BAB II PEMILU SEBAGAI SARANA DEMOKRASI

A. PEMILU 1. Pengertian Pemilu Dari berbagai sudut pandang, banyak pengertian mengenai pemilihan umum. Tetapi intinya adalah pemilihan umum

merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dan, ini adalah inti kehidupan demokrasi. Pemilu adalah suatu proses di mana para pemilih memilih orang-orang untuk mengisi jabatanjabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan yang disini beranekaragam, mulai dari Presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Pada konteks yang lebih luas, Pemilu dapat juga berarti proses mengisi jabatan-jabatan seperti ketua OSIS atau ketua kelas, walaupun untuk ini kata 'pemilihan' lebih sering digunakan. Sistem pemilu digunakan adalah asas luber dan jurdil. Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye.

Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara. Setelah pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.

Pemilu dapat dipahami juga sebagai berikut: 1. Dalam undang-undang nomor 3 tahun 1999 tentang pemilihan umum dalam bagian menimbang butir a sampai c disebutkan: a. Bahwa berdasarkan undang-undang dasar 1945, negara republik indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat; b. Bahwa pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan keikutsertaan kedaulatan rakyat rakyat dalam dalam rangka

penyelenggaraan

pemerintahan negara c. Bahwa pemilihan umum umum bukan hanya bertujuan untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk dalam melainkan lembaga juga Permusyawaratan/Perwakilan, suatu sarana untuk

merupakan

mewujudkan penmyusunan tata kehidupan Negara yang dijiwai semangat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikian juga dalam bab I ketentuan umum pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa: "pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam negara kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pancasila dan undang-undang 1945.

2. Dalam pernyataan umum hak asasi manusia PBB pasal 21 ayat 1 dinyatakan bahwa "setiap orang mempunyai hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan negerinya, secara langsung atau melalui wakil-wakilnya yang dipilih secara bebas." Hak untuk berperan serta dalam pemerintahan ini berkaitan dan tidak terpisahkan dengan hak berikutnya dalam ayat 2 yaitu "setiap orang mempunyai hak untuk memperoleh ekses yang sama pada pelayanan oleh pemerintah negerinya." Selanjutnya untuk mendukung ayat-ayat tersebut, dalam ayat 3 ditegaskan asas untuk mewujudkan kedaulatan rakyat yang melandasi kewenangan dan tindakan pemerintah suatu negara, yaitu "kehendak rakyat hendaknya menjadi dasar kewenangan pemerintah; kehendak ini hendaknya dinyatakan di dalam pemilihan-pemilihan sejati dan periodik yang bersifat umum dengan hak pilih yang sama dan hendaknya diadakan dengan pemungutan suara rahasia atau melalui prosedur pemungutan suara bebas". Pernyataan umum Hak Asasi Manusia PBB pasal 21 khususnya ayat 3 tersebut merupakan penegasan asas demokrasi yaitu bahwa kedaulatan rakyat harus mejadi dasar bagi kewenangan pemerintah dan kedaulatan rakyat melalui suatu pemilihan umum yang langsung, umum, bebas, dan rahasia. 3. Pemilihan umum merupakan perwujudan nyata demokrasi dalam praktek bernegara masa kini (modern) karena menjadi sarana utama bagi rakyat untuk menyatakan kedaulatannya atas

negara dan pemerintah. Pernyataan kedaulatan rakyat tersebut diwujudkan dalam proses pelibatan masyarakat untuk

menentukan siapa-siapa saja yang harus menjalankan dan di sini lain mengawasi pemerintahan negara. Karena itu, fungsi utama bagi rakyat adalah "untuk memilih dan melakukan pengawasan terhadap wakil-wakil mereka". Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk

Republik (pasal 1 ayat (1) UUD 1945) yang kedaulatannya berada di tangan rakyat. Untuk mewujudkannya dilaksanakan pemilu. Di bawah ini beberapa pengertian pemilu : a. Menurut UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu. Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam negara kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. b. Pemilihan umum merupakan perwujudan nyata demokrasi dalam praktek bernegara masa kini (modern) karena menjadi sarana utama bagi rakyat untuk menyatakan kedaulatannya atas negara dan pemerintah. Pernyataan kedaulatan rakyat tersebut diwujudkan dalam proses pelibatan masyarakat untuk menentukan siapa-siapa saja yang harus menjalankan dan di sisi lain mengawasi pemerintahan negara. Karena itu, fungsi utama bagi rakyat adalah "untuk memilih dan melakukan pengawasan terhadap wakil-wakil mereka". c. Pemilihan Umum adalah salah satu agenda dalam demokratisasi, yaitu keterkaitan dengan persoalan

kepemimpinan politik. Sebab peran kepemimpinan politik

menjadi

hal

utama

(vital)

dalam

transformasi

otoriterianisme menuju demokrasi (Samuel P. Huntington). Bahkan lebih mendasar proses pergantian kepemimpinan juga diikuti dengan model perwakilan rakyat, sejauh mana efektivitas dibuktikan. d. Pemilihan Umum merupakan wahana formal dalam membentuk tatanan negara dan masyarakat (state and society formation) untuk menuju tatanan yang lebih baik. e. Pemilihan Umum adalah filter kepercayaan rakyat terhadap partai politik yang menjadi pilihan rakyat. Alasan mendasar pada Pemilihan Umum merupakan ajang rekrutmen terakhir untuk menyeleksi secara alamiah² proses ³kedaulatan rakyat´ dapat dilihat atau

keterwakilan politik pemerintah. Melalui Pemilihan Umum dapat diketahui partai politik yang mendapat kepercayaan rakyat. f. Menurut R William Liddle dalam sistem pemerintahan yang mulai demokrasi, Pemilihan Umum dianggap sebagai penghubung antara prinsip kedaulatan rakyat dan praktek kekuasaan atau pemerintahan oleh sejumlah elit partai. Maka itu itu pemilihan umum adalah syarat dalam proses demokrasi, namun belum merupakan jaminan sebagai wujud dari pelaksanaan system kekuasaan secara

demokratis. Karena demokrasi masih menuntut syarat lain selain Pemilihan Umum sebagai cermin kehendak rakyat dan terintegrasinya warga negara ke dalam proses politik, yaitu sejauh mana rakyat memberikan legitimasi politik

dalam proses Pemilihan Umum tersebut dan pada kapasitas kontrol terhadap kekuasaan pemerintahan. Legitimasi dan kontrol kekuasaan pemerintahan adalah sarana dasar yang dapat dicermati dalam sistem Pemilihan Umum yang diselenggarakannya. Apakah termobilisasi atau sepenuhnya wujud dari partisipasi politik rakyat. g. Dalam tatanan demokrasi, Pemilu adalah mekanisme atau cara untuk memindahkan konflik kepentingan dari tataran masyarakat ke tataran badan perwakilan agar dapat diselesaikan secara damai dan adil sehingga kesatuan masyarakat tetap terjamin. h. Menurut UU No 15 tahun 1965, pemilihan umum adalah suatu alat yang penggunaanya tidak boleh mengakibatkan rusaknya sendi-sendi demokrasi dan bahkan menimbulkan hal-hal yang memnderitakan rakyat, tetapi harus menjamin suksesnya perjuangan Orde Baru, yaitu tetap tegaknya Pancasila dan dipertahankannya Undang-Undang Dasar 1945. Dari berbagai sudut pandang, banyak pengertian mengenai pemilihan umum. Tetapi intinya adalah pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

2. Tujuan Pemilu Pemilihan Umum diselenggarakan bukan hanya sekedar memilih wakil-wakil rakyat untuk duduk dalam Lembaga Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat, dan juga tidak untuk menyusun Negara baru dengan dasar falsafah Negara baru, tetapi suatu pemilihan wakil-wakil rakyat oleh rakyat yang mampu membawakan isi hati nurani rakyat dalam melanjutkan perjuangan dan mengembangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang bersumber pada Proklamasi 17 Agustus 1945, guna memenuhi dan mengembangkan Amanat Penderitaan Rakyat. Pemilihan Umum bagi suatu negara demokrasi sangat penting artinya untuk menyalurkan kehendak asasi politiknya, antara lain sebagai berikut: a. Untuk mendukung atau mengubah personel dalam lembaga legislatif. b. Adanya dukungan mayoritas rakyat dalam menentukan pemegang kekuasaan eksekutif untuk jangka waktu tertentu. c. Rakyat (melalui perwakilan) secara periodik dapat

mengoreksi atau mengawasi eksekutif.

Mohammad Kusnardi, SH. (1988:330-331) menyatakan : bahwa paling tidak ada 3 macam tujuan Pemilihan Umum, yaitu: a. Memungkinkan terjadinya peralihan pemerintahan secara aman dan tertib; b. Untuk melaksanakan kedaulatan rakyat; dan c. Dalam rangka dalam melaksanakan hak-hak asasi manusia.

Undang-undang pemilihan umum Pada bagan di bawah ini kita dapat mengetahui tentang UU Pemilu

3. Asas Pemilu Pemilu diselenggarakan secara demokratis dan transparan, jujur dan adil dengan mengadakan pemberian dan pemungutan suara secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Jadi berdasarkan Undang-undang tersebut Pemilu menggunakan azas sebagai berikut : a. Langsung : Yaitu rakyat pemilih mempunyai hak untuk secara langsung memberikan suaranya, sesuai dengan kehendak hati nuraninya tanpa perantara dan tanpa tingkatan.

b. Umum : Pada dasarnya semua warga negara yang memenuhi persyaratan minimal dalam usia, yaitu sudah berumur 17 tahun atau telah pernah kawin, berhak ikut memilih dalam Pemilu. Warga negara yang sudah berumur 21 tahun berhak dipilih. c. Bebas : Setiap warga negara yang memilih menentukan pilihannya tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun. Dalam melaksanakan haknya setiap warga negara dijamin

keamanannya, sehingga dapat memilih sesuai dengan kehendak hati nurani dan kepentingannya. d. Rahasia : Yang berarti dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin bahwa pilihannya tidak akan diketahui oleh pihak manapun dan dengan jalan apapun. Azas rahasia ini tidak berlaku lagi bagi pemilih yang telah keluar dari tempat pemungutan suara yang secara suka rela bersedia

mengungkapkan pilihannya kepada pihak manapun. e. Jujur : Yang berarti bahwa penyelenggara/pelaksana, pemerintah dan partai politik peserta Pemilu, pengawas, dan pemantau Pemilu, termasuk pemilih serta semua pihak yang terlibat secara tidak langsung harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. f. Adil : Berarti dalam penyelenggaraan Pemilu setiap pemilih dan Parpol peserta Pemilu mendapat perlakuan yang sama serta bebas dari kecurangan pihak manapun.

4. Landasan Pemilihan Umum Pelaksanaan Pemilu di Indonesia didasarkan pada landasan berikut : a. landasan Ideal, yaitu Pancasila, terutama sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan/ perwakilan. b. landasan Konstitusional; yaitu UUD 1945 yang termuat di dalam 1). Pembukaan Alinea ke empat 2).Batang Tubuh pasal 1 ayat 2 :

3). Penjelasan umum tentang sistem pemerintahan Negara landasan operasional; yaitu GBHN yang berupa ketetapanketetapan MPR serta peraturan perundangan-undangan lainnya.

5. Sistem Pemilu Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam Pemilihan Umum, akan tetapi umumnya berkisar ada dua prinsip pokok, yaitu : a. single-member constituency (satu daerah pemilihan memiliki satu wakil ; biasanya disebut system distrik); dan b. multy-member constituency (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil; biasanya dinamakan/ proportional

representation atau system perwakilan berimbang.

Dibawah ini akan lebih dijelaskan mengenai kedua sistem tersebut : a. Sistem Distrik Sistem Distrik merupakan sistem Pemilihan Umum yang paling tua dan didasarkan atas kesatuan geografis. Setiap kesatuan geografis mempunyai satu wakil dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk keperluan itu Negara dibagi dalam sejumlah besar distrik yang jumlah wakil rakyat dalam Dewan Perwakilan Rakyat ditentukan oleh jumlah distrik. Calon yang dalam satu distrik memperoleh suara terbanyak adalah yang menang, sedangkan suara-suara yang ditujukan kepada calon-calon lain dalam distrik itu dianggap hilang dan tidak diperhitungkan lagi, bagaimana pun kecilnya selisih kekalahannya.  Kelemahan sistem distrik ini antara lain: 1). Sistem ini kurang memperhitungkan adanya partai-partai kecil dan golongan minoritas, apalagi jika golongan ini terpancar dalam beberapa distrik; 2). Sistem ini kurang respresentatif dalam arti bahwa calon yang kalah dalam suatu distrik, kehilangan suara-suara yang telah mendukungnya. Disamping kelamahan-kelemahan diatas, Pemilihan Umum bersistem distrik memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah: 1). Karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih dapat dikenal oleh penduduk distrik, sehingga hubungannya dengan penduduk lebih erat;

2). Sistem ini lebih mendorong ke arah integrasi partai-partai politik, karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik pemilihan hanya satu; 3). Berkurangnya partai dan meningkanya kerjasama antara partai-partai mempermudah terbentuknya pemerintahan yang stabil dan meningkatkan stabilitas nasional; 4). Sistem ini sederhana dan murah untuk diselenggarakan.

b. Sistem Perwakilan Berimbang Sistem ini dimaksud untuk menghilangkan beberapa kelemahan dari sistem distrik. Gagasan pokoknya ialah sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya. Dalam sistem ini setiap suara dihitung, dalam arti bahwa suara lebih banyak yang diperolah sutau partai atau golongan dalam suatu daerah pemilihan dapat ditambahkan pada jumlah suara yang diterima oleh partai/golongan itu dalam daerah pemilihan lain, untuk menggenapkan jumlah suara yang diperlukan guna memperoleh kursi tambahan. Sistem perwakilan berimbang ini sering

dikombinasikan dengan beberapa prosedur lain, misalnya dengan sistem daftar (lyst system). Dalam sistem daftar setiap partai/golongan mengajukan satu daftar calon dan si pemilih memilih satu daftar. Dengan demikian, memilih satu partai dengan semua calon yang diajukan oleh partai itu untuk bermacam-macam kursi untuk diperebutkan.

Dalam sistem ini ada beberapa kelemahan : 1). sistem ini mempermudah pragmentasi partai dan timbulnya partai-partai baru; 2). wakil yang terpilih merasa dirinya lebih terikat kepada partai dan kurang merasakan loyalitas kepada daerah yang telah memilihnya; dan 3). banyaknya partai mempersukar terbentuknya

pemerintah yang stabil oleh karena umumnya harus mendasarkan diri atas koalisis dari dua partai atau lebih. Di samping kelemahan tersebut, sistem ini memiliki Satu keuntungan besar, yaitu bahwa sistem ini bersifat refresentatif dalam arti bahwa setiap suara akan turut diperhitungkan dan praktis tidak ada suara yang hilang. Golongan-golongan bagaimanapun dapat menempatkan

wakilnya dalam badan perwakilan rakyat. Masyarakat yang heterogen, umumnya lebih tertarik pada sistem ini, oleh karena dianggap lebih menguntungkan bagi masing-masing golongan (Budiardjo, 1978 : 177-180). c. Sistem Pemilihan Umum di Indonesia Dalam massa Orde Baru ini, sistem pelaksanaan

Pemilihan Umum (di Indonesia) adalah sistem propotional refresentation dengan stelsel pemilihan lijsten stelsel. Misalnya jumlah anggota DPR yang dipilih dalam Pemilihan Umum di Jawa seimbang dengan jumlah anggota yang dipilih diluar Jawa; untuk menentukan banyaknya wakil dalam setiapa pemilihan dipakai dasar perhitungan tiap-tiappaling sedikit 400.000 penduduk memperoleh seorang wakil,

dengan

ketentuan

bahwa

tiap-tiap

daerah

pemilihan

mempunyai wakil sekurang-kurangnya sebanyak Daerah Tingkat II yang terdapat dalam Daerah Tingkat I dan tiap-tiap Daerah Tingkat II menpunyai sekurang-kurangnya seorang wakil. Hal tersebut di atas akan lebih jelas bila

memperhatikan rumusan dalam UU No.1 Tahun 1985 Pasal 5 Ayat (1-5) yang menyatakan, bahwa : 1). Jumlah anggota DPR yang dipilih bagi tiap daerah pemilihan ditetapkan berdasarkan imbangan jumlah penduduk yang terdapat dalam daerah pemilihan tersebut. 2). Hal yang termaktub dalam ayat (1) tidak mengurangi ketentuan bahwa : a). jumlah wakil dalam setiap daerah pemilihan

sekurang-kurangnya sama dengan jumlah daerah tingkat II yang ada dalam daerah pemilhan yang bersangkutan; b). Tiap daerah Tingkat II sekurang-kurangnya

mempunyai seorang wakil. c). Untuk keperluan Pemilihan Umum, Menteri Negeri dapat menetapkan pembagian daerah tingkat I yang belum terbagi dalam daerah tingkat II, dalam daerah-daerah administratif yang setingkat dengan daerah tingkat II. d). Jumlah anggota dalam daerah pemilihan yang terbagi dalam daerah-daerah administratif seperti

yang termaksud dalam ayat (3) ditetapkan 8 (delapan) anggota tanpa mengurangi jiwa ayat (1) dan ayat (2) sub b. e). Jumlah anggota DPR dan DPRD yang dipilih ditetapkan berdasarkan ketentuan Undang-Undang tentang Susunan dan Rakyat, Kedudukan Majelis Dewan Perwakilan

permusyawaratan

Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

6. Sejarah Pemilu di Indonesia Pemilu 1955. Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak demokratis? Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan dipro-klamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerintah waktu itu sudah menyatakan keinginannya untuk bisa menyele-nggarakan pemilu pada awal tahun 1946. Hal itu

dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran tentang pembentukan par-tai-partai politik. Maklumat tersebut menyebutkan, pemilu untuk me-milih anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan bulan Januari 1946. Kalau kemudian ternyata pemilu

pertama tersebut baru terselenggara hampir sepuluh tahun setelah kemudian tentu bukan tanpa sebab. Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat X, pemilu 1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memlih anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante. Dalam Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu yang akan diadakan Januari 1946 adalah untuk memilih angota DPR dan MPR, tidak ada Konstituante. Keterlambatan dan ³penyimpangan´ tersebut bukan tanpa sebab pula. Ada kendala yang bersumber dari dalam negeri dan ada pula yang berasal dari faktor luar negeri. Sumber penyebab dari dalam antara lain ketidaksiapan pemerintah menyelenggarakan pemilu, baik karena belum tersedianya perangkat perundang-undangan untuk mengatur penyelenggaraan pemilu maupun akibat rendahnya stabilitas keamanan negara. Dan yang tidak kalah pentingnya, penyebab dari dalam itu adalah sikap pemerintah yang enggan menyelenggarakan perkisaran (sirkulasi) kekuasaan secara teratur dan kompetitif. Penyebab dari luar antara lain serbuan kekuatan asing yang mengharuskan negara ini terlibat peperangan. Tidak terlaksananya pemilu pertama pada bulan Januari 1946 seperti yang diamanatkan oleh Maklumat 3 Nopember 1945, paling tidak disebabkan 2 (dua) hal :

1. Belum siapnya pemerintah baru, termasuk dalam penyusunan perangkat UU Pemilu; 2. Belum stabilnya kondisi keamanan negara akibat konflik internal antar kekuatan politik yang ada pada waktu itu, apalagi pada saat yang sama gangguan dari luar juga masih mengancam. Dengan kata lain para pemimpin lebih disibukkan oleh urusan konsolidasi. Namun, tidaklah berarti bahwa selama masa konsolidasi kekuatan bangsa dan perjuangan mengusir penjajah itu, pemerintah kemudian tidak berniat untuk menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi kuat bahwa pemerintah punya keinginan politik untuk menyelenggarakan pemilu. Misalnya adalah dibentuknya UU No. UU No 27 tahun 1948 tentang Pemilu, yang kemudian diubah dengan UU No. 12 tahun 1949 tentang Pemilu. Di dalam UU No 12/1949 diamanatkan bahwa pemilihan umum yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak langsung). Sifat pemilihan tidak langsung ini didasarkan pada alasan bahwa mayoritas warganegara Indonesia pada waktu itu masih buta huruf, sehingga kalau pemilihannya langsung dikhawatirkan akan banyak terjadi distorsi. Kemudian pada paroh kedua tahun 1950, ketika Mohammad Natsir dari Masyumi menjadi Perdana Menteri, pemerintah

memutuskan untuk menjadikan pemilu sebagai program kabinetnya. Sejak itu pembahasan UU Pemilu mulai dilakukan lagi, yang dilakukan oleh Panitia Sahardjo dari Kantor Panitia Pemilihan Pusat sebelum kemudian dilanjutkan ke parlemen. Pada waktu itu Indonesia

kembali menjadi negara kesatuan, setelah sejak 1949 menjadi negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah Kabinet Natsir jatuh 6 bulan kemudian, pembahasan RUU Pemilu dilanjutkan oleh pemerintahan Sukiman Wirjosandjojo, juga dari Masyumi. Pemerintah ketika itu berupaya menyelenggarakan pemilu karena pasal 57 UUDS 1950 menyatakan bahwa anggota DPR dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum. Tetapi pemerintah Sukiman juga tidak berhasil menuntaskan pembahasan undang-undang pemilu tersebut. Selanjutnya UU ini baru selesai dibahas oleh parlemen pada masa pemerintahan Wilopo dari PNI pada tahun 1953. Maka lahirlah UU No. 7 Tahun 1953 tentang Pemilu. UU inilah yang menjadi payung hukum Pemilu 1955 yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Dengan demikian UU No. 27 Tahun 1948 tentang Pemilu yang diubah dengan UU No. 12 tahun 1949 yang mengadopsi pemilihan bertingkat (tidak langsung) bagi anggota DPR tidak berlaku lagi. Pemilu yang pertama kali tersebut berhasil diselenggarakan dengan aman, lancar, jujur dan adil serta sangat demokratis. Pemilu 1955 bahkan mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari negara-negara asing. Pemilu ini diikuti oleh lebih 30-an partai politik dan lebih dari seratus daftar kumpulan dan calon perorangan. Yang menarik dari Pemilu 1955 adalah tingginya kesadaran berkom-petisi secara sehat. Misalnya, meski yang menjadi calon anggota DPR adalah perdana menteri dan menteri yang sedang

memerintah,

mereka tidak menggunakan fasilitas negara dan

otoritasnya kepada pejabat bawahan untuk menggiring pemilih yang menguntungkan partainya. Karena itu sosok pejabat negara tidak dianggap sebagai pesaing yang menakutkan dan akan memenangkan pemilu dengan segala cara. Karena pemilu kali ini dilakukan untuk dua keperluan, yaitu memilih anggota DPR dan memilih anggota Dewan Konstituante, maka hasilnya pun perlu dipaparkan semuanya. Hasil Pemilu 1955 untuk Anggota DPR No. Partai/Nama Daftar 1. Partai Nasional Indonesia (PNI) 2. Masyumi 3. Nahdlatul Ulama (NU) 4. Partai Komunis Indonesia (PKI) 5. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) Suara % Kursi

8.434.653 22,32 57 7.903.886 20,92 57 6.955.141 18,41 45 6.179.914 16,36 39 1.091.160 2,89 8 8 6 5 4

6. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 1.003.326 2,66 7. Partai Katolik 8. Partai Sosialis Indonesia (PSI) 9. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) Pergerakan (Perti) Tarbiyah 770.740 753.191 541.306 2,04 1,99 1,43

10.

Islamiyah 483.014 242.125 224.167

1,28 0,64 0,59 0,58

4 2 2 2

11. Partai Rakyat Nasional (PRN) 12. Partai Buruh 13. Gerakan Pembela Panca

Sila 219.985

(GPPS) 14. Partai Rakyat Indonesia (PRI) 206.161 0,55 0,53 0,53 0,47 0,47 0,41 0,40 0,39 0,30 0,22 0,21 0,21 0,19 0,17 0,14 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

15. Persatuan Pegawai Polisi RI (P3RI) 200.419 16. Murba 17. Baperki 18. Persatuan Indoenesia Raya (PIR) Wongsonegoro 199.588 178.887 178.481 154.792 Rakyat Marhaen 149.287 146.054 114.644

19. Grinda 20. Persatuan

Indonesia (Permai)

21. Persatuan Daya (PD) 22. PIR Hazairin

23. Partai Politik Tarikat Islam (PPTI) 85.131 24. AKUI 25. Persatuan Rakyat Desa (PRD) Partai Republik Indonesis Merdeka 26. (PRIM) 81.454 77.919 72.523

27. Angkatan Comunis Muda (Acoma) 64.514 28. R.Soedjono Prawirisoedarso 29. Lain-lain Jumlah 53.306

1.022.433 2,71

37.785.299 100,00 257

Pemilu untuk anggota Dewan Konstituante dilakukan tanggal 15 Desember 1955. Jumlah kursi anggota Konstituante dipilih sebanyak 520, tetapi di Irian Barat yang memiliki jatah 6 kursi tidak ada pemilihan. Maka kursi yang dipilih hanya 514. Hasil pemilihan anggota Dewan Konstituante menunjukkan bahwa PNI, NU dan PKI

meningkat dukungannya, sementara Masyumi, meski tetap menjadi pemenang kedua, perolehan suaranya merosot 114.267 dibandingkan suara yang diperoleh dalam pemilihan anggota DPR. Peserta pemilihan anggota Konstituante yang mendapatkan kursi itu adalah sebagai berikut: Hasil Pemilu 1955 untuk Anggota Konstituante . Kurs i

No. Partai/Nama Daftar 1. Partai Nasional Indonesia (PNI) 2. Masyumi 3. Nahdlatul Ulama (NU) 4. Partai Komunis Indonesia (PKI) 5. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)

Suara

%

9.070.218 23,97 119 7.789.619 20,59 112 6.989.333 18,47 91 6.232.512 16,47 80 1.059.922 2,80 16 2,61 16 1,99 10 1,84 10 1,44 8

6. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 988.810 7. Partai Katolik 8. Partai Sosialis Indonesia (PSI) 9. 748.591 695.932

Ikatan Pendukung Kemerdekaan 544.803 Indonesia (IPKI) Pergerakan (Perti) Tarbiyah Islamiyah 465.359 220.652 332.047 Panca Sila 152.892

10.

1,23 7 0,58 3 0,88 5 0,40 2

11. Partai Rakyat Nasional (PRN) 12. Partai Buruh 13. Gerakan (GPPS) Pembela

14. Partai Rakyat Indonesia (PRI)

134.011

0,35 2 0,47 3 0,66 4 0,42 2 0,43 2 0,42 2 0,43 2 0,45 3 0,27 2 0,20 1 0,22 1 0,10 1 0,38 2 0,15 1 0,10 1 0,09 1 0,08 1 0,09 1 0,11 0,09 1 0,08 1 1,13

15. Persatuan Pegawai Polisi RI (P3RI) 179.346 16. Murba 17. Baperki 18. Persatuan Indoenesia Raya (PIR) Wongsonegoro 248.633 160.456 162.420 157.976 Rakyat Marhaen 164.386 169.222 101.509

19. Grinda 20. Persatuan

Indonesia (Permai)

21. Persatuan Daya (PD) 22. PIR Hazairin

23. Partai Politik Tarikat Islam (PPTI) 74.913 24. AKUI 25. Persatuan Rakyat Desa (PRD) 26. Partai Republik Indonesis Merdeka (PRIM) 84.862 39.278 143.907

27. Angkatan Comunis Muda (Acoma) 55.844 28. R.Soedjono Prawirisoedarso 29. Gerakan Pilihan Sunda 30. Partai Tani Indonesia 31. Radja Keprabonan 32. Gerakan Banteng 38.356 35.035 30.060 33.660 Republik 39.874 33.823 31.988 426.856

Indonesis (GBRI)

33. PIR NTB 34. L.M.Idrus Effendi lain-lain

Jumlah Periode Demokrasi Terpimpin.

37.837.105

514

Sangat disayangkan, kisah sukses Pemilu 1955 akhirnya tidak bisa dilanjutkan dan hanya menjadi catatan emas sejarah. Pemilu pertama itu tidak berlanjut dengan pemilu kedua lima tahun berikutnya, meskipun tahun 1958 Pejabat Presiden Sukarno sudah melantik Panitia Pemilihan Indonesia II. Yang terjadi kemudian adalah berubahnya format politik dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, sebuah keputusan presiden untuk membubarkan Konstituante dan pernyataan kembali ke UUD 1945 yang diperkuat angan-angan Presiden Soekarno menguburkan partai-partai. Dekrit itu kemudian mengakhiri rezim demokrasi dan mengawali otoriterianisme kekuasaan di Indonesia, yang meminjam istilah Prof. Ismail Sunny sebagai kekuasaan negara bukan lagi mengacu kepada democracy by law, tetapi democracy by decree. Otoriterianisme pemerintahan Presiden Soekarno makin jelas ketika pada 4 Juni 1960 ia membubarkan DPR hasil Pemilu 1955, setelah sebelumnya dewan legislatif itu menolak RAPBN yang diajukan pemerintah. Presiden Soekarno secara sepihak dengan senjata Dekrit 5 Juli 1959 membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-GR) dan MPR Sementara (MPRS) yang semua anggotanya diangkat presiden. Pengangkatan keanggotaan MPR dan DPR, dalam arti tanpa pemilihan, memang tidak bertentangan dengan UUD 1945. Karena

UUD 1945 tidak memuat klausul tentang tata cara memilih anggota DPR dan MPR. Tetapi, konsekuensi pengangkatan itu adalah terkooptasi-nya kedua lembaga itu di bawah presiden. Padahal menurut UUD 1945, MPR adalah pemegang kekuasaan tertinggi, sedangkan DPR neben atau sejajar dengan presiden. Sampai Presiden Soekarno diberhentikan oleh MPRS melalui Sidang Istimewa bulan Maret 1967 (Ketetapan XXXIV/MPRS/ 1967) setelah meluasnya krisis politik, ekonomi dan sosial pascakudeta G 30 S/PKI yang gagal semakin luas, rezim yang kemudian dikenal dengan sebutan Demokrasi Terpimpin itu tidak pernah sekalipun

menyelenggarakan pemilu. Tahun 1963 MPRS yang anggotanya diangkat menetapkan Soekarno, orang yang mengangkatnya, sebagai presiden seumur hidup. Ini adalah satu bentuk kekuasaan otoriter yang mengabaikan kemauan rakyat tersalurkan lewat pemilihan berkala.

Pemilu 1971 Ketika Jenderal Soeharto diangkat oleh MPRS menjadi pejabat Presiden menggantikan Bung Karno dalam Sidang Istimewa MPRS 1967, ia juga tidak secepatnya menyelenggarakan pemilu untuk mencari legitimasi kekuasaan transisi. Malah Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 yang mengamanatkan agar Pemilu bisa diselenggarakan

dalam tahun 1968, kemudian diubah lagi pada SI MPR 1967, oleh Jenderal Soeharto diubah lagi dengan menetapkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan dalam tahun 1971. Sebagai pejabat presiden Pak Harto tetap menggunakan MPRS dan DPR-GR bentukan Bung Karno, hanya saja ia melakukan pembersihan lembaga tertinggi dan tinggi negara tersebut dari sejumlah anggota yang dianggap berbau Orde Lama. Pada prakteknya Pemilu kedua baru bisa diselenggarakan tanggal 5 Juli 1971, yang berarti setelah 4 tahun Pak Harto berada di kursi kepresidenan. Pada waktu itu ketentuan tentang kepartaian (tanpa UU) kurang lebih sama dengan yang diterapkan Presiden Soekarno. UU yang diadakan adalah UU tentang pemilu dan susunan dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD. Menjelang pemilu 1971, pemerintah bersama DPR GR menyelesaikan UU No. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No. 16 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Penyelesaian UU itu sendiri memakan waktu hampir tiga tahun. Hal yang sangat signifikan yang berbeda dengan Pemilu 1955 adalah bahwa para pejabat negara pada Pemilu 1971 diharuskan bersikap netral. Sedangkan pada Pemilu 1955 pejabat negara, termasuk perdana menteri yang berasal dari partai bisa ikut menjadi calon partai secara formal. Tetapi pada prakteknya pada Pemilu 1971 para pejabat pemerintah berpihak kepada salah satu peserta Pemilu,

yaitu Golkar. Jadi sesungguhnya pemerintah pun merekayasa ketentuan-ketentuan yang menguntungkan Golkar seperti menetapkan seluruh pegawai negeri sipil harus menyalurkan aspirasinya kepada salah satu peserta Pemilu itu. Dalam hubungannya dengan pembagian kursi, cara pembagian yang digunakan dalam Pemilu 1971 berbeda dengan Pemilu 1955. Dalam Pemilu 1971, yang menggunakan UU No. 15 Tahun 1969 sebagai dasar, semua kursi terbagi habis di setiap daerah pemilihan. Cara ini ternyata mampu menjadi mekanisme tidak langsung untuk mengurangi jumlah partai yang meraih kursi dibandingkan

penggunaan sistem kombinasi. Tetapi, kelemahannya sistem demikian lebih banyak menyebabkan suara partai terbuang percuma. Pembagian kursi pada Pemilu 1971 dilakukan dalam tiga tahap, ini dalam hal ada partai yang melakukan stembus accoord. Tetapi di daerah pemilihan yang tidak terdapat partai yang melakukan stembus acccord, pembagian kursi hanya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pembagian kursi pada Pemilu 1971 adalah sebagai berikut. Pertama, suara partai dibagi dengan kiesquotient di daerah pemi-lihan. Tahap kedua, apabila ada partai yang melakukan stembus accoord, maka jumlah sisa suara partai-partai yang menggabungkan sisa suara itu dibagi dengan kiesquotient. Pada tahap berikutnya apabila masih ada kursi yang tersisa masing-masing satu kursi diserahkan kepada partai yang meraih sisa suara terbesar, termasuk gabungan sisa suara partai yang melakukan stembus accoord dari

perolehan kursi pembagian tahap kedua. Apabila tidak ada partai yang melakukan stembus accoord, maka setelah pembagian pertama, sisa kursi dibagikan langsung kepada partai yang memiliki sisa suara terbesar. Namun demikian, cara pembagian kursi dalam Pemilu 1971 menyebabkan tidak selarasnya hasil perolehan suara secara nasional dengan perolehan keseluruhan kursi oleh suatu partai. Contoh paling gamblang adalah perolehan kursi antara PNI dan Parmusi. PNI yang secara nasional suaranya lebih besar dari Parmusi, akhirnya memperoleh kursi lebih sedikit dibandingkan Parmusi. Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Partai Golkar NU Parmusi PNI PSII Parkindo Katolik Perti IPKI Murba Suara 34.348.673 10.213.650 2.930.746 3.793.266 1.308.237 733.359 603.740 381.309 338.403 48.126 54.669.509 % 62,82 18,68 5,36 6,93 2,39 1,34 1,10 0,69 0,61 0,08 100,00 Kursi 236 58 24 20 10 7 3 2 360

Jumlah

Sekedar untuk perbandingan, seandainya pembagian kursi

perolehan suara partai-partai pada Pemilu 1971 dilakukan dengan sistem kombinasi sebagaimana digunakan dalam Pemilu 1955, dengan mengabaikan stembus accoord 4 partai Islam yang mengikuti Pemilu 1971, hasilnya akan terlihat seperti pada tabel di bawah ini. Pembagian Kursi Hasil Pemilu 1971 Seandainya Menggunakan Sistem Kombinasi (hipotetis) Jumlah Sisa Suara Kursi Atas Juml

Jumlah Sisa Jumlah Kursi N o. Partai Suara Secara Pada Suara

Peroleha n pada

Setelah Pembagi

Pembagi Pembagi an Kursi an Sisa

Setelah Suara ah Pembagi Terbes Kursi an Kursiar Sisa 81.770 (III) 1 226 59

Nasional an

Pertama Pertama Pertama 34.339.7 08 10.201.6 59 3.793.26 6 1.342.08 4 1..323.2 45

1 Golkar

214 48

11

2 NU 3 PNI

11

62.931 106.043 (II) 14.547

16

908.061 7 1.389.43 5 1.039.28 0

1

24 22

4

Parmu 2.930.91 si 9 1.257.05 6

10

12

5 PSII Parkin do

1

9

8.000

-

10

6

697.618 1

628.752 5

53.882 -

6

7

Katoli k

603.740 2 380.403 2 338.376 294

412.428 3

68.706 (IV) 65.666 (V) 109.228 (I)

1

6

8 Perti

180.240 1

1

4

9 IPKI

338.376 2 47.800 7.561.90 1 61

1

3 360

10 Murba 47.800 54.669.5 09 Catatan:

47.800 5

1. Hasil pembagian pertama yang diperoleh partai-partai sebagaimana terlihat dalam lajur 4 (empat) sesuai dengan hasil bagi dengan kiesquotient di daerah pemilihan masing-masing. Sedangkan hasil pembagian kursi sisa pada lajur 6 (enam) merupakan hasil bagi sisa suara masing-masing partai dengan kiestquotient nasional 114.574 (7.561.901:66). Hasil pada lajur 8 (delapan) berdasarkan sisa suara terbesar atau terbanyak karena masih tersisa 7 kursi lagi. Dengan cara pembagian kursi seperti Pemilu 1955 itu, hanya Murba yang tidak mendapat kursi, karena pada pembagian kursi atas dasar sisa terbesarpun perolehan suara partai tersebut tidak mencukupi. Karena peringkat terbawah sisa suara terbesar adalah 65.666. PNI memperoleh kursi lebih banyak dari Parmusi, karena suaranya secara nasional di atas Parmusi.

Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 . Setelah 1971, pelaksanaan Pemilu yang periodik dan teratur mulai terlaksana. Pemilu ketiga diselenggarakan 6 tahun lebih setelah Pemilu 1971, yakni tahun 1977, setelah itu selalu terjadwal sekali dalam 5 tahun. Dari segi jadwal sejak itulah pemilu teratur dilaksanakan. Satu hal yang nyata perbedaannya dengan Pemilu-pemilu sebelumnya adalah bahwa sejak Pemilu 1977 pesertanya jauh lebih sedikit, dua parpol dan satu Golkar. Ini terjadi setelah sebelumnya pemerintah bersama-sama dengan DPR berusaha menyederhanakan jumlah partai dengan membuat UU No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. Kedua partai itu adalah Partai Persatuan Pembangunan atau PPP dan Partai Demokrasi Indonesia atau PDI) dan satu Golongan Karya atau Golkar. Jadi dalam 5 kali Pemilu, yaitu Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 pesertanya hanya tiga. Hasilnyapun sama, Golkar selalu menjadi pemenang,

sedangkan PPP dan PDI menjadi pelengkap atau sekedar ornamen. Golkar bahkan sudah menjadi pemenang sejak Pemilu 1971. Keadaan ini secara lang-sung dan tidak langsung membuat kekuasaan eksekutif dan legislatif berada di bawah kontrol Golkar. Pendukung utama Golkar adalah birokrasi sipil dan militer. Berikut

ini dipaparkan hasil dari 5 kali Pemilu tersebut secara berturut-turut.

Hasil Pemilu 1977 Pemungutan suara Pemilu 1977 dilakukan 2 Mei 1977. Cara pembagian kursi masih dilakukan seperti dalam Pemilu 1971, yakni mengikuti sistem proporsional di daerah pemilihan. Dari 70.378.750 pemilih, suara yang sah mencapai 63.998.344 suara atau 90,93 persen. Dari suara yang sah itu Golkar meraih 39.750.096 suara atau 62,11 persen. Namun perolehan kursinya menurun menjadi 232 kursi atau kehilangan 4 kursi dibandingkan Pemilu 1971. Pada Pemilu 1977 suara PPP naik di berbagai daerah, bahkan di DKI Jakarta dan DI Aceh mengalahkan Golkar. Secara nasional PPP berhasil meraih 18.743.491 suara, 99 kursi atau naik 2,17 persen, atau bertambah 5 kursi dibanding gabungan kursi 4 partai Islam dalam Pemilu 1971. Kenaikan suara PPP terjadi di banyak basis-basis eks Masjumi. Ini seiring dengan tampilnya tokoh utama Masjumi mendukung PPP. Tetapi kenaikan suara PPP di basis-basis Masjumi diikuti pula oleh penurunan suara dan kursi di basis-basis NU, sehingga kenaikan suara secara nasional tidak begitu besar. PPP berhasil menaikkan 17 kursi dari Sumatera, Jakarta, Jawa Barat dan Kalimantan, tetapi kehilangan 12 kursi di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Secara nasional

tambahan kursi hanya 5. PDI juga merosot perolehan kursinya dibanding gabungan kursi partai-partai yang berfusi sebelumnya, yakni hanya

memperoleh 29 kursi atau berkurang 1 kursi di banding gabungan suara PNI, Parkindo dan Partai Katolik. Selengkapnya perolehan kursi dan suara tersebut bisa dilihat pada tabel di bawah ini. No. Partai Suara % Kursi % (1971) Keterangan 62,80 27,12 10,08 100,00 - 0,69 + 2,17 - 1,48

1. Golkar 39.750.096 62,11 232 2. PPP 3. PDI Jumlah 18.743.491 29,29 99 5.504.757 8,60 29

63.998.344 100,00 360

Hasil Pemilu 1982 Pemungutan suara Pemilu 1982 dilangsungkan secara serentak pada tanggal 4 Mei 1982. Pada Pemilu ini perolehan suara dan kursi secara nasional Golkar meningkat, tetapi gagal merebut kemenangan di Aceh. Hanya Jakarta dan Kalimantan Selatan yang berhasil diambil Golkar dari PPP. Secara nasional Golkar berhasil merebut tambahan 10 kursi dan itu berarti kehilangan masing-masing 5 kursi bagi PPP dan PDI Golkar meraih 48.334.724 suara atau 242 kursi. Adapun cara pembagian kursi pada Pemilu ini tetap mengacu pada ketentuan Pemilu 1971. No. Partai Suara DPR % Kursi % (1977) Keterangan

1. Golkar 48.334.724 64,34 242 2. PPP 3. PDI Jumlah 20.871.880 27,78 94 5.919.702 7,88 24

62,11 29,29 8,60 100,00

+ 2,23 - 1,51 - 0,72

75.126.306 100,00 364

Hasil Pemilu 1987 Pemungutan suara Pemilu 1987 diselenggarakan tanggal 23 April 1987 secara serentak di seluruh tanah air. Dari 93.737.633 pemilih, suara yang sah mencapai 85.869.816 atau 91,32 persen. Cara pembagian kursi juga tidak berubah, yaitu tetap mengacu pada Pemilu sebelumnya. Hasil Pemilu kali ini ditandai dengan kemerosotan terbesar PPP, yakni hilangnya 33 kursi dibandingkan Pemilu 1982, sehingga hanya mendapat 61 kursi. Penyebab merosotnya PPP antara lain karena tidak boleh lagi partai itu memakai asas Islam dan diubahnya lambang dari Ka'bah kepada Bintang dan terjadinya penggembosan oleh tokoh- tokoh unsur NU, terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara itu Golkar memperoleh tambahan 53 kursi sehingga menjadi 299 kursi. PDI, yang tahun 1986 dapat dikatakan mulai dekat dengan kekuasaan, sebagaimana diindikasikan dengan pembentukan DPP PDI hasil Kongres 1986 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam, berhasil menambah perolehan kursi secara signifikan dari 30 kursi pada Pemilu 1982 menjadi 40 kursi pada Pemilu 1987 ini.

No. Partai Suara

%

Kursi % (1982) Keterangan 68,34 27,78 7,88 + 8,82 - 11,81 + 2,99

1. Golkar 62.783.680 73,16 299 2. PPP 3. PDI Jumlah 13.701.428 15,97 61 9.384.708 10,87 40

85.869.816 100,00 400

Hasil Pemilu 1992 Cara pembagian kursi untuk Pemilu 1992 juga masih sama dengan Pemilu sebelumnya. Hasil Pemilu yang pemungutan suaranya dilaksanakan tanggal 9 Juni 1992 ini pada waktu itu mengagetkan banyak orang. Sebab, perolehan suara Golkar kali ini merosot dibandingkan Pemilu 1987. Kalau pada Pemilu 1987 perolehan suaranya mencapai 73,16 persen, pada Pemilu 1992 turun menjadi 68,10 persen, atau merosot 5,06 persen. Penurunan yang tampak nyata bisa dilihat pada perolehan kursi, yakni menurun dari 299 menjadi 282, atau kehilangan 17 kursi dibanding pemilu sebelumnya. PPP juga mengalami hal yang sama, meski masih bisa menaikkan 1 kursi dari 61 pada Pemilu 1987 menjadi 62 kursi pada Pemilu 1992 ini. Tetapi di luar Jawa suara dan kursi partai berlambang ka¶bah itu merosot. Pada Pemilu 1992 partai ini kehilangan banyak kursi di luar Jawa, meski ada penambahan kursi dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Partai itu tidak memiliki wakil sama sekali di 9 provinsi, termasuk 3 provinsi di Sumatera. PPP memang berhasil menaikkan perolehan 7 kursi di Jawa, tetapi karena

kehilangan 6 kursi di Sumatera, akibatnya partai itu hanya mampu menaikkan 1 kursi secara nasional. Yang berhasil menaikkan perolehan suara dan kursi di berbagai daerah adalah PDI. Pada Pemilu 1992 ini PDI berhasil meningkatkan perolehan kursinya 16 kursi dibandingkan Pemilu 1987, sehingga menjadi 56 kursi. Ini artinya dalam dua pemilu, yaitu 1987 dan 1992, PDI berhasil menambah 32 kursinya di DPR RI. No. Partai Suara % Kursi % (1987) Keterangan 73,16 15,97 10,87 100,00 - 5,06 + 1,04 + 4.02

1. Golkar 66.599.331 68,10 282 2. PPP 3. PDI Jumlah 16.624.647 17,01 62 14.565.556 14,89 56 97.789.534 100,00 400

Hasil Pemilu 1997 Sampai Pemilu 1997 ini cara pembagian kursi yang digunakan tidak berubah, masih menggunakan cara yang sama dengan Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, dan 1992. Pemungutan suara

diselenggarakan tanggal 29 Mei 1997. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah pada Pemilu 1992 mengalami kemerosotan, kali ini Golkar kembali merebut suara pendukungnnya. Perolehan suaranya

mencapai 74,51 persen, atau naik 6,41. Sedangkan perolehan kursinya meningkat menjadi 325 kursi, atau bertambah 43 kursi dari hasil pemilu sebelumnya. PPP juga menikmati hal yang sama, yaitu meningkat 5,43

persen. Begitu pula untuk perolehan kursi. Pada Pemilu 1997 ini PPP meraih 89 kursi atau meningkat 27 kursi dibandingkan Pemilu 1992. Dukungan terhadap partai itu di Jawa sangat besar. Sedangkan PDI, yang mengalami konflik internal dan terpecah antara PDI Soerjadi dengan Megawati Soekarnoputri setahun menjelang pemilu, perolehan suaranya merosot 11,84 persen, dan hanya mendapat 11 kursi, yang berarti kehilangan 45 kursi di DPR dibandingkan Pemilu 1992. No. Partai Suara 1. Golkar 84.187.907 2. PPP 3. PDI Jumlah 25.340.028 3.463.225 % Kursi % (1992) Keterangan + 6,41 + 5,43 - 11,84

74,51 325 68,10 22,43 89 3,06 11 17,00 14,90

112.991.150 100,00 425 100,00

Pemilu kali ini diwarnai banyak protes. Protes terhadap kecurangan terjadi di banyak daerah. Bahkan di Kabupaten Sampang, Madura, puluhan kotak suara dibakar massa karena kecurangan penghitungan suara dianggap keterlaluan. Ketika di beberapa tempat di daerah itu pemilu diulang pun, tetapi pemilih, khususnya pendukung PPP, tidak mengambil bagian.

Pemilu 1999 Setelah Presiden Soeharto dilengserkan dari kekuasaannya

pada tanggal 21 Mei 1998 jabatan presiden digantikan oleh Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Atas desakan publik, Pemilu yang baru atau dipercepat segera dilaksanakan, sehingga hasil hasil Pemilu 1997 segera diganti. Kemudian ternyata bahwa Pemilu dilaksanakan pada 7 Juni 1999, atau 13 bulan masa kekuasaan Habibie. Pada saat itu untuk sebagian alasan diadakannya Pemilu adalah untuk memperoleh pengakuan atau kepercayaan dari publik, termasuk dunia internasional, karena pemerintahan dan lembagalembaga lain yang merupakan produk Pemilu 1997 sudah dianggap tidak dipercaya. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan

penyelenggaraan Sidang Umum MPR untuk memilih presiden dan wakil presiden yang baru. Ini berarti bahwa dengan pemilu dipercepat, yang terjadi bukan hanya bakal digantinya keanggotaan DPR dan MPR sebelum selesai masa kerjanya, tetapi Presiden Habibie sendiri memangkas masa jabatannya yang seharusnya berlangsung sampai tahun 2003, suatu kebijakan dari seorang presiden yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelum menyelenggarakan Pemilu yang dipercepat itu, pemerintah mengajukan RUU tentang Partai Politik, RUU tentang Pemilu dan RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Ketiga draft UU ini disiapkan oleh sebuah tim Depdagri, yang disebut Tim 7, yang diketuai oleh Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid (Rektor IIP Depdagri, Jakarta).

Setelah RUU disetujui DPR dan disahkan menjadi UU, presiden membentuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang anggotaanggotanya adalah wakil dari partai politik dan wakil dari pemerintah. Satu hal yang secara sangat menonjol membedakan Pemilu 1999 dengan Pemilu-pemilu sebelumnya sejak 1971 adalah Pemilu 1999 ini diikuti oleh banyak sekali peserta. Ini dimungkinkan karena adanya kebebasan untuk mendirikan partai politik. Peserta Pemilu kali ini adalah 48 partai. Ini sudah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah partai yang ada dan terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM, yakni 141 partai. Dalam sejarah Indonesia tercatat, bahwa setelah pemerintahan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, pemerintahan Reformasi inilah yang mampu menyelenggarakan pemilu lebih cepat setelah proses alih kekuasaan. Burhanuddin Harahap berhasil

menyelenggarakan pemilu hanya sebulan setelah menjadi Perdana Menteri menggantikan Ali Sastroamidjojo, meski persiapanpersiapannya sudah dijalankan juga oleh pemerintahan sebelum-nya. Habibie menyelenggarakan pemilu setelah 13 bulan sejak ia naik ke kekuasaan, meski persoalan yang dihadapi Indonesia bukan hanya krisis politik, tetapi yang lebih parah adalah krisis ekonomi, sosial dan penegakan hukum serta tekanan internasional. Hasil Pemilu 1999 Meskipun masa persiapannya tergolong singkat, pelaksanaan pemungutan suara pada Pemilu 1999 ini bisa dilakukan sesuai

jadwal, yakni tanggal 7 Juni 1999. Tidak seperti yang diprediksikan dan dikhawatirkan banyak pihak sebelumnya, ternyata Pemilu 1999 bisa terlaksana dengan damai, tanpa ada kekacauan yang berarti. Hanya di beberapa Daerah Tingkat II di Sumatera Utara yang pelaksanaan pemungutan suaranya terpaksa diundur suara satu pekan. Itu pun karena adanya keterlambatan atas datangnya perlengkapan pemungutan suara.

Tetapi tidak seperti pada pemungutan suara yang berjalan lancar, tahap penghitungan suara dan pembagian kursi pada Pemilu kali ini sempat menghadapi hambatan. Pada tahap penghitungan suara, 27 partai politik menolak menandatangani berita acara perhitungan suara dengan dalih Pemilu belum jurdil (jujur dan adil). Sikap penolakan tersebut ditunjukkan dalam sebuah rapat pleno KPU. Ke-27 partai tersebut adalah sebagai berikut: Partai yang Tidak Menandatangani Hasil Pemilu 1999. Nomor Nama Partai 1. 2. 3. 4. 5. 6. Partai Keadilan PNU PBI PDI Masyumi PNI Supeni

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26 27.

Krisna Partai KAMI PKD PAY Partai MKGR PIB Partai SUNI PNBI PUDI PBN PKM PND PADI PRD PPI PID Murba SPSI PUMI PSP PARI

Karena ada penolakan, dokumen rapat KPU kemudian diserahkan pimpinan KPU kepada presiden. Oleh presiden hasil rapat dari KPU tersebut kemudian diserahkan kepada Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu). Panwaslu diberi tugas untuk meneliti

keberatan-keberatan yang diajukan wakil-wakil partai di KPU yang berkeberatan tadi. Hasilnya, Panwaslu memberikan rekomen-dasi bahwa pemilu sudah sah. Lagipula mayoritas partai tidak

menyertakan data tertulis menyangkut keberatan-keberatannya. Presiden kemudian juga menyatakan bahwa hasil pemilu sah. Hasil final pemilu baru diketahui masyararakat tanggal 26 Juli 1999. Setelah disahkan oleh presiden, PPI (Panitia Pemilihan Indonesia) langsung melakukan pembagian kursi. Pada tahap ini juga muncul masalah. Rapat pembagian kursi di PPI berjalan alot. Hasil pembagian kursi yang ditetapkan Kelompok Kerja PPI, khususnya pembagian kursi sisa, ditolak oleh kelompok partai Islam yang melakukan stembus accoord. Hasil Kelompok Kerja PPI

menunjukkan, partai Islam yang melakukan stembus accoord hanya mendapatkan 40 kursi. Sementara Kelompok stembus accoord 8 partai Islam menyatakan bahwa mereka berhak atas 53 dari 120 kursi sisa. Perbedaan pendapat di PPI tersebut akhirnya diserahkan kepada KPU. Di KPU perbedaan pendapat itu akhirnya diselesaikan melalui voting dengan dua opsi. Opsi pertama, pembagian kursi sisa dihitung dengan memperhatikan suara stembus accoord, sedangkan opsi kedua pembagian tanpa stembus accoord. Hanya 12 suara yang mendukung opsi pertama, sedangkan yang mendukung opsi kedua 43 suara. Lebih dari 8 partai walk out. Ini berarti bahwa pembagian kursi dilakukan tanpa memperhitungkan lagi stembus accoord.

Berbekal keputusan KPU tersebut, PPI akhirnya dapat melakukan pembagian kursi hasil pemilu pada tanggal 1 September 1999. Hasil pembagian kursi itu menunjukkan, lima partai besar memborong 417 kursi DPR atau 90,26 persen dari 462 kursi yang diperebutkan. Sebagai pemenangnya adalah PDI-P yang meraih 35.689.073 suara atau 33,74 persen dengan perolehan 153 kursi. Golkar memperoleh 23.741.758 dengan suara atau 22,44 atau persen sehingga

mendapatkan 120 kursi atau kehilangan 205 kursi dibanding Pemilu 1997. PKB 13.336.982 suara 12,61 persen, mendapatkan 51 kursi. PPP dengan 11.329.905 suara atau 10,71 persen, mendapatkan 58 kursi atau kehilangan 31 kursi dibanding Pemilu 1997. PAN meraih 7.528.956 suara atau 7,12 persen, mendapatkan 34 kursi. Di luar lima besar, partai lama yang masih ikut, yakni PDI merosot tajam dan hanya meraih 2 kursi dari pembagian kursi sisa, atau kehilangan 9 kursi dibanding Pemilu 1997. Selengkapnya hasil perhitungan pembagian kursi itu seperti terlihat dalam tabel di bawah. Kursi Tanpa Kursi Dengan SA SA 154 120 59 51 35

No. Nama Partai 1. PDIP 2. Golkar 3. PPP 4. PKB 5. PAN

Suara DPR

35.689.073 153 23.741.749 120 11.329.905 58 13.336.982 51 7.528.956 34

6. PBB

2.049.708

13 7 4 5 5 1 2 1 1 1 1

13 6 6 3 3 3 2 1 1 1 1

7. Partai Keadilan 1.436.565 8. PKP 9. PNU 10. PDKB 11. PBI 12. PDI 13. PP 14. PDR 15. PSII 16. PNI Marhaenis PNI Marhaen Massa Front 1.065.686 679.179 550.846 364.291 345.720 655.052 427.854 375.920 365.176

17.

345.629 328.654 300.064 456.718 216.675 377.137 369.719 289.489 269.309 213.979

1 1 1 1 1 -

1 1 1 -

18. IPKI 19. PKU 20. Masyumi 21. PKD 22. PNI Supeni 23 Krisna 24. Partai KAMI 25. PUI 26. PAY

27. Partai Republik 328.564 28. Partai MKGR 204.204

29. PIB 30. Partai SUNI 31. PCD 32. PSII 1905 33. Masyumi Baru 34. PNBI 35. PUDI 36. PBN 37. PKM 38. PND 39. PADI 40. PRD 41. PPI 42. PID 43. Murba 44. SPSI 45. PUMI 46 PSP 47. PARI 48. PILAR Jumlah Catatan:

192.712 180.167 168.087 152.820 152.589 149.136 140.980 140.980 104.385 96.984 85.838 78.730 63.934 62.901 62.006 61.105 49.839 49.807 54.790 40.517

-

462

105.786.661 462

1. Jumlah suara partai yang tidak menghasilkan kursi mencapai 9.700.658. atau 9,17 persen dari suara yang sah.

2. Apabila pembagian kursi dilakukan dengan sistem kombinasi jumlah partai yang mendapatkan kursi mencapai 37 partai dengan jumlah suara partai yang tidak menghasilkan kursi hanya 706.447 atau 0,67 persen dari suara sah. 3. Cara pembagian kursi hasil pemilihan kali ini tetap memakai sistem proporsional dengan mengikuti varian Roget. Dalam sistem ini sebuah partai memperoleh kursi seimbang dengan suara yang diperolehnya di daerah pemilihan, termasuk perolehan kursi berdasarkan the largest remainder. Tetapi cara penetapan calon terpilih berbeda dengan Pemilu sebelumnya, yakni dengan menentukan ranking perolehan suara suatu partai di daerah pemilihan. Apabila sejak Pemilu 1977 calon nomor urut pertama dalam daftar calon partai otomatis terpilih apabila partai itu mendapatkan kursi, maka kini calon terpillih ditetapkan berdasarkan suara terbesar atau terba-nyak dari daerah di mana seseorang dicalonkan. Dengan demikian seseorang calon, sebut saja si A, meski berada di urutan terbawah dari daftar calon, kalau dari daerahnya partai mendapatkan suara terbesar, maka dialah yang terpilih. Untuk cara penetapan calon terpilih berdasarkan perolehan suara di Daerah Tingkat II ini sama dengan cara yang dipergunakan pada Pemilu 1971. Bagaimanapun merupakan penyelenggaraan yang Pemilu-pemilu Sekarang, tersebut apakah

pengalaman

berharga.

pengalaman itu akan bermanfaat atau tidak semuanya sangat tergantung pada penggunaannya untuk masa-masa yang akan datang.

Pemilu yang paling dekat adalah Pemilu 2004. Pengalaman tadi akan bisa dikatakan berharga apabila Pemilu 2004 nanti memang lebih baik daripada Pemilu 1999. Pemilu 1999 untuk banyak hal telah mendapat pujian dari berbagai pihak. Dengan pengalaman tersebut, sudah seharusnyalah kalau Pemilu 2004 mendatang lebih baik lagi.

B. DEMOKRASI 1. Pengertian Demokrasi Isitilah ³demokrasi´ berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem ³demokrasi´ di banyak Negara. Secara etimologis, demokrasi dalam bahasa Yunani berasal dari dua kata yaitu demos dan kratos/cratein. Demos, berarti rakyat atau penduduk, kratos berarti cratein pemerintah, berarti kekuasaan atau

kedaulatan,

sedangkan

memerintah.

Dengan

demikian,demokrasi berarti pemerintahan oleh rakyat. Maksudnya

ialah suatu sistem pemerintahan yang rakyatnya diikut sertakan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Dan secara bahasa demokrasi adalah keadaan negara di mana kedaulatan atau kekuasaan tertingginya berada di tangan rakyat. Konsep demokrasi diterima oleh hampir seluruh negara di dunia. Diterimanya konsep demokrasi disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa konsep ini merupakan tata pemerintahan yang paling unggul dibandingkan dengan tata pemerintahan lainnya. Demokrasi telah ada sejak zaman Yunani Kuno. Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln mengatakan demokrasi sebagai suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (is a government of the people, by the people and for the people). Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembagalembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga

pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan. Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasilhasil penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih). Kedaulatan rakyat yang dimaksud disini bukan dalam arti hanya kedaulatan memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem

demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama dari sebagian masyarakat yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola, bukan sistem pemerintahan yang bagus, sebagai tokoh impian ratu adil. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin negara, masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara. Banyak negara demokrasi hanya memberikan hak pilih kepada warga yang telah melewati umur tertentu, misalnya umur 18 tahun, dan yang tak memliki catatan kriminal (misal, narapidana atau bekas narapidana).

Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara (umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica) dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa

mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan membawa kebaikan untuk rakyat. Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan akuntabilitas dari setiap lembaga negara dan mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut.

2. Jenis-Jenis Demokrasi Demokrasi menurut cara penyaluran kehendak rakyat terbagi dalam dua jenis: demokrasi bersifat langsung dan demokrasi bersifat representatif.

Demokrasi bersifat langsung / Direct Demokrasi Demokrasi langsung juga dikenal sebagai demokrasi bersih. Disinilah rakyat memiliki kebebasan secara mutlak memberikan pendapatnya, dan semua aspirasi mereka dimuat dengan segera didalam satu pertemuan. Jenis demokrasi ini dapat dipraktekkan hanya dalam kota kecil dan komunitas yang secara relatip belum berkembang,dimana secara fisik memungkinkan untuk seluruh electorate untuk bermusyawarah dalam satu tempat, walaupun permasalahan pemerintahan tersebut bersifat kecil.

Demokrasi langsung berkembang di Negara kecil Yunani kuno dan Roma. Demokrasi ini tidak dapat dilaksanakan didalam masyarakat yang komplek dan Negara yang besar. demokrasi murni yang masih bisa diambil contoh terdapat diwilayah Switzerland.

Mengubah bentuk demokrasi murni ini masih berlaku di Switzerland dan beberapa Negara yang didalamnya terdapat bentuk referendum dan inisiatip. Dibeberapa Negara sangat memungkinkan bagi rakyat untuk memulai dan mengadopsi hukum, bahkan untuk mengamandemengkan konstitusional dan menetapkan permasalahan public politik secara langsung tampa campur tangan representative.

Demokrasi bersifat refresentatif/revresentative demokratis Didalam Negara yang besar dan modern demokrasi tidak bisa berjalan sukses. Oleh karena itu, untuk menanggulangi masalah ini diperlukan sistem demokrasi secara representatip. Para representatip inilah yang akan menjalankan atau menyampaikan semua aspirasi rakyat didalam pertemuan. Dimana mereka dipilih oleh rakyat dan berkemungkinan berpihak kepada rakyat. (Garner). Sistem ini berbasis atas ide, dimana rakyat tidak secara langsung hadir dalam menyampaikan aspirasi mereka, namun mereka menyampaikan atau menyarankan saran mereka melaui wakil atau representatip. Bagaimanapun, didalam bentuk

pemerintahan ini wewenang disangka benar terletak ditangan rakyat,

akan tetapi semuanya dipraktekkan oleh para representatif. Menurut dasar prinsip ideologi, demokrasi dibedakan atas :
y y

Demokrasi Konstitusional (Demokrasi Liberal) Demokrasi Rakyat (Demokrasi Proletar)

Menurut dasar yang menjadi titik perhatian atau prioritasnya, demokrasi dibedakan atas :
y y y

Demokrasi Formal Demokrasi Material Demokrasi Campuran

Menurut dasar wewenang dan hubungan antara alat kelengkapan negara, demokrasi dibedakan atas :
y y

Demokrasi Sistem Parlementer Demokrasi Sistem Presidensial

3. Prinsip-Prinsip Demokrasi Inu Kencana Syafiie merinci prinsip-prinsip demokrasi sebagai berikut, yaitu ; adanya pembagian kekuasaan, pemilihan umum yang bebas, manajemen yang terbuka, kebebasan individu, peradilan yang bebas, pengakuan hak minoritas, pemerintahan yang berdasarkan hukum, pers yang bebas, beberapa partai politik,

konsensus, ketentuan

persetujuan, tentang

pemerintahan

yang

konstitusional, terhadap

pendemokrasian,

pengawasan

administrasi negara, perlindungan hak asasi, pemerintah yang mayoritas, persaingan keahlian, adanya mekanisme politik, kebebasan kebijaksanaan negara, dan adanya pemerintah yang mengutamakan musyawarah. Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebutkan di atas kemudian dituangkan ke dalam konsep yang lebih praktis sehingga dapat diukur dan dicirikan. Ciri-ciri ini yang kemudian dijadikan parameter untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. Parameter tersebut meliputi empat aspek.Pertama, masalah pembentukan negara. Proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas, watak, dan pola hubungan yang akan terbangun. Pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu instrumen penting yang dapat mendukung proses pembentukan pemerintahan yang baik. Kedua, dasar kekuasaan negara. Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawabannya langsung kepada rakyat. Ketiga, susunan kekuasaan negara. Kekuasaan negara hendaknya dijalankan secara distributif. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemusatan kekuasaan dalam satu

tangan..Keempat, masalah kontrol rakyat. Kontrol masyarakat dilakukan agar kebijakan yang diambil oleh pemerintah atau negara sesuai dengan keinginan rakyat.

4. Ciri-Ciri Pemerintahan Demokratis a. Pemerintahan berdasarkan kehendak dan kepentingan rakyat banyak, dengan ciri-ciri tambahan:

* konstitusional, yaitu bahwa prinsip-prinsip kekuasaan, kehendak dan kepentingan rakyat diatur dan ditetapkan dalam konstitusi;

* perwakilan, yaitu bahwa pelaksanaan kedaulatan rakyat diwakilkan kepada beberapa orang;

* pemilihan umum, yaitu kegiatan politik untuk memilih anggota-anggota parlemen;

* kepartaian, yaitu bahwa partai politik adalah media atau sarana antara dalam praktik pelaksanaan demokrasi;

b. Adanya pemisahan atau pembagian kekuasaan, misalnya pembagian/ pemisahan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif.

c.

Adanya

tanggung

jawab

dari pelaksana

kegiatan

pemerintahan.

Macam-macam demokrasi:

1) Demokrasi ditinjau dari cara penyaluran kehendak rakyat:

a) Demokrasi langsung

Dipraktikkan di negara-negara kota (polis, city state) pada zaman Yunani Kuno. Pada masa itu, seluruh rakyat dapat menyampaikan aspirasi dan pandangannya secara langsung. Dengan demikian, pemerintah dapat mengetahui - secara langsung pula - aspirasi dan persoalan-persoalan yang sebenarnya dihadapi masyarakat. Tetapi dalam zaman modern, demokrasi langsung sulit dilaksanakan karena:

* sulitnya mencari tempat yang dapat menampung seluruh rakyat sekaligus dalam membicarakan suatu urusan;

* tidak setiap orang memahami persoalan-persoalan negara yang * semakin tidak rumit akan dan efektif, kompleks; sehingga sulit

musyawarah

menghasilkan keputusan yang baik.

b) Demokrasi tidak langsung atau demokrasi perwakilan

Sistem demokrasi (menggantikan demokrasi langsung) yang dalam menyalurkan kehendaknya, rakyat memilih wakil-wakil mereka untuk duduk dalam parlemen. Aspirasi rakyat disampaikan melalui wakil-wakil mereka dalam

parlemen. Tipe demokrasi perwakilan berlainan menurut konstitusi negara masing-masing.

Sistem pemilihan ada dua macam, yaitu: pemilihan secara langsung dan pemilihan bertingkat. Pada pemilihan secara langsung, setiap warga negara yang berhak secara langsung memilih orang-orang yang akan duduk di parlemen. Sedangkan pada pemilihan bertingkat, yang dipilih rakyat adalah orang-orang di lingkungan mereka sendiri, kemudian orang-orang yang terpilih itu memilih anggota-anggota parlemen.

c.

Demokrasi

perwakilan

dengan

sistem

referendum

Dalam sistem demokrasi ini rakyat memilih para wakil mereka untuk duduk di parlemen, tetapi parlemen tetap dikontrol oleh pengaruh rakyat dengan sistem referendum (pemungutan suara untuk mengetahui kehendak rakyat secara langsung). Sistem ini digunakan di salah satu negara bagian Swiss yang disebut Kanton.

2) Demokrasi ditinjau dari titik berat perhatiannya:

a) Demokrasi Formal (Demokrasi Liberal)

Demokrasi formal menjunjung tinggi persamaan dalam bidang politik tanpa disertai upaya untuk mengurangi atau menghilangkan kesenjangan rakyat dalam bidang ekonomi. Dalam sistem demokrasi yang demikian, semua orang dianggap memiliki derajat dan hak yang sama. Namun karena kesamaan itu, penerapan azas free fight competition (persaingan bebas) dalam bidang ekonomi menyebabkan kesenjangan antara golongan kaya dan golongan miskin kian lebar. Kepentingan umum pun diabaikan.

Demokrasi formal/ liberal sering pula disebut demokrasi Barat karena pada umumnya dipraktikkan oleh negara-negara Barat. Kaum komunis bahkan menyebutnya demokrasi kapitalis karena dalam pelaksanaannya kaum kapitalis selalu dimenangkan oleh pengaruh uang (money politics) yang menguasai opini masyarakat (public opinion).

b) Demokrasi Material (Demokrasi Rakyat)

Demokrasi

material

menitikberatkan

upaya-upaya

menghilangkan perbedaan dalam bidang ekonomi sehingga persamaan dalam persamaan hak dalam bidang politik kurang

diperhatikan, bahkan mudah dihilangkan. Untuk mengurangi perbedaan dalam bidang ekonomi, partai penguasa (sebagai representasi kekuasaan negara) akan menjadikan segala sesuatu sebagai milik negara. Hak milik pribadi tidak diakui. Maka, demi persamaan dalam bidang ekonomi, kebebasan dan hak-hak azasi manusia di bidang politik diabaikan. Demokrasi material menimbulkan perkosaan rohani dan spiritual.

Demokrasi ini sering disebut demokrasi Timur, karena berkembang di negara-negara sosialis/ komunis di Timur, seperti Rusia, Cekoslowakia, Polandia dan Hongaria dengan ciri-ciri:

1. sistem satu (mono) partai, yaitu partai komunis (di Rusia);

2. sistem otoriter, yaitu otoritas penguasa dapat dipaksakan kepada rakyat;

3. sistem perangkapan pimpinan, yaitu pemimpin partai merangkap sebagai pemimpin negara/ pemerintahan;

4. sistem pemusatan kekuasaan di tangan penguasa tertinggi dalam negara.

c) Demokrasi Gabungan

Demokrasi

ini

mengambil

kebaikan

dan

membuang

keburukan demokrasi formal dan material. Persamaan derajat dan hak setiap orang tetap diakui, tetapi diperlukan pembatasan untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat. Pelaksanaan demokrasi ini bergantung pada ideologi negara masing-masing sejauh tidak secara jelas kecenderungannya kepada demokrasi liberal atau demokrasi rakyat . 3) Demokrasi ditinjau dari hubungan antaralat perlengkapan negara:

a) Demokrasi perwakilan dengan sistem

parlementer

Demokrasi sistem parlementer semula lahir di Inggris pada abad XVIII dan dipergunakan pula di negara-negara Belanda, Belgia, Prancis, dan Indonesia (pada masa UUDS 1950) dengan pelaksanaan yang bervariasi, sesuai dengan konstitusi negara masing-masing.

Negara-negara

Barat

banyak

menggunakan

demokrasi

parlementer sesuai dengan masyarakatnya yang cenderung liberal. Ciri khas demokrasi ini adalah adanya hubungan yang erat antara badan eksekutif dengan badan perwakilan rakyat atau legislatif. Para menteri yang menjalankan kekuasaan eksekutif diangkat atas usul suara terbanyak dalam sidang parlemen. Mereka wajib menjalankan tugas penyelenggaraan

negara sesuai dengan pedoman atau program kerja yang telah disetujui oleh parlemen. Selama penyelenggaraan negara oleh eksekutif disetujui dan didukung oleh parlemen, maka kedudukan eksekutif akan stabil. Penyimpangan oleh seorang menteri pun dapat menyebabkan parlemen mengajukan mosi tidak percaya yang menggoyahkan kedudukan eksekutif.

Demokrasi parlementer lebih cocok diterapkan di negaranegara yang menganut sistem dwipartai: partai mayoritas akan menjadi partai pendukung pemerintah dan partai minoritas menjadi oposisi.

Dalam

demokrasi

parlementer,

terdapat

pembagian

kekuasaan (distribution of powers) antara badan eksekutif dengan badan legislatif dan kerja sama di antara keduanya. Sedangkan badan yudikatif menjalankan kekuasaan peradilan secara bebas, tanpa campur tangan dari badan eksekutif maupun legislatif.

Kebaikan demokrasi perwakilan bersistem parlementer:

1. pengaruh rakyat terhadap politik yang dijalankan pemerintah sangat besar;

2. pengawasan rakyat terhadap kebijakan pemerintah dapat berjalan dengan baik;

3. kebijakan politik pemerintah yang dianggap salah oleh rakyat dapat sekaligus dimintakan pertanggungjawabannya oleh parlemen kepada kabinet;

4. mudah mencapai kesesuaian pendapat antara badan eksekutif dan badan legislatif;

5. menteri-menteri yang diangkat merupakan kehendak dari suara terbanyak di parlemen sehingga secara tidak langsung merupakan kehendak rakyat pula;

6. menteri-menteri akan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas karena setiap saat dapat dijatuhkan oleh parlemen

7. pemerintah yang dianggap tidak mampu mudah dijatuhkan dan diganti dengan pemerintah baru yang dianggap sanggup menjalankan pemerintahan yang sesuai dengan keinginan rakyat.

Keburukan demokrasi perwakilan bersistem parlementer:

1. kedudukan badan eksekutif tidak stabil, karena dapat diberhentikan setiap saat oleh parlemen melalui mosi tidak percaya;

2. sering terjadi pergantian kabinet, sehingga kebijakan politik negara pun labil;

3. karena pergantian eksekutif yang mendadak, eksekutif tidak dapat menyelesaikan program kerja yang telah disusunnya.

4.

Demokrasi

perwakilan

dengan

sistem

pemisahan

kekuasaan

Demokrasi ini berpangkal pada teori pemisahan kekuasaan yang dikemukakan oleh para filsuf bidang politik dan hukum. Pelopornya adalah John Locke (1632-1704) dari Inggris, yang membagi kekuasaan negara ke dalam tiga bidang, yaitu eksekutif, legislatif dan federatif. Untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, ketiga bidang itu harus dipisahkan. Charles Secondat Baron de Labrede et de Montesquieu (1688-1755) asal Prancis, memodifikasi teori Locke itu dalam teori yang disebut Trias Politica pada bukunya yang berjudul L¶Esprit des Lois. Menurut

Montesquieu, kekuasaan negara dibagi menjadi: legislatif (kekuasaan membuat undang-undang), eksekutif (kekuasaan melaksanakan undang-undang) dan yudikatif (kekuasaan mengatasi pelanggaran dan menyelesaikan perselisihan antarlembaga yang berkaitan dengan pelaksanaan undangundang). Ketiga cabang kekuasaan itu harus dipisahkan -

baik

organ/

lembaganya

maupun

fungsinya.

Teori Montesquieu disebut teori pemisahan kekuasaan (separation du puvoir) dan dijalankan hampir sepenuhnya di Amerika Serikat. Di negara itu, kekuasaan legislatif dipegang oleh Kongres, kekuasaan eksekutif oleh Presiden dan kekuasaan yudikatif oleh Mahkamah Agung. Ketiga badan tersebut berdiri terpisah dari yang lainnya untuk menjaga keseimbangan dan mencegah jangan sampai kekuasaan salah satu badan menjadi terlampau besar. Kesederajatan itu menjadikan ketiganya dapat berperan saling mengawasi (check and balance).

Kebaikan kekuasaan:

demokrasi

perwakilan

bersistem

pemisahan

1.pemerintah selama masa jabatannya tidak dapat dijatuhkan oleh parlemen, sehingga pemerintahan dapat berlangsung relatif stabil;

2.pemerintah krisis kabinet;

memiliki

waktu

yang

cukup

untuk

melaksanakan programnya tanpa terganggu oleh adanya

3.sistem check and balance dapat menghindari pertumbuhan kekuasaan yang terlampau besar pada setiap badan;

4.mencegah terjadinya kekuasaan yang absolut (terpusat pada satu orang).

Keburukan demokrasi perwakilan bersistem pemisahan kekuasaan:

1.pengawasan berpengaruh;

rakyat

terhadap

pemerintah

kurang

2. pengaruh rakyat terhadap kebijakan politik negara kurang mendapat perhatian;

3. pada umumnya keputusan yang diambil merupakan hasil negosiasi antara badan legislatif dan eksekutif sehingga keputusan tidak tegas;

4. proses pengambilan keputusan memakan waktu yang lama.

3)

Demokrasi

perwakilan

dengan

sistem

referendum

Demokrasi ini merupakan gabungan antara demokrasi perwakilan dengan demokrasi langsung. Dalam negara yang menganut demokrasi ini parlemen tetap ada, tetapi kinerjanya dikontrol secara langsung oleh rakyat melalui referendum. Jadi, ciri khas demokrasi perwakilan dengan sistem referendum adalah bahwa tugas-tugas legislatif selalu berada

di bawah pengawasan seluruh rakyat karena dalam hal hal tertentu, keputusan parlemen tidak dapat diberlakukan tanpa persetujuan rakyat. Sedangkan mengenai hal lain, keputusan parlemen dapat langsung diberlakukan sepanjang rakyat menerimanya.

Ada dua macam referendum, yaitu referendum obligator dan referendum fakultatif. Referendum obligator adalah

pemungutan suara rakyat yang wajib dilaksanakan mengenai suatu rencana konstitusional. Referendum ini bersifat wajib karena menyangkut masalah penting, misalnya tentang perubahan konstitusi. Perubahan konstitusi tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan rakyat. Sedangkan referendum fakultatif merupakan pemungutan suara rakyat yang tidak bersifat wajib dilakukan mengenai suatu rencana

konstitusional. Referendum fakultatif baru perlu dilakukan apabila dalam waktu tertentu setelah undang-undang

diumumkan pemberlakuannya, sejumlah rakyat meminta diadakan referendum.

Kebaikan demokrasi perwakilan dengan sistem referendum:

1. apabila terjadi pertentangan antara badan organisasi negara, maka persoalan itu dapat diserahkan keputusannya kepada rakyat tanpa melalui partai;

2. adanya kebebasan anggota parlemen dalam menentukan pilihannya, sehingga pendapatnya tidak harus sama dengan pendapat partai/ golongannya.

Keburukan demokrasi perwakilan dengan sistem referendum:

1. pembuatan undang-undang/ peraturan relatif lebih lambat dan sulit;

2. pada umumnya rakyat kebanyakan tidak berpengetahuan cukup untuk menilai atau menguji kualitas produk undangundang.

5. Sejarah Demokrasi Dalam sejarah awal perkembangannya demokrasi juga memakan korban. Socrates, filsuf terkemuka negara Yunani kuno, sangat kritis membela pemikiran-pemikirannya, yaitu agar kaum muda tidak mempercayai para dewa dan mengajari mereka untuk mencapai kebijaksanaan sejati dengan berani bersikap mencintai kebenaran sehingga terhindar dari kedangkalan berpikir.

Para penguasa dan masyarakat Yunani kuno saat itu

menganggap semua kebenaran itu relatif, mereka kaum sofis. Kebenaran relatif ala kaum sofis, contohnya, menurut mereka keberadaan para dewa adalah relatif, bisa berganti-ganti menurut ciptaan manusia. Ditentukan oleh keadaan

masyarakat bukan oleh kebenaran wahyu. Agama dan faham tentang wujud Tuhan adalah relatif, begini boleh begitu boleh.

Orang yang bertani meyakini bahwa segenap usaha untuk mencari makan tergantung kepada sesuatu hal yang gaib. Untuk memohon turun hujan, misalnya, dari mana hujan harus diminta? Mereka punya sawah, ladang yang ditanami padi, jagung, yang akan mati jika tidak turun hujan. Mereka lalu berkata, ³Kepada yang ghaib kita memohon agar diturunkan hujan!´ Begitu pula jika padi telah hamper tua, mereka mohon padinya agar cepat kering jangan ada hujan. Merekapun memohon hujan dihentikan oleh yang ghaib.

Tatkala manusia hidup di hutan rimba, di bawah pohonpohon dan gua-gua mereka mengira bahwa Tuhan berupa pohon, petir, atau sungai. Setelah hidup bercocok tanam dan beternak mereka menyembah binatang atau ciptaan lainnya yang disebut sebagai dewa atau Tuhan mereka.

Dan ketika manusia masuk ke alam industrialisme, banyak yang tidak mengakui Tuhan lagi. Tuhan sudah tidak

dibutuhkan lagi. Karena misalnya kalau mereka perlu listrik tidak perlu memohon kepada yang gaib, tinggal pijit knop saja. Ingin tenaga tinggal nyalakan mesin, mesin itu menjadi tenaga penggerak. Di tangannya mereka menggenggam kepastian.

Ada kisah empat orang buta yang belum pernah tahu bentuk gajah. Datanglah kepada mereka seorang kawan yang menunjukkan kepada mereka rupa gajah itu. Si buta pertama disuruh maju dia meraba dan mendapat belalainya. Dia berkata, ³Oh ternyata gajah itu seperti ular besar yang bisa dibengkokkan. Si buta kedua mendapat ekor gajah. Dia berkata, ³Oh gajah itu seperti cambuk. Si buta ketiga mendapat kakinya. Dia berkata, ³Oh rupanya gajah itu seperti pohon kelapa. Si buta ke empat karena cebol ia tidak bisa memegang apa-apa. Dia pun berkata, ³Oh ternyata gajah itu seperti hawa.´

Socrates sangat meyakini adanya kebenaran mutlak, maka para penguasa Athena menganggap Socrates sebagai oposan. Mereka menganggap Socrates menyesatkan dan meracuni kaum muda dengan ajaran-ajarannya.Socrates menemukan argumen untuk membela diri, yaitu dengan metode induksi (penyimpulan dari khusus ke umum). Dengan metode induksi ini ia menentukan pengertian umum yang berhasil

membuktikan bahwa tidak semua kebenaran itu relatif.

Tetapi para penguasa Athena membuat keputusan secara demokratis bahwa Socrates bersalah dan harus dijatuhi hukuman mati. Meski dibujuk untuk melarikan diri, Socrates tetap menerima vonis matinya. Eksekusi dilangsungkan dengan Socrates memilih minum racun, sekitar tahun 399 sebelum Masehi pada saat ia berumur 70 tahun. Tubuhnya mati oleh racun itu, tapi pemikiran-pemikirannya masih hidup hingga saat ini.

Setelah Socrates wafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf selanjutnya kehilangan kepercayaan kepada demokrasi yang memenangkan dogma orang awam. Para penguasa dengan culas telah memanipulasi demokrasi demi keberlanjutan kekuasaan mereka, sehingga dogma-dogma orang awam bisa mereka wakili tanpa harus mengacu kepada subtansi dan kebenaran dogma-dogma itu. Kemudian Plato, murid dan sahabat Socrates bangkit menentang membludaknya arus relativisme.

Ia

memperkuat

argument

Socrates

dengan

temuan

pikirannya, yaitu ³alam ide´. Menurut Plato kebenaran mutlak sudah ada dalam ide sebagai realitas sebenarnya. Manusia memiliki ide tentang segala sesuatu sejak ia dilahirkan. Itulah yang disebut innead idea (ide bawaan), termasuk ide manusia tentang ³Sang Baik´ yang menjadi

realitas tertinggi, yang dimaksud Plato sebagai Tuhan.

Contoh ide manusia sebagai penentuan kebenaran mutlak, manusia puny aide tentang kucing (kebenaran umum), tetapi ada yang lebih spesifik lagi yang menentukan bahwa kucingnya hitam, maka kebenaran itu sudah bersifat khusus. Ide mengenai kucing merupakan kebenaran objektif, dan kucing hitam adalah bentuk dari kekhususan yang bersifat objektif (umum).

Filsafat dilanjutkan oleh Aristoteles, murid dan sahabat Plato. Seorang yang mendapat pendidikan sebelum menjadi filosof, maka dari itu ia berpikir lebih saintifik dibanding dua filsuf sebelumnya. Di antara cirri filsafat Aristoteles adalah sistematis dan dipengaruhi metode empiris. Oleh sebab itu Aristoteles lebih mementingkan observasi. Ia juga

menampilkan logika yang menuju ke generalisasi sebagai pengembangan dari induksi Socrates, sehingga relativisme semakin tumbang oleh kebenaran mutlak.

Salah satu teori metafisika Aristoteles yang penting adalah bahwa matter (benda) dan form (bentuk) itu bersatu. Matter sebagai subtansi, sedangkan form adalah pembungkusnya. Setiap objek terdiri dari matter dan form. Matter itu potensial, dan form itu aktualitas. Namun, ada subtansi murni tanpa matter, ialah Tuhan. Hal ini dibuktikannya dengan adanya

gerak, pasti ada yang menyebabkan sesuatu bergerak. Baginya Tuhan itu ³Sang Penggerak Pertama´.

Pada zaman Romawi sampai dengan abad pertengahan (abad XV) pelaksanaan demokrasi memngalami kemunduran karena berkembang praktek-praktek tirani dan diktator. Tetapi, sejalan dengan waktu, arti demokrasi modern telah berevolusi pada awal abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan system demokrasi di banyak negara.

Sejak zaman Renaissance (abad ke-19) ajaran demokrasi semakin berkembang dengan pertimbangan bahwa rakyat tidak senang dengan praktek-praktek sewenang-wenang para penguasa, rakyat menuntut persamaan hak dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya, dan pemahaman yang lebih baik terhadap konsep-konsep atau teori-teori demokrasi yang mengarah kepada prinsip-prinsip kemerdekaan dan hak azasi manusia.

Saat ini konsep demokrasi merupakan kata kunci dalam bidang politik, dan menjadi indicator perkembangan politik suatu negara. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai usaha mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Menurut Hans Kelsen, pada dasarnya demokrasi itu adalah

pemerintahan

oleh

rakyat

dan

untuk

rakyat.

Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi tiga kekuasaan politik negara untuk mewujudkan lembaga-lembaga pemerintah yang berwenang

melaksanakan kewenangan eksekutif (lembaga eksekutif), lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menjalankan kewenangan yudikatif (lembaga yudikatif), dan lembagalembaga perwakilan rakyat (di Indonesia DPR) yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan legislative

(lembaga legislatif). Di mana ketiga lembaga negara ini saling lepas (independen) dan sejajar satu sama lain, agar bisa saling mengawasi berdasarkan prinsip checks and balances.

Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh rakyat, atau oleh wakil rakyat yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi rakyat yang diwakilinya (konstituen) yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan. Selain itu, banyak keputusan atau hasil-hasil penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara juga diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum hanya bisa diikuti oleh warga negara yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Banyak negara demokrasi hanya memberi hak pilih kepada rakyat yang telah melewati umur tertentu, misalnya umur 18 tahun ke atas, dan

yang tak memiliki catatan kriminal seperti narapidana atau eks narapidana.

Kedaulatan rakyat yang dimaksud disini bukan hanya kedaulatan memilih anggota-anggota parlemen atau presiden secara langsung, tetapi dalam arti lebih luas. Pemilihan presiden dan anggota-anggota parlemen secara langsung, hanya sedikit dari sekian banyak praktek kedaulatan rakyat, tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi. Walaupun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering disebut pesta demokrasi.

Ini akibat cara berpikir sebagian rakyat yang masih selalu mendewakan tokoh idola sebagai tokoh impian ratu adil, bukan sistem pemerintahan yang bagus. Padahal sebaik apapun seorang pemimpin negara, masa hidupnya jauh lebih singkat dari masa hidup suatu sistem yang telah teruji mampu membangun negara.

Posisi vital demokrasi dalam kaitan pembagian kekuasaan dalam negara (prinsip trias politica) yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Prinsip trias politica sangat penting diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat bahwa kekuasaan absolute pemerintah (eksekutif) tak mampu membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan sering

menimbulkan pelanggaran terhadap hak azasi manusia.

Begitu juga dengan kekuasaan berlebihan di lelmbaga negara lain, misalnya lembaga legislatif yang menentukan angggaran sendiri untuk gaji dan tunjangan-tunjangan anggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, kebaikan bagi rakyat. tidak akan membawa

Setiap lembaga negara harus accountable dan ada mekanisme formal yang menunjukkan akuntabilitas dari setiap lembaga negara, serta mampu secara operasional (bukan hanya secara teori), membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut.Di negara modern, demokrasi tidak lagi bersifat langsung, tetapi bersifat tidak langsung, berdasarkan perwakilan

(representative democracy).

C. PEMILU SEBAGAI SARANA DEMOKRASI Pemilu (Pemilihan Umum) sering disebut sebagai pesta Demokrasi yang dilakukan sebuah Negara. Melalui Pemilu, rakyat memunculkan para calon pemimpin dan menyaring calon-calon tersebut berdasarkan nilai yang berlaku. Keikutsertaan rakyat dalam Pemilu, dapat dipandang juga sebagai wujud partisipasi dalam proses Pemerintahan, sebab melalui lembaga masyarakat ikut menentukan kebijaksanaan dasar yang akan dilaksanakan pemimpin terpilih. Dalam sebuah Negara yang menganut paham Demokrasi, Pemilu menjadi kunci terciptanya demokrasi. Tak ada demokrasi tanpa

diikuti Pemilu. Pemilu merupakan wujud yang paling nyata dari demokrasi. Salah satu perwujudan keterlibatan rakyat dalam proses politik adalah Pemilihan Umum. Demokrasi sebuah bangsa hampir tidak terpahamkan tanpa Pemilu. Sehingga setiap pemerintahan suatu Negara yang hendak menyelenggarakan pemilu selalu menginginkan pelaksanaanya benar-benar mencerminkan proses demokrasi. Pemilu merupakan sarana bagi rakyat untuk ikut serta menentukan figure dan arah kepemimpinan Negara dalam periode waktu tertentu. Ide demokrasi yang menyebutkan bahwa dasar penyelenggaraan Negara adalah kehendak rakyat merupakan dasar bagi

penyelenggaraan pemilu. Pemilu yang teratur dan berkesinambungan saja tidak cukup untuk menghasilkan kepemimpinan yang benarbenar menedekati kehendak rakyat. Pemilu merupakan saran legitimasi bagi sebuah kekuasaan. Setiap penguasa betapapun otoriternya pasati membutuhkan dukungan rakyat secara formal untuk melegitimasi kekuasaanya. Maka selain teratur dan berkesinambungan, masalah system atau mekanisme dalam penyelenggaraan pemilu adalah hal penting yang harus diperhatikan. Hakikat Pemilihan Umum dan Demokrasi Dari berbagai sudut pandang, banyak pengertian mengenai Pemilihan Umum. Tetapi intinya adalah pemilihan umum

merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan

rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pemilihan umum merupakan perwujudan nyata demokrasi dalam praktek bernegara masa kini (modern) karena menjadi sarana utama bagi rakyat untuk menyatakan kedaulatan rakyat atas Negara dan Pemerintah. Pernyataan kedaulatan rakyat tersebut dapat diwujudkan dalam proses pelibatan masyarakat untuk menentukab siapa-siapa saja yang harus menjalankan dan di sisi lain mengawasi pemerintahan Negara. Karena itu, fungsi utama bagi rakyat adalah ³untuk memilih dan melakukan pengawasan terhadap wakil-wakil mereka´. Hakikat Demokrasi Istilah ³demokrasi´ berasal dari Yunani kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Kata ³demokrasi´ berasal dari dua kata yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan. Sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat atau yang lebih dikenal sebagai pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan system ³demokrasi´ di berbagai Negara. Menurut Jeff Hayness (2000) membagi pemberlakuan demokrasi ke dalam tiga model berdasarkan penerapannya, yaitu : 1. Demokrasi formal, ditandai dengan adanya kesempatan untuk

memilih pemerintahannya denga interval yang teratur dan ada aturan yang mengatur pemilu. Peran pemerintah adalah mengatur pemilu dengan memperhatikan proses hukumnya. 2. Demokrasi permukaan (fade) merupakan gejala yang umum di dunia ketiga. Tampak luarnya memang demokrasi, tetapi sama sekali tidak memiliki substansi demokrasi. Pemilu diadakan sekadar para os inglesses ver artinya ³supaya dilihat oleh orang inggris´. Hasilnya adalah demokrasi dengan intensitas rendah yang dalam banyak hal tidak jauh dari sekadar polesan pernis demokrasi yang melapisi struktur politik. 3. Demokrasi substantive menempati ranking paling tinggi dalam penerapan demokrasi. Demokrasi substantive memberi tempat kepada rakyat jelata, kaum miskin, perempuan, kaum muda, golongan minoritas keagamaan dan etnik untuk dapat benar-benar menempatkan kepentingannya dalam agenda politik suatu Negara. Dengan kata lain, demokrasi substantive menjalankan dengan sungguh-sungguh agenda kerakyatan bukan sekadar agenda demorasi atau agenda politik partai semata. Persoalan utama dalam Negara yang tengah melalui proses transisi menuju demokrasi seperti Indonesia saat ini adalah pelembagaan demokrasi. Yaitu bagaimana menjadikan perilaku pengambilan keputusan untuk dan atas nama orang banyak bisa berjalan sesuai dengan norma-norma demokrasi, umumnya yang harus diatasi adalah merubah lemabaga feodalistik (perilaku yang terpola feodal, bahwa ada kedudukan pasti bagi orang-orang

berdasarkan kelahiran atau profesi sebagai bangsawan politik dan yang lain sebagai rakyat biasa) menjadi lembaga yang terbuka dan mencerminkan keinginan orang banyak untuk mendapatkan

kesejahteraan. Untuk melembagakan demokrasi diperlukan hokum dan perundang-undangan dan perangkat structural yang akan terus mendorong terpolanya perilaku demokratis sampai bisa menjadi pandangan hidup. Karena diyakini bahwa dengan demikian kesejahteraan yang sesungguhnya baru dapat dicapai saat individu terlindungi hakhaknya bahkan dibantu oleh Negara untuk dapat teraktualisasikan, saat setiap individu berhubungan dengan individu lain sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku. Ketiga jenis lembaga-lembaga Negara tersebut (eksekutif, yudikatif, dan legislative) adalah lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembagalembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan yudikatif dan lemabag-lembaga perwakilan rakyat (DPR untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Pemilihan Umum Pemilihan umum dalam sebuah Negara yang demokratis menjadi kebutuhan yang tidak terelakan. Melalui pemilihan umum, rakyat yang berdaulat memilih wakil-wakilnya yang diharapakan dapat memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya dalam suatu

pemerintahan yang berkuasa. Pemerintahan yang berkuasa sendiri

merupakan hasil dari pilihan maupun bentukan para wakil rakyat tadi untuk menjalankan kekuasaan Negara.tugas para wakil pemerintahan yang berkuasa adalah melakukan control atau pengawasan terhadap pemerintah tersebut. Dengan demikian, melalui pemilihan umum rakyat akan dapat selalu terlibat dalam proses politik dan secara langsung maupun tidak langsung menyatakan kedaulatan atas kekuasaan Negara dan pemerintah melalui para wakil-wakilnya. Dalam tatanan demokrasi, Pemilu juga menjadi mekanisme atau cara untuk memindahkan konflik kepentingan dari tataran

masyarakat ke tataran badan perwakilan agar dapat diselesaikan secara damai dan adil sehingga kesatuan masyarakat tetap terjamin. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa dalam system demokrasi segala perbedaan atau pertentangan kepentingan di masyarakat tidak boleh diselesaikan cara-cara kekerasan atau ancaman kekerasan, melainkan melalui musyawarah (deliberation). Terdapat dalam Qs:Asy-syura:38: ´Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka´. Untuk mewujudkan Pemilu yang LUBER dan JURDIL dibutuhkan persyaratan minimal, diantaranya : 1. Peraturan perundangan yang mengatur Pemilu harus tidak membuka peluang terjadinya tindak kecurangan maupun

menguntungkan satu atau beberapa pihak tertentu.

2. Peraturan pelaksanaan pemilu yang memuat petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan pemilu harus tidak membuka peluang bagi terjadinya tindak kecurangan maupun menguntungkan satu atau beberapa pihak tertentu. 3. Badan/lembaga penyelenggara pemilu harus bersifat mandiri dan independent, bebas dari campur tangan pemerintah atau partai politik peserta pemilu baik dalam hal kebijakan maupun operasionalnya serta terdiri dari tokoh-tokoh yang kredibilitasnya tidak diragukan. 4. Panitia pemilu di tingkat Nasional maupun daerah harus bersifat mandiri dan independent,bebas dari campur tangan pemerintah atau partai politik peserta pemilu baik dalam hal kebijakan maupun operasionalnya serta terdiri dari tokoh-tokoh yang kredibilitasnya tidak diragukan. Keterlibatan aparat pemerintahan dalam kepanitiaan pmilu sebatas pada dukungan teknis operasional dan hanya bersifat administratif. 5. Partai politik peserta pemilu memiliki kesiapan yang memadai untuk terlibat dalam penyelenggaraan pemilu. Khususnya yang berkaitan dengan kepanitiaan pemilu serta kemampuan

mempersiapkan saksi-saksi ditempat-tempat pemungutan suara. Hubungan Pemilu dengan Sistem Demokrasi Pemilu memang bukanlah segala-segalanya menyangkut

demokrasi. Pemilu adalah sarana pelaksanaan asas demokrasi (sarana bagi penjelmaan rakyat menjadi MPR) dan sendi-sendi demokrasi bukan hanya terletak pada pemilu, tetapi bagaimana pun

pemilu memiliki arti yang sangat penting dalam proses demokrasi dalam dinamika ketatanegaraan. Dan yang tidak boleh kita lupakan pemilu adalah peristiwa perhelatan rakyat yang paling akbar yang hanya terjadi lima tahun dan hanya pemilulah rakyat secara langsung tanpa kecuali benarbenar menunjukkan eksistensinya sebagai pemegang kedaulatan dalam Negara berdasarkan itulah agaknya tidak berlebihan bila ditegaskan bahwa pemilu sebagai wujud paling nyata dari demokrasi. Masalah Kontemporer Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia belum dapat berjalan maksimal karena pada kenyataannya lebih banyak rakyat untuk memilih gol put (abstain) dalam proses pemilihan pemimpin di Indonesia. Menurut sumber yang kami peroleh, ada yang menyatakan, ³Sebenarnya sistem Demokrasi tidak salah tetapi pelaksanaannya belum maksimal di karenakan banyak pihak yang tidak sepadan dengan system ini, mereka melakukan gol put (abstain) itu adalah salah satu cara mereka mempergunakan hak Demokrasi yang di berikan Pemerintah kepada seluruh warga Indonesia. Salah jika orang menganggap ini adalah sebuah kegagalan dalam sistem Demokrasi.´

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful