P. 1
Open Source Software 2009

Open Source Software 2009

|Views: 2,100|Likes:
Published by tjambuk

More info:

Published by: tjambuk on Jan 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

pdf

text

original

AKANKAH OSS MENUAI HARAPAN ?

Oleh: Efrie Christianto ABSTRAK
Perjuangan memberantas pembajakan, mungkin terlalu besar bila hanya dibebankan pada beberapa lembaga, untuk itu peran aktif masyarakat merupakan kunci keberhasilan memberantas pembajakan. Pemerintah sendiri telah melaksanakannya dalam bentuk kampanye nasional yang berlangsung mulai 1 Februari hingga 30 Juni 2009. Seperti diketahui bahwa tingkat pembajakan terhadap piranti lunak komputer di Indonesia bukanlah hal yang aneh. Kondisi itu terjadi karena daya beli masyarakat yang masih rendah, sehingga piranti lunak bajakan merupakan solusi sementara untuk tetap bisa menggunakan TI. Namun perlu diingat keadaan ini tidak bisa digunakan secara terus-menerus, karena melanggar hak kekayaan intelektual (HKI) sebagaimana diatur dalam UU 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Program IGOS yang merupakan semangat untuk meningkatkan penggunaan dan pengembangan perangkat lunak sumber terbuka di Indonesia, memiliki sasaran memberikan lebih banyak alternatif dan pilihan perangkat lunak yang dapat digunakan masyarakat secara legal dan terjangkau. Sebagai dampak positif jumlah pengguna komputer dengan perangkat lunak legal dan kemampuan riset meningkat, demikian pula halnya dengan pengembangan teknologi informasi nasional bidang perangkat lunak. Lebih jauh diharapkan dapat menciptakan kompetisi pengembangan teknologi informasi dan bersaing dalam percaturan global.

DIAKUI atau tidak, Indonesia sebagai salah satu negara pengguna teknologi informasi (TI) terbesar di dunia, kerapkali menjadi sasaran empuk bagi pelaku pembajakan software atau piranti lunak komputer. Berdasarkan laporan Business Software Alliance (BSA) dan International Data Corporation (IDC) dalam "Annual Global Software Piracy Study" (GSPS) 2007, angka pembajakan software di Indonesia mencapai 84% di dunia atau berada di posisi 12. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 85%. Akibatnya, terjadi kerugian berupa potensi pendapatan perusahaan yang hilang sebesar US$ 411 juta.
1

Sedangkan dalam GSPS 2008 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat ke-12 atas pemakaian software tanpa lisensi. Peringkat itu tidak berubah dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Namun angka kerugian akibat software piracy di Indonesia pada tahun 2008 mencapai US$ 544 juta, atau naik cukup tajam dibandingkan angka kerugian tahun sebelumnya US$ 411 juta. Di Indonesia pembajakan terhadap piranti lunak komputer bukanlah hal yang aneh. Kondisi itu terjadi karena memang daya beli masyarakat Indonesia yang masih rendah, sehingga piranti lunak bajakan merupakan solusi sementara untuk tetap bisa menggunakan TI. Namun perlu diingat kondisi tersebut tidak bisa digunakan secara terus-menerus. Terlebih lagi, pembajakan melanggar hak kekayaan intelektual (HKI) sebagaimana diatur dalam UU 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Selain pelanggaran terhadap HKI, pembajakan piranti lunak praktis berdampak ekonomis terhadap Indonesia berupa sanksi dagang oleh negara lain. Sebagai contoh, sebelum USTR (United States Trade Representative/Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat) mengeluarkan daftar peringkat negara yang termasuk sering melanggar HKI pada tahun 2006, Indonesia telah masuk dalam priority watch list. Kondisi itu sedikit lagi menyebabkan Indonesia masuk ke dalam foreign country dan mendapat sanksi dagang. Lebih parah lagi, pemakaian software ilegal juga tidak melindungi konsumen atau perusahaan dari kemungkinan resiko hukum dan denda yang tinggi, serta dapat merusak reputasi apabila tertangkap pihak yang berwajib. UU tentang Hak Cipta telah mengatur, jika ditemukan adanya penggunaan software bajakan maka perusahaan dan manajemen senior perusahaan tersebut dapat dihukum maksimal tujuh tahun penjara dan denda sebesar Rp 5 miliar. Perjuangan memberantas pembajakan, mungkin terlalu besar untuk dibebankan pada beberapa lembaga yang terlibat. Di sini peran aktif masyarakatlah yang merupakan kunci dari keberhasilan upaya memberantas pembajakan. Pemerintah sendiri secara aktif sudah melaksanakan kampanye nasional yang berlangsung mulai 1 Februari hingga 30 Juni 2009. Kampanye ini dirasa perlu lantaran praktek pembajakan software berada dalam situasi memprihatinkan. Hasilnya cukup efektif, setidaknya ada sembilan industri software yang mendukung kampanye ini. Tiga perusahaan multinasional yang bergabung adalah Autodesk, Microsoft, dan Symantec. Sedangkan enam perusahaan lagi adalah perusahaan
2

lokal yaitu Andal Software, Bamboomedia, Collega Inti Pratama, Intelix, SPSS Indonesia, dan Zahir. Kampanye Tim Nasional ini secara konkret dilakukan melalui berbagai program. Misalnya direct mailer program dengan mengunjungi para CEO sekitar 20 ribu perusahaan lokal dan multinasional di Indonesia, mengirim surat ke mal-mal atau pusat pembelanjaan agar tidak memberikan tempat/ruang sewa bagi pedagang yang menjual produk bajakan, serta penyediaan paket stimulus dari para produsen software seperti memberikan diskon untuk pembelian produk software mereka. Sejatinya jika pembajakan software ilegal bisa ditekan melalui kampanye nasional, maka posisi Indonesia di mata dunia internasional tentunya semakin dihargai. Terbukti USTR telah menurunkan status Indonesia dari daftar priority watch list ke watch list. Artinya, Amerika Serikat telah mengubah persepsinya terhadap Indonesia sebagai negara dengan tindakan pembajakan tinggi di dunia. ** DALAM suatu kesempatan, Menristek Kusmayanto Kadiman pernah mengungkapkan, untuk mencegah terjadinya pembajakan di bidang HKI khususnya tentang pelanggaran penggunaan komputer, pemerintah memiliki kewajiban memberikan opsi. Itu artinya rakyat lah yang berhak memilih apakah menggunakan komputer legal dengan membayar lebih, atau menggunakan komputer berbasis open source yang lebih murah. Sejak semangat Indonesia, Go Open Source! (IGOS) diluncurkan, Kementerian Negara Ristek mendeklarasikan seluruh komputer yang ada 100% legal sejak September 2006. IGOS sebagai sebuah semangat gerakan meningkatkan penggunaan dan pengembangan perangkat lunak sumber terbuka di Indonesia, dideklarasikan pada 30 Juni 2004 oleh 5 kementerian yaitu Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Departemen Pendidikan Nasional. Gerakan ini melibatkan seluruh stakeholder TI (akademisi, sektor bisnis, instansi pemerintah dan masyarakat), yang dimulai dengan program menggunakan perangkat lunak sumber terbuka di lingkungan instansi pemerintah. Diharapkan langkah ini dapat diikuti oleh semua lapisan masyarakat dengan menggunakan perangkat lunak legal.
3

Gerakan ini memiliki sasaran memberikan lebih banyak alternatif perangkat lunak yang dapat digunakan masyarakat secara legal dan terjangkau. Dampak positifnya jumlah pengguna komputer meningkat, kemampuan riset dan pengembangan teknologi informasi nasional bidang perangkat lunak juga meningkat, serta mampu menciptakan kompetisi pengembangan teknologi informasi agar bisa bersaing di percaturan global. Di sejumlah negara di dunia, penerapan Open Source Software (OSS) sudah mampu memberikan nilai tambah tersendiri bagi negara yang bersangkutan. Seperti Jerman yang telah menerapkan standar dan struktur aplikasi e-goverment berbasis OSS dengan pertimbangan faktor keamanan. Brasil berhasil mendorong pemanfaatan OSS untuk pemerintah. Pemerintah Denmark menggunakan OSS dalam e-goverment untuk membuka pasar perangkat lunak yang kompetitif. Bahkan negara tetangga kita, Malaysia secara resmi mendanai studi yang menyarankan penggunaan OSS. Sebagai negara yang berpikiran maju, tentu saja Indonesia tidak mau kalah begitu saja. Saat ini pemanfaatan perangkat lunak legal dan OSS, sedang gencar-gencarnya diterapkan di instansi pemerintah. Sebab pengembangan dan pemanfaatan OSS, merupakan salah satu langkah strategis dalam mempercepat penguasaan TI di Indonesia. Sebab itu, guna memperoleh manfaat optimal, perlu dilakukan langkah-langkah menggunakan perangkat lunak legal di setiap instansi pemerintah, menyebarluaskan pemanfaatan OSS di Indonesia, menyiapkan panduan (guideline) dalam pengembangan dan pemanfaatan OSS, mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusatpusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia, serta mendorong dan meningkatkan koordinasi, kemampuan, kreativitas, kemauan dan partisipasi di kalangan pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan OSS secara maksimal. Bila kondisi semacam ini mampu disinergikan, Indonesia memiliki peluang besar untuk dapat memanfaatkan OSS dalam kehidupan. Siapa pun bisa bebas-bebas saja mengembangkan open source. Namun dengan sumber daya yang terbatas, dibutuhkan suatu panduan penelitian di bidang open source agar bisa sinergi. Dengan kata lain, suatu upaya secara nasional untuk memperkuat sistem TI nasional serta untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi global melalui pengembangan dan pemanfaatan OSS, sudah sangat diperlukan saat ini.
4

Ke depan, open source bukan sekadar produk yang dapat menggantikan software-software mahal, tetapi lebih pada terbukanya peluang berinovasi dengan kode-kode yang terbuka untuk dikembangkan menjadi berbagai aplikasi lainnya. Ini yang membedakan dengan software pro yang dijual dengan harga puluhan hingga ribuan dolar AS. Jadi kalau tidak sekarang kapan lagi masyarakat di tanah air dapat memanfaatkan OSS. Ayo bersama kita bias. ** BIODATA Nama Tempat Tgl.Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Rumah Pekerjaan : Efrie Christianto : Pangkalpinang, 26 Oktober 1968 : Laki-laki : Kompleks Permata Biru Jln. Arjuna Raya Blok AM No. 9 RT 07/RW 24, Cinunuk, Kab. Bandung : (022) 70794377 : Wartawan HU Galamedia

5

6

Bertahan Hidup Dengan Open Source oleh: Ardhi Suryadhi ABSTRAK
Mengubah kebiasaan seseorang ke sesuatu hal baru merupakan hal yang tidaklah mudah, untuk itu diperlukan waktu yang tidak singkat. Begitu pula halnya dalam penggunaan piranti lunak, sebagai contoh dalam menggunakan piranti lunak proprietary (commercial) kemudian beralih ke piranti lunak berbasis open source (open source software). Kebijakan PT. AMS yang sukses melakukan migrasi dari piranti proprietary ke piranti lunak open source mementahkan stigma negatif yang beredar, bahwa menggunakan Open Source itu sulit. Namun demikian, tak berarti migrasi tersebut berlangsung tanpa hambatan. Tantangan terbesar datang dari karyawan perusahaan itu sendiri, sebagian karyawan, mungkin itu adalah untuk kali pertama mereka bersentuhan dengan piranti lunak Open Source setelah bertahun-tahun menggunakan komputer dengan software proprietary. Ketakutan terbesar muncul dari pengguna komputer ketika ditawarkan untuk hijrah ke Open Source. Seperti adanya anggapan akan sulit terhubung atau tidak support (interoperability) dengan perangkat lain. Jika perusahaan tetap mengambil sikap mengalah dan membiarkan karyawan tetap menggunakan software ilegal, maka hal ini sama dengan membiarkan bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak mengguncang. Dengan keberanian PT. AMS beralih/bermigrasi ke piranti lunak open source ini, dan dengan keyakinan bahwa dengan kebijakan baru ini tidak mengubah produktivitas perusahaan, maka instansi ini dianggap pantas menerima Open Source Award dari Menteri Negara Riset dan Teknologi dan Menteri Komunikasi dan Informatika di ajang IGOS Summit II Mei 2008.

Sebuah perusahaan berinisial PT AMS yang berlokasi di Jakarta Selatan cukup kaget ketika menerima Open Source Award di ajang 'Indonesia, Go Open Source! (IGOS) Summit ke-2' pada Mei 2008 lalu. Padahal, perusahaan ini mengaku belum lama bermigrasi ke aplikasi bersistem terbuka itu, kira-kira baru sekitar 2 tahun belakangan digiatkan.

7

Dengan blak-blakan, salah satu petinggi perusahaan ini pun mengaku bahwa alasan utama yang mendorong perusahaannya memilih Open Source adalah karena masalah efisiensi biaya. Mereka menganggap bahwa dengan menggunakan Open Source pengeluaran mereka untuk mendanai penggunaan aplikasi dapat ditekan seminimal mungkin. Dan keyakinan itu ternyata manjur. Sebab, perusahaan tak perlu lagi membeli lisensi layaknya software proprietary, namun tetap saja bukan berarti pula tak ada biaya yang dikeluarkan sama sekali. Sementara penghargaan Open Source Award yang diberikan langsung oleh Menristek Kusmayanto Kadiman yang kala itu didampingi Menkominfo Mohammad Nuh boleh dianggap sebagai hadiah tambahan atas 'keberanian' mereka Mengapa disebut 'berani'? Pasalnya, PT AMS sukses mementahkan stigma negatif yang beredar hingga saat ini yang menyatakan bahwa menggunakan Open Source itu sulit. Pun demikian, tak berarti migrasi dari proprietary ke Open Source semulus yang dibayangkan. Tetap saja ada tantangan yang menyertai, yang terbesar datang dari karyawan perusahaan itu sendiri. Ya, masalah utama yang dimaksud adalah kebiasaan. Bagi sebagian karyawan, mungkin itu adalah kali pertama mereka bersentuhan dengan software Open Source setelah bertahun-tahun menggunakan komputer dengan dicekoki software proprietary. Hal ini pula yang menjadi ketakutan terbesar pengguna komputer lain ketika disodori untuk hijrah ke Open Source. Enggan untuk beradaptasi dari awal dan menganggap Open Source sulit terhubung atau tidak support (interoperability) dengan perangkat lain. Namun ketakutan tersebut nyatanya mampu dipatahkan oleh PT AMS. Hanya saja perusahaan harus berani mengambil ketegasan alias diperangi dengan kebijakan 'tangan besi'. Jika kebijakan sudah ditetapkan maka mau tak mau para karyawan 'dipaksa' untuk belajar kembali mengenai seluk beluk software yang baru dikenalnya tersebut. Jika hal itu tekun dilakukan, niscaya tak butuh waktu lama mereka sudah mahir dan terbiasa dengan Open Source. Selain itu, saat ini Open Source tak lagi kaku seperti beberapa tahun lalu. Tampilan (interface) yang disajikan sudah user friendly bak software proprietary. Sementara interoperability atau aplikasi pendukung dengan perangkat lain pun sudah banyak tersedia, seperti untuk printer, scanner hingga modem internet 3G. Jadi
8

buanglah jauh-jauh mimpi buruk seputar Open Source karena memang tak semenyeramkan yang dikira. *Bom Waktu * Meski demikian, keinginan untuk hijrah tergantung dari penggunanya itu sendiri, ada kemauan atau tidak dari dirinya untuk mencoba Open Source. Nah, jika tidak ada kemauan, tak ada salahnya juga untuk 'memaksa' para karyawan untuk mencoba. Sebab, kalau mereka menolak, yang dirugikan juga mereka sendiri lantaran tak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan semestinya. Jika perusahaan yang mengalah dan membiarkan karyawan untuk tetap menggunakan software tidak berlisensi, maka sama saja perusahaan tersebut membiarkan bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak mengguncang mereka. Tak percaya? Lihat saja aksi produsen software yang belakangan makin aktif melaporkan sejumlah perusahaan yang ditengarai menggunakan produknya dengan ilegal. Salah satunya adalah Autodesk, sudah ada beberapa perusahaan yang menjadi target empuk sang empunya software Autocad ini. Para pelaku yang diincar Autodesk antara lain perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, desain, arsitektur dan perusahaan lain yang berpotensi menggunakan produknya. Jika sudah terseret ke ranah hukum, tentu sang perusahaan bakal dijerat Pasal 72 ayat 3 UU Hak Cipta dengan ancaman kurungan 5 tahun dan atau denda Rp 500 juta. Namun yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah soal nama baik dari perusahaan tersebut, karena vendor software yang telah sukses menangkap mangsa biasanya selalu mengumbar kasus itu ke media sehingga ter-blow up ke publik. Jika sudah begini, tentunya nama baik perusahaan akan tercoreng yang ujung-ujungnya dapat menjadi image buruk di hadapan pelanggan atau partner bisnis mereka. Itu baru satu vendor. Bagaimana jika sang pelapor adalah Microsoft, yang notabene produknya lebih familiar di kalangan pengguna komputer Tanah Air. Hmm... jika itu terjadi, bisa seperti menembak burung di sarang alias tinggal memejamkan mata pun sasaran sudah bisa didapat. Menurut data dari lembaga riset IDC yang diumumkan Business Software Alliance (BSA) baru-baru ini, tingkat pembajakan software di Indonesia mencapai 85 persen pada tahun 2008. Dengan kata

9

lain, jika diibaratkan ada 100 komputer maka 85 diantaranya menggunakan software bajakan. Nah, sekarang coba sebutkan software apa yang paling sering digunakan pengguna komputer Tanah Air? Sulit untuk mengingkarinya, namun harus diakui software besutan Microsoft seperti sistem operasi Windows serta aplikasi perkantoran Microsoft Office masih menjadi pilihan utama. Sehingga jika perusahaan milik Bill Gates tersebut menjalankan tindakan represif maka tak terbayangkan berapa banyak perusahaan di Indonesia yang kocarkacir lantaran menggunakan software ilegal. *Bertahan Hidup * Untuk itulah Open Source lahir ke industri software. Yakni untuk menembus cengkraman bisnis software proprietary yang dianggap sejumlah kalangan sangat memberatkan dengan harga lisensi mereka yang mahal. Menurut praktisi Open Source Rusmanto, kacamata bisnis dari Software Open Source tak selalu dilihat dengan berjualan lisensi, tetapi juga berjualan terkait jasa software dalam arti luas, seperti penyedia support, maintenance, pelatihan, modifikasi software dan lainnya. Hal inilah yang membuat perusahaan pengguna Open Source lebih hemat dalam mengucurkan anggaran TI mereka. Sebab, tak perlu membeli lisensi dan sistem yang digunakannya pun terbuka sehingga perusahaan tahu kode-kode pemrograman yang digunakannya dan bisa dikembangkan lebih lanjut atau dimodifikasi sesuai kebutuhan perusahaan. Perusahaan pun bisa hidup dengan tenang, tanpa takut dikejarkejar pihak berwajib lantaran menggunakan software bajakan atau dibuat pusing karena membeli lisensi software proprietary yang menguras kocek mereka. Selain itu seperti dikatakan Direktur Sistem Informasi Ditjen Aptel Depkominfo, Lolly Amalia, pengguna software proprietary semakin lama akan semakin bergantung kepada vendor software tersebut. Jika ada produk baru, perusahaan akan 'dipaksa' untuk membeli dan akan menjadi bencana ketika suatu saat vendor tersebut gulung tikar. Sebab, siapa lagi yang akan mensupport mereka. Hal ini berbeda dengan Open Source yang bersistem terbuka jadi pengembangannya pun dilepas ke komunitas.
10

Bagi pebisnis atau pengembang software Open Source pun bukan berarti tak bisa bertahan hidup. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa kacamata bisnis Open Source tak melulu harus berjualan lisensi, namun juga bisa mengambil sisi komersialnya dari memberikan jasa. *Berkuasa Sejak Dini * Pemerintah sendiri sudah menyadari 'ancaman' di atas dan sudah mengambil langkah pencegahan dengan menggalakkan program Indonesia, Go Open Source! (IGOS) sejak empat tahun lalu. Bahkan, dalam surat edaran Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara pada April lalu, seluruh lembaga pemerintah diberikan tenggat waktu hingga 2011 untuk hijrah ke software legal, dengan direkomendasikan menggunakan Open Source. Namun, menurut praktisi TI Onno Purbo, pemerintah juga jangan terlalu fokus dengan hanya menyasar kalangan atas atau industri saja. Pikirkan juga kurikulum pelajaran komputer yang diasup anak-anak di sekolah. Jika dilihat di sekolah-sekolah secara umum, materi pelajaran komputer pasti masih lebih banyak 'dimonopoli' menggunakan komputer dengan software proprietary. Hal inilah yang menjadi pangkal masalahnya, software proprietary sudah dibiarkan berkuasa sejak dini. Sehingga, wajar saja ketika dewasa nanti para tunas bangsa ini sudah kadung bergantung dengan software proprietary. Toh, ketika mereka belajar komputer di sekolah tak tahu ada pilihan software yang bernama Open Source. ** BIODATA Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Ardhi Suryadhi :: Laki – laki : Jl. Cipinang Lontar II RT: 003 RW: 09 NO: 21 :: Jurnalis Detikcom

11

12

BUKA MATA, BUKA HATI, BUKA PIKIRAN DENGAN OPEN SOURCE Oleh: Amin Rois ABSTRAK
Karya tulis ini diawali dengan penjelasan tentang open source software (OSS) dan berbagai jenis lisensi software yang ditampilkan dalam bentuk taksonomi. Kategori kriteria lisensi diuraikan secara rinci termasuk keuntungan jangka panjang dan jangka pendek yang dapat diperoleh pemakai bila menggunakan piranti lunak tersebut, diantaranya: penghematan, kebebasan, keamanan dan sebagainya. Dalam tulisan ini juga dikutip beberapa pendapat pengusaha asing tentang manfaat yang diperoleh perusahaannya setelah menggunakan OSS. Diakhir karya tulis ini dijelaskan secara rinci tentang perlunya membuka mata, hati dan pikiran dalam mengejar ketertinggalan dalam menggunakan OSS.

MORPHEUS We are trained in this world to accept only what is rational and logical. Have you ever wondered why? As children, we do not separate the possible from the impossible which is why the younger a mind is the easier it is to free, while a mind like yours can be very difficult. NEO Free from what? MORPHEUS From the Microsoft. (Sepotong dialog dalam trilogi film The Matrix)
13

Apa itu Open Source? Sebelum berkenalan dengan open source, ada baiknya kita kenali dahulu berbagai jenis software menurut biaya lisensi dan ketersediaan source-codenya. Menurut Robert Charpentier dan Richard Carbone (2004), berbagai jenis lisensi software dapat disusun dalam taksonomi berikut:

Taksonomi Software Pada gambar di atas, ada dua lisensi utama, yaitu free (gratis) dan propietary yang meminta kompensasi biaya atas pembelian atau penggunaan perangkat lunak. Pengembang pada kedua jenis lisensi utama tersebut dapat menerapkan skema open source (menyediakan source code) maupun closed source (tidak menyediakan source code). Sehingga dapat ditemui adanya perangkat lunak gratis yang tidak open source, maupun perangkat lunak berbayar yang open source. Pada skema open source, ada yang dikembangkan oleh perusahaan (corporate) dan komunitas (collaborative). Software open source kolaboratif ada yang sudah matang (mature) dan sedang dalam pengembangan (in development). Secara sederhana, ada dua kategori lisensi software yang banyak dipakai, yaitu:
14

1) FOSS (Free / Open Source Software) adalah dua istilah yang maksudnya hampir sama, yakni program yang tidak perlu biaya izin (free = bebas) digunakan dan kode sumbernya tidak dirahasiakan (open = tersedia), sehingga cara kerjanya dapat dipelajari, lalu dikembangkan, dan disebarluaskan. Contoh: Linux, OpenOffice, GIMP, Inkscape. 2) PCSS (Proprietary / Closed Source Software) adalah program yang hanya dimiliki pembuatnya (terikat). Pengguna hanya dapat menggunakan jika membeli lisensi (mendapatkan izin). Pihak lain tidak dapat mempelajari cara kerjanya (tertutup), tidak pula mengembangkan dan menyebarluaskan. Contoh: Windows, MS Office, Photoshop, CorelDraw. Open Source tidak hanya bermakna kebebasan akses ke source code saja. Open source juga merupakan: 1. Sebuah komunitas kuat yang terdiri dari individu-individu yang lebih mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan umum dibandingkan dirinya sendiri; 2. Seperangkat aturan lisensi software; open source bukan berarti tanpa lisensi, sebab ini berkaitan dengan hukum. Agar open source dapat menjadi legal di mata hukum, diperlukan aturan lisensi open source tersendiri; 3. Sebuah model pengembangan software secara kolaboratif; setiap orang dapat ikut berpartisipasi dalam mengembangkannya; 4. Sebagai katalis yang membangkitkan bisnis dan model bisnis yang belum pernah ada sebelumnya; tidak ada bisnis dalam sistem open source itu sendiri, karena ia hanyalah alat; namun open source dapat digunakan untuk menjalankan bisnis dengan lebih efisien atau mengembangkan model bisnis baru di sekitar pemanfaatan open source; 5. Kekuatan komoditi. yang mendorong percepatan software menjadi

Sebagai seperangkat lisensi software, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebelum suatu software dapat disebut sebagai

15

open source. Berikut ini definisi open source menurut lembaga nirlaba Open Source Initiative (OSI): 1. DISTRIBUSI ULANG SECARA BEBAS Lisensi yang digunakan tidak boleh membatasi siapa pun untuk menjual atau mendistribusikan ulang. Baik distribusi ulang secara terpisah maupun digabungkan dengan program lain. Lisensi tidak boleh mesyaratka royalti atau semacamnya bila program tersebut akan dijual. Alasan Logis: Dengan mensyaratkan distribusi ulang secara bebas, hilangnya manfaat jangka panjang demi hasil penjualan jangka pendek dapat dieliminasi. 2. KODE PROGRAM (SOURCE CODE) Distribusi program harus menyertakan source code, dan harus mengizinkan distribusi source code sebagaimana halnya bentuk yang sudah dikompilasi (bentuk binari/executable). Jika program tidak didistribusikan bersama source code, harus ada publikasi atau penjelasan yang memadai bagaimana caranya mendapatkan sorce code-nya. Biaya yang diperlukan untuk mendapatkan source code tidak boleh lebih dari biaya reproduksinya atau tersedia untuk di-download melalui internet. Source code harus menjadi bentuk yang lebih disukai jika programmer ingin memodifikasi programnya. Source code tidak boleh diubah atau dibuat menjadi tidak jelas dengan sengaja. 1 Bentuk intermediate juga tidak diijinkan, misalnya keluaran dari 2 3 preposesor atau translator . Alasan Logis: Akses ke source code yang jelas diperlukan untuk mengembangkan dan memodifikasi program. Agar hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah, maka akses ke source code juga harus dimudahkan.

1

Bentuk intermediate adalah bentuk setengah jadi. Source code sudah diproses, namun belum bisa dijalankan atau di-execute.

Preposesor adalah pemroses source code menjadi bentuk setengah jadi. Keluarannya masih harus diproses lagi untuk menjadi executable/binari.
3

2

..

16

3. HASIL MODIFIKASI ATAU TURUNAN Lisensi harus mengijinkan modifikasi atau pembuatan turunan dari program tersebut, dan harus mengizinkan program yang diturukan untuk dilisensikan dengan lisensi yang sama dengan program aslinya. Alasan Logis: Ketersediaan akses untuk membaca source code 4 saja tidak cukup untuk mendukung peer review secara independen dan pengembangan evolusioner yang cepat. Agar hal tersebut dapat terjadi, diperlukan eksperimen pada source code dan distribusi ulang hasil modifikasinya. 4. INTEGRITAS PROGRAMMER ASLI Lisensi dapat melarang source code untuk didistribusikan dalam 5 bentuk yang sudah dimodifikasi bila mengijinkan distribusi patch beserta source code-nya untuk memodifikasi program pada saat 6 build time . Lisensi harus secara eksplisit mengijinkan distribusi program yang dibangun dari source code yang telah dimodifikasi. Lisensi dapat mensyaratkan program turunan agar menggunakan nama atau versi yang berbeda dengan program yang asli. Alasan Logis: mendorong terjadinya banyak pengembangan dan perbaikan adalah hal yang sangat baik, namun para pengguna berhak untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap aplikasi yang mereka gunakan. Sebaliknya, sang pembuat program dan pemeliharanya (maintainer) juga berhak untuk mengetahui apa harus mereka dukung dan untuk menjaga reputasi mereka. Dengan demikian, sebuah lisensi open source harus menjamin agar source code tersedia, namun dapat mensyaratkan agar source code didistribusikan dalam bentuk pristine (masih asli dari sang pembuat, belum ada modifikasi dari pihak lain) ditambah dengan patch. Dengan cara ini, perubahan yang tidak resmi dapat dibuat dan disediakan, namun dapat dibedakan dari source aslinya.
4

Peer review adalah review mendalam pada suatu kode program yang bisa dilakukan oleh siapa saja.

Patch adalah modifikasi atau tambahan dari program aslinya yang dibuat bukan oleh programmer asli suatu program.
6

5

Build time adalah waktu ketika source code dikompilasi untuk menghasilkan binari/executable.
17

5. TIDAK ADA DISKRIMINASI P ADA ORANG ATAU KELOMPOK ORANG Lisensi tidak boleh membatasai orangatau kelompok orang untuk menggunakan atau terlibat dalam proses pengembangan program open source. Alasan Logis: Untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari proses pengembangan aplikasi open source, maka tingkat perbedaan orang atau kelompok orang yang terlibat dalam prosesnya juga harus maksimal. Setiap orang harus memiliki hak yang sama untuk berkontribusi pada proyek open source apa pun. Dengan kata lain, tidak boleh ada larangan bagi siapapun untuk terlibat dalam proses pengembangan open source. 6. TIDAK ADA DISKRIMINASI DALAM BIDANG PENGGUNAANNYA Lisensi tidak boleh membatasi seseorang untuk menggunakan program yang dimaksud dalam bidang tertentu. Misalnya, lisensi tidak boleh membatasi penggunaan program dalam bidang penelitian, pendidikan, atau digunakan untuk menjalankan bisnis. Alasan Logis: Hal ini dimaksudkan agar penggunaan open source meluas dan tidak terjebak pada batasan untuk digunakan sebagai alat bantu dalam dunia bisnis komersial. Pengguna komersial justru diharapkan bergabung dengan komunitas open source dan tidak merasa dikecualikan dalam menggunakan program open source. 7. DISTRIBUSI L ISENSI Hak-hak yang melekat pada program harus dapat diterapkan pada seluruh pengguna; tanpa memerlukan tambahan lisensi. Alasan Logis: klausa ini dimaksudkan untuk menghindari penutupan software secara tidak langsung. 8. LISENSI TIDAK BOLEH SPESIFIK PADA P RODUK TERTENTU Hak-hak yang melekat pada program tidak boleh mensyaratkan program tersebut menjadi bagian dari distribusi software tertentu. Jika program tertentu digunakan atau didistribusikan secara terpisah dari distribusi software-nya, namun tetap mengikuti lisensi berlaku pada program tersebut, maka seluruh pihak yang menerima atau menggunakan program tersebut harus menerima hak yang sama dengan mereka yang mendapatkannya bersama distribusi software aslinya. Alasan Logis: klausa ini mencegah jenis jebakan lisensi yang lain.
18

9. LISENSI TIDAK BOLEH MEMBATASI SOFTWARE LAIN Lisensi tidak boleh membatasi software lain yang didistribusikan bersama program yang dilisensikan. Misalnya, lisensi tidak boleh memaksa bahwa program lain yang didistribusikan dalam media yang sama harus merupakan software yang open source. Alasan Logis: Distributor software open-source memiliki hak untuk menentukan pilihan mengenai software mereka. Lisensi GPL (GNU General Public License) juga mengadaptasi hal ini. Software yang menggunakan pustaka berlisensi GPL hanya diharuskan berlisensi GPL bila membentuk satu software yang sama, bukan pada software apa saja yang didistribusikan bersamanya. 10. LISENSI HARUS NETRAL TERHADAP TEKNOLOGI Penyediaan lisensi tidak boleh mengharuskan penggunaan teknologi atau tampilan grafis tertentu. Alasan Logis: Penyediaan lisensi ini ditujukan secara spesifik pada lisensi yang mengharuskan adanya tindakan yang secara ekplisit menunjukkan ekspresi persetujuan dan mengadakan kontrak antara pengguna software yang dilisensikan dengan pembuat lisensinya. Penyediaan lisensi yang mengharuskan 7 “click-wrap” dapat menimbulkan konflik dengan beberapa metode penting dalam distribusi software seperti misalnya: download melalui FTP (File Transfer Protocol), CD-ROM berisi 8 kumpulan aplikasi, atau mirror web ; beberapa di antaranya dapat menghalangi atau mencegah penggunaan kembali kode program. Maka adaptasi penyediaan lisensi harus memungkinkan (a) distribusi software bisa dilakukan di jalur nonweb yang tidak mendukung click-wrap pada proses download dan (b) kode program yang tercakup dalam lisensi (atau penggunaan kembali sebagian dari kode program yang tercakup) harus dapat dijalankan dalam lingkungan tanpa tampilan grafis yang tidak dapat mendukung dialog pop-up.

7

Click-wrap maksudnya menyetujui lisensi dengan sebuah klik sebelum mendownload atau menjalankan suatu aplikasi. Mirror web adalah salinan dari suatu web.
19

8

KEUNGGULAN GNU\LINUX DAN OPEN SOURCE KEUNGGULAN UMUM 1. Biaya Investasi Biaya lisensi untuk perangkat lunak, nol atau sangat rendah (karena masih ada biaya distribusi perangkat lunak). Perangkat keras: berbeda dengan penggunaan proprietary software, yang mensyaratkan spesifikasi perangkat keras tertentu, OSS tidak terlalu bergantung pada jenis perangkat keras tertentu. Pasalnya OSS dapat beroperasi pada PC standar dan berbagai platform perangkat keras. Pengeluaran biaya tertuju pada perawatan (maintenance) sistem OSS. 2. Kualitas dan Kinerja Kualitas program dibuat dengan memperhatikan reliabilitas dan kinerja yang terkait dengan keseluruhan sistem yang digunakan. Dengan hasil peer review yang diperoleh dari para programmer, kualitas dan kinerja OSS dapat selalu ditingkatkan. Fleksibilitas Sistem: Perubahan requirement (baik perangkat lunak atau perangkat keras) pada OSS tidak akan terlalu berpengaruh terhadap sistem yang digunakan. Hal ini sangat berbeda dengan proprietary software, ketika requirement penyusun sistem berubah maka perangkat lunak yang digunakan harus diganti atau diperbaharui (update). Perangkat lunak yang berbasis open source lebih fleksibel digunakan tanpa terpengaruh oleh perangkat keras atau perangkat lunak lain pada sistem. 3. Keamanan Dengan menggunakan OSS, faktor keamanan (security) selalu dapat ditingkatkan. Pasalnya, akses pada source code yang terbuka akan memudahkan pendeteksian kerusakan sistem, sehingga bisa langsung diperbaiki. 4. Lokalisasi Pengembang dapat memodifikasi program sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat sekitar, contohnya translasi Linux ke dalam suatu bahasa tertentu. Meningkatkan kapasitas pengembang perangkat lunak lokal.

20

5. Independensi (kebebasan) Berkurangnya ketergantungan terhadap suatu vendor perangkat lunak. TOTAL COST OF OWNERSHIP Total Cost of Ownership adalah ukuran yang menunjukkan harga kepemilikan perangkat keras maupun perangkat lunak. TCO tidak hanya memperhitungkan biaya pembelian awal, namun juga menghitung biaya perawatan, pelatihan, dan pengembangan lebih lanjut. 1. Sistem free software lebih murah pada pembelian awal. Meskipun free merujuk pada freedom (kebebasan) bukan harga. Setelah membeli suatu sistem propietary, sebenarnya anda hanya diberi hak pakai. Sedangkan pada lisensi open source, anda benar-benar memilikinya setelah menyetujui lisensinya. 2. Biaya perawatan atau upgrade pada jangka panjang juga jauh lebih murah pada sistem GNU/Linux. Misalnya, upgrade produk Microsoft biasanya mencapai setengah dari harga pembelian. Selain itu, pengguna dihadapkan hanya pada satu pilihan harga. Sehingga pada jangka panjang, harga tergantung pada kebijakan Microsoft. Sebaliknya, sistem GNU/Linux dapat didownload secara gratis atau dibeli lagi (secara umum, kurang dari $100). Harga ini memang belum termasuk technical support, namun harga technical support dapat bersaing karena ada berbagai vendor (situasi yang tidak mungkin terjadi pada produk Microsoft). 3. Sistem GNU/Linux umumnya dapat menggunakan perangkat keras secara lebih efisien, dan dapat menggunakan perangkat keras lama. Sehingga menuntut biaya perangkat keras yang lebih rendah, dan pada beberapa kasus dapat mengeliminasi kebutuhan perangkat keras baru. Selain itu, free software juga berjalan lebih cepat pada perangkat keras baru. 4. Sistem free software cenderung membutuhkan perawatan administrasi yang lebih rendah. Survei pada pemerintahan Eropa menunjukkan bahwa administrator sistem free software dapat mengelola 35% komputer lebih banyak untuk setiap administrator dibandingkan dengan sistem propietary. 5. Netproject melaporkan bahwa TCO dengan Linux pada desktop adalah 35% dari TCO Microsoft Windows
21

(penghematan 65%). Netproject’s Cost of Ownership report menemukan penghematan yang signifikan dan melaporkan penyebabnya sebagai berikut: a) Eliminasi harga lisensi baik untuk perangkat lunak sistem maupun perangkat lunak perkantoran (office). b) Eliminasi vendor yang memaksa update perangkat lunak yang tidak perlu. c) Pengurangan dalam jumlah security updates untuk perangkat lunak. d) Tidak memerlukan pembelian perangkat lunak antivirus. e) Pengurangan jumlah staff yang diperlukan untuk support. PENGHEMATAN BIAYA Dilihat dari sudut pandang biaya, sumber penghematan yang bisa diperoleh yaitu: 1. Hemat biaya lisensi pengadaan perangkat lunak, lisensi upgrade, dll. 2. Hemat biaya dukungan teknis. 3. Hemat biaya pembelian perangkat keras dan up-grade parangkat keras (sebab, Linux sangat fleksibel terhadap hardware). 4. Sedikit kehilangan laba ketika sistem down. Mengapa? Karena sistem Linux jarang (bahkan hampir tidak pernah) down. Desain yang modular juga memungkinkan recovery yang cepat karena kerusakan pada satu modul tidak akan menyebar ke seluruh sistem. 5. Hemat biaya yang harus dikeluarkan ketika data hilang karena kesalahan program di sistem operasi atau perangkat keras yang dipersyaratkan oleh sistem operasi. 6. Hemat biaya yang harus keluar karena gangguan virus. Keuntungan Jangka Panjang Keuntungan jangka panjang yang lebih besar justru berasal dari konsep dan prinsip open source itu sendiri, yaitu: 1. Dapat menjaga investasinya dalam bidang software, tidak tergantung pada sebuah vendor. 2. Lebih memahami kerja dari suatu software, sehingga tidak terlalu tergantung pada dokumentasi yang tersedia.

22

3. Dapat melihat dan mencari kelemahan software, bahkan dapat memperbaikinya bila mau. Update biasanya jauh lebih cepat tersedia daripada closed software. 4. Dapat memindahkan software tersebut ke sistem operasi yang lain atau yang baru atau hardware yang berbeda. 5. Dapat menggunakan source code untuk membuat aplikasi yang disesuaikan kebutuhannya. 6. Sehingga staf divisi TI (teknologi informasi) memiliki waktu luang lebih yang biasa dipakai untuk perbaikan. Mereka pun dapat memanfaatkan waktu luang tersebut untuk mengembangkan aplikasi bisnis berbasis TI yang lebih baik untuk kantor atau perusahaannya. Lalu, Mengapa Open Source masih menjadi side-stream? My fight is not to be a white man in a black skin, but to inject some black blood, some black intelligence into the pallid mainstream of American life, culturally, socially, psychologically, philosophically. John Oliver Killens, U.S. novelist, film scriptwriter, and educator. Saat ini, open source sudah mulai mendominasi penggunaan perangkat lunak di kalangan perusahaan. Forrester Research yang belum lama mengumumkan hasil dari jajak pendapat terhadap eksekutif perusahan tentang Open Source di negara-negara USA, Inggris, Perancis, Jerman dan Kanada. Dari hasil pemantauan tersebut dikatakan bahwa Open Source Software Goes Mainstream diadopsi paling tidak di perusahan di Jerman (58 persen) dan Perancis (49 persen) sementara Inggris menduduki tempat ketiga dengan 40 persen. Alasan menggunakan software bebas di perusahan adalah terutama demi penghematan biaya yang ditemukan paling tidak sekitar 56 persen dari 2200 perusahan yang dijajaki. Menurut Forrester, badai krisis yang melanda dunia saat ini juga telah memberikan kontribusi terhadap langkah perusahan menuju solusi Open Source. Diindikasikan bahwa penyebaran OSS di perusahan saat ini lebih cepat dari pada teknologi lainnya seperti ERP atau Enterprise-Services. Sebagaimana dijelaskan Jeffrey S. Hammond, Analyst di Forrester, OSS kini tidak lagi dapat diabaikan. Berkat Open Source telah terjadi pergesaran expektasi pelanggan terhadap harga dan

23

tendensi pembelian. Yang tadinya membeli paket solusi lengkap dari satu vendor, kini ngetrend untuk membeli sistem per komponen. Meski demikian, Linux dan perangkat lunak open source masih belum menjadi main-stream di kalangan pengguna desktop rumahan. Menjadi side-stream bukanlah hal yang buruk. Sesuatu hal menjadi side-stream bukan karena hal itu tidak mampu untuk menjadi main-stream, tapi karena kekuatannya yang besar belum dikelola dengan baik. Pengelolaan kekuatan yang besar kadang hubungannya lebih dekat dengan pengelolaan penjualan (atau bagaimana cara menjual). Contoh yang bisa disamakan adalah film Hollywood yang menjadi main-stream perfilman dunia. Apakah karena film-film Hollywood mempunyai cerita yang bagus? Tidak juga. Banyak film 9 independen yang punya cerita lebih bagus. Hollywood berjaya karena kekuatan finansialnya dalam membuat jaring-edar film-film mereka. Karena mereka punya dana besar untuk beriklan. Karena mereka sudah terlalu lama menjadi main-stream, penonton kebanyakan sudah lupa kalau ada film lain yang bagus dan bisa ditonton selain film Holywood. Dan mungkin itu Bollywood atau 10 Tangkiwood . Kebanyakan programmer Linux terlalu asyik dengan pengembangan Linux itu sendiri sebagai program dibandingkan dengan bagaimana melakukan penetrasi lebih intensif ke pengguna. Kebanyakan orang masih melihat Linux sebagai sebuah kelompok komunitas, kantong-kantong programmer handal yang anti-Microsoft, dan bahkan sebagai orang iseng yang hanya hobi membuat program. Belum tumbuh secara maksimal dalam diri para pengguna Linux untuk meleburkan diri mereka sebagai sesama pengguna komputer apalagi kesadaran untuk menggunakan kekuatan media sebagai sarana promosi. Semua memang sudah mulai dilakukan. Tapi sekali lagi, masih kurang maksimal. Apa artinya sebuah produk bagus tanpa promosi yang bisa menginformasikannya kepada masyarakat? Linux harus belajar
9

Independen di sini berarti proses pembuatannya tidak melibatkan Hollywood sebagai raksasa studio film dunia. 10 Sebutan untuk industri film di Indonesia tahun 60-an. Diambil dari nama sebuah daerah di Jakarta yang menjadi Pusat pembuatan film.
24

banyak pada Microsoft bagaimana caranya mempromosikan produk dengan baik. Microsoft sangat berhasil dalam hal ini sehingga promosi itu mampu menghilangkan ingatan pengguna komputer bahwa ada sistem operasi lain yang bisa digunakan selain Microsoft. (Seharusnya) Merupakan Sebuah Konspirasi: Open Source, Negara Berkembang, Kemiskinan, dan Semangat untuk Mengejar Ketertinggalan People of the same trade seldom meet together but the conversation ends in a conspiracy against the public, or in some contrivance to raise prices. Adam Smith United Nation Conference on Trade Development pada tahun 2003 merekomendasikan penggunaan free dan open source software di negara berkembang ntuk mengurangi kesenjangan teknologi dengan negara maju. Pada 1 Juli 2004, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Negara Komunikasi dan Informatika, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Kehakiman dan HAM, serta menteri Pendidikan Nasional secara resmi menyatakan akan menggalakkan penggunaan standar software terbuka melalui gerakan Indonesia Go Open Source (IGOS) yang konon dapat menghemat belanja sampai 20 triliun rupiah. Hasil terpenting dari IGOS Summit 2, yang kelak menentukan keberhasilan gerakan open source Indonesia di masa depan, adalah lahirnya komitmen beberapa instansi pemerintahan untuk mengimplementasikan OSS. Mereka adalah Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Negara Koperasi dan UMKM, Departemen Sosial, Sekretariat Negara, Kepolisian Negara RI, BAPPENAS, Departemen Dalam Negeri, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Kehutanan, Departemen Agama, Departemen Keuangan, dan Departemen Perhubungan. Hal lain yang tak kalah penting yang dihasilkan dalam acara ini adalah terbentuknya Aliansi Open Source Indonesia pada penutupan IGOS Summit 2. Open source dan open movement terbukti mendorong sebagian besar inovasi yang ada di dunia software. Dalam open source, kode program perangkat lunak dibuka untuk siapa saja. Setiap individu atau kelompok mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkannya lebih jauh. Bagi negara berkembang, potensi
25

peran open source sangat besar. Dengan konsep yang terbuka kita bisa mengejar ketertinggalan dari negara maju. Karena kita tidak perlu memulai semuanya dari nol. Tinggal dimodifikasi dan dikembangkan. Selain itu, kita bisa menghemat biaya lisensi. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli lisensi seharusnya bisa digunakan untuk biaya pendidikan, serta mengembangkan berbagai inovasi lain yang akan membuat kita lebih cepat berkembang. Menurut data Badan 11 Pusat Statistik , pendapatan nasional per kapita kita adalah 15,5 juta per tahun pada 2007. Artinya hanya sekitar satu juta per bulan. Angka tersebut pun baru berupa pendapatan rata-rata. Pemerataannya masih timpang. Ada yang pendapatannya masih jauh di bawah angka tersebut. Ada pula segelintir yang penghasilannya berlipat dari angka tersebut. Bila pendapatan tersebut digunakan untuk membeli software, bagaimana bangsa kita memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan? Sedangkan harga sistem operasi Windows XP Professional SP2 adalah $144 atau Rp 1,742,400. Sebelum dapat bekerja, pengguna masih harus membeli Office 2007 Basic (Word, Excel, Outlook) seharga $170 atau Rp 2,057,000. Belum lagi bila pengguna memerlukan Adobe Photoshop CS4 versi 11 seharga $698 atau Rp 12 8,445,800. Harga perangkat lunak asli , bisa jauh lebih mahal dari perangkat kerasnya. Sedangkan satu distribusi Linux biasanya sudah menyertakan berbagai aplikasi yang diperlukan dalam kegiatan sehari-hari. Termasuk aplikasi office (OpenOffice.org) dan desain grafis (GIMP) yang memadai. Standar terbuka adalah hal yang penting. Bayangkan bila data penting Anda tersimpan dalam format tertentu yang hanya bisa dibuka oleh aplikasi tertentu. Apa yang akan Anda lakukan bila beberapa tahun kemudian aplikasi tersebut tidak lagi tersedia, atau format lama tidak lagi didukung? Nah, standar terbuka memungkinkan formatnya dapat dibuka oleh aplikasi apa saja. Sebab, tersedia spesifikasi dan source code implementasi format tersebut. Bahkan setiap orang dapat membuat aplikasi sendiri menggunakan format penyimpanan tersebut. Contohnya adalah Dikutip dari Statistik Indonesia 2008, diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik. 12 Harga didapatkan dari iklan SoftwareAsli.Com di majalan PCMedia Edisi 04/2009 halaman 149.
26
11

Open Document Format (ODF) yang telah terdaftar sebagai standar ISO. Standar terbuka itu sangat penting untuk interoperabilitas. Kalau ada interoperabilitas, akan menghasilkan pemanfaatan TI yang jauh lebih besar dan ketidaktergantungan pada salah satu vendor. Dengan demikian, kompetisi bisa lebih sehat. Jika kompetisi lebih sehat, yang akan diuntungkan adalah pengguna karena harga lebih murah, service lebih baik, pilihan lebih banyak. Pemberlakuan UU HaKI (Undang-undang tentang Hak atas Kekayaan Intelektual) pun tidak dapat membendung pola konsumtif ini. Pengguna Windows masih tetap dominan, sebab pembajakan tetap berlangsung. Mereka belum beralih ke Linux, misalnya karena dianggap susah digunakan. Padahal mereka juga tidak mampu membeli lisensi Windows. Barangkali jika pembajakan benar-benar dihentikan, mereka akan berbondong-bondong migrasi ke Linux. Sebab, Linux gratis, kode programnya terbuka (open source), dan bisa dimodifikasi sesuka hati. Tapi sayangnya, seringkali mereka yang sudah menggunakan Linux hanya berpikir bahwa ini gratis. Mereka tidak berpikir bahwa ini dapat dimodifikasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan. Padahal seharusnya ini diarahkan pada kemandirian IT. Sebab, bangsa kita memiliki potensi besar untuk menjadi pengembang. Misalnya mengembangkan distro khusus game atau pendidikan dan menjualnya dengan harga yang relatif masuk akal. Sebagai contoh, lihatlah Thailand. Perlahan mereka membangun ladang industri TI yang cukup canggih dengan menawarkan jasa programming dan animasi yang kuat di Asia Tenggara. Thailand merupakan salah satu sumber open source yang unik karena berbagai perusahaan dan sekolahan berupaya untuk membuat dan menggunakan distro Linux nasional. Harap diingat bahwa huruf Thai berbeda dengan tulisan latin yang kita gunakan. Jadi bukan sekedar bahasanya yang harus diganti, tapi juga semua karakternya yang ada di seluruh sistem. Belum lagi untuk aplikasi OpenOffice.Org, tapi mereka pantang mundur. Karena kemampuan mereka berpaling ke Linux dan perangkat lunak open source, pada tahun 2003 Microsoft Thailand terpaksa menurunkan harga Windows dan Office dari sekitar 600 dolar AS ke 37 dolar AS. Microsoft Windows XP Starter Edition juga mulai dibuat untuk mengantisipasi program open source Thailand, karena takut negara-negara lain akan mengikuti jejak tetangga kita ini.
27

Urgensi kemandirian dalam teknologi informasi tidak dapat ditunda lagi. Teknologi Linux warisan UNIX yang sudah matang dan tersedia secara free tidak bisa hanya dianggap barang gratisan. Ada potensi besar di baliknya bila bangsa kita mau berusaha mempelajarinya dan mengembangkannnya. Open source bukan hanya jalan pintas untuk Cut-Budget, namun lebih dari itu. Ia adalah sarana untuk kemajuan dan kemandirian dalam teknologi informasi, baik dalam level sistem operasi maupun aplikasi. Bangsa besar yang langganan medali emas berbagai olimpiade sains ini seharusnya bisa menjadi produsen dan pemimpin teknologi informasi dunia, bukan hanya pengguna. GNU\Linux dan teknologi open source adalah pintu gerbang menuju ke sana. Semangat mengejar ketertinggalan adalah langkah kaki menuju pintu gerbang tersebut. Yang muda yang bersemangat Educators who embrace PCs as a new teaching tool and learning tool will be agents of change. Bill Gates, CEO and founder of Microsoft Agent of Change adalah predikat yang sering dilekatkan pada kaum muda. Umumnya para pemuda memiliki pikiran yang relatif lebih terbuka dibanding kaum yang sudah mapan. Kampus seharusnya menjadi wadah lahirnya inovasi-inovasi baru. Tidak hanya menjadi tempat mencari gelar agar mendapatkan pekerjaan yang layak. Terbukti banyak inovasi atau teknologi yang banyak dipakai saat ini, lahir dari tangan kaum muda. Misalnya Facebook, yang pada awalnya dikembangkan untuk sarana komunikasi di kampus. Linux pun mulai dikembangkan ketika Linus Torvalds masih 13 mahasiswa. NCSA-Mosaic sebagai browser pertama juga dikembangkan oleh para mahasiswa. Selain sebagai agen pengubah, mereka juga dikenal memiliki semangat yang tinggi. Semangat ini sangat diperlukan untuk mendukung gagasan-gagasan baru mereka. Sebab, bila mereka tidak punya semangat menggebu, gagasan baru mereka akan kalah. Mereka punya tugas untuk membuktikan bahwa gagasan baru
13

Browser adalah aplikasi penjelajah internet. Beberapa yang banyak dipakai musalnya Firefox, IE, Chrome, Safari, dan Opera.

28

mereka memang lebih baik. Tanpa keuletan dan kegigihan, mereka tidak akan mati-matian memperjuangkan gagasan baru tersebut. NCSA Mosaic yang dikembangkan oleh sekelompok mahasiswa University of Illinois at Urbana-Champaign adalah browser pertama dan satu-satunya waktu itu. Setelah lulus, mereka beramai-ramai mendirikan perusahaan dan bertekad membangun browser yang lebih modern dibandingkan Mosaic. Meski akhirnya produk browser tersebut dirilis sebagai Netscape pada tahun 1994, nama kodenya saat masih dalam tahap pengembangan adalah Mozilla. Ia merupakan akronim dari Mosaic Godzilla yang secara slang dapat diartikan sebagai Mosaic Killer. Nah, ketika Netscape menjadi piranti lunak browser paling populer, Microsoft pun mengincarnya. Strategi awal Microsoft adalah membeli Netscape. Sayangnya, anak-anak muda Netscape yang masih punya idealisme selangit itu terang-terangan menolak tawaran Microsoft. Akhirnya Microsoft membeli browser dari perusahaan lain, yaitu Spyglass. Setelah dipoles sana-sini plus penambahan fitur, lahirlah Internet Explorer. Sialnya, tentu saja Spyglass melisensi teknologi browsernya dari NCSA Mosaic. Anda bisa membuktikannya dengan melihat menu Help-About pada Internet Explorer. Anda akan melihat tulisan, “Based on NCSA Mosaic...”. Pemasaran Internet Explorer (IE) yang intensif dengan dibundel pada sistem operasi Windows langsung menyerang pangsa pasar Netscape. Muncullah anggapan bahwa Microsoft ingin memonopoli pasar browser dan mengendalikan HTML dan HTTP secara de-facto untuk mengeluarkan Netscape dari pasar server. Strategi open source pada browser Netscape yang masih populer akhirnya berhasil membendung niat Microsoft untuk memonopoli browser. Pasar server pun sampai sekarang masih dikuasai Apache. Kolaborasi open source diharapkan mempercepat pengembangan dan perbaikan browser. Sehingga Microsoft IE akan tertinggal dan dapat dicegah agar tidak mendefinisikan HTML secara eksklusif. Strategi ini bekerja dengan baik. Terbukti, Mozilla lebih 14 dulu memperkenalkan teknologi tabbed-browsing . Pengguna IE baru bisa menikmatinya pada versi 7. Sayangnya, semangat kaum muda Indonesia masih banyak digunakan untuk tawuran atau demo. Padahal potensi mereka sangat besar bila diarahkan untuk melahirkan inovasi. Membuka beberapa situs dalam satu jendela sekaligus, dengan dipisahkan oleh tab.
29
14

Semangat yang seperti apa dan bagaimana? Motivation produces movement...it is the movement which enables us to distinguish between the "quick" and the "dead". Nick Thornely (British author) Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Semangat mengejar ketertinggalan berbasis open source dapat diarahkan pada tiga hal berikut: 1. Semangat untuk Membuka Mata Semangat membuka mata untuk melihat baik dan buruknya sebuah kemungkinan dari penggunaan software bajakan dan asli, propietary atau open source. Penggunaan software bajakan menjadikan pola konsumtif dalam menggunakan sistem operasi dan aplikasi yang tidak menyertakan source code telah memanjakan kita. Banyak pengguna masih terus memakainya tanpa tahu apa yang ada dibaliknya. Pola konsumtif tersebut sangat berbahaya dalam jangka panjang. Akibat yang paling jelas adalah ketergantungan. Karena sudah terlalu terbiasa menggunakan produk tertentu, ada beberapa orang yang hanya bisa bekerja dengan produk tersebut. Apalagi bila teknologi dari produk yang dipakai bersifat tertutup (propietary). Artinya, kita tidak mengetahui cara kerja sistem dan apa saja yang dilakukan oleh sistem. Bila ada masalah, kita hanya bisa menunggu patch atau update. Kita tidak bisa terlibat dalam pengembangannya. Selain itu, Anda tidak mempunyai pilihan lain jika suatu saat produsen menaikkan harga lisensi atau menghentikan dukungannya. Padahal kita punya potensi untuk menjadi produsen bila mau
30

2.

3.

membuka mata akan adanya potensi besar di balik perangkat lunak open source. Semangat untuk Membuka Hati Semangat membuka hati untuk menimbang masalah lisensi dan royalti. Bila kita ingin hasil karya kita dihargai, maka kita harus terlebih dahulu menghargai hasil karya orang lain. Bila tidak mau karya kita dibajak, ya jangan membajak karya orang lain. Pernahkah kita menanyakan pada hati kita masing-masing, bagaimana rasanya mempunyai karya yang dibajak beramairamai? Patut disyukuri, masih banyak pengembang yang berlapang dada melegalkan “pembajakan” atas karyanya melalui lisensi open source. Bila tidak mampu membeli perangkat lunak asli propietary, mari kita gunakan hasil karya yang legal digunakan secara gratis. Meski gratis dan murah, hasil karya komunitas open source tidaklah murahan. Bahkan seringkali lebih berkualitas dan inovatif dibanding yang propietary. Dengan menggunakan open source, hati kita menjadi lapang. Tidak terisi oleh rasa bersalah karena membajak karya orang lain. Lebih lanjut, dada kita akan semakin lapang bila kita berbagi dan ikut memberikan kontribusi. Semangat untuk Membuka Pikiran Akhirnya, bila mata dan hati sudah terbuka, kita lanjutkan dengan semangat membuka pikiran untuk menciptakan inovasi dan terobosan. Segala sesuatu yang diberikan secara gratis ini (open source) seharusnya digunakan untuk menciptakan sesuatu yang lebih kreatif dan bermanfaat lagi. Harus memberikan manfaat, bukan hanya berakhir di end-user.

Akhirnya, semua ini hanyalah tool Really, I'm not out to destroy Microsoft. That will just be a completely unintentional side effect. Linus Torvalds, 2003 Baik perangkat keras maupun perangkat lunak, mereka hanyalah perkakas atau tool yang harus dikuasai. Bukan sebuah ideolagi apalagi sebuah agama yang harus dianut. Seorang pengguna atau apalagi seorang developer seharusnya independen terhadap peralatan. Tidak boleh memiliki fanatisme sempit atau mendewakan teknologi, sistem operasi, aplikasi, atau bahasa
31

pemrograman tertentu. Apalagi sampai bergantung kepada salah satu vendornya. Seorang pengguna, dan terlebih lagi developer harus merdeka dari perangkat yang mereka gunakan. Mereka yang memerintah alat-alat tersebut untuk bekerja menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat luas. ** Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan BIODATA : Amin Rois :: Laki – laki :::-

32

PEMBERDAYAAN OPEN SOURCE SOFTWARE DALAM MASYARAKAT INDONESIA Oleh: Hafizh As'ad ABSTRAK
Masyarakat Indonesia umumnya dan atau para pengguna (user) komputer pada khususnya, telah mengenal penggunaan dan pemanfaatan perangkat lunak (software) berikut sistem operasinya (operating system) baik untuk kegiatan yang bersifat administratif maupun teknis. Software berikut operating system yang digunakan dan dimanfaatkan oleh para pengguna komputer sebagian besar masih bersifat ilegal (bajakan), hal ini juga disebabkan umumnya komputer yang digunakan oleh umumnya para pengguna merupakan komputer rakitan, sehingga software berikut operating system di dalamnya ilegal. Untuk mengurangi dampak penggunaan software bajakan, saat ini tersedia software berbiaya relatif minim dan mudah didapat, serta dapat dimanfaatkan dan dikembangkan tanpa batas oleh para pengguna komputer di seluruh Indonesia. Software yang dimaksud adalah software yang berkode terbuka (Open Source Software). Pengalaman dalam hal penggunaan dan pemanfaatan open source software diharapkan dapat disebarluaskan ke seluruh masyarakat pengguna komputer diseluruh Indonesia agar dapat memberdayakan produk software dalam negeri, khususnya dalam pengembangan open source software.

33

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat, taufik dan hidayat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis dengan judul “Pemberdayaan Open Source Software Di Masyarakat Indonesia”. Karya tulis ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan lomba Open Source Software (OSS) dengan sub tema “Semangat Untuk Menggunakan Perangkat Lunak Berbasis Open Source”. Sehubungan dengan tersusunnya karya tulis ini penulis dapat mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan karya tulis ini. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan sejawat di Fakultas MIPA UNLAM khususnya Program Studi Kimia yang telah banyak membantu dalam hal dukungan moril sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan. Mudah-mudahan amal dan jasa baik mereka diterima oleh Allah SWT, dan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Amin. Sesuai dengan kata pepatah tiada gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa dalam karya tulis ini masih terdapat banyak kekurangannya. Hal ini disebabkan karena waktu, pengetahuan, dan keterampilan yang penulis miliki masih terbatas. Penulis pun sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membantu dari semua pihak agar karya tulis ini menjadi lebih baik. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kita semua. Banjarbaru, Juni 2009

Penulis

34

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penggunaan software (perangkat lunak) semakin meningkat seiring meningakatnya penggunaan komputer. Hal ini berdampak pada peningkatan penggunaan Operating System yang terinstal pada komputer user. Software yang telah terinstalasi pada komputer umumnya menggunakan sistem operasi (Operating System) dan aplikasi Windows, dimana memiliki beberapa keunggulan serta mudah didapat dipasaran baik yang bersifat lisensi (terinstalasi pada komputer branded) maupun yang bersifat illegal (terinstalasi pada komputer jenis rakitan). Pemanfaatan komputer oleh user atau pengguna sebagai alat bantu dalam melaksanakan tugasnya baik untuk kegiatan administratif maupun teknis terus berkembang dengan pesat. Dari waktu ke waktu perubahan yang terjadi pada perangkat keras komputer semakin cepat disertai teknologi yang semakin tinggi. Begitupun dari sisi harga yang semakin murah memungkinkan setiap orang dapat membelinya dengan harga yang semakin terjangkau. Komputer yang dipasarkan umumnya terbagi dalam dua jenis yaitu komputer rakitan adalah komputer desktop yang dirakit disuatu tempat sesuai dengan pesanan dan permintaan pengguna dimana spesifikasinya ditentukan oleh pengguna. Sedangkan komputer branded/trade mark adalah komputer yang telah mempunyai merek terkenal yang telah siap/jadi hanya tinggal pakai. Salah satu perbedaan antara komputer yang dirakit (rakitan) dengan komputer branded yaitu ketersediaan perangkat lunak didalamnya baik sebagai sistem operasi (operating system/OS) maupun aplikasi yang menyertai OS tersebut. Selain itu dari segi harganya lebih murah sedangkan komputer yang telah jadi (branded) biasanya komputer dengan merek yang ternama telah tersedia (include) perangkat lunak tersebut sehingga harga tentunya lebih mahal. Komputer yang berada di masyarakat Indonesia sebagian besar masih menggunakan komputer yang bersifat rakitan walaupun dengan spesifikasi yang tinggi namun perangkat lunak yang ada didalamnya baik OS maupun aplikasinya masih bersifat illegal artinya tidak menggunakan software yang berlisensi karena harga software yang berlisensi, diantaranya OS dan aplikasi windows cukup mahal. Untuk menanggulangi pembelian software yang mahal
35

tersebut harus adanya software yang bersifat gratis dan bisa dimanfaatkan serta dikembangkan bersama tanpa batas. Salah satu dari software gratis tersebut adalah Software Open Source yang berbasis Linux. Sekilas terlihat manfaat dari OSS serta potensinya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh banyak pengguna. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pengadopsian OSS tidak berjalan mulus di semua sektor. Permasalahannya adalah saat ini pemerintah telah mempunyai software open source IGOS tinggal pakai yang sifatnya legal namun bagaimana software tersebut dapat diterapkan di Indonesia. Sehingga dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan mengubah paradigma bahwa software Open Source tidak sulit serta lebih bagus daripada OS yang bersifat komersial. 1.2. Tujuan Penulisan Tujuan dari adanya penulisan karya tulis ini yaitu :
1.

2. 3.

Merubah paradigma atau pemikiran dari sebagian masyarakat bahwa pengguna open source bukan merupakan sistem yang susah dan ketinggalan zaman. Memberikan solusi berbasis Open Source, dimana dapat melakukan penghematan devisa negara secara signifikan. Memberdayakan penggunaan Operating System dalam masyarakat Indonesia

1.3. Batasan Masalah Penulis dalam membuat karya tulis ini membatasi masalah yang akan dibahas, yaitu meliputi : a) b) c) d) e) Pengertian Open Source Jenis-jenis Software Beberapa keunggulan Open Source Lisensi Open Source Kelebihan dan Keunggulan Open Source

36

1.4. Metode Penulisan Metode yang penulis gunakan dalam penyusunan karya tulis ini yaitu metode kepustakaan yang diambil beberapa buku dan juga beberapa situs-situs yang ada di dalam internet

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jenis-jenis Software a) Close Software Tidak diperkenankan dengan alasan apapun untuk menggunakan software dalam kategori ini tanpa adanya kepemilikan dengan sah dalam arti 100% asli. Anda harus mengeluarkan uang agar dapat menggunakan software ini dengan aman dan nyaman, jika melanggar bisa jadi komputer Anda akan di"amankan" oleh petugas yang berwenang. Tidak dipungkiri, di beberapa negara termasuk Indonesia lebih dari 60% masih menggunakan produk "bajakan". Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, dan faktor utamanya disebabkan tingginya harga software tersebut. Tidak sebanding dengan kemampuan daya beli masyarakat Indonesia yang masih minim. Software dalam kategori ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian : 1. Operating System (Sistem Operasi), contoh : Microsoft Windows 2. Languages (Bahasa Pemrograman), contoh : Visual Basic, ASP, Pascal 3. Web Browser, contoh : Internet Explorer 4. Aplication (Aplikasi), contoh : Adobe Photoshop, CorelDraw 5. Office Suites (Aplikasi perkantoran), contoh : Microsoft Office 6. Server Aplication (Server), contoh : ColdFusion, IIS 7. Antivirus, contoh : Norton Antivirus, McAfee 8. Games, contoh : FIFA 2006, Winning Eleven, Spiderman (Anonim, 2006)

37

b. Share Software Ketika browsing di Internet mendapati sebuah software dalam kategori Freeware. Kita memang bisa mendownload dan menggunakan software tersebut, namun hanya dalam batas tertentu misalnya 15 hari penggunaan dan setelah lewat dari itu akan terproteksi secara otomatis. Kita tidak bisa menggunakan kembali sebelum memasukkan kode registrasi, jika gagal memasukkan kodenya Anda tidak bisa memakainya lagi. Mungkin ada pemikiran, di-uninstall saja kemudian di-install kembali. Kita tidak mungkin bisa melakukan hal itu karena ketika menginstall pertama kali akan ter-registrasi pada operating system. Kecuali kalau bisa "bermain-main" dengan masalah registrasy tentu bisa "diakali". Umumnya, software dalam kategori ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mencoba software tersebut dalam beberapa hari. Jika tertarik, maka akan di-link (dihubungkan) ke vendornya. (Anonim, 2006) c. Free Software Free software dikenal juga sebagai Freed Software, Liberated Software (software libre) atau FRS (freely redistributably software). Kata "FREE" disini bukan berarti bebas tanpa aturan untuk menyalin, memodifikasi, dan mendistribusikan namun semua itu ada aturan dan syaratnya yang harus dipatuhi oleh pengembang dan penggunanya. Persyaratan tersebut tertuang dalam lisensi yang digunakan oleh Free Software. Jadi bukan berarti Free Software tidak berlisensi. Pada akhirnya timbul kesalahpahaman bahwa layanan yang diberikan dengan menggunakan Free Software itu tidak boleh dikomersilkan alias harus selalu gratis. Ini yang sering menyebabkan pengadopsian Free Software dalam suatu model bisnis yang dapat diterima menjadi sulit. Sebagai contoh rekan-rekan yang menjual CDROM berisi GNU/Linux GPL dianggap juga membajak dan tidak etis (padahal yang dilakukan adalah menjual layanan penyalinan dan menjual media CDROM tersebut). Beberapa contoh software dalam kelompok ini adalah : 1. Operating System (Sistem Operasi): Linux atau GNU/Linux, FreeBSD, dan GNUBSD
38

2. Languages (bahasa Pemrograman): GNU C/C++, Perl, Phyton, dan Tcl 3. Windowing System (System Window) : The X Window System dan Xfree86 4. Web Browser : Mozilla FireFox, Opera, adn Netscape Navigator 5. Desktop : GNOME, KDE, dan GNUStepXfee 6. Aplication (Aplikasi) : ABIWord dan GNU Image Manipulation Program (GIMP) 7. Office Suites (Aplikasi Perkantoran) : OpenOffice dan Koffice 8. Server : Samba, Apache, PhP, Zope, MySql, dan PostgreSQL (Anonim, 2006) a. Open Source

Ada kesamaan antara free software dan open source. Keduanya bisa digunakan secara gratis dan untuk mendapatkannya sangat mudah. Dibandingkan dengan free software, open source lebih populer dan dapat diterima oleh masyarakat. Istilah Open Source sendiri lebih aman dan netral dalam konteks bahasa Indonesia. Bahkan secara politik lebih tepat, sepertinya terdengar sejajar dengan istilah era keterbukaan yang sedang ke arah pencapaian good governance. Dengan kata lain memperkenalkan konsep perangkat lunak merdeka dengan terminologi Open Source akan lebih mudah dilirik ketimbang menggunakan istilah Free Software. Banyak aplikasi yang saat ini berlabel Open Source, sehingga kita tidak takut lagi untuk menggunakan.(Anonim, 2006) Beberapa contoh software Open Source 1. 2. 3. 4. Database : Tuxx Racer, KeePass Password Save Desktop: GNU/Win32, KeePass Password Save Development: Dev-C++, ZK - Ajax but no Javascript Enterprise: Compiere ERP + CRM Business Solution, JasperReports - Java Reporting 5. Games: ZSNES, KoLmafia 6. Multimedia: Weka--Machine Learning Software in Java, ZK - Ajax but no JavaScript
39

7. Networking: FileZilla 8. Security: Eraser, KeePass Password Safe 9. Hardware: Tcl, Open HPI 10. SysAdmin: TightVNC, phpMyAdmin 11. VoIP: trixbox, freePBX 12. CMS: Atutor, os-Commerce, Joomla, Mambo, Moodle (Anonim, 2006) 1. Pengertian Open Source

"Open Source Software" (OSS), menurut Esther Dyson (1998), didefinisikan sebagai perangkat lunak yang dikembangkan secara gotong-royong tanpa koordinasi resmi, menggunakan kode program (source code) yang tersedia secara bebas, serta didistribusikan melalui internet. Menurut Richard Stallman (1998), budaya gotong royong pengembangan perangkat lunak itu sendiri, telah ada sejak komputer pertama kali dikembangkan. Namun ketika dinilai memiliki nilai komersial, pihak industri perangkat lunak mulai memaksakan konsep mereka perihal kepemilikan perangkan lunak. Dengan dukungan finansial yang kuat mereka membentuk opini masyarakat bahwa penggunaan perangkat lunak tanpa izin/ lisensi merupakan tindakan kriminal. Tidak semua pihak menerima konsep kepemilikan tersebut di atas. Richard Stallman (1994, 1996) beranggapan bahwa perangkat lunak merupakan sesuatu yang seharusnya selalu boleh dimodifikasi. Menyamakan hak cipta perangkat lunak dengan barang cetakan merupakan perampasan kemerdekaan berkreasi. Semenjak pertengahan tahun 1980-an, yang bersangkutan merintis proyek GNU (GNU is Not Unix) dengan tujuan memberdayakan kembali para pengguna (users) dengan kebebasan (freedom) menggunakan dan mengembangkan sebuah perangkat lunak. Proyek ini memperkenalkan konsep copyleft yang pada dasarnya mengadopsi prinsip copyright, namun prinsip tersebut digunakan untuk menjamin kebebasan berkreasi. Jaminan tersebut berbentuk pelampiran source code, serta pernyataan bahwa perangkat lunak tersebut boleh dimodifikasi asalkan tetap mengikuti prinsip copyleft. Konsep dari proyek GNU ini lebih dikenal dengan istilah "free software". Prinsip-prinsip free software tersebut memiliki banyak kesamaan dengan OSS. Namun menurut Richard Stallman (1998),
40

free software lebih menekankan pada hal hakiki yaitu kebebasan mengembangkan perangkat lunak. Sedangkan menurut Eric S. Raymond (2000), OSS lebih menekankan aspek komersial seperti kualitas tinggi, kecanggihan, dan kehandalan. Dengan demikian, konsep OSS diharapkan lebih menarik perhatian pelaku bisnis, investor, dan bahkan para raksasa perangkat lunak. Bahkan Esther Dyson (1998) memperkirakan, bahwa raksasa seperti Microsoft pun akan memperhitungkan serta memanfaatkan OSS, seperti halnya mereka memanfaatkan internet. Konteks pembahasan tulisan ini ialah posisi kelompok negara yang sedang berkembang dalam memanfaatkan OSS. Negara seperti ini terkadang diobok-obok oleh lembaga-lembaga dunia seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) dengan penunggangan agenda-agenda lain secara terselubung. Penunggangan tersebut umpamanya berupa pemaksaan sepihak, terhadap pengertian konsep Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Dengan demikian, yang secara tidak langsung mereka telah menuduh masyarakat kita sebagai pembajak, pencuri, tidak bermoral, tidak menjunjung nilai etika, dan sejenisnya. Perlu diingatkan bahwa negara kita bukan satu-satunya surga perangkat lunak tidak berlisensi. Hal ini sudah mendarah daging di seluruh Asia. Kita hanya kalah melakukan public relation dalam hal purapura aktif melakukan pemberantasan. Bahkan di sebuah negara Asia Tenggara yang konon sudah "maju" dan "beradab", ditemukan perangkat lunak tanpa lisensi secara melimpah ruah. 2. Sejarah Open Source Software di Indonesia Menjelang akhir 1980an and awal 1990an, hadir perangkat PC yang cukup canggih (i486) yang dilengkapi sistem operasi seperti SCO Xenix dan SCO Unix. Selain stabil, sistem operasi tersebut mendukung berbagai jenis perangkat keras dan perangkat aplikasi bisnis. Namun, kekurangan dari sistem tersebut diantaranya lisensi yang mahal sehingga kembali menjadi sasaran "pembajakan". Selain itu, tanpa penyertaan source-code berakibat sistem operasi tersebut sulit dimodifikasi/ fine tuning. Pada tahun 1991, Linus Torvalds memperkenalkan kernel Linux melalui newsgroup "comp.os.minix" yang disambut secara oleh komunitas programer. Namun tidaklah demikian sambutan dari kalangan dunia usaha, berhubung kernel tersebut masih kurang stabil serta tidak didukung oleh perangkat asesoris yang memadai.
41

Setahun kemudian, bung Paulus Suryono Adisoemarta dari Texas, memperkenalkan distribusi SLS dengan kernel versi 0.9 kepada masyarakat Indonesia. Sayang sekali, versi tersebut pada saat itu masih memiliki beberapa kelemahan, terutama dalam mendukung perangkat keras seperti ethernet board dan serial board. Pada tahun 1994, penulis memperkenalkan distribusi Slackware dengan kernel versi 1.0.8 kepada masyarakat akademika di Universitas Indonesia. Distribusi ini sudah mendukung TCP/IP serta X11R4. Slackware menjadi populer dikalangan para mahasiswa UI, karena pada waktu itu merupakan satu-satunya distribusi yang ada. Secara bersamaan, Linux mulai digunakan pada salah satu mesin operasional IPTEKnet, yaitu MIMO. Bersamaan dengan pengenalan distribusi ini, Internet komersial mulai hadir di Indonesia. Sustainable Development Network Indonesia dapat dikatakan merupakan merupakan proyek pertama (1994) yang menggunakan Linux di luar komunitas riset/ pendidikan. Distribusi yang digunakan ialah Slackware (kernel 1.0.9) pada mesin 486 33Mhz, 16 Mbyte RAM, 1 Gbyte disk, serta leased-line ethernet 10 Mbps ke IndoInternet. Setahun kemudian (1995), IndoInternet berhasil diyakinkan untuk mulai mengadaptasi sistem Linux. Sistem pertama yang digunakan untuk operasional merupakan router dengan tiga ethernet board (kakitiga.indo.net.id) yang digunakan untuk mensegmentasi intranet mereka. Selain itu, sistem pendaftaran domain ".ID" pun (nomad.extern.ui.ac.id), menggunakan mesin Linux. Tanda-tanda aktivitas Linux pun mulai bermunculan serentak di mana-mana pada tahun 1995 tersebut. Bung Bambang Nurcahyo Prastowo memperkenalkan distribusi S.u.S.E 4.4.1 (kernel 2.0.29) pada masyarakat Yogyakarta. Sebuah milis Linux pernah dirintis pada tahun 1996, namun gagal karena kekurangan inersia. Setahun berikutnya, dapat dikatakan sebagai tahun kebangkitan Linux Indonesia. Sebuah milis kembali terbentuk, yang diikuti oleh berbagai InstallFest, lokakarya, seminar, serta publikasi berturutturut di media KompuTek, Mikrodata, dan InfoKomputer. Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) pun menjamur di berbagai kota di Indonesia (Samik, 2000). 3. Lisensi Open Source Meskipun bersifat open source bukan berarti tidak memiliki lisensi. Beberapa software yang bersifat open source tentu saja
42

memiliki lisensi untuk melegalkan bahwa software tersebut tercantum pengarang dari source code untuk disebarluaskan. Tanpa adanya lisensi, bisa saja orang mengaku dirinya sebagai penggagas dan pengembang software tersebut. Ada beberapa software yang bersifat open source telah memiliki lisensi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. Academic Free License Adaptive Public License Apache Software License Apache License 2.0 Apple Public Source License Artistic License Attribution Assurance Licences New BSD license Computer Associates Trusted Open Source License 1.1 Common Development and Distribution License Common Public License 1.0 P CUA Office Public License Version 1.0 EU DataGrid Software License Eclipse Public License Educational Community License Eiffel Forum License Eiffel Forum License V2.0 Entessa Forum License Fair License Framework License GNU General Public License (GPL) GNU Library or "Lesser" General Public License (LGPL) IBM Public License Intel Open Source License Jabber Open Source License Lucent Public License Version 1.02 MIT license MITRE Collaborative Virtual Workspace License (CVW License) Motosoto License Mozzila Public License (1.0 (MPL) Mozilla Public License 1.1 (MPL) Naumen Public License Nethac General Public license Nokia Open Source License
43

35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55.

OCLC Research Public License 2.0 Open Group Test Suite License Open Software License PHP License Phyton License (CNRI Phyton License) Phyton Software Foundatin License Qt Public License (QPL) RealNetworks Public Source License V1.0 Reciprocal Public License Ricoh Source Code Public License Sleepycat License Sun Industry Standards Source License (SISSL) Sun Public License Sybase Open Watcom Public license 1.0 University of Illinois/NCSA Open Source License Vovisa Software License V 1.0 W3C License wxWindows Library License X.Net License Zope Public License zlib/libpng license

Jika kita lihat daftar lisensi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak software yang bersifat open source untuk dimanfaatkan dalam pengembangan informasi dan teknologi, kita tidak perlu lagi melakukan pembajakan. Memang, dibandingkan dengan software yang bersifat license masih belum sepadan namun bisa mengobati rasa kecewa terhadap software yang memiliki lisensi dan harus membayar dengan harga cukup mahal. 1. Kelebihan dan Keunggulan Open Source

Kelebihan dan keunggulan yang dimiliki open source yaitu : 1. 2. 3.
44

Bersifat Open Source (terbuka) dan bebas untuk dipelajari/dirubah oleh siapapun, sehingga kita dapat merubah dengan sesuka hati tanpa adanya software tambahan Umumnya dapat diperbanyak serta didistribusikan kembali tanpa harus membayar fee atau royalti kepada seseorang. Karena bersifat bebas, ini dapat dimungkinkan para vendor perangkat keras membuat driver untuk device tertentu tanpa

4. 5. 6.

harus mendapatkan lisensi source code yang mahal atau menandatangani Non Disclosure Agreement (NDA). Tidak perlu takut ada yang mengklaim Biaya yang dikeluarkan rendah karena kita tidak perlu membayar royalti Serta lebih murah dengan kualitas yang sepadan dengan produk komersial sehingga bisa menghemat dana/anggaran belanja. Faktor kesuksesan Open Source Software di Indonesia

2.

Kesuksesan OSS di Indonesia sekurangnya memiliki empat faktor dasar dari pengembangannya, yaitu sebagai berikut : ♦ Pertama, diperlukan provokator yang bertugas memperkenalkan sistem Linux melalui milis, seminar, dst. Yang bersangkutan ini tidak harus seorang pakar Linux atau pun terlibat langsung di lapangan. Provokasi ini akan berpengaruh positif terhadap opini masyarakat. Kedua, pendekatan tidak cukup satu arah bottom up atau pun top down, namun harus ada timbal balik antara keduanya. Provokasi sehebat apa pun tidak akan bermanfaat, jika tidak ada dukungan yang cukup. Ketiga, harus ada motivasi jelas dan kuat, dan bukan hanya sekedar retorika serta semboyan kosong. Sebagai contoh : Linux menawarkan solusi murah meriah, yang mendapatkan sambutan positif dari para kelompok generasi muda yang pragmatis. Motivasi awal penggunaan Linux di UI semula hanya sebagai terminal X11 yang murah meriah, sedangkan di IndoInternet digunakan sebagai server internet (httpd, ftpd, dan smtpd) alternatif. Terakhir, suasana dan event yang mendukung. Linux mulai marak pada tahun 1997 seiring dengan peningkatan kepopuleran internet di Indonesia. Inersia yang cukup akan membangkitkan reaksi rantai.

Sayang sekali, gerakan OSS ini baru berhasil di lingkungan teknis, yang biasanya kurang tertarik untuk menggunakan OSS untuk keperluan bisnis. Diperlukan usaha ekstra untuk memajukan sektor office automation ini. Masalah ini tidak dapat hanya diatasi
45

secara bottom-up. Dukungan pimpinan dibutuhkan untuk mendorong pengurangan secara bertahap penggunaan perangkat lunak yang dianggap tanpa lisensi sah. Dukungan top-down ini perlu ditunjukkan dengan mengangkat CIO (Chief Information Officer) yang memiliki komitmen terhadap OSS. Tidak dapat dipungkiri, bahwa usaha ini membutuhkan pengalokasian sumber daya manusia dan biaya yang tidak sedikit. Diperlukan pula unsur kolaborasinya karena banyak hal yang tidak bisa dikerjakan sendiri. Dukungan secara grass-root/ bottom-up akan membantu terbentuknya Masyarakat Digital Gotong Royong (MDGR) yang bersifat tidak formal (Samik, 2000).

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Ada beberapa alasan yang membuat Open Source dapat menjadi OS dimasa depan, yaitu : 1. Faktor fleksibilitas, negara yang menerapkan open source akan dapat mengaudit kode program tanpa terhalang aturan lisensi / paten yang sangat membatasi. 2. Faktor keamanan, negara yang menerapkan open source dapat meningkatkan keamanan pada kode program. 3. Faktor ekonomi, negara yang menerapkan open source sangat menghemat anggaran pembelanjaan negara tersebut, sehingga devisa negara tidak terkuras habis. 2. Saran Karena banyaknya manfaat dari pemakaian OS berbasis Open Source, maka penulis mengharapkan adanya penindaklanjutan dari karya tulis ini yaitu sosialisasi dan penerapan dari OS yang berbasis Open Source sehingga masyarakat Indonesia dapat beralih dari penggunaan yang berbasis komersial menjadi ke penggunaan Sistem yang Berbasis Open Source.

46

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2006. Memahami Software Open Source. Pustekkom http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=194 Coldiron, Quinn P., 1997, Replacing Windows NT Server with Linux, per November 2001: http://citv.unl.edu/linux/LinuxPresentation.html. Dyson, Esther, 1998, The Open Source Revolution, Release 1.0, November 1998, Raymond, Eric S., 1997, The Cathedral and Bazaar, per November 2001: http://www.tuxedo.org/~esr/writings/cathedral-bazaar/ Raymond, Eric S., 1998, The Halloween Documents, per November 2001: http://www.opensource.org/hallowen/. Raymond, Eric S., 2000, Frequently Asked Questions about Open Source, per November 2001: http://www.opensource.org/advocacy/faq.html. Samik-Ibrahim, Rahmat M., 1998, Refleksi Gagasan 30 September 1997/PDDT-ID, Versi 8.3 -- 27 Februari 2001, per November 2001: http://rms46.vlsm.org/1/23.html. Samik-Ibrahim, Rahmat M., 2000, Perintisan Linux di Indonesia, per November 2001: http://rms46.vlsm.org/00-14.html. Samik-Ibrahim, Rahmat M., 2000, Perintisan WWW di Indonesia, per November 2001: http://rms46.vlsm.org/00-11.html. Stallman, Richard M., 1994, Mengapa Perangkat Lunak Seharusnya Tanpa Pemilik, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/philosophy/why-free.id.html. Stallman, Richard M., 1996, Kategori Perangkat Lunak Bebas dan Tidak Bebas, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/philosophy/categories.id.html
47

Stallman, Richard M., 1998, Proyek GNU, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/gnu/thegnuproject.id.html. Wiryana, I Made, 1998, Surat terbuka kepada pada para pendidik, terutama bidang Teknologi Informasi (TI) di Indonesia, per November 2001: http://ngelmu.dhs.org/made/proposal/suratkepengajar/. BIODATA Nama Tempat / Tgl. Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : : : : : : Hafizh As'ad -Laki-laki ----

48

Gerakan Indie di Tengah Resesi Dunia Oleh: Nur Hidayat ABSTRAK
Bisnis Open source ternyata dapat bertahan dari resesi keuangan yang menimpa dunia baru-baru ini, seperti halnya yang terjadi di Amerika Serikat Dua perusahaan yang sukses menangani Bisnis Open source adalah REDHAT dan SUN Microsystem. Keduanya berbisnis berdasarkan konsep open source. Produk peranti Lunak disebarluaskan dalam sistem terbuka yang kode programnya dapat disebarluaskan secara bebas dan boleh dikembangkan sendiri. Ibarat membuat kue , resep dasarnya dibagi-bagikan secara gratis. tetapi jika ingin pelayanan ekstra , maka jasa pelayanan ini lah yang harus dibayar pelanggan. Lembaga survey Gartner memproyeksikan , sekitar 90 persen perusahaan dan Industri dunia akan mulai lebih banyak memakai peranti lunak terbuka itu pada 2012. Penggunaan peranti lunak terbuka ini merupakan alternatif jalan keluar dalam kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan. Beberapa perusahaan yang telah suskes mengimplementasikan open source antara lain : Wikipedia, Jboss dan Google. Dalam karya tulis ini disebutkan bahwa Menurut salah satu direktur perusahaan IT di Indonesia, untuk mengubah pengembangan suatu software berlisensi tertutup tidak mudah juga. Produk dengan source code terbuka ini memang akan selalu mengekor pada peranti lunak tertutup yang banyak digunakan. “Jika suatu peranti itu menjadi umum digunakan maka akan muncul versi opensource nya. Namun untuk peranti lunak yang canggih dan rumit, hal ini jarang terjadi“ katanya.

Di tengah impitan resesi, sejumlah perusahaan peranti lunak open source justru mengaku untung. Bibit gerakan yang dapat menyembuhkan krisis?

49

Sebuah perhelatan akbar diadakan Presiden George W. Bush di Washington, DC, Amerika Serikat, pek an ini. Bush mengundang para kepala negara yang tergabung dalam Kelompok 20 (G-20) untuk membahas krisis finansial dunia. Inilah agaknya pertemuan internasional terakhir yang dipimpin Bush, sebelum kursi kepresidenannya diambil Barack Obama, yang akan dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat, 20 Januari nanti. ‘’Pertemuan ini akan mengindentifikasi penyebab krisis. Selanjutnya akan dicari solusi paling efektif untuk mengatasinya,’’ kata Ed Lazear, ketua penasihat ekonomi kepresidenan, kepada pers setempat. Tentu saja, dapat dibayangkan sejumlah kening bakal berkerut untuk menemukan jawabannya. Toh, tak semua kening berlipat akibat krisis ekonomi. ‘’Tidak seperti perkiraan orang, penerimaan kami justru meningkat sebesar 13% per tahun,’’ kata Rich Green, Wakil Presiden Eksekutif Sun Microsystems, kepada sejumlah situs berita. Hal itu disetujui Jim Whitehurst, seorang CEO dari Red Hat. ‘’Bisnis kami justru dalam kondisi stabil dalam situasi krisis finansial ini,’’ ujar Green. Baik Red Hat maupun Sun Microsystems adalah perusahaan peranti lunak yang berbisnis atas dasar konsep open source. Artinya, produk peranti lunak open source disebarkan dalam system terbuka yang kode programnya dapat disebarluaskan atau dikembangkan. Ibarat membuat kue, resep dasarnya dibagi-bagikan secara gratis. Terserah kepada konsumen, akan ditambahkan cita rasa tertentu. Tapi, jika ingin pelayanan ekstra, jasa servis inilah yang harus dibayar. Ini tak seperti
50

berbagai produk yang dikembangkan raksasa komputer Microsoft selama ini, yang berdasarkan hak kepemilikan atau proprietary rights. Di bawah tekanan ekonomi pada saat ini, komunitas open source justru unjuk gigi. Mereka mengklaim, angka produksi dan pemakaian peranti terbuka melonjak tinggi. Salah satunya adalah dari jumlah unduhan OpenOffice versi 3.0, sebuah program kantoran untuk menulis, yang mencapai 10 juta kali. Padahal, OpenOffice baru diluncurkan empat minggu lalu. ‘’Jumlah itu terus bertambah 350.000 unduhan per hari. Bagi suatu produk yang dipasarkan tanpa biaya iklan sama sekali, ini adalah tonggak bersejarah,’’ tutur John McCreesh, Marketing Project Lead OpenOffice, dalam konferensi tahunan kesembilan komunitas pengguna OpenOffice di Beijing Cina , Senin lalu. McCreesh mengatakan, target pangsa pasar OpenOffice sebesar 40% pada 2010 dapat saja tercapai. Benar atau tidaknya klaim itu, memang harus dibuktikan di lapangan. Namun lembaga survei Gartner memproyeksikan, sekitar 90% perusahaan dan industri dunia akan mulai lebih banyak memakai peranti lunak terbuka itu pada 2012. Pengamat dan praktisi teknologi informasi (TI), Onno W. Purbo, melihat hal yang sama. Soalnya, peranti terbuka dilihat sebagai alternatif jalan keluar dalam kondisi terjepit. ‘’Yang bermain di perangkat lunak atau integrasi system open source bisa mendulang keuntungan cukup banyak di masa krisis. Mereka tak terpengaruh sama sekali, malah untung,’’ kata Onno kepada wartawan Gatra Arif Sujatmiko. Pengusaha peranti lunak terbuka, Bhra Eka Gunapriya, yang menjadi Chairman PT EBConnect Indonesia, mengakui gejala itu. Open source sangat layak menjadi pilihan bukan sekadar karena gratis, melainkan juga layak diandalkan. ‘’Kualitasnya pun tidak kalah oleh produk berlisensi. Apalagi, ada dukungan produk-produk dari orang-orang yang memang ahli di bidang itu,’’ ujar Bhra. Kelak, menurut Presiden Direktur PT Sun Microsystems Indonesia, Wibisono Gumulya, open source tak hanya berhenti sebagai suatu pilihan belaka, juga bisa menjadi penentu masa depan. ‘’Kami percaya, suatu produk akan lebih berkualitas jika dikembangkan pada suatu komunitas. Ini juga akan berhasil di pasar,’’ kata Wibisono kepada wartawan Gatra Anwar Riksono. Bagi para pendukung konsep terbuka ini, open source akan membantu masyarakat dunia bergerak dari perekonomian berbasis produk menjadi perekonomian berbasis layanan-jasa. Perubahan basis ini dianggap penting untuk menciptakan perekonomian yang berkesinambungan dan stabil. Agar perekonomian layananjasa ini
51

tercapai secara optimal, diperlukan suatu komunitas yang berperan sebagai mesin pencetus gagasan, pengembang yang sekaligus menjadi konsumen. Karena itu, salah satu alat yang dianggap paling ampuh untuk meningkatkan kemampuan bisnis tak lain justru dengan membagikan hak cipta kepada komunitas. Inilah yang terjadi pada situs penyedia jasa eksiklopedia Wikipedia. Kegiatan kantor Wikipedia Sehari-hari --dengan staf 15 orang lebih mirip lembaga pengabdian masyarakat ketimbang industri digital raksasa. Namun bujet Wikipedia pada tahun ini dilaporkan mencapai US$ 4,6 juta, meningkat pesat dari tahun lalu yang hanya US$ 2,2 juta. Dari mana dana sebesar itu? Dari mana lagi kalau bukan dari sumbangan komunitas setia mereka, yang kini sedikitnya berjumlah 45.000 orang. Contoh sukses lainnya adalah kisah seorang pengusaha, Marc Fleury, yang mendirikan Jboss (jboss.org), perusahaan aplikasi server Java terkemuka dunia. Awalnya, Fleury mendapat banyak cemoohan karena berusaha membangun perusahaannya dengan konsep open source. Fleury sempat mengalami jatuh-bangun dalam usahanya. Namun kini, sejumlah perusahaan kapitalis berebut untuk membiayai Jboss. Antara lain Accel Partners dari California dan Matrix Partners dari Massachusetts. Dari keduanya, Jboss meraup dana sampai US$ 10 juta. Secara keseluruhan, menurut VentureOne, sebuah lembaga survei keuangan, Jboss meraih dana US$ 149 juta pada 2004. Memang tak semua perusahaan model terbuka menarik perhatian pemodal. Karena itu, mereka berusaha menarik dana dengan mendirikan divisi profit tersendiri. Itulah yang dilakukan Mozilla, lembaga nirlaba penerbit Firefox, sebuah mesin penjelajah (browser) dunia maya. Divisi profit Mozilla ini diizinkan menarik untung dari penjualan, layanan, dan servis produk. Hal yang sama dilakukan Google. Perusahaan situs pencari di dunia maya ini juga banyak menarik dana dari sejumlah anak perusahaannya. Maklumlah, Google butuh dana banyak untuk membiayai proyek pembangkit energi alternatifnya, seperti eSolar dan Makani Power. Kisah-kisah sukses itulah yang kemudian membuat para penyokong open source berani bertindak lebih jauh. Mereka melebarkan paham ‘’bagi-bagi’’ itu ke luar bidang teknologi. Mereka mengembangkan apa yang disebut ‘’open source politik’’ atau ‘’open source government’’. Dalam konsep ini, proses politik hendaknya berlangsung secara terbuka, menganut asas timbal balik dalam berkomunikasi, dan demokratis. Open source merasa perlu ikut
52

campur dalam urusan ini karena banyak proses politik menggunakan jasa teknologi. Baik berupa e-mail, blog, situs kampanye, maupun beragam aplikasi teknologi lainnya. Bahkan muncul apa yang disebut ‘’agama open source’’, khususnya di kalangan umat Yahudi sejak tahun 2000-an. Sesuai dengan namanya, paham ini mengajak umatnya memandang agama sebagai sesuatu yang ‘’holistik’’, bukan ‘’terkotakkotak’’. Karena itu, perlu dialog antar-umat beragama dalam komunitas ini. Lepas dari kontroversi yang timbul, apakah suatu hari kelak gerakan ini benarbenar dapat berkembang di luar bidang teknologi? ‘’Wah, masih jauh. Untuk saat ini, fenomena ini lebih cocok ibarat musik indie, suatu inovasi baru,’’ kata Presiden Direktur Computrade Technology International, Harry Surjanto. Dalam kondisi krisis ekonomi pada saat ini, open source memang menjadi alternatif yang menjanjikan. Tapi, menurut Harry, untuk berkembang menjadi pengganti produk berlisensi, sulit juga. Produk gratis terbuka itu memang akan selalu mengekor peranti lunak berlisensi yang banyak digunakan. ‘’Jika peranti itu menjadi umum dan standar, biasanya akan muncul versi open source-nya,’’ kata Harry kepada wartawan Gatra Arif Koes Hernawan. Namun, untuk perangkat lunak yang canggih dan rumit, hal itu jarang terjadi. Meski demikian, peluang untuk mengubah wajah dunia tak pernah padam. Sejarah mencatat, wajah dunia lebih cepat berubah sejak terjadi revolusi di bidang teknologi. ** BIODATA Nama Tempat / Tgl. Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Nur Hidayat : -: Laki-laki : -: -: --

53

54

KETIKA SEKAT-SEKAT DUNIA TERHAPUS Oleh: Mubarok ABSTRAK
Saat ini kualitas industri TI di Indonesia masih jauh tertinggal di bawah India dan China yang telah berhasil mengembangkan bisnis teknologi informasinya. Demikian pula halnya dengan Vietnam dimana sejak tahun 2000 sudah mencanangkan program pengiriman tenaga kerja domestik di bidang teknologi informasi (TI) ke luar negeri sebanyak 10 ribu orang per tahun. Dijelaskan bahwa Open source software merupakan istilah perangkat lunak yang bebas untuk digunakan, dipelajari dan dimodifikasi. Pengguna dapat memodifikasi sesuai dengan kebutuhannya. Tujuan utama penggunaan open source antara lain menghilangkan ketergantungan terhadap salah satu vendor atau negara dimasa yang akan datang, sebagai contoh aplikasi closed source sudah bisa digantikan oleh teknologi open source yang ada seperti Linux, XFree86, KDE, dan OpenOffice. Di Indonesia, saat ini sudah tersedia banyak pogram open source secara gratis. Seperti Distro linux lokal antara lain, IGOS Nusantara, BlankOn,Kuliax, Xnuxer, dan PC Linux Fiesta. Selain linux, terdapat open source lain seperti aplikasi-aplikasi komputer dan CMS untuk website. Geliat perkembangan open source di Indonesia sudah mulai nampak, namun untuk merangsang masyarakat menggunakannya, pendekatan yang dilakukan sebaiknya tidak hanya karena alasan ekonomi dan legalitas. Potensi Indonesia untuk berkembang seperti halnya India dan China, dapat dilakukan. Untuk itu masalah kepercayaan harus terus dibangun baik melalui sosialisasi maupun contoh nyata dari pemerintah dalam penggunaan produk OSS.

Fenomena globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi, komputer dan jaringan informasi telah menjadikan dunia sebagai global village. Pertukaran teknologi yang pesat berdampak runtuhnya lintas batas antar negara. Teori global village yang dimunculkan oleh Marshal McLuhan sering digunakan untuk menganalisa implikasi perkembangan teknologi baru di bidang informasi terhadap komunitas, kultural maupun negara. Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat,
55

tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Namun di sisi lain teknologi informasi juga bisa menimbulkan model ketergantungan baru dari suatu negara terhadap negara lain atau pemasok teknologi utama. Kondisi ini bisa dilihat sebagai wujud penjajahan baru yang tidak lagi menggunakan pendekatan militer melainkan determinasi penguasaan teknologi. Sebuah negara yang tergantung secara teknologi terhadap negara lain maka sesungguhnya secara ekonomi, politik dan budaya berada dalam kendali negara tersebut. Sebaliknya mereka yang menguasai teknologi informasi memiliki kesempatan untuk menguasai dunia di berbagai bidang. Sebagai contoh, penggunakan sofware komputer yang ”closed source” membuat suatu negara tidak bisa mengembangkan diri dan maju di bidang teknologi informasi. Pada program yang closed source, paket program tidak dapat didistribusikan lagi selain oleh pembuat program tersebut. Jika ada distribusi yang dilakukan oleh selain vendor program tersebut, maka dianggap sebagai pembajakan software. Cerita tentang warnet, rental komputer dan perkantoran yang mengalami razia karena menggunakan produk bajakan menjadi contoh bagaimana ketergantungan tarhadap software closed source telah membuat bangsa ini menjadi pembajak hak cipta. Dari sisi ekonomi bisa dibayangkan berapa milyar yang harus dikeluarkan bangsa ini untuk membeli lisensi software asli. Dalam pengembangan teknologi informasi kita bisa mencontoh apa yang telah dilakukan bangsa lain untuk maju dan mandiri. Bandingkan dengan India yang akselerasi pengembangan bisnis teknologi informasinya telah berkembang pesat. Vietnam sejak tahun 2000 sudah mencanangkan program pengiriman tenaga kerja domestik ke luar negeri sebanyak 10 ribu orang per tahun di bidang teknologi informasi (TI). Saat ini kualitas industri TI di Indonesia masih jauh tertinggal di bawah India dan China. Salah satu kunci keberhasilan kedua negara tersebut adalah kemampuan mereka untuk mengembangkan kebutuhan TI dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap produk asing. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mencanangkan proyek Indonesia Go Open Source (IGOS) untuk merangsang pertumbuhan pemakaian open source. Upaya ini bisa digunakan sebagai langkah awal untuk mengejar ketertinggalan kita di bidang TI.

56

Open Source, sebuah solusi Open source software merupakan istilah perangkat lunak yang bebas untuk digunakan, dipelajari dan dimodifikasi. Setiap orang bebas menggunakan, mempelajari, mengubah, atau menjual sebuah perangkat lunak tanpa harus meminta ijin. Suatu program dengan lisensi open source berarti program tersebut membuka kode bagi siapa saja yang ingin mempelajari. Penyertaan kode program dimaksudkan agar pengguna dapat memodifikasi sesuai dengan kebutuhannya. Contoh program open source adalah Linux yang di setiap distribusinya menyertakan kode program. Tujuan utama open source adalah menghilangkan ketergantungan terhadap vendor program atau lebih jauh pada suatu negara tertentu. Tujuan lainnya adalah menyediakan software yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan menghindari pengerukan keuntungan yang berlebihan oleh vendor. Saat ini aplikasi closed source seperti Windows sudah bisa digantikan oleh teknologi open source yang ada seperti Linux, XFree86, KDE, dan OpenOffice. Berkembangnya open source software merupakan kesempatan emas bagi para pelaku bisnis teknologi informasi (TI) dan pemerintah dalam meningkatkan akselerasi bisnis di bidang TI. Sudah banyak contoh yang diberikan oleh negara-negara maju dan berkembang lainnya yang menunjukkan open source software memberikan rangsangan efektif dalam mendorong berkembangnya bisnis TI di negara mereka. Jerman, China dan India adalah contoh sukses penerapan open source software sehingga mampu memberikan kontribusi secara ekonomi, sosial dan politik baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Di Indonesia sebenarnya sudah banyak yang menyediakan pogram open source secara gratis. Contoh Distro linux lokal antara lain, IGOPEN SOURCE (Indonesia Go Open Source) Nusantara, BlankOn,Kuliax, Xnuxer, dan PC Linux Fiesta. Selain linux, terdapat open source lain seperti aplikasi-aplikasi komputer dan CMS untuk website. Upaya untuk mendorong masyarakat melakukan migrasi ke open source memang tidak mudah. Masyarakat pengguna di Indonesia masih belum meyakini bahwa software open source akan handal digunakan, contohnya soal kompabilitas dengan aplikasiaplikasi yang ada. Kepercayaan akan kualitas dan keterandalan menjadi masalah utama bagi pengembangan software open source. Komunitas open source juga kurang memberikan respon memadai untuk membantu para pemula yang mulai tertarik untuk belajar.
57

Mereka terkesan eksklusif dan pelit untuk berbagi ilmu ke masyarakat pengguna komputer. Namun hal itu juga bisa disebabkan oleh keengganan masyarakat untuk belajar sehingga kamunitas open source lebih memilih untuk bersikap pasif. Save, share and independency Geliat perkembangan open source di Indonesia sudah mulai nampak. Namun yang perlu digarisbawahi adalah mengembalikan filosi pengembangannya. Selama ini muncul anggapan di tengah masyarakat bahwa open source identik dengan software gratis, keuntungan ekonomi dan legalitas. Kondisi ini harus diluruskan agar arah pengembangannya tidak melenceng. Seperti yang sudah disebutkan bahwa tujuan utama open source adalah menghilangkan ketergantungan terhadap vendor program atau lebih jauh pada suatu negara tertentu.. Artinya penggunaan open source di Indonesia semestinya lebih diarahkan pada aspek kemandirian bangsa daripada sekedar aspek ekonomi dan legalitas. Ini lebih penting daripada hitung-hitungan keuntungan ekonomi yang diperoleh dari penghematan lisensi produk. Kalau sekedar masalah ekonomi atau legalitas semata, mereka yang kaya akan mengatakan mengapa harus repot memakai open source, tinggal beli produk yang legal dan urusanpun selesai. Mereka yang miskin juga tidak mau kalah, kita memang tidak mampu beli tetapi masih bisa pakai bajakan. Ini adalah masalah mentalitas sebagai sebuah bangsa dalam menyikapi sebuah persoalan. Cara berfikir instan seperti itu akan menjadi fenomena jika hanya bicara open source dari sisi ekonomi dan legalitas semata. Untuk merangsang masyarakat menggunakan open source perlu dikembangkan pendekatan lebih baik daripada sekedar alasan ekonomi dan legalitas. Keduanya penting tapi bukan esensi utama. Indonesia sudah merdeka selama 64 tahun, namun dalam banyak hal sesungguhnya kita masih terjajah dan belum mandiri. Kita boleh sedikit lega ketika beberapa waktu lalu mencapai swasembada beras, kenapa di bidang lain kita tidak berusaha mewujudkannya. Ketika kita bisa menjadi bangsa mandiri maka kesempatan untuk maju terbuka lebar. Kita tidak perlu was-was ketika tiba-tiba harga minyak dunia naik dan dolar melambung karena kita bisa berdiri diatas pondasi kemandirian bangsa yang kuat.

58

Di bidang teknologi informasi, pemakaian open source memberi peluang untuk menjadi bangsa yang maju dan mandiri sejajar dengan bangsa lain. Kita tidak perlu khawatir ketika tiba-tiba vendor utama menaikkan harga lisensi atau bahkan memutus pasokan sofware karena kita bisa membuatnya sendiri. Tak tidak perlu pusing ketika muncul wabah milenium seperti Y2K. Open source menawarkan peluang untuk menjadi bangsa maju dan mandiri di bidang TI. Kalau kita tetap memakai closed source dan enggan untuk migrasi maka sesungguhnya kita sedang menuju model penjajahan gaya baru. Tidak hanya dijajah dari sisi ekonomi, tapi juga kemampuan sebagai sebuah bangsa untuk maju dan berkembang. Seminar, sosialisasi dan event open source semestinya tidak sekedar dijadikan ajang pemberian informasi sofware gratis atau mengarahkan orang menjadi user semata. Pengajuan anggaran implementasi open source tanpa ada nilai tambah sedikitpun perlu dipertimbangkan kembali. Kalau sekedar membagi software gratis atau mengajari orang menjadi pemakai terus kapan kita menjadi bangsa mandiri. Ini yang harus diperbaiki bahwa arah penggunaan open source lebih utama adalah pada kemandirian bangsa dalam bidang TI. Opensource adalah soal save, share dan independency. Tujuan akhirnya adalah membentuk masyarakat sejahtera karena mengimplementasikan sistem terkomputerisasi yang efektif. Prinsip save, mewakili kemampuan open source untuk memberi peluang bagi keamanan suatu negara di bidang teknologi informasi. Selain itu juga menghemat devisa negara yang digunakan untuk membayar lisensi closed source. Sebuah negara juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan dan membagi teknologi informasi kepada masyarakatnya ketika menggunakan open source. Inilah prinsip share dalam pengembangan teknologi informasi. Pada akhirnya perjalanan tersebut akan mengarah pada kemandirian bangsa di bidang teknologi informasi sehingga menjadi bangsa yang maju dan bebas dari kendali bangsa lain. Prinsip independency ini akan bisa terwujud jika kita bersatu padu dan memiliki orientasi yang sama untuk kemajuan bangsa ini. Sesuai data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) di tahun 2008, jumlah pengguna Internet di Indonesia ada sekitar 10 juta orang. Ini adalah potensi besar yang harus dimanfaatkan. Potensi Indonesia untuk berkembang seperti India dan China sebenarnya sangat besar, permasalahannya terletak
59

pada pandangan negatif masyarakat yang menganggap open source belum mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga tidak heran apabila open source masih dipandang sebelah mata dan hanya dijadikan komoditas percobaan mahasiswa semata. Ini adalah masalah kepercayaan yang harus terus dibangun melalui sosialisasi, dan tentu saja teladan nyata dari pemerintah untuk menggunakan produk ini. Pada akhirnya, lihatlah ketika sebuah batu dilempar ke tengah telaga dengan air yang tenang. Sejurus kemudian nampak gelombang air yang semula kecil kemudian melebar sampai ke semua tepi telaga. Demikian halnya sebuah perubahan, dari sebuah langkah kecil kemudian berkembang menjadi sebuah langkah yang besar. Perjalanan menuju kemandirian bangsa di bidang tenologi informasi membutuhkan prOpen source es dan waktu namun yang pasti langkah sekecil apapun yang kita berikan akan menjadi kontribusi yang bermanfaat. Open source menawarkan kesempatan tersebut, inilah saatnya bangsa ini maju dan berkembang. Pastikan bahwa kita menjadi bagian dari perjalanan bangsa untuk menjadi bangsa yang mandiri. ** BIODATA Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Mubarok :: Laki-laki : Jl. Timoho Raya 276 Bulusan, Tembalang – Semarang : 081326004861 : Penulis

60

Meningkatkan Kepedulian Masyarakat Untuk Pengguna Open Source Sotfware Kewiraswastaan Tekno-Patriotis berbasis Open Source Oleh: Titus Permadi ABSTRAK
Persaingan ekonomi yang makin tinggi dimasa yang akan datang menuntut peningkatan dan kemampuan dalam penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, upaya menuju dan tercapainya kemajuan dan kemakmuran bangsa dapat dilakukan dengan memanfaatkan peluang yang ada, seperti tertuang dalan UU 17 Tahun 2007 tentang “Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional tahun 2005 – 2025”). Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah menciptakan dan mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM), termasuk didalamnya UKM bidang Teknologi Informasi, khususnya Software berbasis Open source. Pengembangan UKM ini juga dimaksudkan untuk menciptakan daya saing dan memanfaatkan peluang yang ada dalam membangun bangsa yang berbasis open source untuk menghadapi tantangan teknologi informasi komunikasi nasional yang terletak pada kompetensi, usage function, user dan strategic serta pembuatan model kewiraswastaan tekno-patriotis.

A. Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur Persaingan yang makin tinggi pada masa yang akan datang menuntut peningkatan kemampuan dalam penguasaan dan penerapan iptek dalam rangka menghadapi perkembangan global menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan iptek nasional, tantangan yang dihadapi adalah (UU 17 Tahun 2007 tentang “Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional tahun 2005-2025”): 1. meningkatkan kontribusi iptek untuk meningkatkan kemampuan dalam memenuhi hajat hidup bangsa; 2. menciptakan rasa aman; 3. memenuhi kebutuhan kesehatan dasar, energi, dan pangan; 4. memperkuat sinergi kebijakan iptek dengan kebijakan sektor lain; 5. mengembangkan budaya iptek di kalangan masyarakat;
61

6. 7. 8. 9.

meningkatkan komitmen bangsa terhadap pengembangan iptek; mengatasi degradasi fungsi lingkungan; mengantisipasi dan menanggulangi bencana alam; serta meningkatkan ketersediaan dan kualitas sumber daya iptek, baik SDM, sarana dan prasarana, maupun pembiayaan iptek.

Kemampuan bangsa untuk berdaya saing tinggi adalah kunci bagi tercapainya kemajuan dan kemakmuran bangsa. Daya saing yang tinggi, akan menjadikan Indonesia siap menghadapi tantangantantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada. Untuk memperkuat daya saing bangsa, pembangunan nasional dalam jangka panjang diarahkan untuk a) mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing; b) memperkuat perekonomian domestik berbasis keunggulan di setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi, dan pelayanan di dalam negeri; c) meningkatkan penguasaan, pemanfaatan, dan penciptaan pengetahuan; dan d) membangun infrastruktur yang maju; serta e) melakukan reformasi di bidang hukum dan aparatur negara. Pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) diarahkan agar menjadi pelaku ekonomi yang makin berbasis iptek dan berdaya saing dengan produk impor, khususnya dalam menyediakan barang dan jasa kebutuhan masyarakat sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam perubahan struktural dan memperkuat perekonomian domestik. Untuk itu, pengembangan UKM dilakukan melalui peningkatan kompetensi perkuatan kewirausahaan dan peningkatan produktivitas yang didukung dengan upaya peningkatan adaptasi terhadap kebutuhan pasar, pemanfaatan hasil inovasi dan penerapan teknologi dalam iklim usaha yang sehat. Pengembangan UKM secara nyata akan berlangsung terintegrasi dalam modernisasi agribisnis dan agroindustri, termasuk yang mendukung ketahanan pangan, serta perkuatan basis produksi dan daya saing industri melalui pengembangan rumpun industri, percepatan alih teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
62

B. Membangun bangsa dengan Kewiraswastaan Tekno-Patriotis berbasis Open Source 1. Tentang Kewiraswastaan Tekno-Patriotis Kewiraswastaan Tekno-Patriotis adalah suatu bentuk kewiraswastaan dalam bidang teknologi informasi yang dalam pelaksanaannya: 1. Selaras dengan Visi – Misi – Arah – Prioritas Pembangunan Bangsa yang diacu oleh pemerintahm yaitu: Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur (UU no. 17 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025) 2. Berdampak pada peningkatan kompetensi angkatan kerja Indonesia 3. Berpengaruh positif pada peningkatan kualitas layanan publik dari instansi pemerintah yang bergerak dalam layanan publik 4. Menghasilkan standarisasi dan sertifikasi kompetensi dan profesi dalam bidang teknologi sistem informasi yang diwadahi oleh Badan Sertifikasi Nasional 5. Membuka lapangan kerja baru yang mampu menyerap tenaga kerja produktif dalam jumlah yang terus meningkat dari tahun ke tahun 6. Memberikan pengaruh pada penguatan ketahanan Nasional melalui penguasaan teknologi sistem informasi terapan yang berdaya guna ekonomis tinggi 7. Mampu menjadi salah satu kontributor utama dalam PDB Nasional 8. Mendorong terciptanya iklim inovasi dan kreatifitas anak bangsa dalam bidang teknologi informasi yang berdampak pada peningkatan kualitas layanan perusahaan dan instansi pemerintah kepada konsumen dan publik 9. Dilandasi oleh motif untuk memajukan bangsa dan masyarakat Indonesia 10. Berkoordinasi dengan semua instansi terkait sehingga terlaksana implementasi sistem informasi secara cepat, hemat dan fungsional. 11. Memberikan kontribusi ekonomi dengan bergerak melalui pemberdayaan Koperasi & UKM melalui penggunaan iptek berbasis open source.

63

Ide dasarnya adalah penciptaan komunitas baru, yaitu komunitas wiraswastawan dalam bidang teknologi informasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi open source dalam rangka mencapai tujuan ekonomis sekaligus mewujudkan semangat patriotis untuk memajukan bangsa. 2. Kewiraswastaan Tekno-Patriotis : Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Peta Pelaku Ekonomi di Indonesia dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. UKM 2. Koperasi 3. Perusahaan Swasta 4. Perusahaan Milik Negara Sesuai dengan definisi dari UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM Pengertian UMKM Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Indikatornya adalah memiliki kekayaan bersih tidak termasuk tanah dan bangunan sebesar Rp. 50 juta atau penjualan tahunan Rp. 300 juta. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Indikatornya adalah memiliki kekayaan bersih tidak termasuk tanah dan bangunan sebesar Rp. 50 - 500 juta atau penjualan tahunan Rp. 300 juta – 2,5 milyar. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur
64

dalam Undang-Undang ini. Indikatornya adalah memiliki kekayaan bersih tidak termasuk tanah dan bangunan sebesar Rp. 500 juta – 10 milyar atau penjualan tahunan Rp. 2,5 – 50 milyar. Dengan memfokuskan upaya untuk mengembangkan UKM baik dari segi jumlah UKM maupun dari segi omzet penjualannya, maka UKM dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang dahsyat bagi Indonesia. Semisal dengan penerapan teknologi informasi komunikasi berbasis open source akan mampu meningkatkan efisiensi operasional UKM maka itu akan dapat meningkatkan omzet penjualannya. Demikian juga bilamana dengan penggunaan TIK ini dapat memperoleh jumlah pelanggan dan kualitas layanan dari UKM terhadap konsumen, maka omzet penjualannya akan meningkat. Secara akumulatif nilai ini akan memberikan kontribusi yang besar pada perekonomian nasional . 3. Mengapa Open Source? Secara garis besar, infrastuktur teknologi informasi dapat dibagi menjadi dua kategori platform: 1. Software lisensi berbayar, biasanya datang dengan layanan dukungan (support) untuk memelihara sistem (contohnya BEA, IBM, Microsoft, Oracle, SAP dan lain-lain) 2. Software berlisensi bebas serta open-source (contohnya Linux, Apache, MySQL™, PHP yang sering disebut dengan LAMP Stack ) Biasanya software lisensi berbayar ini digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar untuk menangani skala lalu lintas informasi yang tinggi. Software ini biasanya terpaku pada industri yang dilayani sehingga cenderung kaku apabila akan dikembangkan lebih lanjut. Selain itu sofware kategori ini biasanya berbiaya tinggi. Pada akhirnya biaya ini akan berakumulasi pada harga akhir ke konsumen. Pada masa hyper-competitive sekarang ini, selain kualitas produk yang terjaga, layanan yang memuaskan serta tanggungjawab dan kepedulian nyata terhadap lingkungan hidup, efisiensi adalah syarat mutlak kemenangan perusahaan dalam bisnis. Di sisi lain, sofware berlisensi bebas dan open-source pada umumnya digunakan pada skala perusahaan menengah dan kecil. Penggunaan software ini akan meningkatkan kualitas proses pengelolaan informasi dalam perusahaan sehingga semakin cepat
65

dan efisien. Ujungnya selain menekan biaya, penggunaan software opensource ini akan meningkatkan daya saing dalam bentuk daya tanggap dalam melayani konsumen secara lebih cepat, terarah, sistematis dan lebih baik serta dapat menaikkan pamor perusahaan. Dalam dunia 5 Pilar Utama Open Source. Dapat dikatakan bahwa kemajuan pesat software open source ditunjang oleh lima pilar utama yaitu: 1. Linux sebagai Sistem Operasi (OpenSUSE, Ubuntu, PCLinuxOS, Fedora, Debian, LinuxMint) 2. Apache sebagai Web Server 3. Web Browser (Mozilla Firefox, Chrome, Opera, Internet Explorer) 4. Database Server (MySQL, Postgre SQL 5. Pilar Utama Open Source. Script Programming Language (PHP, Java, Perl)

Sistem Operasi

Server Web

Server Database

Script Program

Web Browser

Linux

Apache

MySQL

PHP

Mozilla Firefox

Sebagai informasi, saat ini di Sourceforge.net terdapat 230.000 project open source yang dapat dimanfaatkan.

66

4. Tantangan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional Pada dasarnya tantangan teknologi informasi komunikasi nasional dalam hal pemanfaat open source terletak pada empat hal dalam enam dimensi, yaitu: a Kompetensi. Dalam hal ini tantangannya adalah tingkat kompetensi penggunaan dan pemanfaat teknologi open source oleh developer/programmer, educator (pendidik), operator (pengguna yang mengoperasikan software), implementor (orang yang membantu pelaksanaan implementasi open source dalam kegiatan perusahaan atau organisasi), sponsor (yaitu pihak yang mendorong, mendanai dan memfasilitasi pemanfaatan teknologi open source) serta entity (yaitu suatu badan hukum atau bentuk usaha yang menjadi organisasi bagi para pelaku teknologi informasi dalam memberikan jasa dan layanannya dalam bidang open source kepada dunia bisnis, birokrasi dan masyarakat pada umumnya) b Usage Function. Hal ini mencakup penggunaan teknologi open source dalam fungsi-fungsi manajemen suatu perusahan atau organisasi yang terdiri dari fungsi marketing, finance, accounting, human resources development, enterprise resources planning, administration, library, communication, news/portal, email, short message service. c User yaitu instansi pengguna dari teknologi open source yaitu koperasi, ukm, perusahaan besar, instansi pemerintah, lembaga pendidikan dan organisasi lainnya baik bisnis dan non bisnis yang membutuhkan solusi open source untuk menunjang efisiensi dan efektifitas operasionalnya d Strategic implementation phase. Yaitu suatu pentahapan penerapan teknologi open source sesuai tahapan pertumbuhan perusahaan atau organisasi, dimana implementasi open source disesuikan dengan tingkat kompleksitas sistem informasi dari perusahaan tersebut.

67

Tabel Tantangan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional
Community Developer Educator Operator Implementor Sponsor Entity Competence Cukup --> Ahli Cukup --> Ahli Cukup --> Ahli Cukup --> Ahli Cukup --> Ahli Koperasi TIK Marketing, Finance, Accounting, HRD, Library, Aministration Koperasi, UKM, Perusahaan, BUMN, Universitas Usage Fuction User Strategic Phase

5. Model Kewiraswastaan Tekno-Patriotis berbasis Open Source

Patriotic Technopreneurship

Sektor Bisnis: Pengguna Open Source Sektor Tenaga Kerja

Instansi Pemerintah Layanan Publik: Pengguna Open Source

Sektor Penunjang: Konsultan & Provider

Sektor Pendidikan Open Source: Universitas - LPK

Badan Sertifikasi Profesi

Rujukan: 1. http://musrenbangnas.bappenas.go.id/?page_id=328 2. http://sourceforge.net

68

BIODATA Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat No Telepon Email Pekerjaan : Titus Permadi :: Laki – laki :: 0888 685 8882, : tituspermadi@gmail.com :-

69

70

Kita Butuh Open Source ! Oleh: Selamet Hariadi ABSTRAK
Penggunaan perangkat lunak open source yang sedang marak dibicarakan saat ini. Dalam karya tulis berjudul “ Kita Butuh Open Source “, diuraikan tentang adanya 2 (dua) jenis pengguna komputer, yaitu penggunaan komputer dengan sistem operating sumber (source) tertutup dan terbuka (berbasis open source). Dalam tulisan ini juga jelaskan, bahwa dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, selain terbebas dari penggunaan perangkat lunak ilegal juga memperoleh keuntungan dan manfaat lainnya seperti: tidak dihantui rasa takut karena perangkat lunak yang digunakan legal. Untuk memperluas penggunaan perangkat lunak ini, keterlibatan pemerintah dalam mendukung penggunaan perangkat tersebut sangat diperlukan, sehingga perkembangan penggunanya tidak hanya terbatas di lingkungan komunitas tetapi juga menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Fenomena penggunaan open source saat ini mulai menggeliat, tidak hanya di tanah air namun begitu juga di dunia perangkat lunak dimana saja. Kenyataan ini begitu terasa sekitar mendekati abad 21 dengan banyak sekali pengembang perangkat lunak yang berbasis open source. Kebanyakan dari mereka adalah cukup bosan dalam kungkungan pengembangan perangkat lunak yang didominasi bagi mereka yang berhak mengembangkannya saja. Karena sifatnya yang terbuka atau open, perkembangan perangkat lunak open source pun begitu lebih baik karena tidak hanya dikembangan satu lembaga tertentu saja. Apa yang terjadi sekarang ini adalah seperti pertarungan seru perkembangan perangkat lunak yang berbayar sebelum menggunakannya dengan perangkat lunak yang open source. Peminat dari pengguna perangkat lunak pun cukup beragam dalam menaggapinya. Ada yang masih menggunakan sistem perangkat lunak berbayar namun di sisi lain ada juga yang berusaha menggunakan sistem perangkat lunak yang open source. Alasan yang dikemukakan pun beragam.

71

Dari sisi yang tak menggunakan perangkat lunak open source ada yang beranggapan masih nyaman akan penggunaan perangkat lunak yang sekarang meski berbayar, namun ada yang beranggapan pula sulitnya penggunaan perangkat lunak open source sebagai kendalanya. Bagi pengguna dan peminat perangkat lunak open source, penggunaan perangkat lunak yang berbasis open source akan terasa lebih aman karena pengembangannya yang tak dibatasi oleh suatu pihak tertentu. Entah kita mau berdebat atau tidak, sebagian besar pengguna perangkat lunak yang non open source mendapatkan serta menggunakan perangkat lunaknya dengan cara yang ilegal dan cukup banyak merugikan pihak pembuat dan pengembangnya selain juga pemerintah sebagai penyedot pajak darinya. Sebenarnya kalau kita elaborasi atau gali lebih dalam tentang keuntungan penggunaan perangkat lunak open source sangat banyak sekali. Diantaranya adalah ketenangan kita sebagai pemakai dalam menggunakan perangkat lunak open source sehingga tidak takut untuk dihantui ketakutan akan adanya razia perangkat lunak yang hampir sering terjadi di tempat-tempat yang memungkinkan kita membawa peralatan yang menggunakan perangkat lunak yang kita miliki. Masyarakat sebagai pengguna seharusnya dapat memiliki pilihan yang utama pada perangkat lunak open source bila kita tak ingin dihantui rasa takut ketika kita berada di keramaian menggunakan perangkat lunak yang berbayar namun kita ilegal dalam mendapatkannya. Semangat penggunaan perangkat lunak open source mulai menjamur, tidak hanya di dunia melainkan juga merambah ke Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari bermunculan serta berkembangnya komunitas – komunitas pengguna perangkat lunak open source. Melihat fenomena yang terjadi saat ini, tak dapat dipungkiri untuk masa yang akan datang penggunaan perangkat lunak open source di Indonesia akan mengalahkan penggunaan perangkat lunak non open source. Perkembangan ini dikarenakan semangat yang cukup baik yang dimiliki sebagian masyarakat dalam penggunaan perangkat lunak yang aman dan tidak ilegal. Tentu saja perkembangan komunitas pecinta open source ini haruslah didukung pemerintah secara berkala agar masyarakat indonesia tak lagi bermuka muram sebagai pengguna yang cukup besar dalam hal perangkat lunak berbayar yang ilegal.

72

Penggunaan perangkat lunak open source serta tak kalah kualitasnya dengan perngkat lunak berbayar haruslah menjadi pilihan kita bagi yang belum merasakan kenikmatan menggunakannya. Sebagian masyarakat masih memahami bahwa perangkat lunak open source masih digambarkan sebagai suatu yang menakutkan dalam penggunaannya. Padahal perlu kita ketahui bersama bahwa dengan perangkat lunak open source kita dapat menggali lebih dalam tentang dunia pernagkat lunak serta kita akan mengembangkannya lebih baik bila kita dapat melakukannya. Masa yang akan datang ketika perkembangan perangkat lunak open source dapat mengalahkan perngkat lunak yang tertutupi hukum maka dunia akan dengan lugasnya memilih perangkat lunak open source dalam penggunaan perangkat lunak. Dengan berkembangnya komunitas-komunitas pecinta serta pengembang perangkat lunak open source di Indonesia, tak dapat dipungkiri peran Pemerintah sangat berarti dalam mendorong inovasi dan kreasi anak bangsa dalam mengembangkan dunia open source ini di tanah air. Semakin berkembangnya dunia menjadi globalisasi, maka inovasi serta kreatifitas pengembang perangkat lunak open source di Indonesia juga tak harus diam di tempat menunggu negara lain berkembang. Hal ini dapat diwujudkan dengan baik bila materi mengenai open source harus dikenalkan sejak dini bagi pelajar di Indonesia. Pelajaran yang dapat kita ambil dari sini adalah kebutuhan akan perangkat lunak open source memang tak dapat dipungkiri. Perkembangan perangkat lunak open source kapan pun dan dimanapun akan terus menggeliat dengan banyak yang siap melakukan pengembangannya. Mengalahkan tembok besar perangkat lunak berbayar memang tidaklah semudah menganggukkan kepala saja, namun haruslah dimulai dari diri kita sendiri untuk sedikit demi sedikit menggunakan perangkat lunak berbasis open source karena perubahan yang dimulai dari personal ke personal kemudian masuk pada ranah komunitas dan menyebar ke khalayak ramai akan lebih baik. **

73

BIODATA Nama Lengkap Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Selamet Hariadi : Banjarmasin/ 20 April 1988 : Laki-laki : Jl. Raya Jatikerto No.107 RT.17 RW.02 Desa.Jatikerto Kec. Kromengan Kab. Malang, Kode Post: 65165 ::-

74

MENINGKATKAN KEPEDULIAN MASYARAKAT UNTUK PENGGUNAAN OPEN SOURCE SOFTWARE (OSS) Oleh: I Nyoman Kardiana ABSTRAK
Penggunaan software (perangkat lunak) semakin meningkat seiring penggunaan komputer yang meningkat pesat. Software yang telah terinstalasi pada komputer pada umumnya menggunakan sistem operasi (operating system) dan aplikasi windows (proprietary) yang mudah didapat dipasaran dan telah disediakan oleh penjualnya baik yang bersifat lisensi (terinstalasi pada komputer branded) maupun yang bersifat illegal (terinstalasi pada komputer jenis rakitan). Seiring berjalannya waktu, sebagian besar sistem operasi berikut aplikasi lainnya yang telah terinstal di komputer tersebut adalah bajakan (ilegal). Inisiasi pemerintah melalui program Indonesia, Go Open Source! (IGOS) merupakan salah satu cara mengurangi penggunaan piranti lunak ilegal sekaligus menumbuh kembangkan minat masyarakat, khususnya kaum muda dalam mempelajari teknologi informasi. Dengan adanya dukungan pemerintah diharapkan dapat memberantas penggunaan piranti lunak ilegal, dan yang lebih jauh pemerintah diharapkan dapat menjadi motivator, pelopor dan fasilitator dalam penggunaan aplikasi Open Source.

Pendahuluan Saat ini open source telah menjadi suatu tren dan berita besar di berbagai media massa. Berbagai perusahaan perangkat lunak besar, seperti IBM, Oracle, Sun, pun berbondong-bondong mengumumkan bahwa produk-produk yang dihasilkannya adalah produk open source. Namun demikian apakah sebenarnya open source tersebut. "Open source Software" (OSS), menurut Esther Dyson (1998), didefinisikan sebagai perangkat lunak yang dikembangkan secara gotong-royong tanpa koordinasi resmi, menggunakan kode program (source code) yang tersedia secara bebas, serta didistribusikan melalui internet. Menurut Richard Stallman (1998), budaya gotong royong pengembangan perangkat lunak itu sendiri, telah ada sejak komputer pertama kali dikembangkan. Namun ketika dinilai memiliki
75

nilai komersial, pihak industri perangkat lunak mulai memaksakan konsep mereka perihal kepemilikan perangkan lunak. Dengan dukungan finansial yang kuat -- secara sepihak -- mereka membentuk opini masyarakat bahwa penggunaan perangkat lunak tanpa izin/ lisensi merupakan tindakan kriminal. Tidak semua pihak menerima konsep kepemilikan tersebut di atas. Richard Stallman (1994, 1996) beranggapan bahwa perangkat lunak merupakan sesuatu yang seharusnya selalu boleh dimodifikasi. Menyamakan hak cipta perangkat lunak dengan barang cetakan merupakan perampasan kemerdekaan berkreasi. Semenjak pertengahan tahun 1980-an, yang bersangkutan merintis proyek GNU (GNU is Not Unix) – dengan tujuan memberdayakan kembali para pengguna (users) dengan kebebasan (freedom) menggunakan dan mengembangkan sebuah perangkat lunak. Proyek ini memperkenalkan konsep copyleft yang pada dasarnya mengadopsi prinsip copyright, namun prinsip tersebut digunakan untuk menjamin kebebasan berkreasi. Jaminan tersebut berbentuk pelampiran source code, serta pernyataan bahwa perangkat lunak tersebut boleh dimodifikasi asalkan tetap mengikuti prinsip copyleft. Konsep dari proyek GNU ini lebih dikenal dengan istilah "free software". Prinsip-prinsip free software tersebut memiliki banyak kesamaan dengan OSS. Namun menurut Richard Stallman (1998), free software lebih menekankan pada hal hakiki yaitu kebebasan mengembangkan perangkat lunak. Sedangkan menurut Eric S. Raymond (2000), OSS lebih menekankan aspek komersial seperti kualitas tinggi, kecanggihan, dan kehandalan. Dengan demikian, konsep OSS diharapkan lebih menarik perhatian pelaku bisnis, investor, dan bahkan para raksasa perangkat lunak. Bahkan Esther Dyson (1998) memperkirakan, bahwa raksasa seperti Microsoft pun akan memperhitungkan serta memanfaatkan OSS, seperti halnya mereka memanfaatkan internet. Konteks pembahasan tulisan ini ialah posisi kelompok negara yang sedang berkembang dalam memanfaatkan OSS. Negara seperti ini terkadang diobok-obok oleh lembaga-lembaga dunia seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) dengan penunggangan agenda-agenda lain secara terselubung. Penunggangan tersebut umpamanya berupa pemaksaan sepihak, terhadap pengertian konsep Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Dengan demikian, yang secara tidak langsung mereka telah menuduh masyarakat kita sebagai pembajak, pencuri, tidak
76

bermoral, tidak menjunjung nilai etika, dan sejenisnya. Perlu diingatkan bahwa negara kita bukan satusatunya surga perangkat lunak tidak berlisensi. Hal ini sudah mendarah daging di seluruh Asia. Kita hanya kalah melakukan public relation dalam hal purapura aktif melakukanpemberantasan. Bahkan di sebuah negara Asia Tenggara yang konon sudah "maju" dan "beradab", ditemukan perangkat lunak tanpa lisensi secara melimpah ruah. 1. Semangat untuk Menggunakan Perangkat Lunak Berbasis Open Source Penggunaan software (perangkat lunak) semakin meningkat seiring penggunaan komputer yang meningkat pesat. Software yang telah terinstalasi pada komputer pada umumnya menggunakan sistem operasi (operating system) dan aplikasi windows yang mudah didapat dipasaran dan telah disediakan oleh penjualnya baik yang bersifat lisensi (terinstalasi pada komputer branded) maupun yang bersifat illegal (terinstalasi pada komputer jenis rakitan). Dengan adanya Surat Edaran dari Menkominfo tentang Pemakaian dan Pemanfaatan Penggunaan Piranti Lunak Legal di Lingkungan Instansi Pemerintah tanggal 24 Oktober 2005, maka seluruh komputer/desktop yang tidak berlisensi harus menggunakan software yang legal atau migrasi dari software ilegal ke software yang legal. Saat ini Software legal telah tersedia namun untuk sementara dikhususkan bagi instansi pemerintah. System dari software ini adalah dapat dibuka dan dikembangkan oleh siapa saja (open source system) karena source programnya berbasis Linux. Saat ini software tersebut telah dikembangkan oleh beberapa instansi baik pemerintah maupun swasta agar dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh pengguna baik untuk kegiatan perkantoran (office) maupun untuk kegiatan teknis yang lebih spesifik. Pemanfaatan komputer oleh pengguna sebagai alat bantu dalam melaksanakan tugasnya baik untuk kegiatan administratif maupun teknis terus berkembang dengan pesatnya. Dari waktu ke waktu perubahan yang terjadi pada perangkat keras komputer semakin cepat disertai teknologi yang semakin tinggi. Begitupun dari sisi harga yang semakin murah memungkinkan setiap orang dapat membelinya dengan harga yang semakin terjangkau. Komputer yang dipasarkan umumnya terbagi dalam dua jenis yaitu komputer rakitan adalah komputer desktop yang dirakit disuatu tempat sesuai dengan pesanan dan permintaan pengguna dimana spesifikasinya
77

ditentukan oleh pengguna. Sedangkan komputer branded/trade mark adalah komputer yang telah mempunyai merk terkenal yang telah siap/jadi hanya tinggal pakai. Salah satu perbedaan antara komputer yang dirakit (rakitan) dengan komputer branded yaitu ketersediaan perangkat lunak didalamnya baik sebagai sistem operasi (operating system/OS) maupun aplikasi yang menyertai OS tersebut. Selain itu dari segi harganya lebih murah sedangkan komputer yang telah jadi (branded) biasanya komputer dengan merek yang ternama telah tersedia (include) perangkat lunak tersebut sehingga harga tentunya lebih mahal. Komputer yang berada di LAPAN Pusat sebagian besar masih menggunakan komputer yang bersifat rakitan walaupun dengan spesifikasi yang tinggi namun perangkat lunak yang ada didalamnya baik OS maupun aplikasinya masih bersifat illegal artinya tidak menggunakan software yang berlisensi karena harga software yang berlisensi diantaranya OS dan aplikasi windows cukup mahal. Untuk menanggulangi pembelian software yang mahal tersebut harus adanya software yang bersifat gratis dan bisa dimanfaatkan serta dikembangkan bersama tanpa batas. Salah satu dari software gratis tersebut adalah Software open source yang berbasis Linux. Permasalahannya adalah saat ini pemerintah telah mempunyai software open source IGOS tinggal pakai yang sifatnya legal namun bagaimana software tersebut dapat diterapkan di masing-masing pemerintah. Gerakan Open Source mendefinisikan bahwa open source tidak hanya sekedar kemudahan akses pada kode sumber, namun suatu software dapat disebut open source bila distribusinya memenuhi kriteria-kriteria berikut ini typeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://www.opensource.org: • Free redistribution. Lisensi software tersebut tidak boleh membatasi suatu pihak untuk menjual atau memberikan software, baik software yang berdiri sendiri maupun software yang menjadi komponen software lain. • Kode sumber. Program harus menyertakan kode sumber dan harus memungkinkan pendistribusian dalam bentuk kode sumber maupun terkompilasi. • Derived works. Lisensi harus memungkinkan modifikasi dan pekerjaan turunan, serta harus memungkinkan mereka didistribusikan berdasarkan syarat-syarat yang sama dengan yang ada pada lisensi software awal.

78

• •

• •

Integritas kode sumber. Lisensi dapat membatasi distribusi kode sumber dalam bentuk termodifikasi hanya jika lisensi memungkinkan distribusi patch filestypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt Patch file adalah perbaikanperbaikan kode sumber yang didistribusikan untuk memperbaiki software yang telah didistribusikan dahulu. Patch file ini biasanya tidak berukuran besar. Dengan adanya patch file maka seseorang tidak perlu mengambil ulang seluruh software sehingga menghemat waktu download. serta kode sumber demi pemodifikasian program pada saat kompilasi. Lisensi harus secara eksplisit mengijinkan distribusi software yang dibangun dari kode sumber termodifikasi. Derived works harus mengenakan nomor versi atau nama yang berbeda dari software aslinya. Tidak ada diskriminasi terhadap orang atau kelompok. Tidak ada diskriminasi terhadap fields of endeavor. Lisensi tidak boleh membatasi seseorang menggunakan program dalam bidang tertentu. Distribusi lisensi. Hak-hak yang ada dalam program harus berlaku pula bagi tiap pihak yang menerima program, tanpa memerlukan lisensi tambahan. Lisensi tidak boleh spesifik terhadap suatu produk. Lisensi tidak boleh mempengaruhi software lain. Lisensi tidak boleh membatasi software-software yang didistribusikan beserta software terlisensi open source.

Mengapa Open Source ? Software-software yang didistribusikan secara open source memiliki keunggulankeunggulan utama sebagai berikut dibandingkan dengan software-software yang didistribusikan secara closed source: • Meningkatnya reliabilitas. Oleh karena kode sumber untuk program-program open source tersedia secara bebas maka program yang dibuat oleh seseorang ataupun sesuatu organisasi akan mendapatkan review dari rekan-rekannya ataupun pihakpihak lain. Hal ini mengakibatkan program-program open source mempunyai reliabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan program-program closed source (proprietary). Reliabilitas yang tinggi ini tentu saja menguntungkan bagi pihak customer karena ia dapat memperoleh program-program yang dapat diandalkan dalam melakukan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
79

Meningkatnya keamanan. Selain itu dengan tersedianya kode sumber maka segala kesalahan yang terdapat dalam program, misalnya kesalahan logika ataupun kesalahan pengkodean, dapat segera diperbaiki tanpa perlu menunggu waktu yang lama, karena seseorang yang menemukan kesalahan tersebut dapat saja segera memperbaikinya dan mengirimkan perbaikan tersebut ke Internet atau bila ia tidak mampu memperbaikinya ia dapat memberitahu pihak-pihak lain. Sebagai contoh, suatu kesalahan dalam Linux umumnya segera diperbaiki dalam kurun waktu kurang dari satu hari, bahkan dalam beberapa jam sejak dikeluarkan. Namun demikian, software yang didistribusikan secara open source tidak menjamin bahwa software tersebut aman. Selain itu dengan tersedianya kode sumber maka customer akan merasa lebih nyaman, lebih yakin karena ia tidak membeli kucing dalam karung. Bagaimanakah perasaan Anda bila mobil yang Anda beli tidak dapat dilihat mesinnya ataupun bagian-bagian dalam lainnya?

Contoh Perangkat Lunak Berbasiskan Open Source Secara langsung maupun tidak, setiap orang yang menggunakan Internet sebenarnya telah menggunakan programprogram open source. Hampir seluruh fungsi- fungsi utama Internet menggunakan program-program open source. Berikut ini adalah beberapa contoh software open source: • Sendmail. Sejumlah dua juta salinan sendmail telah diinstalasi di seluruh dunia yang merupakan lebih dari 75 % seluruh Internet mail servertypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://www.sendmail.com • DNS dan BIND, tools Domain Name Server, yang menerjemahkan permintaan request berupa domain name menjadi alamat IP, menguasai 100% pangsa pasar menurut Gartner Grouptypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://www.zdnet.com/zdnn/stories/news/0,4586,2560523,00.html . • Software-software GNU. Sebagian besar program-program open source berasal dari proyek GNU, contohnya kompiler GCC, editor Emacs, dan masih banyak lagi. • Linux. Web server berbasiskan Linux merupakan pemimpin pasar untuk web server bagi web site publik dengan pangsa
80

pasar 31% menurut studi Netcraft. Apache merupakan program webserver untuk menangani lalu lintas web pada suatu server. Sebuah survei Netcraft pada bulan April 2001 memperkirakan bahwa lebih dari 62% web server merupakan Apache servertypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://www.netcraft.com/survey/. Perl dan PHP. Keduanya adalah bahasa pemrograman yang sangat berguna dalam administrasi sistem, pembuatan program serta dapat pula digunakan dalam pembuatan web site yang dinamis.

Pada tanggal 26 April 2008, POSS President University, Jababeka Research Center dan Kluwek (Kelompok LinUx ceWEK) menyelenggarakan acara Pengenalan Linux bertempat di Auditorium President University, Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Acara yang semula ditargetkan dihadiri oleh sekitar 200 peserta ternyata menarik perhatian sangat besar dari wilayah di luar Jababeka. Alhasil peserta membludak sampai kurang lebih 740 orang. Panitia pun kewalahan mengatasi antrian pengunjung yang panjang sampai ke luar pintu masuk auditorium." Acara dibuka dengan sambutan dari S.D. Darmono sebagai pendiri dan Presiden Direktur PT Jababeka. Secara kebetulan, pada tanggal itu dia berulang tahun ke-59. Jadilah acara pembukaan sangat meriah. Setelah itu, Dr. Ir. Idham Suhardi sebagai Deputi Pendayagunaan Open Source Software dari Kementrian Negara Ristek dan Nurhadi Sukmana dari POSS President University ikut membuka acara. Nurhadi menjelaskan bahwa ketertarikan kampusnya menjadi tempat pelaksanaan acara adalah karena President University ditunjuk oleh pemerintah sebagai satu dari 13 universitas yang diberi kepercayaan untuk memasyarakatkan open source. Sebagai pemberi materi pertama, Rusmanto mengingatkan peserta pada peringatan 100 tahun kebangkitan nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei. Ia menekankan pada semangat kemandirian dengan jalan membebaskan diri dari ketergantungan pada satu sistem operasi karena ketidaktahuan pada sistem operasi lain yang kualitasnya setara bahkan lebih baik. Ia memperkenalkan peserta dengan distro BlankOn sebagai contoh dari distro linux yang dikembangkan oleh komunitas open source anak negeri sendiri. BlankOn merupakan salah satu sistem operasi yang layPada tanggal 26 April 2008, POSS President University, Jababeka Research
81

Center dan Kluwek (Kelompok LinUx ceWEK) menyelenggarakan acara Pengenalan Linux bertempat di Auditorium President University, Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Acara yang semula ditargetkan dihadiri oleh sekitar 200 peserta ternyata menarik perhatian sangat besar dari wilayah di luar Jababeka. Alhasil peserta membludak sampai kurang lebih 740 orang. Panitia pun kewalahan mengatasi antrian pengunjung yang panjang sampai ke luar pintu masuk auditorium." Rusmanto juga memberi penjelasan bahwa berbagai distro linux telah menyediakan tampilan muka yang lebih mudah dipakai oleh pemakai pemula. Solusi lebih banyak melakukan demo penggunaan linux di kelompok pendidikan dan dunia kerja. Ia juga menjelaskan kelebihan dan kelemahan dari linux. Menurutnya, filosofi linux paling penting adalah memberi kebebasan dan kemandirian bagi pemakainya untuk menggunakan, menggandakan, mempelajari cara kerja, mengembangkan, dan menyebarluaskan. Penggunaan linux bagi sektor pendidikan formal bertujuan agar para pendidik dan siswa: • memahami konsep hak cipta dan HaKI • menguasai cara kerja komputer dan open source • menguasai perintah dan menu untuk menjalankan program (melalui tampilan muka teks dan grafis) • menguasai aplikasi perkantoran • memahami aspek keamanan dalam open source Sementara itu, Onno Purbo mendemokan cara menghadang website tidak baik seperti website berisi pornografi, judi, dan kekerasan. Materi lainnya adalah demo meng-install Ubuntu versi terbaru yaitu 8.04 dan membangun server mail lokal. Onno ikut mengenalkan Ubuntu Muslim Edition (ME) kepada peserta yang di dalamnya berisi aplikasi parental control untuk menghadang website tidak baik. Acara itu dipandu dengan kocak dan sangat interaktif bahkan sempat membuat kegaduhan. Acara demo dilakukan untuk membuktikan langsung bahwa linux bukanlah sistem operasi yang sulit dan tidak menarik. Di akhir sesi instalasi, Onno meminta kepada enam siswa yang maju untuk menyalin live-CD Ubuntu yang ia berikan dan supaya mereka membagikannya kepada teman-teman di sekolah mereka. Cara itu dilakukan sebagai upaya membiasakan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan terbiasa belajar mengatasi masalah
82

sendiri. Dengan melakukan kegiatan melalui komunitas, baik di lingkungan pendidikan formal maupun non formal, kebutuhan biaya dan sumber daya dapat dibagi merata sehingga tidak menjadi beban yang berat. Setiap presentasi dan demo disertai dengan sesi diskusi yang karena keterbatasan waktu belum sepenuhnya menampung antusiasme rasa ingin tahu peserta. Diskusi yang berjalan mengungkapkan bahwa hambatan dari penggunaan open source software adalah minimnya publikasi pada masyarakat luas sehingga terbatas sekali komunitas yang mengetahui adanya pilihan lain bernama linux. Belum lagi adanya informasi dan persepsi negatif terhadap linux yang jika dicermati sebenarnya merendahkan kemampuan pemakai pemula. Selain itu, lemahnya kondisi penegakan hukum di Indonesia menjadikan banyak orang merasa nyaman menggunakan software bajakan. Setelah dua pemberi materi selesai, Yuyun Kusuma tampil untuk memperkenalkan Kluwek kepada peserta. Ia menjelaskan beberapa divisi dan rencana Kluwek ke depan seraya mengundang peserta perempuan yang hadir untuk mengunjungi website dan menjadi anggota milis Kluwek. Sesi lain yang menghebohkan adalah saat pembagian berbagai bingkisan dan doorprize dari sponsor kepada peserta. Di antaranya adalah pembagian bingkisan dari XL, Beauty Gold, dan liburan di penginapan Tanjung Lesung. Kluwek sangat bangga bahwa usaha mereka melakukan kegiatan edukasi membuahkan banyak ketertarikan dari pihak bisnis untuk menjadi sponsor. Pihak President University juga mengapresiasi inisiatif kluwek dan panitia internal yang berasal dari mahasiswa President University dalam penyelenggaraan cara ini. Semoga kegiatan ini menjadi awal yang positif bagi gerakan open source yang dilakukan Kluwek di masa depan. Viva Kluwek! (NikenLestari) 2. Kemudahan Menggunakan Perangkat Lunak Open Source Sekilas telah terungkap perihal manfaat dari OSS serta potensi penyelesaian problema yang dihadapi oleh dunia ketiga. Namun selain tidak trivial, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pengadopsian OSS tidak berjalan mulus di semua sektor. Bagian ini akan mengkaji rangkaian peristiwa yang pernah terjadi milenium yang lalu di Indonesia pada umumnya, dan Universitas Indonesia pada khususnya. Banyak kejadian pada saat tersebut yang tidak
83

terdokumensi secara sistematis, sehingga pembahasan ini semata berdasarkan catatan pribadi (Samik-Ibrahim, 1998a, 2000a, 2000b). Namun, diharapkan sudah cukup untuk memberikan gambaran perihal rangkaian kejadian pada saat tersebut. Hingga 1970an, perangkat keras komputer berbentuk main frame atau mini yang dikelola oleh sebuah tim yang eksklusif di dalam sebuah "ruang kaca" yang steril. Populasi komputer secara keseluruhan sangat sedikit berhubung harganya sangat mahal. Pemeliharaan instalasi komputer dipercayakan kepada agen pemasok (supplier), sehingga supervisi kepemilikan perangkat lunak dapat dilakukan secara relatif ketat. Walau pun demikian, terkandang para pemasok tersebut meminjamkan perangkat lunak tanpa seizin pemilik lisensi. Tahun 1980an ditandai dengan kemunculan komputer Apple II berbasis 6502 /1 Mhz dengan opsi tambahan prosesor Zilog Z80/ 2 MHz. Komputer ini menggunakan media penyimpanan disket yang mudah digandakan, sehingga memudahkan pendistribusian perangkat lunak Public Domain (PD) mau pun Shareware. Namun, media disket ini pun menyebabkan kehadiran perangkat lunak tanpa lisensi yang sering diberi istilah perangkat lunak bajakan. Pola penggunaan perangkat lunak tersebut dilanjutkan pada saat kehadiran PC berbasis Intel 8088 (16 bit/ 4.77 MHz/ PC/MSDOS), serta work station unix berbasis Motorola 68k (32 bit). Jika sebelumnya bentuk pendistribusian dalam bentuk binner, pada sistem berbasis unix juga disertakan source code dari program tersebut. Selain dengan media magnetik, pendistribusian juga mulai dilakukan melalui jaringan secara online (ARPAnet), atau pun secara batch (usenet) dengan newsgroup seperti comp.source.unix, alt.source, dan sejenisnya. Penyertaan source code dan pendistribusian melalui jaringan ini merupakan cikal bakal tradisi OSS. Tema penelitian bidang ilmu komputer pada era 1980an ini mencakup pemodifikasian dan pem-porting-an perangkat lunak jenis PD. Motivasi penggunaan PD ini tersebut bukan berdasarkan moral, melainkan kepraktisan belaka yaitu meneruskan/ mengikuti trend penelitian di luar negeri. Beberapa perangkat lunax yang digunakan pada waktu itu seperti GCC Compiler untuk Unix, UUCP, CNEWS 2.11, X.400 ean, Silicon Compiler, Cross Compiler (Modula 2, Pascal), UIUC Notes, dan lain sebagainya.

84

Proses Pemasyarakatan Linux di tahun 1990an Menjelang akhir 1980an and awal 1990an, hadir perangkat PC yang cukup canggih (i486) yang dilengkapi sistem operasi seperti SCO Xenix dan SCO Unix. Selain stabil, sistem operasi tersebut mendukung berbagai jenis perangkat keras dan perangkat aplikasi bisnis. Namun, kekurangan dari sistem tersebut diantaranya lisensi yang mahal sehingga kembali menjadi sasaran "pembajakan". Selain itu, tanpa penyertaan source code berakibat sistem operasi tersebut sulit dimodifikasi/ fine tuning. Pada tahun 1991, Linus Torvalds memperkenalkan kernel Linux melalui newsgroup "comp.os.minix" yang disambut secara oleh komunitas programer. Namun tidaklah demikian sambutan dari kalangan dunia usaha, berhubung kernel tersebut masih kurang stabil serta tidak didukung oleh perangkat asesoris yang memadai. Setahun kemudian, bung Paulus Suryono Adisoemarta dari Texas, memperkenalkan distribusi SLS dengan kernel versi 0.9 kepada masyarakat Indonesia. Sayang sekali, versi tersebut pada saat itu masih memiliki beberapa kelemahan, terutama dalam mendukung perangkat keras seperti ethernet board dan serial board. Pada tahun 1994, penulis memperkenalkan distribusi Slackware dengan kernel versi 1.0.8 kepada masyarakat akademika di Universitas Indonesia. Distribusi ini sudah mendukung TCP/IP serta X11R4. Slackware menjadi populer dikalangan para mahasiswa UI, karena pada waktu itu merupakan satu-satunya distribusi yang ada. Secara bersamaan, Linux mulai digunakan pada salah satu mesin operasional IPTEKnet, yaitu MIMO. Bersamaan dengan pengenalan distribusi ini, internet komersial mulai hadir di Indonesia. Sustainable Development Network Indonesia dapat dikatakan merupakan merupakan proyek pertama (1994) yang menggunakan Linux di luar komunitas riset/pendidikan. Distribusi yang digunakan ialah Slackware (kernel 1.0.9) pada mesin 486 33Mhz, 16 Mbyte RAM, 1 Gbyte disk, serta leased-line ethernet 10 Mbps ke IndoInternet. Setahun kemudian (1995), IndoInternet berhasil diyakinkan untuk mulai mengadaptasi sistem Linux. Sistem pertama yang digunakan untuk operasional merupakan router dengan tiga ethernet board (kakitiga.indo.net.id) yang digunakan untuk mensegmentasi intranet mereka. Selain itu, sistem pendaftaran domain ".ID" pun (nomad.extern.ui.ac.id), menggunakan mesin Linux.
85

Tanda-tanda aktivitas Linux pun mulai bermunculan serentak di mana-mana pada tahun 1995 tersebut. Bung Bambang Nurcahyo Prastowo memperkenalkan distribusi S.u.S.E 4.4.1 (kernel 2.0.29) pada masyarakat Yogyakarta. Sebuah milis Linux pernah dirintis pada tahun 1996, namun gagal karena kekurangan inersia. Setahun berikutnya, dapat dikatakan sebagai tahun kebangkitan Linux Indonesia. Sebuah milis kembali terbentuk, yang diikuti oleh berbagai InstallFest, lokakarya, seminar, serta publikasi berturutturut di media KompuTek, Mikrodata, dan InfoKomputer. Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) pun menjamur di berbagai kota di Indonesia. Perlu dicatat dan ditekankan, bahwa kegiatan tersebut berkembang di luar UI dan IndoInternet. Bahkan dapat dikatakan, kontribusi UI dalam memasyarakatkan Linux: "nyaris tak terdengar". Faktor Sukses Kesuksesan Linux di Indonesia merupakan sinergi dari sekurangnya empat faktor yang akan diungkapkan berikut ini. Pertama, diperlukan provokator yang bertugas memperkenalkan sistem Linux melalui milis, seminar, dst. Yang bersangkutan ini tidak harus seorang pakar Linux atau pun terlibat langsung di lapangan. Provokasi ini akan berpengaruh positif terhadap opini masyarakat. Sebaliknya, sifat kepriyayian – seperti asyik bermain sendiri di menara gading -- berpotensi sebagai faktor penghambat penyebaran Linux. Kedua, pendekatan tidak cukup satu arah bottom up atau pun top down, namun harus ada timbal balik antara keduanya. Provokasi sehebat apa pun tidak akan bermanfaat, jika tidak ada "bahan bakar" (dukungan) yang cukup. Sebagai ilustrasi, masa inkubasi Linux di FUSILKOM UI mau pun di IndoInternet mendapat dukungan penuh baik dari pihak management mau pun dari para pengguna, termasuk partisipasi dari para mahasiswa. Harus juga disadari bahwa tidak semua gagasan akan sukses, dan tidak semua kejadian dapat diprediksi secara presisi sejak awal. Ketiga, harus ada motivasi jelas dan kuat, dan bukan hanya sekedar retorika serta semboyan kosong. Linux menawarkan solusi murah meriah, yang mendapatkan sambutan positif dari para kelompok generasi muda yang pragmatis. Motivasi awal penggunaan Linux di UI semula hanya sebagai terminal X11 yang murah meriah, sedangkan di IndoInternet digunakan sebagai server internet (httpd, ftpd, dan smtpd) alternatif.
86

Terakhir, suasana dan event yang mendukung. Linux mulai marak pada tahun 1997 seiring dengan peningkatan kepopuleran internet di Indonesia (pra krismon). Inersia yang cukup akan membangkitkan reaksi rantai. Semakin banyak yang menggunakan Linux berarti semakin sedikit yang tidak menggunakan. Populasi pengguna linux yang banyak akan menarik pengguna yang lebih banyak lagi. KPLI yang muncuk dibentuk di sebuah kota dapat mendorong proses pembentukan KPLI di kota berikutnya. Selain itu, pengembangan Linux ini mendapat dukungan teknis secara gotong royong melalu milis. Pada perioda 1991 - 1994, kegiatan penyebaran Linux kurang mendapatkan sambutan. Dalam kondisi demikian, provokasi secanggih apa pun tidak akan banyak berpengaruh. Baru mulai 1994, motivasi penggunaan Linux ialah alternatif terminal X11 yang murah meriah. Setahun kemudian, Linux bahkan mulai digunakan secara operasional di sebuah penyelenggara Internet komersial. Selama 1994 - 1997 ini, momentum penggunaan Linux dalam keadaan sangat kritis yaitu: memiliki peluang sama untuk sukses atau pun gagal. Dukungan institusional (top down) dari Universitas Indonesia dan IndoInternet membantu menstabilkan momentum ini, namun tidak sampai menjadi faktor utama kesuksesan Linux di Indonesia! Justru, motor dari kesuksesan Linux ialah para profesional muda yang terjun ke bidang Internet pasca 1997. Sayang sekali, gerakan OSS ini baru berhasil di lingkungan teknis, yang biasanya kurang tertarik untuk menggunakan OSS untuk keperluan bisnis. Diperlukan usaha ekstra untuk memajukan sektor office automation ini. Masalah ini tidak dapat hanya diatasi secara bottom-up. Dukungan pimpinan dibutuhkan untuk mendorong pengurangan secara bertahap penggunaan perangkat lunak yang dianggap tanpa lisensi sah. Dukungan topdown ini perlu ditunjukkan dengan mengangkat CIO (Chief Information Officer) yang memiliki komitmen terhadap OSS. Tidak dapat dipungkiri, bahwa usaha ini membutuhkan pengalokasian sumber daya manusia dan biaya yang tidak sedikit. Diperlukan pula unsur kolaborasinya karena banyak hal yang tidak bisa dikerjakan sendiri. Dukungan secara grass-root/ bottom-up akan membantu terbentuknya Masyarakat Digital Gotong Royong (MDGR). yang bersifat tidak formal. Jika negara-negara yang sedang berkembang ini memanfaatkan OSS, dengan sendirinya berarti tidak menggunakan perangkat lunak yang berlisensi. Menurut I Made Wiryana (1998), inisiatif penggunaan OSS dapat dimulai oleh para pendidik bidang
87

teknologi informasi. Harapan mulia ini berpotensi untuk menjadi solusi "win-win" untuk semua pihak. Tak lupa penulis mengingatkan - terutama kepada diri sendiri -- bahwa para musuh-musuh OSS pada umumnya tidak akan tinggal diam menyaksikan kesuksesan gerakan OSS ini. Mereka akan mencoba secara sistematis untuk mempertahankan pangsa pasar yang telah mereka genggam. Mereka pun tidak akan henti-hentinya menjelek-jelekkan OSS, seperti menuduh tidak handal, tidak terjamin, tidak dipelihara, dst. Kemudahan dalam penggunaan perangkat lunak open source disini dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Mudah didapatkan dalam kehidupan sehari-hari seperti di toko software-software atau download di internet sesuai dengan alamat linknya. 2. Tidak diperlukan lagi aktifasi atau memasukkan produk key ke dalam software open source ini. 3. Bahasa dalam open source software ini sangat mudah dimengerti oleh orang awam, karena sudah terdapat paket bahasa indonesia dan paket bahasa dari daerah lain sesuai dengan tempat kita menginstal software ini. 4. Maksud atau fungsi software ini sangat mudah dimengerti karena biasanya sudah disertakan/terdapat petunjuk penggunaaannya di dalam paket software ini. 5. Cara penginstalannya pun sangat mudah sekali Keuntungan dan Kerugian Open Source Produk open source dianggap selalu membawa keuntungan, khususnya oleh para promotor dari gerakan open source ini. Di sini lain, para anti-open source menunjukkan kerugian atau kelemahan dari open source. Mari kita kaji beberap keuntungan dan kekurangan open source. Keuntungan Banyaknya tenaga (SDM) untuk mengerjakan proyek. Sumber daya manusia merupakan salah satu unsur pokok dalam software development. Proyek open source biasanya menarik banyak developer. Sebagai contoh, pengembangan server web Apache1 menarik ribuan orang untuk ikut mengembangan dan memantau.
88

Kesalahan (bugs, error) lebih cepat ditemukan dan diperbaiki. Karena jumlah developernya sangat banyak dan tidak dibatasi, maka kemungkinan untuk mendeteksi bugs lebih besar. Visual inspection (eye-balling) merupakan salah satu metodologi pencarian bugs yang paling efektif. Selain itu, karena source code tersedia, maka setiap orang dapat mengusulkan perbaikan tanpa harus menunggu dari vendor. "Given enough eyeballs, all bugs are shallow. (Linus Torvalds)” Kualitas hasil lebih terjamin. Karena banyaknya orang yang melakukan evaluasi, kualitas produk dapat lebih baik. Sebagai contoh, Apache merupakan web server open source yang paling banyak digunakan orang di dunia. Namun hal ini hanya berlaku untuk produk open source yang ramai dikembangkan orang. Tidak selamanya produk open source dikembangkan oleh banyak orang. Ada banyak produk open source yang dikembangkan oleh individual saja. Lebih aman (secure). Dikarenakan sifatnya yang terbuka, maka produk open source dapat dievaluasi oleh siapa pun. Public scrutinity merupakan salah satu komponen penting dalam bidang security. Secara umum memang open source memiliki potensi untuk lebih aman meskipun dia tidak terjadi secara otomatis. Hal ini tercapai bila security by obscurity bukan menjadi tujuan utamanya. (Lihat bagian Referensi, artikel Peter Neumann) Hemat biaya. Sebagian besar developer ini tidak dibayar/digaji. Biaya dapat dihemat dan digunakan untuk pengeluaran yang tidak dapat ditunda, seperti misalnya membeli server untuk hosting web. Tidak mengulangi development. Pengulangan (re-inventing the wheel) merupakan pemborosan. Adanya source code yang terbuka membuka jalan bagi seseorang programmer untuk melihat solusisolusi yang pernah dikerjakan oleh orang lain. Namun pada kenyataannya tetap banyak pengulangan. Lihat situs Freshmeat.net untuk mengetahui banyaknya produk yang memberikan solusi yang sama.

89

Kekurangan Kurangnya SDM yang dapat memanfaatkan open source. Salah satu keuntungan utama dari gerakan open source adalah adanya ketersediaan source code. Namun ketersediaan ini menjadi sia-sia apabila SDM yang ada tidak dapat menggunakannya, tidak dapat mengerti source code tersebut. SDM yang ada ternyata hanya mampu menggunakan produk saja. Jika demikian, maka tidak ada bedanya produk open source dan yang proprietary dan tertutup. Tidak adanya proteksi terhadap HaKI. Kebanyakan orang masih menganggap bahwa source code merupkan aset yang harus dijaga kerahasiannya. Hal ini dikaitkan dengan besarnya usaha yang sudah dikeluarkan untuk membuat produk tersebut. Karena sifatnya yang terbuka, open source dapat di-abuse oleh orang-orang untuk mencuri ide dan karya orang lain. Kesiapan produk open source Banyak orang menganggap bahwa source code yang dibuka itu biasanya kurang baik mutunya dan tidak sanggup bersaing dengan produk komersial. Berikut ini adalah beberapa contoh produk open source yang dapat digunakan untuk proses bisnis. Daftar lengkap dapat dilihat dari berbagai situs, seperti dari situs “freshmeat.net2” dan SourceForge3. Hasil browsing sepintas di freshmeat menunjukkan adanya 225 proyek yang berhubungan dengan “Office/Business”. Sementara itu di SourceForge ada 1231 proyek (data sampai dengan Maret 2002). Jika dihitung secara keseluruhan (tidak hanya produk untuk office/business), maka ada puluhan ribu produk open source. Data dari SourceForge (Maret 2002) menunjukkan lebih dari 35000 proyek open source. Secara umum dapat saya katakan bahwa produk open source sudah siap untuk digunakan pada skala komersial. Office productivity • StarOffice. Produk ini merupakan versi kompatibel dari Microsoft Office. Pada mulanya StarOffice merupakan produk gratis yang dikembangkan oleh StarDivision, sebuah perusahaan di Jerman. Kemudian perusahaan ini dibeli oleh Sun Microsystems dan StarOffice menjadi produk dari Sun Microsystems yang didistribusikan secara gratis. Akan tetapi
90

• •

pada akhirnya perusahaan Sun akan mengkomersialkan produk ini. Sebagai gantinya ada produk OpenOffice. OpenOffice. Merupakan produk office suite yang gratis dan terbuka sebagai pengganti StarOffice yang menjadi tertutup. Abiword4.

Abiword merupakan wordprocessor gratis, open source, dan multiplatform seperti ditunjukkan pada gambar di atas. Namun masih banyak features yang harus dikembangkan sebelum Abiword dapat menjadi word processor sekelas Microsoft Word. Database • MySQL5. MySQL merupakan database open source yang paling banyak digunakan orang. Jika digabung dengan bahasa pemrograman PHP dan web server Apache, maka kombinasi ini merupakan salah satu infrastruktur software Internet.

91

PostgreSQL6. Merupakan database yang juga bersifat open source.

Lain-lain Masih banyak produk open source lain yang akan menghabiskan tempat di makalah ini jika harus dikemukakan satu persatu. Ada aplikasi finansial, Point of Sale (POS), sampai ke tools untuk membangun e-commerce website. Secara umum penggunaannya antara lain: • Mail server: sendmail, qmail, postfix • Web server: apache • Portal creation: phpnuke, postnuke Banyak sudah perusahaan besar yang mendukung penggunaan produk open source, antara lain IBM, dan Compaq.

3. Mendorong Inovasi dan Kreatifitas Anak Bangsa Teknologi informasi merupakan teknologi masa kini yang dapat menyatukan atau menggabungkan berbagai informasi, data dan sumber untuk dimanfaatkan sebagai ilmu bagi kegunaan seluruh umat manusia melalui penggunaan berbagai media dan peralatan telekomunikasi modern. Dengan menggunakan berbagai media, peralatan telekomunikasi dan computer canggih, Teknologi Informasi akan terus berkembang dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan dan peradaban umat manusia di seluruh dunia. Kemajuan peradaban manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad informasi ini telah memudahkan manusia berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Keunggulan atau dampak positif dari kemajuan teknologi informasi sangat besar manfaatnya. Tetapi, tidak dapat dielakkan juga bahwa dampak negatif yang dihasilkan oleh teknologi informasi ini juga muncul. Era Informasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi berkembang dengan cepat, juga arus informasi berjalan dan menyebar dengan kecepatan tinggi seolah-olah tanpa batas. Setiap informasi penting dari negara manapun akan dapat tersebar dan diketahui oleh penduduk di seluruh dunia yang sudah dapat mengakses informasi. Segala macam informasi akan berlalu lalang dihadapan manusia. Menghadapi hal semacam ini setiap orang
92

harus dapat menentukan sikap dan mengambil keputusan agar dapat memilih informasi yang tepat bagi dirinya. Pada dasarnya informasi yang ada baik atau buruk, benar atau salah pada hakekatnya bersifat netral. Artinya akibat dan efek informasi bagi seseorang atau masyarakat tergantung pada kepandaian dan kepiawaian seseorang atau masyarakat untuk menggunakan informasi tersebut. Pada saat ini sumber informasi sangat banyak, beragam dan tersebar dimana-mana. Sangat sulit untuk membatasi atau membentengi suatu informasi untuk tidak samapai kepada suatu masyarakat tertentu. Langkah yang terbaik bukannya menghalangi kehadiran informasi karena hal itu tidak mungkin, yang tepat adalah menyiapkan masyarakat untuk bisa menangani, menerima, menilai, memutuskan dan memilih informasi yang tersedia. Penyiapan kondisi psikologis bagi masyarakat untuk menerima, menilai, memutuskan dan memilih informasi bagi diri mereka sendiri akan lebih efektif dan mendewasakan masyarakat untuk bisa mengelola informasi dengan baik. Dengan kemajuan teknologi informasi seseorang atau masyarakat akan mendapat kemudahan akses untuk menggunakan dan memperoleh informasi. Misalnya saja Internet, Internet dapat merubah perilaku konsumen. Dari yang semula pasif (mendengar, membaca dan melihat) menjadi aktif (interaksi dan menulis/posting). Dari indvidual ke grup/social networking. Dari reader menjadi Publisher (writing, reviewing, recomending). Konsumen bukan lagi seorang manusia yang pasif dan serta merta menyerap iklan atau pun bombardir pesan marketing lainnya, mereka telah berubah menjadi media dan media adalah kekuasaan. Banyak para ‘newbies’ dan para konsultan web maupun mereka yg menyebutnya pakar mengatakan secara tersirat bahwa teknologi informasi dan komunikasi mengubah perilaku konsumen dalam hal membeli. Padahal yang benar adalah teknologi tidak dapat mengubah ciri dan sifat dasar manusia yaitu keinginan atau emosi yang merupakan faktor utama dalam hal membeli, namun Internet membuat kita, sebagai pemasar dan pelaku bisnis untuk memodifikasi caranya menjangkau dan memasarkan bisnis kita kepada calon pembeli Karakter dan sifat suatu pelanggan di era pra-internet maupun di era internet sama yaitu asalkan kita dapat menanamkan kepercayaan kepada mereka, mereka dapat menjadi pelanggan kita.

93

Oleh sebab itu, kepercayaan adalah pelumas yang paling esensial untuk bisnis digital. Tanpa membangun kepercayaan di sekitar calon pelanggan, bisnis digital akan kandas. Kepercayaan juga dibangun lewat komunikasi secara berkala atau follow-up, tanpa adanya follow-up, sulit sekali kita dapat menjual produk lewat internet sama halnya seperti dalam dunia penjualan konvensional, transaksi umumnya dapat terjadi karena hasil follow-up. Karena internet tidak mengubah sifat bawaan alami ini, maka kita pun perlu membuat suatu sistem yang dapat melakukan follow-up. Beberapa tahun belakangan ini seiring dengan meningkatnya teknologi di dunia ini diikuti dengan berubahnya ilmu dan strategi marketing secara cepat dan dinamis. Bagi orang yang berkecimpung di dalam dunia marketing, maka harus disadadari bahwa strategi pemasaran yang dijalankan saat ini mungkin hanya bertahan paling lama satu hingga dua tahun ke depan. Apakah yang menyebabkan perubahan itu terjadi dengan begitu cepatnya? Jawabannya adalah perubahan perilaku konsumen yang terjadi juga sangat cepat. Perlu diketahui bahwa perilaku konsumen saat ini pasti tidak sama dengan perilaku konsumen pada 10 tahun, 5 tahun, dan mungkin saja 1 tahun yang lalu. Dasar dari perubahan perilaku konsumen itu adalah semakin sedikitnya waktu yang dihabiskan dengan perusahaan yang dimiliki seorang pengusaha, mengingat banyaknya kompetitornya yang bermain di laut yang sama (red ocean) sehingga konsumen akan menjadi bingung dalam membuat keputusan pembelian dan loyal terhadap suatu produk. Faktor lain yang mengakibatkan cepatnya perubahan perilaku konsumen adalah semakin berkembangnya teknologi di dunia ini, sehingga konsumen sudah dimanjakan dengan berbagai kemudahan dan kepraktisan. Salah satu contohnya produk perbankan, dimana dua puluh tahun yang lalu ketika kita ingin melakukan trasnsfer uang ke sebuah rekening, maka anda harus datang ke bank tersebut, mengisi slip, dan menyerahkan slip tersebut serta menyetorkan uang tersebut. Apabila kita bandingkan dengan keadaan saat ini, konsumen hanya cukup melakukanya lewat Automatic Teller Machine (ATM), atau lewat internet (online banking), dan dalam beberapa tahun terakhir ini sudah bisa menggunakan teknologi mobile banking dimana cukup menggunakan ponsel saja.

94

Selain persaingan dengan kompetitor yang semakin ketat dan perubahan perilaku konsumen, Para pemasar masih harus bersaing dengan tingginya biaya pemasaran, distribusi, dan lainya. Untuk mengatasi berbagai permasalahan itu, teknologi dapat menjadi solusinya. Contohnya, untuk mempertahankan konsumen agar tetap royal maka digunakanlah berbagai macam software CRM, Software Accounting, Pajak, dan sebagainya. Di sisi lainya, teknologi juga telah mengubah selamanya dimana jarak bukanlah menjadi halangan bagi konsumen untuk menjangkau produk yang diinginkanya. Dunia menjadi semakin kecil, dan mobilitas menjadi semakin tinggi. Alasan mengapa saya memilih perkembangan tersebut adalah seperti yang dikemukakan di atas bahwa perkembangan teknologi informasi dapat menawarkan segala kemudahan dan kepraktisan. Di dalam perkembangan tekhnologi saat ini yang sudah semakin tinggi masih terdapat masalah-masalah pada penggunaan software di dalam masyarakat. Dua alasan klasik yang sering dikemukakan mengapa masyarakat kita tetap memilih menggunakan software bajakan adalah soal mahalnya harga software asli dan masalah sudah terbiasa menggunakan software-software tersebut. Lalu bagaimana jika kita memaksakan diri untuk menggunakan software-software proprietary secara legal, akan berimplikasi pada semakin berkurangnya kemampuan masyarakat kita terhadap perkembangan teknologi informasi. Yang pada gilirannya akan mengakibatkan timbulnya kesenjangan digital di Indonesia yang semakin parah. Mengenai kondisi masyarakat kita yang sudah terlalu terbiasa dengan software-software berbasis OS Windows, memang ini bukanlah perkara yang mudah, mengingat sistem operasi Microsoft Windows sudah sangat mendarah daging di masyarakat kita. Solusi yang digunakan untuk menyelesaikan semua permasalahan itu adalah dengan open source. Sebenarnya pilihan software open source sudah sangat banyak. Software-software itu juga telah berkembang baik dari segi interface yang semakin user friendly juga kemampuan yang tak kalah dengan software berbayar. Seperti yang kita ketahui hampir setiap software berbayar ada padanan open source-nya sebagai solusi alternatif yang bisa digunakan gratis tanpa harus mencuri. Microsoft Windows sendiri contohnya, bukanlah ‘The Operating System’ yang terbaik jika dibandingkan dengan Linux yang berbasis open source. Memang soal kenyamanan dan kemudahan, Microsoft Windows telah berhasil
95

membuai para penggunanya. Namun demikian, banyak juga distrodistro Linuk yang menawarkan kemudahan sekelas Windows seperti Distro Mandrake misalnya. Tapi untuk itu semua memang butuh pengorbanan, baik dari segi waktu maupun tenaga. Masuk akal juga, jika banyak perusahaan atau instansi yang masih keberatan berpindah ke open source. Ya, karena untuk langsung beralih ke operating system non Windows bukanlah perkara yang mudah. Perlu pembelajaran kembali yang mau-tidak mau akan sangat berpengaruh terhadap kelancaran usaha. Padahal, untuk jangka panjang ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh jika perusahaan mulai menggunakan program-program open source, yaitu rendahnya biaya instalasi program, reliabilitas yang tinggi, keamanan yang tinggi, sehingga total cost of ownership-nya menjadi rendah. Selain itu dengan menggunakan program-program open source maka perusahaan tidak perlu terikat pada satu vendor, baik vendor hardware maupun software. Jika perusahaan menemui permasalahan, ia dapat menghubungi pembuat program ataupun mencari perusahaan-perusahaan jasa untuk menangani masalah tersebut. Jadi sebenarnya hanya perlu niat untuk mau berusaha memeras otak untuk sedikit beradaptasi dan belajar dengan software-software baru berbasis open source tersebut. Kita tidak perlu kawatir menggunakan aplikasi-aplikasi berbasis open source. Tidak selamanya yang mahal itu jauh lebih baik. Karena justru aplikasi-aplikasi open source memiliki tingkat reliabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan program-program closed source (proprietary) mengingat kode sumber untuk programprogram open source tersedia secara bebas, hingga program yang dibuat oleh seseorang ataupun sesuatu organisasi akan mendapatkan review dari rekan-rekannya ataupun pihak-pihak lain. Selain itu dengan tersedianya kode sumber maka segala kesalahan, baik kesalahan logika ataupun kesalahan pengkodean dalam program, dapat segera diperbaiki dan perbaikan tersebut dikirimkan ke Internet oleh siapapun yang kebetulan menemukan kesalahan tersebut. Selain itu biasanya open source memiliki dukungan komunitas yang cukup baik dan solid. bagi yang kurang tahu soal pemprograman, mereka bisa memperoleh pertolongan melalui keberadaan komunitas tersebut. Namun demikian, software yang didistribusikan secara open source tidak menjamin bahwa software tersebut aman. Justru dengan disajikannya kode sumber
96

tanpa encripsi, maka pengguna akan lebih yakin tidak membeli kucing dalam karung, bebas dari kode-kode susupan yang tidak perlu, atau bisa saja merugikan. Keterbatasan yang lain adalah mengenai hardware compatible yang masih sedikit ribet pada operating system berbasis open source, dikarenakan kebanyakan vendor yang tidak memberikan dukungan driver untuk peralatan yang mereka produksi. Mau tidak mau kita harus mencari dan men-download driver-driver tersebut dari internet. Mungkin pemerintah bisa membantu dengan mengeluarkan regulasi agar para vendor menyediakan driver untuk operating system open source bagi peralatan produksinya. Lalu bagaimana sebenarnya perkembangan open source di Indonesia dewasa ini? Sebenarnya sudah banyak proyek open source yang dikerjakan komunitas pengembang lokal di Indonesia seperti: Proyek Penerjemahan distribusi Linux SUSE, Proyek Penerjemahan manual programprogram UNIX, Proyek Dokumentasi menerjemahkan dokumentasi-dokumentasi Linux yang biasa dikenal sebagai Linux-HOWTO ataupun Linux-Mini-HOWTO ke dalam bahasa Indonesia. Proyek ini telah berjalan cukup baik dan dokumen-dokumen hasil proyek ini telah diintegrasikan ke dalam distribusi Linux RedHat, Proyek Penerjemahan perintah-perintah atau menu-menu yang ada dalam program-program KDE ke dalam bahasa Indonesia, Pembuatan Perangkat Lunak Billing Warnet, Perpustakaan Online, dll. Beberapa produk open source buatan anak Indonesia atau yang dibuat di Indonesia bisa ditemukan di alamat ini : http://www.oss.lipi.go.id/ Keterlibatan pemerintah dalam mendukung gerakan open source di Indonesia juga cukup besar. Setelah tanggal 30 Juni 2004 dideklarasikan penggunaan dan pengembangan open source software (OSS) yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional, pemerintah melaui IGOS (Indonesia, Go Open Source!), telah meluncurkan operasi Linux gratis IGOS Nusantara 2006. Melihat perkembangan yang ada, saya yakin jika berbagai kemajuan tersebut terus menjadi fokus utama dari pemerintah, maka usaha pemberantasan software ilegal akan mengalami kemajuan yang berarti. Memang sudah seharusnya, pemerintah tidak hanya melulu melakukan razia terhadap penggunaan software bajakan.
97

Sebab yang jauh lebih penting adalah menjadi motivator, pelopor dan fasilitator dalam penggunaan aplikasi open source sebagai salah satu alternatif solusi pengembangan dan pemakaian software legal di Indonesia. Jika perlu penggunaan aplikasi komputer berbasis open source ini diajarkan di sekolah-sekolah. Kalau dulu kita mendapatkan materi aplikom dengan windows dan MS Office sebagai bahan materinya, mungkin saat ini bisa mulai ditambah Linux dan open office, sebagai alternatif. Dengan demikian masyarakat bisa memiliki alternatif jalan keluar saat menghadapi sweeping software bajakan. Saya yakin jika ini dilakukan maka penolakan terhadap sweeping software bajakan akan semakin berkurang. Selalu ada harapan untuk meraih sesuatu yang baik. jadi mari kita terus berharap agar prestasi memerangi pembajakan di Indonesia akan terus membaik. Dari 97% ditahun 1996, turun menjadi 88% di tahun 2001 (berdasarkan data Asosiasi Piranti Lunak Indonesia). Semoga tingkat pembajakan akan semakin turun, hingga kita bisa kembali bangga menjadi bangsa yang bermartabat dan berbudaya. MANFAAT OPEN SOURCE BAGI INDONESIA Open source tidak hanya bermanfaat bagi negara-negara maju namun justru ia dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, karena umumnya program-program open source tersedia dengan biaya yang relatif jauh lebih murah dibandingkan program-program closed source dan lebih handal, sehingga akan mampu menghemat devisa yang ke luar. Secara khusus, open source pun memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, bisnis dan pemerintahan. Bagi Dunia Pendidikan Dengan adanya open source maka pelajar, mahasiswa ataupun pendidik tidak lagi mempelajari sesuatu secara teoritis namun mereka pun dapat mempraktikkannya. Sebagai contoh dalam bidang ilmu komputer, pada saat mempelajari mata kuliah Sistem Operasi, maka mahasiswa dan dosen dapat secara bersama-sama mempelajarinya dengan cara mengupas secara tuntas Sistem
98

Operasi GNU/Linux ataupun sistem operasi open source lainnya, sehingga mahasiswa dan dosen tidak hanya tahu teori, namun juga tahu penerapannya dalam dunia nyata. Kemudian dengan menginstalasi sistem operasi open source, misalnya GNU/Linux, seseorang umumnya telah memperoleh aplikasi-aplikasi yang cukup lengkap, sehingga ia tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membelinya. Bagi Dunia Bisnis Dengan memanfaatkan program-program open source, dunia bisnis akan memperoleh manfaat yaitu rendahnya biaya instalasi program, reliabilitas yang tinggi, keamanan yang tinggi, sehingga total cost of ownership-nya menjadi rendah. Dunia bisnis sangat memerlukan program yang bereliabilitas tinggi, karena kegiatankegiatan dunia bisnis telah amat tergantung pada komputer dan kesalahan kecil akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Bagaimana jadinya jika server yang digunakan untuk menangani web page harus di-reboot satu minggu sekali ? Selain itu dengan menggunakan program-program open source maka perusahaan tidak perlu terikat pada satu vendor, baik vendor hardware maupun software. Jika perusahaan menemui permasalahan, ia dapat menghubungi pembuat program ataupun mencari perusahaan-perusahaan jasa untuk menangani masalah tersebut. Bagi Pemerintah Seiring dengan makin berkibarnya tuntutan akan otonomi daerah, maka penggunaan program-program open source patut menjadi pertimbangan dalam perencanaan sistem informasi pemerintahan. Dengan menggunakan program-program open source, anggaran yang dibutuhkan relatif lebih rendah dibandingkan dengan program-program closed source dengan tingkat reliabilitas dan keamanan yang lebih tinggi. Selain itu dengan memanfaatkan program-program open source pemerintah dapat mendukung perkembangan teknologi informasi di daerahnya dan juga dapat memberikan kesempatan kerja pada masyarakat. Dengan tersedianya kode sumber maka pemerintah dapat memastikan bahwa program yang digunakannya tidak memiliki suatu backdoor

99

ataupun trojan horse yang dapat membahayakan pemanfaatannya dalam bidang yang sensitif, seperti bidang pertahanan keamanan. PENGEMBANGAN SOFTWARE BERBASIS OPEN SOURCE DI INDONESIA Gerakan open source ini perlu dicermati oleh masyarakat Indonesia, utamanya masyarakat Teknologi Informasi (TI). Bahkan bila perlu, masyarakat TI Indonesia ikut serta dalam gerakan open source ini, karena gerakan ini akan semakin berkembang di masa mendatang. Dengan ikut serta dalam gerakan open source ini, akan diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut : · Menghemat devisa negara yang dikeluarkan untuk membeli software. Dengan adanya software yang berbasiskan open source, maka organisasi yang memerlukan software tertentu dapat memperoleh software tersebut secara murah, dan bila belum tersedia maka dapat meminta para programer baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri untuk mengembangkannya dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli software proprietary. · Menciptakan lapangan kerja. Dengan memanfaatkan softwaresoftware berbasiskan open source, oleh karena biaya untuk memperolehnya relatif murah, maka akan berkembang para penyedia jasa pelayanan customer support untuk software-software tertentu ataupun jasa pelayanan pengintegrasian software open source ke dalam organisasi, dan masih banyak lagi kemungkinan pekerjaan yang akan tercipta. Terciptanya peluang-peluang ini akan sangat membantu dalam mengatasi masalah pengangguran di Indonesia saat ini dan masa mendatang. Cara Untuk Mendorong Inovasi dan Kreatifitas anak Bangsa dalam Pengembangan Open Source Software yaitu sebagai berikut : 1. Mengadakan lomba-lomba setingkat SMA/SMK dalam Pengembangan Open Source Software dengan hadiah yang menarik 2. Mengadakan lomba Pengembangan atau menciptakan Open Source Software di kampus-kampus yang bermata kuliah Teknologi Informasi baik itu lewat internet ataupun lewat majalah-majalah komputer di seluruh tanah air.
100

3. Mengadakan workshop-workshop tentang open source Software ini.

ataupun

seminar-seminar

Proyek-proyek Open Source Di Indonesia Berikut ini adalah beberapa buah proyek open source yang ada di Indonesia. Proyek-proyek tersebut ada yang sudah berjalan lama dan terbilang sukses dan ada pula yang baru berjalan. Proyek Penerjemahan Linux-SuSEtypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made/tranlin.html Proyek ini bertujuan untuk menerjemahkan distribusi Linux SUSE, mulai dari layar bantuan instalasi hingga buku manualnya. Proyek ini dikoordinir oleh I Made Wiryana, dan sudah selesai. Proyek Penerjemahan man/info pagetypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made/ManPage/ Proyek ini bertujuan untuk menerjemahkan manual programprogram UNIX. Berdasarkan informasi dari homepage-nya, 90% terjemahan telah diserahkan dan sedang dalam proses pengeditan. Proyek ini dikoordinir oleh I Made Wiryana. Proyek Dokumentasi Linuxtypeset@protect SF@gobble@opt http://ldp.linux.or.id @@footnote

Proyek ini bertujuan untuk menerjemahkan dokumentasidokumentasi Linux yang biasa dikenal sebagai Linux-HOWTO ataupun Linux-Mini-HOWTO ke dalam bahasa Indonesia sehingga memudahkan pengguna Linux di Indonesia yang kesulitan dalam memahami bahasa Inggris. Proyek ini telah berjalan cukup baik dan dokumen-dokumen hasil proyek ini telah diintegrasikan ke dalam distribusi Linux RedHat. Proyek ini dikoordinir oleh Mohammad DAMT. Proyek Penerjemahan KDEtypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made/KDE/kdeindo.html
101

Proyek ini bertujuan untuk menerjemahkan perintah-perintah atau menu-menu yang ada dalam program-program KDE ke dalam bahasa Indonesia. Proyek ini dimulai pada April 1999, dan saat ini belum selesai karena kurangnya tenaga sukarelawan/ti yang turut serta. Pembuatan Perangkat Lunak Billing Warnettypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://pandu.dhs.org Proyek ini ditujukan untuk para pengelola Warnet yang membutuhkan pengelolaan billing-nya. Saat ini proyek ini dipegang oleh Owo Sugiana. Sistem operasi yang menjadi dasar pembuatannya adalah GNU/Linux dengan memanfaatkan bahasa Python, PHP, dan PostgreSQL. Perpustakaan Onlinetypeset@protect SF@gobble@opt http://pandu.dhs.org @@footnote

Proyek ini dikoordinir oleh Owo Sugiana. Software-software yang digunakan adalah GNU/Linux, Apache, PHP, dan PostgreSQL. Saat ini telah berhasil dibuat fasilitas pencarian buku-buku berdasarkan lima macam kriteria, yaitu judul, pengarang, subyek, penerbit, nomor katalog. Dan dengan fasilitas tersebut dapat pula diketahui status buku apakah sedang dipinjam atau tidak. Trustix Merdekatypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://merdeka.trustix.co.id Proyek ini bertujuan untuk membuat distribusi Linux berbahasa Indonesia. Proyek ini dikomandani oleh Ahmad Sofyan. HAL-HAL YANG DAPAT MENJADI PENGHAMBAT Hukum dan Keamanan Saat ini situasi keamanan di Indonesia sangat tidak dapat diduga. Hal ini tentu saja akan mengganggu tidak saja pengembangan proyek-proyek open source, namun kegiatankegiatan lainnya. Keadaan ini semakin diperparah dengan
102

aturan-aturan hukum yang tidak berjalan serta tidak dihargainya para aparat penegak hukum, misalnya belum ditegakkannya hukum bagi Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Kesemuanya ini akan menghambat perkembangan open source, karena dengan mudah dan murahnya orang memperoleh software-software proprietary maka software-software open source tidak akan diterima oleh masyarakat umum. Kurangnya Pengetahuan Masyarakat Mengenai Open Source Software-software open source umumnya hanya dikenal oleh kalangan tertentu saja, hal ini disebabkan belum gencarnya media Indonesia memberitakan mengenai gerakan open source ini. Akibatnya masyarakat secara umum belum mengetahui gerakan ini. Ketidaktahuan ini menyebabkan masyarakat lebih memilih software-software proprietary yang umumnya lebih dikenal, mudah didapat, dan murah harganya karena merupakan produk bajakan. Kemudahan Bagi Masyarakat Awam Umumnya software-software open source tidak dilengkapi dengan dokumentasi yang sesuai untuk dibaca oleh masyarakat awam karena bersifat teknis dan umumnya ditulis dalam bahasa Inggris, sehingga tentu saja akan menyulitkan mereka. Oleh karena software-software open source lebih bersifat developer oriented, seringkali aspek user kurang diperhatikan, akibatnya pemakai kesulitan dalam menggunakan software-software tersebut. Selain itu informasi-informasi untuk software-software tertentu tersebar di banyak tempat, sehingga seorang pemakai bila ingin mengetahui informasi-informasi tersebut, ia harus mencari di Internet dan pencarian ini relatif menyulitkan bagi masyarakat awam. Sulitnya Memperoleh Software-Software Open Source Distribusi software-software open source umumnya dilakukan melalui Internet. Akan tetapi karena koneksi Internet yang ada di Indonesia masih sangat memprihatinkan, maka tidak semua orang memiliki akses terhadap Internet dan bila pun memiliki akses, reliabilitas-nya sangat rendah, sehingga akan sangat sulit untuk mengambil (download), software-software yang berukuran besar, misalnya aplikasi StarOffice 5.1 berukuran kurang lebih 50MB. Bila
103

software-software tersebut tersedia di para pedagang, umumnya merupakan software-software distribusi Sistem Operasi yang terkenal, misalnya RedHat Linux, SuSe Linux, sehingga untuk mereka yang memiliki kebutuhan yang berbeda akan timbul masalah. Belum Adanya Dukungan dari Dunia Pendidikan Berkat kemudahan memperoleh software-software proprietary bajakan, para mahasiswa dan dosen tidak merasa perlu menggunakan software-software open source, karena tidak ada paksaan. Akibatnya mereka tidak menghargai software-software open source, meskipun software-software tersebut sangat baik. Selain itu, di dalam diri mereka tidak ada niat untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat, yang mereka utamakan adalah bagaimana cara memperoleh uang. Bila hal ini terus terjadi, maka di masa mendatang, dunia pendidikan Indonesia akan sangat tertinggal dari negara-negara yang menghargai HaKI dan menggunakan software-software open source. Karena dengan menggunakan software-software open source dunia pendidikan akan memperoleh manfaat. Belum adanya dukungan dari pihak pemerintah. Saat ini dukungan pemerintah secara nyata belumlah terlihat. Untuk mendapatkan dukungan pemerintah sebagaimana yang ada di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa Barat seperti Jerman dan Perancis, hampir tidak mungkin, karena adanya keterbatasan dana dan permasalahan lain yang harus dihadapi pemerintah. SARAN-SARAN Meningkatkan mutu SDM Agar mampu ikut serta dalam gerakan open source ini, maka sumber daya manusia (SDM) yang ada perlu ditingkatkan mutunya. Hal ini dapat dilaksanakan melalui jalur pendidikan formal sebagaimana yang ada di sekolah-sekolah ataupun perguruan tinggi, ataupun melalui jalur pendidikan informal, seperti kursuskursus, seminar-seminar, pelatihan-pelatihan. Yang dapat
104

diharapkan berperan besar dalam proses peningkatan mutu SDM ini adalah dunia pendidikan, dunia bisnis. Dunia pendidikan dapat memulai dengan mengenalkan peserta didik pada software-software open source, mengajarkan pemakaian beberapa software yang dirasakan bermanfaat, serta akhirnya mengajarkan pemrograman dengan menggunakan softwaresoftware bahasa pemrograman open source, seperti C/C++, Perl, Python, PHP. Dunia bisnis dapat membantu dunia pendidikan dengan memberikan hardware mereka yang sudah tidak dipakai lagi namun masih berfungsi, agar dapat digunakan dalam proses mengajarkan software-software open source pada peserta didik. Hal ini akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, bagi dunia bisnis, akan menghemat biaya penyimpanan maupun pemeliharaan, sementara dunia pendidikan mendapatkan hardware yang dibutuhkannya. Kemudian dunia bisnis dapat pula menyelenggarakan pelatihanpelatihan, seminar-seminar yang berkaitan dengan open source, bekerja sama dengan dunia pendidikan untuk membuat software-software open source, misalnya suatu perusahaan software dapat bekerja sama dengan dunia pendidikan untuk membuat suatu software yang memanfaatkan riset yang ada di dunia pendidikan. Memperbaiki infrastruktur Proyek-proyek open source umumnya dikerjakan oleh beberapa orang yang belum tentu berada pada lokasi dan waktu yang sama. Oleh karena itu dibutuhkan suatu mekanisme yang memungkinkan mereka agar dapat bekerja sama, mekanisme tersebut antara lain adalah Internet. Keadaan koneksi Internet di Indonesia sangat buruk, bandwidth jaringan yang ada sempit dengan tingkat reliabilitas yang buruk serta biaya yang tinggi. Hal ini tentu saja akan menyulitkan pengembangan proyek-proyek open source. Biaya yang terdiri dari biaya pulsa telpon serta tarif pelayanan ISP yang tinggi merupakan alasan utama mengapa jumlah pemakai Internet di Indonesia masih rendah. Untuk dapat memperbaiki keadaan ini, maka peran pemerintah sangat dibutuhkan, utamanya untuk menurunkan biaya yang tinggi tersebut, misalnya dengan menetapkan bahwa tarif telpon lokal bersifat permanen (flat rate) tanpa peduli dengan
105

seberapa lama telpon dipakai, atau pemerintah dapat menghapus monopoli telekomunikasi yang selama ini dimiliki oleh suatu perusahaan sehingga akan bermunculan para pesaing yang dapat menurunkan biaya. Dengan rendahnya tarif telpon maka akan semakin banyak masyarakat yang terkoneksi dengan Internet, Internet Service Provider (ISP) semakin banyak, akibatnya ISP berlomba-lomba untuk memperbaiki pelayanan mereka, misalnya dengan memperbaiki jaringan mereka agar dapat memberikan koneksi yang cepat, reliable dan murah, karena bila tidak customer dapat berpindah ke ISP lain yang lebih baik. Mendukung gerakan open source Dukungan terhadap gerakan open source dapat diwujudkan dengan cara membeli hardware ataupun software yang mendukung open source. Pembeli sebaiknya berusaha tidak membeli produkproduk yang tidak mendukung open source, misalnya jika driver2 suatu modem hanya dapat berjalan di sistem operasi proprietary, sebaiknya customer beralih membeli modem lain yang mendukung open source. Pengembangan software berbasiskan open source merupakan suatu hal yang mungkin dilakukan oleh Indonesia. Dengan mengembangkan software secara open source akan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia, antara lain adalah penghematan devisa yang digunakan untuk membeli produk closed-source software, selain itu akan menciptakan pula lapangan kerja. Akan tetapi agar berhasil mewujudkan hal ini ada beberapa hal yang perlu terlebih dulu diatasi yaitu masalah hukum, keamanan, infrastruktur, ketersediaan sumber daya manusia, lingkungan yang mendukung. Bila masalah-masalah tersebut telah teratasi, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Indonesia menjadi negara pendukung utama gerakan open source dengan banyak menghasilkan softwaresoftware open source. RANGKUMAN DAN KESIMPULAN Linux adalah sistem operasi yang bersifat open source. Ada banyak lisensi yang bersifat open source. Lisensi-lisensi yang bersifat open source didefinisikan dalam Open Source Definition dan disertifikasi oleh Open Source Organization.

106

Pada umumnya, program-program yang membentuk Linux berlisensi GNU Public License. Setiap orang tidak hanya berhak memperoleh software bersifat open source secara gratis, tetapi juga berhak memodifikasi source code software tersebut. Meracik software yang bersifat open source menjadi satu software yang mudah diinstalasi dan digunakan, kemudian menjualnya dengan menyertakan pelayanan dan support kepada pembeli adalah bentuk dasar dari bisnis model open source. Kelebihan dari bisnis model ini adalah, biaya untuk membangun sebuah software dapat ditekan serendah mungkin tanpa mengurangi kualitas dari software tersebut. Walaupun bisnis model ini tidak lebih sederhana dari bisnis model software yang konvensional, penulis yakin bahwa bisnis model ini bisa menjadi satu pemecahan untuk mengatasi pembajakan software yang merupakan masalah besar di dunia software komputer. Di Indonesia sendiri kurang lebih 90% dari software yang ada di masyarakat adalah software bajakan. Kondisi ini pula merupakan salah satu kendala yang menghambat perkembangan dunia software di Indonesia. Pada masa mendatang, dimulai dari Linux, diperkirakan akan muncul banyak perusahaan software yang akan membuat produknya secara open source. Bila budaya open source ini dapat juga berkembang di Indonesia hembusan angin segar akan dapat dirasakan oleh pengembang software di tanah air. Semoga. ** BIODATA Nama Tempat Tgl.Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : I Nyoman Kardiana : Kapal, 18 Mei 1985 : Laki-laki : Jl. Raya Kapal No. 72/Br. Peken Delodan Kapal – Depansar – Bali ::-

107

108

MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP PERANGKAT LUNAK OPEN SOURCE LINUX Oleh: Drs. Haryono, S.ST ABSTRAK
Perangkat Lunak merupakan software yang berfungsi untuk menjalankan sistem komputer. Perangkat Lunak open source yang memperbolehkan didistribusikan secara bebas, diharapkan akan memperkecil tingkat pembajakan software di Indonesia, Perangkat lunak open source yang sumbernya bebas didistribusikan dan mengizinkan siapa saja untuk berkreasi dengan cara menambahkan atau mengurangi fungsi sesuai kebutuhan pengguna. Hal ini akan berdampak pada memberdayakan masyarakat Informatika Indonesia agar menjadi lebih bebas berkompetisi dalam mengoperasikan perangkat lunak dan mengembangkan software. Karya tulis dengan judul: Membangkitkan minat belajar siswa terhadap perangkat lunak Open source Linux. Berharap siswa dapat melakukan migrasi dari software ilegal ke software legal, menambah pemahaman tentang Open source yang legal, dan membedakan software yang legal dan ilegal, serta siswa dapat membantu mensosialisikan open source ke seluruh lapisan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Negara Indonesia dikenal oleh dunia internasional dengan sebutan negara pembajak Software komputer terbesar bersama beberapa negara Asia lainnya, dikarenakan penggunaan perangkat lunak Microsoft oleh masyarakat Indonesia yang ilegal (tidak membeli lisensi). Dengan adanya perangkat lunak yang bersifat open source, maka penggunaan software ilegal diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin. Open source dapat juga memberdayakan masyarakat Informatika Indonesia lebih bebas untuk berkompetisi dalam pengoperasian perangkat lunak dan pengembangan software.
109

Perangkat lunak merupakan software yang berfungsi untuk menjalankan sistem komputer, tanpa perangkat lunak sebuah komputer dengan prosessor yang berkecepatan tinggi dan dengan RAM yang berkapasitas besar komputer tidak dapat berfungsi. Tujuan Penelitian dengan judul “Membangkitkan minat belajar siswa terhadap perangkat lunak Open Source Linux” mempunyai tujuan : a. Siswa diharapkan dapat migrasi dari penggunaan software ilegal ke software yang legal b. Siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan / skillnya terhadap perangkat lunak Open Source yang legal c. Siswa diharapkan dapat membedakan software ilegal dan software yang legal d. Siswa diharapkan dapat mensosialisasikan tentang software Open Source kepada masyarakat umum Batasan Masalah Dunia Teknologi Informasi di Indonesia dewasa ini mendapat predikat yang kurang baik dimata dunia internasional, yaitu sebagai negara pembajak software terbesar. Untuk mengantisipasi proses pembajakan yang lebih besar lagi, pemerintah sudah berusaha untuk mengalihkan penggunaan perangkat lunak yang ilegal dan mengajak masyarakat umum/masyarakat pengguna Teknologi Informasi untuk migrasi ke Open Source. Salah satu perangkat lunak yang bersifat Open Source yaitu Linux. Penggunaan Linux di Indonesia pada umumnya dan di SMK Negeri 2 Bogor pada khususnya masih terdapat kendala. Sejak dibukanya program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Negeri 2 Bogor, Linux sudah diperkenalkan kepada para siswa. Kendala yang umum sifatnya yaitu setiap siswa sejak duduk di bangku sekolah dasar dan menengah pertama lebih mengenal perangkat lunak Microsoft, walaupun mereka tidak mengetahui kalau penggunaannya ilegal. Batasan masalah dapat diambil dari Penelitian ini antara lain : (a) Mengajak siswa untuk migrasi ke perangkat lunak Open Source yang lebih legal (b) Menggali kemampuan/skill siswa terhadap software yang baru dikenalnya
110

(c) Menumbuhkembangkan penggunaan perangkat lunak Linux di lingkungan SMK Negeri 2 Bogor pada umumnya dan jurusan Teknik Komputer dan Jaringan pada khususnya. Rumusan Masalah Penelitian dengan judul “Membangkitkan minat belajar siswa terhadap perangkat lunak Open Source Linux” dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimana Membangkitkan minat belajar siswa terhadap perangkat lunak Open Source Linux ?” BAB II KAJIAN PUSTAKA Minat Minat adalah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang lahir dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto Agus: 1981). Untuk membangkitkan minat diperlukan proses pembelajaran yang dilakukan dalam bentuk kegiatan, misalnya bekerja dan pengalaman yang didapat dari lingkungan secara berkelompok. Dalam menjalani pembelajaran setiap orang memerlukan pemusatan perhatian agar yang dipelajari dapat dipahami, sehingga terjadilah perubahan perilaku. Belajar Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan (Hamalik Pemar: 2001). Berdasarkan pengertian di atas, makna belajar yaitu suatu proses kegiatan, tetapi bukan pencapaian target suatu tujuan. Target hasil dari belajar yaitu perubahan perilaku menjadi lebih dewasa dan memahami permasalahan yang ada. Perangkat lunak Open Souce Linux Perangkat lunak dalam komputer merupakan suatu bahasa pemrograman yang dibuat sehingga dapat berfungsi untuk menjalankan perangkat keras (hardware) komputer agar dapat berinteraksi dengan pengguna komputer. Open source merupakan kode dari perangkat lunak yang bersifat terbuka, dengan kata lain kode dari perangkat lunak tersebut boleh dibuka dan dimodifikasi oleh orang lain tanpa dikenai biaya lisensi. Salah satu software yang bersifat open source yaitu Linux. Linux merupakan software varian
111

dari Minix atau Unix yang dikembangkan pertama kali oleh seorang programer komputer dari Finlandia yaitu Linus Trovald pada tahun 1990. BAB III METODE PENELITIAN A. Seting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas X Teknik Informatika Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 2 Bogor, yang berlokasi di Jl. Pangeran Sogiri No. 404 Tanah Baru Ciluar Kota Bogor, telepon 0251 – 8652085. Jumlah siswa sebagai sampel 31 orang dengan latar belakang sosial ekonomi haterogen. B. Persiapan Penelitian Untuk memperlancar pelaksanaan Penelitian ini, telah dipersiapkan instrumen dan cara penilaian untuk pengolahan data. C. Siklus Penelitian Penelitian menggunakan 2 siklus yaitu : 1. Pendahuluan Mempersiapkan materi yang akan dijadikan bahan pembelajaran, yaitu : 1.1 Mata Pelajaran : Perangkat lunak Dasar 1.2 Standar Kompetensi : Menginstal perangkat lunak berbasis text 1.3 Kompetensi Dasar : 1.3.1 Mempersiapkan instalasi perangkat lunak berbasis text 1.3.2 Melaksanakan instalasi sesuai Installation Manual 1.3.3 Mengecek hasil instalasi dengan menjalankan sistem operasi dan melakakukan troubleshooting sederhana 1.4 Indikator :
112

1.4.1 Menggunakan paket instalasi yang legal 1.4.2 Proses sesuai Installation Manual 1.4.3 Hardware mendukung perangkat

lunak
2. Langkah Utama Proses kegiatan belajar mengajar pada awal semester pertama, telah disurvei dengan langkahlangkah sebagai berikut : 1. Guru menjelaskan bahwa perangkat lunak komputer tidak hanya Microsoft (Windows) seperti yang dikenal oleh siswa. 2. Guru meminta siswa menuliskan data lengkap dengan menambahkan keterampilan komputer yang pernah diterima pada waktu duduk di bangku SMP. 3. Guru menyimpulkan sementara, pada dasarnya semua siswa telah mengenal komputer dengan baik. 3. Langkah Penutup Setiap selesai memberikan materi pelajaran dalam kegiatan belajar, Guru selalu menyimpulkan tentang materi perangkat lunak open source yang disampaikan, beserta tujuan dari proses pembelajarannya. D. Pembentukan Instrumen Untuk mendapatkan data yang akurat dan valid dari seluruh siswa sebagai sampel, Guru mempersiapkan intrumen berupa lembar angket/kuisioner dengan beberapa pertanyaan (14 pertanyaan berisikan tentang perangkat lunak open source secara umum dan satu pertanyaan khusus tentang perangkat lunak open source yang telah dikuasai oleh siswa). Lembar kuisioner/angket terlampir. E. Analisa Data Refleksi Proses pengambilan data dilakukan pada semester kedua, karena data yang diharapkan dapat dievaluasi sampai sejauh mana siswa menguasai tentang perangkat
113

lunak open source Linux. Kuisioner dibagikan kepada siswa pada tanggal 25 Pebruari 2008. Pemaparan data hasil analisis dapat dibahas pada Bab selanjutnya.

BAB IV PEMAPARAN DAN ANALISA DATA

A. Analisa Data Proses pengolahan data kuisioner Penelitian dengan judul “Membangkitkan minat belajar siswa terhadap perangkat lunak Open Source Linux” dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Analisis No Pertanyaan kuisioner Sebagai Siswa, negara Indonesia mendapat predikat sebagai pembajak software Dengan perangkat lunak open source, Indonesia dapat terbebas dari predikat pembajak software ilegal Linux wajib dikuasai siswa Teknik Informatika SMK Negeri 2 Bogor Perangkat lunak Linux di jurusan TI SMK Negeri 2 Bogor sudah bagus penyampaiannya Siswa SMK Negeri 2 Bogor akan membentuk forum komunitas Linux Teknik Informatika SMK Negeri 2 Bogor mempunyai misi Go Open Source Kata orang Linux sangat susah dipelajari Lebih senang menggunakan software illegal kerena mudah S S S TS R R Jumlah angket Prosentase tertinggi 35%

1

10

11

7

3

31

2

7

22

1

1

31

71%

3

11

15

0

5

31

48%

4

4

13

1

13

31

42%

5

11

11

1

7

31

35% 58% 52% 52%

6 7 8

10 1 4

18 11 16

0 3 7

3 16 4

31 31 31

114

9

10

11

12

13 14 No 15

Saya akan berusaha mempelajari Linux dengan serius Linux dapat menjadi kompetensi utama setiap siswa jurusan Teknik Informatika SMK Negeri 2 Bogor Komputer saya menggunakan system operasi ilegal, supaya tidak membajak, akan saya install open source Linux Linux sangat mudah dan menyenangkan, karena dapat membangkitkan rasa penasaran Kalau Linux menyulitkan, saya mencari tahu di forum Linux Kalau Linux menyulitkan akan saya tinggalkan Pertanyaan kuisioner

10

16

0

5

31

52%

5

7

0

19

31

61%

1

15

0

15

31

48%

7

14

2

8

31

45%

6 0 30 % 24

20 1 40 % 6

0 18 70 % 1

5 12 80 % 0

31 31 Jumlah angket 31

65% 58% Prosentase tertinggi 77%

Perangkat lunak Linux yang saya kuasai saat ini Keterangan : ( Kuisioner nomor 15 jawaban khusus ) SS = Sangat Setuju S = Setuju TS = Tidak Setuju RR = Ragu – ragu

Perhitungan Prosentase Tertinggi (PPT) . PPT = (skor jawaban terbanyak) / (jumlah total angket) X 100%

Kesimpulan dari Penelitian ini diambil dari data tabel hasil pemaparan Perhitungan Prosentase Tertinggi (PPT). Untuk kuisioner nomor 1 sampai dengan 14, jawaban Sangat Setuju dan Setuju digabungkan, dengan alasan jawaban tersebut masih mempunyai persamaan. Sedangkan kuisioner nomor 15, untuk mendeteksi kemampuan siswa terhadap materi pelajaran tentang perangkat lunak open source Linux yang sudah diajarkan selama kurun waktu satu semester, sejak akhir bulan Juli 2007 sampai dengan proses pengambilan data kuisioner pada tanggal 25 Pebruari 2008.
115

Piramid Tabel Hasil Pengolahan Data Keterangan : a. Siswa setuju, Linux sudah bagus cara penyajiannya = 42% b Siswa setuju, SMK Negeri 2 Bogor membentuk forum Linux = 35% c Siswa setuju. Indonesia sebagai Negara pembajak software = 35%

116

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Hasil pemaparan analisis data angket kuisioner Penelitian ini, dapat disimpulkan : 1. Masyarakat Indonesia pada umumnya dan siswa SMK Negeri 2 Bogor kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan pada khususnya, masih mempunyai keinginan menjadi pembajak software, dan mempunyai karakter ingin dimudahkan karena malas untuk memulai sesuatu hal yang baru apabila merasa dipersulit. 2. Sebagian besar siswa Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 2 Bogor menginginkan menggunakan software yang legal, karena ada tantangan untuk mempelajari sesuatu yang baru. 3. Untuk dapat menguasai perangkat lunak Linux lebih mendalam, siswa Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 2 Bogor pada khususnya dan masyarakat pada umumnya memerlukan bimbingan. Saran Untuk menindaklanjuti hasil Penelitian ini, beberapa saran yang membangun dapat dituliskan, yaitu : 1. Pengenalan software yang legal sebaiknya dilakukan sejak dini oleh pihak pemerintah, dan memberikan solusi kemudahan dalam mengoperasikan sehingga generasi muda dapat secepatnya menggunakan produk software legal di berbagai bidang. 2. Diharapkan pihak pemerintah dapat memfasilitasi penggunaan software komputer yang legal untuk sekolah dari tingkat dasar sampai tingkat menengah. 3. Karena adanya minat siswa Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 2 Bogor untuk menguasai Linux, fasilitas praktek sebaiknya menggunakan software open source, dan siswa dipermudah dalam menggunakan komputer berbasis open source untuk latihan.

B.

117

DAFTAR PUSTAKA 1. Wiriatmaja, Rochiati. Metode Penelitian Tindakan Kelas 2. Depdiknas. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. Pendekatan Konstektual. 2002 3. Supeno, Bambang. Statistik Terapan Dalam Penelitian Ilmu Sosial dan Pendidikan. 4. KTSP, Teknik Komputer dan Jaringan, Jakarta. Depdiknas.

118

PEMERINTAH KOTA BOGOR DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN ( SMK ) NEGERI 2 BOGOR BIDANG STUDI KEAHLIAN TEKNOLOGI DAN REKAYASA BIDANG STUDI KEAHLIAN INFORMASI DAN KOMUNIKASI Jl. Pangeran Sogiri No. 404 Tanah Baru Ciluar Bogor Utara Telepon (0251) 8652085 SURAT KETERANGAN Nomor : / - SMKN.2 / 2009 Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Bogor, dengan ini menerangkan bahwa : Nama Tempat/ Tgl. Lahir NIP Pangkat/ Golongan Jabatan Judul Penelitian Alamat kantor Alamat rumah : : : : : : Drs. Haryono, S.ST. Yogyakarta, 03 Nopember 1967 19671103 199402 1 002 Pembina / IVa Guru SMK Negeri 2 Bogor MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP PERANGKAT LUNAK OPEN SOURCE LINUX : Jl. Pangeran Sogiri No. 404 Tanah Baru Ciluar Bogor 16154, Telepon 0251 - 8652085 : Gg. Aut Komplek STM PGRI No. 10 Rt 1 / 5 Bogor 16123 Telepon (0251) 8374420 / 08159908225

Nama tersebut di atas adalah benar guru sekolah kami, dan yang bersangkutan telah melaksanakan MINAT penelitian dengan judul: "MEMBANGKITKAN 25 Pebruari 2008 Penelitian dengan judul tersebut di atas akan diikutsertakan dalam lomba penulisan tentang open source (www.lomba-oss.com). BELAJAR SISWA TERHADAP

PERANGKAT LUNAK OPEN SOURCE LINUX" pada Juli 2007 s/d

119

Demikianlah surat keterangan ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya Bogor, 9 Juni 2009 Kepala Sekolah

Drs. Uus Sukmara. NIP. 19620424 199103 1 007

120

KUISIONER / ANGKET PENELITIAN PERANGKAT LUNAK DASAR
1.

Sebagai siswa, negara Indonesia mendapat predikat pembajak Software a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu Dengan perangkat lunak open source, Indonesia dapat terbebas dari predikat pembajak Software illegal a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu Linux wajib dikuasai siswa Teknik Informatika SMK Negeri 2 Bogor a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu Perangkat lunak Linux di jurusan TI SMK Negeri 2 Bogor sudah bagus penyampaiannya a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu Siswa SMK Negeri 2 Bogor akan membentuk forum komunitas Linux a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu Teknik Informatika SMK Negeri 2 Bogor mempunyai misi Go Open Source a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu Kata orang Linux sangat susah dipelajari a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu Lebih senang menggunakan software illegal karena mudah Saya akan berusaha mempelajari Linux dengan serius a. Sangat setuju b. Setuju
121

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8. 9.

c. Tidak setuju

d. ragu-ragu

10. Linux dapat menjadi kompetensi utama setiap siswa jurusan

Teknik Informatika SMK Negeri 2 Bogor a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu
11. Komputer saya menggunakan perangkat lunak illegal,

supaya tidak membajak, akan segera saya install open source Linux a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu
12. Linux sangat mudah dan menyenangkan, karena dapat

membangkitkan rasa penasaran a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. ragu-ragu
13. Kalau Linux menyulitkan, saya mencari tahu di forum Linux

a. Sangat setuju c. Tidak setuju a. Sangat setuju c. Tidak setuju a.30% c.70%

b. Setuju d. ragu-ragu b. Setuju d. ragu-ragu b.40% d.80 ** BIODATA

14. Kalau Linux menyulitkan akan saya tinggalkan

15. Perangkat lunak Linux yang saya kuasai saat ini

Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan
122

: Drs. Haryono, S.ST : Yogyakarta, 03 Nopember 1967 : Laki-laki : Gg. Aut Komplek STM PGRI No.10 RT.1/5 Bogor 16123 :: Guru SMK Negeri 2 Bogor - Pembina / IVa

Membangun OSS Berbasis Organisasi Sosial Oleh: Yuniawan Heru Santoso ABSTRAK
Tulisan ini menjelaskan tentang pendekatan yang perlu dilakukan untuk memasyarakatkan penggunaan piranti lunak berbasis Open Source (OS). Disebutkan bahwa model sosialisasi OS dengan penetrasi sangat diperlukan. Karena manusia merupakan mahluk berkeTuhanan, maka pendekatan ataupun sosialisasi yang dilakukan hendaknya memanfaatkan keberadaan organisasi sosial kemasyarakatan, Hal ini menjadi penting karena institusi tersebut dipandang cukup memiliki basis kepemimpinan, pengaruh, pengetahuan, ketrampilan, kedudukan dan kewibawaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam tulisan ini juga dikemukakan tentang strategi fungsional dan kompetitif agar penggunaan OS dapat mengantar Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang mandiri.

1. Pengantar Dewasa ini, keberadaan Open Source Software (OSS) tak lagi terapung sebagai barang baru bagi telinga rakyat Indonesia. Donasi OSS di Indonesia, terasa cukup mewarnai dengan diakuinya open source pada aksi pemecahan empat rekor MURI beberapa waktu lalu. Penetrasi OSS pun, mampu untuk mengundang Bill Gates untuk sowan ke Indonesia. Dalam hal ini, Indonesia dipandang tengah memiliki peran penting bagi masa depan pasar komputer dunia. Selain memiliki jumlah penduduk yang terus meroket, Indonesia juga dikenal sebagai salah satu di antara empat negara pembajak terbesar di dunia. Menurut data yang diterbitkan oleh Business Software Alliance, pada tahun 2003 tingkat pembajakan software di Indonesia mencapai 88 % dengan kerugian potensial sekitar US $157 juta. Namun demikian, masa depan OSS terdengar masih diragukan oleh beberapa pengguna operating system di Indonesia. Beberapa user non praktisi (orang awam), diketahui masih enggan untuk mencoba keandalan milik OSS. Di sisi lain, beberapa input dan kritik membangun juga terus disumbangkan bagi percepatan OSS di
123

Indonesia. Pada kesempatan ini, saya ingin mencoba memberikan masukan dari batu pijakan yang lain. Menurut Bales dan Homans (1999), pada hakekatnya manusia memiliki sifat sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk berkeTuhanan. Dalam hal ini, saya mencoba menghubungkan model sosialisasi atau penetrasi terhadap keberhasilan OSS di Indonesia. Menurut saya, model pendekatan yang tepat akan mampu menyampaikan pesan yang sesuai dengan keterandalan yang dimiliki oleh OSS bagi rakyat Indonesia. Selama ini, masyarakat seakan terkena mouth of marketing atas keberadaan OSS di sekitarnya. Stigma yang terlanjur tumbuh, mengesankan OSS sebagai software yang kurang familiar bagi para user. Padahal, OSS beberapa kali telah terbukti mampu untuk membuat inovasi tiada henti, hingga didukung oleh beberapa korporasi besar di tingkat internasional. 2. Pembahasan 2.1. Pendekatan Solutif bagi OSS Gejala kejiwaaan yang muncul dalam masyarakat timbul antar anggota-anggota kelompok pengguna teknologi komputer. Hal tersebut membawa relasi kesadaran untuk saling aksi, saling mengakui, saling mengamati, dan memberikan reaksi terhadap kedatangan sebuah perangkat teknologi. Pada hakekatnya, teknologi informasi digunakan oleh manusia dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karenanya, diperlukan asumsi-asumsi sekitar manusia sehubungan dengan kapasitasnya. Sebagian dari asumsi yang diperoleh, sering dianggap tidak penting, namun terkadang hal ini justru mampu menyampaikan pemikiran-pemikiran dari manusia. Guna bertahan hidup, manusia bersandar pada kapasitas intelektual mereka. Manusia memiliki kapasitas untuk mengembangkan dan menggunakan tools guna merubah lingkungannya, sesuai dengan keperluan dan harapan manusia. Teknologi bertindak untuk melanjutkan dan memperluas jangkauan manusia hingga mampu mewakili aktivitas-aktivitasnya. Pemahaman sosial tersebut membawa kita kepada kondisi dasar kehidupan manusia yang menggunakan interaksi sosial. Menurut Foster dan Franz (dalam Vlosky, 2002), para user memiliki persepsi-persepsi yang berbeda. Oleh karena itu, peran serta dan
124

kemauan agen OSS dalam menggandeng user, diharapkan dapat merangkum pandangan mereka kepada hal positif yang berdampak pada kepuasan user terhadap suatu produk OSS. Sementara dalam analisa interaksi sosial, kita mengenal pemberian dan permintaan informasi. Kondisi demikian juga akan membentuk sistem komunikasi sosial yang sanggup menciptakan perubahan kebudayaan. Perubahan yang dimaksud, diharapkan akan berbentuk apresiasi positif atas nilai-nilai yang dimiliki masyarakat, terhadap keberadaan OSS di Indonesia. Pendekatan solutif yang dimaksud, disodorkan melalui perilaku formil organisasi sosial kemasyarakatan. Organisasi tersebut ditengarai telah mampu mewarnai keseharian masyarakat Indonesia. Melalui organisasi sosial kemasyarakat, gerakan OSS diharapkan mampu hinggap pada interaksi sosial yang mampu mempengaruhi individu secara efektif. Hal ini sejalan dengan filosofi pengembangan OSS dengan mengedepankan individu yang cerdas dan memiliki visi terbuka. Sebuah relasi yang diperkuat melalui konstruksi efektif atas sukarelawan yang memiliki ketertarikan yang sama. Berpijak pada pendapat Gabriel Terde (1999) tentang the law of descent pada interaksi sosial, menyebutkan bahwa suatu golongan yang atas akan menjadi obyek peniruan dari golongan yang ada di bawahnya. Sehubungan dengan itu, saya berpendapat bahwa organisasi sosial keagamaan merupakan pintu yang paling efektif bagi usaha pengembangan OSS di Indonesia. Dalam hal ini organisasi sosial keagamaan dipandang cukup memiliki basis kepemimpinan, pengaruh, pengetahuan, keterampilan, kedudukan, dan kewibawaan di tengah masyarakat Indonesia. Sistem komunikasi OSS yang disalurkan melalui organisasi sosial keagamaan diharapkan mampu memberikan orientasi ketaatan (ideologi), kognitif dan simbolik yang bersumber kepada pengetahuan, teknologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, atau pun beberapa hal berbau kontemporer yang lain. Menurut saya, organisasi sosial keagamaan dapat digunakan oleh gerakan OSS di Indonesia untuk memberikan dominasi, kontrol dan layanan terhadap pengguna komputer. Organisasi sosial keagamaan akan mampu berperan menjadi institusi mediasi antara produk OSS dengan pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang teknologi informasi. Beberapa contoh keberhasilan organisasi sosial keagamaan dalam perubahan sosial, dapat dengan mudah untuk kita tilik dalam sejarah. Kita mengetahui, betapa ideologi Kristen telah berhasil
125

digunakan oleh Kerajaan Roma untuk menundukkan suku-suku kecil di sekitarnya. Belum lagi relasi antara revolusi industri di Eropa dengan etika Protestan. Sementara di Indonesia, komunikasi yang disampaikan oleh seorang Kyai misalnya, akan terkesan lebih efektif, ketimbang paparan OSS yang disampaikan tengah oleh seorang pakar teletematika di hadapan para santri. 2.2. Organisasi Sosial Keagamaan sebagai agen OSS Menurut Harold Adams (2003), teknologi komunikasi merupakan inti dari teknologi. Dalam hal ini, komunikasi merupakan sarana bagi interaksi sosial. Komunikasi yang dilakukan oleh sebuah organisasi sosial keagamaan, ditengarai mampu untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi tentang OSS kepada masyarakat luas. Organisasi sosial keagamaan sebagai institusi dan sebagai bagian dari sistem komunikasi pengembangan OSS di Indonesia, akan memiliki kekuatan yang sangat besar. Organisasi sosial keagamaan yang dimaksud, diharapkan dapat menyebarkan beberapa pesan efektif kepada user yang tersebar di pelbagai pelosok Indonesia. Sehubungan dengan tampilnya organisasi sosial keagamaan sebagai agen OSS di Indonesia, saya mengusulkan beberapa strategi seperti berikut. 2.2.1 Strategi Fungsional Merupakan usaha untuk memperkuat sumber-sumber yang berada dalam organisasi sosial keagamaan sebagai agen OSS di Indonesia. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain : 1. Menggalang koordinasi antara pemerintah dengan organisasi sosial keagamaan, dengan mengundang perwakilan mereka pada pelbagai kegiatan sosialisasi atau seminar tentang gerakan anti pembajakan ataupun pengetahuan tentang kelebihan dan keterandalan OSS. 2. Memberikan pelatihan komputer berbasis OSS terhadap para guru atau instruktur yang ditunjuk oleh pimpinan organisasi sosial keagamaan. 3. Bekerjasama dengan Perguran Tinggi terdekat, mendirikan help desk OSS bagi organisasi sosial keagamaan, berikut lembaga atau yayasan yang berada di bawahnya. 4. Memperbanyak membangun program sinergi, memadukan antara visi OSS dengan gerakan moral keagamaan, kepemudaan, pendidikan dan nasionalisme.
126

5. Meningkatkan program beasiswa keterampilan khusus OSS, bagi siswa yayasan/lembaga yang berada di bawah naungan organisasi sosial keagamaan 2.2.2. Strategi Kompetitif Aktivitas untuk mengkombinasikan kompetensi internal organisasi sosial keagamaan guna memberdayakan keberadaan OSS di Indonesia. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain : 1. Mempermudah akses perolehan dan pemanfaatan OSS bagi para anggota/partisan organisasi sosial keagamaan. Jika diperlukan, diberi pendampingan oleh Perguruan Tinggi terdekat. 2. Membangun produk OSS yang mampu menyelesaikan beberapa masalah internal organisasi sosial keagamaan secara langsung dan aplikatif. Diharapkan, hal ini seakan turut memperkuat opini bahwa OSS lebih memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan masalah, ketimbang closed source. 3. Memberi peluang bagi anggota/partisan organisasi sosial keagamaan untuk turut bergabung pada suatu proyek pengembangan OSS tertentu. 4. Memberi bagi hasil keuntungan pada setiap penjualan OSS tertentu, dan atau kegiatan/kerjasama lain yang dapat menghasilkan profit. 5. Mengoptimalkan keberadaan koperasi pada organisasi sosial keagamaan, berikut yayasan/lembaga yang berada di bawahnya 2.2.3. Strategi Keberlangsungan Merupakan usaha untuk mengontrol, menjaga kepastian, serta hubungan baik yang mendukung keberlangsungan OSS. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain : 1. Melakukan beberapa komunikasi persuasif secara regular terhadap para tokoh agama, dan meminta bantuannya untuk mendukung keberlangsungan gerakan OSS di Indonesia. Setidaknya turut menjelaskan bahwa kehadiran OOS bisa membawa kemaslahatan bersama, menjaga keberlangsungan bangsa, meningkatkan daya saing, sekaligus menawarkan cheap communications and technologies. 2. Mengundang para tokoh agama dan menyisipkan materi khusus yang sesuai, terkait dengan setiap kegiatan seminar/ workhsop/ sosialsasi tentang OSS

127

3. Simpulan dan Penutup Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi sosial keagamaan akan dapat berperan sebagai agen OSS yang efektif. Seperti diketahui, organisasi sosial keagamaan diyakini telah memiliki potensi keunggulan yang mampu mendekatkan relasi antara user dengan OSS. Melalui strategi yang disampaikan, organisasi sosial keagamaan dapat menjalankan perannya sebagai pintu pembuka bagi kemajuan OSS di Indonesia. Organisasi social keagamaan akan berperan sebagai korporasi besar yang mampu mendampingi gerakan OSS di Indonesia, untuk bersama-sama menghantarkan rakyat Indonesia dalam kemandiriannya. 4. Referensi Morris, “Antropologi Agama : Kritik Teori-Teori Agama Kontemporer”, AK Group, Yogyakarta, 2003. Nurhasanah, Wisnu, "Teori Organisasi : Struktur dan Desain", UMM Press, Malang, 2005 Peterson, Rivers, “Media Massa dan Masyarakat Modern”, Prenada Media, Jakarta, 2003 Santosa, “Dinamika Kelompok”, Bumi Aksara, Jakarta, 1999 Santoso YH, “Membangun Corporate Culture yang Adaptif bagi Pengembangan TI : Suatu Pendekatan Antropologi , Universitas Airlangga, Surabaya, 2008. ** BIODATA Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Yuniawan Heru Santoso :: Laki – laki :: yuniawan@unair.ac.id :-

128

MENGAKSELERASI DAYA SAING BANGSA DAN MEMASYARAKATKAN OPEN SOURCE SOFTWARE MELALUI KOMPETISI Oleh: Ririn Handayani ABSTRAK
Keluarnya Indonesia dari priority watch list country (daftar negara yang prioritas diamati) ke kelompok watch list country (daftar negara yang diamati) untuk pembajakan karya cipta intelektual merupakan sebuah prestasi yang luar biasa dan patut disyukuri. Pencapaian prestasi di atas tidak terlepas dari keberadaan Program IGOS atau (Indonesia, Go Open Source!). Dimana Salah satu tujuan Utama Program tersebut adalah Mengurangi penggunaan perangkat lunak bajakan/ilegal, yang merupakan bagian dalam proses penegakan hukum di bidang HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).Meski cukup menggembirakan, prestasi ini masih jauh tertinggal dibanding dengan negara lain di dunia. Karya tulis ini menjelaskan bahwa program IGOS perlu diakselerasi di berbagai kegiatan mengingat besarnya manfaat yang akan diperoleh. Meski masih terdapat sejumlah Kendala yang menghambat optimalisasi penggunaan OSS diseluruh lapisan masyarakat seperti: kurangnya pemahaman masyarakat tentang open source, kemudahan dalam memperoleh perangkat lunak bajakan, sulitnya memperoleh perangkat lunak open source, masih minimnya penggunaan OSS di dunia pendidikan dan lembaga litbang, serta kurangnya dukungan pemerintah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memasyarakatkan OSS adalah melalui berbagai ajang kompetisi.dan pemberian apresiasi atas penggunaan dan pemanfaatan OSS.

Keluarnya Indonesia dari `priority watch list country` (daftar negara yang prioritas dipantau) ke kelompok `watch list country` (daftar negara yang dipantau) untuk pembajakan karya cipta intelektual merupakan sebuah prestasi yang luar biasa dan patut disyukuri. Sebelumnya, sebagaimana pernah dilaporkan Business Software Alliance (BSA) dan dituangkan dalam global software piracy 2002, Indonesia merupakan negara dengan pembajakan peranti lunak terbesar ketiga yakni 89% setelah Vietnam (95%) dan China (92%). Hanya mengalami sedikit perbaikan pada tahun 2004 dengan menempati peringkat ke-5, yaitu sebesar 87%. Tingginya
129

tingkat pembajakan ini menjadikan Indonesia diusulkan oleh International Intellectual Property Alliance (IIPA) kepada United State Trade of Representative (USTR) masuk dalam prioritas untuk diawasi (priority watch list). Usulan tersebut jelas akan memberi pengaruh negatif terhadap ekonomi bangsa karena negara yang termasuk dalam daftar tersebut akan kehilangan fasilitas Generalized System of Preference (GSP) yakni fasilitas khusus untuk negara berkembang berupa pembebasan tarif dalam pelaksanaan ekspor. Pencapaian prestasi di atas tidak terlepas dari Program IGOS atau Indonesian, Go Open Source! yang telah dimulai dan semakin semarak digalakkan di Indonesia sejak lima tahun terakhir. IGOS merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk mengedukasi, mensosialisasikan serta mempromosikan penggunaan open source software (OSS). Salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi pembajakan perangkat lunak komputer sebagai bagian dalam proses penegakan hukum di bidang HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) yang hasilnya sudah kita rasakan dalam bentuk penurunan dari `priority watch list country` ke kelompok `watch list country`. Meski cukup menggembirakan, prestasi ini masih jauh tertinggal dibandingkan banyak negara yang telah merasakan banyak manfaat dari OSS di berbagai bidang kehidupan. Karenanya, IGOS ke depan perlu semakin diakselerasi mengingat besarnya manfaat yang akan kita dapat. Beberapa manfaat besar pemanfaatan OSS lainnya antara lain : pertama, memperkecil kesenjangan teknologi informasi antara Indonesia dengan negara maju melalui pengembangan software; melalui bidang ini kita memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan dan mensejajarkan diri dengan negara-negara hightech. Kedua, mempercepat, mengembangkan, menciptakan, menarik program-program pemerintah bidang teknologi informasi skala nasional yang mempunyai dampak politis (percepatan program e-government), ekonomi (penghematan devisa negara dalam pengadaan lisensi, stimulasi pengembangan UKMK bidang TI), sosial (peningkatan pengguna komputer, pelatihan, dan peningkatan akses informasi), pendidikan (iptek, e-learning; e-library), dan hankamnas (pertukaran informasi/trafficking lebih terlindungi). Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis open source secara optimal juga akan memberi peluang untuk meningkatkan daya saing sekaligus mewujudkan kemandirian bangsa khususnya di bidang software.
130

Kompetisi sebagai Akselerasi Terdapat sejumlah kendala dan masalah di lapangan yang menghambat optimalisasi penggunaan OSS secara luas di masyarakat. Di antaranya : kurangnya pengetahuan masyarakat tentang open source, kemudahan masyarakat dalam memperoleh perangkat lunak bajakan, sulitnya memperoleh perangkat lunak open source, masih minimnya penggunaan OSS oleh dunia pendidikan dan lembaga litbang, dan kurangnya dukungan pemerintah. Salah satu cara yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendorong daya saing bangsa dan lebih memasyarakatkan OSS adalah melalui ajang kompetisi. Ada beberapa pemikiran, realita dan manfaat dari kompetisi sebagai sarana untuk mengakselerasi IGOS. Pertama, kita memiliki potensi dan SDM handal dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah teruji dan terbukti di berbagai event internasional seperti olimpiade. Pembinaan yang tepat dan sarana yang kondusif tentu akan lebih banyak memunculkan SDM yang tak kalah mumpuni termasuk di bidang Open Source Software (OSS). Potensi yang masih terpendam tersebut perlu didukung, dimotivasi dan difasilitasi agar lebih teraktualisasi dan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan dan kemandirian bangsa di kemudian hari. Tentunya diperlukan imbal prestasi yang layak sebagai bentuk apresiasi. Sebagai contoh, Microsoft menyediakan hadiah senilai Rp 1 milyar dalam lomba software mereka. Pemerintah kita mungkin belum mampu menyediakan hadiah sebesar itu namun pemerintah khususnya dalam hal ini Menristek sebagai tangan kanan pemerintah dalam bidang OSS, harus berusaha maksimal. Keterbatasan anggaran dapat disiasati dengan menggandeng banyak partner sebagai sponsor. Hadiahnya dapat berupa beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa. Dalam hal ini Menristek dapat bekerja sama dengan perusahaan/pihak swasta atau langsung dengan perguruan tinggi yang bersangkutan. ITB atau ITS misalnya, untuk memberikan beasiswa pendidikan bagi para pemenang. Atau bisa pula dalam bentuk pekerjaan baik tetap atau sementara (magang), di lembaga pemerintah atau swasta terkait. Kalau perlu diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Negara tentu tidak akan rugi mempekerjakan SDM-SDM yang terbukti kompeten dan berdedikasi tinggi di bidangnya masing-masing. Semakin besar apresiasi yang diberikan, tentu akan semakin memotivasi masyarakat yang kompeten di bidang software untuk mempersembahkan karya terbaik mereka. Sebaliknya, jika pemerintah tidak mengakomodir
131

potensi, kreativitas dan inovasi di bidang software anak negeri dengan baik, bisa saja para programmer handal di negeri ini lebih suka “menjualnya” ke pihak atau negara lain yang lebih menghargai karya mereka. Kedua, semangat berkompetisi di era global yang sangat kompetitif seperti sekarang, mutlak diperlukan untuk membangun daya saing bangsa. Sumber daya alam kita yang berlimpah tidak akan terolah optimal dan memberi banyak manfaat jika SDM kita tidak punya semangat berkompetisi dengan negara lain untuk menjadi lebih baik dan mandiri. Lihat saja Jepang, Korea dan India. Mereka berlomba-lomba menghasilkan berbagai produk inovatif dan kompetitif untuk menjadi yang terbaik. Semangat berkompetisi telah mengantarkan mereka sebagai ”pemenang” di banyak bidang dan ”raja” di pasar internasional. Karenanya, semangat berkompetisi perlu dibudayakan dan terus dikembangkan terutama di kalangan generasi muda Indonesia, karena mereka punya potensi. Semangat ini, jika terus dipupuk dan dikembangkan secara benar dengan dukungan yang optimal, dapat mengikis secara perlahan mentalitas bajakan yang sudah mendarah daging dalam kultur masyarakat kita. Bukan tidak mungkin, kitapun akan menjadi negara produsen utama yang mungkin salah satunya di bidang open source. Bukan lagi negara penjiplak terbesar di dunia. Masyarakat juga perlu dimotivasi untuk mau menggunakan OSS. Apalah artinya teknologi berbasis open source canggih dan berkualitas jika masyarakat sebagai pengguna utama merasa enggan, tidak mengenal dan atau merasa sulit untuk menggunakannya. Sekian lama dimanjakan oleh software bajakan yang mudah didapat, tentu akan membuat proses transisi dari software bajakan ke OSS memerlukan waktu yang lama dan usaha ekstra. Dalam hal ini, kompetisi dapat pula menjadi salah satu sarana untuk mengakselerasi. Kompetisi bagi masyarakat dapat berupa reward atau award (penghargaan) bagi mereka yang paling concern menggunakan OSS. Ajang ini dapat menjadi sarana untuk menggugah semangat, kepedulian dan partisipasi masyarakat untuk menghargai dan bangga menggunakan produk OSS negeri sendiri. Program ini dapat dimulai dari instansi pemerintah di semua departemen dari pusat hingga daerah sebagai pilot project. Dan atau dunia pendidikan yang kemudian berlanjut ke lembaga swasta dan dunia usaha hingga ke kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM). Perlu kerja sama dan dukungan semua pihak agar cita-cita lebih memasyarakatkan OSS
132

ke semua segmen dan komponen masyarakat dan negara dalam rangka membangun daya saing dan kemandirian bangsa dapat terlaksana dengan baik. Saatnya membuktikan Indonesia juga bisa! ** BIODATA Nama Tempat Tgl.Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Ririn Handayani : Jember, 20 Juni 1979 : Perempuan : Perum Taman Gading Blok AD 3 Jember :: Akta Mengajar Universitas Muhammadiyah Jember

133

134

MENINGKATKAN KEPEDULIAN MASYARAKAT UNTUK PENGGUNAAN OPEN SOURCE Oleh: Imdul Fatah Umasugi ABSTRAK
Penyusunan karya tulis ini, dilakukan dengan mengadakan observasi penggunaan Open source (OSS) selama 3 hari di warnet dikota Ambon. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa OSS sangat bermanfaat, Piranti Lunak dengan kode terbuka ini, dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan pengguna. Kehadiran OSS memberikan peluang baru dalam berinovasi didunia IT, Tulisan ini memberikan jawaban mengapa OSS belum banyak digunakan meskipun banyak keuntungan yang diperoleh.Selain itu penulis mengajak masyarakat untuk mulai menggunakan OSS, dengan demikian anak bangsa dapat berperan aktif dan sekaligus menimbulkan sikap mandiri, dan tumbuhnya rasa percaya diri serta bangga akan produk dalam negeri. Kurangnya informasi atau sosialisasi tentang OSS merupakan salah satu penyebab terhambatnya penggunaan OSS di masyarakat. Sosialisasi ke sekolah-sekolah merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan agar siswa yang memiliki keingintahuan terhadap OSS dapat terakomodir dan selajutnya dapat berinovasi dengan peranti tersebut. Dan selanjutnya menarik minat siswa untuk mengembangkan dan menjadi programer profesional yang handal, khususnya Bidang OSS dimasa yang akan datang.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Open source ( kode sumber terbuka) Apa itu (OSS)? istilah OSS mengacu kepada perangkat lunak (software) komputer yang kode sumber (source) pembuat perangkat lunak tersebut tersedia bebas di Internet dan diserta dengan lisensi GPL\ gratis. Contoh software tergolong OSS ini adalah FreeBSD, Unix, dan Linux. Linux adalah salah satu OSS yang cukup dikenal banyak saat ini sampai ke seluruh dunia melalui berbagai distro, seperti distro UBUNTU, Fedora, dan lain-lain semua itu open source pemanfaatan (OSS) yang berarti kode sumber terbuka ini semakin hari semakin banyak dibuat dan semakin banyak digunakan karena kertejangkauannya di
135

berbagai software dan sangat mudah di dapat maka memberikan kontribusi baru dalam dunia IT. Linux sebagai self organization memberikan dampak yang besar bagi perkembangan software yang open source sekarang ini untuk mengajarkan kita menggunakan software yang open source. Open Source sendiri bertujuan menyediakan software yang mudah dijangkau oleh masyarakat luas, dan menghindari pengerukan keuntungan yang berlebihan oleh vendor. Open source yang berarti kode sumber terbuka dan bagi kalangan IT khususnya di Indonesia, dengan adanya software yang Open Source dapat mendukung dan mendorong semangat untuk mengembangkan program bagi tenaga – tenaga TI di Indonesia. Sebab dengan mempelajari kode program, dapat dianalisa dimana kelemahan program yang kita gunakan, apa sesungguhnya proses yang berlangsung dalam kerja program tersebut, dan sekaligus mencari solusi terhadap kelemahan program yang ditemui. Atau yang lebih bagus adalah memodifikasi program sedemikian rupa agar lebih ergonomis / pas digunakan sesuai dengan keperluan, dengan demikian kita diajak mandiri dan tidak tergantung pada vendor karena software yang open source didapat dengan mudah dan juga diberikan secara gratis dan software yang open source dapat di sesuaikan sesuai keperluan kita dengan mengandalkan logika kita sendiri.Seharusnya semangat open source harus tumbuh sejak sekarang karena dapat membuat kita berpikir mandiri dalam menyesuaikan software yang sesuai dengan keadaan yang kita mau, open source layak digunakan disekolah karena Kemudahan menggunakan perangkat lunak open source lebih cepat memberikan murid-muri pengetahuan IT bagaimana mereka bisa mengerti cara kerja dari sebuah program dan belajar untuk memodifikasinya sesuai kebutuhan murid di sekolah. Dalam perkembangan open source linux sangat berperan penting dalam perkembangan linux banyak memberikan software yang open source secara free \ gratis software yang open source dengan kemudahan dan dapat di ubah sesuai kebutuhan membuat orang banyak beralih memakai software buatan orang orang linux itu sendiri. Hanya yang peulis berpikir yang menjadi kendala di sini adalah kurangnya informasi tentang open source itu sendiri ke masayarakat luas memang sudah ada tapi hanya di tempat tertentu tidak mecakup semua dengan demikian open source akan semakin banyak yang mempergunakannya bila sosialisasi atau perkenalan open source itu sendiri di tingkatkan ke berbagai sekolah-sekolah
136

dan memang di sekolah – sekolah adalah adalah tempat yang bagus untuk diperkenalkan software yang open source karena open source lebih bagus dari software yang close source dan juga menumbuhkan semangat open source semangat menggunakan open source sebagai software yang melengkapi kehidupan dan keperluan kita dalam bidang IT tentunya dan mengikuti perkembangan open source kedepan. Dan pertanyaan yang muncul mengapa software yang open source seperti software dari linux tidak banyak digunakan padahal disini kita ketahui bahwa software yang open source di dapat dengan mudah, gratis, dan terjangkau, dan dapat ubah sesuai keperluan penggunya penulis dapat menjawab bahwa kurangnya suatu informasi tentang software yang open source itu sendiri masyarakat masih bingung apa itu linux dan bagaimana penggunaanya kata ini didapat dari orang orang yang penulis pantau dengan demikian kurang adanya suatu informasi memag sudah ada tapi hanya untuk orag tertentu seperti perusahaan dan tenaga-tenaga IT saja dan sekolah adalah tepat yang bagus untuk melestarian software yang open source karena memang siswa memerlukan software yang seperti ini yang mudah di jangkau oleh siswa. Dan perkembangan software open source memberikan dampak berarti untuk kita karena selain bersifat open source yang kode sumbernya terbuka juga bisa di dapat sebagian gratis dan mudah dijangkau dan mudah di mengerti oleh masyarakat luas maka marilah kita beralih ke karena banyak manfaatnya dan kita terlepas dari hal-hal yang tidak menguntungkan pengguna. B. Perumusan Masalah dan Hipotesis A. Masalah 1. Apakah mudah menggunakan open source khusus di masyarakat? 2. Apakah ada dampak negatif dari penggunaan software yang open source? 3. Apakah Software yang open source bermanfaat bagi masyarakat luas? 4. Bagaimana mendorong inovasi dan kreatifitas anak bangsa melalui open source tersebut ? 5. Mengapa software yang open source tidak banyak digunakan ? 6. Siapa sajakah yang dapat Menggunakan Open source tersebut?
137

7. Dimanakah kita bisa mendapatkan software yang open source ini ? B. Hipotesis 1. H=1 2. H=0 3. H=1 4. H=1 5. H=1 C. Tujuan 1. Untuk mengetahui apakah Software yang open source bermanfaat bagi masyaraka khususya di bidang pendidikan 2. Untuk mengetahui pemanfaatan open source dalam membantu kita untuk meyelesaikan masalah software yang mungkin belum cocok untuk kita 3. Untuk mengetahui dampak open source itu sendiri 4. Untuk mengetahui kemudahan meggunakan perangkat lunak open source 5. Untuk Mendorong inovasi dan kreatifitas anak bangsa khususnya di Indonesia 6. Untuk meningkatkan semangat open source 7. Untuk menjadikan software yang open source sebagai sarana pebelajaran C. Manfaat Hasil Penilitian 1. Data pemanfaatan open source dalam masalah perangkat lunak 2. Data kemudahan meggunakan perangkat lunak open source 3. Data untuk mendorong inovasi dan kreatifitas anak bangsa khususnya di Indonesia melalui perangkat lunak open source 4. Data perkembangan semangat menggunakan software yang open source 5. Data sarana open source sebagai media pebelajaran

138

BAB II TELAAH PUSTAKA A. karakteristik dan Perkembangan open source Linux sebagai self organization yang sangat berperan penting dalam perkembangan (OSS) memberikan dapak yang positif bagi mayarakat mengapa tidak software yang open source lebih bagus dari yang tidak open source atau yang close source karena dengan open source tersebut suatu software dapat kita ubah atau modifikasi sesuai kebutuhan pengguna dan lebih penting lagi kita tidak tergantung oleh penguasaan vendor pembuat dan penyedia software tersebut dengan demikian seseorang dapat memodif software yang ia pakai sesuai kebutuhannya tidak perlu mecari software yang lain lagi tetapi mengadalkan logikanya dia bisa membuat software tersebut sesuai kebutuhannya sendiri. Open source sendiri dengan melihat dari arti bahasa adalah kode sumber terbuka dengan demikian kita dapat melihat memodif atau sebagainya dari software itu sendiri dan sekarang banyak yang beralih ke software yang open source dengan buatan orang-orang linux sangat membantu setiap orang yang memakai software yang mereka buat perkembangan open source begitu cepat dengan di buatnya pengenalan ke berbagai perusahaan untuk meggunakan software yang open source karena sangat membantu pekerjaan meraka dan juga karena didapat dengan gratis menjadi suatu nilai tambah untuk software yang open source untuk di pakai bebas. Linux juga memberikan banyak softwarenya secara gratis bebas untuk di copy/di salin secara bebas dan sebagainya dimodif sesuai kebutuhan penggunanya sendiri dan kita sebagai pengguna hanya megandalkan logika untuk membuatnya sesuai kebutuan kita sendiri. Open source sangat mudah digunakan,di dapat dengan gratis dan di sesuaikan dengan kebutuhan. open source juga penulis perkirakan sangat bagus digunakan oleh kalangan pendidikan karena dengan open source tersebut mengajak siswa untuk mandiri, terampil dan sekarang ini dengan banyak warnet-warnet yang sudah beralih dengan menggunakan software dari linux tentunya software open source menjadi nilai tambah dan memperkenalkan open source dari linux ini dan hal ini juga efektif dengan banyak yang beralih ke linux open source sejalan dengan berkembang pesat di Indonesia banyak yang menggunakan open source ini sebagai bahan pembelajaran dan seharusnya di sekolah-sekolah di perkenalkan open source untuk
139

siswa karena banyak siswa yang tidak mengetahui apa itu open source apakah sulit menggunakannya, dengan demikian pengenalan open source di dunia pendidikan juga harus di mulai dari sekarang dengan begitu dunia pendidikan Indonesia semakin maju dan pemerintah jangan hanya mengatakan jangan beli bajakan ayo perangi bajakan tapi tidak mengetahui bagaimana langkahnya dan jalan keluarnya maka dari itu open source memberikan kebebasan untuk menyalin tanpa terikat hak cipta maka itu mari kita beralih ke . B. Open source sebagai sarana pembelajaran Dengan semakin banyak penggunaan open source di masyarakat sekarang ini maka secara langsung kita mengurangin pemakaian software yang bajakan software yang berlisensi dan juga secara tidak langsung menyadari pemakaian dari software yang tidak berlisensi dan masyarakat semakin dapat berpikir kreatif dan maju untuk mengembagkan software yang ia gunakan, dengan begitu masyaraat akan mempelajari segalanya dari software yang ia gunakan dia dapat berpikir bagaimana software tersebut di buat dia belajar bagaimana memodifikasinya dikatakan sebagai saranan pembeajaran karena open source memberikan kita pembelajran yang baru dan bermutu dengan kode sumber software yang terbuka seseorang dapat beajar keseluruhan dari software tersebut tanpa terkecuali siswa di sekolah itu bisa menjadi bahan pembelajaran yang baik dan bermutu untuk siswa-siswi khususnya di indonesia karena adalah software yang dapat dimodifikasi dan sebagainya sesuai kebutuhan hal ini membuat siswa dapat bealajar bagaimana memodifikasi sesuai kebutuhan dan seharusnnya sekolah-sekolah menggunakan software yang open source karena memang kita mengajarkan siswa agar tidak membajak dan bagaimana mungkin kita melarang untuk jangan membajak sedangkan di sekolah saja siswa di ajarkan dengan menggunakan software yang mungkin semua yang ada di dalam komputer tersebut tidak berlisensi sama saja kita mengajarkan siswa dengan software yang bajakan nanti pada akhirnya siswa akan mencari software yang tidak berlisensi maka di sekolah harus di perkenalkan dengan OSS dan dengan OSS ini siswa dapat belajar bagaimana software tersebut bekerja karena kode sumbernya terbuka dengan adanya kode somber yang terbuka membuat siswa dapat belajar menulis coding dan belajar keseluruhan dari tersebut ini sangat bagus dan berdampak baik untuk siswa mereka dapat megeksplorasikan bakat mereka dan
140

banyak siswa yang ingin menjadi programer yang handal ini adalah usia dimana siswa ingin sekali menjelajahi semua yang ada padaperangkat lunak dari komputer dan open source juga memberikan dampak dari siswa menuju masyarakat luas dan indonesia semakin maju dan tidak kalah saing dengan negaranegara lainnya. Open source sangat bagus bila di jadikan sarana pembelajaran OSS mencakup samua dari bagian perangkat lunak itu sendiri banyak pembelajaran yang di dapat secara langsung maupun tidak langsung itulah open source manfaatnya selain dari kebebasan yang sudah di tawarkan secara langsung dan tidak langsung sudah terdapat pembelajaran sendiri dari open source untuk kita semua open begitu bermanfaat banyak yang bisa kita buat dengan open source dan sangat bersahabat dengan masyarakat dan di sekolah masyarakat semuanya membutuhkan open source. BAB III PEMBAHASAN MASALAH A. Kemudahan Menggunakan Software Open source di Masyarakat Software yang open source khususnya dari linux tidak sulit di gunakan sebagaimana pradigma yang ada di masyarakat bahwa linux sangat sulit digunakan bahkan seorang tenaga IT pun tidak mengerti tentang linux/ open source itu sesungguhnya pradigma itu tidak benar software linux yang open source ini sangat mudah digunakan bahkan seorang yang baru belajar di dunia IT pun bisa menyesuaikan dirinya dengan linux ini karena tujuan linux sendiri tidak untuk mempersulit pengguna jadi pradigma itu tidak benar karena sekarang ini sudah banyak yang beralih ke software dari linux ini berarti bahwa open source sangat mudah di operasikan karena memang linux itu dibuat untuk tidak mempersulit dan banyak warnet yang menggunakan sebagai softwarenya di warnet dan open source tidak sesulit yang orang bayangkan dan sangat membantu kita dalam masalah software yang tidak cocok dengan kita dengan demikian Kemudahan menggunakan perangkat lunak open source ini begitu bagus sekarang ini kita lihat banyak orang yang beralih dari software yang close source karena mahal dan juga sulit didapat dan juga penggunaannya tidak jauh berbeda dengan software yang open source. Dengan menggunakan open source kita tidak harus berpikir
141

lagi software yang bajakan karena bersifat free untuk di salin dan kita tidak berpikir lagi biaya yang mahal untuk mendapatkannya karena di dapat juga dengan free karana OSS bersifat gratis diataranya juga di dapat a Kebebasan menjalankan program dan kebebasan belajar bagaimana program bekerja dengan demikan kita dapat menjalankannya kapan saja dan kita dapa belajar dan mengetahui bagaimana program tersebut bekerja. b Kebebasan menyalin atau membagi-bagikan salinan dari program kita tidak perlu khawatir dengan rajia besar-besaran yang di adakan karena OSS memberikan kebebasan menyalin sesuka hati. c Kebebasan meningkatkan program kebebasan ini anda dapat meningkatkan dari suatu program yang belum bagus dan tidak sesuai kebutuhan anda maka anda dapa memodifikasinya sesuai kebetuhan anda dengan mengandalkan logika anda sendiri dan mencakup luas anda dapat mempelajari dan mengadaptasinya sesuai kebutuhan anda dan tidak perlu anda yang harus beradaptasi dengan aplikasi, jadi open source sangat mudah di operasikan oleh seorang yang awam sekalipun karena memang fungsinya untuk memudahkan pengguna kepada sebuah software dan kita pengguna sangat di untungkan dan pradigma bahwa open source tidak sulit seperti orang perkirakan selama ini da ope source layak untuk di gunakan di masyarakat umum . B. Manfaat open source dan dampak bagi masyarakat Sangat bermafaat bagi masyarakat karena OSS di buat untuk membantu masyarakat luas dimana dengan adanya kode sumber yang terbukan kita dapat memodif software sesuai kebutuhan dan juga didapat dengan mudah dan gratis dengan demikan biarpun dalam keadaan krisis sekalipun kita dapat terlepas dari krisis dan dapat memodifikasi software sesuai kebutuhan kita dari pada software yang close source selain mahal juga tidak dapat di modifikasi sesuai kebutuan bayangkan jika keadan krisis tentu merugikan kita dan manfaat yang diberikan dalam masyarakat sangat banyak diantaranya : - Memberikan alternative perangkat lunak yang murah mudah didapat - Memberikan kebebasan dalam hal hak cipta
142

-

Meningkatkan pengetahuan kepada masyarakat tentang IT Meningkatkan kreatifitas anak bangsa dalam mengeksplorasikan bakat IT kreatifitas tidak di batai oleh software yang ada Melepasakan masyarakat dari pengaruh vendor yang mempunyai perangkat lunak yang mahal.

sangat bermanfaat di masyarakat namun open source ini tidak banyak digunakan karena banyak yang megatakan software seperti sis item operasi linux sangat sulit digunakan padahal hal itu sungguh keliru mengapa karena open source seperti linux di buat oleh berjuta juta ilmuan di dunia karena bersifat open source dan bahkan lebih mudah dari system operasi yang lain dan marilah kita sekarang menggunakan software yang open source dengan software open source dapat meningkatkan pengetahuan kepada masyarakat tentang IT dan di internet sekarang banyak software open source bisa di unduh dengan gratis dan juga dengan pernyataan di atas memberikan atenatif perangkat yang murah karena tinggal di unduh saja bahkan gratis. Open source bila di pakai sangat bermanfaat bagi masyarakat seperti memberikan kebebasan dalam hal hak cipta membuat masyarakat tau tentang dunia IT dan sekarang ini banyak yang di tangkap karena hak cipta tapi dengan open source hak cipta tidak ada bebas dalam menyalin dan sebagainya mengapa harus memakai yang tidak berlisensi dari software yang close source padahal open source memberikan segalanya. software yang tidak belisensi akan berdampak buruk bagi masyarakat selain di adakan rajia juga seperti di sekolah saja ada guru yang mengajarkan siswa dengan software yang tidak berlisensi padahal hal tersebut secara tidak langsung mengajarkan siswa untuk memakai yang tidak berlisensi kebiasaan ini akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan masalah dalam perilaku siswa dalam hal penggunaan perangkat lunak yang mereka pakai karena dengan kebiasaan memakai yang tidak berlisensi maka dalam benak mereka pun akan mencari perangkat lunak yang tidak berlisensi atau berlisensi tapi dengan cara murah atau gratis karena harganya sangat mahal dan juga sudah tertanam sejak dini dalam diri mereka hal tersebut dan begitu penting mencakup masyarakat umum sampai dunia pendidikan untuk apa mencari yang tidak berlisensi sedangkan ada yang di dapat dengan gratis dan bagus kwalitasnya.

143

C. Untuk Mendorong inovasi dan kreatifitas anak bangsa melalui open source Dengan melihat keunggulan dan manfaat dari open source berarti bahwa open source sangat berperan penting dalam kehidupan kita bila menyakut IT dan tidak bisa dipungkiri secara tidak langsung open source dapat mendorong kretifitas anak bangsa karena seseorang bila menggunakan maka dalam dirinya sudah tertanam software yang berlisensi berbeda dengan software yang free lisensinya dan tidak membajak dan juga melalui open source seseorang dapat mengembagkan ide-ide jeniusnya dari pikirannya sendiri kemudian di tuangkan ke dalam open source tersebut untuk memodifikasi software sedemikian sehingga sangat cocok untuk dirinya dan sangat membantunya dalam melaksanakan tugasnya dan dengan begitu bakat yang terpedam dalam diri mereka, mereka explorasikan untuk membuat software yag lebih bersahabat,praktis dan ekonomis dengan mengandalkan logika maka mereka dapat menciptakan software yang sangat bagus dan hemat biaya dan memang bila bakat yang bagus tidak boleh di simpan apalagi menyangkut IT bakat tersebut bisa dituangkan ke dalam open source tersebut dan dengan demikian secara tidak langsung open source mendorong inovasi kreatifitas anak bangsa. Apabila kita menggunakan open source kita membuatnya sesuai keinginan dan kebutuhan kita maka kita sendiri yang membuatnya,menulisnya dan memikirkan apa yang aru dikerjakan untuk memodifikasi software tersebut maka dengan demikian penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan terjadi beberapa aspek pendidikan disini dimana bila kita mempergunakan software yang open source diantaranya penulis pikirkan sendiri. 1. Mandiri : Menulis dan memikirkan bagaimana caraya mungkin juga dengan bantuan orang lain tapi hanya dalam hal sedikit ketidak mengertian tapi kita sendiri yang melakukannya menulis dan memikirkan jalan dari software tersebut. 2. Pembelajaran : Software tersebut bekerja maka itu adalah suatu pembelajaran yang sangat bagus kita bisa mengetahui cara kerja software tersebut dan pembelajaran yang baru.

144

3. Hemat : Sangat murah dan terjangkau bahkan oleh masyarakat yang kurang mampu karena sangat terjangkau harganya bahkan gratis dan di salin tanpa rasa khawatir . D. Mengapa Software Open Source Tidak Banyak di Gunakan Memberikan kita banyak keuntungan dan kebebasan diantaranya kebebasan menyalin sesuka hati, di dapat dengan udah dan gratis, dapat di modifikasi dan dibuat sesuai kebutuhan atau selera tapi yang menjadi pertanyaan sekarang mengapa tidak banyak digunakan padahal software yang open source ini banyak manfaatnya dengan masalah ini penulis mangambil keputusan untuk melakukan penilitian selama 3 hari dan penulis membuat sebuah pengamatan khusus untuk masalah ini A. Lokasi Pengamatan Mengingat waktu penulis memilih lokasi di 2 buah warnet di sekitar rumah penulis satu memakai OS linux dan yang satunya bukan dari kalangan open source dan penulis meniliti mengenai open source LINUX karena disini terjangkau B. Waktu Pengamatan Observasi open source (linux) selama 3 hari (tgl 30 juni 2009 s/d 2 juli 2009) C. Pengamatan Penggunaan Open Source Penilitian penggunaan tidak banyak digunakan di kalangan masyarakat mengapa hal ini bisa terjadi sedangan manfaatnya sangat banyak dari pada software yang close mengapa demikian. D. Kesimpulan Dengan telah melakukan penilitian penulis dapat simpulkan bahwa penggunaan tidak jauh berbeda dengan Close Source Software bahkan open source memberikan banyak keuntungan di bandingkan close source dan jawaban dari pertanyaan mengapa dalam hal linux tidak banyak digunakan di masyarakat dan jawabannya karena kurangnya informasi dan sosialisasi tentang open source dalam hal linux
145

itu sendiri karena dari pengamatan dan tanya jawab kepada teman-teman dari penulis mereka katakan bahwa open source contihnya linux sangat sulit di gunakan padahal hal tersebut salah dan dengan kurangnya informasi dan sosialisasi ke masyarakat tentang open source maka dalam benak mereka dan menjadi pradigma sekarang bahwa software yang open source ini sangat sulit digunakan dalam hal dari linux sangat sulit di gunakan dan tidak bersahabat dengan masyarakat padahal pradigma itu sangat salah justru sangat mudah di gunakan di bandingkan sengan close source software bahkan orang yang baru menggunakannya sekalipun dan ini menunjukan bahwa software yang open source tidak banyak di gunakan karena masih kurang informasi ke masyarakat luas hanya kepada instansi tertentu. E. Siapa Sajakah Yang Dapat Menggunakan Open Source Tersebut Dengan melihat karakteristik dari open source adalah software yang di unduh dengan free/ gratis maka ini dapat di pakai oleh semua orang bukan hanya orang tertentu atau orang yang mau memodifikasi sesuai kebutuhan tapi semua orang dari kalangan manapun karena open source juga memberikan kebebasan dalam segala aspek yang selama ini menjadi kendala kita dalam mengeksplorasikan bakat kita dan open source milik semua karena open source juga dibuat oleh sekian ribu orang di dunia dalam hal memodifikasi, membuatnya sedemikian bagus sehingga open source dapat di pakai oleh semua orang mulai dari murid-murid yang ada di sekolah sampai masyarakat umum. Open source adalah software yang free tidak memungut biaya dalam arti dia dapat di salin sesuka hati tanpa ada rasa takut sengan HAKI dan dengan adanya banyak kebebasan itu semua orang dapat saja mempergunakannya mengunduhya,memodifikasinya dan sebagainya sesuai kebutuhan kita maupun semua orang, open source sangat mudah di jaankan dan cepat dimengerti karena kemudahan dari penggunaannya siapa saja dapat menggunakannya sesuai kebutuhan siapapun bisa menyalinnya tanpa khwatir dengan rajia software bajakan di sekolah-sekolah juga dapat menggunakan mengapa karena mafaat dan kebebasannya dapat di manfaatkan oleh siswa dan dunia pendidikan memerlukan ini tidak perlu lagi guru mengajar siswa
146

dengan software yang tidak berlisensi ini hal yang buruk dalam dunia pendidikan kita mendidik siswa indonesia dengan barang yang tidak berlisensi atau bajakan maka mulai dari sekarang mari kita bangkitkan semangat open source di kalangan generasi muda sampai kalangan tua indonesia tidak perlu mencari software yang tidak berlisensi,bahkan dalam diri kita takut akan rajia software bajakan maka hal ini dapat di kurangkan dengan adanya software yang open source dan maanfaat dan fungsi open source tidak di ragukan lagi sangat bermanfaat bagi kita semua dan dengan open source ini indonesia akan semakin maju dan memberikan dampak ke generasi muda maupun yang tua sehingga IT indonesia berkembang dan menyamai negara-negara besar lainnya dan untuk apa pemerintah melarang jangan membajak sedangkan masih saja di gunakan software yang mahal, close source bahkan masih kalah dengan software open source maka pemerintah harus mengambil sebuah tindakan yaitu indonesia beralih ke (OOS) hal ini akan memberikan sedikit yang menyalahi aturan seperti mennyalin atau membajak karena untuk apa membajak open source sedangkan kode sumber softwarenya terbuka dan kebebasan menyalin dan sebagainya hal ini sangat bagus untuk kita beralih ke IT yang lebih bagus dan open source untuk indonesia yang lebih baik Insya ALLAH dengan open source IT indonesia semakin maju dan berkualitas open source adalah saranan pembelajaran yang bagus sehingga seperti menulis coding kita sendiri yang menulis, memikirkan dan membuatnya semua itu kita sendiri yang melakukannya BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil observasi dari lokasi pengamatan warnet maupun pemikiran penulis sendiri maka dapat disumpulkan bahwa sangat mudah di gunakan. Mudah di mengerti dan dari pradigma bahwa open source sangat sulit di gunakan penulis sangat membantah ucapan dan pradigma ini karena open source sangat mudah di jalankan mengapa pradigma itu salah mungkin karena kurangnya informasi dan sosialisasi mengenai open source itu sendiri maka masyarakat luas
147

menganggap bahwa open source sangat sulit bahkan mereka tidak mengerti apa itu open source dengan demikian perlu di tingkatkan lagi sosialisasi dan pemerintah harus segera memberitahukan kepada masyarakat luas untuk mempergunakan open source dan hal ini dapat membuat masyarakat mengetahui akan open source itu sendiri dan open source pengguna hanya mengeluarkan uang untuk membeli buku referensi yang membutuhkan uang yang sedikit jumlahnya B. SARAN Untuk mendukung Indonesia Go Open Source maka masyarakat perlu di berikan sosialisasi dan pemahaman pengenai open source, keuntungan, dan penggunaan open source itu kepda masyarakat memang sudah di lakukan sosialisasi tapi masih kedapa instansi tertentu maka dari itu harus lebih ditingkatkan agara kesadaran masyarakat akan (OSS) semakin bertambah dan dan menumbuhkan kecintaan mereka terhadap open source dan di berbagai tempat pendidikan hendaknya di perkenalkan open source ini dan indonesia harus melakukan hal ini dan membuat masyarakat harus menggunakan open source dengan begitu kita akan semakin maju dan kreatif ..Untuk indonesia INDONESIA GO OPEN SOURCE Wasalam ** BIODATA Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Imdul Fatah Umasugi : Ambon, 29 September 1991 : Laki-laki : Jl. Air Kuning Lorong Sumatra RT.006/018 – Ambon ::-

148

MENINGKATKAN KEPEDULIAN MASYARAKAT UNTUK PENGGUNAAN OPEN SOURCE (OSS) Oleh: Yanuar Dwi Saputra ABSTRAK
Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi penulis dalam menggunakan open source software (oss) yang menurut pendapatnya memberikan banyak keuntungan, terutama dalam pembuatan tugas-tugas belajarnya. Dalam tulisan singkat ini penulis mengajak masyarakat khususnya kalangan pelajar untuk menggunakan dan memanfaatkan piranti lunak open source, sehingga akan memunculkan inovasi-inovasi baru khususnya dibidang perangkat lunak sehingga kebutuhan masyarakat Indonesia akan piranti lunak baik dalam negeri bahkan luar negeri dapat terpenuhi.

Assalammualaikum wr.wb Sebelum saya membahas lebih dalam mengenai Open Source Software ada baiknya kita tahu dulu pengertian dari Open Source Software itu sendiri, Pengertian Open Source Software adalah istilah yang digunakan untuk program dengan source kode yang dapat digunakan atau dimodifikasi secara bebas agar sesuai dengan kebutuhan user atau developer tertentu. Software Open Sorce bersifat gratis dan biasanya dibuat atas kerja sama / kolaborasi dari setiap user yang ingin mengembangkannya. Lawan dari Open Source adalah closed source atau proprietary. Sedangkan untuk Source kode adalah program sebelum dikompilasi, berupa pernyataan yang ditulis dalam bahasa pemrograman yang terbaca oleh manusia, atau juga instuksiinstruksi awal yang membangun sebuah program yang memberitahu compiler seperti apa program nantinya setelah dikompilasi kedalam bentuk binary (angka-angka). Contoh dari open source seperti : Google, search-engine,dll. Ditengah maraknya perbincangan mengenai buruknya dampak internet di kalangan masyarakat luas, menurut pendapat saya pribadi semua itu kembali dari penggunanya atau user itu sendiri. Saya sendiri yang sedang kuliah semester enam di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) di Cirebon, malah berbanding sebaliknya saya terbantu dengan adanya open source ini.
149

Di akhir kuliah saya semester enam ini, dengan adanya tugas dosen, PI ( Penulian Ilmiah) yang membuat saya kalang kabut. Alhamdulilah saya bisa terbantu dengan adanya open souce tersebut. Dengan adanya kemudahan-kemudahan atau fasilitas yang disediakan dari open source ini, Saya bisa mencari artikel-artikel atau referensi-referensi dari tugas dosen maupun PI saya. Tidak hanya artikel, referensi, gambar yang terdapat di open source tersebut, melainkan penggunaan open source di kalangan pelajar, mahasiswa ataupun umum yang mempunyai pemikiran selangkah kedepan untuk menciptakan hal-hal baru atau terobosanterobosan yang supermutakhir. Contohnya bisa membuat pesawat luar angkasa yang bisa menembus ke planet lain tanpa adanya campur tangan dari orang asing, atau di saat global warning sekarang ini kita bisa membuat metode, bagaimana cara untuk mengurangi dampak dari panas bumi ini, serta mendaur ulang limbah-limbah yang sudah tidak berguna lagi. Bisa juga menciptakan suatu perangkat lunak demi kebutuhan masyarakat luas dan dunia industri, serta dapat memvisualisasikan penerapan perangkat lunak yang lebih nyata untuk dapat dinikmati dan dimaanfaatkan oleh semua kalangan masyarakat dan dunia industri. Sehingga anak bangsa tidak hanya sekedar jalan-jalan, makan, nonton dan melakukan kegiatan yang kurang bermutu, melainkan semua ide-ide dan kreatifitasnya harus dapat membuat bumi pertiwi ini bangkit dari ketepurukannya dan tersenyum kembali. Wassalammualaikum wr.wb. ** BIODATA Nama Tempat/Tgl. Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Yanuar Dwi Saputra : Cirebon, 21 Januari 1988 : Laki-laki : Jl. Wiratama Gg.Nusa Indah No. 18 Tuparev Cirebon 45153 ::-

150

OPEN SOURCE, BEKAL MENGEJAR KETERTINGGALAN Oleh: Wahyu Kuncoro SN ABSTRAK
Karya tulis ini menjelaskan secara rinci tentang lemahnya penegakkan hukum di Indonesia, sehingga Indonesia dianggap sebagai ‘surganya’ para pembajak disamping menjadi pusatnya para pembajak, baik untuk software maupun hardware; Meski sejak 2004 bangsa ini telah mendeklarasikan Indonesia, Go Open Source! (IGOS) oleh lima menteri, dengan keluarnya Inpres No 6/2001 tentang E-Gov serta UU No 3/2003 tentang Open Source Software (OSS). Kondisi ini kemudian memacu pemerintah untuk semakin menggiatkan perlawanan terhadap pembajakan. Dalam pembahasannya penulis juga mengupas beberapa definisi tentang OSS, kegiatan yang dilakukan dalam rangka memasyarakatkan penggunaan dan pemanfaatan aplikasi tersebut. Selain itu juga dikemukakan masalah hambatan, keberhasilan dan strategi yang dilakukan dalam mengimplementasikan, nilai strategis open source, untuk itu kita harus mendorong implementasinya dalam berbagai bentuk, antara lain: 1). mengadakan kegiatan yang biasanya melibatkan banyak orang. (Memobilisasi banyak orang dengan biaya rendah dan bahkan gratis merupakan salah satu kelebihan open source). 2). peer review meningkatkan kualitas, reliabilitas, menurunkan biaya, dan meningkatnya pilihan (choice). 3) open source menjamin masa depan (future) keberadaan software.

Begitu longgar dan lemahnya penegakkan hukum di Indonesia, menjadi tidak berlebihan bila Indonesia dianggap sebagai ‘surganya’ para pembajak. Hampir tiada satu pun produk yang beredar di Indonesia yang lolos dari ulah pembajak. Mulai barang murah seperti kaset, Compac Disc (CD) hingga barang mewah seperti perangkat elektronik, pakaian dan assesoris produk impor (tas, sepatu dll). Kondisi semakin memprihatinkan karena masyarakat sendiri ternyata nyaman dan terbiasa menikmati barang bajakan tersebut. Di luar itu, Indonesia juga menjadi negara yang menjadi pusatnya para pembajak untuk perangkat komputer berikut software dan hardwarenya. Ironisnya, pembajakan masih saja terus terjadi
151

meskipun sejak 2004 bangsa ini telah mendeklarasikan Indonesia Go Open Source (iGos) oleh lima menteri, dengan keluarnya Inpres No 6/2001 tentang E-Gov serta UU No 3/2003 tentang Open Source Software (OSS). Padahal semangat pemberlakukan iGos adalah untuk menekan angka pembajakan. Kenyataan ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah karena berimbas bagi kampanye Indonesia Go Open Source (iGos) yang terasa sia-sia. Kerja keras dalam menanggulangi pembajakan yang telah dilakukan pemerintah terasa tiada harganya. Namun demikian, kita tentu berharap justru kondisi tersebut harus memacu pemerintah untuk semakin menggiatkan perlawan terhadap pembajakan. Terlepas bahwa kita semua bersepakat pembajakan harus diperangi, kita tak bisa memungkiri bahwa sebagai negara masih ’berstatus’ negara berkembang posisi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya memang acap diobok-obok oleh lembagalembaga dunia termasuk World Bank (WB) dengan penunggangan agenda-agenda lain secara terselubung. Penunggangan tersebut umpamanya berupa pemaksaan sepihak, terhadap pengertian konsep Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Dengan demikian, yang secara tidak langsung mereka telah menuduh masyarakat kita sebagai pembajak, pencuri, tidak bermoral, tidak menjunjung nilai etika, dan sejenisnya. Perlu diingatkan bahwa negara kita bukan satu-satunya surga perangkat lunak tidak berlisensi. Hal ini sudah mendarah daging di seluruh Asia. Kita hanya kalah melakukan public relation dalam hal pura-pura aktif melakukan pemberantasan. Bahkan di sebuah negara Asia Tenggara yang konon sudah maju dan beradab, ditemukan perangkat lunak tanpa lisensi secara melimpah ruah. Namun di atas itu semua, tentu kondisi tersebut tidak lantas menjadi alasan pembenar bagi masyarakat untuk melakukan pembajakan dan atau menikmati barang bajakan. Mengenal Open Source Istilah Open Source Software (OSS), menurut Esther Dyson (1998), didefinisikan sebagai perangkat lunak yang dikembangkan secara gotong-royong tanpa koordinasi resmi, menggunakan kode program (source code) yang tersedia secara bebas, serta didistribusikan melalui internet. Menurut Richard Stallman (1998), budaya gotong royong pengembangan perangkat lunak itu sendiri, telah ada sejak komputer pertama kali dikembangkan. Namun ketika dinilai memiliki nilai komersial, pihak industri perangkat lunak mulai
152

memaksakan konsep mereka perihal kepemilikan perangkat lunak. Dengan dukungan finansial yang kuat -- secara sepihak -- mereka membentuk opini masyarakat bahwa penggunaan perangkat lunak tanpa izin/ lisensi merupakan tindakan kriminal. Tidak semua pihak menerima konsep kepemilikan tersebut di atas. Richard Stallman (1994, 1996) beranggapan bahwa perangkat lunak merupakan sesuatu yang seharusnya selalu boleh dimodifikasi. Menyamakan hak cipta perangkat lunak dengan barang cetakan merupakan perampasan kemerdekaan berkreasi. Semenjak pertengahan tahun 1980-an, yang bersangkutan merintis proyek GNU (GNU is Not Unix) -- dengan tujuan memberdayakan kembali para pengguna (users) dengan kebebasan (freedom) menggunakan dan mengembangkan sebuah perangkat lunak. Proyek ini memperkenalkan konsep copyleft yang pada dasarnya mengadopsi prinsip copyright, namun prinsip tersebut digunakan untuk menjamin kebebasan berkreasi. Jaminan tersebut berbentuk pelampiran source code, serta pernyataan bahwa perangkat lunak tersebut boleh dimodifikasi asalkan tetap mengikuti prinsip copyleft. Konsep dari proyek GNU ini lebih dikenal dengan istilah "free software". Prinsip-prinsip free software tersebut memiliki banyak kesamaan dengan OSS. Namun menurut Richard Stallman (1998), free software lebih menekankan pada hal hakiki yaitu kebebasan mengembangkan perangkat lunak. Sedangkan menurut Eric S. Raymond (2000), OSS lebih menekankan aspek komersial seperti kualitas tinggi, kecanggihan, dan kehandalan. Dengan demikian, konsep OSS diharapkan lebih menarik perhatian pelaku bisnis, investor, dan bahkan para raksasa perangkat lunak. Bahkan Esther Dyson (1998) memperkirakan, bahwa raksasa seperti Microsoft pun akan memperhitungkan serta memanfaatkan OSS, seperti halnya mereka memanfaatkan internet. Harus diakui, penggunaan perangkat lunak (software) komputer sistem gratis pada Indonesia Go Open Source (IGOS) telah digencarkan sejak 2004. Namun, penetrasi penggunaan open source di lingkungan lembaga pemerintah, departemen, dan instansi lainnya masih sangat rendah. Persentasinya tak sampai angka lima persen. Artinya proses migrasi ke sistem open source berjalan sangat lamban. Faktor utama penyebabnya adalah kesadaran bahwa mencuri hak cipta merupakan tindakan kriminal dan penegakan hukum yang lemah. Bisa jadi lembaga-lembaga penegak hukum, seperti kejaksaan, kepolisian, hingga ke polsek-polsek sampai Dirjen HAKI
153

Dephukham, sudah seluruhnya bebas dari pembajakan. IGOS memang sudah mulai diterapkan di departemendepartemen, di antaranya Depkominfo, Depdiknas khususnya di sekolah-sekolah kejuruan, dan beberapa departemen lainnya. Di samping itu, pemda juga banyak yang berkeinginan untuk menerapkan open source, namun masih terbatas. Oleh karenanya, yang perlu dibangun adalah pengembang atau promotor dari sistem open source tersebut. Selanjutnya, mereka akan dijadikan agen-agen, misalnya pusat untuk Aceh ada di Syahkuala. Mengingat Aceh merupakan provinsi yang paling semangat menerapkan open source, bahkan mereka telah mendeklarasikannya. Mengapa Open Source? Hasil penelitian Badan Litbang SDM Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), belum lama ini menunjukkan tingkat implementasi IGOS ternyata belum terlihat keberhasilannya, terutama di berbagai lembaga pemerintah. Faktor penghambat bagi pengguna teknologi informasi (TI) pada teknologi OSS adalah terjadi kompatibilitas dengan closed source software dan pada kurangnya keinginan beralih ke OSS. Lalu, muncullah persepsi, seperti tidak adanya kemudahan penggunaan dibandingkan dengan proprietary software, tidak adanya kemudahan mempelajari pengoperasian OSS bagi pengguna baru, dan kesulitan dalam mengoperasikan OSS. Sementara itu, tingkat implementasi OSS di berbagai daerah juga masih sangat rendah. Hanya Jakarta yang cukup tinggi tingkat implementasinya. Sedangkan, dari lima departemen deklarator IGOS, hanya Kementerian Negara Riset dan Teknologi yang sangat maju kemudian disusul Departemen Kominfo. Keberhasilan implementasi OSS di lembaga pemerintah, sangat dipengaruhi oleh visi pimpinan lembaga serta aspek sumber daya manusia (SDM) yang perlu memperoleh prioritas untuk menghilangkan hambatan implementasi OSS. Lambannya implementasi OSS menunjukkan proses sosialisasi yang belum tuntas akan nilai strategis penerapan OSS. Hemat penulis, setidaknya ada 3 (tiga) nilai strategis open source sehingga harus secara totalitas kita mendorong implementasinya; Pertama, kegiatan open source biasanya melibatkan banyak orang. Memobilisasi banyak orang dengan biaya rendah (dan bahkan gratis) merupakan salah satu kelebihan open source. Bayangkan jika mereka harus digaji sebagaimana layaknya programmer yang
154

bekerja di perusahaan yang khusus mengembangkan software untuk dijual. Kumpulan skill ini memiliki nilai yang berlipat-lipat tidak sekadar ditambahkan saja. Kedua, adanya peer review meningkatkan kualitas, reliabilitas, menurunkan biaya, dan meningkatnya pilihan (choice). Adanya banyak pilihan dari beberapa programmer membuat pilihan jatuh kepada implementasi yang lebih baik. Contoh nyata dari hal ini adalah web server Apache yang mendominasi pasar server web. Ketiga, konsep open source menjamin masa depan (future) dari software. Dalam konsep closed-source, software sangat bergantung kepada programmer. Bagaimana jika programmer tersebut berhenti bekerja atau pindah ke perusahaan lain? Hal ini tentunya akan merepotkan perusahaan pembuat software tersebut. Di sisi pembeli juga ada masalah. Bagaimana bila perusahaan pembuat software tersebut sudah gulung tikar? Nilai closed-source software akan cenderung menjadi nol jika pembuat perusahaan tersebut sudah bangkrut. Dengan kata lain, the price a consumer will pay dibatasi oleh expected future value of vendor service. Open source tidak memiliki masalah di atas. Bekal Mengejar ketinggalan Open source penting karena sangat strategis dan terbuka. Untuk negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, ini merupakan kesempatan untuk mengejar ketinggalan dengan menggunakannya. Kita harus maju memanfaatkan apa yang sudah ditemukan, kemudian menambahkan, dan melakukan inovasi yang lebih jauh. Open source, selain bersifat freedom, juga banyak free sehingga menghemat pembiayaan lisensi. Kemudian, biaya lisensi bisa digunakan untuk pendidikan atau mengembangkan inovasi yang manfaatnya jauh lebih besar untuk kemajuan Indonesia. Persoalan pengembangan open source sangat strategis bagi Indonesia karena pemakaian sistem itu bisa mengurangi anggaran untuk membeli perangkat lunak, yang nilainya untuk seluruh lembaga pemerintah bisa mencapai puluhan juta dolar AS. Bahwa pemanfaatan open source yang menggunakan kode-kode terbuka dan bisa dimodifikasi sendiri juga memberi kesempatan untuk mengejar ketertinggalan negara berkembang dari negara-negara maju. Pemakaian sistem terbuka itu juga menghindarkan negara berkembang dari monopoli vendor dan software negara maju. Sayang sekali, gerakan OSS ini baru berhasil di lingkungan teknis, yang biasanya kurang tertarik untuk menggunakan OSS
155

untuk keperluan bisnis. Diperlukan usaha ekstra untuk memajukan sektor office automation ini. Masalah ini tidak dapat hanya diatasi secara bottom-up. Dukungan pimpinan dibutuhkan untuk mendorong pengurangan secara bertahap penggunaan perangkat lunak yang dianggap tanpa lisensi sah. Tidak dapat dipungkiri, bahwa usaha ini membutuhkan pengalokasian sumber daya manusia dan biaya yang tidak sedikit. Diperlukan pula unsur kolaborasinya karena banyak hal yang tidak bisa dikerjakan sendiri. Dukungan secara grass-root/ bottom-up akan membantu terbentuknya Masyarakat Digital Gotong Royong (MDGR) yang bersifat tidak formal. Jika negara-negara yang sedang berkembang ini memanfaatkan OSS, dengan sendirinya berarti tidak menggunakan perangkat lunak yang berlisensi. ** BIODATA Nama Tempat/Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat rumah Telepon : Wahyu Kuncoro SN : Klaten, 25 Pebruari 1972 : Laki-laki : Perum BINA MARGA Jalan Raya Menganti 300-D, Wiyung – Surabaya : Telp. 031-7523782 HP. 081 2320 8565 / Flexy : 031-71914276 wahyuksn@gmail.com atau wahyuksn@yahoo.com : Jurnalis/Wartawan

Pekerjaan

156

Open Source, Bisnis Masa Depan & Inovasi Tanpa Henti Oleh: Andhika Hendra ABSTRAK
Karya tulis ini menjelaskan definisi piranti lunak berbasis open source lengkap dengan situsnya (www.gnu.org), termasuk keuntungan dan manfaat yang dapat diperoleh atas penggunaan piranti lunak tersebut, seperti yang dikemukakan oleh Harry Sufehmi dari situsnya (www.harry.sufehmi.com). Open source, yang dikenal secara luas adalah software atau piranti lunak yang dapat digunakan secara luas tanpa perlu membayar lisensi. Dengan keuntungan open source ini, tentunya akan memberikan jaminan perkembangan software itu sendiri dimasa yang akan datang. Hal mana tidak akan dijumpai pada software yang memiliki konsep closed-source, dimana software tersebut hanya bergantung pada satu vendor. Jika perusahaan vendor tersebut tutup, akan sangat merepotkan pengguna software tersebut. Dengan demikian merupakan suatu langkah berani yang diambil oleh pemerintah, ketika tanggal 30 Juni 2004 pemerintah melalui Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional mendeklarasikan program Indonesia, Go Open Source! (IGOS), yang dimaksudkan untuk lebih memberdayakan dan memperkuat sistem teknologi informasi dan komunikasi nasional khususnya dalam hal memanfaatkan open source.

Pada tahun 1998, tepatnya ketika saya menginjak kelas 1 SMP. Saya sangat terkejut ketika mendapatkan pelajaran tentang komputer. Wajar, keterkejutan tersebut, saya hanya mengenal mesin ketik dan hanya pernah mendengar komputer beberapa kali saja. Setiap pelajaran komputer, hati saya selalu berdebar-debar karena takut tidak bisa mengoperasikannya dan salah ketika menekan keyboard. Entar, kalau error, gimana? Jangan-jangan minta ganti rugi, hal-hal itu yang selalu bergelayut dalam benak dan pikiran saya. Saya masih sedikit ingat, bagaimana saya diajarin mengenai MS-DOS. Menghafalkan berbagai rumus untuk menjalankan program tertentu. Masih hangat dalam ingatan, pelajaran komputer,
157

namun teorinya lebih dominan dibandingkan praktek memegang komputer. Mau tak mau, demi nilai, saya pun hanya menghafal rumus-rumus MS-DOS. Pelajaran itu hanya didapatkan pada kelas 1, ketika kelas 2 hingga 3, saya pun tidak memegang komputer sama sekali. Sayang, saya lupa nilai pelajaran komputer itu. Kok gaptek banget sih? Ya, saya memang tinggal di desa. Sebuah desa bernama Penggarit, dan SMP di Banjardawa, ibu kota kecamatan Taman di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Namun, saya senang bisa mengenal komputer di kelas 1 SMP, masih banyak temanku yang tidak bersekolah di SMP favorit tidak mendapatkan pelajaran komputer. Saya termasuk beruntung karena pernah memegang komputer pada usia 12 tahun. Seiring umur makin berjalan, saya memasuki SMA, tepatnya di SMA 1 Pemalang. Saya pun mendapatkan pelajaran tambahan yaitu komputer, yang diselenggarakan setelah jam sekolah selesai. Ketika itu tahun 2001, saya menerima buku panduan mengenai MICROSOFT WORD. Pada pelajaran pertama, saya masih ingat, saya sangat terkagum-kagum ketika komputer juga bisa mengeluarkan suara. Benar, itu tidak bohong. “Wah, benda ini bisa menjadi penentu masa depan manusia,” demikian apa yang ada di benakku. Seminggu tiga kali, saya mendapatkan pelajaran tambahan. Saya belajar mengetik menggunakan program windows. Saya tidak tahu persis apa itu windows, ketika itu. Saya juga tidak mengetahui kalau windows itu dibuat oleh Bill Gates dan memakainya harus membayar lisensi. Yang penting, saya bisa mengetik dengan komputer, dan mendapatkan nilai baik. Dan tentunya tidak gagap teknologi lagi. Ketika kelas 3 SMA, kota Pemalang dimasuki oleh internet. Ada orang yang mendirikan warung internet, dengan tarif Rp6.000 per jam. Tarif itu tergolong mahal bagi saya, anak SMA. Namun, saya bersama teman-teman sering iseng bermain internet. Ketika itu, internet sangat bermanfaat untuk mencari tempat kuliah. Ketika itu, saya tidak bisa menggunakan fasilitas email, chatting, dan lainnya. Yang penting ketika itu, saya dan teman-teman bisa membuka internet explorer dan mengetik google untuk mencari informasi yang diinginkan. Belajar dari pengalaman hidup saya, memang Windows dan Microsoft memang telah merasuki pemikiran dan ideologi masyarakat Indonesia secara umum yang mengerti komputer. Maklum, masih banyak masyarakat Indonesia yang buta huruf dan pastinya tidak mengenal komputer. Jika berbicara mengenai
158

komputer, maka Windows dan Microsoft pun selalu dikaitkan. Termasuk saya sebagai orang awam dalam dunia komputer, juga pernah mengalami fase tersebut.. Open source, saya kenal melalui teman satu kos yang kuliah di jurusan teknik elektro Universitas Brawijaya. Untung, saya tinggal banyak mahasiswa teknik sehingga saya tidak ketinggalan informasi mengenai teknologi. Wajar, saya mahasiswa sastra yang berkutat dengan novel dan puisi. Saya mengenal salah satu bentuk open source adalah Linux. Terus terang, saya tidak meng-instal Linux dalam program komputer saya, karena terlalu rumit dan ribet di pelajari. Maklum saya orang awam dalam dunia teknologi. Namun, teman saya itu yang bernama Sugeng, selalu mendesak saya untuk menginstal Linux di PC (Personal Computer) yang saya miliki. Berbeda dengan Windows yang mudah untuk menginstalnya, menginstal Linux lama sekali. Sedikit demi sedikit pun saya belajar mengoperasikan Linux. “Entar beberapa tahun ke depan, Linux akan semakin mudah dioperasikan. Masalahnya, semuaReporter at International Desk on Seputar Indonesia Daily in Jakarta, orang bisa membantu mengembangkan Linux,” demikian kata temanku, Sugeng. Ternyata, apa yang diungkapkan Sugeng itu benar adanya. Kini, Linux semakin mudah digunakan. Sayang, adanya asosiasi antara komputer dengan windows menjadi candu bagi masyarakat. Apalagi, sebagian besar masyarakat belum mengenal open source. Tak bisa dihindari jika perkembangan open source di masyarakat kita sangatlah lambat. Masyarakat lebih memiliki memakai windows, walaupun bajakan, karena alasan murah dan mudah digunakan. Mereka ada yang menyadari bahwa bajakan itu dilarang, namun dengan alasan keterpaksaan, semuanya bisa dihalalkan. 1001 Keuntungan Open source Open source, yang dikenal secara luas adalah software atau piranti lunak yang dapat digunakan secara luas tanpa memerlukan lisensi. Dalam situs, www.gnu.org, dijelaskan bahwa open source adalah piranti lunak komputer yang menyertakan source code/kode programnya, dan mengizinkan siapa saja untuk mengeksplorasi apa saja dengan open source. Gampangnya, semua orang bisa bisa menggunakan open source tanpa adanya batasan. Jadinya, azas manfaat bagi semua penggunanya pun bisa dirasakan dengan open source.
159

Yang jelas, open source akan menjadi piranti lunak di masa depan. Kenapa bisa begitu? Alasan utamanya adalah gratis. Sehingga semua orang pun cenderung melirik dan menggunakan open source. Apalagi, open source memiliki beberapa keuntungan dan kelebihan dibandingkan jenis piranti lunak yang harus merogeh kocek. Adapun keuntungan open source, seperti dikutip dari www.harry.sufehmi.com, sebuah situs yang dikelola oleh Harry Sufehmi, seorang konsultan teknologi informasi ternama, antara lain legal. Open source, dengan berbagai kelebihannya, juga legal. Penggunaan software Open source di seluruhIndonesia akan menyebabkan tingkat pembajakan software di Indonesia menjadi turun drastis, dari 88% menjadi 0%. Harapannya jika seluruh masyarakat Indonesia menggunakan open source, maka kedudukan Indonesia sebagai pembajak terbesar pun sirna. Indonesia berada pada posisi nomor 4 negara pembajak terbesar di dunia. Hal itu berdampak buruk terhadap posisi tawar-menawar Indonesia melemah di dunia perdagangan, dan menjadikan Indonesia menuai kecaman dari negara-negara lainnya. Menurut pandangan saya, open source dapat menjadi ‘dewa penyelamat’ bagi Indonesia di pergaulan internasional, baik bagi pemerintah dan masyarakat. Pemerintah pun tidak perlu malu lagi ketika berdiplomasi baik di hubungan bilateral, regional, maupun internasional. Bagi masyarakat Indonesia, kita tidak lagi disebut lagi pembajak. Saya yakin, jika open source telah memasyarakat, kita semua akan semakin percaya diri dalam pergaulan internasional. Lebih lanjut, diungkapkan Harry Sufehmi, keamanan negara dan perusahaan software yang banyak dipakai untuk mengetik harganya adalah US$ 600. Untuk perbandingan, harga laptop adalah sekitar US$ 435. Dan pendapatan per kapita/bulan adalah hanya sekitar US$ 134 dengan menggunakan solusi berbasis open source, maka dapat dilakukan penghematan devisa negara secara signifikan. Dana tersebut dapat dialokasikan ke usaha-usaha untuk kesejahteraan rakyat. Kalau keamanan negara adalah keuntungan open source, menurut Harry Sufehmi, pada tahun 1982, terjadi ledakan dahsyat di jalur pipa gas Uni Sovyet di Siberia. Kekuatan ledakan tersebut sekitar 3 kiloton, atau 25% dari kekuatan bom nuklir Hiroshima. 16 tahun kemudian baru diketahui oleh publik bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh software komputer proprietary/tertutup yang telah

160

diubah oleh CIA. Software Open source bebas dari bahaya ini, karena bisa dilakukan audit terhadap kode programnya. Paling penting bagi manusia awal, keuntungan open source adalah keamanan sistem yaitu bebas dari virus, spyware, trojan, dan berbagai masalah keamanan lainnya. Menurut Harry Sufehmi, pada topik keamanan sistem, satu buah lubang keamanan saja sudah cukup untuk menjadi jalan masuk penjahat. Bagi orang awam, dengan menggunakan open source maka tidak perlu meng-up date dan membeli anti virus. Jadi, bisa menghemat ratusan ribu dan data-data yang disimpan di PC atau pun laptop pun terjamin keamanannya. Tidak ketinggalan, kenyamanan menggunakan open source pun semakin terjamin. Paling penting keuntungan open source menurut Harry Sufehmi, karena software open source bersifat terbuka, maka siapa saja bisa menyediakan jasa layanannya – bukan hanya vendor pembuatnya saja. Lapangan kerja menjadi terbuka banyak dan dapat menghidupi banyak keluarga. Peminat bidang teknologi informasi (TI) juga mendapat akses ke kode program dari berbagai software canggih. Pada gilirannya ini akan sangat membantu untuk menghasilkan pakar-pakar TI Indonesia dengan kualitas dunia. Industri dalam negeri non-TI turut menikmati, karena jadi mendapat akses ke software yang ekonomis dan berkualitas, sehingga kemudian bisa menjadi lebih kompetitif dengan saingan-saingannya dari luar negeri. Sementara pendapat lainnya Budi Rahardjo dari Pusat Penelitian Antar Universitas Bidang Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung, dalam sebuah artikelnya, mengungkapkan beberapa keuntungan open source antara lain kegiatan open source biasanya melibatkan banyak orang. Memobilisasi banyak orang dengan biaya rendah (dan bahkan gratis). Dengan demikian, adanya peningkatkan kualitasreliabilitas, menurunkan biaya, dan meningkatnya pilihan. Ujung-ujungnya, keuntungan open source menjamin masa depan software . Dalam konsep closed-source, software sangat bergantung kepada programmer. Bagaimana jika programmer tersebut berhenti bekerja atau pindah ke perusahaan lain? Hal ini tentunya akan merepotkan perusahaan pembuat software tersebut. Di sisi pembeli juga ada masalah. Reporter at International Desk on Seputar Indonesia Daily in Jakarta,

161

Bagaimana bila perusahaan pembuat software tersebut sudah gulung tikar? Menurut Budi Rahardjo, nilai closed-source software akan cenderung menjadi nol jika pembuat perusahaan tersebut sudah bangkrut. Dengan kata lain, “the price a consumer will pay” dibatasi oleh “expected future value of vendor service”. Open source tidak memiliki masalah tersebut. Dalam Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Prof.. T. Basarudin, mengungkapkan keuntungan dari sisi ekonomi pembelian aplikasi software . Seperti aplikasi Windows Vista Ultimate yang dibanderol seharga Rp 3 juta, Office Professional Rp 4,3 juta, Adobe Photoshop CS3 Rp 5.993.000. Ada pula piranti ACDSee senilai Rp 500 ribu, CorelDRAW X3 Rp 3,7 juta, Photoshop Rp 7,2 juta, Adobe Premiere Rp 8,1 juta (Republika Online 19 Juli 2009). Jika semua aplikasi tersebut didownload total pengeluaran mencapai Rp 32 Juta. Biaya tersebut, menurut Basarudin, lebih besar dari rata-rata pendapatan per kapita Penduduk RI pada tahun 2008 yaitu Rp 21,7 Juta. Open source kemudian hadir sebagai teknologi alternatif dengan keunggulan yang dimiliki seperti lebih cepat menemukan dan memperbaiki kesalahan (bugs, error); kualitas hasil lebih terjamin; relatif lebih aman; penghematan biaya serta metode pengembangannya lebih mudah karena tinggal melanjutkan atau mengoreksi kreasi yang sudah dilakukan sebelumnya oleh orang lain. Basarudin juga mengungkapkan, berdasarkan penelitian, presentasi terbesar dari pengguna open source berasal dari rentang umur 10 - 25 tahun yaitu sebesar 70 %. Pengguna open source terbesar ialah para praktisi IT, disusul pelajar pada peringkat kedua sebanyak 15 %. Menurut saya pribadi, keuntungan open source mencapai 1001 sebagai kiasan atau tidak terhitung jumlahnya. Kenapa bisa dibilang begitu, open source akan selalu berkembang dan terus berkembang tiada henti. Tidak mengherankan keuntungannya pun tidak terhitung jumlahnya. Apalagi, jika semua bagian dalam pengembangan teknologi secara umum mengembangkan open source. Maka, open source akan menjadi raja dan semakin dipuja-puja. Open source dan Niat Baik Pemerintah Sebelum saya lulus kuliah, pemerintah Indonesia mengkumandangkan penggunaan open source. Awalnya, saya berpikir pemerintah terlalu berani untuk menyatakan genderang
162

perang dengan melawan musuh utama open source dan menyatakan dukungan kepada open source. Ketika itu, saya mengacungkan dua jempol ibu jari bagi pemerintah. Saya yakin jika pemerintah memiliki niat baik, maka open source akan semakin berkembang pesat. Tanpa dukungan pemerintah, sangat mustahil mempopulerkan open source. Hingga pada 30 Juni 2004, Indonesia, Go Open source! (IGOS) dideklarasikan penggunaan dan pengembangan Open source Software yang ditandatangani oleh Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. Adapun naskah Deklarasi IGOS DEKLARASI BERSAMA Indonesia, Go Open source ! (IGOS) berisi dalam rangka mendukung keberhasilan upaya tersebut, pengembangan, dan pemanfaatan open source software merupakan salah satu langkah strategis dalam mempercepat penguasaan teknologi informasi di Indonesia. Untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari upaya tersebut, perlu dilakukan langkah-langkah aksi sebagai berikut: Menyebarluaskan pemanfaatan open source software di Indonesia, Menyiapkan panduan (guideline) dalam pengembangan dan pemanfaatan open source software di Indonesia, Mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusatpusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia dan mendorong dan meningkatkan koordinasi, kemampuan, kreatifitas, kemauan dan partisipasi dikalangan pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan open source software secara maksimal. Hingga kemudian, untuk menindaklanjuti Deklarasi Bersama ini akan diupayakan Surat Keputusan Bersama antar Menteri agar pengembangan dan pemanfaatannya dapat dimulai dari lingkungan instansi pemerintah. Menurut Wendy Aritenang, dalam penerapan open source softwar ini, pemerintah dalam kegiatan sehari-harinya diharapkan dapat berperan sebagai suri tauladan untuk tidak menggunakan software bajakan, dan pelaksanaannya dimulai dari tingkatan unit terkecil, kemudian pada unit yang lebih besar dan selanjutnya diharapkan dapat diikuti oleh seluruh instansi lain yang berada dibawah koordinasinya. Strategi ini diharapkan dapat mendorong masyarakat agar tidak ragu-ragu dalam mengembangkan dan memanfaatkan OSS. Oleh karena itu, untuk tahap awal, program IGOS ini akan akan diimplementasikan dengan program pemerintah yang sudah lebih dulu berkembang, seperti
163

Warung Informasi Teknologi (WARINTEK), One School One Computer Lab (OSOL) dan lain-lain. Kalau boleh dibandingkan, Indonesia sangat tertinggal dibandingkan dengan negara lain yang telah mengembangkan open source software . Beberapa negara lain, seperti Jerman, Prancis, Finlandia, Peru, Brasil, Jepang, Korsel dan India, telah memanfaatkan open source untuk pelaksanaan pemerintahan mereka. Namun, saya tetap mengapresiasi bahwa pemerintah memiliki political will dalam mengembangkan open source. Padahal, kalau dilihat sumber daya manusia kita sebenarnya tidak kalah. Hanya saja diperlukan pelatihan serius dan dukungan dana yang solid dan berkelanjutan. Tanpa itu, saya melihat akan sulit untuk bisa menyamai negara-negara maju. Maaf, kalau saya menilai bahwa komitmen Pemerintah Indonesia dengan open source ternodai dengan kunjungan pendiri Microsoft yang disambut hangat pada Mei tahun lalu. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu lagi dengan Bill Gates. Bos Microsoft ini bahkan memberikan presidential lecturer secara khusus. Dalam pandangan saya, kunjungi Gates tersebut memiliki ‘misi khusus’ yaitu membendung gerakan open source yang telah booming. Sepertinya, Bill Gates tidak ingin melepaskan pangsa pasar raksasa Indonesia. Dia menggelar Goverment Leadership Forum 2008 di hotel Shangri-La, Jakarta. Janjinya, Microsoft akan membantu e-Governance dan pengembangan teknologi informasi kepada pengusaha kecil dan menengah. Publik pun menilai bahwa pemerintah tidak konsisten dalam pengembangan open source. Kenapa pemerintah justru masih mendekati Bill Gates? Pertanyaan ini belum terjawab. Tahun lalu, saya masih ingat ketika membaca detikinet, di mana pakar teknologi informasi, Onno W. Purbo mempertanyakan komitmen pemerintah dalam mengembangkan open source. Menurut Onno, pemerintah bisa memiliki peran sentral dalam penyebaran dan pengembangan open source. “Pemerintah jangan cuma niat, tapi juga perlu gebrakan dan keberanian,” ujar Onno seperti dikutip detikINET (27 Mei 2008). Onno mengatakan sebenarnya pemerintah bisa melakukan itu cukup dengan memberdayakan pengembang piranti lunak lokal. “Masalahnya, pemerintah punya nyali nggak untuk ngomong hanya akan pakai Open source? Untuk sampai di situ butuh pemimpin yang berani melawan Microsoft!” tukas Onno.
164

Onno mengungkapkan, ada 140 juta pekerja yang menggunakan komputer, kalau terikat dengan proprietary harus mengeluarkan minimal USD500 per orang untuk menggunakan windows. “Kalau dihitung berapa besarnya devisa kita yang lari ke AS? Lebih baik bikin software sendiri kan?” jelasnya. 100% sepakat dengan pendapat Onno. Hanya saja, memang lobi-lobi dari Microsoft dengan pemerintah sangat kuat dan telah lama terjadi. Hanya saja, lobi dari kalangan open source terhadap pemerintah masih maju mundur, sehingga dukungan pemerintah pun hanya setengah-setengah saja. Lepas dari politisasi open source, menurut hemat saya, alangkah baiknya jika pengenalan open source lebih di titik beratkan kepada sekolah. Di mana, open source di masukkan dalam dari kurikulum pendidikan di sekolah. Jadi, sedini mungkin, anak-anak Indonesia lebih mengenal open source dibandingkan lainnya. Dengan demikian, anak-anak pun akan semakin bersahabat dengan open source ikut andil dalam mengembangkannya di masa mendatang. Mereka pun siap menghadapi persaingan global. Selain itu, pengembangan open source difokuskan kepada perguruan tinggi. Memang banyak universitas dan institut yang ikut mengembangkannya. Namun, penemuan dan kreativitas hasil pengembangan open source dari kampus jarang dipublikasi ke masyarakat sehingga tidak ada apreasiasi yang memuncak. Publik pun memandang, open source hanya berkutat bagi orang-orang komputer dan teknik. Bahkan, Pemred InfoLinux yang sekaligus Ketua Yayasan Penggerak Linux Indonesia Rusmanto telah berpikir jauh ke depan. Dia mengungkapkan perlunya proses sertifikasi atau pengakuan terhadap kompetensi dalam open source. Pasalnya, pangsa penggunanya mulai banyak. (Republika Online 19 Juli 2009). Menurut dia, dengan adanya sertifikasi ini seorang yang bergelut dalam bidang telematika dipastikan memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang tentang standar profesi/kompetensi, standar pendidikan profesi, standar pelayanan, kode etik profesi, akuntabilitas profesi serta aspek hukum yang menyertai profesi ini. Diperkirakan, programer open source pun akan disederajatkan dengan profesi yang telah diakui masyarakat seperti guru, dokter, dan pengacara. Nantinya, para programer open source pun mendapatkan pengakuan dan hasil kerjanya bisa dipertanggungjawabkan.

165

Open source di Indonesia Melejit Dalam buku Digital Review of Asia Pacific 2007-2008 yang diterbitkan oleh International Development Research Center (IDRC) Orbicom dalam bahasan mengenai Indonesia yang ditulis, Donny B.U dan Mudiardjo, menjelaskanbeberapa aplikasi open source yang dikembangkan oleh Indonesia adalah Windows Bahasa Indonesia, BlankOn Linux distro, IGOS Desktop, dan Aplikasi Sistem dan Waroeng IGOS untuk Internet Kiosk Clients-Server Application. Kemudian, seperti dikutip dari tedi.heriyanto.net, publik telah mengetahui open source seperti Sendmail. Sejumlah dua juta salinan sendmail telah diinstalasi di seluruh dunia yang merupakan lebih dari 75 % seluruh Internet mail dengan akses http://www.sendmail.com. Ada juga, DNS dan BIND, tools Domain Name Server, yang menerjemahkan permintaan request berupa domain name menjadi alamat IP.Kemudian, prinati lunak GNU dimana sebagian besar program-program open source berasal dari proyek GNU, seperti kompiler GCC, editor Emacs, dan sebagainya. Yang paling terkenal adalah Linux. Web server berbasiskan Linux merupakan pemimpin pasar untuk web server bagi web site publik dengan pangsa pasar 31% menurut studi Netcraft. Selanjutnya adalah Perl dan PHP, di mana keduanya adalah bahasa pemrograman yang sangat berguna dalam administrasi sistem, pembuatan program serta dapat pula digunakan dalam pembuatan web site yang dinamis. Kabar terbaru adalah open source software turut andil menyukseskan pemilu presiden pada 8 Juli lalu. Seperti dilaporkan berbagai media, sistem perhitungan pemilu presiden 2009 melalui SMS bisa dibilang sukses. Hal ini tidak lepas dari peran serta Open source yang 100 persen digunakan dalam sistem ini seperti dikutip dari Okezone (9/7/2009). Sistem SMS Pemilu Pilpres 2009 yang diberi nama SERIS menjamin tabulasi pemilu yang cepat, akurat, transparan, aman, mudah digunakan dan dikembangkan. Menurut Harry Sufehmi, arsitek yang mendesain SERIS, proses perhitungan otomatis di engine SERIS sangat akurat, karena proses parsing yang minim resiko kekeliruan deteksi, dan didukung oleh berbagai algoritma verifikasi serta validasi internal. VivaNews (10 Juli 2009) menulis bila pada pemilu legislatif anggaran yang dikeluarkan negara untuk sistem TI bisa habis bermiliar-miliar. Ternyata, untuk sistem SMS ini, pemerintah nyaris
166

tidak mengeluarkan uang sama sekali. Sistem SMS kali ini pun merupakan hasil hibah dari organisasi nirlaba asal Amerika, International Foundation for Electoral System (IFES), yang berbasis di Washington DC. Hebatnya lagi SERIS ini cuma dikembangkan dalam waktu dua pekan saja. Tim SERIS sendiri cuma diawaki oleh 7 orang saja, termasuk Harry. Anggota tim SERIS lainnya adalah Abdullah Andi Koro (network administrator), Digit Oktavianto (system administrator), Johan Rukmana (Flash developer), Riyogarta Pratikto (lead developer), Rizki (system administrator), Wibisono Sastrodiwiryo (senior developer), dan Yanmarshus (quality assurance). Pertanyaannya apakah SERIS mampu menyeimbangan quick count? Okezone (9 Juli 2009) melaporkan SERIS mampu mengimbangi kecepatan quick count. Mengutip pendapat Lead Developer, yang juga penggagas SERIS, Riyogarta Pratikto. Ketika ditanya mengenai kemungkinan SERIS digunakan kembali untuk proses pemilu yang akan datang? “Saat ini, teknologi seperti itu cuma ada di SERIS. Entah 5 tahun ke depan,” tandasnya. Bukan hanya SERIS, Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh– Lapan juga telah memanfaatkan open source dalam pemanfaatan dan pengembangan penginderaan jauh di indonesia. Seperti dikutip dari www.lapanrs.com, Lapan telah mengembangkan software open source untuk Penerimaan, Perekaman & Penampil Cepat (QL) Data MODIS TERRA-AQUA; Integrasi software open source untuk Rekonstruksi & Pengolahan Data (Sistemik & Ekstraksi Informasi) MODIS, AIRS/AMSU/HSB dan AMSRE; Pemaketan Data Telemetri Satelit Berdasar Struktur CCSDS; Msphinx (Software alternatif Image Processing terutama untuk MODIS); HDFLook; DORIS (Software InSar ); PolSarPro (Software pengolahan Data Full Polarimetrik RADAR); MapServer (Software untuk WebMapping/Web GIS); dan GRASS. Inovasi = 5 I Pengembangan open source tidak lepas dari inovasi. Tanpa inovasi dunia akan sepi dari penemuan dan pengembangan. Untuk bisa memahami apa dasar dan defenisi inovasi, ada sebuah buku yang sangat bagus ditulis oleh Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman berjudul, “Simfoni Inovasi, Cita Dan Realita’. Buku tersebut memang cukup luas mendeskripsikan permasalahan inovasi dan teknologi.
167

Menurut Kusmayanto, para akademisi (ilmuwan dan periset) tentu saja menjadi ’ujung tombak’ dalam pengembangan iptek. Tapi sering mereka tidak terlibat langsung dalam pemanfaatan iptek. Para pelaku usaha berperan banyak dalam pemanfaatan iptek, dan penyebarannya. Dalam kasus-kasus tertentu, para pelaku usaha juga melakukan riset dan menghasilkan variasi iptek. Dalam epilog buku “Simfoni Inovasi, cita dan realita”, Kusmayanto menyimpulkan keterkaitan antara iptek, inovasi dan jalainan hubungan A-B-G (A (akademis/academicians), B (pelaku bisnis/business people) dan G (pelaku penyelenggara pemerintahan/government agencies). Pertama, daya saing perusahaan-perusahaan, efektivitas program-program layanan publik (yang melibatkan iptek) dan produktivitas lembaga-lembaga riset (termasuk perguruan-perguruan tinggi) mencerminkan kapabilitas inovasi nasional sebuah mayarakat. Lebih lanjut, kedua adalah kapabilitas inovasi yang tinggi dihasilkan melalui interaksi, dan pembelajaran dengan menggali sumber-sumber interaksi tersebut. Melalui interaksi dan pembelajaran ini, kegiatan produksi iptek, penyebaran dan pemanfaatannya berlangsung dalam suatu kesatuan arah dan tujuan. Ketiga, perkembangan iptek di sebuah bangsa terpaut erat dengan kemajuan bangsa, seperti yang dipercayai penganut pandangan instrumentalis. Tapi ini bukan berarti iptek menimbulkan perubahan dan kemajuan. Perkembangan iptek menimbulkan kemajuan kalau itu disertai dengan berbagai langkah untuk membangun kapabilitas inovasi. Keempat, pelaku-pelaku yang terlibat dalam sebuah sistem inovasi pada dasarkan berbeda dari satu yang lain. Heterogenitas pelaku-pelaku ini justru menyediakan sumber-sumber pembelajaran yang penting untuk membangun kapabilitas inovasi. Proses membangun kapabilitas inovasi melibatkan transformasi nilai-niali dan ini merupakan proses kultural. Kelima, mengenai kapabilitas inovasi bangsa Indonesia, interaksi antara pelaku-pelaku inovasi masih terbatas intensitasnya, dan ini membawa implikasi pada kapabilitas inovasi nasional yang tercermin pada daya saingin industri nasional, dan produktivitas lembaga-lembaga riset. Satu faktor yang menghambat tumbuhnya kapabiltas inovasi Indonesia adalah berbaai bentuk pengaruh asing. Efeknya adalah para pelaku A, B, G nasional terikat pada pelakupelaku asing, dan terisolasi satu dari yang lain.
168

Yang menarik, Kusmayanto memberikan solusi bagaimana jika kita melengkah ke depan, bilan kita ingin membangun sistem inovasi yang kuat dan sustainable maka prinsip-prinsip berikuta harus diperhatikan, yaitu 5I. Apa saja 5I tersebut? Pertama menurut Kusmayanto adalah Indigenous. Proses inovasi yang kita laksanakan harus mendorong pengembangan iptek secara indegenous di segala sektor. Yang menjadi persoalan bukanlah apakah bergantung pada bantuan asing itu baik atau tidak baik, pakaha kita perlu independen atau dependen. Permasalahannya yang mendasar adalah pakaha kita memiliki kemampuan atau tidak. Inklusif adalah yang kedua. Kita tampaknya memerlukan sistem inovasi yang inklusif, di mana berbagai unsur masyarakat, dalam keanekaragaman kultural dan kenaekaragaman sumber daya alam/hayati, mendapatkan pelaung untuk terlibat. Menurut Kusmayanto, kita membutuhkan iklim yang inklusif yang menstimulasi inetarkasi ilmuwan-entrepreneur-birokrat, baik pusat – daerah, maupun antardaerah. Ketiga yakni Institusional. Instusionalisasi iptek mencakup aspk struktur dan kultur/budaya. Dalam aspek budaya, kita perlu mendorong berbagai upaya untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam kreativitas pengembangan iptek dan inisiasi berinovasi. Keempat adalah Interaksional. Kita perlu mengembangkan regulasi yang memungkinkan para pelaku inovasi dalam organisasiorganisasi yang berbeda untuk bisa berinteraksi secara erat, mendalam, bertukar pengetahuan, dan berkesinambungan. Artinya, regulasi tersebut perlu memberikan keleluasaan bagi interaksi melintasi batas-batas organisasional. Dan kelima yaitu Interdependen. Interaksi dan kemitraan dengan berbagai pelaku inovasi dari mancanegara, merupakan sumber pembelajaran yang sangat penting. Fortifikasi lokal dan nasional dapat kita tempuh dengan cara terlibat dalam pergaulan global. Namun, dalam menjalin dan menjalankan interaksi dan kemitraan tersebut. Dari pendapat Kusmayanto yang akrab di kalangan para blogger dipanggil KK, inovasi bukan hanya permasalahan personal. Inovasi adalah permasalahan publik dan milik bersama. Bahkan, jelas sekali bahwa inovasi juga menjadi tanggungjawab pemerintah. Bahkan, bisa saya simpulkan dari pendapat Kusmayanto bahwa

169

inovasi adalah ruh-nya iptek. Tanpa inovasi, iptek tidak ada artinya. Tanpa inovasi, open source pun hanya menjadi sampah semata. Belajar dari Matt Mullenweg dan Linus Torvalds Berbicara mengenai inovasi yang lekat dengan dunia open source, saya teringat pernah menulis profil mengenai pendiri wordpress Matt Mullenweg dan pendidi Linux Linus Torvalds. Kedua tokoh tersebut, menurut saya menjadi sumber inspirasi bagi semua orang untuk terus berinovasi tiada henti. Ujung-ujungnya, inovasi pun menjadi “buah” yang bisa dinikmati. Inovasi juga memerlukan proses panjang, tidak bisa hanya dalam satu malam. Seperti rumus tradisional, inovasi juga butuh kerja keras, kerja cerdas, dan kerja taktis. Belajar dari kedua idola saya tersebut, saya bisa mengambil hikmah bahwa inovasi tidak harus identik dengan uang. Dalam artikel yang pernah saya tulis di harian Seputar Indonesia (20 Desember 2008) berjudul “Jangan Fokus Uang, Kerjakan yang Disukai”, profil mengenai Matthew Charles Mullenweg atau dikenal dengan Matt Mullenweg pada rubrik MIRROR. Saya kira, Matt Mullenweg pantas untuk dijadikan teladan dalam pengembangan open source bagi generasi muda Indonesia. Mullegweg, seorang jenius yang mampu menjadi jutawan pada usia muda berkat open source. Dia adalah pendiri Wordpress, situs bagi para blogger. Dengan mengandalkan Wordpress, Mullenweg sudah meraih pundi-pundi kekayaan senilai USD40 juta. Matt mengembangkan Wordpress sebagai aplikasi blog yang terbuka (open source), sehingga peranti lunak dan kodenya terbuka bagi publik. Kenapa Wordpress harus open source? “Jika melakukan sesuatu demi uang, kamu akan menemui banyak kesulitan untuk menjual. Namun lakukan apa yang kamu sukai, maka uang akan mengikuti kamu,” ujarnya. Pada April 2004, Matt Mullenweg drop out kuliah dan pindah dari Houston ke San Fransisco untuk bekerja pada CNET selama setahun. Di sana, Mullenweg berhasil meluncurkan Automatic dan Askimet, sebuah peranti lunak untuk mengeblok spam. Mullenweg mengaku, ada beragam alasan di balik pengembangan Wordpress. Pertama, dia ingin membuat situs blog yang memudahkan para pengguna membuat situs online. Dia ingin semua orang dapat membuat blog. Kemudahan itu yang pada
170

akhirnya membuat Wordpress cenderung populer dibandingkan lainnya. Kedua, dia ingin memenuhi keinginan pengguna, termasuk pemenuhan open source yang terus berkembang. Mullenweg mengaku sangat menyukai semua pekerjaan yang menyangkut Wordpress. "Apalagi, pekerjaan saya seperti memberikan hadiah pada dunia ini, gratis untuk semua orang, semua orang dapat menggunakan hasil kerja saya," ujarnya pada bloginterviewer. Selain Matt Mullenweg, tokoh yang harus menjadi idola para pengembang OSS Indonesia adalah Linus Torvalds. Dalam artikel yang pernah saya tulis mengenai Linus Torvalds, pendiri Linux di harian Seputar Indonesia (16 Juli 2009) pada rubrik MIRROR. Bagi Linus, inovasi lepas dari dunia teknologi informasi. Siapa yang berhenti berinovasi dan berkreasi,otomatis akan mati. Nama besar Torvalds memang melekat pada pemerhati dan pengguna open source. Dia pun dijuluki sebagai Bapak Open source Dunia. Semuanya bermula pada 1988, ketika itu Torvalds kuliah di University of Helsinki dengan Jurusan Ilmu Komputer.Di masa perkuliahan, mahasiswa umumnya menggunakan Minix. Minix merupakan sebuah sistem operasi berbasis Unix yang dibuat Andrew Tannenbaum. Tannenbaum adalah salah satu dosen Linus yang menggunakan Minix sebagai alat belajar-mengajar. Jiwa pemberontaknya mulai muncul.Torvalds tidak menyukai sistem komputer tersebut.Tak hanya kecewa,dia pun memutar otak untuk mencari solusi untuk menghasilkan sistem operasional komputer yang lebih bagus dibandingkan Minix. Hingga 1991,saat masih di bangku kuliah, Linus membeli IBM compatible PC berprosesor Intel 386. Sayangnya, Torvalds tidak puas dengan sistem operasi MS-DOS dalam PC tersebut. Ketika itu, dia berpikir bahwa sistem operasi tidak mengikuti perkembangan yang pesawat seperti perangkat kerasnya. MS-DOS itu juga dirasa tidak dapat memanfaatkan seluruh kemampuan chip 386. Dia lalu berniat untuk mengganti sistem operasi PC tersebut. Dia pun berkonsentrasi pada proyek pembuatan sistem operasi ini. Hingga pada Agustus 1991,Torvalds mengumumkan sistem operasi buatannya ke forum pengguna Minix. Tujuannya adalah untuk diuji coba oleh rekan-rekannya sesama pengguna Minix. Sebulan kemudian, ia berhasil menyelesaikan versi awal dan versi resmi pertama sistem operasi Torvalds. Awalnya dia ingin menamakan sistem operasinya dengan nama Freax, kombinasi dari
171

free, freak, dan Minix. Namun, akhirnya dia memilih Linux yang merupakan singkatan dari Linus Minix. Torvalds memutuskan untuk menyebarkan Linux dalam lisensi GNU General Public Licence (GPL). Dengan GPL, orang bebas mempelajari, menggunakan, memodifikasi, memperluas, dan mendistribusikan peranti lunak yang bersangkutan. Syaratnya, source code alias kode pemrograman asli dari peranti lunak tersebut harus boleh digunakan secara cumacuma. Torvalds tahu risikonya menggunakan sistem GPL. Dia tidak akan mendapatkan uang banyak. Namun,dia berpikir bahwa dengan begitu akan banyak programmer dari seluruh dunia tertarik dan antusias untuk membantu Linux membangun embrio sistem operasi tersebut. Bisa ditebak, popularitas sistem operasi Linux berkembang pesat! Tahun demi tahun, korporasi besar menyadari akan pentingnya Linux. Betapa tidak, jika Bill Gates membuat sistem operasi untuk dijual dan menjadi kaya raya, dengan kata lain sangat berorientasi bisnis, maka Torvalds adalah kebalikannya.Torvalds tetap hidup dalam kesederhanaan karena sistem operasi buatannya digunakan secara cuma-cuma oleh siapa pun yang membutuhkan.Menurut Torvalds, apa yang dilakukannya hanyalah untuk berbagi. Prinsip berbagi kepada sesama sangat diterapkannya. Namun, seperti kata pepatah, rezeki memang tidak akan lari ke mana-mana. Torvalds mendapatkan saham dari RedHat dan VA Linux (perusahaan pembuat Linux untuk kalangan perusahaan). Ketika RedHat dan VA Linux (kini berubah nama menjadi VA Software) go public,nilai saham Linus di kedua perusahaan tersebut membengkak. Mendadak, Linus Torvalds pun menjadi orang yang kaya raya. Ketika Torvalds membagibagikan kode sumber (source code) kernel Linux seukuran cakram via internet pada 1991, dia tidak menduga bahwa apa yang dimulainya melahirkan sebuah bisnis bernilai miliaran dolar di kemudian hari. Kini,Linux mampu dikembangkan ke dalam server, komputer desktop, tablet PC, PDA, handphone, GPS, robot,mobil,hingga pesawat ulangalik buatan NASA. Hingga kini lebih dari 20% pangsa pasar desktop di seluruh dunia menggunakan Linux jauh di atas Machintosh dan terus mengejar desktop Windows. Kemudian lebih dari 12,7% server di seluruh dunia menggunakan Linux,jauh di atas UNIX,BSD, Solaris, dan terus meningkat menggerus pangsa pasar server Microsoft.

172

Saat ini Linus meninggalkan posisi menjanjikan di perusahaan semikonduktor Transmeta dan tinggal bersama istri dan tiga anaknya di sebuah bukit di desa di Portland, Oregon, USA, berdekatan dengan markas Open source Development Labs. Menanggapi kesuksesannya? Torvalds menganggap bahwa dia menghindari rencana jangka panjang. “Saya selalu berpikir easy going dengan segala sesuatu yang baru. Saya tidak pernah berpikir sebelum saya menghadapi permasalahan itu,” paparnya. Satu hal yang ada di pikirannya adalah membuat Linux selalu lebih baik dan lebih baik lagi. Torvalds pun selalu bangga bisa menciptakan jutawan baru dari Linux. Mulai dari RedHat, Suse, Debian,Mandriva,Ubuntu,dan banyak lagi pengembang peranti lunak open source yang meraih keuntungan besar dari Linux. Alangkah dahsyatnya, jika generasi muda dan para pengembang sofware open source mengidolakan dan menjadikan Matt Mullenweg dan Linus Torvalds sebagai panutan dalam kehidupan mereka. Misi sosial dan pengembangan teknologi untuk kepentingan bangsa dan negara ke depannya. Apa yang patut diteladani dari sosok Matt Mullenweg dan Linus Torvalds? Menurut saya, misi sosial merupakan hal utama yang melekat bagi kedua orang tersebut. Mereka berdua berkarya tidak memandang uang sebagai hal utama. Memang di dunia ini, uang merupakan faktor penting. Namun, jika manusia mampu menempatkan uang pada skala prioritas nomer sekian, bukan nomer pertama, maka dia pasti akan menjadi pahlawan. Kedua adalah inovasi. Inovasi sangatlah penting, bukan hanya sebagai programer atau orang yang berkecimpung dalam dunia teknologi. Namun, semua orang harus terus berinovasi dan berkreativitas dalam bidang apapun. Tanpa inovasi, kejenuhan dan stagnansi pun bakal menjadi hantu yang akan terus mengganggu. Tanpa inovasi, manusia hanya menjadi robot yang bekerja tanpa henti. Motivasi yang lain adalah orang yang berkecimpung di bidang teknologi informasi, di suatu hari nanti, akan menjadi orang kaya. Muda, kaya, dan pensiun dini merupakan hal yang melekat pada orang yang berkecimpung di bidang teknologi. Perkembangan teknologi yang tidak kenal mati, dan selalu menghasilkan uang adalah suatu hal pasti. Memang terdengar pragmatis berbicara mengenai uang, tetapi sebagai manusia alangkah bijaksananya jika kita menempatkan sosial sebagai hal utama, dan kedua adalah

173

uang. Rejeki tidak akan lari ke mana-mana, jika memang telah menjadi hak manusia itu sendiri. Pantang menyerah! Setiap pahlawan dan orang sukses selalu pantang menyerah. Tidak ada kata menyerah pada sosok Matt Mullenweg dan Linus Torvalds. Saya bisa menjaminnya. Terus berkarya dan berkarya dengan ditambah berpikir positif akan menjadi pemacu semangat. Melihat pasar, lingkungan, dan menatap masa depan untuk berkarya lebih baik. Hari kemarin adalah hari kemarin, hari ini adalah hari ini, dan hari esok adalah hari yan lebih baik. Bisnis Open source, Kenapa Tidak? “Kalau ingin kaya, jangan jadi pegawai kantoran dan pegawai negeri sipil!” demikian motivasi yang sering saya dengar ketika mengikuti seminar kewirausahaan. Walaupun hingga kini, saya belum memiliki usaha yang sukses dan mapan. Namun, saya percaya bahwa bisnis adalah pekerjaan yang akan menjamin kesejahteraan manusia ke depannya. Nah, open source juga bisa dijadikan bisnis atau minimal instrumen untuk menjalankan bisnis. Jika kita melihat tokoh-tokoh pebisnis yang sukses mengembangkan open source, diantaranya kita bisa meneladani Romi Satria Wahono. Seperti dikutip dari situs pribadinya, www.romisatriawahono.net, Romi mengaku dirinya sebagai dosen, peneliti dan technopreneur. Founder komunitas IlmuKomputer.Com dan CEO Brainmatics. “Kegiatan sehari-hari membimbing para pedjoeang dan keluyuran ilmiah ke berbagai kampus. Mengurangi tidur adalah madzabku, social networking & blogging adalah strategiku, entrepreneurship & teaching adalah karakterku, motivating & inspiring people adalah jalan perdjoeanganku,” tuturnya. Jika di dunia internasional, bisa dilihat Redhat, Canonical, Novel, dan Mandriva. Mereka termasuk sukses mengembangkan open source sebagai model bisnis mereka. Redhat meraih keuntungan besar dengan OS Redhatnya dan platform Jboss. Sedangkan Canonical menggondol keuntungan berlibat dari Ubuntu. Tidak ketinggala, Novel meraih jutaan dolar dari SUSE. Ini membuktikan bahwa bisnis open source sangat menjanjikan. Bagaimana dengan teori bisnis open source? Budi Rahardjo dari Pusat Penelitian Antar Universitas Bidang Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung mengungkapkan, sebenarnya produk
174

software memiliki dua nilai (value): use value dan sale value. Use value merupakan nilai ekonomis yang diperoleh dari penggunaan produk tersebut sebagai tool. Sementara sale value merupakan nilai dari program tersebut sebagai komoditi. Menurut Eric Raymond dalam bukunya “The Cathedral & The Bazaar: musing on linux and open source by accidental revolutionary,” dijelasnya ada tujuh bentuk bisnis open source. Pertama adalah cost sharing, dengan contoh Apache web server dimana perusahaan besar (seperti IBM) mendukung Apache dengan mengalokasikan SDM untuk ikut kontribusi. Kedua adalah risk spreading, dengan contoh Cisco Print Spooler dimana pembuat software tersebut merasa bahwa kalau mereka meninggalkan Cisco maka Cisco akan memiliki resiko hilangnya orang yang mengerti tentang software itu. Kemudian ketiga yaitu loss-leader/ market postioner, dengan contoh Netscape yang membuka source codenya (menjadi Mozilla) sehingga Microsoft Internet Explorer tidak mendominasi pasar. Keempat ialah widget frosting, dengan contoh perusahaan hardware (misalnya printer) yang membuka software driver untuk hardwarenya itu. Kelima yakni give away the recipe, open a restaurant dengan contoh Cygnus (yang memberikan support untuk tools dari GNU yang gratis) atau RedHat (yang mendistribusikan dan memberikan support untuk Linux). Keenam, accessorizing, dengan contoh penerbit O’Reilly & Associates yang menjual buku, seminar, T-shirt, dan barang-barang yang berhubungan dengan software (terutama software GNU). Dan terakhir, adalah Free the future, sell the present dengan contoh perusahaan Aladdin Enterprise yang membuat PostScript viewer. Sedangkan menurut Romi Satria Wahono artikelnya yang dipublish di blog pribadinya, dia menyebutkan ada lima Langkah Menjadi Programmer Entrepreneur. Pertama adalah Fight For Codeline Freedom! Programming adalah kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh seorang programmer. Kedua adalah Browsing For Learning And Researching, tancapkan ke dalam benak kita yang paling dalam, bahwa kegiatan web browsing bukan hanya ajang klik URL asal-asalan, kegiatan selingan, iseng atau aktifitas di kala senggang. Mengakses Internet adalah sebuah investasi. Lebih lanjut menurut Romi adalah create a “kreatifitas maya”! Gunakan berbagai data dan hasil analisa yang kita dapatkan pada saat browsing untuk mulai sedikit demi sedikit membangun kreatifitas maya. Keempat adalah blogging for personal branding.
175

Kreatifitas maya yang dahsyat dan menggunakan teknologi canggih, tidak ada artinya apabila tidak diperkenalkan ke publik. Terakhir adalah be an entrepreneur! Mulai pikirkan untuk masuk jalur entrepreneur formal lewat bisnis dalam bentuk yang lebih nyata. Dirikan PT atau CV, sewa kantor, ajak anak-anak muda yang cerdas nan militan untuk bergabung dengan kita. Dukungan untuk berwirausaha dalam bidang internet dan media digital juga diserukan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman seperti dikutip dari Tempo Interaktif (15 April 2009). Kusmayanto mengatakan, internet dan media digital mulai dilirik sebagai media alternatif melakukan kegiatan pemasaran dan komunikasi. “Ini membuka kesempatan dan lapangan pekerjaan bagi para pelaku industri terkait,” kata Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman hari ini. Kusmayanto menyambut baik perkembangan industri digital di Indonesia. Apalagi, katanya, yang paling mengikuti perkembangan industri ini kebanyakan anak-anak muda. Dia berharap generasi muda jadi wirausaha dalam bidang yang tergolong industri kreatif ini. Namun, untuk mampu terjun membuka bisni open source, alangkah bijaknya jika belajar baik dari buku maupun aktif langsung dengan orang yang telah terjun terlebih dahulu ke dunia tersebut. Belajar dari pengalaman akan menguat semangat, motivasi serta mematangkan strategi sebelum membuka bisnis open source. Tidak boleh ketinggalan dalam bisnis, selalu berbeda dan unik dari produk yang telah ada. Bolehkan kita mengembangkan atau mencari sisi negatif dari produk yang telah ada, kemudian kita diciptakan sisi positif pada produk baru. Namun, belajar mengenai manajemen marketing dan ceruk pasar adalah suatu keharusan. Ingat, bisnis teknologi informasi seperti open source tidak akan mati, layaknya bisnis makanan sehari-hari dan hiburan. --*Penulis merupakan jurnalis yang berkarya di Harian Seputar Indonesia desk Internasional, dan menjadi dosen lepas di Akademi Sekertaris dan Manajemen Adminsitrasi Bina Sarana Informatika dan Akademi Bahasa Asing Bina Sarana Informatika. Penulis juga aktif pada beberapa lembaga nirlaba yang bergerak di bidang kewirausahaan dan sumber daya manusia.

176

Referensi Internet www.gnu.org www.harry.sufehmi.com www.romisatriawahono.net http://techno.okezone.com/read/2009/07/09/54/237256/sistem-smspemilu-mampu-secepat-quick-count http://teknologi.vivanews.com/news/read/72764teknologi_open_source_topang_tabulasi_kpu http://teknologi.vivanews.com/news/read/72764teknologi_open_source_topang_tabulasi_kpu http://techno.okezone.com/read/2009/07/09/54/237256/sistem-smspemilu-mampu-secepat-quick-count http://techno.okezone.com/read/2009/07/09/54/237166/open-sourceselamatkan-sistem-sms-pilpres-2009 http://www.detikinet.com/read/2008/05/27/110152/945700/398/onnopertanyakan-nyali-open-source-pemerintah http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2009/04/15/brk,20090415170573,id.html http://www.lapanrs.com/IGORS/IM_OS/index.php http://www.republika.co.id/berita/63421/i_Open_Source_i_Cegah_Pe mbajakan_Piranti_Lunak Buku Eric Raymond, “The Cathedral & The Bazaar: musing on linux and open source by accidental revolutionary,” O’Reilly, 1999. Digital Review of Asia Pacific 2007/2008: International Development Research Centre (IDRC), Orbicom: Books. Kusmayanto Kadiman, “Simfoni Inovasi, cita & Realita”, Foresight; 2008 Koran Harian Seputar Indonesia edisi 16 Juli 2009 pada rubrik MIRROR dengan judul “Linus Torvalds, pendiri Linux; Belajar dari Kekecewaan, Menggapai Kesuksesan”. Harian Seputar Indonesia edisi 20 Desember 2008 pada rubrik MIRROR, berjudul “Matt Mullenweg, Pendiri Wordpress; Jangan Fokus Uang, Kerjakan yang Disukai”. **

177

BIODATA Nama Tempat Tgl.Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Andhika Hendra : Pemalang, 12 April 1983 : Laki-laki : JL. Mardadiono 48, Penggarit, Taman, Pemalang :: Reporter at International Desk on Seputar Indonesia Daily in Jakarta,

178

Perangkat Lunak Open Source merupakan Jiwa Bangsa Indonesia Oleh: Toby Fittivaldy ABSTRAK
Perangkat lunak opensource terus berkembang dan didukung oleh pengguna dari berbagai kalangan. Open source lahir akibat dari keterikatan pengguna terhadap lisensi, dimana lisensi suatu produk perangkat lunak cenderung mengikat dan membatasi penggunanya dalam berbagai hal. Dalam karya tulis ini disebutkan bahwa Gerakan Open source ini diawali oleh seorang programmer bernama Linus torwalds dengan cara mengadakan kegiatan membagi-bagikan source code (kode sumber) kernel linux nya. Bagi Indonesia yang kurang memahami istilah paten, gerakan open source merupakan dorongan yang diartikan bagi pembuat suatu produk tanpa harus menarik pembayaran atas penggunaan produk tersebut. Jika gerakan open source diartikan boleh di sebarkluaskan, dirubah tanpa harus membayar royalti atau biaya lainnya, maka di Indonesia hal ini sudah berkembang lama. Perkembangan perangkat open source saat ini tidak hanya terbatas pada lingkungan perkantoran dan masyarakat umum tapi telah merambah ke berbagai industri. Banyak produk budaya kita berupa tarian, dan hasil karya lainnya, dihasilkan dari memanfaatkan perangkat lunak tersebut. Pemerintah Indonesia melalui program IGOS (Indonesia, Go Open Source!) sangat mendukung penggunaan perangkat lunak open source ini. Namun dalam perkembangannya dapat dikatakan mengalami keterlambatan, salah satu alasannya adalah lambatnya akses internet di Indonesia. Sebenarnya hal ini dapat diatasi dengan adanya akses internet murah (Rt/RW-Net). Untuk itu semangat dan kemauan menggunakan open source harus ditumbuhkan.

Kata apa yang pertama kali terlintas di benak anda ketika mendengar kata open source? Mungkin beragam kata yang akan muncul, seperti gratis, lisensi, linux, kebebasan atau yang lainnya. Kata apapun yang muncul di benak anda, perangkat lunak komputer berbasis open source semakin hari semakin banyak digunakan dan berbagai macam ragamnya. Perangkat lunak ini terus
179

berkembang dan didukung oleh berbagai kalangan, baik industri maupun perorangan. Perangkat lunak komputer open source lahir dari sebuah keterkekangan pengguna terhadap lisensi, dimana lisensi suatu produk perangkat lunak cenderung mengikat dan membatasi penggunanya dalam berbagai hal. Padahal seorang pengguna sudah mengeluarkan uang untuk membayar lisensi tersebut. Salah satu contoh adalah lisensi yang berbasis OEM (Original Equipment Manufacturer). Lisensi perangkat lunak yang satu ini dikeluarkan pada saat kita membeli suatu perangkat keras, atau dengan kata lain lisensi perangkat lunak bawaan atau pabrikan, contoh lisensi ini terdapat pada software Nero saat pengguna membeli sebuah CD/DVD RW drive, Sistem Operasi Windows XP atau Vista saat membeli Notebook, dan lain sebagainya. Dimana pengguna sudah membayar lisensi tersebut secara terpaksa atau tidak pada saat membeli perangkat kerasnya, namun lisensi OEM tersebut tidak berlaku atau akan hilang saat perangkat keras yang dibeli tadi sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Jadi lisensi OEM tidak dapat di pakai untuk perangkat keras penggantinya atau perangkat keras baru yang funsinya sama, dan penggunaan lisensi ini terhadap perangkat keras penggantinya yang baru disebut sebagai pembajakan. Diawali oleh seorang programer bernama Linus Torvalds yang pertama kali pada tahun 1991 membagi-bagikan source code (kode sumber) kernel linux-nya perangkat lunak berbasis open source terus meluas. Apa yang dilakukan Linus Torvalds menjadi cikal bakal perangkat lunak open source yang berkembang sampai detik ini, banyak programer dan developer perangkat lunak diseluruh dunia tertarik mengikuti jejaknya. Semua perangkat lunak yang berbasis open source harus menyertakan kode sumber aslinya dan bebas digunakan, digandakan, diubah, diperbaiki, dan didistribusikan kembali secara umum baik gratis maupun tidak. Salah satu contoh perangkat lunak open source adalah Linux untuk sistem operasi, Linux sebagai sistem operasi open source sudah berkembang dengan ratusan distro dengan berbagai macam aplikasi gratis didalamnya yang disupport oleh seluruh programer di dunia. Perangkat lunak open source memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk berkreasi, menambah, mengurangi, atau mengabungkan isi dari suatu produk open source sehingga menjadi satu distro tersendiri. Kebebasan untuk melakukan apa saja terhadap perangkat lunak berbasis open source membuat banyak pengguna tertarik, selain itu penggunaan perangkat lunak open
180

source kian hari bertambah mudah, baik dari sisi GUI (Graphical User Interface) maupun yang lain. Sehingga banyak yang pada awalnya hanya coba-coba, lama kelamaan merasa nyaman menggunakan perangkat lunak open source tersebut. Sebenarnya sudah berapa lama bangsa Indonesia mengenal open source? Untuk di bidang komputer mungkin baru, tapi kalau di bidang yang lainnya tentu sudah menjadi budaya dan jiwa bangsa Indonesia. Contoh Batik, siapapun orangnya boleh membuat Batik Pereng tanpa harus membayar royalti atau lisensi, karena batik tersebut merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang diajarkan secara turun temurun tanpa lisensi dengan bahasa sekarang open source, siapa sebenarnya dahulu yang mendesain batik pereng entahlah, tapi bagaimana pun hal itu sudah menjadi budaya bangsa Indonesia. Selain Batik, ada Tari Jaipong, Tari Kecak, Lagu Gundul Pacul, Ampar-Ampar Pisang dan lainnya merupakan produk open source Indonesia jaman dulu yang penggunaanya gratis tanpa harus membayar royalti ataupun lisensi. Jiwa bangsa Indonesia adalah jiwa open source yang rela membagibagikan keahliannya tanpa biaya atau lisensi yang mengikat. Sudah selayaknya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar menggunakan perangkat lunak open source, karena perangkat lunak open source merupakan jiwa bangsa Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui program IGOS (Indonesia, Go to Open Source!) sangat mendukung penggunaan perangkat lunak open source ini. Namun dalam perkembangannya penggunaan perangkat lunak ini boleh dibilang sangat lambat di Indonesia, kenapa demikian? Mungkin faktor utama alasan pengguna adalah mahalnya mengakses internet di Indonesia menjadikan penghambat berkembangnya penggunaan perangkat lunak berbasis open source ini, dengan mahalnya akses tersebut pengguna menjadi susah untuk mempelajarinya dikarenakan hampir seluruh perangkat lunak open source memerlukan update ke server supportnya yaitu melalui jaringan Internet. Hal ini seharusnya bukan masalah besar bagi bangsa Indonesia karena jaringan RT/RW.NET sudah terbentuk dan dapat menjadi solusi, selain itu juga komunitas pengguna perangkat lunak open source sudah banyak sehingga update dapat dilakukan secara manual lewat DVD atau CD repository, jadi tidak relevan kalau hal itu dijadikan alasan. Suatu hal yang sangat penting dari sisi pengguna adalah kemauan untuk berubah dan berbangga dari pengguna perangkat lunak bajakan menjadi pengguna perangkat

181

lunak open source yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia sebagai salah satu warisan nenek moyang kita. Tulisan Artikel: Menyederhanakan Query Bertumpuk dengan Kode Biner, INFOKOMPUTER, Desember 1997, Peluang Bisnis Hiburan Berbasis Jaringan Nirkabel, INFOKOMPUTER, Desember 2004. ** BIODATA Nama Tempat Tgl.Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Toby Fittivaldy : Sumedang, 30 Mei 1975 : Laki - laki : Jl. Mandor ijo No. 31 RT 004/001 Bojong Rawa Lumbu, Kota Bekasi 17116 : 021-33174064, 087877435929 :-

182

Pendekatan Multidisiplin Dalam Rangka Meningkatkan Kepedulian dan Semangat Masyarakat untuk Menggunakan OSS Oleh: Arli Aditya Parikesit ABSTRAK
Penggunaan OSS merupakan solusi terbaik dalam hal Rasio Harga di bandingkan dengan (Proprietary Software). Dalam karya tulis ini dijelaskan bahwa ada beberapa kalangan yang kurang berminat menggunakan dan memanfaatkan OSS, diantaranya : Bisnis Non IT, Seniman / Desainer, End User dan Pendidikan. Keadaan ini disebabkan belum optimalnya sosialisasi dan strategi pemasaran. Untuk menjembatani hal ini, apa yang telah vendor proprietary lakukan dapat di tiru oleh vendor OSS misalnya dalam hal penanaman branding (brand image) sesuai dengan kebutuhan pasar. Pendekatan Multidisiplin untuk mendongkrak penggunaan OSS, pada dasarnya bukan hanya bergantung pada dana besar ataupun Teknologi Tinggi. Tetapi pendekatan multidisiplin, sebaiknya untuk menguasai pasar tidak hanya melibatkan orang IT, tapi juga ekonom, psikolog, ahli hukum bahkan seniman / desainer yang masing-masing berorientasi pada Bisnis dan Teknis Manajerial, seperti yang telah diterapkan di dunia barat (penerapan Ilmu Liberal Arts) yang mana untuk saat ini di Indonesia masih dalam tahap perintisan.

OSS (Open Source Software) jelas merupakan solusi terbaik dalam hal rasio harga/kecepatan. Sudah banyak ulasan di berbagai jurnal dan majalah informatika, yang menyatakan bahwa OSS merupakan solusi yang lebih baik daripada proprietary software. OSS telah menjadi platform favorit bagi praktisi IT. Namun, ada beberapa kalangan di Indonesia, yang sampai detik ini, tidak menunjukkan minat secara penuh pada OSS. Mereka adalah kalangan bisnis non IT, kalangan seniman/desain, end user dan pendidikan. Mengapa mereka sangat lamban dalam mengadopsi OSS? Apakah yang terjadi? Apakah yang harus dilakukan supaya akhirnya mereka mulai mengadopsi OSS? Mari kita bahas. Alasan Mengapa Sebagian Kalangan belum mengadopsi OSS Sampai sekarang, kalangan bisnis non IT masih bertahan menggunakan proprietary software. Alasan yang selalu mereka tekankan terhadap keputusan mereka ini adalah, karena mahalnya
183

proses migrasi, memakan waktu, dan software yang mereka gunakan hanya tersedia di platform proprietary. Pertanyaan utama dari para korporasi non IT bukanlah untuk melakukan migrasi ke OSS, namun kapan mengupgrade perangkat lunak proprietary mereka. Sebagian dari mereka sudah melakukan migrasi ke OSS, namun sebagian tetap bertahan di platform proprietary, dengan alasan seperti yang sudah disebutkan. Seniman/designer merupakan kalangan yang sangat banyak menggunakan platform berbasis GUI. Penggunaan GUI yang sempurna merupakan syarat mutlak dalam melakukan pekerjaan sehari-hari mereka. Sayangnya, kalangan ini juga relatif lamban dalam mengadopsi OSS. Alasan yang mereka kemukakan, adalah GUI dari OSS tidak sesempurna platform proprietary, tidak tersedianya software gambar/video/audio editor sebaik di platform proprietary, dan OSS tidak mampu mereproduksi gambar/video/audio seperti di platform proprietary. Di Indonesia, sampai sekarang belum pernah terdengar kalangan seniman/designer yang secara serius bermigrasi ke OSS. Pendidikan sudah ada sedikit kemajuan. Sudah ada sebagian sekolah menengah yang mengajarkan OSS kepada siswanya. Sementara di Perguruan Tinggi, OSS juga sudah mulai populer. Namun sebagian kalangan pendidikan masih belum bergerak juga menggunakan OSS. Bahkan ada sebagian perguruan tinggi yang melakukan kerja sama dengan vendor proprietary. Kalangan end user adalah pihak yang paling lamban dalam mengadopsi OSS. Sebenarnya, masalah tidaklah murni berada di tangan end user, namun juga di sebagian vendor IT. Sebagian vendor IT, membundel sistim operasi proprietary secara langsung dengan PC yang mereka jual. Jika ingin diganti dengan OSS, maka opsinya hanya dua. Pertama, sistim operasi proprietary itu harus diuninstall sendiri, untuk kemudian diinstall dengan sistim operasi OSS. Kedua, yaitu meminta vendor mengunistall, namun dengan biaya tambahan. Kejadian ini terjadi, karena vendor IT tersebut memiliki kontrak bisnis dengan vendor software proprietary. Hal ini menjadikan end user tidak tertarik mengadopsi sistim operasi OSS, ataupun aplikasinya. Problematika Sosialisasi OSS Kesemua masalah yang dijabarkan diatas, sebenarnya bermuara pada satu problem besar, yaitu problem sosialisasi. Di satu sisi, vendor proprietary memiliki strategi pemasaran, yang sebetulnya
184

bisa ditiru oleh vendor OSS. Sebagai contoh, vendor proprietary memiliki anggaran yang sangat besar untuk iklan. Mereka tanpa tanggung-tanggung menyewa jasa artis terkenal, untuk mensosialisasikan produknya. Mereka juga sudah terlebih dahulu hadir di Indonesia, jauh sebelum OSS. Sehingga, tidak heran kalau mereka sudah memiliki teknik pemasaran dan advertising yang sangat mapan. Vendor proprietary sudah sangat sadar, bahwa IT tidaklah sekedar masalah teknis belaka, yang biasanya diasumsikan sebagai pencarian teknologi yang paling canggih, namun IT juga merupakan seni bagaimana memasarkan dan mengiklankan produk mereka kepada publik. Dari sejak mahasiswa tingkat awal, vendor proprietary telah mendekati mahasiswa tersebut, untuk menggunakan software mereka secara gratis dan memberikan sertifikasi kompetensi dengan murah. Namun, jika mahasiswa tersebut sudah menjadi manajer, maka vendor proprietary akan menjual software mereka dengan harga mahal, sesuai dengan standar korporasi. Vendor proprietary juga sadar, bahwa branding merupakan kunci untuk menjual produk teknologi. Oleh karena itu, sebagian vendor proprietary berhasil mengiklankan dirinya sebagai vendor yang 'gaul', dan 'trendy'. Pendekatan psikologi massa tersebut sangat sukses, sehingga banyak generasi muda yang membeli produk vendor tersebut, karena sudah diasosiasikan dengan produk yang 'trendy', dan 'gaul'. Keberhasilan branding ini, adalah karena vendor tersebut memang dipimpin oleh seorang seniman. Sehingga tidak heran, kalau mereka bisa membaca salera generasi muda, yang memang haus untuk mengekspresikan jiwa seni mereka. Pendekatan multidisiplin untuk mendongkrak pemasaran OSS Kunci sukses dari keberhasilan vendor proprietary untuk menguasai pasar sebenarnya hanya satu. Bukan karena mereka memiliki dana besar, bukan karena mereka menyewa artis terkenal, dan bukan karena mereka memiliki teknologi tinggi. Namun karena mereka melakukan pendekatan multidisiplin dalam menguasai pasar. Di semua vendor proprietary, yang bekerja di sana bukan hanya orang IT. Namun juga ekonom, psikolog, ahli hukum, dan dalam kasus tertentu seniman/desainer. Dalam manajerial vendor proprietary, pendapat orang IT tidaklah selalu dijadikan rujukan utama, karena semua orang apapun latar belakangnya akan dianggap sama. Maksudnya, ada pemisahan antara fungsi bisnis dan teknis dalam manajerial mereka. Hal ini sudah dilakukan oleh
185

beberapa vendor OSS, seperti Google. Perusahaan yang dipimpin oleh Eric Schmidt, Sergei Brin, dan Larry Page ini telah berhasil melakukan pemisahan fungsi bisnis dan teknis pada manajemen puncak mereka. Eric Schmidt diberi tugas untuk mengurus bisnis dan pemasaran, sementara Sergei Brin dan Larry Page berfokus untuk menciptakan teknologi terbaru yang siap dipasarkan. Hal ini yang belum kelihatan jelas di Indonesia. Dominasi orang IT, dalam menentukan segala hal dalam OSS, masih terlalu dominan. Masukan dari disiplin ilmu lain, misalnya ekonomi, hukum, psikolog, atau seniman, masih sangat minim. Hal ini memang tidak terjadi di negara maju, Amerika Serikat atau Uni Eropa misalnya, karena dari sejak awal, dalam mensosialisasikan OSS, mereka sudah menggunakan pendekatan multi disiplin. Kesuksesan Google, Nokia, Facebook, dan Wordpress merupakan hasil kerja keras dari kolaborasi berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Pencipta Wordpress, yaitu Matt Mullenweg, pernah kuliah di ilmu politik. Sehingga, sangat mudah bagi dia untuk menggalang dukungan di dunia maya, dengan memanfaatkan ilmu politik yang memang dia kuasai. Teknik lobi, yang ia pelajari di ilmu politik, sangat membantu sepak terjang wordpress dalam memperluas dukungan. Walaupun korporasi OSS di negara maju rata-rata dikuasai orang IT, mereka sangat memahami bahwa berkolaborasi dengan bidang ilmu lain adalah sangat penting. Itu karena pada semester awal kuliah, semua mahasiswa IT di barat mempelajari liberal arts, yang menekankan pentingnya pendekatan multidispliner. Semua mahasiswa di barat, dari semua disiplin ilmu, mulai dari kedokteran sampai sosiologi, wajib mempelajari liberal arts. Hal ini yang belum terlalu tampak di Indonesia. Sudah ada beberapa perguruan tinggi yang mencoba menerapkan liberal arts, namun hasilnya belum nampak, karena masih pada tahap awal. Satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah kebuntuan sosialisasi ini memang hanyalah pendekatan multidisiplin. Dalam jangka pendek, Vendor OSS Indonesia sebaiknya juga memperkerjakan disiplin ilmu yang berbeda dengan IT dalam perusahaan mereka. Sebagai contoh, seorang ekonom akan berguna untuk membantu pemasaran produk OSS. Seorang psikolog akan bermanfaat, untuk membaca sentimen massa dari calon konsumen mereka. Sehingga, akan mudah membaca salera pasar. Seorang ahli hukum justru akan bisa membantu perusahaan OSS, sehingga jika ada sengketa hukum dengan vendor proprietary, maka sengketa di pengadilan akan memiliki kans untuk
186

dimenangkan pihak OSS. Sementara, seorang seniman akan bermanfaat untuk membaca apa aspirasi seniman, sehingga dapat membantu mendesain aplikasi yang dapat dimanfaatkan secara intensif oleh mereka. Adapun, solusi jangka panjang memerlukan perombakan kurikulum pendidikan IT di perguruan tinggi. Pendidikan IT di Indonesia sudah mengajarkan beberapa bidang non IT, yang masih relevan dengannya, misalnya mengajarkan manajemen informatika, dan lain lain. Adapun, menurut hemat kami, hal ini tidak cukup. Jika menggunakan terma psikologi, pendidikan IT di perguruan tinggi masih terlalu terpusat pada pendekatan otak kiri, dimana analisa kuantitatif dan matematis secara teknis dianggap sebagai superior. Padahal, IT tidaklah hanya bergantung pada otak kiri, namun juga otak kanan. Keberhasilan sebuah vendor proprietary menguasai kalangan seniman dan desain, karena memang mereka melakukan pendekatan terhadap para seniman, dengan bahasa dan pemikiran yang 'sejiwa' dengan mereka, bukan dengan bahasa teknis. Hal ini membuktikan, bahwa IT memang memerlukan sentuhan otak kanan, dimana seni dan budaya berada. Bisnis bukanlah sekedar hitunghitungan matematis, namun juga bagaimana seni meyakinkan orang lain, dan meyakinkan orang lain hanya bisa dilakukan jika kita mengetahui latar belakang budaya dan minat mereka. Sejauh ini, perguruan tinggi sudah memberikan solusi dalam hal ini, misalnya dengan mengajarkan mata kuliah ilmu sosial dasar pada mahasiswa IT. Namun, hal ini tidak terlalu mengubah keadaan. Mengajarkan sekedar ilmu tidaklah terlalu memberikan pengaruh pada soft skills mahasiswa IT. Mereka harus juga diajarkan bagaimana mengapresiasi seni, budaya, dan sastra. Semua ilmuwan barat terkenal, dari Isaac Newton sampai Albert Einstein, membaca buku filsafat dan sastra, dan mereka menyukai musik klasik. Hal ini terjadi, karena pengajaran liberal arts di barat. Apresiasi terhadap seni, budaya, dan sastra menjadikan ilmuwan-ilmuwan tersebut bahkan juga dihargai oleh kalangan yang berbeda disiplin ilmu dengan mereka. Penerimaan dari kalangan yang berbeda latar belakang, tentu merupakan apresiasi dari kerja keras mereka. Jika liberal arts diajarkan di Indonesia, tentu akan ada sejumlah penyesuaian, sesuai dengan konteks budaya kita. Namun, yang paling penting adalah, mahasiswa IT perlu untuk mengapresiasi bidang ilmu yang berbeda pada mereka, bahkan berkolaborasi dengan bidang ilmu lain, untuk mensukseskan sosialisasi OSS. Penerimaan dari semua kalangan

187

terhadap OSS hanya dapat berhasil, jika kita memahami latar belakang mereka, dan mengapresiasi hasil karya mereka. Optimisme untuk masa depan OSS Jelas, bahwa OSS merupakan solusi yang terbaik terhadap IT di Indonesia. Namun OSS memiliki problematika sosialisasi. Adapun, solusi yang tersedia ada dua, yaitu lebih banyak mempekerjakan dan mendengarkan pihak non IT, dan pengajaran liberal arts pada mahasiswa IT. Pendekatan multi disiplin bisa dilaksanakan segera, namun pengajaran liberal arts memerlukan waktu yang lebih panjang. Baru beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang mengajarkan liberal arts pada mahasiswa IT. Sehingga untuk solusi kedua ini memerlukan waktu lebih panjang untuk menunggu hasilnya. Namun, kedua solusi tersebut telah memberikan petunjuk, bahwa kita harus selalu optimis pada masa depan OSS di Indonesia. Jika semua kalangan, dari dokter, insinyur, sosiolog, psikolog, pengacara, sampai seniman, bekerja sama untuk mensosialisasikan OSS, maka dunia IT Indonesia akan mencapai masa keemasannya. ** BIODATA Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat : Arli Aditya Parikesit :: Laki – laki : Professur für Bioinformatik Institut für Informatik, Universität Leipzig Härtelstr. 16-18, D-04107 Leipzig, No.tlp: +49 3419716693 Jl. WR Supratman Graha Hijau 2 E-20, Ciputat Banten 15412 Indonesia, No.tlp: 08551157001 Universitas Leipzig, netsains.com. Email: arli@daad-alumni.de :-

Pekerjaan

188

SEBUAH INOVASI PEMBELAJARAN JAVA PROGRAMMING FOR KIDS Oleh: Teguh Wiyono ABSTRAK
Tulisan ini merupakan panduan pembelajaran program aplikasi JAVA Programming dan Eclipse yang merupakan tools berbasis open source. Tujuan penyusunan panduan ini meningkatkan semangat anakanak dalam menggunakan Open Source Software (OSS) dengan memperkenalkan Program JAVA dan Moving To Eclipse pada penerapan Pendidikan Java Programming For Kids. Dalam tulisan ini juga diuraikan tentang perangkat lunak Java Virtual Machine (JVM) dan To Eclipse.

(Sebuah Inovasi Pembelajaran Java Programming For Kids)

JAVA PROGRAMMING FOR KIDS
189

MENINGKATKAN SEMANGAT ANAK-ANAK MENGUNAKAN OPEN SOURCE SOFTWARE (OSS) DENGAN MEMPERKENALKAN PROGRAM JAVA DAN TO ECLIPSE PADA PENERAPAN PENDIDIKAN JAVA PROGRAMMING FOR KIDS (Sebuah Inovasi Pembelajaran Java Programming For Kids)

Disusun Untuk Mengikuti Lomba Menulis Open Source Software (OSS) Yang Diadakan Oleh RISTEK Tahun 2009 Dengan Tema: Meningkatkan Kepedulian Masyarakat Untuk Pengunaan Open Source Software (OSS)

Oleh: Teguh Wiyono Kategori: Wartawan dan Penulis

CENDEKIA INSANI INDONESIA COMMUNITY 2009

190

1. Program Pertama Java Anda Orang berbicara dengan satu sama lain memakai bahasa berbeda. Demikian pula, mereka menulis program komputer seperti permainan, kalkulator, redaktur teks yang memakai bahasa menyusun yang berbeda. Tanpa program, komputer anda akan tanpa penggunaan, dan layarnya akan selalu hitam. Bagian-bagian komputer dianggap perangkat keras, dan program dikenal sebagai perangkat halus. Bahasa komputer yang paling populer adalah Visual Basic, C++, dan Java. Buatan yang mana bahasa Java yang berbeda dengan banyak yang lain? Terlebih dulu semua, program sama Java bisa jalan (bekerja) di atas komputer berbeda suka Police Constable, Apel dan lain-lainnya tanpa ganti. Sebagai soal fakta, program Java tidak menjadi rata tahu di mana mereka berlari, karena mereka berlari di dalam sebiji kerang perangkat halus istimewa memanggil Java Virtual Machine (JVM). Jika, misalnya, program Java anda perlu mencetak beberapa pesan, meminta JVM melakukan ini, dan JVM tahu bagaimana caranya untuk berurusan dengan pencetak anda. Orang berbicara dengan satu sama lain memakai bahasa berbeda. Demikian pula, mereka menulis program komputer seperti permainan, kalkulator, redaktur teks yang memakai bahasa menyusun yang berbeda. Tanpa program, komputer anda akan tanpa penggunaan, dan layarnya akan selalu hitam. Bagian-bagian komputer dianggap perangkat keras, dan program dikenal sebagai perangkat halus. Bahasa komputer yang paling populer adalah Visual Basic, C++, dan Java. Buatan yang mana bahasa Java yang berbeda dengan banyak yang lain? Java lebih sangat kuat daripada banyak bahasa lain. Java bebas! Anda bisa menemukan segalanya karena membuat program Java anda di Internet dengan tidak membayar sesen! Bagaimana caranya untuk memasang Java di atas Komputer Anda Untuk mulai memprogram di Java anda perlu untuk download perangkat halus istimewa dari Situs Web perusahaan yang dianggap Mikro- Sistem matahari, yang menimbulkan bahasa ini. Nama lengkap perangkat halus ini adalah Java 2 Perkembangan Perangkat Halus Kotak (J2SDK). Pada saat tulisan ini versi terakhirnya 1,5,0 bisa didownload dari Situs Web ini: http://java.sun.com/j2se Memilih melepaskan J2SE 1,5,0 atau yang lebih baru, dan di atas Halaman Web berikutnya di bawah Download hak berbunyi klik atas hubungan ke pengeluaran ini. Lalu berbunyi klik atas Download
191

kata di bawah hak SDK. Accept mengizinkan persesuaian dan memilih Windows Offline Installation (kecuali kalau anda mempunyai Mac, Linux atau Solaris komputer). Tekankan Penyelamatan tombol di atas layar berikutnya dan pilih berkas di atas hard disk anda di mana you’d suka untuk menghemat berkas instalasi Jawa. Download berkas akan mulai. Sesudah download berakhir, memulai instalasi proses – hanya mengklik berkas dua kali bahwa kamu mendownload, dan ini akan memasang J2SDK di atas cakra anda. Misalnya, di Jendela komputer akan membuat berkas seperti yang satu ini: c:\Program Files\java\j2sdk1.5.0, di mana C: adalah nama hard disk anda.

Jika anda tidak mempunyai cukup tempat di anda C: naik mobil, memilih yang berbeda, lain, hanya terus menekan Memasang dan kata tombol Berikutnya, mengakhiri jendela yang akan muncul di atas layar anda. Pada beberapa menit instalasi Java di atas komputer anda akan benar-benar. Di langkah berikutnya instalasi, anda perlu menegaskan dua variabel sistem. Misalnya, di Jendela berbunyi klik atas Permulaan kancing, dan sampai ke Papan Pengontrol (mungkin disembunyikan di belakang Tempat menu), dan berbunyi klik atas Sistem ikon. Memilih di sana rekening maju, dan berbunyi klik di atas Variabel Lingkungan kancing. Di atas halaman berikutnya anda bisa melihat bagaimana layar ini kelihatan seperti di Jendela XP note book. Program yang sudah ada di sistem anda. E berikutnya jendela akan nampak sama sekali sistem varia Ress lebih rendah kancing Baru dan menyatakan variabel kemauan itu ada, hanya menambahkan petunjuk baru Java dan Variabel kotak Nilai: P Path menolong Jendela (atau Unix)
192

menemukan J2SDK di atas mesin anda. Ganda memeriksa nama berkas di mana anda memasang Java. Jika Garis Edar variabel already titik-koma ke sangat mulai

Juga, menyatakan variab titik-koma sebagai nilainya. T program anda. Pe program anda dari alat pemisah saja: Le CLASSPATH dengan memasuki titik dan variabel sistemnya akan menolong Java menemukan riod berarti bahwa Java paksa mulai melihat untuk sekarang cakra berkas, dan titik-koma ialah

Sekarang instalasi J2SDK lengkap!

193

Menyusun program untuk menterjemahkannya dari bahasa Java ke dalam M mengerti. E Program hree Main Steps dalam memprogram T Untuk membuat program bekerja Java anda perlu memeriksa anak tangga pohon berikut: Menulis program di Java dan kecuali itu di atas cakra. Sebyte istimewa kode JV itu Mengalirkan program. Langkah 1 – Type th Anda bisa mempergunakan redaktur teks yang mana pun untuk menulis program Java, misalnya Bloknot.

Terlebih dulu, anda perlu mengetik program dan penyelamatan itu di berkas teks dengan nama berakhir di .java. Misalnya, jika anda mau menulis program memanggil HelloWorld, memasuki teksnya (kami memanggilnya sumber kode) di M itu tercetak di atas layar Salam kata orld: Bloknot dan menghematnya di berkas menamai HelloWorld.java. Mohon jangan pakai formulir di nama berkas Java. Ere progra H W

194

Menerangkan bagaimana th R, tetapi di titik ini kepercayaan saja saya – program ini akan mencetak Dunia Salam kata di langkah 3. Adalah karya program nanti di ini chapte Compile Program aduh anda menyusun rogram. Y menggunakan javac piler, yang 2SDK. mengatakan anda program kami N perlu kepada ini ou’ll ialah p com sebagian J Let’s menyelamatkan y di petunjuk memanggil c:\berlatih. Pilih menu mulai, berlangsung, dan mencatat kata cmd untuk membuka jendela perintah hitam. Saja untuk meyakinkan bahwa anda menetapkan jalan variabel sistem dan classpath dengan benar, memasuki set kata dan pengambilan pandangan lain di nilai. ke c:\berlatih dan menyusun berganti arus fold rogram: CD\berlatih Javac HelloWorld.java Anda tidak mesti menyebutkan berkas berlatih memberinya nama yang mana pun anda suka.

Program javac ialah Java penyusun. Anda won’t melihat any penegasan bahwa anda program HelloWorld sudah compiled dengan berhasil. Ini adalah kasus kalau tak ada berita adalah berita baik. Macam menguasai diri dan untuk memperlihatkan kepada anda sekalian berkas yang ada di berkas anda. Anda sebaiknya memahami di sana berkas baru menamai HelloWorld.class. Ini membuktikan bahwa program anda dengan berhasil sudah tersusun. Anda asli menyimpan HelloWorld.java juga di sana, dan anda can mengubah berkas ini nanti untuk mencetak Hello Mom atau sesuatu yang lain. Apabila program mempunyai kesalahan sintaksis, akan mengatakan anda lupa mengetik penyangga keriting terakhir, Java
195

penyusun akan mencetak pesan kesalahan. Sekarang anda perlu membereskan kesalahan, dan menyusun kembali program lagi. Jika anda mempunyai beberapa kesalahan, anda mungkin perlu mengulangi tindakan ini lebih dari satu kali sampai berkas HelloWorld.class diciptakan. Run Program Sekarang menuju mengalirkan program. Di windous perintah sama memasuki pengikut-pengikut: Java HelloWorld Sebabkan anda dilihat bahwa kali ini you’ve memakai program Jawa lebih baik daripada javac? Program ini dipanggil Java dikelola-waktu nvironment (JRE), atau anda mungkin menganggapnya JVM suka dilakukan saya terlebih dahulu. E

Modal traktiran dan kecil let menamai program Keep di pikiran bahwa dilakukan Java yang sama, yang bermaksud itu jika dengan ibu kota dan capital helloworld atau helloWorld Sekarang akan mempunyai beberapa ot t S the u elloWorld, tidak mencoba mulai program JV akan mengadu. Kesenangan mencoba menebak bagaimana caranya untuk berganti program ini. Menerangkan bagaimana disisipkan oleh program ini berikutnya chapter, sungguhnya begitu, mencoba menebak bagaimana caranya untuk bergantinya untuk mengatakan halo kepada anda, teman atau mencetak alamat anda. Periksa ketiga anak tangga untuk melihat jika the masih memprogram karya sesudah anda ganti. Di berikutnya bab sandiwara I’ll anda bagaimana caranya untuk mengetik, menyusun dan berlangsung your program di tempat yang lebih istimewa daripada seorang redaktur teks dan jendela perintah hitam. II. TO ECLIPSE Pembuat program biasanya bekerja di disebut menggabungkan lingkungan pengembangan (ide. kamu dapat menulis, susun dan lari program di sana. ide juga punya membantu menjelaskan semua unsur bahasa, dan membuat ini lebih mudah menemukan dan
196

perbaiki kesalahan program kamu. sementara ide program mahal, di sana gratis baik sekali ide memanggil . situs jaringan www. . org. Di bab ini saya akan membantu kamu download dan install ide di komputer kamu, ciptakan di sana proyek memanggil halo dunia, dan setelah ini kami akan membuat semua program kami di sana. buat sendiri enak di ini adalah alat baik sekali itu banyak pembuat program jawa profesional menggunakan. Memasang membuka halaman web www. . org dan klik di download menu pada sisi kiri (http. klik di link utama download situs dan pilih versi kamu mau download. mereka biasanya punya satu terakhir mengeluarkan dan beberapa kandang membangun. terakhir mengeluarkan secara resmi melepaskan produk. suingguhpun kandang membangun mungkin mempunyai lebih keistimewaan, mereka masih mungkin punya masalah kecil. pada ketika dari ini menulis kandang terakhir membangun 3.0m8. pilih membangun ini dan you'll lihat berikut following window:

Klik di link (http hampir windows sabda, mac, atau linux memuati file dengan ini nama panjang itu akhir dengan. kode pos ke beberapa folder di disket kamu. sekarang kamu hanya harus membuka ritsliting file ini ke kamu c: kendarai. jika kamu telah punya program winzip memasang di komputer kamu, right-click di file ini dan pilih winzip di menu dan pilihan mengekstrak ke. jika kamu
197

punya ruangan di kamu c: kendarai, tekan kancing mengekstrak, jika tidak pilih disket lainnya yang punya banyak angkasa tersedia. tergantung pada komputer kamu, dan kebawah

Instalasi menyelesaikan! untuk kemudahan kamu, ciptakan shortcut untuk gerhana. right-click di desktop dari komputer kamu, kemudian tekan baru, shortcut, jelajah, dan pilih gerhana file. exe di folder c: \eclipse. mulai program, double-klik di gerhana icon biru, dan you'll lihat pertama selamat datang layar (layar ini sedang merubah sligtly dengan each membangun):

Jika layar kamu melihat berbeda, mulai disebut meja kerja, dan kearah program dapat juga menemukan tutorial baik bawah pengguna pengembangan everal file. tekan kancing berikut di baru
198

roject windous. sekarang you'll perlu masuk nama saya baru kamu pertama proyek: yang daerah kerja untuk proyek java kamu. memperoleh memulai dengan di seksi ini saya akan pertunjukan kamu bagaimana kamu dapat dengan cepat membuat . menu membantu, bantu muatan, dan javauide. Mulai bekerja di program perlu membuat proyek baru. proyek sederhana suka kami helloworld akan punya hanya satu file helloworld. java. cantik segera kami akan membuat banyak lanjutan roject itu akan terdiri dari membuat proyek gres di hanya klik di file menu, baru, proyek, dan kemudian pproject, sebagai contoh

Melihat grayed keluar direktori kotak. ini menceritakan kamu dimana file proyek ini akan [jadi] lokasi di disket. gerhana punya folder khusus workspace, dimana ini menyimpan semua file untuk proyek kamu. di kemudian, you'll membuat memisahkan proyek untuk kalkulator program, ti -tac-oe permainan, dan program lain. akan ada beberapa proyek di kbench telah beberapa lebih kecil wilayah memanggil visi yang berbeda melihat dari proyek kamu.

199

Kamu klik di tanda tambah kecil dengan saya pertama proyek, it'll mengekspansi nvironment (jre ystem perpustakaan yang bagian dari proyek jika untuk beberapa alasan kamu preferenc kancing nstalled java, sebagai contoh c: \j2sdk1.5.0. creatin mari kita recr program java kelas yang mewakili obyek dari hidup nyata. Untuk mempelajari lebih banyak tentang kelas di berikut bab. membuat masuk dia metode jika menunjukkan kamu jawa hal run-time wahai tidak lihat di sana, klik di windows menu, jawa, editor, memasang , tambahkan, dan, menggunakan rowse menemukan folder dimana kamu apakah saya program di gerhana eate helloworld program dari bab 1 di Eclipse.

200

Kelas di pilih file menu, baru, kelas dan lloworld di nama ladang. juga, di seksi yang puntung kamu bermaksud membuat, menyebut kotak escribe kelas kami. setelah komentar anda menemukan kode kelas helloworld dengan metode kosong main(. metode sabda berarti aksi. menjalankan kelas jawa sebagai program, kelas ini harus punya metode memanggil main(. menyelesaikan program kami, tempat kursor setelah keriting memperkuat di baris dengan utama, tekan tombol masuk dan ketik berikut di garis baru: tekan kancing menyelesaikan, dan anda lihat itu menciptakan untuk kamu kelas helloworld. ini menempatkan komentar program ( teks diantara / dan /) di atas sekali - kamu harus merubah mereka ke System.out.println("Hello World");

Menyimpan program di disket dan susun ini, hanya tekan pada waktu yang sama dua kancing di kibor kamu: ctrl-. jika kamu tidak membuatny kesalahan sintaksis, kamu lihat beberapa pesan-pesan
201

- program ickly menemukan moda dengan double-clicking di tive. mari kita meletakkan keriting memperkuat program one-clas proyek. tetapi segera kamu roject akan telah beberapa kelas java. itu adalah mengapa sebelum mencari memilih menu cari, kemudian run…(make aplikasi jawa itu yakin memilih di puncak meninggalkan pojok), dan masuk nama proyek dan kelas utama: terkompile. tetapi mari kita bersalah dengan sengaja lihat apa akan terjadi. hapus keriting lalu memperkuat dan mengenai ctrl- lagi. gerhana akan tampilan tiada bandingnya memperkuat kesalahan di visi tugas, dan juga ini akan tempat tanda merah di garis yang punya masalah. sebagai proyek kamu menjadi lebih besar, telah beberapa file dan ompiler mungkin mengadakan lebih dari satu kesalahan. kamu dapat (tidak menetapkan walaupun) meragukan liror pesan di tugas perspec kembali dan mengenai ctrl- lagi - voila, pemberitahu kesalahan pergi! mencari helloworld di sederhana kami proyek untuk pertama kali, kamu perlu memberitahu yang kelas di proyek ini utama satu.

Sekarang tekan bu int kata halo sebelah barat nsole melihat cara yang sama seperti ini merusak. aduh kamu dapat mencari proyek dia dengan memilih menu cari, cari lalu aunched atau dengan menekan kancing ctrl-f11 di kibor. bagaimana helloworld bekerja? mari kita mulai belajar apa sebenarnya terjadi di program helloworld. kelas helloworld punya hanya satu metode main(, yang poin entri aplikasi jawa program). kamu dapat memberitahu utama itu metode, karena ini punya tanda kurung setelah kata utama. metode dapat memanggil (menggunakan) metode lain, sebagai contoh metode kami main( memanggil metode println( ke tampilan teks halo dunia di
202

layar. setiap metode mulai dengan garis formulir memanggil tanda tangan metode: static void main(String[] args) Siapa dapat akses metode - umum. kata kunci umum essed dengan beberapa wahai? ? instruksi di bagaimana cara menggunakan ini - statis. kata kunci statis berarti bahwa kamu tidak mempunyai membuat hal (salin) dari helloworld benda di ingatan menggunakan metode ini. kami akan memperbicangkan tentang hal kelas banyak di berikut bab. ? ? metode kembali beberapa data? kosong kata kunci berarti bahwa metode main(tidak kembali beberapa data kepada memanggil program, yang dalam masalah ini. tetapi jika sebagai contoh, metode mempunyai melakukan perhitungan, ini dapat telah kembali menghasilkan nomor ke pemanggil nya. ? ? nama metode utama. ? ? daftar argumen - data yang dapat memberi kepada metode - string[ arg. di metode main(string[ arg berarti bahwa metode dapat menerima mempersiapkan rangkaian yang mewakili data teks. nilai itu sedang melewati ke metode disebut argumen. saya mengatakan sebelum, kamu dapat punya itu program terdiri dari beberapa asse, tetapi salah satu dari mereka punya metode main. kelas jawa biasanya telah beberapa metode. sebagai contoh, permainan kelas dapat punya metode startgame, stopgame, readscore, dan di. tubuh metode kami main hanya satu garis: tanda tangan metode ini menceritakan kita fol ean bahwa metode main dapat accther kelas jawa atau jvm sendiri. System.out.println("Hello World"); Setiap perintah atau metode memanggil harus akhir dengan titik koma; . metode println know bagaimana cara cetak data di sistem menghibur (perintah jendela). java' nama metode selalu mengikuti oleh tanda kurung. jika kamu lihat metode dengan tanda kurung kosong, ini berarti bahwa metode tidak mempunyai beberapa argumen. sistem. keluar berarti bahwa variabel keluar didefinisikan di dalam itu sistem penggolongan datang dengan java. apa kabar diharapkan mengetahui bahwa ada sesuatu memanggil keluar di sistem penggolongan? gerhana akan membantu kamu dengan ini. setelah kamu mengetik sistem sabda dan noktah, gerhana akan pertunjukan kamu semua hal yang tersedia di sini. pada setiap waktu kamu dapat juga meletakkan kursor setelah noktah dan tekan ctrlspace membesarkan membantu kotak mirip pada ini satu:

203

Keluar. println menceritakan kita itu ada benda mewakili oleh mething memanggil keluar" punya metode etween kelas dan nama metode ean bahwa ini metode ada di dalam kelas ini. katakan kamu punya gadis pingponggame itu punya metode savescore. ini adalah bagaimana memanggil metode ini untuk dave siapa memenangkan tiga permainan: variabel keluar dan ini" socalled println. noktah cyou dapat lagi, data diantara tanda kurung disebut argumen atau bilai ameter. parameter ini diberikan ke metode untuk macam memproses, sebagai contoh menyelamatkan data di disket. metode savescore punya dua argumen -a tali teks" dave" , dan nomor 3. Eclipse akan menambahkan menyenangkan program java tulisan.

204

REFERENSI

BIODATA Nama Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Alamat Telepon Pekerjaan : Teguh Wiyono : Cempedak Lampung Barat/ 12 Oktober 1987 : Laki-laki : Jl. Arimbo Gg. Arimbi No 07 Pringgodani Mrican Catur Tunggal Depok Sleman Yogyakarta 55281 :: Penulis dan Wartawan kabar kampus Yogyakarta

205

206

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->