P. 1
Kumpulan Artikel Daarut Tauhiid Januari 2008

Kumpulan Artikel Daarut Tauhiid Januari 2008

|Views: 758|Likes:
Published by Isnanto
Kumpulan Artikel yang di distribusikan melalui mailing list daarut tauhiid selama bulan Januari 2008
Kumpulan Artikel yang di distribusikan melalui mailing list daarut tauhiid selama bulan Januari 2008

More info:

Published by: Isnanto on Jan 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2012

pdf

text

original

Sections

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid

Bulan Januari 2008 1
Kumpulan Artikel Mailing List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008



































Sarana Menjadi Ahli Dzikir, Fikir dan Ikhtiar
Di Publikasikan melalui : daarut-tauhiid@yahoogroups.com
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 2
Kata Pengantar
Alhamdulillahirobbil ‘Alamiin. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, tuhan
semesta alam atas segala kuasa-Nya pada segala sesuatu, Shalawat dan salam semoga
senantiasa di limpahkan kepada Rasulullah Shalallohu ‘Alaihi Wasalam.

Ebook kumpulan artikel dari Mailing List Daarut-Tauhiid ini merupakan kumpulan
artikel dan cerita Mailing List Daarut-Tauhiid. Semoga ebook ini dapat memeberikan
manfaat untuk siapa saja yang membacanya.

Ebook ini disusun selain sebagai dokumentasi juga ditujukan bagi saudara-saudara kita
yang baru bergabung atau kehilangan dokumentasi email dimasa lalu, selain itu pula
ebook ini diharapkan dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang belum dapat
memanfaatkan internet sebagai salah satu media pembelajaran alternative.

Tidak semua email yang dipublikasikan di mailing list saya masukan dalam ebook ini,
email yang saya masukan adalah email yang berisi artikel atau cerita tertentu yang dapat
dijadikan pelajaran atau kita ambil hikmahnya.

Saya tidak merubah isi atau teks dalam artikel ini, secara tekstual saya usahakan sama
dengan body email yang dipublikasikan melalui mailing list, kecuali pemformatan
dokumen yang saya lakukan sehingga sedikit merubah bentuk namun tidak dengan
isinya, hal ini saya lakukan untuk kerapihan dokumen.

Judul artikel saya ambil dari judul sesuai dengan judul pada body email, sedangkan
artikel yang tidak terdapat judulnya dalam email, maka saya jadikan subjek email sebagai
judul artikel dalam ebook ini.

Tanggung jawab atas isi atau materi artikel atau cerita, berada pada masing-masing nama
pengirim email atau sumber lain yang disebutkan pada artikel atau cerita tersebut. Bila
diperlukan sahabat dapat menghubungi pengirim email melalui alamat email yang
tercantum pada setiap awal artikel. Nama pengirim email, alamat email serta tanggal
email saya ambil dari email yang memuat artikel atau cerita tersebut.

Saya sampaikan terimakasih kepada sahabat sekalian yang telah memberikan saran-saran
kepada saya atas ebook edisi sebelumnya, saya mohon untuk tidak berhenti memberikan
saran-saran kreatif atas ebook ini. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat
ganda serta memberikan kemudahan atas segala sesuatu urusan.

Saran-saran saya tunggu di alamat atau melalui Yahoo!Messenger pada ID isnt08,
ataupun melalui GoogleTalk dengan terlebih dahulu Invite saya di isnt08@gmail.com

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas hamba-hamba-Nya yang telah memberikan
ilmunya, dan semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kedua orang tua kita serta dosa
guru-guru kita dan dosa kita semua. Amiiin........

Penyusun
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 3
Daftar Isi

Pintu Jannah Yang Paling Tengah 5
Nyalakan Lentera Ilmu Di Rumahmu 6
Tujuh (7) Faktor Kehancuran Keluarga 8
Tenang Dalam Setiap Masalah 9
Ganti Itu Dari Allah 10
10 Amal Jariyah 12
Shabar Bukan Sifat, Melainkan Akibat 13
Awali Segala Aktifitas Kita Dengan “Bismillahirrahmanirrohiim” 16
Hijrahnya Sang Pembunuh 18
Psikofitrah & Kualitas Hidup 20
Syafiah Marketing 21
Membentuk Keluarga Sakinah Wa Rahmah 24
Penjejak Peradaban 27
Andalah Sang Penguat Itu ! 28
Berhaji Diluar Arafah dan Bulan Haji 29
Kualitas Hidup 31
Nyalakan Cahaya Di Dalam Diri 32
Defenisi Jihad Dan Hukum Jihad 33
Tuhan Tidak Murka 38
Awas Pencuri Waktu 41
Rahmat Dibalik Cobaan (Ridho Menerima Ketetapan Ilahi) 44
Jangan Mengeluh, Pertolongan Allah Pasti Datang 47
Arjuna dan Sang Bidadari 50
Kekuatan Membangun 54
Masih Malas…? Just Do IT 55
Cukupkah Berpikir Positif..? 58
Mursyid Kamul Mukammil 63
Tidak Ada Kata Terlambat 71
Ketka Shalat Berjama’ah, HP Berbunyi..? 75
Wajib Mentaati Rasul 76
17 Dalil Nabi Muhammad Adalah Nabi Dan Rasul Terakhir 79
Salah Paham Tentang Kristolog 82
Yang Teristmewa Dihari Ini 85
Diantara Hukum Bulan Muharam 86
Strategi Syetan Menjerumuskan Manusia 93
Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Dapat Menafsirkan Al-Qur’an 95
Kisah Indah Sang Khalifah 100
Tiga Jenis Keceradasan 103
Pembagian Harta Gono Gini Dalam Islam 104
Manajemen Kekayaan Tuntunan Rasulullah SAW 106
100 Step Menuju Kesempurnaan Iman 109
Kesulitan Sebagai Bagian Dari Sistem Hidup 112
Meluruskan Kekeliruan Iman 113
Awali Segala Aktifitas Kita dengan Bacaan “Bismillahirrahmanirrahim” 120
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 4
Tawajuh Dan Talkin Dzikir 122
Jangan Biarkan Dirimu Hancur 123
Dualisme Dan Monoisme 124
Mencari Keberadaan Allah 127
Pengertian As-sunah 136
Cinta Menurut Al-Qur’an 141
Fenomena-Fenomena Cinta 142
Tenang Dalam Setiap Masalah 144
Setengah Sajadah 145
Hukum Menguburkan Jenazah Berikut Petimati 147
Ajari Diri Berlaku Adil 148
8 Pengertian Cinta Menurut Alquran 151
Istihadhah Dan Hukum-Hukumnya 154


------------------------oOo------------------------
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 5
Pengirim : Aris aris.priyanto@sugity.co.id
Tgl. Email : 03-01-2008

Pintu Jannah yang Paling Tengah

Ketika ibu dari Iyas bin Muawiyah wafat, Iyas meneteskan air mata tanpa meratap
(niyahah), lalu beliau ditanya tentang sebab tangisannya, jawabnya, “Allah bukakan
untukku dua pintu masuk jannah, sekarang, satu pintu telah ditutup.”

Begitulah, orangtua adalah pintu jannah, bahkan pintu yang paling tengah di antara pintu-
pintu yang lain. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Orangtua adalah pintu
jannah yang paling tengah, terserah kamu, hendak kamu terlantarkan ia, atau kamu
hendak menjaganya.” (HR Tirmidzi)

Al-Qadhi berkata, “ Maksud pintu jannah yang paling tengah adalah pintu yang paling
bagus dan paling tinggi. Dengan kata lain, sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan
seseorang ke dalam jannah dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati
orangtua dan menjaganya.”

Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita ada pintu jannah
yang lebar menganga. Terlebih bila orangtua telah berusia lanjut. Dalam kondisi tak
berdaya, atau mungkin sudah pelupa, pikun atau tak mampu lagi merawat dan menjaga
dirinya sendiri, persis seperti bayi yang baru lahir.

Rata-rata manusia begitu antusias dan bersuka cita tatkala memandikan bayinya,
mencebokinya dan merawatnya dengan wajah ceria. Berbeda halnya dengan sikapnya
terhadap orangtuanya yang kembali menjadi seperti bayi. Rasa malas, bosan dan kadang
kesal seringkali terungkap dalam kata dan perilaku. Mengapa? Mungkin karena ia hanya
berorientasi kepada dunia, si bayi bisa diharapkan nantinya produktif, sedangkan orang
yang tua renta, tak lagi diharapkan kontribusinya. Andai saja kita berorientasi akhirat,
sungguh kita akan memperlakukan orangtua kita yang tua renta dengan baik, karena hasil
yang kita panen lebih banyak dan lebih kekal.

Sungguh terlalu, orang yang mendapatkan orangtuanya berusia lanjut, tapi ia tidak masuk
jannah, padahal kesempatan begitu mudah baginya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda, “Sungguh celaka... sungguh celaka… sungguh celaka..”, lalu dikatakan,
“Siapakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yakni orang yang mendapatkan
salah satu orangtuanya, atau kedua orangtuanya berusia lanjut, namun ia tidak masuk
jannah.” (HR Muslim)

Ia tidak masuk jannah karena tak berbakti, tidak mentaati perintahnya, tidak berusaha
membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata-katanya,
dan tidak merawatnya saat mereka tak lagi mampu hidup mandiri. Saatnya kita berkaca
diri, sudahkah layak kita disebut sebagai anak berbakti? (Abu Umar A)

-----------------------------oOo----------------------------------
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 6
Pengirim : Aris aris.priyanto@sugity.co.id
Tgl. Email : 03-01-2008

Nyalakan Lentera Ilmu di Rumahmu

Jika Allah menghendaki kebaikan seseorang, maka Allah akan menjadikan ia sebagai
orang yang mau belajar ilmu syar’i. Begitupun dengan sebuah keluarga, jika Allah
menghendaki suatu keluarga menjadi baik, maka Allah akan jadikan para penghuninya
mau belajar ilmusyar’i. Karena ilmu adalah cahaya. Ia adalah penerang di tengah
kegelapan, benteng dari serangan syubhat dan sesatnya pemikiran. Apalagi di saat
syubhat membanjiri media dan televisi, sementara hal itu menjadi menu yang setiap hari
disantap dan ditelan oleh semua anggota keluarga. Apapun posisi Anda dalam keluarga,
bertanggung jawab untuk menyalakan cahaya ilmu di rumah Anda. Apalagi, jika Anda
sebagai kepala keluarga.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan
keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu”.(At-Tahrim : 6)
Qatadah menafsirkan ayat tersebut, “Hendaknya ia memerintah mereka berbuat taat
kepada Allah, mencegah mereka dari maksiat kepada-Nya, hendaknya menjaga mereka
untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan membantu mereka di dalamnya.
Maka apabila kamu melihat kemaksiatan, hendaknya engkau menjauhkan mereka darinya
dan memperingatkan untuk tidak melakukan-nya”.

Namun, untuk membedakan mana yang taat dan mana maksiat, hanya dengan ilmu.
Karena itu, adh-Dhahhak dan Muqatil menafsirkan ayat tersebut, “Wajib bagi setiap
muslim, mengajarkan keluarganya, kerabat dan hamba sahayanya akan apa yang
diwajibkan oleh Allah atas mereka, dan apa yang dilarang-Nya.” Hal senada dikatakan
oleh At-Thabari, “Hendaknya kita mengajari anak-anak dan keluarga kita masalah agama
dan kebaikan, serta apa-apa yang penting dan dibutuhkan dalam persoalan adab dan
akhlak.”

emang benar, ilmu sains dan teknologi, ilmu tentang bisnis, ilmu tentang
hal-hal yang mendatangkan maslahat dan kemapanan hidup itu penting. Tapi,
sesungguhnya ilmu syar’i jauh lebih penting. Karena ilmu duniawi yang berada di tangan
orang yang tak memiliki ilmu syar’i, mengandung potensi yang berbahaya. Begitupun
segala ke-maslahatan yang bersifat duniawi, hanya bersifat semu jika tidak dilandasi
ibadah. Sedangkan pintu dari segala bentuk ibadah adalah ilmu syar’i.

Yang patut disayangkan, sebagian aktivis yang bersemangat untuk berdakwah di luar,
mengajarkan ilmu syar’i kepada masyarakat, atau menjadi guru ngaji untuk anak-anak
dan semisalnya, tidak berpikir untuk menerangi rumahnya dengan cahaya ilmu,
menyampai-kan ilmu syar’i kepada anggota keluarganya. Mungkin tidak punya nyali,
pesimis dan memvonis bahwa anggota keluarga ‘susah’ untuk diajak baik. Padahal,
kesungguhannya untuk mendakwahi keluarga belum segigih perjuangannya dalam
mendakwahi masyarakat.

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 7
Mestinya, keluargalah yang lebih berhak untuk lebih dahulu menikmati indahnya ilmu
syar’i yang kita sajikan. Bukankah kita ingin agar mereka berkeluarga dengan kita di
jannah sebagaimana mereka menjadi keluarga kita di dunia? Bukankah kita tidak tega
tatkala melihat seorang anggota keluarga kita sakit parah dan menderita? Sedangkan
penderitaan di akhirat jauh lebih menyakitkan dan tak ada ujung habisnya, kecuali jika ia
memiliki sesuatu yang membuatnya bisa terangkat dari neraka. Untuk itu, nyalakan pelita
ilmu di rumahmu. (Abu Umar A)
www.ar-risalah.co.id


----------------------------oOo------------------------------
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 8
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 03-01-2008

7 Faktor Kehancuran Keluarga

Di dalam rumah tangga selalu memiliki rintangan dan penyebab kehancuran, dalam
pandangan Psikofitrah ada 7 penyebab kehancuran keluarga. Kehancuran keluarga
ditengah masyarakat berarti juga kehancuran satu bangsa sebab keluarga adalah cermin
dari satu bangsa.

1. Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, magic dan
sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja membuat langkah
hidup tidak rationil, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.
2. Makanan yang tidak halalan thayyiba. Menurut hadis Nabi, sepotong daging
dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong
pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min al haram ahaqqu ila an nar).
Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.
3. Kemewahan. Menurut al Qur'an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan
kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknya kesederhanaan akan
menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah mudah
terjerumus pada keserakahan dan perilaku manyimpang yang ujungnya
menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.
4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL dan PIL).
Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi "berduaan" dengan yang bukan
muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan
bermaksud baik, tetapi suasana psikologis "berduaan" akan dapat menggiring
pada perselingkuhan.
5. Kebodohan. Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada juga
kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis,
tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial.
6. Akhlak yang rendah. Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak
tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah terjerumus pada
perilaku rendah yang sangat merugikan.
7. Jauh dari agama. Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama
meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh
dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang
seakan-akan "menjanjikan" padahal palsu.

Wassalam,
Agussyafii

------------------------oOo------------------------
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 9
Pengirim : suryati y4t12002@yahoo.com
Tgl. Email : 03-01-2008

Tenang Dalam Setiap Masalah
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Saudaraku yang baik, ketenangan menjadi sesuatu yang dibutuhkan setiap orang.
Terutama ketika sedang menghadapi masalah atau saat hendak mengambil keputusan.
Orang yang tenang tidak pernah galau, panik tergesa-gesa, tidak emosional, tidak
overacting. Orang tenang akan bisa menerima informasi lebih banyak, hingga dia bisa
lebih memahami. Sedangkan orang yang emosional pendek kemampuan memahaminya,
akibatnya kalau merespon akan tidak bagus karena keterbatasan pemahamannya.

Ketenangan pun akan membawa kewibawaan, atau karisma tersendiri bagi pemiliknya. Ia
akan disegani oleh teman dan lingkungannya. Sebaliknya, orang yang overacting tidak
akan memiliki kharisma. Terutama, kepada para calon pemimpin dalam skala apapun, ia
harus berlatih mengendalikan diri, tetap tenang dalam kondisi bagaimanapun sulitnya.
Dan, tenang bukan berarti lamban. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling tenang,
tetapi berjalannya sangat gesit. Karena ketenangan tidak ada kaitannya dengan waktu,
melainkan dengan pengendalian diri, artinya dia tetap gesit, tangkas tidak ada gurau
berlebih, atau berteriak-teriak. Pribadi yang kalem senyum berukir jernih, tidak pula
banyak bicara kalau memang tidak perlu bicara. Akibatnya, orang yang tenang mendapat
ilmu yang lebih banyak, mendapatkan kemampuan memilih keputusan lebih baik.

Namun, ketenangan harus diupayakan agar tidak berujung menjadi sombong. Cirinya
adalah ketika ia tidak peduli kepada orang lain. Dia diam tapi tidak mau mendengarkan.
Malah mungkin asyik melakukan kegiatan yang lain (saat orang lain berbicara padanya).
Atau, ada orang yang diam karena dia tengah memikirkan bantahan kepada orang lain,
bukannya mengemas manfaat dari pembicaraan yang didengarnya.

Sehingga, tenangya kita responsif, tidak justru pelit. Reponsif seseorang memang bisa
dipengaruhi oleh banyaknya keinginan, demografi (asal tempat menetapnya), lingkungan,
tekanan kesulitan. Namun itu bisa diubah kalau memang ingin berubah. Nabi Muhammad
SAW sendiri tertawa bila orang lain tengah melucu. Demikian pula bagi seorang
pemimpin, keputusan terbaik adalah ketika ia memang memiliki akses informasi lengkap.
Makin lengkap informasi makin akurat keputusannya. Dan informasi itu sendiri tidak
boleh diambil hanya dari satu pihak. Kita harus belajar dari kedua belah pihak, baru
mengambil keputusan. Dan yang harus kita sadari adalah tidak ada keputusan tanpa
resiko, semua keputusan ada resikonya. Kita hanya perlu menghitung resiko yang paling
minimal. Wallahu a’lam.

[Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki
kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan
sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lain]
**YATHIE**
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 10
Pengirim : suryati y4t12002@yahoo.com
Tgl. Email : 03-01-2008

Ganti Itu Dari Allah
Oleh : Dadan

Allah tidak pernah mencabut sesuatu dari anda kecuali Dia menggantinya dengan yang
lebih baik. Tetapi, itu bila anda bersabar dan tetap ridha dengan segala ketetapanNya.

Barangsiapa Kuambil dua kekasihnya (matanya) tetap bersabar maka Aku akan
mengganti kedua (mata)nya dengan surga (Al Hadist).

Barangsiapa Kuambil orang yang dicintainya didunia tetap mengharapkan ridhaKu
niscaya Aku akan menggantinya dengan surga (Al Hadist).

Yakni, barangsiapa kehilangan anaknya tetap berusaha untuk bersabar maka di alam
keabadian kelak akan dibangunkan untuknya sebuah Baitul Hamd (Istana Pujian).

Maka Anda tak usah terlalu bersedih dengan musibah yang menimpa Anda sebab yang
menentukan semua itu memiliki surga, balasan, pengganti dan ganjaran yang besar.

Para Waliyullah yang pernah tertimpa musibah, ujian dan cobaan akan mendapatkan
penghormatan di yang agung di surga Firdaus.

Itu tersirat dalam firmanNya. Selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah
baiknya tempat kesudahan itu. (QS Ar Rad 24)

Betapapun kita selalu harus melihat dan yakin bahwa dibalik musibah terdapat ganti dan
balasan dari Allah yang akan selalu berujung pada kebaikan kita. Dengan begitu kita akan
termasuk.

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka
dan mereka itulah orang orang yang mendpata petunjuk. (QS Al Baqarah 157)

Ini merupakan ucapan selamat bagi orang orang yang mendapat musibah dan kabar
gembira bagi orang-orang yang mendapat bencana. Umur dunia ini sangat pendek dan
gudang kenikmatannya pun sangat miskin. Adapun akhirat lebih baik dan kekal.
Sehingga barangsiapa di dunia mendapat musibah ia akan mendapat kesenangan di
akhirat kelak dan barangsiapa hidup sengsara didunia ia akan hidup bahagia di akhirat.

Lain halnya dengan mereka yang memang lebih mencintai dunia hanya mendambakan
kenikmatan dunia saja dan lebih senang pada keindahan dunia. Hati mereka akan selalu
gundah gulana, cemas tidak mendapatkan kenikmatan dunia dan takut tidak nyaman
hidupnya di dunia. Mereka ini hanya mengingnkan kenikmatan dunia saja sehingga
mereka selalu memandang musibah sebagai petaka besar yang mematikan.

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 11
Mereka juga akan memandang cobaan sebagai sesuatu yang gelap gulita selamanya. Ini
adalah karena mereka selalu memandang kearah bawah telapak kakinya dan hanya
mengagunggakn dunia yang sangat fana dan tidak berharga ini.

Wahai orang-orang yang tertimpa musibah, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang
hilang dari kalian. Kalian justru beruntung karena Allah selalu menurunkan sesuatu
kepada para hamba hamba nya dengan “surat ketetapan” yang disela sela huruf
kalimatnya terdapat suatu kelembutan, empati, pahala, ada balasan dan juga pilihan.

Maka dari itu, siapa saja yang tertimpa musibah yang hebat, ia harus menghadapinya
dengan sabar, mata jernih dan pola pikir yang panjang. Dengan begitu ia akan
menyaksikan bahwa buah manis dari musibah itu adalah Lalu diadakan diantara mereka
dinding yang mempunyai pintu. Disebelah dalamnya ada rahmat dan disebelah luarnya
dari situ ada siksa (QS Al Hadid 13).

Dan sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik lebih abadi lebih utama dan
lebih mulia.

Dikutip dari buku : La Tahzan (Jangan Bersedih) karya DR Aidh Al-Qarni p. 23-24


**YATHIE**


-----------------------oOo-----------------------
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 12
Pengirim : seismic_yuni seismic_yuni@yahoo.com
Tgl. Email : 03-01-2008

10 Amal Jariyah

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah
jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (HR
Muslim).

Hadis di atas menjelaskan amal perbuatan seorang Muslim akan terputus ketika ia
meninggal dunia, sehingga ia tidak bisa lagi mendapatkan pahala. Namun, ada tiga hal
yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia, yaitu sedekah
jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shaleh.

Dalam riwayat Ibn Majah, Rasulullah SAW menambahkan tiga amal di atas, Rasulullah
SAW bersabda, ''Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang
ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi
orang shaleh, mewakafkan Alquran, membangun masjid, membangun tempat penginapan
bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.'' (HR Ibn Majah).

Menurut Imam al-Suyuti (911 H), bila semua hadis mengenai amal yang pahalanya terus
mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia dikumpulkan, semuanya berjumlah 10
amal.

Yaitu ilmu yang bermanfaat, doa anak shaleh, sedekah jariyah (wakaf), menanam pohon
kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, mewakafkan buku, kitab atau
Alquran, berjuang dan membela Tanah Air, membuat sumur, membuat irigasi,
membangun tempat penginapan bagi para musafir, membangun tempat ibadah dan
belajar.

Kesepuluh hal di atas menjadi amal yang pahalanya terus mengalir, karena orang yang
masih hidup akan terus mengambil manfaat dari ke-10 hal tersebut. Manfaat yang
dirasakan orang yang masih hidup inilah yang menyebabkannya terus mendapatkan
pahala walau ia sudah meninggal dunia.

Dari pemaparan di atas, sudah seharusnya kita berusaha mengamalkan 10 hal tersebut
atau paling tidak mengamalkan salah satunya, agar kita mendapatkan tambahan pahala di
akhirat kelak, sehingga timbangan amal kebaikan kita lebih berat dari pada timbangan
amal buruk.

Allah SWT berfirman, ''Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang
siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.'' (QS al-
A'raf [7]: 8).

(Asep Sulhadi , Republika, Hikmah)

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 13
Pengirim : Syarif Niskala syaripudin@inkenas-agung.co.id
Tgl. Email : 14-01-2008

Shabar Bukan Sifat, Melainkan Akibat

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa
mereka akan kembali kepada-Nya. (QS 2 : 45 - 46).

Sahabat-sahabat milis yang budiman.

Saya tidak mampu menangkap hakikat yang tersembunyi dari makna ayat di atas.
Keterbatasan ilmu pendukung tafsir yang dikuasai, mengkebiri keinginan mengupas, apa
sebenarnya yang dimaksud oleh ayat paling fenomenal tersebut. Saya hanya melihat,
pasti ada sesuatu yang sangat besar pada ayat tersebut, dimana terdapat 4 kata yang
sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu pertolongan, meminta, berat dan
khusyuk.

Shalat, kedudukannya sangat vital dan krusial dalam keimanan dan keislaman. Posisinya
sebagai nomor dua, menunjukkan keutamaan yang sangat besar. Telah berpuluh, beratus,
beribu buku dan jutaan lembar dokumen dari para ulama untuk melengkapkan sudut
pandang tentang shalat, agar kaum muslimin tertarik untuk menekuninya dengan
sungguh-sungguh dan fokus (khusyuk) sebagai ketaatan yang utama. Tapi entah mengapa
dan apa yang ada dalam benak kaum muslimin, karena jumlah sajadah yang terbentang
dan ruang shaf di masjid, tidak sebanding dengan keharusan ruang yang ditempati oleh
kaum muslimin. Sajadah tetap saja jarang disujudi. Masjid-masjid tetap saja sepi dari
jamaah.

Bagaimana dengan shabar? Sejujurnya nasibnya tidak jauh berbeda dengan shalat.

Memang buku-buku, nasehat dan ajakan untuk bershabar tidak segencar menegakkan
shalat. Jika syariah telah menggariskan minimal 5 kali sehari panggilan shalat, tidak
demikian dengan panggilan untuk shabar. Tetapi jika kita melihat kedudukan shabar
dalam ayat di atas, sesungguhnya pasti ada keutamaan yang besar padanya, walau tidak
sebanding dengan keutamaan shalat. Tapi pasti sangat besar.

Sahabat-sahabat milis yang rendah hati.

Saya tidak bermaksud membahas shabar dari sisi normatif, apatah lagi teori yang rumit
dan seringkali soliter itu. Saya ingin berbagi sudut pandang yang terdekat dengan
keseharian kita, sebagai salah satu bentuk terkini wajah keshabaran kita, Anda dan saya.
Saya mengundang Anda untuk memahami shabar dari kalimat-kalimat berikut:

Apakah dapat disebut seorang penyabar, sebuah pribadi yang membaca bacaan sholatnya
menafikan semua ketentuan tajwid dalam melantunkan ayat-ayat suci? Seberapa sering
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 14
kita cukup bershabar untuk berpanjang harokat membaca surat Al Ma'un pada kalimat
'yuroo un' atau 'ida jaa' pada surat An Nashr.

Apakah dapat disebut seorang penyabar, banyak pribadi yang membaca surah Yasin tiap
pekan, yang berbangga hati bila selesai duluan dengan mengenyampingkan perintah-Nya
untuk membaca dengan tartil?

Apakah dapat disebut seorang penyabar, apabila seorang hamba berdoa di akhir shalatnya
dengan doa yang tidak jelas harokat mad thabi'i, mad jaidz, tidak taat waqaf, tidak peduli
idgham?

Apakah dapat disebut seorang penyabar, sebuah pribadi yang tidak mampu menahan diri
untuk diam selama 5 detik agar tercapai rukun shalat tumaninah pada setiap shalat
sunatnya?

Apakah dapat disebut seorang penyabar, seseorang yang tidak mampu melengkapkan
huruf pada setiap kata dalam SMS yang dia kirimkan? Tidakkah kita sering menemukan,
sebuah sms yang hanya berisi deretan huruf mati, padahal masih tersisa banyak jatah
karakter yang walau kosong, tetap harus dibayarnya?

Apakah dapat disebut seorang penyabar, seorang pengendara motor yang tidak mampu
menahan diri sekitar 3 detik saja, saat lampu kuning masih menyala?

Sahabat-sahabat milist yang baik,

Jika kita semua mencermati hal-hal di atas, keshabaran itu bukan sifat, melainkan
ekspresi dari:
1. kualitas taat asas kita pada peraturan-peraturan
2. kualitas hormat kita pada orang lain
3. kualitas hormat kita pada diri sendiri
4. kualitas hormat kita pada waktu proses sebagai sunatullah - bukankah Yang Maha
Kuasa saja menciptakan alam ini melalui 6 massa, padahal kun fayakun.

Sahabat-sahabat, shabar itu bukan sifat, melainkan akibat.

Kita yang harus merancang respon, menakar hormat, menapaki tahapan, menaati aturan;
sehingga keseluruhan hidup kita teratur, terukur, terpikirkan, terhormat. Dan atas kualitas
hidup kita yang seperti ini, kita disebut sebuah pribadi yang PENYABAR.

Penyabar bukan hanya tidak mendidih perasaan ketika dihardik dan dianiaya. Lebih dari
itu, penyabar adalah kualitas diri dari pribadi yang mulia. Itulah sebabnya, shabar sangat
dengat dengan shalat, yaitu sarana permintaan tolong kepada-Nya. Sedekat persaudaraan
huruf sha yang menjadi awal dua kata itu.



Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 15
Sahabat-sahabat milis yang budiman,
Terima kasih atas perkenan Anda untuk membaca sudut pandang yang mudah-mudahan
melengkapi sudut pandang Anda sebelumnya.

Wassalam

Syarif Niskala


------------------------oOo------------------------
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 16
Pengirim : abuluthfia abuluthfia@yahoo.co.id
Tgl. Email : 14-01-2008

Awali Segala Aktivitas Kita
Dengan “Bismillaahirrahmaanirrahiim”

Mengawali segala aktivitas dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim berarti
telah mengawali segala aktivitasnya dengan sesuatu yang baik, sehingga ada nilai plusnya
di hadapan Allah SWT. Jadi, ada nilai ibadahnya, kalau orientasinya benar-benar kepada
Allah SWT.

Dan perlu kita ketahui bahwa Rasulullah SAW sendiri menganjurkan untuk memulai
seluruh aktivitas yang baik dengan ucapan Bismillaahirrahmaanirrahiim, sebagaimana
sabdanya, “Setiap urusan (perbuatan) yang tidak diawali dengan
Bismillahirrahmanirrahim, maka cacat (terputus dari rahmat Allah).” (H.R. Ahmad
dan Ashhab Sunan)

Membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim dengan benar, dengan penuh keikhlasan
(kekhusyuan) karena Allah ketika akan melakukan suatu aktivitas, maka setan tidak akan
mendekati kita. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Jika seseorang hendak memasuki
rumahnya dan membaca nama Allah ketika ia memasukinya dan ketika ia makan,
maka setan berkata kepada sesama setan lainnya, ‘tidak ada tempat tinggal bagi
kalian dan tidak ada makan'. Jika ia masuk dan tidak menyebut nama Allah, setan
berkata kepada kawan-kawannya, ‘Kalian menemukan tempat tinggal dan
makan’.”

Kita perlu menyiasati jebakan setan dengan mekanisme yang efektif, sehingga setan yang
menjalari kita menjadi kurus, pucat dan lunglai. “Bahwa orang-orang mukmin itu bisa
menguruskan setannya, sebagaimana salah seorang diantara kamu membuat kurus
untanya dalam bepergian.” (al-hadits)

Sudahkah kita mengawali segala aktivitas kita dengan membaca
Bismillaahirrahmaanirrahiim?

Kalau belum, awali dari sekarang. Sebab, segala aktivitas kita akan penuh dengan
keberkahan kalau di awali dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim dengan
ikhlas (khusyu) karena Allah SWT.

"Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam”, (QS. Al-Anam (6): 162)

Saya sertakan dalam artikel sederhana ini sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Opick
yang berjudul “Bismillah”. Mudah-mudahan memotivasi lagi diri kita untuk selalu
mengawali segala aktivitas kita dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Bismillah yaa rohman yaa rohiim 2x
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 17
Bismillah mula-mula Bismillah yang mengawali
Bismillah akan membuatmu bahagia
Dengan Bismillah hati kan terjaga
Lalu keberkahan menaungi kita

Bismillah dan melangkah Bismillah lalu bekerja
Bismillah di dalam hatiku tenang
Karena semua hanyalah milikNya
Bahkan nafas adalah kemurahanNya

Bismillah yaa rahman yaa rahiim 4x
Terkadang hidup dalam sepi hati
Karena jiwa yang rindu tuk kembali pada Allah

Bismillah mula-mula Bismillah yang mengawali
Bismillah akan membuatmu bahagia
Dengan Bismillah hati kan terjaga
Lalu keberkahan menaungi kita

Bismillah dan melangkah Bismillah lalu bekerja
Bismillah di dalam hatiku tenang
Karena semua adalah milikNya
Bahkan nafas adalah kemurahanNya

(Bismillah yaa rahman yaa rahiim)

Dengan namaMu ya Allah
Dengan namaMu ya Rahman
Dengan namaMu ya Rabbi
Dengan namaMu..namaMu..ya Rabbi..ya Rabbi
Dengan namaMu melangkah
Dengan namaMu di hati
Dengan namaMu melangkah
Dengan namaMu Allah.. Allah.. Allah..

Wallahu A’lam


Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 18
Pengirim : abuluthfia abuluthfia@yahoo.co.id
Tgl. Email : 14-01-2008

Hijrahnya Sang Pembunuh

Sekali dalam setahun, umat Islam menyambut Tahun Baru Hijriyah. Sistem penanggalan
Islam itu ditetapkan Khalifah Umar ibn Khaththab ra., yang perhitungannya dimulai dari
hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Memperingati hijrah berarti
juga memperingati pergantian nama Kota Yatsrib menjadi Madinah.

Semangat hijrah yang harus diteladani saat ini tentu bukan lagi dalam pengertian fisik
seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Tetapi, hijrah secara kontekstual dengan
meninggalkan segala kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) yang diridai Allah
SWT. Maka, kita harus benar-benar melakukan hijrah dengan memperbaiki kebiasaan
buruk yang menyelimuti diri kita.

Kalau mau jujur, setiap hari kita selalu melakukan kesalahan, baik yang terasa maupun
yang tidak terasa. Dan kesalahan-kesalahan itu mengakibatkan semakin menumpuknya
lumbung dosa, dan itu semua kadang tidak kita rasakan atau malah tidak kita hiraukan
karena begitulah kita. Astaghfirullah.

Benar apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud ra., “Orang yang benar-benar
beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia
kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik,
ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.”

Tapi mudah-mudahan kita tidak berpandangan seperti seorang yang munafik, yang
memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya. Tetapi, kita
adalah seseorang yang dengan sigap memperbaiki kesalahan-kesalahan yang di
perbuatnya dengan amal baik atau dengan taubat kepada Allah SWT. Sebagaimana yang
di sabdakan oleh Rasulullah SAW “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun
kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat
menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.”
Dengan begitu kita pun sudah melakukan hijrah.

Ada yang lebih dahsyat lagi, yaitu hijrahnya seorang pembunuh yang telah membunuh
100 orang, yang mana kisahnya dapat kita baca dalam sebuah hadits yang saya ambil dari
Bukunya Muhammad Khalil Al-Khatib yang berjudul “Khuthbah-Khutbah Rasulullah “
seperti di bawah ini,

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW. keluar, lalu bersabda,
“Sesungguhnya tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Allah untuk diampuni.
Sesungguhnya ada seseorang di antara orang-orang sebelum kalian yang pernah
membunuh sembilan puluh delapan orang. Dia menemui seorang rahib dan berkata, “Aku
sudah membunuh sembilan puluh delapan orang. Apakah menurut pendapatmu,
masihkah terbuka kesempatan bagiku untuk bertaubat?”
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 19
Rahib itu menjawab, “Engkau sudah kelewatan.”

Orang itu bangkit dan membunuhnya. Lalu dia menemui Rahib lain dan berkata,
“Sesungguhnya aku sudah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Maka menurut
pendapatmu, masihkah terbuka kesempatan bagiku untuk bertaubat?”

“Tidak ada, karena engkau sudah kelewatan,” jawab Rahib. Maka orang itu bangkit dan
membunuhnya.

Lalu dia menemui Rahib yang lain lagi dan berkata, “Sesungguhnya aku sudah
membunuh seratus orang. Maka menurut pendapatmu, masihkah terbuka kesempatan
bagiku untuk bertaubat?”

Rahib itu menjawab, “Engkau sudah kelewatan. Aku tidak tahu, tapi disana ada dua
negeri, yang satu disebut Bashrah yang satu lagi disebut Kufrah. Penduduk Basrah
melakukan amalan para penghuni surga. Selain mereka tidak ada yang tinggal betah
tinggal disana. Sedangkan penduduk Kufrah melakukan amalan para penghuni neraka.
Selain mereka tidak betah tinggal disana. Datanglah ke penduduk Bashrah. Jika engkau
betah tinggal disana, dan melakukan seperti yang mereka lakukan, maka tidak akan
diragukan, taubatmu akan diterima.”

Maka orang itu pergi ke Bashrah. Ketika ditengah perjalanan antara tempatnya dan
Bashrah, dia meninggal dunia. Para malaikat bertanya kepada Allah tentang orang ini.
Maka Allah berfirman, “Ukurlah mana jarak yang paling dekat dari kedua tempat itu, lalu
tulislah baginya bersama penduduknya.” Mereka mendapatkan lebih dekat dengan
Bashrah, dengan selisih jarak hanya sepanjang semut. Maka dituliskan baginya sama
dengan penduduk Bashrah.” (Diriwayatkan Ath-tahbrani, rijalnya shahih. Majma ‘Az-
zawa’id,10/11)

Lihat, alangkah kuatnya keinginannya untuk bertaubat, wlaupun rahib pertama sudah
mengatakan “Engkau sudah kelewatan”, tapi dia terus mencari dan mencari untuk satu
keinginan yaitu bertaubat. Dan perlu kita ketahui bahwa proses taubatnya itu adalah
hijrahnya sang pembunuh itu.

Bagaimana dengan kita?

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini
tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya
dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian
menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap
pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS. An-Nisa’ (4): 100)

Wallahu A’lam
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 20
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Psikofitrah & Kualitas Hidup

Istilah Psikofitrah terdiri dari kata "Psyche" berasal dari bahasa Yunani, artinya napas,
sumber dari semua aktifitas, jiwa dan Fitrah artinya suci. Jadi Psikofitrah adalah proses
penyucian jiwa sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup manusia. Itulah sebabnya
Psikofitrah lebih pada usaha preventif, cara hidup sehat dengan membangun emosi
positif.

Saat ini Psikofitrah mengkonsentrasikan pada penelitian berbagai bentuk emosi positif
yang ada pada jiwa fitrah manusia untuk meningkatkan kualitas hidup. Berlimpahnya
materi pada diri seseorang tidak bisa disebut dengan meningkatnya kualitas hidup jika
dirinya dipenuhi dengan problem kejiwaan seperti depresi, alienasi maupun gangguan
mental.

Berbagai penelitian menunjukkan manusia membutuhkan pertolongan agar dirinya bisa
menemukan kebahagiaan sebab individu yang merasa hidupnya bahagia lebih optimis
hidupnya, pekerja keras, kreatif, tidak mudah putus asa, murah senyum daripada yang
menyebut dirinya tidak bahagia.

Hal inilah yang juga mempengaruhi diri mereka yang merasa bahagia secara jasmani
lebih sehat, cepat sembuh dari penyakit, tahan lama dalam menghadapi tekanan hidup
dan lebih tahan lama menghadapi penyakit dan cenderung melihat orang lain tidak
sebagai ancaman hidup sekalipun berbeda paham.

Bagi Psikofitrah jika kehidupan manusia dipenuhi dengan murah senyum, mudah
tertawa, suka bernyanyi, gambaran diri sebagai lentera, penjejak peradaban, sang
penguat kehidupan akan menghasilkan perilaku- perilaku yang positif seperti gembira,
optimis, pemaaf, aktif menolong orang lain, bersyukur sehingga aktifitas ini memiliki
kontribusi terhadap dalam peningkatan kualitas individu.

Ketika kualitas hidup individu meningkat maka kualitas hidup masyarakat juga
meningkat, sebab masyarakat manapun adalah cerminan dari individu-individu
didalamnya. Bila anda ingin menciptakan masyarakat yang sehat maka anda harus
menemukan cara untuk menjadikan sehat bagi setiap individu.

Wassalam,
Agussyafii

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 21
Pengirim : Naillas naillasdotcom@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Syariah Marketing
Oleh : Dwi Hardianto

Kalo hati sama-sama enak, keuntungan jadi nomor kesekian, karena berkah yang
didamba. Seorang sales wanita mempersentasikan produk pada klien dari beberapa
perusahaan. Setelah berjalan beberapa saat, sepertinya customer kurang meresponnya.
Maka, sang sales mulai menerapkan jurus jitunya. Tanpa ragu, ia?maaf?membuka
kancing baju atas sambil presentasi. Begitu seterusnya, tanpa canggung, satu persatu
kancingnya pun dibuka. Akhirnya, bersamaan dengan dibukanya kancing baju ketiga,
produk yang ditawarkan pun ludes. Anda seorang marketer? Tentu pernah mendengar
cerita di atas. Atau, cerita lain yang berbeda 180 derajad. Cerita ini dialami oleh Sekjen
Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Muhammad Syakir Sula, saat menunaikan ibadah
haji tahun lalu. Saat di Madinah, ia mengunjungi percetakan al-Qur'an terbesar di dunia.
Percetakan yang biasa membagikan al-Qur'an gratis ke seluruh dunia ini, merupakan
wakaf Kerajaan Saudi Arabia. Di percetakan ini, Ketua Asosiasi Asuransi Syariah
Indonesia (AASI) ini, membeli beberapa al-Qur'an. Salah satunya, al-Qur'an saku cetakan
terbaru yang dihiasi kaligrafi indah. Harganya 9 riyal (1 riyal sekitar Rp 2.700). Sayang,
percetakan ini hanya membolehkan pembelian maksimal 10. Karenanya, ia pun keliling
toko buku mencari al-Qur'an yang sama. Sampailah di dua toko buku yang berdekatan.
Yang satu menjual 12 riyal, tapi persediannya hanya 5. Sedangkan satunya yang masih
banyak persediannya, menjual 35 rial. Ia pun membeli di toko yang menawarkan harga
12 riyal tanpa menawar, karena harganya masih wajar. Ketika ia menawar di toko yang
memasang harga 35 rial, si penjual tak mau menurunkan harga. Sampai pada harga 20
rial, Arab ini tetap tak mau. Pokoknya, ia keukeuh pada harga 35 rial. Ia lantas protes.
"Syekh, antum jualannya yang benar dong. Di sebelah hanya 12 riyal, masa di sini 35
riyal." Dengan santai, ia menjawab, "Naam di sebelah 12 riyal, tapi di sini 35 riyal baru
halal. Akhirnya, ia meninggalkan toko sambil berbisik pada istrinya, "Dasar pelit ni
Arab." Rupanya, si penjual mengerti bahasa Indonesia. Lantas bilang, "Saya tidak bakhil,
tapi saat ini saya tidak ikhlas jual 12 riyal." Sambil tersenyum, Syakir berbalik, salaman,
kenalan, dan minta maaf. Karena penasaran, CEO Batasa Tazkia Consulting (BTC) ini,
dua hari kemudian mendatangi toko yang sama. Tapi, kali ini ia datang dengan sikap sok
akrab, karena sudah kenalan sebelumnya. "Assalamu'alaikum syekh, kaifa haluk ?," Ia
mencoba basa-basi dalam bahasa Arab. Setelah suasana menjadi akrab, ia bertanya,
"Syekh, ana mau beli al- Qur'an ini 30, antum jual berapa?" Arab itu bilang, "Antum
shahib ana, 10 riyal halal." Karuan saja, Syakir pun kaget. "Kemarin antum kasih 35
riyal, sekarang 10 riyal. Ana tau harga dipercetakan 9 riyal, jadi antum cuma untung 1
riyal." Arab ini ketawa sambil memeluk dan berkata, "Akhi ana cuma perlu berkahnya.
Hari ini ana jual 10 riyal tapi ikhlas. Kalo antum senang, ana dapat berkahnya. Kemarin,
meski ana jual dengan untung besar, tapi ana tak ikhlas, antum pun tak ikhlas, jadi tidak
berkah." Itulah cerita yang mengemuka saat Seminar dan Peluncuran Buku Syariah
Marketing yang diselenggarakan MarkPlus&Co di Hotel Shangrila, Jakarta, Selasa
(18/4). Selain Muhammad Syakir Sula, seminar ini menghadirkan Staf Ahli Kementrian
BUMN Aries Mufti, Presiden MarkPlus&Co Hermawan Kertajaya, Pakar Ekonomi
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 22
Syariah Muhammad Syafii Antonio, dan praktisi bisnis syariah. Selanjutnya, Syakir
menjelaskan, cara penjualan seperti cerita pertama di atas, sama sekali tak dibenarkan.
Nilai-nilai universal, apalagi agama, apapun agamanya, juga tidak membenarkannya.
Karenanya, diperlukan pelurusan terhadap penyimpangan praktik marketing. Salah satu
caranya, menggunakan pendekatan syariah. Berdasarkan konsep inilah, Syakir Sula dan
Hermawan Kertajaya menyusun buku "Syariah Marketing." Dalam buku ini dipaparkan
empat karakteristik syariah marketing, yakni teistis (religius), etis (beretika),
realistis (fleksibel), dan humanistis (manusiawi). Dua dari empat karakteristik ini
dijelaskan Syakir sebagai berikut. Pertama, teistis berarti marketer syariah harus
membentengi diri dengan nilai-nilai spiritual, karena marketing memang "akrab" dengan
riswah (suap), korupsi, kolusi, dan wanita. Untuk itu, ia harus memiliki ketahanan moral,
selalu mendekatkan diri pada Allah, dan meyakini jika gerak-geriknya diawasi Sang
Khalik. Kedua, etis, artinya perilaku marketer syariah harus mengedepankan akhlak,
etika, dan moral. Ia harus mampu menjemput nilai-nilai moral, agar mewarnai budaya
marketing yang bermoral, beretika, manusiawi, menjunjung tinggi harkat dan martabat
wanita. Tidak menjadikan wanita sebagai obyek pemuas nafsu atau asesoris untuk
melariskan produk dan bisnis. Apalagi, Rasul saw "melaknat penyuap dan orang yang
disuap" (HR Ahmad, at-Tarmidzi dan Ibn Majah). Dalam hadist lain, Rasul mengatakan,
termasuk orang yang dilaknat adalah ar-ra'isy, yakni perantara terjadinya perbuatan
maksiat antara keduanya. Pada cerita yang kedua, Syakir menilai, pedagang Arab
menerapkan strategi bisnis dengan hati. Ia langsung menghujam ke jantungnya
pemasaran. How to win the heart share (bagaimana memenangkan hati pelanggan).
Prinsipnya berlandaskan ukhuwah Islamiyah baik pada customer dan competitor.
Sehingga, ketika hati sama-sama enak, sama-sama suka, keuntungan menjadi nomor
kesekian, karena berkah yang didamba. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu," (Qs. An-Nisa 29). Di
dunia marketing, dikenal tiga medan pertempuran yang harus dimenangkan. Pertama,
strategi. Di sini, aspek segmentasi, targeting, dan positioning harus lebih baik dari
competitor, untuk memenangkan perang pemikiran, how to win the mind share
(bagaimana menang di benak nasabah). Kedua, taktik. Dalam bisnis harus mengenal dan
memperhatikan aspek diferensiasi (keunikan) dari produk kita. Ketiga, marketing mix
atau 4P (product, price, place, promotion) dan selling. Kelima aspek ini merupakan
kekuatan utama untuk memenangkan persaingan di pasar. How to win the market share
(bagaimana memenangkan pasar). Pedagang Arab itu mengetahui bagaimana caranya
merayu, menarik hati dan memberikan service yang langsung menyentuh hati para
pembelinya. Sehingga tercipta brand dirinya yang selalu diingat pelangganya. Secara tak
langsung, ia mempraktikkan marketing critical moment of truth (suatu kesan yang sangat
membekas dan tak akan terlupakan). Tak heran jika beberapa hari kemudian, Syakir
mengajak beberapa kawannya yang kebetulan juga ingin membeli al-Qur'an, ke toko itu.
Secara tak sadar, ia telah menjadi agen pedagang Arab itu, tanpa komisi dan sejenisnya.
Sementara itu, Hermawan Kertajaya mengatakan, secara umum pangsa pasar syariah
tergabi dua, yakni pasar rasional dan emosional. Pasar rasional adalah
pasar yang didasarkan pada nilai-nilai rasional, seperti tingkat profit, kualitas layanan dan
produk. Pangsa pasar ini disebut pasar mengambang. Sedangkan pasar emosional adalah
pasar yang memilih bisnis berbasis syariah karena pertimbangan halal haram dan
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 23
kekhawatiran terhadap riba. Tapi, persepsi ini sering dianggap salah oleh praktisi bisnis
syariah. Sesungguhnya, pasar emosional ini justru yang rasional, karena mereka
menghitung untung rugi di setiap hal yang mereka lakukan. Bukankah al-Qur'an
memerintahkan, setiap manusia wajib mewujudkan kebahagiaan akhirat tanpa melupakan
kebahagiaan dunia. Karenanya, meski pasar emosional sangat concern terhadap nilai-nilai
syariah dalam bisnis, bukan berarti mereka melupakan aspek rasional, seperti untung
rugi, kenyamanan, service, dan lainnya. Jika begitu, ngapain buka kancing baju segala?

taken fron www.tazkia.ac.id

Wassalamu'alaykum Wr.Wb
Arita Witanti
www.naillas.indonetwork.co.id

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 24
Pengirim : sumarah wahyudi krangkungan_membangun@yahoo.co.id
Tgl. Email : 14-01-2008
Membentuk Keluarga Sakinah wa Rahmah
Memasuki dunia baru bagi pasangan baru, atau lebih dikenal dengan pengantin baru
memang merupakan suatu yang membahagiakan. Tetapi bukan berarti tanpa kesulitan.
Dari pertama kali melangkah ke pelaminan, semuanya sudah akan terasa lain. Lepas dari
ketergantungan terhadap orang tua, teman, saudara, untuk kemudian mencoba hidup
bersama orang – yang mungkin – belum pernah kenal sebelumnya. Semua ini
memerlukan persiapan khusus (walaupun sebelumnya sudah kenal), agar tidak terjebak
dalam sebuah dilema rumah tangga yang dapat mendatangkan penyesalan di kemudian
hari. Diantara persiapan yang harus dilakukan oleh pasangan baru yang akan mengarungi
bahtera rumah tangga:
Persiapan mental. Perpindahan dari dunia remaja memasuki fase dewasa – di
bawah naungan perkawinan – akan sangat berpengaruh terhadap psikologis,
sehingga diperlukan persiapan mental dalam menyandang jabatan baru, sebagai
ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga. Kalaupun sekarang anda telah
terlanjur menyandang predikat tersebut sebelum anda sempat berpikir
sebelumnya, anda belum terlambat. Anda bisa memulainya dari sekarang,
menyiapkan mental anda lewat buku-buku bacaan tentang cara-cara berumah
tangga, atau anda dapat belajar dari orang-orang terdekat, yang dapat memberikan
nasehat bagi rumah tangga anda
engenali Pasangan. Kalau dulu orang dekat anda adalah ibu, teman, atau saudara
anda yang telah anda kenal sejak kecil, tetapi sekarang orang yang nomor satu
bagi anda adalah pasangan anda. Walaupun pasangan anda adalah orang yang
telah anda kenal sebelumnya, katakanlah dalam masa pacaran, tetapi hal ini
belumlah menjamin bahwa anda telah benar-benar mengenal kepribadiannya.
Keadaannya lain. Masa pacaran dengan lingkungan rumah tangga jauh berbeda.
Apalagi jika pasangan anda adalah orang yang belum pernah anda kenal
sebelumnya. Disini perlu adanya penyesuaian-penyesuaian. Anda harus mengenal
lebih jauh bagi pasangan anda, segala kekurangan dan kelebihannya, untuk
kemudian anda pahami bagaimana sebaiknya anda bersikap, tanpa harus
mempersoalkan semuanya. Karena sesungguhnya anda bersama pasangan anda
hidup dalam rumah tangga untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya,
sehingga tercipta keharmonisan.
Menyusun agenda Kegiatan. Kesibukan anda sebagai ibu rumah tangga atau
kepala rumah tangga tentunya akan lebih banyak menyita waktu di banding ketika
anda masih sendiri. Hari-hari kemarin bisa saja anda mengikuti segala macam
kegiatan yang anda sukai kapan saja anda mau. Persoalannya sekarang adalah
anda tidak sendiri, kehadiran pasangan anda disamping anda tidak boleh anda
abaikan. Tetapi anda tak perlu menarik diri dari aktifitas atau kegiatan yang anda
butuhkan. Anda dapat membuat agenda untuk efektifitas kerja, anda pilah, dan
anda pilih kegiatan apa yang sekiranya dapat anda ikuti sesuai dengan waktu yang
anda miliki dengan tanpa mengganggu tugas anda sebagai ibu rumah tangga atau
kepala rumah tangga.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 25
Mempelajari kesenangan pasangan. Perhatian-perhatian kecil akan mempunyai
nilai tersendiri bagi pasangan anda, apalagi di awal perkawinan anda. Anda dapat
melakukannya dengan mempelajari kesenangan pasangan anda, mulai dari selera
makan, kebiasaan, hobi yang tersimpan dan lainnya. Tidak menjadi masalah jika
ternyata apa yang disenanginya tidak anda senangi. Anda bisa mempersiapkan
kopi dan makanan kesukaannya disaat pasangan anda yang punya hobi membaca
sedang membuka-buka buku. Atau anda bisa sekali-kali menyisihkan waktu untuk
sekedar mengantar pasangan anda berbelanja, untuk menyenangkan hatinya. Atau
kalau mungkin anda bisa memadukan hobi anda yang ternyata sama, dengan
demikian anda telah memasang saham kasih sayang di hati pasangan anda sebagai
kesan pertama, karena kesan pertama akan selalu diingatnya. Kesan pertama
begitu menggoda, selanjutnya terserah anda (kayak iklan saja). Dan anda bisa
menjadikannya sebagai kebiasaan yang istimewa dalam rumah tangga anda.
Adaptasi lingkungan. Lingkungan keluarga, famili dan masyarakat baru sudah
pasti akan anda hadapi. Anda harus bisa membawa diri untuk masuk dalam
kebiasaan-kebiasaan (adat) yang ada di dalamnya. Kalau anda siap menerima
kehadiran pasangan anda, berarti pula anda harus siap menerimanya bersama
keluarga dan masyarakat disekitarnya. Awalnya mungkin anda akan merasa asing,
kaku, tapi semuanya akan terbiasa jika anda mau membuka diri untuk bergaul
dengan mereka, mengikuti adat yang ada, walaupun anda kurang menyukainya.
Sehingga akan terjalin keakraban antara anda dengan keluarga, famili dan
lingkungan masyarakat yang baru. Karena hakekat pernikahan bukan perkawinan
antara anda dan pasangan anda, tetapi, lebih luas lagi antara keluarga anda dan
keluarga pasangan anda, antara desa anda dengan desa pasangan anda, antara
bahasa anda dengan bahasa pasangan anda, antara kebiasaan (adat) anda dengan
kebiasaan pasangan anda. Dst.
Menanamkan rasa saling percaya. Tidak salah jika suatu saat anda merasa curiga
dan cemburu. Tetapi harus anda ingat, faktor apa yang membuat anda cemburu
dan seberapa besar porsinya. Tidak lucu jika anda melakukannya hanya dengan
berdasar perasaan. Hal itu boleh saja untuk sekedar mengungkapkan rasa cinta,
tetapi tidak baik juga kalau terlalu berlebihan. Sebaiknya anda menanamkan sikap
saling percaya, sehingga anda akan merasa tenang, tidak diperbudak oleh
perasaan sendiri. Yakinkan, bahwa pasangan anda adalah orang terbaik yang anda
kenal, yang sangat anda cintai dan buktikan juga bahwa anda sangat
membutuhkan kehadirannya, kemudian bersikaplah secara terbuka.
Musyawarah. Persoalan-persoalan yang timbul dalam rumah tangga harus
dihadapi secara dewasa. Upayakan dalam memecahkan persoalan anda mengajak
pasangan anda untuk bermusyawarah. Demikian juga dalam mengatur
perencanaan-perencanaan dalam rumah tangga, sekecil apapun masalah yang
anda hadapi, semudah apapun rencana yang anda susun. Anda bisa memilih
waktu-waktu yang tepat untuk saling tukar pikiran, bisa di saat santai, nonton atau
dimana saja sekiranya pasangan anda sedang dalam keadaan bugar.
Menciptakan suasana Islami. Suasana Islami ini bisa anda bentuk melalui
penataan ruang, gerak, tingkah laku keseharian anda dan lain-lain. Sholat
berjama’ah bersama pasangan anda, ngaji bersama (tidak perlu setiap waktu,
cukup habis maghrib atau shubuh), mendatangi majlis ta’lim bersama dan
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 26
memnbuat kegiatan yang Islami dalam rumah tangga anda. Hal ini akan
menambah eratnya ikatan bathin antara anda dan pasangan anda. Dari sini akan
terbentuk suasana Islami, Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Insya’allah.

(assyarif/mus)

Sumber : http://suara-santri.tripod.com/files/muslimah/muslimah3.htm

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 27
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Penjejak Peradaban

Penjejak peradaban adalah mereka yang diragukan apa yang dilakukan sesuatu hal yang
mustahil terwujud. Hal-hal yang mustahil itulah yang ingin dibuktikan oleh para penjejak
peradaban sebagai sesuatu yang bisa terwujud.

Hari ini, tantanglah diri anda untuk melakukan satu hal yang mustahil menurut orang lain
hal itu akan terwujud. Hari ini, tantanglah diri anda untuk membuktikan bahwa anggapan
mereka yang mustahil terwujud itu adalah tidak benar. Hari ini, tantanglah diri anda
bahwa andalah sebenarnya sang penjejak peradaban itu.

Hal-hal yang mustahil itu adalah sekat-sekat yang menghalangi kita agar bisa saling
memahami bahwa dunia ini satu untuk semua. Hal-hal yang mustahil itu adalah
meletakkan mereka orang-orang yang berbeda dengan kita juga orang-orang yang patut
kita muliakan hidupnya. Hal-hal yang mustahil itu adalah kemampuan kita memenangkan
setiap peperangan dengan memenangkan musuh-musuh kita.

Wassalam,
Agussyafii

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 28
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Andalah Sang Penguat Itu!

Jika anda hari ini melemah, maka kuatkanlah mereka sekalipun musuh-musuh anda.
Sebab dengan menguatkan mereka berarti juga menguatkan diri anda. Jika ada yang
bertanya dimana letak kekuatan yang sesungguhnya? Kekuatan itu terletak pada
kecintaan anda pada sesama. Kebencian adalah penghancurnya.

Menguatkan musuh berarti menyingkirkan kelemahan diri anda. Sebab musuh-musuh
anda adalah kekuatan-kekuatan anda. Jika anda menghancurkannya berarti anda juga
menghancurkan diri anda sendiri. Hanya mereka orang-orang yang kuatlah, yang mampu
menghancurkan kebenciannya.

Kekuatan-kekuatan itulah yang membuat anda dihargai oleh musuh-musuh anda karena
menunjukkan betapa mulianya diri anda dan sampai mereka mengharuskan dirinya
sendiri dengan mencantumkan nama anda pada pintu gerbang kota dimana musuh-musuh
anda berada. Itulah anda sang penguat kehidupan.

Wassalam,
Agussyafii

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 29
Pengirim : nas_zakaria nas_zakaria@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Berhaji di Luar Arafah dan Bulan Haji

Tanya:
Jadi, singkat saja pertanyaan saya begini:

1. Boleh tidak pelaksanaan haji khususnya wukuf dilakukan pada bulan-bulan yang
lain serta tempat lain selain Arafah?
2. Apakah prosesi ibadah haji seperti yang dilakukan selama ini hasil ijtihad
Rasulullah semata ataukah dari wahyu Ilahiyah?


Jawab:
Untuk pertanyaan nomor 1, ada baiknya saya jawab dalam beberapa poin:
Penentuan tanggal 9 Zulhijjah sebagai waktu pelaksanaan wukuf adalah berdasarkan
praktik haji Rasulullah. Beliau wukuf pada tanggal tersebut dan bertolak dari Arafah
menuju Muzdalifah pada malam harinya (setelah matahari terbenam). Disamping itu
ijma' (konsensus) ulama tentang hal ini juga menjadi bukti bahwa tanggal 9 Zulhijjah
adalah waktu resmi pelaksanaan wukuf yang tidak mungkin lagi diganggu gugat.

Wukuf wajib dilakukan di Arafah dan tidak boleh dilakukan di tempat lain. Siapa saja
yang berhaji tetapi tidak melakukan wukuf di Arafah, maka ia dianggap tidak berhaji.
Dasar hukumnya adalah Al-Quran, Hadits dan Ijma' (konsensus) ulama. Allah berfirman:
" …Dan apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di
Masy'aril Haram (Muzdalifah). Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana
yang ditunjukkan-Nya kepadamu; sesungguhnya kamu sebelum ini benar-benar termasuk
orang yang sesat." (QS.al-Baqarah [2]:198)

Nabi telah menegaskan dalam banyak Hadits bahwa Arafah adalah satu-satunya tempat
untuk wukuf dan berwukuf di tempat tersebut merupakan puncak dari prosesi ibadah haji.
Hadits tersebut antara lain yang diriwayatkan oleh an-Nasai dari Abdurrahman bin
Ya'mar ad-Dailamiy, bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Haji itu (wukuf di) Arafah.
Barangsiapa yang mendatanginya sebelum terbit fajar (10 Zulhijjah) di Muzdalifah, maka
sempurnalah hajinya". Begitu juga yang dijelaskan dalam hadits Shahih, bahwa
Rasulullah Saw. Bersabda: "Siapa saja yang shalat Shubuh bersama kami di Jama'
(Muzdalifah) sedang sebelumnya ia sudah mendatangi Arafah, baik pada waktu malam
ataupun siang hari (9 Zulhijjah), maka ia telah melaksanakan manasiknya dan
sempurnalah hajinya."

Hadits "Khuzu `Anni Manasikakum" (Ambillah dariku tatacara ibadah [haji] kalian),
menjadi bukti bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah haji telah jelas adanya
dan tidak mungkin dirubah ataupun diperdebatkan lagi. Belum pernah ada sepanjang
sejarah pelaksanaan wukuf yang dilakukan di tempat lain selain Arafah dan waktu lain
selain tanggal 9 Zulhijjah.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 30
Jika pelaksanaan wukuf dilakukan di lebih dari satu waktu dan tempat, maka akan
hilanglah hikmah dari pelaksanaan haji itu sendiri, yaitu pertemuan akbar umat Islam di
satu tempat, pada waktu yang bersamaan dan dengan pakaian yang sama pula. Semuanya
bermunajah untuk mendapatkan rahmat dan maghfirah-Nya. Adakah ada hal yang lebih
indah bagi umat Islam selain itu?

Banyak hal yang bisa dijadikan solusi untuk menyelesaikan problematika pelaksanaan
ibadah haji tanpa harus menggugat apa yang sudah menjadi ketentuan agama dari dulu
sampai sekarang. Fasilitas bisa ditambah atau diperbaiki. Misalnya, lantai thawaf yang
dulunya hanya satu sekarang sudah dijadikan tiga. Jumarat yang dulunya lobang kecil
sekarang sudah dilebarkan puluhan kali lipat. Banyak hal-hal lain lagi yang telah dan
insya Allah terus dilakukan sebagai solusi.

Dari uraian sebelumnya, untuk menjawab pertanyaan nomor 2, jelas bahwa seluruh
tatacara ibadah haji bukan hasil ijtihad Rasulullah, tetapi berdasarkan wahyu Ilahiyah.
Memang Al-Quran hanya menjelaskan secara global tentang manasik (tatacara ibadah)
haji, tetapi Sunnah Nabi telah menjelaskan hal tersebut secara terperinci, baik dengan
perkataan (Sunnah Qauliyah, praktik (Sunnah `Amaliyah), maupun pengakuan Nabi
(Sunnah Taqririyah) akan praktik haji yang sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa
sahabat.

Seandainya sebagian manasik itu adalah hasil ijtihad dari Rasulullah pun, maka
seluruhnya wajib kita terima. Tidak ada ruang untuk menggugat. Setiap penjelasan dan
perkataan yang berasal dari Nabi adalah kebenaran yang wajib diikuti dan diamalkan,
Allah berfirman: "..Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa
yang dilarangnya maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah sangat keras hukumannya"."Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran)
menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya)".

Kalau kita ingin menjadi muslim seutuhnya, berpeganglah pada apa yang telah
diwariskan Rasulullah kepada kita tanpa perlu merubah ataupun menggantikan hal-hal
yang telah menjadi ketentuan umat Islam tersebut dari dulu sampai sekarang. Ada hal-hal
yang terkadang tidak bisa diterima secara logika tetapi kita sebagai hamba Allah tidak
diberikan wewenang untuk mengugat ataupun mengusiknya. Ijtihad orang-orang
terkemudian memang diperbolehkan tapi tidak untuk hal-hal yang bersifat ta'abbudiyah.

Semoga penjelasan ini dapat menjadi renungan bagi kita semua, dan semoga Allah selalu
memberikan taufik dan `inayahnya pada setiap tindakan dan perbuatan kita. Amin.


Rusli Hasbi

Lebih banyak fatwa Dr. Rusli Hasbi, MA di http://www.ruslihasbi.com

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 31
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Kualitas Hidup

Kualitas hidup anda tidak ditentukan oleh berapa banyak kekayaan yang anda miliki
tetapi sangat ditentukan oleh apa yang anda lakukan hari ini dan seberapa besar
dampaknya sehingga orang lain tidak percaya bahwa anda yang telah lakukan semua itu.

Kualitas hidup anda ditentukan oleh kekuatan anda untuk mencintai sekalipun anda
dibenci. Kualitas hidup anda juga ditentukan oleh keberanian anda untuk tetap
memuliakan orang lain sekalipun orang itu merendahkan anda. Kualitas hidup anda
sangat ditentukan dengan keteguhan anda memegang prinsip yang anda yakini benar
sekalipun keyakinan itu hendak dibeli dengan harga yang begitu tinggi.

Itulah sebabnya didalam sejarah peradaban umat manusia selalu mencatat nama orang-
orang yang berkualitas adalah mereka, orang-orang yang kuat, pemberani dan berpegang
teguh terhadap pendirian yang diyakininya benar. Nama mereka menginspirasi banyak
orang dari masa ke masa karena yang dilakukannya membawa kebaikan. Nama mereka
disebut-sebut karena tindakan-tindakan kecilnya memiliki dampak yang luar biasa pada
kehidupan umat manusia.

Tidakkah sudah sepatutnya nama anda juga menginspirasi banyak orang karena yang
anda lakukan hari ini adalah langkah-langkah kecil untuk membangun peradaban umat
manusia dimasa depan?

Wassalam,
Agussyafii

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 32
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Nyalakan Cahaya di Dalam Diri


Ketika anda hidup dalam kegelapan itu pertanda anda diminta menyalakan cahaya di
dalam diri anda. Semakin gelap jalan yang anda telusuri dalam hidup ini semakin terang
cahaya yang ada pada diri anda sehingga orang-orang disekeliling anda yang hidup dalam
kegelapan juga merasakan terangnya cahaya itu.

Bila ada ungkapan "Kenalilah dirimu maka engkau akan mengenal Penciptamu" itu
berarti anda diminta mengenali yang mana diri anda yang sejati sebab dengan mengenali
diri yang sejati, anda juga mengenali, diri anda yang palsu. Hanya diri anda yang sejatilah
yang akan mengetahui dimana letak sumber cahaya yang akan menerangi jalan hidup
yang penuh kegelapan.

Bagi orang-orang yang lemah, hidup dalam kegelapan adalah beban. berbeda bagi
mereka, orang-orang yang kuat dan pemberani itu pertanda meningkatnya kualitas hidup
yang ada pada dirinya. Sebab dengan kehidupan yang penuh kegelapan sudah tiba bagi
dirinya untuk menyalakan cahaya agar menerangi jalan hidup umat manusia.

Kini sudah saatnya bagi anda menyalakan cahaya di dalam diri anda. Tunggu apa lagi?
Nyalakan cahaya itu sekarang juga! Cepaat!

Wassalam,
Agussyafii

==============================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
http://agussyafii.blogspot.com atau sms 0888 176 48 72

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 33
Pengirim : Aris aris.priyanto@sugity.co.id
Tgl. Email : 14-01-2008

DEFENISI JIHAD DAN HUKUM JIHAD
Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Jihad adalah salah satu syi’ar Islam yang terpenting dan me-rupakan puncak
keagungannya. Kedudukan jihad dalam agama sangat penting dan senantiasa tetap
terjaga. Jihad fii sabiilillaah tetap ada sampai hari Kiamat.

Secara bahasa (etimologi) kata jihad berarti kekuatan usaha, susah payah dan
kemampuan. [1]

Menurut ar-Raghib al-Ashfahani (wafat th. 425 H) rahimahullahu: berarti kesulitan dan
kemampuan. [2]

Menurut istilah syar’i (terminologi):
“Al-Jihad artinya memerangi orang kafir, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh
mencurahkan kekuatan dan kemampuan baik berupa perkataan atau perbuatan.” [3]

“Jihad artinya mencurahkan segala kemampuan untuk memerangi musuh.”

Jihad ada tiga macam:
Jihad melawan musuh yang nyata.
Jihad melawan syaithan.
Jihad melawan hawa nafsu.

Tiga macam jihad ini termaktub di dalam Al-Qur-an surat al-Hajj: 78, at-Taubah: 41, al-
Anfaal: 72. [4]

Menurut al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-Asqalani (yang terkenal dengan al-
Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, wafat th. 852 H) rahimahullahu: “Jihad menurut syar’i
adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir.” [5]

Istilah Jihad digunakan juga untuk melawan hawa nafsu, syaithan, dan orang-orang fasiq.
Adapun melawan hawa nafsu yaitu dengan belajar agama Islam (belajar dengan benar),
lalu mengamalkannya kemudian mengajarkannya. Adapun jihad melawan syaithan
dengan menolak segala bentuk syubhat dan syahwat yang selalu dihiasi oleh syaithan.
Jihad melawan orang kafir dengan tangan, harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan
orang-orang fasiq dengan tangan, lisan dan hati. [6]

Perkataan al-Hafizh Ibnu Hajar tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam: “Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan
lisan kalian.” [7]

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 34
Jihad menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu adalah: “Mencurahkan
segenap kemampuan untuk mencapai apa yang dicintai Allah Azza wa Jalla dan menolak
semua yang dibenci Allah.” [8] Kata beliau: “Bahwasanya jihad pada hakikatnya adalah
mencapai (meraih) apa yang dicintai oleh Allah berupa iman dan amal shalih, dan
menolak apa yang dibenci oleh Allah berupa kekufuran, kefasikan, dan maksiyat.” [9]

Definisi ini mencakup setiap macam jihad yang dilaksanakan oleh seorang Muslim, yaitu
meliputi ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-perintah
Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya. Kesungguhan mengajak (mendakwahkan)
orang lain untuk melaksanakan ketaatan, yang dekat maupun jauh, muslim atau orang
kafir dan bersungguh-sungguh memerangi orang-orang kafir dalam rangka menegakkan
kalimat Allah dan selain itu. [10]

Jihad tidak dikatakan jihad yang sebenarnya melainkan apabila jihad itu ditujukan untuk
mencari wajah Allah, menegakkan kalimat-Nya, mengibarkan panji kebenaran,
menyingkirkan kebathilan dan menyerahkan segenap jiwa raga untuk mencari keridhaan
Allah. Akan tetapi bila seseorang berjihad untuk mencari dunia, maka tidak dikatakan
jihad yang sebenarnya.

Barangsiapa yang berperang untuk mendapatkan kedudukan, memperoleh harta
rampasan, menunjukkan keberanian, mencari ketenaran (kehebatan), maka ia tidak akan
mendapatkan ganjaran dan tidak akan mendapat pahala. [11]

Jihad dalam Islam merupakan seutama-utama amal. Allah memerintahkan jihad yang
termaktub di dalam Al-Qur-an, yaitu pada surat al-Baqarah: 190, 193, 216, Ali ‘Imran:
142, an-Nisaa’: 95, at-Taubah: 73, al-Anfaal: 74, al-Hajj: 78, al-Furqaan: 52 dan ash-
Shaaf: 11.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah bertanya kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Amal apa yang paling utama?’ Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi:
‘Kemudian apa?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Berbakti kepada kedua
orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: ‘Jihad fii sabiilil-laah.’” [12]

Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam: “Amal apa saja yang paling utama?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “Beriman kepada Allah dan berjihad fii sabiilillaah...” [13]

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya seutama-utama
amal sesudah shalat adalah jihad fii sabilillaah.” [14]

Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai
Rasulullah, ada seseorang yang berperang karena mengharap ghani-mah (harta rampasan
perang), ada yang lain berperang supaya disebut namanya, dan yang lain berperang
supaya dapat dilihat kedudukannya, siapakah yang dimaksud berperang di jalan Allah?”
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 35
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berperang supaya
kalimat Allah tinggi, maka ia fii sabiilillaah (di jalan Allah).” [15]

HUKUM JIHAD
Hukum jihad adalah fardhu (wajib) dengan dasar firman Allah al-Qaahir: “Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi
kamu membenci se-suatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak
mengetahui.” [Al-Baqarah: 216]

Ayat ini merupakan penetapan kewajiban jihad dari Allah Azza wa Jalla bagi kaum
Muslimin, agar mereka menghentikan kejahatan musuh dari wilayah Islam.

Muhammad bin Syihab az-Zuhri (wafat th. 124 H) rahimahullahu berkata: ‘Jihad itu
wajib bagi setiap individu, baik yang dalam keadaan berperang maupun yang sedang
duduk (tidak ikut berperang). Orang yang sedang duduk, apabila dimintai bantuan, maka
ia harus memberikan bantuan, jika diminta untuk maju berperang, maka ia harus maju
perang, dan jika tidak dibutuh-kan, maka hendaklah ia tetap di tempat (tidak ikut).’” [16]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada waktu Fat-hu Makkah
(pembebasan kota Makkah):
“Tidak ada hijrah setelah Fat-hu Makkah (pembebasan kota Makkah), akan tetapi yang
ada adalah jihad dan niat baik. Bila kalian diminta untuk maju perang, maka majulah!”
[17]

Hukum jihad adalah fardhu kifayah [18] dengan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah
yang shahih serta penjelasan ulama Ahlus Sunnah antara lain dari Al-Qur’an surat an-
Nisaa’: 95-96, at-Taubah: 122, al-Muzzamil: 20, dan beberapa hadits Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam yang shahih.

Empat Imam Madzhab dan lainnya telah sepakat bahwa jihad fii sabiilillaah hukumnya
adalah fardhu kifayah, apabila sebagian kaum Muslimin melaksanakannya, maka gugur
(kewajiban) atas yang lainnya. Kalau tidak ada yang melaksanakan-nya maka berdosa
semuanya. [19]

Para ulama menyebutkan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain pada tiga kondisi:
Pertama: Apabila pasukan Muslimin dan kafirin (orang-orang kafir) bertemu dan sudah
saling berhadapan di medan perang, maka tidak boleh seseorang mundur atau berbalik.

Kedua: Apabila musuh menyerang negeri Muslim yang aman dan mengepungnya, maka
wajib bagi penduduk negeri untuk keluar memerangi musuh (dalam rangka
mempertahankan tanah air), kecuali wanita dan anak-anak.

etiga: Apabila Imam meminta satu kaum atau menentukan beberapa orang untuk
berangkat perang, maka wajib berangkat. Dalilnya adalah surat at-Taubah: 38-39. [20]

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 36
Jihad diwajibkan atas:
1. Setiap Muslim.
2. Baligh.
3. Berakal.
4. Merdeka.
5. Laki-laki.
6. Mempunyai kemampuan untuk berperang.
7. Mempunyai harta yang mencukupi baginya dan keluarganya selamakepergiannya
dalam berjihad. [21]


Bagi kaum wanita tidak ada jihad, jihad mereka adalah haji dan ‘umrah. Hal ini
berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Aisyah Radhiyallahu
‘anha, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai
Rasulullah, apakah kaum wanita wajib berjihad? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: ‘Ya, kaum wanita wajib berjihad (meskipun) tidak ada peperangan di
dalamnya, yaitu (ibadah) haji dan ‘umrah ’” [22]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Pasal "Ahlus Sunnah Wal
Jama'ah Menegakkan Jihad Fii Sabiilillaah Bersama Ulil Amri". Penulis Yazid bin Abdul
Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan
Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]

Foote Note
[1]. Lisaanul ‘Arab (II/395-396), Mu’jamul Wasiith (I/142).
[2]. Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 208).
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (I/319) Ibnul Atsir.
[4]. Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 208) oleh al-‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani
(wafat th. 425 H) t.
[5]. Fat-hul Baari (VI/3) oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
[6]. Ibid.
[7]. HR. Ahmad (III/124), an-Nasa-i (VI/7) dan al-Hakim (II/81) dari Sahabat Anas bin
Malikz, dengan sanad yang shahih.
[8]. Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (X/192-193).
[9]. Ibid, (X/191).
[10]. Lihat al-Jihaad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghaayatuhu (I/50) oleh Syaikh
‘Abdullah bin Ahmad Qadiry, cet. II/Darul Manarah-Jeddah, th. 1413 H.
[11]. Fiq-hus Sunnah oleh Sayyid Sabiq (III/40) dan al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal
Kitaabil ‘Aziiz (hal. 481) oleh ‘Abdul ‘Azhim Badawi.
[12]. HR. Al-Bukhari (no. 527) dan Muslim (no. 85 (137)) dari Sahabat ‘Abdullah bin
Mas’ud Radhiyallahu 'anhu
[13]. HR. Muslim (no. 84 (136)).
[14]. HR. Ahmad (II/32) sanadnya shahih. Lihat Musnad Ahmad (no. 4873) dan Silsilatul
Ahaadiits ash-Shahiihah (III/477).
[15]. HR. Al-Bukhari (no. 2810, 3126), Muslim (no. 1904) dan Ahmad (IV/392, 397,
402, 405, 417) dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu 'ahu
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 37
[16]. Tafsir Ibnu Katsir (I/270).
[17]. HR. Al-Bukhari (no. 2783, 2825, 3077), Muslim (no. 1353), Abu Dawud (no.
2480), at-Tirmidzi (no. 1590), an-Nasa'i (VII/146) dan Ahmad (I/266) dari Sahabat Ibnu
‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma, dan juga oleh Muslim (no. 1864) dari ‘Aisyah
Radhiyallahu 'anha.
[18]. Risaalatul Irsyaad ilaa Bayaanil Haqq fii Hukmil Jihaad (hal. 44-73) oleh Syaikh
Ahmad bin Yahya an-Najmi, cet. II/Daar Ulama' Salaf, th. 1414 H.
[19]. Lihat al-Jihad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghaayatuhu (I/56) oleh Syaikh
‘Abdullah bin Ahmad Qadir.
[20]. Lihat Risaalatul Irsyaad ilaa Bayaanil Haqq fii Hukmil Jihaad (hal. 89-90) oleh
Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, Taudhiihul Ahkaam Syarah Bulughul Maram
(VI/331-332) syarah ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman al-Bassam, cet V/Maktabah al-Asadi,
th. 1423 H.
[21]. Lihat al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 487) oleh ‘Abdul ‘Azhim
bin Badawi al-Khalafi, cet. III/Daar Ibnu Rajab, th. 1421 H.
[22]. HR. Al-Bukhari (no. 1520), Ibnu Majah (no. 2901) dan Ahmad (VI/165), lafazh ini
miliki Ibnu Majah.

Aris Priyanto
Sugity Creatives, PT
MM2100 Industrial Town Blok J 17
Ganda Mekar, Cikarang Barat, Cibitung, Bekasi
Telp. 021 8980307
Fax. 021 8980270 / 0511
Hp. 085281854951
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 38
Pengirim : firliana putri firlianaputri@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Tuhan Tidak Murka

Kondisi yang akhir-akhir ini menyelimuti negeri kita tercinta Indonesia yang bagaimana
pun keadaannya tidak bisa kita ingkari bahwa kita lahir di bumi ini, makan minum dari
hasil bumi ini dan mungkin nanti meninggal juga dikubur di bumi ini. Semoga ke depan,
dari bumi Indonesia inilah terjadinya kebangkitan dan kejayaan Islam yang sebenar-
benarnya Islam. Aamiin.

Seandainya skala waktu kehidupan ini hanya dunia, seandainya hidup kita ini sekadar
sepanjang jatah usia kita, maka yang rumahnya kena banjir dan longsor adalah para
koruptor, pengkhianat-pengkhianat amanat rakyat, para pendusta masyarakat, serta
orang-orang yang kelakuannya menyakiti ’hati’ Tuhan.

Tapi, tidak demikian yang terjadi. Banyak orang kecil, yang selama ini hidupnya
sengsara, sekarang disiksa banjir dan diusir longsor. Sebaliknya, lebih banyak lagi
pencoleng dan penjahat politik ekonomi kenegaraan yang tidak tersentuh musibah.

Untung ada ilmu hikmah dari Allah. Seorang anak fakir dengan susah payah bekerja
sejak kecil untuk membiayai sekolahnya sendiri, sampai akhirnya bukan hanya menjadi
sarjana, bahkan sukses jadi doktor. Menjelang hari wisuda kedoktorannya sekaligus
menjelang hari pernikahannya, Tuhan mengambil nyawanya. Keluarganya nangis
nggero-nggero, tetapi tangis mereka mungkin segera mereda jika telinga rohani mereka
mendengar kata-kata Tuhan : "Anakmu itu hamba teladan di pandangan mata-KU. Ia
lulus cumlaude, jadi Indonesia yang kotor tidak berhak mengotorinya sedikitpun. Maka,
KU ambil ia untuk menjadi salah satu kekasih-KU...".

Kaya tidak berarti jaya di mata Tuhan atau di skala dunia akhirat. Miskin tidak berarti
kehinaan. Selamat dari longsor dan banjir tidak sama dengan diselamatkan Tuhan. Yang
menderita karena banjir justru mungkin sedang ditagih utangnya oleh Allah, supaya halal
bihalal dengan Tuhan, sehingga kalau mereka mengikhlaskan keadaan karena banjir itu,
maka karamah dan surga Allah menantinya.

Sementara, yang seakan-akan selamat, oleh Allah justru dibiarkan menumpuk utang-
utang kepada-Nya. Allah melakukan istidraj, mbombong, nglulu. Maka, manusia jengkel;
orang yang diharapkan njlungup nang sumur karena pekerjaannya nglarani atine wong
cilik malah leha-leha dengan jas dan dasinya. Yang diharapkan selamat di dunia malah
oleh Tuhan diberi ujian untuk membuka derajat tinggi di surga-Nya kelak.

Kesimpulannya sederhana. Yang tidak terkena banjir dan langsor jangan GR dan takabur.
Yang terkena jangan merasa menderita. Jangan sakiti ’hati’ Tuhan dengan ngersulo atas
kehendak-Nya.

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 39
Tuhan tidak sedang murka kepada kita. Tuhan terlalu besar dan agung untuk terganggu
oleh pengkhianatan kita.

Kalau Tuhan murka, alangkah sepelenya kadar kemurkaannya: sekadar banjir, longsor,
api membakar di sejumlah tempat. Ukuran kesalahan kita semua ini, dari sudut akidah
dan akhlak di wilayah-wilayah politik ekonomi kebudayaan, sama sekali tidak lebih
rendah dibanding kedurhakaan kaum Nuh AS yang kemudian ditelan oleh air bah
raksasa. Jadi, kalau Tuhan murka, Jakarta seluruhnya ditelan bumi supaya kaum
intelektual berpikir tentang ibu kota baru Indonesia. Jawa Timur dilindas air bah merata
dan sisanya dihanguskan oleh api supaya penduduknya mulai belajar berpikir adil dan
rendah hati.

Penderitaan yang kita alami seminggu terakhir ini sama sekali belum sepadan sebagai
imbalan bagi kebusukan hati, kepincangan akal, dan kebobrokan moral yang kita
selenggarakan beramai-ramai beberapa tahun terakhir ini. Itu pun siapa yang sungguh-
sungguh menderita ?

Lihatlah ke jalanan, mal-mal, plaza, siaran TV, berita koran... hampir semuanya masih
senang-senang saja, masih cengengesan dan pencilakan. Maka, silakan meneliti sendiri
apa sebenarnya yang engkau alami hari-hari ini. Baik engkau sebagai individu,engkau
sebagai anggota masyarakat, engkau sebagai warganegara, engkau sekeluarga, engkau
sebagai hamba Allah. Apakah Tuhan sedang memberimu peringatan, ujian, ataukah
hukuman, atau semua unsur itu ada sekaligus dalam pengalaman kita. Syukur kalau
engkau diperingatkan, berarti masih di­sayang dan dibukakan kemungkinan untuk
selamat. Silakan teliti mana reformasimu ? Sudan empat tahun, ternyata bohong ya. Mana
demokrasimu. Mana kinerja amanah wakil-wakilmu. Ulangi lagi kutukan-kutukanmu dan
sesekali ucapkan kepada dirimu sendiri : jangan-jangan kau kandung Suharto di sel-sel.
darahmu. Jangan-jangan kau bekerja di perusahaan hasil money laundering-nya Cendana.
Siang hari kau teriak-teriak demo, sambil bawa handphone dan
fasilitas uang cipratan hasil penjualan senjata internasional yang memerlukan pasar
konflik di Timur Tengah dan Indonesia Raya dengan kamuflase demokratisasi, HAM,
dan otonomi daerah.

Kalau engkau dan para aktivis pahlawan-pahlawanmu itu berteriak : "Adili Suharto!",
"Berantas KKN!" dan seterusnya, apakah karena engkau berpikir hukum, ataukah karena
diam-diam engkau menyimpan ucapan, "Mestinya aku dong yang kaya raya seperti
Suharto.... Bukankah pemerintah dan wakil-wakilmu sekarang melakukan hal yang sama
persis, bahkan lebih parah, dibanding pelaku-pelaku era yang mereka kutuk?

Sebagian dari kita mungkin diuji oleh Allah. Kalau diuji, berarti disediakan derajat yang
lebih tinggi. Atau mungkin di banyak konteks, kita memang dihukum oleh Tuhan. Di-
adzab.

Tetapi, adakah orang yang keberatan dengan adzab Allah ? Bukankah engkau masih terus
bergembira ria dengan proyek-proyek dulinan, produk-produk picisan main-main,
tayangan-tayangan senang-senang, pemuatan gambar dan berita celelekan ?
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 40
Tetapi, sementara ini bergembiralah karena rahmat Tuhan memang berbeda dengan
barokah-Nya. Rahmat itu universal. Silakan maling dan korupsi, Anda tidak dihalangi
oleh Allah untuk tetap merasakan enaknya makan sate, nikmatnya memangku hostes dan
nyamannya mengambil uang rakyat di kas kantor. Rahmat itu diperuntukkan bagi siapa
saja, kiai, maling, pengojek, pencopet, mubalig, pelacur. Siapa pun.

Barokah tidak demikian. Silakan, sukses kaya raya berkuasa di muka bumi dan saya tidak
akan mengatakan kepada Anda "belum tentu hidup Anda barokah" karena Anda toh tidak
membutuhkan barokah. Bahkan, Anda belum tentu butuh Tuhan. Ngaku saja : kalau
Tuhan membebaskan Anda dari shalat, puasa, berbuat baik dan seterusnya, Anda senang
kan ? Shalat dan ibadah itu tidak enak bagi kebanyakan kita. Maka, kalau Tuhan kasih
tulisan di langit "Mulai hari ini Kubebaskan kalian dari kewajiban shalat ! ", kita akan
bersorak-sorai dan pesta-pora.

Bahkan, kalau Tuhan tidak ada, malaikat tidak ada, surga tidak ada, Nabi dan Agama
tidak ada asalkan Anda punya uang banyak : Anda mau kan?

Tolong sebut beberapa jenis perilaku pemerintah, wakil rakyat, dan masyarakat kita
dewasa ini yang bisa dijadikan Allah alasan untuk menyelamatkan kita. Bahkan,
persyaratan untuk hancur lebur sudah sempurna kita miliki. Al'afwu minkum.

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 41
Pengirim : Aris aris.priyanto@sugity.co.id
Tgl. Email : 14-01-2008

Awas Pencuri Waktu !
KH Abdullah Gymnastiar

"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan terlena oleh angan-
angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)." [Q.S.
Al Hijr(15): 3]
Beruntunglah bagi siapapun yang menyadari bahwa waktu adalah modal kita dalam
mengarungi kehidupan di dunia ini. Dan lebih beruntung lagi bagi siapapun yang
dikaruniakan kemampuan oleh-Nya menjaga dan mengoptimalkan waktu untuk
kepentingan dunianya sehingga menjadi manusia unggul, dan akhiratnya sehingga
memperoleh jannah. Sungguh, orang-orang yang bodoh, yang rugi, yang celaka adalah
orang yang diberi modal hidup berupa waktu, kemudian dengan modal itu sia-siakan
tiada guna, naudzubillah. Dalam keseharian kehidupan kita, terkadang kita ini memang
lucu, lebih sibuk menjaga sendal jepit karena takut hilang dicuri orang daripada sibuk
menjaga amanah waktu. Kita juga sering kecewa berat dengan hilangnya barang yang
kita miliki, dan anehnya jarang merintih sedih karena kehilangan waktu. Padahal uang
ataupun barang yang hilang selain akan mudah dicari , juga akan dengan mudah
didapatkan kembali. Semahal apapun harganya, tidak seberapa bila dibandingkan dengan
harga waktu yang tidak ternilai harganya dan tidak akan pernah kembali lagi.
Sungguh seringkali kita secara sadar atau tidak, membiarkan waktu yang sangat berharga
dicuri oleh hal-hal, kejadian, atau barang yang remeh tak berharga. Padahal Alloh SWT
berfirman, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, Yaitu …orangf-
orang yang berjuang menjauhkan diri dari (perbutan dan perkataan) yang tiada berguna."
[Q.S. Al Mukminun (23):1 3]. Berikut ini adalah beberapa hal yang seringkali mencuri
waktu kita.

Obrolan Sia-sia
Berbincang-bincang adalah bagian dari nikmat Alloh yang harus kita syukuri sepanjang
dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bgai dunia dan akhirat. Tapi sebaliknya
akan sangat mencelakakan andaikata tidak dengan niat yang benar, cara yang benar , dan
isi yang benar. Oleh karena itu, setiap kita berbicara harus terkendali dengan baik, penuh
kesadaran , dan harus berani menghentikannya tatkla obrolan sudah tidak bermutu dan
tidak bermanfaat. Kapanpun dan dimana pun , termasuk ketika kita sedang nikmat-
nikmatnya berbicara. Cut dan segera hentikan semua obrolan sia-sia kita. Ingat dan
waspadalah pada jebakan kenikmatan yang bisa membuat lupa diri dan lalai Rasullulah
mengingatkan kita bahwa , "Baiknya Islam seseorang adalah manakala ia meniggalkan
sesuatu yang tidak bermanfaat" (Al Hadis) Artinya, kualitas Islam seseorang itu terletak
sejuh mana kemampuan ia meninggalkan hal yang sia-sia.

Acara TV dan Radio
Tidak ada salahnya kita menonton TV atau menyimak acara radio. Yang salah adalah
andaikata kita ditipu mentah-mentah oleh acara murahan dan tak bernilai, yang pada
akhirnya akan menguras waktu produktif dan waktu potensial untuk masa depan kita.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 42
Oleh karena itu berpikirlah , dan hitunglah untung ruginya, manfaat serta madharatnya,
janagn terbius oleh sru, tegang, dan menarinya jalan cerita. Berdisiplinlah dalam
menonton TV atau menyimak acara radio. Pastikan bahwa kita sudah memprogramnya
terlebih dahulu, pilihlah hanya yang benar-benar bermanfaat dan dapat
dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh SWT. Percayalah bahwa tidak akan pernah ada
habisnya kalau kita sekedar mengejar dan memuaskan kesenangan dengan menonton TV
dan menyimak acara radio yangn kurang bermanfaat. Tampaknya memang seperti yang
menyenangkan, tapi sesungguhnya kerugian akibat waktu yang tercuri sungguh
sangat menyedihkan.

Hobby Tiada Arti
Andaikata kita sedang melakukan hal-hal yang kita senangi niscaya tak akan terasa lelah,
malas ataupun bosan. Selalu saja energi dan semangat kita begitu melimpah-ruah,
meluap-luap, dan berkobar-kobar sehingga bisa melumat apapun yang menghalangi.
Jikalau yang kita senangi adalah sesuatu yang disenangi Alloh SWT dan juga jelas
bermanfaat bagi kepentingan dunia dan akhieat kita , maka Hal ini adalah suatu
keberuntungan besar. Tapi andaikata hobby kita bagi akhirat nanti , maka sudah
seharusnya kita memiliki keberanian untuk menghentikannya dan menggantinya dengan
kesukaan yang dipastikan bermutu dan memiliki manfaat yang besar. Selalulah
pertanyakan pada diri kita ini, apa hobby kita? Berapa waktu kita yang terkuras? Apakah
manfaatnya bagi lingkungan dunia , dan akhirat kita? Apakah kerugiannya Adakah
alternatif hobby bagi kita yang lebih baik ? Sungguh hanya kejujuranlah yang akan
menjadikan jawaban pertanyaan-pertanyaan kita ini bermanfaat. Evaluasilah selalu hobby
yang kita tekuni saat ini seobjektif mungkin, sebab inilah sebagian dari pencuri waktu
kita. Wallahu a’lam Keisengan dan Kesenangan Tak Berarti Pada waktu kita sedang
mengerjakan sesuatu sesuai dengan yang telah direncanakan, seringkali terjadi gangguan
baik dari yang kita lihat maupun yang kita dengar. Hal ini biasanya terjadi karena yang
kita lihat atau yang kita dengar itu sesuatu yang menarik perhatian, yang akhirnya
membelokkan fokus pikiran sehingga pekerjaan utama menjadi terabaikan karena
terselingi dengan pekerjaan lain yang tidak direncanakan sebelumnya itu. Andaikata kita
tidak segera meyadari hal yang sering terjadi pada diri kita ini, maka dapat dipastikan,
selain tujuan begitu lambat dicapai hasilnya pun tidak akan memuaskan atau bahkan akan
menjadi gagal total. Sebagai contoh , pada saat libur kerja atau sekolah, kita erencanakan
untuk merapikan kamar tidur kita. Maka,saat hari libur tiba, dimulailah rencana tersebut.
Mata pun tertuju pada lemari pakaian sudut kamar. Langkah pertama yang dilakukan
adalah membongkar seluruh pakaian dan dikeluarakan semuanya. Saat dibongkar itulah
ditemukan album kenangan lama yang isinya berserakan dan kurang terawat,sesaat
kemudian kita sibuk melihat-lihat foto dan ingin segera merapikannya.

Terlintaslah dalam pikirannya bahwa agar album foto ini tampil lebih menarik tentunya
harus ada variasi isi dari guntingan majalah dan koran atau gambar hiasan lainnya . Maka
dicarilah majalah atau koran. Sesudah mencari kesana kemari, maka ditemukanlah
majalah serta koran yang dimaksud, dilihat-lihatnyalah isi dari beberapa majalah dan
koran tersebut. Ternyata isinya terdapat banyak artikel-artikel dan cerpen-cerpen yang
sangat menarik lalu dibacanyalah sampai tuntas. Disamping terdapat artikel menarik, ada
pula resep makanan favorit yang nampak akan begitu lezat dan nikmat, apalagi hari
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 43
nsudah menunujukkan waktu makan siang. Maka terbayanglah untuk memasak terlebih
dahulu sesuai resep yang ada dimajalah. Berangkatlah ia ke dapur dan silahkan ayangkan
sendiri hasil yang didapat dari pekerjaan orang yang tidak disiplin terhadap rencananya
ini.

Lamunan sia-sia
Hati-hati dengan lamunan. Dan perlu diingat, ada yang dinamakan berpikir dan ada yang
dinamakan melamun. Tentu saja keduanya sangat jelas beda dan juga hasilnya. Lamunan
adalah melantunya pikiran , melambung tidak terarah jelas, tidak sesuai realitas , dan
tidak berpijak pada keadaan dan kenyataan yang sebenarnya.

Terkadang mesum memalukan, terkadang tentang hasil yang mustahil dan tidak
memungkinkan , terkadang mendramatisir sehingga sengsara dan nelangsa sendiri.
Pendek kata lamunan benar-benar pencuri waktu yang banyak dinikmati orang-orang
malang. Adapun berpikir adalah kebalikan dari lamuanan, yaitu berupa proses bekerjanya
otak secara terarah dalam memikirkan bagaimana menggapai suatu tujuan sesuai potensi,
realitas, dan kenyataan yang ada di lapangan. Untuk itu, kendalikan diri dalam
berimajinasi.

Alloh SWT dalam hal ini mengingatkan kita hamba-Nya, "Biarkanlah mereka (didunia
ini) makan dan bersenang-senang dan terlena oleh angan-angan (kosong), maka kelak
mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)." {Q.S Al Hijr(15):3} Demikian
tegas peringatan Alloh, maka selalulah pikiran kita berpijak pada keadaan dan kenyataan.
Buatlah struktur pemikiran yang jelas ujung pangkalnya dan bisa disusun menjadi sebuah
rencaan yang bisa direalisasikan, Insya Allah tidak akan merugi.

Hati yang busuk Jika kita termasuk seorang hamba yang berhati bersih maka kita
termasuk golongan hamba Alloh yang sangat beruntung. Tapi jika sebaliknya, justru kita
memiliki hati yang busuk , naudzhubillah, maka ini adalah suatu yang benar-benar
celaka. Sebab orang-orang yang berhati busuk , waktunya , pikirannya, tenaganya,
kebahagiaannya, dan hartanya sungguh akan terkuras untuk meladeni perasaan busuknya.
Malam hari sulit tidur apalagi untuk tidur nyenyak karena sangat sibuk membayangkan
dan membuat rencana busuk. Sedangkan disepanjang hari hatinya penuh kedongkolan ,
makan tak enak , dunia seakan menjadi sempit sesak karena tak mau bertemu denagn
yang didongkolinya. Wajahnya pun akan bermuram durja, kata-katanya penuh sumpah
serapah serta kotor menjijikkan. Silahkan anda hitung sendiri berapa waktu dan energi
yang habis untuk memikirkan keburukan seseorang yang dibencinya. Belum lagi waktu
yang terkuras untuk merencanakan , menjatuhkan, dan memudarkan nama baik orang
yang dibencinya. Bagi orang yang busuk hati ia tidak akan bisa menerima segala prestasi
dan kesuksesan yang dibencinya. Dan bayangkan pula andaikata yang ia dengki, yang ia
dendami justru sedang tidur nyenyak, makan enak, dan tertawa terbahak-bahak. Sungguh
rugilah oarng-orang yang membiarkan kebusukan bersarang di hatinya, sehingga hari-
harinya, waktu demi waktunya terkuras hanya untuk meladeni kebusukan hatinya ini
Naudzubillah. Wallahu a’lam (and)[manajemenqolbu.com

Aris Priyanto
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 44
Pengirim : Djoko Prabowo - AD2 djoko@capcx.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Rahmat Dibalik Cobaan
(Ridho Menerima Ketetapan Illahi)

Firman Allah SWT, pada Al-Baqarah:156-157 :
_·¦ ¦:| .±.´...¦ «.,.¯. ¦.l!· !.| ´< !.|´. «.l| _.`->´¸ ¸'' i..l`.¦ ¯..¯.l. .´.l. .
¯.±.¯¸ «.>´¸´. ..l`.¦´. `.> _...±.l¦ ¸'¯

Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : Inna lillahi wa
inna ilaihi rajiun (arti:sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami
kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari
Tuhannya, dan mereka ialah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah : 156-
157)

Tujuan musibah atau cobaan yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya adalah :
1. Untuk membersihkan dan memilih, mana orang mukmin yang sejati dan mana yang
munafik.
2. Untuk mengangkat derajat serta menghapuskan dosa.
3. Untuk melihat sejauh mana kesabaran dan ketaatan seorang hamba.
4. Untuk membentuk dan mendidik manusia, sehingga menjadi umat dgn keimanan
yang tinggi.
5. Sebagai latihan supaya manusia terbiasa menerima berbagai ujian, dengan demikian
akan bertambah kesabaran, kuat cita-cita dan tetap pendiriannya.

Bagi orang yang terkena musibah, hendaklah ia kembali kepada kalimah yang penuh
dengan arti kebaikan dan keberkahan, sebab firman Allah SWT : “Inna Lillahi”
mengandung arti ketauhidan serta pengakuan akan kehambaan, sedangkan firman-Nya :
“Wa inna ilaihi raji’un” adalah sebagai pengakuan, bahwa Allah-lah yang menjadikan
kita binasa dan Dia pula yang akan membangkitkan kita kembali.

Obat Bagi Orang yang Terkena Musibah
Firman Allah SWT, yang artinya :“Berilah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar, yaitu orang-orang ketika ditimpa musibah, mereka berkata :”Sesungguhnya kita
adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali” (Al-Baqarah : 155-156).

Ayat diatas mengandung dua perkara yang sangat besar :
Pertama, orang yang ditimpa musibah akan menyadari dengan sebenar-benarnya bahwa
dirinya, keluarganya, hartanya, anaknya adalah milik Allah SWT.
Kedua, sesungguhnya asal diri seorang hamba dan kembalinya adalah kepada Allah SWT
semata.

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 45
Beberapa cara untuk menyembuhkan perasaan susah ketika ditimpa musibah adalah:

1. Hendaklah selalu memperhatikan Al-Quran dan Sunnah, yaitu memperhatikan
apa yang terkandung dalam firman Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya, dimana
Allah SWT akan memberikan pahala yang sangat besar terhadap orang yang sabar
dan rela menerima cobaannya. Disamping itu, orang yang terkena musibah
sebaiknya memandang/ mengingat orang lain yang senasib dengannya dan juga
orang lain yang mengalami cobaan yang lebih berat.
2. Selalu melihat dengan mata hati, bahwa sesungguhnya kepahitan yang dialami di
dunia ini adalah kemanisan di alam akhirat dan kemanisan di dunia adalah
kepahitan di akhirat.
3. Selalu memohon kepada Allah SWT dan bertawakal kepada-Nya. Bagi orang
yang terkena musibah, hendaklah ia memohon pertolongan dari Allah SWT dan
bertawakal kepada-Nya, serta melihat keagungan-Nya, termasuk juga memohon
pertolongan dalam menghadapi musibah dengan penuh kesabaran dan senantiasa
mengerjakan sholat.
4. Selalu mengingati musibah lama dan mengulangi ucapan Inna Lillahi Wa inna
ilaihi raji’un.
5. Hendaklah selalu membedakan dua macam kenikmatan, yaitu kenikmatan di
dunia yang fana dan kenikmatan di akhirat yang kekal abadi.
6. Hendaklah selalu menguatkan keyakinan diri dengan menyadari bahwa semua
musibah adalah kehendak Allah dengan tujuan untuk menguji ketabahan serta
keikhlasan hati seseorang saat menerima musibah.
7. Hendaklah menyadari bahwa dunia adalah tempat cobaan.
8. Memohon kepada Allah SWT dari godaan syaitan.
Bagi orang yang dalam keadaan sakit atau kesusahan lainnya, syetan akan selalu
berusaha mengganggu dan membisikkan dengan berbagai macam godaan. Tujuan
syetan berbuat demikian agar seseorang merasa marah kepada Allah SWT dan
enggan utk bertemu denga-Nya.bahkan sangat diinginkan oleh syetan, agar keluar
ucapan atau ungkapan dari mulut seseorang, kata-kata kemarahan serta kata-kata
ketidakrelaan lainnya. Jika ini berhasil, syetan akan sangat bergembira karena
telah berhasil menggoda dan menyesatkan orang tersebut.
9. Menyadari hikmah musibah, dimana jika di dunia tidak ada musibah atau cobaan
yang diberikan Allah, pastilah manusia akan dihinggapi penyakit sombong,
berkuasa bahkan keras hati.
10. Senantiasa mengobati diri dengan ajaran agama. Dalam menghadapi musibah,
siapkan diri dengan pengetahuan keagamaan yang baik. Dengan pengetahuan
agama yang baik dan dengan keimanan yang tinggi. Pada waktu ditimpa musibah
walau bagaimanapun besarnya, ia tidak akan melakukan hal yang tidak terpuji dan
mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.
11. Selalu berzikir kepada Allah SWT
Bagi orang yang terkena musibah, baik musibah tersebut menimpa dirinya,
anaknya atau keluarganya, hendaklah ia memperbanyak berzikir kepada Allah
SWT buka dengan mengeluh dan sikap negatif lainnya.
12. Menyadari bahwa keluh kesah akan menambah musibah.
Bagi orang yang ditimpa musibah hendaklah menyadari bahwa jika ia berkeluh
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 46
kesah, akan membuat musuh-musuhnya merasa gembira, juga syetan akan
menggodanya utk makin berkeluh kesah serta Allah SWT akan murka kepadanya
bahkan pahalanya akan terhapus.
13. Menyadari bahwa Allah SWT tidak mengecewakan hamba-Nya.
Bagi orang yang ditimpa musibah hendaklah menyadari bahwa apabila ia sabar
serta penuh keimanan kepada Allah SWT dan mengharapkan gantinya kepada
Allah SWT terhadap sesuatu yang hilang darinya, niscaya Allah tidak akan
mengecewakan harapannya itu.
14. Mencontoh orang yang tabah pada waktu menerima musibah.
Orang-orang yang kuat keimanannya akan meyakini betapa besarnya pahala bagi
orang yang tabah dalam menerima cobaan dari Allah SWT. Dan Allah SWT akan
sangat menyayangi hamba-Nya yang tabah menerima musibah
Kembalikan dan pasrahkan semuanya kepada Allah SWT….Insya Allah kita
menjadi orang yang selalu di jalan-Nya…….untuk menggapai surga-Nya.

Sumber : Taushiyah-online.com
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 47
Pengirim : bobby_hero77 bobby_hero77@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Jangan Mengeluh, Pertolongan Allah Pasti Datang!

Dalam menjalani hidup yang digariskan Allah Swt mungkin ada getir yang kita rasakan.
Seperti hidup yang kadang terasa manis, maka kegetiran menjadi sebuah keniscayaan.
Hal yang terbaik adalah senantiasa ridha atas ketetapanNya, dan berbuat yang terbaik
untuk mendapatkan keridhaanNya. Bukan mengeluh, sebab hanya mereka yang tak
beriman yang senantiasa putus harapan. Seperti kaum muslimin yang menjalani perang
Khandaq dalam ayat 214 surat Al Baqarah di muka. Dalam kondisi paling kritis pun,
seorang muslim tidak boleh memiliki prasangka buruk terhadap Allah, apalagi mengeluh
terhadap kondisi yang berlaku. Ketahuilah pertolongan Allah sungguh amat dekat! Sore
itu Rabu, tanggal 27 Juni 2007 ada sebuah sms masuk ke hp ustadz Burhan. Sms itu
berasal dari Abdul Majid rekannya dan berbunyi: NANTI MALAM SAYA MAU KE
RUMAH BA'DA MAGRIB, BOLEH GA?

Sang ustadz menjawab: BOLEH, TAPI JANGAN BA'DA MAGRIB. ABIS ISYA AJA
YA.... DITUNGGU!
Abdul Majid membalas lagi: JGN DITUNGGU, KARENA MAU "NGEREPOTIN".
ANGGAP AJA DATENG MENDADAK!

Ustadz Burhan tidak membalas sms terakhir dan benar saja begitu shalat Isya telah
didirikan, Abdul Majid pun datang ke rumah Ustadz. Abdul Majid datang ke rumah
Ustadz Burhan dengan tampang kusut. Sepertinya dia lagi banyak masalah. Biasa orang
sekarang, Hidup sarat dengan masalah! Saking pusing dengan masalahnya ia langsung
berkata kepada ustadz dan masuk rumahnya tanpa salam: "Bang Haji, tolongin saya
dong pinjemin duit barang tiga juta setengah... Saya lagi pusing nih!"

"Emangnya ada apa Majid?" sang ustadz bertanya balik. Setahu ustadz Burhan, Abdul
Majid adalah anak yang baik. Dia baru berumur 27 tahun dan belum menikah. Meski
demikian, Abdul Majid mau memikirkan nasib anak-anak yatim di kampungnya, dan ia
pun mendirikan sekolah gratis untuk mereka. Abdul Majid di kampungnya dikenal
sebagai tuan guru. "Begini... saya pernah janji sama anak-anak di sekolah bahwa kalau
mereka lulus ujian akhir tahun ini saya mau ajak mereka jalan-jalan ke Jakarta. Semalam
saya sudah lihat raport mereka semua. Alhamdulillah mereka lulus! Tapi tiba-tiba saya
terbayang janji saya tempo hari. Malam tadi saya kalkulasi, keperluan jalan-jalan adalah
tiga setengah juta. Hari Jum'at raport dibagiin dan Sabtu saya mau ajak mereka semua
jalan-jalan.... Tolong dong bang haji, pinjemin saya duit tiga setengah juta!" Ustadz
Burhan hanya tersenyum mendengar penuturan Abdul Majid. Tulus sekali anak ini,
gumamnya. Demi kepentingan anak-anak yatim sampai sedemikian hebatnya ia
memikirkan.

Sambil tersenyum dan menghibur Ustadz Burhan bilang kepada Abdul Majid:
"Begini.... urusan tiga setengah juta gampang nyarinya. Asal elo dan gua malam ini dan
besok mau ngerjain tiga hal: 1) Tahajud malam ini. 2) Berdoa sungguh-sungguh sama
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 48
Allah agar Dia mau kasih duit sejumlah itu, dan 3) Punya duit berapa sekarang di
kantong?"

Kalimat terakhir Ustadz Burhan mengagetkan Abdul Majid. Dengan keheranan ia
bertanya, "Ada sih 250 ribu..!""Boleh gak disedekahin 100 ribu?!" ustadz Burhan
bertanya.

Sambil keheranan Abdul Majid bertanya, "Disedekahin ke Antum?" "Nggak.... sedekahin
aja kemana ente mau! Insya Allah kalo tiga hal ini elo kerjain, Allah bakal ngedatengin
uang yang kita perluin. Asal kita yakin Allah bakal nolong!" Pembicaraan antara dua
hamba Allah pun terus berlangsung. Hingga waktu menunjukkan lebih dari jam 9 malam.
Ustadz Burhan pun menyuruh Abdul Majid pulang.

Namun Abdul Majid belum mau berdiri dari kursi. Maka ustadz pun masuk kamar.
Sejurus kemudian dia membawa 5 lembar uang limapuluh ribuan. Uang itu diberikan
kepada Abdul Majid dan ia pun menghitungnya.Abdul Majid mengira bahwa
keperluannya sebesar tiga juta setengah akan ditutupi oleh ustadz. Matanya berbinar saat
melihat ustadz membawa lembaran kertas berwarna biru itu. Kelima lembar uang itu
dihitungnya dihadapan ustadz. Usai menghitung Abdul Majid berkata, "Kok Cuma dua
ratus lima puluh ribu doang?" Ia bertanya keheranan, mungkin jumlah yang ia dapati jauh
dari harapan."Iya... itu cuma segitu doang. Mudah-mudahan itu jadi pancingan. Yang
penting jangan lupa tiga hal tadi. Insya Allah pasti akan ada pertolongan!" Ustadz Burhan
coba menegaskan. Tapi Abdul Majid masih belum merasa yakin. Meski sudah diantar
hingga ke halaman oleh Ustadz Burhan, ia masih bertanya, "Emangnya bener kalo saya
kerjain 3 hal tadi, saya bisa dapat duit Jum'at pagi?" Terlihat raut kebimbangan pada
wajah Abdul Majid.

"Jangankan Jum'at pagi, besok pagi pun kalo Allah mau pasti uang itu bisa kite dapetin.
Yang penting yakin dan kerjain aja 3 hal itu!" Ustadz Burhan sekali lagi meyakinkan.
Akhirnya Abdul Majid pun pulang bersama sepeda motornya.Kamis siang pukul 13
tanggal 28 Juni 2007, Abdul Majid mengirim SMS ke nomer ustadz Burhan. Sms itu
berbunyi: ASSALAMU'ALAIKUM. SUDAH SIANG GINI SAYA BELOM DAPET 3,5
JT. PADAHAL SUDAH SHODAQOH. ADA CARA LAIN GA?

Dari sms itu, Ustadz Burhan tahu bahwa Abdul Majid sedang panik. Maka beliau pun
membalas: KALO UDAH SEDEKAH, SEKARANG DOA AJA YANG SUNGGUH-
SUNGGUH DAN BERTAWAKKAL. PASTI ALLAH TOLONG! Lama tidak ada
balasan sms dari Abdul Majid. Ustadz mengira bahwa Abdul Majid sudah mendapat
pertolongan atas masalahnya. Namun pukul 19:56 ada sebuah sms lagi dari Abdul Majid
masuk ke hpnya: ASTAGFIRULLAHAL'ADZIM. KIRA2 SAYA DOSA APA YA?
DO'A SAYA GAK DI QOBUL.

Menerima sms itu Ustadz Burhan turut merasa panik. Besok pagi padahal sudah hari
Jum'at. Hal yang membuat panik sang ustadz adalah bahwa dirinya telah menggiring
Abdul Majid untuk masuk ke jalan Allah Swt demi menyelesaikan permasalahannya.
Ustadz Burhan khawatir, andai saja pertolongan Allah itu tidak datang, pasti keyakinan
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 49
Abdul Majid kepada Allah Swt akan berkurang. Lama Ustadz Burhan berdoa kepada
Allah Swt agar dia berkenan memudahkan urusan Abdul Majid. Usai hatinya tenang,
sang ustadz membalas sms dengan menuliskan: ALLAH GAK BUTA & TULI. DIA
NGELIAT DAN NGEDENGER APA YANG KITA PERLUIN. TERUS SAJA
BERDOA DAN TAWAKKAL! SAYA JUGA BERDOA SEMOGA URUSAN INI
AKAN DPT PERTOLONGAN.

Abdul Majid tidak membalas sms. Ustadz Burhan mengira jangan-jangan dia sudah tidak
percaya lagi dengan kekuatan doa. Maka Ustadz Burhan pun terus mendoakan Abdul
Majid dan urusannya.Hingga saatnya kira-kira pukul 9 pagi di hari Jum'at. Ustadz Burhan
mendengar suara dering masuk di hpnya. Namun karena beliau sedang berada dalam
kendaraan umum, maka hp itu tidak diangkatnya. Tepat beberapa langkah setelah beliau
turun dari metro mini yang ditumpanginya, sekali lagi hpnya berdering. Beliau tidak
sempat melihat nomer penelpon pada display hp. Belum lagi beliau berucap salam,
terdengarlah suara yang begitu riang di seberang: "Bang haji.... Alhamdulillah,
Alhamdulillah! Ini Majid, saya sudah dapat duit tiga setengah juta itu. Bukan pinjem lagi,
kebetulan ada orang ngasih... Alhamdulillah!"

Mendengar suara gembira itu, ustadz Burhan turut bersyukur. Beliau pun bertanya,
penasaran "Bagaimana ceritanya bisa dapet duit itu?" "Entar saya datang ke rumah bang
haji deh.... Biar bisa cerita selengkapnya. Sekarang saya mau pulang ke kampung dulu,
ngejar pembagian raport. Mudah-mudahan besok pagi bisa bawa anak-anak main ke
Jakarta!"

Telepon itu pun ditutup dengan diakhiri suara nada riang Abdul Majid. Kini tinggal,
ustadz Burhan bertanya-tanya darimana Allah mendatangkan pertolongan itu?
Belakangan beliau tahu dari seseorang bahwa bupati dimana Abdul Majid berada
memberikan bantuan kepada sekolahnya persis sebesar uang yang dibutuhkan oleh
Abdul Majid. Sungguh pertolongan Allah akan datang, maka janganlah mengeluh!

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Razin disebutkan, <Karakter tidak
dikenali> "Tuhanmu merasa heran dengan keputus-asaan hambaNya padahal
pertolonganNya sudah amat dekat. Maka Allah memandangi hamba-hambaNya yang
berputus asa. Dia terus tertawa memandangi hamba-hambaNya padahal Dia amat tahu
bahwa pertolongannya begitu dekat." Tafsir Ibnu Katsir.

Bobby Herwibowo
www.kuwais.multiply.com
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 50
Pengirim : sri mulyani alzrie98@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

"Arjuna dan Sang Bidadari"
sumber : dudung.net

Namanya Arjuna, persis nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan. Tapi ia tak
tampan, tak gagah. Apalagi digila-gilai oleh wanita. Arjuna yang ini hanya seorang
penjual ulat sebagai pakan burung yang penghasilannya tidak menentu. Tinggalnya di
sebuah rumah sederhana dengan ibundanya yang sudah berusia 70 tahunan. Sejak usia 2
tahun Arjuna menderita lumpuh. Penyebabnya adalah demam yang sangat tinggi yang
kemudian merusak syarafnya.

Arjuna kini sudah 40 tahun dan tetap lumpuh. Ia pun masih tetap ulet menjalankan
profesinya. Sejak beberapa waktu yang lalu ia mempunyai kegemaran baru, suka
mengikuti pengajian dari masjid ke masjid. Dari pengembaraannya itu akhirnya ia jatuh
cinta pada sebuah masjid di sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kyai
yang masih muda dan berkharisma.

Pagi itu Arjuna tampak rapi dan wangi. Ia menggunakan baju terbaiknya, sebuah baju
koko berwarna putih yang dimintanya pada sang ibu untuk disetrika licin-licin. Ia sudah
siap menuju pengajian di pondok pesantren. Jaraknya lumayan, dari Jl. Pendawa Dalam,
Bandung, ke daerah Gegerkalong Girang. Apalagi bagi seseorang yang tak berfisik
sempurna seperti Arjuna, jarak itu terasa lebih dari sekedar lumayan.

Arjuna merangkak di depan rumahnya, lalu dengan suara cadelnya berteriak memanggil
becak di ujung jalan. Sang tukang becak pun tanggap dengan panggilan Arjuna. Ia
mafhum, Arjuna pasti akan pergi ke pondok pesantren.

Arjuna duduk manis di dalam becak, hingga sampai ke jalan besar. Di jalan besar, sang
tukang becak membantu memanggilkan taxi. Satu taxi lewat, taxi berikutnya juga, dan
berikutnya, lalu berikutnya. Arjuna tetap duduk manis di dalam becak, tersenyum.
Keringat mengucur di tubuh sang tukang becak yang tampak sedikit kesal tidak satu pun
taxi yang mau berhenti.

Membawa Arjuna sebagai penumpang taxi memang berbeda. Sang sopir taxi harus rela
membantu menggendongnya. Maka tak heran kalau tak semua sopir taxi mau. Tapi Allah
selalu memberikan pertolongan-Nya. Sebuah taxi meluncur pelan dan berhenti. Sampai di
pondok pesantren Arjuna disambut oleh beberapa orang jemaah. Ia sama sekali tak
dipandang sebelah mata. Justru banyak orang yang sayang padanya, termasuk sang kyai.

Ceramah pun dimulai. Seperti kali yang lalu. kali ini Arjuna tak mampu membendung air
matanya. Semangatnya membara. Bukan hanya itu bahkan bergejolak. Bagai sebuah
handphone yang perlu di-charge, inilah saat-saat Arjuna menge-charge jiwanya. Total
biaya Rp.50.000,- yang harus ia keluarkan untuk pulang pergi ke pondok pesantren,
serasa tak ada harganya dibanding dengan setrum yang menyulut dirinya. Ajuna jadi
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 51
lebih semangat bekerja, lebih semangat mengumpulkan uang untuk bisa datang ke
pengajian.

Arjuna sekarang jadi rajin ibadah malam. Sifat pemarahnya mulai hilang, jadi lebih sabar
dan optimis. Pelan-pelan keinginan itu muncul. Suatu keinginan yang sama sekali tak
pernah berani untuk ia mampirkan walau sekilas di kepalanya.

"Ibu, Arjuna kepingin kawin!" Suara cadel Arjuna bagai geledek yang memecah
kesunyian malam di telinga sang ibu.

"Arjuna enggak mimpi kan?" sang ibu bertanya sambil menguncangkan tubuh Arjuna
yang tergolek lemah di tempat tidur.

" Eh ibu, Arjuna mah bangun. Ini enggak mimpi. Sungguhan, Arjuna kepingin kawin."

Sang ibu menelan ludahnya beberapa kali, miris. "Jang, kamu teh mau kawin sama
siapa?"

"Nggak tau. Tapi Arjuna sudah minta sama Allah."

Mata sang ibu hampir-hampir tak kuat membendung air mata yang hendak tumpah.
"Bener atuh, kalau memohon ya sama Allah."

Sang ibu bingung apa yang harus ia lakukan. Menghibur Arjuna dan membangun mimpi-
mimpi indah yang kosong melompong. Atau membuatnya melek melihat kondisi
cacatnya. Tapi itu sama saja artinya dengan menghempaskannya ke jurang dalam. Sang
ibu cuma bisa menyerahkan pada Allah, apapun kehendak-Nya.

Malam purnama. Arjuna baru saja selesai sholat tahajud. Ia merenungi keinginannya
yang mulai menjadi azzam. Pikirannya berkecamuk. "Tapi, kalau nanti punya istri pasti
biaya akan bertambah. Sekarang saja hidup sudah pas-pasan. Ah, rejeki kan sudah diatur
oleh Allah, tinggal kita yang harus ikhtiar. Tapi, mau nikah sama siapa. Eh, iya ya. Siapa
yang mau sama saya yang jalan aja mesti merangkak, mau ke mana-mana mesti digotong.
Ah, itu kan sama juga, jodoh sudah diatur sama Allah. Tinggal ikhtiar saja. Besok saya
akan bilang sama Pak Kyai, minta dicarikan istri."

"Pak Kyai, saya kepingin kawin!"

Pak Kyai itu pun kaget tak beda seperti ekspresi sang ibu ketika mendengar ucapan
Arjuna. Dengan sabar Kyai berkata, "Wah bagus itu. Menikah kan sunnah Rasulullah,
apalagi kalau niatnya untuk ibadah."

"Iya, iya, saya kepingin kawin karena kepingin ibadah. Kepingin punya anak-anak yang
normal dan berjuang di jalan Allah."

"Arjuna mau menikah dengan siapa?"
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 52
"Saya ingin minta dicarikan sama Pak Kyai."

Pak Kyai pun menggaruk-garuk kepalanya. Bukan amanah yang ringan. Sudah berkali-
kali ia mempertemukan jodoh diantara santri-santrinya. Diantaranya ada juga yang tidak
sekali langsung jadi. Itu pun santri-santri yang normal, tapi Arjuna...?!

Sang Kyai bukan mengecilkan arti Arjuna. Semua orang sudah ditentukan takdirnya oleh
Allah. Dan tak akan tahu takdirnya bagaimana kecuali dengan berusaha. Tapi usaha yang
harus dilakukan untuk mencari istri untuk Arjuna bukan perkara mudah. Tapi Allah
berkehendak lain. Sang Kyai akhirnya menemukan sang gadis.

Gadis itu normal, juga sholehah. Ia salah satu jamaah yang kerap mengikuti pengajian
Kyai. Kyai mengucap syukur yang tiada tara, karena akhirnya gadis itu mengucapkan
kesediaannya menikah dengan Arjuna.

Ina, gadis itu, jelas-jelas tahu Arjuna yang akan dinikahinya berfisik tak sempurna.
Sangat jauh dari gambaran tokoh Arjuna yang ada di lirik lagu.

"Kenapa Ina mau menikah dengan Arjuna?" tanya sang Kyai. "Ina sudah tahu apa
resikonya? Apa yang akan dihadapi di kemudian hari?"

"Niat saya cuma ingin mencari keridhoan Allah. Saya ingin menjadi bidadari di syurga
nantinya," kata sang gadis dengan mantap.

Pagi hari di bulan Agustus 2002 itu seakan bersinar lebih cerah dari biasanya bagi
Arjuna. Sebelum berangkat, ia menangis. Bukan sedih, justru kebahagiaan luar biasa
yang tak terbendung. Suatu keajaiban yang tak pernah ia bayangkan akan terwujud.
Mulanya hanya sebuah keinginan, lalu menjadi tekad, dan kini menjadi nyata. Allah
mengabulkan permohonannya.

Terbata-bata Arjuna mengucapkan ijab kabul. Bukan karena grogi, tapi karena memang
ia kesulitan mengucapkan kata-kata. Dua ratus pasang mata ikut berlinangan airmata, tak
kuasa menahan haru yang tiba-tiba menyeruak. Arjuna menyerahkan mas kawin berupa
23 gram emas kepada istrinya. Lalu Arjuna bersujud di hadapan ibunya, menangis
tersedu-sedu.

Di hadapan para tamu, sang Kyai berkata, "Kita harus banyak belajar dari Arjuna,
seseorang yang diberi ujian berupa kekurangan fisik dari Allah, namun tidak takut dan
berani mengambil keputusan terhadap masa depannya. Arjuna adalah contoh seseorang
yang berserah kepada Allah, yakin akan rejeki yang sudah ditetapkan-Nya. Semoga Allah
memberkahi pasangan pengantin ini, menjadikannya sakinah, mawadah, warrahmah."
Doa sang Kyai ini pun di amini oleh para tamu walimah.

Arjuna memandangi istrinya penuh haru. Ina baru saja selesai mencuci baju. Arjuna
senang sekali, kini ia tak lagi mencuci baju sendiri seperti ketika bujangan dahulu. Ina
juga selalu merawat dengan penuh ikhlas dan telaten. Seorang gadis telah Allah kirim
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 53
untuk menjadi pendampingnya di dunia. Arjuna berharap Ina juga akan menjadi
bidadarinya di surga nanti. Insya Allah.

(inspired by true story of Sugiarto & Kusminah, jamaah Daarut Tauhiid Bandung)
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 54
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Kekuatan Membangun

Pada suatu hari ada seorang teman mengajak saya untuk berziarah ke satu makam.
Ditengah perjalanan saya sempat bertanya padanya siapa yang hendak diziarahinya,
apakah masih kerabat. Ternyata bukan.

Katanya, dulu saya pernah punya hutang pada almarhum karena saya tidak bisa
membayar rumah saya diambil paksa sehingga saya dan keluarga harus keluar dari
rumah. Sejak itu saya berjanji untuk tidak punya hutang lagi pada siapapun. Berkat
kejadian itu mendorong saya tidak berhutang dan bekerja keras lebih giat, alhamdulillah
semua itu membuat saya sukses seperti sekarang ini. Itulah sebabnya saya hari ini
mengajak dirimu untuk menziarahi makamnya.

Barangkali anda selama ini berpikir peristiwa yang buruk menyebabkan orang bernasib
buruk, lingkungan yang buruk membuat perilaku yang buruk juga. Dalam pandangan
Psikofitrah, ilmu yang mempelajari sunatullah dalam jiwa mengatakan setiap peristiwa
yang baik dan buruk akan selalu membawa kebaikan bagi mereka yang berpikir bahwa
didunia ini yang ada hanyalah kebaikan. Ketika anda berpikir bahwa dunia yang ada
hanyalah kebaikan maka hukum Alloh (sunatullah) yang ada pada jiwa kita hanyalah
kebaikan. Jadi apa yang anda pikirkan seperti itulah dunia sebenarnya.

Peristiwa yang buruk bagi orang yang berpikir baik maka menjadi kekuatan yang
membangun dirinya menuju kesuksesan hidup. Tapi bagi mereka yang berpikir buruk
peristiwa yang baikpun menjadi bencana dalam hidupnya. Itulah sebabnya hukum Alloh
bekerja pada apa yang dipikirkan oleh kita. Kekuatan membangun atau kekuatan
menghancurkan ditentukan oleh cara berpikir kita.

Cerita teman diatas menunjukkan bahwa peristiwa yang buruk telah membuat dirinya
menemukan kekuatan membangun, kekuatan yang membangun itulah yang
menghantarkan hidupnya menuju sukses dalam hidupnya. "Mungkin jika saya tidak
bertemu dengannya saya tidak menemukan kekuatan membangun yang ada pada diri
saya." Katanya saat sore tiba menghantarkan saya untuk kembali kerumah.

Wassalam,
Agussyafii

==============================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
http://agussyafii.blogspot.com atau sms 0888 176 48 72

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 55
Pengirim : Setianto, Budi SETIANTB@Mattel.com
Tgl. Email : 14-01-2008

Masih Malas…? JUST DO IT !
Oleh:Satria Hadi Lubis, MM, MBA

Hal yang paling menggemaskan adalah ketika Anda merasa mampu melakukan
sesuatu,tetapi belum mau melakukannya. Banyak alasan dari ketidakmauan itu, mungkin
karena kesibukan dengan kegiatan lain,belum merasa urgen, pemahaman yang rendah
terhadap manfaatnya, merasa belum memiliki kemampuan, dan lain-lain. Anda
mempunyai berbagai alasan spesifik terhadap ketidakmauan Anda untuk melakukan
sesuatu. Namun yangpaling berbahaya dari berbagai alasan itu adalah karena Anda malas
untuk memulainya. Ya, malas melakukan sesuatu merupakan dalih yang paling
berbahaya karena ia dapat membunuh potensi Anda. Ketikarasa malas muncul, Anda
akan tampil dibawah potensi maksimal, sehingga seakan-akan menjadi tidak berharga
dantidak bermanfaat di hadapan orang lain dan lingkungan Anda. Padahal Nabi saw telah
menganjurkan setiap manusiaagar bermanfaat untuk lingkungannya. "Yang paling baik
diantaramu adalah orang yang paling bermanfaat untuk oranglain" (Al Hadits).
Bermanfaat bagi lingkungan merupakan tujuan dari penciptaan manusia. "Dan tidaklah
Kami mengutuskamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" (QS. 21 :
107).

Jadi ketika keberadaan seseorang kurangdirasakan manfaatnya oleh lingkungan, maka
sebenarnya ia telah keluar dari fitrah penciptannya. Ia menjadi makhluksempalan yang
durhaka kepada Sang Pencipta. Selain itu, Allah yang Maha Tahu telah menjadikan setiap
manusiamemiliki potensi yang luar biasa, sehingga dengan potensi tersebut (tentu saja
setelah potensi tersebut berubah menjadikinerja) manusia dapat bermanfaat bagi
lingkungan dan patut dihargai oleh lingkungan. "Sesungguhnya Kami telahmenciptakan
manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan" (Q.S. At Tiin : 5). Ketika manusia tidak
mengembangkanpotensinya karena malas melakukan sesuatu, berarti ia telah melecehkan
potensinya sendiri. Dan itu berarti jugamerupakan kedurhakaan kepada Sang Pencipta,
yakni Allah SWT. Karena itu, rasa malas harus diperangi. Malasmembuat potensi
seseorang menjadi terpendam atau muncul tapi terlambat. Malas membuat seseorang
bagaikanlumpuh. Tak bertenaga dan tak berdaya untuk menghindarinya. Pikirannya
menjadi irasional, jiwanya kosong danperbuatannya menjadi tak bertanggung jawab.
Ironisnya mereka yang malas sering menghibur diri dengan mengatakan,? "suatu ketika
saya pasti akan melakukannya". Tapi nyatanya yang sering terjadi justru ia semakin
menunda-nundamelakukan pekerjaan itu. Mungkin malah sama sekali tidak pernah
dilakukannya sampai akhir hayatnya. Akibatnya,hanya penyesalanlah yang ia tuai.

Seringkali juga orang yang malas menutupi alasan malas itu dengan alasan lain yang
"elegan", sehingga terkesan bagi orang lain sebagai alasan yang logis, seperti dengan
mengatakan "saya sibukdengan urusan lain yang lebih penting", "saya menunggu waktu
yang tepat untuk melakukannya", "saya sedangmempersiapkan diri untuk
melakukannya", dan lain-lain. Namun hati kecilnya tak dapat dibohongi. Sebenarnya ia
menunda melakukan pekerjaan itu hanya karena malas melakukannya. Mengatasi Rasa
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 56
Malas Bagaimana caramengatasi rasa malas? Banyak cara yang telah ditawarkan para
pakar untuk mengatasinya, tapi cara yang palingefektifadalah : Just do it! (lakukan saja,
tanpa menunda!).

Ternyata Al Qur'an yang mulia telah memberikan resep jitu ini dalamsurah At Taubah
ayat 41 : "Berangkatlah kamu baik dalam kedaan ringan atau berat dan berjihadlah di
jalan Allahdengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika
kamu mengetahui". Jadi, kerjakan saja apayang menurut Anda harus dilakukan. Jangan
ditunda dan jangan mencari alasan! Apapun alasan untuk menundapekerjaan itu,
lupakanlah! Sebab sebagian besar alasan adalah alasan yang dicari-cari.

Ali bin Abu Thalib ra berkata :"Sesungguhnya kalau Anda menunda pekerjaan, maka
alasan ketakukan akan kegagalan pekerjaan tersebut akansemakin besar daripada Anda
melakukan pekerjaan itu sekarang juga!". Jadi menunda pekerjaan, akan membuat otak
Anda bekerja mencari seribu alasan untuk semakin menunda pekerjaan itu. Salah satu
alasan yang sering muncul adalah ketakukan akan kegagalan. Bagi banyak orang,
kegagalan adalah suatu hal yang menyakitkan. Membuat trauma dan membuat jera untuk
melakukannya lagi. Ketakukan akan kegagalan merupakan senjata ampuh bagi otak
Andauntuk membuat Anda menunda pekerjaan. Padahal Andalah yang seharusnya
mengendalikan otak Anda, bukansebaliknya.

Karena itu, buanglah rasa takut gagal Anda yang membuat Anda menunda-nunda
pekerjaan. Just do it!Dengan just do it! Otak Anda tak sempat bekerja untuk membuat
Anda takut gagal. Otak Anda malah bekerja untukberani melakukannya tanpa takut
gagal. Sejarah telah membuktikan bahwa orang yang sukses adalah orang yangberhasil
mengatasi rasa takutnya akan kegagalan, sehingga mereka mau melakukan lagi pekerjaan
yang pada awalnya gagal mereka lakukan. Mereka mencoba lagi melakukannya dan
gagal lagi, tapi mereka melakukannya lagi dan gagallagi, sampai akhirnya mereka
berhasil. Inilah pola hidup try and error (coba dan gagal, lalu coba lagi dan coba lagi).

Pola hidup dari orang-orang yang optimis bahwa masa depan adalah kesuksesan untuk
mereka. Pola hidup yang tak mengenal putus asa. Karena putus asa hanya milik orang
yang kafir (terhadap nikmat Allah), bukan milik orang yangberiman kepada Allah.
"Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang yang kafir" (QS.
Yusuf : 87).

Karena itu, Just do it! Lakukanlah sekarang juga! Jika Anda menundanya maka semakin
malas dan takut Anda melakukannya.

Sebaliknya semakin tidak ditunda maka semakin bersemangat dan termotivasi Anda
untukmelakukannya.

Ketahuilah, seringkali semangat melakukan suatu pekerjaan justru semakin besar
bersamaan dengansaat Anda melakukan pekerjaan tersebut. Semangat bekerja seringkali
muncul bukan sebelum melakukan pekerjaan, tapi pada saat Anda melakukan pekerjaan
tersebut. Karena itu pada surah At Taubah ayat 41 di atas, Allah menyuruhkita berangkat
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 57
(melakukannya) tanpa memperdulikan perasaan kita (ringan atau berat, suka atau tidak
suka).

Sebab semangat dan kesungguhan (jihad) itu muncul bersamaan dengan pelaksanaan
pekerjaan itu. Inilah rahasia mengatasi rasa malas, sehingga Allah menutup ayat itu
dengan kalimat "yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamumengetahui". Artinya,
tidak semua orang mengetahui rahasia mengatasi rasa malas. Mereka malah mencoba
mencaricara lain yang seringkali terlalu filosofis dan njelimet.

Padahal cara mengatasinya amat mudah dan praktis jika Andamengetahui, yaitu just do
it! Dan jangan biarkan pikiran kita membuat alasan untuk menundanya. Jika pikiran
Anda mulai mencoba melakukan rasionalisasi untuk menundanya, katakan dengan keras
dan tegas pada diri Anda sendiri : Just doit! No Reasonable!

Lakukan sekarang juga! Jangan banyak alasan! Insya Allah, Anda akan mampu
mengatasi rasa malas..

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 58
Pengirim : Prasetyo Adhy Nugroho adhy13@gmail.com
Tgl. Email : 15-01-2008

Cukupkah Berpikir Positif?
Oleh: Ubaydillah, AN
Jakarta, 15 November 2005

Antara Jalan & Tujuan
Abraham Maslow pernah mengeluarkan nasehat bahwa salah satu yang penting untuk
diingat bagi siapa pun yang ingin mengaktualisasikan potensinya adalah membedakan
antara jalan dan tujuan dalam praktek hidup. Dalam teori, pasti semua orang sudah tahu
apa itu perbedaan antara jalan dan tujuan, tetapi dalam praktek, jawabnya belum tentu.

Andaikan semua orang sudah mengerti perbedaan antara jalan dan tujuan dalam praktek,
tentulah ilmu manajemen tidak sampai berpetuah: "Jangan menjadikan aktivitas sebagai
tujuan". Aktivitas adalah jalan, cara atau sarana sedangkan tujuan adalah sasaran yang
hendak kita wujudkan dengan cara yang kita terapkan. Aktivitas bukanlah tujuan dan
tujuan bukanlah aktivitas, dan karena itu perlu dibedakan.

Andaikan semua orang sudah mengerti perbedaan antara cara dan tujuan dalam praktek,
tentulah Thomas Alva Edison tidak sampai berpetuah: "Jangan hanya menenggelamkan
diri pada kesibukan demi kesibukan tetapi bertanyalah tujuan dari kesibukan yang Anda
jalani." Kesibukan kerapkali melupakan kita akan tujuan dari kesibukan itu dan karena
itulah maka perlu diingatkan.

Dalam kaitan dengan pembahasan kali ini, mungkin sekali-sekali kita perlu bertanya
kepada diri sendiri, apakah berpikir positif itu jalan atau tujuan? Menggunakannya
sebagai jalan berarti setelah kita berpikir positif masih ada proses positif yang perlu kita
jalani sedangkan menggunakannya sebagai tujuan berarti kita cukup hanya sampai pada
tahap menciptakan pikiran positif atas kenyataan buruk di tempat kerja, di sekolah, di
kampus dan di mana-mana.

Memilih sebagai jalan atau tujuan, sebenarnya adalah hak kita. Tidak ada orang yang
akan melaporkan kita ke polisi dengan memilih salah satunya. Tetapi kalau kita berbicara
manfaat yang sedikit dan manfaat yang banyak maka barangkali sudah menjadi
keharusan-pribadi untuk selalu mengingat bahwa berpikir positif itu adalah jalan yang
kita bangun untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Logisnya bisa dijelaskan bahwa
jika jalan yang kita pilih itu positif, maka perjalanan kita menuju terminal tujuan juga
positif atau terhindar dari hambatan-hambatan negatif akibat dari kekeliruan kita dalam
memilih jalan. Begitu 'kan?

Hal ini agak berbeda sedikit dengan ketika kita memilihnya sebagai tujuan. Dibilang baik
memang sudah baik dan dibilang untung memang sudah untung. Untung yang paling riil
adalah mendapatkan suasana batin yang positif atau terhindar dari hal-hal buruk yang
diakibatkan oleh pikiran negatif. Dale Carnegie menyimpulkan: "Ingatlah kebahagiaan
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 59
tidak tergantung pada siapa dirimu dan apa yang kamu miliki tetapi tergantung pada apa
yang kamu pikirkan."

Hanya saja, jika ini dikaitkan dengan persoalan mengaktualkan potensi atau meraih
prestasi yang lebih tinggi di bidang-bidang yang sudah kita pilih, tentulah masih belum
final. Mengapa? Perlu disadari bahwa suasana batin yang sepositif apapun tidak bisa
mengaktualisasikan potensi sedikit meskipun kalau suasana batin kita keruh akibat
pikiran negatif, maka usaha kita untuk mengaktualisasikan potensi itu dipastikan
terhambat. Jangankan potensi, sampah pun, menurut Tom Peters, tidak bisa dibuang oleh
pemikiran yang jenius atau oleh strategi yang jitu.

Bahkan menurut Charles A. O'Reilly, Professor, Stanford Graduate School of Business,
dunia ini tidak peduli dengan apa yang kita tahu kecuali apa yang kita lakukan. Puncak
dari kehidupan ini adalah tindakan, bukan pengetahuan. Mahatma Gandhi menyimpulkan
bahwa ukuran penilaian manusia yang paling akhir adalah aksi, titik. Ini sudah klop
dengan penjelasan Tuhan bahwa kita tidak mendapatkan balasan dari apa yang kita
khayalkan (fantasi) melainkan dari apa yang kita usahakan.

Rahasia Berpikir Positif
Dengan memiliki suasana batin positif, maka ini akan menjadi sangat kondusif
(mendukung) untuk menjalankan proses positif berikutnya, yang antara lain:

1. Pelajaran
"Hukum Tuhannya" mengatakan bahwa pelajaran positif itu ada di mana-mana sepanjang
kita mau menggali dan menyerapnya: di balik kesalahan, kegagalan, pengkhianatan orang
lain atas kita, di balik musibah buruk yang menimpa kita dan seterusnya. Hanya saja,
meskipun pelajaran positif itu ada di mana-mana, tetapi prakteknya membuktikan bahwa
pelajaran positif itu tidak bisa kita serap kalau batin kita sudah keruh oleh pikiran-pikiran
negatif.

Mendapatkan pelajaran positif memang tidak langsung mengangkat prestasi kita tetapi
kalau kita ingin mengubah diri kita untuk menjadi semakin positif maka syarat mutlak
yang harus dimiliki adalah menambah jumlah dan kualitas pelajaran positif yang kita
serap, seperti kata Samuel Smile dalam salah satu tulisannya: "Tidak benar jika orang
berpikir bahwa kesuksesan diciptakan dari kesuksesan. Seringkali kesuksesan dihasilkan
dari kegagalan. Persepsi, study, nasehat dan tauladan tidak bisa mengajarkan kesuksesan
sebanyak yang diajarkan oleh kegagalan."

2. Keputusan
Satu kenyataan buruk yang kita hadapi pada hakekatnya tidak mendekte kita harus
mengambil keputusan tertentu tetapi menawarkan pilihan kepada kita. Tawaran itu antara
lain adalah: a) boleh memilih keputusan untuk mundur,b) boleh memilih keputusan untuk
mandek / kembali ke semula dan c) boleh memilih keputusan untuk terus melangkah
dengan menyiasati, mencari celah kreatif, dan lain-lain.

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 60
Nah, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki untuk melahirkan keputusan yang
nomor tiga adalah memiliki batin yang kondusif dan positif. Kita saksikan sendiri di
lapangan bahwa meskipun semua orang punya keinginan untuk memilih keputusan
nomor tiga, tetapi karena hanya sedikit orang yang punya kemampuan menghilangkan
pikiran negatif, maka prakteknya justru keputusan nomor dua atau nomor satu yang
menjadi pilihan favorit.

Jika dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari, ada hal yang tidak bisa diingkari bahwa
semua orang setiap saat telah memilih keputusan tertentu tentang apa yang akan
dilakukannya. Dari keputusan yang dipilih itulah lahir sebuah tindakan yang menjadi
penyebab sebuah hasil. Karena itu ada saran Brian Tracy yang patut kita renungkan
bahwa yang menentukan nasib kita itu bukan apa yang menimpa kita melainkan
keputusan yang kita ambil atas apa yang menimpa kita. Artinya, keputusan mundur akan
menghasilkan kemunduran; keputusan mandek akan menghasilkan kemandekan dan
keputusan maju akan menghasilkan kemajuan.

3. Keteraturan Langkah
Apa yang menyebabkan langkah kita terkadang mudah diserang virus keputusasaan dan
kepasrahan? Apa yang terkadang membuat kita mudah bongkar-pasang rencana hanya
karena mood sesaat? Sebab-sebabnya tentu banyak tetapi salah satunya adalah pikiran
negatif. Sekuat apapun fisik kita atau sekuat apapun keinginan kita untuk mewujudkan
tujuan, biasanya akan tidak banyak membantu apabila pikiran ini sudah penuh dengan
kotoran negatif. Kita menjadi orang yang putus asa bukan karena kita tidak mampu
bertahan, melainkan karena kita telah mengambil keputusan yang fatal.

Nah, dengan menciptakan pikiran positif atas hal-hal buruk yang menimpa kita setidak-
tidaknya ini menjadi bekal buat kita untuk melakukan hal-hal positif secara terus-
menerus dalam arti tidak mengandalkan perubahan keadaan atau tidak mudah disakiti
oleh pukulan keadaan. Seperti pesan Denis Waitley, "Bukan dirimu yang menjadi
penghambat kemajuanmu tetapi muatan pikiran yang kamu bawa."

Dari pesan itu mungkin ada satu hal yang perlu kita ingat bahwa pikiran negatif yang kita
bawa atau yang kita biarkan itulah yang terkadang menjadi penghambat langkah kita atau
mengganggu kelancaran langkah kita dalam menapaki tujuan yang sudah kita tetapkan.
Karena itu paslah jika ada permisalan yang menggambarkan bahwa pikiran negatif itu
akan memberikan kotoran di dada kita. Dada yang penuh dengan kotoran yang kita
biarkan akan membuat punggung kita terbebani oleh muatan-muatan yang memberatkan
lalu mengakibatkan langkah ini tidak selancar seperti yang kita inginkan.

Hal-hal Apakah yang Perlu Dijalani?
Di atas sudah kita singgung bahwa menggunakan pikiran positif sebagai jalan berarti
setelah kita berpikir positif masih ada proses positif yang perlu kita jalani. Apa yang
perlu untuk dijalani?

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 61
1. Temukan pelajaran khusus
Entah sadar atau tidak, kerapkali istilah berpikir positif ini hanya kita praktekkan sebatas
berprasangka baik, meyakini adanya hikmah yang mencerahkan, atau sebatas punya opini
positif. Tentu ini sudah benar dan sudah baik tetapi kalau kita kaitkan dengan hasil
sedikit dan hasil yang lebih banyak, maka proses positif yang perlu kita lakukan adalah
mengaktifkan pikiran kita untuk menemukan pelajaran-pelajaran spesifik yang benar-
benar cocok dan relevan dengan keadaan-diri kita pada hari ini.

Sebut saja misalnya kita gagal dalam usaha. Memang sudah benar kalau kita berpikir
bahwa di balik kegagalan itu ada hikmah buat kita. Hanya saja hikmah di sini
mengandung pengertian yang seluas isi daratan, alias masih umum. Kegagalan usaha kita
bisa disebabkan oleh waktu yang belum tepat, kesalahan memilih orang, kurang gigih,
kurang skill, keadaan eksternal yang di luar kontrol, dan lain-lain. Karena tidak mungkin
kita menyerap hikmah secara keseluruhan dalam satu waktu, maka yang paling penting
adalahmenyerap hikmah yang relevan saja sebagai bahan mengoreksi diri.

2. Gunakan dalam hal khusus
Banyak pengalaman yang sudah menguji bahwa memiliki rumusan tujuan yang jelas dan
jelas-jelas diperjuangkan, ternyata memiliki manfaat cukup besar bagi proses positif.
Dengan kata lain, untuk bisa menggunakan pelajaran yang sudah kita serap menuntut
adanya rumusan tujuan yang kita upayakan realisasinya. Tanpa ini, mungkin saja
pelajaran positif yang kita temukan itu akan nganggur alias kurang banyak manfaatnya.

J.M. Barrie memberikan contoh dari pengalamannya: "Selama lebih dari 30 tahun saya
memimpin, saya sampai pada kesimpulan bahwa yang paling penting di sini adalah
memiliki kemampuan yang saya sebut "kegagalan maju". Kemampuan ini bukan sekedar
memiliki sikap positif terhadap kesalahan. Kegagalan maju adalah kemampuan untuk
bangkit setelah anda dipukul mundur, kemampuan untuk belajar dari kesalahan dan
kemampuan untuk melangkah maju ke arah yang lebih baik."

Dengan kata lain, agar kita bisa menjadikan kegagalan kita sebagai dorongan untuk
meraih kemajuan tidak cukup hanya dengan memiliki pikiran positif dan sikap positif
atas kegagalan itu, melainkan dibutuhkan upaya kita untuk menggunakan pelajaran yang
sudah kita dapatkan dalam usaha meraih keinginan berikutnya. Pelajaran, pengetahuan,
dan petunjuk pengalaman yang tidak kita gunakan untuk membimbing praktek kita pada
hari ini akan menjadi dokuman yang nilai dan manfaatnya kurang.

3. Membuka Diri
Seperti yang sudah kita singgung di muka bahwa pelajaran positif yang ada di balik satu
masalah, satu kenyataan buruk, atau di balik peristiwa yang kita alami dalam praktek
hidup itu sangatlah tidak terbatas, tidak tunggal, tidak mono, dan karena itu sering disebut
petunjuk (hidayah). Saking banyaknya itu, maka tidak mungkin ruangan milik kita bisa
sanggup menyerap seluruhnya dan sekaligus sehingga yang dibutuhkan adalah membuka
diri atas berbagai pelajaran positif yang diwahyukan oleh kesalahan kita, kesalahan orang
lain yang kita lihat, temuan ilmu pengetahuan, nasehat, dan seterusnya.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 62
Cak Nur pernah berpesan: "Sikap terbuka adalah sebagian dari pada iman. Sebab
seseorang tidak mungkin menerima pencerahan dan kebenaran jika dia tidak terbuka."
Sikap terbuka menurut Ajaran Kejawen (Javanese Spiritual Doktrine) merupakan syarat
untuk mengarungi jagat "kaweruh" (sains, tehnologi, dst). "Syarat utama bagi pelajar
adalah memiliki kemampuan dalam menghilangkan atau menyimpan untuk sementara
waktu pemahaman dogmatis yang telah dimiliki dan mempersiapkan diri dengan
keterbukaan hati-pikiran untuk merambah jagat ilmu pengetahuan. Selamat
menggunakan.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 63
Pengirim : firliana putri firlianaputri@yahoo.com
Tgl. Email : 15-01-2008

Mursyid Kamil Mukammil

Mursyid kamil mukammil adalah seorang mursyid yang sudah sempurna dalam
wushulnya kepada Allah dan dapat menyempurnakan muridnya untuk juga wushul
kepada Allah. Mursyid kamil mukammil pastilah seorang waliyullah, tetapi sebaliknya,
seorang waliyullah belum tentu seorang mursyid. Karena seoarang mursyid mempunyai
otoritas mematrikan/menghunjamkan dzikir ke dalam qolbu seorang murid untuk
mensucikan qolbunya dan sebagai biji iman yang siap dicangkul, dipupuk, dirawat,
disirami sampai tumbuh dan berkembang yang akhirnya akan berbuah manisnya iman.

Dengan biji iman yang ditanamkan ke dalam qolbu yang telah disucikan oleh mursyid
kamil mukammil dan diiringi dengan ketekunan, keistiqomahan seorang murid dalam
menjalankan petunjuk mursyid, insya Allah akan terjadi perubahan secara simultan dalam
diri seorang murid menuju kemerdekaan yang hakiki yaitu bebas dari segala belenggu
penghambaan/perbudakan kepada dan terhadap apapun kecuali hanya kepada ALLAH.

Mursyid akan senantiasa mendoakan, membimbing, mengingatkan, mengarahkan,
menata perjalan murid menuju Allah yang sungguh sangat banyak tipu dayanya.

Wali Mursyid Itu Perlu
Seorang saudaraku bertanya:
APAKAH ADA PERADABAN YG LEBIH BAIK DARI ISLAM? TIDAK!!

Hmm..kadang aku berpikir, apa kunci Rasulullah hingga mampu membangun satu
peradaban baru hanya dalam waktu 23 tahun...?

Barangkali kuncinya seperti tergambar dalam surat al-Jum'ah / 67:2. Beliau menjalankan
tiga tugas utama:
1. Tilawah, membacakan ayat-ayat Allah. Memperkenalkan kepada orang-orang
tentang adanya petunjuk 'langit', dan meyakinkan mereka tentang kebanaran ayat-
ayat 'langit' itu.
2. Tazkiyah, mensucikan jiwa pengikutnya. Tanpa kesucian jiwa maka makna ayat-
ayat yang dibacakan tak akan terpahami dengan baik, tak juga ayat-ayat itu
terasakan sebagai penggerak yang memotivasi orang untuk mengamalkannya.
3. Taklim, mengajarkan ketentuan-ketentuan Allah (hukum, kitab) juga tujuan dan
manfaat dari ketentuan-ketentuan tersebut (hikmah).

Sekarang ini fungsi tilawah telah banyak tergantikan oleh berbagai media. Kalau dulu
hanya dibacakan oleh orang, sekarang ayat-ayat telah dibukukan, dikasetkan, di-CD/
VCD-kan, didigitalkan. Orang dapat mengaksesnya secara langsung. Untuk membacanya
pun sudah banyak tersedia kursus-kursus yang dapat melatihkannya dengan berbagai
metode yang sangat cepat.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 64
Fungsi taklim masih berjalan terus, bahkan makin banyak ustadz yang memimpin majlis-
majlis taklim, baik langsung maupun menggunakan fasilitas distance learning melalui
radio/tv dan internet.

Yang jadi masalah adalah fungsi tazkiyah. Rasulullah s.a.w. mentazkiyah jiwa para
sahabat sebelum mentaklim mereka. Jiwa para sahabat sudah tersucikan lebih dulu
sebelum mendapatkan taklim. Tapi siapa yang mentazkiyah diri kita saat ini? Untuk
tilawah kita dapat menggunakan berbagai multi media ayat yang banyak tersebar dengan
harga murah. Untuk taklim kita dapat mendatangi majlis taklim, halaqah, liqa', dan mabit;
menjumpai para ustadz dan murabbi. Tapi semua itu kita lakukan dengan qalbu yang
kotor karena tidak mengalami tazkiyah lebih dulu.

Adakah para ustadz/kyai itu dapat mentazkiyah jiwa kita. Apakah para murabbi kita juga
sudah tersucikan jiwanya sehingga mampu mentazkiyah kita? Kadang kita katakan, tak
perlu tazkiyah secara formal, lakukan saja ibadah-ibadah yang ada dengan ikhlas dan
tekun, nanti jiwa akan tertazkiyah sendiri. Betulkah? Bagaimana kita dapat ikhlas kalau
belum tazkiyah. Bagaimana akan termotivasi dan tekun beribadah kalau masih banyak
kototan jiwa? Jadi berputar-putar dong, untuk tazkiyah perlu ibadah, tapi untuk ikhlas dan
tekun ibadah diperlukan tazkiyah lebih dulu...

Kita katakan tak perlu ada tazkiyah secara formal, juga tak perlu ada orang yang
mentazkiyah kita, karena kita memang belum mengetahui pentingnya dua hal itu.
Rasulullah s.a.w. mendapatkan tilawah, tazkiyah, dan taklim dari malaikat Jibril. Para
sahabat mendapatkannya dari Rasul s.a.w. Para tabi'in dari para sahabat... begitu
seterusnya. Tapi lagi-lagi, siapa yang mentazkiyah kita saat ini? Kadang kita terlalu
arogan dengan mengatakan tak perlu tazkiyah dan orang yang mentazkiyah, karena
hubungan kita dengan Allh SWT bersifat langsung dan individual, tak memerlukan
perantara. Tapi betulkah kita, dengan segala kekotoran kita dapat terhubung langsung
dengan Allah? Bukankah Rasulullah s.a.w. sebelum mikraj pun ditazkiyah dulu qalbunya
oleh Jibril?

Masukilah rumah lewat pintunya. Pelajarilah agama melalui sumbernya. Seraplah cahaya
ilahiah melalui salurannya. Mursyid itu perlu... Kita gak kan pandai tanpa guru
(bukankah dikatakan, siapa yang belajar tanpa guru maka gurunya adalah setan...).
Jiwa tak kan terbersihkan tanpa ada yang men-tazkiyah-nya.

Tentu jangan sembarang orang kita jadikan mursyid. Bagaimana ia akan men-tazkiyah
diri kita kalau dia pun belum tersucikan jiwanya. Carilah mursyid yang berkualifikasi
wali. Bukan wali murid, atau wali nikah, tapi wali Allah... Tapi bagaimana kita
mengetahui seseorang itu wali Allah, jangan-jangan kita malah terjebak oleh
pengkultusan yang menyesatkan?

Eksistensi Seorang Mursyid
Dikutip dari www.sufinews.com oleh K.H. Wahid Zuhdi (pengasuh Ponpes al-Ma’ruf,
Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jateng; juga sebagai wakil Syuriyah NU wilayah
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 65
Jateng dan sebagai anggota lajnah tashhih NU Pusat dan di persatuan thariqat se-
Indonesia)

Dalam setiap aktivitas rintangan itu akan selalu ada. Hal ini dikarenakan Tuhan
menciptakan syetan tidak lain hanya untuk menggoda dan menghalangi setiap aktivitas
manusia. Tidak hanya terhadap aktivitas yang mengarah kepada kebaikan, bahkan
terhadap aktivitas yang sudah jelas mengarah menuju kejahatan pun, syetan masih juga
ingin lebih menyesatkan.

Pada dasarnya kita diciptakan oleh Tuhan hanya untuk beribadah dan mencari ridla dari-
Nya. Karena itu kita harus berusaha untuk berjalan sesuai dengan kehendak atau syari’at
yang telah ditentukan. Hanya saja keberadaan syetan yang selalu memusuhi kita,
membuat pengertian dan pelaksanaan kita terkadang tidak sesuai dengan kebenaran.

Dengan demikian, kebutuhan kita untuk mencari seorang pembimbing merupakan hal
yang essensial. Karena dengan bimbingan orang tersebut, kita harapkan akan bisa
menetralisir setiap perbuatan yang mengarah kepada kesesatan sehingga bisa mengantar
kita pada tujuan.

Thariqah
Thariqah adalah jalan. Maksudnya, salah satu jalan menuju ridla Allah atau salah satu
jalan menuju wushul (sampai pada Tuhan). Dalam istilah lain orang sering juga
menyebutnya dengan ilmu haqiqat. Jadi, thariqah merupakan sebuah aliran ajaran dalam
pendekatan terhadap Tuhan. Rutinitas yang ditekankan dalam ajaran ini adalah
memperbanyak dzikir terhadap Allah.

Dalam thariqat, kebanyakan orang yang terjun ke sana adalah orang-orang yang bisa
dibilang sudah mencapai usia tua. Itu dikarenakan tuntutan atau pelajaran yang
disampaikan adalah pengetahuan pokok atau inti yang berkaitan langsung dengan Tuhan
dan aktifitas hati yang tidak banyak membutuhkan pengembangan analisa. Hal ini sesuai
dengan keadaan seorang yang sudah berusia tua yang biasanya kurang ada respon dalam
pengembangan analisa. Meskipun demikian, tidak berarti thariqah hanya boleh dijalankan
oleh orang-orang tua saja.

Lewat thariqah ini orang berharap bisa selalu mendapat ridla dari Allah, atau bahkan bisa
sampai derajat wushul. Meskipun sebenarnya thariqah bukanlah jalan satu-satunya.

Wushul
Wushul adalah derajat tertinggi atau tujuan utama dalam ber-thariqah. Untuk mencapai
derajat wushul (sampai pada Tuhan), orang bisa mencoba lewat bermacam-macam jalan.
Jadi, orang bisa sampai ke derajat tersebut tidak hanya lewat satu jalan. Hanya saja
kebanyakan orang menganggap thariqah adalah satu-satunya jalan atau bahkan jalan
pintas menuju wushul.

Seperti halnya thariqah, ibadah lain juga bisa mengantar sampai ke derajat wushul. Ada
dua ibadah yang syetan sangat sungguh-sungguh dalam usaha menggagalkan atau
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 66
menggoda, yaitu shalat dan dzikir. Hal ini dikarenakan shalat dan dzikir merupakan dua
ibadah yang besar kemungkinannya bisa diharapkan akan membawa keselamatan atau
bahkan mencapai derajat wushul. Sehingga didalam shalat dan dzikir orang akan
merasakan kesulitan untuk dapat selalu mengingat Tuhan.

Dalam sebuah cerita, Imam Hanafi didatangi seorang yang sedang kehilangan barang.
Oleh Imam Hanafi orang tersebut disuruh shalat sepanjang malam sehingga akan
menemukan barangnya. Namun ketika baru setengah malam menjalankan shalat, syetan
mengingatkan/mengembalikan barangnya yang hilang sambil membisikkan agar tidak
melanjutkan shalatnya. Namun oleh Imam Hanafi orang tersebut tetap disuruh untuk
melanjutkan shalatnya.

Seperti halnya shalat, dzikir adalah salah satu ibadah yang untuk mencapai hasil
maksimal harus melewati jalur yang penuh godaan syetan. Dzikir dalam ilmu haqiqat
atau thariqat, adalah mengingat atau menghadirkan Tuhan dalam hati. Sementara Tuhan
adalah dzat yang tidak bisa diindera dan juga tiak ada yang menyerupai. Sehingga tidak
boleh bagi kita untuk membayangkan keberadaan Tuhan dengan disamakan sesuatu.
Maka dalam hal ini besar kemungkinan kita terpengaruh dan tergoda oleh syetan,
mengingat kita adalah orang yang awam dalam bidang ini (ilmu haqiqat) dan masih jauh
dari standar.

Karena itu, untuk selalu bisa berjalan sesuai ajaran agama, menjaga kebenaran maupun
terhindar dari kesalahan pengertian, kita harus mempunyai seorang guru. Karena tanpa
seorang guru, syetanlah yang akan membimbing kita. Yang paling dikhawatirkan adalah
kesalahan yang berdampak pada aqidah.

Mursyid
Mursyid adalah seorang guru pembimbing dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat.
Mengingat pembahasan dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat adalah tentang Tuhan yang
merupakan dzat yang tidak bisa diindera, dan rutinitas thariqah adalah dzikir yang sangat
dibenci syetan. Maka untuk menjaga kebenaran, kita perlu bimbingan seorang mursyid
untuk mengarahkannya. Sebab penerapan Asma’ Allah atau pelaksanaan dzikir yang
tidak sesuai bisa membahayakan secara ruhani maupun mental, baik terhadap pribadi
yang bersangkutan maupun terhadap masyarakat sekitar. Bahkan bisa dikhawatirkan
salah dalam beraqidah.

Seorang mursyid inilah yang akan membimbing kita untuk mengarahkannya pada bentuk
pelaksanaan yang benar. Hanya saja bentuk ajaran dari masing-masing mursyid yang
disampaikan pada kita berbeda-beda, tergantung aliran thariqah-nya. Namun pada
dasarnya pelajaran dan tujuan yang diajarkannya adalah sama, yaitu al-wushul ila-Allah.

Melihat begitu pentingnya peranan mursyid, maka tidak diragukan lagi tinggi derajat
maupun kemampuan dan pengetahuan yang telah dicapai oleh mursyid tersebut. Karena
ketika seorang mursyid memberi jalan keluar kepada muridnya dalam menghadapi
kemungkinan godaan syetan, berarti beliau telah lolos dari perangkap syetan. Dan ketika
beliau membina muridnya untuk mencapai derajat wushul, berarti beliau telah mencapai
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 67
derajat tersebut. Paling tidak, seorang mursyid adalah orang yang tidak diragukan lagi
kemampuan maupuan pengetahuannya.

Urgensi Mursyid Dalam Tarekat
Dikutip dari www.sufinews.com oleh K.H. Luqman Hakim, M.A. (Sufiolog, pemimpin
redaksi majalah CAHAYA SUFI : Allah Swt. berfirman: “Barangsiapa mendapatkan
kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalah hidupnya) seorang wali yang mursyid”
(Al-Qur’an).

Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan
syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi
Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian mereka yang memahami
tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani
yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan
mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan
Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas,
mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang
Mursyid.

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme,
bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis
akan kegagalan spoiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang
mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama
besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul
Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul
Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri,
bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.

Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan
kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas
bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa
pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap
dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu
sendiri.

Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan
pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai
pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah
(wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai
wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka
yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu
membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah,
dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan
tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat
terkenal: “Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya
adalah syetan”.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 68
Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani,
walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi
dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal
bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya.

Sebagaimana ayat al-Qur’an di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki
prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan
akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing
ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan
kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil
Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan ma’rifatullah sebagai Insan
yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para
pengikut thariqatnya.

Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw.
terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi
dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme,
seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis
misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat
luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal
hati.

Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan
mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai
seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang
tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal,
akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya
banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan.

Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih
Allah yang senanatiasa total dalam taat ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam
kemaksiatan. Dalam al-Qur’an disebutkan: “Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak
pernah takut, juga tidak pernah susah.”

Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar
dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun
memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana
mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan
kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil
dan Mukammil di atas.

Dalam kitab Al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad,
ditegaskan, -- dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-
Syadzily ra, -- bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak – minimal –
ada lima:
1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 69
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki matahati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan
berikut:
1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhal buruk tanpa peduli dengan perilakunya.

Syekh Abu Madyan – ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap
ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter
di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani:
1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan taat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhuk.
4. Kontra terhadap Ahlullah
5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada
dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal,
ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt.
maka, ia pasti menjadi penasehatmu.”

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada
seseorang yang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak
pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”.

Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak
memberikan beban berat kepada para muridnya.

Dari kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak mengetahui kadar
batin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula
mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dengan
mudahnya dan gegabahnya memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat
membebani fisik dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang
hakiki dalam dunia sufi.

Jika secara khusus, karakteristik para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum,
mereka pun berpijak pada lima (5) prinsip thariqat itu sendiri:
1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin.
2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 70
3. Berpaling dari makhluk (berkonsentrasi kepada Allah) ketika mereka datang dan
pergi.
4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak.
5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka.

Manifestasi Taqwa, melalaui sikap wara’ dan istiqamah.
Perwujudan atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang baik.
Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal.
Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qana’ah dan pasrah total. Dan
perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah adalah dengan pujian dan rasa syukur
dalam keadaan suka, dan mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana.

Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah:
1) Himmah yang tinggi,
2) Menjaga kehormatan,
3) Bakti yang baik,
4) Melaksanakan prinsip utama; dan
5) Mengagungkan nikmat Allah Swt.

Dari sejumlah ilusttrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih
seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di atas, sehingga mampu
menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. adalah teladan paling paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah
dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as.
Fungsi Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika
Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui
bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan
spiritual antara Murid dan Syekh. Maka dalam soal-soal rasional Musa as sangat
progresif, tetapi beliau tidak sehebat Khidir dalam soal batiniyah.

Karena itu lebih penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan
Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab asy-
Sya’rani, (W. 973 H) secara khusus menulis kitab yang berkaitan dengan etika hubungan
antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam “Lawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi
Ma’rifati Qawa’idus Shufiyah”.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 71
Pengirim : AL shahida al_shahida@yahoo.com
Tgl. Email : 15-01-2008

Tidak Ada Kata Terlambat

" Tidak ada kata terlambat bagi ‘Sarah Quinn’ pensiunan perawat (nurse) tinggal di
Middlessex, UK yang mengikrarkan shahadatnya pada bulan Desember tahun 2006,
seminggu menjelang ulang tahunnya yang ke 90 ".

Rabu 25 Desember 2007 aku menerima ucapan selamat via telefon: ‘ Eid Mubarak sis…’
langsung kujawab’ Thank you and Eid mubarak to you too .’ lalu sambungnya ‘And
merry bloody Chirstmast…! ucapnya. Aku sungguh terkejut menerima kata-kata bloody,
entah apa maksudnya. Sindirankah?

"Hoosh…why do you say bloody? (bloody artinya sialan, slang. pen) tanyaku.

‘Well.. its true, its bloody christmast?
‘Lho emang kenap, kamu kesel dan sebel nggak merayakan natalan?

“Bukan sis…aku ikutan stress gara-gara krismasan, semua orang dibikin gila, panik,
stress & kesurupan, mereka juga begitu agresif. Dimana-mana. Ditoko, disupermarket,
dijalanan, semua penuh sesak, macet gara-gara ini, belum lagi yang mabuk..huh. Coba
lihat sekarang, akhirnya mereka diam dirumah, merayakan festifal Pagan itu!, ujarnya.
‘Ooh…begitu’ kataku.

"Jadi nggak sisi datang kerumah kami ? plis deh? Biar rame, biar ibuku seneng ada yang
mengunjungi, aku juga undang teman lainnya’ Syerif membujukku untuk datang
kerumahnya di Eastcote, Middlessex pada hari libur yang bertepatan pada tanggal 25
Desember pekan lalu.

Sebetulnya aku tidak bermaksud keluar, ingin menyelesaikan semua pekerjaan yang
tertunda-tunda. Hebatnya sang brother merayuku kalau ia akan menolongku,
menyelesaikan semua yang belum selesai, ujarnya: ‘Bring all your work, laptop, I will
help you ,don’t worry” bujuknya.

Akupun berkemas menyiapkan laptop, USB, membawa beberapa draft surat dan laporan.
‘Ooops don’t forget to bring Tiramisu, Mum love it..', pesannya.

Syerif alias Simon yang muallaf Inggris mengatakan bahwa ibunya merasa kesepian,
karena biasanya dihari Natalan abangnya John, istri serta anak-anaknya datang
merayakan natalan. Namun, karena Ibunya, telah memeluk Islam sejak Desember 2006,
maka Natalan ditiadakan dirumahnya. Sementara Syerif ingin sekali membuat bahagia
ibunya dengan mengundang kami untuk kumpul dan makan sore.

Ahad lalu, Syerif tidak datang ke pengajian karena abangnya John datang berkunjung
menjumpai ibunya, ‘ I cant go to the gathering (maksudnya 'pengajian' pen) sis because I
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 72
want to make sure he doesn't give Mum wine..’ ujar Syerif via sms, padahal dia ingin
sekali datang. "Mereka, ujarny, datang membawa hadiah dan kartu natal untuk ibunya
‘kufikir sudah tradisi, gak bisa di stop sis, kubiarkan saja", ujar Syerif.

Ke Eastcote, Middlessex
Alhamdulilah perjalanan ke Eastcote cuma memakan waktu 1½ jam, kalaupun ada trafik
tidak separah dihari-hari kerja. Karena aku lewat London city (atas saran Syerif) banyak
kutemui pemandangan yang cukup merepotkan. Dijalanan kutemui beberapa pengendara
mobil yang rada riskan, tidak stabil, bahkan sangat pelan sehingga aku sering dikasih
lampu besar peringatan oleh pengendara mobil dibelakang agar aku melajukan mobil
dengan cepat.

Mungkin akibat minuman alkohol yang berlebihan pada malam sebelumny mereka
membawa mobil begitu pelannya. Aku hampir menabrak mobil sedan yang tiba-tiba
membelokkan mobilnya secara tiba-tiba tanpa memberi sinyal, yang rupanya mau
berputar U-turn kekanan. Untung aku sigap melempar si mobil kekiri sehingga
kecelakaan terhindar..dengan serta merta kuklakson dengan keras pertanda aku marah
dan... maha besar Allah, aku masih terlindungi.

Begitu aku tiba, mereka menyambutku. Aku langsung masuk dan nampak bunda Sarah
sedang duduk diruang TV. Menyambutku. Kusalami, sekaligus kupeluk hangat si ibu
yang sedang menantiku. Lalu kukeluarkan bingkisan kecil, oh beliau nampak sumringah
menerima hadiah kecil, Sarah kemdian membuka hadiah itu.

"what is this? tanya beliau,
"Just something little for you..’ kataku.

Hadiah jilbab itu langsung kubentuk menjadi bentuk segitiga.. ’Shall I put this in your
head..? tanyaku. Yes please.." jawabnya.. Subhanllah ia nampak manis. Syerif
mengambil foto bundanya, klik..klik! si ibu selalu mengucap kata-kata 'cheese' dengan
senyum lepas.

“Tapi Mum sudah engga wajib lagi khan pake jilbab, sis?” tanya Syerif. Aku bilang
‘tidak’ karena beliau sudah lebih dari tujuh puluh, terserah beliau, tapi, ujarku waktu
sholat beliau wajib metutup kepalanya. Syerif meng-iyakan. Saat kami sholat, si ibu
hanya duduk di sofa, menggerakan tangannya sambil berusaha mengucap lafadz ‘Allahu
Akbar’ kami sholat dzuhur berjama'ah.

Berkelakar
Syerif mau meyakinkan ibunya tentang natalan, ia menggoda ibunya, "Mother remember
no chrismast today…’ si ibu menirukan, sambil menggelengkan kepalanya ’no Chrismas
today, I know that Simon’ (ia masih memanggil Simon) . ‘You are not worried about
Chrismast dinner either, are you mother? kelakarnya lagi. ‘No.. I am not hungry,
anyway..’ jawab sang ibu. Akhirnya Syerif kedapur membuat teh untuk kita semua.

Tahun ini ‘Sarah Quinn’ demikian nama lengkapnya tepat memeluk agama Islam dua
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 73
tahun. Tepatnya pada tanggal 3 Desember 2006 (12 Dzul QAIDAH 1427) sepekan
sebelum ulang tahunnya yang ke 90. Aku ingat setahun lalu Syerif menelfonku, dengan
gembiranya ia mengatakan bahwa ibunya sudah resmi bershahadat di Masjid Agung
Regent Park Mosque, London , dan kamipun menyampaikan rasa bahagia ini lewat
telefon, email atau sms. Kami semua berdoa dan mengucapkan selama untuk bunda Sarah
Quinn.

Pertama kali menemukan Islam
Dengan agak terbata-bata, maklum sudah lanjut usianya beliau bertutur bagaimana ia
tertarik dengan Islam. Menurutnya pertama kali ia temukan Islam saat ia pergi
mengunjungi anaknya Simon yang kini menjadi Syerif di Middle East. ‘Sepuluh tahun
lalu’, imbuh Syerif.

“Saya dibesarkan dan dididik dengan cara Katollik dan selalu pergi ke gereja dengan
rajinnya dan teratur. Saya tidak pernah berfikir banyak tentang agama saya, juga saya
tidak pernah bertanya apa-apa, pokoknya saya terima apa adanya, dan penuh. Di Irlandia
cuma ada dua pilihan yakni agama Katolik atau Protestan. Itu saja. Tidak ada yang lain’
paparnya.

“Jadi memang saya termasuk yang patuh dan nurut, tidak pernah bertanya macam-
macam, apalagi kritis dengan agama Katolik saya, walaupun ada satu hal yang membuat
saya heran dan tidak paham dan selalu bertanya-tanya, misalnya kenapa Pendeta di
Katolik tidak boleh menikah?”. Itupun baru muncul dibenak saya akhir-akhir ini saja.

“Soal Yesus..saya selalu percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi, dan saya selalu
percaya bahwa hanya ada satu Tuhan. Terus terang saya tidak pernah paham Triniti tapi
juga tidak pernah merisaukan saya”, tegasnya lagi.

“Selama saya di Oman dimana anak saya Simon bekerja, disitulah saya temukan ada
agama lain selain Katolik dan Protestan. Disana saya berjumpa dengan berbagai Muslim
yang begitu ramah, bersahabat dan baik, dan selalu menyambut hangat akan kedatangann
saya.” kenangnya.

“Waktu itu saya tidak berfikir tentang Islam sama sekali”, ujar ibu Sarah sambil
membenahi jilbabnya kebelakang, ‘…tapi saya betul-betul meresapi (absorbed) suasana
yang begitu hangat, tenang dan penuh kedamaian yang akhirnya mungkin membuat saya
mulai berfikir tentang Islam secara perlahan dan tanpa saya sadari.”

“Syerif memang sudah masuk Islam lebih dulu. Saya cermati memang ada perubahan,
misalnya dia tidak minum alcohol dan tidak lagi mau makan bacon. Namun yang lebih
menonjol lagi ko anak ini lebih santun dan perhatian sama orang tua’ demikain ibu Sarah
menjelaskan tentang anaknya Syerif.

“Saya senang dn suka membaca, dia selalu membelikan saya buku-buku tentang Islam,
yang mudah dipahami sehingga pengetahuan saya tentang Islam jadi bertambah, terutama
beberapa tahun terakhir ini".
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 74
"Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya bisa jadi Muslim dan memeluk agama ini. Selain
membaca, kami selalu bercakap-cakap dan diskusi mengenai Islam, saya kira inilah
kontribusi Syerif walau dia tidak pernah memaksa saya”.

“Namun…tambahnya lagi ‘ Satu yang sangat saya suka dan sangat beruntung, anak saya
ini begitu peduli mengurus dan menjaga saya, pada usia yang renta ini. Saya khan sudah
tambah tua dan tidak begitu sehat. Mungkin dia banyak belajar dari Al-Quran dan Islam
bagaimana sebaiknya sikap anak terhadap orang tuanya”.

Rupanya hal positif yang ia saksikan dan rasakan membuat perasaan ibu Sarah betul-
betul ingin memeluk agama Islam. Setelah difikir lama dan dipertimbangkan akhirnya
bunda Sarah memutuskan untuk memeluk agama baru ini dan ia mengatakan bahwa
Islam adalah agama fitrah, lurus dan tepat untuknya.

“ Islam membuat saya merasa damai dan tenang’ bunda Sarah mengutarakan kesannya.
Beliau mengatakan bahwa mereka (Muslim) kelihatannya bahagia, tenang dengan
kehidupan mereka walaupun kalau diukur secara materi kurang memadai, karena mereka
tahu siapa Tuhannya dan percaya ada hari pembalasan.

“Itu lho teman-temannya Simon, langsung menyambut dan menerima saya dengan hangat
dan mereka semua tahu kalau saya masuk Islam dengan ikhlas dan tidak pura-pura, bukan
karena pengaruh orang lain dan ini atas kehendak saya sendiri” sesekali saya pegang
tangannya yang lembut, halus tapi dingin dan begitu rapih bentuk kukunya.

Bunda Sarah mengakui bahwa pengalamannya berkunjung ke Middle East telah berperan
banyak ditambah percakapan dengan anaknya Syerif yang telah dengan sabarnya
membimbing dan meyakinkan beliau tentang Islam. Ibu Sarah mengakui bahwa ketika ia
memutuskan untuk masuk Islam ia tidak dipengaruhi oleh siapapun. “I made up my
mind’ ujarnya.

Tambahnya lagi : “Bayangkan my dear, seumur hidup saya menganut dan penganut
Katolik..eh sekarang saya memeluk agama Islam, kadang saya bertanya bagaimana ko
saya bisa jadi Muslim?. Ini merupakan tantangan baru untuk tahun yang baru untuk saya
sebagai seorang Muslim yang baru. Alhamdulilllah, Allah masih memberi peluang
kepada saya untuk menjadi hambaNya mengakui bahwa hanya Satu, bukan tiga, yaitu
Allah serta pengikut Nabi Muhamda saw, padahal jarak ke kuburan untuk saya tinggal
beberapa jengkal saja, bukan?. "Its never too late to change my religion’ . Tidak ada kata
terlambat untuk berganti agama, walau saya sudah tua’.

Percakapan kami sudahi, tak lama penganan siap dihidang bertepatan dengan kedatangan
teman karib Syerif yakni Mizan, Khalid dan Mahmoud. Kamipun duduk menikmati
makan sore, ' A High Tea atau Supper' berupa Moussaka, makanan ala Yunani, lengkap
dengan nasi, salad, ditutup dengan non-alkohol Tiramissu, cuci mulut ala Itali, home-
made dan ditutup dengan kopi atau teh. (Al Shahida)

London, 30 December 2007
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 75
Pengirim : luqman.abdul.aziz@id.abnamro.com
Tgl. Email : 15-01-2008

Ketika Shalat Berjama’ah, HP berbunyi ?

Bagaimana sikap seseorang ketika sholat berjamaah, hp yang dikantongi berbunyi?

Bahri,

Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sekedar menggerakkan tangan untuk mematikan alarm pada ponsel sesungguhnya tidak
membatalkan shalat. Apalagi bila mengingat suara deringnya mengganggu.

Mending kalau hanya ringtone musik biasa, bagaimana kalau yang terdengar suara
penyanyi lagu dangdut yang imut-imut, atau suara yang bikin geli, bisa-bisa jamaah
shalat bubar semua karena terbahak-bahak.

Makanya kalau mau shalat, sebaiknya jangan bawa ponsel. Tinggalkan saja di meja
kerja. Biar shalat kita khusyu' tidak terganggu oleh deringnya.

Atau kalau terpaksa harus membawanya, jangan lupa untuk mengubahnya menjadi silent
mode, atau cukup bergetar saja. Sehingga kalau pun berdering, maka tidak ada suara yang
mengganggu konsentrasi jamaah shalat yang lain.

Di beberapa masjid tertentu, ada sebagian pengurus masjid yang tidak mau mengambil
resiko. Mereka memasak alat pengacak sinyal ponsel. Sehingga di ruangan shalat, semua
ponsel menjadi tidak bisa menerima sinyal, seolah-olah berada di luar service area. Ide
ini cukup kreatif untuk memastikan tidak ada suara dering yang mengganggu.

Namun lepas dari beragam ide kreatif itu, kalau anda sedang shalat tiba-tiba ponsel anda
berteriak-teriak minta diangkat, gerakkan tangan anda untuk memencet tombol untuk
mematikan, atau mengubah menjadi silent. Gerakan itu asalkan dilakukan dengan
tenang, tidak berulang-ulang sampai tiga kali berturut-turut, sebenarnya tidak merusak
shalat. Sebab dibandingkan dengan menggendong anak, atau melangkah untuk mengisi
shaf di depannya, atau mencegah orang lewat, perbuatan itu cukup simple dan cepat.

Dan jangan sekali-kali mencoba untuk menjawabnya, apalagi bilang, "halo, maaf saya
lagi sholat, nanti batal nih." Maka sebenarnya anda sudah batal.

Wallahu a'lam bishsawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 76
Pengirim : A Nizami nizaminz@yahoo.com
Tgl. Email : 15-01-2008

Wajib Mentaati Rasul Allah

Assalamu'alaikum wr wb,

Ummat Islam wajib mentaati Allah dan RasulNya. Mentaati Allah itu sudah pasti.
Bagaimana dengan mentaati RasulNya? Sebab banyak orang yang menolak untuk
mentaati Rasul atau Ingkar Hadits dengan alasan hanya beriman kepada Al Qur’an saja

Allah tidak memberikan wahyu langsung kepada seluruh manusia. Melainkan melalui
utusanNya yang disebut Rasul (utusan). Rasul inilah yang menyampaikan wahyu/perintah
Allah kepada manusia.
¦,.¦ . !...s !.| !.´ _.¯,`. '

Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul… [Ad Dukhaan:5]

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi [AlFath:28]

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.…[Al Anbiyaa’:107]
!.´. !´.l.¯¸¦ l¯.· N| Nl>¸ _-.. ¯..¯.l| ¦.l:`.· _>¦ ,é¦ _| `...´ N _..l-. ¯
Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa
orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada
orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.… [Al Anbiyaa’:7]

Rasul tersebut diutus Allah untuk memberi kabar gembira dan peringatan. Siapa yang
beriman pada rasul tersebut maka mereka akan beruntung:
Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira
dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka
tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.… [Al
An’aam:48]

Para Rasul mengajarkan tauhid, yaitu agar manusia hanya menyembah Allah dan tidak
yang lainnya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan
Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku,
maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." [Al Anbiyaa’:25]

Dalam menyembah Allah, ada berbagai perintah Allah seperti shalat, puasa, zakat, haji,
dan sebagainya yang tercantum dalam Al Qur’an. Keterangan rinci cara pengerjaannya
seperti bagaimana cara shalat dijelaskan oleh rasul melalui Hikmah (hadits/sunnah Nabi):
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 77
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah
mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada
kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta
mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.… [Al Baqarah:151]

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka,
yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan
mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-
benar dalam kesesatan yang nyata… [Al Jumu’ah:2]

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.… [Ali
‘Imran:164]

Allah mengutus rasulNya untuk menjelaskan agamaNya kepada manusia. Barang siapa
beriman/taat kepada rasul, berarti dia telah beriman/taat kepada Allah yang telah
mengutus rasul tersebut: Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di
waktu pagi dan petang. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu
sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka,
maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan
menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah
akan memberinya pahala yang besar. [Al Fath:8-10]

Allah mengutus rasulNya. Hanya orang kafirlah yang membantah utusan Allah:
Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan
sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil
agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap
ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.…
[Al Kahfi:56]

(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka
mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka
ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu."
[Yaasiin:14]

Ummat Islam wajib taat kepada Rasul Allah. Perintah taat kepada Rasul banyak disebut
di berbagai ayat Al Qur’an:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 78
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya.… [An Nisaa’:59]

Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah:
"Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang kafir." [Ali ’Imran:31-32]

Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: "Hai kaumku,
sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu. itu dan sesungguhnya
Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku."
[Thaahaa:90]

Jadi jika ada yang berkata taat kepada Allah tapi ingkar kepada rasulNya atau ingkar
kepada sunnah/hadits Nabi, maka orang ini adalah sesat. Jika taat kepada Allah tentu dia
akan mengerjakan perintah Allah yang tercantum dalam Al Qur’an, yaitu mentaati
rasulnya atau mengerjakan perintah/penjelasan rasul yang tercantum dalam hadits/sunnah
Nabi: “ Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. [Ali ’Imran:132]

Ada pun orang yang memusuhi Nabi, mendustakan Nabi, dan mengingkari Nabi
(hadits/sunnah Nabi) maka Allah menghapus pahala amal-amal mereka dan menyiksa
mereka: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan
Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat
memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala)
amal-amal mereka. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. [Muhammad:32-33]

Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya
mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan
penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.… [Al A’raaf:94]

Oleh karena itu hendaklah kita taat kepada Allah dan RasulNya. Pernyataan 2 kalimat
syahadat: Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah
mengharuskan kita untuk mentaati perintah Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan
Allah yang terakhir.

Baca, pahami, amalkan, dan ajarkan firman Allah yang ada dalam Al Qur’an dan juga
penjelasan RasulNya yang ada di dalam Hadits.

Wa'alaikum salam wr wb
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 79
Pengirim : A Nizami nizaminz@yahoo.com
Tgl. Email : 15-01-2008

17 Dalil Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul Terakhir

Assalamu’ alaikum Wr. Wb,

Inilah 17 dalil tak ada Nabi baru setelah Muhammad.
TAK ADA NABI BARU LAGI SETELAH RASULULLAH

1. QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di
antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”
2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi
Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya
seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan
membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut.
Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa
kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup
Nabi-nabi”
3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW
bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya
Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya,
saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang
tidak ada Nabi setelahnya”
4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi
Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi,
dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”
5. Khutbah terakhir Rasulullah … ”…Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang
akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu,
wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang
kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-
Contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …”
6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika
seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak
ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi
penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang
datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki
mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung,
tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang
belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan
mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang
hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang
terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam
kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: - Aku dikaruniai keahlian
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 80
berbicara yang efektif dan sempurna. - Aku diberi kemenangan karena musuh
gentar menghadapiku - Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. -Seluruh bumi
telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku.
Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat
ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air
tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum)
dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku
diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan
jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi,
Ibnu Majah)
9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai
pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-
ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).
10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih
dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus
berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat
adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir
dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-
ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi;
Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab
Asma-un-Nabi).
11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang
Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan
Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam masa mereka). Aku
yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan kalian ummat terakhir yang beriman.
Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah,
Kitabul Fitan, Bab Dajjal).
12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya mendengar Abdullah bin ‘Amr ibn-
’As menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan
bergabung dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau
akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta
huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak
ada lagi Nabi sesudahku”.(Musnad Ahmad, Marwiyat ‘Abdullah bin ‘Amr ibn
’As).
13. Rasulullah SAW berkata: ” Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi
hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau
berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu
Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya
wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat
inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).
14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang
itu tentunya Umar bin Khattab”. (Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).
15. Rasulullah SAW berkata kepada ‘Ali, “Hubunganmu denganku ialah
sepertihubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang
sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba).
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 81
16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar
ada orang-orang yang berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah
NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi
dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)
17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku dan
karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi,
Kitab-ul-Rouya; Tabrani)

Wassalam

M. Nurhuda
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 82
Pengirim : Ahmad Zulfikar ahzul_ind@yahoo.co.uk
Tgl. Email : 15-01-2008

Salam Paham Tentang Kristolog

Ass.wr.wb.

Posting saya ini sebagai klarifikasi atas kesalahpahaman beberapa pihak dalam
memandang aktivitas para kristolog selama ini, terutama yang menjadi topik dan ajang
diskusi di milis surau

Bermula dari kiriman email bung Fahmi R. Kubra beberapa hari lalu ke email saya yang
menggambarkan polemiknya dengan bung Ahmad Badruddirja, saya tergugah
memberikan respon untuk memberikan gambaran situasional (situational explain) tentang
kiprah kristolog selama ini. Sebelumnya kepada kedua bung, saya sampaikan salam
hormat.

Mohon maaf, karena saya belum menjadi member milis surau, posting ini saya alamatkan
ke ustadz Agus Syafii (agussyafii@yahoo.com) supaya di-forward ke milis surau, karena
beliau member milis surau yang saya lihat sangat aktif melakukan posting di milis
ini. (tulisan ini juga saya posting ke milis islamic_discussion_via_internet, karena
kebetulan saya salah satu membernya)

Perlu saya jelaskan lebih dulu, bahwa penjelasan saya ini tentu berangkat dari cara
pandang seorang mantan dosen seminari, mantan fungsionaris sinode gereja, juga mantan
misionaris, yang barangkali dalam beberapa sisi akan berbeda perspektifnya dengan
kristolog yang lainnya, meski juga dalam hal motivasi yang mengarah kepada studi
komparasi, pembedahan ajaran (disclosure) dan pengungkapan misteri (dig up)
mempunyai kesamaan.

Kata "mantan" yang saya tekankan di atas, menunjukkan bahwa saya sudah bergelut dan
berkiprah di dalam kelembagaan dan komunitas kristiani. Artinya saya tidak melihat
kristologi dari lapisan kulit (epidermis) kalau boleh saya meminjam istilah kedokteran,
tetapi saya sudah pernah berada di dalamnya. Meskipun saat ini posisi saya adalah
outsider, tetapi pengalaman menjadi insider di dunia kekristenan bertahun-tahun lamanya
tentu telah memberikan banyak data storage yang bisa saya jelaskan dalam ulasan ini.

Sebenarnya menyandang predikat kristolog bebannya sangat berat, tidak asal memahami
ayat-ayat kontroversial di dalam bible lantas disebut kristolog. Kristologi mencakup
pemahaman tentang kristen secara luas, baik dari sudut biblika (studi ayat-ayat),
dogmatika, pastoral, misi, historiografi, dll. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan "teologi",
maka yang dihadapi adalah klasifikasi teologi yang bermacam-macam: Teologi Biblika,
Teologi Sistematika, Teologi Praktika, Teologi Pastoral, Teologi Misi, dsbnya. Lebih
lanjut jika teologi di-breakdown lebih jauh maka akan mengarah ke spesifikasi keilmuan,
baik yang bersifat tematik maupun stratifikasi. Teologi Biblika saja jika diuraikan akan
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 83
terbagi menjadi banyak spesifikasi: Bibliologi, Hermeneutika, Exegese, Teologi
Perjanjian Baru, Teologi Perjanjian Lama, Paul Letters, dll.

Saya tidak akan membahas kapabilitas dan kredibilitas kristolog disini, karena kriterianya
juga belum standar --nanti malah menimbulkan polemik baru. Yang ingin saya
Sampaikan adalah mengenai apa, bagaimana dan mengapa harus dilakukan studi
kristologi, dan apa yang mesti dilakukan kristolog didalam melakukan studi
dan diskusi tentang kekristenan.

Studi kristologi sangat diperlukan! Banyak hal yang mendasari perlunya studi dan diskusi
kristologi, urgensinya akan bermuara pada beberapa aspek, yaitu: (1) aspek komparatif,
(2) aspek korektif, (3) aspek investigatif dan (4) aspek kontradiktif. Aspek komparatif
bertujuan untuk melakukan perbandingan ajaran antara Islam dengan Kristen, disini
faktor persamaan dan perbedaan didiskusikan dalam tataran ilmiah, khususnya yang
berkaitan dengan konsep ketuhanan (divinity). Aspek korektif bertujuan untuk
mengungkap kelemahan doktrinal ajaran kristen melalui penyingkapan ilmiah terhadap
ayat-ayat ambivalen dan kontroversial, juga kelemahan-kelemahan yang bersifat
dogmatis. Aspek investigatif adalah suatu upaya eksploratif untuk menelusuri ajaran
agama kristen dari sudut sejarah, bahasa asli dan kepustakaan (library research). Terakhir,
aspek kontradiktif, yaitu suatu upaya menyingkap pertentangan dan polemik diantara
teolog-teolog kristen baik secara biblikal maupun dogmatis dari abad ke abad. Keempat
aspek ini seharusnya menjadi satu kesatuan yang utuh agar pembahasan tentang
kristologi tidak mengambang (floating).

Mengapa studi ini harus dilakukan? Jawabannya tidak lain karena menyangkut alasan
historis (historical basic), bahwa agama islam, kristen termasuk juga agama yudaisme
(yahudi) mempunyai benang sejarah dalam konsep keimanan/keagamaan. Ketiga agama
tersebut mengakar pada sejarah keimanan Ibrahim. Sejarah itu kemudian menjadi tidak
runtut dan bias, sehingga benang sejarah yang mestinya lurus malah renggang bahkan
kusut. Tentu ini terjadi karena ada distorsi (pembiasan ajaran) dan interpolasi (penyisipan
ajaran) antar fase dan generasi.

Umat Islam mengimani kitab-kitab Allah: Taurat, Zabur, Injil dan Alquran. Keempat
kitab ini mestinya merupakan rangkaian kalimat Ilahi yang berkesinambungan
(continuity) dan tidak terputus (without interruption), tetapi fase-fase antar kitab seperti
kita ketahui tidak terkait lagi (unconnected). Hal ini terjadi karena adanya distorsi dan
interpolasi tadi. Maka kristologi diperlukan untuk mengurai benang yang kusut tersebut.

Umat Islam sebagai khairu ummah punya tanggung jawab untuk meluruskan sejarah dan
meluruskan kesalahan-kesalahan dari konsep keimanan yang menyimpang, karena hal ini
menjadi bagian dari syiar Islam. Allah mengajar tauhid kepada Nabi Ibrahim, mestinya
ajaran itu mengalir dari waktu ke waktu secara utuh, melalui nabi Musa (Taurat), nabi
Daud (Zabur), nabi Isa (Injil) dan terakhir nabi Muhammad (Alquran). Adakah aliran itu
utuh dari ujung (nabi Ibrahim) hingga nabi Muhammad? Disinilah sebenarnya kristolog
mencari sebab ketidakutuhan itu, walaupun tidak mungkin secara brilian membangun
yang tidak utuh menjadi utuh kembali (process of unifying), karena banyak bukti dan
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 84
dokumen sejarah yang lenyap berabad-abad lamanya. Tetapi minimal realitas Quran
bisa mendiagnosa bible untuk mengurai ketidaksepadanan yang ada didalamnya.

Saya menjamin tidak akan pernah ada kesamaan secara teologis antara Islam dan Kristen,
apalagi jika berbicara masalah ketuhanan (divinity). Problemnya sangat jelas, ke-Esa-an
Allah dalam Islam mengarah pada Allah yang imaterial, Dzat yang tidak dapat
diatribusikan (diuraikan dalam wujud dan dimensi), sedangkan dalam keyakinan Kristen
Tuhan bersifat material dan bisa berwujud makhluk, seperti konsep Tuhan menjadi
manusia. Nabi Isa atau Yesus diyakini sebagai Tuhan yang ber-inkarnasi menjadi
manusia.

Disini kita melihat kontroversi? Maka jika ada gagasan bahwa dialog Islam dan Kristen
sebaiknya mencari persamaannya saja jangan membicarakan perbedaan, hal ini malah
merupakan cara berpikir yang mundur dan justru menghambat syiar Islam itu sendiri.
Jika kita mengimani Isa sebagai rasul dan nabi, kemudian di lain pihak malah
diberhalakan sebagai Tuhan, tidakkah kita malah membiarkan idolatrisme
(pemberhalaan) itu berlangsung tanpa anda keinginan kita untuk meluruskannya? Jika
kita percaya Rohul Kudus itu adalah malaikat Jibril, tetapi di lain juga diberhalakan
sebagai Tuhan dan kita tidak bereaksi, bukankah kita malah menutup mata terhadap
penyimpangan millah Ibrahim ini? Sebagai penganut monotheisme yang mengedepankan
ajaran tauhid, kemudian di lain pihak konsep Allah malah dicemari dengan konsep
tritheisme (apapun istilahnya: trinitas, Allah tritunggal) kemudian kita berdiam diri,
tidakkah juga kita sedangkan melanggengkan kesyirikan yang dilaknat oleh Allah SWT?
Dimanakah syiar Islam diposisikan, ketika seluruh ketauhidan kita tidak bergeming untuk
suatu kebenaran...! Disini jelas, posisi kristologi adalah untuk sarana syiar Islam..
Meluruskan penyimpangan dan memberitakan yang benar...!

Semoga uraian singkat ini bisa memuaskan semua pihak dan tidak menimbulkan
prasangka baru tentang aktivitas kristolog selama ini.

Jazakumullahu khairon katsiro,

Wass.wr.wb.

Mowo Purwito Rahardjo
(Muh. Yusuf Muttaqin)
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 85
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 15-01-2008

Yang Teristimewa Di Hari Ini

Yang teristimewa di hari ini buat saya adalah ketika saya bisa bertegur sapa dengan anda
melalui tulisan ini, sebab bertegur sapa bagi saya merupakan aktifitas yang saling
memuliakan hidup. Berhentilah sejenak dari aktifitas anda, Mari kita ulang kembali apa
saja yang telah kita lakukan dihari ini.

Sudahkah anda melakukan hal-hal walau kecil namun memiliki dampak besar bagi orang
lain? Sudahkah anda menyebarkan kebahagiaan untuk orang-orang disekitar anda?
Sudahkah anda merasa bahagia ketika melihat orang lain bahagia karena anda?

Jika belum, lakukanlah sekarang juga. Lakukan satu tindakan yang orang seumur
hidupnya akan mengenali anda sebagai orang yang baik. Lakukan tindakan yang paling
mudah anda kerjakan namun itu sangat berarti bagi orang lain. Seperti, memberi
senyuman termanis yang anda miliki kepada orang yang duduknya paling dekat dengan
anda atau kunjungi tempat duduk teman anda dan berikanlah wajah terbaik anda sebagai
teman. Mungkin juga anda bisa melambaikan tangan tangan untuk teman-teman anda
sambil berkata, "hai, apa kabar semua?"

Percayalah bila hari ini anda telah membuat orang lain bahagia itu merupakan
kegembiraan yang luar biasa dalam hidup anda dan orang yang hidupnya telah anda buat
bahagia akan juga membahagiakan orang lain.

Jadi, berapa banyak orang yang hidupnya menjadi bahagia karena tindakan kecil anda?
Berapa banyak orang yang bersyukur karena telah mengenal anda dalam hidupnya?
Berapa banyak orang yang akan mendoakan anda agar diberikan umur yang panjang?

Itulah yang membuat hidup kita menjadi yang teramat istimewa di hari ini.

Wassalam,
agussyafii

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 86
Pengirim : Susiana Susi@plant.tripolyta.com
Tgl. Email : 15-01-2008

Diantara Hukum Bulan Muharram
Oleh : Ummu Abdurrahman bintu Muhammad Arfat

Berbahagialah bagi seseorang yang dapat mengisi waktunya dengan sesuatu yang dapat
mendekatkan dirinya dengan Allah, bebahagialah bagi seseorang yang menyibukkan
dirinya dengan ketaatan dan menghindari maksiat.

Berbahagialah bagi seseorang yang meyakini adanya hikmah-hikmah Allah yang agung
dan rahasia-rahasia-Nya (yang Dia ketahui), dengan melihat kepada silih bergantinya
perkara-perkara dan keadaan-keadaan.

"Artinya : Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan" [An-
Nur : 44]

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini kamu berpisah dengan tahun yang
telah lalu, yang menjadi saksi. Dan kamu akan menyambut tahun yang akan datang,
tahun yang baru, maka apakah yang telah kamu tinggalkan untuk tahun kemarin ? Dan
dengan apa kamu akan menyambut tahun yang baru ini ?

Maka seseorang yang berakal hendaklah menginstropeksi dirinya, dan melihat urusannya.
Jika sekiranya dia telah meninggalkan suatu kewajiban, maka segeralah bertaubat dan
segeralah untuk memperbaiki apa yang ditinggalkannya. Dan jika dia telah mendhalimi
dirinya sendiri dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan hal-hal yang haram
segeralah ia meninggalkannya sebelum datangnya kematian.

Dan jika dia termasuk orang yang diberi keistiqomahan oleh Allah, maka mintalah untuk
tetap istiqomah sampai akhir hidupnya. [Dari kitab Dhiya'ul Lami Minal Khutabil
Jawami' I/313-314 secara bebas, karya Syaikh Utsaimin]

Awal bulan telah membawa kita ketahun baru Hijriyah, bulan itu ialah bulan Allah Al-
Muharam. Hal ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagimu. Tetapi ....! Apakah bulan ini
memiliki hukum-hukum yang harus diketahui oleh thalibul ilmi, thalibul haq dan thalibul
akhirah (penuntut ilmu, pencari kebenaran dan orang yang menginginkan akhirat)? Yaa
... di bulan ini ada amalan-amalan yang harus diperhatikan, sebagai upaya untuk
menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan upaya untuk
memperoleh pahala serta kebaikan bagi orang yang mengajak kepada petunjuk agama.

"Artinya : Siapa yang mengajak kepada suatu petunjuk maka ia akan memperoleh pahala
seperti pahala orang yang mengikutinya dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari pahala
mereka" [Hadits Riwayat Muslim]

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 87
Pemuda sejati, demi Allah ialah yang memiliki ilmu dan ketaqwaan Tidaklah dikatakan
pemuda sejati kalau tidak memiliki keduanya.

DIANTARA HUKUM-HUKUM BULAN MUHARRAM
Pertama : Dilarang Berbuat Dhalim Di Bulan Itu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
_| :´.s ¸.·.:l¦ ..s ´<¦ !..¦ ´¸:s ¦,¯.: _· ...é ´<¦ »¯.. _l> .´...´.l¦ _¯¸N¦´.
!... «-.¯¸¦ »`,`> l: _·¦ `.¯,1l¦ *· ¦..lL. ´..· ¯.÷.±.¦ ¦.l..·´.
_.é¸:.l¦ «·l´ !.é ¯.>..l..1`. «·!é ¦..l.¦´. _¦ ´<¦ ×. _.1`.`.l¦ ¯'

"Artinya : Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan
haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam
bulan yang empat itu" [At-Taubah : 36]

Sesungguhnya Allah tidak menulis di dalam Lauhul Makhfud yaitu pada hari penciptaan
langit dan bumi, bahwa jumlah bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan. Empat bulan di
antaranya ialah haram (mulia) : Tiga beriringan, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan
Muharram, serta Rajab Mudhar yang ada antara Jumada dan Sya'ban,

"Allah memiliki hikmah yang sempurna, yaitu ketika Dia memilih utusan-utusan dari
kalangan malaikat (seperti Jibril untuk menyampaikan wahyu, -red), begitu juga dari
kalangan manusia (yakni para rasul yang diutus Allah,-red).

Dan Allah juga mengutamakan beberapa waktu dibanding dengan waktu yang lainnya,
beberapa tempat dibanding dengan tempat-tempat lainnya. Dan mengutamakan sebagian
bulan dengan sebagian lainnya, sebagian hari dengan sebagian lainnya" [Dhiya'ul Lami
2/704]

Adapun tentang larangan berbuat dhalim pada ayat diatas, ulama Salaf berbeda pendapat.
Sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud kedhaliman adalah
peperangan secara mutlak. Sebagian mereka berkata -dan ini yang lebih rajih- bahwa
maksud dari kedhaliman dalam ayat diatas ialah dilarangnya memulai peperangan. Ada
juga ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kedhaliman di dalam ayat
ialah berbuat dosa dan kemaksiatan.

Maka -wahai saudara-saudara seagama Islam-, hendaklah kita berhati-hati dari
kedhaliman, baik mendhalimi diri kita sendiri atau mendhalimi orang lain.

Hendaklah kita mengingat wasiat kekal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
sabdanya.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 88
"Artinya : Tahukah kalian dengan kedhaliman, karena sesungguhnya kedhaliman itu
merupakan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat" [Hadits Riwayat Muslim dan lainnya.
Shahih al-Jami no 102]

Dan hendaklah kita menjaga diri dari do'anya orang-orang yang didhalimi, walaupun ia
kafir atau fajir (jahat), karena sesungguhnya do'anya dikabulkan oleh Allah (karena tidak
ada penghalang antara dia dengan Allah).

Ingatlah kita kepada sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
"Artinya : Tidak ada dari satu dosapun yang lebih pantas untuk dicepatkan siksanya bagi
pelaku dosa itu baik di dunia maupun di akhirat daripada melewati batas (kedhaliman)
dan memutus silaturahim" [Ash-Shahihah no 915]

Di dalam syair dikatakan.
Apakah orang yang sangat dhalim itu akan selamat.
Padahal di belakangnya terdapat panah do'a yang siap menancap dari orang negeri Qas
yang sedang ruku.

Maka hendaklah orang-orang yang terdhalimi bergembira dengan diijabahi do'a mereka
oleh Allah yang Maha Mendengar dan Mengetahui, walaupun selang beberapa waktu.

Hendaklah mereka senang dan tenang, yaitu bahwa orang-orang yang dhalim itu akan
celaka di dunia dan akhirat. Dan bahwasanya Allah tidaklah menyelisihi janjiNya, "akan
tetapi kalian itu kaum yang tergesa-gesa".

Adapun orang yang membantu orang-orang yang dhalim di dalam kedhaliman dan
kesesatan mereka, apapun kedudukan orang-orang yang dhalim itu, baik penguasa
ataupun rakyat, maka ingatlah bahwa adzab yang pediah pasti akan menunggu mereka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Siapa membantu orang yang dhalim, untuk menolak kebenaran dengan
kebhatilannya, maka sesungguhnya jaminan Allah dan RasulNya telah terlepas darinya"
[Hadits Riwayat Hakim. Shahihul Jami' no 6048]

Hadits yang mulia diatas cukuplah menjadi peringatan dari kedhaliman, baik kecil
maupun besar, bagi orang yang berakal, atau orang yang mau mendengarkan, sedangkan
dia menyaksikan.

Kedua : Disunahkan Puasa Secara Mutlak Khususnya 9 dan 10 Muharram
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan
Muharram" [Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah]

Adapun puasa 9 Muharram, maka itu disunnahkan. Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 89
"Artinya : Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan
memerintahkan (para sahabat) supaya berpuasa. Para sahabat berkata : "Wahai Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh
Yahudi dan Nasrani", Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Pada
tahun depan insya Allah kita puasa tanggal 9". Tetapi beliau wafat sebelum datangnya
tahun berikutnya" [Hadits Riwayat Muslim]

Di dalam hadits lain.
"Artinya : Seandainya aku mendapati tahun depan, maka aku akan puasa tanggal 9.
Tetapi beliau meninggal sebelum itu" [Hadits Riwayat Muslim]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menganjurkan kepada umatnya supaya
berpuasa Asyura (tanggal 10 Muharram), ketika ditanya tentang puasa Asyura, dengan
sabdanya ;

"Artinya : Puasa Asyura menghapus kesalahan setahun yang telah lalu" [Hadits Riwayat
Muslim]

Beliau juga senantiasa melakukan puasa Asyura berdasarkan hadits Ibnu Abbas
Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata.

"Artinya : Tidaklah aku melihat Rasulullah lebih menjaga puasa pada hari yang
diutamakannya dari hari lain kecuali hari ini, yaitu Asyura" [Shahih At-Targhib wa arhib]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Asyura merupakan hari diantara hari-hari Allah" [Hadits
Riwayat Muslim]

Benarlah bahwa Asyura merupakan hari-hari Allah, yang pada hari itu al-haq
mendapatkan kemenangan atas kebatilan. Orang-orang mukmin yang sedikit
mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir yang banyak. Pada hari itu pula Allah
menyelamatkan Nabi Musa 'Alaihis sallam dan kaumnya dari kejaran Fair'aun. Maka
berpuasalah Nabi Musa 'Alaihis sallam sebagai wujud syukur kepada Allah. Tatkala
Rasulullah datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi puasa pada hari itu,
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya tentang sebabnya. Maka orang-orang
Yahudi menjawab bahwa mereka mengagungkan hari itu, karena pada hari itu Nabi Musa
'Alaihis sallam dan kaumnya diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir'aun. Maka
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Maka aku lebih berhak terhadap Musa daripada kamu. Maka beliaupun
berpuasa dan memerintahkan umatnya supaya berpuasa pada hari itu" [Hadits Riwayat
Bukhari]

Pada mulanya puasa Asyura diwajibkan, tetapi setelah Allah mewajibkan puasa pada
bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 90
"Artinya : Barangsiapa berkehendak, silahkan berpuasa, dan barangsiapa berkehendak,
silahkan meninggalkan (tidak berpuasa)".

Mungkin ada orang yang berkata : "Bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berpuasa pada hari Asyura, mengikuti orang-orang Yahudi, padahal kita diperintahkan
untuk menyelisihi mereka, yaitu orang-orang yang di murkai oleh Allah".

Jawabannya adalah : Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berpuasa
Asyura pada zaman jahiliyah, bahkan orang Quraisy pun berpuasa pada hari itu. Jadi
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa Asyura itu sebelum beliau datang ke
Madinah (yang disana bertemu dengan orang-orang Yahudi,-red). Kemudian Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam membenarkan khabar orang-orang Yahudi, bahwa nabi
Musa 'Alaihis sallam berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur, karena Allah telah
menyelamatkan dari Fir'aun. Maka orang-orang Yahudi pun mengagungkan hari itu. Al-
Mazari berpendapat bahwa pembenaran Nabi kepada Yahudi mungkin setelah Nabi
diberi wahyu tentang kebenaran mereka, dan kabar itu telah sangat masyhur pada beliau.
Atau mungkin orang Yahudi yang telah masuk Islam, seperti Ibnu Salam, telah
mengabarkan kepada Nabi tentang kebenaran kabar tersebut, Kesimpulannya, bahwa
Nabi melakukan puasa Asyura bukanlah karena mengikuti orang Yahudi, karena
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berpuasa sebelum Rasulullah pergi ke
Madinah. Dan waktu itu menyamai Ahli Kitab dalam perkara yang tidak dilarang secara
syar'i.

KAIDAH MUWAFAQAH (MENYAAMAI) MEWUJUDKAN ADANYA TASYABUH
(MENYERUPAI).
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah menyamai Yahudi dalam
mengagungkan hari Asyura dengan cara mereka. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam menyelisihi mereka, yaitu dengan (niat) melakukan puasa satu hari sebelum
Asyura yaitu tanggal 9 Muharram

Adapun puasa setelahnya yaitu 11 Muharram , ini berdasarkan hadits Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah orang Yahudi, puasalah sehari
sebelumnya atau sehari setelahnya"

Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam ta'liq (komentar) nya terhadap
Shahih Ibnu Khuzaimah juz 3 no. 290, bahwa sanadnya dha'if, karena kejelakan hafalan
Abu Laila, dan Atha' serta yang lain menyelisihinya juga.

Bahkan Ath-Thahawi dan Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Abbas secara mauquf (dari
perkataan Ibnu Abbas) dan sanadnya shahih.

Sekarang jelaslah tentang kelemahan orang yang menyatakan bahwa puasa Asyura itu
bertingkat-tingkat. Yang paling tinggi tingkatannya adalah puasa sebelum ataupun
sesudahnya. Dalam hal ini perkataan Ibnu Abbas menjadi penguat puasa pada tanggal 9
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 91
Muharram dan 10 Muharram dalam rangka untuk menyelisihi orang Yahudi. Inilah
pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Fatawa juz 25 hal. 313.
Wallahu a'lam

PERINGATAN TENTANG HADITS DHAIF YANG BERKAITAN DENGAN
KEUTAMAAN ASYURA
"Artinya : Siapa yang memberikan kelonggaran (nafkah) kepada orang yang menjadi
tanggungannya pada hari Asyura, maka Allah akan memberikan kelonggaran kepadanya
selama setahun penuh".

Hadits dhaif sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Tamamul Minnah oleh Syaikh Al-
Albani hal. 412

"Artinya : Siapa yang bercelak dengan itsmid pada hari Asyura, dia tidak akan terkena
penyakit mata selamanya" Hadits maudhu (palsu) sebagaimana di dalam kiat Adh-
Dhaifah no. 224

Maka sikap Ahlu Sunnah wal Jama'ah di dalam menghadapi hari Asyura adalah bahwa
Asyura bukanlah hari untuk senda gurau ataupun untuk mencela. Akan tetapi yang
sunnah ialah melakukan puasa, sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berpuasa pada hari itu, bahkan menganjurkannya. Dan terkutulah ahli bid'ah (yang
membikin berbagai bid'ah pada hari yang mulia ini)

"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengagungkan hari itu dan
memanggil bayi-bayi yan menyusui milik beliau dan Fathimah, kemudian beliau meludah
di mulut mereka dan memerintahkan ibu mereka agar tidak menyusuinya sampai malam"
Hadits dhaif, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2089

Akhirnya, inilah yang bisa kami ketengahkan tentang pembahasan penting yang
berhubungan dengan bulan Muharram. Jika pembaca menginginkan pembasahan yang
lebih luas bisa melihat kitab-kitab fikih induk dan kitab-kitab aqidah yang membantah
ahli bid'ah dan kitab-kitab lain yang membahas masalah ini. Dan juga hendaknya melihat
kitab Ra'sul Husain karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab Istisyhadul Husain karya
Ibnu Katsir, dan kitab Al-Awashim Minal Qawashim karya Ibnul Arabi Al-Maliki.
Sehingga bisa mengetahui hakikat peristiwa musibah Husain bin Ali menurut pandangan
Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Dan juga mengetahui seberapa besar bid'ah-bid'ah dan kemungkaran-kemungkaran yang
dilakukan oleh orang-orang Syi'ah Rafidhah, yang mengatas namakan kecintaan kepada
Ahlul Bait dan pembelaan kepada mereka dengan merusak sejarah Islam. Dan agar
mengetahui berdasarkan ilmu, tentang sejarah Husain Radhiyalahu 'anhu dan riwayat-
riwayat yang menceritakan tentang musibah yang besar itu. Yang hingga kini terus
menerus umat harus membayar harga musibah tersebut. Semua itu mereka lakukan
dengan mengatas namakan Ahlul Bait dan penghapusan dosa terbunuhnya Husain dengan
cara membunuh Ahlu Sunnah wal Jama'ah, mengadakan propaganda-propaganda untuk
melawan Ahlus Sunnah, dan menanamkan rasa takut di hati mereka. Maka semoga Allah
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 92
membinasakan ahli bid'ah dan ahli ahwa, yang mereka itu membunuhi umat Islam tetapi
membiarkan para penyembah berhala.

Kita memohon kepada Allah semoga Dia menyelamatkan kita dari bid'ah-bid'ah dan dari
perkara-perkara yang diadakan di dalam agama.

[Diterjemahkan oleh Abu Aminah Ady Abdul Jabbar dari majalah Al-Ashalah, hal.67-73,
No. 11, 15 Dzulhijjah 1414h]

Wassalamu'alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 93
Pengirim : Nana yahya anggrainiyahya@yahoo.com
Tgl. Email : 18-01-2008

Strategi Setan Menjerumuskan Manusia

Sebelum kita mengetahui strategi setan menjerumuskan manusia, ada baiknya terlebih
dahulu mengetahui Visi dan Misi setan. Visi setan adalah memperbudak manusia dan
Misi setan mengkondisikan manusia lupa kepada Alah SWT.

Adapun strategi setan untuk mewujudkan visi dan misinya adalah sbb :
1. Waswasah
Waswasah artinya membisikkan keraguan pada manusia ketika melakukan
kebaikan atau amal sholeh. Saat kumandang azan subuh dan tubuh kita masih
dililit selimut, terbersit dalam pikiran kita, "Nanti lima menit lagi". Ini adalah
waswasah. Kenyataannya bukan lima menit tapi satu jam, akhirnya Sholat Shubuh
terlambat bahkan tidak sholat.

2. Tazyin
Tazyin artinya membungkus kemaksiatan dengan kenikmatan. Segala yang
berbau maksiat biasanya terlihat indah, Misalnya, mengapa orang yang
berpacaran lebih mesra daripada suami-istri? Jalan-jalan saat pacaran lebih
mengesankan daripada setelah menikah. Ini karena ada unsur tazyin. Pacaran itu
maksiat, sementara nikah itu ibadah. Maksiat disulap oleh setan sehingga terasa
lebih indah, nikmat dan mengesankan. Inilah yang disebut strategi tazyin.
3. Tamanni
Tamanni artinya memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan.
Pernahkan terbersit niat akan Shalat Tahjud saat merebahkan badan di tempat
tidur? Namun pada jam tiga saat wekwr berbunyi, kita cepat-cepat mematikannya
lalu meneruskan tidur. Pernahkan kita ingin bertobat? Namun pada sat maksiat
ada di depan mata, kita tetap saja melakukannya. Ironisnya ini berlangsung
berkali-kali. Inilah yang disebut strategi tamanni.
4. A'dawah
A'dawah artinya berusaha menanamkan permusuhan. Setan berikhtiar
menumbuhkan permusuhan di anatara manusia. Biasanya permusuhan berawal
dari prasangka buruk. Supaya manusia bermusuhan, setan biasanya
penumbuhkan prasangka buruk.Karena itu waspadai kalau kita berprasangka
buruk pada orang lain, sesungguhnya kita telah terperangkap strategi setan.
5. Takwif
Takwif artinya menakut-nakuti. Pernahkah merasa takut miskin karena
menginfakkan sebagian harta, takut disebut sok alim karena datang ke majelis
taklim? Kalau kita pernah merasakannya, inilah strategi takhwif.
6. Shaddun
Shaddun artinya berusaha menghalang-halangi manusia menjalankan perintah
Allah dengan menggunakan berbagai hambatan. Pernahkah anda merasa malas
saat mau melakukan sholat, atau mengantuk saat membaca Al Qur'an
meskipun sudah cukup tidur? Ini adalah gejala shaddun dari setan.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 94
7. Wa'dun
Wa'dun artinya janji palsu. Setan berusaha membujuk manusia agar mau
mengikutinya dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan. Akhirnya
manusia mempercayainya. Misalnya, banyak kasus seorang wanita menyerahkan
dirinya pada sang pacar karena dijanjikan akan dinikahi, namun setelah hamil
sang pacar meninggalkannya begutu saja. Dia tidak mau bertanggung jawab.
Inilah contoh wa'dun atau janji palsu dari setan.
8. Kaidun
Kaidun artinya tipu daya. Setan berusaha sekuat tenaga memasang sejumlah
perangkap agar manusia terjebak. Pernahkah saat diberi tugas, kita berpikir nanti
saja mengerjakannya krn waktu masih lama? Ternyata setelah dekat waktunya
kita mengerjakan asal-asalan dan tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak optimal
atau ada kemunginan pada waktu yang ditentukan pekerjaan tidak selesai. Strategi
ini disebut kaidun.
9. Nisyan
Nisyan artinya lupa. Sesungguhnya lupa itu adalah hal yang manusiawi. Lupa
memang sesuatu hal yang manusiawi, tetapi setan berusaha agar manusia
menjadikan lupa sebagai alasan untuk menutupi tanggung jawab. Pernahkan kita
lupa menunaikan janji? Lupa sholat? Kalau sesekali itu bisa disebut manusiawi,
tetapi kalau sering dilakukan berarti terjebak strategi nisyan.

Demikian ringkasan tentang strategi setan. Semoga kita dapat mencermati dan
berusaha agar tidak terjebak strategi setan laknatullah (setan yang dilaknat Allah)

Sumber :
Judul Buku : Strategi setan menjerumuskan manusia (Menelanjangi strategi jin)
Pengarang : Ustadz Aam Amiruddin

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 95
Pengirim : luqman.abdul.aziz@id.abnamro.com
Tgl. Email : 18-01-2008

APA YANG HARUS DILAKUKAN
UNTUK DAPAT MENAFSIRKAN AL-QUR'AN?
oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan :
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : "Apa yang harus dilakukan untuk
dapat menafsirkan Al-Qur'an?"

Jawaban :
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan Al-Qur'an ke dalam hati nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wasallam agar beliau mengeluarkan manusia dari kekufuran dan
kejahilan yang penuh dengan kegelapan menuju cahaya Islam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Ibrahim : 1
,l¦ ´...é «..l,.¦ i.l| ~,>.l ´!.l¦ ´. ·..lLl¦ _|| ¸..l¦ _:¦. `.±.´¸ _|| 1´¸.
,.,-l¦ ...>'¦ ¸

"Artinya : Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin
Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji".

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjadikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
sebagai orang yang berhak menjelaskan, menerangkan, dan menafsirkan isi Al-Qur'an.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat An-Nahl : 44 "Artinya : Keterangan-
keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar
kami menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka
supaya mereka memikirkan".

Sunnah berfungsi sebagai penafsir dan penjelas isi Al-Qur'an, dan sunnah ini juga
merupakan wahyu karena yang diucapkan oleh Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah bukan hasil pemikiran Rasulullah, tetapi semuanya dari wahyu Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an
surat An-Najm : 3-4.
!.´. _L.. s ´_´.>¦ ¯ _| ´.> N| "_`-´. _-.`. '

"Artinya : Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)".
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 96
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur'an dan sesuatu yang hampir
sama dengan Al-Qur'an. Ketahuilah, akan ada seorang lelaki kaya raya yang duduk di
atas tempat duduk yang mewah dan dia berkata, "Berpeganglah kalian kepada Al-Qur'an.
Apapun yang dikatakan halal didalam Al-Qur'an, maka halalkanlah, sebaliknya apapun
yang dikatakan haram dalam Al-Qur'an, maka haramkanlah. Sesungguhnya apapun yang
diharamkan oleh Rasulullah, Allah juga mengharamkannya" [Takhrijul Misykat No.
163]

Untuk itu cara menafsirkan Al-Qur'an adalah:
Cara Pertama : Adalah dengan sunnah. Sunnah ini berupa : ucapan-ucapan, perbuatan-
perbuatan, dan diamnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Cara Kedua :
Adalah dengan penafsiran para sahabat. Dalam hal ini pelopor mereka adalah Ibnu
Mas'ud dan Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu. Ibnu Mas'ud termasuk sahabat yang
menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sejak dari awal dan dia selalu
memperhatikan dan bertanya tentang Al-Qur'an serta cara memahaminya dan juga cara
menafsirkannya. Sedangkan mengenai Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud pernah berkata : "Dia
adalah penerjemah Al-Qur'an". Oleh karena itu tafsir yang berasal dari seorang sahabat
harus kita terima dengan lapang dada, dengan syarat tafsir tersebut tidak bertentangan
dengan tafsiran sahabat yang lain.

Cara Ketiga :
Yaitu apabila suatu ayat tidak kita temukan tafsirnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam dan para sahabat, maka kita cari tafsiran dari para tabi'in yang merupakan
murid-murid para sahabat, terutama murid-murid Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas, seperti :
Sa'ad bin Juba'ir, Thawus, Mujahid, dan lain-lain.

Sangat disayangkan, sampai hari ini banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an yang tidak
ditafsirkan dengan ketiga cara di atas, tetapi hanya ditafsirkan dengan ra'yu
(pendapat/akal) atau ditafsirkan berdasarkan madzhab yang tidak ada keterangannya dari
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara langsung. Ini adalah masalah yang sangat
mengkhawatirkan apabila ayat-ayat Al-Qur'an ditafsirkan hanya untuk memperkuat dan
membela satu madzhab, yang hasil tafsirnya bertentangan dengan tafsiran para ulama
ahli tafsir.

Untuk menunjukkan betapa bahayanya tafsir yang hanya berdasarkan madzhab, akan
kami kemukakan satu contoh sebagai bahan renungan yaitu tafsir Al-Qur'an surat Al-
Muzammil : 20.

"Artinya : Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an"
Berdasarkan ayat ini, sebagian penganut madzhab berpendapat bahwa yang wajib dibaca
oleh seseorang yang sedang berdiri shalat adalah ayat-ayat Al-Qur'an mana saja. Boleh
ayat-ayat yang sangat panjang atau boleh hanya tiga ayat pendek saja. Yang penting
membaca Al-Qur'an. (tidak harus Al-Fatihah -pent-).
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 97
Betapa anehnya mereka berpendapat seperti ini, padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda : "Artinya : Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca
pembuka Al-Kitab (surat Al-Fatihah)" [Shahihul Jaami' No. 7389]

Dan di hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Barangsiapa yang shalat tidak membaca surat Al-Fatihah maka shalatnya
kurang, shalatnya kurang, shalatnya kurang, tidak sempurna" [Shifatu Shalatain Nabiy
hal. 97]

Berdasarkan tafsir diatas, berarti mereka telah menolak dua hadits shahih tersebut,
karena menurut mereka tidak boleh menafsirkan Al-Qur'an kecuali dengan hadits yang
mutawatir, dengan kata lain mereka mengatakan, "Tidak boleh menafsirkan yang
mutawatir kecuali dengan yang mutawatir pula".

Akhirnya mereka menolak dua hadits tersebut karena sudah terlanjur mempercayai
tafsiran mereka yang berdasarkan ra'yu dan madzhab. Padahal semua ulama tafsir, baik
ulama yang mutaqaddimin (terdahulu) atau ulama yang mutaakhirin (sekarang),
semuanya sependapat bahwa maksud 'bacalah' dalam ayat di atas adalah 'shalatlah'. Jadi
ayat tersebut maksudnya adalah : "Maka shalatlah qiyamul lail (shalat malam) dengan
bilangan raka'at yang kalian sanggupi".

Tafsir ini akan lebih jelas apabila kita perhatikan seluruh ayat tersebut.
"Artinya : Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang
dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula)
segolongan dari orang-orang yang besama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam
dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas
waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang
mudah (bagimu) dari Al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-
orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia
Allah ; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa
yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan
berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang
kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai
balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Ayat tersebut jelas tidak ada hubungannya dengan apa yang wajib dibaca di dalam
shalat. Ayat tersebut mengandung maksud bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
memberi kemudahan kepada kaum muslimin untuk shalat malam dengan jumlah raka'at
kurang dari yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu sebelas
raka'at. Inilah maksud sebenarnya dari ayat tersebut.

Hal ini dapat diketahui oleh orang-orang yang mengetahui uslub (gaya/kaidah bahasa)
dalam bahasa Arab. Dalam uslub bahasa Arab ada gaya bahasa yang sifatnya "menyebut
sebagian" tetapi yang dimaksud adalah "keseluruhan"[1] Sebagaimana kita tahu bahwa
membaca Al-Qur'an adalah bagian dari shalat.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 98
Allah sering menyebut kata "bacaan/membaca" padahal yang dimaksud adalah shalat. Ini
untuk menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an itu merupakan bagian penting dari
shalat.

Contohnya adalah dalam surat Al-Isra' : 78
.·¦ :.l¯.l¦ ì.l .:l¦ _|| _.s _.l¦ _¦´.¯,·´. ,>±l¦ _| _¦´.¯,· ,>±l¦ _l´
¦´:.·.:. ¯¯

"Artinya : Dirikanlah shalat dari tergelincir matahari (tengah hari) sampai gelap malam
(Dzuhur sampai Isya). Dan dirikanlah pula bacaan fajar"

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut 'qur'ana al-fajri'. Tapi yang
dimaksud adalah shalat fajar (shalat shubuh). Demikianlah salah satu uslub dalam bahasa
Arab.

Dengan tafsiran yang sudah disepakati oleh para ulama ini (baik ulama salaf maupun
ulama khalaf), maka batallah pendapat sebagian penganut madzhab yang menolak dua
hadits shahih di atas yang mewajibkan membaca Al-Fatihah dalam shalat. Dan batal juga
pendapat mereka yang mengatakan bahwa hadits ahad tidak boleh dipakai untuk
menafsirkan Al-Qur'an. Kedua pendapat tersebut tertolak karena dua hal. Tafsiran ayat
di atas (Al-Muzzammil : 20) datang dari para ulama tafsir yang semuanya faham dan
menguasai kaidah bahasa Al-Qur'an.

Tidak mungkin perkataan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertentangan dengan Al-
Qur'an. Justru perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu menafsirkan dan
menjelaskan isi Al-Qur'an.

Jadi sekali lagi, ayat di atas bukan merupakan ayat yang menerangkan apa yang wajib
dibaca oleh seorang muslim di dalam shalatnya. Sama sekali tidak, baik shalat fardhu
atau shalat sunat. Adapun dua hadits di atas kedudukannya sangat jelas, yaitu
menjelaskan bahwa tidak sah shalat kecuali dengan membaca Al-Fatihah. Sekarang hal
ini sudah jelas bagi kita. Oleh karena itu seharusnya hati kita merasa tentram dan yakin
ketika kita menerima hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan
dalam kitab-kitab sunnah/kitab-kitab hadits yang sanad-sanandnya shahih.
Jangan sekali-kali kita bimbang dan ragu untuk menerima hadits-hadits
shahih karena omongan sebagian orang yang hidup pada hari ini, dimana
mereka berkata : "Kami tidak menolak hadits-hadits ahad selama hadits-hadits tersebut
hanya berisi tentang hukum-hukum dan bukan tentang aqidah. Adapun masalah aqidah
tidak bisa hanya mengambil berdasarkan hadits-hadits ahad saja".

Demikian sangkaan mereka, padahal kita tahu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah mengutus Mu'adz bin Jabal untuk berdakwah, mengajak orang-orang ahli
kitab untuk berpegang kepada aqidah tauhid [Shahih Bukhari No. 1458, Shahih Muslim
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 99
No. 19], padahal Mu'adz ketika itu diutus hanya seorang diri (berarti yang disampaikan
oleh Mu'adz adalah hadits ahad, padahal yang disampaikan adalah menyangkut masalah
aqidah -pent-).

[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya
Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-
Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]
Foote Note :

[1] Misalnya : Menyebut 'bacaan Al-Qur'an' tetapi yang dimaksud adalah shalat karena
bacaan Al-Qur'an itu bagian dari shalat. Menyebut kata nafs (=jiwa, nyawa) tetapi yang
dimaksud adalah manusia, menyebut 'darah' atau 'memukul' padahal yang dimaksud
adalah membunuh (-pent-)
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 100
Pengirim : luqman.abdul.aziz@id.abnamro.com
Tgl. Email : 19-01-2008

Kisah Indah Sang Khalifah

Siang di bumi Madinah, suatu hari. Matahari tengah benderang.
Teriknya sungguh garang menyapa hampir setiap jengkal kota dan pepasir lembah.
Jalanan senyap, orang-orang lebih memilih istirahat di dalam rumah daripada bepergian
dan melakukan perniagaan. Namun tidak baginya, lelaki tegap, berwajah teduh dan
mengenakan jubah yang sederhana itu berjalan menyusuri lorong-lorong kota sendirian.
Ia tidak peduli dengan panas yang menyengat. Ia tak terganggu dengan debu-debu yang
naik ke udara. Ia terus saja bersemangat mengayun langkah. Sesekali ekor matanya
berkerling ke sana ke mari seperti tengah mengawasi. Hatinya lega, ketika daerah yang
dilewatinya sentosa seperti kemarin.

Hingga ketika ia melewati salah satu halaman rumah seorang penduduk, tiba-tiba ia
berhenti. Langkahnya surut. Pandangannya tertuju pada anak kecil di sana. Ditajamkan
pendengarannya, samar-samar ia seperti mendengar suara lirih cericit burung. Perlahan
ia mendatanginya dan dengan lembut ia menyapa bocah laki-laki yang tengah asyik
bermain.

"Nak, apa yang berada di tanganmu itu?" Wajah si kecil mendongak, hanya sekilas dan
menjawab.

"Paman, tidakkah paman lihat, ini adalah seekor burung," polosnya ringan. Pandangan
lelaki ini meredup, ia jatuh iba melihat burung itu mencericit parau. Di dalam hatinya
mengalun sebuah kesedihan, "Burung ini tentu sangat ingin terbang dan anak ini tidak
mengerti jika mahluk kecil ini teraniaya."

"Bolehkah aku membelinya, nak? Aku sangat ingin memilikinya," suaranya penuh
harap. Si kecil memandang lelaki yang tak dikenalnya dengan seksama. Ada gurat
kesungguhan dalam paras beningnya. Lelaki itu masih saja menatapnya lekat. Akhirnya
dengan agak ragu ia berkata, "Baiklah paman," maka anak kecil pun segera bangkit
menyerahkan burung kepada lelaki yang baru pertama kali dijumpainya.

Tanpa menunggu, lelaki ini merogoh saku jubah sederhananya. Beberapa keping uang
itu kini berpindah. Dalam genggamannya burung kecil itu dibawanya menjauh. Dengan
hati-hati kini ia membuka genggamannya seraya bergumam senang, "Dengan menyebut
asma Allah yang Maha Penyayang, engkau burung kecil, terbanglah...terbanglah..."

Maka sepasang sayap itu mengepak tinggi. Ia menengadah hening memandang burung
yang terbang ke jauh angkasa. Sungguh, langit Madinah menjadi saksi, ketika senyuman
senang tersungging di bibirnya yang seringkali bertasbih. Sayup-sayup didengarnya
sebuah suara lelaki dewasa yang membuatnya pergi dengan langkah tergesa. "Nak,
tahukah engkau siapa yang membeli burung mu itu? Tahukah engkau siapa lelaki mulia
yang kemudian membebaskan burung itu ke angkasa? Dialah Khalifah Umar nak..."
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 101
***
Malam-malam di kota Madinah, suatu hari.
Masih seperti malam-malam sebelumnya, ia mengendap berjalan keluar dari rumah
petak sederhana. Masih seperti malam kemarin, ia sendirian menelusuri jalanan yang
sudah seperti nafasnya sendiri. Dengan udara padang pasir yang dingin tertiup, ia
menyulam langkah-langkah merambahi rumah-rumah yang penghuninya ditelan lelap.
Tak ingin malam ini terlewati tanpa mengetahui bahwa mereka baik-baik saja. Sungguh
tak akan pernah rela ia harus berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian di luar sana tak
ada bala. Maka ia bertekad malam ini untuk berpatroli lagi.

Madinah sudah tersusuri, malam sudah hampir di puncak. Angkasa bertabur kejora. Ia
masih berjalan, meski lelah jelas terasa. Sesekali ia mendongak melabuhkan pandangan
ke langit Madinah yang terlihat jelita. Maka ia pun tersenyum seperti terhibur dan
memuja pencipta. Tak terasa Madinah sudah ditinggalkan, ia berjalan sudah sampai di
luar kota. Dan langkahnya terhenti ketika dilihatnya seorang lelaki yang tengah duduk
sendirian menghadap sebuah pelita.

"Assalamu'alaikum wahai fulan," ia menegur lelaki ini dengan santun.
"Apakah yang engkau lakukan malam-malam begini sendirian," tambahnya.
Lelaki itu tidak jadi menjawab ketika didengarnya dari dalam tenda suara perempuan
yang memanggilnya dengan mengaduh. Dengan tersendat lelaki itu memberitahu bahwa
istrinya akan melahirkan. Lelaki itu bingung karena di sana tak ada sanak saudara yang
dapat diminta pertolongannya.

Setengah berlari maka ia pun pergi, menuju rumah sederhananya yang masih sangat
jauh. Ia menyeret kakinya yang sudah lelah karena telah mengelilingi Madinah. Ia terus
saja berlari, meski kakinya merasakan dengan jelas batu-batu yang dipijaknya sepanjang
jalan. Tentu saja karena alas kakinya telah tipis dan dipenuhi lubang. Ia jadi teringat
kembali sahabat-sahabatnya yang mengingatkan agar ia membeli sandal yang baru.

"Umm Kultsum, bangunlah, ada kebaikan yang bisa kau lakukan malam ini," Ia
membangunkan istrinya dengan nafas tersengal. Sosok perempuan itu menurut tanpa
sepatah kata. Dan kini ia tak lagi sendiri berlari. Berdua mereka membelah malam. Allah
menjadi saksi keduanya dan memberikan rahmah hingga dengan selamat mereka sampai
di tenda lelaki yang istrinya akan melahirkan.

Umm Kultsum segera masuk dan membantu persalinan. Allah Maha Besar, suara tangis
bayi singgah di telinga. Ibunya selamat. Lelaki itu bersujud mencium tanah dan
kemudian menghampirinya sambil berkata, "Siapakah engkau, yang begitu mulia
menolong kami?"

Lelaki ini tidak perlu memberikan jawaban karena suara Ummi Kultsum saat itu
memenuhi lengang udara, "Wahai Amirul Mukminin, ucapkan selamat kepada tuan
rumah, telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah."

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 102
***
Sahabat, betapa terpesona, mengenang kisah indah Khalifah Umar bin Khatab. Ia adalah
seorang pemimpin negara, tapi sejarah mengabadikan kesehariannya sebagai orang
sederhana tanpa berlimpah harta. Ia adalah orang yang paling berkuasa, tapi lembaran
kisah hidupnya begitu penuh kerja keras dalam mengayomi seluruh rakyatnya. Ia adalah
orang nomor satu tapi siang dan malamnya jarang dilalui dengan pengawal. Ia seorang
penyayang meski kepada seekor burung. Ia sanggup berlari tanpa henti demi menolong
seorang perempuan tak dikenal yang akan melahirkan. Dan ia melakukannya sendiri. Ia
melakukannya sendiri.

***

Husnul Mubarikah
[eramuslim]

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 103
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 21-01-2008

Tiga Jenis Kecerdasan

Semula orang hanya membanggakan kecerdasan intelektual, tetapi sekarang sudah
diperkenalkan dua kecerdasan lainnya yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan
spiritual (SQ).
1. Kecerdasan Intelektual dapat dilihat dari kemampuan seseorang memandang
masalah secara ilmiah, menerangkan masalah secara logis dan menyusun rumusan
problem solving berdasarkan teori. Hanya saja orang yang hanya cerdas secara
intelektual terkadang tersesat kepada logika yang tidak relevan dengan problem
solving itu sendiri. Ia puas dengan analisanya yang masuk akal dan bangga
dengan kesetiaannya kepada kaidah keilmuan. Penelitian menunjukkan bahwa
orang yang IQ nya sangat tinggi jarang sukses memimpin sebuah institusi,
sebaliknya kebanyakkan mereka justru bekerja pada institusi yang dipimpin oleh
orang yang justru IQnya sedang-sedang saja.
2. Kecerdasan Emosional ditandai dengan kemampuan seseorang mengendalikan
diri dalam menghadapi keadaan yang sulit. Dengan pengendalian diri yang kuat,
ia bisa dengan tenang melihat permasalahan dan dengan tenang memperhitungkan
dampak dari suatu keputusan atau suatu tindakan. Perhatian orang yang cerdas
secara semosi bukan pada kaidah ilmu atau kaidah logika tetapi pada bagaimana
problem solving dapat dijalankan, oleh karena itu ia bukan hanya berpikir logis
tetapi juga berpikir arif dan bijak. Ia bukan hanya mengenali siapa dirinya, tetapi
ia juga bekerja keras mengenali orang lain yang berhubungan dengan masalah
yang dihadapi. Baginya bukan kemenangan yang menjadi target, tetapi
keberhasilan. Banyak orang yang menang diawal tapi gagal di belakang,
sebaliknya orang yang cerdas secara emosi tak mengapa mengalah di depan demi
untuk kemenangan yang sesungguhnya dibelakang nanti.
3. Kecerdasan Spiritual ditandai dengan kemampuan seseorang memandang masalah
secara batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Jika pandangan mata
kepala terhalang sekat ruang dan waktu. Orang yang memiliki kecerdasan
spiritual bukan saja bisa melihat hal-hal dibalik ruang tetapi juga bisa
berkomunikasi dengan siapa saja di masa lalu
dan yang akan bermain di masa depan. Jika ciri utama orang yang memiliki
kecerdsan emosional itu mampu berinteraksi secara hamonis dengan keadaan atau
problem hari ini, maka cirri orang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah
memiliki visi jauh ke depan, melampaui zamannya.
Negarawan yang idealis biasanya memiliki ketiga unsur kecerdasan ini, sehingga puluhan
atau bahkan ratusan tahun setelah kematiannya, gagasan-gagasan politiknya masih
relevan, sementara politisi pragmatis, gagasan politiknya sudah terkubur bersama dengan
kelengserannya

Wassalam,
Agussyafii
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 104
Pengirim : Aris.Ariyanti@iff.com Aris.Ariyanti@iff.com
Tgl. Email : 21-01-2008

Pembagian Harta Gono-Gini Dalam Islam

Assalamu'alaikum wr. Wb.
Pak Ustad, mohon bantuannya:
1. Saya mempunyai tanah warisan dari orang tua yang sudah balik nama atas nama
saya.
2. Saya juga mempunya Rumah sendiri atas nama saya Saya sudah mempunyai Isteri
dan 1 anak, sengat sangat - sangat terpaksa saya menceraikan Isteri saya.

Pertanyaan saya: bagaimanakah pembagian harta gono gini nya? Atas bantuannya saya
sampaikan terima kasih.
Salam Hormat Saya,


PUTRA

Putra

Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam sebuah rumah tangga Islam, setiap orang punya hak sendiri-sendiri atas harta
yang dimilikinya. Suami punya harta dan harta itu miliknya sepenuhnya. Isteri punya
harta dan harta itu milik dirinya sepenuhnya. Demikian juga anak-anak, mereka punya
harta dan harta itu milik diri mereka sendiri. Namun dari sebagian harta milik suami itu,
ada kewajiban untuk memberikan sebagiannya untuk isterinya sebagai nafkah, yaitu
selama mereka masih menjadi pasangan suami isteri. Besarnya nafkah itu ditetapkan
berdasarkan kesepakatan antara suami dan isteri. Dan nilainya sangat mungkin berbeda
antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Tetapi harta milik isteri sepenuhnya milik
isteri, misalnya gaji yang didapatnya bila dia bekerja atas izin suami, termasuk yang
asalnya dari mahar (maskawin) suami. Isteri punya hak sepenuhnya untuk embelanjakan
harta miliknya itu.

Ketika terjadi perceraian, maka tidak ada pembagian harta gono gini dalam Islam.
Berbeda dengan hukum barat yang harus membagi dua harta bersama bila bercerai,
dalam Islam tidak ada urusan dengan harta bersama. Karena Islam tidak mengenal harta
bersama antara suami dan isteri. Kecuali bila suami isteri itu membentuk sebuah usaha
bersama semacam perusahaan, maka bila mereka sepakat bercerai, belum tentu usaha
bersama yang mereka miliki harus bubar. Kalau pun harus bubar, maka pembagian asset-
asset perusahaan itu diputuskan sesuai dengan perjanjian dalam perusahaan itu, tidak ada
kaitannya dengan hubungan suami isteri. Misalnya, suami isteri sepakat membuka toko
dengan modal dari harta suami 75% dan dari harta milik isteri sebesar 25%. Maka kalau
mereka bercerai, toko itu tidak harus bubar. Apalagi bila bisnis itu tetap menguntungkan,
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 105
mereka tetap bisa mengelola bersama toko itu meski sudah bukan suami isteri lagi.
Kalau pun toko itu mau dibubarkan juga, maka hak suami atas asset toko itu adalah 75%
dan hak isteri 25%. Tapi yang jelas, Islam tidak mengenal harta bersama antara suami
isteri, di luar usaha bisnis yang mereka jalankan. Maka harta suami milik suami dan harta
isteri milik isteri. Kalau terjadi perceraian, maka tidak ada secuilpun dari harta suami
yang harus diberikan kepada isteri. Dan tidak ada secuil punharta isteri yang harus dibagi
kepada suami. Inilah yang adil dan inilah yang benar. Sedangkan harta gono gini yang
kita lihat di sekeliling kita tidak ada dasarnya dalam syariah Islam.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 106
Pengirim : diana.oktaria@loweworldwide.com diana.oktaria@loweworldwide.com
Tgl. Email : 24-01-2008

Manajemen Kekayaan Tuntunan Rasulullah Muhammad SAW
Sumber : http://www.pks-jaksel.or.id/Article1495.html

PKS-Jaksel: Muhammad saw mempunyai keunikan tersendiri mengenai kekayaan. Pada
kondisi-kondisi tertentu beliau menjadi orang ’kaya’, dan pada kondisi-kondisi yang lain
menjadi orang ’miskin’. Pada saat-saat tertentu beliau juga berada pada posisi antara
keduanya. al ini tidak terlepas dari figur beliau sebagai teladan yang baik (uswatun
hasanah) bagi semua lapisan masyarakat. Beliau pernah menjadi orang kaya agar orang-
orang kaya di antara umatnya dapat mencontoh bagaimana Rasulullah SAW berinteraksi
dengan harta.

Misalnya, bagaimana cara memperoleh harta yang baik, mensyukuri kekayaan dan
membelanjakannya di jalan yang benar. Sebaliknya, beliau juga pernah menjadi orang
miskin agar dapat menjadi contoh yang baik bagi orang-orang yang kekurangan.
Misalnya, bagaimana cara bersabar dan menjaga kehormatan dalam kemiskinan serta
bagaimana keluar dari jeratan kemiskinan dengan cara yang baik pula. Begitu pula
halnya ketika beliau berada pada posisi antara kaya dan miskin. Beliau mencontohkan
bagaimana hidup bersahaja. Tidak ada catatan yang lengkap menggambarkan berapa
kekayaan yang dimiliki oleh Muhammad saw, baik ketika sebelum menjadi seorang rasul
maupun dalam masa kenabian.

Di antara informasi tentang kekayaan Muhammad saw sebelum kenabian adalah jumlah
mahar yang dibayarkannya ketika menikahi Khadijah. Konon, Muhammad saw
menyerahkan 20 ekor unta muda sebagai mahar. Menurut satu riwayat, ditambah
dengam 12 uqiyah (ons) emas. Suatu jumlah yang sangat besar apabila dikonversi ke
mata uang kita sekarang. Hal ini berarti Muhammad saw telah memiliki kekayaan yang
cukup besar kertika beliau akan menikahi Khadijah. Kekayaan itu semakin bertambah
setelah menikah karena harta beliau digabung dengan harta Khadijah dan terus
dikembangkan melalui perdagangan.

Demikian pula, tidak banyak catatan yang ditemukan tentang apa yang terjadi terhadap
kekayaan Muhammad saw yang telah dihasilkan sebelum menjadi seorang Rasul.
Setelah menjadi seorang Rasul, Muhammad saw lebih sibuk berdakwah daripada
mengurusi perdagangan.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau tidak menyimpan kekayaan di rumah
beliau. Menurut satu riwayat, barang-barang yang ditemui di rumah Muhammad saw
hanya beberapa peralatan masak dan tikar untuk alas tidur. Muhammad saw lebih banyak
menggunakan harta kekayaannya di jalan Allah seperti untuk menyantuni fakir miskin
dan anak yatim, serta proyek-proyek sosial lainnya. Kebiasaan ini sebenarnya telah
dilakukan oleh Muhammad saw sebelumnya, terutama di bulan Ramadhan. Pada bulan
ini beliau memperbanyak sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 107
Suatu ketika datang seseorang kepada beliau untuk meminta sesuatu, oleh beliau
diberilah orang itu kambing yang banyak. Saking banyaknya sampai memenuhi jalan
anatar dua bukit. Lalu orang itu kembali kepada kaumnya dan berkata, ”Masuk Islam lah
kamu sekalian, sesungguhnya Muhammad bila memberi dia seperti orang yang tidak
takut miskin.” Muhammad saw juga pernah menerima 90.000 dirham, kemudian uang
itu diletakkanya di atas tikar lalu uang itu beliau bagi-bagikan kepada orang banyak, dan
beliau tidak menolak permintaan siapa pun yang meminta sampai uang itu habis.
Ketika kembali dari Perang Hunaiin, beliau disodori uang hasil rampasan perang. Beliau
berkata, ”Letakkanlah uang itu di masjid,” dan jumlah uang itu yang terbanyak yang
pernah diterimanya. Kemudian beliau sholat di masjid itu, tanpa menoleh kepada uang
tadi. Ketika beliau selesai sholat, beliau duduk dekat uang itu dan memberikannya kepada
setiap orang yang memintanya. Kemudian baru beliau berdiri setelah uang itu habis.

Di samping dari ghanimah, sebagian harta yang dimiliki oleh Muhammad saw berasal
dari hadiah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa salah satu ciri seorang nabi dan
rasul adalah menerima hadiah tetapi tidak menerima sedekah.

Diceritakan bahwa ciri-ciri ini juga dipercaya oleh para pendeta Nashrani klasik.
Alkisah, Salman al Farisi sebelum masuk Islam melakukan perjalanan yang panjang
dalam rangka menemukan keislamannya. Salman tinggal dari satu pendeta Nashrani ke
pendeta berikutnya. Sampai kemudian, pendeta terkahir yang ditumpanginya
menyuruhnya mencari seseorang yang memiliki ciri-ciri kenabian. Di antara cirri
kenabian itu adalah dia tidak menerima sedekah tetapi mau menerima hadiah.
Setelah bertemu dengan Muhammad saw, Salman memberi sesuatu yang dikatakannya
sebagai sedekah. Muhammad saw memberikan sedekah tersebut kepada para sahabat
yang ada bersamanya waktu itu. Kemudian Salman memberikan sesuatu yang lain dan
mengatakannya sebagai hadiah dan Muhammad saw pun menerimanya. Salman
kemudian meyakini bahwa Muhammad saw benar-benar seorang utusan Allah SWT.

Menjelang wafatnya, harta yang dimiliki Muhammad saw semakin habis. Sepertinya
Muhammad saw berusaha agar ketika beliau wafat tidak ada lagi harta yang dimiliknya
dan beliau tidak mempunyai utang. Diceritakan oleh Husain Haikal (2002), di hari-hari
sakit yang membawa kepada wafatnya, Muhammad saw memiliki harta tujuh dinar.
Karena kawatir ketika meninggal harta itu masih di tangannya, maka dimintanya supaya
uangnya itu disedekahkan. Tetapi karena kesibukan keluarganya merawat dan mengurus
selama sakitnya dan penyakit yang masih terus bertambah, mereka lupa melaksanakan
perintahnya itu.

Di hari Ahad sebelum hari wafatnya (Senin) beliau sadar kembali dari pingsannya dan
bertanya kepada mereka, ”Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu?” Aisyah
menjawab bahwa dinar itu masih ada di tangannya. Kemudian dimintanya supaya
dibawakan. Ketika uang itu sudah diletakkan di tangannya, Muhammad saw berkata,

Bagaimana jawab Muhammad kepada Tuhan, sekiranya ia menghadap-Nya sedang ini
masih di tangannya?” Kemudian semua uang dinar itu disedekahkan kepada fakir miskin
di kalangan muslim. Muhammad saw meninggal dunia dengan tidak meninggalkan
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 108
kekayaan duniawi kepada siapapun. Ia pergi melepaskan dunia ini seperti ketika ia
datang.

Sebagai peninggalan ia mewariskan Al Qur’an dan sunnahnya akan dijadikan pedoman
bagi umat manusia.

Sumber: Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager,
Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 109
Pengirim : Ismed Hasibuan ismed_hasibuan@pilonatl.com
Tgl. Email : 24-01-2008

100 Steps Menuju Kesempurnaan Iman:
1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
2. Sabar apabila mendapat kesulitan;
3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
8. Jangan usil dengan kekayaan orang;
9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari ! dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan solat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan solat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25. Biasakan solat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah kerana Allah dan berpisahlah kerana Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi fikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila kerana sesuatu
sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Berlakulah adil dalam segala urusan;
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 110
42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
43. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
45. Perbanyak silaturahim;
46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
47. Bicaralah secukupnya;
48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit batin;
52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
54. Hormatilah kepada guru dan ulama;
55. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
56. Cintai keluarga Nabi saw;
57. Jangan terlalu banyak hutang;
58. Jangan terlampau mudah berjanji;
59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah
kehidupan sementara;
60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti bersembang
pada perkara yang tidak berguna;
61. Bergaullah dengan orang-orang soleh;
62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan
lagi;
66. Jangan membenci seseorang kerana fahaman dan pendirian;
67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan;
69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapat kesulitan;
70. Jangan melukai hati orang lain;
71. Jangan membiasakan berkata dusta;
72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
76. Jangan membuka aib orang lain;
77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih
berprestasi dari kita;
78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
80. Jangan merendah diri kerana miskin dan jangan sombong kerana kaya;
81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara;
82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 111
84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
85. Hargai prestasi dan pemberian orang;
86. Jangan habiskan waktu untuk sekadar hiburan dan kesenangan;
87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan
kondisi diri kita;
89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fizik atau mental kita menjadi
terganggu;
90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk
melupakan jasa kita;
92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu,dan jangan
berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum
dipastikan kebenarannya;
94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
95. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan
dan tidak berlebihan;
96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan.Jangan lari dari
kenyataan kehidupan;
98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan
akan melahirkan kerusakan;
99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan
orang..
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 112
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 24-01-2008

Kesulitan Sebagai bagian Sistem Hidup

Syahdan ketika Adam dan Hawa masih berada di sorga, Alloh SWT mempersilahkan
kepada keduanya untuk menikmati semua fasilitas sorga tanpa harus berjuang lebih
dahulu, karena sorga memang bukan medan perjuangan. Dari fasilitas kenikmatan
surgawi yang tak terhitung jumlahnya, seperti disebut dalam al Qur'an, hanya satu yang
dilarang oleh Alloh SWT, yaitu tidak boleh memetik buah khuldi, wala taqroba hadzihis
syajarota fatakuna min al khosirin, jangan kalian dekati pohon ini, kalian berdua bisa rugi
nanti.

Rupanya sudah menjadi scenario pembelajaran, bahwa manusia terkadang tidak pandai
bersyukur. Sudah diperbolehkan mengambil semua kecuali yang satu ini, eh justeru
larangan itulah yang menggodanya. Syetan menggoda Adam dengan menanamkan logika
bahwa kunci keabadian itu ada dalam pohon yang terlarang itu . Semua fasilitas surgawi
tak bermakna tanpa yang satu itu, rayu syaitan. Adam bersikukuh tak mau menyentuh
yang dilarang. Namanya juga syaitan,gagal menggoda Adam, syaitan tak berputus asa, ia
mendatangi Hawa isterinya. Rupanya juga sudah menjadi scenario, wanita lebih mudah
tergoda untuk mengetahui rahasia dibalik larangan itu, maka Hawa lah yang merajuk
merayu Adam supaya dipetikkan buah terlarang itu. Juga sudah menjadi scenario, laki-
laki sering tak tahan berpegang kepada prinsip jika mendapat rayuan wanita, maka
Adampun melanggar prinsip yang dianut, melanggar apa yang dilarang Alloh SWT,
memetik buah khuldi demi menyenangkan isteri tercinta.

Setelah pelanggaran itu babak baru kehidupan manusia dimulai. Adam dan Hawa
terlempar dari surga yang segalanya serba mudah dan nikmat, lalu ditempatkan dimuka
bumi sebagai khalifah Alloh.

Firman Alloh SWT, di bumi segalanya juga telah Kusediakan untukmu, tetapi tidak ada
yang gratis di sana. Segala kesenangan,kenikmatan bisa kalian peroleh setelah kalian
berhasil berjuang menaklukkan kesulitan. Lama Adam dan Hawa harus beradaptasi
dengan sunnatulloh kehidupan dibumi. Tapi Adam dan Hawa tidak bisa lari dari system
hidup, Adam pun harus menghadapi kenyataan dua anaknya, Qabil dan Habil terlibat
konflik hingga berbunuhan. Benarkah hidup di dunia ini tidak enak karena harus
menghadapi kesulitan ? Ternyata, seperti yang disebut al Qur.an, bersama kesulitan ada
kemudahan, inna ma`a al`usri yusro, dan dibalik kesulitan ada kenikmatan.

Salam Cinta,
Agussyafii
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 113
Pengirim : luqman.abdul.aziz@id.abnamro.com luqman.abdul.aziz@id.abnamro.com
Tgl. Email : 26-01-2008

Meluruskan Kekeliruan Imam
oleh Al Ustadz `Aunur Rofiq bin Ghufron


Meluruskan kekeliruan imam merupakan kewajiban umat Islam yang berilmu.
Kekeliruan imam dalam sholat tidak hanya berakibat bumk kepada dirinya saja, tetapi
akan mewariskan kesesatan kepada umat. Oleh karena itu wajib bagi kita semua, apabila
kita keliru hendaknya bersenang hati untuk kembali kepada yang kebenaran setelah
mengetahui dalilnya. Tidak boleh malu di hadapan manusia hanya karena takut
disalahkan atau gengsi karena kehilangan wibawa. Malu dihadapan Allah lebih utama
daripada malu di hadapan manusia. Semoga Allah memperlihatkan kepada kita yang haq
dan memudahkan kita untuk menerima dan mengamalkannya. Dan memperlihatkan
kepada kita yang batil dan memudahkan kita untuk menjauhinya.

Sholat merupakan ibadah yang paling pokok setelah seseorang berikrar mengucapkan
dua syahadat. Sholat adalah ibadah yang tidak bisa dikurangi atau ditambah, karena
Rasululloh SAW telah memberi contoh langsung kepada sahabatnya. Para sahabat telah
melihat sholat beliau setiap hari, dari takbir hingga salam. Bahkan beliau menyuruh
umatnya agar mengikuti sholatnya tanpa menambah atau mengurangi.

Rasululloh SAW berpesan kepada sahabatnya, yang juga untuk semua umatnya :
Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat. (HR Bukhori: Kitabul Adzan)
Berpijak dengan hadits di atas, maka kita selaku imam wajib mempelajari tuntunan
sholat sesuai dengan sunnah Rasululloh SAW.

Beberapa Kekeliruan Imam
1. Berpakaian sangat tipis sehingga nampak auratnya.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin ketika ditanya bagaimana hukumnya
seseorang yang sholat dengan memakai baju luar sangat tipis berwarna putih,
tidak memakai kain dalam, melainkan celana pendek yang menutupi sebagian
paha saja, sedangkan kulit badannya terlihat. Beliau menjawab: "Jika orang itu
memakai celana pendek tidak menutupi perut sampai lututnya, sedangkan baju
luarnya tipis sekali, orang itu pada hakikatnya belum menutupi aurot, karena
istilah menutupi aurot hendaknya menutupi badan sehingga, tidak kelihatan
kulitnya. Allah berfirman: Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap
(memasuki) masjid. (QS Al-A'rof: 31)". Rosululloh ketika melihat sahabat Jabir
bin Abdulloh datang kepadanya malam hari lalu dia sholat malam bersamanya,
sedangkan waktu itu dia hanya menyelimutkan pakaian yang sangat sempit
sehingga membentuk semua tubuhnya beliau menasihatinya : "Jika pakaian itu
sempit, jadikanlah sarung (ikatkan kainmu mulai di atas perut sampai ke bawah),
jika kainmu luas sekali, maka selimutkan ke
seluruh anggota badanmu". (HR. Bukhari: Kitabus Sholat)
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 114
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata: "Ulama' telah sepakat,
bahwa orang yang sholat sedangkan kulitnya kelihatan (karena pakaiannya yang
sangat tipis) padahal ia mampu menutupi aurotnya dengan pakaian tebal, maka
sholatnya tidak sah." (Lihat Fatawa Manorul Islam 11150)

Imam Syafi'i berkata: "Jika orang sholat memakai baju tipis sehingga kelihatan
ulimya, maka tidak sah sholatnya". (Kitab Al-Umm 1/78)

2. Mengenakan pakaian luar yang sangat sempit Imam hendaknya mengenakan
pakaian yang lapang dan luas, tidak boleh sempit bagian Iuamya, karena akan
mengganggu ketenangan dan kekhusyu'an sholat, bahkan akan membatalkan
sholat apabila dia memakai kaos dan celana sempit, sehingga apabila ruku' dan
sujud kelihatan sebagian kulit punggungnya. Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin
Hasan berkata: "Barangsiapa sholat memakai celana sempit (press body),
sedangkan dia memakai kemeja pendek, pada waktu ruku' dan sujud tertarik
kemejanya sehingga kelihatan sebagian punggungnya yang seharusnya tertutup,
maka batal sholatnya. Ini adalah dampak buruk dan memakai pakaian yang
diimpor dari orang barat". (Al-Qoul Mubin Fii Akhthoil Mushollin 28)

3. Mengenakan pakaian bergambar Hendaknya pakaian imam bersih dari gambar
dan lukisan, agar tidak mengganggu ketenangan orang yang sedang sholat.
Dalilnya: Dari Aisyah dia berkata: Rosululloh memakai khomishah (baju yang
berjahit dengan benang sutra atau bulu binatang) miliknya. Baju itu banyak
lukisan dan gambarnya. Lalu bellau melihat lukisan-lukisannya. Tatkala selesai
sholat, beliau berkata: pergilah dengan membawa baju ini, serahkan kepada Abi
Jahm, katakan bahwa baju ini tadi mengganggu sholatku, dan bawalah kemari
baju tebal (yang tidak berlukisan dan bergambar) milik Abi Jahm bin Khudzaifah.
(HR. Bukhori: Kitabul Libas), Dari Anas ia berkata: 'Aisyah mempunyai tabir
(yang tipis berwarna lagi penuh dengan lukisan) dibuat untuk tabir kamar
rumahnya. Nabi menyuruh 'Aisyah: Jauhkanlah tabir ini, sebab gambar dan
lukisannya senantiasa mengganggu sholatku. (HR. Bukhari: Kitabul Libas)

4. Isbal (menutup mata kaki) Imam tidak boleh mengenakan pakaian yang terlalu
panjang hingga menutupi mata kaki. Maka hendaknya dia mengenakannya di atas
mata kaki atau ditengah betisnya. Dalilnya: Dari Abu Huroiroh ia berkata:
Tatkala ada seorang laki-laki sholat mengenakan sarung yang menutupi mata
kakinya. Nabi menyuruh dia pergi agar berwudlu. Orang itu pergi untuk berwudlu
lalu datang, beliau menyuruhnva pergi lagi, ada seorang laki-laki hertanya:
"Wahai Rosululloh mengapa engkau perintah dia berwudlu lagi?". Beliau
berpaling, lalu beliau berkata: "Orang itu shalat tetapi sarungnya menutupi mata
kakinya. Sesungguhnya Allah tidak menerima sholat seorang laki-laki yang
musbil (orang yang melakukan isbal - memakai sarung atau celana yang
menutupi mata kakinya). (HR. Abu Dawud Kitabul Libas, Imam Ahmad, Imam
Nasai. Imam Nawawi berkata: "Sanadnya shohih menurut kriteria Imam
Muslim") Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bias Hasan menukll fatwa dari Ibnul
Qoyyim Al-Jauziyah menjelaskan hadits di atas: "Maksud hadits ini -wallahu
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 115
a'lam bishshowab- bahwa menutupkan sarung sampai mata kaki termasuk
perbuatan maksiat, setiap orang yang melakukan kemaksiatan diperintah agar
berwudlu dan sholat, karena wudlu itu bisa membakar kemaksiatan". (Al-Qoul
Mubin Fii Akhthoil Mushollin hal. 37)

5. Merasa paling berhak menjadi imam karena usianya yang lebih tua Seseorang
diangkat (dipilih) menjadi imam bukanlah karena usianya, tapi yang paling bagus
lagi tartil bacaan Al-Qur'annya. Dan jika mungkin, yang paling banyak
hafalannya. Dalilnya: Dari Abu Mas'ud Al-Anshory ia berkata: Rasulullah
bersabda: Hendaklah yang menjadi imam yang pandai bacaan Al-Qurannya.
Apabila mereka sama didalam kepandaiannya, hendaklah yang paling mengerti
sunnah, jika mereka sama dalam pengetahuan sunnahnya, hendaknya yang paling
pertama hijrahnya, jika hijrahnya bersama-sama, hendaknya yang lebih dahulu
masuk Islamnya. Riwayat lain berbunyi: kemudian yang paling tua
umurnya".(HR Muslim: Kitabul Masajid wal Mawadli)
Lembaga Fatwa'Ulama Saudi Arabia berfatwa: Pilihlah diantara mereka yang
paling bagus lagi tartil bacaannya dan yang paling banyak hafalannya.
(Fatawa Lajnah AdDaimah Lilbuhus Al-Ilmiyah Wal Ifta 7/348)

6. Tidak lancar membaca ayat Al-Qur'an dan tidak faham tajwid dan makhrojnya.
Imam hendaknya berusaha untuk mempelajari makhroj dan tajwidul Qur'an, agar
bacaannya benar, dapat menambah kekhusyuan dan tidak meresahkan makmum
disebabkan tidak benamya bacaan imam. Nabi bersabda: Orang yang mahir
membaca Al-Qur'an bersama-sama dengan malaikat yang mulia yang baik, dan
hiasilah Al-Qur'an itu dengan suaramu. (HR. Imam Bukhari Kitabut Tauhid)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang imam yang tidak baik bacaan
ayatnya, beliau menjawab: "Hendaknya kamu berusaha menghafalkan surat-surat
AlQur'an dengan tajwid dan memperhatikan makhrojnya. Aku merasa optimis -
dengan izin Allah- kamu akan mampu menghafalkannya apabila ada usaha dan
kesungguhan. (Majmu' Fatawa Ibnu Baz 4/393)

7. Tidak memperhatikan jarak sutroh (batas tabir) di depannya. Yang benar, imam
hendaknya sebelum bertakbir, berdekatan dengan sutroh (tabir) didepannya.
Dalilnya: Dari Sahl bin Abi Hasmah sampailah berita kepada Nabi , lalu Beliau
berkata: Apabila salah satu diantara kamu akan melaksanakan sholat menghadap
ke tabir (depan), hendaklah dekat dengan tabirnya, syetan tidaklah mampu
memutus sholatnya. (HR Abu Dawud. Al-Albani berkata: Imam Hakim
menshohihkannya, Imam AdzDzahabi dan Imam Nawawi menyetujuinya). Dalil
jarak antara tempat berdiri Nabi dengan tabir depannya tiga hasta: Bilal berkata:
Selanjutnya Rosululloh sholat, sedangkan jarak antara tempat beliau berdiri
dengan dinding di depannya adalah tiga hasta. (HR. Imam Ahmad). Dalil jarak
antara tempat sujud imam dengan dinding semisal berlalunya kambing: Dari Sahl
bin Sa'ad ia berkata: Antara tempat sujud Rosululloh dan tembok semisal tempat
yang bisa dilalui kambing. (HR Imam Bukhori: Kitabus Sholat)

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 116
8. Tidak menghadap lurus ke arah kiblat. Imam tidak menghadap kiblat, tetapi
serong beberapa derajat ke arah kanan (ke arah utara), padahal posisi kiblat sudah
benar. Yang benar imam lurus menghadap kiblat. Dari Jabir bin Abdillah ia
berkata: Rosululloh apabila sholat (sunnah) di atas kendaraannya, beliau
enghadap ke mana saja kendaraannya menghadap, tetapi apa bila beliau ingin
menjalankan sholat wajib, beliau turun dan menghadap ke kiblat. (HR Imam
Bukhori: Kitabus Sholat)

9. Tidak menghadap kepada makmum untuk meluruskan shof. Sebelum imam
bertakbirotul ihram tidak menghadap kepada makmum untuk meluruskan shof.
Yang benar, sebelum bertakbirotul ihrom hendaknya imam menghadap kepada
makmum untuk meluruskan shof. Dalilnya: Anas bin Malik berkata: Ketika
selesai qomat, Rosululloh menghadap ke arah kami dengan wajahnya. seraya
berkata: Luruskan shofmu, rapatlah, karena aku melihatmu dari belakang
punggungku. (HR Imam Bukhori Kitabul Adzan)

10. Hanya melihat shot makmum sebelum bertakbirotulihrom. Yang benar, imam
menghadap kepada makmum dan melihat shof sambil berpesan: sawwu
shufufakum (luruskan barisanmu), tarooshuu (rapatkan shofmu), suddul kholal
(rapatkan yang masih renggang) dan kalimat semisalnya. Dalilnya: Dari Anas bin
Malik dari Nabi beliau berkata: sawwuu shufufakum fa inna taswiyatash shuhuf
min iqamatishsholaat (luruskan shafmu karena lurusnya shof termasuk
menegakkan shalat) (HR Bukhori Kitabul Adzan. Di dalam riwayat Bukhori yang
lain, Nabi bersabda: Aqiimuu shufufakum (luruskan shofmu), tarooshshuu
(rapatlah)) Didalam riwayat Abu Dawud, Nabi bersabda: Haadzuu bainal
manakib (rapatkan antara pundak), suddul kholal (tutuplah yang kosong).

11. Melafadzkan niat dengan bacaan usholli. Ketika akan bertakbirotul ihram imam
melafadzkan niat (misal : membaca usholli .... dan seterusnya) bahkan kadang-
kadang mengeraskannya. Niat itu tempatnya dihati, tidak perlu diucapkan dengan
lisan, sebab ucapan yang pertama pada waktu sholat ialah takbir "Allohu Akbar"
sebagaimana sabda Nabi Muhammad: Dari 'Aisyah, dia berkata: Rosululloh
memulai sholatnya dengan takbir, selanjutnya beliau membaca alhamdulillahi
rabbil 'alamin. (HR. Muslim: Kitabul Sholat).
Imam Nawawi berkata: "Niat hendaknya hadir bersamaan dengan membaca
takbirotul ihram". (Sifatus Sholatin Nabi oleh Al-Albani: 85)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata "Melafadzkan niat ketika akan bertakbirotul
ihrom tidak ada contoh dari Nabi Muhammad, bahkan perbuatan itu termasuk
bid'ah". (Majmu' Fatawa Ibnu Baz 4/202)

12. Berulang-ulang mengangkat kedua tangannya ketika bertakbirotul ihrom. Yang
benar mengangkat tangan ketika bertakbirotul ihram hanya sekali, sebagaimana
contoh dari Nabi dan para sahabatnya. Ibnul Qoyyim Aljauzy berkata:
"Di antara macam-macam waswas yang merusak sholat ialah mengulang-ulangi
sebagian kalimat, seperti ketika duduk bertahiyyat membaca at ..at ..attahi
..attahiyatu, pada waktu salam membaca as.. as ..assaa ..assalamu'al dan ketika
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 117
bertakbir ak ..ak ..ak ..akbar atau semisalnya. Pengulangan itu pada dzohimya
membatalkan sholat. Jika yang melakukan imam maka dia telah merusak sholat
makmum. (Ighotsatu Lahfan Min Mashoyidis Syaithon 1/158)

13. Bersedekap di atas lambung kiri Yang benar adalah bersedekap dengan
meletakkan telapak tangan kanan di alas punggung tangan kiri, atau di atas
pergelangan tangan kiri, atau di atas lengan tangan kiri, lalu diletakkan di atas
dada, sedangkan tangan kanan kadang kala menggenggam tangan kiri dan
kadangkala tidak. Dalilnya: Dari Abu Huroirah dia berkata: Rosululloh melarang
meletakkan Iangan di alas lambung ketika shalat. (HR Abu Dawud). Adapun
dalil contoh bersedekap menurut sunnah: Selanjutnya Rosululloh meletakkan
tangan kanannya di alas tapak tangan kiri, (atau) di alas pergelangan (langan kiri)
atau di atas lengan kiri. (HR Abu Dawud Kitahus Sholal. An-Nasai Kitabul
lftitah. Ibnu Hibban di dalam shohihnya (485) Al-Albani berkata: sanadnya
shahih. Lalu beliau meletakkan dua tangannya di atas dada, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah didalam kitab shohihnya: 1/54.

14. Membaca AI-Fatihah terlalu cepat, menyambung ayat dengan ayat yang lain
(tidak berhenti setiap ayat). Yang benar, imam ketika membaca surat Fatihah atau
surat yang lain pada waktu sholat hendaknya berhenti setiap ayat. Rosululloh
memberi contoh kepada sahabatnya membaca Fatihah ayat demi ayat, membaca
Bismalahir Rahmaanir Rahiim lalu berhenti, Alhamdulillahi rabbil 'alamiin lalu
berhenti, Ar-Rahmaanir Rahiim lalu berhenti dan demikianlah seterusnya.
demikian pula bacaan beliau untuk setiap surat, beliau berhenti setiap pangkal
ayat dan tidak menyambungnya. (Lihat Sifatus Sholatin Nabi oleh Al Albani 96)

15. Membaca robbighfirli seusai membaca Fatihah. Yang benar, Imam setelah
membaca surat Fatihah dengan jahr, hendaknya membaca aamiin dengan suara
keras pula. Adapun dalilnya sebagaimana point . Adapun membaca robbighfirli
setelah membaca Fatihah termasuk amalan bid'ah.

16. Tidak mengucapkan 'amin' dengan suara keras Yakni usai membaca Fatihah pada
dua roka'at pertama sholat jahr. Yang benar: ketika Imam membaca Fatihah
dengan suara keras hendaknya membaca aamiin dengan suara keras. Dalilnya:
Dari Wail bin Hujr ia berkata: Rasulullah apabila selesai membaca waladh
dhaaalliiin, beliau membaca aamiin dengan suara keras.
(HR Abu Dawud: Kitabus Shalat dengan sanad yang shahih)

17. Memanjangkan bacaan takbir Membaca takbir intiqol (takbir pada saat pindah
gerakan shalat) dengan melantunkan suara, seperti: ...aaaaallahu akbar atau
...allaaaaahu akbar atau ..aaallaaaaahu akbaaaaar. Bacaan takbir yang benar ialah
allaahu akbar (huruf lam jalalah dibaca dua harokat), baik pada waktu takbirotul
ihram atau takbir intiqol, karena bacaan yang seharusnya dibaca pendek lalu
dibaca panjang akan merubah makna. Ibnu Hazm berkata: "Tidak dibenarkan
bagi imam memanjangkan (melanturkan) bacaan takbir, tetapi hams
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 118
mempercepat. Tidak dibenarkan ketika ruku', sujud, berdiri dan duduk kecuali
harus sempuma bacaan takbimya". (Al Muhalla: 4/151)

18. Tergesa-gesa dalam setiap gerakan, sehingga hilang kekhusu'annya. Yang benar
setiap gerakan hendaknya disertai dengan tuma'ninah, karena Nabi pernah
menyuruh orang agar mengulangi shalatnya ketika sholamya terlalu cepat. Beliau
bersabda: "...maka apabila kamu ruku', letakkan dua tapak tanganmu di atas dua
lututmu, ulurkan punggungmu, kokohkan ruku'mu, jika kamu mengangkat
kepalamu (dari ruku') luruskan tulang rusukmu sehingga kembali tulang itu
kepada persendiannya, jika kamu sujud maka kokohkan sujudmu, jika kamu
mengangkat kepalamu (dari sujud) duduklah di atas pahamu yang kiri,
selanjutnya kerjakan itu semua setiap ruku' dan sujud. (HR Imam Ahmad:
Musnad Al-Kufiyyin)

19. Mengusap wajah dengan tangan setelah mengucapkan salam Yang benar, setelah
salam tidak mengusap muka dengan tangannya, karena tidak ada contoh dari
Nabi. Syaikh Ibnu Baz ketika beliau ditanya tentang hukum mengusap muka
setelah salam, beliau menjawab: Tidak ada tuntanannya, tetapi jika mengusap
mukanya sebelum salam hukumnya makruh, karena Nabi ketika salam pada
waktu sholat subuh, dahinya kelihatan bekas tanah basah, karena pada malam
harinya turun hujan. Ini menunjukkan lebih utamanya sebelum salam tidak
mengusap mukanya. (Majmu' Fatawa Ibnu Baz: 4/272)

20. Tidak menghadap kepada makmum setelah salam Biasanya imam tetap
menghadap kekiblat setelah salam atau menghadap ke utara (arah kanan kiblat).
Yang benar, setelah salam imam boleh menghadap kiblat sebentar saja untuk
istighfar 3 kali dan berdzikir seperti dzikir Nabi dibawah ini:
Dari 'Aisyah dia berkata: Nabi apabila setelah salam, beliau tidak duduk
melainkan kira-kira membaca: "Allaahumma antas Salaam wa minkas salam
tabaarakta dzal jalaali wal ikroom." (HR Muslim: Kitabul Masajid Wal
Mawadli'). Syalkhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Tidak layak bagi imam
duduk setelah salam menghadap kiblat melainkan untuk beristighfar 3 kali dan
membaca: "Allaahumma antas Salaam wa minkas salam tabaarakta dzal jalaali
wal ikroom." (Majmu' Fatawa Ibnu Timiyah 22/505). Rosululloh apabila selesai
salam, mengbadap kepada makmum, dalilnya: Kemudian beliau salam, lalu
beliau menghadap ke arah kami. (HR Muslim, Kitabul Masajid wal Mawadli')
Beliau duduk lama setelah sala menghadap kepada makmum bila ada
kepentingan, seperti memberi nasihat dll. Dalilnya: Dari Anas, dia berkata:
Rosululloh pernah mengimami kami pada suatu hari, setelah beliau salam beliau
menghadap kepada kita, lalu beliau memberi nasihat: "Wahai manusia ... "(HR
Muslim Kitabus Sholat).

21. Memimpin dzikir dan membaca Fatihah bersama-sama setelah salam. Yang
benar, dzikir setelah sholat diakukan sendiri-sendiri bagi yang berhajat. Lembaga
Fatwa `Ulama Saudi Arabia berfatwa: "Sedangkan petunjuk Nabi bahwa beliau
berdzikir dan berdo'a sendirian, beliau tidak pemah mengomando sahabatnya
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 119
untuk berdzikir bersam-sama. Adapun sebagian manusia membaca Fatihah dan
do'a bersama-sama dikamandoi oleh imam setelah shalat termasuk amalan
bid'ah." (Fatawa Lajnah Ad-Daimah Lilbuhus Al-Ilmiyah Wal Ifta' 7/122)

Dikutip dari majalah Al-Furqon Edisi 11 Th. I 1423H hal 11 – 12
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 120
Pengirim : abuluthfia abuluthfia@yahoo.co.id
Tgl. Email : 26-01-2008

Awali Segala Aktivitas Kita Dengan "Bismillaahirrahmaanirrahiim"
Sumber : http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&cat=8&id=7420


Mengawali segala aktivitas dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim berarti
telah mengawali segalaaktivitasnya dengan sesuatu yang baik, sehingga ada nilai plusnya
dihadapan Allah SWT. Jadi, ada nilai ibadahnya, kalau orientasinya benar-benar kepada
Allah SWT.

Dan perlu kita ketahui bahwa Rasulullah SAW sendiri menganjurkan untuk memulai
seluruh aktivitas yang baik dengan ucapan Bismillaahirrahmaanirrahiim, sebagaimana
sabdanya, "Setiap urusan (perbuatan) yang tidak diawali dengan
Bismillahirrahmanirrahim, maka cacat (terputus dari rahmat Allah)." (H.R. Ahmad dan
Ashhab Sunan)

Membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim dengan benar, dengan penuh keikhlasan
(kekhusyuan) karena Allah ketika akan melakukan suatu aktivitas, maka setan tidak akan
endekati kita. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Jika seseorang hendak memasuki
rumahnya dan membaca nama Allah ketika ia memasukinya dan ketika ia makan, maka
setan berkata kepada sesama setan lainnya, `tidak ada tempat tinggal bagi kalian dan
tidak ada makan'. Jika ia masuk dan tidak menyebut nama Allah, setan berkata kepada
kawan-kawannya, `Kalian menemukan tempat tinggal dan makan'."

Kita perlu menyiasati jebakan setan dengan mekanisme yang efektif, sehingga setan yang
menjalari kita menjadi kurus, pucat dan lunglai. "Bahwa orang-orang mukmin itu bisa
menguruskan setannya, sebagaimana salah seorang diantara kamu membuat kurus
untanya dalam bepergian." (al-hadits)

Sudahkah kita mengawali segala aktivitas kita dengan membaca
Bismillaahirrahmaanirrahiim?

Kalau belum, awali dari sekarang. Sebab, segala aktivitas kita akan penuh dengan
keberkahan kalau di awali dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim dengan
ikhlas (khusyu) karena Allah SWT. "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam", (QS. Al-Anam (6): 162)

Saya sertakan dalam artikel sederhana ini sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Opick
yang berjudul "Bismillah". Mudah-mudahan memotivasi lagi diri kita untuk selalu
mengawali segala aktivitas kita dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Bismillah yaa rohman yaa rohiim 2x
Bismillah mula-mula Bismillah yang mengawali
Bismillah akan membuatmu bahagia
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 121
Dengan Bismillah hati kan terjaga
Lalu keberkahan menaungi kita

Bismillah dan melangkah Bismillah lalu bekerja
Bismillah di dalam hatiku tenang
Karena semua hanyalah milikNya
Bahkan nafas adalah kemurahanNya

Bismillah yaa rahman yaa rahiim 4x

Terkadang hidup dalam sepi hati
Karena jiwa yang rindu tuk kembali pada Allah

Bismillah mula-mula Bismillah yang mengawali
Bismillah akan membuatmu bahagia
Dengan Bismillah hati kan terjaga
Lalu keberkahan menaungi kita

Bismillah dan melangkah Bismillah lalu bekerja
Bismillah di dalam hatiku tenang
Karena semua adalah milikNya
Bahkan nafas adalah kemurahanNya

(Bismillah yaa rahman yaa rahiim)

Dengan namaMu ya Allah
Dengan namaMu ya Rahman
Dengan namaMu ya Rabbi
Dengan namaMu..namaMu..ya Rabbi..ya Rabbi
Dengan namaMu melangkah
Dengan namaMu di hati
Dengan namaMu melangkah
Dengan namaMu Allah.. Allah.. Allah..
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 122
Pengirim : nugraha romadhan romadhan1979@yahoo.com
Tgl. Email : 26-01-2008

Tawajjuh & Talkin Dzikir
Source: http://www.qalbu.net/content.php?subaction=showfull&
id=1200675660&archive=&start_from=&ucat=1

Tawajjuh (menghadapkan diri kepada Allah SWT) terjadi dalam Dzikir Sirri. Dzikir Sirri
dilakukan dengan menundukkan kepala dalam-dalam, arahkan ke titik lathifah qalbi di
bawah puting susu kiri, memejamkan mata, mengatupkan bibir (kalau perlu lidah pun
dilipat ke langit-langit atas agar tak ikut bergetar), lalu rasakan asma Allah menelusup
masuk ke qalbu. Apabila sebelumnya telah melakukan Dzikir Jahri dengan tepat maka
pada saat Dzikir Sirri di qalbu akan ada rasa:

Rasa terbakar, kehangatan yang menjalar dari api cinta dan rindu kepada Allah SWT.
Rasa tenggelam, terhanyut dalam lautan rahmat Allah SWT, terengkuh dalam pelukan
qudrat-Nya dan tertimang dalam buaian iradat-Nya.

Rasa terguncang, terguncangnya jiwa dan raga oleh getaran qalbu yang berdzikir
mengingat Allah (QS. Al-Anfal 8:2).
Puncaknya adalah air mata kebahagiaan yang mengalir dari taman taqwa di dalam qalbu.
Burung terbang dengan dua sayap...Ruh melayang dengan dua dzikir: jahri dan sirri

Talqîn Dzikir
Sebagai persiapan untuk dapat berdzikir dengan baik, qalbu dan lathifah-lathifah yang
menjadi sensornya harus mengalami tune up atau initiation lebih dulu. Semua perangkat
itu harus menjalani proses aktifasi lebih dulu. Itulah yang disebut dengan talqin dzikir.
Berasal dari kata laqqana (membelajarkan), maka talqiynâ (pembelajaran).
Talqin Dzikir = Pembelajaran Dzikir:

Proses ruhaniyah
Menanamkan bibit dzikir ke dalam qalbu murid. Menghubungkan qalbu murid dengan
qalbu mursyid agar masuk dalam pantauannya.

Dilakukan oleh wali mursyid (wali pembimbing) yang:
Taqwa
Qalbunya dawâm (ajeg) dalam dzikrullah,
Kuat dalam tawhid,
Tercahayai oleh nur ilahi.

Talqin Dzikir dapat mursyid lakukan melalui wakil talqin.
Cermin yang jernih tak perlu sapuan lap,
Qalbu yang jernih tak peduli ucapan lafazh...
Kalau dzikir hanya sebatas mulut,
Bukankah burung beo peniru nomor satu?
Alla…hu, Huwa…, Hu…
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 123
Pengirim : seri utami utami@metrindo.co.id
Tgl. Email : 26-01-2008

Jangan Biarkan Dirimu Hancur
Sumber : http://www.dudung.net

Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar
uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya "Siapa di antara kamu yang mau
uang ini, jika diberikan ikhlas padamu?" Langsung saja yang mengangkat tangan banyak
sekali.

Katanya lagi " Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini".
Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang
kumal.

Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal
sekali. Lalu dia bertanya " Siapa yang masih mau uang ini?" Tetap saja banyak yang
angkat tangan, sebanyak yang tadi.

"Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini". Dia menjatuhkan lembaran
uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek
sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi" siapa yang masih mau?" Tangan-tangan
masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.

"Nah, sahabatku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat
berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya sudah
nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal... tapi nilainya nggak berkurang: tetap
seratus ribu rupiah.

Sama seperti kita. Walau kau tengah jatuh, tertimpa tangga pula... tengah sakit, tengah
hancur pula, atau kau gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan
terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kau tetap nggak kehilangan nilaimu... karena kau
begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati,
menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu."

"Kamu akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi sahabatmu, bagi sahabat
yang lain dan kau tetap sama dimata Tuhanmu. Dia, Tuhanmu, akan berlari
mendekatimu, jika kau berjalan menuju-Nya. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal
yang sama, karena fithrah setiap diri kita akan mulia jika mencoba mendekati sifat2
Tuhan kita. Disanalah nilai dirimu berada."
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 124
Pengirim : hendra yudha hyudha@gmail.com
Tgl. Email : 26-01-2008

Dualisme dan Monoisme
Source: http://www.qalbu.net/content.php?subaction=showfull&
id=1198947660&archive=&start_from=&ucat=1

Ada pencipta dan ada ciptaan, berarti ada dua eksisten, ada dua hal. Tapi yang kedua
berasal dari yang pertama. Jadi sebenarnya yang kedua bukan suatu keberadaan yang
sejati karena keberadaannya bersumber dari keberadaan yang lain. Ia bukan keberadaan
yang sesungguhnya, sebab ia ada karena dikendaki dan diadakan oleh yang pertama. Lalu
siapakah keberadaan yang pertama itu? Keberadaan yang hakiki, yang darinya bersumber
keberadaan yang lain? Keberadaan yang Mahacerdas, yang Mahamenghendaki, yang
Mahamengadakan? Ia mampu mengadakan makhluk-makhluk hidup, berarti Ia
Mahamenghidupi. Ia penyebab keteraturan di alam semesta ini, berarti Ia Mahapengatur.
Saya menuliskan ide-ide dan pemikiran-pemikiran macam ini, lalu Anda membaca dan
memahaminya, padahal kita bersumber dari Dia, berarti Dia Mahapemikir dan
Mahapemaham. Ia sungguh Ada, Hidup, Cerdas, Berkendak dan Mampu!
Dahulu kala ada seorang anak muda bernama Ibrahim, yang seperti umumnya orang
muda lain, ia cerdas, kritis dan berani. Wajar kalau ia selalu mempertanyakan setiap
peristiwa dan keadaan yang terjadi di sekitarnya. Termasuk kebiasaan orang-orang di
sekitarnya yang sibuk menyembah dan mengabdikan diri mereka kepada patung-patung.
Ia mengkritisi sikap itu, apakah patung-patung itu memang layak disembah? Mengapa
orang harus menggantungkan harapan hidupnya kepada patung?

Ibrahim bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, bahkan kepada ayahnya, yang dalam
tatanan moral dan budaya mereka saat itu, menempati posisi yang sangat terhormat.
Posisi terhormat ayah yang semestinya diseganinya tak mampu membendung hasrat
keingintahuan dan kekrtitisannya. Tapi setiap jawaban yang diterima selalu mengundang
pertanyaan lainnya. Dan masyarakat disekitarnya tak lagi mampu memberi penjelasan
kecuali: "Inilah yang sedari dulu kami melihat nenek-moyang kami melakukannya".
Mestinya, dalam anggapan mereka, sesuatu yang sudah dilakukan oleh orang banyak,
bahkan secara turun-temurun, dianggap sebagai suatu kebenaran yang final dan tidak lagi
dipertanyakan.

Tapi, bagi Ibrahim yang muda, tidak. Sesuatu yang sudah diyakini oleh orang banyak,
meski secara turun sejak waktu yang lama, tidak berarti keyakinan itu benar dan menjadi
steril dari pengujian. Memang manusia tak pernah lepas dari keyakinan. Tak ada ragu
yang sempurna. Orang yang sedang sangat meragukan sesuatu sebenarnya saat itu pula ia
sedang sangat yakin dengan keraguannya. Tapi keyakinan, selain sebagai sesuatu yang
tak terhindari, dalam waktu yang bersamaan pun harus merupakan suatu kebenaran.
Sebab meyakini sesuatu yang tidak benar atau cara berkeyakinan yang tidak benar, bukan
saja mencederai keyakinan itu sendiri tapi juga membahayakan.

Meyakini bahwa binatang buas yang diasuhnya sudah betul-betul jinak, telah membuat
banyak pawang celaka diterkam oleh binatang asuhannya. Ternyata binatang buas tetap
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 125
saja binatang buas. Begitu juga seorang isteri yang sangat percaya bahwa suaminya
mencintainya, dan memang sang suami sangat mencintainya, tapi, karena sering
membiarkan suaminya berdua-duaan dengan wanita lain, akhirnya harus kecewa karena
ia telah mempercayai sesuatu yang benar namun dengan cara berkepercayaan yang salah.
Kepercayaan dan kebenaran haruslah berdampingan seperti dua sisi pada satu uang
logam.

Ibrahim muda dan kritis, kekritisan yang menuntut jawaban tepat untuk diyakini. Dan ia
pun berani untuk mencari kebenaran itu, berani bertanya dan bereksperimen tentang
keyakinannya, berani pula menanggung segala konsekuensinya. Di dalam dirinya ada
kerinduan yang mendalam untuk menjumpai kebenaran yang hakiki, kerinduan yang
selalu mengusiknya untuk mencari sumber dari segala sesuatu yang ada, yang Mahaada,
Mahahidup, Mahacerdas, Mahaberkehendak dan Mahamampu.

Eksperimen yang berani
Kalau paparan wacana yang logis dan sistematis tak juga membuat seseorang mengerti
suatu persoalan, kiranya cara apa lagi yang perlu dikemukakan untuk orang itu dapat
mengerti? Pembuktian empirik. Satu gambar berbicara seribu bahasa. Melihat bukan saja
membuat orang mengerti tapi juga meyakini. Perbuatan nyata menepis setiap tanya.
Pembuktian empirik yang dilakukan Ibrahim dengan menghancurkan patung-patung yang
disembah membuat setiap orang menarik kesadaran dirinya kedalam lubuk keyakinan
yang paling dalam untuk bertanya masihkan keyakinan itu patut dipertahankan?
Keyakinan yang telah mengalami koreksi memunculkan kesadaran baru yang lebih segar.

Tapi kekuasaan massa masih lebih tinggi lagi
Orang banyak tak mampu lagi melawan argumen, logika dan bukti empiris yang
disodorkan oleh Ibrahim. Mereka tak punya lagi dasar untuk pendirian mereka. Tapi,
seperti umumnya orang kebanyakan lainnya, mereka sulit untuk menerima sesuatu yang
baru. Bukan hal yang mudah untuk mengubah keyakinan yang telah terindoktrinasi
secara turun temurun dengan prinsip-prinsip baru, meski itu lebih benar. Yang sulit
adalah mengubah kebiasaan, termasuk kebiasaan dalam meyakini, kebiasaan menyikapai
dan kebiasaan merasakan.

Pada saat terdesak mungkin orang akan mengangguk mengiyakan dengan peraqsaan
menolak. Di depan raja lalim yang galak para petani akan bersujud sambil kentut.
Meskipun pendirian yang mereka yakini tidak benar, tapi setidaknya mereka masih
memiliki kelebihan yaitu kebersamaan dengan orang banyak. Bersama-sama dalam
kesalahan masih memberi rasa aman, daripada berkemungkinan menuju kebenaran tapi
dalam sendirian.

Kebersamaan dan rasa aman membangkitkan kekuatan. Kalau saja ada yang menyulut
kekuatan itu akan menjadi ledakan kemarahan. Tiba-tiba dari tengah kerumunan orang
yang mendakwa Ibrahim terdengar suara: "Bakar saja...!". Akhirnya mereka membakar
Ibrahim. Tapi Allah berkehendak lain. Dengan perintah Allah: "Wahai api, jadilah
engkau dingin dan damai terhadap Ibrahim", maka Ibrahim selamat dari pembakaran.
Lalu apa lagi yang harus diperbuat oleh Ibrahim terhadap umatnya?
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 126
Kepada mereka sudah diberikan pengertian yang rasional dan ilmiah. Sudah ditunjukkan
bukti-bukti nyata yang empirik tentang ketidakberdayaan patung-patung. Mereka pun
sudah menyaksikan sendiri mukjizat, peristiwa ajaib, yang terjadi ketika betapa Ibrahim
tak terbakar. Mestinya mereka berfikir, jangan-jangan dengan semua bukti-bukti itu
Ibrahim memang benar sehingga alam dan Tuhan pun berpihak kepadanya.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 127
Pengirim : denny prabowo tebingcakrawala@yahoo.com
Tgl. Email : 26-01-2008

MENCARI KEBERADAAN ALLAH

Suatu malam saya berkirim SMS ke beberapa teman. Begini kira-kira bunyi SMS yang
saya kirimkan:
"Afwan, sebetulnya ini basi, tapi saya merasa perlu menanyakannya. Apa jawaban kamu
jika ada orang yang bertanya di manakah Allah berada? Mohon penjelasannya.
Jazakumullah Khoir."

Pertanyaan dari saya ini bukan dimaksudkan sebagai usaha saya untuk mencari
keberadaan Allah. Karena saya merasa tidak perlu mengetahui keberadaan-Nya. Karena
keberadaan saya merupakan bukti kongkret dari keberadaan Allah. Sebab, tentunya, saya
tidak hadir begitu saja ke dunia ini. Seperti komputer yang saya gunakan untuk menulis
ini, ada yang membuatnya sebelum dia bisa saya gunakan untuk menulis. Begitu juga
dengan saya, pasti ada yang telah menciptakan saya. Dan itu saya yakini adalah Allah
subhanahu wa ta'ala, sebagaimana firman-Nya: "Ingatlah, hanya milik Dialah segala
penciptaan dan segala urusan. Mahasuci Allah Rabb sekalian alam."(QS. Al A'raaf: 54).
Begitulah saya mengimani Rubbubiyyah Allah.

Lalu dengan maksud apa saya berkirim SMS? Pertanyaan ini akan saya jawab kemudian.
Tapi sebelumnya, kita baca dulu jawaban dari teman-teman yang saya kirimkan SMS
tanpa mengurangi isinya (bahasa SMS telah saya rubah dengan bahasa baku):

1. "Tuhan berada dekat dengan kita jika kita dekat dengan-Nya. Tuhan berada jauh
dengan kita jika kita jauh dengan-Nya. Rasanya, cerpen mas yang Seribu Masjid
yang Kudirikan bisa menjawab pertanyaan itu" <+62819318xxxxx>

2. "Afwan juga ini jawabannya basi, tapi ya... kira-kira beginilah cara aku
menjawab. Sama kayak udara yang nggak kelihatan tapi bisa dihirup &
memberikan kita kehidupan. Sama seperti gaya gravitasi yang gak bisa dilihat tapi
menahan kita agar tidak jatuh. Sama kayak cinta yang susah diterjemahkan, tetapi
memberi kita kebahagiaan. Dimanakah Allah? Tempatnya di bumi adalah di hati
kita. Dan kita baru benar-benar bisa melihatnya kalau sudah tidak di bumi (di
surga, kalau di neraka sih tetap aja nggak bisa ngelihat)" <+6285689xxxxx>

3. "Kemarin baca buku sufi, katanya Allah ada di mana-mana termasuk di dalam
dirimu. Kalau minta lihat wujudnya, kata Allah: kamu juga nggak akan percaya,
karena dari awal gak percaya. Ibarat udara, nggak perlu melihatnya untuk tahu
keberadaanya" <+6281890xxxx>

4. "Waalaikum salam WW. Jawabannya Allah di sana (sambil menunjuk ke arah
langit) sebagaimana hadis ketika Rasulullah bertanya kepada budak wanita maka
budak itu melihatkan ke atas. Hati-hati kalau dapat pertanyaan seputar Allah kalau
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 128
tidak tahu tanya dulu. Kalau tidak tahu ilmunya kita akan bingung alias pusing 7
keliling atau akidah kita akan melenceng. Jadi harus belajar" <+62818041xxxxx>

5. "Waalaikum salam. Allahu fil qolbi. Allah di dalam hatiku karena Allah lebih
dekat dari urat leherku. Maksudnya ketika ditanya Allah dan kita meyakini
kapanpun, di manapun, bagaimanapun kita. Sikap, prilaku, seluruh tingkah laku
kita dalam tatapan Allah dan itu terhujam dalam hati kita. Maka nggak usah jauh-
jauh mikirnya. Ada juga yang bilang Allah di mana-mana. Maksudnya Allah
selalu meliputi kita. Wallahu'alam" <+6281767xxxxx>

6. "Hmm pertanyaan sulit ;) menurut aku Allah ada di mana aja... apalagi ada hadis
yang bilang—kalo nggak salah—kalo Allah diibaratkan di urat nadi kita, bener
nggak? Dia berada di ujung langit yang paaaaling ujung... hingga Dia bisa lihat
makhluk ciptaan-Nya dari sudut manapun.. ;) itu menurut aku"
<+6281806xxxxx>

7. "Assalamu alaikum. Waduh pertanyaan serem lagi nih. Kalo yang nanyanya anak
kecil, bilangnya Allah ada di atas (tapi ini Cuma analogi untuk kedudukanNYA)
namun kita nggak bisa melihatNYA (karena Allah bukan benda) namun
kekuasaan Allah dapat dilihat pada ciptaanNYA yang sempurna di seluruh jagad
raya (ciptaanNYA yang juga nggak sebatas benda lho, keimanan yang dapat
menjadi sumber kekuatan seseorang juga salah satunya)" <+6281359xxxxx>

8. "Waalaikumsalam wr wb.sukarnya bisa dijawab.mungkin sms saja tidak cukup.
Allah berada begitu dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat nadimu.
Suratnya lupa, maaf." <6281219xxxxx>

9. "Soal sulit. Coz, gak definitif. Kita cuma kenal lewat makhluk ciptaanNya. Tapi,
lebih baik kita tanya diri sendiri, sudahkah kita taat dan bersyukur. Coz agama
nggak guna tanpa amal. Moga Allah cerahkan hati kita" <+6281707xxxxx>

10. "Karena tidak terikat ruang dan waktu, ya ada di mana-mana or tidak ada di
manapun. How about your reason?" <+6281760xxxxx>

11. "Allah itu ada di atas lapis langit ke-7. tinggi sekali pokoknya. Sehingga bisa
melihat semua makhluknya. Kalau nggak percaya naik aja ke gedung tinggi, pasti
kita lihat pemandangan di bawah." <+62852808xxxxx>

12. "I don't know with the others, but I believe Allah is everywhere including in my
self, inside and outside.wallahu'alam." <+62813108xxxxx>

13. "...Allah berada dalam setiap INGIN! Kok nanya gitu?" <+62815731xxxxx>

Begitulah jawaban dari beberapa teman saya. Sebagian lagi tidak membalas SMS.
Mungkin karena ketiadaan pulsa. Saya merasa jawaban-jawaban ini sudah cukup.

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 129
Pertanyaan saya tidak dimaksudkan untuk menguji pengetahuan teman-teman saya.
Hanya sebagai pintu masuk ke dalam sebuah diskusi yang hendak saya gulirkan. Semua
ini berawal dari pengalaman seorang teman yang menulis artikel resensi di majalah
kampusnya. Saya tidak ingat judul buku yang diresensinya. Tapi setelah artikelnya itu
dimuat, ada seorang pembaca yang melontarkan pertanyaan begini: "Seperti apakah
Tuhan? Di manakah Dia berada? Mohon Anda menjelaskan!"

Sebuah pertanyaan yang sulit. Tapi penting untuk dijawab. Karena ini menyangkut
tauhidul asma wash-shifat. Kesalahan dalam menyikapi pertanyaan ini, memiliki
konskuensi yang tidak ringan. Itulah mengapa kemudian saya merasa perlu
menuliskannya, dan berharap mendapatkan pengetahuan positif dari tulisan ini, serta dari
siapa pun yang telah sudi membaca tulisan ini dan mengoreksinya jika dirasa ada
kekurangan.

Dari beberapa jawaban yang dilontarkan teman-teman saya, nampak ada yang penuh
keyakinan menjelaskan, tapi banyak juga yang sangat berhati-hati dalam hal ini. Dari
SMS balasan teman-teman saya, saya memperoleh jawaban beragam. Saya akan coba
menglasifikasikan jawaban-jawaban tersebut:
1. Allah berada dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat lehermu. Jawaban ini
diberikan oleh SMS no. 1, 5, 6, 8
2. Allah ada di mana-mana. Jawaban ini bisa kita dapatkan pada SMS no. 3, 5, 6, 10,
12
3. Allah ada di dalam hati/dalam diri kita. Jawaban ini bisa kita temukan pada SMS
no. 2, 3, 5, 12
4. Allah ada di langit. Jawaban ini bisa kita temukan pada SMS no. 4, 6, 7, 11
5. Allah atau kekuasaan-Nya hanya bisa dikenali lewat makhluk-makhluk ciptaan-
Nya. Jawaban ini ada pada SMS no 7 dan 9
6. Allah ibarat udara, grafitasi, cinta. Jawaban ini bisa kita temui pada SMS no. 2
dan 3

Lalu, di manakah sesungguhnya Allah berada?

Ketika para ulama salaf ditanya tentang kaiffiyah istiwa (cara Allah bersemayam) mereka
menjawab: "Istiwa (bersemayam) Allah itu sudah dipahami, sedangkan cara-caranya
tidak diketahui; mengimaninya (istiwa) adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah
bid'ah." Jadi, kaum salaf sepakat bahwa kaiffiyah istiwa itu tidak diketahui oleh manusia
dan bertanya tentang hal itu adalah bid'ah. Karena hal itu tidak dilakukan oleh para salaf
di zamannya.

Jika ada orang yang bertanya, "Bagaimana cara Allah turun ke langit dunia?" Maka
tanyakanlah kepadanya, "Bagaimanakah DIA?" Jika dia mengatakan, "Saya tidak tahu
kaiffiyah (kondisi)-Nya." Maka jawablah, "Maka dari itu kita tidak mengetahui kaiffiyah
turun-Nya. Sebab untuk mengetahui kaiffiyah sifat harus terlebih dahulu mengetahui
kaiffiyah dzat yang disifati itu." Karena sifat itu adalah cabang dan mengikuti yang
disifatinya. Begitu juga ketika kita ingin menanyakan sifat keberadaan Allah. Kita harus
tahu kondisi Allah. Jadi bagaiman mungkin kita menjelaskan cara Allah mendengar,
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 130
melihat, berbicara, bersemayam, turun, padahal kita tidak mengetahui bagaimana
kaifiyyah dzat-Nya?

Satu-satunya yang bisa menjelaskan keberadaan Allah, hanyalah Allah subhanahu
wata'ala sendiri. Dan Allah sendiri telah menjawab pertanyaan ini lewat nash-nash dalam
Alqur'an atau As Sunnah. Keterangan dari keduanya itulah yang sebenarnya bisa diterima
dan diakui dalam sistem akidah Islam, jauh dari konsep pemikiran akal manusia. Sebab
jawaban kita hanya semata-mata dari keterangan Allah Subhanahu Wata`ala sendiri yang
secara formal telah memperkenalkan diri-Nya kepada kita.

KEBERADAAN ALLAH MENURUT AL QUR'AN DAN AS SUNNAH
1. Allah Berada di Atas Arsy
Keterangan dari Allah ini dapat kita temukan pada ayat-ayat-Nya di bawah ini:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy . Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-
bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah
hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.(QS. Al-Araf : 54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan.
Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. yang
demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia.Maka apakah kamu tidak
mengambil pelajaran? (QS. Yunus : 3)

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia
bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing
beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan , menjelaskan tanda-
tanda , supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu. (QS. Ar-Ra’d : 2)

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy .(QS. Thaha : 5)

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam
masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy , Yang Maha Pemurah, maka
tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia. (QS. Al-Furqan : 59)

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya
dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy . Tidak ada bagi kamu
selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak seorang pemberi syafa'at. Maka
apakah kamu tidak memperhatikan?(QS. As-Sajdah : 4)

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia
bersemayam di atas 'arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa
yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-
Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hadid : 4)
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 131
Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan
orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (QS. Al
Haaqqah: 17)

2. Allah Berada di Langit
“Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan
menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu
berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia
akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui
bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku”. ( QS Al-Mulk : 16-17).

Selain itu ada hadits dari Rasulullah SAW yang juga menjelaskan tentang di manakah
Allah SWT itu .

Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Kasihanilah yang di bumi
maka kamu akan dikasihani oleh YANG DI LANGIT". (HR. Tirmiziy).

Rasulullah bersabda: Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah
kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit. [Bukhari no.4351 kitabul Maghazi;
Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]

Namun tentang bagaimana keberadaan Allah SWT di langit dan di asry, kita tidak
punya keterangan pasti. Maka kita imani keberadaannya sedangkan teknisnya seperti
apa, itu majhul atau tidak dapat diketahui karena keterbatasaan panca indera serta
keterbatasan akal manusia. Dan bertanya tentang seperti apa teknisnya adalah bid’ah.
Ini adalah jawaban paling aman dan inilah yang diajarkan Imam Ahmad kepada kita.

3. Tentang Allah Dekat dan Ada di Mana-mana
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang
dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
(QS. Qaaf : 16)

Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a
apabila ia berdo'a kepada-Ku...(QS Al-Baqarah: 186).

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid : 4)

Namun kata ma’a tidak berarti menunjukkan tempat seseorang berada. Sebab dalam
percakapan kita bisa mengatakan bahwa aku menyertaimu, meski pada kenyataannya
tidak berduaan. Sebab kebersamaan Allah SWT dalam ayat ini adalah berbentuk
muraqabah atau pengawasan.

Seperti ketika Rasulullah berkata pada Abu Bakar saat berada di dalam gua, "Jangan
kamu sedih, Allah beserta kita". Ini tidak berarti Allah SWT ikut masuk gua. Tapi,
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 132
lebih bermakna bahwa mereka berada dalam pengawasan Allah. Jadi, keterangan
yang mengatakan Allah ada di mana-mana bukan merujuk pada tempat atau
keberadaan-Nya, melainkan kebersamaan-Nya melalui pengawasan serta rida-Nya
bagi orang-orang yang teguh berada di jalan-Nya.

Perpaduan antara ma'iyah (kebersamaan) dan 'uluw (keberadaan di atas) bisa terjadi
pada makhluk. Seperti dikatakan: "Kami masih meneruskan perjalanan dan rembulan
pun bersama kami". Kalimat ini tidaklah dianggap bertentangan, padahal sudah
barang tentu bahwa orang yang melakukan perjalanan itu berada di bumi sedangkan
rembulan berada di langit. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagaimana
pikiran Anda dengan Al-Khaliq yang meliputi segala sesuatu?

Apakah tidak bisa dikatakan bahwa Dia bersama Makhluk-Nya di samping Dia Maha
Tinggi berada di atas mereka, terpisah dari mereka, bersemayam di atas 'arsy-Nya?
(Kaidah-kaidah Utama..., hal. 156).

Syeikh 'Utsaimin menjelaskan tentang, ayat "...Dan Dia bersama kamu di manapun
kamu berada." (QS 57: 4), bahwasannya ma'iyah (kebersamaan) dalam ayat ini sama
sekali tidak menunjukkan pengertian Allah Subhanahu Wata'ala bercampur dengan
makhluk atau tinggal bersama di tempat mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-'Aqidah Al-Waasithiyah (hal. 115, cetakan
ketiga, komentar Muhammad Khalil Al-Harras), mengatakan:
"Dan pengertian dari firman-Nya: 'Dan Dia bersama kamu', bukanlah berarti bahwa
Allah itu bercampur dengan makhluk-Nya karena hal ini tidak dibenarkan oleh
bahasa. Bahkan, bulan sebagai satu tanda dari tanda-tanda (kemahatinggian dan
kebesaran) Ilahi, yang termasuk di antara makhluk-Nya yang terkecil dan terletak di
langit itu, tetapi dia dikatakan bersama musafir dan yang bukan musafir di mana saja
berada padahal musafir tentunya berada di bumi, terpisah dari bulan yang berada di
langit)."

Menurut Syeikh 'Utsaimin: Tidak ada orang yang berpendapat dengan makna bathil
(Allah bercampur dengan makhluk atau tinggal bersama di tempat mereka) ini kecuali
Al-Hululiyah (Pantheisme) seperti orang-orang terdahulu dari Jahmiyah dan mereka
yang mengatakan bahwa Allah dengan dzat-Nya berada di setiap tempat. Maha suci
Allah dari perkataan mereka dan amat besar dosanya atas ucapan yang keluar dari
mulut mereka. Apa yang mereka katakan tiada lain adalah kebatilan.

Perkataan mereka ini telah dibantah oleh para ulama Salaf dan imam yang sempat
menjumpainya, karena perkataan tersebut menimbulkan beberapa konsekwensi yang
tidak dapat dibenarkan yang menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat-sifat
kekurangan dan mengingkari keberadaan Allah di atas makhluk-Nya.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Ibnu Umar membacakan ayat "Dan
kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah
wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui".
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 133
(QS. Al Baqarah: 115) kemudian menjelaskan peristiwanya sebagai berikut. Ketika
Rasulullah SAW dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah shalat sunnat di atas
kendaraan menghadap sesuai dengan arah tujuan kendaraannya. (Diriwayatkan oleh
Muslim, Tirmidzi dan Nasa'i yang bersumber dari Ibnu Umar.)

Kalimat maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah maksudnya;
kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah
mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan Allah ada di mana-mana adalah
bathil karena itu merupakan perkataan golongan bid'ah dari aliran Jahmiyah dan
Mu'tazilah serta aliran lain yang sejalan dengan mereka. Jawaban yang benar adalah
yang diikuti oleh Ahli Sunnah wal Jama'ah, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala ada di
langit di atas Arsy, di atas semua makhlukNya. Akan tetapi ilmu-Nya ada di mana-
mana (meliputi segala sesuatu).

Bagaimana seseorang bisa mengatakan bahwa dzat Allah berada pada setiap tempat,
atau Allah bercampur dengan makhluk, padahal Allah SWT itu "KursiNya meliputi
langit dan bumi" (QS 2:255), dan "Bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari
kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya" (QS 39:67)?

4. Tentang Allah Ada di Dalam Diri dan Hati Manusia
Dalam hadis qudsi (hadis yang maksudnya berasal dari Allah SWT, lafalnya berasal
dari Nabi SAW) disebutkan bahwa Allah SWT berfirman:
"Barang siapa memusuhi seseorang wali-Ku, maka Aku mengumumkan permusuhan-
Ku terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang
lebih kusukai daripada pengamalan segala yang Kufardukan atasnya. Kemudian,
hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-
amal sunnah, maka Aku senantiasa mencintainya. Bila Aku telah cinta kepadanya,
jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku penglihatannya
yang dengannya ia melihat, aku tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku
kakinya yang dengan itu ia berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan
permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi." (HR. Bukhari).

Hadis ini sering digunakan sebagai dalil oleh para sufi untuk menunjukan kebersatuan
Allah dengan makhluk-Nya. Atau istilahnya, manunggaling kawula Gusti. Ini jelas
pendapat yang tidak benar. Bagaimana mungkin Dzat Allah bercampur dengan
Makhluk-Nya?

Firman Allah Ta'ala: "Bila Aku telah cinta kepadanya, jadilah Aku pendengarannya
yang dengannya ia mendengar, Aku penglihatannya yang dengannya ia melihat, aku
tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku kakinya yang dengan itu ia
berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia
meminta perlindungan, ia Kulindungi", sesungguhnya memiliki makna bahwa Allah
membenarkannya, menjaganya mengenai pendengarannya, penglihatannya,
tangannya, dan kakinya, maka ia tidak menggunakan anggota-anggota badannya ini
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 134
untuk bermaksiat, dan ia hanya menggunakannya dalam ketaatan pada Allah Azza wa
Jalla.

Ibnu Daqiq Al-Ied berkata: "Arti firman Allah itu bahwa ia (yang dicintai Allah ini)
tidak mendengarkan apa yang tidak diizinkan Allah baginya untuk mendengarnya,
dan tidak melihat sesuatu yang tidak diizinkan Allah untuk melihatnya, dan tidak
mengulurkan tangannya kepada sesuatu yang tidak diizinkan Allah untuk
menjangkaunya, dan tidak berjalan kecuali kepada hal yang diizinkan Allah baginya
untuk menuju padanya..." selesailah artinya itu, dan tafsiran itu ditunjukkan pula oleh
firmaNya dalam akhir hadits Qudsi tersebut: Bila ia memohon kepada-Ku, Aku
perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi." Artinya,
Allah Ta'ala menyertainya dengan menyetujuinya, menolongnya, dan menjaga
anggota-anggota badannya dari segala larangan, karena balasan itu adalah setimpal
dengan perbuatan.

Dengan penjelasan-penjelasan di atas, maka terbantahlah pendapat yang mengatakan
bahwa Allah bersemayam dalam hati dan diri manusia.

5. Tentang Allah Seperti Udara, Angin, Cinta, dll
Nu'aim bin Hammad, guru Imam Al Bukhari mengatakan, "Barang siapa
menyamakan Allah dengan makhluk, maka ia kafir. Barang siapa menolak sifat Allah
yang disandangkan-Nya untuk Diri-Nya atau disandangkan oleh Rasul-Nya maka ia
kafir. Dan dalam sifat-sifat Allah yang disandangkan oleh-Nya atau oleh Rasulullah
saw. tidak ada kesamaan atau kemiripan dengan sifat-sifat makhluk-Nya.
Sebagaimana firman Allah:
Tidak ada yang sama dengan-Nya sesuatu apapun (QS.Asy-Syuura: 11)
Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya (QS. Al-Ikhlas: 4)
Maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah (QS. An-
Nahl: 47).

Ketidaktahuan dalam masalah ini merupakan sesuatu yang masih dapat dimaafkan.
Demikian juga halnya dengan kekeliruan dan kesalahan dalam memberikan
penafsiran. Seandainya hal tersebut tidak dapat dimaafkan, tentu apa yang dilakukan
oleh para mutakallimin (teolog) yang menafsirkan nash-nash yang menjelaskan sifat-
sifat Allah dihukumi sebagai kekufuran. Di mana mereka membawa nash-nash
tersebut kepada pemahaman yang majazi/kiasan (bukan arti yang sebenarnya), dan
menganggap hal itu bukan merupakan sesuatu yang tetap bagi Allah dalam pengertian
yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan prasangka mereka yang mendorong mereka
untuk menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Dengan demikian, maka penolakan
mereka terhadap nash-nash yang berkaitan dengan masalah sifat-sifat Allah ini
didasarkan kepada keinginan untuk menyucikan Allah SWT dari penyerupaan
terhadap makhluk-Nya, menurut prasangka mereka. Dengan demikian, maka dapat
dipahami bahwa sebenarnya, mereka tidak bermaksud menolak
atau mengingkari nash-nash tersebut dengan maksud ingin mendustakannya.

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 135
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata, "Imam Ahmad ra menaruh
belas kasihan kepada mereka (yakni, aliran Jahmiyyah) dan memaafkan mereka.
Karena, menurut pandangan beliau bahwa mereka itu tidak mendustakan Rasulullah
saw dan tidak mengingkari risalah (ajaran) yang dibawanya. Akan tetapi, mereka
keliru dalam memberikan penafsiran dan mereka mengikuti pendapat orang yang
mengatakan hal itu kepada mereka."

Manhaj dalam memahami nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Alqur'an dan
Sunnah tanpa melakukan: 1. Tasybih, yakni menyerupakan Allah dengan sifat-sifat
makhluk-Nya; 2. Tahrif, yakni mengubah atau mengganti lafal-lafal nama dan sifat
Allah. Atau mengganti artinya; 3. Ta'thil (pengabaian, membuat tidak berfungsi)l,
yakni menampik sifat Allah dan menyangkal keberadaannya pada Dzat Allah Swt; 4.
Takyif (mengondisikan), yakni menentukan kondisi dan menetapkan esesi-Nya.
Inilah mazhab para salaf—sahabat, tabi'in, serta tabi'ut tabi'in.

Wallahu'alam bishshawab

Sumber tulisan:

* Al Qur'an
* http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=58&bagian=0
* Iman: rukun, Hakikat dan yang Membatalkannya, Dr Muhammad Nu'im Yasin, Asy
syaamiil
* Tasawwuf Belitan Iblis, Hartono Ahmad Zais, MCB Swaramuslim
* Di Manakah Allah?, Konsultasi & FAQ Oleh : Fakta 04 Jul 2004 - 7:34 am disadur
dari syari'ah online
* Tauhid Islam, index Tauhid 02/07/2003: Dampak Kebodohan dalam Tauhid Al-
Asmaa' was Shifaat (Mengesakan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah),
www.alislam.or.id
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 136
Pengirim : Deddy Sastra qa@geoindo.co.id
Tgl. Email : 28-01-2008

Pengertian As-Sunnah

Yang dimaksud As-Sunnah di sini adalah Sunnah Nabi, yaitu segala sesuatu yang
bersumber dari Nabi Muhammad berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya
(terhadap perkataan atau perbuatan para sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari'at bagi
umat ini. Termasuk didalamnya apa saja yang hukumnya wajib dan sunnah sebagaimana
yang menjadi pengertian umum menurut ahli hadits. Juga 'segala apa yang dianjurkan
yang tidak sampai pada derajat wajib' yang menjadi istilah ahli fikih (Lihat Al-Hadits
Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaid wa al Ahkam karya As-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-
Albani, hal.11).

As-Sunnah atau Al-Hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur'an sebagaimana
disebutkan dalam sabda Rasulullah : "Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an
dan (sesuatu) yang serupa dengannya." -yakni As-Sunnah-, (H.R. Abu Dawud no.4604
dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
al-Musnad IV/130)

Para ulama juga menafsirkan firman Allah : ".dan supaya mengajarkan kepada mereka
Al-Kitab dan Al-Hikmah" (Al BAqarah ayat 129)

Al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah As-Sunnah seperti diterangkan oleh Imam As-
Syafi`i, "Setiap kata al-hikmah dalam Al-Qur`an yang dimaksud adalah As-Sunnah."
Demikian pula yang ditafsirkan oleh para ulama yang lain. ( Al-Madkhal Li Dirasah Al
Aqidah Al-Islamiyah hal. 24)

As-Sunnah Terjaga Sampai Hari Kiamat Diantara pengetahuan yang sangat penting,
namun banyak orang melalaikannya, yaitu bahwa As-Sunnah termasuk dalam kata 'Adz-
Dzikr' yang termaktub dalam firman Allah Al-Qur`an surat al-Hijr ayat 9, yang terjaga
dari kepunahan dan ketercampuran dengan selainnya, sehingga dapat dibedakan mana
yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Tidak seperti yang di sangka oleh
sebagian kelompok sesat, seperti Qadianiyah (Kelompok pengikut Mirza Ghulam Ahmad
al-Qadiani yang mengaku sebagai nabi, yang muncul di negeri India pada masa
penjajahan Inggris) dan Qur`aniyun (Kelompok yang mengingkari As-Sunnah, dan hanya
berpegang pada Al-Qur'an), yang hanya mengimani (meyakini) Al-Qur`an namun
menolak As-Sunnah. Mereka beranggapan salah (dari sini nampak sekali kebodohan
mereka akan Al Qur'an, seandainya mereka benar-benar mengimani Al Qur'an sudah
pasti mereka akan mengimani As-Sunnah, karena betapa banyak ayat Al Qur'an yang
memerintahkan untuk mentaati Rasulullah yang sudah barang tentu menunjukkan
perintah untuk mengikuti As-Sunnah) tatkala mengatakan bahwa As-Sunnah telah
tercampur dengan kedustaan manusia; tidak lagi bisa dibedakan mana yang benar-benar
As-Sunnahdan mana yang bukan. Sehingga, mereka menyangka, setelah wafatnya
Rasulullah, kaum muslimin tidak mungkin lagi mengambil faedah dan merujuk kepada
as-Sunnah.( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi Al Aqaid wal Ahkam hal. 16)
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 137
Dalil-dalil yang Menunjukkan Terpeliharanya As-Sunnah:
Pertama: Firman Allah:
!.| >´ !´.l,. ,´¦ !.|´. .«l _.´L±.>' '
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya." (Q.S. Al-Hijr:9) Adz-Dzikr dalam ayat ini mencakup Al-
Qur'an dan -bila diteliti dengan cermat- mencakup pula As-Sunnah.

Sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa seluruh sabda Rasulullah yang berkaitan
dengan agama adalah wahyu dari Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
"Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya."
(Q.S. An-Najm:3) Tidak ada perselisihan sedikit pun di kalangan para ahli bahasa atau
ahli syariat bahwa setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah merupakan Adz-Dzikr.
Dengan demikian, sudah pasti bahwa yang namanya wahyu seluruhnya berada dalam
penjagaan Allah; dan termasuk di dalamnya As-Sunnah.

Segala apa yang telah dijamin oleh Allah untuk dijaga, tidak akan punah dan tidak akan
terjadi penyelewengan sedikitpun. Bila ada sedikit saja penyelewengan, niscaya akan
dijelaskan kebatilan penyelewengan tersebut sebagai konsekuensi dari penjagaan Allah.
Karena seandainya penyelewengan itu terjadi sementara tidak ada penjelasan akan
kebatilannya, hal itu menunjukkan ketidak akuratan firman Allah yang telah
menyebutkan jaminan penjagaan. Tentu saja yang seperti ini tidak akan terbetik
sedikitpun pada benak seorang muslim yang berakal sehat.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa agama yang dibawa oleh Muhammad ini pasti terjaga.
Allah sendirilah yang bertanggung jawab menjaganya; dan itu akan terus berlangsung
hingga akhir kehidupan dunia ini ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al
Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 16-17)

Kedua:
Allah menjadikan Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, serta menjadikan
syari'at yang dibawanya sebagai syari'at penutup. Allah memerintahkan kepada seluruh
manusia untuk beriman dan mengikuti syari'at yang dibawa oleh Muhammad sampai Hari
Kiamat, yang hal ini secara otomatis menghapus seluruh syari'at selainnya. Dan adanya
perintah Allah untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia, menjadikan syariat
agama Muhammad tetap abadi dan terjaga. Adalah suatu kemustahilan, Allah membebani
hamba-hamba-Nya untuk mengikuti sebuah syari'at yang bisa punah. Sudah kita maklumi
bahwa dua sumber utama syari'at Islam adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Maka bila Al-
Qur'an telah dijamin keabadiannya, tentu As-Sunnah pun demikian ( Al-Hadits Hujjatun
bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal.19-20)

Ketiga:
Seorang yang memperhatikan perjalanan umat Islam, niscaya ia akan menemukan bukti
adanya penjagaan As-Sunnah. Diantaranya sebagai berikut (Al Madkhal li Ad Dirasah Al
Aqidah Al Islamiyah, hal. 25):
(a) Perintah Nabi kepada para sahabatnya agar menjalankan As-Sunnah.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 138
(b) Semangat para sahabat dalam menyampaikan As-Sunnah.
(c) Semangat para ulama di setiap zaman dalam mengumpulkan As-Sunnah dan
menelitinya sebelum mereka menerimanya.
(d) Penelitian para ulama terhadap para periwayat As-Sunnah.
(e) Dibukukannya Ilmu Al Jarh wa At Ta'dil.( Ilmu yang membahas penilaian
para ahli hadits terhadap para periwayat hadits, baik berkaitan dengan pujian maupun
celaan, Pen.)
(f) Dikumpulkannya hadits-hadits yang cacat, lalu dibahas sebab-sebab cacatnya.
(g) Pembukuan hadits-hadits dan pemisahan antara yang diterima dan yang ditolak.
(h) Pembukuan biografi para periwayat hadits secara lengkap.

Wajib merujuk kepada As-Sunnah dan haram menyelisihinya Pembaca yang budiman,
sudah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin pada generasi awal, bahwa As-
Sunnah merupakan sumber kedua dalam syari'at Islam di semua sisi kehidupan manusia,
baik dalam perkara ghaib yang berupa aqidah dan keyakinan, maupun dalam urusan
hukum, politik, pendidikan dan lainnya. Tidak boleh seorang pun melawan As-Sunnah
dengan pendapat, ijtihad maupun qiyas. Imam Syafi'i rahimahullah di akhir kitabnya, Ar-
Risalah berkata, "Tidak halal menggunakan qiyas tatkala ada hadits (shahih)." Kaidah
Ushul menyatakan, "Apabila ada hadits (shahih) maka gugurlah pendapat", dan juga
kaidah "Tidak ada ijtihad apabila ada nash yang (shahih)". Dan perkataan-perkataan di
atas jelas bersandar kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Perintah Al-Qur`an agar berhukum dengan As-Sunnah Di dalam Al-Qur'an banyak ayat-
ayat yang memerintahkan kita untuk berhukum dengan As-Sunnah, diantaranya:
1. Firman Allah :
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu'min, apabila Allah dan Rasul-
Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain.
Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat."
(Q.S. Al Ahzab: 36)
2. Firman Allah :
"Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui." (QS. 49:1)

3. Firman Allah :
"Katakanlah, 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (Q.S. Ali Imran: 32)

4. Firman Allah :
"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; janganlah kamu berbantah-bantahan, karena
akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S. Al Anfal: 46)

5. Firman Allah :
"Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam
surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 139
kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan
melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka
sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan." (Q.S. An Nisa':
13-14)

Hadits-hadits yang memerintahkan agar mengikuti Nabi dalam segala hal diantaranya:
1. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: "Setiap umatku akan masuk
Surga, kecuali orang yang engan," Para sahabat bertanya, 'Ya Rasulallah, siapakah
orang yang enggan itu?' Rasulullah menjawab, "Barangsiapa mentaatiku akan masuk
Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan". (HR.Bukhari
dalam kitab al-I'tisham) (Hadits no. 6851).

2. Abu Rafi' mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : "Sungguh, akan aku dapati salah
seorang dari kalian bertelekan di atas sofanya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal
yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, 'Saya tidak tahu. Apa yang ada
dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti", (HR Imam Ahmad VI/8 , Abu Dawud
(no. 4605), Tirmidzi (no. 2663), Ibnu Majah (no. 12), At-Thahawi IV/209).

3. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: "Aku tinggalkan dua perkara
untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat
selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya
sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.)." (HR. Imam
Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim
secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) - dan ia
menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa' (no. 1594), dan Al-HakimAl
Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).

Kesimpulan :
1. Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, sehingga tidak
diperbolehkan kaum muslimin menyelisihi salah satu dari keduanya. Durhaka
kepada Rasulullah berarti durhaka pula kepada Allah, dan hal itu merupakan
kesesatan yang nyata.
2. Larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Rasulullah sebagaimana
kerasnya larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Allah.
3. Sikap berpaling dari mentaati Rasulullah merupakan kebiasaan orang-orang kafir.
4. Sikap rela/ridha terhadap perselisihan, -dengan tidak mau mengembalikan
penyelesaiannya kepada As-Sunnah- merupakan salah satu sebab utama yang
meruntuhkan semangat juang kaum muslimin, dan memusnahkan daya kekuatan
mereka.
5. Taat kepada Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang ke dalam Surga;
sedangkan durhaka dan melanggar batasan-batasan (hukum) yang ditetapkan oleh
Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang kedalam Neraka dan
memperoleh adzab yang menghinakan.
6. Sesungguhnya Al-Qur`an membutuhkan As-Sunnah (karena ia sebagai penjelas
Al-Qur'an); bahkan As-Sunnah itu sama seperti Al-Qur`an dari sisi wajib ditaati
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 140
dan diikuti. Barangsiapa tidak menjadikannya sebagai sumber hokum berarti telah
menyimpang dari tuntunan Rasulullah
7. Berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah akan menjaga kita dari
penyelewengan dan kesesatan. Karena, hukum-hukum yang ada di dalamnya
berlaku sampai hari kiamat. Maka tidak boleh membedakan keduanya.

Referensi:
1. Al-Hadits Hujjatun bi nafsihi fil Aqaid wa Al Ahkam, karya as-Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. III/1400 H, Ad-Dar As-Salafiyah,
Kuwait.

2. Al-Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah 'ala Madzhab Ahli As Sunnah,
karya Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan, penerbit Dar As-Sunnah, cet. III.

Wallahu A'lam .

Diambil dari Majalah Fatawa

Sumber: http://muslim.or.id/?p=5
http://deddysastra.blogspot.com/2008_01_01_archive.html# 624656424264161360


Regards,
Deddy Sastra
QA/HSE Department
PT. Geoindo Giri Jaya
Jl. Batununggal Indah IV No. 83
Batununggal, Bandung - Jawa Barat 40266
Telp. (+62) (022) 7513168 – 7538775
Fax. (+62) (022) 7538776
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 141
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 28-01-2008

Cinta Menurut Al Qur'an

Menurut al Qur'an, manusia diciptakan Alloh SWT berpasangan lelaki - perempuan dan
kepada mereka dianugerahi perasaan cinta dan kasih sayang, dan sudah menjadi fitrahnya
bahwa manusia ingin mencintai dan dicintai. Tercapainya kebutuhan cinta itu, jika
ditunaikan secara benar maka hal itu akan membuat manusia merasa tenteram , tenang
dan bahagia, sebaliknya cinta tidak mengikuti prosedur akan mengantar pada penderitaan.

Dalam al Qur'an perasaan cinta antar laki perempuan disebut dengan term mawaddah,
rahmah, (Q/30:31) syaghafa,(Q/12:30) mail (Q/4:129), dan hubb-mahabbah (Q/12:30).
Term yang berbeda-beda itu menunjuk pada rumit, mendalam dan ragamnya cinta. Cinta
memang memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam dimana perbedaan
karakteristik itu akan membawa implikasi pada perbedaan tingkah laku.

Cinta itu sendiri diungkap dalam bahasa Arab dengan tiga kelompok karakteristik, yaitu
(1) apresiatip (ta`dzim), (2) penuh perhatian (ihtimaman) dan (3) cinta (mahabbah). Yang
pertama, orang yang dicintai itu menempati kedudukan harimau atau pedang, (yang
ditakuti dan dikagumi), yang kedua seperti bencana (yang harus diwaspadai) dan ketiga
seperti minuman keras (yang membuat ketagihan).

Tiga kelompok karakteristik itu terkumpul dalam ungkapan mahabbah, orangnya disebut
habib, habibah atau mahbub. Secara lebih spesifik, bahasa Arab menyebut dengan enam
puluh istilah jenis cinta, seperti `isyqun (dalam bahasa Indonesia menjadi asyik), hilm,
gharam (asmara), wajd, syauq, lahf dan sebagainya, tetapi Al Qur'an hanya menyebut
enam term saja

Salam Cinta,
Agussyafii
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 142
Pengirim : Cintaku Sehangat Salju abuaffanarrizaldhi@gmail.com
Tgl. Email : 31-01-2008

Fenomena-fenomena Cinta

Fenomena-fenomena cinta. Makanan apa itu?
Apakah seperti legenda Romeo dan Juliet yang masyhur itu? Atau seperti kisah cinta
antara Azzam dan Anna? Atau, mungkinkah juga seperti debar-debar pertemuan antara
Fahri dan Aisha?

Yang jelas, fenomena-fenomena cinta akan membuat hati kita terus melayang-layang,
membuncah, merindukan, tersenyum, tertawa atau bahkan bisa jadi malah menitikkan air
mata. Ia adalah penggerak kalbu, mengisinya dengan energi alam seperti gravitasi dan
inti atom, serta menyinari sekat-sekatnya dengan cahaya abadi. Fenomena-fenomena
cinta bisa saksikan di mana-mana, tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Fenomena cinta, seperti cerita harian tentang pertautan hati seorang kakek tua kepada
Robb-nya yang saya lihat di masjid kampus saya, Masjid Baitul Maal. Ya, bapak tua itu,
masih saja setia dengan Sang Kekasih Sejatinya. Menjaga waktunya yang tersisa di akhir-
akhir kehidupannya dengan sholat jama'ah Maghrib dan 'Isya serta diam di masjid antara
kedua waktu tersebut. Setiap hari. Iya, setiap hari. Tidak seperti kita yang asyik ngobrol,
"cari makan", atau duduk manis di depan televisi. Dan ketika menunggu datangnya waktu
'Isya, bibirnya tidak menampakkan tanda-tanda gerak dzikir lisannya. Namun, saya yakin
hatinya penuh dengan dzikir. Tak perlu berkoar-koar bak panglima yang sedang
memimpin peperangan. Dan jika kajian ke-Islaman digelar di masjid itu, beliau juga tak
mau ketinggalan. Lelaki usia tujuhpuluhan itu mengikutinya dengan penuh kesungguhan
di tengah-tengah para peserta yang 99% mahasiswa. Mudah-mudahan Alloh mencatat
kesetiaannya menjaga waktu antara Maghrib dan 'Isya dengan pahala sholat yang terus
menerus.

Adakah fenomena cinta yang lain? Tentu ada. Seperti kisah para "abi dan umi muda"
yang mengajari jundi-jundi kecilnya dengan penuh cinta untuk berolahraga di hari libur
mereka. Ada sebuah keluarga sederhana, terdiri dari ayah, ibu, seorang putra dan seorang
putri kecilnya. Sang ayah tengah asyik bermain sepak bola dengan putra kecilnya, berlari
ke sana kemari dengan gelak canda tawa yang menyejukkan. Sedangkan sang ibu tengah
mengajari putri kecilnya bermain bola voli. Mungkin dulunya sang ibu ini atlet voli.
Pukulannya bagus dan melesat kencang. Sesekali putri kecil ini juga ikut nimbrung
bermain bola dengan kakaknya itu. Ah, begitu indahnya..Saya sering melihat mereka saat
hari Ahad di taman kampus. Di sana, setiap hari libur, kita akan melihat fenomena-
fenomena ini.

Bagaimana dengan bapak penjaga Masjid Agung Bumiayu? Waktu paginya ia
dedikasikan untuk membuat masjid itu senantiasa terlihat bersih, rapi dan suci. Beliau
rela menyapu dan mengepel ruang utama masjid yang sangat luas itu, membersihkan
kamar mandi dan tempat wudhu'nya, merapikan hijab (pembatas) shof antara pria dan
wanita serta menyiapkan sound system untuk adzan Zhuhur nanti. Sedangkan di halaman
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 143
masjid, ada pak tua yang siap mengatur parkir dan menjaga keamanan kendaraan saat
waktu sholat tiba. Pak tua yang sangat sederhana, berpakaian lusuh dan sering terlihat
diam itu. Yang tidak rela saat ada sepasang muda-mudi "kencan" di halaman masjid,
sehingga ia mengusirnya dengan nada sangat marah. Fenomena cinta kadang
mempertontonkan hal-hal yang tidak terlintas di benak kita.

Mungkinkah fenomena cinta itu masih ada? Masih. Ketika tiga siswi SMA masih saja
bersemangat mengayunkan dayung-dayung perahunya di atas ombak kecil Waduk
Penjalin setelah pulang sekolah, siang itu. Tempat tinggalnya yang jauh di wilayah barat
waduk, sedang tempatnya menimba ilmu berada di seberang timur. Saya melihat
kesungguhan mereka, kecintaan mereka dan kehausan mereka akan ilmu, sehingga
cintanya mampu menggilas kemalasan dan aral merintang di hadapannya, sekalipun
harus melintasi lautan dan samudera. Saya tak bisa membayangkan bagaimana hujan
disertai petir menghadangnya saat berangkat ke sekolah. Padahal kita, terkadang untuk
berangkat ke sekolah, kampus atau tempat kerja masih saja merasakan kemalasan yang
sangat, sementara jarak tak berapa jauh, bisa jalan kaki, angkot tersedia, atau bahkan
motor dan mobil pribadi pun sudah ada. Ah, cinta kita tidak seperti mereka.

Fenomena-fenomena cinta hanya terjadi dalam sebuah bingkai kebaikan hakiki. Kebaikan
yang menumbuhkan kepekaan dan kedekatan kepada Sang Pemilik Cinta, Alloh
Subhanahu wa Ta'ala bagi para pelakunya. Ia akan selalu eksis dalam alam pikiran orang-
orang yang terus memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, kemudian mewujudkannya
dalam amalan yang nyata.

*Jl. Gatot Subroto 40-42, 300108 at 9.50*
*Abu Affan Ar Rizaldhi *

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 144
Pengirim : suryati y4t12002@yahoo.com
Tgl. Email : 31-01-2008

Tenang Dalam Setiap Masalah
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Saudaraku yang baik, ketenangan menjadi sesuatu yang dibutuhkan setiap orang.
Terutama ketika sedang menghadapi masalah atau saat hendak mengambil keputusan.
Orang yang tenang tidak pernah galau, panik tergesa-gesa, tidak emosional, tidak
overacting. Orang tenang akan bisa menerima informasi lebih banyak, hingga dia bisa
lebih memahami. Sedangkan orang yang emosional pendek kemampuan memahaminya,
akibatnya kalau merespon akan tidak bagus karena keterbatasan pemahamannya.

Ketenangan pun akan membawa kewibawaan, atau karisma tersendiri bagi pemiliknya. Ia
akan disegani oleh teman dan lingkungannya. Sebaliknya, orang yang overacting tidak
akan memiliki kharisma. Terutama, kepada para calon pemimpin dalam skala apapun, ia
harus berlatih mengendalikan diri, tetap tenang dalam kondisi bagaimanapun sulitnya.
Dan, tenang bukan berarti lamban. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling tenang,
tetapi berjalannya sangat gesit. Karena ketenangan tidak ada kaitannya dengan waktu,
melainkan dengan pengendalian diri, artinya dia tetap gesit, tangkas tidak ada gurau
berlebih, atau berteriak-teriak. Pribadi yang kalem senyum berukir jernih, tidak pula
banyak bicara kalau memang tidak perlu bicara. Akibatnya, orang yang tenang mendapat
ilmu yang lebih banyak, mendapatkan kemampuan memilih keputusan lebih baik.
Namun, ketenangan harus diupayakan agar tidak berujung menjadi sombong. Cirinya
adalah ketika ia tidak peduli kepada orang lain. Dia diam tapi tidak mau mendengarkan.
Malah mungkin asyik melakukan kegiatan yang lain (saat orang lain berbicara padanya).
Atau, ada orang yang diam karena dia tengah memikirkan bantahan kepada orang lain,
bukannya mengemas manfaat dari pembicaraan yang didengarnya.

Sehingga, tenangya kita responsif, tidak justru pelit. Reponsif seseorang memang bisa
dipengaruhi oleh banyaknya keinginan, demografi (asal tempat menetapnya), lingkungan,
tekanan kesulitan. Namun itu bisa diubah kalau memang ingin berubah. Nabi Muhammad
SAW sendiri tertawa bila orang lain tengah melucu. Demikian pula bagi seorang
pemimpin, keputusan terbaik adalah ketika ia memang memiliki akses informasi lengkap.

Makin lengkap informasi makin akurat keputusannya. Dan informasi itu sendiri tidak
boleh diambil hanya dari satu pihak. Kita harus belajar dari kedua belah pihak, baru
mengambil keputusan. Dan yang harus kita sadari adalah tidak ada keputusan tanpa
resiko, semua keputusan ada resikonya. Kita hanya perlu menghitung resiko yang paling
minimal. Wallahu a’lam.

[Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki
kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan
sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lain]
**YATHIE**
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 145
Pengirim : suryati y4t12002@yahoo.com
Tgl. Email : 31-01-2008

SETENGAH SAJADAH
Oleh Dikdik Andhika Ramdhan

"Kok sajadahnya dilipat dua kek?", tanya seorang bocah berusia sekitar tiga tahunan
kepada seorang kakek tua yang sebagian rambutnya sudah tidak lagi hitam, namun kini
bersulam dalam dua warna.

Kakek tua itu hanya tersenyum dan menatap cucu lelakinya itu kemudian
mempermainkan rambut pirangnya.

"Sudah, ayo ikuti kakek, kita sholat sunnat dulu!", ajaknya. Sesaat kemudian mereka
berdua larut dalam penghambaannya, mempersembahkan kembali rukuk dan sujudnya
pada Ia yang maha kuasa. Usai mereka salam, tak lama kemudian waktu berselang,
iqomat berkumandang. Kami semua berdiri dan bersiap untuk melaksanakan sholat
berjamaah. Shaf-shaf kini tertata rapi memanjang dari ujung kiri hingga ke kanan
ruangan masjid itu. Kakek tua itu lalu membuka lipatan sajadahnya, untuk kemudian
meletakkannya dengan arah memanjang, hingga kini terbagi menutupi dua bagian tempat
sujud, baginya dan bagi seorang pemuda asing yang berada di sampingnya. Bagian atas
sajadah itu ia sengaja ia letakkan dibagian tempat sujud pemuda tadi. Sang cucu terheran
melihatnya. Dan akupun tertegun saat itu. Namun segera kami mencoba menata kembali
segala pikiran untuk berupaya dapat mempersembahkan shalat terbaik pada-Nya.
Setelah sholat, usai dzikir sejenak, kemudian kakek tua tadi berdiri dan beranjak hingga
kemudian berlalu pergi bersama cucu lelakinya. Sekilas masih kudengar pembicaraan
mereka ketika meninggalkan tempat sholatnya semula. Rupanya cucu lelakinya masih
penasaran dengan tingkah kakeknya yang melipat dua sajadahnya ketika ia sholat sunnat,
dan kemudian membukanya kembali lipatan sajadahnya menjadi dua bagian ketika
berjamaah menjelang.

"Inilah artinya Islam", sahutnya mengawali penerangannya pada sang cucu.
"Islam itu rahmatan lil'alamiin, yakni rahmat bagi sekalian alam. Wujudnya adalah
dengan ber-Islam, maka salah satunya kita sebagai umatnya harus mampu menjadi
rahmat pula bagi semua orang", lanjutnya panjang lebar.

Aku nggak tahu bagaimana rona wajah serta gerak pikir bocah lelaki tadi menangkap
penjelasan dari kakeknya. Namun yang jelas aku begitu malu mendengar apa yang
disampaikan kakek tua tadi pada cucunya.

Memang, mungkin entah sejak kapan kita mengenal bahkan sampai hapal diluar kepala
akan sebuah ungkapan bahwa Islam itu rahmatan li'alamiin, yang dalam aplikasinya
seharusnya memang akan selalu mampu menghadirkan cahaya kedamaian, cahaya rahmat
bagi seluruh alam, bukan hanya bagi orang-orang yang tunduk dan patuh dalam ke-Islam-
annya, namun pula bagi semua orang yang ada di sekitarnya.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 146
Namun, ternyata sepertinya begitu sulit hal itu terwujud dalam keseharian kita. Islam
yang memang diturunkan oleh Alloh sebagai rahmatan lil'alamiin justru menjadi seakan
sulit menjadi nyata. Kita selalu memaksa hari-hari yang kita lalui seakan kembali dan
selalu berputar kembali pada satu arah yang sama, dan menempati posisi yang sama pula,
kita sebagai ummat-Nya sangat jarang sekali untuk dapat menempatkan diri menjadi
bagian dari rahmatan lil'alamiin, di mana keberadaan kita seharusnya dapat pula menjadi
rahmat bagi yang lainnya.

Kita selalu berusaha untuk tampil sendiri, membusungkan dada, bahkan menyombongkan
diri, melihat semua berdasar dari kacamata pribadi dan hanya untuk kepentingan pribadi
semata. Kita terbuai dengan rasa individualis yang semakin menjadi dan seolah
menyepak dengan kasar setiap kepentingan orang lain yang kita memandangnya tidak
akan berpengaruh pada kepentingan diri ini. Na'udzubillah...

Bila sehelai sajadahpun ternyata bisa menjadi satu jalan untuk membimbing diri kita
dalam menunaikan satu kewajiban, untuk mengibarkan panji-panji untuk berbagi dalam
indahnya kebersamaan, hingga akhirnya rahmatan lil'alamiin bukan hanya menjadi
sebuah slogan semata, atau hanya menjadi satu rangkai kalimat yang selalu dan selalu
kita hapal dalam nalar ini saja, namun pula kemudian dapat terealisasi dalam nyata.

Maka, semestinya mungkin hal lainpun juga akan bisa menjadikan diri ini untuk bisa
lebih membuka hati, berupaya menjadi bagian dari rahmat-Nya, yang pula bisa menjadi
rahmat bagi ummat lainnya. Karena, bukankah disatu waktu nanti, tak akan ada lagi yang
pernah dan setia menemani kita, ketika tanah merah telah menutup rapat diri ini, terpisah
dari kefanaan dunia. Hingga hanya ia, salah satunya yaitu hanya amalan yang menemani
kita pada saatnya.

Wallahu'alam bish-shawab.
sumber : eramuslim.com

[Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki
kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan
sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lain]

**YATHIE**
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 147
Pengirim : latif malikul malikul_hl@yahoo.com
Tgl. Email : 31-01-2008

Hukum Menguburkan Jenazah Berikut Petimati
Selasa, 29 Jan 08 08:31 WIB

Assalammu'alaikum Wr Wb...
Pak Ustadz, apa hukumnya mengubur jenazah berikut peti matinya dikubur bersama
jenazah tersebut.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pada prinsipnya Islam mengajarkan kesederhanaan dalam proses penguburan jenazah.
Kain kafan pun lebih utama yang murah, bukan yang mahal, karena toh pada akhirnya
hanya akan menjadi sesuatu yang terbuang percuma. Dan mahal atau murahnya kain
kafan yang digunakan, sama sekali tidak ada pengaruhnya buat jenazah di alam
kuburnya.

Hukum Peti Kayu Jenazah Memang ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama
tentang hukum menguburkan jenazah dengan menggunakan peti mati yang terbuat
darikayu.

Di dalam kitab Al-Fiqhu 'ala Mazahibil Arba'ah terbitan Departemen Waqaf Mesir,
disebutkan perbedaan pandangan para ulama dalam masalah ini.
1. Mazhab Al-Malikiyah menyebut bahwa menguburkan jenazah dengan kotak kayu
merupakan perbuatan khilaful awla. Maksudnya sesuatu yang bertentang dengan
keutamaan.
2. Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah menyebutnya sebagai
makruh, kecuali karena ada hajat. Misalnya, tanahnya lembek sehingga akan
menyulitkan
proses penguburan.
3. Mazhab Al-Hanabilah menyebutkan bahwa hukumnya makruh secara mutlak,
tanpa kecuali dan apa pun alasannya. Dalam kitab Al-Fatawa Al-Islamiyah
Syeikh Abdul Majid Salim, jilid 4 halaman 1264, disebutkan bahwa menguburkan
jenazah dalam peti kayu hukumnya karahah (dibenci). Kecuali bila tanahnya
terlalu lembek. Namun bila jenazahnya perempuan, maka lebih utama
menggunakan peti, demi menjaga aurat dan kehormatannya, terutama saat
menurunkan jenazah.

Majelis Al-Majma' Al-Islami yang berada di bawah naungan Rabithah Alam Al-Islami
dalam fatwanya tentang menguburkan jenazah di dalam peti matinya, menyebutkan
bahwa:
1. Setiap amal dan sikap yang dilakukan oleh seorang muslim dengan maksud untuk
menyerupai perbuatan orang non muslim, hukumnya mahdzhur syar'an dan terlarang
secara syariah dengan dasar hadits nabawiyah.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 148
2. Dan menguburkan jenazah di dalam peti mati, kalau niatnya untuk menyerupai orang
kafir, maka hukumnya haram. Tapi kalau niatnya bukan karena ingin menyerupai
orang kafir, maka hukumnya makruh. Selama tidak ada hajat, maka bila ada hajat
hukumnya tidak mengapa.

Di dalam tafsir Al-Jami' li Ahkamil Quran karya Al-Imam Al-Qurthubi jilid 10 halaman
381, disebutkan bahwa menguburkan jenazah dalam peti kayu hukumnya boleh, terutama
bila tanahnya lembek. Diriwayatkan bahwa Nabi Danial dikuburkan di dalam peti yang
terbuat dari batu. Dan disebutkan juga bahwa Nabi Yusuf 'alaihissalam dikuburkan dalam
peti dari kaca dan dimasukkan ke dalam sumur, karena takut akan disembah jasadnya.

Hingga sampai zaman Nabi Musa, jenazah itu kemudian diangkat dan dimasukkan ke
kuburan nabi Ishak. Namun riwayat ini tidak didukung oleh dasar yang kuat.

Wallahu 'alam bishshawab,
wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 149
Pengirim : ica harahap ica.harahap@gmail.com
Tgl. Email : 31-01-2008

Ajari Diri Berlaku Adil
Oleh: Muhammad Nuh
Sumber : www.dakwatuna.com

Tak satu pun sifat yang paling diminati seorang calon pemimpin melebihi adil. Bagaikan
bentangan layar, adil menggerakkan seluruh potensi kapal kepemimpinan seseorang
menuju arah yang diinginkan. Tanpanya, kapal kepemimpinan hanya terombang-ambing
di samudera masalah yang begitu luas.

Semua kita adalah pemimpin. Dan, semua pemimpin punya tanggung jawab
kepemimpinan. Rasulullah saw. bersabda, "Semua kamu adalah pemimpin dan
bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya
dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan
bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (pegawai)
bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas
penggunaan harta ayahnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seperti itulah Islam memberikan tantangan pada kita untuk senantiasa memaknai
kehidupan menjadi tingkat yang lebih tinggi. Bahwa, kehidupan bukan untuk menyendiri
dan berusaha tak peduli dengan sekitar. Kehidupan adalah tanggung jawab.

Salah satu tanggung jawab yang selalu melekat dalam jiwa seorang mukmin adalah adil.
Di situlah seorang mukmin bukan sekadar berhadapan dengan amanah dan tanggung
jawab, tapi juga memaknai tanggung jawab pada nilai tertinggi.

Selama jiwa kepemimpinan seseorang masih hidup, sifat adil akan selalu menjadi
takaran. Sebagai apa pun. Walau sebagai pemimpin terhadap diri sendiri. Mampukah kita
adil menata hak-hak yang ada pada diri kita. Dan ketidakadilan sangat berbanding lurus
dengan ketidakseimbangan diri.

Orang yang mudah sakit misalnya, berarti ia sedang mengalami ketidakseimbangan. Ini
berarti ada ketidakadilan pada diri. Boleh jadi, ada hak-hak anggota tubuh yang
terabaikan. Ketidakadilan menjadi tubuh menjadi tidak seimbang. Dan ketidak
seimbangan membuat diri menjadi rusak dan sakit. Pendek kata, sakit adalah ungkapan
tubuh untuk menuntut pemenuhan hak salah satu anggota tubuh dengan cara paksa.

Mencermati keadilan pada diri akan menggiring kita untuk senantiasa mengukur dan
menakar: mampukah kita masuk pada tanggung jawab yang lebih. Atau, belum.
Kemampuan mengukur dan menakar ini pun buah dari sifat adil diri kita. Jika kita lengah
dalam masalah ini, kelak kita bukan hanya menzhalimi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Seperti itulah mungkin, Allah swt. menggiring kita untuk senantiasa mencermati
keseimbangan. Lihatlah alam raya yang begitu seimbang. Tertata rapi, indah, dan
sempurna. Dan itulah bukti keadilan Allah tegak di alam ini. Kalau alam yang pada
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 150
awalnya seimbang, kenapa manusia dan masalahnya yang juga bagian dari alam tidak
mampu adil dan seimbang. Apa yang salah?

Allah swt. berfirman dalam surah Ar-Rahman ayat 5 hingga 13. "Matahari dan bulan
(beredar) menurut perhitungan. Tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya
tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca
(keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah
timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah
meratakan bui untuk makhluk(Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon
kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga
yang harum baunya. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Tuntutan berlaku adil akan lebih kencang ketika kepemimpinan masuk pada wilayah
publik. Variabel-variabel yang dihadapi kian meluas. Ia bukan hanya harus mampu
menata sifat adil dalam pertambahan jumlah objek, tapi juga pada mutu.

Boleh jadi, seseorang mampu adil terhadap objek yang banyak, tapi tidak mampu
menjaga mutu adil ketika banyak rongrongan dan tuntutan datang bertubi-tubi. Dan itu
sebagai sebuah kemestian pada wilayah publik yang heterogen dan majemuk.

Kadang, kita terpaksa mengakui bahwa manusia memang makhluk yang unik. Sifat adil
pada manusia bisa terlahir pada susunan yang bukan hanya berbentuk seri, tapi juga
paralel. Artinya, ada manusia yang mampu adil pada kepemimpinan di masyarakat, tapi
gagal pada diri dan keluarga.

Boleh jadi, keunikan ini tidak berlaku pada umumnya manusia. Karena biasanya, orang
yang gagal berlaku adil pada diri, akan sulit bersikap adil dalam kehidupan keluarga.
Terlebih lagi dalam masyarakat dan negara. Inilah kenapa para pemimpin yang zhalim
pada rakyatnya, pasti menyembunyikan masalah berat yang sedang terjadi antara ia dan
keluarganya.

Seperti itulah dengan pemimpin Mekah di masa Rasulullah saw., Abu Sufyan semasa
jahiliyahnya. Belakangan, baru terungkap dari mulut isterinya, Hindun, bahwa sang
suami begitu kikir dengan uang belanja. Sehingga tak jarang, Hindun mencuri uang
suaminya ketika sang suami lengah. Ada masalah ketidakadilan antara Abu Sufyan
dengan Hindun, isterinya.

Hal inilah yang mungkin pernah dikhawatirkan Rasulullah saw. Ketika isteri-isteri beliau
menuntut hak yang lebih baik. Mereka merasa kalau kehidupan yang diberikan
Rasulullah teramat sederhana. Beliau saw. khawatir hanya bisa mampu adil pada umat
dan negara, tapi tak begitu dengan urusan rumah tangga sendiri. Beliau begitu bingung
hingga mengurung diri beberapa hari. Akhirnya, Allah sendiri yang memberikan jawaban
buat para isteri Nabi.
"Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, 'Jika kalian menghendaki kehidupan
dunia dan perhiasannya, kemarilah, akan aku berikan kesenangan kepada kalian dan aku
akan menceraikan kalian dengan cara yang baik. Dan jika kalian menghendaki keridhaan
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 151
Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah telah
menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian, pahala yang besar." [QS. Al-
Ahzab (33): 28-29]

Sedemikian bersihnya kepemimpinan Rasulullah saw. Tapi, toh, beliau mesti menghadapi
tuntutan mutu keadilan yang lebih berat dan rumit. Apalagi jika kepemimimpinan sudah
terkontaminasi dengan kepentingan. Ini akan jauh lebih rumit. Akan selalu muncul
kecenderungan yang menggiring seseorang untuk berada pada satu tepi timbangan, dan
lengah dengan tepi yang lain.

Boleh jadi, emosi menggiring seseorang hingga ia tak lagi mampu berlaku adil.
Kebencian terhadap sesuatu kerap membuat seorang pemimpin mengurangi timbangan
pada sesuatu itu. Di saat itulah, bentangan layar keadilannya timpang. Kapal
kepemimpinan pun bukan hanya tak sampai tujuan. Bahkan, bisa tenggelam pada
samudera masalah yang terus bergelombang

*************************************
Mau belajar Al-Islam dan berita2 sekitar dunia Islam ?? silahkan klik disini : tauziyah-
subscribe@yahoogroups.com Atau mau melihat artikel sebelumnya silahkan kunjungi
web-site kami : www.tauziyah.com
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 152
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 31-01-2008

8 Pengertian Cinta Menurut Qur'an

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan
menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai'an katsura dzikruhu), kata Nabi,
orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai'an fa huwa `abduhu). Kata
Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai
dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding
dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding
kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT,
maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah
Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur'an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan "nggemesi". Orang
yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan
selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir
tak bisa berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban,
dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih
memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang
penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia
sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan
kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka
dalam al Qur'an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang
memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang
ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh
suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya
diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali
kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus
biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga
menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta
jenis mail ini dalam al Qur'an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika
sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung
mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan.
Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang
gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an
menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri
pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 153
5. Cinta ra'fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma
kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya
untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur'an menyebut term ini ketika
mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan
hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa
sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana
Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya
(mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir
juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun
min al jahilin (Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur'an tetapi dari hadis yang menafsirkan
al Qur'an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu
berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian
diungkapkan dalam doa ma'tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an
nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al
Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al
qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta,
hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal
yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu,
membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur'an
ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan
kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Salam Cinta,
Agussyafii
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 154
Pengirim : agussyafii agussyafii@yahoo.com
Tgl. Email : 31-01-2008




ISTIHADHAH DAN HUKUM-HUKUMNYA
Oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al 'Utsaimin
Sumber: almanhaj.or.id

Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]
[1]. Makna Istihadhah
Istihadhah ialah keluamya darah terus-menerus pada seorang wanita tanpa henti sama
sekali atau berhenti sebentar seperti sehari atau dua hari dalam sebulan.

Dalil kondisi pertama, yakni keluamya darah terus-menerus tanpa henti sama sekali, adits
riwayat Al- Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy
berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
"Ya Rasulullah, sungguh aku ini tak pemah suci " Dalam riwayat lain• "Aku mengalami
istihadhah maka tak pemah suci. "

Dalil kondisi kedua, yakni darah tidak berhenti kecuali sebentar, hadits dari Hamnah binti
Jahsy ketika datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata:
"Ya Rasulullah, sungguh aku sedang mengalami Istihadhah yang deras sekali. " [Hadits
riwayat Ahmad,AbuDawud dan At-Tirmidi dengan menyatakan shahih. Disebutkan pula
bahwa hadits ini menurut Imam Ahmad shahih, sedang menurut Al-Bukhari hasan]

[2]. Kondisi Wanita Mustahadhah
Ada tiga kondisi bagi wanita mustahadhah:
a. Sebelum mengalami istihadhah, ia mempunyai haid yang jelas waktunya. Dalam
kondisi ini, hendaklah ia berpedoman kepada jadwal haidnya yang telah diketahui
sebelumnya. Maka pada masa itu dihitung sebagai haid dan berlaku baginya
hukum-hukum haid. Adapun selain masa tersebut merupakan istihadhah yang
berlaku baginya hukum-hukum istihadhah.

Misalnya, seorang wanita biasanya haid selama enam hari pada setiap awal bulan,
tiba-tiba mengalami istihadhah dan darahnya keluar terus-menerus. Maka masa
haidnya dihitung enam hari pada setiap awal bulan, sedang selainnya merupakan
istihadhah. Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa Fatimah binti
Abi Hubaisy bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : "Ya Rasulullah,
sungguh aku mengalami istihadhah maka tidak pernah suci, apakah aku
meninggalkan shalat? Nabi menjawab: Tidak, itu adalah darah penyakit. Namun
tinggalkan shalat sebanyak hari yang biasanya kamu haid sebelum itu, kemudian
mandilah dan lakukan shalat. "[Hadits riwayat Al-Bukhari]

Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 155
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda kepada Ummu Habibah binti Jahsy: "Diamlah selama masa haid yang
biasa menghalangimu, lalu mandilah dan lakukan shalat. " Dengan
demikian,wanita mustahadhah yang haidnya sudah jelas waktunya menunggu
selama masa haidnya itu. Setelah itu mandi dan shalat, biar pun darah pada saat
itu masih keluar.

b. Tidak mempunyai haid yang jelas waktunya sebelum mengalami istihadhah,
karena istihadhah tersebut terus-menerus terjadi padanya mulai dari saat pertama
kali ia mendapati darah. Dalam kondisi ini, hendaklah ia melakukan tamyiz
(pembedaan); seperti jika darahnya berwarna hitam, atau kental,. atau berbau
maka yang terjadi adalah haid dan berlaku baginya hukum-hukum haid. Dan jika
tidak demikian, yang terjadi adalah istihadhah dan berlaku baginya hukum-hukum
istihadhah.

Misalnya, seorang wanita pada saat pertama kali mendapati darah dan darah itu
keluar terus menerus; akan tetapi ia dapati selama sepuluh hari dalam sebulan
darahnya berwama hitam kemudian setelah itu berwama merah, atau ia dapati
selama sepuluh hari dalam sebulan darahnya kental kemudian setelah itu encer,
atau ia dapati selama sepuluh hari dalam sebulan berbau darah haid tetapi setelah
itu tidak berbau maka haidnya yaitu darah yang berwama hitam (pada kasus
pertama), darah kental (pada kasus kedua) dan darah yang berbau (padakasus
ketiga). Sedangkan selain hal tersebut, dianggap sebagai darah istihadhah.
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fatimah binti Abu
Hubaisy: “Darah haid yaitu apabila berwarna hitam yang dapat diketahui. Jika
demikian maka tinggalkan shalat. Tetapi jika selainnya maka berwudhulah dan
lakukan shalat karena itu darah penyakit.” [Hadits riwayat Abu Dawud, An-Nasa'i
dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim]

Hadits ini, meskipun perlu ditinjau lagi dari segi sanad dan matannya, telah
diamalkan oleh para ulama' rahimahumullah. Dan hal itu lebih utama daripada
dikembalikan kepada kebiasaan kaum wanita pada umumnya.

c. Tidak mempunyai haid yangjelas waktunya dan tidak bisa dibedakan secara tepat
darahnya. Seperti: jika istihadhah yang dialaminya terjadi terus-menerus mulai
dari saat pertama kali melihat darah sementara darahnya menurut satu sifat saja
atau berubah-ubah dan tidak mungkin dianggap sebagai darah haid. Dalam
kondisi ini, hendaklah ia mengambil kebiasaan kaum wanita pada umumnya.

Maka masa haidnya adalah enam atau tujuh hari pada setiap bulan dihitung mulai
dari saat pertama kali mendapati darah Sedang selebihnya merupakan istihadhah.

Misalnya, seorang wanita saat pertama kali melihat darah pada tanggal 5 dan
darah itu keluar terus-menerus tanpa dapat dibedakan secara tepat mana yang
darah haid, baik melalui wama ataupun dengan cara lain. Maka haidnya pada
setiap bulan dihitung selama enam atau tujuh hari dimulai dari tanggal tersebut.
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 156
Hal ini berdasarkan hadits Hamnah binti Jahsy Radhiyallahu 'anha bahwa ia
berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : "Ya Rasulullah, sungguh aku
sedang mengalami istihadah yang deras sekali. Lalu bagaimana pendapatmu
tentangnya karena ia telah menghalangiku shalat dan berpuasa? Beliau bersabda:
"Aku beritahukan kepadamu (untuk menggunakan) kapas dengan melekatkannya
pada farji, karena hal itu dapat menyerap darah". Hamnah berkata: "Darahnya
lebih banyak dari itu". Nabipun bersabda: "Ini hanyalah salah satu usikan syetan.
Maka hitunglah haidmu 6 atau 7 hari menurut ilmu Allah Ta'ala lalu mandilah
sampai kamu merasa telah bersih dan suci, kemudian shalatlah selama 24 atau 3
hari, dan puasalah." [Hadits riwayat Ahmad,Abu Dawud dan At-Tirmidzi.
Menurut Ahmad dan At-Tirmidzi hadits ini shahih, sedang menurut Al-Bukhari
hasan]

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : 6 atau 7 hari tersebut bukan untuk
memberikan pilihan, tapi agar si wanita berijtihad dengan cara memperhatikan
mana yang lebih mendekati kondisinya dari wanita lain yang lebih mirip kondisi
fisiknya, lebih dekat usia dan hubungan kekeluargaannya serta memperhatikan
mana yang lebih mendekati haid dari keadaan darahnya dan pertimbangan-
pertimbangan lainnya.

Jika kondisi yang lebih mendekati selama 6 hari, maka dia hitung masa haidnya 6
hari; tetapi jika kondisi yang lebih mendekati selama 7 hari, maka dia hitung masa
haidnya 7 hari.

[3]. Hal Wanita Yang Mirip Mustahadhah
Kadangkala seorang wanita, karena sesuatu sebab, mengalami pendarahan pada farjinya,
seperti karena operasi pada rahim atau sekitarnya. Hal ini ada dua macam:
a. Diketahui bahwa si wanita tidak mungkin haid lagi setelah operasi, seperti operasi
pengangkatan atau penutupan rahim yang mengakibatkan darah tidak bisa keluar
lagi darinya, maka tidak berlaku baginya hukum-hukum mustahadhah. Namun
hukumnya adalah hukum wanita yang mendapati cairan kuning, atau keruh, atau
basah setelah masa suci. Karena itu ia tidak boleh meninggallkan shalat atau
puasa dan boleh digauli. Tidak wajib baginya mandi karena keluarnya darah,tapi
ia harus membersihkan darah tersebut ketika hendak shalat dan supaya
melekatkan kain atau semisalnya (seperti pembalut wanita) pada farjiya untuk
menahan keluarnya darah, kemudian berwudhu untuk shalat. Janganlah ia
berwudhu untuk shalat kecuali telah masuk waktunya,jika shalat itu telah tertentu
waktunya seperti shalat lima waktu; jika tidak tertentu waktunya maka ia
berwudhu ketika hendak mengerjakannya seperti shalat sunat yang mutlak.
b. Tidak diketahui bahwa siwanita tidak bisa haid setelah operasi, tetapi
diperkirakan bisa haid lagi. Maka berlaku baginya hukum mustahadhah. Hal ini
didasarkan pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fatimah binti Abi
Hubaisy:

"Artinya : Itu hanyalah darah penyakit, bukan haid. Jika datang haid, maka
tinggalkan shalat."
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 157
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : "Jika datang haid..." menunjukkan
bahwa hukum mustahadhah berlaku bagi wanita yang berkemungkinan haid, yang
bisa datang atau berhenti.

Adapun wanita yang tidak berkemungkinan haid maka darah yang keluar pada
prinsipnya, dihukumi sebagai darah penyakit.

[4]. Hukum-Hukum Istihadhah
Dari penjelasan terdahulu, dapat kita mengerti kapan darah itu sebagai darah haid dan
kapan sebagai darah istihadhah.

Jika yang terjadi adalah darah haid maka berlaku baginya hukum-hukum haid, sedangkan
jika yang terjadi darah istihadhah maka yang berlalku pun hukum-hukum istihadhah.

Hukum-hukum haid yang penting telah dijelaskan di muka. Adapun hukum-hukum
istihadhah seperti,halnya hukum-hukum tuhr (keadaan suci). Tidak ada perbedaan antara
wanita mustahdhah dan wanita suci, kecuali dalam hal berikut ini:
a. Wanita mustahadhah wajib berwudhu setiap kali hendak shalat. Berdasarkan
sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fatimah binti Abu Hubaisy:
"Artinya : Kemudian berwudhulah kamu setiap kali hendak shalat" [Hadits
riwayat Al-Bukhari dalam Bab Membersihkan Darah]

Hal itu memberikan pemahaman bahwa wanita mustahadhah tidak berwudhu
untuk shalat yang telah tertentu waktunya kecuali jika telah masuk waktunya.
Sedangkan shalat yang tidak tertentu waktunya, maka ia berwudhu pada saat
hendak melakukannya

b. Ketika hendak berwudhu, membersihkan sisa-sisa darah dan melekatkan kain
dengan kapas (atau pembalut wanita) pada farjinya untuk mencegah keluarnya
darah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Hamnah:
"Artinya : Aku beritahukan kepadamu (untuk menggunakan) kapas, karena hal itu
dapat menyerap darah". Hamnah berkata: 'Darahnya lebih banyak dari itu". Beliau
bersabda: "gunakan kain!". Kata Hamnah: "Darahnya masih banyak pula".
Nabipun bersabda: "Maka pakailah penahan!"

Kalaupun masih ada darah yang keluar setelah tindakan tersebut, maka tidak apa-
apa hukumnya. Karena sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fatimah
binti Abu Hubaisy: "Artinya : Tinggalkan shalat selama hari-hari haidmu,
kemudian mandilah dan berwudhulah untuk setiap kali shalat, lalu shalatlah
meskipun darah menetes di atas alas. " [Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah]

c. Jima' (senggama). Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya pada
kondisi bila ditinggalkan tidak dikhawatirkan menyebabkan zina. Yang benar
adalah boleh secara mutlak Karena ada banyak wanita,mencapai sepuluh atau
lebih, mengalami istihadhah pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
,sementara Allah dan Rasul-Nya tidak melarang jima' dengan mereka. Firman
Kumpulan Artikel Mailing-List Daarut-Tauhiid
Bulan Januari 2008 158
Allah Ta 'ala: Artinya :... Hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu
haid ... " [Al-Baqarah: 222]

Ayat ini menunjukkan bahwa di luar keadaan haid, suami tidak wajib menjauhkan
diri dari isteri. Kalaupun shalat saja boleh dilakukan wanita mustahadhah, maka
jima 'pun tentu lebih boleh Dan tidak benar jima' wanita mustahadhah dikiaskan
dengan jima 'wanita haid,karena keduanya tidak sama, bahkan menurut pendapat
para ulama yang menyatakan haram. Sebab, mengkiaskan sesuatu dengan hal
yang babeda adalah tidak sah.

[Disalin dari buku Risalah Fid Dimaa' Ath-Thabii'iyah Lin-Nisa' Penulis Syaikh
Muhammad bin Shaleh Al 'Utsaimin, dengan edisi Indonesia Darah Kebiasaan
Wanita hal 49 - 52 terbitan Darul Haq, Penerjemah Muhammad Yusuf Harin.
MA] Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan tersebut merupakan balasan atas email dibawah ini

.Assalamu'alaikum wrwb.

Saudara2 ku seiman yang Allah cintai,

Mohon penjelasan mengenai Perempuan yang sudah menginjak dewasa
mengalami minstruasi (mengeluarkan darah kotor) tidak wajib melakukan Ibadah
(Terutama sholat wajib), Bagaimana apabila ybs mempunyai kelainan / punya
penyakit / virus sehingga jadwal minstruasinya tidak sesuai lagi dengan jadwal
rutin ? bisa satu minggu keluar lagi darah penyakit tsb.

Minta bantuan penjelasan saudara-2 ku

Wassalam.
Bachri

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->