P. 1
Gerakan Pemikiran Islam Di Minangkabau

Gerakan Pemikiran Islam Di Minangkabau

|Views: 359|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Jan 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2012

pdf

text

original

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM DI MINANGKABAU

1. Pendahuluan Pendidikan menurut adat Minangkabau di Sumatera Barat sudah berjalan jauh sebelum kedatangan agama Budha masuk ke Minangkabau. Pendidikan itu disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi dan keberhasilan pendidikan itu dinilai dari penguasaan adat dan keahlian menyelesaikan masalah kehidupan. Untuk dapat menguasai pengetahuan dan pelaksanaan adat yang luas dan rumit itu dipelajari melalui contoh dan laku perbuatan dalam kehidupan sehari-hari yang disampaikan dalam bentuk prosa lirik. Minangkabau telah lama dikenal sebagai suatu suku bangsa yang ahli dalam prosa lirik atau sastra lisan. Tiga ratus tahun sebelum Masehi, negeri di bawah angin ini telah dikenal sebagai bangsa ahli sastra yang tercantum dalam buku Kutub Khanah di Mesir. Hubungan itu telah terjalin juga dalam perdagangan kapur barus (kampher, lat.) yang diperlukan untuk pengawetan mummi raja-raja Mesir.
H.Mas’oed Abidin
1

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Pada masa kebudayaan Hindu berkembang di India, I-tsing seorang musafir dari Cina, sengaja membawa dua orang teman pada abad ke-7 untuk menyalin 200 buah pepatah-petitih di Malaya Giri (Gunung Malayu) yang terletak di tepi Batang Hari. Pada masa pemerintahan Adityawarman, didirikan tiga pusat pendidikan agama Budha yang sacral yakni di Biaro, Pariangan, di Baso dan di Petok, Pasaman dengan memanfaatkan bangunan tradisional surau. Adityawarman ikut memecahkan masalah sosial mengenai remaja di Minangkabau yang tidak mempunyai tempat tinggal di rumah gadang. Setelah Islam berkembang di Minangkabau, Syekh Burhanddin mendirikan surau sebagai lembaga pendidikan agama Islam di Ulakan. Syekh Burhanuddin berhasil mendapat kesepakatan dengan Basa Ampek Balai dan Kerajaan Pagaruyung, bahwa adat dan Islam sama terpakai di Alam Minangkabau. Kesepakatan ini lebih mudah dilaksanakan dan disetujui kedua belah pihak, karena Tarapang yang kemudian menjadi Tuan Kadi di Padang Ganting adalah teman seperguruan dengan Syeh Burhanuddin di Aceh. Kesepakatan yang
2

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

disponsori oleh dua orang seperguruan itu lebih dikenal dengan nama Perjanjian Marapalam. Tamatan pendidikan dari surau Ulakan kemudian mengembangkan surau-surau di pedalaman Minangkabau. Bukan secara kebetulan, Islam mendapat tanah yang subur untuk berkembang di pedalaman tanah Melayu-Minangkabau. Ajaran Islam melahirkan spesialisasi dalam memperdalam ajaran agama di surau-surau meliputi ibadah, mualamalah dan ilmu alat. Surau di Kamang memperdalam ilmu alat, nahu dan sharaf, Tuanku nan Kecil di Koto Gadang dalam ilmu mantik dan maani, surau Tuanku Sumanik dlam ilmu hadits, tafsir dan ilmu faraidh, surau Tuanku di Talang dalam ilmu sharaf, dan surau Tuanku di Salayo dalam badi’, maani dan bayan. Sedangkan surau Tuanku Nan Tuo dalam tabiyah, hadts, tafsir, dan mantik maaani. Keragaman mempelajari ajaran Islam demikian melahirkan kaum intelektual dengan statigrafi pengetahuan yang tercermin dari gelar yang disandang alumninya, seperti Kari, Pakih, Labai, dan Tuanku. Gelar ini kemudian diterapkan sebagai aparat alim ulama suku di Minangkabau.

H.Mas’oed Abidin

3

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Gerakan Kembali ke Syariat (1740 – 1803) di bawah kepemimpinan Tuanku Nan Tuo sebagai pelindung pedagang melahirkan pratagoni sehingga surau dapat memajukan perdagangan yang mendatang kesejahteraan penduduk Minangkabau dan menguasai pusat-pusat perdagangan. Gerakan ini ditunjang oleh Tuanku-tuanku generasi muda, seperti Tuanku Nan Renceh, Tuanku Damansiang Nan Mudo, Tuanku Lintau. Semua tuanku itu ikut memajukan kesejateran masyarakat lingkungannya, sehingga surau-surau mereka menjadi pelopor kemajuan perekonomian masyarakatnmya. Gerakan Kembali ke Syariat menyumbangkan ajaran Islam ke dalam adat Minangkabau. Di samping harta pusaka tinggi, difatwakan harta pencaharian, yang diperdapat dari perdagangan yang diwariskan untuk anak dan isteri. Semenjak itu terjadilah proses pembauran yang kental antara syariat Islam dengan budaya Adat Minangkabau. Menyebarnya syariat Islam di Minangkabau dengan suasana damai merobah kebiasaan-kebiasaan adat yang bertentangan dengan Islam. Semenjak itu pula proses itu berlangsung sampai saat ini sehingga ulama dapat melibatkan masyarakat Minangkabau di dalam syariat Islam, sehingga melahirkan
4

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

kepemimpinan adat dan agama dalam setiap lembaga masyarakat. Dalam kaum dan suku mempunyai penghulu (manti dan dubalang) dan malin (imam, khatib, dan bila) dan di nagari terdapat kepemimpinan Kerapatan Adat Nagari yang terdiri dari Penghulu, Imam Khatib dan Cadiak Pandai. Kepemimpinan ini dikenal dengan Tungku Tigo Sajarangan dengan pegangan masingmasing hukum adat, agama dan peraturan atau undang-undang, yang disebut tali tigo sapilin. Kehadiran Tuanku …………………………. Haji Miskin

Pelantikan Tuanku Imam menjadi pemimpin pembaruan Islam di daerah pinggiran………… Kehadiran Belanda …………………….. di tanah Minanag

Reaksi terhadap pendidikan sekuler Akibat tanaman paksa kopi di Sumatera Barat

SYEKH BURHANUDDIN, ULAKAN (1646 1704 )

H.Mas’oed Abidin

5

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Syekh Burhanuddin telah banyak dikenal dan diperbincangkan para ilmuwan, baik dalam literatur, maupun dari laporan bangsa Eropah lainnya. Salah satu sumber utama yang menjelaskan dari perkembangan surau-surau dan lahirnya pembaruan Islam di Minangkabau berasal dari sebuah naskah kuno tulisan Arab Melayu. Naskah itu berjudul, Surat Keterangan Saya Faqih Saghir Ulamiyah Tuanku Samiq Syekh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo, yang ditulis pada tahun 1823. Buku ini menjelaskan peranan surau dalam menyebarkan agama Islam di pedalaman Minangkabau yang dikembangkan oleh murid-murid Syekh Burhanuddin Ulakan. Di samping itu, riwayat ulama ini telah diterbitkan dalam tulisan Arab Melayu oleh Syekh Harun At Tobohi al Faryamani (1930) dengah judul Riwayat Syekh Burhanuddin dan Imam Maulana Abdul Manaf al Amin dalam Mubalighul Islam. Buku ini menerangkan dengan jelas mengenai diri Pono, yang kemudian bergelar Syekh Burhanuddin. Diceritakan dengan jelas kehidupan keluarga, masa mengenal Islam dengan Tuanku Madinah kemudian berlayar ke Aceh untuk menimba ilmu kepada Syekh Abdurrauf al Singkli.

6

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Syekh Burhanuddin adalah salah seorang dari murid Syekh Abdur Rauf al Singkli yang dikenal juga dengan panggilan Syekh Kuala. Sekembali dari Aceh, Syekh Burhanuddin membawa ajaran Tharikat Syattariyah ke Ulakan pada bagian kedua abad ke-17. Dari Ulakan ajaran tarikat itu menyebar melalui jalur perdagangan di Minangkabau sampai ke Kapeh-kapeh dan Pamansiangan, kemudian ke Koto Laweh, Koto Tuo, dan ke Ampek Angkek. Di sebelah barat Koto Tuo berdiri surau-surau tarikat yang banyak menghasilkan ulama. Daerah ini dikenal dengan nama Ampek Angkek, berasal dari nama empat orang guru yang teruji kemasyhurannya. Murid-Murid yang belajar di surau Syattariah terbuka untuk mempelajari seluruh rangkaian pengetahuan Islam. Salah satu buku yang dipelajari Syekh Burhanuddin dan muridmuridnya adalah karya Abdurrauf yang memperlihatkan penghargaan yang tertinggi terhadap "syariat". Beberapa surau Syattariyah mempelajari cabang ilmu agama, sehingga terjadi spesialisasi pengajaran agama Islam di Minangkabau. Masing-masing surau itu memperdalam salah satu cabang ilmu agama, seperti: Surau Kamang dalam ilmu alat (nahu sharaf dan tata bahasa Arab), Koto Gadang dalam mantik ma'ani, Koto Tuo dalam ilmu tafsir
H.Mas’oed Abidin
7

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Quran, tarbiyah dan hadith), Surau Sumanik dalam ilmu faraidh (pewarisan) hadis; Surau di Talang dalam badi', maani dan bayan (tata bahasa Arab ). Dalam catatan lain terdapat sederetan para ahli dan penulis yang menyelidiki riwayat dan peranan Syekh Burhanuddin. Dari kisah perjalanan Thomas Diaz tahun 1684 yang diceriterakan de Haan, bahwa ulama ini telah melibatkan rakyat dalam politik agama yang dikenal dengan nama "perjanjian Marapalam" pada tahun 1686, yang kemudian hari melahirkan konsepsi, Adat tidak bertentangan dengan Syarak Penulis bangsa Indonesia seperti Hamka dalam bukunya, Sejarah Umat Islam (1961), Sidi Gazalba dalam Mesjid, Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam (1962) dan Prof. Muhmud Yunus dalam Sejarah Islam di Minangkabau (1969) mengupas peranan ulama Syekh Burhanuddin sebagai pengembang agama Islam yang berpusat di Ulakan.. Semua para penulis tersebut sepakat bahwa Syekh Burhanuddin adalah seorang ulama dan pengembang agama Islam di Minangkabau dilahirkan di Guguk Sikaladi Pariangan Padang Panjang dengan nama kecil Pono. Sebagai
8

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

seorang mubaligh yang mengembangkan agama Islam setelah memperdalam syariat Islam selama 10 tahun di Aceh, sekembali dari Aceh mendirikan surau di Tanjung Medan dan surausurau lainnya di Ulakan. Syekh Burhanuddin meninggal dunia pada hari Rabu 10 Syafar tahun 1116H atau 1704 M di Ulakan. Hari kematiannya dirayakan pengikutnya setiap tahun yang dikenal dengan nama "basapa". Jika 10 Syafar jatuhnya pada hari Rabu, akan diperingati sebagai "basapa gadang" , bersapar besar-besaran. Menurut perhitungan Prof. Mahmud Yunus, Pono lahir pada tahun 1066 H atau tahun 1641 M di Sintuk, Lubuk Alung, dan memperdalam agama pada Syekh Abdur Rauf selama 10 tahun, dan meninggal pada tahun 1116 H dalam usia 53 tahun. Ilmu pengetahuan agama yang dalam serta pengalaman kenegaraan yang diperdapat bersama gurunya, Syek Abdur Rauf yang menjadi seorang mufti pada Kerajaan Aceh, menciptakankan sistem pendidikan surau. Muridmurid yang diasuhnya kemudian menyebar di seluruh pelosok Minangkabau yang mendirikankan surau-surau sebagai pusat studi
9

H.Mas’oed Abidin

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

yang melahirkan cendekiawan ke pedalaman Minangkabau. Bahkan Syekh Burhanuddin mencapai kesepakatan dengan Yang Dipertuan Kerajaan Minangkabau yang menyatakan bahwa hukum adat dan hukum agama sama-sama dipakai sebagai pedoman hidup dalam masyarakat di Minangkabau. Ketentuan adat dan hukum agama Islam dalam masyarakat Minangkabau yang matrilineal sebagai suatu proses integrasi lebih dikenal dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. . Peninggalan Syekh Burhanuddin saat ini yang terpelihara dengan baik, seperti bangunan Surau Tanjung Medan dan Makam Ulakan yang dapat menjadi monumen sejarah dalam membantu menelusuri jejak sejarah yang dikandung monumen itu. Peninggalan sejarah itu dapat dijadikan salah satu sumber penulisan sejarah Syekh Burhanuddin. Surau Syekh Burhanuddin Peninggalan utama Syekh Burhanuddin yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik adalah bangunan surau di Tanjung Medan dan komplek makam di Ulakan yang menjadi tujuan ziarah bagi pengikutnya sebagai rasa hormat
10

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

kepada guru dan pengembang agama Islam di Minangkabau. Dari segi geografis, nagari Ulakan terletak di muara sungai Ulakan di tepi pantai barat Sumatra. Suatu kampung atau nagari yang terletak di tepi pantai paling cepat menerima perkembangan dan pertumbuhan. Secara alamiah Nagari Ulakan berbatas: a. Sebelah utara dengan Nagari Sunur dan Nagari Pauh Kambar b. Sebelah selatan dengan Nagari Tapakis c. Sebelah barat dengan Samudra Indonesia d. Sebelah timur dengan Nagari Tapakis Nagari Tapakis terdiri dari 19 jorong, yakni Padang Toboh, Maransi, Sungai Gimbar Ganting, Lubuk Kandang, Sikabu, Tiram, Kampung Ladang, Kampung Gelapung, Kampung Koto, Bungo Padang, Pasar Ulakan, Tengah Padang, Palak Gadang, Tanjung Medan, Binuang, Koto Panjang, Manggopoh Dalam, Manggopoh Ujung, dan Padang Pauh. Letak Jorong ini umumnya terletak sepanjang pantai atau pesisir, penduduknya sebagian besar terdiri dari nelayan. Di lingkungan seperti inilah peninggalan Syekh Burhanuddin berupa makam di Ulakan dan Surau di Tanjung Medan.
H.Mas’oed Abidin
11

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Setelah bandar Malaka diduduki oleh Portugis pada tahun 1511, jalan dagang berpindah dari Aceh, pantai barat Sumatra, Banten, Giri di Jawa Timur, Goa dan Tello di Sulawesi, dan Ternate Tidore di Maluku. Di pantai barat Sumatra tumbuh kota-kota perdagangan seperti Meulaboh, Sibolga, Tiku Pariaman, Indrapura. Ulakan, sebagai kota pelabuhan dagang, mengalami kemajuan karena disinggahi oleh para pedagang berbagai daerah dan dari luar negeri seperti saudagar Gujarat, India, Arab dan Cina.Ulakan menjadi suatu pelabuhan penting dan pintu gerbang bagi daerah Minangkabau di masa itu, dan tempat bertemu saudagar-saudagar yang beragama Islam. Peninggalan Syekh Burhanuddin Pada batu nisan Syekh Burhanuddin tercantum hari wafatnya pada tanggal 10 Syafar 1116 H bertepatan dengan hari Rabu atau 1704 H. Ia meninggal pada umur yang masih muda, 45 tahun, karena ia dilahirkan pada tahun 1646. Ketika berangkat ke Aceh ia berumur 15 tahun dan masa belajar di Aceh selama 10 tahun, kegiatan dakwah berlangsung selama 20 tahun.
12

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Di kiri kanan makam Syekh Burhanuddin terdapat makam penggantinya yang disebut khalipah bernama Abdur Rahman dan khatib pertama nagari Ulakan, Idris Majolelo. Ketiga makam ini terletak di bawah bangunan empat persegi 2,5 x 2,5 m. Bangunan ini seolah-oleh sebuah masjid kecil yang mempunyai sebuah kubah berdinding teralis besi. Pada loteng tergantung tirai-tirai, hadiah dari para peziarah Setiap datang rombongan baru tirai itupun diganti. Pengganti-pengganti Syekh Burhanuddin adalah Tuanku-tuanku yang menjadi khalipah, mulai dari Abdur Rahman, Mukhsin sampai khalipah ke-16, Tuanku Mudo. Di halaman bangunan berkubah terdapat beberapa makam para pengikutnya, khalipah-khalipah atau pewarisnya. Kebanyakan telah rata dengan tanah. Sebagai pertanda bahwa semuanya itu makam ialah adanya batu nisan terbuat dari batu alam berbentuk persegi panjang. Di bagian muka makam terdapat sepuluh lokan besar 20 x 30 m tersusun di sebelah kiri kanan jalan yang menghubungkan makam dengan bangunan 100 x 80 cm. Lokan-lokan ini dianggap para pengikutnya mempunyai berkah yang dapat menyembuhan berbagai penyakit. Dekat makam
H.Mas’oed Abidin
13

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

terdapat pula sebuah bangunan yang berguna celengan bagi orang yang berwakaf. Lokasi bangunan ini dipagar dengan tembok lebih kurang 1 m. Luas areal yang terpagar adalah 8 x 7.5 m. Di luar pagar terdapat pula makam-makam yang banyak, yang dipagar dengan tembok tinggi 1,5 m dan luasnya 8,5 x 12,5 m. Di luar pagar ini baru terdapat halaman yang luas dikelilingi oleh kira-kira 200 buah surau dan di tengahnya terletak sebuah masjid. Surau-surau ini merupakan perwakilan dari daerah atau nagari di Sumatra Barat yang juga berfungsi sebagai tempat menginap para peziarah. Makam Syekh Burhanuddin dan makam lainnya, sangatlah sederhana, ditandai oleh dua buah nisan dari batu andesit dengan pengerjaan sederhana tanpa variasi yang penting sebagai monumen sejarah Surau Syekh Burhanuddin terletak di desa Tanjung Medan, 6 km dari makam Ulakan. Lokasi surau agak masuk ke dalam dari jalan raya melalui jalan tanah yang cukup baik. Surau terletak di atas tanah yang datar dengan halaman yang luas.

14

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Tanah lokasi surau Syekh Burhanuddin adalah tanah yang dihadiahkan oleh Raja Ulakan bergelar Mangkuto Alam kepada Idris Majolelo atas jasanya semasa Syekh Burhanuddin belajar di Aceh. Surau, semacam pesantren, ialah bangunan tempat mengaji dan belajar ilmu agama Islam. Syekh Burhanuddin seorang ulama dan mubaligh, maka Surau Syekh Burhanuddin terdiri dari dua bangunan, yaitu: 1) Bangunan serambi berdenah segi empat panjang sebagai bangunan tambahan yang dibuat kemudian. Bangunan ini beratap gonjong dan berfungsi sebagai entrance hall dan keseluruhan bangunan itu terbuka. Lantainya beralaskan plesteran semen dan bukan beralaskan papan sebagai halnya rumah gadang. Bangunan berdenah segi empat bujur sangkar yang terletak di belakang serambi. Pada prinsipnya bangunan ini dengan struktur konstruksi joglo, sebagaimana masjid kuno di Jawa, di antaranya masjid Demak. Namun sesuai dengan keadaan dan kebiasaan orang Minangkabau, bangunan ini dengan struktur berkolong (loteng dan panggung). Dengan struktur bangunan joglo ini, dalam surau terdapat empat tiang utama dikelilingi dua deretan anak tiang. Pada deretan pertama
H.Mas’oed Abidin
15

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

berjumlah 12 tiang dan pada deretan kedua 20 anak tiang. Dengan empat tiang utama atau tiang panjang (soko guru, Jawa) di tengah dengan dua deretan anak tiang disekelilingnya, maka struktur bangunan ini dengan atap bersusun tiga, dinding ruangan melekat pada deretan anak tiang kedua ( 20 tiang). Tiang sesamanya dihubungkan dengan kayu yang disambung dengan rotan yang disimpai. 2) Atap surau Syekh Burhanuddin ada persamaannya dengan beberapa surau lainnya di Minangkabau, di antaranya surau Koto Nan Ampek di Payakumbuh dan surau Lima Kaum di Tanah Datar. Masih terlihat perkembangan arsiterktur konstruksi atap tumpang dengan bentuk berpuncak dengan hiasan mahkota, sama dengan masjid Demak yang dibangun dalam abad ke-16. 3) Arsitektur surau Syekh Burhanuddin masih mempunyai persamaan dengan masjid di Kota Waringin lama di Kalimantan yang dibangun sekitar abad ke-17. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai prototip masjid Demak. Dengan perbandingan tersebut, arsitektur surau Syekh Burhanuddin pembangunannya dalam abad ke-17. Hal ini diperkuat dengan mihrab tanpa atap tersendiri sebagaimana
16

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

masjid Demak. Berbeda dengan mihrab masjid lainnya di Minangkabau yang selalu dengan atap tersendiri. 4) Bahan bangunan Syekh Burhanuddin seluruhnya dari kayu, baik tiang maupun konstruksi atap dan dinding. Atapnya dulu terdiri dari ijuk yang kemudian diganti dengan atap seng pada tahun 1920. Struktur bangunan surau dikerjakan dengan kayu yang sederhana tanpa pengerjaan yang sempurna menurut ukuran sekarang. Masih terlihat bentuk asli kayu dengan lengkung-lengannya. Hal ini menunjukkan, bagaimana pekerjaan bangunan masa itu. Tiang utama terdiri dari kayu seutuhnya dengan sedikit dikerja mengambil bentuk segi-8, dan hubungan antara tiang dengan kayu lainnya diikat dengan rotan tanpa paku. Artinya bangunan ini tidak mempergunakan paku kayu. 5) Tiang-tiang terletak di atas sandi dari batu umpak seutuhnya yang terletak di atas tanah yang ditinggikan. Pada beberapa bagian ada perbaikan yang sifatnya mencegah kerusakan, namun masih nampak keasliannya. Bangunan surau Syekh Burhanuddin belum pernah mengalami perubahan, selain penambahan serambi.
H.Mas’oed Abidin
17

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Masa Kecil Syekh Burhanuddin Tidak banyak keterangan mengenai masa kecil dan latar belakang kehidupan Syekh Burhanuddin yang berkubur di Ulakan itu. Nama kecilnya adalah Pono. Lahir di Pariangan Padang Panjang tahun 1066H (1646 M). Ayahnya bernama Pampak Sakti gelar Karimun Merah, suku Koto. Ibunya bernama Cukup Bilang Pandai, suku Guci. Kehidupan kedua orang tuanya beternak sapi. Keluarga Pampak Sati gelar Karimun Merah meninggalkan kampung halamannya, Pariangan Padang Panjang. Perjalanan dari Pariangan turun ke Malalo, terus ke Bukit Punggung Jawi terus ke Asam Pulau, dekat Kayu Tanam. Dengan menghilirkan batang Tapakis sampai keluarga ini di Sintuk. Jalan ini merupakan jalan dagang yang diawasi oleh Tuan Gadang dari Batipuh. Di tempat inilah keluarga Pampak memulai kehidupan baru. Usaha lama dikembangkannya karena daerah Sintuk mempunyai padang rumput yang subur. Pono dengan rajin dan patuh menggembalakan ternak ayahnya sehingga berkembang biak yang membawa keluarga Pampak termasuk keluarga terpandang di daerah baru ini.
18

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Pono berjalan menghiliri Batang Tapakis mencari padang rumput baru. Di nagari Tapakis, bersebelahan dengan nagari Ulakan, Pono mendapat teman baru, seorang pemuda sebaya dengan dia. Teman itu ialah Idris Majolelo, suku Koto, berasal dari Tanjung Medan. Beliau mempunyai budi pekerti yang halus. Di nagari Tapakis berdiam seorang ulama berasal dari Aceh yang bernama Syekh Abdul Arif yang terkenal dengan gelar Tuanku Madinah yang disebut juga Tuanku Air Sirah. Air Sirah adalah nama jorong di nagari Tapakis, tempat Syekh Abdul Arif bermukim dan mengajar. Pembantu utamanya adalah Syahbuddin, Syamsuddin dan Basyaruddin.Ulama ini seangkatan dengan Syekh Abdur Rauf al Singkli dan sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad Kosasih dan Syekh Abdul Qadir al Jailani di Madinah. Syekh Abdul Arif dengan sabar dan gigih mengajar agama Islam kepada anak nagari. Hasilnya belum menggembirakan. Anak nagari lebih teguh memegang adat istiadat jahiliyah dan kepercayaan lama. Dengan ajakan Idris Majolelo akhirnya Pono berkenalan dengan agama Islam dan langsung mengucapkan dua kalimat tauhid menjadi penganut agama yang khalis di hadapan Tuanku
H.Mas’oed Abidin
19

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Madinah Beliau belajar dengan tekun dan rajin serta mengamalkan segala fatwa gurunya. Pono termasuk murid yang terpandai karena ketekunan dan kecerdasan otaknya. Tidak berapa lama, tiba-tiba Tuanku Madinah meninggal dunia. Pono sering bermenung dan terharu atas kepergian Tuanku Madinah. Alangkah sedihnya Pono karena secara tidak diduga sama sekali guru yang dihormati dan disayanginya telah tiada. Harapan Pono untuk mengeruk sebanyak mungkin ilmu gurunya itu menjadi gagal. Dengan perasaan hiba dan putus harap, Pono kembali ke Sintuk. Beliau sering bermenung dan terharu atas kepergian Tuanku Madinah. Beliau menyendiri dari pergaulan ramai, mengingat kemungkaran yang sering dilakukan anak nagari. Untuk mengobati hati yang luluh beliau dengan tekun dan sepenuh hati mengamalkan fatwa gurunya dan ajaran Islam yang diperoleh selama belajar dengan almarhum Tuanku Madinah. Dengan sembunyi-sembunyi, Pono sempat mengajar serta meyakinkan teman-teman dekatnya akan hakekat kebenaran ajaran Islam. Lambat laun agama Islam mulai meresap di hati sebahagian kecil penduduk Sintuk.
20

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Dakwah Pono demikian tidak berlangsung lama. Tantangan demi tantangan datang dari anak nagari, terutama para penghulu suku dan pimpinan nagari. Mereka merasa wibawa mereka akan berkurang karenanya. Akhirnya mereka menasehati Pono agar segera meninggalkan kegiatan dakwahnya. Namun Pono tetap melaksanakannnya. Akibatnya tantangan semakin menjadi. Mula-mula mereka menganiaya ternak ayahnya dan kemudian dengan ancaman pengusiran. Puncak tantangan adalah ketika keputusan musyawarah nagari untuk membunuh Pono apabila tidak segera menghentikan dakwahnya. Pono tidak mendapat tempat berpijak lagi di Sintuk. Memperdalam Ilmu ke Aceh Pada saat krisis ini menyadarkan Pono dari kekhawatirannya. Kembali segar dalam ingatannya pesan almarhum gurunya, Tuanku Madinah, agar memperdalam ilmu agama kepada seorang ulama besar Abdur Rauf al Singkli. Pesan guru ini disampaikan dengan khidmat kepada kedua orang tuanya dan mereka merestuinya. Secara diam-diam mereka berserah diri ke hadapan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam usia muda, 15 tahun, malam hari Pono
H.Mas’oed Abidin
21

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

meningalkan negari Sintuk menuju Aceh guna memenuhi pesan gurunaya, Tuanku Madinah Dengan berat hati kedua orang tuanya melepas kepergian anak tercinta. Kemudian Pono sujud dan mohon maaf. Air mata terus membasahi pipinya. Pada saat itu Pono dan bangkit keluar rumah. Langkah pertama menuju Aceh kelak mempunyai nilai tersendiri dalam peristiwa perkembangan Islam di Minangkabau. Dia berangkat secara diam-diam, khawatir diketahui oleh mata-mata pemimpin nagari itu. Bekalnya adalah semangat dan tekad yang bulat serta penyerahan diri kepada Allah. Tujuannya ke Singkil di Aceh Selatan berguru kepada Syekh Abdur Rauf al Singkli, seorang ulama yang masyhur waktu itu memenuhi amanat almarhum gurunya yang pertama, Tuanku Madinah. Pono sudah berangkat. Nagari Sintuk sudah jauh ditinggalkan. Tanpa kawan ia menyusuri pesisir Samudra Indonesia. Secara kebetulan, dalam perjalanan ia bertemu dengan empat orang pemuda sebaya dengan dia. Mereka lalu berkenalan, dan ternyata mereka mempunyai niat yang sama, hendak pergi ke Aceh untuk menuntut ilmu agama kepada Syekh Abdur Rauf. Mereka adalah Datuk Maruhum dari Padang Ganting, Tarapang dari Kubuang Tigo
22

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Baleh, Muhammad Nasir dari Koto Tangah, dan Buyung Mudo dari Bayang Tarusan. Terjadilah persahabatan di antara mereka. Setelah melalui musyawarah didapat kata sepakat, Pono diangkat menjadi kepala rombongan yang diterimanya dengan penuh rasa tanggung jawab. Melalui suka dan duka selama dalam perjalanan, akhirnya dengan selamat mereka sampai di Singkil langsung menghadap dan memperkenalkan diri kepada Syekh Abdur Rauf. Niat yang dikandung semenjak dari kampung halaman disampaikan dengan sopan. Dengan segala senang hati Syekh Abdur Rauf menerima dan mengabulkan permohonan calon muridnya.

Pengaruh Syekh Abdurrauf al Singkli (1620 -1693) Syekh Abdurauf Singkel1 adalah seorang ulama terkenal dalam abad ke-17. Ia dilahirkan pada tahun 1620 di Singkel, Kabupaten Aceh Selatan sekarang. Nama lengkapnya ialah Abdurrauf al Ali al Jawi al Fansuri al Singkel.2 Syekh Abdurauf Singkel dimuliakan oleh rakyat Aceh sejak dahulu hingga sekarang.
H.Mas’oed Abidin
23

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Banyak legenda mengenai Syekh Abduurauf yang terus hidupdan dikenal turun temurun. Archer dalam bukunya, Muhammadan Mysticism in Sumatera mengatakan, "Syekh Abdurauf Singkel, seorang cendekiawan muslim Aceh yang sekarang dikenal dengan nama Tengku Dikuala. Nama tertancap dalam lubuk hati rakyat sebagai ulama dan intelektual yang jenius pada zamannya.3 Sesudah mendapat pendidikan di kampung halamannya dan diibu kota Kerajaan Aceh, ia melanjutkan studinya ke tanah Arab. Pada tahun 16423, ia berangkat ke Mekah. Selama 19 tahun lamanya di tanah Arab, di antaranya Mekkah, Madinah, Jeddah, Mokka, Zebid, Batalfakih dan beberapa tempat lainnya. Syekh Abdurauf menyelesaikan studinya pada seorang ulama Tharikat Syattariah yang bernama Molla Ibrahim, pengikut Ahmad Qusyasyi. Pada tahun 1661, ia kembali ke Aceh. Sesampainya di Aceh, ia mendirikan rangkang (pesantren) dekat muara sungai Aceh. Dari berbagai penjuru Asia Tenggara orang datang ke tempatnya untuk belajar.4 Atas usaha murid-muridnya, Tharikat Syattariah yang kemudian tersebar ke seluruh Indonesia dan Semenanjung Malaya. Di antara muridnya yang
24

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

terkenal ialah Syekh Burhanuddin di Ulakan seorang mubaligh yang terkenal di Minangkabau yang menyiarkan agama Islam secara intensif ke pedalaman Minangkabau. Di samping sebagai mubaligh dan ulama, Syekh Abdurauf terus menerus memperdalam ilmunya dalam lapangan hukum. Sebuah karyanya dalam lapangan hukum berjudul, " Hudayah Balighah ala Jum'at al Mukhasaman" yaitu sebuah kupasan mengenai hukum Islam tentang bukti, persaksian dan sumpah palsu. Pendapat Syekh Abdurauf di lapangan hukum syariat sangat dipatuhi rakyat Aceh dan buah pikirannya terus hidup sampai sekarang dan lebur menjadi kaedah hukum adat dalam masyarakat Aceh. Kesanggupan Syekh Abdurauf merumuskan hukum-hukum Islam sangat dikagumi sehingga syariat Islam dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat Aceh saat ini. Syariat Islam telah dijadikan Peraturan Daerah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Karyanya yang berjudul, Miratul Tullab fi tasyil Makrifatul Ahkam Asysyar'iyah li Malikul Wahhab, merupakan sebuah buku pengantar Ilmu Fikih menurut Mazhab Syafi'i. Buku ini hampir sama dengan karya Nuruddin Ar Raniri yang berjudul Sirathul Mustaqim. Bedanya buku
H.Mas’oed Abidin
25

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Nuruddin ar raniri hanya berisi soal-soal ibadah saja, tetapi buku Syekh Abdurauf berisi juga tentang mu'amalah. Kupasannya mengenai pokok-pokok ajaran tasauf termuat dalam bukunya berjudul Kifayat al Muhtajin, Daqaiq al Huruf, Bayan Tajalli, dan Umdat al Muhtadin. Tafsir al Quran dalam bahasa Melayu telah diterbitkan di Istambul pada tahun 1882. Kegiatannya sebagai ulama dan mubaligh sebagian besar dilakukan pada masa pemerintahan Sulthanah Syafiatuddin, seorang sultan yang memerintah selama 34 tahun. Masa pemerintahan pemerintahannya adalah masa yang penuh luka-luka karena kekalahan armada Aceh ketika menyerang Malaka pada tahun 1629. Sementara pertentangan faham agama tindakan kekerasan yang dilakukan semasa pemerintahan Sulthanah Syafiatuddin dalam membasmi ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al Sumatrani dalam ajaran Syattariah tentang Wihdatul wujud. Bentuk dan sifat pertentangan antara Syekh Abdurrauf dan Ar Raniri dengan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al Sumatrani berpangkal pada adanya dua aliran dalam ilmu tasauf. Aliran
26

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al Sumatrani bernama wihdatulwujud atau kesatuan ujud. 5 Wihdatusysyuhud ialah faham umum umat Islam yang menyatakan bahwa alam yang baru iniadalah sebagai kesaksian dari pada adanya Tuhan. Jadi, bukkanlah alam itu sebagian dari Tuhan, melainkan sebagai tanda adanya Tuhan. Pertentangan ini telah ada pada masa Iskandar Muda, namun atas kebijaksanaan Iskandar Muda tidak menimbulkan kekacauan.6 Namun dalam bidang kebudayaan, sinar kerajaan Aceh semakin bersinar. Aceh masyhur sebagai pusat kebudayaan dan intektual Islam di Asia Tenggara. Syekh Abdurauf adalah seorang ulama dan mubaligh yang membenarkan seorang wanita menjadi Sulthanah yang menunjukkan pikirannya yang maju untuk masanya. Bahkan sampai sekarang masih ada ulama yang tidak membenarkan wanita menjadi pemimpin bangsa. Pada hari Jum'at tanggal 4 Sya'ban 114 H atau 1698 M, Syekh Abdurauf berpulang ke rahmatullah. Pada batu nisannya terlukis Al Waliyul Malki Syekh Abdurrauf bin Ali. Namanya kemudian lebih dikenal dengan sebutan Syiah Kuala. Sesudah ia meninggal dikenal dengan nama Tengku di Kuala atau Syiah
H.Mas’oed Abidin
27

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Kuala. Ia mengambil tempat untuk mengajar di kuala (muara) Krueng (sungai) Aceh dan di sana pula ia dikuburkan. Syekh Abdur Rauf berhasil menyelesaikan studinya dengan baik. Kemudian beliau kembali ke Aceh langsung mendirikan rangkang (pesantren) dekat muara Krueng Aceh. Kegiatan rangkang ini maju pesat. Kemampuan Syekh Abdur Rauf merumuskan hukum-hukum Islam dalam bentuk sederhana dan mudah dicernakan, menyebabkan syariat Islam dapat diterima dan dilaksanakan masyarakat Aceh. Atas dasar pengetahuannya di bidang hukum agama, ia diangkat menjadi mufti kerajaan Aceh. Syekh Abdur Rauf adalah seorang sufi dari aliran Syattariah dan bermazhab Syafe'i. Fahamnya dalam tasauf tergolong dalam faham yang dinamakan Wihdatusysyuhud, jadi tidak berbeda faham pendirian Nuruddin Ar Raniri. Dalam polemik beliau menentang ajaran-ajaran Hamzah Fanshuri dan Syamsuddin As Sumatrani cukup tegas dan keras, tetapi tetap bijaksana sehingga kekacauan dan peperangan agama tidak terjadi dalam masyarakat . Sejak masa Sulthan Iskandar Muda telah tinggi perbincangan ulama-ulama dalam hal agama, yang terpenting pertentangan antara
28

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

faham wihdatul ujud,"alam ini adalah ciptaan dari bahagian ketuhanan sendiri, laksana buih pada puncak ombak. Maka dalam alam zahir ini sebagai bahagian dari pada ketuhanan yang besar. Menurut ahli tasauf dari aliran ini, duania adalah hanya emanasi atau pancaran dari inti sari yang tidak tercipta Wihdatusyuhud ialah paham yang rata pada umat Islam, bahwa alam yang baharu ini adalah sebagai kesaksian dari pada adanya Tuhan. Jadi bukanlah alam ini sebagaian dari Tuhan, melainkan sebagai tanda dari pada adanya Tuhan. Karya-karya yang pernah beliau tulis, antara lain: 1. Hudayah Balighah 'ala Jum'at al muchasanah, suatu pembahasan mengani hukum Islam tentang: bukti, kesaksian dan sumpah palsu. Buah pikirannya ini menjadi pedoman dan kaedah hukum adat dalam masyarakat Aceh hingga dewasa ini. 2. Miratul Tullab fi Tasyl Ma'rifatul Asysyariah li makhluk Wahhab kupasan mengenai pengantar Imu Fiqih menurut mazahab Syafii. 3. Kifayat al Muhtajin, Daqaiq al Huruf, Bayan Tajalli, suatu kupasan mengenai pokok-pokok
H.Mas’oed Abidin
29

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

ajaran tasauf dan dalam lapangan ini.

dasar-dasar

pendiriannya

4. Syair makrifat, karangan dalam bentuk puisi. 5. Tafsir al Qur an, dalam bahasa Melayu. Syekh Abdurrauf wafat tahun 1114 Hijriyah dimakamkan dekat muara sungai Aceh. Pada makam beliau dibuat orang hiasan tulisan yang berbunyi Al Waliyul mulki Syekh Abdur Rauf bin Ali, menunjukkan betapa besar peranannya dalam kerajaan Aceh pada waktu itu Setelah meninggal dunia beliau lebih dikenal dengan sebutan Tengku di Kuala atau Syekh Kuala. Kepada ulama dan mubaligh inilah Pono menuntut ilmu dan memperdalam ajaan Islam selama 10 tahun. Lebih-lebih ketika Syekh Abdur Rauf al Singkli diangkat Sulthanat Syafiatuddin sebagai mufti Aceh, Pono dapat belajar tentang kehidupan istana dalam hubungannya dengan kegiatan masyarakat Aceh. Syekh Abdur Rauf memberikan perhatian istimewa pula kepada Pono. Hubungan antara murid dengan guru terlihat sangat intim. Di samping belajar, Pono membantu guru menggembalakan ternaknya. Membuat dan memelihara kolam ikan sebagai bagian dari
30

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

kegiatan rangkang ini. Murid-murid di rangkang Syekh Abdur Rauf harus berusaha sendiri dan mempunyai ketrampilan untuk memenuhi keperluan hidup. Pono diajak tinggal serumah dengan guru. Tugas Pono bertambah dengan mengasuh anakanak sang guru. Pono sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh Syekh Abdur Rauf. Minat serta perhatiannya sungguh luar biasa diikuti dengan daya tangkap yang tinggi. Tidak mengherankan Pono termasuk murid yang terpandai di antara pelajar di sana. Karena itulah Syekh Abdur Rauf mencurahkan sekalian ilmu yang pernah dimilikinya, dan kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh Pono. Ilmu yang dipelajarinya ialah ilmu syariat Islam dengan cabang-cabangnya tauhid, tasauf, nahu, sharaf, hadits dan juga ilmu taqwim (hisab). Setelah melalui ujian-ujian berat dilengkapi dengan berkhalwat selama 40 hari di gua hulu sungai Aceh, di kaki Gunung Peusangan, sebelah selatan Beureun, akhirnya Pono berhasil lulus dengan baik. Syekh Burhanuddin Minangkabau kembali ke

H.Mas’oed Abidin

31

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Setelah cukup menerima ilmu pengetahuan selama beberapa than tibalah masanya Syekh Burhanuddin meninggalkan Aceh. Masa pendidikan diakhiri dengan perpisahan antara guru dan murid dengan penuh kasih sayang.Terjadi percakapan antara Syekh Abdur Rauf dengan Syekh Burhanuddin yang berbunyi sebagai berikut: "Malam ini berakhirlah ketabahan dan kesungguhan hatimu menuntut ilmu tiada taranya. Suka duka belajar telah engkau lalui dengan sepenuh hati. Berbahagialah Engkau, dengan rahmat dan karunia Tuhan, telah selamat menempuh masa khalwat 40 hari lamanya. Engkau beruntung di dunia dan berbahagia di akhirat kelak. Sekarang pulanglah engkau ke tanah tumpah darahmu menemui ibu bapamu yang telah lama engkau tinggalkan. Di samping itu tugas berat dan mulia menantimu untuk mengembangkan Islam di sana." "Syukur Alhamdulillah", Burhanuddin. kata Syekh

"Hatimu telah terbuka dan aku mendoa ke hadhirat Allah subhanahu wata'ala, semoga cahaya hatimu menyinari seluruh alam Minangkabau. Kini, engkau, aku lepaskan. Namun dengar baik-baik! Guru di Madinah ada
32

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

empat orang, yakni Syekh Ahmad al Kusasi, Syekh Qadir al Jailani, Syekh Laumawi. Ketika aku berangkat ke tanah Jawi ini beliau memberi amanat yang harus kusampaikan kepadamu. Sesungguhnya nama Burhanuddin yang engkau pakai adalah nama pemberian guruku itu dan ia mengirimkan sepasang jubah dan kopiah. Terimalah ini dari padaku supaya sempurna amanat yang kubawa dan suatu kemuliaan bagi engkau dengan sepasang pakaian ini tanda kebesaran ilmu yang penuh di dadamu!" Hari ini adalah saat perpisahan antara guru dengan murid dan meninggalkan mesjid Singkil untuk selama-lamanya bagi Syekh Burhanuddin. Syekh Abdur Rauf melepas Syekh Burhanuddin dengan sebuah taufah dan menyediakan perahu disertai sembilan orang yang akan mengawalnya selama dalam perjalanan. Rombongan ini dipimpin oleh Tuanku Nan Basarung dengan pesan supaya mengantarkan Syekh Burhanuddin sampai di kampung halamannya. Pada saat itu telah terjadi perubahan hubungan antara Aceh dengan Minangkabau. Daerah yang selama ini berada di bawah kekuasaan Aceh satu persatu ingin melepaskan diri. Demikian juga halnya dengan Minangkabau.
H.Mas’oed Abidin
33

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Telah terjadi beberapa kali perkelahian dan peperangan yang banyak memakan korban. Di antaranya gugur seorang panglima bernama Sisangko, kemenakan panglima Kacang Hitam, cucu Ami Said yang berkubur di Pulau Angso. Perahu Syekh Burhanuddin mendarat di Pulau Angso di muka pantai Pariaman untuk beristirahat dan meninjau keadaan di darat. Bersama dengan pengawalnya kemudian mereka mendekati pantai Ulakan. Perahu Syekh Burhanuddin adalah perahu Aceh, sehingga penduduk di sekitar pantai telah siap berjagajaga lengkap dengan senjata menunggu kemungkinan yang akan terjadi. Melihat keadaan seperti itu Syekh Burhanuddin berpendapat lebih baik kembali ke Pulau Angso menunggu saat yang baik. Namun, Tuanku Nan Basarung berpendapat lain. Tugasnya adalah mengantarkan orang kampung mereka sendiri yang telah merantau ke Aceh beberapa tahun. Dengan keras hati ia mendayung sendiri ke pantai. Ia disambut dengan perkelahian melawan orang banyak. Walaupun ia memperlihatkan keberaniannya, namun akhirnya ia gugur dalam melakukan tugas yang diembannya. Syekh Burhanuddin tinggal sendirian di Pulau Angso setelah
34

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

pengawalnya yang delapan orang itu disuruhnya kembali ke Aceh. Ia berpesan kepada Syekh Abdur Rauf bahwa ia telah sampai di kampung halamannya dan akan menyelamatkan jenazah Tuanku Nan Basarung. Melalui seorang nelayan, Syekh Burhanuddin mengirimkan sepucuk surat kepada teman akrabnya, Idris Majo Lelo yang menyatakan beliau sudah kembali dari Aceh dan sekarang berada di Pulau Angso. Perahu yang mendekati pantai Ulakan kemarin adalah perahu saya yang sengaja dikirim oleh Syekh Abdur Rauf. Setelah menerima surat tersebut, Idris Majo Lelo menyampaikan isi dan maksud surat tersebut kepada pemimpin dan rakyat Ulakan. Besoknya, Idris Majo Lelo diiringi beberapa orang menjemput ulama ini ke pantai Kenaur dekat Pariaman. Kedua teman ini berjabat tangan setelah sekian lama berpisah. Sesaat kemudian mereka berangkat ke Padang Langgundi, Ulakan. Di sanalah mereka bermalam. Sebagai tanda kenang-kenangan kembali dari menuntut ilmu, Syekh Burhanuddin menanam ranting pinago biru yang dibawa dari Aceh. Beliau berpesan kepada Idris Majo Lelo bila ajal sampai kelak ia dikuburkan dekat pinago biru ini.
H.Mas’oed Abidin
35

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Menyebarkan Ajaran Islam Di Tanjung Medan ada sebidang tanah milik Idris Majo Lelo, pemberian dari Raja Ulakan. Ke sanalah Syekh Burhanuddin dibawanya. Dimulainyalah tugas suci mengajar dan menyebarkan ajaran Islam. Usaha pertama dilakukannya di lingkungan keluarga Idris Majo Lelo. Kemudian diikuti oleh tetangga terdekat. Walaupun mendapat tantangan dari golongan ninik mamak dan pemimpin mesyarakat lainnya yang khawatir pengaruhnya akan berkurang, namun akhirnya sebagian besar masyarakat Tanjung Medan sudah menganut agama Islam yang taat. Syekh Burhanuddin meresapkan agama Islam dengan cara lunak dan berangsur-angsur. Jalan yang dilakukan adalah menerapkan salah satu ayat al Quran yang berbunyi la iqraha fiddin, tidak ada paksaan dalam menjalan agama. Kegagalan sewaktu di Sintuk dulu diperbaikinya sekarang setelah mendapat ilmu dakwah dari gurunya, Syekh Abdur rauf. Ternyata cara baru ini berhasil dilaksanakan dengan baik. Beliau yakin bahwa kegagalan di Sintuk merupakan keberhasilan yang tertunda,
36

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

yang baru menampakkan hasil setelah beliau melakukan dakwah islamiyah di dalam dan di luar nagari Ulakan. Dalam usaha meresapkan ajaran Islam terutama diarahkan kepada anak-anak yang masih "bersih" dan mudah dipengaruhi. Diusahakan oleh Syekh Burhanuddin agar anakanak bermain di halaman surau. Syekh Burhanuddin ikut pula bermain bersama-sama dengan anak-anak tersebut. Setiap memulai permainan Syekh Burhanuddin selalu mengucapkan nama Tuhan, bismillahir rahmanir rahim dan bacaan doa-doa lain. Itulah sebabnya anak-anak tertarik ingin belajar dan ingin mengetahui isi doa yang dibaca beliau. Setelah murid-murid makin banyak mengaji, akhirnya setelah dimusyawarahkan secara gotong royong dibangun sebuah surau di Tanjung Medan yang sampai sekarang dapat kita saksikan tempat mengaji bagi anak-anak dan santri.

Kesepakatan Bukit Marapalam Berita kegiatan Syekh Burhanuddin di Ulakan ini meluas sampai ke daerah lain, ke Gadur Pakandangan, Sicincin, Kapalo Hilalang, Guguk
H.Mas’oed Abidin
37

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Kayu Tanam terus ke Pariangan Padang Panjang dan akhirnya sampai ke Basa Ampek Balai dan raja Pagaruyung sendiri. Alam Minangkabau waktu itu menjadi goncang dan perhatian tertuju ke Ulakan sebagai pusat pendidikan dan penyiaran Islam dengan mengintensifkan ke seluruh pelosok Minangkabau. Cara yang dilakukan ialah, dengan meminta restu kepada Raja Pagaruyung. Apabila Raja telah yakin akan kebenaran agama Islam ini Alam Minangkabau akan mudah dipengaruhi. Secara kebetulan, salah seorang temannya belajar di Aceh, Datuk Maruhum Basa, diangkat oleh Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung sebagai Tuan Kadhi di Padang Ganting. Dengan diiringkan oleh Idris Majo Lelo, Syekh Burhanuddin menemui Raja Ulakan yang bergelar Mangkuto Alam, kemenakan Datuk Maninjun Nan Sabatang dan Ami Said, cucu Kacang Hitam dengan maksud menyampaikan niatnya memperluas ruang lingkup kegiatan dakwah. Dengan kepandaian berbicara akhirnya Mangkuto Alam ditunjuk menghadap Daulat Raja Pagaruyung. Ajakan ini diterima baik oleh Mangkuto Alam setelah dimusyawarahkan dengan "Orang Nan Sebelas di Ulakan."

38

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Berangkatlah Syekh Burhanuddin dan Idris Majo Lelo bersama dengan Mangkuto Alam dan Orang Nan Sebelas Ulakan dengan diiringkan hulubalang seperlunya menghadap Daulat Yang DipetuanRaja pagaruyung. Pertama yang ditemui Datuk Bandaharo di Sungai Tarab. Atas inisiatif Datuk Bandaro diundanglah basa Ampek balai untuk membicarakan maksud dan tujuan "orang Ulakan" tersebut., minta izin menyebarluaskan ajaran Islam di Minangkabau. Tempat sidang diadakan di sebuah bukit yang dikenal dengan nama "Bukit Marapalam" Keduanya merupakan norma hukum dan saling isi mengisi yang akan jadi pedoman hidup masyarakat Minangkabau. Inti sari konsepsi Marapalam melahirkan ungkapan "adat basandi syarak, sebagaimana disinggung oleh Scherieke dalam bukunya "Pergolakan Agama di Sumatra Barat (terjemahan) sejak tahun 1668 konsepsi Marapalam itu dicetuskan sehingga alim ulama di Minangkabau telah dapat melibatkan rakyat dalam suatu aksi politik agama. Konsepsi Marapalam ini dengan kerendahan hati disampaikan ke hadapan daulat Raja Pagaruyung. Kepada pembesar kerajaan dimintakan pertimbangan yang diterima dengan suara bulat.
H.Mas’oed Abidin
39

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Syekh Burhanuddin dan pengikutnya diberikan kebebasan seluas-luasnya mengembang agama Islam di seluruh Alam Minangkabau. Dalam pepatah adat disebutkan batasbatasnya, " di dalam lareh nan duo, luhak nan tigo, dari ikue darek kapalo rantau sampai ke riak nan badabue" Syekh Burhanuddin dengan gerakannya dilindungi oleh kerajaan Pagaruyung. Bagaimana usaha Syekh Burhanuddin berhasil mencapai kesepakatan dalam waktu yang singkat dengan Yang Dipertuan Raja Pagaruyung? Tak heran peranan gurunya di Aceh dengan filsafah "adat bak po teumeureuhum, huköm bak syiah kuala", (adat kembali pada raja, Iskandar Muda, hukum agama pada Syiah Kuala) teralir dalam pikiran muridnya Syekh Burhanuddin di Ulakan. Daerah pesisir sebagai bagian dari rantau Yang Dipertuan Pagaruyung menentang kehadiran Persatuan Dagang Belanda (VOC) yang mencoba menerapkan penguasa tunggal dalam perdagangan dan memecah belah rantau pesisir. Di antaranya dengan menciptakan Perjanjian Painan tahun 1662.
40

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Sedang di daerah pesisir mulai berkembang surau-surau yang mengadakan perlawanan terhadap monopoli dagang, seperti Muhammad Nasir dari Koto Tangah, Tuanku Surau Gadang di Nanggalo. Antara Syekh Burhanuddin dengan Yang Dipertuan Raja Pagaruyung mempunyai kepentingan yang sama yaitu keutuhan Alam Minangkabau. Dengan kedua kepentingan antara keutuhan daerah rantau kesepakatan mudah dicapai antara Syekh Burhanuddin dengan Yang Dipertuan Pagaruyung. Kesepakatan inilah yang sering disebut dengan Perjanjian Marapalam. Kemudian usaha Belanda ingin memasuki pedalaman Minangkabau dirintis oleh Thomas Diaz yang berangkat dari Patapahan menembus hutan rimba dan tiba di Buo (1680) disambut Raja Malio. Pengalaman Syekh Burhanuddin bersama gurunya, Syekh Abdur Rauf sebagai mufti kerajaan Aceh, menambah wawasan Syekh Burhanuddin dalam politik keagamaan di Minangkabau. Peristiwa bersejarah di Bukit Marapalam dan Titah Sungai Tarab menghadap kepada Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung telah tersiar di seluruh pelosok Alam Minangkabau dan
H.Mas’oed Abidin
41

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

menerima agama Islam dengan kesadaran. Islam diakui sebagai agama resmi. Adat dan agama telah dijadikan pedoman hidup dan saling melengkapi. Saat itu lahirlah ungkapan "adat menurun, syarak mendaki. Artinya adat datang dari pedalaman Minangkabau dan agama berkembang dari daerah pesisir. Syariat Islam yang dibawa dan dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin telah menyinari Alam Minangkabau banyaklah orang yang menuntut ilmu agama. Dari mana-mana orang berdatangan ke Tanjung Medan. Nama Tanjung Medan sebagai pusat pendidikan dan pengajaran ilmu Islam sudah masyhur. Surau Tanjung Medan penuh sesak dengan murid-murid beliau. Untuk menampung mereka dibangun lagi surau-surau disekeliling surau asal. Menurut catatan terdapat 101 buah surau baru di Tanjung Medan yang merupakan satu kampus, permulaan sistem pesantren yang kita kenal sekarang. Perjanjian Marapalam kemudian berkembang menjadi suatu proses penyesuaian terus menerus antara adat dan agama Islam, saling menopang sebagai pedoman hidup masyarakat Minangkabau.
42

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Syekh Burhanuddin telah meninggalkan jasa yang gilang gemilang. Namanya senantiasa akan hidup terus dan tak terlupakan sepanjang masa. Sebelum meninggal dunia, Syekh Burhanuddin tidak lupa mendidik kader penerus dalam usaha menyebarluaskan ajaran Islam yang dilakukan melalui latihan dan pendidikan. Untuk meneruskan perjuangan beliau, Syekh Burhanuddin melatih dan mendidik dua orang pemuda Tanjung Medan, Abdul Rahman dan Jalaluddin yang akan menggantikan kedudukan, "khalipah" kelak. Menurut penilaiannya kedua anak muda ini memenuhi pesyaratan dalam mengemban tugasnya, baik dari akhlak, kecerdaan serta ketrampilan dakwah. Untuk itu ditetapkan Abdul Rahman sebagai khalipah I. Idris Majo Lelo, teman akrab Syekh Burhanuddin sedari muda bekerja bahu membahu dalam menegakkan agama Islam. Sebagai kehormatan atas jasanya, Idris Majo Lelo diangkat menjadi Khatib nagari Tanjung Medan dan jabatan itu berlangsung sampai sekarang. Tharekat Ulakan Ajaran yang dikembangkan Syekh Burhanuddin sebagai penganut mazhab Sjafii
H.Mas’oed Abidin
43

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

adalah tharikat Syattariyah, yang dinamakan juga tharikat Ulakan atau "martabat yang tujuh". Martabat yang tujuh adalah mengenai ketujuh tahap pancaran dari "ada yang mutlak", bersumber dari ajaran al Halaj, Ibnu Arabi. Menurut ajaran ini semua yang di alam merupakan pancaran dari Allah. Pikiran ini dikembangkan dari ajaran Wihdatul wujud, bersatu dengan Tuhan. Penganjur faham wihdatul wujud di Aceh adalah Syamsuddin Pasai al Sumatrani dan Hamzah Fansuri. Menurut Syamsuddin al Sumatrani, bahwa Allah itu roh, dan wujud kita ini roh dan wujud Tuhan. Sedangkan Hamzah Fansuri mengatakan bahwa asal roh itu qadin, yakni roh Muhammad s.a.w. karena ia dijadikan Allah dari pada nur zatnya yang qadin. Man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa rabbahu (siapa yang mengenal dirinya, berarti mengenal Tuhannya), yang oleh Hamzah Fansuri diartikan bahwa manusia bersatu dengan Tuhan, bersatu sifat dengan zat. Adapun ajaran tharikat Syattariyah mempunyai ciri-ciri khusus, antara lain: a. tentang lafadz bahasa Arab dari pada imam dan upacara-upacara berdasarkan bahasa Arab yang kuno dan kurang murni.
H. Mas’oed Abidin

44

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

b.

Permulaan dan akhir puasa dilaksanakan semata-mata atas rukyah, dalam arti dapat dilihat dengan mata adanya bulan.

Pengaruh tharikat ini masih dapat disaksikan sekarang lewat "basapa" ke makam Syekh Burhanuddin di Ulakan. Dalam komplek makam tersebut, pengikutnya melakukan ratib semalam suntuk. Dalam ajaran tharikat, pendekatan dan penghormatan kepada guru diutamakan sekali. Jalan pikiran manusia dalam ajaran tharikat turut mempengaruhi akan peningkatan amalannya melalui makrifat (ilmu) dan hakikat (kebenaran sejati = Tuhan). Untuk memperoleh makrifat, perlu guru atau khalipah. Tanpa guru, makrifat tidak akan berhasil mencapai hakikat. Fungsi guru di sini adalah sebagai perantara (rabuthah). Guru menjadi komponen utama dalam menghubungkan seseorang dengan Tuhannya (hakikat), karenanya doa guru perlu disebut. Menyebut nama guru ialah memudahkan doa diperkenankan. Proses pencapaian hakikat yang telah diajarkan guru menuntut penghormatan kepada guru, sehingga setelah meninggal jasa guru perlu diingat dalam bentuk ziarah ke makamnya. Dalam pikiran si murid, ulama dan guru tharikat
H.Mas’oed Abidin
45

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

dianggap mempunyai kelebihan yang luar biasa hingga dianggap keramat. Tanah dan tempat-tempat yang pernah dipakai oleh ulama tersebut perlu dihormat dan dikunjungi. Banyak di antara murid-murid Syekh Burhanuddin yang mengembangkan ajaran tharikat ini di Minangkabau. Salah seorang murid yang terkenal ialah Tuanku Mansiang di Paninjauan. Setelah Syekh Burhanuddin wafat, banyak pula orang yang berguru kepada Tuanku Mansiang ini. Perkembangan kemudian cepat berubah sesuai dengan perkembangan pedalaman Minangkabau, Murid-murid Tuanku Mansiang ini mendirikan surau-surau di kampungnya dalam mengembangkan keahliannya masing-masing. Pada pertengahan kedua abad ke-18 terjadi perkembangan ilmu pengetahuan, politik dan lahirnya cendekiawan sebagai salah satu unsur kepemimpinan tali Tigo Sapilin. Sejalan dengan itu lahir pula pembaharuan pemikiran agama Gerakan "kembali ke syariat" yang lebih dikenal dengan sebutan Gerakan

46

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Padri (1784 - 1821) untuk mengatasi kemajuan kehidupan masyarakat pada masanya. Semuanya hasil pendidikan surau Burhanuddin di Tanjung Medan, Ulakan. Syekh

AJARAN TARIKAT MINANGKABAU

Pada awal perkembangan Islam lahir suatu kelompok persaudaraan (tarikat) sebagai suatu cara mendekatkan diri kepada Allah. Tarikat adalah cabang ilmu agama yang disampaikan filosof Islam. Penganutnya yang taat disebut sufi. Seorang sufi menuntut ilmu agama bertahuntahun yang diajarkan seorang guru. Pada masa itu, tarikat dan surau dapat menyesuaikan diri dengan lembaga yang ada di Minangkabau, tanpa menimbulkan pertentangan. Pesantren (surau) lahir dan diterima seluruh masyarakat sebagai tambahan lembaga kehidupan di desa. Kelompok tarikat mahir menanggapi situasi dan lebih menekan ajaran pada usaha ketentraman batin sebagai hamba Allah. Latihan kejiwaan dan zikir diselenggarakan untuk mengingat Allah sehingga terpelihara kesinambungan kehidupan di desa.
H.Mas’oed Abidin
47

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Pada abad ke-18, di Minangkabau terdapat tiga kelompok tarikat: Naqsyabandiyah, Syattariyah dan Kadiriyah. Ciri ketiga kelompok itu sama, yaitu kepatuhan sepenuhnya yang dituntut dari seorang murid kepada gurunya. Di tempat belajar, mereka mengenal ajaran Islam, disiplin dan latihan yang diterapkan masingmasing guru. Guru dan guru tuo (guru pembantu) mengajar membaca Qur’an, tafsir dan kaedah agama serta praktek lainnya untuk mencari keridhaan Allah dengan tertib. Pada sore hari para santri berkumpul sambil melaksanakan zikir dengan menyebut asma Allah. Organisasi sekelompok surau, kadang-kadang terdiri dari 20 bangunan yang ditempati santri dari berbagai daerah. Setiap surau berada di bawah pengawasan seorang guru tuo. Muridmurid harus ikut membantu guru bekerja di kebun atau sawahnya. Pada masa sibuk bertani, belajar sering terganggu. Di samping itu, murid menanam pisang atau buah-buahan di sekitar surau mereka. Kehidupan mereka tergantung dari hasil pertanian yang dijual ke pasar setiap minggu. Surau-surau besar, biasanya berdiri di desa-desa pusat perbelanjaan, yang disebut pakan.
48

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Seorang murid harus berpegang teguh pada kepatuhan diri kepada guru. Kepatuhan ini merupakan dasar sebelum melangkah mempelajari ajaran Islam. Pengajaran dasar bagi seorang muslim ialah membaca Al Qur’an yang lebih menekankan pada tajwid, bunyi (fonem) yang benar menurut tata bahasa Arab. Sebelum memperdalam kitab suci Al Qur’an, mereka harus pula mempelajari nahu sharaf, tata bahasa Arab. Bagi yang mendapat kesulitan mempelajarinya, dapat beralih mempelajari hukum Islam, syariat. Kajian syariat disebut fikih. Buku fikih yang dipakai di semua surau tarikat umumnya sama yaitu mengajarkan tiang Islam, arkanul khamsah, yang digolongkan ke dalam ibadah sebagai dasar kewajiban seorang muslim. Kemudian diikuti dengan bimbingan berperilaku yang benar. Lanjutannya ialah mempelajari hukum yang berkaitan dengan pengendalian hubungan sesama manusia, seperti hukum warisan, dan lain-lain. Surau-surau yang memperdalam kajian pokok tentang hukum tersebut umumnya menjadi surau yang mempunyai nama baik di Minangkabau. Surau-surau Naksyah-bandiyah umumnya terletak di desa-desa persimpangan
H.Mas’oed Abidin
49

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

jalan perniagaan atau desa-desa pertanian yang makmur. Guru-guru tarikat bekerja sebagai petani untuk nafkahnya sehari-hari. Sebagai guru, ia harus pula menyiapkan suatu buku fikih dan doadoa upacara dalam bahasa Melayu berdasarkan sumber-sumber dari bahasa arab. Tarikat Syattariyah lebih banyak dikenal pada akhir abad ke-18, yang diperkenalkan di Sumatera oleh Abdur Rauf dari Singkil, Aceh (1605-1693). Salah seorang muridnya bergelar Syekh Burhanuddin, membawanya ke Ulakan pada bagian ke dua abad ke-17. Dari Ulakan, tarikat itu bersebar melalui jalur perdagangan sampai ke Paninjauan dan Pamansiangan, kemudian ke Koto Tuo, di daerah Agam bagian selatan yang kaya dengan sawah. Di sebelah barat Koto Tuo berdiri surau-surau tarikat yang banyak menghasilkan ulama. Daerah ini dikenal dengan nama Ampek Angkek berasal dari nama empat orang guru yang terpuji kemasyhurannya dalam tarikat Syattariyah.7 Murid-murid di surau Syattariyah mempelajari rangkaian pengetahuan Islam. Salah satu buku yang pedoman dalam kajian Syattariyah adalah karya Abdul Rauf.
50

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Surau- surau lain di pedalaman Minangkabau memperdalam suatu cabang ilmu agama tertentu, sehingga terdapat spesialisasi pengajaran. Tuanku di Kamang tempat memperdalam ilmu alat, nahu shraf, tata bahasa Arab; Koto Gadang dan Rao (Pasaman) dalam ilmu mantik maani, ilmu logika Islam; Tuanku di Koto Tuo dalam ilmu tafsir Qur’an, tarbiyah, pendidikan; Tuanku di Sumanik dalam ilmu hadith, tafsir dan faraidh (ilmu warisan); Tuanku di Talang (Solok) dalam ilmu sharaf, dan Tuanku Salayo dalam badi’, maani dan bayan. Seorang santri dapat pula memperdalam ilmu kepada guru lainnya. Dengan demikian, terjadi mobilitasi sosial yang tinggi di Minangkabau. Pada tahun 1803, terjadi suatu peristiwa yang kelak membawa akibat yang lebih jauh.

HAJI MISKIN ( ± 1860 - 1830)

Haji Miskin berasal dari Batu Tebal, Ampek Angkek, telah ikut serta bersama Tuanku nan Tuo memperbaiki keamanan para pedagang. Ia
H.Mas’oed Abidin
51

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun 1803 bersama Haji Sumanik dan Haji Piobang. Pada saat berada di Mekah, ia berkenalan dengan aliran Zahiriyah yang dipelopori Muhammad Abdul Ibnu Wahab ( 1703-1792), sebagai lanjutan dari pemikiran Ibnu Taimiyah (1263- 1308). Gerakan ini dikenal dengan nama Gerakan Wahabi yang dapat mempergunakan pengaruh keluarga Su'ud dari Nejd. Ketiga haji itu menerangkan pengalaman mereka masing-masing selama di Mekah kepada tuanku-tuanku dan alim ulama di Luhak Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh. Pada setiap kesempatan, Haji Miskin menjelaskan aliran Wahabi di Mekah dalam melaksanakan pembaruan agama. Ia menganjurkan kembali ke syariat berdasakan al Quran. Mereka menentang menafsirkan fikih untuk kepentingan dunia. Menentang bid'ah dan khurafat yang dimasukkan ke dalam Islam. Kembali ke ajaran yang murni, menurut ajaran Wahabi, ialah menentang fatwa-fatwa ulama yang mendasarkannya pada Qur an dan Hadis. Di dalam fikih, kaum Wahabi menentang segala macam qiyas. Di dalam kehidupan seharihari, mereka menentang pemujaan orang
52

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

keramat. Hukumnya disamakan dengan menyembah berhala. Mereka menentang minum khamar, memakai pakaian dari sutra dan memakai perhiasan emas. Sekembali dari Mekah, Haji Miskin melengkapi gagasan-gagasan pembaruan untuk mesyarakat Minangkabau dengan ajaran-ajaran Al Quran sebagai sumber hukumnya. Ia pindah ke daerah IV Koto yang berbatasan dengan Agam bagian selatan, suatu desa makmur di lereng Gunung Singgalang. Ia menerapkan tuntunan hidup berlandaskan kaidah agama dalam setiap sikap hidup. Haji Miskin meninggalkan Pandai Sikek dan pindah ke Koto Laweh, suatu desa yang bersih, di lereng Gunung Singgalang( 1805). Di desa ini tinggal Fakih Saghir. Bersama Haji Miskin, Fakih Saghir menerapkan hukum syariat pendamping adat Minangkabau. Dari Koto Laweh, Haji Miskin datang ke Bukit Kamang. Kemudian ia tinggal bersama Tuanku Nan Renceh di Surau Bansa (1807). Haji Miskin dan Tuanku Nan Renceh mulai mengatur rencana pembaruan secara menyeluruh untuk menerapkan hukum perdagangan Islam dalam melengkapi hukum adat Minangkabau.
H.Mas’oed Abidin
53

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Para pedagang dapat menerimanya, baik yang tinggal di Kamang atau maupun yang datang ke sana. Mereka berjanji saling membantu dalam transaksi antar pedagang. Selama berada di Surau Bansa, Kamang, Datuk Bandaro dan Malin Mudo dari Alahan Panjang mendengar langsung ide pembaruan dari pencetusnya, Haji Miskin. Tidak lama kemudian Malin Mudo kelak dilantik menjadi Tuanku Imam Bonjol* (1807). Daerah Tuanku Nan Salapan dibentuk bersama Tuanku nan Renceh terdiri dari Kamang, Candung, Ampek Angkek, Kubu Sanang, Banuhampu, Sungai Puar, dan Padang Laweh. Di daerah ini memancarkan kesejahteraan penduduknya. Kekerasan dan perkelahian yang terjadi akibat pengembangan pembaruan untuk mengembalikan desa-desa melaksanakan syariat Islam. Kemudian Haji Miskin berunding dengan Tuanku Nan Salapan. Mereka sepakat menunjuk Tuanku Nan Renceh sebagai pemimpin Gerakan Pembaruan, dan mencari seorang yang berpengaruh untuk melindungi usaha pembaruan. Pilihan jatuh kepada guru mereka, Tuanku Nan Tuo
54

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Tuanku Nan Tuo menyetujui maksud mereka, tetapi tidak menyetujui kekerasan yang dilakukan dalam pelaksanaannya. Kalau pekerjaan mulia dilakukan dengan kekerasan, akan menimbulkan kekacauan. Cara ini dianggap menyimpang dari roh Muhammad yang bijaksana. Inilah ajaran yang tertera dalam 'Taufah mursala ila ruhun nabi.' Sedangkan Tuanku Nan Renceh ingin menerapkan gagasan-gagasan pembaruan yang berbeda dengan cara yang dilakukannya dahulu bersama Tuanku Nan Tuo. Haji Miskin melanjutkan usaha pembaruan di Luhak Lima Puluh. Pada tahun 1811, ia berangkat ke ranah ini untuk menggugah ulama muda, Malin Putih di Air Tabik, untuk melakukan pembaruan. Ia berhasil baik. AiaTabit, suatu daerah subur di kaki Gunung Sago. Fakih Saghir datang kedaerah ini membantu Malin Putih yang kemudian bergelar Tuanku Nan Pahit. Mereka mendirikan sebuah benteng Bukit Kawi. Haji. Miskin pindah ke Mesjid Sungai Lundi di nagari Aia Tabik. khutbahnya berhasil menjadi sebab lahirnya rencana perubahan. Pembaruan yang dilancarkan Haji Miskin di Aia Tabik bergema ke Halaban. Seorang ulama
55

H.Mas’oed Abidin

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

yang mengikuti ajaran baru ini ialah Tuanku Luak di Halaban. Haji Miskin penyebar cita-cita dan ide pembaruan masyarakat Minangkabau yang terhunjam kuat dalam hati setiap tuanku- tuanku atau ulama Muda di Tanah Minangkabau. Dalam suasana ribut Haji Miskin mati terbunuh dan dikuburkan di atas Bukit Kawi. (1830).

TUANKU

Dalam tradisi adat yang diadatkan di Minangkabau, gelar Tuanku adalah, gelar pemimpin agama yang diberikan kepada seorang ulama terkemuka, yang telah menguasai ilmu agama (Islam) paripurna. Lazimnya dibelakang gelar itu diikuti dengan surau tempat ia mengajar. Gelar tuanku sebagai pemimpin surau diresmikan dalam suatu upacara. Sedangkan gelar Syekh* sebagai gelar tertinggi seorang ulama di Minangkabau, merupakan “guru gadang” yang masih langka
56

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

pada awal Gerakan Kembali ke Syariat. Gelar syekh diberikan oleh guru kepada muridnya secara beranting sebagai kepercayaan telah diakui mempunyai ilmu agama paripurna, seperti halnya Pono diberi gelar Syekh Burhanuddin Ulakan oleh gurunya, Abdurauf al Singkli. Penobatannya dilakukan dengan memberikan pakaian (jubah) pemberian guru Abdurrauf di Mekah. Dengan demikian secara berantai terjadi hubungan guru-murid yang tidak putusputusnya. Setingkat di bawah Tuanku ialah gelar Peto dan Labai*, bila seseorang yang telah menguasai fikih, tarikat dan ilmu hakekat. Gelar ini berasal dari Turki. Seorang labai atau peto hanya diberi hak memimpin jamaahnya, dan belum berhak memimpin surau sendiri. Tingkat ketiga, Malin, gelar seorang guru bantu (guru tuo) yang dipercaya tuanku memberikan bimbingan kepada murid-murid pada suatu surau. Seorang malin (maulana atau mu’allim)* telah memiliki pengetahuan agama yang lebih luas dari murid-murid lainnya. Setelah bertahun-tahun belajar pada seorang ulama (surau), seorang murid yang telah menguasai ilmu fikih dan sanggup membaca
57

H.Mas’oed Abidin

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

do'a-doa, lalu diberi gelar Pakih. Sedangkan yang sanggup membaca Al Qur’an, diberi gelar Kari.

TUANKU NAN TUO (1750 - l830)

Tuanku Nan Tuo adalah seorang ulama pembaru Islam di pedalaman Minangkabau yang
58

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

memimpin surau di Koto Tuo*, Ampek Angkek pada pertengahan abad ke-18. Murid-Murid yang belajar di surau Syattariah terbuka untuk mempelajari seluruh rangkaian pengetahuan Islam. Salah satu buku yang dipelajari adalah karya Abdurrauf yang memperlihatkan penghargaan yang tertinggi terhadap "syariat". Ajaran ini dibawa Syekh Burhanuddin Ulakan sekembalinya belajar pada Syekh Abdurrauf al Singkli di Aceh. Beberapa surau Syattariyah mempelajari cabang ilmu agama, sehingga terjadi spesialisasi pengajaran agama Islam di Minangkabau. Masing-masing surau itu memperdalam salah satu cabang ilmu agama, seperti: Surau Kamang dalam ilmu alat (nahu sharaf dan tata bahasa Arab), Koto Gadang dalam mantik ma'ani, Koto Tuo dalam ilmu tafsir Quran, tarbiyah dan hadith), Surau Sumanik dalam ilmu faraidh (pewarisan) hadis; Surau di Talang dalam badi', maani dan bayan (tata bahasa Arab ), Tuanku di Sumanik dalam ilmu hadis, tafsir dan faraidh, Tuanku di Talang dalam ilmu sharaf, sedangkan Tuanku di Salayo dalam ilmu nahu nan tiga (badi', maani dan bayan. Kedua ulama terakhir mencapai derajat yang tinggi sebagai ulamiyah.

H.Mas’oed Abidin

59

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Dalam hal ini Tuanku Nan Tuo mempelajari ilmu-ilmu itu dari tuanku-tuanku itu, akhirnya lebih dikenal sebagai ulama yang kisyaf yang mempunyai pengetahuan yang luas dalam mantik, maani, hadis, tafsir, tarbiyah, danu agama lainnya. Pada akhir abad ke-18, surau Koto Tuo memperkenalkan pembaruan berdasarkan hukum Islam kepada masyarakat luas. Murid surau Koto Tuo kira-kira seribu orang berasal dari pelosok Minangkabau dan daerah rantau. Ajaran Syattariah yang diperkenalkan mengenai ilmu hakekat, ilmu pengetahuan tentang tauhid dalam 'mencari Tuhan'. Murid dan guru melibatkan diri dalam perdagangan yang berasal dari langganan luar negeri, seperti Amerika, Inggeris, Tamil dan Gujarat. Tuanku Nan Tuo berfatwa tentang perlindungan terhadap pedagang dan menguraikan syariat Islam yang berhubungan dengan keamanan pedagang. Fatwa ini dikenal dengan nama gerakan kembali ke syariat. Ia mengajarkan murid-muridnya cara menggalang persatuan bagi masyarakat Minangkabau menurut perintah Tuhan. Inti ajarannya ialah ketaatan pada ajaran-ajaran Al Quran dalam mengatur harta warisan, penceraian dan jual beli
60

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

barang. Semenjak itu Tuanku Nan Tuo terkenal sebagai pelindung pedagang. Tuanku Nan Tuo bersama Haji Miskin, sebelum menunaikan ibadah haji ke Mekah, mencari jawaban tentang pembagian harta warisan menurut fikih. Menurut Tuanku Nan Tuo harta dibagi atas harta pusaka dan harta pencaharian. Harta pusaka diwariskan menurut hukum adat Minangkabau. Harta pencaharian jatuh ke tangan anak, dengan perbandingan antara anak laki dengan anak perempuan 2: 1. Tuanku Nan Tuo melihat banyak hal yang sesuai antara adat dengan syariat menurut mazhab Syafei, terutama yang berhubungan dengan harta pusaka. Semenjak tahun 1784, hukum Islam menjadi kajian yang penting dari surau Koto Tuo. Muridmurid Tuanku Nan Tuo yang terbaik ditugaskan melaksanakan dakwah ke luar Ampek Angkek, terutama desa yang menghalangi usaha perdagangan. Semenjak itu Tuanku Nan Tuo dikenal sebagai pelindung pedagang di Minangkabau. Jalaluddin gelar Fakih Saghir yang kemudian mendirikan surau di Koto Laweh, gerbang jalan
H.Mas’oed Abidin
61

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

ke Pariaman melalui Mudik Padang; Tuanku Bandaro dari Alahan Panjang meneruskan pembaruan di Bonjol bersama Tuanku Imam Bonjol; Pakih Muhammad bergelar Tuanku Rao di Rao Mandahiling, Saidi Muning bergelar Tuanku Pasaman kemudian bergelar Tuanku Lintau di Lintau. Pendidikan lainnya di surau Tuanku Nan Tuo ialah ilmu bela diri, silat dan pencak sehingga setiap murid siaga serempak menjadi pemuda trampil dan mampu menggunakan senjata di medan laga. . Menjelang tahun 1790 daerah Ampek Angkek mengalami kemajuan besar atas usaha Tuanku Nan Tuo. Pedagang lebih senang membawa barang dagangannya melalui Agam terus ke Koto Laweh, kemudian meneruskan perjalanannya melalui bukit antara Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek menuju Mudik Padang dan terus ke Pariaman. Mereka dapat bergerak dengan leluasa, yang belum pernah dialami sebelumnya. Pembaruan Islam dilaksanakan di surausurau yang memajukan pendidikan surau dan memajukan perdagangan. Pusat-pusat perdagangan di pedalaman Minangkabau dikuasai oleh surau-surau, seperti
62

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Tuanku Damansiang di Pandai Sikek, Jalaluddin di Koto Laweh, Tuanku Nan Renceh di Kamang;Tuanku Nan Tuo di Ampek Angkek, dan kemudian Tuanku Bandaro dan Tuanku Imam Bonjol di lembah Alahan Panjang Panjang, Tuanku Rao di Rao, Tuanku Barumun di Kota Pinang dan Barumun.. Telah terjadi pratagoni di daerah Islam berkembang dengan pembaruan dan perbaikan moral masyarakatnya yang memancarkan kemakmuran.. Pemerasan yang sering terjadi terhadap pedagang dan pemungutan pajak pengawasan pada jalan dagang tradisional dari Jaho Tambangan ke Bukit Punggung Jawi terus ke Kayu Tanam dan Lubuk Alung yang diawasi dubalang Tuanku Gadang dari Batipuh. Dengan adanya perubahan itu di pedalaman Minangkabau berlaku pertanian pola rakyat, menggantikan pola raja yang dikuasai kerajaan Pagaruyung. Belanda memasuki Minangkabau pada tahun 1821 dan ingin menguasai pusat perdagangan di pedalaman Minangkabau. Kemudian Belanda mendirikan benteng Gedung Batu di Koto Tuo. Selama enam tahun hulubalang Tuanku Mudo,
H.Mas’oed Abidin
63

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

pangka tuo (pemimpin ) hulubalang Tuanku Imam Bonjol tinggal di daerah Ampek Angkek. Peperangan tak terelakkan antara pro golongan pembaruan dengan pengikut Tuanku Nan Tuo. Tuanku Nan Tuo meninggal dunia pada tahun 1830 berlumuran darah di surau yang dibangunnya dengan Qur an tetap dipegangnya.

TUANKU LINTAU ( ± 1770 -1832 )

Tuanku Lintau seorang ulama di Tanah Datar. Ia anak seorang penghulu bergelar Datuk Sinaro. Nama kecilnya Saidi Muning dan belajar di surau Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo, melanjutkan pelajarannya di Natal dan Pasaman. Kemudian memimpin suraunya yang terletak di pantai di Pasaman. Semenjak itu ia dipanggil orang Tuanku Pasaman.

64

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Pada tahun 1813, Tuanku Pasaman kembali ke kampung halamannya di Lintau, di lembah Sinamar. Ia berpendapat, misinya harus diarahkan pada pembaruan tingkah laku masyarakat di sekitar kerajaan Pagaruyung. Ia sangat terkesan dengan pembaruan yang dilakukan Tuanku Nan Renceh, di Kamang. Muningsyah, Raja Pagaruyung, tidak menentang gerakan pembaruan yang dilakukan Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Pasaman di Lintau untuk perbaikan moral masyarakat Tanah Datar. Tetapi, kerajaan Pagaruyung dan beberapa desa-desa sekitarnya, acuh tak acuh terhadap kehidupan masyarakat. Mereka bahkan menunjukkan permusuhan, sehingga timbul pertentangan di tengah masyarakat. Kerusuhan menjalar ke desa-desa sebelah timur Tanah Datar. Tuanku Pasaman memutuskan mengakhiri sifat otonomi desa yang berlaku selama ini. Raja Pagaruyung tidak mempunyai niat untuk melakukan pembaruan. Sesungguhnya Pagaruyung telah lumpuh. Tuanku Pasaman berkesimpulan, prasyarat berhasilnya pelaksanaan idenya, ialah dengan jalan melaksanakan administrasi pemerintahan yang seragam di Tanah Datar. Tindakan yang akan
H.Mas’oed Abidin
65

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

dilakukannya ialah menyingkirkan keluarga kerajaan, dan menyerang desa-desa yang paling erat dengan kerajaan Pagaruyung. Ia yakin bahwa sistem kerajaan Pagaruyung menjadi penghalang cita-citanya. Pada tahun 1815, ia mengajak Raja Alam beserta keluarga kerajaan lainnya untuk bermusyawarah di Koto Tangah, antara Barulak dengan Saruaso. Pada pertemuan itu tiba-tiba Tuanku Pasaman menuduh Raja Alam kurop dan tidak beragama. Ia memerintahkan menyerang raja. Banyak anggota keluarga Pagaruyung mati terbunuh dalam peristiwa itu, termasuk dua orang anak Raja Alam Pagaruyung. Raja Muningsyah bersama cucunya dapat meloloskan diri ke Lubuk Jambi. setelah terjadi Peristiwa Koto Tangah itu. Tuanku Pasaman menyerang Lubuk Jambi pada tahun 1823 untuk dapat menguasai kota dagang di pantai timur melalui Sinamar. Tuanku Pasaman berusaha memperkuat kedudukannya di mata penduduk pusat kerajaan. Ia mengawini anak Raja Ibadat terakhir yang meninggal pada tahun 1817. Kemudian ia memindahkan kedudukannya dari Sumpur Kudus ke Lintau dan menyatakan dirinya sebagai pemegang waris Raja Adat dan
66

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Raja Ibadat. Semenjak itu pula ia lebih dikenal dengan gelar Tuanku Lintau. Tuanku Lintau dapat meluaskan sistem administrasi Padri di daerahnya dengan dukungan hulubalang yang berpakaian merah untuk membedakannya dengan dubalang yang berwarna hitam. Di daerah bukit sebelah timur Lintau, sistem Padri diterima dengan baik. Penduduk Buo dan Kumanis menganut ajaran Padri. Di sebelah utara Lintau, di lereng Gunung Sago, berada di bawah hulubalang Tuanku Lintau yang bernama Tuanku Halaban. Sehubungan dengan serangan itu, dasar-dasar ekonomi dan politik Kerajaan Pagaruyung lumpuh. Keluarga kerajaan berusaha menyelamatkan diri dari kehancuran dengan kembali kepada sekutu lama, Belanda. Semua nagari yang terletak pada jalur Koto Piliang ke pantai barat ikut menandatangani perjanjian dengan Belanda pada tahun 1819. Nagari-nagari ini diwakili dua beradik Sultan Saruaso dan Raja Alam Bagagarsyah dari Pagaruyung dan Nagari Duo Puluh Koto dan Batipuh. Mulai saat itu Gerakan Pembaruan Padri berhadapan dengan Belanda yang kemudian berubah menjadi Perang Padri. Kawasan Lintau dipisahkan dengan pusat Tanah Datar oleh punggung bukit barisan dengan lembah-lembah yang dalam. Bukit pemisah ini ialah Bukit Marapalam dipergunakan
H.Mas’oed Abidin
67

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

sebagai benteng perlindungan yang sulit ditembus dari arah Tanah Datar. Punggung bukit di sekitar Lintau ditanam dengan kopi. Kawasan ini merupakan pertemuan bukit yang membentuk lereng-lereng yang mendaki. Di sela-sela bukit ini mengalir mata air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawahsawah yang terletak di tengah kebun kopi, dikelilingi oleh sawah yang subur, yang mendatangkan kesejahteraan penduduknya. Halaban dan Lintau semenjak lama mempunyai hubungan dagang dengan pantai timur, di hulu Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Pada tahun 1813, ia membenahi desanya, Lintau. Semenjak tahun 1820 melakukan upaya mengawasi lalu lintas perdagangan jalur Indragiri. Sejak itu pula ia terkenal sebagai Tuanku Lintau. Penduduk Lintau melakukan penukaran kopi dengan barang-barang katun dan garam. Terbukti bahwa terdapat hubungan antara kemakmuran dengan diterimanya asas pembaruan Islam (Protagoni). Kedatangan serdadu Belanda ke Tanah Datar dilaporkan kepada Tuanku Imam Bonjol oleh Tuanku Kacik. Utusan itu menyatakan bahwa pasukan Belanda dengan sekutunya akan menyerang Lintau.
68

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Pasukan Belanda menyerang Bukit Marapalam, bergerak dari Pagaruyung dengan kekuatan 8 pucuk meriam. Pasukan ini dapat dipukul mundur sampai ke desa Tanjung. Empat pucuk meriam dapat dirampas hulubalang Lintau. Empat hari kemudian, Belanda kembali mencoba menyerang Bukit Marapalam dari arah desa Tanjung. Peristiwa ini terjadi pada 13 April 1823. Pasukan hulubalang Bonjol di bawah pimpinan Tuanku Mudo yang sedang berada di Ampek Angkek, mendengar serangan Belanda ke Bukit Marapalam itu, segera bergerak ke lembah Bukit Marapalam. Pasukan Bonjol menyerang dari arah utara sehingga hulubalang Lintau dapat menguasai medan pertempuran. Pasukan Lintau dan hulubalang Bonjol dapat menguasai lapangan pertempuran. Kekalahan ketiga kalinya bagi pasukan Belanda terjadi pada tanggal 16 April 1823 yang dikenal sebagai Hari Keprajuritan Perlawanan Lintau. Peristiwa serangan Belanda dan perlawanan hulubalang Lintau tercantum pada relief Museum Perjuangan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Pada serangan itu Belanda mendapat kekalahan tiga orang perwira, 45 serdadu Belanda mati, 9 perwira luka dan 178

H.Mas’oed Abidin

69

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

prajurit menderita luka. Empat buah meriam Belanda dapat dirampas. Pertahanan Tuanku Lintau (1813-1830) baru ditembus pasukan Belanda melalui pengkhianatan yang dilakukan dalam malam pekat ketika hujan turun dengan deras.

TUANKU NAN RENCEH ( ± 1780 - 1832)

Seorang ulama yang cerdas, murid Tuanku Nan Tuo. Setelah menyelesaikan pendidikan di Koto Tuo, ia kembali ke kampung halamannya, di Bansa, Kamang. Tuanku Nan Renceh mengundangkan jihad dari Surau Bansa, Kamang.8 Walau sebagai seorang petani, ia mampu memberikan pelajaran dengan semangat perjuangan di suraunya. Ia melakukan penyerangan terhadap nagari sekitarnya, seperti
70

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Kamang, Tilatang, Padang Tarok, Ujung Guguk, Candung, kemudian Matur dan Lima Puluh. Dengan tubuhnya yang kurus tinggi dan pandangan mata yang menyala ia memberi contoh bagaimana ajaran agama ditegakkan tanpa ditawar-tawar. Masyarakat ingin ditegakkan adalah masyarakat muslim yang tidak mengenal menyabung ayam, minuman keras, menghisap candu, makan sirih dan tidak meminta doa ke kuburan dan melarang laki-laki memakai sutra dan perhiasan emas. Siapa yang tidak taat dihukumnya.. Ia ingin menegakkan agama di tengah masyarakat, dan tampak pengaruh Wahabi dalam tindakannya. Tuanku nan Renceh dapat menundukkan seluruh daerah Kamang. Kemudian Magek, Salo, Koto Baru. Di nagari yang mengakuinya disusun pemerintahan menurut Islam dikepalai oleh seorang imam dibantu oleh seorang kadhi. Berangsur-angsur Tuanku Nan Renceh menaklukkan nagari yang keras menantangnya. Nagari itu dibakar dan dibinasakan. Pembaruan yang dicanangkan itu akhirnya disetujui surausurau di Agam, antaranya tuanku nan salapan. Haji Miskin kemudian berunding dengan Tuanku Nan Renceh dari Surau Bansa (1807).
H.Mas’oed Abidin
71

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Tuanku Nan Renceh bersama Haji Miskin mulai mengatur rencana pembaruan secara menyeluruh. Mereka menghapuskan kebiasaan buruk yang dilarang agama Islam. Gagasan kedua orang pembaru ini untuk menerapkan hukum perdagangan Islam melengkapi hukum adat Minangkabau yang diterima baik oleh pedagang, baik yang tinggal di kamang, maupun yang datang ke Kamang Musyawarah dengan tuanku nan salapan, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Kalung, Tuanku Ladang Laweh, Tuanku Padang Luar, Tuanku Kubu Ambalau, dan Tuanku Lubuk Aur, menghasilkan kesepakatan menunjuk Tuanku Nan Renceh sebagai pemimpin geralan pembaruan dan mencari seorang yang berpengaruh untuk melindungi usaha pembaruan yang akan dilakukan. Pilihan jatuh kepada guru mereka, Tuanku Nan Tuo. Perbedaan pendapat antara Tuanku nan Renceh dengan Tuanku nan Tuo, tidak dapat dielakkan. Tindakan Tuanku Nan Renceh tidak disetujui Tuanku nan Tuo Tuanku Nan Tuo melarang Tuanku Nan Renceh dengan beriburibu orang Kamang yang ingin menyerang Kurai. Akhirnya Tuanku Nan Tuo memanggil Tuanku Nan Renceh musyawarah menghentikan
72

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

pembakaran dan pembunuhan sesama orang Islam. Tuanku Nan Renceh mengemukakan jihad berdasarkan fikih. Orang yang tidak menjalankan perintah agama dapat dirampas harta dan jiwanya. Tuanku Nan Tuo mendasarkan pikirannya pada tarikat, Tindakan kekerasan hanya boleh dilakukan terhadap orang yang terang terangan menentang ajaran Islam. Akhirnya perbedaan pendapat diselesaikan dengan sumpah disaksikan Quran. Di beberapa nagari, seorang ulama ditempatkan dalam pemerintahan adat. Wadah lain hasil perjuangannya jabatan Imam, yang pada mulanya pemimpin sembahyang berjamaah, dan kemudian ikut memimpin pertahanan nagari, dan Tuan Kadi, mengatur akad nikah, talak rujuk dan pengawasan hukum dalam nagari. Perjuangan para ulama dikoordinasi ke dalam Tuanku nan Salapan yang terdiri dari : 1. Tuanku nan Renceh dari Kamang 2. Tuanku Kubu Sanang 3. Tuanku Ladang Laweh di Banuhampu 4. Tuanku Padang Luar
H.Mas’oed Abidin
73

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

5. Tuanku Galung di Sungai Puar 6. Tuanku Koto Ambalau 7. Tuanku Lubuk Aur 8. Tuanku Mansiangan Pamansiangan nan Mudo di

Munculnya kelompok militan bukan ide pembaruan yang dikembangkan. Tatkala kelompok ini ingin melaksanakan aksinya, mereka menghadap orang arif di Koto Tuo lebih dahulu. Pengaruhnya atas masyarakat luas merupakan faktor penentu. Apalagi sebagian besar para ulama itu pernah menjadi murid ulama besar ini. Pada awal gerakan pembaruan ini dibina atas hubungan pemimpin kharismatik dengan pengikutnya. Inilah yang disebut hubungan guru murid. Usulan Tuanku Nan Renceh beserta kelompoknya untuk melaksanakan aksi gerakan dengan kekerasan tidak dapat diterima Tuanku nan Tuo. Beliau sependapat dengan gagasan untuk terus menegakkan prinsip-prinsip ajaran Islam yang murni. Dalam segala hal, Tuanku nan Tuo menyediakan diri dan mencurahkan tenaganya guna pembaruan, seperti telah dilaksanakannya
74

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

jauh sebelumnya. Tetapi ia berbeda pendapat mengenai cara mencapai tujuan. Maka dinasehatkannya agar mereka menempuh jalan yang lebih lunak untuk menghindarkan kerugian yang tidak diperlukan. Dalam pengambilan keputusan mereka menemukan jalan bersimpang dua. Tuanku nan Tuo beserta murid-muridnya yang setia, tetap melaksanakan pembaruan dengan cara lunak. Sedangkan Tuanku nan Renceh dengan kelompoknya mengambil jalan kekerasan. Ternyata, Tuanku nan Renceh pula yang memikul beban langkah pertama untuk melaksanakan perubahan itu. Ia memulai gerakan di kampung halamannya. Pergolakan-pergolakan umum segera menyebar ke nagari-nagari di seluruh Minangkabau. Tuanku nan Renceh mengemukakan jihad berdasarkan fikih. Orang yang tidak menjalankan perintah agama dapat dirampas jiwa dan hartanya. Tuanku nan Tuo mendasarkan fikirannya menurut ajaran tarikat. Tindakan kekerasan hanya boleh dilakukan terhadap orang yang terang terangan menentang ajaran Islam. Akhirnya perbedaan pendapat diselesaikan dengan sumpah disaksikan Quran. Namun
H.Mas’oed Abidin
75

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

demikian kelompok Tuanku nan Renceh meminta Tuanku Pamansiangan nan Mudo sebagai penasihat mereka. Serangan Belanda, untuk menguasai perdagangan kopi dan kulit manis dari Kamang, di Koto Baru dan Kapau mendapat perlawanan yang gigih dari hulubalang Tuanku nan Renceh. Banyak korban yang berjatuhan di pihak Belanda sehingga dipaksa mundur ke Bukittinggi. Beberapa pucuk meriam Belanda dapat direbut di Kapau. Serangan-serangan Belanda merupakan pengalaman baru rakyat Minangkabau berhadapan dengan penguasa bangsa asing. Perlawanan semesta dengan menggunakan parit dan rintangan alam seperti bukit, lembah dan gunung. Sentot, seorang bekas pemimpin pasukan Diponegoro yang dikirim Belanda ke Minangkabau bersama 300 orang pasukannya. (1829). Pasukan Raden Noto Prawiro dan T. Prawiro Sabiro menyerang kedudukan Tuanku Nan Renceh. Dalam pertempuran itu, Tuanku nan Renceh menghembuskan nafas penghabisan (Juni 1832). Namun Raden Noto Prawiro dan Sabiro melihat masyarakat Kamang yang Islami dan keberanian hulubalang Tuanku nan Renceh di
76

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Kamang berjuang seperti dilakukannya bersama Diponegoro dulunya.

H.Mas’oed Abidin

77

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Tuanku Imam Bonjol (1772 - 1854)
Seorang tokoh gerakan pembaru Islam, dan seorang pemimpin Padri yang berhasil mengembangkan perdagangan di pantai barat, pantai timur sampai ke Tapanuli Selatan. Ia juga seorang ahli benteng yang terkenal dengan nama Bonjol di Minangkabau. Nama kecilnya Muhammad Syahab. Keluarganya berasal dari batas Rimbang, Agam. Sebagai pendatang di Tanjung Bungo, Alahan Panjang, dua orang bersaudara, Syekh Usman dan Hamatun diterima sebagai anak kemenakan dengan “mengisi adat” pada salah seorang Rajo Ampek Selo Alahan Panjang, Datuk Sati, di Ganggo Hilir. Kaumnya diizinkan pula mengangkat Syekh Usman sebagai penghulu kaum Koto, bergelar Datuk Sajatinyo. Hamatun, adiknya dikawinkan dengan Khatib Bayanuddin, seorang guru agama berasal dari Kampung Batas Rimbang, Palupuh Kabupaten Agam. Mereka menetap di Tanjung Bungo. Dari perkawinannya, mereka dikaruniai tiga orang putri, Sinik, Santun dan Halimatun dan
78

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

seorang anak laki-laki bernama Muhammad Sahab, yang kemudian terkenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol. Muhammad Sahab dilahirkan di kampung Tanjung Bungo pada tahun 1772. Pada usia 7 tahun, ia belajar mengaji al Quran di Kampung bakonya di Batas Rimbang, Luhak Agam. Pada tahun 1792 -1800, belajar pengetahuan agama di Surau Tuanku Bandaro di Padang Laweh. Tuanku Bandaro adalah seorang murid Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo, Ampek Angkek. Semenjak tahun 1802, Muhammad Syahab menjadi guru tuo (pembantu) di surau gurunya dengan bergelar Malin Basa. Pada tahun 1805, selama tiga bulan, Tuanku Datuk Bandaro bersama Malin Basa belajar ke Surau Bansa di Kamang. Mereka mengenal langsung pembaruan agama Islam yang dicetuskan oleh Tuanku Nan Renceh bersama Tuanku Haji Miskin. Dari Tuanku Nan Renceh, ia mendapat pengetahuan memajukan kesejahteraan masyarakat dengan melindungi pedagang dan mempergunakan bedil yang diperdapatnya dari Tuanku Sumanik.
79

H.Mas’oed Abidin

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Dari Tuanku Haji Miskin, mereka mendapat dasar pengetahuan fikih tentang hak warisan dan hukum perdagangan. Sebagai salah seorang murid Tuanku Nan Tuo, Datuk Bandaro bersama Malin Basa memperkenalkan pembaruan berdasarkan hukum Islam yang mengatur hak masyarakat dalam perdagangan dan warisan. Datuk Bandaro mempergunakan wibawanya mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk melaksanakan pembaruan itu. Semenjak itu, Malin Basa bergelar Peto Syarif. Pada tahun 1807, Peto Syarif dan pengikutnya pindah dan mendirikan Koto di bawah Bukik Tajadi yang kemudian bernama Bonjol (1807). Ia diangkat oleh Nyiak Angku menjadi Tuanku Imam. Bonjol dipimpin oleh Tuanku nan Barampek yangdipimpin oleh Tuanku Imam dan diresmikan oleh sebagai pemimpin pembaruan Islam oleh rombongan dari Kamang (1808). Tuanku Nan Gapuk dan Tuanku Nan Hitam ditugaskan belajar silat ke Tuanku Andaleh di Palembayan. Keduanya menjadi pelatih hulubalang Bonjol. Tuanku Nan Hitam sebagai Tuanku Kadi memimpin hukum Islam.
80

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Hulubalang dipimpin pangka tuo, di bawah pimpinan Tuanku Mudo. Tuanku Imam Bonjol berusaha mengamankan jalan perdagangan di pantai barat dan pantai timur Sumatra dengan bantuan hulubalang. Pembaruan sejalan dengan perlindungan pedagang dari Kumpulan terus ke Sasak dan Tiagan. Peto Magek, mantu Yang Dipertuan Parik Batu, seorang pedagang kaya, memasok keperluan Bonjol dengan meriam Inggeris. Pembaruan Islam berlanjut ke Suliki, Mahek, terus ke Kuok, Bangkinang dan Salo. Di tiap-tiap nagari-nagari ditanam imam khatib dan kadi. Tuanku Imam meresmikan Pakih Muhammad menjadi Imam Besar bergelar *Tuanku Rao berkedudukan di Padang Mattinggi, Rao. Bersama Tuanku Mudo, Tuanku Rao mengamankan jalan dagang menuju Sosa dan Barumun di pantai timur, dan mengangkat menantu Tuanku Rao sebagai Tuanku Barumun. Tuanku Gadubang dari Huta Na Godang menyebarkan pembaruan Islam di Tapanuli Selatan.

H.Mas’oed Abidin

81

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Bonjol menjadi pusat pembaruan Islam dan perdagangan di Minangkabau. Banyak harta rampasan dibawa ke Bonjol dan perilaku hulubalang banyak yang tidak dsenangi masyarakat. Tuanku Imam Bonjol berundang dengan Tuanku Rao, Tuanku Barumum dan Tuanku Kadi untuk mencari hukum ke sumber asli, di Mekah dan di Madinah. Mereka sepakat mengirim anak kemenakan dipimpin oleh Tuanku Barumun.(1811). Kembali dari Mekah, Tuanku Imam Bonjol mengakui kesalahan dengan menyatakan bahwa kesalahan harus diperbaiki. Penyelesaian adat dikembalikan kepada Basa dan penghulu, dan urusan agama diselesaikan oleh alim ulama. Semenjak itu berlaku adat basandi syarak (1813) dan berlaku di Minangkabau, Agam, Tanah Datar dan Negeri Danau. Segala harta rampasan (ghanimah) dikembalikan kepada pemiliknya. Selama 25 tahun, Imam Bonjol menjadi basis gerakan pembaruan berdasarkan ajaran adat dan syarak. Selama itu pula perdagangan Minangkabau berjalan dengan baik. Amerika dan Inggeris menjadi langganan komoditi pertanian Minangkabau, seperti kopi, lada, dan kulit manis.

82

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Pada tahun 1820, Tuanku Nan Renceh meninggal dunia dan kepemimpinan pindah kepada Tuanku Imam Bonjol. Pengaruh kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol makin terasa di seluruh Minangkabau sampai ke Tapanuli. Ketika Belanda memasuki pedalaman Minangkabau pada tahun 1821 berkali-kali hulubalang Bonjol dibantu hulubalang RaoMandahiling menyerang kedudukan Belanda di Agam dan Tanah Datar. Pandai Sikek direbut kembali (1825) dan Tuanku Pamansiangan kembali dari Bonjol. Kurai dibakar karena Belanda mendirikan Fort de Kock. Ampek Angkek diduduki karena Belanda mendirikan benteng di Gedung Batu, di Koto Tuo Ampek. Serangan ke Lintau dapat dipatahkan atas bantuan hulubalang Bonjol di bawah pimpinan Tuanku Mudo (16 April 1823). Tuanku Imam Bonjol mengungsi ke Lubuk Sikaping, karena Rajo Ampek Selo, Datuk Bandaro dengan Datuk Sati tidak sependapat atas permintaan Belanda untuk menyerahkan Bonjol (1832). Alangkah tercengangnya Tuanku Imam Bonjol, ketika Tuanku Nan Cadiak dari Nareh
H.Mas’oed Abidin
83

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

menjadi juru bicara perdamaian Belanda dengan Tuanku Imam Bonjol. Kepemimpinan Bonjol diserahkannya kepada Tuanku Mudo atas permintaan Elout. Serangan serentak atas kedudukan Belanda (11 Januari 1833) di Minangkaau terjadi karena Sikap Tuanku Imam yang mencintai persatuan dan musyawarah, meyakinkan pemimpinpemimpin Minangkabau, seperti Sultan Bagagarsyah, Sentot Prawirodirjo, Tuanku Nan Cadiak dari Naras dan masyarakat Minangkabau. Serangan balik Belanda dapat ditahan atas kepercayaan Tuanku Imam, bahwa setiap nagari mempertahankan nagarinya masing-masing. Kepercaayaan itu masih tetap dipertahankan oleh Tuanku Imam di saat perang mati-matian di lembah Alahan Panjang (1835 -1837). Berbagai bantuan mengalir dari seluruh Minangkabau, seperti mensiu, bahan kain, dan tenaga perang. Dengan dorongan agar teruskan melawan Belanda. Di tengah perang itulah datang surat Residen Francis agar Tuanku Imam menyerah. Surat itu dibicarakan dengan seluruh penghulu di Alahan Panjang. Semua penghulu menolak dan bertekad membantu Tuanku Imam. Tuanku Imam bersama keluarganya diantarkan
84

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

penghuku ke pengungsiannya di Koto Marapak dan Bukit Gadang. Atas musyawarah penghulu, Sultan Caniago dan *Bagindo Tan Labih diutus sebagai wakil Tuanku Imam berunding dengan Residen Belanda, Arbacht, ke Bukit Tinggi. Setelah berjuang selama 15 tahun, Tuanku Imam ditangkap 28 Oktober 1837,Tuanku Imam dengan alasan diajak berunding. Ia diasingkan semula ke Cianjur (20 Januari 1938) bersama Bagindo Tan Labih, semenda dan dubalang, Sutan Saidi anaknya dari Padang Laweh, dan si Gelek, tukang meriam Sentot yang setia padanya. Ia dipindahkan ke Manado, Koka, dan terakhir di Lota Pineleng, 9 km dari Manado. Imam Bonjol meninggalkan dunia pada 17 November 1854 di Lotak, dan baru disiarkan 10 tahun kemudian, sehingga kematiannya tercatat pada tahun 1864. Sebelum meninggal dunia, ia membeli sebidang tanah di Koka dari seorang Bwlanda bernama Agisir. Tanah itu diberikan untuk mahar perkawinan Bagindo Tan Labih dengan Watok Pantaow. Sampai sekarang, tanah kalekeran menjadi simbol pemersatu keluarga Baginda di Sulawesi. Tuanku Imam Bonjol diakui sebagai pahalawan dalam perjuangan pembaruan masyarakat berdasarkan syariat Islam dan
H.Mas’oed Abidin
85

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

menentang kolonialisme Belanda. Namanya terkenal sebagai ahli pembangunan benteng dan strategi perang rakyat semesta. Ia diangkat sebagai pahlawan nasional dengan Surat keputusan Presiden No. 087/TK, 6 Novembember 1973.

Tuanku Rao ( ……- 1830)
Murid Tuanku Imam yang terkenal bergelar Fakih Muhammad, seorang pemuda yang berasal dari Padang Mattinggi, Rao (Naskah Tuanku Imam Bonjol, tulisan Naali Sutan Caniago ). Ayahnya berasal dari Huta na Godang. Dalam tradisi Batak, Tuanku Rao adalah kemenakan dari Singamaraja X yang menguasai daerah Bangkara Toba. Nama kecilnya Pongki na Ngolngolan Ia belajar di Koto Tuo sampai mencapai gelar Fakih Muhammad. Kemudian ia belajar di Bonjol dengan Tuanku Imam. Setelah menyelesaikan pengajiannya di Bonjol, Fakih Muhammad diiringkan oleh Tuanku
86

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Nan Barampek berangkat ke Rao. Kedatangan rombongan mulanya disambut dengan perang. Kemudian orang Rao dapat dikejar sampai ke Langsek Kodok. Dalam peperangan ini Rajo Dubalang Rao kena tembak, sehingga mereka berdamai. Yang Pituan Padang Unang berjanji akan menjalankan hukum syarak di nagari Rao dan akan menanam imam dan khatib. Tuanku nan Barampek dijemput Datuk Manjunjung Alam dari Padang Mattinggi untuk meresmikan Pakih Muhammad menjadi Imam Besar di nagari Rao dan bergelar Tuanku Rao yang disetujui Yang Dipertuan Padang Nunang dan penghulu Nan Lima Belas. Semenjak itu Fakih Muhammad lebih dikenal sebagai Tuanku Rao. Ia dibantu kemenakannya, Bagindo Suman, sebagai kepala hulubalang. Selama Perang Agama (1807 -1812) di Bonjol, Tuanku Rao ikut membantu Tuanku Imam Bonjol bersama Tuanku Mudo dan hulubalang meluaskan pembaruan ke daerah sekitarnya Rao sampai ke Rambah Kapanuhan dan ke Rokan, sehingga jalan dagang terbuka melalui Barumum. Gerakan pembaruan ke kawasan Mandahiling Julu dan Mandahiling Godang semenjak tahun
H.Mas’oed Abidin
87

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

1820 dapat diawasi Tuanku Rao dibantu oleh Raja Alam Pakantan dan Tuanku Natal. Daerah ini menghasilkan emas dan penduduknya berdagang melalui pelabuhan Natal. Gerakan pembaruan ke timur menuju Rokan dilanjutkan sampai ke Barumun, Rambah Kapanuhan, Kota Pinang dan Tanah Tumbuh. oleh Tuanku Tambusai, menantu Tuanku Rao, sehingga kawasan Batang Barumun dan Sosa, daerah penghasil emas dan jalur perdagang ke Kota Pinang dan Pedir dapat diawasi oleh Tuanku Tambusai. Tuanku Rao bersama hulubalang Tuanku Imam meluaskan pembaruan ke negeri Mahek, Kuok, Bangkinang sampai Salo dan Air Tiris. Di tempat itu disusun pemerintahan agama seperti menanam imam, khatib dan kadhi. Dua orang utusan Tuanku Natal, Tuanku Di Danau Air dan Tuanku Diukur melaporkannya kepada Tuanku Imam Bonjol. Untuk menghadapinya, Tuanku Imam menugaskan Tuanku Rao dan Bagindo Suman membantu Tuanku Natal menyerang kedudukan Belanda. Pertempuran ini mendapat bantuan kapal-kapal Trumon dari Aceh. Pelabuhan Natal dikepung 10.000 orang pasukan Rao Mandahiling selama 12 hari. Pasukan Rao dipimpinan Bagindo Suman menarik diri setelah
88

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

perahu Saidi Marah kena tembakan kapal Nakhoda Langkap, sekutu Belanda. Ketika serangan ke Air Bangis, Tuanku Rao meninggal dunia (1830).

TUANKU NAN CADIAK (…..-1851)

Semenjak dahulu, Naras merupakan jalan niaga dan jalan agama tradisional dalam pengembangan surau di Minangkabau.. Tuanku Nan Cadiak, Kampuang Dalam, dikenal sebagai Bagindo Maganti. Tuanku Nan Cadiak sangat disenangi karena selalu melindungi rakyat yang membuat garam di daerah pantai. Di Kampung Dalam, di daerah Naras ia dikenal bergelar Bagindo Maganti. Setelah memimpin surau di Kampung Dalam, ia dipanggil muridnya Tuanku Nan Cadiak. Di kalangan
H.Mas’oed Abidin
89

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

rakyat Naras dan Tujuh Koto, ia seorang ulama yang disegani, karena selalu menjadi pelindung rakyat yang membuat garam di daerah pantai di daerahnya.. Berkali-kali Belanda menyerang rakyat Naras dan melarang membuat garam, selalu dipertahankan Tuanku Nan Cadiak sebagai pelindung pedagang di daerah pantai.. Pada tahun 1814, Raja Dihulu atau Rajo Nando, mamak Tuanku Nan Cadiak, meninggal dunia. Rajo Nando tidak mempunyai anak lakilaki yang akan menggantikannya. Tuanku Dihilir di Pariaman, Amar Bangso Dirajo, lebih senang apabila Bagindo Molek diangkat menjadi Raja manggung, daerah yang berbatasan dengan Pariaman. Rakyat Naras dan penduduk Agam yang membawa barang melalui Malalak terus ke Agam dan Pandai Sikek dan Koto Laweh. Ia juga menjadi pelindung fakih dan malin yang belajar di derah pantai, seperti Ampalu Tinggi dan Ulakan. Naras semenjak dahulu merupakan jalan niaga dan jalan agama tradisional dalam pengembangan surau di Minangkabau.. Tuanku Nan Cadiak adalah orang yang cerdas dan berhasil mengembalikan daerah Manggung menjadi pusat perdagangan dan pembaruan agama di daerah pantai, sekitar Pariaman..
90

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Elout, Residen Belanda untuk Sumatra's Westkust, mengirim surat kepada Tuanku Nan Cadiak, Tuanku Limo Koto Kampung Dalam dan Tuanku Tujuh Koto, menganjurkan mereka menyerah kepada Belanda, dengan perantaraan In't Veld, seorang saudagar di Pariaman. Dikatakannya, segala 'kesalahan'yang dilakukan selama ini, akan dimaafkan. Tuanku Nan Cadiak membalas surat Elout itu yang bunyinya, dengan senang hati ia membaca surat itu dan minta maaf ia tak bisa datang ke Pariaman, karena terlalu sibuk mengerjakan benteng. Tuanku Nan Cadiak mengundang In"t Velt dan akan menerima Veld di Naras sambil melihatlihat pertahanan kampung yang telah diperkuat parit dan pertahanan meriam. Surat yang sama yang dikirim kepada Tuanku Limo Koto. Tuanku Limo Koto menjawab, bahwa ia akan menyerah, bila Tuanku Nan Cadiak telah menyerah diri. Jawaban yang keras datang dari Tuanku Tujuh Koto menyatakan tidak akan datang kepada Anda, tetapi apabila orang Eropah mau datang, akan kami nanti karena kami merasa puas dengan pemerintah dan pemimpin kami. Sawah kami subur dan hasilnya mencukupi untuk keperluan kami.
H.Mas’oed Abidin
91

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Sejak semula Belanda ingin menguasai komoditi perdagangan dari Minangkabau. Untuk itu, Belanda berusaha menguasai pelabuhanpelabuhan di pantai barat, seperti Naras, Tiagan dan Air Bangis. Dengan menguasai ketiga pelabuhan itu, Belanda beranggapan akan dapat menguasai komoditi Sumatera Barat yang sangat menguntungkannya. Usaha itu terlihat dari beberapa kegiatan pasukan Belanda untuk menguasai pelabuhan Naras, kunci jalan dagang dari Agam melalui Malalak. Tiagan dan Sasak di utara Tiku, suatu pelabuhan yang dilindungi bukit-bukit sebagai saluran komoditi dari daerah Kinali dan Bonjol. Demikian juga halnya dengan Air Bangis, pintu perdagangan dari Rao dan sekitarnya yang kaya dengan komoditi emas. Pasukan Bonjol bergerak ke pantai untuk memutuskan hubungan antara pedalaman dengan daerah pantai. Dua buah meriam yang direbut di Air Bangis, diserahkan kepada Tuanku Nan Cadiak. Bantuan itu menambah semangat Tuanku Nan Cadiak menentang kekuasaan Belanda. Pertarungan hebat terjadi antara pasukan Belanda yang menyerang kubu pertahanan Tuanku Nan Cadiak yang terjadi selama bulan
92

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Desember 1830. Pasukan Bonjol membantu Tuanku Nan Cadiak setelah mengundurkan diri ke Manggopoh. Pada tahun 1831, pasukan Belanda mencoba menyerang Naras dan Tujuh Koto di bawah pimpinan Jendral Michiels. Naras, sebuah kampung yang bagus terbakar oleh serangan meriam Belanda. Tuanku Nan Cadiak dan pengikutnya ingin mengungsi ke Bonjol melalui Danau Maninjau. Pada waktu pasukan Belanda mengejarnya rombongan Tuanku Nan Cadiak. Ibu, isteri dan putri Tuanku Nan Cadiak mati terbunuh. Kepala isterinya dipancung dan dipertontonkan kepada rakyat di Pariaman. Belanda mengumumkan akan memberi hadiah kepada orang yang dapat menangkap Tuanku Nan Cadiak. Dua orang putri Tuanku Nan Cadiak disandra Elout sehingga memaksanya menyerah kepada Belanda. Setelah menyerah kepada Belanda, Tuanku Nan Cadiak datang ke Bonjol sebagai juru bicara Belanda pada tahun 1832. Tuanku Imam sangat kecewa ketika Tuanku Nan Cadiak datang sebagai juru bicara Belanda.. Beberapa bulan setelah Tuanku Imam Bonjol menyerah pada akhir tahun 1832, Tuanku Imam Bonjol berhasil mengadakan Kesepakatan
H.Mas’oed Abidin
93

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Tandikek, hanya beberapa ratus meter dari pasukan Belanda di Bonjol. Pertemuan itu merundingan untuk melakukan serangan serentak kepada setiap pos Belanda di seluruh Minangkabau. Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, Tuanku Pamansiangan dan penghulu Lawang Tanah Duo Baleh (Palembayan), negeri Danau (Maninjau), Lubuk Sikaping dan Sipisang sepakat dengan orang Alahan Panjang melancarkan serangan serentak terhadap setiap pos Belanda pada tanggal 11 Januari 1833. Tuanku Imam dapat pula mempertemukan kedua pemimpin, Bagarsyah, raja Pagaruyung dan Sentot Ali Basyah. Tuanku Imam mengharapkan Sentot bersedia menjadi Sultan di Minangkabau. Pada saat lebaran Sentot bersama isterinya datang ke Pagaruyung. Sebagai seorang Islam, dia ingin berlebaran dan membayarkan zakat fitrahnya di Pagaruyung. Di saat lewat pada penjagaan pos Belanda di benteng Fot van der Cappelen. Sentot Prawirodirjo yang dipanggil masyarakat Minangkabau dengan Sentot Alibasya mwenegur mereka dengan sindiran, Bagagarsyah dan semua penghulu di Pagaruyung berjanji di bawah sumpah setia (bai'at) pada Sentot bahwa mereka
94

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

akan mempertahankan agama dan negeri dari serangan Belanda. Elout sebagai Residen Sumatra's West kust melapor kepada atasannya Gubernur Jendral di Batavia, bahwa Minangkabau telah aman dan siap untuk melakukan tanaman paksa kopi. Ternyata seluruh Minangkabau melakukan serangan serentak, sehingga Elout, Residen Belanda, merasa dikhianati oleh Sentot. Belanda menangkap para penghulu dan pejuang di Guguk Sigandang. Kemudian Sentot Ali Basyah dan membuangnya ke Benghulu, Bagagarsyah Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung dibuang ke Betawi dan meninggal dunia pada tahun 18… dan dikuburkan di Mangga Dua. Tuanku Nan Cadiak dari Naras dikirim ke Batavia kemudian disekap dalam penjara di bawah tanah di Taman Fatahilah. Kemudian dibuang ke Cerebon dan meninggal dunia pada tahun 1851.

H.Mas’oed Abidin

95

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

96

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

SURAU INYIK DJAMBEK WARISAN GERAKAN PEMBARUAN PEMIKIRAN ISLAM MATA RANTAI GERAKAN PADERI DI MINANGKABAU

Pada awal abad ke-20, di Sumatera Barat ditandai dengan periode yang penuh pergolakan sosial dan intelektual. Berpuluh-puluh buku polemik, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Melayu mulai banyak diterbitkan, dan berbagai majalah, surat kabar yang mewartakan hal-hal yang berupa pergolakan pemikiran, dan aliran-aliran dalam pemahaman mazhab dalam syari’at Islam, mulai banyak bermunculan, dan pengamalan dalam adat sesuI panduan syarak, agama Islam sangat ramai dibicarakan. Salah seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang menyebarkan pikiranpikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855).1

1

Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta, LP3ES, 1980, hal.38 97

H.Mas’oed Abidin

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Syekh Ahmad Khatib adalah turunan dari seorang hakim golongan Padri yang “benarbenar” anti penjajahan Belanda. Ia dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1855 oleh ibu bernama Limbak Urai. Limbak Urai adalah saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek yang berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Baik dari pihak ibu ataupun pihak ayahnya, Ahmad Khatib adalah anak terpandang, dari kalangan keluarga yang mempunyai latar belakang agama dan adat yang kuat, anak dan kemenakan dari dua orang tuanku Laras dari Ampek Koto dan Ampek Angkek. Ditenggarai, bahwa ayah dan ibu Ahmad Khatib dipertemukan dalam pernikahan berbeda nagari ini, karena sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dalam adat, dari keluarga tuanku laras, dan latar belakang pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.

98

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Sejak kecilnya Ahmad Khatib mendapat pendidikan pada sekolah rendah yang didirikan Belanda di kota kelahirannya. Ia meninggalkan kampung halamannya pergi ke Mekah pada tahun 1871 dibawa oleh ayahnya. Sampai dia menamatkan pendidikan, dan menikah pada 1879 dengan seorang putri Mekah Siti Khadijah, anak dari Syekh Shaleh al-Kurdi, maka Syekh Ahmad Khatib mulai mengajar dikediamannya di Mekah tidak pernah kembali ke daerah asalnya. Syekh Ahmad Khatib, mencapai derajat kedudukan yang tertinggi dalam mengajarkan agama sebagai imam dari Mazhab Syafei di Masjidil Haram, di Mekah. Sebagai imam dari Mazhab Syafe’i, ia tidak melarang muridmuridnya untuk mempelajari tulisan Muhammad Abduh, seorang pembaru dalam pemikiran Islam di Mesir. Syekh Ahmad Khatib sangat terkenal dalam menolak dua macam kebiasaan di Minangkabau, yakni peraturan-peraturan adat tentang warisan dan tarekat Naqsyahbandiyah yang dipraktekkan pada masa itu. Kedua masalah itu terus menerus dibahasnya, diluruskan dan yang tidak sejalan dengan syari’at Islam ditentangnya.

H.Mas’oed Abidin

99

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib el Minangkabawy ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolahsekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib, dan Diniyah Puteri, sampai ke nagarinagari di Minangkabau, sehingga menjadi pelopor pergerakan merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam beberapa karya Ahmad Khatib menunjukkan bahwa barang siapa masih mematuhi lembaga-lembaga “kafir”, adalah kafir dan akan masuk neraka. Kemudian, semua harta benda yang diperoleh menurut hukum waris kepada kemenakan, menurut pendapat Ahmad Khatib harus dianggap sebagai harta rampasan. Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Ahmad Khatib memicu pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Di pihak lain perlawanan yang berarti terhadap pemikiran Ahmad Khatib datang dari kalangan Islam tradisi yang adakalanya disebut kaum tua.

100

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Kecamannya mengenai tarekat, telah dijawab oleh Syekh Muhamamad Saat bin Tanta’ dari Mungkar dan Syekh Khatib Ali di Padang jang menerbitkan beberapa tulisan tentang itu. Kecamannya dalam harta warisan, menumbuhkan kesadaran banyak orang Minangkabau memahami, bahwa tidak dapat disesuaikan hukum waris matrilineal dengan hukum agama. Di antara guru agama banyak juga yang tidak dapat menyetujui pendirian Ahmad Khatib, yang dianggap tidak kenal damai. Walaupun pikiranpikiran itu mendapat tantangan dari kaum adat, maupun muridnya yang tidak menyetujui pemikiran demikian, namun perbedaan pendapat ini telah melahirkan hasrat untuk lebih berkembang, menghidupkan kembali kesadaran untuk pengenalan kembali diri sendiri, yaitu kesadaran untuk meninggalkan keterbelakangan. Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawy menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah melalui tulisan-tulisannya di majalah atau bukubuku agama Islam, dan melalui murid-murid yang belajar kepadanya.

H.Mas’oed Abidin

101

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Dengan cara itu, beliau memelihara hubungan dengan daerah asalnya Minangkabau, melalui murid-muridnya yang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan yang belajar padanya. Mereka inilah kemudian menjadi guru di daerah asalnya masing-masing. Ulama zuama bekas murid Ahmad Khatib, mulai mengetengahkan pemikiran, manakala Islam bermaksud tetap memuaskan pengikutnya, maka harus terjadi suatu pembaruan. Setiap periode dalam sejarah peradaban manusia, melahirkan pembaruan pemikiran agama yang bertujuan memperbaiki pola penghidupan umatnya. Cita-cita itu ditemukan kembali dalam agama. Cara berpikir seorang beragama Islam bertolak dari anggapan keyakinan, bahwa Islam itu tidak mungkin memusuhi kebudayaan. Dengan kemajuan cara berpikir orang berusaha menemukan kembali cita-citanya dalam Islam. Timbul pertanyaan, apakah di dalam Islam ada unsur yang menyangkut kepada cita-cita persamaan, kebangsaan, hasrat untuk maju dan rasionalisme.

102

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Keunggulan dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya, selalu menghindari sikap taqlid. Salah seorang dari muridnya, yakni H.Abdullah Ahmad, yang kemudian menjadi salah seorang di antara para ulama dan zuama, pemimpin kaum pembaru di Minangkabau, pendiri Sumatera Thawalib, yang berawal dari pengajian di Masjid Zuama, Jembatan Besi, Padangpanjang, dan kemudian mendirikan pula Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), di Jati, Padang, telah mengembangkan ajaran gurunya melalui pendidikan dan pencerahan tradisi ilmu dan mendorong pula para muridnya untuk mempergunakan akal yang sesungguhnya adalah kurnia Allah. Jika kepercayaan hanya tumbuh semata-mata karena penerimaan atas wibawa guru semata, maka kepercayaan itu tidak ada harganya, dan itulah yang membuka pintu taqlid. Peperangan melawan penjajahan asing tidak semata-mata dengan menggunakan senjata, bedil dan kelewang, tetapi pencerdasan anak kemenakan dengan memberikan senjata tradisi ilmu.

H.Mas’oed Abidin

103

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Murid-muridnya kemudian menjadi penggerak pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947)2, Haji Abdul Karim Amarullah (1879-1945) 3, dan Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933)4.

Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956)

2

Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1860 , anak dari Muhammad Saleh Datuk Maleka, Kepala Nagari Kurai. Ibunya berasal dari Betawi. Syekh Djamil Djambek meninggal tahun 1947 di Bukittinggi.

3

Haji Rasul lahir di Sungai Batang, Maninjau, tahun 1879, anak seorang ulama Syekh Muhammad Amarullah gelar Tuanku Kisai. Pada 1894, pergi ke Mekah, belajar selama 7 tahun. Sekembali dari Mekah, diberi gelar Tuanku Syekh Nan Mudo. Kemudian kembali bermukim di Mekah sampai tahun 1906, memberi pelajaran di Mekah, di antara murid-muridnya termasuk Ibrahim Musa dari Parabek, yang menjadi seorang pendukung terpenting dari pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Haji Rasul meninggal di jakarta 2 Juni 1945

Haji Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878, anak dari Haji Ahmad, seorang ulama dan pedagang. Ibunya berasal dari Bengkulu, masih trah dari pengikut pejuang Sentot Ali Basyah. 104 H. Mas’oed Abidin
4

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Seorang pembaru lainnya adalah Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956), pada masa mudanya dipanggil Muhammad Taher bin Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek, Bukittinggi, tahun 1869, anak dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat bersama Tuanku Nan Tuo. Syekh Taher Djalaluddin adalah saudara

sepupu dari Ahmad Khatib Al Minangkabawy, karena ibunya adik beradik. Syekh Taher

Djalaluddin, berangkat ke Mekah 1880, dan menuntut ilmu selama 15 tahun, kemudian meneruskan ke Al Azhar, di Mesir (1895-1898), dan kembali ke Mekah mengajar sampai tahun 1900. Beliau sangat ahli di bidang ilmu falak, dan tempat berguru Syekh Muhammad Djamil

Djambek. Mulai tahun 1900 itu, Syekh Taher

H.Mas’oed Abidin

105

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Djalaluddin menetap di Malaya, pernah diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak. Eratnya hubungan Syekh Taher Djalaluddin dengan perguruan

tinggi Al-Azhar di Kairo, dia tambahkan al-Azhari di belakang namanya. Syekh Taher Djalaluddin merupakan seorang tertua sebagai pelopor dari ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan tanah Melayu. Bahkan ia juga dianggap sebagai guru oleh kalangan

pembaru di Minangkabau. Pengaruh Syekh Taher Djalaluddin tersebar pada murid-muridnya

melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah ini bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, yang menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908. Majalah Bulanan Al-Imam memuat artikel tentang pengetahuan popular, komentar

106

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

kejadian penting di dunia, terutama dunia Islam, dan masalah-masalah umat Islam agama, betapa bahkan pentingnya

mendorong

memiliki sebuah Negara yang merdeka dan tidak dijajah. Majalah ini mendorong agar umat Islam mencapai kemajuan dan berkompetisi dengan dunia barat. Al-Iman sering mengutip pendapat dari Mohammad Abduh yang dikemukakan

majalah Al-Mannar di Mesir. Majalah ini memakai bahasa Melayu dengan tulisan Arab Melayu atau tulisan Jawi, dan disebarkan di Indonesia meliputi tanah Jawa (Betawi, Jakarta, Cianjur, Semarang, dan Surabaya), Kalimantan (di Pontianak dan Sambas), Sulawesi (di Makassar). Di Padang, Haji Abdullah Ahmad mencontoh bentuk dan moto Al-Iman pada majalah yang diterbitkannya di Padang bernama Al-Munir.

H.Mas’oed Abidin

107

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Banyak masalah yang dibicarakan pada Al-Iman mendapat tempat pada Al-Munir. Syekh Taher baru dapat pulang ke

Minangkabau pada tahun 1923 dan tahun 1927, namun ketika itu dia ditangkap dan ditahan oleh Pemerintah Belanda selama enam bulan, dituduh memfitnah dan menentang penjajahan melalui artikel-artikelnya di dalam majalah Al Iman itu. Setelah bebas Syekh Taher meninggalkan

kampung halamannya dan tidak pernah kembali lagi ke daerah asalnya. Syekh Taher Djalaluddin meninggal dunia pada tahun 1956 di Kuala Kangsar, Perak, Malaya. Gerakan pembaruaan di awal abad ini dapat disebut sebagai gerakan pembaruan para ulama zuama, yang sesungguhnya telah diwarisi

sambung bersambung dalam rantai sejarah yang berkelanjutan semenjak dari dua gerakan Paderi sebelumnya. Dapat pula dinyatakan bahwa

108

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

gerakan pembaruan ulama zuama di awal abad 20 di Minangkabau menjadi mata rantai dari gerakan Paderi periode ketiga. Gerakan Paderi periode pertama, di awal abad kedelapan belas, dimulai pulangnya tiga serangkai ulama Minang (1802), terdiri dari Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, yang juga dikenal bergelar Tuanku Lintau, berawal dengan penyadaran semangat beragama Islam di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Gerakan Paderi perode kedua dilanjutkan oleh Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur, Tuanku di Ladang Laweh dan Tuanku Imam Bonjol yang berujung dengan perlawaanan terhadap penjajahan Belanda (1821-1837), dan

H.Mas’oed Abidin

109

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

lahirnya piagam Marapalam yang menyepakati adaik basandi syarak, syarak basandi

Kitabullah di ranah Minangkabau. Gerakan Kembali ke Syariat yang

dilaksanakan di bawah bimbingan Tuanku Nan Tuo, yang kemudian berlanjut kepada Gerakan Padri di bawah pimpinan Tuanku Nan Renceh, yang kemudian sambung bersambung di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, sesungguhnya tidak menentang hukum waris berdasarkan garis ibu. Gerakan pembaharuan yang dilaksanakan

sejak Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, dan Tuanku Imam Bonjol, lebih menguatkan harta pusaka, yang dimaksud adalah pusaka tinggi itu, dimanfaatkan untuk kesejahteraan kaum, dan oleh karena itu, harta pusaka dimaksud

diturunkan kepada kemenakan, dan ditempatkan pada pengawasan garis perempuan. Namun

110

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

mengenai harta pencaharian, kedua gerakan itu sependapat harus diwariskan kepada anak. Tuanku Imam Bonjol, sadar bahwa setelah utusan anak kemenakannya mempelajari hukum Islam ke tanah Mekah, menyatakan pembagian tugas yang nyata antara adat dan syarak atau agama. Bahwa masalah adat dikembalikan

kepada Basa dan Penghulu, sedangkan masalah agama diserahkan kepada Tuanku atau malin. Inilah doktrin ajaran adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Gerakan

pembaruan ulama zuama di awal abad ke 20 di ranah Minangkabau ini, berawal dengan

kepulangan para penuntut ilmu dari Makkah el Mukarramah, yang umumnya adalah murid dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawiy, telah ikut memberikan sumbangan bagi pencerahan pemahaman dan pengamalan syari’at Islam, dan mendorong bagi munculnya perdebatan-

H.Mas’oed Abidin

111

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

perdebatan umum yang diikuti para ulama, kaum terpelajar, dan ahli-ahli adat, dan ikut pula membukakan berbagai jenis kesempatan perkumpulan bagi yang lahirnya bertujuan

memperdalam ilmu agama dan adat istiadat, serta mendorong tumbuhnya pendidikan Islam, madrasah-madrasah samapai ke nagari-nagari, dan berdiri pula berjenis organisasi pergerakan, seperti Tarbiyah dan Islamiyah, meluas Adabiyyah, sampai ke

Muhammadiyah,

semenanjung Malaya, dibawa oleh Syekh Taher Jalaluddin yang lebih banyak melaksanakan dakwahnya di tanah semenjanjung itu. Tak kurang penting timbulnya pergolakanpergolakan kecil di beberapa tempat, biasanya membayangkan dinamika masyarakat adat dan agama di dalam membangun masyarakat di Minangkabau yang sedang mengalami

perubahan, menumbuhkan keinginan baru untuk melakukan
112

proses

pemeriksaan

kembali

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

terhadap nilai-nilai kultur yang dipunyai. Ketika arah pembangunan dan perobahan sosial sedang terjadi, menuju suasana merebut kemerdekaan dan menjelang proklamasi setelah kemerdekaan berakhirnya

Republik

Indonesia,

penindasan panjang 350 tahun dijajah Belanda, dan beralihnya kekuasaan kepada Dai Nippon, maka merebut kemerdekaan menjadi wajib. Fatwa para ulama dan zuama ikut

membentuk dinamika sejarah dan pemikiran Islam di ranah Minangkabau bergerak cepat, sejak empat puluh tahun sebelumnya juga telah digerakkan oleh para ulama zuama dengan basis ilmu pengetahuan agama dan adat istiadat, serta bahasan-bahasan perkembangan politik di Mesir dan Turki masa itu, ikut mendorong kepada pencarian model yang sesuai dengan yang haq, dan menuntut sikap beragama yang rasional, serta menumbuh kembangkan

H.Mas’oed Abidin

113

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

semangat kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara. Pembaruan Islam di Minangkabau bukan

semata terbatas pada kegiatan serta pemikiran saja, tetapi menemukan kembali ajaran atau prinsip dasar Islam yang berlaku abadi yang dapat mengatasi ruang dan waktu. Sementara itu usaha-usaha pembaruan yang praktis, baik dalam bentuk sekolah dan

madrasah-madrasah atau pun kerajinan desa, mulai bermunculan. Kaum pembaru pemikiran Islam berusaha mengembalikan ajaran dasar agama Islam dengan menghilangkan segala macam tambahan yang datang kemudian dalam din, agama, dan dengan melepaskan penganut Islam dari jumud, kebekuan dalam masalah dunia. Mereka berusaha memecahkan tembok

tambahan dan jumud itu, agar dapat menemu
114

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

kembali

isi

dan

inti

ajaran

Islam

yang

sesungguhnya,

yang

menurut

keyakinannya

menjadi cahaya yang dapat menyinari alam ini. Kaum pembaru berkeyakinan bahwa bab alijtihad, masih tetap terbuka; mereka menolak taqlid. Ijtihad membawa kaum pembaru untuk lebih memperhatikan pendapat. Keinginan untuk keluar dari situasi yang dianggap tidak sesuai dengan gagasan-gagasan Minangkabau yang pada ideal pilihansaling

menghadapkan pilihan yang

kadang-kadang

bertentangan. Model barat mungkin baik, tetapi dapat

berarti ancaman pada dasar-dasar agama dan adat. Perubahan yang sesuai dengan ajaran Islam yang ortodoks, memang merupakan

pemecahan. Tetapi bagaimana pula dengan lembaga adat yang telah mendarah daging dalam kehidupan
H.Mas’oed Abidin
115

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

masyarakat Minangkabau? Dan, apa pula contoh yang bisa diikuti? Tetapi parameter adat sangat terbatas dan bias menutup jalan ke dunia maju dan mungkin pula menghadapkan diri pada masalah dosa dan tidak berdosa, soal batil dan haq. Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947)

116

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Syekh Muhammad Djamil Djambek
Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka. Nama Syekh Muhammad Djamil Djambek lebih dikenal dengan sebutan Inyik Syekh Muhammad Djamil Djambek atau Inyik Djambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda. Masa kecilnya tidak banyak sumber yang menceritakan. Namun, yang jelas Muhammad Djamil mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru (Kweekschool).

H.Mas’oed Abidin

117

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Sampai umur 22 tahun ia berada dalam kehidupan parewa, satu golongan orang mudamuda yang tidak mau mengganggu kehidupan keluarga, pergaulan luas di antara kaum parewa berlainan kampung dan saling harga menghargai, walau ketika itu kehidupan parewa masih senang berjudi, menyabung ayam, namun mereka ahli dalam pencak dan silat. Semenjak berumur 22 tahun, Mohammad Djamil mulai tertarik pada pelajaran agama dan bahasa Arab. Ia belajar pada surau di Koto Mambang, Pariaman dan di Batipuh Baruh. Ayahnya membawanya ke Mekah pada tahun 1896 dan bermukim di sana selama 9 tahun lamanya mempelajari soal-soal agama. Gurugurunya di Mekah, antara lain,adalah Taher Djalaluddin, Syekh Bafaddhal, Syekh Serawak dan Syekh Ahmad Khatib. Ketika itu dia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Semula Muhammad Djamil tertarik untuk mempelajari ilmu sihir kepada seorang guru dari Maroko, tapi dia disadarkan oleh gurunya. Selama belajar di tanah suci, banyak agama yang dia dapatkan. Antara lain dipelajari secara intensif adalah tentang tarekat serta memasuki suluk di Jabal Qubais.
118

ilmu yang ilmu Abu

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Dengan pendalaman tersebut Syekh Muhammad Djamil menjadi seorang ahli tarekat dan bahkan memperoleh ijazah dari tarekat Naqsabandiyyah-Khalidiyah. Di antara muridmuridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Syekh Muhammad Djamil Djambek dihormati sebagai Syekh Tarekat. Dari semua ilmu yang pernah didalami yang pada akhirnya membuatnya terkenal adalah tentang ilmu falak, dan belajar dengan Syekh Taher Djalaluddin. Di akhir masa studinya di Makkah, beliau sempat mengajarkan ilmu falak, yang menjadi bidang spesialisasi beliau, kepada masyarakat Sumatera dan Jawi yang bermukim di Mekah. Keahliannya di bidang ilmu falak mendapat pengakuan luas di Mekah. Oleh sebab itu, ketika masih berada di tanah suci, Syekh Muhammad Djamil Djambek pun mengajarkan ilmunya itu kepada para penuntut ilmu dari Minangkabau yang belajar di Mekah. Seperti, Ibrahim Musa Parabek (pendiri perguruan Tawalib Parabek) serta Syekh Abdullah (pendiri perguruan Tawalib Padang Panjang). Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Sekembalinya dari Mekah, Mohammad Djamil
H.Mas’oed Abidin
119

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

mulai

memberikan

pelajaran

agama

secara

tradisional Karena beliau memelihara dengan rapi dan teratur jambang dan jenggotnya, maka muridnya mulai menyebutnya dengan Syekh Muhammad Djambek. Murid-muridnya kebanyakan terdiri dari para kalipah tarekat. Setelah beberapa lama, Syekh Muhammad kegiatan Djambek berpikir melakukan lebih Djamil Djambek, atau Inyik

alternatif.

Hatinya

memang

condong untuk memberikan pengetahuannya, walaupun tidak melalui lembaga atau organisasi. Dia begitu tertarik pada usaha meningkatkan keimanan seseorang. Kemudian ia meninggalkan Bukittinggi dan kembali menjalani kehidupan parewa di Kamang, sebuah nagari pusat pembaruan Islam di bawah Tuanku nan Renceh pada abad ke-19. Hingga kemudian dia mendirikan dua buah surau, yakni

120

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Surau

Tengah

Sawah

dan

Surau

Kamang.

Keduanya dikenal sebagai Surau tempat mengaji dengan Inyik Djambek. Di Kamang pula agama ia mulai untuk menyebarkan meningkatkan

pengetahuan iman.

Akhirnya, ia sampai pada pemikiran, bahwa sebagian besar anak nagari tidak melaksanakan ajaran agama dengan sempurna bukan karena kurang keimanan dan ketaqwaannya, tetapi

karena pengetahuan mereka kurang tentang ajaran Islam itu sendiri. Ia mengecam masyarakat yang masih

gandrung pada ajaran tarekat. Ia mendekati ninik mamak dan membicarakan Islam sesuai berbagai dengan

masalah

masyarakat.

tuntutan zaman dan keadaan. Islam juga berarti kemajuan, agama Islam tidak menghambat usaha mencari ilmu
121

H.Mas’oed Abidin

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

pengetahuan, perkembangan kehidupan dunia, dan menghormati kedudukan perempuan. Islam adalah agama universal, yang dasar ajarannya telah diungkapkan oleh para nabi, yang diutus kepada semua bangsa (QS. 10;47;2: 164; 35:24; 40:78). Tugas mereka diselesaikan oleh Nabi Muhammad saw, rasul utusan terakhir untuk seluruh umat manusia. Cita-cita pikiran untuk memajukan umat

dengan agama Islam yang demikian, hanya dapat dicapai melalui pengamalan syariat, yang terbagi kepada tauhid dan ibadah, disuruh. semuanya Jadi terlarang, ibadat. Dalam kecuali yang telah

cara-cara

beribadah

diperintahkan. Di tradisi-tradisi baru yang tidak ada perintahnya, maka tidak dapat diterima sebagai ibadah, dan disebut bid’ah. Di dalam kegiatan pemurnian agama, kaum pembaru
122

menentang

berbagai

bid’ah

yang

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

dibedakan atas dua jenis, yaitu bid’ah menurut hukum (syar’iyah) dan dalam pemakaian

bahasa (lughawiyah). Bid’ah syar’iyah tidak dapat dibiarkan

berlaku, karena itu perlu diteliti dalam segala hal, apakah yang lazim dilakukan sehari-hari di bidang agama, dengan menggunakan akal dan berpegang kepada salah satu tiang hukum (Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyas). Di samping itu ada pula bid’ah dalam soal kepercayaan (bid’ah pada I’tikad), sebagaimana ada pula bid’ah pada amalan, seperti mengucapkan niyah. Di dalam bid’ah lughawiyah dimasukkan,

misalnya, mempelajari tatabahasa, mendirikan sekolah-sekolah pembangunan agama, menara, pembangunankarena semuanya

dipandang sebagai alat bantu yang disesuaikan dengan zaman untuk memenuhui perintah nabi, seperti ‘carilah ilmu’.

H.Mas’oed Abidin

123

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Islam

pada

masa

kemajuan dengan

tidak

harus

berkembang

sejajar

perkembangan

inteletual, sebab ada hal yang dilarang dan disuruh, dalam batas halal dan haram, serta amat ma’ruf dan nahyun ‘anil munkar, sebagai sifat asli dari agama Islam. Agama juga

mengatur hal yang bersangkutan dengan dunia. Masalah ini ada yang mengandung ciri

‘ubudiyah, dalam arti berdasarkan perintah dan bagian dari din Allah, sedangkan cara

mengamalkannya bersifat duniawi. Umpamanya perintah memelihara anak yatim, menghormati orang tua, membersihkan gigi, yang

pelaksanaannya sebagian besar terletak pada pilihan individu. Kemudian sampai pula kepada persoalan yang lebih sensitifdimiliki sampai memilih dimanakah alternatif?

kebebasan

yang

Persoalan politik dan kemudian menyebarkan nasionalisme anti kolonial menuju Indonesia
124

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Raya tidak terlepas dari pergolakan intelektual ini. Tidak saja masalah fikh, tetapi juga masalah tauhid harus dihadapi dengan pikiran yang terbuka. Perbedaan yang fundamental antara inovasi yang menyalahi hukum hakiki, yang bersumber Quran dan Hadits, dan pembaruan sebagai akibat dari peralihan zaman, harus dibedakan dengan tegas. Para pelopor pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau berasal dari segala bidang profesi, di antaranya kalangan ulama (Haji Rasul),

kalangan pedagang (H. Abdullah Ahmad), dan pada umumnya berhasil melepas dirinya dari tradisi yang ada, seperti Syekh Djamil Djambek, Haji Rasul, Haji Abdullah Ahmad dan Ibrahim Musa Parabek, di masa hidupnya dipandang sebagai ulama besar, tempat memulangkan

H.Mas’oed Abidin

125

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

segala persoalan agama dan kemasyarakatan pada umumnya. Gerakan pembaruan pemikiran di bidang

agama yang paling banyak terdengar di Sumatra Barat. Adakalanya mereka dinamakan kaum modernist atau disebut juga kaum muda. Salah seorang di antara kaum pembaru itu adalah H.Abdullah Ahmad berkali-kali berkata, bahwa di setiap bidang boleh mempergunakan akal, yang sebenarnya adalah kurnia Tuhan, kecuali bidang agama. Jika kepercayaan tetap merupakan

penerimaan saja atas wibawa guru- atau taqlid, maka kepercayaan itu tidak ada gunanya. Orang berakal harus pujaannya Allah dan

untuk itu dipelajarinya akar-akar hukum (ushul al-fiqh). Untuk mengenalkan semua inti ajaran agama Islam ini kepada masyarakat luas

126

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

diperlukan tabligh.

gerakan

penyampaian

berbentuk

Inyik Djambek memilih mengamalkan ilmunya secara langsung kepada masyarakat, dan

mengajarkan ilmu tentang ketauhidan dan mengaji dengan cara bertabligh, di Surau Tangah Sawah Bukittinggi, dan menjadi Surau Inyik Djambek, sampai sekarang. Syekh Muhammad Djamil Djambek

berkesimpulan bahwa ajaran agama Islam itu sebaiknya disampaikan melalui tabligh dan ceramah-ceramah (wirid-wirid) yang dihadiri oleh masyarakat banyak. Perhatiannya ditujukan untuk meningkatkan iman seseorang. Ia mendapat simpati dari

tokoh-tokoh ninik mamak dan kalangan guru Kweekschool. Bahkan ia mengadakan dialog dengan orang non Islam dan orang Cina.

H.Mas’oed Abidin

127

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Sifatnya yang populer ialah ia bersahabat dengan orang yang tidak menyetujui fahamnya, sehingga pada tahun 1908 ia mendirikan pusat kegiatan keagamaan untuk mempelajari agama yang dikenal di dengan Tengah nama Surau Inyiak

Djambek

Sawah,

Bukttinggi.

Suraunya merupakan tempat pertemuan bagi organisasi-organisasi Islam. Kiprahnya mampu memberikan warna baru di bidang kegiatan keagamaan di Sumatra Barat. Mengutip Ensiklopedi Islam, Syekh Muhammad Djambek juga dikenal sebagai ulama yang

pertama kali memperkenalkan cara bertablig di muka umum. Barzanji (rawi) atau marhaban (puji-pujian) yang biasanya dibacakan di surau-surau saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, digantinya dengan tablig yang menceritakan riwayat lahir Nabi

Muhammad dalam bahasa Melayu. Demikian pula kebiasaan membaca riwayat Isra Mi'raj Nabi
128

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Muhammad

dari

kitab

berbahasa

Arab,

digantinya dengan tablig yang menceritakan peristiwa sehingga tersebut dimengerti dalam oleh bahasa seluruh Melayu, lapisan

masyarakat. Termasuk juga tradisi membaca kitab, digantinya dengan membahas masalah kehidupan sehari-hari, dalam satu tradisi ilmu. Semua itu dilakukan bagi siapa karena saja yang agama dapat

diperuntukkan

memahaminya. Ia pun dikenal sebagai ulama yang lebih bergiat di aktivitas diikuti tablig oleh dan para

ceramah,

yang

kemudian

pembaru lainnya di ranah Minangkabau. Seiring perjalanan waktu, sikap dan

pandangannya terhadap tarekat mulai berubah, dan Syekh Muhammad Djambek kini tidak lagi tertarik pada tarekat. Pada awal tahun 1905, ketika diadakan pertemuan ulama guna

membahas keabsahan tarekat yang berlangsung

H.Mas’oed Abidin

129

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

di

Bukit

Surungan,

Padang

Panjang,

Syekh

Muhammad berada di pihak yang menentang tarekat. Dia "berhadapan" dengan Syekh Bayang dan Haji Abbas yang membela tarekat. Syekh Mohammad Djamil Djambek kemudian menulis buku mengenai kritik terhadap tarekat berjudul Penerangan Tentang Asal Usul

Thariqatu al-Naksyabandiyyah dan Segala yang Berhubungan dengan Dia, terdiri atas dua jilid. Salah satu penjelasan dalam buku itu, yakni tarekat Naksyabandiyyah diciptakan oleh orang dari Persia dan India. Syekh Muhammad Djambek menyebut orangorang dari kedua negeri itu penuh takhayul dan khurafat yang makin lama makin jauh dari ajaran Islam. Buku lain yang ditulisnya berjudul Memahami Tasawuf dan Tarekat dimaksudkan sebagai

upaya mewujudkan pembaruan pemikiran Islam.
130

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Akan tetapi secara umum dia bersikap tidak ingin bermusuhan dengan adat istiadat

Minangkabau. Tahun 1929, Syekh Muhammad Djambek Persatuan tujuan mendirikan Kebangsaan organisasi Minangkabau bernama dengan dan

untuk

memelihara,

menghargai,

mencintai adat istiadat setempat. Djamil Djambek tidak banyak menulis dalam majalah Al-Munir. Djamil Djambek mempunyai pengetahuan tentang ilmu falak, jadwal yang waktu

memungkinkannya

menyusun

sembahyang serta untuk keperluan berpuasa di dalam bulan Ramadhan. Jadwal ini diterbitkan tiap tahun atas namanya mulai tahun 1911, dan karena Inyik Djambek dikenal sebagai Bapak Ilmu Falak, beliau menerbitkan Natijah

Durriyyah untuk masa 100 tahun. Walaupun masalah ini sangat dipertikaikan dengan kaum tradisionalis.

H.Mas’oed Abidin

131

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Di samping kegiatan Inyik Djambek mengajar dan menulis, beliaupun aktif dalam kegiatan organisasi masyarakat. Pada tahun 1913, ia mendirikan organisasi bersifat sosial di

Bukittinggi yang bernama Tsamaratul Ichwan yang menerbitkan buku-buku kecil dan brosur tentang pelajaran agama tanpa mencari

keuntungan. Beberapa tahun ia bergerak di dalam organisasi ini sampai menjadi perusahaan yang bersifat komersial. Ketika itu, ia tidak turut lagi dalam perusahaan itu. Syekh Djamil Djambek secara formal tidak mengikat dirinya pada suatu organisasi tertentu, seperti Muhammadiyah dan Thawalib. Tetapi ia memberikan dorongan pada pembaruan

pemikiran Islam dengan membantu organisasiorganisi tersebut.

132

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Beliau

tercatat

sebagai

pendiri

dari

Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), yang didirikan pada 1919 di Padang, Sumbar. Di samping juga untuk memelihara dan

mengusahakan agar Islam terhindar dari bahaya yang dapat merusaknya. Selain itu, dia juga turut menghadiri kongres pertama Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau tahun 1939. Yang tak kalah pentingnya dalam perjalanan dakwahnya, pada masa pendudukan Jepang, Syekh Muhammad Djambek mendirikan Majelis Islam Tinggi (MIT) berpusat di Bukittinggi. Pada 30 Desember 1947 (18 Shafar 1366 H), Inyik Djambek wafat, meninggalkan pusaka

besar, wirid tsulasa (setiap hari Selasa), yang tetap hidup sampai sekarang. Beliau di makamkan di samping Surau Inyik Djambek di Tengah Sawah Bukittinggi, dalam usia 87 tahun.
H.Mas’oed Abidin
133

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Beberapa bulan setelah itu, 26 Januari 1948 (14 Rabi’ul awal 1366 H), teman akrab Inyik Djambek dalam berdakwah, yakni Inyik Syekh Daud Rasyidy (terkenal dengan sebutan Inyik Daud, ayah Buya Datuk Palimo Kayo), meninggal dunia pula di Surau Inyik Djambek di Tangah Sawah ini, ketika mengimami shalat maghrib, dan besoknya dikuburkan di samping makamnya Inyik Djambek. Itulah sebabnya sampai sekarang ini, kita dapati makam kembar di samping surau Inyik Djambek ini.

134

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Hamka
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Meninjau sehingga Darjah Dua.
H.Mas’oed Abidin
135

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Ketika usia HAMKA mencecah 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA telah mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo. Kerjaya HAMKA bermula sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai pensyarah di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau dilantik sebagai Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustapo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau dilantik sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jawatan apabila Sukarno memberi kata dua sama ada menjadi pegawai kerajaan atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslim Indonesia (Masyumi). HAMKA lebih banyak belajar sendiri dan melakukan penyelidikan meliputi pelbagai
136

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

bidang ilmu pengetahuan seperti falsafah, kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik, sama ada Islam ataupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-'Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggeris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Freud, Toynbee, Jean Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. HAMKA juga rajin membaca dan bertukartukar fikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Chokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fakrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang pemidato yang handal. HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau menyertai pertubuhan itu mulai tahu 1925 bagi menentang khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cawangan Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua
H.Mas’oed Abidin
137

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makasar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Jogjakarta pada tahun 1950. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Julai 1957, Menteri Agama Indonesia iaitu Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia. Hamka kemudian meletak jawatan pada tahun 1981 kerana nasihatnya diketepikan oleh kerajaan Indonesia. Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi
138

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

kemudiannya diharamkan Indonesia pada tahun 1960.

oleh

pemerintah

Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia. Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam. HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen.
H.Mas’oed Abidin
139

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli. HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormat Doktor Honoris Causa, Universiti al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universiti Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada kerajaan Indonesia. HAMKA telah pulang ke rahmatullah pada 24 Julai 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

َ َ َ َ َ ِ ‫الل ّهُم إ ِني أ َع ُوْذ ُ ب ِن ُوْرِ قُد ْسك وَ ع َظ َمةِ ط َهارت ِك وَ ب َرك َةِ جل َل ِك‬ ّ ّ َ َ َ َ ّ ‫من ك ُل عافَةٍ وَ عاهَةٍ وَ من ط َوارِق الل ّي ْل وَ الن ّهارِ إ ِل‬ ً ‫طارِقا‬ َ َ ّ َ ِ ْ ِ ْ ِ ِ َ ‫ي َط ْرقَ ب ِخي ْرٍ يا رحمان‬ َ ُ َ ْ َ َ ُ
140

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan cahaya kesucian-Mu dan keagungan-Mu dari segala kebencian dan gangguan serta dari segala kejahatan yang datang baik di waktu malam maupun di waktu siang, kecuali yang datang dengan kebaikan wahai Yang Maha Pengasih. َ َ َ َ ‫أ َن ْت غياثي فَب ِك أ َغ ُوْث وَ أ َن ْت مل َذي فَب ِك ألــوْذ ُ وَ أنـت‬ ُ ِ َ ِ َ ِ َ َ َ َ ‫عياذي فَبك أ‬ َ ِ ُ .‫ع ُوْذ‬ ِ َ ِ Engkau Maha Penolong, maka kepada-Mu lah aku memohon pertolongan, Engkau tempat berlindung, maka kepada-Mu lah aku berlindung, Engkau lah yang menemani, maka dengan Mu lah aku berteman. ،‫الفراعن َة‬ ِ ِ َ َ َ ُ .‫شك ْرِك‬ ُ‫يا من ذلـ ّت ل َه رِقاب ال ْجباب ِرةِ وَ خضعَت ل َه أ َع ْناق‬ َ ُ َ ُ ْ َ ْ َ َ ُ ْ َ َ َ َ َ َ َ ْ ِ ْ ِ َ ‫أ َع ُوْذ ُب ِك من خزي ِك وَ ك َشف ست ْرِك وَ ا ْل ِن ْصراف ع َن‬ ِ َ ِ َ ِ ْ ْ

Wahai Yang Maha Kuasa, yang telah menghinakan hamba yang sombong, dan yang telah menaklukkan hamba yang angkuh, aku berlindung kepada-Mu dari menghinakan-Mu, dan membuka-buka rahasia-Mu serta berpaling dari mensyukuri nikmat-Mu. َ َ ْ ِ ِ ‫أ َنا في حرزِك ل َي ْلي وَ ن َهاري وَ ن َوْمي وَ قَراري وَ ظ َعْني و‬ ِ ِ َ َ ِ َ ِ َ .‫أ َشفاري‬ ِ َ ْ
H.Mas’oed Abidin
141

SURAU

DAN

PENDIDIKAN ANAK NAGARI

Aku dalam tempat-Mu yang kokoh pada waktu malam-Ku, siang-Ku, pada waktu tidur-Ku, waktu diam-Ku, waktu pagi-Ku dan perjalanan-Ku. ‫ذ ِك ْرك شعَاري وَث َنائ ِك د ِثاري‬ ِ ِ َ ُ ِ َ َ َ Mengingat-Mu adalah pakaianku menyanjung-Mu adalah selimut-Ku. dan

َ َ ُ َ ْ ‫ل َإ ِل َه إ ِل ّ أ َن ْت، ت َعْظ ِي ْما ل ِوَجهِك، وَ ت َك ْرِي ْما ل ِسب ْحان ِك، أ َجرنى من‬ ِ ْ ِ ً ً َ َ ْ ِ َ ِ ‫خزي ِك وَ من شر عباد ِك، واضرِب ع َل َي سرادقات حفظ‬ َ َ ِ ّ َ ْ ِ َ ْ ِ ‫ّ ُ َ ِ َ ِ ِ ْ ك، و‬ ْ ْ َ َ َ َ َ ْ َ ‫أ َد ْخل ْنى ب ِرحمت ِك في حفظ عناي َت ِك، وَ ع ُدلي ب ِخي ْرٍ ياأ َرحم‬ َ ِ ْ ِ ِ َ ِ ِ ْ ِ ِ َ َ ْ َ .‫الرحمي ْن‬ َ ِ ِ ّ Tiada Tuhan selain engkau, karena mengagungkan wajah-Mu dan memuliakan kesucian-Mu, jauhkanlah aku dari kehinaan dan menjadi hamba-Mu yang buruk. Berikanlah kepadaku naungan dan perlindungan-Mu, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu dalam lindungan-Mu, dan berikanlah kepadaku sebaik-baik kebaikan, wahai zat Yang Maha Pengasih lagi penyayang. ‫رب ّنا اغ ْفرل َنا ذ ُن ُوْب َنا وَ ا ِسرافَنا فى أ َمرِنا وَ ث َب ّت أ َقْدامنا وَ ان ْصرنا‬ َ ْ ُ َ َ َ َ ْ ِ َ َ ْ َ َ ْ ِ َ َ ْ َ .‫ع َلى القوْم ِ الكافَرين‬ َ ْ ْ َ “Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah
142

H. Mas’oed Abidin

PERGERAKAN PEMIKIRAN ISLAM

DI

MINANGKABAU

pendirian kami, dan tolonglah menghadapi kaum kafir”.

kami

ْ َ ‫الل ّهُم ل َ ت ُمك ِن ال َع ْداء فِي ْنا وَل َ ت ُسل ّط ْهُم ع َل َي ْنا ب ِذ ُن ُوْب ِنا وَل َ ت ُسل ّط‬ َ َ َ َ َ َ ْ ّ ُ ْ َ ‫ع َل َي ْنا من ل َ يخافُك وَل َ ي َرحمنا‬ َ ُ َ ْ َ ْ َ َ “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”. َ ُ َ َ َ ‫اللهُم أ َهْل ِك الك َفرة َ ال ّذي ي َصد ّوْن ع َن سب ِي ْل ِك وَ ي َك ْذ ِب ُوْن رسل َك‬ ِ َ ِ َ ْ ّ ُ َ َ َ ‫و يقات ِل ُون أ‬ َ َ ‫َ ُ َ ْ َ وْل ِيائ َك‬ “Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orangorang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”. َ َ ْ ‫اللهُم فَرقْ جمعَهُم وَ شت ّت شمل َهُم وَ أ َن ْزِل ب ِهِم ب َأ ْسك ال ّذي ل‬ ِ ْ ْ ْ َ ْ َ ْ ْ َ ّ ّ ُ .‫َت َروْد َه ُ ع َن القوْم ِ المجرِمين‬ َ َ ِْ ْ ُ ِ “Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan
H.Mas’oed Abidin
143

‫‪SURAU‬‬

‫‪DAN‬‬

‫‪PENDIDIKAN ANAK NAGARI‬‬

‫‪mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab‬‬ ‫‪sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan‬‬ ‫‪kepada golongan-golongan yang selalu‬‬ ‫.”‪berbuat dosa‬‬ ‫ُ ْ‬ ‫اللهُم أ َعز ال ِسل َم ِ وَ المسل ِمي ْن وَ اخذ ُل الك َفرة َ وَ المشرِك ِي ْن‬ ‫ّ ِ ّ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫َ َ‬ ‫ْ ِ‬ ‫ُ ْ ِ َ‬ ‫‪“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan‬‬ ‫‪kepada‬‬ ‫‪Islam‬‬ ‫‪dan‬‬ ‫‪kaum‬‬ ‫,‪Muslimin‬‬ ‫‪rendahkanlah orang-orang yang kafir dan‬‬ ‫.”‪orang musyrik‬‬ ‫الل ّهُم اغ ْفر ل ِل ْمؤ ْمن ِي ْن وَ المؤ ْمنات وَ المسل ِمي ْن وَ المسل ِمات،‬ ‫ْ ُ ْ َ ِ‬ ‫ُ ِ َ ِ‬ ‫ّ‬ ‫ُ ْ ِ َ‬ ‫ُ ِ َ‬ ‫ِ ْ‬ ‫ا َل َحياء منهم و ا ْل َموات. الل ّهم اجعل يومنا خيرا من أ َ‬ ‫ُ ّ ْ َ ْ‬ ‫ْ ِ َ‬ ‫ْ َ ِ‬ ‫ْ مسنا، وَ‬ ‫َ ْ َ َ َ ًْ‬ ‫ْ َ ِ ِ ُْ ْ َ‬ ‫اجعَل غ َد َنا خي ْرا من ي َوْمنا، وَ احسن عاقِب َت َنا في ال ُموْرِ ك ُل ّ‬ ‫ْ ْ‬ ‫ها، و‬ ‫ْ ِ ْ َ‬ ‫َ‬ ‫ِ َ‬ ‫ُ‬ ‫َ َ ً ْ‬ ‫َ َ‬ ‫ِ‬ ‫أ َجرنا من خزي الدنيا و عذاب الخرة، الل ّهم إنا نسألَ‬ ‫ُ ّ ِ ّ َ ْ ُك العَفوَ و‬ ‫ِ َ ِ‬ ‫َّْ َ َ َ ِ‬ ‫َ ْ ْ َ‬ ‫ِ ْ َ ِ ْ ِ ْ ِ‬ ‫العافية في دين ِنا و دنيانا َ و أ َهْل ِينا و أ َ‬ ‫ْ َ َ موال ِنا، رب ّنا آت ِنا فى الد ّن ْيا‬ ‫َ َِ َ‬ ‫ْ َ َ َ َ َ ِ‬ ‫َ‬ ‫ِ ِْ َ َ َُْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫حسن َة وَ فى الخرةِ حسن َة وَ قِنا ع َذاب النار. رب ّنا ت َقب ّل منا إ ِن ّك‬ ‫َ َ ً‬ ‫َ َ ً‬ ‫َ َ ّ ِ َ َ َ ْ ِ ّ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ِ َ‬ ‫أ َنت السميع العل ِيم و تب ع َل َينا إنك أنَ‬ ‫ْ َ ِ ّ َ ْت الت ّواب الرحي ْم.‬ ‫ّ ُ‬ ‫ّ ِ ْ ُ َ ْ ِ َ ُ‬ ‫َ‬ ‫ْ َ‬ ‫ّ ِ ِ‬ ‫سب ْحان رب ّك رب العِزةِ ع َما ي َصفوْن وَ سل َم ع َلى ال ْ‬ ‫َ ُ َ‬ ‫ُ َ َ َ َ‬ ‫مرسل ِي ْن و‬ ‫ِ ُ َ‬ ‫ّ‬ ‫َ ّ‬ ‫ّ‬ ‫ُ ْ َ َ َ‬ ‫الحمد ُ للهِ رب العال َمي ْن.‬ ‫َ ّ‬ ‫ْ َ ْ‬ ‫َ ِ َ‬

‫441‬

‫‪H. Mas’oed Abidin‬‬

1

Sumber: Drs. Zakaria Ahmad, Sekitar Kerajaan Aceh dalam tahun 1520-1675, Penerbit Monora, Medan 1972 Syekh Abdur Rauf adalah seorang ulama dan mubaligh besar di Aceh abad ke-17 pada masa pemerintahan Sulthanat Syafiatuddin (1641 - 1675). Nama lengkapnya adalah Syekh Abdur Rauf bin Ali al Jawi al Singkli. Lahir pada tahun 1620 di Singkil Aceh Selatan. Pada tahun 1642 beliau berangkat ke Mekah melanjutkan studinya di bidang agama Islam. Selama 19 tahun di tanah Arab menuntut ilmu kepada Molla Ibrahim, pengikut Syekh Ahmad Kosasi, seorang ulama yang terkenal di dunia Islam waktu itu dan pemimpin tharekat Syattariah. Sebagai kenang-kenangan untuknya, Universitas di Aceh mengambil namanya sebagai nama, yaitu Universitas Syiah Kuala, disingkat Unsyiah. Kebesaran Syekh Abdurauf telah menjadi studi para sarjana, seperti D.A.Rinkers yang menulis Syekh Abdurauf van Singkel; P.Voorhove dalam majallah TBG tahun 1952 No.87 membahas karyanya yang berjudul Bayan Tajalli. Beberapa pokok pendiriannya yang dikutib dari berbagai karyanya telah disusunnya dalam Encyclopaedia of Islam, volume I tahun 1960. S. Kayser, Snouck Horgronye, Winstedt, Archer telah menulis tentang pribadinya. Faham wihdatulwujud mengatakan bahwa alam adalah ciptaan dari bahagian ketuhanan sendiri, laksana buih pada puncak ombak. Alam zahir ini, bahagian dari pada ketuhanan besar. Teori ini merupakan monisma (serba esa) atau pantheisme (serba dewa). Menurut ahli tasauf ini, dunia ini hanyalah emanasi atau pancaran intisari tidak tercipta. Penganut faham wihdatulwujud yang terkenal ialah Ibnu Arabi dan Al Halaj. Di zaman Iskandar Muda adalah Hamzah Fansuri yang ditantang oleh Abdurrauf. Semasa Sulthan Iskandar Tsani memberantas ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al Sumatrani yang dianggap sebagai ajaran sesat. Buku-buku Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al Sumatrani dibakar dan dimusnahkan dan rakyat Aceh dilarang ajaran kedua ulama itu sebagai ajaran sesat. Sumber; Sjafnir Aboe nain, drs, Tuanku Imam Bonjol, Sejarah Intelektual Islam (1784-1832), Penerbit Esa,Padang, 1988 Sjafnir Aboe Nain, drs, Naskah Tuanku Imam Bonjol-Naali Sutan Caniago, alih tulis, revisi 2003

2

3

4

5

6

7

8

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->