P. 1
Bab 10 Menyusun Karya Tulis Ilmiah Sosial

Bab 10 Menyusun Karya Tulis Ilmiah Sosial

|Views: 1,584|Likes:
Published by Suhadi Rembang
Pasca melakukan penelitian, dilanjutkan kemudian menyusun laporan
penelitian (lihat bab 9). Pada umumnya pasca penelitian (baik bidang sosial dan
alam) seorang peneliti merasa berat dalam menyusun laporan penelitian?
Sesulit apakah membuat karya ilmiah sosial? Bagaimana cara membuat karya
ilmiah sosial? Setelah jadi artikel ilmiah, akan dipublikasikan dimana? Pada
bagian ini akan dipaparkan tentang teknik menulis karya ilmiah sosial dengan
apik.
Namun sebelum melangkah pada bagian tersebut, terlebih dahulu akan
dipaparkan tata cara membuat karya ilmiah secara umum. Perlu diketahui
bahwa karya ilmiah sosial merupakan suatu karya (tulisan) yang dibuat
berdasarkan kaidah-kaidah keilmiahan.
Dengan dihadirkan bab ini secara khsuus, diharapkan seorang peneliti
akan mampu menghasilkan artikel ilmiah. Artikel ilmiah merupakan suatu sajian
singkat dan padat yang sifatnya komunikatif tentang suatu pengabaran akan
hasil karya ilmiah. Biasanya artikel ilmiah dapat dilihat pada jurnal ilmiah, koran,
dan majalah.
Pasca melakukan penelitian, dilanjutkan kemudian menyusun laporan
penelitian (lihat bab 9). Pada umumnya pasca penelitian (baik bidang sosial dan
alam) seorang peneliti merasa berat dalam menyusun laporan penelitian?
Sesulit apakah membuat karya ilmiah sosial? Bagaimana cara membuat karya
ilmiah sosial? Setelah jadi artikel ilmiah, akan dipublikasikan dimana? Pada
bagian ini akan dipaparkan tentang teknik menulis karya ilmiah sosial dengan
apik.
Namun sebelum melangkah pada bagian tersebut, terlebih dahulu akan
dipaparkan tata cara membuat karya ilmiah secara umum. Perlu diketahui
bahwa karya ilmiah sosial merupakan suatu karya (tulisan) yang dibuat
berdasarkan kaidah-kaidah keilmiahan.
Dengan dihadirkan bab ini secara khsuus, diharapkan seorang peneliti
akan mampu menghasilkan artikel ilmiah. Artikel ilmiah merupakan suatu sajian
singkat dan padat yang sifatnya komunikatif tentang suatu pengabaran akan
hasil karya ilmiah. Biasanya artikel ilmiah dapat dilihat pada jurnal ilmiah, koran,
dan majalah.

More info:

Published by: Suhadi Rembang on Jan 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

BAB 10 MENYUSUN KARYA TULIS ILMIAH SOSIAL

Pasca melakukan penelitian, dilanjutkan kemudian menyusun laporan penelitian (lihat bab 9). Pada umumnya pasca penelitian (baik bidang sosial dan alam) seorang peneliti merasa berat dalam menyusun laporan penelitian? Sesulit apakah membuat karya ilmiah sosial? Bagaimana cara membuat karya ilmiah sosial? Setelah jadi artikel ilmiah, akan dipublikasikan dimana? Pada bagian ini akan dipaparkan tentang teknik menulis karya ilmiah sosial dengan apik. Namun sebelum melangkah pada bagian tersebut, terlebih dahulu akan dipaparkan tata cara membuat karya ilmiah secara umum. Perlu diketahui bahwa karya ilmiah sosial merupakan suatu karya (tulisan) yang dibuat berdasarkan kaidah-kaidah keilmiahan. Dengan dihadirkan bab ini secara khsuus, diharapkan seorang peneliti akan mampu menghasilkan artikel ilmiah. Artikel ilmiah merupakan suatu sajian singkat dan padat yang sifatnya komunikatif tentang suatu pengabaran akan hasil karya ilmiah. Biasanya artikel ilmiah dapat dilihat pada jurnal ilmiah, koran, dan majalah.

A. Karya Tulis Ilmiah Bidang Sosial Karya tulis ilmiah bidang sosial merupakan sebuah hasil karya seorang ilmuan sosial dalam rentang perjalanan seseorang melakukan penelitian dan pemikiran tentang sosial budaya yang dikajinya, apakah itu diperoleh melalui studi pustaka, atau suatu kegiatan empiris (Winarto dkk, 2004:2). Menurut Winarto dkk (2004:2-3) beberapa pertanyaan yang patut dimunculkan saat membaca karya tulis ilmuiah sosial adalah sebagai berikut: apakah maksud penulis dengan menyajikan kumpulan data tersebut; apakah argumen yang ingin disampaikannya; apakah sumbangsih tulisan itu bagi pengembang isu-isu konseptual, teoritis, metodologis, dan/atau pengayaan pemahaman tentang fenomena sosialbudaya yang terkait dengan pokok bahasan dalam tulisan itu; dan dimanakah posisi karya tulis ilmiah itu dalam koneks pembahasan wacana yang tengah berkembang dalam perjalanan ilmu sosial pada suatu kurun waktu dan isu tertentu?

-

Bagaimana tatacara penulisan karya tulis ilmiah sosial? Pada umumnya setiap ajang perlombaan karya tulis ilmiah sosial telah dibuatkan tatacara penulisan karya

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

tulis ilmiah sosial sedemikian rupa oleh penyelenggara (panitia lomba). Ada dua hal penting yang biasanya berkenaan dengan lomba karya tulis ilmiah sosial, yaitu: petunjuk teknis penulisan/pengetikan karya ilmiah dan sistematika penulisan karya ilmiah. B. Teknis Penulisan/Pengetikan Karya Ilmiah Bidang Sosial Pada bagian petunjuk teknis penulisan/pengetikan karya ilmiah (untuk berbagai bidang ilmu) yang dilombakan, biasanya isinya meliputi tentang: penulisan huruf; tata letak; pengetikan kalimat; penomoran halaman; kebahasaan; tata bahasa; tanda baca; penulisan tabel dan gambar; dan penyusunan daftar pustaka (Depdiknas,2008). Petunjuk teknis penulisan/pengetikan karya ilmiah bidang sosial dapat dipahami pada pemaparan berikut ini. 1. Penulisan Huruf Naskah diketik 1,5 spasi dengan menggunakan jenis dan ukuran huruf “Times New Roman 12”, kecuali untuk ringkasan diketik satu spasi. 2. Tata Letak a. Batas pengetikan: 1) samping kiri 4 cm 2) samping kanan 3 cm 3) batas atas 4 cm 4) batas bawah 3 cm b. Jarak pengetikan, Bab, Sub-bab dan perinciannya 1) Jarak pengetikan antara Bab dan Sub-bab 3 spasi, Sub-bab dan kalimat di bawahnya 1,5 spasi. 2) Judul Bab diketik di tengah-tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 4 cm dari tepi atas tanpa digaris-bawahi. 3) Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri, huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf kapital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan. 4) Judul anak Sub bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan indensi 1 (satu) cm yang diberi garis bawah. Huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf kapital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan. 5) Jika masih ada subjudul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti pada butir (3) di atas, lalu diikuti oleh kalimat berikutnya.

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

76

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

3. Pengetikan Kalimat Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok ke dalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik. 4. Penomoran Halaman a. Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar anggota kelompok, kata pengantar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah (i, ii dan seterusnya). b. Bagian tubuh/pokok sampai dengan bagian penutup memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1,5 cm dari tepi atas (1,2,3 dan seterusnya) c. Nomor halaman pertama dari tiap Bab tidak ditulis tetapi tetap diperhitungkan. 5. Kebahasaan a. Huruf Miring (Italic) Huruf miring digunakan untuk menulis beberapa hal sebagai berikut : 1) Kata dan ungkapan asing yang ejaannya bertahan dalam banyak bahasa 2) Tetapan dan pengubah yang tidak diketahui dalam matematika 3) Kata atau istilah yang diperkenalkan untuk diskusi khusus 4) Kata atau frase yang diberikan penekanan 5) Judul buku atau terbitan berkala yang disebutkan dalam tubuh tulisan 6) Nama ilmiah seperti genus, spesies, varietas dan forma makhluk b. Huruf Kapital 1) Digunakan untuk huruf pertama pada awal kalimat 2) Setiap kata dalam judul, kecuali kata tugas yang tidak terletak pada posisi awal 3) Nama bangsa, bahasa, agama, orang, hari, bulan, tarikh, peristiwa sejarah, lembaga, jabatan, gelar dan pangkat yang diikuti nama orang atau tempat. 4) Nama-nama geografi, tetapi bukan nama geografi yang digunakan sebagai jenis (misal: badak sumatera). 5) Penulisan nama orang pada hukum, dalil, uji, teori dan metode. c. Huruf Tebal

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

77

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

Huruf tebal digunakan untuk judul atau tajuk (heading). 6. Tata Bahasa a. Fungsi tata bahasa digunakan dengan taat asas dan tegas, sehingga subyek dan predikat harus selalu ada. b. Penggunaan ejaan dan istilah resmi. c. Bahasa yang digunakan bersih dari unsur dialek daerah, variasi bahasa Indonesia, dan bahasa asing yang belum dianggap sebagai unsur bahasa Indonesia, kecuali untuk istilah bidang ilmu tertentu. 7. Tanda Baca a. Tanda Titik (.) Digunakan pada akhir kalimat, pada singkatan tertentu, sebagai pemisah bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah. b. Tanda Koma (,) Digunakan untuk memisahkan angka desimal, pemisah unsur-unsur dalam suatu deret, untuk memisahkan unsur-unsur sisteksis dalam kalimat. c. Tanda Titik Koma (;) Digunakan untuk memisahkan unsur-unsur sintaksis yang setara, atau dalam deret yang sudah mengandung tanda baca lain. d. Tanda Titik Dua (:) Digunakan untuk menandakan pengutipan yang panjang, angka perbandingan, memisahkan nomor jilid dan halaman daftar pustaka. e. Tanda Tanya (?) Digunakan pada akhir pertanyaan langsung, untuk menunjukkan keraguraguan dalam suatu pernyataan. f. Tanda Hubung (-) Digunakan untuk menyambung menghubungkan dua kata yang sama.

bagian-bagian

tanggal

dan

g. Tanda Kurung ((...)) Digunakan mengapit tambahan keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. h. Tanda Petik (“...”) Digunakan untuk petikan atau kutipan pembicaraan langsung, istilah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. i. Tanda Garis Miring (/)

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

78

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

Digunakan untuk menggantikan tanda bagian atau menunjukkan bilangan pecahan. 8. Penulisan Tabel dan Gambar a. Tabel 1) Judul tabel merupakan kalimat pernyataan secara ringkas yang berdiri sendiri dan dapat menerangkan arti tabel 2) Judul tabel diletakkan di atas tabel dengan diawali huruf kapital tanpa diakhiri dengan tanda titik 3) Setiap tabel yang ada harus dirujuk atau dibahas di dalam kalimat 4) Catatan kaki pada tabel merupakan simbol non numerik seperti *, † dan ‡.. petunjuk catatan kaki diletakkan pada bagian tabel yang memerlukan informasi tambahan tersebut. b. Gambar 1) Judul gambar dapat berupa satu kalimat atau lebih. 2) Judul gambar diletakkan di bawah gambar dan diawali oleh huruf kapital serta diakhiri dengan tanda titik. 3) Setiap gambar biasanya mempunyai simbol. Untuk itu, setiap simbol harus diberikan keterangan. Ukuran simbol dan keterangannya harus proporsional dengan ukuran gambar dan dapat dibaca dengan jelas. 4) Setiap gambar yang terdapat dalam tulisan harus dirujuk di dalam teks. 9. Penyusunan Daftar Pustaka a. Teladan umum untuk jurnal sebagai panduan yang biasanya mutakhir Nama tahun. Nama pengarang. Tahun terbit. Judul artikel. Nama jurnal: nomor volume (nomor terbitan): halaman. 1) Satu Pengarang Koske R.E. 1989. Scutellospora arenicola and Glomus trimurales: two new species in the Endogonaceae. Mycologia 81:927-933. 2) Dua Pengarang Maginn, J.L. dan D.L Tuttle. 1990. Managing Invesment Portofolios: A Dynamic Process. 2nd ed. Gorham and Lamont Publisher. Boston. 3) Lebih dari Dua Pengarang Bloomberg, D.J., S. Lemay, dan J.B. Hanna. 2002. Logistics. Pearson International. New Jersey. 4) Setiap Terbitan Dimulai dengan Halaman Baru

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

79

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

Eliel, E.L. 1976. Stereochemistry Science LeBel and van’t Hoff: bagian Chemistry 49(3):8-13. b. Organisasi sebagai pengarang Badan Pusat Statistik (BPS). 2002. Statistik Potensi Desa Propinsi Banten. BPS. Jakarta. c. Teladan umum untuk buku Nama Pengarang. Tahun Terbit. Judul Buku. Tempat terbit; Nama Penerbit. 1) Buku Terjemahan Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van Der, Penerjemah. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie. 2) Buku dengan Editor Gilman, A.G., T.W. Rall, dan A.S. Nies., P. Taylor, Editor. 1990 The Pharmacological Basis of Therapeutics. Pergamon. New York. d. Prosiding Nama pengarang. Tahun terbit. Judul artikel. Di dalam: Nama editor. Judul publikasi atau nama pertemuan ilmiah atau keduanya; tempat pertemuan, tanggal pertemuan. Tempat terbit: nama penerbit. Halaman artikel. Meyer, B. Dan K. Herman. 1985. Formaldehyde Release from Pressed Wood Products. Di dalam: Turoski, Editor. Formaldehyde: Analyical Chemistry and Toxicology. Proceedings of the Symposium at the 187th Meeting on the American Chemical Society. St. Louis, 8-13 April 1984. Washington: American Chemical Societies. Halaman 101-116. e. Skripsi/tesis/desertasi Nama pengarang. Tahun terbit. Judul. Tempat institusi: Nama institusi yang menganugerahkan gelar. f. Paten Nama penemu paten; lembaga pemegang paten. Tanggal publikasi (permintaan) paten [tanggal bulan tahun]. Nama barang atau proses yang dipatenkan. Nomor paten. g. Surat kabar Nama pengarang. Tanggal bulan tahun terbit. Judul. Nama surat kabar; Nomor halaman (nomor kolom). 1) Tulisan/berita dalam surat kabar (dengan nama pengarang)

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

80

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

Pitunov, B. 13 Desember, 2002. Sekolah Unggulan ataukah Sekolah Pengunggulan? Majapahit Pos, hlm. 4 & 11. 2) Tulisan/berita dalam surat kabar (tanpa nama pengarang) Jawa Pos. 22 April, 1995. Wanita Kelas Bawah Lebih Mandiri, Jawa Pos, hlm. 3. h. Publikasi elektronik Nama pengarang. Tahun penerbitan. Judul artikel. Nama jurnal [tipe media] volume (nomor):halaman. Ketersediaan. [Tanggal, bulan dan tahun akses] Hsu, Y.H. dan K.Y. To. 2000. Cloning of a cDNA (Accession No. AF183891) Encoding Type II S-Adenosyl-L-Methionine Synthetase from Petunia Hybrida. Plant Phsiol. 122:1457. Hamilton, J.D. 2000. Programming CGI 101. http://www.cgi.com/class/intro.html [18 Oktober 2000]. C. Sistematika Penulisan Karya Ilmiah Bidang Sosial Selanjutnya pada bagian sistematika penulisan karya ilmiah bidang (untuk berbagai bidang ilmu) yang dilombakan isinya diantaranya tentang; bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir (Depdiknas,2008). Sistematika penulisan karya ilmiah bidang sosial dapat dipahami pada pemaparan berikut ini. 1. Bagian Awal a. Halaman Judul 1) Judul diketik dengan huruf besar, hendaknya ekspresif, sesuai dan tepat dengan masalah yang ditulis dan tidak membuka peluang untuk penafsiran ganda. 2) Nama penulis dan nomor induk mahasiswa ditulis dengan jelas 3) Perguruan tinggi asal ditulis dengan jelas. 4) Tahun penulisan 5) Kulit Muka luar menggunakan kertas buffalo dengan warna: Biru muda untuk karya tulis bidang IPA Merah muda untuk karya tulis bidang IPS Kuning muda untuk karya tulis bidang Ilmu Pendidikan

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

81

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

b. Lembar Pengesahan 1) Lembar pengesahan memuat judul, nama penulis, dan nomor induk. 2) Lembar pengesahan ditandatangani oleh Dosen Pembimbing, dan Pembantu Rektor/Ketua/ Direktur Bidang Kemahasiswaan lengkap dengan stempel perguruan tinggi. 3) Lembar pengesahan diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengesahan. c. Kata Pengantar dari penulis d. Daftar Isi dan daftar lain yang diperlukan seperti daftar gambar, daftar tabel, dan daftar lampiran. e. Ringkasan (bukan abstrak) karya tulis disusun 2-3 halaman yang mencerminkan isi keseluruhan karya tulis, mulai dari latar belakang, tujuan, landasan teori yang mendukung, metoda penulisan, pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi. 2. Bagian Inti a. Pendahuluan Bagian Pendahuluan berisi hal-hal sebagai berikut: 1) perumusan masalah yang mencakup latar belakang tentang alasan mengangkat masalah tersebut menjadi karya tulis (dilengkapi dengan data atau informasi yang mendukung) dan penjelasan tentang makna penting serta menariknya masalah tersebut untuk ditelaah; 2) uraian singkat mengenai gagasan kreatif yang ingin disampaikan; 3) tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan. b. Telaah Pustaka Telaah Pustaka berisi 1) uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikaji, 2) uraian mengenai pendapat terdahulu yang berkaitan dengan masalah yang dikaji, 3) uraian mengenai pemecahan masalah yang pernah dilakukan.

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

82

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

c. Metode Penulisan Penulisan dilakukan mengikuti metode yang benar dengan menguraikan secara cermat cara/prosedur pengumpulan data dan/atau informasi, pengolahan data dan/atau informasi, serta analisis-sintesis. d. Analisis dan Sintesis 1) Analisis permasalahan didasarkan pada data dan/atau informasi serta telaah pustaka. 2) Sintesis untuk menghasilkan alternatif model pemecahan masalah atau gagasan yang kreatif. e. Simpulan dan saran 1) Simpulan harus konsisten dengan analisis permasalahan dan menjawab tujuan. 2) Saran disampaikan berupa kemungkinan atau prediksi transfer gagasan dan adopsi teknologi. 3. Bagian Akhir a. Daftar Pustaka ditulis untuk memberi informasi sehingga pembaca dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan. Penulisan daftar pustaka untuk buku dimulai dengan menulis nama pengarang, tahun penerbitan, judul buku, tempat terbit, dan nama penerbit. Penulisan daftar pustaka untuk jurnal dimulai dengan nama penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume dan nomor halaman. Penulisan daftar pustaka yang diperoleh dari internet ditulis alamat website-nya. Secara rinci teknik penulisan daftar pustaka dapat dilihat pada Lampiran 1. b. Daftar Riwayat Hidup (biodata atau curriculum vitae) peserta minimal mencakup nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, karya-karya ilmiah yang pernah dibuat, penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih. c. Lampiran jika diperlukan, seperti: foto/dukumentasi, data dan informasi lainnya yang mendukung isi tulisan. Pada bagian sistematika penulisan karya ilmiah bidang sosial yang dilombakan, biasanya terdapat tentang persyaratan penulisan (Depdiknas,2008). Adapun persyaratan penulisan yang biasa dikenakan yaitu; a. Naskah, mulai dari Pendahuluan sampai dengan Simpulan dan Saran, ditulis minimal 20 halaman dan maksimal 30 halaman. Jumlah halaman yang tidak sesuai dengan ketentuan tersebut dapat mengurangi penilaian. b. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan,

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

83

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan singkatan seperti tdk, tsb, yg, dgn, dll., sbb. D. Teknik Dasar Menyusun Karya Ilmiah Bidang Sosial Pada bagian ini akan dipaparkan tentang hal-hal dasar apa saja yang perlu dikuasai/ dimiliki penulis dalam menyusun karya ilmia bidang sosial. Jika hal-hal dasar ini telah dikuasai, diharapkan penulis mampu menyusun karya ilmia bidang sosial, yang tatacaranya telah disampaikan pada bagian atas. Hal-hal dasar ini telah dikuasai penulis dalam menyusun karya ilmia bidang sosial yaitu sebagai berikut; mengenal unsur-unsur tulisan, menyiapkan ragang tulisan, menyusun paragraf, dan menyusun referensi. 1. Mengenal Unsur-Unsur Tulisan Pada bagian ini akan dipaparkan tentang tiga hal penting dalam menyusun suatu tulisan. Tiga tersebut yaitu; unsur-unsur tulisan, modelmodel penyusunan controlling idea dan supportting idea, dan persuasi dan argumen. a. Unsur-unsur tulisan Menurut Choesin (Winarto et al, 2004:44) unsur-unsur dalam tulisan terdapat dua, yaitu gagasan utama (controlling idea) dan dan gagasan bukan utama (supportting idea). i. Controlling idea Contorrling idea juga sering disebut sebagai gagasan utama atau gagasan pokok. Contorrling idea adalah gagasan paling umum yang dinyatakan penulis. Contorrling idea berfungsi untuk mengendalikan, atau mengontrol pikiran penulis ketika dia menulis, yang digunakan untuk mengendalikan perhatian para pembaca. Contorrling idea akan menunjukkan apa yang dapat diharapkan dari tulisan ini. ii. Supportting idea Supportting idea adalah gagasan atau informasi yang lebih spesifik tentang keseluruhan subjek penulisan yang telah diungkapkan dalam controlling idea penulis. Menurut Arnaudet dan Barret (1984 dalam Winarto, 2994; 42) terdapat delapan hubungan antara gagasan-gasasan dalam sebuah tulisan, yaitu:

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

84

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

-

-

-

-

-

Contoh (examplification) yaitu setiap supporting idea adalah contoh atau perwujudan dari hal yang diungkapkan sebagai controlling idea; Kontras yaitu perbedaan antara sejumlah supproting idea diuraikan, dan kriteria pembedanya diungkapkan dalam controlling idea; Perbandingan yaitu persamaan antara sejumlah supporting idea diuraikan, dan kriteria pembedanya diungkapkan dalam controlling idea; Enumerasi yaitu setiap supproting idea aalah anggota dari sebuah kategori yang diungkapkan dalam controlling idea; Kronologi yaitu setiap supproting idea adalah gejala yang tejadi secara beruntutan, dan controlling idea-nya mengungkapkan kurun waktu tertentu; Proses yaitu setiap supproting idea merupakan tahap yang perlu dilalui, atau langkah yang perlu diambil, atau suatu hal terjadi. Hal yang diungkapkan sebagai controlling idea; Kausalitas yaitu sejumlah supproting idea mengungkapkan kejadiankejadian yang terjadi secara beruntutan (kronologi), namun ada asumsi bahwa tiap kejadian mengakibatkan kejadian berikutnya. Kondisi akhir dari urutan kejadian tersebut diungkapkan sebagai controlling idea; Spasial yaitu tiap-tiap supporting idea tersusun berdasarkan letaknya dalam ruang tertentu, dan ruang tersebut diungkapkan dalam controlling idea.

b. Model-model penyusunan controlling idea dan supportting idea i. Susunan deduktif Susunan deduktif adalah penulis menempatkan controlling idea di bagian awal tulisan dalam bentuk beberapa kalimat atau beberapa alinea. Ini kemudian diikuti oleh supporting idea yang semuanya mengacu kembali ke controllingidea. Sebuah tulisan dengan susunan deduktif dapat dilihat pada bagan berikut ini.
Controlling idea Supporting idea Supporting idea Supporting idea

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

85

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

ii. Susunan induktif Susunan induktif adalah bentuk terbalik dari susunan deduktif. Dalam sebuah susunan induktif, penulis mulai dengan memberi uraian tentang sejumlah hal (supproting idea), lalu merangkumnya menjadi satu gambaran yang menyeluruh (controlling idea). Sebuah tulisan dengan susunan induktif dapat dilihat pada bagan berikut ini.
Supporting idea Supporting idea Supporting idea Controlling idea

iii. Susunan deduktif dengan pengulangan Susunan deduktif dengan pengulangan adalah menggunakan susunan deduktif dan induktif secara bergantian. Sebuah tulisan dengan susunan deduktif dengan pengulangan dapat dilihat pada bagan berikut ini.
Controlling idea Supporting idea Supporting idea Supporting idea Controlling idea

c. Persuasi dan Argumen Langkah selanjutnya adalah menulis. Menurut Wikipedia.org (2009) menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menurut Choesin (dalam Winarto, 2004:45-46) tulisan adalah suatu bentuk komunikasi, dan sebagai bentuk komunikasi, tulisan ii dimaksudkan untuk mengubah pengatahuan, perasaan, atau perilaku pembacanya. Dari tidak tahu menjadi tah; dari tidak setuju menjadi setuju (atau sebaliknya). Persuasi pada umunya diartikan mengajak dan mempengaruhi pembaca.

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

86

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

Pada umumnya terdapat dua gaya dalam menulis, yaitu; gaya persuasi dan gaya argumen. Persuasi menurut Nardiyana (2008) adalah suatu cara menyampaikan informasi menggunakan teknik tertentu yang bertujuan membujuk dan mengajak seseorang agar melakukan sesuatu sesuai anjuran dengan kesadaran sendiri kini maupun akan datang sehingga mengubah sikap dan perilaku pembaca. Persuasif menurut KBBI adalah bersifat membujuk secara halus (supaya menjadi yakin): hanya dng cara -- pendekatan itu dapat dilakukan; -- manipulatif teks persuasif yg menggunakan alasan-alasan implisit. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk merubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator (http://id.wikipedia. org/wiki/ Komunikasi_persuasi). Selanjutnya gaya menulis yang kedua yaitu tulisan dengan gaya argumentasi. Argumentasi secara umum diartikan sebagai suatu pendapat atau ide untuk membuktikan kebenaran, ada kesimpulan. Argumentasi juga diartikan sebagai salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang ditulis dengan tujuan untuk meyakinkan atau membujuk pembaca. Dalam penulisan argumentasi isi dapat berupa penjelasan, pembuktian, alasan, maupun ulasan obyektif dimana disertakan contoh, analogi, dan sebab akibat. Kita juga sering mendengar jenis paragraf argumentasi. Paragraf argumentasi yaitu jenis paragraf yang mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta (benar-benar terjadi). 2. Menyiapkan Ragang Tulisan Salah satu cermin keilmiahan sebuah karya tulis adalah perencanaan susunan tulisan secara runtut. Perencanaan susunan tulisan secara runtut yaitu proses awal penuangan gagasan dalam bentuk tajuk atau babak sedemikian rupa sehingga membentuk tata urutan. Hasil perencanaan tersebut adalah ragangan. Pada bagian menyiapkan ragangan tulisan ini akan dipaparkan tentang; batasan dan manfaat ragangan, cara penyusunan ragangan, menyusun paragraf, dan menyusun referensi. Berikut penjelasannya dari tiap-tiap item di atas. a. Batasan dan Manfaat Ragangan Manfaat ragangan tulisan adalah sebagai berikut: i. ragangan pada dasarnya merupakan hasl pengembangan topik dan pernyataan tesis, untuk mengembangkan dan menguraikan lebih lanjut tulisannya;

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

87

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

ii. ragangan memudahkan penulis untuk melihat keseluruhan alur; tulisan karena ragangan disusun dalam butir-butir yang di singkat; iii. ragangan memudahkan penulis untuk mengatur klimaks atau urutan kepentingan bahasan; dan iv. ragangan membantu penulis dalam membuat judul setiap bab atau bahasan. b. Cara Penyusunan Ragangan Cara penyusunan ragangan ada dua macam, yaitu dengan cara pemetaan ide dan pemetaan pernyataan tesis, berikut perjelasannya. i. Pemetaan ide Pemetaan ide Iidea mapping) merupakan cara penyusunan rangan dengan bersumberkan topik. Dalam pemetaan ide, segala gagasan yang diketahui oleh penulis dipetakan hingga berhenti pada satu titik. (hal65). ii. Pemetaan pernyataan tesis Tesis menurut KBBI (2008: 1186) adalah pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen yang dikemukakan dalam karangan. Dengan cara pemilahan pernyataan tesis, diadakan pemilahan setiap bagian dalam pernyataan tesis yang berpotensi untuk dikembangkan namun dengan tetap memperhatikan kesatuan gagasan topik (topik dan tujuan penulisannya). Pernyataan tesis adalah pernyataan yang disampaikan dalam sebuah kalimat, yang akan dibuktikan akan benar atau tidaknya, setelah penelitian dilakukan (Winarto, 2004:66) Berikut merupakan contoh pengembangan ragangan dengan teknik pemetaan penyataan tesis. Sebelum menyimak pemetaan penyataan tesis tentang bunuh diri pada anak, berikut akan dipaparkan data bunuh diri di Indonesia.
"Jika disimak, antara kurun waktu 2004-2007, banyak peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh anak usia belasan tahun dan masih bersekolah di sekolah dasar atau di sekolah menengah pertama (SMP). Ironisnya, faktor penyebabnya lebih banyak karena ketidakmampuan anak menahan rasa malu. Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per harinya. Sementara untuk tahun 2007, terdapat 12 korban bunuh diri karena terimpit persoalan ekonomi, delapan kasus lainnya akibat penyakit yang tak kunjung sembuh lantaran tidak punya uang untuk berobat, dan dua kasus akibat persoalan moral yakni satu orang lantaran putus cinta, dan seorang akibat depresi. Adapun kejadian bunuh diri tertinggi berada pada kelompok usia remaja dan

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

88

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

dewasa muda (15 – 24 tahun), untuk jenis kelamin, laki laki melakukan bunuh diri (comite suicide) empat kali lebih banyak dari perempuan. Namun, perempuan melakukan percobaan bunuh diri (attemp suicide) empat kali lebih banyak dari laki laki. Posisi Indonesia sendiri hampir mendekati negara-negara bunuh diri, seperti Jepang, dengan tingkat bunuh diri mencapai lebih dari 30.000 orang per tahun dan China yang mencapai 250.000 per tahun". Sumber: http://nasional.vivanews.com/news/read/110420-kasus_bunuh_ diri_di_indonesia Topik: Perilaku bunuh diri pada anak Tujuan penelitian/ penulisan: Mendapatkan upaya (cara dan strategi) pengurangan angka bunuh diri pada anak Penyataan tesis: Meningkatkan semangat percaya diri dari rasa malu dapat mengurangi angka bunuh diri pada anak I. Pendahuluan a. Latar belakang b. Tujuan penelitian c. Manfaat penelitian d. Metode penelitian II. Teori Tebunuh diri a. Bunuh diri Fatalistik b. Bunuh diri Altruistik c. Bunuh diri Anomik d. Bunuh diri Egoistik III. Sebab-sebab bunuh diri a. Ekonomi b. Ideologi c. Politik d. Sosial e. Psikologi IV. Meningkatkan nilai percaya diri sebagai upaya mengurangi angka bunuh diri pada anak V. Penutup

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

89

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

Pola penulisan rangangan juga dapat dikembangkan dengan pola pengembangan ragangan induksi, yang dapat dilihat pada bagan berikut ini; Gambar. Pola Pengembangan Laporan Induksi
Ada banyaknya diferensiasi ras di dunia

Ras austroloid

Ras mongoloid

Ras kaukasoid

Ras negroid

Ras-ras khusus

Aborigin

Asiatik momgoloid, malayan mongolid, American mongoloid

Nordic, alpine, mediteranian, indic

African negroid, negrito, Melanesian

Bushman, veddoid, Polynesian, ainu

Berkulit kuning dan coklat, rambut lurus, bulu bacan sedikit, mata sipit

Berkulit putih, hidung mancung, rambut pirang hingga coklat, kelopak mata lurus

Berkulit hitam, rambut kriting, bibir tebal, kelopak mata lurus

(Sumber: Data diolah tahun 2010) Selanjutnya, bagan ragangan di atas dapat dikembangkan seperti paragraf berikut; Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin. Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat dalam empat ras, yaitu: ras autroloid, meongoloid, kaukasoid, negroid, dan ras-ras khusus. Ras austroloid, mencakup penduduk asli Australia (Aborigin. Ras Mongoloid mencakup Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Timur), Malayan Mongoloid (Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Filiphina, penduduk asli Taiwan), dan American

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

90

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

Mongoloid (penduduk asli Amerika). Ras Kaukasoid meliputi orang Nordic (Eropa Utara, sekitar L. Baltik),orang Alpine (Eropa Tengah dan Eropa Timur), orang Mediteranian (sekitar L. Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, Iran), dan orang Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Langka). Selanjutnya ras Negroid meliputi African Negroid (Benua Afrika), Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya yang dikenal dengan nama orang Semang, Filipina), dan Melanesian (Irian, Melanesia). Terakhir adalah ras ras-ras khusus (tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok). Ras-ras pokok ini meliputi orang Bushman (gurun Kalahari, Afrika Selatan), Veddoid (pedalaman Sri Langka, Sulawesi Selatan), Polynesian (kepulauan Micronesia dan Polynesia), dan orang Ainu (di pulau Hokkaido dan Karafuto Jepang). Secara fisik ciri-ciri ras-ras yang ada di dunia dapat diidenifikasi. Ras mongoloid yaitu berkulit kuning dan coklat, rambut lurus, bulu bacan sedikit, mata sipit. Adapun ras kaukasoid yaitu berkulit putih, hidung mancung, rambut pirang hingga coklat, kelopak mata lurus. Selanjutnya ras negroid dapat dilihat dengan kulit hitam, rambut kriting, bibir tebal, kelopak mata lurus. Pola penulisan rangangan juga dapat dikembangkan dengan pola pengembangan ragangan deduksi, yang dapat dilihat pada bagan berikut ini; Gambar. Pola Pengembangan Laporan Deduksi
Penetuan garis keturunan melalui garis laki-laki Penetuan garis keturunan melalui garis perempuan Penentuan garis keturunan melalui garis laki-laki & perempuan

Patrilineal

Matrilineal

Campuran

Diferensiasi klan

(Sumber: Data diolah tahun 2009) Selanjutnya, bagan ragangan di atas dapat dikembangkan seperti paragraf berikut;

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

91

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

"Terdapat keragaman akan pola penentuan garis keturunan (klan) di belahan masyarkat dunia. Ada penetuan garis keturunan melalui garis laki-laki. Ada penetuan garis keturunan melalui garis perempuan. Adapula penentuan garis keturunan melalui garis laki-laki & perempuan. Secara garus besarnya, pola penentuan garis keturunan di belahan masyarkat dunia terdapat tiga, yaitu: klan patrilineal (lakilaki), klan matrilineal (perempuan), dan klan campuran (patrilineal & matrilineal). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam masyarakat di dunia ini terdapat diferensiasi klan". 3. Menyusun Paragraf Menurut Datang (2004, dalam Winarto:117) ada tiga syarat dalam menyusun paragraf karya ilmiah yaitu: apakah dalam paragaf tersebut hanya terdapat satu gagasan pokok; apakah kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut bertalian atau berhubungan satu sama lain secara erat; apakah pengurutan gagasan-gagasan bahawan (untuk menunjang gagasan pokok) dalam paragraf diwujudkan dengan penataan yang teratur.

Ketiga faktor di atas sering disebut dengan istilah kesatuan, kepaduan, dan pengembangan paragraf. Menurut Datang (2004, dalam Winarto:119-122) model pengembangan paagraf (pengurutan gagasan bahawan) ada tujuh yaitu: deskripsi, yaitu pengembangan paragraf dengan model deskripsi adalah suatu pengembangan paragraf dengan cara menggambar unsur (orang, ruang, suasana, benda, atau perasaan) dengan penjelasan-penjelasan yang lengkap; definisi luas, yaitu pengembangan paragraf dengan model definisi luas adalah pengembangan suatu paragraf dengan cara menguraikan gagasan yang abstrak atau istilah yang menimbulkan kontroversi sehingga adanya suatu penjelasan;

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

92

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

-

analisis atau uraian, yaitu pengembangan paragraf dengan model analisis atau uraian adalah memerikan sesuatu ke dalam unsur-unsur yang membangunnya agar lebih mudah dipahami;

-

klasifikasi, yaitu pengembangan paragraf dengan model klasifikasi adalah mengelompokkan berbagai ke dalam suatu kategori sehingga hubungan di antara berbagai hal itu menjadi jela;

-

perbandingan dan pertentangan. pengembangan paragraf dengan model perbandingan adalah unsur dari dua hal atau lebih diungkapkan dan diurakan. Sedangkan pengembangan paragraf dengan model pertentangan adalah unsur yang membedakan dua hal atau lebih diungkapkan dan diuraikan;

-

sebab akibat, yaitu pengembangan paragraf dengan model sebab akibat adalah menguraikan hal-hal yang menyebabkan suatu peristiwa terjadi; atau sebalinya, diuraikan terlebih dahulu sebuah akibat baru diikuti dengan penyebabnya; dan

-

proses, yaitu pengembangan paragraf dengan model proses adalah suatu uraian tentang proses terjadinya sesuatu.

4. Menyusun Referensi Menyusun referensi sama saja menyusun harga diri. Itulah suatu pengandaian seperti yang diungkapkan Winarto (2004:75) bahwa menyusun referensi pada naskah ilmiah yang dipubliskan, disitulah kredibilitas seorang penulis di pertaruhkan. Selanutnya akan dipaparkan tentang; berfungsi referensi, masalah-masalah dan langkah mengurangi masalah-masalah saat penyusunan referensi, serta langkah dalam menyusus referensi. Referensi yang ada di naskah ilmiah dapat berfungsi untuk; sejauh mana penulis mempersiapkan naskah ilmiahnya sejauh mana penulis dalam melengkapi informasi pada naskah ilmiahnya sejauh mana penulis dalam keluasan wawasan dan pengetahuan pada naska ilmiahnya

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

93

Suhadi, SMA 1 Negeri Pamotan Tahun 2010

-

sejauh mana kemutakhiran referensi pada naska ilmiahnya

Masalah-masalah yang ditemui penulis dalam menyusun referensi adalah sebagai berikut: penulis kurang cermat, teliti, dan jeli dalam merekam asal mula sumber tulisan tidak adanya naskah asli untuk bahan penulisan ilmiah tidak disertakan halaman rujukan tulisan tidak disertakan nama lengkap penulis pada tulisan yang dirujuk lamanya waktu penyuntingan akhir pada naskah ilmiah seringkali penulis suka menjipkal (plagiat) tulisan ilmiah penulis lain

Upaya yang dapat dilakukan dalam hal mengurangi masalah-masalah saat penyusunan referensi adalah: menyiapkan bahan referensi dengan baik; menggunakan kartu referensi; dan mencatat nomor halaman dalam kartu referensi. Selanjutnya langkah-langkah dalam menyusun referensi pada tulisan ilmiah sosial adalah sebagai berikut: menggunakan sistem kartu atau program komputer dalam menyusun referensi mencermati cara penulisan referensi di dalam dan di akhir naskah yang berlaku dalam karya ilmiah tertentu.

PENELITIAN SOSIAL: SUATU PERSPEKTIF AWAL UNTUK PENELITI PEMULA

94

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->