P. 1
an Rantai Pasokan Supermarket

an Rantai Pasokan Supermarket

|Views: 1,799|Likes:
Published by vicianti1482

More info:

Published by: vicianti1482 on Jan 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/09/2013

pdf

text

original

1

PERKEMBANGAN RANTAI PASOKAN SUPERMARKET: IMPLIKASINYA TERHADAP PARTISIPAN SERTA STRUKTUR RANTAI PASOKAN PASAR TRADISIONAL
Witono Adiyoga
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517 Lembang, Bandung - 40391

PENDAHULUAN Sejak sepuluh tahun yang lalu, keberadaan supermarket menunjukkan perkembangan yang relatif cepat di Asia Tenggara. Rata-rata share supermarket dalam eceran pangan/makanan berkisar antara 25% (Indonesia, Malaysia dan Thailand) sampai 63% (Korea, Taiwan dan Filipina). Di Cina, share supermarket bahkan menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dalam kurun waktu relatif singkat, yaitu 30% pada tahun 1999, meningkat menjadi 48% pada tahun 2001, (Reardon 2003). Sementara itu, perkembangan di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 25% eceran pangan/makanan diserap oleh 800 supermarket yang pada saat ini beroperasi. Jumlah supermarket tersebut mewakili peningkatan sebesar 45% sejak krisis ekonomi tahun 1997. Pasar tradisional pada dasarnya masih mendominasi eceran pangan/makanan secara umum. Disatu sisi, perkembangan cepat supermarket merupakan suatu proses dinamis yang menggambarkan semakin meningkatnya popularitas supermarket dimata konsumen. Disisi lain, perkembangan tersebut tidak saja berdampak negatif terhadap toko eceran kecil atau pasar tradisional, tetapi juga mendorong produsen pangan/makanan untuk meningkatkan kualitas produknya. Tumbuhnya hipermarket modal asing, misalnya Carrefour dan Giant, cenderung semakin mengubah sektor eceran di Indonesia. Keadaan ini juga mendorong supermarket nasional untuk melakukan restrukturisasi dan konsolidasi agar tetap dapat bersaing. Berbagai studi terdahulu menyangkut analisis value chain untuk pasar tradisional sayuran dan buah-buahan mengindikasikan bahwa keragaan rantai pasokan kedua komoditas tersebut masih jauh dari optimal atau kompetitif. Faktorfaktor pembatas yang menjadi kendala di sepanjang rantai pasokan adalah: instabilitas pasokan, tidak adanya fasilitas pendingin untuk transportasi dan gudang penyimpanan, biaya penanganan yang tinggi, ketidak-pastian kualitas produk, spesifikasi produk yang tidak jelas, kurangnya pengendalian kualitas di mata rantai hulu dan hilir dan absennya kemungkinan untuk penelusuran. Sementara itu, rantai pasokan pasar supermarket dicirikan antara lain oleh: produsen harus memenuhi persyaratan minimal berkaitan dengan kualitas, kelas dan standar produk, nilai tambah (pencucian, sortasi, pengkelasan, dan pengemasan) dilakukan sebelum transportasi, sehingga produk sampai ke supermarket siap ditata di lemari pamer, rantai pasokan cenderung lebih pendek karena tidak adanya pedagang pengumpul/ broker, pembayaran produk biasanya lebih dapat diandalkan dan eksplisit, koordinasi mata rantai cenderung sangat erat, memiliki kemampuan untuk memasok secara konsisten/kontinyu, dengan beberaapa fleksibilitas berkaitan dengan volume pasok dan memiliki kemungkinan penelusuran produk yang lebih tinggi. Karakteristik yang dimiliki oleh rantai pasokan supermarket tampaknya lebih sesuai dengan perkembangan atau perubahan sektor ritel yang sedang berjalan. Namun demikian, terlepas dari dampak positif yang ditimbulkan (perbaikan efektivitas dan efisiensi rantai pasokan), perkembangan/dinamika sektor ritel ini pasti

2

sangat berpengaruh terhadap keberadaan rantai pasokan pasar tradisional. Sampai sejauh mana pengaruh perkembangan rantai pasokan supermarket terhadap keberadaan rantai pasokan tradisional merupakan topik yang perlu dibahas agar dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dapat diminimalkan.

• Deskripsi Rantai Pasokan Sayuran Rantai pasokan sayuran merupakan saluran yang memungkinkan: • Produk sayuran bergerak dari produsen ke konsumen • Pembayaran, kredit dan modal kerja bergerak dari konsumen ke produsen sayuran • Teknologi didiseminasikan diantara partisipan rantai pasokan, misalnya produsen, pengepak dan pengolah • Hak kepemilikan berpindah dari produsen sayuran ke pengepak atau pengolah, kemudian ke pemasar • Informasi mengenai permintaan konsumen serta preferensinya mengalir dari pedagang pengecer ke produsen sayuran Uraian di atas menunjukkan bahwa rantai pasokan sayuran merupakan suatu sistem ekonomi yang mendistribusikan manfaat dan juga risiko diantara berbagai partisipan yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, rantai pasokan sayuran secara tidak langsung telah mengembangkan mekanisme internal serta insentif untuk menjamin ketepatan berbagai komitmen produksi maupun delivery. Lokasi geografis Jawa Barat memungkinkan produk sayuran dipasarkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga antar wilayah/regional. Rantai pasokan yang terjadi pada dasarnya merupakan bentuk pelayanan yang sudah melembaga untuk menjembatani produsen dan konsumen sayuran. Intervensi pemerintah terhadap rantai pasok sayuran ini cenderung terbatas pada dukungan ketersediaan infrastruktur fisik, misalnya jalan dan bangunan pasar. Perdagangan sayuran seluruhnya ditangani oleh pihak swasta. Hal ini mengimplikasikan bahwa rantai pasok sayuran di Jawa Barat secara umum cenderung beroperasi berdasarkan kekuatan penawaran dan permintaan. Beberapa jenis rantai pasok sayuran di Jawa Barat yang berhasil diidentifikasi diantaranya adalah: 1. produsen – transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar – pedagang pengumpul antar wilayah – transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang pengecer - konsumen produsen – transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar – transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang pengecer konsumen produsen – pedagang komisioner - transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar – transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang pengecer - konsumen produsen – pengepak - transporter/pengangkut – supermarket - konsumen

2.

3.

4.

Rantai pasokan pertama dan kedua diestimasi menyerap sekitar 80% dari total pasok sayuran Jawa Barat. Sisanya sekitar 20% dipasarkan melalui rantai pasok ketiga dan keempat. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa rantai pasokan sayuran di Jawa Barat masih didominasi oleh rantai pasokan tradisional yang outlet utamanya adalah pasar-pasar tradisional. Volume pasok dari sentra produksi

3

sayuran Lembang dan Pangalengan berkisar antara 15 - 50 ton (minimal) and 75 150 ton (maksimal) per hari. Sayuran dari kedua sentra produksi tersebut terutama dipasarkan ke Jakarta dan pasar-pasar lokal di Bandung. Diagram di bawah ini menggambarkan berbagai elemen rantai pasokan sayuran di Jawa Barat. Tanda panah menunjukkan aliran fisik produk sayuran.

PRODUSEN

TRANSPORTER/PENGANGKUT

BANDAR ATAU PEDAGANG PENGUMPUL LOKAL

PEDAGANG PENGUMPUL REGIONAL ASSEMBLY TRADER

PENGEPAK

TRANSPORTER/PENGANGKUT

PEDAGANG BESAR/ GROSIR DI BANDUNG

PEDAGANG BESAR/ GROSIR DI JAKARTA

PEDAGANG PENGECER DI BANDUNG

PEDAGANG PENGECER DI JAKARTA

SUPER MARKET RESTORAN DAN HOTEL

KONSUMEN

Tabel berikut ini memberikan deskripsi mengenai berbagai elemen utama di dalam rantai pasokan sayuran di Jawa Barat serta nilai tambah yang diberikan oleh setiap elemen.

4

Tabel 1 Elemen Produsen

Elemen, deskripsi dan nilai tambah dalam rantai pasokan sayuran di Jawa Barat Deskripsi Petani yang menghasilkan serta memanen sayuran, dan untuk beberapa saluran distribusi tertentu juga melakukan kegiatan pengkelasan Pedagang yang membeli sayuran (terutama tomat, kubis, kubis bunga serta sayuran daun lainnya) pada saat tanaman masih berada di lapangan (sebelum panen). Pedagang lokal yang membeli sayuran dalam volume yang relatif besar dari petani atau beberapa petani dan memasarkannya ke pusat-pusat konsumsi. Jenis pedagang yang berdomisili di luar sentra produksi ini mem-beli sayuran dan memasarkannya ke pasarpasar grosir dan pengecer. Sayuran dapat dibeli langsung dari petani atau bandar/ pedagang pengumpul lokal. Jenis usaha yang melakukan pembelian, sortasi, pengkelasan, pengepakan/pengemasan serta memberikan pelayanan penyimpanan jangka pendek. Elemen ini juga mengkoordinasi-kan transportasi produk serta The organization that receives, sorts, grades, packs and provides short-term storage for the packed vegetables. This element also memiliki kontrak pemasokan dengan pengecer-pengecer besar. Pemberi jasa angkutan produk sayuran dari sentra produksi ke pengecer. Kegiatannya mencakup pengangkutan produk ke lokasi-lokasi spesifik dalam kerangka waktu yang telah ditentukan. Jenis usaha yang mengkonversikan sayuran menjadi makanan Jenis usaha yang menjual sayuran dalam volume yang rlatif besar dan melayani berbagai klien. o o o o o Nilai Tambah Produksi Panen Pengkelasan (grading) Panen Pengkelasan

Pedagang tebasan

Pedagang pengumpul lokal/desa

o o o o o o o o

Pengumpulan Sortasi Pengkelasan Pengangkutan Pengumpulan Sortasi Pengkelasan Pengangkutan Jaminan kualitas Pengkelasan Pengemasan Koordinasi transpor dan negosiasi Penyimpanan jangka pendek terkontrol Kontrak pemasokan sayuran

Pedagang pengumpul antar wilayah

Pengepak

o o o o o o

Transportasi

o

Pengangkutan

Restoran/Hotel

o o

Pengolahan sayuran segar menjadi makanan Pemasaran dan distribusi Pemasaran, penjualan dan distribusi ke pengecer Jaminan kualitas Penyimpanan jangka pendek terkontrol Jaminan kualitas Distribusi Promosi

Pedagang besar/grosir

o o o

Pengecer/Supermarket.

Jenis usaha yang mengoperasikan toko-toko pengecer untuk menjual sayuran

o o o

5

Masalah utama yang secara umum berhasil diidentifikasi sepanjang rantai pasokan sayuran di Jawa Barat diantaranya adalah: o o o o o o o o o Variabilitas harga yang tinggi Kehilangan hasil dan susut yang tinggi Respon terhadap pemesanan yang relatif lambat Kurangnya pengawasan kualitas sepanjang rantai, termasuk kurangnya alat transportasi serta gudang penyimpanan berpendingin Kurangnya perencanaan produksi secara umum serta metode produksi yang relatif masih sederhana/konvensional Kemampuan terbatas untuk memenuhi permintaan spesifikasi produk Kurangnya informasi pasar sepanjang rantai pasokan Kurangnya rasa kepercayaan antar elemen yang terlibat di dalam rantai pasokan Kesulitan koordinasi antar pemasok-pemasok skala kecil

1. Rantai Pasokan Sayuran Tradisional Outlet untuk sayuran yang berasal dari Lembang dan Pangalengan, Jawa Barat terutama adalah pasar-pasar lokal, Bandung dan Jakarta. Pedagang lokal dan antar wilayah yang terlibat di dalam rantai pasokan pada umumnya tidak memiliki spesialisasi untuk menangani satu jenis komoditi sayuran, tetapi beberapa jenis komoditas sayuran secara sekaligus. Jumlah pedagang ini secara intuitif dipastikan akan mempengaruhi perilaku operasionalnya di pasar. Observasi lapangan dan wawancara petani di Lembang dan Pangalengan mengindikasikan tidak adanya pedagang atau perusahaan tunggal yang secara individual beroperasi memaksimalkan keuntungan tanpa ada reaksi dari pedagang atau perusahaan lain untuk mengganggu harga produk yang sedang berlaku. Dengan kata lain, tidak ada praktek monopoli di dalam rantai pasokan sayuran dan setiap pedagang atau perusahaan akan berupaya meningkatkan share pasarnya melalui berbagai strategi pemasaran yang dimiliki. Produk sayuran yang diperjual-belikan sepanjang rantai pasokan pada dasarnya homogen. Dalam hal ini, konsumen yang menganggap bahwa produk dari seorang penjual tidak berbeda dengan produk dari penjual lainnya. Sebagai contoh, produsen kentang Granola akan sukar meyakinkan pedagang bahwa kentangnya lebih baik dibandingkan dengan kentang petani lain, kecuali hanya dari perbedaan visual, misalnya ukuran atau kelas. Pada dasarnya, partisipan bebas untuk terlibat atau keluar dari rantai pasokan sayuran. Faktor yang berpengaruh terhadap keluar atau masuknya partisipan dari rantai pasokan, diantaranya adalah absolute cost advantage dan keunikan manajemen serta kompetensi teknis yang dimiliki oleh masing-masing partisipan. Perlu dicermati bahwa pengetahuan pasar sebenarnya tidak hanya mencakup penguasaan informasi harga dan kualitas produk. Pengetahuan pasar tersebut juga harus mencakup pengetahuan mengenai aksi yang akan dilakukan oleh kompetitor, maupun pertimbangan-pertimbangan matang mengenai kondisi pasar pada saat yang akan datang. Pada batas-batas tertentu, pengetahuan pasar setiap partisipan yang terlibat dalam rantai pasokan sayuran tampaknya cukup baik dalam mendasari pengambilan keputusan-keputusan operasional yang dibutuhkan. Berbagai karakteristik rantai pasokan di atas memberikan gambaran bahwa struktur pasar yang dihadapi oleh rantai pasokan sayuran di Jawa Barat cenderung mendekati pasar persaingan sempurna. Salah satu fenomena menarik dari rantai pasokan sayuran tradisional adalah penjualan produk secara tebasan. Jenis sayuran yang sering dijual secara tebasan, diantaranya adalah kubis, petsai, kubis bunga dan sayuran daun lainnya. Seminggu

6

atau tiga minggu sebelum panen, pedagang datang untuk mengestimasi produksi yang akan dihasilkan, menegosiasikan harga, membayar secara tunai atau memberikan uang muka, mengambil alih kegiatan pemeliharaan tanaman sampai panen dan kemudian memasarkan produknya. Beberapa alasan yang melatarbelakangi sebagian petani di Lembang dan Pangalengan melakukan penjualan tebasan ini, diantaranya adalah: (a) kebutuhan uang tunai untuk keperluan mendesak, (b) spekulasi mendapatkan harga tinggi pada saat transaksi, dan (c) menghindarkan tambahan pengeluaran sampai saat panen. Tabel 2 memberikan informasi menyangkut metode penjualan, transaksi dan pembeli sayuran.
Table 2 No Metode penjualan, transaksi dan pembeli/pedagang sayuran di Lembang dan Pangalengan Uraian Lembang (n=26) % Σ 3 16 7 6 2 2 5 11 7 2 2 9 13 24 2 15 8 3 20 6 11.5 61.5 27.0 60.0 20.0 20.0 21.7 47.8 30.5 7.7 7.7 34.6 50.0 92.3 7.7 57.7 30.8 11.5 76.9 23.1 Pangalengan (n=27) % Σ 11 16 9 3 4 9 13 5 13 6 4 4 24 3 16 11 16 11 40.7 59.3 56.3 18.8 24.9 33.3 48.1 18.6 48.1 22.3 14.8 14.8 88.9 11.1 59.3 40.7 59.3 40.7

1

2

3

4

5

6

7

Penjualan sayuran dilakukan secara: Tebasan Ditimbang pada saat panen Tebasan dan ditimbang Alasan menjual secara tebasan: Penerimaan uang tunai segera Penghematan biaya (pemeliharaan-panen) Menghemat waktu Alasan menjual dengan ditimbang: Lebih menguntungkan Mengharap harga lbh baik (tawar menawar) Memperoleh timbangan aktual hasil panen Tempat transaksi: Pasar lokal Kebun Rumah petani Gudang pedagang Transaksi: Langsung dengan pedagang Melalui perantara Produk lebih sering dijual ke: Pedagang pengumpul lokal Pedagang pengumpul antar wilayah Pedagang besar/grosir Kesulitan memperoleh pembeli/pedagang: Tidak pernah Kadang-kadang

Indikator yang kemungkinan dapat digunakan untuk mengevaluasi keragaan rantai pasokan diantaranya adalah (a) farmer’s share dan (b) marjin tataniaga. Bagian petani adalah rasio (dalam persen) antara harga yang diterima petani dengan harga yang dibayarkan konsumen. Sedangkan marjin tataniaga adalah selisih antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani. Marjin tataniaga merepresentasikan harga untuk membayar jasa atau pelayanan yang diperlukan dalam mempersiapkan produk memasuki pasar. Besarnya marjin tataniaga akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi: (a) kualitas dan kuantitas jasa pemasaran yang diberikan, (b) biaya yang diperlukan untuk jasa/pelayanan pemasaran tersebut, serta (c) efisiensi teknis dan harga jasa/pelayanan pemasaran yang diberikan.

7

Table 3 menunjukkan koefisien variasi harga bulanan kentang di tingkat sentra produksi yang ternyata lebih rendah dibandingkan dengan koefisien variasi harga tomat, kubis dan petsai. Hal ini dapat memberikan gambaran bahwa harga kentang relatif lebih stabil dibandingkan dengan tomat, kubis dan petsai. Namun demikian, kondisi ini terntata tidak berlaku di tingkat pedagang besar/grosir. Sementara itu, variasi marjin tomat dan petsai rendah dibandingkan dengan variasi harganya di tingkat sentra produksi. Hal ini mengimplikasikan bahwa untuk kedua komoditas tersebut pasar cenderung beroperasi sehingga marjin pemasaran cenderung lebih stabil dibandingkan dengan harga di tingkat sentra produksi. Untuk kentang dan kubis, variasi marjin tataniaga ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan variasi harganya di tingkat sentra produksi maupun pedagang besar. Perbandingan ini mengindikasikan bahwa dalam jangka pendek, pedagang juga menyerap dampak/akibat yang cukup signifikan dari adanya variabilitas harga kentang dan kubis.
Table 3 Bagian petani dan marjin pemasaran beberapa sayuran penting di Jawa Barat, 1999-2003 Kentang Harga di tingkat sentra produksi (Rp/kg) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%) Harga di tingkat pedagang besar (Rp/kg) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%) Bagian Petani (%) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%) Marjin Pemasaran (Rp/kg) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%) Tomat Kubis Petsai

1 886.2 780.4 58.4 2 196.5 881.6 55.2 0.8287 0.1121 13.5 260.3 242.4 93.1

548.0 427.3 77.9 1 114.2 602.2 54.1 0.4597 0.1312 28.5 566.1 264.0 46.6

527.9 396.8 75.2 691.2 471.1 68.2 0.7527 0.1483 19.7 163.2 142.6 87.4

318.2 195.8 61.5 501.9 201.6 40.2 0.6109 0.1831 30.0 183.7 105.0 57.2

Dengan kata lain, pedagang tidak memiliki posisi tawar menawar yang cukup kuat untuk membebankan dampak/akibat dari pergeseran permintaan dan penawaran kepada produsen maupun konsumen. Lebih lanjut diindikasikan bahwa variasi harga di tingkat pedagang besar secara umum lebih rendah dibandingkan dengan variasi marjin tataniaga dan variasi harga di tingkat sentra produksi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek pasar cenderung beroperasi untuk mempertahankan stabilitas harga di tingkat pedagang besar. Indikasi ini memberikan penekanan perlunya perbaikan pengelolaan rantai pasokan sayuran tradisional di Jawa Barat yang lebih memberikan perhatian terhadap upaya memecahkan instabilitas harga yang cukup tinggi di tingkat sentra produksi. Secara umum, bagian petani untuk keempat jenis sayuran cukup tinggi dan merefleksikan tingkat kompetisi yang cukup tinggi di sepanjang rantai pasokan. Besaran variasi bagian petani secara konsisten selalu lebih rendah dibandingkan dengan besaran variasi marjin tataniaga. Bagian petani dan marjin tataniaga biasanya berkorelasi negatif, artinya jika bagian petani meningkat maka marjin tataniaga akan menurun. Secara implisit hal ini mengimplikasikan adanya

8

keterkaitan yang kuat antara elemen produksi dan elemen pemasaran di dalam rantai pasokan sayuran tradisional di Jawa Barat. Proses yang memungkinkan penjual dan pembeli mencapai kesepakatan harga untuk sejumlah produk di lokasi tertentu dikenal sebagai price discovery. Proses ini merupakan proses yang bersifat manusiawi, tidak terlepas dari kemungkinan kesalahan dan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan informasi, keterampilan berdagang serta kekuatan tawar menawar dari pembeli maupun penjual. Sebagai konsekuensi dari proses tersebut adalah adanya harga yang sangat beragam untuk transaksi-transaksi berbeda. Tabel 4 menunjukkan bahwa produsen sayuran di Lembang dan Pangalengan telah mengidentifikasi beberapa faktor dan menyepakati bahwa faktor terpenting yang mempengaruhi penentuan harga adalah kualitas produk. Di Lembang urutan kepentingan tersebut kemudian diikuti oleh jenis pedagang, lokasi transaksi dan tingkat keeratan hubungan dengan pedagang. Sedangkan di Pangalengan, urutan kepentingan kualitas produk diikuti oleh kuantitas produk, jenis pedagang, keterkaitan dengan pedagang pemberi pinjaman/kredit dan lokasi transaksi. Menarik untuk diperhatikan bahwa lebih banyak petani di Pangalengan yang memiliki hubungan dengan pedagang pemberi pinjaman. Hubungan keterikatan tersebut akan mengurangi kekuatan tawar menawar produsen bersangkutan dalam proses penentuan harga. Hanya sebagian kecil produsen di Lembang dan Pangalengan yang menjual produknya dan menerima pembayaran tunai segera setelah transaksi. Sistem pembayaran kemudian tampaknya merupakan metode pembayaran yang paling umum dilakukan di kedua sentra produksi sayuran tersebut. Paling sedikit ada dua bentuk pembayaran kemudian, yaitu: (a) seluruh pembayaran dilakukan 2-10 hari setelah transaksi, dan (b) pembeli/ pedagang memberikan 20-50% uang muka dan sisanya dibayarkan setelah semua produk habis terjual.
Table 4
No

Penetapan harga dan metode pembayaran dalam rantai pasokan sayuran tradisional di Jawa Barat
Uraian Lembang (n=26) Σ % 7.7 92.3 11.5 46.2 42.3 19.2 100.0 50.0 76.9 38.5 3.8 7.7 11.5 80.8 Pangalengan (n=27) Σ 2 25 3 7 17 23 27 8 20 6 11 2 18 7 % 7.4 92.6 11.1 25.9 63.0 85.2 100.0 29.6 74.1 22.2 40.7 7.4 66.7 25.9

1

Acuan yang digunakan dalam transaksi penetapan harga: Kalkulasi biaya/unit produk dan keuntungan yang diharap Pengetahuan mengenai harga yang berlaku di pasar Sumber informasi harga: Media cetak dan/atau elektronik Produsen lain Pedagang Petani lain dan pedagang Faktor yang dianggap penting dalam penetapan harga: Kuantitas produk Kualitas produk Tempat/lokasi transaksi Jenis pedagang Hubungan baik dengan pedagang tertentu Keterkaitan dengan pedagang pemberi pinjaman Sistem pembayaran yang dlakukan: Tunai Kemudian Tunai dan kemudian

2 24 3 12 11 5 26 13 20 10 1 2 3 21

2

3

4

9

Produsen sayuran di Lembang dan Pangalengan mengidentifikasi beberapa kendala pemasaran dalam rantai pasokan tradisional yang kemudian dikategorikan ke dalam tujuh kelompok. Tabel 5 menunjukkan bahwa produsen di kedua sentra pada umumnya sepakat bahwa masalah terpenting di rantai pasokan sayuran tradisional yang dirasakan adalah kompetisi penawaran produk serupa/sama dari sentra produksi lain yang seringkali menimbulkan ketidak-pastian harga. Kelebihan pasokan, terutama untuk jenis sayuran yang juga beradaptasi baik di dataran medium dan rendah (misalnya cabai dan tomat) seringkali menyebabkan turunnya harga secara drastis. Sementara itu, penjualan produk langsung ke pasar oleh produsen secara individual, walaupun memperpendek rantai tataniaga, cenderung tidak diminati karena dianggap mengandung biaya tinggi, terutama dikaitkan dengan volume transaksi yang kecil.
Table 5 No Beberapa masalah pemasaran sayuran yang dikeluhkan produsen di Lembang dan Pangalengan Uraian Lembang (n=26) Σ 1 2 3 4 Terkadang tidak ada pilihan untuk menjual produk kepada pedagang tertentu Harga yang ditawarkan oleh pedagang cenderung rendah Informasi harga kurang dapat diandalkan sebagai acuan tawar menawar Penjualan produk langsung ke pasar memerlukan biaya tinggi dan kurang layak, terutama dikaitkan dengan volume jual yang relatif kecil Persyaratan kualitas yang diminta pedagang sukar dipenuhi Sortasi dan pengkelasan memerlukan biaya ekstra, sehingga mengurangi keuntungan yang diharapkan Kompetisi pasokan produk serupa dari sentra produksi lain yang cenderung meningkatkan ketidak-pastian harga 17 14 16 % 65.4 53.8 61.5 Pangalengan (n=27) Σ 2 20 11 15 % 7.4 74.1 40.7 55.6

5 6 7

8 2 26

30.8 7.7 100.0

10 5 27

37.1 18.5 100.0

Mempertimbangkan berbagai masalah pemasaran yang dihadapi, produsen juga mengusulkan beberapa saran untuk memperbaiki efektivitas rantai pasokan sayuran tradisional di Jawa Barat (Tabel 6). Beberapa saran tersebut secara konsisten diposisikan pada urutan kepentingan yang sama oleh produsen sayuran di Lembang dan Pangalengan. Sebagian besar produsen menghendaki penerapan sistem kontrak dalam produksi dan pemasaran sayuran untuk meminimalkan risiko. Tanpa bermaksud mengundang intervensi pemerintah ke dalam pasar sayuran, produsen juga mengusulkan adanya regulasi pasar yang jelas dan adil untuk memperbaiki fungsionalisasi sistem. Produsen juga semakin sadar akan keuntungan pemasaran kolektif yang dapat lebih menjamin adanya keadilan dalam penetapan harga dan mengurangi risiko pemasaran. Produsen juga mengusulkan tambahan terhadap informasi harga pasar yang mencakup kuantitas, jenis dan kapan produk bersangkutan diminta. Hal lain yang diusulkan adalah pengaturan pasokan, melalui penetapan special vegetable production areas. Upaya ini dipersepsi produsen sebagai salah satu solusi untuk menghindarkan kelebihan pasokan dan sekaligus memperbaiki perencanaan usahatani.

10

Table 6 No

Saran untuk memperbaiki fungsionalisasi rantai pasokan sayuran tradisional di Jawa Barat menurut persepsi produsen Uraian Lembang (n=26) Σ % 84.6 57.7 38.5 Pangalengan (n=27) Σ 27 20 15 % 100.0 74.1 55.6

1 2 3

Penerapan sistim kontrak yang dapat mengurangi ketidak-pastian pemasaran Melakukan pemasaran kolektif, misalnya melalui koperasi atau kelompok tani Menyediakan informasi pasar yang tidak hanya menyangkut harga produk, tetapi juga mencakup kuantitas, jenis dan kapan produk bersangkutan diminta Menginisiasi pengaturan-pengaturan penawaran/ produksi yang diumumkan dan dikoordinasikan oleh semacam local boards untuk menghindarkan kelebihan pasokan dan memperbaiki perencanaan usahatani Membuat regulasi pasar yang jelas dan adil untuk memperbaiki fungsionalisasi sistem

22 15 10

4

10

38.5

15

55.6

5

18

69.2

21

77.8

2. Rantai Pasokan Sayuran Supermarket Studi yang dilakukan di negara-negara maju berhasil mengidentifikasi beberapa prinsip utama yang harus diacu untuk menjamin keberhasilan pengelolaan rantai pasokan. Prinsip tersebut mencakup: (a) fokus terhadap kepentingan konsumen dan pelanggan, (b) rantai pasokan menciptakan dan mendistribusikan nilai kepada semua partisipan yang terlibat, (c) jaminan bahwa produk yang ditangani sesuai dengan spesifikasi permintaan pelanggan, (d) pengelolaan logistik dan distribusi yang efektif, (e) strategi informasi dan komunikasi yang melibatkan seluruh partisipan rantai, dan (f) hubungan efektif antar partisipan yang dapat mendorong leverage dan shared ownership. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan adanya perbedaan substansial antara rantai pasokan tradisional dan rantai pasokan moderen/supermarket. Secara umum, karakteristik rantai pasokan supermarket diantaranya adalah: • Produsen harus dapat memenuhi berbagai persyaratan minimal tertentu sebelum mulai memasok, termasuk ketaatan terhadap persyaratan kualitas pengkelasan dan standar • Produsen mengangkut produknya ke pusat-pusat distribusi supermarket, bukan ke supermarket itu sendiri secara individual • Pengawasan kualitas sudah dilembagakan, sebagai contoh adanya pengawasan dan sertifikasi usahatani • Nilai tambah (pembersihan, sortasi, pengkelasan, pengepakan, pendinginan) dilakukan sebelum produk diangkut, sehingga pada saat produk sampai di supermarket sudah siap untuk diletakkan di lemari pamer • Program produksi yang dilakukan produsen menentukan jumlah produk dan kapan produk tersebut diangkut • Rantai pasokan menjadi lebih pendek karena broker dihapuskan • Kontainer/tempat produk telah distandarisasi

11

• Cara transaksi dan cara pembayaran dapat diandalkan dan bersifat eksplisit • Koordinasi antar mata rantai sangat erat/kuat • Kemampuan untuk memasok secara konsisten dengan fleksibilitas dalam volume pasok dimungkinkan • Asal produk dapat ditelusuri ke produsen secara individual atau ke kelompok produsen • Produsen memiliki catatan/dokumentasi lengkap mengenai kegiatan usahataninya • Rantai pasokan dapat melakukan inovasi dan menambah nilai produk Penelitian komprehensif mengenai “Supermarket Supply Chains in Indonesia” yang dilakukan oleh Pusat Studi Pembangunan, IPB bekerja sama dengan DAI Development Alternatives Inc. (2004) mengidentifikasi keterlibatan berbagai elemen dalam rantai pasokan sayuran ke supermarket/hiper-market, yaitu:
1 2 Produsen Perusahaan pertanian : : Petani atau kelompok tani yang menghasilkan sayuran Perusahaan skala relatif besar yangf memproduksi sayuran, misalnya PT Saung Mirwan, Pondok Pesantren Al Ittifaq Perusahaan yang memasok produk sayuran ke supermarket/hipermarket, misalnya PT Bimandiri, PT Cibodas Mandiri Individu atau kelompok yang berfungsi mengumpulkan atau sebagai perantara produk sayuran dari petani dan menjualnya kepada pedagang Pasar dimana pedagang besar, produsen, pedagang keci dan konsumen bertemu, termasuk pasar grosir (PIKJ dan Cibitung) serta pasar-pasar pengecer Kepanjangan dari supermarket yang seringkali menentukan kuantitas dan kualitas pesanan kepada pemasok, misalnya Hero Merchandising Director Perusahaan yang mengimpor produk hortikultura subtropis dan memasok supermarket/hipermarket secara langsung atau melalui perusahaan pemasok pertanian

3

Perusahaan pemasok produk pertanian

:

4

Pengumpul lokal/ regional

:

5

Pasar tradisional

:

6

Kolektor supermarket

:

7

Importir

:

Rantai pasokan sayuran ke supermarket/hipermarket yang terbentuk dari berbagai elemen di atas ternyata cukup beragam: 1. Produsen - Perusahaan pertanian – Supermarket/hipermarket 2. Produsen - Perusahaan pemasok produk pertanian – Supermarket/hipermarket 3. Produsen - Pengumpul lokal/regional – Supermarket/hipermarket 4. Produsen - Perusahaan pertanian – Perusahaan pemasok produk pertanian - Supermarket/hipermarket 5. Produsen - Perusahaan pertanian – Perusahaan pemasok produk pertanian - Kolektor supermarket - Supermarket/hipermarket

12

6. Produsen - Perusahaan pertanian – Pasar tradisional – Kolektor supermarket - Supermarket/hipermarket 7. Produsen - Perusahaan pemasok produk pertanian – Kolektor supermarket - Supermarket/hipermarket 8. Produsen - Perusahaan pemasok produk pertanian – Pasar tradisional Kolektor supermarket - Supermarket/hipermarket 9. Produsen – Pengumpul lokal/regional - Perusahaan pemasok produk pertanian – Supermarket/hipermarket 10. Produsen – Pengumpul lokal/regional – Pasar tradisional - Perusahaan pemasok produk pertanian – Supermarket/hipermarket 11. Produsen – Pengumpul lokal/regional – Perusahaan pemasok produk pertanian – Kolektor supermarket - Supermarket/hipermarket 12. Produsen – Pengumpul lokal/regional – Perusahaan pemasok produk pertanian – Pasar tradisional - Kolektor supermarket Supermarket/hipermarket 13. Produsen – Pengumpul lokal/regional – Pasar tradisional - Kolektor supermarket - Supermarket/hipermarket Dalam rantai pasokan sayuran ke supermarket/hipermarket, perkiraan volume pasok dari berbagai elemen tersebut adalah sebagai berikut: • Produsen memasok perusahaan pertanian (10%), perusahaan pemasok produk pertanian (10%), pengumpul lokal/regional (65%) dan pasar tradisional (15%) • Perusahaan pertanian memasok pasar tradisional (35%), perusahaan pemasok produk pertanian (30%) dan supermarket/hipermarket (35%) • Pengumpul lokal/regional memasok pasar tradisional (60%), perusahaan pemasok produk pertanian (25%), kolektor supermarket (10%) dan supermarket/hipermarket (5%) • Perusahaan pemasok produk pertanian memasok supermarket/hipermarket (80%), kolektor supermarket (5%) dan pasar tradisional (15%) • Pasar tradisional memasok kolektor supermarket (40%) • Supermarket/hipermarket mendapat pasokan dari perusahan pemasok produk pertanian (40%), kolektor supermarket (35%), perusahaan pertanian (10%), importir (10%) dan dari pengumpul lokal/regional (5%) Berbagai informasi di atas memberikan gambaran bahwa produsen/petani tidak pernah secara langsung memasok ke supermarket/hipermarket. Dalam kaitan ini, petani selalu membutuhkan mediator atau pedagang perantara untuk memasarkan produknya ke supermarket/hipermarket. • Kasus mekanisme transaksi PT Bimandiri dengan Carrefour secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut: • Materi pasokan berasal dari petani (30%), pengumpul lokal/regional (55%) serta pasar tradisional Caringin dan Andir, Bandung (15%). Pasokan dari petani relatif kecil karena tidak semua petani menanam produk yang dibutuhkan perusahaan serta sebagian besar petani sudah berada di bawah kontrol pengumpul lokal/regional. Kemitraan dengan petani atau kelompok tani dirancang melalui kemitraan berbasis kuantitas, kemitraan berbasis harga dan transparansi marjin • Terkadang perusahaan tidak dapat memenuhi seluruh permintaan supermarket/hipermarket sebagai akibat dari (a) keterbatasan modal kerja, (b) kesulitan menemukan petani yang menanam produk

13

tertentu/khusus yang diminta supermarket/hipermarket, dan (c) keraguan perusahaan untuk menanam investasi mengusahakan produk khusus karena risiko yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan perusahaan beroperasi dengan kapasitas di bawah volume pesanan supermarket/ hipermarket Perusahaan melakukan sortasi dan pengkelasan untuk memenuhi spesifikasi permintaan super/hipermarket, sedangkan produk yang di bawah standar akan disalurkan ke pasar tradisional. Produk harus masuk ke Carrefour sebelum jam 09.00. Jika masuk setelah jam 09.00 produk akan ditolak karena sudah memasuki jadwal penerimaan produk lain. Super/hipermarket melakukan pemesanan melalui telpon dan fax dan selanjutnya berdasarkan pesanan tersebut, perusahaan melakukan pembelian produk ke petani, pengumpul lokal/regional atau pasar tradisional Pembayaran dari super/hipermarket dilakukan pada setiap hari ke 7 dan hari ke 22 setiap bulan, dengan limit waktu 10 hari. Dengan demikian, pembayaran dari perusahaan ke para pemasoknya akan bergantung kepada pembayaran dari super/hipermarket, yaitu 2-4 kali per bulan. Sistem pembelian dari super/hipermarket adalah cut and buy, dimana super/market baru akan menanggung risiko produk pada saat produk sampai Perusahaan menegosiasikan harga produk setiap hari Sabtu atau Senin. Harga produk yang disepakati akan berlaku mulai hari Rabu untuk seminggu masa kontrak. Sementara itu, penetapan harga dengan super/hipermarket didasarkan kepada harga beli tertinggi dari pemasok, yaitu pengumpul lokal/regional Berbagai kendala yang masih dirasakan oleh PT Bimandiri dalam rantai pasokan sayuran ke supermarket, diantaranya adalah: (a) komitmen petani yang belum tinggi, (b) produksi musiman, (c) harga produk yang sangat rentan, (d) kualitas produk yang relatif masih rendah, (e) kurangnya kemampuan financing, (f) super/hipermarket terkadang tidak dapat menyerap pasokan sepenuhnya, (g) kelebihan pasokan yang dijual ke pasar tradisional dengan harga yang sangat rendah/merugi, dan (h) belum adanya regulasi pasar yang mendukung.

• Kasus mekanisme transaksi Kemfarm Packinghouse dengan hotel dan restoran di Jakarta secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut: • Perusahaan pengepak menerima pasokan dari petani koperator yang dipilih berdasarkan (a) kesediaan untuk memasok jenis dan kuantitas sayuran tertentu secara kontinyu sesuai permintaan pengepak, (b) persetujuan dengan metode pembayaran, yaitu 3 minggu pemasokan akan dibayar pada minggu berikutnya, dan (c) persetujuan dengan harga produk yang dikaji ulang setiap minggu, serta kontrak yang diperbaharui setiap enam bulan • Produk sayuran yang datang dari kebun dicuci/dibersihkan, disortasi, di grade, ditimbang, dikemas dan diberi label. Sebagai contoh, (a) chinese mustard disortasi, daun-daun tuanya dibuang, ditimbang 1 kg/unit, diikat, diberi label dan dikemas dalam kontainer plastik; (b) tomat dicuci, dilakukan pengkelasan 12 buah/kg, ditata dalam wadah styrofoam dan dibungkus plastik, diberi label dan dikemas • Produk kemudian dikirim ke supermarket, restoran dan hotel di Jakarta dengan menggunakan truk berpendingin

14

• Perusahaan memasok sayuran ke Jakarta dalam jumlah yang relatif kecil. Berikut ini adalah contoh pemasokan ke Jakarta dalam satu hari.
No Jenis Sayuran Kuantitas (kg) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tomat Tomat cherry Kentang Seledri Petsai/sawi Kubis bunga Zucchini Paprika hijau French bean 321 30 140 37 338 76 88 37 5 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Paprika merah Paprika kuning Kubis Chinese mustard Baby mustard Peterseli Lettuce Labu No Jenis Sayuran Kuantitas (kg) 17 10 192 45 17 6 271 200

• Harga jual dari perusahaan pengepak dikalkulasi berdasarkan harga pembelian dari petani, ditambah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengkompensasi susut, pengkelasan, sortasi, pengepakan, pengangkutan dan marjin keuntungan. Berikut ini adalah contoh kalkulasi untuk beberapa jenis sayuran.

Jenis

Harga beli

Susut

Pengke -lasan

Sortasi

Pengemasan

Transportasi

Profit margin

Harga jual

Rp/kg Kentang Kubis bunga Tomat Lettuce Paprika hijau Paprika merah Paprika kuning 2 800 4 000 2 700 4 000 8 000 11 000 11 000 170 240 168 240 480 660 660 85 125 81 120 240 330 330 85 125 81 120 240 330 330 140 200 135 200 400 550 550 145 200 135 220 400 550 550 225 260 150 300 640 880 880 3650 5150 3450 5200 10 400 14 300 14 300

• Manajer juga menginformasikan bahwa jika terjadi kekurangan pasokan dari petani koperator, maka perusahaan akan membeli produk dari pasar tradisional yang secara hati-hati diseleksi untuk memenuhi spesifikasi kualitas permintaan

15

KESIMPULAN • Perkembangan rantai pasokan sayuran supermarket mulai semakin diperhitungkan di Indonesia. Proporsi sayuran yang masuk ke dalam rantai pasokan ini cenderung semakin meningkat. Hal ini dimungkinkan karena rantai pasokan supermarket berhasil menekan biaya perolehan pasokan, mendekatkan logistik dengan pemasok sehingga dapat mempertahankan kesegaran produk, dan secara bertahap meningkatkan kualitas produk melalui introduksi pengkelasan dan standarisasi. Berbagai karakteristik rantai pasokan supermarket yang telah dikemukakan terdahulu memberikan gambaran bahwa rantai pasokan ini secara konsepsual merupakan wujud perbaikan dari rantai pasokan tradisional. Elaborasi rantai pasokan supermarket menunjukkan masih banyaknya kelemahan yang harus diperbaiki, misalnya panjang rantai pasokan yang hampir tidak berbeda dengan panjang rantai pasokan tradisional. Sampai sejauh mana dampak perkembangan rantai pasokan supermarket ini terhadap rantai pasokan tradisional masih belum dapat dikaji secara terinci. Belum ada bukti yang secara empiris mendukung teori semakin berkurangnya rantai pasokan tradisional sebagai akibat dari ekspansi rantai pasokan supermarket yang dianggap lebih efisien. Penelitian lebih lanjut yang masih diperlukan diantaranya mencakup topiktopik: (a) pengaruh perkembangan supermarket terhadap marjin tataniaga, bagian petani, fungsi tataniaga, pola kemitraan dan struktur disemua tingkat pasar, (b) pengaruh perkembangan supermarket terhadap sistem usahatani, termasuk pola tanam, struktur biaya, harga input/output, pendapatan, teknologi dan kelembagaan usahatani, (c) pengaruh perkembangan supermarket terhadap peningkatan kualitas produk, termasuk keamanan produk, serta (d) kemungkinan penerapan prinsip-prinsip pengelolaan rantai pasokan.

DAFTAR PUSTAKA Boselie, D., S. Wertheim and M. Overboom. 2003. Best in fresh: Building freshg produce supply chains. KLICT, Wageningen University. Development Alternatives Inc. and Center for Development Studies, Bogor Agricultural University. 2004. Research on supermarket supply chains in Indonesia. Final Report. DAI – CDS/BAU. Reardon, T., C.P Timmer and A. Julio Berdegue. 2003. The rise of supermarkets in Latin America and Asia: Implications for internasional markets for fruits and vegetables. In: Anita Regmi and Mark Gehlar (eds.), Global markets for high value food products. Agricultural Information Bulletin, USDA-ERS. Roekel, J., R. Kopicky, C.J.E. Broekmans and D. Boselie. 2000. Building agri supply chains: Issues and guidelines. Agricultural Economics Research Institute (LEI), Wageningen UR Xiangyang, C., D. Yingchun, H. Kupper. 2003. Designing effective supply chains of freshg produce initiated by supermarkets in China: A case study on Suguo Supermarket. Nanjing Agricultural University, China

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->