P. 1
PENANAMAN PADI SAWAH

PENANAMAN PADI SAWAH

|Views: 4,325|Likes:
Published by ivan ara

More info:

Published by: ivan ara on Jan 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2014

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM MK ILMU TANAMAN PANGAN (AGH 340) SEMESTER GANJIL 2009/2010 PENANAMAN PADI SAWAH KELOMPOK

15

Dosen: Bu. Heni Purnamawati Pak Sugiyanta

1. Galvan Yudistira

A24070040

2. Tatied Elysa Herwanti A24070114
3. Mat Asim

A24078001 F14061927 H34070061 H34070129

4. Gina Rahmayanti 5. Yusnizar Ridlzal 6. Anindha Paramastri

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Beras merupakan bahan pangan yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk Indonesia (96,87% penduduk) dan merupakan penyumbang lebih dari 65% kebutuhan kalori (Pranolo, 2001). Perkembangan produksi padi baik di Indonesia maupun negara lain penghasil padi terjadi setelah tahun 1960 dengan lahirnya rvolusi hijau. Teknologi revolusi hijau telah mentransformasikan pertanian menjadi pertanian berinput luar tinggi (High Eksternal Input Agriculture, HEIA ). Peningkatan produksi yang tinggi disebabkan oleh peningkatan input luar terutama pupuk urea yang sangat tinggi, namun penggunaan aplikasi pupuk kimia yang tinggi tersebut tanpa pengembalian bahan organik ke lahan menyebabkan ketidakseimbangan hara tanah dan penurunan efisiensi serta meningkatkanpencemaran lingkungan. Oleh karena itu terdorong untuk melaksanakan pertanian berkelanjutan berinput luar rendah (low external input sustainable agriculture, LEISA) atau pertanian organik. Kontroversi penerapan teknik budidaya HEIA dengan LEISA dan organi masih terus berkembang. Satu pihak menganggap bahwa hanya dengan aplikasi pupuk inorganik dan pestisida yang tinggi dapat meningkatkan poduksi pangan dan mengatasi cekaman lingkungan, sedangkan pihak yang lain berpendapat bahwa produksi pangan dapat ditingkatkn dengan melindungi sumber daya alam dari degradasi dan meregenarisikannya (pretty, 1995).

Praktikum mata kuliah tanaman pangan utama merupakan kessempatan bagi mahasiswa untuk mengenal permasalahan produksi komoditas tanaman pangan utama terutama padi sawah. Dalam praktikum ini mahasiswa dapat mempelajari pengaruh pupuk organik dan dosis pupuk inorganik rendah serta karakter agronomis beberapa varietas padi. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai karakter agronomis padi sawah. 2. Mahasiswa dapat menerapkan budidaya padi sawah dengan teknologi terpilih. 3. Mahasiswa dapat menerapkan teknik pengamatan berbagai peubah pada penelitian padi sawah.

METODE PELAKSANAAN 1. Waktu dan Tempat Praktikum dilaksanakan pada semester ganjil 2009/2010. Lokasi praktikum betempat di university farm kebun babakan sawah baru IPB. 2. Bahan dan Alat • • • • • • Benih padi varietas Way Apoburu Pupuk inorganik (urea, SP-36, KCl dan ZA) Pupuk organik (jerami padi sawah dan pupuk kandang) Pupuk daun Pestisida Peralatan budidaya (meteran, oven, timbangan digital, BWD dan gelas ukur)

3. Metodologi Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan blok terbagi (split block) dengan perlakuan pupuk disusun faktorial. Tiap perlakuan diulang lima kali. Perlakuan tersebut adalah sebagai berikut :

P1 : 200 kg urea/ha, 100 kg ZA/ha, 100 kg SP-18/ha, dan 100 kg KCl/ha P2 : 100 kg urea/ha, 50 kg ZA/ha, 50 kg SP-18/ha dan 50 kg KCl/ha ditambah pupuk kandang kambing (kohe) dengan dosis 5ton/ha dibenamkan pada saat pengolahan tanah. P3 : pupuk Humega Grand dengan dosis 2 ton/ ha. P4 : pupuk organik dengan dosis 250 kg/ha P5 : 100 kg urea/ha, 50 kg ZA/ha, 50 kg SP-18/ha dan 50 kg KCl/ha ditambah pupuk daun dengan dosis sesuai rekomendasi. Dalam percobaan ini setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali sehingga terdapat 25 satuan percobaan

4. Pelaksanaan percobaan Praktikum dilakukan pada lahan sawah beririgasi dengan ukuran petak satuan percobaan 4 x 5 m2 . pengolahan tanah dilakukan dengan sistem olah tanah sempurna yaitu dua kali pencangkulan dan satu kali perataan tanah. Pada saat pencangkulan pertama, jerani dan pupuk kandang (sesuai dengan perlakuannya) dibenamkan ke dalam tanah. Dosis jerami didasarkan pada indeks panen masing-masing varietas dan pupuk kandang sebesar 10 ton. Pencangkulan kedua dan pertaan tanah dilakukan satu minggu setelah pencangkulan pertama. Benih disemai pada bedengan semai yang telah disiapkan untuk masing-masing varietas. Bibit ditanam pindah pada umur 14 hari dengan dua bibit per lubang tanam. Jarak tanam yang digunakan adalah 22 cm x 22 cm. pupuk SP-36 dan KCl sesuai perlakuan diberikan seluruhnya pada saat tanam, sedangkan pupuk urea diberikan tiga kali, yaitu 30% saat tanam, 40% pada 4MST, dan 30% pada 6MST (primordia bunga).

Pupuk kohe (kotoran kambing), pupuk Humega Grand dan pupuk pukon diberikan saat pengolahan tanah. Pengendalian gulma dilakukan secara manual (dengan menyiangi) pada 3MST dan 5MST. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan tingkat serangan. Penggunaan pestisida diusahakan seminimal mungkin DATA PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Perlakuan P1 Ulangan 1 2 3 4 Rataan P2 5 6 7 8 Rataan P3 9 10 11 12 Rataan P4 13 14 15 16 Rataan P5 17 18 19 20 Rataan Jumlah Anakan 4 5 6 17 21 28 15 23 31 10 18 24 13 11 12 14 18 24 11 16 21 12 21 28 19 25 27 19 21 24 15 21 25 16 24 28 14 23 34 7 10 15 24 26 32 15 21 27 14 18 27 14 20 24 6 8 10 13 13 18 12 15 20 13 17 18 12 17 28 10 21 27 17 21 23 13 19 24 Tinggi Tanaman 5 6 52.2 63.8 53.84 59.8 48.2 57.6 48 56.6 50.56 59.45 50.2 57.8 51.7 61.1 51.4 58.5 50.08 55.48 50.85 58.22 58.66 61.76 56.22 61.62 51.6 61 54.7 61.1 55.30 61.37 46.92 53.8 47.7 51.5 38.84 45.52 48 54.6 45.37 51.36 50.8 59.2 45.26 56.7 53.1 56.6 51.12 58.12 50.07 57.66 BWD 5 6 3 3 3 3 3.3 3.75 2.2 2.4 2.88 3.04 3 3 3 3.1 3 3 3 3 3.00 3.03 3 3 3 3 3 3 3.2 3.1 3.05 3.03 3 3.2 3.2 3.2 2 2 2.6 3 2.70 2.85 3 3 2.9 3 3 3.4 3 3 2.98 3.10

9 44 31 32 24 33 26 30 18 28 26 35 36 21 36 32 23 25 16 25 22 21 36 37 28 31

4 44.92 42.05 39.6 41.5 42.02 40.2 43.06 40.2 42.44 41.48 45.3 45.98 44 50.3 46.40 38.2 39.8 33.8 39.9 37.93 43.9 36.8 41 43.94 41.41

9 75.8 75.3 79.14 77.7 76.99 79.4 76.4 72.6 73.4 75.45 84.98 78.94 74.4 97.6 83.98 75.2 74.05 66.4 73.4 72.26 81.46 74.2 73.34 78.4 76.85

4 3 3 3.3 3.2 3.13 3 3 3 3 3.00 3.2 3.2 3 3.5 3.23 3 3.2 3 2.6 2.95 3 3 3.2 3 3.05

9 3 3 3.125 3.4 3.13 3 3 3 3 3.00 3.5 3.4 3.6 3.9 3.60 3.2 3 2 3.2 2.85 3 3.8 3.2 3 3.25

Perbandingan Jumlah Anakan Menurut Perlakuan

Pada Grafik Perbandingan Jumlah Anakan Menurut Perlakuan diatas dapat dilihat bahwa Rataan Perlakuan 2 dan 3 (P2 dan P3) pada 4 MST sampai 5 MST menempati urutan pertama dalam hal jumlah anakan yang diamati. Sedangkan pada 5 MST sampai 9 MST Rataan Perlakuan 3 (P3) mempunyai Jumlah anakan yang paling dominan diantara ke 5 Rataan Perlakuan yang diuji. Sedangkan Jumlah anakan terendah ditempati Perlakuan 4 (P4).Pada perlakuan P2 yang unggul pada 4 MST sampai 5 MST menurut kelompok kami, unggul karena ditambahkannnya Kotoran Hewan walaupun dosis pupuk anorganik lebih kecil dibandingkan dengan pada Perlakuan 1 (P1). Sedangkan pada Perlakuan 3 yang unggul pada 4 MST sampai 9 MST disebabkan karena Pupuk Humega Grand. Pada penambahan pupuk organik dengan dosis 250 kg/ha pada percobaan kali ini terbukti kurang efektif.

Perbandingan Jumlah Anakan antar Kelompok dengan Perlakuan P4

Pada data Perbandingan Jumlah Anakan Antar Kelompok dengan perlakuan P4 dapat dilihat bahwa kelompok kami menempati posisi paling bawah dalam hal Jumlah anakan dibandingkan dengan kelompok lain. Jumlah anakan terbanyak dicapai oleh kelompok 13 sedangkan 2 kelompok lain yaitu kelompok 14 dan 15 menempati urutan kedua dan ketiga.

Perbedaan jumlah anakan ini disebabkan oleh perbedaan dalam hal teknis pada pemberian pupuk organik dengan dosis 250 kg/ha di lahan serta kondisi lahan sebelum ditanami.

Perbandingan Pertumbuahan Tinggi Tanaman Menurut Perlakuan

Dari data Perbandingan Pertumbuahan Tinggi Tanaman Menurut Perlakuan dapat dilihat bahwa pada perlakuan P3 (P3)tinggi tanaman padi mencapai titik maksimum sedangkan titik terendah tinggi tanaman padi dapat dilihat dicapai oleh Perlakuan 4 (P4). Perlakuan 3 (P3) adalah perlakuan padi dengan memberikan pupuk Humega Grand dengan dosis 2 ton/ ha. Sedangkan Perlakuan 4 (P4) adalah perlakuan dengan memberikan pupuk organik dengan dosis 250 kg/ha. Perbandingan Tinggi Tanaman Antar Kelompok Dengan Perlakuan P4

Pada Perbandingan Tinggi Tanaman Antar Kelompok Dengan Perlakuan P4 dapat dilihat bahwa pada perlakuan yang sama yaitu dengan pemberian pupuk organik dengan dosis 250 kg/ha pada lahan sawah didapat hasil yang berbeda. Pada saat 4 MST sampai 6 MST terlihat bahwa Kelompok 16 unggul dalam tinggi tanaman. Sedangkan pada 6 MST sampai 9 MST Kelompok 13 dan 16 yang unggul walaupun pada saat 9 MST yang unggul adalah kelompok 13. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh penerapan teknis dalam hal perlakuan di lapangan.

Perbandingan BWD Menurut Perlakuan

Pada Perbandingan BWD menurut Perlakuan dapat dilihat bahwa Pada 4 MST nilai warna daun tertinggi diperoleh kelompok Perlakuan 3 (P3) yaitu rata-rata sebesar 3,23 dan terendah oleh kelompok perlakuan 4 (P4) dengan nilai rata-rata sebesar 2,95. Pada 5 MST nilai warna daun tertinggi diperoleh kelompok Perlakuan 3 (P3) yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 3,05 dan terendah oleh kelompok Perlakuan 4 (P4) dengan nilai rata-rata sebesar 2,70. Pada 6 MST nilai warna daun tertinggi diperoleh kelompok Perlakuan 5 (P5) dengan nilai ratarata sebesar 3,10 dan terendah oleh kelompok Perlakuan 4 (P4) dengan nilai rata-rata sebesar 2,85. Pada 9 MST nilai warna daun tertinggi diperoleh kelompok perlakuan 3 (P3) dengan nilai rata-rata sebesar 3,60 dan terendah oleh kelompok perlakuan 4 (P4) dengan nilai rata-rata sebesar 2,85. Disini dapat terlihat bahwa nilai dari semua bagan warna daun kurang dari 4. Dengan daya hasil padi Way Apoburu sebesar 5-8 ton/ha dapat disimpulkan bahwa padi ini harus ditambah dengan pupuk urea sebasar 50-125 kg/ha. Penambahan ini dilakukan pertama pada saat sebelum 2 MST yang kedua 3-4 MST dan yang terakhir pada saat 7 MST.

Perbandingan Warna Daun Antar Kelompok Dengan Perlakuan P4

Pada

Perbandingan Warna Daun Antar Kelompok Dengan Perlakuan P4 dapat dilihat

bahwa pada 4 MST nilai warna daun paling tinggi adalah pada kelompok 14 yaitu sebesar 3,2 dan yang terendah adalah kelompok 16 yaitu sebesar 2,6. Pada 5 MST nilai warna daun paling tinggi adalah pada kelompok 14 yaitu 3,2 dan terendah adalah kelompok 15 yaitu sebesar 2. Pada 6 MST nilai warna daun paling tinggi dicapai oleh kelompok 14 yaitu 3,2 dan terendahadalah kelompok 15 yaitu sebesar 2. Pada 9 MST nilai warna daun tertiggi diperoleh kelompok 13 yaitu sebesar 3,2 dan terendah adalah kelompok 15 yaitu sebesar 2. Disini dapat terlihat bahwa nilai dari semua bagan warna daun kurang dari 4. Dengan daya hasil padi Way Apoburu sebesar 5-8 ton/ha dapat disimpulkan bahwa padi ini harus ditambah dengan pupuk urea sebasar 50-125 kg/ha. Penambahan ini dilakukan pertama pada saat sebelum 2 MST yang kedua 3-4 MST dan yang terakhir pada saat 7 MST.Dan karena ada beberapa data yang nilai warna daunnya kurang dari 3 maka padi tersebut harus ditambah pupuk urea sebesar 75-200 kg/ha.

KESIMPULAN Dalam praktikum pengamatan padi sawah kali ini, karakter agronomis yang diamati adalah jumlah anakan, tinggi tanaman dan yang terakhir adalah Bagan Warna Daun. Dalam hal jumlah anakan, padi varietas Way Apoburu yang diteliti kali ini menhasilkan anakan paling banyak pada Perlakuan 3 (P3) dan Perlakuan 2 (P2). Sedangkan untuk tinggi tanaman varietas Way Apoburu menghasilkan tinggi tanaman maksimal pada Perlakuan 3 (P3). Sedangkan untuk Bagan Warna Daun (BWD) nilai warna daun tertinggi didapat pada Perlakuan 3 (P3) dan Perlakuan 5 (P5). Akan tetapi karena pada dua Perlakuan tersebut nilai warna daun yang dihasilkan kurang dari 4 maka dibutuhkan tambahan pupuk urea sebesar 50-125 kg/ha. DAFTAR PUSTAKA Gani, Anischan. 2006. Bagan Warna Daun. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->