BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kesehatan Masyarakat (Public Health) sebagai ilmu (teori) maupun sebagai seni (praktek) umumnya menekankan pada upaya-upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif) ( Soekidjo, 2003 ). Kesehatan masyarakat diartikan sebagai suatu upaya integrasi antara ilmu sanitasi dengan ilmu kedokteran. Sedangkan ilmu kedokteran itu sendiri merupakan integrasi antara ilmu biologi dan ilmu sosial. Dalam perkembangan selanjutnya, kesehatan masyarakat diartikan sebagai aplikasi dan kegiatan terpadu antara sanitasi dalam mencegah penyakit yang melanda masyarakat. ( Soekidjo, 2003 ). Usaha – usaha pengorganisasian masyarakat untuk sebagai berikut : Perbaikan sanitasi lingkungan Pemberantasan penyakit – penyakit menular Pendidikan kebersihan perorangan Pengorganisasian pelayanan – pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan. Pengembangan rekayasa social untuk menjamin tiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara

kesehatannya( Soekidjo, 2003 ).

Ruang

lingkup

kesehatan

masyarakat

pada

mulanya

hanya

mencakup 2 disiplin ilmu yaitu, ilmu bio-medis (medical biologi) dan ilmuilmu social (social Science). Tetapi sesuai dengan perkembangn ilmu, maka disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat pun berkembang. Sehingga pada saat ini disiplin ilmu yag mendasari ilmu kesehatan masyarakat antara lain, mencakup : ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu kimia, fisika, lingkungan, sosiologi, antropologi, psikologi, pendidikan dan sebagainya. (Soekidjo,2003). Secara garis besar disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat sering disebut sebagai pilar utama ilmu kesehatan

masyarakat antara lain : 1. Epidemiologi 2. Biostatistik 3. Kesehatan Lingkungan 4. Pendidikan Kesehatan dan ilmu Perilaku 5. Adminidtrasi Kebijakan Masyarakat 6. Gizi kesehatan masyarakat 7. Kesehatan Kerja Masalah Kesehatan Masyarakat merupakan masalah yang

multikausal, maka pemecahanya juga harus secara multidisiplin. Oleh sebab itu, kesehatan masyarakat sebagai seni dan prakteknya

mempunyai bentangan yang luas. Semua kegiatan baik yang langsung maupun yang tidak langsung untuk mencegah penyakit, meningkatkan

kesehatan, terapi (fisik, mental dan social) atau kuratif maupun pemulihan (rehabilitative) kesehatan (fisik, mental, social) adalah upaya kesehatan masyarakat (Soekidjo,2003). Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan sebagai seni atau penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain sebagai berikut : 1. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular 2. Perbaikan sanitasi lingkungan 3. Perbaikan lingkungan pemukiman 4. Pemberantasan Vektor 5. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat 6. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 7. Pembinaan Gizi masyarakat 8. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum 9. Pengawasn Obat dan Minuman 10. Pembinaan Peran Serta Masyarakat dan sebagainya

(Soekidjo,2003).

2.1 Karakteristik Masyarakat Masyarakat adalah sekelompok manusia yang mendiami teritorial tertentu dan adanya sifat-sifat yang saling tergantung, dan adanya pembagian kerja serta kebudayaan bersama (Mac Saver,1957).

Masyarakat

adalah

kelompok

manusia

yang

besar

yang

mempunyai kebiasaan, sikap, tradisi, dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliput pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil (Gillin,1954). Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling kenal atau saling berinteraksi. Kesatuan hidup manusia yang berintraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa indentitas bersama (Koentjaraningrat, 1990). 1. Interaksi di antara sesama anggota masyarakat Dalam masyarakat terjadi interaksi sosial yang dinamis kelompok,

menyangkut

hubungan

individu,

individu

dengan

kelompok dan kelompok, dan adanya syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan interaksi sosial yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial. 2. Memiliki wilayah dengan batas-batas tertentu . Suatu keadaan geografis sebagai tempat tinggal komunitas, baik dalam ruang lingkup RT, desa/kelurahan, dan kecamatan. 3. Saling ketergantungan Setiap anggota masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu saling ketergantungan satu dengan lainnya dalam

memenuhi kehidupan dan kebutuhannya sehari-hari. 4. Adat istiadat dan kebudayaan

Di dalam masyarakat ada tantangan yang mengatur tentang kehidupan mencakup bidang yang sangat luas antara lain: keseniaan, perkawinan, mata pencaharian, serta sistem

kekerabatan dan ikatan kultural.

Identitas bersama Identitas ini sangat penting dalam masyarakat untuk menopang dan mempertahankan dalam masyarakat yang lebih luas, identitas kelompok dapat berupa lambang-lambang, bahasa, pakaian, serta simbol-simbol kebanggaan. 2.1.1 Karakteristik Masyarakat Indonesia Karakteristik masyarakat indonesia dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu: 1. a. b. Masyarakat desa Hubungan keluarga dan masyarakat sangat luas Hubungan didasarkan atas adat istiadat yang kuat sebagai organisasi sosial c. d. e. Percaya pada kekuatan gaib Tingkat melek huruf relatif rendah Sistem ekonomi sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sebagian kecil dijual

f.

Semangat gotong royong dalam bidang sosial dan ekonomi sangat kuat.

2. Masyarakat tengah a. Hubungan keluarga masih kuat dan hubungan masyarakat masih kurang b. Adat istiadat masih dihormati dan sikap

masyarakat mulai terbuka oleh pengaruh dari luar c. Rasionalisme pada cara berpikir, sehingga

kepercayaan pada kekuatan gaib berkurang dan masih akan timbul putus asa d. Lembaga pendidikan formal dalam masyarakat ada terutama pendidikan dasar dan menengah e. f. Tingkat melek huruf mulai meningkat Ekonomi masyarakat lebih banyak mengarah pada produksi pasar 3. a. b. Masyarakat modern Hubungan antara manusia atas kepentingan pribadi Hubungan antara masyarakat dilakukan secara terbuka dalam suasana saling mempengaruhi c. Kepercayaan masyarakat yang kuat terhadap illmu

pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat d. Tingkat pendiidikan formal tinggi dan merata

Hampir seluruh kegiatan ekonomi pasar didasarkan atas pengunaan uang dan alat pembayaran lainnya (Koentjaraningrat, 1990 ).

2.2 Sosial Ekonomi Berbagai variabel sangat erat hubungannya dengan status sosio ekonomi sehingga merupakan karakteristik. Status sosial ekonomi erat hubungannya pekerjaan/jenisnya, pendapatan keluarga, daerah tempat tinggal, kebiasaan hidup, dan lain sebagainya. Status ekonomi

berhubungan erat pula dengan faktor psikologi dalam masyarakat (Noor, 2000).
Tabel 2.1 UMR Daerah Tahunan
Upah Minimum Regional Tahun Provinsi Kalimantan Timur
Sumber: www.dinas kesehatan.go.id

2005 600,000

2006 684,000

2008 815,000

2009 955.000

2.3 . Gizi Kesehatan Masyarakat Dilihat dari segi sifatnya ilmu gizi dibedakan menjadi dua yakni gizi yang berkaitan dengan kesehatan perorangan yang disebut gizi kesehatan perorangan, dan gizi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat yang disebut gizi kesehatan masyarakat (public health nutrition). Kedua sifat keilmuan ini akhirnya masing masing berkembang menajdi cabang imu sendiri, yakni cabang ilmu gizi kesehatan perorangan

atau disebut gizi klinik (klinik clinical nutrition) dan cabang ilmu gizi kesehatan masyarakat atau gizi masyarakat (community nutrition) (Notoatmodjo, 2003). 1. Menu Makanan Kecukupan pangan dapat diukur secara kualitatif maupun kuantitatif. Parameter kualitatif meliputi nilai sosial, ragam jenis bahan makanan, dan cita rasa, sedangkan parameter kuantitatif adalah komposisi zat gizi. Berbagai zat gizi mako, seperti karbohidrat, protein, dan lemak maupun kelompok zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral merupakan komponen bahan makanan. Tidak kurang dari 50 jenis zat gizi dibutuhkan manusia setiap hari meliputi 10 macam asam amino, 3 macam asam lemak, 14 macam vitamin, dan 15-19 macam mineral. Selain zat gizi tersebut, dibutuhkan energi (Muhilal, Fasli, dan Hardiansyah, 1998). a. Syarat Makanan yang baik Makanan yang baik adalah makanan yang bergizi, sehat, dan aman: mengandung zat gizi yang diperlukan tubuh. tidak mengandung bahan tambahan (pewarna, bumbu masak, penyedap dsb, yang berbahaya atau dalam jumlah yang berlebihan.) disajikan pada wadah yang bersih. tidak basi atau rusak secara fisik.

-

tidak tercemar baik secara fisik, kimiawi maupun mikroba.

b. Cara memilih, menyimpan, dan mengolah makanan Cara penyimpanan dan pengolahan pasca panen bahan pangan: Penyimpanan dan pengolahan pasca (sesudah) panen bahan makanan dimaksudkan agar bahan makanan tersebut tidak mudah rusak dan tidak kehilangan nilai gizinya. Pada umumnya semua bahan pangan sebelum disimpan, dibersihkan terlebih dahulu dan dicuci. Lalu setelah itu di bungkus dengan pembungkus yang bersih baru disimpan dalam ruangan yang bersuhu rendah seperti lemari es. Bahan pangan sebelum diolah, sebaiknya dicuci terlebih dahulu. Pencucian yang benar adalah dicuci sebelum dikupas dan dipotong. Hal ini dimaksudkan agar zat gizi yang larut air dan yang mudah rusak tidak hilang. Perlu juga diperhatikan sanitasi dalam proses pencucian agar tidak terjadi pencemaran pada bahan pangan. - Cara menyimpannya 1. Penyimpanan yang benar, memastikan sayur-sayuran dan buah-buahan menjadi segar dan tahan lama. 2. Sayur-sayuran dan buah-buahan perlu dibasuh, dibungkus dengan kertas dan disimpan di ruangan khusus di dalam kulkas.

3. Jika tidak ada kulkas, boleh disimpan di tempat yang dingin dan redup di dapur. Hindari penggunaan tas plastik supaya tidak menjadi layu dan hilang vitaminnya. 4. Buah-buahan seperti pisang jangan disimpan di dalam kulkas karena kulitnya akan mudah menjadi hitam dan busuk. 5. Sayur-sayuran dan buah-buahan di dalam kemasan

hendaklah dipindahkan di dalam tempal penyimpanan yang lain, kemudian disimpan di kulkas. 6. Kentang, labu, dan bawang, hendaklah disimpan di dalam tempat yang agak gelap dan sejuk. Bila perlu disimpan di tempat yang memiliki aliran udara. Cara mengolahnya Sayur-sayuran dan buah-buahan haya dengan vitamin dan garam mineral. Vitamin C atau asam askorbat mudah rusak alau larut pada saat dimasak, melalui proses pengoksidaan, dan cara pemotongan atau pengupasan Sayur-sayuran dan buati-buahan perlu dicucl bersih untuk menghilangkan kotoran, serangga yang melekal, dan sisa racun pestisida, kemudian baru dipotong Jangan merendam sayur-sayuran dan buah-buahan yang telah dipotong, karena vitamin C mudah larut di dalam air Buah-buahan yang perlu dikupas kulitnya harus cepat disantap karena vitamin terutama vitamin C mudah teroksida oleh udara dan suhu yang tinggi Hindari memotong sayur-

sayuran dan buah-buahan terlalu kecil karena ukuran kecil juga menyebabkan mudah terjadi proses pengoksidaan vitamin terutama vitamin C Sebaiknya buah-buahan segar baik dipotong ketika hendak dimakan saja. Sel yang rusak akan mengeluarkan enzim dan menyebabkan hilangnya vitamin C. Jangan memasak sayur-sayuran terlampau masak. Untuk sayuran, harus dicuci bersih dengan menggunakan air mengalir, agar jika ada residu pestisida dapat ikut hanyut bersama air tersebut. Demikian juga untuk daging dan ayam harus dicuci bersih dan dibersihkan sisa-sisa darah yang masih menempel. Khusus untuk ikan, sebelum dicuci harus dibersihkan dulu isi perut dan sisiknya, baru dicuci dengan bersih. Setelah semuanya dalam keadaan bersih, bahan-bahan tersebut dipisahkan ini sesuai dengan golongannya pada

masing-masing.

Penggolongan

biasanya

didasarkan

kandungan protein dan bentuk fisiknya. Untuk produk sayuran sebaiknya dipisahkan berdasarkan bentuk fisiknya, yaitu sayuran yang berbentuk daur dan sayuran berbentuk buah atau umbi. Sayuran berbentuk daun sebaiknya disimpan di bagian paling bawah (dengan suhu tertinggi) lemari pendingin. Sedangkan untuk sayuran berbentuk buah dan umbi dapat diletakkan di bagian tengah atau pintu. Buah-buahan dengan aroma tajam, seperti duren dan nangka, sebaiknya tidak disimpan di dalam lemari

pendingin, karena baunya akan menyebar dan menyebabkan kontaminasi pada bahan makanan lainnya. 2. Sumber Pangan Pada umumnya masyarakat menengah ke bawah memperoleh sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya berasal dari sawah atau kebun yang dimiliki sendiri. Selain itu, sumber pangan juga dapat diperoleh dengan cara membeli bahan pangan tersebut di pasar-pasar tradisional yang ada di daerah tersebut. Sedangkan, bagi masyarakat menengah ke atas seperti masyarakat kota lebih banyak mendapatkan sumber bahan pangan berasal dari pasar tradisional dan pasar modern (supermarket). Daerah perkotaan yang sempit dan minimnya lahan kosong tidak memungkinkan bagi masyarakat

perkotaan untuk bercocok tanam dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka. 3. Yodium Defisiensi yodium di suatu wilayah mempengaruhi baik manusia maupun cadangan bahan pangan. Sama seperti manusia, semua jenis tanaman yang tumbuh di daerah yang tidak atau hanya sedikit mengandung yodium juga mengalami kekurangan. Defisiensi yang berlangsung lama akan menggangu fungsi kelenjar tiroid, yang secara perlahan menyebabkan kelenjar ini membesar sehingga menyebabkan gondok. Rendahnya kadar

hormon tiroid dalam aliran darah juga menyebabkan penghambatan pertumbuhan serta perkembangan manusia. Pengaruh ini nyata sekali terlihat pada perkembangan otak selama pertumbuhan berlangsung dengan cepat, yaitu semasa janin, bayi anak kecil (balita). Kretin merupakan dampak terberat pada anak yang akan timbul manakala asupan yodium kurang dari 25 µg/hari (asupan normal 80-150 µg/hari), yang memburamkan masa depan lebih dari 10% penduduk Indonesia, India, dan Cina. a. Defisiensi pada janin Defisiensi yodium pada janin merupakan dampak dari kekurangan pada ibu. Keadaan ini berkaitan dengan

meningkatnya insidensi lahir mati, aborsi, cacat lahir yang kesemua ini sesungguhnyadapat dicegah melalui intervensi yang tepat. Pengaruh utama defisiensi yodium pada janin ialah

kretinisme endemis, yang sangat berkaitan dengan bentuk sporadic. Gejala khas kretinisme terbagi menjadi 2 jenis, yaitu jenis saraf dan bentuk miksedema. Jenis yang pertama

menampilkan tanda dan gejala seperti kemunduran mental, bisutuli dan diplegia spastik. Bentuk terakhir memperlihatkan tanda khas hipotiroidisme serta dwarfisme. b. Defisiensi pada bayi pada baru lahir

Otak bayi akan terus berkembang dengan cepat

hingga

tahun kedua kehidupan. Kekuranagn yang parah dan berlangsung lama akan mempengaruhi fungsi tiroid bati yang kemudian mengancam perkembangan otak secara dini. Paroah dkk. ,membuktikan terjadinya penurunan kognitif dan kinerja motorik pada anak usia 10-12 tahun yang dulunya terlahir dari rahim wanita penderita defisiensi, setidaknya kekurangan pada masa hamil. c. Defisiensi pada anak Kekurangan yodium pada anak khas terpaut dengan insidensi gondok. Angka kejadian gondok meningkat bersama usia, dan mencapai puncaknya setelah remaja. Prevalensi gondok pada wanita lebih tinggi ketimbang lelaki. Kasus gondok pada anaka sekolah yang berusia antara 6-12 tahun dapat dijadikan petunjuk. d. Pemeriksaan Status Yodium Sebelum program suplementasi diselenggarakan, terlebih dahulu harus dilakukan pemeriksaan status yodium. Cara yang dianjurkan untuk memeriksa status yodium ialah (1) Penilaian angka kejadian gondok, baik gondok yang telah terlihat maupun yang baru teraba; (2) pengukuran kadar yodium yang di

ekskresikan ke dalam urine; dan (3) penentuan kadar T4 atau TSH

dalam darah berbagai kelompok usia , terutama bayi baru lahir dan wanita hamil.

Tabel 2.2
Keparahan

Kriteria keparahan dan signifikansi masalah kesehatan GAKY
Gambaran klinis G 0 + ++ ++ H 0 0 + +++ K 0 0 0 ++ TGR (%) <5,0 5,0-19,9 20,0-29,9 ≥ 30,0 Rata-rata kadar urine (µg/L) ≤100 50-99 20-49 <20 Prioritas koreksi Penting Segera Kritis

Derajat 0 (normal) Derajat I (ringan) Derajat II (sedang) Derajta III (parah)
Sumber : Gizi dalam Kehidupan

Asupan , penyerapan, dan ketersediaan yodium Sumber yodium adalah makanan laut dan tanaman yang ditanam di laut, semakin jauh tanaman dari laut maka kandungan yodiumnya semakin sedikit. Sebagai sumber yodium seharusnya garam dapat mencegah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), tetapi karena cara pembuatan garam rakyat seringkali kurang sempurna, sehingga mutu garam dan kadar yodiumnya berkurang. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan menambahkan (fortifikasi) yodium ke dalam garam. Kandungan yodium dalam garam (mutu garam) dapay dicegah kerusakannya pada tingkat rumah tangga dengan cara penyimpanan dan penggunaan yang baik dan benar, yaitu :

1.

Garam disimpan pada wadah yang tertutup dan tidak

terkena sinar matahari. 2. Jika garam disimpan dalam kemasan plastik pada suhu 250

C - 270 C dengan kelembaban nisbi 70% - 80% dapat bertahan selama 6 bulan, tetapi kandungan yodiumya akan hilang sebanyak 7% tergantung dari ketinggian suatu daerah dari permukaan laut. 3. Garam disimpan di tempat yang kering dan jauh dari sumber

panas seperti kompor, karena garam bersifat higroskopis (mudah menyerap air). 4. Sebaiknya garam ditambahkan setelah selesai memasak

karena yodium akan merosot drastis hingga 0 ppm (part per milion) ketika bercampur dengan cabai, merica, ketumbar dan terasi. Selain itu juga agar kerusakan yodium sebanyak 20% selama proses memasak bisa dikurangi. Selain itu, selama proses memasak, keterkandungan yodium dalam makanan dapat susut sampai di bawah nilai yang terpapar pada table. Sebagai contoh, penggorengan akan mengurangi kadar yodium sebanyak 20%, penggilingan 23%, dan perebusan sebesar 58%. Pencegahan Secara relatif, hanya makanan laut yang kaya akan yodium: sekitar 100 µg/100 gr. Pencegahan dilaksanakan melalui pemberian garam beryodium, anggaplah konsumsi garam tiap orang sebesar 10 g, maka kadar yodium dalam garam harus memenuhi kisaran 20-40 mg yodium,

atau 34-66 mg kalium yodida/kg. Jika garam beryodium tidak tersedia, berikan kapsul minyak beryodium setiap 3,6, atau 12 bulan; atau suntikan ke dalam otot setiap 2 tahun.

Tabel 2.3 Kandungan yodium dalam makanan
Jenis makanan Ikan air tawar Ikan air laut Kerang Daging hewan Susu Telur Serealia biji Buah Tumbuhan polong Sayuran
Sumber : Gizi dalam Kehidupan

Keadaan segar (µg/gram) 17-40 163-3180 308-1300 27-97 35-56 (93) 22-72 10-29 23-36 12-201

Keadaan kering (µg/gram) 68-194 471-4591 1292-4987 34-92 62-277 223-245 204-1636

Pemilihan cara intervensi didasarkan pada derajat keparahan atau keendemisan GAKY, antara lain : 1. GAKY derajat ringan, kisaran prevalensi pada anak

sekolah 5-20%, dan kadar yodium dalam urine 3,5-5,0 µg/dl; dapat dikoreksi dengan pemberian garam beryodium sebanyak 10-25 mg/kg. GAKY yang ringan ini biasanya akan lenyap dengan sendirinya jika status ekonomi penduduk ditingkatkan. 2. GAKY derajat sedang, prevalensi gondok mencapai angka

30%, kadar yodium dalam urine 2,0-3,5 µg/dl; dapat dikoreksi

dengan garam beryodium sebanyak 25-40 mg/kg; dengan catatan bahwa garam tersebut dapat diproduksi dan disebar secara efektif. Jika tidak mungkin, lebih baik berikan minyak beryodium secara oral atau suntikan di puskemas . 3. GAKY berat, dengan prevalensi gondok 30% atau lebih,

kretin endemis 1-10%, dan kadar yodium urine kurang dari 2,0 µg/ dl; harus diberi minyak beryodium baik secara oral maupun suntikan. Dosis oral diberikan setiap 3,6, dan 12 bulan. Suntikan dilakukan setiap 2 tahun. Pada kenyataannya, pemberian secara oral baru berhasil jika “penderita” dapat dihubungi setidaknya sekali tahun. Oleh karena itu, preparat suntikan lebih disukai.

2.4 Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kehamilan dapat memicu terjadinya perubahan tubuh, baik secara anatomis, fisiologis, maupun biokimia. Perubahan ini dapat terjadi secara sistematik, tujuannya yaitu mensejahterahkan janin, meskipun kerap mengabaikan kesehatan. Wanita yang bersikeras hamil dikala status gizinya buruk memiliki resiko melahirkan BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) 3 kali lebih besar dibandingkan mereka yang berstatus gizi baik, dan kemungkinan bayi mati sebesar 1,5 kali (National Center for health Statistic-NCHS). Perilaku tidak menyusui bayi berubah sejalan dengan perubahan pendidikan formal (Enoch dan Naim,1998). Pemberian susu botol

meningkat dari 5% (Perguruan Tinggi) sampai 56% (Sekolah Dasar keatas). Sedangkan pemberian susu ekslusif cenderung menurun dari 37% (1987) menjadi 30% (1992), sedangkan pemberian makanan tambahan tetap tidak cukup. Menyusui mempunyai keuntungan tersendiri dibandingkan dengan susu formula, Biaya yang dikeluarkan akibat pemberian ASI tetap lebih murah meskipun wanita menyusui

membutuhkan zat gizi ekstra. Bila anak disusui selama 2 tahun, berarti telah menerima ASI sekitar 375 Liter yang setara dengan 437 liter susu sapi. Selain itu, pemberian ASI secara relatif tidak merepotkan. Ibu tidak harus ke toko atau ke warung terlebih dahulu untuk membeli susu formula karena ASI dapat diminum langsung, sementara kehangatan sama dengan tubuh dan steril.Jika seorang ibu tidak berkenan menggunakan alat kontrasepsi antifisial, pemberian ASI menjadi alternatif kontrasepsi dengan syarat bahwa bayi hanya diberi ASI.
Tabel 2.4 Berbagai resiko yang dapat terjadi pada ibu hamil serta pengaruh kesakitan ibu terhadap bayinya:
Akibat Terburuk Terhadap Kesehatan Ibu - Syok - Infeksi - Gagal Jantung - Eklamsia - Gangguan - Serebro-vaskular - Gagal Jantung Akibat Terburuk Terhadap Kes. Bayi/ Janin - Asfiksia - Lahir Mati - BBLR - Lahir Mati - BBLR - Lahir Mati

No 1.

Kesakitan pada Ibu Perdarahan

2 3.

Preeklamsia /Eklamsia Anemia Berat

4.

Malaria

- Anemia Berat - Trombosis Serebral

- Prematuritas - Gangguan Pertumbuhan Intrauteri - Prematuritas Gangguan Intrauteri Pertumbuhan

5.

Penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual

- Infeksi Panggul - Infertilitas - Kehamilan Ektopik

(Adaptasi dari: Mother - Baby Package, WHO: 1994).

Setelah bersalin ibu perlu ikut program Keluarga Berencana (KB). Tujuannya agar ibu punya waktu untuk menyusui dan merawat bayi, menjaga kesehatan ibu serta mengurus keluarga. Selain itu, untuk mengatur agar jarak kehamilan tidak terlalu dekat, lebih dari 2 tahun. Konsultasi ke bidan/dokter dalam memilih cara KB yang paling sesuai dengan kondisi suami-isteri. Masa nifas merupakan saat yang paling tepat untuk ber-KB. Alat kontrasepsi atau cara ber-KB :

1. Untuk Suami Kondom : Dipasang pada alat kelamin suami setiap kali melakukan hubungan seksual. Vaksetomi 2. Untuk Isteri Pil : Diminum 1 pil setiap hari secara teratur dan terus menerus. Selama ibu menyusui, minum pil KB khusus. : Saluran sperma diikat/dipotong melalui operasi kecil.

Suntik

: Disuntikkan pada bokong/pantat sebelah kanan/kiri setiap 1 atau 3. Bulan sekali tergantung jenis suntikan.

Implan Spiral

: Dipasang di lengan atas ibu. : Dipasang di dalam rahim 2 hari atau 6 – 8 minggu setelah bersalin.

Tubektomi

: Saluran telur diikat/dijepit/dipotong melalui operasi kecil.

Cara ibu menjaga kesehatan bayi dan anak yaitu : 1. 2. Amanati pertumbuhan anak secara teratur Minta imunisasi sesuai jadwal di Posyandu, Puskesmas,

Rumah Sakit serta praktek swasta
Tabel 2.5
Umur 0 - 7 Hari 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 9 Bulan

Jenis imunisasi yang diberikan berdasarkan umur :
Jenis Imunisasi Hepatitis B 1 BCG Hepatitis B 2, DPT 1, Polio 1 Hepatitis B 3, DPT 2, Polio 2 DPT 3, Polio 3 Campak, Polio 4

3.

Minta Vitamin A pada Bulan Februari dan Agustus di

Posyandu (Dinas Kesehatan KALTIM, 2003). 4. Pemberian Makanan Tambahan Pemberian makanan tambahan diberikan karena ketidaksesuaian antara kebutuhan gizi anak dengan jumlah ASI yang diberikan ibu.

Untuk anjuran pemberian makanan (Umur 1-6 Bulan), dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.6 Anjuran pemberian makanan (Umur 1-6 Bulan)
Umur 4 – 6 Bulan 1. Beri ASI setiap kali bayi menginginkan sedikitnya 8 kali sehari, pagi siang maupun malam 2. Beri Makanan Pendamping ASI 2 kali sehari sebanyak 2 sendok makan 3. Beri ASI terlebih dahulu kemudian Makanan Pendamping ASI 4. Makanan Pendamping ASI berupa : bubur susu atau bubur tim lumat ditambah kuning telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.

Sampai Umur 4 Bulan 1. Beri ASI setiap kali bayi menginginkan sedikitnya 8 kali sehari, pagi, siang maupun malam 2. Jangan berikan makanan atau minuman lain selain ASI 3. Susui bayi dengan payudara kanan dan kiri secara bergantian.
Sumber : Dinas Kesehatan Prov.Kaltim, 2003

2.5 Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP) Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992). Sedangkan sakit adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari, baik aktifitas jasmani, rohani dan sosial (Perkin, 1937). Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal (dari dalam diri manusia) maupun faktor eksternal (diluar diri manusia). Faktor internal ini pun terdiri dari faktor fisik dan psikis. Demikian pula faktor eksternal terdiri dari berbagai faktor yang antara lain sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.

Aspek budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan (G.M. Foster 1973) adalah : a. b. c. d. e. Tradisi Sikap fatalisme Sikap pethnocentris Pengaruh norma Unsur budaya yang dipelajari saat awal sosialisasi Perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan

seseorang, baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Perilaku kesehatan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: a. Perilaku sehat, yaitu adalah perilaku-perilaku atau kegiatankegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, antara lain : 1. Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang disini adalah pola makan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan nutrisi yang memenuhi kebutuhan tubuh baik menurut jumlahnya (kuantitas), maupun jenisnya (kualitas). 2. Kegiatan fisik secara teratur dan cukup. Kegiatan fisik disini tidak harus olah raga. Bagi seseorang yang pekerjaannya memang sudah memenuhi gerakan fisik secara rutin dan teratur, sebenarnya sudah dapat dikatagorikan berolahraga.

3. Tidak

merokok

dan

meminum

minuman

keras

serta

menggunakan narkoba. Merokok adalah kebiasaan yang tidak sehat, namun di Indonesia jumlah perokok cenderung meningkat. 4. Istirahat yang cukup. Istirahat cukup bukan saja berguna untuk memelihara kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan mental. Istirahat yang cukup adalah kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan kesehatannya. 5. Pengendalian atau managemen stres. Stres adalah bagian dari kehidupan setiap orang, tanpa pandang bulu. Stres tidak dapat dihindari, namun yang dapat dilakukan adalah mengatasi, mengendalikan atau mengelola stres tersebut agar tidak mengakibatkan gangguan kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental. 6. Perilaku atau gaya hidup positif yang lain untuk kesehatan. Inti dari perilaku ini adalah tindakan atau perilaku seseorang, agar dapat terhindar dari berbagai macam penyakit dan masalah kesehatan, termasuk perilaku untuk meningkatkan kesehatan b. Perilaku sakit, yaitu berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang yang sakit dan/ terkena masalah kesehatan pada dirinya atau keluarganya, untuk mencari penyembuhan, atau untuk mengatasi masalah kesehatan yang lainnya. Pada saat orang sakit atau anaknya sakit, ada beberapa tindakan atau perilaku yang muncul yaitu didiamkan saja , mengambil tindakan dengan melakukan pengobatan

sendiri dan mencari penyembuhan atau pengobatan keluar yakni ke fasilitas kesehatan ataupun tradisional. c. Perilaku peran orang sakit, yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan (Becker, 1979). Aktivitas Fisik Penelitian Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) menyatakan bahwa gaya hidup duduk terus menerus dalam bekerja menjadi penyebab 1 dari 10 kematian dan kecacatan dan lebih dari dua juta kematian setiap tahun disebabkan oleh kurangnya bergerak atau aktivitas fisik. Oleh sebab itu beraktivitas fisik sangat diperlukan. Aktivitas menyebabkan fisik adalah pergerakan tenaga yang anggota sangat tubuh penting yang bagi

pengeluaran

pemeliharaan kesehatan fisik dan mental serta mempertahankan keadaan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari (Departemen Kesehatan RI , 2006 ).

Melakukan aktivitas fisik idealnya sebagai berikut : 1. Aktivitas fisik secara teratur yang dilakukan paling sedikit 30 menit dalam sehari sehingga dapat menyehatkan jantung, paru – paru serta alat tubuh lainnya.

2. Jika lebih banyak waktu yang digunakan untuk beraktivitas fisik maka manfaat yang diperoleh juga lebih banyak. 3. Jika kegiatan ini dilakukan setiap hari secara teratur maka dalam 3 bulan kedepan maka akan terasa hasilnya (Departemen Kesehatan RI , 2006).. Keuntungan melakukan aktivitas fisik 1. Terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker, tekanan darah tinggi, kencing manis,dll 2. Berat badan terkendali. 3. Otot lebih letur dan tulang lebih kuat. 4. Bentuk badan menjadi ideal dan proporsional. 5. secara keseluruhan keadaan badan sehat menjadi lebih baik (Departemen Kesehatan RI , 2006 ). Melakukan aktivitas fisik yang benar sbb : - Lakukan secara bertahap selama 30 menit, jika belum terbiasa dapat dilakukan dengan beberapa menit saja setiap hari dan ditambah secara bertahap . - Lakukan sebelum makan atau 2 jam sesudah makan. - Awali dengan pemanasan dan peregangan. - Lakukan gerakan ringan hingga sedang secara bertahap. Jika sudah terbiasa maka dapat ditambah dan ditingkatkan intensitasnya (Departemen Kesehatan RI , 2006 ). Ada tiga tipe aktivitas fisik yaitu sbb :

1.

Ketahanan (endurance) Untuk mendapatkan ketahanan maka aktifitas fisik yang dilakukan selama 30 menit. Contohnya seprti berjalan kaki , lari ringan, berenang, senam, bermain tenis, berkebun dan kerja dihalaman.

2.

Kelenturan (flexibelitas) Contoh beberapa kegiatan mencuci mobil, taichi, mengepel dan sebagainya.

3.

Kekuatan (strength) Contoh kegiatannya seperti push – up, naik turun tangga, angkat beban berat, fitness dan membawa barang belanjaan. Aktivitas fisik tersebut akan meningkatkan pengeluaran tenaga dan energy (pembakaran kalori) misalnya sbb :

Tabel 2.7 Pengeluaran Tenaga dan Energi dari Aktifitas Fisik

No 1 2 3 4 5 6 7

Aktivitas fisik Berjalan kaki Berkebun Menyetrika Menyapu rumah Membersihkan jendela Mencuci baju Mengemudi mobil

Kalori yang dikeluarkan 5,6 7 kcal/ menit 5,6 kcal/ menit 4,2 kcal/ menit 3,9 kcal/ menit 3,7 kcal/ menit 3,56 kcal/ menit 2,8 kcal/ menit

Sumber : Departemen Kesehatan RI 2006

Pentingnya mencuci tangan

Mencuci tangan merupakan termasuk kedalam salah satu perilaku hidup sehat dimasyarakat. Mencucui tangan merupakan cara paling sederhana untuk melawan kuman. Dengan mencuci tangan, penyebaran kuman-kuman yang ada di tangannya tadi dapat dicegah. Banyak penyakit antara lain influenza, diare, atau bahkan hepatitis A, dapat dicegah dengan cara sederhana seperti mencuci tangan. Berikut ini adalah cara-cara sederhana mencuci tangan yang benar. Ajari anak anda cara berikut ini dan lakukan hal ini dengan teratur. Akan lebih baik lagi bila anda mau mencuci tangan bersama anak beberapa kali dalam sehari agar anak anda dapat belajar betapa pentingnya mencuci tangan itu. 1. Cucilah tangan anda dengan air mengalir, kalau bisa dengan air hangat karena air hangat lebih baik dari pada air dingin untuk membunuh kuman. 2. Gunakan sabun dan kemudian gosok tangan dengan sabun sampai berbusa sampai sekitar 10 atau 15 detik. Pastikan daerah-daerah seperti sela-sela jari dan di bawah kuku Bersihkan sampai ke pergelangan tangan. 3. Bilaslah tangan, kemudian keringkan dengan baik menggunakan handuk. Untuk mengurangi penyebaran kuman-kuman di rumah anda biasakan mencuci tangan, terutama: juga ikut dibersihkan.

a. b. c. d. e.

Sebelum makan dan masak Setelah menggunakan kamar mandi Setelah bersih-bersih di rumah Setelah menyentuh hewan, termasuk hewan peliharaan Setelah mengunjungi atau merawat keluarga atau kerabat yang sakit

f. g.

Setelah membersihkan hidung, batuk atau bersin Saat kembali ke rumah setelah bermain, berkebun, bekerja atau yang lainnya.

Merokok Merokok sudah seperti menjadi kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut perokok. Perokok ada 2 jenis yaitu perokok pasif dan aktif. Perokok aktif adalah orang yang mengkonsumsi rokok secara rutin dengan sekecil apapun walaupun satu batang dalam sehari atau orang yang menghisab rokok walau tidak rutin misalnya coba – coba dan cara menghembuskan asap walaupun tidak di diisap masuk ke dalam paru – paru (Departemen Kesehatan RI, 2007). Sedangkan perokok pasif adalah orang yang bukan perokok tapi menghirup asap rokok orang lain atau orang yang berada dalam satu ruangan tertutuo dengan orang yang sedang merokok (Departemen Kesehatan RI, 2007). Bahaya Perokok aktif dan perokok pasif yaitu sbb :

2007).

Menyebabkan kerontokan rambut. Katarak Paru – paru Merusak gigi Stroke dan serangan jantung Kemandulan dan impotensi Kanker rahin dan keguguran (Departemen Kesehatan RI,

Pentingnya Kegiatan 3M plus Kegiatan 3M plus adalah kegiatan dalam upaya Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN). merupakan kegiatan memberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular berbagai penyakit seperti Demam Berdarah Dengue, Chikungunya, Malaria, Filariasis (Kaki Gajah) di tempat-tempat perkembangbiakannya. Agar rumah bebas dari jentik

dilakukan Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M plus (Menguras, Menutup, Mengubur plus menghindari gigitan Nyamuk. 3M plus adalah 3 cara plus yang dilakukan pada saat PSN, yaitu menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, tatakan kulkas, tatakan pot kembang dan tempat air minum burung, kemudian menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti lubang bak control, lubang pohon, lekukan-lekukan yang dapat

menampung air hujan, kemudian mengubur atau menyingkirkan baran-

barang bekas yang dapat menampung air seperti ban bekas, kaleng bekas, plastik-plastik yang dibuang sembarangan (bekas botol/ gelas air minum dalam kemasan, plastik kresek, dll). Plus Menghindari gigitan nyamuk, yaitu: menggunakan kelambu ketika tidur memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, misalnya obat nyamuk: bakar, semprot, oles/ diusap ke kulit, dll. kamar mengupayakan pencahayaan dan ventilasi yang memadai memperbaiki saluran dan talang air yang rusak menaburkan larvasida (bubuk pembunuh jentik) di tempattempat yang sulit dikuras misalnya di talang air atau di daerah sulit air, misalnya ikan cupang, ikan nila, dll menanam tumbuhan pengusir nyamuk misalnya, Zodia, Lavender, Rosemerry, dll. menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam

2.6 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3 merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam sistem ketenagakerjaan dan sumber daya manusia. Keselamatan dan kesehatan kerja tidak saja sangat penting dalam meningkatkan jaminan sosial dan kesejahteraan para pekerjanya akan tetapi lebih jauh dari itu keselamatan dan kesehatan kerja akan

berdampak positif keberlanjutan produktivitas kerjanya. Oleh sebab itu isu Keselamatan dan kesehatan kerja pada saat ini bukan saja hanya sekedar kewajiban yang harus diperhatikan oleh para pekerja, akan tetapi juga harus dipenuhi oleh sebuah sistem pekerjaan. Penerapan K3 berarti salah satu upaya untuk melakukan

perlindungan terhadap sumber daya manusia/pekerja dari berbagai resiko dan bahaya yang ditimbulkan akibat jenis pekerjaan dan lingkungan pekerjaan serta bahan-bahan lain yang berkaitan dengan jenis

pekerjaannya. Program pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) cukup menawarkan alternatif dalam peningkatan kesehatan dan keselamatan bagi pekerja. Secara garis besar alat pelindung diri terdiri dari: 1. Alat Pelindung Kepala; a. Safety helmet (hard hat), untuk melindungi dari benda keras/tajam b. Hood, untuk melindungi dari bahan kimia korosif, api, panas radiasi tinggi c. Hair cap, untuk melindungi rambut dari bahaya terjerat/debu.

2. Alat Pelindung Mata dan Muka; a. Kaca mata b. Tameng muka 3. Alat Pelindung Pernapasan; a. Respirator

b. Respirator setengah masker c. Respirator seluruh muka 4. Alat Pelindung Telinga; a. Ear plug (sumbat telinga) b. Ear muff (tutup telinga) 5. Alat Pelindung Tangan; sarung tangan 6. Alat Pelindung Kaki a. Foundry Leggings (sepatu untuk pekerja pengecoran baja) b. Sepati karet anti elektrostatik, untuk melindungi pekerja dari bahaya listrik c. Sepatu boot, sepatu karet untuk pekerja bidang pertanian dan perkebunan. 6. Pakaian Pelindung (Protective Clothing), terbuat dari kain drill, kulit, PVC, Karet atau asbes. Bila rasio tuntutan tugas lebih besar dari pada kemampuan seseorang atau kapasitas kerjanya maka akan terjadi overstress, kelelahan, kecelakaan, cedera, rasa sakit, penyakit, dan tidak produktif. Sebaliknya, jika terjadi understress maka akan timbul kebosanan, kejenuhan, kelesuan, sakit, dan tidak produktif. Sehingga perlu ada keseimbangan antara tuntunan tugas dan kemampuan/kapasitas seorang pekerja. Terdapat dua jenis, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot merupakan tremor pada otot atau perasaan nyeri.

Kelelahan umum ditandai dengan berkurang kemauan untuk bekerja. Gejala-gejala atau perasaan-perasaan yang ada hubungannya dengan kelelahan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Waktu Perasaan berat di kepala Menjadi lelah seluruh badan Tidak dapat berkonsentrasi Sakit kepala Merasa nyeri di punggung Merasa pening Tremor pada anggota badan, dan lain-lain. kerja bagi seseorang menentukan efisiensi dan

produktivitasnya. Segi-segi terpenting bagi persoalan waktu kerja meliputi: 1. 2. 3. Lamanya seseorang mampu kerja secara baik Hubungan diantara waktu bekerja dan istirahat Waktu bekerja sehari menurut periode yang meliputi siang

(pagi, siang, sore) dan malam. Lamanya seseorang bekerja sehari secara baik pada umumnya 6-8 jam. Sisanya (16–18 jam) dipergunakan untuk kehidupan dalam keluarga dan masyarakat, istirahat, tidur, dan lain-lain. Dalam seminggu, seseorang biasanya dapat bekerja dengan baik selama 40-50 jam (Suma’mur, 1996). Lingkungan kerja ialah kumpulan dari seluruh kondisi dan pengaruhpengaruh luar yang mempengaruhi kesehatan tenaga kerja. Lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja terdiri dari:

1. Lingkungan fisik : air, udara, tanah, suhu, tekanan, cuaca, getaran mekanis, radiasi, dan suara/kebisingan. 2. Lingkungan kimiawi : debu, uap, gas, larutan, awan/kabut 3. 4. 5. 6. Lingkungan biologis : mikroba, vektor, dan binatang reservoir Lingkungan sosial : kepadatan penduduk dan mobilitas pekerjaan Lingkungan ekonomi : penghasilan Lingkungan budaya: adat istiadat dan kebiasaan (Ramdan, 2006).

2.7 Kesehatan Lingkungan Diantara banyak kesehatan lingkungan dapat disebutkan antara lain : 1. Penyehatan Rumah Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Rumah atau tempat tinggal manusia, dari zaman ke zaman mengalami perkembangan. Faktor-faktor yang perlu

diperhatikan dalam membangun suatu rumah: a. Faktor lingkungan Baik lingkungan fisik, biologis maupun lingkungan sosial. Maksudnya membangun suatu rumah harus memperhatikan tempat dimana rumah itu didirikan. Di pegunungan ataukah di tepi pantai, di desa ataukah di kota, di daerah dingin ataukah di daerah

panas, di daerah dekat gunung berapi (daerah gempa) atau di daerah bebas gempa dan sebagainya. Rumah di daerah pedesaan, sudah barang tentu disesuaikan kondisi sosial budaya pedesaan, misalnya bahannya, bentuknya, menghadapnya dan lain sebagainya. Rumah di daerah gempa harus dibuat dengan bahan-bahan yang ringan namun harus kokoh, rumah di dekat hutan harus dibuat sedemikian rupa sehingga aman terhadap serangan-serangan binatang buas. b. Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat Hal ini dimaksudkan rumah dibangun berdasarkan

kemampuan keuangan penghuninya, untuk itu maka bahanbahan setempat yang murah misal bambu, kayu, atap rumbia dan sebagainya adalah merupakan bahan-bahan pokok

pembuatan rumah. Perlu dicatat bahwa mendirikan rumah adalah bukan sekedar berdiri pada saat itu saja namun diperlukan kemampuan pemeliharaan seterusnya. oleh Oleh karena itu, perlu

pemeliharaan

penghuninya

dipertimbangkan. c. Teknologi yang dimiliki masyarakat Teknologi perumahan sudah begitu maju dan sudah begitu modern. Akan tetapi teknologi modern itu sangat mahal bahkan kadang-kadang tidak dimengerti oleh masyarakat. Rakyat

pedesaan bagaimanapun sederhananya sudah mempunyai teknologi perumahan sendiri yang dipunyai turun temurun. d. Kebijaksanaan (peraturan-peraturan) pemerintah yang

menyangkut tata guna tanah Untuk hal ini, bagi perumahan masyarakat pedesaan belum merupakan problem namun di kota sudah menjadi masalah yang besar. Syarat-Syarat Rumah yang Sehat : 1. Bahan bangunan a. Lantai Ubin atau semen adalah baik namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. lantai kayu sering terdapat pada rumah-rumah orang yang mampu di pedesaan dan ini pun mahal. Oleh karena itu, untuk lantai rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan. Syarat yang penting disini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air

kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang berat dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah dan berdebu merupakan sarang penyakit. b. Dinding

Tembok adalah baik namun disamping mahal, tembok sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih bila ventilasinya tidak cukup. Dinding rumah di daerah tropis khususnya di pedesaan, lebih baik dinding atau papan. Sebab meskipun jendela tidak cukup maka lubang-lubang pada dinding atau papan tersebut dapat merupakan ventilasi dan dapat menambah penerangan alamiah. c. Atap Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan. Disamping atap genteng adalah cocok untuk daerah tropis juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian banyak masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu maka atap daun rumbai atau daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng maupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, disamping mahal juga menimbulkan suhu panas didalam rumah. d. Lain-lain (Tiang, Kaso dan Reng) Kayu untuk tiang, bambu untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan. Menurut pengalaman, bahan-bahan ini tahan lama. Tapi perlu diperhatikan bahwa lubang-lubang bambu merupakan sarang tikus yang baik. Untuk

menghindari ini maka cara memotongnya harus menurut ruas-ruas bambu tersebut. Apabila tidak pada ruas maka lubang pada ujung-ujung bambu yang digunakan untuk kaso tersebut ditutup dengan kayu. 2. Ventilasi Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan

menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadi proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban akan merupakan media yang baik untuk bakteribakteri patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit). Fungsi kedua daripada ventilasi adalah membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri terutama bakteri patogen karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap didalam kelembaban (humudity) yang optimum. Ada 2 macam ventilasi, yakni : a. Ventilasi Alamiah Dimana aliran udara di dalam ruangan tersebut terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubanglubang pada dinding dan sebagainya. Di pihak lain ventilasi

alamiah ini tidak menguntungkan karena juga merupakan jalan masuknya nyamuk dan serangga lainnya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada usaha-usaha lain untuk melindungi kita dari gigitan-gigitan nyamuk tersebut. b. Ventilasi Buatan Yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara terebut, misalnya kipas angin dan mesin pengisap udara. Tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi rumah di pedesaan. Perlu diperhatikan disini bahwa sistem pembuatan ventilasi harus dijaga agar udara tidak mandeg atau membalik lagi, harus mengalir. Artinya di dalam ruangan rumah harus ada jalan masuk dan keluarnya udara. 3. Cahaya Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya didalam rumah akan menyebabkan silau dan akhirnya dapat merusakkan mata. Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni : a. Cahaya alamiah, yakni matahari.

Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteribakteri patogen didalam rumah, misalnya baksil TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Seyogyanya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang-kurangnya 15-20 % dari luas lantai yang terdapat dalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan didalam membuat jendela diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini disamping sebagai ventilasi juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding) sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah tinggi dinding (tembok). b. Cahaya buatan Yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya. 4. Fasilitas-Fasilitas didalam Rumah Sehat Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas-fasilitas sebagai berikut : a. Penyediaan air bersih yang cukup b. Pembuangan tinja (Notoatmodjo, 2003).

2. Jamban Keluarga Untuk mencegah sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoran harus disuatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Suatu jamban yang disebut sehat untuk daerah pedesaan persyaratan sebagai berikut: a. Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban tersebut. b. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya. c. Tidak mengotori air tanah sekitarnya. d. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan binatang-binatang lainnya. e. Tidak menimbulkan bau f. Mudah digunakan dan dipelihara (maintanance) g. Sederhana desainnya h. Murah i. Dapat diterima oleh pemakainya. Agar persyaratan-persyaratan ini dapat dipenuhi, maka perlu diperhatikan antara lain hal-hal sebagai berikut: 1. Sebaiknya jamban tersebut tertutup, artinya bangunan jamban terlindung dari panas dan hujan, serangga dan apabila memenuhi persyaratan-

binatang-binatang lainnya, terlindung dari pandangan orang (pravacy) dan sebagainya. 2. Bangunan jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat, tempat berpijak yang kuat dan sebagainya. 3. Bangunan jamban sedapat mungkin ditempatkan pada lokasi yang tidak mengganggu pandangan, tidak

menimbulkan bau dan sebagainya. 4. Sedapat mungkin disediakan air pembersih seperti air atau kertas pembersih (Notoatmodjo, 2003). Menurut Azwar (1999), persyaratan jamban yang sehat adalah bentuk atau model leher angsa, lantai pijak kuat, dan lantai tersebut tidak licin. Tipe – tipe jamban sesuai dengan teknologi pedesaan antara lain : 1. Jamban Cemplung, Kakus (Pit Latrine) 2. Jamban Empang (fishpond latrine) 3. Jamban Pupuk (the compost privy) 4. Jamban Leher Angsa dengan septic tank.

3. Pengelolaan Sampah Sampah adalah setiap bahan/material yang untuk sementara tidak dapat dipergunakan lagi dan harus di buang atau di musnahkan. Jenis-jenis sampah menurut asalnya : 1. Sampah buangan rumah tangga

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Sampah buangan pasar atau tempat-tempat umum Sampah buangan jalanan Sampah industri Sampah organik Sampah anorganik Sampah kering Sampah basah Usaha untuk mengurangi sumber sampah baik dari segi

kuantitas maupun kualitas dengan cara : 1. Meningkatkan pemeliharaan dan kualitas barang sehingga tidak menjadi sampah 2. Meningkatkan efesiensi pengunaan bahan baku 3. Meningkatkan penggunaan bahan yang dapat terurai secar alamiah, misalnya pembungkusan plastik diganti dengan

pembungkus kertas. Semua usaha ini diperlukan kesadaran masyarakat serta peran sertanya. Pengelolaan sampah yang baik, bukan saja untuk kepentingan kesehatan tetapi juga untuk keindahan lingkungan. Pengelolaan sampah meliputi pengumpulan, pengangkutan, sampai dengan

pemusnahan atau pengolahan sampah. Untuk daerah pedesaan pada umumnya sampah dapat dikelola oleh masing-masing keluarga, tanpa memerlukan TPS, maupun TPA. Sampah rumah tangga daerah pedesaan umumnya didaur ulang menjadi pupuk. Pemusnahan atau

pengolahan sampah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain sebagai berikut: a. b. c. Ditanam (Landfill) Dibakar (Inceneration) Dijadikan pupuk (Composting) (Notoatmodjo, 2003 ).

4. SPAL (Sistem Pembuangan Air Limbah) Air buangan adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum dan mengandung zat atau bahan-bahan yang membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan (Kusnoputro, 1983). Suatu perencanaan rumah harus dapat menyediakan saluran pembuangan air limbah, seperti got/saluran yang dapat meneruskan air ke jaringan drainase. Fasilitas resapan dikembangkan di daerah-daerah yang mempunyai tingkat permeabilitas tinggi dan secara teknis pengisian air tanah ini tidak menganggu stabilitas geologi. Fasilitas resapan dapat berupa parit, sumur dan kolam. Parit adalah saluran yang disediakan untuk membuang aliran air dari perkerasan jalan bahu jalan, dan slope galian, dan timbunan. Sedangkan pipa merupakan saluran yang berfungsi untuk membawa air dari parit, sehingga dapat dialirkan lebih tepat pada tempat pembuangan limbah. Sumur resapan pada dasarnya sebuah tempat dengan membuat lubang-lubang galian

di kebun halaman serta memanfaatkan sumur-sumur yang tidak terpakai sebagai penampungan air (Suripin, 2004).

5.

Penyediaan Air Bersih Air merupakan kebutuhan yang sangat vital karena tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air (60%). Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 416/MENKES/PER/IX/1990, yang dimaksud dengan air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang, kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Syarat-syarat air bersih untuk kebutuhan sehari-hari (Onny, 1996) : 1. Syarat Fisik, diwujudkan dalam bentuk tidak keruh, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa. 2. Syarat Biologis, diwujudkan dalam bentuk jumlah

mikroorganisme patogen dan non patogen. 3. Syarat Kimiawi, diwujudkan dalam bentuk tidak boleh mengandung berbagai bahan kimia melebihi Nilai Ambang Batas. 4. Syarat Radioaktif, diwujudkan dalam bentuk bebas dari pencemaran radioaktif. Asal sumber air : 1. 2. Air dari mata air di pegunungan Air danau

3. 4. 5.

Air sungai Air sumur Air hujan, dll (Waryati, 2006). Sebagian besar sumber air di Indonesia berasal dari sumur. Air

sumur sebagai sumber air di rumah tangga harus memenuhi syarat kesehatan (Sukarni, 2000) : a. Syarat lokalisasi, jarak sumur dengan sumber pengotoran (lumbang kakus, lubang limbah dan lain-lain) tergantung pada kemiringan tanah, umumnya 10 meter dan jika di daerah miring diusahakan letak sumber air tidak di bawah sumber pengotoran. b. Syarat konstruksi, tergantung bentuk sumur (sumur gali dan sumur bor).

Penyediaan Air Minum (PAM) Definisi air minum menurut PERMENKES No.

416/MENKES/PER/IX/1990 Pasal I adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Syarat air minum yang sehat dan dapat langsung diminum yaitu : 1. Syarat fisik (tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna dan jernih). 2. Syarat kimiawi (sisa chlor 0,2-0,5 ppm dan pH 6,5-8,2). 3. Syarat bakteriologis (MPN coliform tinja maksimal 0/100 cc dan MPN total coliform maksimal 0/100 cc). 4. Syarat Radioaktif (air tidak boleh melebihi Nilai Ambang Batas)

a.pengolahan air dengan cara desinfektan b. pengolahan air secara tidak lengkap c. pengolahan air secara lengkap

6. Tempat Penampungan Air Tempat penampungan air khususnya untuk air minum (air hujan dan sungai), dapat dibedakan menjadi: 1. Penampungan Air Hujan Air hujan dapat ditampung di dalam suatu dam (danau buatan), kemudian di sekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen, dan di sekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran keluar untuk pengambilan air. Air hujan, baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampung belum terjamin secara bakteriologik, sehingga perlu pemasakan misalnya merebus air tersebut. 2. Penampungan Air Sungai Air sungai dialirkan dalan satu bak penampungan I, melalui saringan kasar. Kemudian, air dialirkan ke bak penampungan II yang dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini lalu dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu.

2.8

Administrasi Kebijakan Kesehatan (AKK)

Menurut Koontz O’Donnell, Administrasi adalah upaya mencapai tujuan yang diinginkan dengan mencapai lingkungan kerja yang menguntungkan. Salah satu pengertian adminstrasi kesehatan yang cukup mewakili adalah yang disusun oleh Komisi Pendidikan Administrasi Kesehatan Amerika Serikat pada tahun 1974. Administarsi kesehatan adalah suatu proses perencanaan yang menyangkut perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, pengkoordinasian dan penilaian terhadap sumber, tata cara dan kesanggupan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan terhadap kesehatan, perawatan kedokteran serta lingkungan yang sehat dengan jalan menyediakan dan menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan yang ditujukan kepada perseorangan, keluarga, kelompok dan atau pun masyarakat (Azwar, 2002). Ada 5 unsur pokok yang peranannya amat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan administrasi kesehatan yaitu : a. Masukan Masukan (input) dalam administrasi adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan

administrasi. b. Proses Proses (process) dalam admistrasi adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

c. Keluaran

Keluaran (output) adalah hasil dari suatu pekerjaan

administrari. Untuk adminnistrasi kesehatan, keluaran keluaran tersebut dikenal dengan nama pelayanan kesehatan (health

services). Secara umum dapat dibedakan atas dua macam. Pertama, pelayanan kedokteran (medical services). Kedua,

pelayanan kesehatan masyarakat (public health services)

d.

Sasaran Sasaran (target group) adalah kepada siapa keluaran yang dihasilkan, yakni upaya kesehtan tersebut, ditujukan. Untuk administrasi kesehatan sasaran yang dimaksudkan di sini

dibedakan atas empat macam yakni perseorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. Dapat bersifat sasaran langsung (direct target group), ataupun bersifat sasaran tidak langsung (indirect target group). e. Dampak Dampak (impact) adalah akibat yang ditimbulkan oleh keluaran. Untuk administrasi kesehatan, dampak yang diharapkan adalah makin meningkatkan derajat kesehatan. Peningkatan derejat kesehatan ini hanya akan dapat dicapai apabila kebutuhan (needs)

dan tuntunan (demands) perseorangan, keluarga, kelompokan dan atau masyarakat terhadap kesehatan, pelayanan kedokteran serta lingkungan yang sehat dapat terpenuhi. Syarat Pokok Pelayanan Kesehatan : 1. 2. Tersedia dan berkesinambungan Pelayanan kesehatan yang di butuhkan oleh masyarakat tidak sulit di temui. Serta keberadannya dalam masyarakat ada pada setiap saat di butuhkan. 3. Dapat diterima dan wajar. Artinya, pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat 4. Mudah di capai. Pengertian ketercapaian yang di maksud terutama dari sudut lokasi untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, sehingga pengaturan distribusi sarana kesehatan berjalan lancar. 5. Mudah di jangkau. Pengertian keterjangkauan yang dimaksudkan terutama dari sudut biaya di upayakan biaya yankes tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat 6. pada tingkat Bermutu. Pengertian mutu adalah yang menuju kesempurnaan pelayanan kesehatan yang di

selenggarakan yang di satu pihak dapat memuaskan para pemakai bisa pelayanan, dan di pihak lain tata cara penyelenggaraannya

sesuai dengan kode etik serta standar yang telah di tetapkan (Azwar, 2002).

1.

Asuransi Kesehatan Asuransi adalah suatu upaya untuk memberikan perlindungan

terhadap

kemungkinan-kemungkinan

yang

dapat

mengakibatkan

kerugian ekonomi (Breider dan Breadles, 1972). Asuransi adalah suatu perjanjian dimana si penanggung dengan menerima suatu premi mengikatkan dirinya untuk memberi ganti rugi kepada tertanggung yang mungkin diderita karena terjadinya suatu peristiwa yang mengandung kehilangan, ketidakpastian kerugian, atau dan yang akan suatu

mengakibatkan

kehilangan

keuntungan (Kitab UU Hukum Dagang, 1987). Macam-macam asuransi kesehatan (Azwar, 1996) : 1. Ditinjau dari pengolah dana • • Asuransi kesehatan pemerintah Asuransi kesehatan swasta

2. Ditinjau dari keikutsertaan anggota • • Asuransi kesehatan wajib Asuransi kesehatan sukarela

3. Ditinjau dari jenis pelayanan • • Menanggung seluruh jenis pelayanan kesehatan Menanggung sebagian pelayanan kesehatan saja

4. Ditinjau dari jumlah dana yang ditanggung • • Menanggung seluruh biaya kesehatan yang diperlukan Hanya menanggung pelayanan kesehatan dengan biaya yang tinggi saja 5. Ditinjau dari jumlah peserta yang ditanggung • • • Peserta adalah perseorangan Peserta adalah satu keluarga Peserta adalah satu kelompok

6. Ditinjau dari peranan badan asuransi • • Hanya bertindak sebagai pengelola dana Juga bertindak sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan

7. Ditinjau dari cara pembayaran kepada penyelenggara pelayanan kesehatan • • Pembayaran berdasarkan jumlah kunjungan peserta Pembayaran dilakukan dimuka

2. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (JPKMM) a. Tujuan JPKMM

Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu di Kutai Kartanegara agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.

b.

Sasaran JPKMM

Masyarakat miskin dan tidak mampu yang tidak memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan atau Asuransi Kesehatan yang lainnya.

c.

Cara Mendapatkan Pelayanan Kesehatan

1. Masyarakat miskin dan tidak mampu yang memerlukan pelayanan kesehatan dianjurkan berkunjung ke Puskesmas dan jaringannya 2. Puskesmas dan jaringannya akan memberikan pelayanan

kesehatan dasar sesuai kebutuhan dan standar pelayanan 3. Surat rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit diberikan atas dasar Indikasi Medis disertai dengan kartu JPKMM, untuk memperoleh prioritas pelayanan kesehatan. Kartu sehat dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) masih berlaku selama belum diterbitkan Kartu JPKMM oleh PT. ASKES (Persero) 4. Rumah Sakit wajib memberikan rujukan balik ke Puskesmas apabila kasus tersebut sudah dapat ditangani oleh Puskesmas 5. Rujukan antar Rumah Sakit dimungkinkan atas indikasi medis 6. Rujukan ke Rumah Sakit , BP4 dan BKMM dapat rujukan rawat jalan dan rawat inap 7. Dalam kondisi gawat darurat, masyarakat dapat langsung

memperoleh pelayanan Rumah Sakit melalui Unit Gawat Darurat.

d. Pelayanan Yang Diperoleh Peserta 1. Pelayanan tingkat pertama dilaksanakan di Puskesmas. Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling dan Polindes 2. Pelayanan tingkat lanjutan di Rumah Sakit yang ditunjuk (Rawat Jalan, Rawat Inap dan UGD) 3. Perawatan dan persalinan dapat dilayani di Puskesmas Rawat Inap dan Rumah Sakit kelas III 4. Pelayanan obat. Pelayanan Yang Tidak Dijamin : 1. Pelayanan yang tidak sesuai prosedur dan ketentuan 2. Bahan, alat dan tindakan yang bertujuan komersil 3. General Check Up 4. Prothesis Gigi Tiruan 5. Pengobatan alternatif (Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai

Kartanegara, 2006) 2.9 Epidemiologi Dalam bidang kesehatan masyarakat, epidemiologi mempunyai tiga fungsi utama: 1. Epidemiologi adalah suatu cabang ilmu kesehatan untuk menganalisis sifat dan penyebaran berbagai masalah kesehatan dalam suatu penduduk tertentu serta mempelajari sebab timbulnya masalah serta Menerangkan tentang besarnya masalah dan

gangguan kesehatan (termasuk penyakit) serta penyebarannya dalam suatu penduduk tertentu. Gangguan kesehatan tersebut untuk tujuan pencegahan maupun penanggulangannya. Dalam hal ini sifat dasar epidemiologi lebih mengarah daripada kelompok penduduk maupun masyarakat tertentu dan menilai peristiwa dalam masyarakat secara kuantitatif (menggunakan nilai rate, rasio, proporsi, dan semacam) (Noor, 2000). 2. Menyiapkan data/informasi yang esensial untuk keperluan perencanaan, pelaksanaan program, serta evaluasi berbagai kegiatan pelayanan kesehatan pada masyarakat, baik yang bersifat pencegahan dan penanggulangan penyakit maupun bentuk lainnya serta menentukan skala prioritas terhadap kegiatan tersebut 3. Mengidentifikasi berbagai faktor yang menjadi penyebab masalah atau faktor yang berhubungan dengan terjadinya masalah tersebut. Ruang Lingkup Epidemiologi :

1. 2. 3. 4. 5.

Epidemiologi penyakit menular Epidemiologi penyakit tidak menular Epidemiologi pengolahan pelayanan kesehatan Epidemiologi lingkungan dan kesehatan kerja Epidemiologi gizi

6. 7. 8.

Epidemiologi kependudukan Epidemiologi perilaku Epidemiologi klinik (Timmreck, 2005). Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang kompleks, yang

saling berkaitan dengan masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri, tetapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah ”sehat-sakit” atau kesehatan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi

kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat (Notoatmodjo, 2003). Paradigma Hidup Sehat H. L. Blum GENETIK

LINGKUNGAN N

HIDUP SEHAT

PELAYANAN KESEHATAN

Penyakit adalah kegagalan dari mekanisme adaptasi suatu PERILAKU MASYARAKAT organisme untuk bereaksi secara tepat terhadap rangsangan atau tekanan sehingga timbullah gangguan pada fungsi atau struktur dari bagian, organ atau sistem dari tubuh (Gold Medical Dictionay). Penyakit

bukan merupakan kelainan yang dapat dilihat dari luar saja, akan tetapi juga suatu keadaan terganggu dari keteraturan fungsi-fungsi dalam dari tubuh (Arrest Hof te Amsterdam). 1. Jenis Penyakit, Penyebab dan Gejalanya Infeksi Saluran Pernapasan Atas dalam bahasa Indonesia juga di kenal sebagai ISPA, merupakan penyakit infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan, hidung, sinus, faring, atau laring. Yang termasuk gejala dari ISPA adalah badan pegal pegal (myalgia), beringus (rhinorrhea), batuk, sakit kepala, sakit pada tengorokan. Penyebab terjadinya ISPA adalah virus, bakteri dan jamur. Kebanyakan adalah virus. Diagnosis yang termasuk dalam keadaan ini adalah, rhinitis, sinusitis, faringitis, tosilitis dan laryngitis. Diare adalah sebuah penyakit dimana penderita mengalami buang air besar bercampur air dalam frekuensi yang sering. Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus tetapi juga seringkali akibat dari racun bakteria. Dalam kondisi hidup yang bersih dan dengan makanan mencukupi dan air tersedia, pasien yang sehat biasanya sembuh dari infeksi virus umum dalam beberapa hari dan paling lama satu minggu. Namun untuk individu yang sakit atau kurang gizi, diare dapat menyebabkan dehidrasi yang parah dan dapat mengancam-jiwa bila tanpa perawatan. Diagnosa diare ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil

pemeriksaan fisik. Amati konsistensi tinja dan frekuensi buang air besar

bayi atau balita. Jika tinja encer dengan frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari, maka bayi atau balita tersebut menderita diare. Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk mengetahui kadar elektrolit dan jumlah sel darah putih. Namun, untuk mengetahui organisme penyebab diare, perlu dilakukan pembiakan terhadap contoh tinja. Tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica serovar typhosa. Kuman ini dapat hidup lama di air yang kotor, makanan tercemar, dan alas tidur yang kotor. Siapa saja dan kapan saja dapat menderita penyakit ini. Termasuk bayi yang dilahirkan dari ibu yang terkena demam tifoid. Lingkungan yang tidak bersih, yang terkontaminasi dengan Salmonella enterica serovar typhosa merupakan penyebab paling sering timbulnya penyakit tifus. Kebiasaan tidak sehat seperti jajan sembarangan, tidak mencuci tangan menjadi penyebab terbanyak penyakit ini. Penyakit tifus cukup menular lewat air seni atau tinja penderita. Penularan juga dapat dilakukan binatang seperti lalat dan kecoa yang mengangkut bakteri ini dari tempat-tempat kotor. Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 7 sampai 14 hari. Gejala utama tifus adalah panas lebih dari 5 hari, gangguan buang air besar (bisa diare atau sulit BAB). Apabila diperiksa darahnya, titer Widal + lebih dari 4× pada 2 kali pemeriksaan dengan interval 1 minggu atau periksa kultur, positif ada kuman tifus.

Tifus dapat dicegah dengan memperbaiki sanitasi lingkungan dan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Antibiotika, seperti ampicillin, ciproloxacin kloramfenikol, sering trimethoprim-sulfamethoxazole, untuk merawat demam dan tipoid

digunakan

(www.google,com). Tidak bisa dipungkiri bahwa pestisida adalah salah satu hasil teknologi modern dan mempunyai peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Pestisida merupakan zat kimia serta jasad renik dan virus yang digunakan membunuh hama dan penyakit. Dan sektor terbesar yang sering memakai pestisida adalah sektor pertanian. Penggunaannya meliputi sektor perikanan, perkebunan dan pertanian tanaman pangan yang menangani komoditi padi, palawija, dan hortikultura (sayuran, buah-buahan dan tanaman hias).

Penggunaannya dengan cara yang tepat dan aman adalah hal mutlak yang harus dilakukan mengingat walau bagaimanapun, pestisida adalah bahan yang beracun. Penggunaan pestisida yang salah atau pengelolaannya yang tidak bijaksana akan dapat menimbulkan dampak negatif, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kesehatan manusia dan lingkungan. 2. Fakta dan Data Akibat Buruk Pestisida Fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa :

Diketemukannya data penyakit-penyakit akut yang diderita pada kelompok petani,seperti hamil anggur pada isteri-isteri petani di Lembang.

12 orang petani di Klaten meninggal dunia akibat keracunan pestisida

18 penduduk transmigrasi di Lampung Utara meninggal akibat racun tikus, penyakit kulit eksim basah, TBC, Kanker saluran pernafasan.

25% dari 2400 wanita pada tahun antara 1959 – 1966 yang pernah melahirkan bayi dengan bobot di bawah normal memiliki

kandungan DDT yang telah terurai pada darahnya lima kali lebih besar dari kadar normal. • Tahun 2001 terjadi kematian pada ayam-ayam di sekitar lahan pertanian akibat akumulasi paparan pestisida yang terbawa angin. (Kusnadi Umar Said, Puncak Jawa Barat). • Logam berat yang merupakan unsur pestisida biasanya ditimbun di dalam hati, sehingga mempengaruhi metabolisme dan

menyebabkan kerusakan pada ginjal. • Pestisida juga dapat mengganggu peredaran hormon sehingga menyebabkan efek testikular dan menimbulkan sejumlah penyakit seperti kanker prostat, problem reproduksi perempuan, kanker payudara, dan perubahan perilaku.

Sebuah penelitian di Cina, bahkan mengungkap pria yang terkena pengaruh pestisida selama bekerja ternyata berisiko mendapat gangguan kualitas sperma yang dapat mempengaruhi kesuburan.

Ditemukan katak cacat tanpa sebelah kaki akibat penggunaan pestisida kimia oleh staf pengajar Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fak. Kehutanan IPB.

• • •

Penipisan cangkang telur burung elang. Mengganggu kehidupan perairan, misalnya membunuh ikan – ikan. Gejala keracunan yang disebabkan oleh berbagai golongan pestisida :

Tabel 2.8 Gejala keracunan yang disebabkan oleh berbagai golongan pestisida
Golongan Pestisida Klor organik : endrin, aldrin, endosulfan(thiodan), dieldrin, lindane(gamma BHC), DDT Cara bekerjanya Mempengaruhi susunan syaraf pusat terutama otak Gejala keracunan yang timbul Mual, sakit kepala, tak dapat berkonsentrasi. Pada dosis tinggi dapat terjadi kejang-kejang muntah dan dapat terjadi hambatan pernafasan Sakit kepala, pusingpusing, lemah, pupil mengecil, gangguan penglihatan dan sesak nafas, mual, muntah, kejang pada perut dan diare, sesak pada dada dan detak jantung menurun. Tanda-tanda keracunan umunya lambat sekali baru terlihat

Fosfat organik: mevinfos (fosdrin), paration, gution, monokrotofos (azodrin), dikrotofos, fosfamidon, diklorvos (DDVP), etion, efntion, diazinon. Karbamat : aldikarb(temik), carbofuran (furadan), metomil (lannate), propoksur (baygon), karbaril (sevin)

Menghambat enzim kholinnestrase

aktivitas

Menghambat aktivitas enzim kholinestarse, tetapi reaksinya reversible dan lebih banyak bekerja

pada jaringan, dalam darah/plasma. Dipiridil : paraquat, diquat dan morfamquat

bukan

Dapat membentuk ikatan dan merusak jaringan ephitel dari kulit, kuku, saluran pernafasan dan saluran pencernaan, sedangkan larutan yang pekat dapat menyebabkan peradangan.

Arsen : arsen trioksid, kalium arsenat, asam arsenat dan arsin(gas).

Menghambat pembentukan zat yang berguna untuk koagulasi/pembekuan darah antara lain protrombin Keracunan arsen pada umumnya melalui mulut walaupun bisa juga diserap melalui kulit dan saluran pernafasan

Gejala keracunan selalu lambat diketahui, seperti perut, mual, muntah dan diare karena ada iritasi pada saluran pencernaan. 4872 jam baru gejala kerusakan seperti ginjal seperti albunuria, proteinura, hematuria, dan peningkatan kreatinin lever, 72 jam-14 hari terlihat tanda-tanda kerusakan pada paru-paru Pada keracunan akut: nyeri pada perut, muntah dan diare. Pada keracunan sub akut akan timbul gejala seperti sakit kepala, pusing dan banyak keluar ludah

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful