P. 1
BEBERAPA ASPEK TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN

BEBERAPA ASPEK TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN

|Views: 6,220|Likes:
Published by ivan ara

More info:

Published by: ivan ara on Jan 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2014

pdf

text

original

Laporan Praktikum AGH 241 Teknik Budidaya Tanaman

BEBERAPA ASPEK TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN

Oleh Kelompok 12 Rahmad Bahari Galvan Yudistira Prima Triwahyu Nugroho Dini Gustiningsih Elfa Najata A24070036 A24070040 A24070097 A24070120 A24070197

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009
Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kepada Illahi Rabbi, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya laporan akhir praktikum Teknik Budidaya Tanaman. Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir praktikum Teknik Budidaya Tanaman. Laporan ini dibuat berdasarkan data lapangan hasil praktikum setiap minggu selama satu semester, yakni semester empat. Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak baik para dosen maupun asisten praktikum yang telah membantu dalam pembuatan laporan akhir ini, sehingga dapat selesai tapat pada waktunya. Harapan kami agar laporan akhir ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan umunya bagi para pembaca. Tidak ada yang sempurna, kalimat tersebut juga berlaku bagi kami dalam pembuatan laporan ini. Saran dan kritik sangat kami harapkan sebagai bahan pembelajaran bagi kami sebagai bahan evaluasi di masa datang. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih dan semoga loparan percobaan ini dapat bermanfaat sesuai spesifikasinya yakni mengenai Teknik Budidaya Tanaman.

Bogor, Juni 2009 Tim Penyusun

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia tak dapt hidup tanpa makan. Air juga merupakan suatu kebutuhan yang mutlak dibutuhkan oleh manusia. Di dunia ini orang tak akan mencari kemewahan terlebih dahulu sebelum kebutuhan makan terpenuhi. Semenjak Malthus mengeluarkan teorinya, maka dunia mulai dihantui oleh perasaan pesimistis. Bayangan yang selalu muncul adalah bagaimana mengimbangkan ledakan penduduk denganpengadaan bahan pangan. Setelah hampir seabad, muncullah tulisan Max F. Millikan tentang bagaimana mencapai sasaran peningkatan produksi pertanian (Moenandir, 1988). Indonesia sebagai negara agraris, merupakan negara yang menghasilkan beberapa komoditi andalan yang dibutuhkan oleh pasar dunia diantaranya adalah kakao, kopi, dan karet (Sikumbang et al., 2004). Menurut Direktorat Jenderal perkebunan (2006) luas areal dan produksi kakao pada tahun 2005 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya masing-masing menjadi 1 167 046 ha dan 748 827 ton, selain itu produktivitas kakao juga meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 898 kg/ha menjadi 921 kg/ha. Peningkatan produksi kakao tersebut selain dilakukan dengan penambahan luas areal juga dilakukan dengan pemelilharaan tanaman. Menurut Wachjar (1988) pemeliharaan tanaman kakao merupakan salah satu kegiatan yang erat kaitannya dengan upaya peningkatan produksi kakao. Kopi merupakan komoditas perkebunan Indonesia lainnya yang mampu menembus pasar ekspor dunia. Menurut Irawan et al. (2003) Indonesia menduduki peringkat keempat produsen kopi terbesar di dunia setelah Brazil, Kolombia dan Vietnam. Selain kokoa dan kopi, komoditas perkebunan lainnya yang mampu memberikan sumber devisa ekspor cukup besar bagi Indonesia adalah karet. Sama halnya dengan kakao dan kopi, volume dan nilai ekspor karet juga mengalami peningkatan dari tahun-yahun sebelumnya. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan (2006) volume ekspor karet mencapai 2 024 593 ton dengan nilai 2 582 875 000 US$. Luas areal, produksi, dan produktivitas karet juga mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Deskripsi komoditi kakao, kopi, dan keret tersebut hanya sebagian dari melimpahnya komoditas perkebunan yang ada di Indonesia. Banyaknya sumberdaya perkebunan yang dimiliki Indonesia sangat potensial untuk dijadikan sumber ekonomi dan devisa negara. Agar dapat memberikan produktivitas yang optimal dan sesuai dengan tujuan ekonomi yang dikehendaki, komoditas

perkebunan yang ada di Indonesia membutuhkan teknik budidaya yang tepat sehingga menghasilkan komoditas yang bukan hanya diminati oleh pasar domestic tetpai juga pasar internasional. Pengetahuan tentang teknik budidaya tanaman sangat dibutuhkan dalam rangka memenuhi tujuan yang dikehendaki oleh para pengusaha perkebunan. Pengetahuan mengenai teknik budidaya tanaman tidak hanya digunakan selama perawatan tanaman di lapang tetapi juga meliputi perawatan tanaman sebelum ditanam di lapang. Teknik budidaya tanaman lebih mengarah pada budidaya tanaman perkebunan dengan mengutamakan aspek-aspek yang berkaitan dengan kondisi lahan beserta teknik pemeliharaan dan perawatan tanaman perkebunan yang dibudidayakan. Pemeliharaan dan perawatan dalam teknik budidaya tanaman meliputi pembukaan lahan, penanaman tanaman penutup tanah, pembuatan teras sebagai usaha konservasi tanah dan air, pengukuran jarak dan beda tinggi untuk menganalisis potensi yang terdapat pada suatu lahan dan meminimalisir resiko yang ditimbulkan dari perbedaan tinggi yang ada pada lahan yang digunakan, pengolahan tanah, teknik persiapan dan penyediaan bahan tanam, pengajiran sebgai langkah awal untuk persiapan pembuatan lubang tanam, teknik pengairan dan pemupukan, teknik pemangkasan, peremajaan tanaman, pengaturan pelindung dan mulching, serta teknik pengendalian gulma, hama dan penyakit.

1..2 Tujuan
Pembuatan laporan ini bertujuan untuk : 1. Memberikan informasi mengenai persentase daya tumbuh LCC (Legume Cover Crops) sebagai tanaman penutup tanah 2. Memberikan informasi tentang hasil pembuatan teras sebagai konservasi pembukaan lahan terhadap tanah dan air 3. Membandingkan hasil yang diperoleh antara pembukaan lahan secara manual dengan pembukaan lahan secara mekanis menggunakan slasher 4. Membandingkan hasil yang diperoleh antara pengolahan tanah secara manual dan mekanis menggunakan diskplow 5. Memberikan informasi mengenai hasil pembibitan kakao (Pre dan Main Nursery) 6. Memberikan informasi mengenai kebutuhan pengajiran saat akan membuat lubang tanam 7. Menyajikan hasil data pembuatan lubang tanam secara mekanis dengan menggunakan holedigger Menyajikan data penanaman padi sawah 9. Menampilkan data pemangkasan kakao 10. Memberi informasi mengenai pemeliharaan tanaman tahunan yang telah dilakukan 11. Menyajikan data pengendalian gulma padi sawah

8.

II. BAHAN DAN METODE

2.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Teknik Budidaya Tanaman ini dilaksanakan satu minggu sekali setiap hari Rabu pukul 07.00-10.00 WIB di Kebun Percobaan Cikabayan Atas dan Kebun Percobaan Sawah Baru, Darmaga, Bogor. Praktikum mulai dilaksanakan pada bulan 23 Februari 2009 sampai dengan 8 Juni 2009.

2.2 Bahan dan Alat
2.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan adalah benih Calopogonum mucunoides (Cm), Centrocema pubescens (Cp), dan Pueraria javanica (Pj), pupuk SP-36, bibit padi, buah kakao (Theobroma cacao), Upper Amazone Hybrid (UAH), abu gosok, top soil, pupuk kandang, polybag hitam ukuran 40 cm x 30 cm, pupuk TSP, pupuk Urea, KCl, pupuk NPK, herbisida, insektisida, fungisida, air, bahan bakar minyak.

2.2.2 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah Simple Water Level (SWL), theodolit, abney level, klinometer, kompas, target rod, diskplow, slasher, holedigger, stop watch, tambang plastik, kantong plastik, timbangan, garpu, parang, cangkul, kored, tali rafia, tugal, meteran, ember, ajir bambu contoh, label percobaan, golok, gergaji pangkas, gunting pangkas, alat ukur lubang tanam, caplak, landak, dan knapsack sprayer.

2.2.3 Cara Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam praktikum ini berbeda pada tiap minggunya. Berikut kan diuraikan secara singkat dari tiap pokok materi praktikum sebagai berikut : 1. Pembukaan Lahan Secara Mekanis (menggunakan Slasher dan Diskplow)

Persiapan alat-pembukaan lahan secara mekanis-ukur waktu yang digunakan-bandingkan dengan pembukaan lahan secara manual. 2. Pembukaan Lahan Secara Manual Persiapan alat (cangkul, garpu, arit, pita meter)-menyiangi gulma secara manual-meratakan tanah agar mengikuti arah kontur untuk mencegah erosi-mengukur luas petakan lahan yang digunakan-mencatat waktu yang digunakan untuk membuka lahan secara manual-bandingkan dengan pembukaan lahan secara mekanis 3. Penanaman Legum Cover Crops (LCC) Mempersiapkan benih sesuai dengan pembagian kelompokmempersiapkan pupuk SP-18 - membuat alur taman (sesuai perlakuan tiap kelompok) - menanam LCC - menghitung daya berkecmabh 1 MST – menghitung kerapatan penutupan tanah dengan metode grade dan metode kuadran 4. Pembibitan kakao ( Pre dan Main nursery) Tiga buah kakao dipecah dan dikeluarkan isinya – menghilangkan pulp (lendir) dengan abu gosok sampai biji tidak licin – cuci benih hingga bersih dari abu gosok dan tidak licin – benih disemai pada bedengan yang telah disiapkan – DB dihitung pada 1 MST – menyiapkan media tanam pada polybag - bibit kakao dipindahkan k polybag yang sudah disiapkan – dihitung tinggi tanaman kakao dan jumlah daun. 5. Pengajiran Mempersiapkan ajir – mempersiapkan tali yang telah diberi simpul ukuran 3m, 4m, dan 5m, melakuakan pengajiran berbantuk segiempat dengan panjang sisi 6 cm – catat waktu yang diperlukan – membuat pengajiran berbentuk segitika sama sisi dengan panjang sisi 6 m – catat waktu yang digunakan 6. Pembuatan Lubang Tanam Secara Mekanis Mempersiapkan alat – mengamati kerja alat hole digger – mencatat waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu lubang tanam – mengukur diameter dan kedalaman lubang yang dihasilkan 7. Penanaman Padi Sawah Mempersiapkan bibit padi berumur minggu pada lahan sawah yang telah disiapkan – menanam padi sawah dengan sebelumnya membuat patokan menggunakan ajir kecil berukuran 20 cm x 20 cm – mencatat waktu yang digunakan untuk menanam 8. Pengendalian gulma padi sawah Mencabuti gulma pada lahan padi sawah berumur beberapa minggu – membuang hama berupa keong kecil – mancatat waktu yang digunakan 9. Pemangkasan Kakao

Memepersiapkan alat yang kan digunkaan (gunting pangkas dan gergaji) – memangkas tunas air, cabang yang ternaungi, cabang vertical, cabang yang sakit dan cabang adventif – mencatat waktu yang ddigunakan 10. Pengandlian gulma pada tanamn kopi Mempersiapkan herbisida glufosinat – pengenceran herbeida dengan air – pangaplikasian dengan melingkar jari-jari 1,5 m – mencatat waktu yang dibutuhkan untuk menyemprot 3 pohon kopi – menghitung persen kematian gulma seminggu kemudian

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pembukaan lahan secara manual dan mekanis (slasher)
Pembukaan lahan merupakan langkah awal dari persiapan lahan sebelum penanaman. Pembukaan lahan dapat dilakukan secara manual dan mekanis. Pembukaan lahan secara mekanis yaitu dengan menggunakan alat-alat pertanian yang lebih efisien dari segi waktu, tenaga, dan biaya dibandingkan dengan pembukaan ahan secara manual. Tabel 1 menyajikan perbandingan data pembukaan lahan secara manual dan mekanis. Tabel 1. Pembukaan Lahan Secara Manual dan Mekanis Menggunakan Slasher Luas Pembukaan Lahan Kelompok Manual (M²) HK/Ha Mekanis (M²) JKT/Ha I 7 682.27 126 625 II 6 396.82 126 625 III 4.68 334.233 126 625 IV 3.5 489.16 126 625 V 5.32 268.2 126 625 VI 7.4 532.12 126 625 VII 6.765 351.95 126 625 VIII 9.4 304.32 126 625 IX 7.92 601.46 126 625 X 7.36 243 126 625 XI 13.05 228.15 126 625 XII 15.68 569.42 126 625 XIII 17.16 434.8 126 625 Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cra amerusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat. Dalam praktek, dilakukan secra tradisional denan tangan, alat sderhana, sampai penggunaan alat berat yang lebih modern. Cara ini umumnya cukup baik dilakukan pada berbagai jenis gulma setahun, tapi pada kondisi tertentu juga efektif bagi gulma-gulma tahunan. Pengendalian mekanis merupakan cara yang relatif tua dan masih banyak dilakukan meskipun secara ekonomis dapat lebih mahal dibandingkan cara yang lain (Yakup 2002).

Slasaher merupakan alat pemotong gulma yang bekerja secara cepat. Slasher bekerja dengan menggunakan pisau yang berputar cepat seperti kincir sehingga dapat memotong gulma dangan lebih cepat dan bersih. Pembukaan lahan secara mekanis menggunkan slasher terbukti lebih cepat dan efektif dibanding pembukaan lahan secara manual. Hal ini dapat dilihat dari tabel diatas yakni pembukaan lahan menggunakan slasher lebih efisien dan membutuhkan waktu yang seingkat yakni sekitar 4 menit 55 detik dengan luasan 126 m2.

3.2 Pengolahan tanah secara manual dan mekanis (diskplow)
Pengolahan tanah merupakan tahap awal dari membudidayakan suatu tanaman. Dalam pengolahan tanah dilakukan pula pembalikan tanah yang bertujuan untuk menghilangkan gulma yang ada di permukaan tanah, sehingga tanah bagian atas bersih dari gulma. Dalam percobaan kali ini kami menggunakan diskplow dalam pengolahan tanah. Data perbandingan pengolahan tanah secara manual dan mekanis menggunakan diskplow tersaji pada tabel 2. Tabel 2. Pengolahan Tanah Secara Manual dan Mekanis Pembukaan lahan Menggunakan Diskplow Kelompok I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII Manual (M²) 7 6 4.68 3.5 5.32 7.4 6.765 9.4 7.92 7.36 13.05 15.68 17.16 Luas Pembukaan Lahan HK/Ha Mekanis (M²) 682.27 95.7 396.82 95.7 334.233 95.7 489.16 95.7 268.2 95.7 532.12 95.7 351.95 95.7 304.32 95.7 601.46 95.7 243 95.7 228.15 95.7 569.42 95.7 434.8 95.7 JKT/Ha 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5 104.5

Pengolahan tanah banyak mempengaruhi factor penting bagi pertumbuhan gulma yakni dapat membenamkan gulma dan menyebabkan kerusakan fisik, karena dapat memosehingga gulma mati disebabkan potongan-potonagn akar akan mongering sebelum pulih kembali, menggangu kondisi hara tersebut. Pengolahan tanah pada prnsipnya melepaskan ikatan antara gulma dengan media tempat tumbuhnya.

Diskplow merupakan alat yang berfungsi untuk membalik tanah yang berbentuk seperti piringan yangdijalankan dengan mesin. lahan Alat ini mempunyai kelemahan dimana di setiap sudut-sudut lahan tidak bisa terjangkau oleh mesin, tidak bisa digunakan pada lahan dengan kemiringan lebih dari 15 %, tiddak bisa digunakan npada lahan yang bnayk tunggul atau pda lahna-lahan yang terlaliu lembab sehingga menyebabkan tanah menjadi licin. Hal ini dapat dilihat dari table bahwa penggunaan diskplow lebih efektif daripada membalik tanah dengan menggunakan peralatan manual seperti cangkul dan garpu. Membalik tanah dengan menggunakan diskplow ini dengan luasan 95,7 m2 membutuhkan waktu 7 menit 35 detik. Sedangkan dengan manual pada luasan yang sama akan Kelompok Luas Teras (M²) I 7 II 6 III 4.68 IV 3.5 V 5.32 VI 7.4 VII 6.765 VIII 9.4 IX 7.92 X 7.36 XI 13.05 XII 15.68 XIII 17.16 membutuhkan waktu yang jauh labih lama. HK/Ha 682.27 396.82 334.233 489.16 268.2 532.12 351.95 304.32 601.46 243 228.15 569.42 434.8

3.3 Pembuatan teras
Lahan miring merupakan lahan yang peka terhadap degradasi. Tanah yang hilang kerena erosi merupakan lapisan atas yang umumnya lebih subur daripada lapisan bawahnya, sehingga erosi akan menurunkan kesuburan tanah baik secara kiia, fisik dan biologi. Upaya pengawetan tanah dapat dilakukan dengan cara kultur teknis dan cara mekanik Teras dibuat dengan membentuk bidang permukaan tanah yneg miring menjaid datar atau miring ke arah dalam, terdiri atas taras individu dan teras tapal kuda dan teras kontinyu/ teras bangku. Teras bangku terdiri atas bebrapa bagian uutama yaitu bidang olah, talud, guludan dan saluran pembuangan air. Teras bangku dapat dilakukan pada lahan mempunyai kemiringan lereng antara 5 – 30 %. Tabel 3 menyajikan data pembuatan teras dari tiga belas kelompok berbeda. Tabel 3. Pembuatan teras pada tiga belas kelompok Teras bangku berfungsi untuk memperpendek panjang lereng, memperlambat laju aliran air permukaan, meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah, serta mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku dapat dibuat untuk tanah yang jeluknya dapal

Teras gulud berupa guludan yang dilengkapi saluran pembuangan air dan dibuat memotong lereng. Teras gulud sesuai untuk lahan yang jeluk tanahnya dangkal dan kemiringannya kurang dari 15%. Teras individu adalah perataan tanah di sekitar pokok tanaman. Biasanya garis tengahnya 1-1,5. Teras mempunyai fungsi: 1. memperlambat aliran permukaan 2. menampung dan menyalurkan aliran permukaan yang merusak 3. menekan erosi sampai batas yang dapat diabaikan 4. mempermudah pengolahan kebun dan pemeliharaan tanaman dan pemungutan hasil Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pembuatan teras secara manual membutuhkan waktu yang lebih lama di banding mekanis. Waktu yang dibutuhkan sekitar 2,25 jam sedangkan menggunakan mekanis tidak membutuhkan waktu sebanyak itu, sehingga cara mekanis dinilai lebih efektif dan efisien namunmembutuhkan biaya yang lebih mahal.

3.4 Penanaman Legume Cover Crops (LCC)
Tanaman penutup tanah Sering juga disebut tanaman pelengkap (smother crops) atau tanaman pesaing (Competitive crops). Sebagai tanaman penutup tanah biasa digunakan tanaman kacang-kacangan (Leguminosae) karena selain dapat tumbuh secara cepat sehingga cepat menutup tanah serta mencegah perkecambahan dan pertumbuhan gulma, maka akan dapat pula digunakan sebagai pupuk hijau. Sifat penting yang diperlukan bagi tanaman penutup tanah adalah harus dapat tumbuh dan berkembang cepat sehingga mampu menekan gulma. Jenis-jenis yang biasa digunakan adalah Calopogonium muconoides, Calopogonium caerelum, Centrosema pubescens, dan Pueraria javanica. Jenisjenis ini dapat berkembang secara cepat dalam waktu 1-3 tahun setelah tanam, tetapi setelah itu cepat menjadi jarang kalau naungan pohon utama telah terbentuk. Disamping itu mampu meningkatkan kesuburan tanah terutama kandungan N, hal ini banyak dijumpai di daerah-daerah perkebunan dengan jenis tanah podsolik yang miskin unsure hara. Selain pertumbuhan cpat sifat lainnya yang dikendaki adalah tidak menyaingi tanamna pokok. Apabila pertumbuhannya terlalu rapat maka harus dilakukan pengendalian dengan cara pembabatan atau dibongkar untuk diganti dengan penutup tanah dengan yang lainnya. Tanaman penutup tanah di perkebunan merupakan pengendalian yang baik untuk pertumbuhan gulma perennial seperti Imperata cylindria dan Shorgum balepense. Penggunaan tanaman penutup tanah untuk mencegah pertumbuhan gulma berbahaya (noxious) terutama golongan rumput merupakan cara kultur teknis yang dipandang paling berhasil di perkebunan Flemigia macrophylla yang dicampur dengan rerumputan yang pendek dan lunak. (Yakup, 2002) Praktikum kali ini digunakan dua metode dalam menghitung persen penutupan tanah, yakni digunakan metode grade dan metode kuadran. Tabel 4. Data Penanaman Legume Cover Crops (LCC) dengan Berbagai Perlakuan

Klmpk I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII

Perlakuan J1T0 J1T1 J2T0

Luas (M²) 7 6 4.68 3.5 5.32 7.4 6.765 9.4 7.92 7.36 13.05 15.68

HK/Ha 682.27 396.82 334.233 489.16 268.2 532.12 351.95 304.32 601.46 243 228.15 569.42

Persen Pertumbuhan (%) 70 22 80 95.67 89 86.4 75 55.24 45 60 85.09 64.7

J3T0 J3T1 T0J1+J2 J1T4 J5T0 T1j1+j3 J6T0 T1J2+J3 J1+J2+J3 XIII 17.16 434.8 85 89 86 T0 Pueraria javanica (PJ) biasa digunakan oleh perkebunan karet dan kelapa sawit sebagai tumbuhan pioneer yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, PJ adalah sejenis kacangan yang cepat menjalar sebab memiliki keunggulan dalam mengikat unsur N (nitrogen) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman utama (karet atau kelapa sawit) yang belum dewasa, juga kacangan ini menurunkan suhu tanah pada saat kemarau. Pueraria javanica atau PJ adalah tanaman Seleksi LCC : perlu dilakukan sebelum dilakukan penanaman, seleksi dilakukan melalui pengujian daya kecambah. Tujuan seleksi LCC: mengetahui kemurnian dan persentase pertumbuhan dari LCC sehingga akan didapatkan pertumbuhan di lahan yang baik. Kegunaan LCC : - Menahan pukulan hujan - Menahan laju air limpasan - Menambah N - Menambah BO (memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah) - Melindungi permukaan tanah dari erosi - Mengurangi pencucian unsur hara - Mempercepat pelapukan barang sisa LC/replanting - Menekan pertumbuhan gulma Supaya pertumbuhan dan perkembangan LCC berlangsung dengan baik, sebelum benih di tanam perlu diinokulasi menggunakan Rhizobium. Penampakan fisik dari berbagai jenis LCC berbeda-beda. Perlakuan dialur dan ditugal untuk membedakan perlakuan mana yang lebih efektif. Pada perhitungan persen penutupan tanah dilakuakn dengan metode grade dan metode kuadran. Dalam penghitungan persen penutupan tanah, terjadi beberapa kendala diantaranya, alatnya terbatas dan LCC banyak sekali ditumbuhi gulma sehingga pengukurannya tidak terlalu valid. Menurut kelompok kami, metode yang paling valid untuk menghitung persen penutupan tanah oleh LCC ini adalah dengan menggunkan metode kuadran.

Persen Penutupan Tanah Mtd. Mtd. Grade Kuadran (%) (%) 72.67 58.6 78.63 52.52 87 85 78 73 89 92.33 84.5 88.6 94.67 86.69 99.23 99.47 75 85 70,6 72,5 89.01 82.57 52.6 64

3.5 Pembibitan Kakao (Pre dan Main Nursery)
Penyediaan bahan tanam yang baik dan bermutu sangat penting dilkukan untuk suatu budidaya tanaman agar memperoleh pertumbuhan yang baik dan produksi yang maksimal. Praktek pembibitan kakao dimulai dari pre nursery dan main nursery. Tabel 5 memberikan data tentang daya berkecambah kakao pada saat pembibitan. Tabel 5. Data Pembibitan Kakao RataJumlah rata Daya Persen Jumlah Benih Jumlah Berkec Bibit Kelompok Bibit yang Biji ambah Hidup Polybag Disemai per (%) (%) Buah I 132 44 82.33 20 65 II 72 36 65.3 20 90 III 79 39 40 20 100 IV 109 37 93 20 95 V 69 23 49.275 20 90 VI 121 40 79.33 20 95 VII 54 27 88.67 20 95 VIII 80 26 100 20 100 IX 116 39 87 20 100 X 60 20 98 20 90 XI 77 39 93.9 20 80 XII 127 43 96.1 20 100 XIII 117 39 80 20 100 Pertumbuhan Bibit Akhir Tinggi (cm) 16.21 17 19.78 16.77 18.55 20.64 19.7 20.46 16.4 17.47 15.33 22.58 21.17 Jumlah Daun (Helai) 5 4 6 5 7 7 6 5 7 7 7 9 8

• • • • •

Berdasarkan tabel dapat dilihat daya berkecambah tertinggi mencapai 100 %, namun DB terendah 65 %. Sedangkan tinggi tanmana maksimum yakni 22,58 cm dan terendah hanya sekitar 16,21 cm. Dalam praktek pembibitan ini terdapat beberapa kendala yaitu: harus melakukukan pembersihan lahan dari banyak gulma untuk mengambil media tanam. Penanaman dilakukan pada lubang tanam yang telah disiapkan dan dilaksanakan dengan hati-hati, dijaga agar akar tidak mengalami gangguan yang berat, dengan tahapan dan cara sebagai berikut : Bagian atas polybag dilipat sekitar 5 cm Isi polybag dengan tanah sampai penuh kemudian dipadatkan Sisinya diratakan agar polybag dapat berdiri dengan tegak Beri lubang tanam pada polybag yang sudah terisi tanah Tanam bibit kakao dengan hati-hati agar akar tidak terlipat.

3.6 Pengajiran
Pengajiran dilakukan untuk mengatur letak tanaman dengan jarak dan tata tanam tertentu sehingga kerapatan tanaman mencapai optimum, tanaman dapat memanfaatkan ruang tumbuh seefisien mungkin dan tanaman lurus dipandang dari berbagai arah. Pengajiran dilakukan sebelum penanaman, dan dimaksudkan agar tanaman teh ditanam sesuai dengan jarak tanaman yang telah ditetapkan. Cara pengajiran pada lahan yang datar dan landai adalah dengan membuat ajir induk pada kedua sisi lahan, kemudian pengajiran dilakukan dengan sistem barisan lurus atau zig-zag, sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan (Santosa, 2001). Tabel 6. Data Pengajiran dan Ketepatan Waktu Kelompok Jmlah AjirKetepatan UkuranWaktu Terpasang ( +cm) Pelaksanaan (Menit) I 30 0.67 80.5 II 30 14.5 90 III 30 10 73 IV 35 TEPAT 75 V 30 2.33 60 VI 35 82 VII 42 94 VIII 36 120 IX 21 120 X 36 81 XI 36 17.67 120 XII 36 10 70 XIII 40 6 60

Jmlh HK/Ha

298.95 357.14 286.69 267.69 27.7 301.23 341.66 142.8 230.77 617.9 227.35 158.77 150.89

Pada data table 6 di atas, diantara semua kelompok yang berjumlah 13 didapat data bahwa Jumlah Ajir Terpasang diantara semua kelompok rata-ratanya adalah 33,6 dengan nilai terbesar diperoleh kelompok 7 yaitu 42 dan nilai terendah diperoleh kelompok 9 yaitu 21. Pada ketepatan ukuran diantara semua kelompok didapat rata-rata 8,73 nilai tertinggi diperoleh kelompok 1 yaitu 0,67 dan nilai terendah diperoelh kelompok 11 yaitu 17,67. Waktu pelaksanaan rata-ratanya adalah 86,5 dengan waktu tercepat didapat oleh kelompok 5 yaitu 60 dan waktu terlama didapat oleh kelompok 11 yaitu 120 menit. Letak tanaman yang teratur memudahkan dalam pemeliharaan, pemungutan hasil dan pengawasan. Pengajiran dapat dilaksanakan setelah pembukaan lahan atau setelah pengolahan tanah yang biasanya diikuti dengan pembuatan lubang tanam. Pada lahan bergelombang biasanya digunakan sistem tanaman kontur dengan jarak tanam dalam barisan sama, sedangkan antar barisan berdasarkan letak tinggi

(kemiringan lereng). Pada lahan datar sampai landai (kemiringan 8-10 %) dapat digunakan tata tanam empat persegi panjang dengan modifikasi dan segitiga sama sisi. Cara pengajiran pada lahan miring dengan sistem kontur adalah sebagai berikut : 1. Garis pengajiran dimulai dari atas lereng turun ke bawah. 2. Tentukan titik tertinggi dan tancapkan ajir. Dari titik itu dibuat deretan ajir induk dengan jarak tanaman antar barisan 120 cm, dari atas ke bawah. 3. Pada sisi lain, di sebalah ajir induk tadi dengan jarak kira-kira 20 m dibuat deretan ajir induk kedua, dengan titik tertinggi sama dengan salah satu titik ajir dari deretan ajir induk pertama. Deretan ajir induk kedua juga ditancapkan dari atas turun ke bawah, dengan jarak 120 cm. 4. Sesudah deretan ajir induk kedua ditentukan, maka diantara kedua induk ajir tadi dibuat deretan ajir induk ketiga atau keempat atau lebih disesuaikan dengan keadaaan tipologi tanah tepat pada garis kontur. 5. Ajir induk ditentukan dengan menggunakan alat water pass yang terbuat dari selang plastik dengan garis tengah 0,5 cm. 6. Selanjutnya dengan berpedoman pada ke tiga atau lebih deretan ajir induk tadi dapat dilakukan pengajiran dengan sistem kontur dengan jarak tanam 60 cm. Jarak tanaman antar barisan (120 cm). Pada lahan miring bukan jarak proyeksi tapi jarak sebenarnya (Santosa, 2001).

3.7 Pembuatan Lubang Tanam Secara Mekanis
Pembuatan lubang tanam dapat dipandang sebagai salah satu bentuk pengolahan tanah dalam skala kecil dan dianggap sebagai suatu upaya minimum tillage. Lubang tanam paling lambat dibuat 2 minggu sebalum tanam. Lapisan tanah yang digali kemudian dimasukan kembali ke dalam lubang tanam pada saat penanaman, merupakan media tumbuh yang paling baik bagi pertumbuhan perakaran bibit yang keadaannya masih lemah. Oleh karena itu tanah yang dimasukan kembali ke dalam lubang tanah harus gembur, halus, bebas dari batu/kerikil serta bebas dari akar vegetasi. Tabel 7. Pembuatan Lubang Tanam Secara Mekanis Menggunakan Holedigger Lubang Diameter (cm) Kedalaman (cm) Waktu Pelaksanaan (Menit) JKT/Ha 1 70 65 24 325,33 2 70 50 30 312,81 3 70 50 25 260,88 Pada data praktikum ini, dengan judul Pembuatan Lubang Tanam Secara Mekanis Menggunakan Holedigger didapat data sebagai berikut. Dengan diameter yang sama kedalaman rata-ratanya adalah 55 dengan nilai terendah adalah 50 sedangkan nilai tertinggi didapat 65. Sedangkan waktu pelaksanaan rata-ratanya adalah 25,33 dengan nilai terendah adalah 24 sedangkan nilai tertinggi adalah 30. Untuk JKT/Ha nilai rata-ratanya adalah 299,67 untuk nilai terendah didapat 260,88 sedangkan nilai tertinggi didapat dengan nilai 325,33.

Dalam penimbunan harus memperhatikan umur, bentuk serta jenis tanaman. Bibit yang berbentuk stump lubang ditimbun sampai penuh, sedangkan bibit dalam polybag lubang ditimbun sebagian dan kedalam lubang yang belum ditimbun tingginya dari permukaan tanah harus sama dengan tinggi polybag. Ukuran lubang tanam berkisar antara 40 cm3 – 100 cm3 bergantung pada sifat tanah dan jenis bibit. Sebagai contoh, bibit karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, kakao, cengkih memerlukan lubang tanam yang lebih besar daripada bibit the dan lada. Tanah yang gembur (ringan) ukuran lubang lebih kecil daripada tanah yang banyak mengendung liat (berat).

3.8 Penanaman Padi Sawah
Pada areal beririgasi, lahan dapat ditanami padi 3 x setahun, tetapi pada sawah tadah hujan harus dilakukan pergiliran tanaman dengan palawija. Pergiliran tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi, biasanya setelah satu tahun menanam padi. Untuk meningkatkan produktifitas lahan, seringkali dilakukan tumpang sari dengan tanaman semusim lainnya, misalnya padi gogo dengan jagung atau padi gogo di antara ubi kayu dan kacang tanah. Pada pertanaman padi sawah, tanaman tumpang sari ditanam di pematang sawah, biasanya berupa kacangkacangan. Tabel 8. Penanaman Padi Sawah Kelompok I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII Luas Lahan (M²) Waktu (Jam) 60 60 60 60 60 60 60 30 60 60 60 60 64 0.6 0.33 0.75 0.627 0.67 0.67 0.67 0.5 1.7 0.67 0.75 0.75 0.67 PK (M²/HK) 140 254.54 112.14 74.44 104.47 62.69 125.26 42 49.41 169.77 56.02 112 115 Keperluan HK/Ha 71.42 39.28 89.17 134.34 95.71 159.50 479.0 139.99 201.67 143.3 178.5 89.28 80.25

Dari data dapat dilihat bahwa dengan Luas Lahan rata-rata 58m2 didapat waktu rata-rata pengerjaan adalah 0,72 jam dengan waktu tercepat diperoleh kelompok 2 yaitu 0,33 jam dan waktu paling lama diperoleh kelompok 9 yaitu 1,7 jam. Dari tabell juga dapat dilihat bahwa prestasi kerja rata-rata adalah 109,05 m2/HK dan keperluan HK/Ha rata-ratanya adalah 146,26.

Bibit ditanaman dalam larikan dengan jarak tanam 20 x 20 cm, 25 x 25 cm, 22 x 22 cm atau 30 x 30 cm tergantung pada varietas padi, kesuburan tanah dan musim. Padi dengan umlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanaman yang lebih lebar. Pada tanah subur jarak tanaman lebih lebar. Jarak tanaman di daerah pegunungan lebih rapat karena bibit tumbuh lebih lambat. 2-3 batang bibit ditanaman pada kedlaman 3-4 cm (Anonim, 2000). Dalam bercocok tanam padi sawah, untuk memperoleh produksi yang tinggi terdapat sepuluh pekerjaan yang perlu dilakukan, yaitu : membuat persemaian yang baik, mengolah tanah yang sempurna, menggunakan varietas berproduksi tinggi, menanam dengan jarak tanamn yang beraturan, pemeliharaan (pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan yang cukup) pemanenan, dan pengolahan hasil panen. Jarak tanaman tanaman padi bergantung varietas, jumlah dan kecepatan anakan, jumlah bibit yang ditanamn. Varietas unggul baru umumnya ditanaman dengan jarak tanaman 20 cm x 20 cm, sedangkan dengan metode system rice intensification (SRI) jarak tanaman lebih lebar (30 cm x 30 cm, 40 cm x 40 cm, dan 50 cm x 50 cm) dengan jumlah bibit yang ditanam 1-2 batang dengan umur bibit muda 5-7 hari setelah semai. Teknis penanaman padi sawah adalah sebagai berikut : 1. Lahan sawah yang akan dimanfaatkan untuk usaha tani padi tanpa olah tanah dikeringakan dengan membuka saluran air keluar dan menutup saluran air kedalam lahan sawah. 2. Membuat persemaian dengan ukuran 4 x 4 dan selanjutnya benih disemaikan. 3. Seminggu setelah penyemaian benih, lahan sawah disemprotkan herbisida. 4. Lima hari setelah penyemprotan, masukan air ke sawah dan jaga ketinggian air sekitar 2-5 cm dan biarkan air itu selama 5 – 10 hari. 5. Lakukan persiapan tanah dengan membabat atau merebahkan selanjutnya membenamkan sisa singgang dan gulma ke dalam lumpur. 6. Umur 21 hari bibit padi ditanaman denganjarak tanaman 15 x 20 cm diikkuti dengan pemupukan Urea 250 kg/Ha, TSP 100 kg/Ha dan KCL 100 kg/HA. (Anonim, 1995)

3.9 Pemangkasan kakao
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai arti penting bagi perekonomian Indonesia terutama dalam hal penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan petani, dan sumber devisa bagi negara. Oleh karenanya tidak mengherankan bahwa pada akhir 1970an perkembangan kakao di Indonesia sangat pesat. Keadaan iklim dan kondisi tanah yang tersedia dan sesuai untuk pertumbuhan kakao mamungkinkan pengembangan perkebunan kakao di Indonesia (Zaenudin dan Baon, 2004). Cara memperbaiki teknik budidaya salah satunya adalah dengan pemangkasan. Menurut Abdoellah dan Soedarsono (1996), pemangkasan kakao bertujuan untuk mencapai efisiensi pemanfaatan sinar matahari sebanyakbanyaknya, sehingga tanaman mampu mencapai produktivitas yang tinggi, mendekati potensi yang dimiliki. Sedangkan Prawoto (1998) mengemukakan

nahwa, pemangkasan kakao merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk mengoptimumkan laju fotosintesis. Dalam keadaan optimum, hasil bersih fotosintesis maksimum dan distribusinya ke organ yang membutuhkannya berlangsung lancer. Dari pelaksanaan pemangkasan tanaman kakao yang telah dilakukan diperoleh data yang tersaji pada tabel 8. Tabel 9. Waktu Pelaksanaan dan Jumlah Tanaman yang Dipangkas serta Jumlah HK/Ha Berdasarkan Data 13 Kelompok. Waktu Jumlah Tanaman yang Kelompok Pelaksanaan Jumlah HK/Ha Dipangkas (Menit) I 6 15 296.98 II 7 20 306.12 III 8 30 437.63 IV 12 30 356.67 V 10 75 529.08 VI 13 40 340.25 VII 13 40 359.52 VIII 15 40 174.13 IX 12 93 81.19 X 17 52 39.5 XI 13 45 412.30 XII 10 40 476.19 XIII 6 37 437.67 Berdasarkan data tersebut jumlah tanaman kakao yang dipangkas pada tiap kelompok berbeda-beda. Hal ini berdampak pada waktu pelaksanaan yang berbeda, tergantung dari jumlah tanaman kakao yang dipangkas pada tiap kelompok. Perbedaan jumlah tanaman kakao yang dipangkas dikarenakan terbatasnya jumlah tanaman pada lahan yang diberikan pada tiap kelompok. Kriteria pemangkasan dilakukan pada cabang yang sekiranya menghalangi penyinaran matahari bagi cabang lainnya, cabang yang menghadap searah dengan arah gravitasi bumi, cabang air, serta cabang yang bertabrakan dengan cabang lainnya. Rata-rata jumlah cabang yang dipotong dari tiga hitungan yang te belas kelompok yang melakukan percobaan ini adalah 10.923, sedangkan waktu ratarata yang dibutuhkan oleh tiap kelompok untuk melakukan pemangkasan tanaman kakao adalah 42.846 menit. Hari kerja (HK) per hektar pemangkasan kakao berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan adalah 326.71. Data pemangkasan kakao kelompok kami menunjukkan bahwa, jumlah tanaman kakao yang dipangkas sebanyak sepuluh tanaman dalam waktu empat puluh menit. HK (Hari kerja) merupakan jumlah pohon yang dipangkas dibagi dengan prestasi kerja. Sedangkan prestasi kerja adalah hasil bagi dari banyaknya pohon yang dipangkas dengan HOK (Hari Orang Kerja). HOK adalah hasil kali waktu dengan tenaga kerja dibagi tujuh (tujuh nerupakan waktu rata-rata orang kerja). Berdasarkan perhitungan HK/Ha, nilai HK/Ha kelompok kami menunjukkan nilai sebesar 476,19.

Dalam pelaksanaan pemangkasan kakao yang telah dilaksanakan, kami penggunakan alat pangkas berupa gergaji dan gunting ranting. Terdapat beberapa hambatan dalam melakukan pemangkasan tanaman diantaranya adalah, peralatan yang digunakan terbatas dan kurangnya pengetahuan mahasiswa mengenai kriteria ranting atau cabang yang harus dipangkas ketika melakukan pemangkasan.

3.10 Pengendalian Gulma pada Tanaman Kopi
Umumnya tanaman perkebunan merupakan tanaman tahunan yang rentan terhadap Organisme Penggaggu Tanaman (OPT). Salah satu OPT yang sering mengganggu pemeliharaan tanaman tahunan adalah gulma. Gulma adalah tumbuhan yang tumbuhnya salah tempat. Sebagai tumbuhan, gulma selalu berada di sekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi dengannya secara khas. Karena luasnya penyebaran, gulma mempunyai berbagai nama sesuai dengan asal daerah dan negaranya seperti Weed (Inggris), Unkraut (Jerman), Onkruit (Belanda) dan Tzao (Cina), serta banyak nama lainnya (Moenandir,1988). Pengendalian gulma perlu dilakukan karena gulma merupakan pesaing bagi tanaman utama dalam memanfaatkan unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tumbuh. Masalah gulma pada tanaman tahunan berbeda dengan tanaman semusim, karena pada umumnya masalah gulma pada tanaman tahunan lebih luas, berkaitan dengan waktu yang terbatas tenaga kerja dan biaya, sehingga dibutuhkan cara yang efektif untuk mngendalikan gulma, salah satunya adalah dengan menggunakan herbisida. Menurut Sukman dan Yakup (2002), pengendalian gulma memggunakan senyawa kimia akhir-akhir ini sangat diminati terutama untuk lahan pertanian yang cukup luas. Aldrich (1984) menyatakan bahwa herbisida memberikan kontribusi yang cukup besardalam rancangan budidaya pertanian dengan menimumkan kehilangan hasil akibat gulma, dalam suatu sistem pertanian. Menurut Sukman dan Yakup (2002) herbisida merupakan alat yang canggih dalam pemberantasan gulma, serta memberikan keuntungan yang lebih dalam pemakaiannya. Adapun keuntungan yang diberikan oleh herbisida adalah : 1. Dapat mengendalikan gulma sebelum menggganggu. 2. Dapat mengendalikan gulma dilarikan tanaman. 3. Dapat mencegah kerusakan perakaran tanaman. 4. Lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak belukar. 5. Dalam dosis rendah dapat sebagai hormone tumbuh. Berdasarkan kegiatan pemeliharaan tanaman yang telah dilakukan, kelompok kami menggunakan herbisida jenis glifosat dengan metode sprinkle (melingkar). Sebanyak tiga belas kelompok menggunakan lima jenis herbisida dengan perlakuan yang berbeda-beda, sedangkan satu kelompok lainnya melakukan pengendalian gulma dengan metode manual. Pada praktikum kali ini, kami melakukan pengendalian gulma pada tanaman kopi (Coffea arabica). Menurut Moenandir (1988), dari lahan perkebunan kopi di Desa Ampelgading, Malang dengan ketinggian tempat 50-600 meter di atas permukaan laut, dengan struktur tanah lempung-liat-berpasir, curah hujan ± 1.500 mm per tahun dapat dicatat terdapat gulma penting yang menghuni

di sekitar tanaman pokok sebagai berikut : Setaria plicata (wuluhan), Paspalum conjugatum (pahitan), Ageratum conyzoides (wedusan), Cynodon dactylon (grinting), Imperata cylindrica (alang-alang), Eleusine indica (lulangan), Cyperus rotundus dan C. Kilinga (teki), Bidens biternata (ketul), Erechtites valerianifolia (jintrong) dan Panicum repens (lempuyangan). Adanya gulma dapat menurunkan produksi biji 35%. Jenis herbisida yang digunakan oleh kelompok kami pada percobaan pemeliharaan tanaman tahunan adalah glufosinat. Ciri glufosinat menurut Djojosumarto (2006) diantaranya adalah, Glufosinat diproduksi dalam bentuk glufosinat-amonium. Anggota sub kelompok organofosfat yang disebut phosphinic-acid, glufosinat merupakan herbisida kontak (hanya sedikit sekali yang ditranslokasikan dari pangkal ke ujung daun), non-selektif, dan bekerja dengan menghambat sintesis asam amino glutamin serta menghambat fotosintesis. LD50 oral (tikus) sebesar 1 620 (j)-2 000 mg/kg (b); LD50 dermal tikus > 4 000 mg/kg; LC50 inhalasi (4 jam, tikus) 1.26 mg/l udara; NOEL (2 tahun, tikus) 2 mg/kg bb/hari; dan ADI 0,02 mg/kg. Tabel 9 Menyajikan data persentase kematian gulma pada tanaman kopi dengan jenis herbisida dan metode semprot yang berbeda. Tabel 10. Data Persentase Kematian Gulma pada Tanaman Kopi dengan Jenis Herbisida dan Metode yang Berbeda Berdasarkan Data 13 Kelompok. Persen Kematian Kelompok Jenis Herbisida Dosis/Konsentrasi (gr/L) (%) I Glikofosat 3L/Ha 80 II Glikofosat 3L/Ha 95 III Paraquat 2L/Ha 80 IV Paraquat 2L/Ha 99.9 V 2.4 DLiquid 2L/Ha 50 VI 2.4 DLiquid 2L/Ha 75 VII 2.4 DLiquid 1.5L/Ha 80 VIII 2.4 DLiquid 1.5L/Ha 75 IX Metilsufuron 1L/Ha 90 X Metilsufuron 1L/Ha 72.5 XI Glufosinat 1.5L/Ha 78 XII Glufosinat 1.5L/Ha 95 XIII Manual 95 Berdasarkan data tersebut, terdapat kesamaan pada beberapa jenis herbisida yang digunakan pada beberapa kelompok, yang memebedakan hanya pada masing-masing kelompok menggunakan metode penyemprotan yang berbeda-beda pula. Dosis konsentrasi pada masing-masing jenis herbisida berebeda-beda. Glikofosat merupakan jenis herbisida dengan dosis konsentrasi terbesar, sedangkan metilsufuron adalah jenis herbisida dengan dosis konsentrasi terkecil. Persen kematian gulma yang diperoleh pada tiap-tiap kelompok juga berbeda tergantung dari jenis herbisida yang digunakan dan jenis gulma yang terdapat pada tanaman pokok. Persen kematian terbesar diperoleh dengan menggunakan herbisida jenis paraquat yaitu sebesar 99.9%, sedangkan metode yang digunakan adalah metode melingkar dengan dosis konsentrasi 2 L/Ha.

Sedangkan persen kematian terkecil adalah herbisida jenis. 2.4 DLiquid yaitu sebesar 50% dengan dosi konsentrasi 2 L/Ha. Pada praktikum pemeliharaan tanaman tahunan kali ini, kelompok kami menggunakan herbisida jenis glufosinat dengan dosis konsentrasi sebesar 1.5 L/Ha dan metode yang digunakan adalah metode melingkar, persen kematian sebesar 95%. Menurut kelompok kami persen kematian yang berbeda-beda pada tiap kelompok dapat disebabkan oleh berbagai factor diantaranya adalah daya kekuatan herbisida yang bergantung pada jenis herbisida yang digunakan dan jenis gulma yang mengganggu pada tanaman pokok. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hal yang menghambat praktikum pemeliharaan tanaman tahunan, hambatan-hambatan tersebut antara lain terbatasnya alat yang digunakan seperti sarung tangan, gelas ukur, knapsack hand sprayer dan masker sehingga setiap kelompok menghabiskan waktu untuk menunggu kelompok sebelumnya.

3.11 Tanaman Belum Menghasilkan
Percobaan kali ini dilakukan di kebun percobaan yang berada di sawah baru. Dalam bercocok tanam padi sawah, untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi terdapat sepuluh kegiatan yang harus dilakukan, yaitu : membuat persemaian yang baik, mengolah tanah yang sempurna, menggunakan varietas berproduksi tinggi, menanam dengan jarak tanam yang beraturan, pemeliharaan (pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan yang cukup) pemanenan, dan pengolahan hasil panen. Jarak tanam padi bergantung dari varietas, jumlah dan kecepatan anakan, jumlah bibit yang ditanam. Varietas unggul baru umumnya ditanam dengan jarak tanam 20cm x 20 cm, sedangkan dengan metode system rice intensification (SRI) jarak tanam lebih lebar dengan jumlah bibit yang ditanam 1-2 batang dengan umur bibit muda 5-7 hari setelah penyemaian. Dalam mencapai produksi yang tinggi, salah satu metode yang digunakan adalah mengendalikan gulma yang ada di sekitar tanaman. Karena gulma sangat berpengaruh terhadap hasil produksi yang akan dipanen. Gulma adalah tanaman yang tumbuh bukan pada tempatnya, artinya tanaman itu tidak dikehendaki keberadaannya oleh penanam. Gulma yang selalu berada di sekitar tanaman budidaya dapat menghambat pertumbuhan serta menurunkan hasil produksi. Tabel 11. Pemeliharaan pada Padi

Kelompok I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII

Luas Lahan (M²) 60 60 60 60 60 60 60 30 60 60 60 60 64

Waktu (Jam) 0.6 0.33 0.75 0.627 0.67 0.67 0.67 0.5 1.7 0.67 0.75 0.75 0.67

PK (M²/HK) 140 254.54 112.14 74.44 104.47 62.69 125.26 42 49.41 169.77 56.02 112 115

Keperluan HK/Ha 71.42 39.28 89.17 134.34 95.71 159.50 479.0 139.99 201.67 143.3 178.5 89.28 80.25

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan oleh kelompok kami dibandingkan dengan kelompok lain waktu yang relatif lama dan jumlah hari kerja yang dibutuhkan juga besar. Hal ini terjadi karena setiap kelompok mempunyai luas lahan yang berbeda-beda. Sedangkan kelompok yang waktu pelaksanaannya sama akan tetapi hari kerja berbeda disebabkan karena rimbun tidaknya gulma yang tumbuh pada lahan tersebut. Sehingga dapat disimpulkan prestasi kerja kelompok kami cukup tinggi dan hari kerja yang dibutuhkan juga cukup rendah. Hal ini disebabkan karena beberapa hal yang telah kami sebutkan di atas.

Penutup

4.1. Kesimpulan
Praktikum teknik budidaya tanaman ini meliputi teknik-teknik penyiapan lahan hingga siap tanam untuk pertanaman baru. Dalam pelaksanaannya membutuhkan suatu keterampilan untuk mendapatkan tanaman dengan produktivitas yang tinggi seperti pemangkasan, pengendalian gulma, penanaman LCC dan sebagainya. Selain itu diberikan juga pengetahuan tentang ciri-ciri tanaman yang akan dibudidayakan dengan kesesuaian lahan yang akan ditanam sehingga mahasiswa menjadi terampil dalam hal teknik budidaya tanaman. Pembukaan lahan secara mekanis terbukti lebih efektif dan efisien. Namun, dalam pelaksanaannya biaya yang dibutuhkan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pembukaan lahan secara manual. Hal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas penggunanya. Legume Cover Crop sebagai tanaman penutup tanah lebih tepat pengaplikasiaannya dialur daripada di tugal. Menurut kelompok kami, hal ini dapat terjadi karena dengan metode alur tidak dibutuhkan jarak tanam. Dalam kegiatan pembibitan kakao, daya kecambah kelompok tidak seluruhnya mencapai 100%, hal ini dapat terjadi karena kualitas benih yang digunakan kurang bagus, perawatan yang kurang intensif ataupun karena kondisi internal benih yang dorman.

4.2 Saran
Terdapat berbagai hambatan dalam pelaksanaan praktikum ini, diantaranya fasilitas yang kurang memadai, jumlah alat praktikum yang tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa, serta waktu pelaksanaan praktikum yang terkadang tidak sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Namun secara keseluruhan, praktikum ini dapat berjalan sesuai tujuannya. Semoga di tahun-tahun berikuynya praktikum ini dapat berjalan lebih baik.

Daftar Pustaka
Anonim. 1995. Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN). BIP Irian Jaya. Balai Informasi Pertanian Irian Jaya. No. 143/95. Anonim. 2000. Padi. Kantor Ristek dan Teknologi. Aldrich, R. J. 1984. Weed-Crop Ecology. Principles In Weed Management. Bretoon Publisher. California. 456P. Djojosumarto, Panut. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisus, Yogyakarta. Djojosumanto, Panut. 2008. Pestisida & Aplikasinya. PT Agromedia Pustaka, Jakarta. Ekha, Isvasta. Dilema Pestisida. Tragedi Revolusi Hijau. Kanisus, Yogyakarta. Irawan, G, Danang, J. dan SH. 2003. Kopi Tetap Jadi Andalan Ekspor. www.google.com/sinarharapan. (26 September 2006) Koswara, Engkos. Pengaruh Penambahan Pupuk Nitrogen Terhadap Efektifitas Dan Effisiensi Herbisida Glifosat Untuk Mengendalikan Gulma AlangAlang (Imperata cylinrica (L.) Beauv).Skripsi. Program Sarjana. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor Moenandir, Jody, Dr. Ir. Dipl. Agr. Sc. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. PT Raja Grafindo Pesada, Jakarta. Prawoto, A.A. 1998. Kuantifikasi Kriteria Pemangkasan Tanaman Kakao Melalui Pendekatan Indeks Luas Daun. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. 14(2): 173-181 Rismiwati, Rina, Tri. 2005. Pengelolaan Pemanenan Kakao (Theobroma cacao L.) di Kebun Batulawang PT Perkebunan Nusantara VIII Ciamis, Jawa Barat.Skripsi. Program Sarjana. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor Roshid, Ibnu. 2006. Kajian Aplikasi Campuran Herbisida Glifosfat Dengan Metilsulfuron Metil Dalam Pengandalian Beberapa Gulma Pertanian. Skripsi. Program Sarjana. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Ruhiat. 2006. Pengelolaan Panen dan Pasca Panen Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) di Kebun PT Topasari, Kabupaten Labak, Banten. Skripsi.

Program Sarjana. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor Siskumbang, Z., A. Pasaribu dan Mayang S. M. 2004. Prospek Pembangunan Industri dan Ekspor Hasil Olahan Kakao Indonesia. Simposium Kakao 2004, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jember. Hal 1. Santosa, Undang. 2001. Memilih Loaksi Budidaya Tanaman. Departemen pendidikan nasioanal, Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan SMK. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta. Sukman, Yernelis, Hj., Yakup.Gulma & Teknik Pengendaliannya. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. http://ditjenbun.deptan.go.id/web/images/stories/fruit/komoditi%20kakao (21 Maret 2007) http://ditjenbun.deptan.go.id/web/images/stories/fruit/komoditi%20karet (21 Maret 2007) http://ditjenbun.deptan.go.id/web/images/stories/fruit/komoditi%20kopi (21 Maret 2007)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->