P. 1
Transpormasi Pertanian Dan Pembangunan Pedesaan

Transpormasi Pertanian Dan Pembangunan Pedesaan

|Views: 1,160|Likes:
Published by CANDERA

More info:

Published by: CANDERA on Jan 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATARBELAKANG PENULISAN Negara Indonesia merupakan salah Negara agraris sehingga tidak heran kalau mata pencaharian sebagian besar masyarakat Indonesia yaitu sebagai petani. Menurut Gunnar Myrdal “dalam sektor pertanianlah ditentukan berhasil atau tidaknya upaya-upaya pembangunan ekonomi jangka panjang”. Menurut francis Blancard “beban utama pembangunan dan penciptaan lapangan pekerjaan pada akhirnya akan dianggung oleh sektor perekonomian yang bertumpu pada kegiatan-kegiatan pertanian, yakni sector pedesaan”. Dan dalam penelitian menyebutkan bahwa lebih dari dua pertiga penduduk termiskin di dunia menetap di wilayah pedesaan yang penghidupan bersumber dari pola pertanian subsisten. Dapat disimpulkan bahwa faktor pertanian merupakan salah satu pendukung majunya suatu perekonomian bangsa, di mana pertanian tersebut terletak dalam wilayah pedesaan. Artinya kemungkinan majunya pedesaan suatu bangsa dapat mendorong majunya perekonomian bangsa tersebut. Dari pernyataan diatas penulis tertarik untuk membahas makalah ini dengan judul “ Transpormasi Pertanian Dan Pembangunan Daerah Pedesaan” 1.2 satu RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: sebagai salah Negara agraris, bagaimana peran pemerintah dalam mengembangkan sektor pertanian sekaligus memajukan pertumbuhan pedesaan di wilayah nusantara?

1

1.3

TUJUAN PENULISAN Penulisan makalah ini yaitu bertujuan sebagai untuk mengetahui

bagaimana kemajuan disektor pertanian suatu bangsa khususnya Negara Indonesia yang merupakan negara agraris dan kita sebagai mahasiswa sekaligus calon pelaku pendorong kemajuan bangsa dapat mengetahui lebih dalam perkembangan bangsa di sektor pertanian dan pedesaan. 1.4 MANFAAT PENULISAN Adapaun manfaat penulisan makalah ini yaitu kita dapat mengetahui bagaimana perkembangan perekonomian bangsa khususnya di sector pertanian dan pedesaan.

2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 ARTI PENTING KEMAJUAN SEKTOR PERTANIAN dan PEMBANGUNAN DAERAH PEDESAAN Secara tradisional, peranan pertanian dalam pembangunan ekonomi hanya dipandang pasif dan sebagai unsur penunjang semata. Berdasarkan pengalaman historis dari negara-negara barat, apa yang disebut sebagai pembangunan ekonomi identik dengan transpormasi struktural yang cepat terhadap perekonomian, yakni dalam perekonomian yang bertumpu pada kegiatan pertanian menjadi industri modern dan pelayanan masyarakat yang lebih kompleks. Suatu strategis pembagnuan ekonomi yang dilandaskan pada prioritas pertanian dan ketenagakerjaan paling tidak memerlukan tiga unsur pelengkap dasar, yakni: a. percepatan pertumbuhan output melalui serangkaian penyesuaian tekhnologi, instisusional, dan insentif harga yang khususnya dirancang untuk meningkatkan produktifitas para petani kecil b. peningkatan permintaan domestik terhadap output pertanian yang dihasilkan dari strategi pembangunan perkotaan yang berorientsikan pada upaya pembinaan ketenagakerjaan c. diversifikasi kegiatan pembangunan daerah pedesaan yang bersifat padat karya, yaitu nonpertanian, yang secara langsung dan tidak langsung akan menunjang oleh masyarakat pertanian. Karena itu, pada skala yanglebih luas, pembangunan sektor pertanian dan daerah pedesaan kini diyakinai sebagai intisari pembanguna nasional secara keseluruhan oleh banyak pihak. Harus diingat bahwa tanpa pembanguna dan kalaupun daerah bisa pedesaan berjala, yang integratif (integratif tersebut rural aka development), pertumbuhan industri tidak akan berjalan dengan lancar, pertumbuhan industri

3

menciptakan berbagai ketimpangan internal yang sangat parah dalam perekonomian bersangkutan. 2.2 PERTUMBUHAN DAN STAGNASI PERTANIAN SEJAK TAHUN 1950 Kita telah menetahui bahwa selama beberapa dasawarsa yang lalu banyak negara sedang berkembang berhasil mencapai peningkatan pertumbuhan GNP secara mengesankan. Sumbangan terbesar bagi tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini berasal dari sektor manufaktur dan perdagangan yang tingkat pertumbuhan output pertahunnya seringkali lebih dari 10%. Sebaliknya, pada masa yang sama pertumbuhan output petanian sebagian besar kawasan negara-negara sedang berkembang yang mengalami laju prtumbuhan ekonomi yang tinggi itu justru mengalami stagnasi, sehingga andil output pertanian dalam GNP secara keseluruhan terus menurun.tabel berikut mengungkapkan bahwa meskipun output dari sektor pertanian dihasilkan oleh hampir seluruh tenaga kerja negara-negara sedang berkembang, tetapi peranannya masih jauh lebih rendah. Tingkat output dan penyerapan tenaga kerja oleh sektor pertanian di negara-negara dunia ketiga, 1995. kawasan Asia Selatan Asia Timur Amerika Latin Afrika % pekerja disektor pertanian 64 70 25 68 % output sektor pertanian dalam GDP 30 18 20 20

Sumber dari world development report, 1997 the state in changing world, copyright © 1997 oleh the international bank for reconstruction and development/the world bank (New York: oxford University Press, 1997), annex 4 dan table 12. dicetak ulang dengan izin dari Oxford University Press, Inc.

Bertolak dari tahun yang mengecewakan tersebut, serta mulai muncul kesadaran baru dikalangan Negara-negara dunia ketiga bahwa sektor pertanian sangat menentukan masa depan mereka, maka sejak

4

beberapa tahun yang lalu, yaitu tepatnya akhir tahun 1997-an dan kemudia terus berlangsung hingga tahun 1990-an, terjadilah suatu perubahan drastic dalam kegiatan pemikiran serta perumusan kebijakan menyangkut soal pembangunan. Semakin lama semakin semakin banyak Negara-negara berkembang yang tidak lagi terlampau berambisi menjadi Negara industri maju dalam tempo singkat. Mereka kemudian mengambil sikaf yang relistis dengan mencurahkan perhatiannya pada pembinaan sector pertanian dan pembangunan daerah-daerah pedesaan pada umumnya sebagai titik berat atas perumusan rencana serta pelaksanaan pembangunan nasionalnya. 2.3 STRUKTUR AGRARIA DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG Dua Jenis Pertanian Dunia Jika kita perhatikan kondisi petanian yang ada sekarang ini pada sebagian besar negara miskin, kita akan menyadari betapa banyaknya tugas-tugas yang harus dilaksanakan sesegera mungkin. Perbandingan sekilas antara produktifitas pertanian di negara-negara maju dengan negara-negara berkembang akan memperjelas gambaran suram tersebut. Sebenarnya, pola atau sistem-sistem pertanian yang ada di dunia ini dapat dibagi menjadi dua polayag berbeda: a. pola pertanian di negara-negara maju yang memiliki tingkat efisiensi tinggi dengan kapasitas produksidan rasio output per tenaga kerja yang juga tinggi, sehingga dengan jumlah petani yang sedikit penduduk. b. Pola pertanian yang tidak atau kurang efisien yang umumnya terdapat di negara-negara berkembang. Tingkat produktifitasnya begiturendah sehingga hasil yang diperoleh acapkali tidak dapat memenuhi kebutuhan para petaninya sendiri. Di sejumlah negara berkembang, pertaniannya bersifat subsisten (hanya untuk mencukupi keluarga petaninya saja). Jangankan untuk dapat menyediakan bahan panganbagi seluruh

5

mencukupi kebuthan pangan penduduk daerah perkotaan, untuk keperluansehari-hari para petani itu saja, hasil-hasil pertanian yang ada tidak memadai. 2.4 PERAN PENTING KAUM WANITA Aspek penting dan yang sering disoroti dalam sistem agraria negar-negar paling miskin (LDC), terutama di Afrika dan Asia, adalah peran penting kaum wanita dalam produksi pertanian. Kaum wanita merupakan sumber tenaga kerja tambahan guna mengurusi tanaman pangan, mengurus konsumsi keluarga, memelihara ternak, menekuni industri rumah tangga untuk mencari sedikit tambahan penghasilan keluarga, mengumpulkan kayu bakar dan air, memasak, serta mengerjakan segala urusan rumah tangga. Segala macam fungsi tersebut praktis menghabiskan seluruh waktu. Sehingga jam kerja para wanita sebenarnya lebih panjangdan lebih berat bila dibandingkan dengan jam kerja para pria. Keragama tugas kaum wanita menyulitkan menentukan porsi sumbangan mereka dalam produksi pertanian, apalagi untuk menaksir nilai ekonomisnya. Meskipun demikian, ada sejumlah studi yang berhasil mengungkapkan arti pezzsnting kaum wanita sebagai tenaga kerja disektor pertanian. Pentingnya pertanian dan fungsi ekonomi kaum wanita tersebut dibuktikan oleh keberhasilan yang sangat mengesankan dari programprogram pembangunan yang melibatkan peningkatan partisifasi pendapatan merek kaum secarapenuh. Sementara program-program wanita secara kangsung membuahkan hasil yang mengesankan, program-program serupa namunyang bersifat itdak langsung sering kali kandas, atau gagal mencapai sasaran semula.sejumlah studi mendalam mengungkapkan bahwa suatu proyek harusdilakukan dengan bekerja samadan menfapat dukungan bekerjasama dan mendapat dukungan penuh dari kaum wabita jika proyek itu

6

menempatkan sejumlah mereka.

sumber daya ekonomi di bawah kontrol

2.5 PERTANIAN DAN PROSES PEMBANGUNAN Salah satu karakteristik dalam pembangunan ekonomi adalah pergeseran jangka panjang populasi dan produksi dari sektor pertanian menjadi sektor industri dan sektor jasa. Hanya sebagian kecil masyarakat dalam negara industri yang hidup dari sektor pertanian (Lynn, 2003). Konsep strategi pembangunan berimbang (balanced growth), yaitu pembangunan di sektor pertanian dan sektor industri secara bersamaan merupakan tujuan pembangunan yang paling ideal. Pada kenyataannya konsep strategi pembangunan berimbang tidak dapat dilakukan oleh negara berkembang, hal ini dikarenakan sumber daya yang tidak mencukupi untuk melakukan pembangunan di sektor pertanian maupun sektor industri sekaligus (Lynn, 2003). Kondonassis et al. (1991) menjelaskan bahwa pembangunan pada sektor pertanian merupakan batu loncatan menuju pembangunan pada sektor industri. Keberhasilan pembangunan industri di negara Jepang dan Taiwan merupakan lanjutan keberhasilan pembangunan di sektor pertanian. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah Jepang dan Taiwan merupakan kontribusi yang sangat penting dalam mendukung pembangunan pertanian. Pemerintah Jepang dan Taiwan juga berhasil dalam membangun budaya kerja sehingga rakyat mereka memiliki produktivitas yang tinggi. Kondonassis et al. (1991) meringkaskan proses pembangunan pertanian menjadi pembangunan industri. Proses tersebut adalah sebagai berikut: 1. Makanan dibutuhkan populasi di daerah kota yang terus

meningkat. 2. Perolehan mata uang asing karena melakukan ekspor.

7

3. Peningkatan mata uang asing dari hasil subtitusi impor produk pertanian. 4. Tabungan di sektor kota dan pajak pendapatan kepada pemerintah, yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur karena peningkatan pendapatan di sektor pertanian. 5. Peningkatan permintaan untuk produk industri karena pendapatan di sektor pertanian yang lebih tinggi. 6. Peningkatan produktivitas di sektor pertanian menyebabkan pekerja dapat beralih ke sektor industri. Pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembangunan. Tabel 1 menyajikan data struktur produksi pada negara berkembang. Data pada tabel 1 menggambarkan negara yang memiliki pendapatan lebih tinggi mempunyai persentase output produksi pertanian yang lebih kecil. Porsi produksi pertanian di negara berkembang telah menurun sejak pertengahan 1960-an (Lynn, 2003). Tenaga kerja di bidang pertanian juga semakin menurun antara tahun 1950 sampai dengan tahun 1990 dari 83% menjadi 63% di Afrika, 82% menjadi 62% di Asia, dan dari 54% menjadi 25% di Amerika Latin. Tren ini sesuai dengan Engel’s Law yang menyatakan bahwa kecenderungan orang dalam mengkonsumsi barang yang berbeda dalam proporsi yang berbeda ketika pendapatan meningkat. Saat pendapatan meningkat orang akan mengurangi persentase konsumsi pada makanan. Hal ini menggambarkan akan tantangan yang harus dihadapi oleh negara berkembang. Negara berkembang harus bekerja keras untuk percepatan pembangunan industri, tanpa diimbangi dengan pembangunan di sektor pertanian yang cepat Kenyataan sejarah pada (Lynn, pembangunan mengindikasikan 2003). bahwa

industrialisasi di Inggris pada abad ke-18 dan abad ke-19 dapat terjadi setelah perbaikan yang signifikan dalam produktivitas sektor pertanian.

8

Pertumbuhan Amerika dipacu oleh kemampuan pertaniannya yang sangat besar. Di Uni Soviet, pertumbuhan industri terjadi karena eksploitasi brutal terhadap petani kecil, dan pada waktu itu juga Uni Soviet juga mengimpor sejumlah besar makanan (Lynn, 2003). Kontribusi Pertanian pada Pembangunan Pertanian memiliki kontribusi yang sangat besar kepada pembangunan (Lynn, 2003). Kontribusi pertanian tersebut adalah: 1. Meningkatkan persediaan makanan. 2. Pendapatan dari ekspor. 3. Pertukaran tenaga kerja ke sektor industri. 4. Pembentukan modal 5. Kebutuhan akan barang-barang pabrikan. Peran sektor pertanian sangat diperlukan dalam upaya menurunkan kemiskinan. Data PBB menyatakan bahwa pada daerah pedesaan di negara berkembang terdapat sekitar 1 milyar penduduk dari 1,2 milyar penduduk hidup dalam kemiskinan absolut (absolute poverty). Bank Dunia mengetahui bahwa populasi, pertanian dan environment adalah kunci untuk mengetahui masalah yang dihadapi di Sub-Sahara Afrika, yaitu daerah yang paling miskin di dunia. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat yang tidak diimbangi oleh teknik pertanian menyebabkan kekurangan. Hal ini juga menyebabkan degradasi tanah dan penurunan produksi dan konsumsi makanan per kapita (Lynn, 2003). Selain membutuhkan sumber daya finansial, sektor pertanian juga memerlukan teknologi maju dan infrastruktur. Diskriminasi pemerintah terhadap sektor pertanian akan menghalangi keseluruhan pembangunan (Lynn, 2003).

9

TRANSFORMASI PERTANIAN Lynn (2003) mengemukakan bahwa keberhasilan sektor pertanian bukan hanya alat bagi pembangunan, tetapi keberhasilan di sektor pertanian juga menjadi tujuan dari pembangunan. Pertanian dapat menjamin penyediaan kebutuhan milyaran penduduk di masa depan. Hal yang 1. sektor pasar. Pada tahun 1970-an, produktivitas pertanian di Asia dan Afrika 45 persen di bawah negara barat pada saat awal revolusi industri. Sejak beberapa dekade, pertumbuhan output pertanian semakin kecil dibandingkan dengan pertumbuhan output secara keseluruhan (Lynn, 2003). Gambar 1 menunjukkan grafik indek hasil pangan per kapita pada beberapa bagian negara di dunia. Grafik pada gambar 1 diperlihatkan Afrika bagian Sub-Sahara hasil pangan per kapita semakin menurun, sedangkan Asia dan Amerika Selatan mengalami peningkatan yang kuat. Indonesia terlihat mengalami peningkatan, walaupun pernah mengalami penurunan sekitar tahun 1997 – 1999 diakibatkan krisis ekonomi dan kekacauan bruto (PDB), situasi dan populasi. politik Produksi (Lynn, pertanian pada 2003). negara Tabel 3 menunjukkan laju pertumbuhan pertanian, pendapatan domestik berpendapatan rendah-menengah rendah tumbuh sedikit lebih cepat daripada pertumbuhan populasi (Lynn, 2003). Pada abad XX, banyak ditemukan perlakuan yang salah kepada petani. Di Uni Soviet pada tahun 1920-an, Stalin mewajibkan petani menjual hasil pertaniannya kepada pemerintah dengan harga yang telah berhubungan dengan transformasi produktivitas sektor pertanian: pertanian. pertanian. Peningkatan

2. Penggunaan sumber daya yang dihasilkan untuk pembangunan di luar 3. Integrasi pertanian dengan ekonomi nasional melalui infrastruktur dan

10

ditentukan oleh pemerintah. Harga beli yang rendah dan harga jual yang tinggi menghasilkan pendapatan bagi pemerintah. Petani kecil diperintahkan untuk bergabung (collective farm), sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan hasil. Pemerintah RRC juga mengikuti kebijakan berkembang collectivization menekan harga pertanian (Lynn, rendah, beberapa 2003). negara Kekuatan bukanlah alat untuk mengeksploitasi petani. Beberapa negara mengenakan pajak akan aktivitas pertanian, mencabut modal pada daerah pedesaan, secara umum dapat dikatakan banyak negara menempatkan industrialisasi di atas segalanya. Model Lewis hanya membuat beberapa ekonom dan pembuat kebijakan berpikir bahwa pertanian adalah tempat untuk mempekerjakan kelebihan tenaga kerja yang tidak terserap oleh industrialisasi (Lynn, 2003). Nilai tukar petani (sectoral terms of trade) untuk pertanian adalah rasio harga barang pertanian (Pa) dan harga barang industri (Pi). Kenaikan nilai tukar petani (NTP) berarti harga pangan naik lebih cepat daripada barang industri. Petani dapat membeli lebih banyak keperluan mereka pada hasil yang sama dan mendorong petani untuk meningkatkan hasil mereka (Lynn, 2003). Nilai tukar petani (NTP) juga dapat menjadi indikator tingkat kesejahteraan petani, semakin tinggi NTP semakin tinggi daya beli petani. Sebuah studi mengenai Indonesia, menghitung rasio Pa/Pi, dan laju pertumbuhan pendapatan daerah bruto (PDB) pertanian. Apabila nilai tukar petani adalah 0,78 selama tiga periode, dan pertumbuhan 0,9 persen per tahun. Ketika nilai tukar petani meningkat menjadi 0,83 dan 1,06, pertumbuhan pertanian meningkat menjadi 4,3 persen dan kemudian menjadi 8,3 persen (Lynn, 2003). Peningkatan nilai tukar petani (terms of trade) hanyalah pada masa transisi. Gambar 2 mengilustrasikan bagaimana harga pertanian relatif berubah seiring dengan waktu. Sebagai respon harga pertanian

11

yang tinggi, sumber daya akan ditarik ke pertanian (P1), lalu meningkatkan hasil (S2). Ini kemudian berlanjut sebagai awal peningkatan permintaan pangan (D2). Lambatnya permintaan akan pangan dan bahan baku (D3), dan produktivitas pertanian dan penawaran meningkat (S3). Nilai tukar petani (terms of trade) berbalik dan akan mendorong industri. Pada tahap awal pembangunan ekonomi, pertanian harus menjadi prioritas. Supaya pertanian tetap menarik dibutuhkan kenaikan atau stabilitas nilai tukar petani (terms of trade) yang merefleksikan kelangkaan (Lynn, 2003).

HARGA PERTANIAN: PASAR DAN PEMERINTAH Salah satu persoalan dalam kebijakan pertanian adalah penetapan harga dari produk pertanian. Pemerintah pada negara berkembang sering mengambil alih keputusan penetapan harga. Pernyataan dari Ekonom barat bahwa negara miskin harus membiarkan pasar bekerja terlihat bohong, terbukti dengan adanya subsidi kepada pertanian pada negara maju (Lynn, 2003). Keputusan apa yang akan ditanam, di mana akan dijual, di mana akan dikerjakan, dan banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh petani kecil, suatu saat harus cepat, untuk merubah harga relatif. Perlawanan terhadap perubahan adalah fungsi dari ke-tidak-aman-an ekonomi (Lynn, 2003). Konsekuensi Pembatasan Harga (Price Ceiling) Pandangan yang salah akan perilaku petani membawa pemerintah untuk mengatur harga pasar terbawah. Banyak pemerintah mempercayai bahwa pemaksaan akan mempertahankan produksi pertanian, padahal kekurangan penawaran untuk pasar akan membuat harga menjadi tidak

12

relevan bagi petani. Kebijakan harga murah (low-price policy) yang mengenakan pajak pertanian dan subsidi politik kepada masyarakat kota (Lynn, 2003). Gambar 3 menunjukkan bagaimana pembatasan harga (price ceiling) menurunkan insentif untuk memproduksi pangan dan mendorong konsumsi. Ketika adanya pembatasan harga (Pc¬), produksi turun dari Qe menjadi Qs, dan pendapatan petani turun dari area PeXQe0 menjadi PcYQs0. Konsumen dapat membeli pada Qd, dan kelebihan permintaan akan dipenuhi oleh impor, baik yang legal maupun tidak legal (Lynn, 2003). Lynn (2003) menjelaskan bahwa gambar 3 dapat disederhanakan menjadi 2 cara. 1. Grafik menunjukkan pasar untuk pangan yang mana penawaran dan permintaan adalah harga inelastis. Elastisitas harga penawaran pertanian secara keseluruhan mengindikasikan respon lemah terhadap perubahan harga, terutama dalam jangka pendek. Harga yang lebih rendah untuk jagung akan mendorong petani untuk gandum atau kapas. Kurva penawaran dan permintaan untuk produk individu dan pada jangka panjang seharusnya lebih elastis. 2. Karena grafik menunjukkan pembatasan harga yang ditentukan oleh pemerintah, respon penawaran dan permintaan merujuk pada pasar di mana harga tersebut relevan. Harga resmi yang lebih rendah dapat menyebabkan bukan hanya produksi yang turun, akan tetapi juga penurunan produksi yang dilaporkan, karena petani menjual secara pribadi. Lynn (2003) menjelaskan bahwa pemerintah melakukan penetapan harga dengan beberapa alasan. Penetapan harga yang rendah disebabkan oleh: 1. Pengertian yang salah akan respon petani terhadap harga, beberapa pejabat pemerintah mempercayai bahwa dengan harga yang tinggi hanya orang kaya dan petani besar saja yang diuntungkan. 2. Pemerintah berpendapat bahwa harga pangan yang rendah akan

13

memberikan dampak yang positif bagi konsumen dan keuntungan bisnis. Melalui marketing boards, perusahaan yang membayar harga rendah pada petani dan menjual dengan harga tinggi pada konsumen, terutama konsumen pembangunan. 4. Pemerintah percaya bahwa dengan penetapan harga pertanian yang rendah dapat mendorong industrialisasi. Sebagian besar dari asumsi tersebut adalah salah. Walaupun harga pangan dan bahan baku yang rendah menguntungkan konsumen dan industri, akan tetapi hal ini membunuh pertanian di banyak negara, terutama di Afrika. Petani yang miskin dirugikan karena mereka hanya memiliki sedikit pilihan untuk menanami tanah mereka (Lynn, 2003) Karena kesalahan ini, pemerintah tetap segan membiarkan pasar untuk menentukan harga pertanian. Pejabat pemerintah kadang mencurigai bahwa pasar akan memberi kesempatan kepada tengkulak untuk mengeksploitasi petani miskin. Kejadian tak terduga juga menyebabkan fluktuasi yang tinggi untuk produk pertanian. Fluktuasi membatasi keefektifan dari harga sebagai sinyal kepada produsen dan menyebabkan ketidakpastian pada konsumen. Produsen merespon harga lebih dapat dipercaya (Lynn, 2003). Harga pertanian yang ditentukan pasar mencerminkan keterbukaan pada perdagangan luar negeri. Resesi dan subsidi pada negara industri dapat menekan harga pertanian. Negara berkembang sebagai pengekspor produk pertanian akan menekan pendapatan ekspor, produksi domestik yang bersaing dengan bahan pertanian hasil subsidi dari negara maju akan rugi. Kemampuan untuk menyediakan bahan pangan murah kepada rakyat terutama daerah kota akan menjadikan problem tersendiri. Harga pangan yang tinggi akan menyebabkan tuntutan gaji yang lebih tinggi, dan akan menstimulasi inflasi (Lynn, 2003). luar negeri. 3. Pemerintah berpikir mereka dapat mengumpulkan dana untuk

14

Konsekuensi Lain pada Intervensi Harga Banyak pemerintah negara berkembang mencoba untuk

menjembatani perbedaan antara harga pertanian yang terlalu tinggi untuk konsumen dan terlalu rendah untuk produsen dengan melakukan intervensi dalam penetapan harga. Pemerintah dapat menentukan harga farm-gate, yaitu harga yang diterima oleh petani dengan tujuan untuk menjaga dan meningkatkan produksi. Proses ini sangat rumit karena ada sejumlah banyak jenis hasil pertanian, dengan kemungkinan untuk petani untuk melakukan subtitusi dari hasil pertanian satu ke hasil pertanian lainnya. Pengendalian harga juga ditempatkan pada bahan pertanian yang telah diolah pada tingkat harga eceran (Lynn, rendah 2003). ataupun Kesalahan dalam penetapan harga menyebabkan banyak masalah. Harga farm-gate yang rendah mengakibatkan produksi penjualan hasil pertanian di luar jalur resmi. Harga eceran yang terlalu rendah menyebabkan subisidi pemerintah yang besar (Lynn, 2003). Pemerintah juga sering mencoba untuk mengimbangi harga farm-gate yang rendah dengan subsidi harga bahan baku pertanian, akan tetapi hal ini menimbulkan masalah tersendiri. Subsidi pada pabrik pupuk pemerintah yang tidak efisien akan menyebabkan biaya produksi tinggi dan pengiriman yang tidak efisien. Subsidi untuk membeli mesin menyebabkan overmechanization. Mempromosikan kredit, baik melalui subsidi suku bunga atau mencoba kekuatan bank untuk meminjamkan dana kepada petani, umumnya gagal mengefisienkan alokasi dana untuk petani (Lynn, 2003). Harga Bukan Segalanya Peter Timmer menyarankan bahwa fungsi utama pemerintah bukan hanya merangsang produksi dalam jangka pendek, akan tetapi juga dalam menciptakan iklim investasi dan ekspektasi pembuat keputusan pada ekonomi pedesaan akan keuntungan aktivitas di

15

pedesaan di masa depan. Harga harus ditempatkan sesuai context (Lynn, 2003). Sebuah penelitian mengenai kebijakan harga pertanian di Asia menyimpulkan bahwa keuntungan mendorong produksi, keuntungan bukan hanya menyangkut harga. Penelitian jangka panjang mengenai kebijakan pertanian oleh Bank Dunia menyatakan bahwa bila insentif harga yang sesuai berdasarkan makro ekonomi dan kebijakan sektoral memainkan peran penting dalam menjelaskan kinerja, kualitas sumber daya alam dan dari teknologi, institusi, politik, dan investasi manusia dan investasi menentukan kemampuan petani kecil untuk mengelola tanah dan tenaga kerja, dua faktor penting yang menjelaskan pertumbuhan (Lynn, 2003). Masalah dari Liberalisasi Pasar Pertanian Pengendalian pemerintah pada harga dan pemasaran pertanian terlihat mencolok di beberapa negara Afrika. Penetapan harga masih tersisa di pasar, pemerintah mengijinkan pendekatan privatisasi lebih besar (Lynn, 2003). Pendekatan privatisasi telah berhasil dalam hal mengirimkan pangan untuk daerah kota dan pedesaan, akan tetapi tidak ada peningkatan dalam penawaran seperti yang diperkirakan oleh pendukung reformasi. Hal ini menjelaskan bahwa memperoleh harga yang benar hanyalah bagian dari jawaban. Kekurangan infrastruktur, penelitian, informasi pasar, dan dukungan legal dan organisasi telah melemahkan kemampuan petani untuk mencapai harga yang lebih tinggi (Lynn, 2003). 2.6 PERAN PEMERINTAH Campur tangan pemerintah di bidang pertanian merupakan fenomena yang telah mendunia. Subsidi pertanian dan dukungan pemerintah pada

16

negara maju hanya mendorong efisiensi dan merusak negara miskin dengan menurunkan daya saing hasil pertanian negara miskin (Lynn, 2003). Peran Mikro Ekonomi Pemerintah Salah satu “rule of thumb” yang baik adalah perusahaan swasta yang independen memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dari badan pemerintah dalam membawa fungsi komersial, seperti produksi atau pemasaran produk pertanian dan mendistribusikan kebutuhan pertanian. Di Tanzania, Zambia dan beberapa negara di Afrika, pemerintah mengambil alih pendanaan, industri pokok, dan operasi impor ekspor. Dalam 10 sampai 15 tahun, dengan alasan menghilangkan eksploitasi perusahaan swasta, pemerintah tersebut mengoperasikan jasa angkutan lokal, mendirikan retail kecil, dan beberapa perusahaan skala kecil. Dari aktivitas ini dengan cepat membuat buruk perekomomian karena maraknya ketidakmampuan dan korupsi (Lynn, 2003). Lynn (2003) menjelaskan bahwa campur tangan pemerintah harus dibatasi, campur tangan pemerintah di sektor pertanian sangat sulit untuk diidentifikasi. Beberapa aktivitas sangat penting untuk dilakukan pemerintah karena tidak terjangkau oleh petani kecil. 1. Infrastruktur. Pemerintah, baik daerah maupun nasional, memiliki peran penting dalam menyediakan infrastruktur. Beberapa proyek seperti jalan, listrik, komunikasi, dan irigasi membutuhkan modal yang besar, jangka panjang dan menciptakan ekonomi eksternal. Infrastruktur ini membuat pertanian lebih produktif dan menghancurkan rintangan masuk ke pasar, selain itu juga meningkatkan efisiensi dari alokasi sumber daya.

17

2. Informasi Penyediaan informasi sangat bermacam-macam. Petani

membutuhkan informasi mengenai kondisi pasar, teknologi baru dan cuaca. Penelitian dan pengembangan menjadi target utama pemerintah, juga jasa tambahan yang membawa hasil riset ke pertanian. Pendidikan dan pelatihan membantu petani meningkatkan dan mengolah operasi mereka.

3. Membangun pasar Pemerintah dapat membantu menciptakan dan meningkatkan pasar dengan menyediakan pengukuran akurat untuk hasil panen, penyediaan asuransi kegagalan panen, dan mendorong kredit skala kecil untuk membuat simpan pinjam lebih mudah bagi petani. Pada beberapa kasus ketika area terisolasi, pemerintah dapat memulai membuat transportasi, penyimpanan, dan pemasaran fasilitas, aktivitas ini akan dilakukan oleh sektor swasta dan individu setelah penghalang antara pasar runtuh. 4. Kebijakan Publik Pemerintah harus berhati-hati akan efek dari insentif yang diberikan. Sebagai contoh, pajak sangat penting akan tetapi tidak boleh mengurangi insentif produksi, karena akan menyebabkan perbandingan harga pedesaan dan perkotaan turun (rural/urban terms of trade). Peran Makro Ekonomi Pemerintah Studi mengenai dampak pemerintah pada pertanian sering menunjuk kepada masalah makro ekonomi yang tidak berhubungan dengan

18

pertanian. Dampak ini dirasakan melalui 5 harga makro yaitu gaji, tingkat bunga, biaya sewa tanah, indek harga pertanian, dan nilai tukar mata uang (Lynn, 2003). Tingkat bunga mempengaruhi ketersediaan dana untuk petani. Bila tingkat bunga tinggi demi memerangi inflasi, kredit akan terlalu mahal bagi petani yang tidak memiliki banyak modal (Lynn, 2003). Kenaikan inflasi memiliki dampak negatif dalam penurunan daya beli. Masyarakat kota dapat menekan pemerintah untuk menekan harga pangan di bawah harga pasar. Biaya sewa tanah dapat naik sejalan dengan inflasi, harga tanah kemudian akan menjadi lebih tinggi, kenaikan ini menyebabkan petani miskin tidak memiliki tanah (Lynn, 2003). Perbandingan nilai tukar petani (agriculture term of trade) akan tidak dapat diprediksi dengan peningkatan inflasi. Harga biasanya tidak naik secara sama, pemerintah lebih menekan harga pangan dari pada harga barang industri yang akan (Lynn, dibeli oleh petani. Inflasi 2003). menghambat investasi dan memperlambat peningkatkan produktivitas pertanian Pemerintah juga dapat mengacaukan ekonomi dengan keputusannya dengan memanipulasi nilai tukar mata uang. Bila mata uang domestik dihargai di atas harga pasar, akan menyebabkan kehancuran terbesar di sektor pertanian. Pertama hal ini akan menghambat ekspor, karena orang asing harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan mata uang untuk membeli barang tersebut. Padahal pasar dunia sangat kompetitif. Kemudian hal ini mendorong impor karena mata uang asing relatif lebih murah, impor pangan akan menyebabkan tekanan bagi produksi, harga dan pendapatan di sektor pertanian. Impor barang modal dan barang intermediasi menyebabkan bias dalam produksi domestik menjadi industri dan menjauhi pertanian. Hal ini merusak pertanian di negara berkembang dan pemerintah perlu

19

mencermati adanya keterkaitan antara makro ekonomi dan pertanian (Lynn, 2003). 2.7 ILMU EKONOMI PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN: TRANSISI DARI POLA PERTANIAN SUBSISTEN KE POLA PERTANIAN KOMERSIAL YANG TERSPESIALISASI Krisis ekonomi dan proses reformasi yang bergulir sejak tahun 1997 sebenarnya menyediakan kesempatan sangat baik bagi sektor pertanian untuk tampil lebih ke depan dalam wacana pembangunan. Dua kesempatan emas setidaknya dapat diraih. Pertama, mendulang devisa dari ekspor produk pertanian yang nilainya terkatrol oleh kurs dollar. Ini berhasil dicapai dengan baik sehingga pamor sektor pertanian sempat agak bersinar karena mampu tetap tumbuh ditengah porak porandanya hampir seluruh sektor ekonomi lainnya. Tercatat antara lain pertumbuhan ekonomi sektor pertanian sebesar 0,2 %, yang disumbang khususnya dari sub sektor perkebunan sebesar 6% dan sub sektor perikanan 4,1 % pada tahun 1998, sementara secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi nasional merosot alias minus 13,7 %. Kedua , menegosiasikan kembali peran sektor pertanian sebagai bagian dari proses reformasi perekonomian nasional. Negosiasi ini berkaitan dengan gagasan dan desakan-desakan untuk lebih mengedepankan peran sektor pertanian sehingga tidak lagi menjadi sektor marjinal seperti terjadi selama era Orde Baru. Yang kedua ini masih menjadi pertanyaan besar karena belum terlihat tanda-tanda hasil yang meyakinkan meskipun upaya-upaya ke arah tersebut cukup gencar dilakukan. Tedapat tiga tahap pokok dalam evolusi pola produksi pertanian yaitu, antara lain: 1. usaha tani subsisten murni yang berskala kecil (petani hanya bertani) dengan tahap produktivitas yang sangat rendah.

20

2. pola pertanian keluarga campuran atau yang telah terdiversifikasi. Sebagian hasil telah digunakan untuk konsumsi pribadi, dan sebagian lagi untuk dijual ke pasar. 3. usaha perdagangan dengan tingkat produktifitas yang tinggi telah terspesialisasi Modernisasi suatu proses pertanian transisi dalam sistem perekonomian secara campuran tetapi

diberbagai negara-negara berkembang juga dapat dijelaskan sebagai yang berlangsung bertahap, berkesinambungan, yakni dari pola produksi subsisten menjadi sistem pertanian yang terdiversifikasi dan terspesialisasi. Pertanian Subsisten: Pencegahan Resiko, Ketidakpastian, Dan Upaya Mempertahankan Kelangsungan Hidup Dalam pola pertanian klasik, sebagian besar output dikonsumsi sendiri oleh keluarga petani (hanya sebagian kecil sisanya yang dijual atau diperdagangkan dipasar-pasar lokal). Tingkat output dan dan produktifitasnya rendah karena hanya menggunakan metode produksi serta peralatan tradisional yang serba sederhana. Investasi modal minim, sedangkan faktor-faktor produksi yang utama adalah lahan dan tenaga kerja. Hukum perolehan yang semakin berkurang berlaku disini, sehubungan dengan terus bertambahnya orang-orang yang menggarap sebidang lahan yang sama. Keterbatasan yang curah hujan, adanya keharusan membayar sumbangan lahan atau pajak tidak resmi, serta kehadiran para rentenir yang mengancam untuk menagih sisa utang yang seolah-olah tidak ada habisnya adalah sebagian dari kesulitan dari oleh para petani subsisten. Semua itu merupakan sumber kekawatiran petani mengenai kelangsungan hidup mereka. Teori-teori produksi dua faktor tradisional menganggap lahan bersifat tetap, tenaga kerja merupakan satu-satunya input variabel, dan

21

laba maksimum memberikan beberapa masukan kedalam ekonomi pertanian subsisten. Secara lebih spesifik, faktor-faktor tarsebut menyediakan dasar pemikiran ekonomi untuk menyoroti rendahnya tingkat produktifitas pertaniaa tradisional dinegara-negara berkembang dalam bentuk hukum produktifitas marjinal yang semakin berkurang. Pertanian subsisten menpunyai risiko yang sangat tinggi dan penuh ketidakpastian. Dalam kenyataannya, pada kasus tertentu, kehidupan manusia bahkan turut dipertaruhkan. Di berbagai wilayah yang lahan pertaniannya sangat sempit dan pengilahannya amat tergantung pada curah hujan yang tidak pernah dapat dipastikan itu, rata-rata hasil pertanian biasanya rendah sehingga pada masa paceklikatau musim kering berkepanjangan banyak petani dan keluarganya yang terancam bahaya kelaparan. Dalam peadaan demikian, motivasi pokok dalam kehidupan para petani bukan meningkatkan pendapatan, melainkan mempertahankan kelangsungan hidupdiri dan keluarganya. Transisi Menuju Pertanian Campuran Dan Terdiversifikasi Pola pertanian terdiversifikasi atau pertanian campuran merupakan tahap prantara yang harus dilalui dalam proses transisi dari pola produksi pertanian subsisten menjadi pertanian yang spesialisasi. Keberhasialan atau kegagalan usaha-usaha transpormasi pola perrtanian tradisional ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dan keterampilan para petani dalam meningkatkan produktifitasnya saja. Tetapi yang lebih penting lagi, semua itu tergantung pada kondidi sosial, komersial, dan kondisi kelembagaan yang merupakan faktor-faktor pertanian yang harus dihadapi oleh para petani. Perubahan Multidimensional di Pedesaan

22

Proses pembangunan pedesaan di daerah pertanian tidak lain adalah suatu perubahan sosial. Demikian pula introduksi teknologi ke pedesaan yang bermula dari kebijakan orde baru membebek pada isu global bernama revolusi hijau menimbulkan prubahan sosial dalam berbagai dimensi. Masuknya traktor atau mesin penggiling padi ke pedesaan menyebabkan berkurangnya peranan buruh tani dalam pengelolaan tanah dan berkurangnya peranan wanita dalam ekonomi keluarga di pedesaan. Teknologi yang masuk ke desa tersebut banyak dikuasai oleh golongan ekonomi kelas atas dan menengah di desa. Golongan tersebut dengan pendirinya akan menentukan pasaran kerja di desa. Keadaan demikian akan menggeser peranan pemilik ternak kerbau atausapi sebagai sumber tenaga kerja pengolah sawah. Masuknyan teknologi perangkat usaha ternak sapi perah, menggeser peternak tradisional yang hanya memiliki satu sampai tiga ekor ternak. Perangkat teknologi tersebut merubah sistem beternak, dari ekonomi keluarga ke ekonomi komersial, dengan jumlah ternak yang banyak dan dikuasai oleh golongan ekonomi kuat di desa atau di kota yang menanamkan modalnya di desa. Perangkat teknologi sapi perah seperti mixer makanan ternak, cooling unit susu, sistem pengawetan dan lain-lain, memungkinkan orang untuk menangani jumlah ternak sapi lebih banyak. Hal ini memberikan bukti bahwa teknologi mengakibatkan meningkatnya ukuran usaha tani di pedesaan. Belum lagi kebijakan-kebijakan sederhana yang ada di pedesaan. Penunjukan kepala desa sebagai ketua LKMD misalnya, hal ini mengakibatkan pengaruh Negara akan semakin dominan yang notabene tidak terlalu paham dengan kondisi sosial masyarakat desa setempat. Pola pengaruh ini bermula dari penggunaan kekuasaan yang terlalu berlebih. Dengan dalih pembangunan, para kusir delman tergeser oleh adanya transportasi angkutan pedesaan. Struktur ekonomi kembali dikuasai oleh orang-orang tertentu saja. Disini terjadi perubahan

23

peranan LKMD, yang sebelumnya sebagai akumulasi aspirasi masyarakat berubah menjadi wadah aspirasi penguasa. Masuknya teknologi ke desa, seperti halnya mekanisasi dalam bidang pertanian, juga mempengaruhi organisasi dan manajemen usaha tani. Mekanisasi pertanian menuntut adanya keterampilan baru bagi para pekerja. Tuntutan tersebut, dengan sendirinya membutuhkan modal yang besar sehingga melibatkan bank dan pemodal lainnya. Pengadaan modal untuk pengembangan industri atau mekanisasi di desa, ditunjang oleh kebijaksanaan pemerintah dalam bentuk pemberian pinjaman berupa kredit. Kebijaksanaan ini meransang timbulnyakeberanian untuk meminjam kredit dalam jumlah besar, tanpa diimbangi oleh sistem organisasi dan manajemen yang memadai, sehingga muncul dimanamana tunggakan kredit, seperti bimas atau industri kecil menubggak. Dengan terjadinya perubahan structural tersebut, tidak mampu dinafikan bahwa budaya atau kultur masyarakat pun ikut berubah. Seperti yang telah dijelaskan secara teoritis perubahan kultur sosial menyangkut segisegi non material, sebagai akibat penemuan batau medernisasi. Artinya terjadi integrasi atau konflik unsur baru dengan unsur lama sampai terjadinya sintesis atau penolakan sama sekali. Masuknya mengakibatkan teknologi banyaknya atau adanya mekanisasi jumlah di desa yang pertambahan penduduk

menganggur, transformasi yang tidak jelas, dan pola komunikasi yang sejalan dengan perubahan komunitas di desa.kesemuanya itu merupakan inovasi, baik itu hasil penemuan dalam berpikir atau peniruan yang dapat menimbulkan difusi atau integrasi. Peristiwa-peristiwa perubahan kultural meliputi “cultural lag”, “cultural survival”, “cultural conflict” dan ”cultural shock”. Hal di atas juga sangat besar pengaruhnya terhadap interaksi, sebab melalui teknologi aktivitas kerja menjadi lebih sederhana dan serba cepat. Hubungan antara sesame pekerja menjadi bersifat impersonal, sebab setiap pekerja bekerja menurut keahliannya masing-masing

24

(spesialis). Hal ini berbeda dengan kegiatan pekerjaan yang tanpa teknologi, tidak bersifat spesialis dimana setiap orang dapat saling membantu pekerjaan, tidak dituntut keahlian tertentu. Teknologi berkaitan dengan pembatasan pekerjaan yang bersifat kerjasama, sehingga dapat menimbulkan konflik pada komunitas pertanian. Adanya teknologi, praktek-praktek saling membantu menjadi terhenti dan kerjasama informal menjadi berkurang. Proses mekanisasi di daerah pertanian menyebabkan hubungan bersifat kontrak formal. Tenaga kerja berkembang menjadi tenaga kerja formal yang kemampuandan keahliannya terbatas. Lambat laun di pedesaan akan muncul organisasi formal tenaga kerja sebagai akibat terspesialisasi dan meningkatnya pembagian kerja. Hal inilah yang oleh Durkheim dinamakan solidaritas organic (organic solidarity) yang lebih sering terjadi pada komunitas perkotaan. Masuknya teknologi ke desa menyebabkan kontak sosial menjadi tersebar melalui berbagai media dan sangat luas, melauli perdagangan, pendidikan, agama dan sebagainya. Akibat pola hubungan yang Yng bersifat impersonal, maka ketidak setujuan atau perbedaan pendapat sulit diselesaikan secara kekluargaan, tetapi harus melalui proses peradilan. Hal ini tampak dengan adanya kebijaksanaan jaksa masuk desa, dimana sebelumnya konflik di desa cukup diselesaikan dengan oleh ketua kampong atau sesepuh desa.

Gagalnya Kebijakan Pemerintah dalam Pembangunan Pedesaan Proses pembangunan pertanian di Indonesia telah banyak diulas oleh para peneliti. Frans Hüsken misalnya, pada tahun 1974 ia melakukan penelitian yang mengulas tentang perubahan sosial di masyarakat pedesaan Jawa sebagai akibat kebijakan pembangunan pertanian yang diambil oleh pemerintah. Penelitian ini dilakukan di Desa Gondosari, Kawedanan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kekhususan dan keunikan dari penelitian ini terletak pada isinya yang tidak saja

25

merekam pengalaman perubahan sosial (revolusi) tersebut, namun juga menggali studi dalam perspektif sejarah yang lebih jauh ke belakang. Penelitian ini berhasil mengungkap fenomena perubahan politik, sosial dan ekonomi melintasi tiga zaman, yaitu penjajahan Belanda, Jepang hingga masa pemerintahan orde lama dan orde baru. Husken menggambarkan terjadinya perubahan di tingkat komunitas pedesaan Jawa sebagai akibat masuknya teknologi melalui era imperialisme gula dan berlanjut hingga revolusi hijau. Pendapat Marx tentang perubahan moda produksi menghasilkan perubahan pola interaksi dan struktur sosial tergambar jelas dalam tulisan husken. Masyarakat jawa yang semula berada pada pertanian subsisten dipaksa untuk berubah menuju pertanian komersialis. Perubahan komoditas yang diusahakan menjadi salah satu indikator yang dijelaskan oleh Husken. Imperialisme gula telah merubah komoditas padi menjadi tebu yang tentu berbeda dalam proses pengusahaannya. Gambaran ini semakin jelas pada masa orde baru dengan kebijakan revolusi hijaunya. Gambaran serupa tampak pada tulisan Hefner, Jellinek dan Summers. Kebijakan pemerintah yang mengacu pada model modernisasi selalu menekankan pada pembangunan ekonomi yang merubah moda produksi dari pertanian menuju industri. Pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kapitalisme membawa dampak pada kehidupan di tingkat komunitas. Ini berarti kebijakan pemerintah tidak selamanya memperhatikan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat di pedesaan. Hanya memaksakan pemerataan pembangunan tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang akan terjadi dibalik kebijakan tersebut. Meskipun introduksi teknologi dapat menerobos pedesaan, akan tetapi hal tersebut merubah pola interaksi dari structural dan kultural masyarakat pedesaan. Sehingga kegagalan kebijakan pemerintah terlihat jelas dengan adanya abcontrol pada dampak negatif yang menggerayangi

26

kehidupan

masyarakat

desa.

Untuk perlu pertimbangan yang matang dan pisau analisis yang tajam bagi pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pembangunan khususnya pertanian di pedesaan. Agar tidak merusak tatanan sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya. 2.8 STRATEGI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN YANG ANDAL: BEBERAPA SYARAT POKOK Apabila tujuan utama pembangunan pertanian dan daerah pedesaaan dinegara-negara berkembang adalah untuk memperbaiki tarap hidup masyarakat di pedesaan melalui peningkatan pendapatan, total produksi, pemerintahan dan produktifitan petani kecil , maka pertama-tama negara-negara berkembang tersebut harus

mengidentifiiasikan sumber-sumber pokok kemajuan pertanian dan kondisi-kondisi awal yang sekiranya akan meperngaruhi keberhasilan pencapaian tujusn utsms itu. Semua unsur-unsur penting tesebut jelas berkaitan satu sama lain sehingga membentuk suatu jalinan huburngan yang amat kompleks, tetapi untuk memudahkan pamahaman, maka kita dapat memisahkannya memudahkan pemahaman, maka kita dapat memisahkannya menjadi 3 komponen: Sumber-sumber kemajuan pertanian berskala kecil: a. kemajuan teknologi dan inovasi Bagi sebagian besa negara-negara berkembang , tekhnologi dan inovasi baru dalam kegiatan-kegiatan pertanian merupakansyarat penting yang harus dipenuhi emi menciptakan perbaikantingkat output dan produktifitasnya. Ada dua sumber pokok inovasi tekhnologi yang berpotensi meningkatkan hasil-hasil pertanian. Akan tetapi, kedua halitu juga dapat menimbulkn dampak negatif terhadap upaya-upaya pembangunan pertanian negara-negara dunia ketiga. Hal pertama

27

adalah mekanisasi pertanian atau pengenalan mesin-mesin produksi guna mengantikan tenaga kerja manusia. b. kebijakan ekonomi pemerintah yang tepat c. kelembagaan sosial yang menunjang syarat umum bagi kemajuan pedesaan a. modernisasi struktur usaha tani dalam rangka memenuhi permintaan bahan pangan yang terus meningkat. b. Penciptaan sistem penunjang yang efektif c. Perubahan kondisi sosial pedesaan guna memperbaiki taraf hidup masyarakat pedesaan

28

BAB III PENUTUP 3.1 SIMPULAN

Lynn (2003) mengemukakan bahwa keberhasilan sektor pertanian bukan hanya alat bagi pembangunan, tetapi keberhasilan di sektor pertanian juga menjadi tujuan dari pembangunan. Pertanian dapat menjamin penyediaan kebutuhan milyaran penduduk di masa depan. Hal yang berhubungan dengan transformasi sektor pertanian: 1. Peningkatan produktivitas pertanian. 2. Penggunaan sumber daya yang dihasilkan untuk pembangunan di luar sektor pertanian. 3. Integrasi pertanian dengan ekonomi nasional melalui infrastruktur dan pasar. Campur tangan pemerintah di bidang pertanian merupakan fenomena yang telah mendunia. Subsidi pertanian dan dukungan pemerintah pada negara maju hanya mendorong efisiensi dan merusak negara miskin dengan menurunkan daya saing hasil pertanian negara miskin (Lynn, 2003).

3.2

SARAN Sebagai salah satu egara agraris, campur tangan pemerintah serta

kesadaran para petani harus terus ditingkatkan demi terciptanya perekonomian yang lebih baik.

29

DAFTAR PUSTAKA http:// www.google.com/peranan pertanian dalam pembangunan.html. diakses tangga 15 januari 2010 http:// www.google.com/peran pemerintah dalam sektor pertanian dan pmbangunan pedesaan.html. diakses tangga 15 januari 2010 p Tudaro, Michael. 1974. Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->