P. 1
Aspek Medikolegal Inseminasi Buatan

Aspek Medikolegal Inseminasi Buatan

|Views: 3,842|Likes:
Published by Taufik Abidin

More info:

Published by: Taufik Abidin on Jan 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2014

pdf

text

original

ASPEK MEDIKOLEGAL INSEMINASI BUATAN

PENDAHULUAN Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi dan biomedis telah membuka jalan untuk potensi keuntungan yang sangat besar bagi pengobatan dan bagi manusia pada umumnya. Seiring dengan perkembangan ini, telah muncul juga banyak isu etik dan legal yang pada awalnya tidak terpikirkan. Salah satu perkembangan teknologi yang cukup banyak mengundang isu etik dan legal di dalamnya adalah teknologi dalam bidang reproduksi. Terdapat kenyataan bahwa kira-kira 10% dari pasangan suami istri tidak dikaruniai keturunan (infertil), sedangkan cara adopsi yang digunakan untuk mengatasi persoalan tersebut makin diperkecil kemungkinannya. Penyebab infertilitas ini, kira-kira 40% karena kelainan pada pria, 15% karena kelainan pada leher rahim, 10% karena kelainan pada rahim, 30% karena kelainan pada saluran telur dan kelainan peritoneal, 20% karena kelainan pada ovarium dan 5% karena hal lain, dan kejadian totalnya melebihi 100%, karena pada kira-kira 35% pasangan suami istri terdapat kelainan yang multipel.1 Dengan makin berkembang dan majunya ilmu dan teknologi kedokteran. Sebagian penyebab infertilitas tersebut dapat diatasi dengan pengobatan maupun operasi, sedang infertilitas yang disebabkan kegagalan inseminasi, pembuahan, fertilisasi, kehamilan, persalinan dan kelahiran hidup normal, ternyata dapat diatasi dengan cara buatan (artifisial). Cara-cara tersebut antara lain: inseminasi buatan (artificial insemination/AI), pembuahan dalam (artificial conception/AC), penyuburan/pembuahan dalam tabung (in vitro fertilization/IVF), pemindahan janin/penanaman janin (embryo transfer/embryo transplant/ET).1 Oleh karena hampir belum ada peraturan yang universal, beberapa masalah hukum dapat muncul dari teknologi reproduksi yang telah disebutkan diatas, diantaranya menyangkut pelaksananya (dokter, peneliti, ilmuwan), suami, istri, donor sperma, donor ovum, ibu pengganti (surrogate mother), dan bayi yang dilahirkan/diciptakan dengan proses tersebut. Secara legal, harus pula dijabarkan beberapa definisi yang jelas, misalnya: ayah legal (sah secara hokum), ayah biologis (ayah genetis), ayah tiri, ibu legal (sah menurut hukum), ibu biologis I (yang mengandung janin pada permulaan),

1

ibu biologis II (yang mengandung selanjutnya dan melahirkan), ibu tiri, ibu surrogate, anak kandung, anak tiri, anak biologis I, anak biologis II, anak angkat, anak kloning atau genetic engineering.1 Dengan mengetahui aspek-aspek medikolegal yang terkait dengan inseminasi buatan, diharapkan seorang ahli maupun mereka yang mendalami bidang forensik akan mampu mengaitkan suatu masalah di bidang medis dengan aspek hukum yang tersedia. Kaitan yang terasah ini akan dapat membantu membuat suatu kausalitas forensik yang mendukung kesimpulan forensik yang diperlukan dalam penegakan hukum. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Inseminasi Normal Hampir tiap sel dalam badan kita mengandung 46 kromosom, tapi sel telur wanita (oosit) hanya mengandung 23 kromosom (22 kromosom somatik dan satu kromosom sex yang dinamakan kromosom X). Sel sperma terdiri dari dua macam sel, separo mengandung 22 kromosom somatik plus satu kromosom X, dan separo lainnya mengandung 22 kromosom somatik plus satu kromosom seks pendek (kromosomY). Sel sperma dengan kromosom X akan membuahi sel telur wanita yang juga mengandung kromosom X, akan menjadi zigot yang mengandung 44 kromosom plus XX menjadi bayi perempuan. Sebaliknya sel sperma dengan kromosom Y yang membuahi oosit, akan menjadi zigot dengan kromosom plus XY dan menjadi bayi lakilaki. Pada tiap inseminasi normal untuk reproduksi, maka mani (semen) yang mengandung sel sperma dimasukkan kedalam liang kelamin wanita dengan cara sexual intercourse (coitus atau persetubuhan). Untuk itu diperlukan alat kelamin laki-laki (penis) yang dapat ereksi normal, semen normal dan alat kelamin wanita yang normal pula. Inseminasi demikian bermaksud untuk menghasilkan pembuahan dan keturunan. 2.2 Inseminasi Buatan (Artificial Insemination) Pada inseminasi buatan, sperma dimasukkan dalam rahim (uterus) dengan cara mekanis buatan (injeksi). Proses pembuahan, penyuburan, kehamilan, persalinan, dan kelahiran selanjutnya berjalan seperti pada inseminasi normal. Inseminasi buatan dapat dilakukan dengan sperma dari suami (Artificial Insemination Husband/AIH atau inseminasi buatan 2

homolog) atau dengan sperma laki-laki lain/donor (Artificial Insemination Donor/AID atau inseminasi buatan heterolog), atau dapat juga digunakan campuran sperma suami dan donor (Combined Artificial Insemination/CAI).1 Inseminasi buatan pada manusia sebagai suatu teknologi reproduksi, pertama kali berhasil dipraktekkan pada tahun 1970. Awal berkembangnya inseminasi buatan bermula dari ditemukannya teknik pengawetan sperma. Sperma bisa bertahan hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yang dibenamkan dalam cairan nitrogen pada temperatur -321 derajat Fahrenheit.2 2.2.1 Persiapan Inseminasi Buatan Sampel sperma diambil dari pasangan laki-laki dari wanita yang akan menjalani inseminasi buatan, namun sperma dapat juga berasal dari donasi sperma seperti pada kasus jika pasangan wanita tersebut memproduksi terlalu sedikit sperma yang lincah, atau ia memiliki kelainan genetik, atau jika si wanita tidak memiliki pasangan laki-laki. Sperma biasanya didapatkan melalui masturbasi, atau dengan kondom khusus yang digunakan untuk mengumpulkan air mani selama berhubungan intim. Laki-laki yang menyediakan sperma biasanya dianjurkan untuk tidak ejakulasi selama dua hingga tiga hari sebelum waktu pengambilan sampel untuk meningkatkan jumlah sperma.2 Siklus menstruasi wanita diobservasi secara ketat dengan mencatat temperatur basal tubuh dan perubahan mukus vagina, atau dengan menggunakan peralatan ovulasi, ultrasonografi (USG), atau tes darah. 2 Pada proses inseminasi intra-uterine, sperma harus sesegera mungkin ”dicuci” di laboratorium dan ditambahkan senyawa kimia pada sampel. Proses pencucian ini dapat meningkatkan kemungkinan pembuahan dan menyingkirkan senyawa kimia lain pada air mani yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada wanita. 2 Sperma yang didapat dari donor sperma melalui bank sperma, akan dibekukan dan dikarantina dalam suatu periode tertentu dan pendonor akan dites sebelum dan setelah memproduksi sampel untuk memastikan ia tidak memiliki penyakit menular. Mendonasikan sperma didapatkan melalui masturbasi oleh pendonor sperma di bank sperma. Suatu bahan kimia yang dikenal sebagai kryopresipitat ditambahkan ke dalam sperma untuk membantu proses pembekuan dan pengenceran. Selanjutnya, bahan kimia lain dapat ditambahkan untuk memisahkan sperma yang paling aktif dalam sampel sehingga tercipta beberapa botol kecil sperma untuk pembuahan. 2

3

2.2.2 Prosedur Ketika ovum dilepaskan, air mani yang berasal dari pasangan laki-laki atau pendonor sperma disuntikkan kedalam vagina atau rahim wanita. Air mani kadang disuntikkan dua kali dalam satu siklus pengobatan. Jika prosedur tersebut sukses dilakukan, maka si wanita akan hamil. Kehamilan hasil dari pembuahan artifisial tidak berbeda dengan kehamilan pada umumnya. 2

2.2.3 Variasi Pembuahan artifisial memiliki beberapa variasi berdasatkan pendonor sperma dan teknik yang digunakan. • Variasi donor Sperma dapat diperoleh dari suami (pembuahan artifisial oleh suami) atau sperma yang didapat dari orang lain yang dikenal ataupun pendonor anonim (pembuahan artifisial oleh donor). Pada awalnya, pembuahan artifisial sering mengguanakan sperma kombinasi dari suami dan pendonor sehingga suami kemungkinan bukan ayah biologis dari si anak. Belakangan cara tersebut dianggap tidak bermoral dan mirip perzinahan sehingga anak yang dilahirkan dianggap anak haram dan tidak memiliki hak waris. 2 • Teknik Cara termudah untuk terjadi pembuahan adalah dengan inseminasi intraservikal dimana air mani disuntikkan ke dalam servik dengan spuit tanpa jarum. Proses ini meniru cara air mani dikumpulkan oleh penis ke dalam servik saat laki-laki berejakulasi saat berhubungan intim. Namun, beberapa teknik yang lain dapat digunakan untuk memperbesar kemungkinan terjadi kehamilan. Sebagai contoh, air mani yang telah dicuci dimana beberapa bahan kimia tertentu telah dihilangkan dapat disuntikkan secara langsung ke dalam rahim wanita dalam proses yang dinamakan inseminasi intrauterine (IIU). Apabila tidak dicuci, air mani dapat memicu kram rahim, memuntahkan air mani dan menimbulkan nyeri karena mengandung prostaglandin. 2 2.3 Pembuahan Dalam Tabung (Fertilisasi-In-Vitro/IVF)

4

Salah satu teknologi reproduksi yang populer di masyarakat adalah pembuahan dalam tabung (bayi tabung). Pelayanan terhadap bayi tabung dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah fertilisasi-in-vitro yang memiliki pengertian sebagai berikut : Fertilisasiin-vitro adalah pembuahan sel telur oleh sel sperma di dalam tabung petri yang dilakukan oleh petugas medis.3 Pada mulanya program pelayanan ini bertujuan untuk menolong pasangan suami istri yang tidak mungkin memiliki keturunan secara alamiah disebabkan tuba falopii istrinya mengalami kerusakan yang permanen. Namun kemudian mulai ada perkembangan dimana kemudian program ini diterapkan pula pada pasutri yang memiliki penyakit atau kelainan lainnya yang menyebabkan tidak dimungkinkan untuk memperoleh keturunan. 3 Dalam melakukan fertilisasi-in-vitro transfer embrio dilakukan dalam tujuh tingkatan dasar yang dilakukan oleh petugas medis, 3 yaitu: 1. Istri diberi obat pemicu ovulasi yang berfungsi untuk merangsang indung telur mengeluarkan sel telur yang diberikan setiap hari sejak permulaan haid dan baru dihentikan setelah sel-sel telurnya matang. 2. Pematangan sel-sel telur dipantau setiap hari melalui pemeriksaan darah Istri dan pemeriksaan ultrasonografi. 3. Pengambilan sel telur dilakukan dengan penusukan jarum (pungsi) melalui vagina dengan tuntunan ultrasonografi. 4. Setelah dikeluarkan beberapa sel telur, kemudian sel telur tersebut dibuahi dengan sel sperma suaminya yang telah diproses sebelumnya dan dipilih yang terbaik. 5. Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan di dalam tabung petri kemudian dibiakkan di dalam lemari pengeram. Pemantauan dilakukan 18-20 jam kemudian dan keesokan harinya diharapkan sudah terjadi pembuahan sel 6. Embrio yang berada dalam tingkat pembelahan sel ini. Kemudian diimplantasikan ke dalam rahim istri. Pada periode ini tinggal menunggu terjadinya kehamilan. 7. Jika dalam waktu 14 hari setelah embrio diimplantasikan tidak terjadi menstruasi, dilakukan pemeriksaan air kemih untuk kehamilan, dan seminggu kemudian dipastikan dengan pemeriksaan ultrasonografi. Zigot yang terbentuk dapat pula dipindahkan/ditanamkan ke dalam rahim wanita lain. Wanita lain yang menerima hasil pembuahan tersebut dinamakan surrogate mother

5

atau ibu pengganti. Ibu pengganti dapat juga hanya berfungsi sementara sebagai pengandung janin, dan kemudian janin tersebut diisap dari rahimnya dan dipindahkan pada istri (surrogate embryo transfer) yang selanjutnya membesarkan kandungan janin tersebut sampai melahirkannya. 1 2.4 Aspek Medikolegal Inseminasi Buatan Fungsi utama hukum adalah untuk melindungi nilai-nilai dasar manusia, yaitu nilai-nilai individual kemanusiaan. Hukum selalu terlambat dan terbelakang, apabila diperbandingkan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan, malahan kadangkala hukum dikatakan menghambat kemajuan ilmiah. Fungsi hukum memang bukan untuk memadai langkah dan kemajuan ilmiah. 1 Berkaitan dengan masalah inseminasi buatan, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang menyinggung tentang hal tersebut. Dalam Undang-Undang No.23/1992 tentang Kesehatan, pada pasal 16 menyebutkan: 4 (1) Kehamilan di luar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan. (2) Upaya kehamilan diluar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan : a. hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan, ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal; b. dilakukan oleh tenaga keschatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu; c. pada sarana kesehatan tertentu. (3) Ketentuan mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan di luar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Dapat disimpulkan dari pasal tersebut bahwa hasil pembuahan sperma dan sel telur di luar cara alami dari suami atau istri yang bersangkutan harus ditanamkan dalam rahim istri dari mana sel telur itu berasal. Selain UU No.23/1992 tentang Kesehatan, dibawahnya terdapat Peraturan Menteri Kesehatan nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi Reproduksi Buatan. Dalam kedua peraturan tersebut pelaksanaan inseminasi buatan

6

yang diperbolehkan hanya kepada pasangan suami isteri yang sah, lalu menggunakan sel sperma dan sel telur dari pasangan tersebut yang kemudian embrionya ditanam dalam rahim isteri. Pernyataan ini menjawab pertanyaan tentang kemungkinan dilakukannya pendonoran embrio. Jika mengacu pada UU No.23/1992 tentang Kesehatan, upaya pendonoran jelas tidak mungkin. Hal ini dilakukan untuk menjamin status anak tersebut sebagai anak sah dari pasangan suami isteri tersebut. 5 Penetapan seorang anak sebagai anak sah adalah berdasar pada pasal 42 UndangUndang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Untuk membuktikan secara hukum bahwa seorang anak adalah anak sah dari pasangan suami isteri, yang dibutuhkan adalah sebuah akta kelahiran dari anak tersebut. Akta tersebut berisi nama, hari, tanggal, kota anak tersebut lahir dan nama kedua orang tua dari anak tersebut. Karena anak hasil inseminasi buatan merupakan anak sah, maka hak dan kewajiban dari anak yang dilahirkan dengan menggunakan program inseminasi buatan sama dengan anak yang tidak menggunakan program inseminasi buatan. Sehingga anak hasil inseminasi buatan dalam hukum waris termasuk kedalam ahli waris golongan I yang diatur dalam pasal 852 KUH Perdata. 5 2.4.1 Permasalahan Hukum Perdata Yang Timbul Dalam Inseminasi Buatan Inseminasi buatan menjadi permasalahan hukum dan etis (moral) bila sperma/sel telur datang dari pasangan keluarga yang sah dalam hubungan pernikahan. Hal ini pun dapat menjadi masalah bila yang menjadi bahan pembuahan tersebut diambil dari orang yang telah meninggal dunia. Permasalahan yang timbul antara lain adalah: • • • Bagaimanakah status keperdataan dari bayi yang dilahirkan melalui proses inseminasi buatan? Bagaimanakah hubungan perdata bayi tersebut dengan orang tua biologisnya? Apakah ia mempunyai hak mewaris? Bagaimanakah hubungan perdata bayi tersebut dengan surogate mother-nya (dalam kasus terjadi penyewaan rahim) dan orang tua biologisnya? Darimanakah ia memiliki hak mewaris? Tinjauan dari Segi Hukum Perdata Terhadap Inseminasi Buatan (Bayi Tabung) di Indonesia sendiri adalah sebagai berikut: 3,5 a. Jika benihnya berasal dari Suami Istri

7

Jika benihnya berasal dari Suami Istri, dilakukan proses fertilisasi-in-

vitro transfer embrio dan diimplantasikan ke dalam rahim Istri maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status sebagai anak sah (keturunan genetik) dari pasangan tersebut. Akibatnya memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya. • Jika ketika embrio diimplantasikan ke dalam rahim ibunya di saat ibunya telah bercerai dari suaminya maka jika anak itu lahir sebelum 300 hari perceraian mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari, maka anak itu bukan anak sah bekas suami ibunya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas suami ibunya. Dasar hukum ps. 255 KUHPer. • Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami, maka secara yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil, bukan pasangan yang mempunyai benih. Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. Dalam hal ini Suami dari Istri penghamil dapat menyangkal anak tersebut sebagai anak sah-nya melalui tes golongan darah atau dengan jalan tes DNA. (Biasanya dilakukan perjanjian antara kedua pasangan tersebut dan perjanjian semacam itu dinilai sah secara perdata barat, sesuai dengan ps. 1320 dan 1338 KUHPer.) b. Jika salah satu benihnya berasal dari donor • Jika Suami mandul dan Istrinya subur, maka dapat dilakukan fertilisasiin-vitro transfer embrio dengan persetujuan pasangan tersebut. Sel telur Istri akan dibuahi dengan sperma dari donor di dalam tabung petri dan setelah terjadi pembuahan diimplantasikan ke dalam rahim Istri. Anak yang dilahirkan memiliki status anak sah dan memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya sepanjang si Suami tidak menyangkalnya dengan melakukan tes golongan darah atau tes DNA. Dasar hukum ps. 250 KUHPer. • Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut.Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. c. Jika semua benihnya dari donor

8

Jika sel sperma maupun sel telurnya berasal dari orang yang tidak terikat

pada perkawinan, tapi embrio diimplantasikan ke dalam rahim seorang wanita yang terikat dalam perkawinan maka anak yang lahir mempunyai status anak sah dari pasangan Suami Istri tersebut karena dilahirkan oleh seorang perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sah. • Jika diimplantasikan ke dalam rahim seorang gadis maka anak tersebut memiliki status sebagai anak luar kawin karena gadis tersebut tidak terikat perkawinan secara sah dan pada hakekatnya anak tersebut bukan pula anaknya secara biologis kecuali sel telur berasal darinya. Jika sel telur berasal darinya maka anak tersebut sah secara yuridis dan biologis sebagai anaknya. 2.4.2 Inseminasi Buatan dari Segi Hukum di Luar Indonesia Seperti halnya yang terjadi di Indonesia, di luar negeri, seperti di Australia misalnya, masalah hukum biasanya lebih banyak menyertai praktek inseminasi buatan AID, bukannya AIH karena sperma yang digunakan adalah berasal bukan dari suami. Masalah hukum diantaranya seperti hak anak, hak orangtua pendonor, hak pemeliharaan, perawatan, dan hak mewaris. Anak dari pasangan yang telah menikah dan lahir dari proses AID memiliki posisi hukum yang berbeda dibandingkan dengan anak yang lahir dari hubungan seksual. Anak tersebut bukan anak biologis dari suami ibunya dan oleh karena itu dipandang haram di depan hukum. Di depan hukum, anak juga sebaiknya tidak diikutsertakan dalam warisan yang diturunkan ‘ayah kepada anaknya’ dan tidak ikut mengklaim tanah milik si ayah setelah si ayah meninggal. Sebagai tambahan, sebaiknya ayah tidak diikutsertakan dalam merawat si anak jika suatu saat orangtua berpisah. Pada hukum secara umum, yang memiliki hak dan tanggung jawab tersebut adalah pendonor sperma. 6 Untuk menjernihkan kebingungan dan kemungkinan masalah hukum yang berkaitan dengan status anak yang lahir dari proses AID, pemerintah Australia memandang perlunya anak AID dilihat sebagai anak sah dari ibu biologis dan ayah sosialnya yang telah menyetujui dilakukannya inseminasi. Realisasinya, pada Oktober 1983, pemerintah Australia mengamandemen Family Law Act 1975. Dari seksi 5A(1) dan (3) pada Family Law Amandement Act 1983, dapat disimpulkan bahwa seorang anak yang lahir melalui proses AID dapat dipandang sebagai anak sah dari ayah sosialnya, apabila prosedur medis itu dilakukan dengan persetujuan ayah atau dibawah suatu UU/peraturan

9

negara anak itu dipandang anak dari ayahnya. Yang dimaksud sebagai prosedur medis disini adalah inseminasi buatan atau implantasi sebuah embrio dalam tubuh seorang wanita. 6 Di negara bagian New South Wales, the Artificial Conception Act pada tahun 1984 dan Status of Children (Amandement) Act tahun 1984 di Victoria, Australia mengatakan bahwa anak yang lahir dari pasangan yang secara de facto telah menikah dan hasil fertilisasi-in-vitro atau pembuahan oleh donor akan diperlakukan, untuk segala keperluan hukum sebagai anak dari orang tua sosial mereka. Pendonor sperma atau sel telur, berdasarkan undang undang tersebut untuk segala maksud, tidak diakui sebagai ayah atau ibu dari anak manapun yang lahir sebagai hasil dari kehamilan yang terjadi. 6 Yuridiksi pertama di dunia yang mengatur secara komprehensif apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh praktisi medis dalam prosedur fertilisasi-in-vitro adalah Infertility (Medical Procedures) Act tahun 1984 di Victoria, Australia. UU tersebut secara tegas menjatuhkan sanksi, termasuk hukuman hingga empat tahun penjara kepada pelaku yang melakukan fertilisasi-in-vitro atau bereksperimen dengan embrio manusia tidak berdasarkan UU. Ketetapan itu termasuk: 6 • • • • Prosedur fertilisasi-in-vitro hanya bisa bisa dilaksanakan di rumah sakit yang telah disetujui. Melaksanakan fertilisasi-in-vitro atau pembuahan oleh donor, oleh orang yang bukan praktisi kedokteran adalah dilarang Hanya pasangan yang telah menikah dan memiliki hubungan secara de facto (seksi 3(22)) dapat mengikuti program fertilisasi-in-vitro. Semua pasien, dalam kurun waktu dua belas bulan sebelum program fertilisasiin-vitro dimulai, telah berusaha mencari pengobatan untuk infertilitas dan menerima konseling. • Menggunakan donor sperma, telur, atau embrio adalah pilihan terakhir dan diijinkan hanya jika tidak ada kemungkinan yang rasional untuk terjadinya kehamilan, atau anak yang akan dilahirkan oleh wanita tersebut diduga mengidap penyakit keturunan. • Tidak ada pembayaran untuk sperma, telur, atau embrio, selain yang telah ditentukan untuk pengeluaran medis atau biaya perjalanan yang dikeluarkan pendonor.

10

• •

Pembekuan

embrio

diperbolehkan,

pelaksanaannya

bertujuan

untuk

mengimplantasikan embrio tersebut di masa yang akan datang. Standing Review and Advisory Committee ditetapkan beranggotakan delapan orang. Dimana para anggotanya termasuk dua orang praktisi kedokteran dan dua anggota mewakili lembaga keagamaan. • Pencatatan kelahiran bayi melalui proses fertilisasi-in-vitro harus dilakukan dan informasi yang tidak memihak diberikan kepada pendonor, pasien, serta anak yang lahir dari proses fertilisasi-in-vitro • • • Eksperimen pada embrio tidak diijinkan, kecuali telah disetujui oleh Standing Review and Advisory Committe. Penggunaan sel gamet yang dihasilkan oleh orang dibawah umur 18 tahun dan belum menikah adalah melanggar UU. Komersialisasi ibu pengganti (surrogate mother) tidak dapat dibenarkan secara hukum dan dapat dikenakan sanksi dua tahun penjara jika memberi atau menerima pembayaran sebagai ibu pengganti. • • Memasang iklan untuk mencari ibu pengganti atau untuk memberitahukan keberadaan jasa ibu pengganti adalah melanggar UU. Kloning dan pembuahan antar spesies adalah melanggar UU. Pada bagian 10,11,12,13, dan 13A dari Infertility (Medical Procedures) Act tahun 1984 di Victoria telah jelas disebutkan bahwa ‘wanita dan suaminya’ harus memberikan persetujuan secara tertulis untuk mengimplantasikan embryo dan tidak dapat membatalkannya di kemudian hari. Dampak dari ketentuan ini tampak jika pasangan ini memutuskan untuk berpisah dan suami berkeberatan dilakukannya implantasi embrio maka implantasi embrio pada ibu tidak dapat dilakukan. 6 2.5 Dilema Inseminasi Buatan Berkembangnya teknologi kedokteran saat ini memungkinkan sperma dapat disimpan sampai puluhan tahun dengan cara dibekukan (frozen sperma), dan dapat digunakan untuk membuahi istri atau wanita lain sampai melahirkan, lama sesudah laki-laki tersebut meninggal dunia. Demikian juga frozen embryo memungkinkan seorang anak lahir bertahun-tahun setelah embrio diciptakan dan mungkin saja pada periode tersebut orangtua bercerai atau salah satu/kedua orangtua meninggal. Frozen embryo juga dapat

11

ditanamkan (embryo transplant) pada seorang wanita beribu-ribu kilometer jauhnya. Di masa depan hal ini dapat menimbulkan masalah hukum dan hingga saat ini belum ada penyelesaiannya di Indonesia. 1,6 Permasalahan hukum akan menjadi semakin rumit apabila terjadi komplikasi medis akibat manipulasi tersebut, pada ibu pengandung, ibu biologis, maupun pada anak, misalnya saja kalau terjadi penyakit atau cacat. Pemutusan hubungan ayah-anak dan ibu-anak yang lahir secara demikian juga belum terpikirkan penyelesaian hukumnya. 1 Oleh karena itu perlu segera dibentuk peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur penerapan teknologi inseminasi buatan ini pada manusia mengenai hal-hal apakah yang dapat dibenarkan dan hal-hal apakah yang dilarang. KESIMPULAN Teknologi inseminasi buatan di Indonesia telah diatur dalam pasal 16 Undang-Undang No.23/1992 tentang Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi Reproduksi Buatan. Dalam kedua peraturan tersebut pelaksanaan inseminasi buatan yang diperbolehkan hanya kepada pasangan suami isteri yang sah, lalu menggunakan sel sperma dan sel telur dari pasangan tersebut yang kemudian embrionya ditanam dalam rahim isteri. Mengacu pada UU No.23/1992 tentang Kesehatan tersebut, upaya pendonoran adalah tidak mungkin. Anak hasil inseminasi buatan dalam hukum waris termasuk kedalam ahli waris golongan I yang diatur dalam pasal 852 KUH Perdata sehingga hak dan kewajiban dari anak yang dilahirkan dengan menggunakan program inseminasi buatan sama dengan anak yang tidak menggunakan program inseminasi buatan. Permasalahan mengenai inseminasi buatan dengan bahan inseminasi berasal dari orang lain atau orang yang sudah meninggal dunia, hingga saat ini belum ada penyelesaiannya di Indonesia. Perlu segera dibentuk peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur penerapan teknologi fertilisasi-in-vitro transfer embrio ini pada manusia mengenai hal-hal apakah yang dapat dibenarkan dan hal-hal apakah yang dilarang

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Idries, AM. Aspek medikolegal pada Inseminasi Buatan/Bayi Tabung. Ed.1. Jakarta : Binarupa Aksara; 1997. 2. Anonim. “Artificial Insemination”. Diunduh dari : http//www.wikipedia.com. Diakses : 14 Mei 2008. 3. Avonina, S. “Perkembangan Bioteknologi Dalam Inseminasi Buatan (Bayi Tabung) Ditinjau Dari Hukum Perdata Indonesia, Teknologi Rekayasa Genetika. Diunduh dari : http//www.lkht.net/artikel_lengkap.php?id=2. Diakses : 14 Mei 2008. 4. Anonim. ”Undang Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang : Kesehatan” 5. Kansil, CST. Suplemen Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Cet.2 Jakarta : Pradnya Paramita; 2003. 6. Plueckhahn, VD., Cordner, SM. Ethics, Legal Medicine & Forensic Pathology. Ed.2. Bombay : NM Tripathi Private LTD Publisher; 1972.

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->