P. 1
Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat Kenaikan Tarif Impor Ban Cina, Analisa Terhadap Motif Ekonomi Dan Politik Dari Kebijakan as Dalam Menaikkan Tarif Impor Ban Cina Pada Masa Pemerintahan Obama

Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat Kenaikan Tarif Impor Ban Cina, Analisa Terhadap Motif Ekonomi Dan Politik Dari Kebijakan as Dalam Menaikkan Tarif Impor Ban Cina Pada Masa Pemerintahan Obama

|Views: 1,863|Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on Jan 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2012

pdf

text

original

Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat : Kenaikan Tarif Impor Ban Cina

Analisa Terhadap Motif Ekonomi dan Politik dari Kebijakan AS dalam Menaikkan Tarif Impor Ban Cina pada Masa Pemerintahan Obama

Disusun oleh : Erika 0706291243 Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Tugas Makalah Akhir Mata Kuliah Hubungan Luar Negeri dan Keamanan Amerika Serikat Program Studi S1 Reguler Ilmu Hubungan Internasional Semester Ganjil 2009/2010

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA 2009

Page | 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Liberalisme dan demokrasi merupakan dua hal yang melatarbelakangi hampir seluruh pembuatan kebijakan di Amerika Serikat, baik kebijakan dalam negeri maupun kebijakan luar negeri. Prinsip pertama, liberalisme, merupakan prinsip yang terus berusaha diwujudkan oleh AS dalam setiap kebijakan luar negerinya, terutama dalam berbagai kebijakan perdagangannya. Liberalisasi perdagangan dilakukan dengan memberi kebebasan seluas-luasnya pada swasta, dengan meminimalkan peran negara dalam perdagangan internasional. Prinsip liberalisme dalam perdagangan internasional antara lain diwujudkan dengan pengurangan tarif bagi masuknya barang-barang impor dalam perdagangan internasional. Prinsip pengurangan tarif impor ini sudah diadopsi oleh negara-negara anggota General Agreements of Tariff and Trade (GATT), termasuk AS sebagai salah satu pemrakarsanya. Akan tetapi, tren diterapkannya tarif impor yang rendah dalam kebijakan perdagangan AS tersebut kini tampaknya perlu dikaji ulang, seiring dengan dikeluarkannya berbagai kebijakan perdagangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan bebas oleh AS belakangan ini. Salah satu kebijakan perdagangan AS yang bertentangan dengan prinsip liberalisasi perdagangan terlihat pada 11 September 2009 lalu, ketika Presiden Obama mengumumkan kenaikan tarif impor pada produk ban Cina sebesar 35%, di luar pajak sebesar 4% yang sudah diterapkan sebelumnya. Tarif impor ini akan berlaku selama tiga tahun ke depan, dengan rincian 35% pada tahun pertama, 30% dan 25% pada tahun kedua dan ketiga. Kebijakan perdagangan yang dikeluarkan Presiden Obama tersebut mendapat reaksi negatif dari berbagai kalangan dunia, yang mengatakan langkah tersebut bertentangan dengan prinsip dasar perdagangan bebas. Adapun dalam pembuatan kebijakan perdagangan tersebut, pemerintah AS—dalam hal ini Obama dan menteri-menterinya—pastilah memiliki pertimbangan tersendiri. Berbagai alasan pun dikemukakan Pemerintahan Obama. Pemerintahan Obama mengatakan kenaikan tarif impor ban Cina ini diperlukan untuk alasan ekonomi yaitu demi mendukung pertumbuhan industri ban AS. Akan tetapi, berbagai alasan ekonomi itu kemudian mulai dipertanyakan karena ternyata implikasi dari kebijakan kenaikan tarif ban impor Cina tersebut sangatlah besar. Berbagai spekulasi pun timbul seputar alasan lain selain alasan ekonomi di balik pembuatan kebijakan perdagangan kenaikan tarif impor terhadap ban Cina
Page | 2

tersebut. Adapun berbagai spekulasi ini timbul karena alasan ekonomi dinilai tidak cukup untuk melatarbelakangi dikeluarkannya kebijakan yang dinilai sangat bertentangan dengan nilai-nilai dasar AS yang mendukung perdagangan bebas. Makalah ini kemudian akan mencoba menganalisa alasan-alasan yang melatarbelakangi Pemerintahan Obama dalam mengeluarkan kebijakan perdagangan berupa kenaikan tarif impor pada produk ban Cina.

1.2. Pertanyaan Permasalahan Makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan: Mengapa Pemerintahan Obama mengeluarkan kebijakan perdagangan berupa kenaikan tarif impor pada produk ban Cina?

1.3. Kerangka Teori Untuk menjawab pertanyaan dalam pertanyaan permasalahan di atas, makalah ini akan menggunakan teori Graham T. Allison mengenai tiga model analisis konseptual dalam mengkaji kebijakan luar negeri suatu negara. Menurut Allison, ada tiga macam model analisis yang dapat digunakan untuk mengkaji pembuatan kebijakan luar negeri suatu negara. Pertama, Rational Policy Model1, di mana negara diasumsikan sebagai sebuah aktor tunggal rasional yang membuat keputusan sendiri. Adapun asumsi-asumsi dasar yang berlaku dalam model ini adalah kebijakan merupakan pilihan dari pemerintah nasional yang akan memberikan keuntungan terbesar dan kerugian terkecil dibandingkan beberapa alternatif pilihan lain. Akan tetapi, model ini kemudian mendapat kritik sehubungan dengan penggambaran kerangka analisis yang terlalu menyederhanakan masalah. Meskipun banyak pendapat yang mempercayai negara bergerak sebagai aktor tunggal, hal itu tidak sepenuhnya dapat dibuktikan. Kedua, Organizational Process Model.2 Dalam model ini, negara diasumsikan sebagai organisasi yang memiliki berbagai organ dengan fungsi berbeda, yang bekerja untuk mencapai tujuan bersama dari organisasi tersebut. Pada Organizational Process Model ini, masalah yang muncul adalah bagaimana sebuah keputusan yang diambil berdasarkan standard operating procedures dalam pemerintahan cenderung diasumsikan predictable dan tetap sesuai pola aksi tertentu. Padahal rumus bahwa kebijakan bergerak secara linear masih merupakan hipotesis empiris, dan dalam bentuk linear sekalipun, perilaku negara masih dinilai cukup kompleks.3
1

2 3

Graham T. Allison, “Conceptual Models and the Cuban Missile Crisis”, dalam S. John Ikenberry. American Foreign Policy, Theoretical Essays (3rd edition), (New York: Longman, 1994), hal 415-418. Ibid, hal. 424-437. Jonathan Bendor, dan Thomas H. Hammond, “Rethinking Allison's Models” dalam The American Political Science Review, Vol. 86, No. 2 (Jun., 1992), Hal 310.
Page | 3

Ketiga, Bureaucratic Politics Model.4 Model ini mengkonsentrasikan diri kepada intergroup bargaining, balances of power, dan jalur yang telah ditentukan dalam konteks politik birokrasi. Menurut model ini, keputusan lahir melalui konfrontasi dan bargaining dari berbagai pemain. Hasil kebijakan luar negeri merupakan hasil dari negosiasi dari pemimpin-pemimpin tersebut di mana model ini secara langsung menolak asumsi ide pemerintah yang tunggal. Permasalahan dari model ketiga ini adalah, menurut Bendor dan Hammond, model ini terkesan mengenyampingkan peran hierarki dalam bureaucratic bargaining, sehingga Bendor dan Hammond kemudian menyarakankan penggunaan status hierarkis dari masing-masing aktor dan kekuatannya dalam pengambilan keputusan. Dalam menganalisa masalah pembuatan kebijakan kenaikan tarif impor pada produk ban Cina, penulis akan memfokuskan pembuatan kebijakan tersebut pada model III yang disampaikan Allison, yaitu model politik birokrasi. Adapun menurut penulis, model politik birokrasi merupakan model yang paling relevan dalam menjelaskan pembuatan kebijakan tersebut. Model ini senada dengan anggapan bahwa tindakan pemerintah Amerika Serikat terkait dengan keputusan kebijakan luar negerinya, lahir dari kepentingan dan perilaku dari berbagai kelompok dan individu di masyarakat Amerika. 5 Politik domestik di Amerika Serikat, perilaku publik, dan lingkungan internasional sama-sama berperan untuk membentuk tindakan dan keputusan pemerintah AS. Selain itu dalam buku Bureaucratic Politics and Foreign Policy, terlihat bagaimana politik birokrasi juga dipengaruhi oleh kekuatan masing-masing entitas politik. Lebih lanjut lagi, hal ini senada dengan pendekatan agency-based dan pendekatan interpretative actor dalam pembuatan kebijakan luar negeri. Pendekatan agency-based mengatakan bahwa karakteristik seorang pemimpin—yang tersusun dari kepercayaan, motivasi, dan interpersonal style—akan berpengaruh pada pembuatan kebijakan. Model politik birokratis juga mengatakan bahwa pembuatan kebijakan luar negeri bergantung pada permainan tawar-menawar dan preferensi kepentingan para birokrat. 6 Pembuatan kebijakan perdagangan AS itu juga senada dengan pendekatan interpretative actor yang mengatakan bahwa kebijakan luar negeri suatu negara bergantung pada bagaimana individu pemilik kekuasaan mengamati dan menganalisa situasi domestiknya. 7 Dari kesemua pendekatan dan model yang disampaikan Allison tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa dalam pembuatan kebijakan luar negeri suatu negara, unsur domestik—baik itu berupa nilai-nilai yang dianut pemimpin, kepentingan para birokrat, sampai pada cara pemimpin menganalisa situasi domestik—sangat berpengaruh.
4 5 6

7

Allison, op.cit., hal. 437-443. Morton H. Halperin, Bureaucratic Politics and Foreign Policy, (Washington DC:. The Brookings Institution, 1974), hal. 4. Walter Carlsnaes, “Foreign Policy” dalam Walter Carlsnaes, et.all (ed.), Handbook of International Relations. (London: Sage Publications, 2002), hal. 338. Ibid, hal. 341.
Page | 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Kebijakan Perdagangan AS Berupa Kenaikan Tarif Impor Ban Cina melalui Undang-Undang Perdagangan Tahun 1974 Nomor 421 Sengketa perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina dimulai pada 11 September 2009 lalu, ketika Presiden Obama mengumumkan kenaikan tarif impor pada produk ban Cina sebesar 35%, di luar pajak sebesar 4% yang sudah diterapkan sebelumnya. Tarif impor ini sendiri akan berlaku selama tiga tahun ke depan, dengan rincian 35% pada tahun pertama, 30% pada tahun kedua, dan 25% pada tahun ketiga. Kebijakan perdagangan yang dikeluarkan Presiden Obama tersebut mendapat reaksi negatif dari berbagai kalangan dunia, yang mengatakan langkah tersebut seperti bertentangan dengan prinsip dasar perdagangan bebas, yaitu keharusan menerapkan tarif yang rendah dalam perdagangan internasional yang ditetapkan oleh General Agreements of Tariff and Trade (GATT).8 Adapun keputusan menaikkan tarif impor terhadap produk ban Cina itu diambil Pemerintahan Obama untuk menanggapi laporan dari United Steelworkers (USW) melalui Undang-Undang Perdagangan 1974 No. 421 (yang lebih dikenal di AS sebagai Section 421). Adapun Section 421 tersebut merupakan semacam undang-undang pengaman bagi kehadiran produk Cina (“China-Specific Safeguard”9), di mana melalui UU ini, pemerintah berhak melakukan kenaikan tarif impor pada produk Cina bila produk tersebut terbukti diimpor dalam kuantitas yang sanggup menimbulkan “kehancuran pasar” pada produsen domestik yang memproduksi produk sejenis.10 Undang-undang (UU) ini sendiri menjadi legal sejak Cina bergabung menjadi anggota World Trade Organization (WTO) pada tahun 2001, dan akan berakhir masa berlakunya pada tahun 2013. Berbeda dengan UU Perdagangan Tahun 1974 No. 201 yang menekankan unsur “kerusakan serius” pada produsen AS sebagai syarat dikeluarkannya hambatan perdagangan sementara, UU No. 421 ini memberikan persyaratan yang lebih rendah untuk mengeluarkan restriksi perdagangan. Secara lebih spesifik, UU No. 421 ini menyebutkan bahwa:
8

Ketentuan rendahnya tarif impor dalam GATT ini akhirnya justru memunculkan berbagai macam hambatan non-tarif dalam perdagangan, lihat Cletus C. Coughlin dan Geoffrey E. Wood, An Introduction to Non Tariff Barriers to Trade, diakses dari http://research.stlouisfed.org/publications/review/89/01/ Trade_Jan_Feb1989.pdf, 27 Oktober 2009, pukul 17.15. 9 Daniel Ikenson, "Bull in a China Shop: Assessing the First Section 421 Trade Case", dalam Cato Free Trade Bulletin no. 2, 1 Januari 2003, hal.1. 10 Annys Shin, In Tire Tariff Case, Obama Faces First Chinese Trade Policy Test. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/08/06/AR2009080603941.html, diakses pada 19 December 2009, pukul 09.59.
Page | 5

“If a product of the People's Republic of China is being imported into the United States in such increased quantities or under such conditions as to cause or threaten to cause market disruption to the domestic producers of a like or directly competitive product, the President shall, in accordance with the provisions of this section, proclaim increased duties or other import restrictions with respect to such product, to the extent and for such period as the President considers necessary to prevent or remedy the market disruption.”11

Dari isi UU di atas, jelas terlihat bahwa Presiden AS memegang pengaruh krusial dalam menentukan pembuatan kebijakan kenaikan tarif pada produk Cina yang dikatakan mengalami “kenaikan kuantitas” dan menyebabkan “kehancuran pasar”; tanpa adanya keputusan dari Presiden, kebijakan kenaikan tarif tidak akan terjadi. Adapun dalam menentukan apakah “kenaikan kuantitas” dan :kehancuran pasar” benar-benar terjadi, Presiden AS akan mendapat rekomendasi dari International Trade Commision (ITC), yang mendapat laporan dari industri-industri dan buruh dalam negeri. Setelah mendapat rekomendasi, Presiden kemudian bertemu dengan para importir, eksportir, dan pihak terkait lainnya untuk membahas masalah ini. Bila setelah pertemuan tersebut Presiden lantas memutuskan adanya “kenaikan kuantitas” dan “kehancuran pasar”, maka Presiden berhak mengumumkan kebijakan kenaikan tarif, yang akan berlaku 15 hari setelah pengumuman dilakukan. UU ini juga menyebutkan, bahwa Presiden berhak menolak permohonan kenaikan tarif bila kebijakan kenaikan tarif tersebut dinilai akan merugikan perekonomian negara secara keseluruhan.12 UU ini pertama dikeluarkan pada Pemerintahan Bush, di mana ketika itu terdapat pengajuan sebanyak enam kasus pelanggaran UU No. 421 yang diajukan oleh industri domestik, di mana dalam enam kasus tersebut, ITC kemudian mengajukan rekomendasi adanya “kenaikan kuantitas” dan “kehancuran pasar” pada Presiden Bush. Akan tetapi dari empat rekomendasi ITC tersebut, tidak satupun kasus yang kemudian diloloskan oleh Bush.13

2.2. Dampak Dikeluarkannya Kebijakan Perdagangan AS Berupa Kenaikan Tarif Terhadap Produk Impor Ban Dari Cina Dikeluarkannya kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina oleh Pemerintahan Obama kemudian menimbulkan berbagai macam dampak, yaitu berupa respon negatif dari pemerintah Cina, dampak
11

12

13

Lihat US Trade Act 1974, Section 421. Dapat diakses secara online melalui http://www.usitc.gov/ press_room/us_safeguard.htm. Daniel J. Ikenson, “Burning Rubber: Proposed Duties on Chinese Tires Whiff of Senseless Protectionism”, dalam CATO Free Trade Bulletin No. 39, 11 September 2009. Dapat diakses secara online melalui http://www.cato.org/pub_display.php?pub_id=10649. Annys Shin, loc.cit.
Page | 6

kebijakan tersebut bagi kondisi internal AS.

2.2.1. Respon Pemerintah Cina Sehubungan Kebijakan Kenaikan Tarif Impor Ban Cina 2.2.1.1. Protes Keras Sehubungan Kebijakan Kenaikan Tarim Impor Ban Cina Sesaat setelah Presiden Obama mengumumkan diterapkannya kenaikan tarif impor atas produk ban Cina selama tiga tahun ke depan, pemerintah Cina pun segera memberikan komentar. Menurut pemerintah Cina, kebijakan perdagangan yang diambil AS ini sangatlah proteksionis 14 dan bertentangan dengan konsep perdagangan bebas yang diakui kedua negara. Kebijakan AS ini juga dinilai tidak sesuai dengan komitmennya dalam G20 Financial Summit. Ketidaksetujuan Cina pada kebijakan perdagangan AS juga didukung fakta bahwa kebijakan tersebut akan sangat berpengaruh pada kehidupan perekonomian Cina, di mana kenaikan tarif ban tersebut akan berpengaruh pada 100.000 tenaga kerja Cina, serta bahwa tarif ban tersebut akan merugikan ekspor Cina senilai 1 bilyun Dollar AS.15 Respon negatif tidak hanya datang dari kalangan pemerintah Cina, tetapi juga datang dari masyarakat Cina. Seorang ekonom dari Chinese Academy of Social Sciences di Beijing bernama Yu Yongding mengatakan bahwa langkah pemerintah AS ini akan merusak hubungan Sino-Amerika, terutama di saat di mana kerjasama untuk menghadapi krisis global sedang sangat dibutuhkan. 16 Reaksi negatif juga datang dari dunia maya, seperti misalnya komentar terkenal dari seorang pengguna internet yang berkata "Americans are shameless, ..., They always blame others for their own problems."17 Berbagai komentar negatif di dunia maya ini juga lantas memaksa pemerintah Cina untuk mengambil langkah retaliasi yang tegas dalam menyikapi kebijakan tarif ban AS tersebut.

2.2.1.2. Investigasi Anti-Dumping Terhadap Impor Produk Ayam dan Otomotif AS: Bentuk Retaliasi Pemerintah Cina Terhadap Kebijakan Kenaikan Tarif Impor Ban Cina Dua hari setelah pemerintahan Obama mengeluarkan kebijakan perdagangan berupa kenaikan tarif impor pada produk ban Cina, pemerintah Cina pun mengeluarkan sebuah investigasi anti-dumping (AD) terhadap produk impor ayam dan otomotif AS. Departemen Perdagangan Cina mengatakan bahwa investigasi tersebut dikeluarkan menyusul adanya laporan bahwa AS menerapkan praktek dumping pada

14

15

16 17

Bendjamin Stokson, World Markets Shaken by the US-China Trade Dispute. http://bendjaminstokson.vox.com/library/post/ world-markets-shaken-by-us-china-trade-dispute.html, diakses pada 4 November 2009, pukul 05.42. Terence Poon, et.all., China Seeks Talk at WTO Over Tire-Import Tariff. http://online.wsj.com/article/ SB125292818818208401.html, diakses pada 4 November 2009, pukul 06.35. Michael Schuman, loc.cit. Ibid.
Page | 7

produk otomotif dan ayamnya, atau bahwa kedua produk tersebut merupakan produk yang banyak mendapat subsidi dari pemerintah AS sehingga harganya relatif lebih murah dibanding harga produk sejenis dari negara lain18, dengan tanpa memberikan detail lebih spesifik mengenai produk apa yang disebut-sebut memasuki Cina melalui praktik-praktik tidak adil tersebut. 19 Juru bicara Departemen Perdagangan juga mengatakan bahwa impor ayam dan otomotif dari AS tersebut telah “memberikan pukulan pada industri domestik”.20 Seorang juru bicara Departemen Perdagangan Cina, Yao Jian mengatakan bahwa langkah Cina untuk melaksanakan investigasi anti-dumping dan anti-subsidi pada produk impor ayam dan otomotif AS merupakan langkah yang “didasari pada fakta”.21 Walaupun Pemerintah Cina tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa kebijakan investigasi ini diambil sebagai bentuk retaliasi pada kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina, akan tetapi jangka waktu yang relatif sangat singkat antara dikeluarkannya kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina oleh Pemerintahan Obama dengan kebijakan investigasi anti-dumping tersebut seakan menyiratkan ketidaksukaan Cina pada kebijakan AS tersebut.

2.2.2. Dampak Kebijakan Kenaikan Tarif Impor Ban Cina Terhadap Kondisi Internal AS 2.2.2.1. Kemungkinan Retaliasi Cina dan Dampaknya Bagi Industri dan Buruh AS Adanya kebijakan kenaikan tarif terhadap produk impor ban Cina ditakutkan akan melahirkan kebencian Cina pada AS yang pada akhirnya mendorong Cina melakukan retaliasi pada AS. Telah disebutkan sebelumnya, respon negatif dari Cina sudah ditunjukkan dengan adanya pengajuan investigasi AD pada produk impor ayam dan otomotif AS. Adapun bila AS terbukti melakukan dumping, AS akan menderita kerugian besar dikarenakan Cina merupakan partner dagang utama AS. Karena itu, tidak heran bila kebijakan kenaikan tarif ban Cina ini mendapat respon negatif dari industri otomotif dan peternakan ayam AS. Kebijakan ini juga mendapat respon negatif dari industri-industri AS yang beroperasi di Cina, seperti misalnya Cooper Tire and Rubber Company serta Toyo Tires, yang khawatir kebijakan ini akan mendorong pemerintah Cina menerapkan pajak impor yang tinggi bagi mereka, yang akan menghancurkan industri mereka.22 Naiknya tarif impor ban Cina ini juga akan berpengaruh pada seluruh
18

19

20 21

22

The New Zealand Herald, US China Trade Dispute Worsens. http://www.nzherald.co.nz/business/news/ article.cfm?c_id=3&objectid=10597173, diakses pada 4 November 2009, pukul 05.26. Jason Simpkins, US Trade Spat with China Escalates, But Is Unlikely to Cause a Significant Rift. http://www.moneymorning.com/2009/09/14/u.s.-china-trade/, diakses pada 4 November 2009, pukul 05.45. The New Zealand Herald, loc.cit.. Xinhua, China Says Anti-Dumping Probe Into US Auto, Chicken Products “Based on Facts. http://english.people.com.cn/90001/90776/90883/6758489.html, diakses pada 7 November 2009, pukul 09.23. International Centre for Trade and Sustainable Development, US Tyre Tariffs Spark Spat with China. http://ictsd.org/i/news/bridgesweekly/55281/, diakses pada 19 Desember 2009, pukul 10.15.
Page | 8

industri AS yang menggunakan ban Cina sebagai bahan baku produknya, di mana kenaikan harga ban Cina akan menyebabkan kenaikan harga jual produk tersebut, yang pada akhirnya akan memberatkan konsumen AS sendiri.23 Sehubungan dengan kerugian yang mungkin diderita AS bila Cina melakukan retaliasi ini, C. Fred Bergsten dari Peterson Institute for International Economics menilai kebijakan Obama ini sebagai kebijakan yang “fooly and probably cost jobs here”.24 Thomas Prusa juga mengatakan bahwa lebih dari satu lusin orang akan kehilangan pekerjaannya untuk setiap satu pekerjaan yang “diselamatkan” melalui kebijakan kenaikan tarif ini.25 Prusa juga mengatakan bahwa kebijakan ini diperkirakan akan merugikan sedikitnya 25.000 tenaga kerja AS.26

2.2.2.2. Kemungkinan Meningkatnya Intensitas Pengaduan Laporan Kenaikan Tarif oleh Para Buruh Dikeluarkannya kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina ini juga dikhawatirkan akan menimbulkan euphoria pada kalangan buruh, yang melihat kesuksesan petisi mereka melalui pengeluaran kebijakan ini. Euphoria itu kemudian dikhawatirkan akan mendorong kaum buruh AS untuk terus mengajukan petisi pada impor produk Cina, dengan atau tanpa alasan yang berarti. Hal ini sudah ditunjukkan, misalnya, dengan pengajuan petisi penalti bagi impor besi Cina, dan dengan diajukkannya slogan “Buy America” oleh kaum buruh. Prospek kesuksesan dan euphoria kaum buruh ini melahirkan kekhawatiran sendiri dalam diri masyarakat AS, masyarakat AS khawatir peran kaum buruh akan semakin dominan dan radikal dan mengakibatkan terjadinya perang dagang27 dengan negara lain dikarenakan AS terlalu pro-industri domestik, yang pada akhirnya akan merusak sistem perdagangan global28.

2.3. Faktor Ekonomi yang Melatarbelakangi Pemerintahan Obama Mengeluarkan Kebijakan Kenaikan Tarif Impor Ban Cina Telah dijelaskan sebelumnya, kebijakan AS menaikkan tarif impor ban Cina telah mendatangkan berbagai dampak negatif. Berbagai dampak negatif yang muncul melahirkan pertanyaan: apa yang

23

24

25 26 27

28

Mao Yuxi, Tire Tariffs Send a Bad Message. http://watchingamerica.com/News/34871/ tire-tariffs-send-a-bad-message/, diakses pada 19 Desember 2009, pukul 10.52. Nina Easton, Why Obama is Taxing Chinese Tires. http://money.cnn.com/2009/10/07/news/economy/ obama_china_tires_tariff.fortune/index.htm?section=magazines_fortuneintl, diakses pada 19 Desember 2009, pukul 10.08. Daniel J. Ikenson, loc.cit. Ibid. Steven Greenhouse, Tire Tariffs Are Cheered by Labor. http://www.nytimes.com/2009/09/15/business/ 15labor.html, diakses pada 19 Desember 2009, pukul 09.35. Xinuha News Agency, Experts Say Tire Tariff Could Worsen US-China Trade Relations. http://news.xinhuanet.com/english/2009-09/15/content_12054718.htm, diakses pada 19 Desember 2009, pukul 09.53.
Page | 9

mendasari kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina tersebut, mengingat implikasi dari kebijakan tersebut tentunya sudah diprediksi oleh Pemerintahan Obama? Menanggapi berbagai respon negatif sehubungan kebijakan tersebut, Presiden Obama memiliki alasan sendiri. Ia mengatakan bahwa perjanjian perdagangan haruslah dipaksakan untuk memastikan sistem perdagangan global tetap berfungsi dengan baik.29 Kebijakan kenaikan tarif ban ini sendiri dikeluarkan Obama dengan mempertimbangkan beberapa faktor, salah satunya adalah karena adanya tuntutan dari United Steel Workers (USW), yang mengatakan bahwa buruh AS telah kehilangan setidaknya 5.000 pekerjaan sejak tahun 2004 karena ban-ban Cina berharga rendah memenuhi pasar.30 Adapun sebenarnya, kenaikan tarif yang diajukan United States International Trade Commission (USITC)—lembaga yang bertugas memberikan saran pada Presiden dan Konggres mengenai perdagangan—adalah sebesar 55% di tahun pertama, dan 45% serta 35% di tahun-tahun berikutnya, dengan argumen keberadaan ban dari Cina tersebut merusak perekonomian AS.31 Akan tetapi rekomendasi itu tidak dijalankan. Sehubungan dengan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina, Leo Gerard sebagai Ketua USW mengatakan bahwa besarnya kuantitas ban-ban impor Cina telah menimbulkan kerugian sebesar 1,7 milyar Dollar AS pada pasar ban AS.32 Thea Lee dari perwakilan buruh AS juga memuji kebijakan Obama, ia menyebutkan kebijakan itu akan membantu melindungi industri manufaktur AS, yang sejak kehadiran ban-ban Cina banyak mengalami kebangkrutan.33 Gerard melanjutkan, kebijakan ini penting untuk mengingatkan pemerintah akan perlunya kebijakan perdagangan yang pro-buruh, bukan pro-MNC seperti selama ini.34 ITC juga menilai impor ban Cina telah meningkat sebanyak tiga kali lipat pada periode 2004-2008; dan bahwa pada periode yang sama, produksi ban AS menurun sebanyak 25%, mengakibatkan penutupan berbagai perusahaan dan 4.400 orang kehilangan pekerjaannya.35

2.4. Analisa Faktor Ekonomi di Balik Kebijakan AS Menaikkan Tarif Impor Ban Cina 2.4.1. Analisa Terhadap Kuantitas Impor Ban Cina di AS UU Perdagangan Tahun 1974 Nomor 421 menyebutkan bahwa sebuah kebijakan kenaikan tarif akan dikenakan pada produk impor Cina yang menunjukkan “kenaikan kuantitas”. Adapun alasan ekonomi di balik pembuatan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina adalah karena pada periode
29 30 31 32 33 34 35

Michael Schuman, loc.cit. Jason Simpkins, loc.cit. Ibid. Steven Greenhouse, loc.cit. Ibid. Steven Greenhouse, loc.cit. International Centre for Trade and Sustainable Development, loc.cit.
Page | 10

2004-2008, ITC mendapati adanya kenaikan kuantitas impor ban Cina sebanyak tiga kali lipat. Akan tetapi sebenarnya, menurut pemerintah Cina, justru pada tahun 2008 hingga sekarang, kuantitas ekspor ban Cina ke AS terus menurun. Departemen Perdagangan Cina mengatakan bahwa jumlah ekspor ban Cina ke AS hanya mengalami kenaikan sebesar 2,2% dari ekspor tahun 2007, 36 dan bahkan pada pertengahan tahun ini, ekspor ban Cina telah mengalami penurunan sebesar 16% jika dibandingkan dengan ekspor ban Cina pada tahun 2008 lalu.37 Sehingga seharusnya, unsur “kenaikan kuantitas” yang menjadi prasyarat dikeluarkannya kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina tidak terbukti; Beijing menilai, karenanya, kebijakan Washington tidaklah terjustifikasi secara legal.

2.4.2. Analisa Terhadap Prospek Kebijakan Kenaikan Tarif Impor Ban Cina dalam Menyelamatkan “Kehancuran Pasar” pada Industri Ban AS Selain bertujuan untuk mengurangi “kenaikan kuantitas” pada impor produk ban dari Cina, kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina juga bertujuan untuk mengurangi dan menyelamatkan industri ban (yang dikatakan) mengalami “kehancuran pasar”. Namun jika mau dianalisa lebih lanjut, sebenarnya kebijakan kenaikan tarif ban Cina ini tidak akan terlalu berpengaruh dalam menyelamatkan industri ban AS karena masih banyak persediaan ban-ban berkualitas dengan harga sejenis dengan ban-ban Cina di pasar ban AS, yaitu ban dari negara berkembang lain seperti India, Brazil, dan Meksiko. Seperti yang disangsikan oleh Gary Hufvauer, seorang peneliti dari Peterson Institute for International Economics, kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina ini belum tentu mampu menyelamatkan industri ban AS dari kondisi yang disebut-sebut mengalami “kehancuran pasar” 38 ; Hufbauer juga mempertanyakan, jika memang alasan yang melatarbelakangi dikeluarkannya kebijakan ini adalah alasan ekonomi—yaitu untuk menyelamatkan industri ban AS dari produk-produk ban berharga murah—mengapa kebijakan kenaikan tarif impor hanya dikeluarkan untuk produk ban Cina, tetapi tidak untuk impor ban Brazil, Meksiko, Indonesia, atau ban negara lain berharga serupa.

2.4.3. Analisa terhadap Dampak Kebijakan Kenaikan Tarif Impor Ban Cina Pada Pertumbuhan Ekonomi AS Secara Menyeluruh Analisa lebih lanjut juga menyebutkan bahwa kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina ini pada

36 37

38

Ibid. Si Tingting (China Daily), Probe „Not Revenge‟ for Hefty Tire Tariff. http://www.chinadaily.com.cn/china/ 2009-09/14/content_8686596_2.htm, diakses pada 20 Desember 2009, pukul 03.12. Xinhua News Agency, loc.cit.
Page | 11

akhirnya malah akan menyebabkan kemunduran pada pertumbuhan ekonomi AS secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan, naiknya harga jual ban Cina akan sangat berpengaruh pada berbagai macam produksi di AS, yang berarti harga berbagai macam produk yang menggunakan ban Cina sebagai bahan dasarnya akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kenaikan harga pada produk-produk lain itu tidak hanya akan merusak retailer ban di AS, tapi juga mengancam para konsumen. The Tire Industry Association menyebutkan bahwa kebijakan ini “sangat dilandasi kepentingan politik dan hanya akan memakan lebih banyak lahan pekerjaan daripada menyelamatkannya39”. Respon negatif juga datang dari kalangan importir yang merasa kebijakan ini akan merugikan mereka. Marguerite Trossevin dari American Coalition for Free Trade in Tires menyesalkan keputusan ini, yang dinilai “mengabaikan kepentingan ribuan pekerja dan konsumen AS 40 ”. Thomas Prusa mengatakan, kebijakan ini akan menyebabkan kerugian pada konsumen AS senilai 600-700 juta Dollar AS tiap tahunnya, dan kerugian sebesar 300.000 Dollar AS untuk setiap buruh yang “diselamatkan”.41 Selain itu, hal yang juga perlu diperhatikan adalah masa berlaku kebijakan ini, yaitu hanya sampai tahun 2011. Hanya dalam waktu sesingkat 3 tahun dari sekarang, sepertinya tidaklah mungkin jika kebijakan ini ditujukan untuk memajukan industri ban AS pada khususnya dan perekonomian AS pada umumnya. AS belum memiliki teknologi dan tenaga kerja yang dapat meningkatkan produktivitas industri bannya dengan signifikan, mengingat kebijakan ini hanya akan berlaku selama tiga tahun. 42

2.4.4. Analisa Terhadap Perbedaan Kualitas Ban dari Cina dengan Ban dari AS 2.4.1. Perbedaan Target Pasar antara Ban Produksi Cina dengan Ban produksi AS Analisa berikutnya dari sisi ekonomi adalah dari segi kualitas ban-ban produksi Cina dengan ban-ban produksi industri ban AS. Setelah penulis meneliti lebih lanjut, ternyata ban produksi Cina tersebut memiliki kualitas yang sama sekali berbeda dengan ban produksi AS. Ban-ban produksi Cina merupakan produk kualitas tiga—“tier-three quality”—sementara ban-ban produksi AS merupakan produk ban kualitas satu atau dua. Perbedaan kualitas ini juga menyebabkan perbedaan target pasar antara produk ban Cina dan produk ban AS, sehingga akan sangat aneh jika produk ban Cina dikatakan mengancam dan merugikan industri ban AS karena adanya perbedaan pasar antar keduanya.

39 40

41

42

Steven Greenhouse, loc.cit. Ian Swanson, Obama Hits China With Tariffs on Tires. http://thehill.com/homenews/news/ 58383-obama-hits-china-with-tariffs-on-tires, diakses pada 19 Desember 2009, pukul 10.44. Thomas J. Prusa, "Estimated Economic Effects of the Proposed Import Tariff on Passenger Vehicle and Light Truck Tires from China", American Coalition for Free Trade in Tires, 26 Juli 2009. Daniel J. Ikenson, loc.cit.
Page | 12

2.4.2. Produksi Ban Cina : Peran Industri Ban AS Selain karena perbedaan kualitas yang dimilikinya, sebenarnya impor ban dari Cina tidak hanya datang dari industri ban Cina, tetapi juga dari industri ban AS yang beroperasi di Cina. Karena alasan efektifitas, tujuh dari sepuluh industri ban AS juga beroperasi di Cina43, dan dari tujuh industri tersebut, empat di antaranya—Goodyear, Michelin, Cooper, dan Bridgestone—memenuhi 90% dari keseluruhan produksi ban AS. Adanya kenaikan tarif impor bagi seluruh ban dari Cina akan berdampak pada ketujuh industri ban AS tersebut. Industri ban AS tersebut akan mengalami kerugian yang cukup signifikan, yang lantas dapat mempengaruhi produktifitasnya dalam memproduksi ban-ban kualitas satu atau dua untuk pasar ban AS. 2.5. Faktor Politik yang Melatarbelakangi Pemerintahan Obama Mengeluarkan Kebijakan Kenaikan Tarif Impor Ban Cina Berbagai analisa yang disampaikan pada penjelasan sebelumnya membuktikan bahwa sebenarnya alasan ekonomi bukanlah alasan yang tepat untuk menjustifikasi dan mendasari pembuatan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina tersebut. Berbagai analisa dan dampak negatif yang dipaparkan sebelumnya tidak mungkin tidak terpikirkan oleh Pemerintahan Obama; yang lebih mungkin terjadi adalah Pemerintahan Obama memiliki alasan politik di balik segala alasan normatif ekonomi yang disampaikannya; alasan politik itulah yang lantas lebih berperan dalam mendorong—atau memaksa—Pemerintahan Obama untuk menghasilkan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina tersebut. Adapun faktor politik yang menurut penulis paling dominan dalam mendorong dikeluarkannya kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina ini adalah untuk memenuhi tuntutan kaum buruh yang disampaikan melalui USW. Presiden Obama adalah presiden yang berasal dari Partai Buruh, karenanya ia memiliki semacam tanggung jawab moral untuk “menyelamatkan” nasib kaum buruh, yang dilakukannya antara lain dengan mengabulkan tuntutan kaum buruh melalui USW. Selain itu, pada masa kampanyenya, Obama pernah berjanji pada kaum buruh untuk secara efektif memaksakan kebijakan perdagangan44 yang dinilai dapat melindungi industri domestik dari produk impor negara lain. Posisi Obama sebagai presiden dari Partai Buruh memang sulit, karena tidak seperti Presiden Bush yang dapat dengan mudah menolak permintaan kenaikan tarif impor dari kaum buruh (seperti yang terjadi pada empat kasus
43 44

Daniel J. Ikenson, loc.cit. Keith Bradsher, Growing China-US Trade Spat Could „Turn Ugly Very Quickly‟. http://www.cnbc.com/id/ 32839490, diakses pada 6 November 2009, pukul 07.17.
Page | 13

pengaduan UU Perdagangan No. 421 sebelumnya), Presiden Obama mendapat tuntutan dari Partai Buruh yang merasa ikut “membesarkan” dan memenangkan Obama. 45 Bila Obama menolak permintaan kaum buruh ini, dapat diperkirakan akan timbul kemarahan dari persatuan buruh di AS yang sejak tahun 2008 telah aktif mendukung Obama.46 Selain karena Obama sebagai presiden dari Partai Buruh memiliki tanggung jawab dan beban moral untuk mengakomodir kepentingan kaum buruh AS, tidak dapat disangkal Obama sangat membutuhkan dukungan kaum buruh untuk mendukung berbagai kebijakan-kebijakannya, yang cenderung tidak mendapat dukungan dari petinggi AS lainnya. Keberadaan kaum buruh yang signifikan, misalnya buruh besi dan otomotif yang memiliki kekuatan politik besar di daerah Barat AS 47, dapat menghasilkan dukungan yang besar bagi Obama terutama karena saat ini, Obama sedang giat mempromosikan kebijakan US Healthcare system. Kebijakan health care reform ini tentunya membutuhkan banyak dukungan, yang salah satunya dapat diberikan oleh blue-collar class AS—kaum buruh.48 Obama tidak ingin kehilangan simpati dari kaum buruh, karena itu ia cenderung mengabulkan permintaan USW sebagai organisasi kaum buruh yang cukup besar di AS yang meminta adanya kenaikan tarif impor pada ban Cina. Kebijakan Pemerintahan Obama untuk menaikkan tarif impor ban Cina menunjukkan preferensi Obama yang lebih mementingkan hubungannya dengan buruh AS, yang telah dan akan terus memberikan dukungan besar pada pemerintahannya jika Obama terus mengakomiodir kepentingan kaum buruh, dibanding hubungannya dengan Cina.49

2.6. Analisa Unsur Politik dalam Kebijakan Pemerintahan Obama untuk Menaikkan Tarif Impor Ban Cina Berdasarkan Model Politik Birokrasi Allison Pembuatan kebijakan perdagangan berupa kenaikan tarif impor ban Cina oleh Pemerintahan Obama sesuai dengan Model Politik Birokrasi yang disampaikan Allison, di mana dalam pembuatan kebijakan ini, terdapat unsur intergroup bargaining yang sangat kuat dari sisi Partai Buruh yang diwakilkan oleh United Steel Workers (USW). Adapun bargaining yang sangat kuat dari USW tersebut menjadikan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina, yang tadinya mendapat banyak ketidaksetujuan dari kelompok kepentingan lain dalam Pemerintahan Obama, menjadikan kebijakan tersebut berhasil diloloskan. Di sini dapat dilihat telah terjadi konfrontasi dan bargaining dari kelompok pemilik industri
45 46 47 48 49

Daniel J. Ikenson, loc.cit. Annys Shin, loc.cit. Steven Greenhouse, loc.cit. Mao Yuxi, loc.cit. Xinhua News Agency, loc.cit.
Page | 14

yang cenderung tidak setuju pada kebijakan ini dengan kelompok buruh yang mengajukan petisi permohonan UU Perdagangan 1974 Nomor 421, persis seperti yang digambarkan dalam pendekatan agency-based pada kerangka teori sebelumnya. Model politik birokrasi juga mengatakan bahwa pembuatan kebijakan luar negeri di kalangan Pemerintah AS juga lahir dari kepentingan dan perilaku dari berbagai kelompok dan individu di masyarakat AS, di mana dalam kasus ini, kepentingan kelompok buruh seakan terakomodir melalui pengeluaran kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina. Pembuatan kebijakan ini juga menyiratkan bahwa perilaku publik dan politik domestik memang berperan besar dalam membentuk dan mempengaruhi tindakan pemerintah. Lebih lanjut lagi, keberadaan unsur hierarki yang digambarkan Bendor dan Hammond dalam Model Politik Birokrasi Allison juga sangat terlihat dari besarnya pengaruh Obama sebagai Presiden AS dalam meloloskan kebijakan ini. Di sini, posisi Obama sebagai Presiden dari Partai Buruh juga turut mempengaruhi keputusannya. Sebagai Presiden dari Partai Buruh, tentunya Obama memiliki pandangan bahwa kelompok buruh adalah kaum marjinal yang harus diperjuangkan dari dampak negatif perdagangan internasional. Pandangan Obama sebagai presiden dari Partai Buruh ini dalam menganalisa situasi domestik pada industri ban AS, seperti yang disampaikan dalam pendekatan interpretative actor dalam kerangka teori sebelumnya, membuatnya meloloskan permintaan kaum buruh untuk menaikkan tarif impor pada ban Cina. Selain itu, motivasi yang dimiliki Obama untuk meraih dukungan kaum buruh demi meloloskan kebijakan health care reform-nya juga mendorong Obama mengabulkan permintaan United Steel Workers untuk mengeluarkan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina. Berbagai analisa di atas telah membuktikan bahwa dalam pembuatan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina, Model Politik Birokrasi Allison, yang disempurnakan dengan argumen Bendor dan Hammond mengenai unsur hirarkis dalam birokrasi AS, terbukti mampu menjelaskan kuatnya motif dan alasan politik Pemerintahan Obama dalam mengeluarkan kebijakan tersebut.

Page | 15

BAB III KESIMPULAN

Dikeluarkannya kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) berupa kenaikan tarif impor ban Cina sebesar 35% mengagetkan dunia internasional. Betapa tidak, kenaikan tarif impor sebesar 35% itu dinilai merusak komitmen AS sebagai negara pemrakarsa liberalisasi perdagangan. Berbagai respon negatif dari dunia internasional pun bermunculan. Kebijakan itu juga dinilai berpotensi mendatangkan kerugian bagi kondisi politik dan ekonomi internal AS. Menanggapi berbagai kritik yang datang, Pemerintahan Obama mengatakan bahwa ada alasan ekonomi tersendiri yang memaksa AS mengeluarkan kebijakan tersebut; yaitu bahwa keberadaan ban impor Cina terbukti menunjukkan “kenaikan kuantitas” dan mengakibatkan “kerusakan pasar” pada pasar ban AS, dua alasan yang melegitimasi dikeluarkannya UU Perdagangan 1974 No. 421. Akan tetapi, ternyata faktor “kenaikan kuantitas” dan “kerusakan pasar” tersebut tidak terbukti. Tidak terbuktinya alasan ekonomi, dan besarnya kerugian yang dirasakan AS baik secara internasional maupun secara internal paska kebijakan tersebut, tentunya tidak mungkin tidak diperkirakan oleh Pemerintahan Obama. Hal ini melahirkan kecurigaan akan adanya alasan politik yang bermain di balik pembuatan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina ini. Dalam menganalisa motif politik di balik pembuatan kebijakan tersebut, Model Politik Birokrasi Allison terbukti tepat. Adapun model ini menekankan pada unsur dominannya bargaining dari kelompok kepentingan dan para birokrat dalam meloloskan suatu kebijakan. Bendor dan Hammord juga menyebutkan adanya hierarki yang berbeda dari para birokrat. Presiden Obama, dalam hal ini, memiliki hierarki yang paling tinggi berkat jabatannya sebagai Presiden. Adanya hierarki yang tinggi itu menjadikan keinginan Obama cenderung terakomodasi dalam kebijakan AS. Dalam kasus ini, Presiden Obama tampak lebih mementingkan kaum buruh, yang senantiasa memberikan dukungan padanya sebelum menjadi Presiden. Posisi Obama yang berasal dari Partai Buruh membuatnya memiliki tanggung jawab moral untuk membela kaum buruh. Belum lagi janjinya pada kaum buruh pada masa kampanye. Semua janji dan tanggung jawab moral itu memaksa Obama untuk mengeluarkan kebijakan yang sebenarnya berdampak negatif bagi AS, hanya untuk menyenangkan kaum buruh. Selain itu, Obama juga sedang membutuhkan dukungan kaum buruh untuk menyukseskan kebijakan health care reform-nya. Akumulasi antara adanya tekanan dari kelompok buruh, karakteristik Obama yang pro-buruh, serta motivasi Obama untuk memperoleh dukungan kaum buruh pada akhirnya memberikan alasan yang jelas untuk menjawab mengapa pemerintahan Obama mengeluarkan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina.
Page | 16

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku: Allison, Graham T. 1994. “Conceptual Models and the Cuban Missile Crisis”, dalam S. John Ikenberry. American Foreign Policy, Theoretical Essays (3rd edition). New York: Longman. Bendor, Jonathan dan Thomas H. Hammond. 1992. “Rethinking Allison's Models” dalam The American Political Science Review, Vol. 86, No. 2, Juni 1992. Halperin, Morton H. 1974. Bureaucratic Politics and Foreign Policy. Washington DC:. The Brookings Institution. Carlsnaes, Walter. 2002. “Foreign Policy”, dalam Walter Carlsnaes, et.all (ed.), Handbook of International Relations. London: Sage Publications. Ikenson, Daniel. 2003. "Bull in a China Shop: Assessing the First Section 421 Trade Case", dalam Cato Free Trade Bulletin no. 2, 1 Januari 2003. US Trade Act 1974, Section 421. Ikenson, Daniel J. 2009. “Burning Rubber: Proposed Duties on Chinese Tires Whiff of Senseless Protectionism”, dalam CATO Free Trade Bulletin No. 39, 11 September 2009. Prusa, Thomas J. 2009. "Estimated Economic Effects of the Proposed Import Tariff on Passenger Vehicle and Light Truck Tires from China", dalam American Coalition for Free Trade in Tires, 26 Juli 2009.

Sumber Jurnal Internet: Coughlin, Cletus C., dan Geoffrey E. Wood, An Introduction to Non Tariff Barriers to Trade. http://research.stlouisfed.org/publications/review/89/01/Trade_Jan_Feb1989.pdf

Sumber Internet: http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/08/06/AR2009080603941.html http://bendjaminstokson.vox.com/library/post/world-markets-shaken-by-us-china-trade-dispute.html http://online.wsj.com/article/SB125292818818208401.html http://www.nzherald.co.nz/business/news/ article.cfm?c_id=3&objectid=10597173 http://www.moneymorning.com/2009/09/14/u.s.-china-trade/ http://english.people.com.cn/90001/90776/90883/6758489.html http://ictsd.org/i/news/bridgesweekly/55281/ http://watchingamerica.com/News/34871/tire-tariffs-send-a-bad-message/ http://money.cnn.com/2009/10/07/news/economy/obama_china_tires_tariff.fortune/index.htm?section=m
Page | 17

agazines_fortuneintl http://www.nytimes.com/2009/09/15/business/15labor.html http://news.xinhuanet.com/english/2009-09/15/content_12054718.htm http://www.chinadaily.com.cn/china/2009-09/14/content_8686596_2.htm http://thehill.com/homenews/news/58383-obama-hits-china-with-tariffs-on-tires http://www.cnbc.com/id/32839490

Page | 18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->