BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah Tuban sebagai salah satu Kabupaten tertua (714 tahun) di Propinsi Jawa Timur memiliki berbagai keeksotisan tradisi lokal. Letak geografisnya yang tepat di garis pantai utara Pulau Jawa dan dikelilingi oleh perbukitan kapur, dan menurut Ernawan (2001), tanah di Tuban didominasi oleh jenis Mediteran merah sebagai barrier geografis menghasilkan salah satu minuman yang terkenal dengan nama tuak (toak: bahasa Jawa-Tuban). Minuman tersebut diproduksi dari getah pohon siwalan1 yang memang banyak terdapat di Kabupaten Tuban. Toak atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan tuak adalah minuman tradisional hasil fermentasi2 dari nira pohon siwalan (Borassus sundaicus), seperti yang dijelaskan oleh Ristiarini dkk.(2000:1):
“Nira siwalan is the liquid by-product of naturally fermented of Siwalan (Borassus sundaicus) has high sugar content with essential micronutrients that is ideal in condition and composition for microbial growth”. “Nira Siwalan adalah cairan yang dihasilkan oleh fermentasi alami dari siwalan (Borassus sundaicus) mempunyai kadar gula tinggi dan micronutrien essensial yang sangat ideal dalam hal kondisi dan komposisi untuk pertumbuhan mikroba”

Toak sebagai hasil fermentasi memiliki sifat asam dan mengandung alkohol dengan kadar bergantung proses fermentasinya. Di Tuban terdapat tradisi minum tuak bersama yang dikenal dengan nama nitik dan kemudian menjadi ikon bagi kabupaten Tuban. Nitik adalah
1 Siwalan, oleh masyarakat Tuban disebut dengan Bogor 2 Proses pengolahan yang menggunakan peranan mikroorganisme (jasad renik), sehingga dihasilkan produk-produk yang dikehendaki

1

tradisi minum toak bersama di suatu tempat yang sudah ditentukan dan konsisten. Para penikmat toak disebut dengan beduak. Toak, beduak dan tradisi nitik adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan selalu menghiasi beberapa sudut kabupaten Tuban setiap harinya. Tradisi ini tetap eksis hingga sekarang, walaupun tradisi nitik kontradiktif dengan ajaran agama yang dianut mayoritas penduduk Tuban, yaitu Islam. Menurut Departemen Agama Pemkab Tuban (2003), penganut Islam sebanyak 1. 050.766 jiwa dari jumlah penduduk sebesar 1.076.205 jiwa. Agama Islam selalu mengajarkan dan menuntun semua umatnya agar tidak mengkonsumsi minuman keras yang memabukan. Pelarangan tersebut nampak pada kitab suci Al Qur’an surat Al Maidah ayat 91 yang menyebutkan bahwa minuman keras akan menjerumuskan umat Islam ke dalam permusuhan dan perang3. Berdasarkan cerita masyarakat yang dituturkan oleh informan penulis, Katiman (57), orang Tuban dahulu adalah orang yang suka bermalas-malasan dan gemar mabuk minuman tradisional yang disebut toak. Para Sunan penyebar ajaran Islam-pun harus bekerja keras memutar otak agar bisa menyebarkan ajaran Islam dengan mudah. Para Sunan melakukan macam cara dalam mensyi’arkan agama Islam, misal melalui wayang kulit, Tayuban, slametan sedekah bumi. Cara penyebaran agama Islam tersebut dilaksanakan secara kontinum sehingga menjadi tradisi yang turun temurun
3 Terjemahan surat Al Maidah ayat 91 “Sesungguhnya setan itu benar-benar hendak menjerumuskan kamu ke dalam permusuhan dan saling membenci antara sesamamu melalui minuman keras dan judi itu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan mengerjakan Shalat. Maukah kamu berhenti?” (QS Al-Maidah:91).

2

antar

generasi.

Namun

demikian,

cara-cara

tersebut

tidak

bisa

menghilangkan nitik dan toak dari kehidupan masyarakat Tuban. Toak telah menjadi bagian (sub sistem) dari sistem budaya masyarakat Tuban. Pada umumnya peminum toak berasal dari kalangan pekerja berat seperti petani, kuli bangunan, tukang becak dan nelayan. Toak yang mengandung alkohol dapat menghangatkan tubuh secara keseluruhan, dan lebih cepat menghangatkan dibandingkan dengan minuman-minuman penghangat lainnya (teh panas, jahe panas), yang panasnya hanya terasa sesaat di daerah tenggorokan sampai lambung saja. Sementara itu, panas yang dihasilkan oleh alkohol akan lebih merata di tubuh. Alkohol bisa masuk ke pembuluh darah dan mengalir ke seluruh tubuh dan menghasilkan energi panas. Pekerja-pekerja berat merasa badannya lemas atau kurang bertenaga saat lupa meminum toak sebelum bekerja. Hampir setiap hari mereka menyisihkan uang sebesar Rp. 1000,- untuk membeli segelas toak. Gelas yang mereka pakai untuk mewadahi toak bukan dibuat dari kaca atau plastik, namun gelas tradisional terbuat dari batang pohon bambu yang dipotong hingga menjadi sebuah wadah dan diberi nama centhak (lihat lampiran gambar 26). Selain sebagai sarana pemuas hasrat untuk minum toak, tradisi nitik juga menjadi ajang pertemuan yang kontinum bagi sesama beduak di Tuban. Tali pertemanan antar beduak ini biasa disebut bolo ngombe dalam istilah lokal. Biasanya bolo ngombe ini terbentuk karena frekuensi bertemu antar beduak yang cukup tinggi saat nitik di tempat yang sama dan pada penjual

3

toak yang sama. Bolo ngombe menjadi semacam komunitas non formal yang memiliki pranata-pranata yang implisit di dalamnya, seperti misal saat salah satu beduak diganggu oleh orang lain, maka beduak-beduak lain yang ada dalam satu kelompok bolo ngombe akan membantu tanpa harus diperintah.

Gambar 1.1 Nitik di salah satu tempat di Kecamatan Tuban

Nitik juga bisa dijadikan ajang pencarian mata pencaharian bagi segolongan orang. Para mandor bangunan yang diberi tugas oleh majikannya membangun rumah dan mencari tukang-tukang sebagai anak buah, akan mengambil tukang-tukang tersebut dari bolo ngombe sendiri. Jadi dalam hal ini nitik mempunyai fungsi yang terkandung di dalamnya dan tidak terlihat langsung saat kita hanya melihat kegiatannya. Nitik sebagai sebuah fakta yang jelas terjadi di Kabupeten Tuban, menjadi suatu entry point bagi kemungkinan-kemungkinan baru interpretasi makna-makna yang ada di dalamnya. Inilah yang mungkin sedikit berbeda dengan budaya minum di budaya lain seperti di Amerika Serikat yang menyediakan minuman4

minuman keras seperti bir, whisky atau vodka di bar dan restoran. Misal, film Myseri, Alaska (1999)4 yang berlatar belakang kondisi lingkungan Alaska dengan cuaca yang santa dingin, sehingga akan membuat orang sering meminum whisky sebagai penghangat. Dengan demikian, minum minuman keras bagi mereka hanya sekedar upaya untuk meninggikan suhu badan karena suhu udara sangat rendah disana. Kegiatan minum seperti itu hanya dilakukan sesuai kebutuhan tubuh mereka, tanpa ada ikatan sosial yang terbentuk. Nitik menjadi ikon positif yang sekaligus menjadi ikon negatif bagi masyarakat Tuban. Toak sebagai ikon positif adalah penilaian dari sebagian orang bahwa nitik adalah ajang “temu guyub” tanpa mengganggu komunitas lainnya. Namun, sebagian masyarakat lainnya masih menganggap nitik sebagai ikon negatif. Khususnya masyarakat dari latar belakang agama yang kuat5, nitik dianggap sebagai kebiasaan yang kurang berguna bahkan cenderung menyimpan potensi berbahaya karena minuman yang diminum sangat memabukkan dan menyebabkan berbagai macam hal yang tidak diinginkan bersama. Reaksi keras terhadap julukan Kabupaten Tuban sebagai kota toak pernah disampaikan KH Asnawi, Amir, penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tuban dalam artikel wawancaranya yang berjudul ”Digugat, Penyebutan Tuban Sebagai Kota Tuak” (www.jawapos.com, 2008). Beliau
4 Dalam salah satu scene yang menceritakan tokoh utama Mike sedang duduk minum di sebuah bar di wilayah Myseri, Alaska. Seorang teman Mike yang berjuluk Big Al menghampirinya dan bertanya “hi, Mickey apa yang kamu lakukan disini, bukankah kamu punya rumah?”, kemudian Mike menjawab “Rumahku tidak sehangat Whiskey ini Al” 5 Pernyataan ini didapatkan penulis saat mewawancarai beberapa santri di pondok pesantren Al-Falah, Kecamatan Semanding

5

menyatakan bahwa Tuban dijadikan salah satu pusat penyebaran agama Islam oleh para aulia sejak ratusan tahun lalu. "Karena itu, sangat tidak pas penyebutan Kota Tuak," tandas mantan Ketua MUI Tuban ini. Terlepas dari berbagai pro dan kontra, berbagai macam keperluan dan kepentingan dibawa dan dibicarakan dalam nitik, sehingga tradisi ini tidak lagi menjadi ajang untuk sekedar membeli se-centhak toak. Makna dan fungsi yang terkandung di dalamnya akan lebih dalam dan kompleks bila mau diteliti lebih lanjut. Makna dan fungsi yang kompleks di balik nitik inilah yang membuat penelitian ini menjadi sangat penting dalam perspektif antropologis, karena menurut Saifuddin (2005:23), antropologi menekankan pada analisis masyarakat dan kebudayaan. Toak sebagai materi utama dalam nitik dapat mencerminkan tujuh unsur universal budaya seperti yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1986:218). Toak dapat mewakili beberapa unsur, yaitu kesenian karena toak adalah bagian dari seni kuliner tradisional. Unsur kedua adalah sistem pengetahuan karena dalam pembuatan toak diperlukan berbagai macam metode hasil local genius masyarakat yang diturunkan antar generasi. Unsur ketiga adalah sistem mata pencaharian karena pembuatan toak dapat dijadikan mata pencaharian dengan menjualnya ke beberapa tempat nitik. Kelompok-kelompok bolo ngombe juga bisa mewakili organisasi sosial. Unsur terakhir adalah sistem religi, karena toak jelas dilarang oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduk Tuban bahkan oleh sang beduak sendiri6, namun tetap saja dikonsumsi hampir setiap hari.
6 Selama penelitian, penulis mencatat bahwa semua beduak yang termasuk dalam bolo ngombe yang diteliti oleh penulis memeluk Agama Islam

6

Jenis hubungan yang terjadi diantara para beduak, beserta efek yang terjadi di dalam hubungan tersebut juga menjadi hal menarik untuk diteliti leih dalam. Analisa yang mungkin untuk dilakukan adalah menggunakan analisa fungsional, jaringan sosial dan jaringan komunikasi. Untuk informasi, Penelitian yang menyangkut nitik sangat jarang dilakukan selama ini, bahkan tidak terdapat arsip resmi dari pemerintah Kabupaten Tuban mengenai industri pembuatan toak tradisional, karena memang selama ini toak dibuat secara home industry yang tidak memiliki izin resmi dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Penulisan skripsi ini diharap bisa membuka cakrawala baru pengetahuan mengenai nitik, toak, beduak dan segala macam makna yang dapat digali dalam tradisi nitik.

1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian penulis diatas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut: Mengapa ikatan sosial (social bond) dapat terbentuk dalam tradisi nitik? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Apa sajakah faktor pembentuk ikatan sosial dalam tradisi nitik. 2. Proses pembentukan jaringan sosial yang berawal dari ikatan sosial pada tradisi nitik 3. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi kelangsungan tradisi nitik sampai saat ini 4. Penelitian ini juga dikembangkan untuk mengetahui fungsi tradisi

7

nitik yang berhubungan dengan Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung), kerjasama antar beduak dalam bidang pertanian, upayaupaya beduak untuk melakukan aktualisasi diri dan kelompok, serta bentuk kegiatan untuk saling berbagi tentang masalah pribadi maupun kelompok.

1.4 Kerangka Pemikiran Karya etnografi ini sebenarnya berangkat karena ketertarikan penulis pada ikatan sosial yang terjadi pada kumpulan bolo ngombe dalam tradisi nitik. Durkin (1999:1) menyatakan, teori mengenai ikatan sosial (social bond) dalam ilmu sosial pertama dicetuskan oleh Travis Hirschi pada tahun 1969,
“We are moral beings to the extent we are social beings…the sosial bond essentially refers to connection between the individual and the society. This theory posits that deviance occurs when the social bond is weak or lacking” (Durkin,1999:2). “Kita adalah makhluk bermoral (bagi diri sendiri), pada tingkatan lebih luas kita adalah makhluk sosial…teori ikatan sosial merujuk pada hubungan antara individu dan masyarakat. Teori ini menerima kenyataan bahwa (individu) penyimpang muncul saat ikatan sosial lemah atau kurang” (Durkin, 1999:2)

Masih menurut Hischi (Durkin, 1999:2), ikatan sosial memiliki empat elemen utama yang harus dipenuhi. Elemen pertama adalah kasih sayang (attachments), elemen kedua adalah komitmen (commitment), elemen ketiga adalah keterlibatan (involvement), akhirnya elemen keempat adalah keyakinan (belief). Ketertarikan peneliti tidak sebatas ikatan sosial saja, melainkan bagaimana sebuah ikatan sosial tersebut berlanjut menjadi sebuah jaringan

8

sosial. Penulis menggunakan metode analisis jaringan sosial yang diusulkan oleh J.A. Barnes (Koentjaraningrat, 1990:157), yang kemudian

disempurnakan oleh A. Wolfe (Koentjaraningrat 1990:158) dengan memisahkan jaringan sosial menjadi dua jenis yaitu, jaringan sosial total (unlimited social network) dan jaringan sosial bagian (limited social network). Awalnya, secara sederhana definisi jaringan sosial menurut Ritzer & Goodman (2007:382), adalah pola objektif yang menghubungkan anggota masyarakat (individual dan kolektivitas), namun definisi tersebut

berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran dengan yang menuntut aplikasi realistis dari teori jaringan konvesional. Aplikasi tersebut bisa berbentuk peta maupun model jaringan sosial yang terdiri dari simpul dan garis-garis yang berhubungan satu sama lain. Menurut definisi dari kamus Wikipedia online, jaringan sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan

(www.wikipedia.org/wiki/jaringan_sosial, 2008). Dalam kajian yang paling sederhana, suatu jaringan sosial digambarkan sebagai peta dari semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji. Jaringan tersebut dapat pula digunakan untuk menentukan modal sosial aktor individu. Konsep ini sering digambarkan dalam diagram jaringan sosial yang mewujudkan simpul sebagai titik dan ikatan sebagai garis penghubungnya. Nitik sendiri sebenarnya juga bisa dianalisis menggunakan anilisis

9

jaringan komunikasi. Rogers dan Kincaid (1983:82) menjelaskan bahwa analisis ini adalah metode penelitian untuk mengidentifikasi struktur komunikasi dalam suatu sistem, dimana data-data yang terkait dengan alur komunikasi dianalisa dengan menggunakan tipe-tipe hubungan interpersonal sebagai unit analisis. Sebuah jaringan komunikasi terdiri dari interkoneksi antar individu yang dihubungkan oleh pola alur komunikasi. Menurut Rogers dan Kincaid (1981:76), Pertanyaan yang sering muncul di benak para ilmuwan sosial adalah ”apakah efek dari komunikasi?” atau ”apakah yang diperbuat manusia dengan komunikasi?”. Maka dari itu, Analisis jaringan komunikasi berupaya memberikan penjelasan lebih dalam tentang efek selanjutnya dari komunikasi. Penjelasan ini disebut dimensi kedua pada efek dari komunikasi yaitu:
”Further, communication network analysis has a particular advantage in allowing investigators to determine a ‘second dimension’ of communication effects: the distribution of the consequences of human communication among the members of clique or system, including the consensus or agreement that emerges among the individuals in a network.” (Rogers & Kincaid, 1981) “Analisis jaringan komunikasi mempunyai keuntungan tersediri dalam mengijinkan peneliti untuk menentukan sebuah dimensi kedua dari efek komunikasi: distribusi dari segala konsekuensi komunikasi manusia diantara angota clique atau sistem, termasuk konsensus atau persetujuan yang muncul diantara individu-individu dalam suatu jaringan.” (Rogers & Kincaid, 1981)

Dalam analisis jaringan komunikasi terdapat prosedur penelitian yang dinamakan identifying clique. Clique diartikan sebagai subsistem dimana elemen-elemen di dalamnya saling berinteraksi lebih sering dan frekuentif daripada anggota-anggota lain dalam suatu sistem komunikasi. Clique dapat dikaitkan dengan kumpulan bolo ngombe yang terdiri dari para beduak dengan intensitas pertemuan yang cukup sering. Dengan mengidentifikasi

10

bolo ngombe sebagai clique, maka penulis dengan mudah menelaah jaringan sosial yang terbentuk diantara para beduak. Sementara itu penulis juga berupaya menganalisis tradisi nitik menggunakan teori-teori fungsional, kajian dengan menggunakan teori fungsional menjelaskan bahwa eksplanasi fungsional dari suatu gejala menempatkan eksplanandum dalam suatu sistem interaktif pada suatu proses perubahan yang terkontrol atau ekuilibrium dinamik. Fungsionalisme menjelaskan hadirnya gambaran dan ciri efek yang berguna pada sistem seperti yang diungkapkan oleh Saifuddin (2005:156). Salah seorang sarjana Antropologi yang bernama M. E. Spiro pernah mendapatkan bahwa di dalam karangan ilmiah terdapat tiga cara pemakaian kata fungsi, pertama pemakaian yang menerangkan fungsi itu sebagai hubungan guna antara sesuatu hal dengan tujuan tertentu (misalnya ballpoint digunakan untuk menulis diatas suatu media penulisan). Kedua adalah pemakaian yang menerangkan fungsi sebagai kaitan korelasi antara satu hal dengan hal yang lain (apabila nilai dari hal A berubah, maka nilai dari hal lain yang dipengaruhi oleh hal A juga ikut berubah). Ketiga adalah pemakaian yang menerangkan hubungan yang terjadi antara satu hal dengan hal yang lain dalam suatu sistem dan menyebabkan perubahan di berbagai bagian lain, bisa saja menyebabkan perubahan pada semua sistem. Aliran pemikiran mengenai masalah fungsi dari unsur-unsur kebudayaan guna kehidupan suatu masyarakat yang mulai populer semenjak hadirnya karya etnografi seorang antropolog besar yang bernama Bronislaw

11

Malinowski mengenai penduduk di kepulauan Trobriand ini lazim disebut aliran fungsionalisme. Dalam aliran tersebut ada berbagai pendapat dari berbagai sarjana antropologi mengenai apa sebenarnya fungsi dasar dari unsur-unsur kebudayaan manusia. Pendapat Malinowski (Koentjaraningrat, 1986: 229) mengenai aliran fungsionalisme ini adalah berbagai unsur kebudayaan yang ada dalam masyarakat manusia berfungsi untuk memuaskan suatu rangkaian hasrat naluri akan kebutuhan hidup dari makhluk manusia (basic human needs). Dengan demikian, unsur mata pencaharian berfungsi untuk memenuhi hasrat kebutuhan manusia akan uang sebagai alat tukar kebutuhan mereka dalam kehidupan. Menurut Koentjaraningrat (1986:224), para ahli antropologi biasanya memakai istilah holistik untuk menggambarkan metode tinjauan yang mendekati kebudayaan sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi. Dalam penjabaran penulis nanti dapat dilihat bahwa masing-masing dari unsur tradisi nitik saling terkait satu sama lain. Kajian ini, mampu menghadirkan fungsi-fungsi yang tersembunyi dalam budaya lokal masyarakat, termasuk pada tradisi nitik. Penulis memang bertujuan mengungkap beberapa fungsi yang ada dalam tradisi nitik, yang selama ini mungkin tidak banyak digali. Fungsi yang mungkin diungkap adalah fungsi-fungsi yang menguntungkan bagi para beduak sendiri. Ketergantungan tubuh pekerja keras akan minuman penambah energi, menunjukkan bahwa kebudayaan (beserta seluruh unsurnya) dan organisasi sosial merupakan respons terhadap kebutuhan biologis dan psikologis,

12

kebutuhan ini dapat dipenuhi oleh beberapa respons kebudayaan yang berbeda-beda seperti yang dijelaskan oleh Malinowski (Saifuddin, 2005:168). Kajian Malinowski ini bisa menjelaskan bagaimana budaya membentuk ”dirinya” sedemikian rupa, agar mampu mampu menjadi pelindung dan alat pertahanan hidup bagi para penganutnya. Toak sebagai bagian dari budaya menjadi suatu kebutuhan tersendiri bagi komunitas beduak yang tidak bisa lepas darinya. Toak dianggap sebagai suplemen bagi para beduak membantu mereka untuk tetap beraktifitas dengan nyaman tanpa ada gangguan lemah, letih atau lesu. Apabila mereka (para beduak) yang sebagian besar adalah para pekerja keras tidak meminum toak dan merasa badannya pegal, maka akan berpengaruh negatif pada pekerjaan mereka. Berarti kajian ini bisa mengungkap bagaimana tradisi nitik yang notabene merupakan ajang berkumpul minum toak tetap bisa eksis dan merupakan awal pembentuk ikatan sosial diantara para beduak. Teori interaksional simbolik penulis gunakan untuk menganalisa fungsi dan kontinuitas dibalik interaksi yang terjadi antar aktor-aktor sosial yang ada di dalam tradisi nitik, sehingga bisa diketahui faktor-faktor yang membuat nitik masih eksis hingga sekarang. Rumusan yang paling ekonomis dari asumsi interaksionis datang dari karya Herbert Blumer (Craib,1985:112) yaitu Manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna-makna yang dimiliki benda-benda itu bagi mereka, Makna-makna itu merupakan hasil dari interaksi sosial dalam masyarakat manusia, makna-makna

dimodifikasikan dan ditangani melalui suatu proses panafsiran yang digunakan oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda

13

yang dihadapinya. Mead (Ritzer dan Goodman, 2004:291) menjelaskan bahwa teoritisi interaksional simbolik cenderung menyetujui pentingnya penyebab dari interaksi sosial dan kontinuitas dari interaksi tersebut. Teori ini memusatkan perhatian pada tindakan dan interaksi manusia, bukan pada proses mental yang terisolasi. Teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana kontinuitas hubungan yang tidak hanya terjadi di luar area nitik, karena hubungan-hubungan yang terjadi diantara para beduak jauh lebih dalam daripada sekilas pandang saat mereka sedang nitik. Hal itu akan menjelaskan bagiamana nitik berfungsi dari segi sosial. Studi Interaksional Simbolik akan lebih mudah dimengerti dan digunakan saat kita menoleh sedikit pada ide-ide mengenai unit tindakan Talcott Parson dalam Craib (1985:110), hal tersebut melibatkan seperangkat asumsi mengenai aktor sosial. Parson membuat beberapa pilihan antara tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan itu dalam situasi baik mengenai objek fisik maupun sosial termasuk norma-norma dan nilai kultural. Proses pelembagaan (institusionalisasi) mencakup pelaku-pelaku (actors) yang menyesuaikan tindakan-tindakan mereka dalam interaksi sosial. Antar individu memberikan kepuasan timbal balik dan kalau hal tersebut berhasil, tindakan tadi berkembang menjadi suatu pola mengenai status-status peranan suatu struktur peranan dalam suatu komunitas kecil atau besar. Melihat makna dalam suatu interaksi sosial menurut Ryle (Geertz,

14

1992:11), agak menyesatkan seperti usaha pemecahan sandi atau kritik terhadap sastra. Spradley (1995:120), telah mngingatkan kita, para etnografer maupun calon etnografer tentang pentingnya pemaknaan pada budaya. Masyarakat dimana saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal. Simbol, interaksi, tradisi dan makna di dalamnya adalah bagian dari budaya masyarakat. Kebudayaan merupakan seperangkat sistem

pengetahuan yang digunakan oleh penggunanya sebagai alat untuk menginterpretasi alam (Suparlan, 2003: 85), sedangkan Crapo (2002:24), menjelaskan bahwa:
“… adjusment of ways of life to different habitats, it is assumed that culture is an adaptive mechanism, and that those custom that improve a society’s ability to adapt to its environment are the ones that are most likely to survive”. “… pembelajaran mengenai cara menyesuaikan diri di lingkungan yang berbeda, hal tersebut mengasumsikan bahwa bahwa kebudayaan merupakan hasil mekanisme adaptasi, dan kebiasaan beradaptasi tersebut menimbulkan kemampuan bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yang merupakan syarat utama untuk bisa bertahan hidup”

Tiada masyarakat yang lepas dari kebudayaan, masyarakat dan kebudayaan eksis karena satu alasan, yaitu memberi manusia fasilitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti yang dijabarkan Lenski dan Lenski (1978:34). Menurut Koentjaraningrat (1986:136) kebudayaan memiliki tujuh unsur universal yaitu sistem religi, bahasa, sistem pengetahuan, sistem teknologi, organisasi sosial dan kekerabatan, sistem mata pencaharian dan kesenian. Budaya sendiri terimplementasikan dalam tiga wujud menurut Koentjaraningrat (1994:15) wujud pertama adalah sistem ide atau gagasan, wujud kedua adalah perilaku dan wujud ketiga adalah hasil fisik budaya. Wujud pertama dari kebudayaan yaitu sestem ide atau gagasan biasa 15

disebut sebagai blue print budaya. Konsep mengenai nilai, moral, pranata suatu budaya tercetak dalam sistem kognisi masyarakat sebagai hasil interpretasi terhadap alam lingkungannya. Manusia mulai berpikir untuk mamanfaatkan alam sekitarnya untuk kepentingannya, pikiran-pikiran tersebut mulai tercetak dan terkonsep sistematis serta tersusun logis untuk diterapkan dalam rangka mencukupi kebutuhannya. Wujud kedua adalah perilaku, wujud ini merupakan tindak lanjut dari wujud pertama kebudayaan, sistem ide atau gagasan. Wujud kedua ini kelakuan yang terpola dari masyarakat itu sendiri. Wujud ketiga adalah hasil fisik budaya, yaitu hasil yang terabstraksi oleh pancaindera kita termasuk toak dan centhak. Bagi para beduak, kumpul bersama bolo ngombe adalah suatu kepuasan yang tidak bisa diukur dengan materi. Menurut penjabaran dari Mulder (1984: 52), individualitas bisa dianggap sebagai sikap yang membahayakan, bahkan dianggap berdosa dalam masyarakat Jawa. Niels Mulder mencoba menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sangat menghargai relasi sosial dan mengenyampingkan individualitas. Tradisi nitik yang dianggap turut menjaga hubungan antar individu tetap dikembangkan dan dipertahankan walaupun berada dalam gelombang modernisasi yang menerpa Indonesia. Merujuk pada Mulder (1984:35), Modern adalah suatu sikap, cara berpikir menghadapi dinamisasi dunia. Modern tidak berarti merubah keadaan tradisional, melainkan pembukaan dimensi-dimensi hidup baru.

16

I.5. Metode penelitian I.5.1 Teknik Pengumpulan Data Penelitian yang akan dilakukan penulis di Kabupaten Tuban mencakup dua metode utama yaitu observasi dan interview untuk menghasilkan data kualitatif. Penelitian ini bertujuan utama membentuk karya tulis etnografi tentang tradisi nitik di kabupaten Tuban. Etnografi, menurut Spradley (1978:3) merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan dengan hasil akhir memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Salah satu pendekatan yang lazim digunakan dalam penelitian etnografi adalah pendekatan holistik. Menurut Garna (Bestari, 2004:5), pendekatan holistik melihat keterkaitan dari keseluruhan bagian-bagian dan menganggap masyarakat adalah suatu sistem yang terbentuk dari bagian yang satu sama lainnya saling berkait, tiap bagian tidak dapat berdiri sendiri sepenuhnya dan tidak dapat diteliti secara terpisah. Keberadaan seseorang harus dilihat dalam hubungannya dengan bagian-bagian lain di lingkup hubungan masyarakat. Oleh karena itu, menurut Spradley (1995:3), penelitian etnografi melibatkan peneliti pada pembelajaran mengenai dunia orang yang telah belajar melihat, mendengar, berbicara, berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang berbeda. Tidak hanya mempelajari masyarakat, namun etnografi berarti belajar dari masyarakat. Karya Etnografi memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui oleh peneliti. Tahapan ini berbeda dengan tahapan yang ada di ilmu-ilmu sosial

17

yang lain. Penelitian etnografi menuntut arus balik yang konstan dari satu tahap ke tahap yang lain. Menurut Spradley (1995:119), Kelima tahapan dalam penelitian etnografi ini dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan dan terdiri dari: Pertama, memilih masalah. Spradley (1995:119), Permasalahan ini didasarkan kepada teori kebudayaan umum dan cenderung mirip dengan teori interaksi simbolik. Dalam hal ini, penulis memilih Tradisi nitik sebagai pangkal pembentuk ikatan sosial diantara para beduak di Kabupaten Tuban. Kedua, mengumpulkan data kebudayaan. Dalam tahapan kedua ini, penulis mengajukan beberapa pertanyaan deskriptif kepada para informan yang penulis wawancarai di lapangan. Pertanyaan deskriptif yang penulis ajukan semisal bagaimana alur tradisi nitik, bagaimana proses pembuatan toak, bagaimana para beduak bisa akrab satu sama lain, bagaimana cara memilih tempat yang tepat untuk nitik dan pertanyaan deskriptif lainnya yang bisa dilihat di dalam lampiran. Ketiga, Menganalisis data kebudayaan. Berdasarkan tulisan Spradley (1995:119), Tahapan ini meliputi pemeriksaan ulang catatan lapangan untuk mancari makna dan keterkaitan simbol yang ada dalam sebuah kebudayaan. Dalam tahapan ini, penulis menganalisa kertas kerja dan berbagai catatan lapangan lainnya kemudian berusaha menganalisis menggunakan teori-teori yang berkaitan dengan topik penelitian. Keempat, Memformulasikan hipotesis etnografis. Di dalam benak penulis sudah terbentuk suatu hipotesa sederhana bahwa intensitas pertemuan para beduak dalam tradisi nitik, membuat suatu ikatan sosial

18

(social bond) diantara beduak dan seterusnya membentuk jaringan sosial (social network) yang terimplementasi dalam berbagai sektor kehidupan seperti sosial, politik ekonomi dan sektor-sektor lainnya. Sesuai dengan penjelasan dari Tan (Koentjaraningrat ed., 1991: 25), bahwa suatu hipotesa bisa diperoleh dari tiga sumber, yang pertama adalah pengalaman, pengamatan dan dugaan si peneliti sendiri. Sumber kedua adalah hasil dari penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, dan yang ketiga adalah berasal dari teori-teori yang sudah terbentuk. Kelima, menuliskan etnografi. Dalam tahapan ini penulis mencoba menuliskan data dan temuan apa saja yang ditemui di lapangan ke dalam karya etnografi ini dan berusaha menganalisa dengan teori yang tepat sehingga menghasilkan suatu pemahaman yang kongkrit mengenai tradisi nitik. Sehingga apabila analisa yang dibuat penulis tidak sesuai dengan hipotesa awal, maka penulis akan mengubahnya sesuai dengan data yang telah didapat.

I.5.1. Lokasi Penelitian Pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposive. Penelitian ini berlokasi di beberapa tempat nitik di Kecamatan Semanding dan Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Pemilihan lokasi ini sengaja dilakukan karena kecamatan Semanding merupakan kecamatan tenpat tinggal dari penulis, sehingga cukup mengenal daerahnya. Di kecamatan Semanding banyak terdapat kelompok-kelompok nitik yang kebanyakan terdiri dari komunitas petani desa.

19

Sedangkan pemilihan lokasi penelitian di kecamatan Tuban agar penulis mengetahui varian tradisi nitik di Tuban dan juga sebagai pembanding dengan tradisi nitik yang terdapat di Kecamatan Semanding,. Tradisi nitik di Kecamatan Tuban banyak diikuti oleh beduak-beduak nonpetani, biasanya nelayan, tukang becak atau kuli bangunan. Menurut keterangan informan penulis, Sutiyono (37), kebanyakan nitik di kecamatan Tuban yang biasanya diikuti oleh kalangan non-petani dibuat hanya untuk mabuk-mabukan dan kurang mengetahui makna toak sebagai minuman untuk menambah energi dan obat bagi tubuh warisan luhur nenek moyang.

I.5.2. Teknik Penentuan Informan Informan merupakan sumber informasi untuk penulis, maka penulis harus berhati-hati dalam memilih informan yang akan diwawancarai. Penulis memilih informan berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditentukan. Penulis memperjelas batasan kriteria pemilihan informan

menggunakan kriteria yang ditawarkan oleh Spradley (1995:61-70), pertama adalah Enkulturasi penuh, keterlibatan langsung, suasana budaya yang tidak dikenal, cukup waktu dan non analitik. Merujuk pada kriteria pertama, yaitu enkulturasi penuh, penulis memilih Karmidji (52) (lihat lampiran gambar 2), seorang penjual toak yang sudah bertahun-tahun melakukan pekerjaannya, juga ada Warsito (46) (lihat lampiran gambar 5), Tasiran (lihat lampiran gambar 4) dan Taji (48) (lihat lampiran gambar 6). Semasa mudanya, dia adalah petani yang juga beduak dan pada saat

20

masa tuanya, Karmidji tidak lagi bertani di sawah, melainkan aktif dalam menjual toak semenjak tahun 1996. Karmidji biasa berjualan toak di sebuah gubuk pinggir sawah di desa Ngino (lihat lampiran gambar 13), Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban pada sore hari sekitar pukul 15.00. Informan pangkal penulis adalah Sutiyono (37) (lihat lampiran gambar 1), seorang pegawai swasta yang tinggal di desa Sumurgung, Kecamatan Semanding. Alasan penulis memilih Sutiyono (37) karena dia adalah orang yang hapal mengenai seluk beluk Kabupaten Tuban dan merupakan beduak semenjak umur 20 tahun. Hampir setiap hari Sutiyono harus pergi berkeliling Tuban untuk mencari sepeda bekas untuk dijual kembali di pasar dagang sepeda Tuban, sehingga dia bergaul dengan banyak orang dan tahu banyak mengenai kondisi Kecamatan Semanding dan Kecamatan Tuban pada umumnya. Dari Sutiyono inilah, penulis tahu letak-letak tempat nitik baik di desa maupun di daerah perkotaan dan juga berkenalan dengan para beduak maupun penjual yang dikenal oleh Sutiyono seperti Karmidji, Warsito, Jarno. Kriteria kedua adalah keterlibatan langsung. Kriteria ini merujuk pada para informan yang pernah atau secara intens mengikuti tradisi nitik, seperti Jarno (47) (lihat lampiran gambar 3), yang sudah menjadi beduak semenjak umur 20 tahun, dan sampai sekarang hampir setiap hari minum toak di tempat nitik Karmidji di Desa Ngino, Kecamatan Semanding dan telah mencoba toak dari seluruh penjuru Tuban. Dengan pengalamannya yang begitu panjang dan intens, maka penulis merasa tepat memilih Jarno menjadi salah satu informan untuk karya etnografi ini.

21

Kriteria Ketiga, Suasana budaya yang tidak dikenal. Peneliti yang menampakkan pengetahuannya tentang budaya informan cenderung dianggap sombong dan sia-sia dalam melakukan penelitian. Penulis dengan sengaja memberitahu kepada para penjual toak, bahwa keikutsertaan penulis dalam nitik dalam rangka meneliti ikatan sosial para beduak, dan juga ikut memperkenalkan nama tradisi nitik keluar wilayah Tuban. Karena menurut Spradley (1995:49), menyampaikan pemberitahuan tujuan penulisan merupakan salah satu etika penulisan sebuah karya etnogtafi. Penulis secara eksplisit memberitahukan kepada mereka bahwa tradisi nitik dan toak bukanlah hal yang familiar bagi penulis, karena walaupun orang Tuban, penulis tidak pernah ikut langsung dalam kegiatan nitik ataupun meminum toak. Kriteria keempat adalah cukup waktu. Penulis berusaha

memperhatikan kondisi serta jadwal keseharian dari informan tersebut. Kondisi informan akan mempengaruhi data yang mereka berikan. Informan yang sibuk dengan hal yang mereka kerjakan cenderung memecah konsentrasinya untuk menjawab pertayaan peneliti sekaligus mengerjakan pekerjaannya. Seperti yang penulis lakukan saat mewawancarai Karmidji (52), penjual toak di Kecamatan Semanding saat berjualan toak. Karmidji lebih tenang dan jelas saat menuturkan satu demi satu keterangan mengenai nitik pada saat dia menunggu pembeli datang padanya, disaat kami hanya berdua saja. Warsito (46) (lihat lampiran gambar 5), yang juga merupakan penjual toak di desa Genaharjo di Kecamatan Semanding juga lebih lepas saat

22

memberikan informasi pada penulis tentang nitik saat dia berada di rumahnya seusai berjualan toak, pada saat wawancarapun penulis memastikan Warsito dan Karmidji (penjual selalu ikut minum saat berjualan) tidak dalam kondisi mabuk dengan cara bertanya langsung. Kriteria kelima menurut adalah non analitik. Informan non analitik selalu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti dengan bahasa dan pengetahuan yang dimilikinya selama dia tinggal dalam lingkungan budayanya, tanpa ada unsur analisis subyektif dari sang informan ataupun dari orang lain di sekitarnya. Informan yang penulis wawancarai seperti Warsito, Karmidji, Kardji, Jarno, Parman menggunakan bahasa Jawa Ngoko Alus dan kasar dengan dialek Tubanan yang kental. Mereka menggunakan pengetahuan yang diberikan turun temurun oleh nenek moyang mereka dan pengetahuan yang terabstraksi dari kehidupan mereka sehari-hari. Hanya Sutiyono yang menggunakan bahasa Indonesia saat diwawancarai. Pengetahuan mereka tentang nitik, toak dan tambul adalah pengetahuan yang sudah mereka dapatkan semenjak mereka tumbuh dewasa di kampung halaman masing-masing seperti Karmidji yang mengaku sudah sekitar 30 tahun mengkonsumsi toak sampai menjadi penjual toak sekarang, padahal umur Karmidji sekarang sudah 52 tahun, berarti dia mulai mengkonsumsi toak sekitar umur 22 tahun.

I.5.3 Strategi Pengumpulan Informasi Penulis melakukan riset lapangan mengenai tradisi nitik dengan

23

melakukan metode observasi/pengamatan dan wawancara dengan informan. Observasi berdasarkan definisi dari Bestari (2004:3), adalah suatu strategi pengumpulan data melalui pengamatan inderawi dengan melakukan dokumentasi terhadap gejala yang ada pada objek penelitian secara langsung pada lokasi penelitian. Implementasi di lapangan, penulis terjun langsung ke kegiatan nitik pada beberapa tempat di Kabupaten Tuban dan melihat secara langsung bagaimana kegiatan tersebut berlangsung dan mendokumentasikan lewat media fotografi atau catatan lapangan. Sudikan (2001:59) menyarankan dalam kegiatan observasi diperlukan pendekatan antropologi visual, yaitu penggunaan alat bantu dokumentasi seperti kamera untuk mengambil foto pada obyek yang sesuai dengan tema yang diteliti dan berkaitan dengan latar belakang etnografisnya. Penulis juga berusaha melakukan jenis pendekatan observer as participant seperti yang diungkapkan oleh Jimenez (Bautista ed. 1988), yaitu penulis tidak sepenuhnya terlibat dalam kegiatan nitik. Namun dalam penelitian, penulis mengungkapkan identitas penulis sebagai seorang yang sedang melakukan penelitian nitik. Penulis tidak sepenuhnya mengikuti tradisi nitik setiap hari dan bergaul penuh dengan para beduak. Penulis juga tidak meminum toak, karena alasan agama yang dipeluk oleh penulis tidak memperbolehkan untuk meminum munuman yang mengandung alkohol, yang kedua penulis juga tidak menyukai rasa dan aroma toak. Walaupun tidak mengikuti penuh, tetapi penulis tetap melakukan pencatatan-pencatan etnografis seperti yang disarankan oleh Spradley (1995:181), yaitu membuat catatan etnografis.

24

“The Observer As Participant...the former does not conceal the fact that he is conducting a field study but, as much as possible, avoids direct participation in group or community activities. This type of role is usually utilized in one-visit interview and in process documentation researches.” Jimenez (Bautista ed., 1988:108) “Peneliti sebagai partisipan…peneliti-peneliti terdahulu tidak menyembunyikan identitas asli sebagai seseorang yang sedang melakukan penelitian lapangan, tetapi sebisa mungkin menghindari partisipasi langsung dalam suatu kelompok atau komunitas. Tipe seperti ini biasanya memanfaatkan penuh wawancara dalam sekali kunjungan dan di dalam proses penelitian dokumentasinya.” Jimenez (Bautista ed., 1988:108)

Penulis akan menurunkan tingkat partisipasi apabila keadaan tidak memungkinkan seperti saat penulis sakit, atau berhubungan dengan ambang batas alkohol yang diminum oleh manusia. Strategi lain yang penulis lakukan adalah wawancara. Menurut Bestari (2004:4), wawancara adalah proses memperoleh keterangan berkenaan dengan riset dengan cara tanya jawab secara langsung berhadapan atau lewat madia komunikasi seperti telephone antara peneliti dan informan. Wawancara dilakukan bertujuan:
“(1) mencari kebenaran fakta, (2) memperkuat kepercayaan tentang kedaan fakta, (3) mencari keterangan tentang kegiatan tertentu, (4) mencari keterangan tentang kasus tertentu, (5) mencari keterangan tentang seluk beluk kebudayaan masyarakat yang diteliti” Bestari (2004:4).

Sevilla (1992:71) menuliskan bahwa salah satu ciri terpenting dalam riset adalah komunikasi langsung antara peneliti dengan informan yang telah ditentukan. Salah satu bentuk komunikasi antara peneliti dan informan adalah melalui wawancara. Bentuk wawancara yang akan dipakai penulis adalah wawancara mendalam (indepth interview) dan tidak terstruktur (unstructured interview) karena bukan berbentuk kuisioner dalam analisa data kuantitatif yang menggunakan wawancara terstruktur (structured interview). Jenis wawancara ini cenderung menggali secara detail dan dalam 25

tentang sebuah fenomena budaya dari keterangan yang diberikan informan berkaitan dengan imitasi, identifikasi, internalisasi dan sosialisasi tradisi nitik di kalangan masyarakat Tuban. Indepth interview diharapkan mampu menghasilkan kajian etnografis yang layak dijadikan acuan valid dalam dunia pendidikan. Menurut Sudikan (2001:64), untuk memfokuskan wawancara diperlukan catatan daftar pokok pertanyaan yang disebut pedoman

wawancara (interview guide). Wawancara akan berlangsung efektif tanpa ada banyak bias dari tujuan asli peneliti dan menghindarkan peneliti lupa pada pertanyaan yang akan disampaikan kepada informan. Penulis mencari beberapa data lain dari penelitian lain yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Untuk tujuan tersebut, penulis berencana untuk aktif mencari di jurnal penelitian melalui internet ataupun dalam bentuk buku. Penulis juga tidak lupa untuk mencari artikel di koran, website, blog, majalah yang dapat membantu penulis untuk membuat karya etnografi dengan memperhatikan aturan penulisan ilmiah agar terhindar dari plagiatisme. Bagan 1.1 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data7 Web site Buku Artikel koran
7 Bagan ini diambil dari karya tulis ilmiah berjudul “Pijat Fisoterapi Arthritis Sebagai Solusi Low Back Pain di Kalangan Nelayan” karya Darundiyo Pandupitoyo. Karya Tulis ini dibuat dalam rangka pemilihan Mahasiswa Berprestasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga 2006.

Dikumpulkan

26

Filtrasi Data Observasi Ketegorisasi dan Analisis Wawancara

I.5.4. Teknik Analisis Menurut Setyoputro (2006:23), perlu dikemukakan bahwa analisis data dilakukan dalam suatu proses. Analisa data mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif, yaitu sesudah meninggalkan lokasi penelitian Data yang didapatkan dari penelitian akan dianalisis menggunakan acuan teoritik yang mempu nyai relevansi dengan permasalahan yang dibahas. Demi mendukung penulisan karya etnografi yang baik, penulis menggunakan fokus penelitian etnografi yang disarankan oleh James Spradley dalam bukunya yang berjudul Metode Etnografi. Memang terkesan rumit dan kompleks, namun fokus ini mempermudah seorang etnografer dalam mengungkap makna dan tema budaya yangssedag ditelitinya. Alur penelitian seperti yang penulis terapkan ini memang tidak mudah, namun setelah semua tahap selesai dilakukan, maka semuanya akan menjadi mudah. Karya etnografi yang baik harus memperhatikan fokus penelitian etnografis. Spradley (1995:181) menggambarkan tata urutan fokus peneltian etnografis sebagai berikut; Bagan 1.2. Fokus Dalam Penelitian Lapangan 12. Menulis etnografi 27

11. Menemukan tema-tema budaya 10. Membuat analisis komponen 9. Mengajukan pertanyaan kontras 8. Membuat analisis taksonomik 7. Mengajukan pertanyaan struktural 6. Membuat analisis domain 5. Melakukan analisis wawancara etnografis 4. Mengajukan pertanyaan deskriptif

3. Membuat catatan etnografis 2. Melakukan wawancara terhadap informan 1. Menetapkan seorang informan
Sumber: Spradley: (1995:181)

Untuk tahapan pertama hingga ketiga sudah penulis uraikan pada sub bab 1.5 metode Penelitian. Penulis akan mencoba menguraikan point

keempat sampai dengan point keduabelas, karena berhubungan dengan tahap-tahap analisa data. Point keempat adalah mengajukan pertanyaan deskriptif. Penulis mengajukan pertanyaan dasar mengenai tradisi nitik semisal berapa harga toak se-centhaknya? Atau bagaimana uraian kegiatan tradisi nitik? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang memancing jawaban deskriptif dari informan, sehingga penulis mampu menguraikan data dengan jelas. Melakukan analisis wawancara etnografis (Spradley,1995:117),

28

Istilah tercakup (X)

Analisis adalah pemaknaan penulis yang coba ditelaah menggunakan teoriteori yang bersangkutan semisal dengan menelaah penyebab terbentuknya ikatan sosial di kalangan beduak, lebih dalam lagi teori interaksional simbolik coba menjelaskan bagiamana kontinuitas hubungan antara para beduak setelah tradisi nitik. Analisis yang dilakukan berdasarkan informasi atau data yang didapat penulis dari wawancara dengan informan yang ada di lapangan. Penulis banyak mendapat istilah-istilah lokal maupun pengertianpengertian baru yang dimasukkan ke dalam catatan etnografis. Berikutnya membuat analisis domain. Dalam tahapan ini penulis menggunakan kertas kerja domain agar mengetahui domain-domain dari istilah lokal yang baisa digunakan dalam tradisi nitik. Misal Pada salah satu kertas kerja penulis mendapatkan satu istilah pencakup yaitu ”bolo ngombe” atau dalam bahasa Indonesia disebut teman minum. Istilah tercakup nampak pada identifikasi terhadap istilah ”bolo ngombe”. Yang diidentifikasikan sebagai teman yang sering ikut minum bersama dalam satu tempat nitik, selain ikut dalam satu tempat nitik, dia juga harus sering berbicara dan ngobrol dengannya, memiliki kesamaan dalam berbagai hal seperti pandangan mengenai fakta atau fenomena yang dihadapi dan banyak istilah tercakup lainnya.

Contoh Kertas Kerja 1.1. Kertas Kerja Analisis Domain

hubungan antara x dan y

29

Istilah pencakup (Y)

Kertas kerja domain berisi hubungan diantara istilah pencakup (yang biasa disimbolkan dengan huruf y) dan istilah tercakup (yang biasa disimbolkan dengan huruf x). Memahami istilah pencakup dan tercakup seperti memahami hiponim dan hipernim dalam pelajaran bahasa Indonesia. Analoginya, hiponimnya adalah bunga dan hipernimnya bisa saja mawar, melati, anggrek atau tulip. Hiponim mewakili istilah pencakup (y) dan hipernim mewakili istilah tercakup (x). Satu hubungan antara x dan y disebut dengan satu subset, dan jenis hubungan antara x dan y disebut dengan kerangka subtitusi. Semisal hubungan x adalah salah satu definisi y, atau x adalah salah satu jenis dari y. Analisis ini berguna untuk mengungkap istilah-istilah tersembunyi dari masyarakat lokal yang membantu dalam melakukan pencarian tema budaya. Langkah berikutnya adalah mengajukan pertanyaan struktural (Spradley, 1995:157), Pertanyaan struktural biasanya bersifat mengurai konten atau prosedural kegiatan secara periferal. Semisal “dalam kegiatan nitik terdapat tambul sebagai makanan pelengkap minum toak, apa saja jenis tambul itu?” Penulis mengajukan pertanyaan struktural berjenis pembuktian. Kebanyakan pertanyaan struktural yang muncul pada kertas kerja domain

30

seperti apa benar salah satu akibat orang mabuk itu gampang emosi? Atau apa benarkah bolo ngombe dapat dijadikan ajang mencari teman?. Tahapan selanjutnya adalah Membuat analisis taksonomik. Dengan mengkategorisasikan jenis-jenis pekerjaan yang banyak ikut dalam tradisi nitik. Pembuatan analisis taksonomik dengan memilih salah satu domain yang dominan. Dari domain tersebut, penulis melanjutkan dengan mencari subset-subset lain dengan kesamaan kerangka subtitusi. Penulis melihat data transkrip wawancara dan melihat kembali hasil jawaban dari pertanyaan struktural yang diajukan penulis kepada beberapa informan. Beberapa domain yang telah terkumpul untuk kemudian dicari domain yang lebih besar atau inklusif untuk mencakup kesemua domain diatas. Pemaparan dari analisis taksonomik ini lebih mudah dilihat bila dituliskan dalam sebuah kertas kerja analisis taksonomik yang penulis buat seperti yang ditunjukan dalam tabel di bawah ini;

Contoh Kertas Kerja 1.2 Kertas Kerja Analisis Taksonomik Domain Istilah tercakup

Domain yang (Diwakili dengan Lebih Besar
Penulisan Istilah Pencakup) Domain (Diwakili dengan 31 Istilah tercakup Istilah tercakup Istilah tercakup

Penulisan Istilah Pencakup) Istilah tercakup Istilah tercakup

Istilah tercakup

Domain (Diwakili dengan Penulisan Istilah Pencakup)

Istilah tercakup

Istilah tercakup Istilah tercakup Kemungkinan lain yang tidak tercakup dalam satu domain Dalam pengisian kertas kerja analisis taksonomik, kita hanya perlu mengisikan domain-domain kecil yang bisa disatukan akibat kesamaan kerangka subtitusi. Penulisan domain-domain kecil ini bisa diwakilkan pada istilah pencakup pada masing-masing domain. Kolom besar paling kiri diisi dengan domain inklusif yang ditemukan, dan sebelah kanannya disusul oleh domain yang tercakup dalam domain besar. Pada baris paling kanan diisi dengan istilah-istilah tercakup. Terkadang terdapat istilah dalam baris yang tidak diawali dengan istilah pencakup, karena istilah tersebut berdiri sendiri. Analisis ini berguna memahami berbagai macam taksonomi istilah rakyat 32

Setelah analisis taksonomik, tahapan berikutnya adalah mengajukan pertanyaan kontras. Penulis mengajukan beberapa pertanyaan kontras untuk mencari perbedaan dalam satu rangkaian kontras yang sama dimana di dalamnya terkandung domain-domain dalam kategori besar. Dalam tahapan ini penulis menyajikan media kertas kerja analisis taksonomik yang bertuliskan istilah-istilah rakyat yang tercakup dalam domain-domain dalam kategori besar. Penulis mengintruksikan informan, Sutiyono (37), agar melihat semua istilah dalam domain-domain yang tersedia. Setelah itu penulis mengajukan beberapa pertanyaan kontras dengan jenis pertanyaan perbedaan diadik. Tahapan ini bertujuan mengetahui terdapat fungsi lain yang belum terungkap selama mengadakan penelitian. Berdasarkan wawancara ini juga, penulis menanyakan beberapa perbedaan lagi dalam satu dimensi kontras. Selanjutnya membuat analisis komponen. Tahapan ini, merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya, penulis menghubungkan rangkaian kontras yang mengandung fungsi tradisi nitik dan dimensi kontras yang terdiri atas konsep-konsep masyarakat lokal mengenai tradisi nitik guna menemukan kesamaan diantara rangakaian kontras dan mempermudah menemukan pola budaya. Aplikasi dari analisis komponen ini dapat dilihat dalam kertas kerja paradigma (analisis komponen) seperti di bawah ini;

Contoh Kertas Kerja 1.3 Kerta Kerja Paradigma (Analisis Komponen)

Dimensi Kontras
33

Rangkaian Kontras

Setelah analisis komponen selesai, maka langkah selanjutnya adalah menemukan tema-tema budaya. Tahapan ini bertujuan untuk memahami sifat dasar tema-tema daam sistem budaya. Penulis menggunakan strategi identifikasi tema budaya dengan mencari kemiripan di antara berbagai dimensi kontras sebagaimana ditulis oleh Spradley (1995:266). Langkah terakhir adalah menulis etnografi. Dengan melakukan alur penelitian maju pada fokus penelitian etnografi seperti diatas, maka peneliti mengungkap sumber pengetahuan tersembunyi dari masyarakat lokal. Penulis mengungkap bagaimana ikatan sosial yang terbentuk dari pertemanan saat minum toak bersama nampak pada domain alasan nitik untuk pergaulan sosial (lihat gambar 1.1) dapat terbentuk dalam tradisi nitik dan berlanjut sampai kepada jaringan sosial yang kontinum karena fungsifungsi lain yang menyertainya. Makna dan fungsi ini nampak apabila kita memakai pendekatan yang tepat, yaitu memulai dengan menjalin rapor yang baik dengan informan seperti yang disarankan oleh Spradley (1995:86), 34

penulis terus menjalin hubungan baik dengan semua informan pada saat penelitian. Dalam Spradley (1995:47), penjalinan rapor yang baik dijalankan sesuai beberapa prinsip etika yang dikenal dengan Principle of Proffesional Responsibility yang diperkenalkan oleh the Council of the American Anthropological Association pada tahun 1971. Etika pertama adalah dengan mempertimbangkan informan terlebih dahulu, prinsip ini menganggap bahwa bila terjadi konflik kepentingan, maka tugas seorang etnografer yang mewawancarainya untuk melindungi hak-hak mereka. sejauh penelitian mengenai tradisi nitik ini berlangsung, tidak ada konflik pada tingkat keterlibatan informan.
”Dalam peneitian, tanggung jawab seorang ahli Antropologi adalah terhadap pihak-pihak yang dipelajarinya jika terjadi konflik kepentingan, individu-individu ini harus dikedepankan terlebih dahulu. Ahli Antropologi harus melakukan segala sesuatu dalam kekuasaannya untuk melindungi kesejahteraan fisik, sosial dan psikologi mereka dengan menghormati martabat serta privasi mereka.” (Principles of Professional Responsibility, 1971, par.1)

Prinsip kedua adalah mengamankan hak-hak, kepentingan dan sensitivitas informan. Menyampaikan tujuan penelitian, penulis selalu mengungkapkan pada semua informan sebelum wawancara dimulai bahwa tujuan akhir penelitian ini adalah penulisan skripsi sarjana strata 1 Universitas Airlangga, juga dalam rangka ikut serta melestarikan serta mempopulerkan tradisi masyarakat Tuban. Prinsip ketiga adalah Melindungi privasi informan, penulis selalu mengawali wawancara dengan menanyakan nama, umur dan variabel data diri lainnya, namun penulis juga tidak lupa menanyakan apakah data diri tersebut boleh ditulis dengan benar di dalam proses penulisan skripsi. 35

Sampai pada tahap akhir penulisan, semua informan bersedia disebutkan data diri aslinya karena menurut mereka peminum toak adalah “gelar” yang wajar dan bukanlah hal yang melanggar tata susila. Prinsip ketiga adalah tidak mengeksploitasi informan. Menurut Principles of Professional Responsibility par.1.d. (Spradley, 1995: , seorang etnografer dilarang mengeksploitasi informan demi kepentingan pribadi, maka balas jasa yang seimbang harus diberkan atas nama jasa yang mereka berikan. Maka dari itu, penulis memberikan uang bagi para beduak yang memintanya saat diambil gambarnya8. Prinsip terakhir adalah memberikan laporan kepada informan, penulis berjanji untuk memberikan salinan skripsi ini kepada informan pangkal, Sutiyono dan beberapa informan seperti Karmidji dan Taji. Dengan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip etika diatas, penulis berhasil mendapatkan respons positif dari para informan berupa

keramahtamahan, kejujuran dan kepercayan. Suasana pada setiap wawancara yang dilakukan penulis dengan beberapa informan sangatlah menyenangkan dengan atmosfer kekeluargaan yang begitu kental. Masyarakat Tuban yang penulis kenal selama ini memang sangatlah terbuka dan ramah terhadap siapapun yang datang pada mereka dengan niat baik dan ketulusan. Dari wawancara-wawancara yang dilakukan oleh penulis tersebut, terungkaplah beragam pengetahuan para informan mengenai fungsi-fungsi
8 Kejadian tersebut, penulis alami saat penulis mewawancarai salah seorang beduak dan mengambil gambar dengan kamera digital di saat para beduak tersebut nitik di Kelurahan Latsari. Sang informan yang berasal dari kelangan nelayan tersebut mengucapkan kalimat yang berbunyi “mas, mari difoto, ditakon-takoni yo ditinggali piro-piro ngono to. Laute sepi” yang berarti “mas, setelah difoto, ditanya-tanya, ya (saya) diberi uang. Lautnya lagi sepi (tangkapan)”. Akhirnya, penulis menyerahkan sejumlah uang untuk sang nelayan.

36

dalam nitik yang selama ini belum diketahui oleh masyarakat yang tidak pernah terjun langsung di dalamnya. Pada saat mengikuti langsung ritual tradisi nitik di beberapa tempat, penulis banyak mendalami makna tanda dan simbol yang ada dan hidup diantara interaksi para beduak. Sehingga penjalinan hubungan baik dengan informan menjadi salah satu faktor penting bagi etnografer demi keberhasilan suatu penelitian. Bahwa untuk menganalisa fenomena ini. Pendekatan kualitatif memungkinkan penulis untuk menggali data lebih dalam dari informan dengan mengadakan observasi (pengamatan) dan indepth interview (wawancara mendalam).

BAB II KABUPATEN TUBAN: SEJARAH DAN PROFIL DAERAH
II.1 Kondisi Geografis Tuban

37

Menurut Ernawan (2001:61) Sebenarnya pembentukan kawasan Tuban telah dimulai sejak zaman miosen dengan adanya sedimentasi atau pengendapan batuan gamping karst di dalam lingkungan laut. Sedimentasi batuan gamping ini kemudian terangkat ke permukaan laut oleh gaya endogen pada zaman Pliosen. Sedimentasi batu gamping yang terangkat tersebut kemudian berubah menjadi daratan antiklinal. Selanjutnya pada zaman Plestosen berlangsung kegiatan vulkanis dan gerak tektonis yang dapat menyebabkan pembentukan sesar normal dan sesar geser. Arah sesar menuju utara-selatan dan timurbarat. Pada zaman Holosen terjadi pelapukan serta erosi batuan karst dan berubah menjadi daratan aluvial, dan proses pelapukan tersebut masih terjadi hingga sekarang. Kabupaten Tuban merupakan salah satu kota tua di jalur pantai utara. Berada pada posisi koordinat 111°30-112°35 bujur timur dan 6 40-7 18 lintang selatan. Secara administratif daerah ini tergabung di dalam Provinsi Jawa Timur. Tuban berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan di sebelah timur, Kabupaten Bojonegoro di sebelah selatan, Kabupaten Rembang di sebelah barat, sedangkan di sebelah utara berbatasan langsung dengan laut Jawa. Luas wilayah Tuban adalah 1.893,94 km² (183.994,562 Ha) daratan dan luas lautan sebesar 22.608 km² dengan panjang pantai 65 km membentang dari arah timur kecamatan Palang sampai ke barat kecamatan Bancar. Berdasarkan karakteristik fisik,wilayah kabupaten Tuban termasuk pada ketinggian 0-500 meter diatas permukaan laut dan terbagi menjadi

38

empat kawasan, yaitu kawasan pantai: terletak di bagian utara dan merupakan kawasan yang potensial untuk budidaya kelautan dan pengembangan industri. Kawasan gugusan pegunungan kapur: terletak di bagian tengah yang mengandung bahan tambang galian C (sebagian adalah batu kapur) dan potensial untuk bahan semen. Daerah aliran sungai bengawan Solo: terletak di bagian tenggara yang potensial untuk pengembangan wilayah pertanian. Wilayah dengan lahan pertanian yang subur: terletak di bagian selatan dan potensial untuk pengembangan pertanian. Pola penggunaan lahan di Kabupaten Tuban termasuk kategori pola lahan kering dengan luasan sawah kurang dari 50% luas daratan yang ada. Luas lahan ini dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu lahan sawah (wetland) dengan total luas wilayah sebesar 55.476.729 km² dan lahan kering (dryland) seluas 128.517,833 km². adapaun pola tata guna lahan di kabupaten Tuban berdasarkan kondisi sekarang dapat dirinci sebagai berikut: a) Sawah : 54.860,53 Ha b) Tegal : 59.014,00 Ha c) Hutan : 47.160,88 Ha d) Pemukiman : 30.537,77 Ha e) Lain-lain : 2.421,38 Ha Ditinjau dari aspek perencanaan tataruang wilayah, Kabupaten Tuban dibagi dalamlima Sauan Wilayah Pengembangan (SWP) Kabupaten Tuban, seperti yang tercantum dalam tabel berikut ini.

Tabel 2.1 Satuan Wilayah Perencanaan (SWP) Kabupaten Tuban dan orientasi pembangunannya SWP Daerah Orientasi Pengembangan

39

I

Kecamatan Tuban, Merakurak, Jenu, Semanding,Kerek Palang dan Montong. Kecamatan Tambakboyo dan Bancar

II

III Kecamatan Jatirogo dan Kenduruan IV Kecamatan Singgahan,Parengan, Bangilan dan Senori V Kecamatan rengel, Soko, Plumpang dan Widang

Daerah Pertanian,perikananm Industri besar dan kecil, pendidikan dan pariwisata serta kehutanan. Daerah perikanan, pertanian, industri, pariwisata dan kehutanan. Daerah pertanian, perkebunan, pertambangan, peternakan, kehutanan, industri kecil dan pariwisata Daerah pertanian, pertambangan, peternakan, kehutanan, industri kecil, pariwisata dan budidaya perikanan. Daerah pertanian, tanaman pangan, perikanan, pertambangan, pendidikan, pariwisata, industri dan kehutanan.

Sumber: BPS Kabupaten Tuban 2003

II.2 Iklim dan Hidrografi Potensi sebuah wilayah secara alami ditentukan oleh faktor letak dan juga iklim wilayah tersebut, khususnya faktor iklim menjadi sangat menentukan terhadap pembagian karakter wilayah dan pengembangan potensi pertanian yang ada. Perbedaan iklim berpengaruh pada perbedaan curah hujan dan macam produk yang dapat dihasilkan suatu wilayah. Berdasarkan hasil perhitungan curah hujan di Kabupaten Tuban (dengan memperhitungkan bulan basah dan bulan kering sepanjang tahun dalam rentang waktu 1996-2001 yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, wilayah Tuban dikategorisasikan dalam beberapa iklim, yaitu: 1) Ikim sangat kering: Meliputi 12 Kecamatan, yaitu Kecamatan Widang, Palang, Semanding, Tuban, Merakurak, Jenu, Kerek, 40

Montong, Tambakboyo, Bancar, Jatirogo dan Kenduruan 2) Iklim Kering: meliputi Kecamatan Plumpang, Bangilan dan Senori. 3) Iklim agak kering: meliputi Kecamatan Soko dan Parengan 4) Iklim cukup basah: terdapat di Kecamatan Singgahan. Dari keseluruhan wilayah Tuban, 94, 73% diantaranya (kurang lebih 174.298,06 Ha) merupakan kawasan beriklim kering (dengan variasi kering sampai sangat kering). Sedangkan sisanya 5,27% merupakan kawasan yang cukup basah. Kondisi ini sekilas memberikan kita gambaran iklim dan curah hujan tidak mendukung potensi hasil pertanian Kabupaten Tuban. Ditinjau dari segi geografis tanah, secara umum ada tiga tipe tanah yang terdapat di wilayah Kabupaten Tuban, ketiga tipe tanah tersebut beserta keterangan wilayahnya yaitu, pertama, Mediteranian merah kuning: berasal dari endapan batu kapur di daerah bukit sampai gunung.area tersebut mencakup hampir 3,8% luas wilayah Tuban, antara lain wilayah perbatasan Semanding, montong, Kerek, Palang, Jenu, sebagian Tambakboyo, Widang, Plumpang dan Merakurak. Kedua, Alluvial yang berasal dari endapan di daerah cekungan, mencakup 34% luas wilayah Tuban. Daerah-daerah tipe tanah ini antara lain Tambakboyo, Bancar, Tuban, Palang, Soko, Parengan, Singgahan, Senori dan Bangilan. Ketiga, Gramusol yang berasal dari endapan daerah yang bergelombang. Mencakup 5% wilayah Tuban, jenis tanah ini terdapat di sebagian wilayah Bancar, Jatirogo dan Senori. Kondisi batuan berupa batu kapur sehingga banyak terdapat aliran sungai bawah tanah yang dapat dieksploitasi untuk keperluan industri dan

41

pertanian. Faktor yang dapat mendukung berjalannya pertanian dan perikanan di Kabupaten Tuban adalah terdapatnya 15 (lima belas) aliran sungai yang melewati Tuban dan mampu mengairi areal pertanian seluas 13.881 Ha. Dua diantara sungai-sungai tersebut meyang memiliki alira terpanjang adalah sungai Bengawan Solo dan Kali Kening masing-masing 60 km, dengan areal irigasi seluas 5.430 Ha dan 2.522 Ha, serta ditambah dengan adanya bangunan air meliputi 19 waduk, 37 bendungan, 41 saluran pembuangan dan 242 saluran sadapan air. Sehingga kebutuhan air untuk keperluan pertanian dan perikanan dapat terpenuhi dengan baik.

II.3 Sejarah Umum Kabupaten Tuban Tuban Berasal dari kata metu banyu (bahasa Jawa) yang artinya keluar air, yaitu nama yang diberikan oleh Raden Aryo Dandang Wacana (seorang Bupati) pada saat pembukaan hutan pada awal abad ke-15 M. Papringan yang secara tidak terduga keluar sumber air. Sumber air ini sangat sejuk dan meskipun terletak di tepian pantai utara pulau Jawa, mata air tersebut tidaklah terasa asin dilidah, tidak seperti kota pantai lainnya (Soeparmo, 1971). Tuban merupakan daerah perbukitan dan hutan. Bagian utara kota Tuban merupakan daerah pantai dan bagian selatan merupakan daerah daerah lembah sungai Bengawan Solo. Antara kedua tempat tersebut terdapat terdapat daerah perbukitan kapur Kendeng utara yang kurang subur. Pada daerah perbukitan ini banyak terdapat goa-goa kapur. Daerah yang subur sangat sedikit yaitu di daerah lembah Sungai Bengawan Solo dan di daerah pantai utara, dekat aliran sungai Klero. Oleh karena itu Tuban bukan 42

daerah penghasil beras, tetapi merupakan daerah penghasil non-beras seperti jagung, ketela pohon, kacang dan Siwalan. Toak yang merupakan hasil dari pohon siwalan adalah minuman tradisional masyarakat Tuban yang sudah ada semenjak zaman dahulu, sumber tertua yang bisa didapat oleh penulis adalah cerita mengenai adanya beduak-beduak Tuban yang disadarkan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga dan menjadi murid dari pesantren Sunan Bonang. Cerita ini sudah menjadi cerita turun temurun dan banyak dituliskan di buku-buku cerita seperti ditemukan di buku kisah Wali Songo (1996:17). Toak sudah ada sebelum bangsa-bangsa asing masuk di Nusantara, bahkan sebelum Belanda menginjakkan kakinya di Tuban. Pada zaman penjajahan Belanda, Tuban dan Lasem (sekarang merupakan bagian dari Kabupaten Rembang) merupakan wilayah yang memiliki hutan jati yang sangat luas (Sedyawati dkk. 1992: 47). Teluk Tuban mempunyai kedalaman yang ideal bagi perahu-perahu besar sehingga sangat aman dan baik untuk transportasi laut. Selain itu juga cukup luas sehingga dapat menampung perahu besar maupun perahu kecil dalamjumlah yang banyak (Veth 1957 dalam Sedyowati dkk. 1992). Pada abad ke-16 Tuban juga dikenal sebagai salah satu pusat industri kapal (kayu) untuk keperluan militer di Kawasan Asia Tenggara (Sedyawati dalam Sedyawati dkk. 1992). Tetapi pada saat perang Diponegoro galangan kapal tersebut terbakar, sehingga terjadi kemunduran dalam pembuatan kapal. Tuban telah dikenal sebagai pusat pemukiman pantai dan pelabuhan sejak pertengahan abad ke-11 (Schrieke 1916 dalam Sedyawati dkk 1992).

43

Hal ini dibuktikan dengan ditemukan empat prasasti di sekitar Tuban. Mengacu pada empat prasasti tersebut, Tuban merupakan kota pelabuhan dan kota pertahanan militer, yaitu pada masa kerajaan Singosari maupun masa pemerintahan Majapahit. Selain itu Tuban juga merupakan pusat perdagangan Nusantara semenjak abad ke-11. Pada abad ini Tuban telah banyak dikunjungi oleh pedagang dari Arab, Persia dan China, selain itu juga oleh orang-orang di sekitar Nusantara (Meilink-Roelofsz 1962 dan Poesponegoro 1984 dalam Sedyawati dkk 1992). Pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga (10191041), orang-orang asing yang berdagang berasal dari India utara, India Selatan, Birma, Kamboja dan kerajaan Campa (Casparis 1958 dalam Sedyawati dkk 1992). Sedangkan memasuki abad ke-16 orang-orang Eropa, terutama Portugis dan Belanda masuk ke Tuban (Tjiptoatmodjo 1983 dalam Sedyawati dkk 1992). Hal ini menunjukkan sikap yang terbuka masyarakat Tuban terhadap kelompok-kelompok masyarakat asing. Selain kota Tuban di pantai utara Jawa terdapat juga kota pantai seperti Jepara, Gresik, Jaratan dan Surabaya. Kota-kota tersebut menjadi partner atau sebaliknya pesaing kota Tuban dalam hal perdagangan. Menjelang abad ke-17 kota-kota tersebut makin berkembang. Perkembangan kota-kota pantai semakin cepat sesudah terjadinya penyebaran agama Islam (Rutz dalam Sedyawati dkk 1992). Sesudah Malaka diduduki Portugis pada awal abad ke-16, kota-kota Islam di pantai Jawa dan Sumatera semakin tumbuh. Setelah VOC masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17, maka terjadi perubahan-perubahan dalam tata ekonomi dan terjadinya liberalisasi

44

ekonomi. Hal demikian juga terjadi di Tuban (Rutz 1989 dalam Sedyawati dkk. 1992). Tuban merupakan salah satu dari empat kota besar di Jawa yang tidak mempunyai tembok kota (Mills 1970 dalam Sedyawati dkk 1992). Kondisi tersebut ditemukan pada awal abad ke-15, tapi sekitar abad ke-17 Kota Tuban sudah dikelilingi oleh tembok kota. Hal tersebut menunjukkan bahwa Tuban telah berkembang menjadi kota pemukiman, terlebih lagi menjadi pusat kekuatan ekonomi dan politik. Di lain pihak tembok kota tersebut juga merupakan indikasi bahwa kota Tuban merupakan gerbang masuknya kekuatan-kekuatan luar (Sedyawati dkk. 1992). Tuban sebagai kota yang dikelilingi tembok juga menandakan bahwa Tuban sebagai kota aristokrat, yaitu keadaan yang mirip dengan lingkungan keraton, dengan penguasa yang dikelilingi para bangsawan dan masing-masing dilayani oleh sejumlah budak. Sifat aristokrat ini mulai mendominasi semenjak abad ke-15 dari bupati ke bupati9 (Sedyawati dkk 1992).
9 Pada zaman kekuasaan Majapahit (permulaan abad ke XV), di Tuban berkuasa para Bupati, yaitu berturut-turut Aryo Pandukung, Aryo Bungah, Aryo Dandang Miring, Aryo Dandang Wacono, Aryo Ronggolawe, Aryo Sirolawe, Aryo Wenang, Aryo Leno dan Aryo Dikoro. Bupati-bupati tersebut memerintah semenjak tahun 1200 sampai datangnya Islam di Kota Tuban. Bupati yang memerintah selanjutnya berturut-turut adalah Aryo Tejo, Raden Aryo Wilotikto, Kyai Ageng Ngraseh, Kyai Ageng Gegilang, Kyai Ageng Batabang, Raden Aryo Balewot, Pangeran Sekartanjung, Pangeran Ngangsar, Pangeran Haryo Parmalat, Pangeran Haryo Salampe, Pangeran Dalem, Pangeran Pojok, Pangeran Anom Pangeran Sujokopuro, Aryo Balabar, Pangeran Sujono Putro, Pangeran Judonegoro, Raden Aryo Surodiningrat, Raden Aryo Diposono, Kyai Reksonegoro, Kyai Purwonegoro, Kyai Lieder Surodinegoro,Raden Suryoadinegoro, Pangeran Citrasoma VI, Pangeran Citrasoma VII, Pangeran Citrasoma VIII, Raden Tumenggung panji Citrasoma IX, Raden Mas Somobroto, Raden Adipati Arya Kusumodigdo, Raden Tumenggung Pringgowonoto, R.A.A. Pringgodigdo Kusumodiningrat, R.M.A.A. Kusumodibroto, RT. Sudiman Hadiatmoko, RM. Mustain, R. Sundari, R. Istomo, M. Widagdo, R. Soeparmo, R.M. Irchamni, H. Moch.Masdoeki, Soerati Moersam, Djoewahiri Martoprawiro, Sjoekoer Soetomo, H.Hindarto dan yang terakhir dan sampai sekarang masih terus memimpin masyarakat Tuban adalah Haeny Relawaty Rini Widyastuti.

45

Sisa-sisa peninggalan masa lalu saat sekarang masih dapat ditemui,misalnya watu gilang, pendopo Kabupaten, makam Sunan Bonang, makam Ronggolawe, masjid Jamik dan klentheng Kong Hu Cu yang semuanya terletak di wilayah Kuterejo dan Kajongan. Di desa Kebonsari terdapat makam Sunan bejagung dan Benteng Kumbakarna. Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel yang wafat pada tahun 1486. Ibu dan kanan Sunan Bonang adalah KI Ageng Manilo dan Nyai Ageng Manyuro, serta murid-murid Sunan Bonang juga dimakamkan di Tuban. Sedangkan Maulana Iskhak yaitu kakak Sunan Ampel yang wafat tahun 1460, dimakamkan di desa Gesik Harjo, Kecamatan Palang. Di kecamatan Semanding terdapat makam Pangeran Penghulu, Kebayan Tuhu dan Kyai Sudimoro. Sedangkan di desa Ngepon terdapat makam Kyai Ngepon yang merupakan utusan Raden Brawijaya dari Majapahit (Soeparmo, 1971). Barang-barang peninggalan yang terdapat di wilayah Tuban antara lain: keramik Chian dan Belanda (dari abad ke-18) serta batu granit (dari luar Jawa) di desa Bancar. Pecahan keramik dari abad ke-10 sampai sampai abad ke-14) di dukuh Bagong dan keramik China dari abad ke-12 ditemukan di situs sawah Gong. Sedangkan pecahan keramik China dari Dinasti Ming ditemukan di sepanjang pantai Sedayu Lawas sampai Banjarwati (Karangbeling) Jalan darat merupakan transportasi utama yang menghubungkan pusat-pusat pemukiman sejak zaman dahulu. Di Wilayah ini juga ditemukan jalan yang dahulu disebut sebagai jalan Daendels yang menghubungkan kota

46

Tuban dengan Lasem. Pada keadaan sekarang jaringan jalan sudah sangat berkembang dengan menempatkan alun-alun sebagai titik pusat kota. Pola tata ruang kota Tuban menunjukkan sebuah tatanan masyarakat yang berorientasi pada aktivitas perdagangan.

II.4 Kabupaten Tuban Saat Ini Kabupaten Tuban sekarang terbagi dalam 19 kecamatan, 311 desa, dan 17 kelurahan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki 535.655 orang dan penduduk perempuan berjumlah 548.728 jiwa atau secara keseluruhan mencapai 1.084.383 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk mencapai 589 orang untuk setiap 1 km2. Tuban menjadi kota heterogen yang diisi oleh masyarakat multietnis dengan berbagai latar belakang. Dengan bertambah majunya perkembangan kota, Tuban menjadi hunian serta tempat tinggal masyarakat luar kota yang hendak mencari penghidupan di Tuban, karena Zafrullah (2004:3), Tuban sekarang memiliki keunggulan yang multikompleks dibanding daerah lain seperti (1) tersedia pelabuhan laut; (2) memiliki kawasan industri; (3) memiliki kawasan pariwisata seperti Goa Akbar, Kelenteng10 terbesar di kawasan Asia Tenggara, Kwan Sing Bio, Masjid Agung peninggalan para Wali, wisata religi seperti makam Sunan Bonang, Syekh Siti Jenar, Ibrahim Asmaraqondi (4) memiliki potensi minyak bumi dan gas alam yang menopang Blok Cepu. Dengan ditemukannya potensi

10 Tempat ibadah Agama Kong Hu Cu

47

minyak, maka banyak investor baik penenaman modal asing (PMA), maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang berebut mendirikan pabrik pengolahan minyak di Tuban. Sampai sekarang yang sudah mendirikan pabrik pengolahan minyak adalah Trans Petrochina Petroleum Industies (TPPI) dan dalam jangka waktu dekat ini Pertamina juga akan membangun pengolahan minyak dan gas bumi di Tuban. Potensi ekonomi yang telah berkembang di Kabupaten Tuban antara lain : tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan, kayu pertukangan dan kayu bakar, industri pengolahan besar dan sedang, industri kecil dan kerajinan rumah tangga, perdagangan, hotel, dan restoran, serta hasil tambang, seperti pasir kwarsa, tanah liat, batu kapur, dan batu dolomite. Tuban juga bisa dikatakan sebagai kota Wali, selain memang tempat penyebaran Islam oleh para Wali, Tuban juga memiliki beberapa pesantren dan ulama-ulama terkenal. Mungkin yang paling populer adalah pondok pesantren Langitan, Widang yang dipimpin oleh Kyai Haji Abdullah Faqih. Pengaruh para ulama ini begitu mengakar di Tuban, sehingga Tuban juga menjadi basis yang kuat bagi partai-partai berlatar belakang Islam. Etnis yang paling dominan di Tuban adalah suku Jawa, namun ada beberapa suku bangsa lain yang menetap dan berkelompok di tempat-tempat khusus di Tuban, seperti masyarakat etnis China yang banyak bertempat tinggal di Kelurahan Karangsari dan etnis arab yang banyak berdomisili di Kelurahan Kutorejo. Tidak ada data yang pasti mengenai jumlah dari

48

masing-masing mereka, namun sampai sekarang belum pernah ada kasus perang antar etnis akibat kesenjangan antara kelompok minoritas maupun mayoritas. Menurut Kusumawati (2007:7), Kohesivitas sosial yang tampak terlihat di kota Tuban diantara keberagaman etnis merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji dan diteliti karena secara sosiohistoris, Tuban salah satu kota yang terletak di pesisir pantai utara Jawa yang pada jaman dahulu merupakan kota bandar kuno yang memainkan peranannya di bidang perdagangan sutra dan rempah-rempah. Sebagai kota pelabuhan maka kota Tuban adalah pusat interaksi masyarakat dari berbagai macam kelompok sosial, baik karena perbedaan ras, etnik, agama, bahasa maupun profesi. Kehadiran etnis Tionghoa ke kota Tuban pada berabad-abad lampau juga memiliki banyak peranan yang sangat berarti bagi kota Tuban. Di samping karena kedekatan secara historis, penguasa pada masa itu cenderung ramah terhadap pendatang asing dengan cara menguasai bahasa asing dan memberikan perlindungan keamanan terhadap pendatang yang hendak tinggal di dalamnya. Tuban bagian utara merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan pantai utara Jawa. Daerah ini banyak ditempati oleh nelayan laut turun temurun, khususnya daerah Kingking. Kehidupan nelayan laut Tuban hampir sama dengan kehidupan nelayan laut Indonesia pada umumya, kempung nelayan mereka terkesan kotor dan kumuh. Tingkat pendidikan juga tergolong rendah karena yang terpenting bagi mereka anak laki-laki ataupun perempuan dipersiapkan untuk membantu kinerja ayahnya sebagai

49

nelayan. Anak laki-laki membantu melaut ayahnya dan anak perempuan membantu ibunya untuk mengolah hasil tengkapan ayahnya. Menurut Gardjito dkk. (2004:99), untuk bisa mendapatkan hasil tangkapan yang baik, mereka harus ke tengah laut sejauh 2-3 jam perjalanan dengan perahu bermotor tempel dan mereka biasa pulang menggunakan layar memanfaatkan angin laut yang memakan waktu kurang lebih sama dengan waktu keberangkatan. Kalau mereka berangkat pagi jam 24.00 WIB maka sampai di lokasi sekitar jam 03.00 pagi, sedangkan operasi penangkapan memakan waktu sekitar 3 jam. Wilayah selatan Tuban banyak memiliki sawah dan areal pertanaman, sehingga daerah selatan memiliki banyak petani sawah maupun ladang. Sampai sekarang masih banyak ditemui sawah dan kebun milik petani yang masih natural, sehingga Tuban mampu menghadirkan kesejukan bagi mata orang-orang kota yang penuh kesibukan. Kehidupan di Tuban bagian selatan masih terkesan tradisional dan belum banyak tersentuh modernisasi, penggunaan dokar (kendaraan beroda dua yang ditarik dengan kuda) dan cikar (kendaraan beroda dua yang ditarik menggunakan tenaga dua sapi), masih banyak ditemui di Tuban selatan. Penggembalaan sapi, kambing juga menjadi pemandangan yang umum, dan hal tersebut tidak ditemukan di Tuban utara. Para wanita tua masih setia menggunakan kebaya tradisional dan laki-laki masih saja menghisap rokok klobot (rokok yang pembungkusnya terbuat dari kulit jagung), yang dibuat dengan tangan mereka sendiri.

50

II.5 Produksi Pertanian dan Perikanan II.5.1 Pertanian Bidang pertanian dan perikanan merupakan andalan Kabupaten Tuban. Meskipun hampir seluruh wilayah Kebupaten Tuban beriklim kering, tetapi dengan dukungan sumber air mampu memenuhi kebutuhan pengairan lahan, maka lahan pertanian di Tuban tergolong Produktif. Jenis tanaman yang banyak ditanam dan diusahakan di lahan pertanian Kabupaten Tuban antara lain padi dan jagung merupakan bahan makanan pokok masyarakat Tuban sehingga mendapat areal tanam yang lebih luas dibanding tanaman lain. Tahun 2003, luas lahan tanam padi sebesar 71.651 Ha dengan produksi diatas tiga juta kuintal selama tahun tersebut. Sedangkan tanaman jagung mendapat aral tanam seluas 81.817 Ha dengan produksi mencapai 2,8 juta kuintal/tahun. Tahun 2004 diketahui jagung yang ditanam untuk produksi tahun 2005 mencapai 7000 pohon. Jumlah produksi komoditas ini diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan bahan pangan pokok masyarakat Tuban. Kedua adalah ubi jalar, ubi kayu dan kacang tanah. Jenis tanaman ini juga banyak diusahakan di daerah Tuban. Meskipun tidak di semua wilayah, kacang tanah dari Tuban diketahui memiliki varietas yang khas dengan sifat mampu hidup dan bereproduksi di tanah yang beragam. Perlu diketahui bahwa tidak semua varietas kacang tanah dapat hidup pada tanah yang mengandung garam. Kabupaten Tuban merupakan pemasok bahan baku utama pasa perusahaan makanan kacang tanah dalam kemasan yang terdapat di daerah Pati. Ketiga adalah Siwalan. Masyarakat Tuban dengan tradisi

51

minum tuak dan makan daging biawak. Tuak dan biawak biasanya disajikan secara bersamaan dan masyarakat biasa mengkonsumsinya di pinggirpinggir jalan secara bersama-sama atau yang biasa disebut nitik. Tuak adalah sejenis minuman fermentasi dari cairan buah siwalan. buah ini dapat diperoleh dengan mudah di Kabupaten Tuban. Luas wilayah yang ditanami pohon siwalan seluas 1.128 Ha dan tersebar di 7 kecamatan. Tahun 2003 jumlah produksi buah siwalan di Kabupaten Tuban mencapai 5 juta kilogram lebih. Hasil sebesar ini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Tuban,sehingga budaya minum tuak tetap dapat berlangsung. Keempat adalah Mangga. Salah satu jenis buah yang banyak ditemui di Kabupaten Tuban. Pohon mangga banyak ditanam di pekarangan dan tanah penduduk di hampir semua kecamatan. Produksi buah mangga pada tiap batang pohon di Tuban tergolong banyak. Jenis mangga yang banyak ditanam adalah varietas mangga manalagi. Pada tahun 2003 jumlah pohon mangga di Kabupaten Tuban sekitar 495.246 pohon dengan produksi 72.293 kuintal per tahun. Kelima adalah Sayur. Jenis tanah di wilayah Tuban yang banyak terdiri atas kapur ditambah dengan letaknya yang dekat dengan laut menyebabkan produksi sayuran di Tuban rendah. Sayuran yang banyak ditanam antara lain cabe, terong, kangkung dan tomat.produksi setiap komoditas selama tahun 2003 tercatat berkisar antara 20.000 sampai 50.000 kuintal. Tabel 2.2 Data Komoditas, Luas Lahan dan Produksi Pertanian di Kabupaten Tuban tahun 2003 No Komoditas Luas Lahan 52 Produksi Rata-rata

Tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Padi Jagung Ubi Kayu Ubi jalar Kacang Tanah Kelapa Siwalan Sawo Mangga Duku Terong Cabe Kangkung 71.661 81.817 8.812 640 29.116 12.357 1.128 7.803 494.246 220 689 4.161 318

tahun 2003 3.807.875 2.810.607 1.108.695 70.646 351.289 134.588,70 5.184.925 2.614 72.293 67 52.584 124.830 37.050

produksi Kw/Ha 53,46 33,52 141,94 112,80 12,33 0,023/th 7.211

Sumber: BPS Kabupaten Tuban 2003

Meninjau dari prospek Kabupaten Tuban dalam beberapa waktu yang akan datang, bidang pertanian mempunyai potensi besar dalam

pembangunan daerah ini. Disamping potensi perekonomian, ketahanan dan kecukupan pangan juga termasuk potensi budaya masyarakat Tuban.

II.5.2 Perikanan Bidang perikanan merupakan salah satu tulang punggung

perokonomian masyarakat Tuban. Posisi Tuban yang membujur sepanjang pantai utara dan didukung latar belakang sejarah Tuban sebagai kota pelabuhan menjadikan perikanan sebagai sandaran mata pencaharian masyarakatnya. Meskipun demikian produksi perikanan kabupaten Tuban juga berasal dari perikanan darat yang dikelola masyarakat di beberapa wilayah Kabupaten Tuban.

II.5.2.1 Perikanan Laut 53

Didukung oleh luas lautan yang dimiliki., produksi perikanan laut Kabupaten Tuban sangat menonjol sepanjang tahun 2003, tercatat produksi perikanan laut mencapai 9.384,4 ton. Sebagian besar hasil tangkapan ikan merupakan komoditas berpotensi eksport atau mempunyai nilai ekonomis penting seperti teri, tongkol, udang, tengiri, cumi-cumi, bawal, rajungan dan layur.

II.5.2.2 Perikanan Darat Usaha perikanan yang dikelola masyarakat Tuban dapat dibedakan atas beberapa sub sektor perikanan, yaitu perairan umum sungai, rawa, waduk, tambak kolam dan sawah. Jenis-jenis perikanan ini tidak dikelola di semua wilayah kabupaten Tuban. Faktor jenis lahan dan ketersediaan sumber air merupakan faktor utama saat ini. Dalam hal jumlah produksi perikanan darat masih jauh lebih sedikit dibandingkan perikanan laut, hal ini dikarenakan umumnya tinngkat pengusahaan perikanan darat sebagai usaha sampingan dengan jenis ikan ekonomi rendah dengan tujuan untuk konsumsi peningkatan gizi masyarakat di daerah yang kurang sejahtera dan padat penduduknya. Total produksi prikanan Kabupaten Tuban sepanjang tahun 2003 adalah sebesar 5.642 ton yang berasal dari perairan umum seperti sungai, rawa dan waduk sebesar 1.890,8 ton, tambak sebesar 716,8 ton, kolam 104, 81 ton, sawah sebesar 2.930,06 ton. Produksi perikanan darat yang berasal dari kolam dan sawah sebagian besar berasal dari Kecamatan Widang, Plumpang dan Rengel yang

54

terletak di dekat Sungai Bengawan Solo sedangkan produksi perikanan darat dari tambak air payau berasal dari kecamatan Palang, Jenu dan Tambakboyo yang terletak di pinggir pantai laut Jawa. Kebanyakan pemilik tambak adalah orang-orang kaya di daerahnya, sehingga yang bisa menikmati hasil tambak hanya segelintir orang yang memiliki tambak, sedangkan sisanya hanyalah pekerja tambak yang jumlahnya justru lebih besar dari jumlah pemilik tambak. Seperti data yang penulis temukan di kawasan Plumpang yang menyebutkan bahwa satu pemilik tambak rata-rata mempunyai 5 sampai 6 orang petani tambak. ”nek aku karo wong liyane sing duwe tambak rotoroto nduwe anak buah limo nganti enem ngono mas” atau ”kalau saya dan pemilik tambak yang lain rata-rata mempunyai pekerja tambak sebanyak lima sampai enam orang”. Jenis ikan tangkapan dari perairan umum antara lain ikan tawes, gabus, mujair, lele sedangkan jenis ikan yang dihasilkan oleh perikanan darat yang berasal dari hasil budidaya ditunjukkan pada tabel berikut ini. Tabel 2.3 Produksi Budidaya Tambak / Air Payau berdasarkan jenius Komoditi di Kabupaten Tuban. No Jenis Ikan Volume (kg) 1 Bandeng 164.692 2 Udang Windu 450.187 3 Udang lain 11.812 4 Mujair 64.432 5 Ikan lain 25.667 Jumlah 716.790
Sumber: BPS kab. Tuban, 2003

Tabel 2.4 Produksi Budidaya Sawah Berdasarkan Jenis Komoditi di Kabupaten Tuban Tahun 2003 No Jenis Ikan 55 Volume (kg)

1 Bandeng 2 Tawes 3 Tombro 4 Mujair 5 Nila 6 Ikan lain Jumlah
Sumber: BPS kab. Tuban, 2003

1.020.194 847.006 580.406 304.112 27.852 180.490 2.930.490

Kebijakan dan arah pembangunan Kabupaten Tuban diharapkan dapat mendukung potensi Kebupaten Tuban, baik pertanian dan perikanan. Pengaturan tataguna lahan secara tepat dapat menjamin kelangsungan produksi pertanian dan perikanan darat yang telah ada. Pembangunan pelabuhan ikan dan pariwisata juga diharapkan dapat memacu pertumbuhan perekonomian dan pencapaian peningkatan produksi perikanan serta pertumbuhan daerah.

II.6 Pembuatan Toak Memasuki kota Tuban dari arah timur, atau lewat kota Babat, pengunjung akan disuguhi pemadangan khas, yaitu banyaknya penjual minuman tradisional Tuak yang banyak di jajakan di sepanjang jalan (di daerah lain, seperti Sulawesi dan Indonesia timur lainnya termasuk di Papua, biasa disebut dengan Saguer). Selain tuak yang bisa membuat peminumnya mabuk karena berkadar alkohol tinggi, juga terdapat Legen yang berasa manis segara tanpa harus takut mabuk saat meminumnya. Minuman tradisional ini dihasilkan dari pohon Siwalan yang banyak tumbuh di wilayah Tuban, selain dibuat minuman, buah Siwalan juga dijual buah mudanya yang memiliki rasa khas layaknya kelapa muda, buah ini 56

bahkan banyak dijajakan sampai kota Jakarta. Memasuki Kota Tuban, gerombolan penggemar mainuman tradisonal ini banyak ditemui, mereka banyak bergerombol di tempat kerumunan orang, seperti di pangkalan ojek, becak, terminal, dll. Ciri khas lain dari minuman ini adalah cara minumnya yang menggunakan gelas dari batang bambu, dengan tutup dari bahan triplek atau papan kayu. Dahulu, penjualnya juga menggunakan wadah dari batang bambu yang dipikulnya (Ongkek), tapi kini mereka sudah banyak menggunakan jerigen plastik. Tambul adalah camilan pendamping disaat minum tuak, Tambul bisa berupa daging puyuh goreng, kacang goreng, dan beberapa makanan kecil lainnya.

II.6.1 Siwalan Siwalan (Borassus Sundaicus) atau Bogor dalam bahasa JawaTuban, juga dikenal dengan nama lontar atau tal adalah sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di banyak daerah, pohon ini juga dikenal dengan nama-nama yang mirip seperti lonta (Min), ental ( Sunda., Jawa., Bali.), taal (Md.), dun tal (Sas), jun tal (Sumbawa), tala (Sulsel), lontara (Toraja), lontoir (Ambon). Juga manggita, manggitu (Sumba) dan tua (Timor).

57

Gambar 2.1 Jajaran Pohon Siwalan (tengah, berjajar empat)

Pohon palma yang kokoh kuat, berbatang tunggal dengan tinggi 1530 m dan diameter batang sekitar 60 cm. Sendiri atau kebanyakan berkelompok, berdekat-dekatan. daun-daun besar, terkumpul di ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Helaian daun serupa kipas bundar, berdiameter hingga 1,5 m, bercangap sampai berbagi menjari; dengan taju anak daun selebar 5-7 cm, sisi bawahnya keputihan oleh karena lapisan lilin. Tangkai daun mencapai panjang 1 m, dengan pelepah yang lebar dan hitam di bagian atasnya; sisi tangkai dengan deretan duri yang berujung dua. Pohon ini terutama tumbuh di daerah-daerah kering. Di Indonesia, siwalan terutama tumbuh di bagian timur pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Siwalan dapat hidup hingga umur 100 tahun atau lebih, dan mulai berbuah pada usia sekitar 20 tahun. Karangan bunga dalam tongkol, 20-30 cm dengan tangkai sekitar 50 cm. Buah-buah bergerombol dalam tandan, hingga sekitar 20 butir, bulat peluru berdiameter 7 - 20 cm, hitam kecoklatan kulitnya dan kuning daging buahnya bila tua. Berbiji tiga butir dengan tempurung yang tebal dan keras. Daunnya digunakan sebagai bahan kerajinan dan media penulisan naskah lontar. Barang-barang kerajinan yang dibuat dari daun lontar antara lain 58

adalah kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk pakaian dan sasando, alat musik tradisional di Timor. Sejenis serat yang baik juga dapat dihasilkan dengan mengolah tangkai dan pelepah daun. Serat ini pada masa silam cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat. Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan. Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) disadap orang nira lontar. Nira ini dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman beralkohol buatan rakyat. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter antara 8 sampai 15 cm berkulit hitam dengan ujung dan pangkalnya berwarna hijau. Buah siwalan juga bisa dikonsumsi, terutama yang muda. Biji yang masih muda itu masih lunak, demikian pula batoknya, bening lunak dan berair (sebenarnya adalah endosperma cair) di tengahnya. Rasanya mirip buah enau, namun lebih enak. Biji yang lunak ini kerap diperdagangkan di tepi jalan sebagai “buah siwalan”(nungu, bahasa Tamil). Daging buah yang tua, yang kekuningan dan berserat, dapat dimakan segar ataupun dimasak terlebih dahulu. Cairan kekuningan darinya diambil pula untuk dijadikan campuran penganan. Tabel 2.5 Taksonomi Ilmiah Siwalan

59

Siwalan (Borassus Sundaisus) Kerajaan: Plantae Divisio: Angiospermae Kelas: Monocotyledoneae Ordo: Arecales Famili: Arecaceae (sin. Palmae) Genus: Borassus Spesies: B. Sundaicus

II.6.2 Cara Pembuatan Toak Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan toak antara lain Babakan (kulit dari pohon juwet yang dikelupas lalu dikeringkan

sampai kandungan airnya habis). bahan lain yang tidak kalah penting adalah Wolo (bunga dari pohon Siwalan yang masih melekat di pohonnya dalam keadaan segar/tidak kering. Sedangkan alat-Alat yang dibutuhkan, pertama adalah Bethek (potongan batang bambu yang panjangnya 60 cm yang berguna mewadahi tetesan nira siwalan). Kedua, Gathik (dua belah bambu yang tebal sepanjang 60 cm yang disatukan kedua pengkalnya menggunakan tali pengikat dan menjadi sebuah penjepit). Ketiga, Glathi/ Pisau. Alat yang terakhir adalah daun 60

lontar sebagai alat penyaring.

Gambar 2.2 Tasiran, seorang penjual toak sedang sedang memasukkan toak segar yang baru saja diambil dari pohon siwalan dan siap untuk dijual

II.6.2.1 Proses Pembuatan Toak Pagi jam 07.00 WIB, penghasil toak memanjat pohon Siwalan membawa serta bethek dan babakan. Diatas pohon, penghasil toak menemukan wolo, yaitu bunga pohon siwalan yang biasanya mempunyai jari-jari panjang berjumlah enam. Wolo tersebut kemudian dijepit dengan gathik berkali-kali agar keluar banyak nira dari dalam wolo. Proses penjepitan ini sama fungsinya dengan memeras, karena penjepitan bertujuan mendorong nira berkumpul di ujung jari-jari wolo. Setelah dijepit berkali-kali, jari-jari wolo yang kebanyakan berjumlah enam, dipotong atau di-deres semua pada ujungnya. Kemudian jari-jari wolo dibagi menjadi dua dan dimasukkan ke dalam dua bethek yang sudah dibawa oleh penghasil toak. Masing61

masing bethek sudah dimasuki babakan yang berguna untuk merubah nira menjadi toak dan memberikan rasa khas. Satu bethek mewadahi tiga jari-jari wolo yang sudah diiris ujungnya dan mengeluarkan nira setetes demi setetes. Tahap terakhir adalah menutup bethek dengan daun lontar agar tidak dimasuki serangga atau air hujan. Setelah selesai semua proses diatas pohon, penghasil toak turun dan membiarkan bethek diatas selama 10 jam. Sekitar pukul 17.00 WIB, sang penghasil toak naik kembali keatas pohon dan mengambil bethek yang sudah penu terisi dengan toak yang langsung siap dipasarkan. Pada musim Patiwolo (musim dimana wolo sudah habis diiris) bersamaan dengan musim penghujan, toak mulai langka dan bisa dijual dengan harga dua kali lipat. Selain toak, pohon siwalan juga bisa menghasilkan legen. Masyarakat Tuban sering menyebutnya dengan toak muda. Pembuatan legen hampir tak jauh beda dengan cara pembuatan toak.

Perbedaannya, apabila toak di dalam bethek dimasukkan babakan, maka legen tidak dimasukkan babakan Idalam bethek-nya. Jika toak dibiarkan sehari semalam, tidak akan berubah rasa (tetap), karena rasa toak adalah pahit. Sedangkan legen jika dibiarkan selama sehari semalam, maka akan mengalami perubahan (berubah rasa), karena mula - mula rasa legen adalah manis, tapi jika dibiarkan terlalu lama, maka rasa legen akan menjadi pahit karena hasil fermentasi.

62

BAB III TRADISI NITIK, TOAK, BEDUAK DAN BOLO NGOMBE
III.1 Toak dan Nitik Tradisi minum toak bersama atau nitik yang merupakan warisan budaya kuno, masih terlihat di beberapa tempat di Kabupaten Tuban. Menurut Gardjito dkk. (2004:95), Tradisi minum toak bersama di pinggir jalan ini mungkin saja cikal bakal kedai minum saat sekarang. Berkumpul sambil membicarakan isu yang sedang hangat nampak kental diwariskan pada tradisi ini. Pelanggan yang sebagian besar adalah kaum pria berbaur untuk ngerumpi mengitari penjual toak beserta tambulnya (makanan 63

penyerta). Seorang pembeli tidak hanya datang untuk minum toak atau makan tambul saja, namun ngerumpi-nya menjadi suguhan yang tidak kalah penting, meski hanya duduk beralaskan tanah. Seorang penjual toak hanya berbekal empat bonjor, yaitu wadah toak yang terbuat dari potongan bambu sepanjang hampir 1 meter penuh berisi toak. Keempat bonjor tersebut diikat pada sebatang kayu untuk dipikul, dua di depan dan yang lainnya di belakang. Bonjor yang dipikul ini kemudian disebut dengan ongkek. Namun karena zaman sudah bertambah maju, penggunaan ongkek sudah semakin berkurang karena banyak penjual yang menggunakan jerigen sebagai penggantinya. Padahal wadah bambu memberikan rasa yang khas pada toak di dalamnya. Sang penjual berangkat dari rumah membawa beberapa liter toak dan mengambil spot tertentu di pinggir jalan atau di bawah pohon rindang. Sebuah bungkusan kain kemudan dibuka dan digelar langsung di tanah. Centhak yang berupa potongan ruas bambu sepanjang 10-20 cm sebagai alat minum layaknya cangkir atau gelas diletakkan di tanah. Di daerah Semanding, nitik biasanya sudah ada pada pukul 06.30 WIB dan sore harinya pada pukul 16.00 WIB, sedangkan di Kecamatan Tuban nitik biasanya ditemukan sekitar pukul 17.00 WIB atau bahkan malam hari pukul 19.00 WIB (lihat lampiran gambar 30). Hal ini, menurut Tasiran, karena hampir semua penjual toak yang ada di Kecamatan Tuban berasal dari desa-desa yang ada di Semanding yang cukup jauh dari Kecamatan Tuban. Dia mencontohkan temannya Wari yang biasa berjualan

64

di Kelurahan Kebonsari pukul 19.00 WIB, berasal dari Desa Kowang, Kecamatan Semanding seperti dirinya. Penjual umumnya hanya membawa 6-8 buah centhak yang kalau perlu dipakai secara bergantian dianatara para pembeli. Bungkusan lain dibuka dan terlihatlah beberapa bungkusan kecil dari daun pisang ikut dijajakan bersama dengan toak, inilah yang disebut tambul atau makanan penyerta. Tambul bisa berupa makanan olahan diantaranya daging biawak11, katak, belut dan siput (bekicot), namun juga sering juga berupa kacangkacangan yang disangrai.

III.1.1 Menikmati Toak Unggulan Menurut Sutiyono (37), Bagi beduak jenis ini, toak yang dijajakan di pinggir jalan dianggap kurang berkualitas karena ada bau tidak sedap, rasa kecut yang berlebihan serta tempat minum yang kurang memadai. Deskripsi toak bagus menurut mereka harus mempunyai rasa yang ”bersih”, artinya tidak ada bau lain selain khas toak siwalan, tidak kecut dan berasa sedikit manis. Rasa sedikit pahit juga diperbolehkan dan tentu saja alkoholnya juga terasa. Menurut Gardjito dkk. (2004:94), kadar alkohol dalam toak diperkirakan 2 - 4%, dan tergolong tinggi untuk golongan minuman fermentasi alami. Kualitas toak seperti ini tidak bisa dijumpai di sembarang

11 Biawak, oleh masyarakat Tuban biasa disebut Nyambik

65

tempat. Penulis, dengan diantar Sutiyono (37), masuk ke dalam Desa Ngino (lihat lampiran gambar 39), Kecamatan Semanding, yang hanya

menampakkan rumpun bambu dan siwalan di atas hamparan tanah yang luas. Di beberapa tempat agak berjauhan, terlihat beberapa gubuk serupa yang berpagar cukup rapi. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, seseorang yang baru turun dari pohon siwalan dengan membawa tiga bethek (wadah tempat menampung tetesan nira pohon siwalan yang terbuat dari potongan ruas bambu sepanjang 50 – 60 cm), penuh berisi toak segar menyapa penulis ”monggo mas, mlebet” atau ”mari mas, masuk (rumah)” ujarnya dengan ramah. Setelah berkenalan, penulis mengetahui dia bernama Karmidji (52). Disitu terlihat dua jerigen berisi 20 liter berwarna biru yang hampir penuh terisi dengan toak. Saat itu, penulis melihat ada 8 pohon siwalan yang sudah di-deres (cara mengambil nira dengan cara memotong ujung jari-jari bunga pohon siwalan) dan 3 lainnya masih kecil yang umurnya berkisar 3 tahun, menurut keterangan dari Karmidji (52). Dari 8 pohon siwalan ini, setiap hari dapat dihasilkan 60-80 liter toak pada musim kemarau. Pada saat musim penghujan, nira yang dihasilkan sangatlah sedikit. Sedangkan menurut Sutiyono (37), toak milik Karmidji menjadi favorit di kalangan beduak baik di Kecamatan Semanding maupun diluar kecamatan.
“Toaknya lik Kar ini sudah kaloka (terkenal) dimana-mana mas, dicarii sama orang-orang dari luar Semanding segala kok. Katanya orang-orang itu, toaknya lik Kar jos gandos (enak sekali) dan istimewa sekali.”

Setelah penulis bertanya pada Sutiyono (37), ternyata memang ada bedanya antara toak buatan Karmidji dengan toak lain, yaitu terasa tidak

66

kecut, tidak terlalu pahit, sedikit masid dan alkoholnya terasa. Tidak ada rahasia yang disembunyikan dari toak yang dihasilkan, yang jelas sejauh pengamatan penulis, toak tersebut segar dari pohon langsung tanpa ada pengenceran. Kalau penulis amati, mungkin rahasia perbedaannya dengan toak lain adalah sang istri penjual yang dengan rajin mencuci bethek yang digunakan untuk menampung tetesan nira dari pohon siwalan. Pencucian hanya menggunakan sabut dan air bersih, namun setelah dicuci, bethek harus segera dibilas dengan air mendidih. Sang istri mengatakan pada penulis bahwa air panas membuat bethek cepat kering. Penjual toak seperti Karmidji ini memproduksi sendiri toaknnya, berbeda dengan pedagang toak yang menjual toak dengan cara membelinya terlebih dahulu dari pembuat toak. Pedagang toak yang memproduksi sendiri toaknya tidak pernah menghitung secara detail mengenai berapa rupiah harga jual toak per centhak-nya bila dikonversikan dari total biaya produksi toak secara keseluruhan. Pedagang toak tradisional yang memproduksi sendiri toaknya hanya menghitung tenaga yang dia keluarkan untuk memproduksi toak dan itupun dihitung tidak dihitung dalam jumlah yang besar karena tenaga bisa dipakai secara gratis. Pada saat penulis bertanya apakah tidak ada takaran khusus biaya produksi yang dipatok untuk menghitung berapa untung yang harus didapatkan natinya, Karmidji (52), sang pedagang tidak tahu harus menjawab apa, seperti penuturannya berikut ini;
”Nek kulo nggih mboten nate ngitung kringet kulo mas...lha yoknopo carane ngitung kringet lha wong niku barang gratis sing medhal saking awak kulo. Nek wonteno itungane nggih paling kulo itung limang repes

67

mawon ha ha” ”Kalau saya tidak pernah menghitung keringat (tenaga) saya mas...bagaimana caranya mengihtung keringat, khan itu barang gratis yang keluar dari badan saya. Kalaupun ada cara menghitungnya, paling saya Cuma hitung lima rupiah saja ha ha”

III.1.2 Alur Tradisi Nitik Seperti biasa pukul 16.00 WIB, setiap harinya seusai memanen toaknya dari pohon siwalan, Karmidji (52), menggunakan sepeda kayuh kunonya dengan muatan 2 jerigen biru besar isi masing-masing 20 liter dan beberapa centhak yang terikat di kemudi sepeda tersebut. Ditambah lagi dengan tas anyaman berwarna kuning yang berisi beberapa bungkus makanan siap saji berupa nasi jagung (lihat lampiran gambar 27) dan lauk pauk. Karmidji (52), penjual toak yang sudah malang melintang dalam tradisi nitik. Mulai dari masa mudanya yang hanya menjadi penikmat toak sampai kini ia menjadi penjual toak yang cukup terkenal di Kecamatan Semanding. Setelah mengayuh sepeda sejauh dua kilometer, dia berhenti di sebuah pohon rindang di pinggiran sawah Desa Ngino dengan gubug kecil di bawahnya. Karmidji menatap sekitarnya dari atas ke bawah, kiri ke kanan. Setelah selesai menatap area sekelilingnya, dia menurunkan dua curigen besar toak dan muatan-muatan lainnya ke tanah. Ditatanya dua jerigen toak, centhak dan tambul menjadi satu saling berdekatan. Kemudian dia mengambil sapu lidi dari balik batu besar yang ada tidak jauh dari tempatnya berdiri, tidak tahu dari mana dia bisa tahu terdapat sapu lidi di balik batu tersebut. Namun setelah penulis bertanya, ternyata sapu lidi itu ternyata

68

milikya sendiru yang ia simpan di balik batu besar. Dengan sapu lidi tersebut, dia menyapu permukaan tanah yang dipenuhi oleh guguran daun pohon asam Jawa yang menurutnya mengganggu pandangan dan kenyamanan. Kurang lebih sekitar lima menit dia menyapu datanglah seseorang laki-laki setengah baya menghampirinya dan berkata ”lek, toake” atau ”lek, minta toaknya” sembari duduk di dekat tempat dua curigen toak diletakkan, sejurus kemudian Karmidji tersenyum dan berjalan ke arah dua curigen toak sembari berkata ”heh, mari ko ndi ae Di, kok wis suwe ra ngetok blas” atau ”eh, dari mana saja Di, kok sudah lama tidak kelihatan”.

Gambar 3.1 Nitik di tempat Karmidji. Nampak beberapa beduak mengelilingi sang penjual Karmidji (duduk jongkok, kedua dari kiri)

Karmidji lalu menuangkan toak yang ada di dalam curigennya ke

69

dalam centhak dan memberikannya kepada pria yang baru datang tadi. ”aku mari dayoh nang Rembang telung ndino pisan nulung bateh mantu anake” atau ”saya baru pergi memenuhi undangan di Rembang tiga hari skaligus membantu saudara sepupu menikahkan anaknya”. Setelah itu munculah serentetan bahan pembicaraan lain yang semakin lama bertambah seru. Tidak lama dari datangnya pria pertama tadi, mulai berdatangan priapria lain dengan kebanyakan menggunakan sepeda kayuh. Pria-pria ini langsung memesan toak dan menikmati tambul yang disediakan oleh sang penjual. Tanpa rasa curiga, sang penjual membiarkan orang-orang tersebut mengambil tambul langsung dari tas anyamannya.

Gambar 3.2 Bungkusan Nasi Jagung yang hanya tersisa empat bungkus di dalam tas anyaman milik Karmidji

Setelah lama penulis perhatikan, tambul-tambul yang disajikan terbagi menjadi dua macam makanan yaitu makanan kecil seperti kacang-

70

kacangan dan yang kedua adalah makanan berat seperti nasi jagung beserta daun pisang dengan lauk yang dibungkus terpisah. Lauknyapun bukanlah lauk sembarangan yang mudah kita temukan di warung, depot atau restoran dimana banyak menyediakan ayam atau daging sapi. Sang penjual menyediakan lauk seperti katak, bekicot (siput sawah), anjing atau nyambik. Dengan lahap pria-pria tersebut menyantap tambul dengan meminum toak yang sudah tersedia di depan mereka. Pria-pria yang disebut beduak tersebut bercanda ria, bicara dan berkomunikasi satu sama lain membuat suasana yang tadinya sepi menjadi ramai tidak mau kalah dengan para pembelinya, sang penjualpun menlemparkan guyonan-guyonan segar yang membuat suasana menjadi semakin ramai. Saat penelitian, penulis malah sempat diajak bercanda oleh si penjual toak, ”mas, bocah lanang kuwi ojo wedi-wedi ngombe toak. Engkok ndak dadi banci koyok sing nang ngebom iku lho, sing ngomong hayoo kene tak kempite (sambil menirukan gaya waria)” atau ”mas, anak laki-laki jangan takut untu minum toak. Kalau takut nanti akan jadi banci seperti yang ada di pantai Bom (pantai yang biasa dibuat pekerja seks komersial waria mangkal mencari pelanggan), yang biasanya ngomong ayoo sini kujepit”. Guyonan tersebut disambut tawa kompak dari seluruh beduak yang sedang menikmati tambul sore itu, dan penulis hanya bisa tersenyumsenyum simpul mendengar guyonan dari sang penjual toak. Perbincangan diantara mereka berkisar antara kehidupan sehari-hari, namun terkadang juga mereka menyentuh perbincangan problematika yang sedang hangat dibicarakan di kalangan masyarakat seperti saat penulis ikut duduk bersama

71

mereka waktu nitik pada 18 Januari 2008, para beduak tersebut membicarakan kondisi mantan presiden Republik Indonesia yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Salah satu dari mulai berbicara mengenai kondisi Soeharto yang semakin gawat, ”yo ngono kae nek wong ra tau puas karo duit, matine angel digandoli karo setan terus” atau ”ya begitu itu kalau orang tidak pernah puas dengan uang, meninggalnyapun sulit dipegangi oleh setan terus.” Komentar itupun langsung ditimpali oleh teman lainnya, ”asline ngono sing doyan dhuwit iku dudu pak Hartone, tapi anak-anake iku sing serakahe amit-amit” atau ”sejatinya bukan pak Harto yang suka pada uang, tapi anak-anaknya pak Harto yang serakahnya keterlaluan”. Sejurus kemudian pernyataan tersebut ditimpali legi oleh teman beduak yang lain, ”yo mugo-mugo, ndang diparingi waras terus ndang disidang ben ngerti kabeh salahe opo, terus matine yo enak” atau ”semoga saja cepat diberi kesembuhan lalu bisa menjalani sidang, biar semua tahu salahnya apa, lalu matinya jadi enak.” Pembicaraan tersebut semakin menghangat dari menit ke menit dan berlanjut dengan topik-topik lain yang tidak kalah seru dan mendapatkan antusiasme seru dari semua kalangan beduak di tempat nitik sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 dan matahari sudah perlahan tenggelam di ufuk barat menimbulkan sinar kemerahan di langit Tuban. Beduak yang tersisa tiggal dua orang dan merekapun sudah bergegas pulang, karena saat surup (matahari tenggelam) diyakini oleh mereka sebagai tempat malapetaka dan setan bergentayangan mencari mangsa.

72

III.2 Fakor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Beduak dalam Nitik Tidak sulit mendapatkan toak di kabupaten Tuban, begitu pula tidaklah sulit menjumpai tradisi nitik disana. Kumpulan orang-orang dalam nitik, ingin meluangkan waktunya untuk minum toak bersama ada setiap pagi dan sore setiap harinya. Nitik adalah jenis kumpulan bersama yang tidak terorganisir secara struktural berdasar pada prinsip jual beli, para anggotanya biasanya berkumpul dan terikat karena rasa toak yang disajikan oleh penjualnya. Berdasarkan wawancara penulis (P) dengan Sutiyono (S), terdapat beberapa hal yang mempengaruhi banyak atau sedikitnya jumlah beduak dalam nitik. Berikut cuplikan wawancara penulis dengan Sutiyono;

P: Mas, sebenarnya apa saja yang mempengaruhi banyak atau tidaknya jumlah beduak dalam nitik? S: Ya, ada beberapa hal memang. Pertama mungkin rasa toaknya, kedua tambulnya enak, ketiga pelayanan dari penjual yang memuaskan, mencakup bakule bares (penjual ramah) atau mempunyai anak yang cantik ha..ha, keempat tempatnya nyaman dan mudah dijangkau, kelima mudah atau tidaknya dihutang terlebih dahulu pembayarannya.

Rasa toak yang disajikan berpengaruh pada banyaknya jumlah anggota nitik pada setiap lokasi. Semakin enak rasa toak yang diproduksi oleh penjual, maka semakin banyak orang yang datang untuk minum toak bersama. Rasa toak dipengaruhi juga oleh beberapa hal termasuk keadaan geografis tanah tempat pohon siwalan tumbuh lalu teknik pengolahan dari sang pembuat toak. Menurut Sutiyono, semakin kering atau kurangnya

73

kandungan air dalam tanah, maka semakin enak rasa getah siwalan yang akan dibuat menjadi toak nantinya. Faktor kedua adalah jenis tambul atau makanan pendamping yang disajikan oleh penjual. Makanan pendamping biasanya berupa nasi bungkus, makanan ringan atau bahkan sang penjual membawa nasi sebakul lengkap dengan lauk dan peralatan makan seperti sendok, garpu dan piring. Khusus untuk tambul ini, penulis banyak melihat di kumpulan-kumpulan nitik terdapat beberapa menu yang menurut sebagian masyarakat dianggap sebagai makanan yang tidak layak atau haram untuk dikonsumsi seperti sate daging anjing, siput (bekicot), ular, menthok, namun banyak juga yang menggunakan menu lain yang seperti umumnya dimakan oleh masyarakat seperti belut dan katak. Kebanyakan dari lauk tersebut diolah menggunakan santan dan diperas kuahnya sehingga menghasilkan citarasa bumbu yang sangat pekat dilidah. Ditambah lagi dengan selera masyarakat Tuban yang menyukai masakan pedas dan asin, sehingga jarang ditemui tambul yang tidak terasa pedas dan tidak asin. Tambul biasa dijual dengan harga yang bervariasi berdasar pada jenis lauknya, bila lauknya hanya siput, katak, belut rata-rata dijual dengan harga Rp. 3000,- per bungkus, sedangkan yang berisi makanan ringan seperti kacang atau keripik dijual dengan harga Rp.500 per bungkus. Nasi yang dijadikan tambul kebanyakan adalah nasi jagung yang dibungkus oleh daun pisang, namun ada juga beberapa pedagang toak yang masih menggunakan nasi beras biasa yang dibungkus daun jati atau pisang.

74

Dari

pengamatan

penulis

mengenai

jenis-jenis

menu

yang

ditawarkan oleh penjual toak banyak yang mendekati makanan yang diharamkan atau dolarang oleh sebagian masyarakat, penulis berpikir apakah hal tersebut disengaja dimakan sebagai simbol perlawanan bagi aturan yang melarangnya atau hanya karena karena menu-menu tersebutlah yang bisa dijangkau oleh para beduak yang berkumpul, atau mungkin terdapat suatu alasan khusus mengapa mereka memilih menu-menu tersebut.

Gambar 3.3 Nampak Sugeng (51), Seorang Beduak di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban Memegang Tambul untuk Dimakan

Saat penulis mewawancarai beberapa informan, beberapa dari 75

mereka menyebutkan satu garis besar yang sama mengenai pemilihan menumenu tersebut. Ada satu hal yang sangat substansial bagi mereka disamping alasan-alasan yang penulis tanyakan pada paragraf diatas. Hal substansial tersebut ternyata berhubungan dengan kebugaran tubuh para beduak. Mereka berpendapat bahwa belut, ular, bekicot adalah sumber makanan yang penuh dengan gizi (walaupun mereka tidak menyebutkan kandungan gizi apa yang ada di dalam makanan tersebut) dan mampu mengangkat semangat mereka setelah mengkonsumsinya. Efek tersebut akan bertambah optimal saat makanan tersebut diminum bersama dengan toak, seperti keterangan dari informan penulis yang bernama, Kardji (53);

”Lek masalah milih kodok kalian bekecot niku nggih mboten perkoro nantang agami mas...nanging nek mboten mangan welut lan bekecot krosone mboten eco. Toak niku lagi kroso grenyenge nek dipangan kalian tambul, lha tambule niku nggih bekecot nopo welut utawi kodok. Niku wau gizine dhuwur mas, awak langsung enak terus keroso anget ting awak”. ”Kalau masalah memilih katak dan siput bukan karena mau menentang agama mas...tetapi kalau tidak makan belut dan siput terasa tidak enak (badan). Toak itu baru terasa efeknya kalau dimakan bersama tambul, lalu tambulnya itu ya siput atau belut atau katak. Makanan itu gizinya tinggi mas, badan langsung terasa enak terus tarasa hangat”.

Pemilihan menu makanan untuk tambul ini patut kita anggap sebagai bagian dari local wisdom masyarakat. Karena bila ditilik kembali ekosistem pertanian di Tuban, katak dan siput merupakan pengganggu pertanian terutama kacang. Siput memakan dedaunan dari tumbuhan kacang dan katak selalu menginjak-nginjak tumbuhan tersebut, dan yang lebih menyakitkan lagi bagi para petani kacang adalah pupulasi kedua hewan tersebut bertambah banyak dari hari ke hari. Karena kedua hewan tersebut mengganggu kegiatan pertanian dan ”kebetulan” jumlah populasinya 76

banyak, maka para beduak memanfaatkannya sebagai bahan makanan pendamping toak seperti yang diutarakan Margono (46), salah seorang beduak yang nitik di tempat Karmidji:
”Kodok kalian bekecot niku ngganggu ok mas, nanging daginge nggih eco nek dipangan. Terus jumlahe nggih kathah ting sabin lan tegalan niku, dadi nggih mboten nopo-nopo sekalian mbantu ngresiki sabin” ”Katak dan siput itu mengganggu mas, tetapi dagingnya enak kalau dimakan. Terus jumlahnya banyak di sawah dan tegal itu, jadi ya tidak apa-apa sekalian dengan membantu membersihkan sawah”

Faktor ketiga yang membuat kegiatan nitik menjadi ramai adalah keramahan sang penjual di tengah-tengah para beduak. Selain menyediakan toak dengan citarasa yang nikmat, tugasnya juga mengajak para beduak untuk bersenda gurau, melontarkan joke-joke segar dan tema yang sedang fresh saat ini. Penjual harus pandai memancing tema obrolan yang nantinya aka direspons oleh para beduak. Tema obrolan bisa berbagai macam hal dari kegiatan sehari-hari sampai pada tema nasional, semisal terakhir saat penulis melakukan observasi lapangan, mereka (sang penjual dan para beduak) sedang membicarakan masalah pencalonan wakil presiden Jusuf Kalla sebagai calon presiden dalam pemilihan umum 2009 nanti. Berikut adalah petikan pertanyaan pancingan dari sang penjual, Karmidji;
”Lek, lha koe mileh sopo ngene ki? SBY wis ora enthos merintah negoro, regane bensin munggah terus. Amien Rais yo wis ra ono ambune meneh. Lha opo kudu mileh Kalla toh? Wong lha iku podo ae karo presidene...omong thok” ”Lek (panggilan untuk orang yang lebih muda), kamu ingin milih siapa? SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sudah tidak bisa mengurus negara, harganya bensin naik terus. Amien Rais sudah tidak ada kabarnya lagi. Apa harus memilih Kalla (Jusuf Kalla)? Dia juga sama saja dengan presidennya (SBY)...Cuma bisa bicara saja”

Dari pertanyaan simpel tersebut, akhirnya muncul respons dari

77

beberapa beduak yang hadir, ada yang berkomentar serius namun ada juga yang bercanda. Hal tersebut yang membuat kegiatan nitik menjadi hangat dan disukai. Jadi dalam hal ini sang penjual mempunyai peran yang sentral agar para pembeli betah berlama-berlama di tempatnya dan terus meminum toaknya hingga beberapa centhak. Penjual memakai wawasannya untuk menciptakan bahan-bahan pembicaraan yang dapat mengundang tanya dan diskusi kecil antara para beduak. Bila suasana antar beduak terbangun kondusif, maka para beduak lama akan mengajak orang lain di luar kelompoknya untuk ikut nitik di tempat tersebut. Keempat adalah lokasi nitik, pemilihan lokasi yang tepat seperti di bawah pohon rindang, atau di pinggiran jalan yang teduh semakin memantapkan niat seseorang untuk minum toak bersama. Pohon-pohon tua rindang yang berada di kuburan biasanya menjadi sasaran yang empuk bagi para penjual toak untuk memasarkan produknya. selain itu penjual juga mempertimbangkan mudahnya tempat tersebut dijangkau oleh beduak, maka dari itu berdasarkan observasi penulis, kebanyakan tempat nitik berdekatan atau dilalui akses jalan aspal yang mudah dijangkau. Hal ini karena pengaruh cuaca di daerah Kabupaten Tuban yang panas karena merupakan kota pantai dengan curah hujan yang rendah. Panasnya cuaca di Tuban membuat para beduak memilih tempat yang sekiranya teduh untuk berlindung dari terik sinar matahari. Tempat lain yang bisa dipilih oleh penjual adalah tempat permanen dengan membuka warung toak sendiri. Warung-warung toak banyak tersebar di daerah pedesaan

78

Tuban dan sedikit di daerah perkotaannya. Kelima, yang tidak kalah pentingnya adalah mudahnya para beduak menghutang terlebih dahulu dalam membayar toak yang sudah diminum. Hal ini dibenarkan oleh Karmidji, penjual toak saat ditanya oleh penulis apakah banyak beduak yang berhutang padanya saat selesai minum.
”Lha inggih to mas, wong tani, kuli iku lak dhuwite ra ono. Dadi yo mbayare ngenteni panen utowo ngenteni nek ono dhuwit ngono wae. Tapi yo ono pegawai sing mbayare ulanan dipasno karo bayarane nang kantor kae” ”Iya mas, petani, kuli (bangunan) itu khan tidak punya uang. Jadi membayarnya menunggu saat panen atau menunggu kalau ada uang. Namun, juga ada pegawai yang membayar dengan sistem bulanan, disesuaikan dengan gaji yang dia terima dari kantor”

Kemudian muncul pertanyaan di benak penulis, bagaimana bila orang-orang yang menghutang tersebut lupa membayarnya. Karmidji menjawab bahwa apabila mereka lupa membayar toak yang sudah diminum akan diingatkan dengan bahasa halus atau dengan geguyonan (lelucon). Apabila belum juga bayar dan tiba-tiba menghilang. maka, kata karmidji, sebaiknya direlakan saja. ”Ben dipek dewe mas dosane”, ”biar diambil sendiri dosanya mas” ujarnya sambil tersenyum.

III.3 Anti Individualitas dalam Masyarakat Jawa pada Bolo ngombe Social bond tidak begitu nampak pada perilaku keseharian mereka, namun ikatan tersebut akan nampak apabila terjadi sesuatu yang membahayakan pada salah satu anggota bolo ngombe. Semisal salah satu bolo ngombe yang bekerja sebagai petani terlibat konflik dengan petani lain, maka beduak lain yang masuk dalam satu ikatan bolo ngombe akan membantu tanpa diminta sekalipun. 79

Namun, tidak selamanya rasa kesetiakawanan tersebut muncul dalam hal-hal yang sifatnya negatif seperti konflik dan tawuran, banyak kegiatan positif yang melibatkan sesama bolo ngombe semisal saat salah satu beduak sedang membangun rumah atau merenovasi, maka tidak segan-segan semua anggota bolo ngombe turun untuk membantu walaupun harus berkorban waktu dan tenaga tanpa dibayar sepeserpun seperti yang diungkap oleh Jumhuri (46);

”Nek tiyang sakmondo kulo kalian tiyang-tiyang mriki mboten ngantos direwangi gelutan. Ting mriki niku adem ayem tentrem ok mas, palingpaling nggih konco omben niki tumut mbantu ngrabuk nopo mbajak sabin. Nggihpun sakmestine toh mbantu bolo ngombe dewe yo toh?” ”Kalau orang seusia saya dan orang-orang disini (di kalangan bolo ngombe) tidak sampai bantu membantu dalam berkelahi. Disini aman dan damai mas, biasanya teman minum ini turut membantu memupuk sawah dan membajak sawah. Ya sudah semestinya membantu teman minum sendiri ya khan?”

Ikatan sosial tersebut memang tidak pernah ditulis dalam buku atau kitab, tidak juga didaftarkan ke notaris sebagai sebuah lembaga. Ikatan sosial tersebut kasat mata dan tidak berbentuk, namun ikatan tersebut akan nampak sebagai perasaan kebersamaan dan saling memiliki diantara orang-orang satu group (bolo ngombe) dan terdapat simpati, empati dan imitasi diantara mereka. Ikatan ini bukanlah sebuah bentuk yang ada hanya di saat nitik dilaksanakan, namun ikatan ini berlanjut sampai diluar nitik dan menjadikan suatu tatanan tersendiri bagi para anggota bolo ngombe. Banyak pranatapranata implisit yang ada di dalam pergaulan bolo ngombe seperti pernyataan dari Sukiman (46);
“Lek wonten bolo kesusahan nggih kulo lan konco-konco niki langsung

80

turun tangan, mboten sisah dikengken mpun bidal tur mboten usah dibayar. Lha nek wonten bolo kesusahan nanging kulo mboten mbantu, nggih kulo langsung disingkriaken kalian bolo sekalian”. “Kalau ada teman kesusahan ya saya dan teman-teman ini langsung turun tangan (membantu), tidak usah disuruh sudah berangkat dan tidak usah dibayar. Kalau ada teman kesusahan namun saya tidak mau membantu, ya saya yang disingkirkan oleh teman-teman sekalian”.

Dalam pernyataan salah satu informan penulis ini, maka bisa ditarik kesimpulan awal bahwa terdapat suatu pranata implisit yang mengatur secara tidak langsung. Pranata ini berkaitan dengan rasa kepekaan terhadap sesama bolo ngombe yang “harus ada” walaupun sebenarnya “tidak harus ada”. Perasaan tersebut timbul akibat rasa “sungkan” yang biasa ada dalam budaya masyarakat Jawa. Pranata implisit inilah yang membuat ikatan sosial diantara mereka menjadi semakin kuat dari hari ke hari. Jelas bahwa sikap individualis harus betul-betul dijauhkan dari dalam diri para beduak tersebut, karena apabila sikap tersebut muncul maka otomatis dirinya yang akan tersingkir dari pergaulan. Beberapa kasus yang penulis ketahui mengenai kepekaan sosial diantara beduak ini adalah pada saat salah satu beduak yang bernama Jarno (47), merenovasi genteng rumahnya yang sering bocor apabila musim hujan tiba. Pada saat mengikuti nitik, Jarno bersenda gurau dengan bolo ngombe lainnya dan sedikit saja menyelipkan cerita bahwa dia mau merenovasi atap rumahnya yang sering bocor terkena hujan.
“He...aku iki minggu apene mbenekno gentheng omah sing bocor nek wayah udan. Lha aku wis tuku genthenge, karek masang sok minggu tapi ra ono sing mbantu lha wong aku neng ngomah ijen karo ibune bocah bocah kae” ”He...saya ini minggu mau membetulkan atap rumah yang sering bocor kalau menhadapi musim penghujan. Saya sudah membeli gentengnya, tinggal pasang besok minggu tapi tidak ada yang membantu karena saya di rumah hanya tinggal berdua dengan istri”

81

Bentuk keluh kesah Jarno tersebut langsung mendapat tanggapan dari salah seorang beduak yang ada di tempat tersebut.
“Yo gampang engko tak bantu Lik Jar, aku soale wis ora wayahe icir jagung. Lik Di engko tak jake wong omahe parek kene ae ok. Mboh nek Jan iki gelem mbantu po ra? Wong awake koyok rempeyek ngene ha ha” “Ya nanti akan saya bantu Lik Jar, saya sedang tidak ada kegiatan menyemai benih jagung. Lik Di (nama seseorang beduak yang tidak hadir saat itu) nanti akan saya ajak, soalnya rumahnya dekat dengan sini. Saya tidak tahu apakah Jan (nama seorang beduak yang duduk di sampingnya) mau membantu apa tidak? Badannya kayak rempeyek (mekanan sejenis keripik) gitu ha ha”

Dari dialog tersebut kita dapat mengetahui sejauh mana kepekaan diantara para beduak tersebut. Jarno hanya mengutarakan keluh kesahnya saja, lalu beduak lain dengan sigap mau membantu tanpa ada iming-iming bonus uang sebagai imbal balik membantu merenovasi rumah. Akhirnya pada hari minggunya, penulis mendatangi kediaman Jarno yang terletak di Desa Penambangan, Kecamatan Semanding dan sangat terkejut karena yang datang membantu tidak hanya satu atau dua orang seperti yang nampak pada dialog diatas, melainkan belasan orang membantu. Ternyata semua bolo ngombe yang tergabung dalam kegiatan nitik tersebut hampir semuanya hadir dan ikut membantu renovasi atap rumah Jarno. Penulis melihat istri Jarno sebagai tuan rumah yang terbantu hanya menyediakan dua teko teh serta beberapa nasi jagung yang dibungkus beserta lauk di dalamnya. Penulis bertanya pada istri Jarno apakah suguhan ini tidak kurang bagi mereka yang telah bekerja keras membantunya merenovasi atap rumah, apakah tidak diperlukan uang untuk biaya membantu. Sang istri berkata bahwa hal tersebut sudah lumrah di dalam

82

masyarakat desa tersebut, bila membantu satu sama lain tidak usah memberikan uang sebagai balas jasanya. Masih ada contoh lagi mengenai efek positif nitik pada beduak maupun penjualnya. Karena tradisi nitik ini berdasar pada kegiatan jual beli, maka efek ini terkait dengan mata pencaharian yang tercipta akibat rutinitas nitik. Efek yang penulis maksudkan adalah semua peluang yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan baik dari beduak maupun sang penjual dari segi finansial. Contoh kasus tersebut adalah terciptanya sebuah peluang kerja pertukangan dari seorang mandor yang mencari seorang tukang tambahan untuk sebuah proyek dan bisa ditebak bahwa sang mandor lebih memilih untuk mencari tukang tambahannya dari bolo ngombe-nya sendiri. Faktor kedekatan dan kepercayaan membuat sang mandor lebih memilih untuk mencari tukang dari teman nitiknya sendiri seperti dalam pernyataan sang mandor yang bernama Wargo (45) (lihat lampiran gambar 20) yang biasa nitik di tempat Warsito, saat penulis memberikan satu pertanyaan mengenai mengapa dia memilih tukang tambahan dari teman nitiknya sendiri.
”Saben dinten ketemu toh mas dadi yo enak mileh tukange teko bolo dhewe mas. Wis percoyo wae, lha wong koyok dulur dhewe. Nek wis cedak ngene kan enak ora kathek sirik-sirikan” ”Setiap hari ketemu kok mas, jadi ya enak memilih tukang dari kawan sendiri mas. Sudah percaya mas, soalnya sudah seperti saudara sendiri. Kalau sudah dekat begini khan enak, tidak usah curiga”

Apabila ditilik lebih dalam, maka para petani atau tukang yang mengatakan jika tidak meminum toak dalam sehari maka akan terasa pegal linu di badan mereka, maka tentu saja mereka tidak akan produktif dalam bekerja jika tidak minum toak sebelum berangkat kerja. Jika mereka tidak optimal dalam 83

menjalankan pekerjaan mereka, maka penghasilan mereka juga tidak bisa maksimal dan ini berpengaruh pada kehidupan keluarga mereka. Seperti yang telah penulis jelaskan sebelumnya bahwa sebenarnya nitik adalah kegiatan jual beli, jadi efek ekonomis juga terasa bagi sang penjual toak. Satu centhak toak dihargai Rp. 500 – Rp. 700 dan rata-rata untuk pedagang toak besar bisa mengumpulkan 25 beduak selama dia menggelar kegiatan nitik. Satu bungkus tambul dijual dengan harga Rp. 300,-untuk jenis tambul kacang-kacangan, jenis kerupuk, atau sebungkus nasi jagung. Tambul dengan jenis daging-dagingan seperti bekicot, belut, biawak bisanya dihargai Rp.3000,-. Rata-rata setiap beduak menghabiskan dua centhak setiap nitik dan sebungkus tambul isi daging atau hanya tiga bungkus tambul kacang-kacangan. Berarti bila dihitung rata-rata per beduak menghabiskan biaya kurang lebih Rp. 4000,- untuk beduak yang mengkonsumsi toak dan tambul isi daging, dan Rp. 1900,- untuk beduak dengan tambul isi kacang-kacangan sekali datang. Berdasarkan wawancara penulis dengan penjual toak yang langsung memroduksi sendiri toaknya, biaya produksi untuk satu centhak toak tidak diketahui, jadi anggap saja laba bersih untuk satu centhak toak adalah Rp.450. Sedangkan untuk penjual yang biasa membeli toaknya dari para penghasil toak, maka satu centhaknya dihitung Rp.100 oleh sang penjual dan dijual lagi sebesar Rp. 500, jadi untung Rp.400. Biaya produksi untuk satu bungkus tambul kacang-kacangan rata-rata adalah Rp.150 per bungkus berarti penjual bisa meraup laba bersih Rp.150 per bungkusnya dan biaya

84

produksi tambul isi daging kurang lebih Rp.2000, berarti laba bersihnya Rp.1000. Karena banyaknya kegiatan nitik di Tuban dan banyak pula beduak yang ikut di dalamnya, maka nitik menjadi sebuah komunitas potensial yang ditilik dari jumlah massa. Banyaknya jumlah beduak dan ikatan sosial yang mereka miliki menjadikan mereka lahan basah bagi seseorang atau organisasi yang menginginkan dukungan bagi tujuan khusus seperti politik misalnya. Pada saat mendekati Pemilu nasional atau Pilkada Kabupaten Tuban, komunitas beduak selalu disisipi beberapa orang untuk mengarahkan afiliasi komunitas tersebut pada partai atau calon bupati tertentu. Para pelaku politik betul-betul menyadari bahwa bolo ngombe bukanlah sebuah komunitas yang bisa dianggap remeh begitu saja. Nitik dan toak sebagai ikon Kabupaten Tuban sering dijadikan media kampanye bagi calon bupati tertentu yang ingin image-nya merakyat, karena sebagian besar nitik diikuti oleh rakyat kecil dari golongan menengah. Menurut Paul Conn, pengertian politik adalah segala usaha yang dilakukan individu maupun komunitas untuk mengambil maupun mempertahankan kekuasaan. Jadi pada intinya kegiatan berpolitik tidak hanya dilakukan oleh partai ataupun para calon pemimpin, melainkan oleh semua pihak yang menginginkan eksistensinya langgeng. Dalam banyak hal nitik dipakai sebagai bagian dari slogan-slogan kepartaian, para calon bupati ataupun hanya sebagai kata yang mendasari suau kalimat dalam sebuah spanduk. Penulis pernah menemukan salah satu spanduk yang berbunyi ”wong toakan ae iso lungguh bareng, mosok pimipinane gak iso” atau dalam bahasa

85

Indonesia berati orang minum toak saja bisa duduk bersama dengan damai, masa pemimpinnya tidak bisa damai. Spanduk tersebut berasal dari Ikatan Masyarakat Peduli Tuban yang menyindir masalah amuk massa yang terjadi di Tuban awal tahun 2006 akibat perselisihan dua calon bupati Haeny Relawati dan Noor Nahar. Massa mengamuk dan membakar pendopo Kabupaten Tuban serta properti pribadi yang dimiliki oleh Bupati Tuban sebelumnya yang juga salah satu dari kedua calon Bupati yaitu Haeny Relawati, massa mengamuk karena menilai Haeny melakukan penggelembungan suara pada saat Pilkada berlangsung. Karena berdasarkan observasi sebagian besar beduak adalah pekerja kasar, sehingga para politisi menganggap mudah untuk menggiring suara para beduak. Biasanya para aktor politik mengirim para utusannya untuk berkumpul bersama para beduak pada kegiatan nitik atau sengaja mendekati salah seorang beduak dan juga sang penjual untuk mempromosikan partainya. Pendekatannya dalam berbagai cara, beberapa diantaranya yang penulis (P) ketahui dari hasil interview dengan informan penulis, Sutiyono(S). Berikut nukilan wawancara penulis dengan Sutiyono;
P: Apakah arena nitik yang terdiri dari beduak-beduak ini pernah dimanfaatkan oleh orang atau partai politik demi memperoleh jabatan S: Oh ya mas, apalagi sistem pemilihannya langsung kayak sekarang ini. Mereka pasti gerilya menarik simpati pemilih, termasuk ke dalam nitik segala P: Sampeyan mengatakan mereka gerilya, mereka itu siapa? S: Ya orang-orang partai, kalau ndak gitu yang utusannya para calon pejabat itu mas P: Bagaimana cara mereka menarik simpati para beduak? S: Bisa bermacam-macam sebenarnya mas, mungkin dengan mentraktir mereka minum toak dan makan tambul sepuasnya, istilah kami itu

86

sampek sak mblendhinge (sekenyangnya). Membagi- bagikan barang gratisan seperti kaos, topi. Cara yang lain adalah dengan membayar khusus pada sang penjual untuk mempromosikan seseorang atau partai kepada para beduak. namun cara yang paling ampuh adalah dengan membagikan mereka (para beduak) uang.

Cara pertama adalah mentraktir para beduak minum dan makan tambul sepuasnya, dengan begitu pada beduak ini akan bersimpati dan besar harapan untuk memilih sang pentraktir dalam ajang pemilihan tertentu. Cara kedua adalah dengan membagikan kaos gratis kepada setiap beduak yang ada dalam nitik, namun bisa saja diganti dengan kalender atau topi. Cara ketiga yang lebih efektif adalah dengan memberi sejumlah uang pada sang penjual dan menyuruhnya agar mau mempromosikan partai atau calon bupatinya. Para aktor politik daerah mampu membaca bahwa peran penjual dalam memanajemen pembicaraan tak ubahnya seperti seorang playmaker sepakbola memainkan ritme permainan timnya. Cara keempat adalah dengan langsung membagi-bagikan uang tunai kepada para beduak yang berada di tempat nitik atau yang sering kita kenal dengan istilah money politic. Strategi tersebut dilakukan untuk membuat kesan positif partai atau calon bupati di benak para beduak. Menurut Katiman (53), dia pernah diberi uang tunai oleh para utusan partai pada saat minum toak di sekitar desa Sumurgung sejumlah Rp. 50.000,- dan itu diberikan ke seluruh beduak yang sedang melakukan nitik. Tidak jarang para beduak mengambil keuntungan dengan menerima lebih dari satu kali pemberian, semisal mereka mendapat jatah bagi-bagi uang dari calon bupati A dan sehari kemudian mendapat lagi jatah bagi-bagi uang dari calon bupati B. Hal tersebut penulis temukan saat mewawancarai

87

Sunardi (50), salah satu bolo ngombe dari Katiman. Sunardi menjelaskan bahwa dia pernah nitik di daerah Karangsari, Kecamatan Tuban pada saat gencar-gencarnya calon bupati melakukan kampanye pemilihan kepala daerah langsung. Pada saat itu, para beduak diberi uang sejumlah Rp.30.000,- beserta kaos bergambar calon bupati dan wakil bupati lengkap dengan nomor urut pilihannya, oleh seseorang yang mengaku sebagai utusan bupati X, uang itu diberikan secara cuma – cuma dengan syarat pada saat nanti saat hari H pemilihan, Sunardi dan beduak lain harus memilih calon bupati X sebagai bupati Tuban periode selanjutnya.
”Wayah ngombe toak nang Karangsari ndisik, aku diwenehi dhuwik telung puluh ewu mas. Nek aku yo gelem-gelem ae no. Jaman yahmene sopo sing ra gelem dhuwik gratis, tapi yo kon mileh...dadi Bupati” ”Saat minum toak di Karangsari, saya diberi uang tiga puluh ribu rupiah (Rp. 30.000,-) mas. Kalau saya mau saja diberi uang. Zaman ini, siapa yang tidak mau uang gratis, tapi ya disuruh memilih...jadi Bupati.”

Hari berikutnya dia mencoba nitik di tempat yang sama, ternyata hari itu dia dan bolo ngombenya didatangi oleh seseorang yang mengaku utusan dari bupati XX dan membagikan uang sejumlah Rp. 50.000,- dan kaos gambar calon bupati dan calon wakil bupati, diberikan dengan syarat yang sama yaitu memilih sang calon bupati pada saat hari H pemilihan diselenggarakan. Berarti hanya dalam dua hari saja, para beduak di Karangsari tersebut mendapatkan uang sejumlah Rp.80.000,- ditambah lagi dengan dua kaos calon bupati. Raihan tersebut lebih dari pendapatan mereka selama tiga heri bekerja sebagai tukang becak yang rata-rata hanya bisa mendapatkan Rp. 20.000,- per harinya. Seperti yang diungkapkan salah seorang tukang

88

becak yang berada di sekitar kawasan Karang Indah, Sarko (40),
”Tukang becak kene iki yo ra mesti mes entuke, tapi paling gak yo iso nggowo muleh dhuwit rong puluh ewu ngono sak dinane.” ”Tukang becak disini pendapatannya tidak pasti mas, tetapi paling tidak bisa membawa pulang uang dua puluh ribu seharinya.”

Jelas, nitik dapat dijadikan alat politik bagi kader partai atau aktor politik yang ingin mencalonkan diri memegang tampuk jabatan tinggi di Tuban. Pemanfaatan tersebut bukan hanya datang dari oknum luar bolo ngombe. Apabila salah satu beduak yang kebetulan ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa misal, dapat dengan mudah mempengaruhi teman-teman minumnya untuk memilih sang calon kepala desa tersebut. beduak yang kebetulan merupakan bromocorah atau jagoan kampung, akan memanfaatkan nitik sebagai alat untuk menguatkan posisinya serta sebagai alat aktualisasi diri. Dengan sering datang nitik, maka dirinya akan dicap sebagai orang yang kuat minum dan menjadi kebanggaan tersendiri apabila seseorang kuat minum toak lebih dari yang lain. Saat penulis wawancarai, Karmidji mengutarakan bahwa, dahulu pernah ada jagoan kampung yang bernama Bakar. Dia menjadi pelanggan setia Karmidji, setiap hari tidak pernah absen datang minum toak di tempat Karmidji berjualan. Setiap datang dia bisa menghabiskan 5-6 centhak.
”Ceriose Bakar, pas tak takoni kowe kok kuat ngombe toakku saben dino le? Trus dijawab lha wong aku iki sing mbaurekso nang kene kok lek Kar, mosok ra ngombe Toak. Terus nek didelok wong-wong lak ilang digdoyoku.” ”Katanya Bakar, waktu saya tanya kamu kok kuat minum toak saya setiap hari le (panggilan untuk yang dimudakan)? Lalu dijawab olehnya saya ini yang menguasai daerah ini lek Kar, masa tidak minum toak. Terus kalau dlihat orang-orang bisa hilang wibawaku.”

Walau bisa digunakan untuk menunjukkan kejantanan, Toak ternyata 89

bisa dipakai untuk menambah energi pada tubuh. Dari wawancara dan observasi penulis selama penelitian berlangsung, mengungkap bahwa toak dianggap oleh para beduak sebagai minuman suplemen penambah daya agar mereka giat bekerja setiap harinya. Beberapa tempat nitik di Kecamatan Semanding seperti yang dijumpai di tempat Desa Genaharjo, Kecamatan Semanding milik Warsito (55) atau di Desa Kowang (lihat lampiran gambar 40), Kecamatan Semanding milik Tasiran (42), tersedia pagi sebelum para petani maupun pekerja lainnya berangkat bekerja, sekitar pukul 06.30 WIB dan tersedia lagi saat mereka pulang bekerja sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Bagi para beduak, minum toak merupakan salah satu usaha mereka menjaga kebugaran dan meningkatkan stamina tubuh saat bekerja dan setelah pulang kerja. Jadi, mereka pasti akan sempatkan mampir nitik untuk minum minimal satu centhak toak dan sebungkus tambul. Berikut adalah cuplikan wawancara penulis (P) dengan salah seorang beduak yang bekerja sebagai petani di Desa Panambangan, Kecamatan Semanding bernama Jito (J) (43) (lihat lampiran gambar 17) yang biasa nitik di tempat Warsito;
P: Nopo Pak Jito rutin nek ngunjuk toak?(apa Pak Jito rutin minum toak?) J: Oo..nggih rutin mas meh saben dinten mboten nate absen (oo..ya rutin mas, hampir setiap hari tidak pernah absen) P: Kok sampek mben dinten niku yo’nopo pak? (kok sampai setiap hari pak?) J: Nggih nek mboten ngoten kulo mboten saget kerjo mas, lha wong nek mboten ngombe toak niku awak kula rasane loro sedanten kok (ya, kalau tidak begitu (minum toak setiap hari), saya tidak bisa kerja mas, karena kalau tidak minum toak, rasanya badan saya sakit semua) P: Terus nek mari ngunjuk toak? (terus, setelah minum toak?)

90

J: Nggih pun ilang cekot-cekot ting awak niku mas, tambah greng awak niki. Toak niku lak ”noto awak” toh ha ha ha (ya hilang rasa pegel linu di badan mas, tambah fit badan ini. Toak itu khan ”noto awak” atau menata tubuh ha ha ha)

tanggapan seperti itu juga penulis (P) dapatkan dalam wawancara dengan Imam (I) (49), seorang tukang becak yang biasa nitik di Latsari, Kecamatan Tuban;

P: Pak, saben dinten ngombe toak mboten? (pak, apakah setiap hari minum toak?) I: Nggih meh mben dinten mas (iya, hampir setiap hari mas) P: Nek mboten ngombe toak sedinten rasane yok nopo pak? (kalau tidak minum toak sehari saja, rasanya bagaimana pak?) I: Rasane nggih mboten enak kabeh ting awak, trus mboten kiat ngontel becak mas. (rasanya tidak enak semua di badan, akhirnya tidak kuat mengayuh becak mas)

Terdapat beberapa perbedaan yang nampak antara nitik yang ada di Kecamatan Tuban yang merupakan ibukota kabupaten dan Kecamatan Semanding yang didominasi oleh daerah pedesaan. Di Kecamatan Semanding, semua anggota nitik lama dianggap sebagai bolo ngombe dan punya keterikatan kuat di dalamnya. Di Kecamatan Tuban, tidak semua beduak lama dianggap sebagai bolo ngombe bila tidak terlalu akrab, banyak beduak lama maupun baru yang hanya datang untuk minum dan bersosialisasi seadanya, setelah itu langsung pulang atau pergi ke tujuan masing-masing. Seperti penuturan Sugeng (51) yang biasa nitik di tempat Taji, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban;
”Nek wong kecamatan kota kuwi akeh sing sibuk dhewe-dhewe, dadi

91

yo ra sempat ngumpul suwe nang kene. Paling-paling sing ngumpul iki yo sing gaweane ra mesti koyo tukang mbecak, wong laut, tukang ngono kuwi leh” ”Kalau orang orang kecamatan kota (Kecamatan Tuban) banyak yang sibuk sendiri-sendiri, jadi tidak ada sempat berkumpul dengan kami lama disini. Paling yang sering dan lama berkumpul disini adalah orang-orang yang pekerjaannya tidak pasti seperti tukang becak, nelayan, tukang”

Terkadang malah dijumpai, beberapa tempat nitik di Kecamatan Tuban terbentuk beberapa kelompok bolo ngombe yang bergerombol mengambil tempat masing-masing. Hal tersebut tidak terjadi pada tradisi nitik di desadesa kecamatan Semanding. Menurut pengakuan Tasiran (42) yang sorenya berjualan di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Tuban (lihat lampiran gambar 22), para penjual toak yang ada di Kecamatan Tuban lebih ”pelit” dibandingkan dengan yang ada di Semanding. Istilah ”pelit” merujuk pada keengganan para penjual toak di Kecamatan Tuban untuk memberikan hutang toak kepada para beduak yang minum di tempatnya. Sebanyak apa yang diambil, sebanyak itulah yang dibayar oleh sang beduak saat itu juga. Hal ini berlaku hampir pada semua beduak, hanya yang sudah kenal akrab saja yang bisa berhutang toak pada sang penjual. Berikut penuturan Tasiran mengenai hal tersebut;
”Aku yo plaur mas, nek kudu ngutangi wong sakmene akehe. Soale sing rutin teko mrene kuwi paling wong limo enem iku wae yo ra tak utangi ok mas, liyane yo gonta ganti ra kenal, mari ngombe yo langsung mbayar nang aku piro-piro ae. Soale ndisik akeh sing ngentit pas tak utangi. Nek nang ndeso lak akeh sing bolo dhewe, wonge lak yo iku-iku wae leh” ”Saya enggan kalau harus memberi hutang (toak) pada sekian banyak orang. Karena yang rutin kesini paling Cuma lima sampai enam orang saja, jumlah itu juga tidak saya beri hutang minum. Sisanya bergantiganti tanpa ada yang saya kenali. Setelah selesai minum (toak) ya langsung bayar berapapun habisnya, karena dulu banyak yang lari setelah saya hutangi. Kalau jualan di desa banyak teman sendiri yang minum di tempat saya, orangnya ya itu-itu saja.

92

Menurut Sutiyono, memang nitik di daerah pedesaan memang suasananya lebih akrab dan mudah untuk berhutang pada sang penjual apabila dua atau tiga kali datang nitik. Di daerah pedesaan, komposisi beduak di satu tempat nitik tidaklah mudah berubah, ditambah lagi latar belakang beduak kebanyakan berasal dari petani sawah. Bahkan di tempat nitik milik Warsito, semua beduak yang minum di tempatnya adalah petani yang rumahnya saling berdekatan walaupun ada yang berlainan desa, sehingga hampir setiap hari tidak ada perubahan komposisi beduak yang minum di tempatnya dan bertambah akrab dari hari ke hari. Petani-petani selalu butuh energi ekstra untuk menggarap sawahnya, sehingga setiap hari datang ke tempat Warsito. Menurut Warsito sendiri, dirinya hafal setiap beduak yang datang ke tempatnya dan tahu dimana rumah masing-masing beduak. Hal tersebut menyebabkan mudahnya sang penjual untuk menghutangkan toaknya pada para beduak, selain rasa kepercayaan terhadap sesama yang memang banyak dimiliki oleh masyarakat pedesaan Jawa.

93

BAB IV FUNGSI DAN TEMA BUDAYA PADA TRADISI NITIK

Berikut ini, akan penulis jabarkan beberapa fungsi dari tradisi nitik yang terimplementasikan pada bidang ekonomi, politik, tubuh dan pergaulan sosial. Dalam sebuah karya tulis etnografi seperti skripsi ini, perlu dilakukan analisa secara bertahap yang melibatkan analisis wawancara etnografis, domain, taksonomik, dan analisis komponen sesuai dengan metode etnografi yang disarankan oleh James Spradley, sehingga dapat ditemukan tema budaya pada tradisi nitik.

IV.1 Fungsi Tradisi Nitik Dalam Fokus penelitian etnografis seperti yang dianjurkan oleh Spradley (1995:181), penulis harus melakukan 12 tahapan demi menghasilkan karya tulis etnografi yang baik. Semakin ke dalam, penulis semakin banyak menemukan hal-hal implisit dalam tradisi nitik, termasuk fungsi-fungsi dan tema budaya yang ada di dalamnya. Tahapan analisis penulis mulai dari

94

tahap mengajukan pertanyaan deskriptif. Pengajuan pertanyaan deskriptif lebih bersifat pertanyaan besar yang butuh pendefinisian agar dasar permasalahan diketahui dengan jelas. Pengajuan pertanyaan deskriptif dimulai penulis dengan menanyakan pertanyaan seperti cuplikan wawancara penulis (P) dan Sutiyono (S);

P:Mas yang namanya tradisi nitik itu apa toh? S:Tradisi nitik itu adalah berkumpulnya para beduak untuk minum toak bersama di tempat-tempat dimana sang penjual biasa berjualan seperti di pinggir jalan, di warung atau bawah pohon besar? P:Menurut sampeyan apa yang membuat tradisi nitik berbeda dengan kegiatan jual beli lainnya? S:Tradisi Nitik merupakan warisan budaya leluhur, diturunkan dari generasi ke generasi, pembuatan materi utamanya yaitu toak. Bila kegiatan jual beli lain, pembeli bisa berubah-ubah setiap harinya. Namun bila tradisi nitik, pembelinya relatif tetap setiap harinya karena terikat oleh toak yang mereka minum...istilahnya itu ya seperti ketagihan tapi bukan seperti ketagihan narkoba. Mereka merasa tidak semangat bila bekerja, bila satu hari saja tidak minum toak. P:Mungkin ada lagi yang lebih unik bila dipandang dari pembelinya mas? S:Oh ya mas, para beduak yang ada dalam satu tradisi nitik itu mempunyai ikatan yang cukup dalam. Diluar nitik mereka bantu membantu dalam berbagai hal, kumpulan yang sudah mempunyai ikatan tersebut biasa disebut bolo ngombe...

Dari keterangan tersebut, penulis langsung mengajukan pertanyanpertanyaan lain berkisar nitik dan istilah lokal yang ada di dalamnya. Misal penulis bertanya kepada beberapa orang beduak tentang apa yang disebut dengan toak, dan ternyata jawaban dari setiap beduak berbeda-beda. Jawaban yang berhasil terkumpul dari pertanyaan ”Apa itu toak?”, adalah; 1. ombenan teko wit siwalan (Karmidji) 2. ombenan gawe nyegerno awak (Margono) 3. Noto awak (Jito) 95

Istilah tercakup (X)

Istilah pencakup (Y)

4. Deresane Bogor (Jarno) 5. Ombenane wong Tuban (Tiknar) Penulis terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan lainnya dengan jawaban yang variatif pula pada setiap pertanyaannya. Termasuk yang diidentifikasikan sebagai bolo ngombe bagi para beduak adalah;

1. teman yang sering ikut minum bersama dalam satu tempat nitik, 2. selain ikut dalam satu tempat nitik, dia juga harus sering berbicara dan ngobrol dengannya, 3. teman minum yang memiliki kesamaan dalam berbagai hal seperti pandangan mengenai fakta atau fenomena yang dihadapi Tahapan selanjutnya, hasil wawancara mengenai istilah-istilah lokal tadi langsung penulis masukkan ke dalam kertas kerja analisis domain penulis menggunakan kertas kerja domain agar mengetahui domain-domain dari istilah lokal yang bisa digunakan dalam tradisi nitik. Contoh, pada salah satu kertas kerja penulis mendapatkan satu istilah pencakup yaitu ”tempat nitik”. Istilah tercakup yang nampak pada identifikasi terhadap istilah ”tempat nitik.” Kertas Kerja 4.1 Analisis Domain Tempat nitik 1. Di bawah pohon besar dan tua 2. Dimanapun, yang penting dingin 3. Di pinggir jalan besar 4. Di dalam suatu bangunan
x merupakan tempat untuk y

Nitik

96

Nitik demi pergaulan sosial

Banyak sekali kertas kerja yang berhasil diisi oleh penulis selama penelitian di Tuban, semua mengupas mengenai istilah maupun pengetahuan lokal para beduak tentang tradisi nitik. Namun dari kesemuanya, yang paling dominan atau paling banyak didapatkan penulis adalah fungsi nitik yang ditinjau dari berbagai aspak, misal; Kertas Kerja 4.2 Analisis Domain Nitik Untuk Alasan Pergaulan Sosial

-agar banyak teman -agar punya teman -agar mempunyai teman saat butuh pertolongan -agar mempunyai teman seprofesi -agar punya teman dengan perasaan senasib sepenanggungan

ternyata menurut para beduak, nitik memiliki fungsi-fungsi khusus yang bagi orang-orang yang tidak menikmatinya langsung, tidaklah terlihat dengan jelas. Fungsi-fungsi nitik yang terungkap selama penelitian etnografi ini meliputi fungsi nitik untuk tubuh seperti yang telah penulis paparkan dalam kertas kerja berikut; Kertas Kerja 4.3 Analisis Domain Nitik Untuk Alasan Fisik (X) (Y)

97

Nitik untuk alasan ekonomi

menghangatkan tubuh Agar giat bekerja Agar tidak mudah sakit

x alasan untuk y

nitik untuk tubuh

Atau penjelasan para beduak mengenai fungsi-fungsi yang berkaitan dengan pencarian uang atau alasan ekonomi. Mereka (para beduak) bisa memanfaatkan nitik sebagai ajang pencarian uang, karena di dalamnya mereka bisa mencari pekerjaan lewat orang-orang yang sudah dikenal akrab. Mereka juga bisa menawarkan dagangan mereka di dalamnya, atau apabila ditilik lagi sebenarnya nitik sendiri adalah lahan pekerjaan bagi sang penjual toak. Berikut pemaparan para beduak yang sudah disalin ke dalam kertas kerja yang berkaitan dengan fungsi nitik untuk alasan ekonomi; Kertas Kerja 4.4 Analisis Domain Nitik Untuk Alasan Ekonomi (X) *agar bertemu dengan orang yang bisa menawarkan pekerjaan *menawarkan barang dagangan di tempat nitik *dari sang penjual toak, nitik sendiri merupakan mata Pencaharian (Y)

Setelah analisis domain, penulis diwajibkan mengajukan pertanyaan struktural pada informan (Spradley, 1995:117). Pertanyaan struktural biasanya bersifat mengurai konten atau prosedural kegiatan secara periferal. Penulis mengajukan pertanyaan struktural berjenis pembuktian. Kebanyakan

98

pertanyaan struktural yang muncul pada kertas kerja domain seperti ”apakah benar nitik dapat dijadikan ajang mencari teman?.” Semua infroman menjawab bisa. Jawaban ini mengindikasikan tradisi nitik mempunyai fungsi sosial di dalamnya dan tidak diragukan lagi keberadaannya walaupun tersembunyi di balik anggapan negatif masyarakat bahwa nitik hanyalah tempat berkumpulnya pemabuk dan pembuat onar. Potensi massa yang ada di dalam nitik bisa berguna bagi berbagai kalangan dan berbagai kepentingan. Sesama anggota bolo ngombe saling bantu membantu apabila terjadi masalah atau saat dibutuhkan tenaganya tanpa harap pamrih. Fungsi inilah yang dikatakan Malinowski (Koentjaraningrat 1980:167) sebagai fungsi sosial pada suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan pada tingkat abstraksi pertama mengenai pangaruh atau efeknya terhadap tingkah laku manusia dan pranata sosial lain dalam masyarakat. Tingkat abstraksi pertama fungsi sosial dari suatu adat atau tradisi memungkinkan mencetak sebuah pranata sosial dan tingkah laku manusia di dalamnya, tinggal bagaimana tradisi itu menginginkannya. Nitik membuktikan bahwa kemungkinan tersebut ada dengan membentuk suatu ikatan emosional diantara para beduak dengan pranata-pranata implisit di dalamnya yang mengatur tingkah laku para beduak. Tahapan selanjutnya adalah membuat analisis taksonomik. Dengan mengkategorisasikan jenis-jenis pekerjaan yang banyak ikut dalam tradisi nitik. Pembuatan analisis taksonomik dengan memilih salah satu domain yang dominan, yaitu domain fungsi nitik semisal Dari subset ini, penulis

99

melanjutkan dengan mencari subset-subset lain dengan kesamaan kerangka subtitusi yaitu x merupakan alasan untuk y. Penulis melihat data transkip wawancara dan melihat kembali hasil jawaban dari pertanyaan struktural yang diajukan penulis kepada beberapa informan. Beberapa domain tersebut dikumpulkan dan dicari domain yang lebih besar atau inklusif untuk mencakup kesemua domain diatas. Setelah mempelajari lebih lanjut, akhirnya penulis memilih domain ”fungsi nitik” untuk mencakup keseluruhan domain yang tergabung dalam satu kerangka subtitusi yang sama. Karena beberapa domain mengenai fungsi nitik masih terpisah berdasarkan kategori fungsinya masing-masing, yaitu dalam domain alasan nitik bagi tubuh, nitik untuk alasan ekonomi, nitik untuk alasan pergaulan sosial. Tujuan dari tahap ini, mengetahui struktur internal dari domain yang besar sehingga penulis bisa lebih mudah memaparkan serta menganalisa setiap unsur dalam tradisi nitik ini. Kita bisa mengetahui struktur internal dari fungsi nitik seperti kita mengetahui struktur tubuh ikan saat kita mengulitinya terdapat duri, daging, lambung. Begitu pula dengan fungsi nitik yang mempunyai struktur pembentuk di dalamnya sehingga kita mampu melihat bagaimana struktur tersebut terbangun dan mengetahui jelas kemana arah fungsi ini berlanjut;

100

Kertas Kerja 4.5 Analisis Taksonomik

FungsiFungsi Nitik

Alasan nitik untuk tubuh

Penghangat tubuh

Alasan nitik untuk pergaulan sosial

Agar giat bekerja Agar tidak mudah sakit agar banyak teman ngobrol

agar punya teman akrab agar mempunyai teman saat butuh pertolongan agar mempunyai teman seprofesi

agar punya teman dengan perasaan senasib sepenanggungan

Alasan nitik untuk bidang ekonomi

agar bertemu dengan orang yang bisa menawarkan pekerjaan menawarkan barang dagangan di tempat nitik 101

dari sang penjual toak, nitik sendiri merupakan mata pencaharian Fungsi hiburan, saat mendengar lelucon-lelucon dari sang penjual yang sering membuat kangen Setelah analisis taksonomik, tahapan berikutnya adalah mengajukan pertanyaan kontras. Penulis mengajukan beberapa pertanyaan kontras untuk mencari perbedaan dalam satu rangkaian kontras yang sama dimana di dalamnya terkandung domain-domain dalam kategori besar ”fungsi-fungsi nitik”. Dalam tahapan ini penulis menyajikan media kertas kerja analisis taksonomikk yang bertuliskan istilah-istilah rakyat yang tercakup dalam domain-domain dalam kategori besar ”fungsi-fungsi nitik”. Penulis mengintruksikan informan, Sutiyono (37), agar melihat semua istilah dalam domain-domain yang tersedia. Setelah itu penulis mengajukan beberapa pertanyaan kontras dengan jenis pertanyaan perbedaan diadik seperti
Penulis Sutiyono : Dapatkah anda melihat semua istilah ini benar adanya seperti yang saya tulis?, tolong diteliti lagi mas..... : Ehm...semuanya sudah benar mas, tetapi ada satu yang belum anda tuliskan dalam tabel ini. Yaitu fungsi dimana salah seorang beduak memakai nitik untuk mencari pendukung dan mencari sebuah status dalam masyarakat demi sebuah posisi yang disegani. : (Penulis dengan cepat menuliskan fungsi tersebut ke dalam kertas kerja analisis taksonomik), lalu apakah anda bisa menjelaskan perbedaan fungsi ini dengan fungsi-fungsi lain dalam kertas ini? : Dalam fungsi ini, beduak tersebut tidak seperti yang sampeyan tulis dalam fungsi sosial yang memang kebanyakan memang ingin mencari teman dan bergaul dengan orang lain, atau membutuhkan bantuan yang sifatnya timbal balik. dalam fungsi yang baru saja saya katakan tadi, beduak tersebut jelas memiliki maksud tersembunyi seperti beduak yang mencalonkan diri sebagai anggota (DPRD) atau lurah, bahkan bila ingin dianggap sebagai bromocorah harus sering-sering minum toak dan dilihat banyak orang.

Penulis

Sutiyono

Dari wawancara ini, penulis mengetahui terdapat fungsi lain yang belum 102

terungkap selama mengadakan penelitian. Fungsi ini akhirnya penulis masukkan dalam ”domain nitik untuk alasan aktualisasi diri”. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Abraham Maslow dalam konsep piramida hierarkhi kebutuhan manusia (1998, www.performance-unlimited.com/samain.htm), bahwa aktualisasi diri (self actualization) menjadi pemuncak piramida;
"A musician must make music, an artist must paint, a poet must write, if he is to be at peace with himself. What a man can be, he must be. This is the need we may call self-actualization...It refers to man's desire for fulfillment, namely to the tendency for him to become actually in what he is potentially: to become everything that one is capable of becoming ..." (Maslow, 1998: www.performance unlimited.com/samain.htm) “Seorang musisi harus membuat musik, seorang seniman (lukis) harus membuat lukisan, pengarang haruslah menulis apabila dia ingin menemukan kedamaian dalam dirinya. Apa yang manusia mau, dia harus menjadikannya nyata. Inilah suatu (tahap) kebutuhan yang kita sebut sebagai aktualisasi diri…yang merujuk pada hasrat manusia untuk mengisi atas nama tendensi menjadi seperti potensi yang ia punyai: untuk menjadi apa saja yang mungkin ia jadi.” (Maslow, 1998 www.performance unlimited.com/samain.htm)

Jadi, penulis mencoba untuk menambahkannya dalam kertas kerja analisis taksonomik, karena masuknya fungsi baru yang penulis masukkan dalam kategori fungsi aktualisasi diri. Pemaparan dalam kertas kerja baru dapat dilihat di bawah ini;

103

Kertas Kerja 4.6 Analisis Taksonomik Tambahan Domain

FungsiFungsi Nitik

alasan nitik untuk Penghangat tubuh tubuh Agar giat bekerja Agar tidak mudah sakit agar banyak teman ngobrol

Alasan nitik untuk pergaulan sosial

agar punya teman akrab agar mempunyai teman saat butuh pertolongan agar mempunyai teman seprofesi

agar punya teman dengan perasaan senasib sepenanggungan

Alasan nitik untuk bidang ekonomi

agar bertemu dengan orang yang bisa menawarkan pekerjaan menawarkan barang dagangan di tempat nitik dari sang penjual toak, nitik sendiri

104

Nitik untuk alasan aktualisasi diri

merupakan mata pencaharian untuk menjaring massa agar dianggap sebagai jagoan

Fungsi hiburan, saat mendengar lelucon-lelucon dari sang penjual yang sering membuat kangen Berdasarkan wawancara ini juga, penulis menanyakan beberapa perbedaan lagi dalam satu dimensi kontras.
Penulis :Seperti apa perbedaan fungsi agar banyak teman dan mempunyai teman saat butuh pertolongan? Sutiyono:Ada beberapa beduak yang memang hanya ingin menambah teman ngobrol, tapi terkadang ada beduak nakal yang hanya ingin mencari konco gelut (teman berkelahi) saja saat ingin tawuran.

Sejauh penelitian penulis, nitik dimanfaatkan oleh tiga unsur yaitu para beduak, sang penjual dan pihak luar. Beduak memanfaatkan demi pergaulan sosial, ekonomi dan kebutuhan tubuhnya akan toak. Sang penjual yang kesemuanya adalah peminum toak juga memanfaatkan untuk kebutuhan tubuh dan ekonomi. Pihak luar non beduak biasanya memanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu semisal saat pemilihan kepala daerah, Bupati, Kepala Desa, Camat dsb. Membuat analisis komponen. Tahapan ini, merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya, penulis menghubungkan rangkaian kontras yang mengandung fungsi tradisi nitik dan dimensi kontras yang terdiri atas konsep-konsep masyarakat lokal mengenai tradisi nitik. Konsep-konsep masyarakat tentang fungsi nitik diambil dari hasil wawancara mengenai cara pandang mereka pada fungsi tradisi nitik seperti 105

misalnya; nitik yang sering dimanfaatkan oleh orang luar, nitik yang berguna sak teruse atau jangka panjang, nitik yang gunane mung dhiluk atau jangka pendek, nitik yang gunane gawe bolo ngombe atau fungsi internal, nitik yang gunane menjobo atau fungsi eksternal, nitik dilihat dari apike gawe beduak atau kegunaan positif bagi beduak Aplikasi dari analisis komponen ini dapat dilihat dalam kertas kerja paradigma (analisis komponen) seperti di bawah ini; Kertas Kerja Paradigma 4.7 (Analisis Komponen)

Dimensi Kontras
Rangkaian Kontras
Kegunaan positif bagi beduak Jangka pendek Pemanfaatan beduak oleh pihak luar Jangka panjang Fungsi eksternal Fungsi internal kelompok

Sosial Tubuh Politik Ekonomi

Ya Ya Ya Ya

Ya Tidak Ya Ya

Tidak Tidak Ya Tidak

Ya Tidak Tidak Ya

Tidak Tidak Ya Tidak

Ya Tidak Tidak Ya

Dari kertas kerja diatas dapat kita lihat alasan-alasan nitik yang tergabung dalam rangkaian kontras bertemu dengan dimensi kontras yang merupakan kumpulan dari konsepsi beduak mengenai fungsi tradisi nitik. Dari analisis komponen, kita dapat mengetahui kesesuaian tradisi nitik pada tingkat abstraksi kedua fungsi sosial dari Malinowski

(Koentjaraningrat, 1980:160), yang memaparkan bahwa fungsi sosial dari 106

suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan berpengaruh pada suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya, seperti yang dikonsepsikan oleh warga masyarakat yang bersangkutan. Tradisi nitik ternyata mempunyai pengaruh keluar sampai pada pranata lainnya seperti yang terungkap dalam wawancara yang penulis tuang pada diagram taksonomik dan kertas kerja paradigma. Misal fungsi politik yang menyentuh perilaku serta pranata politik dalam hal money politic dalam bentuk pemberian uang, pemberian cinderamata, pentraktiran minum untuk para beduak. Setelah analisis komponen selesai, maka langkah selanjutnya adalah menemukan tema-tema budaya. Tahapan ini bertujuan untuk memahami sifat dasar tema-tema dalam sistem budaya. Penulis menggunakan strategi identifikasi tema budaya dengan mencari kemiripan di antara berbagai dimensi kontras sebagaimana ditulis oleh Spradley (1995:266). Sebelumnya penulis telah menyebutkan bagaimana dimensi kontras yang berhubungan dengan fungsi-fungsi tradisi nitik pada lingkungan beduak menegaskan tema-tema yang mungkin mengenai nitik sebagai sebuah tradisi dengan fungsi-fungsi implisit yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan internal beduak sebagai salah satu bentuk strategi adaptasi dalam hidup, sehingga masih eksis hingga sekarang. Tahapan ini sesuai dengan tingkat abstraksi fungsi sosial Malinowski yang ketiga, yaitu mengenai pengaruh suatu adat, tradisi atau pranata terhadap kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu. Nitik menjadi salah satu strategi adaptasi bagi

107

para beduak untuk survive, yang dalam hal ini adalah menjalankan rutinitas pekerjaan mereka sehari-hari dengan lancar tanpa gangguan kesehatan berarti. Nitik juga merupakan bagian dari alat integrasi bagi para beduak dan alat utama pembentuk ikatan sosial diantara mereka. Akhirnya kita harus mengakui pendapat dari Malinowski dalam bukunya yang berjudul A Scientific Theory of Culture and Other Essays (Koentjaraningrat, 1980:171), bahwa segala aktivitas budaya sebenarnya bermaksud memuaskan suat rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. Pendapat ini oleh Koentjaraningrat kemudian disebut sebagai tingkat abstraksi fungsi sosial yang keempat. Jadi, dari rangkaian fokus penelitian yang telah diuraikan penulis diatas dapat dilihat bahwa tradisi nitik mempunyai beberapa fungsi yang membuatnya masih eksis di Tuban. Dianalisis dari kajian interaksional simbolik, fungsi-fungsi nitik membuat interaksi antar para beduak terus berlanjut diluar area nitik, hubungan-hubungan yang terjadi antara aktor sosial (beduak) adalah salah satu efek dari asas timbal balik dan peranan mereka sebagai anggota bolo ngombe, kalau tindakan tersebut berhasil, maka akan berkembang menjadi suatu pola dalam komunitas yang berbentuk jaringan sosial.

108

BAB V FAKTOR PEMBENTUK IKATAN SOSIAL (SOCIAL BOND) DAN JARINGAN SOSIAL (SOCIAL NETWORK) PADA TRADISI NITIK
V.1 Elemen Pembentuk Ikatan Sosial (Social Bond) Dalam kajian teoritik mengenai ikatan sosial dari Travis Hirschi (Durkin, 1999:2), manusia dianggap sebagai makhluk sosial yang senantiasa butuh untuk bergaul dan mengikat pertemanan dengan manusia lain. Kajian ini sesuai dengan kumpulan bolo ngombe yang terikat satu sama lain dalam berbagai hal. Sebuah ikatan sosial, menurut Hirschi (Durkin, 1999:2), dapat terjadi apabila memenuhi empat elemen utama. Penulis akan mencoba menguraikan satu persatu dari keempat elemen tersebut sehingga bisa dipakai untuk menganalisa faktor pembentuk ikatan sosial (social bond) dalam tradisi nitik. Elemen pertama dari sebuah ikatan sosial adalah kasih sayang (attachment), elemen ini menjelaskan mengenai hubungan-hubungan yang terjadi antar anggota sehingga menyerupai hubungan keluarga.
”Attachment involves the degree to which the individual has affectional or emotional ties to these people, identifies with them, and cares about their expectations…individual with strong attachments are

109

less likely to engage in deviant behaviour” (Hirschi in Durkin, 1999:23) “Kasih sayang meliputi tingkat dimana individu mempunyai ikatan afeksi ataupun emosional kepada anggota lain, menyatu dengan mereka, dan peduli pada keinginan mereka...individu yang memiliki kasih sayang terkuat tidak akan dimasukkan dalam kategori orangorang berperilaku menyimpang” (Hirschi in Durkin, 1999:2-3)

Elemen ini nampak pada kumpulan beduak yang sering bertemu saat nitik. Seperti yang sudah penulis kutip dalam wawancara dengan Jarno (47) yang pada saat itu sedang berkeluh kesah tentang kurangnya tenaga untuk memperbaiki atap rumahnya, dan seketika itu juga mendapatkan respons positif dari teman-temannya dalam satu bolo ngombe. Hari minggunya, Jarno mendapatkan bantuan gratis dari bolo ngombenya walaupun datang dari luar desanya. Dasar pemikiran masyarakat Jawa memang

mengedepankan relasi sosial dan mengenyampingkan individualitas. Menurut penjabaran dari Mulder (1984: 52), individualitas bisa dianggap sebagai sikap yang membahayakan, bahkan dianggap berdosa dalam masyarakat Jawa. Elemen pertama pembentuk ikatan sosial ini memang merupakan sejenis pranata tersembunyi yang ada dan menaungi sekelompok bolo ngombe tanpa ada persetujuan formal atau dibuatkan peraturan khusus tentangnya. Kasih sayang memang mutlak terdapat dalam kumpulan bolo ngombe, namun kasih sayang ini bisa diartikan lain oleh sekelompok beduak yang ”nakal” dengan menganggap bahwa kasih sayang adalah memberikan kesedian membantu dalam pertengkaran antar geng atau kelompok. Menurut Sutiyono (37), kebanyakan yang senang bertengkar dan melibatkan bolo ngombenya adalah kelompok beduak anak muda baik di

110

Kecamatan Semanding dan Kecamatan Tuban. Masih menurut keterangan Sutiyono (37), saat ada pagelaran Orkes dangdut, anak-anak muda pasti datang dengan membawa toak atau sudah minum toak dalam jumlah banyak sebelum berangkat ke arena Orkes dangdut. Gunanya agar mereka tidak terasa lelah saat berjoged dan bergoyang tanpa ada rasa malu sedikitpun. Namun efek sampingnya adalah saat terjadi friksi seperti ”bersenggolan” dengan orang lain ataupun dendam lama, maka pertengkaran besar langsung terjadi karena pikiran mereka sudah dikuasai oleh alkohol dari toak. Pertengkaran besar tersebut bisanya melibatkan bolo ngombe masingmasing. Dalam pertanian, kasih sayang bisa diartikan saling membantu bila ada yang kesulitan alat pertanian, atau butuh bantuan menggarap sawah. Namun, menurut keterangan Sutiyono (37), seiring dengan krisis moneter yang berkelanjutan ini saling membantu menggarap sawah sudah mulai hilang dan cenderung dikomersilkan walau dengan bolo ngombe sendiri. Masih sering ditemui antar petani bolo ngombe saling meminjamkan alat pertanian seperti bajak, cangkul atau bahkan meminjam bibit jagung atau padi terlebih dahulu kemudian nanti dikembalikan. Elemen kedua dari ikatan sosial adalah komitmen (commitment), yang merujuk pada jumlah (aggregate) investasi waktu, energi, dan penghasilan yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama. Komitmen pada anggota bolo ngombe memang tidak bisa terindikasi dengan jelas seperti penelitian Durkin mengenai ikatan sosial diantara kelompok pemabuk di sekolah (1999), dimana dia memberi indikasi komitmen dengan

111

nilai Grade Point Average (GPA). Komitmen para beduak dalam satu bolo ngombe tidak nampak namun menjadi tata aturan yang ditaati oleh semuanya. Semisal komitmen agar tidak mabuk berat saat nitik, karena menurut keterangan Karmidji, para beduak tidak akan suka apabila salah satu kawannya terlalu banyak minum dan mabuk berat. Bila hal tersebut terjadi, maka yang bersangkutan segera diusir atau pulang dengan dinaikkan becak. Memegang teguh komitmen juga merupakan alat agar tidak dikucilkan dalam pergaulan dalam kelompok, seperti pendapat dari Durkin (1999:3), yang menyatakan bahwa individu dengan komitmen kuat tidak akan mempermalukan diri di depan kelompoknya dan masuk ke dalam golongan orang berperilaku menyimpang. Contoh lain, masih berdasarkan keterangan Karmidji, adalah komitmen yang menyatakan bahwa harus ada kepedulian pada sesama beduak dalam bentuk apapun. Apabila salah satu beduak mempunyai acara seperti hajatan atau pesta perkawinan untuk putra-putrinya, maka semua bolo ngombe harus datang walau tidak ada undangan formal, hanya lewat pengumuman singkat saat nitik. Bila, terdapat salah satu beduak tidak mau mengorbankan waktunya untuk datang ke tempat acara tersebut, maka bisa dipastikan dia akan mendapatkan sindiran dari beberapa beduak saat nitik pada hari berikutnya. Elemen ketiga dari ikatan sosial adalah keterlibatan (involvement). Elemen ini terdiri dari jumlah berapa waktu yang dihabiskan seorang anggota untuk terlibat dalam kegiatan yang bersangkutan dengan anggota

112

kelompok, baik kegiatan rutin maupun yang bersifat insidentil. Para beduak hampir setiap hari meluangkan waktunya untuk meminum toak, bukan untuk sekedar menjaga kebugaran tubuh dengan toak, namun juga bertemu dengan beduak-beduak lainnya. Keterlibatan lain juga bisa ditampakkan pada aktivitas diluar nitik seperti pada kasus Jarno yang membutuhkan tenaga untuk memperbaiki atapnya. Keterlibatan beduak dalam acara yang digelar salah satu beduak juga penting, karena apabila ada salah satu beduak yang tidak ikut dengan alasan yang kurang jelas maka akan dikucilkan dan dimasukkan pada golongan orang yang berperilaku menyimpang dari kelompok;
“According to social bond theory, individuals who spend their time involved in conventional pursuits simply do not have enough time available to engage in deviant behaviour” (Durkin, 1999:3). “Berdasarkan teori ikatan sosial, individu yang menghabiskan waktunya untuk terlibat dalam kegiatan inti biasanya tidak mempunyai banyak waktu yang tersedia untuk masuk dalam golongan orang berperilaku menyimpang” (Durkin, 1999:3).

Akhirnya, elemen keempat ikatan sosial adalah keyakinan (belief). Semua beduak yang penulis wawancarai beragama Islam, namun mereka tetap saja meminum toak dalam keseharian mereka. Bukan berarti keyakinan mereka terhadap ajaran Islam tidaklah kuat, namun mereka tidak pernah punya anggapan bahwa toak adalah minuman keras yang memabukkan. Toak bagi petani dan tukang becak Tuban dianggap sebagai suplemen yang siap membantu kinerja mereka sehari-hari dalam mencari uang, walaupun, tidak dipungkiri bahwa ada beberapa beduak yang memanfaatkan toak sebagai minuman untuk mabuk dan melupakan masalah.

113

Dalam pemikiran para beduak, toak bukanlah minuman haram (kategori Islam), karena mereka sendiri tidak pernah mabuk dibuatnya dan mereka tidak pernah tahu bahwa terdapat alkohol di dalamnya. Hal tersebut terungkap pada cuplikan wawancara penulis dengan salah satu beduak bernama Sukiman (46);

Penulis : Nopo mboten nate mendem toh pak? (apa tidak pernah mabuk pak?) Sukiman: Nggih mboten nate mas (ya, tidak pernah mas) Penulis : Njenengan mboten wedi diseneni ustadz, lha wong seneng ngombe toak? (anda tidak takut dimarahi ustadz, karena suka minum toak?) Sukiman:Wedi nopo mas, lha wong mboten ngombe bir mawon kok, toak niku amung digawe nyegerke awak mpun ngantos mendem (takut apa mas, khan saya tidak minum bir kok, toak hanya untuk menyegarkan tubuh, tidak sampai mabuk).

Teman-teman Sukiman sesama beduak turut setuju pada Sukiman, saat penulis wawancarai. Hal ini menunjukkan bahwa toak tidak pernah dianggap sebagai minuman untuk memabukkan diri, tapi sebagai penyegar badan atau suplemen sebelum dan sesudah bekerja seharian penuh. Karena keyakinan ini didasari pada kecintaan dan ketergantungan pada toak serta didukung oleh jumlah beduak yang banyak membuat tradisi ini sulit untuk dihapuskan.

V.2 Analisis Jaringan Sosial Pada Tradisi Nitik Untuk melihat jaringan sosial yang terbentuk diantara para beduak dalam tradisi nitik, maka penulis mencoba menganalisanya menggunakan analisis jaringan sosial sesuai pendapat J. A. Barnes, seorang guru besar

114

Antropologi Cambridge University. Barnes (Koentjaraningrat, 1980:159), mengungkapkan bahwa jaringan sosial tidak bersifat egosentrik, yaitu bahwa peneliti tidak perlu mempelajari jaringan sosial dari semua individu dalam suatu masyarakat atau kelompok. Jaringan sosial, menurut Barnes yang kemudian disempurnakan oleh A.W. Wolfe (Koentjaraningrat, 1980:158), dibagi menjadi dua yaitu unlimited social network atau jaringan sosial total, yang berarti keseluruhan jaringan sosial yang mungkin menjadi saluran dari segala kegiatan sosial seorang individu (Alpha) dalam hidupnya.tipe kedua adalah limited social network atau jaringan sosial terbatas, yang berarti suatu bidang tertentu dalam jaringan sosial total seorang individu. Kumpulan bolo ngombe dalam nitik, adalah tipe jaringan sosial terbatas, karena kumpulan bolo ngombe merupakan salah satu bentuk jaringan sosial dari total jaringan sosial seorang individu (beduak) selama hidupnya. Demi mendapatkan analisis terbaik, maka penulis menggunakan bantuan piranti lunak (software) analisis jaringan sosial yang bernama ”Netdraw.exe”. Penulis memasukkan beberapa nama dari berdasarkan daerah asal masing-masing beduak yang tergabung dalam satu bolo ngombe. Penulis membuktikan bahwa jaringan sosial telah terbentuk hanya dari sebuah pertemuan rutin dan ketergantungan pada minuman tradisional yang menjadi penyokong energi sehari-hari mereka. Para beduak yang tergabung dalam satu bolo ngombe berarti beduak yang nitik pada tempat yang sama. Dalam analisis jaringan sosial kali ini, penulis mencoba memvisualisasikan dua tempat nitik beserta jaringan bolo ngombenya di Kecamatan Semanding dan dua tempat nitik beserta jaringan

115

bolo ngombenya di Kecamatan Tuban. Jaringan sosial yang terbentuk tidak dibatasi oleh daerah desa, kecamatan, agama atau afiliasi politik. Dalam kumpulan bolo ngombe yang terpenting adalah kepedulian terhadap sesama sesuai dengan yang dikatakan oleh Margono (46), bahwa para beduak akan membantu beduak lain saat ada masalah tanpa diminta sekalipun. Penulis menggunakan metode visualisasi jaringan sosial sesuai dengan yang diusulkan oleh JA. Barnes (Koentjaraningrat,1990: 157), dimana bagan-bagan yang dikembangkan olehnya memudahkan analisis jaringan sosial yang terdiri dari titik-titik yang menggambarkan individu, dan garis-garis yang menyambungkan titik-titik yang menggambarkan interaksi antar individu. Menurut Koentjaraningrat (1990:157), analisis jaringan sosial yang disarankan oleh JA. Barnes ini memang sesuai untuk menganalisa kelompok sosial yang tidak resmi seperti bolo ngombe dalam tradisi nitik. Titik yang menggambarkan informan disebut alpha (∝), sama dengan ego dalam bagan silsilah kekerabatan yang dipakai untuk menggambarkan informan. Model jaringan sosial ini, menggunakan teknologi software Netdraw yang memang khusus dirancang utuk membuat model jaringan sosial berikut dengan cara menganalisanya. Di bawah ini adalah visualisasi jaringan bolo ngombe tempat nitik dengan penjual Karmidji;

116

Model 5.1 Jaringan Sosial Bolo ngombe Nitik dengan Penjual Karmidji, Desa Ngino, Kec. Semanding

117

Bagan diatas diambil dari persepsi orang alpha (∝) yaitu Karmidji, yang merupakan penjual yang biasa berjualan di Desa Ngino, Kecamatan Semanding. Karmidji memiliki 25 bolo ngombe dan tersebar di lima desa di Kecamatan Semanding. Beduak yang berhubungan dengan Jarno disebut dengan alter, garis yang menghubungkan Jarno (alpha) dengan beduak lain (alter) dinamakan adjacent. Hubungan interaksi antara alpha dengan alter oleh Bartes (Koentjaraningrat 1990:157) disebut dengan zone. Suatu zone dapat dibagi menjadi tiga untuk menggambarkan 118

interaksinya. Jenis pertama, yaitu first order zones apabila hubungan interaksi antara alpha dan alter bersifat langsung dan yang kedua yaitu second order zones atau hubungan interaksi melalui alter. Jenis terakhir adalah third order zones yaitu hubungan interaksi melalui dua alter. Jenis dari visualisasi jaringan sosial yang penulis tampilkan adalah first order zones, dimana hubungan interaksi antara alpha dan alter-alter lainnya bersifat langsung tanpa perantara. Hubungan yang bersifat langsung ini menambah kedekatan diantara mereka. Dalam bagan tersebut penulis membuktikan bahwa jaringan sosial yang dimiliki seorang beduak (alpha) bisa menembus batas regional (sampai keluar desa) yang beberapa desa diantaranya berjarak jauh dari Desa Ngino. Jarak antara Penambangan dan Bektiharjo kurang lebih 5 km, jarak antara Penambangan dan Genaharjo sekitar 7 km, Penambangan dengan Ngino 13 km, Desa Kowang dengan Penambangan 6 km. Dalam model jaringan sosial diatas, penulis mengelompokkan beduak sesuai dengan desa asal mereka. Ngasipan (lihat lampiran gambar 15), Jarno, Surawi, Sentot (lihat lampiran gambar 15), Sukoco, Manto, Lawar, Karwi merupakan beduak yang berasal dari Desa Penambangan. Sedangkan Karjan, Mulyo, Pariman, Sujono berasal dari Desa Kowang, Kecamatan Semanding. Margono, Imam, Jumhuri, Gatot berasal dari Desa Genaharjo, Kecamatan Semanding. Karmidji, Taryono, Sukri, Warman berasal dari Desa Ngino, Kecamatan Semanding. Rantap, Jauhari dan Sokheh (lihat lampiran gambar 14) berasal dari Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding.

119

Contoh visualisasi jaringan sosial lain adalah bolo ngombe dalam nitik dengan penjual Taji (48) yang biasa mangkal di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban (lihat lampiran gambar 7). Berdasarkan hasil wawancara dengan Taji, beduak yang benar-benar bisa dianggap sebagai bolo ngombe hanya sedikit dari jumlah keseluruhan beduak yang minum di tempatnya. Banyak beduak yang hanya datang karena ingin minum, setelah itu pergi. Beduak seperti ini tidak bisa merasakan ikatan sosial dengan yang lainnya, karena tidak mempunyai elemen ketiga dari ikatan sosial yaitu keterlibatan (involvement). Menurut keterangan Taji (48), beduak yang ada di kecamatan kota (Kecamatan Tuban) bukan hanya datang dari pedesaan dengan pekerjaan petani, namun lebih beragam seperti tukang becak, kuli bangunan, pegawai swasta maupun negeri dan jenis pekerjaan lainnya, kesibukan mereka masing-masing membuat tidak bisa meluangkan waktu untuk nitik setiap hari di tempat Taji. Mereka hanya datang apabila sedang ingin minum toak saja, setelah itu mereka kembali bekerja atau pulang ke rumah. Masih menurut Taji, terkadang pada saat-saat tertentu dirinya mengundang sindir12 untuk menghibur para beduak yang minum di tempatnya. Biasanya satu sindir hanya ditemani oleh seorang laki-laki yang membawakan tape yang memutar kaset-kaset tayuban, sang sindir ”siap tempur” dengan membawa pakaian tradisional Jawa berupa kebaya, jarik, dan tidak lupa selendang panjang dengan warna mencolok yang selama ini menjadi ciri khas para sindir Tuban. Selain mendapat upah dari Taji,
12 Sindir adalah julukan bagi penari dalam seni Tayuban di Tuban, biasanya juga disebut sebagai ledhek, karena Tayuban sendiri bisa disebut sebagai ledhekan

120

biasanya sindir juga mendapat sawer13 dari para beduak yang menikmati tariannya. Bagi Taji, dengan hadirnya sindir, banyak beduak yang datang ke tempatnya untuk minum toak sambil menikmati tarian sang sindir. Bolo ngombe yang dapat diidentifikasi oleh Taji di dalam tempat nitiknya adalah Teguh (lihat lampiran gambar 12), Sugeng, Wandono, Sukiman, Kasrun, Imam, Joko, Jalal, Wargo (berbeda dengan Wargo yang biasa nitik di tempat Warsito) dan Ismu (lihat lampiran gambar 8). Kesepuluh beduak inilah yang hampir setiap hari nitik di tempat Taji, karena Imam, Joko, Jalal, Kasrun (lihat lampiran gambar 12), Wargo dan Sukiman (lihat lampiran gambar 11) adalah tukang becak dan Wandono (lihat lampiran gambar 8), Sugeng, Teguh adalah kuli lepas bidang bangunan, sedangkan Ismu adalah nelayan. Ketiga jenis pekerjaan yang dimiliki oleh kesepuluh orang tersebut memang jenis pekerjaan berat yang membutuhkan suplemen setiap harinya, karenanya mereka membutuhkan toak. Seperti yang diungkapkan oleh Jalal (44), tukang becak yang biasa mangkal di depan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Latsari III ini, merasa pegal dan lemas bila tidak minum toak sehari. Berikut adalah visualisasi dari jaringan sosial yang ada di kalangan para beduak di tempat nitik Taji, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban;

Model 5.2 Jaringan Sosial Pada Bolo ngombe Nitik dengan Penjual Taji di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban

13 Sawer adalah pemberian uang bagi penari atau entertainer lain di panggung dari para penonton atau partisipan yang diajak naik dengan cara-cara tertentu dan bersifat informal diluar kesepakatan kerja.

121

122

Penulis meyajikan model analisis jaringan sosial yang lebih lengkap pada model kedua ini. Model ini diambil dari kumpulan bolo ngombe yang ada di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban, tepatnya mereka yang biasa nitik di penjual toak bernama Taji. Dari beberapa orang yang datang untuk minum di tempat Taji, hanya sembilan orang yang mempunyai ikatan erat. Kelompok ini terdiri dari Jalal, Kasrun, Murjito yang berasal dari Kelurahan Doromukti, Kacamatan Tuban. Wargo dan Ismu yang berasal dari Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban. Joko, Sugeng, Teguh, Wandono yang berasal dari Kelurahan Latsari sendiri. Menurut keterangan dari Teguh (35), mereka bersembilan sering main adu burung dara, adu ayam jago dan memancing bersama-sama. Kalaupun ada masalah, pasti akan saling membantu satu sama lain.

Gambar 5.1 Latsari, Kecamatan Penjual Taji.

Nitik di Kelurahan Tuban dengan

123

Nampak Murjito (bertopi abu-abu bergaris putih) dan Kasrun (bertopi coklat)

Dalam visualisasi jaringan sosial di Kecamatan Latsari ini, penulis menggambarkan dengan jelas hubungan antara alpha (Sugeng) dengan alteralter lainnya, namun di samping itu model ini menunjukkan hubungan alter dengan alter lainnya. Jadi, akan tampak lebih kompleks, arah panah dalam adjacent memiliki dua arah, menggambarkan kedua alter yang dituju maupun berasal saling mengenal satu sama lain. Walaupun dua penulis menyajikan visualisasi jaringan sosial yang berbeda, namun sebenarnya kedua jenis jaringan sosial ini tetap sama. Para ahli Antropologi menyebut clique, kelompok teman atau geng bukan sebagai group melainkan quasi group atau kelompok semu. Bolo ngombe, seperti yang telah penulis utarakan dalam kerangka teori, termasuk dalam golongan clique. Karena bolo ngombe bukan seperti kelompok teman biasa, namun mempunyai hubungan yang lebih dalam seperti keluarga. Menurut Koentjaraningrat (1990:161), para ahli Antropologi beranggapan serius bahwa semua bentuk kelompok semu didasarkan pada principle of reciprocity atau asas timbal balik. Maka dari itu, keempat elemen dalam sebuah ikatan sosial tidak akan bekerja bila tidak ada timbal balik di dalamnya. Jarak antar dsa atau kelurahan yang jauh tidak akan menjadi halangan bila hubungan pertemanan didasari asas timbal balik (resiprositas) dan masing-masing merasa diuntungkan. Contoh apabila beduak A dibantu oleh beduak B dalam menghadapi masalah, maka pada saat beduak B membutuhkan bantuan beduak A harus mempunyai inisiatif membantu tanpa diminta. Seperti dalam pengakuan 124

Gatot (52) yang ikut membantu Pariman (48) saat dia mempunyai hajat menikahkan anak perempuannya. Hal tersebut dilakukan karena selain elemen attachments dalam diri Gatot, juga karena dua minggu sebelumnya Pariman membantu Gatot mengantarkan anaknya untuk khitanan. Jaringan sosial yang terbentuk juga berfungsi sebagai alat pemersatu dan penurun tensi ketegangan akibat kompetisi di dalam suatu masyarakat, bisa saja tanpa jaringan sosial yang kuat sesama petani berkompetisi secara tidak sehat. Hal tersebut nampak pada tulisan dari Paputungan (2001:25), bahwa jaringan-jaringan sosial informal juga merupakan sumber dukungan yang penting bagi penurunan ketegangan dan meningkatkan kompetensi serta kemampuan pengendalian seseorang dalam kelompok.

125

BAB VI ANALISIS JARINGAN KOMUNIKASI PADA TRADISI NITIK

Sabtu, 17 januari 2008, penulis mengadakan penelitian di kampung nelayan Karangsari, Tuban. Penulis melihat bahwa sebagian besar anak nelayan sudah diberi pemahaman tentang minum toak semenjak usia remaja. Berdasarkan hasil pengamatan penulis pada makalah Karya tulis Ilmiah penulis bidang sosial yang berjudul ”Kursus Pijat Fisioterapi Arthitis di Kampung Nelayan Karangsari Tuban”, kesadaran nelayan akan pendidikan anaknya masih sangat rendah karena faktor ekonomi dan pendidikan orang tua. Maka dari itu kebanyakan anak laki-laki nelayan biasanya putus sekolah setelah tamat Sekolah Menengah Pertama dan ikut ayahnya melaut, sedangkan yang perempuan membantu sang ibu mengolah hasil tangkapan ayahnya. Menurut Pandupitoyo (2005:17), Para nelayan dewasa biasanya mengkonsumsi toak sebelum berangkat melaut untuk menghangatkan badannya. Kondisi di laut dengan angin yang begitu kencang dengan dibalut pakaian yang sangat minimal, membuat mereka butuh penghangat tubuh. Jadi semenjak usia SMA (Sekolah Menengah Pertama), para ”calon

126

nelayan” ini melihat para seniornya meminum toak sebagai salah satu senjata dalam melaut. Apa yang mereka lihat ini merupakan pembelajaran secara tidak langsung tentang bagaimana cara ”menghadapi” laut yang baik. Pada saat mereka tumbuh dewasa dan jam terbang melaut mereka semakin banyak, maka hasil pembelajaran akan mereka lakukan dengan meminum toak sebelum berangkat melaut. Menurut Everett Rogers, analisis jaringan komunikasi merepresentasikan pengaruh potensial pada perilaku suatu komunitas, dan pada kebalikannya bagaimana perilaku tersebut

mempengaruhi sistem yang lebih besar. Rogers (1981:87), mencontohkan dalam bukunya bahwa salah satu contoh kasus yang menunjukkan pentingnya jaringan komunikasi adalah penelitian dari Alexander (Rogers, 1981:87):
”...friendship cliques on student drinking behavior in an English high school. Most of each case of a nondrinking member of a drinking clique (or of a drinker in an otherwise nondrinking clique), the deviant from the clique norm was less connected (sociometrically) than were the non-deviant individuals.” “…hubungan-hubungan clique dalam komunitas siswa yang suka meminum alkohol di sebuah sekolah menengah atas Inggris. Kebanyakan dari kasus siswa yang tidak meminum alkohol (atau peminum alkohol yang tidak masuk dalam clique peminum), merupakan deviant dari norma-norma clique adalah mereka yang paling sedikit mendapat perhatian daripada individu non deviant”

Contoh kasus yang diteliti oleh Alexander ini mirip dengan yang terjadi di sebagian komunitas anak muda kampung nelayan Karangsari, Kabupaten Tuban. Anak-anak nelayan yang beranjak dewasa diajak oleh temantemannya yang lain untuk meminum toak bersama. Apabila sang anak menolaknya, maka dia akan mendapatkan sangsi sosial berupa ejekan atau hinaan bahkan diasingkan. Sangsi sosial yang diberikan kepada anak tersebut terungkap saat penulis mewawancarai 127

seorang anak nelayan yang setiap hari membantu ayahnya untuk melaut bernama Yanto (20). Kebiasaannya menenggak toak sebelum melaut bukan hanya dipengaruhi oleh kebutuhan fisiknya dalam menghadapi angin laut, melainkan juga karena pengaruh lingkungan sosial tempat tinggalnya.
“Aku pertamane dikik ra doyan toak mas, lha wong jek umur nem belas taun. Tapi nek ra ngombe ki engkok ndak kademen ning tengah segoro, lha nek onok toak lak isit anget awak iki. Terus sakliyane iku yo dipekso karo cah-cah kuwi ok. Nek ra ngombe disemoni jirene banci, trus nek ra melok gumbul nitik ra oleh bolo karo bakal dicing” “Waktu pertama dulu saya tidak suka minum toak, masih umur enam belas (16) tahun. Namun kalau saya tidak minum toak, saya akan kedinginan di tengah laut, kalau meminumnya (toak) pasti badan jadi hangat. Terus selain itu juga dipaksa oleh anak-anak lain, kalau tidak minum toak akan disoraki banci, lalu kalau tidak ikut kumpul nitik tidak mendapat teman dan akan disingkirkan”

Pada bagian ini, analisa jaringan komunikasi sangatlah penting untuk mengatahui bahwa suatu jaringan mempunyai efek pada perilaku suatu kelompok. Definisi sebuah clique adalah subsistem dimana elemen-elemen di dalamnya saling berinteraksi lebih sering dan frekuentif daripada anggotaanggota lain dalam suatu sistem komunikasi. Clique dalam yang dimaksud dalam studi etnografi nitik ini adalah bolo ngombe yang merupakan kumpulan dari para beduak yang melakukan rutinitas minum toak pada satu pedagang yang sama. Para beduak yang tergabung dalam satu bolo ngombe ini, relatif sering bertemu dalam tradisi nitik. Mereka sering bertemu karena ketergantungan mereka terhadap toak. Penelitian penulis pada Desa Genaharjo, Kecamatan Semanding memperlihatkan bahwa petani-petani yang tidak suka minum dan tidak ikut dalam kegiatan nitik mendapatkan perhatian maupun teman sebanyak petani

128

yang sering mengikuti nitik. Para petani yang sering mengikuti nitik terbukti memiliki jaringan komunikasi yang luas, bahkan sampai keluar desanya. Jaringan mereka yang luas membuat beberapa urusan yang tampak sulit, menjadi lebih mudah karena kerjasama antar petani. Kerjasama tersebut terbukti dalam pernyataan Kardji (53):
“Aku ndikik tau kurang tenogo gae nggarap sawah mas, tapi terus dibantu karo wong-wong bolo ngombe sing gawene ngombe nang Karmidji, soale aku dewe yo nyanggong nang kono meh saben sore mari muleh kerjo. Gratis ra katek mbayar opo-opo” “Saya dulu pernah mengalami kekurangan tenaga untuk menggarap sawah mas, lal kemudian dibantu oleh orang-orang (petani-petani) yang tergabung dalam bolo ngombe yang biasanya minum di Karmidji (penjual toak), karena saya sendiri biasa minum disana hampir setiap sore sepulang kerja. Gratis tidak bayar”

Sedangkan menurut Sutiyono, petani-petani yang tidak suka nitik, kurang mendapatkan teman atau perhatian dari petani lain karena kurangnya intensitas dalam berkumpul setiap harinya. Intensitas pertemuan hampir setiap hari membuat ikatan sosial di kalangan para petani beduak menjadi semakin kuat. Setiap bertemu mereka berbagi cerita, pengalaman dan tertawa bersama seperti terlepas beban mereka sehari-hari. Kerukunan inilah yang membuat persahabatan diantara mereka menjadi kental, sehingga terkesan seperti saudara sendiri. Saat satu beduak membutuhkan bantuan, maka beduak lain siap membantu tanpa mengharapkan imbalan apapun. Komunikasi yang mereka lakukan setiap hari juga membuka kemungkinan adanya lahan-lahan pekerjaan baru atau informasi baru yang belum mereka ketahui sebelumnya. Semisal saat penulis menemukan bahwa tanah sawah milik salah satu beduak yang bernama Sentot (47) merupakan

129

tanah yang baru ia beli dengan harga murah dari orang Beji (Kecamatan Jenu, Kab. Tuban) dari informasi Jarno (47) yang notabene merupakan bolo ngombe Sentot di tempat Karmidji. Petani lain yang tidak suka minum, tentu tidak memiliki kesempatan untuk sering-sering bertemu dengan petani-petani lain, karena berdasarkan informasi dari Sutiyono, kebanyakan petani di desa-desa Kecamatan Semanding dan sekitarnya suka meminum toak karena pekerjaan mereka yang tergolong berat, maka mereka membutuhkan semacam suplemen penambah tenaga agar lebih kuat dalam bekerja. Petani lain apabila pagi tiba langsung berangkat ke sawah tanpa mampir dulu di tempat minum toak, siang hari bekerja di sawah dan sore hari menjelang maghrib pulang menuju langsung ke rumah juga tanpa mengunjungi tempat minum toak. Sedangkan kebiasaan petani beduak kebanyakan adalah pagi sekitar pukul 06.30 WIB mereka berangkat menuju ke sawah masing-masing, namun sebelum itu mereka mampir ke tempat minum toak untuk meminum se-centhak toak dan sebungkus tambul kacang-kacangan, karena umumnya mereka sudah sarapan semenjak beragkat dari rumah. Siang hari mereka bekerja dan sekitar pukul 16.30 WIB mereka berhenti bekerja dan menuju ke tempat minum toak untuk melepas lelah dan bertemu dengan kawan-kawan sepekerjaan. Disitu mereka bersenda gurau, berbicara serius dan bersantai sambil menikmati toak dan tambul daging-dagingan. Kegiatan seperti ini rutin dilakukan oleh para petani beduak sehingga mereka bisa membentuk sebuah ikatan sosial yang berujung pada jaringan sosial. Jaringan sosial yang terbentuk bahkan bisa sampai keluar dari desa

130

ataupun kelompok bolo ngombe mereka. Karena apabila toak yang disajikan nikmat, maka beduak yang datang bukan hanya dari desa setempat, melainkan dari luar desa atau bahkan dari daerah Kecamatan kota (sebutan untuk Kecamatan Tuban). Perilaku yang didapatkan seorang petani dari kalangan bolo ngombe oleh anggota bolo ngombe yang lain tentu saja berbeda dengan perlakuan petani bukan anggota bolo ngombe oleh petani anggota bolo ngombe. Perbedaan perilaku ini merupakan efek dari komunikasi yang sering dipertanyakan oleh para peneliti ilmu sosial. Perbedaan ini pula yang menentukan sikap setiap individu petani nantinya. Kita bisa melihat bagaimana sikap dan perlakuan petani beduak waktu diminta tolong membantu petani yang “kurang dikenal” karena tidak pernah berkumpul di tempat minum toak. Seperti pengakuan dari Margono;
“Kulo nek dijaluki tani liyo mbantu nggarap sabine, nggih kulo regani mas. Tapi nek bolo ngombe dhewe ngeten niki nggih mboten penak umpamane menehi regi” “Saya kalau diminta tolong petani lain untuk menggarap sawahnya, pasti akan saya pasang tarif mas. Tapi kalau bolo ngombe sendiri yang minta tolong, saya tidak enak kalau memberi harga.”

Perlakuan lain juga didapat oleh pateni beduak namun tidak sama tempat minum toaknya atau bisa dikatakan tidak dalam satu kelompok bolo nogmbe. Perilaku-perilaku individu ini jelas sekali dipengaruhi oleh jaringan komunikasi mereka, sehingga mempengaruhi pola pikir serta tindakan mereka terhadap orang lain maupun lingkungan. Beberapa penelitian mengenai jaringan komunikasi dari Alexander (1964) tentang clique peminum alkohol di SMU Inggris, penelitian dari Laumann dan Pappi (1973) tentang 51 komunitas di Jerman, Hurt dan Preiss 131

(1978) mengenai keberhasilan akademik diantara anak-anak usia sekolah, Alba (1978) mengenai toleransi diantara keberagaman etnik, mengerucut pada satu kesimpulan bahwa perilaku dari individu merupakan bagian dan hasil dari fungsi jaringan komunikasi dimana individu tersebut merupakan anggota.

132

BAB VII KESIMPULAN
VII.1 Kesimpulan Tradisi nitik atau tradisi minum toak bersama benar-benar sudah mendarah daging dan turun temurun dilakukan di Kabupaten Tuban. Hingga hari inipun, tradisi ini tidak dianggap sebagai tradisi usang yang harus ditinggalkan begitu saja. Antusiasme generasi muda juga tidak kalah dengan yang tua, apapun alasan mereka mengikutinya. Toak yang menjadi materi utama nitik adalah minuman tradisional yang dibuat dari fermentasi alami pada nira siwalan. Minuman ini menghasilkan kadar alkohol alami dan tergolong memabukkan bagi siapapun yang meminumnya. Menurut Gardjito dkk. (2004:94), kadar alkohol di dalam toak diperkirakan mencapai 2 – 4% dan termasuk tinggi untuk golongan minuman tradisional fermentasi alami. Banyak orang yang suka memium toak dengan disertai oleh banyak alasan seperti untuk menghangatkan badan, untuk obat, sampai pada untuk mabuk melupakan masalah. Penikmat rutin toak disebut dengan beduak. Biasanya beduakbeduak hampir setiap hari menikmati toak, karena sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup mereka. Toak, oleh beberapa orang pekerja berat seperti tukang becak, petani, kuli bangunan atau nelayan sebagai suplemen energi atau semacam minuman berenergi yang membantu memberikan energi

133

tambahan dalam aktifitas mereka sehari-hari. Banyak hasil wawancara penulis dengan para beduak yang menyebutkan bahwa, apabila mereka (para beduak) tidak minum toak sebelum atau sesudah bekerja, maka badan mereka akan lemas dan tidak bertenaga. Khususnya para petani yang pagi harus berangkat ke sawah dan baru pulang sore hari. Akhirnya, tempat nitik di pedesaan tidak kalah ramainya dengan tempat nitik di kota (Kecamatan Tuban). Ketergantungan mereka akan toak membuat mereka datang setiap hari dan bertemu dengan orang yang sama-sama ingin menikmati toak. Pertemuan rutin dengan orang yang sama pada satu tempat nitik, duduk, berbincang santai dan bersenda gurau membuat para beduak tersebut akrab dan menjalin tali pertemanan, hingga akhirnya terbentuklah ikatan sosial (social bond). Kumpulan beduak dalam satu tradisi nitik yang sering bertemu dan lebih sering berkomunikasi serta memiliki ikatan sosial satu sama lain disebut dengan dengan bolo ngombe. Terbentuknya ikatan sosial ini bukanlah dalam waktu singkat tanpa melalui proses. Ikatan sosial ini terbentuk melalui suatu proses dan faktor/elemen yang mendukung pembentukannya. Menurut Hirschi (Durkin, 1999:2), terdapat empat elemen pendukung dari sebuah ikatan sosial. Elemen pertama adalah kasih sayang (attachments). Elemen dimiliki oleh para beduak, karena mereka saling membantu satu sama lain bila dibutuhkan tanpa pamrih. Bantuan yang diberikan bisa berupa tenaga, barang maupun uang. Hubungan antar beduak ini berkembang seperti hubungan dengan keluarga sendiri.

134

Elemen kedua adalah komitmen (commitment). Elemen ini menjadi penting, karena komitmen diantara para beduak tidak pernah dideklarasikan atau ditulis dalam peraturan khusus. Komitmen mereka hanya ada di otak masing-masing dan sudah menjadi komitmen turun temurun sejak nenek moyang mereka. Komitmen kecil contohnya dilarang mabuk pada saat nitik, atau asas timbal balik diantara para beduak dalam bantu membantu. Komitmen seperti itu menjadi konvensi bersama tanpa harus ditulis, namun harus dipatuhi, karena apabila dilanggar akan menerima sangsi sosial berupa pengucilan. Elemen ketiga adalah keterlibatan (involvement), elemen ini meliputi kesediaan para beduak untuk tetap rutin melakukan nitik di tempat yang sama dan bertemu dengan bolo ngombe yang lain, atau kesediaan beduak untuk datang pada kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan para beduak lain dalam satu bolo ngombe. Seperti acara pernikahan salah satu anggota keluarga beduak harus dihadiri oleh beduak-beduak lain. Apabila tidak hadir dengan alasan yang kurang jelas, maka sangsi sosial berupa pengucilan atau para beduak lain tidak akan mengahadiri setiap acara yang dibuatnya. Elemen keempat adalah keyakinan (belief). Elemen ini bersangkutan dengan keyakinan dasar yang dianut oleh para beduak (semua informan yang diwawancarai oleh penulis beragama Islam). Memang bila, ditilik dari ajaran Agama Islam, toak adalah minuman keras yang haram untuk dikonsumsi. Namun, para beduak yang beragama Islam menganggap toak sebagai minuman penyegar badan dan penambah energi agar mereka bisa bekerja maksimal, bukan untuk memabukkan diri. Jadi, mereka tidak pernah

135

menganggap toak haram dan tidak pernah menyadari alkohol yang terkandung di dalamnya. Keyakinan ini semakin kuat karena didukung oleh penikmat toak yang jumlahnya banyak dan memiliki keyakinan yang sama. Terlihat bahwa bolo ngombe telah memenuhi empat elemen pembentuk ikatan sosial, apakah berhenti sampai disini saja? tidak, dari ikatan sosial yang semakin kuat dari ke hari, kemudian terbentuklah jaringan sosial quasi group atau kelompok semu. Penulis berhasil mengetahui bahwa ikatan sosial mampu membentuk sebuah jaringan sosial kuat yang menembus batas wilayah. Dari dari model jaringan sosial 4.1 (hal.111) dan 4.2 (hal.114) dapat diketahui bahwa jaringan bolo ngombe yang diukur dari satu alpha menembus batas wilayah desa. Ikatan sosial yang membentuk jaringan sosial adalah faktor pertama yang membuat nitik sulit untuk dihapus dari Kabupaten Tuban dan tetap eksis hingga sekarang. Faktor kedua adalah beberapa fungsi yang ada di dalamnya memberikan keuntungan tersendiri bagi para pengikutnya (beduak) atau bahkan bagi orang yang berada diluar bolo ngombe sekalipun. Setelah menjalankan penelitian dan menerapkan fokus penelitian etnografi seperti yang disarankan oleh Spradley (1995:181), penulis menganalisa beberapa data wawancara dan mendapati empat fungsi utama nitik. Fungsi sosial, yaitu kegunaan nitik untuk mencari teman, mencari teman senasib sepenanggungan, mencari teman yang bisa membela apabila suatu saat terkena masalah, mencari teman berbagi masalah. Fungsi ekonomi, yaitu kegunaan nitik untuk mencari pekerjaan kepada sesama beduak, menjual barang dagangan dalam nitik, nitik adalah

136

sumber penghasilan bagi penjual. Fungsi untuk tubuh, yaitu kegunaan nitik (dalam hal ini adalah toaknya) untuk menjaga kebugaran tubuh, menambah energi saat bekerja. Fungsi politik, yaitu kegunaan nitik untuk menunjukkan eksistensi ke masyarakat luar bahwa yang bersangkutatan kuat minum toak, pemanafaatan nitik oleh oknum diluar bolo ngombe yang menjadi kandidat dalam pemilihan calon kepala daerah baik Lurah, Camat maupun Bupati untuk memperoleh suara dengan mentraktir atau memberi hadiah pada para beduak. Faktor yang ketiga adalah, keyakinan para beduak yang menganggap bahwa toak bukanlah minuman yang haram untuk dikonsumsi dan tidak diminum dengan sengaja untuk memabukkan diri. Toak hanya mereka anggap sebagai minuman penambah energi dalam bekerja. Karena keyakinan inilah, toak masih bisa bertahan sampai sekarang. Keyakinan yang didasari pada kecintaan dan ketergantungan pada toak serta didukung dengan jumlah beduak yang banyak, membuat tradisi ini sulit untuk dihapuskan. Tujuan akhir dari fokus penelitian etnografi adalah pencarian tema budaya. Pencarian tema budaya bertujuan untuk memahami sifat dasar tematema dalam sistem budaya. Penulis menegaskan tema-tema yang mungkin mengenai nitik sebagai sebuah tradisi minum toak bersama dengan fungsifungsi implisit yang dapat dimanfaatkan oleh pengikutnya (beduak) sebagai salah satu bentuk strategi adaptasi dalam hidup, sehingga masih eksis hingga sekarang.

137

VII.2 Saran Penulis sadar bahwa penelitian etnografi mengenai tradisi nitik Tuban masih sangat kurang di dunia Antropologi, padahal masih banyak yang bisa diungkap mengenai tradisi nitik, toak, beduak dan bolo ngombe. Di bidang Antropologi Ekonomi misalnya bisa dilihat bagaimana strategi penjualan toak oleh para penjual agar paling banyak mempunyai anggota nitik, atau dari bidang antropologi pariwisata dalam melihat toak dan nitik sebagai ikon masyarakat Tuban yang bisa menghasilkan pendapatan bagi masyarakat sekitar dengan menjualnya kepada wisatawan. Maka, penulis berharap generasi Antropologi selanjutnya mencoba untuk melakukan penelitian di Kabupaten Tuban untuk meneliti mengenai keberadaan tradisi nitik, beduak, toak dan bolo ngombe. Apabila kita mampu menemukan rumusan maupun hipotesis yang tepat mengenai nitik, tentunya akan bisa digunakan dalam menganalisa jenis tradisi atau kelompok sejenis di tempat lain. karena telah melalui semua proses, maka penulis menyarankan agar Antropolog maupun calon antropolog Indonesia untuk mempertimbangkan penggunaan metode etnografi yang disarankan oleh James Spradley dalam bukunya yang berjudul Metode Etnografi dalam penelitian-penelitian mengenai kebudayaan masyarakat. Memang pada awalnya, penggunaan fokus penelitian etnografi James Spradley terlihat sangat rumit, namun setelah kita lakukan 12 tahapan di dalamnya, penulis yakin semuanya akan berjalan mudah dan lancar.

138

Kurangnya penggunaan alat bantu seperti software juga menjadi keprihatinan tersendiri bagi penulis, karena banyak karya skripsi mengenai jaringan sosial tidak mencantumkan model jaringan sosialnya atau hanya menggunakan gambar manual yang tentu saja lebih rumit. Apabila hasil gambar manual tersebut dimasukkan ke dalam komputer, maka hasilnya akan tampak kurang maksimal. Untuk mempermudah seorang peneliti menganalisa suatu fenomena jaringan sosial, penulis menyarankan agar seyogyanya menggunakan program Netdraw.exe yang bisa di-download gratis dari internet dan bisa digunakan untuk memetakan data anggota jaringan sosial menjadi sebuah model jaringan secara otomatis.

139

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful