P. 1
makalah SSS

makalah SSS

4.0

|Views: 2,772|Likes:
Published by sri wahyuni
makalah ini berisi tentang anatomi dan histologi telinga, fisiologi pendengaran dan keseimbangan serta otitis media
makalah ini berisi tentang anatomi dan histologi telinga, fisiologi pendengaran dan keseimbangan serta otitis media

More info:

Published by: sri wahyuni on Jan 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Sistem saraf perifer terdiri dari serat –serat saraf yang membawa informasi antara SSP

dan bagian – bagian lain tubuh. Divisi aferen system saraf perifer mengirim informasi mengenai lingkungan internal dan eksternal ke SSP.Informasi aferen mengenai lingkungan internal, misalnya konsentrasi CO2 di cairan tubuh, tidak pernah mencapai kesadaran, tetapi masukan ini penting untuk menentukan keluaran eferen yang sesuai untuk mempertahankan homeostasis. Masukan eferen yang tidak mencapai tingkat kesadaran dikenal sebagai masukan sensorik dan mencakup sensasi somatik (sensasi somatik dan propiosepsi) dan indera khusus ( penglihatan, pendengaran , pengecapan, dan penghidu). Pada makalah ini akan dibahas lebih jauh tentang indera pendengaran yaitu telinga.

Pendengaran sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melakukan berbagai kegiatan seperti berbicara dengan orang lain, memanggil orang, bertukar informasi, bahkan untuk memberikan ketenangan bila kita mendengar musik. Untuk dapat mendengar, kita memiliki indera yang disebut telinga. Telinga melaksanakan dua fungsi yang berbeda yaitu mendengar dan sensasi keseimbangan. Apabila telinga mengalami kelainan maka fungsinya akan terganggu. Ada banyak penyakit yang terdapat di telinga dan dapat menyebabkan gangguan pendengaran seperti barotrauma, obstruksi tuba, otosklerosis, otitis eksterna, otitis media dll. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel – sel mastoid. Otitis media merupakan masalah utama sebelum antibiotik ditemukan pada pertengahan 1930-an dan sampai sekarang masalah otitis media masih sering muncul di negara kita.

Oleh karena itu, penulis akan menjabarkan secara sistematis tentang telinga dan otitis media yang dimulai dari anatomi dan histologi telinga, fisiologi pendengaran dan keseimbangan, otitis media. BAB II 1

PEMICU

F, laki – laki, 18 tahun datang ke praktek dokter umum dengan keluhan telinga kanan berair dan berbau busuk, sejak 3 bulan yang lalu.Telinga berair dialami sejak masa kanak – kanak, bersifat hilang timbul dam selama ini F dibawa berobat ke puskesmas dan diberikan obat tetes telinga. F juga mengeluh kurangnya pendengaran pada telinga kanan dan disertai hoyong atau pusing berputar. Apa yang terjadi pada F?

BAB III 2

MORE INFO

Status lokalisata Pada pemeriksaan : Otoskopi telinga kanan : pada liang telinga dijumpai secret mukopurulen, berbau busuk dan tampak jaringan granulasi. Membran timpani kana tidak tampak. Otoskopi telinga kiri : liang telinga normal, membrane timpani utuh, refleks cahaya (+). Pemeriksaan rinoskopi anterior, rinoskopi posterior dan laringoskopi indirek normal. Tes pendengaran sederhana : Telinga kanan : rinne test (-), weber lateralisasi ke kanan, Schwabach memanjang. Telinga kiri : rinne test (+), Schwabach memanjang sama dengan pemeriksa. Tes fistula : nystagmus (+) Pemeriksaan kutur dan sensitivitas secret telinga : Pseudomonas aeroginosa. Pemeriksaan radiologi ( foto polos mastoid kanan – posisi schuller) Tampak perselubungan di liang telinga kanan. Pneumatisasi mastoid kanan Menghilang. Tampak bayangan radioluscent pada mastoid kanan. Kesan : dijumpai kolesteatoma pada mastoid kanan. Pemeriksaan audiometri nada murni : Telinga kanan : tuli campur sedang Telinga Kiri : ambang dengar normal Apa kesimpulan anda mengenai penyakit F sekarang?

.

BAB IV PEMBAHASAN 3

4.1 Anatomi dan Histologi Telinga 4.1.1 Anatomi Telinga Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar , tengah dan dalam. Telinga luar terdiri dari pinna ( bagian daun telinga, aurikula), meatus auditorius eksterna dan membrane timpani. Pinna adalah suatu lempeng tulang rawan terbungkus kulit, mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkannya ke saluran tengah luar.Pintu masuk ke kanalis telinga ( saluran telinga ) dijaga oleh rambut – rambut halus. Kulit yang melapisi saluran telinga mengandung kelenjar – kelenjar keringat termodifikasi yang menghasilkan serumen , suatu sekresi lengket yang menangkap partikel – partikel asing yang halus. Rambut halus dan serumen tersebut membantu mencegah partikel asing masuk ke dalam telinga dan mencederai telinga. Membran timpani adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya, umbo, mengarah ke medial. Membran timpani umumnya bulat.

Telinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai kotak dengan 6 sisi. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut berbentuk baji. Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fossa kranii media. Pada bagian atas dinding posterior terdapat auditus ad antrum tulang mastoid dan dibawahnya adalah saraf fasialis. Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang di sebelah superolateral menjadi sinus sigmoideus dan lebih ke tengah menjadi sinus transverses.Dinding lateral telinga tengah adalah tulang epitimpanium dibagian atas, membrane timpani, dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah.Bagian yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran koklea pertama. Rongga mastoid berbentuk seperti pyramid bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal.Pada telinga tengah dapat kita jumpai tulang – tulang pendengaran yaitu maleus, incus, dan stapes.Maleus melekat pada membrane timpani sedangkan stapes melekat pada jendela oval. Maleus dan incus dipersarafi oleh saraf trigeminus dan nervus mandibularis dan diikat oleh m.tensor timpani sedangkan stapes dipersarafi oleh nervus fasialis dan diikat m.stapedius. Tuba eustachius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Bagian lateral tuba eustachius adalah yang bertulang sementara dua pertiga bagian medial bersifat kartilaginosa. Tuba dalam keadaan normal tertutup , tetapi ndapat dibuat terbuka dengan gerakan mengunyah, menguap atau menelan. 4

Telinga dalam, bentuk telinga dalam sedemikian kompleksnya sehingga disebut sebagai labirin. Derivat vesikel otika membentuk suatu rongga tertutup yaitu labirin membrane yang terisi endolimfe, satu – satunya cairan ekstraselluler dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium. Labirin membran dikelilingi oleh cairan perilimfe ( tinggi natrium, rendah kalium) yang terdapat dalam kapsul otika bertulang. Labirin tulang dan membrane memiliki bagian vestibular dan bagian koklear. Bagian vestibular ( pars superior) berhubungan dengan keseimbangan, sementara bagian koklearis (pars inferior) merupakan organ pendengaran kita.

Koklea melingkar seperti rumah siput dengan dua dan satu setengah putaran. Aksis dari spiral tersebut dikenal sebagai modiolus, berisi berkas saraf dan suplai arteri dari arteri vertebralis.Rongga koklea bertulang dibagi menjadi tiga bagian oleh duktus koklearis yang panjangnya 35 mm dan berisi endolimfe. Bagian atas dalah sakala vestibule, berisi perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh membrane Reissner yang tipis. Bagian bawah adalah skala timpani juga mengandung perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh membrane basiliaris. Perilimfe pada kedua skala berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui celah yang dikenal sebagai helikotrema.Terletak diatas membrane basiliaris dari basis ke apeks adalah organ corti, yang mengandung organel – organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ korti terdiri dari satu barisan sel rambut dalam dan tiga baris sel rambut luar. Sel – sel ini menggantung lewat lubang – lubang lengan horizontal dari suatu jungkat jangkit yang dibentuk oleh sel – sel penyokong.Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah rambut. Pada permukaan sel – sel rambut terdapat streosilia yang melekat pada suatu selubung diatasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa dan aselular, dikenal sebagai membrane tektorial.

Bagian vestibulum telinga dalam bentuk oleh sakulus, utrikulus, dan kanalis semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung macula yang diliputi oleh sel – sel rambut. Menutupi sel – sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan 5

dengan berat jenis yang lebih besar daripada endolimfe.Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia sel – sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada sel reseptor.

Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus sempit yang juga merupakan saluran menuju endolimfatikus.Makula utrikulus terletak pada bidang yang tegak lurus terhadap macula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada utrikulus. Masing – masing kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel – sel rambut Krista. Sel – sel rambut menonjol pada suatu kupula gelatinosa. Pembuluh darah telinga ada dua yaitu arteri temporalis superior dan arteri auricularis superior. (gambar 1, lampiran) 4.1.2 Histologi Telinga Telinga luar, aurikula (pinna) terdiri atas tulang rawan elastin, yang ditutupi kulit disemua sisinya. Meatus auditorius eksterna terdiri atas epitel berlapis skuamosa, terdapat folikel rambut, kelenjar sebasea, dan kelenjar seruminosa. Satu pertiga dinding luarnya terdiri atas tulang rawan elastin dan dua pertiga dinding dalam terdiri atas tulang temporal. Membran timpani terdiri atas dua bagian yaitu pars flaksida dan pars tensa. Pars flaksida merupakan lapisan epidermis dan terdiri dari epitel selapis kuboid. Pars tensa adalah lapisan epidermis dan terdiri dari epitel selapis kuboid. (gambar 2, lampiran)

Telinga tengah, dilapisi oleh selapis epitel gepewng. Di dekat tuba eustachius berangsur berubah menjadi epitel bertingkat silindris bersilia. Tulang – tulang pendengaran ( maleus, incus, dan stapes) memiliki sendi synovial dan dilapisi oleh epitel selapis gepeng.

Telinga dalam, sakulus dan utrikulus terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi gepeng. Makula, daerah kecil pada dinding sakulus dan utrikulus dengan sel – sel neuroepitel.Makula terdiri atas 2 jenis reseptor dan sel penyokong. Sel reseptor ( sel rambut) terdiri atas satu kinosilium dan streosilia. Sel penyokong berada di antara sel – sel rambut berbentuk silindris. Otolit, endapan kristal di permukaan dan terdiri atas 6

kalsium karbonat. Duktus semisirkularis, daerah reseptor di dalam ampula berbentuk tabung panjang dan disebut sebagai krista ampularis.Kupula berbentuk kerucut dan tidak ditutupi otolit. Duktus koklearis terbagi menjadi tiga ruangan yaitu skala vestibularis, media, dan timpani. Sria vaskularis adalah epitel vascular yang terletak pada dinding lateral duktus koklearis dan bertanggungjawab atas komposisi ion di endolimfe. Organ korti mengandung sel rambut sel rambut yang berespons terhadap berbagai frekuensi suara. Sel rambut terdapat pada membrane basiliaris. Barisan streosilia berbentuk w pada bagian luar dan berbentuk v atau linier pada bagian dalam.Tidak terdapat kinosilium. Ujung streosilia terbenam dalam membrane tektorial. (gambar 3 dan 4, lampiran) 4.2 Fisiologi Pendengaran dan Keseimbangan 4.2.1 Fisiologi Pendengaran Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah – daerah bertekanan tinggi karena kompresi (pemadatan) molekul – molekul udara yang berselang seling dengan daerah – daerah bertekanan rendah karena penjarangan (rarefaction) molekul tersebut.Suara ditandai oleh nada, intensitas, dan timbre. Nada, suatu suara ditentukan oleh frekuensi getaran. Semakin tinggi frekuensi maka semakin tinggi nada. Telinga manusia dapat mendeteksi gelombang suara dengan frekuensi dari 20 – 20000 siklus per detik, tetapi paling peka terhadap frekuensi antara 1000 – 4000 siklus per detik. Intensitas atau kepekakan suatu suara bergantung pada amplitude gelombang suara, atau perbedaan tekanan antara daerah pemampatan yang bertekanan tinggi dan daerah penjaranganyang bertekanan rendah.Kepekakan dinyatakan dalam desibel(dB). Timbre atau kualitas suara bergantung pada nada tambahan yaitu frekuensi tambahan yang menimpa nada dasar.

Proses pendengaran dimulai dari masuknya gelombang suara melalui pinna lalu dibawa ke dalam meatus auditus eksterna hingga mencapai membran timpani. Gelombang suara yang mencapai membrane timpani akan menggetarkan membran timpani. Telinga tengah akan memindahkan gerakan bergetar membrane timpani ke cairan telinga dalam. Perpindahan ini dipermudah dengan adanya rantai yang terdiri dari tulang – tulang pendengaran ( maleus, inkus, stapes) yang berjalan melintasi telinga tengah. Ketika membran timpani bergetar maka rantai tulang tersebut akan 7

melanjutkan gerakan dengan frekuensi yang sama ke jendela oval.Tekanan di jendela oval akibat setiap getaran yang dihasilkan menimbulkan getaran seperti gelombang pada cairan telinga dalam frekuensi yang sama dengan frekuensi gelombang suara semula. Namun, karena dibutuhkan tekanan yang lebih besar untuk menggerakkan cairan terdapat dua mekanisme yang berkaitan dengan system tulang pendengaran untuk memperkuat tekanan gelombang suara dari udara untuk menggetarkan cairan di koklea. Pertama, karena luas permukaan membran timpani jauh lebih besar dibandingkan luas permukaan dari jendela oval, terjadi peningkatan tekanan ketika gaya yang bekerja di membrane timpani disalurkan ke jendela oval.(tekanan = gaya / luas permukaan). Kedua, efek pengungkit tulang – tulang pendengaran menghasilkan keuntungan mekanis tambahan. Kedua mekanisme ini bersama – sama meningkatkan gaya yang timbul pada jendela oval sebesar dua puluh kali lipat dari gelombang suara yang langsung mengenai jendela oval.

Stapes yang bergetar oleh karena gelombang suara akan menggetarkan jendela oval lalu cairan perilimfe akan bergerak menuju jendela bundar melewati helikotrema dan pada saat stapes tertarik dari jendela oval maka cairan akan kembali menuju jendela oval dari jendela bundar. Gelombang tekanan frekuensi yang berkaitan dengan penerimaan suara mengambil jalan pintas. Gelombang tekanan di skala vestibule akan menembus membrane Reissner masuk ke dalam duktus koklearis dan kemudian melalui membrane basiliaris ke skala timpani, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela bundar menonjol keluar masuk bergantian. Perbedaan utama jalur ini adalah bahwa transmisi gelombang tekanan melalui membran basiliaris menyebabkan membrane ini bergerak naik turun. Pada saat membran basiliaris bergerak naik, maka akan membuka saluran – saluran ion gerbang mekanis di sel – sel rambut terbuka sehingga akan menyebabkan Ca2+ dan K+ masuk ke dalam sel sehingga terjadi depolarisasi sedangkan pada saat membran basiliaris bergerak turun, maka akan menutup saluran – saluran ion gerbang mekanis di sel – sel rambut tertutup sehingga akan menyebabkan Ca2+ dan K+ tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga terjadi hiperpolarisasi.Adanya gerakan naik turun dari membran basiliaris akan menyebabkan depolarisasi hiperpolarisasi secara bergantian sehingga timbullah aksi potensial berjenjang pada sel – sel reseptor yang akan menghasilkan neourotansmitter yang bersinaps pada ujung – ujung serat saraf aferen yang membentuk saraf koklearis. Saraf koklearis akan bergabung dengan saraf vestibularis 8

menjadi saraf vestibulokoklearis( N.VII), dari sini aksi potensial akan disalurkan sebagian ke inferior kollikulus dan sebagian lagi diteruskan ke medulla oblongata lalu ke lemniskus lateralis selanjutnya ke mesensefalon dan terakhir ke korteks pendengaran pada lobus temporalis area broadman 41. Di lobus temporalis, informasi dari saraf akan diterjemahkan menjadi persepsi suara. 4.2.2 Fisiologi Keseimbangan Aparatus vestibularis terdiri dari dua set struktur yang terletak di dalam tulang temporalis dekat koklea yaitu kanalis semisirkularis dan organ otolit ( sakulus dan utrikulus). Fungsi dari apparatus vestibularis adalah untuk memberikan informasi yang penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk koordinasi gerakan – gerakan kepala dengan gerakan mata dan postur tubuh. Akselerasi atau deselerasi selama rotasi kepala ke segala arah menyebabkan pergerakan endolimfe sehingga kupula ikut bergerak. Selain itu, adanya Akselerasi atau deselerasi juga akan menimbulkan endolimfe mengalami kelembaman dan tertinggal bergerak ketika kepala mulai berotasi sehingga endolimfe yang sebidang dengan gerakan kepala akan bergeser ke arah berlawanan dengan arah gerakan kepala ( contoh seperti efek membelok dalam mobil). Hal ini juga menyebabkan kupula menjadi condong ke arah berlawanan dengan arah gerakan kepala dan sel – sel rambut di dalam kupula ikut bergerak bersamaan dengan kupula. Apabila gerakan kepala berlanjut dalam arah dan kecepatan yang sama maka endolimfe yang awalnya diam tidak ikut bergerak (lembam) akan menyusul gerakan kepala dan sel rambut – rambut akan kembali ke posisi tegak. Ketika kepala melambat dan berhenti akan terjadi hal sebaliknya. Sel rambut pada aparatus vestibularis terdiri dari satu kinosilium dan 20 50 streosilia. Pada saat streosilia bergerak searah dengan kinosilium akan meregangkan tip link , yang menghubungkan streosilia dengan kinosilium. Tip link yang teregang akan membuka saluran – saluran ion gerbang mekanis di sel – sel rambut sehingga akan menyebabkan Ca2+ dan K+ masuk ke dalam sel sehingga terjadi depolarisasi sedangkan pada saat streosilia bergerak berlawanan arah dengan kinosilium maka tip link tidak teregang dan saluran – saluran ion gerbang mekanis di sel – sel rambut akan tertutup sehingga akan menyebabkan Ca2+ dan K+ tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga terjadi hiperpolarisasi. Sel rambut akan bersinaps pada ujung saraf aferen 9

dan akan masuk ke dalam saraf vestibular. Saraf ini akan bersatu dengan saraf koklearis menjadi saraf vestibulokoklearis dan akan dibawa ke nukleus vestibularis di batang otak. Dari nukleus vestibularis akan ke serebellum untuk pengolahan koordinasi, ke neuron motorik otot – otot ekstremitas dan badan untuk pemeliharaan keseimbangan dan postur yang diinginkan, ke neuron motorik otot – otot mata untuk control gerakan mata, dan ke SSP untuk persepsi gerakan dan orientasi.

Pada sakulus dan utrikulus, sel – sel rambut di organ otolit ini juga menonjol ke dalam satu lembar gelatinosa diatasnya, yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel tersebut. Proses ini sama dengan paa kanalis semisirkularis hanya saja pada sakulus dan utrikulus terdapat otolith yang mengakibatkan gerakan akan menjadi lebih lembam.Utrikulus berfungsi dalam posisi vertikal dan horizontal sedangkan sakulus berfungsi dalam kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal. 4.3 Otitis Media Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel – sel mastoid. Etiologi dari otitis media yaitu bakteri dimana Streptokokkus pneumonia dan Haemophillus influenza merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan otitis media.Streptokokkus pneumonia adalah bakteri berbentuk kokkus biasanya berpasangan dan berselubung, gram positif tetapi pada perbenihan tua tampak sebagai gram negatif. H.Influenza adalah bakteri gram -, nonmotil, bentuk batang. Selain Streptokokkus pneumonia dan Haemophillus influenza terdapat bakteri lain seperti Stafilokokkus aureus yang merupakan bakteri gram +, bentuk bulat seperti anggur, dan non motil. E.coli yang merupakan bakteri berbentuk batang, gram -, fakultatif anaerob. Proteus vulgaris yang merupakan bakteri bentuk batang, gram –. Pseudomonas aeroginosa yang merupakan bakteri gram -, aerob, bentuk batang, motil.Moraxella catarrhalis yang merupakan bakteri gram -, aerob, diplokokkus. Selain bakteri otitis media juga dapat disebabkan oleh virus yaitu rhinovirus yang merupakan virus ss RNA, non envelope, bentuk icosahedral, adenovirus yang merupakan virus ds DNA, non envelope, bentuk icosahedral, influenza virus yang merupakan virus RNA, parainfluenza virus yang merupakan virus RNA virus, RSV atau respiratory Syncitial virus yang merupakan 10

virus ss DNA, famili paramyxoviridae , CMV yang merupakan virus ds DNA, bentuk icosahedral. Jamur juga dapat menyebabkan otitis media yaitu Candida dan aspergillus.

Faktor resiko terjadinya otitis media adalah umur :yaitu bayi dan anak lebih banyak terkena, infeksi saluran pernafasan terpapar dengan iritan , allergen dari lingkungan yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan, tidak diberi ASI, menggunakan dot, defisiensi imun, GERD, riwayat keluarga terjadinya recurrent OMA, abnormalitas kraniofasial.

Otitis dapat dibagi menjadi dua yaitu otitis eksterna dan otitis media. Otitis eksterna dapat dibagi menjadi akut dan kronik. Otitis eksterna akut dapat dibagi menjadi difus dan sirkumskripta. Otitis media dapat dibagi menjadi otitis media supuratif dan nonsupuratif. Otitis media supuratif dapat dibagi menjadi akut, sub akut, dan kronik. Otitis media supuratif akut dapat dibagi menjadi lima stadium yaitu oklusi eustachius, hiperemis, supurasi, perforasi, dan resolusi. Otitis media supuratif kronik dapat dibagi menjadi benigna dan maligna. Otitis media supuratif kronik benigna dapat dibagi menjadi tenaang dan aktif. Otitis media nonsupuratif dapat dibagi menjadi akut dan kronik.

Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan infeksi bakteri, jamur, dan virus. Otitis eksterna sirkumskripta ( furunkulosis) adalah infeksi yang terbatas pada 1/3 pars kartilago meatus auditus eksterna. Otitis eksterna difus ( swimmer’s ear) adalah infeksi yang mengenai kulit meatus auditus eksterna 2/ 3 dalam. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel – sel mastoid.Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh mukoperiosteum telinga tengah, tuba, mastoid ( 3 minggu sampai 1 bulan). Otitis media kronik (OMSK) adalah peradangan sebagian atau seluruh mukoperiosteum telinga tengah, tuba, mastoid ( 1 – 2 bulan). Otitis media supuratif kronik yaitu infeksi kronik di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah secara terus menerus atau hilang timbul > 2 bulan. Otitis media supuratif kronik tipe tubotimpanal ( jinak) , ditandai dengan perforasi sentral atau subtotal pada pars tensa, sekret mukoid tidak berbau dan gangguan pendengaran 11

ringan sampai sedang. Tipe ini juga dibagi atas aktif yaitu sekret keluar dari cavum timpani secar terus menerus, dan tidak aktif yaitu pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat.Otitis media supuratif kronik tipe atikoantral (ganas) dimana perforasi total, marginal, atau perforasi atik dengan secret yang berbau busuk akibat nekrosis jaringan telinga tengah, menyebabkan erosi tulang. Terdapat kolesteatoma dan jaringan granulasi. Gangguan pendengaran bervariasi dari tuli ringan sampai tuli total. Otitis media non supuratif adalah peradangan non bakterial mukosa telinga tengah dengan kavum timpani utuh yang ditandai dengan terkumpulnyacairan yang tidak purulen. Otitis media non supuratif akut dimana terbentuknya secret di telinga secara tiba – tibayang disebabkan gangguan fungsi tuba, disertai rasa nyeri dan secret cairan serosa. Otitis media non supuratif kronik dimana secret terbentuk secara bertahap tanpa nyeri dengan sekret kental.

Patogenesis terjadinya otitis media adalah adanya infeksi oleh virus dan bakteri akan menyebabkan terjadinya proses inflamasi ; meningkatkan produksi dan viskositas sekret dari telinga tengah.Adanya inflamasi akan menyebabkan mukosa tuba eustachius edema sehingga tuba menjadi tersumbat dan tekanan di telinga tengah akan menjadi negatif. Oleh karena tekanan negatif ini maka akan terjadi transudasi cairan dan terjadilah efusi.Bakteri juga dapat menghasilkan eksotoksin yang akan menyebabkan paralisis silia pada mukosa tuba eustachius sehingga terjadi gangguan pembersihan sekret. Hal ini bersama dengan peningkatan produksi dan viskositas sekret dari telinga tengah akan menimbulkan efusi. Pada keadaan ini terjadi otitis media akut. Selanjutnya, adanya efusi akan merangsang degenerasi lapisan fibrosa di membran timpani sehingga membran timpani melemah sehingga timbul perforasi. Perforasi yang timbul dapat sembuh sendiri, dapat gagal sehingga bakteri dapat langsung mengkontaminasi telinga tengah dari lingkungan eksternal lalu timbul infeksi dan diikuti dengan reaksi inlamasi. Perforasi pada keadaan gas cushion tidak ada akan menyebabkan refluks sekret dari nasofaring ke telinga tengah sehingga akan meningkatkan paparan bakteri patogen dari nasofaring ke telinga tengah, hal ini akan menyebabkan infeksi yang semakin parah. Adanya obstruksi pada tuba eustachius dapat menyebabkan retraksi pars flaksida dan terjadi akumulasi keratin debris, inilah yang akan menyebabkan terbentuknya kolesteatoma. Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi sel epitel (keratin). Teori – teori yang dikemukakan 12

tentang

patogenesis

kolesteatoma

adalah

teori

migrasi,

teori

implantasi,

teoriinvaginasi, dan teori metaplasia.

Gejala klinis otitis media akut adalah sesuai dengan stadium. Pada stadium oklusi tuba eustachius, dijumpai gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang – kadang membran timpani tampak normal atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemi serta edema. Sekret bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.Stadium supurasi, membran timpani menonjol ke arah liang telinga luar akibat edema hebat pada mukosa telinga tengah, hancurnya sel epitel superfisial dan terbentuknya eksudat yang purulen. Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di kavum timfani tidak berkurang maka terjadi iskemia, trombophlebitis vena kecil – kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Apabila tidak dilakukan miringotomi maka akan terjadi perforasi membran timpani sehingga nanah akan keluar. Stadium perforasi, ruptur membran timpani sehingga nanah keluar mengalir ke liang telinga luar, anak menjadi tenang, suhu badan turun dan dapat tidur nyenyak. Stadium resolusi, membran timpani utuh maka pendengaran akan normal kembali tetapi bila membran timpani ruptur maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering.

Gejala klinis otitis media supuratif kronik bila aktif maka kita akan melihat sekret keluar dari kavum timpani secara aktif sedangkan otitis media supuratif kronik tenang maka kavum timpani akan terlihat basah atau kering. Pada otitis media supuratif kronik ini dapat terjadi gangguan pendengaran dan vertigo.

Pemeriksaan dimulai dengan anamnesis, penyakit OMSK biasanya terjadi perlahan – lahan dan penderita seringkali datang dengan gejala – gejala penyakit yang sudah lengkap. Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair, adanya sekret di liang telinga dimana pada tipe tubotimpanal biasanya sekretnya lebih banyak dan mukous, umumnya tidak berbau busuk dan intermitten sedangkan pada tipe atikoantral sekretnya lebih sedikit, berbau busuk,kadangkala disertai pembentukan 13

granulasi atau polip,maka sekret yang keluar dapat bercampur darah.Ada kalanya penderita datang dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar darah.

Pemeriksaan otitis media dengan tes penala (kualitatif) yaitu tes rinne untuk membandingakan hantaran udara dengan tulang pada telinga yang diperiksa, tes weber untuk membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa, tes bing dan tes stenger. Tes berbisik adalah tes semikualitatif dengan nilai normal 5/6 – 6/6. Tes rinne + Tes weber Tidak ada lateralisasi Lateralisasi ke telinga yang sakit + Lateralisasi ke telinga yang sehat memendek Tuli sensorineural Tes Schwabach Sama dengan pemeriksa Memanjang Tuli konduktif Diagnosis Normal

Audiometri nada murni untuk menentukan telinga mana yang mengalami gangguan, jenis ketulian, dan derajat ketulian. Dengan audiogram dapat dilihat apakah pendengar normal atau tuli. Derajat ketulian dihitung dengan menggunakan indeks fletcher yaitu Ambang dengar = AD 500 Hz + AD 1000 Hz +AD 2000 Hz 3 Menurut kepustakaan terbaru frekuensi 4000 Hz berperan penting untuk pendengaran, sehingga perlu diperhitungkan, sehingga derajt ketulian dihitung dengan menambahkan ambang dengar 4000 Hz dengan ketiga ambang dengar di atas, kemudian dibagi 4.

Dapat dihitung ambang dengar hantaran udara (AC) atau hantaran tulang (BC). Dalam menyatukan derajat ketulian yang dihitung hanya ambang dengar hantaran udaranya (AC) saja.Derajat ketulian ISO adalah 0 – 25 dB adalah normal,

14

>25 – 40dB adalah tuli ringan, >40 – 55 dB adalah tuli sedang, >55 – 70 dB adalah tuli sedang berat, >70 – 90 dB adalah tuli berat, dan > 90 dB adalah tuli sangat berat.

Selain pemeriksaan diatas dapat kita lakukan pemeriksaan radiologi dengan posisi Schuller, Owen dan Chausse III, otoskopi untuk menginspeksi kanalis eksternus, membran timpani dan mobilitas., dan kultur sekret untuk tes sensitivitas.

Diagnosa banding otitis media adalah otitis eksterna dan mastoiditis. Otitis eksterna telah dijelaskan diatas. Mastoiditis adalah segala prose peradangan pada sel – sel mastoid yang terletak pada tulang temporal. Etiologinya adalah bakteri gram negatif, Staphyllococcus aureus, serta S.pnemunia. Gejala klinisnya adalah keluarnya cairan dari dalam telinga lebih dari tiga minggu, demam yang biasanya hilang timbul, nyeri di bagian belakang telinga yang parah pada malam hari, dan hilangnya pendengaran.

Penatalaksaan OMA, pada stadium oklusi berikan antibiotik bila perlu dan berikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% untuk anak – anak <12 tahun dan HCl efedrin1% untuk > 12 tahun dan dewasa. Tujuannya untuk membuka kembali tuba eustachius sehingga tekanan negatif hilang. Stadium presupurasi ( hiperemis), berikan antibiotik first line adalah amoxcillin 75mg/kgBB/hr atau 90 mg/kgBB/hr dalam 2 dosis, second line adalah cefroxil, cefuroxime, cefriaxone, azithromycin, dan clarithomycin, dan third line adalah amoxicillin dengan asam clavulanate. Selain itu, berikan tetes hidung dekongestan yang mengandung phenylephrin dan analgesik. Stadium supurasi, segera rawat bila ada fasilitas perawatanlalu berikan antibiotik amoxicillin dosis tinggi parenteral selama 3 hari. Apabila ada perbaikan lanjutkan antibiotik oral selama 14 hari. Miringotomi atau timpanosentesis dapat dilakukan pada stadium ini.Stadium perforasi, bersihkan sekret telinga dengan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3 – 5 hari dan antibiotik adekuat selama 14 hari. Stadium resolusi, bila perforasi menetap antibiotik dilanjutkan sampai 3 minggu. Jika sekret tetap keluar maka kemungkinan otitis media supuratif subakut dan bila menetap samapi 1,5 bulan maka kemungkinan OMSK.

15

Penatalaksaan OMSK, pada OMSK benigna tenang tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan mengorek – ngorek telina, air jangan masuk ke dalam telinga dan dilarang berenang.Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dulakukan miringoplasti atau timpanoplasti untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. OMSK benigna aktif, prinsip pengobatan yaitu pertama, pembersihan telinga dan kavum timpani (toilet telinga) dengan tujuan membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme.Kedua pemberian antibiotik topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga. Bubuk telinga yang dgunakan adalah boric acid dengan atau tanpa iodin, terramycin,boric acid 2,5 g dicampur dengan kloromisetin 250 mg. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin, polimiksin, dan hidrokortison.Antibiotik yang bersifat ototiksik disarankan untuk menggunakannya tidak lebih dari 1 minggu. Ketiga, pemberian antibiotik sistemik, bila pseudomonas diberikan aminoglikosida dengan atau tanpa karbenesid, klebsiella dengan sefalosporin atau aminoglikosida, E.coli dengan ampisillin atau sefalosporin, dan stafillokokkus dan streptokokkus dengan penisilin, sefalosporin, eritromisin, dan aminoglikosida. Pengobatan OMSK ganas adalah operasi yaitu mastoidektomi sederhana, mastoidektomi radikal, mastoidektomi radikal dengan modifikasi, miringoplasti, timpanoplasti, dan pendekatan ganda timpanoplasti.

Komplikasi otitis media adalah intatemporal yaitu mastoiditis, paresis nervus fasialis, labrinitis, petrositis, otitis media adhesiva, intrakranial yaitu abses intrakranial ( abses otak, abses subdural, abses ekstradural), meningitis, trombophlebitis sinus lateralis, dan hidrosefalus otikus. Beberapa keadaan yang memerlukan rujukan pada ahli THT adalah 1. dengan episode OMA yang sering. Definisi sering adalah lebih ari 4 kali episode dalam 6 bulan.Sumber lain menyatakan “sering” adalah lebih dari 3 kali dalam 6 bulan atau lebih dari 4 kali dalam satu tahun. 2. Dengan efusi selama 3 bulan atau lebih, keluarnya cairan dari telinga atau berlubangnya gendang telinga. 3. Dengan kemungkinan komplikasi serius seperti kelumpuhan saraf wajah atau mastoiditis. 4. Anak dengan kelainan kraniofasial : sindrom drown, sumbing atau keterlambatan bicara 16

5. OMa dengan gejala sedang berat yang tidak memberi respon terhadap dua antibiotik. Otitis eksterna termasuk dalam standar kompetensi 4, Otitis media akut (OMA) termasuk dalam standar kompetensi 3a, otitis media serosa ) termasuk dalam standar kompetensi 3a dan otitis media kronik ) termasuk dalam standar kompetensi 3a. Edukasi pasien harus meliputi hal berikut ini yaitu, mencegah faktor resiko, penggunaan antibiotik yang adekuat, pengertian tentang resistensi antibiotik oleh bakteri pada otitis media, pada anak –anak dapat diberikan imunisasi , jangan mengorek telinga tertlalu kasar, jika ada benda asing yang masuk ke dalam liang telinga pergilah ke dokter, lidungi telinga dari kerusakan yang tidak diinginkan dengan memakai pelindung apabila terdapat suara yang amat keras, lindungi telinga selam dalam masa penerbangan dengan cara mengunyah permen karet saat pesawat lepas landas dan mendarat, dll.

BAB V ULASAN

17

Ada beberapa hal masih belum jelas dalam hal, Apakah tes schwabach, rinne, dan weber tidak dapat mendeteksi tuli campuran? Setelah mendapat penjelasan dari pakar, ketiga tes tersebut hanya bisa membedakan tuli konduktif atau sensorineural tetapi tidak untuk tuli campuran. Tuli campuran bisa dideteksi dengan audiometri.

Mengapa obat tetes telinga dapat dirasakan di mulut? Karena adanya tuba eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan nasofaring.Mengapa terbentuk jaringan granulasi? Karena terjadinya inflamasi.

Mengapa nistagmus dapat terjadi pada kasus ini? Apabila pada otitis media yang sudah melibatkan labirin maka kita dapat menjumpai adanya nistagmus. Selain itu, adanya rasa pusing berputar (vertigo) itu menandakan sudah terjadinya labirinitis. Apabila jaringan granulasi menutup labirin maka bisa kita jumpai adanya fistula sign.

Apakah kolesteatoma kongenital dapat menjadi otitis media? Bisa. Kortek cerebri tempat persepsi pendengaran terletak di area broadmann 39, 40 atau 41 , 42, karena terdapat perbedaan area tersebut dalam literatur? Setelah mendapat penjelasan dari pakar, diketahui area broadman 41 dan 42.

Kenapa pada OMSK tipe jinak sekretnya tidak berbau? Setelah mendapat penjelasan dari pakar, diketahui tidak semua OMSK tipe jinak sekretnya tidak berbau, hal ini sangat tergantung pada higiene perseorangan.

Apa beda posisi Schuller, Owen dan Chausse III? posisi Schuller arah pengambilan radiologi 30 derajat lateral mastoid cephalocaudal, posisi Owen arah pengambilan radiologi lateral 30 – 40 derajat cephalocaudal, posisi Chausse III arah pengambilan radiologi 10 – 15 derajat frontal, ruang media.

18

BAB VI KESIMPULAN

Tuan F mengalami otitis media supuratif kronik dan diindikasikan untuk rujuk ke dokter spesialis THT.

19

DAFTAR PUSTAKA

Adam, George L, Lawrence R.Boies, dan Peter A.Higler. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga dan Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid.Harjanto Effendi dan R.A.Kuswidayati Santoso. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. . Jakarta : EGC.1997. 2835, 95-113.

20

Djaafar, Zainul A., Helmi, Ratna D.Restuti. Kelainan Telinga Tengah. Efiaty Arsyad Soepardi, Nurbaiti Iskandar, Jenny Bashiruddin, dan Ratna Dwi Restuti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher edisi keenam.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2007.64-76.

Ganong, William F.Pendengaran dan Keseimbangan.H.M.Djauhari Widjjajakusumah. Buku ajar Fisiologi Kedokteran edisi 20. Jakarta: EGC.2002.165-178.

Junqueira,Luiz Carlos dan Jose Carneiro.Pendengaran : sistem Audioreseptor.dr.Frans Dany(eds).Histologi Dasar Teks dan Atlas edisi 10.Jakarta: EGC.2007.464-470.

Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter.Ear , Nose and Throat. Jakarta. 2006.

McPhee, Stephen J, Maxine A. Papadakis, dkk.Ear, Nose, and Throat Disorders. Current Medical Diagnosis and Treatment 2009. San Fransisko : McGraw-Hill Companies.2009.

McPhee,Stephen

J

,

William

F.

Ganong

dkk.Nervous

Sytem

disorders.

Pathophysiology. San Fransisko : McGraw-Hill Companies.2006.

Sherwood,

laura.Telinga

:

Pendengaran

dan

Keseimbangan.Beatricia

I.Santoso.Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.2001;484-487,176-189.

21

Syahrurachman, Agus, Aidilfiet Chatim, dkk.Batang Positif Gram, Kokkus Positif Gram, Batang Negatif Gram. Mikrobiologi Kedokteran. BinaRupa Aksara.1994.103.112.123.163.180.

LAMPIRAN Gambar 1

22

23

Gambar 2 pinna

gambar 3 koklea, vestibularis dan canalis semisirkularis

Gambar 4. Organ korti

24

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->