P. 1
Kultur Air (Water Culture) studi kasus pada tanaman Cabe, Padi, dan Bayam Air pada percobaan di Kebun Percobaan Sawah Baru Institut Pertanian Bogor

Kultur Air (Water Culture) studi kasus pada tanaman Cabe, Padi, dan Bayam Air pada percobaan di Kebun Percobaan Sawah Baru Institut Pertanian Bogor

|Views: 5,473|Likes:
Published by ivan ara
KULTUR AIR Galvan Yudistira/A24070040 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hidroponik merupakan aktivitas pertanian yang dijalankan dengan menggunakan air sebagai media untuk menggantikan tanah. Hidroponik mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan bertani secara konvensional. Keunggulan hidroponik antara lain produksi tanaman yang higienis, penggunaan nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, pertumbuhan tanaman yang cepat, dan mudahnya perawatan tanaman. Salah satu sistem hidroponik yan
KULTUR AIR Galvan Yudistira/A24070040 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hidroponik merupakan aktivitas pertanian yang dijalankan dengan menggunakan air sebagai media untuk menggantikan tanah. Hidroponik mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan bertani secara konvensional. Keunggulan hidroponik antara lain produksi tanaman yang higienis, penggunaan nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, pertumbuhan tanaman yang cepat, dan mudahnya perawatan tanaman. Salah satu sistem hidroponik yan

More info:

Published by: ivan ara on Jan 24, 2010
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

KULTUR AIR Galvan Yudistira/A24070040 PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Hidroponik merupakan aktivitas pertanian yang dijalankan dengan menggunakan air sebagai media untuk menggantikan tanah. Hidroponik mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan bertani secara konvensional. Keunggulan hidroponik antara lain produksi tanaman yang higienis, penggunaan nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, pertumbuhan tanaman yang cepat, dan mudahnya perawatan tanaman. Salah satu sistem hidroponik yang dapat diterapkan dalam budidaya tanaman adalah kultur air (water culture). Kultur air merupakan salah satu dari sistem hidroponik yang mana akar tanaman dicelupkan dalam larutan hara secara bersusunan berimbang secara sinambung atau berkala (Steiner, 1997 dalam Notohadinegoro, 2006) Sistem ini merupakan sistem pasif karena air tidak mengalir (stagnant). Sistem pasif mempunyai kelemahan dalam menyerap nutrisi. Hal ini disebabkan karena tidak ada pergerakan air dan pergerakan udara sehingga akar kekurangan energi dalam menyerap unsur hara (Musfati et al, 2009) B. Tujuan Mengetahui pengaruh kultur air dalam budidaya beberapa tanaman hortikultura diantaranya cabe, bayam dan padi.

METODOLOGI A. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada 20 November 2009 s.d. 4 Desember 2009 di Kantor Kebun Percobaan Sawah Baru, Institut Pertanian Bogor. B. Bahan dan Alat Bahan tanaman yang digunakan berupa tanaman padi, cabe, dan bayam, air, serta busa. Persentase larutan hidroponik yang digunakan adalah 2% amoniak, 3% nitrat, 27% Urea, 10% P2O5, 10% K2O, 0,05% Cu, 0,1% Mg, 0,2% S, 0,05% B, 0,1% Fe, 0,05% Mn, 0,0005% Mo, dan 0,05% Zn. Alat yang digunakan adalah bak air, stereofoam, dan gunting.

C. Metode Larutan stok terdiri dari 25 gram hara hidroponik yang dicampur dengan 4 liter air, sehingga diperoleh konsentrasi 6,25 gram/liter. Larutan stok tersebut kemudian diencerkan kembali sampai konsentrasi 1 gram/ liter. Larutan tersebut dituangkan ke dalam bak dan ditutup dengan sterefoam yang telah dilubangi sebelumnya. Batang bawah tanaman padi, cabe, dan bayam digulung dengan busa dan dimasukkan ke dalam stereofoam yang telah dilubangi.

TINJAUAN PUSTAKA

Diantara budidaya tanam tanpa tanah, kulur air adalah budidaya tanaman yang menurut definisi merupakan sistem hidroponik yang sebenarnya. Kultur air juga sering disebut true hydroponics, nutri culture, atau bare root system. Di dalam kultur air, akar tanaman terendam dalam media cair yang merupakan larutan hara tanamn, sementara bagian atas tanman ditunjang adanya lapisan medium inert tipis yang memungkinkan tanaman tumbuh tegak (Resh, 1998 dalam Susila, 2009). Dalam sejarah perkembangan hidroponik, penelitian-penelitian pertama tentang hidroponik tercatat menggunakan sistem kultur air tanpa adanya substrat atau media tanah (Woodward, 1699 dalam Susila, 2009). Teknik-teknik dasar kultur air modern telah dikembangkan oleh Sach dan Knopp pada tahun 1860 (Hewitt dan Smith, 1975) dari beberapa hasil penemuan sebelumnya oleh Senebier tahun 1791 yang menyatakan bahwa akar tanaman akan mati bila terendam air. Pada tahun 1804, De Sausser juga menyatakan bahwa disamping mengandung udara air juga mengandung CO2 campuran gas mengandung 20% O2 (Hewit, 1966; Hewitt dan Smith, 1975 dalam Susila, 2009). Aerasi adalah suatu hal yang esensial untuk aktivitas perakaran walaupun hal ini sangat beragam antar spesies tanamn. Pengambilan unsur mineral akan terjadi ketidakseimbangan bila kondisi oksigen di perakaran menurun, sebaliknya akan terangsang bila konsentrasi oksigen di zona perakaran meningkat. Akumulasi karbondioksida (CO2) di dalam larutan hara akan memperlambat absorbsi sebagian besar unsur hara tanaman dan hara, sedangkan kekurangan oksigen (O2) walaupun tidak akan menekan abdsorbsi air (dalam periode tertentu) akan tetap menekan pengambilan unsur hara dari larutan hara (Soffer, 1985 dalam Susilla, 2009). Selama lebih dari 300 tahun kultur air merupakan suatu sistem yang paling sesuai untuk penelitian-penelitian hara dan metabolisme tanman hingga saat ini. Beberapa hal yang menyebabkan hal di atas adalah sistem kultur air memiliki larutan hara yang homogen, adanya keseragaman seluruh sistem dalam mempengaruhi sistem perakaran, serta kemungkinan pengaturan kandungan unsur hara yang tepat. Kultur air dikelompokkan ke dalam: (1) Aeroponik, (2) Nutrient Film Tehnique (NFT), dan (3) Deep Flow Technique (DFT) yang

semuanya memiliki tanaman dengan akar yang terbuka (bare root plant) (Vestergaard, 1984 dalam Susila, 2009). Keberhasilan sistem kultur air dipengaruhi oleh beberapa faktor yang langsung berhubungan dengan perakaran tanaman diantaranya adalah (1) aerasi di zone perakaran (2) kondisi perakaran, dan (3) sistem penopang tanaman yang memungkinkan tanaman tumbuh tegak. Manipulasi aerasi di zone perakaran pada sistem kultur air menurut Resh (1998) dalam Susila (2009) dapat dilakukan dengan pemberian udara kedalam larutan hara tanaman menggunakan pompa atau kompresor. Disamping itu peningkatan aerasi di zone perakaran dapat pula dilakukan dengan sirkulasi larutan hara antara bak tanamn dengan reservoar hara. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen bagi perakaran menurut Hochmuth (1991) dalam Susila (2009) di dalam kultur air (NFT) paling sedikit 1/3 – ½ sistem perakaran seharusnya tidak terendam larutan hara. Hal ini merupakan kunci perakitan teknologi hidroponik sistem terapung dimana tidak lagi diperlukan adanya energi listrik untuk menjalankan pompa ataupun kompresor guna meresirkulasi ataupun meningkatkan aerasi larutan hara. Pengusahaan kultur air secara komersial untuk produksi tanaman sayuran telah dilakukan di beberapa negara antara lain Canada (Ingratta et al, 1985), Jepang (Taakura, 1985), Israel (Soffer, 1985), Unite Kingdom (Hurd, 1985), dan USA (Carpenter, 1985). Pengusahaan kultur air secara komersial di Jepang mencapai kurang lebih 2000 greenhouse atau sekitar 300 hektar. Unit kultur air sistem Jepang terdiri dari beberapa seri bak yang terbuat dari plastik yang berukuran lebar 0,8 m dan panjang 3 m dengan kedalaman 6-8 cm. Tanman diselipkan dalam lubang pada styrofoam. Larutan hara dipompakan ke dalam bal selama 10 menit setiap jam, yang bertujuan untuk memelihara aerasi. Baik selalu penuh dengan larutan hara dimana akar tanaman terendam didalamnya. Pipa aerasi dapat dipasang pada bak tanam untuk meningkatkan aerasi. Pipa aerasi ini mempunyai lubang berdiameter 2mm pada setiap 4 cm panjang pipa (Resh, 1998 dalam Susila, 2009). Modifikasi kultur air sistem Jepang telah dilakukan oleh Dr. Merle Jensen dari Environmental Research Laboratory (ERL), Universitas Arizona, Tucson, USA dengan pengembangan prototype Raceway, Raft atau Floating System untuk produksi selada antara tahun 1981-1982. Dalam percobaan ini dapat dihasilkan 4,5 juta head selada per hektar per tahun (Lensen dan Collins, 1985 dalam Susila, 2009). Sistem kultur air ini terdiri dari bak tanam yang

relatif lebih dalam 15-20 cm, dengan lebar 60 cm dan panjang 30 m. Volume larutan hara kurang lebih 3,5 m kubik atau setara dengan 3.600 liter. Hara didalam bak relatif statik dengan pergerakan hanya 2-3 liter per menit. Dalam penelitian ini juga telah diuji efektifitas penggunaan alat sterillisasi larutan hara dengan UV-sterilizerterhadap fungi patogeik maupun non patogenik yang berasosiasi dengan tanaman di dalam greenhouse. Produksi komersial sayuran daun untuk salad dalam sistem terapung (floating raft system) telah digunakan di Florida sejak awal tahub 1980-an (Resh, 1998 dalam Susila, 2009). Sepuluh sampai 12 kali panen tanaman selada terutama bibb lettuce dihasilkan dalam greenhouse yang berpendingin. Dengan jarak tanaman yang rapat sistem ini dapat menghasilkan 1 juta per acre per tahun selada yang dapat dipasarkan. Masalah utama dari sistem komersial ini adalah tingginya modal awal untuk membangun sistem ini, dan biaya teknisi yang diperlukan untuk mengoprasikan sistem ini. Hal ini menyebabkan sistem terapung ini sulit diaplikasikan diberbagai tingkat petani. Teknologi hidroponik pasif, low-tech, dan non recirculating system telah dipelajari di Asian Vegetable Research Center (AVRDC) di Taiwan dan di Universitas Hawaii (Kratky et al., 1988;Kratky, 1993, 1996 dalam Susila, 2009). Penelitian hidroponik terapung untuk produksi tanaman sayuran didalam greenhouse di Florida menunjukkan haasil yang positif (Fedunak dan Tyson, 1997;Tyson et. Al, 1998 dalam Susila, 2009). Lima dari tujuh varietas komersial selada berhasil dibudidayakan menggunakan passive floating hydroponics di luar greenhouse, serta memenuhi persyaratan kualitas untuk dipasarkan (Tyson et al., 1999 dalam Susila, 2009). Beberapa unsur hara memeberikan fungsi tertentu bagi tanaman dan memiliki gejala defisiensi atau kekuranga, dan keracunan atau kelebihan yang berbeda-beda untuk masingmasing unsur, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Nitrogen Fungsi Nitrogen Komponen utama dari berbagai substansi penting dalam tanaman, komponen pembentukan asam amino, komponen pembentukan klorofil Gejala kekurangan N

Pada organ vegetatif : pertumbuhan tanaman lambat, tanaman tumbuh kerdil, warna daun terlihat hijau muda pada daun tua, daun-daun yang lebih tua menguning dan akhirnya kering, pucuk ranting mati dan pertumbuhannya tidak simetris Pada organ generatif : Gejala kelebihan N Pada organ vegetatif : tanaman tampak terlalu subur, ukuran daun menjadi lebih besar dan berwarna hijau tua, batang menjadi lunak dan berair (sukulensi), sehingga mudah rebah dan terserang penyakit. Pada organ generatif : pembentukan bunga tertunda, bunga yang sudah terbentuk lebih mudah rontok, pembentukan dan pematangan buah terhambat. 2. Pospor Fungsi P Bagian asam nukleat, menyimpan enegi ATP dan ADP, merangsang pembelahan sel, membantu proses asimilasi dan respirasi, berperan dalam pertumbuhan akar Gejala kekurangan P Pada organ vegetatif : pertumbuhan tanaman lambat dan kerdil, perkembangan akar terhambat, daun menjadi warna hijau tua, lebar kebiru-biruan dan mengkilap yang tidak normal atau kusam. Pada organ generatif : pembentukan dan pematangan buah terhambat, perkembangan bentuk dan warna buah buruk, biji berkembang tidak normal. Gejala kelebihan P : kulit buah keriput 3. Kalium Fungsi K Berperan dalam proses fotosintesis (pembentukan dan penutupan stomata) dan respirasi, translokasi gula pada pembentukan pati dan protein, membantu proses membuka dan menutup stomata, efisiensi penggunaan air, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan HPT, memperkuat jaringan dan organ tanaman sehingga tidak mudah rontok, memperbaiki ukuran dan kuantitas buah pada masa generatif, menambah rasa manis buah. Gejala kekurangan K pembentukan bunga dan buah terlambat bahkan terhenti

Pada organ vegetataif : daun terlihat lebih tua, batang dan cabang lemah serta mudah rebah, muncul warna kuning di pinggir dan di ujung daun yang sudah tua yang akhirnya mengering dan rontok, daun mengerut di mulai dari daun tua, tunas muda dan ranting mati, terdapat bercak kuning cekung pada kulit batang atau ranting Pada organ generatif : kematangan buah terhambat, ukutan buah menjadi lebih kecil dan berkeriput, kulit buah tipis dan kadang-kadang retak, buah mudah rontok,warna buah tidak merata, buah tidak tahan disimpan lama, biji buah menjadi kisut. Gejala kelebihan K Kualitas buah jelek dan berkulit kasar, pemasakan buah lama dan buah menjadi lebih masam. 4. Sulfur Fungsi S Berperan dalam proses pembentukan protein, berperan dalam pembentukan klorofil, meningkatkan ketahanan terhadap serangan jamur, membentuk senyawa minyak bearoma. Gejala kekurangan S Pada organ vegetatif : daun muda berwarna hijau muda hingga kunig merata, tanaman kurus kerdil atau perkembangannya sangat lambat. Pada organ generatif : pematangan buah terhambat Gejala kelebihan S : buah tumbuh tidak normal dan cepat matang. 5. Magnesium Fungsi Mg Merupakan unsur pembentuk warna hijau pada daun, regulator dalam penyerapan unsure lain seperti P dan K, membantu translokasi pati dan distribusi P di dalam tanaman, activator berbagai jenis enzim tanaman, peningkatan kadar gula dan vitamin serta aroma buah. Gejala kekurangan Mg Pada organ vegetatif: di sekitar tulang daun tua berwarna kunig, pangkal daun berwarna hijau gelap berbentuk huruf V dan bagian lainnya berwarna kunig, pada keadaan kurang berat daun-daun mengalami klorosis dan gugur.

Pada organ generatif : buah berkembang lambat dengan warna pucat. Gejala kelebihan Mg : terdapat bercak-bercak kuning pada daun. 6. Kalsium Fungsi Ca Membentuk dinding sel yang kokoh, mencegah pecah buah, mencegah terjadinya bentuk buah yang tidak sempurna, mencegah gugur bunga dan bakal buah serta buah. Gejala kekurangan Ca Pada organ vegetatif : matinya titik tumbuh pada pucuk dan akar, daun muda berwarna cokelat dan terus menggulung, daun terpilin dan mengerut. Pada daun generatif : kuncup bunga dan buah ggugur premature, warna buah tidak merata, buah retak-retak, tangkai buanga membusuk. Gejala kelebihan Ca : buah keras dan tidak lentur. 7. Seng Fungsi Zn Bagian enzim yang berperan dalam sintesis asam indolasetat, membantu kelancaran proses metabolisme untuk pertumbuhan dan system enzim tanaman, berperan dalam produksi klorofil dan karbohidrat, aktif dalam proses redoks pada proses fotosintesis. Gejala kekurangan Zn Pada organ vegetatif : daun muda pada pucuk ranting menunjukkan warna belang hijaukekuningan dan belang klorosis, tulang daun dan sekitarnya berwarna hijau tua terutama pada bagian tajuk tanaman yang banyak menerima sinar matahari, ukuran lebar dan panjang daun mengecil, helaian daun lebih sempit dan ujung daun meruncing berwarna kunig dan klorotik, pada daun yang menguning tersebut sering ditemukan bercak hijau tua, daun pada ranting tumbuh kecil, tangkai daun dan ruas pada ranting memendek, pertumbuhan daun yangmenguning berakibat kematian ranting, tanaman jeruk kehilangan daun dan pucuk ranting meranggas, pembentukan warna kuning di antara tulang daun pada daun muda kemudian diikuti kematian jaringan di antara tulang daun.

Pada organ generatif : buah mengecil dan jumlah daun berkurang, warna buah terlihat tidak sehat dan pucat, bentuk buah tidak normal, kandungan vitamin C menurun, pembentukan bakal buah terhambat atau tanaman sama seakli tidak dapat berbuah. Gejala kelebihan Zn Muncul bintik-bintik nekrosis atau sel mati dan berwarna hitam pada daun. 8. Besi Fungsi Fe Komponen pembentuk hema dan sitokrom yang berperan dalam transfer electron dalam kloroplas dan mitokondria, terlibat dalam proses pertumbuhan meristem atau titik tumbuh pada ujung akar, sebagai activator dalam proseslkimia dalam tanaman seperti fotosintesis dan respirasi, komponen pembentuk beberapa enzim tanaman, dibutuhkan dalam reduksi nitrat dam sulfat, asimilasi N dan pada produksi ADP nitrogen, terlibat dalam proses pertumbuhan meristem atau titik tumbuh pada ujung akar. Gejala kekurangan Fe Pada organ vegetatif : muncul warna kuning di antara tulang daun tetapi tulang daunnya tetap berwarna hijau, selanjutnya warana daun menjadi putih, pertumbuhan terhenti, daun gugur dan bagian pucuknya mulai mati, daun muda menguning kecuali pada tulang daun dan mengecil serta tipis, daun yang lebih ta tetap hijau, pada kondisi kekuranagn yang parah menimbulkan kematian dahan dan ranting tumbuh roset atau melingkar. Pada organ generatif : buah lebih kecil dan rsa lebih masam. Gejala kelebihan Fe Muncul bintik-bintik atau sel mati dan berwarna hitam pada daun. 9. Tembaga Fungsi Cu Aktivator enzim pada proses penyimpanan cadangan makanan, sebagai katalisator dalam proses respirasi dan perombakan karbohidrat, berperan dalam fiksasi nitrogen, berperan dalam pembentukan biji. Gejala kekurangan Cu Pada organ vegetatif : daun muda akan menguning,, pertumbuhanya tertekan kemudian berubah menjadi putih, daun-daun tua gugur, pada batang jeruk tumbuhtonjolan getah yang

melepuh, tanaman menjadi kerdil, terjadi pigmentasiyang buruk, daun berwarna hijjau kebiruan dan melintir serta berbentuk tidak beraturan, kadang berbintik nekrosis pada titik tumbuh pucuk sehingga pertumbuhan pucuk terhenti dan tidak tegar membuka, ujung daun muda bertepi menguning, system perakaran terganggu dan terjadi kematian pada rambut akar. Pada organ generatif : pada kulit jeruk terlihat retak-retak dan bercak hitam seperti luka mongering. Gejala kelebihan Cu Pertumbuhan terhambat yang disusul dengan gejala klorosis, antagonis dengan Fe sehingga menampakkan gejala defisiensi Fe, tanaman kerdil serta percabangan terbatas, perpanjangan akar tertekan dan pembentukan akar lateral berkurang, akar terkadang menebal dan berwarna menjadi agak gelap. 10. Molibdenum Fungsi Mo Berperan dalam penyerapan unsure N dan fiksai N serta asimilasi N, sebagai activator beberpa enzim, komponen system enzim nitrogenase dan reduksi nitrat. Gejala kekurangan Mo Pada organ vegetatif : mirip dengan gejala defisiensi N, muncul warna kuning di antara tulang daun, muncu bintik-bintik kuning pada daun jeruk yang kemudian mongering, daun menggulung dan keriput serta mongering, daun tua menunjukkan gejala nekrosis lebih dahulu yang dimulai dari antara tulang daun kemudia di susuusl daun muda, terkadang tepi daun menggulunng serta pertumbuha terhambat, terkadang tepi daun menjadi gosong. Pqada organ generatif : pembungaan terhambat. Gejala kelebihan Mo Warna daun menjadi kuning keemasan. 11. Mangan Fungsi Mn

Sebagai aktivator enzim yang berperan dalam proses perommbakan karbohidrat dan metabolisme nitrogen, bersama dengan besi membantu terbentuknya sel-sel klorofil, ikut berbepran dalam sintesis berbagai vitamin, mengatur permeabilitas membran. Gejala kekurangan Mn Pada organ vegetatif : daun muda akan berwarna kuning tetapi tulan daunya masih tetap berwarna hijau, daun tua akan menguning dengan tulang daun hijau, daun akan gugur lebih cepat. Pada organ generatif : bunga tidak normal dan fruitset buah rendah, pertumbuhan buah lammbat, bentuk buah tidak sempurna. Gejala kelebihan Mn Daun tua tampak berbintik cokelat yang dikelilingi lingkaran nekrosis kuning, penyebaran klorofil tidak merata, antagonis dengan Fe dan menampakkan gejala-gejala defisiensi unsur Fe. 12. Boron Fungsi B Berperan dalam proses diferensiasi sel yang sedang tumbuh, membantu sintesa protein, membantu metabolisme karbohidrat, mengatur kebutuhan air dalam tanaman, membentuk serat dan biji, meningkatkan pertumbuhan pollen dan pembentukan bunga dan buah, berperan dalam absorpsi dan penyerapan Ca. Gejala kekurangan B Pada organ vegetatif : daun akan mengecil dan muncul bercak-bercak kuning, pertumbuhan titik tumbuh abnormal, titik tumbuh di pucuk akan mengerdil dan akhirnya mati sehingga cabang tanaman berhenti memanjangkan diri, terjadi akumulasi ZPT pada titik tumbuh sehingga daun dan ranting akan menjadi regas bila diremas, titik tumbuh pada ujung akar membengkak dan warna akan berubah sehingga akhirnya mati, bagian dalam tanaman akan sering mengalami disintegrasi dengan gejala heart rot, daun memperlihatkan beberapa gejala seperti menebal dan regas serta keriting kemudian layu, dahan dan ranting terbelah dan mengeluarkan getah.

Pada organ generatif : bunga lebih cepat rontok, daging buah menjadi keras, kulit buah menipis, buah mengecil. Gejala kelebihan B Pucuk daun menguning yang disusul dengan gejala nekrosisyang berkembang menjadi bercak-bercak daun, daun tampak gosong dan gugur sebelum waktunnya, gejala dimulai sebagai nekrosis dari ujung tepi daun yang kemudian melebar hingga ke tulang daun utama, pada kondisi kelebihan yang parah daun mengecil dengan pupus atau tuans berikutnya pucat kecuali di sketar tulang daun, ranting kering dan mati. 13. Klor Fungsi Cl Diperlukan dalam proses reaksi fotosintesis terutama yang berhubungan dengan evolusi oksigen, berkaitan langsunng dengan pengaturan tekanan osmosis di dalam sel tanaman, esensial untuk pertumbuhan tanaman, Gejala kekurangan Cl Pada organ vegetatif : dapat menghambat pertumbuhan kar, daun menjadi layu dan berwarna kuning, muncul bercak-bercak kuning di permukaan daun. Pada organ generatif : pertumbuhan buah dan bunga terhambat. Gejala kelebihan Cl Terjadi penebalan dan penggulungan daun.

HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut adalah hasil dari pengamatan terhadap kondisi tanaman padi, cabe, dan bayam Tabel1. Kondisi daun tanaman padi, cabe, dan bayam Tanaman Padi Cabe Bayam Gejala Daun berwarna kuning pada bagian tepi Daun berwarna kuning pada bagian tepi Daun berwarna kuning dari bagian tengah

Nitrogen di dalam tanah berasal dari bahan organik, hasil pengikatan N dari udara oleh mikroba, pupuk, dan air hujan. Nitrogen yang dikandung tanah pada umumnya rendah, sehingga harus selalu ditambahkan dalam bentuk pupuk atau sumber lainnya pada setiap awal pertanaman. Selain rendah, Nitrogen di dalam tanah mempunyai sifat yang dinamis (mudah berubah dari satu bentuk ke bentuk lain seperti NH4 menjadi NO3, NO, N2O dan N2) dan mudah hilang tercuci bersama air drainase. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaannya, pupuk N dalam bentuk urea atau ZA harus diberikan 2-3 kali untuk satu musim tanam, serta dimonitor tingkat kecukupannya dengan Bagan Warna Daun (Balitpa-IRRI). Namun bila pupuk N yang digunakan adalah pupuk yang zat haranya tersedia lambat seperti urea tablet/briket/granul, maka pemberiannya cukup satu kali untuk satu kali musim tanam. Tanaman yang cukup N akan tumbuh normal, daunnya berwarna hijau dan kuat. Tanaman akan berbunga tepat pada waktunya, dan pertumbuhan akar tak terbatas sehingga produksi tinggi. Tanaman yang kekurangan N dapat diperbaiki dengan pemupukan N dalam berbagai bentuk seperti Urea, ZA, DAP, pupuk majemuk NPK, dan pupuk organic seperti: kompos, azolla, pupuk hijau, dan kotoran ternak. Pemberian pupuk N yang tepat jumlah, waktu, dan jenis, dapat meningkatkan efisiensi biaya dan efisiensi pupuk sehingga tanaman akan tumbuh secara optimal. Dengan pemberian N yang tepat (tidak berlebihan) diharapkan pula tidak terjadi pencemaran lingkungan tanah dan air. Berdasarkan praktikum yang kami lakukan tanaman padi tdan cabe tidak kekurangan nitrogen. Hal ini terlihat dari tulang daun bagian tengah pada tanaman tersebut masih hijau dan

menandakan bahwa larutan stok tersebut mampu mencukupi kebutuhan hara pada tanaman padi dan cabe. Namun, hal ini berbeda dengan bayam. Daun bayam mengalami kekuningan pada bagian tulang daun. Bayam kekurangan nitrogen karena bayam merupakan tanaman sukulen yang membutuhkan banyak nitrogen. Oleh karena itu persentase amoniak, nitart, dan urea pada tanaman bayam harus lebih banyak dibandingkan dengan tanaman lain dan harus dalam bak yang terpisah dengan padi dan cabe. Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari P-anorganik dan P-organik yang berasal dari bahan organik dan mineral yang mengandung P (apatit). Unsur P dalam tanah tidak bergerak (immobile), P terikat oleh liat, bahan organik, serta oksida Fe dan Al pada tanah yang pHnya rendah (tanah masam dengan pH 4-5,5) dan oleh Ca pada tanah yang pH-nya tinggi (tanah netral dan alkalin dengan pH 7-8). Tanah mineral yang disawahkan pada umumnya mempunyai pH netral antara 5,5-6,5 kecuali untuk tanah sawah bukaan baru, sehingga ketersediaan P tidak menjadi masalah. Akibat pemupukan fosfat (P) dalam jumlah besar dan kontinyu di tanah sawah intensifikasi selama bertahun-tahun, telah terjadi timbunan (akumulasi) fosfat di dalam tanah. P tanah yang terakumulasi ini dapat digunakan kembali oleh tanaman apabila reaksi tanah mencapai kondisi optimal pelepasan P tersebut. Fosfor berperan penting dalam sintesa protein, pembentukkan bunga, buah dan biji serta mempercepat pemasakan. Berdasarkan pengamatan tanaman tidak ada yang kekurangan P. Hal ini terlihat dari tidak adanya daun yang memiliki strip berwarna ungu.Kecukupan P dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi subur, anakan banyak, pemasakan tepat waktu, dan produksi tanaman tinggi. Kebutuhan tanaman akan hara P dapat dipenuhi dari berbagai sumber antara lain TSP, SP-36, DAP, P-alam, NPK yang pada umumnya diberikan sekaligus pada awal tanam. Agar pupuk yang diberikan efisien, pupuk P harus diberikan dengan cara, waktu, serta takaran yang tepat jumlah dan jenisnya. Kalium dalam tanah mempunyai sifat yang mobile (mudah bergerak) sehingga mudah hilang melalui proses pencucian atau terbawa arus pergerakan air. Berdasarkan sifat tersebut, efisiensi pupuk K biasanya rendah, namun dapat ditingkatkan dengan cara pemberian 2-3 kali dalam satu musim tanam. Kalium dalam tanaman berfungsi mengendalikan proses fisiologis dan

metabolisme sel, meningkatkan daya tanah terhadap penyakit. Kekurangan hara kalium menyebabkan tanaman kerdil, lemah (tidak tegak), proses pengangkutan hara, pernafasan, dan fotosintesis terganggu, yang pada akhirnya mengurangi produksi. Berdasarkan praktikum yang kami lakukan tanaman padi dan cabe kekurangan kalium. Hal ini terlihat dari daun yang menguning dari bagian tepi. Padi Kekurangan K karena padi membutuhkan banyak kalium yang tersimpan dalam jerami. Oleh karena itu jerami padi yang dikembalikan ke tanah dapat digunakan sebagai pupuk organik. Kadar K dalam jerami umumnya 1 % sehingga dalam 5 ton jerami terdapat sekitar 50 kg K setara dengan pemupukan 50 kg KCl/ha. Pengembalian jerami dalam bentuk segar maupun dikomposkan di lahan sawah harus digalakkan, karena selain mengandung unsur K juga mengandung unsur hara lain seperti N, P, Ca, Mg dan unsur mikro, hormon pengatur tumbuh serta asam-asam organik yang sangat berguna bagi tanaman. Penambahan jerami dan bahan organik lain dapat meningkatkan kadar bahan organik tanah dan keragaman hayati/biologi tanah yang secara tidak langsung dapat meningkatkan dan mengefisienkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Tanaman cabe kekurangan kalium karena cabe membutuhkan kalium lebih banyak untuk keberlangsungan hidupnya dan untuk pembentukan pertumbuhan bunga dan buah cabe. Ketersediaan cabe yang cukup mampu membuat kulit buah cabe bagus. Untuk menghindari defisiensi kalium pada padi dan cabe perlu adanya penambahan konsentrasi K2O pada media. Berdasarkan praktikum, kami tidak melihat adanya kekurangan unsure hara mikro pada tanaman padi, cabe, dan bayam, sehingga dengan konsentrasi tersebut mampu menyediakan unsur mikro dalam jumlah yang cukup.

PENUTUP

A. Kesimpulan Kultur Air merupakan salah satu subsistem dari hidroponik yang mana merupakan suatu teknik untuk memanfaatkan hara secara maksimal. Namun dalam pelaksaannya perlu memerhatikan kecukupan hara untuk setiap jenis tanaman. Kecukupan hara setiap jenis tanaman berbeda, sehingga perlu adanya pemisahan bak antar masing- masing tanaman. Tanaman padi dan cabe banyak menyerap kalium sehingga konsentrasi kalium dalam media harus tinggi, sedangkan tanaman bayam banyak menyerap unsur nitrogen sehingga konsentrasi nitrogen dalam media harus tinggi.

B. Saran Sebaiknya perlu adanya percobaan dengan jumlah tanaman yang lebih banyak, adanya ulangan pada setiap tanaman, dan bak air yang berbeda- beda untuk setiap tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Susila, Anas D. 2009. Fertigasi pada Budidaya Tanaman Sayuran dalam Greenhouse. Bogor. Bahan Ajar Dasar-Dasar Hortikulura AGH 342 Musfati, A, Rosadi, B, Oktafiani. 2009. Modifikasi Sistem hidroponik Kultur Air (Water Culture) pada Tanaman Pak Choi (Brassica chinensis L.). Skripsi Universitas Lampung Notohadinegoro, Tejoyuwono. 2006. Konsep Sempit Lingkup Pertanian Kendala Berat Bagi Pembangunan Nasional. Repro : Ilmu Tanah Universitas Gadjah Mada

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->