P. 1
Supervisi Pembelajaran Untuk an Guru Sebagai Sumber Daya Manusia Pendidikan

Supervisi Pembelajaran Untuk an Guru Sebagai Sumber Daya Manusia Pendidikan

|Views: 4,734|Likes:
Published by budi tetuko

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: budi tetuko on Jan 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/19/2013

pdf

text

original

SUPERVISI PEMBELAJARAN UNTUK PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU SEBAGAI SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN

A. PENDAHULUAN Seiring dengan tantangan pendidikan yang semakin komplek dan kebijakan mutu yang di keluarkan oleh pemerintah, maka para guru dan tenaga kependidikan yang ada di lingkugan pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan dan potensi diri yang dapat menunjang kinerja dan meringankan tugas profesi. Sebagai mana kita ketahui bahwa kualitas atau mutu sebuah lembaga dapat di ukur dari proses pelayanan dan kemampuan lembaga pendidikan untuk men sinergikan seluruh potensi yang ada sehingga tercipta sebuah keunggulan yang menjadi trade mark dari sebuah lembaga pendidikan tersebut. Salah satu poin yang sangat menentuka dalam pemberian layanan dalam sebuah lembaga pendidikan adalah kualitas pemberi layanan yaitu sumber daya manusia yang langsung bersentuhan dengan pengguna layanan pendidikan dalam hal ini adalah guru. Guru sebagai ujung tombak dari pelayan yang diberikan oleh sebuah lembaga pendidikan harus mampu memeberi pelayanan yang prima yaitu proses pengajaran yang sesui dengan harapan dan keingginan dari pengguna layanan oleh karena itu maka proses pelayanan yang diberikan harus di awasi sehingga apa yang di kehendaki oleh lembaga dan pengguna dapat berjalan selaras. Dengan demikian supervisi pendidikan sangat dibutuhkan untuk menunjang terciptanya pelayanan prima dari sebuah lembaga pendidikan. Selain itu supervisi juga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dari guru dan bukan menjadi momok dari guru tersebut. Dari paparan keadan diatas maka kita perlu mengetahui bagaimanakah

pelaksanaan supervisi yang memeberdayakan itu berjalan. Dan bagai mana seharus nya kegiatan supervisi itu dipandang baik oleh guru dan oleh kepala sekolah yang mempunyai wewenang untuk melakukan supervisi terhadap guru. Dalam pelaksanan supervisi tentu ada ketentuan dan teknik yang dapat digunakan sehingga tujuan awal dari supervisi yang tujuannya memeberikan bantuan dan pengarahan kepada guru jika dalam pelaksanan mengajar ditemukan kendala dan butuh saran untuk memecahkan masalah tersebut. Sebelum memebahas lebih jauh ada hal yang harus di ketahu mengenai supervisi dan apa supervisi pendidikan itu sendiri. Menurut Kimball Wiles (1967) supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment). Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, inspeksi lebih menekankan kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi lebih menekankan kepada persahabatan yang dilandasi oleh pemberian pelayanan dan kerjasama yang lebih baik diantara guru-guru, karena bersifat demokratis. Istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan baik menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu ( semantik).1) EtimologiIstilah supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision” artinya pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.2) MorfologisSupervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya. Dari beberapa etimologi istilah tersebut kiranya dapat dimengerti hal yang mendasar mengenai apa yang dimaksud dengan supervisi dan supervisi pembelajaran. Adapun hubungan antara supervisi pembelajaran dan pengembangan sumberdaya manusia kita bahas dalam pembahasan sebagai berikut.

B. PEMBAHASAN Untuk pembahasan lebih lanjut kita harus memahani istilah – istilah sebagai berikut: 1. Pengertian Supervisi Sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada dua orang yang sama, apa lagi lebih dan dua orang, maka dapat dimakiumi bahwa rumusan tentang apa yang di maksud dengan supervisi berbeda beda. Para ahli di bidang itu memberikan pengertian supervisi dengan kalimat yang tidak sama, walaupun apa yang mereka maksudkan tidak jauh berbeda. Perbedaan itu seringkali hanya disebabkan oleh penekanan pada aspek-aspek tertentu dan super visi itu sendiri. Berikut akan dikemukakan beberapa pengertian supervisi dan para ahli. Sergiovanni (1971, h.10) mengemukakan pernyataan yang berhubungan dengan supervisi sebagai berikut: (1) Supervisi lebih bersifat proses dari pada peranan, (2) Supervisi adalah suatu proses yang digunakan oleh personalia sekolah yang bertanggung jawab terhadap aspek-aspek tujuan sekolah dan yang bergantung secara langsung kepada para personalia yang lain, untuk menolong mereka menyelesaikan tujuan sekolah itu. Dan pernyataan di atas dapat dikaji bahwa supervisi itu bukan peranan, tetapi merupakan suatu proses. Proses tersebut terjadi di sekolah yang digunakan oleh personalia-personalia tertentu untuk menolong para personalia yang lain dalam usaha mencari tujuan pendidikan. Para personalia tertentu itu mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada personalia-personalia yang lain, dan mereka ini bergantung dan personalia-personalia yang lain itu untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebab itu dikatakan supervisi-supervisi merupakan suatu perilaku bekerja melalui orang-orang untuk mengejar tujuan-tujuan sekolah. ini berarti

supervisi merupakan aspek organisasi manusiawi di sekolah tersebut, yang dibedakan dengan administrasi sebagai aspek organisasi yang non manusiawi. Neagley (1980, h. 20) mengemukakan bahwa setiap layanan kepada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan instruksional, belajar, dan kurikulum dikatakan supervisi. Rumusan ini lebih operasional dari pada rumusan pertama di atas. Supervisi di sini di artikan bantuan, pengarahan, dan bimbingan kepada guru-guru dalam bidang-bidang instruksional, belajar dan kurikulum. Mereka bekerja untuk memngkatkan ketiga bidang itu dalam usaha mencapai tujuan sekolah. Nilai supervisi ini terletak pada perkembangan dan perbaikan situasi belajar mengajar yang direfleksikan pada perkembangan para siswa (Marks, 1978,h,4). Perbaikan situasi belajar mengajar berhubungan erat dengan pengelolaan kelas. ialah suatu usaha untuk (1) menciptakan, memperbaiki, dan memelihara organisasi kelas agar para siswa dapat mengembangkan minat, bakat, dan kemampuannya secara maksimal, (2) menyeleksi fasilitas belajar yang tepat dengan problem dan situasi kelas, (3) mengkoordinasi kemauan siswa mencapai tujuan pendidikan, dan (4) meningkatkan moral kelas. Dalam hal ini supervisi inerupakan suatu proses untuk mewujudkan kondisi-kondisi tersebut di atas, sehingga proses belajar mengajar menjadi berkembang, yang membuat prestasi belajar siswa semakin meningkat. Supervisi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dan administrasi dikemukakan oleh Jones (1969, h. 302) sebagai berikut. Supervisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk mengembangkan efektivitas performan (personalia sekolah) yang berhubungan dengan tugas-tugas utama dalam usaha-usaha pendidikan. Jones memandang supervisi sebagai sub sistem dan sistem admimstrasi sekolah. Sebagai sub sistem sudah tentu tidak terlepas sama sekali dengan administrasi yang juga menyangkut personalia non guru. Namun titik beratnya adalah pada pengembangan atau perbaikan performan para profesional yang menangani para siswa sebagai obyek yang digarap oleh

sekolah. Mereka itu adalah para guru, kepala sekolah, para petugas bimbingan dan konseling, para petugas laboratorium, para petugas perpustakaan, para petugas pusat sumber belajar, dan sebagainya. Performan atau cara kerja mereka dikembangkan, agar usaha membimbing siswa belajar dapat berkembang pula. ini berarti proses belajar mengajar ditingkatkan efektivitasnya. Proses pengembangan cara kerja ini berlangsung di tempat mereka bekerja pada waktu jam kerja pula. Mereka tidak menerinia penataran dalam proses supervisi. Dari pengertian beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi belajar-mengajar agar memperoleh kondisi yang lebih baik. Meskipun tujuan akhirnya tertuju pada hasil belajar siswa, namun yang diutamakan dalam supervisi adalah bantuan kepada guru. Sedangkan mengacu Depdiknas (1994) merumuskan supervisi sebagai berikut : “ Pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik “. Dengan demikian, supervisi ditujukan kepada penciptaan atau pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Untuk itu ada dua hal (aspek) yang perlu diperhatikan :a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajarb. Hal-hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar karena aspek utama adalah guru, maka layanan dan aktivitas kesupervisian harus lebih diarahkan kepada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Untuk itu guru harus memiliki yakni : 1) kemampuan personal, 2) kemampuan profesional 3) kemampuan sosial. Atas dasar uraian diatas, maka pengertian supervisi dapat dirumuskan sebagai berikut “ serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yang diberikan oleh supervisor ( Pengawas sekolah, kepala sekolah, dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Karena supervisi atau pembinaan guru tersebut lebih menekankan pada pembinaan guru tersebut pula “Pembinaan profesional guru“ yakni pembinaan yang lebih diarahkan pada upaya

memperbaiki dan meningkatkan kemampuan profesional guru.Supervisi dapat kita artikan sebagai pembinaan. Sedangkan sasaran pembinaan tersebut bisa untuk kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha. Namun yang menjadi sasaran supervisi diartikan pula pembinaan guru. 2. Tujuan Supervisi Adapaun tujuan supervisi adalah sebagai berikut: a) Meningkatkan mutu kinerja guru 1) Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut 2) Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya. 3) Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya. 4) Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa. 5) Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran. 6) Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam pengajaran. 7) Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru. b) Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik. c) Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa. d) Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya

siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan. e) Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan. 3. Fungsi dan tujuan supervisi Istilah fungsi dan tujuan cukup sulit dibedakan seba seringkali satu objek dapat diterangkan dan segi fungsi dan dapat pula dari segi tujuan. Atau fungsi dan tujuan sesuatu dapat berup satu objek. Misalnya yang menjadi objek adalah tamu; tamu itu dapat dihubungkan dengan ruang tamu yang mempunyai fungsi dan sekaligus mempunyai tujuan. Ruang tamu sebagai bagian dari rumah berfungsi memberi tempat tertentu kepada tamu yang berkunjung di rumah. Sementara itu ruang tamu juga memberi tujuan agar para tamu mendapat tempat layak dan merasa senang bertamu. Walaupun sulit dibedakan, dengan bantuan contoh di atas bisa dipahami bahwa fungsi berhubungan dengan sistem (rumah sebagai kesatuan) dan tujuan berhubungan dengan apa yang ingin dijangkau oleh subsistem (ruang tamu) itu. Supervisor sebagai fungsi, bila ia dipandang sebagai bagian atau organ dan organisasi sekolah. Tetapi bila dipandang dan apa yang ingin dicapai supervisi, maka hal itu merupakan tujuan supervisi. Fungsi dan tujuan supervisi berhubungan erat, keduanya menyangkut hal yang sama. Hal ini dibedakan agar informasi yang diberikan menjadi lebih lengkap. Huse (1972, h. 265) mengatakan supervisi hanya sebagai satu fungsi yaitu fungsi manajemen, ialah pengarahan yang terdiri dan inisiatif dan kepemimpinan, pengaturan dan pembimbingan, pemberian motivasi, dan pengawasan. Tetapi literatur lain menunjukkan beraneka ragam fungsi, dengan istilah yang berbeda-beda antara lain tugas, fungsi, pelaksanaan, dan sejenisnya. Fungsi supervisi pendidikan akan disusun secara sistematis sebagai uraian herikut. Fungsi supervisi dapat dibedakan menjadi dua bagian besar yaitu:

1. Fungsi utama ialah membantu sekolah yang sekaligus mewakili pemenintah dalam usaha memcapai tujuan pendi dikan yaitu membantu perkembangan individu para siswa. 2. Fungsi tambahan ialah membantu sekolah dalam membina guru-guru agar dapat bekerja dengan baik dan dalam mengadakan kontak dengan masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat serta mempelopori kemajuan masyarakat. Masing-masing fungsi tersebut di atas diuraikan secara terperinci seperti benikut. Yang termasuk fungsi utama ialah : Pertama,supervisi merupakan teman seperjuangan administrasi, secara fungsional tidak terpisah satu dengan yang lain, keduanya terkoordinasi, berkorelasi, saling melengkapi, dan saling menunjang dalam melaksanakan sistem pendidikan. (Sergiovanni, 1971, h.45) Kedua, supervisi mengkoordinasi personalia sekolah terutama guru-guru dan aktivitas-aktivitas sekolah agar tidak jauh menyimpang dan perencanaan semula. Hasil perencanaan pada umumnya tidak dapat dilaksanakan secara tepat sejak awal. Penyimpangan-penyimpangan itu diminimalkan dengan cara mengadakan supervisi kontinu terhadap pengaturan tugas guru dan aktivitasaktivitas sekolah dengan segala aspeknya. Usaha ini merupakan preventif terhadap kemungkinan kekacauan pelaksanaan program sekolah. Ketiga, sebagai wakil pemerintah, khususnya Pemerintah Indonesia, sekolah berkewajiban memasyarakatkan di kalangan personalia sekolah dan memasyarakatkan PMP di kalangan para siswa, karena keduanya merupakan manifestasi dan falsafah bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Karena itu patut menjadi bagian dan kehidupan sehari-hari di sekolah atau sebagai cara bertingkah laku di sekolah. Hal ini dapat dilakukan lebih efektif dengan bantuan supervisi. Keempat, sebagai wakil pemerintah sekolah akan melaksanakan kebijakan-kebijakan pemerintah. Kebijakan Pemerintah Indonesia misalnya ialah menciptakan sekolah sebagai pusat kebudayaan yang didukung oleh

ketahanan sekolah, meningkatkan pendidikan humaniora untuk mengimbangi pendidikan intelek, meningkatkan pendidikan Sejarah Indonesia untuk menggalang kecintaan dan semangat bangsa di kalangan para siswa, melayani anak-anak yang berbakat, dan sebagainya. Untuk memahami ke bijakankebijakan itu secara lebih mendalam diperlukan bantuan, begitu pula pelaksanaannya membutuhkan monitoring kedua duanya dan pihak supervisor. Kelima, supervisi memperlancar proses belajar mengajar. Ada beberapa segi dan proses intruksional yang perlu mendapat perhatian para supervisor, yaitu: 1. Perencanaan instruksional yang menyangkut segala aspek belajar mengajar yang akan dilaksanakan oleh para siswa dan guru-guru. Perencanaan perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, situasi sekolah, sumbersumber pendidikan yang tersedia, dan para siswa yang akan dididik. 2. Model belajar yang mungkin dilaksanakan. Model tersebut antara lain di depan guru di sekolah, belajar dengan media pendidikan di sekolah, campuran dan kedua model di atas, belajar dengan media pendidikan di luar gedung/halaman sekolah, belajar dengan media pendidikan di sekolah, dan sebagainya. Setiap model belajar perlu dipertimbangkan keuntungan dan hambatannya. 3. Sarana dan alat-alat pendidikan yang perlu disiapkan, metode belajar dan metode mengajar yang cocok yang perlu dipilih. Tidak ada perlengkapan belajar dan metode mengajar yang cocok untuk semua bidang studi. Setiap bidang studi membutuhkan alat dan metode sendiri-sendiri. 4. Situasi belajar yang bagaimana yang cocok untuk mempelajari bidang studi tertentu. Situasi belajar yang dibutuhkan perlu diciptakan dan dipertahankan selama proses belajar berlangsung. 5. Macam evaluasi yang akan dilakukan dan alat evaluasi program, proses belajar mengajar, dan prestasi belajar. Alat evaluasi bisa bersifat uraian bisa juga bersifat obyektif dengan bermacam-macam bentuk. Keenam, para supervisor hendaknya mengendalikan usaha untuk

mendidik para siswa agar setiap siswa berkembang secara total, yaitu setiap aspek individu anak berkembang seimbang, harmonis, dan optimal. Daoed Joesoef (1982, h. 9) mengatakan perkembangan seperti ini mencakup logika, estetika, dan praktika. Sedangkan literatur barat menyebutkannya sebagai afeksi, kognisi, psikomotor. Ketujuh, setiap siswa dikatakan unik, artinya memiliki minat, bakat, dan kemampuan tersendiri tidak pernah sama dengan individu lain. Perkembangan masing-masing siswa mi perlu di layani dan disalurkan, diberi wadah, dan dibina sesuai dengan minat/bakat dan tingkat kemampuannya. Siswa yang mempunyai kemampuan tinggi disalurkan ke perguruan tinggi, sedangkan yang mempunyai kemampuan, biasa diarahkan ke dunia kerja sesuai dengan bakat mereka masing-masing. Guru dalam mengatur program dan belajar siswa untuk maksud di atas, sangat membutuhkan bantuan pemikiran supervisor. Kedelapan, bimbingan karier tersebut di atas sangat erat hubungannya dengan tugas Badan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Di samping itu badan ini juga mengurusi kesulitan belajar para siswa dan kesulitan-kesulitan pribadi mereka. Pekerjaan seperti itu bagi guru tidaklah mudah, namun demikian setiap guru pada bakikatnya adalah Guru Pembimbing. Mereka tidak boleh menyerahkan tugas itu semuanya kepada petugas bimbingan dan konseling. Kesulitan para guru ini bisa dikurangi dengan hadimya supervisor di bidang bimbingan dan konseling.

4. Proses Supervisi Pendidikan A. Supervisi Preventif Dalam proses supervisi, supervisor memberikan nasehat-nasehat untuk menghindari kesalahan-kesalahan.

B. Supervisi Korektif Dalam proses supervisi, supervisor bersifat mencari kesalahan bawahannya, baik secara prinsipil, teknis, maupun dalam melaksanakan instruksi dari supervisor. C. Supervisi Konstruktif Dalam supervisi, supervisor memperhatikan prestasi bawahannya (seperti : inisiatif, daya cipta, penelitian, dan lain-lain) yang kemudian memberikan berbagai macam penghargaan yang sesuai. D. Supervisi Kooperatif Dalam supervisi, supervisor mengutamakan kerjasama, partisipasi, musyawarah pendidikan. 5. Ruang Lingkup Supervisi Pendidikan Program supervisi pendidikan meliputi penelitian dan pembinaan mengenai hal-hal sebagai berikut : A. Supervisi Pelaksanaan Kurikulum 1) Pembagian tugas 2) Rencana tahunan sekolah 3) Jadwal dan rencana tahunan guru 4) Penerapan satuan pelajaran sebagai sistem dan penyampaian materi pelajaran 5) Pelaksanaan PBM yang meliputi : a) Cara mengkoordinasi kegiatan belajar mengajar. b) Perencanaan evaluasi belajar (harian, semester dan UAN) c) Program bimbingan siswa B. Supervisi Ketenagaan 1) Kehadiran guru di sekolah dan di kelas 2) Partisipasi guru dalam kegiatan kurikuler dan ko-kurikuler 3) Partisipasi guru dalam penataran, lokakarya, workshop, dan dan toleransi dengan bawahan demi kemajuan

lain-lain 4) Statistik peresensi guru, dan lain-lain C. Supervisi Ketatausahaan Menilai : 1) Administrasi tata usaha 2) Pelaksanaan usul kenaikan pangkat guru dan pegawai 3) Pelaksanaan kenaikan gaji berkala guru dan pegawai 4) Buku kas umum, SPP, koperasi dan lain-lain D. Supervisi Sarana dan Prasarana Pendidikan Menilai : 1) Penyelenggaraan dan keadaan perpustakaan sekolah 2) Penyelenggaraan dan keadaan laboratorium 3) Pemeliharaan halaman sekolah 4) Pengadaan dan penggunaan alat dan perabot kantor 5) Pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan alat pengajaran 6) Pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan material E. Supervisi Hubungan Sekolah dan Masyarakat 1) Bentuk dan sifat kerjasama antar sekolah dan masyarakat 2) Manfaat kerjasama antar sekolah dan dan masyarakat 3) Pembinaan, kerjasama efektivitas efisiensi gedung, bangunan dan

6. Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Supervisi Guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tataran institusional dan eksperiensial, sehingga upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek “guru” dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang professional. Ada dua metafora untuk menggambarkan pentingnya pengembangan sumber daya guru. Pertama, jabatan guru diumpamakan dengan sumber air. Sumber air itu harus terus menerus bertambah, agar sungai itu dapat mengalirkan air terus-menerus. Bila tidak, maka sumber air itu akan kering. Demikianlah bila seorang guru tidak pernah membaca informasi yang baru, tidak menambah ilmu pengetahuan tentang apa yang diajarkan, maka ia tidak mungkin memberi ilmu dan pengetahuan dengan cara yang lebih menyegarkan kepada peserta didik. Kedua, jabatan guru diumpamakan dengan sebatang pohon buah-buahan. Pohon itu tidak akan berbuah lebat, bila akar induk pohon tidak menyerap zatzat makanan yang berguna bagi pertumbuhan pohon itu. Begitu juga dengan jabatan guru yang perlu bertumbuh dan berkembang. Baik itu pertumbuhan pribadi guru maupun pertumbuhan profesi guru. Setiap guru perlu menyadari bahwa pertumbuhan dan pengembangan profesi merupakan suatu keharusan untuk menghasilkan output pendidikan berkualitas. Itulah sebabnya guru perlu belajar terus menerus, membaca informasi terbaru dan mengembangkan ideide kreatif dalam pembelajaran agar suasana belajar mengajar menggairahkan dan menyenangkan baik bagi guru apalagi bagi peserta didik. Peningkatan sumber daya guru bisa dilaksanakan dengan bantuan supervisor, yaitu orang ataupun instansi yang melaksanakan kegiatan supervisi terhadap guru. Perlunya bantuan supervisi terhadap guru berakar mendalam dalam kehidupan masyarakat. Swearingen mengungkapkan latar belakang perlunya supervisi berakar mendalam dalam kebutuhan masyarakat dengan

latar belakang sebagai berikut : 1. Latar Belakang Kultural Pendidikan berakar dari budaya arif lokal setempat. Sejak dini pengalaman belajar dan kegiatan belajar-mengajar harus daingkat dari isi kebudayaan yang hidup di masyarakat itu. Sekolah bertugas untuk mengkoordinasi semua usaha dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang dicita-citakan. 2. Latar Belakang Filosofis Suatu system pendidikan yang berhasil guna dan berdaya guna bila ia berakar mendalam pada nilai-nilai filosofis pandangan hidup suatu bangsa. 3. Latar Belakang Psikologis Secara psikologis supervisi itu berakar mendalam pada pengalaman manusia. Tugas supervisi ialah menciptakan suasana sekolah yang penuh kehangatan sehingga setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri. 4. Latar Belakang Sosial Seorang supervisor dalam melakukan tanggung jawabnya harus mampu mengembangkan potensi kreativitas dari orang yang dibina melalui cara mengikutsertakan orang lain untuk berpartisipasi bersama. Supervisi harus bersumber pada kondisi masyarakat. 5. Latar Belakang Sosiologis Secara sosiologis perubahan masyarakat punya dampak terhadap tata nilai. Supervisor bertugas menukar ide dan pengalaman tentang mensikapi perubahan tata nilai dalam masyarakat secara arif dan bijaksana. 6. Latar Belakang Pertumbuhan Jabatan Supervisi bertugas memelihara, merawat dan menstimulasi pertumbuhan jabatan guru. Diharapkan guru menjadi semakin professional dalam mengemban amanat jabatannya dan dapat

meningkatkan posisi tawar guru di masyarakat dan pemerintah, bahwa guru punya peranan utama dalam pembentukan harkat dan martabat manusia. Permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi di lingkungan pendidikan adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif, yaitu sikap yang menciptakan situasi dan relasi di mana guruguru merasa aman dan diterima sebagai subjek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu, supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang objektif (Sahertian, 2000:20). C. PENUTUP Dari beberapa pengertian dan pemaparan yang berhubungan dengan pelaksanan supervisi diatas kita dapat mengetahui bahwa supervisi adalah merupakan bantuan dalam wujud layanan profesional yang diberikan oleh orang yang lebih ahli dalam rangka peningkatan kemampuan profesional, terutama dalam proses belajar mengajar. Adapun tujuan supervisi adalah perbaikan proses belajar mengajar, yang didalamnya melibatkan pendidik dan siswa, melalui serangkaian tindakan, bimbingan, dan arahan. Sedangkan fungsi supervisi adalah menumbuhkan iklim yang kondusif bagi perbaikan proses dan hasil belajar melalui serangkaian upaya supervisi terhadap pendidik dalam wujud layanan profesional. Proses supervisi merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan ketika supervisi dilaksanakan. Prosedur supervisi dapat dilaksanakan dengan tahapan proses seperti berikut, yaitu pertemuan pendahuluan, observasi pendidik yang sedang mengajar, dan pertemuan balikan. Namun ada beberapa kendala dalam pelaksanan supervisi yaitu adanya pola pikir yang berpendapat supervisi adalah sebuah wujud otoriterisme atasan kepada bawahan selain itu, adannya pemikiran bahwa supervisi merupakan

kekuasaan untuk melakukan penekanan konsep dan pemahaman yang sering dilakukan oleh atasan kepada bawahan yang berujung kepada salah pengertian dan saling bertentangan.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Prabu Mangkunegara, Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, PT. Refika Aditama : Bandung, 2003 http://borneoneo.wordpress.com/2008/09/16/Tujuan-Dan-Fungsi-Supervisi/ http://tikky-suwantikno.blogspot.com/2008/02/Supervisi-Pendidikan.html http://imamgun08.blogspot.com/2009/02/Tinjauan-Kegunaan-SupervisiPendidikan.html http://isnahanifah.blogspot.com/2009/05/Supervisi-Pendidikan.html Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Penerbit PT Rosda Karya, Bandung, 1995 Sahertian, Piet A. 2000. Konsep-Konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta. Suekidjo Notoadmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penerbit Rineka Cipta : Jakarta, 2003 Supandi. 1996. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Departemen Agama Universitas Terbuka. Supriadi, Dedi. 1999. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Supriadi, Dedi. 2002. Laporan Akhir Tahun Bidang Pendidikan & Kebudayaan. Artikel. Jakarta : Kompas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->