P. 1
Hukum Pascal

Hukum Pascal

1.0

|Views: 14,985|Likes:
Published by Mohammad_Taufi_5806

More info:

Published by: Mohammad_Taufi_5806 on Jan 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2013

pdf

text

original

Hukum Pascal Jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah

dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya.

Hukum fisika yang berlaku disini adalah hukum pascal. Yang membuat air memancar keluar lubang adalah tekanan hidrostatis air yang berbanding lurus dengan ketinggian permukaan air (pada wadah) dari lubang tempat air memancar. Makin tinggi permukaan air dari lubang, makin besar pula tekanan hidrostatis pada lubang, sehingga air yang memancar semakin jauh. Kalau begitu seharusnya lubang paling dekat dengan alas/dasar wadahlah yang memancarkan air paling jauh. Bisa dibilang gambar A lah dia. Mari kita uji! Hukum Kontinuitas Bernoulli menyatakan: konstan Kita ambil dua titik yaitu A dimana lubang berada dan B yang berada di permukaan air. Kita jadikan titik A sebagai acuan sehingga: hA =0 hB = h1 maka persamaannya menjadi: sebab PA = PB = Patmosfir sebab hA = 0 dan hB = h1 Para ahli fisika lebih sering mengabaikan kecepatan air di titik B, vB. Bila penampang wadah sangat luas jika dibandingkan dengan penampang lubang, maka kecepatan penurunan permukaan air mendekati nol. vB ≈ 0. Sehingga: , ingat, h1 adalah ketinggian permukaan air terhadap lubang. vA sebenarnya adalah kecepatan pancaran air searah bidang datar (searah sumbu x bila digambar pada diagram cartesius). Dan nilai vA ini selalu tetap di setiap titik yang dilalui pancaran air. Sehingga: sedang kecepatan pancaran air terhadap sumbu tegak (sumbu y) mula-mula adalah nol yang kemudian dipercepat oleh percepatan gravitasi, g. v0y = 0 Persamaan gerak lurus berubah beraturan (GLBB) untuk perpindahan adalah: , sehingga: g berfungsi sebagai percepatan air searah sumbu y. sebab v0y = 0 dengan t adalah waktu yang diperlukan air mulai dari memancar hingga sampai ke tanah. Maka nilai jarak yang dapat ditempuh oleh pencaran air adalah: inilah persamaan untuk menentukan jarak semburan air. Karena h = h1 + h2, maka h2 = h – h1. Sehingga persamaannya menjadi: . Untuk mencari jarak x maksimum, maka differensial x terhadap h1 harus bernilai nol. ↔ 0 = h – 2h1

. Jadi, jelaslah bahwa jarak terjauh yang dapat ditempuh oleh air adalah saat tinggi lubang dari dari dasar wadah, ataupun tinggi permukaan air dari lubang, sama dengan setengah tinggi permukaan air dari dasar wadah. Dengan demikian, gambar A dan gambar B kurang tepat untuk menggambarkan bentuk pancaran air dari wadah yang berlubang banyak. Cobalah hitung jarak tempuh permukaaan air satu persatu. Pada tiap gambar (A, B dan C) terdapat lima buah lubang yang jarak masing-masingnya anggap saja 1 m. Sedang tinggi permukaan air dari dasar wadah adalah 6 m dan jarak lubang terbawah ke dasar wadah adalah 1 m. Bila perhitungan tepat, akan didapati bahwa lubang ketiga dari dasar yang tingginya 3 m dari dasar, merupakan lubang dengan pancaran air terjauh. Bila diamati dari lubang yang paling tinggi (lubang yang paling dekat dengan permukaan air), di dapati jarak yang ditempuh air (x) berturut-turut adalah: m, m, 6 m, : m dan m. Dapat disimpukan bahwa jarak pancaran pada lubang kesatu (dihitung dari permukaan air) sama dengan jarak pancaran lubang kelima, lubang kedua sama dengan lubang ke empat, dan lubang ketiga yang tingginya tepat setengah dari tinggi permukaan air terhadap dasar wadah adalah pancaran yang paling jauh. Dengan demikian, dapat dikatakan, pada deretan lubang-lubang yang segaris dan sejajar sumbu tegak (sumbu y), dua lubang yang masing-masingnya memiliki jarak yang sama terhadap lubang yang memancarkan air paling jauh, akan memancarkan air dengan jarak yang sama dari dinding dasar wadah. Namun ini hanya didapat dari analisis matematika, bukan dari percobaan. Mungkin hasil percobaan akan sedikit berbeda, karena biar bagaimanapun, nilai kecepatan penurunan permukaan air dalam wadah saat waah bocor, tidak lah sama sekali nol. Inilah yang harus diperhatikan lagi, agar tidak begitu saja mengabaikan suatu nilai.

Hukum Archimedes
Bunyi hukum Archimedes: "Suatu benda yang dicelupkan ke dalam zat cair sebagian atau seluruhnya akan mendapat gaya tekan ke atas sebesar berat zat cair yang dipindahkannya". FA = pc Vb g FA = Sc Vb FA = gaya Archimedes atau gaya tekan ke atas (N) p(rho)c = massa jenis zat cair (kg/m pangkat 3) Sc = berat jenis zat cair (N/m pangkat 3) g = percepatan gravitasi (m/s pangkat 2) Akibat gaya tekan ke atas (gaya angkat) sebuah benda di dalam zat cair mengalami kemungkinan terapung, melayang, dan tenggelam. Mengapung = massa jenis benda < massa jenis zat cair Melayang = massa jenis benda = massa jenis zat cair Tenggelam = massa jenis benda > massa jenis zat cair Alat-alat yang bekerja berdasarkan hukum archimedes 1. Kapal laut tidak tenggelam meski terbuat dari besi atau baja yang berat. 2. Kapal selam adalah kapal laut yang terapung di permukan air, melayang, dan tenggelam dalam air laut. 3. Galangan kapal mampu mengangkat kapal. 4. Jembatan ponton, yaitu jembatan yang terbuat dari benda yang dapat terapung dalam air, misalnya drum. Laju gelombang longitudinal pada fluida Sebelumnya kita sudah menurunkan persamaan laju gelombang transversal pada tali. Kali ini kita akan menurunkan persamaan laju gelombang longitudinal pada fluida…. Oya, fluida tuh zat yang dapat mengalir, misalnya udara atau air. Jangan pake lupa ya Sebagaimana gelombang transversal, laju gelombang longitudinal juga dipengaruhi sifat medium yang dilaluinya. Kali ini kita meninjau hubungan antara laju gelombang longitudinal dengan sifat-sifat fluida dan mencoba menurunkan persamaan yangmenyatakan laju gelombang longitudinal ketika bergentayangan tempat ke tempat lain melalui fluida. dari satu

Untuk membantu menurunkan persamaan laju gelombang longitudinal pada fluida, kita tinjau fluida dalam suatu tabung, sebagaimana tampak pada gambar di bawah.

Di dalam tabung terdapat fluida yang memiliki massa jenis dan tekanan P. Pada sisi sebelah kiri tabung terdapat piston yang mempunyai luas penampang A (piston berwarna biru). Apabila piston didorong ke kanan secara tiba-tiba selama selang waktu yang sangat singkat (delta t), maka piston akan mendorong fluida ke kanan. Adanya gaya dorong (F) yang diberikan oleh piston menyebabkan tekanan (P) fluida di sebelah kiri tabung bertambah sebesar delta P. Btw, dirimu jangan pake bingun mengapa tekanan fluida naik. Ingat saja persamaan tekanan : P = F/A. Ketika mendorong fluida, piston bertumbukan dengan molekul-molekul fluida di sebelah kiri tabung, molekul-molekul fluida pun ikut2an menumbuk temannya di sebelah kanan dan seterusnya sehingga muncul gangguan dalam bentuk pulsa gelombang yang menjalar ke kanan sepanjang tabung. Kita bisa membuat penyederhanaan dengan mengganggap piston bergerak ke kanan dengan laju konstan (v’ konstan) selama selang waktu delta t. Gerakan piston berperan untuk memberikan laju v’ pada seluruh bagian fluida dari ujung piston sampai muka pulsa, karenanya laju fluida dianggap sama dengan laju piston. Jadi selama selang waktu delta t, piston bergerak sejauh s1 = (v’)(delta t), sebaliknya pulsa gelombang longitudinal bergerak sejauh s2 = (v)(delta t). Persamaan laju pulsa gelombang longitudinal pada fluida bisa diturunkan dengan meninjau hubungan antara perubahan momentum fluida dan impuls yang bekerja pada fluida. Masih ingat impuls dan momentum ? kalo dah lupa, sebaiknya segera meluncur ke TKP Secara matematis, hubungan antara impuls dan perubahan momentum ditulis seperti ini :

Impuls = gaya yang bekerja selama selang waktu yang sangat singkat. Impuls bekerja pada fluida akibat adanya perubahan tekanan fluida selama selang waktu delta t. Secara matematis ditulis seperti ini :

Pada mulanya fluida diam. Setelah piston bergerak ke kanan dengan laju konstan v’, fluida yang pada mulanya diam mulai bergerak ke kanan dengan laju konstan v’. Karena laju fluida berubah maka momentum fluida tentu saja berubah. Perubahan momentum fluida, secara matematis ditulis seperti ini :

m adalah massa fluida yang bergerak, sedangkan v’ adalah laju fluida yang bergerak…

Kita masukan persamaan ini ke dalam persamaan a :

Sekarang kita gabungkan persamaan Impuls (persamaan 1) dan persamaan perubahan momentum (persamaan 2) :

Perubahan tekanan fluida terjadi akibat adanya penurunan volume fluida. Jadi kita bisa mengaitkan perubahan tekanan fluida dengan modulus limbak alias bulk modulus (B) duh, istilah apalagi ini.. modulus limbak tuh sejenis bunga bangkai piss… modulus limbak tuh perbandingan tekanan terhadap fraksi penurunan volume. Secara metamatis ditulis seperti ini :

Kita gabung persamaan 4 dengan persamaan 3 :

Persamaan ini yang bikin sebel… Ini adalah persamaan laju pulsa gelombang longitudinal ketika bergentayangan dari suatu tempat ke tempat lain melalui fluida

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->