P. 1
Pemberian Obat2an

Pemberian Obat2an

|Views: 4,441|Likes:
Published by causahrul
PENTINGNYA PEMBERIAN OBAT DALAM KEPERAWATAN
By RISNAWATI
PENTINGNYA PEMBERIAN OBAT DALAM KEPERAWATAN
By RISNAWATI

More info:

Published by: causahrul on Jan 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPSX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2013

pdf

text

original

PEMBERIAN OBAT-OBATAN

A.

PENTINGNYA PEMBERIAN OBAT DALAM KEPERAWATAN
Obat merupakan sebuah subastansi yang

diberikan kepada manusia atau binatang sebagai perawatan atau pengobatan, bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuhnya. Seorang perawat yang akan bekerja secara langsung dalam pemenuhan asuhan keperawatan sangat membutuhkan keterampilan dalam tindakan medis berupa pengobatan.

B. STANDAR OBAT
Sebaiknya obat yang akan digunakan memenuhi berbagai standar persyaratan obat, di antaranya: kemurnian, yaitu bahwa obat mengandung unsur keaslian, tidak ada percampuran; standar potensi yang baik; memiliki bioavailability, yaitu keseimbangan obat; adanya keamanan; dan efektivitas. Kelima standar tersebut harus dimiliki agar menghasilkan efek yang baik terhadap kepatenan obat sendiri.

C. REAKSI OBAT

Sebagai

bahan

atau

benda asing yang masuk ke dalam tubuh, obat akan bekerja sesuai

D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REAKSI OBAT

Beberapa dapat

hal

yang

mempengaruhi

reaksi dari pengobatan di antaranya: absorpsi obat,

1.

Absorpsi obat Absorpsi obat merupakan proses pergerakan obat dari sumber ke dalam tubuh melalui aliran darah, kecuali jenis topical yang dipengaruhi oleh cara dan jalur pemberian obat, jenis obat, keadaan tempat, makanan, dan keadaan pasien.

2.

Distribusi obat ke dalam tubuh Setelah absorpsi, obat didistribusikan ke dalam tubuh melalui darah dan sistem limfatis menuju sel dan masuk ke dalam jaringan tertentu. Proses ini dapat dipengaruhi oleh keseimbangan cairan, elektrolit, dan keadaan

patologis.

3.

Metabolisme obat Setelah melalui sirkulasi, obat akan mengalami proses metabolism. Obat akan ikut sirkulasi ke dalam jaringan kemudian berinteraksi dengan sel dan mengalami perubahan zat kimia untuk kemudian diekskresikan.

4.

Ekskresi sisa melalui obat Setelah obat mengalami metabolism atau pemecahan, akan terdapat sisa zat yang tidak dapat dipakai dan tidak bereaksi. Sisa zat ini kemudian keluar melalui ginjal dalam bentuk urine, intestinal dalam bentuk feses, dan paru dalam bentuk udara.

E. MASALAH DALAM PEMBERIAN OBAT DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1.

Menolak pemberian obat Integritas kulit terganggu Disorientasi dan bingung Menelan obat bukal atau sublingual

2.

3.

4.

E. CARA PEMBERIAN OBAT
Pemberian obat kepada pasien dapat dilakukan melalui beberapa cara, di antaranya: oral, parental, rectal, vaginal, kulit, mata, telinga, dan hidung, dengan menggunakan prinsip lima tepat, yaitu tepat nama pasien, tepat nama obat, tepat dosis obat, tepat cara pemberian, dan tepat waktu pemberian.

Ø

Pemberian Obat Melalui Oral Pemberian obat melalui oral merupakan pemberian obat melalui mulut dengan tujuan mencegah, mengobati, dan mengurangi rasa sakit sesuai dengan jenis obat. Alat dan Bahan:
1.

Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.

2.

Obat dan tempatnya. Air minum dalam tempatnya.

3.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Baca aturan pakai yang tertera pada bungkus obat. Bantu untuk meminumkannya dengan cara: Apabila memberikan obat tablet atau kapsul dari botol, maka tuangkan jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol dan pindahkan ke tempat obat. Jangan sentuh obat dengan tangan. Untuk obat berupa kapsul, jangan dilepaskan pembungkusnya. Kaji kesulitan menelan. Bila ada, jadikan tablet dalam bentuk bubuk dan campur dengan minuman.

2.

3.

4.

Ø

Pemberian Obat Intrakutan Pemberian obat intrakutan merupakan cara memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit, tujuannya adalah untuk melakukan tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan. Pemberian intrakutan pada dasarnya di bawah dermis atau epidermis, secara umum pada daerah lengan bagian ventral. Alat dan Bahan:
1.

Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat. Obat dalam tempatnya.

2.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Bebaskan suntikan. daerah Bila yang akan dilakukan lengan

2.

3.

menggunakan

baju

panjang, buka dan gulung ke atas.
4.

Pasang perlak/pengalas di bawah bagian yang akan disuntik.

5.

Ambil obat yang akan diberikan, tes alergi,

7.

Tegangkan dengan tangan kiri atau daerah yang akan disuntik.

8.

Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan sudut 15-20 derajat pada permukaan kulit.

9.

Semprotkan obat hingga terjadi gelembung. Tarik spuit dan jangan lakukan masase. Catat reaksi pemberian. Cuci tangan dan catat hasil pemberian obat, tanggal dan waktu, serta jenis obat.

10.

11.

12.

Ø

Pemberian Obat Subkutan Pemberian obat subkutan adalah pemberian obat melalui suntikan ke bawah kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan atas sebelah luar 1/3 bagian dari bahu, paha sebelah luar, daerah dada, dan daerah sekitar umbilikus (abdomen). Pemberian obat melalui subkutan ini pada umumnya dilakukan dalam program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Dalam pemberian insulin terdapat dua tipe larutan, yaitu larutan yang jernih dan larutan yang keruh. Larutan jernih adalah insulin tipe reaksi cepat (insulin reguler) dan larutan keruh adalah tipe lambat karena adanya penambahan

Alat dan Bahan:
1.

Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat. Obat dalam tempatnya. Spuit insulin. Kapas alkohol dalam tempatnya. Cairan pelarut. Bak injeksi. Bengkok. Perlak dan alasnya.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Bebaskan daerah yang akan dilakukan suntikan atau bebaskan suntikan dari pakaian. Apabila menggunakan baju maka buka atau lipat ke atas. Ambil obat dalam tempatnya sesuai dengan dosis yang akan diberikan, setelah itu tempatkan pada bak injeksi. Desinfeksi dengan kapas alkohol. Tegangkan dengan tangan kiri (daerah yang akan dilakukan suntikan subkutan).

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan sudut 45 derajat pada permukaan kulit. Lakukan aspirasi, bila tidak ada darah semprotkan obat perlahan-lahan hingga habis. Tarik spuit dan tahan dengan kapas alkohol. Masukkan spuit yang telah terpakai ke dalam bengkok. Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu pemberian, dan jenis/dosis obat. Cuci tangan.

8.

9.

10.

11.

Ø

Pemberian Obat Intravena Langsung Pemberian obat intravena langsung adalah pemberian obat yang dilakukan melalui vena, di antaranya vena mediana cubiti/cephalika (lengan), vena saphenous (tungkai), vena jugularis (leher), dan vena frontalis/temporalis (kepala), serta bertujuan memberikan obat dengan reaksi cepat dan langsung masuk pada pembuluh darah.

Alat dan Bahan:
1.

Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.

2.

Obat dalam tempatnya. Spuit sesuai dengan jenis ukuran. Kapas alkohol dalam tempatnya. Cairan pelarut. Bak injeksi. Bengkok.

3.

4.

5.

6.

7.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Bebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian. Apabila tertutup pakaian, buka atau lipat pakaian ke atas. Ambil obat dalam tempatnya dengan spuit sesuai dengan dosis yang akan diberikan. Apabila obat berbentuk bubuk maka larutkan dengan pelarut (aquades steril). Pasang perlak atau pengalas di bawah vena yang akan dilakukan penyuntikan. Tempatkan obat yang telah diambil pada bak injeksi.

2.

3.

4.

5.

6.

9.

Ambil spuit yang telah ada obatnya. Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke pembuluh darah. Lakukan aspirasi. Bila sudah ada darah, lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan obat hingga habis. Setelah selesai, ambil spuit dengan menarik dan melakukan penekanan pada daerah penusukan dengan kapas alkohol. Letakkan spuit yang telah digunakan ke dalam bengkok. Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu, dan dosis obat. Cuci tangan.

10.

11.

12.

13.

14.

Ø

Pemberian Obat Melalui Wadah Cairan Intravena Pemberian obat Pemberian obat melalui wadah cairan intravena merupakan cara

memberikan obat dengan menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intravena yang bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar

terapeutik dalam darah. Alat dan Bahan:

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit.

2.

3.

4.

Cari tempat penyuntikan obat pada daerah kantong.

5.

Lakukan desinfeksi dengan kapas alkohol dan stop aliran.

Ø

Pemberian Obat Melalui Selang Intravena Alat dan Bahan:
1.

Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran. Obat dalam tempatnya. Selang intravena. Kapas alkohol.

2.

3.

4.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit.

2.

3.

4.

Cari tempat penyuntikan obat pada daerah selang intravena.

5.

Lakukan desinfeksi dengan kapas alkohol dan stop aliran.

Ø

Pemberian Obat Melalui Intramuskular Pemberian obat intramuskular dilakukan

dengan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan adalah pada daerah paha (vastus lateralis), ventrogluteal (dengan posisi berbaring), dorsogluteal (posisis tengkurap), atau lengan atas (deltoid). Tujuan pemberian obat dengan cara ini adalah agar absorpsi obat lebih cepat.

Alat dan Bahan:
1.

Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.

2.

Obat dalam tempatnya. Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran: dewasa 2,5-3,75 cm dan anak - anak 1,252,5 cm.

3.

4.

Kapas alkohol dalam tempatnya. Cairan pelarut. Bak injeksi.

5.

6.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosis, setelah itu letakkan pada bak injeksi.

2.

3.

4.

Periksa

tempat

yang

akan

dilakukan

penyuntikan (lihat lokasi penyuntikan).
5.

Desinfeksi dengan kapas alkohol tempat yang akan dilakukan penyuntikan.

6.

Lakukan penyuntikan: Pada daerah paha pasien (vestus untuk lateralis), berbaring

anjurkan

terlentang dengan lutut sedikit fleksi. Pada ventrogluteal, anjurkan pasien untuk miring, akan tengkurap, dilakukan atau terlentang dalam dengan lutut dan pinggul pada sisi yang penyuntikan keadaan fleksi. Pada daerah dorso gluteal, anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut diputar ke

7.

Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus. Setelah jarum masuk, lakukan aspirasi spuit. Bila tidak ada darah, semprotkan obat secara perlahan hingga habis. Setelah selesai, ambil spuit dengan menarik spuit dan tekan daerah penyuntikan dengan kapas alkohol, kemudian letakkan spuit yang telah digunakan pada bengkok. Catat reaksi, jumlah dosis, dan waktu pemberian. Cuci tangan.

8.

9.

10.

11.

 

Ø

Pemberian Obat Melalui Anus / Rektum Pemberian dilakukan melalui obat melalui anus/rektum obat

dengan anus

cara

memasukkan rektum, dan

atau

bertujuan sistematik.

memberikan

efek

lokal

Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat suppositoria yang bertujuan untuk

mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak pada daerah feses, dan merangsang buang air besar.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Gunakan sarung tangan. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.

2.

3.

4.

5.

Oleskan supositoria.

pelican

pada

ujung

obat

6.

Regangkan kemudian

glutea

dengan

tangan

kiri,

masukkan

supositoria

dengan

7.

Setelah selesai, tarik jari tangan dan bersihkan daerah sekitar anal dengan tisu. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring selama kurang lebih 5 menit. Lepaskan sarung tangan ke dalam bengkok. Cuci tangan. Catat obat, pemberian. jumlah/dosis, dan cara

8.

9.

10.

11.

     

Ø

Pemberian Obat Melalui Vagina Pemberian obat yang dilakukan dengan memasukkan obat melalui vagina bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks. Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan supositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal. Alat dan Bahan:
1.

Obat dalam tempatnya. Sarung tangan. Kain kasa. Kertas tisu. Kapas sublimat dalam tempatnya. Pengalas. Korentang dalam tempatnya.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Gunakan sarung tangan. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.

2.

3.

4.

5.

Bersihkan

sekitar

alat

kelamin

dengan

kapas sublimat.
6.

Anjurkan pasien tidur dalam posisi dorsal recumbert.

10.

Anjurkan pasien untuk tetap pada posisinya selama kurang 10 menit agar obat bereaksi. Cuci tangan. Catat jumlah, pemberian. dosis, waktu, dan cara

11.

12.

Apabila menggunakan obat jenis krim, isi aplikator krim atau ikuti petunjuk krim yang tertera pada kemasan, regangkan lipatan labia dan masukkan aplikator kurang lebih 7,5 cm dan dorong penarik aplikator untuk mengeluarkan obat dan lanjutkan nomor 8,9,10,11.

Ø

Pemberian Obat Topical
v

Pada Kulit Pemberian obat yang dilakukan pada kulit bertujuan untuk mempertahankan hidrasi, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit atau mengatasii infeksi. Obat kulit terdiri atas bermacam-macam, yaitu krim, losion, aerosol, dan sprei. Alat dan Bahan:
1.

Obat dalam tempatnya (seperti losion, krim, aerosol, sprei). Pinset anatomis. Kain kasa. Kertas tisu. Balutan. Pengalas. Air sabun, air hangat. Sarung tangan.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Prosedur Kerja:
1. 2. 3.

4. 5.

6.

7.

8.

Cuci tangan. Jelaskaan prosedur yang akan dilakukan. Pasang pengalas di bawah daerah yang akan dilkukan tindakan. Gunakan sarung tangan. Bersihkan daerah yang akan diberi obat dengan air hangat (apabila terdapat kulit mengeras) dan gunakan pinset anatomis. Berikan obat sesuai dengan indikasi dan cara pemakaian seperti mengoleskan atau mengompres. Jika diperlukan, tutup dengan kain kasa atau balutan pada daerah diobati. Cuci tangan.

v

Pada Mata Pemberian mengoleskan dengan mengukur cara obat pada mata dilakukan mata atau Persiapan untuk cara

dengan cara meneteskan obat salep mata.

pemeriksaan struktur internal mata dilakukan mendilatasi lensa pupil, dengan refraksi

mendilatasi pupil, untuk mengukur refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa, kemudian dapat juga digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.

Alat dan Bahan:
1.

Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep. Pipet. Pinset anatomi dalam tempatnya. Korentang dalam tempatnya. Plester. Kain kasa. Kertas tisu. Balutan. Sarung tangan. Air hangat/kapas pelembab.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Atur posisi pasien dengan kepala menengadah, dengan posisi perawat di samping kanan. Gunakan sarung tangan. Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke arah hidung. Apabila sangat kotor basuh dengan air hangat. Buka mata dengan menekan perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di atas tulang orbita. Teteskan obat mata di atas sakus konjungtiva. Setelah tetesan selesai sesuai dengan dosis, anjurkan pasien untuk menutup mata secara perlahan.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Apabila obat mata jenis salep, pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pijat tube sehingga obat keluar dan berikan obat pada kelopak mata bawah. Setelah selesai, anjurkan pasien untuk melihat ke bawah, secara bergantian dan berikan obat pada kelopak mata bagian atas dan biarkan pasien untuk memejamkan mata dan menggerakkan kelopak mata. Tutup mata dengan kasa bila perlu. Cuci tangan. Catat obat, jumlah, waktu, dan tempat pemberian. 

9.

10.

11.

Gambar Pemberian Obat Melalui Mata

v

Pada Telinga Pemberian obat pada telinga dilakukan dengan cara memberikan tetes telinga atau salep. Obat tetes telinga ini pada umumnya diberikan pada gangguan infeksi telinga, khususnya pada telinga tengah (otitis eksterna), dan dapat berupa obat antibiotik. Alat dan Bahan:
1.

Obat dalam tempatnya. Penetes. Spekulum telinga. Pinset anatomi dalam tempatnya. Korentang dalam tempatnya. Plester. Kain kasa. Kertas tisu. Balutan.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Atur posisi pasien dengan kepala miring ke kanan atau ke kiri sesuai dengan daerah yang akan diobati, usahakan agar lubang telinga pasien di atas. Luruskan lubang telinga dengan menarik daun telinga ke atas/ke belakang (pada orang dewasa), ke bawah pada anak. Apabila obat berupa tetes, maka teteskan obat pada dinding saluran untuk mencegah terhalang oleh gelembung udara, dengan jumlah tetesan sesuai dosis.

2.

3.

4.

5.

6.

Apabila obat berupa salep, maka ambil kapas lidi dan oleskan salep kemudian masukkan atau oleskan pada liang telinga.

7.

Pertahankan

posisi

kepala

kurang

lebih

selama 2-3 menit. 8. Tutup telinga dengan pembalut dan plester jika diperlukan. 9. 10. Cuci tangan. Catat jumlah, tanggal, dan dosis pemberian.

v

Pada Hidung Pemberian obat pada hidung dilakukan dengan cara memberikan tetes hidung yang dapat dilakukan pada seseorang dengan keradangan hidung (rhinitis) atau nasofaring. Alat dan Bahan:
1.

Obat dalam tempatnya. Pipet. Spekulum hidung. Pinset anatomi dalam tempatnya. Korentang dalam tempatnya. Plester. Kain kasa. Kertas tisu. Balutan.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Prosedur Kerja:
1.

Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Atur posisi pasien dengan cara: Duduk di kursi dengan kepala menengadah ke belakang. Berbaring dengan kepala ekstensi pada tepi tempat tidur. Berbaring dengan bantal di bawah bahu dan kepala tengadah ke belakang.

2.

3.

4.

Berikan tetesan obat pada tiap lubang hidung (sesuai dengan dosis).

5.
6.

Pertahankan posisi kepala tetap tengadah ke belakang selama 5 menit. Cuci tangan. Catat, cara, tanggal, dan dosis pemberian obat.

7.

     

Gambar Pemberian Obat Melalui Hidung

B. JENIS – JENIS OBAT

Obat paten : obat dengan nama dagang dan menggunakan nama yang merupakan milik produsen obat yang bersangkutan atau yang memproduksinya.

Obat generic : obat yang mempunyai zat berkhasiat sesuai yang tercantum dalm buku farmakope Indonesia atau buku resmi lainnya seperti INN (International Non Proprietary Names)

ü

Obat anestesi umum
Inhalai cairan Eter
• •

Trikloretilen (Trilene)

Natrium Tiamilal Droperidol Etomidat

Vinyl Eter

Kloroform (CHC12)
• •

Halotan (Fluothan)
• •

Nitrous Oksida (gas gelak) Siklopropan

Metoksifluran

Ketamin (ketalar)
• •

Enfluran (Ethrane)
• •

Kloretil (Chlorethyl)
• •

Propofol Siklopropan

Isofluran

Natrium Tiopental (pentothal, kemithal, heksobarbital)

ü

Anastesi Lokal

Cocain Sintetis Amida Lidokain Benzokain

Bupivakain Etidokain Dibukain Mepivakain

Prokain (Novocain)
• •

Klorprokain Tetrakain

H. PENGGOLONGAN OBAT

Obat bebas : obat yang dapat dibeli bebas tanpa resep dokter. Obat bebas terbatas : obat yang dapat dibeli bebas tanpa resep dokter dengan ketentuan atau batas dosis yang yang telah ditentukan. Obat keras : obat yang didaftarkan sebagai obat berbahaya yang dapat dibeli hanya dengan menggunakan resep dokter di Apotik. Obat narkotika : obat yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Obat psikotropik : obat keras tetapi bukan narkotika yang bekhasiat pengaruh selektif pada SSP yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku. Obat trdisional : obat/bahan yang diambil dari bahan alami di olah secara sederhana dan digunakan berdasarkan pengalaman. Obat inhalasi cairan eter :cairan berbau khas,mudah terbakar, efek kadiovaskuler dan hati lebih ringan, waktu induksi lambat. Khasiat anastetik tak kuat, relaksan otot baik. Dosis 6-7 % tercampur udarah dengan system terbuka atau tertutup.

TERIMA KASIH
BY

RISNAWATI RISKA NUR ALFIANI NUR SUKMAWATY

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->