P. 1
Analisis Salah Asuhan (Struktural dan Poskolonial)

Analisis Salah Asuhan (Struktural dan Poskolonial)

|Views: 5,617|Likes:
Sebuah analisis bab 1 - 8 dari "Salah Asuhan" dengan menggunakan teori struktural dan poskolonial. Makalah ini ditulis sebagai ganti ujian sisipan 2 untuk mata kuliah Kajian Prosa Indonesia di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Maaf bila terjadi kesalahan bahasa, saya orang Kanada.
Sebuah analisis bab 1 - 8 dari "Salah Asuhan" dengan menggunakan teori struktural dan poskolonial. Makalah ini ditulis sebagai ganti ujian sisipan 2 untuk mata kuliah Kajian Prosa Indonesia di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Maaf bila terjadi kesalahan bahasa, saya orang Kanada.

More info:

Published by: Christopher Allen Woodrich on Jan 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

ANALISIS POSKOLONIALISME DALAM NOVEL SALAH ASUHAN: BAB SATU SAMPAI DENGAN SEMBILAN Makalah Diajukan untuk Memenuhi

Salah Satu Syarat Lulus Mata Kuliah Kajian Prosa Nusantara

Oleh: Christopher Allen Woodrich NIM: 084114001 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa makalah yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, .......................................... Penulis

Christopher Allen Woodrich

KATA PENGANTAR Atas bantuan mereka dalam penyelesaian makalah ini saya ingin ucapkan terima kasih kepada orang-orang berikut: 2

• • •

Trifosa Sie Yulyani Retno Nugroho, atas dukungannya dalam semua tugas akademik. S. E. Peni Adji, untuk segala ajarannya tentang teori-teori kajian sastra. Abdoel Moeis untuk karangannya yang begitu menarik dan penuh makna.

Makalah ini tidak sempurna dan apabila terjadi kekurangan saya mohon maaf lebih dahulu. Terima kasih.

Yogyakarta, ………………….. 2009

Christopher Allen Woodrich NIM: 084114001

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ ii 3

KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv BAB I: PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1 B. Tujuan Analisis ........................................................................... 1 C. Sistematika Penyajian ................................................................. 1 BAB II: ANALISIS STRUKTURAL ........................................................... 3 A. Narasi ......................................................................................... 3 B. Alur Cerita .................................................................................. 3 1) Perkenalan ............................................................................ 4 2) Timbulnya Konflik ............................................................... 4 3) Peningkatan Konflik ............................................................. 4 C. Latar ............................................................................................ 4 1) Latar Waktu .......................................................................... 4 2) Latar Tempat ........................................................................ 5 3) Latar Sosial Budaya ............................................................. 6 D. Penokohan .................................................................................. 6 1) Hanafi ................................................................................... 6 2) Corrie Du Busée ................................................................... 7 3) Mariam ................................................................................. 8 4) Tuan Du Busée ..................................................................... 8 5) Rapiah .................................................................................. 9 BAB III: BAB IV: ANALISIS POSKOLONIAL .......................................................... 10 PENUTUP ....................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 15 BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Walaupun selama zaman Balai Pustaka Indonesia dijajah oleh Belanda, karyakarya sastra dari zaman itu masih mempunyai pesan yang mengindonesia dan 4

mencerminkan

kebudayaan

lokal.

Ada

pula

pesan-pesan

nasionalis

yang

disembunyikan dalam teks. Demikian pula di Salah Asuhan. Sebagai karya Balai Pustaka, sebelum diterbit Salah Asuhan sudah disensor oleh penguasa Belanda. Namun, masih ada perasaan yang terbawa dalam teks, diantara lain keinginan untuk keseimbangan, takut pada budaya luar, dan keperluan untuk mempunyai identitas sendiri. Mengapakah seorang Pribumi menjadi bagai orang Belanda? Bagaimanakah pengaruh keputusan itu dalam kehidupan dan lingkungannya? Apakah hidup selayaknya ketika ada lebih dari satu budaya? Dengan menjawab pertanyaan ini, dalam karyanya Abdoel Moeis mencerminkan ketakutan rakyat Indonesia. B. Tujuan Analisis Tujuan dari makalah ini adalah menganalisis bab satu sampai dengan sembilan dari buku Salah Asuhan. Untuk itu, akan digunakan metode poskolonial, yaitu teori yang menganalisis keadaan di suatu negara mantan penjajahan. C. Sistematika Penyajian Makalah ini dibagi menjadi empat bab, tujuh subbab, dan sebelas sub-subbab. Bab satu adalah bab pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagai menjadi tiga subbab dan menjelaskan latar belakang masalah, tujuan dan metode analisis, dan sistem penyajian. Bab dua adalah analisis struktur Salah Asuhan dari bab satu sampai dengan sembilan; ini dibagai dalam empat subbab dan sebelas sub-subbab. Bab ini berfungsi sebagai informasi latar belakang yang menjelaskan bentuk cerita, plot, narasi, dan sebagainya; informasi ini akan diperlukan untuk memahami analisis poskolonial. Terdapat dalam bab ini adalah penjelasan narasi, alur cerita, latar, dan penokohan dalam cerita Salah Asuhan.

5

Bab tiga adalah analisis Salah Asuhan dari sudut pandang poskolonialisme. Dalam bab ini akan dilihat kebudayaan Indonesia, keraguan Indonesia, dan pula rasa kedaulatan Indonesia yang tercermin dalam Salah Asuhan. Bab empat adalah penutup. Penutup ini merupakan kesimpulan dari makalah ini.

BAB II: ANALISIS STRUKTURAL A. Narasi 6

Dalam Salah Asuhan narasi ada di bentuk orang ketiga maha-tahu. Ini terbukti karena narator mengetahui pikiran semua tokoh utama. Contohnya: “Semalam-malaman itu Hanafi tidak tidur sekejap juga. Rindu dan cinta, kepada Corrie sekonyong—konyong sudah berbalik menjadi dendam dan benci. Mengertilah ia, bahwa gadis itu sudah mempermain-mainkannya, seolah-olah dipergunakan buat perintangrintang hati dan buat penyingkat-nyingkatkan waktu dalam pakansi (Moeis, 2009: 59). Dan: “Semalam-malaman itu Corrie tidak merasai tidur nyenyak. Setiap saat ia bertanya dalam hatinya, “Cintakah ia pada Hanafi?” Tapi senantiasa didengarnya pula sahutan “Oh! Anak Belanda dengan orang Melayu, bagaimana boleh jadi! Tapi seketika itu juga berbunyi pula suara “Orang Melayu boleh disamakan haknya dengan orang Eropa (Moeis, 2009: 34). Ini juga terbukti karena ada bab dengan tokoh utama berbeda; kadang kala tokoh utama lain tidak muncul sepanjang bab itu. Contohnya, dalam bab enam (Terbang Membubung ke Langit Hijau), tokoh utama adalah Corrie tanpa Hanafi muncul sama sekali. Sedangkan, dalam bab delapan (Istri Pemberian Ibu), Hanafi dan ibunya difokuskan tetapi Corrie tidak muncul. B. Alur Cerita Konflik utama tidak diselesaikan dalam bab-bab yang dianalisis. Akibatnya, kedua bagian plot itu tidak akan dibahas dalam seksi ini.

1) Perkenalan

7

Perkenalan dalam Salah Asuhan terjadi pada ketiga bab pertama. Dalam bab pertama Hanafi dan Corrie diperkenalkan, kemudian pada bab kedua Tuan Du Busée diperkenalkan. Dalam bab ketiga Mariam diperkenalkan. Pada bab ketiga tokoh utama terakhir dibicarakan, tetapi dia baru diperkenalkan pada bab delapan. 2) Timbulnya Konflik Konflik utama Salah Asuhan, yaitu ketidakcocokan Hanafi dengan adat setempat, sudah ditandai dalam bab satu. Konflik ini mulai benar-benar jelas pada bab tiga ketika Hanafi berbicara dengan Mariam; rasa bencinya terhadap bangsa Minangkabau kelihatan jelas. Walaupun ibunya sedih akan perbuatan anaknya, dia hanya bisa terima. Akibatnya, konflik tidak bisa cepat selesai. 3) Peningkatan konflik Konflik meningkat selama berbab-bab, tetapi ada pula yang cepat dipecahkan. Konflik utama dikembangkan dengan kuat pada bab tiga, tujuh, delapan, dan sembilan. Kebencian Hanafi atas semua kebudayaan Minangkabau dicerminkan jelas dalam gaya pembicaraannya dengan Mariam dalam bab tiga. Dalam bab delapan, digambarkan bagaimana Hanafi suruh orang-orang yang menyiapkan pernikahannya untuk menggunakan cara Barat. C. Latar 1) Latar Waktu Cerita ini tidak punya tanggal atau tahun yang ditentukan, maka dapat dimengerti bahwa cerita terjadi pada tahun pertama terbitnya Salah Asuhan, yaitu pada tahun 1928. Ini juga dicerminkan dengan beberapa hal seperti media komunikasi (surat), pemerintah (penjajahan Belanda), dan kendaraan (kereta angin dan mobil). Ketujuh bab pertama terjadi dalam waktu dua hari. Cerita mulai subuh hari dengan pertemuan di antara Hanafi dan Corrie dan perjanjian untuk mereka bertemu

8

kembali hari berikutnya. Karena cerita lanjut beberapa hari berturut-turut, ada bab yang terjadi di siang hari dan ada pula bab yang terjadi di malam hari. Setelah Hanafi rela menikah dengan Rapiah, cerita dimulai kembali setelah waktu dua tahun. Oleh karena waktu sebanyak itu sudah berlalu, ada banyak perubahan dalam fisik dan keadaan tokoh. Contohnya, Hanafi sudah beranak. Cuaca dan suasana selain jam tidak digambarkan secara detail. Oleh karena itu, hanya bisa ditangkap bahwa semua cerita ini terjadi dalam cuaca dan suasana yang rata; dalam kata lain, tiada musim hujan, musim panas, musim dingin atau apapun. 2) Latar Tempat Bab satu sampai dengan sembilan terjadi di Solok, suatu desa di Sumatra, dekat Padang. Daerahnya diduduki oleh suku Minangkabau dan tidak ramai. Dikatakan bahwa Solok hanya “negeri kecil” di mana semua saling kenal dan mengurusi urusan tetangga. Tempat yang lebih spesifik ganti setiap bab. Tempat-tempat utama dalam kesembilan bab ini adalah rumah Corrie dan rumah Hanafi. Ada pula satu tempat minor, yaitu di lapangan tennis. Latar tempat tidak dideskripsikan secara mendalam. Pada umumnya teks terfokus pada dialog dan bukan pada deskripsi. Memang deskripsi hanya terbatas pada satu atau dua kalimat saja. Contohnya: “Tempat bermainan tennis, yang dilindungi oleh pohon-pohon ketapang sekitarnya, masih sunyi. Cahaya matahari yang diteduhkan oleh daun-daun di tempat bermain itu, masih keras, karena dewasa itu baru pukul tengah lima petang hari (Moeis, 2009: 1).” Akibatnya, deskripsi tempat tidak dapat dijelaskan secara mendalam. Latar tempat juga sulit dibayangkan.

9

3) Latar Sosial Budaya Latar sosial budaya dalam cerita ini adalah budaya Minangkabau dalam waktu penjajahan Belanda. Kebudayaan seperti utang budi, kawin paksa, dan mempunyai budak diwujudkan dalam cerita. Sebagai akibat dari latar sosial budaya ini ada beberapa kata daerah yang digunakan dan perlu dijelaskan. Contohnya, sebutan orang japutan dijelaskan sebagai berikut: orang berbangsa, jika dia kawin menurut adat yang biasa, pihak perempuan yang menjemput uang dan lain-lain. Kebudayaan lain yang muncul dalam termasuk agama. Mariam digambarkan sebagai wanita yang heran karena anaknya tidak punya rasa agama Islam yang kuat, sesuai dengan pikiran pada saat itu. Pengaruh dari latar belakang sosial budaya penulis sangat jelas. Bangsa digambarkan tidak mampu berbaur, sesuai dengan pikiran umum pada waktu itu. Orang Belanda pada umumnya digambarkan secara positif, sesuai dengan kewajiban sensor. D. Penokohan Dalam bab satu sampai sembilan ada lima tokoh utama yang muncul. Dari kelimat tokoh utama ini, yang paling pokok ada dua. Berikut adalah analisis penokohan tokoh-tokoh utama, mulai dari kedua tokoh pokok. 1) Hanafi Tokoh utama pertama adalah Hanafi, yang juga merupakan tokoh protagonis sekalian antagonis cerita ini. Dia adalah anak yatim bangsa Minangkabau yang pernah bersekolah di Betawi dan tinggal dengan keluarga Belanda. Dengan pendidikan dan kebiasaan itu, Hanafi merasa lebih seperti orang Belanda daripada orang Minangkabau, hingga pakaian dan bahasanya pun seperti orang Belanda (Moeis, 2009: 24 – 29); oleh karena itu, dia merasa berpangkat lebih tinggi daripada orang-orang Pribumi lain dan malu disebut Pribumi (Moeis, 2009: 3). 10

Walaupun dia cinta pada ibunya, dia amat benci budaya Minangkabau. Ini terbukti dengan pernyataannya seperti “negeri Minangkabau sungguh indah, hanya sayang sekali penduduknya si Minangkabau.” Kebudayaannya, di antara lain utang budi, kawin paksa, dan dowry (Moeis, 2009: 26 – 32). Hanafi dan Corrie Du Busée sudah berteman sejak masa dini. Namun, setelah beberapa tahun rasa cinta telah timbul dalam hati Hanafi dan akhirnya mereka bercium-ciuman di depan rumah Hanafi (Moeis, 2009: 46 – 47). Setelah Corrie Du Busée melarikan diri karena merasa bersalah, hatinya patah dan dia menjadi tertutup dan sakit (Moeis, 2009: 59 – 60). Pada bab delapan, Hanafi dinikahkan dengan Rapiah, anak dari mamaknya. Pernikahan paksa ini membuat Hanafi semakin kasar, hingga ia ditinggal oleh temanteman Belandanya. Dia tidak dapat mengindahkan istrinya ataupun menganggap dia sebagai ada, walaupun dalam budaya Belanda perempuan bukanlah budak lelaki. Malahan dia marah kepada Rapiah setiap ada kesempatan dan tidak mengakui dia ataupun anak mereka (Moeis, 2009: 79 – 96). 2) Corrie Du Busée Corrie Du Busée (selanjutnya disebut Corrie) adalah putri campuran Prancis dan Pribumi yang berusia sembilan belas tahun. Pada awal cerita ibunya sudah meninggal dan ayahnya sudah pensiun. Dia bersekolah di Betawi dan ketika cerita mulai dia pakansi dari sekolah (Moeis, 2009: 1 – 13). Walaupun dia campuran Pribumi dengan Prancis, Corrie tidak mengaku budaya ibunya. Ketika bicarakan dirinya dia selalu menegaskan kebaratannya, biasanya sebagai orang Belanda. Ketika bergaul dengan orang Pribumi, dia merasa dirinya lebih penting dan menomorduakan mereka (Moeis, 2009: 1 – 15). Pikiran Corrie pada umumnya tidak teratur secara logis dan kurang tegas. Setelah Hanafi mengakui bahwa dia mencintainya, Corrie tidak bisa tidur semalaman dan mencari-cari bukti bahwa dia tidak merasa apa-apa untuk Hanafi. Dia menghitung batu, menghitung daun di bunga, sampai menghitung bunyi toket tetapi 11

selalu tidak setuju dengan hitungan itu. Akhirnya dia bohong diri terus (Moeis, 2009: 34 – 40). Corrie juga seseorang yang mudah terbawa emosi. Saat pembantunya tidak cukup cepat sediakan minuman, dia marah dan bersikap keras. Juga, ketika mendadak dicium oleh Hanafi, dia balas dengan sebirahi-birahinya. Setelah itu, dia merasa bersalah dan putuskan semua hubungan dengan Hanafi dan kota Solok; dia melarikan diri ke Betawi (Moeis, 2009: 46 – 52). 3) Mariam Mariam adalah ibu dari Hanafi. Dia orang desa totok dari bangsa Minangkabau yang tidak berpendidikan. Dia sangat sederhana dalam perilakunya dan tidak suka hal-hal yang asing baginya. Dia juga takut pada orang-orang Belanda (Moeis, 2009: 24 – 33). Mariam merasa sangat berutang kepada Sutan Batuah, ayah dari Rapiah, karena ia telah membantu dengan pembayaran sekolah Hanafi. Utang itu merupakan utang uang dan utang budi; oleh karena utang budi ini, Mariam ingin Hanafi menikah dengan Rapiah (Moeis, 2009: 24 – 33). Dia bersifat sabar dengan Hanafi dan kekerasannya. Ketika Hanafi bicara buruk tentang budaya Minangkabau dan orang-orang di sekitarnya, Mariam sabar mengingatkan dia atas hidup baik. Dia tidak bersifat marah sama sekali dan terus memberi nasihat tulus (Moeis, 2009: 24 – 33). 4) Tuan Du Busée Tuan Du Busée adalah ayah dari Corrie Du Busée. Dia orang Prancis yang pindah ke Solok, menikah orang lokal, dan berkeluarga. Walau dulu dia seorang arsitek, pada awal cerita dia sudah pensiun dan senang habiskan waktu luang dengan memburu harimau (Moeis, 2009: 10 – 11). Penokohan Tuan Du Busée tidak begitu dijelaskan; hanya dua sifat dijelaskan, yaitu bahwa dia tidak peduli pada warga-warga di luar keluarganya sendiri dan 12

bersifat sabar dengan putrinya. Ketidakpeduliannya kepada dunia luar disebabkan karena istrinya diasingkan oleh kawan-kawan Belanda (Moeis, 2009: 10 – 13). Akhirnya, dia hanya akrab dengan Corrie dan karena itu mengizinkan dia lakukan hampir apa saja (Moeis, 2009: 48 - 53). Oleh karena pengalamannya dengan istri, Tuan Du Busée sangat ketat tentang hubungan mesra di antara suku Eropa dan Pribumi. Oleh karena itu, dia menjelaskan kesulitan hubungan romantis antar-etnis kepada Corrie ketika ditanya apakah hubungan sejenis itu boleh atau tidak (Moeis, 2009: 18 – 22) 5) Rapiah Rapiah adalah anak dari Sutan Batuah. Dia anak kampung yang tidak berpendidikan tinggi. Dia diperkenalkan dalam bab delapan dan dijodohkan dengan Hanafi. Dari pernikahan itu dia melahirkan satu anak, yaitu Syafei (Moeis, 2009: 75 – 81). Rapiah sangat cinta pada Hanafi, tetapi sudah mulai putus asa karena dibuangbuangnya. Akhirnya dia menjadi akrab dengan Mariam dan berusaha keras mengurus rumah tangga supaya tidak dimarahkan. Ketika dia dimarahkan dia tinggal hanya sabar (Moeis, 2009: 120 – 128).

13

BAB III: ANALISIS POSKOLONIAL Hubungan di antara Hanafi, Corrie dan Rapiah dapat dipandang sebagai analogi keadaan Indonesia pada saat itu. Hanafi mewakili budaya dan bangsa Indonesia, yang telah lama dididik oleh kaum asing. Corrie mewakili budaya Belanda yang asing dan menarik bagi kaum Indonesia; bisa dikatakan menggoda hati orang Indonesia. Sedangkan, Rapiah mewakili tradisi dan adat yang sudah berada di Indonesia beratus tahun. Oleh karena ada analogi itu, cerita Salah Asuhan menjadi bukan hanya suatu novel hiburan, tetapi juga panggilan untuk rakyat Indonesia agar tidak meninggalkan budaya lama dan berpura-pura Eropa. Masa Hanafi bersekolah sebelum cerita mulai mewakili zaman penjajahan Belanda, yang sampai saat itu masih kuat. Hanafi mendapat ide dan filsafat asing yang membuatnya tidak cocok dengan asal usulnya. Masa Hanafi pendekatan dengan Corrie mencerminkan bagaimana bangsa Indonesia mencoba mengikuti cara hidup Barat; mendirikan surat kabar, mendirikan sistem demokratis, hingga menggunakan teknologi seperti sepeda dan mobil. Dengan percobaannya untuk mengistrikan Corrie, Hanafi menjadi bagai bangsa Indonesia coba mendapatkan hak yang sama dengan bangsa Eropa. Namun, harapan itu dihancurkan ketika Corrie melarikan diri setelah mereka bermesraan; dalam analogi ini, ketidakinginan Belanda untuk memberi hak asasi ke bangsa Pribumi. Alasannya sudah dijelaskan oleh Tuan Du Busée dalam pembicaraannya dengan Corrie: Barat adalah Barat, Timur adalah Timur, dan kapan pun keduanya dicampur tiada hasil baik. Orang (negara) lain meninggalkannya, hingga ditinggal sendiri dengan pasangannya. Oleh karena amat kecewa dengan perilaku Corrie, Hanafi mulai sakit hingga akhirnya rela dijodohkan dengan Rapiah. Hubungan suami-istri ini mencerminkan kedudukan budaya tradisional dalam kaum orang yang berpendidikan Belanda; tradisi-tradisi hanya dipegang karena terpaksa, tetapi tidak dipercayai ataupun disayangi. Ini menimbulkan rasa marah dan kecewa dengan budayanya sendiri, seperti perasaan Hanafi terhadap Rapiah. 14

BAB IV: PENUTUP Secara struktural Salah Asuhan tidak istimewa. Ada tokoh yang utama, ada tokoh minor, ada latar, dan ada narasi. Narasinya dilakukan dengan mendalam pada pikiran tokoh utama dan penokohan dikembangkan dengan dialog. Namun, sebagai suatu analogi hubungan Indonesia-Belanda salah asuhan bersifat luar biasa. Walaupun di bawah sensor penguasa, Moeis mampu menyampaikan harapan agar bangsa Indonesia memeluk adat-istadat sendiri dan tidak berubah menjadi bangsa lain. Oleh karena kemampuan dan keberanian Abdoel Moeis itu Salah Asuhan patut dibaca berkali-kali dan diartikan sebagai perjuangan rahasia bangsa Indonesia. Apalagi, pesan dalam novel ini agar tidak berubah menjadi yang bukan-bukan sangat penting kala kini karena globalisasi dan kehilangan kebudayaan tradisional.

15

DAFTAR PUSTAKA Moeis, Abdoel. 2009. Salah Asuhan. Catatan ketiga puluh sembilan. Jakarta: Balai Pustaka.

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->