P. 1
Sejarah Islam di Amerika

Sejarah Islam di Amerika

2.0

|Views: 5,824|Likes:
Published by veera

More info:

Published by: veera on Jan 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2014

pdf

text

original

Sejarah Islam di Amerika--Sri Vira Chandra PENDAHULUAN Tahun 1990-an agaknya menjadi dekade terakhir di mana Islam

dipandang sebagai tradisi beragama yang menempati posisi sebagai “pelengkap penderita”, setelah lebih dari seribu tahun Barat memperlakukan Islam sebagai “the others” (pihak lain). Dengan melihat angka pertumbuhannya, pada tahun 2015 Islam akan menjadi agama terbesar kedua di Amerika sesudah Kristen. Menurut perkiraan Gedung Putih dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat saat ini diperkirakan sekitar enam sampai tujuh juta muslim tinggal di Amerika, dan memiliki lebih dari 1209 mesjid. Dua pertiganya adalah muslim imigran dan keturunannya, sementara sepertiga dari jumlah itu adalah muslim pribumi (kebanyakan adalah orang-orang Afroamerika). Angka yang tepat mengenai jumlah muslim di negara ini cenderung kurang dapat dipercaya karena para imigran dan mereka yang melakukan konversi kadang tidak harus mengumumkan identitas mereka atau mendaftar. Karenanya sulit untuk memastikan jumlahnya. Sebagai gambaran tentang perkembangan agama ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh organisasi Islam terkemuka pada tahun 2001 sebelum peristiwa 11 September dalam laporannya yang berjudul “The Mosque in America: A National Potrait” menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang sangat cepat penyebarannya di Amerika. Selama tujuh tahun terakhir terjadi pertumbuhan masjid hingga 25 %. Sekitar 30 % anggota jamaah masjid merupakan konversi dari agama lain. Faktor utama yang memungkinkan penyebaran Islam di Amerika Serikat adalah Amandemen Pertama Konstitusi yang membebaskan warga negaranya untuk memeluk/tidak memeluk suatu agama tertentu, dan mengekspresikan ajaran agamanya, sama sekali tanpa campur tangan pemerintah. Sebagai negara sekular, pemerintah AS tidak mencampuri urusan agama warganya. Sebagai contoh, tiap centre bebas mendatangkan imam dari negara lain, misalnya dari Mesir. Imam yang dikirim tersebut dianggap sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan warga negara yang harus dilindungi. Kehadiran imam tersebut diperlakukan sebagai tenaga kerja yang diperlukan jasanya untuk kepentingan warga negaranya. Faktor lain yang bisa disebutkan adalah berpalingnya interest orang Barat dari kehidupan materialis ke kehidupan spiritual. Dalam hal ini mistisisme Islam memegang peranan penting bagi da’wah Islam. Walaupun pada awalnya warga Barat yang berkonversi ke Islam ini hanya tertarik dengan nilai spiritual Islam dan kurang tertarik untuk mengamalkan syari’ah, namun ketertarikan mereka pada Islam disambut oleh para aktivis da’wah sehingga banyak juga di antara mereka yang menjadi muslim yang baik. Sementara itu di Eropa -- karena alasan yang kurang lebih sama-- muslim pun kian menjadi faktor signifikan dalam struktur demografis, dan merupakan fenomena penting yang ikut diperhitungkan dalam kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politik negara-negara Barat. Tulisan ini hendak memberi gambaran tentang kaum muslim yang tinggal di Amerika Serikat dan Inggris yang saya anggap mewakili negara Eropa, demi untuk membatasi pembicaraan. I. Muslim di Amerika: Jati Diri Para Imigran. Islam dibawa ke benua Amerika oleh para budak muslim asal Afrika. Beverlee Turner Mehdi menyebut tahun 1717 sebagai tahun pertama munculnya nama-nama Islam di catatan penting perbudakan, seperti Omar bin Said, Job Bon Solomon, Prince Umar, dan Ben Ali. Sekitar abad 16 - 18 sebagian mereka datang sendiri sebagai budak/ pembantu orang Eropa yang beremigrasi ke Amerika. Sebagian mereka merupakan “hasil buruan” bangsa Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris, dan Amerika untuk diperjualbelikan sebagai komoditi di pasar budak Amerika. Karena mayoritas penduduk Senegal, Guinea, Mauritania telah muslim di akhir abad 15, besar kemungkinan budak-budak itu muslim. Sulit diketahui secara pasti mengapa Islam tidak berkembang di keluarga kulit

hitam selama periode itu dan sesudahnya. Bisa jadi karena posisi mereka sebagai budak, sementara majikan mereka tidak menyukai Islam sebagai keyakinan yang membawa misi persamaan. Atau juga seperti menurut Prof. Ismail Raji al-Faruqi, seorang Profesor Studi Islam di University of Temple, Philadelphia, bahwa “iklim perbudakan tidak kondunsif bagi seorang muslim untuk menjalankan dan mendakwahkan agama dan kebudayaannya. Para majikan memberi nama kepada budak-budaknya, memaksakan agamanya kepada budaknya, dan meminta budaknya melakukan apa saja yang mereka inginkan”. Menurut Deddy Mulyana dan Angela Webb muslim datang ke Amerika dalam empat gelombang, sbb.: Gelombang I: Mulai awal perempat terakhir abad 19 (tahun 1870-an). Imigranimigran muslim datang dari Timur Tengah (Palestina, Syria, Libanon, Yordania.) Mereka melarikan diri dari keadaan yang buruk di negara mereka dan mencari penghidupan yang lebih baik -- politik dan ekonomi --di Amerika Utara. Sebagian di antara mereka kembali, namun sebagian lagi tinggal dan meneruskan keturunannya di tanah baru. Sebagian besar dari mereka mulai membentuk pusat-pusat industri di Toledo, Cedar Rapids (Iowa), Detroit (Michigan), Chicago, Ontario, dan Alberta. Dilihat dari latar belakangnya memang kebanyakan dari mereka merupakan pekerja yang tidak terdidik dan tidak terlatih. Keluarga besar para imigran inilah yang menjadi pendiri masjid pertama di Plainfield, Amerika Utara. Pada perkembangannya mesjid pertama ini kelak akan menjadi kantor pusat ISNA (Islamic Society of North America). Gelombang II: Antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Imigran muslim datang dari negara-negara persemakmuran Inggris ke Amerika utara dan Kanada. Gelombang III: Sesudah Perang Dunia II (1947-1960). Para imigran ini datang dari Timur-Tengah, India, Pakistan, Eropa Timur dan Sofyet dengan alasan ekonomi dan politik. Sebagian mereka adalah para pengungsi meninggalkan negaranya yang telah menjadi sasaran kolonialisme baru, sebagian lagi semata-mata bertujuan untuk menuntut ilmu dan mengembangkan profesi. Kelompok terakhir ini termasuk putra/putri berpendidikan dari elit yang sedang berkuasa di negara masing-masing. Gelombang IV: Pertengahan tahun 1960-an – sekarang. Kaum imigran datang dengan alasan ekonomi dan politik. Sebagian besar adalah profesional yang terdidik, khususnya yang datang dari Arab dan Pakistan. Orang Iran dalam jumlah yang cukup berarti menyusul setelah terjadi revolusi di negaranya. Imigran dari Yaman, Irak, Afghanistan, Lebanon, Mesir, Yordania, Turki, Kuwait, Saudi Irak, Sudan, Uganda, Guyana, Bermuda, dan negara-negara bekas Yugoslavia melengkapi corak imigran yang datang pada gelombang ini. Selain karena tergiur oleh kemajuan ekonomi Amerika Serikat, juga karena kelonggaran peraturan yang diberlakukan Amerika serikat terhadap para imigran. Banyaknya imigran yang kuliah di perguruan tinggi di Amerika Serikat ini akan menjadi faktor utama munculnya serikat mahasiswa muslim di kampus-kampus. Termasuk dalam deretan ini adalah para akademisi yang hijrah ke Amerika Serikat untuk mencari kebebasan berekspresi, antara lain Fazlur-Rahman (Pakistan), atau Ismail Faruqi (Palestina), yang sangat berjasa dalam melahirkan pemikiranpemikiran Islam yang progresif. Menurut Akbar S. Ahmed , hijrahnya para pemikir Islam ke Barat yang merupakan kehilangan bagi masyarakat muslim adalah masukan berharga bagi masyarakat Barat: “A loss for Muslim society is a gain for the Western world”. Imigran yang datang pada gelombang terakhir membawa kesadaran dan ghiroh beragama dan politik yang tinggi, yang menjadi salah satu dampak dari perjuangan untuk merebut kembali Palestina yang dikangkangi oleh Israel. Berbeda dengan para leluhurnya yang sudah lebih dulu menetap di Amerika, muslim yang datang belakangan ini datang dengan membawa komitmen untuk menerapkan keyakinan politik agamanya dan juga mengadakan lebih banyak ta’lim yang biasanya bernuansa lebih konservatif. Secara umum, muslim Amerika kontemporer yang dibesarkan dalam budaya muslim tradisional merasakan ketegangan dalam usaha mereka untuk mencoba tetap dekat dengan akar bahasa, budaya, etnis dan agama sementara di sisi lain mereka harus membangun rasa memiliki di lingkungan mereka yang baru, berbeda dengan imigran

awal yang datang dengan pendidikan rendah, anak-anak mereka besar di Amerika tanpa kesadaran beragama yang berarti. Generasi yang lebih muda di kalangan imigran muslim yang telah menginjak dewasa mulai menemukan perbedaan dari orangtua mereka yang berimigrasi sekitar tahun 1950-an dan 1960-an. Mereka menolak integrasi dan asimilasi yang sering diharapkan orangtua mereka. Mereka bukan lagi imigran yang merasa harus berterima kasih karena telah diizinkan tinggal di Amerika Serikat, namun justru ingin meneguhkan jati diri mereka. Dalam situasi seperti ini isu-isu rasial dan agama sering berbaur, sebagaimana rasialisme yang berkembang memaksa mereka ke dalam kesadaran identitas keagamaan yang lebih besar . Meskipun demikian syari’ah tetap terus diperjuangkan sebagai pola hidup yang ideal untuk bertahan di tengah budaya Amerika kontemporer. Faruqi secara umum menggolongkan para imigran ke dalam dua golongan besar, yaitu imigran pengemis dan imigran muhajirin. Imigran pengemis adalah para imigran yang mengemis pengetahuan di altar Amerika atau yang semata menjadi penerima kemajuan ekonomi Amerika. Mereka lah para imigran yang dianggap sebagai parasit bagi negeri ini. Sedangkan kelompok imigran muhajirin, adalah mereka yang datang ke Amerika dengan niat mencari ilmu dan meningkatkan profesi, tetapi juga terus bangkit dalam proses mengenal Islam lebih jauh. I.1. Profil Muslim AS Kontemporer Berbicara tentang umat Islam AS pada masa kontemporer ini berarti berbicara tentang tiga kelompok berikut. Pertama, penduduk asli (indigenous) yang lahir dan dibesarkan di AS, bernenek moyang Eropa-Amerika atau Kaukasia, yaitu orangorang bule (pale face) yang berpindah agama atau memeluk Islam. Meskipun demikian orang Afro-Amerika pun sering dimasukkan ke dalam indigenous ini. Kedua, orang muslim imigran yang berasal dari sekitar enam puluh negara yang telah membentuk lebih dari seratus sub-kelompok/ komunitas. Ketiga, orang-orang yang menetap sementara di AS, baik sebagai diplomat, mahasiswa, pengusaha, atau yang mempunyai urusan lain yang disebut sojourners. Dari kalangan indigenous pertama yang menganut Islam tercatat Referend Norman, seorang misionaris gereja Methodist di Turki. Ia memeluk Islam pada 1870. Pada dekade berikutnya adalah seorang Afro-Amerika, Muhammad Alexander Russel Webb, yang masuk Islam ketika bertugas sebagai konsul Jendral AS di Philipina (1887). Ia adalah pelopor utama yang mendirikan organisasi Islam pertama di negeri ini (1893), menerbitkan Moslem World sebagai sarana dakwahnya dan memberikan kuliahkuliah tentang Islam di berbagai kota di AS. Menjelang wafatnya (1916) Webb pernah berbicara dengan banyak pemikir agama dan sosial AS yang terkemuka, seperti Mark Twain. Ia pun mendirikan sekitar enam cabang Moslem Brotherhood (bukan Ikhwanul Muslimin-nya Hasan Al-Banna) dan American Islamic Propaganda di berbagai kota bagian Pantai Timur AS (East Coast). Walaupun organisasi yang didirikan Webb ini mati prematur, namun tak dapat diragukan lagi bahwa anggotanya sangat berpengaruh terhadap perkembangan Islam di kemudian hari. Sebelum kematian Webb, Islam telah mulai bangkit sebagai fenomena agama dan nasionalitas di kalangan Afro-Amerika. Gerakan Islam yang paling penting saat ini adalah Moorish-American Science Temple, yang diresmikan tahun 1913 di Newark, New Jersey. Pendirinya adalah Noble Dew Ali. Gerakan ini dilanjutkan oleh Elijah Muhammad (terlahir dengan nama Elijah Poole) yang mengklaim bahwa ajarannya diperoleh dari seorang yang misterius, yakni Imam Mahdi Farad Muhammad. Ia menggunakan konsep Kristen tentang Tuhan dan inkarnasi, yang akhirnya menisbatkannya menjadi pemimpin kharismatik dan “nabi” dari komunitas Nation of Islam (NoI) yang memperkenalkan dogma “orang putih sama dengan setan”. Seorang black-american lain yang tertarik ke dalam Islam berkat NoI adalah Malcolm X, yang juga merekrut mualaf baru dalam jumlah yang signifikan. Namun ibadah hajinya ke Mekkah yang memberi pengalaman ukhuwwah islamiyyah baru membuat ia memutuskan hubungannya dengan NoI, dan berda’wah dengan persepsi baru yang dinamainya “ the true Islam” (Islam sejati). Termasuk putra Elijah Muhammad, Warith Deen Muhammad, menjadi muridnya.

Setelah wafat ayahnya (1975) Warith Deen Muhammad mengambil alih kepemimpinan NoI. Putra kesayangan Elijah ini sejak awal banyak bergaul dengan imigran muslim. Pada tahun 1976 ia mengumumkan bahwa ayahnya bukanlah seorang Nabi. Konsekuensinya, NoI bertransformasi ke dalam mainstream pemahaman Islam. Organisasi ini terus berganti nama, sehingga menjadi American Muslim Mission. Surat kabarnya pun menjadi The Muslim Journal (1986). Ia merombak sistem komando organisasinya dengan melakukan desentralisasi dan menginstruksikan agar organisasi di negaranegara bagian untuk berinteraksi dengan muslim lainnya. Tidak semua anggotanya menerima perubahan ini, termasuk Louis Farakhan yang selama ini menjadi juru bicara Elijah. Ia tetap mempertahankan nama NoI dan tetap pada khittah awal NoI sejak organisasi itu dideklarasikan. Hingga kini Farakhan masih tetap berpengaruh dengan surat kabarnya The Final Call. Pada beberapa tahun belakangan ini terdapat perkembangan signifikan bagi komposisi muslim di AS. Jika tadinya muslim di AS kebanyakan menjadi penganut aliran “Black Muslim”, maka kini Islam dalam corak pemikiran main-stream-nya telah tersebar merata di berbagai latar belakang sosial dan pendidikan. Da’wah melalui televisi, radio, majalah, dan surat kabar telah memberikan informasi tentang keyakinan mendasar umat Islam, dan sekaligus meningkatkan perhatian muslim terhadap kualitas dan akurasi sajian media tentang muslim dan Islam, dan mereka pun menjadi lebih vokal dalam usahanya mengoreksi laporan-laporan yang dianggap merugikan. Selain itu perjalanan para tokoh Black-Muslim ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim membukakan mata mereka bahwa Islam tidaklah melulu berkulit hitam. I.2.. Masjid di Amerika: Melayani Kebutuhan Sosial hingga ‘Mega-Masjid’ Masjid di Amerika merupakan hal yang sangat krusial bagi komunitasnya, dikelola dengan mengadopsi gereja Protestan (khususnya Baptis). Setiap komunitas memiliki otonomi untuk menentukan pemimpin lokal dan orientasi keyakinannya. Di sisi lain setiap anggota dan setiap komunitas sama-sama memegang komitmen untuk menjadikan kitab sucinya sebagai sumber petunjuk utama dalam masalah aqidah dan syari’ah. Tidak seperti masjid di negara-negara Islam, masjid di Amerika merupakan hasil swadana, oleh karena itu sangat tergantung kepada infaq keanggotaan atau kegiatan-kegiatan pengumpulan dana. Imam dari masjid di Amerika seringkali harus meninggalkan fungsi tradisionalnya sebagai khatib dan melakukan tugas ekstra yang biasanya lekat dengan para pastor, seperti harus bertanggung jawab terhadap masalah administrasi dan melakukan konseling terhadap jamaah. Ada beberapa jenis dan ‘gaya’ masjid di Amerika Serikat. Beberapa mesjid berfungsi seperti gereja-gereja kecil yang ada di daerah pinggiran yang didiami oleh komunitas etnis tertentu. Ikatan etnis sangat ditekankan, kuat, dan terpelihara dengan baik. Komunitas ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan berbagi informasi tentang cara bertahan hidup di Amerika, di samping sebagai pusat ibadah. Beberapa masjid lain selain menjadi pusat ibadah dan aktivititas sosial juga menitikberatkan fungsinya untuk merangkul dunia luar. Mereka memanfaatkan tradisi budaya Islam yang ramah untuk membangun komunikasi dan hubungan baik dengan komunitas yang ada di sekitarnya. Masjid-masjid di bagian tengah-barat (midwest) Amerika seperti islamic centre di Toledo, Ohio, merupakan masjid yang sangat ketara dengan pendekatan ini, juga Islamic Society of Central Jersey yang menaruh perhatian besar pada eskalasi rasa takut orang Amerika terhadap Islam dan muslim. Fokus kerja mereka adalah mengoreksi kesalahpahaman Barat terhadap Islam dengan mengundang kelompok non-muslim dan menawarkan program dan kuliah. Jenis terakhir adalah masjid dengan tren baru yang paling banyak muncul di Amerika yang diistilahkan dengan ‘mega-masjid’. Mega-masjid melayani kebutuhan komunitas masjid yang terdiri dari beragam etnis dan ras yang tumbuh dengan cepat, seperti yang dicirikan oleh komunitas di Los Angeles. Mesjid dengan ciri terakhir inilah yang paling jelas merefleksikan kenyataan pluralisme historis di dalam komunitas muslim sekaligus pluralisme etnis yang semakin meluas di Amerika

Serikat. Laporan “The Mosque in America” juga menggarisbawahi kenyataan Islam di Amerika sebagai agama multietnis. Salah satu tanda yang signifikan adalah jama’ah masjid di Amerika bercorak etnis. Sekitar 93 % masjid didatangi oleh lebih dari satu kelompok etnis. Secara rata-rata jama’ah di tiap masjid diwarnai oleh tiga kelompok etnis, yaitu kelompok terbesar dari Asia Selatan, disusul kelompok Afroamerika, dan terakhir dari bangsa-bangsa berbahasa Arab. Bahkan bangunannya pun bermacam-macam, mulai dari masjid berkubah tradisional dan arsitektur arcade (memiliki gang beratap seperti toko), hingga yang beratap datar menyerupai bentuk kantorKecuali bercirikan multietnis, mega-masjid juga ditandai oleh beragamnya aktivitas yang diadakan, mulai dari pendidikan, percetakan, hingga beragam kegiatan da’wah. Sekitar 60 % dari jumlah masjid di Amerika dibangun pada tahun 1980 dan 1990-an, dan 80 % dari jumlah itu berlokasi di lingkungan pinggiran dari sebuah area metropolitan. Sekitar 70 % masjid memberikan bantuan bagi masyarakat di komunitas berpendapatan rendah dan beberapa masjid juga mengadakan sekolah penuh waktu. Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa masjid di Amerika juga berfungsi sebagai pusat studi Islam non-formal, karena masjid-masjid ini biasanya menaungi islamic centre. Islamic centre merupakan peradaban unik yang pada awalnya hanya kita temui di AS dan Eropa, sebagai usaha untuk mengumpulkan komunitas muslim yang tersebar namun memerlukan pendidikan agama bagi diri dan keluarganya. I.3. Organisasi Islam: Dimulai dari Kampus Di pertengahan abad ke-20 populasi muslim di Amerika masih kecil dan tersebar di seluruh benua Amerika. Dilandasi oleh kebutuhan terhadap organisasi yang menyatukan berbagai etnis muslim tersebut, maka generasi kedua muslim Imigran membentuk ikatan masjid yang dapat menyediakan sumber-sumber berita dan untuk mempermudah melakukan kontak dengan muslim dari komunitas lain, biasanya disebut The Federation of Islamic Organisations. Di Amerika Serikat dan Canada bernama The Federation of Islamic Associations, dengan kantor pusatnya di Detroit. Sementara imigran yang datang lebih awal masih mencari bentuk ikatan masjidnya, organisasi mahasiswa muslim telah lebih dulu membentuknya di lingkungan kampus. Studi-studi Islam di kampus dalam bentuk usrah/halaqoh (study club/ forum lingkar studi) dikuatkan dengan membentuk ikatan-ikatan mahasiswa muslim. Pada tahun 1963 The Muslim Student Association (MSA) telah terbentuk di Universitas Illinois untuk mengkoordinir aktivititas kelompok-kelompok mahasiswa muslim. MSA melambangkan wajah internasional Islam dan sekaligus menaruh perhatian kepada Islam yang lebih harakiyah di seluruh dunia. Bagi golongan mahasiswa ini Islam adalah jalan hidup, sebuah misi da’wah, dan tujuan dari organisasi ini ialah membantu terbentuknya sebuah komunitas yang ideal dan menjadi khadam bagi Islam. Para aktivis da’wah di Amerika Serikat meyakini “visi Islam” yang diluncurkan oleh Faruqi, bahwa “apapun alasan politik/ekonomi yang menyebabkan mereka hijrah ke Amerika tidak boleh dilepaskan dari takdir Allah yang menjadikan mereka da’i di negara yang mereka datangi”. Visi Islam diyakini mampu mengurangi rasa bersalah mereka karena telah hijrah ke “Daarul Kufr” . Hingga saat ini MSA masih menjadi salah satu dari beberapa organisasi Islam terbesar dan teroganisir paling baik, dan menjadi pembuka jalan bagi terbentuknya beberapa organisasi profesi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan muslim pada umumnya dan mahasiswa khususnya. Di antaranya adalah Muslim Community Association (Asosiasi Komunitas Muslim), American Muslim Social Scientist (Ilmuwan Sosial Muslim Amerika), Muslim Youth of North America (Pemuda Muslim Amerika Utara), Islamic Teaching Centre (Pusat Pengajaran Islam), dan Islamic Medical Association (Asosiasi Ahli Medis Islam). Organisasi-organisasi ini dan juga yang lainnya sejak 1982 bernaung di bawah payung Islamic Society of North America (ISNA). Masing-masing organisasi ini memiliki dewan pengurus, namun secara finansial, hukum, dan administratif terhubung dengan dewan legislatif ISNA, yang disebut Majelis Syura. ISNA mensponsori kongres-kongres berskala regional dan nasional,

termasuk kongres yang bersifat profesional. Salah satu kegiatan spektakulernya adalah mengadakan konvensi tahunan dengan mengundang tokoh-tohoh Islam baik dari dalam/ luar negeri. I.4. Pusat Studi Islam: Sejarah dan Kepentingan Amerika Setelah Perang Dunia II berakhir di Amerika dikembangkan apa yang disebut dengan studi wilayah (area studies) Peran orientalisme dalam rangka kebijakan ekonomi, sosial, dan politik di negara-negara pascakolonial mulai digantikan oleh studi ini. Berbeda dengan orientalisme, studi-studi wilayah lebih dicirikan oleh pendekatannya yang pragmatis dan fokusnya yang tertuju pada situasi kontemporer . Disiplin baru studi-studi mengenai Timur Tengah tumbuh di Amerika Serikat, adikuasa baru yang menang perang dan mulai memperluas pengaruhnya di negara-negara yang baru lepas dari penjajahan Inggris dan Perancis. Selain di pusat studi Timur Tengah ini, studi Islam juga dilakukan di pusat-pusat studi Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dibeayai oleh pemerintahan Amerika Serikat, tujuan didirikannya pusat studi wilayah ini adalah untuk melatih warga AS untuk menguasai bahasa dan kebudayaan masyarakat non-AS, dalam rangka menancapkan pengaruh dan menyingkirkan kekuatan yang memusuhi (AS) di wilayah ini. Demikian Leonard Binder, guru besar Perbandingan Politik di Universitas Chicago. Berbagai lembaga, pusat organisasi, dan yayasan didirikan untuk mencapai tujuan ini. Pada 1946, The Middle East Institute (Lembaga Studi Timur Tengah) didirikan di Washington untuk menumbuhkan minat rakyat AS terhadap Timur Tengah, dan menyajikan informasi yang akurat dan obyektif mengenai wilayah itu. Riset yang dilakukan institut ini berorientasi pada pembuatan kebijakan AS di Timur Tengah. Sebuah hasil dari studi wilayah dalam bidang ilmu sosial adalah teori modernisasi, yang menekankan kemajuan teknologis dan materialisme dalam peradaban Barat. Teori ini terutama diinspirasikan oleh aliran fungsionalisme struktural yang dipelopori sosiolog AS Talcot Parsons ( lahir 1902). Teori ini memandang bahwa setiap masyarakat terdiri dari struktur yang ditentukan oleh sejarah dan tradisinya. Struktur tersebut memainkan peran politis, sosial dan ekonomis. Untuk mengubah suatu masyarakat, struktur tsb. harus diganti dengan struktur baru yang otomatis juga akan mempengaruhi perannya dalam masyarakat. Ilmuwan sosial yang menerapkan teori seperti ini mengklasifikasikan berbagai masyarakat secara dikotomis: Masyarakat Barat dipandang maju, sementara non-Barat dipandang tradisional. Tradisi dan modernitas dilihat sebagai dua kutub yang terpisah. Kemajuan diidentikkan dengan pengalaman masyarakat Barat. Masyarakat non-Barat dipandang sedang dalam tahap tradisional dan menuju modern, meniru pengalaman Barat. Agen transisi ke alam modern ini, menurut mereka, adalah kelompok yang dididik secara Barat dalam masyarakat. Di Timur Tengah dan di belahan dunia Islam lain, agen transisi ini adalah kaum muslim yang terbaratkan, atau dalam kata-kata sosiolog AS, Daniel Lerner, yang terkenal dalam The Passing of Traditional Society (Memudarnya Masyarakat Tradisional [1966] ), “merekalah ‘kunci’ bagi berubahnya Timur tengah dari orientasinya pada Mekah ke mekanisasi”. Pertumbuhan studi wilayah tentang Timur Tengah sebagai jantung tradisi Islam semakin lama semakin meneguhkan Islam sebagai disiplin tersendiri. Disiplin itu disebut studi-studi Islam (islamic studies) atau islamologi. Tentu saja tidak terlepas dari motivasi politik yang melatarbelakangi dikembangkannya studi wilayah dan sangat kental dipengaruhi oleh teori modernisasi para sarjana Barat pengkaji Islam memilih untuk tidak lagi menggunakan sebutan “studi-studi ketimuran” (oriental studies). ‘Studi islam’ digunakan karena dianggap kurang bernada eurosentris dan lebih mengundang simpati masyarakat muslim. Secara umum, perkembangan studi Islam ini dicirikan oleh berakhirnya dominasi filologi. Kepercayaan bahwa kemahiran dalam bidang filologi dan pendekatan linguistik akan mampu mengatasi kesulitan dalam bidang studi ini kini banyak ditinggalkan. Kemudahan dalam mengakses bahan-bahan yang dibutuhkan, kecanggihan alat-alat riset, serta kemajuan metodologis dalam melakukan studi ini kini

memungkinkan seorang sarjana untuk tidak lagi hanya bertumpu pada filologi. Sebagai bidang ilmu yang strategis untuk menentukan arah kebijakan politik, sosial, dan ekonomi AS, studi Islam sangat direstui dan dibeayai oleh pemerintah. Pusat studi Islam di berbagai universitas terkemuka di AS dapat kita temukan, a.l., di Universitas Chicago, Universitas Colombia, dan Universitas Mc Gill (Montreal, Kanada). Namun karena latar belakang berdirinya pusat studi Islam ini sangat kental amrosentris dan politis, maka banyak lulusan studi Islam ini yang mendapat rintangan tidak sedikit dalam mensosialisasikan pemikirannya dan dianggap kontroversial. Alih-alih diyakini sebagai agen transisi, sebaliknya justru dituduh agen Amerika dan Zionisme. II. Islam di Eropa Kaum muslim sudah hadir di Benua Eropa sejak pertama kali Islam datang, terutama melalui perdagangan dan diplomasi. Namun demikian, sejarah kehadiran kaum muslim secara mapan di benua Eropa dapat dibagi atas empat periode utama, dan peradaban Islam yang kini dapat disaksikan di Eropa dapat dinisbatkan kepada keempat periode tsb .: Periode pertama: Periode kekhalifahan Islam di Spanyol dan pemerintahan kaum muslim di beberapa pulau Mediterania, kantong-kantong kecil di Perancis Selatan, Sicilia, dan Italia Selatan. Periode ini berakhir dengan dikalahkannya tentara Islam oleh bangsa Norman di Sicilia dan Italia Selatan pada abad ke-11, serta tuntasnya reconquista (1492). Periode ini menyumbangkan khazanah intelektual dan kultural dari Islam kepada Eropa. Periode kedua: Berkaitan dengan penyebaran tentara Mongol pada abad ke-13. Setelah pertemuan mereka dengan kaum Muslim berlangsung selama beberapa generasi, sejumlah penguasa Mongol masuk Islam. Salah satu dinasti muslim mereka, Dinasti Khan, yang berpusat di Sungai Volga, menyisakan penduduk muslim yang terdiri dari orang Tatar di sekitar Sungai Volga hingga Kaukasus dan Krimea. Sebagai pedagang dan tentara, banyak di antara mereka yang menyebar ke berbagai penjuru kekaisaran Rusia dan membangun koloni di berbagai tempat. Mereka tersebar seperti di Finlandia dan wilayah yang kini dikenal sebagai Polandia dan Ukraina. Periode ketiga: Periode ekspansi kekhalifahan Turki Utsmani ke wilayah Balkan dan Eropa Tengah, sekitar abad ke-14 dan ke-15. salah satu peninggalan terbesarnya adalah orang Turki yang hingga kini masih dapat ditemukan di Bulgaria, bekas Yugoslavia, Rumania dan Yunani. Selain itu islamisasi juga berlangsung di kalangan penduduk asli wilayah tersebut, sehingga Albania menjadi negara dengan penduduk mayoritas muslim hingga saat ini, dan beberapa kelompok etnis Slavia di Bosnia-Herzegovina dan beberapa bagian Bulgaria masuk Islam. Periode keempat: Periode kedatangan kaum muslim di Eropa Barat. Periode ini pada umumnya dinisbatkan kepada imigrasi kaum muslim dalam jumlah yang besar terutama ke Perancis, Jerman, dan Inggris setelah PD II. Hal yang sama namun dalam jumlah yang lebih kecil juga berlangsung di negara Eropa lainnya, seperti Belanda dan Belgia, negara Skandinavia, dan negara di Eropa Selatan. Kini komunitas kaum muslim di Eropa dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Pertama, komunitas muslim lama di negara seperti Yunani, Bulgaria, Rumania, Albania, Yugoslavia, Hongaria, Polandia, dan Finlandia. Kedua, komunitas muslim baru yang masuk melalui proses imigrasi ke negara industri di Eropa seperti Perancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Belgia. Komunitas muslim kedua inilah yang akan dibahas dalam makalah ini, dengan konsentrasi Inggris. INGGRIS. Kehadiran Islam di Inggris bisa dilacak sejak 300 tahun yll. Mulanya adalah rekrutmen terhadap para pelaut yang dilakukan East India Company dari Yaman, Gujarat, Sind, dan Bengal. Mereka dijadikan laskar. Setelah dibukanya Terusan Suez (1869) dan sejalan dengan meluasnya ekspansi kolonial Inggris, para pendatang muslim mulai banyak. Sebagian kecil dari mereka lalu menetap di kotakota pelabuhan di Inggris, terutama di London, Cardiff, Liverpool, South Shields, dan Tyneside. Sekitar abad ke-19 sejumlah pengusaha muslim juga telah berniaga di kerajaan

itu, salah satunya adalah perusahaan terkenal ‘Mohammad’s Baths’ yang didirikan di Brighton oleh Sake DeenMuhammad (1750-1851). Selain pekerja dan pedagang, pada akhir abad ke-19 mulai masuk juga kelompok intelektual ke Inggris. Pada 1889 sebuah kelompok elit muslim London membangun masjid di Woking, suatu distrik di wilayah baratdaya London. Masjid ini menjadi pusat kegiatan dakwah para penerjemah Al-Qur’an terkenal seperti Marmaduke Pickthall dan Abdullah Yusuf Ali dari gerakan Ahmadiyah. Pada periode 1893-1908 sebuah jurnal mingguan The Crescent mulai disebarkan di Liverpool, yang didirikan oleh William Henry Quilliam (yang di komunitas muslim dikenal sebagai Syaikh Abdullah Quilliam), yang berprofesi sebagai pengacara. Quilliam masuk Islam pada 1887, setelah lama bermukim di Aljazair dan Maroko. Pada 1901 ia memelopori pembangunan sebuah masjid yang sangat aktif, sebelum akhirnya ditutup ketika ia menarik diri dan bergabung dengan pemerintahan Turki Utsmani menjelang PD I. Selanjutnya gelombang migrasi kelompok muslim besar-besaran ke Inggris terjadi mulai tahun 1950-an. Pada 1951 penduduk muslim di negara itu diperkirakan baru mencapai 23 ribu jiwa. Sepuluh tahun belakangan, populasi penduduk muslim di Inggris menjadi 82 ribu, dan pada 1971 sudah mencapai 369 ribu jiwa. Saat ini, jumlah penduduk muslim di Inggris sekitar dua juta jiwa, seperti dikemukakan oleh Phillip Lewis. Termasuk di antara mereka adalah para akademisi dari negara Islam, seperti Dr. Z. Bedawi, Muhsin Mahdi, Hamzah Ala000wi, dan Khalid bin Sayed. Membengkaknya angka migrasi --terutama dari negara bekas jajahan Inggris seperti Pakistan dan Bangladesh-- disebabkan adanya ketersediaan lapangan kerja terutama di industri baja dan tekstil yang berkembang pesat di Yorkshire dan Lanchasire, terlebih ketika dikeluarkannya Commonwealth Immigration Act of 1962 yang memberikan kemudahan untuk menjadi warga negara Inggris, sekaligus berdampak menyatukan kembali keluarga imigran. Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penduduk muslim di Inggris terdiri dari dua kategori: Sebagian datang karena ‘undangan’ lapangan kerja dan pembenahan struktur dan infrastruktur Inggris pasca Perang Dunia I, dan sebagian lain datang secara sukarela dari negara Commonwealth lain dan memilih menjadi warga negara Inggris. II.1. Potret Komunitas Muslim Inggris Pemukiman kaum muslim di Inggris terkonsentrasi di kota besar. Di London, penduduk muslim merupakan suatu komunitas kosmopolitan yang terdiri dari macammacam latar belakang kebudayaan. Hampir separuh dari jumlah keseluruhan muslim Inggris tinggal di London dan wilayah sekitarnya. Sekitar dua pertiga sisanya bermukim di West Mitlands, Yorkshire, dan wilayah-wilayah sekitar Manchester. Pola distribusi pemukiman muslim tidak merata, baik secara geografis maupun etnis. Kendati demikian, ada konsentrasi tertentu penduduk muslim India di West Mitlands, Arab dan Iran di Cardiff, Liverpool, dan Birmingham; Turki-Cyprus di wilayah Timur London; serta Pakistan-Bangladesh secara signifikan mendiami Bradford, sehingga disebut Islamabad-nya Inggris. II.2. Menuju Persatuan Muslim Se-Inggris Gagasan mendirikan masjid pusat di London untuk menyatukan komunitas – komunitas muslim sebenarnya sudah muncul sejak 1930-an, namun baru terealisir pada tahun 1977, yaitu Masjid Pusat London (Islamic Cultural Centre) yang kini sangat terkenal. Pendirian masjid pusat sangat krusial, mengingat muslim Inggris sangat beragam latar belakang etnisnya. Masalah yang sangat mendesak, seperti yang diungkap oleh Imam Masjid Pusat London, Dr. Sayyid Mitwalli Darsh, adalah konflik dan perpecahan antarkomunitas muslim . Setiap komunitas berlomba mendirikan centre-centre atas nama masing-masing, sehingga fanatik kesukuan dikhawatirkan berjangkit secara luas dan membahayakan masa depan Islam di negeri ini. Selain itu di samping ratusan masjid sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan jamaah setempat, kaum muslim Inggris juga memiliki berbagai macam organisasi keagamaan, nasional dan internasional dengan beragam kegiatan.

Organisasi internasional yang paling terkenal dan berjaringan luas adalah Jama’ah Islami, dengan anak organisasinya United Kingdom Islamic Mission (Desember 1962) dengan Islamic Foundation-nya, dan pada tahun 1966 mendirikan anak organisasinya yang bernama The Muslim Educational Trust yang menyelenggarakan pendidikan ekstrakurikuler bagi siswa muslim di sekolah-sekolah negeri. Terutama sejak tahun 1970-an, ada berbagai upaya untuk membentuk organisasi payung berskala nasional, terutama didorong oleh munculnya organisasi internasional seperti Rabithah al-’Alam al-Islami yang bermarkas di Mekah dan Call of Islam Society yang berpusat di Libya. Untuk itu The Muslim Foundation berupaya keras untuk mendapat dukungan muslim Inggris secara keseluruhan, namun kurang berhasil karena terlalu pro-Iran. Begitupun International Centre for Islamic Studies yang kurang memiliki hubungan luas dengan masyarakat muslim. Yang agaknya lumayan berhasil adalah Union of Muslim Organisations for the UK and Eire (UMO, 1970). Cabang-cabang di seluruh Inggris berhasil dibentuk dan mereka pun mengadakan konferensi tahunan, juga melakukan lobi kepada tokoh partai dan pejabat pemerintah. II.3. Pusat Studi Islam Pusat studi formal yang paling aktif dapat disebutkan antara lain yaitu Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS), The Islamic Cultural Centre dan Regent’s Park (London), The Islamic Academy (Cambridge), The International Institute of Islamic Thought (Pennsylvania), The Islamic Foundation (Leicester). Bahasa pengantar yang dipakai adalah bahasa Inggris. Bahasa Arab hanya dipakai oleh muslim Arab. III. Peluang dan Tantangan Di Amerika Serikat Konstitusi AS menjamin warganya –termasuk agama Islam di negeri ini—dalam kebebasan beragama, maupun untuk tidak beragama sama sekali, kebebasan berserikat dan berkumpul, kebebasan mengeluarkan pendapat, sebagaimana termaktub dalam Amandemen Pertama Konstitusi AS. Karena itu umat Islam memiliki kebebasan penuh untuk mengatur komunitasnya dan berda’wah. Tantangan yang dihadapi antara lain adalah bagaimana cara mempertahankan identitas keislaman mereka namun tetap bersikap partisipatif dalam kehidupan sosial masyarakat, serta menjamin keamanan muslim dalam kasus-kasus tertentu yang mengancam keselamatan mereka. Sementara di Eropa, khususnya Inggris, walaupun tidak mendapat dukungan 100 % dari konstitusi, namun kultur masyarakat yang bebas memberikan beberapa keistimewaan yang agaknya kurang dinikmati oleh pemikir muslim di negaranegara muslim sendiri. Mereka bebas untuk menyuarakan pandangan prinsipil yang berpijak pada al-Qur’an dan As-Sunnah, sekaligus memiliki peluang untuk membuktikan bahwa para pemikir muslim dapat juga memberikan sumbangan intelektual. Namun di sisi lain kebebasan ini membuat kaum muslim bertemu dengan kaum intelektual internasional dari berbagai agama, ideologi kapitalis, sosialis, komunis, humanis, bahkan atheis. Tidak ada penghalang yang dapat mencegah kondisi ini, dan hal ini pun menjadi tantangan sekaligus peluang bagi umat muslim Eropa untuk membuktikan kesahihan dan kebenaran Islam. Secara umum muslim di Barat menghadapi tantangan berupa upaya mempertahankan jati diri , islamophobia, jumlah muslim yang tidak representatif di parlemen, pendidikan , kualitas imam, persoalan kehidupan wanita dalam ruang publik , hingga perspektif yang bias dari media massa. Menghadapi kendala sekaligus tantangan ini, muslim di Barat tidak boleh bekerja sendiri-sendiri, namun harus selaras dengan hukum yang berlaku, dialog antaragama, serta memanfaatkan media massa. IV. Pandangan Non-muslim terhadap Islam dan Pengaruhnya untuk Muslim. Sebuah pekerjaan besar bagi muslim di Barat untuk mengoreksi pandangan yang telanjur negatif terhadap Islam. Tidak dipungkiri, kekerasan yang terjadi di

beberapa negeri muslim, kemiskinan, dan keterbelakangan turut melatarbelakangi citra tak elok tentang Islam. Namun memungkiri faktor penyebab eksternal (antara lain orientalisme, media massa, kepentingan strategis AS) juga bukan sikap yang bijak. Menyadari terbentuknya citra negatif ini, kini muslim di Eropa berusaha menjalin saling pengertian yang lebih baik dengan umat Kristen/ Barat, dengan mengadakan kampanye-kampanye tentang Islam melalui media tulis dan cetak, seminar internasional, atau dialog antaragama. Di sisi lain munculnya kekerasan yang dilatari oleh kebencian terhadap muslim mendorong munculnya lembaga-lembaga yang didirikan untuk mengusahakan jaminan keselamatan dari Pemerintah AS terhadap muslim. Di AS dapat disebutkan CAIR (Commitee for American-Islam Rellations), yang dalam situsnya aktif memberikan data tentang kasus-kasus kekerasan yang dihadapi muslim di AS dan upaya-upaya yang dilakukan oleh lembaga tsb. IV.1. Orientalisme dan Citra Negatif Non-muslim terhadap Islam Kenyataan bahwa orientalisme telah turut mencitranegatifkan Islam sudah tidak terbantahkan. Dalam pandangan Akbar. S. Ahmed, studi Islam menjadi rumit di Barat. Banyak prasangka para penulis dan intelektual yag berakar pada tradisi sekuler telah dipindahkan ke dalam Islam. Pemindahan ini menimbulkan berbagai kesalahan dan asumsi. Asumsi yang paling menggejala, menurut pakar jurnalis ini, adalah ide mengada-ada tentang adanya penyingkiran wanita dan berbagai pemaksaan gagasan negatif tentang kerahiban dalam Islam. Melalui kacamata inilah orang (baca: Barat) memandang agama. Mereka melihat Islam sebagai agama tidak bermoral (padahal tidak), Islam membenci wanita (padahal tidak), dan dihantui oleh kependetaan (padahal tidak). Setidaknya sejak dekade 1960-an, muncullah dua pokok kritik atas orientalisme dan studi Islam. Pokok kritik yang pertama pada umumnya disampaikan oleh kaum muslim sendiri, yang memandang bahwa al-Qur’an secara harfiah adalah sabda Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat jibril. Berangkat dari pandangan ini, kaum muslim sama sekali tidak dapat menerima analisis kesarjanaan Barat yang mereduksi al-Qur’an sebagai produk pikiran manusia. Ini juga membuat mereka sama sekali tidak dapat menerima pencapaian “rasionalitas” kesarjanaan Barat mengenai kualitas nabi Muhammad saw. yang dapat menurunkan kualitas kenabiannya. Sarjana orientalis yang memelopori studi ini adalah Ignaz Goldziher (w. 1921), seorang Yahudi Hongaria dalam karyanya “Muhammadanische Studien” (Beberapa Studi tentang Agama Muhammad [1890] ). Ia menerapkan pendekatan kritik teks terhadap hadits dan sunnah. Dalam pandangannya, fenomena hadits berasal dari zaman Islam yang paling awal. Namun karena kandungan hadits yang terus membengkak pada masamasa selanjutnya, dan karena dalam setiap generasi muslim materi hadits berjalan paralel dengan doktrin aliran fikih dan teologi yang seringkali bertentangan, maka ia menilai sangat sulit menentukan hadits orisinal berasal dari Muhammad saw. Menurutnya lagi, sebagian besar materi hadits lebih merupakan hasil perkembangan religius, historis, dan sosial selama 2 abad pertama Islam, atau refleksi dari berbagai kecenderungan yang muncul dalam komunitas muslim selama masa-masa itu. Kerja Goldziher tentang studi kritis atas hadits ini dilanjutkan oleh David Samuel Margoliouth (w.1940) dan Schnouck Hurgronje, dan mencapai puncak elaborasinya dalam karya Yoseph Schacht (w. 1969), dalam “The Origins of Muhammad Jurisprudence” (Asal-Usul Yurisprudensi Agama Muhammad [1950]). Studi semacam ini berimplikasi serius, yakni produk kompilasi hadits yang ada tidak dapat dipercaya sepenuhnya sebagai sumber ajaran dan perilaku Muhammad saw. Pokok kritik atas orientalisme dan Studi Islam yang kedua berkaitan dengan metode dan motivasi yang melatarinya. Kritik ini disampaikan baik oleh sarjana muslim maupun Barat sendiri. Dalam hal ini yang menonjol adalah tiga butir berikut. Pertama, penjelasan kesarjanaan Barat mengenai Islam cenderung bersifat esensialis. Semua fenomena masyarakat dan kebudayaan Islam selalu dijelaskan dalam kerangka konsep mengenai hakikat Islam dan individu atau kaum muslim yang homogen dan statis.

Kedua, pemikiran dan kesarjanaan Barat mengenai Islam yang dikembangkan atas pengetahuan yang sudah dimapankan sebalumnya, diyakini benar dan berfungsi membela temuan/ hasil observasi mutakhir. Pengetahuan tersebut mempunyai otoritas dalam kehidupan intelektual dan akademis di Barat, tetapi sedikit sekali kaitannya dengan realitas sesungguhnya. Ketiga-- dan yang paling gencar dikritik—kesarjanaan Barat dianggap selalu didorong oleh motivasi ekonomi dan politik. Terutama dalam era kolonialisme Eropa, studi-studi para sarjana ditata dan digunakan untuk membenarkan dominasi atas masyarakat muslim. Itu dilakukan dengan menciptakan citra mengenai masyarakat muslim sebagai sekumpulan makhluk manusia yang stagnan, terbelakang, tidak mampu memimpin diri sendiri, dan memusuhi kelompok manusia lain. Para sarjana yang tergabung dalam Middle East Research and Information Project (MERIP) – (Proyek Riset dan Informasi Timur Tengah ) misalnya, memandang studi Islam lebih sebagai instrumen imperialisme daripada disiplin yang objektif. Bahkan unsur kebenaran kritik ketiga ini dibenarkan oleh para sarjana Barat sendiri, walaupun ada juga sarjana orientalis yang tercatat menentang kebijakan kolonialis negaranya, misalnya Granville Bromne di Inggris yang menyokong revolusi konstitusional di Iran dan Louis Masignon di Perancis yang menyokong gerakan kemerdekaan Aljazair. Sebuah nama yang dikecualikan dari orientalis yang bersembunyi di balik jubah ilmiah ini adalah Dr. Maurice Bucaille yang memberi penilaian yang jujur dan terpercaya terhadap al-Qur’an. Dalam bukunya “La Bible le Coran et La Science” (1976) dokter bedah dan juga orientalis ini menyoroti kitab suci al-Qur’an dari sudut ilmiah. Ia mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan berbagai cabang ilmiah dan ternyata satu persatunya sangat relevan dengan penemuan ilmiah zaman baru. Ia menegaskan al-Qur’an adalah wahyu Illahi. Nama lain yang patut disebut adalah Dr. Toschihiko Izutsu (Guru Besar dari Institute of Culture and Linguistic Studies di Universitas Keio, Jepang). Dalam “Ethico Religious Concepts in the Qur’an” ia memberikan pandangan positif terhadap nilai-nilai sosial dan agamawi yang terkandung dalam al-Qur’an. Terhadap hasil karya para orientalis yang telah menggunakan jubah ilmiahnya untuk menghantam Islam terdapat beberapa nama penggugat, a.l., Prof. Dr. Ismail Raji alFaruqi (Jaffa, Palestina, 1 Januari 1829- 27 Mei 1986), mantan ketua jurusan Islamic Studies di Temple University, Pennsylvania, AS. Sebagai pakar yang sangat memahami dunia orientalisme dan bertahun-tahun menjadi Guru Besar di AS dan Eropa, menyatakan bahwa studi Islam di perguruan tinggi-perguruan tinggi Barat tidak pernah luput dari misi Zionis dan Kristen. Orientalis yang mengajar di jurusan ini, menurutnya, sebagian besar orang Yahudi atau Kristen fanatik . IV.2. Persepsi Negatif terhadap Islam Kecuali harus ‘berterima kasih’ kepada ‘jasa’ kaum orientalis yang telah berhasil menciptakan dan menguatkan citra minus tentang Islam dan muslim, agaknya ada beberapa hal lain yang dipertimbangkan oleh pengamat merupakan akar dari keadaan ini. Pendidikan warga Barat sejak kanak-kanak pun telah menggiring mereka menuju sebuah kesalahpahaman dan kekeliruan yang besar dalam memandang Islam dan penganutnya. Di AS misalnya, selain mata pelajaran mengenai berbagai peradaban non-Kristen hanya menempati porsi kecil di sekolah-sekolah menengah atas, buku-buku yang digunakan umumnya dicirikan oleh paparan mengenai Islam yang –meminjam Fred R. von Mehden – “singkat dan kadang dipenuhi oleh informasi yang membingungkan serta bias” . Contohnya adalah buku pegangan karangan A. Manzour dan J. People, “Men and Nations: A World History” (Manusia dan Bangsa-bangsa: Sejarah Dunia [1975]). Dalam 875 halaman buku ini, paparan mengenai Islam sebagai agama hanya diberikan dalam kurang dari 700 kata. Paparan tentang penyebaran, kebudayaan dan hukum Islam hanya diberikan dalam kurang dari 5 halaman. Selain itu amat lemah penyajiannya mengenai aspek-aspek lainnya dalam Islam, misalnya soal kekhalifahan, syariat, atau perbedaan antara Sunni dan Syiah. Bahkan masih menyebut Islam sebagai ‘agama Muhammad’ dan menggambarkan Islam sebagai agama aneh dan penuh

kekerasan. Selain itu media massa juga sangat berperan dalam penciptaan horor universal Barat terhadap Islam. Pemberitaan dicirikan oleh hal-hal berikut ini: (1) Generalisasi dan simplikasi. Sebutan “Islam” seolah-olah sudah mewakili keanekaragaman geografis, negara, etnis, budaya, sejarah, dan aspek-aspek lain dari umat muslim yang tersebar di seluruh dunia. (2) Bias etnis dan rasial. Islam dicampur dengan ekspresi etnosentris dan kultural yang terkekang, bahkan dengan warna kebencian rasial. (3) Sikap yang pro-Israel dan anti-Arab, pembelaan nasib warga Palestina dituduh sebagai pembelaan terhadap terorisme dan kritik atas Israel dicap sebagai sikap anti-semitisme. (4) Identifikasi Islam dengan keterbelakangan dan antiperadaban, kerudung yang dikenakan kaum muslimat dipandang sebagai ekspresi keterbelengguan (5) Pandangan mengenai Islam sebagai ancaman dan identik dengan kekerasan, upaya membangun senjata nuklir di beberapa negara muslim dituduh sebagai “bom Islam” sementara senjata-senjata sejenis yang sudah bertebaran di mana-mana tidak disebut-sebut sebagai “bom Kristen” atau “bom Yahudi”. (6) Pandangan tentang Islam sebagai agama yang antidemokrasi. Kemenangan FIS di Aljazair pada Pemilu 1922 dituduh sebagai aksi yang mengangkangi demokrasi untuk tujuan-tujuan teokrasi, dan (7) Pandangan bahwa Islam inferior terhadap Barat . Pada tingkat analisis dan pakar di media massa dan jurnal-jurnal kesarjanaan, kekhawatiran akan ancaman Islam (Islamophobia) hampir menyebar rata. Hantu Islam diidentifikasi dengan berbagai label, seperti “ancaman hijau”, “Intifadah global”, “Terorisme Islam”, “Fundamentalisme Islam”, “pedang Islam”, dll. Citra buruk Islam di masyarakat AS juga ditunjang oleh berbagai kepentingan strategis AS, yang bertubrukan dengan kepentingan dunia Islam atau beberapa negara Islam. Yang berperan di sini bukan saja para pengambil kebijakan yang langsung mempengaruhi kebijakan Barat terhadap dunia Islam atau negara-negara Islam tertentu, melainkan juga pakar hubungan internasional, analisis, dan komentator, yang memberi konsultasi kepada para pengambil keputusan atau mempengaruhi publik luas melalui media massa. Contoh paling mutakhir adalah pandangan Samuel P. Huntington, analis politik dan guru besar Hubungan Internasional pada Universitas Harvard, AS, dalam esainya yang kemudian menjadi sangat terkenal yang berjudul “The Clash of Civilisation” (Benturan Peradaban ). Menurutnya, sumber konflik yang dominan dewasa ini bukan sesuatu yang ideologis atau ekonomis, melainkan kultural. Konflik akan terjadi antara negara dan kelompok dari berbagai peradaban yang berbeda. Peradaban didefinisikannya sebagai entitas kultural tertinggi dan identitas terbesar yang dimiliki umat manusia. Dari tujuh peradaban besar yang disebutnya, peradaban yang paling potensial mengancam peradaban Barat yang kini berada di puncak adalah peradaban Islam . IV.3. Tantangan terhadap Propaganda Amerika Serikat Tantangan yang cukup berarti mulai mendapat tantangan dari dunia akademis dan kesarjanaan, pengambil kebijakan, maupun dari kalangan media massa. Di kalangan akademisi dan sarjana Barat, salah seorang yang amat menonjol dan giat menyuarakan pandangannya yang positif terhadap Islam adalah John. L. Esposito, pengamat Islam yang pernah berguru kepada al-Faruqi. Dalam “Islamic Treath: Mith or Reality?” (Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? [1995] ) Esposito menyatakan bahwa gerakan-gerakan Islam tidaklah menakutkan seperti yang pada umumnya dicitrakan dalam media-media massa Barat. Selain itu pelabelannya dengan istilah-istilah rancu merupakan tindakan penyederhanaan (simplisasi) yang berlebihan. Menurutnya, dalam jangka panjang, pandangan monolotik ini akan merugikan kepentingan umat manusia secara keseluruhan, sebab yang akan berlangsung adalah “penyetanan” satu sama lain (mutual satanization), dan saling menghancurkan (mutual assured destruction). Ia pun menganggap penting adanya dialog peradaban (civilizational dialogue).

Di kalangan pembuat kebijakan pencerahan ini agak menyejukkan ketika pada 6 Februari 1962 Senat AS mengundang Warith Deen Muhammad untuk menyampaikan doa pembuka. Praktek ini dilanjutkan Bill Clinton dengan mengundang wakil-wakil kaum muslim AS untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1996 di Gedung Putih. Sepanjang lebih dari 200 tahun usia negara AS inilah untuk pertama kalinya perayaan hari besar Islam dilaksanakan di gedung terhormat itu, sementara Natal dan Hari Raya Yahudi sudah kerap dilakukan di sana secara teratur. Citra Islam yang membaik juga muncul dari kalangan akademisi. Seorang antropolog asal Pakistan, Akbar S. Ahmed, berupaya keras untuk memunculkan Islam yang hidup (living Islam) dalam karyanya yang menjadi best-seller, “From Samarkand to Stornoway: Living Islam” (Dari Samarkan ke Stornoway: Islam yang Hidup [1993] ). Banyak pengamat meyakini bahwa melalui tulisannya ini Akbar tampaknya berhasil menyampaikan pesannya untuk menghubungkan kaum muslim dengan non-muslim. Dalam wawancaranya dengan majalah New Statesman & Society ia mengakui bahwa penggarapan Living Islam ini merupakan peristiwa paling berpengaruh pada kenyataan politiknya. Memang tulisannya dalam buku ini sangat kental dengan nafas optimisme dan mencerahkan. Sebuah perkembangan yang cukup berarti juga adanya penelitian yang dilansir oleh Yvonne Haddad , bahwa sejak 11 September 2001 jumlah orang yang berniat mempelajari Islam maju pesat, karena sebenarnya publik AS sangat penasaran ingin mengenal tetangganya yang telah ikut berperang pada Perang Dunia I, II dan Perang Vietnam bersama warga AS lain. Haddad menyatakan, bahwa walau memang ada kasuskasus yang memojokkan muslim sejak peristiwa 11 September, namun peluang untuk mengenal Islam justru terlihat kian terbuka lebar. Tetapi di sisi lain terlihat bahwa pascatragedi 11 September hubungan antara Islam dan Barat terlihat kian rumit. Rentetan pengeboman dituduhkan kepada jaringan Islam. Muslim di berbagai negara Barat menjadi sasaran kecurigaan dan pada kasus-kasus tertentu menjadi obyek intimidasi dan terorisme. Hal ini menimbulkan simpati dari muslim (bahkan non-muslim) lain dan Amerika (yang dianggap sebagai kiblat politik bangsa-bangsa Barat) pun dianggap tidak melindungi warga negara muslim-nya. Tuduhan ini disambut Amerika dengan mengeluarkan iklan-iklan kontroversial tentang kehidupan muslim di Amerika Serikat. Ada pihak yang menganggap iklan ini tidak menampilkan kenyataan sebenarnya dan lebih bersifat propagandis, karena pada waktu yang bersamaan CAIR mencatat banyak kasus yang menampilkan kenyataan sebaliknya. Beberapa kasus yang tercatat, antara lain adalah: 1. Pada tanggal 21 Januari 2002 seorang muslimah Amerika berdarah Pakistan, Samar Kaukab (22), yang kuliah di salah satu universitas di Ohio diperiksa dan dilucuti jilbabnya oleh petugas bandara Ohio, termasuk melucuti pakaian dalam dan meraba tubuh bagian atas. Walau jelas hal ini bertentangan dengan Amandemen 14 yang menjamin kesetaraan perlindungan terhadap warga AS, namun opini yang dikembangkan adalah hal tersebut sesuai dengan prosedur di Amerika Serikat. 2. Tanggal 20 Maret 2002 agen-agen federal AS menggeledah 16 rumah dan kantor milik muslim di Virginia dengan cara-cara yang amat tidak simpatik. Seorang muslimah dan ibunya diborgol selama 5 jam selama agen-agen tersebuh melakukan penggeledahan. Pada hari yang sama pemerintah AS melakukan sweeping terhadap 14 organisasi sosial, ekonomi dan keagamaan Islam di AS. 3. Tanggal 30 Mei 2002 Kejaksaan Agung AS mengeluarkan rekomendasi kepada FBI untuk memata-matai seluruh masjid di AS dalam rangka memerangi aksi terorisme. 4. Bulan Juni 2002 kelompok Hak-hak Sipil di AS -- American-Arab Anti Discrimination Commitee dan The American Civil Liberties Union di California-telah mengajukan gugatan terhadap empat maskapai penerbangan AS (United, Continental, Northwest dan American Airlines) dengan tuduhan keempat maskapai tersebut secara terang-terangan melakukan diskriminasi terhadap para penumpang asal Timur Tengah atau warga Asia. 5. Tanggal 1 Oktober 2002 Dinas Keimigrasian As memberlakukan suatu peraturan yang amat sangat diskriminatif terhadap orang-orang Islam yang hendak memasuki Amerika. Semua warga negara dari sejumlah negara muslim yang telah

didaftarhitamkan oleh pemerintah AS –termasuk Indonesia—diwajibkan menjalani pemeriksaan super ketat, seperti pemeriksaan sidik jari dan pengambilan foto, yang akan di-cross check dengan data base para kriminal dan teroris internasional. Daftar kasus diskriminasi yang dikeluarkan oleh CAIR dalam situsnya di atas hanya sebagian kecil dari ratusan bahkan ribuan kasus. Yang ditampilkan dalam makalah ini hanyalah kasus-kasus yang secara langsung ataupun tidak berhubungan dengan sikap resmi pemerintah AS, sementara kasus kekerasan dan diskriminasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tak dikenal terlalu banyak untuk ditampilkan di sini. Walaupun para petinggi AS sering menyatakan bahwa mereka tidak menyamakan Islam dengan terorisme, namun tampaknya pemerintah AS harus bekerja keras untuk dapat menyakinkan umat Islam di AS dan dunia tentang hal tersebut. Yang semakin jelas adalah tampaknya pemerintah AS tidak berminat untuk juga bersikap ‘hatihati’ terhadap jaringan teroris Jepang atau Irlandia yang sarat dengan radikalisme dan fundamentalisme Katolik-nya. KESIMPULAN Dari pembahasan di atas ada persamaan antara muslim di Eropa -- khususnya Inggris -- dan Amerika Serikat yang dapat disebutkan antara lain: 1. Islam dibawa oleh para imigran dengan latar belakang ekonomi, sosial, dan politik yang berbeda, sehingga memunculkan komunitas-komunitas muslim yang berbeda, walaupun pada perkembangannya kemudian kesatuan umat lebih terasa di Amerika Serikat, sementara di Eropa perbedaan etnis cenderung menimbulkan masalah internal. 2. Muslim di kedua wilayah ini menghadapi peluang yang kurang lebih sama, yaitu peluang untuk mengekspresikan kebebasan beragama di tengah masyarakat sekuler dan sangat heterogen. Kebebasan berpikir di negara-negara Barat merupakan iklim kondunsif bagi munculnya ide-ide pembaruan Islam. Hal ini merupakan kemewahan yang tidak ditemui di negeri-negeri muslim sendiri. 3. Tantangan dan kendala yang dihadapi pun lebih kurang sama, antara lain tantangan untuk mempertahankan jatidiri sebagai muslim, islamophobia dan kasus kekerasan yang ditimbulkannya, jumlah yang kurang representatif di parlemen, pendidikan, media massa yang bias, dan krisis kepemimpinan (walau di Eropa hal ini lebih dirasakan). Termasuk tantangan –yang jika boleh disebut demikian—terbesar adalah bagaimana muslim yang hidup di Barat (AS dan Eropa) dapat mempresentasikan wajah sebenarnya dari Islam, menjalin hubungan baik dengan komunitas non-muslim, namun sekaligus menyebarkan nilai-nilai universal yang agung yang terkandung dalam Islam. Adapun perbedaannya pun layak dikemukakan agar kondisi kaum muslim di kedua benua itu dapat dipahami secara lebih baik. 1. Di benua Amerika, terutama Amerika Serikat, imigran muslim kontemporer umumnya termasuk ke dalam kelompok menengah, seperti dokter, insinyur, dan akademisi. Posisi ini turut membentuk rasa percaya diri mereka dalam kehidupan sosial, termasuk kekuatan untuk mempertahankan jatidiri mereka. Sedangkan di Eropa, kaum muslim umumnya masih terdiri dari para buruh yang digaji rendah. Hal ini mempengaruhi kekuatan tawar-menawar politis mereka. Hingga kini kaum muslim belum mempunyai wakil di parlemen Inggris, meskipun jumlah mereka cukup besar. 2. Islamic center yang sekaligus merupakan masjid, tempat pertemuan, sekolah, percetakan, dan pusat kegiatan bisnis muslim menjadi peradaban unik yang dimunculkan oleh muslim di Barat, sebagai sarana untuk mempermudah pertemuan komunitas muslim di sana, karena jarak tempat tinggal mereka yang saling berjauhan. 3. Kaum muslim di Amerika Serikat cenderung tersebar di berbagai tempat, sedang di Eropa cenderung berkonsentrasi di satu tempat. Kecenderungan ini mendorong parokialisme yang lebih tajam di antara sesama muslim, karena komunitas yang kemudian terbentuk umumnya berdasarkan negara asal mereka. Di sini corak

sektarian dan etnis yang ada di negara asal dibawa masuk ke lingkungan baru. Hal ini makin mempersulit terbentuknya kepemimpinan muslim pada tingkat yang lebih tinggi. Sedangkan fenomena mega-masjid di Amerika Serikat menjadi tempat berkumpul muslim multietnis. 4. Kaum muslim di Amerika pada umumnya masuk ke negara itu dengan niat menetap di sana. Sebagai negara melting plot, siapa saja dijanjikan akan diperlakukan sejajar. Beberapa tokoh Islam bahkan masuk ke negara ini untuk berdakwah. Sementara itu di Eropa, kaum muslim berada di sana karena orangtua mereka adalah imigran di sana atau terpaksa ke sana untuk mencari kerja. Dan itu berkaitan erat dengan pengalaman kolonialisme banyak negara Eropa terhadap negara-negara muslim di masa sebelumnya. Hingga tingkat tertentu hal ini menimbulkan perasaan terasing yang tidak menguntungkan. 5. Gagasan mengenai jati diri etnis memang turut meningkatkan kesadaran diri kaum muslim baik di Eropa maupun Amerika. Tetapi di Amerika Serikat ada sejumlah muslim yang menjadi superstars di tingkat nasional; di Eropa tidak ada. Hal ini menyebabkan tingkat kepedulian publik nasional terhadap pentingnya Islam berbeda di kedua benua itu. Di Amerika Serikat, kebangkitan kesadaran kulit hitam sangat fenomenal. Hal ini turut menaikkan reputasi Islam, yakni Malcolm X dan Muhammad Ali yang menjadi simbol kebanggaan muslim yang hidup di negara-negara non-muslim. referensi/ catatan kaki: 2001 National geographic Data ini dikeluarkan oleh CAIR (Council American-Islamic Relation). Sebuah organisasi yang memberi perlindungan kepada hak-hak sipil dan politik kepada muslim di AS. Ibid. Akbar S.Ahmed, From Samarkand to Stornoway: Living Islam, terjemahannya. (Bandung: Mizan, 1997), h.244 http://usinfo.state.gov. Juhaya S. Praja, dalam pengantarnya untuk buku Steven Barbaroza,(ed.), Jihad Gaya Amerika, h. 14. Larry Poston, Da’wah Islam in the West, (Oxford University Press: 1992), h. 26. Lihat juga Deddy W. Mulyana, Islam di Amerika. Suka Duka menegakkan Agama. (Bandung: Pustaka, 1988), h. 68 Ibid, h. 27. Drs. Deddy Mulyana, M.A. (Bandung: Pustaka, 1998) h. 52. Islam di Amerika. Suka Duka Menegakkan Agama. dari

Angela Webb, “Ekspressions of Islam in America”. Dalam Timothy Miller (ed.) America’s Alternative Religions, (Albany: State University of New York Press, 1995). Diterbitkan kembali dalam http: //usinfo. state. gov. Akbar S Ahmed, Discovering Islam, (London: Routledge), 1996, h. 204 Ibid. Akbar. S. Ahmed, Living Islam, Drs. Deddy, op.cit., h. 97 Juhaya S. Praja, dalam kata pengantarnya untuk Jihad Gaya Amerika, h. 19 Dr. Menurut Akbar Muhammad, Guru Besar State University of New York. Juhaya S. Praja, op.cit., h. 17. Dikutip op.cit., h. 245.

Timothy Miller ,(ed.) America’s Alternative Religious, dari http://usinfo.state.gov. Juhaya S. Praja, op.cit., h. 22 Poston, op.cit., h. 29. Angela Webb, op.cit. Muslim yang datang ke Amerika pada dasarnya tidak berniat menetap di sana untuk selamanya, karena menurut mereka Amerika tidak memiliki sesuatu untuk mereka ambil, dan hidup di sana membahayakan aqidah. Hal ini sejalan dengan teologi Islam, yang membedakan Dar-al Islam dari Dar-al Kufr, atau Dar al- Harb. Tinggal di Dar al-Kufr hanya boleh sementara, untuk alasan ekonomi, diplomatik, sekolah atau urusan lain yang tidak tersedia di Dar al-Islam. Setelah urusan selesai harus kembali sesegera mungkin. Poston, op.cit., h.32 Deddy Mulyana, op.cit., h. 82 Taufik Abdullah, op.cit., Ibid. Ibid, h. 256 Ibid Taufik Abdullah, op.cit, h. 272 Ibid. Republika. Ibid Taufik Abdullah, op.cit, h. 284. Ibid Taufik Abdullah, loc.cit. Penulis buku “Islamic Britain: Religion, Politics and identity Among British Muslims “ (1994). Republika, loc. cit. Taufik Abdullah, loc.cit. Ibid. Ibid. Darsh, Muslims in Europe, (London: Ta-Ha Publishers, 1980), h. 81. Ibid, h. 43 Taufik Abdullah, loc.cit. Ibid, h. 286 Akbar S. Ahmed, Discovering, op.cit., h. 205. Juhana S. Praja, op.cit., h. 22 Jumat, 11 Oktober 2002 h. 255

Darsh, op.cit., h. 83 Muzzammil S. Siddiqi, salah seorang pemimpin kaum muslim di Inggris menyebutkan bahwa banyak di antara mereka yang tidak lagi taat melakukan shalat lima waktu, minum khamr, dan banyak muslimah Inggris yang kini merasa tidak berdosa menikah dengan laki-laki non-muslim dan 70%-80% dari kaum muslim Inggris tidak lagi peduli dengan masjid atau centre. Taufik Abdullah, op.cit., h. 300. Di Inggris, tuntutan kaum muslim agar disediakan sekolah khusus untuk masyarakat muslim menjadi sumber perdebatan berskala nasional Pada tahun 1993 Perancis heboh kasus muslimah yang dikecam dan diusir dari sekolah karena berjilbab, karena dianggap bertentangan dengan prinsip sekularitas Perancis. Sayyed M. Saeed Khalkali, imam Khoei Islamic Centre, London, (Republika, 11 Oktober 2002) Asad Husein dan Harold Vogelaar, “Activities of the Immigrant Muslim Communities in Chicago”, dalam Muslim Communities in North America, Yvonne Haddad, ed., (New York: State University, 1994). h. 243. Akbar S. Ahmed, Living Islam, op.cit, h. 311. Upaya sarjana orientalis untuk memunculkan keraguan muslim terhadap alQur’an tidak berpengaruh positif, karena itu mereka mengarah kepada sumber Islam kedua, yaitu hadits Rasulullah saw. Daud Rasyid, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan, (Jakarta: Pustaka Akbar, 2002), cet.I, h.138. Taufik Abdullah, op. cit., j. 6 h. 261 Ibid, h. 258. Baca juga Orientalisme”, h. 143-168 Ibid, h. 261. Daud Rasyid, op.cit., bab VIII, “Sunnah dan

Jurnal The Contemporary Muslim, No. 43 Thn. 1985 h. 101-110. Sebelum akhirnya syahid bersama istrinya ditembak oleh agen zionis di rumahnya akhirnya Faruqi menasehati pemuda-pemuda muslim agar berhenti belajar ke Barat. Taufik Abdullah, op.cit., h. 262 Ibid, h. 263 Sebagai contoh dari kepentingan strategis AS adalah kisah Samir Gustavo Jerez, lahir di New York, keturunan Cuba dan Puerto Rico. Masuk Islam ketika berpangkat E4. Ia menggugat militer AS yang memutar film berjudul “American Expose”, diproduksi oleh Jack Anderson., yang menggambarkan muslim sebagai teroris yang harus dihabisi. Pernyataan pertama yang diajukan setelah pemutaran film selesai adalah: “Bagaimana kalau kita angkat senjata dan menghancurkan mereka?”. Dari “Terorisme militer AS”, dalam Jihad versi Amerika, h. 308-400. Lima peradaban besar lain yang disebut Huttington adalah Konfusius, Jepang, Hindu, Slavia-Ortodoks, dan Amerika Latin. Taufik Abdullah, loc.cit. Baca lebih jauh Akbar S. Ahmad, Living Islam, yang dijadikan salah satu rujukan dalam membuat makalah ini.

Haddad adalah seorang profesor dari Georgetown University, lahir di Syria, beragama Kristen, pakar sejarah Islam dan Hubungan Islam-Kristen. Ia termasuk yang memprakarsai lahirnya CMCU (Center for Muslim-Christian Understanding) pada tahun 1993, satu-satunya lembaga akademis yang mengabdikan diri untuk mengekplorasi hubungan kultural, historis, dan teologis yang telah terjalin lebih dari 14 abad antara Islam dan Kristen. Aly Lakhaney dan Jim Fisher-Thompson, Scholar Describes Growing Interest in Islam, (http://usinfo.state.gov.)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->