P. 1
Soal_Ulangan_Sosiologi_Kelas_XII

Soal_Ulangan_Sosiologi_Kelas_XII

|Views: 359|Likes:
Published by Suhadi Rembang
Namun terdapat sumber yang dapat dijadikan rujukan, sehubungan dengan jati diri bangsa. Menurut
Lubis (dalam Maryali, 2005) orang­orang belanda (VOC) telah mengenal sifat negatif dan sikap positif
orang Indonesia. Ciri­ciri negatif psikokultural orang Indonesia adalah sebagai berikut; amat khianat,
tidak mau memegang teguh perjanjian, amat suka membunuh, mau berperang saja, tidak jujur, seperti
binatang (beestachtig) maha kejam, kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi (hooge
geestarbeid), dan sedang­sedang saja (middelmatig) dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa
kasihan, dan rasa terima kasihnya. Sebaliknya, manusia Indonesia itu juga diakui memiliki sifat­
sifatpositif, yaitu; hormat, tenang, dapat dipercaya, baik, loyal, ramah pada tamu, lembut, tidak suka
memikirkan yang susah­susah, tidak punya pendirian, dan tak punya kemauan, tak bisa mengambil
keputusan.
Namun terdapat sumber yang dapat dijadikan rujukan, sehubungan dengan jati diri bangsa. Menurut
Lubis (dalam Maryali, 2005) orang­orang belanda (VOC) telah mengenal sifat negatif dan sikap positif
orang Indonesia. Ciri­ciri negatif psikokultural orang Indonesia adalah sebagai berikut; amat khianat,
tidak mau memegang teguh perjanjian, amat suka membunuh, mau berperang saja, tidak jujur, seperti
binatang (beestachtig) maha kejam, kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi (hooge
geestarbeid), dan sedang­sedang saja (middelmatig) dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa
kasihan, dan rasa terima kasihnya. Sebaliknya, manusia Indonesia itu juga diakui memiliki sifat­
sifatpositif, yaitu; hormat, tenang, dapat dipercaya, baik, loyal, ramah pada tamu, lembut, tidak suka
memikirkan yang susah­susah, tidak punya pendirian, dan tak punya kemauan, tak bisa mengambil
keputusan.

More info:

Published by: Suhadi Rembang on Jan 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2012

pdf

text

original

Soal ulangan kelas XII  Ulangan I  1. Memberi contoh berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. 2. Mendeskripsikan bentuk­bentuk perubahan sosial. 3. Memberikan contoh faktor pendorong Perubahan Sosial.  4.

Mengidentifikasikan faktor­faktor penghambat perubahan sosial. 5. Memberikan contoh kasus dampak perubahan sosial. 6. Mengidentifikasi tantangan globalisasi terhadap eksistensi jati diri bangsa 7. Mengemukakan gagasan atau pemikiran untuk mengatasi memudarnya jati diri bangsa 8. Deskripsikan studi kasus suatu proses perubahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar 9. Deskripsikan studi kasus suatu proses perubahan sosial yang terjadi di pada masyarakat asing 10.   Ulangan II  Menjelaskan pengertian lembaga sosial Menjelaskan proses pembentukan lembaga sosial. Mengidentifikasi tipe­tipe lembaga sosial. Menguraikan hubungan antar lembaga sosial. Menguraikan peran dan fungsi lembaga keluarga, agama, pendidikan, politik, dan lembaga ekonomi
Kisi­kisi ulangan I  Menjelaskan proses perubahan sosial di masyarakat Menganalisis dampak perubahan sosial terhadap kehidupan masyarakat. Menjelaskan hakikat lembaga sosial Mengklasifikasikan tipe­tipe lembaga sosial Mendeskripsikan peran dan fungsi lembaga sosial Mendeskripsikan perubahan sosial di daerah sekitar  Mendeskripsikan perubahan sosial yang jauh di sekitar kita 

Ulangan I  Memberi contoh berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Kepada siswa kelas XII program IPS yang saya cintai dan saya banggakan. Dibawah ini merupakan  contoh berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat, dari berbagai bidang. Dengan diberikan ulasan  yang kompleks tentang berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat, semoga para siswa semakin  peka terhadap realitas perubahan. Beberapa bidang yang dihantarkan diantara bidang ideologi, politik,  ekonomi, pendidikan, gender, perumahan dan permukiman, lingkungan, kependudukan, kesehatan,  komunikasi, hiburan, keluarga, dan bidang transportasi. Perubahan memang tanda kemajuan, namun  lihat dulu, mana dulu yang berubah, dan mana dulu yang maju. Dengan demikian, para siswa akan lebih  peka dan kritis dalam memandang suatu perubahan yang terjadi di masyarakat. Berikut adalah  ulasannya;  − bidang ideologi: kita sepakat bahwa pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Pengakuan  akan Ketuhanan yang Mahaesa, selalu berharap setiap manusia indonesia selalu bersikap adil  dan berperilaku yang beradap, selalu dalam pangkuan ibu pertiwi dengan mengedepankan  persatuan, berbagai ragam kehidupan selalu mengedepankan musyawarah, serta selalu  mengedepankan keadilan tanpa pandang bulu. Namun apa yang kita lihat saat ini. Contoh saja  realitas KKN, Terorisme, dan hilangnya pulau terluar Indonesia. Korupsi, kolusi, dan nepotisme  telah memperdalam kubangan bangsa ini semakin tertinggal. Begitu halnya tindakan kekerasan  terorisme yang ditampilkan dengan perusakan fasilitas umum dan banyak menelan korban. Kita  prihatin jika pulau­pulau terluar bangsa ini diambil orang asing, dan dijual untuk orang asing.  Lantas bagaimana sistem pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia.  − bidang politik: berbagai status (kekuasaan dan jabatan) politik pada saat ini diraih dengan  pemilu langsung dengan memilih kandidat langsung. Di tingkat nasional (presiden dan DPR  pusat), di tingkat provinsi (gubernur dan DPRD provinsi), di tingkat kabupaten/ kota (Bupati,  walikota, DPRD kabupaten/ kota). Status dan jabatan tersebut dapat diraih dengan cara  pemilihan langsung, dimana pemilih langsung berinteraksi dengan calon/ kandidat. Hal ini  berbeda dari sebelumnya, dimana status dan jabatan di atas di dapat melalui partai politik  dengan sistem kursi terbanyak.  − bidang ekonomi/ kesejahteraan:  semakin hari masyarakat kita gila akan materi. Dengan  menguasai materi, dipercaya akan menguasai segalanya. Dengan menghalalkan segala cara,  bahkan dengan KKN dipandang tidak masalah, asalkan kaya. Semakin hari masyarakat kita  semakin buta akan perilaku memberi dan peka terhadap orang yang perlu diberi. Kesejahteraan  hanya milik beberapa golongan belaka. Mereka bangga dengan mendapatkan sumbangan BLT  dan kompos gas dari pemerintah, walau kemudian uang BLT  habis dalam sekejab, dan kompos  gas di jual lagi, karena isi ulang gas semakin mahal. Masyarakat kita sekarang lebih  materialistik, bukan seperti cerita dahulu, dimana saat tetangga sedang memanen padi, mereka  yang tidak punya sawah akan mendapatkan padi. Nilai memberi, kebersamaan, dan  persaudaraan seakan hilang di telan angin  yang tiada henti.  − bidang pendidikan: berbagai lapisan masayrakat berbondong­bondong mengenyam bangku  sekolah. Dengan sekolah dipercaya dapat merubah kualitas hidup dari yang tidak baik menjadi  baik (!). Anak usia dini sekarang wajib masuk PAUD, dilanjutkan SD/ sederajat, dilanjutkan 

SMP/ sederajat, dilanjutkan SMA/ sederat, dan banyak juga yang melanjutkan ke bangku  perguruan tinggi. Bahkan bagi yang mampu, masih diwajibkan les pada pelajaran yang di Uji  Nasionalkan. Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya, dimana pendidikan menjadi pilihan  kedua setelah nikah.  bidang gender:  antara laki­laki dan perempuan saat ini memiliki peluang yang sama dalam hal  karier. Pada era kartini, perempuan cenderung lebih akrab dengan wilayah domestik (menjadi  ibu rumah tangga). Namun sekarang kita mudah menemukan perempuan yang menempati status  sosial yang dahulu selalu di isi oleh golongan laki­laki. Hal ini dapat dilihat perempuan yang  banyak menjadi wakil rakyat, pengusaha, dan wartawan. Dahulu, pekerjaan tersebut langka  sekali dikerjakan oleh kaum perempuan.  bidang lingkungan: eksploitasi sumber daya alam saat ini lebih kentara, di kawasan Rembang  misalnya. Jika kita melihat kawasan pamotan, kita akan mudah melihat eksploitasi batu tras.  Begitu halnya di kawasan kragan, tepatnya di desa terjan, kita mudah melihat eksploitasi  gunung­gunung yang ambil batu untuk bahan bangunan dan material perbaikan jalan raya.  Masyarakat saat ini lebih senang menjual sumber daya alam untuk hidup sejahtera, bukan untuk  diwariskan dalam bentuk tanah kepada anak cucunya. Siap­siap sajalah kita, akan kerusakan  lingkungan sekitar kita yang setiap saat akan mengancam kelangsungan hidup dan nyawa kita.  bidang perumahan/ pemukiman: pada saat ini masyarakat kita lebih senang membangun rumah  dari tembok. Bukan hanya di perkotaan, di pedesaan juga seperti pamotan. Pada jaman dahulu,  anak yang telah dinikahkan akan dibuatkan rumah oleh orang tua dengan cara menanam kayu  terlebih dahulu, jika dirasa kayu sudah siap tebang, baru mendirikan rumah. Namun pada saat  ini, untuk membuat rumah dari kayu, secara hitungan ekonomi malahan lebih mahal. Begitu  halnya dengan pemukiman. Kantong pemukiman yang berkembang pesat adalah wilayah yang  ramai, misalnya pemukiman nelayan dan pemukiman dekat dengan pusat pemerintahan. Hal ini  berdampak mimicu hilangnya kawasan pesisir pantai yang terkena abrasi, dan sepanjang jalan  yang raman macet pada kawasan pusat pmerintahan. Begitu halnya harga tanah, semakin hari  semakin melambung tinggi.  bidang kependudukan: pandangan bahwa banyak anak banyak rejeki, mungkin saja segera  tamat. Lihat saja mereka yang bertengger pada status sosial tinggi, PNS misalnya, golongan ini  cenderung lebih suka punya anak paling banyak tiga anak. Begitu hal nya dalam hal bertempat  tinggal pasca menikah, orang dahulu lebih suka bertempat tinggal pasca menikah dekat dengan  orang tuanya, namun sekarang tidak demikian, dimana tempat yang memberikan kepastian  kesejahteraan, lebih disukai. Hal ini dapat kita lihat banyaknya pasangan usia muda yang  kontrak di daerah perkotaan.  bidang komunikasi: handphone (hp) telah menjadi sarana komunikasi dominan pada masyarakat  kita. Pada jaman dahulu, untuk berkomunikasi dengan kerabat jauh harus melakukan perjalanan  panjang, namun sekarang dapat dilakukan dengan hitungan detik, komunikasi antar kerabat jauh  dapat dilakukan.  bidang hiburan: anak­anak dan orang dewasan saat ini (tanpa terkecuali) telah memiliki dan  menikmati hiburan televisi. Senetron seperti ”Inayah”, ”cinta fitri”, ”KDI” dan yang tayangan  lainnya dengan mudahnya dinikmati. Hal ini berbeda jauh pada jaman dahulu, anak­anak dan  orang dewasa cenderung menciptakan jenis hiburan dan permainan tradisional. Hanya saja,  masyarakat saat lebih menjadi konsumtif, bukan produktif dalam hal hiburan dan atau  permainan.  bidang keluarga: perjodohan pada jaman  sekarang tidak lagi seperti jaman siti nurbaya. Mereka  yang melangsungkan pernikahan tidak lagi dari pilihan orang tua, namun mereka para gadis dan 

perjaka saling berinteraksi, mencari sendiri, dan menyesuaikan diri untuk menuju jenjang  pernikahan.  − bidang transportasi: alat transportasi saat ini seakan menjadi barang­barang kebutuhan rumah  tangga. Setiap orang saat ini sebagian besar memiliki alat transportasi (seperti sepeda motor),  seperti halnya kepemilikan piring, sendok, garpu dan barang pecah belah. Sarana transportasi  seperti jalan beraspal juga tersedia sampai pelosok­pelosok pedesaan. Hal ini tidak kita temukan  pada masa lampau, dimana alat dan sarana transportasi masih menjadi barang langka.  − bidang kesehatan: saat ini masyarakat kita lebih dekat dengan dokter, tidak lagi dukun. Lihat  saja pasangan muda yang sedang hamil, mereka rajin sekali memeriksakan kehamilannya tiap  bulan ke bidan atau dokter spesialis kehamilan. Hal yang nampak juga pada pemilihan obat saat  sakit, pada jaman dahulu obat­obatan tradisional banyak yang mengkonsumsi, namun sekarang  masyarakat kita lebih dekat dengan obat yang tersedia di apotek dan kelontong obat lainnya.  Mendeskripsikan bentuk­bentuk perubahan sosial. Menurut Soekanto (1990) beberapa bentuk perubahan sosial adalah sebagai berikut;  − perubahan lambat dan perubahan cepat − perubahan kecil dan perubahan besar  − perubahan yang dikehendaki/ direncanakan dan perubahan yang tidak dikehendaki/ tidak  direncanakan  − ***perubahan progresif dan perubahan regresif*** Memberikan contoh faktor pendorong Perubahan Sosial.  Menurut Marzali (2005) setiap bangsa memiliki strategi atau cara dalam mencapai tujuan bangsanya.  Tidak ada strategi atau cara yang yang berlaku untuk umum. Setiap bangsa memiliki cara sendiri untuk  mencapai tujuannya tersebut, sesuai dengan kultur mereka.   Tidak ada satupun kelompok masyarakat yang tidak mengalami proses perubahan. Dengan proses  perubahan dalam masyarakat, dinamika sosial tetap berjalan berdasarkan peran dan fungsinya untuk  mencapai tatanan sosial yang ideal, tentunya.  Menurut Soekanto (1990) beberapa faktor pendorong jalannya proses perubahan adalah sebagai  berikut;  − kontak dengan kebudayaan lain − sistem pendidikan formal yang maju  − sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju  − toleransi  − sistem terbuka  − penduduk yang heterogen  − ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang­bidang kehidupan tertentu  − orientasi ke masa depan, dan  − nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya.  Berdasarkan tinajuan Soekanto di atas, dibawah ini adalah contoh­contoh dari setiap item yang  disampaikan soekanto;  No. Faktor pendorong  Contoh­contohnya 

1

− kontak dengan kebudayaan  lain

Temuan baru (invention) merupakan bentuk hasil  kebudayaan. Hal ini dapat dilihat penggunaan alat­alat  pertanian (mesin perontok padi) dan alat tulis elektronik  (komputer). Proses penggunaan hasil kebudayaan  namanya difusi, yaitu penyebaran hasil karya ke berbagai  daerah/ wilayah untuk menjawab kesulitan hidup (tani  dan perkantoran).  Menurut jenisnya, lembaga pendidikan digolongkan  menjadi tiga, yaitu pendidikan formal, non formal, dan  informal. Pendidikan formal contohnya SD hingga  perguruan tinggi. Pendidikan non formal misalnya  pondok pesantren. Selanjutnya pendidikan informal  misalnya model pendampingan masyarakat yang  dilakukan LSM. Dengan adanya pendidikan formal, maka  kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap akan  sepadan dengan komptensi pendidikan global. 

2

− sistem pendidikan formal  yang maju 

3

− sikap menghargai hasil karya  Akhir­akhir ini hasil karya seni (batik dan lagu) marak di  perdebatkan. Di indonesia, sebagian penghargaan akan  seseorang dan keinginan  karya seni ini hanya sebatas kegemaran (menikmati saja)  untuk maju  tanpa ada nilai tukar yang sepadan. Jika masyarakat  memberikan apresiasi yang nyata, maka karya seni batik  dan lagu akan membuka lapangan kerja yang luas.  Namun yang terjadi adalah sebliknya. Walaupun  demikian, saat ini masyarakat kita sedikit demi sedikit  telah memberi pengahargaan dengan cara pengajuan hak  cipta dan tidak rela karya­karya di atas diakui oleh  bangsa asing (malaysia).  − toleransi  Sikap saling menghormati antas sesama adalah bentuk  dari nilai toleransi. Suatu bangsa yang dianggap besar dan  maju, jika masyarakat memiliki perilaku toleran yang  tinggi, asal tidak kebablasan. Hal ini dapat dilihat  misalnya tampilnya golongan muda yang diberi  kesempatan begitu luas dalam melaksanakan program  pembagunan di desa, walaupun sesekali salah, jika  golongan tua memberi kesempatan, maka golongan muda  akan lebih produktif dalam mengabdi kepada bangsa dan  negara.  Telah menjadi keniscahyaan (tidak dapat di tolak) bangsa  indonesia terdiri dari dari berbagai kelompok etnis. Hal  ini dapat dilihat terdapat etnis jawa, sunda, batak, aceh,  dayak, makasar, dan yang lainnya. Begitu hal dalam hal  ras, indonesia memiliki penduduk dengan ras melanosoit  dan mongoloit. Selama ini keragaman itu tidak dipandang  sebagai kekayaan yang nyata, malah sebagai sumber  pembeda untuk saling merendahkan satu sama yang lain. 

4

5

− penduduk yang heterogen 

Kenapa keragaman penduduk itu tidak digali akan nilai­ nilai pembangun, yang mana akan menopang pondasi  pembangunan bangsa.  6 − sistem terbuka  Bentuk tercapainya keadilan sosial diantaranya dapat  dilihat dengan ada tidaknya keterwakilan dari berbagai  kelas dan golongan dalam melaksanakan program  pembangunan. Di bidang politik dan pemerintahan, tiap­ tiap daerah akan berpotensi besar dalam melaksanakan  program pembangunan. Bukan sistem tertutup yang  cenderung tidak ada unsur keterwakilan, yang kemudian  mengundang unjuk rasa untuk merusak hasil  pembangunan.  Salah satu sifat dan karakter masyarakat indonesia adalah  dengan mudah dan cepat merasa puas. Perlu di ketahui,  semakin orang puas akan sesuatu, maka semakin  tertutupnya kreatifitas untuk menghasilkan sesuatu. Di  bidang politik, dengan berhasil melengserkan Soeharto,  masyarakat kita sudah puas, tanpa bagaimana  membangun dan meracik sistem reformasi pemerintahan  yang memihal masyarakat sipil. Begitu juga dalam bidang  usaha, jika toko seseorang sudah ramai pembelinya,  sebagian besar tidak memperhatikan mutu dan pelayanan,  yang akhirnya kalah saat bermain dalam percaturan  ekonomi global. Dalam bidang pertahanan dan  keamanan, orang indonesia telah puas mengusir penjajah,  tanpa adanya penciptaan musuh yang lebih tinggi  derajatnya, misalnya bagaimana kita memusuhi  kebodohan dan kemiskinan. Sikap tidak puas akan  keadaan memang perlu ditanamkan kepada generasi  muda saat ini, namun bukan ketidakpuasan dalam  melakukan hal yang negatif. 

7

− ketidakpuasan masyarakat  terhadap bidang­bidang  kehidupan tertentu 

8

− orientasi ke masa depan, dan  Setelah merdeka bangsa kita mau apa? Setelah lulus  sekolah, kita akan melakukan apa? Apa saja yang harus  kita miliki pada saat kita merdeka? Apa saja yang harus  kita miliki pada saat kita lulus sekolah? Pertanyaan  tersebut merupakan contoh pandangan hidup menuju  orientasi ke masa depan. Orientasi adalah tujuan dan  capaian hidup yang positif yang tiada akhir. Suatu  masyarakat yang memiliki orientasi ke masa depan, maka  masyarakat itu tidak akan terlindas oleh zaman.  − nilai bahwa manusia harus  senantiasa berikhtiar untuk  memperbaiki hidupnya.  nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk  memperbaiki hidupnya, merupakan pandangan hidup  pada masyarakat yang ingin maju. Sebalikya, masyarakat  yang mudah menyerah, malas, dan tidak mau berusaha,  adalah ciri­ciri suatu bangsa yang lebih suka akan 

9

keadaan serba kurang/ miskin. Hari ini harus lebih baik  dari pada hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik  dari hari ini, merupakan suatu prinsip hidup yang  menekankan pada keihktiaran, bukan pasrah dan saling  menyalahkan. 

Mengidentifikasikan faktor­faktor penghambat perubahan sosial. Menurut Marzali (2005) setiap bangsa memiliki strategi atau cara dalam mencapai tujuan bangsanya.  Tidak ada strategi atau cara yang yang berlaku untuk umum. Setiap bangsa memiliki cara sendiri untuk  mencapai tujuannya tersebut, sesuai dengan kultur mereka.  Menurut Soekanto (1990) faktor­faktor yang menghalangi terjadinya perubahan adalah sebagai berikut; − kurangnya hubungan dengan masyarakat lain − perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat  − sikap masyarakat yang sangat tradisional  − adanya kepentingan­kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interests − rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan  − prasangka terhadap hal­hal baru atau asing atau sikap yang tertutup − hambatan­hambatan yang bersifat ideologis − adat atau kebiasaan  − nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki No.  Faktor penghambat perubahan  Identifikasi faktor penghambat perubahan  1 − kurangnya hubungan  dengan budaya  (masyarakat) lain kurangnya hubungan dengan budaya (masyarakat) lain dapat  dilihat dengan contoh masyarakat terasing yang ada di berbagai  sudut geografis Indonesia. Menurut PKMT (1993) masyarakat  terasing merupakan kelompok masyarakat yang memiliki  kesamaan ciri­ciri fisik, sosial dan budaya, tempatnya sulit di  jangkau, terpencil, terpencar, dan kesenjangan kesejahteraan  yang tampak. Menurut Marzali (2005) ciri­ciri masyarakat  terasing diantaranya; hidup dengan adat yang kuat, statis, sulit  menerima pembaharuan, berburu meramu dan berladang pindah  sebagai pola matapencahariannya, pola tempat tinggal bervariasi,  penganut animisme, tidak bersekolah, rawan gizi, rumah  sederhana, penggunaan teknologi sederahana, dan terisolasi dari  dunia luar (pusat pasar dan administrasi).  Ilmu pengetahuan merupakan panglima dalam kehidupan.  Karena ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu yang digunakan  untuk menjawab masalah hidup. Bagaimana jika suatu  masyarakat itu mengalami ketertinggalan dalam hal ilmu  pengetahuan? Jawabnya adalah masyarakat tersebut akan  dijadikan objek orang­orang yang memiliki ilmu pengetahuan.  Maukah kamu menjadi objek orang­orang tersebut? Jika tidak 

2

− perkembangan ilmu  pengetahuan yang  terlambat 

mau, kenapa kamu tidak mulai dari sekarang, belajar dengan  sungguh dan selalu jujur akan kekurangan, serta berlari kencang  untuk mencari jawaban dari kekurangan pada diri kamu.  3 − sikap masyarakat yang  Masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang sulit  menerima pembaharuan. Sebagian besar mereka percaya pada  sangat tradisional  apa yang dimilikinya (sosial budaya).  Kata kepentingan lebih dekat dengan arena kekuasaan (politik).  − adanya kepentingan­ kepentingan yang telah  Kepentingan yang tertanam kuat pada penguasa akan berdampak  tertanam dengan kuat  pada keterlambatan perubahan. Hal ini dapat dilihat para  penguasa pemerintah yang mengedepankan kepentingan  atau vested interests keluarganya dengan melakukan praktik­praktik KKN. Sampai  kapanpun, kepentingan yang hendal diraih bukan untuk  masyarakat sipil dan negara, namun untuk kepentingan  keluarganya saja. Dengan demikian, kelompok/ organisasi/  negara yang dipimpinnya sulit mengalami proses perubahan yang  positif, alias tertinggal.  − rasa takut akan  terjadinya kegoyahan  pada integrasi  kebudayaan  − prasangka terhadap  hal­hal baru atau asing  atau sikap yang  tertutup menolak globalisasi, menolak modernisasi, namun suka hidup  konsumtif dan hedonistik (keberlimpahan yang miskin akan  fungsi dan makna hidup).  Setiap ada orang asing dikira penjajah, merasa apa yang dilimiki  adalah yang terbaik, yang dimiliki orang luar adalah tidak baik,  maraknya hipokrit (tidak mengakui kesalahan dan cenderung  menutupi kesalahan). 

4

5

6

7

− hambatan­hambatan  Masyarakat kita yang menerjemahkan nilai­nilai pancasila tanpa  yang bersifat ideologis dihubungkan dengan kondisi saat ini, lebih senang menggunakan  penafsiran ideologi pancasila pada awal zaman merdeka.  Misalnya, untuk menjaga persatuan bangsa adalah dengan  memiliki ketrampilan perang fisik, bukan strategi penguasaan  ekonomi di tingkat global.  − adat atau kebiasaan  Menghambur­hamburkan harta untuk selametan dan tidak  mengutamakan tagihan SPP anak­anaknya di bangku SMA,  membelanjakan kekayaannya untuk resepsi pernikahan anak­ anaknya dan tidak memberikan kekayaannya itu sebagai modal  usaha pada pasangan baru yang belum mampu membangun  ketahanan ekonomi keluarga barunya.  Mohon maaf, saya akan memberikan identifikasi yang bertolak  belakang pada diri saya sendiri.  Kita sering mendengar kelakar/ alasan orang­orang usia lanjut  yang tidak mengutamakan kesehatan malahan melakukan  aktifitas yang memperburuk kesehatannya, misalnya perilaku  merokok.  Selanjutnya, orang­orang muda saat ini lebih senang 

8

9

− nilai bahwa hidup ini  pada hakikatnya buruk  dan tidak mungkin  diperbaiki

menggunakan uangnya untuk jajan, bukan untuk di tabung demi  kebutuhan­kebutuhan di masa mendatang.  Menurut Koentjaraningrat (dalam Marzali, 2005) orang yang  memiliki hakikat dan sifat hidup bahwa hidup adalah buruk  adalah sebagai berikut; kerja adalah untuk hidup, kedudukan  adalah masa lalu, selalu tunduk pada alam, dan selalu  memandang kepada tokoh­tokoh atasannya. Selanjutnya, bagi  orang yang memiliki pandangan hidup adalah baik adalah  sebagai berikut; kerja adalah untuk mencari kedudukan,  kedudukan adalah masa kini, selalu mencari keselarasan hidup  dengan alam, serta mementingkan rasa ketergantungan pada  sesama. Adapun manusia yang memiliki hakikat dan sifat hidup  adalah buruk taou harus diperbaiki adalah sebagai berikut; kerja  adalah untuk menambahkan mutu karya, kedudukan adalah masa  depan, cenderung berorientasi menguasai alam, serta lebih  mementingkan rasa tidak tergantung oada sesama.  10

Memberikan contoh kasus dampak perubahan sosial. Dalam sosiologi, saat memperbincangkan perubahan sosial, tidak pernah lepas akan lembaga sosial,  struktuk sosial, diferensiasi sosial, dan stratifikasi sosial. Hal yang paling mendasar saat mengkaji  perubahan sosial adalah kebudayaan. Tidak mungkin terjadi perubahan sosial jika kebudayaannya tidak  berubah. Kebudayan yang dimaksud di sini adalah pondasi utama (pandangan) yang kemudian  mempengaruhi struktur bangunan sosial pada umumnya.  Pada kesempatan kali ini akan dihantarkan contoh kasus perubahan sosial di bidang politik, ekonomi,  dan gender. Setelah itu, akan dipaparkan apa saja dampak yang dimunculkan dari perubahan dari  beberapa bidang tersebut. Pertama, perubahan di bidang politik. Pada saat ini Indonesia dalam memilih Presiden, Gubernur,  Bupati, Walikota, wakil rayat, dan Dewan Perwakilan Daerah, dengan cara langsung yaitu rakyat  memilih calonnya. Hal ini tidak terjadi sebelum era reformasi, dimana jabatan­jabatan tersebut di raih  dengan model keterwakilan. Hal ini latarbelakangi bahwa pemilik negara adalah rakyat, jadi model  demokrasi dengan pemilihan langsunglah yang paling tepat. Dengan demikian terjadi perubahan pada  Undang­Undang/ peraturan pemilihan status sosial yang prestisius itu. Dampak dari perubahan sistem  demokrasi itu adalah adanya keseriusan dari calon pejabat di atas dalam berinteraksi dengan rakyat  secara langsung, berlomba­lomba mencetak prestasi, mengmbil kebijakan yang populis (mengena  kebutuhan rakyat), dan setiap calon akan berdaya upaya untuk menguasai kemampuan untuk  menjalankan pemerintahan dan atau pengawasan. Partai politik saat ini hanya sebagai organisasi  perantara untuk menjual kadernya, bukan lagi menjadi penentu siapa yang mewakili partainya. Peran  dan fungsi lembaga politik dari pusat hingga daerah terjadi perubahan akan peran dan fungsinya.  Karena setiap meraka yang akan mencalonkan diri harus berdaya upaya untuk dekat, tahu, dan  memberikan sesuatu pada daerah pemilihannya (dapil).  Kedua, dalam bidang ekonomi. Dalam perilaku transaksi ekonomi (jual beli) pada jaman dahulu harus  dilakukan secara langsung. Orang cina yang akan menjual pernak pernik ke Indonesia, penjualnya 

harus datang langsung ke Indonesia melalui jaur laut yang memakan waktu berbulan­bulan. Begitu  halnya orang Indonesia yang akan menjual rempah­rempah ke Eropa, harus berbulan­bulan di atas  kapal. Namun di era globalisasi saat ini tidak demikian. Transaksi barang­barang apa saja dapat  dilakukan dalam hitungan jam, menit, bahkan detik. Bagi produsen yang menyediakan barang siap jual,  cukup dengan mengiklankan di media massa. Proses tawar menawarnya juga digantikan dengan media  maya (internet). Dalam proses pembayarannya juga dilakukan di Bank­bank yang telah dipercaya.  Mereka yang menjual barang pula tidak perlu mengirim barang dengan sendiri, begitu juga pembeli  tidak perlu datang ke pabrik­pabrik utama. Saat ini terdapat lembaga jasa yang tugasnya sebagai  perantara, mulai dari distribusi hingga pengiriman barang ke alamat rumah pembeli. Perubahan  transaksi ekonomi ini telah menciptakan lembaga yang banyak, yang berfungsi sebagai lapangan kerja  dari hulu hingga hilir. Suatu perubahan yang manarik untuk dicermati.  Ketiga adalah contoh perubahan sosial di bidang gender dan dampaknya. Di jaman Indonesia masih di  jajah Belanda dan para kolonial lainnya, perempuan Indonesia hanya memiliki ruang masak , macak  (berias diri), dan manak (melahirkan dan mengasuh anak). Pekerjaan seperti pejabat pemerintahan dan  pengusaha benar­benar dilakukan oleh kaum laki­laki. Namun pada saat ini, antara laki­laki dan  perempuan memiliki peluang yang sama. Kita tidak hanya dapat melihat perempuan yang menjadi  pejabat pemerintahan dan pengusaha, seorang sopir, pilot, dan jendral, juga banyak dari golongan kaum  hawa ini. Hal demikian terjadi karena adanya pandangan bahwa saat ini antara laki­laki dan perempuan  memiliki ruang gerak yang sama, atau yang sering disebut dengan istilah kesetaraan gender. Dengan  demikian peran dan fungsi pada anggota masyarakat tidak hanya didasarkan pada jenis kelamin, namun  lebih didasarkan pada tingkat pendidikan dan kepiawaian dalam berinteraksi.  Mengidentifikasi tantangan globalisasi terhadap eksistensi jati diri bangsa Mengapa globalisasi seakan menjadi sumber permasalahan besar yang diduga akan meruntuhkan  eksistensi jati diri bangsa? Mengapa banyak irang yang khawatir bahwa globalisasi akan membawa  kultur asing yang negatif? Apakah benar, bahwa yang salah itu globalisasi? Apa sebaliknya, bahwa  terdapat lahan yang subur di Indonesia untuk tumbuhnya kultur yang negatif? Beberapa pertanyaan di  atas sebagai pembuka untuk mengidentifikasi tantangan globalisasi dan hubungannya dengan jati diri  bangsa.  Menurut Fedyani (2009) pada awalnya, sifat­sifat dan kepribadian dasar masyarakat (karakter bangsa)  telah ramai dikaji oleh negara­negara Eropa. Saat itu tepatnya pada masa kolonial serta sebelum dan  sesudah perang dunia kedua. Menjelang perang dunia kedua, kajian­kajian tersebut dikembangkan  untuk mengetahui sifat­sifat dan kepribadian dasar masyarakat musuh atau yang potensial sebagai  musuh. Dengan kajian­kajian tersebut akan diketahui kekuatan dan kelemahan lawan sehingga dapat  dibangun strategi­strategi untuk memenangkan peperangan.  Globalisasi dapat dikatakan sebagai pola/ tatatanan yang dibutuhkan masyarakat dunia saat ini,  khususnya dalam hal ekonomi, yang serba cepat dan irit. Sebelum adanya alat komunikasi canggih,  pada abat 18 kita mengirim rempah­rempah ke Eropa membutuhkan waktu berbulan­bulan. Sekarang  tidak lagi, transaksi perdagangan hanya cukup dalam hitungan hari, jam, menit, bahkan hitungan detik.  Jelaslah kemudian, bahwa globalisasi adalah solusi perilaku perdagangan di dunia saat ini. Namun  dengan mudahnya kita melakukan transaksi ekonomi, kenapa terdapat gejala­gejala yang  menghawatirkan, diantaranya; pola perilaku konsumerisme, nepotisme, sadistik, agresif, hipokrit,  materialistik, individualistik, dan hedonistik. 

Menurut Marzali (2005) terdapat hubungan antara globalisasi ekonomi dan perilaku yang mengancam  jati diri bangsa. Pertama, pendekatan pembangunan nasional yang berbasis materiil. Kedua, masyarakat  kita telah terjangkiti pemikiran liberal kapitalisme amreka, yaitu menekankan pada maksimalisasi  pemilikan materiil dan optimalisasi kepuasan badaniah. Ketiga, pengaruh dari iklan yang menawarkan  barang­barang. Keempat, perilaku masyarakat dalam posisi transisi. Adapun menurut Boeke (1946,  dalam Marzali, 2005) orang Indonesia pada umumnya memberikan tempat yang lebih tinggi pada  kebutuhan­kebutuhan sosial dan keagamaan, daripada kebutuhan ekonomis.  Lantas, sekarang apa jati diri atai identitas yang dimiliki bangsa Indonesia. Tidak mudah mendiskusikan apa saja jati diri atau identitas bangsa Indonesia. Indonesia adalah bangsa  yang kompleks akan batasan sosial budaya, termasuk batasan demografisnya. Melacak jatidiri bangsa  atau identitas bangsa, sama saja kita harus membongkar identitas­identitas sosial yang tersebar pada  masyarakat Indonesia. Bayangkan saja, kita harus mengkaji berbagai golongan etnis, golongan agama,  golongan ekonomi, golongan daerah tempat tinggal, dan lain­lain. Hingga sekarang identitas bangsa itu  belum selesai ditemukan. Hal ini dikarenakan pendekatan pembangunan Nasional selama ini cenderung  difokuskan pada pembangunan fisik dan ekonomi, serta mengabaikan pembangunan manusia (identitas  atau jati diri) Indonesia.  Namun terdapat sumber yang dapat dijadikan rujukan, sehubungan dengan jati diri bangsa. Menurut  Lubis (dalam Maryali, 2005) orang­orang belanda (VOC) telah mengenal sifat negatif dan sikap positif  orang Indonesia. Ciri­ciri negatif psikokultural orang Indonesia adalah sebagai berikut; amat khianat,  tidak mau memegang teguh perjanjian, amat suka membunuh, mau berperang saja, tidak jujur, seperti  binatang (beestachtig) maha kejam, kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi (hooge  geestarbeid), dan sedang­sedang saja (middelmatig) dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa  kasihan, dan rasa terima kasihnya. Sebaliknya, manusia Indonesia itu juga diakui memiliki sifat­ sifatpositif, yaitu; hormat, tenang, dapat dipercaya, baik, loyal, ramah pada tamu, lembut, tidak suka  memikirkan yang susah­susah, tidak punya pendirian, dan tak punya kemauan, tak bisa mengambil  keputusan.  Menurut Lubis (2005) sendiri, orang Indonesia memiliki enam ciri­ciri pokok, plus beberapa ciri­ciri  umum lainnya, yaitu; manusia Indonesia adalah hipokritik atau munafik, manusia Indonesia adalah  segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya – putusannya – kelakuannya – pikirannya – dan  sebagainya, manusia Indonesia di dalamnya bersemanyam jiwa feodalisme, manusia indonesia percaya  kepada tahayul, manusia Indonesia adalah artistik, dan manusia indonesia itu wataknya lemah.  Lanjut Lubis, manusia Indonesia juga memiliki ciri­ciri negatif dan ciri­ciri positif. Selanjutnya Lubis  memaparkan ciri­ciri negatif manusia Indonesia, yaitu; tidak hemat, tidak suka bekerja keras kecuali  kalau terpaksa, jadi pegawai negeri adalah idaman utama apalagi di tempat yang basah, suka  menggerutu di belakang dan tidak berani terbuka, cemburu dan dengki pada orang lain yang lebih kaya,  dan sikap tidak peduli dengan nasib orang lain. Adapun ciri­ciri positif orang Indonesia antara lain;  kemesraan hubungan antarmanusia, kasih ibu dan bapak pada anak­anaknya, berhati lembut dan suka  berdamai, punya rasa humor yang cukup baik, otaknya encer dan cepat bisa belajar, serta sabar.  Koentjaraningrat ((1974) juga memaparkan sikap mental bangsa Indonesia, terdapat lima mentalitas/ 

karakter atau sifat, yang dipandang menghambat pembangunan, yakni: (1) mentalitas yang  meremehkan mutu; (2) mentalitas yang suka menerabas; (3) sifat tidak percaya kepada diri sendiri; (4)  sifat tidak berdisiplin murni; dan (5) sifat tidak bertanggung jawab.  Berdasarkan sifat­sifat dan mentalitas manusia Indionesia di atas, dan berdasarkan uraian globalisasi di  atas pula, dapat ditarik benang merah bahwa pemikiran, sikap, dan perilaku negatif yang dikira ekses  dari globalisasi, tidak lah semuanya benar. Manusia Indionesia telah memiliki dan mewarisi ruang yang  dapat digunakan untuk tumbuhnya perilaku konsumtif, individuais, dan hedonis. Walaupun demikian,  kita harus lebih peka dan kritis akan globalisasi.  Mengemukakan gagasan atau pemikiran untuk mengatasi memudarnya jati diri bangsa Melalui proses globalisasi, pengaruh­pengaruh budaya dan sosial dari luar sering dipahami secara  keliru. Diterima dengan kekaguman terhadap unsur­unsur fisik yang tampak ”gemerlapan” namun  ”miskin” dalam makna. Kita juga harus mengakui, terdapat hal negatif dari hasil pembangunan  nasional bangsa kita, yaitu suatu kondisi yang cenderung menyuburkan materialisme, praktik­praktik  korupsi, serta berbagai perilaku tak terpuji lainnya. Mengapa demikian, karena jati diri bangsa kita  telah pudar sedikit demi sedikit.  Menurut Meutia (2009) karakter bangsa yang harus dimiliki oleh bangsa Indonesia, yang tersirat dalam  ahlak atau sifat yang tampak dalam kehidupan sehari­hari, adalah: (1) sifat menghargai mutu/ kualitas;  (2) kesabaran untuk meniti usaha dari awal; (3) adanya rasa percaya diri karena yakin dirinya  berkualitas; (4) sikap disiplin dalam waktu dan pekerjaan; (5) sikap mengutamakan tanggung jawab.  Meutia menambahkan, nilai­nilai pancasila perlu melandasai akhlak bangsa indonesia, sehingga bangsa  indonesia terlihat sebagai bangsa yang: (1) beribadah (apapun agama dan kepercayaan yang dianut); (2)  berperikemanusiaan; (3) mampu menjaga persatuan (tidak mengotak­kotakkan diri) dan mencintai  tanah air; (4) mengutamakan musyawarah mufakat; dan (5) menguatakan keadilan terhadap sesama  anak bangsa.  Deskripsikan studi kasusu suatu proses perubahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar “Perubahan Sosial pada Masyarakat Sekaran Gunungpati Semarang” Masukkan Abstrak:  Deskripsikan studi kasusu suatu proses perubahan sosial yang terjadi di pada masyarakat asing  ”Perubahan Sosial pada Masyarakat Mentawai” Masukkan Abstrak: 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->