P. 1
Laporan Kasus Diet DM Baru

Laporan Kasus Diet DM Baru

|Views: 2,906|Likes:
Published by uytrew

More info:

Published by: uytrew on Jan 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

LAPORAN KASUS DIET DM

OLEH : ERMAWATI NIM : P0713110712

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM JURUSAN GIZI 2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan ini dengan judul Laporan Kasus Diet (Sirosis Hepatis) untuk melengkapi nilai mata kuliah Dietetika Lanjut pada Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Mataram. Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu sran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penuyusun harapkan demi kesempurnaan laporan ini, akhirnya semogalaporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Mataram, Oktober 2009 Penulis j

DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................... Daftar isi............................................................................................................... BAB I. Pendahuluan............................................................................................ 1.1 Latar Belakang............................................................................................... 1.2 Tujuan ............................................................................................................ BAB II. Tinjauan Pustaka.................................................................................... a. Definisi..................................................................................................... b. Etiologi..................................................................................................... c. gejala dan tanda........................................................................................ d. diagnosis.................................................................................................. e. klasifikasi................................................................................................. f. terapi obat................................................................................................. g. penatalaksanaan diet................................................................................ a) tujuan diet................................................................................................. b) prinsip diet............................................................................................... c) syarat diet................................................................................................. BAB III Hasil Kunjungan.................................................................................... 3.1 Data Dasar Pasien.......................................................................................... 1. Identitas Pasien............................................................................................ 2. Data subjektif............................................................................................... – – berkaitan dengan riwayat penyakit.......................................................... berkaitan dengan riwayat gizi..................................................................

1. Data Objektif................................................................................................ Assesment...................................................................................................... Diagnosis Gizi................................................................................................ Terapi Gizi..................................................................................................... BAB IV Kesimpulan dan Saran........................................................................... BAB V Daftar Pustaka......................................................................................... Lampiran-lampiran.............................................................................................. BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) (dari kata Yunani, diabaínein, "tembus" atau "pancuran air", dan kata Latin mellitus, "rasa manis") yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Sumber lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop electron. Penyakit kencing manis atau disebut diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit menahun yang ditandai dengan kadar gula darah melebihi nilai normal (hiperglikemia). Kondisi ini timbul terutama disebabkan adanya gangguan pada metabolisme karbohidrat (gula) di dalam tubuh. Gangguan metabolisme tersebut antara lain disebabkan oleh adanya gangguan fungsi hormon insulin di dalam tubuh. Pada penderita DM, gangguan fungsi hormon insulin, akan menyebabkan pula gangguan pada metabolisme lemak, yang ditandai dengan meningkatnya kadar beberapa zat turunan lemak seperti trigliserida dan kolesterol. Peningkatan trigliserida dan kolesterol merupakan akibat penurunan pemecahan lemak yang terjadi karena penurunan aktivitas enzim-enzim pemecah lemak, yang kerjanya dipengaruhi oleh insulin. Oleh karena itu, kondisi hiperglikemia yang terjadi dalam jangka waktu lama akan menyebabkan perubahan fungsi dan metabolisme tubuh, termasuk metabolisme lemak. Perubahan-perubahan tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan, dan kerusakan jaringan inilah yang akan menimbulkan komplikasi-komplikasi. Sementara itu komplikasi kronik DM merupakan faktor resiko utama timbulnya penyakit jantung koroner, penyumbatan pembuluh darah, serebro-vaskuler (stroke), gagal ginjal, gangguan penglihatan, dan lain-lain. Oleh karena itu jika dibiarkan tidak terkendali, DM dapat menimbulkan penyakit atau komplikasi-komplikasi lain yang dapat berakibat fatal. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan trigliserida merupakan faktor resiko independen yang kuat untuk penyakit jantung koroner, dan pada wanita peningkatan trigliserida berkorelasi dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner mencapai 30 persen.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2000 hampir 180 juta orang menderita diabetes. Di negara maju diabetes menjadi penyebab kematian nomor empat atau lima. Di Indonesia angkanya mencapai 5,6 juta penderita. Sebanyak 1,2-2,3 persen terjadi pada usia di atas 15 tahun. Diperkirakan, pada 2020 penderita DM mencapai 8,2 juta orang. Diabetes menimbulkan komplikasi arteri koroner dan penyakit jantung periferal, stroke, diabetes neuropati, amputasi, gagal ginjal, dan kebutaan. Juga menyebabkan meningkatnya ketidakmampuan, menurunkan harapan hidup, dan menimbulkan biaya kesehatan sangat besar. 1.2 Tujuan a.Tujuan Umum Mahasiswa mengetahui Penatalaksanaan Diet Pasien seseuai panyakitnya (Diabetes Mellitus) yang dirawat inap di rumah sakit. b.Tujuan Khusus Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu: 1. Mengidentifikasi pasien dengan kasus Diabetes Mellitus 2. Mempelajari Data Rekam Medis Pasien penyakit Diabetes Mellitus 3. Melakukan anamnesa pada pasien rawat inap 4. Mengamati keadaan umum pasien rawat inap 5. Mengamati diet yang diberikan dari rumah sakit 6. Mengevaluasi konsumsi makanan berdasarkan diet yang diberikan dari rumah sakit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Diabetes merupakan satu sindrom atau penyakit akibat dari kekurangan atau hilangnya keberkesanan hormon insulin. Insulin membolehkan glukosa memasuki sel-sel dalam badan. Sel-sel ini kemudiannya menggunakan glukosa sebagai sumber tenaga. Tanpa insulin, paras glukosa darah akan meningkat. Dalam masyarakat Melayu hanya dikenali (secara tidak tepat) sebagai kencing manis atau Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Semua jenis diabetes mellitus memiliki gejala yang mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglikemia sendiri dapat menyebabkan dehidrasi dan ketoasidosis. Kokmplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal (penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat menyebabkan infotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang lebih serius lebih umum bila kontrol kadar gula darah buruk. Pada dasarnya, Diabetes Mellitus di sebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak mencukupi atau tidak efektif sehingga tidak dapat bekerja secara normal, padahal insulin mempunyai peran utama mengatur kadar glukosa didalam darah. nsulin yang di hasilkan oleh kelenjar pankreas yang terletak di lekukan usus 12 jari sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah yaitu untuk orang normal (non Diabetes ) 60-120 mg/dl waku puasa, ( 140 mg/dl waktu 2 jam seudah makan, bila terjadi gangguan pada insulin, baik secara kuantitas maupu kualitas, keseimbangan tersebut akan tergantung sehingga kadar glukosa darah cendrung naik. B. Etiologi 1. Diabetes tipe I:
a.Faktor genetik

Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I.

Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b.Faktor-faktor imunologi

Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c.Faktor lingkungan

Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. 1. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko :
a.Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)

b.Obesitas c.Riwayat keluarga a. Gejala dan tanda Gejala dan tanda-tanda penyakit diabetes mellitus dapat digolongkan menjadi 2 yaitu gejala akut dan gejala kronik. 1. Gejala Akut Gejala penyakit DM pada setiap orang tidak akan selalu sama, akan tetapi gejala yang sering muncul atau pada umumnya sering timbul dengan tidak menutup kemungkinan akan timbul gejala lain: a. Pada permulaan gejala yang timbul meliputi antara lain sebagai berikut : – Banyak Makan ( Polifagia )

Perasaan lapar pada pasien penyakit gula disebabkan oleh ketidakmampuan sel untuk mengambil gula dari dalam darah dan memakainya guna untuk menghasilkan Energi. Sel- sel yang kelaparan dengan gula yang banyak yang terdapat didalam darah akan terus- menerus memberikan sinyal atau akan memerintahkan kepusat rasa lapar didalam otak ingin makan sehingga pasien terus merasa lapar sekalipun makanan yang masuk kedalam usussnya melimpah atau banyak. – Banyak Minum ( Polidipsia ) Pada pasien diabetes kadar gula darah dapat naik hingga mencapai nilai yang cukup tinggi. Kadar yang lebih tinggi dari 200 mg % yang akan menyebabkan darah menjadi “ kental “ Salah satu akibat adalah rasa haus yang diderita pasien sehingga membuatnya untuk minum banyak guna mengencerkan darah yang kental itu. Disamping itu juga, frekuensi kencing yang sering dan banyak yang akan memperbesar kehilangan cairan melalui ginjal sehingga menambah rasa haus yang besar yang diderita oleh orang yang menderita diabetes mellitus. – Banyak Kencing ( Poliuria )

Adapun ketiga dari gejala diatas dapat dilihat melalui bagan sebagai berikut :

KGD meningkat makan) Konsentrasi gula otak Polifagia (banyak ginjal Menurunnya (banyak Dibuang melalui Sinyal lapor ke Polidipsia osmolaritas Sudah tidak denganmg%/urine > 200 minum) gula meningkat menggunakan berupa meningkatnya keinginan untuk minum sehingga energi tidak kental ada

a. Bila keadan tersebut tidak dapat terobati lama kelamaan timbul gejala yang disebabkan oleh kurangnya insulin dan bukan polifagia, polidipsi dan poliuria ( 3P ) melainkan hanya polidipsia dan poliuria ( 2P ) dengan beberapa keluhan sebagai berikut ; – – – – – – Nafsu makan mulai berkurang ( tidak polifagia lagi ) bahkan kadang- kadang disusul dengan mual jika kadar glukosa darah melebihi 500 mg/dl Banyak minim Banyak kencing Berat badan menurun dengan cepat ( dapat turun 4-10 kg dalam waktu 2-4 minggu ) Mudah lelah Bila tidak lekas diobati akan timbul rasa mualbahkan penderita akan jatuh koma ( tidak sadarkan diri ) dan disebut koma diabetic. Koma diabetic adalah koma pada diabetisi akibat kadar glikosa darah terlalu tinggi, biasanya melebihi ( 600 mg/dl ). 1. Gejala Kronik Kadang- kadang diabetisi tidak menunjukan gejala akut tetapi penderita tersebut baru menunjukkan gejala sesudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit DM. gejala ini disebut gejala kronik atau menahun. Gejala kronik ini yang paling sering membawa diabetis berobat pertama kali. Gejala kronik yang sering timbul adalah sebagai berikut : – – – – kesemutan gangguan penglihatan mata kabur biasanya sering ganti kasa mata kilit terasa panas atau seperti tertusuk –tusuk jarum gatal disekitar kemaluan terutama wanita

– – – – – –

ereksi atau keputihan terasa tebal dikulit, sehingga kalau berjalan seperti berjalan diatas bantal dan kasur. Kram, leleh dan mudah mengantuk Gigi mudah goyah dan mudah lepas Kemampuan seksual menurun bahkan impotent Para ibu hamil sring mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau berat badan bayi lebih dari 4 kg.

a. Diagnosis Menurut Suyono (2002), diagnosis diabetes dipastikan bila:
1) Kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dL atau lebih ditambah gejala khas diabetes. 2) Glukosa darah puasa 126 mg/dL atau lebih pada dua kali pemeriksaan pada saat berbeda.

Bila ada keraguan, perlu dilakukan tes toleransi glukosa oral (TTGO) atau yang populer disebut OGTT (Oral Glukose Tolerance Test) dengan mengukur kadar glukosa puasa dan 2 jam setelah minum 75 g glukosa (Suyono, 2002). b. Klasifikasi Adapun jenis-jenis Diabetes Melitus adalah sebagai berikut : 1. Diabetes mellitus tipe 1 Diabetes mellitus tipe 1 dahulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, "diabetes yang bergantung pada insulin"), atau diabetes anak-anak, dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa. Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.

Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh. Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui "inhaled powder". Perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan mempengaruhi aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah. seperti "frequent hypoglycemic events". Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering sehingga menyebabkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke "ketoacidosis". Tingkat glukosa darah yang rendah, yang disebut hypoglycemia, dapat menyebabkan "seizures" atau seringnya kehilangan kesadaran. 2. Diabetes mellitus tipe 2 Diabetes mellitus tipe 2 dulu disebut non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM, "diabetes yang tidak bergantung pada insulin"), terjadi karena kombinasi dari "kecacatan dalam produksi insulin" dan "resistensi terhadap insulin" atau "berkurangnya sensitifitas terhadap insulin" (adanya defek respon jaringan terhadap insulin) yang

melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Pada tahap ini, hiperglikemia dapat diatas dengan berbagai cara dan Obat Anti Diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulinpun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral (fat concentrated around the waist in relation to abdominal organs, not it seems, subcutaneous fat) diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, mungkin dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokines (suatu kelompok hormon) itu merusak toleransi glukosa. abdominal gemuk Adalah terutama aktif hormonally. Kegemukan ditemukan kira-kira 90% dari pasien dunia dikembangkan mendiagnose dengan jenis 2 kencing manis. Faktor lain meliputi keturunan keluarga, walaupun terus meningkat mulai untuk mempengaruhi anak remaja dan anak-anak. Diabetes mellitus tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan ( lebih dari 90 % . timbulnya makin sering setelah umur 40 tahun dengan catatan pada decade ke 7 kekerapan DM mencapai 3-4 kali lebih tinggi dari pada rata- rata orang dewasa. Pada keadaan dengan kadar gula darah yang tidak trlalu tinggi atau belum ada komplikasi, biasanya pasein tidak berobat kerumah sakit atau dokter oleh karena itu biasanya orang yang mengalami DM tidak banyak terdiognosa olah medis. DM tipe 2 akan meningkat karena disebabkan oleh berbagai hal misalnya bertambahnya usia harapan hidup, berkurangnya kematian akibat infeksi dan meningkatnya faktor resiko yang disebabkan oleh gaya hidup yang salah seperti kegemukan , kurang gerak atau kurang berolahraga dan pola makan yang tidak sehat. Adapun Perbedaan Antara DM tipe 1 dan DM tipe 2 No 1 2 Diabetes tipe 1 (IDDM) jarang berlaku tetapi keadaannya lebih teruk terjadi di kalangan mereka yang lebih muda antara umur 10 hingga Diabetes tipe 2 (NIDDM) biasa berlaku terjadi di kalangan mereka yang lebih dewasa yang berumur 35

3

16 tahun terjadi begitu cepat (pengeluaran insulin dari pankreas dimusnahkan).

tahun ke atas. terjadi secara perlahan-lahan (insulin yang dikeluarkan tidak mencukupi menyebabkan paras glukosa darah meningkat). mempunyai sejarah keluarga kejadian kegemukan sangat tinggi

4 5 6

tidak mempunyai sejarah keluarga yang menghidap diabetes tidak dikaitkan dengan kegemukan

atau obesiti. pesakit akan mengalami tanda-tanda merupakan penyakit yang senyap, dan gejala amaran yang serius. selalunya dikesan secara kebetulan atau selepas berlakunya komplikasi. rawatan: pemakanan + senaman (menurunkan berat badan) + ubat makan + suntikan insulin (bagi

7

rawatan: pemakanan + suntikan insulin

kes-kes tertentu). (Petunjuk yang baik untuk menentukan atau mengesahkan penyakit diabetes ialah apabila paras glukosa melebihi 140gm/ml pada 2 kali pengambilan yang berbeza atau keputusan yang diambil dalam keadaan pesakit tidak berpuasa menunjukkan paras glukosa 200mg/ml atau lebih tinggi). 3. Diabetes mellitus gestasional Kencing manis mellitus gestasional ( gestational kencing manis mellitus, GDM) juga melibatkan suatu kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, menirukan 2 jenis tipe kencing manis di beberapa pengakuan. [Itu] kembang;kan selama kehamilan dan boleh meningkatkan atau menghilang lenyap setelah penyerahan. Sungguhpun mungkin saja penumpang sementara, gestational kencing manis boleh merusakkan kesehatan dari janin atau ibu, dan sekitar 20%–50% dari wanita-wanita dengan kencing manis gestational kembang;kan jenis 2 kencing manis kemudian (dalam) hidup. Gestational kencing manis mellitus (GDM) terjadi di sekitar 2%–5% selama kehamilan. jenis ini sangat penting diketehui karena dampaknya pada janin kurang baik bila tidak ditangani dengan benar. Dapat menyebabkan permasalahan dengan kehamilan, termasuk macrosomia ( kelahiran dengan berat badan bayi yang sangat tinggi ), cacat

pada bayi dan akan menyebabkan penyakit jantung pada bayi. Hal ini memerlukan pengawasan hati-hati oleh ibu pada saat kehamilan. a. Terapi obat Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Namun, kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan. Meskipun demikian, semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang menjadi semakin berkurang. Untuk itu diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur baik dilakukan secara mandiri dengan alat tes kadar gula darah sendiri di rumah atau dilakukan di laboratorium terdekat. Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet. Seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur. Namun, sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral. Diabetes tipe 1 hanya bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati dengan obat oral. Jika pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil maka dokter kemudian memberikan obat yang dapat diminum (oral = mulut) atau menggunakan insulin. Berikut ini pembagian terapi farmakologi untuk diabetes, yaitu: • • Obat Hipoglikemik Oral (OHO) Terapi Sulih Insulin

1. Obat hipoglikemik oral Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan klorpropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya. Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus. Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar

gula darah dengan cukup. Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian. Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin. 2. Terapi Sulih Insulin Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan insulin pengganti. Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan). Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya. Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri. Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda: 1. Insulin kerja cepat. Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar. Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam. Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan. 2. Insulin kerja sedang. Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan. Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam. 3. Insulin kerja lambat. Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan. Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam.

Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana. Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada: * * * * * Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya Aktivitas harian penderita Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari. Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal. Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam. Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari. Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya. Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam makanan dan olah raga. Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin. Insulin tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena itu tubuh bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti. Antibodi ini mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya. Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya pada tempat suntikan. Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam. Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.

Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan. Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi. Penderita juga harus memberikan perhatian khusus terhadap infeksi kaki sehingga kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada pembuluh darah di mata. a. Penatalaksanaan Diet 1. Tujuan Diet Menurut Pranadji (2000), tujuan diet DM adalah membantu diabetesi atau penderita diabetes memperbaiki kebiasaan gizi dan olah raga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, serta beberapa tujuan khusus yaitu:
1) Memperbaiki kesehatan umum penderita, 2) Memberikan jumlah energi yang cukup untuk memelihara berat badan ideal

atau normal.
3) Memberikan sejumlah zat gizi yang cukup untuk memelihara tingkat kesehatan

yang optimal dan aktivitas normal.
4) Menormalkan pertumbuhan anak yang menderita DM. 5) Mempertahankan kadar gula darah sekitar normal. 6) Menekan atau menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik. 7) Memberikan modifikasi diet sesuai dengan keadaan penderita, misalnya sedang

hamil, mempunyai penyakit hati, atau tuber kolosis paru.
8) Menarik dan mudah diterima penderita

1. Prinsip Diet Prinsip pemberian makanan bagi penderita DM adalah mengurangi dan mengatur konsumsi karbohidrat sehingga tidak menjadi beban bagi mekanisme pengaturan gula darah. (Pranadji, 2000). 2. Syarat diet Menurut Pranadji (2000), syarat diet DM antara lain: 1) Jumlah energi ditentukan menurut umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan, aktivitas, suhu tubuh dan kelainan metabolik. Untuk kepentingan klinik praktis, kebutuhan energi dihitung berdasarkan status gizi penderita, dengan rumus Broca, yaitu : BB idaman = (TB – 100) – 10% Status gizi : - Berat badan kurang = 120% BB idaman Jumlah energi yang dibutuhkan = Laki-laki: BBI x (30 kkal/kg BB) + Aktivitas (10-30%) + koreksi status gizi. Perempuan: BBI x (25 kkal/kg BB) + Aktivitas (10-30%) +koreksi status gizi Koreksi status : - gemuk dikurangi , - kurus ditambah (Perkeni, 1998) 2) Hidrat arang diberikan 60-70% dari total energi, disesuaikan dengan kesanggupan tubuh untuk menggunakannya. 3) Makanan cukup protein dianjurkan 12% dari total energi. 4) Cukup vitamin dan mineral. 5) Pemberian makanan disesuaikan dengan macam obat yang diberikan (Persagi, 1999). 6) Lemak dianjurkan 20–25% dari total energi. 7) Asupan kolesterol hendaknya dibatasi, tidak lebih dari 300/mg perhari. 8) Mengkonsumsi makanan yang berserat,anjuranya adalah kira-kira 25g/hari dengan mengutamakan serat larut. Makanan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan Semua bahan makanan boleh diberikan dalam jumlah yang telah ditentukan kecuali

gula murni seperti terdapat pada: gula pasir, gula jawa, gula batu, sirop, jam, jelly, buah-buahan yang diawet dengan gula, susu kental manis, minuman botol ringan, es krim, kue-kue manis,

BAB III HASIL KUNJUNGAN 3.1 Data Dasar Pasien 1. Identitas Pasien Nama Umur JK Pekerjaan Diagnosis : Luh Sumarni : 50 tahun : Perempuan : Pedagang sayur No. RM Ruang Tgl MRS Agama : : Kelas II/ 5A : 20 Oktober 2009 : Hindu

: Diabetes Mellitus dengan Gangren

2. Data Subjektif – Riwayat Penyakit Pasien masuk Rumah Sakit dengan keluhan ada luka gangren pada kaki Keadaan umum pasien Riwayat penyakit sekarang sebelah kiri, badan lemas Keadaan Umum cukup, kesadaran Keluhan utama

Composmentis Pasien mengalami luka pada kaki bagian kanan bawah bekas operasi sedang untuk menghilangkan mual dan muntah Pasien pernah gangren yang sudah menjalar sampai bagian betis ats, pasien

Riwayat penyakit dahulu

mengalami

gangrene

sebelumnya pada bagian jempol jari yang lama-kelamaan semakin membesar dan menjalar hingga lengan atas dengan warna keunguan, setelah diperiksakan kadar gula darahnya mencapai 600 mg%, 4 tahun lalu mengalami obesitas hingga berat badannya mencapai 75 kg dan mengalami penurunan berat badan yang drastic mencapai 5 kg per Riwayat penyakit keluarga bulan. Tidak ada riwayat anggota keluarga yang pernah mengalami penyakit Diabetes Mellitus sebelumnya – Riwayat Gizi Penghasilan/bln: penghasilan penghasilan rata-rata perhari mencapai Rp. 15.000 sehingga perbulannya diasumsikan mencapai Rp. 450.000 Jumlah anggota keluarga: 5 orang Suku: Sasak Jenis pekerjaan: sedang Makanan : tidak ada pantangan makanan

Data Sosio Ekonomi

Aktifitas fisik Pantangan Makanan

Jenis diet yang dijalani sebelum sakit Diet pada saat sakit Masalah gastrointestinal

sebelum mengalami DM Diet DM Nyeri ulu hati (ya), mual (ya), muntah (ya), diare (tidak), konstipasi (tidak), perubahan pengecapan/penciuman (tidak) Sulit menelan (tidak), stomatitis (tidak), gigi lengkap (ya) Bertambah/berkurang : berkurang rata-rata 5 kg/ bulan

Kesehatan mulut/menelan Perubahan BB

1. Data Objektif – Antropometri BB = 50 kg TB = 151 cm

Pemeriksaan Laboratorium Jenis Pemeriksaan Glukosa Puasa Glukosa 2 jam PP SGOT SGPT Ureum Urin Acid Protein total Albumin Hasil 239 mg/ 100 ml 167 mg/100 ml 15 u/L 12 u/L 34 mg/ 100 ml 2,3 mg/ 100 ml 4,5 mg/ 100 mlj 2,4 mg/ 100 ml

– •

Pemeriksaan Fisik dan Klinis KU : cukup, kesadaran Composmentis Hasil 140/90 mmHg 80x/menit 37˚C Normal 120/80 mmHg 80 – 100x/menit 36 - 37˚C Interpretasi Normal Normal Nornal

Jenis Pemeriksaan Tekanan Darah Nadi Suhu

Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan pada Pus menunjukkan adanya bakteri basil (+) – • Terapi Obat Cendantron Amp

• • • – • •

Straxon Priperan Amp Tricodazol Dietary Kebiasaan makan pasien adalah 3x sehari dengan makanan pokoknya adalah nasi jagung Pasien hampr setiap hari mengkonsumsi lauk hewani seperti daging sapi dan ayam sementara untuk ikan kadang 1-2x/ minggu. Konsumsi telur sangat jarang bahkan dalam seminggu tidak pernah mengkonsumsi telur @ 1 btr), lauk nabati seperti temped dan tahu sering 2-3x/minggu (@ 1 ptg sdg), pasien mengkonsumsi sayuran kangkung, bayam, terong 3-4x/minggu @1 gelas) , konsumsi buah jarang yaitu 1-2x/minggu misalnya jeruk, jambu air (@ 1 buah sdg)

Pada saat pasien dirawat di rumah sakit, pasien selalu menghabiskan makanan yang disajikan oleh pihak rumah sakit dan mau menjalani diet yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Pasien juga tidak makan makanan dari luar rumah sakit, pasien mempunyai keinginan yang kuat untuk sembuh, hal inipun didukung oleh support anak dari Ny Luh yang senantiasa memberikan semangat dan mengontrol pola makannya dan tidak pernah membawakan makanan dari luar untuk dikonsumsi oleh Ny. Luh

 Form Kuesioner Bahan Makanan Nasi Nasijagu ng Kentang Mie Sagu Tempe Tahu Daging sapi X >3x/mggu X >3x/mggu Frekuensi T J S P KETR (Jumlah) /hari atau /mg Telur Sayuran daun Sayuran buah Pisang Pepaya Santan Minyak kelapa x x x x 250gr/hari 1x/mggu@2bji 1x/mggu@2ptg x 2sdk sayur Bahan Makanan Frekuensi T J S P X x 1butir/5x/mggu 2sdk sayur KETR (Jumlah) /hari atau /mg

Ayam Ikan

X X

2x/mggu 1x/mggu

Teh/ Kopi

x

2 cangkir

Keterangan : TP(Tidak Pernah), J(Jarang: 1-2x/ minggu), S( Sering: >2xminggu) • . Jenis bahan Makanan Nasi/ nasi tim/ bubur/ penukar Daging/ikan/ telur/penukar Tempe/tahu/penukar Sayur/penukar Malam Nasi ( 150 gr) Ayam ( 50 gr) Tempe ( 50 gr) Labu siam( 50 gr), daun melinjo ( 30 gr) Buah/penukar Snack/ penukar Lain-lain Pisang Kepok ( 100 gr) Labu air (25 gr), bayam (25 gr) Oyong (15 gr), jagung ( 10 gr) kc panjang ( 15 gr), ketimun (15 gr) Jeruk manis (100 gr) Porsi Pagi Nasi ( 150 gr ) Telur (50 gr) Siang Nasi ( 150 gr ) Ikan ( 50 gr) Hasil Recall

Tabel Analisis Hasil Recall Konsumsi Makan 24 jam Konsumsi Maknan RS 3.2 Assesment Gizi – Antropometri IMT = BB(kg)/TB(m²) = 51 kg/(1,51²) = 51 kg/ 2,2801 = 22,3 Energi(kal) 1188,8 Protein(g) 54,5 Lemak(g) 23,9 KH(g) 192,7 Zat Gizi lain (Na) 140,9

BBI

= 90% x (TB dlm cm - 100) x 1 kg = 90% x (151 - 100) x 1 kg = 0.9 x 51 x 1 = 45.9 kg

Dari hasil perhitungan IMT di atas, maka status Gizi Ny. Luh Sumarni termasuk dalam status gizi Normal karena batasan status gizi Normal adalah 18,5 – 25 dan hasil perhitungan IMT Ny. Luh Sumarni adalah 22,3. Sementara itu dari hasil perhitungan BBI Ny. Luh Sumarni, didapatkan hasil Berat Badan Ideal Ny. Luh yaitu 45.9 kg yang relative berbeda dengan Berat Badan Aktualnya, selisih perbedaan antara BBI dan BBA Ny. Luh Sumarni hanya 5,2 kg. (Sumber: Almatsier Sunita, 2007) – Pemeriksaan Laboratorium Normal 70-100 mg/100 ml 70-120 mg/100 ml <160 mg/100 ml <40 u/L <41 u/L 0,6-1,1 mg/100 ml 10-50 mg/100 ml 2,4-5,7 mg/100 ml 6-8 mg/100 ml 3,3-5,0 mg/100 ml Interpretasi Tinggi Tinggi Tinggi Normal Normal Normal Normal Rendah Rendah Rendah

Jenis Pemeriksaan Hasil Glukosa Puasa 239 mg/100 ml Glukosa Puasa 2 jam PP 167 mg/100 ml Glukosa sewaktu 367 mg/100 ml SGOT 15 u/L SGPT 12 u/L Kreatinin 1,07 mg/100 ml Ureum 34 mg/100ml Uric Acid 2,3 mg/100 ml Protein Total 4,9 mg/100 ml Albumin 2,44 mg/100 ml – Pemeriksaan Fisik dan Klinis • KU : cukup, kesadaran Composmentis Hasil 140/90 mmHg 80x/menit 37˚C Jenis Pemeriksaan TD Nadi Suhu

Normal 120/80 mmHg 80 – 100x/menit 36 - 37˚C

Interpretasi Hipertensi Normal Normal

Dietary ➢ Kebiasaan makan pasien 3x sehari dengan makanan pokok berupa nasi jagung ➢ Pasien sangat suka mengkonsumsi ubi kayu atau ubi jalar terutama jika direbus, bisa mencapai 3-4x/ minggu bahkan dalam sehari bisa langsung 2x makan singkong rebus ➢ Pasien tidak terlalu suka makanan yang manis-manis seperti es, jajanan dan pasien juga tidak suka buah-buahan

➢ Pasien sangat gemar minum kopi hamper setiap pagi minum kopi, sementara the jarang dan biasanya hanya pada sore hari ➢ Pasien hamper setiap hari menkonsumsi lauk hewani seperti daging sapid an ayam sementara ikak jarang ➢ Selama di Rumah Sakit pasien selalu menghabiskan makanan yang disajikan oleh pihak Rumah sakit dan pasien amat jarang bahkan bisa dibilang tidak pernah mengkonsumsi makanan dari luar Rumah Sakit, selain karena anjuran dokter juga Karena larangan dari anak-anaknya. ➢ Table tingkat konsumsi beberapa zat Gizi Ny. Luh Zat Gizi Energi Protein Lemak karbohidrat Asupan 1188,8 54,5 23,9 197,2 Kebutuhan 1319.6 49.4 36.65 198 Tingkat Konsumsi % Tk konsumsi Interpretasi 90,2 Normal 110,1 65,2 99,8 Tinggi Defisist berat Normal

➢ Kesimpulan Pasien sering mengkonsumsi makanan yang bahan makanan dasarnya merupakan bahan makanan yang memilki indeks glikemik tinggi – Personal History ➢ Pasien adalah seorang pedagang sayuran yang berjualan dengan cara berkeliling dengan menggunakan motor dengan penghasilan rata-rata perbulan Rp. 450.000, pasien memiliki 2 orang anak yang telah bekerja semua, bahkan salah satu anaknya telah bekerja diluar negeri. ➢ Pasien jarang sekali bahkan tidak pernah berolahraga. ➢ Pasien mempunyai motivasi kuat untuk sembuh, hal ini didukung penuh oleh anggota keluarga yang lain. ➢ Pasien selalu menghabiskan makanan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit ➢ Pasien setiap pagi selalu minim ramuan khusus yang terbuat dari Daun lemoh-lemoh yang diberikan oleh suami untuk mengurangi rasa mual yang selau dirasakannya pada pagi hari

➢ Selama menjalani rawat inap di Rumah Sakit Pasien telah 3x mengikuti konsultasi tentang penyakitnya oleh dokter ➢ Pasien telah menjalani operasi sedang sebelumnya yakni seminggu setelah dirawat di Rumah sakit terkait dengan kondisi gangten yang telah meluas hingga kebagian atas betis ➢ Kesimpulan Kurangnya aktivitas fisik ( olahraga) 3.3 Diagnosis Gizi NI-53.2 Tidak tepatnya intake dari jenis KH berkaitan dengan kondisi Diabetes Mellitus ditandai dengan hiperglikemia ( Glukosa Puasa> 126 mg/ dl dan glukosa puasa 2 jam PP > 200 mg/dl dan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang merupakan bahan makanan indeks glikemik tinggi NI-5.1 NI-3.1 NC-2.2 NB-1.2 Resiko penurunan kebutuhan zat Gizi spesifik ( Na) berkaitan dengan Resiko peningkatan kebutuhan cairan berkaitan dengan adanya kondisi Perubahan Nilai Laboratorium terkait zat Gizi khusus berkaitan dengan Keyakinan / kebiasaan yang salah tentang makanan berkaitan dengan kondisi hipertensi ( tekanan darah mencapai 140/90 mmHg ) mual dan muntah gangguan fungsi organ pancreas ditandai dengan ketidaknormalan kadar glukosa darah penggunaan terapi alternative untuk menyembuhkan penyakit ditandai dengan suka meminum ramuan dari daun khusus yang tidak dianjurkan oleh dokter 3.4 Terapi Gizi • Tujuan Diet 1) Mempertahankan kadar glukosa darah agar mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin dan aktivitas fisik. 2) Mencapai berat badan normal. 3) Mencapai tekanan darah normal. 4) Menangani komplikasi yang saat ini dialami pasien yaitu Hipertensi agar tidak membahayakan bagi pasien. • Terapi/macam Diet

Dilihat dari perhitungan, kalori yang dibutuhkan Ibu Luh adalah 1319.6 kkal sehingga macam diet yang diberikan adalah diet DM III dengan batasan kalori 1500 kkal, protein 51.5 gr, lemak 36.5 gr, karbohidrat 235 gr, selain itu karena adanya kondisi hipertensi maka pasien diberi juga diet rendah Garam rendah III • Bentuk Makanan Bentuk makanan biasa, karena pasien tidak menderita gangguan pernafasan dan gangguan pencernaan. Sehingga yang dibatasi adalah jumlah natrium dalam makanan dan penggunaan garam dalam mengolah makanan. • Prinsip Diet 1. energi cukup 2. protein normal 3. lemak sedang 4. karbohidrat cukup 5. rendah natrium 6. cukup vitamin dan mineral 7. serat tinggi 30 g/hari 8. cairan sesuai kebutuhan • Perhitungan Perhitungan kebutuhan gizi penderita DM (Perkeni, 2006) 1) Kebutuhan energi Energi Basal = BBI X 25 kkal = 45.9 kg X 25 kkal = 1147.5 kkal F. aktivitas = 10% x EB = 0.1 x 1147.5 kkal = 114.75 F. strees = 10% x EB = 0.1 x 1147.5 kkal = 114.75 K.Umur = 5% x EB = 0.05 x 1147.5 kkal = 57.375 kkal

TEE

= EB + F. Akt + F. Stress - K. umur = 1147.5 kkal + 114.75 + 114.75 – 57.375 = 1319.6 kkal

2) Kebutuhan protein P = 15% x TEE = 0.15 x 1319.6 kkal = 197.94/4 = 49.4 gr 3) Kebutuhan Lemak L = 25% x TEE = 0.25 x 1319.6 kkal = 329.9/9 = 36.65 4) Kebutuhan Karbohidrat KH = TEE – (P x 4) + (L x 9)/4 = 1319.6 – (49.4 x 4) + (36.65 x 9)/4 = 1319.6 - 197.6 + 329.85/4 = 1319.6 – 527.45/4 = 198 gr 5) Kebutuhan Vitamin dan mineral ( DKGA Tahun 2005 ) Vitamin A Vitamin C Ca Fe Na • Syarat Diet 1. Energi Energi diberikan sebesar 1480 kal/hr Karena pasien ini meniliki berat badan aktual melebihi berat badan yang seharusnya maka energi harus diberikan sesuai kebutuhan dan = 500 RE = 60 mg = 600 mg = 14 mg = 1000-1200 mg ( Diet rendah Garam III)

apabila diberikan energi yang berlebih maka energi itu akan menyimpan dalam bentuk lemak oleh tubuh. Oleh karena itu energi harus diberikan cukup sesuai kebutuhan agar terhindar dari kenaikan berat badan yang berlebih, dan energi yang tidak dapat digunakan oleh tubuh akan mengakibatkan kadar gula darah naik. Sumber ; 2. Protein Protein diberikan sebesar 44,4 gr karena protein dibentuk dari asam amino yang jenisnya berlainan dan terikat menjadi satu lewat ikatan peptida, protein dapat membentuk hormon-hormon salah satunya hormone insulin. Protein dibatasi karena protein akan dipecah menjadi glukosa ( sebagai penghasil energi ). Dan apabila hormone insulin diproduksi banyak akan tetapi tidak efektif, atau insulin yang diproduksi sedikit maka glukosa yang dihasilkan oleh protein tidak akan berubah menjadi energi melainkan akan mengendap dan menumpuk didalam darah dalam bentuk glukosa sehingga dapat menaikkan kadar gula didalam darah.selain itu juga bagi penderita DM dengan komplikasi Ginjal akan memperberat kerja ginjal yang sebagai penyaring atau filtrasi protein. Sumber ; 3. Lemak Lemak diberikan sebesar 32,9 gram karena dengan tujuan agar dapat membantu menurunkan jumlah masukan energi karena lemak merupakan salah satu penyuplai energi terbesar ke dua dari karbohidrat, agar dapat menurunkan berat badan bagi pasien secara bertahap dan dapat mencegah dengan komplikasi-komplikasi lain seperti kolesterol, penyakit hati dll. Sumber : 4. Karbohidrat Karbohidrat diberikan sebesar 251,6 gr. Dianjurkan memberikan jenis karbohidrat kompleks karena karbohidrat kompleks memiliki rantai molekul glukosa yang panjang, khususnya rantai yang terbungkus di dalam serat, seperti lignin, selulosa, hemiselulosa yang sulit dicerna atau dipecah, karena bagi pasien DM kadar gula glukosa didalam darah sesudah makan tidak boleh naik terlalu tinggi.alasan lain juga KH kompleks diberikan cukup adalah untuk mengurangi konsumsi lemak yang berlebihan, bahwa KH merupakan sumber energi yang paling banyak dan yang paling bersih bagi tubuh kita kare hasil dari

metabolisme KH ini adalah berupa asam laktat yang dapat didaur ulang di dalam hati untuk menghasilkan energi kembali, sebaliknya kalau hasil dari protein dan lemak yang dikonsumsi berlebih berupa benda- benda keton sedangkan protein berupa amoniak dan ureum yang dapat menjadi bahan beracun bagi tubuh terutama oleh hati dan ginjal. Karbohidrat kompleks dapat memberikan rasa kenyang yang tahan lama pada pasien sehingga dapat menghentikan keinginan pasien untuk makan yang berlebihan yang dapat mengakibatkan kegemukan bagi pasien dan karbohidrat kompleks juga dapat menurunkan kadar gula darah yang berlebihan di dalam tubuh karena KH. Sumber : 5. Serat diberikan 25 gr/hr karena serat dalam makanan akan menyebabkan kadar gula darah yang ada di dalam tubuh tidak mengalami kenaikan secepat . karena jenis serat khususnya serat larut dalam air akan memperlambat penyerapan gula dengan cara serat ini membentuk gel yang menghalangi penyerapan gula. Serat ini dapat mempercepat penurunan berat badan karena kandungan lemaknya rendah dan tidak menyuplai kalori, pasien DM dianjurkan banyak mengkonsumsi serat karena tidak dapat merangsang pasien untuk makan yang berlebihan dan pasien memerlukan waktu yang lama untuk berkeinginan makan lagi. Serat juga dibagi menjadi dua yaitu serat yang larut dalam air dan yang tidak larut dalam air, serat yang dapat larut dalam air yang dapat menurunkan kadar gula darah seperti gum, pectin.dan yang tidak larut air seperti selulosa, lignin yang hanya berfungsi untuk mencegah konstipasi. Sumber : buah- buahan ( apel, pisang, papaya dll ) dan sayuran hijau ( bayam, tauge, kc panjang dll )
6. Vitamin A diberikan sebanyak 500 RE yang didalam tubuh berperan didalam proses

pertahanan tubuh atau antibodi agar keadaan tubuh yang sudah lemah akibat kondisi pasca operasi dan terdapat luka bedah tidak bertambah parah akibat adanya peradangan, vitamin A dapat diperoleh dari wortel, kangkung, telur, pepaya 7. Vitamin C diberikan sebanyak 60 mg, Vitamin esensial larut air ini memainkan peranan kunci dalam proses pembentukan kolagen yang merupakan komponen dasar pembentukan jaringan penghubung dalam tubuh. Pembentukan kolagen optimal sangat diperlukan untuk pembentukan ligamen, tendon, dentin, kulit, pembuluh darah, dan tulang. Juga membantu proses penyembuhan luka dan perbaikan jaringan.

Vitamin C juga berperan dalam proses penyerapan zat besi non-organik (zat besi dari makanan non hewani), sehingga dapat mencegah dan membantu penyembuhan anemia. Sekarang vitamin C juga menyedot perhatian lantaran kemampuannya sebagai antioksidan, yang dapat membantu mencegah kerusakan sel akibat aktivitas molekul radikal bebas. Dalam tubuh molekul radikal bebas mengoksidasi protein, asam lemak, dan DNA. Kerusakan akibat radikal bebas berimplikasi pada timbulnya sejumlah penyakit, termasuk kanker, kardiovaskuler, dan katarak.
8. Besi (Fe) diberikan sebanyak 14 mg yang digunakan didalam proses pembentukan sel

darah merah sehingga dapat mengurangi resiko untuk mengalami anemia, Fe dapat diperoleh dari sumber kangkung, pepaya
9. Calsium diberikan sebanyak 600 mg yang digunakan untuk pembentukan sum-sum

tulang, dimana sum-sum tulang merupakan tempat memproduksi leukosit, seperti yang diketahui bahwa leukosit akan berperan untuk membunuh kuman-kuman penyakit yang masuk kedalam tubuh karena sifatnya sebagai fagositosis, sumber kacang merah, tempe, telur 10. Cairan diberikan untuk mencegah terjadinya dehidarsi akibat adanya keadaan mual dan muntah, serta berfungsi di dlam mengatur dan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh terutama karena mual dan muntah

Pengamatan Diet yang diberikan Oleh Rumah sakit Jenis diet Bentuk makanan Makanan biasa Nasi/tim/bubur : Nasi L. hewani : ikan laut Jenis makanan L. nabati : tahu Sayur : bening gambas + kdg panjang Buah : jeruk Jumlah porsi Nasi/tim/bubur : @150 gr

L. hewani : @ 75 gr L. nabati : @ 50 gr Sayur : 50 gr Buah : 100 gr Nasi/tim/bubur : lunak L. hewani : empuk Tekstur L. nabati : lunak, kering Sayur : cair Buah : padat

Berdasarkan pengamatan secara langsung dilapangan dapat kai simpulkan bahwa penyelenggaraan makanan di Rumah Sakit Islam khususnya pada pasien dengan diagnose Diabetes mellitus sudah cukup baik, dilihat dari beberapa indicator yaitu kesesuaian antara penyakit dengan diet yang diberikan, standar jumlah makanan yang disajikan dan cara penyajian yang atraktif dan menarik, namun masih terdapat sejumlah kekurangan antara lain yaitu diet yang diberikan belum memerhatikan kondisi dan keluhan spesifik pasien, selain itu Prinsip 3P yang seharusnya dipegang teguh pada pasien Diabetes mellitus tidak dijalankan secara maksimal hal ini dapat dilihat dari penjadwalan makanan yang disamaratakan antara pasien yang mengalami DM dengan pasien yang mengalami penyakit lain, selain itu jenis dari bahan makanan yang digunakan terlalu simple dan tidak variatif.

BAB IV KESIMPULAN A. Kesimpulan.

Pasien yang diamati masuk pada tanggal 20 Oktober 2009 dengan keluhan adanya gangrene pada kaki sebelah kiri hingga bagian betis dan badan lemas Berdasarkan data rekam medis pasien, didapatkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium nilai kadar glukosa puasa, glukosa sewaktu dan glukosa puasa 2 jam PP melebihi kadar normalnya

Berdasarkan hasil anamnesa pasien bahwa tingkat konsumsi energy dan karbohidrat tinggi sementara konsumsi lemak mengalami deficit dan konsumsi protein tinggi Secara umum keadaan umum pasien pasca operasi cukup baik dan kesadaran penuh, luka gangrene bekas operasi sudah berangsur membaik, kadar glukosa darah berangsur menurun dan keluhan mual muntah sudah berkurang

Diit yang diberikan kepada pasien pasca operasi oleh pihak Rumah Sakit Umum telah sesuai dengan teori, yaitu dengan diberikan Diet

A.

Saran.

Dalam penyajian makanan di RS harus menarik. Sehingga pasien tertarik untuk mengkonsumsinya dan harus sesuai dengan diet yang diberikan berdasarkan penyakit yang diderita oleh pasien. Sehingga proses penyembuhan pasien dan terwujudnya masyarakat NTB yang sehat dapat diwujudkan

BAB V DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2007. Penuntun Diet. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/09/DM/ http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=1264

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Menu makan di Rumah sakit Islam ”Siti Hajar ” Ny. Luh Sumarni dengan diagnosa penyakit Diabetes mellitus Makan Malam Nasi Sayur bening labu siam Ayam goreng Tempe kukus Makan Pagi Nasi Bening bayam Telur rebus Pisang Kepok Makan siang Nasi Tahu kukus bumbu kuning Ikan bumbu kuning Bening Oyong+jagung+kc panjang

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->