P. 1
Pencahayaan Ruangan

Pencahayaan Ruangan

4.0

|Views: 10,133|Likes:
Published by alekawa23
Pencahayaan Ruangan merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan......
Pencahayaan Ruangan merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan......

More info:

Published by: alekawa23 on Jan 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2014

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Latar Belakang Cahaya hanya merupakan satu bagian berbagai jenis gelombang

elektromagnetis yang terbang ke angkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu, yang nilainya dapat dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam spektrum elektromagnetisnya. Pencahayaan adalah suatu aspek penting bagi keselamatan kerja. Pencahayaan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat obyek-obyek yang dikerjakan secara jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya tidak perlu. Lebih dari itu, penerangan yang memadahi memberikan kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Sejak dimulainya peradaban hingga sekarang, manusia meciptakan cahaya hanya dari api, walaupun lebih banyak sumber panas daripada cahaya. Di abad ke 21 ini kita masih menggunakan prinsip yang sama dalam menghasilkan panas dan cahaya melalui lampu pijar. Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk penerangan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam. Perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20 -45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3 - 10% untuk pemakaian energi total oleh plant industri. Hampir kebanyakan pengguna energi komersial dan industri peduli penghematan energi dalam sistim penerangan. I.2. Tujuan a. b. c. d. e. f. g. Memahami sistem pencahayaan didalam ruangan Mendata faktor-faktor aksitektural yang mempengaruhi pencahayaan Mengetahui fungsi visual dan tingkat pencahayaan Mengetahui system pencahayaan yang akan digunakan Mengetahui jenis-jenis lampu yang dipakai didalam ruangan Mengetahui jumlah dan posisi lampu dalam ruangan Mengetahui peletakan control

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistim pencahayaan yang baik, akan menempatkan sejumlah cahaya yang cukup dengan jenis yang sesuai pada tempat yang tepat. Jumlah cahaya yang diperlukan, tergantung pada jenis aktivitas yang akan dilakukan, cahaya yang dibutuhkan diruang pemulihan, dan cahaya diruang operasi, akan sangat berbeda, baik intensitas maupun jenisnya. Pencahayaan yang baik, sangat penting bagi kesehatan kita, kenyamanan, dan keamanan. Konsep Dasar Cahaya Cahaya adalah adalah suatu bentuk energi, yaitu energi radiasi yang dapat dilihat mata. Cahaya yang dapat dilihat, bervariasi dalam warna, warna ini tergantung pada panjang gelombang dari cahaya.

Kita dapat melihat suatu benda, karena adanya cahaya yang dipantulkan oleh benda tersebut. Efektivitas cahaya, adalah jumlah cahaya yang diterima pada suatu permukaan, per satuan daya input, yang dikendalikan oleh beberapa variabel. Beberapa variabel yang mempengaruhi efektivitas cahaya, antara lain: y Jenis sumber cahaya (seperti lampu pijar, fluorescent, dan HID). y Lingkungan yang memantulkan dan menyebarkan cahaya.¶ y Jarak dari lampu

Ada dua jenis ukuran/satuan yang saling berhubungan, yang bekaitan dengan cahaya, yaitu: y Lux (lx), merupakan satuan intensitas cahaya pada suatu titik. y Lumen (lm), merupakan satuan jumlah keluaran cahaya, dari suatu sumber cahaya. Berdasarkan definisi, jika suatu sumber cahaya dengan kekuatan sebesar 1 lumen, berada pada suatu ruang dengan radius 1 meter, maka setiap titik pada radius tersebut diterangi oleh cahaya sebesar 1 lux. Untuk menyatakan jumlah cahaya yang diperlukan untuk menerangi suatu area tertentu dipakai satuan lumen (lm). Satu lumen adalah sejumlah cahaya yang diperlukan untuk menerangi area 1 meter persegi, dengan cahaya sebesar 1 lux (lx).

Saat kita merencanakan sistem cahaya, penting untuk dimengerti, pengaruh jarak terhadap intensitas cahaya. Intensitas cahaya akan bervariasi, sesuai dengan kuadrat jaraknya dari sumber cahaya. Hubungannya dinyatakan sebagai hukum kuadrat terbalik yaitu: Cahaya =

levelsumber kuadratjarak

Bila pancaran cahaya mengenai suatu permukaan, dengan membentuk sudut, maka akan melingkupi area yang lebih besar, dibanding dengan pancaran yang tegak lurus pada permukaan. Intensitas cahaya akan mengikuti hukum cosinus yaitu: Cahaya =

levelsumber kuadratjarak

X

cosinus sudut pancaran.

Hubungan diatas menunjukkan penurunan level cahaya pada suatu titik, yang disebabkan oleh peningkatan cakupan luasan yang harus disinari. Jenis Sumber Cahaya (lampu) Jenis sumber cahaya/lampu yang umum digunakan pada lingkungan bangunan umumnya ada 3 jenis, yaitu lampu pijar, lampu fluorescen, dan lampu HID. Berikut ini akan dibahas karakteristik umum dari masing-masing jenis lampu tersebut. Lampu Pijar. Jenis lampu pijar dikatakan sebagai jenis lampu incandscent, yang artinya menyala/berpijar disebabkan oleh panas. Saat arus listrik mengalir pada filamen dari lampu pijar, filamen akan memanas, karena adanya ³heating effect´. Jika arus yang mengalir cukup besar, maka filamen akan berpijar, menghasilkan cahaya. Hanya sekitar 6 sampai 12 % pancaran energi lampu pijar berupa cahaya tampak, sebagian besar radiasi berada pada daerah infra merah. Lampu pijar saat ini memiliki efisiensi sekitar 20 lumen per watt, dengan bola lampu yang besar l;ebih efisien dibanding yang kecil.

Seiring dengan bertambahnya waktu pakai lampu pijar, permukaan dalam lampu akan menghitam, yang disebabkan oleh endapan bahan filamen, dan terjadi penurunan lumen. Hal ini dinyatakan dengan faktor depresiasi lumen lampu (³LLD´, lamp lumen depreciation factor). Perkalian antara LLD dengan nilai lumen awal, menhasilkan keluaran berupa nilai lumen yang diharapkan pada 70 % usia pakai lampu yang umum dipakai sebagai acuan dalam perencanaan nilai lumen.
LLD X nilai lumen awal = lumen pada 70 % usia pakai

. Variasi penggunaan tegangan listrik, akan mempengaruhi nilai lumen dan usia pakai lampu pijar, seperti ditunjukkan tabel berikut ini.

Grafik Hubungan Antara Tegangan Listrik Dengan Nilai Lumen Dan Usia Pakai Lampu Pijar. (IES. Lighting Hand Book, 1984).

Lampu Fluorecent. Lampu fluorescent mempunyai beberapa keunggulan, dibanding dengan lampu pijar, antara lain: y Efisiensi lumen, dua sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan lampu pijar, hal ini berarti biaya untuk energi lebih hemat 50 % dari lampu pijar. y y y Panas yang dihasilkan per lumen lebih rendah. Cahaya yang dihasilkan tidak terlalu silau dibanding cahaya lampu pijar. Pada penggunaan yang umum, usia pakai lampu pijar. Beberapa kekurangan lampu fluorescent adalah: y y y Sangat sensitif untuk dioperasikan pada suhu rendah (<100C). Diperlukan kotak pelindung, pada daerah yang lembab. Usia pakai akan berkurang, dengan seringnya frequensi nyala dan matinya lampu. y Biaya awal lebih mahal. Tabel 2.2. Karakteristik Lampu Fluorescent
DAYA (W) 20 30 40 90 LUMEN (lm) 1270 2200 3150 6400 LLD (%) 85 79 82 85 USIA PAKAI (JAM) 9000 7500 20000 9000

lebih dari 5 kali usia pakai

IES. Hand Book, 1984.

Lampu HID. Jenis lampu HID (High Intensity Discharge), adalah lampu yang mempunyai efisiensi lumen per watt yang paling tinggi. Yang termasuk golongan lampu ini adalah lampu merkuri (30-65 lm/watt), metal halide (60-80 lh/watt), dan high pressure sodium (60-140 lm/watt). Kekurangan dari jenis lampu ini adalah membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum cahaya optimum dihasilkan. diperlukan waktu start sekitar 10 menit, setiap kali dinyalakan, dan biaya awal yang cukup tinggi. Tabel 2.3. Karakteristik Lampu HID
DAYA (W) LUMEN (lm) LLD (%) 80 86 81 84 89 90 90 86 90 90 90 90 80 80 75 72 71 USIA PAKAI (JAM) 16000 24000 24000 24000 24000 24000 24000 24000 24000 24000 24000 24000 15000 15000 10000 10000 20000

Lampu Merkuri 40 1140 75 2800 100 4400 175 5800 250 11850 400 21000 High Pressure Sodium 50 3800 70 5800 100 8800 150 15000 250 27500 400 47500 Metal Halide 75 5000 150 11250 175 14000 250 19500 400 32000

IES. Hand Book, 1984

Kalkulasi Pencahayaan Ruangan Manfaat kalkulasi pencahayaan, secara umum adalah untuk mengetahui jumlah titik lampu yang dibutuhkan, untuk menyediakan sejumlah cahaya tertentu, atau jumlah cahaya yang akan dihasilkan oleh beberapa titik lampu tertentu. Kalkulasi pencahayaan membutuhkan dua jenis data yaitu: data photometrik dan data enviromental. Data photometrik adalah deskripsi dari sifat pancaran cahaya dari peralatan pencahayaan (lampu dengan kelengkapannya). Data enviromental adalah data yang berkaitan dengan interaksi cahaya dengan permukaan. Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk kalkulasi pencahayaan pada titik tertentu, yang dapat digunakan. Untuk keperluan ini dipakai metode ³Zonal Cavity´, metode ini mengasumsikan distribusi pencahayaan yang merata dari sumber cahaya, pada suatu area atau ruang. Secara teori, tingkat pencahayaan dapat dihitung, dengan membagi output sumber cahaya, dengan area yang akan diterangi
Pencahayaan (lux) = Output lumen (lm) ----------------------Area (m2)

Pada kenyataannya, sebagian cahaya yang dihasilkan, akan berkurang sebelum mencapai bidang kerja. Kehilangan cahaya terjadi pada lampu dan juga pada

permukaan ruangan. Suatu koefisien pemanfaatan, CU, yang mewakili bagian cahaya yang mencapai bidang, dapat dimasukan dalam rumus perhitungan, untuk menghasilkan nilai pencahayaan awal.
Output lumen (lm) x CU ---------------------------------------Area (m2)

Pencahayaan awal (lux) =

Oleh karena tujuan kita untuk merancang sistem pencahayaan efektif yang akan dipertahankan pada suatu level minimum tertentu, sepanjang waktu, maka, satu faktor tambahan ³Light Loss Factor´ (LLF), harus dimasukkan dalam rumus perhitungan.

Output lumen (lm) x CU x LLF Pencahayaan efektif (lux) = -----------------------------------------Area (m2)

Jika level pencahayaan yang diinginkan dan jenis lampu yang akan dipakai diketahui, rumus dapat dirubah untuh mendapatkan area per ttitik lampu (dan juga jarak antar titik lampu).
Output lumen (lm) x CU x LLF Area per titik lampu (m2) = -----------------------------------------Level cahaya (lux)

Untuk penggunaan praktis, dalam perhitungan cahaya suatu ruangan, dapat dipakai nilai CU = 0,5 dan LLF = 0,7. Cakupan area yang dapat diterangi oleh setiap titik lampu didapat dari:
Output lumen (lm) x CU x LLF Area per titik lampu (m2) = -----------------------------------------Level cahaya (lux)

Total Area Jumlah Titik Lampu = --------------------------------Area Per Titik Lampu Tata Letak Titik Lampu Pencahayaan ruangan dikatakan merata, jika variasi level cahaya pada setian lokasi diruangan itu, tidak lebih dari 1/6 dari level rata-rata, baik diatas maupun dibawahnya. Cara praktis yang umum, untuk mendapatkan keseragaman level, adalah menempatkan deretan lampu, dari dinding terdekat, maksimal 1/3 dari jarak antar

titik lampu. Untuk jenis lampu fluorescent, jarak ujung deret terhadap dinding maksimal 0,6 m.

.

BAB III METODOLOGI III.1. Alat dan Bahan a. b. Meteran Lux (light meter)

III.2. Prosedur Praktikum a. b. c. d. e. f. g. Mengukur dimensi ruangan Mengamati tata letak lampu didalam ruangan. Menghitung lampu didalam ruangan. Menentukan jenis lampu yang digunakan. Mengukur jatak antar lampu. Mengukur jarak antara lampu dengan dinding. Mengukur intensitas cahaya diruangan tersebut.

BAB IV HASIL Data - Data Dimensi Ruangan

150 cm 150 cm 175 cm

150 cm 150 cm

Lampu I 885 cm
275 cm

Lampu IV

Lampu II

Lampu V

275 cm

Lampu III
150 cm 110 cm

Lampu VI

110 cm

720 cm Data ± Data Cahaya Lampu (Lux)
59 166 72

Lampu I
242

Lampu IV
260

203

Lampu II
91

Lampu V
306
210

268

I Lampu III
232 213

Lampu VI
273

72
127 113

BAB V PEMBAHASAN Cahaya adalah energi radian yang dapat merangsang retina mata, sehingga menghasilkan penglihatan. Pencahayaan adalah suatu aspek penting bagi efektifitas kerja. Pencahayaan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat obyek-obyek yang dikerjakan secara jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya yang tidak tidak perlu. Lebih dari itu, penerangan yang memadai memberikan kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Pengamatan pencahayaan pada praktikum ini yaitu ruangan RK 0306 (Gedung Baru FTIP). Terdapat enam buah sumber cahaya (lampu) pada ruangan tersebut, jarak antar lampu pada ruangan tersebut yaitu 275 cm. Jarak tersebut cukup tepat dengan kondisi ruangan yang berukuran 885 cm x 720 cm. Setelah mengamati dimensi ruangan itu, kemudian mengamati intensitas cahaya lampu yang berada pada ruangan tersebut dengan menggunakan Lux (light meter). Lampu pada ruangan tersebut dihidupkan kemudian Lux diletakkan tepat dibawah cahaya lampu tersebut. Dari hasil pengukuran yang dilakukan rata-rata intensitas cahya lampu pada ruangan tersebut yaitu 280, angka ini tertera pada saat Lux diletakaan tepat dibawah cahaya lampu. Dalam bidang lighting, ada istilah sistem pencahayaan, dimana sistem pencahayaan mempunyai dua pengertian yaitu sistem untuk pencahayaan dan pola distribusi cahaya. Untuk sistem pencahayaan dibedakan menjadi dua bagian; general lighting dan local lighting. General lighting digunakan untuk mendapatkan pencahayaan yang merata. Local lighting digunakan untuk memberikan nilai aksen pada suatu bidang atau lokasi tertentu tanpa memperhatikan kerataan pencahayaan. Untuk sebuah desain ruang kelas/kuliah dibutuhkan pencahayaan yang menyeluruh atau general lighting. Dan pada ruangan RK 0306 (Gedung Baru FTIP), pencahayaan pada ruangan ini sudah memenuhi standard. Sistem pencahayaan merupakan salah satu faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam proses mendesain.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.1. Kesimpulan y Dari hasil pengamatan kelompok kami terhadap pencahayaan yang di ruangan RK 0306 (Gedung Baru FTIP) cukup baik. Enam buah lampu yang berada di ruangan ini dapat memenuhi dan memberikan cahaya yang merata di setiap sudut ruangan. Sehingga hampir setiap bagian ruangan memperoleh cahaya yang merata, hal ini tentu sangat mendukung kegiatan yang berada di dalam ruangan tersebut terutama dalam proses perkuliahan. y Efektivitas cahaya, adalah jumlah cahaya yang diterima pada suatu permukaan, per satuan daya input, yang dikendalikan oleh beberapa variabel. Beberapa variabel yang mempengaruhi efektivitas cahaya, antara lain: a. Jenis sumber cahaya (seperti lampu pijar, fluorescent, dan HID) b. Lingkungan yang memantulkan dan menyebarkan cahaya. c. Jarak dari lampu y Jenis sumber cahaya/lampu yang umum digunakan pada lingkungan bangunan umumnya ada 3 jenis, yaitu lampu pijar, lampu fluorescen, dan lampu HID.

VI.2. Saran y Periksa terlebih dahulu alat yang akan digunakan sebelum memulai

praktikum. Agar praktikum dapat berjalan dengan baik. y Untuk mendapat hasil yang akurat sebaiknya lakukan pengukuran 2-3 kali dan cari data yang paling sering keluar. y Carilah lebih banyak literature yang dapat membantu pada saat melakukan praktikum pada hari itu y Bandingkan hasil yang diperoleh dengan kelompok lain agar dapat dilihat perbedaan-perbedaan yang mungkin terjadi.

DAFTAR PUSTAKA Alvin,H.,1998. 3000 solved problem in Physic. McGraw- Hill Book Company: New York. Dan Strassberg. Analog/Digital scope offer the best of two world. EDN Asia. March 1993 Fredrick W.Hughes. 1983. Illustrated Guidebook to Electronic Devices and Circuits Prijatna, Dedy. 2006. Handout dan Slide Kuliah Mata Kuliah Elektronika Industri. Jurusan TMIP Unpad: Jatinangor. Sutrisno. 1986. Elektronika Teori dan Penerapannya (Jilid 1 dan 2). ITB Bandung Woollard, Barry.2003. Elektronika Praktis. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->