P. 1
Makalah Novel 4

Makalah Novel 4

|Views: 2,127|Likes:
Published by wahyudin

More info:

Published by: wahyudin on Jan 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/16/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kita panjaktan kepada Tuhan semesta alam, Allah SWT, yang dengan segala karuniaNya, makalah Tentang “Sepuluh Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia” ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada Nabi Besar Muhammad saw, keluarga sahabat serta para pengikutnya yang senantiasa istiqamah dalam mengemban risalahnya.
Terima kasih Penyusun sampaikan kepada berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian Makalah ini. Terutama kepada Bapak Dosen Pembimbing. Tak ada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Demikian juga dengan Penyusun, sekalipun Makalah ini telah selesai melalui proses dan review yang cukup lama, namun masih terbuka kemungkinan adanya beberapa kekurangan di dalamnya. Oleh karena itu, masukan, kritik dan saran sangat kami harapkan untuk lebih menyempurnakan isi Makalah ini pada kesempatan mendatang. Mudah-mudahan sedikit yang kami bisa sumbangkan ini, akan dicatat oleh Allah SWT sebagai bagian dari amal sholeh Penyusun dan akan menjadi ilmu yang bermanfaat, yang senantiasa akan mengalirkan pahala bagi orang-orang yang mengajarkannya.

Garut, November 2009 Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................................... Daftar Isi ............................................................................................................. Pembahasan 1. Anak Perawan Di Sarang Penyamun ....................................................... 2. Aki ............................................................................................................ i ii 1 6

3. Pulang.............. ........................................................................................ 4. Senja Di Jakarta ....................................................................................... 5. Telepon .................................................................................................... 6. Bako ......................................................................................................... 7. Olenka ...................................................................................................... 8. Anak Tanah Air ........................................................................................ 9. Pertemuan Dua Hati ................................................................................. 10. Disimpang Jalan ....................................................................................... Daftar Pustaka .....................................................................................................

11 16 20 24 29 32 37 41 44

1. ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN
Pengarang : S. Takdir Alisjahbana Penerbit : Balai Pustaka Tahun : 1940; Cetakan XI, 1990

M

edasing terpaksa keluar dari persembunyiannya ketika kobaran api mulai membakar habis rumahnya. Sekawanan penyamun tidak hanya menjarah

harta benda dan membunuh penduduk yang tak berdosa, tetapi juga membumihanguskan pemukiman di desa terpencil itu. Di antara teriakan penduduk yang melarikan diri dan mayat yang bergelimpangan itulah, bocah itu menangis. Tak tahu apa yang harus diperbuat. Kawanan penyamun itu lalu membawa si bocah bersama hasil jarahannya, masuk hutan kembali ke sarangnya. Salah seorang di antara penyamun itu, lalu mengasuh dan membesarkan Medasing. Tumbuhlah ia sebagai bagian dari kehidupan penyamun. Berbagai ilmu bela diri ia pelajari. Setelah ayah angkatnya itu meninggal dunia, Medasing— karena kesaktiannya—dipercayakan untuk menjadi kepala penyamun. "Medasing ialah kepala penyamun berlima itu; kata orang ia kebal, tahan besi dan ada padanya ilmu halimun untuk melenyapkan diri" (hlm. 7). Demikianlah sosok Medasing yang kini merencanakan penjarahan rumah Haji Sahak, saudagar kaya-raya di Pagar Alam, yang hendak pulang bersama anak dan istrinya, setelah haji itu baru saja menjual sejumlah kerbaunya di Palembang. Persiapan pun dilakukan. Di kegelapan malam, kelima penyamun itu—Amat, Sohan, Tusin, Sanip, dan Medasing, sang pemimpin—mulai beraksi. Namun, perlawanan yang diberikan Haji Sahak dan pengiringnya menyebabkan Sohan tewas, Tusin dan Amat luka parah. Haji Sahak sendiri, tewas. Istrinya pingsan, dan para pengiringnya melarikan diri. Tinggallah kini, Sayu, anak perawan haji itu yang selamat. Namun, kemudian, Medasing membawa anak perawan itu ke sarangnya. Tentu juga berikut harta kekayaan hasil jarahannya. Kehadiran seorang gadis di tengah para penyamun itu ternyata ikut pula mempengaruhi pikiran mereka. Setidak-tidaknya, Samad, salah seorang penyamun yang bertugas sebagai mata-mata, bermaksud hendak membawa kabur gadis itu, sekaligus membinasakan keempat kawanan penyamun. Setelah beberapa hari Samad tak sempat melaksanakan niatnya, tibalah saat yang dinantikannya. Ketika itu mereka bermaksud melakukan aksi perampokan pada seorang kaya yang akan pulang ke Pasemah, sungguhpun orang kaya itu dikawal tentara dengan persenjataan lengkap. Namun, belum sempat mereka beraksi, secara tak sengaja Medasing menginjak ranting yang

menyebabkan kehadiran mereka diketahui para pengawal calon korbannya. Akibatnya, Tusin tewas tertembak. Samad yang kemudian dicurigai punya niat busuk, melarikan diri entah ke mana. Kawanan penyamun itu kini tinggal berdua. Amat sendiri mati akibat lukalukanya ketika menjarah Haji Sahak. Jadi, di sarang penyamun itu tinggal Medasing, Sanip, dan Sayu. Belakangan, karena perbekalan mereka makin berkurang, kedua penyamun itu pergi berburu. Sarang mereka hanya ditunggui Sayu, si perawan cantik yang sudah mulai terbiasa dengan kehidupan para penyamun itu. Perburuan Medasing dan Sanip, rupanya mendatangkan kesialan. Keduanya terjerumus ke jurang. Tanpa sengaja Sanip tertusuk tombaknya sendiri, sedangkan Medasing hanya mengalami patah tulang. Sementara itu, istri almarhum Haji Sahak yang ternyata selamat dan kembali ke rumahnya, masih terus diliputi kesedihan. Suaminya meninggal, dan anak gadisnya, Sayu, dibawa kabur para penyamun. Dengan demikian, ia harus tetap mengurus kebutuhannya sehari-hari. Belum lagi tagihan dari pemilik kerbau yang tempo hari menitipkan kerbaunya untuk dijual. Bedu, kakak Nyi Haji Andun, akhirnya menyarankan agar janda Haji Sahak itu menjual rumahnya, lalu pindah ke pinggiran kampung, dekat hutan. Medasing yang tulang sikunya patah, dengan susah payah akhirnya sampai juga di markasnya di tengah hutan. Dalam keadaan demikian, penyamun itu hanya dapat menerima perawatan Sayu. Rupanya gadis itu merasa iba melihat keadaan Medasing yang tergeletak tak berdaya. Berhari-hari Sayu merawat Medasing. Lama-kalamaan timbul juga rasa khawatir perawan itu mengingat persediaan makanan sudah sangat tipis. la lalu mengusulkan agar mereka secepatnya meninggalkan hutan dan kembali ke kampungnya, Pagar Alam. Menyadari bahwa dalam keadaan demikian mereka akan mati kelaparan, Medasing tak menolak keinginan Sayu. Pergilah keduanya meninggalkan hutan, menuju Pagar Alam. Betapa terkejutnya Sayu ketika ia bersama Medasing sampai di kampung halamannya. Kini, rumah orang tuanya itu sudah menjadi milik orang lain. Menurut penghuni baru itu, Nyi Haji Andun sekarang tinggal di pinggiran desa.

Dengan keterangan itu, keduanya melanjutkan perjalanan, mencari tempat tinggal Nyi Haji Andun. Saat itu, Nyi Haji Andun sedang sakit. Ia selalu mengigau tentang anak gadisnya yang dibawa kabur penyamun. Pada saat yang demikian itulah, tiba-tiba saja Medasing dan Sayu sampai di sana. Kini, anak gadisnya yang selama ini ia rindukan, mendadak muncul di hadapannya. Tumpah sudah kerinduan ibu-anak itu. Namun, beberapa saat kemudian, karena keadaan Nyi Haji Andun memang sudah begitu parah, ia pun meninggal di depan putrinya tersayang. Sungguh, pemandangan itu telah mampu mengubah pikiran Medasing. la sadar akan perbuatannya selama ini. Maka, saat itu bulatlah sudah keputusannya untuk pergi meninggalkan gadis itu. Lima belas tahun berlalu. Penduduk Pagar Alam kini ramai hendak menyambut kedatangan Haji Karim beserta istrinya yang baru menunaikan ibadah haji. Kedua suami-istri itu sudah dikenal baik oleh masyarakat Pagar Alam sebagai hartawan yang baik budi dan suka menolong penduduk yang kekurangan. Wajarlah jika kembalinya suami-istri itu disambut dengan sukacita. Malam harinya, Haji Karim yang dermawan itu, termenung sendiri. Ia teringat masa lalunya. Pada saat demikian, tiba-tiba terdengar seseorang mendekatinya. Betapa terkejutnya Haji itu, sebab tanpa diduga, orang yang tampak begitu miskin itu, tidak lain adalah Samad, salah seorang penyamun yang bertugas sebagai mata-mata, beberapa waktu yang lalu. Haji Karim tentu saja masih mengenalnya karena orang itu bekas anak buahnya sendiri. Karim kemudian mengajak Samad sekeluarga tinggal bersamanya. Namun, pagi harinya, Samad yang dalam perjalanan hidupnya tak pernah jauh dari penderitaan, memutuskan untuk pergi meninggalkan Haji' Karim dan istrinya; meninggalkan bekas pemimpinnya, Medasing—yang kini bernama Haji Karim—dan istrinya yang tidak lain adalah Sayu—anak perawan Haji Sahak yang dulu hendak ia larikan. Medasing dan Sayu—Haji Karim dan istrinya—hidup bahagia bersama kedua anak- nya, sedangkan Samad, "hina-miskin dan sebatang kara menuju harapan yang tak dapat diharapkan" (hlm. 130). ***

N

ovel Anak Perawan di Sarang Penyamun, pertama kali muncul sebagai cerita bersambung di majalah Peninjauan tahun 1932. Jadi novel ini ditulis

pada saat Alisjahbana berusia 24 tahun. Delapan tahun kemudian, novel ini baru diterbitkan (1940) oleh penerbit Pustaka Rakyat, Jakarta. Pada tahun 1964, novel ini terbit pula di Malaysia dalam edisi bahasa Melayu. Sebelumnya, yaitu tahun 1962, novel ini mengalami ekranisasi; diangkat sebagai cerita film dengan Usmar Ismail sebagai Sutradaranya. Cerita film ini berkisar pada petualangan tokoh Medasing yang kemudian menjadi pemimpin penyamun. Kehidupannya di tengah hutan telah menempanya menjadi seorang yang tak kenal belas kasihan. Namun, kehadiran Sayu, gadis yang dibawa kabur sebagai hasil jarahannya, serta kelemah lembutan dan ketulusan hatinya, telah mencairkan kekerasan jiwa Medasing. Lalu, kesadarannya itu ia wujudkan dengan menjadi seorang dermawan dan naik haji bersama istrinya, Sayu. Di samping petualangan Medasing yang digambarkan cukup menarik itu, kekuatan novel ini adalah pelatarannya. Latar alam dengan berbagai tumbuhan dan binatangnya, sangat mendukung suasana yang dihadapi tokoh-tokohnya. Latar hutan beserta tebing-tebingnya, digambarka-n dengan amat menarik. Studi mengenai novel ini pernah dilakukan Tji' Inah (FS UI, 1961) dan Suhardiyono (FS UGM, 1971) sebagai bahan skripsi sarjana muda. Adapun yang dilakukan Pamusuk Eneste sebagai bahan skripsi sarjananya (setebal 226 halaman, FS UI, 1977), meneliti Anak Perawan di Sarang Penyamun—dan dua novel lainnya, Salah Asuhan dan Athcis— dalam kaitannya dengan pernfilman (ekranisasi) ketiga novel itu, dengan analisis yang cukup tajam dan mendalam.

2. Aki
Pengarang : Idrus (21 September 1921-18 Mei 1979) Penerbit : Balai Pustaka Tahun : 1949

P

enyakit TBC yang diidap Aki menyebabkannya seperti orang yang sudah tua. Dalam usia yang baru berumur 29 tahun, lelaki kurus kering ini tampak

seperti berumur 42 tahun. Biasanya, keadaan orang seperti itu disebabkan masa mudanya yang habis dengan main perempuan jahat. Selain itu, bentuk tubuhnya yang bongkok membuat Aki menjadi bahan tertawaan yang mengasyikkan. Akan tetapi, ternyata hal itu tak dilakukan teman-temannya di kantor. Bahkan, mereka

sangat hormat kepada orang yang di mata mereka adalah orang yang berhati lurus dan bertingkah wajar. Penyakit TBC yang diderita Aki itu suatu ketika mencapai titik kritis. Puncaknya adalah ketidak bernafasan Aki untuk beberapa saat. Sebagai istri setia, Sulasmi terkejut melihat kenyataan yang menimpa suaminya. la kalap. Akan tetapi, tak lama kemudian suaminya siuman, bahkan sebuah senyum tersungging di bibirnya. Di antara senyuman itu, Aki mengatakan dengan pasti bahwa ia akan mati pada tanggal 16 Agustus tahun depan. la berharap Sulasmi mau menyediakan segala perlengkapan yang diperlukan untuk menghadapi hari kematiannya itu. Rekan-rekan Aki di kantor menganggap lelaki itu sudah gila. Tidak terkecuali anggapan kepala kantornya. la yang sudah merencanakan kenaikan pangkat dan gaji Aki, tidak percaya kepada omongan pegawai kesayangannya itu. Diselidikinya tingkah laku lelaki itu, tetapi Aki memang tidak gila. "Di sini didapatinya Aki sedang bercakap-cakap dengan seorang bawahannya tentang pekerjaan. Sep itu seketika lamanya memperhatikan cakap Aki, tapi satu kata pun tiada menandakan bahwa Aki telah gila. la pergi ke meja Aki, diperhatikannya pekerjaan Aki yang sedang terbentang di atas meja. Pekerjaan itu tiada cacatnya" (hlm. 17). Hari kematian yang dikatakan Aki telah tiba. Semua orang bersiap-siap. Akbar dan Lastri, anak-anak Aki, meminta izin tidak bersekolah. Pegawaipegawai kantor menghiasi mobil kantor dengan bunga-bungaan. Kepala kantor berlatih menghapalkan pidato yang kelak akan dibacakan di kubur Aki. Lelaki itu sendiri memakai pakaian terbagus yang dimilikinya untuk menyambut Malaikatul maut yang akan menjumpainya pukul tiga sore nanti. Ketika pukul tiga telah lewat, Sulasmi memberanikan diri untuk melihat suaminya. Dilihatnya mata suaminya yang tertutup rapat. Lalu, dipanggilnya nama Aki berulang-ulang, tetapi tak ada jawaban. Dengan diiringi tangis, Sulasmi berlari ke luar kamar untuk menemui orang-orang yang menungguinya. Tahulah para penunggu itu bahwa Aki telah meninggal. Saling berebut mereka masuk ke kamar Aki. Akan tetapi, mereka terkejut dan berlarian dari kamar ketika melihat Aki sedang merokok. "Tiada seorang pun yang berani mengatakan, apa yang dilihat mereka dalam kamar itu. Mereka puntang-panting lari meninggalkan

rumah Aki. Dan yang belum masuk kamar, karena keinginan hendak tahu yang amat besar, menjulurkan kepalanya juga, tapi segera pun mereka lari puntangpanting keluar. Sehingga akhirnya semua pegawai itupun meninggalkan rumah Aki secepat datangnya" (hlm. 36). Sulasmi bersyukur bahwa Aki tidak mati. Ternyata, Aki hanya tertidur dan tebangun karena keributan pegawai-pegawai teman sekantornya. Entah mengapa, sejak peristiwa itu Aki selalu terlihat sehat. la tampak lebih muda dari usia yang 42 tahun. Lalu, sebagai pengganti kepala kantor yang telah meninggal tiga tahun yang lalu, ia terlihat atraktif. Bahkan, Aki kembali bersekolah di fakultas lukum, bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa yang usianya jauh di bawah Aki. Tentang hidup? Lelaki yang telah sembuh dari TBC ini ingin hidup lebih lama lagi. la mgin hidup seratus tahun lagi. Separuh hidupnya akan diabdikan sebagai pegawai dan separuh hidupnya lagi akan dipergunakan sebagai akademikus. ***

D

alam sejarah kesusastraan Indonesia, Idrus dikenal sebagai pengarang yang menampilkan gaya penulisan yang menurut H.B. Jassin sebagai

kesederhanaan baru (nieuwc zakcUjheid)—Ajip Rosidi menyebut gaya ini dengan istilah gaya-menyoal-baru (nieuwe zakelijkhcids stijl) yang serba sederhana. Gaya penulisan demikian itu, umumnya tampak kuat dalam cerpen-cerpen Idrus yang paling awal. "Yang paling baik ialah roman pendeknya yang berjudul Aki, 1950 (sic/)". Demikian Teeuw (1980: 221) mengomentari novel Idrus ini. Selanjutnya Teeuw mengatakan, "buku kecil ini menarik terutama karena leluconnya yang ringan, yang dibiarkan berkembang sepenuhnya karena temanya yang tidak bersifat real itu." Dalam perjalanan novel Indonesia, tema yang ditampilkan Idrus dalam Aki memang dapat dikatakan baru. Seseorang dapat menentukan saat kematiannya yang dipercayai oleh orang-orang di sekelilingnya, adalah hal yang aneh dan lucu. jadi, ada kesan bahwa Idrus ingin mengejek orangorang yang sangat ketakutan menghadapi kematian. Padahal, maut pasti datang tanpa seorang pun tahu kapan waktunya.

3. PULANG
Pengarang : Toha Mohtar (17 September 1926) Penerbit : Pembangunan Tahun : 1958

T

ujuh tahun lamanya Tamin meninggalkan desanya. la bergabung dengan pemuda-pemuda lain menjadi Heiho dan dikirim Jepang ke luar negeri.

Kini, ia pulang menemui orang tua, adik, dan desa yang selalu dirindukan selama dalam pengembaraannya. Orang tuanya bercerita tentang sapi dan sawah pusaka yang terpaksa dijual demi kebutuhan hidup selama zaman Jepang dan revolusi. Tamin memahami kesulitan yang dialami orang tuanya. Kemudian ia menebus sawah dan membeli sapi dengan uang simpanan dan uang hasil penjualan perhiasannya. Ia berniat kembali menjadi petani.

Penduduk desa menerima Tamin dengan penuh keramahan. Mereka senang melihat pemuda itu bekerja keras mengolah tanah. Mereka juga senang mendengarkan tem-bang yang disusun Tamin selama dalam pengembaraannya dulu. Selain itu, penduduk desa menganggapnya sebagai pahlawan yang telah bergerilya mempertahankan kehor-matan bangsa dan negerinya. Sebaliknya bagi Tamin, anggapan penduduk desanya itu lebih memberikan rasa malu dan takut daripada rasa bangga. la takut warga desa, lebih-lebih kedua orang tua dan adiknya, mengetahui hal yang sebenarnya selama ia dalam pengembaraan. Maka, tatkala orang-orang sekelilingnya meminta agar ia menceritakan pengalamannya, ia terpaksa berbohong. Dikatakannya bahwa ia bersama pemuda-pemuda lain, bergerilya di gunung-gunung di Jawa Barat, berjuang melawan Belanda yang berniat menjajah kembali negeri ini. Tamin tidak merasa tenteram dan damai tinggal di desanya. Hati nuraninya tak kuat terus-menerus berbohong kepada orang tua dan adiknya, juga penduduk desa. Pujian sebagai pejuang terhadap dirinya makin menambah kegusarannya. la tak punya ke-beranian untuk menceritakan hal yang sebenarnya. la takut melihat kekecewaan penduduk desanya apabila mereka tahu hal yang sesungguhnya. Lebih jauh, ia takut menghadapi kemarahan penduduk desa yang akan mengecapnya sebagai pengkhianat. Tamin sendiri merasa bahwa dirinya bukan patriot yang rela mengorbankan nyawa-nya demi membela tanah air dan bangsanya. Selama menjadi heiho, ia dan pasukannya dikirim oleh Jepang ke Burma untuk mempertahankan kekuasaan Jepang. Kemudian, setelah Jepang menyerah, ia tidak bergabung dengan bangsanya untuk mempertahankan kemerdekaan. Disebabkan ketidaktahuannya dan termakan oleh propaganda yang dilancarkan sekutu, ia bergabung dengan tentara sekutu. Tamin justru bertempur melawan bangsanya sendiri. Namun, ketika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, ia merasa berdosa. Penduduk desa tidak menggugat karena mereka toh tidak mengetahui bahwa se-benarnya Tamin telah bertempur melawan bangsanya. Rasa berdosa semakin men-cekamnya karena ia khawatir kalau-kalau kebohongannya selama ini, terbongkar. Maka, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya.

Hari-hari dalam pengembaraannya yang kedua kali ini, hati Tamin tidak juga merasa damai. Ia selalu dibayangi rasa berdosa dan takut bertemu dengan orang sekampungnya. la takut kalau-kalau ada orang yang mengenalnya datang ke desanya dan menceritakan siapa Tamin sebenarnya. Rasa bersalah itu terus memburu dalam setiap langkahnya. Tamin mengembara dan berpindah-pindah tempat tanpa tujuan yang pasti. Setelah menggelandang berbulan-bulan, akhirnya ia bertemu dengan Pak Banji, tetangga sekampungnya, di Surabaya. Pak Banji menyampaikan kabar bahwa ayah Tamin telah meninggal dunia. Ibu dan adik Tamin sangat mengharapkan agar ia kembali ke desanya. Selain itu, penduduk kampung juga mengharapkan agar ia pulang. Mereka merindukan Tamin, merindukan tembangtembang yang selalu didendangkannya. Melalui cerita Pak Banji, Tamin berkesimpulan bahwa penduduk desanya tidak mengetahui siapa ia sebenarnya. Mereka begitu tulus mencintai Tamin. Akhirnya, ia sadar bahwa selama ini ia hanya dikejar-kejar rasa ketakutannya. Tamin memutuskan untuk pulang ke desanya. Kali ini ia datang dengan perasaan lega. Perasaan bahwa ia tetap dibutuhkan oleh penduduk desanya. Ia juga sadar, kepulangannya kali ini sekaligus untuk membuktikan bahwa sesungguhnya sejak dulu Tamin ingin berjuang untuk bangsanya. Pembelaannya pada jepang, dan kemudian pada sekutu, semata-mata karena ketidaktahuannya akibat propaganda dan bujuk rayu Jepang dan Sekutu. Kini, perjuangannya adalah: ... "Sebagai desa yang telah berjasa dalam perjuangan gerilya, pemerintah akan mendirikan dam yang akan mengatur pengairan sawah seluruh desanya dengan baik." (hlm. 139). Begitulah, *** ovel Pulang semula merupakan cerita bersambung dalam majalah Ria (1952— 1953) dengan nama pengarangnya Badarijah UP, salah satu nama Tamin kemudian membuktikan perjuangannya; membangun desanya sendiri.

N

samaran Toha Mohtar. Penulisannya dilakukan tidak langsung sekaligus, melainkan bagian demi bagian. Pada tahun 1952, begitu keseluruhan rampung dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Ria—yang salah satu redakturnya adalah Toha Mohtar sendiri— Basuki Efendy, sutradara dari Perusahaan Film

Negara, mengangkat cerita Pulang ke dalam film (ekranisasi) dengan pemeran utama, Turino Djunaedi sebagai Tamin. Setelah diterbitkan sebagai buku, Pulang memperoleh Hadiah Sastra dari BMKN pada tahun 1960 untuk novel yang terbit tahun 1958. Studi mengenai novel Pulang, cukup banyak dila-kukan. Untuk skripsi sarjana muda tercatat ada empat (dua dari FS UGM, 1969 dan 1983, dua lagi dari FS Unas, 1973 dan 1979). Begitu juga skripsi sarjana tercatat ada empat, yaitu sebuah dari FS Undip (?), dua dari FS Unas (1977 dan 1982) yang judul penelitiannya nyaris tidak berbeda—oleh karena itu, analisisnya juga tak jauh berbeda—, satu lagi dari FS UI (1985) dilakukan oleh Sunu Wasono yang melihatnya secara sosiologis dengan cukup mendalam.

4. SENJA DI JAKARTA
Pengarang : Muchtar Lubis Penerbit : Pustaka Jaya Tahun : 1970; Cetakan II, 1981

R

aden Kaslan memanfaatkan kedudukannya dalam anggota Dewan Partai Indonesia ketika Husin Limbara, ketua Partai Indonesia, memintanya untuk

menangani penyediaan dana pemilu partainya. la mengatur agar partai mendapat dana. Caranya, dengan mendirikan perusahaan-perusahaan fiktif yang akan menangani lisensi impor barang-barang kebutuhan pokok rakyat. Istri Raden Kuslan, Fatma, dan anak tunggalnya, Suryono—anak tiri Fatma—masing-masing menjabat direktur perusahaan-perusahaan fiktif tersebut. Tak ketinggalan, Husin Limbara dan teman-teman separtai memperoleh jabatan direktur bermacammacam nama perusahaan. Suryono sebenarnya adalah pegawai pada Kementerian Luar Negeri yang baru saja pulang dari dinas di luar negeri. Atas desakan ayahnya, ia berhenti sebagai pegawai negeri dan kemudian berkecimpung dalam bisnis yang ditangani

ayahnya. la yang ketika pulang mengeluh terus karena fasilitas yang diberikan kementeriannya, kini menjadi kaya-raya dan menjabat direktur beberapa perusahaan. Di sisi lain, Suryono dikenal sebagai playboy. Intim dengan wanita-wanita kesepian— seperti Dahlia—pelacur-pelacur kelas atas, dan tak ketinggalan dengan ibu tirinya sendiri, Fatma. Pegawai jujur seperti Idris, yang tak mau ikut arus zaman, harus menerima ketidak-puasan istrinya, Dahlia, yang selalu menuntut kebutuhan materi. Tanpa sepengetahuan suaminya, Dahlia melayani Suryono yang memberikan kepuasan materi dan biologis saat Idris tak ada di rumah. Hal ini juga menimpa Sugeng, pegawai Kementerian Perekonomian, yang selalu dituntut oleh istrinya agar mendapatkan rumah secepatnya. Namun, Sugeng tidak seperti Idris yang teguh memegang prinsip pegawai negeri, ia turut ambil bagian dalam bisnis yang ditangani Raden Kaslan sesuai dengan jabatannya. Pada saat orang-orang seperti Raden Kaslan, Suryono, Husin Limbara, dan kawan-kawannya mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya, rakyat jelata hidup dalam kesusahan. Orang-orang seperti Saimun dan Itam yang bekerja sebagai tukang sampah, Pak Ijo, kusir tua dan istrinya, selalu dalam bayang-bayang kelaparan. Juga Neneng, yang terpaksa melacurkan diri agar bisa memperoleh sesuap nasi. Mereka sama sekali tidak diperhatikan oleh orang macam Raden Kaslan dan kawan-kawannya, yang selalu digembar-gemborkan dalam kampanye bahwa mereka berjuang untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Sementara itu, sekelompok orang yang selalu dengan bangga menyebut dirinya budayawan, tidak henti-hentinya mengadakan diskusi, berdebat, dan masing-masing mau menang sendiri membela konsep yang diajukan. Mereka seakan lupa pada rakyat yang harus mengantri beras, minyak, garam, dan kebutuhan pokok lainnya. Mereka lupa pada rakyat yang harus mempertahankan hidup dengan segala cara, bahkan tak segan membunuh orang untuk menyambung hidup. Bahkan, di antara mereka terjadi gontok-gontokan. Keadaan Jakarta makin bertambah kacau dengan adanya berita di korankoran oposisi, yang membongkar kecurangan oknum-oknum partai yang berkuasa dalam mengum-pulkan dana. Koran-koran oposisi menelanjangi partai-partai yang

memegang pemerin-tahan dengan menyebut nama-nama yang terlibat dalam perusahaan-perusahaan fiktif yang memegang lisensi impor. Meskipun korankoran pemerintah membantah isu ter-sebut, pemerintah tetap saja tak dapat bertahan. Akhirnya, kepala negara membubarkan kabinet dan memerintahkan pengusutan terhadap isu lisensi impor tersebut. Suasana tak menentu seperti yang terjadi di Jakarta, dimanfaatkan dengan baik oleh orang yang mempunyai sifat bunglon, salah satu di antaranya adalah Halim. Pada saat Partai Indonesia berkuasa, Halim memihak partai tersebut. la memperoleh sejumlah besar uang untuk surat kabar yang dipimpinnya. Tentu saja, sebagian besar masuk ke kantongnya dan mendapat "hadiah" dari Partai Indonesia menjadi anggota parlemen. Ketika Partai Indonesia tak kuat menahan serangan oposisi, Halim berpihak pada oposisi dan berbalik menyerang partai yang dahulu memberi fasilitas kepadanya. Buntut peristiwa terbongkarnya bisnis lisensi impor, Raden Kaslan mendapat pang-gilan dari pihak yang berwajib. Sugeng ditangkap polisi di rumahnya, sedangkan Suryono bersama ibu tirinya, Fatma, bermaksud kabur. Namun, di kawasan Puncak, mobil mereka mengalami kecelakaan. Suryono mengalami luka berat dan terpaksa dirawat di rumah sakit Bogor. Fatma sendiri yang selamat dan kembali ke Jakarta. "Malamnya rumah sakit Bogor menelepon Fatma di Jakarta, bahwa Suryono telah meninggal dunia" (hlm. 332). Senja di Jakarta tetap dalam kesuraman, dan mereka yang jujur tetap tersisih. *** enja di Jakarta pertama kali terbit dalam bahasa Indonesia tahun 1970 oleh penerbit Badan Penerbit Indonesia Raya. Sejak tahun 1981 (cetakan kedua)

S

hingga sekarang diterbitkan oleh penerbit Dunia Pustaka Jaya. Semula novel ini berjudul Yang Terinjak dan Melawan, sebuah karya Mochtar Lubis yang ditulisnya ketika ia masih berstatus tahanan rumah. Ketika pertama kali novel ini terbit di London tahun 1963, hasil terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh Claire Holt, judulnya diganti menjadi Twilight in Jakarta. Setelah terbit edisi bahasa Belanda, berjudul Schemer over Djakarta hasil terjemahan P.H. Fruithof dari edisi bahasa Inggris. Dua tahun kemudian, penerbit Pustaka Antara di Kuala Lumpur

menerbitkannya pula dalam bahasa Melayu dengan judul Sendja di Djakarta. Barulah pada tahun 1970 terbit dalam edisi asli bahasa Indonesianya. Sebelum itu, Senja di Jakarta juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Italia, Spanyol, dan Korea. Belakangan, novel ini diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jepang. Ceritanya sendiri berkisar pada gambaran yang terjadi pada masyarakat ibukota Jakarta, termasuk para pertengahan pejabat pemerintah dan politikus pada tahun 50-an. Merajalelanya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan,

kebobrokan moral, dan pe-nyelewengan telah menyebabkan kemiskinan di manamana. Keadaan perekonomian makin mencekik rakyat. Dalam keadaan demikian, meningkatnya suhu politik makin melengkapi penderitaan rakyat menjadi berkepanjangan. Gambaran itulah yang di-angkat Mochtar Lubis dalam novelnya Senja di Jakarta ini. Jadi, semacam potret tentang keadaan masyarakat—dan aparat pemerintah termasuk politikus—pada dasawarsa ta-hun 50-an. Sebelum novel ini diterbitkan di Indonesia, masyarakat Indonesia justru lebih dulu mengenalnya lewat film dengan judul yang sama, hasil garapan sutradara Nico Pe-lamonia dan perusahaan film Tuti Mutia Film Production tahun 1967. Berbagai tanggapan atas novel Senja di Jakarta umumnya bernada memberi sambutan yang baik. Teeuw (198U: 264 265) mengatakan bahwa Senja di Jakarta merupakan karya Mochtar Lubis yang agung, yang menurut Ajip Rosidi (1976: 112) telah mendapat sambutan yang hangat dari pers dunia. Mcngenai lot..r beiakang proses perierbitan Senja di Jakarta dinyatakan sendiri oleh Mochtar Lubis dalam Catalan Subversif (1980: 151). Adapun studi terhadap novel ini pernah dilakukan oleh Endo Senggono (FS UI, 1985) yang melihatnya secara sosiologis Jan lengkap rnemberikan banyak informasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan novel Sen fa di Jakarta. Studi lainnya mengenai novel ini, berikut karya Mochtar Lubis lainnya, penksa ulasan pada ringkasan novel Jalan Tak Ada Ujung (hlm. 135).

5. Telepon
Pengarang : Sori Siregar Penerbit : Balai Pustaka Tahun : 1982

D

aud bekerja pada sebuah toko di Jakarta. Sebetulnya ia sudah sangat bosan dengan pekerjaannya. Namun, karena tak ada pekerjaan lain, ia terpaksa

melakukannya juga. Daud mempunyai hobi yang tak biasa, ia gemar sekali menelepon. Kegemaran yang dimulai dari iseng-iseng itu lama-kelamaan menjadi semacam kebutuhan. Ia tak peduli kapan, di mana, dan kepada siapa ia menelepon. Yang penting, apabila hasrat hatinya untuk menelepon sudah terpenuhi, ia akan segera senang. la seakan terbebas dari beban yang mengimpitnya. Demikianlah, telepon yang seharusnya dipergunakan untuk hal-hal yang baik, berubah fungsinya di tangan Daud. Ia menggunakan telepon untuk mengancam, menakut-nakuti orang yang diteleponnya walaupun dalam hatinya tak ada niat jahat. la hanya ingin melampiaskan keinginan—yang tak dapat dihindarinya—yang timbul sesaat. Orang yang pertama kali ditakut-takutinya adalah Tajudin, direktur perusahaan yang telah memecat Burhan, teman Daud. Lalu Ibu Suroso, pelanggan tetap toko buku tempat Daud bekerja. Daud sangat puas setelah menakut-nakuti mereka dengan ancaman atau omongan yang sama sekali tak ada faktanya. Pada

malam hari setelah Daud menakut-nakuti mangsanya, ia akan membayangkan keadaan orang yang menjadi korbannya itu. Kadang-kadang terbersit rasa sesal di hatinya, apalagi bila yang ditakut-takutinya itu adalah orang yang baik, seperti Ibu Suroso. Demikianlah, perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, sampai pada suatu ketika, Lisa—kekasihnya—memergokinya. Daud terpaksa mengakui perbuatan yang telah dilarang pacarnya itu. Akibatnya, Lisa mengancam akan memutuskan hubungan mereka. Ancaman Lisa membuat Daud takut dan berjanji sekali lagi untuk tidak mengulangi perbuatan yang merugikan orang lain itu. Namun, untuk menghentikan kegemarannya itu, ternyata tidaklah semudah seperti waktu mengucapkannya; ia tetap menelepon orang-orang yang menurutnya harus diancam. Rupanya perasaan Daud tidak selamanya tenang. Hal itu terjadi ketika ia iseng-iseng menelepon seseorang. Orang yang menerima telepon itu mengaku sebagai orang yang dimaksud Daud, padahal ia menyebutkan sekadar nama yang tiba-tiba terlintas begitu saja di kepalanya. Sejak peristiwa itu Daud mulai dihinggapi rasa gelisah; dan kegelisahan itu memuncak ketika tanpa diduga ia menerima telepon dari sekretaris Tajudin yang memberitahukan bahwa Tajudin telah mengetahui siapa yang mengancamnya, yaitu Daud. Lebih jauh bahkan telah meminta polisi untuk rnenangkap Daud dengan alasan melakukan ancaman pembunuhan disertai bukti-bukti berupa rekaman pembicaraan telepon. Daud mulai menduga-duga bahwa telah terjadi pengkhianatan terhadap dirinya. la menduga Lisa dan Burhanlah yang melakukannya, karena hanya kedua orang tersebut yang mengetahui kegemaran Daud. Namun, ternyata bukan mereka. Lalu siapa? Dalam kegelisahan itu, Daud mulai menimbang-nimbang untuk menghentikan ancaman-ancaman lewat telepon, seperti yang disarankan Lisa dan Situmeang, teman seperantauan Daud. Usaha yang dilakukannya adalah tidak melakukan kontak telepon dengan siapa pun. Di dalam dirinya telah timbul rasa ngeri jika melihat telepon. la juga sudah berpikir untuk meminta maaf kepada orang-orang yang telah menjadi korbannya.

Hal yang tak diduga sama sekali oleh Daud adalah ketika Simangunsong datang ke rumah kontrakannya di Kebon Kacang. Yang lebih mengejutkan lagi ketika tiba-tiba ia dipukuli sahabat seperantauannya itu. Simangunsong berang karena perayaan pernikahan adik sepupunya berantakan akibat ulah seorang penelepon gelap yang me-ngatakan bahwa di tempat pesta itu terdapat bom yang sewaktu-waktu dapat meledak. Para undangan tentu saja bubar begitu mendengar berita yang kemudian terbukti hanya omong kosong itu. Simangunsong berkesimpulan bahwa penelepon gelap itu tak lain adalah Daud. Padahal bukan. Kalau bukan Daud, lalu siapa? Simangunsong lalu mencari informasi siapa pengacau itu. Terungkaplah bahwa pelakunya seorang wanita yang kehilangan anak yang sedang dikandungnya. la kesepian di rumahnya yang besar, dan untuk membunuh rasa sepinya, setiap hari ia menelepon siapa saja. Kegemaran yang sudah menjadi semacam penyakit itu, kabarnya akan hilang jika wanita itu dikaruniai seorang anak lagi. Akan halnya Daud, ia terpaku mendengar cerita Simangunsong itu. Di dalam benaknya terlintas telepon dari seorang wanita yang nada suaranya begitu kesepian. Timbul rasa takutnya: apakah dirinya seperti wanita itu? Daud membayangkan, jangan-jangan dia tidak waras seperti wanita itu. "Daud merangkul Simangunsong, membenamkan wajahnya ke dada sahabatnya itu dan tersedu di sana. ... Di tengah-tengah keheningan ruangan itu, suara Simangunsong terdengar jelas. Tidak. Kau tidak sakit, Daud. Kau tidak sakit'" (him. 96). *** udul novel ini, Telepon, mengisyaratkan bahwa akan terjadi komunikasi antaranggota 1 masyarakat lewat hasil peradaban manusia. Kenyataannya

J

memang demikian. Namun, berbagai masalah yang mendera manusia; depresi, kesepian, atau keputusasaan yang banyak melanda masyarakat perkotaan telah mengubah fungsi telepon sebagai alat pelarian mereka. Kenyataan, dewasa ini yang terjadi di masyarakat memang demikian. Oleh Sori Siregar sisi negatif telepon diangkat dalam novelnya ini. Rasa keterasingan dan keterpencilan, ternyata dapat menjerumuskan seseorang ke dalam lingkaran masalah yang tak

berkesudahan jika ia mencoba menyelesaikan tidak pada tempatnya. Dengan kata lain, pelarian yang salah sesungguhnya bukanlah usaha penyelesaian, melainkan justru menambah masalah baru. Atau, bahwa berbagai masalah—sebagai dampak kemajuan teknologi—sebetulnya pertama-tama ditimbulkan oleh ulah manusia sendiri. Novel ini adalah pemenang harapan Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979.

6. BAKO
Pengarang : Darman Moenir (27 Juli 1952) Penerbit : Balai Pustaka Tahun : 1983; Cetakan III, 1988

B

iola tua itu kini kian hari kian berdebu. la diletakkan di atas lemari" (hlm. 11). Alat musik itu memang sudah hampir sepuluh tahun lamanya dibiarkan

tak tcrawat. Padahal, dulu si bocah laki-laki yang biasa dipanggil Man itu, sering meiihat ayahnya memainkannya, la belum juga mengerti, mengapa ayahnya kini tak lagi mau mcnjamah benda itu. Dan sesungguhnya ia ingin sekali mengetahui alasan ayahnya menghentikan kebiasaannya. memainkan biola itu. Suatu ketika ayahnya bercerita tentang pengalaman masa mudanya. Dari cerita itulah si bocah sedikit banyak mengetahui bahwa ayahnya pernah gagal menamatkan sekolahnya di SMA. Kegagalan itulah yang mendorong ayahnya pulang ke kampung halaman. Walaupun begitu, semangat untuk menuntut ilmu sama sekaii belum pudar. Ayahnya kemudian memasuki SGB (Sekolah Guru Bawah) di PP. Diceritakan pula bahwa sewaktu di SMA, sang ayah menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita, putri sulung seorang polisi. Hubungan cinta itu terus berlanjut lama, walaupun orang-orang di kampungnya menentang hubungan itu. Diceritakannya pula bahwa wanita itu sudah tidak gadis lagi. la seorang janda dengan dua orang anak. Dan, bukan orang sekampungnya. Namun, cinta lebih kuat dari semua itu. Perkawinan itu pun terjadi hingga lahir seorang anak laki-laki yang kemudian disusul oleh adik-adiknya. Olch karena itulah, si bocah di bawa ke rumah bako, yakni keluarga sepertalian darah dengan ayah.

Belakangan, setelah anak laki-laki itu beranjak dewasa, ia mengetahui bahwa ibunya menjadi gila karena ditinggal lama oleh sang ayah. Meskipun begitu, ia masih belum mengerti mengapa ibunya sampai menjadi giia. Tidak adakah penyebab lain yang membuat pikiran ibunya sampai tak waras begitu. Itulah pertanyaan yang selalu ia coba jawab atas dasar cerita-cerita ayahnya kemudian, dan keterangan dari neneknya. Satu hal yang jelas adalah keadaan dirinya yang cacat. Penyakit poliolah yang membuat kakinya cacat. Namun, itu tidak menjadikan lelaki itu putus harapan. la tetap bertekad untuk terus melanjutkan sekoiahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Paling tidak, ia berhasil merasakan pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia Negcn. Setamat pendidikan di salah satu akademi, pemuda itu tidak langsung bekerja. Ayahnya sebenarnya berharap agar ia dapat bekerja sebagai pegawai negeri. Namun, pemuda itu justru berpikiran lain, Menuntut ilmu bukanlah untuk bekerja sebagai pegawai negeri, demikian pendiriannya. Meskipun adik-adiknya membutuhkan uluran tangannya untuk membiayai sekoiah mereka, ia tctap ingin bekcrja sesuai dengan kehendak hatinya. Mungkin sikap tersebut tidak terlepas dari pendidikannya sewaktu tinggal bersama uminya—kakak pcrempuan ayahnya. Pada diri uminya, pemuda itu banyak belajar agama dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Pada saat itu mulai tumbuh sikap ingin mandiri atau sedikitnya bertanggung jawab pada did sendiri. Walaupun begitu, ia harus mengakui bahwa biaya sewaktu kuliah lebih banyak diterima dari uminya. Menyadari hal itu, ia tidak mau menyia-nyiakan waktu; ia banyak belajar dan mem-baca. Ia juga mulai mengenal para pengarang terkenal. Semua itu memberi pengaruh cukup kuat pada dirinya. Paling tidak, ia mulai membiasakan diri untuk membuat karangan atau mulai rajin berkecimpung dalam keg ia tan tulis-menulis. Memang, dunia itulah yang hendak ia jadikan pekerjaannya. Sementara itu, sejalan dengan penyadaran dirinya untuk menentukan masa depan-nya, lelaki itu mencoba bercermin pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ibunya, misalnya, yang tak waras lagi, sama sekali tak dapat diharapkan lagi. Ayahnya, dengan gaji yang pas-pasan sebagai seorang guru,

masih tctap repot mengurusi anak-anaknya, sementara pemuda itu tak dapat membantu apa-apa. Pemuda itu juga tak dapat terus menggantungkan hidup pada uminya, meskipun pcrempuan itu memiliki sawah dan ladang yang cukup luas. Seorang lagi, Bak Tuo—yang masih sekerabat dengan uminya—sungguh merupakan kepala keluarga yang tak patut dijadikan contoh teladan. Kebiasaan berjudi dan menghabiskan uang pensiunannya hanya untuk judi, telah menyebabkan keluarganya telantar. Bahkan, Bak Tuo mulai berani pula mencuri uang ayah pemuda itu. Akibatnya, kedua orang tua yang sebenarnya sudah berumur itu, berkelahi. Bagi si pemuda, kehidupan Bak Tuo memberi ny a kesadaran betapa pen ting ke-hidupan masa muda. Kehidupan masa muda Bak Tuo, sampai ia menghabiskan masa pensiunnya, hampir tak pernah lepas dari kebiasaan berjudi. Dari situlah si pemuda mengambil sikap seperti ini: "aku menyimak dan menarik pelajaran dari apa yang dialami Bak Tuoku. la adalah contoh yang amat tepat untuk dijadikan sebagai manusia yang sia-sia di masa tua sesudah mengabaikan masa dan hari mudanya" (hlm. 83). Seorang lagi yang ikut mempengaruhi sikap hidup si pemuda adalah seorang petani sejati yang biasa disebut Gaek. "Mempunyai tempat di hatiku, rasanya ia adalah laki-laki seribu dongeng. Setiap dongeng yang ia ceritakan selalu mengena di hatiku, di benakku. la adalah laki-laki yang mengisi masa kanak-kanakku secara lebih sempurna" (hlm. 93). Lebih dari itu, si pemuda— betapapun ia hidup cacat—makin menyadari bahwa sesungguhnya hidup adalah kerja. Ternyata Gaek mampu hidup dan meng-hidupi masa depannya karena ia mencintai kerja. Lelaki itu benar-benar telah berhasil memberi makna dalam hidupnya. Pemaknaan bagi kehidupan inilah yang kin! di-temukan si pemuda dalam diri orang-orang sekitarnya. Kelak ia akan berusaha untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh rnakna. Itulah yang menjadi tekad si pemuda. ***

N

ovel Bako ini sesungguhnya lebih menyerupai catatan biografis sebuah keluarga. Ceritanya disampaikan lewat tokoh "aku" yang sejak

kecilnya mencoba me mahami keberadaan dirinya dalam sebuah keluarga dan

masyarakat. Bentuk pen-ceritaannya cukup rumit; rumit karena setiap tokoh yang diceritakan selalu dihubung-kan dengan tokoh "aku". Dengan demikian, bentuk flashback atau sorot balik terjadi di sana-sini. Hal itu dimungkinkan karena pemaparannya mirip cuplikan peristiwa-peristiwa yang bersifat fragmentaris. Hanya lewat tokoh "aku" itulah berbagai peristiwa menjadi saling berkaitan. Dalam hal ini, novel Bako cukup menarik. Secara keseluruhan, peristiwaperistiwa fragmentaris sangat menonjol dalam novel ini. Di dalamnya ter-ungkap pula tradisi dan adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat matrilineal. Dalam beberapa hal, terungkap pula sisi positif dan negarif masyarakat yang menganut tradisi tersebut. Sebagai karya sastra, dalam hal bentuk, novel ini boleh dikatakan menampilkan pembaharuan. Boleh jadi karena itulah novel ini dinyatakan sebagai pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980.

7. OLENKA
Pengarang : Dudi Darma Penerbit : Balai Pustaka Tahun : 1983; Cetakan III, 1986

P

ertemuan antara Fanton Drummond dan Olenka hanya secara kebetulan. Mereka bertemu di lift apartemen Tulip Tree, tempat tinggal mereka.

Pertemuan yang terus-menerus membuat Fanton tidak bisa melupakan bayangan Olenka dari pikiran-nya. Setiap saat Fanton selalu membayangkan wajah dan tubuh Olenka, sekaligus ingin memperistrinya. Meskipun Fanton akhirnya mengetahui bahwa Olenka sudah bersuami dan mem-punyai anak, ia tidak terlalu mempedulikannya- Bahkan ia terkadang merasa cemburu pada Wayne Danton, seorang pengarang amatir, yang bisa memperistri Olenka. Sebelum Fanton Drummond hadir dalam kehidupan Olenka, keadaan keluarga Wayne-Olenka sedang guncang walaupun belum sampai pada tahap perceraian. Keadaan itu disebabkan suami-istri itu mempunyai gaya hidup yang berbeda; Wayne seorang pengarang dan Olenka seorang pelukis. Di antara mereka tidak ada kecocokan. Wayne sering menempelkan sobekan-sobekan kertas, yang berisi kata-kata yang akan digunakannya dalam pembuatan cerpen atau novel, di dinding kamar; sedangkan Olenka sering membaca buku yang seolah-olah tidak mau ditegur orang lain. Tingkah laku Fanton yang menunjukkan bahwa ia menginginkan Olenka dapat ditangkap oleh wanita itu. Mungkin karena Fanton sering memuji-muji hasil karyanya, Olenka menjadi akrab dengan pria itu. Bahkan, hubungan mereka semakin intim seperti layaknya suami-istri. Fanton dan Olenka sudah berjanji bahwa pada suatu waktu mereka harus berpisah. Lalu, memang demikianlah nyatanya. Mereka berpisah. Namun, kenyataannya Fanton tak bisa melupakan Olenka setelah mereka berpisah. Untuk

menghilangkan kegelisah-annya, Fanton berusaha melupakan dan menghilangkan bayangan Olenka dart pikirannya, tetapi justru terjerat pada bayangan tubuh Olenka. Akhirnya, ia berkelana mencari jejak wanita itu ke Indiana, Kentucky, dan kembali ke Illinois. Di Chicago Fanton berkenalan dengan Mary Carson di hotel La Salle. Perkenalan singkat ini dimanfaatkan oleh Fanton untuk melenyapkan bayangan Olenka yang » sering berkelebat dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyatakan cintanya kepada Mary. Namun, ditolak secara halus oleh wanita itu karena ia belum berpikir untuk kawin. Melihat kenyataan seperti ini, Fanton merasakan diri seperti melayang. Akhirnya, ia menulis surat-surat masturbasi; menulis surat untuk Mary, tapi tidak dikirim, melainkan disimpan beberapa hari, kemudian dibaca sendiri suratnya. Setelah itu, ia bertindak seakanakan seperti Mary yang membalas suratnya—padahal ia sendiri yang menulis surat jawaban itu—, lalu disimpannya surat itu untuk beberapa lama, kemudian ia baca surat itu, demikian seterusnya. Tak berapa lama setelah kejadian itu, Fanton mendapat surat yang sangat panjang dari Olenka. Dalam surat itu Olenka menceritakan asal-usulnya secara menyeluruh. Juga tentang rasa kasihannya kepada Wayne, tentang cintanya yang sesungguhnya kepada Fanton, barikan kisah hidupnya sebagai lesbian dengan seorang wanita yang dinamainya Winifred. Kisah hidupnya ini mirip dengan kisah hidup Ursula dan Winifred dalam novel The Rainbow karya D.H. Lawrence. Olenka juga mengatakan bahwa perkawinannya dengan Wayne hanyalah karena keterpaksaan, yakni agar ia dapat hidup normal sebagai seorang wanita. Meskipun Olenka mencintai Fanton, ia sadar bahwa bagaimanapun Wayne adalah suaminya dan Steven adalah anaknya, ia akan menolong hidup kedua orang itu. Surat Olenka tersebut justru membuat Fanton semakin tergila-gila pada wanita itu. Ia kemudian mencarter pesawat terbang untuk mengelilingi Bloomington sekadar melupakan Olenka. la masih tetap berharap agar Olenka mengirimkan surat untuknya lagi, tetapi sia-sia, Olenka tidak pernah menulis surat lagi.

Fanton akhirnya dapat bertemu dengan Mary Carson lagi, yang kini sudah cacat akibat kecelakaan pesawat terbang yang ditumpanginya. Meskipun Mary cacat, Fanton masih bersedia mengawininya. Mary tetap menolak karena ia tak mau nantinya lelaki itu hanya akan berperaM sebagai juru rawat saja. Padahal, dalam hati wanita itu sebenarnya ia sangat mencintai Fanton semenjak pertemuan mereka dulu di Chicago, tetapi pada waktu itu Mary dalam keadaan bimbang, sehingga tidak dapat mem-berikan suatu putusan. Sepulangnya Fanton dari Alicjuippa—dari rumah Mary—, ia membaca berita di surat kabar yang berisi tentang pemalsuan lukisan oleh Olenka Danton— yang kemudian ditemui pingsan di kamar hotelnya karena terlalu banyak menelan obat tidur. Selanjutnya, Fanton berusaha menemui Olenka di rumah sakit. Namun, "menurut Loket Penerangan Rumah Sakit, Olenka sudah meninggalkan rumah sakit lebih kurang seperempat jam yang lalu melalui pintu samping. Saya tidak menyesal, tidak kecewa. Yang saya pendam dalam hati hanyalah kekosongan" (hlm. 213). Begitulah, ketidakhadiran Olenka kali ini sama sekali tak membuatnya bersedih. la sudah tidak lagi memikirkan Olenka. Yang dipikirkannya kali ini adalah dirinya sendiri yang tak pernah ia mengerti siapa dirinya, mau ke mana, dan akan berhenti di mana perjalanannya. la kini sadar bahwa apa yang ada dalam hati nuraninya, dan apa yang ada dalam pikirannya harus dapat dipertanggungjawabkan. "Dan saya harus mempertanggungjawabkannya. Maka, dalam usaha saya untuk menjadi pemeluk teguh, saya menggumam, 'Tuhanku, dalam termangu, aku ingin menyebut nama-MU'" (hlm. 215). Inilah kesadaran Fanton akan keberadaan dirinya sebagai makhluk-Nya yang tak mempunyai kekuasaan apa-apa dibandingkan kekuasaan-Nya. *** ovel karya Budi Darma ini sebenarnya mempergunakan bentuk pencerita akuan (first person narrator)—dengan tokoh Fanton yang bertindak sebagai

N

pencerita dan sekaligus tokoh utama—, tetapi disampaikan melalui surat Lewat surat-surat itulah,

baik yang ditulis oleh Fanton maupun oleh Olenka, pembaca dapat mengetahui pikiran dan perasaan tokoh-tokoh tersebut. Memang demikianlah, lewat pikiran dan perasaan tokoh-tokoh itulah novel ini dikembangkan, penuh dengan berbagai pernyataan yang tak jarang saling bertentangan atau ambivalensi satu dengan lainnya. Kadang-kadang juga bertumpang-tindih, bercampur-aduk, dan silih berganti tidak hanya antara lakuan dan pikiran atau perasaan tokoh tertentu, tetapi juga jakuan antartokohnya. Jadi, di dalamnya sering kita hanya menjumpai lompatan-lompatan pikiran yang beraneka ragam. Untuk memberi keterangan lebih lanjut, pengarangnya sengaja menyertakan catatan tambahan yang penjelasannya ditempatkan pada bagian halaman belakang novel. Sebelumnya, dipaparkan juga asal-usul proses penulisan Olenka, yang sedikit banyak sangat membantu pemahaman pembaca terhadap novel ini. Sambutan para kritikus sastra — yang terungkap lewat sejumlah resensi — umumnya memberi atau sebagai karya dalam Olenka, termasuk teknik penceritaan kolase. Di bagian lain, Panuti Sudjiman juga mengulas beberapa teknik penceritaan yang dipergunakan pengarang dalam novel-novel inkonvensional sebagai hasil usaha melepaskan diri dari konvensi teknik penceritaan yang terasa membelenggu. Novel Olenka sebelunnnya adalah pemenang hadiah pertama Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980. Setelah diter-bitkan sebagai buku pada tahun 1983, novel ini berhasil memperoleh hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta pada tahun yang sama. tanggapan yang memuji sebagai karya pembaharuan

8. ANAK TANAH AIR
Pengarang : Ajip Rosidi (31 Januari 1938) Penerbit : Gramedia Tahun : 1985

B

ersekolah di Jakarta!... Tentu lain belajar di kota besar daripada di sebuah kota kecil kabupaten..." (hlm. 10). Inilah salah satu alasan mengapa Ardi

menyambut gembira tawaran pamannya, Abdulmanan, untuk ikut dan bersekolah di Jakarta. Maka, walaupun perjalanan ke ibu kota cukup melelahkan, terutama mengingat penuhnya kendaraan sebagaimana biasanya selepas Lebaran, Ardi dengan senang hati menurut saja apa yang dikatakan pamannya. Setelah di Jakarta, Ardi baru mengetahui, ternyata tempat tinggal pamannya lebih mirip gubuk daripada rumah. Itupun ternyata sudah ditempati bertiga; pamannya, Muhammad siswa SMA yang juga bekerja di Departemen Keuangan, dan Rusmin, siswa Taman Dewasa. Kini, ditambah dengan Ardi. Jadi, gubuk kecil itu ditempati berempat. Meskipun penghasilan pamannya tidak besar, niat menyekolahkan Ardi tetap ia lak-sanakan. Ardi dimasukkan di Taman Dewasa supaya dapat berangkat bersama-sama dengan Rusmin. Selepas sekolah Ardi lebih banyak rnengobrol dengan Muhammad yang usianya hampir sebaya dengan paman Abdulmanan, daripada dengan Rusmin yang usianya tidak jauh berbeda dengan Ardi. Jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh dan ditempuh anak tanggung itu dengan berjalan kaki, cukup membuarnya sengsara. Paling tidak, itu menyangkut soal kakinya yang belum terbiasa bersepatu. Namun, keadaan yang tak enak itu tidak mengurangi niatnya untuk bersekolah. Belakangan, ia juga bergaul dengan siswa Taman Madya yang setingkat dengan SLTA. Ardi mulai tertarik pada kesenian. la juga mulai mencoba membuat beberapa sketsa yang ternyata berhasil dimuat di majalah Mimbar Indonesia. Pengaruhnya ternyata cukup besar. Anak tanggung itu makin giat melatih melukis dan kegiatan kesenian lainnya.

Lulus Taman Dewasa, Ardi masuk Taman Madya. Kegiatannya makin bertambah. "Ardi juga bersekolah sore hari sekarang. Maka, waktu pagi digunakannya untuk berkunjung ke rumah kawannya untuk bercakap-cakap atau melukis" (hlm. 103). Dalam pada itu, suhu politik menjelang pemilu sedikit banyak telah mendapat per-hatian juga, walaupun hanya sebatas mendengarkan cerita-cerita, mengikuti beritanya atau diskusi tentang itu. Pada saat yang demikian, tiba-tiba saja daerah tempat tinggal Ardi dilanda ke-bakaran, yang memakan banyak rumah. "Mungkin saja ada orang melepas api untuk membakari rumah rakyat, agar pemerintah dapat main dengan orang-orang berduit. Tetapi mungkin pula sebabnya. Oxang-oraug melepas api membakari rumah rakyat untuk membuat rakyat makin tidak puas kepada pemerintah. Bukankah sekarang menghadapi pemilihan umum?" (hlm. 115). Selepas Taman Madya, Ardi tidak mclanjutkan pendidikannya. la juga tidak lagi tinggal bersama pamannya, la kini tinggai bersama Ahmad, sesama pelukis, yang kegiatannya akhir-akhir ini banyak tercurahkan pada organisasi pemuda. Organisasi seperti itu memang ramai bermunculan sejalan dengan meningkatnya suhu politik. Namun, Ardi lebih menekuni kegiatan melukis. Dalam sebuah pameran tunggal karya Hasan, teman sesama pelukis, Ardi ber-kenalan dengan Rini dan Hermin. Atas usul Rini yang ingin agar dirinya dijadikan model, Hasan dan Ardi kemudian datang ke rumah gadis itu. Dari sini hubungan mereka makin rapat, khususnya Ardi dan Hermin. Sampai pada suatu saat sepasang anak manusia yang berlainan jenis itu bersepakat untuk menumbuhkan perasaan cinta masing-masing. "Kukira cinta itu tumbuh, seperti benih, kalau menemukan tanah yang subur. Cintaku menemukan persemaian dalam dirirnu. Tidakkah itu cukup?" (hlm. 173). Begitulah, keduanya tenggelam dalam lautan cinta. Malamnya, tanpa diduga Ardi ditawari untuk bekerja pada sebuah majalah. "Aku merasa takjub. Sore itu aku memperoleh cinta dan malam ini mcmperoleh pekerjaan" (hlm. 178). Setelah merasa mempunyai penghasilan tetap, Ardi pindah dari rumah Ahmad. la menyewa sebuah rumah kecil di bilangan Setiabudi. Hubungan dengan

kekasihnya makin rapat, bahkan tidak jarang melakukan hubungan intim layaknya suami-istri. Sementara itu, kelompok seniman Lekra/PKI dengan cara-cara halus dan terselubung, berhasil metibatkan Ardi datam suatu penandatanganan Konscpsi Presiden. Sebagai seniman, pelukis muda itu tidak tahu-menahu perihal maksud dan tujuan konsepsi tersebut. la juga tidak menduga jika tanda tangannya—yang menurut Suryo, anggota PKI, hanya urusan administrasi—akan dipublikasikan secara luas dan dimuat di media massa. Akibatnya'sangat fatal! Ardi dipandang sebagai orang yang sudah menjadi anggota komunis. Ayah Hermin yang antikomunis, tentu saja tidak mau anaknya bergaul dengan anggota partai yang dibencinya. Hermin dilarang berhubung-an dengan Ardi. Belakangan, diketahui pula bahwa Hermin ternyata; lebih mengingin-kan pemuda lain. Pelukis muda yang sebenarnya berbakat itu, masih juga belum menyadari masalah yang sedang dihadapinya. la terlalu polos. Maka, ketika Ahmad, sahabatnya, juga menjauhi, Ardi masih menganggapnya sebagai alasan yang dicari-cari. Lebih dari itu, sketsa-sketsanya yang dikirim ke beberapa majalah juga tak ada satu pun yang dimuat. Ardi dikucilkan oleh pacarnya dan sahabatsahabatnya. Dalam kesendirian yang menyakitkan, dalam keterpencilan dan kedukaannya, tiba-tiba datanglah Suryo mendesak agar Ardi menyelenggarakan pameran tunggal. Suryo juga menawarkan pekerjaan. Lebih dari itu, kader PKI yang lihai itu menyelipkan selembar ribuan yang waktu itu benar-benar dibutuhkan pelukis malang itu. Dalam keadaan seperti itulah, tanpa minta pertimbangan sahabat-sahabatnya, Ardi menyata-kan kesediaannya. Pameran tunggal karya pelukis Ardi jadi dilaksanakan dengan pengunjung yang luar biasa ramainya. Korari-koran memujinya setinggi langit Sejak itulah, pelukis yang masih juga belum mengerti intrik-intrik politik, aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Lekra/PKL Seniman lugu itu benar-benar sufcsts, baik ma tori popularitasnya. Setelah beberapa kali ia dikirim ke luar negeri, tanpa sengaja ia bertemu dengan sahabatnya, Hasan. Temannya yang satu ini sama sekalt tidak mau terlibat urusan politik. la merasa senang ketika Ardi menyatakan niatnya akan keluar dari

anggota Lekra/PKl. Pemuda itu baru menyadari kekeliruannya. Tetapi belum sempat niat itu dilaksanakan, terjadi tragedi nasional: pengkhianatan PKI 30 September 1965. Ardi menyelamatkan diri ke Jawa Tengah, tetapi tak diketahui nasibnya. Begitu juga Hasan, sahabatnya, entah berada di mana. Hanya Hasan memiliki keteguhan hati untuk tidak ikut terlibat dalam kegiatan politik. "Menurut hematku, komunisme adalah paham yang akan selalu dapat tumbuh subur datam setiap masyarakat yang mempunyai kondisi tertentu. Maka, yang penting adalah kita harus mengusahakan agar masyarakat kita jangan sampai mempunyai kondisi yang dapat menjadi bumi yang subur bagi tumbuhnya paham itu" (hlm. 312-313). *** ovel Anak Tanah Air: Secercah Kisah ini, konon ditulis dalam dua versi: versi pertama ditulis di Iwakura, Kyoto, November 1980; versi kedua

N

(final) ditulis di Hashimotocho, Osaka, Agustus 1983, Lengkapnya, novel ini terdiri dari tiga bagian: bagian pertama, "Kilasan-kilasan" menceritakan tokoh Ardi semasa sekolah di Taman Dewasa dan Taman Madya; bagian kedua, "Helaihelai Kehidupan" menceritakan masa dewasa Ardi hingga terpedaya kelompok Lekra/PKI; dan bagian terakhir, "Surat-surat Dini Hari" memuat surat-surat Hasan yang ditujukan entah kepada siapa. Dilihat dari sudut pencerita, novel ini mempergunakan tiga bentuk pencerita, yaitu diaan (bagian pertama), akuan (bagian kedua), dan bentuk surat (bagian ketiga). Secara tematik, keseluruhan novel ini ingin menceritakan/mengangkat masalah politik yang terjadi antara tahun 50-an sampai dengan 1965. Deskripsinya yang cukup terinci mengenai cara-cara PKI menyebarkan pengaruhnya, terkesan semacam dokumen se-jarah yang terjadi pada waktu itu. Demikian pula gambaran kehidupan para seniman waktu itu, banyak melibatkan nama dan peristiwa yang memang ada secara faktual. Dalam hal tersebut itulah kekuatan novel ini.

9. PERTEMUAN DUA HATI

Pengarang : Nh. Dini Penerbit : Gramedia Tahun : 1986

K

epindahan suami Bu Suci ke Semarang, memaksa guru sekolah dasar itu juga ikut pindah ke sana. Beruntung ada salah satu sekolah yang

menerimanya sehingga Bu Suci tidak terlalu lama menganggur. Bahkan "ada kemungkinan aku akan mengajar lebih dini dari yang telah direncanakan semula" (hlm. 18). Menurut kepala sekolah, ada seorang guru yang mcngalami kecelakaan. Bu Suci menggantikan tempat guru yang mendapat kecelakaan itu, yakni mengajar dua kelas. Pada awal menjalankan tugasnya sebagai guru yang memegang dua kelas, keduanya kelas riga, Bu Suci menjalankan tugasnya dengan baik. Semua berjalan lancar. Begitu pula urusan rumah tangganya tak menemui masalah. Namun, pada hari keempat, Bu Suci, yang telah mempunyai sepasang putra, memperoleh keterangan bahwa salah seorang muridnya, Waskito, belum juga masuk kelas. la heran, sebab semua murid yang sekelas dengan Waskito tak satu pun yang mengetahui mengapa murid itu belum juga masuk kelas. Ternyata, di kalangan teman-temannya, Waskito dikenal sebagai murid yang bengal. Begitu pula guruguru menyebutnya sebagai murid yang nakal, murid yang sering membuat kekacauan. Itulah masalah yang dihadapi oleh Bu Suci. la bertekad untuk mengembalikan Waskito menjadi murid yang wajar. Bersamaan dengan itu, masalah lain datang pula, Itu menyangkut anaknya sendiri. Si Bungsu ternyata mengidap penyakit ayan. Itu berarti anaknya harus memperoleh perawatan intensif seorang neorolog, ahli saraf. Berarti pula perhatian khusus harus diberikan demi kesembuhan anak keduanya itu. Dengan demikian, dua masalah sekaligus datang menimpa Bu Suci. Saat itu terbersit keraguannya dalam menyelesaikan masalah ini. Sebagai ibu, ia tak ingin masa depan anaknya suram; dan sebagai guru, ia juga berharap agar semua muridnya menjadi anak yang baik, anak yang berguna bagi sesamanya. Pernah pula terlintas dalam pikiran Bu Suci untuk lebih memperhatikan anaknya sendiri; "sepintas laru, tentu saja aku mementingkan anakku daripada

muridku. Tetapi benarkah sikap itu?" (hlm. 46). Di lain pihak, ia juga menyadari profesinya sebagai guru; sebagai orang tua bagi murid-muridnya. Maka, keputusan Bu Suci adalah tidak memilih salah satu dari persoalan itu, melainkan memilih keduanya. "Anak dan Murid. Bukan anak atau murid. Ya, akhirnya itulah yang harus kupilih;, keduanya" (hlm. 47). Sementara Bu Suci terus memperhatikan anak bungsunya, ia berusaha mencari keterangan perihal latar belakang kehidupan Waskito. Dari sejumlah informasi, akhirnya ia menyimpulkan bahwa kenakalan Waskito sesungguhnya hanya semacam kom-pensasi anak yang merasa kurang mendapat perhatian kedua orang tuanya. "Jenis anak-anak lain tidak akan memandang hal itu sebagai satu masalah. Namun, bagi Waskito, yang sedari kecil merasa ditolak, tidak diperhatikan, hal itu merupakan beban yang mengganjal di hatinya" (hlm. 52). Kesimpulan tersebut telah memperkuat tekad Bu Suci untuk mengembalikan Waskito menjadi murid yang wajar, sama seperti murid yang lain. Waskito pada mulanya menanggapinya secara baik. Murid-murid lainnya juga mulai menerima Waskito se-bagaimana biasanya hubungan sesama murid. Sungguhpun demikian, beberapa rekan sejawat Bu Suci ada yang menanggapinya secara lain. Beberapa guru, ada yang kurang mendukung itikad baik Bu Suci, yang menurut mereka berlebihan. Mereka juga beranggapan bahwa anak macam Waskito yang sudah terbiasa dimanja dengan harta, tak bakal dapat disembuhkan lagi. Anggapan itu kemudian seolah-olah memperoleh pembenaran, ketika suatu hari Waskito mengamuk. Tenru saja peristiwa itu sangat memukul hati Bu Suci. Ja mulai meragukan kemam-puannya untuk menyadarkan murid bengal itu. Di samping itu, peristiwa itu juga telah "menggoncangkan kepercayaan sekolah kepada Waskito" (hlm. 69). Bu Suci kemudian diberi waktu sebulan dalam usahanya menyadarkan Waskito. Bagaimana-pun, idealismenya sebagai seorang guru memberi keyakinan yang kuat pada dtrinya bahwa dengan pendekatan dan cara yang tepat, pastilah murid bengal itu akan kembali menjadi murid yang wajar. Keyakinan Bu Suci ternyata benar. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Tidak hanya itu, ia juga menjadi murid yang baik.

Tentu saja Bu Suci merasa senang. Terlebih lagi, kesehatan anak bungsunya juga makin baik dan tidak lagi memperlihatkan tanda-tanda kambuh. ***

A

gak berbeda dengan novel-novel Nh. Dini lainnya, Pertemuan Dua Hati memperlihatkan minat sastrawati yang produktif ini kepada persoalan

dunia pendidikan. Kisah seorang guru sekolah dasar ini, tampaknya sengaja hendak menempatkan peran dan tanggung jawab seorang guru. Di lain pihak, terkesan juga hendak menggam-barkan betapa tugas seorang guru tidak ringan. Bu Suci yang harus menghadapi kenyataan bahwa anaknya sakit ayan, muridnya bengal, dan rekan sejawatnya kurang memberi dukungan, ternyata tetap menjunjung tinggi idealisme profesinya sebagai guru. Dengan keyakinan itu, betapapun beratnya, akhirnya dapat pula ia jalankan dengan baik. la berhasil melaksanakan kewajibannya, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai ibu guru. Sekitar lebih dari sepuluh resensi yang mengulas buku ini, umumnya memberi pujian pada tema ceritanya. Sesungguhnya, memang dalam hal tema itulah, novel ini memperlihatkan kekuatannya. Sebagai bahan pengajaran untuk menanamkan pen-tingnya hubungan baik antara guru dan murid, novel ini kiranya sesuai untuk dijadikan salah satu bahan acuan. Studi yang cukup mendalam mengenai novel ini pernah dilakukan oleh Oktaviani (FSU1, 1991) sebagai bahan penelitian skripsi sarjananya. Tahun 1989, novel ini diangkat menjadi sinetron TVRI, dengan Titiek Sandhora sebagai pemeran utamanya.

10.

DI SIMPANG JALAN

Pengarang : Ras Siregar (10 Juni 1936) Penerbit : Pustaka Karya Grafika Utama Tahun : 1988

M

ulanya pertemuan Bahrum dan Anita Rahman berlangsung biasa-biasa saja dan wajar, Bahrum yang oleh kantornya diberi kesempatan untuk

mengikuti kursus manajemen, berkenalan dengan Anita yang juga ditugaskan oleh kantornya unluk mengikuti pendidikan yang sama. Pertemuan mereka di tempat kursus yang makin kerap, lambat-laun menumbuhkan rasa simpati pada diri keduanya, sungguhpun sebenarnya rnasing-masing sudah berkeluarga. Malahan Bahrum sudah mempunyai lima orang anak, sedangkan Anita belum. Hidup berkeluarga tanpa anak, rupanya belum membuat Anita merasa bahagia. Apalagi perkawinannya dengan Rahman, suaminya, sesungguhnya tidak didasari oleh perasaan saling mencintai, melainkan karena kehendak kedua orang tua yang masih famili. Konon, Rahman berasal dari keluarga berkecukupan. Di Malang, ayahnya mempunyai perusahaan kopi. Kendati demikian, Rahman tidak melanjutkan sekolah-nya ke perguruan tinggi. la hanya tamat SMA dan kemudian bekerja di P dan K Jakarta. Sebaliknya, Anita dapat menyelesaikan studinya hingga tamat perguruan tinggi. Dengan pendidikannya itu, ia bekerja di perusahaan swasta dan menduduki jabatan di bagian personalia. Kepada Bahrum jualah Anita dapat menceritakan segala keluhannya. Bagi Anita, Bahrum memang mcnyenangkan. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak ia dapatkan dari suaminya, Anita tak merasa risih mengutarakan hal-hal yang sangat pribadi sifatnya, misalnya dalam hubungan intimnya dengan Rahman, la merasa diperlakukan sebagai tempat pemuas nafsu suaminya belaka. "Ya, jika dia ingin campur, tengah malam ia datang ke tempat tidurku dan ...!" (hlm. 40), Rumah tangga yang tak" lagi harmonis itu, akhirnya berpuncak pada pertengkaran saat seminggu setelah ayah Rahman meninggal. Malam ketujuh itu Anita tidak datang ke rumah merruanya. Ketika Rahman menanyakan mengapa tidak datang, Anita menjawab, bahwa ia pergi nonton bersama teman-temannya. Anita begitu tak peduli dengan kematian mertuanya. Hal itulah yang menyebabkan suaminya naik pitam dan menampar Anita dua kali. Anita kemudian minta diceraikan. Rahman meninggalkan Anita, yang lalu dibalas istrinya dengan meninggalkan rumahnya. Anita menyewa sebuah kamar di pondokan. Pemilik pondok itu adalah seorang wanita yang senang menghabiskan

waktu dengan bermain bridge. la mempunyai seorang keponakan ber-nama Yanto yang masih kuliah di Universitas "I". Di pondokan itu ada lima orang wanita yang menyewa kamar, termasuk Anita. Salah seorang bernama Tini yang doyan berkencan dengan lelaki berduit. Anita pun pernah diajaknya. Rahman pernah pula datang ke pondokan tempat Anita tinggal. la membujuk istrinya agar mau pulang ke rumah mereka di Cilandak, namun Anita menolaknya. Rahman terpaksa pulang dengan tangan hampa. Suatu saat istri Bahrum pulang ke rumah orang tuanya di Lampung yang menurut kabar sedang sakit. Bahrum sendiri sengaja tidak ikut. la lebih senang menjaga anak-anaknya yang sekolah dan sekaligus ingin mengetahui Anita selanjutnya. Sementara itu, Anita mengambil cuti dari pekerjaannya. Kesempatan itu tentu saja dimanfaatkan Bahrum untuk mengajaknya jalan-jalan; melepaskan perasaan masing-masing. Pada saat-saat seperti itu, hubungan mereka laksana sepasang sejoli yang sedang memadu kasih. Suatu malam, .Bahrum mengantar Anita pulang ke pondokannya agak larut malam. Sepulangnya Bahrum, Anita merasakan keadaan pondokannya begitu sepi. Penghuni lainnya entah sedang pergi ke mana. Hanya Yanto yang tinggal. Tanpa curiga Anita masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Saat itulah, Yanto mengikutinya dari belakang. Tanpa diduga Anita, tiba-tiba saja pemuda itu mendekapnya; bermaksud hendak memperkosanya. Perbuatan rnesum itu nyaris saja terjadi kalau Anita tidak berusaha keras mclakukan perlawanan. la segera kabur meninggalkan pondokannya, pergi menuju rumah Bahrum. Tentu saja lelaki yang sedang ditinggal istrinya itu kaget melihat kedatangan Anita. Seteiah mendengar ketcrangan Anita, Bahrum mengusulkan agar kekasih gelapnya itu tinggal di rumahnya, sekalian untuk mengenal kelima orang anaknya. Seteiah dua hari Anita tinggal dan mulai mengenal anak-anak Bahrum, datang interlokal dari Lampung yang menyuruh agar Bahrum menjemput istrinya ke sana, karena istrinya akan segera kembali ke Jakarta. Bahrum terpaksa meninggalkan Anita di rumahnya. Anita sendiri merasa senang dapat mengenal

anak-anak Bahrum. De-mikian juga sebaliknya, kelima anak Bahrum dapat cepat akrab. Suatu hari Rahman datang menemui Anita di rumah Bahrum. la tetap mengajak Anita kembali bersamanya. Anak-anak Bahrum ternyata senang juga kepada Rahman. Mereka teiah berjanji untuk sama-sama pergi bertamasya ke Cibodas. Mulanya, Anita menolak pergi dengan mereka, tetapi akhirnya mau juga. Sepulang dari Cibodas, Bahrum dan istrinya telah menanti mereka di rumah. Bahrum memperkenalkan Anita dan Rahman kepada istrinya. Kemudian, istri Bahrum mengatakan bahwa ia dan anak-anak akan berkunjung ke rumah Anita dan Rahman di Cilandak. Anita dan Rahman berjanji akan menyambut keluarga Bahrum. Tak lama kemudian, mereka berpamitan. Setibanya di rumah, Rahman merangkul Anita. Mereka bersatu kembali demi terwujudnya rumah tangga yang ceria dan bahagia. *** ovel Ras Siregar ini semula merupakan cerita bersambung yang dimuat harian Kompas. Seteiah mengalami revisi seperlunya, barulah diterbitkan

N

sebagai buku. Begitulah keterangan yang terdapat di dalam pengantar novel ini. Di Simpang Jalan adalah novel kedua Ras Siregar. Novel pertamanya, Terima Kasih terbit tahun 1969 yang menurut Pamusuk Eneste (1990: 149), terbit tahun 1968. Cerita novel Di Simpang Jalan sebenarnya lebih menyerupai gambaran kehidupan seorang istri yang bekerja, sebagaimana yang diperankan oleh tokoh Anita. Sedangkan hubungannya dengan Banning walaupun baru sebatas kencan dan tidak lebih dari itu, dimungkinkan oleh sikap Anita sendiri yang banyak memberi "angin" kepada lelaki yang sudah beranak-istri itu. Jadi, kalau saja Anita bersikap wajar, rasanya Bahrum juga akan tetap menjaga hubungannya dengan Anita secara wajar. Begitulah, pe-ngarang terkesan hendak menekankan, bahwa terjadinya berbagai penyelewengan atau skandal yang terjadi pada para pegawai berbagai perusahaan, sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh sikap para pegawai wanitanya yang sering bersikap tak wajar. Beruntung, bahwa balk Bahrum maupun Rahman, suami Anita, lebih mementingkan urusan rumah tangga daripada kesenangan pribadinya, sehingga

tak sampai terjadi hubungan yang dapat menghancurkan rumah tangga masingmasing.

Daftar Pustaka Mahayana M.S, Sofyan O., Dian A. (2000). Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta : PT Gramedia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->