P. 1
Tabloid Gayo Land edisi V

Tabloid Gayo Land edisi V

|Views: 1,006|Likes:
Published by Arsadi Laksamana

More info:

Published by: Arsadi Laksamana on Jan 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

Sengketa Arul Kumer Barat vs Arul Putih

Edisi V 21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

and L

Rp.5.000

Mencari Jejak “Urang Gayo” di Pelosok Dunia

Asal Linge Awal Serule...
Gayo, Titik Nadir Perlawanan Kerajaan Aceh
Dataran tinggi Gayo disebut-sebut sebagai benteng pertahanan terakhir di Aceh. Kondisi alam yang sangat strategis bagi pertahanan pasukan kerajaan Aceh saat perang berkecamuk.
Dataran tinggi Gayo sempat digunakan oleh Sultan Aceh Tuanku Muhammad Daudsyah (1874-1903) beserta pengawalnya dan tokoh-tokoh penting dalam Perang Aceh yang sangat besar. Benteng pertahanan terakhir saat terdesak di daerahdaerah pesisir Aceh oleh kepungan dan penerapan lini konsentrasi yang dilakukan sejak pembentukan pasukan marsose oleh kolonial Belanda pada 2 April 1890. Di antara tokoh-tokoh penting dalam Perang Aceh yang sempat mengundurkan diri ke daerah dataran tinggi Gayo di sekitar Lut Tawar dan Linge adalah Sultan Aceh Tuanku Muhammad Daudsyah sebagai kepala pemerintahan tertinggi kerajaan Islam Aceh. Beliau mengundurkan diri ke daerah Gayo Lut dan Linge pada tahun 1901, setelah benteng pertahanan Aceh di Batee Iliek di Samalanga dapat dikuasai Belanda. Selain Sultan, Panglima Polem seorang panglima yang masyhur juga mengundurkan diri ke daerah Ketol Gayo Lut sejauh 30 Km dari Takengon. Beliau mundur setelah pasukannya semakin terdesak oleh pasukan marsose Belanda di daerah kabupaten Bireuen sekarang. Tokoh lain yang mengundurkan diri ke dataran tinggi Gayo adalah pahlawan perempuan terkenal Cut Nyak Din. Beliau mundur ke daerah Celala sejauh kurang
Ke Hal. 6

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

LEPO

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

2

Syair Gayo
Beluh Muranto
Belem isa munetah langkah Beruet ari umah Munatangen nemah Remalan langkah serapah Besinen aku ku aka lah Kemana ine orom ama gere i umah Sire remalan mujaril lauh Tiro tulung boh aku sawah Munanti motor i Simpang Pet Jarang-jarang mu kelibet Sawah pong rakan sebet Aku pe gere ne pipet Gere mokot motor pe sawah I teken renye nemah Wan motor lauh ku kersi metuh Mu ninget ken nasib rembege tubuh Lauh nge makin remenang Mu ninget ken ama ini i Belang Beta ken aka kul pe Entah aherat entah denie Pekeren nge makin karu Ate nge makin macik Ku tuhen aku mungadu Buge sehat bewene dan sawah si tuju *Jalan Terompet, Padang Bulan, Medan 14 September 2008

Salam Redaksi Sejarah dan Sudut Pandang Fakta
Para Ahli Sejarah Mengatakan Sejarah biasanya dipahami sebagai peristiwa masa lalu. Penulis sejarah mencatat fakta-fakta yang terjadi pada masa lalu. Catatan itu mereka katakan merupakan karya ilmiah yang objektif. Peristiwa yang ditulis itu diyakini benarbenar pernah terjadi pada masa lalu. Sejarah ahli sejarah menulsi, ketika sejarah ditulis, ada proses kerja yang dilakukan ilmuan dalam melihat masa lalu. Ada faktor waktu yang bermain dalam penulisan sejarah. Ilmuan sejarah yang hidup pada masa sekarang melihat kejadian yang terjadi pada masa lalu. Sudah tentu dia akan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat ia melakukan kerja. Padahal yang ia teliti sesuatu yang tidak ia alami. Apalagi kejadian masa lalu memiliki latar sosio-historis yang berbeda dengan kondisi sekarang. Oleh karena itu, keobjektifan penulisan sejarah oleh sejarahwan sebenarnya patut dipertanyakan. Keterikatan ilmuan sejarah pada sumber-sumber sejarah merupakan hal yang tak dapat dielakkan. Kelengkapan sumber sejarah sangat menentukan dalam pengkajian masa lalu. Berdasarkan pengkajian dari sumber-sumber sejarah, dicatat buku-buku sejarah. Kemudian, melalui pembacaan atas hasil catatan sejarah ilmuan itulah orang melakukan memahami sejarah dan menjadikannya sebagai cermin bagi kita melangkah pada masa sekarang serta modal dalam mempersiapkan masa depan. Begitu pentingnya sejarah dalam kehidupan manusia menjadikan ia layak untuk dipelajari. Namun di sisi lain, kebutuhan orang pada sejarah dicemarkan oleh pemalsuan penulisan sejarah dan penulisan sejarah yang diboncengi oleh kepentingan tertentu dengan mengabaikan nilai-nilai keilmiahan. Hal ini membuat orang menangkap informasi yang salah dan berakibat pada pemahaman yang keliru. Menurut pandangan Karl Raimund Popper. Dalam sebuah kajian sejarah rumusan yang dikaji adalah Pernyataan Fakta Sejarah, Kebenaran Teks Histori, Teori Tindak Bahasa, Teori Pragmatis, Teori Korespondensi, Teori Koherensi,.Keterangan Historis, Objektivisme, Objek Penelitian, Keterikatan pada Nilai-Nilai, Alasan Seleksi, Alasan antiskeptisisme atau antirelativisme, Alasan dan Sebab-Musabab, Alasan Propaganda, Alasan Analogi. Dalam sejarah, fakta-fakta yang tersedia sangat terbatas dan tidak dapat diulang serta diimplimentasikan sesuai keinginan kita. Fakta-fakta sejarah telah dikumpulkan sesuai dengan sudut pandang yang telah ada, yang disebut sebagai sumber-sumber sejarah. Sumbersumber sejarah hanya mencatat fakta-fakta yang tampilannya cukup menarik untuk dicatat, sehingga biasanya sumber-sumber sejarah hanya berisi fakta yang sesuai dengan teori yang sudah ada. Tidak tersedianya fakta-fakta lebih jauh membuat pengujian terhadap teori itu atau teori lain tidak dimungkinkan. Teori historis yang tidak dapat diuji itu dapat dituduh bersifat sirkular. Sehingga teori ini tidak dapat dikatakan sebagai teori ilmiah tapi lebih pas dikatakan sebagai interpretasi umum (teori-teori historis yang bertentangan dengan teori ilmiah).Sejarahwan sering tidak melihat interpretasi lain yang sesuai dengan fakta dan diri mereka sendiri. Kemungkinan Interpretasi Baru dalam Sejarah Jika kita melihat dalam wilayah fisika, yang banyak persedian fakta dan lebih dapat diandalkan, eksperimen-eksperimen penting yang baru terus dibutuhkan. Sehingga berpijak pada hal ini kita akan meninggalkan kepercayaan yang naif bahwa semua perangkat catatan historis hanya dapat diinterpretasi dengan satu cara. Adanya interpretasi lain tentang sejarah merupakan hal yang sangat mungkin. Hal ini dikarenakan banyak interpretasi, bahkan semua interpretasi belum tentu memberikan manfaat yang sama. Namun terlepas dari itu semua sejarah harus diluruskan apapun resikonya.***

Yuradi Usman al-Gayoni* Syair ini pernah dimuat di Website Gayolinge (www.gayolinge.com)

SURAT PEMBACA
Masih Banyak PNS “Nongkrong” di Warung Kopi
Meski saya di koran-koran kalau pemerintah telah membuat peraturan agar para PNS untuk tidak suka nongkrong di warung kopi, tapi dari pengamatan saya tetap saja masih ada PNS yang nongkrong di warung kopi pada saat jam kerja, terutama di kabupaten Bener Meriah. Hal tersebut tentu saja sangat merugikan masyarakat yang sedang mengurus keperluan. Saya berharap kepada pemerintah untuk lebih tegas dalam menegakan displin kepada PNS yang tidak displin karena bagaimanapun mereka di gaji dari uang rakyat. Dwi Redelong

Berita Tentang Daerah-Daerah Marginal
Saya sebagai urang Gayo sangat merasa gembira dengan adanya tabloid Gayoland. Karena selama ini saya sangat kecewa dengan berita-berita yang ada di media-media terbitan Banda Aceh, Medan atau terbitan nasional yang jarang sekali memuat berita daerah Gayo. Kalaupun dimuat hanya sedikit. Tidak seperti Gayoland yang memang isi berita seputar Gayo. Namun, saya sebagai pembaca setia berharap kepada tabloid Gayoland agar lebih banyak memuat lagi berita-berita daerahdaerah marginal seperti Samarkilang di Bener Meriah karena hingga kini daerah-daerah tersebut masih kurang di Ekspos padahal warganya sangat membutuhkan perhatian pemerintah. Saya sebagai urang Gayo berharap dengan dimuatnya berita-berita daerah tersebut dapat mendapat perhatian pemerintah setempat dan melakukan pembangunan di daerah-daerah tersebut. Yusran Banda Aceh
Alamat Perwakilan : - MATA AIR GALERY , Jl. S.A. Johansyah – Setui, Banda Aceh - Drs. Buniyamin S, Kantor Humas Setdakab Gayo Lues Jl. Tgk. Mahmud - Blang Kejeren - Arwin Fitrah, Jln Paus , No 116 Pekan Baru – Riau - Abdul Karim, S.Pdi, Jln. Perdamaian Desa Batang Malas Kec. Tebing Tinggi Barat Kab. Pulau Meranti, Riau - Erwin Syahputra, S.Psi, Simpang Kinang Kab. Bengkalis, Riau - Nurhasilah, Komp. Taman Kopo Indah I Blok F 56 Margahayu, Bandung - Rahmawati Bale, Jl. Margonda Raya Gg.Mawar I Rt.001/02 No.45 Kemiri Muka Beji, Depok – Jawa Barat - Drs. Swandris Zetha, Jl. Palem No.29 Bintaro Sektor 9 Jakarta Selatan - Gayo, Jl. Anggrek Garuda Blok E No.13 Slipi, Kemanggisan Jakarta Barat

Tengil....
Banyak longsor di Gayo. Ine.. Sayange Suderengku Ada PNS nongkrong di warung kopi pada saat jam kerja Yah inget wai.. Kemel kite kin rakyat Ketua DPRK Bener Meriah dilantik Buge amanah Di pelosok Gayo masih banyak kekurangan Guru Ike lagun oya cerite e ta selo mera pane urang Gayo

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

UTAMA

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

3

Menyusuri Jejak Gayo Di Dunia
Benarkah Ada Kerabat Suku Gayo Di Belahan Dunia, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguji kebenarannya
Bagi “Urang Gayo” dalam hal ini Suku Gayo, khabar yang menyebutkan bahwa ada sejumlah ciri-ciri budaya dan bahasa yang mirip dengan milik suku Gayo di Taiwan tentu saja mengejutkan sekaligus bangga. Pernyataan Seorang warga kota Dingin Takengon yang beberapa waktu lalu sempat melanglang buana ke negeri Taiwan, Zulfikar Ahmad membawa polemik baru terkait eksistensi suku Gayo. Yusra Habib Abdul Gani, pria kelahiran Kenawat yang berdomisili di Demark bahkan menyebutkan dimana di sebuah tempat di Korea, ada gereja yang berusia 1500 tahun yang kitab sucinya bertuliskan Gayo serta beberapa kemiripan bahasa, cara, pakaian dan kemiripan lainnya dengan beberapa suku lainnya di dunia makin menshahihkan pertanyaan baru, apakah kerabat suku Gayo tersebar di penjuru dunia. Zulfikar kepada wartawan menyebutkan, Taiwan memiliki 14 suku asli yang mendiami pulau Formosa (nama lain dari Taiwan), secara geografis Taiwan berdekatan dengan Jepang. Korea dan Philipina. “Dua dari 14 suku asli itu, yakni suku Amis dan Naluwan saya dengar dalam percakapan mereka terdapat sejumlah suku kata yang persis sama dengan suku kata bahasa Gayo. Baik ucapan maupun makna seperti Sara (satu), roa (dua), tulu (tiga), onom (enam), pitu (tujuh), waluh (delapan), mata, muyang datu dan lainlain,” papar Zulfikar. Lebih lanjut dikatakan, kedua suku yang mendiami Taiwan Selatan ini juga memiliki atribut pakaian yang warna-warnanya sama dengan corak warna yang dipakai dalam sulaman Kerawang Gayo. Dan kerawangnya lebih mirip seperti kerawang Kabupaten Gayo lues.

Zulfikar Ahmad ( Dua dari Kiri ) berpose bersama salah seorang Gadis dari salah satu Suku di Taiwan yang diduga punya kekerabatan dengan Suku Gayo

Dari wajah, menurut Zulfikar, wajah kedua suku tersebut jelas-jelas sangat berbeda dengan orang-orang Cina umumnya. “Wajah mereka lebih mirip dengan wajah-wajah Urang Gayo dan Jawa. Saat saya berkesempatan mengikuti “festival panen” suku Amis beberapa bulan lalu, saya sering keliru, karena merasa sedang berada di Indonesia, dan mengira mereka orang-orang yang paham bahasa Indonesia. Mulut saya hampir-hampir latah berucap dalam bahasa Indonesia kepada mereka,” kata Zulfikar sambil tersenyum. Dari pola migrasi, juga ditemukan kesamaan, kata Zulfikar. “Suku Ami atau Amis ini dulunya

mendiami sisi pulau yang cukup dekat dengan Philipina. Mereka adalah suku yang mata pencahariannya sebagai nelayan. Akan tetapi setelah kehidupan di tempat mereka tersebut tidak lagi menguntungkan untuk hidup, mereka kemudian pindah ke dekat kota Hsincu di selatan Taiwan,” papar Zulfikar. Dan kondisi seperti ini, persis sama seperti yang terjadi di Dataran Tinggi Gayo. Sebagian besar warga di wilayah Kabupaten Bener Meriah adalah pindahan dari sejumlah tempat di Aceh Tengah, terutama dari kawasan sekitar Danau Lut Tawar. “Ada nama kampung

Bintang, Kenawat, Rawe, Nosar dan lain-lain di sekitar Lut Tawar, juga ada nama kampung yang sama di Kabupaten Bener Meriah. Dan ternyata warga kampung dengan nama sama dari kedua Kabupaten tersebut masih bertalian darah,” ujar Zulfikar berlogika. Yusra Habib malah menyebutkan lagi banyak temuan dan kemiripan adapt budaya gayo dengan berbagai ras masyarakat dunia, seperti di Korea, China, Philipina dan sejumlah tempat lain yang mirip dengan gayo.***

Aliansi Gayo Sedunia Di Gagas
Kepulangan salah satu tokoh Gayo, Yusra Habib Abdul Gani dari Denmark untuk menjenguk orang tua dan keluarga di Takengon, melahirkan gagasan untuk menggelar pertemuan Gayo sedunia. Gagasan itu terlontar saat diadakan diskusi bertema” Gayo dulu, kini dan sekarang”

Semua Pihak Harus Perduli Sejarah Perduli
Saya pernah dihubungi seseorang yang merupakan ahli sejarah di Indonesia yang menyatakan bahwa di sebuah provinsi di Cina ditemukan ukiran yang sama persis dengan ukiran Kerawang Gayo. Dan warga setempat memakai panggilan kekerabatan yang persis sama dengan panggilan kekerabatan (tutur) seperti di Gayo. Selain di Cina ada beberapa tempat lagi di belahan dunia seperti di Kamboja dan Thailand yang tutur bahasanya sama persis dengan yang ada di Gayo kita ini. Seorang rekan saya yang juga Urang Gayo baru-baru ini berkunjung ke Korea Selatan dan sempat berwisata ke sebuah rumah peribadatan setempat yang telah berumur sekitar 1.500 tahun. Ditempat tersebut ditemukan semacam kitab suci yang berjudul Gayo”. “Fotonya ada sama saya, dan saya jadi bingung apa hubungan Gayo di Tanoh Gayo dengan orang Korea Selatan. Untuk ini semua perlu dilakukan riset mendalam, untuk mengetahui sejarah yang sebenarnya. Sejarah yang nantinya bisa jadi rujukan bagi generasi penerus. Kita berharap semua pihak perduli tentang hal ini. Karena bagaimanapun ini adalah

Bentuk Kepedulian Terhadap Gayo
Sejarah adalah penting untuk diketahui. Karena bagaimanapun hal tersebut adalah sebuah indentitas diri. Salah satu tujuan digagasnya pertemuan aliansi gayo dunia adalah untuk menggali sejarah Gayo, asal muasal dan kekerabatan” Urang Gayo” kita berharap dengan adanya acara tersebut maka Urang Gayo mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Saat ini Gayo membutuhkan orangorang yang perduli akan sejarah. Seperti kita ketahui bersama, sedikit sekali catatan sejarah Gayo yang pernah ditulis. Hal ini sebenarnya sangat disayangkan. Dalam waktu dekat beberapa orang dari Taiwan akan bersilahturahmi dengan kita di Gayo. Ini adalah salah satu kesempatan untuk urang Gayo dalam menggali kekerabatan antara suku Gayo dengan kedua suku di Taiwan tersebut, kita diminta u n t u k mempasilitasi pertemuan tersebut. Acara ini juga nantinya akan berisi diskusi-diskusi t e n t a n g penggalian potensi-potensi Gayo. Selama ini kita selalu K h a l i s u d d i n membanggakan Pemerhati Sejarah Budaya & Lingkunagan Gayo tentang potensi Gayo tapi kenyataannya banyak potensi yang belum tergali. Kita berharap kepada tokoh-tokoh Urang Gayo untuk mendukung acara ini. Begitu juga dengan sumbangan ide atau gagasan.

Yusra Habib Abdul Gani masalah yang begitu penting untuk kita ketahui bersama, terutama Urang Gayo. Dari sinilah timbul gagasan diadakannya Konferensi Aliansi Gayo Sedunia pada Juli 2010 mendatang. “saya berharap ide ini mendapat respon dari seluruh pihak terkait, termasuk dari tempat-tempat yang kemungkinan adalah saudara kita tersebut***

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

UTAMA

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

4

Asal Usul Urang Gayo?
Banyak versi yang terkait asal usul “Urang Gayo”. Namun hingga kini belum didapati rujukan baku terhadap sejarah Suku Gayo. Butuh Perhatian dari pemerintah agar sejarah tidak simpang siur.
tanah baru sebagai areal pertanian, sebagian pindah ke pedalaman sepanjang sungai Peusangan, Jambo Aer, Penarun, Simpang Kiri, Simpang Kanan terus ke daerah yang sekarang bernama Gayo Kalul dan Gayo Lues. Akibat dari terjadinya peperangan/ serangan dari Kerajaan Sriwijaya dalam tahun 1271 atas Kerajaan Peurlak dan serangan Kerajaan Majapahit dalam tahun 1350 atas Kerajaan Samudera Pasai. Akibat dari peperangan tersebut maka bertambah banyaklah mereka yang mengungsi ke pedalaman, yang kelak tidak mau kembali lagi kendati musuh telah menyerah. Orang Gayo yang telah mendiami daerah pedalaman lalu membentuk Kerajaan Lingga (Linge) lalu dari kerajaan linge inilah asal usul Urang Gayo. Ia bahkan menyimpulkan Suku Gayo sama dengan suku-suku lain di Indonesia, yaitu berasal dari India Belakang. Suku Gayo merrupakan suku atau penduduk tertua di Provinsi Nanggroi Aceh Darussalam. Suku Gayo memiliki ciri-ciri dan kebudayaan sendiri, yang membedakan dengan suku lain di nusantara ini.Suku Gayo yang tersebar di beberapa kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah sama. Jika ada terjadi perbedaan bahasa dan budaya akibat asimilasi dengan suku-suku yang berada di sekitarnya Sementara versi lainnya adalah versi kekeberen, sebuah rekaman tentang sejarah Gayo yang disampaikan oleh Alm. Tengku Hadji Ilyas Leube disuatu malam pada tanggal 26 Oktober 1976. Dari rekaman berformat mp3 (56,9 MB) berdurasi 121 menit 18 detik ini, di ceritakan secara detil tentang asal usul suku Gayo. Mulai dari kisah Kerajaan Linge yang dipimpin oleh Raja Genali, seorang raja beragama Islam, yang berasal dari Rum (Turki) yang lebih terkenal dengan sebutan Tengku Kawe Tepat (oleh orang Aceh) atau Tengku Kik Betul (sebutan oleh orang Gayo). Termasuk kisah perjalanan dari masing-masing keturunannya, mulai dari Raja Linge yang Pertama hingga keturunan Raja Linge ke 17. Dalam rekaman ini juga mengisahkan bagaimana Tengku Abdullah Kanaan (berasal dari Arab) bersama 300 muridnya (termasuk Tengku Johansyah, putra Raja Linge ke I ) menyebarkan Islam dari Wih Ben (Bahasa Gayo), atau Bayeun (Bahasa Aceh), ke Pereulak, Kemudian Linge, Angkup, Tamar, Gelumpang hingga ke wilayah Kerajaan Kute Reje di Blang Krak Sibreh. Menurut Alm. Tengku Ilyas Leube, kisah ini adalah cerita Kekeberen yang diperoleh dari Kakeknya serta hasil penyelidikan oleh Tengku M.Yunus Jamil, yaitu seorang Ahli Sejarah Gayo dan Aceh, yang tinggal di Uleele. Dari cerita yang dibagi 2 sesi ini, dikatakan bahwa Kerajaan Linge (di Buntul Linge, Tanah Gayo) lebih dulu Islam daripada kerajaankerajaan Aceh. Disebutkan juga Raja-raja yang memerintah di Aceh, merupakan keturunan Raja Linge. Seperti Meurah Silu adalah Sultan Malikussaleh (dalam bahasa arab), dia merupakan Orang Gayo yang menyatukan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peureulak, yang akhirnya menjadi Sultan Pertama di Kerajaan Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara. Seorang wartawan bernama Ruhdi Bathin yang juga pimpinan Redaksi www.gayolinge.com sebuah situs berita Gayo, di dalam website tersebut ia menulis dalam sebuah tulisan berjudul sejarah linge dari catatan Hamzah, dalam tulisan tersebut ia menulis ia mendapatkan sebuah catatan dari Ketua MANGO (Majlis Adat dan Kebudayaan Gayo), Mustafa AK, Selasa (18 Agustus 2009), dirumahnya di Kala Kebayakan. Menurut Mustafa AK, dia mendapatkan catatan sejarah Linge ini dari keluarga Hamzah dalam tulisan tersebut termuat sejarah Gayo versi yang ditulis Hamzah. Karena Hamzah sebagai keturunan Reje Linge sudah wafat. Hamzah menulis Sejarah dan silsislah Kerajaan Linge ini Tanggal 1 Januari 2009. Hamzah menyebut dirinya selaku Kwali (Wali) dan penitir (penulis). Win Ruhdi Bathin menulis jika melihat kopian Sejarah Linge yang ditulis Hamzah, paling tidak ada delapan halaman. Namun tidak diberi tanda mana halaman satu hingga delapan. Masing-masing halaman sepertinya berdiri sendiri, Hamzah dengan hard cover dan kertas yang bagus, secara antropolog. Saat Van Dalen membantai kawasan pedalaman Aceh Pegunungan, dalam rangka memperluas jajahannya , pasukan Belanda selain mengeksekusi warga Gayo dalam bentengbenteng pertahanan dengan senjata moderen senjata api laras panjang dan pendek, juga membawa barang berharga milik Kerajaan Linge. Bahkan konon, di Museum-Museum Belanda banyak disimpan barang milik Kerajaan Linge atau penduduk Linge. Demikian halnya di Perpustakaan Leiden Belanda, terdapat tidak kurang dari 15 buku tentang Gayo. Gayo di jaman pra sejarah malah terkuak dan Absolut sudah ada hunian di Dataran Tinggi Gayo (Datiga) , Tepatnya di ( Rock Shelter / Abris Sous Roches Mendale ) Ceruk Mendale, Kecamatan Kebayakan sejak 3500 tahun lalu. Hal ini dibuktikan oleh peneliti Balai Arkeologi Medan (Balar) dengan ditemukannya ‘Batu Kapak Persegi” yang berusia 3500 tahun. Di akhir tulisannya ia menulis adalah tugas berat selanjutnya untuk kembali menggali, menyatukan kepingan yang tersisa dari sejarah gayo. Ada kemauan , ada jalan. Walaupun diperlukan beberapa generasi kedepan agar rangkaian sejarah tersambung lagi dengan baik dan benar dan tentu saja ilmiah. Dan agaknya tugas tersebut ada dipundak Pemerintah dan Ahli-ahli Sejarah. Di rangkum dari Berbagai Sumber.

Salah satu versi sejarah Asal Usul Suku Gayo, adalah versi Drs. Isma Tantawi, M.A, Pemerhati sejarah Gayo ini menulis, asal usul Urang Gayo terkait kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia ke kepulauan Indonesia yang dimulai lebih kurang 2000 tahun sebelum masehi. Sisasisa penduduk kepulauan Indonesia yang mulamula sekali ialah orang Kubu di Sumatera yang serupa dengan orang Semang di semenanjung Melayu, orang Wedda di Sailan, Negrita di Fhilipina. Kulitnya hitam dan badannya kecil berambut keriting. Nenek moyang bangsa Indonesia datang ke-kepulauan ini kelompok demi kelompok dan dalam 2 (dua) gelombang besar dari India Belakang (Birma, Siam, dan Indo Cina). Mereka yang datang dalam gelombang pertama dinamakan dengan Proto Melayu, sedangkan gelombang kedua dinamakan dengan Deutre Melayu. Nenek moyang Indonesia dikenal sebagai bangsa pelaut yang membawa mereka kepulauan Indonesia. Mereka sudah pandai bercocok tanam dan memelihara ternak. Selain itu mereka sangat ahli dalam ilmu bintang yang bertalian dengan pelayaran dan musim. Kepercayaan mereka adalah menyembah roh-roh yang sudah meninggal dunia, dan yang paling dihormati adalah roh pembangun suku atau negeri. Mereka memilih tempat tinggal di pinggir-pinggir sungai dan tanah subur di sekeliling/sekitar gunung berapi. Keberadaan mereka di kepulauan Indonesia terpisah-pisah dan jarang berhubungan komunikasi satu dengan lainnya, lama-kelamaan terjadi perbedaan dalam adat-istiadat dan bahasa, namun tetap tampak persamaan-persamaan yang mendasar. Karena terdesak oleh pendatangpendatang dalam gelombang kedua (Deutre Melayu) yang lebih cerdas dan tinggi kebudayaannya, suku-suku yang tergolong Proto Melayu ini seperti orang Batak Karo, Gayo, Toba, Toraja, Dayak, dan lain-lain masuk ke pedalaman di sepanjang pinggir sungai-sungai. Sebagai suku bangsa yang digolongkan kepada Proto Melayu, suku Gayo yang konon berasal dari India Belakang ini mula-mula mendiami pantai timur dan utara Aceh, di tempat Kerajaan Samudera Pasai dan Peurlak. Dalam usaha mencari

menitirkan sejarah kerajaan Linge – Negeri Antara disertai dengan Kompas, gambar kerajaan Linge dengan rincian, peta buta, denah dan struktur silsilah. Selanjutnya dalam tulisan tersebut ia menulis, banyak orang yang mengeluhkan bagaimana langkanya sebuah buku tentang sejarah Gayo, secara ilmiah atau versi dongeng yang didongengkan pengantar tidur. Itupun dahulu kala. Karena orang tua di Gayo saat ini, tidak lagi pernah mengantar tidur anak atau cucunya dengan “Dongeng Kerajaan Linge”, karena digantikan sinetron, Misteri Gayo, sejarah , budaya dan peradabannya, memang belum terbuka penuh. Win Ruhdi Bathin juga menulis Penggalanpenggalan, kepingan data , fakta dan dongeng tentang sejarah Gayo, suhuf –suhuf (Ungkapan Usmani Al Gayoni) yang tersebar tentang sejarah Gayo dengan berbagai versi lainnya . Kerajaan Linge atau Kerajaan Islam Linge, Seperti yang ditulis oleh Rudi Bathin memang masih diliput misteri. Terkemas dalam bahasa adat gayo, seperti melengkan, saer, didong serta dongeng. Secara ilmiah, masih sangat minim meski penulis sekaliber antropolog Amerika, John R Bowen, pernah menulis sekelumit tentang gayo, dalam bukunya, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History, 1900-1989. Sebagai Antropolog, John R Bowen yang kemudian mengganti namanya menjadi “Aman Genali”, menulis sejarah gayo dalam bukunya setebal 298

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

DAERAH

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

5

Masyarakat Berharap Penyelesaian
Persengketaan batas Kampung antara Arul Kumer Barat dengan Kampung Arul Puti Kecamatan Silih Nara sampai saat ini belum ada penyelesaianya. Dusun Jerata Sikiren di perebutkan.

S engketa Arul Kumer Barat vs Arul Putih

Awalnya dusun Jerata Sikiren masuk wilayah Arul Kumer Barat sesuai dengan peta yang disahkan oleh Bupati Aceh Tengah pada tahun 2005. Namun pada tanggal 06 Maret 2008 menurut Kepala Kampung Arul Kumer Barat Aripin Yusuf terjadi consensus antara kedua Kepala kampung Belakangan Kepala Kampung Arul Putih mengklaim bahwa dusun Jerata Sikiren sudah dimasukan ke wilayah Arul Putih. Pihaknya mengaku telah mengrimkan surat kepada Bupati Aceh Tengah bernomor. 61/SP/2009. Dalam surat itu, Kepala Kampung Arul Putih menuding bahwa Kepala Kampung Arul Kumer Barat mencaplok Wilayah Arul Putih Yaitu dusun jerata Sikiren. Kepala Kampung Arul Kumer Barat membantah hal tersebut. Pihaknya juga mengaku telah mengirim surat kepada Bupati Aceh Tengah yang isinya menerangkan perihal kronologi kejadian dan motif serta alasan pemindahan tampal batas kedua kampung tersebut . Menanggapi hal tersebut Bupati Aceh Tengah kemudian mengirimkan surat kepada Camat Silih Nara, Hasbi Syam SE tertanggal 11 Mei 2009 dengan Nomor 141 / 847 / BPMP-KB/ 2009 yang isinya meminta kepada sang Camat

untuk menyelesaikan sengketa kedua kampung ini dengan arif dan bijak, namun menurut kepala kampung Arul Kumer Barat, Camat Silih Nara belum pernah mengundang dan memusyawarahkan hal tersebut kecuali mengirim surat tertanggal 13 juni 2009 nomor 141/650 yang berisi pengrmbalian kepada kesepakatan awal iyaitu pemindahan batas perumahan antara kedua kampung seluas yang tersebut diatas dan tidak ada sangkut pautnya dengan dusun Jerata Sikiren .Masyarakat Arul Kumer yang hampir 90 persen pemilik tanah di areal ini merasa keberatan bila Dusun jerata Sikiren ini diserahkan ke Arul Putih. Masyarakat juga berharap penyelesaian kasus ini. Masyarakat beralasan akan adanya kegiatan pembebasan tanah untuk keperluan serta pembangunan PLTA hal ini tidak tertutup kemungkinan terjadinya penanganan adiministrasi ganda pada lahan yang sama oleh masing-masing kepala kampung yang bersengketa. Sebenarnya menurut beberapa tokoh masyarakat Arul Kumer yang terlibat langsung dalam memprakarsai pemekaran kampung Arul Kumer,

masalah batas dengan Arul Putih pada saat diajukan pemekaran telah ada kesepakatan dengan kepala kampung tetangga yaitu kampung Sp.kemili, Mutiara serta Arul Putih sendiri. Ketiga kepala kampung yang berbatasan langsung tersebut juga sudah menanda-tangani batas masing-masing dan dusun Jerata Singkiren masuk kedalam wilayah Arul Kumer Barat. Untuk Arul Putih sendiri waktu itu ditanda tangani oleh M.daud AK yang saat itu menjabat sebagai kepala kampung Arul Putih, pada saat itu Arul Putih di mekarkan dari Arul Kumer dusun Jerata Sikiren tidak masuk kewilayah Arul Putih. Tahun 2005 setelah Arul Kumer dimekarkan kembali maka dusun Jerata Singkiren ini masuk kedalam wilayah Arul Kumer Barat yang terdiri dari empat dusun diantaranya Dusun Jerata Singkiren dengan SK. Camat Silih nara Nomor 141 / 103 /CSN / SK / 2005. Namun setelah empat tahun berjalan tiba-tiba pada 6 Maret 2008 pemkab Aceh Tengah dengan alasan untuk melengkapi Syarat-syarat akhir untuk pendipinitifan sekaligus

kejelasan batas-batas wilayah terutama dengan Arul Putih. Saat itu kepala kampung Arul Putih meminta supaya batas dipindahkan 100 m kearah barat Arul Kumer yaitu yang berbatasan dengan sebelah Timur Arul Putih. Alasannya, masyarakat tidak mau bergabung dengan Arul Putih. Karena hal tersebut terjadinya kesepakatan yang menurut kepala Kampung Arul Kumer hanya seluas 100X200m2 ke dalam wilayah Arul Putih dan bukan wilayah Arul Kumer yang diserahkan ke Arul Putih namun sebaliknya wilayah Arul Putih diserahkan ke Arul Kumer Barat karena alasan diatas jadi tidak penyerahan wilayah Arul Kumer Barat ke Arul Putih anehnya yang sebaliknya wilaylah Arul Putih yang diserahkan kepada Arul Kumer Barat sejumlah 300X100m2. Hal inilah sebenarnya pemicu timbulnya sengketa batas antara kedua kampung untuk itu masarakat para pemilik tanah mengharapkan pemerintah dalam hal ini pihak terkait daapat menyelesaikan sebelum kegiatan PLTA di mulai untuk menghindari benturan-benturan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Amiruddin

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

DAERAH

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

6

Tanoh Gayo ; Geneva Van Sumatra (Jenewa Dari Sumatra)
Sabela : Ketua IPEGA
Keindahan alam dan letak geografis Tanoh Gayo yang strategis berada di jantung propinsi Aceh merupakan suatu anugerah dari Allah SWT. Tidak banyak daerah yang dianugerahi keindahan alam yang sedemikian rupa dengan hawa sejuk yang terasa seperti di Negara-negara Eropa yang berhawa dingin seperti Swiss, Austria, Irlandia, Skotlandia, dan lain-lain. Banyak orang-orang asing maupun luar Aceh yang datang ke Tanoh Gayo (baca; Takengon) kagum dengan kondisi alam dan keindahan panorama yang ada di Tanoh Gayo. Sekaligus juga mereka terheran-heran dan bertanya-tanya di dalam diri mereka sendiri, mengapa dengan keindahan alam yang dimiliki Gayo dan kesuburan tanahnya belum maksimal memberikan dorongan bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Gayo secara umum?. Pertanyaan tersebut terus berkecamuk dalam diri mereka sehingga mereka sendiri pun tidak tahu kapan akan mendapatkan jawabannya. Di dalam Al-Qur’an sebagai kitab suci pedoman umat islam dan juga sebagai pedoman hidup bagi 99,99 % rakyat Gayo disebutkan bahwa “ Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri”. Dari penggalan ayat tersebut sangat jelas dan nyata bahwa Allah SWT tidak akan pernah menurunkan hujan emas di suatu negeri yang kemudian rakyat negeri tersebut semuanya akan menjadi kaya dan hidup makmur sejahtera. Al-Qur’an ingin menyampaikan pesan kepada umatnya bahwa kesejahteraan, kejayaan, kemajuan, dan kemakmuran tidak akan dapat dicapai tanpa usaha dan kerja keras. Orang yang maju adalah orang yang mau berusaha dan bekerja keras. Menurut Dr.Denis Waitley, seorang ahli motivator terkenal, ia mengatakan bahwa “ada dua pilihan pokok dalam hidup ini yaitu menerima kondisi apa adanya atau menerima tanggung jawab untuk mengubahnya”. Semua orang mempunyai pilihan yang sama untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Semua pihak baik pemerintah daerah, ulama, LSM, akademisi, mahasiswa, pemuda dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya memiliki tanggung jawab yang sama untuk melakukan perubahan itu demi Tanoh Gayo. Orang asing yang berasal dari Switzerland (baca; Swiss) yang pernah datang dan menginjakkan kakinya di Tanoh Gayo pernah menungkapkan bahwa “Kota Takengon hari ini adalah kota Jenewa 200 Tahun yang lalu”. Ini adalah isyarat bahwa kemajuan dan kejayaan itu adalah milik semua kelompok masyarakat apabila ia mau meraihnya. Tetapi sekali lagi, untuk meraih itu harus dengan kerja keras. Dan orang-orang asing yang datang ke Tanoh Gayo mengakui keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahtamahan masyarakat Gayo yang mana itu dapat dijadikan sebagai modal awal untuk membangun dunia pariwisata Gayo dalam rangka mendorong kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Untuk mewujudkan semua itu memang bukanlah pekerjaan mudah, yang dapat dilakukan hanya dengan satu atau dua hari kerja, dan bukan pekerjaan satu atau dua orang saja tetapi merupakan pekerjaan bersama dan membutuhkan sebuah kesadaran bersama dari semua elemen masyarakat yang ada di Gayo. Jika masyarakat dan pemerintah daerah mempunyai kesadaran yang sama bahwa kesejahteraan dan kemakmuran adalah tujuan bersama yang dicita-citakan maka semua itu harus dituangkan ke dalam konsep yang nyata baik dalam peraturan-peraturan bupati, qanun-qanun kabupaten, maupun tercermin di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaen (APBK). Sehingga tidak hanya sebatas slogan yang kemudian hilang dengan sendirinya, seiring dengan bergantinya kepemimpinan bupati dan anggota dewan. Kalau di Pulau Jawa ada Paris Van Java (Paris dari Jawa) yaitu sebutan untuk kota Bandung yang menjadi pusat pertumbuhan dunia Pariwisata dan Pendidikan di Pulau Jawa. Ditandai dengan banyaknya institusi pendidikan dan fasilitas rekreasi yang tersedia di kota Bandung maka untuk Pulau Sumatra kita harus menwujudkan konsep dan slogan Geneva Van Sumatra (Jenewa dari Sumatra) bagi Tanoh Gayo. Untuk meujudkan konsep dan slogan itu diperlukan perencanaan yang tepat dan matang, sumber daya manusia (SDM) yang handal dan kesadaran dan komitmen yang nyata dari setiap elemen masyarakat Gayo. Peluang untuk mewujudkan konsep Geneva Van Sumatra sangat terbuka lebar bagi Tanoh Gayo. Hal ini didukung dengan kondisi Aceh yang sudah jauh lebih baik dari sisi keamanan dan politik sejak ditandatanganinya Memorandum of Understanding antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah RI, yang menghasilkan kesepahaman damai yang disebut MoU Helsinki. Kemudian dengan adanya 9 propinsi di Pulau Sumatra merupakan pasar yang luas bagi pemasaran produk pariwisata dan pendidikan di Tanoh Gayo asalkan pemerintah daerahnya mempunyai konsep yang jelas dan didukung oleh semua elemen masyarakat yang ada. Satu-satunya tempat pariwisata yang menawarkan produk alam yang berhawa sejuk di Pulau Sumatra ini hanyalah Brastagi, tetapi hari ini Brastagi kurang diminati oleh masyarakat yang notabene sebagian besar masyarakat di pulau Sumatra ini menganut agama islam, ditambah lagi dengan pelayanan yang buruk, fasilitas wisata yang memprihatinkan dan citra Brastagi dan daerah sekitarnya yang dicap sebagai tempat wisata maksiat. Ini sebenarnya adalah peluang yang strategis bagi pembangunan Tanoh Gayo pasca konflik apabila pemerintah daerah dan masyarakat Gayo jeli melihat peluang tersebut. Apalagi Brastagi hanya menawarkan keindahan alam dan panoramanya saja sedangkan jika Gayo mau bangkit dan berbenah diri, kita bisa menawarkan lebih seperti apa yang sudah ditawarkan kota Brastagi dan kota Bandung ke pasaran. Letak kelebihan dan keunggulan dunia pariwisata Tanoh Gayo adalah karena adanya Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang sudah dijadikan sebagai warisan dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal itu akan semakin lengkap apabila didukung oleh pengembangan di sektor pendidikan dengan mendirikan dan menyediakan institusi pendidikan tinggi yang berkualitas di Tanoh Gayo. Bahkan Winston Churchill (Mantan Perdana Menteri Inggris) pernah mengatakan bahwa “Orang yang pesimis selalu melihat kesulitan dalam setiap peluang, sedangkan orang yang optimis selalu melihat peluang dalam setiap kesulitan”. Berkaca darri ucapan Winston Churchill tersebut kembali terpulang kepada diri kita masing-masing apakah kita termasuk orang yang optimis atau orang yang pesimis?. Tulisan ini diambil dari Website Gayo Linge (www.gayolinge.com)

Asal Linge Awal Serule...
lebih 15 Km dari Takengon di sebelah hulu Wihni Takengon (hulu Krueng Peusangan) pada tahun 19001901, ketika melanjutkan perlawanan terhadap Belanda dengan bergerilya setelah suaminya Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1889 di Suak Ribee Meulaboh. Beliau selama hampir setahun bertahan di sana. Cut Nyak Din akhirnya meninggalkan Celala pada pertengahan tahun 1901 dan menyingkir ke daerah Beutong hingga akhirnya ditangkap Belanda pada 4 November 1905 di Babah Krueng Manggi Aceh Barat. ia akhirnya diasingkan ke Sumedang Jawa Barat hingga meninggal dunia di sana pada 6 November 1908. Kedatangan Sultan, Panglima Polim dan Cut Nyak Din ke dataran tinggi Gayo disambut dengan baik oleh raja-raja, penghulu-penghulu dan rakyat Gayo. Mereka dikawal oleh para Pang yang terkenal dari Gayo untuk menjaga dan mengawal mereka dari kepungan Belanda. Kedatangan Sultan ke Tanoh Gayo, dikarenakan kepercayaan Sultan akan kesetiaan raja-raja dan rakyat Gayo sehingga tidak mungkin beliau mengundurkan diri ke sana, apabila tidak yakin terhadap kesetiaan mereka yang tinggi dalam peperangan yang sangat hebat pada saat itu. Menurut Snouck, ketika Sultan sedang terkepung pada tahun 1900 di daerah Samalanga pemimpin dan panglima-panglima dari Gayo ikut mengawal keselamatan Sultan. Selain itu juga pengawal dari daerah Serbejadi, seperti Nyak Ara dan Panglima Sekoulun. Ketika pasukan marsose pimpinan van Heutz menyerang Benteng Batee Iliek Samalanga, Sultan dapat diselamatkan ke daerah Peudada, kemudian dipindahkan ke daerah Peusangan. Pasukan Belanda terus mengejar di manapun posisi Sultan, tetapi mereka tidak berhasil menyergapnya. Setelah posisi pejuang Aceh semakin terjepit, akhimya Sultan dan pengawal-pengawalnya mengundurkan diri ke dataran tinggi Gayo di daerah Berusah, sekitar 50 km dari Takengon. Saat tiba di Lut Tawar, Sultan dan rombongannya disambut dengan meriah oleh Kejurun Buket, Linge, Siah Utama, Cik Bebesan, para Pengulu, Pang-Pang dan seluruh masyarakat Gayo. Para Kejurun mempersiapkan penyambutan Sultan dan memberikan pengawalan yang ekstra ketat untuk menghindari sergapan kolonial Belanda. Pada awalnya Sultan menetap di Takengon, tepatnya di pinggiran danau Lut Tawar di hulu Wihni Takengon (Krueng Peusangan). Pada tahun 1901, Mayor van Daalen yang baru kembali ke Bireuen dari ekspedisi ke dataran tinggi Gayo, namun sebaliknya para pasukan Sultan baru tiba di Lut Tawar. Pada ekspedisi itu, disebutkan van Daalen membakar kampung Kebayakan tempat domisili Raja Bukit pada tanggal 5 Oktober 1901. Kampung Kebayakan dibumihanguskan pasukan marsose yang hanya menyisakan Mesjid dan Mersah (Mushalla) serta beberapa rumah. Namun pihak Belanda tidak mengakui telah melakukan pembumihangukan, tetapi rakyat Gayo di sana yang menjadi saksi bahwa pasukan van Daalen yang membakar kampung itu untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Gayo. Setelah beberapa hari berada di sekitar Lut Tawar, Sultan beranjak ke Kampung Rawe sekitar 8 Km dari Takengon. Pada saat di Kampung Rawe, datang menghadap raja-raja Gayo kepada Sultan. Di antaranya Raja Porang, Raja Gele, Raja Bukit, Kute Lintang, Rema, Tampeng, Kemala Derna, (Rempelam), Seneran (Gegarang). Mereka mengikrarkan “sumpah setia” kepada Sultan dan mendukung sepenuhnya serta siap sedia menghadapi serangan Belanda. Selain itu dari Gayo Lues, raja-raja juga mengharapkan kedatangan Sultan ke sana. Peristiwa kedatangan raja-raja Gayo Lues ini terjadi pada Desember 1901. Di pihak Kejurun yang hadir antara lain Aman Ratus dan Aman Bidin. Di Rawe, Sultan dikawal oleh Ulubalang Ranta, Teungku M.Sabil, Raja Kader, Aman Kerkom, dan lain-lain. Setelah beberapa lama tinggal di Rawe, Sultan pindah ke Kampung Lenang di Isak Linge. Pasukan Belanda akhirnya mengetahui persembunyian Sultan di Kampung Lenang. Pasukan Belanda di bawah Kapten Colinj menyerang posisi Sultan di Kampung Lenang. Pertempuran terjadi, pasukan pengawal Sultan pimpinan Ulubalang Ranta dan Teungku M.Sabil mempertahankan diri. Pasukan pengawal semakin terjepit dan menyebabkan syahidnya Teungku M.Sabil dengan beberapa personil pasukan lainnya. Sultan mengundurkan diri lagi ke daerah Isak Linge, dan meneruskan pelariannya ke Kampung Lumut, tidak jauh dari Burni Intim-Intim di perbatasan Gayo Lut, Linge dan Gayo Lues. Rencana Sultan mengunjungi Gayo Lues dengan menerobos Burni Intim-Intim tidak terlaksana dan meneruskan perjalanannya ke daerah Pamar dan selanjutnya ke Pidie. Selama dalam perjalanan Sultan ini, Ulubalang Ranta dan Raja Kader tetap mengikuti rombongan sampai di Keumala, tetapi di daerah Peudue, pedalaman Pidie rombongan Sultan diserang Belanda sehingga Raja Kader syahid. Ulubalang Ranta dapat meloloskan diri dan dapat kembali ke Takengon. Akhirnya Sultan Aceh yang terakhir Tuanku Muhammad Daudsyah ditangkap Belanda di daerah Pidie pada tahun 1903 dan dianggap sebagai titik nadir perlawanan Kerajaan Aceh terhadap Belanda yang dimulai sejak tahun 1873….Bersambung ***

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

PERISTIWA

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

7

4 ton bibit kentang di salurkan di Linge dan Kebayakan.
Bantuan bibit kentang sebanyak 4 ton dari Provinsi disalurkan oleh dinas pertanian Aceh Tengah di dua kecamatan di Aceh Tengah. Bantuan tersebut di berikan kepada kelompok tani di kecamatan Linge dan kecamatan Kebayakan. Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah, Nasiruddin mengatakan, bibit kentang diperuntukan kepada kelompok tani di dua kecamatan yang sudah terbentuk sekian lama. (M Charim dan Nasiruddin)

BANJIR MELANDA KAMPUNG BLANG KOLAK I

Ikapeda Minta Perhatian Jalan Mendale-Kebayakan
Ikatan Keluarga Pemuda Aceh (IKAPEDA) meminta perhatian serius dari pemerintah daerah terhadap kerusakan jalan Mendale- Kebayakan. Ketua IKAPEDA, Nawawi mengatakan, pihak pengusaha harus bertanggung jawab atas kerusakan jalan tersebut. Ia juga mengatakan baru saja dibangun jalan tersebut kini sudah sangat rusak parah. .(M Charim dan Nasiruddin)

HIMBI Desak Pasar Bintang Di Aktifkan
Himpunan Mahasiswa Bintang (HIMBI) menyesalkan bangunan pasar di kecamatan Bintang hingga kini belum di Aktifkan. Ketua HIMBI, Fahmi mengatakan, bangunan pasar yang dibangun pada tahun 2002 itu telah menghabiskan dana Rp 195.000.000 hingga kini belum digunakan dan kini terbengkalai. Seharusnya kata Fahmi, seharusnya pasar tersebut bisa menjadi salah satu sector yang akan menghidupkan perekonomian di kecamatan Bintang” Kita dari HIMBI meminta kepada pemerintah daerah Aceh Tengah untuk memperhatikan hal ini dan segera mengaktifkan pasar tersebut” harap Fahmi. .(M Charim dan Nasiruddin)

Selama Kurun Waktu ± 20 tahun terakhir Kampung Blang Kolak.I, tidak per nah mengalami Banjir, namun setelah adanya renopasi Stadion Musara Alun pada saat PORDA tahun 2006 dan renopasi kedua pada saat MTQ tahun 2009, Stadion Musara Alun belum ada perhatian dan manfaat bagi masyarakat yang tinggal disekitar Stadion Musara Alun malahan musibah banjir yang dirasakan oleh masyarakat kampung Blang Kolak.I, hal ini terbukti telah terjadinya banjir pada tanggal.12 Nopember 2009 dan tanggal 15 Desember 2009. yang mengakibatkan 30 KK mengalami kerugian moril dan materil. Banjir ini disebabkan karena kurangnya perencanaan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah terhadap Pembangunan Bak air dan penampung limbah sampah yang dibangun disebelah timur Stadion Musara Alun yang langsung mengarahkan salurannya pembuangan ke Kampung Blang Kolak.I, tanpa memperhatian dampak keindahan dan lingkungan masyarakat padat penduduk dan parit kampung hanya

mampu menampung limbah rumah tangga masyarakat. Musibah banjir ini sudah dilaporkan oleh kepala Kampung Blang Kolak.I kepada intansi terkait namun sampai berita ini diturunkan belum ada solusi dan tanggapan oleh pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Kampung Blang Kolak.I sampai dengan terbitnya berita ini masyarakat yang terkena Banjir belum mendapat bantuan, akibat pembangunan Stadion tersebut, Masyarakat kampung Blang Kolak.I menghimbau kepada Pemerintah Kaupaten Aceh Tengah segera mengambil sikap terhadap Bak Penampung air limbah yang ada disebelah timur stadion, ternyata hanya menjadi tempat penumpukan sampah dan mengakibatkan nyamuk-nyamuk semakin berkembang biak pada air yang menggenang sehingga dikhawatirkan dapat menjadi satu penyebab berkembangnya sumber -sumber penyakit yang berbahaya***

Berharap Kreativitas Mahasiwa Pada Koperasi Syariah
Himpunan Mahasiswa Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Gajah Putih ( HIMASYA STAI GP) Pahmi Armija menegaskan Mahasiswa Syariah mendirikan gedung untuk Koperasi Syariah Bahu membahu dengan bekerjasama yang baik antara mahasiswa dengan jajaran dosen Prodi Syariah untuk mendirikan koperasi untuk mewujudkan jual beli secara syariah yang bebas dari praktek riba. Islam memberikan pendidikan yang sangat jelas dalam jual beli menjadi cerminan bagi umatnya Dalam ajaran islam tidak dibenarkan sebelah pihak dirugikan. Pihaknya berharap dengan adanya koperasi tersebut nantinya akan menimbulkan kesadaran para mahasiswa untuk berwirausaha. (M Charim
dan Nasiruddin)

40 Kasus HIV Ditemukan di Aceh
Pada tahun 2009, Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi Aceh menemukan 40 kasus. Pada umumnya, kasus-kasus tersebut disebabkan oleh hubungan sex dan penggunaa jarum suntik narkoba. Di Kabupaten Pidie, sejak 2006 hingga saat ini terdapat tiga kasus HIV, dan di Pidie Jaya juga tiga kasus. Anggota Komisi Penanggulangan HIV/AIDS, Provinsi Aceh Karim Laweung, Senin (7/12), mengungkapkan, data tersebut diperoleh dari Dinas Kesehatan Aceh. Sementara hasil surve yang dilakukan pihaknya masih belum jelas. “Ini cukup menyedihkan, daerah kita banyak ditemukan kasus HIV,” kata dia. Menurut Karim, pencegahan lebih baik dari pada pengobatan, sebab kasus tersebut sejauh ini belum ditemukan obatnya. Kemudian pihaknya melalui hari HIV/AIDS sedunia, Selasa (8/12), akan menggelar acara seperti pameran di Alun-Alun Kota Sigli dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar. “Ini kita lakukan agar masyarakat bias mengantisipasi virus ini,” kata Karim. Pada pameran memperingati hari HIV sedunia pihaknya akan menghadirkan sejumlah penderita virus mematikan itu. “Mereka nantinya bisa menjelaskan kepada masyarakat bagaimana terkena virus HIV,” ungkap Karim. Untuk dia berharap agar masyarakat dapat berhadir pada acara tersebut meski sudah lewat masa. Artinya lanjut Karim, hari HIV sedunia digelar setiap 1 Desember, namun pihaknya akan menggelar Selasa. “Tidak masalah yangpenting kita tetap menggelar acara ini,” paparnya (Seputar Aceh)

Pelantikan Ketua DPRK Bener Meriah Periode 2009 - 2014 Berlangsung Hikmat di Gedung DPRK Bener Meriah, Rusli M. Saleh Dilantik Sebagai Ketua.

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

WAWANCARA KHUSUS

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

8

Kata Siapa Ketapang Bermasalah!
Salah satu program yang dicanangkan oleh bupati Aceh Tengah Ir H Nasaruddin MM, adalah program perternakan terpadu Ketapang. Program ini
sebenarnya sudah digagas sejak lama, sejak 2005. Berbagai kritikan kemudian bermunculan. Banyak yang menilai program ini terlalu memboroskan anggaran dan tidak memberikan hasil sepadan kepada daerah. Pimpinan Redaksi Gayoland Arsadi laksamana melakukan wawancara Ir H Nasaruddin MM, terkait hal tersebut. berikut petikan wawancaranya.
Apakah sebenarnya program Perternakan Terpadu Ketapang? Ketapang adalah sebuah program yang tujuannya bermacam-macam. Salah satu tujuannya adalah menyeimbangkan pembangunan antar wilayah. Seperti kita ketahui daerah barat dari kecamatan Linge, lahannya lebih subur, subur untuk tanaman, sehingga diadakan program tranmigrasi dan Alhamdulillah telah jadi. Tapi bagian timur dan selatannya dari kecamatan Linge kurang subur untuk tanaman tapi cocok untuk ternak, karena ternak makanannya adalah rumput dan sejak dahulu daerah pertenakan adalah usaha pokok di daerah tersebut. hal inilah yang mendasari program ini dicanangkan. Ini artinya? Selain yang saya katakan tadi, juga membuka kawasan pertumbuhan baru dalam hal ini artinya membuka peluang bagi warga-warga setempat untuk kembali membangun daerahnya tersebut. Juga membuka peluang bagi putra daerah yang ahli dibidang peternakan untuk membangun daerahnya kelahiran. Tapi sebelum mereka kembali pemerintahkan harus memberikan insentif kepada mereka untuk mau kembali kedaerahnya. Alasan lain ya, karena kita tahu semua untuk bidang perternakan di daerah Linge lebih unggul dari daerah lain. Potensinya bagaimana? Jika kita bandingkan dengan harga daging saat ini baik di nasional maupun di Aceh Tengah masih sangat tinggi. ini artinya karena banyak orang yang butuh. Begitu juga dengan Aceh, selama ini Aceh tetap memasok daging dari luar Aceh. Dari data dinas perternakan Aceh 2000 ekor tiap bulan. Untuk kebutuhan di Aceh Tengah saat ini semuanya masyarakat telah mengunakan daging untuk kosumsi makanan sehari-hari, terutama untuk hajatan hajatan besar dan sehari-hari dalam jumlah besar, seperti misalnya hajatan Megang, Idul Fitri Dan Idul Adha. Jelasnya? Begini ya, jika dihitung satu kampung saja di satu ekor Aceh Tengah mempunyai 295 kampung jika dikali tiga ekor perkampung hasilnya, hampir seribu ekor pertahun. Nah kalau populasi ternak tiap tiap tahun akan berkurang, ini belum lagi untuk hajatan-hajatan lain, seperti pesta-pesta kawinan. ini artinya pengunaan daging cukup besar. Saat i n i3 sampai 5 ekor dipotong tiap hari untuk kebutuhan di Aceh Tengah dan kalau itu kita jumlahkan mencapai 2000 ekor pertahun. Nah disini kalau kita biarkan secara alami, maka kebutuhan itu tidak akan bisa tercukupi. Nah ini merupakan peluang bagi Aceh Tengah terutama di daerah Linge dengan adanya proyek ketapang. Banyak kritikan pada program ini, banyak yang mengatakan program banyak bermasalah. Nah ini bagaimana? Pada awal-awal program ini di canangkan pada tahun 2006. Semua pada saat itu sekaligus. Kita canangkan programnyapun pada tahun itu. Penyediaan lahanpun pada tahun tersebut, semua pasilitas yang direncanakan pada tahun tersebut. Juga dilain pihak masyarakat setempat juga belum memahami program ini terutama mamfaatnya dan masyarakat sendiri belum memaklumi kondisi tersebut. . Nah disinilah tantangannya. Ini artinya anda mengakui ada banyak masalah di ketapang? Masalahnya sebenarnya saat itu masyarakat menganggap program 100 kk tersebut semuanya sudah Ready atau sudah siap dengan semua pasilitas yang dijanjikan. Padahal sebenarnya kita masih banyak kekurangan, masih banyak pembenahan yang dilakukan. Nah perbedaan persepsi inilah yang ada dimasyarakat. Bahkan saat itu, saat bibit ternak belum siap ditempatkan di Ketapang. Artinya kita mengakui kalau masih banyak kekurangan. Bahkan saat bibit ternak diadakan belum bisa ditempatkan di ketapang.Maka dikembangkan dahulu kepada calon-calon peternak, hal itulah yang menyebabkan ada calon-calon peternak dikampung-kampung tersebar disetiap kecamatan di Aceh Tengah. Targetnya program ini bagaimana? Target memang sudah ada, untuk pasilitas yang lengkap seperti yang direncanakan, juga jumlah sapi 15 ekor, tapi itukan target. Nah untuk tahun pertama pada tahap satu kita belum bisa memenuhi target itu. Bahkan saat itu, ternaknya saja untuk tahun pertama yang kita berikan hanya empat ekor, ada yang lima dan ada yang enam. Karena kita belum mampu beli sekaligus. kita belum mampu beli 1500 untuk 100 peternak. Target kita kan 14 ekor betina dan satu ekor jantan. Nah 100 kk pertama itulah kondisinya. Bahkan saat peternak sudah masuk ke ketapang, banyak yang tidak betah. Karena kondisi dan pasilitas ketapang tidak seperti yang dijanjikan.

Ir. H. Nasaruddin, MM :

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

WAWANCARA KHUSUS
maka maka untuk petani 50 persen untuk pemerintah 50 persen. Nah yang kita urus dulu untuk petani. enam ekor pertahun, kalau harga sekarang paling kecil 5 juga saja, maka petani bisa mendapatkan 30 juta pertahun penghasilannya dan peternak bebas menjual kemana saja dan kita berharap satu tahun perternak bisa menghasilkan lebih dari enam ekor pertahun. Kita menyarankan dari enam ekor tersebut satu ekor supaya dipertahankan, untuk sang perternak., untuk tiap tahun dan itu terserah peternak. Hasilnya bagaimana? Saat ini semenjak dari 2006 hingga saat ini belum mencapai 15 ekor. Tapi pada sisi lain, ternak tersebut sudah berkembang hingga mencapai 10 sampai sampai 12 ekor. Bahkan data terkahir sudah mencapai 200 ekor. untuk ternak tahuntahun pertama, bahkan ada induk yang sudah dua kali beranak, nah kalau 200 berarti untuk masyarakat sudah mendapat 100 ekor dengan variasi umur yang berbeda-beda. ini artinya dari segi pendapatan ketapang sudah memberikan kontribusi untuk penghasilan daerah. Nah, untuk tahun ini kita masukan ketapang untuk penghasilan daerah. Nah kalau seratus ekor itu bisa kita jual 100 ekor kan bisa menghasilan Rp 500 juta. Apa sebenarnya tantangan yang dihadapi? Ada anggapan banyak kelemahan program ketapang ini dan ini kita akui, ada kontervesi di masyarakat dan ini memang benar. Bagaimanapun membuka areal baru seperti ketapang kan tidak mudah. Banyak yang mengatakan ketapang kondisinya seperti gunung Selawah dan itu memang benar meski tanahnya lebih subur dan di

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

9

Sebenarnya program ini dimulai sejak kapan? Proyek ketapang dimulai untuk tahap pertama 2006, kita canangkan program tersebut pada tahun 2005. Pola yang dikembangkan di Ketapang adalah kita berikan 15 ekor per KK. 14 induk dan satu jantan. Untuk betina yang 14 ekor tersebut, kita berharap betina yang masih gadis dan masih subur untuk menjadi induk. Maksimun setahun bisa melahirkan anak. Tapi inipun mengalami kesulitan Bibit ternak yang kita inginkan tersebut tidak ada dijual. Masalah lain untuk induk sejumlah banyak itu tidak siap dalam jumlah ratusan. Meski bibit tersebut sudah memenuhi speck tapi bukan seperti yang kita harapkan.Nah karena tidak menenuhi target maka bibit ternak yang sampai kepetani umur dua tahun hingga 3 tahun baru beranak. Polanya bagaimana? Jadi sebelum ternak yang diberikan berkembang, kita memberikan jatah hidup kepada peternak. Kita akui sangat minim. hal ini kita sesuaikan dengan kemampuan kita. Sebenarnya kita bisa memberikan yang lebih besar tapi Pemkab Aceh Tengah kan tidak hanya memikirkan ketapang saja, masih banyak masyarakat di Aceh Tengah lain yang masih perlu dibantu. Kita merencanakan kalau sudah mencapai 15 ekor dan beranak pinak maka kita akan hentikan jadup. itupun tidak langsung kita berhentikan kita menunggu sampai berkembang biak. Sebenarnya jadub yang kita berikan hanya satu ekor sapi. kalau sapi enam juta tujuh juta maka jadudnya Rp 750.000. Perkiraan awal satu saja bisa berkembang dari 14 ekor induk 12 ekor saja,

ketapang bukanlah daerah bebatuan. sorotan memang banyak. bahkan ada yang mengatakan ketapang adalah padang pasir dan lebih banyak diternakan unta bahkan ada mengatakan sapi tersebut supaya berikan kacamata hijau agar sapi tersebut bisa melihat batu menjadi rumput. inikan tidak sehat. Nah, saat ini ketapang sudah mendapat perhatian dari luar daerah banyak program-program yang ditawarkan oleh beberapa pihak seperti etanol. Untuk penampungan tenaga kerja juga kita pikirkan. kita proritas masyarakat Linge 30 persen. bahkan untuk 40 persen dan tiap kecamatan kita rekrut. kita meminta kepada Camat untuk mendata rakyat miskin dan mengusulkan pada kita, dalam jumlah 4 kali yang dibutuhkan. Sebenarnya pada awalnya bahkan kita melakukan tes psikologi kepada calon peternak. Bentuk pengawasannya bagaimana? Di Ketapang kita bentuk UPTP Unit Pelaksana Teknis Dinas Perternakan yang membina 100 kk untuk tahap I dan seratus kk lagi tahap II. Nah UPTD yang bertanggung jawab memberikan pengawasan kepada peternak. Berapa dana yang telah dianggarkan untuk program ini? Untuk anggaran banyak anggapan kalau banyak dana yang dikucurkan untuk proyek ketapang ini. Sebenarnya kalau dihitung-hitung jumlahnya hanyalah dua jembatan. hitungan kasarnya hanya mencapai 15 milliar. Menilainya jangan seperti membeli telor, kalau dipikir 15 miliar membeli telor kan bisa satu takengon, nah kita harus real. Lagipula bukankah mereka juga rakyat Aceh Tengah, kalaupun di kecamatan lain mereka

tinggal dan miskin mereka Pemkab kan punya kewajiban un tuk membantu mereka tapi kita bantu tidak tuntas, nah salah satu tujuan program ketapang ini adalah membantu mereka dengan tuntas. Saat bagaimana perkembangan terakhir? Saat ini menteri lingkungan hidup telah memberikan bantuan di ketapang. Banyak pihak yang telah membantu, karena banyak pihak yang menilai program ini telah membuahkan hasil, dengan banyak perubahan yang ada. Ini artinya tahap kritis untuk program ini sudah lewat. kita akan beri penghargaan kepada peternak yang mempunyai prestasi yang baik. Nantinya kita berharap dari program ketapang ini kita akan perternak menghasilkan PAD 30 Juta pertahun. Untuk tahap kedua 100 kk, kita hanya tinggal menjalankan lagi, kita tidak perlu lagi mengeluarkan banyak uang. karena semua pasilitas sudah terbangun pada tahap 1 seperti misalnya listerik kita tinggal menambah jaringan, begitu juga dengan air bersih, rumah sekolah, jalan dan pasilitas lain. Bagaimana harapan anda? Untuk program ketapang ini marilah kita samakan persepsi. Kalau ada kekurangan sampaikan dengan prosedur yang benar. Kita tidak menutup saran dari siapapun. justru itu yang sangat kita butuhkan, kemudian memberikan penilaian secara objektif dengan melihat bukti-bukti dilapangan. Jangan sampai membuat kesimpulan tanpa dilatarbelakangi dengan jelas .

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

PENDIDIKAN

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

10

Sosialisasi SPECIAL Di Gelar di Kecamatan Timang Gajah
Disiplin ,Undang-undang Perlindungan Anak, dan Pendidikan dasar untuk Anak.Serta hal-hal yang berkaitan langsung tentang pendidikan bagi anakanak mereka khususnya ketika mereka tiba di rumah” ujar Azwar. Kegiatan ini, sebut Azwar, menggunakan metode pendekatan interaktif, dan presentasi oleh nara sumber di mana peserta mampu mengenali dan memecahkan permasalahan yang ada secara bersama-sama. Hasil dari kegiatan tersebut, beberapa permasalahan yang terungkap adalah bagaimana mengelola jadwal belajar anak-anak di rumah. Beberapa Mata Pelajaran harus di diskusikan terlebih dahulu dengan orang tua murid sebelum di terapkan dalam proses belajar, Orang tua tidak punya cukup waktu untuk mengawasi kegiatan belajar anak-anak mereka, Gizi anak dan Kepedulian Orang tua, dll. ave The Children lewat SPECIAL- Bvlgari Program menggelar Sosialisasi SPECIAL Di Gelar di Kecamatan Timang Gajah. dimulai sejak tanggal 19 oktober s/d 05 November 2009 di 25 Sekolah Dasar Negeri dan 3 Madrasah Ibtidaiyah Negeri yang ada di kecamatan Timang Gajah kabupaten Bener Meriah. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari masing-masing orang tua murid (10 s/d 20 Orang tua murid ) khususnya orang tua murid kelas 1 dan 2 dari masing-masing sekolah. Kegiatan tersebut berlokasi di sembilan SDN yang ada di Kecamatan Timang Gajah. Selain Sosialisasi Program kegiatan tersebut kegiatan tersebut juga mempunyai agenda untuk “Meningkatkan Kepedulian Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak di Sekolah dan di Rumah”. Hadir sebagai narasumber Drs Aswat dari dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Bener Meriah. Dalam kegiatan tersebut sebagai Narasumber, memberikan materi-materi yang dapat menambah pengetahuan orang tua murid tentang pentingnya peran serta orang tua dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak baik dirumah maupun di sekolah. Dalam kegiatan tersebut orang tua murid berdiskusi langsung dengan Program SPECIAL Program dari Save The Children merupakan sebuah program yang digagas untuk Menciptakan Pendidikan yang Nyaman dan Positif untuk Anak Indonesia dengan Pembelajaran Aktif melalui kegiatan-kegitan yang nantinya akan lebih banyak melibatkan peran serta orang tua “Diharapkan juga nantinya Program-program yang akan dilaksanakan dapat menambah pengetahuan dan wawasan orang tua murid tentang pendidikanpendidikan dasar yang mereka butuhkan dalam membimbing anak-anak mereka” ujar Azwar. Kegiatan lainnya program ini adalah Workshop Positif Disiplin bagi Orang tua murid Kegiatan/Event Sekolah untuk Seluruh SDN dan MIN di Kecamatan Timang Gajah. Drs Aswat mengatakan kegiatan ini sangat positif bagi pengembangan pendidikan di Bener Meriah terutama di kecamatan Timang Gajah” Bagaiamanapun semua pihak bertanggung jawab terhadap pendidikan bagi anak”sebut Aswat seraya menambahkan pihaknya sangat berterima kasih kepada Save The Children dengan hadirnya program ini. Zainon

S

Siswa Smk Neger Mengikuti Uji Kompetensi
Dalam rangka uji kompentensi bersertifikasi, Di Banda Aceh, 46 siswasiswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Bener Meriah diberangkatkan. Uji kompetensi tersebut diadakan di SMK Negeri 2 Lung Raya Banda Aceh. Kepala SMK Negeri 1 Bener Meriah, Abadi S,Pd menuturkan, 46 siswasiswi yang diberangkatkan tersebut terdiri dari dua jurusan. 22 orang dari jurusan Teknik Bangunan dengan satu didampingi Kepala Jurusan dan 24 orang jurusan Otomotif yang juga didampingi satu orang kepala jurusan. seorang pedamping kepala jurusan Otomotif. Dalam kesempatan tersebut, seorang kepala kesiswaan juga ikut serta. Abadi berharap, para siswa-siswi yang diberangkatkan mendapat sertifikasi dalam uji kompentensi tersebut, karena hal tersebut nantinya akan berguna untuk mereka sendiri, sertifikasi yang didapat akan dapat digunakan untuk menambah referensi saat mencari pekerjaan seusai tamat sekolah, “ Kita berharap mereka mendapat prestasi yang gemilang” ujarnya penuh harap. Drs, Zuanda Kabid SMA Bener Meriah mengatakan pihak Dinas Pendidikan Bener Meriah sangat mendukung kegiatan tersebut. Ia menilai, inisiatif kepala sekolah SMK Negeri 1 Bener Meriah dapat dicontoh oleh sekolah lain” Banyak nilai fositif yang akan didapat oleh siswa-siswa yang diberangkatkan tersebut. Mereka nantinya akan mendapat pengalaman yang baru untuk mengembangkan pengetahuannya” ujar Zuanda” Kita berharap apa yang didapatkan dalam uji kompentensi tersebut akan dapat nantinya diterapkan di Bener Meriah, terutama bagi para guru pendamping yang ikut. Arlin Ariska.

pihak Dinas Pendidikan Kab.Bener Meriah mengenai isu-isu pendidikan seperti; Fasilitas sekolah, Kualitas guru, Management Sekolah, Pelayan Sekolah, dll. Communtiy Mobilization sub Sector Azwar mengatakan, meskipun kegiatan tersebut hanya berlangsung selama 3(tiga) jam, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan peran serta Orang tua untuk ikut mengawasi, membimbing, dan memantau proses belajar anak-anak mereka baik di sekolah maupun di rumah, serta dapat bekerja sama dengan Sekolah untuk memberikan pendidikan yang lebih berkualitas bagi anak-anak mereka. Ia juga menambahkan banyak Orang tua mulai menyadari pentingnya peran serta Orang tua terhadap proses pendidikan bagi anak-anak mereka khususnya di kelas 1 dan 2. “Melalui kegiatan ini juga orang tua mulai menyadari bahwa banyak halhal yang tanpa disadari berpengaruh besar tehadap kemajuan pendidikan anak-anak mereka.Dan kebanyakan dari mereka masih membutuhkan banyak pengetahuan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Pendidikan seperti : Pengetahuan tentang Positip

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

DAERAH

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

11

YLI Ajarkan Guru Tentang Ekosistim Leuser
Takengon- 49 orang guru dan pengawas
dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, selama tiga hari, sejak Rabu (9/12) mengikuti pelatihan (training) tentang pentingnya lingkungan bagi kehidupan manusia dan masa depan. Latihan dilakukan oleh tutor dari para guru sendiri yang telah mengikuti training sebelumnya di YLI Banda Aceh sebelumnya. Selain itu juga dari kalangan management YLI. Ir. Djumhur Abubakar Sungkit, Liaison dan Supervision Officer YLI Takengon dalam pengantar materi , “Pelatihan Buku Ajar Leuser” mengatakan, berbagai program dari YLI telah dilangsungkan sejak beberapa tahun di Aceh Tengah dan Bener Meriah, setiap tahunnya seperti, beasiswa bagi pelajar SD, SMP dan SMA yang kurang mampu. Program lainnya adalah nonton bareng tentang pentingnya arti sebuah lingkungan bagi siswa, penyluhan dan sosialisasi , diskusi sapai membuat Eko Club (Siswa Pecinta Alam) . “Berbagai program ini bertujuan untuk membangun pemahaman pentingnya hutan dan lingkungan sebagai milik bersama yang harus dijaga dan dilestarikan”, papar Djumhur. GV Reddy, EKosistim Manager YLI, yang berbicara dalam bahasa Indonesia, menjelaskan sejarah pentingnya Ekosistim Leuser dan pengamanan hutan Aceh melalui berbagai cara, program dan tindakan seperti Deforestasy. “Siapa yang bertanggungjawab untuk semua itu dan mengawasi program?, kata GV Reddy, kepada para guru. Untuk semua itu, jelas Reddy, YLI memilih untuk bekerjasama yang kemudian menularkan pentingnya membangun kesadaran lingkungan kepada peserta didik.”Pentingnya peran guru di masyarakat karena suaranya didengar dan dihormati sehingga program membangun kesadaran lingkungan YLI lebih berhasil guna”, papar GV Reddy. Apalagi, ungkap manager Ekosistim YLI ini, kawasan Leuser ada disebelah rumah warga Aceh yang bersinggungan dengan kawasan Leuser. “Buku ajar Leuser adalah kedekatan masyarakat dengan Leuser”, Sebut Reddy yang saat ini sedang mendalami S3nya dibidang Hutan. Menurut GV Reddy, berbagai isu lingkungan mengguncang dunia sejak beberapa tahun lalu, seperti, 20 tahun lalu tentang kekuatiran naiknya populasi dunia, polusi, ozone, global warming hingga perubahan iklim (climate change). “Kalau kita semua paham tantang hutan, maka tidak ada masalah dengan semua itu”, kata Reddy seraya menambahkan berbagai Negara di dunia termasuk Presiden Amerika Barrack Obama mengikuti konfrensi Perubahan Iklim di Kopenhagen. GV Reddy meminta para guru untuk focus mengikuti training selama tiga hari dan kemudian mulai membuat Eco Club di sekolah dimana biaya kegiatan diberikan Rp.1 juta untuk eco club di masing-masing sekolah. Drs H Taufik MM, kepala dinas Pendidikan Aceh Tengah, dihadapan para guru dan pengawas meminta para guru terbuka dan merubah diri dengan terlibat langsung dalam kegiatan bahkan bisa menjadi penyumbang kurikulum. Peran guru, kata Taufik sangat besar bagi penyelamatan lingkungan dengan mengajarkannya pada para murid yang akan menindaklanjutinya diluar sekolah. “Guru dan sekolah perlu embangun kesadaran dan motivasi sehingga murid berbudi luhur, kesehatannya prima dan memppunyai kecerdasan yang tinggi”, harap Taufik sembari mengatakan terjadi perubahan perilaku guru dan murid dimana para murid tidak lagi menghormati para guru dan sejumlah aksi murid yang tidak mencerminkan sebagai pelajar. “Kita perlu introspeksi tentang peran guru bagi siswa dan guru juga harus belajar sepanjang hayat dan dimana saja”, pungkas Taufik (ashaf) Tulisan ini diambil dari Website Gayo Linge (www.gayolinge.com)

Wakil Bupati Firdaus Karim Dalam Kenangan
“Tidak mau di puji namun takut dibenci”, itulah yang tertoreh dalam catatan buku pribadinya. Tulisan itu mencerminka kepribadian Firdaus Karim.sebagai seorang prajurit yang displin dan loyalitas, setidaknya motto pribadi yang dituliskan dalam buku catatan menjadi motivasi dirinya untuk berniat baik memperbaiki mental aparatur Pemerintahan, yang selama ini dinilainya masih lemah dalam kedisplinan dan loyalitas. Sebagi seorang parjurit dirinya harus terjun ditengah –tengah kehidupan sipil yang cenderung sedikit santai. Sangat bertolak belakang dengan sistem meliter yang indentik dengan mental yang siap dan memilik tata kedisplinan yang baik , loyalitas tinggi, yang selama ini di jalankan sebagai prajurit TNI. Namun saat menjadi Wakil Bupati Gayo Lues dirinya harus berhadapan dengan masyarakat sipil dan aparature pemerintahan yang selam ini memiliki mental sipil pula. Melihat itu Firdaus melakukan upaya penegakan kediplinan. Setiap pagi firdaus lebih awal datang dari pada para staf. Tak jarang dirinya melakukan sidak kekantor dinas dan intansi pemda lainya. Namun dirinya menemukan kendala tak jarang staf hanya bermain kucing-kucingan. Tetapi niat baik itu sedikit demi sedikit mulai terlihat perubahannya saat ini hampir setiap pagi kantor Sekdakab maupun di dinas –dinas sudah terlaksana apel pagi. Upaya lain dalam bidang pertanian dirinya melihat lahan terlantar yang selama ini hanya di tumbuhi oleh ilalang dan smak belukar, karena alasan banyakanya hama babi sehingga tidak dapat di olah secara maskimal. Firdaus mencoba dan membuktikan kepada masyarakat, dengan menanam kentang dilahan yang selama ini hanya di tumbuhi oleh semak belukar, dan hasilnya cukup menjanjikan lahan yang tandus dapat berproduksi maskimal. setelah diolah dengan serius. Hal lain Firdaus selalu melakukan kunjungan kedaerah-daerah untuk melihat kondisi masayarakat secara langsung, seperti Desa Listen Kecamatan Pining, ke Desa Tongra Kecamatan Terangon, bersama benderah Palang Merah dirinya menelusuri kehidupan masyarakat pedalaman untuk menjaring aspirasi masyarakat yang selama ini tidak tertampung melalui program-program pemerintah. Nama lengkap Firdaus Karim lahir di Blangkejeren pada tanggal 5 September 1959, tamat sekolah SD di Blangkejeren pada tahun 1970, kemudian menamatkan sekolah SMP pada tahun 1974, menamatkan SMP di Banda Aceh pada tahun 1977. pada tahun 1983 lulus dari Akademi Bersenjata Republic Indonesia di Magelang Jawa Tengah

Karir pekerjaan pada tahun 1983 menjadi Danton Yonif 512 dengan pangakat letda, pada tahun 1984 menjadi Danton Yonif 527, pada tahun 1986 dengan pangkat Lettu menjadi Danki Yonif 512. pada tahun 1987 dengan pangkat Kapten bertugas menjadi Wadan secaba Rindam V, pada tahun 1995 saat pangkat naik menjadi Mayor diberi jabatan Pabadan Ops Dam I Bukit Barisan. Pada tahun 1996 pinda ke Lhoksumawe menjadi Pasi Ops Rem 011/LW. pada tahun 1997 Kasdim Lhoksumawe, pada tahun 1998 menjadi Gumil Rindam I Bukit Barisan, pada tahun 1999 pangkat Letkol menjabat Kasi Ops Rem 023/KS, tahun 2002 menjadi Pabandiya rem Ops Dam I/BB. Pada tahun 2004 dengan pangkat Letkol menjadi Dandim 0306/50 Kota, dan pada tahun 2006 menjadi Dandim 0311/Passel. Pelatihan yang pernah diikuti dalam karirnya di meliter antara lain almarhum pernah m enghikuti palatihan Unior Instruktur Combat. Di Australia pada tahun 1984, kursus Dandim di Bandung pada tahun 2001, SL, Pelatihan Seroja Tim-tim di Mabes AD. Tahun 1986. SL Dom di Aceh dari Mabes pada Tahun 1997, SL Kesetiaan XV dari Mabes AD pada tahun 2001. Atas perkawinannya dengan Sawi Arni Harefa yangt relkahir di Blangkejeren pada tanggal 18 Mei 1964, Firdaus di karunia 3 putra diantaranya putra sulungnya bernama Romei Ariyo Satria. Lahir dimalang pada tanggal 13 mei 1986, ptra keduanya bernama Fauzi Hermawan Lahir dimalang pada tanggal 29 januari 1991, dan yang putra bungsunya lahir di Sibolga pada tanggal 24 April 1999. Kini Firdaus telah tiada, beliau dipanggil Sang Khaliq pada saat wukuf di Arafah pada musim haji yang baru lalu, sekarang tinggal kenangan indah yang mewarisi bumi seribu bukti Gayo Lues, selamat jalan pahlawanku. Buniyamin S

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

DAERAH

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

12

Hut V Yonif 114 / Satria Musara

Keamanan Faktor Terpenting Pembangunan Daerah
Tentara Nasional Indonesia (TNI) diminta harus mampu melakukan penekenan angka pelanggaran diwilayah hukum tempatnya bertugas, sehingga dipastikan masyarakat merasa aman melakukan berbagai aktivitas sehari-hari tampa ada gangguan. Bahkan, dengan terjaminnya keamanan dan ketrentraman itu, suatu daerah akan cepat berkembang. Hal itu disampaikan Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Bachtiar SIP saat menghadiri upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) V Yonif 114 /Satria Musara di Komplek Batalion Infantri 114/SM Bener Meriah, Rabu, 2 Desember 2009. Dikatakan, meskipun ditengah keterbatasan anggaran serta fasilitas yang belum memadai, tetapi prajurit TNI harus mampu meningkatkan profesionalitas proporsional kinerja yang tangguh, gigih serta berkemampuan intelektual dalam, melaksanakan tugas secara paripurna sesuai dengan cita-cita, tujuan dan kepentingan Nasional. TNI harus mampu menguasai teknologi modern, sedangkan ketangguhan harus tercermin dalam solidaritas, berwawasan kebangsaan, kokoh, serta mencintai dan dicintai masyarakat,”ungkap Kolonel Inf Bachtiar SIP. Disebutkan juga, prajurit TNI yang tangguh dan kokoh sebagai abdi Negara serta masyarakat, diharapkan agar senantiasa menjaga moralitas yang tinggi, rela berkorban, pantang menyerah, serta selalu beserta sama rakyat. Sebagai prajurit Saptamargais tidak pernah mengenal kata menyerah dan terpengaruh oleh kata haluan yang sipatnya merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “TNI merupakan gerda terdepan sekaligus sebagai benteng NKRI mulai dari sabang hingga Merauke,”sebut Danrem 011/Lilawangsa beberapa hari lalu. Disisi lain Bachtiar mengaku, sejak ditugaskan sebagai Danrem 011/ Lilawangsa, kondisi keamanan di Aceh semakin kondusif. Hal itu dapat dilihat dari tidak ditemukannya gangguan terhadap masyarakat yang melakukan aktivitasnya sehari – hari. Dan harapan kedepan, agar keamanan tersebut semakin terjamin karena keamanan merupakan Faktor utama berkembangnya suatu daerah .”Bila keamanan terjamin, maka akan banyak investor yang dating ke daerah kita,”harap Danrem 011Lilawangsa, Kolonel Inf BAchtiar SIP. Acara peringatan HUT Yonif 114/SM yang ke 5 ini turut dihadiri Kapenrem 011/Lilawangsa Mayor Inf TM Khair SE, para Dandim di jajaran Danrem 011/Lilawangsa, Bupati Bener Meriah Ir. H. Tagore Abubakar, Wakil Bupati Aceh Tengah Drs. Djauhari Ali, KAjari Takengon Ahmad Darmansyah Serta Kepala Dinas, badan dan Kantor dilingkungan Pemkab Bener Meriah. Sadikin dan Supardi

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

OPINI

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

13

Konseling adalah Pelayanan
(Tulisan bagian satu)
dan menjadi individu dewasa. Selanjutnya, individu dewasa itu pada gilirannya harus mampu memberikan pelayanan, yaitu terutama kepada diri sendiri, dan selebihnya kepada orang lain. Demikianlah asal-muasal pelayanan yang awal datangnya dari Tuhan Yang Maha Pencipta. Tuhan adalah Zat Yang Maha Melayani manusia dan makhluk-makhluk lain yang diciptakannya. Bukankah seluruh ciptaan Tuhan, dari bumi dan air serta kekayaan alam yang ada di sekitar tempat tinggal manusia orang-perorang itu sendiri sampai dengan segenap isi langit dan benda-benda antariksa adalah seluruhnya untuk manusia? Ya, untuk kebahagiaan orang perorang manusia, dan untuk seluruh umat manusia. Diyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak lain adalah agar manusia itu berbahagia dalam hidupnya di dunia dan akhirat. Bukanlah kehendak Tuhan apabila manusia itu menjadi sengsara atau menderita, atau menjdai mangsa atau korban dari sesuatu yang menjadikan manusia itu tidak bahagia, melainkan hal itu semua karena manusia lalai dalam melayani diri sendiri dan melayani sesamanya. Tuhan telah secara tersurat maupun tersirat, lansung maupun tidak langsung memberikan petunjuk dan peringatan, memperlihatkan jalan lurus/benar dan jalan yang bengkok/salah, menegaskan hukum-hukum yang pasti berlaku, mengingatkan tentang bala yang bisa terjadi apabila petunjuk/jalan lurus/hukumhukum itu dilanggar. Hebatnya lagi, Tuhanpun menyediakan segala segala bentuk kemungkinan pembebasan atas segala perbuatan manusia yang menyimpang dari segenap pelanggaran itu; termasuk di dalamnya pengampunan yang yang dapat menjadikan manusia kembali fitrah sebagaimana sewaktu dilahirkan. Demikianlah pelayanan yang tiada bertepi dari Tuhan Yang Maha Suci dan Terpuji. Apa artinya melayani diri sendiri dan melayani sesama? Seseorang yang mengikuti, menerapkan dan menepati petunjuk dan peringatan, serta jalan lurus dan hukum-hukum Tuhan tersebut di atas untuk diri sendiri, agar dirinya tetap hidup dan berkembang, agar dirinya memperoleh manfaat dari apa-apa yang ada pada dirinya sendiri dan alam sekitarnya, dan agar dirinya sejahtera serta bahagia tanpa dosa hidup di dunia dan di akhirat, maka dapat dikatakan orang itu melayani diri sendiri dengan sebaikbaiknya. Semua perbuatan yang sesuai dan menjunjung tinggi segenap petunjuk/jalan lurus/ hukum yang ditetapkan (terutama yang ditetapkan oleh Tuhan, dan juga yang ditetapkan oleh manusia sepanjang tidak bertentangan dengan ketetapan Tuhan) merupakan perbuatan yang sifat, arah dan tujuannya adalah melayani diri sendiri. Sifat, arah dan tujuan melayani orang lain atau melayani sesama sejalan dengan melayani diri sendiri dengan sasaran yang berbeda. Melayani diri sendiri sasarannya adalah aku, sedangkan melayani orang lain sasarannya adalah kamu dan dia. Demikianlah, pelayanan sejati, yang idealnya dapat dilakukan oleh setiap orang, adalah ibarat mata uang dengan dua sisinya yang amat berharga, yaitu pelayanan untuk diri sendiri di satu sisi dan pelayanan kepada orang lain di sisi yang satu lagi. Pelayanan untuk diri sendiri dan untuk orang lain oleh manusia itu semuanya sejalan dengan dan berakar dari pelayanan oleh Tuhan kepada seluruh umat manusia. Ditilik lebih teliti, dalam pelayanan yang digambarkan di atas, di dalamnya ada cinta. Betapa agung, indah dan tanpa batasnyalah cinta Tuhan kepada manusia dan semua makhluk-Nya. Dalam pelayanan itu melekat erat rasa cinta. Bahkan dapat pula diibaratkan bahwa antara pelayanan dan cinta merupakan dua sisi mata uang. Pelayanan tanpa cinta adalah pelayanan yang tandus atau mungkin tidak tulus, atau pelayanan basa-basi; bukan pelayanan sejati atau pelayaan sebenarnya. Demikian juga, cinta tanpa pelayanan adalah cinta hampa atau cinta yang mengada-ada; bukan cinta sejati atau cinta yang timbul dari lubuk hati. Pelayanan yang ada cinta di dalamnya memerlukan tindakan bukan sekedar angan-angan ataupun omongan belaka; bahkan tindakan dengan kompetensi yang tinggi atau bahkan tindakan profesional. Luar biasa dan tak terbayangkan, betapa maha sempurnanya “keprofesionalan” Tuhan dalam pelayanan penuh cinta kepada manusia dan makhluk-makhluk lainnya, dalam kondisi seperti bencana gempa dahsyat sekalipun. Coba kita bayangkan, dalam kondisi musibah hebat pun pelayanan yang penuh cinta dari Tuhan Seru Sekalian Alam tidak pernah berkurang kepada manusia.(

Drs.Abu Asyari, Kons,
Dosen dan Konselor, di Universitas Riau
onsep tentang pelayanan dapat ditarik dari pemahaman yang sangat mendasar, yaitu bagaimana manusia memperoleh pelayanan yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana manusia harus melayani diri sendiri dan orang-orang di luar dirinya. Tuhan Sang Maha Pencipta “melayani” manusia sejak penciptaan manusia itu sendiri, orang perorang. Melalui kenikmatan hubungan suami istri yang sedang melakukan kegiatan saling melayani, Tuhan menciptakan janin di perut seorang ibu. Dengan kondisi pelayanan yang penuh dan luar biasa, janin itu menjadi bayi yang akhirnya terlahir menjadi seorang anak. Melalui pelayanan yang luar biasa pula anak yang baru lahir itu dibesarkan oleh ibu/ayah kandungnya dan orang-orang lain di sekitarnya. Maka berkat pelayanan, si janin menjadi bayi, menjadi anak,

K

Menanti Keseriusan Pemberantasan Ilegal Logging
Pembabatan hutan secara membabi buta, berdampak sangat besar terhadap kerusakan lingkungan. Dewasa ini isu tentang kerusakan hutan menjadi salah satu isu global yang hangat dibicarakan oleh aktivis lingkungan. Salah satu penyebab adalah imbas dari pembebasan hutan puluhan tahun yang lalu. Akibatnya, dalam kurun waktu abad ini, bencana alam dimana-mana terjadi. Longsor dan banjir adalah suatu kenyataan yang harus diterima dari orong-orang yang tak berdosa. Itulah adalah merupakan hasil karya dari tangan.-tangan oknum yang tidak bertangug jawab. Temuan-temuan kayu oleh aparat berwenang maupun dalam operasioperasi pemalakan liar, suatu bukti bahwa sampai saat ini hutan kita masih selalu terjamah oleh tangantangan yang tidak bertanggung jawab. Kesan yang ada di masyarakat aksi penebangan hutan sengaja dibiarkan. Diduga ada oknum-oknum tertentu yang turut bermain. Ada kesan Undang Undang Kehutanan yang ada sekarang ini masih rentan terdapat celah-celah yang masih bisa disusupi oleh mafiamafia atau broker-broker. Akibatnya ini adalah satu faktor yang dapat mengakibatkan kemudahan pengrusakan hutan umumnya. Sebut saja, daerah kawasan hutan lindung Kecamatan Bukit Bener Meriah, salah satu warga yang tidak mau disebutkan nama nya mengatakan aktifitas pengolahan kayu illegal sudah lama berjalan dan oknum tertentu itu biasa terjadi karna adanya oknum yang terlibat. Fungsi Dinas Kehutanan juga sepertinya mandul. ada kesan dinas kehutanan menutup mata, terbukti jelas bagaimana di lapangan areal milik tanah Negara hutan lindung di babat orang yang tidak bertanggung jawab. Hal yang paling miris adalah oknum yang terlibat dalam pengolahan kayu illegal tersebut tetap saja tidak tersentuh hukum. Di sinyalir penebangan hutan lindung milik Negera secara besar besaran yang terjadi belakangan ini di bukan saja karna kepentingan pribadi ataupun ada unsur-unsur politik atau mempropokasi masyarakat. Akan tetapi ini di khawatirkan akan merusak kepentingan umum akan terancamnya intake Tirta Bengi PDAM Bener Meriah. Selama ini kawasan hutan lindung tersebut menjadi sumber air bersih untuk warga Bener Meriah. Sekarang pertanyaannya, Beranikah dinas kehutanan Bener Meriah bertindak tegas untuk mengamankan hutan lindung tersebut. Masyarakat yang belum tau persis soal Undang-undang tentang kehutanan hanya bisa berharap agar pemerintah dan penegak hukum menegakan hukum sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. Karna sudah menjadi rahasia umum selama ini oknum-oknum tertentu yang memuluskan penebangan liar yang berada dalam kawasan hutan lindung.

Mursid ,wakil Pimpinan Perusahaan Tabloid GayoLand

Harapan masyarakat diharapkan kepada penegak hukum. Polisi agar jangan hanya menindak masyarakat kecil yang menebang kayu hanya demi untuk kebutuhan mereka. Akan tetapi yang lebih penting menindak tegas para aktor-aktor mafia kayu yang bermain yang dibelakang oknum-oknum yang melindungi Sebenarnya inti dari Undang-undang kehutanan dibuat adalah untuk melindungi hutan dari kerusakan. Selain terus melakukan pengawasan akan kelestarian hutan pihak terkait juga harus mengenakan sangsi yang kepada para pelaku pembalakan liar tampa pandang bulu, demikian juga terhadap pemberian izin pada pengusaha kayu untuk lebih dipertegas. Jika hal hal tersebut dapat dilakukan maka akan bisa menekan laju pengrusakan hutan, terutama hutan lindung di Bener Meriah.

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

SEJARAH

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

14

Sejarah Perjuangan Dari Bener Meriah
Berkekuatan satu kilowatt, menggunakan signal calling “Suara Radio Republik Indonesia” dan “Suara Merdeka, bekerja pada frequensi 19,25 dan 61 meter, Radio Rimba Raya mengudara menyiarkan berita kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke berbagai negara. “Republik Indonesia masih ada, karena pemimpin republik masih ada, tentera republik masih ada, pemerintah republik masih ada, wilayah republik masih ada dan di sini adalah Aceh”.Itulah berita singkat dan padat yang mengudara dari Radio Rimba Raya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam menyampaikan berita kemerdekaan RI pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Radio Rimba Raya yang monumennya diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Bulog, Bustanil Arifin pada 27 Oktober 1987 pukul 10.30 WIB itu, terletak di desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah,Bener Meriah. “Siaran Radio Rimba Raya berperan penting dalam mengantisipasi propaganda Belanda tentang kemerdekaan Republik Indonesia pada masa itu,” kata Kol. (Pur) AR Latif, yang mengaku mengetahui banyak tentang peran radio perjuangan tersebut. Menurut AR Latif yang kini menjabat sebagai Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (PEPABRI) Provinsi NAD itu, Radio Rimba Raya berjasa sangat besar dalam menyebarkan berita tentang kemerdekaan RI.Sejak Agresi Belanda ke-dua, 19 Desember 1948, peranan radio sebagai penyampai berita di tanah air sudah dilakukan oleh Radio Rimba Raya yang beroperasi di tengah hutan raya Aceh Tengah. Keterangan beberapa tokoh yang berjasa mendirikan Radio Rimba Raya yang kemudian dihimpun dalam buku berjudul “Peranan Radio Rimba Raya” terbitan Kanwil Depdikbud Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), menyebutkan ,begitu besarnya kiprah radio perjuangan tersebut.Dijelaskan, siaran Radio Rimba Raya saat menyampaikan berita tentang Kemerdekaan Republik Indonesia itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di Semananjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan Australia dan Eropa. Radio Rimba Raya sangat berjasa dalam menyampaikan informasi kemerdekaan RI, sehingga negara-negara luar mengetahui bahwa Republik Indonesia masih ada,” kata AR. Latif, yang juga salah seorang pelaku sejarah yang masih hidup saat ini.AR.Latif yang juga terlibat langsung mengumpulkan data-data tentang kiprah Radio Rimba Raya dari berbagai sumber, seperti dari Kodam-I Bukit Barisan, yang mengisahkan bahwa siaran radio itu mempertinggi semangat pejuang mempertahankan Kemerdekaan RI. Pada awalnya, selain mengudara untuk kepentingan umum, para awak radio ini juga melakukan monitor, mengirim berbagai pengumuman dan instruksi penting bagi kegiatan angkatan bersenjata.Siaran Radio Rimba Raya di tengah hutan belantara Aceh Tengah itu, menampilkan lima bahasa, yakni bahasa Inggris, Belanda, Cina, Urdu dan Arab. Dalam tempo enam bulan mengudara, radio ini telah mampu membentuk opini dunia serta “membakar” semangat perjuangan di tanah air, bahkan keberadaan negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 diakui oleh beberapa negara manapun di dunia. Selain berita kemerdekaan Republik Indonesia yang diinformasikan, Radio Rimba Raya juga menyiarkan berita tentang kenduri akbar di Aceh.

Dok: acehforum.or.id Waktu itu Radio Rimba Raya setiap hari juga melakukan kontak dengan perwakilan RI di New Delhi. Berita-berita itu selain diterima langsung oleh petugas sandi perwakilan RI di New Delhi, juga dikutip oleh All India Radio dan seterusnya disampaikan ke alamat yang dituju. Ketika Konferensi Asia tentang Indonesia digelar tanggal 20-23 Januari 1949 di New Delhi, jam kerja Radio Rimba Raya diperpanjang mengingat banyaknya berita yang harus dikirim ke wakil-wakil Indonesia yang menghadiri konferensi tersebut. Sebagai pemancar gerilya, Radio Rimba Raya juga menyajikan acara pilihan pendengar dengan menghidangkan nyanyian-nyanyian rakyat yang dapat membakar semangat pejuang, bahkan merupakan satu-satunya sarana diplomasi politik Indonesia. Radio ini terus berperan sampai saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintahan Belanda pada 27 Desember 1949 di Jakarta sebagai hasil Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Sebelum ditempatkan di hutan Raya Bener Meriah, Radio Rimba Raya sempat berpindahpindah untuk memperoleh posisi yang tepat dalam menyiarkan berita-berita dan pesan-pesan perjuangan. Di Koetaradja (Banda Aceh), radio pemancar itu dipasang di desa “Cot Gue”, delapan kilometer arah selatan ibukota tersebut. Penyiarannya dilakukan dalam sebuah gedung peninggalan Belanda di Kawasan Peunayung (sekarang pusat kota). Pemancar di desa “Cot Gue” dan Studio Peunayung, dihubungkan dengan kabel dan selain juga disiapkan studio cadangan lain untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu Koetaradja direbut musuh. Pemancar radio pada saat itu tidak sempat mengudara, karena terjadi agresi militer Belanda ke-dua pada 19 Desember 1948. Dalam keadaan yang genting itu, 20 Desember 1948 pemancar diberangkatkan ke Aceh Tengah dengan pengawalan ketat dan dirahasiakan. Daerah yang dituju, ialah desa Burni Bius, Aceh Tengah dengan pertimbangan lokasi itu dinilai strategis dan secara teknis dapat memancarkan siaran dengan baik. Rencana pemasangan radio di desa Burni Bius itu ternyata tidak dapat dilakukan, mengingat risiko yang sangat berat karena pesawat-pesawat Belanda terus mengintai rombongan selama dalam perjalanan. Dengan mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi, pemasangan radio akhirnya dialihkan ke Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah. Sebelumnya, untuk mendapatkan radio itu Komando Tentera Republik Indonesia Divisi Gajah-I dari Malaya (Malaysia) bekerjasama dengan raja penyelundup Asia Tenggara, Mayor John Lie pada masa Agresi Belanda-I (21 Juli 1947). Perangkat radio dan kelengkapannya itu diselundupkan dari Malaysia melalui perairan Selat Melaka menuju Sungai “Yu”, Langsa, Aceh Timur. Radio Rimba Raya itu juga sempat dimanfaatkan oleh Komandan Tri Divisi X, Kolonel T. Hoesin Joesoef, sebagai pemancar siaran umum sebelum diangkut ke Aceh Tengah. Menurut beberapa tokoh pejuang kemerdekaan lainnya di Aceh, seperti yang diungkapkan, Teuku Ali Basjah Talsya, peranan Radio Rimba Raya sangat besar dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan di tanah air. Hingga tahun 1950, Radio Rimba Raya masih mengundara. Radio Rimba Raya selain menyampaikan berita kemerdekaan, juga berperan penting dalam berbagai pemberitaan dan menyiarkan radiogram kepada wakil pemerintah di luar negeri. “Sekarang ini perangkat peninggalan Radio Rimba Raya itu tidak diketahui jejaknya, apakah masih ada atau sudah hilang sama sekali,” katanya. Kalaupun masih ada perangkat radio itu, kemungkinan tersimpan di Museum Jogyakarta. “Kita akan coba telusuri perangkat radio perjuangan itu,” jelasnya. Sebagai bukti sejarah di Aceh, hanya tersisa monumen Radio Rimba Raya yang terdapat di Desa Rime Raya kecamatan Pintu Rime Gayo Bener Meriah, Talsya salah seorang tokoh Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA) mengatakan “Rakyat Aceh hanya bisa membuat sejarah, tapi tidak bisa memelihara nilai sejarah,” katanya seraya menambahkan di Aceh sudah saatnya dibangun sebuah museum perjuangan. Kurangnya perhatian pemerintah memelihara benda-benda peninggalan sejarah, mengakibatkan banyak peninggalan sejarah rusak dan hilang tanpa jejak. “Pemda harus memperhatikan dan merawat monumen Radio Rimba Raya itu dan menelusuri kembali keberadaan perangkat radio tersebut,” pintanya. Seperti kata pepatah, Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa pahlawan.***

Dok: acehforum.or.id

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

SERBA SERBI

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

15

ENSIKLOPEDI SENIMAN GAYO
ABU KASIM dilahirkan di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, pada tahun 1944. Ia mulai berkarya dalam dunia sastra sejak usianya masih muda. Salah satu karyanya yang sangat popular berjudul Ampung-Ampung Pulo. Karya ini diciptakan ketika ia menamatkan SMP di Takengon, Aceh Tengah. Saat itu, ia akan pergi meneruskan sekolah ke Banda Aceh untuk melanjutkan ke SMA. Perpisahan dengan sahabat dan tanah kelahiran menumbuhkan inspirasi Abu Kasim dengan menciptaanakan baris-baris puisi yang melankolis. Selain itu, Abu Kasim juga menaruh perhatian terhadap cerita rakyat. Banyak puisi-puisinya bersumber dari legenda rakyat Gayo, seperti Genali, Merek Suro, dan Inen Mayak Teri. Ia juga pencipta puisi balada yang mengambil tema cerita rakyat Gayo. Karya puisi baladanya yang terkenal antara lain, Batu Belah, Mpu Beru, Puteri pukes, dan Puteri Hijau. Setelah menamatkan pendidikan di Banda Aceh, ia pulang ke kampung halamannya di Takengon dan bertugas sebagai seorang Guru. Kemudian ia berpindah ke Jakarta menjadi salah satu karyawan di Direktorat Kesenian. Kesenian tradisi didong yang telah dikenalnya sejak dari kecil di kampung halamannya Takengon, di Jakarta-pun ia kembangkan lewat pertunjukkan di Taman Ismail Marzuki, Pasar Seni, Ancol, dan di tempat-tempat lainnya. Sejumlah karya Abu Kasim dimuat di dalam berbagai penerbitan. Sedangkan antologi puisi tunggalnya berjudul “Amruna” memuat 30 puisi dalam bahasa Gayo dan Indonesia di terbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982. Selain sebagai penciptaana, Abu Kasim juga suka mendendangkan ciptaanaannya bersama Ecek Umang. Ia pun pernah mendirikan group Amruna Umang dan bertanding dengan groupgroup terkenal di datarang tinggi Gayo.

Disusun Oleh : L.K.Ara

BANTA A. FARIDA Penyair yang banyak menulis puisi bertema ketuhanan dalam bentuk sya’er (kesenian tradisional masyarakat Gayo). Ia mempunyai latar belakang pendidikan agama Islam di pasentren. Setelah menyelesaikan pendidikan agama, ia mengabdikan dirinya sebagai guru mengaji di berbagai tempat. Banta A. Farida dilahirkan di daerah Gayo, Aceh Tengah, pada tahun 1929. Perihal mengekspresikan pengalaman diri lewat seni sastra bagi Banta tidak hanya menulis puisi, tetapi juga mengaransemennya menjadi lagu serta langsung membawakan lagu gubahannya tersebut sekaligus. Salah satu puisinya berjudul “Munubah Nasib” (Merubah Nasib) yang terdiri dari 16 bait, bercerita tentang bagaimana sebenarnya manusia nasibnya. Merubah nasib manusia bukanlah Allah, tetapi atas usaha manusia itu sendiri. Walaupun demikian garisnya telah ditentukan Allah, usaha mengerjakan untuk mencapainya terletak pada diri kita masing-masing. Di dalam puisinya “Penyakit Masyarakat” yang terdiri dari 8 bait, berisikan nasehat-nasehat tentang bahayanya seseorang kalau sudah kena penyakit masyarakat. Menurut puisinya, ada lima penyakit masyarakat yakni; berjudi, mencuri, minum arak, pergaulan bebas dan malas. Sebagai seorang penyair tradisional, Banta A. Farida tergabung dalam grub “Sya’er Bebesan”. Pada tahun 1950-an seni sya’er mencapai puncak keemasannya di dataran tinggi Gayo yang kebangkitannya dipelopori oleh Tgk yahya bin Rasyid dan Tgk Abdurrahim Daudy. Pada masa inilah, penyair Banta A. Farida dengan grup Sya’er Bebesannya dalam melakukan kesenian sya’er sering berhadapan dengan penyair Tgk Abdurrahman Daudy dari grup “Sya’er Kebayakan”, dan dengan Tgk Genincis dari grup “Sya’er Kutelintang”. Seperti penyair seni sya’er lainnya, ia pun menulis puisi bertemakan hari akhirat. Salah satu puisinya yang bercerita tentang hari akhirat ialah “Tene Kiamat”. Sedangkan yang menyangkut masalah pendidikan dan tata cara bergaul, terangkum dalam puisinya yang berjudul “Bergaul”. Selain itu tema umum, dituangkannya dalam puisi berupa cerita-cerita tentang Nabi Allah. Terutama kisah Nabi Ayyub.

DAMAN Ceh Ishak Ali dan Daman Daman dikenal sebagai seorang Ceh Didong pada group Dewantara. Orangnya pendiam dan juga pemalu. Tapi namanya terkenal di seantero Tanah Air. Karena suara dan puisinya pernah menggema ke udara. Lirik lagunya menyentuh batin misalnya terdapat dalam syairnya, berjudul, “Koro” (Kerbau), “Aman” (Damai) dan “Perahu”. Dalam puisi Kerbau misalnya ia melukiskan bagaimana hewan itu hidup. Sang Kerbau tua merawat anaknya. Bahkan si induek mengha langi dari serangan binatang buaspun ia lukiskan dengan indah dalam puisinya. Lain lagi dengan puisi “Damai”. Puisi yang pertama kali dibawakan dalam pertemuan orang gunung dan ABRI di Takengon beberapa tahun silam, menghimbau agar semua kita hidup hendaknya dalam keadaan damai. “Damai, dunia, damai/janganlah rusuh”, kata Daman. Daman yang seniman alam ini memang melahirkan puisi dan menulis puisi di lingkungan daerah pegunungan yang sepi dan dengan bahasa daerah klassik Gayo. Selain IBRAHIM KADIR Ibrahim Kadir dilahirkan di Kemili, Takengon, Aceh Tengah, tahun 1939. Mulai menulis karya sastra sejak usia 18 tahun, yakni tahun 1958. Dia sudah sejak usia muda telah tertarik kepada seni Tradisional Gayo “Didong”- seni berdendang mendengarkan syair-syair tentang alam sekitar. Ibrahim Kadir merupakan tokoh seni “Didong” yang produktif selain To’et. Diantara banyaknya penyair yang terlahir dari dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, tidak banyak yang menulis syair balada. Salah seorang yang menulis puisi-puisi balada itu ialah Ibrahim Kadir. Ia sudah tertarik pada pelajaran sejarah sejak duduk di bangku sekolah. Hal inilah yang mendorongnya menulis cerita-cerita masyarakat Gayo yang banyak terpendam dan tersebar secara turun temurun. Melihat beberapa puisi balada yang dihasilkannya seperti; “Inen Mayak Pukes”, “Melem Diwa”, memang dapat dikatakan ia bersungguh-sungguh untuk menuluis syair berpanjang-panjang. Kedua cerita itu sudah dikenal bukan hanya dikenal dikalangan masyarakat setempat sebagai cerita rakyat yang populer, tetapi juga sudah bersifat nasional. Cerita

ungkapannya menarik dalam lagu Aman, ia juga memilih kata-kata yang pas sehingga lirik lagu selalu dikenang orang. Bahkan kini sejumlah orang dapat menghafal seluruh lirik lagu tersebut. Beberapa kali muncul di Teater Arena Taman Ismail Marzuki Jakarta, Daman masih tampil dengan menarik. Usianya yang mulai menua memperlihatkan kematangannya sebagai penyair. Dan suaranya yang besar merdu seperti menggema di setiap alam yang kian sayup. Mengenang pertandingan seni didongnya dengan beberapa group yang ada di Aceh Tengah, ia menyebut lawan keras pada zamannya adalah Sali Gobal dari group “Kemara Bujang”, Muh. Basyir Lakkiki dari group Lakkiki dan lain-lain. “Biasanya bila kami dari Dewantara sudah bertanding dengan group Kemara atau Lakkiki maka penonton akan melimpah”, kata Daman mengenang masa silamnya.

Malem Diwa dikalangan masyarakat dikenal sebagai cerita yang dapat dinikmati selama tiga malam, bahkan pernah ditutur selama tujuh malam. Di tanah Gayo yang indah, Ibrahim Kadir menulis balada Malem Diwa dalam bahasa Gayo. Bahasanya indah, penuturannya lancar bak air mengalir. Di samping itu semua itu, Ibrahim melengkapi puisi-puisi baladanya dengan irama tertentu dalam bentuk lagu. Dia telah menerbitkan beberapa kumpulan puisi Didong, diantaranya; Cerita Rakyat Gayo dalam Balada Ibrahim Kadir (L.K. Ara, 1971), Datu Beru (Gayo-Indonesia, LKGA, 1971), Gentala (Gayo-Indonesia, LKGA, 1971), dan Cincim Pala (BP, 1971). Sebuah puisi baladanya yang berjudul “Inen Mayak Pukes’ (Pengantin Pukes) dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Selain menulis Didong dia juga aktif dalam teater dan tari. Tercatat pernah menciptaanakan Tari Massal untuk acara MTQ Banda Aceh tahun 1981.

ASPIRASI & PEMBANGUNAN

Land

JENDELA

21 Desember 2009 s/d 05 Januari 2010

16

Asa Melepas Dahaga Lama

Tiga desa di Kecamatan Wih Pesam mendapat bantuan sanitasi air bersih yang diprakarsai sebuah lembaga lokal, Center for Humanitarian and Sosial Empowerment atau CHSE. Bantuan itu disebut program pembangunan damai partisipatif Hasanuddin, 35 tahun sejenak melepas lelah di lereng
bukit yang dipenuhi tanaman kopi jenis robusta, jarum jam di tangan telah menyentuh angka 12 pada Rabu siang, 16 Desember 2009. lelaki itu baru saja selesai menurap pondasi yang akan digunakan sebagai tempat kincir berputar. Dia dibantu sekitar sebelas orang yang terdiri dari pemuda dan lelaki setengah baya yang berkeringat di lokasi dengan ketinggian 1294 kaki dari permukaan laut. “Kami bergotong-royong dalam membangun ini (Kincir Air –Red), setiap masyarakat Desa Suka Ramai Atas telah dijadwalkan untuk gotong-royong dalam pembangunan proyek air bersih desa,” kata Munawir, pemuda desa yang ikut bergotong-royong bersama Hasanuddin. Menurut Munawir, Masyarakat Desa Suka Ramai Atas selama ini sulit memperoleh air bersih. Mereka bertahuntahun mengandalkan air hujan yang ditampung dalam bak sederhana yang terdapat di setiap rumah warga. Proyek pembangunan air bersih desa yang sedang dikembangkan di Desa Suka Ramai Atas merupakan bantuan sebuah lembaga swadaya masyarakat lokal, Center for Humanitarian and Social Empowerment yang berkantor di Jalan. BireunTekengon, Simpang Balik. Miswar, 27 tahun, salah satu village technical advisory staff CHSE Aceh yang bertugas di desa Suka Ramai Atas menjelaskan, pembangunan kincir air di Desa Suka Ramai Atas itu untuk mensuplai air ke desa. “Sistem kerja kincir air untuk air itu sederhana. Air yang yang mengalir dari selokan lereng bukit itu diarahkan untuk memutar kincir, yang kemudian memberikan tenaga untuk menggerakkan power sprayer sehingga sanggup mensuplai air ke desa dengan ketinggian 87 meter dari lokasi,” kata Miswar. Selain Desa Suka Ramai Atas, aktivitas gotong-royong masyarakat juga terdapat di lereng bukit Suka Ramai Bawah. Sekitar dua puluh orang lelaki dewasa dan pemuda berbaur dalam pekerjaan masing-masing. Ada yang memasukkan pasir dalam moler yang sedang berputar, sebagian menurunkan batu gunung yang dibungkus dalam karung yang kemudian diturunkan kelembah yang terjal menggunakan tali dipancang dari bukit ke lereng, dan di lereng bukit, terlihat lima pria yang sedang menyusun batu dan memasukkan semen untuk pengecoran dinding bak air. “Hari ini harus selesai dikerjakan, takut besok hujan,” kata Fadli, Warga Desa Syura Jadi. Pembangunan bak penampung air di lereng bukit Desa Suka Ramai Bawah merupakan proyek pembangunan air bersih Desa Syura Jadi. “Kami telah mendapat restu dari perangkat Desa Suka Ramai Bawah dan pemilik kebun untuk membangun bak penampung air bersih untuk Desa Syura Jadi, kami sangat berterima kasih kepada tetangga kami yang baik hati dan kepada CHSE,” kata Alviani, Kepala Desa Syura Jadi yang ikut bergotong-royong bersama warganya. Alviani mengatakan, air bersih merupakan prioritas utama pembangunan Desa Syura Jadi. Masyarakat Desa Syura Jadi telah lama mengkonsumsi air hujan yang ditampung untuk keperluan minum, masak dan mencuci. Diharapkan program pembangunan air bersih untuk desa yang didanai CHSE berhasil dan dapat membebaskan masyarakatnya dari ketergantungan pada air hujan. “Kalau musim kemarau, kami terpaksa mengangkut air dari lereng bukit ke rumah, kasihan kaum perempuan desa kami,” keluh Alviani. Menurut Rahmadi, Village Technical Advisory Staff CHSE yang bertugas di Desa Syura jadi, Bak penampung air bersih untuk desa Syura Jadi diperkirakan selesai pada awal Januari 2010 nanti. “Bak ini akan mensuplai air ke desa dengan menggunakan tenaga tekanan, bak penampung yang ada di desa itu lebih rendah dari bak penyaring, jadi dipastikan air akan sampai ke desa setelah melewati satu bukit.” Kata Rahmadi. Program pembangunan sarana air bersih yang sedang dikembangkan CHSE di Desa Suka Ramai Atas, Desa Syura Jadi dan Desa Cinta Damai merupakan program pembangunan damai partisipatif atau lebih dikenal dengan nama program PEUDAP yang didanai oleh USAID melalui IRD-Serasi. Program Manager CHSE Bener Meriah, Arif Surahman mengatakan, bantuan sarana air bersih untuk membantu desa yang selama ini tidak memperoleh air yang layak untuk dikonsumsi. “Program yang CHSE lakukan di Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah lebih untuk membangkitkan partisipasi masyarakat dalam membangun desa mereka sendiri. Progam ini merupakan tahap implementasi dari rencana pembangunan desa partisipatif yang disusun masyarakat melalui workshop pembangunan desa yang difasilitasi CHSE pada Program PEUDAP tahap pertama.” Lebih lanjut, Arif menyebutkan delapan desa dampingan CHSE di Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah yaitu Simpang Balik, Bener Ayu, Suka Makmur Timur, Belang Kucak, Jamur Ujung, Cinta Damai, Suka Ramai Atas, dan Syura Jadi. Andi Firdaus, Direktur CHSE Aceh mengatakan, program PEUDAP juga program untuk membantu pemerintah dalam menangani desa tertinggal. “Dalam Peudap, yang terpenting adalah partisipasi masyarakat terhadap pembangunan desa mereka, bukan apa yang telah CHSE bangun di desa mereka,” kata Andi di kantor CHSE Simpang Balik.

REDAKSI Penerbit: CV Gayo Media- Dewan Redaksi: ZRM. Billima,LK.Ara - Pemimpin Perusahaan: Mukhlis Suryadipura SEWakil Pemimpin Perusahaan: Mursit -Pemimpin Redaksi: Arsadi Laksamana S.sos - Redaktur: Arif Surahman Koordinator Liputan: Supariadi - manager Iklan dan Sirkulasi: Arlin Ariska Bagian Kuangan: Noval Arianti LayOut: Noriza L.Zainon -Wartawan: Amiruddin (Kabiro Aceh Tengah) , Nasiruddin, M.Charim, Sadikin, Wan Kurnia, M.Tawar, Abdul Karim S,Pdi, Erwin Syahputra S.Psi -Gayo Lues : Drs. Buniyamin S - Kutecane: Rajib (Kabiro Kutecane)- Banda Aceh: Rika (Kabiro Banda Aceh) -Medan: Pakedang(Kabiro Medan) -Pekanbaru: Arfit Gayo (Kabiro Pekanbaru) -Jakarta: Drs.Swandris Zetha (Kabiro Jakarta) - Jogjakarta: Bardi (Kabiro Jogjakarta).
Alamat : Jln Teritit-Simpang Tiga Redelong. Gunung Teritit. Kec Bukit - Bener Meriah Tlp: 0643-7426057 Fak: 0643-7426057 Email: gayo.land@gmail.com. Blog: www.gayolandnews.blog.com

Banker : BRI Cab. Takengon A/n : MUKHLIS SURYADIPURA, SE No. Rek : 055.02.03.570149-8 MANDIRI Cab. Takengon A/n : MUKHLIS SURYADIPURA, SE No. Rek : 158-00-0046815-7

Redaksi Menerima Sumbangan tulisan Maksimal 1500 karakter Redaksi berhak mengedit dan merubah tulisan Tanpa menghilangkan subtansi isi tulisan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->