P. 1
Tugas Mata Kuliah Sejarah

Tugas Mata Kuliah Sejarah

|Views: 2,820|Likes:
Published by dnajwa

More info:

Published by: dnajwa on Jan 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA Apakah perbedaan antara perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan

penjajah pada masa sebelum adanya politik etis dengan perjuangan setelah adanya politik etis? Menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak dahulu penjelasan sejarah yang diambil dari beberapa sumber di bawah ini, kemudian kita tarik kesimpulan perbedaanya. I. KEDATANGAN KAUM PENJAJAH DI INDONESIA 1.1. Latar Belakang Kedatangan Kaum Penjajah di Indonesia Pada awal abad ke-15 bangsa Eropa mulai mengadakan penjelajahan samudra. Tujuanya, mencari kekayaan dan kejayaan, serta penyebaran agama nasrani. Salah satu kebutuhan yang sangat diperlukan oleh bangsa Eropa yang mempunyai iklim dingin adalah rempah – rempah. Rempah – rempah berguna untuk obat- obatan, penyedap masakan, dan pengawet makan. Negara penghasil rempah – rempah yang terkenal sejak jaman dahulu ialah Indonesia, terutama Maluku. Bangsa Eropa ingin membeli rempah – rempah tersebut secara langsung dari Indonesia. Ada beberapa alasan mengapa mereka menyukai rempah – rempah dari Indonesia. Pertama, mutu rempah – rempah Indonesia bagus. Kedua, harganya lebih murah dibandingkan dengan harga di Eropa. 1. Kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia Pada awalnya, tujuan utama bangsa Eropa datang ke Indonesia ialah untuk berdagang. Akan tetapi, tujuan tersebut selanjutnya berubah menjadi menjajah. Beberapa bangsa Eropa yang pernah datang dan menjajah Indonesia ialah Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Belanda merupakan merupakan bangsa yang paling lama menjajah Indonesia, yakni selama 350 tahun. a. Bangsa Belanda Dalam upaya mencari jalan menuju Indonesia, pada mulanya pelaut – pelaut Belanda mencari jalan menuju Kutub Utara. Usaha ini tidak berhasil, mereka kemudian mencari jalan lain, yaitu melalui Tanjung Harapan. Setelah berlayar selama 14 bulan, akhirnya pada tanggal 22 juni 1596 armada Belanda 1

berhasil mendarat di Banten. Rombongan ini dipimpin oleh Cornelis De Houtman. Tujuan Belanda datang ke Indonesia ialah untuk berdagang, terutama rempah – rempah. Mula – mula Belanda menunjukan sikap bersahabat dengan masyarakat Banten. Belanda melakukan perjanjian perdagangan dengan Banten, namun akhirnya Belanda memperlihatkan sikap serakah dan kasar. Tindakan ini membuat masyarakat Banten , marah dan memusuhi belanda. Kedatangan Belanda tidak mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Indonesia. Armada Belanda tidak dapat melanjutkan ke Maluku untuk mencari rempah – rempah. Mereka akhirnya kembali ke negeri Belanda melalui Bali. Armada Belanda yang pertama ini mengalami kerugian yang besar. Meskipun demikian, rombongan mereka disabut dengan gembira. Alasanya, karena rombongan mereka sudah menemukan jalan sendiri menuju Indonesia. b. Lahirnya VOC

Gambar Kapal VOC diambil dari http://www.sahistory.org.za

Pada tahun 1598, untuk kedua kalinya armada Belanda tiba di Banten. Armada ini dipimpin oleh Jacob Van Neck, di susul kemudian oleh armada yang dipimpin oleh Warwijk. Sejak saat itu orang – orang Belanda berlombalomba datang ke Indonesia. Terbukanya jalur perdagangan ke Indonesia mengakibatkan munculnya persaingan di antara pedagang. Baik antara sesama pedagang pedagang Belanda sendiri maupun dengan bangsa Eropa lainnya.Untuk memenangkan persaingan dagang dengan bangsa Eropa lainnya dan diantara sesama bangsa 2

Belanda sendiri, maka Belanda membentuk persatuan (kongsi) dagang. Persatuan dangang Belanda tersebut didirikan pada tanggal 20 Maret 1602. Nama kongsi dagang ini ialah Vereenigle Oost Indische Compagnie, disingkat VOC. VOC berarti peersatuan dagang Hindia Timur. Tujuan VOC adalah mencari keuntungan dengan jalan melawan pesaing – pesaingnya, baik dari dalam maupun dari luar negri seperti Portugis, Inggris dan Spanyol. Untuk kelancaran usaha dagangnya, VOC menyatakan perang dan mengadakan perdamaian, membuat senjata dan mendirikan benteng, mencetak uang, mengangkat dan memberhentikan pegawai. Piter Both diangkat sebagai Gubernur jendral VOC yang pertama dan berkedudukan di Ambon. VOC melakukan monopoli perdagangan rempah – rempah. Monopoli ini berarti rempah – rempah hanya boleh dijual kepada VOC dan harga telah ditentukan. Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jendral, pusat VOC dipindahkan dari Ambon ke Jayakarta (Jakarta) pada tanggal 31 Mei 1619. Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Alasan pemindahan kantor VOC adalah, pertama letak Jayakarta dianggap strategis bagi pelayaran perdagangan. Kedua, Jayakarta lebih dekat ke Tanjung Harapan. Sejak bermarkas di Jayakarta, sikap VOC semakin kasar dan mereka mulai menjajah bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia melakukan perlawanan di mana – mana. Walaupun VOC mendapatkan perlawan dari rakyat Indonesia di mana – mana, namun mereka dapat menguasi kerajaan – kerajaan di Indonesia. Belanda dengan mudah menguasi kerajaan – kerajaan di Indonesia dengan menjalankan politik adudomba. Maksudnya, Belanda mengadu antara raja – raja bangsa Indonesia sendiri untuk saling bermusuhan. Belanda berpura – pura membela salah satu dari kerajaan yang saling berselisih, dengan syarat harus tunduk kepada Belanda. Namun demikian, menjelang abad ke-19, keadaan keuangan VOC semakin memburuk, sehingga VOC mengalami kebangkrutan. Melihat keadaan ini, pada tanggal 31 Desember 1799, VOC di bubarkan. Kekuasaan VOC di Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda. c. Sistem Kerja Paksa dan Penarikan Pajak Pada akhir abad ke-18, terjadi perubahan politik di Eropa. Pada tahun1806 Napoleon Bonaparte (Kaisar Perancis) berhasil menaklukkan Belanda. Napoleon kemudian mengubah bentuk negara Belanda dari republic menjadi 3

kerajaan. Sebagai Gubernur Jendral Belanda di Indonesia, Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels. Tujuanya, mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan dari Inggris. Untuk memperkuat pertahanan di pulau Jawa, Daendels memerintahkan pembuatan jalan raya. Jalan raya itu sangat panjang. Tujuan pembuatan jalan untuk mempercepat pergerakan pasukan Belanda bila terjadi peperangan. Jalan raya itu terbentang dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur). Untuk mempercepat pembuatan jalan raya itu. Daendels memerintahkan rakyat Indonesia berkerja tanpa diberi upah. Semua orang dipaksa berkerja keras untuk pembuatan jalan tersebut. Siapa yang membantah, dikenai hukuman badan dengan cara disiksa, tanpa perikemanusiaan. Rakyat Indonesia yang miskin dan lemah semakin menderita dengan adanya kerja paksa tersebut. Akibatnya tidak sedikit bangsa Indonesia yang menjadi korban. Banyak diantara perkerja tersebut mati karena kelaparan dan terserang penyakit malaria. Kerja paksa ini disebut rodi. Tindakan Daendels tersebut membuat hubungannya dengan penguasa pribumi menjadi renggang. Salah soerang pribumi yang menentang Daendels ialah Pangeran Kusumadinata dari Sumedang, Jawa Barat. Beliau tidak rela melihat rakyat Sumedang yang ikut kerja paksa itu menjadi korban. Kekejaman yang dilakukan Gubernur Jendral Daendels terhadap rakyat Indonesia akhirnya didengar oleh Napoleon. Pada tahun 1811 Daendels dipanggil kembali ke negeri Belanda dan digantikan oleh Jansen. d. Tanam paksa (Cultuur Stelsel) Pada tahun 1830, Van Den Bosch diangkat sebagai gubernur jendral menggantikan Van Der Capellen. Ia diberi tugas mencari uang guna mengisi kas Negara Belanda yang sudah kosong akibat perang.
Gambar Van Den Bosch Dari Wikipedia

Van Den Bosch memerlukan tanam paksa atau cultuur stelsel.

Pemerintahan Belanda mengerahkan tenaga rakyat Indonesia untuk menanam tanaman yang hasilnya dapat di jual di pasar dunia. Misalnya, teh, kopi, 4

tembakau, tebu dan lain – lain. Sebenarnya kalau peraturan tanam paksa dijalankan dengan benar, maka tidak akan menyengsarakan rakyat. Tetapi dalam pelaksanaannya tidak sesuai denganaturan yang diterapkan. Pihak Belanda semakin bertindak sewenang – wenang. Hasil tanaman rakyat dibayar dengan harga sangat murah. Tanam paksa menimbulkan penderitaan rakyat. Beban yang harus dialami rakyat semakin berat. Hasil pertanian semakin turun. Bencana kelaparan terjadi dimana – mana. Tidak sedikit rakyat Indonesia yang mati kelaparan. Sebaliknya, system tanam paksa ini sangat menguntungkan Belanda. Kas Negara yang tadinya kosong, kemudian terisi kembali. Semua hasil dari tanam paksa diangkut ke negri Belanda. Aturan Tanam Paksa atau Cultuur Stelsel : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penduduk desa diwajibkan menyediakan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran Eropa. Tanaman yang dipakai untuk tanaman yang diwajibkan ini dibebaskan dari pajak tanah. Hasil tanaman wajib itu harus diserahkan kepada Pemerintahan Hindia Belanda. Kerusakan kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan pemerintah. Pekerjaan yang dilakukan untuk menanam tanaman wajib tidak boleh melebihi perkerjaan yang diperlukan untuk menanam padi. Penduduk yang bukan petani harus berkerja selama 66 hari setahun untuk pemerintah Belanda. II. PERJUANGAN PARA TOKOH MENGUSIR PENJAJAH SEBELUM ADANYA POLITIK ETIS Kekejaman dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat Indonesia, mendorong rakyat Indonesia melakukan perlawanan. Tokoh – tokoh dari setiap daerah bangkit untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Beberapa tokoh yang melakukan perlawanan tersebut antara lain :

5

2.1. Thomas Matulesi atau Pattimura

Gambar Thomas Matullesi (dari google.com)

Thomas Matulesi dikenal dengan nama Pattimura. Ia dilahirkan di Haria, pulau Sapura, Maluku pada tahun 1783. Pada pemerintahan Inggris ia masuk dalam dinas militer dan berpangkat sersan. Pada tahun 1816, Belanda kembali mengusai Maluku. Pada waktu itu, Maluku dikenal sebagai penghasil rempah – rempah utama. Rempah – rempah dijadikan bahan monopoli perdanganggan Belanda. Maksudnya, rempah – rempah itu harus dijual kepada Belanda. Tidak boleh dijual kepada pedagang lain. Harga penjualan sudah ditentukan oleh Belanda dan biasanya sangat murah. Untuk mencegah perdagangan gelap dan kelebihan hasil rempah – rempah, diadakan pelayaran hogi. Tujuanya, mengawasi pelayaran perniagaan setiap pulau dan memusnahkan rempah – rempah yang dianggap berlebihan. Belanda kemudian mengangkat Van Den Berg sebagai residen di Sapura. Serdadu – serdadu Belanda ditempatkan di Benteng Duurstede. Van Den Berg memaksa pemuda – pemuda Maluku menjadi serdadu yang akan dikirim ke Jawa. Rakyat juga dipaksa kerja rodi atau kerja paksa tanpa menerima upah. Akibatnya, rakyat sangat menderita. Perlawanan rakyat Maluku muncul karena tindakan sewenang – wenang yang dilakukan Belanda. Rakyat Maluku tidak tahan lagi. Dibawah pimpinan Pattimura, akhirnya mereka mengadakan perlawanan. Pada tanggal 16 Mei 1817.

6

Di bawah pimpinan Pattimura, rakyat Maluku berhasil menyerbu Benteng Duurstede. Kekuatan Belanda dapat dikumpulkan dan Van Den Berg mati terbunuh. Perang semakin berkobar dan meluas ke berbagai daerah di Maluku seperti Ambon, Seram, Hitu dan lain – lain. Kekalahan itu menyebabkan Belanda mengirim pasukan lebih besar ke Maluku. Di bawah pimpinan Laksamana Buykes, Belanda berhasil menguasai daerah - daerah Hitu, Haruku, serta Sapura. Karena kekuatan tidak seimbang, pasukan Pattimura semakin terdesak. Akhirnya Pattimura dan para pejuang lainnya ditanggkap. Dalam perlawanan tersebut Pattimura dibantu beberapa tokoh, seperti Paulus Tiahahu dan anaknya Cristina Marta Tiahahu, Thomas Patiwael Lucas Latumaniha dan lain – lain. 2.2. Tuanku Imam Bonjol

Gambar Tuanku Imam Bonjol (dari google.com)

Nama asli Tuanku Imam Bonjol ialah Peto Syarif. Dikenal pula dengan nama Mohamad Shahab. Ia dilahirkan pada tahun 1772, di Tanjung Bunga, Sumatra Barat. Karena bertempattinggal di daerah Bonjol (Sumatra Barat), maka ia di sebut sebagai Imam Bonjol Perang Paderi Pada abad ke-19 di Minangkabau. Sumatra Barat terjadi perselisihan paham antara kaum paderi dan kaum adat. Kaum paderi adalah golongan pemeluk agama Islam dan tidak dipengaruhi adat kebiasaan. Kaum adat golongan yang sudah memeluk agama Islam, tetapi masih banyak dipengaruhi adat kebiasaan. Adat kebiasaan itu

7

bertentangan dengan ajaran Islam seperti menyabung ayam, minum – minuman keras, berjudi dan lain – lain. Kaum paderi menentang berbagai kebiasaan yang dilakukan pada kaum adat. Kaum adat tidak terima terhadap penentangan kaum paderi tersebut. Akibatnya, timbullah keteganggan yang menjurus pada bentrokan bersenjata diantara pengikut kedua golongan tersebut. Tuanku Imam Bonjol muncul sebagai pemimpin kaum paderi yang terkenal. Ia menggantikan kedudukan Datuk Badaro. Dalam pertempuran tersebut kaum adat terdesak. Pada tahun 1821, kaum adat meminta bantuan kepada Belanda, sehingga Belanda dapat menduduki beberapa daerah di Sumatra Barat. Kedatangan Belanda tidak disambut dengan baik oleh kaum paderi. Akhirnya, meletuslah perang antara kaum paderi dengan Belanda. Perang tersebut disebut Perang Paderi dan berlangsung tahun 1821 – 1827. Pada tahun 1821, Tuanku Pasaman, mengarahkan ribuan rakyat menyerbu pos – pos Belanda di Serawang, Sulit Air, Sipinang, dan tempat lainya. Mereka menggunakan senjata – senjata tradisional seperti tombak, parang, golok dan lain – lain. Sementara pihak Belamda menggunakan senjata meriam dan jenis lainya. Pada tahun 1822, pasukan Belanda berhaasil menguasi Bonjol. Dalam perang paderi Belanda menggunakan siasat Benteng, yaitu daerah yang dikuasai dibanggun benteng pertahanan, seperti bebteng Fort de Kock di Bukittinggi. Kaum adat dan kaum paderi menyadari bahwa bantuan Belanda kepada kaum adat hanya siasat adu domba belaka. Kemudian, kaum adat bersatu padu dengan kaum paderi menghadapi Belanda. Akhirnya, pasukan Belanda yang dipimpin Van Den Boch dapat dipukul mundur dan Bonjol dapat direbut kembali dari Belanda. Bersatunya kembali kaum adat dengan kaum paderi menimbulkan kekhawatiran Belanda. Akhirnya, Belanda mengeluarkan pernyataan yang disebut Plakat Panjang. Isi pelakat panjang adalah : 1. Tanam paksa dengan kerja paksa di cabut bagi rakyat Minangkabau. 2. Kepala – kepala daerah akan di gaji. 3. Belanda akan bertindak sebagai penegah apabila terjadi perselisihan di kalangan rakyat (kaum adat dengan kaum paderi). Pada tahun 1837, pasukan Belanda dibawah pipinan Letnan Kolonel Michiels kembali menyerang Bonjol. Dalam serangan ini pasukan Imam Bonjol terdesak. 8

Akhirnya imam Bonjol terpaksa mengadakan perundingan dengan Belanda. Namun perundingan itu gagal. Pertempuran pun terjadi dan benteng Bonjol jatuh ke tangan Belanda. Pada tanggal 25 Oktober 1837, Imam Bonjol berhasil di tangkap dan ditahan. Ia diasingkan ke Cianjur, kemudian ke Ambon dan kemudian ke Manado. Pada tangal 6 November 1864, Imam Bonjol wafat dan jasadnya dimakamkan di desa Pineleg, Manado 2.3. Pangeran Diponegoro

Gambar : Pangeran Diponegoro (wikipedia.org)

Pangeran

Diponegoro

sebenarnya

masih

keturunan

Kesultanan

Yogyakarta. Beliau dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785, anak dari Pangeran Adipati Anom (Sultan Hamengkubuwono III). Pada waktu kecil ia bernama Raden Mas Ontowiryo. Walaupun beliau keturunan bangsawan, namun beliau akrab dengan rakyat kecil. Pangeran Diponegoro tidak senang dengan sikap Belanda yang merendahkan harkat dan martabat raja – raja Jawa. Pada waktu Sultan Hamengkubuwono V berkuasa, Pangeran Diponegoro merasa kecewa dengan keadaan istana. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan istana dan tinggal di desa Tegalrejo, Yogyakarta. Di sini ia lebih memusatkan perhatiannya di bidang agama, adat, dan kerohanian. Sementara itu, Belanda melakukan tindakan yang menyinggung perasaan Pangeran Diponegoro. Belanda bermaksud membuat jalan kreta api yang melintasi tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro. Patih Danureja, atas

9

perintah Belanda, memasang patok diatas tanah makam tersebut tanpa ijin Pangeran Diponegoro. Karena pemasangan tonggak – tonggak tersebut merupakan perbuatan sewenang – wenang, Pangeran Diponegoro pun mencabutinya. Keteganggan diantara Belanda dengan Pangeran Diponegoro tidak dapat dihindarkan. Keteganggan itu memuncak pada tanggal 20 Juli 1825. Di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro rakyat menyatakan perang terhadap Belanda. Pihak Belanda mulai membakar daerah Tegalrejo. Beliau menyingkir ke bukit Selarong. Perlawana Diponegoro mendapat sambutan luas dari berbagai tempat dan kalangan. Gelora pernang dikumandangkan di seluruh Mataram. Pangeran Diponegoro mendapat bantuan sepenuhnuya dari Kiai Maja (Penasihat bidang keagamaan), Pengeran Mangkubumi (Kalangan isatana), dan Sentot Ali Basyah Prawiradiraja (Panglima perang). Demikian pula para ulama dan para bangsawan turut berjuang bersama – sama dengan pangeran Diponegoro. Daerah – daerah lain ikut bangkit berjuang melawan Belanda, seperti Pacitan, Purwodadi, Bayumas, Pekalongan, Semarang, Rembang, dan Madiun. Kiai Maja mengobarkan perang di daerah Surakarta. Semantara Kiai Hasan Besari memimpin perang di daerah Kedu. Perlawanan yang dilakukan Pangeran Diponegoro tahun 1825 – 1827, menyebabkan pasukan Belanda terdesak dan mengalami banyak korban. Pada tahun 1827, dibawah pimpinan jendral Van De Kock, Belanda menjalankan siasat perang benteng stelsel. Siasat ini dilakukan dengan tujuan mempersempit wilayah kekuasaan Pangeran Diponegoro. Caranya ialah, di setiap wilayah yang sudah dikuasai Belanda didirikan benteng – benteng pertahanan. Karena Pangeran Diponegoro sulit di taklukan, akhirnya Belanda menempuh cara licik dengan menawarkan perundingan. Jendral De Kock berusaha mengadakan pembicaraan dengan Diponegoro. Bila perundingan gagal, Diponegoro boleh pulang dengan selamat. Perundingan diselenggarakan pada tanggal 28 Maret 1830 di rumah Residen Kedu di Magelang. Jendral De Kock sudah mengatur siasat untuk menangkap Diponegoro. Belanda menghianati perjanjian yang di buatnya, yaitu membiarkan Pangeran Diponegoro pulang dengan selamat bila perundingan gagal. Pangeran Diponegoro ditanggkap, kemudian dibawa ke Semarang. Setelah di

10

bawa

ke

Batavia

(Jakarta),

Pangeran

Diponegoro

di

bawa

ketempat

pengasingannya di Manado, Sulawesi Utara. Pada tahun 1834, Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Makasar dan ditahan di benteng Fort Rotterdam. Pangeran Diponegoro meninggal dan dimakamkan di Makasar pada tanggal 8 Januari 1855. 2.4. Pangeran Antasari

Gambar : Pangeran Antasari (dari google.com)

Kerajaan Banjarmasin merupakan sebuah kerajaan yang cukup makmur di Kalimantan Selatan. Maka tidak heran jika Belanda bermaksud merebut kerajaan Banjarmasin. Ketika itu, Banjarmasin diperintah oleh Sultan Adam (1825 - 1857). Usaha Belanda untuk menguasai Banjarmasin adalah melalui monopoli perdagangan. Kemudian dilanjutkan dengan mencapuri urusan kerajaan. Kedatangan Belanda sangat ditentang oleh rakyat dan kalangan istana Banjar. Rakyat menurut agar Pangeran Hidayat diangkat menjadi Sultan muda, calon pengganti raja. Sebaliknya, Belnda menggangkat Sultan Tamjidillah sebagai Sultan Muda. Pengankatan yang tidak disenangi rakyat ini, semakin memperuncing permusuhan rakyat Banjar pada Belanda. Pada tahun 1860, jabatan Sultan Muda dan jabatan Mangkubumi yang selama ini di pegang oleh Pangeran Hidayat di hapus oleh Belanda. Akibatnya timbullah pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Hidayat. Selain itu, perlawanan pun dilancarkan pada masa pemerintahan Sultan Amir. Sultan Amir

11

adalah leluhur Pangeran Antasari. Belanda berhasil menangkap Sultan Amir dan membuangnya ke Ceylon (Srilanka). Perlawanan rakyat menentang Belanda berlanjut terus. Pada tahun 1859 Pangeran Antasari melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Perjuangan ini berhasil menyerang pos – pos pertahanan Belanda. Dalam berbagi pertempuran, Pangeran Antasari di bantu oleh Pangeran Hidayat. Tokoh – tokoh lain yang membantu Pangeran Antasari ialah Kiai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Busyasin, dan Kiai Langlang. Pada tahun 1862 Pangeran Hidayat ditangkap Belanda dan di buang ke Jawa. Menyusul kemudian Kiai Demang Leman tertangkap, namun ia dapat meloloskan diri dan melanjutkan perlawanan. Pada tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari wafat karena terserang penyakit cacar. Jenazahnya dimakamkan di Banjarmasin. Sebagai pemimpin perang dan pemimpin agama, Pangeran Antasari diberi gelar Amiruddin Mukminin. 2.5. Perlawanan Rakyat Buleleng Sekitar abad ke-19 di Bali telah berdiri beberapa kerajaan seperti Buleleng, Karangaem, Badung, dan Giri anyar. Dil dalam wilayah kerajaan – kerajan itu berlaku hukum yang disebut Hukum Tawan Karang. Maksudnya kerajaan – kerajan di Bali memiliki hak untuk merampas muatan kapal yang terdampar (Karam) di pantai wilayah kerajaan. Pada saat itu banyak kapal – kapal Belanda yang terdampar di wilayah Bali dan muatannya menjadi milik kerajaan di wilayah kapal terdampar. Melihat keadaan seperti itu Belanda memaksa raja – raja Bali untuk menghapus Hukum Tawan Karang. Belanda juga memaksa agar raja – raja Bali mengakui kedaulatan Belanda di Bali. Raja – raja dari Buleleng, Klungkung, Gianyar menolak tawaran Belanda. Karena di tolak akhirnya Belanda memutuskan untuk menyerang Bali. Perang Bali Pada tahun 1844, ada kapal Belanda yang terdampar di pantai Buleleng dan dikenakan hukun tawan karang. Belanda tidak menerima kapalnya diperlakukan hukum tawan karang. Pada tahun 1846, pasukan Belanda mengeluarkan perintah yang berisi: raja Buleleng harus mengakui kekuasaan Belanda. Hokum tawan karang harus dihapuskan dan harus memberikan perlindungan kepada perdagangan Belanda. 12

Raja Buleleng menolak perintah atau ultimatum Belanda tersebut, sehingga terjadilah peperangan tesebut raja Buleleng dibantu oleh Patih bernama Ketut Gusti Jelatik. Menghadapi perlawanan rakyat Bali, Belanda terpaksa mengerahkan pasukan secara besar – besaran sebanyak tiga kali.  Tahun 1846, dengan kekuatan 1700 orang pasukan darat, Belanda menyerbu Bali. Namun serangan teersebut dapat digagalkan oleh Patih Ketut Gusti Jelatik.  Tahun 1848, kembali Belanda mengirim pasukan militer. Pertempuran sengit berkobar di daerah Jagaraga.  Tahun 1549, untuk ketiga kalinya Belanda mengirim pasukanya dari Batavia (Jakarta) dalam jumlah besar. Pasukan Belanda dalam jumlah besar disambut oleh Patih Ketut Gusti Jelatik yang memimpin pasukan Bali. Sementara itu, pasukan dari Karangasem dan Buleleng melakuakan perlawanan di sekitar benteng Jagaraga. Rakyat Bali di bawah pimpinan Patih Ketut Jelatik, mengadakan perlawanan habis – habisan (Puputan) terhadap Belanda. Karena itu perang Bali disebut juga dengan Perang Puputan. Setelah pertempuran berlangsung beberapa hari, pasukan Ketut Gusti Jelatik terdesak. Akhirnya benteng Jagaraga jatuh ketangan Belanda. Pada tahun 1849, Belanda dapat menguasai Bali Utara. Setelah menguasai Bali Utara, Belanda mengadakan perlusan kekuasaan ke Bali Selatan. Belanda berhasil di pantai Sanur dan memesuki Denpasar. Selanjutnya secara berturut – turut Belanda mengadakan penyerangan ke Keraton Pemecutan dan Klungkung. Raja Klungkung mengadakan perlawanan habis – habisan. Karena persenjataan Belanda lebih unggul, Belanda dapat mengalahkan Klungkung dan menguasai seluruh Bali. 2. 6. Perlawanan Sisingamangaraja XII (1870 - 1907)

Gambar : Sisingamangaraja (dari Google.com)

13

Pada tahun 1867, raja kerajaan Bakkara di daerah Tapanuli, Sumatra Utara, Sisingamangaraja XI meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya bernama Patuan Bosar Ompu Batu. Setelah menjadi raja Bakkara ia bergelar Sisingamangaraja XII. Pada waktu itu Belanda sudah mempunyai pos militer di daerah Sibolga. Dari Sibolga, Belanda berusaha memperluas daerah kekuasaannya. Pada masa pemarintahannya, datanglah orang – orang Belanda yang bertujuan menguasai wilayah tapanuli. Sisingamangaraja XII mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Pada tahun 1878, Belanda menyerang daerah Tapanuli. Serangan ini mendapat digagalkan oleh rakyat Tapanuli. Pada tahun 1889, pertempuran dasyat terjadi di daerah Silidung Humbang dan Tobe Hulbung. Karena banyak prajurit yang gugur di medan perang, sejak tahun 1900, Sisingamangaraja XII mengambil sikap bertahan. Pada tahun 1904, pasukan Belanda menyerang tanah Gayon dan daerah Danau Toba. Pada tahun 1907, pasukan Belanda dibawah pimpinan Kapten Cristoffel, menyerang pusat pertahanan Sisingamangaraja XII di Pak - pak. Dalam serangan ini, Sisingamangaraja XII gugur sebabgai kusuma Bangsa pada tanggal 17 juni 1907. Jenazahnya dimakamkan di Taruntung, kemudian dipindahkan ke Balige. Perlawanan Sisingamangaraja terjadi antara tahun 1870 – 1907. 2.7. Perlawanan Rakyat Aceh (1873 - 1904) Ketegangan antara Aceh dan Belanda telah terjadi pada tahun 1858. Ketika itu Belanda mengadakan perjanjian dengan Sultan Siak. Isi perjanjian adalah Siak harus menyerahkan wilayah Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan kepada Belanda. Aceh menolak, karena menganggap daerah itu merupakan daerah Aceh sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Belanda mencoba untuk menguasai daerah Aceh. Pada tanggal 5 April 1873, dibawah pimpinan Jendral J.H.R. Kohler dengan mengerahkan 3.000 tentara, Belanda mulai menyerang Aceh. Pertempuran berkobar di sekitar Masjid Raya Baiturrahman Aceh. Setelah pertempuran berlangsung beberapa lama, Masjid Raya Baiturrahman terbakar dan dapat dikuasi oleh Belanda. Dalam pertempuran itu, pimpinan pasukan Belanda, Jendral Kohler tewas. Meskipun Masjid Baiturrahman dapat dikuasai Belanda, namun hal

14

tersebut tidak berlangsung lama. Pasukan Belanda semakin terdesak dan pergi meninggalkan Aceh pada tanggal 29 April 1837. Merasa tidak puas, Belanda kembali menyerang Aceh. Kali ini dibawah pimpinan Jendral J. Van Swieten dengan kekuatan 8.000 tentara. Belanda dapat merebut istana Aceh. Walaupun istana dapat direbut Belanda, namun rakyat Aceh tetap melakukan perlawanan. Dalam perlawanan ini muncul tokoh – tokoh seperti Teuku Umar, Panglima Polim, Teuku Cil Di Tiro, Cut Nyak Dien, dan lain lain. Perlawanan rakyat Aceh tidak menunggu perintah Sultan. Rakyat berjuang dengan semangat perang suci membela agama. Luasnya medan perang serta daerah yang berhutan lebat menyulitkan pasukan Belanda untuk bergerak maju. Perlawanan terus berkobar. Teuku Cik Di Tiro memimpin perlawanan di Pidie. Teuku Umar dan Istrinya, Cut Nyak Dien, berjuang di Aceh Barat. Pada tahun 1879, Belanda menyerbu dari berbagai penjuru dan berhasil menguasai Aceh. Namun demikian daerah – daerah hutan dan pengunungan masih di kuasai rakyat Aceh. Teuku Ibrahim memimpin perang gerilya, namun dalam satu penyerbuan ke pos Belanda, Teuku Ibrahim gugur. Siasat Bentang Konsentrasi Perjuangan rakyat Aceh yang tidak mengenal menyerah, membuat Belanda menjadi pusing. Karena pasukannya sering terdesak, Belanda menjalankan siasat baru yang disebut Stelsel Konsentrasi. Belanda memusatkan pertahanannya pada daerah-daerah yang sudah dikuasai. Dengan siasat ini Belanda dapat menghemat tenaga, alat perang, dan biaya. Meskipun demikian, Belanda mengalami kerugian besar karena mendapat serangan terus-menerus dari para pejuang Aceh. Pada tahun 1893, Teuku Umar berpura – pura menyerah kepada Belanda. Belanda sangat gembira dan ia diterima dalam dinas ketentaraan Belanda. Ia diangkat sebagai Panglima Legiun Aceh. Teuku Umar diberi gelar Teuku Johan Pahlawan. Teuku Umar memimpin 250 orang prajurit dan meminta tambahan senjata dari Belanda. Ternyata tindakan yang dilakukan Teuku Umar merupakan tipu muslihat belaka. Setelah merasa kuat dan persenjataan lengkap, pada tahun 1896 Teuku Umar berbalik menyerang Belanda.

15

Belanda mengalami kesulitan dalam menghadapi Aceh. Untuk itu Belanda berusaha mengetahui kekuatan utama Aceh. Kekuatan itu berhubungan dengan kehidupan social budaya. Guna mengetahui kekuatan perjuangan rakyat Aceh, Belanda mengirim Dr. Snock Hurgronje untuk mempelajari kehidupan rakyat Aceh. Snock Hurgronje adalah seorang ahli mengenai Islam. Ia berpura – pura menjadi seorang muslim yang taat dan berhasil bergaul dengan masyarakat Aceh. Dari hasil penelitianya, dapat diketahui bahwa sebenarnya Sultan Aceh tidak mempunyai kekuatan apa – apa tanpa persetujuan para pemimpin di bawahnya. Selain itu, juga diketahui peranan para ulama sangat besar. Hasil penyelidikan Dr. Snock Hurgronje ini dijadikan siasat oleh Belanda untuk menundukan perlawanan rakyat Aceh. Pemerintahan Belanda mengangkat Jendral Johanes Benedictus Van Heutsz sebagai gubernur militer. Ia segera membentuk pasukan gerak cepat dan dilatih sebagai pasukan anti gerilya. Pasukan itu disebut Marsose. Pasukan Marsose menyerang kubu – kubu pertahanan pasukan Aceh yang ada di hutan, gunung, lembah secara terus menerus. Pasukan Aceh sedikit pun tidak diberi istirahat. Pada tahun .1899, Teuku Umar gugur dalam sebuah pertempuran di Meulaboh. Perjuangan dilanjutkan oleh istrinya Cut Nyak Dien. Pada tahun 1903, Sultan Aceh, Mohamad Daud Syah menyerah kepada Belanda, menyusul kemudian Panglima Polim. Pada tahun 1904, Van Heutsz mengeluarkan Plakat Pendek yang harus ditandatangani oleh kepala – kepala daerah di Aceh, sebagai tanda bahwa Aceh tunduk kepada Belanda. Dengan penandatangan Plakat Pendek itu, Belanda telah berhasil menguasi seluruh Aceh. Perjuangan rakyat Aceh berlangsung sampai dengan tahun 1937, walaupun tidak seperti perjuangan sebelumnya. Proses perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah terus berlanjut, meski beberapa mendapat kemenangan namun kemenangan tersebut hanya sementara, karena akhirnya Belanda tetap dapat menguasai daerah tersebut. Dari uraian di atas dapat kita ketahui bahwa perjuangan para tokoh2 tersebut memiliki hambatan-hambatan seperti : 1. Perlawanan rakyat yang masih bersifat kedaerahan atau lokal 2. Persenjataan masih tradisional 3. Adanya politik “ Devide Et Impera “ oleh Belanda 4. Pendidikan rakyat yang masih rendah sehingga tidak ada sistem organisasi yang baik dan modern dan lebih tergantung terhadap seorang pemimpin 16

5. Masyarakat Indonesia yang belum mempunyai rasa Nasionalisme

III. POLITIK ETIS Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Munculnya oleh Pieter kaum Etis yang di pelopori Koran De Brooshooft (wartawan

Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi
Gambar dari Wikipedia.org

yang terbelakang.

Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Politika yang meliputi: 1. 2. 3. irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian emigrasi yakni mengajak penduduk untuk transmigrasi memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan (edukasi). Banyak pihak menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan tulisan-tulsian Van Deventer yang diterbitkan beberapa waktu sebelumnya, sehingga Van Deventer kemudian dikenal sebagai pencetus politik etis ini. Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan emigrasi

17

dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa Indonesia. Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan sekali dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Salah seorang dari kelompok etis yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah Mr. J.H. Abendanon(1852-1925) yang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima tahun (1900-1905). Sejak tahun 1900 inilah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah. Sementara itu, dalam masyarakat telah terjadi semacam pertukaran mental antara orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi. Kalangan pendukung politik etis merasa prihatin terhadap pribumi yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum pribumi agar melepaskan diri dari belenggu feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya. Pelaksanaan politik etis bukannya tidak mendapat kritik. Kalangan Indo, yang secara sosial adalah warga kelas dua namun secara hukum termasuk orang Eropa merasa ditinggalkan. Di kalangan mereka terdapat ketidakpuasan karena pembangunan lembaga-lembaga pendidikan hanya ditujukan kepada kalangan pribumi (eksklusif). Akibatnya, orang-orang campuran tidak dapat masuk ke tempat itu, sementara pilihan bagi mereka untuk jenjang pendidikan lebih tinggi haruslah pergi ke Eropa, yang biayanya sangat mahal. Ernest Douwes Dekker termasuk yang menentang ekses pelaksanaan politik ini karena meneruskan pandangan pemerintah kolonial yang memandang hanya orang pribumilah yang harus ditolong, padahal seharusnya politik etis ditujukan untuk semua penduduk asli Hindia Belanda (Indiers), yang di dalamnya termasuk pula orang Eropa yang menetap (blijvers) dan Tionghoa. IV. PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA SETELAH ADANYA POLITIK ETIS Melalui kebijakan “Politik Etis” yang diciptakan Belanda setelah menjajah lebih dari tiga ratus tahun di atas bumi persada, kaum pribumi khususnya lapisan pemuda, mendapatkan kesempatan untuk masuk ke lembaga-lembaga

18

pendidikan yang telah didirikan oleh Belanda. Walaupun dengan batasan lapisan masyarakat, lembaga pendidikan, dan keterbatasan fasilitas pendidikan yang ada, namun banyak pemuda pribumi yang berhasil lulus baik, atas bantuan pemerintah Belanda, dikirim ke luar negeri (kebanyakan ke negeri Belanda) untuk melanjutkan studi mereka. Sehingga kemudian lahir generasi pertama lapisan pemuda berpendidikan modern, sebenarnya bukanlah produk sosial yang murni berasal dari rakyat Indonesia namun disebabkan karena mulai terbukanya pemikiran generasi pemuda yang mulai terdidik. Kehadiran mereka merupakan produk situasi atau didorong oleh perubahan sikap politik pemerintahan kolonial Belanda terhadap negeri ini. Dalam penindasan masa yang penuh secara tantangan dihadapkan Belanda, dengan berkat suasana kemajuan kolonialisme, realitas politik berupa berlangsungnya proses pembodohan dan struktural yang dilakukan pendidikan yang berhasil mereka raih berimplikasi pada peningkatan tingkat kesadaran politik, para pelajar dan mahasiswa merasakan sebagai golongan yang paling beruntung dalam pendidikan sehingga muncul tanggung jawab untuk mengemansipasi bangsa Indonesia. Berikut ini beberapa contoh gerakan mahasiswa yang merupakan perwakilan golongan ”terdidik” di Indonesia. 3.1 Gerakan Mahasiswa 1908 Boedi Oetomo, merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. Pada konggres yang pertama di Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan: Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan. Dalam 5 tahun permulaan BU sebagai perkumpulan, tempat keinginankeinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang dengan lk.10.000 anggota.

19

Disamping itu, pada tahun yang sama dengan berdirinya BU oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, nama dibentuk menjadi pula Indische Vereeninging yang kemudian berubah

Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia,tahun 1925. Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain, seperti: Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxis, dll menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik. Hal ini di satu sisi membantu perjuangan rakyat Indonesia, tetapi di sisi lain sangat melemahkan BU karena banyak orang kemudian memandang BU terlalu lembek oleh karena hanya menuju “kemajuan yang selaras” dan atau terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk daerah yang berkebudayaan Jawa) meninggalkan BU. Oleh karena cita-cita dan pemandangan umum berubah ke arah politik, BU juga akhirnya terpaksa terjun ke lapangan politik Kehadiran Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, pembaharu misi dan dengan kaum terpelajar dan mahasiswa kebangsaan pada masa itu sebagai dan aktor merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia : generasi 1908, dengan utamanya mendorong menumbuhkan semangat kesadaran rakyat hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme. 3.2 Gerakan Mahasiswa 1928 Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatankekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, 20

mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam dikursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh Suatu para nasionalis dan oleh mahasiswa Soekarno pada Sekolah pada gerakan Tinggi 11 Teknik Juli di Bandung yang dimotori tanggal 1925. dalam

gejala yang tampak

mahasiswa

pergolakan politik di masa kolonial hingga menjelang era kemerdekaan adalah maraknya pertumbuhan kelompok-kelompok studi sebagai wadah artikulatif di kalangan pelajar dan mahasiswa. Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an. Lahirnya pilihan pengorganisasian diri melalui kelompok-kelompok studi tersebut, dipengaruhi kondisi tertentu dengan beberapa pertimbangan rasional yang melatari suasana politis saat itu. Pertama, banyak pemuda yang merasa tidak dapat menyesuaikan diri, bahkan tidak sepaham dan kecewa dengan organisasi-organisasi politik yang ada. Sebagian besar pemuda saat itu, misalnya menolak ideologi Komunis (PKI) maka mereka mencoba bergabung dengan kekuatan organisasi lain seperti Sarekat Islam (SI) dan Boedi Oetomo. Namun, karena kecewa tidak dapat melakukan perubahan dari dalam dan melalui program kelompokkelompok pergerakan dan organisasi politik tersebut, maka mereka kemudian melakukan pencarian model gerakan baru yang lebih representatif. Kedua, kelompok studi dianggap sebagai media alternatif yang paling memungkinkan bagi kaum terpelajar dan mahasiswa untuk mengkonsolidasikan potensi kekuatan mereka secara lebih bebas pada masa itu, dimana kekuasaan kolonialisme sudah mulai represif terhadap pembentukan organisasi-organisasi massa maupun politik. 21

Ketiga, karena melalui kelompok studi pergaulan di antara para mahasiswa tidak dibatasi sekat-sekat kedaerahan, kesukuan,dan keagamaan yang mungkin memperlemah perjuangan mahasiswa. terdapat Ketika itu, wadah disamping perjuangan organisasi politik memang beberapa

pemuda yang bersifat keagamaan, kedaerahan, dan kesukuan yangtumbuh subur, seperti Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, dan lain-lain. Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia: generasi 1928. Maka, tantangan zaman yang dihadapi oleh generasi ini adalah menggalang kesatuan pemuda, yang secara tegas dijawab dengan tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober1928, dimotori oleh PPPI.

Gambar Kongres Pemuda (gambar dari Wikipedia.org)

Sebelum membahas lebih lanjut sebaiknya kita uraikan dahulu mengenai kedatangan Jepang ke Indonesia Pendudukan Jepang di Indonesia a. Perang Pasifik (Perang Asia Timur Raya) Pada tanggal 8 Desember 1941, armada angkatan laut Jepang secara tiba – tiba menyerang pangkalan laut America Serikat di Pearl Harbour (Kepulauan Hawai). Setelah penyerangan tersebut Jepang menyatakan perang terhadap 22

Amerika Serikat. Pada waktu itu, Belanda merupakan sekutu America Serikat. Sebagai rasa setiakawan Belanda pun meyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan itulah yang dijadikan alasan oleh Jepang untuk menyerang Indonesia. Akibatnya, pecahlah perang Asia Timur Raya. Dalam waktu singkat, pasukan jepang menyerbu dan menduduki Negara-Negara Filipina, Myanmar, Malaya, dan Indonesia. Pada tanggal 11 Januari 1942, pasukan Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada tanggal 23 Januari 1942, Jepang menduduki Balikpapan, juga di Kalimantan Timur. Selanjutnya tanggal 14 Februari 1942 giliran Palembang jatuh ke tangan Jepang, dan tanggal 16 Februari 1942 Plaju dikuasai Jepang. Kota – kota yang diduduki dan dikuasai Jepang adalah kota penghasil minyak bumi. Setelah itu perhatian Jepang diarahkan ke Pulau Jawa. Pada tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang berhasil mendarat secara serempak di tiga pulau Jawa, yaitu di sekitar Merak dan Teluk Banten, di sekitar Eretan Wetan (Cirebon), dan di desa Krangan di sebelah timur Pasuruan (Jawa Timur). Penyerangan Jepang ke Pulau Jawa dipimpin oleh Letnan Jendral Hitoshi Imamura. Batavia atau Jakarta dapat diduduki dan dikuasai Jepang pada Tanggal 5 Maret 1942. Akhirnya pada tanggl 8 Maret 1942, pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Jepang. Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Pooten, atas nama seluruh angkatan Perang sekutu, menyerah tanpa syarat kepada angkatan perang Jepang yang dimpin oleh Letnan Jendral Hitoshi Imamura. Gubernur Jendral Hindia Belanda, yaitu Tjarda Van Stakenborgh \tackouwer menyerahkan pemerintahan Hindia Belanda kepada Jepang. Upacara penyerahan itu berlangsung di Kalijati (dekat Subang) Jawa Barat. Dengan penyerahan Belanda tanpa syarat tersebut, berakhirlah penjajahan Belanda di Indonesia. b. Kedatangan Tentara Jepang di Indonesia Kedatangan Jepang yang berhasil mengalahkan Belanda semula disambut dengan tangan terbuka oleh bangsa Indonesia. Di mana – mana tentara Jepang disambut sebagai tentara yang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Orang – orang Jepang mempergunakan kesempatan ini sebagai alat propaganda agar rakyat Indonesia mau membantu Jepang. Tentara Jepang

23

sangat pandai memikat hati rakyat Indonesia dengan menggumbar janji dan harapan. Rakyat Indonesia dihasut agar memusuhi bangsa Belanda. Tentara Jepang berhasil menarik simpati rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia sudah bosan dengan penindasan Belanda yang sudah berlangsung tiga setengah abad. Tentara Jepang menyerbu dan mengusir Belanda dari Indonesia tidak semata – mata dengan tujuan jujur, memebebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Jepang mempunyai tujuan tersembunyi, yakni menguasai Indonesia. Ada beberapa alasan mengapa Jepang ingin menguasai Indonesia.  Indonesia kaya akan baha mentah seperti minyak bumi, batu bara dan lainnya.  Indonesia kaya akan hasil pertanian dan perkebunan seperi karet, beras, kapas, jagung dan rempah – rempah.  Indonesia memiliki tenanga manusia dalam jumlah yang banyak. Tenaga manusia diperlukan sebagai tenaga kerja. Para pemimpin Jepang sadar, tanpa bantuan rakyat Indonesia, apa yang di harapkan Jepang tidak akan berhasil. Oleh karena itu, tentara Jepang berusaha menarik simpati dan memikat hati rakyat Indonesia terutama para pemimpin pergerakan nasional Indonesia. Ada tiga cara tentara Jepang memikat hati dan simpati rakyat Indonesia untuk membantu Jepang, yaitu:  Tentara Jepang mengijinkan bendera Merah Putih berkibar di Indonesia.  Tentara Jepang mengijinkan rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman.  Tentara Jepang mengijinkan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sehari – hari, menggantikan bahasa Belanda. Sejak saat itu bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar di sekolah – sekolah. c. Akibat Pengerahan Tenaga Romusha oleh Jepang terhadap Penduduk Indonesia Pada mulanya, kedatangan tentara Jepang disambut gembira oleh Bengsa Indonesia. Bangsa Indonesia berharap, dengan kedatangan Jepang, bangsa Indonesia terlepas dari penderitaan yang dialami selama penjajahan Belanda. Namun, makin lama makin terasa betapa bengis dan kejamnya tentara Jepang. Bahkan, tentara Jepang lebih kasar dan bengis dari bangsa Belanda. Namun

24

hal ini menjadi tidak berarti bangsa Indonesia lebih senang dijajah oleh bangsa Belanda dari pada dijajah Jepang. Bagi bangsa Indonesia kedua – duanya tetap tidak disukai. Bangsa Jepang sangat rakus. Semua hasil bumi Indonesia di ambil. Para petani, sebagai penghasil padi, tidak mempunyai beras untuk dimakan. Semua hasil padi diambil secara paksa oleh Jepang. Akibatnya, rakyat Indonesia semakin menderita dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda. Rakyat masih beruntung bila masih mempunyai persediaan ketela, ubi, atau jagung untuk dimakan sebagai pengganti beras. Beras, jagung, ketela atau singkong, telur bahkan ternak milik petani semua diambil secara paksa oleh Jepang untuk memenuhi kebutuhan tentara Jepang. 3.3. Gerakan Mahasiswa 1945 Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk secara terbuka mentransformasikan eksistensi wadah mereka menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia Kelompok berubah Studi menjadi Umum Partai menjadi Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan

Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Seiring dengan keluarnya Belanda dari tanah air, perjuangan kalangan pelajar dan mahasiswa semakin jelas arahnya pada upaya mempersiapkan lahirnya negara Indonesia di masa pendudukan Jepang. Namun demikian, masih ada perbedaan strategi dalam menghadapi penjajah, yaitu antara kelompok radikal yang anti Jepang dan memilih perjuangan bawah tanah di satu pihak, dan kelompok yang memilih jalur diplomasi namun menunggu peluang tindakan antisipasi politik di pihak lain. Meskipun berbeda kedua strategi tersebut, pada prinsipnya bertujuan sama : Indonesia Merdeka ! Secara umum kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada zaman pemerintahan Jepang jauh lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda, antara lain dengan melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik; dan hal ini ditindak lanjuti dengan membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik, serta insiden kecil 25

di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan. Praktis, akibat kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa kebanyakan akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi, bersama para pemuda lainnya terutama di asrama-asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa. Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok “bawah tanah” yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa Rengasdengklok itu dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pandangan antar generasi tentang langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproklamasikan kemerdekaan. Saat itu Jepang telah menyerah kepada sekutu, dan pemuda (yang cenderung militan dan non kompromis) menuntut peluang tersebut segera dimanfaatkan, tetapi generasi tua seperti Soekarno dan Hatta cenderung lebih memperhitungkan situasi secara realistis. Tetapi akhirnya kedua tokoh proklamator itu mengabulkan keinginan pemuda, dan memproklamasikan negara Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Dengan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan saat itu, maka sekaligus menandai lahirnya generasi 1945 dalam sejarah Indonesia. Meskipun Indonesia telah menyatakan kemerdekaan, namun pergerakan nasional terus berlanjut guna mempertahankan kemerdekaan. Pergerakan

26

IV. KESIMPULAN Berdasarkan contoh-contoh perjuangan/pergerakan nasional yang kita ketahui di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa perbedaan antara perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah pada masa sebelum adanya politik etis dengan perjuangan setelah adanya politik etis adalah sebagai berikut :
Faktor -Faktor 1. Sifat Perlawanan 2. Persenjataan Sebelum Politik Etis Lokal atau kedaerahan Tradisional Belum terorganisir dengan 3. Organisasi baik dan sangat bergantung pada pimpinan 4. Rasa Nasionalisme 5. Tujuan Utama/ Visi Rendah Memerdekakan daerah masing-masing (lokal) Tokoh-tokoh agama dan bangsawan Sesudah Politik Etis Menyeluruh / Nasional Senjata lebih Modern Sudah mulai terorganisir, tidak tergantung pada pimpinan karena sistem organisasinya lebih baik dan modern Tinggi Ingin mencapai kemerdekaan Seluruh wilayah Indonesia Tokoh-tokoh agama dan bangsawan, kaum cendekia, mahasiswa dll. Hambatan : Masuknya Jepang untuk menguasai Mudah di adu domba oleh 7. Hambatan penjajah, pendidikan masyarakat masih rendah Indonasia Keuntungan : Rasa persatuan yang tinggi dan pendidikan meningkat sehingga tidak mudah di adu domba

6. Tokoh/yang berperan

Tabel Perbedaan Perjuangan Sebelum dan Sesudah Politik Etis Demikian kesimpulan yang dapat saya ambil dari uraian sejarah yang saya ketahui, tentu saja uraian tersebut hanya sedikit bagian dari yang mewakili dari fakta-fakta sejarah. Apabila terdapat kritik dan saran terhadap penjelasan dan kesimpulan ini, saya terbuka untuk menerima kritik dan saran. Terimakasih.

V. DAFTAR PUSTAKA

27

CentralTripod (1994). Pergerakan Nasional. http://l32central.tripod.com Pratanta, (2001). Sejarah Perjuangan Mahasiswa Indonesia 1908-1999. http://partanta.com. Anonim, (2009). Perjuangan Melawan Penjajah. www.belajar-sejarah.com Wikipedia, (2009). Politik Etis. http://id.wikipedia.org/wiki/Politik_Etis Anonim, (2009). Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan_Penjajah. http://www.crayonpedia.org Adi Suryadi Culla , Patah Tumbuh Hilang Berganti : Sketsa Pergolakan A.K. Pringgodigdo SH , Sejarah Pergolakan Rakyat Indonesia.

28

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->