P. 1
Bab II Pemilu Sebagai Sarana Demokrasi

Bab II Pemilu Sebagai Sarana Demokrasi

5.0

|Views: 8,733|Likes:
Published by Ani_Garningsih_7529

More info:

Published by: Ani_Garningsih_7529 on Jan 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/16/2013

pdf

text

original

Sections

BAB II

PEMILU SEBAGAI SARANA DEMOKRASI

A. PEMILU

1. Pengertian Pemilu

Dari berbagai sudut pandang, banyak pengertian mengenai

pemilihan umum. Tetapi intinya adalah pemilihan umum

merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan

rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan

kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dan, ini

adalah inti kehidupan demokrasi. Pemilu adalah suatu proses di

mana para pemilih memilih orang-orang untuk mengisi jabatan-

jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan yang disini beraneka-

ragam, mulai dari Presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat

pemerintahan, sampai kepala desa. Pada konteks yang lebih luas,

Pemilu dapat juga berarti proses mengisi jabatan-jabatan seperti

ketua OSIS atau ketua kelas, walaupun untuk ini kata 'pemilihan'

lebih sering digunakan. Sistem pemilu digunakan adalah asas luber

dan jurdil. Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga disebut

konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan

janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye.

Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan,

menjelang hari pemungutan suara. Setelah pemungutan suara

dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu

ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang

sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan

disosialisasikan ke para pemilih.

Pemilu dapat dipahami juga sebagai berikut:

1. Dalam undang-undang nomor 3 tahun 1999 tentang pemilihan

umum dalam bagian menimbang butir a sampai c disebutkan:

a. Bahwa berdasarkan undang-undang dasar 1945, negara

republik indonesia adalah negara yang berkedaulatan

rakyat;

b. Bahwa pemilihan umum merupakan sarana untuk

mewujudkan kedaulatan rakyat dalam rangka

keikutsertaan rakyat dalam penyelenggaraan

pemerintahan negara

c. Bahwa pemilihan umum umum bukan hanya bertujuan

untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk

dalam

lembaga

Permusyawaratan/Perwakilan,

melainkan juga merupakan suatu sarana untuk

mewujudkan penmyusunan tata kehidupan Negara yang

dijiwai semangat Pancasila dan Undang-Undang Dasar

1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga dalam bab I ketentuan umum pasal 1

ayat 1 disebutkan bahwa: "pemilihan umum adalah

sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam negara

kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pancasila

dan undang-undang 1945.

2. Dalam pernyataan umum hak asasi manusia PBB pasal 21 ayat

1 dinyatakan bahwa "setiap orang mempunyai hak untuk

mengambil bagian dalam pemerintahan negerinya, secara

langsung atau melalui wakil-wakilnya yang dipilih secara

bebas." Hak untuk berperan serta dalam pemerintahan ini

berkaitan dan tidak terpisahkan dengan hak berikutnya dalam

ayat 2 yaitu "setiap orang mempunyai hak untuk memperoleh

ekses yang sama pada pelayanan oleh pemerintah negerinya."

Selanjutnya untuk mendukung ayat-ayat tersebut, dalam ayat 3

ditegaskan asas untuk mewujudkan kedaulatan rakyat yang

melandasi kewenangan dan tindakan pemerintah suatu negara,

yaitu "kehendak rakyat hendaknya menjadi dasar kewenangan

pemerintah; kehendak ini hendaknya dinyatakan di dalam

pemilihan-pemilihan sejati dan periodik yang bersifat umum

dengan hak pilih yang sama dan hendaknya diadakan dengan

pemungutan suara rahasia atau melalui prosedur pemungutan

suara bebas".

Pernyataan umum Hak Asasi Manusia PBB pasal 21 khususnya

ayat 3 tersebut merupakan penegasan asas demokrasi yaitu

bahwa kedaulatan rakyat harus mejadi dasar bagi kewenangan

pemerintah dan kedaulatan rakyat melalui suatu pemilihan

umum yang langsung, umum, bebas, dan rahasia.

3. Pemilihan umum merupakan perwujudan nyata demokrasi

dalam praktek bernegara masa kini (modern) karena menjadi

sarana utama bagi rakyat untuk menyatakan kedaulatannya atas

negara dan pemerintah. Pernyataan kedaulatan rakyat tersebut

diwujudkan dalam proses pelibatan masyarakat untuk

menentukan siapa-siapa saja yang harus menjalankan dan di

sini lain mengawasi pemerintahan negara. Karena itu, fungsi

utama bagi rakyat adalah "untuk memilih dan melakukan

pengawasan terhadap wakil-wakil mereka".

Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk

Republik (pasal 1 ayat (1) UUD 1945) yang kedaulatannya berada di

tangan rakyat. Untuk mewujudkannya dilaksanakan pemilu. Di bawah

ini beberapa pengertian pemilu :

a. Menurut UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu. Pemilu

adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam negara

kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

b. Pemilihan umum merupakan perwujudan nyata demokrasi

dalam praktek bernegara masa kini (modern) karena

menjadi sarana utama bagi rakyat untuk menyatakan

kedaulatannya atas negara dan pemerintah. Pernyataan

kedaulatan rakyat tersebut diwujudkan dalam proses

pelibatan masyarakat untuk menentukan siapa-siapa saja

yang harus menjalankan dan di sisi lain mengawasi

pemerintahan negara. Karena itu, fungsi utama bagi rakyat

adalah "untuk memilih dan melakukan pengawasan

terhadap wakil-wakil mereka".

c. Pemilihan Umum adalah salah satu agenda dalam

demokratisasi, yaitu keterkaitan dengan persoalan

kepemimpinan politik. Sebab peran kepemimpinan politik

menjadi hal utama (vital) dalam transformasi

otoriterianisme menuju demokrasi (Samuel P. Huntington).

Bahkan lebih mendasar proses pergantian kepemimpinan

juga diikuti dengan model perwakilan rakyat, sejauh mana

efektivitas ³kedaulatan rakyat´ dapat dilihat atau

dibuktikan.

d. Pemilihan Umum merupakan wahana formal dalam

membentuk tatanan negara dan masyarakat (state and

society formation) untuk menuju tatanan yang lebih baik.

e. Pemilihan Umum adalah filter kepercayaan rakyat terhadap

partai politik yang menjadi pilihan rakyat. Alasan mendasar

pada Pemilihan Umum merupakan ajang rekrutmen

terakhir untuk menyeleksi secara alamiah² proses

keterwakilan politik pemerintah. Melalui Pemilihan Umum

dapat diketahui partai politik yang mendapat kepercayaan

rakyat.

f. Menurut R William Liddle dalam sistem pemerintahan

yang mulai demokrasi, Pemilihan Umum dianggap sebagai

penghubung antara prinsip kedaulatan rakyat dan praktek

kekuasaan atau pemerintahan oleh sejumlah elit partai.

Maka itu itu pemilihan umum adalah syarat dalam proses

demokrasi, namun belum merupakan jaminan sebagai

wujud dari pelaksanaan system kekuasaan secara

demokratis. Karena demokrasi masih menuntut syarat lain

selain Pemilihan Umum sebagai cermin kehendak rakyat

dan terintegrasinya warga negara ke dalam proses politik,

yaitu sejauh mana rakyat memberikan legitimasi politik

dalam proses Pemilihan Umum tersebut dan pada kapasitas

kontrol terhadap kekuasaan pemerintahan. Legitimasi dan

kontrol kekuasaan pemerintahan adalah sarana dasar yang

dapat dicermati dalam sistem Pemilihan Umum yang

diselenggarakannya. Apakah termobilisasi atau sepenuhnya

wujud dari partisipasi politik rakyat.

g. Dalam tatanan demokrasi, Pemilu adalah mekanisme atau

cara untuk memindahkan konflik kepentingan dari tataran

masyarakat ke tataran badan perwakilan agar dapat

diselesaikan secara damai dan adil sehingga kesatuan

masyarakat tetap terjamin.

h. Menurut UU No 15 tahun 1965, pemilihan umum adalah

suatu alat yang penggunaanya tidak boleh mengakibatkan

rusaknya sendi-sendi demokrasi dan bahkan menimbulkan

hal-hal yang memnderitakan rakyat, tetapi harus menjamin

suksesnya perjuangan Orde Baru, yaitu tetap tegaknya

Pancasila dan dipertahankannya Undang-Undang Dasar

1945.

Dari berbagai sudut pandang, banyak pengertian mengenai

pemilihan umum. Tetapi intinya adalah pemilihan umum

merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan

rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan

kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

2. Tujuan Pemilu

Pemilihan Umum diselenggarakan bukan hanya sekedar

memilih wakil-wakil rakyat untuk duduk dalam Lembaga

Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat, dan juga tidak untuk

menyusun Negara baru dengan dasar falsafah Negara baru, tetapi

suatu pemilihan wakil-wakil rakyat oleh rakyat yang mampu

membawakan isi hati nurani rakyat dalam melanjutkan

perjuangan dan mengembangkan kemerdekaan Negara Republik

Indonesia yang bersumber pada Proklamasi 17 Agustus 1945,

guna memenuhi dan mengembangkan Amanat Penderitaan

Rakyat.

Pemilihan Umum bagi suatu negara demokrasi sangat

penting artinya untuk menyalurkan kehendak asasi politiknya,

antara lain sebagai berikut:

a. Untuk mendukung atau mengubah personel dalam lembaga

legislatif.

b. Adanya dukungan mayoritas rakyat dalam menentukan

pemegang kekuasaan eksekutif untuk jangka waktu tertentu.

c. Rakyat (melalui perwakilan) secara periodik dapat

mengoreksi atau mengawasi eksekutif.

Mohammad Kusnardi, SH. (1988:330-331) menyatakan :

bahwa paling tidak ada 3 macam tujuan Pemilihan Umum, yaitu:

a. Memungkinkan terjadinya peralihan pemerintahan secara

aman dan tertib;

b. Untuk melaksanakan kedaulatan rakyat; dan

c. Dalam rangka dalam melaksanakan hak-hak asasi manusia.

Undang-undang pemilihan umum

Pada bagan di bawah ini kita dapat mengetahui tentang UU Pemilu

3. Asas Pemilu

Pemilu diselenggarakan secara demokratis dan transparan,

jujur dan adil dengan mengadakan pemberian dan pemungutan

suara secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Jadi

berdasarkan Undang-undang tersebut Pemilu menggunakan azas

sebagai berikut :

a. Langsung : Yaitu rakyat pemilih mempunyai hak untuk

secara langsung memberikan suaranya, sesuai dengan

kehendak hati nuraninya tanpa perantara dan tanpa tingkatan.

b. Umum : Pada dasarnya semua warga negara yang memenuhi

persyaratan minimal dalam usia, yaitu sudah berumur 17

tahun atau telah pernah kawin, berhak ikut memilih dalam

Pemilu. Warga negara yang sudah berumur 21 tahun berhak

dipilih.

c. Bebas : Setiap warga negara yang memilih menentukan

pilihannya tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun. Dalam

melaksanakan haknya setiap warga negara dijamin

keamanannya, sehingga dapat memilih sesuai dengan

kehendak hati nurani dan kepentingannya.

d. Rahasia : Yang berarti dalam memberikan suaranya, pemilih

dijamin bahwa pilihannya tidak akan diketahui oleh pihak

manapun dan dengan jalan apapun. Azas rahasia ini tidak

berlaku lagi bagi pemilih yang telah keluar dari tempat

pemungutan suara yang secara suka rela bersedia

mengungkapkan pilihannya kepada pihak manapun.

e. Jujur : Yang berarti bahwa penyelenggara/pelaksana,

pemerintah dan partai politik peserta Pemilu, pengawas, dan

pemantau Pemilu, termasuk pemilih serta semua pihak yang

terlibat secara tidak langsung harus bersikap dan bertindak

jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

f. Adil : Berarti dalam penyelenggaraan Pemilu setiap pemilih

dan Parpol peserta Pemilu mendapat perlakuan yang sama

serta bebas dari kecurangan pihak manapun.

4. Landasan Pemilihan Umum

Pelaksanaan Pemilu di Indonesia didasarkan pada landasan

berikut :

a. landasan Ideal, yaitu Pancasila, terutama sila kerakyatan yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan/ perwakilan.

b. landasan Konstitusional; yaitu UUD 1945 yang termuat di

dalam

:

1). Pembukaan Alinea ke empat

2).Batang

Tubuh

pasal

1

ayat

2

3). Penjelasan umum tentang sistem pemerintahan Negara

landasan operasional; yaitu GBHN yang berupa ketetapan-

ketetapan MPR serta peraturan perundangan-undangan

lainnya.

5. Sistem Pemilu

Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam Pemilihan

Umum, akan tetapi umumnya berkisar ada dua prinsip pokok,

yaitu :

a. single-member constituency (satu daerah pemilihan memiliki

satu wakil ; biasanya disebut system distrik); dan

b. multy-member constituency (satu daerah pemilihan memilih

beberapa wakil; biasanya dinamakan/ proportional

representation atau system perwakilan berimbang.

Dibawah ini akan lebih dijelaskan mengenai kedua sistem

tersebut :

a. Sistem Distrik

Sistem Distrik merupakan sistem Pemilihan Umum yang

paling tua dan didasarkan atas kesatuan geografis. Setiap

kesatuan geografis mempunyai satu wakil dalam Dewan

Perwakilan Rakyat. Untuk keperluan itu Negara dibagi dalam

sejumlah besar distrik yang jumlah wakil rakyat dalam

Dewan Perwakilan Rakyat ditentukan oleh jumlah distrik.

Calon yang dalam satu distrik memperoleh suara terbanyak

adalah yang menang, sedangkan suara-suara yang ditujukan

kepada calon-calon lain dalam distrik itu dianggap hilang dan

tidak diperhitungkan lagi, bagaimana pun kecilnya selisih

kekalahannya.

Kelemahan sistem distrik ini antara lain:

1). Sistem ini kurang memperhitungkan adanya partai-partai

kecil dan golongan minoritas, apalagi jika golongan ini

terpancar dalam beberapa distrik;

2). Sistem ini kurang respresentatif dalam arti bahwa calon

yang kalah dalam suatu distrik, kehilangan suara-suara

yang telah mendukungnya.

Disamping kelamahan-kelemahan diatas, Pemilihan

Umum bersistem distrik memiliki beberapa kelebihan,

diantaranya adalah:

1). Karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih dapat

dikenal oleh penduduk distrik, sehingga hubungannya

dengan penduduk lebih erat;

2). Sistem ini lebih mendorong ke arah integrasi partai-partai

politik, karena kursi yang diperebutkan dalam setiap

distrik pemilihan hanya satu;

3). Berkurangnya partai dan meningkanya kerjasama antara

partai-partai mempermudah terbentuknya pemerintahan

yang stabil dan meningkatkan stabilitas nasional;

4). Sistem ini sederhana dan murah untuk diselenggarakan.

b. Sistem Perwakilan Berimbang

Sistem ini dimaksud untuk menghilangkan beberapa

kelemahan dari sistem distrik. Gagasan pokoknya ialah

sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya. Dalam sistem

ini setiap suara dihitung, dalam arti bahwa suara lebih banyak

yang diperolah sutau partai atau golongan dalam suatu daerah

pemilihan dapat ditambahkan pada jumlah suara yang

diterima oleh partai/golongan itu dalam daerah pemilihan

lain, untuk menggenapkan jumlah suara yang diperlukan

guna memperoleh kursi tambahan.

Sistem perwakilan berimbang ini sering

dikombinasikan dengan beberapa prosedur lain, misalnya

dengan sistem daftar (lyst system). Dalam sistem daftar setiap

partai/golongan mengajukan satu daftar calon dan si pemilih

memilih satu daftar. Dengan demikian, memilih satu partai

dengan semua calon yang diajukan oleh partai itu untuk

bermacam-macam kursi untuk diperebutkan.

Dalam sistem ini ada beberapa kelemahan :

1). sistem ini mempermudah pragmentasi partai dan

timbulnya partai-partai baru;

2). wakil yang terpilih merasa dirinya lebih terikat kepada

partai dan kurang merasakan loyalitas kepada daerah

yang telah memilihnya; dan

3). banyaknya partai mempersukar terbentuknya

pemerintah yang stabil oleh karena umumnya harus

mendasarkan diri atas koalisis dari dua partai atau lebih.

Di samping kelemahan tersebut, sistem ini memiliki

Satu keuntungan besar, yaitu bahwa sistem ini bersifat

refresentatif dalam arti bahwa setiap suara akan turut

diperhitungkan dan praktis tidak ada suara yang hilang.

Golongan-golongan bagaimanapun dapat menempatkan

wakilnya dalam badan perwakilan rakyat. Masyarakat yang

heterogen, umumnya lebih tertarik pada sistem ini, oleh

karena dianggap lebih menguntungkan bagi masing-masing

golongan (Budiardjo, 1978 : 177-180).

c. Sistem Pemilihan Umum di Indonesia

Dalam massa Orde Baru ini, sistem pelaksanaan

Pemilihan Umum (di Indonesia) adalah sistem propotional

refresentation dengan stelsel pemilihan lijsten stelsel.

Misalnya jumlah anggota DPR yang dipilih dalam Pemilihan

Umum di Jawa seimbang dengan jumlah anggota yang

dipilih diluar Jawa; untuk menentukan banyaknya wakil

dalam setiapa pemilihan dipakai dasar perhitungan tiap-tiap-

paling sedikit 400.000 penduduk memperoleh seorang wakil,

dengan ketentuan bahwa tiap-tiap daerah pemilihan

mempunyai wakil sekurang-kurangnya sebanyak Daerah

Tingkat II yang terdapat dalam Daerah Tingkat I dan tiap-tiap

Daerah Tingkat II menpunyai sekurang-kurangnya seorang

wakil.

Hal tersebut di atas akan lebih jelas bila

memperhatikan rumusan dalam UU No.1 Tahun 1985 Pasal 5

Ayat (1-5) yang menyatakan, bahwa :

1). Jumlah anggota DPR yang dipilih bagi tiap daerah

pemilihan ditetapkan berdasarkan imbangan jumlah

penduduk yang terdapat dalam daerah pemilihan

tersebut.

2). Hal yang termaktub dalam ayat (1) tidak mengurangi

ketentuan bahwa :

a). jumlah wakil dalam setiap daerah pemilihan

sekurang-kurangnya sama dengan jumlah daerah

tingkat II yang ada dalam daerah pemilhan yang

bersangkutan;

b). Tiap daerah Tingkat II sekurang-kurangnya

mempunyai seorang wakil.

c). Untuk keperluan Pemilihan Umum, Menteri Negeri

dapat menetapkan pembagian daerah tingkat I yang

belum terbagi dalam daerah tingkat II, dalam

daerah-daerah administratif yang setingkat dengan

daerah tingkat II.

d). Jumlah anggota dalam daerah pemilihan yang

terbagi dalam daerah-daerah administratif seperti

yang termaksud dalam ayat (3) ditetapkan 8

(delapan) anggota tanpa mengurangi jiwa ayat (1)

dan ayat (2) sub b.

e). Jumlah anggota DPR dan DPRD yang dipilih

ditetapkan berdasarkan ketentuan Undang-Undang

tentang Susunan dan Kedudukan Majelis

permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan

Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

6. Sejarah Pemilu di Indonesia

Pemilu 1955.

Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa

Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau

dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi,

apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak

demokratis?

Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan

dipro-klamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945,

pemerintah waktu itu sudah menyatakan keinginannya untuk bisa

menyele-nggarakan pemilu pada awal tahun 1946. Hal itu

dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden

Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran

tentang pembentukan par-tai-partai politik. Maklumat tersebut

menyebutkan, pemilu untuk me-milih anggota DPR dan MPR akan

diselenggarakan bulan Januari 1946. Kalau kemudian ternyata pemilu

pertama tersebut baru terselenggara hampir sepuluh tahun setelah

kemudian tentu bukan tanpa sebab.

Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat

X, pemilu 1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September

1955 untuk memlih anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember

1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante. Dalam

Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu yang akan diadakan

Januari 1946 adalah untuk memilih angota DPR dan MPR, tidak ada

Konstituante.

Keterlambatan dan ³penyimpangan´ tersebut bukan tanpa sebab

pula. Ada kendala yang bersumber dari dalam negeri dan ada pula

yang berasal dari faktor luar negeri. Sumber penyebab dari dalam

antara lain ketidaksiapan pemerintah menyelenggarakan pemilu, baik

karena belum tersedianya perangkat perundang-undangan untuk

mengatur penyelenggaraan pemilu maupun akibat rendahnya stabilitas

keamanan negara. Dan yang tidak kalah pentingnya, penyebab dari

dalam itu adalah sikap pemerintah yang enggan menyelenggarakan

perkisaran (sirkulasi) kekuasaan secara teratur dan kompetitif.

Penyebab dari luar antara lain serbuan kekuatan asing yang

mengharuskan negara ini terlibat peperangan.

Tidak terlaksananya pemilu pertama pada bulan Januari 1946

seperti yang diamanatkan oleh Maklumat 3 Nopember 1945, paling

tidak disebabkan 2 (dua) hal :

1. Belum siapnya pemerintah baru, termasuk dalam penyusunan

perangkat UU Pemilu;

2. Belum stabilnya kondisi keamanan negara akibat konflik internal

antar kekuatan politik yang ada pada waktu itu, apalagi pada saat yang

sama gangguan dari luar juga masih mengancam. Dengan kata lain

para pemimpin lebih disibukkan oleh urusan konsolidasi.

Namun, tidaklah berarti bahwa selama masa konsolidasi

kekuatan bangsa dan perjuangan mengusir penjajah itu, pemerintah

kemudian tidak berniat untuk menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi

kuat bahwa pemerintah punya keinginan politik untuk menyelengga-

rakan pemilu. Misalnya adalah dibentuknya UU No. UU No 27 tahun

1948 tentang Pemilu, yang kemudian diubah dengan UU No. 12 tahun

1949 tentang Pemilu. Di dalam UU No 12/1949 diamanatkan bahwa

pemilihan umum yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak

langsung). Sifat pemilihan tidak langsung ini didasarkan pada alasan

bahwa mayoritas warganegara Indonesia pada waktu itu masih buta

huruf, sehingga kalau pemilihannya langsung dikhawatirkan akan

banyak terjadi distorsi.

Kemudian pada paroh kedua tahun 1950, ketika Mohammad

Natsir dari Masyumi menjadi Perdana Menteri, pemerintah

memutuskan untuk menjadikan pemilu sebagai program kabinetnya.

Sejak itu pembahasan UU Pemilu mulai dilakukan lagi, yang

dilakukan oleh Panitia Sahardjo dari Kantor Panitia Pemilihan Pusat

sebelum kemudian dilanjutkan ke parlemen. Pada waktu itu Indonesia

kembali menjadi negara kesatuan, setelah sejak 1949 menjadi negara

serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS).

Setelah Kabinet Natsir jatuh 6 bulan kemudian, pembahasan

RUU Pemilu dilanjutkan oleh pemerintahan Sukiman Wirjosandjojo,

juga dari Masyumi. Pemerintah ketika itu berupaya menyelenggarakan

pemilu karena pasal 57 UUDS 1950 menyatakan bahwa anggota DPR

dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum.

Tetapi pemerintah Sukiman juga tidak berhasil menuntaskan

pembahasan undang-undang pemilu tersebut. Selanjutnya UU ini baru

selesai dibahas oleh parlemen pada masa pemerintahan Wilopo dari

PNI pada tahun 1953. Maka lahirlah UU No. 7 Tahun 1953 tentang

Pemilu. UU inilah yang menjadi payung hukum Pemilu 1955 yang

diselenggarakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Dengan

demikian UU No. 27 Tahun 1948 tentang Pemilu yang diubah dengan

UU No. 12 tahun 1949 yang mengadopsi pemilihan bertingkat (tidak

langsung) bagi anggota DPR tidak berlaku lagi.

Pemilu yang pertama kali tersebut berhasil diselenggarakan

dengan aman, lancar, jujur dan adil serta sangat demokratis. Pemilu

1955 bahkan mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari

negara-negara asing. Pemilu ini diikuti oleh lebih 30-an partai politik

dan lebih dari seratus daftar kumpulan dan calon perorangan.

Yang menarik dari Pemilu 1955 adalah tingginya kesadaran

berkom-petisi secara sehat. Misalnya, meski yang menjadi calon

anggota DPR adalah perdana menteri dan menteri yang sedang

memerintah, mereka tidak menggunakan fasilitas negara dan

otoritasnya kepada pejabat bawahan untuk menggiring pemilih yang

menguntungkan partainya. Karena itu sosok pejabat negara tidak

dianggap sebagai pesaing yang menakutkan dan akan memenangkan

pemilu dengan segala cara. Karena pemilu kali ini dilakukan untuk dua

keperluan, yaitu memilih anggota DPR dan memilih anggota Dewan

Konstituante, maka hasilnya pun perlu dipaparkan semuanya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->