P. 1
Standar Operasional Prosedur Jamur Kuping Sleman

Standar Operasional Prosedur Jamur Kuping Sleman

|Views: 3,646|Likes:
Published by trimartinipatria

More info:

Published by: trimartinipatria on Jan 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2012

pdf

text

original

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PRODUKSI JAMUR KUPING (Auricularia polytrica

)

2009

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR JAMUR KUPING (Auricularia spp)
Pengarah : ... (Kepala ...) Tim Penyusun : 1. Tri Martini (BPTP Yogykarta) 2. Supriyanto (BPP Pakem) 3. Bambang Setyadi (Asosiasi Petani Krisan Yogyakarta) 4. Ambarwati (Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Sleman) 5. Hesti Rahsitomurni (Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Sleman) 6. ... 7. ... 8. ... (UPTD Balai Proteksi Tanaman Pertanian DIY) 9. Siswiyanto (Udi Makmur) 10. ...... (Sawungsari) 11. ... (Sawungan) 12. ... (Wonorejo) 13. ... (Cangkringan) 14. ..............

2

KATA PENGANTAR

Yogyakarta, Oktober 2009 Kepala .......................

Ir. …………………………. NIP.

3

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Jamur kuping termasuk species yang memiliki tubuh buah paling besar diantara familia Auriculariaceae. Jamur kuping telah lama dikenal oleh masyarakat, jauh sebelum jamur merang dibudidayakan, karena banyak tumbuh pada media kayu bahkan di kayu yang telah busuk. Jamur kuping dikenal dengan banyak nama, karena mudah ditemui di setiap tempat. Di Jawa Barat dinamakan supa lember. Di Eropa dikenal dengan nama Oortjeszwam, di Jepang dengan nama Kikurage, orang Yahudi menyebutnya Jew's ear fungi. Jamur Kuping adalah jamur yang pertama kali dibudidayakan bahkan sebelum jamur Shiitake di Cina. Di Indonesia jamur Kuping sangat lumrah dikenal di kalangan masyarakat menengah ke bawah setelah jamur merang. Pada acara-acara pesta hajatan masakan sop (kimlo) sangat umum menggunakan jamur Kuping di dalamnya. Masyarakat tradisional masih sering mengambil jamur ini dari alam yang biasanya tumbuh pada batang-batang yang sudah lapuk. Kini jamur Kuping terutama jenis A. polytricha sudah banyak dibudidayakan secara modern dalam log-log serbuk kayu. Menurut data statistik, produksi segar jamur kuping (worldwide) menempati urutan keempat (346.000 ton) setelah Champignon, Tiram dan Shiitake pada tahun 1991 (Chang, 1993). Pada dasarnya cara budidaya jamur kuping hampir sama dengan cara budidaya jamur Tiram dan Shiitake yakni dengan tahap-tahapan sbb : penyiapan substrat, pencampuran substrat, pengantongan (logging), sterilisasi, inokulasi bibit, inkubasi, pemeliharaan tubuh buah, dan panen. Yang berbeda mungkin komposisi substrat dan cara pemeliharaan tubuh buahnya yang memerlukan kondisi-kondisi fisik yang sedikit berbeda dibandingkan dengan jamur Tiram dan Shiitake, serta waktu panenan yang lebih singkat. Dalam tiga tahun terakhir, minat masyarakat untuk mengonsumsi jamur terus meningkat. Salah satunya dapat dilihat dari kreatifitas para pedagang, yang sebelumnya hanya menjajakan jamur segar, sekarang sudah merambah ke olahan, seperti memproduksi keripik jamur. Kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi jamur berpengaruh positif terhadap permintaan pasokan hingga kenaikannya mencapai 20%— 25%/tahun. Jamur kuping juga bukan sekadar makanan, tapi juga mengandung khasiat obat. Dewasa ini orang makan jamur lantaran pertimbangan kesehatan. Jamur mudah

4

dicerna dan dilaporkan berguna bagi para penderita penyakit tertentu. Jamur merang misalnya, berguna bagi penderita diabetes dan penyakit kekurangan darah. Jamur mempunyai nilai gizi tinggi, terutama kandungan proteinnya sekitar 15%—20% (bobot kering). Daya cernanya pun tinggi, 34%—89%. Kelengkapan asam amino yang dimiliki jamur lebih menentukan mutu gizinya. Kandungan lemak cukup rendah, antara 1,1%—9,4% (bobot kering), berupa asam lemak bebas mono ditriglieserida, sterol, dan fosfolipida. Jamur juga merupakan sumber vitamin antara lain thiamin, niacin, biotin, dan asam askorbat. Umumnya, jamur kaya akan mineral terutama fosfor, kalsium, dan zat besi. Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di wilayah Kabupaten Sleman pada 2 tahun terakhir, produksi jamur stagnan, bahkan cenderung menurun. Padahal petani pembudidaya sudah cukup banyak. Petani inti jamur merang sekitar 5.000 orang, jamur tiram 600 petani, jamur kuping 200 petani, dan pengusaha shiitake sekitar 10 pelaku. Stagnasi produksi jamur disebabkan lantaran ada sekitar 30% petani tidak mampu lagi untuk berproduksi, bahkan di wilayah Dusun Sawungsari hingga ke 8 km ke arah utara di Dusun Boyong tidak lagi dijumpai kubung-kubung budidaya jamur kuping. Sejak tahun 1999, 26 orang petani jamur kuping yang tergabung di Kelompok Tani Sari Makmur di Dusun Sawangan Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman telah mengembangkan jamur kuping sampai 50.000 bag log (kantong plastik untuk pengembangan jamur), bahkan sampai 100.000 bag log di awal tahun 2005. Tapi, sekarang produksi dibatasi sampai 30.000 bag log karena permintaan menurun. Penurunan permintaan ini juga diikuti dengan penurunan harga jual jamur kuping kering di tingkat petani dari Rp 32.000 - Rp 35.000 turun menjadi Rp 31.000 bahkan Rp 25.000 per kg. Penurunan permintaan komoditas jamur kuping, diantaranya disebabkan oleh adanya serangan hama yang sering disebut ’krepes’ oleh petani setempat. Gejala awal nampak 2 minggu sejak bag log diletakkan di rak-rak pemeliharaan di kubung jamur. Tandanya berupa butir-butir halus seperti butiran-butiran Urea. Apabila butir-butir tersebut ditekan, akan timbul bunyi 'krepes-krepes' (baca e-nya seperti baca sedap). Selain menurunkan produksi, hama ini juga merusak kualitas jamur kuping sehingga kurang menarik. Serangan hama juga mengurangi produksi tiap bag log. Tiap kantong yang biasanya menghasilkan 0,06 kg jamur kuping segar, setelah ada serangan menyebabkan produksi hanya 0,02 atau maksimal 0,03 kg saja. Hama ’krepes’ sulit dikendalikan secara kimiawi dan belum pernah dilaporkan teknik pengendalian yang tepat, karena penggunaan bahan kimia yang berlebihan dapat 5

menimbulkan residu pestisida pada produk panen. Upaya pengendalian perlu lebih difokuskan pada pengendalian hama terpadu (PHT), yang salah satu komponennya adalah penggunaan pestisida maupun bahan nabati yang tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat cara, serta perlunya pengendalian OPT pra tanam dan sanitasi lingkungan. Kendala utama lainnya adalah ketersediaan bag log bermutu. Adanya aumulasi serangan hama dan penyakit meyebabkan kualitas bag log rendah. Serangan Aspergillus sp sangat mengganggu media tanam (baglog) sehingga pertumbuhan jamur terhambat, bahkan mati. Hal ini terjadi saat kemarau panjang atau hujan berkepanjangan, padahal sekitar 50% biaya produksi terdiri dari media tumbuh dalam bag log. Secara konvensional perbanyakan bag log di Indonesia menggunakan kultur sederhana. Untuk mendapatkan benih bermutu harus diperoleh secara steril dan higienis. Seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat global terhadap produk yang aman lingkungan, berbagai negara maju telah menerapkan prinsip budidaya yang baik dan benar (Good Agriculture Practices = GAP). Prinsip GAP menekankan peningkatan produksi dan mutu hasil dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya serta keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan penangkar. Pada saat ini kepatuhan terhadap prinsip GAP sebagai persyaratan bagi ekspor pertanian ke negara – negara maju. Untuk menghasilkan produk krisan yang bermutu dan berdaya saing, penerapan prinsip budidaya yang baik dan benar harus dilakukan. Dalam rangka produksi jamur kuping, Dinas Pertanian Propinsi DIY, BPTP Yogyakarta, dan Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman, serta petani jamur kuping di Yogyakarta menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP). Buku ini selanjutnya diharapkan dapat menjadi acuan bagi semua pihak yang terkait dalam produksi jamur kuping terutama bagi petugas terkait dan penangkar benih bag log) serta pengusaha jamur kuping. 2. Maksud Maksud penerbitan buku Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi jamur kuping adalah untuk menyediakan acuan teknis produksi benih secara rinci dalam rangka menghasilkan benih yang bermutu dan bersertifikat sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan.

6

3. Tujuan Menyusun acuan dalam produksi jamur kuping di lapangan untuk menghasilkan jamur kuping bermutu, sesuai standar yang telah ditentukan. 4. Ruang Lingkup I. Pemilihan Lokasi II. III. V. Penyiapan Kubung Penyiapan media tumbuh dan rak-rak pemeliharaan Peletakkan bag log Penyiapan dan pencampuran substrat Pengantongan (logging) Sterilisasi Inokulasi bibit Inkubasi miselium

IV. Penyiapan sarana irigasi dan aerasi VI. Penanganan Budidaya Jamur Kuping, meliputi tahapan :

VII. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) VIII. Panen IX. Pencatatan 5. Pengertian a. Bag log b. Media tumbuh c. Serbuk gergaji d. Kapur (CaCO3) e. Bibit Jamur f. bekatul g. masker h. steamer i. semprotan j. alkohol k. kapas sumbat l. kantong plastik

7

m. Resistensi OPT n. Pestisida o. Musuh alami p. Kubung adalah tempat budidaya tanaman beratap yang dapat dibuat dari berbagai jenis bahan untuk mencegah terpaan curah hujan dan sisnar matahari yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. q. Inokulasi adalah .............. r. Inkubasi adalah .............. s. Jamur adalah ......... t. Bag log adalah ................. u. Sterilisasi adalah kegiatan mengeradikasi OPT didalam ...............melalui cara fisik maupun kimia. v. Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan atau menyebabkan kematian tanaman serta merugikan secara ekonomi. w. Pengendalian hama dan penyakit adalah tindakan menekan serangan hama dan penyakit dengan menggunakan cara mekanis, fisik, agen hayati, kultur teknik maupun bahan kimia sintetik sesuai prosedur baku. x. Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, bahan lain dan organisme renik atau virus yang digunakan untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas hasil tanaman. y. Panen adalah kegiatan mengambil hasil sesua prosedur baku untuk setiap jenis tanaman. z. Sortasi adalah kegiatan pengelompokkan hasil panen berdasarkan erbedaan mutu sesuai standar tertentu.

8

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Prosedur Operasional Standar Pemilihan Lokasi Nomor : Horti/J.K/I/2009 Halaman I/3 Tanggal Dibuat 29 Oktober 2009 Revisi ........................ Disahkan .....................

I. Pemilihan Lokasi A. Definisi Pemilihan lokasi ditentukan berdasarkan persyaratan kesesuaian tanah dan agroklimat. Selain itu penetapan lokasi harus sesuai dengan ketentuan Peta Agro Ecosystem Zone (AEZ) dan aspek legal kepemilikan lahan. Sebagaimana halnya jamur lain faktor kelembaban tinggi adalah syarat utama yang harus terpenuhi dalam budidaya jamur kuping. Kadar air substrat untuk pertumbuhan vegetatip tergantung dari jenis substrat yang dipakai. Untuk substrat kayu utuh, kadar air optimum adalah 45-60% sedangkan dengan substrat serbuk gergajian adalah 6075%. Meskipun demikian faktor fisik lain seperti suhu, oksigen cahaya dan gaya tarik bumi juga merupakan faktor-faktor penting. Pertumbuhan vegetatif opotimum adalah pada suhu 20-22oC. Sedangkan pada saat pertumbuhan tubuh buah memerlukan suhu optimum yang bervariasi tergantung strainnya. Untuk strain dingin dapat menghasilkan tubuh buah dengan baik pada suhu 12-18oC dan strain tropis pada suhu 20-22oC. B. Tujuan 1. Memilih lokasi sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal. 2. Menetapkan lahan usaha jamur kuping yang tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan tentang rencana umum tata ruang dan tata wilayah. 3. Membangun basis produksi jamur kuping dengan memanfaatkan keunggulan potensi wilayah dan agroklimat yang kondusif. C. Validasi 1. Peta Agro Ecosystem Zone (AEZ) / Peta Pewilayahan Komoditas

9

2. Koordinat posisi geografi 3. Rekomendasi teknologi spesifik lokasi 4. Data analisis tanah dan parameter lingkungan. 5. Hasil penelitian dan kajian pustaka. 6. Pengalaman petani dan pengusaha. 7. Bukti legal status kepemilikan lahan. D. Alat dan Bahan 2. GPS 3. Data agroklimat 10 tahun terakhir 5. Data infrastruktur E. Fungsi Alat dan Bahan 1. Dokumen hasil analisis kesesuaian lahan digunakan untuk menentukan kelayakan tumbuh. 2. Data agroklimat 10 tahun terakhir digunakan untuk proyeksi iklim dalam pertumbuhan tanaman. 3. GPS adalah alat untuk menentukan koordinat posisi geografi. F. Standar Pemilihan Lokasi 1. Jenis tanah yang optimal untuk pertumbuhan tanaman induk krisan adalah tanah yang bertekstur liat berpasir, subur, berdrainase baik, tidak mengandung OPT, pH tanah sekitar 5,5 – 6,5. 2. Kemiringan lahan kurang dari 10%. 3. Ketinggian tempat berkisar antara 400 – 1.200 m dpl. 4. Suhu berkisar antara 15 – 28 oC. 5. Kelembaban udara yang dikehendaki berkisar antara 60 - 85%. 6. Lokasi usaha jamur harus bebas dari cemaran bahan kimia berbahaya. 7. Aspek legal kepemilikan lahan jelas. G. Prosedur Pelaksanaan Pemilihan Lokasi 1. Menghubungi BPTP atau Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman untuk mendapatkan peta AEZ atau peta pewilayahan komoditas. 2. Memastikan koordinat posisi geografi lokasi. 10

I-1 1. Dokumen hasil analisis kesesuaian lahan

3. Mengukur rata – rata suhu siang dan malam hari. 4. Memeriksa kemiringan lahan. 5. Memeriksa fisik tanah untuk mengetahui porositas atau keremahan tanah 6. Mengukur pH tanah. 7. Membuat penampungan air agar ketersediaan sumber air, terutama pada musim kemarau. 8. Mengukur pH air. 9. Menghindari sumber air dari bahan – bahan cemaran yang berbahaya. 10. Lihat kondisi drainase, kelancaran pembuangan air untuk mengantisipasi kemungkinan kebanjiran. 11. Memeriksa apakah lahan bebas dari OPT. 12. Memeriksa riwayat penggunaan lahan kepada petugas pertanian atau penduduk sekitar lahan. 13. Memeriksa peruntukan lahan dengan rujukan peta AEZ. 14. Menyediakan sarana jalan penghubung ke lahan usaha tani. 15. Informasi lain. 16. Pencatatan setiap tahapan yang dilakukan dan informasi lainnya.

I-3 11

Prosedur Operasional Standar Penyiapan Kubung II. Penyiapan Kubung A.

Nomor : Horti/J.K/I/2009 Halaman II/3

Tanggal Dibuat 29 Oktober 2009 Revisi ........................ Disahkan .....................

Definisi Kubung adalah bangunan dengan persyaratan fisik bangunan tertentu yang

mempunyai fungsi menjaga pertumbuhan tanaman secara optimal serta melindungi tanaman dari curah hujan dan sinar matahari langsung yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan jamu kuping. Rumah lindung dibangun sesuai dengan luasan lahan, arah angin, bebas dari naungan, sirkulasi udara cukup, jaringan listrik terjangkau, irigasi tersedia, dan kekuatan konstruksi bangunan yang diinginkan serta dilengkapi sarana drainase untuk membuang air yang berlimpah. Faktor fisik yang berpengaruh adalah cahaya. Kebanyakan jamur membutuhkan cahaya pada fase pertumbuhan generatif atau akhir fase vegetatif. Cahaya terutama berperan dalam proses perangsangan terbentuknya tubuh buah. Cahaya yang berperan dalam pembentukan primordia ini adalah cahaya biru sampai mendekati ultraviolet. Cahaya pada rentang lamda (ë) ini terdapat pada cahaya matahari. Cahaya buatan dengan lampu TL dengan kekuatan 100-300 LUX juga sudah mencukupi. Sebagai patokan kasar, intensitas cahaya yang dianggap cukup apabila dalam ruangan kita dapat membaca koran dengan jarak satu lengan antara koran dan mata. B. Tujuan 1. Mendapatkan kondisi lingkungan mikro yang optimal bagi pertumbuhan..... 2. Melindungi dari serangan OPT, cekaman lingkungan dan sinar matahari yang berlebihan. 3. Memelihara ... agar dapat produksi benih setiap waktu tanpa terkendala oleh kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan.

12

C. Validasi 1. Literatur, hasil penelitian. 2. Kelompok Tani Udi Makmur, KWT Asri dan KWT Srikandi - Penangkar jamur kuping – di Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Yogyakarta D. Alat dan Bahan a. Desain konstruksi kubung b. Bahan kerangka kubung (kayu, bambu, besi, atau beton) c. Bahan atap (rumbai) d. Bahan penutup dinding (screen dan insect screen) e. Bahan dan alat pendukung lainnya yang diperlukan. E. Fungsi Alat dan Bahan a. Desain konstruksi rumah lindung sebagai acuan dalam membuat rumah lindung yang akan digunakan dalam kegiatan produksi jamur kuping. b. Bahan kerangka rumah lindung (kayu, bambu, besi, atau beton) adalah bagian dari rumah lindung yang akan dibuat sebagai penyangga rumah lindung. c. Bahan atap (plastik UV, PVC, atau policarbonate) adalah bagian dari rumah lindung sebagai penutup bagian atas rumah lindung. d. Bahan penutup dinding (screen dan insect screen) adalah bagian dari rumah lindung sebagai penutup dinding rumah lindung. F. Standar Penyiapan Rumah Lindung 1. Rumah lindung harus terletak di lahan yang terbuka,datar dan tidak ternaungi. 2. Penyiapan ekonomisnya. 3. Hal – hal yang penting di dalam merancang rumah lindung adalah topografi lahan, bentuk, tipe dan sirkulasi udara di dalam rumah lindung. 4. Beberapa pilihan bahan kerangka rumah lindung yang dapat digunakan yaitu kayu, bambu, besi, dan beton. Bahan – bahan tersebut bisa saja dikombinasikan yaitu menggunakan konstruksi beton bertulang untuk tiang penyangga dan batang bambu untuk konstruksi atap. Pemilihan tiang dari beton bertulang karena kuat desain dilakukan oleh orang yang kompeten dengan memperhatikan persyaratan teknis, biologis tanaman, kekuatan dan umur

13

menahan angin yang kencang, disamping itu tiang beton tahan lama sehingga pada tahun ketiga hanya diperlukan pengantian konstruksi atap saja.
6. Bahan atap tergantung pada kekuatan dan durasi masa penggunaan. 7. Bahan penutup dinding rumah lindung adalah tirai bambu. 8. Saluran drainase dibuat di sekeliling rumah lindung.

G. Prosedur Pelaksanaan Penyiapan Rumah Lindung 1. Menyiapkan desain konstruksi rumah lindung yang akan dibangun. 2. Menyiapkan bahan kerangka rumah lindung. 3. Menyiapkan bahan penutup/atap rumah lindung. 4. Menyiapkan bahan penutup dinding. 5. Menyampaikan desain konstruksi rumah lindung kepada pekerja. 6. Membuat kerangka rumah lindung, menutup atap dan dinding rumah lindung. 7. Membuat saluran drainase yang memadai. 8. Mencatat setiap tahapan yang dilakukan dan informasi lainnya. Standar Struktur Rumah Jamur Kuping

a b

c ° d

7m Tampak Depan

14

e f

g Tampak Samping Skala 1:10 Keterangan: a. b. c. d. plastik polythylen atap dari kiray/daun rumbia dinding dari bilik plastik transparan e. kasa strimin f. 1,3 m bilik g. 1 m plastik transparan

15 II-4

Prosedur Operasional Standar Penyiapan Sarana Irigasi dan aerasi

Nomor : Ben.hias/kri/III/2009 Halaman III/2

Tanggal Dibuat 9 Oktober 2009 Revisi ........................ Disahkan .....................

III. Penyiapan Sarana Irigasi dan aerasi ruang A. Definisi Proses menyiapkan sarana irigasi untuk memenuhi kebutuhan tanaman dan menjaga stabilitas suhu serta kelembaban media dan lingkungan tanam. Sebagaimana halnya jamur lain, proses aerasi adalah hal yang juga vital. Shiitake seperti halnya jamur pada umumnya membutuhkan kadar oksigen lebih tinggi pada saat pembentukan tubuh buah dibandingkan dengan tahap pertumbuhan vegetatif miselium. Itulah sebabnya log-log plastik yang telah terjadi pertumbuhan miselium vegetatif harus dibuka pada saat yang tepat. Tentunya hal ini akan mempengaruhi penguapan air dari dalam log yang tidak kita inginkan. Untuk menanggulanginya dilakukan penyiraman dengan air kran. Faktor fisik yang terakhir adalah gaya tarik bumi (gravity). Pertumbuhan miselium vegetatif umumnya lebih cepat di dalam log dengan posisi vertikal. Ini menandakan adanya pengaruh gaya gravitasi terhadap pertumbuhan miselium. B. Tujuan 1. 2. C. Validasi 1. Literatur, hasil penelitian. 2. Kelompok Tani Udi Makmur, KWT Asri dan KWT Srikandi - Penangkar jamur kuping – di Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Yogyakarta D. Alat dan Bahan 1. Pompa air 2. Bak penampungan 3. Pipa paralon/besi Menyediakan sarana untuk mendistribusikan air dari bak penampung Memenuhi kebutuhan air tanaman secara efisien dan efektif ke rumah lindung.

16

4. Embrat/gembor 5. Sarana irigasi lainnya (ember, selang plastik dll) E. Fungsi Alat dan Bahan 1. Pompa air adalah alat pemompa air dari sumber air. 2. Pipa paralon/besi berfungsi sebagai alat penyalur air. 3. Embrat/gembor berfungsi untuk menyiram tanaman secara manual. 4. Bak penampungan berfungsi sebagai alat menampung air sebelum didistribusikan. 5. Sarana irigasi lainnya berfungsi untuk mendistribusikan air.

III-1

17

F. Standar Penyiapan Sarana Irigasi 1. 2. 3. Sarana irigasi meliputi bak penampungan, jaringan distribusi air Jaringan irigasi berlaku untuk di dalam rumah lindung. primer, sekunder yang masuk ke setiap bedengan dan saluran pemberian air .

G. Prosedur Pelaksanaan Penyiapan Sarana Irigasi 1. 2. lahan. 3. 4. Mencatat setiap tahapan yang dilakukan dan informasi lainnya. ........... Menghitung luas jaringan pengairan berdasarkan kebutuhan. Membuat rancangan jaringan irigasi sesuai kondisi tempat dan fungsi

III-2

18

Prosedur Operasional Standar Persiapan media tumbuh dan Penyiapan Rakrak pemeliharaan

Nomor : Horti/JK/V/2009 Halaman V/2

Tanggal Dibuat 29 Oktober 2009 Revisi ........................ Disahkan .....................

X.

Penyiapan rak-rak pemeliharaan dan Peletakkan bag log

A. Definisi Kegiatan untuk .................pembuatan media tumbuh sebagai tempat penanaman tanaman induk krisan. B. Tujuan Menyiapkan media tumbuh agar tanaman induk tumbuh secara optimal. C. Validasi 1. Literatur, hasil penelitian. 2. Kelompok Tani Udi Makmur, KWT Asri dan KWT Srikandi - Penangkar jamur kuping – di Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Yogyakarta D. Alat dan Bahan 1. Alat pengolahan tanah dapat berupa cangkul, 2. Dolomit, kalsit atau kapur pertanian. E. Fungsi Alat dan Bahan 1. Cangkul, garpu tanah (cengkek) dan mesin pertanian untuk membersihkan, mengolah dan meratakan tanah. 2. Dolomit, kalsit atau kapur pertanian berfungsi untuk memperbaiki kimia tanah dan memperkuat daya tahan tanaman terhadap OPT dan cekaman lingkungan. F. Standar Penyiapan Media Komposisi substrat. Berikut adalah dua contoh komposisi substrat tanam untuk jamur

19

Kuping yang sudah perna dicoba dan dilaporkan oleh beberapa peneliti. Formula A • Serbuk gergajian kayu = 78% • Dedak = 20% • Kapur (CaCO3) = 1% • Sukrosa = 1% • Air = 70% Formula B • Serbuk gergajian kayu = 78% • Dedak = 10% • Kapur (CaCO3) = 1% • NPK (1:1:1) = 0,5% • Air = 70% Selanjutnya, hal yang sedikit berbeda dengan cara budidaya jamur kuping adalah pada tahap inkubasi miselium yang memerlukan suhu relatif lebih tinggi (±30oC) dibandingkan dengan Shiitake. Demikian juga waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan tubuh buah dari mulai inokulasi log adalah lebih singkat yakni sekitar 50 hari. Selama pemeliharaan tidak terjadi tahap-tahap yang sperti pada Shiitake (lapisan tebal miselium permukaan, pembentukan benjolan, pembentukan warna coklat (browning) dan pengerasan lapisan luar). Dalam hal pemeliharaan tubuh buah hampir mirip dengan pemeliharaan jamur Tiram. Sepanjang kelembaban udara dipertahankan tinggi (±85%) pada temperatur yang sesuai (24-27oC), kadar Oksigen yang cukup (tidak terasa susah bernafas di dalam ruangan) dan kadar cahaya ±500 LUX, maka jamur Kuping akan dihasilkan dan berkembang normal dengan sendirinya. Dengan kata lain, budidaya jamur kuping lebih mudah dibandingkan dengan berbudidaya jamur Shitake. Apabila tubuh buah sudah dihasilkan, maka waktu panen dapat dilakukan sampai dicapai ukuran tubuh buah yang masksimum. Berbeda halnya dengan jamur Tiram, tubuh buah jamur Kuping dapat bertahan relatif lebih lama pada log. Demikian juga pada saat Pemeliharaan tubuh buah

20

Prosedur Operasional Standar Penanganan Budidaya Jamur Kuping

Nomor : Horti/JK/V/2009 Halaman V/2

Tanggal Dibuat 29 Oktober 2009 Revisi ........................ Disahkan .....................

Proses penanganan budidaya Jamur Kuping Serbuk gergaji kayu yang sudah lapuk (kadar air 62%) dicampur merata dengan bekatul sebanyak 1%, campuran dimasukkan ke dalam polybag lalu dipadatkan hingga ketinggian 18-20 cm. Bagian tengah dibuat lubang dengan diameter 1,5 cm dan kedalaman 10 cm. Polybag yang sudah terisi dipasang cincin paralon dan disumbat kapas dengan ditutup plastik. Dilakukan sterilisasi 95% selama 5 jam. Dilakukan inokulasi dengan bibit F3. Polybag yang sudah diinokulasi kemudian diinkubasi untuk menunggu pertumbuhan miselium, selama pertumbuhan miselium harus dijaga kondisi lingkungan yang sesuai 2027ºC dengan RH 70-80%. Pada saat penumbuhan tubuh buah, RH dan suhu dipertahankan 80-96%, 20-27º C. Tubuh buah mulai tumbuh 4-7 hari setelah penyobekan. Setelah miselium tumbuh secara merata, dilakukan penyobekan kedua yaitu pada bagian belakang polybag. Tahap-tahap pekerjaan pada dasarnya sama dengan cara budidaya jamur lainnya, yang mencakup : penyiapan substrat, pencampuran substrat, pengantongan (logging), sterilisasi, inokulasi bibit, inkubasi, pemeliharaan tubuh buah, dan panen. Yang berbeda adalah perlakuan faktor-faktor fisik pada saat pemeliharaan tubuh buah, serta formulasi substrat tanam. Pembibitan Bibit jamur kuping agak sulit diperoleh, untuk mendapatkannya dapat menghubungi Dinas Pertanian setempat untuk menanyakan pengusaha bibit jamur kuping ini. Bibit jamur kuping diperoleh dengann cara khusus, teknologinya berbeda sama sekali dengan teknik produksinya. Oleh karena itu, dalam pemeliharaan jamur tidak pernah/jarang membibitkannya sendiri, melainkan dengan membelinya dari pengusaha pembibitan. Maka 21

disarankan untuk membeli bibit jamur sehingga kualitas bibit akan lebih terjamin, dan dengan cara demikian dapat lebih kosentrasi pada usaha produksi. 2.1.1 Persyaratan Bibit

Bibit jamur kuping berbiak dengan sporanya. Spora ini disimpan di dalam kuping (tubuh buah). Maka untuk mengambil sporanya, tubuh buah jamur kuping tersebut harus dicincang dengan pisau sampai lumat. Agar diperoleh bibit jamur kuping yang baik, irisan-irisan jamur tersebut sebelum dimasukkan dalam botol harus dikeringkan dengan jalan diangin-anginkan. 2.1.2. Penyiapan dan Pembuatan Bibit Cara membuat bibit jamur kuping (lember): a) b) c) d) Kumpulkan jamur-jamur yang sudah tua. Jamur tersebut diiris sampai lumat dengan pisau, agar spora berukuran 0,15 mm dapat Irisan kering yang bercampur dengan spora tersebut dimasukkan dalam botol yang Bibit yang telah siap dimasukkan dalam lubang bibit pada batang kayu yang sudah

rontok, lalu kumpulkan untuk dikeringkan. sudah disterilkan dengan cara diuapi atau dikukus. disiapkan. Lubang bibit dapat dibuat/dicungkil dengan pisau ukuran: 1x1x1 cm. Gunakan tusuk sate untuk memasukkan bibit spora ke dalam lubang kayu yang sudah disiapkan. Tutup kembali lubang tersebut dengan sisa kayu penutup lubang. Tusuk sate tersebut harus bersih dengan cara harus dicelupkan dahulu ke dalam air panas sebelum dipergunakan.

2.1.3. Media Tumbuh Bibit Bahan untuk media tumbuh adalah potongan kayu, panjang kira-kira 1 meter, diameter 15-20 cm. Kayu dipilih yang agak kuat, mulai tua dan tidak mudah keropos. Kayu dipilih dari jenis saninten, riunggunung atau sarangan. 2.1.4. Kuantitas bibit

22

Untuk budidaya jamur kuping dengan cara tradisional: dibutuhkan sebanyak 1 botol susu bibit (0,5 liter) untuk menginokulasi 0,5 meter kubik kayu. Untuk budidaya jamur kuping dengan cara modern (menggunakan serbuk gergaji): dibutuhkan bibit sebanyak 1 botol = ± 0,5 kg untuk menginokulasi 1.000 kantung. Jadi ratarata per kantung membutuhkan 0,5 gram bibit. Bila bibit berbentuk cairan, cukup disuntikkan 2-3 cc bibit/kantung. 2.2. Pengolahan Media Tanam

2.2.1. Cara Tradisional dengan Kayu 1. 2. 3. 4. 5. Cari kayu yang berdaun lebar (sebesar betis), kemudian di potong-potong sepanjang Biarkan di alam terbuka sampai kering. Setelah kering betul, direndam 2 X 24 jam. Lubangi permukaan kayu dengan bor dengan garis tengah 10-12 mm, dalamnya 2,5-3 Bibit dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan menggunakan pinset yang telah

50-100 cm.

cm, jarak antar lubang 15-20 cm. disterilkan, kemudian ditutup dengan lilin cair. Satu botol susu bibit ( 0,5 liter) untuk 0,5 meter kubik kayu. 6. 7. Simpan dalam ruangan dengan suhu antara 25-28 derajat C. Apabila sekitar lubang sudah menjadi putih warnanya, pindahkan ke tempat

pemeliharaan yang sudah disiapkan, yang bersuhu di bawah 28 derajat C dengan kelembaban 90%. Di simpan berdiri dengan jarak antara lubang 10 cm. 8. Pada bulan ke 2, jamur mulai tumbuh dan dapat di panen selama 2-3 tahun.

2.2.2. Cara Modern dengan Media Serbuk Gergaji Bahan campuran digunakan: 100 kg serbuk gergaji, 10 kg dedak halus, 1,5 kg gips, 0,5 kg kalsium karbonat, 0,5 kg TSP dan air secukupnya.

23

Adapun cara pembuatan media adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Semua bahan dicampur jadi satu, sambil diberi air sedikit demi sedikit sampai Media tumbuh jamur dimasukkan ke dalam kantung plastik tahan panas, diameter 25 Media dipadatkan, lalu diikat dan diberi ‘leher’. Tiap kantung diisi ± 1 kg. Satu paket campuran media tanam dapat digunakan untuk Media dalam kantung plastik disterilkan dengan uap air panas (dikukus pada suhu Setelah itu, media disimpan dalam ruang inokulasi bebas dari spora jamur liar yang Selanjutnya, media diberi bibit jamur kuping pada suhu 30-34 derajat C. Satu botol menjadi adonan yang tidak terlalu lembek tapi juga tidak terlalu kering. cm, panjang 35 cm.

± 96 kantung plastik. e) f) g) 100-110 derajat C selama 2-4 jam. tidak dikehendaki. bibit berisi ± 0,5 kg dapat menginokulasi 1.000 kantung. Jadi rata-rata per kantung membutuhkan 0,5 gram bibit. Bila bibit berbentuk cairan, cukup disuntikkan 2-3 cc bibit/kantung. Adapun prakiraan produksi panen dengan cara modern ini adalah dengan berat media tumbuh 1 kg menghasilkan 0,6 kg selama 15 minggu, sedangkan untuk 1000 kg media tumbuh menghasilkan 600 kg dengan lama pemanenan 15 minggu. 2.3. a) Teknik Penanaman Di buat kuda-kuda yang tingginya 1 meter, letakkan di bawah naungan pepohonan,

supaya tempat tumbuh jamur kuping tetap lembab, tidak kena sinar matahari langsung. b) Potongan-potongan kayu saninten atau kayu lainnya yang panjangnya 1-1,2 meter

(usahakan kulitnya tidak rusak dan pada salah satu sisinya. 2.4. Pemeliharaan Tanaman

Tumbuhnya jamur kuping memerlukan kelembaban, yang dijaga dengan jalan penyiraman. Bila musim hujan, penyiraman cukup dilakukan 4 kali dalam seminggu. Selain penyiraman,

24

juga perlu pengontrolan agar tanaman jamur kuping terjaga dari gangguan-gangguan lainnya. Usahakan agar potongan-potongan kayu yang disandarkan tidak roboh. Kira-kira satu minggu atau lebih sudah mulai bermunculan tunas-tunas jamur kuping pada celah-celah kulit kayu yang pecah-pecah karena proses pembongkaran sebagai calon kayu keropok.

25

Komponen Media Tanam, Penanganan Tahapan Budidaya dan Pasca Panen Jamur Kuping Jenis Jamur Jamur kuping (Auricularis auricula) Bahan-bahan Media Tanam - Bibit Jamur - bahan baku serbuk gergaji, bekatul, kapur (CaCO3) - bahan pembantu masker, steamer, semprotan, alkohol kapas sumbat, kantong plastik dan plastik Panen Proses Penanganan Budidaya Serbuk gergaji kayu yang sudah lapuk (kadar air 62%) dicampur merata dengan bekatul sebanyak 18% dan kapur 1%, campuran dimasukkan ke dalam polybag lalu dipadatkan hingga ketinggian 18-20 cm,bagian tengah dibuat lubang dengan diameter 1,5 cm dan kedalaman 10 cm. Polybag yang sudah terisi dipasang cincin paralon dan disumbat kapas dengan tutup plastik. Dilakukan sterilisasi 95% selama 5 jam. Dilakukan inokulasi dengan bibit F3. Polybag yang sudah diinokulasi kemudian diinkubasi untuk menunggu pertumbuhan miselium selama penumbuhan miselium harus dijaga kondisi lingkungan yang sesuai 20-27°C dengan RH 70-80%. Pada saat penumbuhan tubuh buah, RH dan suhu dipertahankan 80-96%, 20-27°C. Tubuh buah mulai tumbuh 4-7 hari setelah penyobekan. Setelah miselium tumbuh secara merata, dilakukan penyobekan kedua yaitu pada bagian belakang polybag. 26 Awal Budidaya dengan log tanaman bahan serbuk gergaji kayu memerlukan waktu sekitar 3 bulan hingga keluar bintik-bintik jamur kuping Raya Masa panen mencapai 12 bulan secara terus menerus dengan selang waktu 1-2 minggu. Hasil setiap log adalah 300-450 g/kg log Periode panen Panenan jamur kuping setelah diameter jamur mencapai 15-2 cm Frekuensi Setiap polybag dapat dipanen 5-6 kali

Prosedur Operasional Standar Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Nomor : Ben.hias/kri/X/2008 Halaman X/10

Tanggal Dibuat 9 Oktober 2009 Revisi ........................ Disahkan .....................

X. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) A. Definisi Pengendalian OPT adalah segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh OPT. Pengendalian OPT dilaksanakan sesuai sistem pengendalian hama terpadu (PHT) berdasarkan kepada Undang-undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Pasal 21 ayat 1) dan Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman dan Keputusan Menteri Pertanian No.887/Kpts/OT/9/1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT. Pengendalian hama terpadu didefinisikan sebagai cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan berkelanjutan. B. Tujuan 1. Mengelola populasi OPT pada tingkat yang tidak merugikan secara ekonomi tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan dan kesehatan pekerja. 2. Mempertahankan produksi dan mutu stek jamur kuping dari gangguan OPT. C. Validasi 1. Literatur, hasil penelitian. 2. Kelompok Tani Udi Makmur, KWT Asri dan KWT Srikandi - Penangkar jamur kuping – di Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Yogyakarta

D. Alat dan Bahan

1

a. Bahan 1. Pestisida sintetik, biopestisida dan agensi hayati 2. Air 3. Minyak tanah 4. Deterjen 5. Alkohol 70%, kloroks 1%. 6. Perangkap likat berwarna kuning (yellow trap) b. Alat 1. Hand sprayer, power sprayer, jet sprayer, sprayer punggung 2. Ember 3. Pengaduk 4. Takaran (skala ml/cc dan liter) 5. Timbangan 6. Gunting pangkas 7. Kantong plastik 8. Sarana pelindung : pakaian lengan panjang, masker, sarung tangan, sepatu boot, topi. E. Fungsi Alat dan Bahan 1. Pestisida sintetik, biopestisida dan agens hayati yang terdaftar dan diizinkan berfungsi untuk mengendalikan OPT (menurunkan populasi dan intensitas serangan OPT) 2. Air sebagai bahan pencampur pestisida dan bahan pembersih 3. Minyak tanah untuk membakar sisa – sisa bagian tanaman yang terserang OPT 4. Deterjen untuk mencuci alat aplikator 5. Alkohol 70%, kloroks 1% sebagai bahan untuk mensucihamakan (desinfektan) alat – alat pertanian (pisau dan gunting pangkas) 6. Perangkap likat berwarna kuning (yellow trap) dan umpan beracun sebagai alat pengendali OPT secara mekanik. 8. 9. 10. Hand sprayer, power sprayer, jet sprayer, sprayer punggung alat untuk Ember untuk mencampur/melarutkan pestisida Pengaduk digunakan untuk mengaduk larutan pestisida 2 mengaplikasikan pestisida.

11. 12. 13. 14.

Takaran (skala ml/cc dan liter) digunakan untuk mengukur volume Timbangan digunakan untuk menimbang pestisida Gunting pangkas digunakan untuk memotong bagian tanaman yang Sarana pelindung untuk melindungi keselamatan, keamanan dan

pestisida

terserang OPT. kesehatan (K3) pekerja F. Standar Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) 1. Monitoring/pengamatan populasi OPT dilakukan secara rutin minimal satu minggu sekali untuk mengetahui perkembangan populasi OPT dan musuh alaminya, serta untuk mengetahui keadaan tanaman. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan sebagai dasar tindakan pengendalian yang harus dilakukan 2. Pengendalian OPT berdasarkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT), penggunaan pestisida sintesis / kimia merupakan alternatif terakhir. 3. Jenis pestisida yang digunakan terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian. Pilihlah jenis pestisida yang tepat dan sesuai dengan OPT yang akan dikendalikan. Apabila pestisida tersebut belum terdaftar untuk OPT sasaran, dapat digunakan pestisida yang diizinkan untuk OPT sejenis pada tanaman lain. 4. Pestisida yang digunakan sebaiknya yang efektif dan selektif 5. Konsentrasi dan dosis penggunaan pestisida sesuai anjuran yang tercantum pada kemasan. 6. Aplikasi pestisida dilakukan mengikuti prinsip 6 tepat (jenis, sasaran, mutu, konsentrasi dan dosis, waktu, cara dan alat aplikasi). 7. Penggunaan sarana keselamatan, keamanan dan kesehatan pekerja termasuk pakaian, sarung tangan, sepatu dan masker. 8. Peralatan yang telah digunakan dibersihkan dan disimpan pada tempatnya. 9. Bila terjadi kecelakaan kerja akibat penggunaan pestisida, lakukan tindakan sesuai petunjuk pada label kemasan. 10. Simpan pestisida setelah digunakan pada tempatnya dan musnahkan kemasan bila telah habis.

3

G. Prosedur Pelaksanaan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) 1. Melakukan monitoring/pengamatan populasi OPT secara rutin minimal dilakukan satu minggu sekali untuk menentukan jenis pestisida yang akan diaplikasikan. 2. Menerapkan pengendalian OPT sesuai sistem pengendalian hama terpadu (PHT) dan untuk pencegahan dilakukan penyemprotan secara rutin satu minggu sekali. Penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir. 3. Mengunakan jenis pestisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian. Pilihlah jenis pestisida yang tepat dan sesuai dengan OPT yang akan dikendalikan. Apabila pestisida tersebut belum terdaftar untuk OPT sasaran, dapat digunakan pestisida yang diizinkan untuk OPT sejenis pada tanaman lain. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Menggunakan pestisida sebaiknya yang efektif dan selektif Menetapkan konsentrasi dan dosis pestisida sesuai anjuran yang Menerapkan prinsip 6 tepat (jenis, sasaran, konsentrasi dan dosis, Menggunakan sarana keselamatan, keamanan dan kesehatan pekerja Membersihkan dan menyimpan peralatan yang telah digunakan pada Melakukan tindakan sesuai petunjuk pada label kemasan, bila terjadi Menyimpan pestisida setelah digunakan pada tempat

tercantum pada kemasan. waktu, mutu, cara dan alat aplikasi). termasuk pakaian, sarung tangan, sepatu dan masker. tempatnya. kecelakaan kerja akibat penggunaan pestisida tersendiri/terpisah dan memusnahkan kemasan bila telah habis Mencatat tahapan yang dilakukan.

4

ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN PADA JAMUR KUPING DAN CARA PENGENDALIANNYA Hama a) Tikus Bisa di berantas dengan diberi umpan yang di bubuhi racun (phiosphit) atau kleratfam. b) Serangga/kutu dan kecoa Ruangan shed di semprot dengan formalin 0,1-0,2%. Penyakit a) Corpinus Jamur padi liar, tumbuhnya berkelompok dan biasanya lebih cepat tumbuh dari pada Jamur kupingnya. Penyebab: (1) tidak dijalankannya pasteurisasi; (2) jalannya pasteurisasi kurang sempurna; (3) kontaminasi baik dari alat-alat, rak-rak shed, bibit yang kurang. Pengendalian: (1) preventif: shed sebelum dimasuki kompos terlebih dahulu disemprot dengan kadar 2-3% atau shed kosong, terlebih dahulu dipasteurisasi sampai temperatur 60-70 derajat C; menjaga kebersihan alat-alat fisik manusia, bibit dll; usahakan pasturisasi berjalan sempurna; (2) curatif :kompos yang terken serangan (penicilium) di pisahkan dan dibuang; untuk coprinus selalu di usahakan dicabut dan dibuang bersih. b) Penicilium Jamur penisilin, warnanya hijau menempel pada jerami dan bisa mengalahkan mycelium jamur kuping. Penyebab: sama seperti corpinus. Pengendalian: sama seperti corpinus.

5

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN PADA JAMUR KUPING a. Fisik

Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan sterilisasi media tumbuh, misalnya dengan air panas diberikan pada media tumbuh pada ruang pengakaran, agar tanaman bebas dari OPT yang dapat ditularkan melalui media tumbuh. b. Mekanis

Pengendalian secara meknis dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut : • Bilamana serangga hama dijumpai dalam jumlah terbatas, misalnya dengan mencari dan mengumpulkan ulat tanah pada senja atau malam hari untuk dimusnahkan. • Pemasangan perangkap likat berwarna kuning untuk mengendalikan pengorok daun. • Sanitasi bagian tanaman yang sakit sangat penting untuk pengendalian penyakit dan dimasukkan ke kantong plastik yang diikat dan dimusnahkan agar patogen tidak menyebar. c. • baik. • sanitasi lingkungan diperhatikan, sehingga kelembaban lingkungan tidak memungkinkan patogen untuk berkembang. d. • • Biologis Pemanfaatan musuh alami jenis Eulophidae dan Braconidae untuk hama pengorok daun, dan Coccinellidae atau kumbang acan untuk Thrips sp. Tanah dapat diperlakukan dengan Biofertilizer (Mikoriza), Gliocladium sp., atau Trichoderma sp. dan sebelum tanam, benih dicelupkan ke dalam suspensi Pseudomonas fluorescens, untuk mencegah penyakit layu Fusarium sp., dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizhobacteria) untuk mengendalikan penyakit karat dengan cara penyiraman dan pencelupan benih dalam larutan PGPR. e. Kimiawi • .......................... Kultur teknis Pemeliharaan tanaman perlu diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh lebih

6

Prosedur Operasional Standar Panen DAN Pasca Panen

Nomor : Ben.hias/kri/XI/2008 Halaman XI/2

Tanggal Dibuat 9 Oktober 2009 Revisi ........................ Disahkan .....................

Aspek pasca panen dan mutu produk 1) Waktu pemetikan dan klasifikasi mutu Panen dilakukan jika tubuh buah sudah maksimal yang ditandai dengan tepi tubuh buah yang tidak rata, atau kira-kira 3-4 minggu estela pin head (calon jamur) muncul, dengan cara mengambil (mencabut) tubuh buah jamur sampai keakarnya, dengan tangan. Estela jamur yang dipanen 4 sampai 5 kali, kemudian jamur dibersihkan dengan cara memotong bagian pangkal yang mengandung media tumbuh tersebut. Diameter tubuh buah dapat mencapai 1025 cm. Syarat kualitas ekspor jamur kuping adalah tidak terlalu keriting, lunak, tidak begitu lebar dan tabal. Untuk dikeringkan, diperlukan jamur kuping yang berwarna coklat kehitaman, keras dan lebar, agar bentuk keringnya tidak terlalu kecil dan tidak mudah pecah (rapuh). 2) Cara penyimpanan dan pengepakan Bila akan dikonsumsi dalam bentuk segar, jamur dapat langsung dipasarkan atau langsung dikonsumsi. Sebelum dipasarkan, jamur kuping basah terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran/serbuk gergaji. Jamur dapat dikemas dengan menggunakan kantong/kotak plastik berlubang atau styro foam. Wadah untuk tempat jamur diusahakan tidak terlalu dalam, sehingga jamur tidak menumpuk karena akan mengakibatkan jamur rusak. Untuk pemakaian jangka panjang, jamur dapat disimpan dalam bentuk kering. Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari atau dengan menggunakan oven. Pengeringan dengan sinar matahari langsung memerlukan waktu sekitar 3 hari (kadar air 10%). Jamur dapat dipasarkan dalam bentuk kering, cukup keras tapi tidak mudah patah. Penyimpanan jamur kering dalam waktu lama dapat dilakukan 7

dengan menyimpan jamur dalam plastik (polyethilene) dan dirapatkan, agar jamur tidak menjadi basah. Selanjutnya kantong plastik yang telah berisi jamur tersebut dimasukkan kedalam box yang terbuat dari kertas tebal yang rapat (kardus) dimana dibagian tengah box sebelah dalam diletakkan satu botol kecil Carbon Bisulfida (CS2) yang disumbat dengan kapas untuk mencegah/menghindari serangan hama. Untuk keperluan konsumsi sebelum digunakan, jamur yang telah dikeringkan perlu direndam dalam air terlebih dahulu, sehingga bentuk jamur akan mengembang kembali seperti semula. Bentuk kemasan dapat berukuran 250 g, 500 g, 1 kg, 2 kg atau 5 kg, setelah itu diberi label. Pada saat pengangkutan jangan bertumpuk terlalu banyak agar tidak rusak.

3). Teknologi pasca panen Jamur Kerugian yang sering terjadi terhadap jamur segar adalah adanya serangan serangga perusak atau bakteri, sehingga perlu dilakukan usaha-usaha khusus untuk memperpanjang daya kesegaran jamur-jamur tersebut. Usaha-usaha ersebut antara lain Memperpanjang kesegaran tanpa olahan Disimpan dalam ruang pendingin (1-5°C), dapat diperpanjang 4-5 hari b. Penambahan larutan NaBisulfit 0,1-0,2% (1000-2000 ppm), masih dibawah nilai yang diperbolehkan oleh Ditjen POM Departemen Kesehatan. Larutan disemprotkan keseluruh tubuh jamur, atau jamur direndam ke dalam larutan secara merata. Cara ini dapat menambah kesegaran beberapa hari. c. Penambahan senyawa pengawet. Penambahan senyawa kimia, seperti garam dapur, asam sitrat, sulfida, K-Bikarbonat, K-Meta-Bisulfida dan sebagainya, dengan cara- sebagai berikut:  asam sitrat 0,1% selama 5 menit. Jamur dibersihkan dengan air yang mengalir setelah itu rendam pada larutan berisi

8

Cuci kembali dalam Masukkan jamur

larutan air mengalir untuk menghilangkan sisa asam.  Meta-Bisulfida (0,1%) selama 10-15 menit.  Tiriskan sampai larutan senyawa-senyawa diatas hilang dari jamur. Dengan perlakuan seperti ini jamur dapat tahan selama beberapa minggu, selanjutnya dibungkus dalam kantong plastik yang telah vakum udara. 2. kesegaran  Setelah dicuci dengan Masukkan Tiriskan jamur kembali air bersih mengalir, tiriskan sampai air rendaman hilang.  kedalam air yang telah mendidih.  listrik/minyak tanah.  Dapat pula direndam kembali dalam larutan garam dapur (15%) yang telah dimasak, setelah itu masukkan kedalam bungkusan kantong-kantong plastik. hingga bekas air terbuang lalu dikeringkan baik dengan oven Mengolah untuk memperpanjang kedalam larutan garam dapur (15%), garam sitrat (0,5%) dan K-

9

PUSTAKA Campbell, A.C. dan R.W. Slee, Extensive system of Shiitake production in S.W. England, dalam Shiitake Mushrooms, The proceedings of national symposium and trade show, May 3-5 1989. Chang, S.T dan W.A. Hayes, 1978, The Biology and Cultivation of Edible Mushrooms, Academic Press., Inc., New York, London. Chang, S.T, 1993, Mushroom biology : the impact on mushroom production and mushroom products. In : S.T Chang et al., (eds) Mushroom biology and mushroom products, The Chinese Univ. of Hong Kong. Cook, R.C., 1989, History of Shiitake and other exotic mushrooms in The United States, dalam Shiitake Mushrooms, The proceedings of national symposium and trade show, May 3-5 1989. Donoghue, J.D. dan P.R. Przybylowicz, 1989, Theh fruiting cycle of Shiitake and its application to log management, dalam Shiitake Mushrooms, The proceedings of national symposium and trade show, May 3-5 1989. San Antonio, J.P., 1981, Cultivation of the Shiitake mushroom (Lentinus edodes (Berk.) Sing., Hort. Sci., 16:151-156. Leatham, G.F dan T.J Leonard, 1989, Biology and Physiology of Shiitake mushroom cultivation, dalam Shiitake Mushrooms, The proceedings of national symposium and trade show, May 3-5 1989. Wuest, P.J., 1989, Shiitake growing in sawdust, dalam Shiitake Mushrooms, The proceedings of national symposium and trade show, May 3-5 1989.

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->