P. 1
Pemahaman Tarekat

Pemahaman Tarekat

5.0

|Views: 1,332|Likes:
Published by puji_asc

More info:

Published by: puji_asc on Jan 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/28/2012

pdf

text

original

Pemahaman Tarekat

Thoraqo artinya jalan, perbedaannya dengan syara'a: kalau syara'a jalan di dalam kota, maka thoraqo jalan ke luar kota yang lebih panjang. Oleh sebab itu, maka tarekat disebut juga jalan untuk memahami hakekat. Orang yang menggunakan jalan ini disebut penganut tarekat, yang dipimpin oleh seorang guru tarekat. Mereka yang memasuki tarekat berkehendak untuk mendapatkan ridha Allah, dan disebut almuridin atau salik atau orang yang menuntut ilmu suluk. Banyak sekali perkumpulan tarekat seperti Naqsabandiah, Qadiriah, Tijaniah, Sanusiah, dsb. Pengikut tarekat melakukan wirid-wirid tertentu yang dibimbing oleh guru tarekat. Tingkat kesadaran: milikku adalah milikmu dan milikmu adalah milikku.

Penjelasan Lain Tentang Tarekat Kata "tarekat" berasal dari bahasa Al-Quran, "thariqah", yang berarti jalan, cara, metode. Yang dimaksud di sini adalah metode/ jalan mendekatkan diri kepada Allah- taqarub ila Allah -- berupa amalan yang ditentukan dan dicontohkan Rasulullah saw dan dikerjakan oleh para sahabat dan tabiin, dan diturunkan secara turun temurun sampai pada guru-guru tarikat. Transmisi rohaniah guru tarekat kepada guru yang lebih muda disebut "silsilah tarekat". Sedangkan guru tarekat disebut "mursyid" yaitu orang yang mendapat amanat untuk membimbing murid-murid dalam mendekatkan diri kepada Allah, setelah mendapat ijazah atau "hirqah shufiah". Tarekat adalah "the inner and asetoric dimension of Islam", suatu istilah yang berpadanan dengan perkataan "al-bawathin" dalam literatur tasawuf bahasa Arab. Istilah ini sering dipertentangkan dengan "al-syari'ah" yang merupakan dimensi luar ajaran Islam, yang sering disebut "al-zhawahir". kedua istilah ini berarti jalan. namun thariqah berarti jalan kecil, sedang syari'ah berarti jalan besar. Dua jalan ini harus dilalui dengan baik, dengan mengamalkan keduanya secara seimbang agar ibadah benar-benar paripurna, lahir dan batin. Jika tarekat itu dilakukan tanpa didasari ilmu yang benar maka seseorang akan mudah terjerumus. Karenanya tidak sedikit kita temukan tarekattarekat yang pada awalnya murni, bersih dari penyimpangan-penyimpangan dari syari'at Islam dan dirintis oleh ulama-ulama sufi yang hakiki, kini banyak mengalami perubahan yang mengarah kepada penyimpangan dari ajaran syari'at Islam. Ini semua terjadi karena dangkalnya ilmu orang yang menjalankan tarekat tersebut. Hingga sebagian orang meyakini bahwa tarekat adalah wajib atau dzikir secara mutlak adalah wajib. Bahkan dalam beberapa tarekat menyebar paham Hulul (keyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya) dan Wahdatul Wujud (keyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya) yang merupakan salah satu bentuk kekufuran yang sangat keji dan parah, lebih parah dari kekufuran orang nasrani sekalipun seperti dijelaskan oleh Imam as-Suyuthi dan lainnya. Tarekat adalah upaya untuk meneladani akhlak para Ahlullah; para wali dan orang-orang saleh dan merutinkan dzikir-dzikir tertentu dengan cara tertentu yang tidak menyalahi syara' yang dicetuskan oleh pendiri tarekat. Tarekat bermuara kepada ketakwaan dan kesalehan yang sesungguhnya. Tarekat adalah pelengkap, modal utamanya adalah bertakwa, yaitu melaksanakan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan. Tarekat hukumnya sunnah artinya baik dilakukan tetapi tidak berdosa jika ditinggalkan. Kita jangan sampai menjadi orangorang yang tertipu karena mengikuti tarekat lalu amalan-amalan yang hukumnya wajib cenderung kita abaikan, seperti menuntut ilmu agama yang pokok misalnya. Menuntut ilmu agama jauh lebih besar nilai pahalanya dari pada mengamalkan tarekat, karena menuntut ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah.

Tasawuf
Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah, pertama, Tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya. Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: 1. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat, terutama salat dan puasa. 2. Saf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. 3. Ahl al-Suffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah, (pelana) sebagai bantal. Ahl al-Suffah, sungguhpun tak mempunyai apa-apa, berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi. 4. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. 5. Suf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. Diantara semua pendapat itu, pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Jadi, sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w.150 H).

Ijtihat
Menurut bahasa, ijtihad berarti (bahasa Arab ‫ )اجتهاد‬Al-jahd atau al-juhd yang berarti la-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan akth-thaqat (kesanggupan dan kemampuan). Dalam al-quran disebutkan:

            
artinya: “… Dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan”(at-taubah:79) Kata al-jahd beserta serluruh turunan katanya menunjukkan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa dan sulit untuk dilaksanakan atau disenangi. Dalam pengertian inilah Nabi mengungkapkan kata-kata: “Shallu ‘alayya wajtahiduu fiddua’” artinya:”Bacalah salawat kepadaku dan bersungguh-sungguhlah dalam dua” Demikian dengan kata Ijtihad “pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit.” Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata “ijtihad” dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah, dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang. Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah “penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u ‘l-Lah dan Sunnah Rasul, baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma’qul nash), atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari’ah- yang terkenal dengan “mashlahat.” Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah, ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) kelompok mayoritas dan kelompok minoritas yang mengemukakan rumusan definisi. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas. Menurut mereka, ijtihad adalah pengerahan segenap kesanggupan dari seorang ahli fiqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara’ (hukum Islam). Dari definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih), bukan yang lain. 2. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar’i, yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i’tiqadi atau hukum khuluqi, 3. Status hukum syar’i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. Dalam hubungan ini komentator Jam’u ‘l-Jawami’ (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan, “yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu’. (Jam’u ‘l-Jawami’, Juz II, hal. 379).

Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh, salah seorang tokoh mu’tazilah. Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh), tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. Lantaran itulah Jumhur ‘ulama’ telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Diarsipkan : Usul Fikih

Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (w.1878 M.). Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai'at Thariqah Naqsabandiyah. Sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil Syaikh Ahmad Khatib sebenarnya memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi Thariqah Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid. Karena pada masanya telah jelas ada pusat penyebaran Thariqah Naqsabandiyah di kota suci Makkah maupun di Madinah, maka sangat dimungkinkan ia mendapat bai'at dari tarekat tersebut. Kemudian menggabungkan inti ajaran kedua tarekat tersebut, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah dan mengajarkannya kepada muridmuridnya, khususnya yang berasal dari Indonesia. Penggabungan inti ajaran kedua tarekat tersebut karena pertimbangan logis dan strategis, bahwa kedua tarekat tersebut memiliki inti ajaran yang saling melengakapi, terutama jenis dzikir dan metodenya. Di samping keduanya memiliki kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menekankan pentingnya syari'at dan menentang faham Wihdatul Wujud. Thariqah Qadiriyah mengajarkan Dzikir Jahr Nafi Itsbat, sedangkan Thariqah Naqsabandiyah mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. Dengan penggabungan kedua jenis tersebut diharapkan para muridnya akan mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang lebih mudah atau lebih efektif dan efisien. Dalam kitab Fath al-'Arifin, dinyatakan tarekat ini tidak hanya merupakan penggabungan dari dua tarekat tersebut. Tetapi merupakan penggabungan dan modifikasi berdasarkan ajaran lima tarekat, yaitu Tarekat Qadiriyah, Tarekat Anfasiyah, Junaidiyah, dan Tarekat Muwafaqah (Samaniyah). Karena yang diutamakan adalah ajaran Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah, maka tarekat tersebut diberi nama Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Disinyalir tarekat ini tidak berkembang di kawasan lain (selain kawasan Asia Tenggara). Penamaan tarekat ini tidak terlepas dari sikap tawadlu' dan ta'dhim Syaikh Ahmad Khathib al-Sambasi terhadap pendiri kedua tarekat tersebut. Beliau tidak menisbatkan nama tarekat itu kepada namanya. Padahal kalau melihat modifikasi ajaran yang ada dan tatacara ritual tarekat itu, sebenarnya layak kalau ia disebut dengan nama Tarekat Khathibiyah atau Sambasiyah, karena memang tarekat ini adalah hasil ijtihadnya. Sebagai suatu mazhab dalam tasawuf, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran yang merupakan pandangan para pengikut tarekat ini bertalian dengan masalah tarekat atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode tersebut diyakini paling efektif dan efisien. Karena ajaran dalam tarekat ini semuanya didasarkan pada Al-Qur'an, Al-Hadits, dan perkataan para 'ulama arifin dari kalangan Salafus shalihin. Setidaknya ada empat ajaran pokok dalam tarekat ini, yaitu : tentang kesempurnaan suluk, tentang adab (etika), tentang dzikir, dan tentang murakabah.

Sesudah itu ialah ada empat jenis tarekat yang diamalkan iaitu Syathariyah, Naqsyabandiyah, Rifaiyah dan Qadiriyah. Tiga tarekat di antaranya, kecuali Tarekat Rifaiyah, memang ramai diamalkan oleh ulama dunia Melayu tetapi Tarekat Rifaiyah barangkali ramai juga ulama kita yang mengamalkannya cuma mereka tidak pernah mengisytiharkan mengenainya pada karya-karya mereka. Satu-satunya karya yang pengarangnya mengaku secara terang bahawa dia pengamal Tarekat Rifaiyah ialah Syeikh Syihabuddin al-Haji bin Abdullah Muhammad al-Jawi yang diriwayatkan ini. Dalam naskhah MS 1522 dengan jelas Syeikh Syihabuddin al-Haji mengakui beliau penganut Mazhab Syafie, iaitu mazhab itu yang dominan dianuti oleh semua ulama dunia Melayu sejak zaman dahulu. Bahkan hingga ke zaman kita sekarang ini. Kemudian beliau mengakui pula bahawa beliau ialah pengamal keempat-empat tarekat yang disebutkan. Ada pun Tarekat Syathariyah diakui dikembangkan oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh yang kemudian disebarkan oleh muridmuridnya di seluruh dunia Melayu. Memerhatikan tahun kemunculan karya Syeikh Syihabuddin al-Haji, 1162 H/1748 M, sekurang-kurangnya beliau peringkat cucu murid saja daripada Syeikh Abdur Rauf, dan ada kemungkinan termasuk murid ulama besar yang berasal dari Aceh itu Satu lagi ialah Thariqat Khalwatiyah Samman yang disebarkan oleh Syeikh Abdul Munir Syamsul Arifin, murid Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani. Thariqat Khalwatiyah Samman mulai masuk di Sulawesi Selatan tahun 1204 H/1820 M (hlm. 51-52). Di sini juga perlu diperbetulkan. Tahun 1204 H adalah bersamaan tahun 1789 M ataupun 1790 M. Thariqat Khalwatiyah-Sammaniyah dipelopori oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani, guru kepada Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani. Mengenai ini dapat dirujuk kepada karya-karya ulama yang berasal dari Palembang itu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->