P. 1
Sistem Pers Indonesia

Sistem Pers Indonesia

2.0

|Views: 10,351|Likes:
Sebuah makalah yang berusaha untuk menganalisis jenis sistem pers yang digunakan di Indonesia berdasarkan dua artikel dan satu opini. Makalah ini ditulis sebagai ganti ujian sisipan satu untuk mata kuliah Pengantar Jurnalistik di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Mohon maaf apabila terjadi kesalahan bahasa, saya orang Kanada.
Sebuah makalah yang berusaha untuk menganalisis jenis sistem pers yang digunakan di Indonesia berdasarkan dua artikel dan satu opini. Makalah ini ditulis sebagai ganti ujian sisipan satu untuk mata kuliah Pengantar Jurnalistik di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Mohon maaf apabila terjadi kesalahan bahasa, saya orang Kanada.

More info:

Published by: Christopher Allen Woodrich on Jan 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2013

pdf

text

original

SISTEM PERS INDONESIA PADA SAAT KINI: SEBUAH PERUMUSAN SISTEM PERS NASIONAL Makalah Diajukan Sebagai Ganti

Ujian Sisipan Satu untuk Mata Kuliah Pengantar Jurnalistik

Oleh: Christopher Allen Woodrich NIM: 084114001 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa makalah yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, .......................................... Penulis

Christopher Allen Woodrich

KATA PENGANTAR Atas bantuan mereka dalam penyelesaian makalah ini saya ingin ucapkan terima kasih kepada orang-orang berikut: 2

• • •

Trifosa Sie Yulyani Retno Nugroho, atas dukungannya dalam semua tugas akademik. Drs. B. Rahmanto, M. Hum untuk segala ajarannya, baik yang terkait dengan mata kuliah maupun yang dimaksud sebagai guyuan. Para wartawan Kompas untuk artikel-artikel mereka yang cukup profesional dan menarik dibaca.

Makalah ini tidak sempurna dan apabila terjadi kekurangan saya mohon maaf lebih dahulu. Terima kasih.

Yogyakarta, ………………….. 2009

Christopher Allen Woodrich NIM: 084114001

DAFTAR LAMPIRAN Halaman LAMPIRAN I: LAMPIRAN II: 130 TRUK BBM DISIAGAKAN ....................................... 12 KEBEBASAN PERS TERANCAM ................................... 3 15

LAMPIRAN III: MUHAMMADIYAH HARI MINGGU .............................. 20

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ ii 4

KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... iv DAFTAR ISI ...................................................................................................... v BAB I: PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1 B. Tujuan dan Metode Analisis ....................................................... 1 C. Sistematika Penyajian ................................................................. 2 BAB II: PENGERTIAN DASAR TEORI PERS .......................................... 3 A. Sistem Pers Otoriter ................................................................... 3 B. Sistem Pers Liberal ..................................................................... 3 C. Sistem Pers Komunis .................................................................. 4 D. Sistem Pers Tanggung Jawab Sosial .......................................... 4 BAB III: ANALISIS JENIS PERS INDONESIA .......................................... 6 A. Gaya Bahasa Artikel ................................................................... 6 B. Topik Artikel .............................................................................. 7 C. Sudut Pandang Artikel ................................................................ 8 BAB IV: PENUTUP ....................................................................................... 10 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 11 LAMPIRAN ..................................................................................................... 12

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

5

Telah diajarkan dalam mata kuliah Pengantar Jurnalistik bahwa ada setidaknya empat jenis pers utama, yaitu pers otoriter, pers liberal, pers komunis, dan pers tanggung jawab sosial. Keempat macam pers ini mempunyai tujuan dan unsurunsur tersendiri; oleh karena itu, cukup simpel menganalisis jenis pers apa saja yang digunakan dalam suatu wilayah atau negara tertentu. Secara historis, pers Indonesia (dan sebelumnya Hindia Belanda) tidak diberi kebebasan untuk melaporkan hal yang bertentangan dengan tujuan pemerintah. Sejak lahir pers Nusantara pada tengah abad kesembilan belas sampai dengan runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 pers Indonesia dikendalikan dengan ketat. Akibatnya, sampai dengan tahun 1998 sistem pers Indonesia adalah pers otoriter. Namun, sistem pers Indonesia kini beda dari yang sebelumnya. Dalam beberapa bidang memang terbiasa mengikuti pernyataan pemerintah, tetapi dalam bidang lain pers sungguh-sungguh bertentangan keras dengan agenda pemerintah. Akibatnya, kadang tidak diketahui kini pers Indonesia adalah pers semacam apa.

B. Tujuan dan Metode Analisis Analisis dimaksudkan untuk mengetahui dan menjelaskan apa jenis pers Indonesia pada zaman pasca-Soeharto ini. Jenis pers Indonesia ini akan dimasuk ke salah satu dari empat macam pers yang diajari di kelas. Untuk mencapai tujuan itu, masalah akan dipecahkan dengan analisis gaya dan inti dari dua artikel dan satu opini dari harian Kompas dan perbandingan dengan ciri-ciri empat macam teori pers. 6

C. Sistematika Penyajian Makalah ini dibagi menjadi empat bab dan sepuluh subbab. Bab satu adalah bab pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagai menjadi tiga subbab dan menjelaskan latar belakang masalah, tujuan dan metode analisis, dan sistem penyajian. Bab dua terdiri dari empat subbab. Bab ini berfungsi sebagai informasi latar belakang yang menjelaskan apa itu keempat teori pers. Terdapat dalam bab ini adalah penjelasan pers otoriter, pers liberal, pers komunis, dan pers tanggung jawab sosial. Bab tiga adalah analisis jenis pers Indonesia; ini dibagi dalam tiga subbab yang terfokus pada satu aspek artikel per subbab. Dalam bab ini akan dipecahkan apakah macam pers Indonesia menurut teori yang dipelajari dalam kelas. Analisis ini dilakukan dengan cara memperbanding beberapa aspek artikel dari harian Kompas dengan unsur-unsur setiap macam pers yang dipelajari. Bab empat adalah penutup. Penutup ini merupakan kesimpulan dan saran dari makalah ini.

BAB II: PENGERTIAN DASAR TEORI PERS a) Sistem Pers Otoriter

7

Teori pers otoriter menyatakan bahwa pers berada untuk menyampaikan segala tujuan pemerintah kepada rakyat. Pers ini lahir di Eropa pada abad kelima belas ketika pemerintah-pemerintah Eropa masih menggunakan sistem politis absolute monarchy. Macam pers ini berkembang pada abad keenam belas tetapi saat kini jarang ditemui kecuali dalam diktatorial non-komunis (Rahmanto, 2009). Oleh karena pers otoriter berada karena diizinkan pemerintah setiap penerbit pers diawasi dengan ketat dan tidak boleh menghina pemerintah atau penguasa. Ini jelas kelihatan pada Orde Baru. Pada saat itu, berbagai media pers didiri oleh pemerintah, di antara lain RRI, TVRI dan Suara Karya. Untuk terus-menerus menerbit setiap pers perlu Surat Izin Cetak, Surat Izin Usaha Penerbitan Pers dan sebagainya (Rahmanto, 2009).

b) Sistem Pers Liberal Pers liberal lahir pada abad ketujuh belas dan berkembang dalam abad-abad berikutnya. Pertama-tama muncul karena perubahan budaya di negara-negara Barat yang disebabkan revolusi industrial; pada saat itu manusia diakui sebagai makluk rasional yang dapat membedakan kebenaran dan kesalahan. Akibatnya, pers dibebaskan untuk menuliskan apa saja (Rahmanto, 2009). Fungsi pers liberal tidaklah terbatas pada mengungkapkan fakta, tetapi juga untuk memberi hiburan. Ada pula fungsi untuk bertentangan dengan pemerintah dan monolopinya dalam komunikasi. Oleh karena fungsi-fungsi itu, pers liberal sering

8

ucapkan rahasia pemerintah sebagai akibat dari investigative reporting dan protes keras ketika ada undang-undang yang membatasi kebebasan pers (Rahmanto, 2009).

c) Sistem Pers Komunis Pers komunis lahir agak mirip pers otoriter, tetapi lebih terkendali oleh pemerintah. Lahir di Uni Soviet pada awal abad kedua puluh dengan runtuhnya keczaran Rusia, pers komunis berdasarkan teori-teori Karl Marx tentang sosialisme. Kini pers komunis dipegang (dengan beberapa modifikasi) dalam negara-negara komunis, di antara lain Republik Rakyat Cina, Viet Nam, Korea Utara, dan Kuba (Rahmanto, 2009). Dalam pers komunis, pers dianggap sebagai alat propaganda partai (penguasa) dan digunakan sebisa-bisanya untuk memperlancar proyek-proyek partai. Oleh karena dimaksud sebagai alat propaganda, pers komunis sangat terbatas dalam apa yang bisa dilaporkan. Semua macam pers milik negara dan disensor oleh negara. Sama sekali tidak boleh ada kritik terhadap partai ataupula tujuannya (Rahmanto, 2009).

d) Sistem Pers Tanggung Jawab Sosial Sistem pers tanggung jawab sosial muncul sebagai perkembangan dari pers liberal pada abad kedua puluh karena pers liberal dianggap terlalu menipu masyarakat. Dalam sistem pers ini, pers berdiri terpisah dari pemerintah, tetapi wajib mengendalikan diri sesuai dengan kode etik pers. Dalam kata lain, dalam sistem pers

9

tanggung jawab sosial pers harus coba untuk melaporkan kebenaran saja dan bukan hanya menghibur (Rahmanto, 2009). Oleh karena ada self-control itu, pers tanggung jawab sosial dianggap bertanggung atas informasi yang disampaikannya. Untuk menghindari ketidakjelasan dan bias, pers harus bersifat objektif dalam pelaporan peristiwa. Pers juga harus bersifat nonpartisan dan tidak memihak-pihak dalam isu-isu sosial ataupun pilihan umum (Rahmanto, 2009).

10

BAB III: ANALISIS JENIS PERS INDONESIA a) Gaya Bahasa Artikel Gaya bahasa ketiga artikel / opini yang dianalisis cukup standar. Jarang digunakan kata-kata yang melebih-lebih atau membesar-besar topik. Kata-kata inflammatory atau sensasionalis yang sering dijumpai dalam pers liberal dan tabloid tidak ada di kedua artikel. Tingkat bahasa cukup sederhana dan dapat dimengerti oleh sebagian besar pembaca. Tatkala ada kata atau istilah yang agak spesialis, misalnya kata “hasiab” dalam artikel “Muhammadiyah Hari Minggu,” (selanjutnya disebut MHM) pasti diartikan. Walaupun ini tidak menandai satu macam pers tertentu, ini memperluas pengertian pembaca yang mungkin dari latar belakang berbeda. Dalam kedua artikel digunakan kata-kata yang denotasinya netral, sesuai dengan pers otoriter, pers komunis dan pers tanggung jawab sosial. Misalnya, dalam artikel “130 Truk BBM Disiagakan” (selanjutnya disebut 130 TBD) terdapatlah kalimat “Sepeda motor terlihat mendominasi lalu lintas, terutama pada pagi hari” yang bersifat cukup objektif. Bisa saja dalam pers liberal kalimat itu berbunyi “Sepeda motor bergila-gilaan menutupi jalan dan menyebabkan macet,” yang konotaasinya lebih negatif. Sedangkan, gaya bahasa dalam opini “Kebebasan Pers Terancam” (selanjutnya disebut KBT) bersifat menegaskan. Ada beberapa kalimat yang diulangulangi sebagai penegas intinya. Contohnya, frase-frase “nondemokratis,” “represif,”

11

dan “antikebebasan pers” digunakan berkali-kali. Sifat pengulangan dan penegasan opini ini mengarah ke pers liberal karena bersifat inflammatory. Macam pers Indonesia juga ditandai oleh pilihan judul dan by-line artikel. Konotasi bisa terbawa dari keterkaitan dua frase di atas artikel. Contohnya, dalam artikel MHM ada by-line “Pemerintah Belum Memutuskan Tanggal Idul Fitri.” Ketika hanya judul dan by-line artikel dibaca ada penangkapan bahwa pemerintah tidak efisien; kritik pemerintah ini sesuai dengan pers liberal atau pers tanggung jawab sosial.

b) Topik Artikel Topik artikel (apa yang dibahas dalam artikel) dapat menandai orientasi pers oleh karena pelesapan adalah cara objektif menyampaikan pikiran. Dalam kata lain, dengan melesap informasi yang tidak sesuai dengan sudut pandang seorang wartawan dapatlah wartawan itu mengubah pikiran masyarakat tanpa mengubah objektivitas artikelnya. Dalam kedua artikel yang dianalisis, topik artikel adalah sesuatu yang sangat berguna bagi sebagian besar masyarakat. Dalam artikel 130 TBD, masyarakat diberi tahu bahwa telah disediakan bensin ekstra untuk pompa-pompa di Sumatera; dengan pengetahuan itu masyarakat tidak perlu buru-buru isi bensin dan menyebabkan macet. Dalam artikel MHM, masyarakat diberi tahu bahwa Muhammadiyah telah menetapkan hari Idul Fitri pada hari Minggu; untuk kaum Islam, pengetahuan awal

12

hari raya ini dapat bantu mereka siapkan diri untuk Lebaran dengan cara menentukan batas belanjaan. Ini termasuk pers tanggung jawab sosial. Sedangkan, dalam opini KPT topik adalah reaksi terhadap undang-undang baru yang menentukan hukum berat untuk pelanggaran rahasia negara. Topik ini bertentangan dengan posisi pemerintah dan karena itu membuktikan bahwa pers tidak dipeliharakan seratus persen oleh pemerintah; dalam kata lain, pers Indonesia bukanlah pers otoriter atau komunis.

c) Sudut Pandang Artikel Sudut pandang (point of view) ditandai oleh beberapa bagian artikel, di antara lain diksi, pilihan informasi, pelesapan informasi, kelengkapan artikel, dan juga dengan tempat letaknya artikel dalam koran. Misalnya, artikel-artikel yang dianggap penting oleh pers diletakkan di halaman-halaman depan dengan artikel yang besar. Sedangkan, artikel yang dianggap tidak penting diletakkan di belakang. Dalam artikel 130 TBD, sudut pandang cukup objektif. Contohnya, pada akhir artikel diberi pernyataan oleh wakil pemerintah bahwa takkan ada hambatan yang berarti dalam perjalanan. Pernyataan ini diseimbangi dengan informasi bahwa jumlah pemudik bermotor meningkat dan mulai dominasi jalan pada pagi hari. Oleh karena ada keseimbangan informasi itu, pembaca tidak dipersuasi setuju dengan laporan oleh karena pelesapan informasi. Dalam artikel MHM, sudut pandang anti-pemerintah secara tidak langsung. Di antara lain, ketika judul dibaca bersama by-line ada pesan ketidakefisienan 13

pemerintah. Apalagi, walaupun pemerintah diberi lebih banyak kutipan dan fokus dalam artikel ada pula pernyataan yang terdengar agak menghina. Misalnya, permohonan pemerintah agar masyarakat sabar menunggu keputusan dikatakan dua kali dalam artikel. Kritik pemerintah ini sesuai dengan pers liberal atau tanggung jawab sosial. Sudut pandang yang paling jelas terletak pada opini KPT, yaitu posisi antipemerintah. Keputusan pemerintah untuk undang-undang baru dikritik secara mendalam dalam opini yang penuh emosi. Namun, pembaca tidak diberi kutipan langsung dari undang-undang tersebut atau lihat semua ayat dan pasal dalam konteks ataupun komentar dari ahli. Akibatnya, terjadi pelesapan informasi yang cukup besar dalam opini ini yang mewarnai penangkapan masyarakat. Ini mencerminkan sistem pers liberal.

14

BAB V: PENUTUP Dari informasi di atas dapat dimengerti bahwa pers Indonesia pada saat ini pasti bukan pers otoriter ataupun pers komunis. Pers Indonesia pada saat ini lebih mengarah ke pers tanggung jawab sosial, yang menjaga sikap dan nama baik dengan kebenaran dan objektivitas dalam artikel. Namun, ada pula beberapa aspek pers liberal yang masih terasa dalam pers Indonesia pada saat ini. Opini seperti KPT reaksionis dan terbawa emosi, bukan logika. Dalam opini-opini ada kebiasaan menyampaikan gagasan tanpa

memeriksanya dengan ahli dalam bidang itu; dalam kasus KPT, ahli hukum. Oleh karena itu, pers Indonesia moderne tidak dapat disebut seratus persen pers tanggung jawab sosial. Namun, bisa dikatakan bahwa pers Indonesia pada saat ini bersifat tanggung jawab sosial dalam artikel tetapi liberal dalam opini. Agar bisa lebih dipercaya rakyat sebaiknya pers Indonesia ingat pada kedudukannya sebagai pelapor peristiwa penting yang berguna untuk rakyat. Apabila ada sesuatu yang sangat memarahkan, sebaiknya opini tentang itu mengkritik dengan bukti tambahan dari ahli atau kutipan dari buku.

15

DAFTAR PUSTAKA Batubara, Leo. 2009. “Kebebasan Pers Terancam.” Kompas. 14 September. Rahmanto, Drs. B. 2009. “Empat Macam Teori Pers.” Pelajaran. Staff Kompas. 2009. “130 Truk BBM Disiagakan.” Kompas. 14 September. Staff Kompas. 2009. “Muhammadiyah Hari Minggu.” Kompas. 14 September.

16

LAMPIRAN Lampiran I: 130 Truk BBM Disiagakan (Diambil dari Kompas, tanggal 14 September 2009 halaman 22). 130 Truk BBM Disiagakan Pemudik Bersepeda Motor Mulai Memasuki Jawa Tengah PALEMBANG, KOMPAS – Pertamina menyiapkan 130 truk tangki bahan bakar minyak jenis solar, premium, dan pertamax di sejumlah titik jalan di Sumatera bagian selatan. Truk-truk itu membawa cadangan pasokan BBM untuk stasiun pengisian bahan bakar untuk umum selama arus mudik-balik. Dalam kondisi darurat, truk dapat pula difungsikan untuk memenuhi permintaan konsumen industri. Kepala Bagian Relasi Eksternal Pertamina Unit Pemasaran II Sumatera Bagian Selatan Roberth MVD di Palembang, Minggu (13/9), menyebutkan penyiagaan 130 truk tangki BBM itu seiring dengan pengerahan tim satuan tugas (satgas) Lebaran 2009 yang beranggotakan lebih dari 100 orang. “Salah satu titik utama penempatan truk BBM itu di jalan linatas timur, yang merupakan jalan utama di arus mudik dan balik. Ada 18 SPBU di jalintim yang dipantau,” katanya. Penempatan truk-truk itu berdekatan dengan SPBU. Pengaturan seperti itu dilakukan agar truk cepat sampai ke SPBU jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Sebanyak 76 truk lainnya disebar di berbagai kabupaten/kota di Sumatera Selatan.

17

Roberth juga menjelaskan, sebagian truk BBM itu milik Pertamina dan ada sebagian lainnya yang disewakan dari pengusaha.

Lintasi Nagreg Pada Minggu kemarin, pemudik bersepeda motor mulai melintasi jalur Nagreg di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dari arah barat ke timur. Namun, sebagian besar bis antarkota yang melintas tampak kosong. Arus mudik dari Jakarta ke Kota Semarang atau kota-kota lain di Jateng juga belum tampak. Kepala Dinas Perhubungan, Komunkasi, dan Informatika Provinsi Jateng Kris Nugroho mengatakan belum ada perbedaan yang mencolok dibanding hari-hari sebelumnya. Kris menyatakan, seluruh daerah di Jateng siap menerima pemudik. Semua jalan yang sebelumnya dalam perbaikan sudah dapat dilalui pada 10 hari sebelum Lebaran (H - 10). “Tidak ada hambatan berarti, kecuali mengantisipasi pasar tumpah yang berpotensi menimbulkan kemacetan lalu lintas saat arus puncak, yaitu H - 4 dan H 3. Sebanyak 17 jembatan timbang di Jateng kami fungsikan untuk posko dan dapat digunakan untuk beristirahat,” ujarnya. Namun, arus kendaraan yang masuk ke Jateng melalui jalur pantura di perbatasan Cisanggarung dan pintu keluar Tol Kanci - Pejagan di Pejangan, Kabupaten Brebes, kemarin mulai meningkat. Sepeda motor terlihat mendominasi lalu lintas, terutama pada pagi hari. Pelat nomor kendaraan mereka berasal dari 18

Jakarta, Bandung, Cirebon, dan Lampung. Sebagian besar pengendara sepeda motor melaju secara bergerombol. (ONI/ADH/ELD/UTI/WIE)

19

Lampiran II: Kebebasan Pers Terancam (Diambil dari Kompas, tanggal 14 September 2009 halaman 6). Kebebasan Pers Terancam Oleh Leo Batubara Tahun 2008 dapat disebut sebagai tahun yang paling mengancam kebebasan pers. Pemerintah dan DPR menerbitkan lima UU, tiga di antaranya – UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), UU Pornografi, dan UU Keterbukaan Informasi Publik – mengkriminalkan pers. Sementara UU Pemilu dan UU Pilpres dapat memberedel pers. Tahun 2009, menjelang masa bakti DPR 2004 - 2009 berakhir, pemerintah dan DPR menyiapkan RUU Rahasia Negara (RUU RN) yang lebih represif mengancam pers daripada peraturan dan perundang-undangan kolonial Belanda dan tentara pendudukan Jepang yang terkait pers. Berdasarkan Pasal 49 Ayat (1), korporasi (termasuk perusahaan pers) yang melarang rahasia negara dipidana denda Rp. 50 miliar - Rp. 100 miliar. Ancaman Ayat (2), perusahaan pers pelanggar ketentuan itu dapat dibekukan atau dicabut izinnya dan dinyatakan sebagai korporasi terlarang. Pasal 44 Ayat (1), pelanggar ketentuan rahasia negara - termasuk pers - dapat dipidana penjara tujuh tahun - 20 tahun. Ketentuan paling singkat tujuh tahun berintensi agar wartawan pelanggar dapat di-“Prita”-kan (Prita Mulyasari, korban pertama UU ITE), langsung dipenjarakan tanpa putusan majelis hakim.

20

Berdasarkan Pasal 11 dan 12, Presiden dapat mendelegasikan penetapan rahasia negara kepada pimpinan Lembaga Negara. Ketentuan berikut terkait standar dan prosedur perlindungan dan pengelolaan rahasia negara diatur Peraturan Menteri/Peraturan Kepala Lembaga Pemerintah Nondepartemen.

Mengancam Pers Penentuan rahasia negara menjadi pasal karet dan mengulang pengalaman pada era Orde Baru, UU Pokok Pers (No. 11/1966 junto No. 21/1982) melarang pemberedelan pers. UU itu memberi otoritas kepada Menteri Penerangan menerbitkan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri. Maka, berdasarkan Peraturan Menteri No. 1/1984, Menpen berwenang mecabut surat izin usaha penerbitan pers. Dalam pertemuan masyarakat pers dengan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, sebagai wakil pemerintah dalam pembahasan RUU RN, di Dewan Pers (13/8/2009), Dewan Pers menilai RUU RN tak berparadigma demokrasi, tak konstitusional, dan mengancam kebebasan pers. RUU RN dinilai tidak demokratis karena desainnya menempatkan penguasa sebagai yang berdaulat dalam pengaturan rahasia negara. Di negara demokratis, pengaturan rahasia negara berprinsip maximum access limited exemption. Sebagian besar informasi dapat diakses publik, sebagian kecil dikecualikan sebagai rahasia negara. Sementara RUU RN bermuatan limited access maximum exemption.

21

RUU RN tidak memedomani Pasal 28F UUD 1945 bahwa rakyat mempunyai hak konstitusional untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, serta untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. RUU RN bertentangan dengan kebebasan pers (UU No. 40/1999 tentang Pers). Sesuai UU Pers, pertama, perusahaan pers tidak boleh diberedel dan dihukum sebagai korporasi terlarang. Yang memberedel dan menghukum pers sebagai korporasi terlarang dapat dipidana penjara paling lama dua tahun sesuai Pasal 18 Ayat (7). Kedua, kesalahan pers dalam melaksanakan tugas jurnalistik untuk kepentingan umum tidak dikriminalkan. Kesalahan pers akibat pemberitaan pers diselesaikan dengan hak jawab. Jika pengadu tidak puas atas putusan Dewan Pers dapat menempuh jalur hukum. Ancamannya, pers teradu dapat dipidana denda paling banyak Rp. 500 juta. Berdasar konsep kebebasan pers yang dianut UU Pers, kriminalisasi pers dan pidana denda dengan jumlah besar akan melumpahkan fungsi kontrol sosial pers. UU Pers memberi perintah kepada pers, pertama, memperjuangkan keadilan dan kebenaran; kedua, melakukan fungsi kontrol sosial, ketiga, melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan sarana terhadap hal-hal yang terkait dengan kepentingan umum; keempat, memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. Pelaksanaan amanat itu adalah bagian kontribusi pers dalam membantu pelaksanaan pemerintah yang bersih dan baik serta memerangi korupsi. 22

Masalahnya, bagaimana pers dapat melaksanakan amanat itu jika RUU RN justru (1) menerapkan rezim ketertutupan, (2) mengancam pers dengan penjara dan denda yang potensial membangkrutkan.

Menolak RUU Rahasia Negara Ketika anggota Masyarakat Pers Indonesia - terdiri Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS), Yayasan SET, Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI), Institut Pengembangan Media Lokal (IPML), serta Forum Pemantau Informasi Publik – bertemu Komisi I DPR (8/9/1009), bahan RUU RN hasil pembahasan terkini belum mengakomodasi tuntutan dan masukan masyarakat pers yang telah disampaikan kepada Menhan sebulan sebelumnya. Kepada Komisi I DPR, masyarakat pers menyampaikan, Indonesia memerlukan UU RN, tetapi menolak RUU RN versi Departemen Pertahanan karena masih berparadigma otoriter, tidak konstitusional, dan antikebebasan pers. Saat penulis bertemu Agus Brotosusilo, Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Ideologi dan Politik (9/9/2009), dinyatakan sejumlah tuntutan Dewan Pers dipertimbangkan untuk diakomodasi. Ancaman pemberedelan dan pernyataan perusahaan pers sebagai korporasi terlarang dihapus. Ancaman pidana penjara turun, paling singkat empat tahun, denda menjadi maksimal Rp. 5 miliar. Atas perubahan itu, dosis sianida RUU RN dikurangi, tetapi masih mengancam kebebasan pers.

23

Kesimpulan Dari desain RUU RN itu dapat disimpulkan, pertama, harapan rakyat agar pers dapat efektif membantu memerangi korupsi dan terselenggaranya pemerintahan bersih dikhawatirkan kian sulit terwujud. Ancaman penjara dan denda besar akan melumpuhkan fungsi kontrol pers dan mematikan jurnalisme investigasi. Kedua, RUU RN yang berorientasi rezim ketertutupan akan mempersempit bahkan berpotensi menutup akses publik dan pers atas sumber informasi yang bermasalah, yang diduga korup. Ketiga, argumentasi bahwa RUU RN melindungi kepentingan nasional patut diwaspadai karena berintensi melindungi penyelenggara negara yang berorientasi kepentingan kelompok dan individu. LEO BATUBARA Wakil Ketua Dewan Pers

24

Lampiran III: Muhammadiyah Hari Minggu (Diambil dari Kompas, tanggal 14 September 2009 halaman 15). Muhammadiyah Hari Minggu Pemerintah Belum Memutuskan Tanggal Idul Fitri JAKARTA, KOMPAS – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1430 Hijriah jatuh pada 20 September 2009, Muhammadiyah mengacu pada hasil hasiab (perhitungan) kalender. Sementara itu, Departemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia baru akan melangsungkan siding isbat penetapan hari Idul Fitri pada hari Sabtu (19/9). Wakil Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fatah Wibisono mengatakan, hasil hisab itu sudah dicantumkan dalam maklumat PP Muhammadiyah Nomor 06/MLM/L0/E/2009 tentang Penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah tertanggal 23 Juli 2009. Penetapan berdasarkan siding hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah di Yogyakarta pada 11 Juni 2009. “Majelis memedomani hisab hakiki wujudul hilal dan hasilnya 1syawal 1430 Hijriah jatuh pada 20 September 2009,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta, Minggu. Sementara Sekretaris Jenderal Departemen Agama Bahrul Hayat mengatakan, pemerintah belum menentukan Idul Fitri secara resmi. Rencananya Depag baru akan menggelar siding isbat pada 19 September mendatang.

25

Hargai Pemerintah menghargai keputusan Muhammadiyah yang telah menetapkan tanggal Idul Fitri. Hal itu adalah hak setiap organisasi massa dalam menentukan hari raya keagamaan yang disesuaikan dengan keyakinan dan cara perhitungan masingmasing. “Itu adalah keputusan internal Muhammadiyah sebagai sebuah ormas. Berdasarkan hisab atau perhitungan mereka, Idul Fitri jatuh pada hari Minggu,” ujarnya. Meski demikian, Bahrul berharap masyarakat mengikuti hasil siding isbat. Dalam siding itu, semua ormas Islam, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, akan diundang dan dilibatkan dalam Dewan Hisab dan Rakyat Departemen Agama. Bahrul menegaskan pentingnya kebersamaan dan persatuan umat. “Penetapan hari Idul Fitri oleh Depag sebagai wakil pemerintah juga bukan untuk kepentingan salah satu ormas tertentu,” katanya. Ia berharap masyarakat dan semua komponen ormas Islam bersabar menunggu siding isbat dan merayakan Idul Fitri tahun ini dengan mengikuti keputusan pemerintah. Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan mengakui ada dua metode penetapan awal bulan, yakni hisab dan rukyat hilal. Hasil kedua metode itu bisa saja berbeda. Hisab hakiki merupakan penghitungan awal bulan dalam tahun Hijriah, yang antara lain menggabungkan ilmu falak dan matematika. Sementara rukyat hilal 26

mengutamakan pengamatan langsung hilal atau bulan sabit pada hari pertama sebagai dasar penetapan awal bulan. (RAZ/REK)

27

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->