P. 1
PERBAIKAN PEMASARAN PRODUK HASIL PERTANIAN SEBAGAI UPAYA MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN

PERBAIKAN PEMASARAN PRODUK HASIL PERTANIAN SEBAGAI UPAYA MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN

5.0

|Views: 8,316|Likes:
Published by ivan ara

More info:

Published by: ivan ara on Jan 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2013

pdf

text

original

Tugas MK Ekonomi Pertanian ESL (211) Kelas Kamis PERBAIKAN PEMASARAN PRODUK HASIL PERTANIAN SEBAGAI UPAYA MENUJU

PERTANIAN BERKELANJUTAN Oleh : Galvan Yudhistira Sophia Fitriesa Lia Juwita (A24070040) ( A24070079) (A24070104) Indah Permata Dewi (A24070049)

Yusufa Putri Catur S. (A24070109) Dosen : Hastuti Novindra

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN LINGKUNGAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul ”Perbaikan Pemasaran Produk Hasil Pertanian sebagai Upaya Menuju Pertanian Berkelanjutan”. Makalah ini dibuat untuk mengetahui bagaimana solusi perbaikan yang tepat untuk menghasilkan produk pertanian yang suistanable atau berkelanjutan Kami mengucapkan terimakasih kepada Ibu Hastuti serta Bapak Novindra selaku dosen yang telah memberikan materi dan ilmu mengenai topik yang kami sajikan terkait dengan ekonomi pertanian. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada teman-teman jurusan Agronomi dan Hortikultura yang telah banyak membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Terakhir, terimaksih kepada orangtua dan keluarga kami atas semua doa, dukungan, dan motivasi yang diberikan. Kami menyadari pada makalah ini masih banyak terdapat kekurangan , namun kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat. Amin.

Bogor, Juni 2009

Tim penyusun

1

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................1 DAFTAR ISI............................................................................................................2 BAB I.......................................................................................................................2 PENDAHULUAN....................................................................................................2 BAB II......................................................................................................................5 TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................5 2.1. Tataniaga Pertanian...................................................................................5 2.2. Strategi Pemasaran....................................................................................5 2.3. Bauran Pemasaran.....................................................................................6 2.4. Pertanian Berkelanjutan...........................................................................8 BAB III...................................................................................................................10 PERMASALAHAN...............................................................................................10 BAB IV..................................................................................................................12 PEMBAHASAN....................................................................................................12 BAB V....................................................................................................................16 KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................................16 5.1 Kesimpulan.................................................................................................16 5.2 Saran.............................................................................................................16 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................17 DAFTAR PUSTAKA

1

BAB I PENDAHULUAN
Revitalisasi pertanian merupakan pilihan yang tepat untuk saat ini. Hal ini dikarenakan adalah besarnya subangan sektor pertanian terhadap pembangunan nasional, bukan saja sumbangan terhadap GDP dan devisa, tetapi yang lebih penting adalah dalam hal penyerapan tenaga kerja, penyediaan kebutuhan pokok serta yang paling penting adalah sebagai cara untuk mengatasi kemiskinan yang diderita masyarakat Indonesia yang berada pada wilayah pedesaan. Berbagai analisia yang dilakukan baik studi kasus dalam negeri maupun luar negeri, menunjukkan bahwa tidak sustainnya kemmpuan sektor pertanian dalam menunjang pembangunan nasional di Indonesia diantaranya adalah timpangnya pembangunan sistem agribisnis (hulu, hilir, tengah). Pembangunan pertanian yang bertumpu pada subsistem produksi (on farm) sebagai akibat dari tuntutan pengembangan pangan masa lalu telah menyebabkan kurang berkembangnya subsistem pemasaran. Paradigma peningkatan produksi berarti peningkatan pendapatan kini semakin usang manakala harga tak dapat lagi disangga karena semakin minimnya sumberdana dan liberalisasi perdagangan yang terus mendesak. Dengan kata lain, saat ini revitalisasi pertanian dapat ditempuh dengan perbaikan pemasaran. Perbaikan pemasaran pada dasarnya adalah upaya perbaian posisi tawar produsen terhadap pedagang, pedagang terhadap konsumen, dan sebaliknya melalui perbaikan daya saing komoditas pertanian sehingga semua pihak memperoleh keuntungan sesuai kepentingannya masing-masing. Perbaikan oemasaran juga berarti persaingan memperebutkan keuntunga dalam perdagangan baik pada pasar domestik maupun Internasioanl secara adil dan transparan yang bebas dan kompetitif. Oleh karena itu, keberhasilan dalam perbaikan pemasaran akan memberikan dampak multifungsi terhadap pembangunan pertanian seperi menjadi penghela bagi peningkatan produksi, produktifitas dan kualitas produk pertanian, memperluas kesempatan kerjadan menjadi kunci utama upaya peningkatan pendapatan petani. Dengan kata lain perbaikan pemasaran merupakan merupakan ujung tombak revitalisasi pertanian saat ini.

1

Berdasarkan pemikiran diatas, maka perlu disusun langkah-langkah kongkrit dan sistematis tentang renana revitalisasi sektor pertanian melalui perbaikan pemasaran hasil pertanian. Langkah-langkah ini beranjak dari kondisi objektif dan tantangan nyata yang dihadap sektor pertanian Indonesia serta peluangyang haru sdimanfaatkan secara optimal yang akhirnya akan menjadi agenda bersama untuk dilakukan seluruh stakeholder sektor pertanian.

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tataniaga Pertanian Menurut Limbong dan Soitorus (1987, dalam Wulandari, 2008) pada dasarnya tataniaga memiliki pengertian yang sama dengan pemasaran. Para ahli telah mendefinisikan pemasaran atau tataniaga sebagai sesuatu yang berbedabeda sesuai sudut pandang mereka. Pemasaran atau tataniaga dapat didefinisikan sebagai suatu proses manajerial dimana individu atau kelompok di dalamnya mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Tataniaga dapat juga diartikan sebagai suatu tempat atau wahana dimana ada kekuatan supply dan demand yang bekerja, ada proses pembentukan harga dan terjadinya proses pengalihan kepemilikan barang maupun jasa (Dahl dan Hammond, 1987), sedangkan menurut Kohls dan Uhl (1990, dalam Kertawati, 2008) tataniaga adalah semua kegiatan bisnis yang terlibat dalam arus barang dan jasa dari titik produksi hingga barang dan jasa tersebut ada di tangan konsumen. Berdasarkan pengertian tataniaga diatas maka didefinisikan pengertian tataniaga pertanian secara umum, yaitu segala kegiatan yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik barang–barang hasil pertanian dari tangan produsen ke tangan konsumen termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan. 2.2. Strategi Pemasaran Menurut Kotler (1997, dalam Sari, 2008) pemasaran adalah suatu proses dan manajerial dimana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapat apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk-produk yang bernilai. Pemasaran memperhatikan hubungan timbal balik yang dinamis antara produk dan jasa perusahaan, keinginan dan kebutuhan konsumen serta aktivitas pesaing. Rangkuti (2006, dalam Sari, 2008) mendefiniskan pemasaran sebagai proses kegiatan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor sosial, politik, budaya, ekonomi dan manajerial. Akibat dari pengaruh berbagai faktor tersebut adalah

1

masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang memiliki nilai komoditas. Pemasaran diawali dengan pemahaman tentang kebutuhan, keinginan dan permintaan konsumen akan produk dimana konsumen mengharap nilai produk tersebut bermanfaat serata sesuai dengan biaya atau pengorbanan yang dikeluarkan. Produk tersebut dapat dijumpai di pasar dalam sebuah transaksi dengan produsen atau pemasarnya. Rangkuti (2006, dalam Sari, 2008) mengklasifikasikan unsur-unsur utama dalam pemasaran sebagai berikut: 1. Unsur strategi persaingan a. Segmemtasi pasar Segmentasi pasar adalah tindakan mengidentifikasi dan membetuk kelompok pembeli atau konsumen secara terpisah. Masing-masing segmen konsumen ini memiliki karakteristik, kebutuhan produk dan bauran pemasaran tersendiri. b. Targeting Targeting adalah suatu tindakan memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan memasuki dan ditunjukkan untuk pembeli. c. Positioning Positioning adalah penetapan posisi pasar yaitu suatu tindakan yang membangun dan mengkomunikasikan manfaat pokok istimewa dari produk di dalam pasar. Pengertian ini mengandung makna tempat suatu produk atau merek sekelompok produk di dalam benak konsumen relatif terhadap penawaran pesaingnya. 2.3. Bauran Pemasaran Bauran pemasaran menurut Kasmir (2000) merupakan kegiatan pemasaran yang dilakukan secara terpadu. Artinya elemen-elemen yang ada dalam bauran pemasaran itu sendiri. Setiap elemen tidak dapat berjalan sendiri-sendiri tanpa didukung oleh elemen lain. Setiap elemen itu tidak dapat berjalan sendiri–sendiri tanpa didukung oleh elemen yang lain.

2

Elemen-elemen yang ada dalam bauran pemasaran adalah produk, harga, tempat, promosi, SDM, process dan customer service, sehingga secara keseluruhan terdapat tujuh komponen. Penambahan ketiga komponen tersebut berkaitan dengan sifat jasa dimana kegiatan produksi atau operasi sampai dengan kegiatan konsumsi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. 2.3.1. Produk Produk secara umum diartikan sebagai sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Artinya apa pun wujudnya, selama itu dapat memenuhi keinginan pelanggan dan kebutuhan kita katakan sebagai produk (Kasmir, 2000) Menurut Kotler (2000, dalam Suheni, 2005) produk merupakan sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian untuk dibeli, untuk digunakan atau dikonsumsi yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan. 2.3.2. Harga Harga adalah aspek penting daldm kegiatan bauran pemasaran. Penentuan harga menjadi sangat penting untuk diperhatikan, mengingat, harga sangat menentukan laku tidaknya produk dan jasa. Salah dalam menentukan harga akan berakibat fatal terhadap produk yang ditawarkan. (Kotler, 2000, dalam Suheni, 2005) 2.3.3. Distribusi Distribusi adalah usaha melalui saluran pemasaran yang dilakukan untuk menyerahkan produk dari perusahaan atau pemasar kepada konsumen. Saluran pemasaran yang dipilih dapat berupa distribusi langsung, distribusi tidak langsung, atau kombinasi keduanya (Kotler dan Amstrong, 1997, dalam Sari, 2008). Saluran distribusi adalah seperangkat lembaga yang melakukan semua kegiatan menyalurkan produk dari titik konsumsi (Stanton dan Lamarto, 1991, dalam Sari, 2008). Saluran distribusi dapat dikelompokkan menurut jumlah tingkatan saluran. Saluran distribusi dapat dikelompokkan menurut jumlah tingkatan saluran. Saluran distribusi untuk barang konsumsi terdapat empat

2

tingkatan, yaitu : saluran tingkatan nol, saluran tingkat satu, saluran tingkat dua dan saluran tingkat tiga (Kotler, 1995, dalam Sari, 2008). 2.3.4. Promosi Promosi merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan keunggulan produknya, sehingga akan mendapat perhatian dari konsumen terhadap produk yang dihasilkan. Menurut Stanton (1991, dalam Sari, 2008), promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran. 2.4. Pertanian Berkelanjutan Pertanian berkelanjutan merupakan implementasi dari paradigma

pembangunan berkelanjutan yang pada saat ini telah diterima sebagai agenda politik-ekonomi pembangunan untuk semua negara di dunia. Pengertian bakunya pertama kali dipopulerkan dalam Laporan Komisi Dunia TENTANG Lingkungan dan Pembangunan (World Commission on Environment and Development) tentang Masa Depan Bersama (Our Common Future), bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi masamendatang untuk mencukupi kebutuhan mereka (Mitcheel et al., 2000 dalam Akbar, 2006). Pembangunan berkelanjutan merupakan produk etika politik pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan dimana paradigma ini kini berusaha mengkoreksi atau menyingkirkan paradigma developmentasi (pertumbuhan ekonomi dengan pendekatan GNP) yang sangat antroposentris, yakni manusia dianggap sebagai pusat alam semesta dan memiliki nilai yang paling utama/paling penting (Keraf, 2000 dalam Akbar, 2006). Pendekatan inilah yang ditunjuk menjadi penyebab kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan sebagai akibat dari eksploitasi yang berlebihan untuk kepentingan ekonomi. Selanjutnya Salikin (2003, dalam Akbar, 2006), mengatakan sistem pertanian berkelanjutan juga berisi suatu ajakan moral untuk berbuat kebajikan pada lingkungan sumberdaya alam dengan mempertimbangkan 3 (tiga) aspek berikut :

2

1. Kesadaran lingkungan Sistem budidaya pertanian tidak boleh menyimpang dari sistem ekologis yang ada. Keseimbangan adalah indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismenya dikendalikan oleh hukum alam. 2. Benilai ekonomis Sistem budidaya pertanian harus mengacu pada pertimbangtan untung rugi, baik bagi diri sendiri dan orang lain, untuk jangka pendek dan jangka panjang serta bagi organisme dalam sistem ekologi maupun diluar sistem ekologi. 3. Berwatak sosial atau kemasyarakatan Sistem pertanian harus selaras dengan norma-norma sosial dan budaya yang dianut dan dijunjung tinggi oleh masyarakat disekitarnya.

BAB III PERMASALAHAN
Kecamatan Nanggung merupakan wilayah agraris, dimana sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian (80%) yaitu sebagai petani pisang, tetapi sumber pendapatan penduduknya justru bersumber dari sektor lain. Hal ini berkaitan dengan salah satu permasalahan yang dihadapi para petani di kecamatan

1

ini khususnya masalah pemasaran komoditas pertanian. Para petani masih melakukan sistem pemasaran yang tradisional, sehingga ada ketimpangan peranan antara para petani dengan pelaku pasar lainya. Petani masih sulit melepaskan diri dari keterkaitannya dengan para tengkulak. Petani seringkali menjadi pihak yang hanya memperoleh bagian yang sangat keecil dalam sistem pemasaran. Permasalahan tersebut akan sangat berkaitan dengan efisiensi dan sistem tataniaga yang ada dalam pemasaran komoditas pertanian di wilayah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian dan penelitian tentang tataniaga dan efisiensi serta perumusan strategi untuk perbaikan efisiensi tersebut. Lembaga yang terlibat dalam pemasaran komoditas pisang di kecamatan Nanggung adalah tengkulak, pedagang lokal, pengumpul lokal, pengumpul regional, dan pengecer regional. Adapun pola saluran pemasaran yang terbentuk adalah: 1. Petani – konsumen lokal 2. Petani –tengkulak – pedagang lokal – konsumen lokal 3. Petani – tengkulak – pengumpul lokal – pengumpul regional - pedagang pengecer regional - konsumen 4. Petani – tengkulak - pedagang pengecer regional - konsumen Struktur pasar yang terbentuk pada pemasaran komoditas pisang adalah struktur pasar tidak bersaing sempurna yang mendekati bentuk oligopsoni, yang ditandai dengan hanya ada beberapa pembeli. Ada salah satu pihak yang berperan dalam proses pembentukan harga dalam hal ini adalah lembaga tataniaga yang berperan sebagai pembeli. Komoditas yang ditawarkanpun sudah mulai terdiferensiasi baik dari segi varietas, warna, bentuk, maupun kualitas. Setiap lembaga tataniaga yang terlibat memiliki perilaku yang berbeda-beda dalam sistem pemasaran komoditas hasil pertanian di kecamatan Nanggung. (Diambil dari skripsi yang ditulis oleh Maryati Ramli (2004) mengenai efisiensi dan strategi pemasaran komoditas hasil pertanian di Kecamatan Nanggung, Kecamatan Bogor)

2

BAB IV PEMBAHASAN
Permasalahan nyata yang ada pada pertanian kita saat ini adalah masalah pemasaran produk pertanian yang menyebabkan sektor pertanian kita kurang berkembang, dan bila sistem pemasaran kita tidak diperbaiki secepat mungkin, maka pertanian berkelanjutan akan sulit diwujudkan hal ini dikarenakan semakin berkurangnya minat masyarakat terhadap bidang pertanian. Pemasaran sendiri memiliki tiga komponen utama fungsi, yaitu: 1. Bauran pemasaran adalah elemen internal atau unsur penting yang disusun dalam program pemasaran organisasi

2

2. Kekuatan Pasar adalah peluang atau ancaman dari luar yang berinteraksi dengan operasi pemasaran organisasi. 3. Proses Penyesuaian adalah proses strategis dan manajerial dimana bauran pemasaran kebutuhan internal sesuai dengan kekuatan pasar. Kesuksesan program pemasaran dipengaruhi oleh tingkat kesesuaian antara lingkungan eksternal yaitu kekuatan pasar dan kemampuan internal perusahaan dalam merancang bauran pemasarannya. Program pemasaran menjadi karakteristik proses penyesuaian dan hal tersebut penting dalam konteks jasa. Analisa terhadap peluang atau kesempatan pemasaran dilakukan dengan mencari informasi tentang pasar konsumen maupun pasar bisnis, informasi tentang kondisi pesaing. Tahapan berikutnya adalah melakukan segmentasi pasar dan memilih pasar sasaran. Pembuatan strategi pemasaran merupakan penerapan strategi diferensiasi untuk pasar sasaran yang dipilihnya. Dalam merencanakan pemasaran ditetapkan besarnya biaya pemasaran, bauran pemasaran perlu dilakukan agar terjadi kesesuaian antara strategi pemasaran yang ada dengan penerapannya (Kotler, 2000, dalam Suheni, 2005). Strategi pemasaran adalah logika pemasaran dan berdasarkan itu unit usaha diharapkan mencapai sasaran-sasaran pemasarannya. Strategi pemasaran memiliki peran dalam membantu pengembangan perspektif strategis dari unit bisnis dalam mengarahkan unit yang bersangkutan ke masa depannya. Fokus dari strategi pemasaran adalah mencari cara-cara dimana perusahaan dapat membedakan diri secara efektif dari pesaingnya dan dengan kekuatan yang berbeda tersebut memberikan nilai yang lebih pemasaran yang konsumennya. Dari kasus di atas kita dapat melihat bahwa kasus utama yang menimpa petani lokal adalah margin tataniaga yang ada di tingkat petani dan pedagang (baik pengumpul maupun pedagang pengecer). Margin tataniaga sendiri adalah perbedaan harga ditingkat petani dengan harga ditingkat pengecer. Margin tataniaga juga dapat diartikan sebagai perbadaan atau jarak vertikal antara kurva permintaan ( atau kurva penawaran ). Secara umum pengertian margin tata niaga ini disajikan pada gambar 1. Pengertian margin tataniaga ini hanya mengacu pada perbedaan harga dan tidak menyatakan jumlah produk yang dipasarkan (Dahl dan Hammond, 1977 dalam Marharany, 2007 ). baik kepada

1

Menurut Sudiyono, 2002 dalam Marharany, 2007, komponen marjin tata niaga ini terdiri dari : 1) biaya yang diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi tata niaga yang disebut biaya tata niaga atau biaya fungsional dan 2) keuntungan (profit) lembaga tata niaga. Limbong dan Sitorus (1985) mengungkapakan bahwa sifat umum dari margin tata niaga yaitu : 1. Marjin tata niaga berbeda beda antara satu komoditi pertanian denga komoditi lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan jasa yang diberikan pada berbagai komoditi mulai dari pintu gerbang petani sampai ke tingkat pengecer untuk konsumen akhir . 2. Marjin tata niaga produk pertanian cendrung akan naik dalam jangka panjang dengan menurunnya bagian harga yang diterima petani 3. Marjin tataniaga relatif stabil dalam jangka pendek terutama dalam hubungannya dengan berfluktuasinya harga harga-harga pertanian. Pada permasalahn di atas pola saluran pemasaran yang pertama merupakan bentuk saluran pemasaran langsung. Pola saluran pemasaran seperti ini disebut juga saluran pemasaran nol tingkat karena pada pola ini petani langsung menjual komoditas pisangnya pada konsumen lokal tanpa perantara pemasaran. Konsumen lokal pada saluran ini adalah masyrakat sekitar yan bertempat tinggal delkat petani tersebut. Pola saluran ini digunakan seeskali waktu oleh petani sangat tergantung pada permintaan konsumenlokal. Pola saluran pemasaran kedua diguanakan sebanyak 15,40% dari total 55 petani responden. Pada pola ini petani emnjual komoditas pisangnya kepada tengklak dengan sistem borongan di kebuin.dengan sistem in petani tidak perlu melakaukan kegiataan pemanenan dan pasca panen Karena kegiatan tersebut dialkukan oleh tengkulak. Tengkulak selalu menjual komopditas pisang tersebut kepada para pedagang pasar lokal. Pedagang lokal ini bertindak sebagai pedsagang pwngecer yang menjual pisang kepada konsumen lokal. Pola saluran pemasaran kedua merupakan polapemasaran semi lambgsung dengan tenglkulak dan pedanganh lokal slaku perantara pemasaran. Pola salran ketiga merupakan pla saluran pemasaran tidak langsung denganbanuyak pihak tyang bertindak selaku perantara pemasaran sehibgga produk hasil

1

saluran ino merupakan saluran terpanjang dibandinglkan saluran penmaaran lainnya. Ada empat pihak selaku perantara pemasaran dalam pola ini yaitu tengkulak, pengumpul lokal, pengumpul regioanal dan pengecer regional. Saluran pemasran ini merupakan saluran pemasaran yang paling banyak duigunakan oleh petani responden. Proses pendistribusian komoditas pisang pada saluran pemasaran keempat diklakukanmelalui tahapan sebagai berikut yaitu dari petani ke tengkulak kemudian ke pedagang pengecer regionalhingga akhirnya ke konsumen akhir. Pada pola ini para petani menjual komoditas pisangnya kepada tengkulak dengan sistem borongan kebun, kemudian tengkulak akan menjualkembali komoditas tersebut kepada para pedagang pengecer regional. Pedagang pengecer regional dalam hal ini adalah para pedagang yang menjual komoditas pisang di wilayah Bogor atau Jakarta. Selain empat pola saluran di atas, ada juga, petani yang hanya menggunakan komoditas pisang mereka untuk keperluan sendiri. Untuk itulah diperlukan perbaikan dalam sistem distribusi produk agar distribusi menjadi lebih efisien dengan cara merubah pola pemasaran (memotong alur distribusi menjadi dari petani - konsumen). Dengan semakin efisiennya distribusi yang ada akan menyebabkan peningkatan pendapatan petani. Selain itu cara lain untuk memperkecil marjin tataniaga diperlukan pendidikan dan penyuluhan kepada petani mengenai klasifikasi dalam pemasaran (seperti yang telah disebutkan pada tinjauan pustaka). Dengan adanya segmentasi pasar diharapkan petani dapat memilah dan mengolah sendiri produk yang akan dijual, sama seperti yang dilakukan oleh para pedagang pengumpul dan pengecer. Sehingga pendapatan petani yang tadinya berbeda jauh dengan yang didapatkan oleh pedagang pengumpul dan pengecer dapat menjadi lebih kecil perbedaannya (marjin tataniaga mengecil) serta membangun kemandirian petani. Dari segi promosi, pemerintah daerah diharapkan dapat membantu para petani dalam mempromosikan produk pertanian yang telah mereka hasilkan agar peran pedagang pengumpul dan pedagang pengecer dapat dikurangi dan dapat mengangkat nama daerahnya produktivitas dan kualitas. Apabila telah dilakukan perbaikan terhadap sistem pemasaran yang ada maka pemerintah dapat menerpkan sistem pertanian yang berkelanjutan kepada 2 dimata masyarakat daerah lain. Sedangkan peningkatan pendapatan melalui segi produk dapat diperoleh melalui peningkatan

masyarakat. Karena dengan meningkatkan kesejahteraan petani melalui faktorfaktor di atas diharapkan masyarkat akan tertarik untuk menekuni bidang pertanian Indonesia.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa langkah yang dapat dilakukan pemerintah menuju sistem pertanian berkelanjutan melalui perbaikan sistem pemasaran adalah dengan mengefisiensikan distribusi yang ada, promosi terhadap produk yang telah dihasilkan, pembagian level pemasaran dan perbaikan produk. Sehingga marjin tataniaga antara petani dan pedagang pengecer dapat diminimalkan.

5.2 Saran
Pemerintah diharapkan dapat mengefisienkan pola pemasaran yang ada, melalui peningkatan fasilitasa transportasi, sarana pengolahan produk dan lainlain.

2

DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Halim. 2006. Perencanaan Penggunaan Lahan Berbasis Pertanian Berkelanjutan di DAS Krueng Peutoe Kabupaten Aceh Utara. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kertawati, Silthia Hidayana. 2008. Analisis Sistem Tataniaga Tembakau Mole. Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Edisi ke-9. PT Prenhalindo. Jakarta. Limbong, W.H. dan P. Sitorus. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Mitchell, B., B. Setiawan dan D.H. Rahmi. 2000. Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Cetakan pertama. Original Edition, Resource And Enviromental Management. Gadjah Mada University Press, Indonesia. Nunuela, Melckisedek. 2006. Analisis Pengembangan Tanaman Kopi Arabika dalam Konteks Pertanian Berkelanjutan (Studi Kasus : Sentra

3

Pengembangan Tanaman Kopi Arabika di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua). Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sari, Pitri Yulian. 2008. Strategi Pemasaran Produk Jus Jambu Merah “JJM” Kelompok Wanita Tani Turi, Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Skripsi. Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Bogor. Suheni. 2005. Strategi Pemasaran Bibit/Benih Tanaman Hias Balai Benih Induk Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. Wulandari, Fadhilah. 2008. Efisiensi Sistem Tataniaga Sayuran untuk Pasar Tradisional dan Pasar Modern Melalui Sub Terminal Agribisnis Cigombong Kabupaten Cianjur - Jawa Barat. Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. Mahrany, Diah. 2007. Analisis Usaha Tani Dan Tataniaga Jamur Tiram Putih. Institut Pertanian Bogor. Bogor Ramli, Maryati. 2004. Efisiensi dan Strategi Pemasaran Komoditas Hasil Pertanian di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor; Analisis Struktur – Perilaku – Kinerja Pemasaran dan SWOT. Skripsi. Program Sarjana. Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor

2

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->