P. 1
170 / Vol. 36 No. 4 Juli

170 / Vol. 36 No. 4 Juli

5.0

|Views: 2,814|Likes:
Published by revliee

More info:

Published by: revliee on Jan 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2013

pdf

text

original

170 / vol. 36 no.

4 Juli - Agustus 2009

ISSN: 0125-913 X http://www.kalbe.co.id/cdk

HIV VIRUS

Artikel :
241 Studi Cross-Sectional SHBG dan Testosteron sebagai Penduga Gangguan Fungsi Ereksi pada Pria Usia Lanjut
Sutyarso

247 251 257 261

Aspek Ekonomi-Demografi Penduduk Lansia Indonesia
Evi Nurvidya Arifin

Vaksin HIV, Harapan atau Khayalan ?
Evelyn Phangkawira, Kiki MK Samsi

Aplikasi Cobas Amplicor System dalam Deteksi Dini Infeksi HIV
Sinta Sasika Novel, Runingsih

Hubungan Pemberian Selenium dan Vitamin C dengan Peningkatan Kadar Kolinesterase Darah Petani Penyemprot Organofosfat di Temanggung
Ari Suwondo

266

Penatalaksanaan Infertilitas Pria Terkini
Aucky Hinting

Berita Terkini :
271 276 278 280 285 286 Irbesartan Memperbaiki Fungsi Ereksi
Benarkah Prasugrel Lebih Baik Dibandingkan Clopidogrel ? Kanker - Penyebab Kematian Pasien AIDS yang Kian Penting

Senyawa Baru yang Menghancurkan Bakteri TB Probiotik, Echinacea Meningkatkan Imunitas Melawan Infeksi Flu Babi Para Ilmuwan Menemukan bahwa Otot Jantung dapat Diperbaharui

Petunjuk untuk Penulis
CDK
menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, bisa berupa tinjauan kepustakaan ataupun hasil penelitian di bidang-bidang tersebut, termasuk laporan kasus. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh CDK; bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Naskah berisi 2000 - 3000 kata ditulis dengan program pengolah kata seperti MS Word, spasi ganda, font Euro-stile atau Times New Roman 10 pt. Nama (para) pengarang ditulis lengkap, disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel / skema / grafik / ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas- jelasnya dan telah dimasukkan dalam program MS Word. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9). Contoh : 1. Basmajian JV, Kirby RL.Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore, London: William and Wilkins, 1984; Hal 174-9. 2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974 ; 457-72. 3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64: 7-10. Jika pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk softcopy / CD atau melalui e-mail ke alamat : Redaksi CDK Jl. Letjen Suprapto Kav. 4 Cempaka Putih, Jakarta 10510 E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id Tlp: (021) 4208171. Fax: (021) 42873685
Mengingat saat ini CDK sudah dapat diakses lewat internet (online) maka (para) penulis hendaknya menyadari bahwa makalah yang diterbitkan juga akan dapat lebih mudah dimanfaatkan oleh lingkungan yang lebih luas. Korespondensi selanjutnya akan dilakukan melalui e mail; oleh karena itu untuk keperluan tersebut tentukan contact person lengkap dengan alamat e-mailnya.

daftar isi
content
Editorial 238 English Summary 240

Artikel
Studi Cross-Sectional SHBG dan Testosteron sebagai Penduga 241 Gangguan Fungsi Ereksi pada Pria Usia Lanjut
Sutyarso

Aspek Ekonomi-Demografi Penduduk Lansia Indonesia 247
Evi Nurvidya Arifin

Vaksin HIV, Harapan atau Khayalan? 251
Evelyn Phangkawira, Kiki MK Samsi

Aplikasi Cobas Amplicor System dalam Deteksi Dini Infeksi HIV 257
Sinta Sasika Novel, Runingsih

Hubungan Pemberian Selenium dan Vitamin C dengan 261 Peningkatan Kadar Kolinesterase Darah Petani Penyemprot Organofosfat di Temanggung
Ari Suwondo

Penatalaksanaan Infertilitas Pria Terkini 266
Aucky Hinting

Berita Terkini
Irbesartan Memperbaiki Fungsi Ereksi 271 Flunarizine untuk Skizofrenia 272 Kadar Testosteron yang Rendah Berhubungan dengan 274 Peningkatan Risiko LAF Benarkah Prasugrel Lebih Baik Dibandingkan Clopidogrel ? 276 Efek Albumin pada Trauma Kepala 277 Kanker - Penyebab Kematian Pasien AIDS yang Kian Penting 278 Efek Suplementasi L. Reuteri terhadap Ig E Bayi 279 Senyawa Baru yang Menghancurkan Bakteri TB 280 Probiotik pada Pembedahan 282 Probiotik, Echinasea Meningkatkan Imunitas Melawan Infeksi Flu Babi 285 Para Ilmuwan Menemukan bahwa Otot Jantung dapat Diperbaharui 286 Praktis 288 Informatika Kedokteran 290 Opini 292 Info Produk 294 Laporan Khusus 297 Kegiatan Ilmiah 304 Gerai 307 Antar Sejawat 308 Agenda 310 RPPIK 312

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga tempat kerja si penulis.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

237

Editorial
Masalah kependudukan merupakan masalah sosial yang juga mencakup kesehatan
dan kesejahteraan masyarakat; kendati tidak langsung berhubungan dengan kedokteran, tetapi perlu untuk membangun wawasan yang lebih luas √ masalah tersebut dibahas dalam edisi ini, disertai dengan beberapa aspek medis fertilitas. Artikel lain mengenai HIV yang masih tetap akan menjadi masalah kesehatan utama di masa- masa mendatang; apakah bisa dicegah dengan vaksinasi ? Beberapa berita singkat mengenai berbagai perkembangan di dunia kedokteran dapat sejawat nikmati di rubrik berita terkini. Selamat membaca,

Redaksi

TURUT BERDUKA CITA
Telah meninggal dunia: Prof. DR. drg. Hendro Kusnoto, SpOrt Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta Beliau adalah salah satu anggota Redaksi Kehormatan Majalah CDK Meninggal pada hari Rabu, tanggal 8 April 2009 di Jakarta Segenap Redaksi Majalah CDK turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga arwah almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

238

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

Redaksi Kehormatan
Prof. Drg. Siti Wuryan A Prayitno, SKM, MScD, PhD Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta Prof. Dr. Abdul Muthalib, SpPD KHOM Divisi Hematologi Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prof. Dr. Djoko Widodo, SpPD-KPTI Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonsia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prof. DR. Dr. Charles Surjadi, MPH Pusat Penelitian Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta Prof. DR. Dr. H. Azis Rani, SpPD, KGEH Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta DR. Dr. Abidin Widjanarko, SpPD-KHOM Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Kanker Dharmais, Jakarta DR. Dr. med. Abraham Simatupang, MKes Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta Prof. Dr. Sarah S. Waraouw, SpA(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado Prof. DR. Dr. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung Dr. Aucky Hinting, PhD, SpAnd Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya Prof. DR. drg. Hendro Kusnoto, SpOrt. Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta DR. Dr. Yoga Yuniadi, SpJP Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI/ Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta Prof. DR. Dra. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Prof. Dr. Faisal Yunus, PhD, SpP(K) Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/SMF Paru RS Persahabatan, Jakarta

ISSN: 0125-913 X http://www.kalbe.co.id/cdk Alamat Redaksi Gedung KALBE Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4 Cempaka Putih, Jakarta 10510 Tlp: 021-4208171 Fax: 021-4287 3685 E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id Web: http://www.kalbe.co.id/cdk Milis: http://groups.yahoo.com/group/milisCDK Nomor Ijin 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 Penerbit Kalbe Farma Pencetak PT. Temprint

Susunan
Pemimpin Umum Dr. Erik Tapan Ketua Penyunting Dr. Budi Riyanto W. Manajer Bisnis Nofa, S.Si, Apt.

Redaksi

Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudy, SpFK Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Dr. R.M. Nugroho Abikusno, MSc., DrPH Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS Fakultas KedokteranUniversitas Udayana Denpasar, Bali Prof. DR. Dr. Ignatius Riwanto, SpB(K) Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RS Dr. Kariadi, Semarang Dr. Tony Setiabudhi, SpKJ, PhD Universitas Trisakti/ Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia, Jakarta Prof. DR. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI Sub Dept. Alergi-Imunologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K) Departemen Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prof. DR. Dr. Johan S. Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN Departemen Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung Dr. Hendro Susilo, SpS(K) Dept. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya Prof. DR. Dr. Darwin Karyadi, SpGK Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat Dr. Ike Sri Redjeki, SpAn KIC, M.Kes Bagian Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Ketua Pengarah Dr. Boenjamin Setiawan, PhD

Dewan Redaksi Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto Zahir, MSc. Dr. Michael Buyung Nugroho Dr. Karta Sadana Dr. Sujitno Fadli Drs. Sie Djohan, Apt. Ferry Sandra, Ph.D. Budhi H. Simon, Ph.D. Tata Usaha Dodi Sumarna

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

239

ENGLISH SUMMARY
The results, based on ANOVA, showed that in healthy subjects the TT significantly reduced by increasing age and by low erectile function (p<0.05) but not affected by the interaction of both factors. SHBG concentration, on the contrary, significantly increased related to older age (p<0.05) but not affected by erectile function nor its interaction with age. FTI also significantly affected by age factor (p<0.05) but not by erectile function as well as by health status of subjects. The conclusions are: (1) testosterone is an important factor in regulating erectile function of the penis; (2) SHBG and FTI partially is useless in assessing erectile dysfunction. tunities and challenges for sustainable development of economies in the next half century, though as presented in this paper Indonesia»s provinces are at different stages in this transition. This paper shows population aged 60 and above numbered 15.8 million in 2005, or 7.3% of the population. Regional variation exists, for instance, Pacitan reached 14.2%, which is much higher than national rate. The age-structure transition has shifted the two groups of dependent population, the young and old, as the elements of the dependency ratio. This paper shows that the dependency ratio declined from 0.86 in 1970s to 0.50 in 2005, will continue to decline to 0.43 in 2020-25 and start to increase again to reach above 0.50 in 2040. Therefore, the demographic window of opportunity in Indonesia occurs between 2005 and 2040. The economic life cycle is fundamental to understanding the demographic-economic aspect of population ageing.
CDK 2009; 36(4) : 247-249

Cross-Sectional Study on SHBG and Testosterone as a Tool in Assessing Erectile Dysfunction in Old Age Male
Sutyarso
Jurusan Biologi dan Program Studi Pendidikan Dokter FMIPA Universitas Lampung

Key words: sex hormone binding globulin, erctile dysfunction, old age.
CDK 2009; 36(4) : 241-245

Cross-Sectional Study on SHBG and Testosterone as a Tool in Assessing Erectile Dysfunction in Old Age Male: This study aimed to investigate the possibility of using SHBG (sex hormone binding globulin) as well as testosterone concentration as a tool in assessing erectile dysfunction in old age male. One hundred thirty five men of 50-70 years old grouped based on factorial design, in which two factors with three levels were used, with 10 subjects in each group. The first factor consists of: (1) diabetic 50-60 year old men; (2) healthy 50-60 year old men; and (3) healthy 61-70 year old men.
The second factor was grouped based on the erectile function status: (1) normal (IIEF>21); (2) moderate (IIEF 15-21); and (3) low (IIEF<15). The dependent variables are total testosterone concentration (TT), SHBG concentration, and free testosterone index (FTI). The TT concentration was determined using Count-A-Count125/solid phase; SHBG concentration was measured with radioimmunometric (IRMA), while FTI was defined by dividing TT concentration by SHBG concentration.

HIV Vaccine: Hope or Dream ?
Evelyn Phangkawira, Kiki MK Samsi
Dept. of Child Heath, Faculty of Medicine, Tarumanagara University, Sumber Waras Hospital, Jakarta, Indonesia

Demographic-Economic Aspects of Indonesia’s Population Ageing
Evi Nurvidya Arifin
Visiting Research Fellow, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore

The world has tried so many ways and put their maximum effort in preventing HIV epidemic. Vaccine as one of the most popular paradigm in disease prevention has also been researched to contain the exploding HIV cases. Many HIV vaccines have been developed and will be tested to pass the first, second and third phase trial, before being released to the community. This article will discuss challenges in developing HIV vaccines, and results of several vaccine trials.
CDK 2009; 36(4) : 251-255

Increasing life expectancy and rapid fertility decline in Indonesia since the 1970s have accelerated the transition of age structure of population. In the twenty-first century, ageing population is a global phenomenon, which puts pressures on economic, health, social, and political situations in many countries including Indonesia. It presents both oppor-

240

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

HASIL PENELITIAN

Studi Cross-Sectional SHBG dan Testosteron sebagai Penduga Gangguan Fungsi Ereksi pada Pria Usia Lanjut
Sutyarso
Dosen Jurusan Biologi dan Program Studi Pendidikan Dokter FMIPA Universitas Lampung

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar SHBG (sex hormone binding globulin) dan testoteron dalam serum dapat digunakan sebagai faktor penduga gangguan fungsi ereksi pada pria lanjut usia. Penelitian ini mensurvei 135 pria berusia 50-70 tahun yang dikelompokkan berdasarkan dua faktor masing-masing dengan tiga tingkatan (faktorial 3x3) sehingga setiap kelompok terdiri dari 15 subjek. Faktor pertama adalah status kesehatan dan usia terdiri dari: (1) pria penderita diabet berusia 50-60 tahun; (2) pria sehat berusia 50-60 tahun; dan (3) pria sehat berusia 61-70 tahun. Faktor kedua adalah status fungsi ereksi terdiri dari: (1) normal (IIEF>21); (2) moderat (IIEF 15-21); dan (3) rendah (IIEF<15). Variabel yang diamati terdiri dari kadar testosteron total, kadar SHBG, dan indeks testosteron bebas (free testosterone index, FTI). Kadar testosteron total (TT) ditentukan dengan Count-A-Count125/fase padat, kadar SHBG ditentukan dengan teknik radioimmunometric (IRMA), sedangkan FTI ditentukan melalui pembagian kadar testosteron total dengan kadar SHBG. Hasil penelitian, berdasarkan ANOVA, menunjukkan bahwa kadar TT pada subjek sehat nyata menurun dengan bertambahnya usia dan dengan rendahnya fungsi ereksi (p<0,05) tetapi tidak dipengaruhi oleh interaksi keduanya. Kadar SHBG nyata meningkat dengan bertambahnya usia (p<0,05) tetapi tidak dipengaruhi oleh fungsi ereksi dan interaksinya dengan faktor usia. Selanjutnya, FTI juga nyata dipengaruhi usia (p<0,05) tetapi tidak oleh fungsi ereksi dan status kesehatan subjek. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: (1) testosteron merupakan faktor penting pengatur fungsi ereksi penis; (2) SHBG dan FTI secara parsial tidak dapat digunakan sebagai faktor penduga gangguan fungsi ereksi. Kata kunci: protein pengikat hormon seks, gangguan fungsi ereksi, usia lanjut
PENDAHULUAN Pada sistem reproduksi pria, androgen merupakan hormon yang sangat penting baik untuk perkembangan maupun pemeliharaan jaringan khusus seperti testis, prostat, epididimis, vesika seminalis dan penis.1 Hormon androgen mempunyai pengaruh psikotropik yaitu seksualitas, agresivitas, derajat aktivitas, performance , kognisi, emosi, dan karakter.2,3 Sebagian besar androgen pada pria adalah testosteron yang diproduksi oleh sel Leydig dengan potensi androgenik sangat tinggi. Lebih dari 95% testosteron serum disekresi oleh testis, sekitar 7mg (3-10mg) diproduksi setiap hari.4,5 Pria sehat yang mengalami proses penuaan/usia lanjut secara klinik mempunyai gejala yang sama dengan pria muda hipogonadisme, yaitu menurunnya keinginan seksual, aktivitas, dan kemampuan ereksinya. Demikian juga terjadi penurunan masa tubuh, tulang dan otot, kehilangan kekuatan dan virilisasi.6 Pada pria muda hipogonadisme, juga berhubungan dengan menurunnya kewaspadaan, perubahan kejiwaan, kurang energik dan virilitas, penurunan keinginan seksualitas, penurunan masa otot dan kekuatan otot , penurunan libido dan keinginan seks, juga ditandai dengan meningkatnya prevalensi impotensi.7,8

SHBG (sex hormone binding globulin) berfungsi mempertahankan keseimbangan dan disosiasi pengikatan testosteron antara sistem sirkulasi dengan organ target, sedangkan biosintesis, regulasi dan bioavaibilitas SHBG diduga dikontrol oleh banyak faktor. Ada dua teori mekanisme bagaimana testosteron merangsang sel-sel organ target yang melibatkan SHBG. Pertama, SHBG hanya bertindak sebagai alat transpot testosteron menuju sel target, sedang testosteron sendiri masuk secara pasif ke dalam sitoplasma selanjutnya berinteraksi dengan gen pada kromosom. Kedua, SHBG bukan saja bertindak sebagai transport, tetapi juga sebagai jembatan untuk menempel pada reseptor sel sasaran. Dalam hal ini reseptor sel sasaran berada pada membran luar sel sasaran, sedangkan caranya mengaktifkan gen sel sasaran adalah melalui mekanisme ≈second messenger Cyclic-AMP∆.9,10 Kemampuan ikatan (binding capacity) SHBG terhadap hormon seks pada hewan yang diberi makan rendah kalori lebih rendah dibandingkan dengan hewan uji yang diberi makan tinggi kalori.11 Ada petunjuk bahwa biosintesis SHBG oleh sel hepatoma (HepG2) in vitro dihambat oleh hormon insulin dan dipacu oleh tiroksin dan estradiol.12,13

Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Duatahunan (PID) ke 2 Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) tanggal 24-26 Juli 2008 di Semarang, Jawa Tengah Indonesia

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

241

HASIL PENELITIAN
Hasil studi epidemiologi juga menjelaskan bahwa SHBG berkorelasi positif dengan umur, kadar testosteron total, dan hormon tiroksin; tetapi berkorelasi negatif dengan insulin dan trigliserida, sehingga diasumsikan bahwa regulasi SHBG berhubungan dengan metabolisme lipid, protein, dan karbohidrat.14 Aktivitas androgenik yang tinggi pada obesitas tampaknya berhubungan dengan rendahnya kadar SHBG dan tingginya persentase testosteron bebas. Di samping itu kadar SHBG dan testosteron bebas berkorelasi positif dengan meningkatnya insulin. Hal ini karena aktivitas androgenetik yang tinggi menyebabkan kelainan insulin.15 Studi lain menunjukkan bahwa diet pada pria dapat mengubah produksi dan metabolisme hormon seks (steroid) dan juga SHBG.16 Sementara diet rendah lemak pada pria normal dapat menurunkan kadar SHBG dan meningkatkan konsentrasi testosteron bebas17. Di samping itu diet barat (40% kalori berasal dari lemak) yang diberikan pada pria vegetarian dapat meningkatkan sekresi metabolit steroid melalui urin, sebaliknya menurun sekresinya pada pria omnivora yang diberi diet pria vegetarian.18 Dengan demikian komposisi makanan (diet) merupakan faktor dalam regulasi SHBG, sehingga SHBG tersebut sangat mungkin terlibat dalam pengaturan fertilitas melalui keseimbangan hormon seks.19,20 Secara klinis gangguan fungsi ereksi atau disfungsi ereksi (DE) pada pria adalah ketidak mampuan pria untuk mencapai dan mempertahankan ereksi, sehingga kepuasan seksual sulit dicapai. Sebagian besar kasus DE terjadi secara alami akibat proses menua, gangguan psikologi, neurologi, hormonal, dan arterial pada batang cavernosa penis, atau kombinasi faktor-faktor tersebut. Diperkirakan 20% pria berumur 60-80 tahun konsentrasi testosteronnya di bawah normal, padahal testosteron diperlukan untuk mempertahankan libido, fungsi organ reproduksi, fungsi seksual dan otot-otot badan.Telah dilaporkan bahwa penambahan umur pada pria berhubungan dengan penurunan testosteron serum.21 Oleh karena kadar SHBG serum meningkat pada usia lanjut, sedangkan testosteron total menurun sesuai dengan umur dan dengan demikian mempengaruhi indeks testosteron bebas atau FTI (Free Testosterone Index), maka pertanyaan yang timbul adalah apakah ada hubungan antara gangguan fungsi ereksi dengan SHBG serum. Penelitian ini secara deskriptif analitik bertujuan mengumpulkan informasi tentang kadar testosteron total dan SHBG dalam serum pada pria usia lanjut dengan keluhan gangguan fungsi ereksi. METODE PENELITIAN Desain penelitian Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dilakukan pada 135 pria usia 50-70 tahun sebagai subyek. Subyek tersebut kemudian dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan status kesehatan/usia dan skor fungsi ereksi (Sexual Health Inventory for Men/SHIM atau International Index of Erectile Function/IIEF), masing-masing kelompok dengan tiga faktorial dan tiap faktorial terdiri dari 15 orang subyek (Tabel 1). Selanjutnya dilakukan pengelompokan berdasarkan hasil kuesioner terbimbing, yaitu berdasarkan skor IIEF dari jawaban masingmasing subyek (Tabel 2). Data yang diperoleh kemudian diuji statistik ANOVA (analysis of variance) dan dilanjutkan dengan uji perbandingan berganda Tukey-test menggunakan program statistik MINITAB Release 14.10 Statistical software, pada selang kepercayaan (CI, confidence intervals) 95% atau _ 5% Subyek penelitian Penderita diabetik usia 50-60 tahun sebanyak 45 pasien berasal dari pasien rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Abdul Moeloek Bandar Lampung, dan 90 relawan sehat usia 50-70 tahun penduduk Kota Bandar Lampung dan sekitarnya, yang telah bersedia ikut serta dalam penelitian. Variabel penelitian Darah tidak puasa diambil pada pukul 08.00-12.00 WIB melalui pembuluh vena dari masing-masing subyek sebanyak 8-10mL. Serum diperoleh melalui cara sentrifugasi dengan kecepatan 2000 x g selama 20 menit, kemudian disimpan pada suhu -200C sampai saat pemeriksaan. Pemeriksaan testosteron total dan SHBG dilakukan di Laboratorium Klinik Prodia PT Prodia Widyahusada, Jln. Kartini No. 16A Bandar Lampung. Testosteron total diukur dengan teknik CoatA-Count125/fase padat sebagai bahan radioaktif. Pemeriksaan kadar SHBG dengan cara tera immunoradiometrik (immunoradiometric, IRMA) menggunakan kit komersial buatan DPC (Diagnostic Products Corp.), California USA. Sedangkan penentuan indeks testosteron bebas FTI (free testosterone index) dilakukan dengan cara membagi kadar tesosteron total (nmol/L) dengan kadar SHBG (nmol/L).22-25
Tabel 1. Desain penelitian dan variabel pengamatan meliputi: Testosteron total TT (nmol/L), SHBG (nmol/L), dan Indek testosteron bebas FTI (nmol/L). Status kesehatan dan usia
Status/Skor fungsi ereksi (International Index of Erectile Function/IIEF) Normal (IIEF>21) Moderat (IIEF15-21) Rendah (IIEF<15) Diabetik usia 50-60 tahun (n=45) 15 15 15 Sehat usia 50-60 tahun (n=45) 15 15 15 Sehat usia 61-70 tahun (n=45) 15 15 15

242

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

HASIL PENELITIAN
Tabel 2. Pertanyaan dalam kuesioner terbimbing untuk menetapkan status fungsi ereksi.24,25

Skor
Pertanyaan
1. Bagaimana anda yakin bahwa selama 6 bulan ini, anda dapat ereksi dan mempertahankannya selama persetubuhan dengan isteri 2. Pada saat anda ereksi setelah mengalami perangsangan seksual, seberapa sering penis anda cukup keras untuk dimasukkan ke dalam vagina isteri anda 3. Setelah penis anda masuk ke dalam vagina, seberapa sering anda mampu mempertahankan penis agar tetap tegang dan keras 4. Ketika melakukan persetubuhan, seberapa sulitkah anda mempertahankan ereksi sampai ejakulasi (mengeluarkan air mani) 5. Ketika anda melakukan persetubuhan, seberapa sering anda merasa puas

1.
Sangat rendah

2.
rendah

3.
sedang

4.
tinggi

5.
Sangat tinggi

Hampir tidak pernah/ tidak pernah Hampir tidak pernah/ tidak pernah Sangat sulit sekali

Kadangkadang /kurang dari setengah

Kadangkadang/ sama dengan setengah

Sering lebih dari setengah

Hampir selalu/ selalu

Indek masa tubuh BMI (body mass index) Hasil analisis varian (ANOVA) data tersebut (Tabel 3) menunjukkan bahwa faktor usia dan faktor fungsi ereksi berbeda sangat nyata (p<0,01), tetapi interaksi kedua faktor tersebut tidak berbeda nyata (p>0,05). Hasil uji lanjut Tukey (Tukey test) memperoleh hasil bahwa BMI penderita diabetik usia 50-60 tahun berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap pria sehat kelompok usia 50-60 tahun dan usia 61-70 tahun, tetapi tidak berbeda nyata (p>0,05) antara pria sehat usia 50-60 tahun dengan usia 61-70 tahun (Gambar 1). Hasil uji selanjutnya memperoleh hasil bahwa BMI faktor fungsi ereksi IIEF15-21 tidak berbeda nyata (p>0,05) terhadap IIEF<15 dan IIEF>21, tetapi BMI terhadap faktor IIEF<15 berbeda sangat nyata (p<0,01) dengan IIEF>21. Testosteron total TT (total testosteron) Hasil uji ANOVA terhadap testosteron total (Tabel 3) menunjukkan bahwa faktor usia dan skor fungsi ereksi berbeda nyata (p<0,05), tetapi interaksi kedua faktor tersebut tidak berbeda nyata (p>0,05). Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa kadar testosteron total penderita diabet usia 50-60 tahun tidak berbeda nyata (p>0,05) dibandingkan dengan pria sehat usia 50-60 tahun dan usia 61-70 tahun, tetapi berbeda sangat nyata (p<0,01) antara pria sehat usia 50-60 tahun dibandingkan dengan usia 61-70 tahun (Gambar 2). Selanjutnya, hasil uji perbandingan (Tukey test) terhadap faktor fungsi ereksi menunjukkan bahwa testosteron total pada status fungsi ereksi moderat (skor IIEF 15-21) berbeda sangat nyata (p<0,01) dibandingkan dengan (IIEF<15) dan (IIEF>21). Selain itu, kadar testosteron total pada fungsi ereksi normal (IIEF>21) lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi ereksi moderat (IIEF1521) dan fungsi ereksi rendah (IIEF<15) (Gambar 2) SHBG (sex hormone binding globulin) Hasil uji ANOVA terhadap SHBG (Tabel 3) menunjukkan bahwa faktor usia berbeda sangat nyata (p<0,01), sebaliknya terhadap faktor fungsi ereksi dan interaksi kedua faktor tersebut tidak berbeda nyata (p<0,05). Hasil uji perbandingan (Tukey test) terlihat bahwa kadar SHBG pada pria penderita diabet usia 50-60 tahun tidak berbeda nyata dengan pria sehat usia 50-60 tahun (p>0,05), tetapi berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap pria sehat usia 61-70 tahun juga antara pria sehat usia 50-60 tahun dengan usia 61-70 tahun (Gambar 3). Dengan demikian SHBG dalam penelitian ini tidak dapat digunakan sebagai faktor penduga gangguan fungsi ereksi, tetapi perlu dibuktikan melalui kemampuan daya ikat (binding capacity) SHBG tersebut terhadap androgen. Indek testosteron bebas (free testosterone index) Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa faktor usia sangat berpengaruh terhadap indek testosteron bebas (p<0,01), tetapi tidak berpengaruh pada fungsi ereksi (p>0,05). Hasil uji perbandingan rata-rata (Tukey test) diperoleh bahwa pria penderita diabet usia 50-60 tahun tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan pria sehat usia 50-60 tahun, tetapi ada perbedaan antara pria sehat usia 50-60 tahun dengan usia 61-70 tahun (Gambar 4).

Kadang- Kadangkadang / kadang/ sama kurang dengan dari setengah setengah Sangat sulit Sulit

Sering lebih dari setengah

Hampir selalu/ selalu

Agak sulit

Tidak sulit

Hampir tidak pernah/ tidak

Kadangkadang/ kurang dari setengah

Kadangkadang/ sama dengan setengah

Sering lebih dari setengah

Hampir selalu/ selalu

HASIL Hasil pengukuran kadar SHBG dan testosteron total disajikan pada tabel 3.
Tabel 3. Kadar testosteron total TT, SHBG dan indek testosteron bebas FTI, yang berhubungan dengan faktor status kesehatan/usia dan faktor status/skor fungsi ereksi Status kesehatan dan usia
Status/Skor fungsi ereksi (IIEF) Normal (>21 IIEF): BMI (kg/m2) Testosteron Total (nmol/L) SHBG (nmol/L) Indek Testosteron Bebas (nmol/L) Diabetik usia 50-60 tahun 25,35 Ø 3,04 17,56 Ø 7,41 47,16 Ø 8,60 0,38 Ø 0,16 Sehat usia 50-60 tahun 23,26 Ø 1,41 16,98 Ø 8,03 50,78 Ø 16,15 0,39 Ø 0,31 Sehat usia 61-70 tahun 22,88 Ø 1,95 15,31 Ø 7,79 57,50 Ø 18,11 0,27 Ø 0,12

Moderat (15-21 IIEF) BMI (kg/m2) Testosteron Total (nmol/L) SHBG (nmol/L) Indek Testosteron Bebas (nmol/L)

23,42 Ø 1,46 13,15 Ø 5,27 36,98 Ø 12,99 0,39 Ø 0,24

22,35 Ø 1,44 15,37 Ø 7,55 47,24 Ø 15,67 0,37 Ø 0,26

23,01 Ø 1,87 10,51 Ø 4,29 52,80 Ø 17,03 0,22 Ø 0,11

Kurang (<15 IIEF) BMI (kg/m2) Testosteron Total (nmol/L) SHBG (nmol/L) Indek Testosteron Bebas (nmol/L)

22,66 Ø 1,33 8,99 Ø 1,98 35,58 Ø 13,02 0,28 Ø 0,12

22,37 Ø 1,22 12,53 Ø 6,07 41,61 Ø 15,97 0,35 Ø 0,25

22,08 Ø 1,71 8,41 Ø 1,99 60,15 Ø 27,78 0,19 Ø 0,13

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

243

HASIL PENELITIAN

Gambar 1. Indek masa tubuh (kg/m2) berdasarkan status kesehatan/ usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun, pria sehat usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15, IIEF>21, IIEF15-21)

Gambar 4. Indek testosteron bebas FTI (nmol/L) berdasarkan status kesehatan/usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun, pria sehat usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15, IIEF>21, IIEF15-21)

DISKUSI Ereksi penis adalah sebuah kejadian yang dikendalikan oleh faktor psikologi dan status hormonal. Pada saat terjadi rangsangan seksual, impul saraf dapat menyebabkan dilepaskannya neurotransmiter dari ujung saraf cavernosa dan faktor-faktor pelepas dari sel-sel endotel penis, menghasilkan relaksasi otot polos pembuluh arteri dan kapiler yang mensuplai darah ke jaringan erektil (tiga batang corpora cavernosa) sehingga suplai darah/aliran darah ke dalam penis terjadi berlipat ganda. Selanjutnya, darah dalam jumlah besar terperangkap di dalam jaringan erektil corpora cavernosa sehingga terjadil ereksi; dalam keadaan seperti ini tekanan darah intrakavernosa mencapai 100 mHg.21 Secara klinis, disfungsi ereksi pada pria dapat diartikan sebagai ketidak mampuan pria untuk ereksi dengan sempurna, sehingga kepuasan seksual sulit dicapai. Istilah impoten lebih dikenal di masyarakat, karena kelainan ini tidak saja sering dialami oleh pria yang sudah berumur, tetapi juga oleh yang masih relatif muda. Di Amerika, sekitar 52% pria berusia antara 40-70 tahun mengalami impotensi atau pernah mengalami gangguan fungsi ereksi.26 Di Indonesia mungkin terjadi hal serupa, tetapi belum banyak diteliti. Gangguan fungsi ereksi tersebut berhubungan dengan psikologi, neurologi, hormonal, kelainan vaskularisasi penis, dan atau kombinasi faktor-faktor tersebut.21 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan fungsi ereksi terjadi pada pria penderita diabetik usia 50-60 tahun, dan pria sehat usia 50-70 tahun; tetapi masih diperlukan banyak informasi faktor-faktor apa yang langsung mempengaruhinya. Kadar testosteron pada pria diabetik usia 50-60 tahun dengan kategori gangguan fungsi ereksi rendah (IIEF<15) adalah lebih rendah yaitu 8,99 Ø 1,98 nmol/L dibandingkan dengan 16,98 Ø 8,03 nmol/L pada pria sehat usia 50-60 tahun dengan kategori fungsi ereksi normal (IIEF>21).

Gambar 2. Kadar testosteron total TT (nmol/L) berdasarkan status kesehatan/usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun, pria sehat usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15, IIEF>21, IIEF15-21)

Gambar 3. Kadar SHBG (nmol/L) berdasarkan status kesehatan/usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun, pria sehat usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15, IIEF>21, IIEF15-21)

244

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian lain memberi indikasi bahwa testosteron pada pria sehat dengan fungsi ereksi normal (IIEF>21) adalah 16,74 Ø 4,19 nmol/L27 Penelitian lain menyimpulkan bahwa pria sehat usia lanjut yang mengalami gangguan fungsi ereksi juga disebabkan rendahnya testosteron.22-27 Pada pria, penambahan usia berkorelasi negatif dengan produksi testosteron dan bioavailabilitasnya, sebaliknya berkorelasi positif terhadap produksi prorein SHBG.28,29 Infertilitas dalam bentuk oligospermia dan azoospermia diduga disebabkan oleh hambatan biosintesis SHBG dan perbedaan efektivitas kerja testosteron.30 Perbedaan efektivitas kerja testosteron pada sel germinal maupun jaringan target lainnya adalah karena sangat tergantung pada kadar SHBG, struktur molekul, dan kemampuan ikatan SHBG.9 Dengan kata lain, juga akan mempengaruhi jaringan erektil pada penis, sehingga fungsi ereksinya normal. Kadar SHBG rata-rata pada pria normospermia (29,59 Ø 9,58 nmol/L) lebih tinggi dibandingkan pria azoospermia (19,76 Ø 9,43 nmol/L).30 Apakah kadar SHBG juga berhubungan langsung dengan fungsi ereksi masih harus dianalisis. Dari hasil penelitian ini, tampaknya SHBG tidak berhubungan langsung dengan fungsi ereksi, tetapi tergantung dari usia. Pada pria sehat usia 50-60 tahun maka kadar SHBG dengan fungsi ereksi normal (IIEF>21) lebih tinggi 50,78 Ø 16,15 nmol/L dibandingkan dengan kategori fungsi ereksi rendah (IIEF<15) dan fungsi ereksi moderat (IIEF15-21) yaitu masing-masing 41,61 Ø 15,97 dan 47,24 Ø 15,67 nmol/L. Pada pria sehat usia 61-70 tahun terjadi sebaliknya bahwa pada kategori fungsi ereksi rendah (IIEF<15) kadar SHBGnya lebih tinggi (60,15 Ø 27,78 nmol/L) dibandingkan dengan penderita diabetik usia 50-60 tahun untuk kategori fungsi ereksi yang sama (35,58 Ø 13,02 nmol/L). Dengan demikian kadar SHBG tidak berhubungan langsung dengan gangguan fungsi ereksi, tetapi dapat diduga berhubungan dengan kemampuan ikatannya terhadap androgen. Untuk itu telah dilakukan penetapan indek testosteron bebas (FTI, free testosteron index), yaitu dengan cara membagi testosteron total (nmol/L) dengan SHBG (nmol/L).22,23 Oleh karena kadar SHBG meningkat sebanding dengan bertambahnya usia, sebaliknya kadar testosteron menurun sebanding dengan usia, maka FTI dalam penelitian ini semakin rendah sebanding dengan bertambahnya usia (Gambar 4). Analisis varian (ANOVA) terhadap Indek testosteron bebas menunjukkan bahwa faktor usia sangat berpengaruh terhadap FTI (p<0,01), tetapi tidak mempengaruhi fungsi ereksi (p>0,05). Testosteron total dan testosteron bebas tidak berhubungan dengan keinginan seksual pada pria yang mengalami gangguan fungsi ereksi, tetapi testosteron bebas berpengaruh terhadap frekuensi dan kualitas ereksi pada malam hari (nocturnal erection), dan ketika gangguan fungsi ereksi lebih berat (severe).24 Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa gangguan fungsi ereksi tidak langsung dipengaruhi oleh testosteron bebas, tetapi mungkin berhubungan dengan penurunan kadar testosteron plasma. Hal ini diperkuat oleh penelitian lain, bahwa testosteron plasma merupakan faktor hormonal yang penting dalam mengontrol fungsi ereksi penis.21-25 Dengan demikian baik SHBG maupun indek testosteron bebas (FTI) tidak dapat digunakan sebagai faktor yang berpengaruh langsung terhadap fungsi ereksi. Kelemahan penelitian ini adalah jumlah subyek yang sangat terbatas yaitu hanya 15 orang pada masing-masing kategori fungsi ereksi dan faktor usia, tetapi hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data awal untuk penelitian lebih lanjut. Kajian tentang SHBG belakangan ini dikaitkan dengan berbagai penyakit di antaranya penyakit-penyakit metabolisme dan penyakit degeneratif terutama yang berhubungan dengan hormon seks termasuk fertilitas dan seksualitas. SIMPULAN Mekanisme fisiologi ereksi penis sangat rumit, dan dikontrol oleh kombinasi banyak faktor. Dalam penelitian ini sangat mungkin ada hambatan psikologi dari para responden, sehingga kurang baik menjawab pertanyaan. Namun demikian dapat disimpulkan bahwa: (1) testosteron merupakan faktor hormonal yang sangat penting dalam mengontrol fungsi ereksi penis, (2) SHBG dan indek testosteron bebas (FTI) secara parsial tidak bisa digunakan sebagai faktor penduga terhadap gangguan fungsi ereksi.

DAFTAR PUSTAKA Rincian daftar pustaka ada pada redaksi.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

245

TINJAUAN PUSTAKA

Aspek Ekonomi Demografi Penduduk Lansia Indonesia
Evi Nurvidya Arifin
Visiting Research Fellow, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore

PENDAHULUAN Menjadi tua merupakan sebuah proses alami yang tak mungkin dihindari. Data statistik dari waktu ke waktu memperlihatkan bahwa penduduk Indonesia makin lama makin berumur panjang. Jumlah penduduk yang berumur panjang semakin banyak. Kita simak data harapan hidup pada awal dekade 1970an, saat penduduk Indonesia umumnya tidak akan hidup melewati setengah abad. Persisnya, penduduk perempuan yang dilahirkan pada periode tersebut mempunyai harapan hidup selama 47.2 tahun, lebih lama 3 tahun daripada harapan hidup laki-laki1. Kondisi perekonomian dan politik Indonesia saat itu dan tahuntahun sebelumnya dalam keadaan tidak menguntungkan. Pertumbuhan ekonomi pada periode 1961-1965 melaju dengan sangat pelan, yaitu 2 persen per tahun. Inflasi begitu tinggi. Secara politik, masa ini adalah masa transisi dari regim Orde Lama ke Orde Baru. Awal masa Orde Baru perekonomian Indonesia mulai membaik. Sejalan dengan itu kondisi demografis penduduk Indonesia juga meningkat secara menakjubkan. Dalam kurun waktu kira-kira dua dekade, harapan hidup saat lahir penduduk Indonesia menurut sensus penduduk tahun 1990 telah menjadi sebesar 61,5 tahun untuk perempuan dan 58,1 tahun untuk laki-laki. Kemajuan terus diraih hingga pada periode tahun 2005 diperkirakan penduduk Indonesia bahkan diharapkan hidup hingga 71,1 tahun untuk perempuan dan 67,1 tahun untuk laki-laki2. Nampaknya trend ini akan terus berlanjut di masamasa mendatang. Perubahan elemen-elemen demografi ini berdampak luas pada perubahan struktur umur penduduk Indonesia yang pada akhirnya bisa mempengaruhi keadaan ekonomi-sosial-politik Indonesia. Tulisan ini bertujuan mendiskusikan perubahan struktur penduduk Indonesia yang dihiasi dengan makin banyaknya penduduk lansia, penduduk berumur 60 tahun ke atas. Tanpa mengesampingkan pentingnya dampak sosial dan politik, diskusi dibatasi pada dampak ekonomi-demografis penuaan penduduk Indonesia. Pembahasan dimulai dengan memaparkan perubahan struktur penduduk Indonesia sepanjang rentang waktu yang menyangkut masa lalu, masa kini dan masa depan; berikutnya mengenai demographic window of opportunity, dan ditutup dengan sebuah renungan atau pemikiran untuk bagaimana memanfaatkan peluang emas dari jendela kesempatan secara demografis yang hanya terjadi sekali dalam sebuah perjalanan penduduk suatu wilayah/negara.

DARI BOROBUDUR KE MENDUT: Sebuah Evolusi Piramida penduduk Indonesia akan dan telah mengalami evolusi bentuk dari bentuk yang menyerupai Candi Borobudur menuju bentuk Candi Mendut. Pada saat menyerupai Candi Borobudur, piramida penduduk Indonesia mempunyai karakteristik beralas lebar, yang mencerminkan besarnya jumlah penduduk usia muda karena angka kelahiran yang tinggi, dan kemiringan yang cukup landai, mencerminkan angka kematian pada setiap kelompok umur cukup tinggi. Bentuk candi Borobudur ini masih bisa kita amati pada tahun 1971 (Gb.1) dengan karakteristik jumlah angka kelahiran dan kematian yang cukup tinggi. Pada akhir tahun 1960an, rata-rata anak yang dilahirkan antara 5 dan 6 orang per wanita usia reproduksi dan angka kematian bayi mencapai di atas 100 per 1000 bayi lahir hidup; angka kematian bayi yang diestimasi dari sensus penduduk tahun 1971 sebesar 158 per 1000 bayi laki-laki lahir hidup dan 134 per 1000 bayi perempuan lahir hidup. Pada saat ini menurut tahapan transisi epidemiologi, penduduk Indonesia berada di tahap soft rock dengan kematian karena penyakit-penyakit infeksi menjadi sebab utama kematian bayi.

Gambar 1. Piramida Penduduk Indonesia: 1971

Penduduk muda usia di bawah 15 tahun, yang belum bisa berproduksi tetapi sudah mengkonsumsi, berjumlah 51 juta orang atau 44,0 persen dari penduduk Indonesia pada tahun 1971. Banyaknya penduduk muda ini mengakibatkan konsumsi dan kebutuhan masyarakat dan pemerintah yang tinggi akan sarana pendidikan, kesehatan dan barang-jasa lainnya untuk kepentingan penduduk muda. Akibatnya, tabungan (saving) masyarakat dan pemerintah rendah. Beban ketergantungan cukup tinggi, sebesar 86% pada awal 1970-an. Ini berarti setiap 100 penduduk usia kerja (15-64 tahun) menanggung beban 86 orang ; 82 orang di antaranya berusia di bawah 15 tahun.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

247

TINJAUAN PUSTAKA
Berbagai kebijakan pemerintah untuk menurunkan angka kelahiran dan kematian telah berhasil mengubah piramida penduduk Indonesia hingga pada suatu ketika akan berbentuk seperi Candi Mendut (Gambar 2) yang berciri jumlah penduduk muda yang relatif berimbang dengan jumlah penduduk tua (di atas 60 tahun). Sementara itu jumlah penduduk usia kerja (15-64) berjumlah 144,4 juta, jumlah yang cukup banyak untuk memajukan perekonomian bila dikelola dengan baik. Pertanyaannya, siapkah dan bagaimanakah memanfaatkan jumlah yang besar dari penduduk yang potential berproduksi?

Gambar 2. Piramida Penduduk Indonesia 2035

Gambar 3. Piramida Penduduk Indonesia: 2005

Dengan angka kelahiran yang makin menurun ditambah angka harapan hidup yang makin tinggi, proporsi jumlah penduduk tua akan makin tinggi pula. Diperkirakan antara tahun 2035 dan 2040 angka beban ketergantungan akan kembali mencapai 50% untuk kedua kalinya. Pada saat itu komposisi beban ketergantungan penduduk tua mulai lebih besar dari yang muda. Ketika penduduk Indonesia menyerupai Candi Mendut dengan dasar piramida dan bagian atas yang sama besar, mencerminkan jumlah penduduk tua yang makin banyak sementara jumlah penduduk muda tidak lagi banyak. Manakala jumlah penduduk tua ini semakin banyak, saving masyarakat dan pemerintah juga bisa semakin kecil karena penduduk tua ini sudah tak bisa berproduksi lagi tetapi masih terus mengkonsumsi bahkan bisa makin besar ketika hidupnya tidak sehat. Peningkatan proporsi penduduk tua bisa mengubah pola pelayanan kesehatan, mengubah pola infrastuktur dan juga perekonomian. Dari Prambanan ke Mendut: Demographic Window of Opportunity Untungnya sebelum berada di Candi Mendut Indonesia akan berada di Candi Prambanan dulu, ketika masyarakat dan negara mempunyai potensi untuk menabung. Mengapa demikian? Candi Prambanan, itulah kondisi kependudukan Indonesia antara 2005-2035. Pada masa ini persentase penduduk muda akan makin berkurang sementara persentase penduduk yang berusia lebih tua mulai makin meningkat. Peningkatan jumlah penduduk usia kerja merupakan potensi bagi pemerintah untuk bisa memperbanyak tabungan. Gambar 3 memperlihatkan piramida penduduk Indonesia tahun 2005. Bagian puncak piramida sudah tak lancip lagi. Pada tahun 2005, penduduk berumur di atas 65 tahun berjumlah 10,1 juta, penduduk muda berumur di bawah 15 tahun sebanyak 63,6 juta. Dengan kata lain, walau jumlahnya masih meningkat, persentase penduduk muda di tahun 2005 hanya 29,1% telah berkurang dari 44.0% di tahun 1971.

Dengan komposisi umur seperti ini, angka beban ketergantungan total di 2005 mencapai 50% untuk pertama kalinya, artinya setiap dua orang penduduk usia kerja hanya menanggung seorang penduduk usia ∆beban∆. Dengan kata lain, pada saat ini masyarakat dan pemerintah berpotensi dapat menabung. Dalam beberapa tahun ke depan, angka beban ketergantungan total masih akan terus mengecil sampai kira-kira 43% pada periode 2020-2025 lalu perlahan meningkat lagi dan menembus di atas 50% setelah tahun 2035 . Periode angka beban ketergantungan total berada di bawah 50% disebut Demographic Window of Opportunity, sebuah jendela kesempatan secara demografis. Sebuah kesempatan emas yang hanya terjadi sekali di suatu daerah. Apabila dimanfaatkan secara baik, kesempatan ini akan berbuah emas bagi perekonomian karena saatnya untuk melakukan investasi yang baik. Setelah tahun 2035, demographic window of opportunity itu akan kembali tertutup dan beban ketergantungan akan makin diwarnai oleh beban pembiayaan bagi penduduk di atas 65 tahun. Perlu diingat bahwa keragaman antar propinsi di Indonesia terlihat cukup jelas akibat keragaman proses perubahan demografis dan perbedaan perkembangan ekonomi antar propinsi. Kita simak keadaan di tahun 2000 dan 2005. Tabel 1 memperlihatkan angka beban ketergantungan total di propinsi yang didekomposisi menjadi angka beban ketergantungan muda dan tua. Terlihat jelas dari tabel tersebut bahwa beberapa propinsi khususnya propinsi di Jawa telah memasuki demographic window of opportunity jauh sebelum Indonesia secara keseluruhan mengalaminya. Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur telah memasuki demographic window of opportunity sejak sebelum tahun 2000, diperkirakan sejak awal 1990an. Sementara Jawa Tengah baru memasukinya pada tahun 2005, sedangkan Jawa Barat dan Banten mungkin baru saja akan memasukinya. Jakarta cukup mengkhawatirkan, kesempatan itu mungkin sebentar lagi akan habis. Tren dari 2000 ke 2005, angka beban ketergantungan total

248

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

TINJAUAN PUSTAKA
sudah mulai menaik lagi. Paling tidak antara 2015 hingga 2020 Jakarta akan sudah kehilangan demographic window of opportunity. Pada saat itu beban karena penduduk usia tua akan makin terasakan. Beban membiayai penduduk tua di Jakarta sedikit meningkat: dari kira-kira 3 orang (tahun 2000) ke 4 orang per 100 penduduk usia kerja di tahun 2005. Pembiayaan di Jakarta akan makin tersedot untuk penduduk usia tua. Propinsi di luar Jawa yang telah berada di masa demographic window of opportunity lebih awal yaitu Bali. Pada tahun 2000, beban ketergantungan total mencapai 45.5%, itulah titik terendah Bali. Seperti kasus Jakarta, Bali kini mulai mengalami kenaikan angka beban ketergantungan, menjadi 46.8% di tahun 2005. Tak ketinggalan dengan Jakarta dan Bali, Sulawesi Utara dalam lima tahun terakhir mengalami kenaikan angka beban ketergantungan dari 48.3% di tahun 2000 ke 49.3% di tahun 2005. Mungkin Sulawesi Utara akan menutup kesempatan demografis dalam waktu yang tak lama lagi. Beberapa propinsi di Sumatra dan Kalimantan baru saja memasuki masa demographic window of opportunity di tahun 2005. Propinsi tersebut yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Propinsipropinsi ini perlu segera memikirkan pembangunan ekonomi mereka agar kesempatan emas dari komposisi penduduk yang secara demografis menguntungkan akan mendapatkan buahnya. Selain itu untuk mempersiapkan masa depan yang baik, penduduk tua juga perlu dipersiapkan untuk tetap hidup lama, aktif dan produktif sehingga bebannya tidak sesuram yang dibayangkan. Persoalan kelanjutusiaan di Indonesia juga bercirikan jumlahnya yang besar dengan pertumbuhan yang cepat. Pada tahun 2005, jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas sebanyak 15,8 juta orang, kira-kira sama dengan seluruh penduduk Jakarta di siang hari. Dari jumlah ini, 68% atau 10,6 juta berdomisili di Pulau Jawa. Keragaman antar kabupaten/kota di Jawa dan Luar Jawa juga jelas terlihat. Secara umum, kabupaten/kota di Jawa mempunyai proporsi jumlah penduduk tua yang lebih tinggi dibandingkan proporsi yang sama di luar Jawa, dengan proporsi tertinggi diraih salah satunya oleh kabupaten Pacitan, kabupaten asal Pak SBY, (14,2% untuk penduduk 60 tahun keatas, 10,0% untuk 65 tahun keatas di tahun 2005). Beban ketergantungan di Pacitan mencapai 47,3% di tahun 2005. Persentase penduduk tua di kabupaten ini secara demografis sudah seperti negara maju, walau secara ekonomi masih tertinggal. Bagaimana Memanfaatkan Peluang Emas? Proses penuaan penduduk Indonesia sedang dan akan terus berlangsung dengan kecepatan yang diperkirakan makin cepat. Proses ini akan berdampak pada perubahan kondisi ekonomi, politik, dan sosial termasuk kesehatan. Pembiayaan dan pelayanan kesehatan akan berubah dengan makin diwarnai untuk memenuhi kebutuhan kesehatan penduduk tua. Pasar kerja juga akan semakin menua. Namun, ada kesempatan emas dari perubahan penduduk ini. Secara keseluruhan penduduk Indonesia akan mengalami Demographic Window of Opportunity sejak masa kini, lebih persisnya kira-kira antara 2005 dan 2035. Namun melihat keragaman antar propinsi, beberapa propinsi seperti Jakarta, Bali dan Sulawesi Utara telah dalam keadaan kritis, masa keemasan ini hampir berakhir. Kita pasti akan tiba di candi Mendut; masih ada waktu untuk persiapan agar tiba dengan kondisi yang jauh lebih baik. Seyogyanya life-cycle saving yang besar bisa dilaksanakan. Selama masa usia produktif, bergiat-giat melakukan akumulasi aset dan investasi. Pada masa pensiun, aset dan investasi digunakan untuk membiayai kehidupan saat itu.
Tabel 1. Dekomposisi Angka Beban Ketergantungan menurut Provinsi: Indonesia, 2000 √ 2005
Provinsi
2000 Jawa-Bali Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Luar Jawa-Bali Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka-Belitung Kepulauan Riau Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua TOTAL 32.22 47.45 44.40 32.38 37.23 54.67 37.21

Muda
2005 33.53 44.47 40.65 30.66 35.50 48.53 38.03 2000 2.91 6.68 9.02 12.27 8.65 4.23 8.33

Tua
2005 3.70 6.61 9.94 13.11 9.31 3.85 8.78 2000

Total
2005 37.22 51.08 50.59 43.77 44.81 52.38 46.81

35.13 54.13 53.41 44.65 45.87 58.90 45.54

54.15 57.86 55.23 50.90 51.36 56.02 53.95 51.63 50.30 57.43 63.10 55.01 51.96 47.37 47.01 41.04 53.04 52.01 63.38 50.72 63.81 63.36 59.86 46.82

51.12 53.49 51.41 50.50 47.23 45.51 48.76 46.51 44.04 38.27 53.01 64.43 49.09 50.31 44.81 45.50 40.78 52.04 49.60 57.56 52.39 55.14 57.53 55.76 43.80

4.17 5.60 8.63 3.27 4.32 5.06 4.83 5.79 5.59 5.62 7.19 4.39 3.58 4.81 3.06 7.30 4.68 6.95 4.77 4.92 6.72 4.58 1.66 6.77

5.89 5.32 8.42 3.45 4.09 4.99 4.58 6.62 5.52 2.65 6.00 7.24 4.43 3.33 4.79 2.91 8.54 4.30 7.01 4.42 4.65 5.92 3.90 1.26 7.02

58.32 63.46 63.86 54.17 55.68 61.09 58.79 57.42 55.88 63.05 70.29 59.41 55.55 52.18 50.07 48.34 57.72 58.96 68.15 55.64 70.53 67.94 61.52 53.59

57.01 58.81 59.83 53.95 51.32 50.50 53.34 53.13 49.56 40.92 59.01 71.67 53.52 53.64 49.60 48.42 49.32 56.34 56.61 61.98 57.04 61.06 61.44 57.01 50.81

Sumber: Dikompilasi dan dihitung dari 30 publikasi Badan Pusat Statistik (2001) untuk tahun 2000 dan Badan Pusat Statistik (2006)5 untuk tahun 2005. Catatan: Kepulauan Riau merupakan propinsi baru yang berpisah dari propinsi Riau di tahun 2003. Nanggroe Aceh Darussalam tidak termasuk dalam SUPAS 2005, melainkan mempunyai sensus khusus yang dilakukan pada tahun yang sama (SPAN 2005).

KEPUSTAKAAN 1. Badan Pusat Statistik. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. 2005. 2. Ibid. 3. Ananta A, Evi Nurvidya Arifin, Bakhtiar. Ethnicity and Ageing in Indonesia, 2000-2050. Asia Population Studies J 2005;1(2):227 - 243. 4. Robine J. Introduction on demographic transition and dependency ratios: challenges and opportunities. Paper presented at «International Seminar on Demographic Window and Healthy Aging: Socioeconomic Challenges and Opportunities», IUSSP and the Asia MetaCentre in collaboration with Center of Healthy Aging and Family Studies, Peking University, Beijing, 10 - 11 May 2004. 5. Badan Pusat Statistik. Penduduk Indonesia: Hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2005. Jakarta: Badan Pusat Statistik. 2006.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

249

HASIL PENELITIAN

Aplikasi Cobas Amplicor System dalam Deteksi Dini Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)
Sinta Sasika Novel1, Runingsih2
1. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran,Bandung,Indonesia 2. Staf Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Indonesia

ABSTRAK Penelitian aplikasi Cobas Amplicor System dalam Deteksi Dini Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dimaksudkan untuk mempelajari deteksi RNA HIV penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) menggunakan perangkat diagnostik Cobas Amplicor® Roche. Tujuan penelitian ini adalah menilai kemampuan sistem Cobas Amplicor untuk mendeteksi keberadaan HIV dalam sampel. Kegunaan penelitian ini adalah untuk penguji tingkat akurasi teknik Cobas Amplicor sebagai salah satu cara deteksi dini infeksi HIV. Hasil dari 18 pasien adalah 3 pasien negatif, 8 pasien positif low, dan 7 pasien positif high. Nilai Log dari 3 pasien negatif: pasien 1 (2.744), pasien 8 (2.924), pasien 17 (1.996); 8 pasien positif low: pasien 2 (4.088), pasien 3 (3.526), pasien 4 (4.639), pasien 5 (4.459), pasien 6 (4.078), pasien 7 (3.719), pasien 15 (4.152), pasien 18 (3.064); 7 pasien positif high: pasien 9 (5.441), pasien 10 (6.198), pasien 11 (5.128), pasien 12 (5.608), pasien 13 (5.825), pasien 14 (5.074), pasien 16 (6.157). Kata kunci : AIDS, Cobas Amplicor System, HIV, Log, RNA.
PENDAHULUAN Istilah HIV (Human Immunodeficiency Virus) pertama kali digunakan sejak tahun 1986(1) sebagai penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yaitu sindrom akibat penurunan sistem kekebalan tubuh(2). Nama HIV pertama kali diusulkan oleh Luc Montagnier dari Perancis. HIV awalnya bernama LAV (lymphadenopathy-associated virus)(3,4), kemudian Robert Gallo dari Amerika Serikat memberi nama HTLV-III (human T lymphotropic virus type III)(5). HIV termasuk dalam familia retrovirus, subfamilia lentiviridae. Virion bulat, berdiameter 80-100 nm, core silindris, dan memiliki amplop. Genom yaitu RNA beruntai tunggal, lurus, positive-sense, berukuran 9-10 kb(6). Memiliki glikoprotein pada amplop, enzim transkriptase terkandung di dalam virion, dan protease digunakan untuk memproduksi virus infeksius(7). Dua tipe HIV yang menginfeksi manusia yaitu HIV-1 dan HIV-2. Tipe HIV-1 lebih virulen dan mudah menular sedanglan HIV-2 umumnya masih terisolasi di Afrika Barat(8,9). Diduga HIV pada manusia berasal dari infeksi silang SIV (Simian Immunodeficiency Virus) di Afrika Barat dan Tengah(10). HIV menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia dengan menggunakan dua reseptor, yaitu reseptor non-CD4 untuk fusi virus dengan membran dan reseptor CD4 yang diekspresi pada makrofag dan limfosit(7).

Gambar 2. Infeksi HIV ke dalam sel makrofag (1) virus menempel pada membran sel dengan adanya reseptor CD4 dan non-CD4, (2) virus melalukan fusi dengan membrane sel inang serta mengeluarkan asam nukleat, (3) asam nukleat virus menyisip pada DNA sel inang, (4) terbentuk mRNA dan mRNA membentuk protein, (5) perakitan virion, dan (6) virus baru terbentuk.
Sumber : http://aidsinfo.nih.gov

Gambar 1. Struktur HIV
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:HIV_Viron.png

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

257

HASIL PENELITIAN
MAKSUD, TUJUAN, DAN KEGUNAAN PENELITIAN Maksud penelitian ini untuk mempelajari deteksi RNA HIV penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) menggunakan perangkat diagnostik Cobas Amplicor® Roche. Tujuannya untuk mengetahui kemampuan sistem Cobas Amplicor dalam mendeteksi keberadaan HIV dalam sampel. Kegunaan penelitian ini adalah untuk penguji tingkat akurasi teknik Cobas Amplicor sebagai salah satu cara deteksi dini infeksi HIV. BAHAN DAN CARA KERJA Bahan: reagen HIV-1 lysis, HIV-1 quantitation standard, HIV-1 spesimen diluents, NHP (Negative Human Plasma), HIV-1 negative control, HIV-1 Low (+) control, HIV-1 High (+) control, HIV-1 Master Mix, HIV-1 Mn2+, HIV-1 microwell plate, detanuration solution, hybridization buffer, AV-HRP (Avidin-Horseradish Peroxidase Conjugate), substrat A, substrat B, stop reagen, dan wash concentrate. Cara Kerja: pengujian sampel menggunakan perangkat diagnostik Cobas Amplicor. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel, persiapan reagen, isolasi asam nukleat, persiapan kontrol, amplifikasi, hibridisasi, dan deteksi.
Gambar 4. Sistematik mekanisme kerja Cobas Amplicor System.

Perbanyakan dilakukan dengan membentuk cDNA dari RNA target. Hasil amplifikasi akan(13,14) didenaturasi dengan menggunakan detanuration solution untuk memasuki tahap hibridisasi. Amplikon akan berikatan dengan probe SK102 dan CP35 dalam MWP (Micro Well Plate). Keberhasilan suatu hibridasasi ditentukan oleh deteksi dengan penambahan AV-HRP (Avidin-Horseradish Peroxidase Conjugate) dan TMB (Tetramethylbenzidine). Proses amplifikasi, hibridisasi, dan deteksi dilakukan oleh Cobas Amplicor System secara otomatis.

HASIL DAN DISKUSI Cobas Amplicor adalah suatu teknologi canggih dan sensitif untuk menghitung jumlah materi genetik virus HIV di dalam darah. Cobas Amplicor yang akurat dan sensitif memiliki kemampuan deteksi secara konsisten, spesifisitas yang tinggi, dan reprodusibilitasnya baik(11). Tahap awal pemeriksaan HIV dengan Cobas Amplicor adalah preparasi spesimen sesuai prosedur standar. RNA HIV-1 diisolasi dari plasma sel yang dilisis menggunakan reagen working HIV-1 lysis diikuti presipitasi RNA dengan alkohol. RNA yang sudah terisolasi ditambahi HIV-1 specimen diluents, stabil selama 2 jam atau disimpan pada suhu -210 C(12). Isolasi RNA dari setiap sampel dimasukkan ke dalam tabung microamp yang sudah mengandung working master mix untuk memasuki tahap amplifikasi.

Sumber : DiDomenico dkk, 1996

Prinsip kerja Cobas Amplicor berdasarkan pada amplifkasi menggunakan teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction)(11). Prinsip kerja PCR adalah menghasilkan kopi berlipat ganda dari sekuen nukleotida organisme target yang dapat mendeteksi target organisme dalam jumlah sangat rendah dengan spesifisitas tinggi(15). Dalam prosesnya asam nukleat virus yang ada di dalam darah sampel akan digandakan berulang-ulang sehingga didapat jutaan kopi. Amplikon yang didapatkan akan direaksikan dengan reagen spesifik sehingga dapat dihitung jumlah partikel virus HIV dalam setiap mililiter darah yang diperiksa. Hasil pemeriksaan dilaporkan dalam copies/mL atau dalam perhitungan matematika logaritma (Log).
Tabel Nilai Log pada Pasien :
Pasien
Kontrol (-) Kontrol L(+) Kontrol H(+) Pasien 1 Pasien 2 Pasien 3 Pasien 4 Pasien 5 Pasien 6 Pasien 7 Pasien 8 Pasien 9 Pasien 10 Pasien 11 Pasien 12 Pasien 13 Pasien 14 Pasien 15 Pasien 16 Pasien 17 Pasien 18

Kode Pasien
HE009061 HE009062 HE009063 HE009064 HE009065 HE009066 HE009067 HE009068 HE009069 HE080541 HE080542 HE080543 HE080544 HE080545 HE080546 HE080547 HE080548 HE080549

HIV-RNA
Copies/mL 644 5,378 422,372 555 12,232 3,357 43,522 28,783 11,970 5,236 840 276,089 1,576,687 134,167 405,858 667,949 118,514 14,186 1,434,057 99 1,158

LOG
2.809 3.731 5.626 2.744 4.088 3.526 4.639 4.459 4.078 3.719 2.924 5.441 6.198 5.128 5.608 5.825 5.074 4.152 6.157 1.996 3.064

Hasil
Negatif Positif low Positif high Negatif Positif low Positif low Positif low Positif low Positif low Positif low Negatif Positif high Positif high Positif high Positif high Positif high Positif high Positif low Positif high Negatif Positif low

Gambar 3. Cobas Amplicor System (1) lokasi thermal cycler heating/ cooling blocks, (2) pipet otomatis, (3) incubator, (4) tempat pencucian, dan (5) fotometer.
Sumber : DiDomenico dkk, 1996

258

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

HASIL PENELITIAN
Penentuan pasien negatif atau positif dilihat dari nilai HIV-RNA (copies/mL). Pada pemeriksaan ini, pasien negatif HIV bila nilai HIV-RNAnya di bawah 1,100 copies/mL; pasien positif L(+) nilai HIV-RNAnya 1,100-9,700 copies/mL; dan pasien positif H(+) nilai HIV-RNAnya 76,000-750,000 copies/mL. Dari data di atas diperoleh 3 pasien negatif, 8 pasien positif low, dan 7 pasien positif high. SIMPULAN 1. Cobas Amplicor System dapat mendeteksi infeksi HIV. 2. Hasil Cobas Amplicor System apabila melebihi nilai ambang positif maka spesimen dinyatakan positif low atau high terinfeksi HIV sesuai dengan nilai HIV-RNA copies/mL. 3. Cobas Amplicor System dapat digunakan untuk deteksi dini infeksi HIV dan memantau pengobatan pasien HIV dengan memeriksa jumlah materi genetik virus di dalam darah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Coffin J, Haase A, Levy JA, dkk. What to call the AIDS virus?. Nature 1986; 321: 1-10. 2. Dybul M, Fauci AS, Bartlett JG, Kaplan JE, Pau AK, and the Panel on Clinical Practices for Treatment of HIV. Guidelines for using antiretroviral agents among HIV-infected adults and adolescents. Ann Intern Med. 2002; 137: 381-433. 3. Barre-Sinoussi F, Chermann JC, Rey F, dkk. Isolation of a T-lymphotropic retrovirus from a patient at risk for acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Science. 1989; 220: 868-871. 4. Crystal S, Akincigil A., Sambamoorthi U, dkk. The diverse older HIV-positipopulation: a national profile of economic circumstances, social support, and quality of life. AIDS 2003; 33: S76-S83. 5. Popovic M, Sarngadharan MG, Read E, dan Gallo RC. Detection, isolation, and continuous production of cytopathic retroviruses (HTLV-III) from patients with AIDS and pre-AIDS. Science 1984; 224: 497-500. 6. Hallfors DD, Iritani BJ, Miller WC, Bauer DJ. Sexual and drug behavior patterns and HIV and STD racial disparities: the need for new direction. Am. J. Publ. Health 2007; 97(1): 125-32. 7. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi Kedokteran Jilid 2. Diterjemahkan oleh : Nani Widorini. Jakarta: Salemba Medika, 2005. 8. Reeves JD, Doms RW. Human immunodeficiency virus type 2. Gen Virol. 2002; 83: 1253-65. 9. Kahn JO, Walker BD. Acute Human Immunodeficiency Virus type 1 infection. N Engl J Med. 1998; 331: 33-9. 10. Gao F, Bailes E, Robertson DL, dkk. Origin of HIV-1 in the chimpanzee Pantroglodytes troglodytes. Nature 1999; 397: 436-41. 11. DiDomenico N, Link H, Knobbi R, Caratsch T, Weschler W, Loewy ZG, Rosenstraus M. Cobas AmplicorTM: fully automated RNA and DNA amplification and detection system for routine diagnostic PCR. Clin. Chem. 1996; 42(12): 1915-23. 12. Mulder J, McKinney N, Christopherson C, Sninsky J, Greenfield L, Kwok S. Rapid and simple PCR assay for quantitation of human immunodeficiency virus type 1 RNA in plasma: application to acute retroviral infection. J Clin Microbiol. 1994; 32: 292-300. 13. Kellogg DE, Sninsky JJ, Kwok S. Quantitation of HIV-1 proviral DNA relative to cellular DNA by the polymerase chain reaction. Anal Biochem. 1990; 189: 202-208. 14. Nuovo GJ, Gallery F, MacConnel P, Becker I, Bloch W. An improved technique for the in situ detection of DNA after polymerase chain reaction amplification. Am J Pathol. 1991; 139: 1239-1244. 15. Bugawan TL, AppleR, ErlichHA.A method for typing polymorphism at the HLA-A locus using PCR amplification and immobilized oligonucleotide probes. Tissue Antigens 1994; 44: 137-47.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

cdk.r

edaks

i@yah

oo.co

.id

259

HASIL PENELITIAN

Hubungan Pemberian Selenium dan Vitamin C dengan Peningkatan Kadar Kolinesterase Darah Petani Penyemprot Organofosfat di Temanggung
Ari Suwondo
Staf Pengajar Bagian K-3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

ABSTRAK Latar belakang : Gejala keracunan organofosfat timbul akibat hambatan aktivitas enzim kolinesterase darah ( ChEA ), kembali normalnya ChEA sangat tergantung pada kemampuan detoksikasi dengan bantuan enzim glutation peroksidase (GPX) di hati, enzim yang sangat tergantung pada Selenium. Tujuan penelitian : mempelajari pengaruh penambahan Selenium dan vit C terhadap kadar ChEA, GPX dan Hb petani penyemprot pestisida, sebagai upaya pencegahan keracunan akut pestisida organofosfat. Metoda: penelitian eksperimen murni dengan desain Pretest-posttest Control Groups Design. Sampel 99 petani penyemprot organofosfat di desa Pasuruan, kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah yang memenuhi kriteria inklusi; dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 33 orang. Kelompok I diberi Selenium, kelompok II Selenium + vit C dan kelompok III sebagai kontrol. Perlakuan selama 7 hari berturut-turut. Pemeriksaan kadar ChEA, GPX dan Hb dilakukan sebelum dan setelah perlakuan ( hari ke 8 ). Hasil : Ada perbedaan bermakna kadar ChEA kelompok Selenium dibandingkan kelompok kontrol ( p = 0,050 ), juga pada kelompok Selenium + Vit C dibandingkan kelompok kontrol ( p = 0,014 ). Simpulan: Penambahan Selenium 200 ±g selama 7 hari meningkatkan kadar ChEA sebesar 1,85% dan kadar Hb sebesar 2.66%. Kata kunci : Selenium, vit C, Eksperimen, kadar ChEA, GPX dan Hb.
PENDAHULUAN Keracunan akut pestisida masih merupakan masalah di masyarakat, 19 negara melaporkan 500.000 kasus pertahun dengan angka kematian 1% yang berarti 5.000 orang meninggal karena keracunan pestisida pertahun. Angka kejadian keracunan sesungguhnya lebih besar yaitu 2 juta pertahun, 40.000 kasus di antaranya meninggal, sebagian besar (75%) terjadi di negara sedang berkembang. Di Indonesia, tahun 1979-1986, 27 propinsi melaporkan 26 juta orang penderita keracunan pestisida akut di 98 kabupaten dan 2092 orang meninggal; penyebab keracunan terbesar pestisida golongan organofosfat dan karbamat 1,2. Gejala keracunan organofosfat akibat hambatan aktifitas enzim kolinesterase darah baru muncul jika aktifitas kolinesterase darah < 50% (keracunan sedang dan berat). Aktifitas kolinesterase darah pada petani penyemprot dengan keracunan sedang akan normal kembali dalam waktu 3 minggu; pada keracunan derajat ringan, kadar kolinesterase pada sinap cepat kembali normal dan gejala keracunan akan hilang dalam 24 jam3-6. Kembali normalnya aktifitas kolinesterase sangat tergantung pada aktifitas detoksikasi di hati melalui cara oksidasi-dealkilasi pada ikatan organofosfat dengan kolinesterase dengan bantuan enzim glutation peroksidase7-10.
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

Enzim glutation peroksidase (sangat tergantung Selenium) sangat berperan dalam pengaktifan kembali enzim kolinesterase melalui : (1). Pengaktifan AMP siklik yang secara langsung dapat mengaktifkan enzim kolinesterase. (2). Keseimbangan NADP dan NADPH pada jalur glikolisis erobik dalam eritrosit sehingga eritrosit tidak rusak; kerusakan eritrosit dapat mnurunkn produksi kolinesterase darah. (3). Peranan ko faktor prostaglandin pada sintesis tromboksan A2 yang memacu trombogenesis dan vasokonstriksi pembuluh darah; bersamaan dengan terbentuknya tromboksan akan diaktifkan cAMP yang secara langsung mengaktifkan kinase protein termasuk kinase protein enzim kolinesterase. (4). Sebagai antioksidan yang dapat melindungi sel termasuk eritrosit dari kerusakan akibat radikal bebas. (5). Sebagai ko faktor proses oksidasi dealkilasi ikatan organofosfat dengan kolinesterase darah6,11,12,13. Penambahan Se akan meningkatkan konsentrasi GPX yang selanjutnya akan meningkatkan konsentrasi enzim kolinesterase darah (ChEA)14,15. Vitamin C dikenal sebagai antioksidan, berperan membantu mengurai radikal bebas secara simultan bersama antioksidan

261

HASIL PENELITIAN
endogen SOD dan GPX. Selain itu, juga berperan penting mempertahankan kestabilan Se di dalam lambung (Se stabil pada suasana asam)16,17. Tujuan penelitian : menjelaskan pengaruh Selenium + vitamin C terhadap kadar ChEA melalui kadar Hemoglobin dan enzim Glutation peroksidase darah sebagai upaya pencegahan keracunan akut pestisida organofosfat pada petani penyemprot pestisida. METODE Desain penelitian adalah eksperimen murni dengan rancangan Pretest-Posttest Control Group Design18 .Populasi target adalah seluruh petani penyemprot pestisida organofosfat, sedangkan populasi terjangkau adalah seluruh petani penyemprot organofosfat yang bertempat tinggal di desa Pasuruan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Petani desa Pasuruan dipilih karena mereka menjadi petani secara turun temurun, tidak mempunyai pekerjaan lain, memenuhi kriteria inklusi, makan dan minum dari hasil bumi mereka dan mempraktekkan penyemprotan pestisida organofosfat yang tidak sesuai aturan. Pada populasi terjangkau dilakukan randomisasi untuk menentukan subyek penelitian dan kontrol. Perlakuan pada penelitian ini adalah pemberian Selenium (kelompok I), Selenium + Vitamin C (kelompok II) sedangkan kelompok III adalah kelompok kontrol (Bagan 1).
Bagan 1. Rancangan penelitian. Pretest-Prosttest Control Group Design18

Apabila _ = 0,05, power 0,80 serta selisih rerata ChEA yang dianggap bermakna adalah 5% dan simpang baku dari selisih rerata adalah 10%, besar sampel minimal adalah 33 untuk setiap kelompok. sehingga dibutuhkan 99 orang. Karena responden adalah petani yang sangat jarang kontak dengan petugas kesehatan, terlebih terhadap jarum suntik, maka untuk menghindari drop out, jumlah responden masingmasing 35 petani per kelompok. Kriteria inklusi : 1. Umur petani antara 25-45 tahun. 2. Tidak menderita hemoroid atau penyakit perdarahan spontan lain. 3. Status gizi normal berdasarkan tinggi badan dan berat badan. 4. Jenis kelamin laki-laki. Kriteria eksklusi : 1. Bertempat tinggal tidak tetap di lokasi penelitian. 2. Terjadi alergi atau komplikasi lain akibat perlakuan. Prosedur Penelitian : Penelitian dilakukan melalui 2 tahap yaitu : Tahap I, adalah tahap persiapan pemilihan lokasi penelitian dan tahap ujicoba terhadap 9 orang sukarelawan. Ujicoba dilakukan untuk mendapatkan dosis yang sesuai untuk kelompok responden di daerah penelitian. Ujicoba dilaksanakan dengan membagi 9 orang sukarelawan menjadi 3 kelompok masing-masing 3 orang. Kelompok I diberi suplemen Selenium 100 ±g, kelompok ke II diberi Selenium 100 ±g + vit C 50 mg dan kelompok III sebagai kontrol. Sampel darah diambil sebelum perlakuan (pretest) dan pada hari ke 8 (setelah 7 hari perlakuan) sebagai posttest. Hasil tahap uji coba ini, pada kelompok perlakuan hanya kadar Hb yang meningkat, sedangkan kadar GPX dan ChEA turun. Kemudian dosis dinaikkan menjadi Selenium 200 ±g dan vit C 100 mg Hasil uji coba dapat dilihat di lampiran 1 Tahap II adalah tahap pelaksanaan menggunakan prosedur yang sama pada 99 orang petani penyemprot pestisida organofosfat di desa Pasuruan Kecamatan Bulu Temanggung ; mereka dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 33 orang. Kelompok I diberi suplemen Selenium 200 ±g, kelompok II diberi Selenium 200 ±g + Vit C 100 mg dan kelompok III sebagai kontrol. Sebelum suplementasi diambil sampel darah 15 ml untuk pengukuran kadar GPX, ChEA dan Hb, kemudian diberi suplemen Selenium atau Selenium + Vit C selama 7 hari berturut turut, hari ke 8 diambil sampel darah kembali untuk pengukuran ulang kadar GPX, ChEA dan Hb. Data dianalisis menggunakan uji t-test berpasangan dan uji Mancova.

R

O1 ----------------X1 --------------- O2 O3 --------------- X2 --------------- O4 O5 ---------------- C --------------- O6

Keterangan: R : Randomisasi X1 : Perlakuan pemberian suplemen Se (200 ±g) X2 : Pemberian suplemen Se ( 200 ±g ) +Vit.C (100 ±g) C : Kontrol. O1,3,5 : Pengukuran ChEA, GPX dan Hb sebelum perlakuan O2,4,6 : Pengukuran ChEA, GPX dan Hb setelah perlakuan

Perhitungan besar sampel minimal menggunakan rumus besar sampel untuk data numerik sebagai berikut :

Keterangan : _ = Selisih rerata kedua kelompok yang bermakna S_ = Perkiraan simpang baku selisih rerata _ = Tingkat kemaknaan (95%) 1-_= Power penelitian (80%)

262

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

HASIL PENELITIAN
HASIL Pada saat pengambilan darah I (pretest) terkumpul 105 sampel; dilanjutkan dengan pemberian perlakuan selama 7 hari. Saat pengambilan sampel darah ke II (posttest) 3 responden tidak datang karena ada urusan keluarga di luar kota, bukan karena komplikasi perlakuan penelitian; ke tiga orang tersebut dinyatakan drop out. Untuk menghindari bias hasil penelitian, maka analisis dilakukan terhadap jumlah responden yang sama untuk tiap kelompok perlakuan yaitu 33 responden, sehingga jumlah total responden yang dianalisis adalah 99 orang.
Tabel 1 : Distribusi Responden Menurut Karakteristik dan Beberapa Variabel Lainnya di Desa Pasuruan Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung Tahun 2008
Klp Placebo (n=33) Variabel
Min Max Umur 25,0 Indeks Massa Tubuh Kadar Hb pretest Kadar ChEA pretest Kadar GPX pretest Kadar Hb posttest Kadar ChEA posttest Kadar GPX posttest 44,7 32,9 Mean (SD) (6,5) Min 25,0 Max 45,1 Mean (SD) Min Max 34,6 (6,4) 25,0 43,0 Mean (SD) 34,0 (5,5)

Klp Se (n=33)

Klp Se + Vit C (n=33)

Grafik 1. Perbandingan Rerata Kadar Hemoglobin (Hb) ketiga kelompok Responden Sebelum dan Sesudah Perlakuan (n=33 per kelompok)

17,0 24,2

20,4 (1,7)

16,9

25,6

20,1 (2,0)

17,1 23,4

19,8 (1,8)

13,3 17,3

15,3 (1,0)

12,8

16,3

15,0 (0,8)

13,5 16,7

15,3 (0,8)

4042 12194 7525,1 (1818,8)

4704 12209 7733,6 (1608,3)

1704 10345 6697,1 (2243,3)

b. Kadar Aktivitas Kolinesterase (ChEA) Darah Rerata kadar ChEA darah kelompok Kontrol turun 159,4 U/L (2,12%) setelah perlakuan dari 7525,1 U/L saat pretest menjadi 7365,7 U/L saat posttest. Sebaliknya di kelompok Selenium meningkat sebesar 143,1 U/L(1,85%) - dari 7733,6 U/L saat pretest menjadi 7876,7 U/L saat posttest; di kelompok Selenium + Vitamin C meningkat sebesar 143,5 U/L(2,14%) - dari 6697,1 U/L menjadi 6840,6 U/L (Grafik 2).

20,9 53,6

35,5 (8,5)

26,5

66,6

42,4 (12,1)

28,3 64,6

36,4 (8,1)

13,0 17,1

15,0 (1,1)

13,6

17,0

15,4 (0,8)

13,0 17,2

15,0 (0,9)

2624 11594 7365,7 (1918,0)

2459 12580 7876,7 (1879,3)

1500 10213 6840,6 (2204,9)

23,8 56,9

36,4 (9,2)

22,0

62,3

37,0 (9,6)

23,8 56,8

36,4 (7,2)

Lama kerja sbg penyemprot 2 Jumlah jenis pestisida Jumlah jam menyemprot

10

5,3 (1,8)

2

15

5,8 (2,4)

1

15

6,7 (2,8)

3

6

3,6 (0,8)

2

7

3,8 (1,0)

2

4

3,1 (0,3)

4

7

5,7 (0,6)

2

7

4,4 (1,5)

2

10

4,1 (1,5)

Grafik 2. Perbandingan Rerata Kadar kolinesterase (ChEA) ketiga kelompok Responden Sebelum dan Sesudah Perlakuan (n=33 per kelompok)

ANALISIS BIVARIAT a. Kadar Hemoglobin (Hb) Kadar hemoglobin saat pengukuran awal (pretest) dibandingkan kadar hemoglobin setelah perlakuan (posttest) untuk ketiga kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1, Grafik 1. Kadar hemoglobin rata-rata kelompok Kontrol dan kelompok Selenium + Vitamin C masing-masing turun 0,3 g/dl (1,96 %) setelah perlakuan, sedangkan di kelompok Selenium meningkat 0,4 g/dl(2,66%).

c. Kadar Glutation Peroksida (GPX) Glutation peroksidase adalah enzim yang keberadaannya sangat tergantung pada Selenium, sehingga konsentrasinya dalam darah akan berubah pada penambahan Selenium atau Selenium + vit C. Fungsi metabolisme enzim GPX sangat luas, di antaranya, sebagai antioksidan endogen dan sebagai katalisator proses oksidasi kimiawi. Kadar Glutation Peroksida (GPX) dalam darah saat pengukuran awal dan setelah perlakuan untuk ketiga kelompok dapat dilihat pada Grafik 3.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

263

HASIL PENELITIAN
Rerata kadar Hb sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok Kontrol (p=0,017), kelompok Se (p=0,001), dan kelompok Se + Vitamin C (p=0,007) secara statistik berbeda bermakna (p<0,05). Hal ini berarti ada perbedaan signifikan rerata kadar Hb antara sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada ketiga kelompok. Perbedaan rerata kadar ChEA sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok Kontrol (p=0,124), kelompok Se (p=0,294), dan kelompok Se + Vitamin C (p=0,122) secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Perbedaan rerata kadar GPX sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok Kontrol (p=0,390) dan kelompok Se + Vitamin C (p=0,991) tidak bermakna (p>0,05). Sedangkan pada kelompok Selenium perbedaan rerata kadar GPX sebelum dan sesudah perlakuan terlihat bermakna ( p= 0,001).
Grafik 3. Perbandingan Rerata Kadar Glutation Peroksida (GPX) Sebelum dan Sesudah Pemberian Perlakuan (n=33 per kelompok)

Rerata kadar GPX dalam darah pada kelompok Kontrol meningkat 0,9 U/gHb(2,53%) setelah perlakuan yaitu dari 35,5 U/gHb saat pretest menjadi 36,4 U/gHb saat posttest . Di kelompok perlakuan pemberian Selenium rerata kadar GPX dalam darah turun cukup tajam sebesar 5,4 U/gHb(12,73%) yaitu 42,4 U/gHb saat pretest menjadi 37,0 U/gHb setelah diberi Selenium. Kadar rerata GPX pada kelompok Selenium + Vitamin C juga meningkat sangat sedikit - 0,015 U/gHb(0,04%); dari 36,418 U/gHb pretest menjadi 36,433 U/gHb posttest. d. Uji Beda Rerata Sebelum dan Sesudah Perlakuan Analisis statistik menggunakan uji t dua sampel berpasangan untuk melihat perbedaan kadar Hb, ChEA, dan GPX sebelum dan sesudah perlakuan pada tiga kelompok (tabel 2).

ANALISIS MULTIVARIAT Analisis statistik multivariat menggunakan Multivariate Analysis of Covariance (MANCOVA) untuk mengetahui apakah ada perbedaan nyata pada beberapa variabel terikat antar kelompok perlakuan dengan melakukan kontrol terhadap beberapa covariat yang diduga memiliki pengaruh langsung terhadap variabel terikat. Setelah uji normalitas data dan uji kesamaan varian-kovarian terpenuhi, dilakukan uji Mancova (Lampiran 2) Hubungan antara pemberian Selenium dan vit C dengan Aktivitas Kolinesterase Pada tahap uji coba, Selenium 100 ±g dan vit C 50 mg selama 7 hari berturut-turut menurunkan kadar ChEA darah baik pada kelompok perlakuan maupun pada kelompok kontrol. Dosis kemudian ditingkatkan menjadi Selenium 200 ±g dan vit C 100 mg, selama 7 hari berturut-turut; hasilnya kadar ChEA meningkat bermakna di kelompok perlakuan, tetapi justru turun di kelompok kontrol ( Tabel 1, grafik 2 ). Hasil ini menunjukkan bahwa suplemen Selenium atau Selenium+vit C selama 8 hari beraktivitas dapat secara nyata meningkatkan kadar ChEA darah petani penyemprot organofosfat yang selama penelitian tetap menjalankan aktivitas penyemprotan; dibandingkan dengan penurunan bermakna, kadar ChEA darah pada kelompok kontrol. Hubungan antara pemberian Selenium dan Vit C dengan GPX Kadar GPX darah petani penyemprot pestisida yang diberi dosis Selenium 100 ±g dan vit C 50 mg selama 7 hari berturut-turut pada tahap uji coba, turun sebesar 5,4 U/g Hb. Pada kelompok Selenium + vit C, juga terjadi penurunan sebesar 10,2 U/g Hb. Dosis kemudian dinaikkan menjadi Selenium 200 ±g dan vit C 100 mg selama 7 hari berturut-turut, hasilnya pada kelompok Selenium, kadar GPX darah tetap turun sebesar 5,4 U/g Hb, sedangkan pada kelompok Selenium + vit C, meningkat sebesar 0,015 U/g Hb. Perbedaan hasil ini disebabkan oleh penambahan vit C. Dari penelitian ini tampak bahwa pada penambahan vit C dosis kecil 50 mg terjadi penurunan kadar GPX darah, tetapi ketika dosis vit C ditingkatkan menjadi 100 mg terjadi peningkatan kadar GPX darahnya (lihat Tabel 1,Grafik 3). Hasil ini sesuai
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

Tabel 2. Ringkasan Hasil Analisis Perbedaan Sebelum dan Sesudah Perlakuan dengan Uji T Dua Sampel Berpasangan
No Variabel Nilai t Nilai p Keterangan

Kelompok Kontrol 1 2 3 Kadar Hemoglobin Kadar ChEA Kadar GPX 2,521 1,582 -0,872 0,017 0,124 0,390 Ada perbedaan Tidak ada perbedaan Tidak ada perbedaan

Kelompok Selenium 1 2 3 Kadar Hemoglobin Kadar ChEA Kadar GPX -3,768 -1,067 3,609 0,001 0,294 0,001 Ada perbedaan Tidak ada perbedaan Ada perbedaan

Kelompok Selenium + Vit C 1 2 3 Kadar Hemoglobin Kadar ChEA Kadar GPX 2,898 -1,587 -0,011 0,007 0,122 0,991 Ada perbedaan Tidak ada perbedaan Tidak ada perbedaan

264

HASIL PENELITIAN
dengan penelitian Henning (1991) pada kelompok laki-laki sehat yang diberi vit C dosis rendah ( 5 s/d 20 mg/hari ) kadar total glutation secara bermakna menurun. Penelitian Johnston (1993) terhadap orang dewasa sehat yang diberi vit C 500 mg/hari, kadar glutation darahnya meningkat secara bermakna. Hubungan antara Penambahan Selenium dan Vit C dengan kadar Hemoglobin Penambahan Selenium 100 ±g dan vit C 50 mg selama 7 hari berturut-turut menaikkan kadar Hb darah baik di kelompok Selenium maupun pada kelompok Selenium + vit C. Ketika dosis dinaikkan menjadi Selenium 200 ±g dan vit C 100 mg, kelompok Selenium tetap menunjukkan kenaikan kadar Hb, sedangkan kelompok Selenium + vit C, kadar Hb darahnya justru turun. Keadaan ini semata-mata disebabkan oleh penambahan dosis vit C, mengingat pada kelompok Selenium saja baik dosis 100 ±g maupun 200 ±g, kadar Hb darahnya tetap meningkat. Penurunan kadar Hb pada penambahan vit C akibat efek ProOksidant vit C pada proses reduksi besi feri15. Kombinasi vit C dengan redok aktif besi dapat memicu terbentuknya lipid peroksidasi yang akhirnya dapat merusak membran sel eritrosit. In vivo, besi terikat pada protein transferin dan feritin pada kondisi tidak siap sebagai katalisator, walaupun demikian prooksidan alamiah yang kuat dari komplek vit C √ besi dapat meningkatkan risiko kerusakan oksidatif pada seseorang yang memiliki simpanan besi tinggi dan mendapat suplemen vit C (Tabel 1 dan Grafik 1 ). Hasil uji statistik Mancova (Lampiran 1): 1. Ada perbedaan bermakna kadar ChEA kelompok Selenium dengan kelompok kontrol ( p = 0,050 ), juga antara kelompok Selenium + Vit C dengan kontrol ( p = 0,014 ). 2. Tidak ada perbedaan bermakna kadar GPX antara kelompok Selenium dengan kelompok kontrol ( p = 0,202 ), juga tidak ada perbedaan bermakna kadar GPX antara kelompok Selenium + Vit C dengan kontrol ( p = 0,511 ). 3. Ada perbedaan bermakna kadar Hb antara kelompok Selenium dengan kelompok kontrol ( p = 0,0001 ), tetapi tidak untuk kelompok Selenium + Vit C dibanding kontrol ( p = 0,534 ). SIMPULAN (1). Penambahan Selenium 200 ±g pada petani penyemprot organofosfat dapat meningkatkan kadar ChEA darah sebesar 1,85%, penambahan Selenium 200 ±g dan vit C 100 mg meningkatkan 2,14% kadar ChEA darah. (2). Penambahan Selenium 200 ±g pada petani penyemprot organofosfat menurunkan kadar GPX darah sebesar 12,73%, penambahan Selenium 200 ±g dan vit C 100 mg, meningkatkan kadar GPX darah sebesar 0,04%. (3). Penambahan Selenium 200 ±g pada petani penyemprot organofosfat meningkatkan kadar Hb darah sebesar 2,66%, penambahan Selenium 200 ±g dan vit C 100 mg malah menurunkan kadar Hb darah sebesar 1,96%.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kaloyanova F P, EI batawi MA. Human Toxicology of Pesticides. Florida, Boston London CRC Press. 1991; 3-34. 2. WHO International Programme on Chemical Safety. Organophosphorous Insecticides. A General Introduction. WHO Geneva 1986. 3. Moreto A. et.al. Biological Monitoring of Occupational Exposures to Organophosphate Insecticides. CRC Press. 1995; 217-21. 4. Lotti M. Treatment of Acute Organophosphate Poisoning. Med. J. Aust. 1991 (154); 51-55. 5. Kusnoputranto H. Toksikologi Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1995. 6. O»Brien RD, Yamamoto I. Eds. Biochemical Toxycology of Insecticides. New York, San Fransisco, London : Academic Press, 1970. 7. Djojosumarto P. Toksikologi Pestisida; Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka 2008 (1) : 238-261. 8. Spears. R. Recognized and Possible Exposure to Pesticides. Handbook of Pesticide Toxicology, 1991 (1): 245-272. 9. Ekha Isvasta. Dilema Pestisida dalam Tragedi Revolusi Hijau. Yogyakarta: Kanisius, 1988. 10. Hollingworth RM. The Dealkylation of Organophosphorus triester by Liver Enzyme. Biochem. Tox. Of Insecticides 1970 ; 75-92. 11. Fukami J, Shishido T. The Role of GSH on Liver»s Microsome. J. Ecol Entomol. 1966 (59) : 1338. 12. Stenersen J. Biochemical Metabolism of some Organophosphorus Compound. J. Ecol Entomol. 1969 ; 62 : 1043. 13. Cowarf RP, Bonner FL, Epps EA. Rate of Hydrolysis of Seven Organo-Phosphorus Pesticides. Bull. Environ. Toxicol.1971; 6(3) : 231-234, 14. Brody T. Selenium and Gluthation Peroxidase. Nut. Biochem. 1994; 9 : 209-279. 15. Levander OA. Selenium; Trace Element in Human and Animal Nutrition. Academic Press. Orlando 1986 (2) : 209-279. 16. Henning SM, Zhang JZ, Mc Kee RW, Sweindseid ME, Jacob RA. Glutathion blood levels and other Oxidant Defence Indices in men fed diets low in vit C. J Nutr 1991 ;121 : 1969-1975. 17. Youngson R. Antioxidant : Vitamin C & E for Health. Sheldon Press, Great Britain, London 1998. 18. Campbell DT, Stanley JC. Experimental and Quasi-experimental designs for Research. Land Mc Nally College Pub.Chicago, 1966.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

265

TINJAUAN PUSTAKA

Penatalaksanaan Infertilitas Pria Terkini
Aucky Hinting
Departemen Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya

ABSTRAK Penatalaksanaan pria infertil saat ini masih merupakan masalah bagi para klinisi karena keterbatasan dalam membuat diagnosis, memberikan pengobatan rasional dan tidak tersedianya fasilitas. Dengan protokol yang ada, diagnosis infertilitas pria saat ini dapat ditegakkan dan pengobatan dapat diberikan secara konvensional maupun lanjut. Pengobatan konvensional yang diberikan secara spesifik berdasar diagnosis kausal, dapat memberikan hasil yang cukup efektif. Namun, data-data menunjukkan bahwa proporsi pria infertil yang bisa diobati secara spesifik hanya sebagian kecil. Sebagian besar kasus-kasus pria infertil datang dalam keadaan tidak bisa diobati (untreatable) atau telah dilakukan pengobatan tanpa hasil sehingga tidak ada pilihan pengobatan yang efektif. Oleh karena itu teknologi reproduksi berbantu (TRB)/ (Assisted Reproductive Technology = ART) memegang peranan penting dalam penanganan infertilitas pria. Sejak dilaporkannya keberhasilan injeksi satu spermatozoon ke dalam sitoplasma oosit (Intra Cytoplasmic Sperm Injection = ICSI), teknik ini menjadi pilihan penanganan infertilitas pria yang paling efektif. Namun demikian, tidak semua klinik memiliki fasilitas ICSI dan tidak semua pasien mampu dan mau mengikuti program ICSI. Pada sperma dengan kelainan ringan, bilamana pihak istri normal, maka masih ada tempat untuk mencoba teknik lain seperti inseminasi intra uterin (IUI). Dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan seleksi pasien dan menerapkan pilihan pengobatan dengan tepat. Dengan memberikan pelayanan yang lengkap mulai dari pengobatan konvensional sampai ICSI, maka saat ini hampir semua masalah infertilitas pria dapat ditangani dengan hasil yang efektif.
PENDAHULUAN Penatalaksanaan pria infertil merupakan masalah bagi para klinisi yang menangani infertilitas. Hal ini terutama karena sedikitnya pengetahuan tentang penyebab infertilitas pria, serta keterbatasan nilai diagnostik analisis semen pada diagnosis infertilitas pria. Sehingga seringkali pria infertil ditangani tanpa diagnosis klinis, hanya berdasar analisis semen yang akurasinya juga meragukan. Pemeriksaan pria pasangan infertil telah disederhanakan dan dibakukan dalam Penuntun WHO untuk Pemeriksaan dan Diagnosis Baku Pasangan Infertil yang telah diterbitkan pada tahun 1993 (WHO, 1993) dan direvisi pada tahun 2000 (WHO, 2000). Penelitian menunjukkan bahwa protokol WHO ini dapat diaplikasikan dengan memuaskan (Hinting et al., 2001). Faktor penyebab didapatkan pada sekitar 60% kasus infertilitas pria, sedangkan sisanya bersifat idiopatik. Walaupun diagnosis infertilitas pria saat ini dapat ditegakkan, namun kondisi yang masih bisa diobati secara konvensional hanya sekitar 20% (Bhasin et al, 1994; Hinting et al., 2001). Sebagian besar kasus-kasus pria infertil datang dalam keadaan tidak bisa diobati (untreatable) atau telah dilakukan pengobatan tanpa hasil sehingga tidak ada pilihan pengobatan yang efektif. Oleh karena itu teknologi reproduksi berbantu (TRB)/(Assisted Reproductive Technology = ART) memegang peranan penting dalam penanganan infertilitas pria. PENGOBATAN KONVENSIONAL Secara konvensional dapat dilakukan konseling, pemberian obat-obatan, pembedahan, eliminasi faktor-faktor toksik dan lingkungan atau pengobatan empiris pada pria infertil. Pengobatan konvensional bisa dibagi menjadi pengobatan kausal atau spesifik yang berdasarkan patofisiologi, dan pengobatan empirik yang hanya berdasarkan pendekatan hipotetik. PENGOBATAN SPESIFIK Kesulitan melakukan sanggama dapat diatasi dengan konseling psikologis atau memberikan pengobatan disfungsi ereksi dengan obat-obatan seperti sildenafil atau vasodilator intra kavernosa, sehingga konsepsi dapat terjadi secara alamiah. Perlu diingat bahwa faktor penyebab dari gangguan ereksi atau ejakulasi seperti diabetes mellitus harus diatasi Dalam beberapa kasus disfungsi ereksi atau gangguan ejakulasi yang tidak terobati perlu dilakukan penampungan sperma khusus atau pengambilan sperma epididymis/testis untuk dilakukan TRB. Sebab endokrin karena defisiensi gonadotropin (hipogonagotropik) dapat diobati dengan penyuntikan hormon gonadotropin. Dibutuhkan penyuntikan lebih dari 3 bulan untuk menghasilkan sperma yang cukup untuk konsepsi. Kadangkadang konsepsi tidak kunjung tiba walaupun sperma telah

266

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

TINJAUAN PUSTAKA
muncul, sehingga perlu dipertimbangkan untuk melakukan TRB atau kriopreservasi sperma. Demikian juga hiperprolaktinemi dapat diobati dengan bromokriptin. Infertilitas imunologik karena otoimunitas sperma dapat diobati dengan pemberian kortikosteroid. Namun pengobatan jangka panjang tidak dianjurkan karena dapat timbul efek samping yang serius. Sehingga seringkali kasus-kasus infertilitas imunologik membutuhkan TRB. Apabila pada anamnesis diketahui penggunaan obat-obatan yang dapat mengganggu spermatogenesis atau paparan terhadap bahan-bahan toksik, maka eliminasi faktor-faktor toksik dan lingkungan seringkali dapat memperbaiki sperma. Infeksi kelenjar seks asesoris atau penyakit menular seksual dalam keadaan akut harus diobati dengan antibiotika untuk mencegah obstruksi saluran eferen sperma. Demikian pula orkitis viral dapat menyebabkan gangguan spermatogenesis dan infertilitas pria. Dalam hal ini pengobatan hanya bersifat simtomatis atau preventif seperti vaksinasi mumps. Yang menjadi masalah adalah pria infertil sudah datang dengan keadaan oligo-astheno-teratozoospermia disertai lekositospermia. Telah diketahui bahwa sel-sel inflamasi tersebut dapat mengeluarkan radikal bebas yang menyebabkan gangguan fungsi sperma. Pengobatan antibiotika untuk lekositospermia saat ini masih kontroversial. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh bermakna dari pengobatan antibiotika pada infeksi asimtomatik (lekositospermia) terhadap angka kehamilan (Kamischke & Nieschlag, 1999). Karena pemberian antibiotika jangka panjang mempunyai efek samping, maka tidak dianjurkan pada lekositospermia. Dalam hal ini pengobatan yang diberikan hanya bersifat empirik dan bila perlu dilakukan TRB. Pengobatan bedah pada varikokel sering dilakukan dan hasilnya masih sangat kontroversial. Meta-analisis pengobatan invasif varikokel tidak menunjukkan perbedaan bermakna angka kehamilan kumulatif dibandingkan dengan tanpa pengobatan atau konseling saja (Kamischke & Nieschlag, 1999). Studi lanjut pria infertil dengan varikokel menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna angka kehamilan kumulatif antara yang mendapat pengobatan bedah dan pengobatan empirik dengan pentoxifylline dan antioksidan (Hinting et al., 2001). Demikian pula dampak varikokel eksperimental terhadap sperma hewan coba dapat dicegah dengan pemberian antioksidan. Dalam hal ini setiap klinik harus mempunyai indikasi lebih khusus untuk melakukan terapi operatif dengan mempertimbangkan misalnya usia, derajat varikokelnya, adanya atrofi testis unilateral, hasil sperma analisanya, kadar FSH dan fertilitas pihak istri. Berdasarkan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka pilihan pengobatan varikokel bisa dengan operatif, empirik atau TRB.
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

Pengobatan bedah lain pada infertilitas pria adalah vasovasostomy pada azoospermia pasca vasectomy, vasoepididymostomy pada obstruksi kauda epididymis dan reseksi transuretra dari kista pada prostat yang membuntu duktus ejakulatorius. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan pembedahan tersebut dan dibutuhkan peralatan dan ketrampilan khusus untuk melaksanakannya. Pada saat ini lebih mudah untuk melakukan teknik pengambilan sperma epididymis/testis dengan keberhasilan lebih tinggi bila dilakukan TRB pada pria azoospermia tersebut. PENGOBATAN EMPIRIK Infertilitas pria idiopatik, yang mungkin mempunyai latar belakang penyebab tidak terdiagnosis, seringkali diberikan pengobatan empirik. Pengobatan empirik juga sering diberikan pada keadaan-keadaan yang untreatable atau failed treatment. Pada dasarnya pendekatan hipotetik untuk pengobatan ini adalah stimulasi spermatogenesis, perbaikan fungsi eipididymis, perbaikan transport sperma dan stimulasi metabolisme sperma. Berbagai preparat obat baik hormonal maupun nonhormonal telah dilaporkan memperbaiki sperma. Pengobatan dengan hCG/hMG dari 39 penelitian menghasilkan angka kehamilan 8-14% (Schill, 1986). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hCG/hMG pada normo- gonadotropik oligo-astheno-teratozoospermia tidak memberikan hasil yang efektif. Demikian pula meta-analisis menunjukkan tidak ada pengaruh bermakna dari pengobatan purified atau recombinant FSH pada angka kehamilan (Kamischke & Nieschlag, 1999). Hal yang sama juga ditunjukkan oleh hasil pengobatan dengan sediaan anti-estrogen seperti klomifen dan tamoxifen. Saat ini WHO lebih menganjurkan pemberian tamoksifen dibanding klomifen, karena adanya efek estrogenik pada klomifen (WHO, 2000) Pengobatan empirik yang mempunyai dasar biokimiawi adalah pemberian antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, gluthathion, coenzyme-Q dan lain-lain. Meta-analisis menunjukkan efek yang bermakna dari pemberian antioksidan terhadap angka kehamilan (Kamischke & Nieschlag, 1999). Secara molekuler pengobatan antioksidan menurunkan fragmentasi DNA sperma (Greco et al, 2005). Karena pengobatan empirik dengan hormonal mahal dan mempunyai efek samping, saat ini yang bisa diberikan dalam jangka panjang adalah antioksidan. Karena hasil pengobatan empirik seringkali tidak membawa hasil, maka infertilitas idiopatik seringkali memerlukan TRB.

267

TINJAUAN PUSTAKA

TEKNOLOGI REPRODUKSI BERBANTU
INSEMINASI INTRA UTERIN (IUI) Inseminasi intra uterin (intra uterine insemination = IUI) adalah tindakan untuk memasukkan spermatozoa yang telah dipreparasi langsung kedalam kavum uteri. Dibandingkan eknik inseminasi lain seperti inseminasi intra-servikal, intratubal atau intra-peritoneal, IUI memberikan angka keberhasilan yang tertinggi. Hasil penelitian IUI dengan siklus istri distimulasi memberikan angka kehamilan 11,1 % per siklus (Hinting, 2001). Hasil meta analisis menunjukkan lebih menguntungkan melakukan IUI dibandingkan sanggama terencana pada infertilitas pria (Cohlen et al., 1999) Namun perlu diingat bahwa keberhasilan IUI tergantung banyak faktor. Konsentrasi sperma awal sebaiknya >10 juta/ml, motilitas > 25% dan morfologi normal > 5%. Atau dengan kata lain, sperma suami tidak boleh terlalu ≈jelek∆. Persiapan sperma sebaiknya dilakukan dengan sentrifugasi kolom bertingkat seperti Percoll atau koloidal Silica, dan spermatozoa motil setelah preparasi > 1 juta/ml. Selain itu, kondisi pihak istri dan stimulasi ovarium juga menentukan keberhasilan IUI. FERTILISASI IN VITRO (cIVF) Fertilisasi in vitro konvensional (conventional in-vitro fertilization = cIVF) yang pada awalnya dipakai untuk penanganan masalah infertilitas wanita, telah diaplikasikan juga pada infertilitas pria. Walaupun didapatkan keberhasilan cIVF pada infertilitas pria, masih banyak keterbatasan teknik ini terutama pada kasus-kasus oligo-astheno-teratozoospermia berat. Angka fertilisasi dan kehamilan lebih rendah dan kegagalan fertilisasi banyak terjadi pada sperma oligo-asthenoteratozoospermia, terutama bila setelah preparasi didapatkan spermatozoa motil kurang dari 1 juta/ml (Hinting et al, 1989). Beberapa teknik alternatif telah dicoba seperti GIFT dan ZIFT. Namun, hasil meta analisis menunjukkan bahwa tidak ada keuntungan dari teknik-teknik ini dibandingkan cIVF, sehingga tidak digunakan lagi (Tournaye, 1997). Batas terendah untuk menghasilkan fertilisasi pada cIVF merupakan hal penting dalam melakukan IVF pada infertilitas pria, terutama setelah tersedia teknik yang lebih efektif seperti injeksi sperma intra-sitoplasmik (ICSI). Telah dianjurkan untuk melakukan IVF apabila konsentrasi > 10 juta/ml, motilitas (a+b) > 25% dan morfologi normal > 5% (Hinting, 1997). Terlepas dari parameter lain, morfologi sperma dengan kriteria ketat termasuk evaluasi akrosom merupakan parameter penting yang menentukan keberhasilan fertilisasi (Hinting et al, 1989). Dianjurkan pula untuk meningkatkan jumlah spermatozoa motil yang diinseminasikan ke dalam oosit pada kasus-kasus dengan kualitas sperma abnormal (Tournaye, 2002). Meta-analisis membandingkan hasil cIVF dan ICSI menunjukkan bahwa pada konsentrasi sperma > 20 jt/ml, motilitas > 50% dan morfologi normal > 14% angka kehamilan cIVF

dan ICSI sama. Apabila konsentrasi sperma < 10 jt/ml, motilitas < 30% dan morfologi normal < 4% angka fertilisasi maupun kehamilan cIVF lebih rendah dari ICSI. Disini jelas pada sperma normal tidak perlu dilakukan ICSI dan pada sperma abnormal perlu dilakukan ICSI. Sedangkan pada sperma borderline, konsentrasi 10-20 jt/ml, motilitas 30-50% dan morfologi normal 4-14% angka fertilisasi maupun kehamilan cIVF lebih rendah dari ICSI. Sehingga saat ini pada sperma borderline bisa dilakukan langsung ICSI, terutama bila ada riwayat gagal fertilisasi sebelumnya, atau sebagian oosit dilakukan cIVF dan sebagian ICSI (split IVF/ICSI), atau tetap melakukan cIVF dengan preparasi sperma seoptimal mungkin, terutama apabila tidak ada fasilitas ICSI. INJEKSI SPERMA INTRA SITOPLASMIK (ICSI) Injeksi sperma intra-sitoplasmik (intracytoplasmic sperm injection = ICSI) merupakan teknik mikromanipulasi yang menyuntikkan satu spermatozoon ke dalam sitoplasma oosit mature telah digunakan untuk penanganan infertilitas pria sejak lebih dari satu dekade ini (Palermo et al, 1992). Segera setelah itu diikuti dengan keberhasilan teknik ini pada pria azoospermia dengan menyuntikkan spermatozoa dari testis dan epididymis. Teknik ini memberikan harapan yang nyata pada pria infertil dengan oligo-astheno-teratozoospermia berat maupun azoospermia, dengan penyebab apapun. Dengan berkembangnya teknologi dimana ICSI dapat dilaksanakan dengan tidak terlalu rumit, maka ketersediaan sarana yang melaksanakan ICSI berkembang dengan sangat pesat. Klinik-klinik diberbagai tempat didunia berkembang terus melaksanakan ICSI dengan angka keberhasilan yang memuaskan. Kurang dari 10% oocytes rusak dengan prosedur ini dan angka fertilisasi berkisar antara 50-75%. Embryo transfer dapat dilaksanakan pada lebih dari 90% pasangan dan menghasilkan angka kehamilan berkisar antara 25-45%. Hasil-hasil ini tidak berbeda antara sperma ejakulat, epididymis maupun testis (Tarlatzis & Bili, 2000; Palermo et al, 2001; Hinting et al, 2001) Pada awal aplikasi klinis ICSI, dinyatakan bahwa parameter sperma konvensional tidak mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan ICSI (Nagy et al., 1995). Fertilisasi normal dapat dihasilkan dengan sperma hidup seminimal mungkin baik dari ejakulat maupun epididymis atau testis. Dalam perkembangannya, setelah diteliti diketahui bahwa hasil ICSI masih tergantung dari keadaan subseluler sperma, integritas nukleus sperma serta stabilitas kromosom. Demikian juga, injeksi spermatozoa immotile menurunkan hasil fertilisasi. Keberhasilan ICSI dari kasus sindroma silia imotil telah dilaporkan, tetapi hasil ICSI pada kasus-kasus ini menunjukkan fertilisasi lebih rendah atau kelainan pertumbuhan embrio yang masih belum jelas penyebabnya. Demikian juga ICSI dengan seluruh spermatozoa kepala bulat atau globozoospermia memberikan hasil lebih rendah, walaupun

268

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

TINJAUAN PUSTAKA
dilaporkan keberhasilannya. Sehingga walaupun untuk ICSI hanya diperlukan 1 spermatozoon, tetapi perbaikan kualitas sperma masih diperlukan dengan pengobatan yang adekwat untuk mengoptimalkan hasil TRB ini. Dilain pihak, faktor-faktor klinis seperti usia pria, riwayat infertilitas, kategori diagnostik pria tidak berpengaruh terhadap keberhasilan ICSI (Hinting et.al., 2001). ICSI DENGAN SPERMA EPIDIDYMIS/TESTIS Hanya berselang setahun setelah publikasi ICSI, dilaporkan keberhasilan ICSI dengan spermatozoa testis pada pria azoospermia. Sejak itu, pria azoospermia dapat menghasilkan keturunan dari gametnya sendiri dengan teknik yang minimal invasif. Maka berkembanglah teknik-teknik pengambilan spermatozoa (sperm retrieval techniques = SRT) seperti microsurgical epididymal sperm aspiration (MESA), percutaneous epididymal sperm aspiration (PESA), testicular sperm extraction (TESE), testicular sperm aspiration (TESA), testicular fine needle aspiration (TEFNA), microscopic testicular sperm extraction (Micro-TESE). Pilihan teknik ini pada dasarnya adalah yang seminimal mungkin invasif: dicoba terlebih dahulu teknik aspirasi epididymis, dan nyaman untuk pasien: tidak sakit √ anestesi lokal, tidak ada rawat inap, tidak ada efek samping dan tidak mahal. Pengalaman kami dari sekitar 300 kasus menunjukkan bahwa SRT dengan kombinasi PESA dan TESE memberikan hasil cukup optimal (39% per SRT). SRT dimulai dengan pengambilan sperma epididymis melalui aspirasi perkutan menggunakan semperit tuberkulin (PESA). Apabila sperma tidak ditemukan, maka dilanjutkan dengan biopsi testis dan spermatozoa dicari dengan menggerus atau mencacah tubulus seminiferus (TESE). Selanjutnya spermatozoa motil dituai dengan teknik migrasi kesamping (side migration technique = SMT) untuk digunakan pada ICSI (Hinting & Lunardhi, 1999). Angka fertilisasi dan angka kehamilan ICSI dengan spermatozoa hasil SRT pada pria azoospermia tidak berbeda dengan sperma ejakulat. Juga tidak terdapat perbedaan bermakna pada angka fertilisasi antara sperma yang berasal dari epididymis (PESA) dan testis (TESE) (Hinting, 2002). Pada azoospermia obstruktif, hampir 100% dapat ditemukan sperma setelah SRT. Keterbatasan keberhasilan ICSI saat ini hanya pada kasus-kasus azoospermia non-obstruktif dimana tidak ditemukan spermatozoa pada 50% SRT. Jika tidak ditemukan spermatozoa pada SRT, maka dapat dicoba ICSI dengan sperma immature seperti spermatid. Kehamilan telah dilaporkan hasil ICSI dari elongated spermatid maupun round spermatid (Sousa, 1999). Namun hasilhasil ini hanya dilaporkan oleh beberapa kelompok dan bersifat experimental serta menghasilkan angka fertilisasi maupun kehamilan yang sangat rendah. Harapan di masa mendatang untuk kasus-kasus seperti ini mungkin dengan ICSI dari maturasi in vitro (in vitro matured = IVM) sel-sel spermatogenesis (Tesarik and Greco, 2001). DISKUSI Penatalaksanaan infertilitas pria saat ini kurang mendapat perhatian bagi para klinisi. Seringkali pengobatan telah diberikan tanpa membuat diagnosis terlebih dahulu. Perlu diingat bahwa infertilitas adalah suatu simtom dan hasil analisis semen adalah tanda klinis. Tanpa diagnosis, kita tidak bisa memberikan pengobatan yang rasional dan melakukan pencegahan. Pengobatan konvensional dalam beberapa keadaan seperti disfungsi seksual, kelainan endokrin, faktor imunologis dan infeksi akut dapat memberikan hasil pengobatan yang efektif. Namun proporsi kelainan tersebut pada infertilitas pria kecil. Lekositospermia asimtomatik dan varikokel tidak memberikan hasil yang efektif bila dibandingkan pengobatan empirik. Sedangkan sebagian besar infertilitas pria bersifat idiopatik yang hanya bisa diobati secara empirik. Karena besarnya proporsi keadaan idiopatik dan untreatable, maka perlu dilakukan TRB seperti IUI, cIVF atau ICSI. Penatalaksanaan infertilitas pria mengalami lompatan sangat jauh dengan adanya TRB, khususnya ICSI. Apabila dilihat efektivitas pengobatan dari angka kehamilan per siklus, maka tampak bahwa ICSI paling efektif. Angka kehamilan ICSI 1 siklus sama dengan angka kehamilan kumulatif pengobatan konvensional selama 36 bulan (Hinting et al, 2001). Tetapi masalahnya, tidak semua klinik memiliki fasilitas ICSI dan tidak semua pasien mampu dan mau mengikuti program ICSI. Pada sperma dengan kelainan ringan, bilamana pihak pasangan normal, maka masih ada tempat untuk mencoba IUI. Bahkan pengobatan konvensional pun tetap harus dicoba, dalam beberapa keadaan dapat memberikan hasil. Dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan seleksi pasien dan menerapkan pilihan pengobatan dengan tepat. Angka kehamilan pengobatan konvensional sangat tergantung pada parameter sperma. Sperma dengan oligo-asthenoteratozoospermia berat mempunyai angka kehamilan sangat rendah walaupun ditangani selama 36 bulan. Hal ini lebih menguatkan indikasi TRB, khususnya ICSI untuk kasus-kasus tersebut tanpa menunggu lebih lama. Telah terbukti bahwa angka kehamilan ICSI tidak tergantung oleh parameter sperma konvensional. Kini diketahui bahwa hasil ICSI masih tergantung dari keadaan subseluler sperma, integritas nukleus sperma serta stabilitas kromosom. Keterbatasan ICSI juga pada azoospermia non-obstruktif, sindrom silia imotil dan kelainan morfologi berat seperti globozoospermia, dimana angka fertilisasinya lebih rendah dan sering terjadi kegagalan fertilisasi. Sehingga walaupun untuk ICSI hanya diperlukan 1 spermatozoon, tetapi penanganan klinis untuk perbaikan kualitas sperma masih diperlukan untuk mengoptimalkan keberhasilannya. Faktor penting yang mempengaruhi angka kehamilan TRB adalah usia pasangan. Baik pada TRB maupun pengobatan

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

269

TINJAUAN PUSTAKA
konvensional, angka kehamilan menurun secara bermakna pada usia pasangan di atas 35 tahun. Sedangkan riwayat fertilitas lain seperti primer/sekunder, lama infertilitas dan riwayat pengobatan sebelumnya tidak mempengaruhi angka kehamilan TRB, tetapi berpengaruh pada angka kehamilan pengobatan konvensional. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa TRB, khususnya ICSI memegang peranan sangat penting dalam penatalaksanaan infertilitas pria pada masa kini. Dengan memberikan pelayanan yang lengkap mulai dari pengobatan konvensional sampai ICSI, pada masa kini maka hampir semua masalah infertilitas pria dapat ditangani dengan hasil yang efektif.
Hinting, A., Djatioetomo, H., Pramono, H., and Soebadi, D.M. (2001) Pregnancy rates after assisted reproductive technology vs conventional treatment in male infertility. Reprotech, 1, 7-13. Hinting A (2002) The results of intracytoplasmic sperm injection. Asian J Androl 4 (suppl 3), 41. Kamischke A. and Nieschlag (1999) Analysis of medical treatment of male infertility. Hum. Reprod., 14 (Suppl 1), 1-23 Nagy Z, Liu J, Joris H, Verheyen G, Tournaye H, Camus M. The result of intracytoplasmic sperm injection is not related to any of the three basic semen parameters. Hum. Reprod. 1995;10:1123-1129. Palermo G, Joris H, Devroey P and Van Steirteghem A. Pregnancies after intracytoplasmic injection of single spermatozoon into an oocyte. Lancet 1992; 340: 17-18. Palermo, G., Queenie, V., Harishprasad, J., Davis, O., Veek, L., and Rosenwaks, Z. (2001) ICSI and its outcome. Semin. Reprod. Med., 18, 161-169. Schill, WB (1986) Medical treatment of male infertility. In: Insler V and Lunenfeld B (eds), Infertility: Male and Female. Churchill Livingstone, Edinburgs, pp. 533-573 Sousa M (1999) Clinical efficacy of spermatid conception: analysis using a new spermatid classification scheme. Hum Reprod, 14, 1279-1286 Tarlatzis, B., and Bili, H. (2000) Intracytoplasmic sperm injection. Survey of world results. Ann. N.Y. Acad. Sci., 900, 336-344. Tesarik, J., and Greco, E.( 2001) In vitro maturation of human spermatogenic cells. In: Andrology in the 21st century., Medimond: Engelwood NJ. p. 27-35. Tournaye H (1997) Tubal embryo transfer improves pregnancy rate? Hum Reprod, 12, 626-627 Tournaye H (2002) Gamete source and manipulation. In: Vayena E, Rowe PJ, Griffin PD (eds), Current practices and controversies in assisted reproduction. World Health Organization, Geneva, pp. 83-101 WHO manual for the standardized investigation and diagnosis of the infertile couple. 1st ed. (1993) New York: Cambridge University Press. WHO manual for the standardized investigation, diagnosis and management of the infertile male. 1st ed. (2000) Cambridge: Cambridge University Press.

KEPUSTAKAAN
Bhasin S, De Kretser DM, and Baker, HWG (1994) Clinical review 64: Pathophysiology and natural history of male infertility. J Clin Endocrinol Metab., 79, 1525-1529 Cohlen BJ, te Velde ER, and Vandekerckhove P (1999) Timed intercourse or intrauterine insemination with or without ovarian hyperstimulation as a treatment for male infertility. The Cochrane Library. Oxford: Update Software. The Cochrane Collaboration. Greco E, Romano S, Ferrero S, Baroni E, Minasi MG, Ubaldi F, Rienzi L and Tesarik J (2005) ICSI in cases of sperm DNE damage: beneficial effect of oral antioxidant treatment. Hum Reprod 20, 2590-2594. Hinting A, Comhaire F, Vermeulen L, Dhont M, Vermeulen A, and Vandekerckhove D. (1989) Possibilities and limitations of techniques of assisted reproduction for the treatment of male infertility. Hum Reprod. 5, 544-548. Hinting A. ART in male infertility (1997). In: Proceeding Workshop on Stadardization of Management of Male and Female infertility. Surabaya.

270

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

BERITA TERKINI

Irbesartan Memperbaiki Fungsi Ereksi
Patogenesis terjadinya disfungsi ereksi berhubungan dengan disfungsi endotel pembuluh darah Pasien dengan faktor-faktor risiko kejadian kardiovaskular seperti sindroma metabolik mengalami peningkatan risiko disfungsi ereksi.
rbesartan merupakan obat antihipertensi golongan angiotensin II receptor antagonist, yang dalam penelitian terbukti memperbaiki fungsi endotel pembuluh darah pada pasien-pasien dengan risiko tinggi kardiovaskular. Penelitian IRMA 2 (Irbesartan in Patients with Type 2 Diabetes and Microalbuminuria) memperlihatkan bahwa pemberian irbesartan pada pasien diabetes tipe 2 dengan mikroalbuminura, mengurangi parameter inflamasi seperti highsensitivity C-reactive protein (hs-CRP), interleukin (IL)-6, dan fibrinogen secara bermakna. Di dalam penelitian ISLANDS (the Irbesartan and Lipoic Acid in Endothelial Dysfunction Study), pemberian irbesartan pada pasien-pasien dengan sindroma metabolik memperbaiki fungsi endotel dan penanda pro-inflamasi. Karena manfaatnya memperbaiki fungsi endotel, maka diperkirakan bahwa irbesartan juga memiliki manfaat memperbaiki fungsi ereksi pada pasien-pasien dengan disfungsi ereksi. Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh irbesartan terhadap disfungsi ereksi pada pasien-pasien hipertensi dengan sindroma metabolik. Penelitian ini melibatkan 1069 pasien, termasuk pasien-pasien yang terlibat dalam survei DO-IT (the Documentation of hypertension and metabolic syndrome in patients with Irbesartan Treatment). Pasien yang terlibat dalam penelitian ini dibagi menjadi 4 kelompok penelitian yang mendapatkan terapi irbesartan 150 mg (n=162), irbesartan 300 mg (n=219), irbesartan/hydrochlorothiazide (HCTZ) 150/12,5 mg (n=245) dan irbesartan/hydrochlorothiazide (HCTZ) 300/12,5 mg (n=419). Terapi diberikan selama 6 bulan. Disfungsi ereksi diperiksa menggunakan indeks internasional untuk fungsi ereksi. The Cologne Evaluation Questionnaire of Erectile Dysfunction digunakan sebagai kontrol. Hasil pemeriksaan memperlihatkan bahwa fungsi ereksi membaik secara bermakna (p<0,0001) pada semua kelompok penelitian setelah terapi selama 6 bulan. Perbaikan disfungsi ereksi ini tidak bergantung pada dosis irbesartan serta tidak berhubungan dengan penambahan HCTZ. Kejadian disfungsi ereksi menurun dari 78,5% pada baseline, menjadi 63,7% pada bulan ke-6.
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

I

Gambar 1. Pengaruh pemberian irbesartan atau irbesartan + HCTZ selama 6 bulan terhadap angka kejadian atau beratnya disfungsi ereksi. IIEF, merupakan singkatan untuk International Index of Erectile Function. Peningkatan skor IIEF mengindikasikan perbaikan fungsi ereksi.

Gambar 2. Perubahan pada skor IIEF memperlihatkan tidak adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok irbesartan maupun dengan kelompok irbesartan + HCTZ. Perubahan skor juga tidak dibergantung pada dosis irbesartan.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terapi dengan irbesartan maupun irbesartan plus HCTZ sebagai kombinasi memperbaiki fungsi ereksi pada pasien hipertensi dengan sindroma metabolik. Perbaikan fungsi ereksi ini diperkirakan terjadi karena penurunan tekanan darah yang terjadi dan efek perbaikan fungsi endotel oleh irbesartan. Penelitian lanjutan diperlukkan untuk mendapatkan konfirmasi mengenai hal ini. Kesimpulan: • Terapi dengan irbesartan maupun irbesartan plus HCTZ sebagai kombinasi memperbaiki fungsi ereksi pada pasien hipertensi dengan sindroma metabolik. • Perbaikan disfungsi ereksi ini tidak bergantung pada dosis irbesartan serta tidak berhubungan dengan penambahan HCTZ. (YYA)
Referensi :
1. Baumhakel M, Schlimmer N, Bohm M, on behalf of the DO-IT Investigators. Effect of irbesartan on erectile function in patients with hypertension and metabolic syndrome. International Journal of Impotence Research 2008: 1√8 2. Persson F, Rossing P, Hovind P, Stehouwer CDA, Schalkwijk C, Tarnow L. et al. Irbesartan Treatment Reduces Biomarkers of Inflammatory Activity in Patients With Type 2 Diabetes and Microalbuminuria: An IRMA 2 Substudy. Diabetes, 2006; 55: 3550 - 5. 3. Sola S, Mir MQS, Cheema FA, Khan-Merchant N, Menon RG, Parthasarathy S, et al. Irbesartan and Lipoic Acid Improve Endothelial Function and Reduce Markers of Inflammation in the Metabolic Syndrome Results of the Irbesartan and Lipoic Acid in Endothelial Dysfunction (ISLAND) Study.

271

BERITA TERKINI

Flunarizine untuk Skizofrenia
Flunarizine adalah obat calcium channel blocker non-spesifik yang sejak lama telah digunakan sebagai terapi migren, vertigo dan gangguan kognitif yang berhubungan dengan gangguan serebrovaskular. Flunarizine juga dapat memblokade reseptor dopamine (D2) dan efektif dalam penelitian hewan sebagai antipsikosis.
ebuah penelitian di Brazil menemukan bahwa flunarizine bermanfaat sebagai terapi skizofrenia. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efekasi terapeutik dan tolerabilitas flunarizine dibandingkan dengan haloperidol pada pasien skizofrenia (DSM-IV) stabil kronik dan gangguan skizoafektif. Penelitian melibatkan 70 pasien yang secara acak menerima terapi flunarizine (n=34, 10-50 mg/hari) atau haloperidol (n=36, 2.5-12.5 mg/hari) selama 12 minggu. 25 pasien dari kelompok flunarizine dan 27 dari kelompok haloperidol menyelesaikan penelitian. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada kelompok flunarizine terjadi penurunan nilai rata-rata total the Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS) sebesar 21% dari baseline dan pada kelompok haloperidol berkurang 19%. Penurunan ini bermakna secara statistik pada kedua kelompok (p<0,05). Selain itu tidak ada perbedaan bermakna perihal subscale scores dan the Clinical Global Impression-Improvement scores antara kedua kelompok penelitian.

S

Pada penilaian efek samping, akatisia yang berhubungan dengan terapi lebih besar pada kelompok haloperidol (p=0.04) dan peningkatan berat badan lebih banyak pada kelompok flunarizine (p<0.05). Gejala ekstrapiramidal dan kadar prolaktin tidak berbeda antara kedua kelompok. Ini adalah penelitian pertama yang mengevaluasi manfaat flunarizine sebagai antipsikotik; dalam penelitian ini flunarizine efektif dan ditoleransi dengan baik oleh pasien. Penelitian lanjutan diperlukan untuk konfirmasi manfaat flunarizine ini. Bila memang bermanfaat bagi skizofrenia, maka flunarazine akan menjadi salah satu alternatif terapi skizofrenia yang baik, dengan profil waktu paruh yang panjang (2-7 minggu) dan biaya relatif rendah. (YYA)
Referensi :
1. Bisol LW, Brunstein MG, Ottoni GL, Ramos FL, Borba DL, Daltio CS, et al. Is flunarizine a long-acting oral atypical antipsychotic? A randomized clinical trial versus haloperidol for the treatment of schizophrenia. . J Clin Psychiatry 2008; 69 (10): 1572-9. 2. Yan J. Journal Digest. Psychiatr News 2008; 43 (24):19. [cited 2009 Feb 04]. Available from: http://pn.psychiatryonline.org/cgi/content/full/43/24/19-a?maxtoshow= &HITS=&hits=&RESULTFORMAT=&fulltext=flunarizine&andorexactfulltext= and&searchid=1&FIRSTINDEX=0&fdate=1/1/2008&resourcetype=HWCIT

272

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

BERITA TERKINI

Kadar Testosteron yang Rendah Berhubungan dengan Peningkatan Risiko LAF
Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa kadar testosteron yang rendah pada pria berhubungan dengan peningkatan risiko LAF (lone atrial fibrillation). LAF didefinisikan sebagai fibrilasi atrial yang terjadi tanpa gangguan struktur jantung atau tanpa adanya penyebab lain.
r. Jiangtao Lai dari School of Medicine Zhejiang University, Hangzhou, China mengatakan bahwa AF (atrial fibrilation) berhubungan bermakna dengan kejadian kesakitan dan kematian; karena itu sangat penting untuk mendeteksi dini pasien berisiko AF dengan menggunakan petandapetanda seperti C-reactive protein (CRP), brain natriuretic peptide, endothelin-1, dan mungkin juga testosteron. Dr. Lai dan rekan melakukan penelitian untuk mengetahui apakah kadar testosteron dan estradiol berhubungan dengan LAF. Penelitian ini melibatkan 58 pasien yang pada pemeriksaan elektrokardiografi rentan mengalami AF paroksismal atau kronik dan memiliki struktur jantung normal pada pemeriksaan ekokardiografi. Pasien dieksklusi dari penelitian ini bila sedang diterapi dengan penghambat ACEi (angiotensin converting enzyme inhibitor), ARB (angiotensin receptor blockers), atau statin dalam waktu 3 bulan atau memiliki riwayat penyakit jantung koroner, penyakit jantung rematik, kardiomiopati, penyakit katup jantung, hipertiroidisme atau hipertensi. Kadar testosteron serum dan estradiol ditentukan dengan radioimmunoassay. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kadar rata-rata testosteron lebih rendah pada pasien dengan LAF bila dibandingkan dengan kontrol. Tidak ada perbedaan kadar estradiol secara bermakna antara pasien dengan LAF dengan kontrol.

D

Kadar testoteron rata-rata lebih rendah pada pasien dengan LAF dibandingkan dengan orang sehat. Dr. Lai mengatakan bahwa sampai saat ini belum pasti apakah kadar testosteron dapat memprediksi LAF, karena sedikitnya pasien pada penelitian ini. Penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan metoda penelitian yang lebih ketat, jika mungkin penelitian prospektif. Kesimpulan: • Kadar testosteron yang rendah diperkirakan berhubungan dengan peningkatan risiko LAF • Perlu penelitian lanjutan untuk memastikan hal ini. (YYA)
Referensi:
1. Arriagada G, Berruezo A, Mont L, Tamborero D, Molina I, Coll-Vinent B, et al. Predictors of arrhythmia recurrence in patients with lone atrial fibrillation. Europace 2008; 10: 9√14 2. Lai J, Zhou D, Xia S, Shang Y, Want L, Zheng L, et al. Reduced testosterone levels in males with lone atrial fibrillation. [citied 2009 March 04]. Available from: http://www. ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19143004?ordinalpos=1&itool=EntrezSystem2 PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DefaultReportPanel.Pubmed_RVDocSum. 3. Medscape Cardiology. Low Testosterone Levels Associated With Lone Atrial Fibrillation in Men. [citied 2009 March 01]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/ 588531?src=mpnews&spon=2&uac=117092CG 4. Mont L, Sambola A, Brugada J, Vacca M, Marrugat J, Elosua R, et al. Long-lasting sport practice and lone atrial fibrillation. European Heart Journal 2002; 23: 477√82.

274

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

BERITA TERKINI

Benarkah Prasugrel Lebih Baik Dibandingkan Clopidogrel
TRITON TIMI 38 (Trial to Assess Improvement in Therapeutic Outcomes by Optimizing Platelet Inhibition with Prasugrel) adalah penelitian yang melibatkan 13608 pasien sindroma koroner akut yang akan menjalani PCI (Percutaneus Coronary Intervention).
asien dalam penelitian ini diacak untuk mendapat terapi prasugrel (60 mg loading dose dan 20 mg prasugrel dosis rumat) atau clopidogrel (300 mg loading dose dan 75 mg dosis rumat) selama 15 bulan. Hasil penelitian yang dilaporkan pada sesi ilmiah AHA (American Heart Association) 2007 memperlihatkan bahwa pemberian prasugrel disertai penurunan bermakna endpoint primer (kematian kardiovaskular, infark miokard dan stroke), namun disertai peningkatan risiko perdarahan mayor, perdarahan mengancam jiwa dan perdarahan fatal. Baru-baru ini dilaporkan prespecified analysis penelitian TRITON TIMI 38, yang melibatkan 3534 pasien dengan STEMI. Prespecified analysis ini memperlihatkan bahwa pada pasien STEMI (ST-segment elevation MI) yang menjalani PCI, prasugrel secara bermakna mengurangi kejadian iskemik lebih baik dibandingkan clopidogrel tanpa peningkatan risiko perdarahan. Dr. Gilles Montalescot (Centre Hospitalier Universitaire Pitie Salpetrie, Paris Perancis) yang memimpin penelitian ini mengatakan bahwa prasugrel secara bermakna mengurangi kejadian kematian karena kardiovaskular, MI (myocardial infarction) tidak fatal, atau stroke tidak fatal. Manfaat ini bertahan selama 15 bulan. Selain itu prasugrel mengurangi endpoint sekunder seperti penurunan trombosis karena pemasangan stent.

?

Dr. Duane Pinto dari Beth Israel Deaconess Medical Centre di Boston, Amerika Serikat memberikan komentar bahwa walaupun prasugrel dalam prespecified analysis ini lebih baik dibandingkan clopidogrel tanpa peningkatan risiko perdarahan, namun prasugrel belum tentu yang paling cocok untuk semua keadaan. Banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan, seperti lokasi infark, risiko perdarahan, waktu pemberian obat dan saat dilakukannya PCI; semua ini tidak bisa dijawab hanya dengan hasil prespecified analysis ini. Selain itu apakah efek menguntungkan prasugrel ini terjadi pada semua subkelompok dan di antara semua jenis pasien, belum jelas benar. Sebuah analisis post hoc memperlihatkan bahwa angka kejadian iskemik setelah 15 bulan lebih rendah secara bermakna dengan terapi prasugrel hanya pada pasien STEMI dengan infark anterior. Sedangkan pasien STEMI dengan infark non-anterior, endpoint primer tidak berbeda bermakna antara terapi prasugrel maupun clopidogrel. Dr. Duane juga menambahkan bahwa efek menguntungkan ini terutama terjadi pada pasien risiko tinggi, berarti manfaat paling dirasakan oleh pasien infark anterior dan diabetes. Pada pasien infark non-anterior, belum jelas apakah prasugrel lebih baik dibandingkan dengan clopidogrel. Peneliti lainnya, dr. Paul Gruber dari Sinai Hospital, Baltimore, mengatakan bahwa penelitian TRITON ini tidak dirancang secara prospektif atau secara baik untuk membandingkan efektifitas prasugrel dengan clopidogrel pada pasien dengan STEMI dan menambahkan bahwa data yang ada harus diinterpretasi lebih hati-hati sebelum mengambil kesimpulan. Dr. Gregg Stone dari Columbia University, New York, Amerika Serikat mengatakan bahwa penelitian ini memiliki beberapa kelemahan, di antaranya adalah dosis yang digunakan dalam membandingkan prasugrel dengan clopidogrel. Dalam penelitian ini loading dose prasugrel 60 mg dibandingkan dengan clopidogrel 300 mg. Seharusnya loading dose prasugrel ini dibandingkan dengan dosis clopidogrel yang lebih poten, yaitu 600 mg. Pasien yang mengikuti penelitian ini tidak menerima manfaat maksimal preloading clopidogrel karena loading dose tidak adekuat. Walau belum jelas apakah prasugrel lebih baik dibandingkan clopidogrel, komisi Eropa telah memberikan persetujuan untuk pemasaran prasugrel sebagai obat pencegahan kejadian artherotrombotik pada pasien sindrom koroner akut yang akan menjalani PCI. FDA (Food and Drug Administration) belum mengambil keputusan mengenai prasugrel ini, walau panel penasihat sudah sepakat obat ini dipasarkan.

P

276

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

BERITA TERKINI

Albumin pada Trauma Kepala
Kesimpulan: • Dalam prespecified analysis penelitian TRITON TIMI 38, prasugrel dinyatakan lebih baik dalam mengurangi angka kejadian iskemik dibandingkan clopidogrel, tanpa peningkatan kejadian perdarahan. • Beberapa peneliti masih meragukan hasil prespecified analysis ini dengan beberapa alasan: - Penelitian ini tidak dirancang dengan baik untuk membandingkan efektifitas prasugrel dengan clopidogrel. - Loading dose clopidogrel tidak maksimal, sehingga efektifitasnya tidak maksimal. Bila loading dose 600 mg mungkin hasilnya berbeda. - Belum jelas apakah efek menguntungkan prasugrel ini terjadi pada semua sub-kelompok dan semua jenis pasien. - Untuk pasien STEMI dengan iskemia anterior penelitian ini prasugrel memang lebih baik dibanding clopidogrel. Namun pada iskemia non anterior manfaatnya tidak berbeda bermakna. - Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, seperti lokasi infark, risiko perdarahan, waktu pemberian obat dan waktu dilakukannya PCI; semuanya tidak bisa diatasi hanya dengan satu pernyataan; prasugrel pada keadaankeadaan tersebut belum tentu lebih baik dibandingkan dengan clopidogrel. - Masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa prasugrel lebih baik dibandingkan clopidogrel. Banyak penelitian yang sudah membuktikan manfaat clopidogrel dalam mengatasi STEMI maupun non-STEMI. - Hasil penelitian yang dilaporkan pada sesi ilmiah AHA (American Heart Association) 2007 yang memperlihatkan peningkatan risiko perdarahan mayor, perdarahan mengancam jiwa dan perdarahan fatal pada penggunaan prasugrel perlu menjadi pertimbangan dalam menilai prespecified analysis penelitian TRITON TIMI 38 ini. (YYA)
Referensi:
1. Medscape Cardiology. STEMI Patients in TRITON TIMI 38: Prasugrel Bests Clopidogrel Without Bleeding Risk. http://www.medscape.com/viewarticle/588869. 2. Medscape Cardiology. Prasugrel Approved in Europe. http://www.medscape.com/ viewarticle/588602.

Kadar albumin serum telah dihubungkan dengan
outcome berbagai situasi klinis. Albumin mempunyai sifat fisiologis ganda yang dapat bermanfaat pada cedera otak. Terapi Lund untuk peningkatan tekanan inrakranial menggunakan albumin sebagai bagian dari protokolnya dan menunjukkan hasil yang baik. Suatu studi retrospektif dilakukan untuk melihat kaitan albumin dengan outcome setelah trauma kepala/ traumatic brain injury (TBI). Dari 138 pasien, kebanyakan (65%) mengalami cedera otak berat (GCS < 9); 70% pasien mempunyai outcome baik. Kadar albumin turun pada beberapa hari pertama setelah cedera tanpa memperhatikan outcome. Kadar albumin masih < 25 g/L pada periode yang lama pada pasien dengan outcome yang kurang baik (6 hari vs 3 hari, p=0,012). Kadar albumin serum tampaknya merupakan prediktor independen outcome buruk. Panduan berbasis evidence untuk TBI berat saat ini belum mencakup strategi pemberian cairan. Telah dilakukan studi menggunakan protokol yang meliputi pemberian albumin untuk mempertahankan tekanan osmotik koloid normal dan memberikan keseimbangan cairan yang netral hingga sedikit negatif. Tujuan studi tersebut adalah untuk menganalisis kejadian kegagalan organ dan mortalitas pada pasien TBI berat yang diterapi dengan suatu protokol yang meliputi strategi terapi cairan termasuk albumin. Studi tersebut melibatkan 93 pasien dengan TBI berat dan Glasgow Coma Score = 8. Disfungsi organ dinilai dengan skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA). Mortalitas dinilai setelah 10 dan 28 hari, 6 dan 18 bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa keseimbangan cairan total positif pada hari ke-1 s/d 3 dan negatif pada hari ke-4 s/d 10. Keseimbangan kristaloid negatif dari hari ke-2. Albumin serum rata-rata 38Ø6 g/L. Cairan koloid merupakan 40-60% cairan total yang diberikan per hari. Furosemid diberikan kepada 94% dari semua pasien. Gagal organ berat yang didefinisikan sebagai SOFA=3 merupakan satu-satunya bukti kegagalan pernapasan, yang ditemukan pada 29% pasien. Tidak ada yang mengalami gagal ginjal. Setelah 28 hari, mortalitas 11% dan setelah 18 bulan, mortalitas 14%. Dari studi tersebut disimpulkan bahwa protokol yang mencakup pemberian albumin dengan keseimbangan cairan netral hingga sedikit negatif dikaitkan dengan mortalitas yang rendah pada pasien TBI berat yang dikaitkan dengan tingginya frekuensi gagal pernapasan (29%) yang dinilai dengan skor SOFA. (EKM)

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

277

BERITA TERKINI

Kanker - Penyebab Kematian Pasien AIDS yang Kian Penting
Lebih dari sepertiga kematian pasien HIV-positif di Perancis pada 2005 disebabkan oleh kanker. Hal itu dilaporkan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases edisi 1 Maret 2009. Jumlah itu menunjukkan peningkatan bermakna proporsi kematian terkait kanker di antara pasien HIV-positif di Perancis sejak 2000.

Para peneliti berpendapat bahwa pencegahan, pemantauan
dan perawatan kanker yang lebih baik dapat membantu mengurangi jumlah kematian akibat kanker pada pasien dengan HIV, dan juga menekankan pentingnya mempertahankan jumlah CD4 ODHA (orang dengan HIV/AIDS) di atas 250. Berkat pengobatan HIV, di negara maju telah terjadi penurunan bermakna penyakit dan kematian terkait HIV pada ODHA. Tingkat kanker terdefinisi AIDS, limfoma non-Hodgkin dan sarkoma Kaposi juga sudah menurun. Namun, karena pasien HIV bisa hidup lebih lama, keadaan misalnya penyakit jantung, masalah hati dan kanker tidak terkait HIV akan menjadi penyebab kematian yang kian penting. Pada 2000, sebuah survei di rumah sakit di Prancis (penelitian Mortalite) mengungkapkan bahwa 12% seluruh kematian ODHA akibat kanker yang tidak terkait HV dan bahwa kanker menyokong 29% seluruh kematian pada pasien dengan HIV. Pada survei ulangan tahun 2005, seluruhnya ada 1.042 kematian yang dilaporkan di antara 78.000 orang yang menerima layanan HIV di rumah sakit yang terlibat dalam penelitian tersebut; dibandingkan dengan 964 kematian pada 2000. Rincian 1.013 kematian tersedia untuk dianalisis. Secara keseluruhan, 76% kematian terjadi pada laki-laki, median usia adalah 46 tahun, dan median jangka waktu sejak didiagnosis HIV adalah 12 tahun. Sebagian besar pasien (87%) pernah menerima pengobatan HIV dan 47% memiliki viral load di bawah 500 waktu meninggal. Median jumlah CD4 adalah 161, mengindikasikan penekanan kekebalan sedang hingga berat, namun angka itu lebih tinggi dibandingkan median jumlah CD4 yang hanya 90 yang tercatat pada pasien yang meninggal pada 2000. Penyebab kematian paling sering adalah penyakit terdefinisi AIDS (jumlah seluruhnya, 37, 36%, penurunan dari 47% pada 2000).

Secara umum 344 (34%) kematian terkait kanker. Jumlah itu meningkat bermakna (p = 0,02) dari 2000 dengan 29% kematian adalah terkait kanker. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa 17% kematian disebabkan oleh kanker yang tidak terkait dengan HIV atau hepatitis. Pasien yang meninggal oleh kanker jenis itu memiliki median usia 49 tahun, sudah didiagnosis HIV selama median 12 tahun, memiliki median jumlah CD4 sebanyak 200, dan 55% memiliki viral load di bawah 500 pada saat kematian. Seluruhnya ada 64 kematian yang disebabkan oleh kanker pernapasan, termasuk 53 yang disebabkan oleh kanker paru dan 12 oleh kanker hidung dan tenggorokan. Tidak ada perubahan proporsi kematian yang disebabkan kanker pernapasan pada 2005 (5%) dibandingkan pada 2000 (6%). Faktor gaya hidup tampak menjadi faktor penting pada kematian tersebut karena 90% dari yang meninggal akibat kanker pernapasan adalah perokok dan 34% mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Ada peningkatan bermakna pada proporsi kematian yang disebabkan oleh kanker lambung pada 2005 dibandingkan 2000. Juga sepuluh kasus kanker pankreas dibandingkan hanya tiga kasus pada 2000. Para peneliti mencatat bahwa ada tujuh kasus kanker payudara pada 2005 dibandingkan dengan nol pada 2000, dan juga terjadi peningkatan pada jumlah kematian akibat kanker kulit (sepuluh pada 2005 dibandingkan dua pada 2000). Tidak ada perubahan pada jumlah kematian akibat kanker anus. Kematian akibat kanker hati terutama dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis C. Hal itu berbeda dengan 2000 ketika virus hepatitis B juga merupakan penyebab penting pada kematian terkait kanker hati. Tidak ada perubahan proporsi kematian oleh limfoma non-Hodgkin antara 2005 (11%) dan 2000 (10%). Jumlah CD4 orang yang meninggal akibat

278

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

BERITA TERKINI
kanker tersebut pada 2005 dan 2000 juga dapat dibandingkan (86 banding 76). Hampir sepertiga pasien meninggal akibat jenis kanker tersebut memiliki jumlah CD4 di atas 200 saat kematian. Sarkoma Kaposi menyokong 4% kematian akibat kanker pada 2005 dibandingkan 3% pada 2000, perubahan yang tidak bermakna. Kurang dari 1% kematian akibat kanker pada 2005 dan 2000 disebabkan oleh kanker rahim. ≈Kami menunjukkan bahwa kanker menyokong lebih dari sepertiga penyebab kematian pada sekelompok pasien tersebut. Kami juga menunjukkan bahwa proporsi kematian yang diakibatkan oleh kanker meningkat secara bermakna sejak 2000,∆ para peneliti menulis. Mereka juga menekankan bahwa ≈proporsi kanker tidak terkait AIDS juga meningkat secara bermakna mulai 2000 hingga 2005.∆ Penelitian lain, misalnya penelitian D:A:D, juga menemukan bahwa kanker tidak terkait AIDS merupakan penyebab kematian yang kian penting pada pasien dengan HIV. Para peneliti mencatat kemiripan antara temuan penelitian mereka dan temuan penelitian D:A:D, khususnya bahwa median jumlah CD4 pasien yang meninggal akibat kanker tidak terkait AIDS adalah pada kisaran 200. Para peneliti menyimpulkan bahwa ≈pencegahan, skrining, diagnosis dini dan penatalaksanaan kanker serta pengawasan yang membaik harus termasuk dalam tindak lanjut pasien terinfeksi HIV dan harus memiliki dampak segera terhadap mortalitas dalam jangka panjang.∆ Mereka juga menekankan pentingnya mempertahankan jumlah CD4 ODHA di atas 250. (NFA)
Sumber:
Bonnet, F. et al. Changes in cancer mortality among HIV-infected patients: the Mortalite 2005 survey. Clin Infect Dis 48 (online edition), 2009.

tudi yang ada menunjukkan adanya perbedaan komposisi mikroflora antara anak-anak yang alergi dibandingkan dengan yang non-alergi. Anak-anak alergi mempunyai koloni bakteri probiotik yang lebih rendah, juga menunjukkan penurunan rasio Bifidobacteria terhadap Clostridia. Lactobacillus reuteri merupakan probiotik berpotensi antiinflamasi, baik pada manusia maupun pada studi binatang. L. reuteri mencegah TNF alfa yang diinduksi oleh IL-8, mengurangi proses peradangan usus pada studi binatang, dan menginduksi IL-10 untuk merangsang produksi sel T reg, dengan cara menginduksi fungsi sel dendrit. Bagaimana studi L. reuteri untuk kasus alergi pada manusia ? Studi melibatkan 188 wanita hamil dengan riwayat keluarga satu atau lebih alergi (eksema, asma, rinokonjungtivitis, urtikaria, dsb); selanjutnya dikelompokkan menjadi kelompok yang mendapat L. reuteri 108 CFU per hari dan kelompok plasebo. Suplementasi dimulai dari usia kehamilan 36 minggu sampai proses persalinan dan pemberian suplementasi untuk bayinya dilanjutkan selama 12 bulan. Parameter penilaian adalah adanya alergi yang timbul pada bayi dengan atau tanpa skin prick test dan kadar IgE serum. Hasil dari studi tersebut seperti dalam tabel berikut :

S

Efek Suplementasi L. Reuteri terhadap Ig E Bayi
Peningkatan insidensi penyakit alergi saat ini diperkirakan salah satunya disebabkan oleh berkurangnya pemaparan mikroba terhadap tubuh kita. Pola hidup yang sangat higienis diperkirakan merupakan salah satu penyebabnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok yang mendapat L. reuteri secara bermakna mempunyai Ig E yang berhubungan dengan alergi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok plasebo (8% vs 20%, p=0,02). Skin prick test juga lebih rendah pada kelompok L. reuteri (14% vs 31%, p=0,02). (KTW)
Referensi:
1. Abrahamsson TR, Jakobsson T, Bottcher M. et al. Probiotics in Prevention of Ig E √ associated eczema: A double-blind, randomized, placebo-controlled trial. J Allergy Clin Immunol 2007:101(10):1-7. 2. Samuli Rautava S, Kalliomäki M, Isolauri E. Probiotics during pregnancy and breastfeed ing might confer immunomodulatory protection against atopic disease in the infant. J Allergy Clin Immunol 2002;109:119-21

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

279

BERITA TERKINI

Senyawa Baru yang Menghancurkan Bakteri TB
Sebuah senyawa baru yang menghancurkan bakteri tuberkulosis (TB) dengan menyerang empat jalur metabolik secara bersamaan dapat mengarah pada pengembangan obat tunggal untuk mengobati TB. Hal itu berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Nature Chemical Biology edisi 1 Februari 2009.

Menurut Rajesh Gokhale √ seorang sarjana penelitian
Howard Hughes Medical Institute dari National Institute of Immunology di New Delhi, India, sebagian besar pasien TB memakai empat obat yang menyasar enzim tertentu pada bakteri TB. Namun, rejimen tersebut dapat menimbulkan masalah karena ketidakpatuhan atau masa penggunaan obat dapat mengakibatkan pengembangan TB yang resisten. Untuk penelitian itu, Gokhale dan rekan menciptakan senyawa yang menyasar ke empat jalur metabolik TB secara bersamaan, yang melemahkan dan pada akhirnya menghancurkan bakteri TB. Menurut Gokhale, senyawa tersebut dapat mengarah pada pengembangan obat tunggal TB, yang dapat menghemat waktu dan uang dengan mengurangi kebutuhan pengobatan yang lama dan pengawasan. Gokhale mengatakan bahwa temuan penelitian menyediakan ≈kesempatan besar untuk mengembangkan obat TB baru yang berpotensi menghancurkan replikasi bakteri TB untuk mencegah infeksi di berbagai tingkatan.∆ Gokhale mengatakan pengembangan senyawa tunggal yang mengikat pada beberapa sasaran menantang paradigma «satu penyakit-satu obat-satu sasaran» yang mendominasi pemikiran di dunia farmasi dalam beberapa dasawarsa ini.

Dia menambahkan bahwa timnya ≈berupaya mengembangkan satu senyawa obat yang dapat menyasar keluarga enzim TB secara bersamaan.∆ Walaupun senyawa tersebut belum cocok untuk manusia, Gokhale mengatakan dia telah meminta dukungan kepada perusahaan farmasi untuk dapat mengembangkan obat yang kurang toksik dari senyawa tersebut. Memerlukan beberapa tahun bagi para ilmuwan untuk mengembangkan obat berdasarkan temuan Gokhale, tetapi penelitian itu ≈menawarkan harapan∆ tentang pengembangan obat TB tunggal. (NFA)
Referensi: New Compound That Destroys TB Bacteria Could Lead to Development of Single TB Drug, Study Says http://kaisernetwork.org/daily_reports/rep_ index.cfm?DR_ID=56762

280

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

BERITA TERKINI

Tindakan pembedahan rongga perut termasuk pembedahan caput pankreas, sering dihubungkan dengan infeksi pasca bedah. Pada teknik pembedahan PPPD (pylorus-preserving pancreaticoduodenectomy) pada sekitar 10% terjadi abses intrabdominal dan sekitar 10% terjadi infeksi pada penyembuhan luka.

Probiotik pada Pembedahan
Kelompok A Jumlah pasien dengan infeksi Lama rawat inap (hari) Lama di ICU (hari) Penggunaan antibiotik (hari) 5/40 17 Ø 8 2 Ø 3 2 Ø 5 Kelompok B 16/40* 22 Ø 16 6 Ø 12 10 Ø 14*

Probiotik seperti diketahui mempunyai manfaat yang cukup
luas, termasuk mencegah infeksi pascabedah. Probiotik mampu menghambat translokasi bakteri patogen dengan cara antara lain: meningkatkan motilitas, meningkatkan sekresi mukus, serta efek metabolit bakteri seperti asam lemak rantai pendek. Potensi lain yaitu mampu meningkatkan sistem imunitas tubuh - menginduksi IL-10, menghambat Th-1 yang distimuli oleh sel dendrit, aktivasi makrofag, stimulasi sekresi IgA dan neutrofil dengan menurunkan produksi sitokin proinflamasi. Dilakukan studi suplementasi probiotik dari Lactobacillus, Pediococcus, Leuconostoc, yang dikombinasikan dengan fiber pada 80 pasien tindakan bedah PPPD; dikelompokkan menjadi kelompok A yang diberi nutrisi enteral, probiotik dan prebiotik, sedangkan kelompok B tanpa probiotik. Semua pasien mendapat antibiotik profilkasis cefuroxime (1,5 g) dan metronidazole (300 mg), selanjutnya antibiotik hanya diberikan pada pasien infeksi. PPI diberikan secara rutin sekali sehari. Parameter yang dievaluasi adalah kejadian infeksi pada 30 hari setelah operasi (tabel).

Hasil studi menunjukkan bahwa kombinasi nutrisi enteral dengan synbiotik mampu menurunkan kejadian infeksi bakterial pasca operasi PPPD. Pemberian probiotik biayanya lebih murah, tidak menimbulkan resistensi maupun efek samping serius. (KTW)

Referensi:
Rayes, N, Seehofer D, Theruvath T. et al. Effect of Enteral Nutrition and Synbiotics on Bacterial Infection Rates After Pylorus-preserving Pancreatoduodenectomy A Randomized, Double-blind Trial. Ann Surg 2007;246: 36√41.

282

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

BERITA TERKINI

Kasus swine influenza A/H1N1 atau virus flu babi yang pertama berkembang di Meksiko, AS, Selandia Baru kini telah menyebar ke Asia, dengan jumlah kasus ribuan dan beberapa dilaporkan meninggal.
lu babi sendiri awalnya merupakan penyakit virus yang mengenai saluran pernapasan babi. Jenis virus ini secara rutin muncul pada babi tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak kematian pada babi itu sendiri, flu babi biasanya tidak menginfeksi manusia. Hanya ada beberapa kasus yang ditemukan pada orang-orang yang melakukan kontak langsung dengan babi. Saat ini flu babi telah ditemukan beberapa kasus yang menyebar dari manusia ke manusia. Penyebaran ini mungkin terjadi dengan cara yang sama seperti flu biasa, melalui batuk dan bersin dari orang-orang yang terinfeksi. The Centers for Disease Control and Prevention AS menyatakan kalau sampel virus yang di Meksiko cocok dengan virus yang ditemukan di Amerika, virus ini merupakan campuran dari virus pada manusia, virus burung dari Amerika Utara dan virus babi dari Amerika Utara, Eropa dan Asia. Minggu tanggal 26 April 2009 lalu A U.S. Centers for Disease Control and Prevention, menyatakan bahwa tes vaksin flu biasa pada virus flu babi tidak menunjukkan adanya hubungan menyilang, artinya, orang yang menggunakan vaksin tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan tambahan dari serangan virus tersebut. Keluhan pasien dengan flu babi ini sama seperti halnya infeksi virus influensa lainnya, berupa demam, batuk, nyeri tenggorokan, menggigil dan rasa lemah, dapat dikatakan keluhan yang tidak spesifik dan dapat disebabkan oleh berbagai hal yang menyulitkan membedakan dengan infeksi influensa lainnya, kondisi yang lebih berat secara klinis dapat ditemukan pasien sulit bernafas, demam tinggi, pusing, muntah hebat disertai nyeri dada dan perut. Terapi yang ada saat ini adalah melibatkan pemberian antivirus sesegera mungkin setelah onset infeksi didapatkan. Obat antivirus saat ini yang digunakan adalah Tamiflu (Roche) dan Relenza (GSK), sedangkan vaksin yang saat ini sedang dikembangkan oleh Novartis yaitu Novatax.
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

Probiotik, Echinasea Echinacea Meningkatkan Imunitas Melawan Infeksi Flu Babi

F

Ada beberapa tip yang disarankan mencegah penyebaran virus flu babi ini yaitu : • Jika mengalami gejala flu, sebaiknya cukup beristirahat paling tidak hingga 2 hari setelah gejala-gejala flu tersebut hilang. • Sering-seringlah cuci tangan dan tutuplah hidung serta mulut ketika Anda batuk atau bersin. • Segeralah periksa ke rumah sakit jika Anda mengalami gejala seperti kesulitan bernapas. Tapi, jika gejala Anda ringan, tetaplah di rumah untuk menghindari penyebaran virus kepada orang lain di rumah sakit. • Pemakaian masker direkomendasikan bagi petugas kesehatan, anggota keluarga dan orang lain yang mengadakan kontak langsung dengan pasien flu babi. • Bagi Anda yang mengkonsumsi daging babi, masaklah dengan cara yang aman. Masak paling tidak dengan suhu 160F. • Tingkatkan daya tahan tubuh, beberapa suplemen telah disarankan dapat digunakan untuk proteksi secara individu diantaranya adalah Probiotik, yang mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan fungsi dinding saluran cerna, dengan dosis yang diharapkan cukup adalah 5 x 109 CFU setiap harinya, suplemen probiotik yang dapat digunakan adalah dari spesies Lactobacillus acidophillus, L.plantarum, L.casei, Bifidobacterium longum dan B.bifidum. • Echinacea, beberapa ahli telah menyetujui herbal ini akan menstimulasi sistem kekebalan tubuh, penelitian di Canada menunjukkan Echinasea meningkatkan sistem kekebalan tubuh terutama dengan mengaktifkan sel makropag, dianjurkan setidaknya 300 mg echinacea diberikan 3 kali perhari hingga keluhan influensa menghilang. • Zinc, Mineral ini akan membantu meningkatkan produksi sel darah putih dan membantu pula terbentuknya antibodi, dengan dosis yang direkomendasikan 15-25 mg. (ARI)
Referensi:
1. Emerging Disease. Countries consider ways to cease spread of swine flu as numbers rise; Infectious Disease News. IDN-SysAdmin@SLACKINC.COM 28 April 2009 2. Fight swine flu with alternative remedies. www.examiner.com. 28 April 2009 3. M.Stoppler. How does a person cacth swine flu. www.medicinenet.com. 28 April 2009 4. WHO Concerned at New Swine Flu in U.S. www.medscape.medicalnews.com. 28 April 2009

285

BERITA TERKINI

Para Ilmuwan Menemukan Bahwa Otot Jantung Dapat Diperbaharui
Penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan Swedia menemukan bahwa sel-sel otot jantung dapat diperbaharui selama hidup, tidak dibatasi hanya pada saat lahir saja. Mereka percaya penemuan ini membuka pintu penanganan yang dapat mengganti kerusakan jaringan jantung dengan sel-sel baru. Studi oleh Profesor Jonas Frisen dkk dari Karolinka Institute di Swedia ini dipublikasikan dalam jurnal Science edisi 3 April 2009.
ara peneliti mengamati fakta bahwa karbon-14 hasil uji bom nuklir saat perang dingin bisa masuk ke dalam DNA, termasuk ke dalam sel-sel otot jantung (kardiomiosit). Hal ini dapat digunakan untuk mengukur umur sel-sel otot jantung manusia. Isotop radioaktif secara bertahap melepaskan radioaktivitasnya dan meluruh seiring waktu menjadi bentuk normal senyawanya. Karbon-14 secara bertahap melepaskan neutron di dalam inti dan menjadi bentuk stabilnya, karbon 12. Ketika sel-sel membelah mereka membentuk DNA baru mengandung karbon 14. Jika teori lama menyebutkan kita mati dengan sel-sel jantung sama dengan saat kita lahir itu benar, maka orang-orang yang lahir sebelum karbon 14 diperoleh dari rantai makanan (uji nuklir belum dimulai sampai tahun 1955) tidak akan memiliki karbon 14 di dalam jantungnya.Tapi ternyata, tidak demikian hasilnya. Menggunakan pendekatan ini, Frisen dan koleganya menemukan bahwa sel-sel otot jantung memperbaharui dirinya secara bertahap seumur hidup dan kecepatannya menurun saat kita menjadi tua : 1% sel-sel jantung digantikan per tahun pada umur 25 tahun dan turun menjadi 0,45 pada umur 75 tahun. Mereka juga menemukan bahwa sepanjang umur kehidupan normal, kurang dari 50% dari sel-sel otot jantung diganti. Frisen dan koleganya menjelaskan bahwa hal ini dapat membuka pintu penanganan penyakit jantung dengan menggantikan kerusakan sel-sel melalui stimulasi proses pembaruan sel-sel jantung.

P

Dr Charles Murry dari University of Washington di Seattle, yang menulis hal serupa, berkomentar bahwa temuan ini merupakan salah satu studi paling penting dalam bidang kardiovaskular. Menurutnya, ada dogma bahwa orang mati dengan sel-sel yang sama dengan saat dilahirkan dan hal ini masih diajarkan di sekolah-sekolah kedokteran. Namun, studi ini membantu menghilangkan kontroversi yang sudah lama berlangsung. Mengggunakan radioaktivitas untuk mengukur seberapa cepat sel-sel menggantikan bukan ide baru. Para ilmuwan menggunakan metode ini menggunakan hewan dengan menempatkan sel-sel radioaktif sehingga mereka dapat mengukur kecepatan penggantian sel. Penggunaan hal ini pada manusia merupakan tindakan tidak etis. Namun, Frisen dan koleganya mendapatkan ide bahwa uji senjata nuklir sampai dengan tahun 1963 secara efektif melepaskan isotop radioaktif ke atmosfir, kemudian masuk ke dalam rantai makanan manusia. Sehingga manusia di preiode tersebut akan terpapar dengan isotop radioaktif tersebut. (NFA)

286

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

PRAKTIS

Tatalaksana Pemeriksaan Dasar Infertilitas
Andon Hestiantoro
Divisi Imunoendokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Pendahuluan Infertilitas adalah kondisi yang dialami oleh pasangan suami istri yang telah menikah minimal 1 tahun, melakukan hubungan sanggama teratur tanpa kontrasepsi, namun tidak berhasil memperoleh kehamilan. Kondisi ini makin lama makin banyak ditemukan di Indonesia. Diperkirakan perempuan Indonesia yang mengalami kesulitan untuk hamil adalah 15% di usia 30-34 tahun, 30 % di usia 35-39 tahun dan 64 % ketika mereka mencapai usia 40-44 tahun. Banyak faktor yang terkait dengan kesulitan untuk hamil tersebut, faktor tersebut 40% terkait dengan faktor istri, 40% terkait dengan faktor suami, 10% terkait dengan faktor gabungan suami istri, dan sisanya terkait dengan faktorfaktor lain yang sering kali sulit untuk ditemukan penyebabnya atau disebut dengan istilah infertilitas idiopatik. Penanganan infertilitas harus dilakukan dengan cepat dan tepat sebab keterlambatan penanganan dapat semakin memperburuk prognosis infertilitas pasangan suami istri. Dokter umum sebagai petugas kesehatan lini pertama tentu memiliki tanggung jawab yang sangat besar di dalam menangani masalah yang sangat penting ini, terutama untuk mencegah keterlambatan penanganan pasangan suami istri dengan masalah infertilitas. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh dokter umum terkait dengan penanganan infertilitas pada lini pertama, antara lain melakukan anamnesis yang benar dan efektif, melakukan pemeriksaan fisik dengan benar dan memberikan terapi sederhana. Pada tulisan ini akan dibahas mengenai langkah-langkah pemeriksaan infertilitas yang dapat dilakukan oleh dokter umum dalam menangani pasangan suami istri dengan infertilitas. Definisi Infertilitas Berdasarkan kesepakatan para ahli reproduksi manusia, maka pasangan suami istri dinyatakan menderita infertilitas jika tidak hamil setelah: 1. Melakukan sanggama secara teratur (2-3 kali per minggu) 2. Tanpa kontrasepsi 3. Menikah minimal satu tahun Penyebab Infertilitas Secara garis besar penyebab infertilitas dapat dibagi menjadi : 1. Faktor istri (40%) a. Kondisi vagina, mulut rahim dan rahim b. Kondisi ovarium dan rongga peritoneum c. Kondisi saluran telur atau tuba Fallopii

2. Faktor suami (40%) a. Kelainan organ genitalia pria b. Faal dan morfologi sel spermatozoa 3. Faktor gabungan istri dan suami ( 10%) a. Frekuensi sanggama b. Antibodi anti sperma 4. Faktor idiopatik (10%) Tatalaksana infertilitas di pusat pelayanan kesehatan primer Tatalaksana infertilitas pada pusat pelayanan kesehatan primer sangat penting. Jika dokter umum dapat melakukan tatalaksana infertilitas secara efesien dan efektif, akan banyak pasangan suami isri dengan masalah infertilitas dapat cepat ditolong. Tatalaksana pemeriksaan infertilitas yang terkait dengan faktor istri: 1. Anamnesis: a. Usia istri : prognosis perempuan akan lebih baik jika masih berusia kurang dari 35 tahun. Jika usia istri telah lebih dari 35 tahun, maka disebut risiko tinggi pada wanita; sebaiknya tidak ditangani oleh seorang dokter umum, dianjurkan dirujuk ke dokter spesialis yang berwenang. b. Siklus haid: siklus haid yang teratur, yaitu antara 21-28 hari merupakan indikator yang menunjukkan sebagian besar kondisi ovulasi yang baik. Jika siklus haid datang lebih cepat dari 21 hari atau lebih lambat dari 28 hari, kemungkinan besar terkait dengan siklus haid yang tidak berovulasi. Siklus haid yang tidak teratur dapat juga terkait dengan kondisi hipotiroid dan hiperprolaktinemia. c.. Nyeri haid: haid yang sangat nyeri sehingga memerlukan pengobatan analgetik atau bahkan sampai mengganggu aktifitas sehari-hari seringkali terkait dengan beberapa kelainan seperti endometriosis, mioma uteri atau adenomiosis d. Frekuensi sanggama: Frekuensi sanggama yang terbaik adalah setiap 2-3 hari dalam 1 minggu. Upaya untuk mengatur saat bersanggama dikaitkan dengan perkiraan masa subur istri seringkali justru meningkatkan stres psikis bagi pasangan suami istri. e. Riwayat keguguran atau riwayat operasi sebelumnya terkadang terkait dengan perlekatan pada saluran telur yang dapat menjadi penyebab infertilitas.

288

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

PRAKTIS
2. Pemeriksaan fisik dan penunjang terhadap istri a. Berat badan dan tinggi badan. Dengan menggunakan formula perbandingan antara berat badan (kilogram) dan tinggi badan (meter) akan didapatkan indeks masa tubuh (IMT). IMT < 19 (terlampau kurus) atau > 25 (obesitas) sering terkait dengan infertilitas karena mengngganggu proses ovulasi. b. Pertumbuhan rambut/bulu atau jerawat. Pada istri dengan infertilitas perlu diperhatikan adanya pertumbuhan rambut yang abnormal seperti pertumbuhan jambang, kumis, jenggot, bulu dada, bulu di perut dan sebagainya. Di samping itu perlu diperhatikan adanya pertumbuhan jerawat yang berlebihan tidak hanya di wajah tetapi dapat pula tumbuh di dada atau di punggung. Pertumbuhan rambut atau jerawat abnormal memiliki kaitan erat dengan hiperandrogenemia yang sering dijumpai pada sindrom ovarium polikistik. c. Kelenjar tiroid. Organ tiroid yang membesar sering terkait dengan gangguan fungsi hormon tiroid. Hal ini sering terkait dengan infertilitas. d. Payudara. Penting sekali memeriksa adanya galaktore atau keluarnya cairan bening dari payudara. Kondisi galaktore terkait dengan kondisi hiperprolaktinemia yang dapat menjadi peyebab siklus tidak berovulasi. e. Abdomen. Jika dijumpai benjolan di abdomen, mungkin ada hubungannya dengan kista ovarium, mioma uteri atau adenomiosis yang sering terkait dengan infertilitas. f. Penilaian organ genitalia. Keputihan, perdarahan pasca sanggama, polip endoserviks dapat menjadi faktor penyebab infertilitas. Kelainan ini dapat mudah diketahui hanya dengan melakukan pemeriksaan ke dalam vagina menggunakan spekulum. Hal lain yang mungkin dapat dijumpai pada pemeriksaan organ genitalia adalah adanya himen imperforata (selaput dara yang masih utuh), agenesis vagina, septum vagina, dan sebagainya. 3. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang penting yang dapat dilakukan di beberapa pusat pelayanan kesehatan sekunder adalah histero-salpingografi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai patensi kedua saluran tuba. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah menilai kadar : a. Progesteron pada fase luteal madya (siklus haid hari ke 20-21). Jika dijumpai rendah, maka terdapat kemungkinan siklus yang tidak berovulasi. b. Prolaktin, TSH dan free T4, terutama jika dijumpai siklus haid yang terganggu. 4. Anjuran khusus: a. Sangat penting melakukan pemeriksaan kadar antibodi anti rubella. Diharapkan seorang istri telah memiliki kadar IgM yang negatif dan kadar IgG yang positif sebelum hamil. Jika masih dijumpai kadar IgM dan IgG yang negatif, maka perlu dilakukan imunisasi MMR (morbili, mumps dan rubella). Kehamilan sebaiknya ditunda jika dijumpai kadar IgM positif dan kadar IgG yang masih negatif. b. Selalu menganjurkan istri untuk minum asam folat dengan dosis 0.4 mg per hari. Hal ini penting untuk mencegah kejadian cacat tabung saraf pada janin yang akan dikandung. Tatalaksana pemeriksaan infertilitas yang terkait dengan faktor suami adalah: 1. Anamnesis. Hal yang perlu diperhatikan pada pria adalah: a. Merokok. Kondisi merokok seringkali terkait dengan penurunan kemampuan renang sel spermatozoa b. Riwayat infeksi kelenjar parotis. Kondisi ini sering terkait dengan kejadian orchitis yang dapat menyebabkan infertilitas c. Kesulitan ereksi. Kondisi ini terkait dengan stres psikis atau kelainan metabolik kronik seperti diabetes melitus atau hipertensi. 2. Pemeriksaan fisik a. Payudara. Payudara pria harus normal, jika terlihat membesar atau ginekomastia, mungkin ada peningkatan kadar hormon estrogen pada pria. b. Penis. Perlu diperhatikan letak uretra yang dapat terkait dengan abnormalitas seperti hipospadia. c. Skrotum harus diraba untuk menilai kemungkinan skrotum terisi banyak cairan, terdapat hernia skrotalis atau terdapat varikokel. Jumlah testis, volume testis dan turunnya testis ke dalam skrotum juga perlu diperhatikan. 3. Pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan dasar yang wajib dikerjakan pada pasangan suami istri dengan masalah infertilitas adalah pemeriksaan analisis sperma. Hasil analisis sperma yang normal antara lain sebagai berikut : a. Volume 2-6 ml b. Konsentrasi sperma >20 juta per mililiter c. Motilitas sperma: i. Lurus dan cepat >25% ii. Lurus lambat ditambah dengan lurus cepat >50% d. Morfologi normal >30%
DAFTAR PUSTAKA
1. Fertility: assessment and treatment for people with fertility problems. NICE Clinical guideline 2004, 2. Whitman-Elia GF, Baxley EG. A primary care approach to infertile couple. J Am Board Fam Pract 2001;14:33-45 3. Jevitt CM. Weight management in gynecologic care. J Midwifery Womens Health 2005;50:427-430

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

289

INFORMATIKA KEDOKTERAN

Otorisasi Pengelola/Penulis Situs Kesehatan dan Kedokteran di Internet
Dani Iswara
Mahasiswa Program Pascasarjana Konsentrasi Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Field Epidemiology Training Program (FETP) Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

akin maraknya situs web dan blog kesehatan-kedokteran di Internet seperti pisau bermata dua. Di satu sisi memang dapat menguntungkan, di sisi lain justru dapat membingungkan penggunanya. Verifikasi terhadap informasi kesehatan dan kedokteran yang disajikan via Internet sangat dibutuhkan. Di era banjir informasi yang sering disebut Web 2.0, Health 2.0, Medicine 2.0, Research 2.0, dan sejenisnya, pengguna dapat sekaligus bertindak sebagai penyedia konten/informasi (user generated content). Bagaimana menentukan informasi kesehatan dan kedokteran di Internet yang berkualitas? Salah satu acuan yang masih digunakan adalah Health on the Net Code of Conduct (HONcode*). Acuan ini dikelola oleh Yayasan HON (Health on the Net), organisasi non profit dan non pemerintah yang diakui oleh Economic and Social Council of the United Nations (ECOSOC). Mereka berusaha mewujudkan informasi kesehatan dan kedokteran yang berkualitas di Internet. Konsep yang ditawarkan: 1. Authoritative 2. Complementary 3. Privacy 4. Attribution 5. Justifiability 6. Transparency 7. Financial disclosure 8. Advertising policy Beberapa organisasi dan panduan lainnya tersedia di Internet. Salah satu hal yang mendasar dari beberapa konsep tersebut, adalah tentang otorisasi; yaitu seputar kewenangan dan kualifikasi pengelola, penulis, atau penyaji informasi. Otoritas penyaji informasi Anjuran kesehatan dan kedokteran yang dimuat di Internet semestinya terkait dengan kapasitas penyaji; apakah diberikan oleh orang medis atau non medis mengingat penyaji informasi kesehatan dan kedokteran tidaklah harus orang medis. Identitas penyaji hendaknya mudah ditemukan di halaman About, About us, About author, ’Tentang’, ’Penulis’, dan sejenisnya.

M

Informasi tentang penyaji informasi yang mungkin perlu ditampilkan di antaranya: • Nama pengelola, editor, dan moderator, boleh memakai nama alias (pseudonym) • Organisasi pengelola/terkait • Profesional medis atau bukan • Penjelasan singkatan/akronim gelar akademis pengelola (misal gelar spesialis tertentu), dll. Di tengah maraknya pemanfaatan media blog sebagai ajang diskusi dan konsultasi kesehatan-kedokteran, HONcode menambahkan syarat berikut: • semua pengguna diasumsikan bukan profesional medis, kecuali menyatakan diri berbeda, • jika menyampaikan informasi medis layaknya dokter, sebaiknya mengidentifikasi diri dengan jujur. Verifikasi otorisasi versi Indonesia Sepengetahuan penulis, belum ada sistem otorisasi sejenis HONcode di Indonesia. HONcode saat ini belum mengakomodasi bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu sudah ada dalam daftar mereka. Walau tanpa label HONcode, prinsipprinsipnya dapat diadaptasi dan disesuaikan dengan konten lokal. Menurut penulis, HONcode pun tidak dapat menentukan kebenaran identitas penyaji informasi. Apakah situs web/blog yang diakreditasi oleh HONcode memang benar disajikan oleh dokter, spesialis, dokter gigi, perawat, atau pasien? Lepas dari HONcode, penulis berpendapat otorisasi versi Indonesia bisa saja dikaitkan dengan registrasi dokter yang dikelola Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Misalnya, pada suatu halaman web yang memuat otorisasi, terdapat pranala (taut; link; hyperlink) yang menuju ke halaman web di situs idionline.org. Minimal, memanfaatkan hasil pencarian nama penulis di situs idionline.org. Keuntungannya, selain memudahkan verifikasi, jejaring ini dapat digunakan untuk mendata jumlah dokter yang mengelola informasi kesehatan-kedokteran di Internet. Kerugiannya, identifikasi hanya dapat digunakan bagi dokter. Bagaimana dengan mahasiswa kedokteran? *) HONcode (http://www.hon.ch/)

290

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

OPINI

ASI Eksklusif
Tantur Syahdrajat
Klinik Rumah Zakat Indonesia

Meskipun angka inisiasi menyusui meningkat sejak tahun
1990, angka inisiasi ASI eksklusif masih rendah bahkan tidak meningkat pada periode waktu yang sama. Proporsi bayi yang mendapat ASI eksklusif 6 bulan setelah melahirkan meningkat lebih lambat dibandingkan bayi yang mendapatkan makanan tambahan. Hambatan memulai dan melanjutkan proses menyusui antara lain karena kurangnya edukasi tentang menyusui sebelum melahirkan, praktek dan kebijakan rumah sakit yang tidak mendukung, interupsi saat menyusui, pemulangan dari rumah sakit yang lebih awal, kurangnya waktu untuk follow up rutin dan kunjungan pasca persalinan, pekerjaan ibu (tidak adanya fasilitas dan dukungan untuk menyusui di tempat kerja), kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat, promosi komersial susu formula bayi, iklan di televisi dan majalah, kesalahan informasi serta kurangnya bimbingan dan dukungan dari petugas medis.1 Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002-2003 menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif pada bayi usia <2 bulan hanya 64%.2 Persentase turun seiring dengan bertambahnya usia bayi yakni 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5 bulan. Yang lebih memprihatinkan, 13% bayi <2 bulan telah diberi susu formula dan satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan. Survei Nutrition & Health Surveillance System, Balitbangkes dan HKI (2002) di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel) menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4-12%, sedangkan di pedesaan 4-25%.3 Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1-13% sedangkan di pedesaan 2-13%. ASI Eksklusif WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif bagi bayi sejak lahir, sesegera mungkin (setengah-1 jam sejak lahir) sampai setidaknya usia 4 bulan dan bila mungkin hingga usia 6 bulan.4 Yang dimaksud dengan ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa disertai makanan atau minuman tambahan yang lain kecuali vitamin, mineral dan obat-obatan.1 ASI harus diberikan sebanyak dan sesering yang diinginkan bayi, siang maupun malam, setidaknya 8 kali.4 Rekomendasi pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan dan perkembangannya.5 ASI memberi semua nutrisi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit seperti diare dan pneumonia serta mempercepat pemulihan bila sakit.

ASI eksklusif telah terbukti meningkatkan proteksi terhadap banyak penyakit dan meningkatkan kemungkinan melanjutkan menyusui sedikitnya sampai usia 1 tahun.1 Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita.3 Studi pada populasi berpendapatan rendah, menunjukkan bahwa cairan sebagai tambahan ASI tidak diperlukan untuk mempertahankan hidrasi.6 Kandungan air dalam ASI yang diminum bayi selama pemberian ASI eksklusif sudah mencukupi kebutuhan bayi.5 Penambahan air, teh, atau cairan lain berpengaruh pada output ASI, pertumbuhan serta morbiditas dan mortalitas karena penyakit infeksi.6 Memberi cairan sebelum bayi berusia 6 bulan meningkatkan risiko kekurangan gizi. Konsumsi air putih atau cairan lain meskipun sedikit, akan membuat bayi merasa kenyang sehingga tidak mau menyusu. Penelitian menunjukkan bahwa memberi air putih sebagai tambahan cairan sebelum bayi berusia 6 bulan dapat mengurangi asupan ASI hingga 11%.5 Pemberian cairan tambahan juga meningkatkan risiko terkena penyakit. Pemberian cairan dan makanan dapat menjadi sarana masuknya bakteri patogen. Bayi usia dini sangat rentan terhadap bakteri penyebab diare, terutama di lingkungan yang kurang higienis dan sanitasi buruk. ASI menjamin bayi dapat memperoleh air bersih yang tersedia setiap saat. Penelitian di Filipina menunjukkan bayi yang diberi air putih, teh, atau minuman herbal lainnya berisiko terkena diare 2-3 kali lebih banyak dibanding bayi yang diberi ASI eksklusif.5 Reanalisis studi di Brazil dan Bangladesh menunjukkan bahwa bayi menyusui dalam 6 bulan pertama kehidupan yang diberi makanan tambahan memiliki risiko 2-3 kali lipat lebih tinggi dalam hal kematian akibat diare dan pneumonia dibandingkan bayi yang menyusui eksklusif. Randomised controlled trial di Honduras menemukan, seperti studi observasional sebelumnya, bahwa mengenalkan cairan atau makanan pada diet bayi sebelum 6 bulan tidak bermanfaat bagi pertumbuhan.6 Manfaat ASI Menyusui adalah suatu proses alamiah yang besar artinya bagi kesejahteraan bayi, ibu dan keluarga.4 ASI memberi segala kebutuhan bayi, baik dari segi gizi, imunologis, maupun psikologis. ASI bersifat species-specific dan lebih unggul dibandingkan dengan makanan pengganti untuk bayi.1 ASI merupakan makanan alamiah dengan komposisi nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.7 ASI mudah dicerna dan diserap, jarang menyebabkan konstipasi.

292

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

OPINI
ASI mengandung substansi yang menunjang perkembangan sistem saraf dan pertumbuhan otak.8 ASI kaya akan antibodi untuk melawan infeksi.7 ASI dapat membantu bayi untuk merespon secara baik terhadap vaksin mengingat jumlah antibodi yang tinggi pada bayi usia 7-12 bulan yang menyusui.8 Bayi yang menyusui lebih sedikit mengalami alergi. Pada keluarga dengan riwayat alergi, bayi menyusui mengalami lebih sedikit asma, alergi makanan dan eksim. ASI eksklusif sampai 4 bulan akan menurunkan risiko penyakit jantung anak ketika dewasa.7 Menyusui juga membina ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi. Penelitian di negara maju dan berkembang termasuk populasi kelas menengah di negara maju, menunjukkan bukti kuat bahwa ASI menurunkan insiden dan atau keparahan sejumlah penyakit infeksi termasuk meningitis bakterial, bakteremia, diare, infeksi saluran napas, necrotizing enterocolitis, otitis media, infeksi saluran kemih, dan late-onset sepsis pada bayi prematur. Selain itu, angka kematian postneonatal di USA berkurang hingga 21% pada bayi menyusui. Sejumlah studi menunjukkan peran ASI pada penurunan kejadian sudden infant death syndrome pada tahun pertama kehidupan dan penurunan insiden DM tipe 1 dan 2, limfoma, leukemia, penyakit Hodgkin, overweight dan obesitas, hiperkolesterolemia, dan asma pada anak yang lebih tua dan orang dewasa. Menyusui juga berhubungan dengan peningkatan hasil tes perkembangan kognitif. Menyusui pada saat prosedur seperti heel-stick untuk skrining bayi baru lahir akan membuat analgesia bagi bayi.1 Manfaat menyusui bagi ibu antara lain menurunkan risiko perdarahan pasca persalinan dan mempercepat involusi uterus karena berhubungan dengan peningkatan konsentrasi oksitosin, menurunkan kehilangan darah menstruasi dan meningkatkan jarak kelahiran berhubungan dengan amenore pada masa laktasi, mempercepat kembalinya berat badan seperti sebelum hamil, menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium serta kemungkinan menurunkan risiko fraktur tulang pinggul dan osteoporosis pasca menopause.1 Selain manfaat individual, menyusui menghasilkan manfaat sosial ekonomi yang signifikan bagi negara, termasuk mengurangi biaya perawatan kesehatan dan mengurangi orangtua absen dari pekerjaan karena anak sakit. Insiden penyakit yang rendah pada bayi menyusui membuat orangtua memiliki waktu yang lebih untuk memperhatikan anak-anaknya yang lain serta tugas keluarga yang lain dan mengurangi orangtua absen dari pekerjaan serta menghindari berkurangnya pendapatan. Diperkirakan pada tahun 1993 biaya untuk membeli formula bayi pada tahun pertama setelah melahirkan adalah $855. Selama 6 bulan pertama laktasi, masukan kalori pada ibu yang menyusui tidak besar. Setelah periode tersebut, intake makanan dan minuman lebih besar, tetapi harga peningkatan intake kalori tersebut sekitar setengah dari harga untuk membeli susu formula. Dengan demikian dapat menghemat >$400 per anak untuk pembelian makanan selama tahun pertama.9
Daftar Pustaka
1. American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics 2005; 115: 496-506. Diakses dari: http://aap.policy.aappublications.org/. 2. Media Indonesia. Program ASI eksklusif hingga bayi enam bulan. 3 Agustus 2005. Diakses dari: http://www.mkia-kr.ugm.ac.id/. 3. Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI. Kebijakan Departemen Kesehatan tentang peningkatan pemberian Air Susu Ibu (ASI) pekerja wanita. Diakses dari: http://www.dinkeskota semarang.go.id/. 4. Nindya S. Dampak pemberian ASI eksklusif terhadap penurunan kesuburan seorang wanita. Cermin Dunia Kedokteran 2001; 133: 44-47. 5. LINKAGES. Pemberian ASI Eksklusif atau ASI saja: satu-satunya sumber cairan yang dibutuhkan bayi usia dini. 2002. Diakses dari: http://www.linkagesproject.org/. 6. Black RE, Victora CG. Optimal duration of exclusive breast feeding in low income countries. BMJ 2002; 325: 1252-1253. http://bmj.bmjjournals.com/. 7. Suririnah. Air Susu Ibu (ASI) memberi keuntungan ganda untuk ibu dan bayi. 2004. Diakses dari: http://www.infoibu.com/ 8. Department of Nursing: Children's and Women's Services/Ob-Gyn Patient Education Committee University of Iowa Children's Hospital. Breast is best!. Diakses dari: http://www.uihealthcare.com/. 9. American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics 1997; 100: 1035-9. Diakses dari: http://aap.policy.aappublications.org/.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

293

INFO PRODUK

Testosterone Deficiency Syndrome (TDS) in Aging Male
I N O P R O D deficiency Sindrom defisiensi Testosteron Fatau Testosterone U K
syndrome (TDS) pada aging male (pria lanjut usia) merupakan sindrom klinis berupa kumpulan tanda dan gejala pada pria berkaitan dengan bertambahnya usia akibat defisiensi hormon testosteron. Beberapa keluhan yang sering ditemukan pada sindrom ini: libido menurun, lemas/kurang tenaga, daya tahan dan kekuatan fisik menurun serta penurunan prestasi kerja, tinggi badan berkurang, kenikmatan hidup menurun, emosi labil, ereksi kurang kuat, dsb. Diagnosis TDS ditentukan berdasarkan adanya perubahan mental & fisik yang diukur dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan fungsi tubuh, adanya perubahan hormonal yang diukur dari pemeriksaan laboratorium serta keluhan penderita seperti di atas. Untuk mengatasi keadaan tersebut diperlukan tambahan hormon Testosteron. FARMAKOLOGI : Tostrex® tergolong kelompok terapi androgen. Androgen endogen terutama testosteron dan metabolit utamanya √ dehidrotestosteron (DHT) disekresikan oleh testis. Hormon ini bertanggung jawab terhadap perkembangan organ kelamin pria baik internal maupun eksternal. Selain itu, hormon ini juga diperlukan untuk memelihara karakteristik seks sekunder seperti stimulus pertumbuhan rambut, suara pecah, dan perkembangan libido. Hormon ini juga memiliki sifat anabolisme protein, perkembangan otot tulang rangka dan distribusi lemak tubuh, menurunkan ekskresi nitrogen urin, natrium, kalium, klorida, fosfat dan air. Testosteron tidak mempengaruhi perkembangan testis, namun menurunkan ekskresi gonadotropin pituitari. Efek testosteron pada beberapa organ target terjadi setelah perubahan perifer testosteron menjadi estradiol yang kemudian mengikat reseptor estradiol pada inti sel target seperti di kelenjar pituitari, jaringan lemak, otak, tulang, dan sel-sel leydig testis. Farmakokinetik Absorpsi Tostrex® memiliki formulasi hidroalkoholik yang akan mengering segera jika terpapar dengan kulit. Kulit bertindak sebagai reservoir untuk pelepasan testosteron secara lambat ke dalam sirkulasi sistemik. Penyerapan testosteron ke dalam darah dilanjutkan selama 24 jam dengan konsentrasi yang secara bermakna berada di atas kadar testosteron basal. Aplikasi antara 200 dan 800 m2 tidak menunjukkan efek klinis yang relevan terhadap konsentrasi testosteron serum. Aplikasi testosteron di paha bagian dalam dan perut menghasilkan kadar testosteron yang sebanding. Bioavailabilitas Tostrex® sekitar 12%. Pemberian gel 3 gram setiap hari selama lebih dari 6 bulan menghasilkan kadar testosteron serum 5,0 + 2,0 ug/L dan konsentrasi minimal individu yaitu 3,0 + 1,0 ug/L dan konsentrasi maksimum yaitu 12,0 + 7,0 ug/L. Distribusi Sekitar 40% testosteron plasma terikat dengan SHBG (sex hormone binding globulin), 2% dalam bentuk bebas dan sisanya terikat dengan albumin dan protein lainnya. Ikatan albumin dan testosteron mudah dipisahkan dan merupakan ikatan yang secara biologis aktif. Namun, ikatan dengan SHBG merupakan ikatan yang kuat; oleh karena itu, konsentrasi testosteron bioaktif serum merupakan fraksi yang tidak terikat dan yang terikat dengan albumin. Metabolisme Metabolit aktif utama testosteron yaitu estradiol dan DHT. Afinitas ikatan DHT lebih kuat terhadap SHBG dibandingkan testosteron. DHT kemudian akan dimetabolisme menjadi 3-alpha dan 2-beta androstanediol. Ekskresi Sekitar 90% dosis testosteron yang diberikan secara intramuskuler akan dieksresikan di urin dalam bentuk asam glukoronat dan konjugat sulfat dari testosteron dan metabolitnya. Sekitar 6% dosis akan diekskresikan melalui feses, sebagian besar dalam bentuk unconjugate. PROFIL PRODUK TOSTREX® Tostrex 2% gel merupakan Testosteron gel pertama di Indonesia dengan teknologi transdermal untuk indikasi pada pria yang mengalami hipogonadisme dengan defisiensi testosteron yang telah dikonfirmasi melalui gejala klinis dan laboratorium INDIKASI Terapi pengganti testosteron untuk pria yang mengalami hipogonadisme dengan defisiensi testosteron yang telah dikonfirmasi melalui gejala klinis dan laboratorium. DOSIS Untuk pemberian per kutaneus. Pada Pria Dewasa Rekomendasi pemberian awal Tostrex® yaitu gel 3 g (60 mg testosterone) sekali sehari pada waktu yang sama setiap pagi. Titrasi dosis berdasarkan kadar testosteron serum serta gejala dan tanda klinis yang berkaitan dengan defisiensi androgen. Kadar testosteron fisiologis turun seiring dengan meningkatnya usia. Pemberian setiap harinya tidak boleh melebihi 4 g gel (80 mg testosteron). Pemberian dapat dilakukan di perut (seluruh dosis diberikan paling sedikit 10 dari 30 cm) atau di paha bagian dalam ( setengah dosis diberikan paling sedikit 10 dari 15 cm untuk setiap paha bagian dalam). Pemberian secara rotasi antara perut dan paha dianjurkan untuk menghindari efek samping pada tempat pemberian. Setiap penekanan piston mengeluarkan _ gram gel (10 mg testosteron).

294

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

INFO PRODUK
Tabel Dosis pemakaian Testosteron gel (Tostrex®)
Jumlah Penekanan Jumlah gel (gram) Jumlah Testosteron Yang Diaplikasi ke Kulit (mg)

Kehamilan dan Menyusui • Tostrex® hanya diberikan pada pria. • Tostrex® tidak diindikasikan untuk wanita hamil dan menyusui. EFEK SAMPING Efek samping yang paling umum terjadi akibat penggunaan Tostrex® hingga 4 gram yaitu reaksi lokal pada tempat aplikasi (26%) yang terdiri dari parestesia, xerosis, pruritus, ruam atau eritema. Efek samping ini bersifat ringan hingga sedang dan hilang atau bersih kembali kecuali pengobatan dilanjutkan. INTERAKSI OBAT • Kortikosteroid : pemberiaan testosteron bersamaan dengan ACTH atau kortikosteroid dapat meningkatkan risiko edema. Oleh karena itu, pemberian obat ini harus dengan kewaspadaan, terutama pada pasien dengan penyakit jantung dan hati.

1 2 4 6 8

0,5 1 2 3 4

10 20 40 60 80

Pasien yang mandi pada pagi harus menggunakan Tostrex® setelah mandi. Tostrex® tidak boleh digunakan di organ genitalia. Kontrol Pengobatan Konsentrasi testosteron serum harus dievaluasi setelah 14 hari sejak pengobatan awal untuk meyakinkan dosis yang tepat. Sampel darah untuk pengukuran kadar testosteron serum diambil 2 jam setelah pemberian Tostrex®. Jika konsentrasi testosteron serum di antara 5,0 dan 15,0 ug/L, dosis tidah boleh diubah dari 3 g setiap harinya. Anak-anak Tostrex® tidak diindikasikan untuk anak-anak dan belum dievaluasi secara klinis pada laki-laki di bawah usia 18 tahun. KONTRAINDIKASI Androgen dikontraindikasikan pada : Diketahui atau dicurigai kanker payudara atau prostat, Sindroma nefrotik, Hiperkalsemia dan Hipersensitivitas PERINGATAN DAN PERHATIAN

• Jika androgen diberikan simultan dengan antikoagulan, efek
antikoagulan dapat meningkat. Pasien yang menerima antikoagulan oral membutuhkan monitoring terutama ketika terapi androgen dimulai, dihentikan atau dosis Tostrex® diubah.

• Androgen dapat menurunkan konsentrasi globulin pengikat
tiroksin, yang menyebabkan penurunan konsentrasi serum T4 dan peningkatan pengambilan T3 dan T4. Konsentrasi hormon tiroid bebas tidak berubah. Namun tidak terdapat bukti klinis terjadinya disfungsi tiroid. PENYIMPANAN & KEMASAN Simpan di bawah suhu 250. Jangan di refrigerator. Jauhkan dari jangkauan anak-anak Tostrex® 2% gel : Dus berisi 1 kanister @ 60 gram. (IWA)

• Tostrex® seharusnya tidak digunakan untuk mengobati gejala
hipogonadisme tidak spesifik jika tidak menunjukkan defisiensi testosteron dan jika etiologi penyebab lain belum disingkirkan. Defisiensi testosteron harus ditunjukkan dengan gejala klinis dan dikonfirmasi dengan dua pengukuran kadar testosteron yang terpisah sebelum mulai terapi testosteron, termasuk Tostrex®. Untuk meyakinkan dosis yang tepat, harus dievaluasi konsentrasi testosteron serum.

• Tostrex® tidak diindikasikan untuk pengobatan sterilitas pada
pria atau impotensi seksual.

• Pada saat hendak memulai pengobatan terapi penganti testosteron, semua pasien harus diperiksa lengkap untuk menyingkirkan risiko kanker prostat. Monitoring kelenjar prostat dan payudara yang teratur dan hati-hati harus dilakukan sesuai rekomendasi (pemeriksaan rektal dengan jari dan estimasi kadar prostate specific antigen √ PSA) pada pasien usia lanjut dan pasien dengan faktor risiko (klinis atau faktor keturunan) yang menggunakan testosteron setidak-tidaknya sekali atau 2 kali setiap tahunnya.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

295

LAPORAN KHUSUS

Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran (KPPIK) FKUI 2009
Acara simposium KPPIK 2009 telah diselenggarakan oleh
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Hotel Shangri La, Jakarta pada tanggal 18 - 19 April 2009. Acara ini diikuti oleh kurang lebih 1800 dokter umum dari Jakarta dan sekitarnya. Sebelum simposium pada tanggal 14-17 April 2009 juga dilaksanakan courses. Simposium ini diadakan untuk meningkatkan mutu, kemampuan dan pengetahuan dokter mengenai diagnosis dan terapi penyakit. Beberapa perusahaan farmasi yang mengambil bagian dalam acara ini, di antaranya adalah adalah Kalbe, Dexa, Abbott, Sanbe, Servier, Alcon, Pfizer dan beberapa perusahaan farmasi lainnya. Berikut bahasan beberapa acara pada KPPIK 2009: Untuk mencegah kematian, pasien rawat di rumah sakit harus diberi antibiotik yang efektif dan juga perawatan yang baik, nutrisi yang adekuat, menjaga keseimbangan elektrolit dan waspada terhadap komplikasi yang mungkin terjadi. Obat antibiotika golongan fluoroquinolon diperkirakan merupakan golongan antibiotika yang paling efektif untuk terapi demam tifoid. Selain kerjanya yang cepat, pemberian fluoroquinolon disertai dengan rendahnya konsentrasi kuman pada feses dibandingkan dengan obat-obat demam tifoid terdahulu seperti kloramfenikol dan trimethropimsulfametoxazole.

• Deteksi infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dimulai
dengan screening. Bila hasil screening reaktif, maka dilakukan tes konfirmasi untuk menegakkan diagnosis infeksi HIV. Metoda screening yang digunakan antara lain adalah enzyme immunoassay (EIA), aglutinisasi, imunokonsentrasi dan imunokromatografi. WHO (World Health Organization) dan UNAIDS (United Nations Programme on AIDS) merekomendasi penggunaan salah satu metoda screening untuk menegakkan diagnosis HIV. Tes konfirmasi dapat menggunakan western blot technique, yang dapat mendeteksi antibodi spesifik terhadap berbagai macam jenis antigen HIV. Di Indonesia, kriteria diagnosis didasarkan pada kriteria CDC (Center for Disease Control), yang memerlukan adanya antibodi anti-p24 dan antibodi lain terhadap gp41 atau gp120/gp160.

• Inkretin (GLP-1, glucagon like peptide-1, dan GIP glucose
dependent insulinotropic peptide) berpengaruh terhadap 70% sekresi insulin postprandial dan menekan glukagon. Inkretin dilepaskan dalam saluran pencernaan sebagai respon terhadap pencernaan makanan. Pada pasien diabetes tipe 2 kadar inkretin menurun karena dihancurkan oleh dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4), sehingga terjadi penurunan sekresi insulin. Pemberian penghambat DPP-4 seperti vidagliptin menghambat inaktifasi GLP-1, sehingga kadarnya tetap tinggi. Selain itu penghambat DPP-4 dapat memperbaiki fungsi sel beta dengan meningkatkan sekresi insulin. Dalam penelitian lainnya, pemberian penghambat DPP-4 menurunkan HbA1c pada pasien diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol kadar gula darahnya dengan pemberian insulin dosis tinggi.

• Pada diabetes risiko komplikasi mikro dan makrovaskular berkaitan dengan sitosol. Konsentrasi glukosa sitosol yang tinggi menyebabkan akumulasi triosephosphates. Akumulasi triosephosphates menyebabkan disfungsi mitokondria, stres oksidatif, aktifasi proteín C kinase, dan peningkatan síntesis diacylglycerol. Penghambatan akumulasi triosephosphates dapat tercapai melalui aktivasi jalur pentosephosphate. Namun jalur pentosephosphate juga rusak karena penurunan aktifitas enzim transketolase (TK), yang bergantung pada thiamine. Pemberian thiamine dosis tinggi dapat meningkatkan aktivitas TK dan menstimulasi konversi glyseraldehide-3 phosphate (GA3P) dan fructose-6-phosphate (F6P) menjadi ribose-5phosphate (R5P). Thiamine juga dapat menghambat progresifitas mikroalbuminuria, dan meningkatkan ambilan kembali glukosa sehingga menurunkan glukosuria.

• Vaksin HPV dibuat untuk mencegah infeksi HPV dan direkomendasikan untuk perempuan usia 9-12 tahun, masa-masa sebelum melakukan aktifitas seksual. Kanker serviks 70% disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18, dan dalam penelitian pemberian vaksin HPV efektif memberikan perlindungan selama 5 tahun. Namun para peneliti belum berani memastikan apakah perlindungan dapat berlangsung seumur hidup. Pemberian vaksinasi secara dini diperkirakan dapat mengurangi kejadian kanker serviks dan kanker genital. Vaksin yang digunakan tidak mengandung DNA virus dan oleh karena itu tidak infeksius. Perhimpunan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan imunisasi HPV saat mencapai usia 10 tahun. Masa pemberian vaksinasi adalah 0-1-6 bulan untuk vaksin bivalen dan 0-2-6 bulan untuk vaksin kuadrivalen.

• Laparoskopi hingga kini merupakan salah satu tindakan bedah
yang paling banyak dilakukan oleh para ahli ginekologi. Hal ini karena banyak tindakan dapat dilakukan melalui laparoskopi, seperti penanganan endometriosis, kehamilan ektopik, pengangkatan mioma.

• Di daerah endemik, 60-90% penatalaksanaan demam tifoid dilakukan di rumah, dengan bed rest dan pemberian antibiotika.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

297

LAPORAN KHUSUS
Dengan laparoskopi dapat dilakukan diagnosis dan pembedahan melalui insisi selebar 1 cm dan melakukan pneumoperitoneum. Keberhasilan tindakan laparoskopi sangat tergantung pada keahlian operator, ruang operasi dengan peralatan memadai dan tim bedah yang baik.

• COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease) merupakan
penyakit paru kronik progresif, disertai memburuknya fungsi paru seiring waktu. Terapi simtomatik dengan bronkodilator sangat penting untuk mengurangi gejala dan kekambuhan. Bronkodilator kerja panjang lebih efektif dan lebih nyaman bagi pasien dibandingkan dengan bronkodilator kerja pendek. Penelitian UPLIFT (Understanding Potential Long-Term Impacts on Function with Tiotropium) merupakan penelitian acak tersamar ganda, kontrol plasebo selama 4 tahun, yang meneliti efek pemberian tiotropium inhalasi pada pasien COPD. Hasilnya: pemberian tiotropium memperbaiki fungsi paru secara bermakna dibandingkan kontrol. Selain itu diketahui bahwa tiotropium secara bermakna mengurangi risiko kekambuhan, dan menurunkan kekambuhan yang berhubungan dengan kejadian rawat inap dibandingkan kontrol. Tiotropium secara bermakna menurunkan risiko kesakitan jantung dan juga menurunkan kejadian kesakitan gangguan saluran pernafasan bawah. Penelitian UPLIFT ini membuktikan efektifitas dan keamanan terapi rumat tiotropium bagi pasien COPD.

• Obat antihipertensi perlu untuk mencapai target tekanan
darah. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah modifikasi gaya hidup, di antaranya adalah diet untuk hipertensi. Sebuah program diet yang dinamai DASH diet (Dietary Approaches to Stop Hypertension), terbukti dapat membantu menurunkan tekanan darah. Termasuk dalam diet ini adalah konsumsi buah, sayur, susu dan produk susu bebas atau rendah lemak. Selain itu DASH diet kaya akan kalium, magnesium, kalsium serta kaya protein dan serat. Diet DASH membatasi konsumsi daging merah, pemanis, dan makanan mengandung gula. Penelitian terkini memperlihatkan bahwa diet DASH yang dikombinasi dengan pembatasan asupan garam sangat bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah.

• Keluhan klimakterik timbul pada tahap menopause, dengan
kadar estrogen yang makin menurun. Keluhan dapat berupa keluhan jangka panjang seperti osteoporosis dan keluhan jangka pendek seperti flushing, vagina kering dan keluhan psikologik. Terapi hormonal dapat diberikan untuk mengurangi keluhan. Pasien yang masih memiliki rahim dapat diberi kombinasi estrogen dan progestin. Kontraindikasi pemberian terapi hormonal pada pasien menopause adalah kanker payudara, penyakit hati akut dan kanker endometrium. Terapi hormonal perlu pemantauan fungsi hati, serta mammografi, pap smear dan pengukuran densitas mineral tulang.

• Trombosis vena dalam (DVT - Deep Vein Thrombosis) terjadi
akibat hipertensi kronik pada vena, yang disebabkan oleh kerusakan katup pembuluh vena dan gangguan pengosongan vena karena obstruksi. Insufisiensi vena dalam terjadi karena kerusakan katup akibat DVT. Kerusakan katup ini menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik. Sedangkan pada insufisiensi vena superfisial, vena dalam tidak bermasalah, namun aliran darah yang melalui sistim vena dalam masuk kembali ke vena superfisial yang mengalami kerusakan katup. Seiring berjalannya waktu, vena superfisial yang sudah rusak ini secara kasat mata melebar dan dikenal sebagai vena varikosa. (YYA)

298

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

LAPORAN KHUSUS

The 4th Seminar and Obesity Workshop “Application of Obesity Therapy”
cara ini diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, diikuti oleh kurang lebih 1000 orang dokter-dokter dari Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia. Selain seminar, juga dilaksanakan workshop yang berlangsung pada 26 April 2009. Selain perusahaan-perusahaan farmasi lainnya, PT Kalbe Farma juga ikut berpartisipasi dalam acara ini. Beberapa bahasan menarik:

A

25 - 26 April 2009
• Penurunan berat badan berhubungan dengan penurunan kejadian
kardiovaskular sehingga pada pasien risiko tinggi kejadian kardiovaskular dianjurkan menurunkan berat badan, baik melalui diet ataupun olah raga. Namun apakah penurunan berat badan yang berlebihan baik untuk tubuh? Pada pasien yang mengalami penurunan berat badan yang hebat, dapat terjadi lipolisis yang berhubungan dengan peningkatan organochlorine plasma. Organochlorine adalah produk kimia yang berakumulasi di dalam lemak karena sifatnya yang lipofilik. Akumulasi organochlorine dapat terjadi pada manusia melalui konsumsi makanan hewani seperti ikan dan daging. Peningkatan organochlorine selama penuruanan berat badan berhubungan dengan penurunan energy expenditure. Keseimbangan energi dalam tubuh untuk mencegah terjadinya obesitas bergantung pada energy expenditure ini. Penurunan berat badan yang hebat dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik karena disfungsi adiposit. Sistim imun juga terganggu pada pasien dengan penurunan berat badan berlebih, diperkirakan karena kurangnya nutrisi yang mengganggu sistim imun.

• Para ahli memperkirakan ada hubungan kuat antara obesitas
dengan psikis seseorang, walau belum dimengerti dengan jelas. Yang perlu diteliti lebih lanjut adalah apakah obesitas menyebabkan gangguan psikis, atau gangguan psikis yang menyebabkan obesitas. Penelitian memperlihatkan bahwa peningkatan BMI (Body Mass Index) pada wanita menyebabkan peningkatan risiko depresi mayor sebesar 37% dan peningkatan keinginan bunuh diri. Pada pria, depresi mayor, keinginan dan usaha bunuh diri lebih sering terjadi pada pria dengan BMI rendah. Kejadian depresi pada pria gemuk lebih rendah dibandingkan dengan pria kurus.

• Salah satu efek dopamin adalah memberikan perasaan nyaman
dan nikmat pada seseorang. Dengan pemeriksaan PET scan (positron emission tomography) diketahui bahwa pasien depresi memiliki lebih sedikit reseptor D2; sehingga untuk menimbulkan perasaan enak dan nyaman, pasien-pasien depresi meningkatkan konsumsi makanan (dengan tujuan meningkatkan dopamin). Keadaan ini dinamakan Reward Deficiency Syndrome, dan karena itu dapat terjadi peningkatan berat badan pada pasien-pasien depresi.

• Setiap golongan darah diperkirakan memiliki keperluan diet yang
berbeda. Golongan darah O menurut para ahli merupakan golongan darah yang paling tua, dan oleh sebab itu diet paling baik bagi orang dengan golongan darah O sesuai dengan diet makanan zaman dahulu, saat manusia masih berburu. Makanannya terdiri dari makanan kaya protein dan terutama daging. Golongan darah A muncul pada zaman manusia mulai mengenal pertanian. Berdasarkan hal ini pasien dengan golongan darah A baik mengkonsumsi lebih banyak sayuran. Golongan darah B muncul pada zaman setelah golongan darah A, dengan diet lebih fleksibel. Golongan darah AB muncul setelah golongan darah B dan diet yang dianjurkan adalah diet sayuran dan sekali-kali makan daging. Namun hingga kini belum ada penelitian dengan evidence based yang baik untuk mendukung teori ini. Secara umum diet berdasarkan golongan darah ini relatif aman, namun dapat mengurangi nutrisi penting yang mungkin diperlukan. Aplikasi diet berdasarkan golongan darah hingga kini sulit dilakukan, apalagi dalam keluarga yang anggotanya memiliki golongan darah yang berbeda-beda.

• Obesitas merupakan penyakit multifaktorial dan perlu dianggap
sebagai penyakit poligenik kompleks yang melibatkan interaksi gen dan lingkungan. Ilmu nutrigenomik mengintegrasikan genomik dan nutrisi, dengan tujuan memperbaiki kesehatan, mencegah penyakit serta mengatur diet secara individual untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan. Namun aplikasi nutrigenomik ini masih terlampau mahal dan aplikasinya secara massal masih belum mungkin.


CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

299

LAPORAN KHUSUS
• Obat penurun berat badan yang baik adalah obat yang dapat
mengontrol berat badan dalam jangka waktu lama. Di Amerika Serikat obat penurun berat badan yang paling banyak menguasai pasar adalah phentermine (58%), orlistat 20% dan sibutramine sebesar 15%. Sampai saat ini masih banyak obat dikembangkan untuk meningkatkan kontrol berat badan. Dalam penelitian, terapi kombinasi orlistat dengan sibutramine memberikan hasil penurunan berat badan lebih baik dibandingkan dengan pemberian obat tunggal. Orlistat dan sibutramine obat antiobesitas yang diberikan untuk jangka panjang. Obat baru cetilistat bekerja menghambat lipase gastrointestinal dengan efektifitas dan toleransi yang cukup baik. Sedangkan rimobanant yang merupakan penyekat selektif CB1 dengan efek pleiotropik merupakan obat yang sangat baik, namun ditarik dari pasaran karena efek samping keinginan bunuh diri dan depresi.

• Obat golongan statin sudah sejak lama diberikan untuk menurunkan kadar kolesterol total dan menurunkan kadar kolesterol LDL. Pilihan terapi lain yang juga dapat menurunkan kadar LDL adalah plant stanol dan serat. Dosis plant stanol yang direkomendasikan adalah 2 gram sehari, sedangkan konsumsi serat sebanyak 10-25 gram sehari. Pemberian plant stanol ester dapat mengurangi kolesterol total sebesar 10% dan mengurangi kadar LDL dalam sebesar 14%. Plant stanol mengurangi absorpsi kolesterol di usus dengan menghambat aktivitas ACAT (acyl-coenzyme A:cholesterol acyltransferase). Dalam penelitian, plant stanol dalam yoghurt mengurangi kolesterol total, mengurangi kadar LDL dan LDL teroksidasi pada pasien hiperkolesterolemia, maupun pada pasien dengan kadar kolesterol normal. Dalam sebuah penelitian ternyata penambahan plant stanol pada pasien yang diterapi dengan statin menghasilkan penurunan kadar LDL lebih besar dibandingkan dengan terapi statin monoterapi.

• Peningkatan kadar kolesterol berhubungan dengan peningkatan
risiko stroke, penyakit jantung koroner, infark miokard dan penyakit kardiovaskular lainnya. Dalam penelitian Trials of Hypertension Prevention II diketahui bahwa peningkatan berat badan disertai dengan peningkatan tekanan darah. Oleh sebab itu penurunan berat badan diharapkan akan menurunkan risiko kejadian kardiovaskular. Clinical Guidelines on the Identification, Evaluation, and Treatment of Overweight and Obesity in Adults, memberikan beberapa rekomendasi menurunkan berat badan, di antaranya adalah diet rendah kalori serta mengurangi asupan lemak yang harus diikuti dengan mengurangi asupan kalori. Pengurangan asupan kalori harian yang direkomendasikan adalah 500-1000 kalori sehari. Kombinasi diet rendah kalori dan peningkatan aktifitas fisik sangat dianjurkan karena akan menurunkan lemak abdomen dan meningkatkan fitness kardiorespiratorik.

• Olah raga sering bukan pilihan bagi pasien obesitas untuk
menurunkan berat badan, karena kurangnya waktu, hasil penurunan berat badan yang kurang memadai dan risiko cedera setelah olah raga. Cedera dapat terjadi karena pembebanan berlebihan pada bagian-bagian tubuh tertentu seperti lutut, pergelangan kaki dan tulang belakang. Penderita obesitas lebih rentan terhadap cedera lutut, karena berat badan berlebih, fasia plantar yang lemah dan posisi subtalar yang lebih eversi. Olah raga pada pasien obesitas sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pasien, mengenali kelainan sendi yang mungkin diderita, mengkoreksi kelainan dengan penggunaan support, penggunaan insole untuk mengurangi benturan, memperbaiki pronasi sendi subtalar yang berlebihan serta perbaikan teknik latihan yang salah. (YYA)

300

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

LAPORAN KHUSUS

Kongres Nasional Perkumpulan Andrologi Indonesia (PANDI) ke X dan Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (PERSANDI) Ke II, Surabaya, 28-30 Mei 2009

Bertempat di hotel JW Marriott Surabaya, pada 28 √ 30
Mei 2009 diselenggarakan Kongres Nasional Perkumpulan Andrologi Indonesia (PANDI) ke X serta Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (PERSANDI) Ke II. Acara ini selain dihadiri oleh Kepala BKKBN Pusat Bp. Dr. Sugiri S, Gubernur Jawa Timur dan para undangan lain, juga oleh ketua Yayasan Damandiri, mantan Menko Kesra RI serta mantan kepala BKKBN Pusat Prof. Dr. Haryono Suyono. Beliau memberikan kuliah umum mengenai Kontrasepsi pria. Acara Konas ini didahului kegiatan workshop satu hari mengenai Infertilitas dan Sex & Men»s Health yang diikuti kurang lebih 170 peserta. Kegiatan kongres nasional ahli andrologi seluruh Indonesia sendiri tercatat diikuti oleh 300 peserta seperti yang disebutkan oleh Ketua Panitia, Dr. Hudi Winarso, M.Kes, Sp.And. Beberapa pakar ahli Andrologi dalam negeri seperti Prof. Arif Adimulya, Prof Wimpie Pangkahila, Prof. Alex Pangkahila, Prof. OS Tendean dll, hadir dalam kongres ini, demikian juga beberapa pembicara dari luar negeri seperti Prof Gordon Baker dari Australia serta Prof. Aw Tar Choon dari Singapura. Dalam kongres ini banyak topik serta simposium kesehatan seksual pada pria yang menarik, seperti: Testosterone Deficiency Syndrome (TDS), Testosterone replacement therapy, Infertilitas, Kebugaran Seksual , Disfungsi Ereksi, Kontrasepsi Pria dsb. Salah satu topik adalah Penuaan dan Testosteron pada kesehatan pria, yang dikemukakan oleh Dr. Johannes Soedjono, Sp.And : Sebagian besar pria usia 50-60 tahun mengalami petanda klinis kekurangan hormon testosteron yang dikenal sebagai Testosterone Deficiency Syndrome (TDS). Defisiensi Testosteron yang berkepanjangan akan menyebabkan penurunan densitas tulang, peningkatan insiden fraktur, penurunan massa otot, peningkatan lemak, peningkatan gangguan depresi serta disfungsi seksual. Diagnosis TDS ditegakkan menggunakan hasil pemeriksaan biokimia dan secara klinis. Batas terendah plasma testosteron total adalah 11 nmol/l (315 ng/dl), testosteron bebas 0.225 nmol/l (0.65 ng/dl) dan untuk testosteron yang biologis aktif adalah 5 nmol/l (140 ng/dl); sedangkan klinis dengan The St. Louis University Androgen Deficiency in Aging Males (ADAM) questionnaire, yaitu 10 pertanyaan terkait dengan libido yang berkurang, penurunan energi, tinggi badan yang berkurang, fungsi ereksi, kemunduran kualitas hidup, dsb.
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

Beberapa suplemen Testosteron untuk pria lanjut usia antara lain Testosteron oral seperti Testosterone undecaonate (TU), injeksi (parenteral) dengan Testosteron Enanthate; bentuk lain adalah Transdermal / Gel yaitu Testosterone gel 2% (setara dengan 20 mg testosteron per gram gel) yang memberikan keuntungan dapat segera dihentikan apabila terjadi efek samping serta lebih praktis dan nyaman untuk pasien. Topik lain oleh Dr. Indra G Mansur, DHES, Sp.And, mengenai kontrasepsi pria. Saat ini para ilmuwan sedang mengembangkan kontrasepsi hormonal pria untuk menekan spermatogenesis guna mengatur atau mencegah kehamilan. Perkembangan kontrasepsi melalui pendekatan imunologi sangat dibutuhkan karena tepat sasaran dan alami. Respon imun tubuh manusia ini bisa bereaksi melawan semua komponen penting yang menyebabkan kehamilan. Antigen fungsional dari spermatozoa manusia terdiri dari M42, PH-20, PH-30, MS207, fertilin, Sp-17, Sp-10, LDH-C4 dan FA-1. Pada saat ini, banyak penelitian sedang dilakukan untuk antisera antigen tersebut. Hasilnya beberapa laboratorium sudah menciptakan vaksin terhadap fungsi antigen tersebut. Prof. Dr. Tendean, Sp.And. mengemukakan berdasarkan penelitian ternyata tidak semua latihan kebugaran seksual dapat meningkatkan kebugaran seksual, misalnya latihan lompat katak untuk otot paha dan panggul dapat menyebabkan varikokel sehingga kualitas sperma terganggu dan dapat menyebabkan ketidaksuburan / infertilitas pada 8 -23 % pria. Latihan ini tidak lagi dianjurkan. Topik yang tidak kalah menarik adalah mengenai aspek stem cell / sel punca oleh Prof. Aw Tar Choon dari Singapura, beliau mengemukakan sel punca sudah memasuki area praktek klinik; saat ini Blood stem cell (BSC) digunakan dalam kelainan darah. Penelitian lain berkaitan dengan pilihan baru pengobatan seperti penyakit jantung, diabetes, penyakit hati serta gangguan yang berkaitan dengan degenerasi saraf (neurodegenerative disorder). (IWA)

301

LAPORAN KHUSUS

Seminar ASPI: Penelitian Multisenter Sel Punca di Indonesia,
Jakarta 30 Mei 2009 Industri sel punca adalah industri yang sangat menjanjikan.
Bukan tidak mungkin, perputaran uang di bisnis ini bisa mencapai milyaran bahkan trilyunan rupiah (per tahun di Indonesia). Nilai yang terlihat cukup besar ini, tak lepas dari teknologi yang digunakan. Masyarakat Indonesia akan menyesal dan hanya bisa menjadi konsumen jika - saat ini √ menyianyiakan kesempatan yang sangat besar untuk menjadi pemain mengingat metode pengobatan ini di dunia baru saja mulai. Salah satu kendala yang cukup signifikan untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah keterbatasan sumber daya (manusia, dana, dll). Untuk itulah, Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) mengadakan seminar dengan tema, "Penelitian Multisenter Sel Punca di Indonesia", pada hari Sabtu 30 Mei 2009 di Jakarta. Tujuan seminar ini untuk mendata sumber daya yang ada di setiap pusat penelitian sel punca di seluruh Indonesia, mendiskusikan arah penelitian di tiap-tiap pusat sehingga bisa mencegah duplikasi; dengan demikian bisa meningkatkan efisiensi sumber daya sesuai penelitian. Artinya bisa saja infrastruktur, informasi hingga sumber daya digunakan bersama (penelitian multi senter). Diharapkan juga seminar ini bisa dijadikan ajang pertemuan para akademisi, bisnis dan pemerintah yang sering dikenal dengan istilah ABG. Acara dimulai dengan kata pengantar Dewan Penasehat ASPI, dr Boenjamin Setiawan Ph.D yang memaparkan sekilas, riset-riset apa yang telah ada di dunia dan perbandingannya dengan di Indonesia. Di hadapan sekitar 250 peserta, beliau memaparkan sejarah stem cell / kloning, penemunya, riset yang telah dilakukan, serta istilah-istilah di bidang ini. Selanjutnya, pendiri Stemcell and Cancer Institute (SCI) tersebut menjelaskan penyakit, kondisi apa saja yang bisa diterapi menggunakan Sel Punca ini. Setelah rehat teh/kopi acara dilanjutkan dengan pemaparan drh Yuda Heru Fibrianto dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta. Riset dari FK UNPAD / RS Hasan Sadikin Bandung dipaparkan oleh dr Dicky Mulyadi FICS yang membahas riset sel punca di bidang tulang (ortopedi). Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan informasi risetriset yang telah dilakukan oleh Universitas Brawijaya Malang (Moch. Aris Widodo, dr. Prof. MS, Ph.D, SpFK) dan Universitas Airlangga Surabaya (Fedik Ratam, drh., Prof. DR. M.Kes) Bertindak selaku moderator pada acara ini: 1. Prof Dr Sjamsuhidajat, dr Sp.B. anggota Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan, 2. Prof Dr Suhartono Taat Putra, dr. MS, anggota Dewan Ilmiah ASPI Saat ini, ASPI sudah bisa diakses melalui Facebook dengan alamat: http://www.facebook.com/pages/ASPI/99377161666 (ETN)

302

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

KEGIATAN ILMIAH

Joint Meeting 3rd Congress Association of Southeast Asian Pain Societies and Neuropathic Pain Special Interest Group, BALI, 18-20 April 2009

Penyelenggaraan simposium se-Asia Tenggara ketiga mengenai nyeri ini diadakan oleh Indonesian Pain Societies dan Universitas Hasanuddin (Joint Meeting 3rd Congress Association of Southeast Asian Pain Societies and Neuropathic Pain Special Interest Group). Simposium ini diadakan pada tanggal 18-20 April 2009 di Grand Bali Beach-Sanur, Bali. Jumlah peserta yang hadir sekitar 500 dokter (sebagian besar dokter spesialis anestesi dan saraf). Acara ini dibuka oleh Prof. dr Husni A. Tanra, Ph.D sebagai ketua panitia kegiatan ini.
Acara yang berlangsung selama 3 hari ini cukup padat dengan topik bahasan yang mencakup klasifikasi nyeri, nyeri dalam bidang reumatologi, nyeri kanker, berbagai macam penanganan nyeri dan masih banyak lagi. Pembicara yang menyajikan makalah adalah para pakar yang ahli di bidangnya dari luar negeri dan juga terdapat beberapa pakar dari dalam negeri.

Simposium Jakarta Antimicrobial Update 2009, Shangri-La Jakarta, 25-26 April 2009

Ilmu kedokteran merupakan cabang keilmuan yang
terus berkembang dari waktu ke waktu. Demikian pula dengan bidang Penyakit Tropik dan Infeksi. Data terakhir menunjukkan bahwa penyakit infeksi masih menjadi masalah dalam pelayanan kesehatan di negara kita. Angka kematian yang terjadi akibat penyakit infeksi pun dapat dikatakan yang paling tinggi dibandingkan dengan penyakit lainnya. Salah satu penyakit infeksi yang terus menjadi sorotan sejak kemunculannya pertama kali di abad 20 adalah infeksi HIV. Walaupun saat ini telah terdapat perkembangan yang pesat dalam hal metode pencegahan maupun pengobatan HIV/AIDS, ahli-ahli di dunia memperkirakan bahwa pada tahun 2025 HIV/AIDS tetap akan menjadi pendemi dengan pusatnya di Afrika. Sekarang ini diperkirakan terdapat 33 juta orang dengan status HIV positif. Di Indonesia sendiri, data pada tahun 2007 menunjukkan adanya hampir 300.000 orang yang hidup dengan infeksi HIV dan hampir 9.000 orang meninggal akibat AIDS.

Temu Ilmiah Reumatologi Indonesia (TIR) 2009, Jakarta, 1-3 Mei 2009

Simposium nasional tahunan mengenai reumatologi yang diadakan oleh Perhimpunan Reumatologi Indonesia (Temu Ilmiah Reumatologi) ini diadakan di Hotel Borobudur, Jakarta. Simposium ini dihadiri peserta dari seluruh Indoensia dengan jumlah sekitar 500 dokter.

Acara yang berlangsung selama 3 hari ini cukup padat dengan topik bahasan yang mencakup nyeri, artritis rematoid, osteoartritis, osteoporosis, dan berbagai macam penanganannya. Pembicara yang menyajikan makalah adalah para pakar yang ahli dibidangnya dari dalam negeri dan juga terdapat beberapa pakar undangan dari luar negeri.

Laporan lengkap dari pelbagai simposium di atas (dalam Bahasa Indonesia/English), bisa diakses pada http://www.kalbe.co.id/seminar.

304

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

KEGIATAN ILMIAH

Graduate ABAARM Pre-Course Module-1, FK Atmajaya, 15 - 17 Mei 2009

Simposium Swine flu : Latest Update on a New Influenza Viral H1N1 (Swine Flu/Flu Babi), Jakarta, 9 Mei 2009

American Academy of Anti-Aging Medicine (A4M) sebagai pioner & pelopor Anti Aging Medicine, bekerjasama dengan Program S2/Master Anti Aging Medicine FK Udayana Bali dan FK Atmajaya Jakarta menyelenggarakan kursus pendahuluan bagi para dokter yang ingin mengambil gelar/diploma dari badan Anti-Aging Medicine dunia tersebut.
Acara dimulai dengan kata-kata sambutan dari dr Ali Soegianto (wakil dari FK Atmajaya), Prof Wimpie Pangkahila (Center for Study of Anti-Aging Medicine, FK Udayana) dan Prof Robert Goldman (Founder and Chairman of the A4M & WAAM) yang kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai "Introduction to Preventif, Anti-Aging & Regenerative Medicine" yang dibawakan oleh Prof Wimpie Pangkahila.

Simposium Swine flu berlangsung tanggal 9 Mei 2009
di hotel Grand Melia, diadakan oleh PDPI cabang Jakarta, dihadiri oleh sekitar 1.000 peserta yang sebagian besar merupakan dokter umum yang bertugas di RS atau puskesmas. Presentasi disampaikan oleh 6 pembicara, 5 adalah dokter spesialis paru RS Persahabatan dan RSCM dan 1 adalah dokter spesialis mikrobiologi klinik FKUI.

Laporan lengkap dari pelbagai simposium di atas (dalam Bahasa Indonesia/English), bisa diakses pada http://www.kalbe.co.id/seminar.

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

305

GERAI

Inovasi merupakan salah satu pilar Kalbe agar dapat terus berkembang. Setelah setahun para karyawan/wati Kalbe Group melakukan pelbagai aktifitas inovasi, maka tiba saatnya berlaga di arena tahunan, Konvensi Continuous Improvement (CONIM) Kalbe Group 2009. Tema yang diangkat tahun ini adalah "Participating Toward A Great Culture", yang diikuti para pemenang dari 16 perusahaan/bagian dalam Kalbe Group. Peserta selama 2 hari (28-29 Mei 2009) mempresentasikan 28 SS (Sugestion System), 26 QCC (Quality Control Cyrcle), 10 QCP (Quality Control Project) dan men-display aktifitas mereka dalam 13 stand pameran yang menarik.

Karyawan/wati Kalbe di kantor Cempaka Putih rutin mengadakan kegiatan Donor Darah 3 bulan sekali. Terakhir dilaksanakan pada Selasa, 2 Juni 2009

Launching produk baru NOCID (keto acid) diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 2009 di Jakarta. Acara dihadiri oleh 250 medis dan para medis yang berkecimpung di bidang nefrologi. Pada kesempatan ini para peserta mendengarkan presentasi ilmiah dari Prof. Dr. dr. Rulli MA Roesly, SpPD-KGH dengan moderator dr. Pranawa Martosuwignjo, SpPD-KGH. Acara tersebut dihadiri pula oleh Prof. Dr. dr. Suhardjono, SpPD-KGH, KGer (Ketua PERNEFRI), Bp. Herman Widjaja dan Bp. Michael Buyung (PT. Kalbe Farma Tbk.)

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

307

ANTAR SEJAWAT
Sebagai sarana komunikasi antar pembaca Majalah CDK, Redaksi membuka halaman "Antar Sejawat". Kirimkan saran, tanggapan, kritik dan keluhan atas suatu masalah kepada redaksi majalah CDK. Redaksi CDK akan memilah kiriman sejawat untuk dimuat di halaman ini Sejawat dapat mengirimkan materi melalui : 1. SMS nomor 085-580-KALBE (52523) dengan awalan "[CDK]" tanpa tanda kutip 2. Melalui email address: cdk.redaksi@yahoo.co.id 3. Bergabung di mailinglist CDK : http://groups.yahoo.com/group/milisCDK 4. Kirim surat via pos ke alamat redaksi: Majalah CDK : Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4 , Cempaka Putih - Jakarta 10510

Yth. Redaksi CD CDK merupakan salah satu majalah jurnal favorit saya. Kalau bisa, majalah CDK dapat memiliki SKP IDI untuk pembacanya baik dari berlangganan atau dengan cara mengirim balik isian ruang penyegar dan penambah ilmu kedokteran pada halaman terakhir (dibuat seperti kuis). Terimakasih Dr. Agung Widiharto Kalipelus RT 2/ RW 4, Kec. Purwanegara - Banjarnegara – Jawa Tengah Terima kasih atas perhatian Sejawat. Untuk hal itu, memang kami sudah merencanakannya. Mohon doanya supaya hal ini cepat terlaksana.

Yth. Redaksi CDK Bagaimana caranya supaya dikirim cetakan majalah CDK setiap edisi ? Mohon penjelasan. Terima kasih. Dr. Gusti Jl. Sultan Alauddin No. 5 - Makassar Sejawat dapat mengunduh (download) artikel yang sejawat minati melalui website www.kalbe.co.id/cdk. Majalah CDK cetak didistribusikan melalui Medical Representative PT. Kalbe Farma Tbk. Untuk berlangganan, silahkan menghubungi salah satu Medical Representative Kalbe.

Dear CDK How can I subscribe for this CDK? Thanks Sandy Victor - Jl. Garuda No. 30 - Medan You can subscribe through Kalbe's Medical Representative in Medan

ksi eda R

308

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

AGENDA
Pertemuan Ilmiah Respirologi (PIR 2009)
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 18 Jul 2009 - 19 Jul 2009 : The Sunan Solo, Solo : Spesialis Paru, internis, GP : SMF Paru RSUD Dr. Moewardi/FK UNS, Jl. Kol. Sutarto 132 Surakarta : paru_solo@yahoo.com : 0271-639248; 634634 ps 509 : 0271-639248

Juli - September

Kalender acara
2009

Email Phone Fax

Simposium & Pameran Ilmiah Nasional Kedokteran Anti Penuaan dan Kedokteran Regeneratif 2009
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 18 Juli 2009 - 19 Juli 2009 : Hotel Sahid Jaya, Jakarta : dokter umum, spesialis, seminat anti aging : Panitia KONAS PERKAPI 2009 Gd. Menara Sudirman Lt. 19D Jl. Jend. Sudirman Kav. 60 Jakarta 12190 Phone Fax : 021-5227759 : 021-5227757

JULI
7th Asian Oceania Congress of NeuroRadiology (AOCNR) 2009
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax Contact Person URL : 09 Jul 2009 - 11 Jul 2009 : Kartika Plaza Discovery, Bali, Indonesia : Radiologi : Geoconvex Office & Mailing Address: Jl. Kebon Sirih Timur 4 Jakarta Pusat (10340) Indonesia : irs2009@geoconvex.co.id : +62 +21 3149318 / 3149319 / 2305835 : +62 +21 +3153392 : Jery Londa : www.geoconvex.co.id Email Phone Fax URL

APHM-ASQua-ISQua 2009
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 21 Juli 2009 - 23 Juli 2009 : Kuala Lumpur Convention Centre, Kuala Lumpur, Malaysia : APHM/ASQua/ISQua member, Hospital Manager, Director : APHM No. 43, 2 nd Floor, Jalan Mamanda 9, Ampang Point, 68000 Ampang Selangor Darul Ehsan, Malaysia : majmin8@pd.jaring.my : 603-4251 7032 : 603-4251 7031 : http://www.aphmconferences.org/

More Inside in Medical Practise : From Research to Daily Practise
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 10 Jul 2009 - 12 Jul 2009 : Hotel Horizon, Bandung : Dokter Umum : PT Blesslink Rema Jl. Sunda No. 50A Bandung 40112 Jawa Barat Indonesia Email Phone Fax
Catatan

5th Malaysia Indonesia Brunei Medical Sciences Conference 2009
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax Contact Person URL : 23 Juli - 25 Juli 2009 : Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, Indonesia : Dokter spesialis, dokter umum dan mahasiswa kedokteran : Medical Research Unit (MRU), Faculty of Medicine Univarsitas Indonesia, Jl. Salemba Raya No. 6, Jakarta 10430, Indonesia : Malindobru_fkui@yahoo.com : +62-21-3155696 : +62-21-3155696 : Lusiana, Wiwin, Indah : www.fk.ui.ac.id

: blesslinkrema@cbn.net.id : +62 22 4262063 : +62 22 4262065
: Penyelenggara : FK Universitas Maranatha dan RS Immanuel Bandung

The First National Symposium & Expo Nutrition & Wellness Update 2009
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax : 10 Jul 2009 - 12 Jul 2009 : Hotel Horizon, Bandung : Dokter Gizi, ahli gizi, perawat : Bagian Ilmu Gizi Medik FK Padjajaran Jl. Eijkman No. 38 Bandung 40161 : globalmedica@cbn.net.id : 021-30041026/022-70761700 : 021-30041027

4th National Symposium on Vascular Medicine 2009
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Phone Fax Contact Person : 30 Jul 2009 - 01 Aug 2009 : Hotel Ritz Carlton, Jakarta : spesialis Jantung, Penyakit Dalam, dokter umum residen : National Cardiovascular Center Harapan Kita : 021-5684170 : 021-5684130 : Renny

310

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

AGENDA

SEPTEMBER AGUSTUS
Kongres Obstetri dan Ginekologi Indonesia (KOGI) 2009
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 03 Agustus 2009 - 09 Agustus2009 : Shangri-La Hotel, Surabaya : Spesialis Obsgin, residen, GP : POGI CABANG SURABAYA Department/SMF Obstetri Ginekologi FK.UNAIR/RSU Dr. SOETOMO Jl. Mayjend Prof dr Moestopo 6-8 Surabaya 60286 Jawa Timur- Indonesia Email Phone Fax : sekretariat@kogi2009.com : 62-31-5031304 : 62-31-5037732

The 13th Congress of the European Federation of Neurological Societies (EFNS 2009)
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 12 Sep 2009 - 15 Sep 2009 : Fortezza da Basso Firenze Fiera S.p.A. Florence, Italy : Neurologist, specialist, resident : 13th EFNS Congress 1-3, rue de Chantepoulet PO Box 1726

CH-1211 Geneva 1 Switzerland Email Phone Fax URL : efns09@kenes.com : +41 22 9080488 : +41 22 7322850 : http://www2.kenes.com/efns/

PIN PAPDI ke-7 2009
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 07 Agustus 2009 - 09 Agustus 2009 : Hotel JW Marriott, Medan : Spesialis Penyakit dalam, dokter umum, residen : Panitia PIN VII PB PAPDI d/a Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta 10430 Email Phone Fax Contact Person URL : pb_papdi@indo.net.id : 021-3193 1384, 3193 0808 psw. 6703 : 021-314 8163, 391 0294 : Husni (0815 112 18 113 ) : http://www.pinpapdi.com

Simposium Penelitian Bahan Obat Alami XIV
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 11 Aug 2009 - 12 Aug 2009 : Gedung II BPPT Lantai 3, Jakarta : dokter, apoteker, peneliti, akademisi, mahasiswa : Pusat Teknologi Farmasi dan Medika Deputi Bidang TAB, BPPT Gedung II BPPT, Lantai 15 Jl. M.H. Thamrin No. 8 Jakarta 10340 Email Phone Fax : panitia_seminar_tfm@yahoo.com : 021-3169533 : 021-3169505

13th Annual Scientific Meeting : Comprehensive Approach in Internal Medicine
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 14 Aug 2009 - 16 Aug 2009 : Hotel Horison, Semarang : Internist, General Practitioner : Department of Internal Medicine Schooll of Medicine Diponegoro University, Kariadi Hospital dr. Sutomo No. 16 Semarang Email Phone Fax Contact Person : pabdi_smg@yahoo.com : 024-8446757 : 024-8446758 : Yosanto Diah

1. Informasi ini sesuai pada saat dicetak. Apabila ingin mengetahui lebih lanjut, silahkan akses http://www.kalbe.co.id/calendar 2. Apabila Anda mempunyai kegiatan ilmiah, dapat dikirimkan ke: cdk.redaksi@yahoo.co.id

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

311

RPPIK

Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran
Dapatkah sejawat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?
Jawablah B jika benar, S jika salah

Studi Cross-Sectional SHBG dan Testosteron sebagai Penduga Gangguan Fungsi Ereksi pada Pria Usia Lanjut
Sutyarso

1. Diet rendah lemak pada pria dapat menurunkan kadar SHBG (sex hormone binding globulin) dan meningkatkan kadar testosteron bebas. 2. SHBG diduga berfungsi mengatur keseimbangan hormon pertumbuhan (growth hormone). 3. Disfungsi ereksi dapat disebabkan oleh arteriosklerosis. 4. Kadar SHBG serum lebih rendah pada usia lanjut. 5. Fungsi ereksi rendah jika skor IIEF < 15. 6. Testosteron diproduksi terutama di medulla adrenal. 7. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SHBG dapat digunakan sebagai faktor penduga gangguan ereksi. 8. Kemampuan ereksi malam hari tidak berhubungan dengan usia. 9. Hormon utama yang mengatur fungsi ereksi penis ialah testosteron. 10. Kadar SHBG rata-rata pria normospermia lebih rendah daripada kadar SHBG rata-rata pria azoospermia.

Aspek Ekonomi-Demografi Penduduk Lansia Indonesia
Evi Nurvidya Arifin

1. Pada negara yang perekonomiannya mulai membaik, piramida penduduk akan berbentuk seperti candi Borobudur. 2. Bentuk candi Borobudur mencerminkan banyaknya penduduk usia muda dengan angka kematian rendah. 3. Bentuk candi Borobudur berarti beban tanggungan penduduk usia kerja relatif tinggi. 4. Di negara maju umumnya piramida penduduk berbentuk seperti candi Mendut. 5. Potensi menabung negara maksimal pada keadaan peningkatan penduduk usia kerja. 6. Di Indonesia kondisi demografi antar propinsi relatif seragam. 7. Banyaknya penduduk usia muda di bawah 15 tahun menguntungkan/ meringankan beban pemerintah. 8. Pada masa transisi, kesempatan menabung pemerintah akan maksimal.
JAWABAN : 1.B 2.S 3.B 4.B 5.B 6.S 7.S 8.B

312

JAWABAN : 1.B

2.S

3.B

4.S

5.B

6.S

7.S

8.S

9.B

10.S

CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->