanda) Negara yang juga mem-veto : The Spanish Question Penyelesaian kembali atas penjagaan situasi di Spanyol dibawah obeservasi. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia The Spanish Question Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Polandia) Negara yang juga mem-veto : Perancis The Spanish Question Memutuskan bahwa resolusi Security Council tidak merugikan hak General Assembly. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia Aplikasi Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Australia) Keanggotaan Hashemit Negara yang juga mem-veto : Polandia Kingdom of Transjordan Aplikasi Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Australia) Keanggotaan Irlandia Negara yang juga mem-veto : Aplikasi Keanggotaan Portugal Pengaduan menolak Yunani Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Australia) Negara yang juga mem-veto : Polandia Dewan Keamanan membentuk sebuah komisi untuk menginvestigasi insiden-insiden di perbatasan Yunani dengan Albania, Bulgaria, dan Yugoslavia.
Page | 17

1 3

25 Maret 1947

Peristiwa tentang sebuah pertambangan yang belum tereksplorasi di Terowongan Corfu

1 4

29 Juli Insiden 1947 Yunani

perbatasan

1 5

6

7

8

18 Agustus 1947 1 18 Agustus 1947 1 18 Agustus 1947 1 19 Agustus 1947

Aplikasi Keangotaan Hashemite Kingdom of Transjordan Aplikasi Keanggotaan Irlandia Aplikasi Keanggotaan Portugal Insiden Yunani Perbatasan

Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Australia) Negara yang juga mem-veto : Polandia Ditemukan bahwa keberadaan pertambangan tersebut diketahui oleh pemerintah Albania dan merupakan persekongkolan pemerintah Albania. Inggris sebagai pihak yang terlibat dalam permasalahan tersebut, tidak berpartisipasi dalam veto yang dilakukan. Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Syiria) Negara yang juga mem-veto : Direkomendasikan kepada pemerintah Yunani, Albania, Bulgaria, dan Yugoslavia agar menahan diri dari segala bentuk dukungan untuk menggulingkan pemerintahan negara tetangga yang berdaulat dan Dewan Keamanan diharuskan membentuk sebuah komisi Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Polandia) Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Polandia) Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Polandia) Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia

1 9

19 Agustus 1947

2 0

21 Agustus 1947 21

2

Menetapkan bahwa situasi tersebut merupakan ancaman bagi perdamaian dan meminta untuk bernegosiasi. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia Insiden Perbatasan Ditemukan bahwa Albania, Bulgaria, dan Yunani Yugoslavia telah membantu gerliyawan di Yunani dan memohon kepada mereka untuk berhenti. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia Aplikasi Pengajuran Italia dimasukkan ke dalam Keanggotaan Italia keanggotaan pada saat itu. Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Polandia) Negara yang juga mem-veto : Aplikasi Penganjuran Austria dimasukkan ke dalam
Page | 18

1

Agustus 1947 2 25 Agustus 1947 15 September 1947

Keanggotaan Austria

2

2 3

2 4

5

6

15 September 1947 2 1 Oktober 1947 2 10 April 1948

Insiden Perbatasan Yunani: berhubungan terhadap Albania, Yugoslavia, dan Bulgaria. Insdident Perbatasan Yunani: berhubungan terhadap Albania, Yugoslavia, dan Bulgaria Aplikasi Keanggotaan Italia Aplikasi Keanggotaan Finlandia Aplikasi Keanggotaan Italia

keanggotaan pada saat itu. Jumlah veto : 1, abstain : 2 (Polandia) Negara yang juga mem-veto : Permintaan General Assembly untuk mempertimbangkan perdebatan. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia Mengumumkan prosedur proposal ini. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia

2 7

24 Mei 1948

2 8

24 Mei 1948

2 9

22 Juni 1948

3 0

18 Agustus 1948

3 1

25 Oktober 1948

Tidak ada vote yang diambil terhadap Transjordan sejak delegasi menyatakan bahwa posisi mereka tidak berubah sejak awal. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia The Czechoslovak Dalih ancaman terhadap kemerdekaan question Czech oleh ancaman militer Uni Soviet. Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Perancis) Negara yang juga mem-veto : Ukraina The Czechoslovaq Dalih ancaman terhadap kemerdekaan Question Czech oleh ancaman militer Uni Soviet. Memutuskan untuk mengangkat sub-komiti untuk mendengarkan pembuktian. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Laporan Komisi Penerimaan laporan sebagai sebuah dasar Energi Atom PBB sistem kontrol internasional atas energi atom. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Aplikasi Vote diambil atas proposal lisan oleh China Keanggotaan Sri Langka bahwa Sri Langka dimasukkan ke dalam keanggotaan PBB. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Situasi di Berlin Meminta pertanggungjawaban 4 pemerintahan untuk menghapus perbedaan-perbedaan yang ada dan mengatur
Page | 19

3 2

3

15 Desember 1948 3 8 April 1949 3 7 September 1949 13 September 1949 13 September 1949 13 September 1949 13 September 1949 13 September 1949 13 September 1949 13 September 1949 11 Oktober 1949 18 Oktober 1949 18 Oktober 1949

Aplikasi Keanggotaan Sri Langka Aplikasi Keanggotaan Republik Korea Aplikasi Keanggotaan Nepal Aplikasi Keanggotaan Portugal Aplikasi Keanggotaan Jordan Aplikasi Keanggotaan Italia Aplikasi Keanggotaan Finlandia Aplikasi Keanggotaan Irlandia Aplikasi Keanggotaan Austria Aplikasi Keanggotaan Sri Langka Proposal Persenjataan Konvensional Proposal Persenjataan Konvensional Peraturan pengurangan perang Komisi

penyatuan mata uang. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Penyetujuan resolusi komisi Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Penyetujuan proposal dalam kertas kerja Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina

4 3 5 3 6 3 7 3 8 3 9 4 0 4 1 4 2 4 3

Komisi

4 4

dan adanya pemberitahuan yang jelas mengenai peralatan peralatan perang tiap negara, yang berarti setiap negara wajib melaporkan peralatan perang yang dimilikinya, terutama yang berhubungan dengan
Page | 20

4 5

13 Desember 1949

Indonesian Question

senjata atom dan fasilitas lainnya. Jumlah veto : 2, abstain : 1 Negara yang juga mem-veto : Ukraina, Abstain : Argentina PBB membantu dan menyambut pembangunan yang terjadi di Indonesia. Jumlah veto : 2, abstain : 1 Negara yang juga mem-veto : Ukraina, Abstain : Argentina PBB memerintahkan Komisi PBB agar terus berjalan. Jumlah veto : 2, abstain : 1 Negara yang juga mem-veto : Ukraina, Abstain : Argentina Resolusi PBB : PBB memerintahkan setiap negara agar tidak membantu Korea Utara dalam menyerang Korea Selatan. Jumlah veto : 1, abstain : 1 Negara yang juga mem-veto : -, abstain : Yugoslavia Resolusi PBB : Dibentuknya Komisi Investigasi untuk menyelidiki benar tidaknya penyerangan tersebut. Jumlah veto : 1, abstain : 2 Negara yang juga mem-veto : -, abstain : Yugoslavia, Cina 9-1-0, India ga berpartisipasi

4 6

13 Desember 1949

Indonesian Question

4 7

6 September 1950

Ketidaksetujuan terhadap agresi yang dilakukan melawan Republik Korea (Korea Selatan)

4 8

12 September 1950

Dugaan mengenai adanya penyerangan dari angkatan bersenjata PBB untuk Korea pada pangkalan udara Cina

4 9

0

1

30 November 1950 5 30 November 1950 5 30 November 1950

Pengaduan agresi terhadap Korea Selatan Pengaduan agresi terhadap Korea Selatan

9-1-0, India ga berpartisipsi

5

6

Ketidaksetujuan PBB Resolusi PBB : mengenai agresi yang PBB menyatakan ketidaksetujuannya dilakukan terhadap Korea terhadap angkatan bersenjata Cina yang Selatan melawan angkatan bersenjata PBB dalam Perang Korea kala itu. Jumlah veto : 1, tidak ikut veto : 1 Negara yang juga mem-veto : -, India tidak ikut dalam veto. Aplikasi keanggotaan Jumlah veto : 1, abstain : Page | 21

2

3

4

5

6

7

8

9

0

1

2

Februari Itali Negara yang juga mem-veto : 1952 5 3 Juli Dugaan mengenai Resolusi PBB : meminta Palang Merah 1952 adanya senjata bakteria Dunia untuk melakukan innvestigasi dalam Perang Korea sehubungan dengan dugaan tersebut Jumlah veto : 1, abstain : 5 9 Juli Penyetujuan Resolusi PBB : memerintahkan 1952 dilakukannya investigasi dilakukannya investigasi yang tadinya di-veto di oleh Palang Merah Dunia veto 48. (lihat veto 48) Jumlah veto : 1, abstain : 1 Negara yang juga mem-veto : -, abstain : Pakistan. 5 16 Aplikasi keanggotaan Jumlah veto : 1, abstain : September Libya Negara yang juga mem-veto : 1952 5 18 Aplikasi keanggotaan Jumlah veto : 1, abstain : September Jepang Negara yang juga mem-veto : 1952 5 19 Aplikasi keanggotaan Jumlah veto : 1, abstain : September Vietnam Negara yang juga mem-veto : 1952 5 19 Aplikasi keanggotaan Jumlah veto : 1, abstain : September Laos Negara yang juga mem-veto : 1952 5 19 Aplikasi keanggotan Jumlah veto : 1, abstain : September Kamboja Negara yang juga mem-veto : 1952 6 22 Palestine Question Mengenai kekhawatiran Syria/Israel Januari tentang Zona Demiliterisasi yang dianggap 1954 mengganggu Sungai Yordan. Mendeklarasikan ketaatan Perjanjian Gencatan Senjata menjadi penting. Jumlah veto : 2, abstain : 2 (Brazil. China) Negara yang juga mem-veto : Lebanon 6 29 The Palestine Permohonan kepada Mesir untuk mematuhi Maret 1954 Question SCR 95 (1951) mengenai Armada Israel Jumlah veto : 2, abstain : 1 (China) Negara yang juga mem-veto : Lebanon 6 18 The Thailand Permohonan pembentukkan sub-komisi Juni 1954 Question oleh Komisi Pengamatan Perdamaian untuk mengontrol perselisihan di dekat Indocina/perbatasan Thailand. Jumlah veto : 1, abstain : 1 Negara yang juga mem-veto : Lebanon
Page | 22

6 3

20 Juni 1954

The Question

Guetemalan

6 4

13 Desember 1955

Amandemen China untuk bergabung dalam draft resolusi Brazil/Selandia Baru Amandemen China untuk bergabung dalam draft resolusi Brazil/China

6 5

13 Desember 1955

6 6 6 7 6 8 6 9 7 0 7 1 7 2 7 3 7 4 7

13 Desember 1955 13 Desember 1955 13 Desember 1955 13 Desember 1955 13 Desember 1955 13 Desember 1955 13 Desember 1955 13 Desember 1955 13 Desember 1955 13

Aplikasi Keanggotaan Jordania Aplikasi Keanggotaan Irlandia Aplikasi keanggotan Portugal Aplikasi keanggotaan Italia Aplikasi keanggotan Austria Aplikasi keanggotan Finlandia Aplikasi keanggotan Srilangka Aplikasi keanggotan Nepal Aplikasi keanggotan Libya Aplikasi keanggotan

Dalih bagi Honduras dan Nikaragua untuk melakukan penyerangan. Menyerahkan pertanyaan tersebut kepada Organisasi Amerika Serikat. Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Termasuk Republik Korea dan Vietnam dalam daftar negara yang melamar untuk bergabung. Jumlah veto : 1, abstain : 1 (New Zealand) Negara yang juga mem-veto : Termasuk Republik Korea dan Vietnam dalam daftar negara yang melamar untuk bergabung. Jumlah veto : 1, abstain : 1 (New Zealand) Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Page | 23

5

6

7

8

Desember 1955 7 13 Desember 1955 7 13 Desember 1955 7 13 Desember 1955 7 14 Desember 1955

Kamboja Aplikasi keanggotan Jepang Aplikasi keanggotan Laos Aplikasi keanggotan Spanyol

Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Belgia) Negara yang juga mem-veto : -

9

8 0

1

15 Desember 1955 8 13 Oktober 1956

Resolusi PBB: Aplikasi keanggotan Termasuk didalamnya Jepang dalam draft Jordan resolusi Uni Soviet, rekomendasi amandemen kepada Albania, Jordan, Irlandia, Portugal, Hungaria, Italia, Austria, Romania, Bulgaria, Finlandia, Sri Langka, Nepal, Lybia, Kamboja, Laos, dan Spanyol. Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Aplikasi keanggotan Jumlah veto : 1, abstain : Jepang Negara yang juga mem-veto : Pengaduan oleh Resolusi PBB: Perancis dan Inggris Tertulis bahwa pemerintahan mesir belum dalam melawan Mesir juga merumuskan secara cukup rencana yang tepat untuk bertemu “six requirements” dan mempertimbangkan bahwa pemerintahan mesir sebaiknya bekerja sama dengan Suez Canal Users Organization. Bagian pertama dalam draft resolusi yang disetujui untuk beberapa penyelesaian perkara “the Suez question” disetujui secara bulat oleh Security Council. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Yugoslavia Resolusi PBB: Situasi di Hongaria Panggilan untuk penarikan kembali atas pasukan Uni Soviet tanpa penundaan dari teritori Hongaria. Veto Asli adalah 9 setuju, 2 menolak. Namun, pada tanggal 5/11/56, Yugoslavia abstain dalam kasus ini Resolusi PBB:
Page | 24

8 2

4 November 1956

8

20

3

Februari 1957

The India-Pakistan question

8 4

5

6

7

8

9

0

1

2

9 Aplikasi Keanggotaan September Republik Korea 1957 8 9 Aplikasi Keanggotaan Jumlah veto : 1, abstain : September Vietnam Negara yang juga mem-veto : 1957 8 2 Mei militer AS membawa Resolusi : menciptakan suatu penyelidikan 1958 bom ke arah pasukan di area bagian utara lingkaran artik. militer Uni Soviet Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : 8 18 Juli oleh Libanon yang Resolusi : Penyeruan penghentian 1958 mengatakan adanya penyusupan militer dan mengundang UN penyusupan tentara militer observation group dalam rangka mengejar United Arab Republic Resolusi Dewan Keamanan 128 tahun 1958. melalui Siria Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Swedia) Negara yang juga mem-veto : 8 22 Protes oleh Libanon Resolusi : Permintaan pemenuhan tujuan Juli1958 yang mengatakan adanya Resolusi Dewan Keamanan 128 kepada penyusupan tentara militer Sekretaris Jendral melalui pengiriman tentara United Arab Republic militer PBB sehingga tentara militer AS dapat mundur. Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : 8 9 Penolakan akan Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Irak) desember masuknya Korea Selatan Negara yang juga mem-veto : 1958 dalam keanggotaan PBB 9 9 Penolakan akan Jumlah veto : 1, abstain : 2 (Kanada, Irak) desember masuknya Vietnam dalam Negara yang juga mem-veto : 1958 keanggotaan PBB 9 26 juli Insiden RB-47 di Resolusi : Menganjurkan terjadinya 1960 mana terjadi pelanggaran investigasi mendalam ataupun melalui terhadap ruang udara Mahkamah Internasional. Rusia oleh militer AS Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia 9 26 juli Insiden RB-47 Resolusi : Harapan agar Komite 1960 Internasional melalui Palang Merah Internasional dapat melakukan tugas kemanusiaan dengan memantau bagaimana
Page | 25

Meminta presiden dari Security Council untuk mengunjungi sub-kontinen untuk mendiskusi demiliterisasi di Jammu dan Kashmir. Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Swedia) Negara yang juga mem-veto : Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : -

9 3

17 September 1960

9 4

5

4 desember 1960 9 13 desember 1960

keadaan awak militer tersebut, apakah diperlakukan secara manusiawi atau tidak oleh Uni Soviet yang menahan awak-awak tersebut. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Polandia Situasi di Kongo Resolusi : Menyarankan kekuatan militer PBB untuk mengembalikan hukum, tatanan, serta secara sukarela memberikan dana bantuan untuk Kongo. Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Perancis) Negara yang juga mem-veto : Polandia Penolakan akan Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Sri Langka) masuknya Mauritania Negara yang juga mem-veto : Polandia dalam keanggotaan PBB Berhubungan dengan Resolusi : Mengharapkan Palang Merah situasi terakhir di Kongo Internasional dapat memantau perkembangan tawanan dan meminta kepada Sekretaris Jendral untuk menjaga keamanan serta hak asasi manusia. Jumlah veto : 3, abstain : 1 (Tunisia) Negara yang juga mem-veto : Srilangka, Polandia Situasi di Kongo

9 6

20 februari 1961

9 7

9 8

9 9 1

Resolusi : Pengubahan oral amandemen AS paragraf pembuka akan referensi terhadap lokasi-lokasi spesifik, menjadi “berbagai tempat di Kongo”. Jumlah veto : 3, abstain : Negara yang juga mem-veto : Sri Langka, United Arab Republik 20 Situasi di Kongo Resolusi : Pengubahan yang sama menjadi februari “berbagai tempat di negara-negara”. 1961 Jumlah veto : 3, abstain : 1 (Liberia) Negara yang juga mem-veto : Sri Langka, United Arab Republic 7 juli Pertanyaan terkait Resolusi : Ajakan untuk menghormati 1961 dengan Kuwait dan Irak. kemerdekaan Kuwait dan integritas teritorinya. Jumlah veto : 1, abstain : 3 Negara yang juga mem-veto : Sri Langka, Ekuador, United Arab Republic 24 Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Perancis) november Negara yang juga mem-veto : 1961 24 Situasi Kongo Resolusi : Penambahan paragraf kepada
Page | 26

00

november 1961

1 01

02

03

30 november 1961 1 18 desember 1961 1 22 juni 1962

1 04

05

3 september 1963 1 17 september 1964 1 21 Desember 1964

Sekretaris Jendral untuk meyakinkan pemerintah Kongo dalam mereorganisir angkatan militernya. Jumlah veto : 1, abstain : 1 (Perancis) Negara yang juga mem-veto : Penolakan akan Jumlah veto : 1, abstain : masuknya Kuwait dalam Negara yang juga mem-veto : keanggotaan PBB. Protes oleh Portugal Jumlah veto : 4, abstain : dikarenakan situasi di Goa Negara yang juga mem-veto : Sri Langka, Damo dan Diu Liberia, United Arab Republic Indian-Pakistan Resolusi : Memaksa terjadinya negosiasi question mengenai Kashmir. Jumlah veto : 2, abstain : 2 (Ghana, United Arab Republic) Negara yang juga mem-veto : Rumania Siria/Israel S Jumlah veto : 2, abstain : 1 (Venezuela) Negara yang juga mem-veto : Maroko Hubungan antara Jumlah veto : 1, abstain : 2 (Perancis dan Malaysia dan Indonesia Amerika Serikat) Negara yang juga mem-veto : Perselisihan Syiria Melarang keras aksi militer di garis dan Israel: Palestina gencatan senjata antara Israel dan Syiria dan memanggil agar bekerja sama dengan pekerjaan 1963 dalam peninjauan dan pembatasan. Jumlah veto : 3, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ceko dan Maroko Perselisihan Syria Mengundang Syria untuk meperkuat dan Israel: Palestina langkah-langkah yang berhubungan kepada General Armistice Agreement dan memohon kepada Israel dan Syria untuk memudahkan kerjanya UNTS (the UN Truce Supervisory Organization). Ini merupakah voting yang pertama kali dilakukan oleh Security Council dengan anggota berjumalah 15 negara. Jumlah veto : 4, abstain : 1 (China) Negara yang juga mem-veto : Bulgaria, Jordan, Mali Chekoslovakia Menegaskan kedaulatan, kemerdekaan politik dan kesatuan wilayah Chekoslovakia,
Page | 27

06

1 07

4 November 1966

1 08

22 Agustus

1968

1 09

4 Desember 1971

India/Pakistan (Bangladesh)

1 10

5 Desember 1971

India/Pakistan (Bangladesh)

1 11

13 Desember 1971

India/Pakistan (Bangladesh)

1 12

10 September 1972

Timur Tengah

1 13

31 Juli 1974

Situasi di Siprus

menjatuhkan hukuman intervensi militer Uni Soviet dan anggota Pakta Warsawa lainnya dan meminta penarikan kembali pasukannya. Jumlah veto : 2, abstain : 3 (Algeria, India, Pakistan) Negara yang juga mem-veto : Hongaria Panggilan untuk penarikan kembali dan memberi kuasa Secretary General unutk menempatkan pengamat di perbatasan India/Pakistan. Jumlah veto : 2, abstain : 2 (Perancis, Inggris) Negara yang juga mem-veto : Polandia Panggilan atas India dan Pakistan untuk melakukan gencatan senjata dan penarikan kembali pasukan militer mereka dan mendesak usaha lebih lanjut untuk membawa tentang pengembalian secara sukarela atas pengungsi Pakistan Timur. Jumlah veto : 2, abstain : 2 (Perancis, Inggris) Negara yang juga mem-veto : Polandia Panggilan atas India dan Pakistan untuk melakukan gencatan senjata dan penarikan kembali pasukan militer mereka. Jumlah veto : 2, abstain : 2 (Perancis, Inggris) Negara yang juga mem-veto : Polandia Amandemen atas permohonan mengenai kelompok politik untuk memberhentikan secara cepat seluruh operasi militer. Termasuk mengenai petunjuk miring atas teroris “Black September” yang menyerang atlet Israel di Munich. Jumlah veto : 6, abstain : Negara yang juga mem-veto : Guinea, Somalia, Sudan, dan Yugoslavia. Pencatatan penghormatan untuk kedaulatan, kemerdekaan, dan kesatuan wilayah Siprus dan permintaan Secretary General untuk mengambil tindakan yang sesuai. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Belarusia China tidak berpartisipasi dalam voting.
Page | 28

1 14

15 Januari 1979

1 15

16 Maret 1979

1 16

7 Januari 1980 13 Januari 1980 12 September 1983

1 17

1 18

1 19

29 Februari 1984

1 20

11 April 1993

Invasi Vietnam atas Panggilan untuk melakukan gencatan Kamboja senjata dan penarikan kembali seluruh pasukan militer asing dan memohon Secretary General untuk meloporkan perkembangan menuju implementasi tidak lebih dari dua minggu. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Cheko Situasi Asia Tenggara Panggilan untuk penghentian peperangan dan implikasinya dan penarikan kembali pasukan militer mereka terhadapa perdamaian dan oleh seluruh kelompok politik ke negara keamanan internasional. masing-masing. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Cheko Invasi Soviet atas Panggilan untuk penarikan kembali seluruh Afganistan pasukan asing secepatnya dan tanpa syarat. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : GDR Panggilan untuk Jumlah veto : 2, abstain : persetujuan menolak Iran Negara yang juga mem-veto : GDR karena penyanderaan atas orang Amerika Penembakan jatuh Melarang keras penghancuran civil airliner oelh Uni Soviet terhadap dan mangundang Secretary General untuk civil airliner Korea mengatur sebuah investigasi dan melaporkan Selatan hasil penemuannya dalam waktu 14 hari. Jumlah veto : 2, abstain : 4 (China, Guyana, Nikaragua, Zimbabwe) Negara yang juga mem-veto : Polandia Peran Amerika Mengeluarkan seruan mendesak untuk Serikat di Libanon melakukan gencatan senjata secara cepat dan menetukan untuk mendirikan militer PBB di kawasan Beirut yang terpilih, apabila sesuai dari militer sementar PBB di libanon dengan misi pemantauan kepatuhan dengan gencatan senjata. Jumlah veto : 2, abstain : Negara yang juga mem-veto : Ukraina Situasi di Siprus Memberlakukan biaya UNFICYP sebagai pengeluaran PBB berdasarkan artikel 17 (2) dengan efek, sejak mandat untuk memperpanjangan pengeluaran UNFICYP, perlu dilakukan pembahasan ulang, menambah sejumlah pengamat pengintai untuk membantu pembahasan ulang tersebut, dan memandatkan DK untuk membuat sebuah laporan satu bulan
Page | 29

1 21

2 Desember 1994 21 April 2004

sebelum pembahasan ulang. Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : Situasi di Republik Penetapan kembali Bosnia dan Herzegovina Jumlah veto : 1, abstain : 1 (China) Negara yang juga mem-veto : Situasi di Siprus

1 22

23

24

Menyetujui mandat sebuah operasi baru PBB di Siprus dan melarang penjualan senjata. Jumlah veto : 1, abstain : Negara yang juga mem-veto : 1 12 Situasi di Myanmar Panggilan atas pemerintahan Myanmar Januari untuk menghentikan penyerangan militer 2007 melawan masyarakat civil di daerah etnik minoritas dan memulai dialog politik substantif yang penting untuk transisi ke demokrasi; pengungkapan dukungan untuk misi jasa baik Secretary General. Jumlah veto : 3, abstain : 3 (Kongo, Indonesia, Qatar) Negara yang juga mem-veto : Afrika Selatan, China 1 11 Juli Perdamaian dan meminta Pemerintah Zimbabwe untuk 2008 Keamanan di Afrika segera menghentikan serangan dan intimidasi terhadap anggota dan pendukung oposisi, memulai dialog politik diantara berbagai pihak dan menghentikan larangan dalam bantuan kemanusiaan; memeperkenalkan suatu senjata embargo di Zimbabwe, larangan perjalanan dan pembekuan aset terhadap anggota tertentu dari pemerintah dan kekuatan pertahanan Jumlah veto : 5, abstain : 1 (Indonesia) Negara yang juga mem-veto : Libya, China, Afrika Selatan, Vietnam

Sumber : http://www.globalpolicy.org

Page | 30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->