P. 1
Profil-Profil Propinsi di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi

Profil-Profil Propinsi di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi

5.0

|Views: 1,489|Likes:

More info:

Published by: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos. on Jan 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

Profil Propinsi-Propinsi di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi

By: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos.

Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Aceh Nilai-nilai budaya yang paling menonjol adalah nilai religi yang berkaitan dengan pengaruhnya terhadap hukum-hukum adat yang ada di di dalam suku tersebut dalam hal ini adalah syari’at Islam. Semisal penggunaan jilbab oleh wanita dipandang wajib, perkawinan adalah hal yang dinilai sangat wajib dilakukan bila pria ataupun wanita sudah dinilai akil baliq, namun terdapat beberapa persyaratan dalam memilih jodoh. Pertama, dalam pemilihan jodoh di daerah Aceh haruslah diserahkan kepada orang tua masingmasing anak. Persyaratan kedua adalah pemilihan jodoh harus dipilih lewat latar belakang anak dan keluarganya. Nilai budaya menonjol yang lain adalah nilai sosial yang berkaitan dengan gotong royong. Gotong royong dilaksanakan dengan frekuensi yang cukup rutin, biasanya setiap desa di daerah Aceh melaksanakan gotong royong bersih desa pada hari Jum’at sebelum Shalat Jum’at dimulai

Gayo
Nilai-nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial yang berkaitan dengan tolong-menolong dan harga diri individu, setiap individu dalam masyarakat harus

bisa menjaga harga diri nya masing-masing. Orang yang mempunyai harga diri disebut dengan mukemel yang arti secara harfiahnya adalah orang yang memiliki rasa malu dan sebutan untuk orang yang tak mempunyai harga diri adalah gere mukemel atau secara harfiah berarti orang yang tidak mempunyai rasa malu. Gere mukemal sangat dipandang rendah dalam masyarakat adat di Gayo, karena harga diri adalah nilai utama disana. Banyak faktor yang menyebabkan individu dusebut sebagai gere mukemel, faktor yang utama adalah karena melanggar hukum adat semisal yang berkaitan dengan pelecehan terhadap orang lain, merusak ketertiban, ataupun hukum agama (dalam hal ini adalah agama Islam) semisal tidak melaksanakan Shalat atau kaya namun tidak berzakat. Tolong menolong antar sesama sangat ditekankan demi menjaga persatuan dan kesatuan dalam suku dan juga merupakan amanah dari Rasulullah SAW yang menganjurkan sesama umat Islam agar saling tolong menolong.

Alas Nilai-nilai budaya yang paling menonjol adalah nilai religi yang berkaitan dengan magi dan nilai sosial yang berkenaan dengan kekeluargaan, karena masyarakat Alas masih sangat percaya kepada hal-hal yang bersifat ghaib dan kekuatan sakti yang tedapat dalam benda pusaka. Kekeluargaan sangat ditekankan pada keakraban dalam nuclear family atau keluarga inti saja.

Propinsi Sumatra Utara
Karo Nilai-nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial yang berkenaan dengan gotong royong dan kekerabatan. Masyarakat Karo mempunyai sistem gotong royong kuno dalam hal bercocok tanam yang disebut raron yang merupakan suatu pranata, dan keanggotaanya sukarela dan lamanya berdiri suatu kelompok raron tergantung persetujuan para anggotanya. Untuk masalah kekerabatan hampir keseluruhan sub suku Batak mementingkannya, karena klen sangatlah berpengaruh dalam kehidupan sosial mereka seperti misal sebagai penentu jodoh dalam pernikahan. Klen-klen mereka menganut sistem patrilineal, baik besar dan kecil. Klen-klen ini biasa disebut marga, dan nama dari marga biasanya terletak di belakang nama seseorang.

Toba Nilai-nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial dalam bentuk kekerabatan yang sangat kuat diantara mereka, karena didalam menjadi sistem pattern kekerabatan for mereka bagi terdapat aturan dan norma yang senantiasa behaviour anggota adat. Ditambah lagi dengan faktor pendukung yaitu lingkungan geografis

yang secara sosial mengisolir mereka dari sub-suku batak yang lain, karena pusat persebaran mereka terdapat di pulau Samosir yang terletak di tengah danau Toba dan mereka juga ada di sekitar danau Toba, sehingga dengan keadaan lingkungan seperti itu menyebabkan perasaan senasib sepenanggungan membuat kekerabatan mereka sangat erat. Nilai religi dan nilai seni juga lumayan menonjol, karena mereka masih begitu menghormati roh nenek moyang beserta petuah-petuahnya tentang bagaimana hubungan sosial dan menyeimbangkannya dengan alam. Nilai seni menonjol karena tenun ulos mereka (yang sebenarnya terdapat di semua sub-suku Batak) namun ternyata bila lebih didalami lagi, masing sub-suku Batak mempunyai simbologi masing-masing di setiap motif dan warna tenun ulos termasuk Batak Toba.

Mandailing Nilai budaya yang menonjol adalah kekerabatan, Dalihan Na adat Tolu istiadat merupakan yang adat merepresentasikan kekerabatan adalah istiadat yang mengatur dan berkaitan erat dengan sistem kekerabatan batak mandailing. Di dalamnya terdiri dari tiga unsur, yaitu pihak semarga, pihak yang menerima istri dan yang memberi istri. Sistem ini mempunyai fungsi yang disebut pati dohan holong, yang artinya menunjukkan kasih sayang di antara sesama sengan penuh sopan santun karena ketiga unsur tersebut telah diatur agar seimbang dan berjalan menuju keharmonisan.

Nias Nilai budaya yang menonjol adalah nilai pengetahuan lokal masyarakat Nias yang berkaitan dengan penciptaan budaya sendiri yang tidak terpengaruh oleh budaya Hindu dan Islam pada zaman dahulu, budaya itu adalah budaya megalithik. Nilai menonjol lainnya yaitu nilai seni dan nilai religi yang terdapat di dalam pesta-pesta yang digelar oleh masyarakat Nias, terdapat tiga jenis pesta di Nias yang berkaitan dengan adat dan kepercayaan yaitu: pesta yang berkenaan dengan daur hidup(lahir, dewasa, menikah), pesta antar desa seketurunan untuk menghormati leluhur, dan pesta yang disebut dengan fondrako, digelar tujug tahun sekali untuk peneguhan norma-norma adat. Umumnya pesta dilaksanakan dengan menari dan menyanyi hoho.

Propinsi Sumatra Barat
Minangkabau Nilai budaya adalah yang nilai

menonjol

religi dan kekerabatan, karena hukum adat di Minangkabau sangat identik atau berasal dari hukum (syari’at) Islam, karena sebagian besar masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam, dan suatu keganjilan bila terdapat amggota masyarakat Minangkabau bukan pemeluk agama Islam. Untuk

kekerabatan, Seperti kita tahu bahwa kebanyakan suku bangsa di Indonesia menganut sistem kekerabatan Patrilineal atau penarikan keturunan dari garis ayah, namun di Minangkabau ini ternyata menganut sistem kekerabatan matrilineal atau penarikan garis keturunan dari garis ibu, begitu juga dalam sistem kekeluargaan bersifat matriarkhat atau wanita yang lebih mendominasi.

Mentawai Nilai budaya yang menonjol adalah nilai religi dan ikatan kekerabatan. Masyarakat Mentawai yakin bahwa semua benda di alam mempunyai roh, dan kekuatan alam yang terselubung secara keseluruhan yang mereka sebut Kina Alau. Kekuatan terselubung dalam sebuah benda bisa mengganggu manusia yang biasa disebut Bajao, karena itu dalam waktu tertentu diadakan upacara-upacara pembersihan. Satu kerabat yang bisa terdiri dari beberapa keluarga inti biasanya hidup di satu rumah adat besar yang disebut Uma.

Propinsi Jambi
Anak Dalam (Kubu) Nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial beruoa kebersamaan dan tolong menolong, masyarakat Kubu memenuhi kebutuhan makan dengan berburu, dan bila ada salah satu dari

anggota suku mendapatkan buruan besar maka dia akan membagi-bagikan hasil buruannya kepada anggota suku yang lain. Ikatan sosial intern kelompok mereka cukup erat karena kehidupan mereka yang nomaden atau berpindah-pindah mencari daerah baru yang mereka anggap layak huni.

Propinsi Lampung
Lampung Nilai budaya yang menonjol adalah nilai religi, karena masyarakat Lampung terkenal sebagai pemeluk Islam yang taat, namun disamping itu mereka juga yang tidak dianut mau saja sejak meninggalkan kepercayaan zaman nenek moyang mereka. Salah satu contoh manifestasi kepercayaan kuno disana adalah masih adanya pelaksanaan upacaraupacara adat yang berbau magi yang berhubungan dengan proses daur hidup manusia. begitu

Propinsi Riau
Sakai Nilai budaya yang menonjol adalah nilai ekonomi yang berkaitan dengan penghindaraan diri mereka untuk

berpoligami dengan alasan menambah beban hidup mereka, nilai budaya lain yang cukup menonjol adalah nilai sosial yang berkaitan dengan kebersamaan dalam penggarapan ladang dalam satu ketetangan ladang, yaitu satu komunitas yang terdiri dari empat sampai lima keluarga inti yang masing-masing memiliki ladang namun tetap saling tolong menolong dalam pengerjaannya.

Propinsi Bengkulu
Enggano

Nilai budaya yang menonjol adalah nilai religi lokal yang secara tidak langsung membuat semacam aturanaturan tidak tertulis yang mengharuskan masyarakat mematuhinya atau roh-roh penjaga pulau Enggano akan memberikannya rasa sakit atau kutukan dalam bentuk lain. Aturan-aturan ini baik secara langsung maupun tidak langsung ikut mengatur terjalinnya hubungan harmonis antara manusia satu dengan manusia yang lain seperti contohnya bila sedang makan, kemudian ada orang yang lewat di depannya, maka orang yang makan harus menawarinya, kalau tidak dilakukan akan mendapat siksaan dari roh-roh penjaga Enggano dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semisal larangan kencing di sembarang tempat terutama di dekat sumber air, bila tidak mengindahkannya akan mendapat kutukan dari roh penjaga Enggano berupa kemaluan yang bengkak.

Propinsi Kalimantan Timur
Kenyah Nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial yang berkaitan dengan kebersamaan yang mereka letakkan dalam konsep yang bernama tiga, konsep ini menganjurkan manusia untuk mengutamakan kesetiaan, kesetiakawanan dan gotong royong. Orang yang tidak bisa mengaplikasikan hal tersebut maka akan terkucilkan dari pergaulan masyarakat Kenyah.

Kutai Nilai budaya yang menonjol adalah nilai seni yang berkaitan dengan warisan kerajaan tertua di Nusantara, Kutai Kartanegara. Salah satu tradisi yang diwariskan adalah seni sastra yang disebut dengan tarsulan yang dibawakan berbentuk melayu dengan pantun sambil bernyanyi. khas musik Kamudian ada seni ibetingkilan, yang berbalas diiringi

tradisional gambus.

Propinsi Kalimantan Selatan
Banjar Nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial yang berkaitan dengan stratifikasi sosial, di dalamnya terdapat golongan tertinngi disebut golongan tutus yang merupakan keturunan raja, dibawahnya terdapat golongan jaha atau yang bukan keturunan raja / darah biru. Terdapat satu kepercayaan yang terkenal dari sana yaitu yang sering kita dengar sebagai Kaharingan walaupun bukan mayoritas disana, namun kepercayaan ini mempengaruhi kegiatan-kegiatan adat disana.

Propinsi Sulawesi Selatan
Makassar Nilai budaya yang menonjol adalah nilai seni dalam arsitektur tradisional mereka yang berhubungan dengan masalah religi, sistem kekerabatan mereka ditarik dengan pedoman bilateral, artinya garis keturunan ayah dan garis keturunan dari ibu dianggap sama-sama pentingnya. Pasangan suami istri yang baru menikah mempunyai adat menetap utrolokal, yaitu pasangan baru tersebut berhak memilih

untuk menetap di kerabat suani atau menetap di kerabat istri. Orang Makassar juga dikenal berwatak keras dalam pergaulannya sehari-hari.

Bugis Nilai budaya mereka yang paling menonjol nilai sosial yang berkaitan dengan rasa malu dan nilai pengetahuan yang berkaitan dengan kreatifitas, rasa malu atau harga diri dalam bahasa lokal disebut sirri. Nilai ini mendorong manusia untuk lebih bekerja keras dan lebih menjaga harga dirinya agar tidak dianggap gagal dalam kehidupan. Kreatifitas dalam hal ini adalah melihat betapa hebatnya mereka dalam membuat perahu Pinisi dan kehebatannya dalam navigasi laut yang mengantar mereka mengarungi samudra dan menjadikan mereka pelaut-pelaut yang dikenal handal.

Bontoramba-Gowa Nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial dalam bentuk stratifikasi klas yang di dalamnya beriklim kompetitif, cenderung selalu ada persaingan dalam hubungan sesama saudara laki-laki, sedangkan antar ikatan kekerabatan yang besar terdapat persaingan untuk mendapat tampuk kepemimpinan dalam suku.

Bajau Nilai budaya yang menonjol adalah nilai pengetahuan mereka akan kelautan karena kehidupan suku bajau berada di atas wilayah laut atau di tepi-tepi laut, jadi otomatis mereka menggantungkan hidupnya dari laut semisal mereka hidup dengan menangkap iken di laut sampai mendirikan rumah di atas air. Mereka merasa bangga hidup di laut karena tidak merasa direpotkan oleh berbagai macam urusan seperti di darat dengan segala kekacauan dan kebisingannya. Persebaran di daerah lain: Maluku Utara, Kalimantan Selatan, Jambi, Malaysia dll. To Pembuni Nilai budaya yang menonjol adalah nilai religi, yaitu kepercayaan mereka terhadap banda-banda besar yang mereka anggap mempunyai kekuatan sakti (animisme) dan mereka percaya bahwa dewa tertinggi yang menciptakan seluruh isi bumi berada di pohon beringin besar di daerah hulu sungai Salundeang. To Seko Nilai budaya yang paling menonjol adalah nilai pengetahuan dalam hal kreatifitas dalam pembuatan rumah. Rumah dari masyarakat To Seko berada di atas pohon, hal ini dibuat agar mereka tidak mudah ditemukan oleh orang luar yang memasuki hutan, dan juga merupakan konsep purba bahwa pemukiman yang baik adalah pemukiman yang terletak di daerah yang lebih tinggi agar mudah mengawasi keadaan di bawahnya

Propinsi Sulawesi Tengah
Tajio Nilai budaya yang paling menonjol adalah nilai pengetahuan mereka akan astrologi atau ilmu perbintangan. Mereka mengenal beberapa bintang yang mereka nilai mempunyai pengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa bintang tersebut adalah temangkafu, koronya, woonya, ikunye, manutadia.

Toraja Nilai budaya yang menonjol adalah nilai pengetahuan yang berkaitan dengan cara-cara tradisional penguburan mayat atau dalam bahasa lokal disebut rambu solo. Jenazah tidak langsung dilmakamkan, melainkan disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka dalam waktu yang variatif, antara lima sampai ada yang satu bulan disemayamkan. Pada waktu itu jenazah sengaja diawetkan dengan cara dimandikan lalu dibalsem dan dibakut dengan kain kafan rapat-rapat. Setelah itu terdapat upacara penyembelihan kerbau dan babi yang dagingnya dibagibagikan pada penduduk setempat. Nilai budaya menonjol lainnya adalah nilai religi, masyarakat Toraja menganut sistem kepercayaan yang berasal dari leluhurnya bernama Aluk to dolo atau alukta yang memuja kekuatan-kekuatan tersembunyi pada alam.

Propinsi Sulawesi Tenggara

To Landale Nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial yang berkaitan dengan gotong royong dan kebersamaan. Gotong royong adalah bagian dari pranata sosial yang sudah tua dalam masyarakat To Landale yang hingga sekarang masih saja dipertahankan. Gotong royong ini dalam hal mengerjakan sawah, ladang, bersih desa dsb.

Tolaki Nilai budaya mereka yang menonjol adalah nilai pengetahuan yang berkaitan dengan originalitas dan keunikan pemakaian bahasa. Orang Tolaki memiliki bahasa sendiri, yakni bahasa Tolaki. A.C. Kruyt menggolongkan bahasa Tolaki dalam lingkup keluarga bahasa Bungku Laki sedangkan S.J. Esser menggolongkan bahasa ini ke dalam keluarga bahasa Bungku bersama bahasa-bahasa lain seperti bahasa Mapute, Landawe, Moronene dsb. Bahasa tolaki dibagi dalam tiga dialek yaitu dialek Konawe, Mekongga, dan Laiwui.

Propinsi Sulawesi Utara
Minahasa Nilai budaya yang menonjol adalah nilai sosial yang berkaitan dengan gotong royong dan kebersamaan. Hal tersebut diwujudkan dalam sistem gotong royong tradisional yang bernama Mapalus yang arti secara harfiahnya adalah saling memberi. Mapalus ini bisa diterapkan dalam berbagai kegiatan semisal pembangunan fasilitas umum, panen sawah dsb.

Bolaang Mongondow Nilai budaya yang paling menonjol adalah nilai pengetahuan tentang pembuatan rumah adat. Yang penuh dengan simbologi tradisional semisal: motif hias yang berbentuk ular hitam yang melambangkan kewaspadaan, motif yang berbentuk burung Manguni yang dapat meramalkan berbagai macam gejala alam.

Darundiyo pandupitoyo
0700417391

Daftar Pustaka
Adithia, Maitigor Pardamean. 2005 Bugis. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 20 Oktober. Ashari, Intan Fidiya. 2005 Bontoramba-Goa. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 20 Oktober. Bahry, Syaiful Anwar. 2005 Kutai. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 6 Oktober. Budi, Dwiratna. 2005 Banjar. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 6 Oktober. Cahyadi, Rahmat. 2005 Minangkabau. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 6 Oktober. Dewi, Fitrika Atlita. 2005 Enggano. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 29 September. Donoseputro, Agung Gempar. 2005 Anak Dalam (Kubu). Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 6 Oktober. Feryudha. 2005 Tolaki. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 17 November. Handrio, Mellyna. 2005 Mandailing. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 22 September. Hidayah, Zulyani. 1997 Ensiklopedi suku bangsa di Indonesia. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Kusumasari, Widya. 2005 Bolaang Mongondow. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 17 November.

Lupito, Dudung. 2005 Iban. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 6 Oktober. Marwati, P. Dian 2005 Karo. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 22 September. Melalatoa, M Junus. 1995 Ensiklopedi Suku bangsa di Indonesia. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan kebudayaan. Nuryani, Ika Maya. 2005 Bajau. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 20 Oktober. Pandupitoyo, Darundiyo. 2005 Toba. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 22 September. Paramita, Natalia Dian 2005 Aceh. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 15 September. Perdana, Kircoff Satria. 2005 Tajio. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 17 November. Puspita, Amelia Nur. 2005 Bugis-Makassar. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 20 Oktober. Rahayu, Suci. 2005 Lampung. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 29 September. Rahmawati, Amalia Alfi. 2005 Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 15 September. Rahmawati, Yeyen. 2005 To Landale. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 17 November.

Saifullah, Irfan. 2005 Minahasa. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 17 November. Setyoputro, Yudho. 2005 Toraja. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 20 Oktober. Sholekha, Nisrina. 2005 To Pambuni & To Seko. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 17 November. Susanti, Tri. 2005 Kenyah. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 6 Oktober. Sutanto, Lusyanna. 2005 Alas. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 15 September. Vironica, S. Luciana. 2005 Nias. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 22 September. Wahyuni, Sri. 2005 Mentawai. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 22 September. Wanitaningtyas, Cahyani. 2005 Sakai. Paper dipresentasikan di diskusi Etnografi Indonesia, Surabaya, Indonesia, 29 September.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->