P. 1
Stratifikasi Sosial

Stratifikasi Sosial

|Views: 17,713|Likes:
Published by Parahita Putri Wiba

More info:

Published by: Parahita Putri Wiba on Jan 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

text

original

Modul 4

Stratifikasi Sosial
Enny Febriana,S.IP

PE N D A HU L UA N

S

etiap manusia dihadapan Tuhan adalah sama. Pernyataan tersebut merupakan hal yang secara universal diakui oleh manusia. Namun dalam masyarakat, saya, Anda dan orang di sekitar kita, dipandang berbeda karena status yang dimiliki. Sebagai contoh kita dapat perhatikan keadaan dalam unit terkecil dari masyarakat, yaitu keluarga. Pada suatu keluarga inti umumnya terdapat orang tua dan anak-anak, orang tua tentunya memiliki posisi lebih tinggi dari anak-anak. Posisi ini di dapatkan karena orang tua memiliki status sebagai pembentuk keluarga, pemimpin dalam menjalankan kehidupan keluarga. Perbedaan posisi individu atau kelompok ini yang akan Anda pelajari dalam modul empat ini. Perbedaan tersebut dalam sosiologi kita kenal dengan konsep stratifikasi sosial. Pembahasan materi stratifikasi sosial dalam modul ini akan kita mulai dari pemahaman mengenai konsep stratifikasi sosial, Kemudian dilanjutkan dengan perubahan status individu atau kelompok yang dikenal dengan konsep mobilitas sosial. Pada bagian ini juga dibahas mengenai bagaimana seorang individu dapat meningkatkan posisinya di dalam masyarakat. Kedua pokok bahasan tersebut dapat Anda pelajari dalam kegiatan belajar pertama. Selanjutnya pada kegiatan belajar kedua kita akan pelajari mengenai dimensi-dimensi apa yang dapat digunakan untuk melihat stratifikasi sosial dalam masyarakat. Pembahasan dimensi kita mulai dari pemahaman mengenai dimensi stratifikasi yang meliputi prestise, privilege, dan power. Kemudian pembahasan dilanjutkan mengenai konsep kelas sosial, sebagai suatu konsep yang sangat penting untuk mempelajari stratifikasi sosial. Pembahasan diakhiri dengan bentuk stratifikasi dan bagaimana kita mengetahui atau mempelajari stratifikasi sosial dalam masyarakat.

4.2

Pengantar Sosiologi

Pemahaman konsep stratifikasi sosial ini akan membantu kita melihat posisi setiap individu atau kelompok dalam setiap masyarakat. Stratifikasi sosial akan sangat bermanfaat bagi kita untuk melihat jarak sosial antara yang memiliki status tertinggi dengan yang memiliki status terendah. Tentunya ini akan membantu kita dalam menerapkan pembangunan yang tepat untuk setiap lapisan. Hal ini dikarenakan setiap lapisan dalam masyarakat menunjukkan pola perilaku sendiri-sendiri. Untuk dunia kerja pemahaman stratifikasi sosial akan diperlukan untuk melihat posisi kita dan posisi orang lain di sekitar kita. Pengetahuan ini juga akan memberikan gambaran bagaimana perilaku individu yang berada pada kelompok lapisan atas, ataupun perilaku kelompok pada lapisan bawah. Pada akhirnya stratifikasi sosial akan mendorong kita melihat kemungkinan-kemungkinan untuk meraih posisi yang lebih tinggi dari posisi kita sekarang dalam masyarakat. Setelah mempelajari modul empat ini Anda diharapkan mampu menjelaskan konsep stratifikasi sosial. Untuk dapat menjelaskan konsep stratifikasi sosial Anda diharapkan terlebih dahulu dapat: 1. menjelaskan pengertian konsep stratifikasi sosial; 2. menjelaskan pengertian konsep mobilitas sosial; 3. menjelaskan dimensi-dimensi dari stratifikasi sosial; 4. menjelaskan pengertian konsep kelas sosial; 5. menjelaskan bentuk-bentuk stratifikasi sosial; 6. menjelaskan pendekatan untuk mempelajari stratifikasi sosial. Selamat Belajar, Semoga Sukses!

ISIP4110/MODUL 4

4.3

Kegiatan Belajar 1

Pengertian Stratifikasi Sosial

P

ada kegiatan belajar pertama Anda akan saya ajak untuk memahami konsep stratifikasi sosial. Inti dari konsep stratifikasi sosial adalah penggolongan atau

pelapisan dalam masyarakat berdasarkan status yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Bila kita berbicara mengenai penggolongan atau pelapisan maka secara otomatis kita harus juga mempelajari perubahan atau perpindahan dari satu lapisan ke lapisan lainnya. Hal inilah yang dikenal dengan konsep mobilitas sosial. Setelah kita paham mengenai kedua konsep tersebut maka kita juga harus mengetahui bagaimana atau apa yang dapat digunakan oleh individu untuk meningkatkan status sosialnya.

Stratifikasi sosial dapat terbentuk dengan sendirinya dan yang sengaja dibentuk oleh masyarakat. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah faktorfaktor apa yang dapat membentuk stratifikasi sosial? Jawaban pertanyaan tersebut akan kita pelajari dalam kegiatan belajar 2, yaitu dalam bentuk dimensi-dimensi stratifikasi sosial. Dimensi ini merupakan hal yang penting, terutama sekali karena digunakan sebagai dasar penggolongan individu atau kelompok. Salah satu dimensi ini membentuk kelas sosial. Konsep ini mungkin sudah sering Anda dengar, pada bagian inilah Anda dapat merenungkan dan melihat kembali apakah pemahaman Anda selama ini mengenai konsep tersebut tepat ataukah keliru. Pembahasan dalam kegiatan dua akan diakhiri dengan bentuk-bentuk stratifikasi dan cara mempelajari stratifikasi sosial. Anda sudah siap untuk mempelajari stratifikasi sosial? Baiklah sebelum kita mempelajari materi dari stratifikasi sosial mari kita simak bersama cerita singkat berikut ini: Saijan adalah seorang buruh tani, Ia bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Ia bersama istrinya berusaha keras untuk dapat menyekolahkan anak satu-satunya, Sato. Mereka ingin Sato dapat sekolah hingga ke perguruan tinggi. Mereka selalu memberikan nasihat pada anaknya untuk belajar yang giat agar tak, seperti bapaknya yang hanya bisa bertani, dan hanya menjadi pekerja pemilik sawah. Usaha keras Saijan tak di sia-siakan Sato, Sato tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ia berhasil mendapat kan beasiswa untuk bersekolah di salah satu perguruan tinggi negeri dalam bidang pertanian. Setelah kuliahnya

4.4

Pengantar Sosiologi

selesai ia menjadi karyawan di perusahaan Asing, pengolah hasil perkebunan tebu di Jakarta. Kariernya di perusahaan tersebut cukup pesat, dalam waktu lima tahun ia dapat menjadi salah satu pimpinan di perusahaan Asing tersebut. Setelah sepuluh tahun bekerja di perusahaan asing Sato bisa membeli lahan pertanian yang cukup luas. Untuk mengolah lahan pertaniannya Sato berhenti bekerja, Sato kemudian mendirikan pula perusahaan pengolahan hasil pertanian. Berbekal pengalamannya di perusahaan Asing dan dengan dibantu oleh Saijan ayahnya, perusahaan Sato maju pesat dan saat ini menjadi salah satu perusahaan besar di daerahnya.

A. STRATIFIKASI SOSIAL Cerita tersebut mungkin merupakan khayalan belaka, namun bila Anda amati kehidupan di sekitar Anda maka Anda akan melihat ada banyak sekali individu yang berusaha untuk merubah nasibnya, ada yang berhasil namun tidak sedikit yang gagal. Apa sebenarnya hubungan cerita tersebut dengan materi yang kita pelajari dalam modul ini. Cerita itu membawa kita lebih melihat bahwa dalam masyarakat terdapat pekerjaan-pekerjaan yang berada dalam peringkat bawah seperti buruh, pemulung, penyapu jalanan, dan lain sebagainya. Di samping itu tentunya kita juga lihat adanya pekerjaanpekerjaan yang memiliki peringkat di atas, seperti presiden, direktur, pejabat negara, pengusaha dan lain sebagainya. Pada cerita tersebut kita juga menemukan adanya kemungkinan bahwa seorang yang dahulunya hidup kekurangan dengan kerja kerasnya dapat berubah menjadi orang yang serba berkecukupan, atau dalam bahasa sosiologi dari kelas bawah dapat meningkat menjadi kelas atas. Kondisi-kondisi tersebut akan kita pelajari dalam konsep stratifikasi sosial. Pada konsep ini kita akan melihat kondisi-kondisi anggota masyarakat pada kelas atas dan pada kelas bawah, serta bagaimana perpindahan kelas dimungkinkan dalam suatu masyarakat? Konsep stratifikasi sosial adalah suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. (Kamanto Sunarto, 2000: 85). Dari pernyataan di atas kita dapat simpulkan bahwa anggota masyarakat baik secara individu maupun secara kelompok dibedakan posisinya dalam masyarakat. Pembedaan tersebut dilihat secara vertikal atau berjenjang. Pembedaan secara vertikal di sini maksudnya adalah akan ada individu yang memiliki kedudukan lebih tinggi

ISIP4110/MODUL 4

4.5

dan ada yang memiliki kedudukan lebih rendah, contoh paling mudah adalah pengusaha dan buruh. Pembedaan ini terjadi karena ada status berbeda yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Status ini diberikan oleh masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Nilai yang dianggap tinggi oleh masyarakat akan tercermin dalam status yang tinggi dan sebaliknya nilai yang dianggap rendah akan tercermin dalam status yang rendah. Bagaimana status dapat dimiliki oleh setiap anggota masyarakat? Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achievement status) dan ada yang didapat begitu saja atau yang disebut dengan (ascribed status). Bagaimana kita membedakan kedua status ini? Untuk ascribed status Anda dapat bayangkan diri Anda, sejak Anda lahir Anda tentunya telah memiliki jenis kelamin, sebagai seorang laki-laki atau sebagai seorang perempuan. Status sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan Anda dapatkan begitu saja dari Tuhan, berdasarkan alat kelamin Anda. Status seperti inilah yang disebut dengan ascribed status. Lalu bagaimana dengan achievement status? Bila kita perhatikan kembali diri Anda ketika Anda telah memasuki usia sekolah, Anda menjalani pendidikan mulai dari Sekolah dasar (SD), untuk apa? Tentunya untuk mendapatkan status sebagai individu yang berpendidikan tamat SD. Untuk mendapat status lulusan SD Anda tentunya harus berusaha selama enam tahun mengikuti sekolah dari kelas 1 hingga kelas 6, dan kemudian harus lulus ujian tamat Sekolah Dasar. Dengan demikian berbeda dengan jenis kelamin yang kita dapatkan secara cuma-cuma, Tamat SD harus didapat dengan suatu usaha. Status Anda sebagai mahasiswa Universitas Terbuka saat ini juga bagian dari usaha yang Anda lakukan untuk dapat mencapai gelar Sarjana. Status inilah yang disebut achievement status. Pemahaman status ini dapat Anda pelajari lebih mendalam dalam modul tatanan sosial. Kaitan kedua status tersebut dengan stratifikasi sosial dapat Anda lihat dalam kehidupan di sekitar kita. Bila kita amati dalam masyarakat ada anak yang dilahirkan dalam keluarga kaya, ada yang dilahirkan dalam keluarga miskin. Anak yang terlahir tersebut secara otomatis memiliki status sebagai anak orang kaya dan sebagai anak orang miskin. Anak orang kaya tentunya masuk dalam lapisan atas sedangkan anak orang miskin tentunya masuk dalam lapisan bawah. Kondisi ini menunjukkan posisi individu dalam masyarakat ditentukan oleh ascribed statusnya. Pada sisi lain dalam masyarakat kita juga dapat melihat ada yang bisa menjadi pengusaha besar

4.6

Pengantar Sosiologi

dan ada yang hanya menjadi seorang buruh. Untuk menjadi seorang pengusaha atau seorang buruh tentunya diperlukan suatu usaha. Usaha yang dilakukan untuk menjadi seorang pengusaha tentunya akan lebih banyak dibandingkan dengan upaya yang dilakukan oleh seorang buruh. Keadaan ini memperlihatkan kepada kita pembedaan posisi individu dalam masyarakat yang lebih didasarkan pada achievement status. Pembedaan berdasarkan achievement status lebih dikarenakan usaha yang dilakukan seorang individu, terlepas apakah dia anak orang kaya ataukah dia anak orang miskin, selama usaha yang dilakukannya cukup keras maka siapa pun dapat menempati posisi pada lapisan atas. Bila kita melihat dari asal kata stratifikasi sendiri maka stratifikasi dapat kita artikan sebagai lapisan, karena stratifikasi berasal dari kata sratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak. Untuk selanjutnya kita akan pergunakan istilah strata untuk menyebut lapisan dalam masyarakat. Pitirin A. Sorokin mendefinisikan stratifikasi sebagai pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hirarkis (Soerjono Soekanto, 2002:228). Dari definisi tersebut bisa kita ambil pengertian bahwa individu atau kelompok dapat diposisikan ke dalam kelas atau strata. Posisi ini bersifat hierarkis atau vertikal. Ini berarti akan ada strata atas dan ada strata bawah. Penjelasan mengenai stratifikasi sosial juga diberikan oleh Bruce J. Cohen, Menurutnya sistem stratifikasi akan menempatkan setiap orang berdasarkan kualitas yang dimiliki, untuk ditempatkan pada kelas sosial yang sesuai ( Bruce J. Cohen, 1992: 244). Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa setiap anggota masyarakat akan ditempatkan ke dalam kelas-kelas sosial atau strata berdasarkan kualitas yang dimiliki. Bila masyarakat menilai kualitas yang dimiliki oleh seorang anggota masyarakat rendah maka orang tersebut akan ditempatkan pada kelas yang rendah namun sebaliknya bila masyarakat menganggap kualitas yang dimilikinya tinggi maka masyarakat akan menempatkan orang itu pada kelas yang tinggi. Sebagai contoh dalam masyarakat ada dokter, pedagang, tukang sampah. Mengacu pada penjelasan Bruce maka kita akan menempatkan dokter pada kelas atas karena tentunya kemampuan menyembuhkan orang sakit dipandang sebagai kualitas yang lebih tinggi, dibandingkan kemampuan bekerja sebagai pedagang, apalagi bila dibandingkan dengan kemampuan sebagai pengumpul sampah. Sistem stratifikasi akan menempatkan dokter pada kelas atas. Pedagang pada kelas

ISIP4110/MODUL 4

4.7

menengah, dan tukang sampah pada kelas bawah. Apakah hal ini berlaku sama dalam semua masyarakat? Jawabnya adalah tidak, kenapa? Kita ambil contoh dokter yang tadi kita tempatkan pada lapisan atas. Bila dokter ini ada dalam masyarakat pedalaman Irian Jaya atau masyarakat Dayak di Kalimantan maka kondisinya akan berbeda. Dokter akan menempati lapisan menengah atau bahkan lapisan bawah. Hal ini sangat terkait dengan nilai yang dianut oleh masyarakat. Pada kedua masyarakat tersebut tentunya nilai tabib atau orang yang mereka anggap sebagai orang sakti yang dapat menyembuhkan segala penyakit akan lebih diposisikan tinggi dibandingkan seorang dokter. Hal ini dikarenakan tabib telah mereka percaya akan dapat membantu mereka dibandingkan dokter adalah orang asing dan berusaha memasukkan benda asing yang mereka tidak kenal. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sebenarnya stratifikasi dapat muncul dalam suatu masyarakat? Jawaban pertanyaan tersebut sangat terkait dengan nilai penghargaan terhadap sesuatu. Ketika dalam masyarakat ada sesuatu yang lebih dihargai dibandingkan yang lainnya maka saat itu pula akan muncul stratifikasi sosial. Penghargaan terhadap sesuatu inilah yang merupakan awal dari munculnya stratifikasi dalam masyarakat. Sesuatu yang dihargai tersebut dapat berupa materi, seperti uang, kepemilikan tanah, atau yang berupa nonmateri seperti kekuasaan atau kehormatan. Filsafat Aristoteles dari Yunani mengatakan bahwa pada zaman kuno dahulu dalam suatu negara telah terdapat tiga ciri, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat dan yang berada di tengah-tengahnya. (Soerjono Soekanto, 2002; 227). Hal ini membuktikan bahwa pada zaman itu dan sebelumnya orang telah mengakui adanya lapisan dalam masyarakat dari atas hingga ke bawah berdasarkan kekayaan yang mereka miliki. Keadaan yang sama tentunya juga bisa kita lihat pada zaman kerajaan-kerajaan di Indonesia, pada masa itu tentunya ada sekelompok anggota masyarakat yang menjadi para raja, ada yang memimpin di setiap daerah dan ada rakyat biasa. Hal ini menunjukkan bahwa sudah sejak lama masyarakat kita mengenal sistem stratifikasi dalam masyarakatnya. Kemunculan stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat. Namun, dapat pula muncul dengan sengaja atau disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Faktor penyebab stratifikasi yang tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batasan-batasan tertentu (Soerjono Soekanto ,

4.8

Pengantar Sosiologi

2002; 229-230). Sedangkan stratifikasi yang dibentuk terjadi dalam pembagian wewenang atau kekuasaan dalam organisasi-organisasi formal. Pembentukan stratifikasi ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam setiap masyarakat pembentukan secara alamiah akan berbeda-beda bergantung pada nilai yang dianut oleh setiap masyarakat. Sedangkan stratifikasi yang dibentuk akan menunjukkan kesamaan secara universal. Bagaimana hal tersebut dapat kita pahami? Marilah kita lihat pembentukan stratifikasi yang terjadi secara alamiah. Bila kita melihat awal pembentukan suatu masyarakat maka akan ada sekelompok anggota masyarakat yang menjadi pembentuk atau penemu pertama wilayah di mana suatu masyarakat itu ada. Pembentuk suatu komunitas ini akan menjadi kaum yang lebih dihargai dibandingkan yang lainnya. Sebagai contoh adalah apa yang terjadi pada masyarakat Batak. Pada masyarakat Batak marga pembuka tanah dianggap lebih tinggi dari marga lainnya. Golongan pembuka tanah dianggap memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Dengan demikian maka marga tersebut akan menempati strata atas dalam masyarakat Batak (Soerjono Soekanto, 2002: 230). Atau bila kita bandingkan stratifikasi dalam masyarakat Batak tersebut dengan masyarakat Padang. Maka, kita akan menemukan dua bentuk stratifikasi yang sesuai dengan nilai yang mereka anut. Masyarakat Batak tentunya akan membentuk stratifikasi berdasarkan marga dengan menunjukkan ciri patrilineal (di mana garis keturunan laki-laki memiliki posisi tinggi), sedangkan masyarakat Padang akan membentuk stratifikasi yang berdasarkan marga yang menunjukkan ciri matrilineal (di mana garis keturunan perempuan memiliki posisi tinggi) Selanjutnya, bagaimanakah stratifikasi yang dibentuk? Setiap negara harus memiliki pemimpin, oleh karena itu maka dibentuklah suatu institusi yang mengatur kebutuhan-kebutuhan hidup sebagai suatu negara. Badan inilah yang kemudian kita kenal dengan pemerintah. Pemerintahan di suatu negara membentuk suatu stratifikasi sosial karena terdiri dari jabatan-jabatan yang berjenjang, di mana semakin tinggi jabatannya maka akan semakin besar kekuasaannya. Contoh lainnya bisa kita lihat dalam setiap organisasi suatu perusahaan. Untuk membentuk suatu perusahaan maka dibentuk terlebih dahulu gambaran jenjang pekerjaan dalam perusahaan. Pekerjaanpekerjaan tersebut tersusun mulai dari pemilik perusahaan, direksi, manajer, staf, hingga pesuruh.

ISIP4110/MODUL 4

4.9

Pembentukan stratifikasi sosial ini menunjukkan kepada kita bahwa stratifikasi sosial tidak selalu berbentuk organisasi formal. Tetapi dalam kehidupan bermasyarakat sering kali terbentuk kelompok-kelompok anggota masyarakat yang berjenjang, terutama dalam pengambilan keputusan. Bila Anda amati dalam upacara-upacara khas yang dilaksanakan di suatu daerah maka pelapisan dalam masyarakat akan terlihat, misalnya melalui tata cara yang dilakukan, hingga pada busana yang dikenakan. Pengelompokan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah ekonomi yang umumnya dilihat dari kekayaan, budaya yang umumnya dilihat dari ciri panutan atau kehormatan, atau dari kekuasaan yang dimilikinya. Faktor-faktor tersebut akan kita pelajari lebih mendalam dalam kegiatan belajar kedua pada modul ini. Keberadaan stratifikasi sosial dalam masyarakat oleh sosiolog Pitirin A. Sorokin dikatakan bahwa sistem lapisan merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. (Soerjono Soekanto, 2002; 227). Sifat umum dimaksudkan bahwa dalam semua masyarakat terdapat lapisan, Sedangkan tetap dimaksudkan bahwa dari duhulu hingga sekarang stratifikasi sosial dalam masyarakat tetap ada. Mengapa stratifikasi selalu ada dalam masyarakat? Stratifikasi sosial selalu ada dalam masyarakat karena ia merupakan sarana yang memperlihatkan kepada individu-individu adanya perbedaan posisi-posisi dalam masyarakat. Posisi tersebut berkaitan dengan imbalan, posisi tertinggi akan diberikan imbalan yang besar karena peran yang dijalankan semakin sulit. Perbedaan imbalan dan kualifikasi individu yang menempati posisi tertentu inilah yang membuat stratifikasi harus tetap ada dalam masyarakat. Pemikiran, seperti ini dikemukan oleh Davis dan Moore yang mengatakan bahwa stratifikasi diperlukan untuk kelangsungan hidup masyarakat. Pada setiap masyarakat harus terdapat perbedaan-perbedaan posisi agar masyarakat dapat berlangsung. Posisi yang menempati strata tertinggi diberikan imbalan yang tinggi, hal ini diperlukan agar anggota masyarakat mau menempati posisi tersebut. (Kamanto Sunarto, 2000: 96). Kita dapat membayangkan dalam suatu masyarakat, paling tidak diperlukan pemimpin, untuk menjadi seorang pemimpin maka diperlukan kualifikasi-kualifikasi tertentu, misalnya harus mempunyai kemampuan pendidikan tertentu, harus memahami anggota masyarakat yang dipimpinnya, memiliki pemikiran strategi ke mana masyarakat tersebut akan diarahkan. Tidak semua anggota masyarakat memiliki kualifikasi sebagai seorang

4.10

Pengantar Sosiologi

pemimpin, karena itulah seorang pemimpin diberikan imbalan yang besar. Hal yang berbeda juga bisa kita bayangkan bahwa dalam suatu masyarakat ada peran-peran yang tidak memerlukan kualifikasi tinggi karena sebenarnya semua orang dapat melakukan pekerjaan tersebut misalnya mengantarkan surat. Karena kualifikasi yang diperlukan untuk mengantarkan surat dimiliki oleh banyak orang maka dia diberikan imbalan yang rendah. Pemikiran seperti ini di mana stratifikasi dipandang sebagai sesuatu yang diperlukan agar dapat berjalannya peran-peran dalam masyarakat dalam sosiologi termasuk pemikiran fungsionalis. Pemikiran ini akan sangat berbeda dengan pemikiran konflik, yang melihat stratifikasi timbul lebih dikarenakan perbedaan kekayaan, kekuasaan, dan nilai kehormatan yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Menurut pemikiran aliran konflik pembagian kerja dalam masyarakat yang terus berkembang menimbulkan stratifikasi dalam masyarakat. Pembagian kerja tersebutlah yang juga memungkinkan terjadinya perbedaan kekayaan, kekuasaan dan nilai kehormatan. Anggota masyarakat bersaing dalam memperebutkan kekayaan, kekuasaan, dan nilai kehormatan. Persaingan ini terjadi karena jumlah kekayaan, kekuasaan, dan nilai kehormatan sangat sedikit atau terbatas. (Kamanto Sunarto, 2000: 97). Kita dapat bayangkan dalam suatu komunitas atau masyarakat kekayaan yang ada sangat sedikit, untuk dapat mendapatkannya maka seorang individu harus menjadi seorang pemimpin. Karena seorang pemimpin akan memiliki kekuasaan untuk mengatur dan menguasai kekayaan yang ada, selain itu juga dihormati oleh anggota masyarakat lainnya. Individu yang ingin menjadi pemimpin banyak, namun jabatan pemimpin hanya sedikit. Oleh karena itu, posisi tersebut harus diperebutkan. Persaingan ini akan selalu ada dalam masyarakat, karena itu dalam masyarakat akan selalu ada kelompok yang berkuasa dan kelompok yang dikuasai, hal inilah yang kita pelajari sebagai stratifikasi sosial. Setelah Anda memahami pengertian stratifikasi, mungkin muncul dalam pikiran Anda, ada berapa lapisan atau strata dalam setiap sistem stratifikasi, dua, tiga, empat strata atau tak terhitung? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut Anda harus lihat sifat masyarakat di sekeliling Anda, homogen ataukah heterogen. Semakin beragam kemampuan individu atau kelompok maka akan semakin banyak jumlah strata dalam masyarakat Anda. Ini menunjukkan masyarakat Anda cenderung heterogen. Kebalikannya jika kemampuan yang dimiliki setiap individu atau kelompok cenderung sama

ISIP4110/MODUL 4

4.11

maka akan semakin sedikit jumlah strata yang ada dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan masyarakat Anda cenderung homogen. Para ahli yang meneliti strata dalam setiap stratifikasi pun menggunakan jumlah lapisan atau strata yang berbeda-beda. Secara sederhana kita dapat membaginya menjadi tiga strata, yaitu atas, menengah, bawah. Namun, dalam kenyataannya bila kita menghadapi masyarakat yang cukup heterogen maka kita akan menemukan lebih dari tiga strata. Kita dapat menjadikannya enam strata, seperti yang pernah dilakukan oleh Warner dan kawankawannya (1941,1942) dalam meneliti sebuah kota tua di new England: Mereka membagi masyarakat kota itu menjadi 6 lapisan, yaitu atas, atas bawah, menengah atas, menengah bawah, bawah atas, bawah. Atau dapat juga membaginya menjadi tujuh lapisan, seperti yang dilakukan oleh Coleman dan Newgarten (1971) yang menggunakan tujuh lapisan dalam melakukan penelitian mengenai stratifikasi. Ketujuh lapisan tersebut adalah atas, atas bawah, menengah atas, menengah yang hidupnya senang, dan menengah tengah, bawah atas, bawah. Pembagian kelas ini berbeda dengan penelitian Warner, karena Coleman dan Newgarten membagi kelas menengahnya menjadi tiga lapisan. (Horton and Hunt, 1992; 7). Setelah membaca pembagian strata dalam stratifikasi sosial mungkin Anda berpikir sepertinya pembagian lapisan secara garis besar adalah tiga lapisan, yang kemudian dibesarkan. Apakah memang demikian, tidak adakah masyarakat yang memiliki 2 strata? Jika Anda berpikir demikian dapat dimaklumi, karena banyak sekali para pengamat sosial yang mungkin Anda pernah dengar pendapatnya membagi masyarakat kita dalam tiga strata. Sekarang mari kita lihat ke tokoh sosiologi yang mungkin sudah Anda kenal dalam modul pertama Buku Materi Pokok ini. Salah satu tokoh tersebut adalah Karl Marx, Beliau membagi masyarakat industri di Eropa ke dalam dua lapisan, yaitu kelas Borjuis sebagai pemilik alat produksi, dan kelas Proletar sebagai kelompok yang tidak memiliki alat produksi. Bila kita lihat tokoh lainnya misalnya Linch (1959) yang meneliti masyarakat pertanian miskin di Filipina menemukan hanya ada dua kelas sosial, yaitu golongan orang yang bisa menopang hidupnya sendiri dan golongan orang melarat. Apa kesimpulan yang dapat kita ambil? Jumlah strata dalam setiap masyarakat berbeda-beda, tergantung pada bagaimana kita mengamati keberagaman yang ada dalam suatu masyarakat. Bila kita menganggap suatu masyarakat cenderung homogen maka 2 atau 3 strata sudah cukup untuk menjelaskan keragaman masyarakat. Namun, jika kita menganggap

4.12

Pengantar Sosiologi

masyarakat tersebut justru cenderung heterogen maka diperlukan lapisan lebih dari 3. Setelah memahami berapa banyak lapisan dalam suatu masyarakat tentunya Anda dapat mengamati masyarakat di sekitar Anda dalam tugas di bawah ini ! Tugas : Buatlah stratifikasi sosial untuk jenis-jenis pekerjaan yang ada dalam masyarakat Anda (pada satu kota atau satu kabupaten) ? Jawaban : Atas _______________ _______________

Menengah ________________ ________________

Bawah ________________ ________________

Petunjuk: 1. Amatilah jenis-jenis pekerjaan di kota /kabupaten Anda 2. Kelompokkanlah masing-masing pekerjaan ke dalam tiga strata tersebut, yaitu strata atas, menengah, dan bawah 3. Bila ketiga strata itu terlalu banyak Anda dapat menguranginya, dan jika tiga strata terlalu sedikit Anda dapat menambah jumlah stratanya

B. MOBILITAS SOSIAL Anda telah memahami stratifikasi sosial, Anda juga telah mencoba melihat berapa jumlah strata dalam masyarakat di sekitar Anda. Menarik tentunya, Akan semakin menarik jika Anda dapat membandingkannya dengan teman belajar Anda, Anda mungkin akan menemukan keragaman masyarakat kita secara vertikal, Anda juga bisa melihat seberapa homogennya masyarakat di lingkungan Anda bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul dalam kita mempelajari stratifikasi sosial adalah Apakah orang dapat turun atau naik dalam stratifikasi sosial? Apakah dimungkinkan orang pada strata atas menjadi strata bawah atau sebaliknya dari strata bawah menjadi strata atas? Masih ingat ilustrasi yang saya berikan pada awal modul ini. Bila Anda lupa, Anda dapat kembali membacanya. Dalam ilustrasi tersebut kita bisa melihat Saijan, seorang buruh tani dapat menjadi seorang pemilik perusahaan pengelola hasil pertanian. Buruh tani tentunya merupakan pekerjaan pada

ISIP4110/MODUL 4

4.13

strata bawah sedangkan pemilik perusahaan pengelola hasil pertanian tentu saja pekerjaan pada strata atas. Hal ini berarti ada kemungkinan terjadinya perpindahan dalam setiap strata. Perpindahan anggota masyarakat dari satu strata ke strata lainnya dalam stratifikasi sosial kita kenal sebagai konsep mobilitas sosial. Konsep ini perlu kita pelajari untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas sosial. Serta dapat melakukan perbandingan peningkatan kualitas hidup antara daerah yang satu dengan daerah lainnya atau antara satu negara dengan negara lainnya Mobilitas sosial merupakan perpindahan status individu atau kelompok dalam stratifikasi sosial. Mobilitas dapat terbagi menjadi dua (Kamanto Sunarto, 2000:89-90), yaitu: 1. Mobilitas vertikal, merupakan pergerakan atau perpindahan status anggota masyarakat dari satu strata ke strata lainnya. Perpindahan ini dapat dari strata atas ke strata bawah, dapat pula berpindah dari strata bawah ke strata atas. Mobilitas sosial vertikal dapat terbagi dua, yaitu : a. mobilitas vertikal intragenerasi, mobilitas ini adalah mobilitas vertikal yang dialami oleh seorang individu dalam kehidupannya. Contoh dari mobilitas ini adalah seorang penjual kue keliling yang karena kerja kerasnya bisa menjadi pemilik perusahaan kue terkenal. b. mobilitas vertikal antargenerasi, mobilitas ini adalah mobilitas vertikal yang dialami oleh seseorang, mengacu pada perbedaan status dirinya dengan status orang tuanya. Contohnya adalah Anak seorang penjual kue keliling menjadi pemilik perusahaan kue terkenal. Perhatikanlah kedua contoh di atas, pada contoh pertama yang mengalami perubahan status sosial dari lapisan bawah ke lapisan atas adalah hasil usahanya sendiri atau dialami oleh seseorang dalam kehidupannya. Bila melihat contoh di atas maka mobilitas vertikal intragenerasi dialami sendiri oleh si tukang kue, dahulunya sebagai penjual kue kemudian dengan kerja kerasnya ia bisa menjadi pemilik perusahaan kue. Sedangkan pada contoh kedua Penjual kue tidak mengalami perubahan status, yang mengalami perubahan status adalah anaknya dari status sebagai anak strata bawah dia berhasil menjadi anggota strata atas. Jadi pada mobilitas vertikal intragenerasi kita hanya melihat perubahan yang terjadi dalam diri seorang anggota masyarakat tanpa kita lihat status orang tuanya. Sedangkan pada mobilitas vertikal

4.14

Pengantar Sosiologi

2.

antargenerasi kita melihat status orang tuanya dan status anaknya, untuk melihat apakah telah terjadi perubahan status sosial seseorang. Mobilitas horizontal atau lateral mobility, mengacu pada perpindahan geografis antara lingkungan setempat, kota, dan wilayah. Contohnya adalah perubahan status dari satu kota ke kota lainnya atau dari satu desa ke desa lainnya. Mobilitas horizontal juga dapat kita lihat dalam perubahan status seseorang dalam satu lapisan. Misalnya Tukang kebun yang menjadi seorang pesuruh di suatu perusahaan (cleaning service). Meskipun mengalami perubahan pekerjaan tapi individu tersebut tidak mengalami perubahan lapisan karena dia tetap berada pada pekerjaan di strata bawah.

Sebelum Anda melanjutkan membaca cobalah Anda identifikasi mobilitas mana yang pernah Anda alami dalam kehidupan Anda? Hal ini akan lebih membantu Anda memahami kedua bentuk mobilitas tersebut? Berkaitan dengan mobilitas ini maka stratifikasi memiliki dua sifat, yaitu stratifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup. Pada stratifikasi terbuka, kemungkinan status tertentu mengalami perubahan posisi dalam suatu stratifikasi sosial cukup besar. Setiap anggota mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik strata. Atau sebaliknya bagi yang kurang beruntung atau kurang berusaha dapat jatuh ke strata yang lebih rendah. Sedangkan pada stratifikasi tertutup kemungkinan terjadi perpindahan posisi individu dalam stratifikasi sosial sangat kecil sekali. Stratifikasi tertutup membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik ke atas atau ke bawah. Untuk menjadi anggota salah satu lapisan dalam masyarakat adalah melalui kelahiran atau perkawinan yang diikuti dengan syarat-syarat tertentu. (Soerjono Soekanto, 2002: 231-232). Untuk melihat kedua sifat dari stratifikasi sosial tersebut kita bisa lihat dari perbedaan antara kasta dan kelas. Perbedaan keduanya dijelaskan oleh Bruce J. Cohen sebagai berikut: Kasta merupakan sistem stratifikasi sosial yang bersifat tegas di mana orang tidak bebas untuk berpindah dari satu tingkatan ke tingkatan lainnya. Atau dengan kata lain jalan bagi seseorang untuk berpindah kasta tidak dimungkinkan. Hal yang berbeda terjadi dalam kelas. Pada kelas justru lebih terbuka, karena tidak ada satu individu atau kelompok dalam masyarakat yang dapat menghalangi perpindahan ke kelas yang lebih tinggi.

ISIP4110/MODUL 4

4.15

Pada masyarakat Bali, misalnya kita bisa melihat sistem stratifikasi yang cenderung tertutup. Seperti kita ketahui bersama bahwa menurut kitab-kitab suci orang Bali, masyarakat terbagi dalam empat strata, yaitu Brahmana, Satria, Vesia dan Sudra. Brahmana, Satria dan Vesia disebut dengan triwangsa, sedangkan Sudra disebut dengan Jaba. Keempat lapisan ini terbagi ke dalam lapisan-lapisan lagi yang lebih khusus. Perbedaan keempat lapisan itu juga dapat dilihat dari gelar-gelar yang digunakan, yaitu sebagai berikut : Kasta Brahmana Satria Gelar Ida Bagus Tjokorda Dewa Ngahan Bagus I Gusti Pasek

Vesia Sudra

Sumber : Seorjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, 2002 hal. 233

Gelar-gelar tersebut diwariskan menurut garis keturunan laki-laki. Dahulunya gelar tersebut berkaitan dengan pekerjaan. Hukum adat telah menetapkan hak-hak bagi si pemakai gelar. Kehidupan sistem kasta di Bali ini terlihat dalam hubungan perkawinan. Seorang gadis kasta tertentu umumnya dilarang menikah dengan pria dari kasta yang lebih rendah. Kondisi Masyarakat Kasta di Bali tersebut sangat berbeda bila kita bandingkan dengan kondisi masyarakat Jakarta yang lebih memperlihatkan situasi kelas sosial. Setiap anggota masyarakat Jakarta dapat menentukan apakah ingin memiliki status yang lebih tinggi ataukah tetap, semua tergantung pada usaha masing-masing. Penjelasan lebih lengkap apa yang dimaksud dengan kelas sosial akan Anda dapatkan pada Kegiatan Belajar kedua. Masyarakat dengan stratifikasi yang sangat terbuka dan yang sangat tertutup sulit sekali ditemukan di dunia. Hal ini dikarenakan pada sistem yang sangat tertutup sekalipun, seperti kasta misalnya masih ada celah untuk perpindahan kasta dengan syarat-syarat tertentu, misalnya pada masyarakat Bali masih dimungkinkan kasta sudra pindah ke kasta di atasnya melalui

4.16

Pengantar Sosiologi

perkawinan dengan syarat yang berkasta Sudra adalah perempuannya. Hal yang sama juga ada dalam stratifikasi yang sangat terbuka justru terlihat ada mekanisme yang berupaya untuk menghalangi perpindahan kelas yang lebih tinggi. Misalnya saja dengan perkawinan yang cenderung diarahkan dalam satu kelas yang sederajat. Soerjono Soekamto menjelaskan kondisi sistem tertutup dan terbuka ini dalam prinsip-prinsip umum dari mobilitas sosial (Soerjono Soekanto, 2002, hal: 251), yaitu: 1. hampir tak ada masyarakat yang sifat stratifikasinya tertutup yang sama sekali tidak dimungkinkan terjadinya mobilitas sosial, Sebagai contoh pada masyarakat Bali bila Brahmana berbuat salah maka Ia dapat turun kelas, sedangkan perkawinan dapat meningkatkan kasta yang rendah, dengan syarat yang memiliki kasta lebih rendah adalah perempuan. 2. mobilitas sosial pada sistem stratifikasi yang bersifat terbuka, akan mengalami hambatan-hambatan. Hal ini menunjukkan bahwa mobilitas yang terjadi tidak akan bebas sebebasnya. 3. setiap masyarakat mempunyai ciri khas bagi mobilitasnya. Kenaikan status seorang pada masyarakat yang satu berbeda dengan masyarakat yang lain. Pada masyarakat yang satu pendidikan tinggi mungkin saja sudah cukup meningkatkan status seseorang tapi pada masyarakat yang lain masih perlu ditambah kekayaan, atau jabatan pemerintahan. 4. kecepatan terjadinya mobilitas sosial karena faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan untuk setiap masyarakat berbeda-beda, dan tidak selalu menunjukkan kecenderungan kontinu untuk setiap mobilitas. Seseorang yang meningkat statusnya karena mengalami peningkatan kekayaan tidak secara otomatis meningkatkan kekuasaannya dalam suatu masyarakat, namun pada masyarakat lainnya peningkatan ekonomi secara otomatis meningkatkan kekuasaannya. Pitirin A. Sorokin mengatakan bahwa mobilitas sosial mempunyai beberapa saluran. Proses mobilitas melalui saluran ini disebut dengan social circulation. Saluran-saluran yang penting dalam mobilitas sosial di antaranya adalah: angkatan bersenjata, lembaga keagamaan, sekolah, organisasi politik, ekonomi, dan keahlian (Seoerjono Soekanto, 2002, hal: 252). Mari kita lihat masing-masing saluran dalam meningkatkan status setiap anggota masyarakat. Angkatan bersenjata dapat menjadi saluran untuk meningkatkan status sosial, mereka yang telah berjuang membela tanah air akan kita sebut sebagai

ISIP4110/MODUL 4

4.17

pahlawan, yang statusnya lebih tinggi dari pada orang biasa. Pangkat di angkatan bersenjata itu sendiri merupakan jenjang stratifikasi dalam masyarakat. Semakin tinggi pangkat mereka di angkatan bersenjata maka akan semakin tinggi penghormatan orang kepada mereka. Bila kita lihat dalam masyarakat sendiri angkatan bersenjata menduduki status sosial lebih tinggi bila kita kaitkan dengan keamanan, karena merekalah yang boleh memegang senjata untuk membela negara, dan individu lain menjadi tergantung dengan mereka, ini membuat posisi mereka dalam masyarakat menjadi lebih tinggi. Saluran yang kedua adalah lembaga keagamaan, hal ini bisa kita lihat dari penghormatan warga masyarakat kepada mereka yang mendalami agama. Para tokoh agama ini akan dapat mempengaruhi keputusan-keputusan dalam masyarakat, karena masyarakat yakin bahwa yang diucapkan adalah sebuah kebenaran berdasarkan keyakinan agama. Para tokoh agama ini merupakan pemimpin bagi umat pengikut agamanya. Bila kita lihat dalam agama Islam ketika salat maka para tokoh agama ini menjadi imam, dan orang akan mengikuti imamnya, juga akan mendengar petuah-petuahnya. Pada agama Kristen kita juga melihat di gereja-gereja setiap hari minggu, umat kristiani akan dengan seksama mendengarkan khotbah yang disampaikan pendetanya. Hal yang sama terjadi dalam agama-agama lainnya. Para tokoh agama ini memiliki pengikut dan dia sangat mempengaruhi keputusan kelompoknya. Pemahaman lebih dalam mengenai agama akan membantu seseorang untuk meningkatkan status sosialnya dalam masyarakat. Saluran ketiga adalah lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan social elevator bagi setiap individu yang ingin meningkatkan status sosial dalam masyarakat. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan meningkatkan status sosial dia dalam masyarakat. Sebagai contoh adalah diri Anda sendiri sebagai mahasiswa UT, Bukankah Anda mengikuti pendidikan tinggi ini bertujuan untuk meningkatkan status Anda. Gelar sarjana yang Anda akan raih tentunya akan membantu Anda meningkatkan pangkat Anda di kantor, membantu Anda mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Tanpa Anda sadari Anda sedang menaiki tangga untuk meraih status yang lebih tinggi dalam masyarakat. Lembaga pendidikan juga membantu seseorang memiliki kemampuan tertentu sehingga ia dapat menjadi ahli dalam bidang tertentu. Keahlian tersebut pada akhirnya akan membawa seorang individu pada status sosial tertentu. Masih ingat dengan ilustrasi di awal modul ini, ayah Sato

4.18

Pengantar Sosiologi

anak seorang buruh tani akhirnya dapat meningkatkan statusnya melalui pendidikan. Organisasi politik merupakan salah satu saluran bagi terjadinya mobilitas sosial. Bagaimanakah agar seseorang dapat memiliki kekuasaan? Salah satu cara untuk mendapatkan kekuasaan adalah melalui organisasi politik. Karena dengan organisasi politik kita dapat memasuki lembaga-lembaga politik, seperti eksekutif, dan legislatif. Setiap 5 tahun sekali kita memilih wakilwakil kita di parlemen. Bahkan sejak tahun 2004 kita mulai memilih secara langsung individu-individu yang kita anggap layak memimpin dan mewakili kita di DPR, DPRD, dan bahkan presiden kita. Suara terbanyak menjadi legitimasi bagi mereka untuk mendapatkan kekuasaan. Mengapa demikian? Karena suara terbanyak menjadikan bukti kepercayaan anggota masyarakat pada pemimpinnya. Mereka yang terpilih secara otomatis akan menentukan aturan-aturan yang berlaku bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, mereka akan memiliki kekuasaan berdasarkan wilayah kerja mereka. Organisasi ekonomi juga dapat menjadi saluran bagi terjadinya mobilitas sosial. Pada organisasi ekonomi, seperti perusahaan jenjang karier menunjukkan perbedaan status. Individu yang berada pada pekerjaan di jenjang yang tinggi akan memiliki status tinggi pada perusahaan. Individu tersebut tentunya memiliki kekayaan yang lebih banyak. Dengan kekayaan tersebut mereka bisa memiliki status yang lebih tinggi di masyarakat, karena mereka dapat membantu masyarakat di sekitarnya misalnya membantu pembangunan lingkungan sekitar, membantu mereka yang kekurangan atau bahkan memberikan pekerjaan pada masyarakat sekitarnya. Untuk hal ini peningkatan status sosial lebih dikarenakan kekayaan yang dimilikinya. Saluran selanjutnya adalah organisasi keahlian, yang hanya dimiliki oleh individu-individu tertentu, seperti artis, atlet. Keahlian individu-individu dalam berbagai bidang dapat meningkatkan status sosialnya. Seorang artis akan mengalami peningkatan status, peningkatan status ini mereka dapatkan karena individu lain menghargai kemampuan yang dimilikinya. Penghargaan ini dapat berupa pengidolaan orang terhadap dirinya, dan kekayaan yang didapat dari keahliannya tersebut. Hal yang sama terjadi bila seorang atlet dapat berhasil menjuarai suatu pertandingan. Orang akan menghormati kemampuannya karena telah mengharumkan nama lingkungannya, daerahnya, juga negara, mereka bahkan disebut sebagai seorang pahlawan. Penghormatan tersebut akan meningkatkan statusnya dalam masyarakat.

ISIP4110/MODUL 4

4.19

Perkawinan juga merupakan salah satu saluran yang dapat menyebabkan terjadinya mobilitas sosial. Mobilitas sosial yang dapat terjadi melalui perkawinan adalah mobilitas vertikal maupun mobilitas horizontal. Perkawinan dapat menyebabkan terjadinya perubahan etnis, perubahan kelompok sosial, misalnya dari status sebagai warga masyarakat desa menjadi warga masyarakat kota, atau status sebagai keluarga Jawa dapat berubah menjadi keluarga Batak. Sedangkan mobilitas vertikal dapat terjadi tentunya dari status sosial rendah menjadi status sosial tinggi atau bahkan sebaliknya. Seorang kaya mengawini seorang miskin, tentunya akan meningkatkan status orang miskin bila dia hidup sebagai orang kaya. Namun jika perkawinan tersebut tidak disetujui keluarga yang kaya dan mereka membentuk keluarga dilingkungan masyarakat miskin maka akan merubah status sebagai orang kaya menjadi orang miskin. Bagaimana apakah Anda sudah memahami mengenai social circulation dari mobilitas sosial, untuk mempermudah Anda memahaminya, Anda dapat mengidentifikasi pengamalan hidup Anda sendiri, saluran mana yang Anda gunakan untuk mendapatkan status sosial yang lebih tinggi? LAT IH A N Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Arman adalah seorang pengacara sukses di Jakarta. sebelum menjadi pengacara ia bekerja sebagai asisten peneliti di sebuah lembaga penelitian di wilayah Bandung. Untuk menjadi pengacara ia melanjutkan studinya di bidang hukum. Melihat keberhasilan Arman ayahnya sangat bersukur, karena ternyata kerja kerasnya sebagai seorang buruh bangunan tidak di sia-siakan oleh anaknya. Simaklah cerita di atas kemudian jawablah pertanyaan berikut: 1) Tentukanlah status dari jenis-jenis pekerjaan yang ada dalam cerita di atas. 2) Mobilitas apa saja yang telah di alami oleh Arman. 3) Jelaskan Saluran yang digunakan oleh Arman untuk meningkatkan status sosialnya.

4.20

Pengantar Sosiologi

Petunjuk Jawaban Latihan Perhatikanlah pekerjaan-pekerjaan mana yang dalam masyarakat Anda lebih dihargai, kemudian tentukanlah status pekerjaanpekerjaan tersebut, misalnya sebagai pekerjaan strata atas, strata menengah atau strata bawah. b) Susunlah pekerjaan-pekerjaan tersebut dari strata bawah ke strata atas. 2) Anda harus pahami terlebih dahulu perbedaan dari mobilitas horizontal, mobilitas vertikal, kemudian juga mobilitas vertikal intragenerasi, dan mobilitas vertikal antargenerasi. Pada cerita tersebut Arman mengalami lebih dari satu jenis mobilitas. 3) Pahamilah saluran-saluran mobilitas sosial, kemudian perhatikanlah pada cerita di atas apa yang digunakan Arman untuk meningkatkan statusnya. R A NG KU M AN Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achievement status) dan ada yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status). Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak. Pitirin A. Sorokin mendefinisikan stratifikasi sebagai pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hierarkis. Sedangkan menurut Bruce J. Cohen sistem stratifikasi akan menempatkan setiap individu pada kelas sosial yang sesuai berdasarkan kualitas yang dimiliki. Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu. Mobilitas sosial merupakan perubahan status individu atau kelompok dalam stratifikasi sosial. Mobilitas dapat terbagi atas mobilitas vertikal dan mobilitas horizontal. Mobilitas vertikal juga dapat terbagi dua, mobilitas vertikal intragenerasi, dan mobilitas antargenerasi. Berkaitan dengan mobilitas ini maka stratifikasi sosial memiliki dua sifat, yaitu stratifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup. Pada stratifikasi terbuka kemungkinan terjadinya mobilitas sosial cukup besar, sedangkan 1) a)

ISIP4110/MODUL 4

4.21

pada stratifikasi tertutup kemungkinan terjadinya mobilitas sosial sangat kecil.

TE S F OR M AT IF 1 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Menurut Bruce J. Cohen, stratifikasi sosial menempatkan individu berdasarkan .... A. tindakan yang dilakukan B. peran yang dijalankan C. status yang dimiliki D. kualitas yang dimiliki 2) Tokoh sosiologi yang mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai pembedaan anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hirarkis adalah …. A. Pitirin Sorokin B. Bruce J. Cohen C. Karl Marx D. Max Weber 3) Salah satu faktor yang menyebabkan pertumbuhan stratifikasi sosial secara alamiah adalah … A. hierarki wewenang suatu negara B. hierarki wewenang suatu perusahaan C. sistem kekerabatan D. sistem pendidikan 4) Stratifikasi diperlukan agar peran-peran dalam masyarakat dapat berjalan, pendapat ini dikemukakan para sosiolog beraliran …. A. fungsional B. konflik C. interaksionisme simbolik D. pertukaran sosial 5) Menurut Karl Marx, jumlah strata dalam stratifikasi sosial pada masyarakat industri adalah ……..lapisan A. 2 B. 3

4.22

Pengantar Sosiologi

C. 6 D. 7 6) Mobilitas sosial yang diukur dengan melihat strata orang tua disebut dengan mobilitas .… A. horizontal B. lateral C. vertikal intragenerasi D. vertikal antargenerasi 7) Mobilitas vertikal akan sangat sulit terjadi pada sistem stratifikasi …. A. kelas B. Partai C. terbuka D. tertutup 8) Pada masyarakat Bali perpindahan status dari kasta Sudra ke kasta yang lebih tinggi dimungkinkan dengan syarat-syarat tertentu melalui … A. pendidikan B. perkawinan C. Organisasi ekonomi D. Jabatan Politik 9) Menurut Pitirin A. Sorokin, pengertian social sirculation adalah .… A. siklus dari mobilitas sosial B. perputaran yang terjadi dalam mobilitas sosial C. penggunaan saluran-saluran sosial dalam proses mobilitas sosial D. Proses mobilitas sosial hanya dapat terjadi melalui saluran-saluran sosial 10) Saluran dalam proses mobilitas sosial yang disebut juga dengan social elevator adalah …. A. Pendidikan B. Perkawinan C. Organisasi politik D. Organisasi ekonomi Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

ISIP4110/MODUL 4

4.23

Tingkat penguasaan =

Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal

× 100%

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

4.24

Pengantar Sosiologi

Kegiatan Belajar 2

Dimensi Stratifikasi Sosial

P

ada kegiatan belajar dua ini kita akan mempelajari faktor-faktor sosial apa saja yang dapat kita gunakan untuk membentuk stratifikasi sosial. Anda sudah memiliki pengalaman mengelompokan masyarakat di sekitar Anda melalui tugas-tugas yang Anda kerjakan pada kegiatan belajar pertama. Dari pengalaman tersebut tentunya Anda bisa membayangkan faktor-faktor apa yang menjadi dasar Anda mengelompokan masyarakat secara vertikal. Pada masyarakat yang memiliki jenis pekerjaan yang cenderung sama kita akan mudah melakukan pengelompokan. Tetapi pengelompokan vertikal tersebut akan menjadi sulit dilakukan dalam masyarakat kota yang sudah sangat banyak jenis-jenis pekerjaan. Untuk itu sangat penting sebelum kita mengelompokan kita mengetahui terlebih dahulu faktor apa yang kita jadikan patokan. Penjelasan dalam kegiatan belajar dua ini akan dimulai dengan melihat teori mengenai dimensi stratifikasi sosial dari para sosiolog. Pembahasan kemudian akan kita lanjutkan dengan membahas mengenai kelas sosial, dan berbagai hal yang berkaitan dengan kelas sosial. Kegiatan belajar dua ini akan diakhiri dengan penjelasan mengenai bentuk-bentuk dari stratifikasi sosial dan bagaimana cara mempelajari stratifikasi sosial yang ada dalam suatu masyarakat. A. PRIVILEGE, PRESTISE DAN POWER Privilege, prestise dan power merupakan tiga dimensi yang dipergunakan oleh sebagian para sosiolog dalam menjelaskan stratifikasi sosial. Tidak semua tokoh menggunakan ketiganya, ada yang hanya menggunakan satu dimensi untuk menjelaskan stratifikasi, ada yang lebih dari satu. Sekarang mari kita bahas satu persatu pengertian dari dimensidimensi tersebut. Privilege merupakan dimensi stratifikasi sosial yang berkaitan dengan kekayaaan atau ekonomi dari individu atau kelompok tertentu dalam suatu masyarakat. Faktor-faktor yang digunakan dalam mengukur privilege ini diantaranya adalah pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan kepemilikan. Dimensi kedua adalah prestise, dimensi ini berkaitan dengan nilai-nilai

ISIP4110/MODUL 4

4.25

kehormatan yang diyakini oleh suatu masyarakat dalam memandang hal tertentu yang melekat pada individu atau sekelompok orang. Pengukuran dimensi prestise ini sangat berkaitan dengan budaya suatu masyarakat. Nilai budaya suatu masyarakatlah yang memberikan keistimewaaan pada hal-hal tertentu, misalnya kebangsawanan, kemampuan di bidang keagamaan (Ulama, kyai, Pastur). Dimensi terakhir adalah power, dimensi ini berkaitan dengan kekuasaan yang dimiliki oleh individu atau sekelompok orang. Berbicara mengenai kekuasaan tentu saja sangat berkaitan dengan kekuatan yang dapat mempengaruhi orang lain. Pada penjelasan saya diawal, dikatakan bahwa tidak semua tokoh sosiologi menggunakan ketiga dimensi ini dalam melihat stratifikasi sosial dalam suatu masyarakat. Salah satu tokoh yang menggunakan satu dimensi dalam melihat stratifikasi sosial dalam suatu masyarakat adalah Karl Marx. Tokoh ini menjelaskan bahwa di dalam masyarakat industri hanya ada dua kelas, yaitu kelas Borjuis dan kelas Proletar. Perbedaan kedua kelas ini adalah pada kepemilikan alat produksi. Kelas Borjuis adalah kelas yang memiliki alat produksi, sedangkan kelas proletar adalah kelas yang tidak memiliki alat produksi (Kamanto Sunarto, 2000: 92). Pada perkembangan masyarakat yang sangat kompleks saat ini teori Marx ini tentunya banyak mendapatkan kritikan dalam masyarakat. Selain dikarenakan kelas dalam masyarakat menjadi banyak sehingga tidak dapat hanya dibagi ke dalam dua kelas, juga adanya faktor lain yang menentukan pembagian kelas secara vertikal dalam masyarakat. Sekarang mari kita lihat para sosiolog yang menggunakan ketiga dimensi tersebut untuk menjelaskan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Tokoh pertama adalah Max Weber. Ia menjelaskan ketiga dimensi tersebut dengan memperkenalkan konsep-konsep kelas, kelompok status, dan partai (Kamanto Sunarto, 2000: 92-93). Kelas sosial dijelaskannya sebagai kesamaan dalam hal peluang untuk hidup atau nasib. Hal ini sangat berkaitan dengan penguasaan atas barang dan kesempatan memperoleh penghasilan dalam pasaran komoditas atau pasaran kerja. Kelompok status oleh Max Weber dijelaskan sebagai perbedaan anggota masyarakat yang disebabkan oleh ukuran kehormatan. Kelompok status ini ditandai oleh persamaan gaya hidup, berbagai hak istimewa, monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material. Sedangkan partai dijelaskan oleh Max Weber sebagai suatu gejala pembedaan masyarakat yang lebih didasarkan karena faktor kekuasaan. Kekuasaan oleh Weber diartikan sebagai peluang bagi seseorang

4.26

Pengantar Sosiologi

atau sejumlah orang untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri melalui suatu tindakan komunal, meskipun tindakan tersebut mengalami pertentangan dari kelompok lain yang ikut serta dalam tindakan komunal. Tokoh kedua yang menggunakan ketiga dimensi stratifikasi adalah Peter Berger. Ia menjelaskan stratifikasi sosial sebagai penjenjangan masyarakat menjadi atasan-bawahan. Pembedaan masyarakat menjadi atasan dan bawahan didasarkan pada dimensi kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan. Tokoh ketiga yang menggunakan ketiga dimensi stratifikasi adalah Jeffries and Randsford. Mereka mengikuti pemikiran Max Weber dengan membedakan tiga macam stratifikasi, yaitu hirarki kekuasaan yang berdasarkan kekuasaan, hirarki kelas yang berdasarkan penguasaan atas barang dan jasa, dan hirarki status yang didasarkan pada pembagian kehormatan dan status sosial. Adanya dimensi dari stratifikasi sosial ini mengarahkan kepada kita bahwa ketika kita melakukan pembedaan masyarakat secara vertikal, kita harus terlebih dahulu menetapkan dimensi mana yang akan kita gunakan. Bila kita menggunakan dimensi privilege maka kita mengfokuskan pada kriteria ekonomi, hal ini berarti kita lebih membicarakan mengenai kelas sosial atau hirarki kelas. Bila kita lebih memfokuskan pada kriteria kehormatan maka kita lebih membicarakan mengenai kelompok status atau hirarki status. Dan tentunya bila kita memfokuskan pada dimensi kekuasaan kita akan lebih membicarakan masalah hirarki kekuasaan. Apakah ketiganya tidak dapat kita gunakan sekaligus untuk melihat stratifikasi dalam masyarakat? Mungkin pertanyaan seperti itu muncul. Kajian terhadap ketiga dimensi dalam melihat stratifikasi sosial tentu akan lebih baik, hal ini akan lebih menunjukan kompleksitas dalam masyarakat secara hirarki. Mengapa? Karena dengan menggunakan ketiga dimensi tersebut Anda akan menemukan seorang tokoh masyarakat yang memiliki posisi atas untuk ketiga dimensi, ada yang hanya memiliki posisi atas di dua dimensi namun dimensi lainnya rendah, atau justru hanya menempati posisi atas di satu dimensi. Misalnya saja seorang pemimpin pesantren di suatu desa, Ia akan menempati posisi atas pada dimensi power, menempati posisi menengah di dimensi privilege karena hasil pertaniannya hanya cukup untuk membiaya pesantrennya, dan menempati posisi rendah di dimensi power, karena kegiatannya hanya dilakukan dalam hal keagamaan, dimana pengaruhnya hanya pada para santri dan tidak pada seluruh mayarakat di desa tersebut.

ISIP4110/MODUL 4

4.27

Hal ini tentunya berbeda bila kita menempatkan Abdurrahman atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Gus Dur. Bila kita menempatkan Dia dalam dimensi privilege tentunya Gus Dur dapat menempati posisi atas, karena kepemilikannya cukup banyak. Pada dimensi prestise Gus Dur tentunya masih menempati posisi atas terutama untuk kalangan NU. Sedangkan pada dimensi Power Gus Dur masih memilki kekuasaan terutama dalam mempengaruhi partai politik tertentu, meskipun posisi powernya telah menurun menjadi posisi menengah, bila dibandingkan saat Beliau masih menjadi presiden yang menempati posisi atas.

Tugas : Pada tugas pertama dalam kegiatan belajar 1 Anda diminta menentukan status pekerjaan di lingkungan Anda. Sekarang cobalah Anda menggolongkan status pekerjaan tersebut dengan menggunakan dimensi stratifikasi sosial? Jawab : Atas ______________ ______________ ______________

Menengah _____________ _____________ _____________

Bawah ______________ ______________ ______________

Petunjuk: 1. Pergunakanlah privilege, prestise, dan power untuk menentukan status pekerjaan yang Anda temukan dalam tugas sebelumnya 2. Setiap jenis pekerjaan dapat menempati posisi yang sama untuk ketiga dimensi dapat pula berbeda 3. Anda juga kemudian dapat menyusun hierarki pekerjaan untuk masing-masing dimensi

B. KELAS SOSIAL Telah kita ketahui bahwa kelas sosial merupakan suatu pembedaan individu atau kelompok sosial berdasarkan kriteria ekonomi. Konsep ini akan kita pelajari lebih dalam karena konsep kelas sosial telah banyak dikenal dan memberikan pengaruh pada kehidupan masyarakat. Untuk mendalami konsep kelas sosial ini kita akan melihat kriteria tradisional yang diungkapkan oleh

4.28

Pengantar Sosiologi

Soerjono Soekanto (Soerjono Soekanto, 2002; 229-230). Kriteria tradisional tersebut adalah: 1. jumlah anggota yang menempati kelas-kelas sosial dalam suatu masyarakat; 2. kelas sosial memiliki kebudayaan yang sama, yang menentukan hak dan kewajiban warganya; 3. kelas-kelas sosial dalam masyarakat selalu ada atau bersifat langgeng; 4. kelas-kelas sosial dalam masyarakat memiliki tanda atau lambanglambang yang merupakan ciri khas setiap kelas; 5. masing-masing kelas sosial memiliki batasan yang tegas untuk membedakan satu kelas sosial dengan kelas sosial lainnya; 6. masing-masing kelas sosial menunjukan sikap bertentangan dengan kelas lainnya (antagonisme), dalam hal-hal tertentu. Kriteria tersebut akan membantu kita dalam melihat perbedaan masingmasing kelas sosial yang terdapat dalam suatu masyarakat. Melalui keenam kriteria tersebut kita akan dapat mengetahui secara mendetail mengenai setiap kelas sosial yang terdapat dalam masyarakat. Informasi yang bisa kita dapatkan diantaranya adalah perbedaan jumlah setiap kelas sosial, kebudayaan masing-masing kelas. Kebudayaan setiap kelas sosial akan membentuk subkultur dari budaya masyarakatnya. Tanda atau simbol dari setiap kelas sosial juga kita ketahui, hal ini berkaitan erat dengan konsep simbol status, yang dipergunakan individu untuk menunjukkan kelas sosialnya. Menurut Horton dan Hunt keberadaan kelas sosial dalam masyarakat berpengaruh terhadap beberapa hal diantaranya adalah (Horton dan Hunt, Jilid 2 1992: 12-13): 1. Identifikasi diri dan kesadaran kelas sosial. Identifikasi diri atas kelas sosial memberikan beberapa pengaruh terhadap perilaku seseorang. Perasaan identifikasi ini membuat individu cenderung untuk meniru norma-norma perilaku kelas sosial yang ia anggap sebagai kelas sosialnya. Misalnya seseorang yang merasa sebagai kelas eksekutif akan berusaha untuk makan atau minum di kafe dari pada di warung tegal. Walaupun bila diukur dengan ukuran privilege sesungguhnya belum dapat dikategorikan sebagai kelas eksekutif. 2. Pola-pola keluarga. Kelas sosial dapat mempengaruhi pola-pola keluarga yang terbentuk. Alternatif pembentukan keluarga pada kalangan atas

ISIP4110/MODUL 4

4.29

akan lebih banyak dibandingkan pada kalangan bawah. Sebagai contoh seorang wanita dengan penghasilan tinggi, yang secara ekonomi mandiri akan dapat memilih untuk membentuk rumah tangga dengan laki-laki ataukah membentuk keluarga single parent. Sedangkan bagi wanita dengan penghasilan rendah atau tidak terlalu mandiri secara ekonomi akan cenderung mencari pasangan untuk membentuk rumah tangga. Berkaitan dengan pola-pola keluarga ini, kita bisa melihat bahwa setiap kelas sosial merupakan suatu subkultur. Sebagai suatu subkultur, kelas sosial akan meliputi sistem perilaku, seperangkat nilai dan cara hidup. Ketiga hal tersebut akan berperan dalam membantu anggota dari kelas sosial untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang dijalaninya. Selain itu kelas sosial sebagai suatu subkultur ini juga berperan menyiapkan anggota baru atau anak-anak mereka untuk menerima kelas sosial mereka. Keadaan ini yang menyebabkan terjadinya pula perbedaan dalam sosialisasi yang diterima oleh anak-anak di setiap kelas sosial. Nilai-nilai yang ditanamkan pada anak-anak akan sangat berbeda di setiap kelas sosial. (Horton dan Hunt, Jilid 2 1992: 17). Sebagai contoh kebiasaan membaca akan lebih ditanamkan pada kelas atas atau menengah, dibandingkan pada kelas bawah. Hal ini bisa dimengerti karena pada kelas bawah orang tua akan sangat sulit memberikan fasilitas membaca karena penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 3. Munculnya simbol status. Simbol status merupakan simbol yang menandakan status seseorang dalam masyarakat. Peter Berger mengatakan bahwa seseorang seringkali menunjukkan kepada orang lain apa yang telah diraihnya. Dalam hal ini simbol status berfungsi untuk memberitahukan status yang diduduki seseorang. Ada beberapa hal yang menunjukkan simbol status, diantaranya adalah cara menyapa, bahasa, gaya bahasa, busana, perhiasan, bentuk dan letak rumah, kegiatan rekreasi. (Kamanto Sunarto, 2000: 98-102). Sebagai contoh simbol status dalam hal busana. Kita seringkali melihat seseorang yang tetap membeli sebuah pakaian yang bila kita lihat dari harganya mungkin bisa dipergunakan untuk kelas bawah memenuhi kebutuhan pokok selama sebulan. Namun demi sebuah simbol status hal tersebut harus dilakukan.

4.30

Pengantar Sosiologi

C. BENTUK-BENTUK STRATIFIKASI SOSIAL Pembahasan kita selanjutnya adalah mengenai bentuk stratifikasi. Bentuk stratifikasi dapat dibedakan menjadi bentuk lapisan bersusun yang diantaranya dapat berbentuk piramida, piramida terbalik, dan intan. Masingmasing bentuk tersebut menunjukkan kondisi masyarakat yang berbeda. Bentuk dan kondisi masyarakatnya adalah sebagai berikut: 1. Primida
Atas Menengah Bawah

Gambar 4.1

Untuk bentuk piramida ini menunjukan jumlah lapisan atas lebih sedikit dibandingkan lapisan menengah atau bawah. Bentuk stratifikasi seperti ini banyak kita jumpai pada masyarakat di negara-negara berkembang. Negara kita memperlihatkan bentuk stratifikasi ini. 2. Piramida Terbalik

Atas

Menengah

Bawah

Gambar 4.2

ISIP4110/MODUL 4

4.31

Bentuk piramida terbalik menunjukkan lapisan atas lebih banyak dibandingkan lapisan menengah dan bawah. Hal ini adalah tipe ideal dari suatu masyarakat, bentuk ini akan ada dinegara di mana sebagian besar rakyatnya memiliki tingkat kekayaan yang relatif tinggi. 3. Intan
Atas

Menengah

Bawah

Gambar 4.3

Sedangkan bentuk intan menunjukan proporsi yang sama untuk lapisan atas dan bawah, porporsi terbesar ditempati oleh kelas menengah. Hal ini banyak dijumpai di negara-negara maju. Selain lapisan bersusun bentuk stratifikasi dapat juga diperlihatkan dalam bentuk melingkar. Bentuk ini sangat erat kaitannya dengan dimensi kekuasaan. Pada bentuk stratifikasi ini akan muncul lapisan lingkaran luar, lapisan lingkaran tengah, dan lapisan lingkaran luar. Lapisan lingkaran dalam memiliki kekuasaan lebih besar bila dibandingkan dengan lapisan lingkaran tengah atau lingkaran luar (Robert Lawang :1994: 6.7-6.8). Kita dapat menggunakan partai politik dalam melihat bentuk stratifikasi dari bentuk lapisan melingkar ini. Para elit politik atau elit partai akan menempati lingkaran dalam yang sangat dekat dengan pimpinan partai yang memiliki kekuasaan penuh atas berjalannya suatu partai politik. Lingkaran selanjutnya tentunya akan ditempati oleh anggota Gambar 4.4 partai yang tidak termasuk dalam kepengurusan, dan kemudian anggota partai biasa, serta partisipan. Pada gambaran partai tersebut tentunya kita melihat semakin ke dalam lingkaran semakin ditempati oleh individu-individu yang memiliki kekuasaan besar

4.32

Pengantar Sosiologi

mempengaruhi keputusan-keputusan partai. Sedangkan pada lapisan terluar tentunya diduduki oleh individu-individu kurang memiliki kekuasaan sehingga tidak dapat mempengaruhi keputusan-keputusan dalam partai politik. D. CARA MEMPELAJARI STRATIFIKASI Setelah Anda memahami pengertian stratifikasi sosial, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah kita dapat mengetahui stratifikasi sosial dalam suatu masyarakat? Dan bagaimana pula kita dapat menentukan individu-individu yang masuk dalam setiap lapisan di masyarakat? Untuk dapat menjawab hal tersebut kita dapat melihat cara-cara para ahli mempelajari stratifikasi sosial. Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk bisa mengetahui bentuk dari stratifikasi sosial, yaitu dengan pendekatan obyektif, pendekatan subyektif dan pendekatan reputasional. Pendekatan pertama adalah pendekatan obyektif, pada pendekatan ini kita berdiri sebagai seorang pengamat yang mengukur status seseorang atau kelompok lain dengan menggunakan variabel tertentu seperti pendidikan pekerjaan, penghasilan, dan kepemilikan. Obyektivitas pendekatan ini adalah pada variabel-variabel yang digunakan, yang tidak melibatkan penilaian pribadi kita, maupun penilaian individu atau kelompok yang kita teliti. Pada pendekatan ini kita hanya mengumpulkan data mereka untuk kemudian kita menyimpulkan status sosial mereka. Tentunya untuk melakukan pendekatan ini kita harus bersandarkan pada teori, dalam menentukan variabel-variabel yang kita gunakan. Berbeda dengan pendekatan obyektif pada pendekatan subyektif kita minta individu atau kelompok untuk menilai atau menempatkan dirinya sendiri pada posisi dalam stratifikasi sosial. Sebagai peneliti kita menentukan lapisannya misalnya dalam tiga lapisan, atas, menengah, bawah. Kemudian kita meminta setiap individu menentukan sendiri dirinya berada pada status sosial yang mana. Pada pendekatan kedua ini jelas stratifikasi yang akan kita ketahui sangat dipengaruhi oleh subyektivitas individu atau kelompok yang kita amati. Melalui pendekatan ini kita akan mendapatkan gambaran subyektif mengenai stratifikasi. Pendekatan reputasional sedikit berbeda dengan pendekatan subyektif. Bila pada pendekatan subyektif kita meminta individu menentukan status sosialnya, maka pada penedekatan reputasional kita meminta individu untuk

ISIP4110/MODUL 4

4.33

menentukan status sosial individu atau kelompok lain. Pada pendekatan ini kita harus memberikan daftar pekerjaan-pekerjaan, atau kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat yang kita ingin ketahui statusnya. Individu yang kita teliti kita minta untuk menentukan status pekerjaan atau kelompok tersebut. Melalui pendekatan ini kita akan dapat mengetahui stratifikasi berdasarkan penghargaan atau nilai kehormatan yang dimiliki suatu masyarakat untuk pekerjaan atau kelompok tertentu dalam masyarakat. LAT IH A N Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Berikut ini daftar jenis-jenis pekerjaan: Dokter, pengacara, guru, dosen, pesuruh, penceramah agama, tukang ojek, marketing, manager, menteri, Supir, pilot, kuli bangunan, buruh, pengusaha, banker, pegawai negeri, penyanyi, pelawak, dan wartawan. 1) Susunlah 20 jenis pekerjaan tersebut dengan menggunakan dimensi stratifikasi. 2) Jelaskanlah pendekatan yang Anda gunakan untuk menyusun ke 20 jenis perkerjaan tersebut. 3) Jika ke 20 jenis pekerjaan tersebut terwakili oleh satu orang individu, bentuk stratifikasi apa yang akan terlihat dari ke 20 orang tersebut. Petunjuk Jawaban Latihan 1) Tentukanlah pendekatan yang Anda gunakan dalam menyusun ke 20 jenis pekerjaan tersebut, di sini Anda dapat menjadi sumber informasi untuk menyusun jenis pekerjaan tersebut. 2) Pahamilah perbedaan dimensi privilege, prestise, dan power. Anda dapat menggunakan salah satu dimensi, dapat pula menggunakan ketiga dimensi tersebut. 3) Susunlah ke 20 jenis pekerjaan tersebut ke dalam strata atas, menengah, dan bawah. 4) Pada pertanyaan ketiga berarti Anda akan memiliki 20 orang yang mewakili masing-masing pekerjaan, berdasarkan susunan pekerjaan yang

4.34

Pengantar Sosiologi

Anda telah buat hitunglah berapa yang mewakili strata atas, menengah, dan bawah. 5) Perhatikanlah bentuk-bentuk stratifikasi, bentuk mana yang terlihat dari susunan yang telah Anda buat, bentuk piramida, piramida terbalik, ataukah bentuk intan. R A NG KU M AN Untuk menjelaskan stratifikasi sosial ada tiga dimensi yang dapat dipergunakan yaitu : privilege, prestise, dan power. Ketiga dimensi ini dapat dipergunakan sendiri-sendiri, namun juga dapat didigunakan secara bersama. Karl Marx menggunakan satu dimensi, yaitu privilege atau ekonomi untuk membagi masyarakat industri menjadi dua kelas, yaitu kelas Borjuis dan Proletar. Sedangkan Max Weber, Peter Berger, Jeffries dan Ransford mempergunakan ketiga dimensi tersebut. Dari penggunaan ketiga dimensi tersebut Max Weber memperkenalkan konsep : kelas, kelompok status, dan partai. Kelas sosial merupakan suatu pembedaan individu atau kelompok berdasarkan kriteria ekonomi. Untuk mendalami kelas sosial ini Soerjono Soekanto memberikan 6 kriteria tradisional. Menurut Horton and Hunt keberadaan kelas sosial dalam masyarakat berpengaruh terhadap beberapa hal, diantaranya adalah identifikasi diri dan kesadaran kelas sosial, pola-pola keluarga, dan munculnya simbol status dalam masyarakat. Bentuk stratifikasi dapat dibedakan menjadi bentuk lapisan bersusun yang diantaranya dapat berbentuk piramida, piramida terbalik, dan intan. Selain lapisan bersusun bentuk stratifikasi dapat juga diperlihatkan dalam bentuk melingkar. Bentuk stratifikasi melingkar ini terutama berkaitan dengan dimensi kekuasaan. Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk bisa mengetahui bentuk dari stratifikasi sosial. Ketiga cara tersebut adalah dengan pendekatan objektif, pendekatan subyektif, dan pendekatan reputasional.

ISIP4110/MODUL 4

4.35

TE S F OR M AT IF 2 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Dimensi stratifikasi sosial yang diukur dengan pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan adalah dimensi .... A. power B. prestise C. privilege D. partai 2) Menurut Max Weber kesamaan individu-individu tertentu dalam hal peluang untuk hidup atau nasib disebut dengan …. A. kelas sosial B. status sosial C. kelompok sosial D. strata sosial 3) Persamaan gaya hidup menurut Max Weber merupakan salah satu alat untuk melihat ….. seseorang A. kelompok status B. kelompok kelas C. kelompok sosial D. strata sosial 4) Menurut Jeffries dan Ransford, hirarki status dibuat berdasarkan pembagian …. A. kekuasaan dan kelas sosial B. kehormatan dan status sosial C. kekuasaan dan kehortmatan D. status sosial dan kelas sosial 5) Perasaan identifikasi diri dan kesadaran kelas sosial dapat menimbulkan…. A. alternatif pembentukan keluarga single parents bagi perempuan di kelas atas B. peniruan perilaku kelas sosial yang dianggap sebagai kelas sosialnya C. penggunaan barang-barang tertentu untuk menunjukkan kelas sosialnya D. perubahan pola-pola keluarga pada strata tertentu

4.36

Pengantar Sosiologi

6) Menurut Peter Berger, sesuatu yang digunakan oleh individu untuk memberitahukan status yang didudukinya disebut dengan …. A. simbol status B. simbol kelas C. status sosial D. kelas sosial 7) Bentuk lapisan bersusun yang memperlihatkan jumlah strata atas dan bawahnya seimbang disebut dengan …. A. lapisan melingkar B. piramida terbalik C. piramida D. intan 8) Kekuasaan dalam partai politik dapat diperlihatkan dengan stratifikasi sosial berbentuk …. A. lapisan melingkar B. piramida terbalik C. piramida D. intan 9) Bentuk stratifikasi yang menunjukkan tingkat kemiskinan masih sangat tinggi adalah pada bentuk .... A. lapisan melingkar B. piramida terbalik C. piramida D. intan 10) Pendekatan stratifikasi yang meminta individu untuk menentukan strata bagi kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat disebut dengan pendekatan …. A. Obyektif B. Subyektif C. reputasional D. proporsional

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

ISIP4110/MODUL 4

4.37

Tingkat penguasaan =

Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal

× 100%

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.

4.38

Pengantar Sosiologi

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1 1) D. Bruce J. Cohen mengatakan bahwa sistem stratifikasi menempatkan orang berdasarkan kualitas yang dimiliki untuk ditempatkan pada kelas sosial yang sesuai. 2) A. Pitirin A. Sorokin mendefinisikan stratifikasi sebagai pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelaskelas secara hierarkis. 3) C. faktor yang menyebabkan stratifikasi tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, harta dalam batasbatas tertentu. 4) A. pemikiran fungsionalis melihat stratifikasi sebagai sesuatu yang diperlukan agar peran-peran dalam masyarakat dapat berjalan. 5) A. Karl Marx menggunakan 2 strata untuk menjelaskan stratifikasi sosial yang terdapat dalam masyarakat industri. 6) D. mobilitas vertikal antargenerasi adalah mobilitas vertikal yang dialami oleh seseorang, mengacu pada perbedaan status dirinya dengan status orang tuanya. 7) C pada stratifikasi tertutup kemungkinan terjadi perpindahan posisi individu dalam stratifikasi sosial sangat kecil sekali. 8) B. Pada masyarakat Bali masih dimungkinkan kasta sudra pindah ke kasta di atasnya melalui perkawinan dengan syarat yang berkasta Sudra adalah perempuannya. 9) C. Pitirin A. Sorokin mengatakan bahwa mobilitas sosial mempunyai beberapa saluran. Proses mobilitas melalui saluran ini disebut dengan social sirculation. 10) A. Pendidikan merupakan social elevator bagi setiap individu yang ingin meningkatkan status sosial dalam masyarakat. Tes Formatif 2 1) C. Faktor-faktor yang digunakan dalam mengukur privilege ini di antaranya adalah pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan kepemilikan. Menurut Max Weber kelas sosial dijelaskannya sebagai kesamaan dalam hal peluang untuk hidup atau nasib. Max Weber mengatakan bahwa kelompok status ini ditandai oleh persamaan gaya hidup, berbagai hak istimewa, monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material.

2) 3)

A. A.

ISIP4110/MODUL 4

4.39

4) 5)

B. B.

6) 7)

A. D.

8) 9)

A. C.

10)

C.

Menurut Jeffris dan Ransfordc hirarki status yang didasarkan pada pembagian kehormatan dan status sosial. Perasaan identifikasi dan kesadaran kelas sosial tertentu membuat individu cenderung untuk meniru norma-norma perilaku kelas sosial yang ia anggap sebagai kelas sosialnya. Peter Berger mengatakan bahwa simbol status dapat berfungsi untuk memberitahukan status yang diduduki seseorang. Stratifikasi yang berbentuk intan menunjukkan proporsi yang sama untuk lapisan atas dan bawah, proporsi terbesar ditempati oleh kelas menengah. Untuk melihat kekuasaan dalam partai politik dapat digunakan bentuk stratifikasi lapisan melingkar. Stratifikasi berbentuk piramida menunjukkan jumlah lapisan atas sedikit, dengan jumlah lapisan terbesar ada pada lapisan bawah. Pada pendekatan reputasional kita meminta individu untuk menentukan status sosial individu atau kelompok lain.

4.40

Pengantar Sosiologi

Glosarium
Intan : bentuk stratifikasi yang menunjukkan strata atas dan bawah memiliki proporsi sama, dan strata menengah memiliki proporsi terbesar. strata dalam stratifikasi yang dibuat secara bersusun dari strata bawah ke strata atas. Strata dalam stratifikasi yang dibuat melingkar, lingkaran terluar menunjukkan kekuasaan yang semakin kecil. perpindahan status individu dalam satu strata sosial. perpindahan status individu ke atas atau ke bawah. perpindahan status individu ke atas atau ke bawah dibandingkan dengan status orang tuanya. perpindahan status individu ke atas atau ke bawah yang dialami sepanjang hidupnya. bentuk stratifikasi yang menunjukkan strata bawah memiliki proporsi terbesar. bentuk stratifikasi yang menunjukkan strata atas memiliki proporsi terbesar. dimensi stratifikasi berdasarkan kehormatan atau status sosialnya. dimensi stratifikasi berdasarkan kekayaan atau ekonomi. dimensi stratifikasi berdasarkan kehormatan atau status sosialnya.

Lapisan bersusun

:

Lapisan melingkar

:

Mobilitas horizontal

:

Mobilitas vertikal

:

Mobilitas vertikal antargenerasi

:

Mobilitas vertikal intragenerasi Piramida

:

:

Piramida terbalik

:

Power

:

Privilige

:

Prestise

:

ISIP4110/MODUL 4

4.41

Simbol status

:

simbol yang menandakan status seseorang dalam masyarakat. proses mobilitas sosial melalui saluransaluran sosial. saluran sosial yang secara otomatis meningkatkan status sosial individu. Penggolongan individu secara vertikal berdasarkan status yang dimilikinya.

Social sirculation

:

Social elevator

:

Stratifikasi sosial

:

4.42

Pengantar Sosiologi

Daftar Pustaka
Bruce J. Cohen. (1992). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

Kamanto Sunarto. (2000). Pengantar Sosiologi. Jakarta: FE-UI.

Robert M. Z. Lawang. (1994). Pengantar SOSIOLOGI. Jakarta: Universitas Terbuka. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt. (1992). Sosiologi. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Kembali Ke Daftar Isi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->